corona 3

 



(kota, kabupaten) harus mengatur lembaga pencegahan dan pengendalian penyakit 


untuk melakukan investigasi epidemiologi kasus COVID-19. Tim investigasi harus 


dibentuk segera, dan setiap organisasi harus menjelaskan tujuan penyelidikan, serta 


menentukan komposisi tim dan tanggung jawab yang ditargetkan sesuai dengan 


rencana penyelidikan. Penyidik harus memastikan keselamatan diri selama 


penyelidikan. CDC kota/kabupaten, provinsi, dan nasional harus mengirimkan tenaga 


profesional untuk menjangkau lokasi tersebut saat penanganan epidemi diperlukan, 


dan melakukan penyelidikan epidemiologi dengan tim investigasi bersama-sama.


5 Laporan dan Informasi


CDC tingkat kabupaten harus melaporkan kuisioner kasus atau hasil penyelidikan 


melalui NNDRS dalam waktu 2 jam, dan menyerahkan penyelidikan epidemiologi dan 


laporan analisa kepada departemen kesehatan dan CDC tingkat diatasnya yang setelah 


menyelesaikan penyelidikan kasus untuk kasus yang dikonfirmasi, atau pembawa 


tanpa atau wabah cluster (KLB)


Berdasarkan pemahaman terkini tentang infeksi nCoV-2019, masa inkubasi 


COVID-19 adalah sekitar 14 hari dan kasusnya ditularkan dari manusia ke manusia, 


rencana ini dibuat untuk mendefinisikan dan mengelola kontak dekat kasus COVID-19 


dan secara efektif mengontrol penyebaran epidemi.


1 Kriteria


Kontak dekat merupakan orang yang telah kontak dengan suspek atau telah 


terdiagnosis klinis (hanya di Provinsi Hubei), atau kasus konfirmasi setelah timbulnya 


penyakit, atau positif pembawa tanpa gejala (asimptomatik) dan memenuhi salah satu 


kriteria berikut, tetapi belum melakukan perlindungan yang efektif:


1.1 Hidup, belajar atau bekerja bersama, atau memiliki kontak dekat pada situasi 


lain, seperti bekerja dalam jarak dekat atau berbagi ruang kelas yang sama atau tinggal 


di rumah yang sama;


1.2 Staf medis yang menyediakan layanan diagnosis dan perawatan pasien, atau 


anggota keluarga yang memberikan perawatan atau kunjungan, atau siapa pun yang 


memiliki kontak dekat yang serupa dengan kasus tersebut, seperti mengunjungi atau 


tinggal di tempat terbatas atau pasien lain dan staf yang berada di bangsal yang sama;


1.3 Orang yang berada dalam transportasi yang sama dan memiliki kontak dekat


dengan kasus, termasuk penjaga atau orang yang menyertai (anggota keluarga, kolega, 


teman, dan sebagainya) pada transportasi yang sama, atau penumpang lain atau 


pramugari yang mungkin memiliki kontak dekat dengan kasus atau pembawa (carrier) 


asimptomatik setelah penyelidikan. Lihat Kotak 1.2 untuk metode pendefinisian kontak 


dekat pada alat transportasi yang berbeda.


1.4 Orang yang dianggap memenuhi kriteria kontak dekat setelah investigasi 


lapangan dan evaluasi.


Orang-orang yang telah diidentifikasi sebagai kontak dekat diharuskan untuk 


mengisi Formulir Pendaftaran Kontak Dekat Penyakit Virus Corona 2019 (Tabel 1.1).


2 Manajemen yang Diperlukan


2.1 Manajemen Kontak


Observasi medis sebaiknya dilakukan oleh departemen kesehatan masing-masing 


daerah dengan departemen terkait secara bersama-sama. Orang-orang kontak dekat 


yang menolak mematuhi aturan harus dilakukan tindakan isolasi wajib oleh pihak 


keamanan publik setempat. 


2.1.1 Alasan, batas waktu, dasar hukum, tindakan pencegahan, dan pengetahuan 


mengenai observasi medis, serta kontak informasi lembaga atau staf medis yang 


bertanggungjawab untuk observasi medis harus diinformasikan kepada kontak dekat


secara tertulis atau lisan sebelum penerapan.


2.1.2 Isolasi medis tersentralisasi sebaiknya diterapkan pada kontak dekat atau 


penerapan isolasi observasi medis di rumah untuk daerah-daerah yang tempat 


isolasinya tidak dapat diakses, dan fokus untuk memperkuat pengelolaan observasi di


rumah. Periode observasi medis yaitu 14 hari sejak kontak terakhir tanpa perlindungan 


dengan kasus COVID-19 atau pembawa (carrier) asimptomatik. Kontak dekat pada 


kasus yang dikonfirmasi atau pembawa (carrier) asimptomatik harus terus diamati 


sampai kasus kadaluwarsa, meskipun mereka mendapatkan hasil negatif dari tes asam 


nukleat selama periode tersebut. Kontak dekat dari kasus suspek dapat dilepaskan dari 


observasi medis jika suspek dieksklusi.


2.1.3 Kontak dekat yang menerima isolasi tersentralisasi atau berbasis rumah 


untuk observasi medis harus hidup sendiri dan meminimalkan kontak dengan 


penghuni lain. Pembersihan dan disinfeksi lokasi observasi medis harus dilakukan 


untuk menghindari infeksi silang. Selengkapnya silahkan lihat di Rencana Teknis


Disinfeksi di Tempat Khusus (Edisi Kedua). Orang tersebut tidak diizinkan keluar 


selama periode observasi, dan harus mendapatkan form izin dari staf manajemen 


observasi medis jika hendak keluar, dan harus memakai masker bedah sekali pakai dan 


menghindari tempat keramaian.


2.1.4 Resiko kesehatan harus diberitahukan ke orang-orang yang pernah kontak 


secara umum (misalnya, hidup bersama, belajar atau bekerja bersama; berada di 


pesawat, kereta, atau kapal yang sama) selain pada kontak dekat. Mereka harus 



diberitahukan untuk pergi ke rumah sakit segera dan memberi tahu riwayat kegiatan 


terkini jika menunjukkan gejala pernapasan seperti demam, batuk, diare dan kongesti 


konjungtiva.


2.2 Tindakan selama Periode Pengamatan Medis


2.2.1 Langkah-langkah berikut harus diambil selama periode observasi medis:


(1) Staf medis yang berasal dari institusi medis dan kesehatan yang telah ditunjuk 


bertanggungjawab dalam observasi medis kasus kontak dekat COVID-19. Langkah langkah observasi meliputi: pengukuran suhu orang yang kontak dekat (dua kali sehari, 


pagi dan sore hari), tanya status kesehatan mereka, mengisi formulir observasi medis, 


mengisi Formulir Pendaftaran Observasi Medis pada Kasus Kontak Dekat Virus Corona 


2019 (Tabel 1.2), dan memberikan penanganan medis. Ringkasan harian observasi medis 


pada kasus kontak dekat dapat dilaporkan berdasarkan Formulir Statistik Harian 


Observasi Medis pada Kasus Kontak dekat Virus Corona 2019 (Tabel 1.3) dan Statistik 


Harian Formulir Ringkasan Observasi Medis pada Kasus Kontak dekat Virus Corona 


2019 (Tabel 1.4).


(2) Staf medis yang melakukan observasi medis harus tetap memperhatikan 


proteksi diri. Mengacu pada Pedoman Perlindungan Individual secara Spesifik


Kelompok (Edisi Kedua) tentang tindakan perlindungan.


2.2.2 Selama periode pengamatan medis, staf medis harus segera merujuk kasus 


kontak dekat yang menunjukkan gejala mencurigakan, lembaga medis yang ditunjuk 


untuk diagnosis dan perawatan klinis, mengumpulkan spesimen untuk pemeriksaan 


laboratorium, dan melaporkan ke departemen kesehatan setempat. Gejala yang 


mencurigakan meliputi demam, menggigil, batuk kering, berdahak, hidung tersumbat, 


pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, arthralgia, dispnea, sesak 


dada, kongesti konjungtiva, mual, muntah, diare dan nyeri perut. Jika kontak dekat


didiagnosis sebagai kasus suspek, kasus yang didiagnosis secara klinis (hanya di 


Provinsi Hubei) atau kasus konfirmasi, orang-orang yang berhubungan erat dengan 


mereka disarankan untuk tetap dalam pengawasan medis.


2.2.3 Kontak dekat yang bebas dari gejala di atas harus dikeluarkan dari observasi 


medis setelah akhir periode.


2.3 Lokasi Observasi Medis Terpusat


2.3.1 Persyaratan pemilihan lokasi observasi medis terpusat dan fasilitas internal 


adalah sebagai berikut


(1) Lokasi observasi medis terpusat harus dipilih di tempat yang berlawanan 


angin, relatif jauh, memiliki transportasi yang memadai, jauh dari daerah padat 


penduduk (pada prinsipnya, lebih dari 500 meter), dan relatif independen. Karantina 


terpusat seharusnya tidak didirikan di area layanan kesehatan.


(2) Interior dari lokasi observasi medis terpusat harus dibagi menjadi area tempat 


tinggal, area persediaan kebutuhan, dan bangsal, dll. sesuai kebutuhan, dan zone marks


harus jelas. Lokasi tersebut harus dilengkapi dengan infrastruktur untuk memastikan 


kehidupan normal dan tersedianya ventilasi untuk memenuhi pelaksanaan disinfeksi


harian.


(3) Harus ada septictank tersendiri dan air limbah seharusnya didisinfeksi


sebelum memasuki jaringan pipa drainase. Penuangan disinfektan yang mengandung 


klor secara teratur dilakukan untuk memastikan residu total klorin 10 mg/L setelah 


sterilisasi selama 1,5 jam. Limbah yang didisinfeksi harus memenuhi Standar 


Pembuangan Polutan Air untuk Institusi Medis (GB18466-2005). Pengumpulan kotoran 


dalam wadah khusus dan dibuang setelah disinfeksi dilakukan jika septic tank 


tersendiri tidak tersedia. Mengacu pada Panduan Umum Disinfeksi Sumber 


Wabah (GB19193-2015) untuk disinfeksi.


2.3.2 Lokasi observasi medis terpusat harus menyediakan kamar tunggal. 


Biosampel harus dikumpulkan dan diuji dalam waktu setelah gejala muncul seperti 


demam, batuk dan infeksi saluran pernapasan lainnya, diare, kongesti konjungtiva 


maupun gejala lainnya.


1 Pesawat


1.1 Secara umum, semua penumpang di baris yang sama dan dalam tiga baris depan


maupun belakang kasus di dalam kabin pesawat sipil, juga pramugari yang 


menyediakan layanan kabin adalah kontak dekat. Penumpang lain pada 


penerbangan yang sama adalah kontak umum.


1.2 Semua orang di dalam kabin pesawat udara sipil tanpa peralatan penyaring 


partikulat efisiensi tinggi. 


1.3 Orang lain yang diketahui memiliki kontak dekat dengan kasus ini.


2 Kereta 


2.1 Dalam kereta yang tertutup sepenuhnya, semua penumpang dan kru kereta dari 


satu kompartemen yang sama dengan kasus (hard seat/hard sleeper/soft sleeper).


2.2 Dalam kereta yang tidak tertutup sepenuhnya, penumpang yang berada di soft 


bedroom yang sama atau di kompartemen hard-seat yang sama (hard sleeper) dan di 


daerah yang sama atau berdekatan dengan kasus,dan staf yang melayani daerah 


tersebut.


2.3 Orang lain yang diketahui memiliki kontak dekat dengan kasus ini.


3 Mobil


3.1 Saat bepergian dengan bus yang tertutup sepenuhnya, semua orang di dalam mobil 


yang sama dengan kasus.


3.2 Ketika bepergian dengan mobil penumpang berventilasi biasa, penumpang yang 


duduk dalam tiga baris depan dan belakang, dan pengemudi.


3.3 Orang lain yang diketahui memiliki kontak dekat dengan kasus ini.


4 Kapal


Semua orang di kabin yang sama dengan pasien dan kru yang bertugas pada kabin.


Jika orang tersebut memiliki gejala berat seperti demam tinggi, bersin, batuk, dan 


muntah selama masa kontak, semua orang yang kontak dengan kasus harus 


diperlakukan sebagai kontak dekat tanpa memperhatikan lamanya waktu.



Pedoman ini dikembangkan secara khusus untuk membantu pengendalian 


penyakit di seluruh tingkatan dan lembaga terkait lainnya untuk menjalankan 


pemeriksaan laboratorium COVID-19 dan penggunaan metode deteksi asam nukleat 


yang mudah dilakukan. 


1 Pengumpulan Spesimen


1.1 Objek Pengumpulan


Kasus yang dicurigai, kasus yang didiagnosis secara klinis (hanya di Provinsi 


Hubei) dan kelompok kasus COVID-19, lainnya yang membutuhkan diagnosis banding 


terhadap COVID-19, atau lingkungan atau material biologis lainnya yang memerlukan 


skrining dan tes lebih lanjut (misalnya analisis penelusuran).


1.2 Persyaratan Pengumpulan Spesimen


1.2.1 Orang yang terlibat dalam pengumpulan spesimen pada kasus COVID-19 


harus menerima pelatihan biosafety (pelatih yang memenuhi syarat) dan memiliki 


keterampilan eksperimental yang sesuai. Alat pelindung diri yang diperlukan (APD) 


pada sampel orang termasuk: N95 atau masker pelindung yang lebih baik, kacamata 


pelindung, satu stel pakaian pelindung, sarung tangan lateks berlapis ganda, sepatu bot 


tahan air, dan sarung tangan lateks luar harus diganti saat itu juga jika kontak dengan 


darah pasien, cairan tubuh, sekresi atau kotoran.


1.2.2 Spesimen pada kasus perawatan di rumah sakit harus dikumpulkan oleh staf 


medis rumah sakit.


1.2.3 Spesimen kasus kontak dekat harus dikumpulkan oleh lembaga 


pengendalian dan kesehatan lokal yang ditunjuk.


1.3 Jenis Pengumpulan Spesimen


Spesimen dari saluran pernapasan (termasuk saluran pernapasan atas dan bawah) 


dari setiap kasus harus dikumpulkan selama periode akut; spesimen saluran 


pernapasan bawah (seperti bronkus atau cairan alveolar, dll.) harus dikumpulkan


sebagai prioritas pada kasus-kasus parah; hapusan konjungtiva mata harus 


dikumpulkan pada kasus dengan gejala infeksi okular; dan spesimen tinja harus diambil 


pada kasus dengan gejala diare. Spesimen bisa dikumpulkan sesuai dengan manifestasi 


klinis dan interval waktu pengambilan sampel.


Material penelitian lainnya dikumpulkan sesuai dengan kebutuhan.


Jenis-jenis spesimen ialah sebagai berikut:


1.3.1 Spesimen saluran pernapasan atas meliputi: hapusan (swab) faring, hapusan 


(swab) hidung, ekstrak nasofaring, dan sebagainya.


1.3.2 Spesimen saluran pernapasan bawah meliputi: dahak batuk dalam, cairan 


saluran pernapasan, cairan bronkial, cairan alveolar, spesimen biopsi jaringan paru-paru


1.3.3 Sampel darah: kumpulkan 5 mL darah puasa dalam tabung darah vakum 


yang mengandung antikoagulan EDTA selama fase akut antikoagulan (7 hari setelah


onset penyakit).


1.3.4 Sampel serum: kumpulkan dua sampel serum dalam fase akut dan tahap 


pemulihan. Serum pertama harus dikumpulkan sesegera mungkin (lebih baik 7 hari 


sejak serangan penyakit), dan serum kedua dikumpulkan antara minggu ke-3 hingga 


ke-4 setelah serangan penyakit. Total 5 mL serum harus dikumpulkan dan vakum darah 


tanpa antikoagulan disarankan untuk digunakan. Sampel serum terutama digunakan 


untuk deteksi antibodi, yang digunakan untuk memastikan status infeksi. Sampel 


serum tidak diuji untuk asam nukleat.


1.3.5 Spesimen konjungtiva mata: spesimen hapusan konjungtiva mata 


dikumpulkan pada kasus dengan gejala infeksi okular.


1.3.6 Spesimen feses: spesimen feses harus dikumpulkan pada pasien dengan 


gejala diare.


1.4 Metode Pengumpulan Spesimen


1.4.1 Hapusan faring: usap tonsil faring bilateral dan dinding faring posterior 


dengan dua batang hapusan plastik dengan ujung serat polypropylene pada waktu 


bersamaan. Benamkan ujung hapusan ke dalam tabung yang berisi 3 mL larutan 


pengawet virus (juga dengan larutan garam isotonik, media kultur jaringan atau buffer 


fosfat). Buang ekornya dan kencangkan penutup tabung.


1.4.2 Hapusan (Swab) hidung: masukkan ujung batang plastik serat polipropilen 


dengan lembut ke daerah hidung bagian dalam dan area palatum dari saluran hidung, 


tunggu sebentar dan putar dan keluarkan. Hapusan (Swab) di lubang hidung lainnya 




cara yang sama. Kedua batang hapusan (swab) direndam dalam tabung yang sama yang 


mengandung sampel 3 mL cairan sampling dan ekornya dibuang lalu penutup tabung 


dikencangkan.


1.4.3 Cairan nasofaring atau saluran pernapasan: gunakan kolektor yang 


terhubung dengan pompa tekanan negatif untuk mengekstraksi lendir dari nasofaring 


atau sekret pernapasan dari trakea. Masukkan ujung kolektor ke rongga hidung atau 


trakea, hidupkan tekanan negatif, putar ujung kolektor dan keluarkan perlahan-lahan, 


kumpulkan lendir yang diekstraksi, dan bilas kolektor sekali dengan 3 mL larutan 


sampling (kolektor dapat diganti dengan menghubungkan kateter anak dengan jarum 


suntik 50 mL).


1.4.4 Dahak batuk dalam: pasien diminta batuk dalam dan sputum dikumpulkan 


dalam tabung plastik 50 mL yang berisi 3 mL cairan sampel.


1.4.5 Cairan bronkial: masukkan ujung kolektor dari lubang hidung atau ujung 


trakea ke dalam trakea (kedalaman sekitar 30 cm), suntikkan saline 5 mL, hidupkan 


tekanan negatif, putar ujung kolektor dan keluarkan perlahan. Kumpulkan lendir yang 


diekstraksi dan bilas kolektor dengan larutan sampel (kateter anak juga dapat 


dihubungkan ke jarum suntik 50 mL untuk menggantikan kolektor).


1.4.6 Cairan alveolar: masukkan bronkoskop-fiber ke dalam percabangan lobus 


tengah paru kanan atau segmen lingual paru kiri melalui mulut atau hidung dan faring 


setelah anestesi lokal, bagian atas bronkoskopi-fiber dimasukkan ke dalam cabang 


bronkial, dan 30–50 mL salin steril ditambahkan perlahan-lahan setiap kali melewati 


lubang biopsi trakea, jumlah total salin adalah 100–250 mL dan tidak boleh melebihi 300 


mL.


1.4.7 Sampel darah: sebaiknya 5 mL sampel darah dikumpulkan dalam tabung 


darah vakum yang mengandung antikoagulan EDTA. Simpan sampel pada suhu 


ruangan selama 30 menit dan seentrifugasi pada 1.500– 2.000 rpm selama 10 menit. Sel 


plasma dan darah dikumpulkan masing-masing dalam tabung sekrup plastik steril.


1.4.8 Sampel serum: 5 mL sampel darah dikumpulkan dengan tabung vakum 


pengumpul bertekanan negatif dan disimpan pada suhu ruangan selama 30 menit, 


disentrifugasi pada 1.500-2.000 rpm selama 10 menit, dan dikumpulkan dalam tabung 


sekrup plastik steril.


1.4.9. Spesimen tinja: spesimen tinja harus dikumpulkan sebanyak 3-5 mL pada 


orang-orang dengan gejala diare di tahap awal penyakit.



1.4.10 Hapusan (swab) konjungtiva mata: bersihkan permukaan konjungtiva mata 


dengan hapusan (swab) dan masukkan ujung hapusan (swab) ke tabung sampel, lepas 


batang hapusan (swab) dan tutup rapat penutup.


Material lain: kumpulkan sesuai dengan kebutuhan.


1.5 Pengemasan Spesimen


Spesimen dikumpulkan dan disusun di kabinet biosafety dalam laboratorium 


biosafety Kelas B.


1.5.1 Spesimen harus ditempatkan dalam tabung koleksi sampel dengan ukuran 


sesuai dengan penutup sekrup dan tahan terhadap pembekuan. Kencangkan 


penutupnya. Jumlah sampel, jenis, nama dan tanggal pengambilan sampel harus 


dituliskan di luar wadah.


1.5.2 Pelindung spesimen yang disegel dalam kantong plastik harus memiliki 


ukuran yang sesuai dan melindungi satu spesimen tiap kantong. Persyaratan kemasan 


sampel harus memenuhi standar Peraturan Teknis untuk Keselamatan Transportasi 


Barang Berbahaya.


1.5.3 Jika transportasi spesimen eksternal terlibat, harus diberikan tiga lapis pada 


kemasan sesuai dengan jenis spesimen zat infeksius Kelas A atau B.


1.6 Perlindungan Spesimen


Sampel yang digunakan untuk isolasi virus dan uji asam nukleat harus dilakukan 


sesegera mungkin, dan sampel yang akan diuji dalam 24 jam dapat disimpan pada suhu 


4°C; yang tidak dapat diperiksa dalam waktu 24 jam harus disimpan pada suhu –70°C 


atau lebih rendah (jika tidak tersedia, spesimen harus disimpan sementara di kulkas 


pada –20°C). Serum dapat disimpan selama 3 hari pada suhu 4°C dan lebih lama pada –


20°C atau lebih rendah. Gudang penyimpan atau counter khusus harus disiapkan untuk 


mengembalikan spesimen secara terpisah. Pembekuan dan pencairan berulang harus 


dihindari selama transportasi spesimen.


1.7 Pemeriksaan Spesimen Klinis


Spesimen klinis harus dikirim ke laboratorium sesegera mungkin setelah 


dikumpulkan. Metode penyimpanan seperti menggunakan es kering direkomendasikan


pada transportasi jarak jauh.


1.7.1 Penyampaian Spesimen Klinis


Spesimen klinis dari kasus kluster outbreak dari semua provinsi dan area harus 


diserahkan kepada Institut Nasional untuk Pengendalian Penyakit Virus dan 


Pencegahan pada CDC Cina untuk pemeriksaan ulang, beserta formulir pengiriman 


spesimen (Tabel 1.5).


1.7.2 Transportasi Spesimen Klinis dan Patogen 


(1) Transportasi Domestik


Strain nCoV-2019 dan material biologis yang berpotensi menular lainnya 


diklasifikasikan ke dalam Kelas A, dengan nomor UN yang sesuai dari UN2814, pada 


paket yang harus memenuhi persyaratan kemasan standar (PI602) dari ICAO Technical


Petunjuk untuk Transportasi Instructions for the Safe Aviation Transport of Dangerous Goods 


(Doc9284). Spesimen lingkungan diklasifikasikan ke dalam Kelas B, sesuai Nomor UN 


dari UN3373, dimana paket harus memenuhi standar persyaratan kemasan (PI650) 


dari ICAO Technical Instructions for the Safe Aviation Transport of Dangerous Goods 


(Doc9284). Persyaratan transport paket menggunakan kendaraan lain yang sesuai 


dengan standar di atas.


Penerapan izin transportasi untuk strain nCoV-2019 atau spesimen harus 


mengikuti persyaratan Peraturan tentang Manajemen dan Transportasi Strain atau 


Sampel Mikroorganisme Patogenisitas Tinggi (No. 45, dikeluarkan oleh Kementerian 


Kesehatan sebelumnya).


(2) Transportasi Internasional


Strain dan spesimen nCoV-2019 dikirimkan secara internasional harus dikemas 


sesuai dengan persyaratan kemasan standar di atas. Penerapan izin transportasi harus 


mengikuti persyaratan Peraturan Pemeriksaan Kesehatan dan Karantina Barang-barang 


Keluar Khusus dan persyaratan nasional dan internasional lain yang relevan.


(3) Manajemen Spesimen Patogen dan Klinis


Strain dan spesimen nCoV-2019 harus dikelola oleh personil khusus. Sumber, 


jenis, jumlah dan nomor seri strain harus direkam secara akurat. Langkah-langkah 


efisien harus diambil untuk memastikan keamanan strain dan spesimen dan untuk 


mencegah terjadinya kerusakan, digunakan untuk tujuan jahat, dicuri, dirampok, atau 


kebocoran, dll.


2 Pemeriksaan Laboratorium nCoV-2019


Mendeteksi konvensional infeksi nCoV-2019 adalah dengan fluoresensi real-time


RT-PCR. Semua uji untuk nCoV-2019 harus dilakukan oleh staf dengan pengetahuan 


teknis dan keamanan yang relevan di laboratorium dengan kondisi yang tepat. Metode 


deteksi asam nukleat dalam pedoman ini mengutamakan target Open Reading Frame lab


(ORFlab) dan protein nukleokapsid (N) genom 2019 nCoV.


Untuk mengkonfirmasi kasus positif di laboratorium, kondisi berikut harus 


dipenuhi:


Hasil test RT-PCR fluoresensi real-time spesifik adalah positif pada kedua target 


COVID-19 (ORFlab, N) dalam spesimen yang sama, dan pengambilan sampel serta 


menguji ulang diperlukan jika hanya satu hasil positif yang diamati.


Infeksi nCoV-2019 tidak dapat ditiadakan oleh hasil negatif, dan faktor-faktor 


yang dapat menyebabkan hasil negatif palsu harus dikeluarkan, termasuk: kualitas 


sampel yang buruk, seperti sampel saluran pernapasan dari orofaring; terlalu dini atau 


pengumpulan sampel yang terlambat; kegagalan untuk menyimpan, membawa, dan 


memproses sampel; masalah teknologi lainnya seperti mutasi virus, penekanan PCR, 


dll.


3. Asam Nukleat nCoV-2019 Terdeteksi oleh Fluoresensi Real-Time RT-PCR


3.1 Tujuan


Untuk menstandarisasi prosedur kerja real-time fluoresensi RT-PCR untuk 


mendeteksi asam nukleat nCoV-2019, dan untuk memastikan akurasi dan keandalan 


hasil percobaan.


3.2 Ruang Lingkup Aplikasi 


Diterapkan pada uji RT-PCR fluoresensi real-time asam nukleat nCoV-2019.


3.3 Tanggung Jawab


Penguji: bertanggungjawab untuk menguji sampel sesuai dengan pedoman uji ini.


Peninjau: bertanggungjawab untuk memeriksa apakah uji yang dilakukan standar 


dan apakah hasil uji akurat.


Kepala departemen: bertanggungjawab untuk meninjau manajemen 


komprehensif dan hasil uji.


3.4 Penerima Sampel dan Persiapan


Periksa nama, jenis kelamin, usia, identitas dan uji sampel; sampel yang abnormal 


harus ditandai; sampel harus disimpan dalam suhu -700C sebelum dilakukan uji.


3.5 Item Uji


3.5.1 Uji untuk asam nukleat nCoV-2019 (fluoresensi real-time RT-PCR)


Primer dan menjajaki wilayah gen ORFlab dan N nCoV-2019 direkomendasikan.



Target satu (ORFlab):


Forward primer (F): CCCTGTGGGTTTTACACTTAA


Reverse primer (R): ACGATTGTGCATCAGCTGA


Probe Fluoresens (P): 5'-FAM-CCGTCTGCGGTATGTGGAAAGGTTATGG-


 BHQ1-3’


Target dua (N):


Forward primer (F): GGGGAACTTCTCCTGCTAGAAT


Reverse primer (R): CAGACATTTTGCTCTCAAGCTG


Probe Fluoresens (P): 5’-FAM-TTGCTGCTGCTTGACAGATT-TAMRA-3’


Sistem reaksi dan kondisi reaksi ekstraksi asam nukleat dan fluoresensi real-time


RT-PCR merujuk pada instruksi alat..


3.5.2. Hasil Penilaian


Negatif: tidak ada nilai Ct atau Ct ≥40.


Positif: Ct<37 dapat dilaporkan positif.


Area abu-abu: Nilai Ct antara 37 dan 40 dan tes ulang dianjurkan. Jika nilai Ct 


berulang <40, dan kurva amplikasi menunjukkan puncak yang jelas, sampel harus 


dinilai positif atau negatif.


Catatan: jika komersial kit digunakan, instruksi yang disediakan pabrik akan 


berlaku.


4 Persyaratan untuk Percobaan Biosafety Patogen


Menurut karakteristik biologis nCoV-2019, karakteristik epidmiologis, data klinis 


dan informasi lain yang tersedia saat ini, nCoV-2019 untuk sementara dikelola sebagai 


mikroorganisme patogen Kelas B, dan persyaratan khusus adalah sebagai berikut:


4.1 Penanaman Virus


Budidaya virus mengacu pada prosedur seperti, isolasi, kultur, titrasi, uji 


netralisasi, pemurnian virus hidup dan proteinnya, pengeringan beku virus dan 


percobaan rekombinasi menghasilkan virus hidup. Prosedur di atas harus dilakukan 


dalam kabinet Biosafety dari laboratorium Biosafety level 3 (BSL-3). Saat mengekstraksi 


asam nukleat dari kultur virus, penambahan agen lisis atau agen inaktivasi harus 


dioperasikan di bawah kondisi protektif dan di laboratorium dengan tingkat keamanan 


yang sama untuk kultur virus. Setelah penambahan agen lisis atau agen inaktivasi, 


kultur virus dapat dioperasikan mengacu pada tingkat perlindungan material infeksius 



yang tidak dibudidayakan. Laboratorium harus mengajukan permohonan persetujuan 


oleh Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat Cina sebelum melakukan kegiatan 


yang relevan.


4.2 Percobaan Infeksi Hewan


Percobaan infeksi hewan mengacu pada prosedur percobaan seperti menginfeksi 


hewan dengan virus hidup, pengambilan sampel dari hewan yang terinfeksi, 


penanganan dan pengujian sampel infeksius, pemeriksaan khusus yang terinfeksi 


hewan, dan membuang kotoran hewan yang terinfeksi. Operasi ini harus dilakukan di 


kabinet keamanan hayati laboratorium BSL-3. Laboratorium tersebut harus mengajukan 


permohonan persetujuan oleh Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat Cina 


sebelum melakukan kegiatan yang relevan.


4.3 Prosedur Material Infeksius yang Tidak Dikultur 


Prosedur pada material infeksi yang tidak dikultur mengacu pada prosedur, 


seperti deteksi antigen virus, deteksi serologis, ekstraksi asam nukleat, analisis biokimia, 


dan menonaktifkan sampel klinis, pada material infeksius yang tidak dikultur sebelum 


penonaktifan yang dapat dipercaya. Prosedur ini seharusnya dilakukan di laboratorium 


BSL-2 dan mengadopsi perlindungan pribadi seperti perlindungan laboratorium BLS-3.


4.4 Prosedur untuk menonaktifkan Material


Pengujian asam nukleat, pengujian antigen, pengujian serologis, analisis biokimia 


dan prosedur lain dari material infeksius atau virus hidup yang dinonaktifkan dengan 


metode yang benar harus dilakukan dalam laboratorium BSL-2. Prosedur lain yang 


melibatkan virus patogen yang tidak aktif, seperti kloning molekuler, dapat dilakukan 


di laboratorium BSL-1.


Panduan ini digunakan dalam pencegahan dan pengendalian COVID-19 untuk 


staf yang melakukan penyelidikan epidemologi, bekerja di ruang isolasi dan situs 


pengamatan medis, dan para profesional yang berpartisipasi dalam transfer kasus dan 


orang yang terinfeksi, penanganan mayat, pembersih lingkungan dan disinfeksi, 


pengumpulan spesimen dan pekerja laboratorium, dll.


1 Peralatan dan Penggunaan Pelindung Individual


Peralatan perlidungan individual harus digunakan oleh semua orang yang 


berkontak atau mungkin berkontak dengan kasus COVID-19 dan kontaminan pembawa 


asimptomatik (seperti sekresi darah atau cairan tubuh, muntah, kotoran, dll.) dan 


benda-benda yang terkontaminasi atau permukaan lingkungan, termasuk:


1.1 Sarung Tangan


Menurut jenis pekerjaan, kenakan sarung tangan karet atau nitril sekali pakai saat 


memasuki area yang terkontaminasi atau melakukan diagnosis dan operasi perawatan. 


Bersihkan, ganti sarung tangan, dan lakukan kebersihan tangan saat berkontak dengan 


pasien yang berbeda atau ketika sarung tangan rusak.


1.2 Masker Pelindung Medis


Orang-orang yang memasuki area yang terkontaminasi atau melakukan diagnosis 


dan prosedur perawatan harus mengenakan masker pelindung medis atau respirator 


filter udara. Uji keketatan udara terlebih dahulu saat mengenakan masker dan pastikan 


masker pelindung medis dilepas terakhir saat memakai beberapa peralatan pelindung.


1.3 Layar Pelindung Wajah atau Goggles


Pakailah pelindung wajah atau kacamata pelindung jika mata, konjungtiva, dan 


wajah berisiko terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, sekresi, feses, dan aerosol saat 


memasuki area yang terkontaminasi atau melakukan prosedur diagnosis dan 


perawatan. Disinfeksi dan keringkan kacamata yang dapat digunakan kembali agar siap 


jika ingin digunakan kembali.


1.4 Pakaian Pelindung


Ganti pakaian pribadi menjadi pakaian kerja (baju bedah atau pakaian sekali 


pakai) dan pakaian pelindung saat memasuki area yang terkontaminasi atau melakukan 


tindakan medis.


2 Kebersihan Tangan


Gunakan disinfektan tangan yang cepat kering ketika tidak ada kontaminan yang 


terlihat dan gunakan pembersih tangan untuk mencuci tangan yang cepat kering ketika 


ada kontaminan yang terlihat.


Kebersihan tangan harus benar-benar dipatuhi dalam pekerjaan sehari-hari, 


terutama sebelum menggunakan sarung tangan dan peralatan pelindung pribadi, 


sebelum prosedur aseptik, sebelum berkontak dengan darah pasien, cairan tubuh dan 


barang-barang yang terkontaminasi atau permukaan yang terkontaminasi dan saat 


melepas peralatan pelindung individual.


3 Perlindungan Individual Terhadap Populasi Khusus


3.1 Peneliti Epidemiologis


Kenakan topi kerja sekali pakai, masker medis-bedah, pakaian kerja, dan sarung 


tangan sekali pakai, dan jaga jarak lebih dari satu meter dari subjek saat memeriksa jarak 


dekat.


Kenakan pakaian kerja, topi kerja sekali pakai, sarung tangan sekali pakai, pakaian 


pelindung, KN95/N95 dan masker pelindung partikulat atau masker wajah 


perlindungan medis, layar pelindung atau goggle, sepatu kerja atau sepatu karet, 


penutup boot tahan air, dll., ketika menyelidiki dugaan dugaan kasus, kasus yang 


didiagnosis secara klinis (hanya di Provinsi Hubei), kasus yang dikonfirmasi dan 


pembawa asimptomatik. Melakukan investigasi kasus-kasus ini melalui telepon atau 


video juga dianjurkan.


3.2 Staf Ruang Isolasi atau Tempat Pengamatan Medis


Kenakan pakaian kerja, topi kerja sekali pakai, sarung tangan sekali pakai, pakaian 


pelindung, masker pelindung medis atau respirator filter udara, layar atau pelindung 


wajah pelindung, sepatu kerja atau sepatu karet, sepatu karet kedap air, dll.


3.3 Pekerja untuk Transfer Kasus dan Operator Asimptomatik


Pakaian kerja, topi kerja sekali pakai, sarung tangan sekali pakai, pakaian 


pelindung, masker pelindung medis atau respirator filter udara, pelindung wajah atau 


kacamata pelindung, sepatu kerja atau sepatu karet, penutup sepatu karet tahan air, dll., 


direkomendasikan.


3.4 Penangan Mayat


Pakaian kerja, topi kerja sekali pakai, sarung tangan sekali pakai, dan sarung 


tangan karet tebal lengan panjang, pakaian pelindung, masker pelindung KN95 / N95 


atau yang lebih baik, atau masker pelindung medis, atau respirator filter udara, 


pelindung wajah, sepatu kerja atau sepatu karet, penutup sepatu karet tahan air, 


celemek tahan air, atau pakaian isolasi kedap air direkomendasikan.


3.5 Staf untuk Pembersihan dan Disinfeksi Lingkungan


Pakaian kerja, topi kerja sekali pakai, sarung tangan sekali pakai, dan sarung 


tangan karet tebal lengan panjang, pakaian pelindung, KN95/N95 dan masker 


pelindung partikulat yang lebih baik atau masker pelindung medis atau respirator filter 


udara, pelindung wajah, sepatu kerja atau sepatu karet, penutup sepatu karet tahan air, 


celemek tahan air, atau naju tahan air direkomendasikan. Pilih kotak saringan 


kombinasi debu-racun atau tabung sesuai dengan jenis disinfektan, dan berikan 


perlindungan kimia seperti disinfektan saat menggunakan respirator filter udara. 


3.6 Staf untuk Pengumpulan Spesimen


Pakaian kerja, topi kerja sekali pakai, sarung tangan ganda, pakaian pelindung, 


KN95/N95 atau masker pelindung partikulat yang lebih baik, atau masker pelindung 


medis, atau respirator filter udara, pelindung wajah, sepatu kerja, atau sepatu karet, dan 


penutup sepatu karet disarankan. Kenakan celemek tahan air atau gaun tahan air jika 


perlu.


3.7 Staf Laboratorium


Kenakan setidaknya pakaian kerja, topi kerja sekali pakai, sarung tangan ganda, 


pakaian pelindung, masker pelindung KN95/N95 atau yang lebih baik, atau masker 


pelindung medis, atau respirator filter udara, layar atau kaca pelindung wajah, sepatu 


kerja atau sepatu karet, penutup sepatu karet tahan air. Kenakan celemek tahan air atau 


baju tahan air jika perlu.

4 Tindakan Pencegahan Untuk Melepas Peralatan Pelindung


4.1 Usahakan untuk tidak menyentuh permukaan yang terkontaminasi saat 


melepaskan pakaian pelindung.


4.2 Pelindung mata, sepatu karet dan barang-barang yang tidak sekali pakai harus 


dilepaskan dan langsung direndam ke dalam wadah yang berisi disinfektan, barang barang sekali pakai yang tersisa harus dimasukkan ke dalam kantong pengumpulan 


sampah klinis kuning untuk pembuangan khusus.


4.3 Disinfeksi tangan harus dilakukan setiap tahap melepas peralatan pelindung, 


serta melepas semua peralatan pelindung

1 Prinsip-prinsip Disinfeksi


1.1 Penentuan Ruang Lingkup dan Objek


Tentukan ruang lingkup, objek dan batas waktu disinfeksi di tempat sesuai 


dengan hasil penyelidikan epidemiologis. Tempat dimana kasus yang dikonfirmasi dan 


pembawa asimptomatik tinggal/menetap, seperti tempat tinggal, bangsal isolasi dan 


alat transportasi, dll., harus didisinfeksi setiap saat. Semua tempat harus dilakukan 


disinfeksi setelah pemulangan atau kematian kasus, atau setelah uji asam nukleat 


dinyatakan negatif pada pembawa tanpa gejala (asimptomatik).


1.2 Pilihan Metode


Institusi medis harus mencoba memakai barang sekali pakai, sterilisasi tekanan 


uap harus menjadi pilihan pertama untuk mendisinfeksi persediaan medis yang tidak 


sekali pakai, dan barang-barang yang tidak tahan panas harus didisinfeksi atau 


disterilkan dengan disinfektan kimia atau peralatan sterilisasi suhu rendah. Permukaan 


benda dapat diseka, disemprot atau direndam dengan disinfektan yang mengandung 


klorin, klorindioksida dan disinfektan lainnya. Tangan dan kulit disarankan untuk 


dibersihkan dengan disinfektan kulit yang efektif atau disinfektan tangan yang cepat 


kering seperti iodophor, disinfektan yang mengandung klor dan hidrogen peroksida 


dan disinfektan lainnya dengan cara disemprotkan, Semua produk disinfektan yang 


digunakan harus memenuhi persyaratan Departemen Kesehatan. 


2 Tindakan Disinfeksi


2.1 Disinfeksi Serentak


Disinfeksi serentak mengacu pada disinfeksi yang tepat waktu atas benda-benda 


dan tempat-tempat yang terkontaminasi oleh kasus yang dikonfirmasi dan pembawa 


asimptomatik. Tempat dimana pasien telah tinggal, seperti tempat tinggal, bangsal 


isolasi, tempat observasi medis, alat transportasi, dll., harus dilakukan disinfeksi



serentak, bersamaan dengan polutan yang dikeluarkan pasien dan benda-benda yang 


mungkin terkontaminasi. Berdasarkan disinfeksi untuk metode sterilisasi, disinfeksi


semprot tidak dianjurkan jika terdapat orang. Tempat isolasi pasien dapat dilakukan 


ventilasi (termasuk ventilasi alami dan ventilasi mekanis) untuk menjaga aliran udara 


tetap mengalir. Pastikan ventilasi dua atau tiga kali sehari selama minimal 30 menit 


setiap kali ventilasi. 


Institusi medis dengan kondisi yang memadai harus menempatkan pasien pada 


bangsal isolasi tekanan negatif, mengisolasi kasus yang dicurigai di kamar tunggal. 


Kasus yang sudah dikonfirmasi dapat ditempatkan di ruangan yang sama. Bangsal 


isolasi dengan tekanan non-negatif harus berventilasi baik dan disinfeksi udara dengan 


ventilasi (termasuk ventilasi alami dan ventilasi mekanik) dan disinfektor udara yang 


bersirkulasi. Udara juga dapat didisinfeksi dengan sinar ultraviolet dalam kondisi 


kosong, waktu pemaparan dapat diperpanjang hingga lebih dari 1 jam jika didisinfeksi


dengan sinar ultraviolet. Staf medis dan staf yang menyertai harus mencuci dan 


mendisinfeksi tangan setelah melakukan mendiagnosis, perawatan dan pekerjaan 


keperawatan.


2.2 Disinfeksi Terminal


Terminal disinfeksi mengacu pada disinfeksi terminal setelah sumber infeksi 


pergi. Udara dan berbagai peralatan harus dipastikan bebas dari pathogen setelah 


disinfeksi terminal. Objek disinfeksi terminal meliputi polutan (darah, sekresi, muntah, 


eksresi, dll) yang dikeluarkan dari kasus yang terkonfirmasi dan pembawa 


asimptomatik, barang dan tempat yang berpotensi terkontaminasi. Tidak diperlukan 


disinfeksi untuk daerah yang luas seperti lingkungan luar ruangan (termasuk udara). 


Tempat-tempat dimana kasus dan pembawa asimptomatik tinggal untuk waktu yang 


singkat tanpa polutan yang jelas tidak perlu disinfeksi terminal.


2.2.1 Tempat Tinggal Pasien


Disinfeksi terminal harus dilakukan setelah pasien dirawat di rumah sakit atau 


meninggal, dan hasil negatif dari pemeriksaan asam nukleat dari pembawa 


asimptomatik; termasuk lantai dan dinding kamar, meja, permukaan furnitur termasuk 


meja dan kursi, pegangan pintu, peralatan makan pasien (perlengkapan minum), 


pakaian, tempat tidur dan keperluan sehari-hari lainnya, mainan, kamar mandi 


termasuk toilet, dll.


2.2.2 Alat Transportasi


Alat transportasi harus dilakukan disinfeksi terminal setelah kasus dan pembawa 


asimptomatik pergi. Objek disinfeksi meliputi; permukaan bagian dalam kabin, kursi, 


bantalan tidur, meja dan lain-lain; peralatan makan dan perlengkapan minum; alas tidur 


dan bahan tekstil lain yang digunakan; eksresi, muntah dan daerah yang 


terkontaminasi; toilet kereta api dan pesawat terbang, dll.


2.2.3 Institusi Medis


Disinfeksi terminal harus diselesaikan di klinik demam dan klinik infeksi setelah 


bekerja setiap hari, dan bangsal isolasi harus didisinfeksi setelah pasien dirawat di 


rumah sakit atau meninggal, atau pembawa asimptomatik menunjukkan hasil negatif 


dari tes asam nukleat. Lantai dan dinding; permukaan meja, kursi, meja di samping 


tempat tidur, bingkai tempat tidur, dll; pakaian, tempat tidur pasien dan kebutuhan 


sehari-hari lainnya dan persediaan medis yang berhubungan; udara dalam ruangan, 


dll., disarankan untuk dilakukan disinfeks terminal.


2.2.4 Prosedur Disinfeksi Terminal


Prosedur disinfeksi terminal mematuhi Lampiran A dari Prinsip-prinsip Umum 


untuk Disinfeksi Fokus Epidemi (GB19193-2015). Staf untuk melakukan disinfeksi harus 


memakai perlindungan pribadi saat menyiapkan dan menggunakan disinfektan kimia.


3 Metode Disinfeksi untuk Benda-benda yang sering Terkontaminasi


3.1 Udara Dalam Ruangan


Disinfeksi terminal udara dalam ruangan di tempat tinggal seperti tempat tinggal 


dan bangsal isolasi dapat merujuk ke Kode Manajemen Pemurnian Udara Rumah Sakit 


(WS/T368-2012). Disinfektan seperti asam peroksiasetat, klorin dioksida dan hidrogen 


peroksida dapat dipilih untuk disinfeksi dengan semprotan volume sangat kecil dalam 


kondisi tidak ada orang.


3.2 Polutan (Darah, Sekresi, Muntah, Ekskresi Pasien)


Sejumlah kecil polutan dapat dihilangkan secara hati-hati dengan mencelupkan 


5.000-10.000 mg/L disinfektan yang mengandung klor (atau tisu disinfeksi/tisu kering 


yang dapat mencapai tingkat disinfeksi tinggi) dengan bahan penyerap sekali pakai 


(seperti kain kasa, kain perca, dll.)


Sejumlah besar polutan harus benar-benar ditutupi dengan bubuk disinfektan 


atau bubuk pemutih yang mengandung bahan penyerap air, atau sepenuhnya ditutupi 


dengan bahan penyerap air sekali pakai dan dituangkan disinfektan dengan jumlah 


yang cukup mengandung klorin 5.000-10.000 mg/L. Biarkan lebih dari 30 menit (atau 


gunakan handuk kering disinfeksi yang dapat mencapai tingkat disinfeksi tinggi), dan 


pindahkan dengan hati-hati. Hindari kontak dengan polutan selama proses 


pemindahan, dan polutan yang dibuang harus dibuang sebagai limbah medis. Eksresi, 


sekresi, muntah pasien, dll., harus dikumpulkan dalam wadah khusus, dan didisinfeksi


dengan disinfektan yang mengandung klorin 20.000 mg/L dengan perbandingan 1 : 2 


dalam tinja dan obat-obatan selama 2 jam.


Permukaan benda-benda lingkungan yang terkontaminasi harus didisinfeksi


setelah polutan dikeluarkan. Wadah yang mengandung polutan dapat direndam dalam 


larutan disinfektan yang mengandung 5.000 mg/L klorin efektif selama 30 menit, dan 


kemudian dibersihkan.


3.3 Lantai dan Dinding


Polutan yang terlihat harus benar-benar dihilangkan sebelum disinfeksi


sementara polutan yang tidak terlihat dapat diseka atau disemprot dengan disinfektan 


yang mengandung klorin 1.000 mg atau disinfektan klorin dioksida 500 mg/L. 


Disinfeksi lantai harus diselesaikan dengan menyemprot dari luar ke dalam dengan 


volume semprot 100-300 mL/m2 terlebih dahulu, dan penyemprotan dari dalam ke luar 


lagi setelah disinfeksi dalam ruangan. Waktu disinfeksi tidak boleh kurang dari 30 


menit.


3.4 Permukaan Objek


Kontaminan yang terlihat di permukaan dan fasilitas peralatan, serta pagar tempat 


tidur, meja, perabotan, gagang pintu, dan barang-barang lainnya, harus sepenuhnya 


dihilangkan sebelum disinfeksi. Untuk polutan yang tidak terlihat, disarankan untuk 


menyemprot, menyeka atau merendam dengan disinfektan yang mengandung klorin 


1.000 mg/L atau disinfektan klorin dioksida 500 mg/L selama 30 menit disarankan.


3.5 Pakaian, Perlengkapan Tidur dan Tekstil Lainnya


Pembentukan aerosol harus dihindari selama pengumpulan barang, dan 


direkomendasikan untuk melakukan insinerasi sebagai limbah medis. Barang-barang 


dengan polutan yang tidak terlihat dapat disterilkan untuk digunakan kembali dengan 


mengalirkan uap atau merebus selama 30 menit, atau merendam dengan 500 mg/L 


disinfektan yang mengandung klor selama 30 menit dan kemudian membersihkan 


seperti biasa, atau memasukkan langsung ke mesin cuci dengan kantong kemasan yang 


larut dalam air dan mencuci disinfeksi selama 30 menit, dan mempertahankan 


kandungan klorin pada 500 mg/L. Ethyleneoxide dapat digunakan untuk mendisinfeksi 


pakaian yang mahal.


3.6 Kebersihan Tangan


Semua orang yang terlibat dalam pekerjaan lapangan harus memperhatikan 


kebersihan tangan. Disinfektan tangan yang cepat kering berbasis alkohol dapat 


digunakan, juga disinfektan tangan berbasis klorin atau hidrogen dalam kondisi khusus. 


Pembersih tangan harus digunakan untuk mencuci tangan di bawah air mengalir ketika 


ada polutan yang terlihat, dan kemudian didisinfeksi.


3.7 Kulit dan Mukosa


Kulit yang terkontaminasi oleh polutan harus diseka dengan iodophor 0,5% atau 


disinfektan hidrogen peroksida dengan bahan penyerap sekali pakai selama lebih dari 


3 menit setelah polutan dihilangkan, dan kemudian dibersihkan dengan air. Mukosa 


harus dibilas dengan banyak normal saline atau 0,05% iodophor.


3.8 Peralatan Makan


Setelah membersihkan sisa makanan, peralatan makan harus direbus dan 


disterilkan selama 30 menit, atau direndam dalam 500 mg/L disinfektan yang 


mengandung klorin dengan klorin efektif selama 30 menit, kemudian dibilas dengan air.


3.9 Transportasi


Situasi polusi harus dievaluasi terlebih dahulu. Polutan yang terlihat di kereta, 


mobil, dan kapal harus sepenuhnya dihilangkan dengan menggunakan bahan penyerap 


sekali pakai dengan disinfektan yang mengandung klorin 5.000 – 10.000 mg/L (atau 


disinfeksi dengan tingkat lebih tinggi handuk basah/handuk kering), kemudian 


disemprotkan atau diseka dengan disinfektan yang mengandung 1.000 mg/L klorin 


atau disinfektan yang mengandung 500 mg/L klorin dioksida selama 30 menit. Saat 


mendisinfeksi kabin pesawat, jenis dan dosis disinfektan harus sesuai dengan ketentuan 


yang relevan dari Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CAAC). Kain, bantal, bantal, 


dan seprai direkomendasikan untuk diperlakukan sebagai limbah klinis.


3.10 Sampah Rumah Tangga dari Pasien


Sampah rumah tangga pasien harus diperlakukan sebagai limbah klinis.


3.11 Limbah Klinis


Pembuangan limbah medis harus memenuhi persyaratan Peraturan tentang 


Pengelolaan Limbah Medis dan Tindakan untuk Pengelolaan Limbah Medis di Lembaga 


Medis dan Kesehatan, dan harus ditangani sesuai dengan proses pembuangan 



konvensional setelah pengemasan dengan dua lapisan tas penyimpanan kuning.


3.12 Pembuangan Mayat


Meminimalkan pergerakan dan transportasi pasien yang meninggal, yang harus 


ditangani tepat waktu oleh staf terlatih di bawah perlindungan ketat. Gunakan 


disinfektan yang mengandung 3.000–5.000 mg/L klorin atau 0,5% asam perioksiasetik 


berbentuk bola untuk mengisi semua saluran atau luka terbuka, seperti mulut, hidung, 


telinga, anus, trakeostomi, dll. Bungkus mayat dengan kain lapis ganda yang direndam 


dengan disinfektan, memasukkannya ke dalam kantong mayat berlapis ganda, dan 


mengirimkannya langsung ke tempat yang ditunjuk menggunakan kendaraan khusus 


dari Departemen Urusan Sipil untuk kremasi sesegera mungkin.


3.13 Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan


Pekerjaan disinfeksi yang tepat waktu harus mematuhi pedoman dari badan badan pengendalian dan pencegahan penyakit setempat, dan dilaksanakan oleh 


organisasi-organisasi terkait atau oleh badan-badan pengendalian dan pencegahan 


penyakit setempat. Disinfeksi serentak dan disinfeksi terminal lembaga medis harus 


diatur oleh lembaga medis, dan panduan teknis harus disediakan oleh CDC. Personil 


non-profesional harus menerima pelatihan profesional dari lembaga pencegahan dan 


pengendalian penyakit setempat sebelum melakukan pekerjaan disinfeksi, memakai 


metode disinfeksi yang tepat dan memperhatikan perlindungan pribadi.


4 Evaluasi Efek Disinfeksi


Personil laboratorium yang memenuhi syarat inspeksi dan pengujian harus 


mengevaluasi disinfeksi permukaan benda, udara, dan tangan jika perlu.


4.1 Permukaan


Sampel diambil dari permukaan benda sebelum dan sesudah disinfeksi sesuai 


dengan Standar Higienis untuk Disinfeksi di Rumah Sakit (GB15982-2012), Lampiran A, 


dan larutan sampel setelah disinfeksi adalah penetralisir yang sesuai.


Efek disinfeksi umumnya dievaluasi berdasarkan bakteri alami, atau bakteri yang 


menunjukkan resistensi yang sama atau lebih besar dari patogen yang ada sesuai 


dengan situasi sebenarnya. Disinfeksi yang memenuhi syarat dapat dinilai dengan ≥90% 


bakteri alami yang tidak aktif pada objek disinfeksi setelah disinfeksi jika menggunakan 


bakteri alami sebagai indikator atau ≥99,9% untuk bakteri indikator. 


4.2 Udara Dalam Ruangan


Pengambilan sampel udara dilakukan sebelum dan sesudah disinfeksi sesuai 


dengan Lampiran A dari Standar Higienis untuk Disinfeksi di Rumah Sakit (GB15982-


2012) dan plat sampel harus mengandung penetralisir yang sesuai setelah disinfeksi. 


Disinfeksi dapat dinilai memenuhi syarat jika tingkat kematian bakteri alami di udara 


adalah ≥90%.


4.3 Tangan Staf


Pengambilan sampel tangan diambil sebelum dan sesudah disinfeksi menurut 


Lampiran A dari Standar Higienis untuk Disinfeksi di Rumah Sakit (GB15982-2012), dan 


larutan pengambilan sampel setelah disinfeksi adalah penetralisir yang sesuai. 


Disinfeksi dapat dinilai memenuhi syarat jika bakteri alami yang tidak aktif sebelum 


dan sesudah disinfeksi adalah ≥90%.


4.4 Efek Disinfeksi Limbah Rumah Sakit


Evaluasi dilakukan sesuai dengan peraturan yang relevan tentang Standar 


Pelepasan Polutan Air untuk Institusi Medis (GB18466). Di daerah dengan transmisi 


yang berkelanjutan, seperti Wuhan, Provinsi Hubei, program perlindungan kesehatan 


setempat harus dibentuk sebagai tempat-tempat khusus sementara seperti titik 


perawatan terpusat dan tempat isolasi terpusat.


Agar dijadikan pedoman yang lebih baik serta mempromosikan pencegahan dan 


pengendalian terhadap Virus Corona 2019 (COVID 2019) secara nasional, Komisi 


Kesehatan Nasional Republik Rakyat China telah merevisi buku Rencana Pencegahan dan 


Pengendalian terhadap Penyakit Virus Corona 2019 dan diformulasikan dalam edisi 


keempat, didasarkan pada situasi epidemik dan kenyataan saat ini. Bagian-bagian 


penting yang direvisi adalah sebagai berikut:


1. Berdasarkan penelitian ilmiah terhadap nCoV-2019 saat ini, gambaran dari 


bagian penyebab dan bagian epidemiologi dari nCoV-2019 dicantumkan menjadi bagian 


dari rencana keseluruhan; 


2. Dalam rencana surveilans, deskripsi epidemiologi dan prinsip penilaian 


terhadap terduga kasus telah dicantumkan dalam bagian “definisi surveilans” bagi 


provinsi-provinsi lain, terkecuali Provinsi Hubei. Gambaran bahwa “Wuhan atau daerah 


lain dimana kasus lokal terus menyebar” dalam edisi ketiga telah diubah menjadi “Wuhan 


dan daerah sekitarnya atau komunitas lain yang melaporkan kasus” dalam edisi keempat. Di


samping itu, prinsip penilaian dari “menghubungkan setiap orang dengan riwayat 


epidemiologi yang memiliki dua manifestasi klinik (item 1 dan item 2, atau item 2 dan item 3)”




diubah menjadi “menghubungkan setiap orang dengan riwayat paparan epidemiologi yang 


mengalami dua dari berbagai manefestasi klinik”, sehingga akan meningkatkan sensitivitas 


dari surveilans terhadap terduga kasus.


3. Sebagaimana untuk Provinsi Hubei, definisi unik dari kasus terduga, penegakan 


diagnosis secara klinis dan kasus konfirmasi telah ditambahkan, sehingga memperbesar 


perbedaan dari terduga kasus di Hubei dibandingkan dengan provinsi lain.


4. Sebagai tambahan, definisi kasus surveilans dikaitkan dengan “kasus konfirmasi, 


terduga kasus, dan pembawa virus tanpa gejala”, dan “kasus ringan” telah dihapus dan 


dimasukkan dalam klasifikasi klinik. Gambaran dari langkah-langkah deteksi, methode 


dan syarat bantuan dan observasi medis untuk pembawa virus tanpa gejala juga telah 


dimasukkan kedalam rencana surveilans.


5. Selanjutnya, jumlah kasus yang telah dicluster telah dimasukkan kedalam lebih 


dari lima, dimana spesimennya perlu dikirim ke Pusat Pencegahan dan Pengendalian 


Penyakit China untuk direview dan dikonfirmasi dalam rencana surveilans.


6. Dalam rencana investigasi epidemiologi, isi investigasi dari kasus suspek 


dijadikan sebagai informasi dasar dan situasi dari kontak dekat, dan berbagai 


pertanyaan untuk laporan kasus oleh jejaring tidak disyaratkan sebelum diagnosis pasti, 


agar mengurangi beban kerja dari akar rumput.


7. Manajemen ukur dari kontak dekat dan pembawa virus tanpa gejala juga telah 


ditambahkan. Di berbagai area dimana kondisinya diperbolehkan, menempatkan 


kontak dekat di bawah observasi medis secara intensif juga disyaratkan. Ditekankan 


bahwa pembawa virus tanpa gejala atau tanpa gejala harus ditempatkan di bawah 


observasi medis secara intensif sebagai prinsip.


8. Walaupun perjalanan transmisi fecal-oral masih belum jelas, rencana ini sudah 


dimasukkan dalam ukuran dan persyaratan dalam pemeriksaan laboratorium, 


manajemen kontak dekat, proteksi terhadap populasi spesifik dan disinfeksi terhadap 


area tertentu, dll. untuk mengurangi risiko transmisi fecal-oral.



Sejumlah kasus dengan novel Virus Corona Pneumonia (resmi dinamakan 


COVID-19) telah ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei sejak Desember 2019. Sebagai 


penyebaran kejadian luar biasa, kasus-kasus serupa telah ditemukan di wilayah lain di 


China dan menyebar luas. Untuk memberikan pedoman ilmiah serta pencegahan dan 


pengendalian secara efektif disetiap wilayah, dengan persetujuan dewan kota, Komisi 


Kesehatan Nasional RRC telah memasukkan penyakit ini dalam Penyakit Menular Kelas 


B dan diatur sebagai Penyakit Menular Kelas A ditetapkan dalam peraturan RRC dalam 


Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Infeksi pada tanggal 20 Januari 2020 dan


mengatur CDC China dan institusi terkait melakukan analisa secara dinamis terhadap 


perkembangan situasi epidemik dan memantau kemajuan dari pencegahan dan 


pengendalian di setiap wilayah. Berdasarkan perubahan pada situasi pencegahan dan 


pengendalian, termasuk peningkatan dalam cluster Kejadian Luar Biasa di Provinsi 


Hubei dan Wuhan, penyebaran kejadian di luar Provinsi Hubei, dan deteksi terhadap 


pembawa virus tanpa gejala sebagaimana penelitian terkait kemajuan dari penyebab 


dan rute transmisi dari COVID-19, empat versi dari rencana pencegahan dan 


pengendalian telah direvisi dan diperbarui. Pada tanggal 6 Februari 2020, Kantor Pusat 


Komisi Kesehatan Nasional RRC mengeluarkan buku Rencana Pencegahan dan 


Pengendalian Penyakit Virus Corona 2019 (Edisi Keempat) selanjutnya disebut Rencana 


Pencegahan dan Pengendalian (Edisi Keempat). Dari edisi pertama sampai edisi keempat 


dari buku Rencana Pencegahan dan Pengendalian, keseluruhan jumlah ukuran 


pencegahan dan pengendalian telah ditingkatkan dari 9 menjadi 12 dan jumlah 


lampiran telah bertambah dari 4 menjadi 6. Riwayat epidemiologi dan prinsip penilaian 


kasus dalam definisi dari bagian surveilans, isi dari investigasi epidemiologi, 


sebagaimana prinsip-prinsip penilaian dan ukuran manajemen terhadap kontak dekat 


menjadi penyesuaian utama. Definisi surveilans sudah ditambahkan khusus bagi 


Provinsi Hubei, dan manajemen dari kemungkinan sumber infeksi semakin diperketat. 


Detail analisa komparatif ditunjukkan pada Tabel 3.1-3.


Dibandingkan dengan tiga edisi sebelumnya, edisi keempat direvisi dari perpektif 


efektivitas deteksi sumber infeksi, memutus rantai dan rute penularan, melindungi 


individu rentan terutama yang bekerja di garis depan. Pertama, deskripsi patogenik dan 


karakter epidemiologi telah ditambahkan dalam edisi ini untuk petugas kesehatan pada 


akar rumput untuk lebih memahami karakteristik transmisi dari nCoV-2019, untuk 


memperoleh ukuran ilmiah dan efektif dan untuk melaksanakan pencegahan, 


pengendalian dan proteksi diri. Kedua, sensitivitas dari deteksi sumber infeksi yang 


terkonfirmasi dan potensial telah diperbaiki dengan pengembangan yang lebih luas.


Dalam Rencana Surveilans edisi keempat, gambaran epidemiologi dan prinsip penilaian 


dari terduga kasus telah dimasukkan dalam bagian “Definisi Surveilans” untuk Provinsi 


kecuali Hubei. Gambaran bahwa “Wuhan dan wilayah lain dimana kasus lokal terus 


menyebar” dalam edisi ketiga telah diubah menjadi “Wuhan dan area sekitarnya atau 


komunitas lain yang melaporkan kasus” dalam edisi keempat. Di samping itu, prinsip 


penilaian dari “menghubungkan setiap orang dengan riwayat epidemiologi yang memiliki dua 


manifestasi klinik (item 1 dan item 2, atau item 2 dan item 3)” diubah menjadi 


“menghubungkan setiap orang dengan riwayat paparan epidemiologi yang mengalami dua dari 


berbagai manefestasi klinik”, sehingga akan meningkatkan sensitivitas dari surveilans 


terhadap terduga kasus. “Memiliki gambaran fitur dari pneumonia” tidak lagi dijadikan 


kriteria dalam paparan penilaian kasus suspek dengan riwayat paparan epidemiologi. 


Dengan demikian maka kasus ringan omisif dapat dihindari dan kemungkinan deteksi 


kasus suspek dapat diperbaiki di tingkat institusi layanan medik dasar. Seperti untuk 


Provinsi Hubei, kriteria dari penentuan kasus terduga lebih diperlebar dan sementara 


itu, kategori “diagnosis kasus secara klinis” ditambahkan, sehingga akan memperbaiki 


sensitivitas deteksi kasus secara signifikan. Ketiga, manajemen pengukuran dari potensi 


sumber infeksi telah diperkuat untuk mengurangi insiden dari kasus klaster secara 


efektif. Untuk mengurangi penyebaran penyakit yang disebabkan oleh karantina di 


rumah yang longgar, Rencana Pencegahan dan Pengendalian (Edisi Keempat) 


mensyaratkan isolasi yang intensif dari kontak dekat dan pembawa virus tanpa gejala 


dan karantina di rumah hanya diperbolehkan di wilayah dimana kondisi tidak tersedia. 


Keempat, risiko penularan fecal-oral telah benar-benar dipertimbangkan. Pengukuran 


yang sesuai dan berbagai persyaratan diletakkan sepenuhnya pada hasil tes 


laboratorium, manajemen kontak dekat, perlindungan populasi spesifik dan disinfeksi


tempat spesifik. Sangat disyaratkan untuk fokus pada kebersihan lingkungan dan 


perorangan, disinfeksi kotoran dari penderita, melakukan disinfeksi pada institusi 


medis, rumah, toilet dan tempat-tempat umum, dan untuk mencegah kontaminasi dari 


air dan makanan oleh kotoran penderita. Kelima, beban kerja dari kasus terlaporkan 


pada akar rumput telah dikurangi. Pada edisi keempat, mengindikasikan bahwa 


terduga kasus tidak perlu dilaporkan dalam laporan jejaring untuk investigasi 


epidemiologi sebelum dikonfirmasi, dan meningkatkan jumlah kasus dalam setiap 


klaster dari dua menjadi lima, dimana spesimennya perlu dikirim CDC China untuk 


keperluan review dan konfirmasi.


Melalui pemahaman yang mendalam dari nCoV-2019 dan berbagai pengalaman 


yang diakumulasi dalam pencegahan dan pengendalian penyakit, para ahli dari CDC 


China akan terus melakukan evaluasi secara ilmiah terhadap situasi rencana 


pencegahan dan pengendalian ilmiah, dan memastikan bahwa upaya pencegahan dan 


pengendalian di dalam negara berjalan secara ilmiah, tertib, kuat, dan efektif.



Pedoman Pencegahan dan Pengendalian terhadap Orang Lanjut Usia


1. Pastikan bahwa orang lanjut usia (lansia) peka terhadap langkah-langkah 


perlindungan diri, syarat kebersihan tangan; hindari berbagi barang-barang pribadi, 


memperhatikan ventilasi atau keluar masuknya udara, dan menerapkan langkah langkah disinfeksi. Dorong lansia untuk lebih sering mencuci tangan.


2. Ketika orang lanjut usia memiliki gejala-gejala yang mencurigakan seperti 


demam, batuk, sakit tenggorokan, sesak dada, dispnea, kelelahan, mual, dan muntah, 


diare, konjungtivitis, nyeri otot, dll., langkah-langkah berikut perlu dilakukan:


2.1 Karantina diri sendiri dan hindari kontak langsung dengan orang lain.


2.2 Status kesehatan harus dinilai/periksa oleh staf medis/kesehatan dan mereka 


yang memiliki kondisi kesehatan abnormal akan dipindahkan ke rumah sakit atau 


layanan medis yang tersedia. Dalam perjalanan ke rumah sakit harus menggunakan 


masker bedah, hindari menggunakan kendaraan umum jika dimungkinkan.


2.3 Orang-orang yang memiliki kontak langsung dengan kasus-kasus 


mencurigakan harus segera didaftarkan serta menerima observasi/pengamatan medis.


2.4 Kurangi pertemuan-pertemuan yang tidak perlu, pesta-pesta makan malam 


dan kegiatan kelompok lainnya, dan tidak mengadakan makan malam yang terpusat.


2.5 Apabila setiap orang lanjut usia dengan gejala yang mencurigakan didiagnosis


terinfeksi COVID-19, setiap orang yang memiliki kontak langsung harus menerima/


mendapatkan tindakan observasi medis selama 14 hari. Setelah pasien pergi (seperti 


rawat inap, meninggal, dll), ruangan dimana dia dirawat dan segala kemungkinan 


bahan-bahan yang terkontaminasi seharusnya dilakukan didisinfeksi terminal saat itu 


juga. Prosedur disinfeksi/sterilisasi khusus harus dilakukan/dioperasikan atau dengan 


instruksi oleh profesional dari CDC lokal, atau pihak ketiga yang memiliki kualifikasi 


tersebut. Tempat tinggal tanpa disinfeksi tidak direkomendasikan untuk digunakan.



Pedoman Pencegahan dan Pengendalian terhadap Anak-Anak


1. Jangan mendatangi tempat-tempat yang ramai, dan tidak menghadiri pesta pesta.


2. Pakailah masker saat pergi keluar, dan ingat untuk mengingatkan orang tua dan 


kakek-nenek anda untuk melakukan yang sama.


3. Konsumsilah makanan secara teratur dan sehat. Cuci tangan anda sebaik baiknya sebelum makan dan setelah buang air besar. Lebih sering melakukan latihan 


atau olah raga di rumah bersama orang tua. 


4. Tutup mulut dan hidung anda dengan handuk kertas/tisu kertas atau dengan 


siku saat bersin atau batuk.


5. Dengarkan orang tua anda dan segera dapatkan perawatan medis jika anda 


demam atau sakit.


Pedoman Pencegahan dan Pengendalian terhadap Pelajar


1. Selama Liburan Musim Dingin


1.1 Pelajar yang datang dari area/lokasi yang tinggi epideminya (seperti Wuhan) 


harus tinggal di rumah atau di tempat-tempat yang sudah ditentukan untuk observasi 


medis selama 14 hari sejak meninggalkan daerah-daerah tersebut.


1.2 Semua pelajar harus tinggal di rumah sesuai instruksi dari sekolah; hindari 


mengunjungi keluarga atau teman, menghadiri pesta makan malam, dan pergi ke 


tempat-tempat umum yang ramai, terutama tempat-tempat yang tidak berventilasi atau 


tertutup.


1.3 Pelajar disarankan untuk melakukan pemantauan kesehatan setiap hari dan 


melaporkannya kepada orang yang dipercaya sesuai dengan yang ditetapkan 


masyarakat atau sekolah.


1.4 Di akhir liburan musim dingin, pelajar yang tidak terindikasi apapun dapat 


kembali ke sekolah seperti sediakalanya. Bagi mereka yang memiliki gejala-gejala yang 


mencurigakan harus segera melaporkan ke pihak sekolah dan mendapatkan tindakan 


medis yang tepat, dan kembali ke sekolah setelah sembuh.


2. Dalam Perjalanan Kembali ke Sekolah


2.1 Pakailah masker bedah atau masker N95 pada saat menggunakan transportasi 


umum.


2.2 Jaga kebersihan tangan sepanjang waktu dan kurangi kontak langsung dengan 


barang-barang umum atau area-area dalam kendaraan.


2.3 Pantau kesehatan selama perjalanan, dan ukur suhu tubuh ketika merasa 


demam.


2.4 Perhatikan kondisi kesehatan para penumpang di sekitar kita dan hindari 


kontak langsung atau lebih dekat dengan mereka yang menunjukkan gejala-gejala yang 


mencurigakan.


2.5 Dalam kasus ada gejala yang mencurigakan selama perjalanan, kenakan 


masker bedah medis, atau masker N95, hindari kontak dengan orang lain, dan 


konsultasikan dengan dokter pada waktunya jika perlu.


2.6 Pelajar yang perlu pergi ke rumah sakit selama perjalanan harus memberitahu 


dokter tentang perjalanan dan riwayat hidup daerah epidemi, dan bekerjasama dengan 


dokter untuk melakukan penyelidikan yang relevan.


2.7 Simpan informasi tiket perjalanan dengan baik jika diperlukan pelacakan 


kontak terdekat.



Pedoman Pencegahan dan Pengendalian di Taman Kanak-kanak (atau Sekolah)


1. Bagi mereka yang memiliki riwayat hidup/tinggal atau berkunjung di lokasi 


yang tinggi epidemi (seperti Wuhan) disarankan untuk karantina diri di rumah selama 


14 hari sebelum kembali ke Taman Kanak-kanak (atau sekolah).


2. Setelah kembali ke Taman Kanak-kanak (atau sekolah), periksa/pantau suhu 


tubuh dan status kesehatan setiap hari, kurangi pergi keluar yang tidak perlu dan 


hindari kontak langsung dengan orang lain.


3. Pakailah/kenakan masker bedah medis atau masker N95 secara benar pada saat 


kontak langsung dengan guru-guru atau pelajar/siswa lainnya, dan kurangi ruang 


lingkup kegiatan.


4. Kepala Sekolah/Petugas yang bertanggungjawab terhadap Taman Kanak kanak (sekolah) harus memantau kondisi kesehatan siswanya lebih dekat, mengukur 


suhu tubuh dua kali sehari, merekam ketidakhadiran, awal kedatangan, dan 


kepulangan. Jika ada gejala-gejala mencurigakan ditemukan di antara pelajar/siswa, 


Kepala Sekolah/orang yang bertanggungjawab harus segera melaporkan hal tersebut 


ke staf manajemen epidemi dan bekerjasama dengan CDC lokal untuk melakukan 


manajemen kontak dan disinfeksi.


5. Sekolah-sekolah harus hindari mengadakan kegiatan-kegiatan skala besar, 


memperkuat/memperhatikan ventilasi dan pembersihan ruang kelas, asrama, 


perpustakaan, pusat kegiatan, kantin, auditorium, kantor/ruang guru, toilet, dan area 


kegiatan lainnya, dimana pembersih tangan dan disinfektan tangan harus disediakan.


6. Kepala Sekolah/orang yang bertanggungjawab mengadakan pembelajaran 


daring dan kelas khusus bagi anak-anak yang tidak bisa mengikuti kelas normal karena 


sakit. Bagi mereka yang tidak bisa mengikuti ujian karena sakit, harus diadakan ujian 


khusus bagi mereka. 



Pedoman Pencegahan dan Pengendalian di Rumah Perawatan


Selama periode epidemi, rumah-rumah perawatan disarankan untuk menerapkan 


prinsip manajemen tertutup, melarang pengunjung dari luar, menjaga penghuni dalam 


rumah perawatan, tidak menerima penghuni baru. Bagi mereka yang pergi keluar harus 


dipantau lebih intens setelah kembali.


1. Langkah-langkah Pencegahan Harian


1.1 Memastikan para staf dan penghuni memahami/mendapatkan pengetahuan 


yang relevan, hindari berbagi barang-barang pribadi, memperhatikan keluar masuknya 


udara/ventilasi, dan lakukan langkah-langkah disinfeksi. Pencatatan kesehatan harus 


diberlakukan bagi penghuni dan staf, dan setiap hari dilakukan pengecekan kesehatan 


di pagi hari.


1.2 Staf dengan gejala-gejala yang mencurigakan harus segera mendatangi rumah 


sakit untuk pemeriksaan kesehatan dan tidak diperkenankan kembali bekerja hingga 


status nCoV-2019 dan penyakit infeksi lainnya dinyatakan negatif.


1.3 Menerapkan sistem registrasi bagi pengunjung, dan menolak pengunjung 


yang menunjukkan gejala-gejala infeksi nCoV-2019. Semua pengunjung harus 


menggunakan masker bedah.


1.4 Menjaga udara segar dalam ruangan. Menjaga keluar masuknya udara 


setidaknya 30 menit setiap setengah hari; lengkapi dengan peralatan ventilasi mekanis 


apabila tidak dimungkinkan membuka jendela. Perhatikan untuk menghindari 


perbedaan suhu yang berlebihan saat membuka jendela di musim dingin.


1.5 Mendorong para orang tua untuk secara rutin mencuci tangan, dan menjaga 


lingkungan tetap bersih.


1.6 Mempersiapkan ruang isolasi jika dibutuhkan penanganan isolasi terhadap 


orang tua yang menunjukkan gejala-gejala yang mencurigakan. Mereka yang memiliki 


gejala-gejala tersebut, harus diisolasi dengan segera untuk menghindari penyebaran ke 


orang lain. 


2. Orang Tua dengan Gejala yang Mencurigakan


Para orang tua dengan gejala-gejala yang mencurigakan harus segera diisolasi/


karantina di ruangan khusus individu, dan status kesehatannya harus dievaluasi oleh 


staf medis/kesehatan. Pasien harus dipindahkan ke rumah sakit atau layanan kesehatan 


yang tersedia untuk mendapatkan penangan sesuai dengan kondisi yang dia dialami. 


Semua kegiatan kunjungan harus ditangguhkan/ditiadakan. 


Pedoman Pencegahan dan Pengendalian di Tempat-tempat Kerja


1. Pekerja disarankan untuk memantau kesehatan masing-masing dan disarankan 


tidak bekerja jika ia memiliki gejala infeksi nCoV-2019 (demam, batuk, sakit 


tenggorokan, sesak dada, dyspnea, kelelahan, mual dan muntah, diare, konjungtivitis, 


otot rasa sakit, dll.).


2. Pekerja dengan gejala mencurigakan dianjurkan untuk harus meninggalkan 


tempat kerja.


3. Peralatan di fasilitas umum harus dibersihkan dan disemprot disinfektan secara 


teratur.


4. Pertahankan sirkulasi udara di ruang kantor. Pastikan semua ventilasi bekerja 


secara efisien. Filter AC harus dibersihkan secara teratur.


5. Toilet harus dilengkapi dengan pembersih tangan yang cukup dan pastikan ada 


fasilitas untuk air bersih termasuk keran air.


6. Jagalah agar Lingkungan tetap bersih dan rapi, dan bersihkan tempat sampah 


tepat waktu.


Pedoman Pencegahan dan Pengendalian di Transportasi Umum


(termasuk pesawat terbang, bus, kereta bawah tanah, kereta api, dll.)


1. Staf transportasi umum di daerah epidemi perlu mengenakan masker bedah 


atau masker N95 dan melakukan pemantauan kesehatan sehari-hari.


2. Disarankan untuk melengkapi transportasi umum dengan termometer, masker 


dan barang-barang lainnya.


3. Tingkatkan frekuensi pembersihan kendaraan dengan disinfektan. Catat setiap 


tindakan pembersihan dan disinfektan tersebut.


4. Menjaga kebersihan stasiun serta bersihkan sampah tepat waktu.


5. Merotasi jadwal hari libur untuk para staf agar semuanya mendapatkan cukup 


istirahat.


Pedoman Pencegahan dan Pengendalian untuk Tempat Umum


Panduan ini berlaku di pusat perbelanjaan, restoran, bioskop, KTV, kafe internet, 


pemandian umum, tempat gym, ruang pameran, stasiun kereta api, stasiun kereta 


bawah tanah, bandara, halte bus, dan tempat umum lainnya.


1. Staf di tempat-tempat umum harus memantau kesehatan masing-masing. 


Jangan pergi bekerja jika ada gejala mencurigakan terinfeksi nCoV-2019.


2. Staf dengan gejala yang mencurigakan diharuskan mendapatkan perawatan 


medis.


3. Peralatan publik harus dibersihkan dan didisinfeksi secara teratur.


4. Pertahankan sirkulasi udara di ruang kantor. Pastikan semua ventilasi berfungsi 


secara efisien. Filter AC harus dibersihkan secara teratur, dan ventilasi dengan 


membuka jendela harus difungsikan.


5. Toilet harus dilengkapi dengan pembersih tangan yang cukup dan pastikan ada 


fasilitas untuk air bersih termasuk keran air.


6. Jagalah agar lingkungan tetap bersih dan rapi, dan bersihkan tempat sampah 


tepat waktu.


7. Di daerah epidemi penyakit, hindarilah bepergian di tempat-tempat umum, 


keramaian dimana fasilitas ventilasinya sangat buruk.


Panduan Pencegahan dan Pengendalian untuk Karantina Rumah


1. Pengaturan Ruang Bersama


1.1 Orang dengan gejala yang mencurigakan perlu tinggal di kamar sendiri yang 


berventilasi baik dan menolak semua kunjungan.


1.2 Anggota keluarga harus tinggal di kamar yang berbeda. Jarak kamar 


setidaknya satu meter dan jika menginap bersama, tidurlah di tempat tidur terpisah jika 


kondisinya tidak memungkinkan. Orang dengan gejala yang mencurigakan harus 


menghindari kegiatan, membatasi ruang gerak, dan memastikan ruang bersama (seperti 


dapur dan kamar mandi) memiliki ventilasi yang baik (menjaga jendela tetap terbuka).


2. Pengaturan Pengasuh


Pilihlah anggota keluarga yang sehat dan bebas dari penyakit kronis untuk 


merawat pasien.


3. Pencegahan Penularan


Anggota keluarga yang hidup dengan orang-orang yang memiliki gejala yang 


mencurigakan harus mengenakan masker bedah medis yang sesuai dengan wajah. Jaga 


kebersihan tangan setiap saat dan hindari kontak langsung dengan sekresi tubuh, dan 


jangan berbagi benda apapun yang dapat menyebabkan infeksi kontak tidak langsung.


4. Perawatan Benda-benda Kontaminasi


Sarung tangan, handuk kertas, masker, dan limbah lainnya harus ditempatkan di 


kantong sampah khusus di kamar pasien dan ditandai sebagai benda-benda 


terkontaminasi sebelum dibuang.


5. Orang dengan salah satu gejala berikut harus segera berhenti dikarantina di 


rumah dan mencari perawatan medis tepat waktu.


5.1 Kesulitan bernafas (termasuk meningkatnya sesak dada, mati lemas, dan sesak 


napas setelah aktivitas).


5.2 Gangguan kesadaran (termasuk lesu, ketidakmampuan untuk membedakan 


antara siang dan malam).


5.3 Diare.


5.4 Demam dengan suhu tubuh lebih tinggi dari 39 ° C.


Saran Ahli tentang Manajemen Medis Pengobatan Tradisional Cina dan 


Barat yang Terintegrasi untuk Pasien dengan Demam di Rumah


di Komunitas (Edisi Pertama)


Epidemi Penyakit Virus Corona 2019 (COVID-19) terdeteksi di Kota Wuhan, 


Provinsi Hubei pada Desember 2019. Data saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar 


pasien adalah kasus biasa. Pada saat yang sama, akhir musim dingin dan awal musim 


semi setiap tahun juga merupakan periode insiden dingin dan flu yang tinggi. Dengan 


demikian, baru-baru ini, ada banyak orang di klinik dan bangsal demam. Beberapa 


pasien demam memilih isolasi rumah karena takut risiko infeksi. Menurut Rencana 


Diagnosis dan Perawatan Penyakit Virus Corona 2019 (Edisi Keempat Tentatif), Rencana 


Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Virus Corona 2019 (Edisi Ketiga) dan Skema 


untuk Diagnosis dan Pengobatan Influenza (2019), dll., kami membuat rekomendasi ini 


untuk membimbing pasien dengan demam di bawah karantina rumah.


1. Rekomendasi Penapisan (Screening) Karantina Rumah untuk Penderita Demam


Infeksi pernapasan memiliki insiden tinggi di musim dingin dan musim semi. 


Biasanya pilek, flu, dan COVID-19 dapat menyebabkan demam, tetapi gejalanya 


berbeda. Sebagai contoh, flu biasa biasanya bermanifestasi sebagai gejala saluran 


pernapasan atas yang jelas seperti bersin, pilek dan tenggorokan tidak nyaman, tetapi 


gejala sistemik ringan, seperti tidak ada demam atau hanya demam sementara. Flu 


biasanya menyebabkan demam tinggi, gejala sistemik yang parah, dengan menggigil, 


sakit kepala, sakit sistemik, hidung tersumbat, pilek, batuk kering, sakit dada, mual dan 


kehilangan nafsu makan. COVID-19 bermanifestasi sebagai demam, kelelahan, dan 


batuk kering. Sejumlah kecil pasien memiliki gejala seperti hidung tersumbat, pilek, dan 


diare.


Jika demam, batuk dan gejala lainnya terjadi, orang-orang disarankan untuk 


ditempatkan di bawah karantina rumah setelah kondisi berikut dipenuhi:


1.1 Gejala ringan, dengan suhu tubuh <38°C; tanpa sesak napas, sesak dada, sulit 


bernapas; dan dengan tanda-tanda vital yang stabil seperti pernapasan, tekanan darah, 


dan detak jantung.


1.2 Tanpa penyakit dasar yang parah pada sistem pernapasan dan kardiovaskular 


dan obesitas parah.


2. Rekomendasi Manajemen Medis untuk Pasien dengan Demam di Rumah


2.1 Lebih banyak istirahat, jaga diet seimbang tanpa lemak, minyak dan gula.


2.2. Minum air hangat daripada minuman dingin untuk memastikan fungsi limpa 


dan perut normal.


2.3 Hindari penggunaan antimikroba yang berlebihan atau tidak tepat.


2.4 Kenakan masker dengan benar, makan terpisah dari anggota keluarga, dan 


jaga jarak lebih dari 1,5 meter dari anggota keluarga.


2.5 Orang yang kedinginan dapat memilih obat paten Cina dengan sifat antipiretik 


dan menghilangkan dingin.


2.6 Orang yang kedinginan, demam, nyeri otot, dan batuk dapat memilih obat 


paten Cina dengan pembersihan dan detoksifikasi, ventilasi paru-paru dan menahan 


batuk.


2.7 Orang yang kelelahan, mual, nafsu makan berkurang, dan diare dapat memilih 


obat paten Cina untuk dehumidifikasi.


2.8 Orang yang mengalami demam dengan sakit tenggorokan jelas dapat memilih 


obat paten China dengan membersihkan panas dan detoksifikasi.


2.9 Demam yang disertai konstipasi juga dapat menggunakan obat-obatan 


pencegah diare yang memicu diare.


2.10 Ketika suhu tubuh lebih tinggi dari 38,5°C, tindakan pendinginan fisik seperti 


handuk hangat atau tongkat es dapat dilakukan. Orang dengan kondisi ini disarankan 


untuk minum obat antipiretik dan analgesik atau minum obat antipiretik dan 


detoksifikasi.


Obat spesifik di atas dapat merujuk pada obat yang direkomendasikan dalam 


Rencana Diagnosis dan Perawatan Penyakit Virus Corona 2019 (Edisi Keempat Tentatif).


3. Tindakan Pencegahan dan Kontrol Keluarga untuk Pasien dengan Demam


3.1 Merekomendasikan periode 7 hari untuk karantina rumah.


3.2 Menjaga lingkungan dalam ruangan tetap bersih dan berventilasi selama 


setengah jam, satu hingga tiga kali sehari. Perhatikan untuk tetap hangat saat ventilasi.


3.3 Kenakan masker dengan benar, tutup mulut dengan tisu atau siku daripada 


tangan ketika batuk dan bersin, sering-seringlah mencuci tangan (jangan menyentuh 


mulut, hidung, mata, dll. dengan tangan kotor) dan letakkan tutup toilet sebelum 


pembilasan.


3.4 Hindari pertemuan, pesta makan, dan kurangi waktu menginap di tempat 


ramai tempat sesingkat mungkin.


3.5 Penderita demam, batuk dan gejala lainnya harus mewaspadai hal tersebut


metode karantina sendiri, seperti isolasi satu kamar; jika tidak diizinkan, pasien harus 


menjaga jarak setidaknya 1,5 meter dari anggota keluarga; tutup pintu untuk 


menghindari konveksi udara antar kamar; jangan gunakan AC sentral.


3.7 Dalam perjalanan ke rumah sakit, semua orang harus memakai topeng.


3.7 Masker yang digunakan oleh pasien harus disegel dalam kantong dan 


kemudian ditempatkan di tempat sampah.


4. Gejala Utama Pemantauan Pasien dengan Demam selama Karantina di Rumah


4.1 Mengukur dan mencatat suhu tubuh setidaknya dua kali sehari.


4.2 Apakah ada sesak dada, sesak napas, polipnea, peningkatan denyut jantung 


dan sebagainya.


4.3 Apakah gejala sistem pencernaan seperti diare dan muntah diperparah.


5. Saran tentang Penatalaksanaan Gejala Abnormal Saat Karantina di Rumah


5.1. Jika kondisi berikut ini terjadi, disarankan untuk pergi ke rumah sakit dan 


klinik demam yang ditunjuk untuk mencari perawatan medis:


(1) Suhu tubuh tinggi berlangsung selama lebih dari 2 jam.


(2) Terjadi sesak dada dan sesak napas.


5.2 Jika frekuensi pernapasan ≥30 napas/menit terjadi, disertai dengan kesulitan 


pernapasan dan sianosis pada bibir, dll., segera hubungi 120 untuk mendapatkan 


bantuan. Pasien harus dipindahkan ke rumah sakit atau klinik demam yang ditunjuk 


oleh staf medis darurat.


Saran Ahli ini akan direvisi lebih lanjut berdasarkan bukti dari praktik klinis dan 


harus digunakan secara khusus sesuai dengan karakteristik yang relevan dari masing masing wilayah.


Sejak Desember 2019, peningkatan kasus penyakit virus corona 2019 (COVID-19) 


secara bertahap didiagnosis di Wuhan, Provinsi Hubei. Dengan adanya penyebaran 


epidemi ini, kasus-kasus terinfeksi juga telah dilaporkan di daerah lain di Cina dan luar 


negeri. Pada 8 Januari 2020, virus penyebab wabah ini diidentifikasi sebagai novel 


coronavirus 2019. Pada 1 Februari 2020, Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat 


Tiongkok mengeluarkan Panduan Pencegahan dan Pengendalian nCoV-2019 (Edisi 


Pertama) (selanjutnya disebut sebagai Panduan Pencegahan dan Pengendalian), yang isinya 


ditafsirkan sebagai berikut. 


Isi panduan pencegahan dan pengendalian dalam populasi tertentu dan tempat tempat tertentu, dan saran ahli untuk manajemen pengobatan medis tradisional Cina 


dan Barat terintegrasi untuk pasien dengan demam di rumah termasuk dalam Panduan


Pencegahan dan Pengendalian Edisi Pertama. 


1 Saran untuk Lansia, Anak-anak dan Pelajar


1.1 Di Cina, terdapat sejumlah besar orang lanjut usia (lansia), yang merupakan 


populasi yang rentan terhadap penyakit menular karena melemahnya fungsi kekebalan 


tubuh mereka. Demikian pula, lansia merupakan kelompok penyumbang terbesar kasus 


kritis dalam epidemi ini. Para lansia harus memahami pengetahuan perlindungan 


pribadi, memakai masker dengan benar, sering mencuci tangan, memperkuat ventilasi 


dan disinfeksi tempat tinggal, dan menghindari pertemuan selama epidemi. Orang yang 


mengalami demam atau kontak dengan kasus yang mencurigakan harus segera 


mendaftarkan diri di komunitas atau lembaga medis setempat, dan menerima karantina 


dan pemantauan kesehatan aktif. Setelah kasus yang dikonfirmasi ditangani, tempat 


tinggal mereka harus didisinfeksi secara menyeluruh oleh CDC lokal atau pihak ketiga 


yang berkualifikasi.


1.2 Anak-anak juga orang-orang yang rentan, harus menghindari bepergian ke 


tempat-tempat ramai, memakai masker saat keluar rumah, dan mencuci tangan ketika 


kembali ke rumah. Selain itu, anak-anak harus menjaga pola makan yang sehat dan 


segera memperoleh perawatan medis ketika merasa sakit. 


1.3 Pelajar yang pernah tinggal atau bepergian di daerah epidemi tinggi harus 


tinggal di rumah atau di tempat yang ditentukan selama 14 hari karantina. Selama 


liburan musim dingin, para pelajar diharuskan tinggal di rumah, mengurangi waktu 


berkumpul, melakukan pemantauan kesehatan setiap hari dan melaporkan hasilnya 


sesuai dengan persyaratan setempat. Setelah kembali ke sekolah, mereka yang memiliki 


gejala mencurigakan harus melaporkannya ke sekolah dan kemudian mendapatkan


perawatan medis tepat waktu. Dalam perjalanan ke sekolah dan pulang ke rumah, para 


pelajar harus selalu memakai masker medis dan menghindari kontak dengan orang lain. 


Orang-orang dengan gejala yang dicurigai harus secara dini menceritakan riwayat 


perjalanan dan tempat tinggal secara jujur, dan bekerja sama dengan petugas terkait 


untuk melakukan penyelidikan ketika mencari perawatan medis. Para pelajar diminta 


untuk menyimpan informasi tiket perjalanan untuk membantu sektor-sektor terkait 


untuk melakukan penyelidikan kontak jarak dekat yang mungkin terjadi. 


2 Saran untuk Taman Kanak-kanak (atau Sekolah), Rumah Jompo, Ruang 


Kantor, Kendaraan Umum, Tempat Umum dan Karantina Rumah 


2.1 Taman Kanak-kanak (atau Sekolah) untuk anak-anak dan remaja di tempat 


padat penduduk. Siswa yang memiliki riwayat tinggal atau bepergian di daerah 


epidemi tinggi atau memiliki gejala yang dicurigai disarankan untuk memperoleh


periode karantina rumah selama 14 hari sebelum kembali ke sekolah. Otoritas sekolah 


harus memantau suhu tubuh siswa dua kali sehari dan mengharuskan siswa 


mengenakan masker dengan benar. Jika gejala yang mencurigakan ditemukan di antara 


siswa, kantor sekolah harus bekerjasama dengan lembaga medis dan kesehatan untuk 


melakukan manajemen dan disinfeksi untuk kontak jarak dekat. Kegiatan atau 


pertemuan kolektif besar harus dibatalkan dan ventilasi dan pembersihan tempat tempat yang relevan harus diperkuat.


2.2 Institusi keperawatan disarankan untuk menerapkan manajemen tertutup 


yaitu tidak melakukan kegiatan keluar, tidak ada kunjungan, dan tidak ada penghuni 


baru. Ventilasi dan kehangatan kamar serta publikasi dan pendidikan tentang 


pengetahuan pencegahan dan pengendalian dan pemantauan kesehatan untuk orang 


tua dan staf harus diperkuat. Staf dan karyawan dengan gejala yang mencurigakan 


harus segera ke rumah sakit untuk pemeriksaan medis dan tidak diperbolehkan untuk 


kembali bekerja sampai dugaan infeksi nCoV-2019 dan penyakit menular lainnya telah 


berakhir. Ruang isolasi untuk perawatan lansia dengan gejala yang mencurigakan harus 


disiapkan. Mereka yang memiliki gejala yang mencurigakan harus segera diisolasi dan 


dipindahkan ke lembaga medis untuk perawatan sesuai dengan peraturan yang 


berlaku. Selain itu, semua kegiatan kunjungan harus ditunda.


2.3 Di area kantor dan tempat-tempat umum (pusat perbelanjaan, restoran, 


bioskop, kafe internet, pemandian umum, gimnasium, ruang pameran, stasiun kereta 


api, stasiun kereta bawah tanah, bandara, halte bus, terminal, dll.), pemantauan 


kesehatan staf dan karyawan harus diperkuat, dan mereka yang memiliki gejala yang 


mencurigakan tidak diizinkan untuk bekerja. Disinfeksi fasilitas publik dan ventilasi 


tempat umum harus dilakukan secara teratur. Jaga kebersihan dan kebersihan 


lingkungan, dan bersihkan sampah pada waktunya. Pastikan pembersih tangan cukup


tersedia di kamar mandi dan pengoperasian fasilitas air secara normal. Selama epidemi, 


orang harus menghindari tempat-tempat umum, terutama bepergian ke tempat-tempat 


ramai dan padat dengan ventilasi/penghawaan yang buruk. 


2.4 Staf dan karyawan kendaraan/alat transportasi umum (termasuk pesawat 


terbang, bus, kereta bawah tanah, kereta api, dll.) harus memakai masker, dan terus 


dilakukan rotasi libur. Di dalam kendaraan, termometer dan masker harus disediakan, 


ventilasi serta kerapian dan kebersihan harus dijaga, sampah harus segera dibersihkan, 


dan frekuensi pembersihan dan disinfeksi harus ditingkatkan. 


2.5 Orang-orang dengan gejala yang mencurigakan perlu tinggal di satu kamar 


masing-masing selama isolasi atau karantina rumah. Jika kondisinya tidak 


memungkinkan, mereka harus berada setidaknya sejauh satu meter dari anggota 


keluarga yang lain. Semua anggota keluarga harus menggunakan penanda, sering 


mencuci tangan, dan memastikan ruang bersama berventilasi baik. Barang-barang yang 


digunakan oleh anggota keluarga dengan gejala yang dicurigai harus dibuang dalam 


kantong sampah khusus dan ditandai sebagai kontaminan. Orang-orang atau anggota 


keluarga mereka dengan gejala-gejala seperti dispnea, perubahan kesadaran, diare dan 


demam ≥39° C harus segera memperoleh perawatan medis. 


3 Saran Ahli untuk Manajemen Pengobatan Medis Tradisional Cina dan Barat 


Terpadu bagi Penderita Demam di Rumah 


3.1 Infeksi pernapasan memiliki tingkat insiden yang tinggi di musim dingin dan 


musim semi. Dengan demikian, pasien tanpa penyakit dasar atau obesitas parah 


disarankan untuk dikarantina di rumah jika mereka memiliki gejala ringan termasuk 


demam ringan dan batuk, suhu tubuh <38°C, dan tanda-tanda vital yang stabil. 


3.2 Selama karantina di rumah, pasien harus beristirahat dengan baik, melakukan 


diet seimbang dan ringan, sering minum air hangat, dan menyesuaikannya dengan 


situasi yang berbeda (takut dingin, mual atau faringalgia) sesuai dengan rekomendasi 


dalam Rencana Diagnosis dan Terapi Penyakit Virus Corona 2019. 


3.3 Pasien harus memantau suhu tubuh setidaknya dua kali sehari. Ketika kondisi kondisi seperti suhu tubuh tinggi berlangsung selama lebih dari 2 jam, sesak dada, sesak 


napas, frekuensi pernapasan ≥ 30 kali/menit dan dispnea terjadi, pasien harus segera 


pergi ke rumah sakit atau menghubungi nomor telepon 120 dan meminta bantuan untuk 


dipindahkan ke rumah sakit yang ditunjuk untuk perawatan medis.


3.4 Langkah-langkah perlindungan bagi anggota keluarga dan pembuangan 


sampah dari anggota keluarga yang dikarantina juga harus diimplementasikan dengan 


baik. 
































































































Related Posts:

  • corona 3 (kota, kabupaten) harus mengatur lembaga pencegahan dan pengendalian penyakit untuk melakukan investigasi epidemiologi kasus COVID-19. Tim investigasi harus dibentuk segera, dan setiap organisasi harus menjela… Read More