Penyakit dalam palmologi 1

 












ASMA 

   inflamasi kronik pada saluran nafas yang 

berhubungan dengan hiperreaktifitas saluran 

respirasi & keterbatasan aliran udara akibat 

adanya penyempitan bronchus yang bersifat 

reversibel.  

   Gejala klinis 

   kondisi stabil (steady-state)    keluhan batuk 

malam hari dan sesak nafas saat olahraga    

   saat serangan asma (asthma-attack exacerbation) 

   sesak berat dan ditandai dengan suara nafas 

mengi. P 

ASMA 

   Pemeriksaan Fisik : retraksi intercostal, suara 

ekspirasi yang memanjang dan wheezing dengan 

nafas bronchial 

   Pemeriksaan Gold Standar    spirometri dengan 

kombinasi bronkodilator 

   Terjadi peningkatan FEV1 >12% dan 200ml setelah 

pemberian bronchodilator.  

   Terjadi peningkatan PEF >20% setelah pemberian 

bronchodilator. 

   ada  variasi nilai PEF secara diurnal >20% atau 

bila dalam pembacaan 2x dalam sehari >10%. 

 

ASMA (klasifikasi) 

   berdasar  frekuensi muncul 

 

ASMA (klasifikasi) 

   berdasar  beratnya gejala 

 

ASMA (tatalaksana di luar serangan) 

   Tatalaksana di luar serangan 

 

Klasifikasi Kontrol harian Obat pilihan lain 

Asma 

intermiten 

(-) (-) 

Asma 

persisten 

ringan 

Glukokortikoid 

inhalasi dosis 

rendah 

Theophilin sustained released 

Cromone 

Leukotriene modifier 

Asma 

persisten 

moderate 

Inhalasi 

glukokortikoid 

dosis rendah-

medium + B2 

agonis long acting 

Glukokortikoid inhalasi dosis medium + 

theopilin sustained release 

Glukokortikoid inhalasi dosis medium +long 

acting b2 agonis 

Glukokortikoid inhalasi dosis tinggi 

Glukokortikoid inhalasi dosis medium + 

leukotriene modifier 

ASMA (tatalaksana di luar serangan) 

Asma persisten 

berat 

Glukokortikoid inhalasi dosis tinggi + long acting 

b2 agonis + salah satu dari 

Theopilin sustaine release 

B2 agonis long acting 

Steroid oral 

Anti IgE 

Risiko eksaserbasi asma  

   Gejala asma tidak terkontrol,  

   penggunaan SABA yang tinggi (mortalitas meningkat 

jika >200 SABA/bulan),  

   FEV1<80%, 

   masalah psikologis atau sosioekonomi,  

   merokok,  

   pajanan alergen,  

   komorbid (obesitas, rinosinusitis, alergi makanan), 

   sputum atau eosinofil darah,  

   kehamilan, 

   riwayat intubasi atau dirawat di ICU karena asma,  

   >1 kali eksaserbasi berat dalam 1 tahun terakhir 

Tatalaksana Inisial Maintenance Asma 

Gejala asma akut <2 kali dalam 1 bulan, 

tidak ada terbangun malam, tidak ada 

risiko eksaserbasi 

Tidak perlu kontroler 

Gejala asma tidak sering, 1 atau lebih 

risiko eksaserbasi 

ICS dosis rendah 

Gejala asma dan membutuhkan SABA 

2 kali sebulan dan 2 kali seminggu, 

bangun karena asma 1 atau lebih 

dalam sebulan 

ICS dosis rendah 

Gejala asma dan membuuthkan SABA 

> 2 kali seminggu 

ICS dosis rendah  

Opsi lain seperti teofilin atau antagonis 

reseptor leukotrien/LTRA (montelukast) 

Gejala asma hampir setiap hari, 

bangun karena asma >1 kali seminggu 

ICS dosis sedang/tinggi atau ICS dosis 

rendah dan LABA 

Presentasi asma berat tidak terkontrol 

dengan eksaserbasi akut 

Kortikosteroid oral jangka pendek dan 

mulai kontrol dengan ICS dosis tinggi atau 

ICS dosis rendah dengan LABA 

Asthma GINA 2015 

   Nilai selama 3 bulan, jika membaik dilakukan step down, 

jika tidak ada perbaikan dilakukan step up 

ASMA (tatalaksana saat serangan) 

PPOK 

   Merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya 

perlambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya 

reversibel.  

   Gejala klinis  sesak napas, batuk-batuk kronis, sputum 

yang produktif, faktor resiko (+). Pernafasan pursed 

lips,Takipnea, dada emfisematous atau barrel chest 

dengan tampilan fisik pink puffer atau blue bloater, bunyi 

nafas vesikuler melemah, ekspirasi memanjang, ronki 

kering atau wheezing, bunyi jantung jauh. 

   Pemeriksaan penunjang antara lain: 

   Uji spirometri    merupakan gold standar akan tampak 

   FEV1 / FVC  < 70 %  

   Uji bronkodilator  (saat diagnosis ditegakkan) : FEV1 pasca 

bronkodilator  < 80 % prediksi 

   Uji coba kortikosteroid 

   Analisis gas darah dilakukan pada pasien dengan VEP1  < 

40% prediksi dan secara klinis diperkirakan gagal napas 

dan payah jantung kanan. 

 

 

PPOK (klasifikasi) 

Dalam penilaian derajat PPOK diperlukan beberapa 

penilaian seperti  

   Penilaian gejala dengan menggunakan kuesioner 

COPD Assesment Test (CAT) serta The modified 

British Medical Research Council (mMRC) untuk 

menilai sesak nafas; 

   Penilaian derajat keterbatasan aliran udara dengan 

spirometri 

   GOLD 1: Ringan: FEV1 >80% prediksi 

   GOLD 2: Sedang: 50% < FEV1 < 80% prediksi 

   GOLD 3: Berat: 30% < FEV1 < 50% prediksi 

   GOLD 4: Sangat Berat: FEV1 <30% prediksi 

   Penilaian risiko eksaserbasi 

Klasifikasi PPOK 

Katego

ri 

Karakter

istik 

Spirom

etri 

Eksaserbasi 

per tahun 

CA

T  

mMRC 

A Risiko 

rendah 

Gejala 

minimal 

GOLD 

1-2 

< 1 kali < 10 0-1 

B Risiko 

rendah 

Gejala 

banyak 

GOLD 

1-2 

< 1 kali > 10 > 2 

C Risiko 

tinggi 

Gejala 

minimal 

GOLD 

3-4 

> 2 kali < 10 0-1 

D Risiko 

tinggi 

Gejala 

banyak 

GOLD 

3-4 

> 2 kali > 10 > 2 

Terapi PPOK Sesuai Kelompok Pasien 

Patient 

Group 

First Choice Alternative Choice Other Possible 

Treatments 

A Short acting (SA) 

anticholinergic 

or 

SA beta2-agonist 

Long acting (LA) anticholinergik  

or  

LA beta2-agonist  

or  

SA beta agonis and SA anticholinergik 

Theophylline 

B LA anticholinergic  

or 

 LA beta2-agonist 

LA anticholinergic and LA beta2-agonist SA beta2-agonist and/or 

SA anticholinergic 

  

Theophylline 

C ICS + LA beta2-agonist 

or  

LA anticholinergic 

LA anticholinergic and LA beta2-agonist  

or  

LA anticholinergic and PDE-4 inhibitor  

or  

LA beta2-agonist and PDE-4 inhibitor 

SA beta2-agonist and/or 

SA anticholinergic 

  

Theophylline 

D ICS + LA beta2-agonist 

and/or 

 LA anticholinergic 

ICS + LA beta2-agonist and LA 

anticholinergic  

or 

 ICS + LA beta2-agonist and PDE-4 

inhibitor 

 or  

LA anticholinergic and LA beta2-agonist  

or  

LA anticholinergic and PDE-4 inhibitor 

Carbocysteine 

  

N-acetylcysteine 

  

SA beta2-agonist and/or 

SA anticholinergic 

  

Theophylline 

PPOK (terapi pada eksaserbasi akut) 

• Tata Laksana oksigen terkontrol, melalui kanul 

nasal atau venturi mask. 

• Bronkodilator: inhalasi agonis β2 + antikolinergik. 

Pada eksaserbasi akut berat:  + Aminofilin ( 0,5 

mg/kgbb/jam ) 

• Steroid: Prednisolon 30-40 mg PO selama 10-14 

hari. SteroidIV: pada keadaan berat. 

• Ventilasi mekanik. Indikasi: gagal nafas akut atau 

kronik. 

• Antibiotika terhadap S pneumonie, H influenzae, M 

catarrhalis 

 

 

Tuberculosis (diagnosis) 

Tuberculosis (tata laksana) 

Tuberculosis (evaluasi pengobatan) 

Tuberculosis (efek samping obat) 

Tuberculosis (drug induced hepatitis) 

   Bila gejala klinis (+) (ikterik, mual muntah)    stop OAT 

   Bila gejala klinis (+) disertai enzim hati ↑ >3x     stop 

OAT 

   Bila gejala klinis (-) disertai hasil laboratorium berikut: 

   Bilirubin >2    stop OAT 

   Enzim hati ↑ >5x    stop OAT 

   Enzim hati ↑ >3x    teruskan pengobatan dengan 

pengawasan 

 Bila klinik dan laboratorium normal kembali 

setelah penghentian OAT, maka tambahkan 

H (INH) dengan desensitisasi sampai 

dengan dosis penuh  lalu tambahkan 

rifampisin, desensitisasi sampai dengan 

dosis penuh sehingga menjadi RHES. 

Pirazinamid tidak boleh diberikan lagi 

Tuberculosis (koinfeksi HIV) 

   Dilakukan pemberian OAT selama 2-8 minggu 

awal selanjutnya diberikan bersamaan dengan  

ARV 

 

Pneumonia (klasifikasi) 

   CAP (Community acquired pneumonia)    Gejala 

muncul pada individu yang menjadi sakit di luar 

rumah sakit atau dalam 48 jam perawatan di rumah 

sakit.  

   Pneumonia typical (bacterial)    disebabkan oleh bakteri 

yang responsive terhadap B lactam  

   Pneumonia atypical    disebabkan oleh Mycoplasma 

pneumonia yang tidak sensitive pada penggunaan B 

lactam.  

   HAP(Hospital acquired pneumonia)    gejala 

pneumonia yang muncul selama perawatan di Rumah 

sakit dan munculnya > 48 jam perawatan 

Pneumonia (gejala dan 

pemeriksaan) 

   Gejala berupa 2 dari 3 gejala berikut: 

   Demam 

   Batuk dengan sputum yang produktif 

   Leukositosis 

   Pemeriksaan penunjang 

   Foto paru    infiltrat baru atau infiltrat yang 

bertambah  

   Identifikasi penyebab mikrobiologis dengan 

pewarnaan Gram sputum, kultur sputum, kultur 

darah 

 


Pneumonia (Tatalaksana) 

Keseimbangan Asam-Basa 



 

· PNEUMONIA ∙ 

 

Mikrobiologi Pneumonia 

Keadaan klinis  Etiologi 

Dapat dari komunitas  S. Pneumoniae, H. Influenzae, Mycolasma, 

Chamydia Legionella, M. catarrhalis, 

Klebsiell, batang gram negatif lainya, S. 

auereus, S, pyogenes, dan virus (namun 

tidak ada organisme yang dapat 

diindentifikasi pada 40%-60% kasus) 

Didapat di rumah sakit Batang gram negative yang meliputi 

pseudomonas, klebsiella, enterobacter, 

serratia,acinetobacter, dan s.aureus 

Gangguan kekebalan  Semua yan tersebut di atas + PCP, jamur , 

Nocardia, mikobakterium atipikal, SMV, 

HSV, 

Aspirasi  Pasien rawat jalan : flora mulut ( anaerob) 

Pasien rawat inap atau sakit kronis: batang 

gram negatif dan S.auereus. 

 

Manifestasi klinis:  

• ”Tipikal ”: demam dengan onset akut, batuk produktif atau sputum purulen, konsolidasi 

pada foto rontgen toraks. 

• ”Atipikal”: onset batuk kering yang tersembunyi, gejala ekstrapulmonal (mual, muntah, 

diare, nyeri kepala, mialgia, faringitis), pola interstisial dengan bercak-bercak pada foto 

rontgen toraks. 

• Walaupun perbedaan manifestasi ini digunakan secara klinis, studi menunjukann bahwa 

hal ini tidak dapat dipercaya untuk menentukan pemicu  patogen ”tipikal” 

(S.pneumoniae,H.influensae) vs.”atipikal”(mycoplasma,chamydia) 

Pemeriksaan diagnostik 

• Pewarnaan gram sputum : penggunanya masih duiperdebatkan, namun sensitivitas 

untuk pewarna gram yang baik yaitu  sebesar 85% . 

Apakah sempel sputumnya baik (cont:apakah sputum atau ludah)?→ sampel sputum 

yang baik seharusnya mengandung sel epitel <10 sel/LPB 

Apakah sempel purulen?→sampel purulen harusnya mengandung >25 PMN/LPB 

• Kultur sputum: (sampel harusnya dibawa ke laboratorium dalam waktu 1-2 jam setelah 

dikumpulkan) 

• Kultur darah (sebelum antibiotik): + pada ~10% pasien rawat inap  

• Foto rontgen toraks (PA dan lateral); efusi seharusnya diaspirasi! 

• SaO2 atau PaO2 

• Evaluasi laboratorium lainnya : pemeriksaan darah perifer lengkap dengan hitungan 

jenis, elektrolit, BUN/kreatinin, glukosa, kadar fungsi hati. 

• Pemeriksaan mikrobiologi khusus: 


Patogen aptikal : uji sebelumnya untuk mycoplasma (aglutinin dingin, sensitivitas 30-

60% 

Chlamydia (titer akut dan konvalesen ), dan legionella (Ag urine, sensitivitasi <70%) 

sekarang diganti dengan pcr  

Microbakterium tuberkulosis : sputum untuk pewarnaan tanah asam dan kultur 

mikrobakterium dan pasien dalam keadaan isolasi respiratorik HIV + atau imunosupresi 

yang diketahui : sputum yang terinduksi unuk PCP  

Virus : bilasan atau swab nasal untuk EIA tau DFA  

Uji HIV jika  pasien berusia antara 15-54 tahun dan rumah sakit mendapatkan lebih 

besar dari 1 kasus HIV baru tiap 1000 pasien yamg pulang  

• Bronoskopi : pertimbangkan pasien yang mengalami ganguan kekebalan, sakit kritis, atau 

gagal berespons, atau jika curiga mtb atau PCP dan memerlukan sampel yang adekut, 

atau jika pasien telah mengalami suatu pneumonia kronis. 

 

 

Skor, prognosis dan triase yang dianjurkan P.O.R.T 

Kelas Skor Mortalitas Triase yang dianjurkan 

I Usia <50, tanpa penyakit 

penyerta 

<1,0 % Pasien rawat jalan 

II ≤70 <1,0 % Pasien rawat jalan 

III 71-90 2,8 % ? pasien rawat inap 

singkat 

IV 91-130 8,2 % Pasien rawat inap 

) >130 29,2 % ICU 

Variabel Nilai 

Demografi Pria ( usia dalam tahun), wanita (usia-10),  residen pada rumah perawatan 

(+10) 

Penyakit lain 

yang 

mungkin ada 

Neoplasma (+30) penyakit hepar (+20),CHF(+10),CVA(+10), penyakit 

ginjal (+10) 

Pemeriksaan  Perubahan status mental (+20), RR>30(+20), SBP<90 (+20), suhu <35o 

atau 40o (+15), HR >125 (+10) 

Laburatorium  pH < 7,35 (+30), BUN >30 (+20), Na <130(+20), glukosa >250 (+10), 

Hematokrit < 30 (+10) , PaO2 < 60 atau SaO2 < 90 (+10) pleura (+10) 

(N.Engl j med 336 : 243, 1997 

 

   

Penatalaksanaan 

Skenario klinis  Pedoman penatalaksanaan empiris  

Pasien rawat jalan  Makrolit atau doksisiklin atau 

fluorokuinolon anti-pneumokokus (FQ) 

Dapat dari komunitas, bangsal perawatan,  [Sefalosporin generasi 2/3±makrolid] atau 

FQ spektrum luas 

Didapat dari komunitas, bangsal perawatan, 

ICU  

[makrolid + sefalosporingenerasi 3] + 

[aminoglikosida snti-pneumokokis (AG) 


+ makrolid jika curiga legionella  

+ vankomisin jiks curiga MRSA  

Gunakan kekebalan  Seperti diatas + TMP-SMX ± 

Aspirasi, pasien rawat jalan  Klindamisin atau [penisilin + 

metronidazol] 

Aspirasi, pasien, rawat inap  Klindamisin + PQ 

Rute terapi Pasei rawat inap sebaiknya diawali dengan 

antibiotik intravena penggantian rute 

pemberian obat dari intervena menjadi 

peroral dilakukan bila ada respon secara 

klinis dan pasien mampu menelan 

(biasanya dalam 3 hari)  

(jika  memungkinkan, terapi lansung tertuju pada organisme, sebaiknya digunakan 

panduan suseptibilitas in  vitro atau pola resistensi obat setempat)  

 

 

•INFEKSI SALURAN KEMIH• 

Definisi 

• Anatomi  

Bawah : uritritis, sistitis (infeksi superfisialis vesika urinaria), prostatitis  

Atas : pielonefritis (proses inflamasi parenkim ginjal), anses ginjal  

• Klinis  

Tanpa komplikasi : sistitis pada perempuan hamil kelainan neurologis atau struktural yang 

mendasarinya  

Komplokasi : infeksi saluran kemih atas atau setiap kasus ISK pada laki-laki, atau perempuan  

hamil, aau ISK dengan kelainan neurologis atau struktural yang mendasarinya 

Mikrobilogis  

• ISK tanpa kompliksi : E. Coli (80%), proteus, klebsiella, enterokokus  

• ISK dengan komplikasi : E. Coli (30%) enterokokus (20%), pseudononas (20%), S. 

Epidermidis (15%), batang gram negatif lainya. 

• ISK yang berhubungan dengan kateter : jamur (30%), E . coli (25%), batang gram 

negatif lainya, enerokokus, S.epidermis  

• Uritritis : chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae 

Manifestasi klinis  

• Sistitis : piuria urgensi, frekuesi ↑, perubahan warna/ bau urine, nyeri suprapublik; 

demam biasanya tidak ada. 

• Uretritis : mungkin mirip dengan sistitis kecuali adanya discharge uretra 

• prostatitis: serupa dengan sistitis kecuali gejala obstruksi orifisium uretra (cont: hestansi, 

aliran lemah). 

• Pielonefrritis : demam, menggigil, nyeri punggung atau bokong, mual, muntah, diare 

• Abses ginjal (intrarenal atau perinefrik); serupa dengan pielonefritis kecuali demam 

menetap mestipun di obati dengan antibiotik. 

 



• Urinalisis : piuria + bakteriuria ± hematuria 

Hidung bakteri bermakna:≥105 unit koloni/ml pada perempuan yang asimtomatik.≥103 

unit koloni/ml pada laki-laki ≥102 unit koloni/ml pada pasien  simtomatik atau dengan 

karakter piuria steril →uretritis , tuberkulosis ginjal, benda asing. 

• Kultur dan pewarnaan gram urine ( dari urine porsi tengah atau spesimen lansung 

dari katater) 

• Pada perempuan hamil dan pasien yang menjalanin pembedahan urologi lakukan 

skrining terhadap bakteriuria asimtomatik 

• Kultur darah : pertibangkan pada ISK dengan komplikasi  

• Deteksi DNA atau kultur terhadap C. Trachomatis, N.gonorrhoeae pada pasien yang 

kegiatan seksualnya aktif atua pada piuria steril 

• Spesimen urine porsi pertama dan porsi tengah, pemijatan prostat, dan spesimen urine 

pascapijatan prostat pada kasus-kasus kecurigaan prostatitis  

• CT scan abdomen untuk menyingkirkan abses pada pasien pielonefritis yang demamnya 

tidak turun aetelah 72 jam  

• Tindakan diagnostik urolohi (USG ginjal, CT abdomen, sistografi berkemih) jiks ISK 

berulang pada laki-laki 

 

Penatalaksanaan ISK 

Skenario klinis  Pedoman pelaksanaan empiris  

Sistitis  TMP-SMX atau FQ PO selama 3 hari (tanpa komplikasi) atau selama 

10-14 hari (komplikasi) 

Bakteriuria asimtomatik pada perempuah hamil atau pernah mengalami 

pembedahan urologi sebelumnya →antibiotik selama 3 hari    

Uretritis  Tangani untuk Neisseria dan ChlaMydia  

Neisseria; seftriakson 125 mg IM x 1 atau ofloksasin 400 mg PO x 1 

Chlamydia; doksisiklin 100 mg PO x 7 d atau aztromisin 1 g PO x 1  

Prostatitis  TMP-SMX atau FQ PO x 14 – 28 hari (akut) atau 6-12 minggu (kronis)  

Pielonefritis  Pasien rawat jalan; FQ atau amoksilin/klavulanat atau sefalosporin 

generasi I PO selama 14 hari  

Pasien rawat inap; [ampisilin IV + gentamisin] atau 

ampisilin/sulbaktam atau FQ selama 14 hari  

(perubahan IV→PO jika  pasien secara klinis membaik dan tidak 

demam selama 24-48 jam dan kemudian diselesaikan dengan 

pemberian selama 14 hari)  

Abses ginjal  Drainase + antibiotik seperti pada pielonefritis  

(jika  memungkinkan, terapi langsung ditunjukan pada organisme, dapat digunakan 

panduan suseptibilitas in vitro dan pola resistensi obat setempat 

 

∙ INFEKSI TULANG DAN JARINGAN LUNAk∙ 

 

 

Selulitas 

Definisi  

• Infeksi superfisial dan protunda pada dermis dan lemak subkutan 

Mikrobiologis  

• Streptococcus dan stphylococcus (pemicu  yang lebih jaarang) 

Manifestasi klinis 

• Eritema, edema, hangat  

• ± limfadenitis (goresan merah di proksimal) limfadenopati regional  

Diagnosis 

• sebagian besar berdasarkan diagnosis kelinik; asirasi jarum dan kultur darah memiliki 

hasil < 5%  

Penatalaksanaan  

• Antibiotik (biasanya sefalosprin generasi 1 atau penisilin resisten penisilinase) + elevasi 

(mungkin menjadi buruk setelah memulai antibiotik sebab  perubahan bakteri→ 

pelepasen enzim inflamasi) 

 

”KAKI DIABETIKUM” 

 

Definisi  

• Ulkus kaki neuropatik yang mengalami infeksi  

  Ringan = superfisialis, tidak ada sandi atau tulang yang terkena  

  Mengancam jiwa atau ekstremitas = profunda, mengenai sandi dan tulang, toksisitas 

sistemi, atau iskemik pada ekstremitas  

Mikrobiologi  

• Ringan : biasanya S. Aureus atau strepyokokus aerobik 

• Mengancam jiwa atau ekstremitas: Polymicrobial dengan aerob + anaerob 

  Aerob: stafilokokus, enterokokus, dan batang gram negatif lainya (termasuk    

Psedomonas) 

Anaerob: stafilokokus anaerob, Bacteriodes, Clostridium (jarang) 

Manifestasi klinis   

• Ulkus dengan eritema dan hangat di sekelilingnya ± drainase purulenta  

• Rasa nyeri mungkin tidak ada sebab  neuropati  

• ± kripitasi → gas →infeksi campuran dengan batang gram negatif dan anaerob atau 

infeksi Clostridium  

• ± osteomielitis yang mendasarinya  

• ± Toksisitas sistemik ( demam, mengigil, leukositosis, hiperglikemia) 

Pemeriksaan diagnosis   

• Apusan superfisial ulkus tidak berguna (mungkin mendeteksi secara sederhana organisme 

yang berkoloni di superfisia  


• Kultur luka (cont : kuretase pada dasar ulkus setelad debridemam) memiliki ↑ sensitivitas 

terhadap organisme yang menginfeksi 

• Kultur darah (seharusnya dilakukan pada pasien, + pada 10-15 % pasien) 

• Osteomielitis seharusnya selalu disingkirkan ( lihat dibawah untuk uji pencitraan 

spesifik) pemeriksaan tulang ( kemampuan untuk mencapai tulang melalui ulkus/trakus) 

memiliki spesifisitas yang tinggi namun sensitivitasnya rendah. 

Spesimen biopsi tulang paling dapat dipercaya     

Penatalaksanaan ( N Engl J med 331 : 854, 1994) 

• Tirah baring, status tanpa beban berat badan 

• Antibiotik 

Berat infeksi Antibiotik Empiris 

Ringan  Sepalosporin generasi 1 atau penisilin resisten – penisilinase  

Mengancam 

ekstremitas  

FQ + klidamisin atau ampisilin-sulbaktam atau tikarsilin-klavulanat atau 

sefoksitin atau sefotetan 

Mengancam jiwa  Imipenem atau vankomisin + aztreonam + metronidazol atau ampisilin-

sulbaktam + AG 

• Pembedaah: dilakukan secara dini, agresif, dan debridemam bedah yang berulang, 

amputasi mungkin diperlukan. 

 

FASITIS NEKROTIKANS 

Definisi 

• Infesi dan nekrisis fasia superfisialis, lemak subkutan, dan fasia profunda (nekrosis 

arteri dan saraf pada lemak subkutan→gangren) 

• Gangren Foumier: fasitis nekrotikans pada genitalia laki-laki ( digunakan oleh beberapa 

penulis untuk menggambarkan terkenanya perineum perempuan atau laki-laki)   

Epidemiologi 

• ↑ Resiko pada pasien diabetes, PVD, pecandu alkohol, pengguna narkoba intravena, 

imunosupresi, sirosis  

• Dapat pula mengenai individu yang sehat  

Mikrobiologi  

• Kelompok I ( dinding abdomen dan perinium): polimikroba (anaerob + anaerob fakultatif 

+ batang gram negatif) 

• Kelompok II (ekstramitas) : stretococcus pyogenes ± stafilokokus 

• Kelompok III: infeksi vibrio marine 

Manifestasi klinis  

• Tempat infeksi yang paling sering yaitu  ektramitas, dinding abdomen,dan 

psrineum,namun dapat terjadi di mana saja 

• Perubahan kulit berupa selulitis  dengan batas yang sangat tidak jelas, menyebar dengan 

cepat yg diikuti dengan tanda toksisitas sistemik + nyeri melebihi derajat selulitis yang 

tampak,kulit menjadi hiperestetik atau anestetik                                                                                            

Terbentuk bula (serosa →hemoragik); kulit jadi gelap hingga abu-abu kebiruan → 

gangren  

Kutis ± krepitas atau udara yang terlihat secara rediografik  

Tanda Diagnostik 

• Memerlukan kecurigaan klinis drajat tinggi sebab  pemeriksaan fisik yang non-spasifik 

• Aspirasi pada pusat nekroris; kultur darah  

• Pemeriksaan pencitraan: foto polos → udara pada jaringan lunak; CT scan →infeksi yang 

meluas, udara jaringan lunak; MRI → kontas jaringan yang paling baik 

• Diagnosis klinis cukup untuk mengawali eksplorasi pembedahan yang urgen  

Penatalaksanaan  

• Penanganan definitif yaitu  debridemam bedah dari jaringan nekrotik dan fasiotomi 

• Antibiotik spektrum luas agar bisa mencakup flora kulit, enterokokus, enterik gram 

negatif; dan anaerob (cont: klidamisin + panisilin + AG) 

• Oksigen hiperbarik : mengkin bermanfaat untuk membatu terapi, namun sebaiknya 

tidak menunda penanganan pembedahan definitif 

Prognosis 

• Secara umum fatal jika  tidak diobati; mortalisis yang dilaporkan 20-50% 

 

MIONEKROSIS KLOSTRIDIUM (GAS GANGREN) 

 

Definisi  

• Infeksi klostridium pada otot rangka yang mengancam jiwa dan fulminan  

• Biasanya truma otot + luka terkontaminasi bahan yang mengandung spora 

klostridium  

Manifestasi klinis  

• Masa inkubasi 6 jam hingga 2-3 hari  

• Onset akut dengan rasa berat atau nyeri yang intensitasnya bertambah dengan cepat 

disertai toksisitas sistematik yang jelas 

• Diskolorasi pada kulit warna perunggu dengan bula yang tegang yang mengandung 

cairan serosanguinosa atau cairan gelap dan daerah nekrosis 

• Krepitas muncul  namun tidak menonjol (seperti udara dalam otot ) dan mungkin 

dikaburkan dengan edema yang menonjol  

Pemeriksaan Dioagnosis 

• Pewarna gram pada discharge dapat mengandung basil gram positif yang besar 

dengan ujung tumpul namun sangat sedikit mengandung PMN  

• Bakteremia klostridium pada ~ 15% 

• Foto rontgen polos : gambaran diseksi udara di dalam otot 

Penatalaksanaan  

• Eksplorasi pembedahan dengan debridemam pada otot yang terkena, fasiotomi, dan 

amputasi bila perlu  

• Antibiotik: penisilin G dosis tinggi 24 MU IV bibagi tiap 2-3 jam + klindamisin 900 

mg IV tiap 8 jam  

• Oksigen hiperbarik 

 

OSTEMIEITIS 

Definisi  

• Infeksi pada tulang sebab  penyebaran hematogen atau penyebaran langsung dari fokus 

yang berdekatan 

Mikrobiologis (N Eng J med 336: 999,1997) 

• Hematogen : S. Aureus 

• Fokus berdekatan sebab  fraktur terbuka, bedah ortopedi, contoh : S. Aureus dan S. 

Epidermidis 

• Fokus berdekatan + insufisiensi vaskular (seperti kaki diabetikum): polimikrobial (kokus 

gram positif dan batang gram negatif aerob dan anaerob)   

Manifestasi klinis  

• Lemahnya jaringan lunak di sekitar ± fistula ke kulit superfisial  

• Osteomielitis vertebra (manifestasi yang paling sering pada orang dewasa pada berusia 

diatas 50 tahun ) ; nyeri punggung dan demam  

• ± demam, malise, dan keringat malam ( lebih sering pada penyebaran hematogen 

dibandingkan dari tempat yang berdekatan) 

Pemeriksaan diagnostik  

• Identifikasi organisme pemicu  merupakan kunci utama 

• Data kultur dari jaringan ( yang spesimennya di ambil melalui pembedahan atau 

biopsi jarum) bukan dari usapan ulkus atau fistula  

• Kultur darah (  lebih sering positif pada osteomielitis hematogenik akut) 

• Pencitraan  

Foto rentgen polos: normal pada awal penyakit, lesi litik terlihat setelah 2-6 

minggu  

CT scan dapat menunjukan reaksi periosteum dan kortikal serta destruksi daerah 

medularis  

MRY: dapat mendeteksi perubahan yang sangat dini  

Pencitraan radionuklir: sangat sansitif namun tidak spesifik (positif palsu bila ada 

peradangan jaringan lunak yang mendasarinya) 

Penatalaksanaan 

• Antiboitik (berdasarkan pada data kultur) X 4-6 minggu 

• Pembedahan sebaiknya dipertimbangkan untuk hal berikut: osteomielitis vertebral 

piogenik ( seperti : kompresi medula spinalis, abses, epidural); atau prostesis yang 

terinfeksi  

 

٠MENINGITIS٠ 

MENINGITIS BAKTERIAL AKUT 

Definisi 

• Infeksi bakteri pada ruang subaraknoid 

 

Mikribiologi Meningitis pada Orang Dewasa  

Etiologi  Keterangan  

S. Pneumoniae 

(30-50%) 

pemicu  paling sering pada orang dewasa. Cari penyebaran infeksi ( i.e,trias 

Osler : meningitis, pneumonia, endokarditis)  

N. 

maningitidis 

(10-35%) 

Terutama pada anak-anak dan dawasa muda; mungkin berhubungan dengan 

ruam berupa peteki atau purpura. Defisienisi pada  pada komponen 

komplemen terminal yang merupakan faktor predisposisi menigokoksemia 

rekuren, dan lebih jarng, meningitis 

 

H. influenzae  

( < 5% ) 

↓ insiden pada anak-anak sebab  vaksin H.influenzae tipe b. Cari faktor 

pencetus pada orang dewasa (seperti kebocoran LCS, prosedur bedah saraf 

yang baru dilakukan, trauma, mastoiditis) 

 

 

L. 

monocytogenes 

(5-10%) 

Terjadi pada orang tua, pecanco alkohol, atau pasian dengan keganasan, 

imunosupresi, atau kelebihan zat besi. Wabah dihungkan dengan susu yang 

terkontaminasi, keju, kubil kol, sayuran mentah, selain yang disebutkan, 

sering dihubungkan dengan pleositosis poli-predominan  

Batang gram 

negatif ( 1-

10%)  

Biasanya nosokomial, pasca-tindakan, pada orang tua atau yang tanggap 

imunnya lemah  

Stafilokokus 

(5%) 

Terlihat pada pemasangan pirau LCS indwelling (S. Epidermidis) atau setelsh 

menjalani bedah saraf mengikutinya atau truma kapitis (S.auerus) 

Infeksi 

campuran  

Curiga fokus paramenigeal 

 

Manifestasi Klinis  

• Demam (95%) 

• Nyeri kepala, lehar kaku (85%) dan fotosensitif 

• Perubahan setatus mental (80%) termasuk delirium, penurunan kesadaran, konfusi, 

letergi, kejang  

• Penampakannya mungkin atipikal pada pasien tua, dengan letergi dan konfusi primer, 

dan tanpa demam 

Pemeriksaan fisik 

• Kaku laher tanda kernig ( pasien supinasi dengan finggul fleksi pada 900, dan lutut fleksi 

pada sudut 900 positif apbila ekstansi pasif pada lutut menghasilkan tahanan);  tanda 

Brudzinski ( pasien supinasi dan ekstremitas supinsi; positif jika  fleksi lehar 

pasif→fleksi lutut dan/ atau pinggul secara involuter); catatan, tanda kernig dab 

Bruzinski positif hanya pada lebih kurang 50% pasien  

• ± temuan neurologik fokal ( hemiparesis, afsia, menyempitnya lapangan pandang, palsi 

saraf kranialis) 

• ± Papiledema 

• ± Raum kulit : makula-papular, peteki, atau purpura 

Pemeriksaan diagnostik 

• Punksi lumbal : pewarnaan gram pada CCS memiliki sesitivitas 60-90% dan kultur 

memiliki sensitivitas 70-80% 

Pertimbangkan Ct scan kepala sebelum LP jika  ada  ganguan neurologik fokal,     

papilledema, atau pasien koma 

Temuan CSS pada meningitis  

Kondisi Tampilan Tekanan (cm) WBC/mm3 

tipe 

predominan 

Glukosa 

(mg/dl) 

TP (mg/dl) 

Normal Jernih 9-18 0-5 

limfosit 

50-75 15-40 


Bakterial Berkabut 18-30 100-10,000 

PMN 

< 45 100-1000 

TB berkabut 18-30 < 500 limfosit < 45 100-200 

Fungal berkabut 18-30 <300 limfosit < 45 40-300 

Aseptik Jernih 9-18 < 300 PM → 

limfositr 

50-100 50-100 

Tekanan pembuka > 45 cm beresiko tinggi terjadinya herniasi sehingga hanya 

ambil CSS pada manometer dan infuskan larutan manitol 20 % (0,25-0,5 g/kg) IV 

selama 20-30 menit  

• Pemeriksaan CSS tambahan tergantung pada kecurigaan klinis : pewarnaan tahan asam 

dan kultur, pewarnaan preparat india, atigen kriptokokus (CRAG), kultur fubgsi, PCR ( 

seperti:HSV); kegunaan asai aglutinasi yang masih dipertanyakan  

• Kultur darah  


 

( Langkah 1 tempatkan penggaris pada daris baca untuk pasien dan bulan munculnya gejala 

dan tandai garis potongnya dengan garis A. Langkah 2. tempatkan penggaris pada nilai untuk 

gulukosa dan PMN total dalam LCS dan tandai garis potongnya dengan garis B. Langkah 3. 

gunakan penggaris untuk menghubungkan tanda-tanda tersebut pada garis A dan B, 

kemudian baca kemungkinan pada ABM vs AVM. Digunakan atas ijin dari spanos, A, H, 


harrel, F E, E Jr, Drurack,D.T differentail diagnosis of acute meningitis. JAMA 262 

:2700,1989.© 1989,AMA).    

 

   

 

 

Penatalaksanaan meningitis 

Skenario 

klinis  

Pedoman penatalaksanaan empiris  

Dewasa 

normal 

Sertriakson 2 g IV setiap 12 jam atau sefotaksim 2 g IV setiap 4-6 jam + 

Vankomisin 1 g IV setiap 12 jam ( pada kasus pneukokokus resisten 

sefalosporin) 

+ Apisilin 2 g  IV setiap 4 jam jika  curiga Listeria  

kloramfenikol + TMP/SMX + Vankomisin jika  alergi ß-laktam  

Ganguan 

imun  

Apisilin + dseftazidim ± vankomisin  

Pirrau CSS, 

baru 

menjalani 

bedah saraf, 

atau trauma 

kapitis 

Vankomisin + sefazidim 

Antibiotik empiris sebaiknya diawali sesegera mungkin. jika  berkanaan dengan ↑TIK, 

kemudian periksa kultur darah →mulai antibiotik empiris → lakukan CT scan kepala → LP (jika 

tidak ada kontraindikasi); hasil cairan CSS mungkin tidak mengalami perubahan jika  

didapatkan dalam waktu kurang lebih 4 jam dari pemberian antibiotik pertama kali 

Kortikosterroid: tidak ada bukti yang meyakinkan untuk pengguna rutin pada orang dewasa 

namun, jika  TIK ↑, edema serebri, stupor atau koma, pertimbangkan pemberian 

deksametason 1 g IV setiap 6 jam selama 4 hari 

Profilaksi : rifampin (600 mg PO 2x1x2 hari) atau siprofloksasin (500 mg PO dosis tunggal) 

untuk kontak dekat pada pasien dengan meningitis meningkokus 

(jika  memungkinkan, terapi langsung terhadap organisme, dapat digunakan paduan 

suseptibilitas in vitro atau pola resistensiobat setempat)  

 

Prognasis  

• Motartlitas di dalam rumah sakin 25% untuk menigitis yang didapat dari komunitas dan 

35 % untuk meningitis nosokomial 

 

 

MENINGITIS ASEPTIK 

Definisi  

• Data mikrobiologi negatif untuk bakteri,  pleositosis pada CSS tanpa predominasi 

PMN  

• ”Aseptik” yaitu  istilah yang salah, hanya dipakai untuk menyatakan kecilnya 

kemungkinan meningitis bakterial akut, walaupun hal ini tetap saja bisa disebabkan oleh 

etiologi yang enfeksius maupun yang noninfeksius. 

 

 

Etiologi 

 

• Virus: eneterovirus, HIV, HSV, (tipe 2 lebih sering  dari pada 1), gandongan, virus 

koriomeningitis limfoksitik, virus esefalitis (seperti: Eastern, wastern, St. Louis, 

California), adenovirus, SMV, EBV 

• Tuberkulosis, fungsi, spirochaeta (penyakit Lyme, sifilis, leptospirosis), riketsia, 

Coxiella, Ehrlichia 

• Meningitis bakterial dengan pengobatan yang tidak tuntas  

• Fukos infeksi parameningeal (seperti : abses otak, abses epidual, tromboflebitis septik 

pada sinus venosa duramater, atau empiema subdural) 

• Obat – obatan : TMP/SMX, NSAID, penisilin, isoniazid 

• Penyakit sistemik: SLE, sarkoidosis, sendrom Behcet, sindrom Sjogren, arthritis 

reumatiod 

• Neoplasma : tumor intrakranial (atau kista), meningitis limfomatosa atau korsinomatosa 

 

• ENDOKARTIDIS BAKTERIALIS• 

Definisi 

• Infeksi edotelium jatung (termasuk namun tidak terbatas pada katup) 

• Akut (ABE): infeksi pada katup normal dengan suatu organisme virulen (seperti : 

S.aureus) 

• Sabukat (SBE): infeksi lamabat pada katup abnormal dengan organisme yang kurang 

virulen (seperti. S.viridans) 

Kondisi pendukung  

• Katup abnormal: penyakit katup jantung rematik, MVP dengan MR, klasifikasi katup 

aorta atau bikuspid, prostesis 

• Resiko bakteriemia abnormal : pengguna narkoba intravena, pemasangan kateter vena 

indwelling 

 

Kriteria Duke 

Mayor  Minor  

• Bakteremia yang menetap sebab  

suatu organisme yang diketahui 

memicu  endokarditis 

• Terkenanya endokardium yang 

diketahui baik dari: ekokardiogram( 

vegetasi, abses perforasi katup, 

prostesik terbuka) atau regurgitasi 

katup baru yang dipatiskan  dengan 

jelas 

• Kondisi pendukung (lihat diatas) 

• Demam  

• Fenomena vaskural : arterial septik 

atau emboli paru, aneurisma mikotik, 

perdarahan intrakranial, lesi janeway 

• Fenomena imun: glomerulonefritis, 

nodus osler, bercak Roth, faktor 

reumatiod 

• Kultur darah + tidak sesuai denga 

kriteria mayor 

• Ekokardiogram + tidak sesuai dengan 

kriteria mayor 

Diognisis definitif (kemungkinan besar) jika 2 kreteria mayor, atau 1 kreteria mayor +3 kreteria 

minor, atau 5 kreteria minor 

(Am J med 96:200,1994) 

 

Mikrobiologi pada endokarditis 

Endokarditis katup asli (NVE) Endokarditis katup prostetik 

(PVE) 

 

 

Etiologi Bukan 

pengguna 

narkoba 

interavena 

Pengguna 

narkoba 

intravena 

Awal (< 6 bulan 

pascaoperasi) 

Lanjut (>6 

bulan 

pascaoperasi) 

S. viridans 50% 10% <10% 35% 

Sterptokokus 

lainya 

5% <5% <5% <5% 

Enterokokus 10% 8% <5% 10% 

S. aureus 20% 60% 15% 10% 

S.epidermidis 5% <5% 40% 20% 

Batang gram 

negatif 

< 5% 10% 10% < 5% 

lainya < 5% < 5% 10% 10% 

Kultur negatif < 5% < 5% < 5% < 5% 

Kultur negatif = steptokokus defisiensi-zat gizi, HACEK (Haemophilus Parainfluenzae dan 

Aphrophilus, Cardiobacterium, Eikenella, dan kingella), Bartonella, Coxiella, Chlamydia, 

Legionella, Brucella 

Diadaptasi dari karchmer,A,W. Infective Endocarditis. In Braunwald, E., ed,. Heart Disease, ed. 

Ke -5, 

Philadelphia: W B Saunders Company, 1997.) 

 

Manifestasi klinis 

• Bakterimania persisten : demam (80-90%), anoreksia, penurunan berat badan, fatigue  

• Infeksi perivalvular atau valvular: regurgitasi katup baru, abnormalitas hamtaran, 

gagal jatung kongestif 

• Emboli septik: lesi janeway, emboli sistematik (seperti pada SSP, ginjal, lien, atau sendi) 

emboli paru (dengan endorditis sisi kanan) aneurisme  mikotik, Ml ( embolus arteri 

koronaria) 

• Fenomena kompleks imun: Nodus Osler, artritis, glomerulonefritis, RF +, ESR ↑ 

Pemeriksaan fisik 

• HEENT : bercak roth (perdarahan retina dengan bagian tengahnya pucat ) peteki 

(konjungtiva, palatum) 

• Jantung : regurgitasi valvular ± thrill ( ruptura korda tendinea atau valvular fenestrata), 

prostetik bergetar, bunyi katup, gesekan perikardium. Pemeriksaan berkala terhadap bukti 

perubahan murmur,dsb. 

• Abdomen : splenomegali yang nyeri tekan  

• Eksremitas 

Lesi janeway, (tiadak nyeri, makula hermoragik pada telapak tangan dan kaki) 

Nodus Osler (nodul nyeri pada bantalan jari) 

Hermoragik spliner proksimal bantalan kuku clubbing ( jari tubuh) 

 

 

Pemeriksaan diagnosis 

• Kuktur darah ( sebelum melalui antibiotok) : piling sedikit 3 set ( botol aerobik dan 

anaerobik) dari dari tempat yang berbeda, idealnya ditempatkan paling sedikit stu jam 

terpisah. Periksa pengawasaqn kultur darah (paling sedikit 2 set) setelah antibiotik yang 

tepat mulai diberikan untuk mencatat klirens, ulangi setiap 24-28 jam sampai hasilnya 

negatif  

• Hitung darah lengkap dengan hitung jenis,LED, faktor reumatoid, BUN, kreatinin, 

urinalisis dan kultur urine 

• Elektrokardiaogram (ketika dirawat dan pada interval reguler ); untuk menilai 

abnormalitas hantaran yang baru. 

• Ekokardiogram: pertama-tama mencari TTE : pertimbangkan TEE jika   (1) TTE 

non-diagnostik; prostetik; atau, (3) curiga infeksi yang progresif atau invasit 

(seperti:bakteremia persisten atau demam, abnormalitas hantaran yang baru, pirau 

intrakadiak,dll) 

 

Sensitivitas  Metode  

NVE PVE Abses  

Transtoraksikus (TTE) 50% 36% 28% 

Transesofagus(TEE) >90% 82% 87% 

(Ches 100:352:1991; Eng J Med 324:795,1991; J Am Coll Cardiol 

18;391,dan AM J Cardiol 71:201,1993 

Penatalaksanaan  

• Cari dula data kultur  

ABE→antibiotik sebaiknya dimulai tepat setelah data kultur diperoleh 

SBE→jika  hemodinamika pasien stabil, antibiotik mungkin ditunda untuk 

pemperoleh data kultur darah yang akeuat dan lebih tepat, terutama pada kasus yang 

belum diberikan antibiotik 

• Terpi empiris yang dianjurkan  

ABE katup asli:[nafsilin + gentamisin] atau [vankomisin +gentamisin] jika  prevalensi 

MRSA tinggi 

SBE katup asli : panisilin/ampisilin + gentamisin  

Katup prostetik: vankomisin + gentamisin + rifampin 

• Atur rigmen antibiotik berdasarkan organisme pemicu  dan sesitivitasnya  

• Ulagi kultur darah 4 kali hingga pasien bebas demam  

• Demam mungkin tetap tinggi hingga minggu pertama setelah pemberian terapi antibiotik 

yang tepat  

• Antukoagulasi sismetik merupakan kontraindikasi relatif terhadap resiko kejadian emboli 

serebri hemoragik 

• Durasi terpi biasanya 4-6 minggu (dengan pengguna AG hanya untuk 2 minggu pertama 

), kecuali pada kasus endokarditis sisi kanan tanpa komplikasi, yang pada 2 minggu 

terapi akan mendapatkan hasil yang berdeda  

Indikasi pembedahan  

• Keputusan untuk memulai pembedahan sering kali sulit dan perlu melalui kolaborasi 

yang cermat dengan ahli bedah sejawat. Secara umum, cobalah untuk memberikan 

atibiotik selama mungkin dengan harapan penurunan insiden munculnya kembali infeksi 

pada prostesis, dan juga meningkatkan integritas struktural jaringan yang akan menerima 

prostesis tersebut 

• Emboli septik serebri sering dipertimbangkan sebagai suatau kontraindikasi untuk 

melakukan pembedahan segera sebab  tingginya resiko konversi perdarahan selama 

operasi bypass kardiopulmonal sema 10 -14 hari pertama  

• Indikasi untuk pembedahan  

Gagal jatung kongestif refrakter (yaitu: walaupun ada terpi medis maksimal , setingkat 

ICU) 

Infeksi yang refrakter atau menetap (seperti kultur darah + setelah satu minggu 

dengan antibiotik intravena yang sesuai) 

Inveksi yang invasif (seperti abses berbentuk cicin, defek hantaran yang memburuk) 

Katup prostetik, terauma dengan malfungsi atau terbukanya katup atau infeksi S. 

Aureus 

Emboli sistematik yang rekulen 

Infeksim jamur  

 

Profilaksis Edokarditis  

Keadaan jantung  Resiko tinggi: katup prostetik, riwayat endokarditis, penyakit jantung 

kongenital sianotik yang komplek, pirau atau saluran pulmonik sistemik 

yang dibuat  dengan pembedahan 

Resiko sedang: kebanyakan jatung kongenital lainya, penyakit katup 

jantung didapat katup aorta bikuspidalis,MVP dengan kuspid yang menebal 

atau regurgitasi,HCM 

Prosedur  Gigi: ekstraksi, prosedur periodontal, iplantasi, salutan akar pembersihan  

Pernapasan: bedah pada mukosa repiratorik, bronkoskopi rigid 

Saluran cerna : skleroterapi dilatasi esofagus, ERCP dengan obstruksi 

kandung empedu, bedah usus atau traktus, biliaris  

Saluran kemih: bedah prostat, sistoskopi, dilatasi uretral  

Regimen  Prosedur gigi, pernapasan, atau saluran cerna  

Amoksilin 2 g 1 jam sebelumnya  

(klindamisin 600 mg jika alergi pinisilin) 

Saluran cerna/kemi + kondisi berisiko sedang 

Amoksisilin 2 g 1 jam sebelumnya atau ampisilin 2 g IM/IV dalam 30 

menit tindakan  

(Vankomisin 1 g IV jika alergi penisilin) 

Saluran cerna/kemih + kondisi berisiko tinggi  

ampisilin 2 g IM/IV + gentamisin 1,5 mg/kg dalam 30 menit tindakan 

diikuti dengan ampisilin 1 g IM/IV atau amoksisilin 1 g PO 6 jam 

kemudian  

(vankomisin 1 g IV + gentamisin seperti diatas bila alergi penisilin)  

(JAMA: 277: 1794, 1997)  

  

•TUBERKULOSIS• 

Epidemiologi   

• Prevalensi di amerika serikat : 10-15 juta orang: perkiraan prevalensi penyebaran 

diseluruh dunia 1,7 milyar orang  

• ↑ insiden di amerika serikat antara tahun 1984 dan dan 1992 sebab  HIV, kemiskinan, 

gelandangan, imigrasi, dll 

• insiden populasi yang tinggi: terlahir asing, pelayanan medis yang tidak adekut, penghuni 

rumah perawatan/penjara, beberapa pekerja perawatan kesehatan 

• risiko pupulasi yang tinggi : berkontak dengan pasien yang berinfeksi, HIV + atau 

imunodefisiensi lainya, gagal ginjal kronis, diabetes melitus, IVDA, alkohlik, malnutrisi 

Mikrobiologi dan patogenesis 

• Penyebaran Mycobacterium tuberculosis melalui partikel kecil aerosol (seperti: nuklei 

droplet) 

• 90% dari penjamu normal yang terinfeksi tidak akan pernah berlanjut menjadi penyakit 

yang terbukti secara klinis, 10% lagi akan berlanjut  

• risiko reaktivitas (setelah konversi PPD) yaitu  ~2 % tahun selama 2-3 tahun pertama 

setelah infeksi  

Gambar 6.2. Patogenesis Penyakit TB 

inti droplet yang mengandung kuman TB

replikasi pada lobus dependen

reaksi lokal

penyebaran

 limfatik

penyembuhan

kalsifikasi

TB  progresif

primer

pneumonia

kavitas

efusi

penyebaran hematogen

sembuh

infeksi laten

reaktivitas TB

apikal

limfatik

tulang

meningeal

saluran cerna/kemih

milier

TB progresif

apikal

limfatik

meningeal

milier

penyembuhan

cepat

 

(Courtesy of Nesli Basgoz, MD,MGH) 

  

Skrining terhadap infeksi 

• Orang yang perlu diskrining : populasi ysng tinggi prevalensi dan risikonya  

• Cara melakukan skrining : uji tuberkulin Mantoux (seperti: purified derivative atau 

PPD) suntikan 5-TU (0,1ml) PPD kekuatan sedang intradermal →benjolan; periksa 

dalam 48-72 jam  

• Cara menginterpretasikannya: menentukan diameter maksimal pada indurasi dengan 

palpasi ≥5mm +: kontak dengan pasien infeksius; rontgen toraks foto TB lama yang 

sudah sembuh; HIV + atau tak diketahui namun berisiko tinggi 

≥10mm +: populasi berisiko tinggi atau prevalensi tinggi  

 ≥15mm +: semus orang  

negatif palsu : aplikasi yang salah, anergi.TB primer yang baru terjadi (10-25% awalnya 

negatif), infeksi akut non-TB, keganasan 

positif palsu: pembacaan yang tidak tepat, reaksi silang dengan penyakit atipikal, dalam 2 

tahun vaksinasi BCG (walaupun biasanya <10mm) 

• Efek booter:↑ indurasi sebab  penguatan imunologi yang ada melalui uji kulit 

sebelumnya pada seorang individu yang pernah tersensitisasi (misalnya infeksi) uji ini 

bisa dari negatif menjadi positif, namun hal ini bukan berarti suatu konversi nyata akibat 

infeksi yng baru saja ter jadi. Uji kedua yaitu  kondisi dasar pasien yang benar, efek 

booster dapat terlihat sapai 1 tahun setelah uji kulit yang pertama kali dilakukan 

Manifestasi klinis 

• Pneumonia tuberkulosis primer: kondisi lodus interior atau media, efusi ±, kavitas ±  

• Tuberkulosis pleura: dapat terjadi bersamaan dengan penyakit primer atau yang 

mengalami reaktivasi. sebab  pecahnya granuloma  sehingga isinya tumpah kedalam 

kavum pleura dan terjadi peradangan setempat, efusi paru ± efusi paru perikardium dan 

perikardium dan peritoneum (tuberkulosis poliseroitis) 

• Penyakit tuberkulosis paru reaktivasi: jaringan parut apikal + kavitasi 

• Tuberkulosis milialis: onset akut atau perlahan; penyebaran luas sebab  bersifat 

hematogenik biasanya pada pasien yang mengalami gangguan kekebalan, diabetes, 

alkoholik, atau pasien kurang gizi. Gejala konstitusional (demam, keringat malam, 

penurunan berat badan) menonjol penyakit paru yang lesi yang menyerupai biji padi 

yang kecil (2-4mm) pada foto rontgen otraks 

• Tuberkulosis ekstraparu: perikarditis,peritonitis, meningitis, nefritis, osteomielitis, 

hepatitis, limfadenitis,kutaneus 

• Tuberkulosis dan infeksi HIV: pasien yang terinfeksi HIV dan mengalami gangguan 

kekebalan lainya berisiko mengalami reaktivitas dan infeksi primer takterkontrol yang 

progresif. Seluruh pasien yang infeksinya HIV sebaiknya menjalani uji PPD sebagai 

bagian dari evaluasi dasar pemeriksaan laboratorium awal dan selanjutnya dikerjakan 

setiap tahunnya. 

Pemeriksaan diagnosis  

• Pulasan tahan asam (diagnosis cepat) dan kultur (lebih sensitif dan memicu  uji 

suseptibilitas) pada sputum, lavase alveolar bronkoskopik, pleura, atau spesimen klinis 

lainya  

• PCR: sensitivitas 94-97% jika  dibandingkan dengan pulasan; sesitivitas 40-77% 

jika  dibandingkan dengan kultur 

Terapi peventif  

• Singkirkan penyakit aktif dengan setiap pasien dengan tanda atau gejala yang 

mencurigakan sebelum memulai pemberian INH 

• Profilaksis yang sesuai mengurangi insiden penyakit berikut hingga 65-75% 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

• Perlu menyesuaikan terapi berdasarkan prevalensi dalam populasi ( yang akan 

mempengaruhi nilai prediktif positif pada”PPD + ”) dan risiko infeksi yang tidak 

terobati pada pasien tersebut 

• Monitor adanya hepatitis : jika aminottransferase meningkat 5x normal atau simtomatik 

→ hentikan obat anti-TB dan evalusi kembali 

Penatalaksanaan tuberkulosis  

• Isolasi pasien  

• Gunakan regimen yang terdiri dari kombinasi obat terhadap organisme yang rentan 

• Meningkatkan kepatuhan terapi; terapi observasi secara langsung (DOT) yang hemat 

biaya untuk pasien dengan resiko tinggi untuk tidak patuh 

 Kelompok usia (tahun) 

Kategori <35 ≥35 

Resiko tinggi (kontak pasien yang 

terinfeksi, foto toraks abnormal, HIV + 

Obati jika  PPD ≥ 5 mm 

Resiko sedang (penyakit kronis, 

imunosupresi) 

Obati jika  PPD ≥ 10 mm 

Terhadapat konversi dari uji kulit 

sebalum (sebelum dalam 2 tahun) 

Obati jika  PPD + berdasarkan pada pedoman skrining diatas 

Populasi insiden tinggi Obati jika  PPD ≥ 10 mm Jangan di obati 

 Obati jika  PPD ≥ 15 mm Jangan dio bati 

(AM J Resp Crit Care 149:1359,1994 

 

Skenario  Regimen  

Mungkin sensitif INH INH 300 mg PO 4x1 + piridoksin 50 mg 4x1  

Foto toraks abnormal atau HIV +  INH 300 mg PO 4x1 piridoksin 50 PO 4x1 

selama 12 bulan  

Kasus kontak yang resisten INH  RIF +PZA selama 2 bulan  

Kasus kontak yang diketahui atau dicurigai 

resisten terhadap berbagai kombinasi obat TB 

Tidak ada regimen yang terbukti :? PZA +ETB 

? PZA+FQ  

(INH=isoniasid, RIF=rifampin,PZA=pirazinamid,ETB=etambutol, FQ = fluorokuinolon)  

 

Boat-obatan Anti-tuberkulosis 

Obat  Dosis  Efek sampaing 

Isoniasid (INH) 300 mg POx 

4x1 

Hepatitis, neuropati perifer (dicegah dengan 

piridoksin yang diberikan bersamaan), 

sindrom  menyerupai lupus 

Rifampin (RIF) 600 mg PO 4x1 Diskolorasi jingga atau urine/air mata, 

hepatitis, gangguan saluran cerna, 

hipersensitivitas, demam 

 

Pirazinamid (PZA) 25 mg/kg POx 

4x1 

Hepatitis, hiperurisemia, anritis  

Etambutol (EMB) 15 - 25 mg/kg 

PO x 4x1 

Neuritis optika  

Streptomisin (SM) 15 mg/kg  IM x 

4x1 

Ototoksikosis, netrotoksikosis 

Amiksin (AMK) 15 mg/kg  IM x 

4x1 

Ototoksikosis, netrotoksikosis 

Siprofloksasin (CIP) 15 mg/kg  PO x 

2x1 

 

 

Regimen anti-tuberkulosis 

Skenario  Regimen  

TB paru ≥4% resisten INH, dalam komunitas 

(termasuk terbanyak di amerika serikat) 

INH+RIF+PZA+ETB sampai suseptibilitas 

diketahui jika  sensitive terhadap INH & 

RIF → INH+RIF +PZA selama 2 bulan 

kemudian→INH + RIF selama 4 bulan jika  

resisten, lihat dikolom berikutnya 

 TB yang sesisten obat (INH,RIF, atau resisten 

obat kombinasi) 

Konsul ke ahli paru 

TB ekstrapulmoner Konsuk ke ahli paru 

TB pada pasien HIV + Konsul ke ahli paru 

 

• HIV/AIDS• 

Definisi  

• AIDS:HIV + hitung CD4 <200/mm3 atau infeksi oportunistik atau keganaan  

Epidemiologi 

• Sekitar 1 juta warga amerika terinfeksi HIV; pemicu  utama kematian pada kelompok 

usia 25-44 tahun 

• Rute: kontak seksual (penularan 0,3 % dari sesama laki-laki, 0,2 % dari laki-laki ke 

perempuan, dan 0,1 % dari perempuan ke laki-laki), pengguna narkoba intravena, 

transfusi, jarum suntik tidak steril (0,3%), vertikal (15-35%) 

Sindrom retrovirus akut (ARS) 

• Terjadi pada sekitar 40% pasien HIV +, lebih kurang 4 minggu setelah infeksi,ELISA-, 

isi virus +  

• Manifestasi : sindrom menyerupai mononukleosis ± lesi makulopapular berwarna 

salmon  

Pemeriksaan diagnostik  

• ELISA untuk Ab HIV-1: (+) 1-12 minggu setelah infeksi akut: sesitivitas dan spesifisitas 

90% ; uji skrining primer 

• Weatern blot: (+) jika  ≥ 2 garis dari daerah berbeda genom HIV; sebagai tes 

konfirmasi setelah uji ELISA (+) 

• PCR (kandungan virus): mendeteksi RNA HIV-1 di dalam plasma; kenaikan 3-4 kali 

lipat (0,5-0,7 log) merupakan perubahan yang dipertimbangkan bermakna  

• Hitung CD4: bukan merupakan suatu uji diagnostik, mungkin HIV(+) dan hitung 

CD4nya normal atau mungkin memiliki hitung CD4 rendah dan bukan HIV (+); hitung 

CD4 pada panyakit akut mungkin bisa ↑ atau palsu ↓ 

Pendekatan awal pada pasien HIV (+) 

• Buktikan infeksi HIV (jika  pembuktian yang adeakut tidak tersedia, ulangi 

pemeriksaan diagnostik) 

• H&P (bukti infeksi oportunisik, keganasan, penyakit menular seksual), periksa seluruh 

pengobatan 

• Evaluasi laboratorium :  hitung CD4, muatan virus ( gunakan asal yang sama tiap kali 

periksa), pemeriksaan darah tapi lengkap dengan hitungan jenis, kreatinin, uji fungsi 

hepar, uji kulit TB, sifilitis, toksoplasmosis, sitomegalovirus, dan serologi hepatitis, foto 

rontgen toraks dasar , pap smear pada wanita  

• Pengguna obat antiretrovirus seharusnya dilakukan atas konsultasi dengan ahli HIV 

sebagai rekomendasi pengobatan lanjutan dan banyak dari obat-obatan ini berpotensi 

menghambat atau memicu sitokrom p450, sehingga memerlukan penghentian atau 

penambahan obat lain. 

Dibawah ini beberapa pedomannya 

• Indikasi untuk memulai terapi  

AIDS atau HIV simtometik (seperti: penyakit infeksi jamur, demam yang tidak 

diketahui pemicu nya) 

Asimtometik) + baik muatan virus yang tinggi (>10-20000 buah/ml) atau hitung CD4 

yang rendah (<500/mm3)  

• Regimen : grup A NA + grup B NA +PI (atau NNRTI) monoterapi dan terapi ganda 

tidak dianjurkan 

• Muatan virus seharusnya ↓ 3-4 kali lipat (0,5-0,7 log) dalam 2-8  minggu dan setelah uti 

penurunannya berlanjut terus; tujuannya yaitu  muatan virus yang tak terdeteksi dalam 6 

bulan  

• Pemberian awal antiretrovirus bisa memperburuk sementara waktu gejala infeksi 

oportunistik selama beberapa minggu sebelum respons imun ↑ 

• jika  terapi perlu dihentikan , hentikan seluruh antiretrivirus untuk meminimilkan 

perkembangan resistensi 

• Regimen yang gagal = tidak mampu mencapai muatan virus yang tak terdeteksi, ↑ 

muatan virus, ↓ hitung CD4, atau deteriorasi klinis 

Antiretrovirus  

Obat Tipe   Dosis tipikal  Efek samping  

Zidovudine (AZT)  NRTI 

(grup 

A) 

200 mg 3x1 

300 mg 2x1 

Supresi sumsum tulang 

Intoleransi saluran cerna, HA, 

insomnia, hepatitis  

Stavudine (d4T) 

Zerit  

NRTI 

(grup 

A) 

40 mg 3x1 

(40 mg 2x1 jika 

BB< 60 kg) 

 Neuropati perifer  

Pankreatitis, hepatitis (jarang) 

 

 

 

Dinadosin (dll) 

Videx 

NRTI 

(grup 

B) 

200 mg 2x1 

(125 mg 2x1  

jika BB< 60 kg 

Pankreatitis, neuropati perifer 

intoleransi saluran  

cerna, hepatitis (jarang) 

Zalcitabine (ddC) 

hivid  

NRTI 

(grup 

0,75 md 3 x 1 Neuropati stomatitis, hepatitis (jarang) 


B) 

Lamivudine (3TC) 

epivir 

NRTI 

(grup 

B) 

150 mg 2x1 

(2 mg 2x1  

jika BB< 50 kg 

Toksisitas minimal  

Hepatitis (jarang) 

Nevirapine  

viramune 

NNRTI 200 mg 2x1 Raum, hepatitis  

Menginduksi sitokrom p450 

Delavirdine 

Rescriptor 

NNRTI 400 mg 3x1 Ruam, nyeri kepala menghambat 

sitokrom P450 

Efavirenz  

Sustiva  

NNRTI 600 mg tiap 4 jam  Efek,SSP, ruam, hepatitis campuran 

antara menginduksi/ menghambat 

sitokrom p450 

Indinavir  

Crixivan 

PI 800 mg 3x1 (puasa) Netrolitiasis, intoleransi saluran cerna ↑ 

uji fungsi hati, redistribusi lemak, 

menghambat sitokrom p450 

Ritonavir  

Norvir 

PI 600 mg 2x1 

(dengan makan) 

Intoleransi saluran cerna, 

parestesia,↑uji fungsi hati, redistribusi 

lemak menghambat p450 

Saquinivir  

Fortovase 

PI 1200 mg 3x1 

(dengan makan) 

Intoleransi saluran cerna, nyeri kepala ↑ 

uji fungsi hati, DM, redistribusi lemak, 

menghambat p450 

Nelfinavir  

Viracept  

PI 1250 mg 2x1 

(dengan makan)  

Diare,DM, redistribusi lemak, 

menghambat p450 

Amprenavir 

agenerase 

PI 1200 mg 2x1 Ruam, intoleransi saluran cerna, 

redistribusi lemak, menghambat p450 

(NRTI= nucleoside reverse transcriptase inhibitor, NNRTI= non nucleoside, RTI;PI= protease  

 

Profiklaksis infeksi oportunistik 

IO Indikasi  Profilaksis  

Tuberculosis  PPD (+) (≥ 5mm) atau 

pajanan berisiko tinggi 

(lakukan pemeriksaan PPD 

tiap tahun ) 

INH + vitamin B6 selama 12 bulan 

atau RIF+PZA selama 2 bulan   

PCP  Hitung CD4 < 100/mm3/ atau 

infeksi jamur atau FUO  

TMP-SMX SS 4x1 atau dapsone 

100 mg 4x1 atau atovaquone 750 mg 

2x1 mg 2x1 

Toksoplasmosis  Hitung CD4 < 100/ mm3/dan 

serologi toksoplasma (+) 

TMP-SMX DS 2x1 atau dapsone 

100 mg pirimetamin + asam folinat 

MAC Hitung CD4 <75/mm3  Klaritromisin 500 mg 2x1 atau 

azittromisin 1200 mg tiap minggu 

 

 

 

KOMPLIKASI HIV/AIDS 

 

Hitung CD4 Komplikasi  

<500 Gejala konstitusional  

Dernitits seboroik berambut di daerah oral, sarkoma kaposi  

Kandidiasis vagian dan oral rekulen 

Infeksi bakteri rekulen  

Tuberkulosis paru dan ekstraparu  

HSV VZV 

<200 Pneumonia pneumcystis cariinii(PCP) taksoplasma  

Cryptococcus, histoplasma, coccidioides 

Bartonella 

<50-100 Sitomegalovirus,MAC 

Aspergilosis invasif; angiomatosis (bartonela diseminata) 

Limpoma SSp,PML 

Demam  

• Etiologi: infeksi, limfoma, reaksi obat 

• Langkah kerja : pemeriksaan darah perifer lengkap, kimia darah, uji fungsi hepar, kultur 

darah foto toraks, urinalisis, pemeriksaan ulang obat-obatan, CT scan abdomen ? atau 

limfoma CD4 <200  →AG kriptokokus serum, LP,AG histoplasma pada urine, isolator 

mikobakterium, sitomegalovirus  

Tanda/gejala paru →toraks foto, ABG, sputum untuk kultur bakteri,PCP ,BTA; 

bronkoskopi 

Diare →feses untuk pemeriksaan leukosit feses, kultur, O&P,BTA,endoskopi  

Uji fungsi hepar abnormal →CT scan abdomen, biopsi hepar  

Sitopenia →biopsi sumsum tulang  

Penyakitt kulit  

• Dermatitis seboroik; folikulitis eosinofilik; infeksi HSV dan VZV 

• Moluskum kontagiosum: papula seperti mutiara 2-5 mm dengan pusat cekung  

• Sarkoma kaposi : lesi nodular merah-unggu tidak pucat  

• Aginomatosis basilaris (bartonella diseminata): papula vaskular yang rapuh 

Mata  

• Retinitis SMV (hitung CD4 < 50);terapi =gensiklovir, faskarnet, atau sidofovir 

• Pneumocystis, toksoplasma, Histoplasma 

Mulut  

• Ulkus aptosa  

• Jamur (kandidiasis oral): bercak kecil seperti dadih yang menunjukkan permukaan yang 

kasar jika  diangkat  

• Leukoplakia berambut didaerah lokal: sebab  EBV ;selaput (lapisan) putih yang  

melekat pada sisi lateral lidah 

• Sarkoma kaposi  

 

Jatung  

• Dilatasi kardiomiopati 

Paru  

• Pneumonia pneumocystis carinii (CD4 <200) 

Gejala konstitusional, demam, keringat malam, dispnu saat beraktivitas barat, bentuk non 

produktif 

Foto toraks dengan infiltrat, ↓ PaO2,↑ A-a  V, ↑ LDH, pewarnaan sputum PCP (+) 

Rx jika  PaO2 >70: TMP-SMX PO atau [dapsone + TMP] atau [klidamisin + 

primakuin] atau atovaquone 

 Rx jika  PaO2 <70: Steroid (N engl J med 323:1444 dan 1451, 1990); TMP-SMX IV 

atau [klindamisin + primakuin] atau pentamidin atau trimetreksat 

 

Pola radioografi  pemicu  umum  

Normal  PCP 

Infiltrat interstisial difus  PCP, TB, pneumonia fungsi diseminata dan 

viral, sarkoma kaposi 

Konsilidasi atau massa fokal   Pneumonia bateri atau jamur, TB, sarkoma 

kaposi 

Lesi kavitas  TB, aspergilosis dan pneumonia fungsi lainnya 

Pneumonia bakterial (termasuk Nocardia dan 

Rhodoccoccus) 

Efusi pleura TB, pneumonia jamur atau bakterial  

Sarkoma kaposi, limfoma 

 

Gastrointestinal 

• Esofagitis: kandida, SMV, HSV,HIV, terinduksi pil 

Endoskopi bagian atas jika tidak ada jamur tidak berespons terhadap terapi antifungal  

• Enterokolitis 

Bakterial (biasanya akut): salmonella, shigella Campylobacter, Yersinia, C.difficile  

Protozoa (biasanya kronis); giardia, Entamoeba, Cryptospora, Microsporidium, 

Cyclospora 

Virus (SMV, adenovirus), MAC, enetropati AIDS 

• Peredaran saluran cerna: MAC, Sarkoma Kaposi, limfoma 

• Proktitis : HSV, SMV, Chlamydia, gonokokus 

Hepatobiliaris 

• Hepatitis : HBV, HCV, Sitomegallovirus, MAC, teriduksi obat 

• Kolangiopati AIDS: sering berhubungan dengan sitomegalovirus atau Cryptosporidium 

Ginjal  

• Nefropati AIDS, proteinuria masif, ginjal ekogenik 

Hematologi  

• Anemia: pada penyakit kronis, terkenanya sumsum tulang, keracunan obat,hemalosis 

• Leukopenia 

• Trombositopenia : terkenanya sumsum tulang, ITP 

• ↑globulin 

Onkologi 

• Limfoma non- hohgkin; ↑ frekuensi tanpa menghiraukan hitung CD4 

• Limfoma SSP: hitung CD4 <50 

• Sarkoma kaposi: dapat terjadi pada hitung CD4 dalam jumlah beberapa pun; 

disebabkan sebab  HHV-8; biasanya terjadi pada laki-laki homoseksual  

 Muskulokutaneus: lesi nodular merah-unggu 

Paru: infiltrasi lobus interior bilateral+ efusi  

Saluran cerna: perdarahan saluran cerna, obstruksi, ikterus obstruktif 

Penanganan: penyakit dibatasi →radiasi, krioterapi, atau vinblastin intralesi, penyakit 

sistematik→kemoterapi 

Endokrin 

• Hipogonadisme 

• Fungsi tiroid abnormal 

• Infusiensi adrenal 

• Sindrom wasting 

Neurologik 

• Meningitis : cryptococcus, bakteri (termasuk listeria), virus (HSV, SMV, HIV), 

tuberkulosis, limfomatosa 

• Neurosifilis: meningitis, palsi saraf kranialis, demensia 

• Lesi desak ruang: akan muncul nyeri kepala, defisif lokal, atau perubahan status mental  

Rencana penanganan: MRI, biopsi otak stereotaktik jika dicurigai etiologinya non-

toksoplasma atau pasien gagal berespon terhadap 2 minggu pemberian terapi 

toksoplasmosis yang empiris 

• Kompleks Demensia AIDS: kehilangan memori, ganguan cara berjalan, spastisitas  

• Mielopati: infeksi (SMV,HSV), kompresi medula spinalis (abses apidural, limfoma), 

vakuolar (HIV) 

• Neuropati perifer: HIV, SMV, demielinisasi, terinduksi obat-obatan 

 

Etiologi  Tampilan  Pemeriksaan Diagnostik 

Tokosoplasmosis Lesi menonjol (dapat 

multipel) 

Serologi taksoplasma (+) 

Limfoma SSP Lesi menonjol (biasanya 

tunggal) 

PCR CSS untuk EBV (+) 

SPECT atau PET Scan (+) 

PML Lesi tidak menonjol, multipel,  PCR,CSS (+) terhadap JC 

Lain –lain : abses bakterialis, 

nokardiosis, kritokokoma, atau 

tuberkuloma 

Bervariasi Biopsi  

 

Kompleks mycobacterium avim(MAC) 

• Manifestasi klinis: retinis, esofagitis, kolitis, hepatitis, neuropati 

• Penatalaksanaan: gensiklovir, foskarnet, atau sidofovir 

 

• PENYAKIT LYME• 

Mikrobiologi   

• Infeksi oleh spirochete Borrelia burgdorferi 

• Ditularkan melalui kutu (Ixodes);pejamu (host) hewan termasuk rusa dan tikus 

• Infeksi biasanya memerlukan perlekatan kutu>36-48 jam 

Epidemiologi  

• Penyakit lyme merupakan penyakit yang disebarkan oleh vektor, yang paling sering 

dijumpai, namun insidenya hanya berkisar 4 tiap 100.000 populasi  

• Insiden tertinggi pada bulan – bulan musim panas  

• Kebanyakan kasus terjadi NY,NJ,CT,RI,MN,WI,PA,VA,OR,CA 

• Manusia berkuntak dengan kutu biasanya diladang dengan semak yang pendek dekat 

daerah pepohonan  

Manifestasi klinis 

Stadium Manifestasi 

Stadium 1 = terlokalisasi dini 

Minggu setelah infeksi 

sebab  efek lokal dari spoochaeta  

Umum: penyakit menyerupai flu 

Dermatologik(~80%): erythema chonicum migrans  

(ECM) = menular, lesi eriematosa degan bagian tengah 

jernih, biasanya dijumpai di paha, ingunalis atau aksila, 

ukuranya berkisar 6-38 cm, limfositoma; limfademopati 

regional 

Stadium  2 = penyebaran awal 

minggu hingga bulan setelah 

infeksi  

Akibat spirochetamia dan respons imun 

Umum: fatigue, malaise, limfadenopati,HA; demam 

jarang  

Dermatologi: lesi anular (1-100) multipel = ECM 

Reumatologi: (~10%) arthalgia & mialgia migrotaris, 

oligartritis 

Neurologi (~15%): bell’s palsy (atau neuropati kranialis 

lainnya), meningitis aseptik, multipel mononeuritis 

(mungkin nyeri), mielitis transvera jantung (8%) blok 

jatung, miokarditis 

Stadium 3 = menetap lama  

bulan hingga tahun setelah 

terinfeksi 

sebab  infeksi kronis atau respon autoimun 

Dertamologi: acrodermatitis chronica atrophicans, 

panniculitis  

Reumatologi (60%) nyeri sandi, mono-/oligoartritis pada 

sandi-sandi besar sinovitis 

Neurologi: ensefalopati subakut, polineuropati, demensia 

Pemeriksaan diagnostik 

• Secara umum, suatu diagnosis klinis 

• Serologi (pada keadaan klinis yang tepat) 

Skrining dengan ELISA, tetapi 

      Positif-palsu sebab  penyakit spirochaeta yang lain,SLE, RA, EBV,HIV, dll 

      Negatif-palsu sebab  terapi anti biotik dini penggunaan ELISA, dapat   membedakan 

lgM, lgA, dan lgG 

 Konpirmasi hasil ELISA (+) bersama dengan Western blot (↑ spesifitasnya) 

• Pemeriksaan CSS pada pasien dengan kecurigaan penyakit sarafmproduksi antibodi 

intratekal (+) jika  (CSS lgG/serum lgG)(albumin CSS/albumin serum) >1 

Penatalaksanaan  

• Indikasi: manifestasi klinis dan serologi (+) (? Dan riwayat gigita kutujika  berada 

pada daerah non-endemis) 

• Antibiotik: doksisiklin 100 mg PO 2x1 atau amoksilin 500 mg PO 3x1 selama 3 minggu 

sefriakson 2 g  IV 4x1 selama 2-3 minggu dibutuhkan jika  ada : abnormalitas 

neurologik (selain Bell’s palsy yang terdiri) blok AV drajat tinggi, artritis kronis, atau 

kehamilan 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

• Vaksin: 78% ↓ pada kejadian penyakit lyme; pertibangkan pada pasien di daerah endemik 

dengan resiko terpanjang; dikontraindikasikan pada pasien dengan RA aktif atau artritis 

seronegatif  

 

• FEVER OF UNKNOWN ORIGIN (FUO)• 

Definisi  

• Lamanya ≥ 3 minggu  

• Demam > 101oF atau >38,50C pada lebih dari satu insiden  

• Tidak ada diagnosis walupun telah dilakukan evaluasi salama 1 minggu pada pasien 

rawat inap secara intensif  

Etiologi  

• Daftar pemicu nya sangat luas, namun berikut ini yaitu  beberapa pemicu  yang lebih 

sering. Secara umum, akan lebih mungkin suatu manifestasi dari suatu penyakit biasa 

yang nyaris tidak kentara, daripada penyakit yang tidak lazim 

• Pada pasien yang diketahui ada keganasan : 50 % akibat infeksi (biasanya selama 

neutropenia) dan 50% akibat tumor itu sendiri  

• Pasien dengan HIV : 75 akibat infeksi, jarang sebab  HIV itu sendiri 

• 5-15% kasus yang tidak terdiagnosis, kebanyakan sirna secara spontan 

  

Kategori  Etiologi 

  

Infeksi  Tuberkulosis: penyakit ekstra paru atau diseminata dapat memiliki 

gambaran rontgen foto toraks, PPD,BTA sputum yang normal; biopsi (paru, 

hepar, sumsum tulang) terhadap granuloma hanya menghasilkan 80-90 % 

pada penyakit miliar 

Endokarditis: pertimbangkan organisme: HACEK, Bartonella, Legionella 

adan Coxiella 

Abses intra-abdomen: hepatik, splenik, subfrenikus, pankreatik, perineftik, 

pelvik, prostatik 

Osteomielitis 

Sitometegalovirus, EBV, penyakit Lyme, malaria, babesiosis, amebiasia  

 

 

Neoplasma  Limfoma: limfadenopati, hepatosplenomegali, ↓ hematokrit atau 

trombosit, ↑ LDH 

Karsinoma sel renal: hematuria mikroskopik, ↑ hematokrit  

Karsinoma sel hepar, karsinoma pankres 

Miksoma pada atrium: obstuksi, embolisme, gejala konstitusional 

leukimia,mielodisplasia 

Penykit tantung 

penyambung  

Atritis temporalis (sel Giant): nyeri kepala, nyeri kulit kepala, klaudikasio 

mandibula, gangguan penglihatan, ↑ ESR 

Penyakit still onset dewasa (reumatiod artritis juvenilis); demam yang 

bersifat sementara ruam trunkus malukar yang berwarna salmon selama 

demam merupakan permulaan artritis  

Poliartritis nodosa 

RA, SLE, sarkoidosis 

Lain-lain Obat-obatan, hematom, tiroid, demam mediterania familial 

 

Langkah kerja  

• Anamnesis: kontak ifeksius, perjalanan, hewan peliharaan, pekerjaan, obat-obatan, 

melalui pemeriksaan fisik regional, riwayat pengobatan dan pembedaan sebelumnya, 

riwayat tuberkulosis 

• Hentikan obat-obatan yang tidak diperlukan 

• Pemeriksaan fisik yang cermat dengan perhatian terhadap temuan kulit, limfadenopati, 

murmur, hepatosplenomegali, artritis 

• Evaluasi labolatorium  

Hitung darah lengkap dengan hitungan jenis, elektrolit, BUN, kreatinin, uji fungsi hepar, 

LED, ANA, RF kultur darah sebanyak 3 set (stop antibiotik), urinalisis, kultur urine, 

PPD, antibodi heterofil, sitomegalivirus, uji antigenemia, uji HIV 

• Pemeriksaan pencitraan: rontgen foto toraks, CT scan abdemen (oral dan kontras IV), 

USG kuadran atas kanan ?, hitung leukosit yang berlabel  atau gallium scan 

• Biopsi arteri temporalis jika  LED ↑ dan usia > 60 tahun 

• ? biopsi sumsum tulsng atau hepar (terutama jika  AP ↑): bahkan tanpa tanda-tanda 

atau gejala lokal, hasil mencapai lebih dari 15 % 

Penanganan 

• Antibiotik empiris tidak diindikasikan (kecuali pasien neutropenia) 

 

 

 

NYERI ABDOMEN 

 

Nyeri viseral 

 

Pembagian 

Anatomi 

Visera 

Tempat Penjalaran 

Nyeri 

Foregut  Esofagus dan duodenum Epigastrium  

Midgut Yeyunum hingga pertengahan kolon transversum Umbilikus  

Hindgut  Pertengahan kolon transversum hingga rektum Hipogastrium  

(Catatan : Nyeri sebab  pankreatitis dan nefrolitiasis yang pada umumnya menjalar 

hingga ke punggung) 

 

 

Nyeri Tekan pada Abdomen 

 

Gambar 3-1. etiologi nyeri abdomen berdasarkan lokasi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GANGGUAN ESOFAGUS DAN GASTER 

 

DISFAGIA 

Definisi  

• Kesulitan pada proses menelan dan melewatkan makanan dari esofagus ke lambung. 

 

Etiologi  

Gambar 3-2. Etiologi disfagia  

 

 

 

 

 

 

 Gastritis  

PUD (peptic ulcers disease) 

Pancreas  

Kebocoran AAA 

(Abdominal Aorta Aneurysm) 

Splenomegali  

Infark atau abses lien  

Rupture lien 

Kolelitiasis 

Kolesistitis 

Koledokolitiasis 

Kolangitis 

Hepatitis 

Tumor hepar  

Apendistis  

Nefrolitiasis  

Kehamilan ektopik  

Torsi ovarium 

PID 

Diverkulitis 

Kolitis 

Nefrolitiasis   

 Disfagia 

 

Kesulitan makan yang padat saja Kesulitan makan baik yang cair maupun yang padat 

Obstruksi mekanik Gangguan motilitas  

Cincin 

esofagus   

Striktur 

peptikum   

Karsinoma 

esofagus    

Spasme dan 

gangguan 

yang 

berhubungan   

Skleroderma    Aklasia    

Intermiten  GERD kronik 

progresif  Progresif   GERD kronik 

progresif  

Intermiten  Progresif   

 

Pemeriksaan diagnostik  

• Menelan barium atau esofagogastroduodenoskopi (EGD); ± pemantauan pH esofagus atau 

manometri. 

 

PENYAKIT REFLEKS GASTROENSOFAGUS (GERD) 

Patofisiologi 

• Relaksasi sementara yang berlebihan pada sfingter esofagus bawah (LES, Lower Esophageal 

Spincter) atau pada beberapa kasus, LES yang inkompeten. 

• Kerusakan mukosa esofagus sebab  kontak yang lama dengan asam, pepsin, garam empedu. 

• Hiatus hemia dapat memicu  ↓ tonus LES dan bertindak sebagai penampung isi 

lambung yang mengalami refluks. 

 

Manifestasi klinis 

• Heartburn, “angina” atipikal; regurtasi isi lambung kurang air, disfagia 

• Batuk (aspirasi nokturnal kronis), asma, suara parau (peradangan plika vokalis). 

• Pencetus : makan yang banyak, posisi supinasi, makanan berlemak, kafein, teofilin, alkohol, 

rokok, penyekat kanal kalsium (CCB). 

 

Uji diagnostik 

• Diagnosis sering berdasarkan pada anamnesis, mencoba mengobati dulu dengan inhibitor 

pompa proton. 

• EGD (esophagoduodenoscopy) untuk mendeteksi esofagitis, ulkus, easofagus Barret atau 

striktur. 

• Pemantauan pH esofagus ambulatoris selama 24 jam jika  diagnosisnya meragukan. 

 

Penatalaksanaan  

• Tindakan konservatif : mencegah pencetus, meninggikan kepada saat tidur, hindari 

keterlambatan makan. 

• Medikamentosa : antasid, penyekat H, agen prokinetik (seperti : cisapride); penghambat 

pompa proton (PPI). 

• Pembedahan : fundoplikasi (sering dengan laparoskopik) 

 

Komplikasi  

• Esofagus Barret (epitelisasi kolumnar dengan ↑ risiko adenokarsinoma), esofagitis, striktur. 

 

 

GASTROPATI DAN GASTRITIS 

Gastropati akut 

• Etiologi : NSAID, alkohol, stres yang berhubungan dengan penyakit mukosa (penyakit 

kritis). 

• Manifestasi klinis : asimtomatik, anoreksia, mual dan muntah, nyeri epigastrium, perdarahan 

saluran cerna atas. 

 

Gastritis antral kronis (“Tipe B”) 

• Etiologi : Infeksi H. Pylori  

• Manifestasi klinis : umumnya asimtomatik; tidak ada bukti yang jelas bahwa gastritis H. 

Pylori memicu   dispepsia non-ulkus; dapat berlanjut menjadi gastritis atrofi dengan ↑ 

risiko adenokarsinoma gaster. 

• Penatalaksanaan : Lihat penanganan H. Pylori  

 

Gastritis kronis pada daerah fundus (“Tipe A”) 

• Etiologi : Anemia pernisiosa  

• Patogenesis : auto-antibodi langsung terhadap sel parietalis (sehingga kekurangan asam dan 

faktor intrinsik). 

• Manifestasi klinis : gastritis atrofi, aklorhidria, dan hipergastrenemia, anemia permisiosa, 

tumor karsinoid gaster dan adenokarsinoma. 

 

PENYAKIT ULKUS PEPTIKUM 

Etiologi dasar 

• Infeksi H. 




Penyakit dalam palmologi 2

 









Pylori (namun hanya 15-20 % dari pasien yang terinfeksi akan berkembang 

menjadi suatu ulkus. 

• NSAID 

• Gastrinoma dan keadaan hipersekretorius lainnya 

 

 

 

Manifestasi klinis 

• Nyeri abdomen spigastrik, hilang dengan  makan (duodenum) atau memburuk dengan 

makan (gastrikum). 

• Perdarahan saluran cerna atas  

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Uji untuk H. Pylori  

Serologi : (sensitivitas 90 %, spesifisitas 70-80 %, titer ↓ 3-6 bulan setelah terapi efektif) 

urea breath test (UBT, sensitivitas dan spesifitasnya > 95%) 

EGD + uji urease cepat (seperti, CLO testTM, > sensitivitas dan spesifisitas 95 %) atau biopsi 

dan histologi. 

• EGD atau UGI serial untuk mendeteksi ulkus 

 

Penatalaksanaan  

• Penghentian NSAID dan rokok 

• PUD dan H. Pylori (+) : Antibiotik dan PPI selama 7-14 hari memiliki angka keberhasilan > 

90 % (Am J Med 105 : 424, 1998) antibiotik (2 dari 3) : klaritromisin 500 mg 2 x 1, 

amoksilin 1 g 2 x 1, mtronidazol 500 mg 2 x 1 

• Dispepsia non-ulkus : percobaan PPI atau cisapride; data yang diperdebatkan tentang 

manfaat eradikasi H. Pylori (N Engl J Med 339 : 1869 dan 1875, 1998; 341 : 1106, 1999). 

 

 

 

Gambar 3-3. Langkah diagnostik dan penanganan dispepsia 

 

 

 Dispepsia  

Darah samar di feses +, anemia, 

anoreksia atau muntah yang 

persisten, penurunan berat 

badan, usia > 40 tahun  

Serologi H. Pylori  EGD hingga radiologi 

PUD dan keganasan  

Cisapride atau PPI  Terapi antibiotik  Perubahan regimen  

EGD   Disembuhkan UBT   EGD   

Tidak ada satupun 

kriteria di atas  

Negatif  Positif  

Gejala +  Tanpa gejala Positif  Tanpa gejala Gejala +  

Negatif  

Ada salah satu dari 

kriteria di atas  

 

PERDARAHAN GASTROINTESTINAL 

 

Definisi 

• Hilangnya darah yang bisa dari berbagai tempat di intralumen dari orofaring sampai anus. 

• Klasifikasi : atas = di atas ligamentum Treitz; bawah = di bawah ligamentum Treitz. 

• Tanda : hematemesis = darah yang dimuntahkan atau ada  pada muntahan (UGIB); 

hematokezia = buang air besar berdarah (LGIB atau UGIB yang cepat); melena = buang air 

besar seperti ter, berwarna hitam akibat darah dari saluran cerna (biasanya dari bagian atas 

saluran cerna, namun dapat di segala tempat di atas sekum). 

 

Etiologi perdarahan saluran cerna atas 

• Perdarahan  orofaringeal dan epistakis → darah tertelan 

• Esofagitis erosif 

Pejamu yang tanggap imunnya baik : GERD / esofagus Barrett, XRT 

Pejamu yang tanggap imunnya lemah : CMV, HSV, kandida 

• Varices (10 %) 

• Ruptur Mallory-Weiss (7%, robekan di gastroesofagus sebab  mau muntah / muntah-muntah 

dengan glotis yang tertutup). 

• Gastritis / gastropati (23%, NSAID, H. Pylori, alkohol, penyakit mukosa yang berhubungan 

dengan stres). 

• Penyakit ulkus peptikum (PUD) (46%) 

• Malformasi vaskular 

Lesi Dieulafony (arteri ektatik superfisialis biasanya pada kardia dengan UGIB yang 

mendadak dan masif) AVM (tersendiri atau bersama sindrom Osler-Weber-Rendu) fistula 

aorta-enterik (tandur aorta mengikis sepertiga porsio duodenum, muncul dengan “perdarahan 

luas”) vaskulitis. 

• Penyakit neoplastik (esofagus atau gaster) 

• pemicu  lahirnya : ulserasi hiatus hernia, koagulapati, amiloidosis, penyakit jaringan 

penyambung. 

 

Etiologi perdarahan saluran cerna bawah 

• Penyakit divertikular 

• Angiodisplasia 

• Penyakit neoplastik 

• Kolitis : infeksi, iskemik, radiasi, penyakit radang usus (UC > CD) 

• Hemoroid  

 

Manifestasi klinis 

• UGIB > LGIB : mual, muntah, hematemesis, muntah seperti warna kopi, nyeri epigastrium, 

reaksi vasovagal, sinkop, melena. 

• LGIB > IGIB : diare, tenesmus, BRBPR atau kotoran berwarna maron 

 

Langkah penanganan 

• Anamnesis  

GIB atau kronis, jumlah serangan, serangan terakhir yang paling sering hematemesis, muntah 

sebelum hematemesis, hematokezia, melena, nyeri abdomen, diare, penggunaan aspirin, 

NSAID, atau antikoagulan, atau diketahui menderita koagulopati ketergantungan alkohol, 

sirosis riwayat pembedahan saluran cerna atau aorta. 

• Pemeriksaan fisik 

Tanda vital : takikardi bila kehilangan cairan 10%; hipotensi ortostatik bila kehilangan cairan 

20%; syok bila kehilangan cairan 30%, pucat, telangektasiasis (penyakit hepar alkohol atau 

sindrom Osleer-Weber-Rendu)  

Tanda penyakit hepar kronis : ikterus, spider angiomata, ginekomastia, atrofi testis, eritema 

palmaris, kaput medusa. 

Pemeriksaan abdomen : nyeri tekan dapat terlokalisir atau tanda-tanda di daerah peritoneum. 

Pemeriksaan rektum : warna kotoran, adanya hemoroid, atau fisura ani 

• Pemeriksaan laboratorium : Hematokrit (mungkin normal pada awal kehilangan darah akut 

sebelum seimbang kembali), hitung trombosit, PT, PTT, BUN / kreatinin (rasionya ↑ pada 

UGIB sebab  resorpsi saluran cerna dari darah atau azotemia prerenal), uji fungsi hepar. 

• Slang Nasogastrik dapat mendiagnosis UGIB, dapat membuang isi saluran cerna (sebelum 

dilakukan EGD dan untuk mencegah aspirasi), lavase untuk melihat ada tidaknya perdarahan 

yang menetap (prognosis buruk); negatif palsu pada waktu UGIB jika  perdarahan berasal 

baik dari duodenum maupun intermiten. 

• Pemeriksaan diagnostik pada UGIB : esofagogastroduodenoskopi (EGD) (dan terapi yang 

potensial). 

• Pemeriksaan diagnostik pada LGIB (periksa UGIB sebelum mencoba untuk melokalisasi 

LGIB yang diperkirakan) 

Perdarahan berhenti secara spontan → kolonoskopi (mengidentifikasi pemicu  pada > 70% 

kasus dan potensial untuk tindakan terapi)  

Stabil namun perdarahan terus-menerus → sken perdarahan (RBC berlabel 99mTc/albumin) 

: mendeteksi laju perdarahan yang > 0,1-1,0 ml/menit, namun sulit menentukan lokasi yang 

akurat. 

Tidak stabil → arteriografi (mendeteksi laju perdarahan yang > 0,5-1,0 ml/menit dan 

potensial untuk tindakan terapi (infus vasopresin intra arteri atau embolisasi) laparotomi 

ekspolari. 

 

Penatalaksanaan 

• Penatalaksanaan akut perdarahan saluran cerna yaitu  resusitasi hemodinamik dengan cairan 

IV dan darah 

Buatlah akses dengan 2 jalur intravena yang berdiameter besar (18 gauge atau lebih). 

Resusitasi cairan dengan salin normal atau larutab Ringer laktat 

Terapi transfusi (sampel bank darah untuk tipe dan crossmarch; dapat menggunakan 

golongan darah O negatif jika eksanguinis). 

Identifikasi dan perbaiki koagulopati (FFP untuk menormalkan PT, trombosit tetap > 

50000/mm3). 

Lavase slang nasogastrik 

Penatalaksanaan jalan nafas bila diperlukan  

Konsultasi dengan ahli bedah digestif bila diperlukan. 

 

Tanda-tanda prognosis buruk pada UGIB 


• Demografik : Usia > 60 tahun, komorbiditas 

• Beratnya : darah merah segar pada aspirat NGT, ↑ permintaan transfusi, hemodinamik tak 

stabil. 

• Etiologi : varises atau neoplastik 

• Munculnya  ulkus (dari prognosis yang terbaik hingga terburuk) : dasarnya bersih → keluar 

darah tanpa pembuluh yang terlihat → bekuan yang melekat erat → perdarahan aktif. 

 

Etiologi  Pilihan  

Varises  Farmakologi  

Octreotide 50 µgram bolus IV → 50 µg/jam infus 

(berhasil 84%, Lancet 342 : 637, 1993) 

Vasopresin atau vasopresin + nitrogliserin (kurang 

manjur dan lebih banyak komplikasi) 

Penyekat-β (non-selektif) dan nitrat jika  

hemodinamik stabil 

Non-Farmakologi 

Skleroterapi endoskopi (berhasil 88%) atau band 

ligation (angka keberhasilan > 90%) 

Octreotide + terapi endoskopik (angka keberhasilan > 

95% ;   

(N Eng J Med 333 : 555, 1995) 

Tamponade balon jika  perdarahannya berat 

Embolisasi atau TIPS jika  terapi endoskopik 

gagal  

(N Engl J Med 333 : 165, 1994) 

PUD Farmakologi 

Penghambat pompa proton (N Egl J Med 336 : 1054, 

1997) 

Octreotide 50 µgram bolus IV → 50 µgram/jam infus 

Non-Farmakologi 

Terapi endoskopi (injeksi, kontak termal, laser) 

Angiografi mesenterika dengan infus vasopresin atau 

embolisasi 

Reseksi gastrik jika  endoskopi dan terapi 

farmakologi gagal 

Mallory-Weiss Biasanya berhenti secara spontan 

Gastritis esofagus  Penghambat pompa proton, antagonis H2 

Penyakit 

divertikuler 

Biasanya berhenti secara spontan 

Terapi endoskopi (injeksi epinefrin), vasopresin 

arterial atau embolisasi, pembedahan 

Angiodisplasia  Vasopresin arterial, terapi endoskopik, pembedahan 

 

 

 

DIARE 

 

Keluarnya feses > 200 gram / hari 

 

ETIOLOGI  

Infeksi  

• Akut 

Toksin yang belum terbentuk (seperti : “keracunan makanan”; berlangsung < 24 jam) : S. 

Aureus, C. Perfrigens, B. Cereus  

Virus : Rotavirus, Norwalk 

Bakteri non-invasif 

Menghasilkan enterotoksin (tidak ada darah atau leukosit di feses) : E. Col enterotoksigenik  

Vibrio cholera : menghasilkan sitotoksin (ada darah dan leukosit di feses) : E. Coli O157 : 

H7, C. Difficile. 

Bakteri invasif (leukosit di feses dan darah (+)) : E. Coli enteroinvasif (EIEC, Salmonella, 

Shigella, Campylobacter, Yersinia, V. Parahemolyticus 

Parasit : Giardia, E. Histolytica 

Oportunistik : Crystosporidia, Isopora, Microsporidia, Cyclospora, MAC, CMV. 

• Kronis : Giardia, E. Histolytica, C. Difficile, organisme oportunistik. 

 

Malabsorpsi (↑ kesenjangan osmotik, ↑ lemak feses, ↓ diare dengan puasa, defisiensi vitamin 

larut-lemak) 

• Defisiensi garam empedu 

Pertumbuhan bakteri berlebihan (e.g., blind loop) → dekonjugasi garam empedu penyakit 

ileum (seperti penyakit Crohn, reseksi pembedahan) → terhentinya sirkulasi enterohepatik. 

• Insufisiensi pankreas 

 

 

• Kelainan mukosa 

Seliak sprue : sebab  reaksi usus terhadap α-gliadin dalam gluten → hilangnya vili dan 

daerah absorpsi  

Pemeriksaan diagnostik : D-xylose (+); anti-gliadin (+) atau anti-endomisial absolut 

Penatalaksanaan : diet bebas gluten. 

Tropikal sprue : terjadi pada penghuni daerah tropis; penatalaksanaan dengan antibiotik, 

asam folat, B12. 

Penyakit Whipple : sebab  Trophyrema whippeli (basilus gram (+)); terlihat pada laki-laki 

kulit putih usia separuh baya. 

Manifestasi lainnya : demam, limfadenopati, edema, poliartritis, perubahan SSP, pigmentasi 

kulit abu-abu-ciklat 

Penatalaksanaan : pemberian  antibiotik jangka panjang 

Limfoma usus 

 

Osmotik (↑ gap / kesenjangan osmotik, ↑ lemak feses normal, ↓ diare dengan berpuasa) 

• Obat-obatan : antasid, laktulosa, sorbitol 

• Intoleransi laktosa : kelainan mukosa primer atau sekunder, enterintis bakterial atau virus, 

reseksi usus sebelumnya 

Manifestasi klinis : kembung, flatus, rasa begah, diare 

Pemeriksaan diagnostik : uji napas hidrogen laktosa, atau diet bebas laktosa empiris. 

Penatalaksanaan : diet bebas laktosa, gunakan lactaid milk dan tablet enzim laktase. 

 

Peradangan (demam, hematokezia, nyeri abdomen) 

• Penyakit peradangan usus 

• Enteritis radiasi 

• Kolitis iskemik 

 

Sekretorius (Gap ostomik normal, cairan banyak, tidak ada perubahan diare setelah nothing by 

mounth / NPO) 

• Hormonal : VIP (VIPoma, Verner-Morrison), Serotonin (karsinoid), Kalsitonin (karsinoma 

tiroid tipe medular), Gastrin (Zollinger-Ellison), Glukagon, Substansi P, Tiroksin 

(Hipertiroidisme). 

• Ketergantungan laksatif 

• Adenoma vilosa 

• Malabsorpsi garam empedu idiopatik 

 

Motilitas 

• Sindroma iritabilitas usus 

• Skleroderma (pseudoobstruktif) 

• Endokrinopati : diabetes melitus, hipertiroidisme (hiperdefekasi) 

 

Langkah penanganan diare 

 

 

 

 

Gambar  3-4. Rencana penanganan diare akut (durasi < 3 minggu) 

 

 

 

 

 Diare akut  

Dehidrasi berat, demam, lamanya > 5 hari mukus atau pus 

pada BM, diare berdarah, nyeri abdomen perjalanan 

sebelumnya, atau penggunaan antibiotik sebelumnya 

Tidak ada kriteria di atas Ya ada salah satunya 


 

 

Gambar 3-5. Langkah penanganan diare kronis (durasi > 3 minggu) 

 

 

 

 

Leukosit feses  

perdarahan samar 

 toksin C difficile (terutama bila 

sebelumnya minum antibiotik  

Observasi rehidrasi sesuai 

dengan kebutuhan 

Feses O & P x 3 Kolitis pseudomembranosa 

Terinduksi obat-obatan 

virus, enterotoksin 

bakteri non-invasif 

Observasi,  

rehidrasi antibiotik 

bila gejala berat 

Antiparasitik  

Kultur feses 

sigmoidoskopi fleksibel 

Metronidazol PO atau IV 

(Vankomisin PO bila 

metroidazol gagal) 

Invasif atau sitotoksin 

bakteri non-invasif 

IBD 

Antibitoik  

O & P + 

Parasitik 

Leukosit di feses + atau 

perdarahan samar + 

Kultur feses + Kultur -, sigmoidoskopi 

fleksibel dan biopsi + 

Toksin C. 

Difficile + 

 Diare kronis 

Obat-obatan culprit   Terinduksi obat-obatan   

Fenolftain +   

Uji laktosa +   

Ketergantungan laktasi   

Intoleransi laktosa  

 

PENYAKIT DIVERTIKULAR 

 

DIVERTIKULOSIS  

Definisi dan Patologi 

• Herniasi akuisita (didapat) pada mukosa dan submukosa kolon ke dalam dinding kolon. 

Data mikrobiologi +  Infeksi   

Gas osmotik feses = Osmfeses (biasanya 290) – [2 x (Nafeses + Kfeses)] 

lemak feses 

Leukosit di feses dan perdarahan samar 

Respons terhadap NPO 

Sekretorius  

Kadar hormon 

Kolonoskopi terhadap adenoma 

kolestiramin 

Malabsorpsi  

• Mukosa abnormal : uji D-xylose, 

biopsi usus halus 

• Insufisiensi pankreas : uji sekretin 

• Defisiensi garam empedu : 14C-

xylose breath test 

Peradangan  

Sigmoidoskopi fleksibel 

Kolonoskopi 

UGI dengan SBFT 

• Lebih sering pada sisi kiri pada sisi kanan kolon 

• Mungkin sebagai akibat diet rendah serat → muskulatur kolon berkontraksi terhadap feses 

yang kecil dan keras. 

 

Epidemiologi 

• 20-50 % pasien di atas usia 50 tahun 

 

Manifestasi klinis 

• Biasanya asimtomatik, namun dapat mengalami komplikasi mikroperforasi (divertikulitis) 

atau perdarahan. 

 

DIVERTIKULITIS 

Patofisiologi 

• Retensi makanan yang tak tercerna dan bakteri di dalam divertikulum → pembentukan 

fekalit → obstruksi → asupan darah divertikulum terganggu, infeksi, perforasi. 

• Mikroperforasi (→ infeksi terlokalisir) atau makroperforasi (→ pembentukan abses dan / 

atau peritonitis). 

 

Manifestasi klinis 

• Nyeri abdomen kuadran lateral kiri, demam, mual, muntah, konstipasi 

 

 

 

Pemeriksaan fisik 

• Ringan : Nyeri kuadran lateral kiri, massa dapat diraba ±, uji darah samar (FOBT) ± (- 25) 

• Berat : peritonitis, syok septik 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Foto polos abdomen untuk melihat adanya bebas, ileus, atau obstruksi 

• CT abdomen jika  pasien gagal berespons terhadap terapi atau jika  dicurigai adanya 

abses perikolon 


• Sigmoidoskopi / kolonoskopi merupakan kontraindikasi pada waktu akut sebab  tingginya 

risiko perforasi yang membahayakan. 

 

Penatalaksanaan  

• NPO, cairan IV, NGT (jika ileus) 

• Antibiotik (spektrumnya mencakup batang gram negatif dan anaerob) 

• Drainase abses perkutaneus atau pembedahan 

• Pembedahan jika  terapi medikamentosa gagal, abses besar yang tidak dapat didrainase 

perkutaneus, atau menjadi peritonitis. 

 

Patofisiologi  

• Erosi pembuluh divertikel oleh suatu fekalit 

• Divertikula lebih sering di sebelah kiri (distal) kolon; namun perdarahan divertikula 

biasanya pada sisi kanan (proksimal) kolon 

 

Manifestasi klinis 

• Biasanya onset kram perut yang mendadak dan diikuti dengan hematokezia yang sangat 

banyak (masif). 

• Biasanya berhenti secara spontan (90%) namun bisa juga muncul sekali-kali dalam hitungan 

jam hingga hari. 

 

Pemeriksaan fisik 

• Biasanya jinak 

 

Pemeriksaan diagnosis 

• Kolonoskopi (setelah perdarahan akut terhenti dan mengikuti lavase oral) atau, pada 

perdarahan berat, arteriografi mesenterikus (biasanya setelah suatu sken perdarahan). 

 

Penatalaksanaan  

• Endoskopi → Injeksi epinefrin atau pengikatan; arteriografi → infus vasopresin intraarteri; 

pembedahan 

 

PENYAKIT RADANG USUS 

 

Definisi 

• Kolitis ulserativa (UC) : inflamasi idiopatik pada mukosa kolon 

• Penyakit Crohn (CD) : inflamasi transmural idiopatik pada saluran pencernaan. 

• Pada 5-10% pasien yang menderita kolitis tidak dapat dibedakan dengan dengan jelas apakah 

UC atau CD walaupun dengan biopsi mukosa. 

 

Diagnosis Banding 

• Infeksi bakteri, pseudomembranosa, amuba, CMV, PMS 

• Usus iskemik 

• Limfoma atau karsinoma usus 

• Irritable bowel syndrome 

• Obat-obatan (NSAID, pil kontrasepsi oral, preparat emas, alopurinol) 

 

KOLITIS ULSERATIVE 

Epidemiologi 

• Onset pada kisaran usia 20-25 tahun, insiden ↑ pada ras kaukasoid, terutama suku bangsa 

Yahudi; 10% bersifat familial 

 

Patologi 

• Luasnya : meliputi rektum dan meluas ke proksimal dan organ-organ yang berdekatan; 50% 

pasien menderita proktosigmoiditis, 30% kolitis kolon sisi kiri, dan 20% kolitis ekstensif. 

• Tampilan : mukosa granular, rapuh dengan ulkus kecil; ada  pseudopolip 

• Biopsi : Mikroulserasi superfisialis; abses kripta (PMN); tidak ada granuloma 

 

 

 

Manifestasi klinis 

• Diare berdarah yang menyolok, kram abdomen bagian bawah dan urgensi 

• Kolitis fulminan : berjalan progresif cepat sekitar 1-2 minggu dengan ↓ hematokrit, ↑ LED, 

demam, hipotensi, > 6 x BAB berdarah tiap hari, distensi abdomen dengan bising usus yang 

menghilang. 

• Megakolon toksik : dilatasi kolon (> 6 cm pada KUB), atonia kolon, dan toksisitas sistemik. 

• Perforasi 

• Ekstrakolon (25%) 

Eritema nodosum, pioderma gangrenosum, ulkus aftosa, iritis, episkleritis, gangguan 

tromboembolik. 

Artritis seronegatif, hepatitis kronis, sirosis, kolangitis sklerotikans, kolangiokarsinoma. 

 

Komplikasi 

• Striktur (jarang, muncul pada rektosigmoid) 

• Karsinoma kolon : setelah 10 tahun, risiko ↑ 1% / tahun; skrining dengan kolonoskopi tiap 

tahunnya. 

 

Prognosis 

• Remisi pada 10%; eksaserbasi intermiten sebanyak 75%; penyakit aktif berlanjut sebanyak 

10%. 

• Mortalitas  

 

PENYAKIT CROHX 

Epidemiologi 

• Bimodus dengan puncak pada usia 20 dan 50-70 tahun; insiden ↑ pada ras kaukasoid, 

terutama suku bangsa Yahudi. 

 

 

Patologi  

• Luasnya penyakit dapat mengenai bagian manapun dari slauran cerna, dari mulut hingga 

anus, skip lesions 30% pasien mengalami ileitis, 40% ileokolitis, dan 30% kolitis. 

• Tampilan : ulkus > 1 cm, mukosa tidak rapuh, tampilan “cobblestone”, fisura panjang dan 

dalam. 

• Biopsi : inflamasi trnasmural dengan infiltrasi sel mononuklear, granuloma non-kaseosa, 

fisura. 

 

Manifestasi klinis 

• Penyakit terkesan ringan dengan nyeri abdomen, diare berdarah non-makroskopik yang 

mengandung mukus. 

• Demam, ,malaise, penurunan berat badan 

• Albumin ↓, ESR ↑, Hematokrit ↓ sebab  defisiensi Fe B12, asam folat, atau penyakit kronis. 

• Ekstrakolon : sama dengan kolitis ulserastiva, ditambah batu empedu (sebab  malabsorpsi 

garam empedu) dan batu ginjal (batu Ca oksalat sebab  malabsorpsi lemak yang 

memicu  peningkatan absorpsi oksalat) 

 

Komplikasi  

• Fisura perianal, abses perirektal 

• Striktur : rasa kembung setelah makan, distensi, borborygmi 

• Fistula : abses, pertumbuhan bakteri berlebihan dan malabsorpsi 

• Abses : demam, menggigil, massa di abdomen yang nyeri bila ditekan, leukosit ↑. 

• Karsinoma : usus halus dan kolon; risiko sama dengan kolitis ulserativa jika  keseluruhan 

kolon terkena; skrining dengan kolonoskopi. 

 

 

 

PENATALAKSANAAN 

Terapi simtomatik dan diet 

• Suplemen serat (kecuali gejala obstruktif pada penyakit Crohn) 

• Tidak mengkonsumsi kafein dan sayur yang menghasilkan gas 

• Percobaan diet bebas laktosa pada penyakit Crohn 

• Antidiare dan antispasmodik kecuali pada serangan akut 

 

Remisi 

• Senyawa 5-ASA (formulasi yang cocok untuk mengobati daerah yang terkena) ± azatioprin 

atau 6- merkaptopurin. 

 

Pembedahan  

• Kolitis ulserativa (25% dari seluruh pasien) : terapi medikamentosa gagal, perdarahan, 

perforasi, striktur, kolitis fulminan atau megakolon toksik yang gagal berespons dalam 48-72 

jam setelah diberikan terapi medikamentosa, displasia atau karsinoma. 

• Penyakit Crohn (75% dari seluruh pasien) : terapi medikamentosa gagal, kebutuhan steroid 

kronis, striktur, fistula, abses, karsinoma. 

 

 

Penatalaksanaan Serangan Akut 

Beratnya  Pilihan  

Ringan  Senyawa 5-ASA 

Sulfasalazin (5-ASA + struktur yang berasal dari sulfa) : 

azoreduktase bakteri melepaskan 5-ASA dalam kolon. 

Mesalamin (5-ASA pada berbagai tingkat kesensitifannya 

terhadap pH atau kapsul-kapsul yang time-dependent) 

Asakol : larut pada pH 7,0 → 5-ASA yang dilepaskan pada usus 

halus terminal dan kolon  

Pentasa : 5-ASA dilepaskan ke seluruh usus halus dan kolon 

Olsalazin (5-ASA dimer) : terpecah di dalam kolon 

+ Metronidazol jika  ada  penyakit Crohn perianal 

Sedang  Steroid oral  

+ Azatioprin, 6-merkaptopurin, atau metotreksat pada penyakit 

Crohn 

Berat  Steroid intravena + siklosporin + Ab anti TNF-α (untuk penyakit 

Crohn yang refrakter) 

Usus diistirahatkan, obat pilihan anti-diare, TPN, antibiotik 

Pemeriksaan abdomen serial dan radiografi / CT untuk menentukan 

dilatasi, perforasi, atau abses. 

Dekompresi pada megakolon toksik (Pasien berguling dari sisi ke 

sisi dan ke arah abdomennya) 

 

 

 

ISKEMIK MESENTERIKA 

 

Etiologi akut pada usus halus 

• Emboli  arteri (50%) : dari LA (AF) atau LV (↓ EF) 

• Trombosis Arteri (20%) : biasanya pada tempat aterosklerosis yang sebelumnya ada, sering 

berasal dari arteri. 

• Iskemia mesenterikus non-oklusif (20%) : curah jantung yang rendah + agen α-adrenergik 

dosis tinggi. 

• Trombosis vena (10%) : keadaan hiperkoagulasi, hipertensi portal, keganasan, peradangan 

(pankreatitis, peritonitis), trauma, pembedahan. 

 

Kolitis iskemik 

• Non-oklusif, dengan curah jantung yang diperberat oleh aterosklerosis yang sebelumnya 

sudah ada. 

 

Manifestasi klinis 

• + Riwayat tanda-tanda iskemia mesenterikus kronis : nyeri perineumbikalis setelah makan, 

cepat kenyang. 

• Akut; onset mendadak nyeri abdomen, lebih nyeri dibandingkan saat pemeriksaan fisik pada 

abdomen. 

• Subakut : onset mual yang meningkat bertahap, muntah, anoreksia, perubahan pola defekasi. 

• GIB 

 

Pemeriksaan fisik 

• Mungkin tidak ada tanda yang jelas 

• Infark mesenterium yang dicurigai sebab  adanya nyeri tekan di abdomen → tanda-tanda 

pada peritoneum → distensi, hilangnya bising usus, nyeri tekan yang sangat hebat, uji darah 

samar (+). 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Evaluasi  laboratorium : Hitung leukosit ↑, amilase ↑, LDH dan CPK; asidosis metabolik dan 

↑ laktat (lambat). 

• Pemeriksaan  pencitraan 

Foto polos abdomen : ileus adinamik 

USG doppler (sering sulit sebab  distensi usus) : mungkin menunjukkan aliran mesenterikus 

yang abnormal. 

CT abdomen : penebalan dinding usus, pneumatosis dinding usus 

Angiografi : merupakan pemeriksaan baku (gold standar) 

 

Penatalaksanaan 

• Penggantian volume cairan dan mengoptimalkan hemodinamik, menghentikan agen α-

adrenergik bila memungkinkan. 

• Antibiotik 

• Infus agen trombolitik intraarteri untuk emboli arteri akut 

• Antikoagulan untuk trombosis vena 

• Infus papaverin intraarteri untuk iskemia mesenterikus non-oklusif 

• Pembedahan : embolektomi untuk emboli arteri akut; reseksi usus yang terkena infark 

mesenterikus. 

Prognosis  

• Mortalitas 20-70% 

 

 

 

 

 

 

 

 

PANKREAS AKUT 

 

Etiologi 

• Umumnya : Alkohol dan batu empedu 

• Jarang  

Obstruksi (tumor pada ampula atau pankreas, divisum pankreas dengan stenosis papila 

minor). 

Metabolik (hipertrigliseridemia, hiperkalsemia) 

Obat-obatan (furosemid, tiazid, sulfa, didanosin, penghambat protease, estrogen, azatioprin). 

Infeksi (echovirus, Coxsackievirus, mumps, rubela, EBV, CMV, HIV, HAV, HBV). 

Trauma (trauma tumpul abdomen, pasca ERCP) 

Sengatan kalajengking (di Trinidad) 

 

Manifestasi klinis 

• Nyeri abdomen di midepigastrium, menyebar ke punggung, hilang bila posisi duduk condong 

ke arah depan. 

• Mual dan muntah 

• Demam 

 

Pemeriksaan  fisik 

• Nyeri tekan dan nyeri lepas di daerah abdomen, bising usus ↓ (ileus adinamik), massa 

abdomen dapat dipalpasi +. 

• jika  berat : tanda Cullen (periumbilikalis) atau Grey Turner (bokong) menunjukkan 

adanya perdarahan retroperitoneum. 

• Hipotensi atau syok + 

 

 

 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Laboratorium : ↑ amilase dan ↑ lipase 

Bergantung tingkat keparahannya : leukosit ↑, hematokrit ↓, BUN ↑,  Ca ↓, glukosa ↑, uji 

fungsi hepar + ↑. 

• Pemeriksaan  pencitraan : CT abdomen merupakan terpilih (namun akan tampak normal pada 

lebih dari 28% kasus ringan) 

Suntikan cepat kontraksi IV + (CT dinamik) untuk menilai integritas mikrosirkulasi dan 

mendeteksi nekrosis dapat menunjukkan kalsifikasi jika  ada  pankreatitis kronis. 

• Drainase abses yang dipandu CT atau aspirasi jarum halus pada nekrosis pankreas. 

• Endoscopic retrograde cholangiopancreatograpgy (ERCP) : secara umum bukan indikasi 

kecuali pada pankreatitis sebab  batu empedu dengan obstruksi biliaris (lihat dibawah). 

  

Penatalaksanaan  

• Terapi suportif 

Resusitasi cairan (mungkin perlu hingga 10 L/hari jika   terjadi pankreatitis yang 

memicu  gangguan hemodinamika yang berat. 

Analgetik dengan meperidin 

Penggantian elektrolit 

• Sisa pankreas NPO : penyedotan pada NG jika mual dan muntah proyektil; pemberian 

octreotide pada kasus-kasus yang berat. 

• Antibiotik : imipenem pada pasien yang mengalami nekrosis 

• ERCP jika  pankreatitis disebabkan batu empedu dengan obstruksi biliaris 

 

Komplikasi  

• Sistemik : syok, ARDS, gagal ginjal, perdarahan saluran cerna. 

• Metabolik : hipokalsemia, hiperglikemia, hipertrigliseridemia 

 

• Pseudokista (10-20%) 

Dicurigai bila ada  nyeri persisten atau peningkatan enzim amilase atau lipase yang 

persisten kebanyakan sembuh secara respon spontan; jika  menetap > 6 minggu dan 

disertai rasa nyeri → drainase internal atau perkutaneus. 

• Pankreatik nekrotikans : tangani secara konservatif selama mungkin, pembedahan dilakukan 

jika  pasien tetap tidak stabil. 

• Infeksi (5%) : demam peningkatan leukosit 

Abses pankreas : antibiotik + drainase (jika mungkin di pandu dengan CT) 

Pankreatik nekrotikans terinfeksi (aspirasi → kultur bakteri (+)) : antibiotik + debrideman 

secara pembedahan (mortalitas 100% tanpa debrideman yang ekstensi / luas). 

Asites pankreatik atau efusi pleura : menunjukkan disrupsi duktus pankreatikus; 

pertimbangan ERCP dengan penempatan stent menyilang duktus. 

Kriteria Ranson 

Pada diagnosis Pada 48 jam 

Usia > 55 tahun Hematokrit ↓ > 10 % 

Jumlah  leukosit > 16.000/mm3 BUN ↑ > 5 mg/dl 

Glukosa > 200 mg/dl Defisit basa > 4mEq/L 

AST > 250 U/L Ca < 8 mEq/L 

LDH > 350 U/L PO2 < 60 mmHg 

Sekuestrasi cairan > 6 L 

Prognosis  

#Kriteria  Mortalitas  

< 2 < 5 % 

3 – 4  15 – 20 % 

5 – 6  40 % 

> 7 > 99 % 

(Am J Gastroenterol 77 : 663, 1982) 

UJI HEPAR ABNORMAL 

 

Uji fungsi hepar 

• Albumin : petanda umum untuk sintesis protein hepar. Menurun secara perlahan pada gagal 

hepar. 

• Waktu protrombin (PT) : bergantung pada sintesis faktor pembekuan I, II, V, VII, X; sebab  

waktu paruh beberapa faktor pembekuan ini pendek, peningkatan PT dapat terjadi dalam 

hitungan jam setelah terjadi disfungsi hepar. 

• Bilirubin : produk metabolisme heme di dalam hepar; baik tak terkonjugasi (indirek) ataupun 

terkonjugasi (direk). 

 

Uji hepar abnormal pada cedera 

• Aminotransferase (AST, ALT) : enzim-enzim intraselular 

ALT spesifik terhadap hepar; AST ditemukan dalam hepar, jantung, muskulo skeletal, ginjal, 

dan otak; aminotransferase berupa LDH nonspesifik dilepaskan (dan menjadi meningkat 

kadarnya) pada nekrosis dan peradangan hepar. 

ALT > AST → hepatitis virus ; AST : ALT > 2 : 1 → hepatitis alkoholik, LDH ↑↑↑ → 

hepatitis iskemik. 

• Fosfatase alkali (AP) : enzim yang terikat pada membran kanikular hepar 

Selain di hepar, juga ditemukan di tulang, usus, dan plasenta 

Untuk menginformasikan enzim ini berasal dari hepar yaitu  dengan : fraksinasi panas : 

(“hepar hidup, tulang terbakar”), ↑ 5’-NT atau ↑ GGT. 

↑ kadar terlihat pada obstruksi biliaris (seperti : batu) atau kolestasis intrahepatik (seperti : 

infiltrasi hepatik) 

 

Pola-pola pada cedera hepar 

• Hepatoselular : aminotransferase ↑↑, ↑ bilirubin atau AP + 

↑↑↑ aminotransferase (> 1000) : hepatitis virus, overdosis asetaminofen, dan iskemia. 

• Kolestasis : ↑↑ AP dan bilirubin, ↑ aminotransferase + 

• Hiperbilirubinemia terpisah : ↑↑ bilirubin, AP dan aminotransferase yang mendekati normal. 

• Infiltratif : AP ↑, bilirubin atau aminotransferase + 

 

Gambar 3-6. Pendekatan uji hepar abnormal dengan pola hepatoselular 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3-7. Pendekatan uji hepar abnormal dengan pola kolestatik 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3-8. Pendekatan uji hepar abnormal dengan hiperbilirubinemia yang terpisah 

 

 

 

 Cedera hepatoselular  

(secara predominan AST dan ALT meningkat, bilirubin dan AP yang meningkat +)  

Hepatitis virus  Autoimun   Obat dan toksin Vaskular    Herediter    

HAV, HBV, HCV, 

HDV, HEV, CMV, 

EBV, HSV, VZV  

Alkohol 

Asetaminofen 

Obat-obatan 

toksin  

Iskemik 

Kongestif 

Budd-Chiari 

VOD  

Hemokromatosis 

Defisiensi alfa-1-AT 

penyakit Wilson  

Petanda virus  Autoantibodi  Skrining toksin Hipotensi/CHF  Penyakit sistemik 

 Kolestasis   

(secara predominan ada  peningkatan AP dan bilirubin, AST dan ALT meningkat +)  

Disfungsi hepatoselular  Obstruksi    

Kerusakan epitel biliaris  Kolestasis intrahepatik  

Hepatitis 

sirosis   

Terinduksi obat  

Sepsis   

Pascaoperasi  

Sirosis biliaris primer 

Koledokolitiasis 

Kolangiokarsinoma 

Karsinoma pankreas 

Pankreatitis 

Kolangitis sklerotikans  

Tanpa dilatasi duktus biliaris pada USG Dilatasi duktus biliaris pada USG +  

 Hiperbilirubinemia terisolasi 

(bilirubin meningkat, AP, AST, dan ALT mendekati normal  

Produksi bilirubin yang Defek pada 

Tidak terkonjugasi (indirek)   Terkonjugasi (direk)  


 

 

HEPATITIS 

 

Hepatitis A 

• Penularan : rute orofekal; makanan, air, susu dan kerang yang tercemar; pusat perawatan 

harian dalam keadaan terjangkit wabah. 

Defek pada 

sekresi empedu  

Hemolisis 

Eritropoiesis tidak efektif 

Reabsorpsi hematoma   

Penyakit Gilbert 

Penyakit Crigler-Najjar  

Sindrom Dublin-Johnson 

Sindrom Rotor  

Infiltatif  

(secara predominan ada  peningkatan AP, bilirubin, AST, ALT mendekati normal) 

 

Keganasan (HCC, metastatik, limfoma) 

Granuloma (TB, sarkoidosis, histopalasmosis) 

Abses (amuba, bakteri) 

• Inkubasi : 2-6 minggu 

• Kronis : tidak ada 

• Diagnosis : hepatitis akut = 1gM anti-HAV (+); pernah terpajan = anti-HAV (+), 1gM anti 

HAV- 

 

Hepatitis B 

• Penularan : perkutaneus, seksual, perinatal 

• Inkubasi : 2-6 bulan 

• Sindrom ekstrahepatik : poliartritis nodosa, glomerulonefritis membranosa 

• Kronisitas : < 10% 

• Serologi : 

HbsAg : muncul  sebelum gejala; digunakan untuk skrining pendonor darah 

HbeAg : bukti replikasi virus dan ↑ infektivitas 

IgM anti-HBc : Antibodi yang pertama kali muncul : menunjukkan infeksi akut 

IgG anti-HBc : menunjukkan infeksi HBV sebelumnya (HbsAg-) atau infeksi HBV yang 

sedang berlangsung (HbsAG +) 

Anti-HBe : menunjukkan penghentian replikasi virus, infektivitas ↓ 

Anti-HBs : menunjukkan resolusi penyakit akut dan kekebalan (petanda tunggal setelah 

vaksinasi) 

HBV DNA : muncul dalam serum yang berhubungan dengan replikasi virus aktif  di dalam 

hepar. 

 

 

 

Ikterus  

Gejala   

ALT Anti-HBc  

Anti-HBs  

IgM anti-HBc  

 

 

(Atas izin dari Hoofnage, J.H. dan Schafer, D.F. Serologic markers of hepatitis B virus 

Infection Semin Liver Dis 6 : 1-10, 1986) 

• Diagnosis  

Diagnosis  HBsAG Anyi-HBs Anti-HBc 

Hepatitis akut ⊕ - IgM 

Riwayat pajanan - ⊕ IgG 

Hepatitis kronis ⊕ + IgG 

Imunisasi  - ⊕ - 

 

• Penatalaksanaan untuk penyakit kronis (HbsAg (+), HBV DNA (+), ALT) 

IFN-α-2b (N Engl J Med 323 : 295, 1990) atau lamuvidine (N Engl J Med 333 : 1657, 1995) 

hilangnya petanda replikasi virus dan normalisasi uji fungsi hepar pada 20-40%. 

Transplantasi hepar : 80-100% reinfeksi dan hasilnya sering buruk kecuali bila diberikan 

HBIG atau lamuvidine. 

 

Hepatitis C 

• Penularan : perkutaneus > > seksual; ∼ 20% tanpa suatu pencetus yang jelas 

• Inkubasi : 1-3 bulan 

• Sindrom ekstrahepatik krioglobulinemia, porfiria kutaneus tarda, MPGN (glomerulonefritis 

membranoproliferatif), limfoma. 

• Perjalanan penyakit 

Infeksi akut : ikterus pada 25%, subklinis pada 75%, hepatitis fulminan pada < 1%. 

BULAN SETELAH TERPAJAN 

HBsAg   

HBeAg   

DNA p  

HBV DNA  

Anti-HBe  

Kronis : 80% berkembang menjadi hepatitis kronis, 20-30% dari yang berkembang menjadi 

sirosis (setelah ∼ 20 tahun), karsinoma hepatoselular berkembang menjadi 2-5% sirosis tiap 

tahunnya (biasanya setelah 30 tahun). 

• Serologi 

Anti-HCV (ELISA) : ⊕ dalam waktu 6 minggu hingga 6 bulan 

HCV RIBA : digunakan untuk mengkonfirmasi anti-HCV-ELISA ⊕ pada pasien dengan 

kemungkinan kecil infeksi HCV. 

HCV RNA : petanda infeksi aktif 

• Diagnosis : hepatitis akut = ⊕ HCV RNA, anti HCV +; hepatitis kronis = anti-HCV dan 

HCV RNA ⊕. 

• Penatalaksanaan : (pasien dengan ↑ ALT dan peradangan aktif pada biopsi terhadap seluruh 

pasien; JAMA 280 : 2088, 1998) 

IFN-α-2b → 20% laju respons bertahan (N Engl J Med 321 : 1501 dan 1506, 1989). 

IFN + ribavirin → - 40% laju respons bertahan (N Engl J Med 339 : 11485 dan 1493, 1998) 

transplantasi hepar : 100% terinfeksi kembali, namun biasanya ringan. 

 

Hepatitis D 

• Penularan : perkutaneus atau seksual 

• Patogenesis : memerlukan fungsi pembantu infeksi HBV untuk menimbulkan baik infeksi 

spontan maupun superimposisi. 

• Perjalanan penyakit : hepatitis yang lebih berat, perubahan ke arah sirosis yang lebih cepat 

• Diagnosis : anti-HDV 

 

Hepatitis E 

• Penularan : oro-fekal; wisatawan ke Pakistan, India, Asia Tenggara, Afrika, dan Meksiko. 

• Perjalanan penyakit : hepatitis akut dengan mortalitas yang meningkat (10-20%) selama 

kehamilan. 

• Diagnosis : IgM anti-HEV (melalui CDC) 

 

Virus-virus lain : (CMV, EBV, HSV, VZV) 

 

AUTOIMUN 

Klasifikasi (N Engl J Med 334 ; 897, 1996) 

• Tipe 1 : Antibodi anti-otot polos (ASMA), ANA; 2/3 perempuan; penyakit tiroid autoimun +, 

atau RA. 

• Tipe 2 : mikrosom tipe 1 anti-hepar/ginjal (anti-LKM1) 

• Tipe 3 : antigen hepar anti-larut (anti-SLA) 

 

Sindrom Tumpang-tindih 

• Hepatitis autoimun + sirosis biliaris primer atau kolangitis sklerosis primer 

 

Penatalaksanaan  

• Prenison + azatioprin → 80% remisi; 50-90% relaps saat penghentian, memerlukan terapi 

jangka panjang. 

 

 

 

 

pemicu  LAIN HEPATITIS ATAU HEPATOTOKSISITAS 

Hepatitis alkoholik 

• Kadar aminotransferase biasanya < 300-500 dengan  rasio AST : ALT > 2 : 1, sebagian 

sebab  adanya defisiensi B6 yang terjadi bersamaan. 

• Pengobatan : diindikasikan jika fungsi diskriminan > 32 atau ensefalopati (tanpa GIB atau 

infeksi) 

Fungsi diskriminan = [4,6 x (PT-kontrol)] + bilirubin total (mg/dl) 

Prednison 40 mg per oral 4 kali sehari selama 1 bulan (N Engl J Med 326 : 507, 1992). 

 

Hepatotoksisitas asetaminofen 

• Patofisiologi : metabolisme normal melalui glukuronidasi dan sulfasi → metabolit nontoksis; 

Over dosis → hidroksilasi N oleh sitokrom P450 → senyawa reaktif elektrofilik yang 

disimpan oleh glutation sampai jenuh → hepatotoksisitas. 

• Pengobatan : N-asetilsestein : diberikan sampai 36 jam setelah konsumsi obat jika kadar 

asetaminofen sudah ↓ (sehingga kadar puncak tidak diketahui). 

Regimen : dosis pembebanan 140 mg/kg setiap 4 jam sebanyak 17 kali dosis tambahan. 

 

Obat-obat dan toksin lain yang dapat memicu  hepatitis 

• Amidaron, azol, statin, INH, metildopa, fenitoin, sulfonamid, tetrasiklin 

• Halotan, CCI4 

• Jamur racun (Amanita phalloides) 

 

Hepatitis iskemik : “syok hepar” dengan aminotrasferase > 1000 dan LDH ↑↑ 

 

Stetohepatitis non-alkoholik (NASH) 

• Perubahan lemak dan peradangan dalam hepar bukan pada waktu penggunaan alkohol. 

• Berhubungan dengan obesitas, hiperlipidemia, diabetes melitus, dan sindrom Cushing. 

 


Arch Int Med 141 : 382, 1981 dan Guidelines for the Management of Acute Acetaminophen 

Overdose atas izin McNeil, 1999) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GAGAL HATI AKUT 

 

Definisi 

• Penyakit hepar akut + koagulopati + ensefalopati 

• Fulminan = berkembang dalam 8 minggu; subfulminan = berkembang antara 8 minggu 

hingga 6 bulan. 

 

Etiologi 

• Virus (∼ 60%) 

HAV (0,35% infeksi akut), HBV (1%), HCV (< < 1%), HDV (10%), HEV (jika hamil). 

HSV (penjamu mengalami gangguan kekebalan), EBV, CMV, adenovirus, paramiksovirus, 

parvovirus B19. 

• Obat-obatan / Toksin (∼ 20%) 

Asetaminofen 

Obat lain : fenitoin, INH, rifampin, sulfonamid, tetrasiklin, amidaron, propiltiourasil. 

Toksin : hidrokarbon terfluorinasi, CCI4 

Amanita phalloides 

• Vaskular : hepatitis iskemik, sindrom Budd-Chiari, VOD hepatik, infiltrasi malignan. 

• Hepatitis autoimun 

• Lain-lain : penyakit Wilson, perlemakan hepar akut pada kehamilan, sindrom HELLP, 

sindrom Reye. 

• Idiopatik (∼ 20%) 

 

Manifestasi klinis 

• Neurologik 

Asteriksis 

Ensefalopato : Derajat I = perubahan status mental; derajat II = letargi, konfusi, derajat III = 

stupor, derajat IV = koma. 

Edema serebral → refleks Cushing (hipetensi + bradikardi), dilatasi pupil, posisi deerebrasi, 

apnu. 

• Kardiovaskular : hipotensi dengan SVR yang rendah 

• Paru : alkalosis respiratorik, asupan O2, perifer yang terganggu, ARDS 

• Saluran cerna : GIB, pankreatitis 

• Ginjal : nekrosis tubular akut (ATN), sindrom hepatorenal, hiponatremia, hipokalemia, 

hipofosfatemia. 

• Hematologi : koagulopati (sebab  ↓ sintesis faktor pembekuan darah + DIC) 

• Infeksi : terlihat pada 90% pasien; SBP pada 32% pasien; demam dan leukositosis mungkin 

tidak dijumpai. 

• Endokrin : hipoglikemia 

 

Rencana penanganan 

• Serologi virus 

• Skrining toksikologi (kadar asetaminofen tiap 1-2 jam hingga puncaknya ditentukan) 

• Pemeriksaan pencitraan (USG pada abdomen kuadran kanan atas atau CT abdomen, 

pemeriksaan doppler terhadap vena porta dan hepatika). 

• Uji lainnya : serologi autoimun, seruloplasmain dan tembaga dalam urin 

• Biopsi hepar (kecuali ada koagulopati) 

 

Penatalaksanaan 

• Perawatan setingkat ICU yang potensial meliputi pengawasan dan perawatan ICP, 

hemodinamik dan alat bantu ventilator, anti-koagulopati, pengawasan dan penanganan secara 

agresif terhadap infeksi, tetesan D10 untuk hipoglikemia, dan lain-lain. 

• Penatalaksanaan pemicu  spesifik (N-asetilsistein untuk asetaminofen, kortikosteroid 

terhadap hepatitis autoimun, terapi khelasi terhadap penyakit Wilson, dan lain-lain) 

• Transplantasi hepar jika prognosisnya buruk (lihat dibawah) 

 

Prognosis  

• Kelangsungan hidup 10-50% 

• Perkiraan hasil akhir yang buruk (Gastroenterology 97 : 439, 1989) 

Usia > 40 tahun; pemicu nya selain asetaminofen, HAV dan HBV 

Ensefalopati derajat III atau IV (onset > 7 hari setelah onset ikterus), PT > 50, bilirubin > 

17,5. 

• Daya tahan hidup 1 tahun setelah transplantasi hepar yaitu  > 60%. 

 

 

 

SIROSIS 

 

Definisi 

• Definisi : regenerasi fibrosis dan nodular yang berasal dari cedera hepatoselular. 

 

Etiologi 

• Alkohol 

• Hepatitis virus (Infeksi HBV, HCV, HDV kronis) 

• Hepatitis autoimun (perempuan, IgG ↑, ANA ⊕, Ab-otot polos) 

• Penyakit metabolik : hemokromatosis, penyakit Wilson, defisiensi α1-antitripsin. 

• Penyakit traktus biliaris : sirosis biliaris primer, sirosis biliaris sekunder (kalkulus, 

neoplasma, striktura, atresia biliaris), kolangitis sklerosis primer. 

• Penyakit vaskular : sindrom Budd-Chiari, gagal jantung sisi kanan atau perikarditis 

konstriktif 

 

Manifestasi klinis 

• Mungkin subklinis akan muncul sebagai disfungsi hepar yang progesif, hipertensi portal, atau 

keduanya. 

 

Pemeriksaan fisik 

• Hepar : membran, dapat dipalpasi, berbatas tegas, nodular → menyusut dan nodular. 

• Tanda gagal hepar : ikterus, telangiektaris, eritema plamaris, kontraktur Dupuytren, bantalan 

kuku proksimal berwarna putih (kuku Terry), ginekomastia, atrofi testis, asteriksis, 

ensefalopati, fetor hepatikus. 

• Tanda hipertensi portal : splenomegali, asites, vena abdominal superfisialis yang berdilatasi 

(kaput medusa). 

 

Langkah Penanganan 

• USG abdomen : ukuran hepar, melihat adanya karsinoma hepatoselular, asites, menilai 

patensi vena porta, splenikus dan hepatika. 

• Serologi hepatitis (HbsAg, anti HBs, anti-HCV), pemeriksaan hepatitis autoimun (IgG, 

ANA, Ab anti-otot polos), pemeriksaan Fe (saturasi Fe, feritin), seruloplasmin, tembaga 

urine, α1AT, Ab anti-mitokondrial, ekokardiogram (jika berkenaan dengan gagal jantung sisi 

kanan). 

• Biopsi hepar (perkutaneus atau transjugularis) 

• AFP 

 

Komplikasi 

• Hipertensi portal : aasites, peritonitis bakterialis spontaneus, varises, UGIB 

• Ensefalopati hepatik : kegagalan hepar melakukan detoksifikasi bahan-bahan beracun (NH, 

dan sejenisnya) yang dicetuskan dengan ↑ kadar NH3 yang terlihat dengan asupan protein 

yang berlebihan, konstipasi, GIB, infeksi, azotemia, hipokalemia, gagal hepar, HCC, pirau 

portosistemik, hipotensi, alkalosis. 

Penatalaksanaan : pembatasan asupan protein, laktulosa (pengawasan kolon yang menjadikan 

NH3 → NH4

+; perubahan flora usus → ↓ organisme yang menghasilkan NH3), neomisin, 

flumazenil. 

• Sindrom hepatorenal : azotemia dan oluguria progesif, UNa < 10 mEq/L, tidak ada respons 

terhadap pemberian cairan intravena (IVF). 

Pencetus : GIB, diuresis berlebihan, parasentesis, aminoglikosida, NSAID 

• Sindrom hepatopulmonal : hipoksemia )+ plapnu-ortodeoksia) sebab  pirau AV paru. 

• Gagal hepar : dicetuskan sebab  kerusakan hepar yang lebih lanjut atau stresor sistemik 

(infeksi, pembedahan). 

• Infeksi  

• Karsinoma hepatoselular : pertimbangkan jika  ukuran hepar ↑, asites dan nyeri abdomen 

↑, ensefalopati ↑, berat badan ↓, AFP ↑, atau nodul hepatik pada USG atau CT. 

Klasifikasi Modifikasi Child-Pugh 

Nilai Skor  

1 2 3 

Asites  Tidak ada Mudah diatasi Sulit diatasi 

Ensefalopati  Tidak ada Derajat I atau II Derajat III atau IV 

Bilirubin (mg/dl) < 2,0 2, 0-3,0 > 3,0 

Albumin (g/dl) > 3,5 2, 8-3,5 < 2,8 

PT (memanjang) < 4 4 – 6  > 6 

 Klasifikasi  

 A B C 

Jumlah keseluruhan 5 – 6  7 – 9  10 – 15  

(Birt J surg 60 : 646, 1973) 

 

Tranplantasi Hati 

• Indikasi : ensefalopati berat atau rekurens, asites reprakter, peritonitis bakterial spontan 

(SBP), perdarahan varises rekurens, bilirubin > 10 mg/dl, albumin < 3 g/dl, PT > 3 detik di 

atas kontrol. 

• Kontraindikasi : HIV, penyalahgunaan substansi akut, sepsis, keganasan (ekstrahepatik), 

komorbiditas berat. 

• Daya tahan hidup 1 tahun hingga lebih dari 90%, daya tahan hidup 5 tahun mencapai lebih 

dari 80%. 

 

ETIOLOGI SIROSIS YANG KURANG SERING 

Hemakromatosis 

• Definisi : gangguan kelebihan tembaga yang diturunkan secara resesif autosomal. 

• Epidemiologi : 1 dalam 300, biasanya pada laki-laki usia pertengahan 

• Manifestasi klinis tambahan : kulit berwarna perunggu, diabetes melitus, artritis, gagal 

jantung. 

• Pemeriksaan diagnostik : saturasi zat besi ↑ (> 60% pada laki-laki, > 50% pada perempuan), 

↑ feritin, indeks besi hepar > 1,9, mutasi gen HFE. 

• Penatalaksanaan : flebotomi, deferoksamin, konseling genetik. 

 

Penyakit Wilson 

• Definisi : gangguan kelebihan tembaga yang diturunkan secara resesif autosomal. 

• Epidemiologi : 1 dalam 30000-50000, biasanya manifestasi dimulai sebelum usia 30 tahun. 

• Manifestasi klinis tambahan : gangguan neuropsikiatrik, cincin Kayser-Fleischer. 

• Pemeriksaan diagnostik : tembaga di urine, seruloplasmin serum ↓, kandungan tembaga di 

hepar > 250 µgram/g berat kering. 

• Penatalaksanaan : terapi khelasi dengan penisilinamin, trientin; seng oral jika  

preimtomatik atau hamil. 

 

Defisien α1-antitripsin (α1-AT) 

• α1-AT yang abnormal → polimerisasi di hepar (sirosis) & protase yang tak terkontrol di paru 

(emfisema). 

• Manifestasi klinis tambahan : emfisema 

• Pemeriksaan diagnostik : tidak ada globulin α1-AT pada SPEP, badan inklusi ⊕ dengan 

pewarnaan PAS pada biopsi hepar.. 

• Penatalaksanaan : transplantasi hepar (untuk penyakit hepar) dan penggantian α1-AT 

(terhadap penyakit paru). 

 

Sirosis biliaris primer (PBC, Primary Biliary Cirrhosis) 

• Definisi : destruksi autoimun atau duktus biliaris intrahepatik 

 

• Epidemiologi : perempuan usia pertengahan, familial, bersamaan dengan penyakit autoimun. 

• Manifestasi klinis tambahan : fatigue, pruritus, malabsorpsi lemak 

• Pemeriksaan diagnostik : AP ↑, bilirubin ↑, An anti-mitokondrial (AMA) ⊕ pada 95%, 

kolesterol ↑. 

• Penatalaksanaan : asam ursodeoksikolat; vitamin yang larut dalam lemak; kolestiramin untuk 

pruritus, transplantasi. 

 

Kolangitis sklerosis primer (PSC, Primary Sclerosing Cholangitis) 

• Definisi : kolestatis idiopatik dengan fibrosis pada duktus biliaris intra dan ekstrahepatik. 

• Epidemiologi : laki-laki muda (usia 20-50 tahun), berhubungan dengan IBD pada 70% kasus 

(UC > > CD). 

• Manifestasi klinis : pruritus, demam, keringat malam, nyeri kudran kanan atas, 

kolangiokarsinoma. 

• Pemeriksaan diagnostik : bilirubin ↑, AP ↑, p-ANCA ⊕ pada 70%, ERCP → striktur duktus 

biliaris berbercak multifokal. 

• Penatalaksanaan : asam ursodeoksikolat, kolestiramin, vitamin yang larut dalam lemak, 

pemasangan stent pada striktur duktus biliaris yang dominan, transplantasi hepar (risikonya 

yaitu  adanya kemungkinan terjadi striktur duktus biliaris pasca transplantasi). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASITES 

 

Etiologi 

• Yang berhubungan dengan hipertensi portal (SAAG > 1,1) 

Sinusoid 

Sirosis (81% kasus) 

Peritonitis bakterial spontan (SBP) 

Hepatitis 

Metastasis masif pada hepar 

Karsinoma hepatoseluler 

Pasca-sinusoid 

Perikarditis konstriktif 

Gagal jantung kongestif sisi kanan 

Insufisiensi trikuspid 

Budd-Chiari (trombosis vena hepatika) 

Penyakit oklusi vena 

Pre-sinusoid (kadang-kadang memicu  asites) 

Trombosis vena spenikus atau porta 

Skistosomiasis 

• Yang tidak berhubungan dengan hipertensi portal (SAAG < 1,1) 

Peritonitis TB, ruptur viskus (amilase ↑) 

Karsinomatosis peritonii 

Pankreatitis (amilase ↑) 

Vaskulitis  

• Lain-lain : sindrom Meig, miksedema, sindrom nefrotik, enteropati akibat kehilangan protein. 

• Chylous : limfoma, TB, trauma 

 

Patofisiologi 

• Teori “Underfill” : hipertensi portal → transudasi cairan ke dalam peritoneum → ↓ volume 

plasma → retensi Na di ginjal. 

• Teori “Overflow” : refleks hepatorenal → retensi Na 

• Teori vasodilatasi perifer : hipertensi portal → vasodilatasi sistemik (sebab  lepasnya nitrat 

oksida) → ↓ efektivitas volume arteri → retensi Na di ginjal. 

• Hipoalbuminemia → penurunan tekanan onkotik serum 

• ↑ produksi limfe hepatik 

 

Langkah-langkah penatalaksanaan 

• Deteksi : pemeriksaan fisik (pekak alih, gelombang cairan) memiliki sensitivitas 60%; USG 

mendeteksi jika  > 100 cc. 

• Gradien albumin serum asites (SAAG); akurasi > 95%; Ann Intern Med 117 : 215, 1992) > 

1,1 g/dl → berhubungan dengan hipertensi portal ; < 1,1 g/dl → tidak berhubungan dengan 

hipertensi portal. 

• Protein total cairan asites (AFTP, akurasi 50%); < 2,5 g/dl → “transudat”; > 2,5 g/dl → 

“eksudat”  

SBP (proses “eksudasi”) : SAAG < 1,1 namun AFTP < 2,5 g/dl 

Asites sebab  jantung (proses-proses transudatif) : SAAG > 1,1 tapi AFTP > 2,5 g/dl 

sehingga AFTP berguna jika  SAAG > 1,1 untuk membedakan sirosis (↓ AFTP) dengan 

asites sebab  jantung (AFTP ↑) 

• jika  ada  hipertensi portal pikirkan uji fungsi hepar, USG di abdomen kuadran kanan 

atas, pemeriksaan doppler pada vena porta, splenikus dan hepatikus, ekokardiogram + 

kateterisasi jantung kanan (jika  tanda-tanda gagal jantung sisi kanan), biopsi hepar. 

• Singkirkan infeksi : hitung jenis (perlakukan seperti pada peritonitis jika  neutrofil > 220 – 

500/µl), pewarnaan gram dan kultur (+ BTA) + inokulasi bangsal terhadap botol-botol kultur 

darah (hasil 85%). 

• Uji lain sesuai indikasi (seperti : amilase, sitologi) 

 

 

 

 

Penatalaksanaan  

• Asupan Na ↓ (1-2 g/hari); tirah baring, pembatasan cairan bila hiponatremik 

• Diuretik (efektif pada 90% kasus) 

Spironolakton (mulai dengan 100 mg PO 4 x 1) + furosemid (mulai dengan 40 mg PO 4 x 1) 

Tujuan : membuat diuresis ∼ 1 L/hari (biasanya tubuh tidak mampu mereabsorpsi asites 

dengan kecepatan > 1 L/hari). 

• Parasentesis terapeutik 

Indikasi bila pasien dispnu atau merasa sangat tidak nyaman 

Keluarkan 4-6 liter; + albumin pengganti (sedikit abnormalitas kimiawi asimtomatik; tidak 

ada perubahan mortalitas). 

• Parasentesis terapeutik pasien rawat jalan 

• Pirau portosistemik intrahepatik transjugular (TIPS) : > 75% resolusi asites, namun > 15% 

menjadi ensefalopati. 

• Transplantasi hepar, bila memenuhi syarat. 

 

Peritonitis bakterial 

• Definisi  

Tipe  Hitung sel asites/mm3 Kultur asites 

Steril  < 250 PMN - 

Peritonitis bakterial spontan > 250 PMN ⊕ (satu 

organisme) 

Asites neutrositik kultur negatif 

(CCNA) 

> 250 PMN - 

Bakterasites non-neutrositik 

(NNBA) 

< 250 PMN ⊕ (satu 

organisme) 

Sekunder  > 250 PMN ⊕ (polimikroba) 

Berhubungan dengan dialisis 

peritoneum 

> 100 dengan predominan 

PMN 

⊕ 

 

• Peritonitis Bakterial Spontan 

Epidemiologi : terjadi pada 19% sirosis; faktor risiko : AFTP < 1,0 g/dl, serum bilirubin > 

2,5 mg/dl. 

Manifestasi klinis : demam, nyeri abdomen, nyeri tekan dan nyeri lepas, perubahan status 

mental, tanda klinis mungkin kurang dipercaya, sebab  memiliki ambang yang rendah dalam 

parasentesis diagnostik. 

Patogen : 70% batang gram negatif (E. Coli, Klebsiella), 30% kokus gram positif (S. 

Penumococus, golongan streptococci lainnya,Enterococcus). 

Pengobatan : sefalosporin generasi III (pemberiannya berdasarkan kultur dan sensitivitas 

data) selama 5 hari profilaksis (jika  ada riwayat SBP, GIB, atau albumin asites < 1,0 g/dl) 

: norfloksasin 400 mg PO 4 x 1.   

• CNNA : varian dari peritonitis bakterial spontan dengan perjalanan penyakit yang serupa, 

juga diterapi dengan sefalosporin generasi III selama 5 hari. 

• NNBA : obati hanya jika simtomatik 

• Sekunder (abses intraabdominal atau viskus yang mengalami perforasi) 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

Polimikroba 

Biasanya AFTP > 1,0 g/dl, glukosa cairan asites < 50 mg/dl, atau LDH cairan asites > 225 

U/L. 

Penatalaksanaan : sefalosporin generasi III + metronidazol 

• Yang berhubungan dengan dialisis peritoneum 

Patogen : 70% kokus gram positif, 30% batang gram negatif 

Penatalaksanaan : vankomisin + gentamisin (bolus IV kemudian berikan saat dialisis 

peritoneum) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENYAKIT TRAKTUS BILIARIS 

 

KOLELITIASIS (“BATI EMPEDI”) 

Epidemiologi  

• > 10% orang dewasa menderita batu empedu, prevalensi ↑ pada perempuan dan sejalan 

dengan penambahan usia, obesitas, dan kehamilan. 

 

Patogenesis  

• Empedu = gram empedu, fosfolipid, kolesterol, ↑ saturasi kolesterol dalam empedu → 

pembentukan batu empedu. 

 

Jenis batu empedu 

• Campuran (80%) : batu multipel, kebanyakan kolesterol, dapat berkalsifikasi (15-20%). 

• Kolesterol (10%) : biasanya batu tunggal, besar, tidak mengalami kalsifikasi 

• Pigmen (10%) : bilirubin tak terkonjugasi (sebab  itu terlihat pada hemolisis kronis) dan 

kalsium. 

 

Manifestasi klinis 

• Anamnesis : mungkin asimtomatik (gejala pada ∼ 2% tahun) “kolik” biliaris serangan di 

kuadran kanan atas atau nyeri di epigastrium yang mulainya mendadak, terus-menerus, 

menghilang perlahan, dan berlangsung selama 30 menit hingga 3 jam. Berhubungan dengan 

nausea. Bisa dicetuskan oleh makanan berlemak. 

• Pemeriksaan fisik : tidak demam, nyeri tekan pada abdomen kuadran kanan atas. 

 

Pemeriksaan  diagnostik 

• USG abdomen kuadran kanan atas : sensitivitas dan spesifisitas > 90-95%; dapat 

memperlihatkan komplikasi (kolesistitis dan kolangitis) 

Penatalaksanaan  

• Kolesistektomi (biasanya laparoskopi) jika simtomatik 

• Terapi disolusi oral (ursodiol) pada pasien yang menolak atau yang tidak memenuhi syarat 

untuk dilakukannya tindakan pembedahan. 

 

Komplikasi  

• Kolesistitis (30% kolik biliaris simtomatik → kolesistitis dalam 2 tahun) 

• Kolangitis 

• pankreatitis 

 

KOLESISTITIS 

Definisi 

• Peradangan pada kandung empedu (vesika felea) 

 

Patogenesis   

• Obstruksi duktus sistikus oleh batu empedu 


 

Manifestasi klinis 

• Anamnesis : mual, muntah, demam, nyeri di abdomen kuadran kanan atas dan mid-

epigastrium yang berat dan menetap. 

• Pemeriksaan fisik : nyeri tekan di abdomen kuadrah kanan atas, tanda Murphy = ↑ rasa nyeri 

di kuadran kanan atas pada saat inspirasi, palpasi vesika felea bisa +. 

• Evaluasi laboratorium : jumlah leukosit ↑, bilirubin dan AP ↑ +, amilase ↑ + (bahkan tanpa 

adanya pankreatitis) 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• USG abdomen kuadran kanan atas : sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk batu empedu; 

tanda spesifik kolesistitis meliputi cairan perikolesistik, edema dinding vesika felea, dan 

tanda Murphy pada sonografi. 

• Koleskintigrafi (HIDA-scan) : uji paling sensitif terhadap kolesistitis akut. Prosedurnya 

meliputi injeksi HID intravena yang berlabel radioaktif, yang secara selektif melakukan 

sekresi ke dalam percabangan biliaris. Pada kolesistitis akut, HIDA memasuki duktus 

kolekodus (CBD), tapi tidak ke vesika felea. 

 

Penatalaksanaan  

• NPO, cairan IV, antibiotik (E. Coli, Klebsiela, enterokokus, dan Enterobacter yaitu  kuman 

patogen yang sering). 

• Kolesistektomi semidarurat (biasanya dalam 72 jam) 

• Kolesistostomi dan drainase perkutaneus pada pasien yang keadaan umumnya sangat lemah 

sehingga belum bisa dilakukan tindakan pembedahan. 

• ERCP atau eksplorasi duktus koledokus untuk melihat koledokolitiasis pada pasien yang 

ikterik atau terlihat batu di duktus koledokusnya pada USG. 

 

Komplikasi 

• Perforasi 

• Empiema 

• Vesika felea emfisematosa sebab  infeksi oleh organisme yang membentuk gas. 


• Fistula kolesisenterik (ke duodenum, kolon, atau gaster) : dapat terlihat udara pada 

percabangan biliaris. 

• Ileus batu empedu : obstruksi usus (biasanya pada ileum terminalis) sebab  batu dalam usus 

yang melewati suatu fistula. 

 

KOLEDOKOLITIASIS 

Definisi 

• Batu empedu bersarang di duktus koledokus (CBD) 

 

 

Epidemiologi  

• Terjadi pada 15% pasien dengan batu empedu 

 

Manifestasi klinis 

• Asimtomatik (50%) 

• Kolik biliaris 

• Ikterik  

 

Pemeriksaan diagnostik 

• USG abdomen kuadran kanan atas : tampak dilatasi duktus (namun sensitivitas hanya 33% 

untuk mendeteksi batu di duktus koledokus). 

• Kolangiogram (ERCP, perkutaneus atau operasif) 

 

Penatalaksanaan  

• ERCP dan papilotomi dengan ekstraksi batu 

 

Komplikasi 

• Kolangitis 

• Pankreatitis 

• Kolesistitis 

• Striktur  

 

KOLANGITIS 

Definisi 

• Obstruksi duktus koledokus (CBD) → infeksi proksimal dari lokasi obstruksi (“pus di bawah 

tekanan”) 

 

Etiologi  

• Batu duktus koledokus 

• Striktur 

• Neoplasma (biliaris atau pankreatik) 

• Infiltrasi dengan parasit (cacing) (Clonorchis sinensis, Opisthorchis viverrini) 

 

Manifestasi klinis 

• Trias Charcot : Nyeri kuadran kanan atas, ikterik, demam / menggigil 

• Panca Reynold : Trias Charcot + syok dan perubahan status mental 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• USG abdomen kuadran kanan atas  

• ERCP 

 

Penatalaksanaan  

• Antibiotik 

• Dekompresi cabang biliaris dengan ERCP atau tindakan pembedahan. 

 

 

“ ELEKTROKARDIOGRAFI (EKG) “ 

Pendekatan (pendekatan yang sistematis merupakan hal yang vital) 

• Kecepatan dan irama 

• Interval (? BBB) dan aksis (? LAD / RAD) 

• Pembesaran ruang jantung (? LAE / RAE, ? LVH / RVH) 


• Perubahan kompleks QRST (? Gelombang Q, progresi gelombang R buruk, elevasi atau 

depresi segmen ST, atau inversi gelombang T) 

Aksis 

• Mengidentifikasi sadapan ekstremitas dengan kompleks isoelektrik → pertengahan (mean) 

aksis QRS tegak lurus dengannya 

• Periksa sadapan yang tegak lurus untuk menentukan apakah pertengahan aksis QRS yaitu  

+900 atau -900 dari sadapan isoelektrik 

Gambar 1 – 1. Determinasi aksis QRS      Deviasi aksis ke kiri (LAD) 

• Definisi : aksis > -300 

• Determinasi : S > R pada sadapan II 

• Etiologi 

Hemiblok anterior kiri (LAHB) 

Left bundle branch block (LBBB) 

Hipertrofi ventrikel kiri (LVH) 

Infark miokardium (IM) inferior 

Diafragma yang mengalami elevasi 

 

Deviasi aksis ke kanan (RAD) 

• Definisi : aksis > +900 

• Determinasi : S > R pada sadapan I 

• Etiologi 

Hipertrofi ventrikel kanan (RVH) 

Hemiblok posterior kiri (LPHB) 

IM lateral 

Penyakit paru obstruktif menahun / 

PPOM (biasanya tidak pada > + 1100) 

 

 Left bundle branch block 

(LBBB) 

Right bundle branch block 

(RBBB) 

Kriteria 1. QRS ≥ 120 mdet 1. QRS ≥ 120 mdet 

-120

-150

-90 -60

-30

10

+30

+90

+120

+150

+180

+60

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

AVL

II

AVP

III

AVR

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

2. Gelombang R monofasik, 

menghilang dan melebar 

pada sadapan I, V5 & V4                   

(± gelombang S jika  

kardiomegali) 

3. Tidak ada Q pada sadapan I, 

V5 & V6 

4. Kelainan posisi ST dan 

gelombang T yang 

berlawanan dengan defleksi 

mayor kompleks QRS 

 

5. ± Progresi gelombang R 

buruk (PRWP), LAD, 

gelombang Q’ pada sadapan 

inferior 

2. ada  pola rsR’ pada 

sadapan prekordial kanan 

3. Gelombang S melebar pada 

sadapan I, V5 dan V6 

Kompleks 

QRS 

EKG 

  

Etiologi Penyakit jantung koroner (PJK), 

hipertensi, CMP, degenerasi 

sistem konduksi 

PJK, hipertensi, kor – 

pulmonale, CMP, degenerasi 

sistem konduksi 

 

 

Left anterior hemiblock (LAHB) 

Left posterior hemiblock 

(LPBH) 

Kriteria 1. LAD (aksis > -300 dan biasanya 

>- 600) 

2. Kompleks qR pada sadapan I, 

kompleks rS pada sadapan III 

3. QRS < 120 mdet 

1. RAD (aksis > +1000) 

2. Kompleks rS pada sadapan I 

; kompleks qR pada sadapan 

III 

3. QRS < 120 mdet 

Etiologi Varian normal, PJK, hipertensi, Jarang normal ; PJK, hipertensi, 

V1

V6

V1

V6


CMP, stenosis aorta (AS) 

 

CMP, AS 

 

Interval QT yang memanjang 

• CAD, kardiomiopati, prolapsus katup mitral 

• Bradikardia berat atau blok AV derajat tinggi 

• Obat – obatan jantung : antiaritmia kelas IA (contoh : kuinidin atau prokainamid), kelas IC 

(QRS memanjang : QT memanjang, namun ST tidak memanjang) , dan kelas III (contoh : 

sotasol, amiodaron) 

• Obat – obatan psikotropik : fenotiazin, antidepresan trisiklik 

• Obat – obat lain : antihistamin non-sedatif, makrolid, antijamur derivat azol 

• Gangguan elektrolit : hipolaksemia, ? hipokalemia, ? hipomagnesemia 

• Disfungsi sistem saraf otonom : perdarahan intrakranial (biasanya disertai gelombang T 

terbalik yang dalam), stroke, diseksi leher radikal, endarterektomi karotis 

• Lain – lain : hipotiroidisme, hipotermia 

• Kongenital (Sindrom Jervell-Lange-Nielson dan Romano-Ward) 

 

 Pembesaran atrium kiri (LAE) Pembesaran atrium kanan (RAE) 

Kriteria  

Gelombang 

P EKG 

 

 

                     atau 

 

 

                       atau 

 

Sistem penilaian LVH Romhilt – Estes 

Kriteria Nilai 

Amplitudo (adanya hal – hal berikut) 

      Gelombang R atau S terbesar pada sedapan ekstremitas ≥ 20 mm 

      S pada V1 atau V2 ≥ 30 mm 

      R pada V5 atau V6 ≥ 30 mm 

Perubahan ST-T Δs (kelainan posisi berlawanan dengan defleksi mayor 

kompleks QRS) 

 

 

V1

> 40 mdet

> 1 mm

> 120 mdet

II

V1 > 15 mm

II

> 25 mm



      Tanpa digoskin 

      Dengan digoskin 

Pembesaran atrium kiri 3 

Deviasi aksis ke kiri (≥ -300) 2 

Durasi QRS ≥ 90 mdet 1 

Defleksi intrinsik pada V5 atau V6 ≥ 50 mdet 1 

       Nilai 4 = kemungkinan LVH 

       Nilai 5 = LVH definitif 

       Sensitifitas 30 – 54 % 

       Spesifisitas 83 - 97 % 

 

(Am ∫ Heart 75 : 752, 1968) 

 

 

Kriteria RVH Sensitivitas 

Spesifikasi 

pada PPOM 

Spesifikasi 

tanpa PPOM 

Penurunan rasio R/S di 

prekordium 

28 – 70 % 25 % 67 – 76 % 

Deviasi aksis ke kanan (≥ + 1000) 12 – 55 % 87 – 95 % ≥ 96% 

Rasio R/S pada V1 > 1 6 – 42 % 89 % 98 % 

R pada V1 ≥ 7 mm 2 – 23 % 94 % ≥ 94% 

(Am ∫ Cardiol 7 : 481, 1961 : Chest 65 : 622, 1974 ; dan Chau, 

Elektrocardiography in Clinical Practice. 4th ed, 1996) 

 

Gelombang O patologis  

• Definisi : tinggi gelom