Tampilkan postingan dengan label Agen penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agen penyakit. Tampilkan semua postingan

Agen penyakit


   

Agen kimia

Dapat Berasal dari :

 Makanan (dr mknn itu sdr; dr 

pestisida yg mencemari)

 Pencemaran lingkungan (asap 

rokok, zat kimia industri, dll)

 Obat-obatan

  

Agen kimia          tbl gejala jk 

terpapar dlm jangka waktu ttt.

PAPARAN  : Suatu bentuk 

perlakuan/kejadian yang mana 

mengakibatkan masuknya bahan 

beracun kedalam tubuh (umumnya 

melalui jalur pernafasan)

  

1. Makanan 

Dari makanan itu sendiri spt : 

–keracunan sianida (singkong), 

jencolic acid (jengkol),asam 

bongkrek (boncreric acid), 

aflatoksin (bungkil kacang tanah) 

–Berasal dari luar makanan spt 

pestisida.

  

Sianida (HCN)

Didalam daun dan kulit dermis umbi 

singkong terdapat suatu glikosida 

cyanogenik yg disebut linamarin, yaitu 

suatu ikatan organik yg dpt menghslkan 

racun biru (cyanida; HCN).

Didlm sel2 singkong terdpt suatu enzim 

lynase yg dpt memecah glikosida 

cyanogenik menjadi HCN. Jika daun atau 

umbi singkong tidak terluka, mk iktn 

g.cyanogenik tdk berbahaya, krn tdk 

pecah oleh enzim & tdk menghslkan HCN 

yg terlepas.

  

Gejala keracunan :

1-2 jam sth mengkonsumsi 

singkong, dgn gjl kepala pusing, ggn 

kesadaran, muntah, sesak napas, 

bibir dan kulit muka cyanotik, dpt 

terjd kematian.

Singkong yg digoreng lebih sering 

memberikan kasus keracunan dp 

direbus atau di kukus, krn cyanida 

tidak larut dlm lemak. Dengan suhu 

tinggi cyanida dpt menguap.

  

Asam jengkolat

Terdpt didlm biji jengkol, kebanyakan 

kasus keracunan pd org yg 

mengkonsumsi jengkol mentah.

Gejala keracunan :

Oliguria sp anuria, didahului rasa 

pegal di pinggang, nyeri melilit, kolik 

sal. Kencing, rasa sakit bisa menghlg 

perlahan2 dan pend bisa 

mengeluarkan urine lagi, sering terjd 

hematuria.  

  

Asam bongkrek

Terdpt  dlm tempe bongkrek yg dibuat dr ampas 

kelapa, fermentasi menggunakan jamur Rhizopus 

oryzae dan R. oligosporus.  Pd ampas kelapa 

terdpt bakteri Pseudomonas cocovenans yg 

memecah Trigliserida (ampas kelapa), dimana 

oleh bakteri ini diubah menjadi toksoflavin yg 

berwrn kuning orange dan beracun, persaingan 

antara jamur dgn bakteri Pseudomonas 

cocovenans ini menghslkan  asam bongkrek. 

Asam bongkrek bersft antimikotik, shg disekitar 

tpt tumbuh basil,  jamur tdk tbh, tempe bongkrek 

tampak gundul krn tdk ditumbuhi benang2 jamur. 

  

Gejala keracunan asam bongkrek :

Mual, muntah,kepala pusing, perut 

kembung, mules, badan lemas, kejang2 

dan dr mulut keluar busa. Penderita sesak 

napas, cyanosis, kematian dpt terjd 4 jam 

sth mengkonsumsi tempe bongkrek. 

Racun ini memp efek kumulatif, tidak mdh 

didetoksifikasi dan di ekskresi keluar tbh.

Konsumsi sedikit-sedikit scr berulang2 

akan ditimbun didlm tbh & sth mencp kdr 

ckp tinggi akan terjd keracunan pd 

konsumsi berikutnya.

  

Aflatoksin :

 dihasilkan oleh jamur Aspergilus flavus yg 

menkontaminasi biji2an, terutama bungkil 

kacang tanah.

Keracunan oleh aflatoksin ini dpt akut dan 

kronis, yg plg berbahaya keracunan kronis 

krn dpt menyebabkan kanker hati,  

sdgkan toksisitas akut jarang terjadi.

Aflatoksin didlm tbh bersft kumulatif, dosis 

sedikit2  bertumpuk & memberikan 

gejala2 sth mencp batas toksisitas. 

  

Pencemaran lingkungan

1. Asap rokok :

– Merupakan hasil pembakaran tembakau, 

essense, dan kertas pembungkus.

– Ujung yg dibakar sp mencapai suhu 900oC, 

akan tetapi asap yg mencapai mulut memp 

suhu sama dg suhu tbh. Ini krn sifat kertas yg 

berpori & kelembaban bahan tembakau krn 

adanya essense. Yg diisap adlh asap utama 

(mainstream smoke) sdgkan asap samping 

(sidestream smoke) terbtk pd wkt diantara 

hisapan, pd suhu 600 oC. 

– Zat kimia yg terdpt dlm asap sebanyak 4865 

jenis.sebagn terbtk pd fase uap/gas, sebagn 

lagi fase partikel (= tar), dlm tar inilah banyak 

terdpt zat2 yg toksik dan karsinogen.

  

– 30 % dr asap utama mengdg bhn dr 

tembakau, sisanya udara.

– Salah satu bhn ptg dlm btk uap/gas a/ 

nikotin, yg bersifat adiktif spt heroin dan 

kokain, bhn2 ini memp ciri : efek 

psikoaktif ( kenikmatan, rangsangan, 

mengurangi kecemasan, peningkatan 

kognitif), penggunaan yg konpulsif, 

kambuh sth berhenti, peningkatan dosis 

toleransi, keterikatan fisik. 

  

Asap utama juga mengandung 

radikal bebas, baik dlm btk 

uap/gas atau partikel, dimana 

berperan dlm terjdnya kerusakan 

jarg spt pd penyk paru obstruktif 

menahun.

Pd perokok umur harapan hidup 

memendek (rata2 perokok 

meninggal 23 thn lebih muda dr 

harapan hidupnya).

  

Risiko pd perokok cerutu dan 

pipa lebih rendah, hanya sedikit 

lebih tgg dp bukan perokok.

Penyakit yg merupakan 

penyebab kematian terptg pd 

perokok adalah :

–Penyk jantung koroner

–Kanker paru

–Penyk paru obstruktif menahun  

  

Penyakit2 lain pd perokok :

Kanker mulut, kanker laring, kanker 

esofagus, kanker pankreas, kanker 

kandung kemih, kanker ginjal, dll.

Asap rokok juga berpengaruh thd 

timbulnya kelainan pd persalinan, 

penyakit neonatal (4 mgg sth perslnn) dan 

perinatal (sesaat seblm & sth kelahiran).

Asap rokok juga menyebabkan penyk 

pneumokoniosis mjd lebih kompleks 

& berat.

  

Bahan Asap utama 

(MS)

Ratio SS : MS

Fase uap/gas :

CO

CO2

Formaldehid

HCN

Amonia

As formiat

Benzene

Toluen

Aseton

10-23 mg

20-66 mg

70-100 µg

400-500 µg

50-100 µg

210-478 µg

12-48 µg

160 µg

100-250 µg

2,5-4,7

8-11

0,1-50

0,1-0,25

40-170

1,4-1,6

10

6-8

2-5

Jenis bhn kimia & konsentrasinya dlm asap utama serta 

ratio dg asap samping

  

Bahan Asap utama 

(MS)

Ratio SS : MS

Fase partikel :

Nikotin

Fenol

Benzo(alfa)pyrene

N-Nitrosonornicotin

Cadmiun (Cd)

Nikel

Seng (Zn)

Bhn partikel lain

 

1,7-3,3 mg

60-120 µg

20-40 ng

200-3000 ng

100 ng

20-80 ng

60 ng

15-40 mg

1,8-3,3

1,6-3,0

2,5-3,5

0,5-3

3,6-7,2

0,2-30

0,2-6,7

1,3-1,9

  

Resiko perokok pd wanita :

Usia menopause lebih awal

Meningkatnya osteoporosis pasca menopause.

Pd kehamilan, terjd peningkatan kejadian spt 

abruptio placenta (lpsnya plasenta sblm wktnya), placenta 

previa (plc. Terltk pd segmen bwh rhm), perdarahan uterus, 

ketuban pecah dini.

Bayi BBLR.

Angka kematian perinatal tinggi. (meningkat 20% 

utk perokok < 20 btg/hr; 40 % pd ibu perokok 

>20 btg/hr).

Anak dr ibu perokok menunjukkan defisiensi dlm 

perkembangan fisik, intelektual dan emosional, 

rentan thd infeksi sal nafas.

  

Pada perokok pasif  (hdp bersama 

perokok dlm lingk kerja) dpt 

mengalami kelainan :

Asma bronkial

iritasi./radang pd mata & sal nafas 

atas

Kanker (RR = 1,5 )

kardiovaskular 

  

2. Polusi udara

Stp hr kt menghirup 10.000-20.000 lt 

udara, yg mengdg berbg macam polutan 

berupa partikel, gas, jasad renik.

Sebgn besar hanya mengganggu, sebgn 

lagi menyebabkan penyakit.

Efek polutan ada yg akut berupa 

peradangan, nekrosis dan reaksi 

hipersensitivitas. Yg kronis (jgk panjang) 

yaitu fibrosis, perubahan degeneratif, efek 

teratogenik, mutagenik, efek thd fgs 

reproduksi, karsinogenik. Efek pd sal nafas 

(plg utama) bronkitis kronis, asma, dll.

  

Bahan2 yg banyak ditemukan 

diudara : 

SO2

CO

NO2

Ozon (O3)

Timbal (Pb)

Partikel 

Ozon & NO2 bersft oksidan dan dpt 

mencederai mukosa sal nafas & alveolus.

  

Polusi udara dpt tjd didlm gedung 

(Indoor air pollution) . Zat yg srg 

dijumpai :

– SO2 & partikel, menyebabkan iritasi 

epitel sal nafas.

– NO,NO2, mengiritasi epitel sal nafas.

– CO, yg membtk karboksihemoglobin

– Bahan biologik yg infektiosa atau 

alergenik, memicu  infeksi atau 

reaksi alergik. 

  

–Formaldehid, yg memicu  reaksi 

alergik

–Radon dan turunannya, memicu  

kanker paru.

–Volatile Organic Compounds (VOC) : 

benzene, styrene, merupakan toksik 

paru & memicu  kanker.

–Semivolatile organics : yg toksik thd 

ssnn saraf. 

  

– Asbestos; memicu  pneumokoniasis dan 

kanker.

– Sumber bahan2 dlm ruangan :

– Mahluk hidup : kutu, pinjal, kecoa, mikroba.

– Bahan2 interior : cat, papan, lem, deodoran, 

korden, wall paper, dll

– Asap rokok, pestisida, alat listrik.

– Radon dan turunannya dr batu2 ddg/lantai.

Kelainan yg ditemukan scr klinik disebut 

Sick Building Syndrome yg meyerupai 

gejala flu ( hdg tersumbat, tenggorok 

terasa kering, badan pegal2, demam ringan & 

batuk). Gjl berkurang bila berada diluar 

ruangan.  

  

PNEUMOKONIOSIS AKIBAT 

DEBU MINERAL

Antara lain : 

a. Silikosis

b. Antrakosilikosis

c. Asbestosis

  

Pneumokoniosis.

Yaitu  kelainan atau reaksi paru non 

neoplastik krn inhalasi debu mineral, 

partikel organik & anorganik, asap atau uap 

kimia.

Pneumokoniasis krn debu mineral :

Debu arang, silika, asbestos dan berilium 

(sering tjd ditempat kerja ttt).

Kanker paru krn asbestos ternyata 

ditemukan juga pd keluarga pekerja 

asbestos dan pd org lain yg terpapar 

asbestos diluar tempat kerja. 

  

Reaksi paru krn inhalasi debu :

–Inert (lemah), misalnya pd pekerja 

batu bara

–Fibrosis, mis.nya pada silikosis

–Alergik, mis.nya pd alveolitis 

alergik intrinsik. 

–Neoplastik, mis. nya pd asbestosis

  

Distribusi kelainan di paru bergtg 

kpd ukr & btk fisik debu dimn debu 

melekat di percabangan jalan nafas. 

Debu asbestos yg tersangkut di 

bronkial terminal dpt berukuran sp 

100 µ; diameter : 0,5 µ , umumnya 

debu dg ukr 5 µ dpt mencp sp 

alveolus. 

  

Partikel-partikel debu yang tertahan 

diparu-paru diambil oleh magrofag (fagosit 

monunuklear) dan diangkut kesaluran 

nafas dan dibersihkan, atau keparenkim 

paru, jika sel-sel yang berisi debu mati, 

maka partikel yang dilepaskan akan 

diambil oleh sel-sel lain,  pembentukan →

jaringan parut setempat (nodul-nodul), 

seringkali disekitar saluran nafas terminal.

  

Terjdnya Pneumokoniasis tergtg bbrp 

faktor :

Btk & ukrn aerodinamik debu ( diameter 

debu saat bergrk dlm jalan nafas),

Sifat kimia debu (iritatif atau alergenik),

Lamanya pemajanan (umumnya 

pemajanan tjd bertahun2)

Ada tidaknya pemajanan iritan lain, 

terutama asap rokok, 

 daya tahan individu.

  

Patogenesis :

Debu arang relatif inert (tdk 

aktif), shg ckp banyak debu 

arang (carbon) berada dlm paru 

seblm penyk paru dpt terdeteksi 

scr klinik. Debu silika dan 

berilium lbh iritatif shg dlm kadar 

rendah sdh memicu  

kelainan.

  

Kebanyakan debu tertangkap oleh 

selaput mukus dan dikeluarkan lagi 

oleh gerakan silia, sebg debu 

tertahan dipercbgn duktus alveolaris 

dan kmd mengalami endositosis 

(fagositosis) oleh makrofag alveolus. 

Akbtnya terjd rangsang pd makrofag 

utk mengeluarkan produk yg bersft 

toksik thd paru, memperantarai 

reaksi peradangan dan mengawali 

proliferasi fibroblas dan deposisi 

kolagen. 

  

Produk/mediator tsb adalah :

Oksigen radikal & protease

Leukotriene B4 (LTB4), Interleukin 8 

IL-8), MIP-1 alfa, Tumor necrosis 

factor alfa (TNF alfa),Interleukin 6 

(IL-6)

 sitokin IL-1, fibronektin, platelet 

derivated growth factor (PDGF) dan 

insulin-like growth factor (IGF-1). 

  

Sebagn partikel tertangkap oleh 

sel epitel atau menembus epitel 

dan berhubungan dg fibroblas 

atau sel makrofag, dan disitu 

terjd reaksi imun. Kmd terjd 

perluasan reaksi ke jarg 

sekitarnya.

  

Silikosis :

– Adalah suatu pneumokoniosis  yang 

disebabkan inhalasi partikel-partikel 

kristal silika bebas (silikon dioksida = 

SiO2). Bentuk mineral kristal utama 

silika bebas adalah kuarsa, tridimit dan 

kristobalit.

– Partikel silika bebas yang terbawa 

udara berasal dari peledakan, 

penggerindaan, penghancuran, 

pengeboran dan penggilingan batuan.

  

Pekerjaan yang terpapar resiko 

silikosis :

Penambang dan ekstraksi batu-batu keras

Pekerjaan tehnik sipil dengan batu keras

Penghalusan dan pemolesan batu

Pencetakan, pembentukan dan penyemprotan pasir 

ditempat pengecoran dan pembersihan bangunan

Persiapan dan pembuangan lapisan-lapisan kerak 

untuk tungku pembakaran 

Pabrik keramik, porselin dan enamel

Pekerjaan-pekerjaan yang menggunakan pasir 

sebagai amplas

  

2. ANTRAKOSILIKOSIS (PNEUMOKONIASIS 

PEKERJA TAMBANG BATUBARA/ ARANG)

Disebabkan paparan terhadap debu campuran 

(serpihan-serpihan, pasir, bubuk batu, kaolinit, 

batu tulis, batu kapur, dll) dimana silika bebas 

bukan merupakan komponen fibrogenik yang 

dominan.

Batubara mengandung C, H (<), S. P dan silika 

bebas.

Semua pekerja dipertambangan dalam 

(khususnya yang bekerja pada tempat 

pencucian dan yang terpapar berat pada 

penambangan ditempat terbuka), pekerja yang 

memuat batubara(mis. dalam kapal), pekerja 

pada industri yang menggunakan batubara 

(mis. industri baja) beresiko terpapar.

  

Pada pekerja batubara, pneumokoniasis 

hanya timbul bila beban debu sangat 

tinggi. Terbentuk endapan retikulin dan 

kolagen disekeliling agregat-agregat debu 

yang besar, sehingga penyebabkan 

kerusakan pembuluh darah, saluran nafas 

dan pembuluh limfe dengan gangguan 

fungsi paru.

Tidak ada peningkatan resiko tuberkulosis 

dan kanker paru.

  

3. ASBESTOSIS 

– Adalah  suatu silikosis progresif 

dan ireversibel yang disebabkan 

oleh inhalasi serat-serat asbes.

– Asbes adalah istilah generik 

untuk  sekelompok silika 

mineral berserat yang ada 

dialam, berbentuk kristal dan 

dapat membelah menjadi fibril-

fibril tunggal atau berkas serat. 

  

–Ada 2 kelompok yaitu 

kelompok serpentin-krisotil; 

dan kelompok ampibol – 

krokidolit, amosit, antofilit, 

tremolit, aktinolit. Merupakan 

silika magnesium berantai 

hidrat kecuali krokidolit (silikat 

natrium dan besi).

  

– Asbes digunakan dalam pembuatan produk-

produk semen seperti pipa dan lembaran 

atap (69%),kertas, ubin lantai, bahan 

penggosok, cat dan pelapis (29 %), tekstil, 

plastik dan bahan isolasi (2%)

– Orang yang beresiko tinggi untuk menderita 

asbestosis yaitu  pekerja pertambangan, 

penggilingan dan pengolahan asbes, 

transpor asbes yang sudah ditambang dan 

digiling, pabrik produk asbes, pembuangan 

produk sisa pertambangan, pemakaian atau 

pembongkaran produk-produk asbes 

dimana debu asbes terbawa udara.

  

Patofisiologi :

Serat-serat yang terinhalasi dengan 

diameter < 3 μm menembus sal 

napas dan tertahan dalam paru-

paru. Karena serat –serat krisotil 

menggulung, maka lebih sukar 

masuk keparu-paru dibandingkan 

amfibol.

  

Sebagian besar serat yang masuk keparu-

paru dibersihkan dari saluran nafas mell 

ludah dan sputum. Sedangkan dari serat-

serat yang tertahan dalam sal nafas kecil 

dan alveoli, sebagian serat pendek akan 

ditelan oleh magrofag dan dibawa 

kekelenjar limfe, limpa, dan jarg lain. 

Sebag serat yang menetap pada sal nafas 

kecil dan alveoli khususnya amfibol akan 

dilapisi oleh kompleks besi protein dan 

menjadi badan-badan “asbes” atau badan 

“ferruginosa “

  

sesudah  paparan lama atau retensi serat-

serat asbes cukup besar atau berat,  scr 

perlahan-lahan akan timbul fibrosis paru ,  

Fibrosis pleura ringan sampai berat 

seringkali ditemukan, dan kadangkala 

tampak plak-plak pleura hialin atau 

kalsifikasi.

Orang-orang yang terpapar debu menelan 

serat-serat asbes bersama ludah atau 

sputum, air, minuman atau makanan, 

sesudah  masa laten (>20 tahun) dapat 

timbul kanker paru, mesotelioma pleura 

ganas atau kanker saluran cerna.

  

JEJAS KARENA ZAT KIMIA

Zat kimia merupakan hazard bg 

organisme, shg jk terjd pemajanan 

mell kulit, terinhalasi, tertelan atau 

mell suntikan akan terjd berbg akibat  

toksisitas oleh zat kimia. 

Jejas yg terjd dpt berupa 

kelainan/peny akut, atau kronik atau 

timbulnya kanker. 

Kelainan dpt ringan, berat atau fatal.  

  

Bbrp prinsip ptg mekanisme jejas zat 

kimia :

Dosis

Tempat absorpsi, penimbunan dan 

ekskresi

Terjdnya konversi metabolik

Variasi individual

Kapasitas zat kimia memicu  

reaksi imum.

  

Jejas krn zat kimia dpt dibg 

dlm bbrp gol :

A. bahan obat

B. bahan kimia bukan obat

C. pestisida

D. logam berat

  

Bahan Obat :

Obat yg diberikan utk tjn terapi dpt 

memicu  efek yg tdk diharapkan 

(Adverse drug reactions = ADR).

A. Estrogen

diberikan pd wanita menjelang 

menopause & pasca menopause.

efek merugikan ; 

a. karsinoma endometrium

b. Karsinoma mamae

c. Tromboemboli

d. penyakit kardiovasculer.

  

B. obat kontrasepsi oral (dpt berupa 

estrogen dosis rendah; < 50 mg/hr) dlm 

kombinasi dg progesteron atau hanya 

progesteron saja.

Efek merugikan :

–  Karsinoma mamae

–  kanker endometrium

–  kanker serviks

–  kanker ovarium

–  Tromboemboli

–  hipertensi

–  penyk kardiovaskuler

–  adenoma hepar

–  Penyk kandung empedu

  

c. Asetamenofen

- dosis teraupeutik (500mg) aman.

- dosis tinggi (dosis toksik = 15-25 

gr) dpt menybbkan nekrosis hati. 

- gejala toksisitas : mual, muntah, 

diare, shock, disusul dg ikterus, 

payah hati dpt terjd kerusakan 

ginjal dan miokard.

  

D. Asam Asetilat

Dosis berlebih dpt terjd krn tertelan 

(anak2) atau bunuh diri (dws).

Dpt terjd kelainan metabolik.

Toksisitas kronik dpt terjd pd org dg 

kelainan radang kronik

Terjd gastritis erosif dan tendensi 

perdarahan.   

  

Bahan kimia bukan obat

Jenis bhn kimia & efek patologiknya :

CO : terikat dg Hb, memicu  hipoksia

Bahan pemutih (NAOHCl) : iritasi lokal

Bhn kaustik (basa/asam) : iritasi lokal, 

memicu  parut

Kloroform, karbontetraklorida : Depresi 

SSP, nekrosis hati

Sianida : Blokade enzim sitokrom 

oksidase, hipoksia berat

Etilenglikol (freeze) : Depresi SSP, asidosis 

metabolik, nekrosis tubulus  

  

Isopropanolol : gastritis, depresi SSP

Metanol : depresi SSP, asidosis, kebutaan

BBM (minyak tanah, bensin) : depresi 

pernafasan, pneumonitis, radang usus

Etanol ;

– alkoholisme akut : ggn fgs SSP, kerusakan hati 

& lambung

– Alkoholisme kronik : kerusakan morfologi 

berbg organ (hati, gastrointestinal, SSP, sistem 

kardiovaskuler, pankreas), sindrom alkohol 

fetal = pd kehamilan

  

Kokain :

memicu  euforia (rs nyaman) & 

bersft adiktif.

Dikonsumsi dg cr diisap mell 

hdg, mell rokok, ditelan, 

disuntikkan subkutan atau 

intravena.

  

Toksisitas akut dpt berupa :

– Stimulasi saraf simpatik : pupil melebar, 

vasokontriksi, takikardi (denyut jtg abnormal), tek 

drh naik

– aritmia letal, Infark miokard.

– Infark & perdrhn cerebral

– gagal ginjal

Pemakaian kokain menahun dpt 

menyebabkan perforasi septum nasi, 

penurunan fgs paru, kardiomiopati.

  

Heroin :

Digunakan dg cr penyuntikan 

sub kutan atau intravena.

memicu  euforia, 

halusinasi, somnolen 

(mengtk), dan sedasi (kehlgn 

kegembiraan) bersifat aditif & 

lbh merusak organ.

  

Efek thd organ :

– kematian tiba2 krn depresi pernafasan, cardiac 

arrest, oedem paru berat,  

– Komplikasi paru berupa oedem, emboli septik, 

abses paru, infeksi oportunistik, granuloma 

benda asing, 

– Infeksi oportunistik, granuloma benda asing,

– Infeksi kulit/subkutis, katup jantung, hati & 

paru.

– Lesi kulit yg terkait dg tempat suntikan : 

abses, selulitis, ulcerasi, hiperpigmentasi, parut 

& trombosis vena

– Kelainan ginjal : amiloidosis, 

glomerulosklerosis fokal  

  

Mariyuana (ganja)

Dikonsumsi dg cr diisap sbg rokok.

Efek positip utk pengobatan : menurunkan 

tekanan intraokuler pd glaukoma dan 

menekan rasa mual akibat kemoterapi.

Efek thd SSP : ggn persepsi sensorik & 

koordinasi motorik shg mdh terjd 

kecelakaan.

Kelainan sistem pernapasan : laringitis, 

faringitis, bronkitis, batuk, asma, suara 

serak

Efek thd sel germinal : kelainan 

kongenital, BBLR, prematur.

  

Pestisida

Merupakan bhn yg mempunyai daya 

mengontrol hama (pest).

Macam pestisida :

Insektisida; thd serangga (nyamuk, lalat, 

ulat, rayap, lipas)

Herbisida; thd gulma (mis. Ilalang)

Fungisida 

Rodentisida

Akarisida; mis. kutu, pinjal

Nematisida; mis cacing

 

  

Cara aplikasi pestida tergtg dr btk fisik dr 

pestisida (padat, cair, uap/gas); 

ditaburkan, disiram atau disemprotkan, 

disuntikkan, pengasapan/penguapan.

Pemakaian pestisida yg tdk hati2 

memungkinkan terjdnya pemaparan thd 

mans & hewan serta lingkungan (air, 

tanah, udara)

Pemaparan pd mans dpt bersft akut dan 

kronik, keracunan kronik terjd krn 

pemaparan rendah dlm jangka waktu 

lama, atau krn mengkonsumsi makanan 

residu pestisida; 

  

sdgkan keracunan akut dpt terjd krn :

– Pestisida dignkan scr benar sesuai dg 

semestinya, akan tetapi terjd 

pemajanan scr tdk sengaja.

– Pestisida digunakan utk keperluan lain 

yg tdk semestinya, mis. Insektisida utk 

kutu rambut

– Pestisida digunakan scr menyimpang, 

mis utk usaha bunuh diri.      

  

2 jenis Pestisida yg banyak digunakan: 

A. Insektisida 

–Banyak digunakan dlm bdg 

pertanian & perkebunan (belalang, 

kumbang, wereng) serta Kesh. 

Masyarakat (nyamuk sbg vektor 

malaria, DHF, elefantiasis; lalat sbg 

vektor Trypanosomiasis).

  

  

3 kelp kimia pestisida :

a. Insektisida berhalogen , mis. 

DDT, dieldrin.

b. Inhibitor Kolinesterase; dibg 2 

yi organofosfat  dan karbamat.

c. Piretroid

  

Ad a. Insektisida berhalogen memp afinitas  

yg kuat dg jar lemak dlm tbh & juga 

berthn lama dlm tanah & air. 

Gjl keracunan akut : peningkatan reaksi thd 

rangsang saraf, delirium (halusinasi) .

Ad b. Inhibitor kolinesterase memp efek 

menghambat enzim asetil kolinesterase di 

sinaps saraf. 

– Gjl klinik keracunan : mual, muntah, sakit 

perut, diare, keringat banyak, mata kabur, 

otot lemah, ggn nafas, kejang, koma, sp 

meninggal. 

  

Ad c. Piretroid merupakan 

insektisida yg plg rendah 

toksisitasnya, shg relatif plg 

aman digunakan. Tapi jk 

mengenai kulit, kulit terasa 

panas & sensitif, dpt berlsg 

sp 24 jam, kmd hlg sdr.

  

B. Herbisida :

– Herbisida umumnya toksistasnya rendah, shg 

banyak digunakan oleh petani, spt Parakuat, 

digunakan petani utk membunuh gulma 

diperkebunan, parakuat tdk menguap, shg tdk 

terhirup oleh pernafasan, berbahaya jk 

tertelan, krn menyebabkan kerusakan organ 

yg berat spt paru, ginjal dan hati sp timbul 

kematian. Parakuat inaktif jk kontak dg tanah, 

shg jk ada yg tertelan, bs ditangani dg cara 

merangsang agar pend muntah, kmd 

memberikan bhn tanah liat kedlm sal 

pencernaan utk menetralisir parakuat dlm 

lbg/usus. 

  

Logam Berat

Yg termsk logam berat yg ptg & plg 

sering dijumpai : Pb, Hg, As, Cd.

Dijumpai dialam bebas : gunung 

berapi, batu2an, tambang, 

pembakaran BBM.

Yg potensial toksik : bentuk 

garamnya kecuali Hg. 

  

Pb (timbal).

Timbal logam digunakan pada pelindung kabel 

listrik, pembuatan pipa-pipa, tangki dan  genting 

atap, sambungan penyekat, sebagai logam pelapis 

yang terpapar cuaca terutama air laut (timbal 

merah), pembuatan baterai penyimpan asam timbal 

(plat akumulator), industri kimia untuk melapisi 

kontainer asam sulfat, panci pemanas, dll, 

pembentukan berbagai senyawa dengan timah, 

tembaga dan antimon pada industri cat dan 

amunisi, produksi pigmen timbal untuk cat dan 

vernis, serta pembuatan kaca pemantik dan pelapis 

bening. Tembikar berglasir timbal dan serpihan cat 

timbal dirumah-rumah kuno, industri petroleum 

(timbal tetra etil dan timbal tetra metil) sebagai 

bahan aditif anti knock pada bahan bakar bensin.

  

Orang yang beresiko terpapar Pb  adalah 

para pekerja dipeleburan dan pembuatan 

baterai penyimpan, tukang kerok cat, 

perajin pot, pekerja industri keramik, 

pekerja pengecoran logam, tukang patri 

dan pencampur bahan bakar. 

Timbal memberikan efek toksik pada 

sistem pencernaan, hemapoitik, saraf 

(perifer dan sentral) dan ginjal serta 

adanya pigmentasi kelabu pada gusi 

(garis-garis timbal).

  

Patofisiologi :

Timbal masuk kedalam tubuh dengan cara 

inhalasi dan penelanan. Sedikit melalui kulit 

(untuk senyawa organik seperti alkil timbal dan 

naftalenat timbal).

Masukan timbal pada populasi umum antara 100-

350 μg/hari, (± 20 μg lewat inhalasi uap timbal 

dari lingkungan yang polutif).

Bahaya yang ditimbulkan timbal dalam udara 

berkaitan dengan ukuran partikelnya. Partikel 

<10 μm dapat tertahan di paru-paru, sedangkan 

>10 μm mengendap disaluran nafas bagian atas, 

kemudian diangkut oleh gerakan mukosiliar ke 

nasofaring dan ditelan. 5-10 % dari yang tertelan 

di absorpsi melalui saluran cerna. Uap timbal 

tetra etil diabsorpsi baik mell paru.

  

Timbal yang diabsorpsi diangkut oleh 

darah keorgan-organ lain, ± 95 % timbal 

dalam darah diangkut oleh sel darah 

merah.

Sebagian timbal plasma dalam bentuk 

dapat berdifusi, diperkirakan dalam 

keseimbangan dengan pool timbal tubuh 

lainnya, yang dapat dibagi menjadi 2 yaitu 

jar keras (tulang, rambut, kuku dan gigi) 

dan jarg lunak (sumsum tulang,sistem 

saraf, ginjal dan hati; toksik secara 

langsung), timbal jarg keras hanya toksik 

jika pool tsb bertindak sebagai sumber 

timbal jarg lunak. Karena adanya distribusi 

timbal antara jarg keras dan lunak, maka 

waktu paruh biologis timbal sulit 

diperkirakan.

  

Timbal diekskresi lewat urine (75-80 %), 

feses (± 15%), ada keseimbangan antara 

timbal yang di absorpsi dengan 

timbal yang di ekskresi, dimana 

jumlah timbal yang di ekskresi dalam 

urine, feses, empedu, keringat, 

rambut dan kuku sesuai dengan 

yang di absopsi  .

  

Timbal (Pb) 

 Pb : makanan < 0,3 ppm

 Susu kaleng 0,5 ppm

 Air minum 0,1 ppm

 Logam Pb dikonversi dalam tubuh menjadi Pb2+

 Ekskresi Pb 2 mg/hari

 Keracunan bentuk kronis, anak-anak  pica; kerusakan 

syaraf

Terapi : EDTA (asam etilenadiamintertra asetat) & BAL

  

  

3 bentuk Hg :

Elementer

Organik

Anorganik 

Hg (mercury/air raksa)

  

Orang yang beresiko terpapar uap Hg :

pekerja pertambangan bijih Hg, 

produksi air raksa logam pada metalurgi 

(produksi natrium dan kalium hidroksida, 

pewarna, lampu fluoresen), 

produksi dan perbaikan alat-alat ukur 

elektrik (instrumen laboratorium), 

produksi amalgam pada kedokteran gigi,

 perawatan benih dan perlindungan  kayu 

dengan senyawa air raksa organik.

  

Paparan terhadap uap air raksa anorganik 

dapat merusak sistem saraf. 

Paparan jangka pendek dpt menyebabkan :

 iritasi membran mukosa bronkus, 

stomatitis dengan salivasi yang 

meningkat,

 pneumonitis yang diikuti demam dan 

dispnea. 

Penelanan yang tidak disengaja garam-

garam anorganik seperti HgCl2 

menyebabkan nekrosis lokal dimulut dan 

saluran cerna, kolaps sirkulasi, gagal ginjal 

akut dengan oliguria dan anuria. 

  

Paparan jangka panjang uap air raksa 

adalah gejala neurologis dan psikis. 

Gejala dini non spesifik (anoreksia, 

penurunan BB, sakit kepala), gangguan 

tidur (sering terbangun, insomnia), mudah 

terangsang, kecemasan, depresi, 

gangguan daya ingat, kehilangan 

kepercayaan diri, tremor halus pada 

kelopak mata yang tertutup, bibir, lidah 

dan jari-jari dan akhirnya keseluruh tubuh. 

Gingivitis kronik, timbulnya bayangan 

coklat kelabu atau kuning pada lensa 

mata.

  

Patofisiologi :

Air raksa masuk kedalam tubuh secara inhalasi 

(terutama pada paru-paru dalam bentuk uap atau 

debu, 80 % dari sini akan diabsorpsi , oral serta 

melalui kulit (air raksa (II) organik dan 

anorganik). Kadar air raksa tertinggi ada pada 

ginjal dan hati. Hg juga dapat melewati pembuluh 

 darah-otak dan plasenta. 90 % air raksa berada 

dalam eritrosit.

Unsur air raksa yang diabsorpsi dengan cepat 

dioksidasi menjadi ion Hg2+, yang mempunyai 

afinitas terhadap gugus sulfhidril (-SH), serta 

berikatan dengan substrat-substrat yang kaya 

gugus tsb. Kadar air raksa tertinggi ditemukan 

dalam ginjal (terikat pada metalotionein) dan 

hati. 

  

Metabolisme senyawa aril merkuri serupa 

dengan metabolisme air raksa logam atau 

senyawa anorganiknya. Senyawa fenil dan 

metoksietil merkuri dengan cepat diubah 

menjadi air raksa anorganik, sementara 

metil merkuri dimetabolisme sangat 

lambat.

Merkuri dan senyawa anorganiknya  

diekskresi lewat urine dan sedikit lewat 

feses. Senyawa organiknya terutama di 

ekskresi lewat feses (sp 90%), waktu 

paruh biologis air raksa anorganik 

mendekati 6 minggu.

  

Merkuri

Uap Hg sangat berbahaya

Racun kumulatif, kronis; perlu 70 hari utk eliminasi 

setengah dosisnya

Antidote: turunan gliserol yaitu “British Anti Lewisite” 

 = BAL bekerja dengan cara mengkelat ion 

 logam (chela= cakar)  logam tak ganggu 

 kerja enzim 

  

  

Kadmium

  Sebagai logam campuran

  Akibat keracunan Cd

  Menyusutnya ion kalsium dari tulang shg rapuh, dan 

mudah patah

  Nyeri perut, muntah, mencret, rasa tercekik

Contoh kasus di jepang S.zintsu :

itai-itai disease 

  

  

Dalam jumlah besar kadmium dan 

senyawa-senyawanya digunakan sebagai 

pewarna dan stabilizer plastik. Juga dalam 

baterai nikel-kadmium, solder perak.

Orang yang beresiko besar terpapar 

kadmium adalah para pekerja peleburan 

kadmium primer atau skunder, industri 

penyepuhan kadmium, pabrik baterai 

alkali, pembuat dan pemakai pewarna 

kadmium dan tukang las, tetapi karena 

kadmium merupakan unsur yang ada 

dialam, maka semua orang menjadi 

terpapar kadmium dalam makanan, udara 

dan air, orang yang merokok dan 

mengunyah tembakau, dll.

  

Keracunan akut terjadi sesudah  paparan dengan 

kadar tinggi pada saluran cerna dan asma 

kimiawi .

Keracunan kronis terjadi sesudah  paparan jangka 

panjang, dimana organ kritis adalah ginjal, juga 

gangguan  paru  (emfisema, penyakit paru 

obstruktif, fibrosis interstisial difus), lesi-lesi 

tulang (osteomalasia, osteoporosis, fraktur 

spontan), anosmia, ulserasi mukosa hidung, 

perubahan warna leher gigi menjadi kuning, 

anemia ringan dan disfungsi  hati ringan.

  

Patofisiologi :

Kadmium masuk ketubuh lewat pernafasan atau 

oral. Laju pengendapan dalam paru-paru (jar 

alveoli) berbanding terbalik dengan ukuran 

partikel ( 50 % dari partikel yang terinhalasi 

berdiameter rata-rata 0,1 μm dan 20 % 

berdiameter 2 μm),  60 % kadmium yang 

mengendap disaluran nafas bagian bawah dalam 

bentuk kadmium oksida dapat diabsopsi.  

Akumulasi  terutama dalam hati dan ginjal.

Ekskresi terutama lewat urine, dalam jumlah kecil 

lewat jalur lain (empedu, sal cerna, saliva, 

rambut dan kuku).

  

Arsen (As)

Orang yang beresiko terpapar adalah 

para pekerja pertanian dan 

kehutanan yang menggunakan 

pestisida arsen, pekerja pengilangan 

arsen dan peleburan bijih, proses 

pembuatan pengawet kayu, obat-

obatan, para pekerja metalurgi dan 

elektronika.

  

Keracunan akut dapat terjadi akibat 

tertelan senyawa arsen, dengan 

gejala muntah, diare berat, kram 

otot, oedema wajah dan kelainan 

jantung, shock dan diikuti dehidrasi. 

Pada inhalasi kadar tinggi senyawa 

arsen anorganik dalam udara dapat 

menyebabkan peradangan saluran 

nafas atas (rinitis, faringitis, 

laringitis). Pada kulit dapat terjadi 

dermatitis kontak, folikulitis, erupsi 

ekzematosa dan ulserasi. 

  

Jika ada hidrogen bebas, arsen dapat 

bergabung dengan hidrogen membentuk 

arsin (AsH3), yaitu suatu gas yang tidak 

berbau dan berwarna yang dapat 

mengiritasi nasofaring. Senyawa ini 

diabsorpsi dari paru-paru kedalam darah 

dan dapat menyebabkan hemolisis sel 

darah merah. Dalam waktu 6 jam dapat 

terjadi hemoglobinuria berat, kemudian 

hemoglobin mengendap pada tubulus-

tubulus ginjal menyebabkan nefritis nefron 

bawah dan hilangnya fungsi ginjal total.

  

Pada paparan jangka panjang, arsen dapat 

mempengaruhi kulit (peningkatan 

pigmentasi, lesi-lesi herpetik disekitar mulut, 

deskuamasi furfurasea, hiperkeratosis 

terutama pada telapak tangan dan kaki) dan 

kanker kulit (jarang), saluran nafas, jantung, 

ginjal, darah dan organ-organ pembuat darah 

serta sistem saraf.

Patofisiologi :

Debu dan uap arsen masuk kedalam tubuh 

melalui inhalasi, tertelan, lewat kulit yang 

terluka atau kulit yang utuh (asam arsenat).

  

Partikel-partikel arsen relatif besar, 

sehingga mengendap pada sal nafas 

bag atas dari hidung hingga bronkus. 

Beberapa partikel ada yang 

mencapai paru sehingga dapat di 

absorpsi, absorpsi juga dapat terjadi 

pada sal cerna bila partikel-partikel 

dari sal nafas tertelan.

  

Arsen diekskresi lewat urine dan 

sedikit lewat feses. Ekskresi 

maksimum terjadi 6 jam pertama, 

25 % diekskresi dalam 24 jam dan 

75 % dalam 7 hari sesudah  paparan. 

  

Pelarut organik (Toluen, trikloroetilen, 

metil n-butil keton, 

karbondisulfida/CS2) = neurotoksin

Banyak digunakan dlm industri, 

laboratorium atau rumah tangga.

Ciri2 pelarut organik :

Mudah menguap (VOS = volatile organic 

solvent)

Bersifat zat lipofilik kuat

Dpt menyebabkan depresi SSP

  

Reaksi yg tjd akibat pemajanan :

–Akut : tidak disengaja 

(kecelakaan), penyalahgunaan 

(abuse)

–Gejala : depresi SSP, iritasi kulit, 

mata, hidung, tenggorokan, paru, 

mual, kerusakan hati, ginjal.

–Sindroma tukang cat (painter’s 

syndrome) : ggn memori, ggn 

kepribadian, ggn intelektual.

  

Chemical Safety Symbols

1.Poisonous (beracun)

Self explanatory. Whereas 

most chemicals are fairly 

dangerous if ingested or 

inhaled, many of these are 

dangerous even on contact.

 2. Corrosive (menghancurkan)

Avoid contact with the skin. 

Bear in mind that 

these can (under 

some circumstances) rust 

chemical cupboards.

  

Irritant (menyebabkan iritasi)

This symbol covers a wide range of 

(sometimes relatively minor) 

hazards - with precautions such as 

avoid contact with the skin, do not 

breathe, etc. - best to refer to 

relevant data sheet for details.

Environmental hazard (merusak 

lingkungan) 

Relatively rare with laboratory 

chemicals (most of which pose 

some environmental hazard if not 

got rid of correctly), these require 

particular care to be taken on 

disposal. 

  

Explosive (mudah meledak)

Again, fairly self-explanatory, 

though fairly seldom seen in 

the average lab. Bear in mind 

that noise and movement can 

also trigger explosion (not just 

sparks/flames!).

Oxidising chemical (mudah 

mengoksidasi)

Oxidising chemicals are 

materials that spontaneously 

evolve oxygen at room 

temperature or with slight 

heating, or that promote 

combustion. To be kept away 

from flammable chemicals at all 

costs! 

  

Flammable (mudah terbakar)

Chemicals to be stored in 

flame-resistant cupboards. 

Volatile solvents can be a 

particular problem as they are 

prone to spread around from 

unsealed containers. This also 

covers pyrophoric materials 

(that catch fire spontaneously 

on exposure to air 



Penyakit demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan

oleh  virus dengue dimana mana virus ini menyebar dan menginfeksi ke

tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penularan penyakit

demam  berdarah  bisa  terjadi  jika  ada   perantara  melalui  nyamuk

tersebut,  sama  seperti  pada  penyakit  malaria yang  diakibatkan  oleh

nyamuk anopheles. Nyamuk aedes aegypti ini bisa berkembang biak di

daerah yang berpenduduk tinggi misalnya kota-kota besar dan juga yang

memiliki  iklim  lembab  dan  hangat.  Dan  nyamuk  aedes  aegypti  ini

biasanya  bersarang  di  tempat  yang  kotor  dan  lembab  seperti  tempat

sampah,  toilet,genangan  air  dihalaman  rumah  serta  bak  mandi  yang

kotor. 

Tanda dan  gejala  penyakit  demam berdarah  ini  biasanya  akan

nampak pada 3-14 hari setelah masa inkubasi penyakit. Masa inkubasi

yang  dimaksud  adalah  jarak  waktu  yang  terjadi  antara  virus  pertama

masuk  ke  dalam  tubuh  hingga  gejala  pertama  kali  muncul.  Tanda

dan  gejala  yang  pertama  ini  diawali  dengan  demam  tinggi  yang  bisa

mencapai suhu hingga 41 derajat celcius. Selain itu, badan akan terasa

pegal-pegal pada persendian, dan juga akan muncul bintik-bintik merah

pada kulit.

Riwayat Alamiah Penyakit 

B. Tahap Prepatogenesis

Pada tahap prepatogenesis individu masih dalam keadaan sehat,belum ada

tanda  tanda  penyakit  yang  menunjukan  bahwa  individu  terkena  demam

berdarah. Tetapi pada tahap ini,individu mengalami fase rentan atau bisa disebut

dengan  stage  of  susceptibility  yang  mana  kondisi  tubuh  bisa  atau  gampang

terpapar virus dari luar. 

C. Tahap Patogenesis

1. Tahap Inkubasi

Tahap inkubasi merupakan jarak waktu yang terjadi antara virus

pertama  masuk  ke  dalam  tubuh  hingga  gejala  pertama  kali

muncul,pada  kasus  demam berdarah  masa  inkubasi  berkisar  3-14

hari.

2. Tahap Penyakit Dini

Pada kasus demam berdarah tahap penyakit dini bisa dikatakan

gejala awal  dari  proses berlangsungnya penyakit  ini,tahap penyakit

dini  dalam  demam  berdarah  meliputi  demam  selama  2-7hari,serta

nyeri  kepala,nyeri  otot  dan  persendian.  Serta  individu  mengalami

peningkatan panas mencapai 39-41 derajat celcius,pada hari 5-7 rata

rata  yang  mengalami  penyakit  demam  berdarah  ini  panasnya

cenderung menurun.  

3. Tahap Penyakit Lanjut

Tahap penyakit lanjut dari demam berdarah ialah bintik-bintik pada

kulit  sebagai  manifestasi  perdarahan  dan  leucopenia  serta  terjadi

pembesaran hati (Hepatomegali).

4. Tahap Akhir Penyakit 

Tahap akhir penyakit penderita DBD dapat menjadi sembuh atau

meninggal, Meninggal bagi yang tidak segera ditangani secara cepat dan

tepat, dan sembuh bagi yang mendapatkan penanganan yang tepat.

5. Pencegahan Primordial

Pencegahan  primordial  yaitu  ditekankan  pada  pola  hidup

seseorang atau individu yang terkena penyakit,bagaimana resiko terkena

penyakit atau virus tersebut bisa lebih rendah. Atau lebih mudahnya lagi

ialah  mengurangi  resiko,pencegahan ini  bersifat  sosial  dan ditekankan

pada gaya hidup. Pada kasus penyakit demam berdarah pencegahan ini

dapat  berupa  memperhatikan  kebersihan  lingkungan  tempat  tinggal

dengan  melakukan  3M,yaitu  menguras,menutup  dan  mengubur.  Yang

pertama  ialah  menguras,menguras  berarti  menguras  bak  mandi  yang

menjadi  sarang  tempat  tinggal  nyamuk  kemudian  menutup  berarti

menutup wadah yang menampung air yang bisa menjadi sarang nyamuk

dan  nyamuk  untuk  bertelur,kemudian  yang  terakhir  ialah  mengubur

barang barang bekas yang menjadi sarang perkembangan jentik nyamuk

6. Pencegahan Primer 

Pencegahan  primer  dilakukan  sebelum  terjadinya  perubahan

patologis  biasanya  dilakukan  dengan  peningkatan  daya  tahan  tubuh

dengan  makan  makanan  yang  bergizi  serta  menjauhkan  keterpaparan

individu  dengan  penyakit.  Untuk  pencegahan  primer  pada  demam

berdarah  ialah  Melakukan  kebiasaan  baik,  seperti  makan-makanan

bergizi,  olahraga rutin,  dan  istirahat  yang  cukup.(  Meningkatkan  daya

tahan tubuh.) Fogging atau pengasapan hanya akan  mematikan nyamuk

dewasa,  sedangkan  bubuk  abate akan  mematikan  jentik  pada  air.

Keduanya harus dilakukan  untuk memutuskan rantai  perkembangbiakan

nyamuk. Memperbaiki kondisi lingkungan seperti membersihkan halaman

rumah setiap hari.

7. Pencegahan Sekunder 

Pencegahan sekunder dapat diartikan dilakukan jika sudah masuk fase

patogenesis  dan  sudah  terdeteksi  penyakitnya.  Pencegahan  sekunder  dari

demam  berdarah  meliputi  pemeriksaan  laboratorium  kriteria  untuk  diagnosa

demam berdarah yakni Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari  ke 3 – 7

terjadi  penurunan  trombosit  dibawah  100.000  /mm3  (Trombositopeni),  terjadi

peningkatan nilai Hematokrit diatas 20% dari nilai normal.

 Kemudian  pencegahan  yang  kedua  ialah  fokus  pengobatan  pada

penderita  penyakit  DBD  meliputi  mengatasi  perdarahan,  mencegah  atau

mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita

banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh  dan  gula,

sirup atau susu).  Penambahan cairan tubuh melalu infus (intravena) mungkin

diperlukan untuk mencegah dehidrasi Selanjutnya ialah  pemberian obat-obatan

jika  terjadi  keluhanseperti  ,Paracetamol  membantu  menurunkan  demam  dan

ekstrak  jambu  biji  yang  bisa  meningkatkan  trombosit  dalam  darah  untuk

mengatasi DBD. 

8. Pencegahan Tersier

Pencegahan  tersier  merupakan  pencegahan  yang  dilakukan  ketika

kondisi  individu  sudah  buruk,pada  pencegahan  ini  melakukan  atau  membuat

individu agar tidak semakin buruk. Pencegahan untuk penyakit demam berdarah

ini ialah memberikan  antibiotik kepada individu yang terkena demam berdarah

berguna untuk mencegah infeksi sekunder serta dilakukan rehabilitasi.