Tampilkan postingan dengan label paparan logam 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paparan logam 1. Tampilkan semua postingan

paparan logam 1

 




GLOSARIUM

 8-OHdG (8-Hidroksi-2- 

Deoksiguanosin)

marker terhadap genotoksisitas  DNA karena 

 logam

Alloy bahan yang terdiri dari campuran dua atau lebih 

unsur  logam

Alloy  Ni-Cr

(Nickel-Chromium)

bahan yang memiliki kandungan terbesar 

campuran  logam  nikel dan kromium disertai 

kandungan kecil  logam lainnya

Alloy Co-Cr

(Cobalt-Chromium)

bahan yang memiliki kandungan terbesar 

campuran  logam  nikel dan kromium disertai 

kandungan kecil  logam lainnya

 Antioksidan senyawa atau zat yang dapat menghambat, 

menunda, mencegah atau memperlambat reaksi 

 oksidasi dari  radikal bebas

Chromium (Cr) suatu unsur  kimia dalam tabel periodik dan 

nomor atom 24 dengan berat atom sebesar 51,99 

g/mol

Cobalt (Co) suatu unsur  kimia dalam tabel periodik dan 

nomor atom 27 dengan berat atom sebesar 58,93 

g/mol

Dermatitis  alergi peradangan  kulit yang terjadi setelah  kulit 

terpajan dengan bahan alergen

Detoksifikasi proses pengeluaran  racun dari dalam tubuh

Dosis kadar dari sesuatu (kimiawi, fisik, biologis) yang 

dapat memengaruhi suatu  organisme secara 

biologis

 DNA (Deoxyribonucleic 

Acid)

sejenis  biomolekul yang menyimpan dan menyandi 

instruksi-instruksi genetika setiap  organisme 

yang berperan penting dalam pertumbuhan, 

perkembangan, dan fungsi  organisme tersebut

122 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

Ekskresi pengeluaran zat-zat sisa pada ginjal manusia yang 

dilakukan melalui pembentukan urine

Ekosistem penggabungan dari setiap unit biosistem 

yang melibatkan interaksi timbel balik antara 

 organisme dan  lingkungan fisik

High  noble  alloy bahan dengan campuran  logam sangat mulia ≥ 

60% wt dan kandungan  emas ≥ 40% wt

Kanker  penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan 

sel secara tidak terkendali, yang memiliki 

kemampuan untuk menyusup dan merusak sel-

sel sehat

Karsinogenik zat yang menyebabkan  penyakit  kanker

Kariolisis ciri  kematian sel berupa hilangnya materi sel

Karioreksis ciri  kematian sel berupa fragmentasi  kromosom

Kematian sel peristiwa penting dalam perkembangan dan 

pertumbuhan homeostasis dan jaringan 

 organisme multiseluler

Keracunan masuknya suatu zat ke dalam tubuh kita yang 

dapat mengganggu kesehatan

Komunitas sebuah kelompok sosial dari beberapa  organisme 

yang berbagi  lingkungan, umumnya memiliki 

ketertarikan dan habitat yang sama

 Malondialdehyde ( MDA) metabolit hasil peroksidasi lipid oleh  radikal 

bebas

Metabolit setiap zat yang terlibat dalam  metabolisme (baik 

sebagai produk  metabolisme maupun diperlukan 

untuk proses  metabolisme)

Metabolisme pertukaran zat antara suatu sel atau suatu 

 organisme secara keseluruhan dengan zat antara 

suatu sel atau  organisme secara keseluruhan 

dengan lingkungannya

Metastasis penyebaran  kanker dari suatu organ tubuh ke 

organ tubuh lain

Mutagen agen alam atau buatan manusia (fisik atau  kimia) 

yang dapat mengubah struktur atau urutan 

 DNA

123Glosarium

Nickel ( Ni) suatu unsur  kimia dalam tabel periodik dan 

nomor atom 28 dengan berat atom sebesar 58,71 

g/mol

Noble Alloy (N) campuran  logam mulia dengan komposisi  logam 

mulia ≥ 25% wt

Organisme segala jenis makhluk hidup (tumbuhan, hewan, 

dan sebagainya).

Penyakit  Parkinson  degenerasi sel saraf secara bertahap pada 

otak bagian tengah yang berfungsi mengatur 

pergerakan tubuh

Piknosis ciri  kematian sel berupa inti sel yang mengecil

Polutan bahan/benda yang menyebabkan pencemaran, 

baik secara langsung maupun tidak langsung.

 Populasi sekumpulan individu dengan ciri-ciri yang sama 

(spesies) yang hidup di tempat yang sama dan 

memiliki kemampuan bereproduksi di antara 

sesamanya

Racun zat (gas) yang dapat menyebabkan sakit atau 

mati

Radikal bebas molekul yang kehilangan satu buah elektron dari 

pasangan elektron bebasnya

 Reactive Oxygen 

Species ( ROS)

 radikal bebas yang berupa  oksigen dan 

turunannya yang sangat reaktif

Reaksi  Fenton dan 

Haber-Weis

reaksi  kimia dalam proses pembentukan  radikal 

bebas hidroksil (•OH) dari molekul  oksigen dalam 

proses respirasi dengan bantuan katalis  logam

Respons istilah yang digunakan oleh psikologi untuk 

menamakan reaksi terhadap rangsang yang 

diterima oleh panca indra.

Spektrofotometri salah satu metode untuk menentukan komposisi 

suatu sampel baik secara kuantitatif dan 

kualitatif berdasarkan interaksi antara materi 

dengan cahaya

Stres oksidatif keadaan di mana jumlah  radikal bebas di 

dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk 

menetralkannya.

124 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

Substantia nigra sekelompok sel berwarna gelap mereka yang 

terletak di otak tengah yang memproduksi 

 dopamin.

Teknisi Gigi seorang profesional dalam bidang kedokteran 

gigi yang dapat membuat alat termasuk gigi 

palsu,  mahkota selubung, gigi tiruan  jembatan 

yang merupakan perintah dari dokter gigi atau 

 teknisi gigi klinis.

Teratogen setiap pengaruh  lingkungan buruk yang 

memengaruhi perkembangan normal janin tanpa 

harus mengubah struktur genetik  organisme

Toksik zat yang bila dapat memasuki tubuh dalam 

keadaan cukup dan secara konsisten dapat 

menyebabkan fungsi tubuh menjadi tidak 

normal

Toksikologi ilmu pengetahuan yang mempelajari efek 

merugikan dari bahan  kimia dalam hal ini 

 paparan bahan  kimia seperti Cr,  Ni, dan Co ( racun) 

terhadap  organisme hidup.

Xenobiotik senyawa-senyawa asing yang tidak terdapat 

secara alami di  lingkungan tertentu



Restorasi yang berbahan dasar  logam di bidang kedokteran gigi sejak 

tahun 1949 hingga saat ini, lebih banyak menggunakan  logam campuran 

atau  alloy  NiCr dan  CoCr (± 80%). Tuangan dengan bahan dasar  alloy dalam 

bidang  prostetik gigi secara ekstensif digunakan pada beberapa aplikasi 

karena sangat dapat diterima atau biokompatibel, berkekuatan tinggi, cukup 

tarnish dan resisten terhadap korosi (Ferracane, 2001; Von Fraunhofer, 

2013; McCabe dan Walls, 2008). Akan tetapi, sejalan dengan keuntungan 

yang didapat,  alloy secara konstan menghasilkan  paparan dari bahan-bahan 

yang berbahaya yang digunakan dan dilepaskan seperti, pelarut, asam non 

organik,  alloy, keramik, dan metakrilat, serta dari ketidaktepatan kondisi 

kerja dan pelindung pada pekerja (Asharani et al., 2008). 

Studi yang dilakukan oleh Hariyani et al. (2015) menunjukkan nilai 

yang melebihi baku mutu untuk kromium (chromium/Cr),  nikel (nickel/ Ni), 

dan kobalt (cobalt/Co) pada darah para  teknisi gigi di Surabaya. Hasil studi 

melaporkan adanya prosedur kerja yang tidak memenuhi standar keamanan 

dan keselamatan kerja. Teknisi gigi hanya menggunakan sarung tangan 

dan masker yang tidak direkomendasi mampu berfungsi sebagai pelindung 

terhadap  paparan debu yang berasal dari Cr,  Ni, dan Co pada saat bekerja. 

Kenyataan lain yang terjadi pada beberapa tahun terakhir ini, 22%  teknisi 

gigi di suatu institusi di Surabaya meninggal akibat  kanker  paru-paru dan 

gagal ginjal kronis, yang diduga merupakan  penyakit akibat  paparan Cr. 

Menumpuknya  logam di dalam tubuh tidak dapat dihancurkan, sedangkan 

 ekskresi membutuhkan waktu bertahun-tahun. 

Rongga mulut memiliki hubungan yang erat dengan rongga hidung 

sebagai kesatuan jalur mekanisme pernapasan dalam menjalankan 

fungsinya, rongga hidung yang terpapar oleh suatu substansi  genotoksik 

juga akan menyebabkan  rongga mulut terpapar. Penumpukan substansi 

 genotoksik yang mengendap di  rongga mulut oleh karena  paparan yang 

2 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

terjadi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan adanya perubahan 

struktur  DNA 

Cr,  Ni, dan Co memiliki potensi  karsinogenik pada manusia dan hewan 

coba. Paparan  Ni secara inhalasi terbukti menyebabkan tumor pada saluran 

pernapasan hewan coba dan manusia melaporkan efek  karsinogenik pada hewan coba yang dipapar 

oleh  logam Co selama 2 tahun, selain itu  logam Co juga menimbulkan efek 

 genotoksik. Paparan  logam  genotoksik dapat meningkatkan jumlah  Reactive 

Oxygen Species ( ROS) endogen. Ion  logam Cr,  Ni, Co, dan vanadium dapat 

menghasilkan radikal hidroksil (–OH) melalui reaksi  Fenton dan Haber-Weis. 

Radikal hidroksil tersebut dapat menyebabkan terjadinya kerusakan  DNA 

(Valko et al., 2005). Kerusakan oksidatif  DNA yang diperantarai oleh  ROS 

berperan penting dalam berbagai  penyakit termasuk  kanker 

Radikal bebas memiliki sifat yang sangat reaktif sehingga dapat 

menyebabkan  oksidasi lebih lanjut pada molekul di sekitarnya. Jika  radikal 

bebas dan hasil  oksidasi bereaksi dengan kompleks molekul di dalam sel 

terutama  kromosom, maka rantai  kromosom menjadi terputus dan susunan 

basa nukleotida berubah. Perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya 

kerusakan pada Deoxyribonucleic Acid ( DNA). Kerusakan lebih lanjut akibat 

dari kerusakan  DNA adalah dapat mengakibatkan pembelahan sel tertunda, 

modifikasi, dan perubahan sel secara permanen, serta peningkatan 

kecepatan pembelahan sel sehingga dapat menginduksi terjadinya tumor 

(Shantiningsih dan Diba, 2015). 

Penelitian yang dilakukan oleh Hariyani et al. (2015) menunjukkan 

bahwa Malondyaldhehide ( MDA) yang dihasilkan pada penelitian ini cukup 

tinggi dengan nilai rata-rata dan simpangan baku sebesar 8,34±6,81. 

Hal ini menggambarkan bahwa aktivitas  radikal bebas di dalam sel 

merupakan salah satu petunjuk terjadinya stres oksidatif akibat  radikal 

bebas (Asni et al., 2009). Uji beda antara akumulasi  paparan  logam dengan 

 MDA menunjukkan nilai berbeda sangat signifikan sedangkan pada uji 

hubungan yang dilakukan antara akumulasi  paparan  logam berat dan 

 MDA, didapatkan korelasi yang kuat dalam bentuk linier positif dengan 

koefisien korelasi sebesar 0,80. Kadar  MDA diukur dengan menggunakan 

spektrofotometer dapat diperiksa baik di dalam plasma, jaringan, maupun 

urine. Pada orang normal, kadar  MDA kurang dari 1,03 nmol/ml dan 2 

3Pendahuluan

kali nilai tersebut merupakan suatu  patologis. Akumulasi  paparan pada 

penelitian ini menghasilkan  radikal bebas reaktif, seperti radikal • OH dan 

singlet oxygen yang mampu menginisiasi terjadinya peroksidasi  lemak.

Tingginya konsentrasi  logam sangat terkait dengan pembentukan 

 radikal bebas. Radikal bebas memiliki sifat yang sangat reaktif sehingga 

dapat menyebabkan  oksidasi lebih lanjut pada molekul di sekitarnya. 

Pembentukan secara langsung maupun tidak langsung pada  organisme 

hidup, mampu menginduksi produksi  Reactive Oxygen Species ( ROS).  ROS 

terdiri dari superoksida (O2

-),  radikal bebas hidroksil (OH2

-), dan hidrogen 

peroksida ( H2O2) serta radikal peroksil (RCOO-).  ROS terus menerus 

dibentuk dalam jumlah besar di dalam sel melalui jalur metabolik tubuh yang 

merupakan proses biologis normal karena berbagai rangsangan, misalnya 

 logam, radiasi, tekanan parsial  oksigen (PO2) tinggi, dan  paparan zat-zat 

 kimia tertentu, serta infeksi maupun inflamasi. Semua  ROS merupakan 

 oksidan kuat dengan derajat berbeda-beda. 

Akumulasi  ROS menyebabkan stres  oksidasi dan akan menginduksi 

ketidakseimbangan sel redoks. Ketidakseimbangan antara terbentuknya 

 ROS dengan kapasitas pertahanan antioksidan dapat memengaruhi 

komponen sel utama, yaitu “ lemak”. Radikal hidroksil (OH-) merupakan 

molekul yang paling reaktif dan dapat bereaksi dengan  protein, asam 

nukleat, dan lipid, serta molekul lain sehingga dapat mengubah struktur 

serta menimbulkan kerusakan jaringan.  ROS bereaksi dengan komponen 

asam  lemak dari membran sel sehingga terjadi reaksi berantai yang dikenal 

dengan peroksidasi  lemak yang mengarah pada terbentuknya  MDA.  MDA 

merupakan metabolit dari salah satu indikator yang paling sering digunakan 

sebagai indikasi peroksidasi  lemak (Nielsen et al., 1997). 

 MDA merupakan salah satu produk final dari peroksidasi lipid. Senyawa 

ini terbentuk akibat degradasi  radikal bebas OH terhadap asam  lemak tak 

jenuh yang nantinya ditransformasi menjadi radikal yang sangat reaktif. 

Proses terbentuknya  MDA dapat dijelaskan sebagai berikut,  radikal bebas 

 oksigen (O2

-) diproduksi melalui proses enzimatik dan non enzimatik. Sel-

sel tubuh yang dapat membentuk  radikal bebas  oksigen dan  H2O2 adalah sel 

polimorfonuklir, monosit, dan makrofag. 

Radikal bebas yang terbentuk akan bereaksi dengan Superoxide 

Dismutase ( SOD) dan ion Cu2+ menjadi  H2O2.  H2O2 ini banyak diproduksi 

di  mitokondria dan mikrosom dan dapat menembus membran sel.  SOD 

4 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

adalah  enzim yang mengatalisis superoksida dismutasi menjadi  oksigen 

dan peroksida hidrogen.  SOD merupakan  enzim penting dalam pertahanan 

sel terhadap  paparan  oksigen. Oksigen diperlukan untuk mempertahankan 

hidup, namun proses  metabolisme  oksigen dalam sel akan menciptakan 

unsur-unsur destruktif yang disebut  radikal bebas. Radikal bebas atau 

 oksidan, secara  kimia tidak seimbang, membawa elektron bebas yang 

dapat merusak molekul dalam sel kita ketika mencoba untuk mencapai 

keseimbangan–berpotensi merusak sel itu sendiri. 

Pada stres oksidatif  radikal bebas,  oksigen yang terbentuk tentu 

berlebihan begitu juga dengan  H2O2 yang terbentuk banyak, sehingga 

sistem proteksi tubuh seperti  enzim  katalase dan Glutathione peroxidase 

tidak dapat lagi menetralkan semua  radikal bebas  oksigen yang terbentuk. 

Selanjutnya, jika  H2O2 bereaksi dengan ion Fe2+ dan Cu2+, maka terbentuklah 

 radikal bebas hidroksil melalui reaksi  Fenton dan  Haber-Weiss. Radikal 

hidroksil adalah spesies yang sangat reaktif. Membran sel terdiri atas banyak 

komponen penting yaitu fosfolipid, glikolipid, (keduanya mengandung asam 

 lemak tak jenuh), dan kolesterol. Asam  lemak tak jenuh ini sangat peka 

terhadap radikal hidroksil. 

Kemampuan radikal hidroksil ini akan membentuk reaksi rantai 

dengan satu atom hidrogen dari membran sel dan terbentuk peroksida lipid. 

Kelanjutan dari reaksi ini adalah terputusnya rantai asam lemah menjadi 

senyawa aldehida yang memiliki daya perusak yang tinggi terhadap sel-sel 

tubuh antara lain Malondyaldhehide, 4-hidroksinenal, etana, dan pentana. 

Demikian pula dengan  DNA dan  protein juga mengalami kerusakan yang 

seringkali cukup hebat (Yoshikawa dan Naito, 2002). Selain itu juga akan 

menghasilkan berbagai produk akhir yang bersifat radikal dan juga merusak 

makromolekul lain di sekitarnya. Kerusakan peroksidatif tersebut dapat 

dirambatkan oleh reaksi rantai berulang. Apabila proses tersebut tidak 

diredam oleh scavenger alamiah, kerusakan akan terjadi pada berbagai 

struktur penting asam  lemak tak jenuh pada membran fosfolipid. 

Stres oksidatif akan terjadi apabila  ROS yang dihasilkan lebih besar 

dibanding yang dapat diredam oleh mekanisme pertahanan sel. Apabila 

senyawa-senyawa tersebut tidak diredam, maka  oksigen akan berbalik 

menjadi  racun bagi tubuh. Enzim  SOD dikatakan mampu memperbaiki efek 

tekanan (stres) oksidatif, yaitu mengatalisis perubahan superoksida menjadi 

hidrogen peroksida dan  oksigen (Farombi et al., 2007).

5Pendahuluan

Hasil pemeriksaan 8-Hidroksi-2’Deoksiguanosin ( 8-OHdG), dalam 

 serum darah sampel yang bekerja dengan  logam pada penelitian yang 

dilakukan penulis menunjukkan hasil rerata konsentrasi  8-OHdG yang 

cukup tinggi dibandingkan dengan kondisi normal. Pada uji korelatif 

antara akumulasi kontak  logam dengan konsentrasi  8-OHdG didapatkan 

nilai negatif, tetapi pada uji statistik dengan Independent sample t test 

didapatkan α = 0,00 Ho diterima. Pada uji, ini didapatkan perbedaan yang 

signifikan antara akumulasi kontak dengan  logam. Dampak yang timbul 

akibat tingginya akumulasi  logam ditunjukkan dengan perbedaan yang 

sangat signifikan antara akumulasi  logam dengan kadar  8-OHdG, walaupun 

tidak pada korelasinya. Peningkatan kerja  enzim dan proses perbaikan  DNA 

atau  DNA repair kemungkinan dapat terjadi atau memerlukan penelitian 

lebih lanjut untuk sampel yang berjumlah lebih besar atau yang memerlukan 

 paparan lebih lama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Matsui 

(2000) pada pasien penderita  kanker stadium II yang sedang mengalami 

pengobatan, juga didapatkan korelasi yang negatif, di mana diduga proses 

pengobatan berperan dalam perbaikan  DNA dan menurut  8-OHdG berperan 

pada fase awal karsinogenesis.

 8-OHdG diekskresikan secara normal oleh tubuh sebagai salah satu 

cara perbaikan  DNA yang mengalami kerusakan akibat  ROS (Endogenous). 

Semakin tinggi  paparan pada sumber  ROS, maka semakin tinggi pula tingkat 

kerusakan  DNA yang terjadi. Paparan jangka panjang dengan mekanisme 

perbaikan yang tidak efektif dapat meningkatkan probabilitas kerusakan 

 DNA yang berujung pada pembentukan  kanker. Dengan dilakukannya 

deteksi dini terhadap risiko tersebut, kerusakan  DNA dapat dicegah lebih 

lanjut sehingga tidak mengakibatkan terjadinya  kanker.

DEFINISI DAN SEJARAH TOKSIKOLOGI

Disiplin ilmu  toksikologi dikembangkan untuk menjelaskan aksi dan 

perilaku zat  toksik dalam hal ini  paparan bahan  kimia seperti Cr,  Ni, dan 

Co ( racun) terhadap manusia. Masalahnya karena kebanyakan zat  kimia 

adalah  racun. Manusia berada dalam hubungan yang terus menerus dengan 

agen-agen  toksik. Agen-agen  toksik ini dapat dijumpai dalam makanan 

yang dimakan, air yang diminum ataupun udara yang dihirup. Agen agen 

tersebut dapat diserap oleh saluran lambung usus,  paru-paru, dan atau  kulit 

6 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

tergantung pada sifat-sifat fisika maupun kimianya. Tubuh kita mempunyai 

kemampuan untuk memetabolisme dan mengeluarkan senyawa-senyawa 

ini ke dalam urine, empedu, dan udara. Namun demikian, apabila kecepatan 

penyerapan melebihi kecepatan ekskresinya, maka senyawa  toksik itu akan 

menumpuk ke satu konsentrasi kritis di dalam badan yang mengakibatkan 

efek  toksik dari agen tersebut terlihat. Dari kenyataan di atas, muncul satu 

cabang ilmu yang dikenal sebagai TOKSIKOLOGI. 

Toksikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari efek merugikan 

dari bahan  kimia terhadap  organisme hidup. Potensi efek merugikan yang 

ditimbulkan oleh bahan  kimia sangat beragam dan bervariasi sehingga ahli 

 toksikologi mempunyai spesialis kerja bidang tertentu. Definisi yang lebih 

luas lagi adalah studi tentang deteksi, keberadaan, sifat-sifat, dan pengaruh, 

serta regulasi bahan-bahan  toksik. Toksisitas sendiri jarang sekali, bahkan 

hampir tidak pernah, didefinisikan sebagai kejadian molekuler tunggal 

tetapi lebih sebagai rangkaian kejadian mulai dari  paparan, berlanjut ke 

 distribusi dan  metabolisme, dan selanjutnya terjadi interaksi dengan sel 

makromolekul (biasanya  DNA atau  protein) dan berakhir dengan ekspresi 

bahan  toksik (Baynes dan Hodgson, 2004). Efek samping ini dapat bervariasi 

dimulai dari iritasi  kulit sampai kerusakan hati, anomali kongenital atau 

bahkan  kematian. Zat  kimia yang dipelajari berasal dari sumber daya alam 

dan juga  industri. Bab ini akan memfokuskan kajian pada efek  toksikologi 

dari agen  lingkungan pada kesehatan manusia seperti efek  paparan  logam 

berat pada kerusakan tingkat molekuler sampai terjadinya suatu  penyakit 

atau  kanker. 

Ahli  toksikologi bekerja dalam bidang akademis,  industri, dan 

pemerintahan. Ahli  toksikologi akademi melakukan penelitian dasar tentang 

efek samping zat  kimia, melatih generasi berikutnya tentang  toksikologi, 

dan mengajar  toksikologi  kesehatan masyarakat, medis,  farmasi, dan 

murid  kedokteran hewan. Para ahli  toksikologi dalam perusahaan  farmasi 

mengidentifikasi efek samping dari obat baru sebelum obat-obat tersebut 

diuji secara klinis dan mereka mencari cara bagaimana memodifikasi obat-

obat tersebut untuk menjadikan minimal  racun. 

Paracelsus, bapak  toksikologi, adalah orang yang pertama kali 

mengungkapkan konsep awal dari  toksikologi, bahwa semua bahan 

mempunyai kemungkinan beracun, dan dosislah yang menyebabkan 

suatu bahan menjadi beracun. Menurut Paracelsus Philippus Aureolus 

7Pendahuluan

Theophrastus Bombastus von Hohenheim (1493–1541), seorang ahli fisika 

yang dihormati hingga hari ini, menyatakan, “Alle Ding sind Gift und nichts 

ohn Gift, allein die Dosis macht das ein Ding kein Gift ist” (semua bahan adalah 

 racun, dan tidak ada bahan tanpa  racun, dan hanya  dosis yang tepat yang 

membuat bahan menjadi tidak beracun). Kalimat ini mungkin dapat diganti, 

semua bahan adalah  racun, dan dosislah yang membuat pengobatan menjadi 

berbeda dengan  racun, atau bahkan lebih sederhana. Dosislah yang membuat 

 racun. Meskipun  racun seperti strychnine, sianida, atau gas saraf yang 

langsung menuju ke pikiran, setiap senyawa dapat menyebabkan  keracunan. 

Tentu saja, semua senyawa tidak sama dengan  racun, beberapa mempunyai 

efek dalam  dosis yang sangat sedikit dan yang lainnya membutuhkan  dosis 

yang sangat tinggi. Dalam satu sisi, garam meja (natrium klorida/NaCl) yang 

digunakan secukupnya bukanlah merupakan suatu masalah dalam diet 

manusia, tapi mengonsumsi setengah cangkir garam tiap hari pada akhirnya 

akan menyebabkan elektrolit yang tinggi, ma salah ginjal, atau bahkan 

 kematian. Di sisi lain, mencerna potasium sianida (KCN) dalam jumlah yang 

sedikit (satu gram) dapat membunuh manusia. Hal ini merupakan pekerjaan 

dari  toksikologi untuk menentukan toksisitas yang terkait dengan senyawa 

yang bermacam-macam.

Tuangan base  metal dengan bahan dasar  alloy dalam bidang  prostetik 

gigi misalnya, dipilih karena dipilih karena lebih dapat diterima atau 

biokompatibel, berkekuatan tinggi, cukup tarnish dan resisten terhadap 

korosi. Akan tetapi, sejalan dengan keuntungan yang didapat selama proses 

pembuatan dental prosthetic,  paparan  alloy, dan ditambah ketidaktepatan 

kondisi kerja dan perlindungan pada pekerja, menghasilkan  paparan yang 

berbahaya bagi kesehatan pekerja. Akumulasi  logam yang tertinggi biasanya 

terdapat dalam organ detoksifikasi (hati) dan  ekskresi (ginjal). Akibat yang 

ditimbulkan dari toksisitas  logam ini dapat berupa kerusakan fisik ( erosi, 

 degenerasi, dan  nekrosis) dan gangguan fisiologis (gangguan fungsi  enzim 

dan gangguan  metabolisme).

Informasi toksisitas ini, ketika digabungkan dengan informasi 

tentang keuntungan potensial dari senyawa, memungkinkan kita untuk 

memutuskan apakah senyawa ini dapat diterima untuk penggunaan tertentu 

dan berapakah  dosis (untuk pengobatan) atau paparannya (dari zat  kimia 

lain) yang diperbolehkan.

8 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

PROSES TOKSIKOLOGI MASUK DALAM LINGKUNGAN

KESEHATAN MASYARAKAT 

Toksikologi secara umum sangat penting bagi kesehatan  lingkungan 

dan  kesehatan masyarakat. Ahli-ahli  kesehatan masyarakat mengelola 

sumber daya yang diperlukan untuk menjaga kesehatan, mencegah  penyakit, 

dan menangani  penyakit. Ditemukannya bahan  kimia atau kontaminan 

 lingkungan yang membahayakan manusia di  lingkungan, secara nyata akan 

meningkatkan perhatian ahli  kesehatan masyarakat.

Bidang  toksikologi akan mengkaji apakah suatu senyawa akan 

menimbulkan efek buruk. Hal ini penting bagi ahli  kesehatan masyarakat 

untuk dapat memahami konsep kunci yang digunakan ahli  toksikologi 

dalam membuat suatu penentuan. Jika ada suatu  paparan, melalui jalur 

apa senyawa tersebut memasuki tubuh? Seberapa banyak senyawa yang 

masuk? Ke manakah senyawa tersebut di dalam tubuh? Apa yang mereka 

lakukan saat sampai pada organ tertentu? Apakah efek fisiologis yang 

mengikuti dan jika sesuai, apa bentuk pengobatan yang ada? Bagaimana 

tubuh mengatasi senyawa tersebut? Apakah tersimpan pada organ tertentu, 

dan dimetabolisme dan dibersihkan? Dibekali dengan prinsip ilmiah dari 

 toksikologi, pekerja profesional  kesehatan masyarakat dapat membuat 

keputusan yang bijaksana bagaimana menangani  paparan tertentu (Baynes 

dan Hodgson, 2004).

Beberapa dekade yang lalu banyak senyawa yang hanya dapat dideteksi 

pada konsentrasi yang tinggi, misalnya part per million (ppm) sistem deteksi 

dewasa ini seperti kromatografi gas dan cairan, spektrometri massa, 

dan spektrometri penyerapan atom memiliki tingkat sensitivitas sampai 

satu juta kali. Sebagai hasilnya, bahan  kimia berbahaya sekarang sering 

ditemukan pada sampel  lingkungan, tetapi biasanya muncul pada tingkat 

yang masih sangat rendah. Ini penting untuk mengingat, bahwa  dosis, 

bukan satu satunya toksikan di dalam sampel yang menjadikannya beracun, 

jika konsentrasi 10 part per billion suatu senyawa tertentu dibutuhkan 

untuk menyebabkan suatu campuran senyawa baru menjadi beracun, 

sedangkan hanya 1 part per trillion saja dari suatu senyawa tersebut yang 

terdeteksi, maka hal ini tidak akan menyebabkan efek buruk. Artinya, suatu 

senyawa tertentu dengan konsentrasi 1 part per trillion tersebut tidak akan 

menyebabkan suatu senyawa campuran baru menjadi beracun. Dengan 

9Pendahuluan

demikian salah satu pertanyaan penting yang harus ditanyakan adalah, 

seberapa banyak senyawa tersebut ada di  lingkungan? 

Toksikologi terintegrasi dalam praktik  kesehatan masyarakat dalam 

beberapa jalan. Sebagai contoh, dalam menyediakan air minum yang aman 

untuk sebuah  komunitas tersebut, klorinasi efektif dalam mengurangi 

kontaminasi mikrobiologi di air, tetapi dapat menyebabkan munculnya 

senyawa organik berklorin yang dikenal dengan produk sampingan dari 

disinfektan. Toksikologi dapat membantu dalam mengenali senyawa ini, 

menilai risiko yang mereka timbulkan, dan menyeimbangkan risiko tersebut 

dengan risiko kontaminan mikrobiologi.

Alasan lain adalah manusia harus meningkatkan apresiasi terhadap 

 toksikologi karena kita terekspos dengan berbagai zat  kimia setiap 

hari. Kita mencerna zat  kimia dalam makanan yang dimakan dan kita 

menghirup partikel dalam udara yang dihirup Banyak orang secara tidak 

sengaja mencerna obat farmasetikal dan rekreasional dengan sedikit atau 

tanpa pengetahuan yang cukup tentang kemungkinan efek sampingnya. 

Pemahaman mengenai  toksikologi dapat mengklarifikasi beberapa isu 

dan membantu kita membuat pilihan yang sehat. Toksikologi adalah ilmu 

yang sangat komprehensif yang menggambarkan dan berkontribusi pada 

spektrum keilmuan yang luas dan aktivitas manusia. 

Di satu sisi,  toksikologi berkontribusi pada konsep metode dan 

filosofi untuk melayani kebutuhan ahli  toksikologi, apakah itu untuk riset 

atau aplikasi  toksikologi pada kemaslahatan manusia. Pada sisi yang lain 

 toksikologi berkontribusi pada beberapa kelompok spektrum keilmuan 

seperti  kimia,  biokimia, patologi,  fisiologi,  epidemiologi, imunologi, ekologi, 

dan biomatematika yang telah lama penting. 

Adapun pada dua atau tiga dekade ini,  toksikologi berkontribusi sangat 

dramatik pada biologi molekuler. Toksikologi juga berkontribusi secara 

signifikan pada beberapa kelompok keilmuan, yaitu aspek kedokteran 

sebagai  kedokteran forensik,  toksikologi klinik,  farmasi dan  farmakologi, 

 kesehatan masyarakat, dan higiene  industri. Toksikologi juga berkontribusi 

pada  kedokteran hewan dan aspek  pertanian yang telah mengembangkan 

dan menggunakan secara aman bahan  kimia  pertanian. Kontribusi 

 toksikologi pada studi  lingkungan sangat penting pada akhir-akhir ini. 

Jelasnya,  toksikologi pada prinsipnya merupakan suatu ilmu terapan yang 

10 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

didedikasikan untuk meningkatkan kualitas hidup dan perlindungan 

 lingkungan.

RUANG LINGKUP TOKSIKOLOGI

Sesungguhnya  toksikologi merupakan perpaduan berbagai ilmu 

sehingga untuk mempelajarinya harus dibekali dengan ilmu-ilmu yang 

lain. Dasar pembagian ruang lingkup pokok kajian  toksikologi adalah cara 

pemejanan dan pokok atau masalah yang dikaji. Cara pemejanan dibagi atas 

pemejanan yang disengaja dan pemejanan yang tidak disengaja, sedangkan 

pokok masalah yang dikaji dibedakan berdasarkan bidang yang dikaji 

dalam  toksikologi secara umum, seperti masalah  lingkungan, ekonomi, 

dan kehakiman/forensik. Pada dasarnya ruang lingkup  toksikologi terbagi 

atas tiga, yaitu  toksikologi  lingkungan,  toksikologi ekonomi, dan  toksikologi 

kehakiman.

1. Toksikologi  lingkungan 

Merupakan multidisiplin bidang ilmu cabang  toksikologi yang 

merupakan studi dampak bermacam-macam zat  kimia yang berpotensi 

merugikan, dan tidak disengaja ditemukan pada jaringan biologi (lebih 

khusus jaringan hidup manusia) serta muncul sebagai  polutan  lingkungan 

bagi  organisme hidup. Istilah  lingkungan mencakup udara, tanah, dan air. 

Polutan adalah suatu zat yang didapatkan dalam  lingkungan yang 

mempunyai efek merugikan bagi kehidupan  organisme, khususnya manusia, 

dan sebagian merupakan perbuatan manusia. Pada dasarnya efek yang 

merugikan ini timbul melalui empat proses, yaitu pelepasan ke  lingkungan, 

transpor oleh biota dengan atau tanpa transportasi bahan-bahan  kimia, 

pengeksposan oleh  organisme baik satu maupun lebih dari satu target, dan 

kemudian timbullah  respons individu, populasi, ataupun  komunitas. Jadi 

pada dasarnya environmental toxicology tidak lepas dari ekotoksikologi 

(Wright, 2002). 

 Ekotoksikologi dikembangkan sebagai subdisiplin ilmu  toksikologi 

 lingkungan dan lebih bermanfaat jika ditafsirkan sebagai “studi efek 

merugikan/berbahaya zat  kimia dalam  ekosistem“.

11Pendahuluan

 Ekotoksikologi  dari kata Ekologi dan Toksikologi

    timbul karena adanya

efek bahan  kimia di  lingkungan ( ekosistem)   organisme

 Ekotoksikologi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari efek  toksik 

substansi (substances) pada non human species dalam suatu kompleks sistem 

(system) (Gambar 1). 

Gambar 1  Ekotoksikologi merupakan studi multidisipliner mengenai efek  toksik 

substansi pada spesies dalam sistem kompleks. (Sumber: Leuween 

dan Vermeire, 2007)

Berikut disajikan beberapa topik penelitian yang berasal dari disiplin 

ilmu ekotoksikologi pada Tabel 1.

Tabel 1. Disiplin ekotoksikologi dan beberapa topik penelitian 

Chemistry Toxicology Ecology Mathematic

Exposure

assessment

Transpor

Partitioning 

Transformation 

SARs/QSARs

Effect assessment 

Modes of 

toxic action 

Bioaccumulation

Biotransformation 

Extrapolation

Community structure 

Community Function

Population Dynamic 

Nutrient Cycle

Various interactions

Environmental 

fate models 

Pharmacokinetic 

models LC50 & 

NOEC statistics 

Species extrapolation 

Population & 

ecosystem models

Sumber: (Leuween dan Vermeire, 2007)

12 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

Efek ekotoksikologis yang dipelajari merupakan  respons pada 

tingkat organisasi biologis, dari tingkat molekuler- ekosistem (Gambar 2). 

Berdasarkan gambar tersebut, perubahan biokimiawi merupakan salah satu 

 respons molekuler yang dapat dipelajari. Respons biokimiawi terjadi dalam 

waktu paling singkat, setelah  organisme mengalami pemaparan suatu bahan 

 kimia ( polutan). Selain itu,  respons tersebut merupakan  respons yang paling 

mudah untuk mengetahui hubungan  respons dengan bahan  kimia spesifik. 

Namun, berdasarkan relevansi ekologis,  respons biokimiawi menunjukkan 

relevansi yang paling rendah. 

Adanya  polutan dalam suatu  lingkungan ( ekosistem), dalam waktu 

singkat, dapat menyebabkan perubahan biokimiawi suatu  organisme. 

Selanjutnya perubahan tersebut dapat memengaruhi perubahan fisiologis 

dan  respons  organisme, perubahan populasi, komposisi  komunitas, dan 

fungsi  ekosistem (Gambar 2). 

Perubahan biokimiawi sampai dengan  ekosistem menunjukkan 

adanya peningkatan waktu  respons terhadap bahan  kimia dan peningkatan 

kesulitan untuk mengetahui hubungan  respons dengan bahan  kimia spesifik. 

Berdasarkan Gambar 2, apabila terjadi perubahan komposisi  komunitas, hal 

    KOMPOSISI KOMUNITAS

      

   PERUBAHAN POPULASI 

     

    RESPONS ORGANISME

   

   PERUBAHAN FISIOLOGIS

     

 PERUBAHAN BIOKIMIAWI

   

 POLUTAN

PENINGKATAN WAKTU RESPONS

PENINGKATAN KESULITAN UNTUK MENGETAHUI HUBUNGAN RESPONS DENGAN BAHAN KIMIA SPESIFIK

MENINGKATNYA KEBUTUHAN

Gambar 2  Skema hubungan antara  respons terhadap  polutan pada tingkat 

organisasi biologis dengan peningkatan waktu  respons, peningkatan 

kesulitan untuk mengetahui hubungan  respons dengan bahan  kimia 

spesifi k, dan increasing importance. (Sumber: Walker et al., 2006)

13Pendahuluan

tersebut diawali dengan adanya perubahan biokimiawi individu-individu dari 

populasi penyusun  komunitas, yang selanjutnya diikuti perubahan fisiologis, 

 respons  organisme ( kematian dan kemampuan reproduksi), dan perubahan 

populasi yang pada akhirnya memengaruhi komposisi  komunitas. 

Gambar 3 menunjukkan sumber,  distribusi, transpor, dan transformasi 

 polutan serta efek ( respons) pada individu, populasi,  komunitas, dan 

 ekosistem. Berdasarkan gambar tersebut,  polutan dilepaskan dari sumber 

 polutan ke dalam  ekosistem, selanjutnya mengalami proses  distribusi dan 

transpor melalui daur atau siklus biogeokimia serta mengalami transformasi, 

baik secara fisik atau biologis. Polutan tersebut kemudian dapat diserap 

oleh  organisme dan dapat menyebabkan efek letal ( kematian) dan subletal. 

Dalam tubuh  organisme,  polutan dapat mengalami biotransformasi dan 

bioakumulasi. Selanjutnya, terjadi perubahan karakteristik dan dinamika 

populasi (reproduksi, imigrasi, rekrutmen, dan mortalitas), struktur dan 

fungsi  komunitas (diversitas spesies dan perubahan hubungan predator-

prey), dan fungsi  ekosistem (respirasi terhadap rasio fotosintesis, laju siklus 

nutrien, dan pola aliran nutrien).

Rute masuknya  polutan ke dalam  lingkungan sebagai berikut:

a. Secara alami 

1) Mengikuti daur biogeokimia 

2) Pelapukan batuan 

3) Aktivitas/letusan gunung berapi 

b. Disebabkan oleh aktivitas manusia 

1) Pelepasan unintended (kecelakaan nuklir, penambangan, dan 

kecelakaan kapal) 

2) Pembuangan berbagai jenis limbah ke  lingkungan secara sengaja 

maupun tidak sengaja 

3) Aplikasi biocide dalam penanganan hama dan vektor

Secara umum kita perlu mengingat bahwa contoh  polutan organik adalah 

 xenobiotik (senyawa asing). Disebut  xenobiotik karena tidak memiliki 

peranan dalam biokimiawi normal makhluk hidup. Karena dampak zat  toksik 

akan sulit dideteksi dalam  ekosistem atau komponennya, dan umumnya kita 

tidak mau menunggu sampai  respons  toksik teramati dalam  lingkungan 

secara menyeluruh, maka terdapat pertimbangan untuk menggunakan 

probe  biokimia yang dikenal sebagai  biomarker.

14 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

Biomarker adalah  respons biologi terhadap zat  kimia (zat  toksik) di 

 lingkungan yang menunjukkan ukuran  paparan dan terkadang juga berupa 

efek  toksik. Respons  biomarker dapat terlihat dalam tingkat molekuler, 

seluler, atau  organisme. Pendekatan saat ini adalah menggunakan  respons 

sebenarnya pada tingkat  organisme atau yang lebih rendah.

                                                                                                                                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber 

Respons  

organisme 

Respons populasi, 

komunitas, dan 

ekosistem  

Distribusi, 

transpor, dan 

transformasi 

Paparan  

dan  

uptake 

Perubahan struktur dan fungsi komunitas 

(diversitas spesies dan perubahan 

hubungan predator-prey) 

Perubahan fungsi ekosistem  

(respirasi terhadap rasio fotosintesis, laju 

siklus nutrien, dan pola aliran nutrien) 

Organisme 

Sifat biokimiawi polutan 

Biotransformasi, bioakumulasi, 

dan transfer rantai makanan 

Toksisitas letal dan 

subletal atau kondisi 

Sifat fisiologis polutan 

Perubahan populasi karakteristik dan dinamika 

(reproduksi, imigrasi, rekruitmen, dan mortalitas) 

Polutan (sifat-sifat fisiologis) 

Udara 

Siklus biogeokimia dan fluxes 

Sedimen/tanah Air 

Derajat lingkungan 

Gambar 3.  Sumber,  distribusi, transpor, dan transformasi  polutan serta  respons 

terhadap  polutan pada  organisme, populasi, dan  komunitas, serta 

 ekosistem. (Sumber: Francis, 1994).

15Pendahuluan

2. Toksikologi forensik 

Merupakan cabang  toksikologi yang mengkaji aspek medis dan aspek 

hukum atas pengaruh berbahaya zat  kimia pada manusia. Toksikologi ini 

menekunkan diri pada aplikasi atau pemanfaatan ilmu  toksikologi untuk 

kepentingan peradilan. Melakukan analisis kualitatif maupun kuantitatif 

dari  racun sebagai bukti fisik dan menerjemahkan temuan analisisnya ke 

dalam ungkapan apakah ada atau tidaknya  racun yang terlibat dalam tindak 

kriminal yang dituduhkan, sebagai bukti dalam tindak kriminal (forensik) di 

pengadilan. Jadi,  toksikologi kehakiman ini lebih menekankan aspek medis 

dan aspek hukum dari bahan-bahan berbahaya yang baik secara sengaja 

maupun tidak sengaja diekspos (Barile, 2010; Wirasuta dan Niruri, 2012)  

3. Toksikologi ekonomi 

Merupakan cabang  toksikologi yang menguraikan pengaruh berbahaya 

zat  kimia, yang dengan sengaja dipejankan pada jaringan biologi dengan 

maksud untuk mencapai pengaruh atau efek khas, seperti: obat, zat 

tambahan makanan dan pestisida. Suatu zat dikatakan  racun bila zat 

tersebut menyebabkan efek yang merugikan pada penggunanya. Namun 

dalam kehidupan sehari-hari, yang dikatakan  racun adalah zat dengan risiko 

kerusakan yang relatif besar, dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa sola 

 dosis facit venenum (Paracelsus) diartikan sebagai kehadiran suatu zat yang 

berpotensi  toksik di dalam  organisme belum tentu menghasilkan  keracunan. 

Hampir pada setiap manusia dapat dinyatakan jumlah tertentu dari timbel, 

air raksa, dan Dichloro-diphenyl-trichloroethane (DDT). Namun demikian, 

zat ini tidak menimbulkan gejala  keracunan selama jumlah yang diabsorpsi 

berada di bawah konsentrasi yang  toksik. Sebaliknya, bila zat tersebut 

diabsorpsi dalam jumlah yang besar, maka zat ini dapat menimbulkan 

gejala  keracunan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa 

pembuktian  racun pada konsentrasi yang subtoksik mempunyai arti penting 

karena dengan mengetahui adanya bahaya pada saat yang tepat, maka dapat 

dihindari  eksposisi yang lebih lanjut sehingga kerusakan dapat dihindari.

HUBUNGAN DOSIS RESPONS

Pernyataan ini menuntun kita dalam studi mengenai  dosis dan 

 respons. Pada studi  dosis dan  respons muncul istilah  LD50 yang akan 

16 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

dibahas lebih rinci pada bagian ini. Sangat penting untuk dicatat bahwa 

perilaku  dosis- respons suatu bahan digambarkan sebagai, peningkatan 

 dosis akan meningkatkan efek sampai efek maksimal tercapai (apapun efek 

tersebut).

Pada tahapan ini, konsep  dosis- respons dapat dipermudah dengan 

penggambaran mengenai efek alkohol terhadap manusia seperti yang 

ditunjukkan dalam Tabel 1. Dapat diketahui bahwa peningkatan  dosis 

alkohol menunjukkan efek yang semakin jelas dan berat. Dalam hal ini, 

efek dinyatakan sebagai  respons.

 LD50 menunjukkan  dosis berbahaya, sedangkan 50 persen, merupakan 

 dosis dengan zat  kimia yang dapat membunuh 50 persen bagi siapapun 

yang mengonsumsinya.  LD50 rendah untuk zat  kimia menandakan bahwa 

dibandingkan dengan senyawa lain, dibutuhkan bahan  kimia yang lebih 

sedikit untuk menyebabkan  keracunan, lebih potent atau dalam bahasa 

yang lebih umum dapat dikatakan lebih beracun. Sebagai contoh,  LD50 untuk 

beberapa zat  kimia dinyatakan dalam istilah  dosis per kilogram dari berat 

badan sebagai berikut:

1. Glyphosate (Roundup)  5.600 mg/kg

2. Meja garam (Natrium klorida) 2.400 mg/kg

Tabel 2. Hubungan antara tingkat alkohol darah dengan efek tertentu

Konsentrasi 

darah Respons

20–30 mg% Sebagian besar mungkin tidak menunjukkan besarnya efek 

ambang batas

50 mg% Stimulasi dalam hal perilaku dan peningkatan kepercayaan diri

100 mg% Koordinasi terganggu, kepribadian berubah, dan sulit untuk 

memutuskan sesuatu dengan tepat, cut off legal untuk Driving With 

Infl uence (DWI) 

150 mg% Selain efek pada 100 mg%, perubahan suasana hati dan erupsi 

emosional terkait terjadi (setengah dari orang-orang pada tingkat 

ini jelas mabuk)

200 mg% Semua fungsi otak terganggu dan individu tersebut secara pasti 

dapat dinyatakan dalam kondisi mabuk

300 mg% Individu tipe stuporous yang secara efektif menjalani anestesi

400 mg% Mulai hadir dalam keadaan koma

> 400 mg% Kematian akibat pernapasan berhenti

Keterangan: 200 mg% = 250 mg/dl = 2,5 mg/l = 0,250%

17Pendahuluan

3. Pseudoephedrine   660 mg/kg

4. Acetaminophen (Tylenol)  500 mg/kg

5. Chlorpyrifos (Dursban)  18 mg/kg

6. Sodium sianida   10 mg/kg

7. VX nerve gas   1 mg/kg

8. Racun anemone laut  0,001 mg/kg

KLASIFIKASI BERDASARKAN TOKSIKAN

Ada tiga cara besar untuk mengategorikan senyawa  racun, yaitu 

berdasarkan sifat  kimia, sumber  paparan, dan efeknya dalam kesehatan 

manusia, sehingga membantu kita dalam memahami  toksikologi. 

Kategori Senyawa Racun Berdasarkan Sifat Kimia

Berdasarkan daya hantar panas dan listriknya, semua unsur-unsur 

 kimia yang terdapat dalam susunan Berkala Unsur dapat dibagi atas dua 

golongan yaitu golongan  logam dan non  logam. Berdasarkan identitasnya, 

unsur  logam dibagi menjadi dua, yaitu unsur  logam ringan (memiliki 

densitas kurang dari 5 gram/cm3) dan unsur  logam berat (memiliki densitas 

lebih besar dari 5 gram/cm3). 

Logam berat adalah unsur-unsur  kimia dengan bobot jenis lebih besar 

dari 5gr/cm3, terletak di sudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai 

afinitas yang tinggi terhadap unsur S, dan bernomor atom 22 sampai 92 dari 

periode 4 sampai 7. Aplikasi yang bervariasi baik pada  industri, domestik, 

agrikultur, medis dan teknologi mengarah pada  distribusi yang sangat luas 

di  lingkungan, sehingga perlu lebih dipikirkan efek potensial yang mungkin 

terjadi pada kesehatan dan  lingkungan. Adapun sifat-sifat  logam secara 

umum dapat disebutkan sebagai berikut:

1. Sulit didegradasi sehingga mudah terakumulasi dalam  lingkungan 

perairan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan).

2. Dapat terakumulasi dalam  organisme termasuk kerang dan ikan, dan 

akan membahayakan kesehatan manusia yang mengonsumsi  organisme 

tersebut.

3. Mudah terakumulasi di sedimen sehingga konsentrasinya selalu lebih 

tinggi dari konsentrasi  logam dalam air, akibatnya sedimen dapat 

menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu.

18 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

Keberadaan  logam di badan perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor 

 lingkungan di antaranya adalah suhu, pH, dan salinitas. Dalam  lingkungan 

perairan, bentuk  logam antara lain berupa ion bebas, pasangan ion organik, 

dan ion kompleks. Kelarutan  logam dalam air dikontrol oleh pH air. Kenaikan 

pH menurunkan  logam dalam air, karena kenaikan pH mengubah kestabilan 

dari bentuk karbonat menjadi hidroksida yang membentuk ikatan dengan 

partikel pada air, sehingga akan mengendap membentuk lumpur (Palar, 

1994).

Miller et al. (1995), menyatakan bahwa kepekatan garam yang tinggi, 

yaitu kation alkali dan alkalin dapat bersaing untuk penyerapan pada 

partikel padat dengan cara mengganti ion  logam yang telah diserap. Menurut 

Widowati et al. (2008), penggunaan  logam sebagai bahan baku berbagai 

jenis  industri untuk memenuhi kebutuhan manusia akan memengaruhi 

kesehatan manusia melalui 2 jalur, yaitu: 

1. Kegiatan  industri akan menambah  polutan  logam dalam  lingkungan 

udara, air, tanah, dan makanan.

2. Perubahan  biokimia  logam sebagai bahan baku berbagai jenis  industri 

dapat memengaruhi kesehatan manusia. 

Logam berat sebagai  polutan dapat menimbulkan efek gangguan 

terhadap kesehatan manusia, tergantung bagian mana dari  logam berat 

tersebut yang terikat dalam tubuh serta besarnya  dosis  paparan yang 

masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa jalan, 

yaitu: saluran pernapasan, pencernaan, dan penetrasi melalui  kulit. Di 

dalam tubuh,  logam diabsorpsi oleh darah dan berikatan dengan  protein 

darah yang kemudian didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh. Akumulasi 

 logam yang tertinggi biasanya terjadi dalam proses detoksifikasi (hati) dan 

 ekskresi (ginjal). Akumulasi  logam berat dalam tubuh  organisme tergantung 

pada konsentrasi  logam berat dalam air/ lingkungan, suhu, keadaan spesies, 

dan aktivitas fisiologis (Connel dan Miller 1995).

Toksisitas  logam berat tersebut tergantung pada beberapa faktor, 

termasuk  dosis, rute  paparan, spesies bahan  kimia, seperti juga umur, jenis 

kelamin, genetik, dan status nutrisi dari individu yang terpapar. Efek  toksik 

dari  logam berat mampu menghalangi kerja  enzim sehingga mengganggu 

 metabolisme tubuh, menyebabkan  alergi, bersifat  mutagen,  teratogen atau 

 karsinogen bagi manusia maupun hewan (Widowati et al., 2008). 

19Pendahuluan

Sifat  logam berat sangat unik, tidak dapat dihancurkan secara alami 

dan cenderung terakumulasi dalam rantai makanan melalui proses 

biomagnifikasi. Dalam perairan,  logam berat dapat ditemukan dalam 

bentuk terlarut dan tidak terlarut. Logam berat terlarut adalah  logam yang 

membentuk kompleks dengan senyawa organik dan anorganik, sedangkan 

 logam berat yang tidak terlarut merupakan partikel-partikel yang berbentuk 

koloid dan senyawa kelompok  metal yang teradsorbsi pada partikel-partikel 

yang tersuspensi (Purnama, 2009). 

Pembagian Logam Berat Berdasarkan Sudut Pandang Toksikologi

Jenis pertama adalah  logam berat esensial, di mana keberadaannya 

dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh  organisme hidup, namun 

dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek  racun. Contoh 

 logam berat ini adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn, dan lain sebagainya. Jenis kedua 

adalah  logam berat tidak esensial atau beracun, di mana keberadaannya 

dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat 

 racun, seperti Hg, Cd,  Pb, Cr,  Ni dan lain-lain (Darmono, 1995). Logam berat 

ini dapat mencemari  lingkungan.

Sebagian dari  logam berat bersifat esensial bagi  organisme air untuk 

pertumbuhan dan perkembangan hidupnya, antara lain dalam pembentukan 

hemosianin dalam sistem darah dan enzimatik pada biota. Akan tetapi, bila 

jumlah dari  logam berat masuk ke dalam tubuh dengan jumlah berlebih, 

maka akan berubah fungsi menjadi  racun bagi tubuh (Darmono, 1995). 

Berdasarkan sifat  kimia dan fisikanya, tingkat atau daya  racun  logam berat 

terhadap hewan air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah) sebagai berikut 

 merkuri (Hg),  kadmium (Cd),  seng (Zn), timbel ( Pb), krom (Cr),  nikel ( Ni), 

dan kobalt (Co). Daftar urutan toksisitas  logam paling tinggi ke paling 

rendah terhadap manusia yang mengonsumsi ikan adalah sebagai berikut: 

Hg2+ > Cd2+ >Ag2+ > Ni2+ > Pb2+ > As2+ > Cr2+ > Sn2+ > Zn2+.

Pengelompokan  logam berat didasarkan pada: 

1. Tinggi rendahnya  racun, yaitu (Darmono, 1995):

a. Bersifat  toksik tinggi yang terdiri atas unsur Hg, Cd,  Pb, Cu, dan 

Zn.

b. Bersifat  toksik sedang terdiri atas unsur Cr,  Ni, dan Co.

c. Bersifat  toksik rendah terdiri atas unsur Mn dan Fe.

20 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

2. Urutan daya  racun, yaitu:

a. Kelas B, yaitu sangat beracun seperti Hg,  Pb, Sn, dan Cu:

1) Paling efektif untuk berikatan dengan gugus sulfihidril (-SH).

2) Dapat menggantikan posisi ion  logam antara. 

3) Bersama dengan  logam antara dapat larut dengan  lemak: 

mampu berpenetrasi pada membran sel sehingga ion  logam 

dapat menumpuk/terakumulasi, contoh: Hg,  Pb, dan Sn).

4) Dalam metalloprotein menunjukkan reaksi redoks: Cu2+dan 

Cu+3

b. Kelas antara, yaitu daya  racun sedang seperti  Ni dan Zn

c. Kelas A, yaitu daya  racun rendah seperti Mg

3. Mekanisme terjadinya  keracunan  logam berat

 Dalam bidang kesehatan kerja, dikenal istilah  keracunan akut dan 

 keracunan kronis. Keracunan akut didefinisikan sebagai suatu bentuk 

 keracunan yang terjadi dalam jangka waktu yang singkat atau sangat 

singkat. Peristiwa  keracunan akut ini terjadi apabila individu atau 

biota secara tidak sengaja menghirup atau menelan bahan beracun 

dalam jumlah yang besar. Adapun  keracunan kronis didefinisikan 

dengan terhirup atau tertelannya bahan beracun dalam  dosis rendah 

tetapi dalam jangka waktu yang panjang.

 Kasus-kasus  keracunan yang disebabkan oleh  logam berat, sering terjadi 

pada orang-orang yang bekerja dalam bidang  industri, laboratorium, 

bidang  pertanian, dan pembangunan. Peristiwa  keracunan itu biasanya 

disebabkan oleh kelalaian penderita ataupun oleh kecelakaan kerja 

seperti:

a. Memblokir atau menghalangi kerja gugus fungsi  biomolekul 

esensial untuk proses biologi, seperti  protein dan  enzim

b. Menggantikan ion-ion  logam esensial yang terdapat dalam molekul 

terkait

c. Mengadakan modifikasi atau perubahan bentuk gugus aktif yang 

dimiliki oleh  biomolekul

Kategori Senyawa Racun Berdasarkan Sumber Bahan Pencemar

Logam Berat

Logam berat adalah komponen alamiah  lingkungan yang mendapatkan 

perhatian berlebih akibat ditambahkan ke dalam tanah dalam jumlah yang 

21Pendahuluan

semakin meningkat dan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Limbah Logam 

Berat atau heavy  metal termasuk golongan limbah B3 (Limbah atau Bahan 

Berbahaya dan Beracun). Berdasarkan BAPEDAL (1995), B3 adalah setiap 

bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung 

B3 karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta 

konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak 

langsung dapat merusak, mencemarkan  lingkungan, atau membahayakan 

kesehatan manusia. 

Logam- logam berat pada umumnya bersifat  racun sekalipun dalam 

konsentrasi rendah. B3 adalah isu  lingkungan yang menjadi perhatian 

banyak pihak, utamanya bagi  industri- industri di tanah air. Masalah 

limbah  logam berat sangat serius diperhatikan mengingat dampak yang 

ditimbulkannya begitu nyata bagi kehidupan makhluk hidup, termasuk 

manusia. Adapun senyawa  racun berdasarkan sumber bahan pencemar 

dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Sumber dari Alam 

a. Kadar  Pb yang secara alami dapat ditemukan dalam bebatuan 

sekitar 13 mg/kg. Khusus  Pb yang tercampur dengan batu fosfat 

dan terdapat di dalam batu pasir (sand stone) kadarnya lebih besar 

yaitu 100 mg/kg.  Pb yang terdapat di tanah berkadar sekitar 5–25 

mg/kg dan di air bawah tanah (ground water) berkisar antara 1–60 

μg/L. Secara alami  Pb juga ditemukan di air permukaan. Kadar  Pb 

pada air telaga dan air sungai adalah sebesar 1–10 μg/L. Dalam 

air laut, kadar  Pb lebih rendah daripada dalam air tawar. Laut 

bermuda yang dikatakan terbebas dari pencemaran mengandung 

 Pb sekitar 0,07 μg/L. Kandungan  Pb dalam air danau dan sungai 

di USA berkisar antara 1–10 μg/L. Secara alami,  Pb juga ditemukan 

di udara yang kadarnya berkisar antara 0,0001–0,001 μg/m3. 

Tumbuh-tumbuhan termasuk sayur-mayur dan padi-padian dapat 

mengandung  Pb, penelitian yang dilakukan di USA menunjukkan 

kadarnya berkisar antara 0,1–1,0 μg/kg berat kering. 

b. Kadar cadmium (Cd) dalam strata  lingkungan, Cd dan 

persenyawaannya ditemukan di banyak lapisan  lingkungan. Seperti 

pada daerah-daerah penimbunan sampah, aliran air hujan, dan air 

buangan. Kadmium masuk ke dalam freshwater dari sumber yang 

berasal dari  industri. Air sungai dan irigasi untuk  pertanian yang 

22 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

mengandung  kadmium akan terjadi penumpukan pada sedimen 

dan lumpur. Sungai dapat mentranspor  kadmium pada jarak hingga 

50 km dari sumbernya. Kadmium dalam tanah bersumber dari 

alam dan sumber antropogenik. Kadmium yang berasal dari alam 

berasal dari batuan atau material lain seperti glacial dan alluvium. 

Kadmium yang terdapat dalam tanah berasal dari antropogenik, 

yaitu dari endapan penggunaan pupuk dan limbah. Sebagian besar 

 kadmium dalam tanah berpengaruh pada pH, larutan materi 

organik,  logam yang mengandung oksida, tanah liat, dan zat organik 

zat anorganik. Rata-rata kadar  kadmium alamiah di kerak bumi 

sebesar 0,1–0,5 ppm.

2. Sumber dari Industri 

 Industri yang berpotensi sebagai sumber pencemaran  Pb adalah semua 

 industri yang memakai  Pb sebagai bahan baku maupun bahan penolong, 

misalnya:

a. Industri pengecoran maupun pemurnian, menghasilkan timbel 

konsentrat (primary lead) dan secondary lead yang berasal dari 

potongan  logam (scrap).

b. Industri baterai banyak menggunakan  logam  Pb, terutama lead 

antimony  alloy dan lead oxides sebagai bahan dasarnya. 

c. Industri bahan bakar banyak menggunakan  Pb berupa tetra ethyl 

lead dan tetra methyl lead sebagai anti knock pada bahan bakar, 

sehingga baik  industri maupun bahan bakar yang dihasilkan 

merupakan sumber pencemaran  Pb. 

d. Industri kabel memerlukan  Pb untuk melapisi kabel. Saat ini 

pemakaian  Pb di  industri kabel mulai berkurang, walaupun 

masih digunakan campuran  logam Cd, Fe, Cr, Au dan As yang juga 

membahayakan untuk kehidupan makhluk hidup.

e. Industri  kimia menggunakan bahan pewarna. Pada  industri ini, 

seringkali dipakai  Pb karena toksisitasnya relatif lebih rendah jika 

dibandingkan dengan  logam pigmen yang lain. Sebagai pewarna 

merah pada cat biasanya dipakai red lead, sedangkan untuk warna 

kuning dipakai lead chromate. 

f. Limbah Industri pengecoran  logam dan semua  industri 

menggunakan Hg sebagai bahan baku maupun bahan penolong 

seperti  industri klor alkali, peralatan listrik, cat, termometer, 

23Pendahuluan

tensimeter,  industri  pertanian, dan pabrik detonator. Kegiatan lain 

yang merupakan sumber pencemaran Hg adalah praktik dokter gigi 

yang menggunakan amalgam sebagai bahan penambal gigi. Selain 

itu, bahan bakar fosil juga merupakan sumber Hg pula. 

3. Sumber dari Transportasi 

 Hasil pembakaran dari bahan tambahan (aditif)  Pb pada bahan bakar 

kendaraan bermotor menghasilkan emisi  Pb anorganik. Logam berat  Pb 

yang bercampur dengan bahan bakar tersebut akan bercampur dengan 

oli dan melalui proses di dalam mesin sehingga  logam berat  Pb akan 

keluar dari knalpot bersama dengan gas buang lainnya.

PENGARUH PAPARAN BAHAN TOKSIK DALAM TUBUH

Setelah terpapar  xenobiotik (zat  kimia asing dalam tubuh), langkah 

berikutnya yang menentukan  respons dengan bahan  kimia adalah 

 absorpsi dalam tubuh,  distribusi pada tubuh,  metabolisme, dan 

 ekskresi, sehingga efek  toksik akan muncul. Pemahaman tentang risiko 

dari terpaparnya bahan  kimia dan bagaimana mengurangi risiko tersebut 

memerlukan pemahaman toksikokinetika.  Toksikokinetika merupakan 

ilmu yang mempelajari mengenai kinetika zat  toksik atau mempelajari 

pengaruh tubuh terhadap zat  toksik. Suatu kerja  toksik pada umumnya 

merupakan hasil dari sederetan proses fisika,  biokimia, dan biologi yang 

sangat rumit dan kompleks. 

MEKANISME KERJA ZAT TOKSIK

Suatu kerja  toksik pada umumnya adalah hasil dari sejumlah besar 

proses, sebagiannya sangat kompleks. Pada berbagai kerja  toksik, mekanisme 

kerjanya dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:

1. Kerja  toksik, yang dilandasi oleh interaksi  kimia antara suatu zat atau 

metabolitnya dengan substrat biologi dalam pengertian pembentukan 

suatu ikatan  kimia kovalen atau berasaskan suatu perubahan  kimia 

dari substrat biologi sebagai akibat dari suatu perubahan  kimia 

zat. Mekanisme ini jarang terjadi untuk zat yang digunakan sebagai 

terapeutik.

2. Efek  toksik, karena terjadi interaksi yang reversibel antara zat asing 

dengan substrat biologi. Hal ini mengakibatkan suatu perubahan 

24 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

fungsional, yang lazimnya hilang bila zat tersebut dieliminasi dari 

plasma. Kerja farmakodinamika kebanyakan obat bertumpu pada 

interaksi yang reversibel. Zat yang bekerja bolak-balik, diutamakan 

dalam terapi karena mereka kemudian meninggalkan  organisme, 

setelah bekerja tanpa menimbulkan kerusakan  kimia yang berlangsung 

lama. 

FASE KERJA TOKSIKAN

Adapun rute penyerapan zat  toksik ini melalui 3 cara yaitu:

1.  Ingestion (toksikan dimodifikasi oleh  enzim, pH, dan mikroba).

2.  Respiration (toksikan yang masuk melalui udara/airborne toxicants).

3. Body surface (toksikan yang larut dalam  lemak seperti carbon 

tetrachloride dan organophosphate)

Suatu kerja  toksik pada umumnya merupakan hasil dari sederetan 

proses fisika,  biokimia, dan biologi yang sangat rumit dan kompleks. Proses 

ini umumnya dikelompokkan ke dalam tiga fase yaitu: fase  eksposisi, 

fase toksokinetika, dan fase toksodinamika yang akan dijelaskan sebagai 

berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ELIMINASI 

RESEPTOR SEL 

SASARAN ANTAR AKSI 

TIDAK TOKSIK TOKSIK 

EKSRESI METABOLISME TEMPAT AKSI 

DISTRIBUSI 

DISPOSISI 

SIRKULASI SISTEMIK 

ZAT BERACUN 

EFEK TOKSIK 

absorbsi 

Gambar 4. Mekanisme kerja zat  toksik

25Pendahuluan

1. Fase Eksposisi 

Fase  eksposisi disebut juga fase farmasetika. Pada fase  eksposisi, 

toksikan dapat diubah melalui reaksi  kimia menjadi senyawa yang lebih 

 toksik atau kurang  toksik dari senyawa awal. Apabila objek biologi 

mengalami kontak dengan suatu zat  kimia, maka efek biologi atau efek 

 toksik hanya akan terjadi setelah zat tersebut terabsorpsi. Absorpsi suatu 

zat sangat tergantung pada konsentrasi dan jangka waktu kontak antara 

zat yang terdapat dalam bentuk yang dapat diabsorpsi dengan permukaan 

 organisme yang berkemampuan untuk mengabsorpsi zat. Zat  kimia yang 

dapat terabsorpsi umumnya bagian zat yang berada dalam bentuk terlarut 

dan molekulnya terdispersi. Pada obat disebut farmasetika yaitu bagian dari 

 dosis zat aktif yang tersedia untuk diabsorpsi. Pada pencemaran  lingkungan 

disebut  dosis efektif, yaitu bagian  dosis yang dapat diabsorpsi yang akan 

menentukan derajat  eksposisi yang efektif.

Apabila  organisme air mengalami kontak dengan zat  kimia  toksik, 

maka jenis zat  toksik tersebut berpengaruh terhadap daya  absorpsi dan 

toksisitasnya. Selama fase  eksposisi, zat  kimia  toksik dapat berubah 

menjadi senyawa yang lebih  toksik atau kurang  toksik melalui reaksi  kimia 

tertentu.

2. Fase  Toksikokinetika

Terdapat dua proses yang berperanan penting pada fase toksikokinetika 

atau farmakokinetika: 

a. Invasi/transpor ( absorpsi,  distribusi, dan  ekskresi) dan evasi 

(biotransformasi dan  ekskresi) yang sangat menentukan daya kerja 

zat. Pada fase toksokinetika akan dapat ditentukan jumlah molekul 

yang dapat mencapai reseptor. Proses transpor zat  kimia dalam tubuh 

 organisme dapat berlangsung melalui:

1) Transpor pasif yaitu pengangkutan zat  kimia melalui difusi pasif 

zat  kimia terlarut melintasi membran sel. Laju difusi dipengaruhi 

oleh gradien konsentrasi di kedua sisi membran sel dan juga 

dipengaruhi oleh tetapan difusi zat. 

2) Transpor aktif yaitu pengangkutan melalui sistem transpor khusus 

dengan bantuan molekul pengemban atau molekul pembawa. 

Jumlah molekul yang dapat ditransportasi persatuan waktu 

26 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

tergantung pada kapasitas sistem yaitu jumlah tempat ikatan 

dan angka pertukaran tiap-tiap tempat ikatan tersebut. Apabila 

konsentrasi zat  kimia dalam sistem transpor terus menerus 

meningkat, maka akhirnya akan tercapai suatu titik jenuh sehingga 

laju transpor tidak meningkat terus menerus tetapi akan mencapai 

titik maksimum. 

b. Perubahan metabolik atau biotransformasi dapat dibedakan menjadi 

dua fase reaksi yaitu reaksi fase I (reaksi penguraian) dan reaksi fase 

II (reaksi  konjugasi). Reaksi penguraian meliputi pemutusan hidrolitik, 

 oksidasi, dan  reduksi. Reaksi penguraian akan menghasilkan atau 

membentuk zat  kimia dengan gugus polar yaitu gugus —OH,—NH2—

NH2 atau —COON. Pada reaksi  konjugasi, zat  kimia yang memiliki gugus 

polar akan dikonjugasi dengan pasangan reaksi yang terdapat dalam 

tubuh  organisme sehingga berubah menjadi bentuk terlarut dalam air 

dan dapat diekskresikan oleh ginjal. Reaksi  konjugasi umumnya bersifat 

reaksi detoksifikasi.

Berikut dijelaskan masing-masing proses pada fase toksikokinetika:

a. Absorpsi 

 Sekali seseorang berkontak dengan senyawa  toksik, maka senyawa 

tersebut akan mendapatkan akses masuk ke dalam tubuh. Hal ini 

tidak cukup bagi senyawa untuk hanya dapat berkontak dengan  kulit, 

terhirup ke  paru-paru, atau memasuki jalan intestinal, tetapi senyawa 

tersebut juga harus benar-benar melintasi penghalang biologis dan 

setiap karakteristik jalur penghambat yang memengaruhi  absorpsi.

  REAKSI FASE I   REAKSI FASE II

XENOBIOTIKA  METABOLITE FASE I  METABOLITE FASE II 

 OKSIDASI   Konjugasi dengan:

 REDUKSI   - asam glukoronat

 HIDROLISIS   - sulfat

     - asetat

     - glutathione

Gambar 5. Skema fase toksikokinetika pada proses biotransformasi

27Pendahuluan

 Sistem gastrointestinal dibentuk untuk  absorpsi nutrisi dan memiliki 

area penampang yang luas dengan beberapa mekanisme transpor. 

Sayangnya, senyawa  toksik dapat mengambil manfaat dari sistem ini 

untuk masuk ke dalam tubuh. Toksik dapat diabsorpsi dari alveolus pada 

paru. Alveolus adalah fungsi unit dari paru dan tempat untuk pertukaran 

gas antara udara dan suplai darah. Alveolus memperbolehkan difusi 

dari cairan atau air dari suatu senyawa. Sebagai tambahan, senyawa 

cairan air larut pada dinding mukosa dan selanjutnya akan diabsorpsi. 

Gas cairan  lemak juga dapat melintasi aliran darah pada alveolus. 

Partikel besar dan tetesan aerosol akan diberikan pada bagian atas 

dari paru di mana silia mencoba untuk mengeluarkannya. Partikel 

kecil dan aerosol menembus lebih dalam, mencapai alveolus tempat 

 absorpsi yang paling efisien. Kulit menggambarkan kunci rute ketiga 

dari terpaparnya  toksik. Meskipun  kulit berguna sebagai penahan dari 

 toksik yang berupa cairan,  toksik cairan  lemak juga benar-benar dapat 

menembus  kulit dan aliran darah.

b. Distribusi

 Sekali memasuki aliran darah,  toksik akan berdistribusi ke dalam 

tubuh. Jika  toksik berupa cairan  lemak, kadang akan terbawa pada 

 lingkungan cairan dari aliran darah yang berhubungan dengan  protein 

darah seperti albumin. Toksik mengikuti aturan difusi, berpindah dari 

area dengan konsentrasi tinggi ke area dengan konsentrasi rendah. 

Bahan  kimia yang diabsorpsi pada intestinal lalu didorong menuju hati 

melalui vena porta pada proses yang disebut first-pass, dan mungkin 

akan masuk pada  metabolisme. Jumlah yang terbatas dari bahan  kimia 

akan diekskresi oleh ginjal atau empedu.

c. Metabolisme

 Beberapa  toksik akan memasuki perubahan metabolik atau 

biotransformasi, yaitu proses yang diperantarai oleh  enzim. Sebagian 

besar biotransformasi terbentuk pada hati yang terdapat banyak 

 enzim metabolik. Semua sel pada tubuh memiliki kemampuan untuk 

memetabolisme  xenobiotik. Secara umum, transformasi metabolik 

akan menghasilkan polar dan sedikit cairan  lemak. Produk metabolik 

adalah cairan pada urine yang memfasilitasi  ekskresi. Contohnya, 

benzena dioksidasi menjadi fenol dan glutathione yang berkombinasi 

dengan halogen menjadi non  toksik dan asam merkapturik metabolik. 

28 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

Bagaimanapun, transformasi metabolik akan menghasilkan 

peningkatan produksi  toksik. Suatu contoh  oksidasi metanol (senyawa 

non  toksik bentuk asli) menjadi formaldehida (senyawa yang sedikit 

 toksik, terutama pada saraf optik).

d. Ekskresi

 Biotransformasi cenderung membuat senyawa menjadi lebih polar 

dan kurang larut dalam  lemak. Pada umumnya reaksi biotransformasi 

mengubah  xenobiotik lipofil menjadi senyawa yang lebih polar sehingga 

akan lebih mudah diekskresi dari dalam tubuh  organisme. Karena sel 

pada umumnya lebih lipofil dari pada lingkungannya, maka senyawa-

senyawa lipofil akan cenderung terakumulasi di dalam sel. Senyawa 

lipofil ini akan tinggal dalam waktu yang cukup di dalam tubuh, yaitu 

terdeposisi di jaringan  lemak. Pada prinsipnya senyawa yang hidrofil 

akan dengan mudah terekskresi melalui ginjal. Ekskresi ini adalah 

jalur utama eliminasi xenobotik dari dalam tubuh. Oleh sebab itu, oleh 

tubuh sebagian besar senyawa-senyawa lipofil terlebih dahulu diubah 

menjadi senyawa yang lebih bersifat hidrofil, agar dapat dibuang dari 

dalam tubuh. Bioakumulasi  xenobiotik di dalam sel pada tingkat yang 

lebih tinggi dapat mengakibatkan  keracunan sel (sitotoksik), namun 

melalui reaksi biotransformasi terjadi penurunan kepolaran  xenobiotik 

sehingga akan lebih mudah diekskresi dari dalam sel, oleh sebab itu 

 keracunan sel akan dapat dihindari. Karena hal inilah, kemudian 

didapatkan keuntungan, yaitu bahwa  racun dapat lebih mudah 

dikeluarkan dari tubuh. 

Jalur utama  ekskresi  racun dan metabolik yaitu melalui ginjal. 

Ginjal memetabolisme  racun dengan cara yang sama pada saat  metabolisme 

larutan  serum, yaitu melalui filtrasi pasif glomerulus, difusi pasif tubular, dan 

sekresi aktif tubular. Molekul yang lebih kecil dapat mencapai tubulus melalui 

filtrasi pasif glomerulus, hal ini dikarenakan pori-pori kapiler glomerulus 

dapat memungkinkan molekul dengan ukuran sampai sekitar 70.000 Dalton 

untuk melewatinya. Namun, molekul tersebut haruslah molekul yang tidak 

memiliki ikatan dengan  protein  serum besar, dikarenakan molekul yang 

berikatan dengan  protein  serum besar harus melalui sekresi aktif pada 

tubular untuk dapat dikeluarkan.

29Pendahuluan

Aparatus sekretori tubular tampak memiliki proses terpisah baik 

untuk anion organik maupun kation organik, dan seperti sistem transportasi 

aktif lainnya, proses ini juga dapat mengalami saturasi dan pemblokiran 

kompetitif. Akhirnya, difusi pasif pada tubulus hanya dapat dilewati oleh 

 serum sampai batas tertentu saja, terutama pada basa organik tertentu. 

Difusi pasif juga terjadi pada arah yang berlawanan, yaitu dari tubulus 

ke  serum. Seperti jalur membran lainnya yang telah dibahas sebelumnya, 

molekul yang larut  lemak akan diserap jauh lebih cepat daripada molekul 

polar dan ion pada lumen, hal inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa 

zat basa urine dapat mempercepat  ekskresi asam. Volume harian pada filtrat 

yang dihasilkan adalah sekitar 200 liter, yaitu lima kali total air dalam 

tubuh, hal ini menandakan bahwa proses filtrasi benar-benar efisien.

Organ  ekskresi utama kedua adalah hati. Hati menempati 

posisi strategis karena merupakan sirkulasi portal yang berguna untuk 

mengirimkan senyawa yang akan diserap oleh saluran cerna. Selanjutnya, 

perfusi yang terjadi secara terus-menerus pada hati dan struktur kapiler 

akan mengakibatkan terjadinya filtrasi dalam darah. Jadi,  ekskresi pada 

empedu berlangsung secara cepat dan efisien. Ekskresi bilier dianalogikan 

seperti sekresi pada tubulus renalis. Terdapat sistem transportasi 

khusus untuk asam organik, basa organik, senyawa netral, dan  logam. Ini 

semua merupakan sistem transportasi aktif dengan kemampuan untuk 

membendung ikatan molekul  protein. Pada akhirnya, pengambilan kembali 

zat yang telah larut dalam  lemak dapat terjadi setelah sekresi, yakni melalui 

dinding usus. 

Racun yang disekresi bersama empedu masuk ke saluran pencernaan 

dan sedikit direabsorpsi untuk kemudian disekresikan bersama kotoran. 

Bahan yang tertelan dan tidak diserap, serta bahan-bahan yang terbawa 

menuju ke saluran pernapasan juga ikut dikeluarkan bersama feses. 

Semua ini dapat terjadi karena adanya proses difusi pasif melalui dinding 

saluran pencernaan, meskipun mekanisme ini bukanlah mekanisme utama 

 ekskresi.

Gas volatil (mudah menguap) dan uap diekskresikan terutama oleh 

 paru-paru. Proses ini merupakan salah satu contoh dari difusi pasif, yang 

diatur oleh perbedaan antara plasma dan tekanan uap air pada alveolus. Gas 

volatil sangat larut dalam  lemak dan akan bertahan dalam reservoir tubuh 

untuk beberapa waktu, kemudian bermigrasi dari jaringan adiposa menuju 

30 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

plasma, kemudian menuju ke alveolus. Gas volatil yang kurang larut  lemak 

akan dikeluarkan melalui ekshalasi saat terjadinya penurunan level plasma 

ke udara ambeien. Menariknya, alveolus dan bronkus dapat mengalami 

kerusakan ketika uap seperti bensin dihembuskan, bahkan jika  paparan 

awal terjadi perkutan atau rasa seperti menelan.

Jalur  ekskresi lain, meskipun jumlahnya kecil (yang diekskresikan 

kecil artinya  logam tidak seluruhnya dapat diekskresikan), namun masih 

dianggap penting karena berbagai alasan tertentu. Terjadinya  ekskresi 

pada Air Susu Ibu ( ASI) jelas akan menimbulkan risiko untuk bayi. Hal 

ini karena air susu lebih asam (pH 6,5) daripada  serum, di mana senyawa 

dasar terkonsentrasi di dalam susu. Selain itu, karena kandungan  lemak 

yang tinggi pada payudara (3–5%) dapat menyebabkan zat-zat berbahaya 

yang larut dalam  lemak dan terkandung di dalam payudara seperti DDT, 

juga dapat ditransferkan kepada bayi. Beberapa  racun, terutama  logam, 

diekskresikan dalam keringat atau tertimbun dalam lapisan rambut, yang 

mungkin digunakan dalam diagnosis. Beberapa bahan yang disekresi dalam 

air liur juga dapat menimbulkan bahaya pada saluran pencernaan.

Untuk mengetahui bagaimana toksikokinetika dari suatu senyawa, 

maka perlu dilakukan penilaian terhadap  paparan yang dihasilkan. Penilaian 

ini melibatkan ahli  epidemiologi yang nantinya akan mempelajari kejadian 

suatu  penyakit tertentu pada masyarakat sekitar, dan ahli  toksikologi 

untuk mengetahui bagaimana senyawa tersebut masuk ke dalam tubuh 

dan peristiwa apa yang akan terjadi setelah itu.

Misal, senyawa X yang dideteksi merupakan produk samping dari suatu 

 industri. Senyawa ini dapat diubah melalui reaksi  kimia menjadi senyawa 

yang lebih  toksik atau kurang  toksik dari senyawa awal. Kemudian terhirup 

dan masuk ke dalam  paru-paru untuk selanjutnya melintasi membran 

alveolus dan memasuki sirkulasi  paru-paru. Setelah itu, menuju ke vena 

paru pada sisi kiri jantung dan kemudian menuju ke seluruh tubuh. Sebagian 

besar senyawa akan menuju ke hati, tempat di mana senyawa tersebut dapat 

diaktifkan menjadi epoksida reaktif, kemudian menuju ke ginjal dan diserap 

bersama dengan garam dan senyawa polar lain, lalu diangkut melintasi 

membran sel dari tubulus proksimal. Sebagian ada yang terakumulasi dan 

merusak makromolekul seluler.

Jika ahli  toksikologi dapat menunjukkan bahwa senyawa X tersebut 

merusak ginjal dan ahli  epidemiologi dapat mengidentifikasi bahwa 

31Pendahuluan

peningkatan  paparan berkaitan dengan kejadian gagal ginjal dalam 

populasi tersebut, maka langkah-langkah regulasi dapat diambil untuk 

menghilangkan atau membatasi penggunaan senyawa ini. Toksikologi juga 

dapat sangat berguna untuk memantau perkembangan senyawa baru. 

Jika ahli  toksikologi dapat menunjukkan bahwa senyawa baru (senyawa 

Z) memiliki efek pada tikus atau mencit, dan efek ini sama dengan efek 

yang dihasilkan oleh senyawa X, maka hal itu sangat mungkin untuk 

menunjukkan toksisitas yang sama pada manusia, sehingga pemilik pabrik 

diharapkan lebih bijaksana untuk menghentikan pengembangan senyawa 

tersebut. Pemahaman terhadap mekanisme ini juga dapat mengarah pada 

pengembangan bahan  kimia serta obat-obatan yang lebih aman.

Genetik,  lingkungan, dan fisiologis adalah faktor-faktor yang dapat 

memengaruhi reaksi biotransformasi ( metabolisme). Faktor terpenting 

adalah genetik yang menentukan polimorfisme dalam  oksidasi dan  konjugasi 

dari  xenobiotik, penggunaan dengan obat-obatan secara bersamaan, 

 paparan  polutan atau bahan  kimia lain dari  lingkungan, kondisi kesehatan 

dan umur. Faktor-faktor ini diduga bertanggung jawab terhadap penurunan 

efisiensi biotransformasi, perpanjangan efek  farmakologi, dan peningkatan 

toksisitas.

3. Fase “Toksikodinamika”

Kerja dari  xenobiotik terhadap organ sasaran yang dapat menyebabkan 

efek meliputi interaksi  kimia antara molekul zat toksikan dan tempat 

kerja spesifik (reseptor). Konsentrasi zat aktif pada tempat sasaran 

menentukan kekuatan efek biologi yang dihasilkan. Fase toksikodinamika 

atau farmakodinamika meliputi interaksi antara molekul zat  kimia  toksik 

dengan tempat kerja spesifik yaitu reseptor, yang merupakan komponen sel 

atau  organisme yang berinteraksi dengan toksin dan yang mengawali mata 

rantai peristiwa  biokimia menuju terjadinya suatu efek  toksik dari toksin 

yang diamati. Organ target dan tempat kerja tidak selalu sama, sebagai 

contoh: suatu zat  kimia  toksik yang bekerja pada sel ganglion pada sistem 

saraf pusat juga dapat menimbulkan efek kejang pada otot serat lintang. 

Konsentrasi zat  toksik menentukan kekuatan efek biologi yang 

ditimbulkan. Semakin tinggi konsentrasi akan meningkatkan potensi 

efek dari obat tersebut. Jika konsentrasi suatu obat pada jaringan tertentu 

tinggi, maka berarti tempat tersebut berlaku sebagai tempat sasaran yang 

32 Biomarker Toksisitas Paparan Logam Tingkat Molekuler

sebenarnya, yaitu tempat zat tersebut bekerja. Konsentrasi suatu toksin/

obat pada tempat kerja ”tempat sasaran” umumnya menentukan kekuatan 

efek biologi yang dihasilkan. 

Toksikodinamika menentukan jumlah reseptor yang berinteraksi 

dengan toksikan melalui:

a. Ikatan/binding 

b. Interaksi/interaction 

c. Induksi efek  toksik/induction of toxic effects 

Farmakodinamika dalam  farmakologi, menjelaskan interaksi dinamis 

dari  racun dengan target biologis dan efek biologisnya. Target biologis, 

juga dikenal sebagai situs aksi, dapat mengikat  protein, saluran ion,  DNA, 

atau berbagai reseptor lainnya. Ketika  racun memasuki suatu  organisme, 

maka dapat berinteraksi dengan reseptor-reseptor ini dan menghasilkan 

perubahan struktural atau fungsional. Mekanisme kerja  racun, seperti 

yang ditentukan oleh sifat  kimia bahan beracun, akan menentukan target 

reseptor apa dan efek  toksik keseluruhan pada tingkat sel dan tingkat 

 organisme.

HAL YANG MEMBUAT SENYAWA MENJADI BERACUN

Tidak semua senyawa  toksik yang berada di dalam tubuh akan 

menimbulkan efek. Hal ini dikarenakan bahan  toksik harus berinteraksi 

terlebih dahulu dengan target biologis sehingga dapat menyebabkan 

kerusakan. Bahan  toksik, baik endogen maupun eksogen akan didistribusikan 

pada organ atau sel tertentu, namun hanya sedikit dari  racun tersebut yang 

menimbulkan efek secara keseluruhan. Biasanya efek yang ditimbulkan 

hanya bersifat lokal atau dengan kata lain hanya menyebabkan  keracunan 

pada organ atau sel tertentu. 

Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan adanya perbedaan kadar 

 racun yang tersebar di dalam tubuh, sehingga apabila  racun tersebut lebih 

banyak terdapat pada suatu organ X atau sel X, maka dampak terbesar akan 

dirasakan oleh organ X atau sel X tersebut. Misalnya, jantung dan  paru-paru 

merupakan organ yang rentan terkontaminasi  racun karena keduanya 

merupakan organ yang menerima volume darah terbesar di antara organ-

organ lainnya. Sebaliknya, otak dan testis merupakan organ yang lebih 

33Pendahuluan

sulit untuk terkontaminasi oleh  racun karena di dalamnya terdapat batas 

(barrier) antara jaringannya dengan darah. Namun, apabila otak telah 

terkontaminasi oleh  racun, maka otak akan sangat sensitif terhadap  racun 

tersebut yang memengaruhi  metabolisme energi, karena kebutuhan yang 

tinggi untuk ATP (Adenosin Trifosfat), sumber energi utama sel.

Beberapa  racun berinteraksi dengan target yang dibagi oleh sejumlah 

sel, jaringan, atau organ yang berbeda. Contoh yang baik dari jenis  racun 

adalah senyawa seperti karbon monoksida dan sianida yang memengaruhi 

pemanfaatan seluler  oksigen atau penyediaan senyawa energi tinggi seperti 

ATP. Karena setiap sel dan jaringan membutuhkan  oksigen dan energi, 

senyawa ini memiliki kemampuan untuk merusak banyak sel dan jenis 

jaringan. Namun, sistem organ membutuhkan  oksigen dan energi yang paling