akhirnya dapat ditemukan
pemecahan melalui satu landmark study oleh
Yamanaka, yang memakai empat faktor
pengubah gen sebagai penentu nasib sel somatik
menjadi sel pluripotensi. 9 Kombinasi ini
membuka jalan untuk mengetahui aktivitas
reprogramming nukleus. Mekanisme yang
mendasari perubahan nasib sel secara epigenetik
dapat dibaca di Bab 3. Akhir-akhir ini, kombinasi
“kode” transkripsi secara langsung dapat
mereprogram sel menjadi tipe sel yang berfungsi
khusus, sehingga mengubah model diferensiasi sel
yang dikemukakan oleh Waddington.
(Gambar 1).10
Studi yang dipelopori Yamanaka mengisyaratkan
bahwa diferensiasi bukanlah akhir kematian
perkembangan sel, melainkan dapat dikembalikan ke
fungsi awal sebagai stem cell pluripoten dengan
kondisi primitif dengan cara mengubah status
genetik dan epigenetik sehingga mengubah ekspresi
gen dan status kromatin selama reprogramming dari
sel somatik menjadi induced pluripotent stem cell
(iPSC).11 Sehingga studi iPSC meletakkan fondasi
“reprogramming” dalam teknologi transformatif
ilmu biomedik. 3
Sejak penemuan Yamanaka, maka dikembangkan
pemakaian kombinasi faktor transkripsi sel yang
menghasilkan insulin dari pankreas sehingga dapat
mengatur kondisi hiperglikemia pada model mencit
diabetik. 12 Induksi sel neuron dengan faktor
transkripsi membuktikan bahwa konversi dapat
dilakukan di luar dari lapisan germinal. 13
Reprogramming memakai kombinasi faktor
transkripsi juga telah menghasilkan tipe sel lain
seperti hepatosit, dan kardiomiosit. 14,15,16 Sampai
saat ini, beberapa tipe sel yag telah berhasil
dilakukan dari lineage reprogramming baik pada
mencit maupun manusia (Gambar 2). 1
Gambar 1. Model Waddington dimodifikasi untuk reprogram sel. Menurut Conrad Waddington bahwa nasib sel
diibaratkan sebagai suatu bola yang sedang mengelinding melewati beberapa lembah yang menggambarkan tipe sel
terdiferensiasi penuh. Transfer nukleus dan reprogram menunjukkan bahwa sel dapat digelindingkan mencapai puncak
melalui perubahan epigenetik pada sel sehingga dapat menjelajah ke atas dan ke bawah dari satu lembah ke lembah lain.
Gambar 2. Perkembangan lineage reprogramming. Kemajuan dalam perkembangan lineage reprogramming diberi
warna berbeda; hijau, biru, dan merah dengan masing-masing menunjukkan induksi tipe sel dengan diferensiasi terminal,
stem cell progenitor/precursor, dan in vivo lineage reprogramming. Teks di atas menunjukkan waktu kejadian studi pada
mencit, sedangkan di bawah menunjukkan waktu kejadian pada manusia.
Gambar 3. Skematik pendekatan dalam mengidentifikasi faktor pengatur yang melakukan reprogramming direk secara
in vitro dan in vivo memakai reprogamming jantung. (A) Metode skrining mendapatkan faktor transkripsi yang
secara langsung mengubah fibroblast menjadi sel menyerupai kardiomiosit. (B) Pengujian faktor reprogramming secara
in vivo menjadi sel baru dalam kondisi injuri. pemakaian faktor reprogramming secara in vivo menghasilkan konversi
fibroblast residen menjadi sel menyerupai kardiomiosit dengan interaksi elektrik yang berkontribusi meningkatkan fungsi
jantung setelah injuri.
REPROGRAMMING JANTUNG SECARA
LANGSUNG
Ieda et al., memakai kombinasi 3 faktor
transkripsi perkembangan jantung - Gata4,
Mef2c, dan Tbx5 (GMT), mereprogram
fibroblast kulit atau jantung menjadi sel
menyerupai kardiomiosit (Gambar 3). 3 Ketiga
faktor reprogramming, Gata4, Mef2c, dan Tbx5
merupakan faktor transkripsi pada waktu awal
perkembangan jantung. 17,18,19 Faktor-faktor ini
berinteraksi satu sama lain, koaktif terhadap
ekspresi gen jantung (misalnya, Nppa, Gja5
[Cx40], dan Myh6) dan meningkatkan diferensiasi
kardiomiosit. 20, 21, 22, 23. Gata4 dianggap sebagai
faktor “pioneer” dalam membuka struktur kromatin
dalam loki jantung,24 sehingga memungkinkan
ikatan dengan Mef2c dan Tbx5 pada tempat target
yang spesifik, selanjutnya memicu aktivitas
terhadap program jantung. 16
Stem Cell Epigenetik
113
Gambar 4. Induced cardiomyocyte (iCM) memperlihatkan denyutan spontan, dengan Ca2+ fluks dan aktivitas elektrik.
(A dan B) iCM yang diperoleh dari fibroblast jantung menunjukkan osilasi Ca2+ dengan berbagai frekuensi (A), sama
seperti kardiomiosit neonatus (B). Intensitas Rhod-3. (C) iCM yang diperoleh dari tail-tip dermal fibroblast (TTF)
menunjukkan osilasi Ca2+ spontan dengan frekuensi rendah. (D) Gelombang Ca2+ spontan dapat diamati pada iCM MHC-
GFP+ (dot putih) diperoleh dari fibroblast jantung atau kardiomiosit neonatus (tanda panah) dengan Rhod-3 pada Ca2+
max dan min. (E) Osilasi Ca2+ spontan diperoleh dari iCM MHC-GFP+ dengan Rhod-3 pada Ca2+ max dan min. (F)
Kontraksi iCM spontan dengan aktivitas elektrik diukur memakai elektroda ekstraseluler. Kardiomiosit neonatus
menunjukkan aktvitas elektrik yang sama. (G) Pencatatan elektrik intraseluler dari iCM yang diperoleh dari fibroblast
jantung yang dikultur selama 10 minggu menunjukkan potensial aksi yang menyerupai kardiomiosit mencit dewasa.
Ekspresi ektopik dari faktor ini memerlukan waktu 2
minggu dalam konversi fibroblast menjadi sel
kardiomiosit, setelah kondisi epigenetik stabil yang
ditandai dengan metilasi histon dan metilasi DNA.
Namun ekspresi gen iCM global sama, dan tidak
menyerupai kardiomiosit neonatus. 16 Dalam studi
ini pemakaian GMT ini tidak melewati stadium
progenitor jantung atau mesodermal, menunjukkan
bahwa terjadi konversi direk dari satu tipe sel
postnatal ke sel lain. 3 Sehingga induced
cardiomyocyte (iCM) yang dihasilkan lebih
menyerupai kardiomiosit ventrikel dewasa. iCM
yang dihasilkan dapat berkontraksi spontan (Gambar
4). 16 Meskipun inisiasi reprogramming awal
berlangsung cepat yaitu pada hari ke-3,
dibandingkan dengan iPSC yang dipelopori
Takahashi dan Yamanaka memerlukan waktu 10-20
hari, proses reprogramming berlanjut sampai
beberapa minggu dengan perubahan pada ekspresi
gen, kontraktilitas dan maturasi elektrofisiologi. 16
Reprogramming yang mengkonversi fibroblast
menjadi induced pluripotent stem cell (iPSC) oleh
Yamanaka masih tergolong amat rendah (<0.1%),
sedangkan efisiensi reprogramming direk secara in
vitro tanpa melalui pembentukan stem cell lebih
tinggi yaitu 20%, namun masih terbatas. Hal ini
disebabkan sebagian besar iCM hanya direprogram
parsial, berarti masih ada faktor lain yang dapat
meningkatkan reprogramming, setidaknya secara in
vitro. 3
Penemuaan akhir-akhir ini mendapatkan bahwa
faktor alternatif termasuk regulator epigenetik,
microRNA (miRNA) dan molekul kecil dapat
digunakan dalam lineage reprogramming
(Gambar 5). 2 Pemahaman mekanisme molekuler
yang mendasari lineage reprogramming dapat
bermanfaat sebab faktor pengubah ini
merupakan cara alternatif dalam mengubah nasib
sel masa mendatang. 2
Gambar 5. Faktor-faktor yang terlibat dalam lineage reprogramming. Faktor reprogramming termasuk faktor transkripsi
spesifik, regulator epigenetik, miRNA, dan faktor pluripotensi dimanipulasi menjadi sel yang diinginkan. Efek
downstream yaitu pembentukan kembali GRN (gene regulatory network) dengan target tipe sel lain.
REGULATOR EPIGENETIK
Regulasi epigenetik memegang peranan penting
dalam membentuk dan mempertahankan identitas sel
selama reprogramming perkembangan dan
reprogramming sel. 25 Studi akhir-akhir ini terhadap
diferensiasi jantung pada embryonic stem cell secara
in vitro menunjukkan bahwa gen jantung
memerlukan pengaturan struktur kromatin secara
terprogram.26,27 Demikian juga reprogramming sel
diikuti oleh perubahan terhadap lanskap epigenetik.
28,29,30,31,32 Zhou et al, mendapatkan bahwa efisiensi
induced cardiomyocyte (iCM) yang rendah
disebabkan oleh regulator epigenetik Bmi1 yang
bekerja sebagai penghalang epigenetik selama fase
awal reprogramming iCM, 16sebab Bmi1 secara
langsung berikatan dengan regio gen kardiogenik
termasuk Gata4 yang ditempati bersama oleh
polycomb repressive complex (PRC). Dengan
menghilangkan atau melakukan knockdown Bmi1
memicu terlepasnya represi Gata4 secara
endogen sehingga Gata4 dapat menginduksi
denyutan terhadap iCM. Jadi, dengan knockdown
Bmi1 memicu hilangnya level H2AK119ub
dan meningkatnya H3K4me3 pada loki jantung
sehingga terjadi ekspresi gen kardiogenik. 25 Hal ini
konsisten dengan penemuan sebelumnya bahwa
monoubikuitilasi H2AK119 oleh PRC1
berhubungan dengan represi gen. 33,34 Knockdown
Bmi1 juga merelaksasikan kromatin dan
meningkatkan aksesibilitas DNA, 35,36,37,38 sehingga
melepaskan represi terhadap Gata4. Dengan
menghilangkan penghalang Bmi1 juga
memungkinkan untuk memakai jumlah faktor
transkripsi yang lebih kecil misalnya hanya MT
(Mef2c, dan Tbx5). 25
Penghalang epigenetik selama reprogramming iPSC
juga diketahui. 40,41 Melakukan knockdown terhadap
Plu1 dapat meningkatkan efisiensi reprogramming,
42 sedangkan melakukan silencing Plu1 mengurangi
efisiensi reprogramming iCM, menunjukkan bahwa
mekanisme pengaturan epigenetik berbeda antara
reprogramming iPSC dengan reprogramming direk
pada sel somatik ke sel lain. 25 Hal ini terjadi sebab
ada interaksi antara regulator epigenetik dengan
faktor pengubah gen selama konversi lineage. 2
Manipulasi regulator epigenetik saja dapat
mengubah lineage reprogramming. Defisiensi DNA
methyltransferase Dnmt1 pada sel ß pankreas
memicu konversi ke sel lain. 28 Analisis lebih
lanjut mendapatkan bahwa Arx, suatu master gene
mengalami reaktivasi pada sel ß setelah mutasi
Dnmt1.43 sebab itu, menghilangkan metilasi DNA
dapat mereaktivasi master gene dan cukup
mengubah nasib sel. Selain itu, manipulasi terhadap
histone-modifying enzyme dapat berpengaruh
terhadap proses konversi lineage sebab modifikasi
histon juga berhubungan dengan keadaan kromatin
aktif atau silent. 44
MIKRO RNA
Pada saat terjadi injuri jantung yang luas bersifat
subletal, sebab penyumbatan arteri koronaria
ekstensif, maka regenerasi jantung yang tidak adekuat
dengan fibrosis yang luas oleh jaringan fibroblast dapat
memicu gangguan struktur dan fungsi jantung.45
Kondisi hilangnya kardiomiosit yang masif sebagai
akibat infark miokard ini dengan apoptosis pasca infark
merupakan kontribusi utama terhadap progresivitas
gagal jantung, dan menimbulkan perburukan terhadap
miokardium yang masih viable. 46 Dengan penemuan
bahwa regenerasi jantung dapat terjadi, maka
pemakaian miRNA untuk mereprogram sel somatik
ke sel lain secara langsung merupakan upaya yang
menjanjikan. 47
miRNA adalan RNA noncoding kecil yang dapat
memodulasi ekspresi messenger RNA (mRNA)
dengan melakukan ikatan basa antara beberapa
nukleotida pada miRNA (the seed sequence) dengan
sekuens komplemeter di dalam open reading frame
atau regio 3” untranslated dari target mRNA
sehingga memicu gangguan stabilitas mRNA
atau inhibisi sintesis protein. MiRNA disintesis dari
prekursor yang lebih panjang menjadi ~ 22 mers
melalui kerja mikroprosesor dan enzim Dicer. Di
dalam genom sering dijumlah miRNA dalam bentuk
klaster dan diekspresikan dalam bentuk tipe sel yang
spesifik, sama seperti faktor transkripsi. Hal yang
penting yaitu bahwa setiap miRNA dapat
menargetkan dan menekan ratusan mRNA; sehingga
ekspresi satu miRNA dapat mengubah profil
ekspresi dan identitas sel secara dramatis.47
Barangkali kalimat terakhir inilah yang
menginspirasi Jayawardena et al., dengan mentornya
Victor Dzau melakukan skrining dan mendapatkan
bahwa kombinasi miRNA (miRNAs 1, 133, 208,
499) mengubah fibroblast menjadi kardiomiosit
secara in vitro dan in vivo, (Gambar 6) 45 dan
efisiensi konversi dapat ditingkatkan sebesar 10 kali
lipat dengan memakai JAK inhibitor. Sel yang
direprogram menunjukkan gen kardiomiosit spesifik
dan memperlihatkan susunan sarkomerik, osilasi
kalsium spontan dan dengan fenotipe berciri khas
menyerupai kardiomiosit.
5. Differensiasi Reprogram Sel
116
Gambar 6. Memasukkan microRNA ke dalam fibroblast jantung dapat menginduksi ekspresi marker kardiomiosit yang
spesifik. A, Data ekspresi gen kumulatif fibroblast jantung dewasa yang ditransfeksi dengan miRNA dapat dilihat dalam
bentuk heat map. Hasil ini memperlihatkan pergeseran dari fibroblastik (Ddr2 dan Vim) menjadi kardiomiosit awal (Isl1,
Nkx2.5, Gata4, Hand2, Mef2c) dan ekspresi marker kardiomiosit lanjut (Tnni3, Cx43) antara hari 3 dan 6 setelah
transfeksi. Lipatan perubahan ekspresi masing-masing gen ditunjukkan dalam skala hijau sampai hitam (hijau; minimum,
merah; maksimum). B, Grafik bar menunjukkan profil ekspresi RNA Gata4 dan Mef2c pada fibroblast jantung pada hari
ke 3 setelah transfeksi dengan kombinasi miRNA 1,133, 206 dan 1, 133, 208. Semua kombinasi miRNA diperlihatkan
dengan bar abu-abu terang. Warna abu-abu gelap memperlihatkan rata-rata kontrol: untransfected, mock, dan
nontargeting miRNA (negmiR). C, Scatterplot menunjukkan rata-rata ekspresi normal Gata4, Mef2c dan Tbx pada hari
ke 3 setelah transfeksi. Terlihat miRS-1, 133, 208 (merah); dan miRs-1, 133, 206 (nila); mock, negmiR dan untranslated
control (hijau); kombinasi miRNA 9hitam). D, Imunostaining ACTININ (hijau) dan DAPI positif (biru) pada fibroblast
jantung neonatus 1 minggu setelah transfeksi dengan miR-1; miRs-1, 133, 206; miRs-1, 133, 208; dan miRs-133, 206,
208. Skala bar 100 µm. E. Imunostaining TNNI3 (hijau) dengan DAPI positif (biru) pada fibroblast kardiomiosit
neonatus 1 minggu setelah transfeksi dengan miRs-1, 133m 208. F. Immunostaining TNNI3 dari DAPI positif (biru) dari
fibroblast jantung neonatus diisolasi dari mencit Fsp1Cre/tgTOMATO (merah), 4 minggu setelah transfeksi dengan
miRs-1, 138, 208. Skala bar 100 µm.
Gambar 7. Kombinasi mikroRNA (miR combo) mereprogram kardiomiosit yang mengekspresikan marker jantung
matur. Tandem dimer Tomato 9tdTomato)+ kardiomiosit dengan imunostaining untuk sarcomeric-œ-actinin, cardiac
troponin-T, N-cadherin, and connexin-43 (hijau), bersama dengan tdTomato 9 merah P dan DAPI (4’,6-diamidino-2-
phenylindole; biru). Image yang ditunjukkan meliputi tumpang tindih marker jantung dengan DAPI (atas), td Tomato dan
DAPI (tengah) dan merger image marker, td Tomato, DAPI (bawah). Skala bar, 100µm.
Gambar 8. Excitation-contraction (EC) coupling pada tandem dimer Tomato (tdTomato)+ cardiac myocytes. A. Contoh
representatif transien kalsium spontan dan kontraktilitas yang diperoleh dari kardiomiosit tdTomato- dan tdTomato+
diberi muatan Fura-2 selama pacing pada 1 Hz dengan rangsangan eletrik. B, parameter kalsium transien diukur
memakai kardiomiosit tdTomato- (wild type, n=22) dan tdTomato+ (tom+; n=12) dilakukan pacing pada 1 Hz
seperti pada A. C. Parameter kontraktilitas termasuk panjang sarkomerik (tdTomato- = 1.80 ±0.013; tdTomato+ =
1.84±0.018; p=0.13), fractional shortening (tdTomato- = 5.77±1.08%; tdTomato+ = 4.64 ±1.08%; p=0.51), dan
contraction decay kinetics (tdTomato- = 0.063±0.011; tdTomato+ 0.047±0.0053; p=0.31)
EC coupling gain (fractioning shortening/calcium transient amplitude) menggambarkan hubungan antara amplitude
transien kalsium dan kontraktilitas (tdTomato- = 27.5±5.5; dtTomato + = 34.4 ±12.0; p = 0.55). Tidak ada perbedaan
pengukuran yang signifikan antara kardiomiosit dtTomato- dan dtTomato+.
Studi selanjutnya dari kelompok Jayawardena yang
dimuat di Criculation Research 2015, menunjukkan
bahwa kombinasi miRNA (miRNAs 1, 133, 208,
and 499; miR combo) berhasil mereprogram injuri
miokardium menjadi kardiomiosit ventrikel matur
(Gambar 7) 48 setelah disuntikan ke dalam otot
jantung yang mengalami injuri dan terjadi perbaikan
fungsi jantung secara progresif dibandingkan dengna
kontrol dalam waktu 3 bulan. Hal ini menjelaskan
potensi pemakaian miRNA sebagai suatu cara
pendekatan meregenerasikan jantung setelah injuri
miokard. 48
Untuk menentukan apakah marker tdTomato+ sel
yang menyerupai kardiomiosit berbentuk batang dari
hasil konversi fibroblast (Gambar 7) 48
mengkepresikan protein kardiomiosit matur, maka
dlakukan profiling immunositokimia. Troponin T
jantung dan sarcomeric-œactinin ada pada
kardiomiosit matur. Sedangkan connexin-43 dan N-
cadherin, protein yang terlibat dalam komunikasi
gap-junctional dan adhesi sel antara kardiomiosit,
terletak pada membran kardiomiosit dengan
tdTomato+, sama seperti kardiomiosit ventrikel
dewasa yang normal (wild type).
saat diuji sifat elektrofisiologi tdTomato +
berbentuk batang dengan tdTomato sel menyerupai
kardiomiosit dari mencit transgenik yang disuntikan
lentivirus yang mengekspresikan miRNAs 1, 133,
208, or 499 (miR combo) dalam waktu 5-6 minggu
setelah injuri mendapatkan bahwa mayoritas sel
tdTomato + menunjukkan sarkomer normal dengan
transien kalsium cepat dan besar, dan kontraksi
dalam respon terhadap depolarisasi. Hal ini
menunjukkan bahwa sel yang menyerupai
kardiomiosit tdTomato+ memperlihatkan excitation-
contraction coupling (Gambar 8A). 48 Tidak ada
perbedaan antara level kalsium sitosol atau
amplitudo puncak dan decay kinetics dari
depolarisasi yang ditimbulkan transien kalsium
antara kardiomiosit tdTomato- dengan dtTomato+
(Gambar 8B). 48
Dengan overekspresi miRNA miR-9/9* and miR-
124 saja pada fibroblast manusia dapat
menginduksi sel menyerupai neuron yang
mengekspresi marker MAP2, dan difasilitasi oleh
NEUROD2, juga dibutuhkan faktor transkripsi
berupa ASCL1 dan MYT1L untuk meningkatkan
pembentukan fungsi neuron yang diinduksi. 49
Overekspresi miR-124 juga menginduksi sel
neuron manusia yang dimediasi overekspresi via
BRN2 dan MYT1L. 50
Meskipun penelitian menunjukkan bahwa konversi
sel dapat dimediasi miRNA, namun mekanisme
molekuler yang mendasari proses ini belum
diketahui. miRNA mengatur target melalui represi,
51 namun bagaimana miRNA mengaktivasi ekspresi
master gene untuk target tipe sel merupakan
pertanyaan yang belum mendapat jawaban.
Kemungkinan yaitu bahwa overekspresi miRNA
mengurangi regulator master gene yang
diekspresikan pada awal perkembangan atau transisi
sel, yang mengganggu keseimbangan master
regulator dari lineage yang lain. Misalnya miR-124a
spesifik untuk neuron mengurangi ratusan level
transkrip non-neuron meskipun diekspresikan di
dalam sel non-neuron. 52Inhibisi ini juga
menghambat master gene non-neuron dan
menggeser keseimbangan ke arah ekspresi master
gene neuron, sehingga memicu konversi
neuron. Kemungkinan lain yaitu penurunan
regulasi ekspresi regulator epigenetik yang
meningkatkan perubahan epigenetik global secara in
vitro dan in vivo. Misalnya, miR-124 secara
langsung mengatur ekspresi Ezh2, histon H3 lys-27
histone methyltransferase, yang menfasilitasi
ekspresi gen target Exh2 spesifik terhadap neuron. 53
MOLEKUL KECIL
Ada beberapa keuntungan memakai molekul
kecil dibandingkan dengan metode tradisional dalam
menentukan nasib sel; sel permiabel, tidak bersifat
imunologik, lebih cost-effective, mudah disintesis,
data dipertahankan, terstandardisasi. 2 Yang lebih
penting, efeknya dapat disesuaikan dengan
konsentrasi dan kombinasi, sehingga memberi
pengaturan ruang dan waktu dibandingkan dengan
fungsi protein. 54 Molekul kecil banyak digunakan
dalam reprogramming iPSC. 54
Hou et al., memakai molekul kecil Forskolin
(FSK), 2-methyl-5-hydroxytryptamine (2-Me- 5HT),
dan D4476, sebagai pengganti Oct 4, setelah
dilakukan skrining terhadap lebih dari 10.000
molekul kecil, sebab faktor Oct 4 amat dibutuhkan
untuk mengubah sel menjadi pluripoten. 55 Dengan
kombinasi bersama VC6T [VPA, valproic acid,
CHIR99021 (CHIR), 616452, Tranylvypromine],
maka dilakukan reprogramming dengan gen
tunggal, Oct4. (Gambar 9A dan B). 55 Kombinasi
molekul-molekul kecil ini (VC6T plus FSK,
kelompok Hou dapat mengubah sel somatik mencit
menjadi sel yang mengekspresikan E-cadherin, suatu
marker transisi mesodermal-epitelium, sebagai awal
Stem Cell Epigenetik
119
reprogramming oleh faktor transkripsi (Gambar 9
C). 55 Meskipun dikombinasikan molekul kecil itu,
ekspresi Oct4 dan Nanog belum terdekteksi, berarti
kondisi epigenetik masih represi sebab
hipermetilasi. Untuk menfasilitasi kondisi,
ditambahkan doxycycline (DOX) untuk
menginduksi Oct4, dan agonis cAMP (FSK,
Prostaglandin E2, and Rolipram) dan modulator
epigenetik [3-deazaneplanocin A (DZNep), 5-
Azacytidine, sodium butyrate, and RG108] pada hari
ke 16, maka terbentuk koloni (Gambar 9D dan
9E).55 Dalam sel ini, tingkat ekspresi dari sebagian
besar gen marker pluripotensi masih tinggi tetapi
lebih rendah daripada ESC (embryonic stem cell),
berarti reprogramming belum lengkap. Setelah
diganti ke medium 2i (dual inhibisi ganda) dengan
glycogen synthase kinase-3 dan mitogen-activated
protein kinase setelah hari ke 28 pasca perlakuan,
koloni dengan GFP (green fluorescenet positive)
berkembang menjadi morfologi seperti ESC
(Gambar 9F). 55 Koloni ini dilakukan pasase
sebanyak lebih dari 30 kali, dan mempertahankan
morfologi menyerupai ESC (Gambar 9 F dan H). 55
Kombinasi komponen 2i, menyerupai ESC, dan sel
GFP positif merupakan hasil chemically induced
pluripotent stem cell (CiPSC). 55
Gambar 9. Pembentukan CiPSC oleh senyawa molekul kecil. (A dan B) Jumlah koloni iPSC diinduksi oleh MEF
iinfeksi SKM (A) atau SK plus senyawa molekul atau Oct 4. (C) Morfologi MEF untuk reprogramming kimia pada hari
0 (D0) dan klaster dengan GPF positif dihasilkan VC6TF pada hari ke 20 (D20) setelah pemberian molekul kecil. (D)
Jumlah koloni GFP positif diinduksi dengan pemberian DZNep pada hari ke 36. (E-G) Morfologi epiteloid, koloni GFP
positif pada hari 32 (D32) setelah pemberian perlakuan (E), suatu CiPSC pad hari ke 40 (D40) setelah perlakuan (F), dan
pasase koloni CiPS. (H) Diagram skematik proses pembentukan CiPSC. Skala bar 100 mm. Untuk (D) sel untuk
reprogram diambil pada hari ke 12.
Gambar 10. Pluripotensi CiPSC (A). Pengecatan hematoxylin dan eosin pada teratoma yang diperoleh dari CiPSC (klon
CiPSC-30). (B-D) mencit kimera (B, klon CiPS-34), kontribusi germline CiPSC di dalam testis, (C, klon CiPS-45) dan
anak mencit F2 (D, klon CiPS-34). Skala bar, 100 mm (E) Analisis genomik dengan PCR pada Oct4-GFP kaset di dalam
jaringan kimera. (F) Kurva survival kimera. n, jumlah kimera yang diteliti.
Dengan penambahan retinoid acid receptor ligand
(TTNPB), efisiensi reprogramming kimia dapat
ditingkatkan sebesar 40 kali, setara dengan
reprogramming diinduksi faktor transkripsi
(hingga 0.2). Sel CiPSC yang diinjeksikan ke
dalam mencit imunodefiensiensi (SCID) dapat
berdiferensiasi menjadi 3 lapisan germinal
(Gambar 9A), 55 dan saat disuntikan ke dalam
sel embrio dengan 8 sel atau blastocyst, CiPSC
mampu berintegrasi ke dalam organ di dalam
ketiga lapisan sel germinal, termasuk gonad dan
melahirkan seekor mencit baru (Gambar 9 B-E). 55
Mencit kimera yang dilahirkan 100 % hidup dan
tampak sehat sehingga 6 bulan berbeda dengan
mencit kimera yang dihasilkan dari iPSC yang
diinduksi oleh cMyc dengan survival lebih rendah
56 (Gambar 8F). Hal ini menunjukkan bahwa
CiPSC direprogram secara lengkap. 55
Stem Cell Epigenetik
121
Gambar 11. Senyawa molekul yang mengatur nasib sel. Molekul kecil sintetik dan produk alamiah yang berikatan
dengan reseptor nukleus (all-trans asam retinoid dan deksametason), histone-modifying enzyme dan DNA-modifying
enzyme (trichostatin A, BIX 01294, dan 5-azacytidine) dan protein kinase dan molekul signaling (reversine,
purmorphamine, 16,16-dimethyl prostaglandin E2, forskolin, QS11, BIO, Cyclopaine, neuropathiazol, pluripotin, dan Y-
27632).
Selain itu, beberapa molekul kecil dilaporkan
dapat meningkatkan efisiensi konversi neuron dan
mengurangi kebutuhan faktor eksogen atau secara
langsung dalam menginduksi konversi sel.
57,58,59,60,61,62 Misalnya, Kim et al., dapat
mereprogram fibroblast manusia menjadi neural
crest yang menghasilkan berbagai jenis neuron,
glia, melanosit ataupun derivat mesenkimal
dengan memakai satu overekspresi faktor
transkripsi Sox10 bersama dengan aktivasi
molekul signaling WNT. Dengan satu klon
neural crest yang diinduksi dapat menghasilkan
keempat lineage neural crest. 58
Molekul kecil yang memodulasi target tunggal atau
multipel nasib sel termasuk asam retinoik, analog
sitidine, histone-deacetyase inhibitor dan protein
kinase inhibitor (Gambar 11). 63
REPROGRAMMING IN VIVO UNTUK
REGENERASI JARINGAN
Reprogramming secara in vivo pertama kali
dilakukan pertama kali pada organ pankreas dengan
mendapatkan bahwa ada plastisitas di antara
tipe sel yang berhubungan. Dengan memakai 3
faktor transkripsi, Ngn3 (Neurog3), Pdx1 dan Mafa,
Zhou et al., berhasil mengubah sel eksokrin pankreas
yang sudah terdiferensiasi menjadi sel menyerupai
sel ß pankreas pada mencit dewasa. Sel ß yang
diinduksi dapat berfungsi mengurangi hiperglikemia
sebab mengekspresi gen yang penting dalam fungsi
sebagai sel ß (Gambar 12). 64
Untuk menguji apakah sel- ß yang diinduksi dari sel
eksokrin menghasilkan insulin, maka disuntikan
pAd-M3 (adenovirus yang mengekpresikan 3
kombinasi gen Ngn3, Pdx1 dan Mafa) ke dalam
hewan coba dengan sel-ß yang dirusak oleh
streptozotocin (STZ), ternyata kadar hewan coba
dengan hiperglikemia menunjukkan penurunan
secara signifikan dibandingkan dengan hewan coba
yang diinjeksi virus nGFP sebagai kontrol (Gambar
12 d). 64 Di samping itu, hewan pAd-M3
menunjukkan toleransi terhadap glukosa meningkat,
dan peningkatan kadar insulin dalam serum (Gambar
12e) 64 dan memiliki jumlah insulin lebih tinggi pada
sel-ß yang diinduksi (Gambar 12f). 64
Hasil studi ini menunjukkan bahwa pankreas
memiliki plastisitas yang dibawa lahir.65 Meskipun
5. Differensiasi Reprogram Sel
122
tanpa ekspresi faktor transkripsi yang dipaksakan,
mencit dewasa dapat bertahan hidup setelah
hilangnya sel-ß yang masif yang diinduksi oleh
toksin difteri seperti dilaporkan Thorel et al.,
bahwa sel pankreas memiliki tingkat plastisitas yang
belum diketahui sebelumnya. 66 Jumlah sel ß dapat
bertambah banyak dengan berjalannya waktu,
dengan beberapa sel ß baru yang terbentuk dari sel,
seperti terlihat dari hasil turunannya. Namun, sifat
plastisitas pankreas dalam konversi direk secara in
vivo belum diketahui dapat diterapkan untuk organ
atau jaringan lain. 4
Studi reprogramming jantung yang memakai
kombinasi faktor transkripsi GMT (Gata 4, Mef2c
dan Tbx5 secara in vitro, 16 meletakkan dasar bagi
pemakaian GMT secara in vivo langsung ke dalam
jantung dengan terapi gen yang mengkonversi
nonmiosit terutama fibroblast menjadi induced
cardiomyocyte (iCM). 67,68 Kualitas konversi secara
in vivo jauh lebih baik daripada in vitro, dengan
jumlah sel yang direprogram menjadi sel yang dapat
berdenyut dengan transkriptom yang lebih
menyerupai kardiomiosit endogen. 3 Kardiomiosit
yang direprogram sangat menyerupai kardiomiosit
ventrikel dewasa dan secara elektrik dapat menyatu
dengan iCM baru yang terbentuk dengan
kardiomiosit endogen (Gambar 13). 67
Gambar 12. Sel ß yang baru memperbaiki pembuluh darah dan mengurangi hiperglikemia. a-c, sel ß mensintesis VEGF
(a) dan menginduksi remodeling angiogenik local (b). Pembuluh darah (PECAM1) terletak berdekatan dengan sel- ß
yang diinduksi (b) versus sel terinfeksi sebagai kontrol (c). d, perbaikan glukosa darah puasa pada mencit diabetik setelah
injeksi dengan pAd-M3 (mutiara) dibandingkan dengan kontrol dengan virus nGFP (kotak). Segitiga, kontrol non-
diabetik. STZ, streptozotocin. Tanda panah menunjukkan waktu injeksi. n=6-8 hewan coba. e, kadar insulin serum tidak
puasa 6 minggu setelah injeksi. n=6-8 hewan coba. f, jumlah insulin rata-rata per bagian 8 minggu setelah injeksi. n= 3
hewan coba. Pulo Langerhans dan sel ß yang diinduksi dihitung sebagai sampel pAd-M3. Satu tanda bintang p<0.05; dua
tanda bintang =<0.01; tiga tanda bintang, p<0.001. Data dipreseantasikan sebagai mean±s.d.
Gambar 13. Pemeriksaan ejection fraction (EF), stroke volume (SR) dan cardiac output (CO) ventrikel kiri dilakukan
dengan MRI dalam waktu 12 minggu setelah infark miokard (n=9 untuk setiap kelompok, p<0,05). Keempat panel
sebelah kiri menunjukkan pencitraan toraks pada saat jantung dalam keadaan diastolik akhir (relaksasi) atau sistolik
(kontraksi) dari mencit dsRed atau GMT, dibandingkan dengan kontrol sham-operated dan strain-matched. LV, left
ventricle; RV, right ventricle. b, qPCR dari atrial natriuretic factor (ANF), brain natriuretic peptide (BNP) dan tenascin
(TnC) dengan RNA diekstraksi dari zona batas jantung 4 minggu setelah infark dan injeksi dsRed atau GMT. RQ,
relative quantification. c, qPCR dari collagen type 1 (Col1a1), Col1a2, Col3a1 dan elastin (Eln) pada RNA yang
diekstraksi dari zona batas jantung 4 minggu setelah infark miokard dan injeksi dsRed atau GMT. Data b dan c
dibandingkan terhadap mencit sham-operated yang disuntikan dsRed, diindikasikan dengan garis-terputus-putus. n=3
untuk setiap genotype. *P<0,05. d, Pengecatan Masson Trichrome pada potongan jantung 8 minggu post-MI disuntikkan
dsRed atau GMT dengan kuantifikasi ukuran jaringan parut. Skala bar, 500µm. dsRes, n=8; GMT, n=9; *p<0.05. e,
pengecatan Masson-Trichrome (kiri) dan imunofluoresecent untuk œ-actinin dan/atau ß-galactosidase (ß Gal; kanan)
pada GMT yang disuntikkan pada jantung mencit periostin-Cre: R26R-lacZ 4 minggu pasca-pembedahan. Skala bar, 500
µm pada panel kiri, 50 µm pada ketiga panel kanan. Error bar : sem.
Besaran infark berkurang dan perbaikan fungsi
jantung terjadi setelah diberikan GMT pada mencit
yang dilakukan ligase koronaria (Gambar 13b).
Pemberian kaset polysistonic MGT yang
menghasilkan peningkatan level Mef2c,
memicu reprogramming lebih optimal secara
in vivo. 69 Hal ini menunjukkan pentingnya
pengaturan dosis tiap faktor. Pembentukan iCM in
vivo yang baru dapat meningkatkan densitas kapiler.
Namun, pemberian terapi ajuvan dapat
meningkatkan angiogenesis sehingga meningkatkan
fungsi lebih lanjut setelah reprogramming direk.
Pemberian thymosin ß4- suatu protein yang
mengikat 43 asam amino pada G-actin dapat
meningkatkan angiogenesis dan survival sel,
proliferasi dan migrasi. 70,71– meningkatkan
regenerasi yang dimediasi GMT sehingga
meningkatkan ejeksi fraksi pada setiap denyutan
jantung. 67 Thymosin ß4 juga mengaktivasi sel
epikardial, yang memiliki efek regeneratif.
Pemberian vascular endothelial growth factor
(VEGF) bersama dengan GMT dapat memberi
efek perbaikan fungsi jantung yang sama. 72
Reprogramming in vivo juga memberi reduksi
fibrosis secara signifikan, sebab iCM mensekresi
faktor yang menghambat ekspresi kolagen dan
aktivitas matrix metalloproteinase. Fibroblast yang
diinfeksi faktor reprogramming yang gagal
mereprogramnya secara intrinsik akan berubah
sehingga tidak meningkatkan fibrosis. Kombinasi
efek ini bertanggung jawab terhadap perbaikan
fungsi jantung dan mengurangi pembentukan
jaringan parut setelah injuri. 3
Di samping dapat membentuk kardiomiosit,
reprogramming direk dapat membentuk miosit
khusus yang tidak berkontraksi sebagai sel
pacemaker. Ekspresi Tbx18 jelas dapat menginduksi
nasib sel kardiomiosit dengan aktivitas yang
menyerupai pacemaker.73 Adenoviral yang
membawa Tbx18 secara in vivo pada model kelinci
coba dengan bradikardia dapat mengembalikan
denyutan jantung menjadi normal, menunjukkan
potensi perbaikan mekanik pacemaker. Meskipun
diperlukan penyempurnaan, regenerasi pacemaker
dan sel konduksi khusus lainnya dapat mengoreksi
gangguan irama jantung. 74 Namun diperlukan
transkriptom sel sebagaimana dilaporkan
Vedantham et al., untuk sel pacemaker dengan
pendekatan sekuensi RNA memakai sel tunggal
di masa mendatang. 75
Jantung dewasa sedikit memiliki progenitor aktif
dengan kapasitas regeneratif terbatas seperti
ketidakmampuan menggantikan jaringan rusak oleh
kejadian iskemik. Sebaliknya zona khusus otak
memiliki derajat plastisitas dan kapasitas migrasi
yang tinggi. 76,77 Misalnya, stem cell neural dapat
bermigrasi ke area otak yang rusak dan
berdiferensiasi menjadi lineage neural pada model
roden dengan injuri otak. 78,79
Dengan memakai faktor transkripsi Sox2, Niu
et al., mereprogram astrosit endogen menjadi
neuroblast yang mampu berproliferasi. 80 Kemudian,
faktor pertumbuhan brain-derived neurotrophic
factor (BDNF) dan noggin atau histone deacetylase
inhibitor valproic acid merangsang induksi
neuroblast membentuk neuron yang berfungsi secara
elektrofisiologik berintegrasi dengan neural lain.
Pendekatan ini secara efektif mengkonversi astrosit
medula spinalis menjadi stem cell neural yang
berproliferasi membentuk interneuron sinaps di
medula spinalis pada model mencit dengan atau
tanpa injuri berat. 81
Mekanisme konversi yang dimediasi Sox2 dari
astrosit residen menjadi progenitor neural yaitu
melalui progresivitas dari neuroblast Asc11+ dan
Dcx+ sebagai progenitor intermediate. 82
pemakaian Ascl1 saja telah cukup untuk
mereprogram astrosit menjadi neuron yang
diinduksi. 83 Sox2 juga dapat mereprogram perisit di
dalam otak menjadi neuron diinduksi, hal ini
menunjukkan bahwa efeknya tidak hanya untuk
astrosit. 84 Sel glia yang menjadi reaktif oleh injuri
luka tusukan atau sel glia sebab penyakit Alzheimer
dapat direprogram memakai NeuroD1
membentuk neuron glutamatergik dan neuron
GABAergik. 84 Jadi, faktor spesifik dapat
menginduksi nasib neuron. 3
Gliosis yaitu suatu proses injuri otak yang
melibatkan aktivasi sel glia berproliferasi dan
menjadi hipertrofik di area otak dengan injuri.
85,86,87,88 Sel glia, termasuk astrosit, sel NG2,
mikroglia, mengalami respon reaktif terhadap injuri
untuk membentuk sistem pertahanan terhadap invasi
mikroorganisme dan sitotoksin di jaringan
sekitarnya. 85,86,87,88 Jika terjadi aktivasi, sel glia
reaktif menempati area injuri dan menghasilkan
faktor neuroinhibitori untuk mencegah pembentukan
neuron, sehingga terbentuk jaringan parut glia di
dalam otak. 88 Kondisi ini dapat dijunpai pada stroke,
injuri medulla spinalis, glioma, dan gangguan
neurodegeneratif seperti Alzheimer. 88,89,90,91
Dalam penelitian Guo et al., mendapatkan bahwa
pemakaian retrovirus yang menyandi faktor
Stem Cell Epigenetik
125
transkripsi tunggal NeuroD1 dapat mereprogram
astrosit dan sel NG2 menjadi neuron di dalam
korteks mencit secara in vivo. 85 Rekaman
elektrofisiologik menunjukkan respon sinaptik
secara spontan pada neuron yang dikonversi
NeuroD1 (Gambar 14).85 Dengan reprogram
secara in vivo dari sel glia reaktif menjadi neuron
yang berfungsi dapat menjadi suatu pendekatan
terapeutik pada gangguan otak akibat injuri atau
penyakit. 85
Gambar 14. Konversi sel glia reaktif menjadi neuron secara in vivo setelah injuri otak. (A) Penyuntikan retrovirus yang
mengekspresikan GFP (hijau) ke dalam kortek mencit menunjukkan astrosit reaktif positif GFAP (merah) di tempat injuri
14 hari pascasuntikan (DPI). (B dan C) Sel diinfeksi NeuroD1-IRES-GFP (hijau) bersifat imunopositif untuk marker
neuron DCX (B, 3DPI) dan NeuN (C, 7 DPI). (D) Setelah 21 DPI, neuron dikonversi dari NeuroD1 (NeuU positif, kepala
panah) menunjukkan pembentukan banyak neuron. Skala bar, 20mm untuk (A) dan (D); 40 mm untuk (B) dan (C). (E)
Data kuantitatif menunjukkan jumlah neuron dikonversi per area dan efisiensi konversi setelah infeksi NeuroD1. (F dan
G) Neuron dikonversi dari NeuroD1 menunjukkan imunopositif terhadap marker neuron kortikal Tbr1 (F) dan deep layer
marker Ctip2 (G, 12 DPI). Skala bar : 100 mm untuk image kekuatan rendah, 40 mm untuk image kekuatan tinggi. (H
dan I) Gambaran representatif untuk rekaman kortikal menunjukkan arus Na+ dam K+ (H) dan potensial aksi ulangan (I)
pada neuron dikonversi dari NeuroD1 (30 DPI). (J) Gambaran representatif menunjukkan kejadian sinaptik spontan pada
neuron dikonversi NeuroD1 (26 DPI) pada rekaman kortikal. (K) Kejadian evoked synaptic yang direkam dari neuron
yang dikonversi.
Gambar 15. Transplantasi sel iHep ke dalam hati mencit Fah-/-Rag2-/-. Kurva survival Kaplan Meier dari mencit yang
ditransplantasi hepatosit primer (Hepa-F/R, n=10), mencit Fah-/-Rag2-/- yang ditransplantasi sel iHep (iHep-F/R, n=2),
mencit Fah-/-Rag2-/- ditransplantasi TTF (TTF-F/R, n=6 dan kelompok mencit Fah-/-Rag2-/- sebagai kontrol (F/R, n=10)
setelah dihentikan NTBC. * p<0,02, log-rank test. c, Repopulasi sel iHep pada hati Fah-/-Rag2-/- ditentukan dengan
imunostaining Fah (pengecatan sitoplasma berwarna coklat). d, Sel iHep betina ditransplantasikan ke dalam hati Fah-/-
Rag2-/-. Potongan hati serial diwarnai dengan imunostaining Fah dan pengecatan kromosom Y FISH (titik merah). Batas
nodul Fah+ diindikasikan dengan garis kuning.
Dua kelompok peneliti menunjukkan secara
independen bahwa fibroblast mencit dapat
direprogram secara langsung menjadi sel hepatosit
dikenal sebagai induced hepatocyte (iHep)
memakai faktor transkripsi. 92,93 Sekiya dan
Suzuki 93 menunjukkan bahwa induksi memakai
fibroblast mencit dilakukan dengan transduksi
Hnf4α dan Foxa1. Sel iHep menunjukkan morfologi
khas dengan ekspresi gen hepar dan berfungsi
sebagai hepatosit. Namun Morris et al., akhir-akhir
ini mengemukakan bahwa sel yang diinduksi dengan
metode Sekiya dan Suzuki berasal dari progenitor
endoderm daripada hepatosit yang terdiferensiasi. 94
Studi Morris mendapatkan bahwa sel yang diinduksi
memiliki kapasitas berdiferensiasi baik menjadi
sel menyerupai hepatosit atau sel menyerupai usus
secara in vitro, bergantung pada level ekspresi Hnf4
dan Foxa1 dan kombinasi faktor transkripsi lain.
Stem Cell Epigenetik
127
Transplantasi sel yang diinduksi ke dalam hati dan
kolon masing-masing dapat berdiferensiasi menjadi
hepatosit matur dan epitelium kolon. Hal ini
menunjukkan bahwa lingkungan mikro penting
sebagai penentu nasib sel. 95
Studi Huang et al., menunjukkan bahwa fibroblast
tail–tip mencit dapat direprogram memakai
Gata4, Hnf1a dan Foxa3 dengan inaktivasi p19arf
menjadi sel hepatosit. Hasil sel ini menunjukkan
morfologi epitel dengan ekspresi gen hepar dan
dapat berfungsi sebagai hepatosit. Sel iHep dapat
memperbaiki mencit dengan defisiensi
fumarylacetoacetate-hydrolase (Fah 2/2) dan dapat
menyelamatkan hampir separuh mencit ini dari
kematian (Gambar 15). 92 Strategi ini tentu akan
bermanfaat untuk rekayasa hepar sehingga dapat
digunakan dalam kedokteran regeneratif.
Stem cell yang menyerupai hematopoietik dapat
mengadakan engraftment jangka panjang menjadi
multilineage yang dihasilkan dari progenitor
limfoid dan mieloid dengan sel efektor mieloid
dilakukan ekspresi ektopik memakai 6 faktor
transkripsi Run1t1, Hlf, Lmo2, Prdm5, Pbx1, dan
Zfp37 yang secara selektif mengekspresikan stem
cell atau progenitor hematopoietic (Gambar 16).96
Keberhasilan engrafment hematopoietic stem cell
(HSC) memerlukan lingkungan mikro sumsum
tulang sebagai niche untuk HSC dalam penentuan
nasib sel.
Batta et al., menunjukkan bahwa fibroblast mencit
dapat direprogram menjadi progenitor
hematopoietik multilineage melalui ekspresi
ektopik dengan faktor transkripsi Erg, Gata2,
Lmo2, Runx1c, dan Scl. Pembentukan sel
hematopoietik didahului oleh pembentukan endotelium
hemogenik, menyerupai perkembangan darah masa
embrio. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi
faktor transkripsi cukup mereprogram
perkembangan sel melalui berbagai tahapan
kompleks, dinamik secara in vitro (Gambar 16).
Reprogramming direk dapat memberi platform
untuk membuka tabir mekanisme nasib
perkembangan sel pada tingkat molekuler.
Akhir-akhir ini Han et al., melaporkan bahwa
fibroblast mencit dapat direprogram secara langsung
menjadi sel endotel memakai 5 faktor traksripsi
yaitu Foxo1, Er71, Klf2, Tal1 dan Lmo2.97 Sel
endotel yang terbentuk (iEC, induced endothelial
cell) dapat berfungsi sebagai sel endotel matur
dengan melepaskan nitric oxide dengan rangsangan
asetilkolin atau vascular endothelila growth factor.
Transplantasi sel endotel yang dinduksi ini dapat
meningkatkan engiogenesis dan perfusi anggota
gerak pada model mencit dengan iskemia anggota
gerak (Gambar 17). 97 Hal ini menunjukkan potensi
terapi untuk tujuan regeneratif pada penyakit
vaskuler iskemik. 95
Gambar 16. Ekspresi ektopik dengan faktor transkripsi
Erg, Gata2, Lmo2, Runx1c, dan Scl dapat mereprogram
fibroblast menjadi hematopoietic progenitor cell dan
menghasilkan berbagai jenis sel darah.
Dari pemaparan mengenai reprogramming direk di atas
menunjukkan bahwa teknik ini berpotensi
menghasilkan beberapa tipe sel dari fibroblast, meliputi
pankreas, kardiomiosit, neuron, hepar, hemaptopietic
stem/progenitor cell, sel endotel (Gambar
18).13,16,64,92,95,97,98 Penemuan ini menunjukkan bahwa
sel memiliki plastisitas yang jauh lebih besar dari
perkiraan sebelumnya, setelah penemuan iPSC oleh
Takahashi dan Yamanaka yang menginspirasi
pendekatan menghasilkan tipe sel yang spesifik ini.
Reprogramming direk saat ini menjadi fokus utama
dalam penelitian biologi dasar. 95
5. Differensiasi Reprogram Sel
128
Gambar 17. Peningkatan perfusi anggota gerak memakai induced endothelial cell (iEC) pada model mencit dengan
iskemia anggota gerak. A, Foto memperlihatkan suntikan iEC intramuskuler untuk menyelamatkan angota gerak. B,
Laser Doppler perfusion imaging (LDPI) menunjukkan pemulihan perfusi setelah implantasi iEC. C, Kuantifikasi LDPI.
D, Pemeriksaan histologik iskemia anggota gerak yang diambil 14 hari setelah pembedahan menunjukkan peningkatan
densitas kapiler pada mencit ditransplantasi iEC. E, Perhitungan densitas kapiler. n 3-5 hewan coba pada setiap
kelompok. Data dipresentasikan dalam mean±SEM.
Gambar 18. Ringkasan reprogramming direk memakai faktor transkripsi spesifik. beberapa tipe sel, termasuk
induced pluripotent stem cell dan berbagai subtipe sel, neuron, kardiomiosit, sel endotel, hematopoitic stem/progenitor
cell, hepatosit, sel otot skeletal dan sel β pankreas dapat diinduksi dari sel heterogen dengan overekspresi faktor
transkripsi. BAM menunjukkan Brn2, Ascl1 dan Myt1l.
Reprogramming in vivo pada jantung dapat
menghasilkan iCM (induced caradiomyocyte) matur
dalam memperbaiki infark miokard. Suntikan faktor
reprogramming secara langsung ke dalam otot yang
rusak dapat mengkonversi populasi fibroblast
jantung, yang berjumlah >50% dari sel jantung
menjadi iCM. Pendekatan reprogramming in vivo
memiliki beberapa keuntungan. Pertama, proses
mudah, kedua, terhindar dari induksi sel pluripoten
sebelum difirensiasi jantung sehingga memiliki
risiko pembentukan tumor yang jauh lebih kecil, dan
ketiga, suntikan langsung dengan faktor transkripsi
tidak memerlukan transplantasi sel, namun
kelangsungan hidup sel jangka panjang dengan
reprogramming in vivo merupakan suatu tantangan
(Gambar 19).99,100,101,102,103,104
Hasil penelitian pada hewan coba memberi
proof-of concept bahwa reprogramming in vivo
direk ini merupakan pendekatan kedokteran
regeneratif, namun tantangan selain survival sel
jangka panjang dan efisiensi reprogramming harus
dapat diatasi sebelum teknologi ini dapat dimanfaat
untuk kesehatan manusia. Menghilangkan rintangan
epigenetik untuk meningkatkan reprogramming
dapat meningkatkan efisiensi reprogramming. 25
Alternatif lain yaitu interferensi CRISPR (clustered
regularly interspaced short palindromic repeats)
genome editing untuk mengatasi rintangan dalam
konversi nasib sel.
Uji klinis terhadap hewan besar diperlukan untuk
menguji keamanan dan efikasi, terutama terhadap
organ jantung, sebab diperlukan jumlah sel besar
untuk regenerasi daripada hewan kecil. Isu
keamanan tidak hanya meliputi cara pemberian,
tetapi juga potensi sel reprogram parsial dalam
menimbulkan gangguan aritmia. Untuk kondisi yang
belum memiliki pendekatan yang efektif,
perbaikan minimal merupakan suatu keberhasilan.
Gambar 19. Terapi regeneratif jantung masa mendatang. Hilangnya jaringan jantung digantikan oleh jaringan fibrosa
terutama terdiri dari fibroblast jantung dan matrik ekstraseluler. Pendekatan transplantasi sel memakai kardiomiosit
yang diperoleh dari induced pluripotent stem cell (iPSC) (atas). Pendekatan reprogramming direk dapat mengkonversi
fibroblast jantung endogen secara langsung menjadi kardiomiosit dengan faktor transkripsi secara in situ (bawah).
enemuan sel somatik yang direprogram melalui
ekspresi faktor transkripsi menjadi sel
menyerupai embryonic stem cell dikenal sebagai
induced pluripotent stem cell (iPSC) telah membuka
jalan bagi kedokteran regeneratif. 1 Penemuan ini
telah menggeser fokus penelitian pada komunitas
peneliti dengan memakai adult stem cell yang
terdiferensiasi untuk menghasilkan tipe sel yang
spesifik untuk jaringan lain, yang dikenal dengan sel
plastisitas, transdiferensiasi atau lineage
reprogramming. 2,3,4
Kapasitas regenerasi organ tubuh manusia terbatas
dalam memperbaiki kerusakan jaringan dan organ
seperti jantung, pankreas, hati, darah. Dengan
aktivasi terhadap stem cell niche, maka sel dapat
berproliferasi untuk menggantikan sel yang rusak
misalnya di dalam hati. Namun, beberapa hewan lain
mampu beregenerasi menggantikan kerusakan organ
yang luas, misalnya organ jantung pada zebrafish,
dan regenerasi anggota gerak pada salamander. 5
Dengan mempelajari daya regenerasi pada tingkat
molekuler dan seluler, dapat dikembangkan strategi
regenerasi pada manusia.6
Mekanisme yang berhubungan dengan regenerasi
alamiah yaitu dediferensiasi, yaitu perubahan dari sel
terdiferensiasi menjadi sel yang kurang terdiferensiasi
dari lineage sendiri. Proses ini memungkinkan sel
berproliferasi kembali sebelum rediferensiasi, sehingga
dapat menggantikan sel yang rusak (Gambar 1).7
Sedangkan transdiferensiasi yaitu mekanisme alamiah
yang pertama kali diamati pada lensa mata salamander
satu abad yang lalu. 5 Proses ini melalui dediferensiasi
dan berubah menjadi lineage, sehingga berdiferensiasi
menjadi tipe sel lain. 5 Bab ini akan memfokuskan
pembahasan plastisitas stem cell terutama organ
jantung dan pankreas, proses dediferensiasi dan
transdiferensiasi yang mengubah fenotipe sel pada
tingkat molekuler dan sel, termasuk faktor transkripsi
yang berperan pada perubahan lineage sel, faktor
epigenetik yang berpengaruh terhadap ekspresi profil
sel, sehingga diharapkan dapat bermanfaat dalam
regenerasi dan perbaikan terhadap sel yang mengalami
kerusakan akibat penyakit jantung dan diabetes melitus
serta penyakit lainnya.
Stem Cell Epigenetik
137
Gambar 1. Sumber stem cell untuk kedokteran regeneratif. Embryonic stem cell (ESC) menghasilkan tiga lapisan sel
germinal dan merupakan sumber sel ideal untuk stem cell yang khusus untuk jaringan. Namun, kekhawatiran etika dan
politik, risiko pembentukan tumor dan kemungkinan rejeksi imun membuat ESC alogenik sulit diterapkan dalam terapi.
Penemuan induced pluripotent stem cell (iPSC) dari sel pasien dapat mengatasi kekhawatiran tersebut. Namun, isu
keamanan berkaitan dengan reprogramming telah terpecahkan. Fenomena plastisitas stem cell (atau transdiferensiasi),
yaitu kemampuan menghasilkan stem cell yang spesifik untuk jaringan dengan tipe stem cell organ lain, memberi
sumber stem cell yang dapat diaplikasikan untuk kedokteran regeneratif. pemakaian adult stem cell akan terhindar dari
kekhwatiran etika dan politik, imunologik dan potensi pembentukan tumor, yang dapat terjadi pada transplantasi ESC
atau iPSC.
KARDIOMIOGENESIS
Paradigma lama menyatakan bahwa jantung
merupakan suatu organ yang tersusun atas jumlah
miosit yang telah ada sejak lahir dan tidak pernah
berubah sepanjang hidupnya hingga kematian. 8
Perubahan struktur protein yang terjadi dianggap
sebagai mekanisme untuk mempertahankan
performan dan kelangsungan hidup sel. 8,9,10 Secara
ilmiah, pandangan ini tidak benar akibat kesalahan
teknik, misalnya kesulitan dalam mengidentifikasi
nuklei yang sedang bermitosis, 11 level sintesis DNA
yang diukur dengan inkorporasi 3 H-thymidine
terabaikan, 12 sehingga menganggap bahwa jantung
tidak mampu beregenerasi setelah terjadi infark. 13
Dogma ini telah berubah dengan ditemukan bahwa
kardiomiosit memiliki daya regenerasi. ada
5 sumber potensi kardiomiosit pada jantung dewasa
(Gambar 2). 13 : 1. Kardiomiosit bukan sel
terdiferensiasi terminal dan dapat masuk kembali
dalam siklus sel dan membelah, (2) Dediferensiasi
kardiomiosit secara in vivo untuk mendapatkan
fenotipe sel primitif kemudian berkembang biak, (3)
Kardiomiosit berasal dari engraftment dan komitmen
hematopoietic stem cell (HSC), (4) Kardiomiosit
merupakan progeni cardiac stem cell (CSC) residen,
yang mengatur perubahan sel secara fisiologik dan
perbaikan jantung setelah injuri, (5) Kardiomiosit
dihasilkan dari kombinasi keempat mekanisme sel
ini. Terapi sel pada jantung dekompensasi harus
didasarkan pada pengetahuan biologi dasar. sebab
itu, pemahaman asal kardiomiosit merupakan hal
yang penting untuk perkembangan strategi dalam
meningkatkan respon pertumbuhan miokardium
(Gambar 3). 13
6. Stem Cell: Plastisitas dan Dediferensiasi
Gambar 2. A-D. Mekanisme potensi kardiomiogenesis. α-SA menunjukkan α-sarcomeric actin; ANP, atrial natriuretic
peptide; HSC, hematopoietic stem cells; SM, smooth muscle; CSC, cardiac stem cell
PROBLEMA EVALUASI REGENERASI
KARDIOMIOSIT
Kesulitan terjadi pada evaluasi proliferasi miosit
dengan berbagai metodologi pengukuran. 13
Pengukuran jumlah miosit ventrikel yang ideal tanpa
kematian sel merupakan pendekatan satu-satunya
yang dapat menunjukkan derajat hiperplasi sel
miosit. 13 Namun, hilangnya miosit yang luas,
bersamaan dengan injuri miokard pada berbagai
tempat dan timbulnya jaringan parut memicu
analisis penggantian sel pada jantung dekompensasi
terlalu rendah. 13
Beberapa laporan mengemukakan bahwa miosit
ventrikel manusia dapat masuk kembali ke dalam
siklus sel dan mensintesis DNA. 14,15,16 Namun,
apakah replikasi DNA memicu ploidi,
kariokinesis tanpa sitokinesis, atau kariokinesis
diikuti sitokinesis menimbulkan perdebatan. 13
Meskipun studi morfometrik menunjukkan bahwa
regenerasi miosit dapat terjadi pada jantung
hipertrofik berat tanpa perubahan sel mononukleus
dan binukleus, namun sulit menghitung jumlah
mitotik di dalam miosit. 13
Lokalisasi proliferating cell nuclear antigen
(PCNA) pada kardiomiosit fetus dan dewasa pada
manusia dan identifikasi pembelahan miosit pada
pemeriksaan potongan histologik pertama kali
diperoleh pada pertengahan tahun 1990 an (Gambar
4). 16,17,18 Pengukuran indeks pembelahan miosit dan
sel interstisial memberi estimasi terhadap
fenomena ini.
Stem Cell Epigenetik
139
Gambar 3. Siklus sel dan pembelahan kardiomiosit. A, Proliferating cell nuclear antigen (PCNA) diekspresikan di dalam
beberapa nuklei (kepala panah) pada miokardium fetus manusia diambil dari otopsi. B, Lokalisasi nukleus PCNA di
dalam kardiomiosit (panah) pada jantung manusia dengan kardiomiopati iskemik. PCNA dideteksi memakai alkali
fosfatase diberi label streptavidin dan sarcomeric actin (α- SA) dengan immunoperoxidase. C, Pembelahan miosit
manusia ada pada zona batas pada pasien yang meninggal akibat infark miokard yang luas. Pengecatan hematoxylin
dan eosin. D, Gambaran mitosis miosit pada jantung dengan kardiomiopati iskemik. Myofibril, α-SA (coklat muda);
muklei, hematoxyline (biru). Skala bar 10µm.
Dengan memakai teknik yang lebih canggih
dapat diperoleh bukti replikasi kardiomiosit dan
kariokinesis dan sitokinesis. 19,20,21 pemakaian
imunolabeling dan mikroskop konfokal
mendapatkan resolusi pencitraan dan akurasi data
kuantitatif. 13 Pemeriksaan histologik rutin tidak
mampu mendeteksi gambaran mitosis di dalam
kardiomiosit pada jantung normal, ekspresi protein
siklus sel, pembelahan nukleus dan pembelahan sel
miosit dapat diidentifikasi memakai
imunolabeling dengan marker sel proliferasi Ki-67
dan mikroskop konfokal. 20,21
ada 2 studi dalam mengukur kecepatan sintesis
DNA pada kardiomiosit jantung manusia.
Pendekatan pertama dilakukan Bergmann et al.,
berdasar pemakaian 14C yang terjadi selama uji
coba senjata nuklir di atmosfer pada waktu perang
dingin. Atmosfer 14C masuk ke dalam tumbuh-
tumbuhan dan dimakan manusia, sehingga dapat
ditandai pembelahan sel di dalam DNA. Setelah
perjanjian pembatasan uji coba nuklir 1963, kadar
14C di atmosfer menurun drastis. Dengan demikian,
kondisi pulse chase assay dapat digunakan untuk
menghitung pertanggalan sel, dengan
mengidentifikasi saat kadar 14C di atmosfer
bersesuaian dengan DNA. Sebagaimana terjadi, non-
kardiomiosit pada jantung manusia didapati lebih
muda daripada pasien, dengan 18% pergantian per
tahun dalam selang waktu rata-rata 4 tahun. DNA
yang diperoleh dari isolasi nuklei kardiomiosit
(memakai pengecatan troponin nukleus) lebih
6. Stem Cell: Plastisitas dan Dediferensiasi
140
muda daripada pasien meskipun tidak semuda non-
kardiomiosit. Sebelum diinterpretasi sebagai
pembelahan sel, perlu disingkirkan poliploidisasi.
Untuk melakukan hal ini, peneliti melakukan sortir
nuklei kardiomiosit dengan isi DNA dan analisis
DNA diploid. Nuklei kardiomiosit diploid juga lebih
muda daripada pasien, menunjukkan bukti adanya
pembelahan sel. Modeling matematik menunjukkan
regenerasi kardiomiosit bergantung pada usia,
dengan 1% kardiomiosit mengalami renewal per
tahun pada usia 20 tahun, dan 0,4% pada usia 75
tahun. berdasar hal ini, 45% kardiomiosit
diprediksi mengalami renewal pada kehidupan
normal dan 55% sel menetap sejak lahir. 22
Gambar 4. IdU di dalam kardiomiosit manusia. A. Beberapa nuklei miosit (panah) dan nonmiosit (kepala panah) diberi
label IdU (hijau). Miosit positif terhadap œ-sarcomeric actinin (œ-SA, merah). Laminin (putih) sebagai pembatas miosit
dan sel interstisial. B. Kromosom metafase pada nukleus miosit yang membelah (panel atas) diberi label IdU (panel
bawah). C. Persentase nuklei miosit yang positif terhadap idU pada masing-masing 8 pasien disuntik analog timidin.
Interval antara pemberian IdU hingga kematian pasien ditunjukkan dalam grafik. Juga ditunjukkan pembentukan miosit
rata-rata pada 8 pasien. D. Nuklei miosit yang ditunjukkan dalam kotak persegi panjang dengan label IdU bertitik-titik
(putih). Label IdU nuklei miosit difus (panah). Kedua label IdU titik dan difus diambil dari sampel miokardium pada saat
pasien meninggal. Kontrol positif untuk MCM5 (kuning) ditunjukkan pada kedua panel bawah.
Pendekatan kedua dilakukan Kajstura et al., dengan
kecepatan sintesis DNA jantung diperoleh dari
hasil pemeriksaan jantung post-mortem dari pasien
dengan kanker yang diberi analog iododeoxurudine
(IdU). 16 Obat ini dapat masuk ke dalam DNA yang
baru terbentuk, dan menimbulkan sensitisasi sel
terhadap terapi radiasi. IdU diberikan dalam bentuk
suntikan bolus atau infus selama beberapa minggu
dengan masa terapi dan kematian dari 7 hari
sampai 4,3 tahun. Dengan memakai
pemeriksaan signal IdU dan identifikasi
kardiomiosit secara imunohistokimia, peneliti
mendapatkan kecepatan tinggi pada label DNA
kardiomiosit, berkisar 2,5%-46%. Tidak ada
pengecatan IdU pada jantung kontrol dari pasien
tanpa kanker yang tidak terpapar dengan
radiosensitizer. Modeling matematik menunjukkan
bahwa pergantian kardiomiosit dengan kecepatan
22% per tahun, dibandingkan dengan 20% untuk
fibroblast dan 13% untuk sel endotel, berarti masa
hidup masing-masing sel sebesar 4,5, 5 dan 8
tahun. Sel jantung yang baru terbentuk
menunjukkan fenotipe dewasa dengan sel
terdiferensiasi dan tidak menunjukkan protein p16
INK4a yang bersifat penuaan. Jumlah nuklei yang
dilaporkan sebagai diploid berjumlah 83% dengan
pemeriksaan mikroskop konfokal dan flow
cytometry yang menggambarkan pembelahan sel,
bukan peningkatan plodi nukleus. 16
Sulit untuk mempertemukan kedua studi, sebab
perbedaan amat mencolok sebesar 50 kali lipat.10,23,24
Perbedaan yang penting tampaknya berhubungan
dengan aktivitas sintesis DNA kardiomiosit dengan
kecepatan lebih tinggi pada pasien kanker diterapi
IdU.24 Kajstura et al., melaporkan bahwa sintesis
DNA (berdasar imunolabelling marker
proliferasi sel Ki 67) tiga kali lebih rendah pada
jantung pasien kontrol tanpa kanker daripada
jantung pasien dengan kanker. Tidak disingkirkan
kontribusi DNA repair, yang dapat menyamar
sebagai replikasi DNA pada assay ini. Hal ini
terutama terjadi pada pasien yang mendapat terapi
radiasi plus radiosensitizer. 24 Kajstura et al.,
menyatakan bahwa hanya nuklei kardiomiosit
senesen (tua) yang mengandung troponin, sehingga
membuat studi Bergmann dan kawan-kawan
mendapat proliferasi yang rendah. Namun studi
Bergmann berikutnya mendapatkan bahwa hampir
semua nuklei kardiomiosit diidentifikasi dengan
pencegatan troponin. 25 Penemuan Kajstura et al.,
berkontradiksi dengan prinsip yang telah diterima
baik. Pertama, penemuan ini mendapatkan bahwa
lebih dari 80% nuklei kardiomiosit yaitu diploid,
sedangkan sebagian laporan menyatakan poliploid.
Jika nuklei yaitu polipoid berarti perkiraan
poliploidisasi menjadi dasar peneliti terhadap
sintesis DNA.
Kedua studi memberi bukti amat kuat bahwa
jantung manusia bersifat plastisitas. Bukti
morfometrik sintesis DNA dan peningkatan jumlah
kardiomiosit pada penyakit jantung. Pembelahan
kardiomiosit atau pembentukan sel progenitor dapat
terjadi pada manusia, namun dengan proses yang
sangat lambat. 25
DEDIFERENSIASI KARDIOMIOSIT
Dediferensiasi kardiomiosit pada jantung mamalia
didasarkan pada interpretasi mikroskop elektron;
ditandai dengan hilangnya materi kontraktil secara
parsial dan Z line abnormal. Retikulum endoplasmik
dan T-tubule berkurang sedangkan jumlah
mitokondria meningkat dengan akumulasi glikogen.
Di samping itu peningkatan gen fetus merupakan ciri
proses konversi miosit postmitotik menjadi sel
imatur. 9,26 Marker stem cell Run1, sebagai faktor
transkripsi yang mengatur diferensiasi hematopoietic
stem cell (HSC) menjadi sel darah matur, 26 level
mRNA surface antigen c-kit yang ada di dalam
HSC, stem cell paru, 27,28 meningkat hanya pada
preparat kultur dari dediferensiasi miosit.
Kubin et al., mengemukakan bahwa dediferensiasi
miosit merupakan mekanisme dasar proses replikasi
pada miosit postmitotik pada manusia. Setelah
reprogramming molekuler ini, kardiomiosit dapat
membelah dan berkontribusi terhadap pengaturan
homeostatik organ dan bertanggung jawab terhadap
integritas struktur dan fungsi miokardium setelah
injuri. Oncostatin M (OCM) yang mengaktivasi
reseptor OSM di dalam kardiomiosit mengubah
miosit dewasa menjadi sel fetus-neanatus. 26
Dediferensiasi kardiomiosit dimediasi OCM
membantu mempertahankan performan jantung dan
menurunkan kematian setelah infark, menunjukkan
bahwa manfaat dediferensiasi meningkatkan tahanan
terhadap hipoksia, sehingga lebih bersifat toleran
terhadap iskemia. 29, 30, 31
Manfaat dediferensiasi kardiomiosit pada kerusakan
miokat akut berubah menjadi beban terhadap kondisi
penyakit kronik dengan pemaparan kardiomiosit
terhadap signaling OCM (Gambar 5). 26 Misalnya,
pada dilated cardiomyopathy yang kronik
memicu daya kontraksi menurun sehingga
memicu dilatasi ventrikel bersamaan dengan
peningkatan muatan hemodinamik. 26 Fenomena ini
6. Stem Cell: Plastisitas dan Dediferensiasi
142
menjelaskan mengapa evolusi berlawanan dengan
aktivasi jalur regeneratif dediferensiasi/rediferensiasi
pada mamalia. Jalur ini mungkin hanya terjadi pada
zebrafish dan salamander yang tidak memerlukan
muatan tekanan untuk mempertahankan tekanan
darah tinggi. 32 Manipulasi terhadap
jalur ini
memungkinkan reprogramming kardiomiosit secara
komprehensif, memicu proliferasi sel
progenitor jantung in situ, sehingga dapat
meningkatkan fungsi jantung. 26 Jadi, data ini
menjelaskan bahwa OCM, suatu sitokin inflamatori
merupakan signal protektif pada awal stadium injuri
jantung melalui dediferensiasi kardiomiosit, dengan
aktivasi ekspresi gen stem cell berupa Runx1, c-kit,
and Dab2. Namun, signaling OCM persisten, seperti
terjadi pada gangguan jantung kronik, mencegah
kardiomiosit dari rediferensiasi dalam
mempertahankan daya dan fungsi kontraksi. 33
Gambar 5. Perbaikan fungsi janung pada hewan transgenik dengan inaktivasi Ob Allele (A) (A). MRI short axis pada
midventrikel end systolic (Sys)/End-diastolic (Dia) pada WT, OCM receptor-KO (KO), MCP-1 dan MCP-1 KO pada
mencit usia 6 bulan. Hilangnya reseptor OCM pada mencit MCP-I memicu geometrik ventrikel kiri dengan
dilatasi ventrikel dan perbaikan fungsi ventrikel kiri dapat dipertahankan. Perbaikan secara signifikan terjadi pada semua
parameter fungsional. Error bar menggambarkan standard error. (B) Kurva survival Kaplan Meier menunjukkan
penurunan survival MCP-1/KO dibandingkan dengan mencit MCP-1 (ditunjukkan pada grafik). (C). Model
menggambarkan fungsi OCM selama injuri miokardium akut dan kronik. Injuri awal (misalnya infark miokard)
memicu invasi makrofag, yang melepaskan OCM. Aktivasi Ob pada awalnya melindungi kardiomiosit dengan
dediferensiasi dan remodeling awal. Signaling OCM kontinu mengganggu fungsi jantung dan memicu gagal
jantung.
PLASTISITAS HEMATOPOIETIC STEM
CELL PADA KARDIOMIOGENESIS
Kini pergantian miosit pada jantung dewasa telah
diterima secara umum. Perdebatan hanya terjadi
pada besarnya proses ketimbang proses itu sendiri. 23
Mollova et al., mendapatkan bahwa kardiogenesis
pada dewasa muda yaitu 1,9% pada usia 20 thun
memakai imaged based assay pada sampel
jaringan dari jantung donor sebelum transplantasi.
Sehingga dengan semua studi yang ada (Tabel 1), 34
menunjukkan bahwa pergantian kardiomiosit pada
mamalia postnatal menunjukkan angka yang amat
kecil, sekitar 1% per tahun dan angka ini menurun
dengan berlanjutnya usia. 34
Sel tidak terdiferensiasi mengalami perkembangan
terbatas pada prenatal dan mekanisme ini bersifat
ireversibel pada kehidupan dewasa. Pemikiran ini
ditantang oleh beberapa contoh yang menyatkana
bahwa satu tipe sel atau satu turunan sel dapat
berubah menjadi tipe turunan sel lain. 41
Kemampuan adult stem cell menghasilkan sel di luar
dari jaringannya sendiri dikenal sebagai plasitisitas
sel. 13 Saat ini, istilah plastisitas dan
transdiferensiasi digunakan sebagai sinonim. 13
Konsep transdiferensiasi hematopoietic stem cell-
bone marrow progenitor cell (HSC-BMPC)
didasarkan pada identifikasi sel jantung perempuan
di dalam sel jantung laki-laki sebagai resipien. 42
Transplantasi dengan gender berbeda menunjukkan
bahwa pada laki-laki didapati jumlah miosit dan
pembuluh darah koroner mengandung kromosom Y.
Hal ini menunjukkan adanya kimerisme, yang
berarti sel laki-laki dapat berkolonisasi di dalam
jantung perempuan dan berdiferensiasi menjadi
struktur miosit dan koroner (Gambar 6). 13 Adanya
sel laki-laki di dalam jantung perempuan
menunjukkan bahwa sel menyerupai stem cell dapat
bermigrasi ke alograft jantung dan memberi tiga
turunan sel jantung yaitu kardiomiosit, sel endotel
dan sel otot polos. 13
Kini, HSC-BMPC dengan c-kit positif merupakan
stem cell yang mampu berkomitmen menjadi
turunan sel jantung untuk menggantikan sel infark
pada miokardium dan meningkatkan fungsi
ventrikel. 43 Hasil ini menunjukkan bahwa
diferensiasi sel yang disuntikan menjadi fenotipe
miogenik dan vaskuler sebagai mekanisme
pemulihan miokard setelah infark. 13 Berbagai studi
telah mengkonfirmasi pengamatan ini. 44,45,46,47,48,49,50
HSC-BMPS dengan c-kit positif merupakan kelas
progenitor hematopoietik yang menimbulkan
perdebatan terhadap plastisitas stem cell. 13 Namun,
CD34+ cells, CD133+ cells, endothelial progenitor
cells dan side population cell sumsum tulang telah
menunjukkan berbagai tingkat transdiferensiasi.
51,52,53,54 Dalam laporannya, Yeh et al. mendapatkan
bahwa CD34+ cell yang diperoleh dari darah perifer
dapat mengadakan transdiferensiasi menjadi
Pergantian kardiomiosit Spesies Metode Referensi
Per tahun (%)
0,5-1,9 Manusia Accelerator mass Bergmann
spectrometry et al., 2009
22
10-40 Manusia Ki67, phosphos-H3, Kajstura
Aurora B, IdU et al., 2010
16
7-23 Manusia Accelerator mass Kajstura
spectrometry et al. 2012
35
0,04-4,5 Manusia Phospho-3 Mollova,
et al., 2013
36
1,3-4 Mencit BrdU Malliaras
et al., 2013
37
0.74 Mencit 15N, imaging mass Senyo et al
spectrometry 2013
38
1.09 Mencit [
3H
] thymidine Soonpaa and Field,
1997
39
; Soonpaa
et al., 2013
40
6. Stem Cell: Plastisitas dan Dediferensiasi
144
kardiomiosit, sel endotelial matur dan sel otot polos
secara in vivo. Transdiferensiasi dapat ditingkatkan
dengan injuri jaringan (Gambar 7). 55 sebab itu,
pemakaian CD34+ cells sebagai terapi sel
merupakan metode yang dapat digunakan untuk
kerusakan miokardium. 55
Gambar 6. Stem cell homing dan regenerasi miokard. A. Deteksi sel laki-laki di dalam jantung perempuan dengan
resipien laki-laki. B. Jumlah bome marrow progenitor cell (BMPC) yang ada di dalam miokardium mencit 48 jam
setelah injeksi BMPS. C. BMPC dengan fraksi CD45+ dari 12-48 jam setelah implantasi sel. Hasil mean ± SD. *P<0.05
vs 12 hours; **P<0.05 vs 24 - 36 hours.
Gambar 7. Pengecatan imunoflouresen menunjukkan transdiferensiasi CD34+ cell darah perifer yang disuntikkan secara
intravena ke dalam mencit tanpa infark miokard. Potongan jaringan jantung yang diperoleh 12 hari setelah suntikan dan
dilakukan pengecatan untuk HLA-ABC (B dan E), cardiac troponin T (A) dan otot polos dengan œ-actin (D). Image C
dan F yaitu hasil merger dari pengecatan ganda. Pembesaran x200. Scaka bar = 10 mm.
Mesenchymal stromal cell sumsum tulang juga telah
menunjukkan kemampuan menjadi turunan
kardiomiosit, meskipun fungsi utama dimediasi oleh
pelepasan faktor pertumbuhan dan sitokin dengan
mengaktivasi cardiac stem cell residen. 56c-kit pada
cortical bone-derived stem cell dapat menghasilkan
miosit dan pembuluh darah koroner. 57 Cortical bone-
derived stem cell dapat mengadakan transdiferensiasi
secara langsung menjadi miosit dan secara tidak
langsung membentuk arteriole dan kapiler koroner
dengan mengsekresi faktor proangiogenik yang
merangsang neovaskularisasi endogen. sebab itu,
CD34+ cell, CD133+ cell, endothelial progenitor cell,
bone marrow side population cells, mesenchymal
stromal cells dan cortical bone-derived stem cell
dapat menghasilkan miokardium baru. Namun, faktor
parakrin juga relevan dalam mekanimes ini, sama
halnya dengan transdiferensiasi. 13
Gambar 8. Cortical bone stem cell bertumbuh dan berdiferensiasi selama 6 minggu. A. 1 minggu pasca infark miokard
dan (B). 2 minggu pasca infak miokard, sampel diberikan immnuostaining untuk œ-sarcomeric actin (œ-SA; putih),
connexin 43 (merah), dan EGFP (hijau) atau (D) œ-smooth muscle actin (œ-SMA; putih), von Willebrand factor (vWF;
merah, dan EGFP (hijau). Nuklei diberi label 4',6-diamidino-2-phenylindole (DAPI; biru). EGFP : enhanced green
fluorescent protein.
Untuk mengetahui diferensiasi cortical bone marrow
stem cell (CBSC), Duran et al., melakukan kokultur
CBSC dengan neonatal rat ventricular myocyte dan
diwarnai dengan œ-sarcomeric actin. Pewarnaan ini
menunjukkan adanya enhanced green fluorescemt
protein (EGFP) positive cell mengekspresikan œ-
sarcomeric actin dan menyatu dengan connexin 43
gap junction, sehingga tampak sebagian EGFP cell
yang berkontraksi setelah dikultur selama 72 jam.
Hal ini membuktikan bahwa CBSC dapat
mengadakan transdiferensiasi menjadi sel yang
mengekspresikan protein jantung spesifik secara in
vitro. Dalam penelitian secara in vivo, diperoleh
bahwa suntikan CBSC dalam 2 minggu setelah
infark miokard pada mencit menunjukkan
pemanjangan dan penyatuan aksis kontraksi, dengan
adanya organisasi sarkomerik dari ekspresi œ-
sarcomeric actin di dalam sitoplasma (Gambar
8B).56 EGFP cell mengadakan engrafting terhadap
miosit endogen, sehingga membuktikan adanya
transdiferensiasi CBSC menjadi kardiomiosit. 56
Dalam studi Sayed et al., mendapatkan bahwa
fibroblast dapat mengalami transdiferensiasi menjadi
sel endotel memakai molekul kecil toll-like
receptor 3 agonist Poly I:C, dikombinasikan dengan
faktor pertumbuhan sel endotel. Sel endotel yang
diinduksi dapat meningkatkan perfusi anggota gerak
dan neovaskularisasi pada angota gerak iskemik.
Transdiferensiasi yang efektif ini memerlukan
aktivasi imun alamiah. 58 Timbul pertanyaan :
Molekul apa yang meningkatkan transdiferensiasi ?
Kelompok studi ini mendapatkan bahwa aktivator
imunitas alamiah polyinosinic:polycytidylic acid,
dapat mengaktivasi NO (nitric oxide) yang
dihasilkan melalui iNOS signaling (Gambar 9). 59
Gambar 9. Transdiferensiasi berhubungan dengan aktivasi imunitas alamih dan ekspresi inducible nitric oxide synthase
(iNOS). BJ fibroblast pada pasase 8 dilakukan perlakuan protokol transdiferensiasi untuk menghasilkan induced
endothelial cells( iEC). A. Data FACS CD31+iEC pada hari ke 28. Sel diberi perlakuan protokol transdiferensiasi dengan
dan tanpa polyinosinic:polycytidylic acid (PIC). B. Perhitungan persentase CD31+ cell dengan analisis FACS. Level
ekspresi gen relatif iNOS (C) dan eNOS (D) selama transdiferensiasi pada hari ke 0,,6,14,21, dan 28 dengan real time
polymerase chain reaction (PCR). *P<0.05, vs ekspresi gen pada hari 0. *P<0.05, vs CT diberi vehicle. Data
dipresentasikan sebagai means±SEM dengan 3 eksperimen independen.
Selanjutnya NO memicu pembentukan S
nitrosothiol pada epigenetic modifier ring finger
protein 1A (RING1A), suatu anggota polycomb
repressive complex (PRC), yang bekerja mengurangi
kadar H3K27 trimethylation, dengan berikatan
terhadap kromatin. Pelepasan represi epigenetik oleh
nitrosilasi RING1A merupakan faktor penting terjadi
transdiferensiasi efektif.
Hasil studi menunjukkan bahwa iNOS diperlukan
untuk memberi S-nitrosothiol yang secara
langsung berikatan dengan epigenetic modifier
sehingga mengatur remodeling kromatin selama
transdiferensiasi. Karakteristik S-nitrosylation
yaitu memberi efek epigenetik, yaitu
memicu S-nitrosilasi RING 1A dan
memicu disosiasi dari kromatin, sehingga
mengganggu kemampuan PRC mempertahankan
trimetilasi H3K27. Perubahan ini dapat
meningkatkan plastisitas epigenetik, 60,61 yang
dikonfirmasi dengan pemeriksaan chromatin
immunoprecipation-qPCR pada regio promoter yang
sesuai. 58,62
Aktivasi imunitas alamiah juga dapat meningkatkan
ekspresi family histone acetyltransferase dan
menekan histone deacytylase dan DOTiL (DOT1-
like histone lysine methyltransferase). Perubahan
terhadap keseimbangan epigenetic modifier
diharapkan meningkatkan epigenetic plasticity. 58
Transdiferensiasi dari fibroblast menjadi sel endotel
bermanfaat dalam regenerasi kardiovaskuler.
Misalnya, strategi ini efektif mengubah proses
penyembuhan dengan mencegah pembentukan
jaringan parut (scar) dan mempermudah
pembentukan jaringan pembuluh darh, dalam respon
terhadap injuri. 59
DEDIFERENSIASI PANKREAS
Pada awalnya progresivitas stem/progenitor cell ke
arah sel terdiferensiasi dipikirkan sebagai suatu
perkembangan satu arah. Namun sekarang, nasib sel
yang sudah terdiferensiasi bersifat fleksibel. 63,64,65
Identitas sel tidak hanya dapat dimanipulasi melalui
diferensiasi stem cell (sama dengan perkembangan
normal), tetapi juga dediferensiasi (seperti displasia)
dan transdiferensiasi (seperti metaplasia) (Gambar
10). 65 Transisi sel terdiferensiasi menjadi tipe sel
lain (metaplasia) atau menjadi fenotipe yang lebih
tidak terdiferensiasi (displasia) dalam mekanisme in
vivo. 65 Menentukan nasib atau identitas sel
merupakan fokus penelitian regeneratif. 65,66
Gambar 10. Perubahan identitas sel in vivo dan in vitro.
Identitas sel merupakan beberapa landskap epigenetik sel,
yang dapat berubah melalui proses in vivo, termasuk
perkembangan, metaplasia, dan displasi. Juga dapat
dimanipulasi melalui protokol peneliti seperti directed
differentiation, transdiferensiasi, dan reprogramming pada
sel mamalia.
Banyak bukti mengemukakan bahwa sebagian besar
tipe sel terdiferensiasi akhir pada pankreas dapat
berubah menjadi sel pankreas lain, sehingga
mendukung plastisitas sel dari sel terdiferensiasi.
Peningkatan plastisitas sel ini mungkin merupakan
suatu strategi mekanisme pertahanan yang
memungkinkan sel pankreas terdiferensiasi masuk
ke siklus istirahat dan menghindari injuri atau
kematian yang disebabkan injuri berkelanjutan. 65
Pankreas yaitu organ yang berasal dari turunan
endoderm yang memiliki sel eksokrin yang
mensekresi enzim pencernaan yang memberi
suplai ke dalam usus melalui saluran duktus,
sedangkan sel endokrin berfungsi mengatur glukosa
darah melalui sekresi hormon, termasuk insulin dan
glukagon masing-masing dihasilkan oleh sel ß dan
sel œ pankreas. Meskipun fungsi kedua jenis sel
sangat berbeda tetapi sama-sama berasal dari satu
progenitor, sehingga memicu peneliti
mengidentifikasi pengatur identitias sel di dalam
pankreas selama perkembangan dan mekanisme
yang mengatur fleksibitas nasib sel setelah
diferensiasi terminal terjadi. Plasitisitas sel pankreas
dapat didefinisikan sebagai kemampuan sel
terdiferensiasi (eksokrin dan endokrin) menjadi tipe
sel lain di dalam turunan organ yang sama dengan
kehilangan gambaran fungsi dan sel matur. 65
6. Stem Cell: Plastisitas dan Dediferensiasi
148
Transdiferensiasi yaitu perubahan satu tipe sel pankreas
matur menjadi turunan sel lain. Proses ini dapat terjadi
secara langsung tanpa melewati transisi intermediate
seperti reprogramming atau melalui ekspresi oleh faktor
transkripsi atau melalui jalur dediferensiasi menjadi
stadium yang menyerupai progenitor kemudian
melakukan rediferensiasi menjadi turunan sel lain dalam
kondisi injuri jaringan (Gambar 11). 66
Gambar 11. Transisi antara sel terdiferensiasi dalam respon terhadap manipulasi genetik atau injuri dan kaitan dengan
penyakit pankreas. Skema ini menggambarkan transisi sel yang berpotensi terjadi sebagai respon terhadap injuri. Sel
“Normal” dapat berubah menjadi nasib sel baru yang disebut sel mengalami “Transdiferensiasi” atau kehilangan fungsi
dan menjadi “Dediferensaisi”. Transisi menjadi fenotipe sel baru dapat terjadi secara langsung atau melalui keadaan
dediferensiasi. Kondisi “Resting” juga mungkin terjadi, saat sel berhenti berfungsi secara normal tetapi mendapat
identitas sel dan dapat kembali berfungsi normal. Stres berkepanjangan, injuri atau aktivasi jalur onkogenik dapat
mengubah sel “Dediferensiasi” menjadi kondisi penyakit, memicu patogenesis. Keadaan ini juga terjadi jika sel
“Transdiferensiasi” tidak stabil dan mengalami modulasi. Proses sel yang sakit kembali menjadi sel “Normal” merupakan
implikasi terapi sel. Panah biru terputus-putus menggambakran hipotesis perubahan nasib sel.
Dediferensiasi didenifisikan sebagai hilangnya
karakteristik sel terdiferensiasi terminal, baik
keadaan matur dan berubah nasib menjadi imatur
baik bersifat diturunkan atau stimulasi eksterna.
Alternatif lain yaitu bahwa sel yang mengalami
dediferensiasi berhenti berfungsi tetapi berada dalam
keadaan resting saat kerusakan berlangsung. 65
Sel eksokrin acinar pankreas dapat mangadakan
dediferensiasi menjadi fenotipe sel menyerupai
duktus akibat respon terhadap stres seperti injuri
atau inflamasi. Sel acinar mengalami perubahan
morfologi, dengan reduksi ekspresi dari marker
acinar matur bersamaan dengan peningkatan
ekspresi faktor yang diekspresikan pada
perkembangan embrio normal. Sel yang mengalami
dediferensiasi menunjukkan kualitas sel duktus dan
sel progenitor selama perkembangan pankreas
termasuk ekspresi Sox9, Hnf6, Hes1,Pdx1, dan
Nestin, istilah sel menyerupai duktus untuk
menjelaskan populasi sel ini. 67, 68,69,70,71,72,73
Gambar 12. Dediferensiasi acinar menyerupai sel progenitor multipoten embrio. (A) Skema menggambarkan berbagai
turunan pankreas berasal dari satu sel progenitor multipoten yang berhubungan dekat dengan sel acinar. (B) Skema
menunjukkan bagaimana stres sel (akibat injuri, ekspresi faktor transkrips, tekanan metabolik, inflamasi) memicu
dediferensiasi sel acinar matur. ADM, acinar-to-ductal metaplasia.
Dediferensiasi sel acinar menciptakan sel
progenitor fakultatif yang mampu mengadakan
repopulasi berbagai tipe sel pankreas. Selama
perkembangan awal pankreas, sel progenitor
multipoten berada pada ujung cabang epitel
membelah dan meninggalkan progeni
berdiferensiai menjadi duktus dan sel endokrin
yang membentuk trunkus percabangan (Gambar
12 A). Progenitor multipoten di bagian ujung
akhirnya berdiferensiasi menjadi sel acinar,
menunjukkan bahwa sel acinar merupakan sel
progenitor multipoten embrio. 74,75 Dediferensiasi
sel yang menyerupai duktus dapat dilihat pada
injuri pankreas, termasuk ligase duktus parsial
dan pankreatitis yang diiinduksi zat kimia,
menunjukkan bahwa sel pankreas dapat
mengadopsi keadaan menyerupai progenitor yang
membantu repopulasi organ setelah injuri.
Misalnya, saat analog kolesistokinin caurulein
digunakan untuk merangsang sel acinar
mengsekresi jumlah enzim pencernaan secara
berlebihan, maka respon sel acinar yaitu
menghentikan ekspresi enzim pencernaan dan
melakukan ekspresi faktor progenitor/stres. 71,73,76
Gambar 13. Kombinasi 3 faktor transkripsi menginduksi sel insulin pada pankreas mencit dewasa secara in vivo. a,
Diagram skematik strategi eksperimen. Adenovirus yang menyandi faktor transkripsi dan nGP dihubungkan dengan
elemen IRES (I) disuntikan ke dalam pankreas mencit dewasa (Rag2/2). CMV, cytomegaloviral promoter. B, Pankreas
Wild type (WT) dengan dominan jaringan eksokrin dan sel- ß insulin+ diberi tanda lingkaran. Nuklei diberi pengecatan
biru dengan DAPI. C, Satu bulan setelah infeksi dengan kombinasi Ngn3, Pdx1, dan Mafa oleh virus (pAd-M3), banyak
sel insulin+ tampak di luar pulo pankreas. D,E Jumlah induksi satu bulan setelah infeksi. M9, M6: campuran 9 dan 6
jenis masing-masing virus berbeda. Data dipresentasikan sebagai means±sd; n=53 hewan coba. 1000 sel GFP1 dihitung
per hewan coba. Satu bintang p<0.05, dua bintang p<0.01; tiga bintang, P< 0.001.
Reprogramming direk dari pankreas eksokrin
menjadi populasi endokrin memakai faktor
eksogen menunjukkan bahwa sel dapat dengan cepat
mengalami transdiferensiasi direk. 77,78 Zhou et al.,
memakai tiga faktor trankripsi Ngn3 (juga
dikenal sebagai Neurog3), Pdx1 dan Mafa, dapat
mereprogram sel eksokrin pankreas pada mencit
dewasa menjadi sel yang menyerupai sel-ß. Sel ini
mengekspresikan gen sel ß dan mensekresi insulin
yang berfungsi mengurangi hiperglikemia. 77
Faktor transkripsi dimasukkan ke dalam pankreas
melalui vector adenovirus. Vektor ini menginfeksi
sel eksokrin pankreas, tidak sel pulo pankreas
yang terutama mengandung sel ß endogen
(Gambar 13 b). 77 Sel-ß yang diinduksi dapat
dilihat sebagai sel insulin + yang berada di luar
pulo pankreas. 77 Label 5-bromodeoxyuridine
(BrdU) secara kontinu dalam reprogram 10 hari
pertama menunjukkan bahwa sel-ß yang diinduksi
sebesar 3,2% telah membelah. Sebagai
perbandingan, 12,9% sel ß endogen pada hewan
yang sama diinkorporasi BrdU. Tidak ada induksi
Sox9 atau Hnf6, berarti bahwa reprogramming in
vivo dari sel eksokrin menjadi sel- ß yaitu
konversi langsung tipe sel dan tidak melibatkan
dediferensiasi (Gambar 14).77 Sel eksokrin dan
sel- ß memiliki progenitor yang sama selama
embriogenesis, ditandai dengan pembelahan dan
ekspresi gen meliputi Sox9 dan Hnf6 yang dikenal
sebagai Onecut1. 75
Li et al. melaporkan bahwa memakai strategi
ekspresi adenovirus untuk membawa kombinasi tiga
faktor transkripsi pada mencit dewasa, sel acinar
pankreas dapat diubah menjadi sel menyerupai sel ∂
dan sel œ, dua jenis subtipe sel endokrin. Jadi,
pendekatan kombinasi dapat menghasilkan populasi
subtipe sel. 78
Penelitian lain juga melaporkan bahwa sel acinar
dapat direprogram menjadi sel- ß baik in vitro 79,80,81
maupun in vivo 82 memakai epidermal growth
factor (EGF) dan ciliary neurotrophic factor
(CNTF). Perlakuan dengan EGF dan CNTF
memicu reprogramming sel acinar pada
mencit hiperglikemik menghasilkan massa sel-ß
yang dapat berfungsi mengembalikan dan
mempertahankan normoglikemia dalam proses
indirek bergantung pada Ngn3 dan signaling mellaui
Stat3. 82
Ablasi sel-ß memicu sel œ yang
mengekspresikan glukagon dan sel ∂ yang
mengekspresikan somatostatin menjadi sel ß
menghasilkan insulin. 83,84 Selanjutnya, konversi
sel ß menjadi sel menyerupai sel œ setelah
kehilangan Pdx1 menunjukkan bahwa tidak ada
bukti keadaan progenitor endokrin (kurangnya
ekspresi Arx dan Ngn3), hal ini menunjukan
bahwa konversi direk melalui keadaan hybrid
dengan sel menunjukkan baik sifat œ dan ß. 85
Agregasi kembali pulo pankreas manusia
memicu sel yang mengeksresikan glukagon
terus mengekspresikan Pdx1 dan Nkx6.1. 86 Sel ini
menyerupai sel multihormon positif yang dapat
dihasilkan dari embryonic stem cell manusia
selama directed differentiation, sedangkan
lingkungan yang kurang sesuai memicu
aktivasi gen spesifik sel ß dan œ. 87 Konversi sel
ß menjadi sel endokrin lain selanjutnya
dediferensiasi juga telah terjadi (Gambar 14). 88,89
Konversi ini antara sel endokrin dipermudah oleh
kesamaan struktur kromatin antara berbagai sel
endokrin yang berbeda. sebab itu, supresi identitas
sel ß mungkin akan menghilangkan faktor yang
merepresi identitas sel endokrin non- ß.
Pemahaman plastisitas sel pankreas berkontribusi
terhadap manifestasi berbagai penyakit pankreas
yang berpengaruh terhadap pendekatan terapeutik.
Mengenal faktor yang meningkatkan, menghambat,
atau menstabilkan proses akan membawa implikasi
terhadap berbagai strategi pengobatan untuk terapi
penggantian sel ß, diabetes dan kanker pankreas.
Pada model kanker pankreas, tindakan
menghilangkan aktivitas onkogenik Kras pada lesi
prekursor dapat mengembalikan sel ke arah acinar
sehingga mengurangi beban tumor. 90,91
Selain itu, reprogramming direk secara in vivo juga
telah berhasil dilakukan pada berbagai organ
lainnya. 92,93,94,95,96,97,98,99 Sel glial, terutama astrosit
juga telah dikonversi menjadi neuroblast atau neuron
secara in vivo. 97,99,100 Misalnya, pada model mencit
penyakit Alzheimer, Guo et al., telah berhasil
mereprogram sel glia reaktif menjadi neuron
fungsional, sehingga dapat diaplikasikan untuk
perbaikan otak. 100 Jadi, pemakaian berbagai
kombinasi faktor transkripsi efektif mereprogram
satu lineage sel ke sel lain (Gambar 15). 101 dan ini
menunjukkan bahwa sel yang telah terdiferensiasi
masih memiliki sifat plastisitas 101
Faktor transkripsi yang pertama kali ditemukan yaitu
MyoD tahun 1980 an, di laboratorium Harold
Weintraud mampu menginduksi pembentukan
myotube dari cell line fibroblast. 102 Namun, bukti
pengaturan resiprokal dari lineage-restricted gene
berasal dari sistem darah. Dengan memakai
6. Stem Cell: Plastisitas dan Dediferensiasi
152
faktor transkripsi GATA1, tidak hanya menginduksi
ekspresi marker turunan erythroid-megakariosit,
tetapi juga mengurangi marker monositik. 103,104
Level GATA1 yang lebih rendah menginduksi
pembentukan eosinofil, sesuai dengan level
eosinofil (Gambar 14). Perubahan monositik ke
erythroid juga dipengaruhi arah yang berlawanan
ekspresi PU.1 (dikenal Sfp1) pada cell line
erythroid-megakariosit yang menginduksi
konversi monocytic lineage, dengan represi
GATA1.105 Sel terdiferensasi penuh juga dapat
diubah memakai C/EBPa, suatu faktor
transkripsi yang diperlukan untuk mengubah
progenitor sel B dan sel T menjadi makrofag
fungsional 106 dengan frekuensi mendekati
100%.107,108 Sel B matur yang menghasilkan
immunoglobulin juga dapat diubah dengan
frekuensi lebih rendah (Gambar 14). 101
Gambar 14. Konversi sel endokrin di dalam pulo pankreas. Perubahan nasib sel antara sel endokrin dapat terjadi dalam
kondisi stres yang berbeda. Hal ini terjadi secara direk atau melalui dediferensiasi. Stres berkelanjutan pada sel ß dapat
memicu dediferensiasi menjadi diabetes.
Gambar 15. Overekspresi faktor transkripsi atau ablasi memicu perubahan nasib atau identitas sel.
Gambar 16. Faktor transkripsi dengan antogonisme menyilang : paradigma PU.1 : GATA 1. A, Dalam formulasi
sederhana dari antagonisme menyilang, kedua regulator (masing-masing hijau dan merah) secara negatif berpengaruh
satu sama lain. B, Motif antagonisme menyilang dengan kedua faktor juga mengatur sendiri. C, Kedua faktor ditunjukkan
secara positif dan negatif mengatur repertoire sendiri terhadap gen target. D, Skema mekanisme biokimia yang mendasari
GATA1 disatu sisi dari antagonisme PU.1:GATA1. Untuk mengaktivasi gen target pada sel eritroid GATA1 merekruit
histone acetylase CREB-binding protein. Overekspresi PU.1 menggeser CREB-binding protein (CBP) dengan berikatan
degan GATA1 dan erekrut Rb juga Suv39H protein. Hal ini memicu metilasi lysine 9 pada histone H3 dan
rekruimen HP1a, memicu represi gen target. E, Representasi antagonisme PU.1 : GATA1 sebagai model binary
attractor dalam lanskap epigenetik Waddington yang dimodifikasi. Dasar dua warna dibagian atas, dan dasar dangkal
menggambarkan progenitor monositik/eritroid yang mengekspresikan rasio PU.1 dan GATA1. Progenitor ini berfluktuasi
antara kedua keadaan yang berbeda yang ditentukan oleh PU.1 dan GAT1. Sel pada ujung yaitu spektrum yang
mengarah ke diferensiasi monositik dan eritroid. saat terjadi komitmen spontan atau diinduksi, faktor ini keluar dari
basin dasar dan bergulir menuju attractor di basin bawah. Warna hijau yaitu sel monositik mengekspresikan level PU.1
yang tinggi sedangkan yang berewarna merah yaitu sel eritroid yang mengkespresikan GATA1 tinggi.
Gambar 17. Pandangan molekul epigenetik sekarang. Faktor yang telah dikenal meregulasi fenomena epigenetik
ditunjukkan sebagai pergerakan bola menyilang landskap yang diusulkan Waddington. Tidak ada aturan kejadian
molekuler yang bersifat teratur, sehingga sekuensi tidak diketahui. Protein efektor mengenal modifikasi histon,
sedangkan protein presenter yaitu subtrat yang spesifik untuk enzim pengubah histon. H3.3 dan macroH2A ditunjukkan
hanya sebagai representatif histon varian yang masing-masing terlibat dalam aktivasi dan represi transkripsi. ChR,
chromatin remodelers; DNMTs, DNA methyltransferases; HATs, histone acetyltransferases; HDACs, histone
deacetylases; HMTs, histone methyltransferases; HDMs, histone demethylases; DDMs, DNA demethylases dan TFs,
transcription factors (menggambarkan komponen genetik dari proses epignetik).
Timbul pertanyaan mengapa reprogram sel darah oleh
faktor transkripsi memiliki frekuensi atau efisiensi
konversi yang tinggi ? Faktor apa yang berpengaruh
terhadap konversi ini ? Efisiensi yang tinggi pada
reprogramming sistem darah menunjukkan bahwa
ekspresi faktor transkripsi dapat berinteraksi dengan
komponen endogen anyaman transkripsi sel resipien,
berarti dapat mengubah lanskap epigenetik seperti
terlihat pada Gambar 15.101 Faktor transkripsi GATA1
atau PU.1 merupakan faktor yang paling mendasar
terhadap perkembangan hematopoietik sehingga
berlaku sebagai paradigma melintasi interaksi faktor
traskripsi.109,110 Antagonisme Pu.1 dan GATA1 dalam
lineage normal yaitu terkait pengaturan sel
monositik dan erithroid oleh masing-masing PU.1 dan
GATA.1 (Gambar 16).101
Stem Cell Epigenetik
155
Studi pada konversi sel mielomonositik yang
dimediasi GATA1 menunjukkan bahwa faktor ini
secara langsung berikatan dengan protein PU.1. 111
Level GATA.1 yang tinggi menghambat PU.1
dengan menggeser c-Jun, suatu kofaktor PU.1,
sehingga memicu kolaps program
monositik.112 Sebaliknya PU.1 yang diekspresikan di
dalam prekursor eritroid berinteraksi dengan GAT1
berikatan dengan promoter gen target, termasuk
globin œ dan ß juga EKLF (atau KLF1), dan
mengkonversi kompleks aktif menjadi represif
melalui pergantian koaktivator CREB-binding
protein (CBP) dan rekrutmen protein retinoblastoma
(Gambar 16d). 101 sebab itu, faktor transkripsi ini
tidak hanya “akselerator” dalam menginduksi
program ekspresi gen, tetapi juga “mengerem”
dengan menginaktivasi regulator kunci dari tipe sel
alternatif, sehingga memicu hilangnya marker
fenotipe lama. saat kedua faktor transkripsi
menjadi dominan maka komitmen mengubah
menjadi tipe sel lain terjadi. 101
Pada organ lain seperti jantung, saraf, pankreas, hati,
tentu faktor transkripsi yang berperan dalam reprogram
sel in vivo secara direk tidak dapat mengubah seluruh
kondisi anyaman transkripsi endogen pada tingkat
epigenetik. Misalnya, Zhou et al., melaporkan bahwa
penghalang epigenetik Bmi1 yaitu faktor kunci yang
memicu efisiensi reprogram jantung secara direk
dari fibroblast menjadi kardiomiosit sangat kecil
dengan proses lambat.113 Hampir semua perkembangan
sel bersifat epigenetik, sedangkan sekuensi DNA
bersifat statik,114 sebagaimana disampaikan oleh
Conrad Waddington tentang konsep lanskap epigenetik
yang menggambarkan nasib perkembangan sel.115 Sel
yang sedang bergulir melewati rintangan di dalam
lembah dan akhirnya menentukan menentukan nasib
sel akhir. Dengan kemajuan pengetahuan
reprogamming in vivo, maka landskap ini juga
mengalami modifikasi (Gambar 17).116







