Tampilkan postingan dengan label Penyakit dalam palmologi 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit dalam palmologi 5. Tampilkan semua postingan

Penyakit dalam palmologi 5









 an limfoproliteratif 

Karsinoma yang meluas  

Anemia hemolotik kronis 

Obat sitotoksik, psoriasis 

Kerja otot yang berat 

Dehidrasi atau 

diuretik  

↓ fungsi ginjal 

Obat : PZA, ETM, 

CSA 

Keto- atau asidosis 

laktat 

 

Manifestasi klinis 

• Artritis akut : onset mendadak, sering pada malam hari (nokturnal), artritis monoartikular 

yang nyeri lokasi : MTP ibu jari (“podagra”), kaki, pergelangan kaki, lutut 

Kadang-kadang poliartikular (pada perempuan lebih sering daripada laki-laki) kulit diatasnya 

hangat, tegang, merah kehitaman, demam 

Pencetus : perubahan UA cepat; kelebihan purin atau alkohol; infeksi; diuretik, dehidrasi  

Pemulihan : hilang dalam 3-10 hari dengan deskuamasi dan pruritus menutupi daerah yang 

terkena 

• Gout interkritikal : interval diantara serangan selama kristal urat dapat diaspirasi dari sendi 

• Tofi : nodul subkutan pada nodus Heberden, sinovium, tulang subkondral, atau tendon 

Achilles; lebih jarang pada dinding aorta, katup jantung, kelopak mata, kartilago nasal dan 

pinna aurikularis. 

• Bursitis : olekranon, patela  

• Artritis kronis : deformitas nyata, kehilangan fungsi, kecacatan 

• Ginjal : batu asam urat; nefritis gout (deposit interstisial) 

 

 

 

Pemeriksaan diagnosis 

• ↑ asam urat, namun bisa salah dan tidak membuat diagnosis serangan akut 

• Artrosentesis  

Mikroskop polarisasi → kuning terang, berbentuk jarum, kristal birefringent pada sisi negatif 

(negatively birefringent crystals) (paralel terhadap sumbu yang ditandai pada polarisasinya), 

intra- atau ekstraselular 

Hitung leukosit 20.000-100.000/mm3, > 50% PMN 

Infeksi dapat ditemukan bersamaan dengan serangan akut, jadi selalu periksa kultur dan 

pewarnaan gram. 

• Radiografi  

Awal → menunjukkan pembengkakan jaringan lunak; bermanfaat untuk menyingkirkan 

kondrokalsinosis atau perubahan septik 

Lambat → erosi tulang dengan tepi yang sklerotik, kalsifikasi 

 

Terapi Akut untuk Gout 

Obat Mekanisme Keterangan 

NSAID ↓ peradangan Efek samping pada saluran 

pencernaan; dosis ↓ pada insufisiensi 

ginjal 

Kolkisin 

(PO atau IV) 

Menghambat 

polimerisasi 

mikrotubulus → 

pencegahan kemotaksis 

dan fagositosis 

Mual, muntah dan diare pada dosis 

efektif 

Dengan IV dan dosis tinggi PO, 

berhubungan dengan toksisitas berat 

termasuk supresi sumsum tulang, 

gagal ginjal, hipokalsemia, 

kelemahan neuromuskular, DIC, 

miopati dan rabdomiolosis 

Dosis ↓ pada insufisiensi ginjal 

Kortikosteroid 

(PO atau intra-

artikular) 

atau ACTH (M) 

↓ peradangan Sangat efektif, terutama terhadap 

kasus rekalsifikasi 

Jangan dipergunakan secara intra-

artikular jika  dicurigai ada infeksi 

sendi. 

Kortikosteroid lebih disukai daripada 

ACTH 

(N Engl J Med 334:445, 1996) 

 

Penatalaksanaan kronis  

• Gout interkritikal : ↓ produksi asam urat dengan menghindari makanan yang tinggi purin 

(seperti : daging, buncis, kacang-kacangan, bayam, bir); ↓ alkohol; hindari dehidrasi; hindari 

obat hiperurisemik (seperti : diuretik, ASA) 

• Profilaksis : kolkisin atau NSAID jika  serangan sering terjadi 

• Menurunkan kadar serum asam urat dengan alopurinol (penghambat oksidase xantin) namun, 

jangan memulai terapi hingga 2-4 minggu setelah serangan akut sebab  perubahan konsentrasi 

serum asam urat dapat memicu terjadinya serangan. 

 

Komplikasi  

• Nefrolitiasis urat : insiden terbentuknya kembali batu rendah. Insiden meningkat dengan 

peningkatan eksresi asam urat, PH urine menurun, riwayat keluarga atau diri sendiri pernah 

memiliki batu asam urat. Profilaksis dengan dilusi pada saluran kemih dan alkalinisasi serta 

alopurinol. 

• Gagal ginjal akut : dapat terjadi setelah pelepasan massif asam urat yang berlangsung pada 

pasien yang telah menjalani pengobatan sebab  kelainan mielo- atau limfoproliferatif (seperti : 

sindrom lisis tumor). Profilaksis dengan dilusi pada saluran kemih dan alkalinisasi serta 

allopurinol. 

 

 

PENYAKIT DEPOSIT KALSIUM PIROFOSFAT DIHIDRAT 

 

 

Definisi  

• Deposit kristal CPPD (Calcium Pyrophosphate Dihydrate) dalam tendon, ligamentum, kapsul 

sendi, sinovium dan kartilago 

• Kondrokalsinosis : tampilan radiologi kalsifikasi kartilago akibat deposit CPPD 

 

Patogenesis  

↑ kadar cairan sinovial dan sendi pirofosfat inorganik, yang dihasilkan oleh kondrosit artikular 

dari hidrolisis ATP sebagai respons terhadap berbagai defek atau cacat yang diturunkan → 

peradangan  

 

Epidemiologi  

Lebih sering pada usia lanjut; 4% populasi orang dewasa pada usia 72 mengalami deposit kristal 

CPPD 

 

Etiologi  

• Metabolik : hiperparatiroidisme, hipotiroidisme, hiperkalsemia hipokalsiurik familial, gout, 

DM 

• Penyakit deposit : hemokromatosis, amiloidosis 

• Trauma 

• Herediter : autosomal dominan, mewariskan defek produksi pirofosfat 

• Sporadik/idiopatik 

 

Manifestasi klinis  

• “pseudogout” : akut, biasanya simetris, artritis mono- atau oligoartikular 

Lokasi : lutut, pergelangan tangan, sendi MCP; dipicu oleh pembedahan atau penyakit berat  

• “PseudoRA” : artritis poliartikular kronis dengan kekakuan sendi pada pagi hari; ±RF 

• “PseudoOA” : destruksi kartilago artikular dan perkembangan tulang yang berlebihan → 

degenerasi sendi  

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Artrosentesis  

Mikroskop polarisasi → bentuk jajaran genjang, kristal birefringent pada sisi positif lemah 

(weakly positively birefringent crystals) (tegak lurus terhadap sumbu yang ditandai pada 

polarisasinya) 

Hitung leukosit 20.000-100.000/mm3, < 50% PMN 

Infeksi dapat bersamaan dengan serangan akut, sehingga selalu periksa pewarnaan gram dan 

kultur 

• Skrining penyakit metabolik bila mendiagnosis kasus baru : Ca, Mg, TSH, pemeriksaan zat 

besi, glukosa, asam urat 

• Radiografi : densitas pungtata dan linear pada hialin artikular, klasifikasi kartilago 

 

Terapi  

• Terapi akut : sama dengan gout 

• Terapi kronis : tangani penyakit yang mendasarinya 

 

 

 

• SPONDILOARTROPATI SERONEGATIF • 

 

UMUM 

Definisi  

• Artritid peradangan multisistem yang mengenai tulang belakang, sendi perifer dan struktur 

periartikular 

• Meliputi : spondilitis ankilosa, artritis reaktif, sindrom reiter, artritis psoriatik, artritis yang 

berhubungan dengan penyaikit peradangan usus, dan spondiloartropati yang tak berdiferensiasi 

• Terutama tidak adanya faktor reumatoid atau autoantibodi; ± ↑ ESR dan anemia sebab  

penyakit kronis 

• ↑ prevalensi HLA-B27 (⊕ pada 50-90% vs. 6-8% populasi umum) 

• Cairan sinovial sendi yang terkena menunjukkan suatu gambaran peradangan non-septik 

 

SPONDILITIS ANKILOSA 

Epidemilogi  

Onset pada usia belasan atau pertengahan 20-an; onset setelah usia 40 tahun sangat jarang; 

perbandingan laki-laki : perempuan = 3 : 1; HLA-B27 ⊕ pada 90% 

 

Manifestasi klinis 

• Onset kronis bertahap, serangan nyeri pada punggung bawah dan kekeakuan yang intermiten 

• Kekakuan pada pagi hari yang membaik dengan mandi air panas dan olahraga 

• Gejala konstitusional ringan pada stadium dini 

• Progresivitas sefalik lambat akibat pergerakan punggung dan ekspansi dada yang terbatas 

Uji Wright-Schober ⊕ ( < 4 cm ↑ pada jarak antara satu titik 5 cm dibawah dan suatu titik 10 

cm di atas pertemuan lumbosakral jika  berpindah dari posisi berdiri hingga fleksi maksimal 

ke depan ) 

• Entesitis ( peradangan pada tempat insersio ligamentumke tulang ) memicu  rasa sakit 

pada pertemuan kostokondral, prosesus spinosus, skapula, krista iliaka, tumit 

• Artritis akut sementara pada sendi perifer (panggul, bahu, lutut), kadang-kadang menetap  

• Uveitis anterior akut ( 25-30% terjadi beberapa waktu selama proses penyakit): ditandai 

dengan pandangan kabur unilateral, lakrimasi, dan fotofobia. Menghilang dalam 4-8 minggu 

• Penyakit kardiovaskular (3-5%): aortitis asendes, insufisiensi aorta, abnormalitas sistem 

hantaran  

• Gejala neurologik : sebab  fraktur atau dislokasi spinal 

 

Radiografi  

• Penyakit sendi sakroiliaka dengan erosi dan sklerosis 

• Klasifikasi ligamentum spinal dengan jembatan sindesmofit (bridging syndesmophytes) 

• Bamboo spine = berbentuk persegi dan terjadi demineralisasi umum corpus vertebra 

 

Terapi 

• Terspi fisik, NSAID, sulfasalasin untuk artritis perifer 

 

SINDROM REITER 

Epidemiologi 

• Penyebaran di seluruh dunia, namun jarang pada Afrika-Amerika; perbandingan laki-laki : 

perempuan = 5 : 1 

 

Patogenesis 

• Respons pada pejamu yang rentan secara genetik terhadap infeksi genitourinarius atau 

gastrointestinal 

• Dianggap sekunder terhadap infeski Chlamydia dan Ureaplasma urealyticum demikian pula 

dengan Shigella, Salmonella, Yersinia, Campylobacter, Klebsiella, C. difficile, Trophyrema 

whippelii, HIV 

 

Penampilan klinis  

• Semula digambarkan sebagai trias artritis, uretritis, non-gonokokus, dan konjungtivitis 

• Artritis : 10-30 hari pasca infeksi yang mengancam → gejala konstitusional ringan, nyeri 

punggung bawah, asimetris, artritis mono- atau oligiartikular yang terutama mengenai sendi 

besar ( lutut, pergelangan kaki, kaki, pergelangan tangan), entesopati, dan sakrolitis. Dapat 

berkembang menjadi “jari sosis” pada ekstremitas 

• Uretritis : biasanya  infeksi klamida yang mendahului artritis, namun dapat juga terlihat 

uretritis streril pada pasca-disentri sindrom reiter 

• Konjungtivitis non-infeksiosa : unilateral atau bilateral dan ± uveitis, iritis dan keratitis  

• Manifestasi kutaneus 

Balantitis sirsinata : ulkus tanpa nyeri yang dangkal pada glans penis dan meatus uretra 

Keratoderma blenoragika : lesi kulit hiperkeratosis pada telapak kaki, skrotum, telapak tangan, 

batang tubuh, kulit kepala, stomatitis dan ulkus oral superfisialis 

• Traktus gastrointestinal : diare dan nyeri abdomen baik dengan atau tanpa agen infeksius 

• Kardiovaskular : Al dari peradangan dan jaringan parut pada aorta dan katup aorta; defek 

konduksi 

 

Pencitraan 

• Sakroilitis akhirnya mengenai 70% pasien 

• Pembengkakan jaringan lunak sekitar sendi yang terkena 

• Penyempitan rongga sendi pada sendi-sendi kecil 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Bukti adanya infeksi bakteri : Klamidia dengan ELISA atau serat DNA atau kultur feses ⊕ 

 

Terapi dan prognosis 

• NSAID, steroid topikal dan suntikan untuk keratoderma blenoragika 

• Antibiotik bila terbukti infeksi 

• Artritis mungkin menetap selama beberapa bulan hingga tahunan dan frekuensi sering terjadi 

 


ARTRITIS PSORIATIK 

Epidemiologi  

• 15% pasien psoriasis berkembang menjadi artritis dan bukan hanya pada mereka yang 

menderita penyakit kulit yang berat 

• Artritis mungkin mendahului onset penyakit kulit 

• 40% pasien artritis psoriatik mengalami suatu spondiloartropati yang berkaitan  

• Perbandingan laki-laki dan perempuan yang terkena sama dan sebagian besar pasien berusia 

30-an dan 40-an. 

 

Manifestasi klinis 

• Beberapa pola klinis artritis : 

• Oligo- atau poliartritis asimetris ( > 70% ): terutama sendi-sendi kecil ( jari sosis )  

• Kuku jari : pitting, depresi terbalik, onikolisis, hiperkeratosis subungual 

• Poliartritis simetris ( 15% ): lebih menyerupai artritis reumatoid seronegatif, mengenai sendi-

sendi besar 

• Artritis mutilans ( 5% ): berat, artritis resorptif destruktif 

• Keterlibatan spinal dan sakroilitis ( 5% ): serupa dengan spondilitis ankilosa ± artritis perifer 

• Peradangan mata ( 30% ): konjungtivitis, iritis, episkleritis, dan keratokonjungtivitis sicca 

• Lesi kulit psoriatik 

 

Radiografi  

• Deformitas “pencil-in-cup” terlihat pada sendi DIP 

• Keterlibatan spinal, sakroilitis 

 

Terapi  

• NSAID, terapi fisik, suntikan steroid intra artikuler 

• Preparat emas IM, hidroksiklorokuin, metotreksat 

• Supresi penyakit kulit dengan cahaya matahari, PUVA, petroleum topikal, atau steroid 

mungkin mengakibatkan revolusi peradangan sendi. 

 

BERHUBUNGAN DENGAN IBD ( INFLAMMATORY BOWEL DISEASE ) 

Epidemiologi  

• 20% pasien IBD berkembang menjadi artritis; lebih sering terlihat pada penyakit Crohn 

daripada kolitis ulserativa 

 

Manifestasi klinis 

• Oligoartritis non-deforming, asimetris, perifer : onset mendadak, sendi-sendi besar, berjalan 

seiring penyakit saluran cerna 

• Spondilitis : dihubungkan lebih kuat dengan HLA-B27, tidak berjalan seiring penyakit saluran 

cerna 

 

 

• ARTRITIS INFEKSIOSA • 

 

NONGONOKOKUS 


Epidemiologi  

• Pejamu abnormal atau mengalami imunosupresi (seperti pada diabetes, HIV, usia lanjut) 

• Bakteremia sekunder sebab  IVDA, endokarditis, atau infeksi kulit; juga dapat terjadi sebab  

inokulasi langsung atau penyebaran dari sebuah fokus yang berdampingan (seperti pada 

selulitis, bursitis septik, osteomielitis) 

• Sendi yang rusak akibat RA, OA, gout, atau trauma 

 

Mikrobiologi 

• Kokus gram positif : S. aureus (paling sering), S. epidermidis (pasca-tindakan, sendi-sendi 

prostetik), streptokokus 

• Batang gram negatif : E. Coli, Pseudomonas dan Serratia (terutama pada IVDA) 

 

Manifestasi klinis  

• Onset akut artritis monoartikular (>80%) dengan rasa nyeri, pembengkakan, dan hangat pada 

sendi 

• Lokasi : lutut (paling sering), panggul, pergelangan tangan, bahu, pergelangan kaki, pada 

IVDA, cenderung untuk melibatkan daerah lain seperti sendi sakroiliaka, simfisis pubis, 

sternoklavikular dan sendi manubrium sterni 

• Pada lutut, bursitis pra-patela septik harus dibedakan dengan efusi lutut intra-artikular septik 

Infeksi intra-artikular → nyeri ekstrem bila fleksi dan ↓ jangkauan gerak 

Bursitis pra-patela → pembengkakan berbentuk kubah diatas patela, tanpa efusi intra-artikular 

• Gejala konstitusional : demam, menggigil, berkeringat, malaise, mialgia, nyeri 

• Infeksi dapat dilacak dari tempat awal untuk membentuk fistula, abses, osteomielitis. 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Leukositosis dengan pergeseran ke kiri  

• Artrosentesis sebaiknya dilakukan secepatnya bila dicurigai 

Hati-hati untuk tudak melakukan punksi melalui daerah yang terinfeksi sebab  dapat 

memasukkan infeksi ke dalam rongga sendi 

Cairan sinovial: hitung sel Leukosit biasanya >50.000, >90% PMN (catatan : kristal ⊕ tidak 

menyingkirkan artritis septik) 

Pewarnaan gram ⊕ pada ∼75% infeksi stafilokokus, ∼50% infeksi batang gram negatif kultur 

⊕ >90% kasus  

• Kultur darah : ⊕ pada >50% kasus 

• Radiografi konvensional seperti biasanya jarang membantu sampai ∼2 minggu setelah infeksi, 

pada saat itu dapat melihat erosi tulang, penyempitan rongga sendi, osteomielitis, periositisis 

• CT dan MRI berguna terutama terhadap infeksi panggul yang dicurigai atau abses epidural 

 

 

 

GONOKOKUS 

Epidemiologi  

• Prevalensi 0,5-3% di Amerika Serikat. Tipe infeksi artritis yang paling sering pada orang muda  

• Pejamu normal dan pasien, dengan defisiensi jika komplemen C5-C8 yaitu  komponen 

terminal  

• Perbandingan laki-laki : permpuan =4 : 1. insiden ↑ sewaktu mens, kehamilan dan periode 

pasca melahirkan. Insiden ↑ pada laki-laki homoseksual, jarang setelah usia 40 tahun 

 

Manifestasi klinis 

• Dimulai dengan infeksi mukosa (seperti : endoserviks, uretra atau faring) yang sering 

asimtomatik 

• Prodormal : poliartralgia migrans 1-4 hari (pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, siku) 

• Onset akut tenosinovitis (60%) pada pergelangan tangan, jari tangan, pergelangan kaki, jari 

kaki 

• Monoartritis purulenta (40%) biasanya lutut, pergelangan tangan, atau pergelangan kaki 

• Ruam kulit (>50%): papula nekrotik, makula dan pustula pada dasar yang eritematosus di 

ekstremitas dan tubuh 

• Demam (<50%) 

• Manifestasi yang lebih jarang : perikarditis, meningitis, aortitis, endokarditis, miokarditis, 

osteomielitis, hepatitis 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Leukositosis dengan pergeseran ke kiri; ↑ ESR 

• Artrosentesis sebaiknya dilakukan segera setelah ada kecurigaan 

Hati-hati untuk tidak melakukan punksi malalui daerah yang terinfeksi sebab  dapat 

memasukkan infeksi ke dalam rongga sendi 

Cairan sinovial : hitung sel leukosit >30.000, predominan PMN (catatan : kristal ⊕ tidak 

menyingkirkan artritis septik!) 

Pewarnaan gram⊕pada ∼25% kasus  

Kultur ⊕ pada lebih dari 50% kasus bila dilakukan kultur anaerobik pada media Thayer-Martin 

PCR terhadap DNA gonokokus 

• Kultur darah : lebih mungkin ⊕ pada tenesinovitis; jarang pada monoartritis 

• Pewarnaan gram dan kultur lesi kulit yang kadang-kadang positif. 

• Kultur servikal, uretra, tenggorokan, dan rektum menggunakan PCR 

 

PENATALAKSANAAN 

Terapi  

• Antibiotik yang sesuai dipandu berdasarkan pewarnaan gram 

Pewarnaan gram  Regimen Antibiotik 

Kokus gram positif Nafsilin 2 g IV setiap 4 jam atau Vankomisin 1 g IV setiap 

12 jam bila dicurigai MRSA (seperti: pasien yang dirawat 

di Rumah Sakit) 

Kokus gram negatif Seftriakson 1-2 g IV 4 x sehari 

Batang gram negatif Seftriakson 1-2 g IV 4 x sehari + aminoglikosida anti-

pseudomonas bila curiga IVDA 

Tidak tampak 

organisme 

Nafsilin + seftriakson + aminoglikosida anti pseudomonas    

bila curiga IVDA 

 

• Regimen antibiotik kemudian disesuaikan berdasarkan pada data kultur dan sensitivitas serta 

respons klinis 

• Apirasi lokal atau drainasa/lavase pembedahan 

• Bila artritis gonokokus → uji terhadap HIV, sifilis, dan klamidia 

• Prognosis : bila sepsis poliartikular non-gonkokkus, mortalitas = 30% 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

• SINDROM MUSKULOSKELETAL UMUM • 

 

Sindrom Tangan dan Pergelangan Tangan 

Tenosinovitis 

DeQuervain 

Tenosinovitis pada pergelangan tangan sisi radial dengan rasa 

nyeri dan sakit di sekitar stiloideus radialis, Uji Finkelstein ⊕ 

= deviasi ulna pada pergelangan tangan dengan tangan 

terkapal dan ibu jari di dalam → nyeri melalui tendon yang 

meradang dan sinovium  

Carpal Tunnel 

Syndrome 

Terjepitnya nervus medianus pada pergelangan tangan dengan 

parestesia, baal dan rasa nyeri pada distribusi nervus 

medianus di tangan. Uji Phalen ⊕ = fleksi maksimal 

pergelangan tangan selama 45 detik → baal dan nyeri, tanda 

tinel ⊕ =perkusi nervus medianus pada pergelangan tangan → 

rasa kesemutan pada jari-jari 

 

Sindrom Siku 

Bursitis olekranon Dapat menjadi kronis dan steril atau akut serta terinfeksi 

( aspirasi dan kirim untuk dilakukan kultur ) 

Epikondilitis Medialis 

(siku pemain golf [golfer’s 

elbow]) 

Rasa nyeri bila daerah di sekitar epikondilus medialis 

dipalpasi 

Epikondilitis Lateralis  

( siku pemain tenis [tennis 

elbow] ) 

Rasa nyeri bila daerah di sekitar epikondilus lateralis 

dipalpasi  

 

Sindrom Bahu 

Bursitis subakromial 

Tendonitis bisipital 

Tendonitis pada tendon 

rotatur 

Pergeseran akromion, ligamentum korakoakromial, sendi 

akromoiklavikular, atau sendi korakoid pada bursa 

subakromial di bawahnya, tendon biseps atau tendon rotator. 

Onset rasa nyeri bertahap pada bahu lateral atau anterior, 

yang memburuk dengan aktivitas dan berhubungan dengan 

krepitasi, atau perasaan seperti “dicengkeram”. Tangani 


dengan NSAID, istirahat, latihan peregangan, atau suntikan 

kortikosteroid pada bursa subakromial. 

Ruptur tendon rotator Tendon rotator terdiri atas 4 otot ”SITS” (supraspinatus, 

infraspinatus, teresminor, dan subskapularis); biasanya 

tendon supraspinatus robek. Rasa nyeri bila mengangkat 

lengan melewati kepala, kelemahan, atropi otot. MRI untuk 

mengkonfirmasi. 

Instabilitas glenohumeral 

 (dislokasi bahu) 

Instabilitas glenohumeral disebabkan kelemahan 

menyeluruh atau trauma yang berulang. Rasa nyeri bila 

abduksi dan rotasi eksternal (posisi melempar). Tampilan 

radiografi AP lateral dan lateral aksilaris atau transkapular 

untuk mengkonfirmasi. 

Polimialgia reumatika Penonjolan bahu dan malgia panggul serta rasa nyeri, 

namun tanpa proses intraartikular yang sebenarnya. 

Terpisahnya 

akromioklavikular 

Biasanya akibat jatuh pada akromion dengan lengan terselip 

ke bagian dalam. Rasa nyeri pada sendi akromioklavikular 

yang dipalpasi. Adanya pelebaran sendi akromioklavikular 

pada film AP bahu sebagai konfirmasi. 

Kapsulitis adesiva 

(frozen shoulder) 

Onset rasa nyeri tersembunyi dan jangkauan gerakan ↓, 

biasanya pada bahu yang tidak dominan. Berhubungan 

dengan diabetes melitus dan hipotiroidisme dan paling 

sering pada perempuan berusia 40-65 tahun. Ditangani 

dengan NSAID dan terapi fisik. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sindrom Kepala, Leher dan Dada 

Sindrom sendi 

temporomandibularis 

Artralgia dan nyeri miofasial pada sendi yang 

berhubungan dengan bruksisme, menggeretakkan gigi 

pada malam hari 

Artritis temporalis Arteri temporalis yang nyeri, dengan sakit kepala, 

kehilangan penglihatan, dan klaudikasio mandibula 

Artritis servikalis  

(spondilosis servikalis) 

Sering terlihat pada OA dan RA. Nyeri bila bergerak, 

kaku dan sering terjadi spasme muskulus paraspinalis. 

Dapat memicu  sakit kepala dan penyebaran rasa 

nyeri ke lengan 

Kostokondritis  Sakit dan nyeri pada pertemuan kostokondral 

 

 

Sindrom Punggung 

Spondilosistesis 

degenerativa 

Terselipnya suatu korpus vertebra (sering L4-L5 atau L5-

S1) ke dalam satu korpus dibawahnya yang memicu  

penyempitan dan degenerasi diskus tersbut. Nyeri punggung 

bawah dipicu dengan membungkuk, memutar dan 

mengangkat beban, singkirkan defek neurologik dengan 

pemeriksaan dan konfirmasi dengan foto AP dan spina 

lumbosakralis  

Stenosis spinalis Penyempitan kanalis spinalis yang memicu  nyeri pada 

bokong, paha (klaudikasio neurogenik) posterior dan betis, 

memburuk setelah berdiri atau berjalan, dan nyeri hilang 

dengan duduk atau berhenti melakukan fleksi pada spina. 

Refleks lutut dan pergelangan kaki ↓ pada pemeriksaan 

dengan denyut arteri yang masih ada. MRI untuk 

mengkonfirmasi diagnosis. 

Radikulopati lumbalis 

(skiatika) 

Iritasi yang sering pada radiks saraf L5 atau S1 melalui 

suatu hemiasi nukleus pulposus, nyerinya bersifat 

dermatornal, menyebar dari bokong ke posterior atau bagian 

posteolateral tungkai, pergelangan kaki atau kaki dan 

memburuk dengan fleksi. Menaikkan tungkai lurus ⊕  

memicu  gejala pada 80-90%. Puncak insiden pada 

usia 40 tahun. MRI mengkonfirmasi diagnosis. 

Sakroilitis  Onset biasanya sebelum usia 30 tahun. Berhubungan dengan 

spondilo-artropati seronegatif, muncul bersamaan dengan 

penyakit nyeri punggung bawah yang rekuren dan kekakuan 

sepanjang waktu yang memicu  osifikasi, sindesmofit 

pecah, dan fusi komplet kolumna vertebralis (“bamboo 

spine”) 

Nyeri punggung oseosa Nyeri punggung oseosa dapat disebabkan oleh tumor 

metastatik, osteomielitis, bakterial atau tuberkulosis. 

Muncul sebagai nyeri menetap yang tidak berhubungan 

dengan posisi. 

Titik nyeri tekan meliputi daerah di sekeliling vertebra. 

Defisit neurologik mungkin menunjukkan kompresi medula 

spinalis atau sindrom kauda ekuina. Foto polos mungkin 

menunjukkan destruksi, fraktur, massa dan seharusnya 

dinilai pada seluruh pasien yang berusia lebih dari 50 tahun 

yang baru menderita nyeri punggung. 

 

 

Sindrom panggul 

Osteoartritis  Onset nyeri bertahap yang menjalar ke inguinal dan terjadi pertama 

kali hanya ketika melakukan aktivitas. Berhubungan dengan 

obesitas, infeksi sebelumnya, trauma usia. Yang pertama kali terjadi 

ialah kehilangan posisi rotasi internal panggul, kemudian 

kehilangan kemampuan fleksi dan ekstensi serta cara berjalan 

menjadi antalgik. 

Bursitis 

trokanterika 

Titik nyeri diatas panggul lateral dengan ↑ ketidaknyamanan pada 

malam hari dan setelah tidak beraktivitas. 

Nekrosis avaskular Nekrosis tulang tuberkular pada kaput femoralis. Faktor resiko 

meliputi kortikosteroid, alkohol, RA, SLE, trauma sebelumnya, 

penyakit mieloproliferatif, dan penyakit sel sabit, muncul dengan 

nyeri tumpul pada daerah inguinalis ataupun bokong. 

Ketidaknyamanan pada  posisi rotasi dan abduksi serta cara berjalan 

menjadi antalgik. MRI untuk mrngkonfirmasi osteonekrosis.  

Fraktur panggul  Muncul dengan rasa nyeri dan ketidakmampuan untuk berjalan 

setelah terjatuh. Tungkai berotasi ke eksternal, abduksi dan 

memendek. 

 

 

Sindrom patela 

Kista Poplitea (Kista Baker) Nyeri dan rasa penuh pada daerah poplitea. Pada RA, 

kista mungkin ruptur dan cairan mendiseksi secara 

distal ke dalam otot betis. 

Bursitis prapatela 

 (lutut pembantu rumah tangga)  

(housemald’sknee) 

Kronis dan steril, sekunder terhadap trauma berulang 

seperti (lutut bekerja dengan lutut, atau akut dan septik 

terutama pada cedera tembus). Harus dibedakan 

dengan bursilis prapatela (pembengkakan berbentuk 

kubahdi atas patela namun tanpa efusi intra-artikular 

dan jangkauan geraknya tetap) dari infeksi lutut intra-

artikular. 

Ruptur ligamentum krusiatum 

anterior 

Uji drawer anterior ⊕ = pasien berbaring dengan 

posisi supinasi dan lutut fleksi pada posisi 90°, 

pemeriksa menduduki kaki pasien dan meraih tibia 

proksimal dan menariknya ke anterior. 

Ruptur meniskus Kejadian akut yang diikuti oleh onset pembengkakan 

dan dan kekakuan yang tersembunyi dengan sensasi 

“terpukul” atau “berbunyi” saat digunakan. 

Penyakit Osgood-Schlatter 

(tendonitis patela) 

Nyeri lutut anterior dengan rasa nyeri pada satu titik. 

Sindrom tercetus sebab  penggunaan yang berlebihan 

seperti naik tangga, jongkok, meloncat. 

Patela kondromalasia Nyeri lutut anterior yang memburuk setelah duduk 

lama atau naik tangga. Lebih sering mengenai 

perempuan daripada laki-laki dan berhubungan dengan 

penambahan berat badan. Krepitasi dan sensasi 

tertusuk, juga rasa nyeri, disebabkan oleh kerusakan 

pada permukaan sendi patela. 

 

Sindrom Kaki dan Pergelangan Kaki 

Tendonitis Achilles Terjadi baik pada perekatan tulang-tendon kalkaneus atau 4-5 cm 

proksimal dan insersio. Pasien mengeluh nyeri yang tersembunyi 

pada daerah Achilles yang menjadi makin buruk bila berolahraga 

dan terasa sakit bila dipalpasi. Kadang-kadang, tendon Achilles 

dapat ruptur dengan stres akut. 

Fasitis plantaris Nyeri pada daerah insersio fasia plantaris hingga ke dalam 

tuberositas kalkaneus medialis. Fasitis plantaris bilateral 

berhubungan dengan spondiloartropi seronegatif.  

Sendi Charcot 

(kaki diabetikum) 

Polineuropati sensoris memicu  kerusakan dan destruksi 

sendi dengan fraktur multipel yang tidak bisa sembuh, kerusakan 

kulit, infeksi dan deformitas ireversibel. 

Pergelangan kaki 

terkilir 

Cedera inversi akut yang paling sering dengan kerusakan pada 

kolateralis lateral ligamentum oergelangan kaki disertai rasa 

nyeri, pembengkakan, ekimosis, dan kehilangan fungsi. 

 

 

 

• PENYAKIT JARINGAN IKAT • 

Gambar 8-2. Diagram Venn penyakit jaringan ikat 

 

 

 

 

 

Autoantibodi pada Penyakit Jaringan Ikat (%) 

Penyakit ANA Pola RF dsDNA Sm Ro La Scl-

70 

centr Jo-1 RNP 

SLE 95-

99 

P,D,S,N 20 50-70 30 35 15 0 0 0 30-

50 

RA 15-

35 

D 85 <5 0 10 5 0 0 0 10 

Sjogren  >90 D,S 75 <50 0 55 40 0 0 0 15 

Dif 

sklero 

>90 S,N,D 25-33 0 0 5 1 40 <5 0 30 

Lim 

sklero 

>90 S,N,D 25-33 0 0 5 1 <15 60-

80 

0 30 

PM-DM 75-

95 

 33 0 0 0 0 10 0 20-

30 

MTCD 95- S,D 0 0 0 <5 <5 0 0 0 100 

SLE 

PM-DM 

Skleroderma 

MCDT 

CERST 

Raynaud’s 

RA 

Sjorgen’s 

99 

(pola: P: perifer; D: difusa; S: berbintik; N: nukleolar; Primer on The Rheumatic Diseases, ed 

ke-10, 1993)  

Lihat “Sistemik Lupus Eritomatosus” dan “Reumatoid Artritis” untuk alasan penyakit tersebut. 

 

 

 

 

 

 

SKLERODERMA (SKLEROSIS SISTEMIK) 

Definisi dan Epidemiologi 

• Muncul pada pasien berusia 20-40 tahun; lebih sering pada perempuan dibandingkan laki-laki 

• Skleroderma yang terlokalisir (hanya di kulit) 

• Terbatas pada kutaneus (80%): penebalan kulit hanya pada ekstremitas distal dan wajah 

Sindrom CREST = kalsinosis (Calsinosis), Sindrom Raynaud, dismotilitas Esofagus, 

Sklerodaktili, Telangiektasis. 

Mengenai viseral : gastrointestinal, hipertensi pulmonal, sirosis biliaris 

• Kutanus difusa (20%): penebalan kulit ekstremitas, wajah dan trunkus + fibrosis organ internal 

Mengenai viseral : fibrosis paru, hipertensi renovaskular, gastrointestinal, jantung. 

 

 

 

Manifestsi Klinis Skleroderma 

Organ  Cakupan  

Kulit  Kulit ekstremitas, wajah dan trunkus yang menebal dan ketat  

Tangan “bengak”, carpal tunnel syndrome, sklerodaktill 

Dilatasi kapiler lipatan kuku ( + lepas dalam bentuk difus ) 

Wajah seperti topeng, kurus, tidak bergerak dan benutk mulut “tali 

dompet  

(purse-string)” 

Kutis kalsinosis (kalsifikasi subkutaneus), ruam kulit telangiektasis 

Arteri  Fenomena Raynaud (vasospasme yang diinduksi dingin); iskemia jari 

arau viseral 

Ginjal  “krisis renal skleroderma” = onset mendadak HTN, RPGN, MAHA yang 

berat 

Saluran cerna GERD dan esofagitis erosiva 

Dismotilitas esofagus → disfagia dan odinofagia 

Dismotilitas gaster → cepat merasa kenyang dan obstruksi jalan keluar 

lambung 

Dismotilitas usus halus → kembung, kram dan diare 

Muskuloskeletal  Poliartralgia dan kekakuan sendi; kelemahan otot 

Jantung  Fibrosis miokardium, perikarditis dan jarang terjadi tamponade; 

abnormalitas konduksi 

Paru  Bentuk difus → fibrosis paru; bentuk yang terbatas → hipertensi paru 


Endokrin  Sering terjadi amenore dan infertilitas; fibrosis glanula tiroid ± 

hipotiroidisme 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Autoantibodi  

Anti Scl-70 ⊕ (anti-topoisomerase 1) : 40% difus, 10-20% terbatas 

Anti-sentromer ⊕ : <15% difus, 60-80% terbatas 

ANA ⊕  (<90%), RF ⊕ (25-33%) 

• ESR ↑, globulin ↑, anemia sebab  penyakit kronis atau anemia hemolotik 

• BUN dan Cr ↑, proteinuria dengan terkenanya ginjal; foto rontgen toraks dan uji fungsi paru 

abnormal bila terjadi fibrosis dan retriksi 

 

Penatalaksanaan 

• Fenomena Raynaud → penyekat saluran kalsium (calcium channel blockers); tidak merokok 

• Saluran cerna : penyekat H2 (H2 blockers) atau PPI (GERD); antibiotik (malabsorpsi); 

cisapride atau eritromisis (hipomotilitas) 

• Krisis hipertensi → penghambat ACE (ACE inhibitor) ( prognosis buruk dengan mortalitas 

50%) 

• Penyakit viseral → D-penisilamin; tidak ada peran untuk steroid 

• Paru: steroid (fibrosis); vasodilator dan antikoagulan ( hipertensi pulmonal) 

 

 

POLIMIOSITIS-DERMATOMIOSITIS 

Definisi dan Epidemiologi 

• Polimiositis (PM) : peradangan dan kelemahan muskuloskeletal proksimal 

• Dermatomiositis (DM) : polimiositis + manifestasi kulit (1/3 pasien) 

• Pasien terutama berusia 40-an dan 50-an; lebih sering ada perempuan daripada laki-laki 

• Insiden karsinoma ↑ (terutama ovarium) pada ∼ 10% pasien dengan DM (insiden labih rendah 

pada PM) 

• Dapat dihubungkan dengan CTD (Cutaneus Topikal Disease) lainnya seperti SLE dan 

skleroderma  

• Harus dibedakan dari miopati/miositis lainnya termasuk terinduksi obat, tanpa peradangan, 

badan inklusi dan infeksius 

 

 

 

 

 

 

Manifestasi klinis  

• Kelemahan otot : bertahap, progresif, bilateral, dan proksimal disertai nyeri pada daerah yang 

terkena; ditandai dengan kesulitan menaiki tangga dan bangun dari kursi. Peradangan otot 

skeletal dan otot polos saluran cerna disertai disfagia dan pengosongan lambung terlambat. 

• Ruam eritomatosa kehitaman pada daerah yang terpajan sinar matahari, daerah berbentuk 

kupu-kupu pada wajah, leher, bahu, kehilangan pigmen. 


• Ruam heliotrope (diskolorasi ungu) disekitar kelopak mata atas 

• Eritema subungal, telangiektasis kutikular, tanda Gottron (bercak bersisik) disekitar dorsum 

PIP, MCP, dan siku, tangan mekanik (pecahnya kulit pada distal ujung jari) 

• Poliartralgia atau poliartritis, malaise 

• Vaskulitis kulit, otot, traktus gastrointestinal dan mata, serta fenomena Raynaud 

• Terkenanya viseral  

Paru : alveolitis akut, penyakit paru interstisialis kronis, dan kelemahan otot pernafasan 

Jantung (33%) : miokarditis, perikarditis dan aritmia 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• CPK ↑, aldolase, SGOT, dan LDH 

• Autoantibodi  

Anti-Jo-1⊕ (20-30%), berhubungan dengan polimiositis + pembentukan poliartritis, sindrom 

Raynaud, ILD 

Anti-MI-2 ⊕ (5-10%), berhubungan dengan dermatomiositis 

ANA ⊕ (>75%), RF ⊕ (<50%) + autoantibodi lainnya bila pasien memiliki CTD lain 

• ESR meningkat, anemia sebab  penyakit kronis 

• EMG abnormal : aktivitas ↑ secara spontan dan amplitudo ↓, potensial polifasik dengan 

kontraksi  

• Biopsi otot menunjukkan nekrosis dan peradangan sel disekitar pembuluh darah 

 

Penatalaksanaan  

• Steroid dosis-tinggi; imunosuspresan lain (seperti, metotreksat, azatioprin, siklofosfamid) 

• Periksa adanya keganasan yang tersembunyi 

 

SINDROM SJORGEN (SINDROM SICCA) 

Definisi dan Epidemiologi 

• Disfungsi kronis kelenjar eksokrin sebab  infiltrasi limfoplasmasitik  

• Dapat primer atau sekunder (berhubungan dengan RA, skleroderma, SLE, PM, HIV) 

• Prevalensi lebih sering pada perempuan daripada laki-laki; biasanya muncul antara usia 40-60 

tahun 

 

Manifestasi klinis 

• Mata kering → keratokonjungtivitis 

• Mulut kering (xerostomia) → kesulitan berbicara dan menelan; karies dentis 

• Pembesaran kelenjar parotis 

• Manifestasi sistemik : artritis kronis, nefritis interstisialis (40%), tipe RTA tipe 1 (20%); 

vaskulitis (25%); pleuritis; pankreatitis; gangguan neuropsikiatrik 

• Risiko atau gangguan limfoproliteratif ↑ ( ∼ 50x risiko limfoma dan WM pada sjorgen primer) 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Autoantibodi  

Hanya sjorgen : anti-Ro ⊕ (anti SS-A, 55%) dan anti-La ⊕ (anti SS-B, 40%) 

ANA ⊕ (95%0, RF ⊕ (75%) 

• Uji Schimer : kertas saring pada fisura palpebra untuk menilai produksi air mata  

• Pewarnaan Rose-Bengal : pewarnaan yang menunjukkan devitalisasi epitel kornea/konjungtiva 

• Biopsi (kelenjar liur minor, labialis, atau kelenjar parotis); menunjukkan infiltrasi 

limfoplasmatik 

 

Terapi  

• Supportif : air mata buatan, kebersihan mulut, permen karet bebas gula dan tetesan lemon, 

kebersihan gigi 

• Manifestasi sistemik : NSAID, steroid, agen anti-reumatik yang memodifikasi penyakit 

(seperti, hidroksiklorokuin, azitioprin, metotreksat, siklosporin) 

 

 

 

PENYAKIT JARINGAN IKAT CAMPURAN 

Definisi dan Epedemiologi 

• Lebih dari 15% pasien dirujuk dengan temuan ahli reumatologi yang mengalami sindrom 

tumpang-tindih dengan gambaran SLE, skleroderma, dan atau polimiositis. Sejalan dengan 

waktu, salah satu jenis penyakit tersebut akan lebih dominan. 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Autoantibodi : anti-U1-RNP ⊕ muncul dengan definisi pada MCTD, namun tidak sfesifik 

hingga pada lebih dari 50% pasien SLE tidak ada gambaran tumpang tindih ⊕ terhadap 

autoantibodi ini. 

 

Terapi  

• Sesuai dengan penyakit reumatik sfesifik seperti yang dibahas di atas 

 

 

• LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK • 

Definisi  

• Penyakit autoimun peradangan multisistem dengan manifestasi klinis yang memiliki spektrum 

luas yang berhubungan dengan produksi antibodi antinuklear (ANA). 

 

Epidemiologi  

• Prevalensi 15-50/100.000; predominan mengenai perempuan muda dan wanita paruh baya 

dekade ke-2 hingga ke-4 

• Perbandingan laki-laki : perempuan = 5-8 : 1; perbandingan Afrika-Amerika : Kaukosia = 4:1  

• Terkait HLA (DR3) 

 

Manifestasi Klinis SLE 

Sistem organ  Kriteria Am, Coll, Rheum Gambaran lainnya 

Konstitusional 

(84%) 

 Demam, malaise, anoreksia, 

penurunan berat badan 

Kutaneus (81%) 1. Ruam Malar 

2. Ruam diskoid (popula 

eritematosa dengan 

Alopesia  

Fenomena Raynaud 

Vaskulitis  

keratosis & perlekatan) 

3. Fotosensitivitas 

4. Ulkus oral/nasofaringeal  

Muskuloskeletal 

(85%) 

5. Artritis non-erosif: episodik, 

oligoartikular, simetris, 

berpindah-pindah (63%)  

Artralgia dan Mialgia  

Suatu nekrosis avaskular tulang 

Kardiopulmunal 

(33%) 

6. Serositis : pleuritis (37%) 

atau efusi pleura, 

perikarditis (29%) atau efusi 

perikardium 

Pneumonitis, fibrosis interstisial 

Hipertensi pulmonal 

Miokarditis  

Endokarditis Libman-Sack 

Ginjal (77%)  7. Proteinuria (>500 mg/dl 

atau sedimen selular pada 

urine 

Sindrom nefrotik  

Nefritis Lupus (klasifikasi 

WHO) 

I = normal; II = perubahan 

mesangial 

III = FSGS; IV = GN difusa 

V = GN membranosa  

VI = sklerosis glomerular kronis 

Neurologik (54%) 8. Kejang atau psikosis Sindrom otak organik 

Neuropati perifer atau kranialis 

Gastrointestinal (∼ 

30%) 

 Serositis (pertonitis atau asites) 

Vaskulitis (perdarahan atau 

perforasi) 

Nyeri abdomen 

Hepatitis atau pankreatitis 

Hematologi  9. Anemia Hemolitik (Coombs 

⊕ ) atau leukopenia 

(<4000/mm3), atau 

limfopenia (<1500/mm3), 

atau trombositopenia 

(<100.000/mm3) 

Anemia sebab  penyakit kronis 

Antikoagulan lupus, trombosit 

Splenomegali  

Limfadenopati 

Lainnya  Sindrom Sicca  

Konjungtivitis atau episkleritis  

Serologi 10. ANA ⊕ 

11. Anti-ds-DNA ⊕ 

RF ⊕, ESR ↑ 

Komplemen ↓ (selama 

perkembangan penyakit) 

(jika  ditemukan ≥ 4 dari 11 kriteria, sensitivitas dan spesifisitas untuk SLE > 95%. 

Namun, pasien dapat menderita SLE tetapi tidak mengalami 4 kriteria seperti yang 

diberikan. Arthritis Rheum 25 : 1271, 1982; N Engl J Med 330: 1871, 1994; Ann Intern 

Med 122 : 940 dan 123 : 42, 1995) 

 

 

Tampilan khusus  

• Penyakit jaringan penunjang campuran : SLE + polimiositis + skleroderma (ANA ⊕ dan anti-

U1 RNP ⊕) 

• Sindrom antibodi antifosfolipid : antikoagulan lupus ⊕ atau antibodi anti-kardiolipin → kasus 

tromboembolik, trombositopenia, dan abortus trimester ketiga yang berulang 

• Lupus yang diinduksi obat : hidralazin, prokainamid, INH, metildopa, kuinidin, korpromazin  

Penyakit yang lebih ringan dengan artritis dan serositis yang lebih dominan; biasanya 

reversibel dalam 4-6 minggu 

 

Auto-antibodi SLE 

Autoantibodi  Frekuensi  Hubungan Klinis 

ANA 95-99% jika  penyakit aktif  

∼ 90% jika  sedang remisi 

Biasanya titer tinggi  

Pola homogen atau bercak 

Sensitif namum tidak spesifik sebab  10-

15% pasien dengan ANA ⊕ tidak 

menderita SLE 

Beberapa atau banyak 

manfestasi klinis dengan 

rentang luas 

Anti-ds-DNA 50-70%; sangat spesifik untuk SLE 

Aktivitas penyakit paralel dengan titer 

Nefritis lupus 

Vaskulitis 

Anti-Sm 30%; sangat spesifik untuk SLE Nefritis lupus 

Anti-Ro 

Anti-La 

15-35% 

Anti-Ro ⊕ pada SLE dengan ANA 

negatif 

Sindrom sjorgen/SLE yang 

tumpang tindih 

Lupus neonatus; 

fotosensitivitas 

Anti-U1-RNP 30-50% MCTD; Raynaud cenderung 

tidak mengalami nefritis 

lupus 

Anti-histone Berhubungan dengan lupus yang 

terinduksi obat 

Artritis dan serositis ringan 

 

Rencana penanganan 

• Autoantibodi : ANA, bila ⊕ → periksa anti-ds-DNA, anti-Sm, anti-Ro, anti-La, anti-U1-RNP 

• Kadar komplemen 

• Lyte, BUN, Cr, Urinalis, sedimen urine, urine 24 jam untuk klirens kreatinin dan protein 

• Hitung darah lengkap, Uji Coombs, PTT, anti-kardiopilin dan antikoagulan lupus 

 

 

Penatalaksanaan SLE 

Obat  Indikasi  Efek samping  

NSAID Artralgia, artritis, dan mialgia Gastritis dan GIB 

Gagal ginjal  

Meningitis aseptik 

Hidroksiklorokuin  Penyakit ringan yang disertai 

komplikasi serositis, artritis, dan 

Retinopati (dengan oftalmoskop 

dekat) 

manifestasi kulit. Ruam, sindrom Steven-Johnson 

Kortikosteroid  Dosis rendah untuk penyakit 

ringan yang tidak berespons 

terhadap hidrosiklorokuin 

Dosis tinggi untuk manifestasi 

mayor yang meliputi ginjal dan 

hematologi 

Supresi adrenal 

Imunosupresi/infeksi 

Osteopenia  

Nekrosis avaskular tulang 

Miopati  

Gejala neuropsikiatrik 

Azatioprin  Penyakit ginjal ringan 

Agen hemat-steroid 

Supresi sumsum tulang  

Uji fungsi hati yang abnormal 

Risiko keganasan sekunder ↑ 

Metotreksat  Penyakit sendi dan kulit 

Serositis  

Supresi sumsum tulang  

Uji fungsi hati yang abnormal 

Pneumonitis interstisialis 

Menginduksi abortus 

Siklofosfamid  Pengamanan terhadap nefritis 

yang berat, vaskulitis atau 

penyakit SSP 

Supresi sumsum tulang 

Sistitis hemoragika, karsinoma 

buli-buli 

Infertilitas  

Risiko keganasan sekunder ↑ 

 

Prognosis  

• Rata-rata daya tahan hidup 5 tahun > 90%, rata-rata daya tahan hidup 10 tahun > 80% 

• pemicu  utama morbiditas dan mortalitas : infeksi, gagal ginjal, penyakit neurologik, dan 

jantung 

 

 

 

 

• VASKULITIS • 

 

VASKULAR PEMBULUH-BESAR 

Arteritis Takayasu (“penyakit hilangnya denyut nadi” [pulseless disease]) 

• Definisi : vaskulitis granulomatosa sistemik yang melibatkan aorta dan cabang-cabangnya 

• Epidemiologi : paling sering di Asia dan pada perempuan muda usia reproduktif 

• Manifestasi klinis 

Fase I : periode peradangan dengan demam, artralgia, penurunan berat badan 

Fase II : nyeri dan kaku pada pembuluh darah, denyut ↓ dan tidak sama pada ekstremitas, 

bising subklavia (bruits subclavian) (93%), karotis (58%), aorta (50%), ginjal (38%), paru (10-

40%), koroner (0%) 

Pioderma gangrenosa dan eritema nodosum kulit 

Fase III : seperti terbakar, periode fibrotik 

• Pemeriksaan diagnostik : ESR ↑ (70-80%); arteriografi → oklusi, stenosis, iregularitas dan 

aneurisma 

Pemeriksaan karotis Doppler; MRI/MRA 

Patologi : panarteritis fokal, infiltrat selular dengan granuloma dan sel raksasa 


• Penatalaksanaan : steroid, obat imunosupresif, siklofosfamid 

 

Arteritis Temporalis  

• Definisi : vaskulitis yang mengenai percabangan kranial arkus aorta, terutama arteri temporalis, 

namun dapat menjadi lebih menyeluruh 

• Epidemiologi : pasien biasanya berusia lebih tua dari 50 tahun (90% lebih dari 60 tahun); 

perbandingan perempuan : laki-laki = 2 : 1 

• Manifestasi Klinis : 

Gejala konstitusional : demam derajat rendah, fatigue, penurunan berat badan, mialgia, 

anoreksia. 

Arteri oftalmikus → neuritis optika, kehilangan penglihatan intermiten, amaurosis fugaks dan 

kebutaan 

Nyeri kepala; nyeri arteri temporalis dan kulit kepala serta tidak adanya pulsasi arteri 

temporalis 

Arteri fasialis → klaudikasio mandibula 

Fenomena Raynaud; klaudikasio intermiten pada ekstremitas 

• Polimialgia Reumatika (50%) : myeri simetris proksimal otot yang nyeri dan kaku terutama 

sendi bahu; kekakuan sendi pada pagi hari disertai pergeseran setelah tidak beraktivitas  

• Pemeriksaan diagnostik : ESR ↑, biopsi arteri temporalis (vaskulitis, granuloma) 

• Penatalaksanaan : steroid (bila pandangan terganggu jangan menunggu hasil sebelum memulai 

penatalaksanaan empiris) ikuti ESR dan status klinis 

 

VASKULITIS PEMBULUH-SEDANG 

Poliarteritis nodosa (PAN) 

• Definisi : vaskulitis nekrotikans sistemik akut atau kronis tanpa pembentukan granuloma 

• Epidemiologi : lebih sering pada laki-laki daripada perempuan, berhubungan kuat dengan 

infeksi HBV 

• Manifestasi Klinis  

Gejala konstitusional : penurunan berat badan, demam, fatigue, mialgia 

Lesi kutaneus : livedo retikularis, purpura 

Arteritis koronaria, nyeri abdomen dan perdarahan/infark saluran cerna. Terkenanya ginjal 

disertai sedimen urine aktif, hipertensi, dan FSGN 

Mononeuritis multipleks 

Paru-paru tidak terkena 

• Pemeriksaan diagnostik : 

Angiogram (tipikal pada pembuluh darah mesenterika) → aneurisma dan penyempitan 

pembuluh fokal 

Biopsi (nervus suralis atau kulit) → vaskulitis dengan nekrosis fibrinoid tanpa granuloma ESR 

↑, WBC ↑, anemia, jarang ditemukan eosinofilia, serologi HBV ⊕ 

• Penatalaksanaan : steroid, siklofosfamid 

 

Penyakit kawasaki  

• Definisi : demam akut, vaskulitis sistemik dan arteris koronaria yang menyerang bayi dan anak 

kecil 

• Epidemiologi : di seluruh dunia, namun prevalensi terbanyak di Jepang,; insiden ↑ pada akhir 

musim dingin dan musim semi. 

• Manifestasi klinis :  

Stadium 1 (7-10 hari) : demam tinggi, injeksi konjungtiva non-eksudatif, fisura labia 

eritematosa, lidah stroberi, limfadenopati servikal, ruam yang bersifat sementara, edema dan 

eritema pada telapak tangan dan kaki dengan deskuamasi, reaktan fase akut ↑ 

Stadium 2 (10-25 hari) : vaskulitis koronaria dengan trombosis dan aneurisma koroner pada 

10-15% pasien. 

Stadium 3 (25 hari dan berlanjut) : vaskulitis berkurang dengan fibrosis dan stenosis pembuluh 

yang terkena. 

• Pemeriksan diagnostik : ESR ↑; ekokardiogram dan/atau angiografi koronaria akan 

menunjukkan aneurisma 

• Penatalaksanaan : dosis tinggi IVIG (2 gram/kg/hari), aspirin, tanpa steroid 

 

VASKULITIS PEMBULUH KECIL YANG BERHUBUNGAN DENGAN ANCA 

Penyakit  Vaskulitis Granuloma Ginjal Paru Asma/Eos ANCA 

Granulomatosis 

Wegener 

⊕ ⊕ 80% 90% - c-ANCA 

(anti-PR3) 

Poliangitis  

Mikroskopik 

⊕ - 90% 50% - p-ANCA 

(anti-MPO) 

Sidrom Chrug-Strauss ⊕ ⊕ 45% 70% ⊕ p-ANCA 

(anti-MPO) 

 

Granulomatosis Wegener  

• Definisi : vaskulitis sistemik nekrotikans, terutama melibatkan traktus respiratorius dan ginjal 

• Epidemiologi : dapat terjadi pada semua umur, namun insiden ↑ pada usia muda dan setengah 

baya 

• Manifestsasi klinis  

Paru : batuk, pleuritas, perdarahan atau infiltrasi paru, hemoptisis, rinitis, sinusitis 

Ginjal : hematuria, RPGN  

Mata : episkleritis, uveitis dan proptosis dari granuloma orbitalis 

Neurologik : neuropati perifer dan kranialis 

• Pemeriksaan diagnostik : ⊕ c-ANCA, biopsi → peradangan granulomatosa nekrotikans pada 

arteriol, kapiler, dan vena 

BUN dan Cr ↑, hematuria, sedimen urine aktif dengan bekuan RBC dan RBC dismorfik 

• Penatalaksanaan : siklofosfamid dan metilprednisolon (Ann Intern Med 116:488, 1992); TMP-

SMX akan berperan dalam menegah relaps yang dipresipitasi oleh infeksi saluran nafas. 

 

Poliangitis mikroskopik  

• Definisi : vaskulits pembuluh-kecil yang nekrosis → glomerulonefritis, venulitis 

leukositoklastik dermal, dan alveolitis paru. Serupa dengan sindrom Wegener namun tanpa 

granuloma 

• Epidemilogi : tidak berhubungan dengan HBV (bukan poliarteritis nodosa) 

• Manifestasi klinis  

Gejala konstitusional : penurunan berat badan, demam, fatigue, mialgia 

Ginjal : hematuria, RPGN 

Paru : batuk dan/atau hemoptisis 

• Pemeriksaan diagnostik : ⊕ p-ANCA (80%), biopsi → peradangan nekrotikans arteriol, 

kapiler, dan vena tanpa granuloma atau infiltrat eosinofilik 

Sedimen urine dan temuan foto rontgen toraks serupa dengan hasil pada penderita Sindrom 

Wegener 

• Penatalaksanaan : siklofosfamid, metilprednisolon; plasmaferesis digunakan pada beberapa 

kasus 

 

Sindrom Churg-Strauss 

• Definisi : peradangan granulomatosa, terkenanya kulit, nervus perifer, paru dan ginjal 

• Epidemiologi : kndisi tidak lazim yang dapat muncul pada segala usia, namun tipikalnya 30-40 

tahun  

• Manifestasi klinis 

Asma dan rinitis alergika 

Penyakit infiltratif eosinofilik/pneumonia eosinofilik 

Vaskulitis pembuluh-kecil sistemik dengan kompleksitas granulomatosa (dalam 3 tahun setelah 

onset asma). Neuropati, arteritis koroner, dan miokarditis sering ditemukan dan berat. 

Glomerulonefritis dan serositis kurang sering ditemukan dan kurang berbahaya. 

• Pemeriksaan diagnostik : ⊕ p-ANCA (50%), eosinofilia, biopsi →mikrogranuloma, nekrosis  

• Fibrinoid dan trombosis arteri kecil dan vena dengan infiltrat eosinofilik; foto rontgen toraks 

akan menunjukkan perpindahan infiltrat paru. 

• Penatalaksanaan : kortikosteroid dosis tinggi (+ siklofosfamid bila perlu) 

 

VASKULITIS PEMBULUH KECIL YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMPLEKS 

IMUN 

Purpura Henoch-Schonlein 

• Epidemilogi : vaskulitis sistemik yang paling sering pada anak-anak. Puncak insiden pada usia 

5 tahun. Mulai setelah suatu infeksi saluran pernafasan atas atau terpajan obat. Diperantarai 

IgA. 

• Manifestasi klinis : purpura pada permukaan ekstensor dan bokong; demam; poliartralgia tanpa 

deformitas terutama mengenai pinggul, lutut dan pergelangan kaki; nyeri abdomen kolik ± GIB 

atau intususepsi; rentang nefritis mulai dari hematuria mikroskopik dan proteinuria hingga 

ESRD 

• Pemeriksaan diagnostik : hitung trombosit normal, serum IgA dan IgM ↑, hematuria dan 

proteinuria biopsi kulit → vaskulitis leukositoklastik dengan penimbunan IgA dan C3 pada 

dinding pembuluh. 

• Penatalaksanaan : suportif; steroid untuk nyeri abdomen 

 

Vaskulitis Krioglobulinemik : lihat “Krioglobulinemia” 

 

Vaskulitis yang berhubungan dengan penyakit jaringan penunjang  

• Definisi : vaskulitis yang berhubungan dengan RA, SLE, atau sindrom sjogren 

• Manifestasi klinis  

Arteritis distal : Fenomena Raynaud, livedo retikularis, purpura palpebra, ulserasi kutaneus 


Areritis viseral : perikarditis dan iskemia mesenterika 

Neuropati perifer  

• Pemeriksaan diagnostik : biopsi nervus suralis dan kulit, angiografi, EMG 

• Penatalaksanaan : steroid, siklofosfamid 

 

Angitis Leukositoklastik Kutaneus (vaksulitis hipersensitif) 

• Definisi : kelompok heterogen sindrom klinis sebab  penimbunan kompleks imun di kapiler, 

venula dan arteriol 

• Epidemiologi : secara keseluruhan merupakan jenis vaskulitis yang paling umum 

• Etiologi  

Obat : penisilin, aspirin, amfetamin, tiazid, bahan-bahan kimia, imunisasi 

Infeksi : streptokokus faring, endokarditis bakterialis, TB, hepatitis, infeksi stapilokokus 

Antigen tumor 

Protein asing (serum sickness) 

• Manifestasi klinis : onset mendadak setelah terpajan dengan agen yang menyerangnya, pada 

purpura yang dapat dipalpasi, ulserasi kutaneus, dan artralgia sementara. Neuropati perifer 

• Pemeriksaan diagnostik : ESR ↑, kadar komplemen ↓, eosinofilia, biopsi kulit → vaskulitis 

leukositoklastik dengan neutrofilia, fragmen nukleus sekunder terhadap karioreksis, perdarahan 

perivaskular dan penimbunan fibrinoid 

• Penatalaksanaan : menghentikan serangan agen ± penurunan prednison secara cepat  

 

Sindrom Bechet 

• Manifestasi klinis  

Ulkus aftosa oral berulang 

Ulkus genitalis berulang 

Penyakit okular : konjungtivitis, uveitis (dengan hipopion), skleritis, vaskulitis retina, nuritis 

optika 

Artritis : ringan, kronis dan non-destruktif, mengenai lutut dan pergelangan kaki 

Neurologik : defisit fokal dan pleositosis yang disertai vaskulitis serebralis 

Kutaneus : pustula, papula, folikulitis dan eritema nodosum 

• Pemeriksaan diagnostik : angiografi serebral (namun jarang diperlukan); pemeriksaan dengan 

lampu celah (slit lamp) dan fundukskopi 

• Penatalaksanaan : steroid, dapson, kolkisin, azatioprin, siklosporin, klorambusil, talidomid 

untuk kasus-kasus refrakter 

 

 

• KRIOGLOBULINEMIA • 

Definisi :  

• Protein yang mengendap pada pajanan terhadap dingin 

• Tipe 1 : Ig monoklonal (biasanya IgM atau IgG) 

• Tipe 2 (campuran) : IgM monoklonal dengan aktivitas (contoh, faktor reumatoid) terhadap IgG 

poliklonial 

• Tipe 3 (campuran) : IgM poliklonial dengan aktivitas terhadap IgG poliklonial  

 

Epidemiologi  

• Predominan pada perempuan 

• Usia onset sekitar 50 tahun 

 

Etiologi  

• Gangguan limfoproliteratif : mieloma, multipel, makroglobulinemia Waldenstrom, CLL 

biasanya dihubungkan dengan krioglobulinemia tipe 1 

• Penyakit hati kronis : HCV, HBV ? 

Biasanya dihubungkan dengan krioglobulinemia tipe 2 >80% krioglobulinemia tipe 2 HCV 

RNA ⊕  

(N Engl J Med 327:1490, 1992) 

• Sindrom autoimun : SLE, RA, PAN, sjogren, skleroderma, Behcet 

Biasanya dihubungkan dengan krioglobulinemia tipe 3 

• Infeksi : virus (EBV, CMV), bakteri (endokarditis), jamur, parasit 

• Esensial (idiopatik) 

 

Patofisiologi  

• Deposit kompleks imun, aktivasi komplemen 

• Agregasi trombosit, trombosit pembuluh kecil, vaskulitis 

 

 

 

 

Manifestasi klinis 

• Umum : lemas, demam derajat rendah  

• Dermatologik : purpura pada ekstremitas inferior, livedo retikularis, ulkus di tungkai, 

fenomena Raynaud 

• Reumatologik : artralgiamigratoris dan simetris pada kecil atau sedang 

• Ginjal : glomerulonefritis (proteinuria, hematuria, hipertensi, edema) 

• Hematologik : anemia, trombositopenia 

• Saluran cerna : nyeri abdomen, hepatosplenomegali, uji fungsi hati yang abnormal 

• Neurologik : neuropati perifer dan mononeuritis multipleks 

 

Pemeriksaan diagnostik  

• Kriokrit ⊕ (jumlah tidak perlu dihubungkan dengan aktivitas penyakit), elektroforesis 

krioglobulin  

• Faktor reumatoid (RF) ⊕ 

• Kadar C4 ↓, kadar C3 normal, ESR ↑ 

• Bila sampel darah tidak disimpan pada suhu 37°C → kriopresipitasi → kehilangan dari RF dan 

↓↓ komplemen 

• Pada krioglobulinemia tipe 2 : HCV RNA ⊕, Ab anti-HCV negatif-palsu 

 

Penatalaksanaan   

• Tangani pnyakit yang mendasrinya  

• NSAID untuk penyakit ringan  

• Prednison + imunosupresan lainnya (seperti : siklofosfamid) 

• Plasmaferesis ? 

• IFN-α untuk HCV RNA ⊕ krioglobulinemia tipe 2 (N Engl J Med 330 : 751, 1994) 

 

 

• AMILOIDOSIS • 

Akumulasi protein fibrit yang tidak dapat larut yang membentuk lembaran β-berlipat 

Klasifikasi Amiloidosis 

Tipe  Protein prekursor  Penyakit kausatif  Sistem organ  

AL  Ig monoklonial rantai 

ringan  

MM, penyakit rantai 

ringan (λ > K), 

MGUS,WM 

Ginjal, jantung, 

neurologik, 

kutaneus, 

gastrointestinal, 

hepar, paru 

AA Protein A 

(reaktan fase akut) 

Infeksi kronis; 

empiema, TB, 

osteomielitis, 

bronklektasis, lepra 

Keadaan meradang : 

RA, IBD, FMF 

Neoplasma : sel ginjal, 

Hodgkin 

Ginjal, 

gastrointestinal, 

hepar, neurogenik, 

kutaneus. Jantung 

jarang terkena 

Heredites  Transiretin (TTR) dll. Protein mutan  neurologik, jantung, 

ginjal, 

gastrointestinal 

Berhubungan 

 dengan 

dialisis 

β, mikroglobulin Protein yang secara 

normal dieksresi oleh 

ginjal  

 Neurologik, 

muskuloskeletal 

Terlokalisasi  Tirokalsitonin  

ANP 

Protein β-amiloid 

Karsinoma tiroid 

medularis jantung 

senilis 

Penyakit Alzheimer  

Tiroid  

Jantung  

Otak  

(N Engl J Med 337 : 898, 1997) 

 

Manfestasi Klinis Amiloidosis 

Sistem Manifestasi  Amiloid 

Ginjal Proteinuria atau sindrom nefrotik AL, AA, 

herediter 

Jantung Kardiomiopati, ↓ amplitudo QRS 

Abnormalitas hantaran 

AL, herediter 

Jarang pada AA 

Hepar Hepatomegali, biasanya tanpa disfungsi AL, AA 

Lien Splenomegali biasanya tanpa leukopenia atau anemia   AL, AA 

Kutaneus Papila non-pruritus seperti lilin, ekimosis periorbital 

“Pinch purpura” = kulit berdarah dengan trauma 

minimal 

Al, AA 

Gastrointestinal Diare, malabsorpsi, kehilangan protein AL, AA, 

Ulserasi, perdarahan, obstruksi  

Makroglosia → disfonia dan disfagia 

herediter 

Neurologik Neuropati perifer dengan parestesia yang nyeri 

Neuropati otonomik → impotensi, dismolalitas, ↓ TD 

Carpal Tunnel Syndrome  

Herediter, AL 

Endokrin Deposit dengan insufisiensi hormon yang jarang Terlokalisasi 

Muskuloskeletal Artralgia dan artritis AL, dialisis 

Paru Obstruksi jalan nafas AL, AA 

 

Pemeriksaan diagnostik  

• Biopsi bantalan lemak subkutan abdominal atau rektal → pada pewarnaan merah kango 

tampak hijau seperti warna apel  

• SPEP, SIEP, UPEP, ± biopsi sumsum tulang 

• Ekokardiogram : penebalan biventikular dengan tampilan “granular yang berilau” 

• Uji genetik terhadap bentuk herediter 

 

Penatalaksanaan  

• Amiloid AL : melfalan + prednison (N Engl J Med 314:1001, 1986); iododoksorubisin ? 

• Amiloid AA: penanganan terhadap penyakit yang mendasarinya akan memicu  → remisi 

sementara  

• Demam Mediterania Familial : kolkisin (N Engl J Med 314:1001, 1986) 

• Lokal : eksisi pembedahan  

 

Prognosis  

• Amiloid AL : daya tahan hidup rata-rata 12-18 bulan; bila terkena jantung, daya tahan hidup 

rata-rata sekitar 6 bulan  

 

 

GAGAL GINJAL AKUT 

DEFINISI 

 Gagal ginjal akut (GGA) yaitu  suatu sindrom klinis yang di tandai dengan penurunan 

mendadak (dalam beberapa jam sampai beberapa hari) laju filtrasi glomerulus (LFG), di sertai 

akumulasi nitrogen sisa metabolisme (ureum dan kreatinin). 

 

GAGAL GINJAL AKUT PRARENAL 

 GGA prarenal atau azotemia prarenal atau di sebut juga sebagai GGA fungsional, di 

sebabkan oleh ferfusi glomerulus yang abnormal sehingga menurunkan LFG. 

 

ETIOLOGI 

Hipovolemia di sebabkan oleh; 

• Kehilangan darah /plasma : perdarahan, luka baker. 


• Kehilangan cairan melalui gastrointestinal, kulit, ginjal (diuretik, penyakit ginjal lain), 

pernafasan, pembedahan. 

• Redistribusi dari intravaskuler ke ekstravaskuler (hipoalbuminemia, sindrom kompartemen 

ketiga, pankreatitis, peritonitis, kerusakan otot yang luas, sindrom distres pernafasan). 

• Kekurangan asupan cairan. 

 

Vasodilatasi sistemik; 

• Sepsis 

• Sirosis hati 

• Anestesi/blokade ganglion 

• Reaksi anafilaksis 

• Vasodilatasi oleh obat 

 

Penurunan curah jantung/kegagalan pompa jantung; 

• Renjatan kardiogenik,infark jantung 

• Gagal jantung kongestif (disfungsi miokard, katup jantung) 

• Tamponade jantung 

• Distrimia 

• Emboli paru 

 

Kegagalan autoregulasi 

• Vasokontriksi praglomerulus oleh sebab  sepsis, hiperkalsemia, sindrom hepatorenal, obat-

obat seperti inflamasi non steroid (AINS), adrenalin, noradrenalin, siklosporin, dan 

ampoterisin B. 

• Vasodilatasi pascaglomerulus: di sebabkan oleh obat-obat penghambat angiotensin-

converting enzyme (ACE), dan antagonis reseptor AT1 angiotensin. 

 

PATOGENESIS 

 Obat golongan AINS dapat memicu  GGA pada sebagian orang yang aliran darah 

ginjal dan LFG di pertahankan atau memerlukan prostaglandin, keadaan ini sering di temukan 

pada hipovolemia, gagal jantung, sirosis, dan sepsis, serta sebagian pasien sindrom nefrotik. 


 Penghambat ACE dapat menimbulkan GGA prarenal pada sebagian pasien yang LFG-

nya di pertahankan melalui vasokontriksi vasoeferen yang dimediasi oleh angiotensin-II. 

 

 

GAGAL GINJAL AKUT RENAL 

 Banyak pemicu  gagal ginjal akut renal yang di sebabkan langsung atau di eksaserbasi 

oleh berkurangnya aliran darah ginjal ke seluruh bagian atau sebagian ginjal. pemicu  

kerusakan iskemik ini di sebabkan keadaan prarenal yang tidak teratasi. pemicu  lain yaitu  

penyempitan atau stenosis arteri renalis sehingga mengurangi aliran darah ke seluruh ginjal.  

 Penyakit lain yang lebih komplek seperti eklamsia, rejeksi alograf, sepsis, sindrom 

hepatorenal juga merupakan penyakit iskemia ginjal. 

Nekrosis Tubular Akut 

 Kebanyakan pasien dengan NTA tidak di biopsi, dan diagnosis di tegakkan atas dasar 

gejala dan perjalanan klinis saja. Pada NTA ini ternyata di dapatkan kontribusi perubuhan sel 

yang subletal seperti kehilangan lapisan brush border, membran plasma, polaritas membran, dan 

terlepasnya sel dari membran basalis, sehingga memicu  perubahan fungsional. 

 

Nekrosis Tubular Akut Akibat Toksin 

 Umumnya kerusakan terjadi akibat kerusakan tubulus, akan tetapi dapat juga di sertai 

dengan gangguan hemodinamik sistemik maupun mekanisme autoregulasi ginjal. 

Tabel 1. Nefrotoksin yang memicu  Nekrosis Tubular Akut 

Efek nefrotoksin 

hemodinamik 

 

 

 

 

toksin terhadap tubulus 

 

 

 

AINS penghambat ACE, penghambat 

angitensin II, siklosporin, tacrolimus, 

kontras radiologi, hemoglobin 

 

antibiotik: aminoglikosid, vankomisin, 

foscamet, amfoterisin B, pentamidin. 

kemoterapi: sisplatin, ifosfamid, 

mitramisin, 5-FU, tioguanin, sitarabin 

litium, parasetamol 

 

 

kristaluria 

 

 

 

 

obat rekreasional; heroin dll 

kontras radiologis 

protein light chains 

pigmen: mioglobin, hemoglobin 

toksin: organik; karbon tetraklorid, 

kloroform, herbisid, racun yang berasal 

dari tanaman, bisa ular atau insek 

urat, oksalat 

obat: asiklovir, metotreksat, sulfonamid, 

triamteren, metoksifluran, indinavir. 

 

Toksin Endogen: Mioglobulinuria, Hemoglobulinuria, Protein Mieloma 

 Mioglobulin yaitu  protein yang mengandung hemo (17kDa), di filtrasi glomerulus. Pada 

rabdomiolisis tubulus proksimal tak mampu meresorpsi protein ini sehingga mioglobulin 

menyumbat tubulus yang lebih distal (obstructing tubular casts). Selain itu mioglobulin 

memprovokasi terjadinya vasokontriksi oleh sebab  dapat mengikat nitrik oksida dan oleh sebab  

rabdomiolisis luas yang memicu  penggumpalan cairan (kompartemen ke-3), sehingga 

terjadi hipovolemia. 

 

Hemoglobulinuria 

  Hemoglobulin tak setoksik mioglobulin, dan jarang memicu  GGA kecuali jika  

terjadi hemolisis intravaskular yang luas. 

 

Light chains 


 GGA sering merupakan gejala mieloma, protein ini di filtrasi melalui glomerulus dan 

pada kosentrasi tertentu mencapai tubulus distal dan di situ akan terbentuk silinder yang 

menyumbat (cast nephrophaty). 

 

Nefrotoksik Kontras  

 Prediktor dari GGA akibat kontras yaitu  usi lanjut, gangguan fungsi ginjal, diabetes dan 

miolema. Penurunan fungsi berlangsung selama 3-5 yang di mulai saat terpajan. Zat kontras 

dapat langsung nmerusak sel tubulus melalui efek hiperosmolar, memprovokasi produksi 

oksigen radikal bebas, dan juga menstimulasi vasokontriksi intra