Tampilkan postingan dengan label gizi dan penyakit 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gizi dan penyakit 2. Tampilkan semua postingan

gizi dan penyakit 2



 min 

dianjurkan untuk pasien yang mengkonsumsi ≤1200 

kkal energi sehari 

c. Jenis Diet, Indikasi Pemberian, dan Lama Pemberian

ada  dua jenis diet dislipidemia yaitu Diet 

Dislipidemia Tahap I dan Tahap II. Diet Dislipidemia 

Tahap I mengandung kolesterol dan lemak jenuh lebih 

tinggi daripada Diet Dislipidemia Tahap II. 

Bagi yang kegemukan, lebih dahulu dilakukan 

pengkajian terhadap riwayat berat badan, usaha 

penurunan berat badan, dan sikap yang berhubungan 

dengan makanan. Penilaian ini diperlukan untuk 

menentukan apakah harus dimulai dengan Diet Tahap 

I atau langsung diberikan Diet Tahap II. jika  diet 

pasien ternyata sudah sesuai dengan Diet Tahap I, maka 

dapat langsung diberikan Diet Tahap II. Jika tidak maka 

diet dimulai dari Diet Tahap I.

Keberhasilan diet dinilai dengan mengukur kadar 

kolesterol darah sesudah  4-6 minggu dan 3 bulan. Jika 

tujuan terapi diet tidak tercapai sesudah  3 bulan dengan 

Diet Tahap I, perlu dinilai penerimaan dan kepatuhan 

pasien terhadap diet ini. Jika tujuan tidak tercapai 

meskipun patuh, pasien harus pindah ke Diet Tahap II. 

Jika tujuan pengobatan tidak dapat dicapai pada waktu 

yang telah ditentukan, maka pasien perlu berkonsultasi 

lagi dengan dietisien 

Waktu Bahan Makanan URT Menu

Pagi Nasi ½ gls Nasi

Ikan 1 ptg sdg Ikan pepes

Tempe 2 ptg sdg Tempe bacem

Sayuran ½ gls Lalapan + sambel

Minyak ½ sdm

Pukul 10.00 Pisang 1 bh Pisang

Siang Mi 1 ½ gls Mi bakso campur

Bakso 15 bj sdg

Tahu 1 ½ gls

Sayuran 1 gls Sawi

Minyak ½ sdm

Jeruk manis 2 bh Jeruk manis

Pukul 16.00 Pepaya 1 ptg sdg Pepaya

Gula pasir 1 sdm teh

Malam Nasi 1 gls Nasi

Ikan 1 ptg Ikan bumbu kuning

Tempe 2 ptg sdg Oseng tempe

Sayuran ½ gls Cah sawi

Minyak ½ gls

Tabel 8. Contoh Menu Makanan dalam Sehari

B. Penyakit Jantung Koroner

1. Pengertian Penyakit Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner (PJK) yaitu  penyakit yang 

disebabkan adanya plak yang menumpuk di dalam arteri 

koroner yang mensuplai oksigen ke otot jantung. Penyakit ini 

termasuk bagian dari penyakit kardiovaskuler yang paling 

umum terjadi. Menurut WHO penyakit kardiovaskuler merupakan 

gangguan dari jantung dan pembuluh darah termasuk stroke, 

penyakit jantung rematik dan kondisi lainnya (Ghani et al., 2016).

 Penyakit jantung terjadi akibat proses berkelanjutan, dimana 

jantung secara berangsur-angsur kehilangan kemampuannya 

untuk melakukan fungsi secara normal. Pada awal penyakit, 

jantung mampu mengkompensansi ketidakefisien fungsinya dan 

mempertahankan sirkulasi darah normal melalui pembasaran 

dan peningkatan denyut nadi (compensand heart disease).

Dalam keadaan tidak terkompensasi (decompensatio 


cordis) , sirkulasi darah yang tidak normal memicu  sesak 

napas (dyspnea), rasa lelah,dan rasa sakit di daerah jantung. 

Berkurangnya aliran darah dapat memicu  kelainan pada 

fungsi ginjal,hati,otak serta tekanan darah,yang berakibat 

terjadinya resorpsi natrium. Hal ini akhirnya memicu  

edema. Penyakit jantung menjadi akut bila disertai infeksi 

(endocarditis atau carditis), gagal jantung, sesudah  myocard 

infract, dan sesudah  operasi jantung.

2. Etiologi Penyakit Jantung Koroner 

Penyakit jantung koroner dapat disebabkan oleh 

beberapa hal, antara lain:

a. Penyempitan (stenosis) dan penciutan (spasme) arteri 

koronaria, akan namun  penyempitan bertahap akan 

memungkinkan berkembangnya kolateral yang cukup 

sebagai pengganti.

b. Aterosklerosis, memicu  sekitar 98% kasus PJK.

c. Penyempitan arteri koronaria pada sifilis, aortis takayasu, 

berbagai jenis arteritis yang mengenai arteri koronaria, 

dan lain-lain (Ii and Pustaka, 1994).   

3. Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner 

Faktor risiko PJK dapat dibagi menjadi dua golongan 

besar, yaitu faktor risiko yang dapat dikurangi, diperbaiki 

atau dimodifikasi, dan faktor risiko yang bersifat alami atau 

tidak dapat dicegah. Faktor risiko yang tak dapat diubah 

yaitu  usia (lebih dari 40 tahun), jenis kelamin (pria lebih 

berisiko) serta riwayat keluarga. Faktor risiko yang bisa 

dimodifikasi, antara lain dislipidemia, diabetes melitus, 

stres, infeksi, kebiasaan merokok, pola makan yang tidak 

baik, kurang gerak, Obesitas, serta gangguan pada darah 

(fibrinogen, faktor trombosis, dan sebagainya). 

Makanan memegang peranan penting dalam kaitannya 

dengan kejadian PJK. Komposisi kandungan zat-zat gizi dalam 

makanan dapat berpengaruh terhadap tingginya kadar 

lemak dalam darah. Beberapa penelitian mengemukakan 

bahwa perubahan pola makan dapat mempengaruhi kadar 

lemak darah, berarti pula mempengaruhi terjadinya PJK 


Gambar 7. Faktor Risiko Jantung Koroner

4. Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner   

a. Sindrom Iskemik 

Berdasarkan proses patofisiologi dan derajat keparahan 

myokard iskemik dapat digambarkan sebagai berikut:

• Stable Angina Stable angina kronik yaitu  

manifestasi yang dapat diramalkan, nyeri dada 

sementara yang terjadi selama kerja berat atau 

stres emosi. Umumnya disebabkan oleh plak 

atheromatosa yang terfiksir dan obstruktif pada satu 

atau lebih arteri koroner. Pola nyerinya berhubungan 

dengan derajat stenosis. Seperti yang digambarkan 

saat atherosclerosos stenosis menyempitkan 

lumenarteri koroner lebih dari 70% menurunkan 

kapasitas aliran untuk memenuhi kebutuhan 

oksigen. Saat aktivitas fisik berat, aktivitas sistim 

saraf meningkatkan denyut jantung, tekanan darah 

dan kontraktilitas yang meningkatkan kebutuhan 

konsumsi oksigen. Selama kebutuhan oksigen tak 

terpenuhi, terjadi iskemik miokard diikuti angina 

pectoris yang mereda bila keseimbangan oksigen 

terpenuhi. Sebenarnya oksigen yang inadekuat 

selain disebabkan oleh atheroscleosis juga 

disebabkan oleh kerusakan endotel namun pada 

kasus ini vasodilatasi distal dan aliran kolateral 

masih berlangsung baik sehingga kebutuhan 

oksigen masih bisa diseimbangkan dengan cara 

beristirahat.

• Unstable angina Pasien dengan unstable angina 

akan mengalami nyeri dada saat aktivitas berat 

namun kemudian masih tetap berlangsung saat 

istirahat. Ini yaitu  tanda akan terjadi infark 

miokard akut . Unstable angina dan MI akut 

merupakan sindrom koroner akut sebab  ruptur dari 

atherosclerotic plak pada pembuluh darah coroner.

• Infark Miokard Akut Infark miokard akut dengan 

elevasi ST (ST elevation myocardial infarction 

=STEMI) merupakan bagian dari spektrum sindrom 

koroner akut (SKA) yang terdiri dari angina pektoris 

tak stabil, IMA tanpa elevasi ST dan IMA dengan 

elevasi ST . Infark miokard akut dengan elevasi 

segmen ST (STEMI) umumnya terjadi jika aliran 

darah koroner menurun secara mendadak sesudah  

oklusi trombus pada plak aterosklerotik yang sudah 

ada sebelumnya. Stenosis arteri koroner berat 

yang berkembang secara lambat biasanya tidak 

memacu STEMI sebab  berkembangnya banyak 

aliran kolateral sepanjang waktu. STEMI terjadi jika 

trombus arteri koroner terjadi secara cepat pada 

lokasi injuri vaskular, di mana injuri ini dicetuskan 

oleh faktor-faktor seperti merokok, hipertensi dan 

akumulasi lipid.  Pada sebagian besar kasus, infark 

terjadi jika plak aterosklerosis mengalami fisur, ruptur 

atau ulserasi dan jika kondisi lokal atau sistemik 

memicu trombogenesis, sehingga terjadi trombus 

mural pada lokasi ruptur yang memicu oklusi 

arteri koroner.

Penelitian histologis menunjukkan plak koroner 

cenderung mengalami ruptur jika memiliki  fibrous 

cap yang tipis dan inti kaya lipid (lipid rich core). Pada 

STEMI gambaran patologis klasik terdiri dari fibrin rich 

red trombus, yang dipercaya menjadi dasar sehingga 

STEMI memberi  respons terhadap terapi trombolitik. 


Selanjutnya pada lokasi ruptur plak, berbagai agonis 

(kolagen, ADP, epinefrin, serotonin) memicu aktivasi 

trombosit yang selanjutnya akan memproduksi dan 

melepaskan tromboxan A2 (vasokonstriktor lokal yang 

poten). Selain itu aktivasi trombosit memicu perubahan 

konformasi reseptor glikoprotein IIb/IIIa. sesudah  

mengalami konversi fungsinya, reseptor memiliki 

afinitas tinggi terhadap sekuens asam amino pada 

protein adhesi yang larut (integrin) seperti faktor von 

Willebrand (vWF) dan fibrinogen di mana keduanya 

yaitu  molekul multivalen yag dapat mengikat 2 

platelet yang berbeda secara simultan menghasilkan 

ikatan silang platelet dan agregasi. Kaskade koagulasi 

di aktivasi oleh pajanan tissue factor pada sel endotel 

yang rusak. Faktor VII dan X diaktivasi memicu  

konversi protrombin menjadi trombin, yang kemudian 

mengkonfirmasi fibrinogen menjadi fibrin. Arteri koroner 

yang terlibat (culprit) kemudian akan mengalami oklusi 

oleh trombus yang terdiri dari agregat trombosit dan 

fibrin.

 Pada kondisi yang jarang, STEMI dapat juga 

disebabkan oleh oklusi arteri koroner yang disebabkan 

oleh emboli arteri koroner, abnormalitas kongenital, 

spasme koroner dan berbagai penyakit inflamasi 

sistemik.7 Non STEMI dapat disebabkan oleh penurunan 

suplai oksigen dan atau peningkatan oksigen demand 

miokard yang diperberat oleh obstruksi koroner. NSTEMI 

terjadi sebab  thrombosis akut dan proses vasokonstriksi 

koroner. Trombosis akut diawali dengan rupture plak 

aterom yang tidak stabil dengan inti lipid besar dan 

fibrous cap tipis dan konsenterasi tissue factor tinggi. Inti 

lemak yang cenderung rupture memiliki  konsenterasi 

ester kolesterol dengan proporsi asam lemak tak jenuh 

yang tinggi. Pada lokasi rupture plak ada  proses 

inflamasi dilihat dari jumlah makrofag dan limfosit T. Sel-

sel ini akan mengeluarkan sitokin proinflamasi seperti 

TNF dan IL-6.IL-6 akan merangsang pengeluaran hsCRP 

di hati 

5. Gejala Penyakit Jantung Koroner

Gejala atau riwayat nyeri faktor risiko dominan penyakit 

jantung koroner di negara kita  di dalam dada/rasa tertekan 

berat/ tidak nyaman di dada, nyeri atau tidak nyaman 

di dada dirasakan di dada bagian tengah atau dada kiri 

depan lalu menjalar ke lengan kiri, nyeri atau tidak nyaman 

di dada dirasakan ketika mendaki/naik tangga/berjalan 

tergesa-gesa dan nyeri atau tidak nyaman di dada hilang 

ketika menghentikan aktifitas/istirahat. 

6. Diagnosis Penyakit Jantung Koroner   

a. Anamnesis Angina pektoris yaitu  suatu istilah yang 

digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak 

nyaman atau nyeri tumpul seperti rasa tertindih yang 

biasanya terletak retrosternum, dapat berdurasi kurang 

dari 20 menit pada angina pektoris stabil atau lebih dari 

20 menit pada angina pektoris tidak stabil, biasanya 

gejala ini dikeluhkan oleh pasien PJK.

b. Pemeriksaan fisik Tidak ada hal-hal yang spesifik pada 

pemeriksaan fisik, sering pemeriksaan fisik normal pada 

kebanyakan pasien. Mungkin pemeriksaan fisik yang 

dilakukan pada waktu nyeri dada dapat menemukan 

adanya 30 aritmia, gallop bahkan murmur, ronki basah 

dibagian basal paru, yang hilang lagi pada saat nyeri 

berhenti.

c. Elektrokardiogram (EKG) ada  dua jenis EKG yang 

dapat digunakan untuk mendiagnosis PJK khususnya 

dalam mendiagnosis angina pektoris stabil, yaitu EKG 

istirahat dan EKG aktivitas. EKG istirahat dikerjakan bila 

belum dapat dipastikan bahwa nyeri dada yaitu  

non kardiak, sedangkan EKG aktivitas penting sekali 

dilakukan pada pasien-pasien yang amat dicurigai, 

termasuk depresi ST ringan.

d. Enzim-enzim jantung Ada beberapa macam enzim 

jantung yang dapat digunakansebagai alat pendeteksi 

kelainan jantung, antara lain Creatinin Kinase (CK), 

CK MB, Lactic Dehidrogenase (LDH), cardiac specific 

troponin (cTn) T atau cTn I, dan lain sebagainya

e. CK meningkat sesudah  3-8 jam bila ada IM dan mencapai 

puncak dalam 10-36 jam dan kembali normal dalam 


3-4 hari.

f. CKMB akan meningkat sesudah  3 jam bila ada IM dan 

mencapai puncak pada 10-24 jam dan kembali normal 

dalam 2-4 hari.

g. cTn T dan cTn I meningkat meningkat sesudah  2 jam 

IM dan mencapai puncak dalam 10-24 jam dan cTn T 

masih dapat dideteksi sesudah  5- 14 hari, sedangkan cTn 

I sesudah  5-10 hari.

h. Intravascular ultrasound (IVUS) IVUS dan IVUS-based 

imaging modalities berpotensi untuk dapat berguna 

dalam mengetahui fase-fase berbeda dalam 

pembentukan plak dalam pembuluh darah koroner.

1. Angiografi koroner Pemeriksaan ini diperlukan pada 

pasien-pasien yang tetap pada angina pektoris stabil 

kelas III-IV meskipun telah mendapat terapi yang 

cukup, atau pasien-pasien dengan risiko tinggi tanpa 

mempertimbangkan beratnya angina, serta pasien-

pasien yang pulih dari serangan aritmia ventrikel yang 

berat sampai cardiac arrest, yang telah berhasil diatasi. 

Begitu pula untuk pasien-pasien yang mengalami gagal 

jantung dan pasien-pasien yang karakteristik klinisnya 

tergolong risiko tinggi. (Ii and Pustaka, 1994)

7. Terapi Diet Penyakit Jantung    

a. Tujuan diet penyakit jantung:

• memberi  makanan secukupnya tanpa 

memberatkan kerja jantung.

• Menurunkan berat badan bila terlalu gemuk.

• Mencegah atau menghilangkan penimbunan.

b. Syarat diet:

• Energi cukup, untuk mencapai dan mempertahankan 

berat badan normal.

• Protein cukup yaitu 0,8 g/kg BB.

• Lemak sedang,yaitu 25-30%  dari kebutuhan energy 

total, 10% berasal dari lemak jenuh, dan 10-15% lemak 

tidak jenuh

• Kolesterol rendah, terutama jika disertai dengan 

dyslipidemia 


• Vitamin dan mineral cukup. Hindari penggunaan 

suplemen kalium,kalsium, dan magnesium jika tidak 

dibutuhkan 

• Garam rendah 2-3 g/hari, jika disertai hipertensi 

atau edema

• Makanan mudah cerna dan tidak memicu  gas 

• Serat cukup untuk menghindari konstipasi

• Cairan cukup,± 2 liter/hari sesuai dengan kebutuhan

• Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan 

penyakit,diberikan dalam porsi kecil

• Bila kebutuhan gizi tidak dapat dipenuhi melalui 

makanan dapat diberikan tambahan berupa 

makanan enteral,parenteral,atau suplemen gizi

c. Jenis diet dan indikasi pemberian:

• Diet Jantung I

Diet jantung I diberikan kepada pasien penyakit 

jantung akut seperti myocard infarct (MCI) atau 

dekompensasio kordis berat. Diet diberikan berupa 

1-1,5 liter cairan/hari selama 1-2 hari pertama bila 

pasien dapat menerimanya. Diet ini sangat rendah 

energy dan semua zat gizi, sehingga sebaiknya 

hanya diberikan selama 1-3 hari.

• Diet Jantung II 

Diet jantung II diberikan dalam bentuk makanan 

saring atau lunak. Diet diberikan sebagai 

perpindahan dari diet jantung I, atau sesudah  fase 

akut dapat diatasi. Jika disertai hipertensi dan/ atau 

edema, diberikan sebagai diet jantung II garam 

rendah. Diet ini rendah energy, protein, kalsium, dan 

tiamin

• Diet Jantung III 

Diet jantung III diberikan dalam bentuk makanan 

lunak atau biasa. Diet diberikan sebagai perpindahan 

dari diet jantung II atau kepada pasien jantung 

dengan kondisi yang tidak terlalu berat. Jika disertai 

hipertensi dan/ atau edema, diberikan sebagai diet 

jantung III garam rendah. Diet ini rendah energy dan 

kalsium, namun  cukup zat gizi lain.


• Diet jantung IV 

Diet jantung IV diberikan dalam bentuk makanan 

biasa. Diet diberikan sebagai perpindahan dari diet 

jantung III atau kepada pasien jantung dengan 

keadaan ringa. Jika disertai hipertensidan/atau 

edema, diberikan seabagai diet jantung IV garam 

rendah. Diet ini cukup energy dan zat gizi lain, kecuali 

kalsium.

Pagi Siang Malam 

Bubur nasi Bubur nasi Bubur nasi 

Telur dadar Daging bb semur Ayam panggang 

Sup wortel Sayur bening bayam Tumis kacang panjang 

Susu skin Jeruk Papaya 

 Pukul 10.00 Pukul 16.00

Selada buah Apel 

Tabel 9. Diet Jantung II

Tabel 10. Diet Jantung III

Tabel 11. Diet Jantung IV

Pagi Siang Malam 

Nasi tim Nasi tim Nasi tim

Telur rebus Ikan panggang Daging rolade 

Tahu ungkep Tempe bumbu kuning Tahu bacem 

Sayur bening labu siam Sup oyong Tumis wortel 

Teh Apel Papaya 

Pukul 10.00 Pukul 16.00

Selada buah Agar-agar buah

Pagi Siang Malam 

Nasi Nasi Nasi 

Telur rebus Ikan panggang Daging rolade 

Tahu ungkep Tempe bumbu kuning Tahu bacem 

Sayur bening labu siam Sup oyong Tumis wortel 

Teh Apel Papaya 

Pukul 10.00 Pukul 16.00

Selada buah Agar-agar buah

Menu sama dengan diet jantung III, hanya nasi tim diganti dengan nasi.


C. Stroke

1. Pengertian Penyakit Stroke 

Stroke atau penyakit peredaran darah otak yaitu  

kerusakan pada bagian otak yang terjadi bila pembuluh 

darah yang membawa oksigen dan zat-zat gizi ke bagian 

otak tersumbat atau pecah.  Menurut Kemenkes RI (2013) 

stroke yaitu  gangguan fungsi syaraf lokal dan/atau global, 

munculnya mendadak, progresif dan cepat. Gangguan 

fungsi syaraf pada stroke disebabkan oleh gangguan 

peredaran darah otak non traumatik (Di et al., 2017).

2. Etiologi Penyakit Stroke 

Stroke dibagi menjadi dua jenis utama, tergantung pada 

pemicu nya:

a. Stroke iskemik disebabkan oleh trombosis serebral 

(gumpalan darah yang terbentuk di dalam pembuluh 

otak) dan relatif umum terjadi, lebih dari 70% kasus 

stroke merupakan jenis iskemik. Aterosklerosis serebral 

juga memicu  pembentukan gumpalan darah 

di arteri serebral atau bekuan darah bisa terbentuk di 

jantung atau arteri karotis di leher. Gumpalan darah bisa 

terangkut hingga pembuluh otak distal dan memblokir 

aliran darah. Penyakit jantung, termasuk aritmia (detak 

jantung yang tidak normal), masalah katup jantung, dan 

penyakit jantung koroner, bisa memicu  stroke.

b. Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya 

pembuluh darah di dalam otak. Kasus stroke ini paling 

sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi yang 

berlangsung secara terus-menerus. Ada juga kasus di 

mana pembuluh darah pada permukaan jaringan otak 

yang pecah. Kasus stroke ini dikaitkan dengan penyakit 

pembuluh darah otak bawaan, misalnya aneurisma 

arteri serebral atau malformasi arteriovenosa. Darah 

akan keluar di bawah ruang arachnoid (ruang antara 

jaringan otak dan tengkorak) dan menekan jaringan 

otak. Selain itu, pembuluh darah akan menyempit 

sesudah  terjadinya pendarahan, yang ikut mengurangi 

laju aliran darah 

Stroke iskemil banyak disebabkan sebab  trombotik 

atau sumbatan emboli, sedangkan stroke hemorhagic 

disebabkan oleh perdarahan akibat pecahnya 

pembuluh darah di suatu bagian otak.

3. Faktor Risiko Penyakit Stroke 

a. Riwayat stroke pada keluarga

b. Usia di atas 55 tahun: semakin tinggi usia, semakin tinggi 

risikonya

c. Tekanan darah tinggi: 70% dari pasien penderita stroke 

mengalami tekanan darah tinggi

d. Kadar kolesterol tinggi: peluang lebih tinggi terjadinya 

aterosklerosis (akumulasi kolesterol dan deposit (plak) 

lainnya pada dinding arteri. Plak bisa mengurangi aliran 

darah yang melalui arteri) dan penyempitan pembuluh 

darah otak 

e. Merokok: meningkatkan peluang terjadinya stroke 

hingga 3 kali lipat untuk pria dan 4,7 kali lipat untuk 

wanita 

f. Diabetes melitus: meningkatkan peluang terjadinya 

stroke hingga 4 kali lipat 

g. Obesitas

h. Penyakit kardiovaskular: peluang lebih tinggi terjadinya 

stroke bagi orang-orang dengan riwayat serangan 

jantung (infark miokard) dan irama jantung yang tidak 

normal (fibrilasi atrium)

i. Malformasi Vaskular atau aneurisma (pembengkakan 

seperti balon) pembuluh darah di otak: peluang 

perdarahan yang relatif lebih tinggi 

j. Stroke Ringan, yaitu Serangan Iskemik Sementara (TIA - 

Transient Ischemic Attack): memiliki gejala yang mirip 

dengan stroke, namun  berlangsung untuk jangka waktu 

yang lebih singkat, berlangsung sekitar 2 hingga 15 menit 

dan tidak lebih dari 24 jam. Stroke Ringan bisa menjadi 

tanda peringatan bahwa akan terjadi stroke yang lebih 

berat di masa depan. 

k. Pecandu alkohol: meningkatkan peluang terjadinya 

stroke 

  Faktor-faktor ini  meliputi faktor risiko yang 

tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah: 

Faktor risiko yang tidak dapat diubah: meliputi usia, jenis 

kelamin, ras dan genetik. Sedangkan faktor risiko yang 

dapat diubah diantarannya yaitu  hipertensi, merokok, 

obesitas, diabetes mellitus, tidak menjalankan perilaku 

hidup sehat, tidak melakukan medical check up secara rutin 

dan mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak 

garam. 

4. Patofisiologi Penyakit Stroke 

Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi 

di mana saja di dalam arteri-arteri yang membentuk 

Sirkulus Willisi (Gambar 2): arteria karotis interna dan sistem 

vertebrobasilar atau semua cabang-cabangnya. Secara 

umum, jika  aliran darah ke jaringan otak terputus 

selama 15 sampai 20 menit, akan terjadi infark atau kematian 

jaringan. Perlu diingat bahwa oklusi di suatu arteri tidak 

selalu memicu  infark di daerah otak yang diperdarahi 

oleh arteri ini . Alasannya yaitu  bahwa mungkin 

ada  sirkulasi kolateral yang memadai ke daerah 

ini . Proses patologik yang mendasari mungkin salah 

satu dari berbagai proses yang terjadi di dalam pembuluh 

darah yang memperdarahi otak. Patologinya dapat berupa 

(1) keadaan penyakit pada pembuluh itu sendiri, seperti 

pada aterosklerosis dan trombosis, robeknya dinding 

pembuluh, atau peradangan; (2) berkurangnya perfusi 

akibat gangguan status aliran darah, misalnya syok atau 

hiperviskositas darah; (3) gangguan aliran darah akibat 

bekuan atau embolus infeksi yang berasal dari jantung atau 

pembuluh ekstrakranium; atau (4) ruptur vaskular di dalam 

jaringan otak atau ruang subaraknoid.


Gambar 8. Sirkulus Willisi

Suatu  stroke mungkin didahului oleh Transient Ischemic 

Attack (TIA) yang serupa dengan angina pada serangan 

jantung. TIA yaitu  serangan-serangan defisit neurologik 

yang mendadak dan singkat akibat iskemia otak fokal 

yang cenderung membaik dengan kecepatan dan tingkat 

penyembuhan bervariasi namun  biasanya dalam 24 jam.

Secara patologi stroke dibedakan menjadi sebagai 

berikut:

1) Stroke Iskemik

Infark iskemik serebri, sangat erat hubungannya 

dengan aterosklerosis (terbentuknya ateroma) dan 

arteriolosklerosis. Aterosklerosis dapat memicu  

bermacam-macam manifestasi klinik dengan cara: 

a. Menyempitkan lumen pembuluh darah dan 

memicu  insufisiensi aliran darah 

b. Oklusi mendadak pembuluh darah sebab  terjadinya 

thrombus atau perdarahan aterom 

c. Merupakan terbentuknya thrombus yang kemudian 

terlepas sebagai emboli

d. memicu  dinding pembuluh menjadi lemah 

dan terjadi aneurisma yang kemudian dapat robek

Embolus akan menyumbat aliran darah dan terjadilah 

anoksia jaringan otak di bagian distal sumbatan. Di 

samping itu, embolus juga bertindak sebagai iritan yang 

memicu  terjadinya vasospasme lokal di segmen 


di mana embolus berada. Gejala kliniknya bergantung 

pada pembuluh darah yang tersumbat.

Ketika arteri tersumbat secara akut oleh trombus 

atau embolus, maka area sistem saraf pusat (SSP) 

yang diperdarahi akan mengalami infark jika tidak ada 

perdarahan kolateral yang adekuat. Di sekitar zona 

nekrotik sentral, ada  ‘penumbra iskemik’ yang 

tetap viable untuk suatu waktu, artinya fungsinya dapat 

pulih jika aliran darah baik kembali. Iskemia SSP dapat 

disertai oleh pembengkakan sebab  dua alasan: Edema 

sitotoksik yaitu akumulasi air pada sel-sel glia dan 

neuron yang rusak; Edema vasogenik yaitu akumulasi 

cairan ektraselular akibat perombakan sawar darah-

otak.

Edema otak dapat memicu  perburukan klinis 

yang berat beberapa hari sesudah  stroke mayor, akibat 

peningkatan tekanan intrakranial dan kompresi struktur-

struktur di sekitarnya.

2) Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik, yang merupakan sekitar 15% 

sampai 20% dari semua stroke, dapat terjadi jika  

lesi vaskular intraserebrum mengalami ruptur sehingga 

terjadi perdarahan ke dalam ruang subarakhnoid 

atau langsung ke dalam jaringan otak. Sebagian dari 

lesi vaskular yang dapat memicu  perdarahan 

subarakhnoid (PSA) yaitu  aneurisma sakular dan 

malformasi arteriovena (MAV). Mekanisme lain pada 

stroke hemoragik yaitu  pemakaian kokain atau 

amfetamin, sebab  zat-zat ini dapat memicu  

hipertensi berat dan perdarahan intraserebrum atau 

subarakhnoid. 

Perdarahan intraserebrum ke dalam jaringan otak 

(parenkim) paling sering terjadi akibat cedera vaskular 

yang dipicu oleh hipertensi dan ruptur salah satu dari 

banyak arteri kecil yang menembus jauh ke dalam 

jaringan otak. Biasanya perdarahan di bagian dalam 

jaringan 15 otak memicu  defisit neurologik fokal 


yang cepat dan memburuk secara progresif dalam 

beberapa menit sampai kurang dari 2 jam. Hemiparesis di 

sisi yang berlawanan dari letak perdarahan merupakan 

tanda khas pertama pada keterlibatan kapsula interna.

pemicu  pecahnya aneurisma berhubungan 

dengan ketergantungan dinding aneurisma yang 

bergantung pada diameter dan perbedaan tekanan 

di dalam dan di luar aneurisma. sesudah  pecah, darah 

merembes ke ruang subarakhnoid dan menyebar 

ke seluruh otak dan medula spinalis bersama cairan 

serebrospinalis. Darah ini selain dapat memicu  

peningkatan tekanan intrakranial, juga dapat melukai 

jaringan otak secara langsung oleh sebab  tekanan 

yang tinggi saat pertama kali pecah, serta mengiritasi 

selaput otak 

5. Gejala Penyakit Stroke

a. Sakit kepala tiba-tiba

b. Kehilangan keseimbangan, bermasalah dengan 

berjalan

c. Kelelahan

d. Kehilangan kesadaran atau koma

e. Vertigo dan pusing

f. Penglihatan yang buram dan menghitam

g. Kelemahan atau mati rasa pada satu sisi bagian tubuh 

di wajah, tangan, kaki

h. Adanya masalah dengan berbicara dan pendengaran.

6. Diagnosis Penyakit Stroke

Selain memeriksa gejala-gejala klinis, dokter akan 

memeriksa status berbagai macam faktor risiko seperti 

tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, dan juga 

akan melakukan tes darah untuk memeriksa hemoglobin 

(protein pembawa oksigen dalam darah), trombosit dan 

waktu pembekuan darah untuk mengidentifikasi anemia, 

kecenderungan perdarahan, dan viskositas darah.

Uji elektrokardiogram (uji medis yang mendeteksi 


kelainan jantung dengan mengukur aktivitas listrik yang 

dihasilkan oleh jantung saat berkontraksi) juga akan 

dilakukan untuk memeriksa kasus terjadinya serangan 

jantung secara bersamaan pemeriksaan lainnya mungkin 

mencakup: 

a. Pemindaian Tomografi Terkomputerisasi (CT - 

Computerized Tomography): bisa membantu untuk 

membedakan stroke akibat kurangnya pasokan darah 

dari stroke hemoragik

b. Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI - Magnetic 

Resonance Imaging): bisa menunjukkan status jaringan 

otak dan patensi/penyempitan pembuluh darah

c. Pencitraan ultrasonik pada pembuluh darah leher: 

menggunakan citra untuk mendeteksi penyempitan 

atau penyumbatan pembuluh darah leher

d. Doppler Transkranial: untuk mendeteksi penyempitan 

atau penyumbatan pembuluh darah di otak (Konsultan 

and Kedokteran, 2016).

7. Terapi Diet Stroke

a. Tujuan diet stroke yaitu  untuk:

• memberi  makanan secukupnya untuk memenuhi 

kebutuhan gizi pasien dengan memperhatikan 

keadaan dan komplikasi penyakit.

• Memperbaiki keadaan stroke, seperti disfagia, 

pneumonia, kelainan ginjal, dan dekubitus.

• Mempertahankan keseimbangan cairan dan 

elektrolit.

b. Syarat diet stroke:

• Energi cukup, yaitu 25-45 kkal/kgBB. Pada fase akut 

energi diberikan 1100-1500 kkal/hari

• Protein cukup, yaitu 0,8-1 g/kgBB. jika  pasien 

berada dalam keadaan gizi kurang, protein diberikan 

1,2-1,5 g/kgBB.

• Lemak cukup, yaitu 20-25% dari kebutuhan energi 

total.

• Karbohidrat cukup, yaitu 60-70% dari kebutuhan 

energi total.

• Vitamin cukup, (vit. A, riboflavin, B6, asam folat, B12, 


C, dan E

• Mineral cukup (kalsium, magnesium, dan kalium)

• Serat cukup, untuk membantu menurunkan kadar 

kolesterol darah dan mencegah konstipasi

• Cairan cukup, yaitu 6-8 gelas/hari, kecuali pada 

edema dan asites maka cairan akan dibatasi

• Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan 

pasien

• Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering

c. Jenis diet stroke:

a. Diet Stroke 

Diberikan kepada pasien dalam fase akut atau jika 

ada gangguan fungsi menelan.

b. Diet Stroke II

Diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diet 

stroke I atau kepada pasien fase pemulihan.

Waktu Diet Stroke II A Diet Stroke II B Diet Stroke II C

Pagi

Bubur sumsum + 

susu skim

Nasi tim/bubur Nasi

Saus gula merah Telur ½ masak Telur dadar

Telur rebus Cah labu siam Loaf tahu

Teh Susu skim Cah wortel

Susu skim

Pukul 10.00 Susu skim Puding maizena Puding maizena

Pepaya 

Siang Bubur saring Nasi tim/bubur Nasi 

Sup ikan saring

Ayam panggang 

bb kuning

Pepes ikan

Semur tempe 

saring

Tumis tempe Kering tempe

Sup wortel saring Sup sayuran Sayur asem

Jeruk Pepaya Jeruk 

Pukul 16.00 Puding maizena Susu skim Susu skim

Malam Bubur saring Nasi tim/bubur Nasi 

Ayam bb kuning 

saring

Ikan panggang bb 

tomat

Ayam goreng

Gadon tahu 

saring

Sup tahu sutra Tahu bacem

Sup labu siam 

saring

Tumis kacang 

panjang

Capcay cah

Pepaya Jeruk Apel 

Pukul 21.00 Susu skim Teh 

Tabel 12. Klasifikasi Obesitas Berdasarkan Indeks Massa Tubuh

Diet II A: Makanan cair + saring (1700 kkal), II B: Makanan lunak (1900 kkal), 

II C: Makanan biasa (2100 kkal)


Dislipidemia yaitu  kelainan metabolisme lipid yang ditandai 

dengan peningkatan dan penurunan dari fraksi lipid dalam plasma. 

Kelainan fraksi lipid yang utama yaitu  kenaikan kadar kolesterol 

total, kolestrol Low Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida 

serta penurunan kadar kolestrol High Density Lipoprotein (HDL). 

Peningkatan kadar kolestrol, terutama LDL, atau trigliserida darah 

sebagai faktor risiko terjadinya aterosklerosis atau penyakit jantung 

koroner. Sedangkan HDL justru memiliki peran sebaliknya yaitu 

menurunkan risiko terhadap Penyakit Jantung Koroner (Almatsier, 

2004). Dislipidemia berisiko menjadi PJK (Penyakit Jantung Koroner) 

dan stroke. Dengan begitu untuk orang yang sudah terkena PJK 

maupun stroke disarankan untuk melakukan terapi diet rendah 

lemak, yaitu dengan mengurangi kadar konsumsi lemak dalam 

makanan yang dimakan.

 PENYAKIT HATI DAN GINJAL

Di negara kita , prevalensi hepatitis cukup tinggi yaitu berkisar 

antara 2-20%  Pada Majalah Sehat No. 

12 tahun 2004 disebutkan bahwa sirosis hati di negara kita  

menduduki peringkat ketiga di dunia. Hepatoma berada pada 

urutan kelima penyakit neoplasma yang paling banyak diderita 

pasien rawat inap pada tahun 1998 

Penyakit hati (liver) merupakan salah satu penyakit yang masih 

menjadi masalah kesehatan, baik di negara maju maupun di negara 

yang sedang berkembang. Kerusakan atau masalah pada hati 

dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya obat-obatan 

yang sering dikonsumsi serta melebihi kadar yang dianjurkan, toksin 

dari makanan, alkohol, dan virus hepatitis 

Penyakit yang berpengaruh terhadap menurunnya status gizi 

di rumah sakit diantaranya yaitu  gagal ginjal dan penyakit hati. 

Pada pasien penyakit ginjal kecukupan energi dan protein sangat 

penting. Asupan energi dan protein yang rendah memicu  

peningkatan katabolisme namun  bila asupan protein terlalu tinggi 

memicu  sindrom uremik, oleh sebab  itu pada pasien 

penyakit ginjal perlu monitoring dan evaluasi asupan nutrisi agar 

tidak terjadi penurunan status gizi. Pada penyakit hati yang berat 

metabolisme protein terganggu sehingga ammonia terakumulasi 

secara abnormal di dalam darah. Pelayanan nutrisi di rumah 

sakit lebih tepat jika berorientasi sesuai keadaan individu dan 

memperhitungkan kebutuhan gizi pasien dengan memperhatikan 

keadaan penyakit/diagnosa penyakit sehingga pelayanan nutrisi 

dapat berjalan secara efektif. Masalah pelayanan nutrisi yang 

tidak tepat menjadi salah satu faktor dalam penyembuhan pasien 

terutama penyakit ginjal dan penyakit hati 

Hati

1. Definisi 

Hati yaitu  salah satu organ di dalam tubuh manusia. 

Organ ini merupakan organ tubuh dengan fungsi terbanyak 

dan merupakan salah satu organ terpenting dalam 

metabolisme zat gizi. Ada beberapa jenis penyakit yang 

dapat menyerang hati yaitu hepatitis, sirosis hati, dan 

hepatoma.

2. AnatomiHati merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh. 

Letaknya di bagian teratas di dalam rongga abdomen 

sebelah kanan, di bawah diafragma. Tulang-tulang iga 

melindungi hati secara luas. Hati terdiri dari dua belahan 

utama yaitu kanan dan kiri. Permukaan atas hati berbentuk 

cembung sedangkan permukaan bawah tidak rata dan 

memperlihatkan lekukan, fisura transversus. Permukaannya 

dilewati oleh berbagai pembuluh darah yang keluar-masuk 

hati. Fisura longitudinal memisahkan belahan kanan dan 

kiri di permukaan bawah sedangkan ligamen falsiformis 

di permukaan atas hati. Secara umum hati dibagi menjadi 

belahan kanan, belahan kiri, belahan kaudata, dan belahan 

kuadrata. Belahan (lobus) terdiri atas lobulus. Lobulus 

berbentuk polihedral (segibanyak) dan terdiri atas sel hati 

berbentuk kubus. Cabang-cabang pembuluh darah diikat 

bersama oleh jaringan hati 

3. Fisiologi

Hati memiliki  banyak fungsi hati yaitu :

a. Metabolisme karbohidrat

Pada metabolisme karbohidrat, hati berperanan 

penting dalam menjaga kenormalan kadar gula 

darah. Hati akan mengubah glukosa menjadi glikogen 

(glikogenesis) saat kadar gula darah tinggi serta 

mengubah glikogen menjadi glukosa (glikogenolisis) 

dan mengubah asam amino menjadi glukosa 

(glukoneogenesis) saat kadar gula darah rendah. Hati 

juga dapat mengubah fruktosa dan galaktosa menjadi 

glukosa serta mengubah glukosa menjadi lemak.

b. Metabolisme lemak

Hati memecah asam lemak menjadi asetil koenzim 

A (beta oksidasi), mengubah kelebihan asetil koenzim 

A menjadi keton (ketogenesis); mensintesis lipoprotein, 

kolesterol, dan fosfolipid; memecah kolesterol menjadi 

garam empedu, dan menyimpan lemak.

c. Metabolisme protein

• Deaminasi asam amino, yaitu pelepasan gugus 

amina (NH2) sehingga asam amino bisa digunakan 

sebagai sumber energi atau dikonversi menjadi 

karbohidrat atau lemak.

• Konversi amonia (NH3) yang bersifat racun menjadi 

ureum yang kemudian diekskresikan melalui urine. 

Amonia dihasilkan dari proses deaminasi dan 

bakteri yang ada pada saluran pencernaan

• Sintesis sebagian besar plasma protein, seperti 

alfa dan beta globulin, albumin, protrombin, dan 

fibrinogen

• Transaminasi, yaitu pemindahan gugus amina dari 

suatu asam amino ke substansi lain (asam keto-á) 

sehinggamenghasilkan satu asamamino baru dan 

satu asam keto baru.

d. Merubah obat dan hormon

Hati dapat mendetoksifikasi atau mengekskresikan 

ke dalam empedu berbagai jenis obat seperti penisilin, 

ampisilin, erithromisin, dan sulfonamid. Hati secara kimia 

juga dapat merubah atau mengekskresikan hormon 

steroid seperti estrogen, aldosteron, dan tiroksin.

e. Ekskresi empedu (bilirubin)

Bilirubin yang merupakan turunan hem dari sel darah 

merah yang sudah tua, diserap hati dari darah, dan 

diekskresikan ke dalam empedu. Kebanyakan bilirubin 

pada empedu dimetabolisme di usus oleh bakteri dan 

dikeluarkan melalui feses.

f. Sintesis garam empedu 

Garam empedu digunakan usus halus untuk 

emulsifikasi dan absorpsi lemak, kolesterol, fosfolipid, 

dan lipoprotein.

g. Penyimpanan

Hati berfungsi sebagai tempat penyimpanan 

glikogen, vitamin (A, B12, D, E, dan K), dan mineral (Fe 

dan Cu). Sel hati mengandung protein yang disebut 

apoferitin yang bergabung dengan besi membentuk 

feritin. Feritin merupakan bentuk mineral besi yang 

disimpan di hati dan dapat dilepaskan saat dibutuhkan.

h. Fagositosis

Sel Kupffer hati mengfagositasi sel darah merah dan 

sel darah putih yang sudah tua serta beberapa bakteri. 

Aktifasi vitamin D Hati dan ginjal berpartisipasi dalam 

mengaktifasi vitamin D

A. Penyakit Hati (Hepatitis)

1. Hepatisis A

Hepatitis A dahulu disebut hepatitis infeksiosa. 

Penularannya terutama melalui kontaminasi oral-fekal 

akibat higiene yang buruk atau makanan yang tercemar. 

Individu yang tinggal di tempat-tempat padat yang 

higienenya mungkin tidak baik, seperti panti asuhan, institusi 

mental, penjara, dan penampungan gelandangan, beresiko 

mengidap penyakit ini. Virusnya kadang-kadang ditularkan 

melaui darah. Di negara kita  berdasarkan data dari rumah 

sakit, hepatitis A merupakan bagian terbesar dari kasus 

hepatitis akut yang dirawat yaitu sebesar 39,8-68,3%.

2. Hepatitis B 

Hepatitis B kadang-kadang disebut hepatitis serum. Virus 

hepatitis B (HBV) ada dalam semua cairan tubuh individu 

yang terinfeksi, termasuk darah, semen, ludah, dan kencing. 

Penularan HBV terutama terjadi dengan jalan parenteral, 

seksual, atau vertikal (ibu-bayi) sedangkan jalan tinja-

oral relatif tidak penting. Penularan biasanya memerlukan 

inokulasi yang jelas (tranfusi darah, injeksi dengan jarum 

yang terkontaminasi, atau luka sebab  ujung jarum yang 

tidak disengaja) atau  kontak personal yang intim (antara 

mitra seksual atau ibu dan neonatus). Kelompok yang 

beresiko tinggi terinfeksi HBV yaitu penyalahguna obat 

intravena yang memakai jarum bersama, homoseksual laki-

laki, hubungan seksual yang tidak selektif, pekerja kesehatan, 

penderita yang ditranfusi, dan penderita hemofilia. Di dunia 

ada  sekitar 284 juta orang pembawa kuman (carrier) 

dengan sekitar 200 juta berada di Asia. Prevalensi tertinggi 

yaitu 8-20% yang ada  di daerah endemisitas tinggi 

seperti Afrika dan Asia. Satu per lima atau lebih penduduknya 

mungkin telah terinfeksi secara kronis yang kebanyakan 

telah menderita sejak bayi.

3. Hepatitis C 

Hepatitis C dahulu disebut hepatitis non-A non-B. Virus 

hepatitis C (HCV) merupakan pemicu  tersering infeksi 

hepatitis yang ditularkan melalui suplai darah komersial 

(Corwin 2001). Virus ini bisa memicu  hepatitis akut yang 

sebagian besar penderitanya berlanjut menjadi hepatitis 

kronis dan pengidap yang merupakan sumber infeksi. Sekitar 

20% dari penderita hepatitis C kronis akan berkembang 

menjadi sirosis hati yang berpotensi besar berkembang 

menjadi hepatoma di masa yang akan datang. Waktu rata-

rata yang diperlukan untuk berkembang menjadi sirosis hati 

yaitu 17 tahun sedangkan untuk menjadi hepatoma sekitar 

20 tahun.

4. Hepatitis D 

Virus Hepatitis D (HDV) diduga tersebar luas di 

seluruh dunia dan pernah endemik di Amerika Selatan. 

Penularannya sama dengan HBV, kecuali transmisi vertikal. 

Penyakit ini timbul sebab  adanya koinfeksi atau superinfeksi 

dengan HBV. Koinfeksi yaitu infeksi HDV dan HBV yang terjadi 

secara bersamaan sedangkan superinfeksi yaitu penderita 

hepatitis B kronis atau pembawa HBsAg terinfeksi oleh HDV. 

Koinfeksi umumnya memicu  hepatitis akut yang 

diikuti dengan kesembuhan total sedangkan superinfeksi 

sering berkembang menjadi kronis dengan tingkat penyakit 

lebih berat yang berakibat fatal.

5. Hepatitis E

Virus Hepatitis E (HEV) terutama ditularkan melalui ingesti 

air yang tercemar. Sebagian besar kasus yang dilaporkan 

ditemukan di negaranegara berkembang. Virus ini  

tidak memicu  keadaan pembawa (carrier) atau 

memicu  hepatitis kronik. Akan namun , bisa menjadi 

hepatitis fulminan yang pada akhirnya memicu  

kegagalan hati dan kematian (Wahyudi, 2017).

Prinsip terapi diet yang sesuai dengan kebutuhan 

penderita hepatitis yaitu :

a. Tinggi protein 

Protein diperlukan untuk membangun sel dan 

jaringan yang baru. Selain itu, protein juga mencegah 

kerusakan akibat infiltrasi lemak dalam jaringan hati. 

Protein yang dibutuhkan sehari berkisar antara 70 

sampai 100 g.

b. Tinggi karbohidrat 

Penyediaan glukosa ditingkatkan untuk melindungi 

simpanan glikogen di hati. Ini juga membantu 

menyediakan energi dan mencegah pemecahan 

protein untuk energi. Diet seharusnya mengandung 

300-400 gram karbohodarat per hari.

c. Lemak sedang 

Beberapa lemak menyedapkan makanan sehingga 

meningkatkan selera  makan. Produk susu dan minyak 

tumbuhan dalam jumlah sedang sangat bermanfaat. 

Makanan sebaiknya mengandung 100-150 garam lemak 

per hari.

d. Tinggi energi 

Energi yang dibutuhkan per hari berkisar antara 

2500-3000 Kal. Peningkatan kebutuhan energi ini untuk 

mendukung proses penyembuhan, menutupi kehilangan 

energi akibat demam dan kondisi tubuh yang lemah, 

serta memperbaharui tenaga untuk sembuh dari 

penyakit.


e. Pemberian makan 

Makanan yang diberikan pertama kali sebaiknya 

dalam bentuk cair seperti milkshake yang tinggi 

protein dan kalori atau produk formula khusus untuk 

penggunaan yang berulang. jika  selera makan dan 

toleransi terhadap makanan meningkat maka bentuk 

makanan diberikan perlu segera diubah. Ini harus 

dibarengi dengan memperhatikan makanan yang 

disukai dan tidak disukai pasien untuk meningkatkan 

intake makanan (Sinurat, 2018).

f. Gizi Kurang Pada Penyakit Hati

Malnutrisi yang biasanya terjadi pada seseorang 

yang menderita suatu penyakit yaitu gizi kurang. Faktor 

resiko terjadinya gizi kurang diantaranya yaitu asupan 

makanan yang tidak cukup selama lebih dari 7 hari dan 

kehilangan berat badan lebih dari 10% dalam waktu 

singkat. Secara umum prevalensi malnutrisi pada 

penderita penyakit hati kronis meningkat seiring dengan 

tingkat penyakit yang semakin berat. Berikut beberapa 

pemicu  malnutrisi pada penderita penyakit hati yaitu:

1. Penurunan intake makanan sebab  menurunnya 

kualitas dan/atau kuantitas makanan

2. Penurunan kemampuan mencerna dan 

mengabsorpsi makanan.

3. Kebutuhan energi yang meningkat.

4. Sintesis protein yang tidak efisien, 

pemecahan protein yang semakin cepat, 

dan peningkatan oksidasi protein.

g. Kebutuhan dan Konsumsi Zat Gizi pada Hati

Kebutuhan zat gizi yaitu sejumlah zat gizi minimal 

yang harus dipenuhi dari konsumsi makanan. 

Kebutuhan manusia akan energi dan zat gizi lainnya 

sangat barvariasi meskipun faktor-faktor seperti ukuran 

badan, jenis kelamin, macam kegiatan, dan faktor 

lainnya sudah diperhitungkan. Jumlah zat gizi yang 

dibutuhkan dapat tergantung padakualitas makanan 

sebab  efisiensi penyerapan dan pendayagunaan zat 

75MATERI V - PENYAKIT HATI DAN GINJAL

gizi oleh tubuh dipengaruhi oleh komposisi dan keadaan 

makanan secara keseluruhan.

Menurut Supariasa, kebutuhan 

tubuh akan zat gizi ditentukan 

oleh banyak faktor. Faktor ini  antara lain 

tingkat metabolisme basal, tingkat pertumbuhan, 

aktifitas fisik, dan faktor yang bersifat relatif seperti 

gangguan pencernaan, perbedaan daya serap, 

tingkat penggunaan, serta perbedaan pengeluaran 

dan penghancuran zat gizi dalam tubuh. Manusia 

mengkonsumsi makanan untuk kelangsungan hidupnya. 

Makanan yang mengandung zat gizi yang bervariasi 

baik jenis maupun jumlahnya berguna untuk energi 

dalam melakukan kegiatan fisik sehari-hari, memelihara 

proses tubuh, serta pertumbuhan dan perkembangan. 

Ada beberapa faktor yang menentukan seseorang 

dalam memilih makanannya. Faktor-faktor ini  

yaitu kesenangan dan ketidaksenangan, kebiasaan, 

daya beli dan ketersediaan makanan, kepercayaan 

dan ketahayulan, aktualisasi diri, faktor agama dan 

psikologis, serta pertimbangan gizi dan kesehatan. 

Konsumsi makanan dalam aspek gizi bertujuan untuk 

memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan tubuh. 

Tingkat konsumsi seseorang merupakan persen angka 

konsumsi energi dan zat gizi yang diperoleh dari survei 

terhadap angka kecukupan yang dianjurkan.Menurut 

survei konsumsi makanan dapat dilakukan dengan 

berbagai metode diantaranya metode recall 24 jam 

dan metode penimbangan makanan (food weighing 

method).

Prinsip metode recall 24 jam 

yaitu mencatat jenis dan jumlah 

bahan makanan yang dikonsumsi pada 

periode 24 jam yang lalu. Data yang 

diperoleh cenderung bersifat kualitatif. 

Oleh sebab nya jumlah makanan yang 

dikonsumsi individu harus ditanyakan secara teliti 

dengan menggunakan alat ukur rumah tangga (URT) 

seperti sendok, piring, dan lain-lain untuk mendapatkan 

data kuantitatif. Prinsip food weighing method yaitu 

mengukur secara langsung berat setiap jenis pangan 

yang dikonsumsi. Berat makanan yang dikonsumsi 

didapatkan dari mengurangi berat makanan sebelum 

dimakan dengan berat makanan yang tersisa sesudah  

makan. Tingkat ketelitian metode ini paling tinggi 

dibanding metode lainnya dalam hal mengukur 

konsumsi pangan secara kuantitatif.

1. Energi

Energi dalam makanan berbentuk energi kimia 

yang dapat diubah menjadi energi dalam bentuk 

yang lain. Bentuk energi yang berkaitan dengan 

proses-proses biologis yaitu  energi kimia, energi 

mekanik, energi panas, dan energi listrik. Energi 

dibutuhkan manusia untuk mempertahankan 

hidup, menunjangpertumbuhan, dan melakukan 

aktifitas fisik. Energi harus tersedia dalam jumlah 

yang cukup agar sintesis protein dapat berlangsung 

dan penggunaan asam amino untuk memenuhi 

kebutuhan energi dapat dicegah. Energi ini  

diperoleh dari hasil oksidasi karbohidrat, lemak, 

dan protein yang ada pada makanan serta alkohol. 

Setiap gram karbohidrat dan protein menghasilkan 

energi sebesar 4 Kal, lemak menghasilkan 9 Kal, 

dan alkohol menghasilkan 7 Kal. Metabolisme 

karbohidrat,protein, lemak, dan alkohol diatur oleh 

hati.

Oleh sebab  itu, hati dikatakan 

sebagai sebagai pemegang peran utama 

dalam menjaga keseimbangan energi. Sumber 

energi tinggi yaitu bahan makanan sumber lemak, 

seperti lemak dan minyak, kacang-kacangan, dan 

padi-padian. sesudah  itu, bahan makanan sumber 

karbohidrat seperti padi-padian, umbi-umbian, dan 

gula murni. Kekurangan energi pada orang dewasa 

bisa memicu  penurunan berat badan dan 

kerusakan jaringan tubuh. Kelebihan energi juga 

tidak baik sebab  kelebihannya akan diubah 

menjadi lemak tubuh yang dapat memicu  

kegemukan. Pada akhirnya ini dapat memicu  

gangguan fungsi tubuh yang merupakan resiko 

untuk menderita penyakit kronis dan memperpendek 

harapan hidup.

2. Protein 

 Protein yaitu  sumber asam amino yang 

mengandung unsur-unsur C, H, O, dan N yang tidak 

dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Molekul protein 

juga mengandung fosfor, belerang, dan unsur 

logam seperti besi dan tembaga. Fungsi utama 

protein bagi tubuh yaitu membentuk jaringan baru 

dan mempertahankan jaringan yang sudah ada. 

Secara garis besar fungsi protein yaitu sebagai 

enzim, alat pengangkut dan penyimpan, pengatur 

pergerakan, penunjang mekanis, membangun 

sel-sel jaringan tubuh, pertahanan tubuh, bahan 

bakar dan pemberi tenaga, menjaga asam basa 

cairan tubuh, membuat protein darah, dan media 

perambatan impuls saraf. Metabolisme protein 

yang terganggu bisa memicu  komplikasi pada 

penyakit hati. Komplikasi ini  dikenal dengan 

Hepatic Encephalopathy (Koma Hepatik). Beberapa 

hal yang mendorong terjadinya Koma Hepatik yaitu:

a. Akumulasi bermacam-macam racun 

yang disebabkan oleh melemahnya 

fungsi hati. Amonia merupakan penanda 

racun yang dihubungkan dengan 

encephalopathy.

b. Neurotransmiter yang salah. Ini ditandai dengan 

perubahan komposisi plasma asam amino dan 

penurunan rasio asam amino rantai cabang 

(BCAA) terhadap asam amino aromatik (AAA).

c. Peningkatan substansi penghambat saraf otak 

dan serum yang ditandai dengan peningkatan 

kadar asam gama-aminobutirik (GABA) dan 

peningkatan densitas reseptor GABA otak.

Bahan makanan hewani merupakan sumber 

protein yang baik dalam jumlah maupun mutu. 

Contoh sumber protein hewani yaitu telur, susu, 

daging, unggas, ikan, dan kerang. Sumber protein 

nabati contohnya kacang kedelai dan hasilnya, 

seperti tempe dan tahu, serta kacangkacangan lain. 

Padi-padian dan hasil-hasilnya relatif rendah dalam 

protein namun  jika dimakan dalam jumlah besar dapat 

memberi sumbangan besar terhadap konsumsi 

protein sehari. Kekurangan protein memicu  

kwashiorkor, marasmus, atau gabungan keduanya. 

Ini memicu  kegagalan pertumbuhan ringan 

sampai suatu sindrom klinis berat yang spesifik. 

Keadaan ini  tidak hanya dipengaruhi oleh intake 

makanan. Akan namun , juga keadaan lingkungan 

seperti pemukiman, sanitasi dan higiene, serta infeksi 

berulang yang ditimbulkannya . Kelebihan protein 

bisa memicu  obesitas sebab  makanan yang 

tinggi protein biasanya tinggi lemak. Selain itu, 

kelebihan protein memicu  asidosis, dehidrasi, 

diare, kenaikan amoniak darah, kenaikan urea 

darah, dan demam. Asam amino yang berlebihan 

akan memberatkan kerja ginjal dan hati yang harus 

memetabolisme dan mengeluarkan kelebihan 

nitrogen. Pembatasan konsumsi protein pada 

penderita penyakit hati dilakukan jika  pasien 

mengalami intoleransi protein. Kondisi ini biasanya 

ditemukan pada pasien dengan Koma Hepatik. 

Konsumsi sumber protein selain daging, seperti 

sayuran dan produk susu, sangat dianjurkan. Sayuran 

dan produk susu mengandung amonia, metionin, dan 

asam amino aromatik (AAA) yang lebih rendah serta 

asam amino rantai cabang (BCAA) yang lebih tinggi 

dibandingkan dengan daging.

h. Diet Pada Penyakit Hati

Tujuan diet pada penyakit hati yaitu untuk 

memberi  makanan secukupnya guna mempercepat 

perbaikan faal hati tanpa memberatkan pekerjaan hati. 

Syarat diet pada penyakit hati yaitu :

1. Energi tinggi, karbohidrat tinggi, lemak 

sedang, dan protein disesuaikan 

dengan keadaan klinik penderita. Diet diberikan 

secara berangsur disesuaikan dengan nafsu makan 

dan toleransi penderita terhadap protein.

2. Cukup mineral dan vitamin.

3. Garam rendah bila ada retensi garam atau air.

4. Mudah dicerna dan tidak merangsang.

5. Bahan makanan yang memicu  gas 

dihindarkan.

6. Bahan makanan yang tidak boleh diberikan 

yaitu semua makanan dan daging yang banyak 

mengandung lemak seperti daging kambing dan 

daging babi. Selain itu, juga bahan makanan yang 

memicu  gas seperti ubi, kacang merah, kol, 

sawi, lobak, ketimun, durian, dan nangka (Bagian Gizi 

RSCM & Persagi 2002). Semua bahan harus dimasak 

dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang. 

Jenis makanan yang digoreng atau bertekstur keras 

harus dihindari.Berikut yaitu  macam diet pada 

Penyakit Hati dan indikasi pemberiannya menurut 

Bagian Gizi RSCM & Persagi (2002) :

a. Diet Hati I (DH I) 

Diet ini  diberikan kepada 

penderita sirosis hati berat dan hepatitis 

infeksiosa akut dalam keadaan prekoma 

atau segera sesudah penderita dapat makan 

kembali. Pemberian sumber protein sedapat 

mungkin dihindarkan.Makanan berupa cairan 

yang mengandung karbohidrat sederhana 

seperti sari buah, sirup, dan teh manis. Cairan 

diperlukan kurang lebih 2 liter sehari bila tidak 

ada asites. Bila ada asites dan diuresa belum 

sempurna pemberian cairan maksimum 1 liter 

sehari. Makanan ini rendah energi, protein, 

kalsium, besi, dan thiamin. Pemberiannya tidak 

lebih dari 3 hari. Infus glukosa dapat diberikan 

untuk menambah energi.

b. Diet Hati II (DH II) 

Diet ini diberikan bila keadaan akut atau 

prekoma sudah dapat diatasi dan penderita 

sudah mulai memiliki  nafsu makan. Makanan 

diberikan dalam bentuk cincang atau lunak 

menurut keadaan penderita. Protein dibatasi 

(30 g sehari) dan lemak diberikan dalam bentuk 

mudah dicerna. Makanan ini rendah energi, 

kalsium, besi, dan thiamin. Sebaiknya diberikan 

selama beberapa hari saja. Menurut beratnya 

retensi garam/air, makanan diberikan sebagai 

Diet Hati II Rendah Garam. Bila ada asites hebat 

dan tanda-tanda diuresa belum baik maka 

diberikan Diet Rendah Garam I (DRG I).

c.  Diet Hati III (DH III) 

Diet ini  diberikan sebagai makanan 

perpindahan dari Diet Hati II atau pada penderita 

yang nafsu makannya cukup. Makanan 

diberikan dalam bentuk lunak atau biasa 

menurut keadaan penderita. Protein diberikan 

1 g/kg berat badan dan lemak sedang dalam 

bentuk yang mudah dicerna. Makanan ini cukup 

mengandung energi, besi, vitamin A dan C, namun  

kurang kalsium dan thiamin. Menurut beratnya 

retensi garam/air, makanan diberikan sebagai 

Diet Hati III Rendah Garam. Bila ada asites hebat 

dan tanda-tanda diuresa belum baik maka 

diberikan Diet Rendah Garam I (DRG I).

d.  Diet Hati IV (DH IV) 

Diet ini diberikan sebagai makanan 

perpindahan dari Diet Hati III atau kepada 

penderita hepatitis infeksiosa dan sirosis hati 

yang nafsu makannya baik, dapat menerima 

protein dan tidak menunjukkan gejala sirosis hati 

aktif. Makanan diberikan dalam bentuk lunak 

atau biasa menurut kesanggupan penderita. 

Makanan ini tinggi energi, protein, lemak, 

karbohidrat, dan cukup vitamin serta mineral. 

Menurut beratnya retensi garam/air, makanan 

diberikan sebagai Diet Hati IV Rendah Garam. 

Bila ada asites hebat dan tanda-tanda diuresa 

belum baik maka diberikan Diet Rendah Garam 

I (DRG I).

i. Diet Rendah Garam

Menurut Bagian Gizi RSCM & Persagi (2002), Diet 

Rendah Garam bertujuan membantu menghilangkan 

retensi garam/air dalam jaringan tubuh serta 

menurunkan tekanan darah pada hipertensi. Syarat 

dietnya yaitu :

1. Cukup energi, protein, mineral, dan vitamin

2. Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan 

penyakit

3. Jumlah natrium yang diperbolehkan disesuaikan 

dengan berat tidaknya retensi garam/air dan/atau 

hipertensi

Diet Rendah Garam terbagi menjadi :

a. Diet Rendah Garam I (DRG I) Kadar natrium 

dalam makanan sehari yaitu 200-400 mg. Saat 

memasak tidak ditambahkan garam dapur dan 

bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. 

Makanan ini untuk penderita dengan edema, asites 

dan/atau hipertensi berat.

b. Diet Rendah Garam II (DRG II)Kadar natrium 

dalam makanan sehari yaitu 600-800 mg. Saat 

memasak bolehditambah ¼ sendok teh garam 

dapur (1g) dan bahan makanan tinggi natrium 

dihindarkan. Makanan ini untuk penderita dengan 

edema, asites, dan/atau hipertensi tidak terlalu 

berat.

c. Diet Rendah Garam III (DRG III) Kadar natrium dalam 

makanan sehari 1000-1200 mg. Saat memasak boleh 

ditambah ½ sendok teh garam dapur (2 g). Makanan 

ini untuk penderita dengan edema dan/atau 

hipertensi ringan. Diet Rendah Garam membatasi 

konsumsi garam dapur dan bahan makanan yang 

mengandung natrium tinggi. Bumbu-bumbu yang 


tidak mengandung natrium dapat digunakan untuk 

mempertinggi rasa makanan. Bumbu-bumbu 

ini  seperti gula, cuka, bawang merah, bawang 

putih, jahe, kunyit, laos, salam, dan sebagainya. 

Makanan yang dikukus, ditumis, digoreng, atau 

dipanggang lebih enak daripada yang direbus. 


Gambar 9. Menu Makan Diet Rendah Garam


B. Ginjal

1. Definisi

Penyakit Ginjal Kronik (Chronic Kidney Disease) yaitu  

suatu gangguan pada ginjal ditandai dengan abnormalitas 

struktur ataupun fungsi ginjal yang berlangsung lebih 

dari 3 bulan. PGK ditandai dengan satu atau lebih tanda 

kerusakan ginjal yaitu albuminuria, abnormalitas sedimen 

urin, elektrolit, histologi, struktur ginjal, ataupun adanya 

riwayat transplantasi ginjal, juga disertai penurunan laju 

filtrasi glomerulus.

Penyakit Ginjal Kronik) yaitu  terjadinya penurunan 

fungsi kemampuan tubuh untuk mempertahankan 

metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit 

memicu  uremia (retensi urea dan sampah nitrogen 

lain dalam darah) yang terjadi secara perlahan-lahan 

(menahun). Bersifat progresif dan umumnya tidak dapat 

pulih kembali atau irreversible. Gejala penyakit ini ditandai 

dengan tidak nafsu makan, mual, muntah, pusing, sesak 

napas, rasa lelah, edema pada kaki dan tangan serta uremia.

2. Fungsi

Ginjal yaitu  organ vital berbentuk mirip kacang dalam 

tubuh yang berfungsi sebagai organ ekskresi. Ginjal terletak 

di kanan dan kiri tulang belakang, di bawah hati dan limpa. 

Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur 

volume dan komposisi kimia darah dan lingkungan dalam 

tubuh dengan mengekresikan zat terlarut dan air. Filtrasi 

plasma darah melalui glomerulus dengan reabsorpsi 

sejumlah zat terlarut dan air dalam jumlah yang sesuai 

di sepanjang tubulus ginjal. Kelebihan zat terlarut dan 

air di eksresikan keluar tubuh dalam urin melalui sistem 

pengumpulan urin.Menurut Sherwood (2011), ginjal memiliki 

fungsi yaitu:

a. Mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh. 

b. Memelihara volume plasma yang sesuai untuk 

pengaturan jangka panjang tekanan darah arteri. 

c. Membantu memelihara keseimbangan asam basa 

pada tubuh. 

d. Mengekskresikan produk-produk hasil sisa metabolisme 


tubuh. 

e. Mengekskresikan senyawa asing seperti obat-obatan.

3. Etiologi

Data penyakit penyerta pada penyakit ginjal kronik di 

negara kita  dikumpulkan oleh Perkumpulan Nefrologi negara kita  

(PERNEFRI) pada tahun 2017.  Jumlah Pasien Penyakit Ginjal 

Kronik Tahap 5/CKD Stage 5 (N18.1) berdasarkan Penyakit 

Penyerta di negara kita 

Tabel 13. Daftar Jumlah Pasien Penyakit Ginjal Kronik Tahap 5

Gambar 10. Persen Pasien Penyakit Ginjal

No. Etiologi Jumlah

1 DM 4394 

2 Hipertensi 10482

3 Penyakit Kardiovaskuler 1424

4 Penyakit Serebrovaskuler 365

5 Penyakit Saluran Pencernaan 374

6 Penyakit Saluran Kencing Lain 617

7 Tuberkulosis 184

8 Hepatitis B/HbSAg+ 366

9 Hepatitis C/ Anti HCV+ 679

10 Keganasan 423

11 Lain-Lain 1240


Penyakit penyerta pasien hemodialisis pada tahun 

2017 dapat dilihat pada diagram di atas, hipertensi masih 

merupakan penyakit penyerta terbanyak, hal ini dapat 

diterangkan apapun penyakit dasarnya bila sudah PGK 

maka kontrol tekanan darah pun akan terganggu. Diabetes 

Mellitus masih dimasukkan bila pada saat didiagnosa 

pasien masih memerlukan obat untuk menurunkan kadar 

gula darah. Penyakit kardiovaskular pun masih menjadi 

penyakit penyerta yang cukup banyak

4. Patofisiologi

Patofisiologi penyakit ginjal kronik pada awalnya 

tergantung pada penyakit yang mendasarinya, dalam 

perkembangan selanjutnya proses yang terjadi kurang lebih 

sama. Ginjal memiliki  kemampuan untuk beradaptasi, 

pengurangan massa ginjal memicu  hipertrofi 

struktural dan fungsional nefron yang masih tersisa (surviving 

nephrons) sebagai upaya kompensasi, yang di perantarai 

oleh molekul vasoaktif seperti sitokin dan growth factors. 

Hal ini memicu  terjadinya hiperfiltrasi, yang diikuti 

peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. 

Proses adaptasi ini berlangsung singkat, kemudian terjadi 

proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang masih 

tersisa. 

Proses ini akhirnya diikuti dengan penurunan fungsi 

nefron yang progresif walaupun penyakit dasarnya 

sudah tidak aktif lagi. Adanya peningkatan aktivitas aksis 

reninangiotensin-aldosteron intrarenal, ikut memberi  

kontribusi terhadap terjadinya hiperfiltrasi, sklerosis dan 

progresifitas ini . Aktivasi jangka panjang aksis renin-

angiotensin-aldosteron, sebagian diperantarai oleh 

growth factor seperti transforming growth factor  (TGF- ) 

Beberapa hal yang juga dianggap berperan terhadap 

terjadinya progresifitas Penyakit ginjal kronik yaitu  

albuminuria, hipertensi, hiperglikemi, dislipidemia. ada  

variabilitas interindividual untuk terjadinya sklerosis dan 

fibrosis glomerulus maupun tubulo intersitial. Pada stadium 

paling dini penyakit ginjal kronik, gejala klinis yang serius 

belum muncul, terjadi kehilangan daya cadang ginjal (renal 


reserve), pada keadaan dimana basal LGF masih normal 

atau malah meningkat. Kemudian secara perlahan tapi 

pasti akan terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif, 

yang ditandai dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin 

serum. Sampai pada LFG sebesar 60%, pasien masih belum 

merasakan keluhan, tapi sudah terjadi peningkatan kadar 

urea dan kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 30%, 

mulai terjadi keluhan pada penderita antara lain penderita 

merasakan letih dan tidak bertenaga, susah berkonsentrasi, 

nafsu makan menurun dan penurunan berat badan, susah 

tidur, kram otot pada malam hari, bengkak pada kaki dan 

pergelangan kaki pada malam hari, kulit gatal dan kering, 

sering kencing terutama pada malam hari. 

Pada LFG di bawah 30% pasien memperlihatkan gejala 

dan tanda uremia yang nyata seperti, anemia, peningkatan 

tekanan darah, gangguan metabolisme fosfor dan kalsium, 

pruritus, mual, muntah dan lain sebagainya. Selain itu pasien 

juga mudah terkena infeksi seperti infeksi saluran kemih, 

infeksi saluran cerna, maupun infeksi saluran nafas. Sampai 

pada LFG di bawah 15% akan terjadi gejala dan komplikasi 

yang lebih serius, dan pasien sudah memerlukan terapi 

pengganti ginjal (renal replacement therapy) antara lain 

dialisis atau transplantasi ginjal. Pada keadaan ini pasien 

dikatakan sampai pada stadium gagal ginjal.

5. Diagnosis

a. Gambaran Klinis

Gambaran klinis pasien penyakit ginjal kronik 

meliputi:

• Sesuai penyakit yang mendasari seperti diabetes 

melitus, infeksi traktus urinarius, batu traktus 

urinarius, hipertensi, hiperurikemi, lupus eritomatous 

sistemik (LES), dan lain sebagainya

• Sindrom uremia, yang terdiri dari lemah, letargi, 

anoreksia, mual muntah, nokturia, kelebihan volume 

cairan (volume overload), neuropati perifer, pruritus, 

uremic frost, perikarditis, kejang-kejang sampai 

koma.

• Gejala komplikasinya antara lain, hipertensi, anemia, 

osteodistrofi renal, payah jantung asidosis metabolik, 

gangguan keseimbangan elektrolit (sodium, kalium, 

khlorida).

b. Gambaran Laboratoris

Gambaran laboratorium penyakit ginjal kronik 

meliputi:

• Sesuai penyakit yang mendasarinya

• Penurunan fungsi ginjal berupa peningkatan kadar 

ureum dan kreatinin serum, dan penurunan LFG yang 

dihitung mempergunak