Tampilkan postingan dengan label Stemcell epigenetik 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stemcell epigenetik 3. Tampilkan semua postingan

Stemcell epigenetik 3

 


eduksi komplikasi vaskuler 

secara persisten terjadi pada kelompok kontrol 

intensif pada awal pengobatan dibandingkan dengan 

terapi konvensional. Studi Veteral Affairs Diabetes 

Trial selama follow-up 10 tahun menunjukkan 

manfaat klinis pada kelompok dengan pengontrolan 

glukosa intensif, meskipun tidak diperoleh 

perbedaan outcome kardiovaskuler pada awal 

pengobatan. Konsistensi hasil akhir studi ini dengan 

studi lain menunjukkan bahwa outcome 

kardiovaskuler tetap negatif meskipun telah 

dilakukan uji coba beberapa  obat hipoglikemik yang 

baru. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh 

hiperglikemia terdahulu sebagai faktor patogenik 

yang mendasarinya yang disebabkan oleh 

mekanisme pada tingkat molekuler yaitu perubahan 

ekspresi gen pada vaskulopati akibat pemaparan 

glukosa sebelumnya. Adanya memori biologik 

terhadap hiperglikemia inilah sebagai pemicu 

terhadap outcome penyakit vaskuler diabetik. 

Pemicu ekspresi gen ini yaitu  perubahan epigenetik 

sebagai penyebab memori biologik yang mendasari 

komplikasi kardiometabolik. 18  

 

Unit kromatin dengan nukleosom oktamerik 

tersusun yaitu  2 copy pada masing-masing protein 

histon H2A, H2B, H3 dan H4 mengelilingi 147 bp 

DNA (Gambar 9).19 Kemampuan kromatin 

mengalami perubahan adaptasi struktur dan 

remodeling dari transisi tertutup (heterokromatin) 

menjadi terbuka (eukromatin) terhadap sel yaitu  

kemampuan mengelola respon terhadap berbagai 

stimuli dengan mengatur asesibilitas sehingga terjadi 

perubahan ekspresi gen. 21  

 

Bersama dengan aktivitas microRNA dan long 

noncoding RNA, komponen kromatin marks 

menentukan regio struktur dan fungsi genom.22 

Modifikasi epigenetik melibatkan kromatin marks 

berupa writer, eraser dan reader. Writer 

membutuhkan enzim khusus yang memodifikasi 

pada ekor histon, sedangkan eraser mengeluarkan 

marks. Akhirnya, kelompok protein ketiga yaitu  

reader yang mengenal histone marks dan 

memungkinkan ekspresi gen berlangsung.   

 

 

 

Gambar 9. Kromatin dan residu modifikasi. Kromatin mengatur struktur dan fungsi gen. DNA dibungkus menjadi satu 

makrostruktur 30 nm terdiri dari serabut kromatin. Bersama dengan residu posttranlation modifications (PTM), kromatin 

mengatur fungsi meliputi transkripsi, repair, replikasi dan kondensasi. Nukleosom sebesar 11 nm terdiri dari 147 bp 

DNA dengan satu oktamer tersusun atas 2 copy dari masing-masing protein histon H2A, H2B, H3 dan H4. Ekor histon 

dapat mengalami perubahan oleh writing enzyme dengan menambahkan histone methyltransferase, Set7. Ekor histon juga 

cenderung terhadap perubahan oleh erasing enzyme yang mengeluarkan modifikasi dan diintepretasi oleh protein reader 

yang mengidentifikasi modifikasi ekor histon. Residu cytosine dari dupleks DNA cenderung mengalami modifikasi oleh 

enzim 5-methylcytosine (5mc) dan 5 hydroxymethylcytosine (5hmC) oleh methyl-CpG binding domain (MBD) dan ten-

eleven translocation (TET). Supresi gen melalui metilasi melibatkan rekrutmen MBD sedangkan protein TET mengalami 

demetilasi DNA aktif dan regulasi ekspresi gen.  

________________________Keating ST, Plutzky J, El-Osta A. Epigenetic changes in diabetes and cardiovascular risk. Circ Res. 2016;118:1706-1722. 

Stem Cell Epigenetik 

51 

 

 

Gambar 10. Profiling epigenom pada sel monosit dan endotel manusia. Membedakan profil epigenom dari populasi sel 

yang berbeda di dalam pembuluh darah. Misalnya, modifikasi histon dan sekuensi metilasi DNA genom yang diperoleh 

dari sel monosit dan endotel memakai  metode profiling epigenomik digabung dengan analisis dan integrasi 

komputasi. Data asetilasi histon dari monosit CD14 dinilai oleh portal Encyclopedia of DNA Elements (ENCODE). Data 

asetilasi histon dan metilasi DNA dari sel endotel aorta manusia diperoleh dari GEO (Gene Expression Omnibus; ID: 

GSE37378).  Plot ini menunjukkan bahwa pola asetilasi histon dan metilasi DNA di dalam kromosom 17. Dengan peaks 

yang dihasilkan secara seragam memakai  MACS (Model-based Analysis of ChIP-Seq) membandingkan sampel 

dengan input sekuensi pada dua jenis sel. Panjang peak berbanding lurus dengan kekuatan peak (dikalkulasi dengan niali 

P). Asetilasi monosit ditunjukkan dengan warna ungu. Asetilasi sel endotel dengan warna biru, sedangkan regio metilasi 

dengan warna merah. Trek terdalam menunjukkan promoter gen dari HAECs dengan asetilasi histon (hijau) dan 

deasetilasi (orange) diinduksi oleh histone deacetylase inhibitor suberoylanilide hydroxamic acid. Semua gen pada 

kromosom 15 berada pada bagian terluar (biru dengan garis luar  merah). Nama-nama gen berhubungan dengan asetilasi 

histon pada promoter. 

________________________Keating ST, Plutzky J, El-Osta A. Epigenetic changes in diabetes and cardiovascular risk. Circ Res. 2016;118:1706-1722. 

 

Bukti saat ini menunjukkan bahwa mekanisme 

epigenetik yang mendasari semua proses 

aterosklerosis yang didahului oleh disfungsi endotel. 

Diabetes meningkatkan proses aterogenesis melalui 

proses peningkatan ekspresi adhesi dan faktor 

kemotaktik pada sel endotel pada milieu diabetik, 23 

hiperglikemia yang menginduksi migrasi dan 

proliferasi vascular smooth muscle cells,24 dan 

peningkatan akumulasi makrofag.25 Meskipun 

predisposisi genetik berkontribusi signifikan 

terhadap aterosklerosis, namun studi genome-wide 

association menunjukkan bahwa komponen yang 

diwariskan ini hanya memberi  fraksi kecil 

terhadap penyakit kardiovaskuler. 26 sebab  itu, 

perubahan epigenetik yang berimplikasi terhadap 

kejadian molekuler mendasari perubahan 

aterogenik.19   

 

Dibandingkan dengan sampel aorta orang sehat 

dengan aorta orang yang mengalami aterosklerotik 

menunjukkan bahwa epigenetic signature pada 

aterosklerosis ditandai dengan hipermetilasi CpG 

2. Epigenetik : Ilmu Baru Genetik 

52 

pada pembuluh darah yang mengalami 

aterosklerosis, dengan perubahan spesifik terhadap 

fungsi gen yang berhubungan dengan homeostasis 

vaskuler. 27 Follow-up akhir-akhir ini menunjukkan 

bahwa loki CpG pada plak aterosklerotik terjadi 

peningkatan metilasi dengan progresivitas lesi.28 

Akumulasi deep-sequencing dataset yang dilakukan 

proyek Encyclopedia of DNA Elements (ENCODE) 

memungkinkan genome-wide map yang 

menunjukkan pentingnya chromatin signature yang 

berdasar  tipe sel (Gambar 10).19,29  berdasar  

pemahaman ini terhadap epigenom yang mendasari 

lesi aterosklerotik akan membuka tabir terhadap 

perkembangan dan progresivitas penyakit sehingga 

dapat ditranslasikan ke dalam pengobatan baru.     

 

Pertanyaan sekarang yaitu  bagaimana menjelaskan 

memori biologik yang ditimbulkan oleh respon 

epigenetik terhadap hiperglikemia sebelumnya pada 

pasien diabetes mellitus tipe 2, meskipun telah 

diobati dengan berbagai obat hipoglikemik, namun 

tidak menurunkan komplikasi makrovaskuler secara 

signifikan ?  

 

Produksi reactive oxygen species (ROS) oleh 

mitokondria akibat hiperglikemia mendasari 

berkembangnya injuri vaskuler pada diabetes yang 

mengaktivasi 4 jalur utama dalam patogenesis 

komplikasi kardiovaskuler termasuk aktivasi protein 

kinase C, produksi advanced glycation end product 

(AGE), polyol pathway flux, dan jalur heksamin.30 

ROS yang dimediasi hiperglikemia merupakan 

pemicu memori glikemik  pada pembuluh darah. 

Protein disandi gen yang mencegah akumulasi ROS, 

baik uncoupling protein-1 atau manganese 

superoxide dismutase secara efektif dapat 

menghilangkan aktivasi transkripsi dari marker 

hiperglikemik pda sel endotel vaskuler, termasuk 

RELA. Aktivasi persisten yang menghasilkan ROS 

memicu  memori proinflamasi dari 

hiperglikemia, misalnya peningkatan enzim protein 

kinease C (PKC)-ß dan NAD (P) H oxidase subunit-

47 phox meskipun glukosa telah normal di dalam sel 

endotel manusia. 31  Penelitian akhir-akhir ini  

menunjukkan sekuele modifikasi epigenetik yang 

memodulasi ekspresi gen pro-oksidant dan 

proinflamasi yang mendasari stres vaskuler 

persisten. 32   

 

Dalam studi Paneni et al., terhadap sel endotel aorta 

manusia,33 dan mencit diabetes, menunjukkan bahwa 

aktivasi protein mitokondria dan mediator stres 

oksidatif p66Shc oleh elevasi PKC ßII meskipun 

telah terjadi normoglikemia. Dengan silencing 

pp66shc yang dimediasi siRNA pada saat 

normalisasi glukosa mengurangi produksi ROS 

mitokondria, mengembalikan ekspresi PKC ßII ke 

arah basal, mengurangi inhibisi eNOS dan 

ketersediaan nitric oxide dipulihkan, sekaligus 

menekan peningkatan metilglioksil persisten. 

Perubahan epigenetik secara konsisten mendasari 

memori hiperglikemia. Histone deacetylase inhibitor 

kelas III secara signifikan meningkatkan p66Shc 

mRNA dan ekspresi protein pada sel endotel vena 

umbilikasli manusia. 34 Hal ini berimplikasi bahwa 

perubahan pada asetilasi histon, dengan peningkatan 

transkripsi p66Shc selama hiperglikemia diperburuk 

oleh histone deacetylase kelas III SIRT 1 dan 

dengan overekspresi enzim yang sama dapat 

mengembalikan fungsi.  

 

Penemuan ini berdampak pada implikasi komplikasi 

kardiovaskuler pada diabetes. Hiperglikemia 

menginisiasi peningkatan regulasi epigenetik 

ekspresi pp66Shc dan produksi ROS yang 

mengaktivasi PKC ßII, selanjutnya mempertahankan 

level pp66Shc, yang dipicu oleh peningkatan 

asetilasi histon H3 yang dimediasi GCN5, sehingga 

meningkatkan ROS yang bergantung pada 

perubahan epigenetik oleh enzim seperti set7. Selain 

sebagai penghasil utama ROS, p66Shc juga 

mengurangi antioksidan manganese superoxide 

dismutase, sehingga terjadi akumulasi ROS di dalam 

endothelium vaskuler. 32,34  Hal ini menunjukkan 

bahwa legacy hiperglikemia spike pada diabetes 

dapat menimbulkan konsekuensi patologik yang 

lama. Mengatasi aktivitas ekspresi terhadap pp66Shc 

dengan SIRT1, GCN5 dan Set7 berpotensi terhadap 

pengurangan komplikasi kardiovaskuler diabetika. 19  

Dalam studi Zhoe et al., mendapatkan bahwa SIRT1 

menghambat ekspresi p66shc, melindungi terhadap 

disfungsi endotel yang ditimbulkan oleh 

hiperglikemia.34 

 

 

MICRORNA  

 

Noncoding RNA terutama microRNA memiliki  

peranan penting dalam perkembangan dan penyakit 

kardiovaskuler. 35,36,37,38,39 Hal ini disebabkan sebab  

sistem kardiovaskuler memiliki kerentanan terhadap 

perubahan ekspresi gen yang ditimbulkan oleh 

microRNA, sehingga jika terjadi gangguan, dapat 

berakibat kelainan berat dan fatal. 40  Small 

noncoding RNA atau dikenal microRNA yaitu  

untaian tunggal RNA berjumlah kurang lebih 22 

nukleotida yang berfungsi menghambat ekspresi 

pada target mRNA melalui komplementer terhadap 

Stem Cell Epigenetik 

53 

pasangan Watson-Crick antara seed region miRNA 

dengan sekuensi yang terletak pada 3’untranslated 

regions (UTR). 40 Jadi, microRNA yaitu  regulator 

penting terhadap ekspresi gen posttranskripsi. 41,42,43  

 

Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa setiap 

microRNA berperan penting dalam berbagai  

penyakit jantung  (Gambar 11), 40  misalnya miR-1,44  

miR-133,45 dan miR -208a 46  berimplikasi terhadap 

aritmia, miR-21,47 dan miR-29 48  terhadap fibrosis, 

miR-208 46,49  dan miR-133 50  terhadap remodeling 

diinduksi pressure overload  dan gangguan 

metabolik.51   

 

 

Bagaimana peran masing-masing microRNA 

terhadap penyakit jantung ? Famili miR-29 

mengalami downregulated setelah infark miokard 

yang berarti fungsinya menurun, sehingga 

menghambat ekspresi protein matriks ekstraseluler 

dan kolagen, dan berkontribusi pada pembentukan 

jariangan parut dan fibrosis. 52 miR-21 berperan 

penting dalam meningkatkan hipertrofi dan fibrosis 

jantung dalam respon terhadap pressure overload. 

Dengan melakukan knowdown terhadap miR-21 

dengan antagomir, dapat mengurangi remodeling 

jantung setelah kontriksi aorta torakalis. 47 

 

 

Gambar 11. Fungsi miRNA pada kondisi normal dan penyakit jantung. Semua tanda panah menunjukkan kerja normal 

dari masing-masing komponen atau proses. MiR-1 dan miR-133 terlihat dalam perkembangan jantung normal (kiri) 

dengan mengatur proliferasi, diferensiasi dan konduksi jantung. Misalnya, proliferasi ditingkatkan oleh regulator siklus 

sel, tetapi miR-1 dan miR-133 menghambat regulator tersebut. miR 208a mengatur sistem konduksi. miRNA 

berkontribusi terhadap perubahan remodeling setelah terjadi injuri jantung (kanan). miR-29 dan miR 21 masing-masing 

memblok dan meningkatkan fibrosis jantung. miR-29 memblok fibrosis dengan menghambat ekspresi komponen ECM, 

sedangkan miR-21 meningkatkan fibrosis dengan merangsang signaling mitogen-activated protein kinase (MAPK). miR-

209 mengatur myosin isoform switching hipertrofi dan fibrosis jantung. miR-23a meningkatkan hipertrofi jantung dengan 

menghambat proteolysis ubikuitin, yang menghambat hipertrofi. Hipoksia memicu  represi miR-320 dan miR-199, 

yang masing-masing meningkatkan dan menghambat apoptosis. ECM, extracellular matrix; LV, left ventricle; MHC, 

myosin heavy chain; RV, right ventricle. 


Kemampuan masing-masing miRNA dalam 

memodulasi jalur penyakit yang kompleks melalui 

targeting terhadap beberapa komponen, membuat 

miRNA dapat memodulasi respon jaringan terhadap 

stres. Hal ini tentu berbeda dengan kerja obat klasik. 

Target miRNA multipel ini memungkinkan miRNA 

dapat menempuh mekanisme pintas sehingga 

membuat sel atau jaringan tidak sensitif terhadap 

satu jenis obat, melalui mutasi terhadap target obat 

atau desensitisasi terhadap reseptor permukaan sel. 

Mekanisme ini tidak mengurangi sensitivitas 

inhibitor miRNA, yang dapat menargetkan pada 

beberapa jalur penyakit.40  

 

 

METODE PEMERIKSAAN EPIGENETIK 

 

PEMERIKSAAN METILASI DNA  

 

Berbagai jenis pemeriksaan tersedia dalam 

melakukan pemeriksaan metilasi DNA, termasuk : 

Southern blot hybridization, bisulfite sequencing, 

COBRA (combined bisulfite restriction analysis), 

MSP (methylation-specific PCR), Real-time MSP, 

MethyLight, Pyrosequencing, dan MassARRAY. 53  

Jika ingin dianalisis metilasi DNA sebagai penyebab 

gene silencing, perlu dianalisis regio spesifik yang  

mengatur ekspresi gen.54 

 

Setiap teknik memiliki ciri tersendiri termasuk 

jumlah DNA diperlukan, fleksibilitas dalam memilih 

tempat CpG untuk dianalisis, kuantitas teknik, 

kompleksitas teknik dan harga. Umumnya jumlah 

DNA yang diperlukan kecil, kecuali teknik 

Southern-blot hybridization. Yang mudah dilakukan 

yaitu  teknik COBRA, MSP. Real time MSP, 

Methylight, dan MassARRAY, sedangkan yang lain 

tergolong intermediate. Teknik Southern dapat 

mendeteksi metilasi/tidak metilasi pada tempat CpG 

yang spesifik, sedangkan bisulfite sequencing 

menganalisis pola metilasi pada masing-masing 

molekul DNA.  

 

 

PRINSIP PEMERIKSAAN METILASI DNA 

 

Analisis metilasi DNA dilakukan berdasar  

identifikasi 5-methylcytosine (Cm) dari cytosine 

dengan memakai  enzim restriksi yang sensitif 

terhadap metilasi. Aktivitas enzim ini dipengaruhi 

oleh adanya gugus metil pada tempat CpG di dalam 

tempat resktriksi (Gambar 12). 53 Enzim resktrisi 

metilasi, seperti HpaII dan SmaI, bersifat tidak aktif 

pada tempat CpG, dan McrBC,  tidak aktif pada 

tempat unmethylated CpG.  Dengan memakai  

teknik Southern-blot Hybridization dapat 

mendeteksi perbedaan pemecahan. 

 

 

Gambar 12. Metode deteksi metilasi DNA. Deteksi memakai  ezim restriksi sensitif terhadap metilasi. Genom DNA 

dicernakan enzim restriksi (HpaII dalam gambar) saat  tempat restriksi (CCGG) dalam kondisi tidak metilasi, tapi tidak 

dicernakan saat  tempat ini dimetilasi. Apakah genom DNA dicernakan atau tidak tergantung kondisi status metilasi 

berada dalam DNA original. Cm singkatan dari metilasi cytosine. (B) Deteksi oleh konversi DNA dimediasi bisulfite. 

Unmethylated cytosine dikonversi dengan cepat menjadi uracil dengan deaminasi sedangkan methylated cytosine 

dikonversi dengan amat lambat. sebab  itu, perbedaan status metilasi pada tempat CpG dapat dkonversi menjadi 

perbedaan sekuensi, UpG atau CpG. Setelah konversi DNA dimediasi bisulfite, untaian ganda atas dan bawah tidak lagi 

komplementer. 

55 

 

Gambar 13. Prinsip analisis metilasi memakai  

sekuensi bisulfit. Setelah diperlakukan dengan sodium 

bisulfit, residu cytosine tidak metilasi dikonversi menjadi 

uracil sedangkan methylcytosine (5mC) tetap dipengaruhi, 

Setelah amplifikasi PCR, residu uracil dikonversi menjadi 

thymine. Status metilasi DNA ditentukan memakai  

sekuensi PCR atau sekuensi kloning.  

 

Prinsip kedua bergantung pada konversi DNA 

dimediasi bisulfite. Perlakuan ini dengan cepat 

mengubah unmethylated C menjadi uracil, 

sedangkan perubahan ke methylated C amat 

lambat55. Status metilasi pada tempat CpG dapat 

dikonversi menjadi sekuensi, UpG atau CpG, dan 

saat  konversi telah berubah menjadi sekuensi 

DNA yang berbeda, maka  dapat dideteksi 

memakai  teknik bisulfite sequencing, MSP, real 

time MSP, COBRA, pyrosequencing, dan 

MassARRAY (Gambar 12). 53 

 

Status metilasi ditentukan melalui sekuensi produk 

PCR (deteksi status metilasi rerata) atau sekuensi 

sub klon (deteksi distribusi molekul tunggal dalam 

pola metilasi) (Gambar 13 ).55  Analisis sekuensi 

bisulfit tidak hanya mengidentifikasi metilasi DNA 

di sepanjang untaian tunggal DNA, tetapi juga 

mendeteksi pola metilasi DNA dari untaian ganda 

sebab  untaian DNA yang telah dikonversi tidak 

komplementer dan produk amplifikasi dapat diukur. 

sebab  itu, sekuensi genomik bisulfit dianggap 

sebagai teknik gold standard dalam mendeteksi 

metilasi DNA sebab  dapat mengidentifikasi 5-

methylcytosine secara kualitatif, kuantitatif pada 

pasangan basa tunggal.55  

 

 

TEKNIK PEMERIKSAAN 

 

Southern-blot Hybridization 

 

Status metilasi pada tempat yang telah dikenal enzim 

restriksi dapat dimonitor dengan melihat band 

fragmen DNA yang diapit tempat restriksi. 

Keuntungan teknik yaitu  kuantitasnya dapat 

menggambarkan jumlah molekul DNA yang 

dicernakan atau tidak. Teknik ini terutama 

digunakan untuk menganalisis sekuensi ulangan 

sebab  mampu mendeteksi sekuensi multipel di 

dalam genom. Kekurangan yaitu  analisis tempat 

CpG terbatas dan memerlukan jumlah DNA yang 

banyak. Saat ini, teknik ini jarang digunakan,telah 

diganti teknik bisulfite. 

 

 

Bisulfite  Sequencing 

 

DNA yang telah dikonversi bisulfite diamplifikasi 

PCR memakai  primer yang ada  pada regio 

yang kurang memiliki tempat CpG. Produk PCR 

disekuensi, biasanya setelah kloning produk PCR, 

dan tempat CpG diamplifikasi (Gambar 14A).53 

Basa cytosine (C)  dan thymine  (T) pada tempat 

CpG pada DNA yang dikonversi menunjukkan 

masing-masing methylated and unmethylated C. 

Teknik ini memungkinkan investigasi status metilasi 

pada setiap tempat CpG antara primers dan 

bagaimana tempat CpG di dalam molekul DNA 

tunggal dimetilasi. Dengan metode ini, dapat 

dianalisis hampir setiap metilasi DNA. Kekurangan 

teknik ini yaitu  pekerjaan intensif memerlukan 

sekurang-kurangnya 10 klon per satu sampel yang 

disekuensi. 

2. Epigenetik : Ilmu Baru Genetik 

56 

 

 

Gambar 14. Prinsip teknik analisis metilasi DNA. Tempat CpG methylated and unmethylated ditunjukkan masing-

masing dalam lingkaran tertutup dan terbuka. (A) Bisulfite sequencing. DNA yang dikonversi bisulfite diamplifikasi oleh 

PCR dengan primer tidak ada  pada tempat CpG. Produk PCR diklon, dan masing-masing klon disekuensi. Tenik ini 

memberi  pola metilasi pada molekul DNA pada tempat CPG. (B) COBRA, DNA yang dikonversi bisulfite 

diamplifikasi oleh PCR dengan primer tidak ada  pada tempat CpG, dan produk PCR dicernakan oleh enzim restriksi 

(Taq) dalam gambar ini. Pada assay COBRA, jika cytosine pada tempat CpG dimetilasi, tempat restriksi tetap. 

Sebaliknya, jika tempat tidak dimetilasi, restriksi akan hilang. Analisis kuantitatif dilakukan dengan gel elektroforesis. 

(C) MSP, status metilasi pada beberapa CpG di dalam sekuensi primer dilakukan dengan PCR dengan primer pada 

template metilasi dan tidak metilasi dan monitoring ada atau tidaknya PCR produk. Kondisi PCR dioptimalisasi 

memakai  DNA metilasi atau tidak metilasi. (D) Real time MSP. Jumlah molekul DNA metilasi dan tidak metilasi 

dihitung dengan real-time MSP. (E) Pyrosequencing. Polimorfisme C/T pada produk PCR diteliti dengan mengukur 

pirofosfat yang dilepaskan. Jumlah pirofosfat dikonversi menjadi signal seperti ditunjukkan dalam program. (F) 

MassARRAY. Produk PCR diamplifikasi dari DNA yang dikonversi bisulfit ditranskripsi secara in vitro, dan dipecahkan 

RNase A. Perbedaan dalam massa pada produk C dan T (16 Da) dideteksi dengam mass spectrometry.  


COBRA (Combined Bisulfite Restriction 

Analysis) 

 

Teknik ini didasarkan pada munculnya atau 

hilangnya tempat pengenalan enzim restriksi setelah 

konversi bisulfit (Gambar 14 B). 53  Jumlah rasio 

molekul DNA yang dimetilasi atau tidak dapat 

dihitung. Teknik ini dapat mendeteksi jumlah 

metilasi pada tempat CpG dan kemudahan prosedur. 

Kekurangannya yaitu  tempat CpG yang dianalisis 

terbatas.  

 

 

MSP (Methylation-specific PCR) 

 

Teknik ini dapat mencari status metilasi di dalam 

beberapa tempat CpG dengan melakukan PCR pada 

tempat yang spesifik untuk sekuensi metilasi dan 

tanpa metilasi dan mengamati ada atau tidak adanya 

produk PCR (Gambar 14 C). 53  Molekul DNA 

dengan pola mosaik tidak diamplifikasi. Teknik ini 

mudah dilakukan dan memiliki fleksibilitas tinggi 

dalam menseleksi regio genomik untuk dianalisis 

sebab  primer dapat dirancang pada posisi 

sembarangan, meskipun regio yang dianalisis kaya 

CpG. Kekurangan yaitu  mudah mendapatkan hasil 

positif dan negatif palsu. 

 

 

Real Time MSP dan Methylight 

 

Teknik ini dilakukan dengan deteksi real time dari 

produk MSP. Dengan membandingkan amplifikasi 

uji sampel dengan sampel standar yang berisikan 

jumlah molekul DNA yang telah diketahui, maka 

jumlah molekul DNA yang dimetilasi dan tidak 

dimetilasi dapat dihitung (Gambar 14 D).53  Produk 

PCR dapat dideteksi dengan pewarnaan seperti 

SYBR Green I (real time MSP) atau Tag-Man probe 

(Methylight). 56 Teknik ini memiliki fleksbilitas 

tinggi selama menyeleksi regio genom yang 

dianalisis seperti MSP, dan perhitungan jumlah 

metilasi DNA akurat dan sensitif. sebab  itu, cocok 

digunakan untuk analisis jumlah sampel besar dalam 

klinis. 

 

 

Pyrosequencing 

 

Pyrosequencing dapat mendeteksi tingkat metilasi 

pada setiap tempat CpG dalam produk PCR yang 

diperoleh dari primer untuk sekuensi metilasi dan 

tanpa metilasi setelah konversi bisulfite. Jumlah C 

dan T pada masing-masing tempat dikonversi 

menjadi beberapa  pirofosfat yang dilepaskan dari 

metode ekstensi primer. Jumlahnya dapat dihitung 

memakai  sistem Pyroseqencing (Qiagen) 

(Gambar 14 E). 53  Keuntungan teknik ini yaitu  

akurasi dalam jumlah dan kemudahan prosedur. 

Kekurangan yaitu  sulit merancang primer yang 

sesuai. 

 

MassARRAY 

 

MassARRAY mendeteksi tingkat metilasi pada 

masing-masing tempat CpG di dalam produk PCR 

memakai  primer untuk sekuensi metilasi dan 

tanpa metilasi setelah konversi bisulfite. Dengan 

teknik ini, PCR dilakukan dengan reverse primer 

bersama dengan T7 promoter tag. Transkrip in vitro 

dapat dipecahkan oleh RNase A, yang mencernakan 

basa pirimidin (Gambar 14 F). 53   MassARRAY 

amat baik digunakan untuk menghitung jumlah 

metilasi DNA di dalam tempat CPG dalam jumlah 

sampel yang banyak, hanya harga instrumen yang 

mahal.      

 

 

PEMERIKSAAN MODIFIKASI KROMATIN  

 

CHROMATIN IMMUNOPRECIPITATION 

(ChIP) 

 

Chromatin immunoprecipitation (ChIP) pertama kali 

dikembangkan oleh Gilmour dan Lis  57,58 dan 

Solomon dan Varshavsky  59 melibatkan sel hidup 

dengan formaldehid untuk memfiksasikan protein ke 

dalam substrat DNA di dalam 

sel.(tulisangambar15,hapus)60 Kromosom yang 

mengalami crosslink diekstraksi dan difragmentasi 

oleh enzim. Kemudian dilakukan isolasi dengan 

pemurnian immune-afinitas memakai  antibodi 

terhadap protein. Fragmen yang dimurnikan 

dilakukan assay dengan beberapa  teknik seperti 

Southern blot atau polymerase chain reaction (PCR), 

untuk menentukan hubungan sekuensi DNA dengan 

protein.61,62 Metode untuk mendeteksi interaksi 

protein-DNA pada genom jamur memakai  

DNA microarrays (ChIP-chip) dikemukakan tahun 

2000. 63,64  Perkembangan teknologi selanjutnya 

yaitu  memakai  high throughput sequencing 

(ChIP-seq) membuka lembaran baru dalam analisis 

berbasis ChIP terhadap kontrol gen dan epigenom, 

memungkinkan surveilen terhadap seluruh genom 

tanpa bias yang dilakukan chip sebelumnya. Jadi, 

ChIP yaitu  suatu alat yang bermanfaat untuk 

mempelajari interaksi protein-DNA dan perubahan 

kromatin yang berhubungan dengan ekspresi gen. 

2. Epigenetik : Ilmu Baru Genetik 

58 

sebab  itu, dapat dikumpulkan data epigenetik yang 

meliputi seluruh genom. Teknik ini memungkinkan 

penkayaan fragmen DNA yang terikat pada protein 

spesifik dan identifikasi sekuensi spesifik dari 

fragmen memakai  microarrays, meliputi 

sekuensing genom (tiling arrays) atau next-

generation DNA sequencing (Gambar 15). 65 

 

Chromosome confirmation capture (3C) pertama 

kali dikembangkan oleh Dekker, yang menentukan 

interaksi antara setiap pasangan loci dari genom di 

dalam sel. 66,67 Sama seperti ChIP, 3C memakai  

formaldehid untuk melakukan crosslinking pada sel 

untuk mempertahankan interaksi genom untuk 

dilakukan analisis. Crosslinked chromatin 

dicernakan dengan enzim resktriksi dan DNA 

genom yang dicernakan diligasi dalam kondisi untuk 

mempertahankan ligase intramolekuler dari segmen 

kromatin. Crosslink kemudian dibalikkan dan 

campuran ligase dimurnikan. 3C akan menghasilkan 

produk genome-wide ligation dengan masing-

masing produk ligase berhubungan dengan suatu 

interaksi spesifik antar kedua loci di dalam nuklei 

(Gambar 16). 60 

 

 

Gambar 15.Identifikasi interaksi protein-DNA pada tingkat genome-wide memakai  chromatin imunoprecipitation 

(ChIP) atau microarrays berbasis (ChIP-on-chip) atau next generation sequencing technology platform (ChIP-seq). 

 

Gambar 16. Teknik ChIP dan 3C. Sel yang dikutur atau primer dengan perlakuan formaldehid menjadi crosslink DNA 

berikatan dengan protein di dalam loci in situ. Nuklei crosslink diproses dengan ChIP seperti pada panel kiri atau 3C pada 

panel kanan. Nuklei DNA difragmentasi menghasilkan segmen DNA berhubungan dengan protein (kotak, segitiga, 

lingkaran)). Protein yang diteliti (segitiga hitam) diseleksi dengan immune-affinitiy precipitation, dan crosslink 

dibalikkan. Hasil DNA co-presipitasi dianalisis dengan whole-genome microarray (ChIP-chip) atau high-throughput 

sequencing (ChIP-seq). Untuk menganalisis lipatan 3 dimensi, 3C memakai  kromatin crosslink yang dicernakan 

dengan enzim resktriksi dan ligasi dibawah kondisi larut menjadi ligase intramolekuler dalam DNA. DNA ligasi 

dimurnikan dan dianalisis dengan PCR, DNA microarrays, atau sequencing. 

  

 

Dengan metode berbasis ChIP dapat diketahui 

struktur dan fungsi dinamika epigenom. Misalnya, 

dengan metode ini dapat diketahui histon marks 

pada sel T CD4+ yang dilakukan oleh dua studi yang 

saling berkaitan (Gambar 17).60 Studi ini dapat 

menjelaskan fungsi modifikasi histon. Kalau H3K27 

dan K9 di- dan trimetilasi (H3K27 me2 dan me3 dan 

H3K9-me2 dan me-3) dikonfirmasi sebagai 

repressive marks, maka monometilasi dari residu ini 

berhubungan dengan promoter aktif. H2BK5 

monometilasi berhubungan degnan downstream 

transcription start sites.   

2. Epigenetik : Ilmu Baru Genetik 

60 

 

 

Gambar 17. Promoter aktif dan silent pada histone marks. 

Distribusi histone marks aktif (kiri) versus silent (kanan). 

Backbone 17 dari active chromatin marks ditunjukkan 

dengan huruf tebal. Me-1, me2, me3, mono-di- tri- methyl 

masing-masing. Ac= acetyl. 

 

METILASI DNA PADA RISIKO DAN 

PENYAKIT KARDIOVASKULER 

 

Kondisi metilasi DNA berperan penting terhadap 

regulasi proses biologik yang mendasari penyakit 

kardiovaskuler (PKV), seperti aterosklerosis, 

hipertensi dan inflamasi. 68,69,70  Misalnya, mencit 

dengan genom hipometilasi memiliki  peningkatan 

ekspresi marker inflamasi, 71 dan hipometilasi DNA 

merupakan awal pembentukan garis lemak di dalam 

aorta. 72 Pada  ApoE-null mencit yang cendrung 

aterosklerosis, perubahan metilasi DNA terjadi pada 

leukosit darah perifer dan aorta sebelum 

pembentukan lesi vaskuler. 73 Perubahan ini 

berperan terhadap peningkatan inflamasi dan 

aterosklerosis. Jika jaringan jantung orang normal 

dibandingkan dengan pasien dengan gagal jantung, 

jaringan yang berpenyakit menunjukkan perubahan 

metilasi pada gen yang berhubungan dengan 

angiogenesis juga ekspresi. 74 

 

 

Gambar 18. Metilasi DNA biasanya berhubungan  dengan transkripsi inaktif dan supresi ekspresi gen. Gambar 

menunjukkan mekanisme molekuler menghubungkan metilasi DNA dengan  transkripsi inaktif. Cytosine dimetilasi 

menjadi 5-methylcytosine oleh DNA methytransferase (DNMT). Ikatan methyl CpG binding protein terhadap sekuensi 

metilasi mencegah akses sekuensi oleh faktor transkripsi, sehingga menekan transkripsi. MBP menunjukkan methyl CpG 

binding protein; SAM, S-adenosylmethionine; dan SAH, S-adenosylhomocysteine. 

Perubahan metilasi DNA yang berhubungan dengan diet dapat berpengaruh terhadap PKV pada manusia. 

Stem Cell Epigenetik 

61 

Flavonoid, sebagai antioksidan, memberi  

proteksi terhadap penyakit jantung, sebab  dapat 

mengurangi DNMT 75,76,77 (DNA methyltransferase) 

yang mengubah DNA metilasi menjadi 5 

methylcytosine (Gambar 18), 78 sehingga terjadi 

peningkatan level metilasi DNA. Pada North Texas 

Health Study, peserta yang mengkomsumsi tinggi 

sayur-sayuran dan buah-buahan memiliki sekuensi 

ulangan LINE-1 (long-interspersed nucleotide 

repetitive elements-1) lebih tinggi dibandingkan 

dengan orang yang memakan tinggi lemak dan 

karbohidrat. 75 Penelitian Normative Aging Study 

dilaksanakan di Boston mendapatkan bahwa subjek 

dengan prevalensi penyakit jantung iskemik dan 

stroke yang tinggi memiliki  metilasi LINE-1 lebih 

rendah. 79 

 

Hubungan metilasi DNA dan perokok dewasa 

terhadap gen AHRR dapat dilihat pada fibroblast dan 

makrofag alveolar. 80  Penelitian kembar monozigot 

mendapatkan adanya perubahan metilasi antara 

kembar perokok dan bukan perokok di dalam 8 loki, 

termasuk loki AHRR dan FeRL3. Perbedaan metilasi 

DNA juga diamati pada perokok sekarang versus 

terdahulu, pemaparan merokok kumulatif (jumlah 

rokok dihisap seumur hidup), dan waktu berhenti 

merokok (di antara mantan perokok). 81,82 Perubahan 

metilasi DNA dalam respon terhadap merokok 

berhubungan dengan merokok dan PKV 83,84,85,86 

menunjukkan bahwa adanya peran metilasi DNA.   

 

Pemaparan terhadap faktor lingkungan seperti polusi 

udara, logam berat, dan arsenik, dapat menginduksi 

stres oksidatif dan memicu inflamasi, yang 

berkontribusi terhadap aterogenesis melalui 

peningkatan sitokin, disfungsi endotel, trombosis 

dan artimia. 87 Partikel polusi udara berhubungan 

dengan onset infark miokard dan risiko penyakit 

jantung dan stroke jangka panjang. 88,89,90,91,92 Studi 

menunjukkan udara partikel dalam udara lembab, 

94,94 logam dan zat racun merubah metilasi DNA 

pada elemen repetitif, juga gen spesifik.95,96,97 

 

 

INTERVENSI EPIGENETIK DALAM 

MENCEGAH PENYAKIT 

KARDIOVASKULER 

 

Dengan memahami pengaruh epigenetik terhadap 

PKV, terutama epigenom yang dapat menjadi target 

untuk dilakukan intervensi, sehingga dapat 

diterjemahkan pengetahuan ini dalam praktek. 

Misalnya, metilasi DNA bergantung pada siklus 

biokimia yang memerlukan donor metil, maka 

intervensi diet dapat dilakukan berupa komsumsi 

asam folat, vitamin B6,  B12, metionin, betaine, dan 

kolin. 78  Metilasi DNA juga sensitif  terhadap zinc, 

98  flavonoid, 99 vitamin C,100 dan niacin.101  sebab  

itu, analisis epigenetik baseline dapat digunakan 

untuk mengidentifikasi individu yang mendapat 

manfaat dari intervensi nutrisi. 

 

Keseimbangan diet fitokimia dan kesehatan 

merupakan hubungan antara manusia dan alam 

(Gambar 19). 102 Berbagai senyawa polifenol seperti 

resveratrol, tea catechins, dan flavonoid, dijumpai di 

dalam sayur-sayuran, buah-buhan dan juice tumbuh-

tumbuhan atau minuman memberi  efek 

kardioprotektif, neuroprotektif, kemopreventif dan 

anti-inflamasi. Mekanisme manfaat fitokimia yaitu  

: 1. Aktivitas antioksidan atau meningkatkan 

ekspresi protein antioksidan; 2 mengurangi stress 

signaling endoplasmic retikulum; (3) menghambat 

sitokin anti-inflamasi; (4) menghambat faktor 

transkripsi berhubungan dengan penyakit metabolit; 

(5) menginduksi ekspresi gen metabolik; (6) aktivasi 

faktor transkripsi yang mengantagonis inflamasi. 103 

Makanan ini memiliki aktivitas epigenom dan 

menentukan respon adaptif terhadap stres, 

metabolisme energi, homeostasis imun, dan fisiologi 

tubuh. 104,105,106,107 

 

Bukti akhir-akhir ini mengemukakan peran 

hiperhomosisteinemia terhadap penyakit vaskuler 

dimediasi oleh akumulasi adenosyl-homocystein (Hcy) 

dan metilasi DNA. Hcy berkompetisi dengan SAM 

(donor gugus metil) (Gambar 18),78 berikatan dengan 

DNMT, yang memicu  hilangnya metilasi secara 

pasif dalam replikasi DNA. Kadar Hcy tinggi dalam 

darah berkorelasi dengan hipometilasi DNA dan 

aterosklerosis sehingga memicu  reduksi metilasi 

DNA sebesar 35% di dalam limfosit darah perifer. 

109,110,111,112 Hal yang  sama terjadi pada insulin glukosa, 

folat atau diet kaya flavanol mengganggu metabolisme 

donor metil dan pool SAM, memicu  perubahan 

metilasi DNA. 112,113,114,115 sebab  itu, makanan kelas 

spesifik dapat dirancang untuk modulasi epigenetik 

terapeutik terhadap penyakit gaya hidup seperti PKV, 

dan diabetes. Studi epidemiologik dan antropologik 

medis telah menunjukkan bahwa diet kaya flavanol 

seperti pada coklat berhubungan terbalik dengan risiko 

kardiovaskuler.116,117,118,119,120,121,122 

2. Epigenetik : Ilmu Baru Genetik 

62 

 

 

Gambar 19. Mekanisme regulasi epigenetik dari senyawa nutrisi. Modulasi berbagai kromatin writer-eraser oleh 

fitokimia (panel kiri). Gen yang menyandi protein absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi (ADME) diregulasi 

secara epigenetik menentukan respon masing-masing nutrisi. Modifikasi epigenetik terhadap gen yang berhubungan 

dengan penyakit dapat berkontribusi terhadap diagnosis (biomarker) juga pencegahan atau progresivitas penyakit (panel 

kanan). 

 

Berbagai senyawa nutrisi (seperti epigallocatechin 

gallate, resveratrol, genistein, curcumin, 

isothiocyanates, withaferin A) (Gambar 19) 102  telah 

diketahui dapat mengintervensi writers, readers 

kromatin, atau eraser seperti DNMT, histon kelas I-

IV deacetylase (HDACs), histone acetyl transferase 

(HATs), dan HDAC sirtuin (SIRTs) kelas III yang 

memodulasi respon inflamasi dan senesen 

imunologik.123,124,125,126 HDAC yaitu  metaprotein 

zinc yang bergantung pada Zn2+ untuk aktivitasnya 

dan dibagi atas empat kelas berdasar  

homologinya dengan HDAC jamur. HDAC kelas III 

disebut sebagai sirtuins, tidak bergantung zinc tetapi 

nicotinamide adenine dinucleotide (NAD+). 

Inhibitor HDAC kelas I-IV mengandung gugus 

terdiri dari thiolate, thiol, hycroxamate, karboksilat, 

mercaptoamide, epoxide atau keton yang bersifat 

Zn2+ chelating. Flavonoid, yaitu  activator HDC 

kelas III ( SIRTs). 102 

 

 

tem cell yaitu  sel yang memiliki  dua sifat 

utama : self-renewal dan berdiferensiasi. 1,2 

Secara eksplisit, stem cell mampu menghasilkan sel 

anak yang identik dengan sel induk melalui mitosis 

(self-renewal), juga menghasilkan sel anak (progeni) 

dengan potensi terbatas (sel terdiferensiasi). 3 

Dengan kapasitas self-renewal berarti mampu 

menghasilkan kembali satu sel progeni yang 

memiliki fenokopi yang sama dengan sel induk dan 

satu progeni berdiferensiasi. Sehingga stem cell 

dideskripsikan sebagai ‘immortal’, ‘unlimited’ atau 

‘kontinu’ dalam kapasitas replikasi sel. 3 Istilah 

“immortal” ini ditinjau dari “replicative ageing” 

kurang tepat, sebab  sel progeni dapat mengalami 

proses “penuaan.” 5 

 

Self-renewal pada stem cell bertujuan untuk 

membuat lebih banyak stem cell melalui 

pembelahan simetris yaitu menghasilkan dua stem 

cell, misalnya pada awal perkembangan embrio yang 

normal, pembelahan stem cell yang bersifat transien 

ini untuk pertumbuhan tubuh.4 Sedangkan 

pembelahan asimetris yaitu  menghasilkan satu 

stem cell dan satu sel anak terdiferensiasi dengan 

kemampuan diferensiasi terbatas.4 Sifat self-renewal 

menjadikan stem cell dapat memberi  jumlah 

suplai sel tanpa terbatas, sedangkan potensi 

diferensiasi memungkinkan stem cell menghasilkan 

Stem Cell Epigenetik 

69 

semua jenis sel. Sifat ini membuat stem cell dapat 

digunakan dalam kedokteran regeneratif. 5 

 

Secara fungsional, stem cell memiliki  sifat 

potensi sebab  mampu menghasilkan progeni yang 

terdiferensiasi. Stem cell yang mampu menghasilkan 

satu organisme disebut totipoten, misalnya ada  

pada zigot. Stem cell yang mampu berdiferensiasi 

menghasilkan 3 lapisan sel germinal disebut stem 

cell pluripoten; lapisan ektoderm, mesoderm dan 

endoderm. 4 Stem cell pluripoten dapat dijumpai 

pada embrio pre dan post-implantasi. 3  Multipotent 

stem cell yaitu  stem cell yang dapat menghasilkan 

lebih dari satu jenis sel tetapi dalam jumlah terbatas, 

misalnya pada adult stem cell. Stem cell ini 

merupakan progeni dari stem cell pluripoten 

sehingga sifat plastisitas terbatas. Kapasitas self-

renewal amat penting bagi kelangsungan fungsi 

adult stem cell, misanya hematopoietic stem cell dan 

spermatogonial stem cell – untuk dapat 

mengembalikan fungsi jaringan dengan masa turn 

over yang cepat, misalnya pembentukan darah 

(hematopoiesis). sebab  itu, dalam bab ini akan 

dipaparkan strategi dan proses pembelahan pada 

self-renewal pada adult stem cell dan embryonic 

stem cell, mekanisme yang mendasari, dan 

pengaturan self-renewal pada tingkat epigenetik.   

 

 

STRATEGI  SELF-RENEWAL 

 

Dengan melakukan pembelahan asimetris, stem cell 

memiliki strategi untuk melakukan dua tugas dalam 

sekali pembelahan (Gambar 1 a,b). 6 Dengan strategi 

ini, stem cell belum  mampu memperbanyak 

jumlahnya yang amat diperlukan saat  pool stem 

cell diperlukan untuk perkembangan 7,8,9 dan saat 

terjadi injuri untuk regenerasi 9,10,11,12,13 sebab  itu, 

diperlukan strategi self-renewal untuk memenuhi 

jumlah yang diperlukan. 5 

 

Stem cell melakukan pembelahan secara simetris 

untuk self-renewal sekaligus menghasilkan sel 

progeni yang terdiferensiasi. Pembelahan simetris 

yaitu  menghasilkan dua sel anak atau sel 

terdiferensiasi, yang dibutuhkan saat  terjadi injuri 

atau penyakit yang memerlukan banyak stem cell 

(Gambar 1 c). 6   Stem cell dapat mengadakan 

pembelahan secara asimetris atau kombinasi 

pembelahan simetris dan asimitris (Gambar 1 d). 6 

 

 

 

Gambar 1. Strategi stem cell. a, stem cell (orange) melakukan self-renewal dan menghasilkan sel terdiferensiasi (hijau). 

B-d, strategi mempertahankan keseimbangan stem cell dan progeni terdiferensiasi. B, pembelahan sel asimetrik; setiap 

stem cell menghasilkan satu sel anak dan satu sel anak mengadakan diferensiasi. c, d, strategi populasi. Strategi populasi 

memberi  kontrol dinamik terhadap keseimbangan stem cell terdiferensiasi - kapasitas untuk memperbaiki setelah 

injuri atau penyakit. Dalam skema ini, stem cell memiliki “potensi” untuk menghasilkan satu stem cell dan satu sel 

terdiferensiasi pada setiap pembelahan. c, pembelahan sel simetrik; setiap stem cell dapat membelah secara simetrik 

menghasilkan dua sel anak atau dua sel terdiferensiasi. d, kombinasi pembelahan sel: masing-masing stem cell dapat 

membelah baik simetrik maupun asimetrik.  

 

 

Gambar 2. Kontrol pembelahan stem cell. a. lokasi asimetik dari regulator polaritas sel (merah) memulai pembelahan 

asimetrik. Pembelahan asimetrik ada  pada kompleks PAR-aPKC pada satu ujung pembelahan sel. Stem cell 

berwarna orange, dan sel terdiferensiasi berwarna hijau. b, penentu nasib sel (merah) berkumpul di sitoplasma pada satu 

sel anak, atau berhubungan dengan membran, sentrosom atau konstituen sel lainnya, yang didistribusikan ke sel anak. c, 

Orientasi spindle mitotic hanya dijumpai pada sel anak dari stem cell niche (merah), sebab   sel anak memiliki  akses 

terhadap signal ekstrinsik yang diperlukan untuk mempertahankan identitas stem cell. Mekanisme ini mencapai 

pembelahan asimetrik meskipun pembelahan ini sendiri secara intrinsik yaitu  simetrik. Pada model yang sama, sel anak 

ditempatkan jauh dari niche dipaparkan terhadap signal yang menginduksikan diferensiasi.  

 

Ada dua mekanisme yang mendasari pembelahan 

asimetris : mekanisme intrinsik dan mekanisme 

ekstrinsik. Mekanisme intrinsik meliputi faktor 

polaritas sel dan segregasi penentu nasib sel 

(Gambar 2 a,b). 6 Hanya sel progeni yang keluar dari 

stem cell niche sebab  adanya signal ekstrinsik 

untuk berdiferensiasi (Gambar 2c).6Meskipun secara 

intrinsik berupa pembelahan simetris, namun terjadi 

pembelahan asimetris sebab  adanya pemaparan 

terhadap signal eksterna. sebab  itu, pada 

pembelahan asimetrik proses benang pembelahan 

dapat direproduksi sebab  proses ini diregulasi 

secara ekstrinsik dan intrinsik.  

 

 

PENGATURAN STEM CELL SELF-

RENEWAL  

 

STEM CELL NICHE 

 

Dengan mengetahui pengaturan self-renewal stem 

cell dan bagaimana stem cell diatur, maka dapat 

diketahui sifat alamiah stem cell. Observasi pada 

adult stem cell seperti hematopoietic stem cell 

(HSC) menunjukkan bahwa potensi HSC akan 

kehilangan self-renewal jika sel tersebut 

dikeluarkan dari microenvironment (niche) dan 

banyak faktor signaling dari niche secara 

langsung mengatur sel progeni mengalami 

diferensiasi. Jika ruang di dalam niche terbatas, 

satu sel progeni akan digantikan di luar niche, dan 

memulai diferensiasi sebab  kurangnya faktor 

self-renewal. Jika ruang niche ada, maka kedua 

sel progeni dari hasil pembelahan stem cell akan 

menyimpan identitas stem cell (misalnya, self-

renewal). sebab  itu, stem cell niche memprediksi 

bagaimana jumlah stem cell dikontrol oleh 

keberadaan niche yang memberi  signal 

diperlukan untuk self-renewal dan survival.  

 

 

Gambar 3. Sel niche (hijau) berada di basement 

membrane memberi  signal ke stem cell (merah) untuk 

memblok diferensiasi dan mengatur pembelahan. Jika 

mekanisme garis turunan menonjol (pembelahan sel 

rendah), pembelahan stem cell dengan satu sel anak 

berhubungan dengan niche, yang lain (kuning) terlepas 

dan memulai diferensiasi. Sebaliknya, jika mekanisme 

populasi menonjol (pembelahan sel tinggi), pembelahan 

stem cell dapat menjadi simetrik (terlihat pada gambar) 

atau asimetrik (tidak ditunjukkan), ditentukan oleh faktor 

local. ECM, extracellular matrix. 

Mekanisme interna yang mengatur pola pembelahan 

sel dan menentukan nasib sel anak yaitu  melalui 

ekspresi gen. Berbagai signal dan interaksi 

interseluler turut menentukan tingkah laku sel yang 

tidak terdiferensiasi. Schofield mengemukakan 

bahwa pengatur hematopoietic stem cell (HSC) 

yaitu  pada satu regio yang dikenal sebagai niche 

(Gambar 3). 14 Niche tersusun atas jaringan sel atau 

substrat ekstraseluler yang menyangga satu atau 

lebih stem cell dan mengatur self-renewal dan 

produksi sel progeni secara in vivo. 14 Niche juga 

menunjang polaritas orientasi sel progeni misalnya 

satu sel progeni ditempatkan di luar niche untuk 

mengadakan diferensiasi (Gambar 3).  14 

 

 

EMBRYONIC STEM CELL (ESC) 

 

Selama pembentukan embrio, sel mengalami proses 

dari sifat proliferatif and pluripoten menjadi sel yang 

terbatas dalam potensi diferensiasi. Martin Evans 

dan Kaufman menemukan pluripotent cell lines, 

dikenal sebagai embryonic stem (ES) cells yang 

berasal dari inner cell mass di dalam blastocyst 

mencit, tahun 1981. 15  Atas penemuan ini, Martin 

Evans bersama Mario Capecchi dan Oliver Smithies 

dianugrahi hadiah Nobel. Kultur ES cell diperoleh 

dari satu sel tunggal dapat berdiferensiasi menjadi 

beberapa  tipe sel, atau membentuk teratokarsinoma 

jika disuntikkan ke dalam mencit. 16 

 

Dengan adanya leukemia inhibitory factor (LIF), 

suatu faktor pertumbuhan, di dalam kultur (secara in 

vitro) yang mencegah diferensiasi dan meningkatkan 

proliferasi, ES cell mencit dapat mempertahankan 

self-renewal, atau kondisi proliferasi dan 

undifferentiated terus-menerus selama bertahun-

tahun, 17  serta  dijumpai pada  sel epiblast berusia 

4.5 hari (E.4.5), dan jika disuntikkan ke dalam 

blastocyst, maka memicu  pertumbuhan 

embrio, menghasilkan seluruh sel embrio dan  

germline.18 Kemampuan ES cell dalam 

mempertahankan perkembangan embrio ini dikenal 

sebagai naive pluripotency atau ground pluripotent 

state. 19,20 Jadi, ES cell yaitu  stem cell yang berasal 

dari epiblast preimplantasi yang mempertahankan 

naïve pluripotensi melalui self-renewal. 20 

Sebaliknya, epiblast stem cell (EpiSC) berasal dari 

epiblast atau ectoderm primitif embrio 

pascaimplantasi. EpiSC mencit mempertahankan 

self-renewal sebab  adanya fibroblast growth factor 

(Fgf2) dan Activin dan jarang berkontribusi terhadap 

embrio kimera setelah disuntikan ke dalam 

blastocyst, dan dikenal sebagai primed 

pluripotency.4   

 

Secara in vivo, keadaan pluripotensi selama 

perkembangan zigot totipoten menjadi blastocyst. 

Pada tingkat proses ini terbagi atas dua garis turunan 

: inner cell mass (ICM), sebagai pembentuk 

pluripotensi, dan trophectoderm (TE), yang 

membentuk lapisan epitel ekstraembrionik yang 

melapisi dan menyokong ICM (Gambar 4). 19  Pada 

blastocyst tingkat akhir (E-4.0). ICM berkonsolidasi 

membentuk garus turunan yang mengekspresikan 

Nanog dan lapisan ekstraembrionik dengan 

endoderm primitif yang mengekspresikan Gata-6 

(dikenal sebagai hipoblast). 21  Epiblast yang terbagi 

ini masuk ke dalam perkembangan “ground state”, 

sebagai asal perkembangan seluruh sel embrio 

(Gambar 4). 19  

 

Epiblast akan berkembang menjadi ectoderm 

primitif  pada tahap embryogenesis. Ektoderm 

primitif dapat dibedakan dari ICM, sebab  tidak 

menghasilkan trophectoderm dan endoderm primitif 

(Gambar 5), 17 juga morfologi epitel yang berbeda 

dari ICM. 22  Ektoderm primitif yaitu  satu-satunya 

sel lineage dengan mempertahankan pluripotensi dan 

menghasilkan tiga lapis embrio dan sel germinal 

primordial (Gambar 5). 17 Namun, kurang mampu 

berdiferensiasi menjadi ekstraembrionik, endoderm 

primitif dan trophectoderm. sebab  itu, 

dibandingkan dengan ICM, tingkat pluripotensi 

ektoderm primitif lebih kecil atau “terbatas. 17  

 

Pluripotensi didefinisikan sebagai kemampuan 

menghasilkan semua tipe sel dari satu embrio terlepas 

dari trophoectoderm (prekursor pembentuk plasenta), 

dan menghasilkan seluruh sel embrio dan dewasa. 23,24 

Hal ini disebabkan analisis awal pada embrio kimerik 

mencit, yang dihasilkan dari suntikan sel ICM dan sel 

ES ke dalam embrio dengan jumlah sel sebanyak 8 

atau blastocyst. 25  Namun, ICM masih mampu 

menghasilkan trophectoderm lineage, juga ES cell 

dalam kondisi kultur. 26  

 

Dalam beberapa tahun terakhir, studi telah 

mengemukakan peran faktor transkripsi dan proses 

epigenetik dalam mempertahankan pluripotensi ES 

cell.26,27,28,29,30,31 Fungsi faktor transkripsi bergantung 

pada tahap perkembangan sel pluripoten. Hal ini 

menunjukkan bahwa faktor-faktor ini berfungsi 

bersama dengan proses lain. 32 Aktivitas faktor 

transkripsi juga bergantung pada akses gen target, 

yang dapat dibuat lebih mudah atau tidak terhadap 

modifikasi DNA nya, histon, atau struktur 

kromatin.33 

3. Stem Cell Self-Renewal 

72 

Meskipun ES cell dikatakan bersifat pluripoten, 

diferensiasi menjadi 3 tipe sel : ectoderm pritmitif, 

endoderm primitif dan sel trophectoderm, analog 

dengan kemampuan diferensiasi ICM. Diferesiasi ECS 

cell mencit dapat diinduksi oleh ekspresi ektopik dari 

faktor transkripsi tertentu, Misalnya ekspresi faktor 

transkripsi Gata6 pada ES cell menghasilkan 

diferensiasi menjadi endoderm primitif. 34 Juga 

ekspresi caudal-type homeobox transcription factor 

(Cdx2) menginduksi ES cell berdiferensiasi menjadi 

trophectoderm. 26 sebab  itu, faktor-faktor ini menekan 

ES cell menjadi self-renewal.17 

 

 

 

 

Gambar 4. Pembentukan pluripotent ground state secara in vivo. Perkembangan zigot berlanjut melalui pembelahan 

membentuk morula, yang berkembang menjadi blastocyst terdiri dari trophectoderm ekstraembrionic (TE) dan inner cell 

mass pluripotent. ICM mengekspresikan Gata6 (hijau) dan Nanog (biru) tetapi selanjutnya berkembang masing-masing 

menjadi extraembryonic primitive endoderm (PrE) dan pluripotent naïve epiblast (EPI) secara mutually exclusive. EPI 

yaitu  sumber pembentukan seluruh sel embrio, termasuk germline, sehingga dikenal sebagai perkembangan “ ground 

state.” 

 

Gambar 5. Embrio mencit dengan pluripotent lineage. Perkembangan preimplantasi dalam bentuk skema. (A) Stem cell 

pluripoten (hijau) pada perkembangan morula menjadi inner cells (B) membentuk inner cell mass (ICM) blastocyst. (C) 

Setelah menjadi endoderm primitive pada permukaan ICM, stem cell pluripotent membentuk epiblast dan memulai 

proliferasi secara cepat setelah implantasi. (D) Membentuk ectoderm primitif, epitelium berlapis tunggal yang membatasi 

pluripotensi dan menghasilkan  germ cell lineage dan membentuk somatic lineage embrio. Faktor transkripsi tertentu 

(biru) diperlukan untuk diferensiasi berbagai embryonic lineages (garis turunan embrio). 


EMBRYONIC STEM SELF-RENEWAL 

DENGAN MENCEGAH DIFERENSIASI  

 

Self-renewal dari ES cell dapat dipertahankan 

dengan mencegah diferensiasi dan meningkatkan 

pluripotensi. Untuk penelitian in vitro pada 

mencit, sangat dibutuhkan  satu faktor kunci yaitu 

leukemic inhibitory factor (Lif) untuk mencegah 

diferensiasi. Sebenarnya, kondisi kultur optimal 

untuk self-renewal yang kuat pada ground state 

(naive pluripotent) pada ES cell mencit terdiri 

dari 3 adiktif 2i yaitu suplemen LIF (CHIRON, 

PD03, LIF) (Gambar 6),19 yang terutama 

berpengaruh terhadap masing-masing jalur WNT, 

FGF/ERK, dan JAK/STAT. 19 Namun, kombinasi 

dari dua dari antara tiga sudah cukup 

mempertahankan naïve self-renewal, paling tidak 

untuk menguji genetik. 35,36 

 

Lif yaitu  family sitokin interleukin-6 berikatan 

dengan reseptor heterodimerik terdiri dari Lif receptor-

ß dan gp130. Ikatan ini memicu  aktivasi jalur 

Jak/Stat (Janus kinase signal transducer and activator of 

transkription). 17 Aktivasi Stat amat penting dan cukup 

mempertahankan EC cell mencit, 37,38 dan c-Myc 

yaitu  target dari Stat3.39  

 

Faktor transkripsi famili POU Oct3/4, yang disandi 

oleh Pou5f1, juga regulator pluripotensi,40  yang 

bekerja sebagai pengawal untuk mencegah 

diferensiasi ES cell. Represi artifisial terhadap Oct 

3/4 pada ES cell menginduksi diferensiasi sepanjang 

trophectodermal lineage, saat  overekspresi ES cell 

berdiferensiasi menjadi primitive endoderm-like cell 

(Gambar 7B). 17,27 Oct3/4 dilaporkan secara 

langsung mencegah diferensiasi menjadi 

trophoectoderm yang berinteraksi dengan Cdx2 

(faktor pemicu diferensiasi trophectoderm (Gambar 

7D,E). 17  

 

Gen target yang mencegah ES cell dari diferensiasi 

menjadi endoderm primitif dengan merepresi faktor 

pencetus yaitu  Gata6. Nanog yaitu  NK-2 class 

homeobox transcription factor yang diekspresikan 

sepanjang sel pluripoten ICM. Overekspresi Nanog 

pada ES cell dapat mempertahankan keadaan 

pluripoten tanpa Lif, sehingga dikenal sebagai 

repressor Gata6. 28,30 Namun, dilaporkan bahwa 

ekspresi Nanog sebagian diregulasi oleh Oct3/4 dan 

Sox2, suatu anggota famili Sox (SRY-related HMG 

box). 41,42 Meskipun overekspresi Nanog pada ES 

cell yang memblok diferensiasi ES cell menjadi  

endoderm primitif (diinduksi oleh penarikan Lif) 

atau pembentukan embryoid bodies (EB : struktur 

menyerupai bola yang membentuk ES cell pada 

suspensi kultur dan menyerupai diferensiasi 

mesoderm), tidak ada bukti langsung bahwa Gata6 

direpresi oleh Nanog. 17 

 

 

Gambar 6. Jalur signaling ekstrinsik yang memperkuat dan mengantagonis naïve pluripotency. Berbagai kaskade 

signaling berpengaruh terhadap self-renewal. Tanda panah menunjukkan aktivasi, sedangkan bar menunjukkan inhibisi 

atau blok terhadap aktivitas target. Garis tebal menunjukkan target downstream dan garis-terputus-putus yaitu  efek tidak 

langsung. Sesuai jarum jam : BMP4 ada  dalam serum dan berfungsi via SMADs mengaktivasi gen Id. LIF signaling 

berpengaruh terhadap banyak jalur tetapi terutama bekerja pada fosforilasi dimediasi JAK pada STAT3, yang 

mengaktivasi Ecfp211 dan Klf4. Signaling WNT kanonikal memblok aktivasi GSK3 memicu  stabilisasi ß-catenin, 

yang sebaliknya menghilangkan represi gen pluripotensi yang dimediasi TCF3, termasuk Esrrb. CHIRON mirip dengan 

signaling WNT dengan menginhibisi GSK3. Signaling FGF mengaktivasi jalur MAPK memicu  fosforilasi MEK, 

yang sebaliknya mengadakan fosforilasi dan mengaktivasi ERK. ERK yang aktif meningkatkan transisi menjadi keadaan 

“primed”, yang dihambat oleh inhibitor MEK yaitu PD03. 

 

Gambar 7. Diferensiasi ES cell mencit. (A) ES cell mencit berdiferensiasi menjadi 3 tipe sel –endoderm primitif, 

trophoectoderm (TE) dan ektoderm primitif –menyerupai potensi diferensiasi pada stem cell pluripoten pada embrio 

preimplantasi. (B-E) Berbagai kondisi kultur dapat menginduksi ES cell berdiferensiasi menjadi turunan tertentu. (B) 

tanpa Lif dan adanya kelebihan Oct 3/4, ES cell berdiferensiasi menjadi primitive endoderm-like cell, sedangkan (C) 

tanpa Nanog dan adanya Gata6, akan berdiferensiasi menjadi parietal endoderm-like cell. (D,E) Dengan mengeluarkan 

Oct 3/4 dari dan menambah Cdx2 ke dalam kultur ES cell menginduksi diferensiasi TE-like.  MEFc, mouse embryonic 

fibroblast conditioned medium. 


 

Gambar 8. Regulasi ES cell pada mencit. Faktor transkripsi pluripoten mengaktivasi ekspresi efektor tertentu (B) yang 

meningkatkan proliferasi ES cell. D iantaranya, Eras dan Tcl1 merangsang jalur signaling fosfoinositol 3-kinase 

(PI3K)/Akt untuk meningkatkan siklus sel, sedangkan b-Myc dan c-Myc mengaktivasi progresivitas siklus sel secara 

langsung. Bagaimana Utf1 dan Sall4 mempengaruhi proliferasi EC sel tidak diketahui.  



EMBRYONIC STEM CELL SELF-RENEWAL 

MELALUI PROLIFERASI 

 

Dengan kondisi kutur optimal, ES cell dapat 

mengadakan pembelahan simetris setiap 12 jam 

dengan Lif. Selama self-renewal, sebagian besar ES 

cell berada dalam fase S dari siklus sel, dengan 

sedikit dalam fase G1.43 Penemuan akhir-akhir ini 

mendapatkan bahwa jalur fosfoinositol-3-kinase 

(PI3K)/Akt signaling memegang peranan penting 

dalam memingkatkan proliferasi, survival dan/atau 

diferensiasi ES cell mencit (Gambar 8). 17 Delesi 

Pten, yang menyandi regulator negatif PI3K pada ES 

cell mencit dilaporkan meningkatkan viabilitas, 

proliferasi ES cell, 44 dan aktivasi Akt cukup 

mempertahankan self-renewal ES cell tanpa Lif. 45  

 

Dua modulator jalur PI3K)/Akt yang secara spesifik 

diekspresikan pada ES cell, Eras dan Tcl1 (Gambar 

8). 17, 46  Eras menyandi molekul kecil GTPase dari 

famili Ras yang mengaktivasi PI3K untuk 

merangsang proliferasi ES cell dan tumorigenisitas 

setelah transplantasi ektopik secara in vivo. 47 Produk 

gen Tcl1  meningkatkan aktivasi Akt dengan 

membentuk kompleks heterodimerik dengan Akt. 48 

Knockdown Tcl1 pada ES cell dapat mengganggu 

self-renewal dengan menginduksi diferensiasi 

dan/atau represi proliferasi. 49,50 Namun, mekanisme 

molekuler secara langsung mengekspresikan Eras 

dan Tcl1 pada ES cell belum diketahui. 17 

 

 

MEKANISME EPIGENETIK TERHADAP 

EMBRYONIC STEM SELF-RENEWAL 

 

Protein grup Polycomb (PcG) berfungsi terutama 

untuk menstabilkan struktur kromatin represif. 

Polycom-repressive complex 2 (PRC2) terdiri dari 

Exh2, Eed dan Suzl2 di dalam ES cell, berfungsi 

sebagai histone methyltransferase pada lysine 27 

(K27) dari histone H3, sehingga menghasilkan tri-

metilasi (H3K27me3), suatu methylation mark yang 

berhubungan dengan gen transkripsi inaktif.51  

Secara umum, distribusi chromatin mark represif 

bersifat mutuallly exclusive dengan H3K4me3, yang 

berhubungan dengan regio aktif. 52,53 Berstein et al., 

melaporkan bahwa pada ES cell mencit ada  

histone mark yang memiliki  lokasi sama pada 

tempat khusus dikenal sebagai “bivalent domain.” 

Domain ini tersusun atas elemen kromatin pendek 

ditandai oleh H3K4me3, yang berhubungan dengan 

gen yang diekspresikan pada tingkat rendah 

(Gambar 9B). 17, 54 

 

Gambar 9. Karakteristik epigenom pluripoten. (A) Nuklei 

undifferentiated (kiri) dan differented (kanan) dari ES cell. 

Nukleus mengecil dan area distribusi dengan densitas 

elektron, terutama heterokromatin, berubah secara 

dramatis saat  ES cell diinduksi terdiferensiasi menjadi 

endoderm primitif oleh ekspresi ektopik Gata6 (hasil 

mikroskop elektron). (B) Gambaran epigenetik sel nukleus 

pluripoten. Volume nukleus membesar pada sel 

berdiferensiasi sebagai akibat dari relaksasi struktur 

kromatin. ada  regio kecil heterokromatin tetapi 

kebanyakan yaitu  eukromatin, sehingga histone mark 

berhubungand dengan aktivitas transkripsi. Hiperdinamik 

protein kromatin (hijau) berkontribusi terhadap 

pemeliharaan eukromatin. Bivalent domain juga 

merupakan gambaran pluripoten epigenom, dengan 

histone mark (misalnya H3K4me) diapit oleh histone mark 

represif (H3K9me). 

 

Separuh dari bivalent domain berisikan tempat target 

yang umum dari Oct3/4, Sox2, dan Nanog, yang 

dianalisis dengan ChIP-on-ChIP. 29 Jadi, domain ini 

menunjukkan gen struktur kromatin dalam kondisi 

siap untuk berdiferensasi. 55  Lee et al., melakukan 

analisis pemeriksaan ChIP-on-ChIP untuk Suz12, 

Eed dan H3K27me saling tumpang tindih dan 

mendapatkan H3K27me3 mark berada pada regio 

dengan gen silent, termasuk Gata4 dan Cdx2 pada 

ES cell. Sebanyak 1800 gen yang dideteksi sebagai 

target Suz12 termasuk target represif oleh Oct3/4, 

Sox2 dan Nanog.29 Boyer et al.,juga 

mengidentifikasi 512 target gene PRC2 dan PRC1 

3. Stem Cell Self-Renewal 

76 

dengan analisis ChIP-on-ChIP dan menemukan 

bahwa ada  H3K27 me3 mark yang bersifat 

represif. Penemuan ini menunjukkan bahwa jalur 

perkembangan represif pada ES cell oleh proses 

epigenetik diperlukan untuk mempertahankan 

pluripotensi, tetapi perlu dilakukan studi lanjut. 17  

 

Ekspresi beberapa  gen pada kondisi pluripotensi ES 

cell yaitu  sebagai akibat proses genetik dan 

epigenetik. Pada proses epigenetik, epigenom 

pluripoten mempertahankan struktur kromatin terbuka, 

sehingga memungkinkan regulasi genetik dengan cepat 

(Gambar 9B). 17,54  Banyaknya chromatin marks aktif 

seperti H3K4me3 dan H4c pada ES cell menunjukkan 

kesesuaian terhadap kondisi ini. 57,58 Kromatin 

hiperdinamik yang diamati pada ES cell mencit selama 

self-renewal yaitu  sebagai akibat pertukaran histone 

H1 dan HP1œ, 59  sehingga berkontribusi terhadap 

struktur kromatin terbuka. Hal ini dibuktikan adanya 

perbedaan distribusi dan frekuensi densitas elektron 

tinggi sebagai heterokromatin60 antara ES dan parietal 

endoderm cell (Gambar 9B). 17, 54   

 

 

SELF-RENEWAL PADA EMBRYONIC STEM 

CELL MANUSIA 

 

Potensi stem cell dibedakan berdasar  potensi 

perkembangan atas embryonic stem cell dan stem 

pada jaringan postnatal (Gambar 10). 61 Stem cell 

pluripoten memiliki sifat berbeda mulai dari embrio 

preimplantasi dikenal sebagai embryonic stem cell, 

sedangkan yang dihasilkan setelah perkembangan 

embrio sebagai tahapan embryonic epiblast, dikenal 

sebagai epiblast stem cell. 6,63 Kebutuhan kultur 

ekspresi gen dan gambaran epigenetik membedakan 

perkembangan pluripotensi di dalam embrio. Istilah 

naïve dan primed menggambarkan epiblast tahap 

dini dan lanjut dan merupakan derivat masing-

masing dari embryonic stem cell dan EpiSC. 64 

 

 

 

Gambar 10. Potensi stem cell. a. Dua assay utama menilai potensi stem cell pluripoten yaitu  kimera blastocyst dan 

pembentukan teratoma. Penilaian assay menentukan klasifikasi potensi perkembangan atas totipoten, naive pluripotent, 

primed pluripotent, dan multipoten. Totipoten yaitu  kapasitas perkembangan dalam pembentukan suatu organisme, 

termasuk jaringan ekstraembrio. Naïve pluripotent mampu membentuk teratoma dan kimera setelah diberikan pada 

embrio preimplantasi, sedangkan primed pluripotent membentuk teratoma tanpa membentuk kimera setelah diberikan 

pada embrio pre implantasi, Stem cell multipoten membentuk tipe sel yang berhubungan dengan asal jaringan, tetapi 

tidak membentuk teratoma atau