Tampilkan postingan dengan label Bedah 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bedah 2. Tampilkan semua postingan

Bedah 2

 


































le surflo ukuran besar  

 

3. Berdasarkan derajat kolaps   

  Pneumotoraks total  

 Pneumothoraks partial 

  

Diagnosis : 

Anamnesis 

 

Pemeriksaan 

Fisik 

 

 

Pemeriksaan 

Penunjang : 

 Foto dada (Haram  pada PNEUMOTHORAKS VENTIL, harus dahulukan 

kontraventil) 

 analisis gas darah, EKG, CT scan, dan endoskopi 

 

Cara menentukan persentase pneumotoraks 

 

 

 < 15% pneumothoraks ringan  

 15 – 60 % pneumothoraks sedang / menengah  

 60 % pneumothoraks berat  

Diagnosa Banding: 

 Emfisema paru  

 Asma bronkial  

 Emboli paru  

 Pneumonia 

 Infark miokard, dll  

 

Penatalaksanaan : 

Pneumotoraks tertutup (luas kolaps <15%) : 

a. Observasi  

 Bila fistula dari alveoli ke pleura telah menutupudara diresorbsi  

 Laju resorbsi 1,25% perhari  

 Observasi pasien boleh rawat Inap maupun berobat jalan  

b. Pemberian tambahan oksigen  

 Meningkatkan kecepatan absorbsi udara pleura 

 Penelitian terhadap kelincilaju absorbsi meningkat 6 x lipat  

 Pemberian oksigen tambahanmenurunkan tekanan parsial pembuluh kapiler menjadi 200, sehingga 

gradien bersih untuk resorbsi udara menjadi 550 mmHg, 10 kali lebih besar dibadingkan saat pasien 

bernapas normal di ruangan 54 mmHg.  

 

Bila rawat inap  observasi selama beberapa hari (minggu), dibuat foto dada serial tiap 12-24 jam selama 2 

hari. Dan pemberian oksigen tambahan  

Bila rawat jalan  pneumotoraks kecil unilateral dan stabil, pulangkan dan dalam 2-3 hari pasien kontrol 

lagi.  

 

Pneumotoraks tertutup (luas kolaps >15%): 

1. Aspirasi sederhana/needle thoracosintesis Dengan prosedur ini, sebuah jarum kecil (uk sekitar 16 

gauge) dengan kateter polietilen internal diinsersikan ke dalam sela iga kedua pada linea 

midklavikularis dengan anestesi lokal. Lokasi alternatif yang lain dipilih bila pneumotoraks terlokulasi 

atau terjadinya adesi. Setelah jarum diinsersikan, jarum diambil, sehingga tersisa kateter pada kavum 

pleura. Dengan menggunakan stopcock 3 jalur dan spuit 60 cc dilakukan aspirasi udara secara manual 

hingga tidak ada lagi udara yang dapat diaspirasi. Kateter ini dicabut setelah beberapa jam kemudian. 

Jika dengan radiografi dada menunjukkan bahwa sudah tidak terjadi rekurensi, kateter dicabutr dan 

pasien dapat dipulangkan. Alternatif lain, pasien dapat tetap dirawat inap satu malam untuk 

observasinya. Jika saat apirasi, total volume udara aspirasi sudah melebihi 4 L dan tidak ada tahanan 

yang dirasakan, maka diperkirakan bahwa ekspansi paru belum terjadi, dan prosedur alternatif lain 

harus dilakukan.  

2. Thorax drain/WSD/Tube torakostomi 

Bila aspirasi sederhana gagal dan tidak ada fasilitas torakoskopi.  

Tujuan : reekspansi paru terlalu cepat resiko edema pulmoner  WSD.  

WSD  mempertahankan tekanan negatif kavum pleura  pengembangan paru  

 

Prinsip WSD: 

 Underwater seal  

 Pressure gradient  

 Gravitasi   

 

aspek yang harus diperhatikan saat pemeriksaan sistem WSD : 

1. Swing : terjadinya perubahan tekanan intrapleura selama inspirasi dan ekspirasi akan ditransmisikan 

ke WSD. Selama inspirasi, akibat tekanan negatif , cairan dalam tabung WSD akan bergerak ke atas, 

sedang saat ekspirasi akan bergeser ke bawah. Pergerakan cairan selama inspirasi tenang ini disebut 

swing.Swing tidak ditemukan jika: pipa terjepit atau ada sumbatan, paru2 mengembang kembali dan 

menutup ujung tube. 

2. Bubbling : adanya gelembung udara mengindikasikan ada kebocoran udara pada cavum pleura. 

Gelembung (-)  tidak ada kebocoran, gelembung (+) saat batuk  kebocoran ringan, gelembung 

(+) saat ekspirasi  kebocoran moderat, gelembung (+) saat inspirasi dan ekspirasi  kebocoran 

berat. 

3. Drainage dan suction untuk cairan.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

{STASE BEDAH PLASTIK} 

 

Keloid dan Parut Hipertrofik 

Keloid adalah pembentukan jaringan parut yang berlebihan yang tidak sesuai dengan beratnya trauma 

Faktor yang menyokong : 

a. Semua rangsang fibroplasias yang kronis : infeksi kronik, benda asing dalam luka, tidak ada relaksasi 

setempat waktu penyembuhan, regangan berlebihan pada pertautan luka 

b. Usai pertumbuhan : sering pada dewasa muda jarang orang tua 

c. Bakat keloid 

d. Ras hitam 

e. Lokasi : sternum, bahu, pinggang, cuping telinga, dan wajah. 

 

Terapi keloid :  

- konservatif dengan penyuntikan sediaan kortikosteroid intrakeloid (2-3x/minggu)  

- atau dapat pula dengan tindakan bedah berupa eksisi dan penutupan primer atau cangkok kulit. 

 

Keloid Parut hipertrofik 

Keloid tumbuh melewati batas tepi luka, aktif dan menunjukkan 

tanda radang seperti kemerahan, gatal, dan nyeri ringan. 

Besar parut masih sesuai dengan lukanya, parut 

tidak melewati batas tepi luka. 

Pertumbuhan keloid bersifat progresif karena ada pertambahan 

jumlah sel fibrosit. 

Pada suatu saat akan mengalami fase maturasi. 

 

Kalus dan Klavus 

Kalus Klavus 

hyperkeratosis local yang umumnya 

berbentuk kurang lebih bundar akibat 

gesekan kronik. 

Klavus adalah kalus local di plantar pedis atau di jari kaki 

Biasanya kelainan ini timbul di atas 

penonjolan tulang 

Dasar kalus berada di permukaan kulit berupa cekungan dikelilingi daerah 

keratinisasi tebal yang teraba keras, sementara puncaknya menuju ke dalam 

kulit dapat menekan struktur di dalamnya  nyeri akibat tertekan pada 

waktu berjalan atau berdiri  eksisi 

akan hilang sendiri bila gesekan kronik 

tadi dihentikan 

 

Nevus Pigmentosus dan Hemangioma 

Nevus Pigmentosus Hemangioma 

berasal dari sel melanosit yang 

berpigmen, nama lain  tahi lalat 

sel endotel dan pericyte yang aktif membelah (mitosis) yang membentuk 

massa pada mikrovessel  tumor 

3 jenis nevus pigmentosus: 

a. Junctional : sel melanosit berada di 

lapisan sel basal atau di atasnya, 

bentu rata, tidak menonjol, dan 

umumnya bersifat stasioner tidak 

berkembang melebar ataupun 

menebal. 

b. Intradermal : sel melanosit di 

dermis, menonjol, tumbuh melebar 

dan menebal perlahan 

c. Campuran : gambaran campuran 

keduanya, paling gelap dan 

mengkilat. 

Ada 3 golongan besar : 

a. Hemangioma kapiler (simpleks) 

- seperti buah strawberry menonjol 

- berwarna merah cerah dengan cekungan kecil.  

- Awalnya berupa titik kecil pada waktu lahir, membesar cepat, dan 

menetap pada usia kira2 8 bulan  regresi spontan dan menjadi 

pucat karena fibrosis setelah usia 1 tahun,  

- Proses regresi berjalan sampai usia 6-7 tahun. 

b. Cavernous Heamangioma (atau Venous Haemangioma) 

- Kumpulan dari beberapa vena yang berdilatasi membentuk sebuah 

tumor, timbul di permukaan 

- Manifestasi dari luar tampak tumor kebiruan warna kulit, dapat 

dikempeskan dengan penekanan, tapi kemudian menonjol kembali.  

- Tidak mengalami regresi spontan bahkan cenderung progresif 

meluas dan menyusup ke jaringan sekitarnya.  

c. Plexiform Haemangioma (atau Arterial Haemangioma) 

- Pelebaran pembuluh darah karena kelainan bawaan dengan shunting 

AV(arterio venous) dan berhubungan dengan arteri. 

- Arteri temporal superfisialis adalah arteri yang paling sering terlibat. 

Nevus pigmentosus dapat berdegenerasi 

ganas  melanoma malignant. Faktor 

yang merangsang degenerasi adalah 

iritasi kronik seperti tekanan, gesekan, 

dan sinar UV 

 

LUKA BAKAR 

Kerusakan pada sebagian / seluruh lapisan kulit dengan / tanpa gangguan pada jaringan dibawahnya yang 

disebabkan karena panas (air panas, api, bahan kimia, dan listrik) 

 

Klasifikasi : 

1. berdasarkan kedalaman luka bakar 

 

Grade Klinis  Tusukan 

jarum  

 

I Hiperemi  Hiperestesi 

 

II A 

 

Basah+ bula+ 

dasar merah 

 

Hipersetesi  

 

II B 

 

Basah+ bula+ 

dasar putih 

 

Hipoestesi  

 

III 

 

Basah+ bula+ 

dasar 

kehitaman 

 

Anestesi 

 

2. berdasarkan luas luka bakar 

 

 

3. berdasarkan berat ringatnya luka bakar 

 

Penanganan : 

- Fase Akut 

- Fase Sub Akut 

- Fase Lanjut 

Penanganan : 

Fase Akut  Survai Primer     : ABCDE 

 Survai Sekunder : Pemeriksaan fisik 

 Resusitasi cairan Baxter terhitung dari saat kejadian maka :  

o 8 jam І   ½ (4 cc x kg BB x % LukaBakar) RL  

o 16 jam П   ½ (4 ccx kg BB x % LukaBakar) RL  

o + 500 - 1000 cc colloid 

o Resusitasi di hitung dari jam kejadian dan selesai dalam 24 jam 

o Resusitasi dilakukan pada > 20% atau pada luka bakar derajat sedang 

 First aid  siram luka bakar pada air yang mengalir 

 Amankan jalan nafas (trauma inhalasi) 

 Amankan vaskularisasi distal (luka bakar dalam yg melingkar)  Eschariotomy 

Di Surabaya formula Baxter untuk anak dimodifikasi sbb : 

 Replacement  2 cc/kgBB/% luka bakar 

 Ditambah Kebutuhan faali 

o Umur sampai 1 tahun  100 cc/kgBB 

o Umur 1-5 tahun     75 cc/kgBB 

o Umur 5-15 tahun    50 cc/kgBB + 

 = Total cairan 

 Moncrief  17/20 Kristaloid (Ringer Laktat) + 3/20 Koloid (Dextran)  botol 

yang sama  dibagi 2  dalam 8 jam pertama dan 16 jam berikutnya 

Fase Sub 

Akut 

 Fase setelah fase resusitasi (>24jam) 

 Rentang waktunya tidak selalu sama tergantung dari : Jenis trauma, Derajat luka bakar, 

Keadaan umum pasien  

 Komplikasi pada fase ini meliputi : SIRS, infeksi, sepsis, MODS 

 Prinsip penanganan  

o Supportif sistemik (Respiratory maintenance, Keseimbangan cairan dan 

elektrolit, Nutrisi) 

o Wound care management (Manajemen Bakterial, Management jaringan 

nekrotik,Skin coverage manajemen) 

Fase Lanjut  Hipertrofi scar 

 Keloid 

 Contracture 

 Estetika   

Melakukan Rekonstruksi Dengan Nilai Estetika & 

Fungsional Tanpa Meninggalkan Norma 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

{BEDAH UROLOGI} 

 

Pasien datang kebanyakan dengan keluhan NYERI 

Nyeri di bidang urologi: 

 

 

 

 

Keluhan miksi : 

Keluhan miksi meliputi keluhan iritasi,obstruksi,inkotinensia,dan enuresis. 

 

Gejala Iritatif Gejala Obstruktif 

Urgensi  Hesitansi : awal keluarnya urin menjadi lebih lama dan seringkali 

pasien harus mengejan untuk memulai miksi 

Nokturia Pancaran urin lemah 

Frekuensi atau polakisuria Intermitensi  

Disuria 

inflamasi pada buli (nyeri akhir miksi) 

inflamasi uretra (nyeri awal miksi). 

Terminal Dribbling : perasaan masih ada sisa urin di buli-buli 

dengan masih keluar tetesan urin. 

Retensio urin. 

a.Nyeri ginjal

a.teregangnya 

kapsul ginjal

a.inflamasi / 

infeksi ginjal

a.hidronefrosis

, atau tumor 

ginjal

a.Nyeri kolik

a.nyeri yang 

terjadi akibat 

spasme otot polos 

ureter

a.intermiten/hilang 

timbul dan 

nyerinya menjalar 

(referred pain)

a. ± mual dan 

muntah.

a.Nyeri vesika 

(buli)

a.nyeri daerah 

suprasimfisis

a.overdistensi 

buli

a.karena retensi 

urin maupun  

karena inflamasi 

buli (sistitis). 

a.Nyeri prostat

a.nyeri akibat edema 

kelenjar prostatdistensi 

kapsul prostat

a.Lokasi nyeri bisa 

dirasakan di abdomen 

bawah, inguinal, perineal, 

lumbosakral, rectum. 

a.Biasanya nyeri prostat 

disertai keluhan miksi 

(frekuensi,disuria,retensi)

a.Nyeri testis / 

epididimis

a.nyeri primer (dari organ 

dalam skrotum) maupun 

sekunder (referred dari organ 

di luar kantong). 

a.nyeri akut : torsio testis, 

torsio apendiks testis, 

epididimitis, orkitis akut, 

trauma testis.

•nyeri tumpul : varikokel, 

hidrokel, tumor testis.

•Nyeri penis saat 

penis tidak ereksi 

(flaksid)

•biasanya merupakan 

referred pain dari 

inflamasi pada 

mukosa buli-buli 

atau uretra, 

Parafimosis, 

Keradangan pada 

prepusium dan glans 

penis 

•Nyeri penis saat 

penis ereksi

•mungkin disebabkan Penyakit 

peyronie, plak jar. fibrotic yg 

teraba pada tunika albuginea 

korpus kavernosum penis

•pada saat ereksi, penis 

melengkung dan terasa nyeri. 

•Priapismus ; ereksi penis 

yang terjadi terus menerus 

tanpa diikuti dengan ereksi 

glans.

Inkotinensia 

Adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan urin yang keluar dari buli2, baik disadari maupu tidak. 

 

Jenis Inkotinensia Urine Keluar Pada Saat Terdapat Pada 

Paradoksa (Overflow) Buli-buli penuh Obstruksi infravesika (BPH) 

Stress  Tekanan abdomen meningkat Kelemahan otot panggul 

Urge  Ada keinginan untuk kencing  jadi gejala 

iritatif  pasien lari ke wc sebelum nyampe 

udah keluar duluan miksinya 

Sistitis, buli-buli nerogen 

Continuos Atau True Urin selalu keluar Sfingter uretra eksternumnya 

udah doll/loss/rusak. 

 

Enuresis  

Tidak bisa menahan tapi tanpa kelainan anatomis jadi karena kelainan psikologis dan ISK akut. 

Keluhan disfungsi seksual 

Keluhan infertitlitas 

Keluhan skrotum dan isinya 

 

 

Urolitiasis / Batu Saluran Kemih 

 

 

Patofisiologi / teori pembentukan batu: 

 Dapat terjadi di seluruh saluran kemih tu yang sering terjadi hambatan aliran urine seperti sistem 

kalises ginjal atau buli2. Hambatan bisa karena obstruksi infravesika 

 Kondisi metastabel (suhu,pH,konsentrasi solute,laju aliran urine) yang terganggu menyebabkan 

terjadinya presipitasi Kristal membentuk inti batu retensi Kristal  makin mengendap  batu yang 

dapat menyumbat. 

 80% ialah batu kalsium baik yang berikatan dengan oksalat maupun dengan fosfat dan sisanya batu 

asam urat (mudah terbentuk saat suasana asam), batu magnesium ammonium fosfat (saat suasanan  

basa), batu sistein,batu xanthin,dll. 

 Tidak seimbangnya zat pembentuk batu dan zat penghambat batu. Inhibitor ini bekerja mulai dari 

proses reabsorbsi kalsium di dalam usus (inhibitor Mgberikatan dengan oksalat dan inhibitor 

sitratberikatan dengan kalsium), menghambat pertumbuhan,agregasi dan retensi Kristal 

(glikosaminoglikan,THP atau uromukoid) 

 

 

Etiologi: (diklasifikasikan menjadi 2)

Penyebab yang diketahui (MIAF)

 M (Metabolik) : defek metabolism purin, hiperoksalouria, hiperkalsemi (hiperparatiroid, 

hipertiroid, vit D yang terlalu tinggi, imobilisasi), diare kronik  dehidrasi, sistinuria.

I (Infeksi) : ISK dengan mikroorganisme penghasil urease

A (Anatomical abnormalities)

F (Functional Abnormalities)

Penyebab yang tidak diketahui (idiopatik)

Genetik : sistinuria (autosomal resesif), RTA tipe 1, medularry sponge kidney. (Cari kelainan 

genetic apa yang satu keluarga kena penyakit batu)

Geografik : Iklim dan Temperatur

Diet : intake kalsium dan oksalat berlebihan,kurang minum.

Pekerjaan : banyak duduk/kurang aktivitas/sedentary life

Sedikit tentang Batu Struvit (Batu infeksi) 

bakteri yang mempunyai enzim urease  menghidrolisis urea menjadi amoniak  urine bersuasana basa  

memudahkan terbentunya batu MAP (magnesium ammonium posfat). Bakteri antara lain: proteus, klebsiela, 

seratia, enterobakter, pseudomonas, stafilokokus. Sedangkan E coli memang sering menibulkan ISK tapi 

bukan termasuk bateri penghasil urease.  

 

Ringkasan; 

Batu Ginjal dan Batu Ureter 

 Batu yang mengisi pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal memberikan gambaran seperti tanduk rusa 

(batu staghorn) 

 Batu yang tidak terlalu besar akan didorong oleh otot2 sistem pelvikalises sehingga turun menjadi batu 

ureter dan menjadi batu buli serta dapat dikeluarkan (bila ukuran batu <5 mm) 

 Adanya batu dapat menyebabkan gejala obstruksi: hidroureter dan hidronefrosis. 

 GK: nyeri pinggang yang sifatnya kolik ataupun non kolik. Nyeri kolik merupakan nyeri mendadak 

yang intermiten karena adanya obstruksi saluran kemihback flowtekanan intrapelvikaliseal 

meningkatkapsul teregangkeluarnya prostaglandin sebagai mediator nyeri. Bila batu terletak di 

distal ureterkeluhan nyeri kencing atau sering kencing. Keluhan hematuria. 

 Pemeriksaan Fisik: Nyeri ketok pada area kosto vertebra, nyeri alih (referred pain) sesuai dengan 

lokasi batu ureter (bila 1/3 proksimal: di T10 umbilikus, bila 1/3 tengah: di L2-4 suprasimfisis, bila 

1/3 distal: di S 2-3 penis), dapat teraba ginjal bila mengalami hidronefrosis, tanda gagal ginjal,retensi 

urin, infeksi: demam dan menggigil. 

 Pemeriksaan radiologis: 

1. Foto polos abdomen: batu kalsium (opak), batu magnesium (semi opak), batu uraqt/sistin (non 

opak) 

2. IVP: untuk mengetahui anatomi dan fungsi ginjal. Serta dapat melihat batu semi/non opak yg 

belum terlihat dgn foto polos. Bila IVP belum jelas, dapat dilakukan retrograde pyelography. 

3. USG: bila pasien tidak bisa dilakukan IVP (missal karena alergi kontras, fungsi ginjal yg sangat 

menurun). Melihat ada batu,hidronefrosis,pyonefrosis,pengekeritan ginjal. 

 

Batu buli-buli 

 Batu buli terjadi karena ada gangguan miksi yang terjadi karena obstruksi infravesika :  BPH, striktur 

uretra,divertikel buli, buli neurogenik. Atau dari batu ginjal dan ureter yang turun ke buli. 

 Batu buli banyak terjadi pada anak2 yang menderita kurang gizi atau yang sering menderita dehidrasi 

atau diare. 

 Gejala iritasi (nyeri kencing /disuria, kencing tiba2 berhenti dan kemudain lancar krn perubahan 

posisi) dan nyeri saat kencing sering dirasakan sebagai reffered pain ke 

penis,skrotum,perineum,pinggang sampai kaki. Khas pada anak: enuresis nokturia, anak laki sering 

menarik penisnya, dan anak wanita menggosok vulvanya. 

 Tindakan mengeluarkan batu buli: litotripsi atau bila besar lakukan pembedahan terbuka 

(vesikolitotomi). 

 

Batu uretra 

 Biasanya berasal dari batu ginjal/ureter yang turun ke buli dan kemudian ke uretra, jarang y6ang primer 

berasal dari uretra. 

 Nyeri sebelum / diawal miksi, retensi urin. Batu di uretra anterior dapat teraba, nyeri dirasakan 

tergantung letak batu: bisa di glans penis, di perineum atau rectum bila batu di posterior. 

 Tindakan mengeluarkan batu uretra:  

1. Batu di MAE/fossa navicularis : dilebarkan meatus lalu diambil dengan forsep 

2. Batu di uretra anterior : diberi lubrikasi (campuran jelly dan lidokain)  batu keluar spontan 

3. Batu di uretra posterior : didorong ke buli lalu dilitotripsi, bila tidak bisa dihancurkan dengan 

pemecah batu transuretra. 

 

 

 

 

Manajemen Batu Saluran Kemih : (untuk semua tempat batu) 

 

 

 Medikamentosa / Terapi kemolisis (batu <5 mm) 

 

 ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy) 

a. Dapat digunakan untuk memecah batu ginjal, ureter proksimal, buli tanpa tindakan invasive 

b. Untuk batu ginjal : efektif bila ukuran batu < 20 mm dan tidak ideal untuk batu kaliks inferior 

>15 mm. terapi ulangan tidak boleh > 3-5 kali. Antibiotic bila ISK (+). Maximum shockwave 

(elektrohidraulic: 3500 shock, piezoelektik: 5000 shock) 

c. Untuk batu ureter : agak susah karena ureter sempit sehingga batu kurang dapat dipecah, perlu 

lebih banyak terapi ulangan. Efektif bila uk. batu < 8 mm  ESWL + DJ stent merupakan 

modalitas terapi batu ureter. 

 Endourologi: URS 

a. Prosedur: anestesi dulu  masukkan alat URS (dengan lensa) melalui uretra untuk melihat 

keadaan ureter atau sistem pelvikaliseal ginjal ekstraksi batu (ultrasonic,elektrohidraulik, 

laser,balistik-pneumatik dan elektrokinetik). 

b. Dengan atau tanpa DJ stent, rawat inap 1-2 hr (masih pake kateter dulu untuk evaluasi  KRS 

lepas) 

 PNL (percutaneous Nephro Litholapaxy) 

a. Prosedur: anestesi dulumasukkan alat endoskopi ke sistem kalises melalui insisi kulit melalui 

jalur nefrostomi  ekstraksi batu  pasang pipa nefrostomi (sekalian evaluasi urinnya) 

 

Evaluasi Metabolik Dasar 

Anamnesa : gejala klinis masing2 batu

Pemeriksaan Fisik : status urogenital

Pemeriksaan Radiologis : Foto polos, IVP,USG

Pemeriksaan urin : UL, biakan, pH.

Pemeriksaan analisis batu

Pemeriksaan darah: kreatinin, urat,kalsium

Evaluasi Urine 24 Jam

Volume

Kreatinin

Kalsium

Nitrat

Jenis Terapi

•Medikamentosa / Terapi kemolisis (batu <5 mm)

•Non Medikamentosa (ESWL, URS, PNL, )

• dengan larutan 10% hemiacridin (pH3,5-4) dan larutan suby yang 

dipasang melalui kateter nefrostomi untuk membantu memperluas 

permukaan kemudian dikombinasi ESWL.

a.Kemolisis untuk 

batu infeksi (batu 

MAP dan batu 

karbonat apatit)

• - larutan asam

• - Dapat dipakai untuk sisa batu.

a.Kemolisis untuk 

batu brushite

• - Dengan larutan basa pH 8,5-9

• - Larutan THAM dan larutan asetilsistein yang diberikan dengan cara

percutaneous kemolisis.

a.Kemolisis untuk 

batu sistin

• - larutan basa pH 8,5-9 : larutan THAM (trihidroksimetilaminometan) 

dengan percutaneus.

• - oral kemolisis : terapi alopurinol dan minum banyak, pH dinaikkan 

dengan alkali.

a.Kemolisis untuk 

batu asam urat

Benign Hyperplasia Prostate 

Pertumbuhan kelenjar prostat sangat tergantung oleh hormone testosterone, dimana 3alfa-reduktase 

mengubah Testostern  DHT  memacu pertumbuhan kel prostat. 

 

Pada BPH terjadi : 

1. Peningkatan massa prostat (sel kelenjar yang hyperplasia) 

2. Peningkatan rasio stroma : epitel tonus otot polos yang dipersarafi simpatis meningkat. 

Kedua hal di atas menyebabkan sumbatan pada uretra pars prostatika  LUTS (sindroma prostatism)  nilai 

keparahan gejala secara subbjektif melalui IPSS (international prostatic symptom score).  Timbul gejala 

LUTS  manifestasi kompensasi buli-buli untuk mengeluarkan urin, namun lama-lama akan masuk ke fase 

dekompensasi  kepayahan (fatigue) dan timbul retensi urin.  

Timbulnya dekompensasi buli didahului oleh beberapa factor pencetus : 

1. Volume buli yang secara tiba-tiba tertisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan kencing terlalu lama, 

minuman yang mengandung diuretika (alcohol,kopi) dan minum air berlebihan 

2. Massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau mengalami infeksi 

prostat akut. 

3. Mengkonsumsi obat : antikolinergik  menurunkan tonus detrusor dan simpatomimetik (alfa 

adrenergic)  meningkatkan tonus otot polos prostat. 

 

Pemeriksaan Urologis 

 

Diagnosis Banding  

1. Prostatitis  

2. Bladder neck stenosis 

3. Neurogenic bladder 

4. Stricture uretra 

5. Keganasan prostat  

fisik urologis :

• Teraba massa kistus di daerah suprasimfisis 

akibat retensi urin.

• Pemeriksaan colok dubur (rutin) :

• unit persarafan (s2-s4)  tonus sfingter 

ani tidak terasa longgar pd jari/BCR (+)

• mukosa rektum, keadaan prostat, antara 

lain kemungkinan adanya nodul, 

permukaan,sulcus mediana, konsistensi 

prostat, simetris, dan batas pole atas 

prostat.

lab

• UL untuk mencari apa ada proses infeksi 

yg terjadi selanjutnya lakukan kultur urin

• Faal ginjal : BUN/SK

• Gula darah : DM juga dapat mengakibatkan 

gangguan persarafan buli (buli neurogenik)

• PSA : penanda keganasan prostat, bila nilai 

>4 hrs waspada (namun bukan patokan 

rutin)

lain2

• Residual urin setelah miksi

• uroflowmetri (N = )

Radiologi

• Foto polos abdomen

• USG

• IVP

• - ureter di sebelah distal yang berbentuk 

seperti mata kail atau hooked fish

• - penyulit pada buli yaitu adanya trabekulasi, 

divertikel, atau sakulasi buli. Namun IVP 

sudah tdk direkomendasikan untuk BPH.

• Transrektal Ultrasononography (TRUS)

Derajat BPH 

 

Komplikasi  

1. Infeksi pada saluran kemih (ISK)  

2. Urosepsis  

3. Trabekulasi buli, divertikuli buli  

4. Batu buli-buli  

5. Hidronefrosis  

6. Hematuria  

7. Penurunan fungsi ginjal (pada yang disertai retensi urin kronis)  

 

Penatalaksanaan  

Tergantung pada berat ringan keluhan pasien  

1. Ringan (IPPS<8, maks. flow rate >15ml/s) → Watchful waiting  

2. Sedang (IPPS 9-18, maks. flow rate 10-15 ml/s) → Medikamentosa:  α-blocker (tamsulosin,doxazosin 

atau terazosin); anti androgen (inhibitor 5-α reduktase)  

3. Berat (IPPS >18, maks. flow rate <10 ml/s) → Operatif:  pembedahan terbuka bila volume ≥ 100cc, 

endoskopik (TUR-P)  

Syarat terapi watchful waiting dan medikamentosa, harus disingkirkan kemungkinan keganasan prostat 

 

 

 

TURP SYNDROME  

Penyerapan cepat dari solusi 

irigasi volume besar. Ditandai 

dengan perubahan volume 

intravaskular dan efek plasma 

solute (osmolaritas): 

 Circulatory overload  

 Water intoxication 

 Hiponatremia 

 Hypoosmolality 

 Hiperglikemia 

 Hiperamonemia 

 Hemolisis 

 

1. batas atas mudah 

diraba (sisa vol. urin 

<50ml)

2. batas atas 

dapat dicapai 

(sisa vol 50-100 

ml)

3. batas atas 

tidak teraba 

(sisa >100ml)

4. retensi total

T

er

ap

B

P

H

 

1. Kateterisasi 

2.  A-bloker ► relaksasi otot polos prostat, Prazosin baik untuk penderita hipertensi 

sekaligus BPH.  contoh lain ; Tamsulosin

3. 5a-reductase inhibitor ► Blok konversi testosterone, digunakan untuk terapi jangka 

panjang, kerja lambat, contoh obat ; Finasteride, Dutasteride 

4. TUR-P ►risiko TURP Syndrome

TORSIO TESTIS 

Terpeluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya gangguan aliran darah pada testis. 

 

Penyebab :   

1. Trauma 

2. Kelainan sistem 

penyangga testis 

(anomali bell-clapper)  

Patofisiologi  

normalnya otot kremaster berfungsi menggerakkan testis mendekati dan menjauhi 

rongga abdomen  mempertahankan suhu ideal untuk testis. Adanya kelainan  testis 

dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan antara lain perubahan suhu yang 

mendadak, celana dalam yang terlalu ketat dan trauma yang mengenai skrotum.  

 

Gejala Klinis : 

- nyeri hebat di daerah skrotum, mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis (akut skrotum).  

- Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau perut sebelah bawah, sehingga jika tidak diwaspadai sering 

dikacaukan dengan apendisitis akut.  

- Pada bayi gejalanya tidak khas yakni gelisah, rewel, atau tidak mau menyusui.  

 

Pemeriksaan Dan Diagnosis : 

1. Anamnesis yang lengkap mengenai proses kejadian  

2. Inspeksi : testis membengkak, letaknya lebih tinggi dan lebih horisontal daripada testis sisi kontralateral.  

3. Palpasi : kadang-kadang pada torsio testis yang baru saja terjadi dapat diraba adanya lilitan atau 

penebalan funikulus spermatikus.  

4. Pemeriksaan sedimen urine tidak menunjukkan adanya lekosit dalam urine dan pemeriksaan darah tidak 

menunjukkan tanda inflamasi, kecuali pada torsio testis yang sudah lama dan telah mengalami 

keradangan steril.  

  

Gambar : contoh torsio testis dengan unviable testis post orchidectomy 

Diagnosis Banding : 

1. Epididimitis akut.  Secara klinis sulit dibedakan dengan torsio testis. Nyeri skrotum akut biasanya disertai 

dengan kenaikan suhu tubuh, keluarnya nanah dari uretra. Jika dilakukan elevasi atau pengangkatan testis 

terkadang nyeri akan berkurang, sedangkan pada torsio testis nyeri tetap ada. Pada pemeriksaan sedimen 

urine didapatkan adanya leukosituria atau bakteriuria  

2. Hernia skrotalis inkarserata  biasanya ada riwayat benjolan keluar masuk, dan massa cenderung lebih 

besar atau sudah massive 

3. Hidrokel terinfeksi  

 

Penatalaksanaan : 

 

 

 

Detorsi manual

• mengembalikan posisi testis ke asalnya dengan jalan 

memutar testis ke arah berlawanan dengan arah 

torsio.

• Karena biasanya ke medial maka dianjurkan 

memutar kearah lateral dulu (OPEN BOOK) dan jika 

tidak terjadi perubahan dicoba ke arah medial. 

• Jika detorsi berhasil operasi harus tetap dilaksanakan. 

Operasi

• Orchidopexy (fiksasi testis) 

pada tunika dartos pada testis 

yang torsio kemudian disusul 

Orchidopexy pada testis 

kontralateral.

• Orchidectomy, jika testis sudah 

tidak viable (goldentime <6jam)

{BEDAH SARAF} 

 

Cedera Kepala 

Perubahan fungsi otak atau terdapatnya bukti patologi pada otak yang disebabkan oleh kekuatan mekanik 

eksternal. Cedera kepala dapat diakibatkan oleh trauma mekanik baik langsung maupun tidak langsung 

 

Patofisiologi cedera kepala  kematian 

 

 

 

Gambar. Schematic of primary and secondary injuries that occur due to head trauma.6 

 

 

•kerusakan jaringan dan gangguan 

autoregulasi aliran darah otak (CBF) 

bersama dengan metabolisme yang 

tidak teratur  akumulasi asam 

laktat, peningkatan permeabilitas 

membran sel dan timbulnya edema 

 timbul metabolisme anaerob 

untuk menopang kebutuhan energi 

otak  tidak adekuat  simpanan 

Adenosine triphosphate (ATP) 

berkurang  kegagalan pompa ion 

membran untuk mempertahankan 

homeostasis yang adekuat. 

Tahap pertama. 

•Terjadi depolarisasi membran yang 

berkelanjutan, bersama dengan 

eksitotoksisitas (yaitu, pelepasan 

neurotransmitter yang berlebihan 

seperti glutamat dan aspartat) dan 

aktivasi saluran Ca ++ dan Na + 

masuknya kalsium dan natrium 

aktivasi peroksidase lipid, protease 

dan fosfolipase  apoptosis sel

Tahap kedua. 

•dapat dipicu dan 

dipromosikan oleh 

peradangan sistemik 

setelah terjadi cedera 

kepala. Pada cedera kepala, 

terjadi catecholamine 

storm / lonjakan 

katekolamin 

peningkatan kadar sitokin, 

 MODS

Disfungsi organ 

ekstraserebral

Klasifikasi cedera kepala berdasar patofisiologi : 

 

 

Tekanan Intra Kranial 

 Hukum Monroe Kellie  dalam keadaan normal ruang intracranial yang terdiri dari volume darah, 

parenkim otak, dan cairan cerebrospinal akan selalu dalam keadaan tetap.  

 Pada keadaan dimana terjadi perubahan atau pertambahan volume salah satu komponen tersebut, 

maka akan dikompensasi dengan mengurangi salah satu volume lain sebelum gagal dan terjadi 

peningkatan TIK.  

 

Gejala dari peningkatan TIK: 

1. Gejala utama: nyeri kepala, muntah proyektil dan papil edema. 

2. confusion, agitation, drowsiness  

3. changes in pupillary response 

4. weakness on one side of the body 

5. seizures  

6. Blurred Vision 

7. Papilloedema  

8. In Paediatrics – Persistent Crying & Refusal to eat 

9. Cushing responses : Hipertensi, Bradikardi, Change of respiratory pattern  

 

Penatalaksanaan Cedera Kepala 

 

a. Ingat ATLS selalu ABCDE (primary survey) 

- A: bebaskan jalan nafas lakukan jaw thrust, pertahankan jalan nafas dengan OPA/NPA 

- B: Beri O2 dengan NRM 10-12 L/m 

- C: pasanga iv line infuse kristaloid, cari sumber perdarahan, atasi syok 

- D: nilai AVPU dan GCS 

- E: Head to toe examination 

b. Secondary survey : disini dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pneunjang. 

- Anamnesis :  

o ada riwayat benturan pada kepala, riwayat penurunan kesadaran/pingsan, amnesia, muntah, 

nyeri kepala  cedera kepala 

k

la

si

fi

k

as

C

id

er

K

ep

al

a

secara 

mekanisme

penetrating head injury

Gunshot wounds

Stab wounds

closed head injury

Low velocity (fall/ assault)

High velocity (motor vehicle accident)

Blast injury

secara 

morfologi

skull 

fractures

basilar 

fracture

Linear or stellate

Depressed versus not

vault 

fracture

with or without CSP leak

With or without CN VII palsy

focal

epidural hematoma

subdural hematoma

intracerebral hemarrhage

difuse

concussion

difuse axional injury

o AMPLE : alergi, obat yang terakhir atau rutin diminum, penyakit yang diderita (RPD), 

makan terakhirnya kapan, event atau waktu dan proses kejadian 

- Pemeriksaan Fisik :  

o head to toe, kepala (cari tanda fraktur pada basis kranii, maksilofasial), leher dan tulang 

belakang.  

o Selain itu lakukan pemeriksaan neurologis. 

a. Tingkat kesadaran : berdasarkan skala Glasgow Coma Scale (GCS). Cedera kepala 

berdasar GCS, yang dinilai setelah stabilisasi ABC diklasifikasikan :  

- GCS 14 – 15  : Cedera otak ringan (COR)  

- GCS 9 – 13  : Cedera otak sedang (COS)  

- GCS 3 – 8   : Cedera otak berat (COB)  

b. Saraf kranial, terutama :  

- Saraf II-III, yaitu pemeriksaan pupil : besar & bentuk, reflek cahaya, reflek 

konsensuil bandingkan kanan-kiri  

- Tanda-tanda lesi saraf VII perifer.  

c. Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, perdarahan pre retina, retinal detachment.  

d. Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah mencari tanda 

lateralisasi.  

e. Autonomis: bulbocavernous reflek, cremaster reflek, spingter reflek, reflek tendon, 

reflek patologis dan tonus spingter ani. 

 

- Pemeriksaan Penunjang : Laboratorium dan Radiologis (skull AP/lat/tangensial dan CT kepala). 

Indikasi foto skull:  

 Kehilangan kesadaran, amnesia  

 Nyeri kepala menetap  

 Gejala neurologis fokal  

 Jejas pada kulit kepala   

 Kecurigaan luka tembus  

 Keluar cairan cerebrospinal atau darah dari hidung atau 

telinga  

 Deformitas tulang kepala, yang terlihat atau teraba  

 Kesulitan dalam penilaian klinis : mabuk, intoksikasi obat, 

epilepsi, anak  

 Pasien dengan GCS 15, tanpa keluhan dan gejala tetapi 

mempunyai resiko : benturan langsung atau jatuh pada 

permukaan yang keras, pasien usia >50tahun. 

Indikasi Head CT scan: 

 Cedera kepala dengan riwayat pingsan, amnesia 

retrograde. 

 Nyeri kepala dan muntah menetap 

 GCS ≤ 14 

 Perubahan status mental 

 Deteorisasi neurologis, penurunan GCS 2 poin 

atau lebih, hemiparesis, dan kejang 

 Deficit neurologis fokal, dijumpai lateralisasi 

 Perlukaan kranioserebral, fraktur/curiga fraktur, 

adanya trauma tembus 

 Multi trauma 

 Indikasi social  

 

Prinsip Penatalaksanaan: 

a. Beri oksigen  

b. Pasang iv line infus kristaloid untuk mencapai kondisi euvolemia 

c. Beri profilaksis anti kejang bila ada indikasi (GCS ≤ 10, Immediate seizures, Kontusio kortikal, Fraktur 

linier, Penetrating Head Injury, Fraktur depresi, Alkoholik  kronis, Post traumatic Amnesia> 30 menit,  

Epidural, subdural, atau intracerebral hematom, Defisit neurologis fokal, Usia ≥ 65 atau ≤15 tahun) 

Pengobatan profilaksis dengan fenitoin dosis loading  untuk dewasa 15-20 mg/kgBB dalam 100 cc  

NS 0,9% dengan kecepatan infus maksimum 50 mg/menit. Pada pasien pediatri dosis loading fenitoin 

yang direkomendasikan 10-20 mg/kgBB, diikuti dosis rumatan 5mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis. 

Dosis rumatan dapat ditingkatkan hingga 10mg/kgBB/hari untuk mencapai konsentrasi serum antara 

10-20 mcg/ml. 

d. Kenali, cegah, dan atasi peningkatan TIK: 

- Tujuan untuk menjaga TIk tetap di bawah 20 dan CPP > 80, sehingga mencegah terjadinya 

hipoksia iskemia serebral 

- Posisi kepala Head up 30-45 dan menjaga kepala tetap pada posisi mid line tujuan meningkatkan 

venous return dan menggeser volume CSF dari kompartemen kepala ke kompartemen spinal shg 

mengurangi volume intracranial 

- Jika perlu beri sedasi ringam kodein atau lorazepam 

- Terapi osmotic dengan manitol 0,25-1 gram/kg bolus (>20 menit) dilanjutkan dengan 

mempertahankan 0,25 gram/kg setiap 6 jam jika TIK>20 mmHg. 

- Sebagai pengganti manitol, dapat diberikan furosemid 10-20 mg iv setiap 4 jam (dewasa) atau 1 

mg/kg IV maksimal 6 mg (anak) jika perlu. Ingat Kortikosteroid untuk vasogenic edema (misal 

karena tumor otak) dan bukan untuk cedera kepala. 

Manitol dapat menurunkan TIK dengan cara menarik cairan ke dalam ruangan Intra vaskular (TIK 

me↓→ CBF dan CPP me↑). Manitol secara bermakna menurunkan mortalitas COB tipe “non 

surgical mass lesion” bila tidak ada episode hipotensi atau hipoksia selama perawatan pada GCS 

3–5 atau CT Scan menunjukkan kontusio serebri grade III.  

 Sediaan manitol yang digunakan biasanya 15 dan 20%.  

 Manitol diberikan bolus 0,25 – 1 gr/KgBB dalam 10 – 20 menit, setiap 4 – 8 jam.  Sebelum 

memberikan manitol harus dilakukan pemeriksaan darah rutin, fungsi ginjal, gula darah, 

dan elektrolit darah.  

 Penghitungan osmolaritas awal darah dilakukan sebelum pemberian manitol.  

 Dan harus terpasang foley kateter untuk pengukuran diuresis.  

Osmolaritas = 2(Na+ + K+) + Glukosa/18 + BUN/2,8  

 

 observasi ketat untuk menjaga pasien agar tetap dalam keadaan euvolemia dan osmolaritas 

serum <320 mmol/l. Euvolemia dipertahankan dengan penggantian volume cairan yang 

isotonis dan harus dicegah terjadinya hipotensi (TDS <90 mmHg).  

 Fenomena rebound dapat dikurangi dengan pemberian bolus, dan penghentian manitol 

dilakukan secara bertahap.   

 Sodium laktat hipertonis diberikan dengan dosis 1,5 ml/KgBB selama 15 menit dalam 

setiap kali pemberian. 

 Komplikasi pemberian hipertonik salin diantaranya adalah rebound edema, kerusakan 

BBB, penurunan tingkat kesadaran karena hipernatremia, dan central pontine myelinolisis 

(CPM). Sodium laktat hipertonis dapat memberikan keluaran pasien yang lebih baik 

dengan indikator Glasgow Outcome Scale, Barthel Index, dan Karnoffsky Score bila 

dibandingkan dengan manitol dan dapat diberikan pada pasien  dengan kondisi syok 

- Mencegah hiperventilasi 

- Mencegah hiperglikemia (bisa terjadi reaktif hiperglikemia) 

- Pemasangan alat monitoring TIK, ini yang paling ideal. Indikasi (ada di buku synopsis hal 7) 

- Drainase cairan serebrospinal bila telah terpasang kateter intraventrikel. 

- Craniotomi dekompresi 

e. Terapi simptomatik: 

- Analgetik 

- Antimuntah 

- Antivertigo 

f. Nutrisi : 

- Early feeding, dalam 24-48 jam bila KI -. 

- “Start low go slow” 100 – 140 % kebutuhan kalori  

- Enteral lebih baik dari pada parenteral  

g. Trauma fokal : 

- Luka terbuka  debridement. 

- Luka tertutup  konservatif, elektif  

h. Lesi intracranial : 

- Ada efek massa / menyebabkan peningkatan TIK  operasi  

- Tidak ada efek massa  konservatif  

 

SCALP Injury (laserasio Kulit Kepala) 

 SCALP =  Skin, Connective tissue (dense), Aponeurosis (Galea aponeurotika) , Loose connective 

tissue, Periosteum 

 Ada 2 jenis injury: terbukalaserasi dan tertutuphematoma subgaleal 

 Pada scalp ini banyak vaskularisasinya, terutama pada anak dan bayisyok 

 Penanganan: Laserasi Scalp harus dibersihkan dengan teliti, dieksplorasi, debridement dan ditutup. 

Cara: Setelah mencukur sekitar luka dan mencucinya dengan Nacl 0,9% dan Perhidrol ila luka dalam 

dengan sarung tangan steril lakukan eksplorasi pastikan tidak ada fraktur atau cedera penetrasi di 

bawahnya. Jika ada fraktur, dibersihkan dan ditutup dengan dijahit lalu konsul ke Sp.BS. 

 

Fraktur Kranium 

 Dibagi menjadi 2 yakni fraktur kalvaria dan fraktur basis kranii 

 Fraktur Kalvaria, tipe fraktur: 

a. Fraktur linier merupakan fraktur dengan bentuk garis tunggal atau stellata pada tulang 

tengkorak yang mengenai sekuruh ketebalan tulang kepala. Tidak ada terapi khusus untuk 

fraktur ini namun karena gaya yang menyebabkan terjadinya fraktur tersebut cukup besar maka 

kemungkinan terjadinya hematoma intracranial cukup besar. Bila garis fraktur melintasi 

pembuluh darah, sinus venosus atau sutura EDH, thrombosis sinus venosus, diastasis sutura.  

b. Fraktur diastasis: jenis fraktur pada sutura tulang tengkorak yang mengakibatkan pelebaran 

sutura tulang kepala. Jenis fraktur ini sering pada bayi dan balita karena sutura belum menyatu 

dengan erat. Fraktur diastasis pada usia dewasa sering terjadi pada sutura lambdoid dan dapat 

mengakibatkan terjadinya EDH. 

c. Fraktur kominutif 

d. Fraktur depressed/impresi: impresi fraktur dianggap bermakna jika tabula eksterna segmen 

yang impresi masuk di bawah tabula interna segmen tulang yang sehat (>1 diploe). Indikasi 

operasi pada fraktur impresi ialah bila fraktur melibatkan > 1 diploe atau terdapat lesi 

intracranial di bawahnya (kontusio, hematoma), atau terdapat deficit neurologis yang sesuai 

dengan daerah impresi.  

 Fraktur Basis Kranii 

Perbedaan struktur antara tulang kalvaria dengan basis kranii: 

a. Tulang basis lebih tipis dibanding tulang kalvaria 

b. Duramater basis lebih tipis dan melekat erat dengan tulang dibanding duramater kalvariafraktur 

daerah basis menyebabkan kebocoran robekan duramater dan menyebabkan kebocoran CSF yang 

menimbuklkan resiko infeksi selaput otak (meningitis). 

Fraktur basis berdasrkan letak anatomi dibagi menjadi: 

a. Fraktur fossa anterior. Gejala: Racoon’s eye sign/brill hematoma, Rhinorrea/bloody, Anosmia. 

Pemeriksaan rhinorea dengan tes halomeneteskan cairan pada media yang cepat menyerap 

seperti tissue atau kasa. Hasil positif bila darah mengumpul di bagian tengah dan terdapat rembesan 

CSF mengelilingi darah tersebut (halo sign atau double ring sign). Pemeriksaan lebih spesifik 

dengan pemeriksaan beta 2 transferin yang mrp marker spesifik CSF. 

b. Fraktur Fossa media.  

Fossa media pada bagian posteriornya berbatasan dengan pars petrosus os temporalis, shg jika 

terjadi maka gejala klinis berupa: 

- Fraktur pada os petrosus pars temporal ditandai dengan CSF otorea dan memar sepanjang os 

mastoid (battle sign) 

- Hemotympanum 

- Kelumpuhan N 7 dan 8 

- Carotid-cavernosa fistula, yakni ekimosis, sakit kepala, adanya bruit, eksoftalmus yang 

berdenyut mengikuti irama jantung.  

c. Fraktur Fossa posterior: brain stem 

Pemeriksaan Penunjang:  

a. Pada pemeriksaan rontgen kepala tidak adanya gambaran langsung. Secara tidak langsung adanya 

gambaran pneumoencephalus (udara intracranial) atau gambaran sinus sphenoid yang opak atau 

memiliki gambaran air fluid level (darah dalam sinus sphenoid).  Namun dengan xray udah jarang 

dilakukan karena posisi untuk melihat FBC ialah hanging foto dimana posisi ini berbahaya tu untuk 

CK dengan cidera vertebra servikal. 

b. Head CT: lebih dipilih sekarang. Tidak hanya lesi tulang dapat dideteksi, namun juga hematoma, 

pneumoencephalus, edema serebri dapat dideteksi.  

Diagnosa Banding: 

a. Echimosis periorbita oleh trauma langsung seperti contusion fasial atau blow out fracture 

b. Rhinorea atau otorea dapat juga disebabkan karena congenital ablasi tumor atau hidrosefalus, 

penyakit kronis, infeksi tindak bedah. 

Penatalaksanaan FBC: 

a. Umum: ABCDE 

b. Konservatif: 

- Seringkali kebocoran CSF akan pulih dengan elevasi kepala saat tidur selama bbrp hari walau 

kadang perlu drain lumbal atau tindakan bedah repair langsung. 

- Terapi antibiotic  

- Terapi konservatif lain misal steroid untuk membantu paralisis nervus fasialis, meticobal. 

c. Bedah, adapun indikasi bedah pada FBC ialah  

- Kebocoran CSF persisten setelah mengalami FBC 

Prognosis : FBC biasanya dapat sembuh sendiri tanpa intervensi terutama FBC tanpa kebocoran CSF. 

Sebagian besar CSF dapat menutup sendiri tanpa pembedahan. 

 

Traumatic Intracranial hematoma 

 EDH SDH Subarachnoid 

hemorrhage  

Intracerebral 

hemorrhage  

Eti Traumatic rupture 

of middle 

meningeal artery 

Traumatic rupture of 

a bridging vein 

 Most cases secondary 

to rupture of a saccular 

aneurysm or arteriove

nous 

malformation (AVM) 

 Trauma 

 Most cases 

secondary 

to hypertension 

 Rupture of AVM 

 Trauma 

Clinicl 

featur

es 

 Lucid interval, 

then loss of 

consciousness 

 Headache 

 Hemiplegia 

 Increasing headache 

over days or weeks 

 Changes in mental 

status 

 Less frequently: lucid 

interval 

 Sudden, 

severe headache 

 Loss of consciousness 

 Headache 

 Focal neurologic 

deficits 

 Loss of 

consciousness 

CT- 

Scan 

Biconvex, hyperde

nse lesion located 

between the brain 

and the calvarium, 

limited by suture 

lines 

Crescent-shaped, 

homogenous lesion 

between the brain and 

the calvarium, not 

limited by suture lines 

Extensive area of 

hyperdense signals 

around the circle of 

Willis (most common 

location) 

Solitary hyperdense 

lesion, surrounded 

by 

hypodense edema (

most commonly 

within the basal 

ganglia or internal 

capsule) 

Mx Surgical drainage Surgical drainage  Medical therapy to 

reduce vasospasm 

 Surgical 

intervention: clipping 

or endovascular repair 

 Supportive care 

 Surgical clot 

removal (depends 

on the location and 

extent of the 

hemorrhage) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

{STASE ORTHOPEDI} 

Status lokalis orthopedi 

1. Look  inspeksi 

a. edema ? kulit permukaannya akan lebih shining 

b. deformitas ? tanda pasti fraktur 

bentukan deformitas dapat berupa 

(1)angulasi/sudut, (2) shortening/widening, 

(3)gangguan rotasi misalnya pada sendi. 

c. bone expose ?  

d. perdarahan ? 

2. Feel  palpasi 

a. nyeri tekan ?  

b. krepitasi ? tanda pasti fraktur 

tidak boleh mencari krepitasi secara sengaja !!! 

nyeri kelesss 

c. AVN distal ? 

3. Move  awalnya dilihat, terus minta pasien 

menggerakkan ROM sesuai keluhan secara mandiri atau 

aktif sampai batas maksimal nyeri  pemeriksa lakukan 

Gerakan pasif pada ROM yang sama 

a. false movement ?  ditemukannya juga harus 

secara tidak sengaja, jangan maksa ! 

 contohnya itu pada fraktur 1/3 tengah humerus  

kerusakan nervus radialis  drop hand  

b. ROM aktif/pasif ?  

c. nyeri gerak ? 

 

Patofisiologi compartement syndrome  

 

 

Vicious circle : lingkaran setan  harus diputus 

  

Intermezzo 

1. Untuk kasus fraktur hal yang dapat 

terjadi itu, antara lain : 

o lesi vaskuler 

o lesi nervus 

o compartement syndrome 

2. edema itu udah pasti pada kasus 

fraktur, kenapa ? karena terjadi lesi 

vaskuler disitu sehingga terjadi 

peningkatan ICP dan dapat terjadi 

compartemen syndrome 

3. compartemen syndrome ada yang 

internal (akibat perdarahan lesi 

vaskuler) atau eksternal (fiksasi 

atau pemasangan bidai yang terlalu 

ketat) 

4. contoh bentuk laporan status 

lokalis: 

missal : pada regio wrist dextra 

- look : edema +, deformitas + 

dinner-fork deformity 

- feel : nyeri tekan +, secara 

tidak sengaja krepitasi + 

ditemukan saat pemesangan 

armsling pada pasien, AVN 

distal + 

- move : ROM + terbatas nyeri 

injury 

lesi 

vaskuler 

ICP ↑ 

Perfusi ↓ 

perdarahan 

iskemia 

i j  edema respon pro 

inflamasi 

“Vicious circle”  

 

 Mal-union ; Tulang yang menyatu dalam 3-6 bulan tapi alignment tulang tidak sempurna (bengkok). 

 Non-Union : Tulang yang gagal menyatu dalam 6-8 bulan dan disertai munculnya pseudoarthrosis atau 

sendi palsu.  

Delayed :  Belum menyatu dalam 3-6 bulan. 

Fraktur lengan (1/3 distal radius ulna) : 

 Fraktur Colles 

jatuh dengan posisi menyangga tubuh, fragmen distal 

dislokasi kearah dorsal ‘dinner fork deformity’  

 Fraktur Smith 

Jatuh dengan posisi punggung tangan lebih dulu, fragmen 

distal dislokasi kearah ventral/telapak 

Fraktur lengan (1/3 proximal) : 

 Monteggia  Fraktur 1/3 proximal ulna, 

Dislokasi radioulnar joint 

 Galleazi  Fraktur 1/3 distal radius, 

Dislokasi radioulnar joint 

 

 

  


Bedah 2

 










Kemoterapi: kuratif 12 siklus. (CAF7CEF) 

o Hormonal: tergantung Check up   reseptor 

estrogen (ER).  

B2. Stadium IV 

Penderita dibagi menjadi tiga group, yaitu :  

1. Premenopause : ooforektomi bilateral. Respon (+) 

tunggu relaps, kemudian diberikan tamoxipen 

atau lainnya. Bila (-) kemoterapi CMF/CAF. 

2. 1 -2 tahun menopause: diperiksa efek estrogen. 

(Efek (+) sesuai no.1, bila (-) sesuai no. 3 

 101 

 

3. Post menopause : obat-obatan hormonal 

additive/inhibitif. Apabila gagal diberikan 

kemoterapi. 

4. Kemoterapi: Apabila keadaan umum 

memungkinkan (CAF/CEF)' 

 

Rehabilitasi dan Konstruksi 

1. Latihan pergerakan segera sesudah operasi, untuk 

mencegah kekakuan. 

2. penanganan limfadema sulit. Diuretik verban elastis, dan 

prosedur operasi dikerjakan dengan hasil yang bervariasi. 

3. reko

nstruksi segera sesudah 

mastektomi dengan 

implant bisa dikerjakan 

pada penderita tertentu 

pada penyakit minimal.  

 

Follow up 

1. Check up   periodik, termasuk mamma 

kontralateral. 

 102 

 

2. Laboratorium : Tidak pasti untuk menentukan 

rekurensi. Bisa dikerjakan Check up   CA153 tiap 

setengah tahun. 

3. Check up   X foto toraks tiap 6 bulan dan 

mammografi mamma kontralateral tiap tahun. 

4. skema: 

o 3 bulan pertama : tiap 4 minggu 

o sampai 1 tahun : tiap 6 minggu 

o Sampai 2 tahun : tiap 2 bulan , ' ' 

o Sampai 3 tahun : tiap 3 bulan 

o Sampai 4 tahun : tiap 4 bulan 

o Sampai 6 tahun : tiap 6 bulan 

o Pada penderita BCT follow up lebih ketat. 

 

2. Kanker Tiroid 

Definisi 

Tumor yang mengenai kelenjar tiroid 

 

Etiologi 

1. Rangsangan TSH yang berkepanjangan 

2. Radiasi di daerah kepala leher pada anak-anak dengan 

masa laten 5-30 tahun 

 103 

 

3. Hubungan yang kurang jelas : 

o Hubungan struma koloid yang keberlangsungan 

lama dengan Ca tiroid jenis papiler dan anaplastik 

o Hubungan antara adenofolikuler dengan Ca 

folikuler tiroid  

o Faktor genetik dalam Ca meduler 

 

Diagnosis 

1. Deteksi: Keganasan tyroid dicurigai pada nodul tiroid 

apabila :  

o Nodul soliter  

o pada anak-anak, dewasa muda dan laki-laki  

o pada wanita di atas 50 tahun  

o Struma koloid yang sudah berlangsung lama. 

2. Check up   Fisik 

o Pembesaran tiroid diffus atau berbatas tegas 

o Perhatikan ukuran, konsistensi dan mobilitas 

Pembesaran kelenjar-kelenjar leher 

 

 

3. Check up   Penunjang 

o Laboratorium : T3, T4 dan TSH  

 104 

 

o Scanning radioisotop tiroid 

o Foto thoraks 

o Bone survey atau scanning radioaktif tulang 

o Check up   roentgen leher 

o Laringoskopi indirect untuk melihat pita suara 

o USG 

o CT scan dan MRI atas indikasi 

4. Diagnosis Pasti 

o Biopsi eksisi 

o Biopsi insisi hanya pada kasus inoperable 

o Aspirasi biopsy 

 

Terapi 

Terapi tergantung pada tipe histologi: 

o Tipe papiler dan follikuler: total tiroidektomi dengan 

alternatif near total. Jika ada metastase kelenjar 

dikerjakan diseksi kelenjar leher selektif. Jodium 

radioaktif pasca bedah akan membersihkan fokus 

mikroskopis sesudah operasi diperlukan substitusi 

hormon tiroid seumur hidup 

o Tipe meduller: total tiroidektomi dengan diseksi 

kelenjar leher selektif. Kadang diikuti radioterapi 

 105 

 

eksternal kerana   terapi jodium radioaktif tidak 

berguna 

o Tipe anaplastik : radioterapi eksterna. 

 

Follow up 

Pada follow up diperiksa : 

o Rekurensi 

o Metastasis 

pada total tiroidektomi dikontrol penuh hormon T3, T4, TSH 

untuk pemakaian substitusi tiroid 

 

3. Soft Tissue Tumor 

Definisi 

Tumor jaringan lunak yaitu   neoplasma yang berasal dari 

semua jaringan mesenchimal yaitu jaringan lunak, jaringan 

ikat penyangga, jaringan otot, (otot lurik dan otot polos), 

pembuluh darah, saraf perifer, tendon dan membrana 

sinovial. Tumor jinak / ganas dengan nama sesuai jaringan 

asalnya : 

o jaringan lemak : lipoma / liposarkoma 

o jaringan ikat : fibroma / fibrosarkoma 

o otot polos : leiomioma / leiomiosarkoma 

 106 

 

o otot lurik : rabdomioma / rabdomiosarkoma 

o membran sinovial : sinovioma / sinoviosarkoma 

o pembuluh darah : hemangioma / hemangiosarkoma 

o pembuluh limfa : limfangioma / limfangiosarkoma 

 

Manifestasi Klinik 

Tumor jinak dan tumor ganas jaringan lunak mempunyai 

kesamaan manifestasi klinis, yaitu pertumbuhan massa 

lambat, tanpa rasa sakit. Kecurigaan keganasan apabila: 

1. Pembengkakan tumbuh dengan cepat 

2. Pertumbuhan cepat tiba-tiba dari tumor yang telah 

ada 

3. Tumor 

jaringan 

lunak 

pada anak  

 

Diagnosis Patologi 

o Biopsi insisi atau biopsi jarum tebal 

o Biopsi eksisi untuk tumor kecil  

Penetapan Stadium 

 107 

 

Sistem penetapan stadium untuk sarkoma menurut TNMG 

(Russel et al., 1977) sebagai berikut : 

T  : Besar tumor  

N  : Kelenjar limfe regional  

M  : Metastase jarak jauh  

G  : Derajat diferensiasi histologik.  

 

Terapi 

Modalitas terapi sarkoma jaringan lunak yaitu   pembedahan 

dan radioterapi. Kemoterapi sampai saat ini masih 

eksperimental.Eksisi dianggap radikal jika tumor diangkat 2 cm 

jaringan normal sekitarnya. Jika tidak demikian, eksisi 

dianggap tidak radikal dan harus diikuti radioterapi 

adjudvan.infiltrasi tumor pada pembuluh darah besar atau 

saraf, bisa dipertimbangkan amputasi. Dengan fasilitas yang 

lebih baik bisa dikerjakan Limb Salvage Surgery. 

 

4. Keganasan kulit 

Definisi 

Kanker kulit yaitu   kanker yang berasal dari kulit atau aneksa 

kulit.  

Patofisiologi 

 108 

 

a. Kefainan kulit premaligna 

1. Keratosis : 

o Keratosis aktinika (solaris,senilis)  

o Leukoplakia  

o Keratosis arsen  

o MorbusBowen  

2. Kelainan nevoid 

o Naevus sebaceous 

o Nauvus pigmentosus kongenital 

3. Kelainan pigmen 

o Lentigo maligna (Meianosis Dubreuhil) 

o Sindroma naevus displastik  

b. Tumor kulit maligna: 

1. Karsinoma sel basal 

2. Karsinoma sel skuama 

 

Manifestasi klinis 

1. Keratosis aktinik, lesi praganas terbanyak, biasanya 

merupakan pertumbuhan keratotik kecil, berbatas tegas, 

kemerahan, datar atau menonjol dengan permikaan kasar 

pada palpasi. Jika terjadi indurasi hati-hati terjadi kanker. 

Keratosis terutama terdapat pada muka (terutama pada 

 109 

 

telinga, punggung, hidung, kepala botak) dan selanjutnya 

punggung tangan. 

2. Kebanyakan kanker kulit tumbuh pertama sebagai lesi 

kecil yang sedikit menonjol di atas kulit. Wama bisa 

berbeda dengan kulit sekitarnya. Gejala awal yang 

penting : lesi yang mencurigakan yaitu   setiap lesi yang 

tumbuh dan jadi erosif, tak sembuh dalam 3 minggu 

ssudah terapi konvnsional, atau yang tumbuh dalan waktu 

pendek. Gejala lanjut yaitu   ulcerasi dan perdarahan. 

3. Karsinoma sel basal, biasanya mulai sebagai penonjolan 

kecil merah kelabu mengkilap, sering dengan 

taleangiektasi. Pada pertumbuhan selanjutnya sering 

terjadi suatu daerah sentral yang iicin dan agak 

mendalam. Kadang-kadang terjadi destruksi yang cukup 

banyak, sedang pingirnya yang menonjol tampaknya tidak 

ada. Ini yang disebut ulkus rodent. Kadang sel basal 

mengandung sel pigmen melanin sehingga berwarna 

coklat sampai hitam. Ini yang disebut karsinoma sel basal 

dengan pigmentasi. Pertumbuhannya lambat. Sekitar % 

karsinoma terdapat pada kepala dan leher. Sebagian kecil 

tumor tumbuh agresif dan invasif, namun  metastase jarang 

terjadi. 

 110 

 

4. Karsinoma sel squamosa (karsinoma planosellulare). 

Banyak karsinoma terj'adi pada kulit yang mengalami 

perubahan premaligna. Ini dapat berupa uatu keratosis 

senilis atau leukopiakia. Dalam perjalananya unsur ini 

menjadi lebih tebal, dan dibawahnya terjadi perubahan 

infiltratik. Bersama dengan itu terjadi tambahan 

kornifikasi dan terj'adi pertumbuhan tumor yang terjadi 

lebih tebal di pinggirnya. Kadang karsinoma ini tampak 

klinis sebagai suatu verucca, kadang-kadang sebagai 

papiloma besar yang tumbuh aktif. Metastasi kekelenjar 

limfe regional dapat terjadi, metstase hematogen jarang 

terjadi. 

5. Morbus Bowen, (pada selaput lendir: Morbus Quetyat) 

mempunyai gambaran berupa kelainan eritematosa, yang 

terdapat pada bagian kulit yang tidak ditutupi, tidak 

teratur namun  berbatas tegas, sering menyerupai eksema. 

Secara mikroskopis ini yaitu   karsinoma planosellulare 

yang tumbuh intraepitelial (insitu). 

 

 

 

Diagnosis 

1. Selalu dikonfirmasikan secara histopatologik 

 111 

 

2. Biopsi pada tumor ganas: insisi / eksisi 

 

Terapi 

Karsinoma sel basal: 

o Eksisi 

o Radioterapi 

o Cryosurgery 

o Excochleasi dan elektrokoagulasi (kasus tertentu)  

Karsinoma sel skuamosa 

o Eksisi (dengan diseksi kelenjar regional bila metastase 

kefenjar) 

o Radioterapi 

o Cryosurgery (kasus tertentu) 

 

 

 

 

 

 

 

kesimpulan   Kanker Payudara, Kanker Tiroid, Soft Tissue Tumor, 

Keganasan kulit yaitu   kasus yang sering didapati. Yang 

 112 

 

perlu diingat yaitu  , deteksi sedini mungkin dan operas! 

seradikal mungkin serta follow-up pasca operas! yang 

balk, termasuk pemakaian modalitas terapi lain 

 

 Perawatan  intensif  PENYAKIT KEGANASAN 

 

Topik Bahasan  Perawatan  intensif  Penyakit Keganasan 

Sub Topik bahasan 

 

1. Prinsip Radikalitas  

2. Penentuan stadium kanker  

3. Prinsip-prinsip radioterapi  

4. Prinsip-prinsip kemoterapi 

 

 

 

 

Tindakan bedah harus diyakinkan sebelumnya apakah ini 

bersifat kuratif atau paliatif (menghilangkan penyakit atau 

sekedar memperbaiki kualitas hidup saja). Operasi Kuratif 

mengupayakan penyembuhan definitif. Paliasi yang baik 

 115 

 

berarti memperbaiki keadaan penderita kanker tanpa 

mengusahakan penyembuhan definitif. Contohnya :  

1. Kanker usus/colon, bila masih mobile, belum metastase 

dapat dilakukan reseksi anastomosis usus/colon sehingga 

seluruh tumor diangkat dari tubuh penderita. namun  

kadang pasien datang dalam keadaan ileus, sudah terjadi 

perforasi, metastasis, tindakan hanya menghilangkan 

obstruksinya dengan pintasan, atau menghiiangkan 

peritonitis dan merepair perforasi, bahkan bila perlu harus 

dibuat stoma (anus buatan) 

2. Kanker Payudara, bila masih kecil, belum ada 

metastasis/ulkus, mungkin dapat dilakukan mastektomi 

radikal sebagai operasi kuratif. namun  bila ulkus ada kulit 

yang lebar, maka operasi simpel mastektomi dilakukan 

untuk paliasi, memperbaiki kualitas penderita, dilanjutkan 

dengan radioterapi, kemoterapi amupun hormonal terapi. 

3. Kanker kulit (misalnya karsinoma basoselulare) di sudut 

mata kanan, seharusnya diiris minimal 5 mm diluar batas 

kankernya, kelopak mata dikorbankan. Setelah operasi 

direkonstruksi. Prinsip radikalitas pada operasi tumor 

antara lain: irisan luas diluar batas/tepi tumor, "Don't 

touch the mass", limfe regional harus diangkat secara en 

 116 

 

bloc (bersama, tidak terpisah dari tumornya). Pada tumor 

di otot, harus dilakukan muscle group excision, sehingga 

pasien akan kehilangan fungsi gerak yang dikerjakan oleh 

otot ini  . Pada tumor organ vital, misalnya ginjal, 

paru, prostat, uterus, dll harus dilakukan pengangkatan 

total organ ini  . Bila tumor mengenai tuiang, 

mungkin harus dilakukan amputasi.  

Setelah operasi, penting untuk mmeriksa patologi 

anatomi, selain untuk mengetahui jenis tumornya, juga 

untuk memastikan bahwa irisan yang dilakukan yaitu   

bebas dari tumor. kerana   kalau belum bebas, bisa (bahkan 

harus) dilakukan operasi ulang untuk mencapai 

radikalitas. 

Penting juga dilakukan follow-up pasca operasi untuk 

memeriksa kemungkina residif lokoregional atau 

timbulnya metastasis. Meski demikian ada penderita yang 

perlu dibebaskan dari follow-up kerana   supaya merasa 

sudah sembuh. 

 

 

 

2. Penentuan Stadium Kanker 

 117 

 

Stadium penyakit kanker sangat mempengaruhi tindakan 

bedah, dan modalitas terapi lainnya. Penetuan stadium yang 

umum dipakai yaitu   menggunakan Sistem TNM. T yaitu   

menggambarkan besar/ukuran massa kanker. Penentuan ini 

biasanya dengan mengukur langsung. N yaitu   keterlibatan 

limfonodi regional. Penentuannya juga dengan perabaan 

langsung. Sedangkan M yaitu   ada atau tidaknya metastasis 

jauh di organ-organ lain misalnya, hepar, paru, tuiang dll. 

Penentuannya dengan memeriksa USG hepar, Ro thorax, dan 

Bone Scanning tuiang secara menyeluruh. Lihat contoh label 

TNM untuk kanker payudara. 

 

3. Prinsip-Prinsip Radioterapi. 

Pembedahan, radioterapi dan kemoterapi yaitu   kombinasi 

yang penting dan paling sering dilakukan pada penanganan 

kanker. Beberapa prinsip yang penting : 

1. Radioterapi dapat membunuh sel kanker atau mencegah 

pertumbuhan lanjut dengan tetap mempertahankan 

organ yang terkena. 

2. Radioterapi menggunakan sinar pengion yang melepas 

elektron bebas, dan akan merusak material genetikdi 

 118 

 

dalam DNA sel kanker, sehingga sel kanker dapat mati : 

atau dihambat tumbuhnya. 

3. Pada sel kanker yang tidak sensitif memerlukan dosis 

(fraksi) sinar lebih besar. 

4. Kondisi lokal (misal ada luka) harus baik (sembuh), kerana   

regenarasi dihambat. 

5. Kondisi umum juga harus baik kerana   sering timbul efek, 

pusing, mual, muntah, nafsu makan hilang. 

6. Laboratorium darah, fungsi jantung, fungsi hepar dan 

fungsi ginjal harus baik. 

 

Contoh penyinaran kuratif : 

1. Hodgkin atau Non-Hodgkin limfoma yaitu   kanker 

kelenjar limfe yang dapat diterapi tunggal dengan 

penyinaran. Pembedahan biasanya hanya untuk 

melakukan biopsi guna memastikan histopatologi 

kanker. 

2. Penyinaran pasca mastektomi radikal kuratif pada 

penderita kanker payudara. 

 

 

 

 119 

 

Contoh penyinaran paliatif : 

1. Kasus metastasis tulang, penyinaran dapat mencegah 

nyeri yang timbul, dan mencegah pula proses 

osteolisis. 

2. Kasus metastasis atau primer di otak, pleksus saraf, 

medulla spinalis dapat dilakukan penyinaran, hasilnya 

cukup bermakna. 

3. Obstruksi pada traktus digestivus maupun 

respiratorius dapat dikurangi dengan penyinaran. 

4. Karsinoma bronkhus dapat menyebabkan sindroma 

vena kava superior. Radiasi segera dapat meringankan 

simptom yang ada. 

 

Efek samping penyinaran : 

Efek samping yang umum yaitu   kelelahan, mual, muntah dan 

malaise umum. Keluhan biasa timbul sesudah seminggu 

penyinaran, namun  biasanya hilang setelah 2-3 mtnggu. Efek 

samping lokal akut yang terpenting yaitu   dari kulit 

(dermatitis) dan selaput lendir (mukositis). Efek lambat pada 

kulit bisa muncul 3-6 bulan sesudah terapi berupa penebalan 

edematosa yang akan hilang spontan dengan terjadinya 

fibrosis lambat.  

 120 

 

Penyinaran pada kasus kanker usus sering menimbulkan 

perubahan pola defekasi. Penyinaran paru, mulai 6 minggu 

dapat timbul alveolitis interstitial yang menimbulkan 

rangsangan batuk, sesak dan kadang demam menggigil. 

Radiasi pada medulla spinalis menimbulkan demielinisasi, 

pada lensa menimbulkan katarak, pada gonade menimbulkan 

infertilitas. Penyinaran pada anak juga dapat menimbulkan 

gangguan pertumbuhan. 

 

4. Prinsip-Prinsip Kemoterapi 

Kemoterapi merupakan terapi sistemik dan kerana   itu 

terutama diindikasikan untuk malignitas sistemik semacam , 

leukemia, tumor yang telah atau diduga telah menyebar, dan 

tumor yang tidak operabel. 

Terapi kanker dengan sitostatika berdasar atas eliminasi 

(pembunuhan) sel-sel tumor dengan sedikit efek yang 

merugikan jaringan normal. Sel kanker tumbuh potensial lebih 

cepat dari pada jaringan normal yang menghasilkan se itu. 

kerana   itu Zat penghambat pertumbuhan dapat 

memperlambat progresi proses penyakit. 

 

 

 121 

 

Pembagian dan mekanisme kerja sitostatika ada 4 golongan: 

1. Zat antimetabolit: merupakan golongan senyawa 

alamiah atau sintetik yang berhubungan erat dengan 

unsur bangun asam-asam nukleat. Dengan itu mereka 

dapat ikut serta dalam sistem transport dan proses 

metaboiik sampai strukturnya yang berbeda 

memblokade proses lebih lanjut. Termasuk golongan 

ini yaitu   sitosin arabinosid, 5-fluoro urasil dan 

metotreksat. 

2. Zat pengalkil (gugus yang reaktif), dapat membuat 

ikatan basa DMA, terutama dengan guanin, dengan 

membentuk penghubungan dua rantai DNA dengan 

reaksi ganda. Ini yaitu   suatu toksisitas. Termasuk 

golongan ini yaitu   melfalan, siklofosfamid. 

Cisplatinum juga termasuk subfamili pengalkil. 

3. Produk-produk alam, mula-mula diisolasi dari 

tumbuh-tumbuhan dan mikroorganisme. 

Sitotoksisitasnya disebabkan oleh kerana   ikatannya 

dengan DNA dan topoisomerase.golongan yang kuat 

yaitu   pengikat tubulin yang membunuh sel dalam 

mitosis. Contohnya yaitu   golongan vinka alkaloid, 

taxol. 

 122 

 

4. Mormon, lebih tepat disebut anti hormonal. 

Beberapa tumor bergantung kepada hormon 

(kelamin), semacam  tumor payudara, prostat. 

Tamoksifen yaitu   antagonis estrogen yang terkenal 

pada kanker payudara. 

 

Breast Cancer Staging 

T: Size of Primary Tumors 

Tl Tumor ≤2 cm in its greatest dimension 

T2 Tumor ≥2 cm but ≤5 cm in its greatest dimension 

T3 Tumor ≥5 cm in its greatest dimension 

T4 Tumor of any size with direct extension Eo chest wall or 

skin 

 

N: Status of Regional Lymph Nodes 

NO No palpable ipsilateral axillary nodes  

Nl Movable ipsilateral axillary nodes  

N2 Ipsilateral axillary nodes matted or fixed to other 

structures  

N3 Ipsilaieral supradavictllar or infraclavicular positive nodes 

or arm edema 

 

 123 

 

M : Presence or Absence of Distant Metastasis 

MO No evidence of distant metastasis 

Ml Distant metastasis present, including sldn involvement 

beyond the breast area 

 

Clinical Stage - Grouping 

Stage I Tl NO MO 

Stage 11 TI Nl MO 

 T2 NO or Nl MO 

Stage HI Tl N2 MO 

 T2 N2 MO 

 T3 NO, Nl, or N2 • MO 

 T4 AnyN MO 

Stage IV Any T AayN Ml 

 

 

kesimpulan   

 

Prinsisp Radikalitas akan menjamin bersihnya operasi 

mengangkat tumor secara makroskopis. Penentuan 

stadium kanker mutlak untuk menentukan tindakan 

yang diambil, apakah kuratif atau paliatif saja. Prinsip-

prinsip radioterapi dan Prinsip-prinsip kemoterapi 

 124 

 

penting untuk menatalaksanakan penyakit terutama 

sebagai terapi kombinasi. 

 


LUKA BAKAR (BEDAH PLASTIK) 

 

C. Algoritme kasus 

Seorang ibu terjatuh di dapur, mengenai bejana berisi air 

panas. Lengan kanannya melepuh nyeri, sebagian lepuhnya 

sudah pecah. la segera dilarikan ke rumah sakit. 

 

 

BEDAH PLASTIK dan REKONSTRUKSI 

 

Topik Bahasan Bedah Plastik dan Rekonstruksi 

Sub Topik bahasan 1. Luka bakar  

2. Sumbing  

3. Hipospadia  

4. Trauma muka 

 

 

1. Luka bakar 

Definisi 

Luka bakar yaitu   kerusakan atau kehilangan jaringan yang 

disebabkan kontak dengan sumber panas semacam  api, air 

panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Yang perlu diperhatikan 

yaitu   : 

1. kausa 

2. luas luka bakar 

3. derajat / kedalaman 

 

Klasifikasi Luka Bakar 

A. Berdasarkan penyebabnya: kerana   api, air panas. bahan 

kimia (yang bersifat asam atau basa kuat),listrik atau 

petir,radiasi dan akibat suhu rendah (frost bite).  

B. Berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan  

o Derajat I : Superficial skin burn Terjadi kemerahan 

pada kulit, membaiktanpa pengobatan 

o Derajat II: Partial Thickness Skin Burn 

Terjadi kerusakan pada sebagian dermis. Epidermis 

dapat lepas dari dermis dan berisi cairan sehingga 

semacam  gelembung yang disebut bulla. Bulla ini dapat 

pecah dan luka dibawahnya tampak basah, 

 132 

 

kemerahan. Padapalpasi luka ini nyeri sekali kerana   

ujung ujung saraf terluka. 

o Derajat III: Full Thickness Skin Burn 

Pada keadaan ini seluruh dermis rusak. Luka tampak 

pucat dan kering. Pada palpasi / pin prick test tidak 

nyeri kerana   ujung saraf ikut rusak. 

 

 Perawatan  intensif   

a. Life saving 

1. Api masih hidup -^ stop - drop - roll 

2. Hentikan heat-restore 

o Siram dengan air 

o Bebaskan pasien dari pakaian yang terbakar, zat-

zat kimia dan residu yang dapat mengakibatkan 

proses luka bakar terus berlangsung 

3. Airway - Breathing – Circulation 

pada pasien luka bakar harus diwaspadai adanya 

keterlibatan jalan nafas (trauma inhalasi)  

b. Perawatan luka  

Derajat I 

o Cuci dengan larutan 5 ml savlon dalam 500 ml NaCI 

verband 

o Beri sufratulle / daryantulle 

 133 

 

o Tutup verband steril yang tebal 

o Ganti verband 1 minggu kemudian atau bila verband 

nampak basah oleh serum dari luka.  

Derajat II 

o Cuci dengan larutan 5 ml savlon dengan 500 ml NaCI 

fisiologis tiap hari  

o Lumuri dengan silver sulfadiasin / burnazin / 

silverazin 

o Balut dengan kasa steril 

Derajat III, balut diganti tiap minggu, beri salep antibiotik 

yang mengandung sulfadiasin / burnazin / silverazin dan 

kalau perlu skin graft 

 

Luas permukaan leher dan kepala = 9% 

 134 

 

Luas permukaan setiap lengan = 9% 

Luas permukaan dada = 9% 

Luas permukaan perut = 9% 

Luas permukaan punggung = 9% 

Luas permukaan pinggang = 9% 

Luas permukaan paha = 9% 

Luas permukaan betis = 9% 

Luas permukaan perineum dan genital = 9% 

Lebar permukaan telapak tangan dihitung = 1% 

 

Indikasi Rawat Inap 

1. Dewasa: derajat II dengan luas > 15 %, anak atau 

orang tua derajat II > 10% 

2. Derajat III. 10% 

3. Luka pada: wajah tangan genital / perineal 

4. Penyababnya kimia dan listrik 

5. Menderita gangguan atau penyakit lain 

 

 

 

 

2. Sumbing 

 135 

 

A. Labioshizis Klasifikasi 

o L, unilateral sinistra incompleta  

o L. unilateral dextra incompleta  

o L. bilateral incompleta  

o L. unilateral sinistra completa  

o L. unilateral dextra completa  

o L. bilateral completa 

 

Anamnesis 

o Sumbing bibir sejak lahir  

o Riwayat keluarga sakit serupa  

o Riwayat :  

o Defisiensi nutrisi/vitamin pada ibu  

o Obat-obatan yang mengganggu pertumbuhan  

 

Terapi 

o Bayi baru lahir tidur miring pada sisi sumbing 

Plester/elastik penahan premaxilla pada L Bilateral 

completa  

o Labioplasty (millard) bila telah memenuhi rule of tens: 

✓ HB > 10 gr%,AL< 10.000 

✓ BB > 10 pounds 

 136 

 

✓ Umur> 10minggu 

 

B. Palatoscizis Klasifikasi 

o P. unilateral sinistra completa  

o P. unilateral dextra completa  

o P. bilateral completa  

o P. incompleta  

 

Anamnesis 

o Sumbing langit-langit sejak lahir  

o Riwayat keluarga sakit serupa  

o Riwayat defisiensi nutrisi/vitamin pada ibu  

o Obat-obatan yang mengganggu pertumbuhan 

 

 

Terapi 

o Usia 1-2 minggu konsultan ke bagian orthopedi untuk 

pemasangan obturator, bila penderita tidak mampu diberi 

nasehat cara feeding : 

✓ Menggunakan dot besar (no.3/besar: untuk anak 

usia 9 bulan) dengan lubang besar tidak di ujung, 

namun  menghadap ke bawah 

 137 

 

✓ Posisi anak jangan telentang, namun  

tegak/setengah duduk  

o Usia 1,5-2 tahun dilakukan palatoplasty 

(Wardil/Bisono/Furlow) 

 

C. Gnatoscizis  

Anamnesis 

o Sumbing gusi sejak lahir 

o Riwayat keluarga sumbing 

o Riwayat : 

✓ defisiensi nutrisi/vitamin pada ibu 

✓ obat-obatan yang mengganggu pertumbuhan

  

 

Terapi 

Alveolar bone graft pada usia 7-9 tahun donor diambil 

substansia spongiosa crista iliaca 

Cara lain dilakukan grafting dengan bahan anorganik 

Hydroxy Apatite 

3. Hipospadia  

Definisi 

 138 

 

Keadaan di mana muara uretra tidak di ujung namun  di sebelah 

sentral. Tergantung letak muara uretra dikenal tipe-tipe 

o Glans / glanular 

o Caronal 

o Penile 

o Peno-scrotal 

o Scrotal 

o Perineal 

Terapi 

Penanganan hipospadia dilakukan dengan 2 tahap : 

1. Operasi reseksi chorda (chordectomy atau release chorda) 

Tahap pertama dilakukan pada usia 2 tahun (bisa ditunda), 

sebelumnya test endokrinologi anak (kadar hormon 

testosteron) kerana   biasanya disertai undescensus testis. 

2. Uretroplasti 

Dilakukan 6 bulan setelah chordectomy, untuk 

meletakkan OUE pada tempatnya Sebelum usia 4 tahun 

semua tahapan operasi harus sudah selesai, terkait 

dengan psikis anak 

 

4. Trauma Muka 

Pada trauma muka dapat terjadi : 

 139 

 

1. Trauma jaringan lunak: yang perlu diperhatikan 

yaitu   N VII (n. Facialis), ductus parotis stensen, arteri 

dan saraf sensible 

2. Trauma tulang : Zygoma, nasal, maxilla, mandibula 

 

A. Fraktur Mandibula Klasifikasi 

• Fraktur symphisis mandibulae  

• Fraktur corpus mandibulae  

• Fraktur ramus mandibulae  

• Fraktur angulus mandibulae  

• Fraktur condylus mandibulae  

• Fraktur coronoideus mandibulae  

• Fraktur processus mandibulae 

 

Anamnesis 

• Riwayat trauma pada regio mandibula 

• Terjadi gangguan oclusi 

• Waspada pada   kemungkinan disertai fraktur 

cervical 

Terapi 

Reposisi-fixasi sehingga tercapai oclusi yang baik, sehingga 

diharapkan fungsi buka mulut dan mengunyah menjadi 

baik 

 140 

 

 

B. Fraktur Maxilla  

Klasifikasi 

• Fraktur transversal 

• Fraktur pyramidal 

• Fraktur craniofacial dysjunction 

• Fraktur sagital  

 

Anamnesis 

• Riwaayat trauma  

• Gangguan oclusi 

 

Check up   

sinistra komplit 

• Palpasi 

• Wajah tampak memanjang 

Terapi 

• IDW-IMW + suspensi ke arcus zygomatius atau orbita 

rim Archbar + suspensi ke arcus zygomatius atau 

orbita rim 

• Microplating + IDW-IMW 

• Microplating + archbar 

 141 

 

• Microplating 

 142 

 

kesimpulan    Tiga hal penting dalam luka bakar, yakni penyebab, 

kedalaman dan luasnya. Indikasi rawat inap harus 

jelas. Sumbing, sering dianggap oleh pasien sebagai 

kasus darurat (faktor psikologis). Rule often, adaiah 

saat operasi ideal. Jadwal penanganan harus 

diterangkan kepada orang tua anak. Demikian juga 

kasus Hipospadia, sebaiknya sebelum anak sekolah, 

sudah ditangani. Trauma muka harus 

direkonstruksi kerana   disamping aspek 

fungsiaonal, kosmetika juga sangat penting. 





PATAH TULANG (BEDAH ORTHOPEDI) 

 

C. Aigontme kasus 

Kasus: Gadis X, 23 th, tertabrak motor, 

jatuh, bahu kanan sakit, di foto, hasiinya 

semacam  berikut. 

 

D. Dattar keterampilan (afektit dan psikomotor) 

1. Menolong pasien yang kesakitan. 

2. Memeriksa tanda klinis patognomonis fraktur. 

3. Memeriksa NVD (neurovascufar disturbencies). 

4. Menginterpretasi foto rontgen fraktur. 

5. Melakukan debridement fraktur terbuka 

6. Melakukan reposisi suatu displaced fracture 

7. Memasang bidai atau gips sederhana 

8. Melakukan rujukan kasus 

9. Melatih mobilisasi pasien post-operasi 

 

E. Penjaoaran /eon singm 

BEDAHORTHOPEDI 

Topik Bahasan Bedah Orthopedi 

Sub Topik bahasan 

1. Fraktur  

2. Dislokasi  

3. Inflamasi tulang sendi  

4. Penyakit Degeneratif Sendi  

5. Osteoporosis 

 

 

 

 149 

 

1. Fraktur 

Definisi  

Fraktur yaitu   hilangnya kontinuitas struktur tulang 

 

Macam 

Deskripsi fraktur dibedakan berdasarkan: 

1. Lokasi: diafisis, metafisis, epifisis, intraartikuler. Jika 

berhubungan dengan sendi disebut fraktur-dislokasi 

2. Tingkatan : komplit, inkomplit. 

3. Konfigurasi: transversal, oblik, spiral, comminuted, 

segmental 

4. Hubungan antar fragmen : undisplaced, displaced, 

(translasi/bergeser, angulasi, rotasi, distracted, 

overiding, impacted) 

5. Hubungan dengan lingkungan eksternal: tertutup, 

terbuka 

6. Komplikasi: complicated, un complicated. 

 

Diagnosis  

1. Anamnesis : mekanisme trauma, penurunan fungsi, 

adanya bunyi tulang berderak 

 150 

 

2. Check up  : bengkok, deformitas, gerakan 

abnormal, ekimosis 

3. Palpasi: nyeri tekan, nyeri dan spasme otot, krepitus 

4. Check up   penunjang: foto rontgen di daerah 

fraktur: Meliputi seluruh tulang panjang Minimal 2 

sudut pandang Melibatkan 2 sendi  

 

 Perawatan  intensif  

1. Life saving. 

Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat 

penting untuk melakukan Check up   dan 

penanganan pertama pada   A-B-C. 

2. Jika A-B-C tidak ada masalah, dilakukan penegakan 

diagnosis dengan anamnesis, Check up   fisik dan 

penunjang kemudian dilakukan pengobatan secara 

konservatif atau operatif tergantung jenis frakturnya. 

• Terapi konservtif: 

o Proteksi saja, misal mitella 

o Imobilisasi saja tanpa reposisi, misal 

pemasangan gips  

o Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips 

o Traksi, untuk reposisi secara perlahan  

 151 

 

• Terapi operatif  

o Reposisi terbuka, fiksasi interna 

o Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis 

dan fiksasi eksterna 

 

2. Dislokasi 

Definisi 

Dislokasi yaitu   hubungan tulang pembentuk sendi terpisah 

komplit. Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang 

memerlukan pertolongan segera. 

 

Macam 

1. Dislokasi sendi akromioklavikularis 

2. Dislokasi sendi sternoklavikularis 

3. Dislokasi sendi bahu 

4. Dislokasi sendi siku 

5. Dislokasi sendi radioulnaris distalis 

6. Dislokasi sendi metacarpofalangeales dan 

interfalangeales 

7. Dislokasi korpus: lunat dan perilunat 

8. Dislokasi sendi koksae 

9. Dislokasi sendi lutut 

 152 

 

10. Dislokasi sendi talokruralis 

11. Dislokasi lisfranc 

12. Dislokasi 

interfalan

geles (jari 

kaki)  

 

Diagnosis 

1. Anamnesis 

• Adanya trauma 

• Mekanisme trauma yang sesuai, misal trauma 

ekstensi dan eksorotasi pada dislokasi anterior sendi 

bahu 

• Ada rasa sendi keluar 

• Bila trauma minimal, hal ini dapat terjadi pada 

dislokasi rekurens atau habitual 

2. Check up   klinis 

• Deformitas : Hilangnya tonjolan sendi normal, 

pemendekan / pemanjangan. 

• Nyeri 

• Functio laesa, misal bahu tidak dapat endorotasi pada 

dislokasi anterior bahu 

 153 

 

3. Check up   penunjuang 

Check up   foto rontgen untuk memastikan arah 

dislokasi dan apakah disertai fraktur 

 

 Perawatan  intensif  

1. Lakukan segera reposisi 

2. Dislokasi sendi kecil dapat dilakukan di tempat 

kejadian dengan atau tanpa anestesi lokal. 

3. Dislokasi sendi besar memerlukan anestesi umum 

 

3. Inflamasi Tulang dan sendi 

Definisi 

Inflamasi yaitu   reaksi lokal dari jaringan yang hidup pada   

iritan. Iritan yaitu   zat/trauma yang menimbulkan iritasi, 

semacam : 

1. Bakteri: piogenik (osteomyelitis hematogenius), 

granulomatous (tuberkulosis, sipilis, fungi) 

2. nonspesifik / idiopatik: rematik, spondilitis ankilosing 

3. kimiawi: penyakit gout, pseudogout 

4. trauma kronis : 

bursitis, 

tenovaginitis 

 154 

 

 

Diagnosis  

Anamnesis 

1. Keluhan : kemerahan, bengkak, nyeri, panas dan 

fungsiolaesa 

2. Riwayat: faktor pencetus, adanya trauma, sendi yang 

diserang pertama kali 

3. Deformitas: sikap terpaksa, atrofi, bengkak / benjolan, 

nodus.  

Check up   

1. Perabaan: panas, nyeri tekan, fluktuasi, benjolan 

keras pada gout/nodus rematoid 

2. Goldstandar: 

3. Kultur dan sensitivitas untuk piogenik akut / kronis 

4. Check up   histologis (TBC gout dan rematoid) 

5. Foto rontgen : squester, body abcess (kronis)  

 

 Perawatan  intensif   

Konservatif 

1. pembidaian atau traksi dengan analgetika dan anti 

inflamasi :  

2. support psikologis  

 155 

 

3. terapi supportif dengan cairan atau tranfusi jika 

terdapat anemi 

4. terapi spesifik sesuai jenis / kausa  

Operatif 

1. Dekompresi: evakuasi pus, drilling, drainase 

2. Artrotomi 

3. Squestrektomi 

4. Guttering 

5. Operasi rekonstruksi osteomuscle flap grafting 

6. Fusion 

7. Atroplasti 

8. Sinoviektomi 

 

4. Penyakit Degeneratif Sendi 

Definisi 

Disebut juga osteoartritis, osteoartrosis, artritis degeneratif, 

artritis senesent, atau arthritis hipertrofi. Yaitu penyakit sendi 

dengan kerusakan pada kartilagonya, yang sifatnya progresif 

dan pada tulang subkhondral terjadi hipertrofi dan 

remodelling serta pada membrana synovial terjadi reaksi 

inflamasi sekunder. 

Penyakit degeratif: 

 156 

 

Sendi tidak simetris namun  terlokalisir  

Insidensi: 60 tahun ke atas, 25% wanita, 15% kali-laki 

Tipe: primer (banyak pada wanita) dan sekunder (banyak pada 

laki-laki) 

Etiologi 

1. Kelainan kongenital 

2. Infeksi sendi 

3. Penyakit inflamasi non spesifik 

4. Artritis metabolik 

5. Trauma 

6. Instabilitas sendi 

7. iatrogenik  

Klinis 

1. nyeri sendi, hilang jika istiarahat 

2. krepitasi sendi bila digerakkan 

3. bengkak atau udem sendi 

4. atrofi otot di sekitar sendi 

5. limitasi ROM dengan krepitasi 

6. nodus heberden pada degenerasi sendi 

interfalangealeas jar! tangan  

 

 Perawatan  intensif  

 157 

 

1. Support psikilogis 

2. Analgetik dan antiinflamasi 

3. Mempertahankan fungsi sendi dan mencegah 

deformitas dengan latihan aktif sendi, terapi panas, 

diathermi dan alat-alat bantu ortopedik 

4. Koreksi deformitas agar fungsi menjadi 

baik, terutama tipe sekunder : 

• Osteotomi 

• artroplasti 

• artrodesis 

• operasi jaringan lunak  

• transplantasi sendi 

 

5. Osteoporosis 

Definisi 

Osteoporosis yaitu   suatu kondisi di mana volume tuiang atau 

kepadatan tulang per-unit berkurang (decrease bone density 

mass) 

Tulang pada m.anuia menipis dan rapuh, maka kondisi in! 

mempunyai manifestasi Minis 

fraktur akibat trauma ringan dan sepele (trivial injury), sedang 

pada orang normal tidak akan 

 158 

 

terjadi. 

 

Klinis 

Pada umumnya penderita manula datang ke dokter kerana   

masalah fraktur, terutama fraktur collum femoris atau fraktur 

colles. Setelah difakukan Check up   radiologis ternyata 

tulangnya mengalami Osteoporosis. Oleh kerana   itu, 

pengobatan Osteoporosis disamping menangani fraktur juga 

pengobatan osteoporosisnya. Maka pencegahan 

Osteoporosis lebih penting agar tidak terjadi fraktur. 

 

Klasifikasi 

1. Osteoporosis Primer 

a. Tipe I  : pada wanita pasca menopause 

b. Tipe II : pada laki-laki dan wanita kerana   

penanbahan usia 

2. Osteoporosis Sekunder: kerana   penyakit tulang yang 

bersifat erosif semacam  multipel myeloma, 

hipertiroidisme/hiperparatiroidisme, obat-obat toksis 

pada   tulang semacam  preparat steroid. 

3. Osteoporosis Idiopatik yang terdapat pada juvenile, 

adolescent, wanita premenopause dan laki-laki muda 

 159 

 

 

 Perawatan  intensif  

1. Terapi fraktur pada manula yaitu   imobilisasi dini 

dengan memberi   stabilisasi fraktur. Perlu 

diperhatikan sebelum maupun sesudah operasi: Hb, 

keseimbangan elektrolit dan pencegahan komplikasi. 

2. Perawatan penderita sangat penting dalam 

memperetahankan kondisi prima dan mencegah 

komplikasi dekubitus. Rehabilitasi penderita 

merupakan kerja tim yang tergantung pada 

perawatan, fisioterapi, terapi okupasi, pekerja sosia! 

dan ahli manula. Komunikasi denan penderita 

perlu  ketelatenan dan kesabaran ekstra. 

3.  

kesimpulan   

Fraktur, Dislokasi paling banyak kerana   trauma, 

merupakan kasus emergency. Reposisi dan fiksasi yaitu   

terapi utamanya, Inflamasi tulang sendi, Penyakit 

Degeneratif Sendi, Osteoporosis juga sering dijumpai 

meskipun terapi medikamentosa sering jadi pilihan. 

 


CEDERA KEPALA (BEDAH SARAF) 

 

 

C. Algoritme kasus 

Kasus: Mahasiswa PTS di Jogja, dikejar Polisi kerana   tidak pakai 

helm. Malangnya ia menabrak truk yang sedang parkir. la jatuh 

pingsan, kepala membentur aspal di pelipis kiri. la dilarikan ke 

RS terdekat. Hasil CT scannya semacam  berikut. 

 

D. Daftar keterampilan (afektif dan psikomotor) 

1. Memeriksa Skor GCS 

2. Memeriksa tanda-tanda lateralisasi 

3. Menginterpretasi foto rontgen/CT Scanning 

4. Melakukan debridement sederhana cedera kepala 

terbuka 

5. Melakukan rujukan kasus 

6. Melatih mobilisasi pasien post-operas! 

 

E. Penjabaran teori singkat 

 

BEDAH SARAF 

Topik Bahasan Bedah Saraf 

Sub Topik bahasan 

1. Hydrosefalus  

2. Meningoensefalokel  

3. Hernia Nukleus Pulposus  

4. Tumor Intrakranial  

5. HEAD INJURY (SUPLEMENT) 

 

 

 

 

 167 

 

1. Hydrosefalus  

Definisi 

Hidrosefalus yaitu   yaitu   akumulasi cairan seerbrospinal di 

dalam sistem ventrikel, yang mengakibatkan pelebaran 

ventrikel dan biasanya disertai dengan peninggian tekanan 

intrakranial Penyebab 

1. congenital 

2. pasca infeksi: meningitis, ensefalitis 

3. pasca hemorrhagik: perdarahan intraventrikuler, 

subarahnoid, trauma lahir. 

4. tumor neoplasma 

Klasifikasi 

• Hidrosefalus obstruktif : 

Disebabkan kerana   obstruksi aliran cairan 

serebrospinal dalam sistem ventrikel baik dari dalam 

atau dan* luar ventrikel. 

• Hidrosefalus komunikan : 

Disebabkan kerana   gangguan obstruksi cairan 

serebrospinal yang ada di rongga subarahnoid. 

 

 

 

 168 

 

Kriteria Diagnosis 

Pada bayi dan anak: 

• Kepaia cepat bertambah besar 

• Ubun-ubun menonjol 

• Diastasis sutura 

• Kulit kepaia tipis, vena melebar 

• Mata melirik ke bawah (setting - sun sign 

• Hambatan perkembangan 

• Defisit neurologik yang bervariasi, kejan 

• Peninggian tekanan intracranial 

• Atrofi korteks  

Pada orang dewasa: 

• Peningkatan tekanan intrakranial biasanya disertai 

nyeri kepaia, muntah, mual dan edema papii 

• Dapat terjadi herniasi tentorial dan atau foramen 

magnum, diikuti dengan gangguan fungsi otak yang 

diikuti dengan kematian mendadak 

Terapi 

• Acetazolamide, antikonvulsan 

• Drenase ventrikuler dengan profilaksi antibiotik 

• Pemasangan sistem pirau (shunt) ventrikul 

operitoneal atau ventrikuloatrial 

 169 

 

• Biia memungkinkan mengangkat tumor, kista, 

membran, yang menyurnbat aliran cairan 

serebrospinai 

 

2. Meningokel – Meningoense falokel 

Definisi 

Penonjolan jaringan otak dan atau meningen melafui defek 

penutupan tulang kepaia (kranium bifidum). 

 

Klasifikasi 

• oksipital  

• parietal 

• fronto  

• ethmoidal  

• nasofrontal  

• nasoorbital 

• nasofaringeal 

• orbital 

 

 

 

 

 170 

 

Kausa 

Anomali kongenital dimana penutupan tuba neuralis kurang 

sempurna atau terhenti disertai dengan fusi tulang kepala 

yang inkomplit. 

 

Kriteria Diagnosis 

1. penonjolan jaringan lunak di bagian frontal, nasal, 

parietal, oksipital, di garis tengah 

2. ada sejak Eahir 

3. terdapat defek tulang kepala 

4. penonjolan meningen berisi cairan serebrospinal: 

meningokel 

5. penonjolan meningen berisi substansi otak: 

meningoensefalokel 

6. dapat disertai gangguan neurofogik atau hidrosefalus 

Check up   Penunjang 

1. Foto kepala 

2. USG 

3. CTScan 

 

 

 

 171 

 

Terapi 

Pada neonatus dimana terdapat kebocoran cairan 

serebrospinal atau kulit menutup sempurna perlu diberikan 

antibiotika. 

 

Pembedahan 

• Reseksi dan rekonstruksi defek tulang kepala 

• Bila disertai dengan hidrosefalus dipasang pirau 

ventrikuloperitonial, sebelum dilakukan reseksi 

Outcome 

• Sembuh baik bila tidak disertai dengan 

malformasi yang berat 

• Retardasi mental namun  perkembangan fisik baik 

• Gangguan pertumbuhan fisik, mental baik 

• Hemiparesis, monoparesis, strabismus, papil 

atrofi, epilepsi  

 

3. Hernia Nukleus Pulposus Definisi 

Hernia Nukleus Pulposus iaiah penonjolan diskus 

intervertebralis dengan protusi dari nukleus ke dalam kanaiis 

spinalis lumbalis yang mengakibatkan penekanan pada radiks 

atau cauda equina. 

 172 

 

Kausa 

Degenerasi diskus intervertebralis 

Trauma spinal akibat dari jatuh, kecelakaan lalu lintas, 

mengangkat beban berat 

 

Klasifikasi 

HNP  :  lateral -akut/kronis  

Sentral - akut / kronis 

 

Kriteria Diagnosis 

HNP lateral : 

1. Nyeri pinggang bawah yang menjalar ke tungkai yang 

sesuai dengan distribusi radiks yang tertekan 

2. Gerakan pinggang bawah terbatas 

3. Nyeri bertambah hebat bila batuk, bersin atau 

mengejan 

4. Paraestesi, sesuai dengan distribusi radiks yang 

tertekan 

5. Tanda Laseque posistif 

6. Refleks tendon lutut atau tendon Achilles menurun / 

negatif 

7. Defisit neurologik sesuai radiks yang tertekan 

 173 

 

Check up   Penunjang 

1. Laboratorium : 

2. Darah rutin 

3. Cairan serebrospinal 

4. Foto polos lumbosakral 

5. Mielografi 

6. CT Scan lumbosakral 

 

Terapi 

Konservatif, biia tidak dijumpai defisit neurologic : 

1. Tirah baring 

2. Traksi lumbal, mungkin menolong namun  biasanya 

residif 

3. Memakai korset lumbal atau spinal brace  

 

Pembedahan :  

Dilakukan dislektomi melalui : 

• Hemilaminotomi  

• Laminotomi 

• Laminektomi luas, terutama pada HNP sentral  

 

Outcome 

 174 

 

Setelah dilakukannya pembedahan biasanya 80% menjadi 

baik, sedangkan sisanya dapat terjadi residif, instabilitas 

spinal. 

 

4. Tumor Intrakranial 

Definisi 

Tumor intrakranial yaitu   neoplasma baik jinak maupun ganas 

yang tumbuh di dalam rongga intrakranial 

 

Klasifikasi 

1. Berdasar lokasi 

• tumor supratentorial: dewasa 80-85%, anak 40% 

• tumor infratentorial: dewasa 15-20%, anak 60% 

2. Patologik 

• tumor primer: astrositoma, menngioma, 

neurufibroma, hemangioma, adenoma, 

adenocarsinoma 

• tumor metastase : paling sering berasal dari 

karsinoma bronkogenik dan karsinoma payudara. 

Dapat pula berasal dari ginjal, thiroid, lambung, 

prostat dan melanoma. 

 

 175 

 

Klinis 

• Peninggian tekanan intrakranial: nyeri kepaia, 

muntah / mual, edema papil, gangguan kesadaran 

• Serangan epileptik bersifat umum atau lokal 

Gangguan neurologik fokal sesuai lokasi tumor 

 

Check up   penunjang 

1. Laboratorium: darah, cairan serebrospinal 

2. Foto rontgen: kepala, thoraks 

3. CTscan 

4. Angiografi 

5. Radionuklir scan 

 

 Perawatan  intensif  

Tergantung pada tipe dan lokasi tumor 

1. Medikamentosa: dexametason, manitol, 

antikonvulsan 

2. Pembedahan: biopsi, kraniotomi, kraniektomi diikuti 

reseksi, trepanasi. 

3. Radioterapi 

4. Khemoterapi 

 

 176 

 

kesimpulan   

 

Hydrosefalus, Meningoensefalokel merupakan kelainan 

kongenital dimana operasi menj'adi jalan satu-satunya. 

VP-shunt mendrainase LCS ke kavum abdomen. Sedang 

meningo-ensefalokel harus dieksisi dan penutupan 

defek. Hernia Nukleus Pulposus, Tumor Intrakranial juga 

biasanya akan menimbulkan defisit neurologis kerana   

proses desak ruang, sehingga harus dioperasi untuk 

dekompresi. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TRAUMA DADA (BEDAH THORAKS) 


C. Algoretme Kasus 

Kasus: Laki-laki 50 th naik motor menabrak pick-up 

mengangkut bambu yang berhenti mendadak. Luka bagian 

dadanya, sesak nafas berat. 

 

BEDAH THORAKS / VASCULER 

Topik Bahasan Bedah thoraks / vascular 

Sub Topik bahasan 

1. Trauma thoraks  

2. Hematothoraks  

3. Pneumothoraks  

4. Empyema thoraks 

 

1. Trauma Thorax 

Definisi : 

Semua rudapaksa yang mengenai toraks yang meliputi dinding 

toraks dan segenap isinya baik rudapaksa tajam, tumpul 

maupun tembakan. 

 186 

 

Patofisiologi 

1. Perdarahan ->exanguasi, hemetotoraks, hematoma, 

intraalveolar, tamponade cordis 

2. Kerusakan alveoli/jalan nafas/pleura -> 

pneumothorax, tension pneumothotax, emfisema 

kutis, emfisema mediastinum. 

3. Patah tulang iga -> nyeri, gangguan ventilasi, flail chest 

4. Kompresi pada dada -> asfiksia traumatika 

5. Luka menghisap' pada dinding dada, paru kolaps 

Gejala Klinis 

1. Sesak nafas, pernafasan asimetris 

2. Gerakan nafas paradoksai pada flail chest 

3. Nyeri, pernafasan berkurang, ventilasi menurun 

4. Jejas pada dinding dada, luka terbuka, dll 

5. Emfisema kutis 

 

Diagnosis 

1. Check up   fisik 

2. Check up   penunjang: Ro Thorax AP/PA dan lateral 

 

 Perawatan  intensif  

1. Fiksasi dengan plester lebar pada tulang yang patah 

2. Analgetik oral / parenteral 

 187 

 

3. Untuk fraktur sederhana dan tertutup pada 1 -2 

tulang iga tanpa penyulit, penderita tak perlu dirawat 

4. Bila fraktur iga sebanyak 3 atau lebih tanpa penyulit, 

perlu rawat inap untuk observasi. Lakukan observasi 

klinis, Ro foto pada waktu datang, 5-6 jam kemudian 

dan 24 jam: 

a. Bila baik, penderita boleh pulang 

b. Tindakan dilakukan sesuai penyulit atau 

kelainan yang terjdi 

c. Fisioterapi nafas seawal mungkin 

d. Perawatan dengan posisi 1/2 duduk (bila tak 

ada kontraindikasi), terutama pada penderita 

gemuk agar isi abdomen turun ke kaudal, 

sehingga diafragma bebas tidak tertekan isi 

abdomen 

e. Mukolitik / bronkosekretotolitik diberikan bila 

sudah bisa batuk adekuat 

f. Pemberian 02 / masker 

g. Korpus aleonum hanya boleh dicabut selama 

durante operasionum. Selama perjalanan, 

persiapan opersi, korpal difiksasi agar tidak 

menambah cidera akibat goncangan. 

 188 

 

 

2. Hematothoraks 

Definisi 

Terkumpulnya darah pada cavum pleura 

akibat suatu perdarahan. 

 

Patofisiologi 

1. Akibat trauma, terjadi robekan pada pleura 

viseralis/paru atau pleura parietalis/ dinding dada, 

terjadi perdarahan dan tertampung pada cavum 

pleura. 

2. Hematotoraks dapat diklasifikasi sesuai dengan jenis 

 Perawatan  intensif  : 

• Ringan  : 300cc  

• Sedang  : 300-800 cc  

• Berat  : 800 cc 

3. Pada hematotoraks, disamping kehilangan juga 

menyebabkan gangguan pada pengembangan paru 

dan ventilasi.  

 

Gejala Minis 

1. Jejas pada dada. 

 189 

 

2. Sesuai dengan tanda-tanda kehilangan darah. 

3. Sesak nafas, tergantung hebatnya desakan pada   

paru. 

4. Nyeri dada (bifa ada cidera dinding dada). 

5. Pada hematotoraks yang bersangkutan ketinggalan 

gerak, suara paru menurun / hilang, perkusi redup.  

 

Diagnosis 

1. Klinis/Check up   fisik. 

2. X. foto toraks (kecuali hematotoraks berat/masif). 

3. Punksi.  

Penyulit 

1. Akibat eksanguinasi(shock hipovolemi, dll.) 

2. Empiema toraksis(lambat).  

 

 Perawatan  intensif  

1. Ringan (300cc) punksi. 

2. Sedang (300-800 cc), drainase toraks WSD, dengan 

drentoraks No. 28 atau 32. dianjurkan dengan isapan 

tetap (bullau). 

 190 

 

3. Berat > (800 cc) —> darah segar/baru terjadi) harus 

torakotomi eksplorasi segera, untuk menghentikan 

perdarahan. 

4. Bila setiap jam 200-300 cc dalam 2-3 jam berturut-

turut segera torakotomi eksplorasi. 

 

3. Pneumotoraks  

Pengertian 

Terdapat udara di dalam cavum 

pleura. Patofisiologi 

1. Terdapat robekan pada pleura viseralis dan 

paru/jalan nafas/esofagus, sehingga udar masuk 

cavum pleura kerana   tekanan cavum pleura negatif, 

disebut pneumotoraks sederhana tertutup. 

2. Terdapat robekan dinding dada dan pleura parietalis 

sehingga udara luar masuk cavum pleura (sucking 

wound), disebut pneumotoraks terbuka. 

3. Paru akan kolap (mengerut/mengempis) ke arah hilus 

paru, sesuai dengan derajat pneumotoraknya. 

4. Bila kebocoran pleura ini   bersifat ventil/katub, 

udara masuk cavum pleura saat inspirasi dan tidak 

dapat keluar saat ekspirasi, akan terjadi 

 191 

 

pneumotoraks desakan (tension pneumotorax) yang 

akan mendorong mediastinum ke kontra lateral, 

mengganggu aliran darah balik ke jantung dengan 

akibat curah jantung menurun dan terjadi shock non 

hemoragik. Bila tekanan dalam cavum pleura semakin 

tinggi, paru kontra lateral akan terdesak dan 

menimbulkan sesak nafas yang hebat. Sianosis terjadi 

pada keadaan lanjut. 

5. Bisa terjadi emfisema cutis (udara masuk jaringan 

longgar bawah kulit). 

6. Udara bisa masuk mediastinum (emfisema 

mediastinal). 

 

Gejala Klinis 

1. Jejas pada dada. 

2. Nyeri dada (bila ada cidera dinding dada). 

3. Sesak nafas, bisa hebat (tension pneumotorax). 

4. Gangguan hemodinamik (tension pneumotorax). 

5. Sisi dada yang bersangkutan hipersonor, suara 

pernafasan menurun/hilang. 

6. Tekanan v. jugularis meningkat pada ..tension 

pneumotorax". 

 192 

 

 

Diagnosis 

1. Klinis/Check up   fisik. 

2. X-foto toraks (kecuali tension pneumothorax). 

Penyulit 

1. Paru kolaps (mengkerut/mengempis). 

2. Mediastinum tergeser ke kontra lateral dan ganguan 

hipodinamik (tension pneumotorax). 

Penatalaksanan 

1. Konservatif (20%). 

2. Drainase toraks (WSD) bila 20% dengan drentoraks 

No. 28 atau 32. dianjurkan dengan isapan tetap 

(bullau/monaldi). Cara monaldi (RIKII linea 

medioklavikularis) iebih morbid dibanding cara Bullau 

(RIK V/VI depan linea aksilaris media) kerana   haus 

menembus otot yang tebal (m. Pektoralis mayor). 

3. Pada emfisema mediastinum dipasang dren 

mediastinal melalui irisan pada insisura jagularis. 

4. Pneumotoraks desakan (tension pneumothorax) 

segera dikompresi dengan tusukan j'arum pada ruang 

interkostal II linea medio klavikularis dan diikuti WSD 

untuk mengembangkan para 

 193 

 

 

4. Empyema thoraks (pyothoraks) 

Definisi 

yaitu   akumulasi pus di dalam rongga toraks. Pus biasanya 

tebal, semacam  krim dan berbau  

 

Etiologi 

Biasanya terjadi sebagai komplikasi dart pneumonia, abses 

paru, bronkiektasis. Penyebab lain: trauma, ruptur esophagus 

dan abses hepar. 

 

Klinis 

Pasien mengalami tanda peradangan akut sesuai dengan 

penyakit yang mendasari. Pada empyema yang berat akan 

timbul sesak nafas, keringat dingin, batuk, dahak berlendir 

dengan campuran semacam  nanah 

 

Check up   penunjang 

1. foto rontgen toraks 

2. torokosintesis 

 

 Perawatan  intensif  

 194 

 

1. Drainase dengan pipa WSD 

2. Antibiotik masif sesuai hasil kultur 

 

 

 

 195 

 

kesimpulan   

 

Trauma thoraks yaitu   kasus emergency yang 

mengancam jiwa. Hematothoraks, Pneumothoraks, 

Empyema thoraks yaitu   kasus-kasus yang sering timbul 

akibat trauma. 



TAK BISA KENCING (BEDAH UROLOGI) 


C. Algoritme Kasus  

Kasus : Seorang laki-laki 75 tahun, 

datang ke UGD RS kerana   tidak bisa 

kencing. Kejadian ini sudah berulang – 

ulang dalam 1 tahun ini. Biasanya 

dipasang DC, setelah urine keluar minta 

dilepas lagi dia membawa hasil IVP 

berikut ini.   

 

BEDAH UROLOGI 

Topik Bahasan Bedah Urologi 

Sub Topik bahasan 

 

1. BPH  

2. Batu saluran  

3. Hidrokel  

4. Tumor Testis  

5. Striktura Kemi 

 

1. BPH (Benigna prostate Hiperplasia) 

Predileksi 

Me Neai membagi kelenjar prostat menjadi 5 zona:zona 

perifer,zona sentral,zona transisional.zona fibromuskuler 

anterior,zona periuretra.BPH berasal dari zona 

 202 

 

transisional.keganasan berasal dari zona perifer.Terjadi pada 

50%pria berusia 80 tahun. 

Etiologi 

• Teori dihidrotestosteron (DHT). DHT dibentuk dari 

testoteron dibantu oleh enzim 5a reduktase dan koenzim 

NADPH. DHT inilah yang menstimulasi pertumbuhan sel 

prostat. 

• Ketidakseimbangan estrogen-testosteron pada usia tua 

testosteron menurun. Estrogen meningkatkan sensitifitas 

sel prostat pada   rangsang hormon 

androgen.meningkatkan jumlah reseptor androgen dan 

menurunkan apoptosis sel. 

• Interaksi stroma-epithei DHT dan estradiolmenstimuiasi 

sel stroma untuk mengeluarkan growth faktor sehingga 

menyebabkan proliferasi sel epithel dan sel stroma . 

• Berkurangnya kematian sel. 

• Teori sel stem. 

 

Manifestasi Klinis 

Keluhan pada sal kemih bagian bawah (LUTS) terdiri atas 

gejala obstruksi dan gejala iritatif. Gejala obstruktif yaitu : 

• Hesitansi (susah memulai miksi) 

 203 

 

• Pancarab miksi lemah 

• Intermitensi (kencing tiba-tiba berhenti dan lancar 

kembali) 

• Terminal 

dribbling 

(menetes 

setelah miksi)  

Gejala iritasi yaitu : 

1. Frekuensi (anyang-anyangen) 

2. Nokturia (sering kencing malam hari) 

3. Urgensi (merasa ingin kencing yang tidak bisa ditahan) 

4. Disuria (rasa tidak enak saat kencing) 

 

 Perawatan  intensif  

Observasi Medikasmentosa Operasi Invasif minimal 

Watchfull 

waiting 

• α adrenergik inhibitor 

• α reduktase inhibitor 

• fitoterapi  

• hormonal 

• prosta tektomi terbuka  

• endourologi : 

➢ TURP  

➢ TUIP  

➢ TULP  

• elektro vaporasasi 

• TUM 

• TUBD  

• Stenuretra  

• TNA 

1. Batu saluran Kemih 

 204 

 

Etiologi 

Batu kalsium dapat disebabkan oleh: 

1. Hiperkalsuria absorptif: gangguan metabolisme yang 

menyebabkan absorbs! usus yang berlebihan juga 

pengaruh vitamin D dan hiperparatiroidi 

2. Hiperkalsuria 

renalis: kebocoran 

pada ginjal  

Batu oksalat dapat 

disebabkan oleh: 

1. primer autosomal resesif 

2. ingesti inhalasi: vitamin C, ethiien glycol, 

methoxyflurane, anestesi 

3. hiperoksalouria entemik : inflamasi saluran 

pencernakan, reaksi usus halus, bypass jejunoileal, 

sindrom malabsorbsi 

Batu asam urat dapat disebabkan oleh : 

1. makanan yang banyak mengandung purin 

2. pemberian stostatik pada pengobatan neoplasma 

3. dehidrasi kronis 

4. obat-obatan : tiazid, lasix, salisilat 

Manifestasi Klinis 

 205 

 

Tergantung pada lokasi batu: 

1. Batu ginjal: pegal dan colik daerah sudut 

kostovertebralis (CVA = costovertebra anhle). Nyeri 

tekan dan ketok pada CVA. Jika hidronefrosis akan 

teraba masa. Hematuri dapat terjadi secara mikro 

atau makro. Dapat terjadi infeksi dan sepsis 

2. Batu ureter: nyeri mendadak, berupa pegal di CVA 

atau colik yang menjalar ke perut bawah sesuai lokasi 

batu dalam ureter. 

3. Batu vesika : miksi yang lancar kemudian terhenti 

secara tiba-tiba disertai rasa sakit yang menjalar ke 

penis. Miksi yang terhenti bisa lancar kembali dengan 

perubahan posisi. Bisa terjadi infeksi dengan gejala 

sistitis hingga hematuria. 

4. Batu uretra : miksi yang lancar kemudian terhenti 

secara tiba-tiba disertai rasa sakit yang hebat pada 

glans penis, batang penis, perineum dan rektum 

sesuai lokasi di mana batu bertahan dalam uretra. 

 

 

 

Check up   Penunjang 

 206 

 

1. urinalisa 

2. BNO/IVP 

3. USG, CT scan, MRI atau nuclear scintigrafi 

Penataiaksanaan 

1. Konservatif: bila ukuran batu kurang atau sama 

dengan 5 mm dengan hidronefrosis ringan yang nyeri 

koliknya sudsh diatasi 

2. Operatif: operasi terbuka, operasi endoskopik, Extra 

corporeal shokwave lithotripsy. 

 

2. Hidrokel  

Definisi 

Hidrokel yaitu   terdapatnya cairan di cavitas vaginalis tesiis.  

Ada beberapa macam hidokel: hidokel komunikans, funikuli 

dan tunika vaginalis. 

 

Etiologi 

kerana   kegagalan penutupan (obtiterasi) processus vaginalis 

 

Manifestasi Klinis 

Status genartis normal 

 207 

 

Status lokalis: terdapat pembesaran kantong zakar, lunak, 

balotemen (+), transiluminasi (+). Pada hidrokel komunikans, 

besamya kantong kadang berubah-ubah kerana   cairan bi9sa 

masuk ke kantong abdomen. Dapat juga disertai hernia 

inguinalis indirek. Pada hidrokel funikuli, besar kantong 

menetap 

 

Check up   Penunjang 

Apabila dicurigai tidak adanya testis, perlu dilakukan USG atau 

CT scan abdomen bawah untuk memastikan keberadaan testis 

 

 Perawatan  intensif  

Pada umumnya hidrokel itu nonkomunikan. Secara fisiologis 

akan menghilang pada umur 1 tahun. Jika setelah satu tahun 

menetap, difikirkan untuk repair (operas!). 

 

 

 

 

 

 

3. Tumor Testis 

 208 

 

Definisi 

Setiap masa atau benjdan yang keras pada testis fiarus 

dicurigai sebagai tumor, biasanya pada laki-laki 18 s/d 40 

tahun, tidak ada rasa nyeri. 

 

Manifestasi Klinis 

Testis membesar, keras, tidak nyeri, kadang disertai hidrokel, 

biasanya terjadi mulai beberapa bulan sebelum pasien datang 

ke rumah sakit. Dalam keadaan lanjut kadaang terjadi 

perdarahan spontan, kadang nyeri perut, anoreksi, kehilangan 

berat badan. 

 

Check up   Penunjang 

A. Dilakukan Check up   B-HCG, alpha veto protein 

dan LDH, ketiganya meningkat.  

B. CT scan abdomen untuk melihat pembesaran 

limfonodi retroperitoneal 

 

 Perawatan  intensif  

Dilakukan ekstendet orkhidektomi dilanjutkan dengan 

radioterapi dan kemoterapi 

4. Striktura 

 209 

 

Definisi 

Berkurangnya diameter dan atau elastisitas uretra akibat 

digantinya jaringan uretra dengan jaringan ikat yang 

kemudian mengerut sehingga lumen uretra mengecil. 

 

Etiologi 

Kongenital, uretritis gonore atau non gonore, ruptur uretra 

anterior atau posterior secara iatrogenik maupun bukan. 

Pada wanita umumnya disebabkan radang kronis. Biasanya 

wanita ini   berusia diatas 40 tahun dengan sindrom 

sistitis berulang. 

 

Manifestasi Klinis 

Sumbatan pada uretra dan tekanan kandung kemih yang 

tinggi dapat menyebabkan imbibisi urin keluar kandung kemih 

atau uretra proksimal dari striktur. Gejaia yang khas yaitu   

pancaran miksi kecil dan bercabang. Gejaia yang lain yaitu   

iritasi dan infeksi semacam  frekuensi, urgensi, disuria, kadang-

kadang dengan infiltrat, abses, dan fistel, Gejaia lanjut yaitu   

retensio urin. 

 

Check up   Penunjang 

 210 

 

Analisis urin dan kultur untuk mencari adanya infeksi. Ureum 

dan kreatinin darah untuk melihat fungsi ginjal. Diagnosis 

pasti dibuat dengan uretrografi retrograd (untuk melihat 

uretra anterior) atau antegrad (untuk melihat uretra 

posterior). Dapat pula dilakukan uroflowmetri an uretroskopi. 

 

 Perawatan  intensif  

Pada pasien yang datang dengan retensio urin harus 

dilakukan sistostomi kemudian baru dlakukan pemeriksan 

uretrografi untuk mengetahui adanya srtiktur uretra. Pada 

pasien dengan infiltrat urin atau abses dilakukan insisi, 

sistostomi, baru kemudin dilakukan uretrografi. 

Bila panjang striktur uretra lebih dari 2 cm atau 

terdapat fistula uretrokutan, atau residif, dapat dilakukan 

uretroplasty. Bila panjang srtiktur kurang dari 2 cm dan tidak 

ada fistel maka dilakukan bedah endoskopi dengan alat 

sachse. Untuk sriktur uretra anterior dapat dilakukan otis 

uretrotomie. 

Pada wanita pengobatannya dengan dilatasi, bila cara 

ini   gagal bisa dilakukan otis uretrotomi. 

 

  

 

kesimpulan   

 

BPH, Batu saluran Kemih, Hidrokel, Tumor Testis, 

Striktura yaitu   kasus-kasus yang sering dijumpai. 

Umumnya mereka dengan kondisi ketuaan, resiko 

berulang dan operasi yang tidak cukup sekali. Hal ini 

harus diketahui oteh pasien dan keluarganya. 

----