Tampilkan postingan dengan label Vertigo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vertigo. Tampilkan semua postingan

Vertigo

 












Vertigo ialah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti rotasi (memutar) 

tanpa sensasi perputaran yang sebenarnya, dapat berupa sekelilingnya yang terasa berputar 

(vertigo objektif) atau badan sendiri yang berputar (vertigo subjektif). Vertigo berasal dari bahasa 

latin "vertere" = memutar. Vertigo termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan 

sebagai pusing, pening, sempoyongan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik. 

Jenis vertigo yang paling sering ditemukan di kalangan masyarakat umum yaitu  Benign 

Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). berdasar  penelitian, dari keseluruhan jumlah pasien 

yang datang dengan keluhan pusing berputar / vertigo, sebanyak 20% dari mereka menderita 

BPPV. Walaupun begitu, BPPV sering salah didiagnosa sebab  BPPV biasanya tidak berdiri 

sendiri namun  diikuti oleh penyakit telinga bagian dalam lainnya (misalnya, satu pasien mungkin 

memiliki kedua penyakit Menière dan BPPV sekaligus). 

berdasar  sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa, didapatkan 

prevalensi BPPV di Amerika yaitu  sebanyak 64 orang penderita pada setiap 100.000 populasi, 

dengan penderita jenis kelamin wanita lebih banyak daripada pria. BPPV cenderung ditemukan 

pada usia yang lebih tua, yaitu >50 tahun dan jarang diamati pada penderita usia <35 tahun tanpa 

riwayat cedera kepala. 

Diagnosis BPPV ditegakkan berdasar  anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan THT, uji 

posisi dan uji kalori. Pada anamnesis, pasien biasanya mengeluhkan kepala terasa pusing berputar 

pada perubahan posisi kepala dalam aktivitas tertentu seperti berbaring, bangun, berguling di atas 

tempat tidur atau menoleh ke belakang. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala 

dan akan berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan kurang dari 1 menit. Pada pemeriksaan 

THT secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak ada paresis kanal. 

Uji posisi dapat membantu menegakkan diagnosa BPPV, yang paling baik yaitu  dengan 

melakukan manuver Hallpike. Terapi fisik manuver reposisi kanalit merupakan terapi dini paling 

efektif pada pasien BPPV ketimbang dengan pemberian terapi farmasi pada pasien IGD. 

CASE REPORT 


Anamnesis  

Pasien datang diantar oleh suaminya ke IGD RSUD Pasar Rebo pada pukul 15.30 WIB dengan 

keluhan pusing seperti berputar. Keluhan ini dirasakan ketika pasien sedang rukuk dan sujud pada 

saat sholat serta apabila pada  saat berjalan pasien merasa jalanan terasa bergoyang. Keluhan ini 

sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu dan semakin memburuk pada malam hari sebelum pasien 

datang ke IGD. Pasien juga sering disertai perasaan mual,namun  tidak pernah sampai muntah dan 

nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluh demam sehingga ia mengkonsumsi obat 

parasetamol dan pasien terlihat sangat cemas dengan penyakitnya sekarang. Pasien mempunyai 

riwayat hipertensi dan sudah diberi obat anti hipertensi oleh dokter sebelumnya,namun  pasien lupa 

nama dan jenis obatya sebab  sudah sejak satu tahun yang lalu.  

1. Keluhan Utama 

Pusing seperti berputar pada saat perubahan posisi tubuh 

2. Keluhan Tambahan 

Mual,demam,nafsu,makan berkurang 

3. Riwayat Penyakit Sekarang 

Adanya rasa pusing berat yang dirasakan seperti berputar pada saat pasien melakukan aktivitas 

sehari-hari. Hal ini sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu dan memburuk pada malam sebelum 

ke IGD. Pusing dirasakan disemua bagian kepala. Pasien sudah dikategorikan berusia lanjut 

dan disertai adanya riwayat hipertensi yang sudah diberi obat anti hipertensi 1 tahun yang lalu. 

Pasien juga merasakan mual,demam dan tampak cemas. Pasien merasakan keterbatasan dalam 

aktivitas sehari-hari dan berkurangnya nafsu makan. 

4. Riwayat Penyakit Dahulu 

Hipertensi,tidak ada riwayat alergi obat ,lingkungan dan makanan 

5. Riwayat penyakit keluarga. 

Keluarganya diketahui tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit yang sama. 

6. Riwayat Sosial 

Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga yang masih aktif mengurus keluarga 

7. Riwayat Pengobatan 

Pasien mengkonsumsi obat anti hipertensi pada 1 tahun yang lalu dan mengkonsumsi 

parasetamol pada malam sebelum ke IGD 

 

8. Tinjauan sistem organ 

Adanya perasaan kesemutan pada jari-jari tangannya  

 

Pemeriksaan Fisik 

1. Status generalis: 

a. Keadaan umum  : tampak sakit sedang menahan nyeri 

b. Kesadaran   : compos mentis, GCS (15) 

c. Tanda Vital        : TD 120/90 , DJ 80x/menit 

d. Kepala   : normal 

e. Mata    : konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, lensa katarak senilis 

f. Telinga   : Normal, ottorhea (-) 

g. Hidung   : Normal, rhinorrhea (-) 

h. Mulut    : Normal 

i. Leher    : Pembesaran  kelenjar tiroid (-) 

j. Thoraks   :  Pulmo : vesikuler (+), ronkhi(-), wheezing (-) 

   Cor   : bunyi jantung I - II regular murni, murmur (-), gallop (-) 

k. Ekstremitas   : lihat status lokalis 

l. Abdomen  : Nyeri tekan/Nyeri lepas (-/-) 

 

2. Status Lokalis 

Tidak adanya kelainan  

Pemeriksaan Penunjang 

1. Perasat Dix Hallpike kanan : nistagmus (+/+)fase cepat ke atas dan berputar ke kanan 

2. Perasat Dix Hallpike kiri : nistagmus (-/-) 

Diagnosis Kerja 

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) 

Penatalaksanaan 

 

Saat datang : 

1. Dilakaukan pemeriksaan perasat Dix-Hallpike kanan dan didapatkan adanya nistagmus pada 

kedua mata dan adanya perasaan pusing yang berputar. 

 

sesudah  konsul dengan dokter diberikan resep obat : 

1. Frego ( Flunarizine 5 mg) 

2. Mertigo (Betahistine mesylate 12 mg) 

3. Odasentron  

 

Prognosis 

Dubia ad bonam 

Teori Singkat 

1. Benign Paroxysmal Positional Vertigo 

1.1. Definisi 

Vertigo yaitu  perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau seolah-olah 

benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai dengan mual dan 

kehilangan keseimbangan. Vertigo ialah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh 

seperti  rotasi (memutar) tanpa sensasi perputaran yang sebenarnya, dapat sekelilingnya terasa 

berputar (vertigo objektif) atau badan yang berputar  (vertigo subjektif). Vertigo berasal dari 

bahasa latin "vertere"= memutar. 

Jenis vertigo yang paling sering ditemukan di kalangan masyarakat umum yaitu  Benign 

Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), dimana vertigo terjadi secara mendadak dan 

berlangsung kurang dari 1 menit (5-10 detik). berdasar  penelitian, dari keseluruhan jumlah 

pasien yang datang dengan keluhan pusing berputar / vertigo, sebanyak 20% dari mereka 

menderita BPPV. Perubahan posisi kepala (biasanya terjadi ketika penderita berbaring, 

bangun, berguling diatas tempat tidur atau menoleh ke belakang) biasanya memicu terjadinya 

episode vertigo ini. 

 


Perubahan posisi kepala - biasanya membelokkan kepala di atas bantal sebelum bangun 

pagi hari, atau menengadah untuk mencapai rak tinggi sering memicu episode kekacauan ini. 

BPPV biasanya berkembang ketika partikel kalsium yang biasanya terlekat pada satu bagian 

telinga dalam (utrikulus dan sakkulus) tergusur dan pindah ke bagian telinga dalam lain (kanal 

semisirkularis posterior). Ketidakseimbangan ini yang diyakini telah menghasilkan episode 

singkat vertigo.  

Vertigo jenis ini bisa menimbulkan gejala yang berat, namun  biasanya tidak berbahaya dan 

hilang sendiri. BPPV bisa disertai oleh gejala mual, muntah, dan nystagmus khusus (gerakan 

mata terbelalak yang cepat pada satu arah bergantian dengan gerakan menurun yang lebih 

lambat hingga ke posisi semula). Episode vertigo dimulai sesudah 5 sampai 10 detik sesudah  

perubahan posisi kepala dan bertahan kurang dari semenit. Episode biasanya reda dengan 

sendirinya dalam beberapa minggu. Kadang-kadang, mereka menetap selama berbulan-bulan 

dan bisa menyebabkan dehidrasi sebab  mual dan muntah. BPPV khususnya dapat dibedakan 

dari Menière disease sebab  biasanya pada BPPV tidak terjadi kehilangan pendengaran atau 

telinga berdenging (tinnitus). 

1.2. Anatomi dan Fisiologi Keseimbangan Perifer 

Alat vestibuler terletak di telinga dalam (labirin), terlindung oleh tulang yang paling 

keras yang dimiliki oleh tubuh. Labirin secara umum yaitu  telinga dalam, namun  secara khusus 

dapat diartikan sebagai alat keseimbangan. Labirin terdiri atas labirin tulang dan labirin 

membrane. Labirin membrane terletak dalam labirin tulang dan bentuknya hampir menurut 

bentuk labirin tulang. Antara labirin membrane dan labirin tulang ada perilimf, sedang 

endolimf ada didalam labirin membrane. Berat jenis endolimf lebih tinggi daripada cairan 

perilimf. Ujung saraf vestibuler berada dalam labirin membran yang terapung dalam perilimf 

yang berada pada labirin tulang. Setiap labirin terdiri dari tiga kanalis semisirkularis, yaitu 

horizontal (lateral), anterior (superior), posterior (inferior). Selain ke tiga kanalis ini ada 

pula utrikulus dan sakulus. 

 


 

Labirin juga dapat dibagi kedalam dua bagian yang saling berhubungan, yaitu:  

1) Labirin anterior yang terdiri atas kokhlea yang berperan dalam pendengaran. 

2) Labirin posterior, yang mengandung tiga kanalis semisirkularis, sakulus dan utrikulus. 

Berperan dalam mengatur keseimbangan. (di utrikulus dan sakulus sel sensoriknya 

berada di makula, sedang  di kanalis sel sensoriknya berada di krista ampulanya) 

 

Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan disekitarnya tergantung 

kepada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ visial dan proprioseptif. 

Gabungan informasi ketiga reseptor sensorik ini  akan diolah di SSP, sehingga 

menggambarkan keadaan posisi tubuh pada saat itu. 

Reseptor sistem ini yaitu  sel rambut yang terletak dalam krista kanalis  semisirkularis 

dan makula dari organ otolit. Secara fungsional ada dua jenis sel. Sel-sel pada kanalis 

semisirkularis peka terhadap rotasi khususnya terhadap percepatan sudut, sedang  sel-sel 

pada organ otolit peka terhadap gerak linier, khususnya percepatan inier dan terhadap 

perubahan posisi kepala relatif terhadap gravitasi. Perbedaan kepekaan terhadap percepatan 

sudut dan percepatan linier ini disebabkan oleh geometridari kanalis dan organ otolit serta 

ciri-ciri fisik dari struktur-struktur yang menutupi sel rambut. 

 

Sel rambut 

 

Secara morfologi sel rambut pada kanalis sangat serupa dengan sel rambut pada organ otolit. 

Masing-masing sel rambut memiliki polarisasi struktural yang dijelaskan oleh posisi dari 

stereosilia relatif terhadap kinosilim. Jika suatu gerakan menyebabkan stereosilia 

membengkok kearah kinosilium, maka sel-sel rambut akan tereksitasi. Jika gerakan dalam arah 

yang berlawanan sehingga stereosilia menjauh dari kinosilium maka sel-sel rambut akan 

terinhibisi. 

 

Kanalis semisirkularis 

 

Polarisasi yaitu  sama pada seluruh sel rambut pada tiap kanalis, dan pada rotasi sel-sel dapat 

tereksitasi ataupun terinhibisi. Ketiga kanalis hampir tegak lurus satu dengan yang lainnya, 

dan masing-masing kanalis dari satu telinga terletak hampir satu bidang yang sama dengan 

 

kanalis telinga satunya. Pada waktu rotasi, salah satu dari pasangan kanalis akan tereksitasi 

sementara yang satunya akan terinhibisi. Misalnya, bila kepala pada posisi lurus normal dan 

ada percepatan dalam bidang horizontal yang menimbulkan rotasi ke kanan, maka serabut-

serabut aferen dari kanalis hirizontalis kanan akan tereksitasi, sementara serabut-serabut yang 

kiri akan terinhibisi. Jika rotasi pada bidang vertikal misalnya rotasi kedepan, maka kanalis 

anterior kiri dan kanan kedua sisi akan tereksitasi, sementara kanalis posterior akan terinhibisi. 

 

Organ otolit 

 

Ada dua organ otolit, utrikulus yang terletak pada bidang kepala yang hampir horizontal, dan 

sakulus yang terletak pada bidang hampir vertikal. Berbeda dengan sel rambut kanalis 

semisirkularis, maka polarisasi sel rambut pada organ otolit tidak semuanya sama. Pada 

makula utrikulus, kinosilium terletak di bagian samping sel rambut yang terdekat dengan 

daerah sentral yaitu striola. Maka pada saat kepala miring atau mengalami percepatan linier, 

sebagian serabut aferen akan tereksitasi sementara yang lainnya terinhibisi. Dengan adanya 

polarisasi yang berbeda dari tiap makula, maka SSP mendapat informasi tentang gerak linier 

dalam tiga dimensi, walaupun sesungguhnya hanya ada dua makula. 

Hubungan-hubungan langsung antara inti vestibularis dengan motoneuron ekstraokularis 

merupakan suatu jaras penting yang mengendalikan gerakan mata dan refleks vestibulo-

okularis (RVO). RVO yaitu  gerakan mata yang mempunyai suatu komponen lambat 

berlawanan arah dengan putaran kepala dan suatu komponen cepat yang searah dengan putaran 

kepala. Komponen lambat mengkompensasi gerakan kepal dan berfungsi menstabilkan suatu 

bayangan pada retina. Komponen cepat berfungsi untuk kembali mengarahkan tatapan ke 

bagian lain dari lapangan pandang. Perubahan arah gerakan mata selama rangsangan 

vestibularis merupakan suatu contoh dari nistagmus normal. 

 

1.3. Epidemiologi 

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan jenis vertigo vestibular perifer 

yang paling sering ditemui di kalangan masyarakat umum. berdasar  sebuah penelitian yang 

dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa, didapatkan prevalensi BPPV di Amerika yaitu  

 

sebanyak 64 kasus per 100.000 penduduk, dengan penderita jenis kelamin wanita lebih banyak 

daripada pria. BPPV cenderung ditemukan pada usia yang lebih tua, yaitu diatas 50 tahun (51–

57 tahun) dan jarang diamati pada penderita berusia dibawah 35 tahun tanpa riwayat cedera 

kepala.3,4 

 

1.5. Patofisiologi 

BPPV terjadi akibat dari perubahan posisi kepala yang cepat dan tiba-tiba seperti saat 

berguling di tempat tidur, membungkuk, atau menengadah ke atas, dan biasanya akan disertai 

sensasi pusing yang sangat berat, yang berlangsung bervariasi pada masing-masing penderita, 

vertigo dapat berlangsung hanya beberapa menit hingga berhari-hari dan dapat disertai dengan 

gejala mual dan muntah. Beberapa dugaan yang dikemukakan oleh para ahli yaitu  

kemungkinan adanya trauma pada alat keseimbangan, infeksi, sisa pembedahan telinga, faktor 

degeneratif sebab  usia dan kelainan pembuluh darah. 

Mekanisme pasti terjadinya BPPV masih samar. Tapi penyebabnya sudah diketahui pasti 

yaitu debris yang ada pada kanalis semisirkularis biasanya pada kanalis posterior. Debris 

berupa kristal kalsium karbonat itu dalam keadaan normal tidak ada. Diduga debris itu 

menyebabkan perubahan tekanan endolimfe dan defleksi kupula sehingga timbul gejala 

vertigo. 

 Untuk memahami patofisiologi terjadinya BPPV, dibutuhkan pemahaman tentang anatomi 

dan fisiologi normal dari kanalis semisirkularis. Setiap telinga bagian dalam mengandungi 3 

kanalis semisirkularis. Masing-masing kanal terdiri dari krura yang ujungnya melebar 

(ampulla) yang terletak berdekatan dengan krista ampullaris (reseptor saraf). Krista ampullaris 

memiliki cupula, yang mendeteksi aliran cairan dalam kanalis semisirkularis. Jika seseorang 

tiba-tiba menoleh ke kanan, cairan dalam kanal horizontal kanan akan tertinggal, menyebabkan 

cupula terdeviasi ke kiri (ke arah ampulla, atau ampullopetal). Deviasi ini berikutnya akan 

diterjemahkan menjadi sinyal saraf yang menegaskan bahwa posisi kepala sedang berputar ke 

kanan. Ketidakcocokan informasi sensorik antara gerakan kepala dan deviasi cupula inilah 

yang menghasilkan sensasi vertigo. 

Teori Cupulolithiasis  

Pada tahun 1962, Harold Schuknecht, MD, mengusulkan teori cupulolithiasis sebagai 

penjelasan untuk BPPV. Melalui pemeriksaan photomicrograph, beliau menemukan partikel 

basofilik atau densitas yang adheren terhadap cupula ini . Beliau menduga bahwa kanal 

semisirkularis posterior akan lebih sensitif terhadap gravitasi disebab kan partikel padat yang 

melekat pada cupula ini .  

 

Teori ini dianalogkan dengan situasi benda 

berat yang melekat pada puncak tiang, di mana 

berat ekstra akan membuat tiang tidak stabil dan 

sulit mempertahankan posisi netral. Bahkan, 

tiang cenderung terlempar dari satu sisi ke sisi 

lainnya tergantung pada arah itu dimiringkan. 

sesudah  posisi ini  tercapai, berat partikel 

ini  akan mempertahankan posisi cupula 

kembali ke netral. Hal ini tercermin dari 

nystagmus persisten dan menjelaskan sensasi 

pusing ketika pasien melentur ke belakang. 

Teori Canalithiasis  

Pada tahun 1980, Epley memperkenalkan 

teori-teorinya tentang canalithiasis. Beliau berpikir 

bahwa gejala BPPV jauh lebih konsisten dengan 

partikel bebas-bergerak (canaliths) di kanalis 

semisirkularis posterior daripada partikel melekat 

pada cupula ini . Sementara kepala 

ditegakkan, partikel di kanalis semisirkularis 

posterior berada pada posisi yang tergantung–

gravitasi. Ketika kepala melentur ke belakang 

(supinasi), partikel berputar sampai sekitar 90 ° 

sepanjang arkus kanalis semisirkularis posterior. 

sesudah  lag sesaat (inersia), gravitasi akan menarik 

partikel menuruni arkus. Hal ini menyebabkan 

aliran endolimfe untuk menjauh dari ampula dan menyebabkan cupula terdefleksi. Defleksi 

cupular menghasilkan nystagmus.  

Teori canalithiasis dibuktikan lebih lanjut oleh Parnes dan McClure pada tahun 1991 

dengan penemuan partikel bebas-bergerak dalam kanalis semisirkularis posterior sesudah  

dilakukan pembedahan. 

 

1.6. Faktor Predisposisi 

Sehingga kini etiologi pasti BPPV masih belum diketahui. Meskipun penelitian-penelitian 

belum mengidentifikasi penyebab tunggal gangguan BPPV, namun para peneliti dan tenaga 

medis sepakat bahwa ada beberapa faktor predisposisi yang mendukung terjadinya BPPV 

termasuklah kurangnya aktivitas, alkoholisme akut, operasi mayor, dan penyakit sistem saraf 

pusat (SSP). Pemeriksaan neurologis lengkap sangat penting dalam membantu menegakkan 

diagnosa BPPV sebab  kebanyakan pasien turut mengidap penyakit telinga bagian dalam 

secara bersamaan, sebagai berikut: 

    * Idiopatik - 39%  

    * Trauma - 21%  

    * Penyakit telinga - 29%  

    * Otitis media - 9%  

    * Neuritis vestibular - 7%  

    * Ménière disease - 7%  

    * Otosklerosis - 4%  

    * Penyakit sistem saraf pusat (SSP) - 11%  

    * Insufisiensi vertebra basilar - 9%  

    * Neuroma akustik - 2%  

    * Vertigo servikal - 2% 

1.7. Gejala Klinis dan Diagnostik 

Penderita BPPV biasanya akan menimbulkan keluhan jika terjadi perubahan posisi kepala 

pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar 

jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di 

pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau jika kepala ditengadahkan ke belakang. Biasanya 

vertigo hanya berlangsung 5-10 detik. 

Kadang-kadang pada penderita BPPV dapat disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa 

cemas. Penderita biasanya menyadari keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak 

melakukan gerakan yang dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala 

dalam posisi tegak lurus atau berputar secara aksial tanpa ekstensi. Pada hampir sebagian besar 

pasien, vertigo akan berkurang dan akhirnya berhenti secara spontan dalam jangka waktu 

beberapa hari sampai beberapa bulan, namun  kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun. 

BPPV khususnya dapat dibedakan dari Menière disease sebab  biasanya pada BPPV tidak 

terjadi gangguan pendeng 

Diagnosis BPPV dapat ditegakkan berdasar  anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan 

THT, uji posisi dan uji kalori. Pada anamnesis, penderita BPPV sering  mengeluhkan kepala 

terasa pusing berputar pada perubahan posisi kepala dengan kondisi tertentu. Secara klinis 

vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan berkurang serta akhirnya berhenti secara 

spontan sesudah  beberapa waktu. Pada pemeriksaan THT secara umum tidak didapatkan 

kelainan berarti.  

Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º, sehingga kanalis semisirkularis lateralis 

dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air 

hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus yang 

timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus ini  (normal 

90-150 detik).  

Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri 

atau ke kanan.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik sesudah  

rangsang air hangat maupun air dingin, sedang  directional preponderance ialah jika 

abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.  

Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. VIII, sedang  directional 

preponderance menunjukkan lesi sentral.  

 

Uji posisi dapat membantu membedakan lesi perifer atau sentral sekaligus mendiagnosa 

BPPV, yang paling baik dan mudah yaitu  dengan melakukan manuver Dix-Hallpike: 

penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi oleh pemeriksa, lalu menggerakkan 

kepala pasien dengan cepat ke kanan, kiri dan kembali ke tengah.  

 

Pada lesi perifer, dalam hal ini positif BPPV, akan didapatkan nistagmus posisi dengan 

gejala: 

1. Mata berputar dan bergerak ke arah telinga yang terganggu dan mereda sesudah  5-20 

detik. 

2. Disertai vertigo berat. 

3. Mula gejala didahului periode laten selama beberapa detik (3-10 detik). 

4. Pada uji ulangan akan berkurang sampai menghilang (fatigue), namun  juga berguna 

sebagai cara diagnosis yang tepat. 

 

Berbeda dengan lesi sentral, periode laten tidak ditemukan, vertigo dan nistagmus 

berlangsung lebih dari 1 menit, dan bila diulang gejala tetap ada (non fatigue). 

Pada orang normal nistagmus dapat timbul pada saat gerakan provokasi ke belakang, 

namun saat gerakan selesai dilakukan tidak tampak lagi nistagmus. Pada pasien VPPJ sesudah  

provokasi ditemukan nistagmus yang timbul lambat, ± 40 detik, kemudian nistagmus 

menghilang kurang dari 1 menit jika penyebabnya kanalitiasis, pada kupololitiasis nistagmus 

dapat terjadi lebih dari 1 menit, biasanya serangan vertigo berat dan timbul bersamaan dengan 

nistagmus. 

Pemeriksa dapat mengidentifikasi jenis kanal yang terlibat dengan mencatat arah fase cepat 

nistagmus yang abnormal dengan mata pasien menatap lurus ke depan. 

· Fase cepat ke atas, berputar ke kanan menunjukkan VPPJ pada kanalis  posterior kanan 

· Fase cepat ke atas, berputar ke kiri menunjukkan VPPJ pada kanalis posterior kiri 

· Fase cepat ke bawah, berputar ke kanan menunjukkan VPPJ pada kanalis anterior 

kanan.  

· Fase cepat ke bawah, berputar ke kiri menunjukkan VPPJ pada kanalis anterior kiri  

Respon abnormal diprovokasi oleh perasat Dix-Hallpike/ sidelying pada bidang yang 

sesuai dengan kanal yang terlibat 

1.8. pengobatan  

Penatalaksanaan BPPV meliputi observasi, obat-obatan untuk menekan fungsi vestibuler 

(vestibulosuppressan), reposisi kanalit dan pembedahan. Dasar pemilihan pengobatan  berupa 

observasi yaitu  sebab  BPPV dapat mengalami resolusi sendiri dalam waktu mingguan atau 


bulanan. Oleh sebab  itu sebagian ahli hanya menyarankan observasi. Akan namun  selama 

waktu observasi ini  pasien tetap menderita vertigo. Akibatnya pasien dihadapkan pada 

kemungkinan terjatuh bila vertigo tercetus pada saat ia sedang beraktivitas. 

Obat-obatan penekan fungsi vestibuler pada umumnya tidak menghilangkan vertigo. 

Istilah “vestibulosuppresant” dipakai  untuk obat-obatan yang dapat mengurangi timbulnya 

nistagmus akibat ketidakseimbangan sistem vestibuler. Pada sebagian pasien pemberian obat-

obat ini memang mengurangi sensasi vertigo, namun tidak menyelesaian masalahnya. Obat-

obat ini hanya menutupi gejala vertigo. Pemberian obat-obat ini dapat menimbulkan efek 

samping berupa rasa mengantuk. Obat-obat yang diberikan diantaranya diazepam dan 

amitriptilin. Betahistin sering dipakai  dalam terapi vertigo. Betahistin yaitu  golongan 

antihistamin yang diduga meningkatkan sirkulasi darah ditelinga dalam dan mempengaruhi 

fungsi vestibuler melalui reseptor H3. 

 

Tiga macam perasat dilakukan umtuk menanggulangi BPPV yaitu  CRT (Canalith 

Repositioning Treatment)/Manuver Epley , perasat liberatory dan latihan Brandt-Daroff. 

 

17 

Reposisi kanalit dikemukakan oleh Epley.  

1) Prosedur CRT/manuver Epley merupakan prosedur sederhana dan tidak invasif. 

Dengan terapi ini diharapkan BPPV dapat disembuhkan sesudah  pasien menjalani 1-2 

sesi terapi. CRT sebaiknya dilakukan sesudah  perasat Dix-Hallpike menimbulkan 

respon abnormal. Pemeriksa dapat mengidentifikasi adanya kanalithiasis pada kanal 

anterior atau kanal posterior dari telinga yang terbawah. Pasien tidak kembali ke posisi 

duduk namun kepala pasien dirotasikan tujuan untuk mendorong kanalith keluar dari 

kanalis semisirkularis menuju ke utrikulus, tempat dimana kanalith tidak lagi 

menimbulkan gejala. Bila kanalis posterior kanan yang terlibat maka harus dilakukan 

tindakan CRT kanan.Perasat ini dimulai pada posisi Dix-Hallpike yang menimbulkan 

respon abnormal dengan cara kepala ditahan pada posisi ini  selama 1- 2menit, 

kemudian kepala direndahkan dan diputar secara perlahan kekiri dan dipertahankan 

selama beberapa saat. sesudah  itu badan pasien dimiringkan dengan kepala tetap 

dipertahankan pada posisi menghadap kekiri dengan sudut 450 sehingga kepala 

menghadap kebawah melihat lantai akhirnya pasien kembali keposisi duduk dengan 

menghadap kedepan. sesudah  terapi ini pasien dilengkapi dengan menahan leher dan 

disarankan untuk tidak merunduk, berbaring, membungkukkan badan selama satu hari. 

Pasien harus tidur pada posisi duduk dan harus tidur pada posisi yang sehat untuk 5 

hari.Perasat yang sama juga dapat dipakai  pada pasien dengan kanalithiasis pada 

kanal anterior kanan. Pada pasien dengan kanalith pada kanal anterior kiri dan kanal 

posterior, CRT kiri merupakan metode yang dapat di gunakan yaitu dimulai dengan 

kepala menggantung kiri dan membalikan tubuh kekanan sebelum duduk.  

2) Perasat liberatory, yang dikembangkan oleh  , juga dibuat untuk memindahkan 

otolit (debris/kotoran) dari kanal semisirkularis. Tipe perasat yang dilakukan 

tergantung dari jenis kanal mana yang terlibat. Apakah kanal anterior atau 

posterior.Bila ada keterlibatan kanal posterior kanan, dilakukan perasat liberatory 

kanan perlu dilakukan. Perasat dimulai dengan penderita diminta untuk duduk pada 

meja pemeriksaan dengan kepala diputar menghadap kekiri 450 pasien yang duduk 

dengan kepala menghadap kekiri secara cepat dibaringkan ke sisi kanan dengan kepala 

menggantung ke bahu kanan. sesudah  1 menit pasien digerakkan secara cepat ke posisi 

duduk awal dan untuk ke posisi side lying kiri dengan kepala menoleh 450 kekiri. 

Pertahankan penderita dalam posisi ini selama 1 menit dan perlahan-lahan kembali 

keposisi duduk. Penopang leher kemudian dikenakan dan diberi instruksi yang sama 

dengan pasien yang diterapi dengan CRT.Bila kanal anterior kanan yang terlibat, 

perasat yang dilakukan sama, namun kepala diputar menghadap kekanan. Bila kanal 

posterior kiri yang terlibat, perasat liberatory kiri harus dilakukan (pertama pasien 

bergerak ke posisi sidelying kiri kemudian posisi sidelying kanan) dengan kepala 

menghadap ke kanan. Bila kanal anterior kiri yang terlibat, perasat liberatory kiri 

dilakukan dengan kepala diputar menghadap ke kiri. 

 

3)  Latihan Brandt Daroff merupakan latihan yang dilakukan di rumah oleh pasien sendiri 

tanpa bantuan terapis. Pasien melakukan gerakan-gerakan posisi duduk dengan kepala 

menoleh 450, lalu badan dibaringkan ke sisi yang berlawanan. Posisi ini dipertahankan 

selama 30 detik. Selanjutnya pasien kembali ke posisi duduk 30 detik. sesudah  itu 

pasien menolehkan kepalanya 450 ke sisi yang lain, lalu badan dibaringkan ke sisi yang 

berlawanan selama 30 detik. Latihan ini dilakukan secara rutin 10-20 kali. 3 seri dalam 

sehari  

 

 

4) Terapi bedah 

Dalam pengalaman selama ini 

dengan lebih dari 2.000 pasien BPPV, hanya 

satu terbukti refrakter terhadap terapi dan 

diperlukan sectioning operation dari saraf 

kanal posterior,contohnya seperti 

Neurectomy selektif (Gacek 1978) yaitu  

sulit dilakukan, dan ada risiko gangguan 

pendengaran yang permanen. Neurectomy 

kini telah digantikan oleh teknik 

penyumbatan kanal posterior . Hal ini jelas  lebih aman dan lebih efektif 

dari sectioning operation, namun hal ini dipakai  bila terapi fisik yang sederhana tidak 

efektif.  

 

1.9. Atypical BPPV 

Lateral (horizontal) kanal BPPV yaitu  yang paling umum varian atipikal BPPV , 

terhitung sekitar 3-9 persen dari kasus. Kebanyakan kasus yang dipandang sebagai 

konsekuensi dari sebuah manuver Epley . Hal ini didiagnosis oleh nystagmus horizontal 

yang mengubah arah sesuai dengan telinga yang turun . Diagnosis yang menggunakan 

Suggested Schedule for Brandt-Daroff exercises 

Time Exercise Duration 

Morning 5 repetitions 10 minutes 

Noon 5 repetitions 10 minutes 

Evening 5 repetitions 10 minutes 

 

manuver Pagnini-McClure dan terapi fisiknya dengan manuver Lempert Roll. 

  

 

Anterior kanal BPPV juga langka , dan sebuah studi terbaru menyarankan bahwa 

menyumbang sekitar 2 % dari kasus BPPV . Hal ini didiagnosis dengan nistagmus 

posisional dengan komponen downbeating dan gerakan torsi pada saat posisi Dix - 

Hallpike , atau nystagmus yang upbeating dan torsi ketika duduk dari Dix - Hallpike . Ada 

beberapa saran yang berbeda dalam literatur tentang arah fase cepat torsional pada anterior 

kanal BPPV . Anterior kanal BPPV terbilang langka sebab  kanal anterior biasanya bagian 

tertinggi dari telinga . Debris  alami akan cenderung jatuh dari setengah posterior kanalis 

anterior . Dari geometri telinga , tampaknya mungkin bahwa anterior kanal BPPV 

mungkin kadang-kadang menyebabkan sebagai akibat komplikasi dari manuver Epley . 

 

DISKUSI KASUS 

 Pada kasus yang penulis temukan pasien datang diantar oleh suaminya ke IGD RSUD Pasar 

Rebo pada pukul 15.30 WIB dengan keluhan pusing seperti berputar. Keluhan ini dirasakan ketika 

pasien sedang rukuk dan sujud pada saat sholat serta apabila pada  saat berjalan pasien merasa 

jalanan terasa bergoyang. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu dan semakin 

memburuk pada malam hari sebelum pasien datang ke IGD. Saat pemeriksaan fisik Dix-Hallpike 

ditemukan adanya nystagmus pada kedua mata dengan refleks cepat ke atas menunjukkan 

diagnosis BPPV canalit posterior kanan. Pasien tidak diberikan terapi fisik reposisi canalith namun  

dokter hanya memberikan obat oral saja. Dokter tidak memberikan edukasi yang baik untuk terapi 

fisik mandiri yang dapat dilakukan oleh pasien sendiri di rumah. 

 berdasar  literature yang penulis dapatkan, studi menunjukkan penggunaan terapi 

farmasi bukan merupakan pilihan terbaik untuk mengatasi BPPV. Terapi fisik manuver reposisi 

canalit (CRM) merupakan tindakan utama yang dapat dilakukan ketika pasien pertama kali datang 

ke IGD untuk mencegah perburukan dari penyakit ini .. Salah satu dari indikasi dilakukannya 

tindakan CRM yaitu  adanya pembuktian secara kasar dalam literatur bahwa sekitar 90% pasien 

mengalami perbaikan dari gejala sebelumnya. Selain itu, menurut keterangan pasien ia sangat takut 

dengan penyakitnya sekarang,sehingga penyakit ini menghambat segala aktivitas sehari-harinya 

dan juga akibat dari gejala mualnya dapat menurunkan nafsu makannya. Dalam pemaparan 

literatur terbukti sesudah  dilakukannya CRM menurunkan tingkat gangguan kecemasan,ganguan 

panik dan depresi ringan. Serta adanya perbaikan pada gejala pusing dan mualnya sesudah  ditinjau 

menggunakan visual analog scale. Edukasi dari dokter untuk melakukan manuver Brandt Daroff 

apabila diketahui tidak adanya perbaikan sesudah  dilakukan terapi fisik CRM tertera pada literatur. 

 Dalam pandangan agama islam, vertigo yang diderita oleh pasien sangat mengganggu 

aktivitasnya dalam beribadah. Terutama ketika pasien hendak melakukan sholat. Dilihat dari segi 

islam, orang yang sakit tetap wajib mengerjakan shalat pada waktunya dan melaksanakannya 

menurut kemampuannya  selama akalnya masih baik sebagaimana diperintahkan Allah Subhanahu 

wa Ta'ala dalam firman-Nya 

Artinya: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta 

taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari 

kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS: At Taghabun /64:16) 

Orang sakit yang mampu berdiri namun tidak mampu ruku’ atau sujud , ia tetap wajib berdiri. Ia 

harus shalat dengan berdiri dan melakukan rukuk dengan menundukkan badannya. Bila ia tidak 

mampu membungkukkan punggungnya sama sekali, maka cukup dengan menundukkan lehernya, 

Kemudian duduk, lalu menundukkan badan untuk sujud dalam keadaan duduk dengan 

mendekatkan wajahnya ke tanah sebisa mungkin 

Orang sakit yang tidak mampu melakukan shalat berdiri dan duduk, cara melakukannya yaitu  

dengan berbaring, boleh dengan miring ke kanan atau ke kiri, dengan menghadapkan wajahnya ke 

arah kiblat. Ini berdasar  sabda Rasulullah dalam hadits ‘Imrân bin al-Hushain Radhiyallahu 

'anhu: "Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah dan bila tidak mampu juga 

maka berbaringlah" [HR al-Bukhâri no. 1117] 

Terapi fisik manuver reposisi kanalit (CRM) pada pasien BPPV di IGD merupakan 

tindakan terapi dini yang paling baik untuk mencegah terjadinya perburukan penyakit ketimbang 

pemberian terapi medikamentosa oral saja. Hal ini harusnya segera dilakukan sesudah  penegakan 

diagnosis BPPV  dengan manuver Dix-Hallpike. ada berbagai macam terapi manuver 

fisik,namun  yang terbukti paling efektif ialah CRM/epley manuver. Namun tindakan ini juga harus 

diwaspai pada saat pengaplikasiannya di IGD,agar tidak terjadi kesalahan perpindahan debris dari 

kanal sebelumnya ke kanal yang lain. Di dalam pandangan agama islam, sholat bagi pasien vertigo 

ini harus tetap dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya. Islam tidak mengharuskan seseorang 

untuk selalu berdiri pada saat melakukan sholat bagi orang yang sakit. Islam memberikan suatu 

kemudahan dalam setiap pelaksanaan ibadah bagi umatnya yang berhalangan ,akan namun  tidak 

menjadikan ibadah dalam islam menjadi dimudah-mudahkan bagi orang yang tidak memiliki 

keterbatasan dalam pelaksanaannya.  

VERTIGO

Oleh:

Kholifatul Hasanah 

(1910301147)

APASIH 

PENYEBABNYA?

KENALI

GEJALA 

VERTIGO!

Segera duduk dan pejamkan 

matabila gejala vertigo 

muncul saat sedang berdiri. 

Hindari berbaring miring 

dengan bertumpu pada sisi 

kepala yang mengalami 

vertigo

Tidur dengan posisi kepala 

sedikit terangkat atau lebih 

tinggi

Cukupi asupan cairan dengan 

minum air putih

Sensasi pusing yang berputar, 

disertai mual,  muntah, keringat 

dingin, serta adanya gangguan 

keseimbangan. 

APA YANG HARUS 

DILAKUKAN  

KETIKA TERKENA 

VERTIGO ?

Cedera pada kepala atau 

leher

Multiple sclerosis

Penyakit Meniere

Tumor

Gerakan tiba-tiba

FAKTOR RISIKO 

VERTIGO

UPAYA 

PENCEGAHAN

Intervensi fisioterapi yang dapat 

diberikan pada penderita vertigo 

salah satunya adalah semont 

liberatory maneuver yang 

dilakukan sebanyak 8 kali selama 8 

hari berturut-turut. 

PS : gerakan dilakukan harus dengan diawasi/didampingi tenaga 

kesehatan (dokter)

REFERENSI :

Hindari melakukan gerakan tiba-tiba 

seperti ketika baru bangun dari tidur 

langsung berdiri.

Kelola stress dengan baik

Menjaga asupan gizi

Olahraga minimal 15 menit/hari

Perbaki lifestyle

1.

2.

3.

4.

5.

PENATALAKSANAAN 

FISIOTERAPI

Pernah atau sedang mengidap 

luka di kepala. 

Sering menggunakan obat-obatan 

tertentu. 

Ada anggota keluarga yang 

memiliki riwayat vertigo (genetik).

Mengalami infeksi pada telinga.

1.

2.

3.

4.

Risa, A. N., & Fauziah, E. (2021). Penatalaksanaan 

Fisioterapi Untuk Mengurangi Vertigo Pada 

Penderita Benign Paroxysmal Positional Vertigo 

(Bppv) Dengan Teknik Semont Liberatory 

Maneuver Di Kelurahan Sungai Andai Kota 

Banjarmasin. Jurnal Kajian Ilmiah Kesehatan Dan 

Teknologi, 3(1), 1-6.