Tampilkan postingan dengan label Terapi sel punca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terapi sel punca. Tampilkan semua postingan

Terapi sel punca






 Sel punca (stem cells) merupakan sel yang mampu menunjukkan kemampuan untuk memperbarui diri 

(self-renewal), belum terspesialisasi (unspecialized), menunjukkan plastisitas/trans diferensiasi, dan 

dapat diisolasi serta dikoleksi untuk kepentingan terapi (transplantasi/implantasi). Sesuai dengan 

pernyataan tersebut, sel punca dapat berdiferensiasi menjadi berbagai macam sel dalam tubuh 

makhluk hidup.1 Dalam separuh abad terakhir, terapi sel punca telah mengalami banyak 

perkembangan seiring dengan perkembangan ilmu biologi sel.2,3  Dalam praktik klinis medis, sel punca 

memiliki potensi yang besar untuk digunakan dalam proses terapi berbagai kelainan, di antaranya 

kelainan degeneratif, autoimun, dan onkologi. 

 

Jenis sel punca dan terapi sel punca 

Berdasarkan hierarki diferensiasi sel, sel punca dapat diklasifikasikan menjadi  sel punca totipoten, 

pluripoten, multipoten, olugopoten, dan unipoten.1  Sel punca totipoten adalah sel punca yang 

mampu berdiferensiasi menjadi sel apapun pada suatu organisme. Sel punca totipoten merupakan 

produk dari fertilisasi sel sperma dengan sel ovum.3 Sel punca totipoten dibedakan dari sel punca 

pluripoten terutama dari kemampuannya dalam membentuk jaringan ekstraembrional, seperti 

plasenta dan tali pusat.3  Sel punca pluripoten merupakan menyusun lapisan germinal, misalnya sel 

punca embrional. Lebih lanjut lagi, sel punca multipoten bersifat lebih spesifik pada suatu lini sel 

tertentu, misalnya sel punca hematopoietik. Jika sel punca hematopoietik berdiferensiasi menjadi sel 

punca yang lebih spesifik, misalnya sel punca myeloid, maka kelompok sel ini diklasifikasikan sebagai 

sel punca oligopoten. Bagian paling spesifik dari diferensiasi sel punca adalah sel punca 

unipoten/nulipoten yang hanya mampu berdiferensiasi menjadi satu jenis sel.1 Hierarki sel punca ini 

dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini. 

Pada awalnya, sel punca yang berasal dari sumsum tulang (bone marrow derived stem cell) diduga 

hanya berupa sel punca hematopoietik (hematopoietic stem cells/HSC). Seiring dengan perkembangan 

ilmu kedokteran sel punca, ditemukan bahwa sel sumsum tulang dewasa mengandung HSC, 

endothelial progenitor cells (EPC), dan sel punca mesenkimal (mesenchymal stem cells/MSC).4  Sesuai 

dengan namanya, HSC akan berdiferensiasi menjadi berbagai lini sel darah, sedangkan MSC mampu 

berdiferensiasi menjadi lemak, tulang, dan kartilago.4 

 

Dasar mekanisme kerja terapi sel punca 

Terapi sel punca mengalami perkembangan pesat karena sifat dasar dari sel punca yaitu 

kemampuannya untuk berdiferensiasi dan membelah diri. Kemampuan sel punca ini menjadi dasar 

dalam aplikasinya untuk mengobati penyakit-penyakit degeneratif.5 Terapi sel punca didefinisikan 

sebagai metode pengobatan terhadap penyakit tertentu yang melibatkan pemakaian sel punca 

manusia, baik sel punca embrional maupun induced pluripotent stem cells (iPSC), secara autologus 

maupun alogenik.5 

Terdapat beberapa terminologi yang perlu dipahami dalam terapi sel punca. Kedokteran regeneratif 

(regenerative medicine) merupakan cabang ilmu kedokteran terkini yang bertujuan untuk regenerasi 

sel melalui obat-obat small molecules, alat medis (device therapy), terapi biologik, serta terapi sel dan 

terapi gen. Terapi sel merupakan bagian dari kedokteran regeneratif. Terapi sel didefinisikan sebagai 

teknologi kedokteran yang menggunakan sel sebagai metode pengobatan untuk berbagai penyakit.6 

Dasar mekanisme kerja terapi sel punca bergantung pada jenis penyakit dan juga cara kerja sel punca 

pada masing-masing kelainan tersebut. Pada penyakit neurodegeneratif, terapi sel punca bertujuan 

untuk menggantikan sel-sel neuron yang mengalami gangguan fungsi dengan sel-sel baru yang 

berdiferensiasi menjadi sel fungsional. Mekanisme yang sama juga digunakan pada pengobatan 

cedera medula spinalis, di mana sel-sel yang mengalami kerusakan akan digantikan dengan sel punca 

yang berdiferensiasi menjadi neuron baru. Pada diabetes melitus, sel punca pluripoten diberikan 

dengan tujuan untuk menggantikan sel beta di pankreas.5 

Dalam bidang hematologi onkologi medik, sel punca khususnya sel punca multipoten telah digunakan 

sejak dekade tahun 1960 untuk pengobatan keganasan darah seperti leukemia, limfoma, dan mieloma 

multipel.7 Dasar dari terapi sel punca ini adalah sistem hematopoietik yang secara alami terdiri atas 

hierarki sel punca yang akan mengalami diferensiasi secara bertahap.  Pada keganasan darah, sel 

punca multipoten yang diberikan mampu berdiferensiasi menjadi eritrosit, megakariosit, limfosit, dan 

berbagai sel lainnya. 

 

Proses terapi sel punca 

Secara umum, proses terapi sel punca dapat dibedakan menjadi sel punca hematopoietik untuk 

pengobatan leukemia, limfoma, dan myeloma; serta sel punca mesenkimal untuk kedokteran 

regeneratif.   Proses terapi sel punca diawali dengan pengumpulan (koleksi) sel punca dari sumbernya. 

Sumber sel punca dapat bersifat autologus maupun alogenik. Pada sel punca alogenik, diperlukan 

proses HLA matching untuk memastikan kecocokan sel donor dengan resipien. Donor alogenik dapat 

berasal dari keluarga (related) ataupun dari orang lain tanpa hubungan keluarga (unrelated). 

Terdapat beberapa sumber sel punca. Pada terapi sel punca hematopoietik, dilakukan pengambilan 

dari sumsum tulang, darah tepi, maupun tali pusat. Pada sel punca mesenkimal, koleksi dapat 

dilakukan dari organ target tersebut (adiposa, synovium, dll), sumsum tulang (bone marrow derived 

stem cell), atau tali pusat.  Pada sel punca yang berasal dari tali pusat (umbilikal), proses persiapan 

koleksi berawal dari sebelum kehamilan.8 Pada saat proses persalinan, tali pusat segera dipisahkan 

dan dilakukan penyedotan darah tali pusat, untuk kemudian dilakukan pemrosesan.  Darah tali pusat 

dilakukan sentrifugasi agar komponen yang kaya akan sel punca terkonsentrasi, untuk kemudian 

dilakukan kriopreservasi.8 Darah tali pusat merupakan sumber sel punca yang banyak diminati di 

negara maju karena proses pengambilannya yang non invasif, dan sifatnya yang menganding banyak 

komponen sel yang bermanfaat 

Kekurangan dari sel punca darah tali pusat adalah jendela yang sempit untuk melakukan koleksi. 

Pengambilan darah tali pusat harus dilakukan saat kelahiran janin. 

Sel punca hematopoietik merupakan jenis sel punca yang sudah diaplikasikan untuk pengobatan sejak 

setengah abad yang lalu. Berbeda dengan darah tali pusat, darah perifer mengandung sel punca dalam 

jumlah yang jauh lebih sedikit.  Oleh karena itu, diperlukan proses tertentu untuk memobilisasi sel 

punca agar dapat ditemukan di darah tepi.10 Pemberian granulocyte colony stimulating factor (GCSF) 

telah menjadi baku emas dalam mobilisasi sel punca hematopioetik.10 Injeksi GCSF diberikan dengan 

dosis 10 µg/kgBB/hari secara subkutan selama 5 hari, dengan target sel CD34+ 2-5x106 sel /kgBB.10  

Kemudian, dilakukan pengambilan darah secara aferesis. Pengambilan secara aferesis bertujuan untuk 

memaksimalkan jumlah sel punca yang didapat, dengan mengurangi kontaminasi sel darah merah 

semaksimal mungkin.  Selanjutnya, produk hasil aferesis ini dapat langsung diberikan, disimpan 

dengan kriopreservasi, ataupun dilakukan enhancement dengan berbagai metode sebelum akhirnya 

diberikan kepada pasien 

Proses masuknya terapi sel punca ke dalam tubuh pasien dapat dilakukan secara sistemik melalui 

pemberian intravena maupun secara langsung diberikan ke dalam organ yang mengalami penyakit. 

Pada terapi sel punca hematopoietik, misalnya untuk pengobatan leukemia, sel punca diberikan 

secara sistemik melalui jalur intravena.  Di sisi lain, pada terapi sel punca untuk kedokteran 

regeneratif, terapi dapat diberikan secara sistemik maupun lokal.  Sebagai contoh, pada artritis 

rematoid, terapi sel punca dapat diberikan secata intravena (sistemik), injeksi intraartikular (lokal), 

maupun implantasi surgikal (lokal).12 

 

Penerapan sel punca dalam bidang kedokteran terutama di Indonesia 

Sel punca sebenarnya telah lama digunakan untuk pengobatan, khususnya sel punca hematopoietik. 

Sel punca telah lama memegang peranan penting khususnya dalam bidang hematologi onkologi 

medik. Pengetahuan akan sel punca dan diferensiasinya merupakan dasar dari ilmu sistem 

hematopoiesis yang selama ini dipahami secara luas.  Dari sisi onkologi medik, pengetahuan akan sel 

punca kanker (cancer stem cells) berkontribusi terhadap pemahaman akan patofisiologi kanker dan 

potensi terapi yang mentargetkan sel punca kanker secara spesifik. 

Sel punca hematopoietik banyak digunakan untuk terapi keganasan darah seperti leukemia, limfoma, 

dan myeloma multipel.  Sel punca jenis ini mampu berdiferensiasi menjadi limfosit, megakariosit, dan 

eritrosit sehingga sangat ideal untuk terapi kanker darah.7  Pada leukemia misalnya, pemberian sel 

punca hematopoietik tidak hanya menggantikan leukosit yang abnormal, tetapi juga mampu 

menggantikan eritrosit yang tertekan oleh sel blas yang berlebih.1 Terapi sel punca pada keganasan 

hematologi merupakan modalitas yang sudah terbukti secara ilmiah dan digunakan secara rutin di 

berbagai negara. Di Amerika Serikat misalnya, terapi sel punca hematopoietik digunakan untuk 

mengobati berbagai penyakit seperti pada gambar 4 di bawah ini.13 

 

Gambar 4. Indikasi Terapi Sel Punca Hematopoietik di Amerika Serikat 

(Sumber gambar: Lad, et al13) 

Keterangan: NHL: Non-Hodgkin Lymphoma; AML: Acute Myeloid Leukemia; HD: Hodgkin Disease; 

ALL: Acute Lymphoid Leukemia; MDS: Myelodysplastic Syndrome; MPD: Myeloproliferative Disorders; 

CML: Chronic Myeloid Leukemia 

  

Berbeda dengan sel punca hematopoietik, sel punca mesenkimal masih dalam proses penelitian untuk 

tatalaksana berbagai penyakit.14 Terdapat banyak penyakit yang menjadi indikasi terapi sel punca 

mesenkimal yang masih dalam tahap penelitian misalnya pada penyakit Crohn, artritis rematoid, 

osteoartritis, lupus eritematosus sistemik, hingga hepatitis B kronik.14  Proses pemberian sel punca 

mesenkimal ini masih banyak menemui tantangan, sehingga diperlukan berbagai teknologi untuk 

membantu penghantarannya ke dalam jaringan, misalnya dengan eksosom.15 Beberapa penelitian sel 

punca mesenkimal untuk penyakit inflamasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 

  

Tabel I. Penelitian Sel Punca Mesenkimal 

Penyakit Sumber Sel Punca Hasil 

Artritis rematoid fase II/II Bone marrow–derived stromal 

cells (BMSC) autologus 

Perbaikan waktu berdiri dan penurunan 

dosis metotreksat dan prednisolon 

Osteoartritis fase I/II Bone marrow–derived stromal 

cells (BMSC) autologus 

Perbaikan status fungisonal dan skala 

nyeri 

Penyakit ginjal polikistik 

autosomal dominan 

Bone marrow–derived stromal 

cells (BMSC) autologus 

Penurunan laju perburukan fungsi ginjal 

Lupus eritematosus 

sistemik  

Sel punca mesenkimal tali pusat 

autologus 

75% remisi pada grup sel punca, 83% 

pada grup kontrol.  

Acute on Chronic Liver 

Failure karena virus 

hepatitis B 

Bone marrow–derived stromal 

cells (BMSC) alogenik 

Perbaikan angka kesintasan, perbaikan 

fungsi hati 

Sumber: Regmi, et al.14 

Dari dua jenis sel punca multipoten yang utama, yaitu sel punca hematopoietik dan sel punca 

mesenkimal, sel punca hematopoietik merupakan jenis yang sudah digunakan di Indonesia sejak lama.  

Terapi transplantasi sumsum tulang alogenik pertama di Indonesia telah dikerjakan di Divisi 

Hematologi Onkologi Medik FKUI/RSCM pada tahun 1989. Sebelumnya, pasien yang mampu 

membiayai sendiri melakukan tindakan ini di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Taiwan, dan 

Belanda.16  Selain di Jakarta, transplantasi sumsum tulang alogenik juga pernah dilakukan di Semarang, 

namun dihentikan setelah dua kasus.16 Pelayanan di Jakarta juga sempat terhenti namun akan 

dilanjutkan kembali di tahun 2021 seiring dengan diresmikannya ruang perawatan Transplantasi 

Sumsum Tulang dan Kemoterapi Intensif (TST-KI) di RSCM/FKUI. 

Pengembangan jenis sel punca lainnya (non hematopoietik) di Indonesia, khususnya di RSCM/FKUI 

berawal pada pembentukan laboratorium sel punca tahun 2012.  Unit Perawatan Terpadu (UPT) Sel 

Punca RSCM melakukan penelitian sel punca untuk terapi berbagai kelainan seperti fraktur, cedera 

saraf, infark, penyakit kardiovaskular, dan luka bakar. 

 

Kesimpulan 

Terapi sel punca merupakan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan kedokteran yang akan membawa 

masa depan baru dalam pengobatan berbagai penyakit.  Terapi sel punca hematopoietik telah banyak 

digunakan di seluruh dunia untuk pengobatan keganasan hematologi, dan akan segera kembali 

diimplementasikan di Indonesia. Terapi sel punca mesenkimal memiliki prospek yang menjanjikan, 

namun perlu didukung data hasil penelitian uji klinis yang sahih.