herbal medicine 1





 herbal medicine 



Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan 

yang sangat serius salah satunya yaitu  hipertensi yang dapat 

menyerang siapa saja, baik muda maupun tua, disebut juga sebagai 

the silent killer . Di Amerika, diperkirakan 1 dari 

4 orang dewasa menderita hipertensi. Dari beberapa penelitian 

dilaporkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dapat 

memicu  peluang 7 kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih 

besar terkena congestiveheart failure dan 3 kali lebih besar terkena 

serangan jantung  Hipertensi juga merupakan 

salah satu penyakit degeneratif, umumnya tekanan darah bertambah 

secara perlahan seiring dengan bertambahnya umur Tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan suatu 

keadaan dimana tekanan darah seseorang ≥140 mmHg (sistolik) dan/

atau ≥ 90 mmHg 

Peningkatan tekanan darah pada penderita hipertensi terjadi 

di pembuluh arteri yang merupakan bagian perpanjangan dari 

pembuluh darah jantung. Apabila jantung bekerja secara berlebihan 

dengan kekuatan memompa yang lebih kuat dari biasanya, darah 

yang dialirkan akan lebih banyak. Hal ini memicu  terjadinya 

tekanan darah yang berlebih di arteri. Dengan demikian, arteri akan 

menjadi tidak lentur dan berubah menjadi kaku. Pada kondisi ini, 

pembuluh darah arteri tidak dapat mengembang secara sempurna 

pada saat jantung memompa darah melalui arteri ini  sehingga 

darah yang dipompakan terpaksa melewati saluran pembuluh yang 

sempit sehingga memicu  terjadinya kenaikan tekanan darah 

Hipertensi merupakan penyakit yang tidak ditularkan dari 

individu ke individu lain dan bersifat kronis, penyakit ini pada 

umumnya berkembang secara lambat dan memiliki durasi yang 

panjang. Faktor risiko hipertensi diklasifikasikan menjadi faktor 

risiko yang dapat diubah dan faktor risiko yang tidak dapat diubah. 

Faktor risiko yang dapat diubah antara lain stress, obesitas atau 

kegemukan, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol, aktifitas 

fisik, konsumsi lemak dan garam yang berlebih. sedang  riwayat 

keluarga, usia, jenis kelamin, dan ras yaitu  faktor risiko yang tidak 

dapat di ubah 

Proporsi kematian di dunia hampir 70% pemicu nya yaitu  

PTM. berdasar  Global Noncommunicable Desease (NCD) 

dilaporkan bahwa pada tahun 2012 sebesar 68% pemicu  kematian 

di semua kelompok umur yaitu  sebab  penyakit tidak menular. 

Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan 

sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi. Artinya1 dari 

3 orang di dunia terdiagnosis menderita hipertensi. Jumlah penderita 

hipertensi di dunia diperkirakan pada 2025 akan menjadi 1,5 miliar 

orang terkena hipertensi. Diperkirakan juga setiap tahun ada 9,4% 

juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasi (World 

Health Organization, 2015). Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 

2018 menyatakan bahwa prevalensi hipertensi berdasar  hasi 

pengukuran pada penduduk usia 18 tahun sebesar 34,1% tertinggi 

di Kalimantan Selatan 44.1%, dan terendah di Papua sebesar 22,2%, 

sedang  Sulawesi Selatan 32% 

(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

Berkembangnya hipertensi sangat dipengaruhi oleh banyak 

faktor, antara lain kurangnya aktifitas fisik, kebiasaan merokok, stress, 

riwayat keluarga, dan kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi 

lemak hewani, kurangnya serat, tinggi natrium dan rendah kalium. 

Faktor risiko ini  pada umumnya disebabkan pola hidup (life 

style) yang tidak sehat. Faktor sosial budaya warga  negara kita  

berbeda dengan sosial budaya warga  di negara maju. Tekanan 

darah dapat di kontrol dengan menghindari makanan yang terlalu 

asing atau terlalu banyak mengandung natrium seperti makanan 

diolah dengan monosodium glutame (MSG) (Muliyati dkk., 2010).

Upaya pengobatan hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara 

yaitu pengobatan farmakolgi dan non farmakologi. Pengobatan 

farmakologi dilakukan dengan pemberian obat yang bersifat diuretik, 

simpatetik, betablocker, dan vasodilator dengan memperhatikan 

tempat, mekanisme kerja dan tingkat kepatuhan. Pengobatan 

hipertensi dengan menggunakan obat-obatan sintetik dalam jangka 

panjang dapat memicu  efek yang kurang baik bagi kesehatan 

diantaranya seperti kelelahan, pusing, batuk, sering buang air kecil, 

retensi cairan, disfungsi seksual, detak jantung tidak normal, dan 

alergi (Dafriani, 2019). Biaya pengobatan hipertensi juga terbilang 

mahal. Selain itu terapi farmakologis menggunakan obat sintetik 

memerlukan kepatuhan dalam mengkonsumsi obat agar obat 

ini  dapat berkerja maksimal. sedang  pengobatan secara non 

farmakologi meliputi penurunan berat badan, olahraga teratur, diet, 

dan terapi komplementer. Terapi komplementer merupakan terapi 

yang yang mengacu pada pengobatan alamiah, salah satunya terapi 

herbal 

berdasar  data Riskesdas 2018 terkait proporsi riwayat 

minum obat dan alasan tidak minum obat pada penduduk hipertensi 

berdasar  diagnosis dokter atau minum obat dari 8,8% penderita 

hipertensi 32,3% tidak rutin, 13,3% tidak minum obat, dan 54,4% 

3BAB I

rutin. Minum obat tradisional, tidak mampu beli obat rutin, obat 

tidak tersedia di fasilitas kesehatan dan tidak tahan efek samping obat 

yaitu  beberapa alasan penderita tidak rutin dan tidak minum obat 

(Riskesdas, 2018). Ketersediaan dan tingkat kepercayaan warga  

terhadap pengobatan farmakologi yang rendah, diperlukan alternatif 

dalam mengatasi hipertensi sehingga pengobatan komplementer 

seperti pemanfaatan terhadap tanaman lokal memiliki peran yang 

penting. Pengobatan tradisional diterapkan sebab  alasan mudah, 

murah dan manjur serta sesuai dengan kerangka berpikir individu 

dalam rumah tangga. Fakta yang menarik yaitu  sekitar 80% dari 

tanaman obat yang ada di dunia tumbuh di negara kita , sehingga 

bahan yang dibutuhkan untuk pengobatan yang berasal dari alam ini 

dapat dengan mudah ditemukan 

Belimbing wuluh sering disebut belimbing sayur atau belimbing 

asam sebab  memiliki rasa yang cukup asam dan biasanya digunakan 

sebagai bumbu masakan atau ramuan jamu . Nama ilmiah belimbing 

wuluh yaitu  Averrhoa Bilimbi L , Belimbing 

wuluh telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk 

pengobatan berbagai penyakit yaitu digunakan sebagai antibakteri. 

Terdapat senyawa fitokimia yang terkandung dalam ekstrak etanol 

daun belimbing wuluh telah berhasil diidentifikasi yang meliputi 

saponin, tanin, steroid, flavonoid dan alkoloid. Kadar total fenol 

dan flavonoid ekstrak daun belimbing wuluh dapat ditentukan dan 

berpotensi menjadi salah satu sumber antioksidan dan antiinflamasi 

alami, sebab  memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong sangat 

kuat serta menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi 

Penggunaan tanaman lokal sebagai bahan pengobatan ditengah-

tengah warga  yaitu  hal yang perlu dipromosikan dan 

digunakan sebagai upaya pencegahan dan pengobatan warga  

penderita hipertensi yang murah. Daun belimbing wuluh merupakan 


(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

alternatif yang baik mengingat daun belimbing mudah didapatkan 

oleh warga  dan masih banyak warga  yang belum 

mengetahui manfaat dari tanaman belimbing wuluh. berdasar  

telaah jurnal penelitian terdahulu menemukan bahwa pemanfaatan 

daun belimbing wuluh dengan cara di seduh atau di buat menjadi 

rebusan air daun belimbing. 

Bagian tanaman belimbing wuluh yang dapat digunakan 

sebagai anti hipertensi diantaranya yaitu  daun dan buahnya . Daun belimbing wuluh merupakan salah satu 

obat asli negara kita  yang sudah digunakan sejak dulu, jauh sebelum 

pelayanan kesehatan formal dengan obat-obat modern yang sekarang 

telah digunakan oleh warga  secara luas. Ekstrak daun belimbing 

wuluh mengandung senyawa golongan tannin, flavonoid dan triterpen 

yang memiliki aktivitas farmakologi bagi manusia (Aryantini dkk, 

2017). warga  menggunakan daun belimbing wuluh ini antara 

lain untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri, menurunkan kadar gula 

darah, bunganya juga dapat digunakan sebagai obat batuk dan perasan 

air buah sangat baik untuk asupan vitamin C (Afifi dkk, 2018).

Pada penelitian sebelumnya percobaan pada manusia masih 

sangat minim sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian 

dengan membuat daun belimbing wuluh yang akan dijadikan dalam 

bentuk teh sebab  lebih praktis, mudah, dan suatu cara modern baru 

untuk minum teh dibandingkan dengan seduhan langsung dalam 

bentuk daun belimbing. 

Teh yaitu  minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia 

sejak zaman dulu. Data komite teh international menunjukkan tren 

mengkonsumsi teh global selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada 

tahun 2018 konsumsi teh global meningkat 13,9% dari tahun 2014. 

negara kita  berada di urutan ke 10 dalam konsumsi teh terbesar di 

dunia (Prasetia dkk, 2020). Terdapat dua jenis teh secara umum yaitu 

teh yang terbuat dari daun camelia sinensis dan teh herbal yang terbuat 

5BAB I

selain dari daun camelia sinensis yang biasanya digunakan sebagai 

pengobatan. Dalam pembuatan produk baru teh daun belimbing 

wuluh perlu melewati beberapa uji terlebih dahulu sebelum dilakukan 

uji efektivitas untuk melihat bagaimana pengaruhnya di lapangan 

seperti uji daya terima, uji umur simpan, dan uji laboratorium untuk 

kandungan zat gizi.

Teh dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu teh herbal 

dan non herbal. Teh non herbal dikelompokkan lagi menjadi tiga 

golongan yaitu teh hitam, teh hijau dan teh oolong. Minuman 

teh yaitu  minuman yang paling banyak dikonsumsi warga  

negara kita  sebab  rasanya yang segar sehingga dalam penelitian 

ini pemanfaatan daunnya dijadikan produk teh yang dinilai lebih 

modern dan praktis.

Melihat dari tingginya tingkat kesukaan warga  terhadap 

teh dan potensi pemanfaat dari tanaman lokal daun belimbing wuluh 

terhadap kejadian hipertensi, maka dari itu perlu dibuat produk the 

dari tanaman belimbing wuluh untuk lebih memudahkan konsumsi 

tanaman herbal sebagai upaya untuk mengobati ataupun mencegah 

terjadinya hipertensi. 

(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 


KONSEP DASAR HERBAL MEDICINE 

Obat herbal atau herbal medicine didefinisikan sebagai bahan 

baku atau sediaan yang berasal dari tumbuhan yang memiliki 

efek terapi atau efek lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia; 

komposisinya dapat berupa bahan mentah atau bahan yang telah 

mengalami proses lebih lanjut yang berasal dari satu jenis tumbuhan 

atau lebih. Sediaan herbal diproduksi melalui proses ekstraksi, 

fraksinasi, purifikasi, pemekatan atau proses fisika lainnya; atau 

diproduksi melalui proses biologi. Sediaan herbal dapat dikonsumsi 

secara langsung atau digunakan sebagai bahan baku produk herbal. 

Produk herbal dapat berisi eksipien atau bahan inert sebagai tambahan 

bahan aktif. 

Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan 

di negara maju. Menurut WHO, hingga 65 % dari penduduk negara 

maju dan 80 % penduduk negara berkembang telah menggunakan 

obat herbal. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan 

obat herbal di negara maju yaitu  : i) meningkatnya usia harapan 

hidup pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, ii) adanya 

kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu seperti 

kanker, serta iii) semakin meluasnya akses informasi obat herbal di 

seluruh dunia. 

7

Obat herbal atau herbal medicine didefinisikan sebagai bahan 

baku atau sediaan yang berasal dari tumbuhan yang memiliki efek 

terapi atau efek lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia; 

komposisinya dapat berupa bahan mentah atau bahan yang telah 

mengalami proses lebih lanjut yang berasal dari satu jenis tumbuhan 

atau lebih. 

Sediaan herbal diproduksi melalui proses ekstraksi, fraksinasi, 

purifikasi, pemekatan atau proses fisika lainnya; atau diproduksi 

melalui proses biologi. Sediaan herbal dapat dikonsumsi secara 

langsung atau digunakan sebagai bahan baku produk herbal. Produk 

herbal dapat berisi eksipien atau bahan inert sebagai tambahan bahan 

aktif. Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan 

di negara maju. Menurut WHO, hingga 65 % dari penduduk negara 

maju dan 80 % penduduk negara berkembang telah menggunakan 

obat herbal. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan 

obat herbal di negara maju yaitu  : i) meningkatnya usia harapan 

hidup pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, ii) adanya 

kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu seperti 

kanker, serta iii) semakin meluasnya akses informasi obat herbal di 

seluruh dunia (Sukandar, 2004). 

Tumbuhan herbal yaitu  tumbuhan atau tanaman obat yang dapat 

dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional terhadap penyakit. Sejak 

zaman dahulu, tumbuhan herbal berkhasiat obat sudah dimanfaatkan 

oleh warga  Jawa. Pengobatan tradisional terhadap penyakit 

ini  menggunakan ramuanramuan dengan bahan dasar dari 

tumbuhtumbuhan dan segala sesuatu yang berada di alam. Sampai 

sekarang, hal itu banyak diminati oleh warga  sebab  biasanya 

bahan-bahannya dapat ditemukan dengan mudah di lingkungan 

sekitar. Pengobatan tradisional terhadap penyaktit dengan tumbuhan 

herbal atau sering disebut itoterapi atau pengobatan dengan jamu 

(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

merupakan pengobatan tradisional khas Jawa yang berasal dari nenek 

moyang.

negara kita  merupakan negara tropis dengan jumlah tanaman 

yang sangat banyak. Keanekaragaman hayati negara kita  merupakan 

nomor dua sesudah  Brasilia. Sekitar 80% tanaman yang ada didunia 

berada di negara kita . Diperkirakan terdapat 25.000-30.000 spesies 

tanaman di negara kita . Penggunaan obat tradisional oleh nenek 

moyang bangsa negara kita  telah berlangsung lama. Beberapa relief 

yang ada di candi Borobudur menjadi bukti hal ini. Dugaan ini juga 

diperkuat dengan ditemukan resep tanaman obat yang ditulis tahun 

991-1016 pada daun lontar di Bali (Sutrisna, 2016). 

Semakin berkembanganya penyakit degeneratif dan semakin 

banyaknya laporan efek samping obat modern membuat trend 

kembali ke alam untuk pengobatan meningkat. Sudah maklum 

bahwa penyakit degeneratif merupakan penyakit yang bersifat 

kronis, reversible dan diperlukan pengobatan yang terus menerus. 

Terdapat kesadaran juga usaha-usaha mencegah munculnya penyakit 

degeneratif ini . Dalam kaedah farmakologi, suatu obat pasti 

memiliki efek samping. Yang membedakan antara obat sintetis 

dengan obat tradisonal yaitu  besarnya frekuensi dan beratnya 

efek sampaing yang timbul akibat pemberian obat ini . Telah 

dimaklumi bahwa obat sintetis beresiko memicu  efek samping 

lebih besar dari pada obat tradisional, walaupun juga memiliki efek 

utama lebih kuat dari obat tradisional. Hal ini dapat dimengerti 

sebab  obat sintetis merupakan senyawa aktif murni, sedang  

obat tradisonal merupakan ekstrak yang terdiri dari banyak senyawa 

dengan kadar kandungan kimia tertentu. Berdasar inilah kemudian 

warga  banyak mulai menggunakan obat tradisional untuk 

mengobati penyakit atau mencegah penyakit terutama penyakit 

degeneratif. 

9BAB II

negara kita  merupakan negara dengan biodeversitas terbesar kedua 

sesudah  Brazilia. Jumlah jenis tanaman di negara kita  diperkirakan 

lebih dari 30.000. Sekitar 7500 merupakan tanaman obat. Baru sekitar 

kurang dari 2000 tanaman obat telah diidentifi kasi. warga  

baru menggunakan 1200 jenis tanaman obat, sedang industri baru 

memanfaatkan sekitar 300 jenis. Data ini menunjukkan betapa masih 

terbuka sangat luas pemanfaatan tanaman obat untuk dikembangkan 

sebagai obat tradisional. Obat herbal ternyata bukan hanya digunakan 

dinegara berkembang tetapi juga mulai digunakan di negara maju. 

Data WHO menyatakan bahwa obat herbal digunakan sekitar 60% 

penduduk di negara maju, dan sekiatar 80% penduduk negara 

berkembang.

Obat bahan alam (herbal) yaitu  obat yang mengandung bahan 

aktif yang berasal dari tanaman dan atau sediaan obat dari tanaman. 

Tanaman obat atau sediaannya secara keseluruhan dipandang sebagai 

bahan aktif. Sediaan tanaman obat yaitu  bahan tanaman yang sudah 

dihaluskan atau berbentuk serbuk, ekstrak, tinktura, minyak lemak 

atau minyak atsiri. Hasil perasan yang dibuat dari tanaman obat, 

dimana pembuatannya melibatkan proses fraksinasi, pemurnian, dan 

pemekatan.

Dalam tanaman ada dua macam metabolisma yaitu primer 

dan sekunder. Proses metabolisma primer menghasilkan senyawa-

senyawa yang dibutuhkan untuk proses biosintesis sehari-hari, 

seperti karbohidrat, protein, lemak, dan asam nukleat. sedang  

proses metabolisma sekunder menghasilkan senyawa-senyawa 

seperti alkaloid, terpenoid, flavonoid, tanin, dan steroid. Senyawa 

hasil metabolisma sekunder (metabolit sekunder) diproduksi sebagai 

benteng pertahanan tumbuhan dari pengaruh lingkungan atau hama 

penyakit. Fungsi metabolit sekunder ialah melindungi tanaman dari 

serangan mikroba dengan membentuk fitoaleksin yaitu senyawa yang 

disintesis di sekitar sel yang terinfeksi, untuk pertahanan terhadap 

(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

herbivora atau predator lainnya, dan melindungi tanaman dari 

terpaan sinar matahari. 

Berdasar efikasinya, maka kelas obat herbal fitofarmaka 

menempati posisi paling atas dibanding kelas lainnya. Pemerintah 

mendorong pengembangan obat tradisional menjadi kelas fitofarmaka. 

PERMENKES no 760 tahun 1992 menyatakan bahwa fitofarmaka 

merupakan sediaan obat tradisional yang telah dibuktikan khasiat 

dan keamanannya yang bahan bakunya berasal dari simplisia atau 

sediaan galenik yang memenuhi persyaratan tertentu. Fitofarmaka 

mensyaratkan adanya uji klinik pada manusia. Bahan baku 

fitofarmaka bisa berasal dari 1 atau lebih simplisia yang masing-masing 

simplisia telah diuji keamanan dan khasiatnya berdasar uji klinis. 

Meningkatnya trend back to nature disebabkan beberapa hal, antara 

lain: ketersediaan bahan obat tradisional yang melimpah, banyaknya 

laporan efek samping penggunaan obat modern, beberapa penyakit 

kronis atau ganas yang gagal pengobatan dengan obat modern dan 

arena meluasnya akses informasi tentang obat tradisional. Badan 

kesehatan dunia WHO juga telah merekomendasikan penggunaan 

obat-obat herbal untuk pemeliharaan kesehatan warga , 

pencegahan penyakit maupun pengobatan penyakit. Jenis penyakit 

yang direkomendasikan penggunaan obat tradisional antara lain 

penyakit degeneratif, penyakit kronis maupun komplenter untuk 

kanker 

Tidak mudah memobilisasi warga  untuk menggunakan 

obat tradisional jika kepercayaan warga  ini  belum tumbuh. 

Beberapa hal yang harus dilakukan para pengembang obat tradisional 

yaitu  meyakinkan para pengguna atau stake holder (dokter) bahwa 

ada bukti nyata (evidence base) tentang manfaat obat tradisional 

dan bukti keamanaannya. Beberapa langkah ini  antara lain: 

meningkatkan kelas obat tradisional dari hanya sekedar jamu 


menjadi kelas fitofarmaka. Hal ini bisa dilakukan dengan serangkaian 

penelitian yang melibatkan uji praklinis maupun uji klinis. 

Keunggulan obat tradisional/obat bahan alam dibanding obat 

modern atara lain: 

1. Adanya banyak senyawa aktif dalam obat bahan alam sehingga 

memicu  efek komplementer/saling melengkapi

2. sebab  banyak senywa aktif, maka memungkinkan obat bahan 

alam memiliki banyak efek farmakologis

3. sebab  sebagain besar obat tardisonal dalam bentuk crude 

extract/ ekstrak kasar maka kandungan senyawa juga relatif 

sedikit tetapi banyak macamnya. Hal ini memicu  jika 

muncul efek samping relatif ringan

Kelemahan obat tradisional:

1. Masih sedikit obat tradisional yang sudah dibuktikan dengan 

penelitian ilmiah dalam bentuk uji klinis

2. Kurangnya standarisasi bahan obat tradisional

3. Resistensi dari para pelaku kesehatan /dokter sebab  belum 

adanya uji klinis tadi


(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 


KONSEP DASAR HIPERTENSI

PENGERTIAN HIPERTENSI

Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja, 

tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Hipertensi juga sering 

disebut sebagai silent killer sebab  merupakan penyakit yang 

mematikan. Faktanya, tekanan darah tinggi tidak secara langsung 

membunuh pasien, tetapi tekanan darah tinggi dapat memicu  

penyakit fatal lainnya dan meningkatkan risiko serangan jantung, 

gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal 

Menurut American Society of Hypertension (ASH) hipertensi 

yaitu  suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang 

progresif sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks dan 

saling berhubungan, WHO menyatakan hipertensi merupakan 

peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 

mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg, 

(JNC VII) berpendapat hipertensi yaitu  peningkatan tekanan darah 

diatas 140/90 mmHg, sedang  menurut Brunner dan Suddarth 

hipertensi juga diartikan sebagai tekanan darah persisten dimana 

tekanan darahnya diatas 140/90 mmHg. Dari uraian ini  dapat 

disimpulkan bahwa hipertensi merupakan peningkatan tekanan 

darah sistolik yang persisten diatas 140 mmHg sebagai akibat dari

kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan 

KLASIFIKASI HIPERTENSI

Tabel 1 Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC  (Joint National Committe on 

Prevention, Detection, Evaluatin, and Treatment of High Blood 

Pressure).

Kategori Tekanan Darah 

menurut JNC 7

Tekanan Darah Sistol 

(mmHg)

Tekanan Darah Diastol 

(mmHg)

Normal < 120 < 80

Pra-Hipertensi 120 – 139 80-89

Hipertensi:

Tahap 1 140 – 159 90-99

Tahap 2 ≥ 160 ≥ 100

Sumber: (JNC 2003 ,7)

Tabel diatas menyediakan klasifikasi Tekanan Darah untuk orang 

dewasa berusia 18 tahun ke atas. Klasifikasi didasarkan pada rata-rata 

dua atau lebih pembacaan Tekanan Darah yang diukur dengan benar 

pada masing-masing dari dua kali kunjungan atau lebih. Berbeda 

dengan klasifikasi yang disediakan dalam laporan JNC 6, prehipertensi 

kategori baru yang ditunjuk telah ditambahkan, dan hipertensi tahap 

2 dan 3 telah digabungkan. Pasien dengan prehipertensi berisiko 

meningkat untuk perkembangan hipertensi. Mereka yang berada 

dalam rentang Tekanan Darah 130–139/80–89 mmHg berisiko dua 

kali lipat untuk mengembangkan hipertensi seperti mereka yang 

memiliki nilai lebih rendah 

PATOFISIOLOGI HIPERTENSI

Mekanisme terjadinya hipertensi yaitu  melalui terbentuknya 

angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin converting enzyme 

(ACE). ACE memegang peran fisiologis yang sangat penting terutama 

dalam mengatur tekanan darah dalam tubuh. Darah mengandung 


(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

angiotensinogen yang diproduksi oleh hati. Selanjutnya oleh adanya 

hormon, renin (yang diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi 

angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I 

diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki 

peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aktivitas 

utama 

Aksi pertama yaitu  meningkatkan sekresi hormon antidiuretik 

(ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar 

pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan 

volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin 

yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi 

pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume 

cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan 

dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat 

yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Untuk 

mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan 

dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler 

Aktivitas kedua yaitu  menstimulasi sekresi aldosteron dari 

korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang 

memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan 

ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) 

dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi 

NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume 

cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume 

dan tekanan darah 


GEJALA KLINIS HIPERTENSI

Sebagian besar tanpa disertai gejala yang mencolok dan manifestasi 

klinis timbul sesudah  mengetahui hipertensi bertahun-tahun berupa:

1. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan 

muntah, akibat tekanan darah intrakranium.

2. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina sebab  hipertensi. 

3. Ayunan langkah tidak mantap sebab  kerusakan susunan syaraf.

4. Nokturia sebab  peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi 

glomerolus.

5. Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler. 

6. Peninggian tekanan darah kadang merupakan satu-satunya gejala, 

terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala 

lain yaitu  sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, 

rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunangkunang dan 

pusing.

DIAGNOSIS HIPERTENSI

Evaluasi terhadap diagnose pasien hipertensi perlu dilakukan untuk 

beberapa tujuan: 

1. Mengidentifikasi pemicu  hipertensi.

2. Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit 

kardiovaskuler, beratnya penyakit, serta respon terhadap 

pengobatan. 

3. Mengidentifikasi adanya faktor risiko kardiovaskuler yang lain 

atau penyakit penyerta, yang ikut menentukan prognosis dan 

ikut menentukan panduan pengobatan.

4. Data pasien hipertensi dapat diperoleh dengan cara anamnesis, 

pemeriksaan fisis, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan 

penunjang. Peningkatan tekanan darah sering merupakan satu-


(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

satunya tanda klinis hipertensi primer, sehingga diperlukan 

pengukuran tekanan darah yang akurat. 

5. Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama 

menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan 

seperti penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler dan 

lainnya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala 

yang berkaitan dengan penyakit hipertensi, perubahan aktifitas 

atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat 

dan faktor psikososial lingkungan keluarga, pekerjaan, dan lain-

lain). Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan 

darah dua kali atau lebih dengan jarak dua menit, kemudian 

diperiksa ulang dengan kontrolatera.

PENGUKURAN TEKANAN DARAH

Digital sphygmomanometer saat ini merupakan alat yang sering 

digunakan di berbagai sentra kesehatan sebab  dianggap lebih 

mudah digunakan dan tidak membutuhkan keahlian khusus dalam 

aplikasinya. Digital sphygmomanometer memiliki pompa udara yang 

digerakkan oleh microprocessor. Microprocessor akan memompa 

udara secara otomatis ke dalam manset sekitar 20 mmHg di atas 

tekanan sistolik rata-rata (sekitar 120 mmHg), sesudah  microprocessor 

menangkap tekanan telah cukup, secara otomatis knob pada tensimeter 

akan mengendur dan tekanan udara didalam manset akan turun 

secara perlahan. Saat proses pengempesan ini  berlangsung, 

akan muncul gelombang osilometrik yang akan direkam oleh alat. 

Gelombang osilometrik inilah yang dikonversi secara otomatis oleh 

alat sebagai tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, tekanan 

nadi, serta mean arterial pressure (MAP). Titik dimana gelombang 

osilometrik muncul pertama kali akan terbaca sebagai tekanan 

darah sistolik, sedang  titik di mana gelombang osilometrik mulai 


menghilang akan terbaca sebagai tekanan darah diastolic 

FAKTOR RISIKO HIPERTENSI

Faktor pemicu hipertensi dibedakan atas:

1. Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol

a. Umur

Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua 

seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Umur 

lebih dari 40 tahun mempunyai risiko terkena hipertensi. 

Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih 

besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut 

cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 

% diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitasnya atau 

kelenturannya dan tekanan darah seiring bertambahnya usia, 

kebanyakan orang hipertensinya meningkat ketika berumur 

lima puluhan dan enam puluhan 

Hipertensi dialami oleh kelompok umur 31-55 tahun 

dan umumnya berisiko lebih tinggi pada usia lebih dari 

40 tahun. Bahkan kejadian hipertensi lebih tinggi pada 

usia lebih dari 60 tahun. Secara fisiologis, keterkaitan 

usia dengan peningkatan tekanan darah sebab  adanya 

perubahan elastisitas dinding pembuluh darah dari waktu 

ke waktu, proliferasi kolagen, dan deposit kalsium yang 

berhubungan dengan arterosklerosis. Jika hal ini  

diikuti dengan tingginya tekanan darah yang persisten maka 

akan memicu  kekakuan pada arterial sentral 

Dengan bertambahnya umur, risiko terjadinya hipertensi 

meningkat. Peningkatan umur akan memicu  beberapa 

perubahan fisiologis, pada usia lanjut terjadi peningkatan 

resistensi perifer dan aktivitas simpatik. Pengaturan 

tekanan darah yaitu reflex baroreseptor pada usia lanjut 

sensitivitasnya sudah berkurang, sedang  peran ginjal 

juga sudah berkurang dimana aliran darah ginjal dan laju 

filtrasi glomerulus menurun  Meskipun 

hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun paling sering 

dijumpai pada orang berusia 35 tahun atau lebih. Sebenarnya 

wajar bila tekanan darah sedikit meningkat dengan 

bertambahnya umur. Hal ini disebabkan oleh perubahan 

alami pada jantung, pembuluh darah dan hormon. Tetapi 

bila perubahan ini  disertai faktor-faktor lain maka bisa 

memicu terjadinya hipertensi 

b. Jenis Kelamin

Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh 

hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar 

High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL 

yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah 

terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen 

dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada 

usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai 

kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang 

selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. 

Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen ini  

berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara 

alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-

55 tahun 

c. Genetik

Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan 

memicu  keluarga ini  mempunyai risiko 

menderita hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi 

19BAB III

mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita 

hipertensi daripada individu yang tidak mempunyai keluarga 

dengan riwayat hipertensi. Ada baiknya mulai sekarang 

kita memeriksa riwayat kesehatan keluarga sehingga kita 

dapat melakukan antisipasi dan pencegahan. Ini tidak 

hanya berlaku untuk penyakit hipertensi tetapi juga untuk 

penyakitpenyakit berat lainnya. Bagaimanapun melakukan 

pencegahan dan antisipasi terhadap penyakit jauh lebih 

baik daripada melakukan pengobatan 

2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol

a. Kebiasaan Merokok

Nikotin dalam tembakau merupakan pemicu  

meningkatnya tekanan darah segara sesudah  isapan pertama. 

Seperti zat-zat kimia lain dalam asap rokok, nikotin diserap 

oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil didalam paru-

paru dan diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa 

detik nikotin sudah mencapai otak. Otak bereaksi terhadap 

nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk 

melepas epinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat ini akan 

menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung 

untuk bekerja lebih berat sebab  tekanan yang lebih tinggi. 

sesudah  merokok dua batang saja maka baik tekanan sistolik 

maupun diastolik akan meningkat 10 mmHg. Tekanan 

darah akan tetap pada ketinggian ini sampai 30 menit sesudah  

berhenti mengisap rokok. Sementara efek nikotin perlahan-

lahan menghilang, tekanan darah juga akan menurun 

dengan perlahan. Namun pada perokok berat tekanan darah 

akan berada pada level tinggi sepanjang hari 


b. Konsumsi Asin/Garam

Garam memicu  penumpukan cairan dalam tubuh, 

sebab  menarik cairan diluar sel agar tidak keluar, sehingga 

akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada 

manusia yang mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang 

ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedang  

asupan garam sekitar 7-8 gram tekanan darahnya rata-rata 

lebih tinggi. Konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih 

dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau 2400 

mg/hari.

Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization 

(WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang 

dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar 

sodium yang direkomendasikan yaitu  tidak lebih dari 100 

mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari. 

Konsumsi natrium yang berlebih memicu  konsentrasi 

natrium didalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk 

menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga 

volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya 

volume cairan ekstraseluler ini  memicu  

meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada 

timbulnya hipertensi 

c. Konsumsi Lemak Jenuh

Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan 

peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya 

hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan 

risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan 

tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama 

lemak dalam makanan yang bersumber dari hewan dan 

peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh secukupnya yang 

berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain 


yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan 

darah.

d. Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol

Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum 

alkohol berat cenderung hipertensi meskipun mekanisme 

timbulnya hipertensi belum diketahui secara pasti. 

Orangorang yang minum alkohol terlalu sering atau yang 

terlalu banyak memiliki tekanan yang lebih tinggi dari pada 

individu yang tidak minum atau minum sedikit. Diperkirakan 

konsumsi alkohol berlebihan menjadi pemicu  sekitar 

5-20% dari semua kasus hipertensi. Mengkonsumsi tiga 

gelas atau lebih minuman berakohol per hari meningkatkan 

risiko mendapat hipertensi sebesar dua kali. Bagaimana 

dan mengapa alkohol meningkatkan tekanan darah belum 

diketahui dengan jelas. Namun sudah menjadi kenyataan 

bahwa dalam jangka panjang, minumminuman beralkohol 

berlebihan akan merusak jantung dan organ-organ lain 


e. Obesitas

Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi 

makanan yang mengandung tinggi lemak. Obesitas 

meningkatkan risiko terjadinya hipertensi sebab  beberapa 

sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah 

yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan 

ke jaringan tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar 

melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga 

memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri. Kelebihan 

berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung 

dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan insulin 

memicu  tubuh menahan natrium dan air 

f. Olahraga

Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan 

penyakit tidak menular, sebab  olahraga isotonik dan teratur 

dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan 

tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung 

sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan 

pekerjaan yang lebih berat sebab  adanya kondisi tertentu. 

Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah 

tinggi sebab  bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. 

Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak 

jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja 

lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering 

jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang 

mendesak arteri 

Aktivitas fisik yang tinggi dapat mencegah atau 

memperlambat onset tekanan darah tinggi dan menurunkan 

tekanan darah pada pasien Hipertensi. Orang yang rajin 

melakukan olahraga seperti bersepeda, jogging dan aerobik 

secara teratur dapat memperlancar peredaran darah sehingga 

dapat menurunkan tekanan darah. Orang yang kurang aktif 

olahraga pada umumnya cenderung mengalami kegemukan. 

Olahraga juga dapat mengurangi atau mencegah obesitas 

serta mengurangi asupan garamke dalam tubuh. Garam 

akan keluar dri dalam tubuh bersama keringat. Melalui 

olahraga raga yang teratur (aktivitas fisik aerobik selama 

30-45 menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang 

akan mencegah terjadinya hipertensi 

g. Stres

Stres yaitu  tanggapan atau reaksi terhadap berbagai 

tuntutan atau beban atasnya yang bersifat non spesifik 

namun, disamping itu stres dapat juga merupakan faktor 

pencetus, pemicu  sekaligus akibat dari suatu gangguan 

atau penyakit. Faktorfaktor psikososisal cukup mempunyai 

arti bagi terjadinya stres pada diri seseorang. Stres dalam 

kehidupan yaitu  suatu hal yang tidak dapat dihindari 

 Stres dapat meningkatkan 

tekanah darah sewaktu. Hormon adrenalin akan meningkat 

sewaktu kita stres, dan itu bisa mengakibatkan jantung 

memompa darah lebih cepat sehingga tekanan darah pun 

meningkat 

PENCEGAHAN HIPERTENSI 

Terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah 

hipertensi, yaitu:

1. Mengonsumsi makanan sehat.

2. Batasi asupan garam. 

3. Mengurangi konsumsi kafein yang berlebihan.

4. Berhenti merokok

5. Berolahraga secara teratur.

6. Menjaga berat badan.

7. Tidak mengkonsumsi minuman beralkohol

PENGOBATAN DAN HIPERTENSI 

Sebagian pengidap hipertensi harus mengonsumsi obat seumur 

hidup guna mengatur tekanan darah. Namun, jika tekanan darah 

sudah terkendali melalui perubahan gaya hidup, penurunan dosis 

obat atau konsumsinya dapat dihentikan. Perhatikan selalu dosis obat 

yang diberikan dan efek samping yang mungkin terjadi.

Obat-obatan yang umumnya diberikan kepada para pengidap 

hipertensi, antara lain:


1. Obat untuk membuang kelebihan garam dan cairan di tubuh 

melalui urine. Pasalnya, hipertensi membuat pengidapnya rentan 

terhadap kadar garam tinggi dalam tubuh.

2. Obat untuk melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan 

darah bisa menurun. Perlu diketahui bahwa hipertensi membuat 

pengidapnya rentan mengalami sumbatan pada pembuluh darah. 

3. Obat yang bekerja untuk memperlambat detak jantung dan 

melebarkan pembuluh darah.

4. Obat penurun tekanan darah yang berfungsi untuk membuat 

dinding pembuluh darah lebih rileks. 

5. Obat penghambat renin untuk menghambat kerja enzim 

yang berfungsi menaikkan tekanan darah. Jika renin bekerja 

berlebihan, tekanan darah akan naik tidak terkendali. 

Selain konsumsi obat-obatan, pengobatan hipertensi juga bisa 

dilakukan melalui terapi relaksasi, misalnya terapi meditasi atau terapi 

yoga. Namun, pengobatan hipertensi tidak akan berjalan lancar jika 

tidak disertai dengan perubahan gaya hidup, seperti menjalani pola 

makan dan hidup sehat, serta olahraga teratur.

Hasil Riset Kesehatan dasar 2018 (Gambar 3.1) menunjukkan 

bahwa hampir 50% penderita hipertensi tidak mengonsumsi obat 

secara rutin dan bahkan tidak mengonsumsi obatnya sama sekali. 

Alasan utama tidak rutin/tidak mengonsumsi obat yaitu  sebab  

merasa sudah sehat 59.8% 


Gambar 3.1. Proporsi Riwayat minum obat dan alasan tidak minum obat 

pada penduduk hipertensi berdasar  diagnosis dokter atau 

minum obat, 2018 

EFEK PEMBERIAN HERBAL TERHADAP 

HIPERTENSI

Pada saat ini warga  mencoba menggunakan bahan alami sebagai 

pengobatan alternatif yang dianggap lebih aman jika dibandingkan 

dengan obat-obatan kimia. Pengobatan tradisional menjadi alternatif 

sebab  tidak memicu  efek samping yang berbahaya sebab  

menggunakan bahan alami dari tumbuh. 

Hasil penelitian yang telah dilakukan pada penderita hipertensi 

di wilayah kerja Puskesmas Kenten Laut dengan judul pengaruh 

pemberian air rebusan seledri terhadap penurunan tekanan darah 

diambil kesimpulan sebagai berikut : Rata-rata penurunan tekanan 

darah sistolik sesudah  diberikan air rebusan seledri yaitu  20,32 mmHg 

dan rata-rata penurunan tekanan darah diastolik sesudah  diberikan air 

rebusan seledri yaitu  7,09 mmHg. Disamping seledri, daun salam 

(Syzygium polyanthum) juga dimungkinkan dapat digunakan untuk 

pengobatan alternatif yang berkhasiat sebagai obat untuk menurunkan 

tekanan darah. Tanaman ini terbukti efektif dalam menyembuhkan 

penyakit, efek samping minimal, serta mudah diperoleh. Daun salam 

memiliki kandungan minyak atsiri, sitrat, eugenol, tannin, flavonoid. 

Kandungan senyawa aktif daun salam yang bermanfaat untuk 


kesehatan yaitu senyawa antioksidan dalam hubungannya dengan 

tekanan darah yang terdiri dari tannin dan flavonoid 



KONSEP DASAR DAUN BELIMBING 

WULUH 

KLASIFIKASI TANAMAN BELIMBING WULUH

Averrhoa bilimbi L. yaitu  tumbuhan obat yang termasuk dalam 

famili Oxalidaceae. Genus Averrhoa dinamai seorang Filsuf Arab, 

dokter dan Ahli Hukum Islam Ibn Rusyd sering dikenal sebagai 

Averroes (1126-98). Averrhoa bilimbi L. berkerabat dekat dengan 

Averrhoa carambola (carambola, starfruit). Averrhoa bilimbi L pada 

dasarnya dibudidayakan untuk tujuan pengobatan di banyak negara 

tropis dan subtropis di dunia. 

29

Gambar 1 Daun Belimbing Wuluh

sumber: (Google.com)

Berikut klasifikasi dari belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi L) 

sebagai berikut :

1. Kingdom  : Plantae (Tumbuhan)

2. Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

3. Super Divisi : Spermatophyta ( Menghasilkan Biji)

4. Divisi  : Magnoliphyta (Tumbuhan Berbunga)

5. Kelas  : Magnoliopsida (Berkeping Dua/dikotil)

6. Sub Kelas  : Roidae

7. Ordo  : Geraiales

8. Famili  : Oxalidaceae (Suku Belimbing-belimbingan)

9. Genus  : Averhoa

10. Spesies  : Averrhoa Bilimbi L.

Blimbing wuluh yaitu  sejenis pohon kecil yang diperkirakan 

berasal dari kepulauan Maluku (negara kita ), tetapi dari sumber 

lain juga mengatakan buah ini dari Amerika tropis. Buahnya khas 


dan kandungan kimia berupa glukosida, vitamin B, dan vitamin C, 

bunganya berkhasiat untuk antipiretik dan ekspektoran. 

Pohon Belimbing Wuluh bisa tumbuh dengan ketinggian 

mencapai 5-10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan 

diameternya hanya sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah, 

kadang tumbuh liar dan di temukan dari dataran rendah sampai 500 

m diatas permukaan laut. Batangnya bergelombang kasar, pendek 

dan cabangnya sedikit. Daunya membentuk kelompok menyirip 

bergantian, panjangnya 30-60 cm dan berkelompok pada akhir 

cabang. Pada setiap daun terdapat 11- 45 pasang daun oval. Bunganya 

kecil, muncul langsung dari batang dengan tangkai bunga berbulu. 

Mahkota bunganya berjumlah lima, warna putih, kuning atau ungu. 

Buah berbentuk elips seperti torpedo dengan panjang 4-10 cm. 

Warnanya hijau ketika muda dengan kelopak yang tersisa menempel 

di ujung. Buah masak berwarna kuning atau pucat. Daging buah 

berair dengan rasa sangat masam hingga manis. Kulit buahnya 

mengkilap dan tipis. Bijinya kecil, datar, coklat, dan di tutupi dengan 

lender.

KANDUNGAN DAUN BELIMBING WULUH

Kandungan yang terdapat pada daun belimbing wuluh yaitu  

alkaloid, glikosida, senyawa fenolik, flavonoid, steroid, terpenoid, 

tanin, saponin, asam-amino, protein, gula reduksi, pati dan 

karbohidrat ditemukan di awal tes fitokimia (Hlaing, 2020). Daun 

belimbing wuluh mengandung zat kalium sitrat yang berfungsi untuk 

melancarkan keluarnya air seni, sehingga dapat menurunkan tekanan 

darah tinggi 

Zat aktif yang bisa di dapat pada daun belimbing wuluh antara 

lain yaitu  saponin dan flavonoid. Saponin berfungsi sebagai 

anti hiperglikemik dengan cara mencegah pengambilan glukosa 

pada brush borderdi usus halus. sedang  flavonoid merupakan 


alfaglukosidase yang berfungsi untuk menunda absorbsi karbohidrat 

sehingga kadar glukosa darah akan menurun 

Pada analisis khasiat gizi, kadar protein (12,28%), kelembaban 

(9,53%), abu (5,93%), lemak (3,34%), serat (21,95%) dan karbohidrat 

(46,97%) diperoleh dari serbuk daun. Data ini menunjukkan bahwa 

daun kaya akan sumber karbohidrat, serat, protein dan rendah lemak. 

Menurut literatur, karbohidrat bisa berfungsi sebagai suplemen 

untuk energi, sebab  berpotensi meningkatkan status kesehatan 

penggunanya. Kandungan seratnya bisa membantu meningkatkan 

fungsi gastrointestinal, mencegah sembelit dan dapat menurunkan 

kandungan kolesterol. Oleh sebab  itu averrhoa bilimbi L. memiliki 

komponen nutrisi yang berharga dan dapat menjadi nutrisi pelengkap 


Skrining fitokimia awal ekstrak daun Averrhoa bilimbi l. 

mengungkapkan adanya alkaloid, tanin, saponin, flavonoid, glikosida 

jantung, glikosida, triterpen, fenol, dan karbohidrat Ekstrak etanol yang telah dimurnikan dari daun belimbing 

wuluh mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi obat 

antihipertensi, sebab  memberikan efek penurunan tekanan darah 

secara signifikan terhadap hewan uji kucing 

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kumar dkk pada tahun 

2011 diketahui kandungan gizi dalam 60 gr bubuk daun belimbing 

wuluh yaitu  sebagai berikut : 

Tabel 4.1 Kandungan Gizi Dalam Daun Belimbing Wuluh 

Zat Gizi Jumlah Satuan

Kadar Kelembaban 94.2-94.7 gram

Kadar Abu 0.31 gram

Protein 0.61 gram

Serat 0.6 gram

Besi (Fe) 11.1 mg

Fosfor 3.4 gram


Kalsium (Ca) 0.40 gram

Kalium (K) 148 mg

Vitamin C 0.30 mg/100g

KANDUNGAN DAUN BELIMBING WULUH 

TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH

1. Kalium 

Kalium berfungsi sebagai diuretik sehingga pengeluaran natrium 

cairan meningkat, jumlah natrium rendah tekanan darah 

menurun 

Kalium merupakan elektrolit intraseluler yang utama, 

sebanyak 98% kalium tubuh berada dalam sel dan 2% sisanya 

untuk fungsi neuromuskuler. Kalium mempengaruhi aktivitas 

baik otot skeletal maupun otot jantung. Kalium berfungsi 

sebagai pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta 

keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan 

dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium 

berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik, 

terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan 

protein 

Kandungan kalium sendiri diketahui dapat menurunkan 

tekanan darah dengan mengurangi kandungan natrium dalam 

urine dan air dengan cara yang sama seperti diuretik. Penelitian 

epidemiologi menunjukkan bahwa asupan rendah Kalium akan 

mengakibatkan peningkatan tekanan darah 

Beberapa mekanisme bagaimana kalium dapat menurunkan 

tekanan darah sebagai berikut : Kalium dapat menurunkan 

tekanan darah dengan vasodilatasi sehingga memicu  

penurunan retensi perifer total dan meningkatkan output 

jantung. Penurunan tekanan darah terjadi sebab  kandungan 


kalium yang memicu  penghambatan pada Sistem Renin 

Angiotensin juga memicu  terjadinya penurunan sekresi 

aldosteron, sehingga terjadi penurunan reabsorpsi natrium dan 

air di tubulus ginjal. Akibat dari mekanisme ini , maka 

terjadi peningkatan diuresis yang memicu  berkurangnya 

volume darah, sehingga tekanan darah pun menjadi turun 


2. Kalsium 

Kalsium yaitu  unsur terbanyak penyusun di dalam tubuh 

manusia pada urutan kelima, yakni sebesar 1,5 - 2 % per berat 

tubuh (Sitanggang et al., 2021). Keperluan kalsium dalam 

tubuh biasanya dihitung dengan keseimbangan nitrogen. Orang 

dewasa memerlukan 700 mg (0,7 g) kalsium/hari (Elfariyanti and 

Syahpitri, 2021). Peranan kalsium dalam tubuh manusia pada 

umumnya dapat dibagi 2, yaitu membantu membentuk tulang 

dan gigi dan mengukur proses biologis dalam tubuh. Selain itu 

kalsium juga memegang peranan penting pada berbagai proses 

fisiologik dan biokemik dalam tubuh, seperti pada pembekuan 

darah, eksitabilitas syaraf otot, kerekatan seluler, transmisi 

impuls syaraf, memelihara dan meningkatkan fungsi membran 

sel, mengaktifkan reaksi enzim dan sekresi hormon 

Kalsium juga mempunyai peran terhadap regulasi tekanan 

darah, diantaranya yaitu  menurunkan aktivitas sistem renin-

angiotensin, meningkatkan keseimbangan natrium dan kalium, 

serta menghambat konstriksi pembuluh darah. Jika asupan 

kalsium kurang dari kebutuhan tubuh maka untuk menjaga 

keseimbangan kalsium dalam darah, hormon paratiroid 

menstimulasi pengeluaran kalsium dari tulang dan masuk ke 

darah 


Kalsium menurunkan tekanan darah dengan mekanisme 

seperti kalsium antagonis. Antagonis kalsium yang bekerja 

menurunkan tekanan darah dengan memblokade masukknya 

kalsium ke dalam darah. Sehingga dengan menghambat 

kontraksi otot yang melingkari pembuluh darah, pembuluh 

darah akan melebar sehingga darah mengalir dengan lancar dan 

tekanan darah akan menurun (Misnawati et al., 2021). Kalsium 

yang rendah pemicu  tekanan darah tinggi yang dipicu oleh 

pelepasan hormon paratiroid atau renin yang memicu  

peningkatan kalsium intraseluler pada vascular smooth muscle 

dan memicu vasokontriksi 

3. Vitamin C 

Vitamin C merupakan zat yang sangat dibutuhkan tubuh dalam 

proses metabolisme dan pertumbuhan. Kebutuhan vitamin C 

bagi orang dewasa yaitu  sekitar 60 mg, untuk wanita hamil 

95 mg, anak-anak 45 mg, dan bayi 35 mg, namun sebab  

banyaknya populasi di lingkungan antara lain oleh adanya asap 

kendaraan bermotor dan asap rokok maka penggunaan vitamin 

C perlu ditingkatkan hingga dua kali lipatnya yaitu 120 mg 

Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang dapat 

memicu  proses remodelling pada pembuluh darah sehingga 

dapat memicu  vasodilatasi pada pembuluh darah yang 

mengalami vasokontriksi. Vitamin C merupakan water-soluble 

scavenger dari radikal bebas yang kuat, dapat menurunkan 

adhesi monosit terhadap sel endotel, mengurangi inaktivasi 

NO dan merangsang aktivasi eNOS. Penelitian yang dilakukan 

oleh Ardalan di tahun 2014 menunjukkan peningkatan asupan 

buah dan sayur pada subjek yang mengalami hipertensi selama 

6 bulan mengakibatkan peningkatan blood antioxidant capacity 


dan penurunan tekanan darah sistolik maupun diastolik 

Vitamin C merupakan antioksidan memiliki peran pada 

neurotransmiter yang dapat berkontribusi pada aktivitas anti-

hipertensi. Vitamin C yaitu  scavenger radikal bebas yang 

dapat membantu menetralkan beban oksidan. Fungsi vitamin 

C sebagai antioksidan yaitu  dengan mencegah substansi 

mengalami oksidasi dengan cara melakukan donor elektron. 

Mekanisme reduksi kadar vitamin C pada perokok yaitu  akibat 

adanya oksidasi yang berlangsung secara cepat sebab  adanya 

radikal bebas. Vitamin C merupakan salah satu antioksidan 

yang dapat memicu  proses remodelling pada pembuluh 

darah sehingga dapat memicu  vasodilatasi pada pembuluh 

darah yang mengalami vasokontriksi. Vitamin C merupakan 

water-soluble scavenger dari radikal bebas yang kuat, dapat 

menurunkan adhesi monosit terhadap sel endotel, mengurangi 

inaktivasi NO dan merangsang aktivasi eNOS 

4. Saponin

Saponin memiliki khasiat diuretik yang menurunkan volume 

plasma dengan cara mengeluarkan air dan elektrolit terutama 

natrium, sehingga dapat memicu  penurunan cardiac 

output (Asprilia dan Candra,2016).

5. Flavonoid

Flavanoid akan mempengaruhi kerja angiostensin converting 

enzym (ACE). Penghambatan ACE akan menghambat 

perubahan angiostensin I dan angiostensin II, yang memicu  

vasodilatasi sehingga tahanan resistensi periver turun dan dapat 

menurunkan tekanan darah 

Daun belimbing wuluh mengandung kalium yang dapat 

mempengaruhi pengeluaran urin. Kalium berfungsi sebagai diuretik 


sehingga pengeluara natrium cairan meningkat, jumlah natrium 

rendah sehingga tekanan darah menurun 

Kalium menghambat kerja sistem renin angiotensin, yaitu dengan 

menghambat pengeluaran renin sebab  sekresi renin berbanding 

terbalik dengan peningkatan kadar ion kalium di dalam plasma. Renin 

yang seharusnya mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin 

I kemudian angiotensin II yang merupakan vasokonstriktor yang 

sangat kuat. Namun, sebab  adanya blok pada sistem ini, maka 

pembuluh darah akan mengalami vasodilatasi sehingga tekanan 

darah akan menurun. Kalium juga menurukan sekresi aldosteron 

yang dapat memicu  penurunan retensi natrium dan air oleh 

ginjal .

Saponin memiliki khasiat diuretik dengan menurunkan volume 

plasma dengan cara mengeluarkan air dan elektrolit terutama natrium 

sehingga dapat memicu  penurunan cardiac output. Saponin 

menurunkan tekanan darah dengan menghambat poduksi renin di 

dalam ginjal sehingga dapat mencegah terbentuknya angiotensin I 

dari angiotensinogen 

Flavonoid akan mempengaruhi kerja dari Angiotensin Converting 

Enzyme (ACE). Penghambatan ACE akan menginhibisi perubahan 

angiotensin I menjadi angiotensin II yang memicu  vasodilatasi 

sehingga tahanan resistensi perifer turun dan dapat menurunkan 

tekanan darah. Efek lainnya dapat memicu  penurunan sekresi 

aldosterone dan sekresi Anti Diruetic Hormon (ADH) yang dapat 

menurunkan tekanan darah dengan mengurangi retesi air dan garam 

serta absopsi air 

Penelitian yang dilakukan oleh Pontoh (2014) menemukan ada 

pengaruh yang bermakna pemberian rebusan air daun belimbing 

wuluh terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi di Wilayah 

Kerja Puskesmas Bolongsari Surabaya  Penelitian oleh 

Anggrreni, Mail dan Adiesty (2018) menemukan jika ada penurunan 


tekanan darah yang signifikan terhadap pemberian rebusan air 

daun belimbing wuluh pada ibu hamil di kelompok eksperimen 

dibandingkan kelompok kontrol  Penelitian 

Simalandahi dan Yentisukma (2019) menemukan air rebusan daun 

belimbing wuluh memiliki pengaruh terhadap tekanan darah lansia 

yang menderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskemas Andalas 

Padang 

MANFAAT DAUN BELIMBING WULUH 

Daun belimbing wuluh dapat digunakan sebagai obat tradisional 

dalam hal ini menandakan bahwa tanaman ini  berpotensi sifat 

antimikroba (Hlaing, 2020). Daun belimbing wuluh digunakan untuk 

pengobatan demam, gondongan, jerawat, radang rektum dan kencing 

manis, gatal-gatal, bisul, reumatik, sifilis, kolik bilious, batuk rejan, 

hipertensi, dan sakit perut dan maag 

Daun belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi L.) berkhasiat dalam 

menurunkan tekanan darah, hasil penelitian menyebutkan bahwa 

kandungan dari daun belimbing wuluh yang dapat menurunkan 

tekanan darah yaitu  kalium sitrat, saponin dan flavonoid. Air 

rebusan daun belimbing wuluh memiliki pengaruh terhadap tekanan 

darah lansia yang menderita hipertensi. Ekstrak methanol daun 

belimbing wuluh mengandung flavanoid yang memiliki potensi 

sebagai antioksidan yang dapat mengeluarkan zat nitric oxide 

sehingga dapat menurunkan tekanan darah serta menyeimbangkan 

beberapa hormon di dalam tubuh.

Pada penelitian Wijayanti & Safitri, (2018) menemukan bahwa 

daun belimbing wuluh mengandung senyawa aktif di dalam daunnya 

yaitu flavonoid, saponin, tanin, sulfur, asam format, sulfur, kalsium 

oksalat, kalium sitrat dan mampun menurunkan tekanan darah. 

Juga didukung oleh penelitian Simandalahi & Yentisukma, (2019) 

menemukan bahwa air rebusan daun belimbing wuluh memiliki 


pengaruh terhadap tekanan darah lansia yang menderita hipertensi, 

dalam intervensinya memberikan air rebusan daun belimbing wuluh 

dengan intensitas dua kali sehari (150 ml untuk satu kali minum) 

sesudah  makan selama 7 hari berturut-turut. Kemudian pada penalitian 

Insan (2019) memberikan rebusan daun belimbing wuluh selama 7 

hari berturut-turut sebanyak 5g daun segar dengan air 200cc. 

Tanaman belimbing wuluh kerap diteliti sebab  memiliki potensi 

dalam menurunkan tekanan darah penderita hipertensi. Beberapa 

penelitian telah dilakukan oleh Arimina Hartati Pontoh pada tahun 

2014 diketahui air rebusan daun belimbing wuluh dapat menurunkan 

tekanan darah lansia berusia 60-69 tahun sebesar 20 mmHg selama 

7 hari dengan dosis yang diberikan yaitu 250 cc air rebusan daun 

belimbing wuluh (dari 7 lembar daun belimbing wuluh) diberikan 2x 

sehari selama 7 hari berturut-turut. Selain itu ada juga penelitian yang 

dilakukan oleh Simandalahi dan Yenti Sukma pada tahun 2019 yang 

diketahui menurunkan tekanan darah lansia usia 60-74 tahun sebesar 

11 mmHg selama 7 hari yang diberikan rebusan daun belimbing 

wuluh dengan dosis 50 gr daun direbus dalam 300 ml air kemudian 

direduksi hingga 150 ml dan diminum setiap 2x per hari setiap pagi 

dan sore sesudah  makan selama 7 hari berturut-turut.

Antioksidan sangat diperlukan dalam mengatasi dan mencegah 

stress oksidatif. Antioksidan merupakan senyawa yang memiliki 

kemampuan untuk mendonorkan elektron dan bermanfaat dalam 

menghambat proses oksidasi. Antioksidan dapat mencegah dan 

menurunkan tingkat stress oksidatif terutama pada endotel sebab  

antioksidan dapat merangsang produksi nitrit okside yang berperan 

dalam vasolidatasi. 

Terdapat berbagai macam herbal yang biasa digunakan 

warga  dalam mengatasi hipertensi seperti daun salam, daun 

seledri, daun alpukat, dan daun belimbing wuluh.


Tabel 3.1 Aktivitas Antioksidan Daun

Jenis daun IC50 Kategori

Daun belimbing wuluh 16,99 ppm Sangat kuat

Daun salam 19,97 ppm Sangat kuat

Daun alpukat 118,80 ppm Sedang

Daun seledri 189,36 ppm Lemah 

Sumber: (Hasim dkk, 2019)

Pada penelitian Edi et al (2013), daun belimbing wuluh (Averrhoa 

blimbi L.) memiliki kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, 

diterpen alkohol asiklik, dietilftalat, tanin, sulfur, asam sitrat asam 

format serta kalium sitrat. sedang  pada buah belimbing wuluh 

(Averrhoa blimbi L.) memiliki kandungan kalium sitrat yang 

memiliki efek diuretik sehingga menstimulasi keluarnya natrium 

dan cairan pada tubuh yang dapat membantu mennurunkan tekanan 

darah. Flavonoid pada tanaman belimbing wuluh (Averrhoa blimbi 

L.) memiliki potensi sebagai antioksidan yang dapat membantu 

menurunkan tekanan darah 

Penelitian yang dilakukan di Puskesma Balongsari-Surabaya 

menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap 

pemberian air rebusan daun belimbing wuluh (Averrhoa blimbi L.) 

terhadap tekanan darah (p < 0,005) (Pontoh, 2014). Hal ini didukung 

oleh penelitian Fauzi (2014) yang dilakukan di wilayah kerja 

Puskesmas Sungai Tarab, hasil penelitian menunjukkan sebanyak 12 

subjek penderita hipertensi yang diberikan air rebusan daun belimbing 

wuluh (Averrhoa blimbi L.) memiliki perbedaan tekanan darah yang 

signifikan (p < 0,005). Pada penelitian Simandalahi dan Yentisukma 

(2019) tekanan darah kelompok intervensi sesudah  pemberian air 

rebusan daun belimbing wuluh yaitu sebesar 146.00/88,75 mmHg 

dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu 156.75/93,50 mmHg.


PROSES PEMBUATAN, DAYA TERIMA, 

MASA SIMPAN, DAN ANALISIS GIZI TEH 

HERBAL DAUN BELIMBING WULUH 

TINJAUAN UMUM TENTANG TEH HERBAL 

Minum teh sudah menjadi budaya dikalangan warga  negara kita , 

tidak melihat status sosial maupun ekonominya. Terlihat dari rata-

rata disetiap rumah tangga selalu menyediakan teh di rumahnya 

dan teh menjadi salah satu minuman favorit selain kopi. Hal ini 

disebabkan oleh senyawa-senyawa yang terkandung dalam teh dapat 

memberikan kepuasan kepada penikmatnya sebab  mempunyai 

warna, rasa dan aroma yang khas. Seperti senyawa kafein bersama 

sama dengan polifenol dapat memberikan rasa menyegarkan. 

Selain nikmat untuk diminum, teh juga mempunyai kandungan 

yang sangat bermanfaat untuk kesehatan seperti: kafein, polyphenol, 

catechin, dan minyak essensial. Komponen utama dalam teh yaitu  

catechin yang merupakan senyawa turunan tanin terkondensasi, 

dikenal juga sebagai senyawa polifenol sebab  memiliki banyak 

gugus fungsi hidroksil. Vitamin yang terkadung dalam teh yaitu  

vitamin C, vitamin B, dan vitamin A, diduga sebagian rusak pada 

saat proses pengolahan namun sebagian masih dapat dimanfaatkan 

oleh penikmatnya. Beberapa jenis mineral juga terkandung dalam 

teh, terutama fluorida juga dipercaya dapat memperkuat struktur gigi 

dan tulang. 

Dengan melihat banyaknya peminat teh saat ini di negara kita , 

maka banyak produsen teh baru dengan memproduksi banyak 

pilihan varian baik rasa, aroma maupun kemasan. Penambahan 

aroma dan rasa pada minuman teh dapat diberikan dengan 

penambahan simplisia (bahan Kering) seperti kulit jeruk, buah apel, 

cassiavera, sereh, jahe dan lain-lain. Selain penambahan bahan alami 

ini , aroma juga bisa didapatkan dari penambahaan essence 

food grade yang banyak beredar di pasaran. Untuk varian kemasan, 

para produsen teh mengeluarkan banyak pilihan seperti gelas, kotak, 

kaleng dan botol. Munculnya varian minuman RTD ini merupakan 

strategi pemasaran, sebab  warga  saat ini sangat menggemari 

segala hal yang bersifat instan. Selain sebagai bahan minuman, teh 

juga banyak dimanfaatkan untuk campuran makanan (seperti cake), 

obat-obatan dan kosmetik.

Teh merupakan minuman yang dibuat dengan cara menyeduh 

daun, pucuk daun atau tangkai daun yang dikeringkan dari 

tanaman Camelia sinensis. negara kita  merupakan salah satu negara 

selain sebagai produsen juga merupakan negara eksportir teh pada 

urutan kelima di dunia  berdasar  proses 

pengolahannya, jenis teh dapat dibedakan menjadi empat, yaitu teh 

tanpa fermentasi (teh putih dan teh hijau), teh semi fermentasi (teh 

oolong), serta teh fermentasi (teh hitam) 

1. Teh putih

Teh putih atau white tea merupakan teh dengan proses pengolahan 

paling sederhana, yaitu pelayuan dengan pengeringan. Bahan 

baku bersal dari pucuk dan dua daun di bawahnya 

2. Teh hijau

Secara umum, teh hijau dibedakan menjadi teh hijau panning 

type dan steaming type. Prinsip dasar proses pengolahannya 

yaitu  inaktivasi enzim polifenol oksidase untuk mencegah 

terjadinya oksimatis yang merubah polifenol menjadi senyawa 

oksidasinya berupa teaflavin dan tearubigin. Daun teh yang 

sudah dilayukan, kemudian digulung dan dikeringkan sampai 

kadar air tertentu 

3. Teh oolong

sesudah  sampai di pabrik, daun teh sesegera mungkin dilayukan 

dengan memanfaatkan panas dari sinar matahari sambil 

digulung halus secara manual menggunakan tangan ataupun 

menggunakan mesin. Tujuan penggulungan halus ini yaitu  

untuk mengoksidasi sebagian polifenol yang terdapat dalam daun 

teh. Proses ini dikenal sebagai proses semi oksimatis, kemudian 

dikeringkan 

4. Teh hitam

Dibandingkan teh lainnya teh hitam yaitu  yang paling banyak 

diproduksi. Teh hitam juga memiliki proses yang cukup rumit 

yaitu teh hitam otrodoks dan crushing-tearing-curling (CTC). 

Pada proses pengolahan teh hitam ortodoks, daun teh dilayukan 

selama 14-18 jam. sesudah  layu, daun teh digulung, digiling dan 

dioksimatis selama kurang lebih 1 jam. sedang  pada proses 

CTC, pelayuan selama 8-11 jam dan diikuti dengan proses 

penggilingan yang sangat kuat untuk mengeluarkan cairan sel 

semaksimal mungkin. Selanjutnya proses pengeringan kemudian 

disortasi dan degrading untuk menghasilkan jenis mutu teh 

tertentu 

Teh herbal (tisane/herbal tea) yaitu  sebutan untuk ramuan 

bunga, daun biji, akar atau buah kering untuk membuat minuman 

yang juga disebut teh herbal. Walaupun disebut “teh”, teh herbal 

tidak mengandung daun dari tanaman teh (Camelia sinensis). Teh 

herbal tersedia dalam kemasan kaleng, kantong teh, atau teh herbal 

siap minum dalam kemasan kotak, disesuaikan dengan kebutuhan 

rumah tangga atau industri. Teh herbal juga sering diiklankan sebagai 

minuman kesehatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. 

Kandungan senyawa kimia yang terpenting dalam pucuk segar 

teh yaitu  senyawa polifenol. Kandungan polifenol dalam pucuk 

segar sangat ditentukan oleh jenis/klon tanaman, sehingga klon 

tanaman dapat dipilih dan disesuaikan dengan jenis teh jadi yang 

akan dihasilkan. Seperti jenis/klon tanaman yang mempunyai 

kandungan EGC (epigalocatechin), EGCG (epigalocatechin galat), 

ECG (epicatechin galat) tinggi akan menghasilkan kualitas yang 

bagus bila diolah menjadi teh hitam sebab  mempunyai theaflavin 

dan thearubigin tinggi. Selain polifenol, unsur kimia penting lainnya 

mempengaruhi potensi kualitas daun teh, yaitu polipenol oksidase, 

kafein dan nitrogen/ protein (Scharbert & Hofmann, 2005).

Herbal tea atau teh herbal merupakan salah satu produk 

minuman campuran teh dan tanaman herbal yang memiliki khasiat 

dalam membantu membantu pengobatan suatu penyakit atau sebagai 

penyegar. sedang  Ravikumar, (2018) menyatakan teh herbal 

umumnya campuran dari beberapa bahan yang biasa disebut infusi/

tisane. Infusi/tisane terbuat dari kombinasi daun kering, biji, kayu, 

buah, bunga dan tanaman lain yang memiliki manfaat.

Teh herbal tidak berasal dari tanamanan daun teh yaitu 

Camellia sinenis. Teh herbal dapat dikonsumsi sebagai minuman 

sehat yang praktis tanpa mengganggu rutinitas sehari hari dan 

tetap menjaga kesehatan tubuh. Teh herbal yang dibuat diharapkan 


dapat meningkatkan cita rasa dari tiap bahan yang digunakan tanpa 

mengurangi khasiatnya. 

PEMBUATAN TEH HERBAL DAUN BELIMBING 

WULUH.

Bahan yang digunakan dalam pembuatan teh herbal daun belimbing 

wuluh segar. Bahan daun yang diambil yaitu  daun muda yang 

berwarna hijau. Daun dipetik dengan tangkainya kemudian dicuci 

dengan air yang mengalir. sesudah  itu daun dipisahkan dari tangkainya, 

dipilih daun yang dalam keadaan baik, berwarna hijau dan bersih 

bebas dari hama. sesudah  itu daun ditiriskan dan ditimbang. Daun 

belimbing wuluh disusun pada talang stainless yang telah dibersihkan 

sesudah  itu daun dikeringkan di dalam oven pada suhu 55°C selama 

2 jam (Rizky Pariawan, 2017). sesudah  2 jam daun dikeluarkan dan 

dihancurkan hingga menjadi serbuk. Daun yang telah digiling 

disaring agar ukuran seragam dan memisahkan tulang daun. sesudah  

itu daun ditimbang sebanyak 7gram menggunakan timbangan digital 

dan dikemas.

Adapun cara mengkonsumsi teh herbal daun belimbing wuluh 

diseduh dengan menggunakan 150 ml air panas. Air yang telah 

dipanaskan sebanyak 150 ml dituang ke dalam gelas berisi teh 

herbal daun belimbing wuluh 7 gram. sesudah  itu teh dicelupkan 

dan diamkan selama 2 menit seduhan teh yang t


herbal medicine 2

 




elah di celup dapat 

langsung diminum.

Gambar berikut ini menunjukkan alur singkat dalam membuat 

produk teh herbal dari daun belimbing wuluh : 


HASIL UJI HEDONIK TEH HERBAL DAUN 

BELIMBING WULUH

Uji daya terima merupakan tingkat kesukaan seseorang terhadap 

makanan atau minuman yang bertujuan untuk mengetahui tingkat 

penerimaan suatu komoditi mengenai sifat sensori tertentu. Uji 

penerimaan meliputi uji mutu hedonik dan uji hedonik. Skala hedonik 

ditransformasi ke dalam skala numerik menurut tingkat kesukaan. 

Dengan data numrik ini  dapat dilakukan analisa statistik 

Uji mutu hedonik tidak menyatakan suka atau tidak suka tetapi 

menyatakan kesan baik atau buruk. Kesan mutu hedonik lebih spesifik 

dibandingkan sekedar suka atau tidak suka seperti empuk atau keras 

untuk daging, pulen atau keras untuk nasi, dan lain-lain. Oleh sebab  

itu, beberapa ahli memasukkan mutu hedonik ke dalam uji hedonik. 



Penilaian mutu terhadap suatu produk dapat dilakukan dengan 

dua cara yaitu penilaian secara subjektif dan penilaian secara objektif. 

Penilaian subjektif dilakukan dengan melihat fisik, kimia, fisiko-

kimia, mikrobiologi, hitologi, umur simpan sedang  penilaian 

subjektif dilakukan dengan organoleptik/sensorik atau dengan 

menggunakan panca indra. 

Untuk melakukan penilaian organoleptik diperlukan panel. 

Dalam penilaian suatu mutu atau analisis sifat-sifat sensorik suatu 

komoditi, panel bertindak sebagai instrumen atau alat. Orang yang 

menjadi anggota panel disebut panelis. Dalam penilaian organoleptik 

dikenal 7 macam panel, yaitu :

1. Panel perseorangan yaitu  orang yang sangat ahli dengan 

kepekaan spesifik yang sangat tinggi yang diperoleh sebab  bakat 

atau latihan-latihan yang sangat intensif, keputusan sepenuhnya 

ada pada seorang.

2. Panel terbatas terdiri dari 3-5 orang yang mempunyai kepekaan 

tinggi sehingga bias lebih dihindari. Panelis ini mengenal dengan 

baik faktor-faktor dalam penilaian organoleptik dan mengetahui 

cara pengolahan dan pengaruh bahan baku terhadap hasil akhir. 

Keputusan diambil berdiskusi di antara anggota- anggotanya.

3. Panel terlatih terdiri dari 15-25 orang yang mempunyai kepekaan 

cukup baik. Untuk menjadi terlatih perlu didahului dengan 

seleksi dan latihan-latihan. Panelis ini dapat menilai beberapa 

rangsangan sehingga tidak terlampau spesifik. Keputusan diambil 

sesudah  data dianalisis secara bersama.

4. Panel agak terlatih terdiri dari 15-25 orang yang sebelumya 

dilatih untuk mengetahui sifat-sifat tertentu. panel agak terlatih 

dapat dipilih dari kalangan terbatas dengan menguji datanya 

terlebih dahulu. sedang  data yang sangat menyimpang boleh 

tidak digunakan dalam keputusannya.

5. Panel tidak terlatih terdiri dari 25 orang awam yang dapat 

dipilih berdasar  jenis suku-suku bangsa, tingkat sosial dan 

pendidikan. Panel tidak terlatih hanya diperbolehkan menilai 

alat organoleptik yang sederhana seperti sifat kesukaan, tetapi 

tidak boleh digunakan dalam uji yang terkait sifat-sifat tertentu. 

Untuk itu panel tidak terlatih biasanya dari orang dewasa dengan 

komposisi panelis pria sama dengan panelis wanita.

6. Panel konsumen terdiri dari 30 hingga 100 orang yang tergantung 

pada target pemasaran komoditi. Panel ini mempunyai sifat yang 

sangat umum dan dapat ditentukan berdasar  perorangan 

atau kelompok tertentu.

7. Panel yang khas yaitu  panel yang menggunakan anak-anak 

berusia 3-10 tahun. Biasanya anak-anak digunakan sebagai 

panelis dalam penilaian produk-produk pangan yang disukai 

anak-anak seperti permen, es krim dan sebagainya.

Dalam uji organoleptik dikenal beberapa pengaruh pengujian 

seperti :

1. Expectation error

Terjadi sebab  panelis telah menerima informasi tentang 

pengujian. Oleh sebab  itu sebaiknya panel diberikan informasi 

tentang pengujian dan sampel diberi kode 3 digit agar tidak dapat 

dikenali oleh panelis.

2. Convergen error

Panelis cenderung memberikan penilaian lebih baik atau lebih 

buruk apabila didahului pemberian sampel yang lebih baik atau 

lebih buruk.

3. Stimulus error

Terjadi sebab  penampakan sampel yang tidak seragam sehingga 

panel ragu-ragu dalam memberikan penilaian.


4. Logical error

Mirip dengan stimulus error, dimana panelis memberikan 

penilaiannya berdasar  karakteristik tertentu menurut 

logikanya. Karakteristik ini  akan berhubungan dengan 

karakteristik lainnya.

5. Holo effect

Terjadi sebab  evaluasi sampel dilakukan terhadap lebih dari 

satu faktor sehingga panelis memberikan kesan umum dari suatu 

produk.

6. Efek kontras

Pemberian sampel yang berkualitas lebih baik sebelum sampel 

lainnya mengakibatkan penilaian panelis terhadap sampel yang 

berikutnya lebih rendah. Panelis cenderung memberi mutu rata-

rata.

7. Motivasi

Respon dari seorang panelis akan mempengaruhi persepsi 

sensorinya. Oleh sebab  itu penggunaan panelis yang terbaik 

(motivasi) dengan pengujian akan memberikan hasil yang lebih 

baik.

8. Sugesti

Respon dari seorang panelis akan mempengaruhi panelis lainnya. 

Oleh sebab  itu pengujian dilakukan secara individu.

9. Posisi bias

Dalam beberapa uji terutama uji segitiga. Gejala in terjadi akibat 

kecilnya perbedaan antar sampel sehingga panelis cenderung 

memilih sampel yang tengah sebagai sampel yang paling berbeda.

Uji hedonik merupakan uji yang dilakukan untuk menentukan 

tingkat kesukaan terhadap produk ini . Uji hedonik teh daun 

49BAB V

belimbing wuluh dilakukan di Wilayah Kecamatan Biring Kanaya 

pada warga  sebanyak 30 orang dari umur 18-59 tahun sebagai 

panelis konsumen. Dari setiap hasil daya terima warga  di 

berikan kode TS (Tidak Suka), KS (Kurang Suka), B (Biasa), S (Suka), 

dan SS (Sangat Suka).

Tabel 5.1 Distribusi Panelis Konsumen berdasar  Skala Umur dan Jenis 

Kelamin

Skala Umur n=30 % Jenis Kelamin n=30 %

18 – 24 tahun 6 20

Laki-laki

perempuan

7

23

23,3

76,7

25-34 tahun 7 23,3

35 - 44 tahun 5 16,7

45 – 59 tahun 12 40

Sumber:sumber data primer, 2022

berdasar  tabel 5.1 diketahui jika jumlah panelis konsumen 

sebanyak 30 orang dengan laki-laki sebanyak 7 orang dan perempuan 

sebanyak 23 orang dengan skala umur 18-59 tahun. Pada data 

riskesdas 2018 memulai pendataan prevalensi hipertensi dari umur 

18 tahun dan merupakan usia dewasa awal menurut harlock, 45-59 

tahun merupakan usia pertengahan (middle age) menurut WHO 

dan lansia (lanjut usia) yaitu  orang yang berusia 60 tahun ke atas 

menurut kemenkes.

Uji organoleptik teh daun belimbing wuluh meliputi warna, 

aroma, dan rasa.

1. Warna 

Hasil analisis uji hedonik pada warna teh daun belimbing wuluh 

pada tabel 5.2 :


Tabel 5.2 Daya Terima Pada Warna Teh Daun Belimbing Wuluh

Formula

Jumlah 

panelis

Skor 

maksimum

Skor 

diperoleh

% Ket. p

F1abc 30 150 94 62,6 B

0,022

F2b 30 150 111 74 S

F3c 30 150 106 70,6 S

F4d 30 150 85 56,6 B

Sumber: data primer, 2022

a,b : huruf yang sama menunjukkan hasil yang berbeda nyata 

(p<0,05)

berdasar  tabel 5.2 diketahui bahwa konsumen memilih 

Formula 1 dan formula 4 sebagai produk pada tingkat kesukaan 

warna kategori biasa dan formula Formula 2 dan 3 sebagai 

produk pada tingkat kesukaan warna dengan kategori suka. Hasil 

uji Kruskal Wallis diperoleh nilai p=0,022 yang artinya terdapat 

perbedaan warna yang signifikan diantara formula teh daun 

belimbing wuluh sehingga dilakukan uji lanjut Mann Whitney 

dan diperoleh hasil produk yang tidak berbeda nyata terhadap 

warna khas teh yaitu  formula 1 dengan formula 4 (p=0,198), 

formula 2 dengan 3 (p=0,302), formula 2 dengan formula 4 

(p=0,171), dan formula 3 dengan formula 4 (p=0,636). 

2. Aroma 

Hasil analisis uji hedonik pada aroma teh daun belimbing wuluh 

pada tabel 5.3 :

Tabel 5.3 Daya Terima Pada Aroma Teh Daun Belimbing Wuluh

Formula

Jumlah 

panelis

Skor 

maksimum

Skor 

diperoleh

% Ket. p

F1a 30 150 100 66,6 B

0,072

F2b 30 150 94 62,6 B

F3c 30 150 88 58,6 B

F4d 30 150 77 51,3 KS

Sumber: data primer, 2022

51BAB V

a,b : huruf yang sama menunjukkan hasil yang berbeda 

nyata (p<0,05)

berdasar  tabel 5.3 diketahui bahwa konsumen memilih 

formula 1, formula 2, dan formula 3 sebagai produk pada tingkat 

kesukaan aroma kategori biasa dan Formula 4 sebagai produk 

pada tingkat kesukaan aroma dengan kategori kurang suka. Hasil 

analisis uji Kruskal Wallis diperoleh nilai p=0,072 yang artinya 

tidak terdapat perbedaan aroma yang signifikan antara formula 

teh daun belimbing wuluh.

3. Rasa 

Hasil analisis uji hedonik pada rasa teh daun belimbing wuluh 

pada tabel 5.4 :

Tabel 5.4 Daya Terima Pada Rasa Teh Daun Belimbing Wuluh

Formula

Jumlah 

panelis

Skor 

maksimum

Skor 

diperoleh

% Ket. p

F1ac 30 150 96 64 B

0,000

F2b 30 150 85 70,6 B

F3bc 30 150 63 56,6 KS

F4ab 30 150 63 56,6 KS

Sumber: data primer, 2022

a,b : huruf yang sama menunjukkan hasil yang berbeda 

nyata (p<0,05)

berdasar  tabel 5.4 diketahui bahwa konsumen memilih 

formula 1 dan formula 2 sebagai produk dengan rasa teh kategori 

biasa dan formula Formula 3 dan 4 sebagai produk pada tingkat 

kesukaan rasa dengan kategori kurang suka. berdasar  analisis 

statistic uji Kruskal Wallis diperoleh nilai p=0,000 yang artinya 

terdapat perbedaan rasa teh yang signifikan diantara formula 

teh daun belimbing wuluh seinggal dilakukan uji lanjut Mann 

Whitney dan diperoleh hasil produk yang tidak berbeda nyata 


terhadap daya terima warga  yaitu  formula 1 dengan 

formula 2 (p=0,371) dan formula 3 dengan formula 4 (p=0,678).

4. Keseluruhan

Hasil analisis daya terima berdasar  beberapa indikator uji 

hedonik pada panelis konsumen, secara keseluruhan diperoleh:

Tabel 5.5 Daya Terima Teh Daun Belimbing Wuluh Secara Keseluruhan

Formula

Warna khas 

teh

Aroma khas 

teh

Rasa pahit/

asing

Keseluruhan Ket.

Formula 1 62,6% 66,6% 64% 64,4% B

Formula 2 74% 62,6% 56,6% 64,4% B

Formula 3 70,6% 58,1% 42% 56,9% B

Formula 4 56,6% 51,3% 42% 49,9% KS

Sumber: data primer, 2022

berdasar  tabel 5.5 diketahui jika hasil analisis secara 

keseluruhan dari nilai rata-rata tiap indikator warna, aroma, dan 

rasa dari uji mutu hedonik diperoleh hasil jika hanya formula 

4 yang termasuk kategori kurang suka kemudian berdasar  

persentasenya formula 1 dan formula 2 dengan nilai tertinggi 

yang paling banyak diminati.

MASA SIMPAN TEH HERBAL DAUN BELIMBING 

WULUH 

Umur masa simpan/umur simpan yaitu  lamanya masa penyimpanan 

produk (pada kondisi penyimpanan yang normal/sesuai dengan yang 

disarankan), dimana produk masih memiliki/memberikan daya guna 

seperti yang dijanjikan. 

Pengujian umur simpan akan menggambarkan seberapa lama 

produk dapat bertahan pada kualitas yang sama selama proses 

penyimpanan. Selama rentang waktu umur simpan produk harus 

memiliki kandungan gizi sesuai dengan yang tertera pada kemasan, 

tetap terjaga tampilan, bau, tekstur, rasa, fungsinya, dan produk 


harus aman dikonsumsi. Nilai umur simpan terhitung sejak produk 

diproduksi/ dikemas. Umur simpan menjadi salah satu parameter 

yang harus ada dalam kemasan produk pangan. Informasi tentang 

umur simpan dimaksudkan untuk menjamin kualitas produk dalam 

keadaan baik saat dikonsumsi dan tidak membahayakan kesehatan 

konsumen 

Umur simpan produk pangan yaitu  pada selang waktu antara 

saat produksi hingga konsumsi, dimana produk berada dalam konsisi 

memuaskan untuk sifat penampakan, rasa, aroma, tekstur, dan gizi. 

Umur simpan yaitu  periode waktu bagi produk yang secara sensorik 

dan kandungan gizi masih bisa diterima dan aman dikonsumsi. Studi 

umur simpan sangat penting, terutama bagi produk pangan yang 

cepat dan mudah rusak 

Analisis untuk mengetahui masa simpan menggunakan metode 

Accelerated Shelf Life Test (ASLT) dengan model Arrhenius. Sampel 

disimpan pada inkubator dengan 3 suhu yang berbeda yaitu suhu 25°C, 

35°C dan 45°C. Selanjutnya data yang diperoleh dari uji sensoris dirata-

rata kemudian diplot dalam grafik hubungan antara waktu (sumbu x) 

dengan rata-rata skor sensoris pada masing masing suhu penyimpanan 

(sumbu y) (Rizkianiputri et al., 2016). Prediksi umur simpan dilihat pada 

nilai laju reaksi k pada suhu tertentu ditentukan dengan memasukkan 

nilai suhu 1/T (oK) kedalam persamaan Arrhenius.

1. Kadar air 

Tabel 5.6 Hasil Analisis Kadar Air Teh Daun Belimbing Wuluh

Hari ke

Kadar Air (%)

Suhu 25oC Suhu 35oC Suhu 45oC

0 4,0 4,1 4,6

4 5,0 4,2 5,4

7 4,2 3,3 4,7

11 3,9 4,6 3,5

14 3,5 3,2 3,4


berdasar  tabel 5.6, hasil kadar air teh daun belimbing 

wuluh menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar air total 

pada teh daun belimbing wuluh yang disimpan dari masa 

penyimpanan 0 hari sampai penyimpanan 14 hari pada inkubator 

dengan suhu 25oC, 35oC, dan 45oC. Penurunan kadar air tetinggi 

berada pada penyimpanan dengan suhu 45oC yaitu sebesar 1,2%. 

sedang  pada suhu 35oC memiliki persen penurunan kadar air 

sebesar 0.9%, selanjutnya penurunan kadar air terendah berada 

pada suhu 25oC yaitu sebesar 0,5%.

Aktivitas air (aw) menggambarkan derajat aktivitas air dalam 

bahan pangan, baik kimia dan biologis. Aktivitas air sangat erat 

kaitannya dengan kadar air dalam bahan terhadap daya simpan. 

Semakin besar nilai aktivitas air maka semakin kecil daya tahan 

bahan makanan begitu pula sebaliknya semakin kecil nilai 

aktivitas air maka semakin lama daya simpan bahan makanan 

ini . Kandungan air dalam bahan makanan mempengaruhi 

daya tahan bahan makanan terhadap serangan mikroba yang 

dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya 

. berdasar  data yang telah 

diperoleh kadar air pada produk teh herbal daun belimbing wuluh 

menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar air total selama 14 

hari penyimpanan. Pada suhu 250C kadar air awalnya yaitu 4,0% 

kemudian turun pada hari ke-14 yaitu sebesar 3,5%. Begitupun 

pada suhu 350C dan 450C mengalami penurunan 0,9% dan 

1,2%. Dari hasil ini  dapat diketahui bahwa kadar air kurang 

dari batas standar yang telah ditetapkan, dimana menurut SNI 

3836:2013 syarat mutu teh kering kemasan berdasar  kadar 

airnya yaitu sebesar 8%, ini artinya kadar air dari teh herbal yang 

dibuat sudah memenuhi standar SNI.

Proses penyimpanan dan kenaikan suhu akan meyebabkan 

terjadinya penurunan kadar air. Perubahan kadar air dapat 


disebabkan oleh kelembapan udara dari ruang penyimpanan 

(Pertiwi dkk, 2020). Nilai kadar air yang rendah akan memiliki 

umur simpan yang lebih lama sebab  pertumbuhan mikroba 

dan aktivitas enzim yang dapat merusak mutu pangan ini  

dapat terhambat (Lisa dkk, 2015). Sebaliknya Kadar air yang 

tinggi tentunya dapat menurunkan mutu pangan, baik dari segi 

organoleptik maupun mikrobiologisnya. kadar air yang tinggi 

akan mudah bagi kapang untuk tumbuh. Artinya stabilitas 

mutu dan daya awet pangan sangat dipengaruhi oleh kadar air. 

Selain itu Semakin rendah kadar air mengakibatkan semakin 

tinggi kadar protein. (Normilawati et al., 2019)

2. Total mikroba 

Tabel 5.7 Hasil Analisis Total Mikroba Teh Daun Belimbing Wuluh

Hari ke

Total Mikroba (CPU/gr atau mL)

Suhu 25oC Suhu 35oC Suhu 45oC

0 1,3 x 103 2,0 x 103 2,4 x 103

14 1,1 x 103 1.2 x 103 1,3 x 103


berdasar  tabel 5.7, hasil analisis total mikroba teh daun 

belimbing wuluh menunjukkan bahwa terjadi penurunan total 

mikroba pada teh daun belimbing wuluh yang disimpan dari 

masa penyimpanan 0 hari sampai penyimpanan 14 hari pada 

inkubator dengan suhu 25oC, 35oC, dan 45oC. Penurunan total 

mikroba tertinggi berada pada suhu 45oC yaitu sebesar 1,2 x 103. 

sedang  pada suhu 35oC terjadi penurunan total mikroba yaitu 

sebesar 0,8 x 103. Kemudian penurunan total mikroba terendah 

berada pada suhu 25oC yaitu terjadi penurunan sebesar 0,2 x 103.

Kapang termasuk salah satu jenis mikroba yang sering 

ditemui pada hasil produk olahan, oleh sebab itu kapang 

menjadi salah satu parameter untuk menentukan mutu dari 


produk. Beberapa kapang mengeluarkan komponen yang dapa 

menghambat pertumbuhan organisme lainnya. Komponen ini 

disebut antibiotik, misalnya penisilin yang diproduksi oleh 

Penicillium chrysogenum, dan clavasin yang diproduksi 

oleh Aspergillus clavatus. Sebaliknya, beberapa komponen 

lain bersifat mikostatik atau fungistatik, yaitu menghambat 

pertumbuhan kapang, misalnya asam sorbat, propionat dan 

asetat, atau bersifat fungisidal yaitu membunuh kapang berdasar  data hasil penelitian yang diperoleh 

menunjukkan bahwa produk teh herbal daun belimbing 

wuluh mengalami penurunan total mikroba yang disimpan 

pada suhu berbeda yaitu 250 C, 350 C, dan 450 C selama 14 

hari penyimpanan. Penurunan total mikroba tertinggi berada 

pada penyimpanan dengan suhu 450 C yaitu sebesar 0,8 x 

102. sedang  penurunan total mikroba terendah berada 

pada suhu 250 C yaitu terjadi penurunan sebesar 0,5 x 102. 

Adapun pada suhu 350 C terjadi penurunan total mikroba yaitu 

sebesar 0,7 x 102. Dari hasil ini  dapat diketahui bahwa 

total mikroba pada teh herbal daun belimbing wuluh telah 

memenuhi standar BPOM tahun 2019 dimana standar yang 

ditetapkan yaitu sebesar 1x104 koloni/ml.

Penurunan kadar mikroba selama penyimpanan pada suhu 

yang sama disebabkan sebab  kapang/khamir bersifat aerob 

artinya membutuhkan adanya oksigen untuk pertumbuhan. 

Kondisi kemasan yang merupakan kondisi atmosfir dimodifikasi 

dengan penambahan gas nitrogen memicu  kandungan 

oksigen di dalam kemasan menjadi hampir tidak ada sama 

sekali. Hal ini memicu  kapang/khamir yang ada pada teh 

menjadi tidak dapat tumbuh 

Hasil ini juga terjadi dengan penelitian Ismail dkk (2013) yang 

menyatakan bahwa angka kapang dan khamir pada biji kopi 


liberika mengalami penurunan selama 8 bulan penyimpanan. 

Mengendalikan pertumbuhan dan kegiatan mikroba dapat 

dilakukan dengan menggunakan perlakuan suhu tinggi. Pada 

perlakuan ini , suhu maksimum pertumbuhan mikroba 

akan bersifat mematikan dan semakin tinggi suhunya akan 

semakin tinggi laju kematiannya 

3. Penentuan masa simpan 

Tabel 5.8 Masa Simpan Produk Teh Daun Belimbing Wuluh

Suhu (oC) Masa simpan (Hari)

25 112,0

35 60,74

45 39,67

berdasar  tabel 5.8, menunjukkan hasil bahwa pada suhu 

250C memiliki masa simpan 112 hari, sedang  pada suhu 

350C memiliki masa simpan selama 60 hari. Adapun produk 

yang disimpan pada suhu 450C memiiliki masa simpan selama 

39 hari. Penentuan umur simpan pada produk teh herbal 

daun belimbing wuluh menggunakan metode akselerasi atau 

ASLT model Arrhenius, yaitu produk dikemas menggunakan 

aluminium foil dan disimpan dalam inkubator pada suhu 

25ºC, 35ºC dan 45oC (298 K, 308 K dan 318 K) selama 14 

hari. sesudah  itu dilakukan pengamatan kadar air dan yang 

dilakukan setiap hari ke- 4 untuk setiap suhu penyimpanan. 

Kemasan aluminium foil dipilih sebab  memiliki permeabilitas 

dan kerapatan yang paling baik. Sifat-sifat yang dimiliki 

alumunium foil memiliki densitas 2,7 g/cm paling baik untuk 

bahan penghalang dari udara, cahaya, lemak, dan uap air, 

memiliki sifat mekanis yang baik, memiliki sisi kilap dan 

buram, rentan terlipat dan keriput, mudah dibentuk, konduktor 

yang baik, bebas dari bau, dan suhu tinggi  Kemasan alumunium foil pada serbuk wedang uwuh 


memiliki permeabilitas uap air yang rendah dan mempunyai 

kemampuan yang paling baik sebab  laju peningkatan kadar 

airnya paling kecil, sehingga alumunium foil merupakan 

kemasan yang mampu mempertahankan umur simpan paling 

lama dibandingkan dengan kemasan lainnya 

Pendugaan umur simpan dilakukan dengan menghitung 

energi aktivasi (E) yang diperoleh dari persamaan regresi 

linier. Dengan persamaan Arrhenius yang didapat, maka dapat 

dihitung nilai konstanta Arrhenius dengan masing-masing suhu 

penyimpanan. Parameter yang memiliki nilai energi aktivasi 

yang terendah merupakan parameter kunci. Selanjutnya umur 

simpan dihitung menggunakan persamaan reaksi berdasar  

orde reaksi terpilih. Selanjutnya memasukkan nilai suhu ke 

dalam persamaan ln k (1/T). Nilai k yang didapat dimasukkan 

dalam persamaan orde reaksi untuk mendapatkan umur simpan 


berdasar  data hasil perhitungan yang diperoleh 

menunjukkan hasil bahwa pada suhu 250C memiliki masa 

simpan 112 hari, sedang  pada suhu 350C memiliki masa 

simpan selama 60 hari. Adapun produk yang disimpan pada 

suhu 450 C memiiliki masa simpan selama 39 hari. Dari hasil 

ini  dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu penyimpanan 

semakin pendek umur simpan produk teh daun belimbing 

wuluh. Hal ini menunjukkan kenaikan suhu memicu  

semakin cepatnya laju reaksi yang memicu  teh cepat 

rusak sehingga umur simpannya semakin pendek. Laju reaksi 

kimia semakin cepat pada suhu lebih tinggi yang berarti 

penurunan mutu produk semakin cepat 

Hal ini  juga terjadi pada penelitian yang dilakukan 

oleh Nuraini dan widanti (2020), dimana kue tradisional 

Kembang goyang memiliki umur simpan paling lama 

pada suhu 350 C dibandingkan suhu 450 C. Hasil ini  

disebab kan tingkat kecepatan kerusakan kimiawi sebab  

peningkatan belum terjadi pada penyimpanan suhu 350 C. 

Kenaikan suhu dari ruang penyimpanan dingin ke suhu kamar 

cenderung meningkatkan penguapan air. Akan tetapi, pada 

suhu 450 C suhu sudah mempengaruhi percepatan kerusakan 

kimia sehingga menjadi lebih cepat. Hal ini  memicu  

daya simpan sampel kembang goyang mengalami penurunan 

pada suhu 450 C. 

Teh herbal daun belimbing wuluh memiliki umur simpan 

yang lebih pendek dibandingkan teh kantong kemasan yang 

memiliki rata-rata umur simpan selama 6-8 bulan penyimpanan. 

Hal ini diduga disebab kan nilai Energi Aktivasi teh daun 

belimbing wuluh mempunyai nilai Energi Aktivasi yang tinggi. 

Semakin tinggi nilai Ea menunjukan penurunan mutu lebih 

cepat. Hasil energi aktivasi dapat dipengaruhi oleh adanya 

faktor luar (suhu lingkungan dan lama penyimpanan) yang dapat 

memicu  perubahan kondisi, perubahan laju reaksi atau 

menghasilkan reaksi yang tidak sempurna. Perubahan kondisi 

ini  dapat memicu  terjadinya variasi terhadap nilai 

energi aktivasi yang dimati 

Terdapat tiga jenis zat gizi mikro yang diperiksa dalam produk 

the dauh belimbing wuluh yakni kalsium (Ca), Kalium (K) dan 

Vitamin C. Penentuan kadar mineral (kalium dan kalsium) teh daun 

belimbing wuluh dilakukan dengan metode AAS (Atomic Absorbtion 

Spektrofotometer) dan dilakukan Duplo (2x percobaan) dengan 

tahap-tahap yaitu cawan porselin yang telah bersih diovenkan pada 


suhu 105ºC selama 2 jam. Lalu dinginkan cawan dalam desikator 

selama ½ jam kemudian ditimbang (a gram). Masukkan sampel 

kedalam cawan porselen sebanyak 5 gram. Cawan porselin bersama 

sampel dalam penetapan kadar air dimasukkan ke dalam tanur listrik. 

Suhu tanur diatur hingga 600ºC, kemudian dibiarkan 3 jam sampai 

menjadi abu. Biarkan agak dingin kemudian masukkan ke dalam 

disekator selama ½ jam. Abu dalam cawan porselin pada penetapan 

kadar abu ditambahkan 3-5 ml HCL pekat. Kemudian encerkan 

dengan air suling hingga volume mendekati bibir cawan dan biarkan 

bermalam. Tuang ke dalam labu ukur 100 ml. Bilas dengan air suling 

hingga tanda garis lalu kocok hingga homogen (siap untuk penetapan 

mineral). Lalu saring menggunakan kertas saring. Kemudian injekkan 

ke alat AAS dan buat kurva standar sesuai logam yang akan di analisis.

Penentuan kadar Vitamin C teh daun belimbing wuluh 

dilakukan dengan metode iodofotometri dan juga dilakukan Duplo 

(2x percobaan) dengan tahap-tahap yaitu timbang ± 10 g sampel dan 

masukkan kedalam labu ukur 100 ml. Tambahkan aquadest hingga 

tanda garis 100 ml lalu kocok dan diamkan selama 30 menit lalu saring 

larutan ini . Pipet 5-25 ml filtratnya lalu masukkan kedalam 

erlenmeyer 125 ml. Tambahkan 2 ml amilum 1% dan tambahkan 20 

ml aquadest jika perlu. Lalu titrasi dengan yodium 0.01 N.

Berikut yaitu  hasil analisis kandungan gizi mikro produk the 

herbal daun belimbing wuluh : 

1. Kadar Kalsium (Ca)

Tabel 5.9 Hasil Analisis Kadar Kalsium (Ca) Pada Teh Herbal Daun 

Belimbing Wuluh Per 100 Gr

Parameter Satuan

Percobaan

1 2

Kalsium Gram 1,49 1,56

Rata-Rata Gram 1,525

Kalsium (Penelitian Terdahulu) Gram 0,135


Tabel 5.9 menunjukkan kadar kalsium (ca) yang menggunakan 

satu sampel dan mendapat perlakuan uji selama dua kali (duplo) 

secara berturut-turut yaitu  1,49% dan 1,56%. Rata-rata kadar 

kalsium pada teh herbal daun belimbing wuluh yaitu  1,525%. 

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Iwansyah dkk tahun 

2021 menunjukkan kadar kalsium pada daun belimbing wuluh 

sebesar 0.135%, artinya kadar kalsium pada teh herbal daun 

belimbing wuluh lebih tinggi dibandingkan dari kadar kalsium 

pada penelitian yang dilakukan oleh Iwansyah dkk. 

Kalsium yaitu  mineral yang paling berlimpah di dalam 

tubuh, terutama ada di kerangka atau tulang. Makanan sumber 

kalsium diantaranya yaitu  susu dan beberapa kalsium juga 

berasal dari hewan dan tumbuhan. Sumber kalsiumhewani seperti 

sarden, ikan yang dimakan dengan tulang, termasuk ikan kering 

merupakan sumber kalsium yang baik. Sumber kalsiumnabati 

seperti serealia, kacang-kacangan,dan hasil olahan kacang-

kacangan seperti tempe dan tahu serta sayuran hijau merupakan 

sumber kalsium yang baik pula (Wijayanti dkk, 2014). 

Kadar kalsium dalam penelitian diperoleh dengan 

menggunakan metode AAS (Atomic Absorbtion 

Spektrofotometer). berdasar  hasil analisis pada tabel 5.9 

menunjukkan kadar rata-rata kalsium yang terkandung dalam 

teh herbal daun belimbing wuluh yaitu  152,5 mg per 100 

gram atau 10,67 mg dalam setiap sajian formula terpilih (7 

gram). Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, kadar 

kalsium pada analisis lab lebih tinggi daripada penelitian yang 

dilakukan oleh Iwansyah (2021). Penelitian yang dilakukan oleh 

Iwansyah mendapatkan kadar kalsium sebanyak 13,56 mg per 

100 gram. Hasil ini  memiliki selisih sebesar 138,94 gram 

dan merupakan selisih yang signifikan dengan hasil analisis 

kandungan kalsium pada penelitian ini. 


Perbedaan kadar kalsium pada teh herbal daun belimbing 

wuluh ini dapat dipengaruhi pada proses pembuatan. Pada 

penelitian yang dilakukan oleh Iwansyah (2021) daun belimbing 

wuluh buat menjadi ekstrak bubuk daun belimbing wuluh 

yang melalui perendaman ethanol 96% selama 24 jam (3 

kali), pengeringan pada suhu 50°C serta evaporasi pada suhu 

4°C. sedang  dalam penelitian ini daun belimbing wuluh 

hanya melalui pengeringan dengan suhu 55°C sebanyak 1 kali. 

Untuk proses analisis kalsium pada penelitian Iwansyah (2021) 

menggunakan metode yang sama dengan penelitian ini yaitu 

dengan metode AAS (Atomic Absorbtion Spektrofotometer). 

Kadar kalsium dalam suatu bahan dapat berkurang pada 

saat perendaman menggunakan ethanol selama 24 jam (3 kali). 

Waktu perendaman berpengaruh terhadap penurunan kadar 

kalsium suatu bahan. Semakin lama bahan ini  direndam, 

maka tekanan air pada dinding sel suatu bahan akan semakin 

meningkat sehingga kristal kalsium didalam sel terdesak keluar 

dan terlarut dalam larutan perendam kemudian ikut terbuang 

bersama air rendaman  

Dalam metode penetapan kadar mineral dibutuhkan metode 

dengan pengoksidasian yang tepat. Metode AAS merupakan 

salah satu metode yang sering digunakan dalam analisis mineral. 

Metode ini sering digunakan sebab  pengerjaannya yang relatif 

sederhana, sensitif, akurat dan analisisnya teliti dan cepat 

 Dalam penelitian Iwansyah 

maupun penelitian ini sama-sama menggunakan metode AAS 

untuk penetapan kadar kalsium dalam daun belimbing wuluh.

Secara keseluruhan teh herbal daun belimbing wuluh 

ini hanya memenuhi kebutuhan kalsium harian sebanyak 

0,95%. Teh herbal daun belimbing wuluh tidak bisa memenuhi 

kebutuhan kalsium meskipun dikonsumsi 2-3x perharinya. Teh 

63BAB V

herbal daun belimbing wuluh tidak dapat dijadikan sebagai 

sumber utama kebutuhan kalsium harian sehingga dalam 

pemenuhannya kalsium dapat diperoleh dari bahan pangan 

lainnya. Misalnya konsumsi susu ataupun sayuran hijau. 

Diperlukan kadar kalium yang cukup setiap harinya agar dapat 

menjaga tekanan darah. Kekurangan kalsium yang terlalu lama 

memicu  dikeluarkannya kalium dari jaringan otot sehingga 

memicu  manifestasi keluar dari otot jantung memicu  

melemahnya kontraksi otot jantung dan menurunnya volume 

sekuncup, sehingga aliran darah akan menurun, keluar dari otot 

pembuluh darah akan memicu  kontraksi, vasokontriksi 

dan meningkatkan tekanan darah tinggi (Bingan, 2019).

2. Kadar Kalium (K)

Tabel 5.10 menunjukkan kadar kalium yang menggunakan satu 

sampel dan mendapat perlakuan uji selama dua kali (duplo) 

secara berturut-turut yaitu  152 mg dan 145 mg per 100 gram 

sampel. Rata-rata kadar kalium pada teh herbal daun belimbing 

wuluh yaitu  148,5 mg per 100 gram sampel. Penelitian terdahulu 

yang dilakukan oleh Iwansyah dkk tahun 2021 menunjukkan 

kadar kalium pada daun belimbing wuluh sebesar 110,69 mg 

per 100 gram sampel, artinya kadar kalium pada teh herbal daun 

belimbing wuluh lebih tinggi dari kadar kalium pada penelitian 

yang dilakukan oleh Iwansyah dkk, 2021.

Tabel 5.10 Hasil Analisis Kadar Kalium (K) Pada Teh Herbal Daun 

Belimbing Wuluh Per 100 Gr

Parameter Satuan

Percobaan

1 2

Kalium Mg 152 145

Rata-Rata Mg 148,5

Kalium (Penelitian Terdahulu) Mg 110,69


Kadar kalium dalam penelitian ini hanya memenuhi 0,22% 

kebutuhan kalium harian. Teh herbal daun belimbing wuluh 

tidak bisa memenuhi kebutuhan kalium meskipun dikonsumsi 

2-3x perharinya. Oleh sebab itu, dalam memenuhi kebutuhan 

kalium dibutuhkan konsumsi bahan makanan yang lain seperti 

sayuran dan buah-buahan. Teh herbal daun belimbing wuluh 

tidak dapat dijadikan sebagai sumber utama kebutuhan kalium 

sebab  kandungannya yang sangat kecil tiap sajiannya.

Kalium merupakan salah satu elektrolit yang berperan 

penting dalam tubuh. Kalium yaitu  ion bermuatan positif 

dan terdapat di dalam sel. Kalium diabsorpsi di usus halus dan 

sebanyak 80-90% kalium yang dikonsumsi diekskresi melalui 

urin, sisanya dikeluarkan melalui feses, keringat dan cairan 

lambung. Kalium berfungsi dalam pemeliharaan keseimbangan 

cairan dan elektrolit, keseimbangan asam basa, transmisi saraf 

dan relaksasi otot. Kalium banyak terdapat dalam bahan makanan 

mentah atau segar 

Kadar kalium dalam penelitian diperoleh dengan menggunakan 

metode AAS (Atomic Absorbtion Spektrofotometer). berdasar  

hasil analisis pada tabel 5.10 menunjukkan kadar rata-rata 

kalium yang terkandung dalam teh herbal daun belimbing 

wuluh yaitu  148,5 per 100 gram atau 10,39 mg dalam setiap 

sajian formula terpilih (7 gram). Jika dibandingkan dengan 

penelitian sebelumnya, kadar kalium pada analisis laboratorium 

lebih tinggi daripada penelitian yang dilakukan oleh Iwansyah 

(2021). Penelitian yang dilakukan oleh Iwansyah mendapatkan 

kadar kalium sebanyak 110,69 mg per 100 gram. Hasil ini  

memiliki selisih sebesar 37,81 mg dan merupakan selisih yang 

signifikan dengan hasil analisis kandungan kalsium pada 

penelitian ini. Namun, selisih hasil analisis kalium ini jauh lebih 

rendah daripada hasil analisis kalsium. 


Kadar kalium pada suatu bahan dapat berkurang sebab  

adanya perbedaan proses pada saat pembuatan bubuk daun 

belimbing wuluh.

merendam bahan dengan ethanol 96% selama 24 jam (3 kali). 

kadar kalium dalam bahan makanan dapat mengalami 

penurunan jika direndam. Semakin lama waktu yang digunakan 

untuk merendam maka semakin kecil pula kadar kalium 

yang tersisa dalam bahan makanan ini . Hal ini terjadi 

sebab  kalium memiliki sifat yang mudah larut dan teroksidasi 

(Setyarini dkk, 2013). Perendaman bahan makanan dapat 

mengakibatkan terjadinya pemutusan interaksi mineral dengan 

komponen pangan lain seperti protein, karbohidrat, lemak, serat 

vitamin dan komponen kimia lainnya. Kelarutan mineral dapat 

meningkat atau menurun tergantung pada prosesnya 

Kadar kalium berpengaruh terhadap tekanan darah jika 

kadar natrium di dalam tubuh meningkat tetapi jika kadar 

natrium normal atau kurang di dalam tubuh maka tidak 

berpengaruh. Mekanisme penurunan tekanan darah oleh kalium 

yaitu: pertama, kalium dapat menurunkan tekanan darah dengan 

vasodilatasi sehingga memicu  penurunan retensi perifer 

total dan meningkatkan output jantung. Kedua, kalium dapat 

menurunkan tekanan darah dengan kasiat sebagai diuretik, 

sehingga pengeluaran natrium dan cairan meningkat. Ketiga, 

kaium dapat mengubah aktivitas renin angiotensin. Kalium 

dapat mengurangi sekresi renin yang memicu  penurunan 

angiotensin II sehingga vasokonstriksi pembuluh darah berkurang 

dan menurunnya aldosteron sehingga reabsorpsi natrium dan air 

ke dalam darah berkurang. Kalium juga mempunyai efek dalam 

pompa Na-K yaitu kalium dipompa dari cairan ekstra selular ke 


dalam sel, dan natrium dipompa keluar. Sehingga kalium dapat 

menurunkan tekanan darah. Keempat, kalium dapat mengatur 

saraf perifer dan sentral dan mempengaruhi tekanan darah 


3. Kadar Vitamin C

Tabel 5.11 menunjukkan kadar vitamin C yang menggunakan 

satu sampel dan mendapat perlakuan uji selama dua kali (duplo) 

yaitu  13 mg per 100 gram sampel. Rata-rata kadar vitamin C 

pada teh herbal daun belimbing wuluh yaitu  13 mg per 100 

gram sampel. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Kumar 

dkk tahun 2013 menunjukkan kadar vitamin C pada daun 

belimbing wuluh sebesar 0.30 mg per 100 gram sampel, artinya 

kadar vitamin C pada teh herbal daun belimbing wuluh lebih 

tinggi dibandingkan dari kadar kalsium pada penelitian yang 

dilakukan oleh Kumar dkk, 2011.

Tabel 5.11 Hasil Analisis Kadar Vitamin C (Ca) Pada Teh Herbal Daun 

Belimbing Wuluh Per 100 Gr

Parameter Satuan

Percobaan

1 2

Vitamin C mg 13 13

Rata-Rata mg 13

Kalsium (Penelitian Terdahulu) mg 0,30


Teh herbal daun belimbing wuluh hanya memenuhi 1,01%-

1,21% kebutuhan vitamin C harian. Teh herbal daun belimbing 

wuluh tidak bisa memenuhi kebutuhan kalium meskipun 

dikonsumsi 2-3x perharinya. Oleh, sebab  itu dalam pemenuhan 

kebutuhan vitamin C harian diperlukan kombinasi dari bahan 

pangan lain sebab  teh herbal daun belimbing wuluh pada 

penelitian ini tidak bisa menjadi sumber utama pemenuhan 

kebutuhan vitamin C harian.

67BAB V

Kadar vitamin C suatu bahan dapat berkurang sebab  adanya 

perbedaan proses pengolahan pada saat pembuatan bubuk daun 

belimbing wuluh. merendam bahan dengan ethanol 96% selama 24 jam (3 

kali). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Evi dan Hanifa 

(2020) vitamin C memiliki sifat yang mudah larut dalam air 

dan juga mudah teroksidasi oleh udara luar maupun terkena 

panas. Vitamin C mudah larut dalam air pada waktu mengalami 

proses pengirisan, pencucian, dan perebusan bahan yang akan 

memicu  penurunan kadar vitamin C. Kandungan vitamin 

C dalam buah dan makanan akan rusak sebab  proses oksidasi 

oleh udara dari luar, terutama jika dipanaskan 

Vitamin C yaitu  vitamin yang berperan penting dalam 

antioksidan yang mampu menetralkan radikal bebas di seluruh 

tubuh. Adapun sumber vitamin C umumnya terdapat pada bahan 

pangan nabati, misalkan sayuran dan buah-buahan (Kurniawati 

and Riandini, 2019). Vitamin C yaitu  vitamin yang tergolong 

vitamin yang larut dalam air. Asupan gizi rata-rata sehari sekitar 

30 sampai 100 mg vitamin C yang dianjurkan untuk orang 

dewasa. Namun, terdapat variasi kebutuhan dalam individu yang 

berbeda 

Kadar vitamin C dalam penelitian ini diperoleh dengan 

mengunakan metode Iodofotometri. berdasar  hasil analisis 

pada tabel 5.11 menunjukkan kadar rata-rata vitamin C yang 

terkandung dalam teh herbal daun belimbing wuluh yaitu  

13 mg per 100 gram atau 0,91 mg dalam 0,91 mg dalam setiap 

sajian formula terpilih (7 gram). Jika dibandingkan dengan 

penelitian sebelumnya, kadar vitamin C pada analisis lab lebih 

tinggi daripada penelitian yang dilakukan 

mendapatkan kadar vitamin C sebesar 0,30 mg per 100 gram. 

Hasil ini  memiliki selisih sebesar 12,7 mg dan merupakan 

selisih yang signifikan dengan hasil analisis kandungan kalsium 

pada penelitian ini.

Vitamin yaitu  senyawa organik yang termasuk bahan 

makanan esensial yang diperlukan oleh tubuh, tetapi tubuh 

sendiri tidak dapat mensintesisnya. Vitamin dapat dikelompokan 

menjadi dua golongan yaitu vitamin yang dapat larut dalam air 

dan vitamin yang larut dalam lemak. Jenis vitamin yang larut 

dalam dalam air terdiri dari vitamin B dan vitamin C. Vitamin 

yang dapat larut dalam lemak yaitu  vitamin A, D, E dan K. 

Vitamin-vitamin yang larut dalam air bergerak bebas dalam 

badan, darah dan limpa. Sifatnya yang mudah larut dalam air 

memicu  vitamin ini mudah rusak dalam pengolahan dan 

mudah hilang sebab  tercuci atau terlarut oleh air 

Kandungan vitamin C merupakan salah satu antioksidan 

yang dapat menurunkan tekanan darah sekitar 5 mmHg, melalui 

perannya memperbaiki kerusakan arteri sebab  hipertensi. 

Vitamin C membantu menjaga tekanan darah normal dengan 

cara meningkatkan pengeluaran timah dari tubuh dan membuat 

pembuluh darah menjadi elastis (Huwae et al., 2021). 

Teh herbal daun belimbing wuluh hanya memenuhi 1,01%-

1,21% kebutuhan vitamin C harian. Teh herbal daun belimbing 

wuluh tidak bisa memenuhi kebutuhan kalium meskipun 

dikonsumsi 2-3x perharinya. Oleh, sebab  itu dalam pemenuhan 

kebutuhan vitamin C harian diperlukan kombinasi dari bahan 

pangan lain sebab  teh herbal daun belimbing wuluh pada 

penelitian ini tidak bisa menjadi sumber utama pemenuhan 

kebutuhan vitamin C harian.


4. Perbandingan 

Data pada tabel 5.12 menunjukkan dalam 7 gram teh herbal daun 

belimbing wuluh mengandung kalsium sebesar 10,67 mg, kalium 

sebesar 7,74 mg dan vitamin C sebesar 0,91 mg. Adapun menurut 

Angka Kecukupan Gizi tahun 2019 diketahui kebutuhan harian 

untuk mineral kalsium dan kalium berturut-turut yaitu  1120 

mg dan 4700 mg serta kebutuhan vitamin C harian sebesar 90 

mg untuk laki-laki dan 75 mg untuk perempuan. Teh herbal 

daun belimbing wuluh memenuhi kebutuhan harian mineral 

kalsium dan kalium sebanyak 0,95% dan 0,16% sedang  

untuk kebutuhan vitamin C harian teh herbal belimbing wuluh 

memenuhi sebanyak 1,01% untuk laki-laki dan 1,21% untuk 

perempuan. 

Tabel 5.12 Analisis Zat Gizi Mikro (Ca,K dan Vitamin C) Pada Teh 

Herbal Daun Belimbing Wuluh Per Sajian (7 Gram Formula 

Terpilih).

Parameter Satuan

Hasil 

Lab

Per 

Sajian

%Kebutuhan Harian (AKG 2019)

L P

Ca mg 152,5 10,67 0,95% 0,95%

K mg 148,5 10,39 0,22% 0,22%

Vitamin C mg 13 0,91 1,01% 1,21%

Sumber : Data Primer, 2022

Kalium merupakan elektrolit intraseluler yang utama, 

sebanyak 98% kalium tubuh berada dalam sel dan 2% sisanya 

untuk fungsi neuromuskuler. Kalium mempengaruhi aktivitas 

baik otot skeletal maupun otot jantung. Kalium berfungsi 

sebagai pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta 

keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan 

dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium 

berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik, 


terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan 

protein. 

Kandungan kalium sendiri diketahui dapat menurunkan 

tekanan darah dengan mengurangi kandungan natrium dalam 

urine dan air dengan cara yang sama seperti diuretik. Penelitian 

epidemiologi menunjukkan bahwa asupan rendah Kalium akan 

mengakibatkan peningkatan tekanan darah 

Beberapa mekanisme bagaimana kalium dapat menurunkan 

tekanan darah sebagai berikut : Kalium dapat menurunkan 

tekanan darah dengan vasodilatasi sehingga memicu  

penurunan retensi perifer total dan meningkatkan output 

jantung. Penurunan tekanan darah terjadi sebab  kandungan 

kalium yang memicu  penghambatan pada Sistem Renin 

Angiotensin juga memicu  terjadinya penurunan sekresi 

aldosteron, sehingga terjadi penurunan reabsorpsi natrium dan 

air di tubulus ginjal. Akibat dari mekanisme ini , maka 

terjadi peningkatan diuresis yang memicu  berkurangnya 

volume darah, sehingga tekanan darah pun menjadi turun 

Kalsium yaitu  unsur terbanyak penyusun di dalam tubuh 

manusia pada urutan kelima, yakni sebesar 1,5 - 2 % per berat 

tubuh . Keperluan kalsium dalam 

tubuh biasanya dihitung dengan keseimbangan nitrogen. Orang 

dewasa memerlukan 700 mg (0,7 g) kalsium/hari  Peranan kalsium dalam tubuh manusia pada 

umumnya dapat dibagi 2, yaitu membantu membentuk tulang 

dan gigi dan mengukur proses biologis dalam tubuh. Selain itu 

kalsium juga memegang peranan penting pada berbagai proses 

fisiologik dan biokemik dalam tubuh, seperti pada pembekuan 

darah, eksitabilitas syaraf otot, kerekatan seluler, transmisi 


impuls syaraf, memelihara dan meningkatkan fungsi membran 

sel, mengaktifkan reaksi enzim dan sekresi hormon 

Kalsium juga mempunyai peran terhadap regulasi tekanan 

darah, diantaranya yaitu  menurunkan aktivitas sistem renin-

angiotensin, meningkatkan keseimbangan natrium dan kalium, 

serta menghambat konstriksi pembuluh darah. Jika asupan 

kalsium kurang dari kebutuhan tubuh maka untuk menjaga 

keseimbangan kalsium dalam darah, hormon paratiroid 

menstimulasi pengeluaran kalsium dari tulang dan masuk ke 

darah 

Kalsium menurunkan tekanan darah dengan mekanisme 

seperti kalsium antagonis. Antagonis kalsium yang bekerja 

menurunkan tekanan darah dengan memblokade masukknya 

kalsium ke dalam darah. Sehingga dengan menghambat 

kontraksi otot yang melingkari pembuluh darah, pembuluh 

darah akan melebar sehingga darah mengalir dengan lancar dan 

tekanan darah akan menurun (Misnawati et al., 2021). Kalsium 

yang rendah pemicu  tekanan darah tinggi yang dipicu oleh 

pelepasan hormon paratiroid atau renin yang memicu  

peningkatan kalsium intraseluler pada vascular smooth muscle 

dan memicu vasokontriksi 


PENGARUH PEMBERIAN TEH HERBAL 

DAUN BELIMBING WULUH TERHADAP 

TEKANAN DARAH

METODE PENELITIAN YANG DIGUNAKAN 

Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dalam hal 

ini quasi experimental dengan the non randomized pre-test post test 

with control group desaign. Quasi experimental mempunyai kelompok 

control, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol 

variabel – variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. 

Populasi dalam penelitian ini yaitu  penderita hipertensi yang 

memiliki tekanan darah ≥ 140/90mmHg yang tercatat di wilayah kerja 

Puskesmas Paccerakkang Kota Makassar Tahun 2021. Selanjutnya 

sampel penelitian ini yaitu  semua pasien hipertensi yang tercatat 

di Wilayah Kerja Puskesmas Paccerakkang Kota Makassar serta 

memenuhi kriteria inklusi. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu  

50 orang penderita hipertensi yang dibagi kedalam 2 kelompok 

perlakuan yakni kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Sampel 

dipilih menggunakan metode purposive sampling yaitu penentuan 

sampel berdasar  kriteria inklusi dan ekslusi. 

73

Adapun kriteria inklusi dan kriteria eksklusi penelitian yaitu  

sebagai berikut :

1. Kriteria Inklusi sebagai berikut:

a. Memiliki tekanan darah ≥ 140/90mmHg - 180/110 mmHg 

b. Responden yang berusia 30 - 65 tahun. 

c. Bisa berkomunikasi dengan baik

d. Menetap di Kota Makassar 

e. Bersedia diberikan teh belimbing wuluh selama 14 hari

2. Kriteria Eksklusi sebagai berikut:

a. Responden yang tidak berpartisipasi secara penuh dalam 

peneltian

b. Memiliki penyakit komplikasi (Misal : ginjal, jantung, sroke, 

DM, Ginjal)

c. Pasien dengan hipertensi berat ≥180/110 mmHg.

3. Kriteria dropout : 

a. Tidak bersedia melanjutkan penelitian 

b. Meninggal dunia 

c. Mengalami perawatan di rumah sakit 

d. Tidak mengonsumsi teh herbal sebanyak lebih dari 3 hari

Berikut yaitu  penjelasan rinci terkait pemberian intervensi 

disetiap kelompok perlakuan : 

1. Kelompok Intervensi

a. Setiap responden yang masuk kelompok intervensi diberikan 

Teh daun belimbing wuluh 14 kemasan untuk dikonsumsi 

satu kali sehari selama 14 hari, kemudian diberikan pelatihan 

cara membuat teh daun belimbing wuluh.


b. Setiap responden akan di lakukan pengukuran tekanan darah 

2 kali pada sebelum intervensi dan sesudah  intervensi pada 

hari ke 15, diberikan edukasi mengenai diet dan aktifitas 

fisik pencegahan hipertensi selama 1 kali pada saat awal 

intervensi. Edukasi dilakukan secara individu dan diberikan 

leaflet.

c. Responden diberikan kartu kontrol minum teh herbal daun 

belimbing wuluh agar di isi setiap kali responden minum yang 

berisi hari dan tanggal waktu meminum serta banyaknya teh 

herbal yang diminum. Responden ditekankan untuk hanya 

mengisi kartu kontrol ini  ketika hanya meminum teh 

daun belimbing wuluh.

2. Kelompok Kontrol 

Setiap responden dilakukan pengukuan tekanan darah 2 kali 

sebelum diberikan edukasi dan sesudah  hari ke 15 intervensi, 

diberikan edukasi mengenai diet dan aktifitas fisik pengendalian 

hipertensi selama 1 kali pada saat awal intervensi. Edukasi 

dilakukan secara individu dan diberikan leaflet. 

Intervensi edukasi pada semua kelompok hanya diberikan pada 

awal penelitian dengan metode edukasi perorangan dan diberikan 

leaflet pengetahuan mengenai hipertensi dan dietnya. Untuk 

monitoring kepatuhan minum responden pada kelompok yang 

diberikan intervensi teh daun belimbing wuluh 7 gram (1 kali sehari) 

peneliti mengunjungi rumah responden satu kali sebelum pemberian 

intervensi untuk memberikan teh daun belimbing wuluh dan 

mengukur tekanan darah. Untuk memantau responden meminum 

teh daun belimbing wuluh dan mengisi lembar monitoring, peneliti 

memonitoring melalui panggilan telepon atau via whatsapp grup.

Pada saat melakukan pemeriksaan tekanan darah, responden 

juga melakukan pengukuran antropometri yaitu penimbangan berat 


badan (BB) dan Tinggi badan (TB) serta dilakukan recall 24 jam. 

Hari berikutnya kelompok intervensi mulai meminum teh daun 

belimbing sampai 14 hari begitu juga dengan kelompok kontrol 

seluruh responden mulai diberikan edukasi gizi. sesudah  masuk hari 

ke 15 responden dilakukan pengukuran tekanan darah, pengukuran 

antropometri sekalikus melakukan recall 24 jam pada kedua 

kelompok.

Dalam penelitian ini juga dilakukan control kualitas yang 

dimaksudkan untuk melakukan monitoring terhadap semua tahapan 

proses penelitian yang memungkinkan mendekati keadaan yang 

sebenarnya dan memperoleh teori yang baik sebagai dasar kajian 

ilmiah. Sebelum diberikan intervensi terhadap responden, responden 

diukur terlebih dahulu tekanan darah. Penggunaan alat ukur yang 

tidak rusak dan siap dipakai. Selain itu, alat ukur ini  sudah diuji 

kalibrasi dan reabilitasnya yang mencakup dua hal yaitu Stabilitas 

dan Kesamaan. Stabilitas yaitu  konsistensi hasil pengukuran 

satu ke pengukuran lainnya oleh seorang pengamat dan terhadap 

subjek penelitian yang sama dan dengan instrument yang sama pula 

(konsistensi pengamat). 

Peneliti menggunakan food recall dan checklist yang diisi oleh 

keluarga atau pengawas pendamping teh herbal untuk mendapatkan 

hasil apakah pemberian intervensi diminum atau tidak.Selanjutnya, 

untuk memudahkan proses penelitian, peneliti juga memperlihatkan 

kode etik persetujuan penelitian efek teh daun belimbing 

wuluh terhadap responden. Sehingga pasien bisa lebih percaya 

menandatangani informed consent (persetujuan untuk mengikuti 

penelitian).

Dalam penelitian ini dilakukan 2 jenis analisis yakni 

analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat untuk 

menderskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti 

meliputi karakteristik responden, variabel bebas, dan variabel terikat 


dalam penelitian. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh 

variabel independen terhadap variabel dependen. Sebelum melakukan 

uji statistik untuk menguji hipotesis, dilakukan uji normalitas 

menggunakan uji Shapiro-Wilk. Untuk melihat pengaruh sebelum 

dan sesudah  intervensi digunakan uji berpasangan. Untuk variabel 

tekanan darah tidak terdistribusi normal sehingga digunakan uji 

Wilcoxon sedang  variabel asupan terdistribusi normal sehingga 

digunakan uji Independent Sampel T-test.

HASIL INTERVENSI PEMBERIAN TEH HERBAL 

DAUN BELIMBING WULUH

Hasil uji coba pemberian produk teh herbal daun belimbing wuluh 

pada lansia penderita hipertensi dapat dilihat pada beberapa tabel 

berikut : 

Tabel 6.1 Karakteristik Responden Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok 

Kontrol

Variabel

Intervensi Kontrol

pvaluen

(n=25)

% n (n=25) %

Umur (Tahun)

30 – 40 3 12.0 4 16.0

0.380

41 – 50 10 40.0 4 16.0

51 – 60 10 40.0 16 64.0

> 60 2 8.0 1 4.0

Jenis Kelamin

Laki-Laki 3 12.0 4 16.0

0.684

Perempuan 22 88.0 21 84.0

Indeks Massa Tubuh

Kurus 0 0 3 12.0

0.200Normal 19 76.0 18 72.0

Gemuk 6 24.0 4 16.0

77BAB VI

Variabel

Intervensi Kontrol

pvaluen

(n=25)

% n (n=25) %

Pekerjaan

Tidak bekerja/IRT 20 80.0 14 56.0

0.335

PNS/TNI/Polri/

BUMN

3 12.0 6 24.0

Pegawai Swasta 1 4.0 3 12.0

Pedagang/Wiraswasta 1 4.0 2 8.0

Pendidikan

Tidak sekolah 2 8.0 1 4.0

0.861

SD 6 24.0 4 16.0

SMP 7 28.0 8 32.0

SMA 7 28.0 7 28.0

Tamat Perguruan 

Tinggi (D3/S1/S2/S3)

3 12.0 5 20.0

Riwayat Hipertensi 

(Tahun)

≤ 1 4 16.0 3 12.0

0.892

1 - 2 17 68.0 18 72.0

3 - 4 3 12.0 3 12.0

≥5 1 4.0 1 4.0

Konsumsi Buah dan 

Sayur

Ya 19 76.0 15 60.0

0.225

Tidak 6 24.0 10 40.0

Konsumsi Obat

Ya 8 32.0 4 16.0

0.185

Tidak 17 68.0 21 84.0

Tabel 6.1 menunjukan bahwa responden terbanyak berada pada 

umur 51-50 tahun dan 51-60 tahun (40%) kelompok intervensi dan 

pada kelompok kontrol yaitu umur 51-60 tahun (64%). Sebagian 

besar responden berjenis kelamin perempuan baik pada kelompok 

intervensi (88%) maupun kelompok kontrol (84%). Dalam hal status 

gizi berdasar  nilai Indeks Massa Tubuh, paling banyak responden 

masuk kategori normal. Sebagian besar responden tidak bekerja dan 

memiliki tingkat Pendidikan sampai Tamat SMP maupun SMA. 

Responden telah menderita hipertensi sekitar 1-2 tahun baik pada 

kelompok intervensi (68%) maupun pada kelompok control (72%). 

berdasar  konsumsi sayur dan buah terbanyak kategori Ya pada 

kelompok intervensi sebesar 76% dan pada kelompok kontrol sebesar 

60%. berdasar  konsumsi obat hipertensi terbanyak pada kategori 

tidak mengonsumsi baik pada kelompok intervensi 68% maupum 

kelompok kontrol 84%. berdasar  Tabel 6.1 diketahui bahwa tidak 

terdapat perbedaan signifikan terkait karakteristik kedua kelompok 

perlakuan (p>0.05) dalam artian, kelompok intervensi maupun 

kelompok kontrol memiliki karakteristik yang mirip. 

Tabel 6.2 Hasil Analisis Perbedaan Rata-Rata (Δ) Asupan Responden Sebelum 

dan Sesudah Intervensi

Variabel

Sebelum

(mean±SD)

Sesudah

(mean±SD)

pvaluea (D) pvalueb

Energi (kkal)

Intervensi(n=25) 1065.8±407.9 876.3±220.6 0.069 -189.4±460.9

0.854

Kontrol (n=25) 1242.6±455.7 1022.3±291.8 0.078 -220.1±529.8

Kabrohidrat (g)

Intervensi(n=25) 142.2±65.9 122.4±26.8 0.156 -20.0±68.5

0.248

Kontrol (n=25) 162.8 + 85.5 133.0±46.1 0.078 -29.7±84.2

Protein (g)

Intervensi(n=25) 46.3±20.0 37.1±9.8 0.040 -9.1±21.1

0.839

Kontrol (n=25) 62.3±50.9 56.0±61.2 0.476 -6.2±76.2

Lemak (g)

Intervensi(n=25) 34.4±23.4 26.2±13.3 0.253 -8.2±27.2

0.977

Kontrol (n=25) 36.0±22.3 28.4±14.8 0.127 -7.5±23.8

Serat (mg)

Intervensi(n=25) 5.4±3.0 4.9±2.9 0.532 -0.5±4.1

0.977

Kontrol (n=25) 5.4±3.1 4.6±2.1 0.326 -0.7±3.8

Natrium (mg)

Intervensi(n=25) 196.9±218.6 158.4±137.9 0.882 -38.4±260.3

0.541

Kontrol (n=25) 158.4±137.9 229.2±264.0 0.313 -98.4±429.0

Kalium (mg)

Intervensi(n=25) 1238.7±589.1 969.8±381.9 0.040 -268.9±617.7

0.677

Kontrol (n=25) 1330.8±824.8 1010.9±542.2 0.137 319.9±1040.0

aWilcoxon Signed Rank Test, b Mann-Whitney Test

Hasil Uji analisis pada asupan makan terlihat pada tabel 

6.2 menunjukkan perbedaan sesudah  intervensi pada kelompok 


intervensi dan kelompok kontrol asupan zat gizi makro energi (kcal) 

masing-masing p=0.069 dan p=0.078, Asupan karbohidrat dengan 

nilai p=0.156 dan p=0.078, Asupan protein dengan nilai p=0.040 dan 

p=0.476. Asupan lemak dengan nilai p= 0.235 dan p=0.127. Pada zat 

gizi mikro Asupan serat dengan nilai p=0.532 dan p=0.326, Asupan 

natrium dengan nilai p=0.882 dan p=0.313, Asupan kalium dengan 

nilai p=0.040 dan p=0.137. Tabel 6.2 tidak terdapat perbedaan selisih 

asupan zat gizi makro yang signifikan antara kelompok intervensi 

dan kelompok kontrol pada energy, karbohidrat,protein dan lemak 

sesudah  dilakukan intervensi dengan nilai p>0.05. Pada asupan zat gizi 

mikro tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata -rata 

asupan , serat, natrium dan kalium dengan nilai p>0.05.

Tabel 6.3 Hasil analisis Perbedaan Rata-Rata (Δ) Tekanan darah Sebelum dan 

Sesudah Intervensi

Variabel

Sebelum

(mean±SD)

Sesudah

(mean±SD)

pvaluea (D) pvalueb

Sistolik (mmHg)

Intervensi (n=25) 158,1±6,6 138.24±8,8 0.000 -19,9±9,2

0,000

Kontrol (n=25) 156,6±9,1 154.84±8,4 0.001 -1,7±2,2

pvalue 0,201 0,000

Diastolik (mmHg)

Intervensi (n=25) 94,3±4,2 84,6±3,9 0.000 -9,6±5,1

0,000

Kontrol (n=25) 94,5±4,7 92,7±3,8 0.007 -1,8±3,5

pvalue 0,937 0,000

a Wilcoxon Signed Rank Test, b Mann-Whitney Test 

berdasar  Tabel 6.3 menunjukkan bahwa tekanan darah 

sistolik pada kelompok intervensi mengalami penurunan sesudah  

diberikan teh herbal daun belimbing wuluh dari 158,1 mmHg menjadi 

13,.24 mmHg (p=0.000). Tekanan darah sistolik pada kelompok 

control juga mengalami penuruhan dari 156.60 mmHg menjadi 

154.84 mmHg (p=0.000). Selanjutnya, tekanan darah diastolic juga 

mengalami penurunan baik pada kelompok intervensi (94.32 mmHg 

menjadi 84.68 mmHg) maupun pada kelompok control (94.56 

mmHg menjadi 92.76 mmHg). Pada Tabel 6.3 juga terlihat bahwa 

rata-rata tekanan darah baik sistolik maupun diastolic sebelum 

pemberian intervensi tidak berbeda signifikan antara kelompok 

intervensi dan juga kelompok control. Akan tetapi sesudah  pemberian 

the daun herbal belimbing wuluh selama 14 hari, terdapat perbedaan 

signifikan antara rata-rata tekanan darah kelompok intervensi dan 

kelompok kontrol. 

Penelitian ini menyatakan bahwa teh herbal daun belimbing 

wuluh sangat baik untuk diberikan kepada penderita hipertensi, 

sebab  terbukti mampu menurunkan tekanan darah penderita 

hipertensi, baik tekanan darah sistolik maupun diastolik. Penurunan 

tekanan darah pada kelompok perlakuan sendiri terjadi sebab  pasien 

hipertensi mau meminum teratur selama 7 hari sesuai dengan cara 

dan jumlah takaran yang telah direkomendasikan . Hasil penelitian pengaruh teh herbal terhadap tekanan darah 

menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan. Hal ini disebabkan 

terdapat kandungan flavanoid dan kalium dalam teh herbal daun 

belimbing wukuh yang berfungsi dalam menurunkan tekanan darah 

Penelitian yang dilakukan oleh Dhonna 2018 

menyatakan bahwa Pemberian air rebusan daun belimbing wuluh 

selama 1 bulan dapat menurunkan tekanan darah pada ibu hamil 

yang hipertensi dengan nilai p=0.005

Pada hasil penelitian kebiasaan makan yang berhubungan dengan 

kejadian hipertensi yaitu  konsumsi buah dan sayur dan minuman 

beralkohol. Kebiasaan pola makan dapat dilihat dari informasi 

recall 24 jam sebelum dan sesudah  intervensi. Berbagai penelitian 

menunjukkan bahwa kerusakan pembuluh darah bisa dicegah dengan 

mengkonsumsi antioksidan sejak dini  Dalam hal 

ini, antioksidan mampu menangkap radikal bebas dan mencegah 

dimulainya proses kerusakan pembuluh darah. Radikal bebas yaitu  

suatu molekul oksigen dengan atom pada orbit terluarnya memiliki 

elektron yang tidak berpasangan. Mengkonsumsi sayur-sayuran 

dan buah-buahan dalam porsi yang memadai akan menjadi sumber 

asupan antioksidan bagi tubuh 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerusakan pembuluh 

darah bisa dicegah dengan mengkonsumsi antioksidan sejak dini. 

Dalam hal ini, antioksidan mampu menangkap radikal bebas 

dan mencegah dimulainya proses kerusakan pembuluh darah. 

Radikal bebas yaitu  suatu molekul oksigen dengan atom pada 

orbit terluarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan. sebab  

kehilangan pasangannya itu, molekul lalu menjadi tidak stabil, liar, 

dan radikal. Dalam hal ini, antioksidan mampu menstabilkan radikal 

bebas dengan melengkapi kekurangan elektronnya dan menghambat 

terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas yang dapat 

memicu  stress oksidatif 

Antioksidan terbagi atas dua jenis, yakni antioksidan endogen 

dan eksogen. Antioksidan endogen berupa enzim dalam tubuh, 

misalnya superoksida dismutase (SOD), glutathion, dan katalase. 

sedang , antioksidan eksogen mencakup beta karoten, vitamin 

C, vitamin E, zinc (Zn), dan selenium (Se). Mengkonsumsi sayur-

sayuran dan buah-buahan dalam porsi yang memadai akan menjadi 

sumber asupan antioksidan bagi tubuh 

Makanan sehari-hari biasanya cukup mengandung natrium yang 

dibutuhkan tubuh. Oleh sebab  itu, tidak ada penetapan kebutuhan 

natrium sehari. Taksiran kebutuhan natrium sehari untuk orang 

dewasa yaitu  sebanyak 500 mg.  menganjurkan 

pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari (ekivalen 

dengan 2400 mg natrium). Pembatasan ini dilakukan sebab  peranan 

potensial natrium dalam memicu  tekanan darah tinggi 


Kalium merupakan ion bermuatan positif, akan tetapi berbeda 

dengan natrium, kalium terutama terdapat didalam sel, sebanyak 


95% kalium berada di dalam cairan intraseluler 

Peranan kalium mirip dengan natrium, yaitu kalium bersama 

sama dengan klorida membantu menjaga tekanan osmotis dan 

keseimbangan asam basa. Bedanya, kalium menjaga tekanan osmotik 

dalam cairan intraselular. Kalium merupakan bagian essensial 

semua sel hidup. sehingga banyak terdapat dalam bahan makanan. 

Kebutuhan minimum akan kalium ditaksir sebanyak 2000 mg sehari. 

Kalium terdapat dalam semua makanan mentah/segar, terutama 

buah, sayuran dan kacang - kacangan (Almatsier, 2010).

Disamping itu, konsumsi garam dalam jumlah yang tinggi dapat 

mengecilkan diameter dari arteri sehingga jantung harus memompa 

lebih keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui 

ruang yang semakin sempit dan akibatnya yaitu  hipertensi. 

Konsumsi garam yang berlebih memicu  konsentrasi natrium 

di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya 

cairan intraseluler ditarik ke luar sehingga volume cairan ekstraseluler 

meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler ini  

memicu  meningkatnya volume darah, sehingga berdampak 

kepada timbulnya hipertensi.

Edukasi dalam penelitian ini berupa leaflet, melalui edukasi ini 

dapat memotivasi seseorang untuk menerima informasi kesehatan 

serta berbuat sesuai dengan informasi ini  agar mereka menjadi 

lebih tahu dan bersikap lebih positif  Hasil 

penelitian pengaruh edukasi terhadap tekanan darah menunjukkan 

bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tekanan darah 

sebelum dan sesudah  pemberian edukasi. Hal ini disebabkan pada 

saat pemberian edukasi gizi yang pertama, sebagian besar responden 

belum memiliki pemahaman dan kesadaran yang baik dalam 

menjaga pola makan untuk mengendalikan hipertensi yang diderita. 

Keinginan untuk mencegah tekanan darahnya meningkat sudah ada 

namun untuk pelaksanaannya masih kurang 


penelitian mengenai pemberian edukasi dan konseling, di mana 

diharapkan terjadi perubahan pengetahuan, sikap, dan kepatuhan 

yang cukup signifikan p<0.05 pada pasien hipertensi. 

Pengetahuan menjadi dasar respon batin atau sikap seseorang 

terhadap suatu hal. Edukasi merupakan metode untuk meningkatkan 

pengetahuan. sedang  konseling akan memberikan skill dan 

motivasi serta memfasilitasi seseorang untuk langkah perubahan 

perilaku ,Edukasi dan konseling diberikan dengan 

harapan pasien akan memiliki tambahan pengetahuan, keinginan 

berubah, kemampuan untuk berubah, optimis mefasilitasi stimulasi 

mendorong perubahan Edukasi gizi sebagai suatu 

komunikasi interpersonal antara responden dan petugas lapangan 

dalam memberikan informasi gizi berkaitan pencegahan dan 

pengobatan hipertensi turut berperan dalam membantu responden 

dalam dukungan untuk menjaga pola makan dan gaya hidupnya. 

Meskipun beberapa responden sesudah  intervensi masih ada yang 

tetap berada pada kebiasaan lama 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang 

signifikan tekanan darah sistolik maupun tekanan darah diastolik 

sebelum dan sesudah  pemberian edukasi gizi pada kelompok 

kontrol. Perbedaan rata-rata tekanan darah sistolik sesudah  edukasi 

gizi secara signifikan (p=0,000) dengan beda mean 156,60 mmHg 

menjadi 154,84 mmHg. sedang  tekanan darah diastolik sebelum 

dan sesudah  pemberian edukasi gizi pada kelompok kontrol rata-

rata tekanan darah diastolik sesudah  edukasi gizi secara signifikan 

(p=0,007) dengan beda mean 94,56 mmHg menjadi 92,76 mmHg.

Hal ini disebabkan pada saat pemberian edukasi gizi yang 

pertama, sebagian besar responden belum memiliki pemahaman dan 

kesadaran yang baik dalam menjaga pola makan untuk mengendalikan 

hipertensi yang diderita. Keinginan untuk mencegah tekanan 

darahnya meningkat sudah ada namun untuk pelaksanaannya masih 

kurang. sesudah  edukasi gizi peneliti kembali memberikan informasi 

dan pendidikan gizi untuk penurunan tekanan darah dengan 

melakukan pendekatan pemicu  masalah hipertensi yang di bantu 

oleh tim petugas kesehatan Puskesmas Paccerakkang, responden juga 

telah memiliki keterbukaan sehingga komunikasi dan penyerapan 

informasi yang diharapkan dapat tercapai. Ada beberapa responden 

yang telah mengikuti anjuran yang diberikan dalam penerapan pola 

makan dan gaya hidup yang sehat. 

Penelitian yang dilakukan oleh Ruhana, (2011) yaitu  penelitian 

mengenai pemberian edukasi dan konseling, di mana diharapkan 

terjadi perubahan pengetahuan, sikap, dan kepatuhan yang cukup 

signifikan pada pasien hipertensi. Pengetahuan menjadi dasar 

respon batin atau sikap seseorang terhadap suatu hal. Dalam hal 

ini pengetahuan mengenai hipertensi meningkat dan juga terdapat 

peningkatan sikap. Namun perlu disadari perubahan perilaku hanya 

akan terjadi saat seseorang siap untuk berubah. Faktor lain yang 

mendukung perubahan perilaku yaitu  dukungan keluarga yang 

dapat meningkatkan derajat kesehatan. Oleh sebab  itu sebaiknya 

keluarga juga dilibatkan dalam pemberian konseling untuk 

meningkatkan efektifitas dengan membantu memenuhi kebutuhan 

pasien, mendukung kepatuhan, dan mengetahui waktu saat pasien 

membutuhkan pertolongan dari petugas kesehatan. Selain terapi 

diet, dalam melakukan perubahan perilaku konsumsi untuk pasien 

hipertensi edukasi dan konseling juga menjadi salah satu cara terapi 

gizi untuk pasien hipertensi. Edukasi merupakan metode untuk 

meningkatkan pengetahuan. sedang  konseling akan memberikan 

skill dan motivasi serta memfasilitasi seseorang untuk langkah 

perubahan perilaku. Edukasi dan konseling diberikan dengan 

harapan pasien akan memiliki tambahan pengetahuan, keinginan 


berubah, kemampuan untuk berubah, optimis mefasilitasi stimulasi 

mendorong perubahan 

Edukasi gizi sebagai suatu komunikasi interpersonal antara 

responden dan petugas lapangan dalam memberikan informasi gizi 

berkaitan pencegahan dan pengobatan hipertensi turut berperan 

dalam membantu responden dalam dukungan untuk menjaga pola 

makan dan gaya hidupnya. Meskipun beberapa responden sesudah  

intervensi masih ada yang tetap berada pada kebiasaan lama.


Hipertensi/tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu 

masalah gizi kesehatan warga  yang membutuhkan 

penanganan serius saat ini, mengingat dampak buruk yang dapat 

timbul sebab  adanya hipertensi. Upaya penanggulangan hipertensi 

dengan penggunaan obat-obatan dianggap tidak terlalu efektif sebab  

tingkat kepatuhan yang cukup rendah dari penderita hipertensi. 

Banyak penderita yang tidak lagi mengonsumsi obat-obatan yang 

telah diresepkan oleh tenaga Kesehatan dengan alasan sudah merasa 

sehat, serta jarangnya mengunjungi fasyankes. Melihat fakta ini, perlu 

dicari sebuah solusi lain untuk mengurangi prevalensi hipertensi 

selain menggunakan obat kimia. 

Pemanfaatan tanaman herbal untuk dalam penanganan/

pengobatan hipertensi terutama pada kelompok lansia bisa menjadi 

salah satu alternatif pilihan. Berbagai tanaman herbal selama ini 

diketahui mempunyai dampak positif dalam menurunkan tekanan 

darah penderita hipertensi. Salah satunya yaitu  tanaman daun 

belimbing wuluh. Pemanfaatan tanaman daun belimbing wuluh 

dengan cara direbus telah lama digunakan oleh beberapa kelompok 

warga  dalam mengobati hipertensi. Akan tetapi, prosedur 

penyiapan rebusan daun belimbing wuluh untuk pengobatan 

hipertensi dinilai cukup merepotkan bagi beberapa orang. 

87

Kehadiran daun belimbing wuluh yang dikemas dalam bentuk 

teh celup diharapkan lebih memudahkan penderita hipertensi 

khususnya lansia dalam mengobati tekanan darah yang dideritanya. 

Minum teh sudah menjadi budaya dikalangan warga  negara kita , 

tidak melihat status sosial maupun ekonominya. Terlihat dari rata-

rata disetiap rumah tangga selalu menyediakan teh di rumahnya 

dan teh menjadi salah satu minuman favorit selain kopi. Hal ini 

disebabkan oleh senyawa-senyawa yang terkandung dalam teh dapat 

memberikan kepuasan kepada penikmatnya sebab  mempunyai 

warna, rasa dan aroma yang khas seperti senyawa kafein bersama 

sama dengan polifenol dapat memberikan rasa menyegarkan. Selain 

nikmat untuk diminum, teh juga mempunyai kandungan yang sangat 

bermanfaat untuk kesehatan seperti: kafein, polyphenol, catechin, 

dan minyak essensial. Beberapa jenis mineral juga terkandung dalam 

teh, terutama fluorida juga dipercaya dapat memperkuat struktur gigi 

dan tulang 

Teh herbal daun belimbing wuluh sangat praktis dan dapat 

disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Hasil penelitian 

menunjukkan teh herbal daun belimbing wuluh dapat disimpan 

sampai 112 hari pada suhu 250C, 60 hari pada suhu 350C dan 39 hari 

pada suhu 450 C. Penurunan total mikroba tertinggi berada pada 

suhu 45oC dan terendah berada pada suhu 250C. Total mikroba pada 

produk teh herbal daun belimbing wuluh telah memenuhi standar 

BPOM pada tahun 2019 sebab  kurang dari 1x104 koloni/ml. Kadar 

air tertinggi pada produk teh herbal daun belimbing wuluh berada 

pada penyimpanan dengan suhu 450C, sedang  kadar air terendah 

berada pada suhu 250C. Kadar air kurang dari batas standar yang 

telah ditetapkan, SNI 3836:2013 yaitu sebesar 8%. 

Selain itu teh daun herbal belimbing wuluh juga memiliki 

beberapa kandungan zat gizi mikro seperti kalsium (10,67 mg), 

kalium (7,74 mg), dan vitamin C (0,91 mg) serta zat antioksidan yang 

memiliki peran dalam penurunan tekanan darah. Adapun menurut 

Angka Kecukupan Gizi tahun 2019 diketahui kebutuhan harian 

untuk mineral kalsium dan kalium berturut-turut yaitu  1120 mg 

dan 4700 mg serta kebutuhan vitamin C harian sebesar 90 mg untuk 

laki-laki dan 75 mg untuk perempuan. Teh herbal daun belimbing 

wuluh memenuhi kebutuhan harian mineral kalsium dan kalium 

sebanyak 0,95% dan 0,16% sedang  untuk kebutuhan vitamin C 

harian teh herbal belimbing wuluh memenuhi sebanyak 1,01% untuk 

laki-laki dan 1,21% untuk perempuan. 

Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa konsumsi teh herbal 

daun belimbing wuluh selama 15 hari berturut-turut telah mampu 

menurunkan tekanan darah penderita hipertensi baik tenakan darah 

sistolik (TDS) maupun tekanan darah diastolic (TDD). Penurunan 

tekanan darah ini lebih baik ditemukan pada pasien yang diberikan 

teh herbal dan juga edukasi gizi dibandingkan dengan pasien yang 

hanya diberikan edukasi gizi. 

Pada uji daya terima produk, juga menunjukkan bahwa 

warga  menyukai produk teh daun belimbing wuluh terutama 

yang memiliki berat 7 gram dalam setiap kemasan dibandingkan 

formula yang lainnya. Meskipun demikian, dalam penelitian ini juga 

didapatkan beberapa keluhan pasien hipertensi yang merasakan 

rasa asing/pahit yang dihasilkan dari produk teh masih kuat 

sehingga diperlukan bahan tambahan lain seperti gula/madu untuk 

menutupinya, juga dapat dikombinasikan dengan melati untuk 

menambah nilai aromatik.