Tampilkan postingan dengan label Proses menua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proses menua. Tampilkan semua postingan

Proses menua

 





Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam  mendefinisikan batasan 

penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana  Nasional ada tiga aspek 

yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 

1998)

Secara biologis penduduk lanjut usia adalah  penduduk  yang  mengalam i  proses penuaan 

secara terus menerus, yang ditandai dengan  menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin 

rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat memicu   kematian. Hal ini disebabkan  

terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.

B.     Pengertian Proses Penuaan

Penuaan adalah  konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan. Menua (menjadi tua) adalah suatu 

proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memeperbaiki 

diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap 

infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantindes, 1994)

Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau  tahap hidup 

manusia, yaitu; bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang mati bukan karena lanjut 

usia tetapi karena suatu penyakit, atau juga suatu kecacatan.

Akan tetapi proses menua dapat memicu  berkurangnya daya tahan tubuh dalam nenghadapi

rangsangan dari dalam  maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa 

ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia.Proses menua sudah mulai 

berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa. Misalnya dengan terjadinya kehilangan 

jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.

Sebenarnya tidak ada batas yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. 

Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam  hal pencapain 

puncak maupun  menurunnya.

C.     Teori-Teori Proses Penuaan

1.      Teori Biologis

Penuaan merupakan proses secara berangsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif dan 

mengakibatkan perubahan yang berakhir dengan kematian. Penuaan juga menyangkut perubahan

struktur sel, akibat interaksi sel dengan lingkungannya, yang pada akhirnya memicu  

perubahan negative.  Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsic dan ekstrinsik. 

Intrinsic berarti perubahan yang berkaitan dengan usia timbul akibat penyebab diakibatkan 

pengaruh lingkungan.Teori biologis dibagi dalam :

a)      Teori Genetik Clock

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetic untuk spesies-spesies tertentu. Tiap 

spesies mempunyai di dalam inti selnya suatu jam genetic yang telah diputar menurut suatu 

replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi tertentu. Jadi 

menurut konsep ini bila jam kita ini berhenti kita akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai 

kecelakaan lingkungan atau penyakit. Secara teoritis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi 

meski hanya beberapa waktu dengan pengaruh-pengaruh dari luar, berupa peningkatan 

kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obatan tindakan tertentu.

b)      Teori Error Catastrophe (Teori Mutasi Somatik)

Menurut teori ini, menua disebabkan kesalahan yang beruntun dalam jangka waktu yang lama 

dalam transkripsi dan translasi. Kesalahan ini  memicu  terbentuknya enzim yang salah 

dan berakibat metabolism yang salah sehingga mengurangi fungsional sel, walaupun dalam 

batas-batas tertentu kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan 

memperbaiki diri terbatas pada transkripsi yang tentu akan memicu  kesalahan sintesis 

protein atau enzim yang dapat memicu  metabolit berbahaya. Bila juga terjadi kesalahan 

pada tranlasi maka kesalahan yang terjadi juga semakin banyak.

c)      Teori Auto Immune

Dalam teori ini dijelaskan bahwa didalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi zat 

khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat ini  sehingga jaringan 

tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada usia 

dewasa berinvolusi dan semenjak itu terjadilah kelainan autoimun. 

d)      Teori Radikal Bebas

Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) 

mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organic seperti karbohidrat dan protein. Radikal 

ini memicu  sel-sel tidak dapat beregenerasi. Didalam tubuh yang bersiap merusak, dapat 

dinetralkan dalam tubuh oleh enzimatau senyawanon enzim contohnya adalah : vitamin C 

betakorotin, vitamin E.

e)      Pemakaian dan rusak

Kelebihan usaha dan stress memicu  sel-sel tubuh lelah (rusak)

f)        Teori “Immunology Slow Virus” (Immunology Slow Virus Theory)

System immune menjadi kurang efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya  virus kedalam

tubuh dapat memicu  kerusakan organ tubuh.

g)      Teori Stress

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak 

dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stress memicu  

sel-sel tubuh telah terpakai.

h)      Teori rantai silang

Sel-sel yang tua atau asing reaksi kimianya memicu  ikatan yang kuat, khususnya jaringan 

kolagen. Ikatan ini memicu  kurangnya elastic, kekakuan dan hilangnya fungsi.

i)        Teori Program

Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel ini  

mati.

2.      Teori Kejiwaan Sosial

a)      Aktivitas atau kegiatan (activity theory)

1)      Teori aktivitas, menurut Havighrusrst dan Albrecht, 1953 berpendapat bahwa sangat 

penting bagi individu usia lanjut untuk tetap aktivitas dan mencapai kepuasan hidup.

2)      Ketentuan akan  meningkatnya pada penurunan  jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini

menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam 

kegiatan social.

3)      Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia

4)      Mempertahankan hubungan antara system social dan individu agar tetap stabil dari usia 

pertengahan ke lanjut usia.

b)      Kepribadian belanjut (continuity theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan 

gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada 

seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.

c)      Teori pembebasan (disengagement theory)

Salah satu teori social yang berkenaan dengan proses penuaan adalah “teori pembebasan atau 

disengagement theory”. Teori ini menyatakan bahwa dnegan bertambahnya usia, seseorang 

secara berangsur-angsur mulai nmelepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini 

mengakibatkan interaksi social lansia menurun, baik secara kuantitas maupun kualitas sehingga 

sering terjadi kehilangan ganda (Tripple Lost), yakni :

1)      Kehilangan peran (Loss of role)

2)      Hambatan kontak social (restraction of contacs and relation ships)

3)      Berkurangnya komitmen (to social mores and values)

3.      Teori Psikologi

Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah satu teori yang ada. Teori 

tugas perkembangan, menurut Hanghusrt (1972) setiap individu harus memperhatikan tugas 

perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan memberikan perasaan bahagia

dan sukses. Tugas perkembangan yang spesifik ini tergantung pada maturasi fisik, pengharapan 

cultural dan masyarakat dan nilai serta aspirasi individu.

Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi penerimaan adanya penurunan kekuatan fisik dan

kesehatan, penerimaan masa pension dan penurunan income, penerimaan adanya kematian dan 

pasangannya atau orang-orang yang berarti bagi dirinya, mempertahankan hubungan dengan 

group uang seusianya, adopsi dan adaptasi dengan peran social secara fleksibel dan 

mempertahankan kehidupan secara memuaskan.

4.      Teori Kesalahan Genetik

Dr. Afgel berpendapat bahwa proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetic DNA 

dimana sel genetic memperbanyak diri (ada yang memperbanyak diri sebelum pembelahan sel) 

sehingga mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang berakibat pula dengan terhambatnya 

pembentukan sel berikutnya sehingga mengakibatkan kematian sel. Pada saat sel mengalami 

kematian orang akan tampak menjadi tua.

5.      Rusaknya Sistem Imun Tubuh

Mutasi yang terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan system imun untuk mengenali 

dirinya berkurang menurun mengakibatkan kelainan pada sel, dianggap sel asing sehingga 

dihancurkan perubahan inilah terjadinya peristiwa auto imun.

6.      Teori Menua Akibat Metabolisme

Tua yang bagaimana ?

1)      Datang dengan sendirinya, merupakan “karunia” yang tidak bisa dihindari/ditolak

2)      Usaha dalam memperlambat menjadi awet muda

3)      WHO : 1982 usia lanjut yang bahagia dan sejahtera

Perubahan : apa ? kapan ? dan bagaimana ?, dahulu normal jadi tua, masa karir : sukses menjadi 

tua. Pada zaman tempo dulu pendapat tentang tua : botak, mudah kebingungan, pendengaran 

sangat menurun atu mereka menyebut “budeg”, menjadi bungkuk dan sering dijumpai kesulitan 

dalam menahan buang air kecil : beseran atau inkontinensia urin.

7.      Teori Telomere

Pada ujung setiap kromosom, terdapat sekuen pendek DNA nontranskripsi yang dapat diulang 

berkali-kali (TTAGGG), yang dikenal sebagai telomere. Sekuen telomere ini tidak seluruhnya 

terkopi sepanjang sintesis DNA menuju ke mitosis. Sebagai hasilnya, ekor untaian tunggal DNA 

ditinggal di ujung setiap kromosom; ini akan dibuang dan, pada setiap pembelahan sel, telomere 

menjadi pendeksel . Pada saat sel somatik bereplikasi, satu potongan kecil tiap susunan telomere 

tidak berduplikasi, dan telomere memendek secara progresif. Akhirnya , setelah pembelahan sel 

yang multiple, telomere yang terpotong parah diperkirakan mensinyal proses penuaan sel. 

Namun demikian, pada sel germ dan sel stem panjang telomere diperbaiki setelah pembelahan 

tiap sel oleh enzim khusus yang disebut telomerase.

Pemendekan telomere dapat menjelaskan batas replikasi (“Hayflick”) sel. Hal ini didukung oleh 

penemuaan bahwa panjang telomer berkurang sesuai umur individu darimana kromosom 

didapat. Dari pengamatan jangka panjang bahwa fibroblast manusia dewasa normal pada kultur 

sel, memiliki rentang masa hidup tertentu; fibroblast berhenti membelah dan menjadi menua 

setelah kira-kira 50 kali penggandaan. Fibroblast neonatus mengalami sekitar 65 kali 

penggandaan sebelum berhenti membelah, sementara itu fibroblast pada pasien dengan progeria, 

yang berusia premature, hanya memperlihatkan 35 kali penggandaan atau lebih. Menuanya 

fibroblas manusia dalam biakan dapat dihindari secara parsial dengan melumpuhkan gen RB dan

TP 53. Namun sel ini akhirnya juga mengalami suatu krisis, yang ditandai dengan kematiaan sel 

masif.

8.      Teori Wear and Tear

Teori “Wear and Tear” disebut juga teori “Pakai dan Lepas”. Teori ini memberi kesan bahwa 

hilangnya sel secara normal akibat dari perubahan dalam kehidupan sehari-hari dan penumpukan

rangsang subletal dalam sel yang berakhir dengan kegagalan sistem yang cukup besar sehingga 

keseluruhan organisme akan mati.Teori ini memberikan penjelasan yang baik mengapa 

kegagalan jantung dan system saraf sentral merupakan penyebab yang sering pada kematian; sel-

sel yang mempunyai fungsi penting pada jaringan ini tidak mempunyai kemampuaan 

regenerasi.Teori ini sama sekali tergantung pada pandangan statistik penuaan. Pada teori ini kita 

mempunyai harapan hidup yang sama bagi setiap individu, namun perubahan panjang umur 

setiap individu diakibatkan oleh perubahan pola hidup dari individu itu sendiriBerbagai 

mekanisme seluler dan subseluler yang diperkirakan sebagai penyebab kesalahan penumpukan 

yang memicu  terjadinya penuaan sel adalah:

*      ikatan silang protein

*      ikatan silang DNA

*      mutasi dalam DNA yang membuat gen yang penting tidak tersedia atau berubah fungsinya.

*      kerusakan mitokondria

*      cacat lain dalam penggunaan oksigen dan nutrisi

D.    Perubahan Fisik yang Terjadi Pada Proses Penuaan

1.      Sel

a)      Lebih sedikit jumlahnya

b)      Lebih besar ukurannya

c)      Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler

d)      Menurunnya proporsi protein di otak, otot, darah, dan hati.

e)      Jumlah sel otak menurun.

f)        Terganggunya mekanisme perbaikan sel.

g)      Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%

2.      Sistem persarafan

a)      Berat otak menurun 10-20% (setiap orang berkurang sel otaknya dalam setiap harinya).

b)      Cepatnyan menurun hubungan persarafan.

c)      Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.

d)      Mengecilnya saraf panca indra. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, 

mengecilnya saraf pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya

dengan ketahanan terhadap dingin.

e)      Kurang sensitif terhadap sentuhan

3.      Sistem pendengaran

a)      Presbiakusis (gangguan pada pendengaran). Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran 

pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak 

jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun.

b)      Membran timpani menjadi atrofi memicu  otosklerosis.

c)      Terjadi pengumpulan serumen dapat mengeras karena menginkatnya keratin.

d)      Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.

4.      Sistem penglihatan

a)      Sfingter pupil timbul skelerosis dan hilangnya tespon terhadap sinar.

b)      Kornea lebih berbentuk sferis (bola)

c)      Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas memicu  gangguan 

penglihatan.

d)      Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, 

dan susah melihat dalam cahaya gelap

e)      Hilangny daya akomodasi.

f)        Menurunnya lapangan pandang; berkurang luas pandangannya.

g)      Berkurangnya daya membedakan warna biru atau hijau pada skala.

5.      Sistem kardiovaskuler

a)      Elastisitas dinding aorta menurun

b)      Katup jantung menebal dan menjadi kaku

c)      Kemampuan jantung untuk memompa menurun 1% setiap tahun sesudah berumut 20 

tahun, hal ini memicu  menurunnya kontraksi dan volumenya.

d)      Kehilangan elatisitas pembuluh darah; kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk 

oksigenisasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa memicu  tekanan 

darah menurun menjadi 65 mmHg (memicu  pusing mendadak).

e)      Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah 

perifer; sistolis normal 170 mmHg, diastolis normal 90 mmHg.

6.      Sistem pengtaturan temperatur tubuh

Pada sistem pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu termostat, yaitu 

menetapkan suatu suhu tertntu, kemunduran terjadi sebagai faktor yang mempengaruhinya. Yang

sering ditemui antara lain;

a)      Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik ± 35o ini akibat metabolisme 

yang menurun.

b)      Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga 

terjadi rendahnya aktivitas otot.

1)             Sistem respirasi

*      Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.

*      Menurunnya aktivitas dari silia

*      Paru-paru kehilangan aktivitas; kapasitas residu meningkat, menarik nafas menjadi berat, 

kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun

*      Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang

*      O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.

*      CO2 pada arteri tidak berganti

*      Kemampuan untuk batuk berkurang

*      Kemampuan pegas, dinding, dada, dan kekuatan otot pernapasan akan menurun seiring 

degan bertambahnya usia.

2)             Sistem gastrointestinal

*      Kehilangan gigi; penyebab utama adalah Periodental disease yang bisa terjadi setelah umur 

30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.

*      Indera pengecap menurun; adanya iritasi yang kronis, dari selaput lendir, atropi indera 

pengecap (±80%), hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa tentang rasa 

asin, asam, dan pahit.

*      Esofagus melebar.

*      Lambung, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun), asam labung menurun, waktu 

mengosongkan menurun.

*      Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi

*      Fungsi absobsi melemah (daya absobsi terganggu).

*      Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran 

darah.

3)             Sistem reproduksi

*      Menciutnya ovari dan uterus

*      Atrofi payudara

*      Pada laku-laki testis masih dapat memproduksi spermatosoa, meskipun adanya penurunan 

secara beransur-ansur

*      Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun (asal kondisi keksehatan baik), 

yaitu;

ü  Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia

ü  Hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual

ü  Tidak perlu cemas karena merupakan perubahan alami

*      Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, 

reaksi sifatnya menjadi alkali, dan terjadi perubahan-perubahan warna.

4)             Sistem genito urinaria

*      Ginjal, merupaan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah 

yang masuk ke ginjal, disaring oleh satuan unit terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya 

di glumerulus, kemudia mengecil dan nefron menjadi atrofi. Aliran darah ke ginjal menurun 

sampai 50%. Fungsi tubulus berkurang akibatnya; kurang kemapuan mengkonsentrasi urine, 

berat jenis urine menurun, proten uria.

*      Vesika urinaria (kandung kemih); otot-ototnya menjadi lemah, kapasitasnya menurun 

sampai 200ml atau memicu  frekuensi buang air kecil meningkat. Vesika urinari susah 

dikosongkan sehingga meningkatkan retensi urine.

*      Pembesaran prostat kurang lebih 75% dialami oleh pria usia di atas 65 tahun

*      Atrofi vulva

5)             Sistem endokrin

*      Produksi hampir semua hormon menurun

*      Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah

*      Pituitari; hormon pertumbuhan ada tetapi lebih rendah tetapi rendah dan hanya dalam 

pembuluh darah, berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH, LH.

*      Menurunnya aktifitas tiroid, BMR menurun.

6)             Sistem kulit

*      Kulit mengerut atau keriput akibat kahilangan jaringan lemak

*      Kulit kasar dan bersisik,

*      Mekanisme proteksi kulit menurun

*      Produksi serum menurun

*      Gangguan pigmentasi kulit

*      Kulit kepala dan rambut menipis

*      Kelenjar keringat berkurang jumlahnya

7)             Sistem muskuloskeletal

*      Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh

*      Kifosis

*      Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek

*      Persendian membesar dan menjadi pendek

*      Tendon mengerut dan mengalami skelrosis

8)             Perubahan mental

*      Perubahan fisik, organ perasa

*      Kesehatan umum

*      Tingkat pendidikan

*      Keturunan

*      Lingkungan

*      Momory: jangka panjang (*berhari-hari yang lalu) mencakup beberapa perubahan. 

Kenangan jangka pendek (0-10 menit) kenangan buru

*      Intelegency; tidak berubah dengan informasi matematik dan perkataan verbal.

*      Berkurangnya keterampilan psikomotor.

9)             Perubahan psikososial

E.     Sindroma Proses Penuaan yang Prematur

Ada beberapa penyakit genetik yang menunjukan adanya proses penuaan yang prematur. Tanda-

tanda dari penyakit ini adalah dijumpainya rambut yang beruban, mengkerutnya kulit, dan 

pendeknya masa hidup dari penderita ini . Pada beberapa kasus hal ini dapat terjadi karena 

mutasi dari gen. Adapun proses penuaan yang premature ini  dapat kita lihat pada:

1.      Werner’s syndrome

Pada penderita ini kelihatan pada rambut mereka telah beruban pada usia 20 tahun dan penderita 

umumnya meninggal pada usia 40 tahun. Tanda-tanda proses penuaan seperti osteoporosis, 

katarak, dan arterosklerosis dapat terlihat pada penderita. Meskipun pada waktu mudanya, sel-sel

juga mengalami replikasi penuaan namun hanya sebanyak 20 kali, sedangkan yangnormal 

mencapai 70 kali atau lebih. Hal ini disebabkan oleh mutasi di WRN, dimana WRN ini 

diperlukan untuk perbaikan dan pemeliharaan DNA yang terdapat di telomere.

2.      Cockayne syndrome (CS)

Terjadi karena mutasi pada gen-gen yang berfungsi pada perbaikan DNA yaitu pada saat terjadi 

transkripsi DNA. Pada penderita ini hanya menunjukkan beberapa tanda proses penuaan, namun 

proses kematian sangatlah cepat pada penderita ini.

3.      Ataxia telangiectasia (AT)

Penderita menunjukkan proses penuaan yang premature hal ini disebabkan karena kerusakan 

pada fungsi gen yang mendeteksi kerusakan DNA (ATM) sehingga gen gagal memulai untuk 

proses perbaikan selnya.

4.      Hutchinson – Gilford progeria syndrome

Anak-anak yang menderita sindroma ini akan menunjukkan tanda-tanda proses penuaan 

premature yang parah sejak mereka dilahirkan dan penderita akan meninggal setelah mereka 

berumur belasan tahun. Disebabkan oleh mutasi gen (LMNA) untuk lamin yang berfungsi 

menstabilkan membrane dalam dari pembungkus inti sel. Sebagaimana telah diketahui bahwa 

replikasi, transkripsi, dan perbaikan dari DNA berlangsung di bagian dalam dari inti sel, 

sedangkan pada penderita sindroma ini terjadi peningkatan kerusakan pada DNA dan kerusakan 

pada ekspresi gen.

Dari sindrom penuaan yang premature ini terlihat bahwa terjadinya mutasi bukan seluruhnya 

pada sel, tetapi terjadi mutasi pada gen-gen yang bertanggung jawab pada proses replikasi, 

perbaikan, dan transkripsi dari dari seluruh gen.

F.      Anti Aging

Pada penderita proses penuaan yang premature terapi yang maksimal belumlah dijumpai, namun 

dengan diketahuinya bahwa adanya enzim telomerase yang menghambat pemendekan telomere 

ini,maka para ilmuwan masih berusaha untuk membentuk suatu substrat yang bekerja seperti 

enzim telomerase ini .

Namun penghambatan proses penuaan pada sel-sel yang normal telah banyak ditemukan dengan 

munculnya produk-produk anti aging.Dugaan bahwa radikal bebas tersebar dimana-mana, pada 

setiap kejadian pembakaran seperti merokok, memasak, pembakaran bahan baker pada mesin 

dan kendaraan bermotor. Paparan sinar ultraviolet yang terus-menerus, pestisida dan pencemaran

lain di dalam makanan kita, bahkan karena olahraga yang berlebihan, memicu  tidak ada 

pilihan selain tubuh harus melakukan tindakan protektif. Langkah yang tepat untuk menghadapi 

banyaknya radikal bebas ini  adalah dengan mengurangi paparannya atau mengoptimalkan 

pertahanan tubuh melalui aktivitas antioksidan.

Selain jenis antioksidan enzimatis seperti yang disebut di awal, dikenal pula jenis antioksidan 

nonenzimatis. Jenis ini dapat berupa golongan vitamin, seperti vitamin C, vitamin E serta 

golongan senyawa fitokimia seperti senyawa fenolik. Senyawa fenolik ini banyak dijumpai pada 

sayuran, buah-buahan, rempah-rempah dan sebagainya yang merupakan konsumsi makanan kita 

sehari-hari.

Suplemen vitamin banyak beredar di pasaran dalam berbagai dosis. Namun perlu diketahui, 

hingga saat ini para ahli masih sulit memastikan berapa komposisi yang seimbang antara radikal 

bebas dan antioksidan di dalam tubuh.Beberapa antioksidan dalam dosis tertentu bisa berubah 

sifat menjadi prooksidan.

 

Menua  atau  menjadi  tua  yaitu   suatu  keadaan  yang  terjadi  di  dalam

kehidupan  manusia.  Proses  menua merupakan proses  sepanjang hidup,  tidak

hanya  dimulai  dari  suatu  waktu  tertentu,  tetapi  dimulai  sejak  permulaan

kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah

melalui  tiga  tahap kehidupannya,  yaitu  anak,  dewasa,  dan tua.  Tiga  tahap ini

berbeda,  baik  secara  biologis  maupun  psikologis.  Memasuki  usia  tua  berarti

mengalami  kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit

mengendur,  rambut  memutih,  gigi  mulai  ompong,  pendengaran  kurang  jelas,

penglihatan semakin  memburuk,  gerakan lambat,  dan  figure  tubuh yang  tidak

proposional.

WHO  dan  Undang-undang  Nomor  13  Tahun  1998  tentang  kesejahteraan

lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa umur 60 tahun yaitu 

usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit,  tetapi merupakan proses

yang  berangsur-angsur  mengakibatkan  perubahan  yang  kumulatif,  merupakan

proses menurunya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam

dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian.

bahwa “menua”  (menjadi tua) yaitu  suatu proses

menghilangnya  secara  perlahan  kemampuan  jaringan  untuk  memperbaikki

diri/mengganti diri danmempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga

tidak  dapat  bertahan  terhadap  jejas  (termasuk  infeksi)  dan  memperbaiki

kerusakan  yang  diderita.  Dari  pernyataan  tersebut,  dapat  disimpulkan  bahwa

manusia  secara  perlahan  mengalami  kemunduran  struktur  dan  fungsi  organ.

Kondisi ini dapat memengaruhi kemandirian dan kesehatan lanjut usia, termasuk

kehidupan seksualnya.

2. Perubahan Fisik Dan Fungsi

a. Sel

1) Jumlah sel menurun / lebih sedikit

2) Ukuran sel lebih besar

3) Jumlah cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang

4) Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati mennurun

5) Jumlah sel otak menurun

6) Mekanisme perbaikan sel tertanggu

7) Otot menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10 %

8) Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar.

b. System Pernafasan

1) Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan,

dan menjadi kaku.

2) Aktifitas silia menurun.

3) Paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih

berat,  kapasitas  pernafasan  maksimum  menurun  dengan  kedalaman

bernafas menurun.

4) Ukuran alveoli melebar (melebar secara progresif) dan jumlah berkurang.

5) Berkurangnya elastisitas bronkus.

6) Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.

7) Karbon dioksida pada arteri tidak berganti. Pertukaran gas terganggu.

8) Refles dan kemampuan untuk batuk berkurang.

9) Sensitivitas terhadap hipoksia dan hiperkabia menurun.

10)Sering terjadi emsifema senilis.

11)Kemampuan pegas dinding dada dan kekuatan otot pernafasan menurun

seiring pertambahan usia.

c. Masalah Kesehatan Pada Sistem Pernafasan

1) Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOM)

PPOM  atau  COPD  (Chronic  Obstructive  Pulmonary  Disease)

dikarakteristikkan dengan obstruksi jalan nafas dan penurunan aliran nafas

,  terdiri  dari  emsifema,  bronkritis  kronis  dan  bronkietasis.

Asma juga termasuk PPOM, terutama sebagai komponen hiperaktifitas jalan

nafas  PPOM merupakan penyakit dengan karakteristik

adanya obstruksi jalan nafas dan menurunnya frekuensi nafas, terdiri dari

asma, bronchitis kronis dan emfisema.

Factor resiko PPOM yaitu  usia 65-84 tahun, jenis kelamin laki-laki,

dengan penurunan fungsi paru, polusi udara, perokok pasif, riwayat alergi,

nutrisi buruk, alcoholic.

Tanda dan gejala meliputi riwayat dispnu progresif, batuk, mengi, dan

produksi  sputum  biasanya  pagi  hari  (Listello,  Glauser,  1992).  Beberapa

gejala  yang  dapat  diidentifikasi  pada  penderita  PPOM yaitu  sesaknafas,

batuk  disertai  sputum,  terjadi  penurunan  berat  badan  serta  kelelahan

(fatique).

2) Tuberculosis

Tuberculosis  (TB)  merupakan  penyakit  menular  kronik  yang

disebabkan  oleh  bakteri  Mycobacterium  tuberculosis.  Gejala  dan  tanda

yang dapat diidentifikasi yaitu  batuk lebih dari 3 minnggu, batuk produktif

ataupun  kering,  penurunann  berat  badan  dan  keringat  malam  hari.

Penularannya melalui  inhalasi  droplet  di  udara dari  batuk atau bersinnya

orang yang terinfeksi. 

TB terbagi dua yaitu primer dan aktif, dimana TB primer dimulai dari

inhalasi droplet yang terinfeksi dan berkumpul di lobus paru atas sebagian

tempat ventilasi terbesar, sebab  kuman ini merupakn kuman aerob. System

imun tubuh akan memberikan respon untuk melokalisir peradangan dengan

cara membuat dinding disekitar bakteri.

Sedangkann TB aktif memicu  gejala inflamasi jalan nafas yang

berkembang menjadi lesi dan nikrosis jaringan 

Kuman TB memiliki  kemampuan untuk tidak aktif (dormant) didalam

tubuh penderita bertahun-tahun. Pada lansia yang menderita TB, mungkin

kuman  itu  sudah  dormant  sejak  lama,  dan  menjadi  reaktif  saat  terjadi

perubahn system imun pada lansia. Prognosis lansia dengan tuberculosis

akan baik jika obat diminum secara teratur dan asupan nutrisi baik.

3) Influenza

Influenza  yaitu   penyakit  yang  diakibatkan  oleh  virus  Haemovilus

Influenza  dan  memicu   gejala  bersin-bersin,  batuk,  pilek,  demam,

menggigil, anoreksia dan malaise. Klien lansia yang sering tidur telentang

mudah  terkena  influenza  sebab   telah  terjadi  penurunan  kemampuan

mengeluarkan  secret  dan  perlindungan  jalan  nafas.  Prognosis  influenza

cukup jelek sebab  80-90 % lansia di Amerika meninggal sebab  penyakit

ini. 

4) Pneumonia

Pneumonia  merupakan  inflamasi  parenkim  paru,  biasanya  alveoli

dipenuhi cairan (Kersten, 1989). Dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau

aspirasi. Dirawat apabila TTV tidak stabil, leucopenia, hipoksemia dan PaO2

< 60 mmHg ,Diagnose Pneumonia didasari

adanya  riwayat  influenza,  dengan  hasil  laboratorium  menunjukan

penurunan jumlah leukosit,  dan kultur darah menunjukkan adanya bakteri

gram.  Komplikasi  yang  dapat  terjadi  yaitu   efusi  pleura.  Penderita

pneumonia memiliki  prognosis jelek akibat penurunan fungsi imunitas,

penyakit kronik dan penurunan reflex batuk.



Proses penuaan merupakan suatu proses fisiologis yang selalu terjadi pada 

setiap makhluk hidup. Penuaan atau proses menua/menjadi tua (aging) yaitu  

menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ 

menganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak 

dapat bertahan terhadap jejas dan memperbaiki kerusakan yang di derita. Proses 

ini meliputi seluruh orang tubuh termasuk kulit yang merupakan salah satu 

jaringan tubuh yang secara langsung memperlihatkan terjadinya proses penuaan 

 Proses penuaan bisa dipicu  dari berbagai faktor yaitu faktor 

exsternal (Radikal bebas, sinar matahari, polutan) dan faktor internal (kesehatan, 

berkurangnya struktur elastin, dan kolagen pada kulit, sistem imun, perubahan 

hormonal). Penuaan dini dapat terjadi pada usia produktif, yang ditandai dengan 

gejala seperti kondisi kulit kering, bersisik kasar yang disertai dengan munculnya 

keriput, cepat kendur dan noda hitam atau flek 

 Penuaan kulit yang dipicu  faktor internal yang di artikan sebagai 

penuaan alami dan dirangsang oleh perabaan elastisitas kulit. Kolagen merupakan 

suatu protein yang ada  pada lapisan atas kulit yang berfungsi untuk 

melekatkan jaringan ikat yang banyak ditemukan pada exstrceluller matrix 

(ECM). Jika protein ini rusak, maka memicu  perubahan susunan jaringan 

kulit sehingga bisa menimbulkan proses penuaan.

 Faktor internal lainnya yaitu suatu enzim elastase yang berfungsi 

memecah elastin, kolagen, fibronektin, dan protein lain yang ada  dalam 

ECM, berfungsi untuk memperbaiki kerusakan jaringan dalam kondisi normal 

namun sebab  adanya paparan kronis dari UVI (ultrafiolet), kolagen dan elastase 

pada lapisan dermis kulit akan memicu  keriput dan proses photoaging 

 Faktor eksternal proses penuaan berasal sebagian besar dari radikal 

bebas. Radikal bebas ini akan menginduksi pembentukan ROS (reactive oxygen 

species). Radikal bebas merupupakan suatu molekul atom yang memiliki elektron 

tidak memiliki pasangan , Pembentukan ROS ini jika 

diproduksi berlebih memicu  terjadinya stres oksidatif. Ster oksidatif yaitu  

ketidak seimbangan antara jumlah ROS dan aktivitas antioksidan didalam tubuh. 

Stres oksidatif yang parah dapat memicu  kerusakan sell hingga kematian 

sell ,

 Salah satu cara untuk melindungi kulit dari kerusakan oksidasi dan 

proses penuaan yaitu  pemakaian  anti oksidan yang bisa dikonsumsi melalui 

makanan seperti vitamin A,C,E dari sayuran atau buah-buahan  Dan berasal dari bahan alam salah satunya bunga melati putih. Bunga 

melati putih (jasminumsambac) merupakan salah satu tanaman yang sering di 

temukan di indonesia. Bunga melati putih biasa dimanfaatkan sebagai bunga 

tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetik, farmasi, penghias rangkaian 

bunga, dan bahan campuran atau pengharum teh  

Pemanfaatan bunga melati dalam bidang kosmetika dan kecantikan dapat 

digunakan sebagai salah satu antipenuaan sebab  bunga melati mengandung 

aktifitas anti oksidan 

 Penelitian sebelumnya  bunga 

melati sering digunakan untuk perawatan kulit dalam bentuk lulur atau di oleskan 

langsung ke wajah. Pada hasil skrining uji fitokimia yang dilakukan, didapatkan 

kandungan senyawa bio aktif alkaloid, flavonoid dan tanin. Pada penelitian 

sebelumnya exstrat etanol bunga melati diketahui mengandung flavonopid, fenol, 

saponin, dan steroid yang memiliki potensi sebgai antioksidan dan antiaging 

 Flavonoid merupakan suatu senyawa fenolid atau poli fenol yang 

memiliki kemampuan untuk mengubah atau mereduksi radikal bebas sebab  

memiliki sifat sebagai anti oksidatif yang berperan dalam mencegah kerusakan 

sel dan komponen selularnya oleh radikal bebas reaktif

Flavonoid juga dapat di temukan pada bunga melati spesies jasminum ovicinale 

yang berfungsi sebagai antioksidan 

Diharapkan mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang konsep 

penuaan , sehingga dapat memberikan informasi pada masyarakat dan bisa 

menjadi acuan serta pedoman bagi dalam memberikan asuhan keperawatan di 

rumah sakit nantinya 

 


Menua yaitu  suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan 

jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya 

sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang 

diderita.

Proses menua merupakan proses yang terus-menerus (berlanjut) secara alamiah. 

Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami semua makhluk hidup . Proses menua setiap 

individu   pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya. Ada kalanya orang belum 

tergolong lanjut usia (masih muda) tetapi mengalami kekurangan-kekurangan yang 

menyolok atau diskrepansi 

2. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Proses Menua 

Menurut Siti Bandiyah (2009) penuaan dapat terjadi secara fisiologis dan patologis. 

Penuaan yang terjadi sesuai dengan kronologis usia. Faktor yang mempengaruhi antara 

lain : 

a. Hereditas atau Genetik 

Kematian sel merupakan seluruh program kehidupan yang berkaitan dengan peran 

DNA yang penting dalam mekanisme pengendalian fungsi sel. Secara genetic, 

perempuan ditentukan oleh sepasang kromoson X sedangkan laki-laki oleh satu 

kromosom X. kromosom X ini ternyata membawa unsure kehidupan sehingga 

perempuan berumur lebih panjang daripada laki-laki. 

b. Nutrisi/Makanan 

Berlebihan/kekurangan mengganggu keseimbangan reaksi kekebalan 

c. Status kesehatan 

Penyakit yang selama ini selalu dikaitkan dengan proses penuaan, sebenarnya buka 

dipicu  oleh proses menuanya sendiri, tetapi lebih dipicu  olehfaktor luar 

yang merugikan yang berlangsung tetap dan berkepanjangan 

d. Pengalaman hidup 

1) Paparan sinar matahari : kulit yang tak terlindungi sinar matahari akan mudah 

ternoda oleh flek, kerutan, dan menjadi kusam 

2) Kurang olahraga : olahraga membantu pembentukan otot dan memicu  

lancarnya sirkulasi darah 

3) Mengkonsumsi alcohol : alcohol dapat memperbesar pembuluh darah kecil pada 

kulit dan memicu  peningkatan aliran darah dekat permukaan kulit.  

e. Lingkungan 

Proses menua secara biologic berlangsung secara alami dan tidak dapat dihindari, 

tetapi seharusnya dapat tetap dipertahankan dalam status sehat 

f. Stress 

Tekanan kehidupan sehari-hari dalam lingkungan rumah, pekerjaan, ataupun 

masyarakat yang tercermin dalam bentuk gaya hidup akan berpengaruh terhadap 

proses penuaan 

 

3. Teori Proses Menua 

Teori proses Menua secara umum menurut Lilik ma’rifatul (2011) dapat dibedakan 

menjadi dua yaitu teori biologi dan teori penuaan psikososial. 

a. Teori biologi 

1) Teori seluler  

Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan kebanyakan 

sel-sel tubuh “diprogram” untuk membelah 50 kali. Jika sel pada lansia dari tubuh 

dan dibiakkan di laboratorium, lalu diobrservasi, jumlah sel-sel yang akan 

membelah, jumlah sel yang akan membelah akan terlihat sedikit. pada beberapa 

sistem, seperti sistem saraf, sistem musculoskeletal dan jantung, sel pada jaringan 

dan organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut dibuang sebab  

rusak atau mati. Oleh sebab  itu, sistem tersebut beresiko akan mengalami proses 

penuaan dan mempunyai kemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali untuk 

tumbuh dan memperbaiki diri

2) Sintesis protein (kolagen dan elastis) 

Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya pada lansia. Proses 

kehilangan elastiaitas ini di hubungkan dengan adanya perubahan kimia pada 

komponen protein dalam jaringan tertentu. Pada lansia beberapa protein (kolagen 

dan kartilago, dan elastin pada kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan 

struktur yang berbeda dari protein yang lebih muda. Contohnya banyak kolagen 

pada kartilago dan elastin pada kulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta 

menjadi lebih tebal, seiring dengan bertambahnya usia . Hal ini dapat lebih mudah dihubungkan dengan perubahan 

permukaan kulit yang kehilangan elastisitasnya dan cenderung berkerut, juga 

terjadinya penurunan mobilitas dan kecepatan pada system musculoskeletal 

3) Keracunan oksigen  

Teori tentang adanya sejumlah penurunaan kemampuan sel di dalam tubuh untuk 

mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat racun dengan kadar yang 

tinggi, tanpa mekanisme pertahan diri tertentu. Ketidakmampuan 

mempertahankan diri dari toksink tersebut membuat struktur membran sel 

mengalami perubahan dari rigid, serta terjadi kesalahan genetik  Membran sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitas 

sel dalam berkomunikasi dengan lingkungannya yang juga mengontrol proses 

pengambilan nutrisi dengan proses ekskresi zat toksik di dalam tubuh. Fungsi 

komponen protein pada membran sel yang sangat penting bagi proses diatas, 

dipengaruhi oleh rigiditas membran tersebut. Konsekuensi dari kesalahan genetik 

yaitu  adanya penurunan reproduksi sel oleh mitosis yang mengakibatkan jumlah 

sel anak disemua jaringan dan organ berkurang. Hal ini akan memicu  

peningkatan kerusakan sistem tubuh   

4) Sistem imun  

 Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan. Walaupun 

demikian, kemunduran kemampuan sistem yang terdiri dari sistem limfatik dan 

khususnya sel darah putih, juga merupakan faktor yang berkontribusi dalam 

proses penuaan. Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca tranlasi, dapat 

memicu  berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya 

sendiri. Jika mutasi isomatik memicu  terjadinya kelainan pada antigen 

permukaan sel, maka hal ini akan dapat memicu  sistem imun tubuh 

menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai selasing dan 

menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa 

autoimun. Disisi lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami 

penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi 

menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah 

5) Teori menua akibat metabolisme  

pengurangan “intake” kalori pada rodentia muda akan menghambat pertumbuhan 

dan memperpanjang umur. Perpanjangan umur sebab  jumlah kalori tersebut 

antara lain dipicu  sebab  menurunnya salah satu atau beberapa proses 

metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon yang merangsang purferasi 

sel misalnya insulin dan hormon pertumbuhan. 

b. Teori psikososial 

1) Aktifitas atau kegiatan 

Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara keaktifannya 

setelah menua. Sense of integrity yang dibangun dimasa mudanya tetap 

terpelihara sampai tua. Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang 

sukses yaitu  mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial 

2) Kepribadian berlanjut (Continuity theory)  

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Identity 

pada lansia yang sudah mantap memudahkan dalam memelihara hubungan 

dengan masyarakat, melibatkan diri dengan masalah di masyarakat, keluarga 

dan hubungan interpersonal 

3) Teori pembebasan ( Disengagement theory)  

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secra 

pelan tetapi pasti mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau 

menarik diri dari pergaulan sekitarnya 


 

Proses menua atau penuaan yaitu  sesuatu hal yang tidak dapat kita hindari. Proses 

tersebut merupakan proses biologik yang alami ditandai dengan berbagai macam perubahan-

perubahan jaringan yang disebabkan berbagai faktor serta dipengaruhi oleh waktu. Proses ini 

juga ditandai dengan kemunduran kemampuan sel dalam menjalankan fungsinya (degeneratif 

sel) bahkan sampai kematian. Proses ini mempengaruhi berbagai jaringan dan organ dalam tubuh 

manusia. Hal ini sebab  proses penuaan mempengaruhi perubahan sel-sel tubuh.  

Perubahan tersebut termasuk pada perubahan yang terjadi di rongga mulut manusia. Dalam 

rongga mulut sendiri terdapat beberapa organ, yang diklasifikasikan menjadi jaringan keras dan 

jaringan lunak. Seperti halnya jaringan lain, jaringan periodontal dan anggota kraniofasial juga 

mengalami perubahan akibat dari proses menua.  

Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti terjadi perubahan struktur 

anatomik dan fungsi sel maupun jaringan 

disebabkan oleh penyimpangan didalam sel/jaringan dan bukan oleh faktor luar (penyakit). 

Menghambat penuaan berarti mempertahankan struktur anatomi pada suatu tahapan kehidupan 

tertentu sepanjang mungkin maka untuk ini diperlukan penguasaan ilmu anatomi. Terjadinya 

perubahan anatomik pada sel maupun jaringan tiap saat dalam tahapan kehidupan menunjukan 

bahwa anatomi yaitu  ilmu yang dinamis. 

Untuk lebih jelasnya mengenai proses menua dibahas secara lengkap pada makalah ini. 


Menua yaitu  suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan 

untuk memperbaiki diri atau menggantikan sel-sel yang rusak dan mempertahankan struktur dan 

fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan 

memperbaiki kerusakan yang diderita.  

Proses penuaan yaitu  proses yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Pada proses 

ini terjadi perubahan jaringan tubuh yang sangat kompleks, demikian pula halnya pada jaringan 

rongga mulut. Proses menua bersifat regresif dan mencakup proses organobiologis, psikologik 

serta sosial budaya. 

Proses penuaan memiliki beberapa tahap: 

1. tahap  subklinis (25-35 tahun): 

  Hormon mulai menurun 

  Terjadi pembentukan radikal bebas, kerusakan sel dan DNA 

  sebab  masih ringan, secara kasat mata belum terlihat dan kondisi fisik 

masih normal 

2. tahap  transisi (35-45 tahun): 

  Penurunan hormone mencapai 25% 

  Massa otot menurun 

  Lemak meningkat 

  Elastisitas kulit mengendur, terjadi pigmentasi 

  Radikal bebas mulai merusak dan muncul penyakit 

  Secara fisik, penuaan mulai terlihat 

3. tahap  klinis (45 tahun ke atas): 

  Hormon menurun 

  Massa tulang semakin berkurang 

  Kemampuan menyerap nutrisi, vitamin, dan mineral berkurang 

  Gangguan fungsi seksual akibat penurunan hormon 

  

Perubahan fisiologis Proses Menua 

  

Perubahan-perubahan didalam rongga mulut, sebab  proses penuaan sebagian 

berhubungan dengan perubahan-perubahan local dan systemic, psychologik seseorang 

hendaknya tidak ditentukan berdasarkan umur biologinya. faktor-faktor yang menjadi salah satu 

pertimbangan dalam mengevaluasi seseorang yang berdasarkan keadaan biologinya yaitu  

kapasitas mentalnya, kapasitas berbagai fungsi organ-organnya, responnya terhadap stress, serta 

penampilannya. 

 Atrofi dan kematian sel akan menyebabkan perubahan fisik dan mental individu. 

Perubahan fisik menyebabkan terjadi penurunan kinerja organ/sistem dalam tubuh. Penurunan 

kinerja tubuh pada lansia merupakan hal yang fisiologis. Namun adanya faktor lingkungan yang 

berperan besar pada kinerja tubuh maka proses patologis ikut berperan. Untuk menentukan 

penyebab perubahan pada lansia perlu diperhatikan riwayat dari perubahan, yang meliputi 

kecepatan, lamanya, besarnya, dan letak/tempat perubahan.  

  

Hal yang perlu diperhatikan yaitu  bahwa penuaan dapat dibedakan menjadi : 

a.       penuaan yang normal (fisiologis) 

b.      penuaan sebab  penyakit (patologis)  

  

Penting untuk membedakan antara kejadian yang merupakan tanda penuaan normal dengan yang 

disebabkan oleh penyakit yang biasanya lebih sering terjadi pada orang lanjut usia. Perubahan 

yang benar disebabkan oleh usia harus memenuh kriteria berikut : 

  Perubahan yang terjadi sebab  usia tidak harus bersifat merusak 

  Perubahan berlangsung secara progresif 

  Perubahan terjadi pada seluruh anggota spesies 

  Perubahan bersifat irreversible. 

2.2 Faktor yang mempengaruhi proses penuaan 

Proses penuaan dipicu oleh laju peningkatan radikal bebas dan system penawaran racun 

yang semakin berubah seiring berjalannya usia. Faktor proses penuaan terdiri dari : 

a. Faktor genetik 

• Penuaan dini 

• Resiko penyakit 

• Intelegensia 

• Pharmakogenik 

• Warna kulit 

• Tipe/ kepribadiaan seseorang 

b. Faktor endogenik 

• Perubahan structural dan penurunan fungsiona 

• Kemampuan/ skill menurun 

• Kapasitas kulit untuk mensintesis vitamin D 

c. Faktor eksogenik (faktor lingkungan dan gaya hidup) 

• Diet/ asupan zat gizi 

Radang mukosa dapat dikaitkan dengan kekurangan vitamin B12, riboflavin dan zat besi pada 

diet pasien lanjut usia. Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan lambatnya penyembuhan 

luka, kerapuhan kapiler, dan perdarahan serta pembengkakan pada gingiva. 

Nutrisi yang adekuat sangat dibutuhkan. Terutama protein. sebab  protein berguna untuk 

mempertahankan dan memperbaiki jaringan lunak dan jaringan keras. Nitrogen dan asam amino 

yang diperoleh dari protein sangat diperlukan untuk sintesis hormone, enzim, plasma protein dan 

hemoglobin. Pada rongga mulut, kekurangan protein sering dikaitnya dengan degenerasi 

jaringan ikat gingiva, membaran periodontal dan mukosa. Kekurangan protein sering juga 

dikaitkan dengan percepatan kemunduran tulang alveolus. 

• Obat 

• Penyinaran Ultra Violet 

• Polusi 

 

 

2.3 Perubahan yang terjadi pada rongga mulut dan 

kraniofasial 

 

Perubahan pada jaringan keras 

 

a. Pengaruh penuaan terhadap sendi TMJ dan persyarafan 

Perubahan pada sendi Temporo Madibular Junction sering terjadi pada usia 30-50 tahun. 

Perubahan ini terjadi akibat dari proses degenerasi sehingga melemahnya otot-otot mengunyah 

yang mengakibatkan sukar membuka mulut secara lebar. 

1. Pengaruh pengurangan jumlah gigi akibat penaan, terutama di gigi posterior telah 

diindikasikan sebagai penyabab gangguan TMJ. Hal ini sebab  condilust mandibula akan 

mencari posisi yang nyaman pada saat menutup mulut. Inilah yang memicu perubahan letak 

condilust pada fossa glenoid dan menyebabkan kelainan pada TMJ 

2. Akibat penuaan jmengakibatkan kontraksi otot bertambah panjang saat menutup mulut. Hal ini 

menyebabkan kerja sendi lebih kompleks. 

3. Penuaan mengakibatkan remodeling (degradasi makromolekul sel dan ekstraselular secara 

continue pada struktur dan fungsi jaringan konektif) pada sendi. Remodeling ini merupakan 

adaptasi biologis terhadap lingkungan yaitu respon stress biomekanis. Contohnya remodeling 

sebagai kompensasi gigi yang telah dicabut. Akibat proses menua, jaringan sendi mnegalami 

reduksi sel yang progresif. Remodeling terjadi pada bagian anterior dan posterior kondil medial 

dan lateral dan atap fossa glenoid. 

Perubahan umum 

- Berkurangnya kemampuan proliferasi secara keseluruhan sehingga bila terjadi kerusakan atau 

kematian sel jaringan TMJ : 

o Kemampuan untuk melakukan reparasi menurun 

o Menurunya kemampuan reaksi jaringan terjadap rangsangan pertumbuhan 

o Menurunya respon imun dan menurunya kemampuan pembentukan protein akibat rangsangan 

dari luar 

 

b. tulang rawan sendi 

- Menurunya ketebalan lapisan fibro kartilago pada permukaan condilust sendi 

- Terjadi degenerasi dari kondrosit sehingga munurunya kemampuan kartilago terhadap 

rangsangan tekanan 

Cairan synovial menurun sehingga : 

- memiliki  kelancaran pergerakan diskus artikularis 

- Terjadi krepitasi pada gerak sendi dan pada keadaan yang lebih parah diskus artikulasi akan 

robek atau mengalami kerusakan 

 


c. Gigi 

Email 

Secara umum : 

• Email aus akibat pengunyahan. 

• Warna lebih gelap sebab  penambahan bahan organik atau warna dentin yg terlihat sebab  

menipisnya lapisan email. 

• Permeabilitas email menurun sebab  mengecilnya mikro pori email (celah diantara molekul 

pembentuk kristal) à tidak bisa dimasuki oleh bbrp zat, contoh Ca, tapi dpt dimasuki oleh 

mineral yg lebih kecil dari Ca, mis F. 

• Kandungan air di email menurun. 

• Komposisi permukaan email berubah, seperti penambahan kandungan fluor pada lingkungan 

mulut insidens karies berkurang  

• Dan juga terjadi atrisi, abrasi dan erosi. 

Tulang 

rawan 

Kondrosit mengalami 

degenerasi 

Permukaan tulang rawan 

kasar dan berlubang 

Tulang rawan 

rapuh 

Retakan 

pada sendi 

Matriks dan struktur 

tulang rawan menipis 

Seluruh sendi 

mengalami kekakuan 

Sendi tidak bisa bergerak 

secara normal 

- Atrisi 

Hilangnya suatu subtansi gigi secara bertahap akibat pengunyahan. Penyebabnya yaitu  proses 

pengunyahan didukung oleh kebiasaan buruk seperti mengunyah sirih. 

- Erosi 

Melarutnya email gigi dan asam disebabkan hilangnya jaringan keras dan tida melibatkan 

bakteri. Penyebabnya yaitu  makanan dan minuman yang mengandung asam, asam yang timbul 

akibat gangguan pencernaan, dan asam dengan PH < 5,5. 

Erosi dimulai dari adanya pelepasan ion kalsium, jika hal ini berlanjut maka akan menyebabkan 

kehilangan dari prisma enamel dan dilanjutkan dengan adanya porositas. Porositas menyebabkan 

kekerasan lapisan enamel gigi berkurang. 

- Abrasi 

Terkikisnya lapisan email gigi sebab  faktor mekanik. Disebabkan oleh cara menyikat gigi yang 

tidak tepat, kebiasaan buruk seperti mengunyah tembakau, menggunakan tusuk gigi yang 

berlebihan di antara gigi dan penataan gigi tiruan lepasan yang menggunakan cengkeram. 

Abrasi disebabkan oleh gaya friksi (gesekan) langsung antara gigi dan objek eksternal, atau 

sebab  gaya friksi antara gigi yang berkontak dengan benda abrasive. 

Abrasi yang disebabkan oleh penyikatan gigi dengan arah horizontal dan dengan penekanan 

berlebihan yaitu  bentuk yang paling sering ditemukan. 

Gambaran klinis biasanya terlihat sebagai cekungan tajam di daerah sepertiga bawah mahkota 

gigi, didekat gusi, dengan takikan berbentuk V pada bagian gingiva dari aspek fasial gigi. Bila 

abrasi terjadi akibat pemakaian  tusuk gigi, selah, atau takikan ini dapat terjadi di celah gigi. 

Gigi yang paling sering terkena yaitu  gigi premolar dan caninus. 

Selain mengganggu penampilan, abrasi gigi dapat menyebabkan gigi menjadi hipersensitif. Pada 

sebagian orang, di daerah tersebut akan terasa ngilu bila terkena minuman dingin atau bila ada 

hembusan angin. 

Dentin 

Reaksi kompleks dentin pada proses penuaan ialah terjadinya pembentukkan: 

- Dentin Sekunder, yang merupakan kelanjutan dentinogenesis serta reduksi jumlah odontoblas 

- Dentin Tersier, respon rangsangan dan odontoblast berdesakan serta tubulus dentin bengkok 

- Dentin Sklerotik, karies terhenti/ berjalan sangat lambat dan tubulus dentin menghilang 

- Dead Tracks (Sal. Mati), tubulus dentin kosong. 

Pulpa 

- Rongga pulpa berkurang besarnya sebab  pembentukan dentin sekunder atau pembentukan 

dentin sbg mekanisme pertahanan pulpa (dentin reparatif).. Pada orang tua tidak jarang bahwa 

pulpanya sama sekali hilang akibat dari rangsangan eksterna yang terus menerus atau dari satu 

kali rangsangan yang lebih kuat, misalnya setelah trauma. 

- Peningkatan kalsifikasi jaringan pulpa 

- Penurunan komponen seluler dan vaskuler 

- Peningkatan kolagen jaringan pulpa 

- Dapat terjadi pengapuran yg tidak teratur à pulp stones 

- Terjadi pengurangan jumlah dan penurunan kualitas dari dinding pembuluh darah dan saraf 

vaskularisasi dan inervasi pulpa menurun serta reaktifitas pulpa berkurang.  

 

d.  Tulang alveolar 

- Setelah tanggalnya gigi geligi, tulang alveolar di sekitar gigi geligi dan soketnya perlahan-lahan 

akan teresorpsi pada kedua belah rahang. Rahang akan saling berhubungan lebih dekat satu sama 

lain saat mulut ditutup. Di rahang atas resorpsi tulang alveolar dapat berkembang lebih jauh pada 

region pipi. 

- Terjadi resorbsi dari processus alveolaris, terutama setelah pencabutan gigi. 

- Resorbsi tulang alveolar menyebabkan pengurangan jumlah tulang akibat kerusakan tulang 

sebab  adanya peningkatan osteoklast (fungsinya : perusakan tulang) sehingga terjadi proses 

osteolisis dan peningkatan vaskularisasi 

 

Perubahan pada jaringan lunak 

 

a. Kelenjar Saliva  

Telah diketahui bahwa fungsi kelenjar saliva yang mengalami penurunan merupakan 

suatu keadaaan normal pada proses penuaan manusia. Lansia mengeluarkan jumlah saliva yang 

lebih sedikit pada keadaan istirahat, saat berbicara, maupun saat makan.  Keluhan berupa 

xerostomia atau mulut kering sering ditemukan pada orang tua daripada orang muda yang  

disebabkan oleh perubahan sebab  usia pada kelenjar itu sendiri. Fungsi utama dari saliva yaitu  

pelumasan, buffer, dan perlindungan untuk jaringan lunak dan keras pada rongga mulut. Jadi, 

penurunan  aliran saliva akan mempersulit fungsi bicara dan penelanan, serta menaikkan jumlah 

karies gigi, dan meningkatkan kerentanan mukosa terhadap trauma mekanis dan infeksi 

microbial. Berdasarkan penelitian terjadinya degenerasi epitel saliva, atrofi, hilangnya asini dan 

fibrosis terjadi dengan frekuensi dan keparahan yang meningkat dengan meningkatnya usia. 

Secara umum dapat dikatakan bahwa saliva nonstimulasi (istirahat) secara keseluruhan 

berkurang volumenya pada usia tua. Xerostomia juga dapat disebabkan oleh pemakaian obat-

obatan oleh pasien, biasanya untuk mengatasi keluhan pencernaan, depresi, atau insomnia 

 

b. Mukosa Mulut  

Mukosa rongga mulut memiliki sedikit toleransi atau lebih sensitif terhadap iritasi dan 

cedera, toleransi ini makin menurun jika terdapat kelainan sistemik. Perubahan mukosa pada 

pemakaian  gigi tiruan di gambarkan sebagai batas patologis tetapi 3tanpa peradangan klinis 

yang nyata, penurunan penandukan atau ketebalan mukosa biasa terjadi pada mukosa pendukung 

gigi tiruan.  Wanita pemakai gigi tiruan memiliki   mukosa yang lebih tipis daripada pria 

pemakai gigi tiuan, dan menunjukkan predisposisi yang lebih besar terhadap kerusakan mukosa. 

Kira-kira sepertiga pengguna gigi tiruan dengan mukosa yang secara klinis tampak normal, dari 

pemeriksaan histologis menunjukkan adanya kerusakan mukosa. Luasnya kerusakan juga 

berkaitan dengan lamanya pemakaian  gigi tiruan. Pemeriksaan sitologik terhadap mukosa 

pendukung juga menunjukkan adanya penurunan dalam jumlah sel yang mengalami penandukan. 

Tetapi respon epitel mulut terhadap pemasangan gigi tiruan berbeda-beda, seringkali peradangan 

mukosa berjalan secara bertahap tanpa adanya rasa sakit.  Beberapa perubahan intra oral dapat 

terlihat  termasuk kelenjar sebasea  yang menonjol yang kemungkinan disebabkan oleh penipisan 

mukosa dan beberapa permukaan mukosa yang tampak halus. 

 

c. Lidah dan Pengecapan  

Lidah mungkin menjadi halus dan mengkilat atau merah dan meradang. Bermacamaam 

gejala dapat terjadai pada mukosa lidah, dengan keluhan-keluhan nyeri, panas, atau sensari rasa 

yang berkurang. Sensasi ini biasanya pada orang uisa lanjut dan pada wanita pasca menopause. 

Permukaan lidah ditutupi oleh banyak papilla pengeecap, terdapat empat tipe papilla yaitu 

papilla filiformis, fungiformis, sirkumvalata, dan foliate. Sebagian papilla pengecap terletak di 

lidah dan beberapa ditemukan pada palatum, epiglottis, laring dan faring. Pada manuasia terdapat 

sekitar 10.000 putik kecap, dengan bertambahnya umur jumlahnya dapat berkurang secara 

drastis. 

d. Ligamen periodontal 

Proses menua pada ligamen periodontal mengakibatkan berkurangnya fibroblas dan 

strukturnya lebih irregular, berkurangnya produksi matriks organik dan sisa sel epitel serta 

meningkatnya jumlah serat elastis. . Perubahan lain pada ligamen periodontal terjadi  penurunan 

kepadatan sel dan aktivitas mitosis, dan hilangnya asam mukopolisakarida. Semakin dikit gigi 

yang masih ada akan semakin besar proporsi beban oklusalnya, hal ini mengakibatkan 

melebarnya ligament periodontal dan meningkatnya mobilitas gigi. 

e. Gingiva 

Proses menua pada gingiva,  keratinisasi epitel gingiva menipis. Keadaan ini berarti 

permeabilitas terhadap antigen bakteri meningkat. Pada gingival juga terjadi resesi, atropi, 

hilangnya bintil-bintil permukaan, berkurangnya jaringan ikat, turunnya oksidasi dan 

jugametabolisme jaringan. 

 

Perubahan pada anggota kraniofasial 

 

a.  Perubahan pada otot-otot wajah dan sendi rahang 

- Otot-otot wajah berpartisipasi dalam fungsi penelanan, pengunyahan, dan bicara. Otot-otot 

wajah mengalami atropi, menurunnya tonus otot dan kadang-kadang dijumpai fibrosis otot 

mengakibbatkan fungsi pengunyahan dan penelanan berkurang. 

- Hilangnya serabut otot untuk gerakan mandibula berkaitan dengan penambahan usia. Reduksi 

lebih lanjut pada ketebalan otot rahang juga terjadi, tetapi lebih sering pada orang tak bergigi. 

- Koordinasi dan kekuatan otot menurun sehingga terjadi pergerakan yang tidak terkontrol dari 

bibir, lidah, dan rahang. 

- Umumnya gerakan mandibula tidak terganggu dan sendi rahang tetap berfungsi dengan baik. 

Namun apabila terjadi gangguan sendi rahang kemungkinan sebab  tekanan yang melampaui 

batas sehingga sendi rahang tidak mampu untuk menahan tekanan yang ada dan keadaan ini 

diperhebat sebab  proses degenerasi sendi. 

- Kelainan sendi rahang yaitu dislokasi sendi/ sub-luksasi, osteosthrosis dan clicking. 

b. Iris 

Mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang dan mengalami depigmentasi tampak 

ada bercak berwarna muda sampai putih dan strukturnya menjadi lebih tebal 

 

c.  Pupil 

Konstriksi, mula-mula berdiameter 3mm, pada usia tua terjadi 1 mm, reflek direk lemah, 

kemampuan akomodasi menurun. Pupil pada orang muda menghantar sinar 6x lebih besar 

dibanding orang ber-usia 80 tahun. Pada tempat yang gelap orang yang berusia 20 tahun 

menerima sinar 16x lebih besar. 

 

d. Retina  

Terjadi degenerasi (Senile Degenaration). Gambaran Fundus mata yang mula-mula merah jingga 

cemerlang menjadi suram dan ada jalur berpigmen (Tygroid Appearance) terkesan seperti kulit 

harimau. Jumlah sel fotoreseptor berkurang sehingga adaptasi gelap dan terang memanjang dan 

terjadi penyempitan lapangan pandang, ini disebabkan terlambatnya regenerasi dari rodopsin. 

  

Proses menua yaitu  suatu proses yang alami dimana terjadi kemunduran dan 

berkurangnya kemampuan sel dalam melaksanakan berbagai fungsinya. Faktor yang 

mempengaruhi proses penuaan terdiri dari faktor genetic faktor endogenik, dan faktor eksogenik.  

  


 
• Dialah yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal 
darah, kemudian kamu dilahirkan sebagai seorang anak, kemudian dibiarkan kamu 
sampai dewasa, lalu menjadi tua. Tetapi di antara kamu ada yang dimatikan sebelum itu. 
(Kami perbuat demikian) agar kamu sampai kepada kurun waktu yang ditentukan, agar 
kamu mengerti (Surat Al-Mu’min : 67). 
• Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, di antara kamu ada yang 
dikembalikan kepada usia yang tua renta (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi 
sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahakuasa (Surat 
An-Nahl : 70). 
• Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku 
hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam (Surat Al-An’am : 162). 
Genetika  Gen yang diwariskan dan dampak lingkungan 
Dipakai dan rusak (wear and tear) Kerusakan oleh radikal bebas 
Lingkungan Meningkatnya pajanan terhadap hal-hal yang 
berbahaya 
Imunitas Integritas sistem tubuh untuk melawan kembali 
Neuroendokrin Kelebihan atau kurangnya produksi hormon 
Teori Psikologis Tingkat Proses 
Kepribadian Introvert lawan ekstrovert 
Tugas perkembangan Maturasi sepanjang rentang kehidupan 
Disengagement (pemutusan) Antisipasi menarik diri 
Aktivitas Membantu mengembangkan usaha 
Kontinuitas Pengembangan individualitas 
Ketidakseimbangan sistem Kompensasi melalui pengorganisasian diri 
sendiri 

 
“Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan kebanyakan sel -sel tubuh 
diprogram untuk membelah 50 kali. Jika sebuah sel pada lansia dilepas dari tubuh dan 
dibiakkan di laboratorium, lalu diobservasi, jumlah sel-sel yang akan membelah akan terlihat 
sedikit.” 
“Menua telah diprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Tiap spesies 
mempunyai di dalam nuclei (inti selnya) suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu 
replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak 
berputar.” 

 
“Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya pada lansia. Proses kehilangan 
elastisitas ini dihubungkan dengan adanya perubahan kimia pada komponen protein dalam 
jaringan tersebut. Pada lansia, beberapa protein (kolagen dan kartilago, dan elastin pada 
kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan struktur yang berbeda dari protein yang lebih 
muda. Hal ini dapat lebih mudah dihubungkan dengan perubahan permukaan kulit yang 
kehilangan elastisitasnya dan cenderung berkerut, juga terjadinya penurunan mobilitas dan 
kecepatan pada sistem muskuloskeletal.” 
“Adanya sejumlah penurunan kemampuan sel di dalam tubuh untuk mempertahankan diri dari 
oksigen yang mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi, tanpa mekanisme pertahanan 
diri tertentu. Ketidakmampuan mempertahankan diri dari toksik tersebut membuat struktur 
membran sel mengalami perubahan dari rigid, serta terjadi kesalahan genetik.”  
 
“Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi, dapat memicu  
berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). Jika 
mutasi somatik memicu  terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini 
akan dapat memicu  sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan 
tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar 
terjadinya peristiwa autoimun.” 
“Mekanisme pengontrolan genetik dalam tingkat sub seluler dan molekular yang bisa disebut 
juga hipotesis “Error Catastrophe” menurut hipotesis tersebut menua disebabkan oleh 
kesalahan-kesalahan yang beruntun. Sepanjang kehidupan setelah berlangsung dalam waktu 
yang cukup lama, terjadi kesalahan dalam proses transkripsi (DNA      RNA) maupun dalam 
proses translasi (RNA    protein/ enzim). Kesalahan tersebut akan memicu  terbentuknya 
enzim yang salah. Kesalahan tersebut dapat berkembang secara eksponensial dan akan 
memicu  terjadinya reaksi metabolisme yang salah, sehingga akan mengurangi 
fungsional sel. Apalagi jika terjadi pula kesalahan dalam proses translasi (pembuatan protein), 
maka terjadi kesalahan yang makin banyak, sehingga terjadilah katastrop.”  
“Pengurangan intake kalori pada rodentia muda akan menghambat pertumbuhan dan 
memperpanjang umur. Perpanjangan umur karena jumlah kalori tersebut antara lain 
disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa proses metabolisme. Terjadi 
penurunan pengeluaran hormon yang merangsang pruferasi sel, misalnya insulin dan hormon 
pertumbuhan.” 
“Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas dan di dalam tubuh di fagosit (pecah), dan 
sebagai produk sampingan di dalam rantai pernapasan di dalam mitokondria. Radikal bebas 
bersifat merusak karena sangat reaktif, sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, asam 
lemak tak jenuh, seperti dalam membran sel, dan dengan gugus SH. Walaupun telah ada 
sistem penangkal, namun sebagian radikal bebas tetap lolos, bahkan makin lanjut usia makin 
banyak radikal bebas terbentuk sehingga proses pengrusakan terus terjadi, kerusakan 
organel sel makin banyak dan akhirnya sel mati.”  
“Seseorang yang di masa mudanya aktif dan terus memelihara keaktifannya setelah menua, 
sense of integrity yang dibangun di masa mudanya tetap terpelihara sampai tua. Pada lanjut 
usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial. Ukuran 
optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari usia lanjut. Mempertahankan hubungan 
antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.”  
“Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Identity pada lansia yang 
sudah mantap memudahkan dalam memelihara hubungan dengan masyarakat, melibatkan 
diri dengan masalah di masyarakat, keluarga dan hubungan interpersonal. Perubahan yang 
terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang 
dimilikinya.” 
“Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran individu dengan 
individu lainnya. Dengan bertambahnya usia, seseorang secara pelan tetapi pasti mulai 
melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. 
Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun 
kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda (triple loss), yakni : kehilangan peran (loss 
of role), hambatan kontak sosial (restriction of contacts and relationship), dan berkurangnya 
komitmen (reduced commitment to social mores and values).”  

• Teori biologi : teori genetik dan mutasi, immunology slow theory, teori stress, teori radikal 
bebas, teori rantai silang. 
• Teori psikologi. 
• Teori sosial : teori interaksi sosial (social exchange theory), teori penarikan diri 
(disengagement theory), teori aktivitas (activity theory), teori kesinambungan (continuity 
theory), teori perkembangan (development theory), dan teori stratifikasi usia (age 
stratification theory). 
• Teori spiritual. 


SEL DAN SISTEM PANCAINDRA 
• SEL : Jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan cairan intraseluler 
menurun. 
• SISTEM PANCAINDRA :  
1. Pendengaran : presbiakusis, gangguan refles kontrol postural, degenerasi korti, hilangnya 
neuron di kokhlea, elastisitas membran vibrasi basiler menurun, akumulasi serumen 
meningkat, atrofi striae vaskularis, degenerasi sel rambut di kanal semi sirkularis, 
penurunan pendengaran. 
2. Penglihatan : presbiopia, lensa kehilangan elastisitas dan kaku, otot penyangga lensa 
lemah, ketajaman penglihatan dan daya akomodasi dari jarak jauh atau dekat berkurang, 
lapang pandang menyempit. 
3. Raba/ taktil : atrofi, kendur, tidak elastis, kering dan berkerut, liver spot (pigmen coklat), 
tipis, berbercak, perabaan menurun. 
4. Pengecap : hilangnya tanggap terhadap refleks batuk dan menelan, lipatan suara 
menghilang, suara gemetar, nada meninggi, kekuatan dan jangkauan menurun, atrofi dan 
hilangnya elastisitas otot dan tulang rawan larings. 
5. Penciuman : gangguan rasa membau. 
SISTEM GASTROINTESTINAL 
• Penurunan intake. 
• Kehilangan gigi (periodental disease). 
• Indra pengecap menurun : adanya iritasi kronis selaput lendir, atrofi indra pengecap, 
hilangnya sensitivitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa asin, asam, pahit. 
• Sensitivitas lapar di lambung menurun, asam lambung menurun, waktu mengosongkan 
lambung lama. 
• Peristaltik usus lemah hingga timbul konstipasi. 
• Fungsi absorpsi lemah. 
• Liver mengecil, berkurangnya aliran darah, dan menurunnya tempat penyimpanan lemak. 
• Produksi enzim pencernaan menurun. 
• Disfagia, BB menurun. 
 
SISTEM KARDIOVASKULER 
• Massa jantung bertambah, ventrikel kiri hipertropi, kemampuan peregangan jantung 
berkurang, perubahan jaringan ikat dan penumpukan lipofusin dan klasifikasi SA node 
dan jaringan konduksi berubah menjadi jaringan ikat, konsumsi O2  pada tingkat maksimal 
berkurang sehingga kapasitas paru menurun. 
• Katup jantung menebal dan kaku. 
• Menurunnya kontraksi dan volume. 
• Elastisitas pembuluh darah menurun. 
• Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga TD meningkat. 
SISTEM RESPIRASI 
• Kekuatan otot pernapasan menurun dan kaku. 
• Elastisitas paru menurun. 
• Kapasitas residu meningkat sehingga menarik napas lebih berat. 
• Alveoli melebar dan jumlahnya menurun. 
• Kemampuan batuk menurun. 
• Penyempitan pada bronkus. 
SISTEM ENDOKRINOLOGIK 
• Produksi hormon menurun. 
• Penurunan aktivitas tiroid. 
• Hormon seksual dan fertilitas menurun. 
• Hormon pertumbuhan menurun sehingga menimbulkan osteoporosis. 
 
SISTEM HEMATOLOGIK 
• Sumsum tulang mengandung lebih sedikit sel hemopoitik. 
• Respon regeneratif terhadap hilang darah atau terapi anemia pernisiosa agak berkurang. 
• Timbul penyakit anemia defisiensi besi, megaloblastik, anemia penyakit kronis. 
SISTEM PERSENDIAN 
• Jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligament, fasia mengalami penurunan 
elastisitas. 
• Ligament dan jaringan periarkular mengalami daya lentur. 
• Terjadi degenerasi, erosi, dan kalsifikasi pada kartilago dan kapsul sendi.  
• Fleksibilitas sendi menurun sehingga luas dan gerak sendi menurun. 
• Kaku sendi. 
SISTEM UROGENITAL DAN TEKANAN DARAH 
• Terjadi penebalan kapsula bowman. 
• Gangguan permeabilitas terhadap solut yang akan difiltrasi. 
• Nefron mengalami penurunan jumlah dan timbul atrofi pada ginjal. 
• Aliran darah di ginjal menurun. 
• Penebalan intima pada pembuluh darah atau tunika media akibat aterosklerosis dan 
proses menua. 
• Kelenturan pembuluh darah tepi meningkat sehingga memicu  tekanan darah 
sistolik meningkat. 
SISTEM SYARAF PUSAT DAN OTONOM 
• Berat otak menurun. 
• Meningen menebal. 
• Degenerasi pigmen substantia nigra. 
• Parkinson dan demensia. 
• Vaskularisasi otak menurun. 
• TIA, stroke. 
• Gangguan persepsi analisis berkurang, memori jangka panjang dan pendek menurun, 
lebih egois dan introvert kaku dalam memecahkan masalah. 
• Gangguan merasa panas, dingin, nyeri. 
SISTEM INTEGUMEN 
• Kulit menipis, kering, fragil, berubah warna. 
• Rambut menipis, beruban. 
• Kuku menipis, mudah patah, pertumbuhan lambat, beralur. 
• Elastisitas kulit menurun. 
• Purpura senilis. 
• Bercak campbell de morgan. 
• Berkurangnya bantalan akibat penurunan lemak subkutan. 
• Degenerasi kolagen. 
• Atrofi epidermis, kelenjar keringat, folikel rambut,perubahan pigmenter.  
SISTEM MUSKULOSKELETAL 
• Cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis). 
• Bungkuk (kifosis). 
• Persendian kaku dan membesar akibat atrofi otot. 
• Kram. 
• Tremor. 
• Tendon mengerut dan mengalami sklerosis. 
SISTEM REPRODUKSI 
Pada lansia wanita terjadi : 
• Menciutnya ovarium dan uterus. 
• Atrofi pada payudara. 
• Menopouse. 
• Selaput lendir vagina menurun. 
• Permukaan menjadi halus. 
• Sekresi menjadi berkurang. 
• Reaksi sifat sekresi menjadi alkali. 
Pada lansia pria :  
• Testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun terjadi penurunan berangsur -angsur.  
• Dorongan seksual menetap sampai usia di atas 70 tahun. 
• Perubahan psikologis pada lansia : 
1.Frustasi. 
2.Kesepian. 
3.Takut kehilangan kebebasan. 
4.Takut menghadapi kematian. 
5.Perubahan keinginan. 
6.Depresi dan ansietas. 
• Perubahan psikososial pada lansia : 
1.Pensiun. 
2.Perubahan aspek kepribadian. 
3.Perubahan dalam peran sosial di masyarakat. 
4.Perubahan minat. 
5.Penurunan fungsi dan potensi seksual. 
 
• Perubahan kognitif yang terjadi pada lansia :  
1.Memory (daya ingat/ ingatan) mengalami penurunan baik ingatan jangka panjang (long term memory) 
maupun ingatan jangka pendek (short term memory). 
2.IQ (intellegent Quocient) tidak mengalami perubahan pada informasi matematika (analitis, linier, 
sekuensial) dan perkataan verbal, namun persepsi dan daya membayangkan (fantasi menurun). Fungsi 
intelektual dapat stabil (crystallized intelligent) ataupun menurun (fluid intelligent).  
3.Kemampuan belajar (learning) terganggu dengan adanya demensia. 
4.Kemampuan pemahaman (comprehension) atau menangkap pengertian pada lansia menurun.  
5.Pemecahan masalah (problem solving) mengalami penurunan. 
6.Pengambilan keputusan (decission making) lambat. 
7.Kebijaksanaan (wisdom) semakin matang. 
8.Kinerja (performance) mengalami penurunan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.  
9.Motivasi cukup besar. 
 
• Perubahan spiritual yang terjadi pada lansia : 
1.Agama atau kepercayaan lansia makin berintegrasi dalam kehidupannya.  
2.Lansia makin teratur dalam kehidupan keagamaannya. 
3.Spiritualitas lansia bersifat universal. 
4.Sikap menerima terhadap kematian. 
BACK 
Celluler Tissue 
Anatomical 
Organ 
Environment Life Style 
Healthy aging 
(Menua sehat) 
KONSEP MENUA SEHAT 
Exogenic factor 
Endogenic Aging 
PENYAKIT YANG SERING TERJADI PADA LANSIA 
• Dikemukakan 4 penyakit yang sangat erat hubungannya dengan proses menua, yakni :  
1.Gangguan sirkulasi darah, ex. : hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan pembuluh darah di 
otak (koroner), dan ginjal. 
2.Gangguan metabolisme hormonal, ex. : diabetes mellitus, klimakterium, dan ketidakseimbangan tiroid.  
3.Gangguan pada persendian, ex. : osteoartitis, gout artritis, ataupun penyakit kolagen lainnya.  
4.Berbagai macam neoplasma. 
• Menurut the national old people’s welfare council di Inggris, mengemukakan bahwa penyakit atau gangguan 
umum pada lansia, yaitu : 
1.Depresi mental. 
2.Gangguan pendengaran. 
3.Bronkitis kronis. 
4.Gangguan pada tungkai/ sikap berjalan. 
5.Gangguan pada coccygs/ sendi panggul. 
6.Anemia. 
 
7. Demensia. 
8.Gangguan penglihatan. 
9.Ansietas/ kecemasan. 
10.Dekompensasi kordis. 
11.Diabetes mellitus, osteomalisia, dan hipotiroidisme. 
12.Gangguan pada defekasi. 
• Penyakit lanjut usia di Indonesia : 
1.Penyakit-penyakit sistem pernapasan. 
2.Penyakit-penyakit kardiovaskuler dan pembuluh darah. 
3.Penyakit pencernaan makanan. 
4.Penyakit urogenital. 
5.Penyakit gangguan metabolik/ endokrin. 
6.Penyakit pada persendian dan tulang. 
7.Penyakit-penyakit akibat proses keganasan. 
 
• Menurut WHO, penyakit/ keluhan yang sering muncul pada lansia, diantaranya :  
1.Artritis/ reumatisme. 
2.Hipertensi dan CVD. 
3.Bronkitis/ dispnea. 
4.Diabetes mellitus. 
5.Jatuh. 
6.Stroke/ paralisis. 
7.TBC. 
8.Fraktur tulang. 
9.Kanker. 
10.Masalah kesehatan yang mempengaruhi ADL. 
• Menurut Departemen Kesehatan penyakit yang sering muncul pada orang dengan usia >55 tahun, terdiri 
dari : penyakit kardiovaskuler, penyakit muskuloskeletal, tuberkulosis, bronkitis, asma dan gangguan 
pernapasan, infeksi pernapasan akut, gigi, mulut, dan sistem pencernaan, gangguansistem syaraf, infeksi 
kulit, malaria, infeksi lain.