Tampilkan postingan dengan label Stemcell epigenetik 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stemcell epigenetik 4. Tampilkan semua postingan

Stemcell epigenetik 4


 kimera. Epiblast SC menunjukan pluripoten jika diberikan pada embrio postimplantasi. b. 

Pengujian untuk menilai fungsi dan keadaan sel pluripoten. Penilaian ‘fungsi’ dengan mengukur kapasitas self-renewal dan 

potensi perkembangan dan melakukan validasi “kondisi” pluripotensi dengan mengukur kadar marker faktor transkripsi inti 

OCT4, SOX2 dan NANOG dan karakteristik marker seperti faktor transkripsi dan metilasi DNA.  

Stem cell pluripoten ditandai oleh mekanisme 

molekuler yang mempertahankan self-renewal dan 

menekan diferensiasi sekaligus mempertahankan 

gen kunci diferensiasi dalam keadaan quiescent 

namun”poised” atau siap untuk mengalami potensi 

perkembangan.61Faktor transkripsi yang terlibat 

dalam bentuk kombinasi yang mengatur pluripotensi 

: OCT4 (juga dikenal sebagai POU5F1, SOX2 dan 

NANOG, secara kolektif dikenal sebagai OSN. 

OCT4 dan NANOG yaitu  faktor transkripsi inti 

berdasar  pola ekspresi khusus di dalam stem cell 

pluripoten dan embrio dini. dan identifikasi yang 

berperan penting dalam pluripotensi pada mencit 

dan manusia. 65,66,67,68,69,70,71,72,73,74,75 Fungsi OCT4 

yaitu  heterodimer dengan SOX2, menempatkan 

SOX2 di antara regulator inti. 76  Ekspresi ektopik 

OCT4 dan SOX2 dalam menghasilkan induced 

pluripotent stem  (iPS) cell pada mencit and manusia 

mengkonfirmasi pluripotensi.65   Meskipun NANOG 

tidak diperlukan untuk mempertahankan stem cell 

pluripoten mencit, 73  dan ekspresi rendah atau tidak 

ada pada epiblast stem cell (EpiSC), NANOG 

menstabilkan stem cell pluripoten, dan diperlukan 

untuk perkembangan ICM secara in vivo, 74  dan 

diekspresikan pada tempat yang sama dengan OCT4 

dan SOX2. 61 

 

 

SIRKIT REGULASI FAKTOR 

TRANSKRIPSI PADA EMBRYONIC STEM 

CELL SELF-RENEWAL MANUSIA 

  

Model awal sirkit regulasi transkripsi dibuat 

berdasar  identifikasi gen target dari OCT4, 

SOX2, dan NANOG yang menyandi faktor 

transkripsi dan regulator kromatin. Regulator 

downstream pada manusia dan mencit berdasar  

studi ekspresi dan literatur  dapat dilihat pada 

Gambar 11. 61   Model ini meliputi subset gen target 

yang aktif dan represif berdasar  karakteristik dari 

353 gen. Target aktif meliputi komponen yang 

menyandi gen dari remodeling kromatin dan 

kompleks yang memodifikasi histon (misalnya, 

SMARCAD1, MYSTT3 dan SET) yang berperan 

pada regulasi transkripsi dan faktor transkripsi yang 

menyandi gen (misalnya, REST,  SKIL, HESX1 dan 

STAT3), yang menyandi gen khusus. REST banyak 

didapati pada ES cell dan berfungsi menekan gen 

spesifik neuron. 77   NANOG berfungsi melalui jalur 

TGF-ß pada ES cells. 78  OCT4, SOX2, dan NANOG 

menempati tempat yang sama dengan STA3, suatu 

regular kunci self-renewal pada ES cell mencit, 77 

menunjukkan bahwa STAT3 berperan penting pada 

ES cell manusia. 

INDUCED PLURIPOTENT STEM CELL 

 

PLURIPOTENSI SECARA IN VIVO 

 

Pluripotensi in vivo selama perkembangan, baik 

melalui mekansime genetik dan epigenetik 

terlibat dalam kondisi pluripotensi pada ICM 

melalui reprogramming nuklei pada telur yang 

dibuahi. 17 Aktivitas reprogramming terjadi pada 

sitoplasma telur yang dibuahi, seperti lahirnya 

embrio yang diklon dari somatic cell nuclear 

transfer. 79,80 Namun, masih belum jelas 

mekanisme yang berkontribusi terhadap aktivitas 

sebab  enzim yang memodifikasi kondisi 

epigenetik, juga faktor transkripsi yang 

ditranslasikan di dalam telur yang dibuahi. 

Takahashi dan Yamanaka 65 melaporkan bahwa 

pemberian transgen yang menyandi faktor 

transkripsi Oct3/4, Sox2, c-Myc dan Klf 4 ke 

dalam sel somatik, seperti fibroblast embrio dan 

dewasa pada mencit dan manusia, menghasilkan 

induced pluripotent stem cell (iPS) cells, yang 

memberi  embrio kimerik setelah disuntikan 

ke dalam blastocyst mencit. Fungsi Oct3/4, 

Sox2, dan c-Myc telah disebutkan sebelumnya, 

Klf4 dikenal sebagai onkogen,81 tetapi 

overekspresi Klf4 pada sel embrio mencit dapat 

mengurangi kemampuan diferensiasi embryonic 

bodies (EB). 82  Klf4 dapat berikatan dengan 

promoter proksimal gen target Oct3/4, seperti 

Leftyl, dan membantu mengaktivasi Oct3/4 an 

Sox2. 83  Keempat faktor dipikirkan sebagai 

pembentuk pluripotensi pada sel somatik dengan 

mekanisme seperti pada  Gambar 12. 86  c-Myc 

meningkatkan replikasi DNA, dan 

merelaksasikan struktur kromatin, sehingga 

memungkinkan Oct3/4 masuk ke dalam gen 

target. Sox2 dan Klf4 juga bekerja sama dengan 

Oct3/4 mengaktivasi gen target yang menyandi 

faktor transkripsi yang meningkatkan anyaman 

faktor transkripsi pluripoten dan bersama dengan 

Oct3/4, Sox2, dan Klf4, menghasilkan aktivasi 

proses epigenetik pada epigenom pluripoten. 17  

iPS cell memiliki  profil ekspresi gen yang 

sama dengan ES cell mencit. Yang menarik 

yaitu  bahwa Nanog tidak diperlukan sebagai 

faktor transkripsi eksogen dalam membentuk iPS 

cell dan ekspresi endogen tidak selalu diaktivasi 

untuk membentuk stem cell pluripotensi oleh 

keempat faktor. Hal ini mendukung hipotesis 

bahwa Nanog berfungsi untuk mempertahankan 

pluripotensi dan bergantung pada kondisi.   

3. Stem Cell Self-Renewal 

78 

 

Gambar 11. Pembentukan nuklei sel somatik pluripotensi. 

Studi Takahashi dan Yamanaka memakai   empat 

faktor Oct3/4, Sox2, Klf 4 dan c-Myc cukup membentuk 

pluripoten nuklei fibroblast. Oct3/4, Sox2 dan Klf4 

mungkin berfungsi bersama untuk mengaktivasi gen target 

dalam pembentukan anyaman yang stabil dalam faktor 

transkripsi pluripotensi, juga epigenom pluripoten, 

sedangkan c-Myc meningkatkan masuknya gen target 

dengan merangsang replikasi DNA. 

  

MEKANISME INDUCED PLURIPOTENT 

STEM CELLS PADA TINGKAT EPIGENETIK 

 

Untuk mendapatkan induced plupotency dari 

satu sel yang telah terdiferensiasi seperti sel 

fibroblast mencit atau manusia, selain proses 

yang memerlukan waktu sekitar 2 minggu dan 

tidak efisien (0.1-3%) 65,84 faktor transkripsi 

yang digunakan harus mengatasi beberapa  

rintangan epigenetik terhadap genom selama 

proses diferensiasi untuk menstabilkan identitas 

sel dan mencegah perubahan nasib sel. 85 Studi 

terdahulu menunjukkan bahwa populasi sel 

yang mengekspresikan OKSM (Oct4, Klf4, 

Sox2 dan c-Myc) melewati beberapa  kejadian 

pada tingkat molekuler dan celuler (Gambar 

12). 86  

 

Pada awalnya fibroblast mengurangi marker 

yang berhubungan dengan keadaan somatik dan 

selanjutnya mengaktivasi gen yang berhubungan 

dengan pluripotensi, yang berarti adanya suatu 

proses yang teratur. 87,88 saat  iPSC yang baru  

mengaktivasi gen inti pluripotensi termasuk 

Oct4, Sox2, dan Nanog, maka sel yang terbentuk 

telah mendapat keadaan pluripoten dan tidak 

diperlukan faktor ekspresi dari luar (Gambar 

13).65 Kejadian berikutnya bertepatan dengan 

aktivasi silenced X chromsome  pada sel somatik 

betina, upregulasi telomerase dan pembentukan 

immortality yang merupakan tanda sel 

pluripoten.86.87 

 

 

 

Gambar 12. Dinamika kejadian molekuler selama proses reprogramming seluler. Perubahan pada tingkat sel, transkripsi dan 

epigenetik (bar berwarna) yang terjadi selama pembentukan induced pluripotent stem cell (iPSC) dari fibroblast dan contoh 

regulator yang berhubungan dengan chromatin marks pada reprogramming langsung (kanan). Tanda panah merah 

menunjukkan perjalanan waktu induksi faktor eksogen (+OKSM) dan penarikan (-OKSM). 5hmC, 5-hydroxymethylcytosine; 

5mC, 5-methylcytosine; MET, mesenchymal-to-epithelial-transition; OKSM, Oct4, Klf4, Sox2, c-Myc. 

 

Gambar 13. (A) Efek pengeluaran faktor individu dari 24 faktor trankripsi pada pembentukan koloni yang resisten G418. 

Fbx15geo/bgeo MEFs ditransduksi dengan faktor yang dipilih dengan G418 selama 10 hari (kolom putih) atau 16 hari 

(kolom hitam). (B) Efek pengeluaran faktor individu dari10 faktor yang dipilih dalam  pembentukan koloni yang resisten 

terhadap G418 setelah tranduksi. (C) Efek transduksi pool dari empat, tiga, dan dua faktor terhadap pembentukan koloni 

resisten terhadap G418 pada 16 hari setelah tranduksi. (D) Morfologi iPS-MEF4 (klon7), iPS MEF 10 (klon 6) dan iPS-

MEF 3 (klon 3). Skar bar = 200 mm. MEF : murine embryonic fibroblast. 


 

Faktor Transkripsi Penentu Nasib Sel 

Pluripotensi 

 

Oct4, Klf4, Sox2 (OKS) yaitu  satu kombinasi 

faktor minimal yang dibutukan untuk 

menghasilkan iPSC di bawah kondisi 

reprogramming (dengan adanya serum dan sitokin 

leukemic inhibitory factor, LIF). OKS bekerja 

menekan lineage-specific genes dan mengaktivasi 

gen yang berhubungan dengan embryonic stem 

(ES) cell, sehingga membentuk  sel yang 

mempertahankan pluripotensi. 89 Sedangkan 

ekspresi c-Myc secara signifikan meningkatkan dan 

mempercepat reprogramming tetapi tidak 

dibutuhkan dalam pembentukan iPSC. 90,91 Ekspresi 

c-Myc berfungsi pada awal reprogramming, dengan 

merangsang proliferasi dan menginduksi pergeseran 

metabolik dari keadaan oksidatif menjadi glikolitik 

yang merupakan ciri sel pluripotensi. 92,93 c-Myc 

juga berperan dalam reprogramming dengan 

menginduksi promoter RNA polymerase, sehingga 

meningkatkan gen target.  94,95. 

Keempat faktor transkripsi yang dikemukakan 

Takahashi dan Yamanaka secara fungsional dapat 

digantikan oleh faktor transkripsi lain, upstream 

epigenetic modifier, microRNA (miRNA) atau 

molekul kecil untuk mendapatkan iPSC. 84  

Penelitian selanjutnya juga mendapatkan bahwa 

iPSC juga diperoleh dari molekul yang sama sekali 

tidak mengandung faktor transkripsi, 96,97  

menunjukkan bahwa ada  fleksibilitas di antara 

faktor reprogramming (Gambar 14). 86 Misalnya, 

studi akhir-akhir ini melaporkan bahwa Oct4 dan 

Sox2 dapat digantikan oleh lineage specifier dini 

seperti Gata3 dan Geminin. 98  Molekul ini masing-

masing berhubungan degan diferensiasi mesoderm 

dan ectoderm. Juga menekan program lineage lain, 

sehingga hal ini menunjukkan bahwa jalur 

diferensiasi dapat memicu induksi IPSC. 86  Dengan 

demikian dapat disimpulkan bahwa faktor 

transkripsi reprogramming harus mencapai dua 

tugas utama, yaitu menghilangkan program somatik 

dan menginduksi keadaan pluripotensi stabil yang 

khas untuk ES cells. 86 

3. Stem Cell Self-Renewal 

80 

 

 

Gambar 14. Hubungan antara faktor reprogramming dengan molekul yang mempengaruhi keadaan kromatin. Faktor 

transkripsi yang ditunjukkan dapat memicu induced pluripotency dengan kombinasi yang lazim digunakan (Oct4, Klf4, 

Sox2, c-Myc). Beberapa jenis molekul dapat memfasilitasi (hitam) atau menginhibisi (merah) reprogramming. Bone 

morphogeneic protein(BMP) dan Wnt masing-masing dapat meningkatkan atau menekan pembentukan iPSC bergantung 

pada tahap pembentukan. 

RBPs, RNA binding proteins

 

 

PERUBAHAN TARGET KROMATIN 

SELAMA PROSES PEMBENTUKAN 

INDUCED PLURIPOTEN STEM CELL  

 

Studi akhir-akhir berhasil mengemukakan proses 

penempatan OKSM dan histone  marks pada awal 

reprogramming pada fibroblast mencit dan manusia 

yang menghasilkan iPSC. 99,100  ada  3 tahapan 

target OKSM terhadap lokus berdasar  asesibilitas 

kromatin, penambahan remodeling dan kinetik 

aktivasi transkripsi (Gambar 15 a). 86  Gen dengan 

keadaan kromatin “terbuka” pada sel somatik terdiri 

dari kelompok pertama sebagai target, ditandai 

dengan peningkatan hipersensitivitas DNA ase, 

histon H3 lysine di dan trimetilasi (H3K4 me2 dan 

H3K4me3) dan kemampuan berikatan dengan 

OKSM. 

Target OKSM dini yang kedua meliputi distal 

regulatory elements, memerlukan penambahan 

remodeling kromatin untuk aktivasi transkripsi. 100  

Distal regulatory element terdiri dari loki yang 

resisten terhadap DNase-I yang tidak dapat berikatan 

dengan c-Myc saja. 100 Gen pluripoten dini seperti 

Sall4 termasuk kelompok ini. Penempatan target ini 

oleh OKS memfasilitasi ikatan dengan c-Myc. Hal 

ini mengidentifikasikan bahwa OKS yaitu  ‘pioneer 

factors” yang mampu berikatan dengan kromatin 

somatik tertutup dan memungkinkan remodeling 

kromatin juga rekrutmen faktor transkripsi dan 

kofaktor. 

 

Gen bivalen terdiri dari sekelompok target kromatin 

yang ditandai oleh metilasi H3K4 aktif dan metilasi 

H3K27 represif pada iPSC dan ES cell. 54  Gen di 

Stem Cell Epigenetik 

81 

dalam kategori ini ditranskripsikan menjadi silent 

pada ES cell dan iPS dan dalam keadaan siap 

(poised) mengalami aktivasi cepat terhadap 

komitmen lineage (Gambar 15 a). 86 Faktor 

transkripsi Utf1 terlibat dalam regulasi bivalensi 

melalui deposisi H2K27 mark represif dan degradasi 

transkrip residual. 101Ekspresi Utf1 dapat 

menggantikan beberapa faktor reprogramming awal, 

hal ini menunjukkan bahwa pembentukan promoter 

bivalen penting untuk mendapatkan pluripotensi. 102 

 

 

 

Gambar 15. Tingkat regulasi epigenetik selama proses induced pluripotency. a, ada 4 kategori gen yang berhubungan 

dengan modifikasi histon dan respon transkripsi selama reprogramming. Misalnya, gen yang ditunjukkan dalam tanda 

kurung. B, Gain dan loss metilasi DNA terjadi pada akhir reprogramming, sedangkan hidroksimetilasi pada gen 

pluripotensi terjadi pada tahap awal-pertengahan pembentukan iPSC. c, Fungsi Oct (O), Klf4 (K) dan Sox2 (S) sebagai 

“pioneer factors” yang berikatan dengan regio nukleosom dengan kepadatan tinggi, memungkinkan remodeling kromatin 

(tanda panah bertitik) dan rekrutmen faktor lain termasuk c-Myc (M). d, Perubahan pada interaksi long-range chromatin 

di sekitar lokus Nanog (somatic-specific, loop berwarna orang; intermediate-specific, hijau dan pluripotent specific biru) 

selama pembentukan iPSC. Pembentukan iPSC membentuk kembali hubungan kromatin 3-D, tanda khas ES cell, dan 

proses ini bergantung pada mediator dan kohesi. 


Metilasi DNA dianggap sebagai modifikasi 

epigenetik yang paling stabil, membawa gene 

silencing selama perkembangan dan pada dewasa. 86 

Perubahan pada modifikasi kromatin mendahului 

deposisi metilasi DNA marks selama proses 

diferensiasi. 92  Demikian juga perubahan metilasi 

DNA hampir selalu terjadi pada akhir proses 

reprogramming dan setelah perubahan kromatin 

terjadi, menunjukkan bahwa urutan kejadian dalam 

proses perkembangan normal (Gambar 12). 86 

Metilasi DNA terbentuk melalui enzim Dnmt2a dan 

Dnmt3b methyltransferase de novo dan 

dipertahankan oleh Dnmt1 methyltransferase. 103 

Meskipun Dnmt3 knockdown meningkatkan 

pembentukan iPSC pada sel manusia,104 delesi enzim 

Dnmt3 dan Dnmt3b tidak memberi  konsekuensi 

terhadap reprogramming sel.105 Hal ini 

menunjukkan bahwa lineage-specific genes terutama 

terjadi melalui mekanisme alternatif yaitu deposisi 

metilasi H3K27 represif, yang konsisten dengan 

peran penting PRC2 dalalm pembentukan iPSC. 106  

 

Enzim yang berhubungan dengan metilasi DNA 

memiliki  hubungan langsung dengan 

pembentukan iPSC (Gambar 12). 86 Protein TET 

mengkatalisis hidroksilasi 5-methylcytosine (5mc) 

menjadi 5-hydroxymethylcytosine (5hmC), yang 

merupakan substrat untuk excision repair dari 

unmodified cytosine. 103  Sesaat setelah overekspresi 

OKSM, Tet2 menginduksi hidroksimetilasi dari gen 

kunci sepeti Nanog and Esrrb, selanjutnya demetilasi 

dan aktivasi transkripsi (Gambar 12 dan 15b). 86,107 

Analisis proteomik dan genomik menunjukkan 

bahwa Tet1 dan Tet2 secara langsung berinteraksi 

dengan Nanog dan menempati target yang sama di 

dalam ES cell, menunjukkan bahwa Nanog 

merupakan target Tets. 108 Tet 1 atau Tet2 bersama 

dengan Nanog secara signifikan meningkatkan 

pembentukan iPSC dan sebaliknya deplesi Nanog 

atau Tet2 menghilangkannya. 21,107,108  

 

Struktur kromatin setempat dapat berpengaruh 

terhadap posisi dan densitas nekleosom juga histon 

varian (Gambar 14 dan 15c). 86 Histon varian 

biasanya memodifikasi kemampuan nukleosom 

mengalami remodeling dan mengakomodasi 

modifikasi histon aktif dan represif. Histon varian 

macroH2A berhubungan dengan resistensi 

remodeling kromatin. 109  Struktur kromatin lokal 

diatur oleh beberapa  kompleks remodeling yang 

berpengaruh terhadap pembentukan iPSC (Gambar 

14). 86 Misalnya, kompleks SW1-SNF, seperti Brg1, 

Baf155 dan Brm secara langsung merekrut Oct4 

untuk merelaksasikan struktur kromatin dan 

memfasilitasi ikatan dengan faktor transkripsi lain. 

110 Penemuan ini menunjukkan bahwa Oct4 yaitu  

pioneer factor yang berpengaruh terhadap perubahan 

struktur kromatin setempat yang bersifat silenced 

target. 111 Hal yang sama terjadi pada faktor 

remodeling CHD misalnya Chd1 yang membuka 

kromatin selama reprogramming yang diinduksi 

faktor transkripsi. 111  

 

Sebaliknya, kompleks NURD sebagai represif 

termasuk Hdc1 dan Mbd3, yang penting sebagai 

heterokromatin, menghambat reprogramming. Jika 

gennya dilakukan knockdown, akan  meningkatkan 

efisiensi pembentukan iPSC (Gambar 16).112,113 

Studi Rais et al., mendapatkan bahwa deplesi Mbd3 

pada sel somatik memfasilitasi konversi ke 

pluripotensi dengan efisiensi mendekati 100%, 113  

Hal ini membuktikan bahwa Mbd3 yaitu  faktor 

yang menentukan naïve atau ground state 

pluripotency pada ES cell dan sel somatik mencit 

dan manusia (Gambar 16). 113 Jadi, Mbd3 dapat 

menghambat reprogramming saat  diberikan 

sebelum tahap akhir reprogramming. Namun sekali 

pluripotensi terbentuk, Mbd3 tidak mengganggu 

pemeliharaan pluripotensi.113 Sebagaimana 

disampaikan peneliti, bahwa modifikasi pendekatan 

reprogramming ini dapat membentuk pluripotensi 

dengan fleksibilitas dan resolusi yang menentukan 

dan sinkron, yang sebelumnya bersifat asinkron dan 

stochastic, sebab  efisiensi mendapat sel induced 

stem cell pluripoten hanya berkisar (0.1-3%). 113 

 

Di samping struktur kromatin setempat, susunan 

kromatin 3D telah diimplikasikan dalam proses 

plutipotensi, diferensiasi dan reprogramming 

(Gambar 15 c). 86,114 Diferensiasi ES cells diikuti 

dengan reposisi gen pluripotensi dari nukleus di 

tengah ke nukleus di perifer dan disrupsi promoter-

enhancer looping pada lokus pluripotensi seperti Oct 

4 115,116  dan Nanog. 111,112 Studi akhir-akhir ini 

mengidentifikasi interaksi kompleks pluripotency 

specific long-range pada lokus Nanog, yang disusun 

kembali selama diferensiasi dan reprogramming.116 

Pembentukan dan pemeliharaan network ini 

bergantung pada kompleks mediator dan kohesi 

(Gambar 15d). 86 Subunit dari kompleks ini secara 

langsung berinteraksi dengan faktor reprogramming, 

117,118 dan dengan knockdown dapat menghambat 

pembentukan iPSC. 117  Hal ini menunjukkan bahwa 

faktor reprogramming tidak hanya mengaktivasi 

atau melakukan silencing terhadap gen tetapi juga 

berfungsi sebagai penyusun kromatin dengan 

mengatur kembali struktur kromatin dari keadaan 

somatik menjadi plutipoten.86 

Stem Cell Epigenetik 

83 

 

 

Gambar 16. Melakukan deplesi ekspresi Mbd3 menfasilitasi pembentukan iPS manusia. 1. Secara in vitro fibroblast 

terdiferensiasi dari MDB3 wt dan MBD3 mut dari iPS cell membawa transgen OKSM yang diinduksi doxycycline, 

direprogram. Pluripotensi secara random dari sel yang diklon dengan pembentukan teratoma. b, Fibroblast C1 manusia 

direprogram membawa transgen OKSM yang diinduksi doxycycline sesuai dengan protokol reprogramming. 

Knockdown Mbd3 pada hari ke 2 dan ke 4, tetapi tidak dengan scrambled control siRNA, meningkatkan efisiensi 

reprogramming secara nyata dievaluasi dengan pembentukan koloni NANOG/SSEA41 dan divalidasi secara in vivo 

dengan pembentukan teratoma. Western blot mengkonfirmasi penurunan ekspresi protein MBD3 setelah transfeksi 

dengan siRNA MBD3. Error bar menunjkkan s.d dari rata-rata (n 53). c, Perlakuan MBD3 siRNA pada fibroblast primer 

manusia memungkinkan pembentukan sel IPS cell hanya dengan dua ronde reprogramming dengan transfeksi mRNA 

dengan faktor OSKMdan LIN28 (OSKML). Representatif sel IPS cell manusia dengan waktu dan pasase berbeda (P, 

jumlah pasase). Pluripotensi dari klon yang diseleksi ditunjukkan dengan pewarnaan OCT4 dan SSEA4 marker 

pluripotency dan pembentukan teratoma. Hasil ini menunjukkan bahwa inhibisi ekspresi dan/atau fungsi MBD3 

meningkatkan pembentukan iPSC cell dengan transien mRNA atau protokol transfeksi transien untuk reprogramming 

iPS cell.  

 

erbagai jenis stem cell manusia saat ini bisa 

diisolasikan dan diperbanyak di luar tubuh atau 

dikultur secara in vitro mulai dari embryonic stem 

cell, adult stem cell meliputi hematopoietic stem 

cell, hingga induced pluripotent stem cell (iPSCs), 

sehingga dapat menjadikan suatu model 

perkembangan manusia di dalam piring petri. 1 Stem 

cell dapat dikultur dan ditumbuhkan dalam piring 

petri tanpa batas waktu dan berdiferensiasi menjadi 

berbagai jenis lineages (garis turunan) seperti 

perkembangan secara in vivo dan/atau perbaikan 

terhadap injuri. 1 

 

Hematopoietic stem cell (HSC) dengan sifat 

multipoten mampu berdiferensiasi menjadi seluruh 

jenis sel darah yang berjumlah lebih dari 10 jenis sel 

darah yang matur. 2,3 HSC dapat mempertahankan 

keseimbangan antara self-renewal dengan 

diferensiasi sepanjang hidup seseorang dengan 

progeni yang telah berdiferensiasi. Dengan self-

renewal, berarti HSC dapat memperbanyak dirinya 

tanpa diferensiasi. 

 

Bab ini akan memfokuskan pada pembahasan 

mengenai proses diferensiasi pada HSC, dengan 

fokus pada penjelasan mekanisme epigenetik yang 

mendasarinya, sebab  HSC telah berhasil 

digunakan dalam terapi hemato-onkologik selama 

beberapa dekade dan juga nonhematologik. 

Penjelasan dinamika epigenetik pada stem cell 

pluripoten juga dibahas, seperti pada embryonic 

stem cell.    

 

 

POTENSI DIFERENSIASI HEMATOPOISTIC 

STEM CELL 

 

Satu sistem nomenklatur mengkategorikan potensi 

diferensiasi dari berbagai populasi stem cell seperti 

tampak pada Tabel 1. 

4. Stem Cell Differensiasi 

90 

Tabel 1. Potensi Diferensiasi dari Populasi Stem Cell 

 

ICM: inner cell mass, ES: embryonic stem, iPS: induced pluripotent stem, HSC: hematopoietic stem cell, NSC: neural 

stem cell, CMP: common myeloid progenitor, CLP: common lymphoid progenitor. 

Diikutip dari Seita J, Weissman IL. Hematopoietic Stem Cell: Self-renewal versus differentiation. Wiley Interdiscip Rev Syst Biol Med . 

2010 ; 26: 640-653. 

 

 

HSC yaitu  stem cell somatik yang berada di 

dalam sumsum tulang, dan jika ditransplansikan 

ke dalam hewan yang diradiasi dengan dosis 

subletal, mampu mengembalikan fungsi sistem 

limfo-hematopoietik. 3 Konsep stem cell yang 

pertama kali dipelopori oleh Till and McCulloch 

yang melakukan transplantasi sumsum tulang ke 

dalam mencit. Sepuluh hari kemudian, timbul 

koloni di dalam limpa mencit yang memiliki sifat 

: 1. Kemampuan  menghasilkan sel mieloeritroid, 

and kemampuan bereplikasi sendiri.4,5,6,7 

berdasar  pengamatan ini, diperoleh dua 

kriteria stem cell yaitu multipotensi dan self-

renewal. 2 Di samping itu, juga dikemukakan 

bahwa keputusan HSC mengadakan self-renewal 

dan diferensiasi yaitu  suatu proses stochastic 

atau acak. 8 Ogawa et al., menguji model ini 

secara in vitro dan mendapatkan bahwa produksi 

koloni sel blast sekunder yaitu  proses self-

renewal, sedangkan koloni multilineage yaitu  

diferensiasi, 9,10  sebab  distribusi kedua jenis 

koloni amat heterogen seperti dilaporkan oleh Till 

an McCulloch.  

 

Marker permukaan pertama yang digunakan untuk 

memperkaya HSC yaitu  CD34, suatu ligand 

terhadap L-selectin yang hanya diekspresikan 

sebesar 0.5-5% di dalam sel darah hati fetus, 

darah tali pusat dan sumsum tulang dewasa. 11,12,13 

Pemeriksaan assay in vitro mendapatkan semua 

sel CD34+ memiliki sifat multipotensi atau 

oligopotensi, namun populasi masih sangat 

heterogen. Isolasi HSC manusia memperlihatkan 

fenotipe CD34+CD90+Lin-, dengan marker Lin 

meiputi marker T,B, NK (Natural Killer), dan 

mieloeritroid. Sel ini menghasilkan progeni 

limfoid dan mieloid secara in vitro dan juga pada 

mencit dengan severe combined immunodefiency 

(SCID) secara in vivo. Sebaliknya populasi yang 

tersisa dari CD34+ CD90- Lin- tidak mampu 

menghasilkan klon sel yang mengandung tipe sel 

mieloid dan limfoid. Namun, penkayaan HSC 

melalui mobilisasi G-CSF ke dalam darah perifer 

dengan ekspresi CD34 dan CD90 mampu 

meningkatkan efisiensi transplantasi sumsum 

tulang dengan memberi  rekonstitusi dimediasi 

hematopoietic dan engraftment jangka panjang 

sekaligus mengurangi kontaminasi sel kanker atau 

sel T yang imunoreaktif. 14,15,16 Sebenarnya semua 

CD34+ CD9+ berada di dalam fraksi CD38- 17 , 

sehingga dapat disimpulkan bahwa HSC manusia 

dapat diperkaya di dalam populasi Lin-

CD34+CD38-CD90+. 

 

 

SUMBER HEMATOPOIETIC STEM CELL 

 

Produksi stem cell darah terjadi pada berbagai 

tempat sel embrionik (Gambar 1). 18  Urutan tempat 

hematopoiesis pada mamalia meliputi yolk sac, area 

di sekitar aorta dorsalis disebut aorta-gonad 

mesonephros (AGM), hati fetus, dan sumsum tulang. 

Plasenta juga dikenal sebagai tempat produksi 

selama peralihan dari AGM ke hati fetus. Perbedaan 

 

 

Penamaan  Potensi Diferensiasi  Contoh Stem/Progenitor Cell 

 

Totipoten  Semua jaringan embrio dan Zigot 

   Ekstraembrio 

 

Pluripoten  Semua jaringan embrio  ICM, ES cell, iPSC 

 

Multipoten  Semua lineage (garis turunan)  HSC, NSC 

dari suatu jaringan/organ 

 

Oligopoten   Beberapa tetapi tidak semua CMP, CLP 

   Lineage dari suatu jaringan/organ 

 

Unipoten  Lineage tunggal dari suatu  Macrophage progenitor  

   jaringan    Sperma 

 

 

 

Stem Cell Epigenetik 

91 

tempat hematopoiesis menggambarkan perbedaan 

niche yang mendukung ekspansi HSC dan 

diferensiasi pada setiap tahap perkembangan. 

Misalnya, HSC pada massa hati fetus mengalami 

siklus sel yang kontinu, sedangkan pada sumsum 

tulang dewasa HSC umumnya bersifat quiescent 

(dormant). 

 

Sistem darah mamalia terdiri lebih dari 10 tipe sel 

matur termasuk sel darah merah (eritrosit), 

megakariosit/platelet, sel mieloid (monosit/makrofag 

dan granulosit), sel mast, limfosit T dan B, natural 

killer (NK) cells, sel dendritik dengan jumlah yang 

diproduksi mencapai satu trillion (1012) setiap hari 

pada orang dewasa. 2,19  Sumber tipe sel yang 

beragam ini berasal dari satu sel progenitor umum, 

yatu hematopoietic stem cell, yang memiliki 

potensi diferensiasi yang luar biasa. 

Perkembangan hematopoietik dengan diferensiasi 

multipoten yang semakin ke bawah semakin 

terbatas dalam hierarki struktur seperti terlihat 

pada Gambar 2. 19 Pada mulanya, HSC 

menghasilkan MPP (multipotent progenitor), yang 

tidak lagi memiliki sifat renewal, tetapi populasi 

MPP masih memiliki  potensi diferensiasi untuk 

pembentukan seluruh sel darah, 20,21 sebab  sifat 

heterogen. 21,22,23 MPP dapat berkembang menjadi 

progenitor oligopoten : CLL (common lymphoid 

progenitor (CLP) 24,25,26 dan common myeloid 

progenitor (CMP). 27   Progenitor ini selanjutnya 

menghasilkan sel efektor sistem hematopoietik, 

yaitu CMP menjadi megakaryocyte/erythrocyte 

progenitor (MEP) dan granulocyte/macrophage 

progenitor (GMP). 28 Hubungan lineage antara 

stem cell, progenitor, dan sel matur membentuk 

satu ‘roadmap’ kompleks yang mengarahkan pada 

penelitian dasar molekuler dari transisi 

perkembangan. 19  

 

HSC mencit pertama kali diisolasi sebagai populasi 

(Lin-), c-kit+, Sca-1+ (LSK). memakai  

multicolored fluorescence-activated cell sorting dan 

monoclonal antibodies tahun 1988. 29,30 Di dalam 

subset ada  CD34- cell yang memiliki kapasitas 

rekonstitusi multilineage jangka panjang dan self-

renewal. 22  Dengan melakukan isolasi HSC, dapat 

dianalisis secara detail status transkripsi dan epigenetik. 

31,32,33 Gambaran perkembangan sel hematopoietik 

mencit dapat dilihat pada Gambar 2A.19 

 

Isolasi HSC manusia menunjukkan fenotipe 

CD34+CD90+Lin- dan marker Lin meliputi limfosit 

T, B, NK, dan mieloerythroid (Gambar 2B). 19  Sel 

ini menghasilkan progeni limfoid dan mieloid secara 

in vitro dan in vivo pada mencit severe combined 

immunodeficiency (SCID). Sebaliknya, sel 

CD34+CD90- Lin- tidak mampu menghasilkan klon 

sel yang mengandung tipe sel mieloid dan limfoid. 34  

Penkayaan HSC lebih lanjut dalam populasi CD34+ 

menghasilkan marker permukaan CD38. Meskipun 

90,9% sel CD34+ mengekspresi CD38, sel ini 

mampu menghasilkan koloni multilineage 

mengandung sel limfoid dan mieloid dengan fraksi 

CD38 rendah hingga negatif dan fraksi CD90+. 

35,36,37,38  Ekspresi CD34+ kurang dari 5% dari 

seluruh komponen sel darah, dan merupakan marker 

pertama dijumpai di dalam HSC dan progenitor 

manusia, 11  dan telah terbukti dalam berbagai 

penelitian transplantasi stem cell hematopoietik 

selama beberapa dekade, yang menandai keberadaan 

HSC. 39,40  

 

Jumlah sel darah matur yang dihasilkan pada 

manusia yaitu  1 juta sel per detik. HSC jarang 

masuk ke dalam siklus sel atau berada dalam fase 

G0 dari siklus sel. Bagaimana keseimbangan jumlah 

HSC dapat dipertahankan selama kehidupan 

seseorang dengan kebutuhan pergantian sel darah 

matur, yang sebagian besar hanya hidup dalam 

waktu singkat ? Keseimbangan ini amat penting 

sebab  gangguan perkembangan HSC dapat 

memicu  penyakit yang serius, misalnya 

diferensiasi HSC menjadi committed progenitor 

tidak diikuti hilangnya kapasitas self-renewal, atau 

progenitor derivat HSC gagal mencapai diferensiasi 

penuh menjadi sel darah matur, 41  atau mengalami 

progresivitas menjadi preleukemia. 42  

 

Hematopoietic stem cell dapat berada dalam kondisi 

quiescence sebab  dipertahankan oleh signaling 

TGF-ß melalui efek inhibisi terhadap proliferasi 

tanpa induksi apoptosis dari hasil studi in vitro. 

43,44,45 Hal ini terbukti dari embrio mencit yang 

mengalami kematian saat  dilakukan knockout 

signaling Smad dan TGF-ß. Namun hal ini sulit 

dibuktikan TGF-ß secara in vivo. 2 Ang-1/Tie2 

yaitu  reseptor tyrosine kinase yang diekspreiskan 

pada sel endotel dan HSC. 46,47,48 Tie dibutuhkan 

untuk mempertahankan pool HSC di dalam sumsum 

tulang dewasa.49  HSC yang mengekspresikan Tie2 

berada dalam kondisi quiescent dan berdampingan 

dengan osteoblast sumsum tulang yang 

mengekspreiskan Ang-1. Pengobatan Ang-1 

menekan proliferasi HSC dan mempertahankan 

aktivitas repopulasi jangka panjang secara in vivo. 50  

Hal ini menunjukkan bahwa Ang-1/Tie2 merupakan 

target dari modifikasi HSC dalam kondisi quiescent.   

4. Stem Cell Differensiasi 

 

92 

 

 

Gambar 1. Regulasi perkembangan hematopoiesis (A). hematopoiesis pertama kali terjadi  pada yolk sac (YS) kemudian 

pada regio aorta-gonad mesonephros (AGM), plasenta dan hati fetus (HF) Pulo darah YS dilihat memakai  

pewarnaan LacZ dari embrio transgenic dengan ekspresi GATA-1. AGM dan HF diwarnai dengan LAcZ pada mencit 

dengan knockin Runx1-Laz. (V) hematopoiesis pada masing-masing tempat mendukung produksi garis turunan darah 

yang spesifik. ECs, endothelial cells; RBCs, red blood cells; LTHSC, long-term hematopoietic stem cell; ST-HSC, short-

term hematopoietic stemcell;CMP,common myeloid progenitor; CLP, common lymphoid progenitor; 

MEP,megakaryocyte/erythroid progenitor; GMP, granulocyte/macrophage progenitor. (C) Waktu perkembangan dari 

pergeseran tempat hematopoiesis.  


 

Gambar 2. Model penentuan lineage pada hierarki hematopoietik mencit dan manusia. Sel terdiferensiasi terminal 

ditunjukkan di sebelah kanan, dan hubungan lineage ditunjukkan dengan tanda panah. Pada mencit (A) HSC dipisahkan 

atas kelas long-term (LT), intermediate-term (IT) dan short-term (ST) berdasar  durasi repopulasi. Pada manusia (B), 

HSC didefinisikan sebagai CD49f dan marker lain, tetapi belum diteliti heteregenisitas. Pada mencit, diferensiasi HSC 

menghasilkan multiopoten progenitor (MPP), dan beberapa  lymphoid-biased progenitor (seperti LMPP) imatur yang 

mengalami spesifikasi limfoid. Pada manusia. MPP dapat diidentifikasi dengan hilangnya ekspresi CD49f. Baik mencit 

maupun manusia memiliki  myelo-erythorid progenitor : CMP, GMP dan MEP. Lin : cocktail yang mengandung 

populasi myelo-erythroid progenitor untuk semua populasi diferensiasi terminal (sel B, sel T, NK, sel dendritik, monosit, 

granulosit, megakariosit, dan eritrosit). 



REGULASI EPIGENETIK TERHADAP 

KESEIMBANGAN SELF-RENEWAL DAN 

DIFERENSIASI PADA HEMATOPOIETIC 

STEM CELL  

 

Conrad H. Waddington tahun 1940 an 

mengilustrasikan bahwa sel yang telah mengalami 

diferensiasi bagaikan sebuah bola yang sedang 

mengelinding di lembah; sekali masuk ke akhir 

lembah, tidak mudah menyilang ke lembah yang lain 

atau kembali ke posisi di puncak. Mekanisme 

epigenetik yang melibatkan metilasi DNA dan  

modifikasi histon secara progresif membatasi 

potensi lineage (Gambar 3). 51,52 Pengetahuan 

mengenai landskap epigenetik yang mengatur 

perkembangan normal dari berbagai tipe sel 

dipaparkan dalam studi Cui et al., yang melakukan 

penelitian terhadap hematopoietic stem cell CD133+ 

dan CD34+ stem cells. 53 

 

 

 

Gambar 3. Lanskap epigenetic klasik Waddington. 

Conrad Waddington mengusulkan konsep lanskap 

epigenetik untuk menggambarkan proses diferensiasi 

sel selama perkembangan. Pada berbagai metafor 

dinamik tersebut, sel (digambarkan sebagai sebuah 

bola) yang sedang mengelinding, menentukan outcome 

atau nasib sel.  

 

Kelompok peneliti Cui et al., mendapatkan bahwa 

diferensiasi sel CD133+ menjadi sel CD36+ 

(precursor eritrosit atau eritroblast) diikuti oleh 

perubahan modifikasi histon pada regio genetik yang 

kritikal berdasar  high-resolution genome-wide 

maps. H3K4me1, H3K9me1, and H3K27me1 

berasosiasi dengan enhancer diferensiasi gen 

sebelum aktivasi dan berkorelasi dengan ekspresi 

basal, menunjukkan bahwa monometilasi ini terlibat 

dalam mempertahankan potensi aktivasi sebelum 

diferensiasi. H3K27me3 dan H3K9me3 merupakan 

represi gen tetapi berhubungan dengan silencing 

pada berbagai subset gen. Dari data yang diperoleh, 

bahwa beberapa  fraksi kecil gen bivalen di dalam 

HSC/HSP (hematopoietic progenitor cell) tidak 

memiliki H3K9me3. Assosiasi peningkatan level 

H3K4me1, H3K9me3, H2A.Z (histon varian) dan 

RNA polymerase II (Pol II) dengan gen bivalen 

menunjukkan potensi kehilangan H3K27me3 dan 

menjadi aktif selama diferensiasi. Hasil ini 

menunjukkan bahwa modifikasi bivalen selama 

diferensiasi telah diprogram pada stadium 

HSC/HSP, dan perubahan ekspresi gen ini 

mengidentifikasi manfaat enhancer dan promoter. 53 

 

Secara ringkas penemuan hasil studi Cui tentang 

regulasi epigenetik terhadap diferensiasi yaitu  

sebagai berikut : pola  modifikasi kromatin global 

yaitu  sama dan berkorelasi dengan ekspresi gen 

pada dua keadaan sel, misalnya korelasi positif 

antara ekspresi gen dengan H3K4me3, H3K4me1, 

H3K9me1, H3K36me3, dan H4K20me1 pada 

regio promoter dan genes bodies. Perubahan 

epigenetik di dalam lokus pengaturan berkorelasi 

dengan perubahan selama diferensiasi eritroid 

yaitu dari CD133+/CD34+, berarti epigenetik 

membatasi lineage. Eritroblast yang telah 

berdiferensiasi mencapai silencing dalam 

pemeriksaan genome-wide dengan menghentikan 

H3K4me3 mark dalam 53% bivalent genes yang 

dideteksi pada HSC/progenitor cells (Gambar 4). 

52, 53 

 

Jadi, studi Cui et al., mendukung efek kombinasi 

modifikasi histon dalam aktivitas gen dan 

membuktikan gambaran korelasi umum selama 

terjadi diferensiasi sel. 53 Namun, aturan umum ini 

tidak berlaku bagi seluruh kondisi, misalnya CD36 

yang diekspresikan dalam kondisi aktif memiliki  

H3K9me3 yang bersifat represif pada promoter. 

Mayoritas gen bivalen pada HSC/progenitor cell 

memiliki  monovalent H3K4me3 yang diaktivasi 

di dalam eritroblast, dengan hampir 10% (53 gen) 

menunjukkan berkurangnya ekspresi gen. Dengan 

demikian, kelihatan bahwa kode epigenetik lebih 

kompleks daripada kode genetik. 52  

 

Untuk mendapatkan pemahaman terhadap studi yang 

dilakukan Cui et al., tentang diferensiasi sel CD133+ 

menjadi sel CD36 sebagai prekursor eritrosit 

(eritroblast), maka dapat dilihat Gambar 5. 53   Sel 

Stem Cell Epigenetik 

95 

CD34+ dan CD133+ pada sumsum tulang manusia 

atau darah perifer mempertahankan hemapotopiesis 

jangka panjang setelah transplantasi. 54,55  Sel ini 

dapat berdirensiasi menjadi tipe sel khusus pada 

studi in vitro dengan kondisi medium yang sesuai. 

Jalur diferensiasi in vitro dari sel CD34+ atau 

CD133+ yaitu  memproduksi sel prekursor eritrosit 

yang selanjutnya diinduksi menjadi sel darah merah 

matur. 56Populasi stem cell yang diisolasi dari 

manusia, termasuk HSC CD34+ atau CD133+ 

yaitu  kompleks dan tersusun atas sel progenitor 

dengan potensi diferensiasi yang berbeda. 

 

 

 

Gambar 4. Kombinasi modifikasi epigenetik berkorelasi dengan status gen. Gen aktif sering berasosiasi dengan H2A.Z, 

RNA Poli II, dan modifikasi histon multipel (kiri bawah). Gen represif sering ditandai dengan H3K27me2, H3K27me3, 

H3K9me2, dan H3K9me3 (kanan bawah). Poised gene (tengah) ditandai bivalen H3K4me3 dan H3K27me3 pada 

HSC/progenitor cell yang siap mengalami tiga kondisi perubahan selama diferensiasi eritroid; aktivasi gen (kiri atas), 

mempertahankan bivalensi, dan represi gen (kanan atas). Gen bivalen yang diaktivasi di dalam eritroblast (19%) lebih 

berasosiasi dengan H2A.Z, Pol lI, H3K4me1, H3K9me1 dan H4K20me1 di dalam HSC/progenitor cell. sebab  itu, nasib 

gen bivalen dapat diprogram bergantung pada penambahan mark modifikasi yang ada di dalam HSC/progenitor cell. 

H3K4me1, H3K27me1, dan H3K9me1 dapat menggambarkan mekanisme lain dalam aktivasi HSC/progenitor cell. 

 

Gambar 5. Diferensiasi sel CD133+ menjadi CD36+. (A) Marker permukaan sel pada sel CD133+ dan CD36+. Sel ini 

diwarnai memakai  antibodi spesifik yang ditunjukkan pada kolum kiri dan dianalisis dengan flow cytometry. Fraksi 

sel ditunjukkan dengan pewarnaan positif untuk masing-masing antibodi. (B) Skema eksperimen. (C) Distribusi genome-

wide pada modifikasi berbeda. Jumlah total island di dalam regio promoter, gene body dan intergenik diidentifikasi untuk 

masing-masing modifikasi. Grafik menunjukkan fraksi island pada setiap regio untuk masing-masing modifikasi sel di 

dalam sel CD133+ dan CD36+.  

 

HSC manusia terdiri dari ekspresi CD34 dan CD133 

yang tinggi, dengan level intermediate CD117 (c-

kit) dan CD90 (Thy-1) dan tidak ada atau level 

rendah dari CD38, HLADR, dan CD71. 57  Ekspresi 

CD34 dan CD133 lebih dari 98% dan ekspresi 

CD117 dan CD90 dalam fraksi kecil (2-20%), 

sehingga jumlah ini sesuai dengan stem cell atau 

progenitor cell (Gambar 5A). 53 Namun, lebih dari 

99% sel  ini yaitu  CD38, HLA-DR dan CD71 

positif, menunjukkan bahwa sebagian besar sel 

merupakan sel progenitor dini. 

Diferensiasi sel CD133 menjadi CD36 (Gambar 

5B).53 Analisis dengan FACS mengkonfirmasi 

bahwa lebih dari 98% sel CD133+ mengekspresikan 

CD34+ yang tinggi dan tidak terdeteksi level CD36 

(Gambar 5C). 53 Setelah diferensiasi, lebih dari 95% 

sel mengekspreiskan CD36 dengan hilangnya 

ekspresi CD34 (Gambar 5A, dan 5C). 53 Pada waktu 

yang sama, CD117 meningkat dari 2.12% di dalam 

CD133+ menjadi 87.25% di dalam sel CD36+, 

sedangkan CD38 dan HLA-DR menurun masing-

masing menjadi 15.96% da 17.12%, setelah 

Stem Cell Epigenetik 

97 

diferensiasi (Gambar 5A). 53 

 

Analisis metilasi histon seperti H3K4me1, 

H3K4me3, H3K9me1, H3K9me3, H3K27me1, 

H3K27me3, H3K36me3, and H4K20me1) histone 

varian H2A, dan RNA Poli II (RNAP II) dilakukan 

memakai  ChIP-Seq. Pola modifikasi histon 

berbeda pada C133+ dan CD36+. H3K4me3 islands 

pada regio promoter dari sel CD133+ dan CD36+ 

masing-masing berjumlah 65% dan 73%, sedangkan 

71-76% H3K9me3 dideteksi di regio intergenik 

kurang dari 1% di dalam regio promoter (Gambar 

5C). 53 Modifikasi lain termasuk H3K4me1, 

H3K9me1, H3K27me1, H3K36me3, and 

H4K20me1 terutama dideteksi di dalam gen yang 

ditranskripsi (Gambar 5D dan 5E). 53 

 

H3K9me3 dan H3K27me3 berimplikasi terhadap 

represi gen. Kedua modifikasi kromatin berhubungan 

dengan ekspresi gen pada tingkat rendah, dengan 

H3K27me3 berkorelasi negatif dengan gen yang 

menunjukkan level ekspresi yang rendah dan 

intermediate. Sebaliknya, H3K9me3 berkorelasi 

negatif dengan gen yang menunjukkan level ekspresi 

yang tinggi (Gambar 6). 53 Gen ini tidak berasosiasi 

dengan H3K27me3, menunjukkan bahwa H3K9me3 

dan H3K927me3 memodulasi ekspresi dengan subset 

gen yang berbeda (Gambar 6). 53 

 

 

 

Gambar 6. Korelasi antara modifikasi histon dengan ekspresi gen di dalam sel CD36+. Gen dikelompokkan menjadi 100 

kumpulan gen (satu titik di dalam gambar) sesuai dengan level ekspresi. Level modifikasi histon di dalam regio promoter 

(A) dan gene body (B) dihitung untuk 100 kumpulan gen. Sumbu y menunjukkan level modifikasi histonm dan sumbu x 

menunjukkan level ekspresi. 

 

 

Gambar 7. Aktivasi dan represi selama diferensiasi HSC berhubungan dengan perubahan modifikasi histon. Profil 

modifikasi histon pada gen induksi (A) dan represi (B) selama diferensiasi sel CD1330+ (merah) menjadi sel CD36+ 

(hijau). Tag density untuk modifikasi ditunjukkan sepanjang gene bodies dan 50 kb dari gene bodies pada 5’ dan 3’. 

Aktivasi dan represi gen selama diferensiasi HSC 

dari sel CD133+ menjadi CD36+ meliputi profil 

modifikasi kromatin pada kelompok gen yang 

diinduksi dan direpresi. Profil modifikasi yang 

relatif berhubungan dengan transcriptional start 

sites (TSS) menunjukkan pola yang sama untuk gen 

yang selalu diekspresikan antara sel CD133+ dan 

CD36. Active mark meliputi H3K4me1, H3K9me1, 

H3K27me1, H3K36me3 dan H4K20me1 meningkat, 

sedangkan repressive mark seperti H3K27me3 

menurun pada gen yang diinduksi di dalam sel 

CD36+ (Gambar 7A). 53 Sebaliknya profil perubahan 

berlawanan dapat diamati pada repressive genes 

(Gambar 7B). 53 Level H3K4me3 dan H2A.Z 

terutama ada  pada regio promoter, 

menunjukkan perubahan ringan sesuai dengan pola 

ekspresi, sedangkan Pol II menunjukkan perubahan 

signifikan pada regio promoter dan gene body sesuai 

dengan pola ekspresi.   

Bivalent domains pertama kali diidentifikasi sebagai 

regio H3K27me yang mengandung regio H3K4me 

yang lebih kecil, terletak di transcriptional start 

sites.57 Ekspresi gen bivalen selama perkembangan 

membuat ekspresi gen dalam kondisi poised atau 

kondisi primed yang siap untuk aktivasi cepat atau 

silencing stabil pada waktu diferensiasi sel 

hematopoietik. 58 Protein PRC2 (Polycomb 

repressive complex 2) dan trithorax group (trxG) 

menandai gen promoter yang meregulasi 

perkembangan dengan bivalent domains terdiri dari 

modifikasi histon represif dan activasi yang saling 

tumpang tindih dan mempertahankan regulator 

perkembangan dalam kondisi “poised” untuk 

aktivasi embryonic stem cell (ESC) (Gambar 8) 

57,58,59,60,61  Pada adult stem cell, regulator 

perkembangan mengatur spesifikasi lineage dengan 

epigenetik dalam keadaan represif untuk 

mempertahankan multipotensi. 62 

Stem Cell Epigenetik 

99 

 

 

Gambar 8. Bivalent chromatin domains menandai gen yang penting dalam pluripotent ES cell. Protein PRC2 dan TrxG 

masing-masing mengkatalisis tri-methylation histone H3 on lysine 27 (H3K27me3) dan 4 (HeK4me3). saat  terjadi 

diferensiasi, bivalent histone mark dapat mengalami modifikasi monovalent dengan gen dalam ‘on” or “off”. Bivalent 

domain juga dapat mempertahankan lineage-commmitted cell yang baru terbentuk. 

 

Promoter yang mengelilingi transcriptional start 

sites berlaku sebagai mesin transkripsi dan tempat 

RNAPII menyatu selama insiasi transkripsi. Secara 

umum, dibagi atas status CpG content/metilasi DNA 

dan modifikasi histon sebagai aktif, represi atau 

poised (Gambar 5). 63 Gen aktif memiliki promoter 

diperkaya dengan H3K4me3, H3K9ac, H3K27ac, 

5hmC dan yang tidak memiliki 5mc. Sebaliknya 

promoter dengan gen represif yaitu  H3K27me3 

dan H3K9me3, dan 5 mC. Poised genes, baik dalam 

kondisi aktif atau represif selama perkembangan 

memiliki  bivalent promoter, ditandai dengan 

adanya H3K4me3 dan H3K37me3. 55  

 

Enhancer yang berjumlah sekitar 400.000 di dalam 

genom manusia berdasar  analisis modifikasi 

histon terletak dekat dengan transcription start site,64  

memiliki  panjang 200-400 bp. 55 Secara 

keseluruhan, enhancer yang diperkaya pada DNAse I 

hypersentivity sites dan histone acetyltransferase 

memberi  struktur kromatin yang aktif atau 

terbuka.65 Sebagian besar enhancer diikat oleh faktor 

transkripsi multipel. Kompleks mediator, koaktivator 

transkripsi  sering dijumpai pada enhancer. Kompleks 

mediator yaitu  kompleks multiprotein besar yang 

diperlukan untuk merekrut RNAP II ke promoter dari 

gen target yang diregulasi enhancer. 66 

Enhancer dapat dibedakan dari promoter 

berdasar  modifikasi histon. Sama seperti 

promoter, modifikasi histon dapat digunakan untuk 

mengelompokkan sebagai aktif, poised, atau represif 

(Gambar 9).63 Misalnya, meskipun promoter dan 

enhancer sama-sama memiliki H3K27ac, enhancer 

diperkaya H3K4me1, yang berlawanan dengan 

H3K4me3 yang terlihat pada promoter.  

 

Hematopoietic stem cell (HSC) dan hematopoietic 

progenitor cell (HPC) berada dalam kondisi primed 

untuk diferensiasi menjadi lineage multipel dengan 

ekspresi bersama dengan berbagai faktor transkripsi, 

faktor pertumbuan, dan reseptornya yang terlibat 

didalam lineages sebelum komitmen menjadi 

lineage yang spesifik. 67  Profil ekspresi gen 

sebelumnya telah mengkonfirmasi adanya faktor 

penting di dalam HSC. 6869,70 Meskipun HSC 

menunjukkan heterogenisitas dalam ekspresi gen 

antar sel individu, koekspresi dengan faktor lain 

dalam satu sel tunggal telah pernah dilaporkan. 71,72  

sebab  itu, multipotensi HSC dan HPC dapat 

dihubungkan dengan potensi ekspresi, meskipun 

dalam level rendah dengan keterlibatan berbagai gen 

dalam perkembangan lineage multipel. 53 Timbul 

pertanyaan : Apa yang mempertahankan potensi 

aktivasi dan silencing gen ini ? 53 

4. Stem Cell Differensiasi 

 

100 

 

 

Gambar 9. Pengaturan epigenetik dan remodeling pada elemen pengaturan selama perkembangan. A. Poised 

enhancer/promoter terutama dijumpai pada stem cell pluripoten, memiliki modifikasi kromatin epigenetik dengan 

transkripsi aktif (tanda hijau) dan represif (tanda merah). Misalnya, protein TrxG dan polycomb group (PcG) masing-

masing mengkatalisis H3K4me3 dan H3K27me3, terletak pada poised promoter.  Posied regulatory element biasanya 

tidak memiliki  5-methylcytosine (5mC) dan 5-hydroxymethylcytosine (5hmC). Poised enhancer dapat dibedakan dari 

poised promoter dengan adanya enhancer-specific mark, H3K4me, dan terikat pada kompleks Mediator chromatin oleh 

CCCTC-binding factor (CTCF) pada distal poised (active) enhancer dan promoter. B. Transisi dari poised ke active 

regulatory elements melibatkan hilangnya lokalisasi PcG dan demetilasi dan asetilasi H3K27. Gain H3K36me3 di dalam 

gene body juga diamati dalam aktivasi gen. C. Pembentukan heterokromatin berhubungan dengan represi gen. Hal ini 

dimediasi sebagian oleh hilangnya modifikasi histon represf (H3K4me1, H3K27ac, and 5hmC), pembentukan repressive 

mark, seperti  H3K27me3 dan 5mC, konstriksi nuklesom. 

DNMT, DNA methyltransferase; HAT, histone acetyltransferase; HDAC, histone deacetylase; MBD, methyl-DNA 

binding domain protein; MED, mediator complex; PcG, polycomb group complex; POL II, RNA polymerase II; TET, ten 

eleven translocation dioxygenase; TF, transcription factor; TrxG, trithorax group complex. 

H3K4me3 berhubungan dengan gen aktif sedangkan 

H3K27me3 berhubungan dengan gen silent di dalam 

CD4+ T cell. 73,74 Koeksistensi H3K4me3 dan 

H3K27me3 berhubungan dengan penurunan 

ekspresi gen di dalam CD4+ T cell. 

73,74,75Koeksistensi kedua modifikasi kromatin 

memberi  mekanisme apakah aktivasi atau represi 

gen dipertahankan dalam kondisi seimbang. Studi 

pada ESC menunjukkan bahwa modifikasi bivalen 

mempertahankan aktivasi atau silencing pada gen 

diferensiasi. 57,76 Diketahui bahwa beberapa bivalent 

genes dapat kehilangan H3K4me3 sedang yang lain 

kehilangan H3K27me3 selama diferensiasi sel. Cui 

et al., melaporkan bahwa 19% bivalent genes 

kehilangan H3K27me3 dan menjadi aktif selama 

diferensiasi menjadi sel CD36+ (Gambar 10).53 

Sebagian besar gen ini berhubungan dengan 

modifikasi H3K4me1 dan H3K9me1 pada stadium 

HSC/HPC dan terikat dengan RNA Pol II, 

menunjukkan bahwa modifikasi berada dalam 

kondisi poised atau siap untuk aktivasi, yang 

kehilangan H3K4 me3 setelah diferensiasi. Pol II 

tidak dideteksi di dalam promoter. Hasil ini 

menunjukkan bahwa nasib bivalent genes selama 

diferensiasi diatur oleh modifikasi kromatin meliputi 

monometilasi yang terjadi pada stadium HSC/HPS.53  

Stem Cell Epigenetik 

101 

 

 

Gambar 10. Nasib bivalent genes setelah diferensiasi dihubungkan dengan pola modifikasi kromatin pada HSC/HPC. 

Fraksi bivalent genes berhubungan dengan H2A.Z, H3K4me1, H3K9me1, H4K20me1, dan Pol II dan ditunjukkan 

kehilangan H3K27me3 (A), kehilangan H3K4me3 (B), kehilangan kedua (C), or bivalen menetap (D) setelah 

diferensiasi. 

REGULASI EPIGENETIK TERHADAP 

DIFERENSIASI SEL PADA EMBRYONIC 

STEM CELL  

 

Embryonic stem cell (ESC) berasal dari inner cell 

mass pada embrio preimplantasi ditandai adanya 

self-renewal dan diferensisasi menjadi semua tipe 

sel untuk perkembangan seluruh jaringan dan organ 

embrio. 76   Pada tingkat molekuler, ES cell memiliki 

ekspresi faktor transkripsi Oct4, Sox2, dan Nanog, 

yang termasuk gen pluripoten yang diperlukan untuk 

self-renewal. 77  Pemeriksaan dengan mikroskop 

elektron menunjukkan bahwa kromatin pada ES cell 

lebih homogen, dan relaksasi daripada kromatin 

dengan sel terdiferensiasi, yang lebih padat. 78 Studi 

biokimia terhadap struktur kromatin dengan 

nuclease digestion menunjukkan reduksi kondensasi 

pada ES cell yang tidak terdiferensiasi. 76 Analisis 

4. Stem Cell Differensiasi 

 

102 

dengan Western blot  menunjukkan bahwa marker 

heterokromatin H3K9me3 diperkaya pada sel 

terdiferensiasi. 79 Analisis dengan genome-wide 

chromatin immunoprecipitation (ChIP) on chip atau 

chromatin immunoprecipitation diikuti dengan deep 

sequencing (ChIP-seq) menunjukkan jumlah 

heterkromatin H3K9me3 lebih tinggi pada sel 

terdiferensiasi dan penurunan H3K9ac setelah 

diferensiasi ES cell. 80,81 Gen pluripoten pada ES cell 

yang tidak terdiferensiasi bersifat eukromatin 

dengan kondisi transkripsi aktif, sebaliknya gen 

yang berhubungan dengan diferensiasi yaitu  

heterokromatin dengan transkripsi silent. 

76Konfigurasi ulang pada struktur kromatin selama 

diferensiasi ES cell dengan regio eukromatin pada 

gen pluripoten mengalami transformasi menjadi 

heterokromatin, dan sebaliknya, regio kromatin yang 

berhubungan dengan gen diferensiasi menjadi 

eukromatin kembali ke pluripoten. sebab  itu, faktor 

kromatin yang membawa transisi eukromatin dan 

heterokromatin tampaknya memegang peranan 

penting dalam self-renewal dan penentuan nasib sel 

(diferensiasi sel) (Gambar 11). 76  

 

Epigenom pluripoten stem cell sangat berbeda 

dengan sel somatik. saat  membandingkan pola 

modifikasi histon dan metilasi DNA antara sel 

terdiferensiasi dengan ESC, Hawkins et al., 

memperkirakan bahwa kurang lebih sepertiga dari 

jumlah genom dalam struktur kromatin berbeda. 81 

Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan ikatan 

faktor transkripsi dan keadaan remodeling kromatin 

selama diferensiasi. 81,82 Misalnya, sel terdiferensiasi 

memiliki  regio lebih besar ditandai oleh 

H3K9me3 dan H3K27me3 dibandingkan dengan 

ESC. 81Domain H3K9me3 dan H3K27me3 secara 

signifikan lebih besar (2-3 kali lipat) dalam 

fibroblast dan limfosit T dibandingkan dengan ESC, 

sedangkan domain H3K36me3 sama antara ESC 

dengan sel terdiferensiasi. 81,83  Domain H3K27me3 

mengalami remodeled menjadi seperti ESC selama 

reprogramming. 78  Hal ini menunjukkan bahwa 

ekspansi domain H3K27me3 mengikuti diferensiasi 

sel. 63  

 

Bernstein et al., menunjukkan bahwa ES cell 

mengandung bivalen dengan analisis chromatin 

immunoprecipitation diikuti dengan deep 

sequencing, 57 dan  menunjukkan bahwa regio 

pengaturan utama yang banyak mengandung faktor 

transkripsi terlibat dalam lineage commitment yang 

berhubungan dengan modifikasi kromatin aktif 

H4K3me3 dan modifikasi kromatin silent 

H3K27me3. 5hmC juga diidentifikasi sebagai 

marker epigenetik aktif untuk kromatin bivalen.84 

Bivalent domain pada gen yang diperlukan untuk 

komitmen ES cell mengalami diferensiasi tetap 

silenced, berisikan H3K27me3, H3K9me3, dan 5mc 

metilasi DNA, yang membawa kromatin dalam 

keadaan stabil (Gambar 11). 85,86,87   

 

Bivalent domain pada ESC sering mengadakan transisi 

menjadi H3K27me3 yang berekspansi menjadi lineage-

committed cell, sehingga H3K27me3 ada  di dalam 

genom pada 40% sel terdiferensiasi dibandingkan 

dengan ESC sebanyak kurang lebih 8%.83 Diferensiasi 

memicu  penkayaan H3K27me3 yang terjadi pada 

tipe sel yang spesifik. Represi yang dimediasi oleh 

Polycomb merupakan mekanisme penting yang 

menentukan nasib sel sehingga mendukung hasil 

diferensiasi dengan lanskap kromatin yang semakin 

dibatasi. 81,83,89 Sebagian besar bivalent domain pada 

ESC yang tidak terdiferensiasi berubah menjadi status 

monovalen pada sel yang menjadi lineage tertentu.82,89 

Sebagai contoh, diferensiasi kardiomiosit dari ESC 

memerlukan banyak faktor transkripsi kunci seperti 

GATA6, GATA4, NKX2.5, HAND2, TBX5 dengan 

signaling molekul  (BMP2 dan WNT5a) terlibat dalam 

perkembangan kehilangan H3K27me3 secara bertahap 

dan peningkatan H3K4me3 sejalan dengan transkripsi 

saat  diferensiasi berlangsung. 90,91 Sebaliknya, 

diferensiasi jantung memerlukan represi epigenetik yang 

dimediasi EZH2 pada faktor transkripsi untuk maturasi 

kardiomiosit.91,92 Kehilangan H3K3me2/me3 biasanya 

diikuti munculnya metilasi DNA. 82 

  

Pada embryonic stem cell (ES) cell yang tidak 

terdiferensiasi, faktor kromatin yang bersifat write, 

read dan erase metilasi DNA diekspresi dengan 

tinggi, dengan deteksi level metilasi DNA yang 

tinggi. 93,94 Pada waktu diferensiasi ES cell dengan 

lineage commitment, terjadi redistribusi metilasi 

DNA, yang mempengaruhi diferensiasi dan 

pemeliharaan identitas tipe sel. 95,96,97,98 Perubahan 

metilasi DNA terutama terjadi pada regio promoter 

dengan gen stem cell yang spesifik.  

 

Pergeseran keseimbangan antara hidroksimetilasi 

dan metilasi DNA sepanjang genom dihubungkan 

dengan pluripotensi dan lineage commitment. 84,96 

Keseimbangan antara pluripotensi dan lineage 

commitment tergantung pada aktivitas TET dan 

TDG. Kedua protein bekerja berlawanan dengan 

metilasi DNA de novo sehingga berkontribusi 

terhadap pemeliharaan regio kromatin bivalen yang 

aktif. 84,96,98,99 

Stem Cell Epigenetik 

103 

 

Gambar 11. Mekanisme epigenetik yang terlibat dalam self-renewal dan diferensiasi embryonic stem (ES) cell. A, 

Perubahan modifikasi epigenetik selama diferensiasi ES cell. Gen pluripotensi pada ES cell yang aktif terletak di dalam 

regio  kromatin ditandai dengan H3K4me3 dan H3K9ac. Gen diferensiasi ditranskripsi dalam kondisi silent dan terletak 

di dalam regio heterokromatin ditandai oleh H3K9me3 dan 5mC. Konfigurasi ulang pada struktur kromatin berhubungan 

dengan gen pluripotensi, ditransformasikan menjadi heterokromatin. Sebaliknya, gambaran terjadi pada regio kromatin 

yang berhubungan dengan diferensiasi. Modifier kromatin yang membawa transisi eukromatin dan heterokromatin 

meliputi DNA methyltransferase (DNMT); histone methyltransferase SETDB1, MLL/Wdr5 complex; histone 

demethylase Jmjd1a, Jmjd2c, Kdm5b; histone acetyltransferase GCN5; dan ATP-dependent chromatin remodeling 

complex CHD1, Brg1, Tip60-p400 complex. B, Bivalent chromatin domains dan kontrol epigenetik terhadap lineage 

commitment. Pada sel pluripotent, gen lineage commitment berada dalam keadaan poised dan menunjukkan modifikasi 

epigenetik bivalen: H3K4me3 aktif dan H3K27me3 represif. 5hmC terjadi juga pada bivalent domains. Pada lineage 

commitment, gen yang mengatur cell lineage mempertahankan H3K4me3, menghilangkan H3K27me3, dan menjadi aktif. 

Gen yang mengatur lineages lain mempertahankan H3K27me3, peningkatan H3K9me3 dan 5mC, dan menjadi silence. 

Modifier kromatin yang mengatur bivaent chromatin domain meliputi DNA methyltransferase DNMT1; TET1; histone 

methyltransferase; demethyllase complex MLL/Dpy-30, MLL/Jmjd3/UTX complex, PRC2 complex, dan LSD1. 


 

 

Modifikasi histon yang banyak diteliti yaitu  

metilasi H3K4 dan H3K27. Regulasi metilasi H3K4 

oleh histone methytransferase dan demethylase 

meliputi perubahan struktur kromatin dan bivalent 

chromatin domain selama diferensiasi ES cell. 

Metilasi H3K4 dikatalisir oleh trithorax group 

(TrxG) MLL/set1 MLL/Set1 (myeloid/lymphoid or 

mixed-lineage leukemia) complexes (MLL 

complexes). MLL complexes mempertahankan gen 

dalam keadaan aktif selama penentuan nasib sel. 

100,101 Beberapa MLL complexes telah diidentifikasi 

di dalam ES cell, yang mengandung subunit katalitik 

berbeda (hSet1, MLL1, MLL2, MLL3, atau MLL5 

dan beberapa subunit inti. 102 Deplesi beberapa unit 

4. Stem Cell Differensiasi 

 

104 

inti dapat mengurangi level metilasi H3K4. 

Hilangnya MLL1 dan MLL2 tidak mengganggu 

metilasi H3K3 global dan tidak meregulasi self-

renewal pada ES cell tetapi berperan pada 

koordinasi dan waktu diferensiasi. 103,104  

 

Metilasi H3K27 dikatalisir oleh PRC2  (Polycomb 

repressive complex 2), yang termasuk famili protein 

PcG (Polycomb group), terlibat dalam silencing 

gene atau mempertahankan silent gene  dalam 

kondisi “poised” sebelum aktivasi gen selama 

diferensiasi EC cell. 105 Analisis genome-wide 

menunjukkan bahwa beberapa protein PRC2 lebih 

condong berikatan dengan silent genes yang terlibat 

dalam regulasi perkembangan. Protein PRC2 tidak 

penting dalam self-renewal ES cell tetapi berperan 

dalam diferensiasi (Gambar 11), 76 sebab  ES cell 

yang kehilangan PRC2 protein Suz12 (suppressor of 

zeste 12 homolog), Ezh1/Ezh2 (enhancer of zeste 

homolog 1/2), and Jarid2 (Jumonji, AT-rich 

interactive domain 2) masih bisa berkembang biak 

dalam kondisi tidak terdiferensiasi pada kultur. 

106,107,108 Demikian juga, menghilangkan H3K27me3 

oleh histone demethylase Jmjd3 (Jumonji domain–

containing 3) dan UTX (ubiquitously transcribed 

tetratricopeptide repeat, X chromosome) yang hanya 

diperlukan untuk diferensiasi sel tetapi bukan self-

renewal, menunjukkan bahwa regulasi metilasi 

H3K27 dalam regulasi ES cell bersifat dinamik. 

109,110 

  

 

 

eprogram sel dapat didefinisikan sebagai upaya 

untuk menghasilkan tipe sel yang berfungsi 

normal dari satu jenis sel terdiferensiasi menjadi sel 

lain tanpa melewati stadium pluripotensi, 1 yang 

bertujuan untuk menghasilkan sel yang diinginkan 

untuk keperluan kedokteran regeneratif jangka 

panjang.2 Reprogram sel melibatkan pemakaian  

faktor transkripsi, regulator epigenetik, microRNA, 

molekul kecil, yang bekerja secara langsung 

melakukan reprogram satu sel somatik (sel yang 

sudah terdiferensiasi) menjadi sel lain. 3Teknologi 

ini memungkinkan untuk dilakukan sebab  

melibatkan suatu networking gen aktif selama proses 

perubahan yang menginduksi pergeseran landskap 

epigenetik, sehingga dapat dihasilkan diferensiasi sel 

yang baru.  Dengan demikian, reprogramming sel 

dapat ditujukan untuk mengubah sel residen di 

dalam organ yang rusak untuk diregenerasikan 

menjadi tipe sel secara in situ (setempat) sehingga 

dapat mengembalikan fungsi organ. 3  

 

Konsep sel terdiferensiasi bersifat plastisitas yang 

dapat direprogram menjadi sel lain pertama kali 

digagas dalam eksperimen kloning oleh Gurdon, 4 

kemudian dilanjutkan Wilmut, 5 yang menghasilkan 

seekor domba bernama Dolly. 5Dalam penelitian ini, 

faktor yang belum diketahui di dalam sitoplasma 

oosit menginduksi sel somatik menjadi sel 

embrionik. Sel embrionik berkembang menjadi 

fetus, dan akhirnya lahir satu organisme yang hidup. 

Pengamatan ini merupakan cikal bakal lahirnya 

reprogram sel secara in vivo. 3 

 

Hampir tiga puluh tahun yang lalu, Davis et al. 

memakai  mioblast cDNA tunggal yang 

menyandi faktor tranksripsi MyoD, mengubah 

fibroblast secara langsung menjadi mioblast.  6 

Dengan keberhasilan ini, lahir “direct 

reprogramming” secara in vitro. Penemuan ini 

sejalan dengan observasi bahwa reprogram 

nukleus dapat mengubah fibroblast secara cepat 

setelah berfusi dengan miosit. 7 Setelah itu, diteliti 

berbagai jenis sel lain, namun gagal mengubah 

fibroblast menjadi sel lain sebab  tidak 

mengekspresikan faktor transkripsi yang 

menyerupai MyoD. Terakhir ditemukan C/EBPa 

yang mengubah sel limfosit menjadi sel mieloid 

untuk sistem hematopoietik. 8  

Stem Cell Epigenetik 

111 

Nasib sel yang sulit diubah setelah terbentuk sel 

terdiferensiasi