Tampilkan postingan dengan label Bedah saraf 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bedah saraf 6. Tampilkan semua postingan

Bedah saraf 6

 




ayi dengan Arnold-Chiari Malformation ditentukan oleh status pre-operatif dan 

progresivitas dari penurunan status neurologis.  

    Bayi dengan cardiopulmonary arrest, paralisis pita suara atau kelemahan ekstremitas atas 

pada pre-operatif memiliki tingkat mortalitas 71%.  


 

Encephalocele 

 ICD 10: Q01.9 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Suatu kantung berisi komponen ruang intrakranial (cairan otak dan / atau jaringan otak) 

akibat herniasi melalui suatu defek tulang kranium karena kelainan kongenital 

2. Anamnesis 

Benjolan yang ada di kepala sejak lahir dan cenderung membesar. Bila menangis, mengejan 

semakin membesar, keras.  

3. Pemeriksaan Fisik     Tampak kantung ensefalokel berbungkus kulit normal, membranous ataupun kulit yang 

mengalami maserasi.  

    Pada umumnya terletak pada garis tengah 

    Konsistensi tergantung pada isi kantung, pada umumnya kistous dan kenyal. Bila isi 

kantung telah mengalami gliosis, maka konsistensinya akan lebih padat. 

    Isi kantung berhubungan dengan ruang intrakranial, sehingga dapat mengempis dan 

menegang, tergantung tekanan intrakranial. Kadang-kadang dapat terlihat pulsasi 

intrakranial. 

    Pada ensefalokel frontoethmoidal, dapat disertai deformitas tulang kraniofasial, 

penekanan bulbus okuli dengan keratitis exposure, penekanan duktus nasolakrimalis, 

obstruksi jalan nafas. 

4. Pemeriksaan 

Penunjang 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 CT Scan 

    CT scan kepala bone window untuk 

menunjukkan gambaran defek 

tulang 

    CT scan 3D rekontruksi memberikan 

gambaran  defek tulang 3 dimensi 

yang bagus untuk menentukan 

rencana tindakan  

    CT scan juga berguna untuk 

identifikasi adanya jaringan otak 

yang herniasi dan deteksi 

hidrosefalus 

2C 1,2,3 

2 MRI 

MRI terutama digunakan untuk 

membedakan  struktur yang herniasi 

dengan jaringan disekitarnya 

2C 1,2,3 

 

5. Kriteria Diagnosis 

1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan imaging sesuai di atas 

6. Diagnosis 

Pembagian Encephalocele (ICD 10: Q01) 

    Frontal encephalocele (Q01.0) 

    Nasofrontal encephalocele (Q01.1) 

    Occipital encephalocele (Q01.2) 

    Encephalocele of other sites (Q01.8) 

    Encephalocele, unspecified (Q01.9) 

7. Diagnosis Banding     Kista dermoid 

    Mucocele sinus paranasalis 

    Hemangioma 

    Fibroma 

8. Terapi     Operasi eksisi ensefalokel disertai penutupan defek tulang kranium (ICD 9 : 02.12) 

    Operasi subfrontal osteotomi pada kasus ensefalokel frontoethmoidal. (ICD 9: 76.91) 

    Operasi dikerjakan sesegera mungkin, kecuali pada kasus yang progresifitasnya lambat 

dengan isi kantung yang lebih padat, dapat ditunda hingga usia 5 – 6 bulan.  

    Bila pecah, dirujuk kurang dari 48 jam: rawat lokal, tutup steril, antibiotik. 

 

Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grade 

Rekomendasi 

Ref 

Operasi 

    Operasi eksisi ensefalokel disertai 

penutupan defek tulang kranium (ICD 9 : 

02.12) 

    Operasi subfrontal osteotomi pada kasus 

ensefalokel frontoethmoidal. (ICD 9: 

76.91) 

    Postoperative hydrocephalus should be 

managed through ventriculoperitoneal 

(VP) shunts as one or two-stage 

procedures 

2B 4,5,6 

 

9. Edukasi     Komplikasi pasca operasi :  

o Hidrosefalus 

o Pseudotumor cerebri 

o Leakage LCS 

10. Prognosis 

Encephalocele anterior mempunyai prognosis lebih baik daripada encephalocele posterior 

11. Indikator Medis     Perbaikan dari deformitas 

    Tidak ada kebocoran cairan LCS 


 

Ependimoma  

(ICD 10 : C71) 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Tumor yang berasal dari sel ependim yang melapisi ventrikel otak dan kanalis sentralis medulla 

spinalis. Dapat menyebar melalui cairan serebrospinalis sepanjang neuroaksis (seeding dan 

drop mets) Paling banyak terjadi pada dasar ventrikel IV, menyebabkan hidrosefalus 

(peningkatan TIK) dan parese saraf kranial VI dan VII 

 

2. Anamnesis Umumnya  berupa gejala yang berhubungan dengan massa di fossa posterior yang 

menyebabkan peningkatan Tekanan intrakranial dan penekanan pada saraf kranialis. Gejala 

peningkatan TIK bisa berupa : nyeri kepala, mual muntah, ataxia/vertigo,kejang, dan perubahan 

kondisi mental. 

3. Pemeriksaan 

Fisik 

Gejala umum dapat berupa : 

    Nyeri kepala 

    Muntah  

    Drowsiness (mengantuk) 

    Gangguan penglihatan  

    Perubahan kepribadian 

 

Gejala Fokal dapat berupa : 

    Kejang 

    Hemiparesis 

    Parestesia 

    Perubahan kognitif 

    Gangguan koordinasi 

    Diplopia 

    Gangguan menelan 

 

4. Kriteria 

Diagnosis 

 

1. Anamnesis  

2. Pemeriksaan klinis  

3. Pemeriksaan laboratorium  

4. Patologi anatomi  

5. Diagnosis Ependimoma  (ICD.10 : C71) 

    Klasifikasi patologi ependimoma menurut WHO 

    WHO grade 1: Myxopapillary ependimoma, Subependimoma 

    WHO grade 2: varian: Cellular, pappilary, clear cell, tanycytic 

    WHO grade 3: Anaplastic ependimoma 

6. Diagnosis 

Banding 

- Arteriovenous Malformations 

- Astrocytoma 

- Choroid Plexus Papilloma 

- Glioblastoma Multiforme 

- Tumors of the Conus and Cauda Equina 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

PEMERIKSAAN PENUNJANG 

Pemeriksaan Rekomendasi 

Derajat 

Rekomendasi 

Ref 

 


MRI 

Pencitraan yang paling dipilih dilakukan 

sepanjang neuroaksis untuk mendeteksi 

kemungkinan penyebaran tumor  

1C 1, 2, 3 

CT Scan 

Dapat dilakukan untuk pemeriksaan tumor di 

supratentorial namun kurang detail untuk 

evaluasi fossa posterior 

2B 1, 2, 3 

Myelografi 

Dengan kontras yang larut air, sama 

sensitifnya dengan MRI gadolinium dalam 

mendeteksi “drop mets” 

1C 1, 2, 3 

LCS Pemeriksaan sitologi cairan serebrospinal 2B 4 

 

8. Terapi Rekomendasi Keterangan 

Derajat 

Rekomendasi 

Ref 

Pembedahan 

(ICD 9 CM: 01.53) 

Semua pasien dengan ependymoma di 

otak, direkomendasikan dilakukan reseksi 

total dibanding biopsi atau reseksi subtotal 

apabila dinilai tanpa morbiditas yang 

berlebihan. Studi observasional 

mengindikasikan bahwa reseksi total 

berhubungan dengan perbaikan survival 

dibanding reseksi yang lebih sedikit. 

1C 

5, 6, 

7, 8, 

9, 10, 

11 

Radioterapi (ICD 

9 CM: V58.0) 

Pasien yang berusia lebih dari 3 tahun 

direkomendasikan mendapat radioterapi 

adjuvant setelah reseksi total daripada 

observasi bila terjadi relaps. Observasi 

setelah pembedahan dapat menjadi 

alternatif untuk pasien dengan 

ependymoma supratentorial non-

anaplastik yang menjalani reseksi total 

dengan margin insisi lebar. 

1C 11, 12 

Kemoterapi (ICD 

9 CM: V58.11) 

Anak-anak dengan usia.kurang dari 1 

sampai 3 tahun yang menjalani reseksi total 

ependymoma, kami merekomendasikan 

radioterapi adjuvant tiga dimensi 

konfirmasi setelah pembedahan. 

Kemoterapi dapat menjadi alternatif 

radioterapi setelah pembedahan untuk 

menghindari komplikasi neurologis dari 

terapi radiasi, namun hal ini hanya 

dilakukan dalam konteks uji klinis formal. 

2C 

13, 

14, 

15, 

16, 

17, 18 

 

9. Edukasi 

Observasi ketat dan follow up jangka panjang direkomendasikan untuk semua pasien dengan 

ependimoma, karena adanya efek radioterapi dan metastase pada pasien yang bertahan hidup 

dalam jangka waktu yang lama.  

Dapat terjadi komplikasi, adanya defisit  neurologis yang berhubungan dengan lokasi tumor 

10. Prognosis 

Prognosis lebih buruk pada anaplastik ependymoma WHO grade III daripada WHO grade II 

Resiko rekurensi lebih besar pada reseksi subtotal.  

Reseksi total diikuti Radioterapi  kraniospinal mencapai 41 % 5 year survival rate 

11. Indikator Medis Tujuan operasi yaitu  eksisi total dimana pada pemeriksaan imaging pasca operasi tidak 

ditemukan sisa  tumor dan tidak didapat  defisit neurologis pada pasien. 

 

Hidrosefalus Kongenital 

ICD-10 : Q03.0 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Penumpukan aktif cairan serebrospinal dalam ventrikel otak 

2. Anamnesis 

A. Pada bayi usia 2 tahun dengan sutura yang terbuka: 

- kepala membesar dengan disproporsi kraniofasial 

B. Pada anak-anak dan usia dewasa dengan sutura yang sudah menutup: 

- sakit kepala, mual/muntah, kejang, hiperrefleksi, penurunan visus, gangguan    

perkembangan fisik dan mental, penurunan kesadaran, dementia, ataxia, dan 

inkontinensia urin 

3. Pemeriksaan 

Fisik 

A. Pada bayi usia 2 tahun dengan sutura yang terbuka:  

- Sutura melebar 

- Ubun-ubun besar cembung dan melebar 

- Bola mata: sunset phenomenon (+), nistagmus horizontal 

- Perkusi kepala: tanda pot retak 

- Transiluminasi: penyebaran cahaya di regio frontal 2,5 cm, regio oksipital 1 cm 

- Lingkar kepala: > 2 SD batas normal 

B. Pada anak-anak dan usia dewasa dengan sutura yang sudah menutup: 

- Upgaze Palsy dan/atau Abdusen Palsy 

- Gangguan gaya berjalan 

- Funduskopi: papil edema/papil atrofi 

4. Pemeriksaan 

penunjang 

a. Radiologis: 

- Foto polos kepala: tulang tipis, sutura dan fontanella melebar, disproporsi 

kraniofasial, impresio digitati dan pelebaran sella tursica 

- USG kepala (dengan syarat sutura atau fontanela masih terbuka): pelebaran 

ventrikel dan penipisan mantel otak 

- CT scan kepala (gold standard). Keuntungan CT scan yaitu  gambaran yang 

diperoleh lebih jelas, non traumatik, kemungkinan etiologi dapat dilihat, prediksi 

prognosa penderita. 

- MRI kepala. Hasil lebih bagus dari CT scan terutama pada kasus hidrosefalus dengan 

penyebab tumor otak, tetapi biaya lebih mahal dan kadang-kadang diperlukan 

tindakan pembiusan. 

 

b. Laboratoris:  

- pemeriksaan cairan serebrospinal dengan cara aseptik melalui punksi ventrikel, 

fontanela mayor ataupun chamber selang. Tujuannya yaitu  menghitung jumlah sel 

PMN, eritrosit, kultur kuman dan uji kepekaan antibiotika. 

- TORCH: untuk mencari penyebab hidrosefalus kongenital 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 CT Scan 

    CT scan kepala (gold standard). 

gambaran yang diperoleh lebih jelas, 

non traumatik, kemungkinan etiologi 

dapat dilihat, prediksi prognosa 

penderita. 

2B 2,3,7 

2 MRI 

    MRI digunakan terutama pada kasus 

hidrosefalus obstruktif  

2B 2,3,7 

3. TORCH 

    Pemeriksaan TORCH terutama untuk 

skrinning penyebab hidrosefalus 

kongenital 

2C 

2,3,7,

 

 

5. Kriteria 

Diagnosis 

1.  Anamnesis  

2. Pemeriksaan klinis  

3. Pemeriksaan imaging (radiologis) 

 

6. Diagnosis 

Pembagian Hidrocephalus Kongenital (ICD 10: Q03.0) 

    Malformations of aqueduct of Sylvius (Q03.0) 

    Atresia of foramina of Magendie and Luschka: Dandy-Walker syndrome (Q03.1) 

    Other congenital hydrocephalus (Q03.8) 

    Congenital hydrocephalus, unspecified (Q03.9) 

7. Diagnosis 

Banding 

1. Makrosefali familial 

2. Proses intrakranial: 

- subarakhnoid: kista 

- subdural: higroma, emfiema, hematoma kronis 

- intraserebral: abses, tumor 

8. Terapi 

Prinsipnya yaitu  mengalirkan cairan serebrospinal dengan mempertahankan tekanan otak 

dalam batas tertentu dan menghilangkan penyebab hidrosefalus.  

a. Kasus non infeksi :  

Drain ventrikulo peritoneal atau ventrikulo atrial.  

Kontraindikasi : infeksi cairan serebrospinal, infeksi kulit daerah operasi, kelainan 

jantung bawaan atau endokarditis bakterial pada pemasangan drain ventrikulo atrial. 

b. Kasus infeksi :  

 

 

   - Drainase ventrikel eksternal. 

- Omaya drain 

 

Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grade 

Rekomendasi 

Ref 

Operasi 

ETV merupakan pilihan utama pada kasus 

hidrosefalus obstruktif. (ICD 9: 02.2) 

 

Shunting merupakan pilihan pembedahan 

efektif kasus hidrosefalus obstruktif atau 

komunikan. (ICD 9: 02.34) 

2B 1,4,5,6 

Medikamentosa 

Terapi medikamentosa meliputi :  

3. Diuretik 

4. Fibrinolisis 

5. Serial lumbal punksi 

Terapi ini tidak direkomendasikan pada bayi 

prematur dengan Posthemorrhagic 

Hydrocephalus (PHH) 

 

2B 8,9 

 

 

9. Edukasi 1. Penyakit 

2. Pilihan terapi sesuai fase abses otak dan indikasi operasi 

3. Komplikasi penyakit : gangguan tumbuh kembang 

4. Komplikasi tindakan operasi 

10. Prognosis 

Prognosis hidrosefalus tergantung dari beberapa faktor : 

1. Tingkat berat ringan hidrosefalus 

2. Usia terdiagnosis  

3. Waktu mulai penanganan 

11. Indikator 

Medis 

Indikator kesembuhan:  

    Klinis  

    Radiologis : MRI/ CT kepala kontrol 


Infeksi Pasca Pemasangan Shunt 

 ICD 10: T.85.7 

1. Pengertian (Definisi) Infeksi yang terjadi setelah pemasangan shunt cairan serebrospinal baik yang terjadi 

hanya pada kulit (externa) maupun mengakibatkan infeksi pada cairan serebrospinal 

(internal) 

2. Anamnesis 

Gejala yang timbul pada infeksi pasca pemasangan shunt, dapat berupa : 

- Demam  

- Letargi 

- Iritabilitas 

- Tanda inflamasi (kemerahan,panas,bengkak,nyeri) pada shunt track 

3. Pemeriksaan Fisik 

- Episode apnea 

- Kaku kuduk (pada anak-anak) 

- Akut abdomen  

- Pemeriksaan fungsi shunt  

- Status lokalis pada shunt track, didapat  tanda-tanda inflamasi sepanjang jalur shunt 

4. Kriteria Diagnosis 

5. Anamnesis sesuai diatas 

6. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

7. Pemeriksaan laboratorium: darah lengkap, LCS 

8. Pemeriksaan imaging sesuai di atas 

5. Diagnosis 

Infection and inflammatory reaction due to other internal prosthetic devices, implants 

and grafts (ICD 10: T85.7)  

6. Diagnosis 

Banding 

Diagnosa banding Infeksi Pemasangan Shunt meliputi: 

- Malfungsi shunt 

- Septisemia 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

No Pemeriksaan Rekomendasi 

Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 Cek darah 

- Leukositosis   

- Laju endap darah meningkat 

- Kultur darah 

- C-reactive protein (CRP) 

2A 10 

Cairan LCS 

dari shunt 

tap 

- Pengecatan gram 

- Pemeriksaan jumlah sel, kadar 

glukosa dan protein 

- Kultur dan sensitivitas antibiotika 

1B 10 

3 Imaging 

CT Scan kepala 1C 1 

USG Abdomen atau CT scan abdomen 

bila dicurigai terdapat kiste atau proses 

supuratif 

2A 2 

 

 

8. Terapi No Terapi Rekomendasi 

Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 Pembedahan 

    Aff shunt (ICD 9CM 02.43) 1B 3,4,5 

    EVD (ICD 9CM 01.26) 1C 3,4,5 

    Pemasangan shunt ulang bila LCS 

telah steril (ICD 9CM 02.34) 

1C 3,4,5 

Pemberian 

antibiotika 

intravena 

    Pada kasus dewasa, dapat 

diberikan:  

    Vancomycin (15 - 20 mg/kg iv 

tiap 8 - 12 jam maks 2 g per 

dose) 

    Ceftazidime 2 g IV tiap 8 jam 

    Cefepime 2 g IV tiap 8 jam 

    Meropenem 2 g IV tiap 8 jam 

 

    Pada kasus anak dapat diberikan 

terapi empiris: 

    vancomycin (15 mg/kg 

IV/pemberian tiap 6 jam, 

maks 1 g per dosis) 

    cefotaxime (200 mg/kg IV per 

hari dibagi dalam 4 

pemberian, maximum 12 

g/hari) 

    meropenem (40 mg/kg 

IV/pemberian tiap 8 jam; 

maximum 2 gr/dosis atau 6 

gram/hari) 

1C 6,7,8 

Pemberian 

antibiotika 

intraventrikel 

Pilihan terapi yang dapat diberikan 

antara lain: 

    Vancomycin (5 – 20 mg/hari) 

    Gentamysin (1 – 2 mg/hari pada 

anak, 4 – 8 mg/hari pada 

dewasa) 

    Tobramycin (5 – 20 mg/hari) 

    Amikacyn (5 – 50 mg/hari) 

    Colistin 3.75 mg colistin base 

activity sekali sehari atau dibagi 

dalam 2 dosis tiap 12 jam 

    Amphotericin B (0,1 – 1 

mg/hari) 

2C 9 

 

 

 

 

Bila kultur liquor telah steril 3 kali berturut-turut, gejala klinis infeksi hilang, antibiotik 

dilanjutkan 10-14 hari, dilakukan tes dependensi shunt, bila masih memerlukan maka, 

shunt baru di pasang kembali 

 

Bagan penanganan infeksi pasca pemasangan shunt: 

 

 

 

9. Edukasi 

Infeksi pasca pemasangan infeksi shunt harus ditangani secara tuntas baik dengan obat-

obatan maupun dengan tindakan pembedahan. Dapat terjadi infeksi ulang pada pasien 

dengan penanganan yang tidak baik.  

10. Prognosis 

Angka kejadian  infeksi ulang sebesar 26%. Angka mortalitas anak dengan infeksi pasca 

pemasangan shunt sebesar 10-15%. Dengan penanganan pembedahan dan 

medikamentosa, mortalitas infeksi shunt pada pasien anak sebesar 17%.   

11. Indikator Medis 

Perbaikan kondisi klinis dan kualitas hidup pasien. 


 

Kraniofaringioma  

ICD-10 : D44.4 

1. Pengertian (Definisi) Tumor tumbuh dari Rathke’s pouch mulai nasofaring hingga diencephalon, biasanya 

campuran solid-kistik, merupakan 1-3% dari tumor otak. Muncul dari batas anterior 

superior dari kelenjar hipofise, bisa disebut tumor Rathke pouch atau tumor kelenjar 

hypofise 

2. Anamnesis 1. Efek masa lokal: 

    Pre-chiasma : atrofi N.II – visus turun, gangguan lapang pandang 

    Retro-chiasma : hydrocephalus dan TIK meningkat 

    Intrasellae: nyeri kepala dan endokrinopathy 

2. Efek endokrin – hipoadrenalism/defisit endokrin 

    hormon pertumbuhan : hambatan tumbuh kembang, pada orang dewasa gejala 

tidak spesifik, dapat berupa penurunan berat badan, obesitas sentripetal, mudah 

lelah 

    hipogonadism : amenore, penurunan libido, infertilitas 

    hipotiroidism : intoleransi dingin, gangguan daya ingat, konstipasi, banyak tidur 

3. Pemeriksaan Fisik Evaluasi fungsi penglihatan (visus, lapang pandang, dan gerak bola mata), funduskopi. 

Evaluasi kelainan fisik karena kelainan hormonal  

4. Kriteria diagnosis 1. Anamnesis efek masa lokal dan efek hormone endokrin 

2. Pemeriksaan klinis fungsi penglihatan dan kelainan fisik karena kelainan hormonal 

3. Pemeriksaan imaging (radiologis) massa suprasella, 60-80% pasien terdapat 

gambaran kalsifikasi, 75% kistik 

4. Patologi anatomi 

5. Diagnosis Diagnosa berdasarkan histopatologi dibagi menjadi 3 : 

    Tipe Adamantinous (66%) 

    Tipe papillary squamosa (28%) 

    Tipe mixed 

6. Diagnosis Banding 

 

- Tubeculum sellae meningioma              - Rathke cyst 

- Aneurisma                                              - Sarcoidosis 

- Pituitary macroadenoma                        - Systemic histiocytosis                                                                       

- Tumor metastase 

- Optic glioma 

- Germinoma 

- Teratoma 

- Lymphoma 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

No Pemeriksaan Rekomendasi 

Grade 

Rekomendasi 

Ref 

Lapang 

pandang 

    Humphrey visual field 1C 1, 2  

2 Hormonal 

    Kortisol jam 8 pagi dan kortisol 

bebas di urine 24 jam 

    T4 bebas, TSH (alternative: total 

T4) 

    Prolaktin 

    Gonadotropin (FSH, LH) dan sex 

steroid (wanita: estradiol; pria: 

1B 2, 3 

 

 

testosterone) 

    Insulin like growth factor-1 (IGF-1) 

atau somatomedin-C 

    Glukosa darah puasa 

3 Radiologi 

CT scan : melihat kondisi tulang dasar 

tengkorak, gambaran tumor berupa 

masa kistik dan solid seringkali disertai 

kalsifikasi 

1B 2 

MRI: melihat gambaran tumor berupa 

masa kistik dan solid lebih jelas, serta 

batas-batasnya terhadap organ otak 

penting sekitarnya. Dengan kontras, 

didapat  gambaran tumor 

menyengat kontras pada bagian solid 

dan dinding kista 

1C 2 

Cerebral angiogafi : vaskularisasi tumor 

yang berasal dari sirkulasi anterior. 

2B 2 

  

8. Terapi Modalitas terapi yang diberikan berupa : pembedahan dan radioterapi.  

Manajemen preoperative :  

- koreksi fungsi endokrin 

- atasi edema peritumoral dan kontrol TIK 

- EVD atau VP shunt untuk hidrosefalus 

- aspirasi kista bila lesi kistik dominan 

No Terapi Rekomendasi 

Grade 

Rekomendasi 

Ref 

Pembedahan 

(ICD 9: 01.24) 

Tindakan ideal untuk kraniofaringioma 

yaitu  ekstirpasi total tumor. Bila 

ekstirpasi total berdasar ukuran, lokasi, 

dan perluasan tumor, serta korelasinya 

dengan jaringan sekitar, tidak mungkin 

untuk dilakukan, tindakan operatif 

dibatasi pada pengangkatan tumor 

subtotal 

 

Pilhan tehnik tindakan bedah : 

- Frontotemporal 

- Transphenoidal 

- Transcallosal 

- Kombinasi subfrontal-pterional 

1B 6, 7 

Radioterapi 

(ICD 9: V.58.0) 

 

Bila eksisi radikal tidak mungkin, 

radioterapi menunjukkan keuntungan 

tambahan dalam mencegah rekurensi 

tumor 

1B 5 

 

9. Edukasi Informasi yang harus disampaikan kepada pasien sebelum operasi : 

1. Komplikasi operasi : gangguan hormonal pasca operasi (DI, hipoadrenal), dll 

2. Perbaikan klinis: visus tergantung kondisi awal. Jika belum papil atrofi,visus diharapkan 

akan membaik bertahap. Jika telah buta sebelumnya, umunya tidak dapat membaik. 

3. Kemungkinan rekurensi  

10. Prognosis Ten year survival rate : 90%. Mortalitas 5-10% akibat cedera hipotalamus 

 

11. Indikator Medis Eksisi tumor semaksimal mungkin dengan preservasi struktur penting disekitarnya, bila 

total reseksi tidak dapat dilakukan radiotherapy 

 

 

Kraniosinostosis 

 ICD 10: Q75.0 

1. Pengertian (Definisi) 

Kondisi penutupan dini/prematur dari satu atau lebih sutura tulang kepala pada infant  

2. Anamnesis Gejala yang timbul dipicu  kraniosinostosis, dapat berupa : 

i. Bentuk kepala tidak normal 

ii. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan  

iii. Nyeri kepala persistent 

iv. Kejang berulang 

3. PemeriksaanFisik i. Deformitas tulang kepala 

ii. Ukuran kepala (lingkar kepala) tidak tumbuh atau lambat pertumbuhannya tidak sesuai 

dengan pertumbuhan anak 

iii. Tidak didapat  fontanella pada bayi baru lahir 

iv. Ambliopia 

v. Peningkatan TIK 

vi. Papil edema 

vii. Retardasi mental 

viii. Sindaktili yang menyertai ( pada sindrom kraniosinotosis) 

4. Kriteria Diagnosis 9. Anamnesis sesuai diatas 

10. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

11. Pemeriksaan imaging sesuai di atas 

5. DiagnosisKerja Craniosynostosis (ICD 10: Q75.0) 

6. Diagnosis Banding i. Deformitas Plagiosefali 

ii. Mikrosefali Primer 

 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grade 

Rekomendasi 

Ref 

 

 

Foto polos 

kepala  

i. Dapat menunjukkan 

kraniosinostosis yang 

tunggal  

ii. Pada sutura kepala daerah 

sentral didapat  

gambaran lucens yang 

berkurang / menghilang 

iii. Diastasis sutura dan erosi 

pada sella didapat  pada 

kasus dengan peningkatan 

TIK 

 

1B 2,3 

2 CT Scan 

iv. Dapat menunjukkan 

penebalan dan atau  

pendataran tulang kepala 

1B 2,3 

 

pada daerah sinostosis 

v. Menggambarkan bentukan 

dari tulang kepala yang lebih 

jelas daripada Foto polos 

kepala 

vi. Memperlihatkan 

abnormalitas intrakranial ( 

contoh : Kraniosinotosis 

disertai dengan hidrosefalus) 

 

 

8. Terapi  

 

No Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 Operasi 

    Tujuannya mengurangi tekanan pada 

kepala dan mengkoreksi  deformitas 

tulang kepala 

    Pada umumnya dilakukan 

pembedahan (calvarial vault 

remodeling) (ICD 9 : 02.01):  

Unuk mencegah peningkatan tekanan 

inttrakranial dan meningkakan fungsi 

sosial dengan memperbaiki tampilan 

wajah dan kepala 

    Diindikasikan terutama pada usia 8-12 

bulan 

 

1B 3,4 

 

 

9. Edukasi Edukasi kepada keluarga pasien tentang komplikasi paska pembedahan yang berupa : 

i. Demam 

ii. Muntah 

iii. Nyeri Kepala 

iv. Irritabilitas 

v. Penurunan kesadaran 

vi. Pembengkakan dan kemerahan di area insisi 

10. Prognosis Tergantung dari : 

- Jenis craniosynostosis, jenis yang tunggal lebih baik. 

- Usia saat terdiagnosis 

- Usia saat penanganan 

- Kelainan intracranial lain yang menyertai 





Meduloblastoma pada Pediatri 

 ICD 10: C71.6 

1. Pengertian (Definisi) Tumor yang berasal dari sel embrional. Muncul dari vermis serebellum di daerah apex 

dinding ventrikel IV (fastigium). Lebih dari 70% meduloblastoma terjadi pada anak-anak. 

2. Anamnesis Umumnya  berupa gejala yang berhubungan dengan massa di fossa posterior yang 

menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial karena hidrocephalus akibat penekanan 

ventrikel IV dan gangguan fungsi cerebellum. Gejala peningkatan TIK bisa berupa nyeri 

kepala, mual, muntah, gejala gangguan cerebellum dapat berupa ataksia, inkoordinasi 

lengan dan tugkai, vertigo. Pada bayi dengan hidrocephalus biasanya rewel, pembesaran 

lingkar kepala, dan letargi.  

Metastase ke spinal  dapat menyebabkan nyeri punggung, retensi urine atau gangguan 

motorik tungkai bawah. 

3. Pemeriksaan Fisik     Papil edema 

    Diplopia 

    Penurunan visus 

    Penurunan kesadaran 

    Pembesaran lingkar kepala pada bayi akibat hidrocephalus 

    Nistagmus 

    Ataxia  

    dismetria 

4. Kriteria Diagnosis 

1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas  

3. Pemeriksaan imaging sesuai di atas 

4. Patologi anatomi sesuai di atas 

5. Diagnosis 

Diagnosis tegak berdasarkan konfirmasi histopatologis setelah reseksi total tumor. 

Berdasarkan histopatologi, seluruh medulloblastoma yaitu  WHO grade IV. Terdapat tiga 

subtipe, yaitu: 

1. Classic (90%):bentuk  sel kecil, dibedakan sel padat dengan inti hyperchromatic, 

sitoplasma sedikit (dan sel klaster tidak konstan di Homer-Wright rosettes 

(kadang-kadang disebut "blue tumor") (penampilan monoton). 

2. Desmoplastic (6%): bentuk sel mirip dengan tipe klasik dengan "glomeruli" 

(kolagen bundel dan tersebar, daerah yang kurang seluler). Ditandai 

kecenderungan diferensiasi saraf. Lebih sering terjadi pada orang dewasa. 

Prognosis kontroversial: mungkin sama atau tidak seagresif medulloblastoma 

klasik. 

3. Large cell (4%): bentuk sel besar, bulat, dan / atau pleomorfik inti, aktivitas 

mitosis yang lebih tinggi. Dalam beberapa laporan kasus, semua pasien laki-laki. 

Lebih agresif dibanding tipe klasik. menyerupai tumor teratoid / rhabdoid atipikal 

otak, tetapi memiliki fenotipe yang berbeda dan fitur cytogenic. 

 

Modifikasi Chang untuk staging Medulloblastoma berdasarkan perluasan tumor dan 

metastase: 

 

Perluasan tumor 

T1 Diameter tumor berukuran kurang dari 3 cm. 

T2 Diameter tumor berukuran lebih dari 3 cm. 

T3a 

Diameter tumor berukuran lebih dari 3 cm, dengan perluasan ke aquaductus 

Sylvii dan atau foramen Luschka 

T3b 

Diameter tumor berukuran lebih dari 3 cm, dengan perluasan tegas ke batang 

otak 

T4 

Diameter tumor berukuran lebih dari 3 cm, dengan perluasan melewati 

aquaductus Sylvii dan atau ke inferior melewati foramen Magnum 

Tidak ada pertimbangan mengenai jumlah struktur-struktur yang terinvasi atau adanya 

hydrosefalus. 

T3b dapat didefinisikan saat intraoperatif (adanya perluasan ke batang otak), 

walaupun tidak ada bukti radiologi. 

 

Derajat metastasis 

M0 Tidak ada bukti metastasis subarachnoid atau hematogen yang bermakna. 

M1 Sel-sel tumor secara mikroskopis ditemukan pada LCS. 

M2 Penyebaran nodular yang signifikan pada spatium subarachnoid serebri, atau 

cerebellum atau pada ventrikel ketiga atau ventrikel lateral. 

M3 Penyebaran nodular yang signifikan pada spatium subarachnoid spinal 

M4 Metastasis diluar aksis serebrospinal 

 

 

6. Diagnosis Banding 

- Cerebellar astrocytoma 

- Brain stem glioma 

- Ependymoma 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

No Rekomendasi Keterangan 

Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 MRI 

Magnetic resonance imaging (MRI) 

secara umum memperlihatkan 

massa cerebellar di midline atau 

para median yang enhanced 

setelah pemberian kontras dan 

kadang menekan ventrikel 

keempat. Dilatasi ventrikel 

dipicu  karena hidrosefalus 

obstruktif dapat terlihat. 

1C 1, 2 

2 CT Scan 

Medulloblastoma dapat luput dari 

CT Scan. Temuan klasik CT Scan 

yaitu  massa hiperdens pada CT 

Scan tanpa kontras dan massa 

contrast enhanced  pada CT Scan 

dengan kontras. 

2A 2 

3 CSF 

Sepertiga dari medulloblastoma 

bermetastasis di sistem saraf pusat 

melalui cairan serebrospinal. Pada 

kasus ini, pemeriksaan 

sitopatologik dari cairan 

serebrospinal dapat menunjukkan 

sel-sel neoplastik. Peningkatan 

protein dan pleocytosis ringan 

seringkali berhubungan dengan 

sitologi positif, namun temuan ini 

tidaklah spesifik. Hasil positif 

2B 3, 4 

 

sitopatologi baik preoperatif atau 

postoperatif dapat memprediksi 

kemungkinan relaps dan luaran 

buruk. 

  

8. Terapi No Rekomendasi Keterangan 

Grade 

Rekomendasi 

Ref 

Average-risk 

disease 

Rata-rata anak usia ≥ 3 tahun yang 

menjalani reseksi total atau hampir 

total memiliki hasil sitologi cairan 

serebrospinal yang negatif dan tidak 

ada bukti metastasis jauh. Jika hal 

ini  tidak dilakukan, maka 

direkomendasikan modalitas kombinasi 

radioterapi kraniospinal dan adjuvan 

kemoterapi. 

1B 

5, 6, 

7, 8, 

9, 10 

High-risk 

disease 

Tatalaksana optimal untuk anak dengan 

meduloblastoma metastasis, 

unresectable atau rekuren belum jelas. 

Disarankan radioterapi kraniospinal 

dengan concomitant kemoterapi. 

2B 5, 8 

Infant and 

young 

children 

Bayi dan anak – usia < 3 tahun dengan 

meduloblastoma memiliki risiko tinggi 

mengalami defisit neurologis berat jika 

diberikan initial terapi yaitu  

radioterapi kraniospinal. Kami 

merekomendasikan tatalaksana dalam 

kelompok usia ini mengikuti protokol 

yang menggunakan kombinasi 

kemoterapi serta menunda atau 

mengurangi penggunaan radioterapi 

kraniospinal. 

1B 

11, 

12, 

13, 

14, 

15, 

16, 

17, 

18, 

19, 

20 

 

 

Pilihan teknik operasi: 

1. Transvermian  

2. Telovellar 

 

Komplikasi radioterapi: gangguan neurokognitif, perlambatan pertumbuhan skeleton, 

hypothyroidism, hypogonadism, insufusiensi adrenal.  

 

Kemoterapi dapat meningkatkan survival pada beberapa pasien, dan berperan dalam 

memungkinkan penggunaan dosis radiasi yang lebih rendah 

 

Treatment group berdasarkan stratifikasi risiko : 

1. Anak ≥3 tahun dengan risiko rata-rata ( reseksi tumor total dan subtotal) tanpa 

penyebaran penyakit  dalam otak maupun spine (MRI) dan LCS.  

Pada kelompok ini pembedahan dilanjutkan dengan radiasi dan kemoterapi, karena 

dapat meningkatkan 10 year survival rate dan 10 year event free hingga 76 dan 81%, 

dibandingkan dengan radioterapi saja.   

 

2. Anak ≥3 tahun dengan risiko tinggi yaitu adanya residu tumor ≥1,5cm atau bukti 

adanya sebaran penyakit. 5 year event free survival hanya 36%. Kemoterapi dosis 


 

tinggi dengan autologus Hematopoeietic Cell Transplantation (HCT) dapat 

meningkatkan 5 year event free survival hingga 70%. 

 

3. anak ≤ 3 tahun. Diberikan kemoterapi tanpa radiasi karena memperburuk 

progresifitas neurologis.  

 

Posterior fossa syndrome: 

Atau cerebellar mutism, dipicu  cedera pada vermis atau nucl dentatus, berupa 

gangguan memulai bicara/bahasa, memulai gerakan, emosi tidak stabil. Dapat muncul 

dalam satu atau dua hari paska operasi, biasanya membaik dalam beberapa minggu 

atau beberapa bulan.  

9. Edukasi 

i. Resiko rekurensi tumor 

ii. Perlunya terapi multimodalitas 

iii. Komplikasi pasca operasi 

10. Prognosis 

Prognosis buruk pada: 

i. Usia muda (< 3tahun) 

ii. Adanya metastase 

iii. Ketidakmampuan untuk eksisi total (terutama bila sisa > 1.5cm2) 

iv. Laki-laki 

v. Histology large cell dan anaplastic 

vi. Amplifikasi MYC 

vii. Mutasi TP53 dan SHH tumor 

11. Indikator Medis 

Evaluasi radikalitas eksisi tumor dengan pemeriksaan radiologis. Targetnya yaitu  total 

eksisi. 

 

Spina Bifida 

 ICD 10 : Q.05 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Suatu kantung berisi komponen sistem saraf spinalis akibat herniasi melalui suatu defek 

pada prosesus spinosus vertebra akibat kelainan kongenital 

2. Anamnesis 

Gejala yang timbul dipicu  spina bifida, dapat berupa : 

- Benjolan yang ada sejak lahir dan cenderung membesar 

- Gangguan motorik: kelemahan anggota bawah 

- Gangguan sensorik 

- Gangguan otonom: inkontinensia uri atau inkontinensia alvi 

3. Pemeriksaan 

Fisik 

- Status lokalis lesi: 

- Tampak kantung mielokel berbungkus kulit normal, membran ataupun kulit yang 

mengalami maserasi.  

- Pada umumnya terletak pada garis tengah 

- Konsistensi tergantung pada isi kantung, pada umumnya kistik dan kenyal.  

- Isi kantung berhubungan dengan ruang spinal, sehingga dapat mengempis dan 

menegang, tergantung tekanan intraspinal. Kadang-kadang dapat terlihat pulsasi. 

- Pada mielokel, dapat disertai hidrosefalus dan kelainan intrakranial lain, defisit 

neurologis yang berat, deformitas tulang spinal dan ekstremitas. Defisit neurologis yang 

terjadi berupa gangguan sensibilitas dan motorik distal dari level anatomis mielokel. 

Dapat juga terjadi inkontinensia urin dan alvi. 

- Status neurologis mencakup: kekuatan motorik, refleks fisiologis, refleks patologis, 

sensorik, otonom 

4. Pemeriksaan 

Penunjang 

Pemeriksaan Radiologis: 

i.MRI Spinal 

ii.CT Scan kepala atau USG kepala untuk melihat kelainan intrakranial lainnya, termasuk 

adanya hidrosefalus  

Pemeriksaan Laboratorium: 

- TORCH 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grade 

Rekomendasi 

Ref 

CT Scan 

kepala/USG 

Prenatal 

    CT Scan kepala untuk melihat 

kelainan intrakranial lainnya, 

termasuk adanya hidrosefalus 

(skrinning) 

    USG Prenatal untuk skrinning 

awal 

2C 4,    6,8 

MRI 

Lumbosacral 

 

    MRI terutama digunakan 

untuk membedakan  struktur yang 

herniasi dengan jaringan 

disekitarnya 

2C 4,   6,9 

 

 

    MRI dapat digunakan untuk 

evaluasi adanya tethered cord  

syndrome  

( Q06.8) 

3 TORCH 

    Skrinning infeksi TORCH 

untuk penyebab kelainan kongenital 

susunan saraf pusat 

2C 10,11 

 

5. Kriteria Diagnosis 

1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan laboratorium: TORCH 

4. Pemeriksaan imaging sesuai di atas 

6. Diagnosis 

Pembagian Spina Bifida : 

    Spina bifida occulta (Q76.0) 

    Spina bifida aperta (Q05) 

o Cervical spina bifida with 

hydrocephalus (Q05.0) 

o Thoracic spina bifida with 

hydrocephalus (Q05.1) 

o Lumbar spina bifida with 

hydrocephalus (Q05.2) 

o Sacral spina bifida with 

hydrocephalus (Q05.3) 

o Unspecified spina bifida with 

hydrocephalus (Q05.4) 

o Cervical spina bifida without 

hydrocephalus (Q05.5) 

o Thoracic spina bifida without 

hydrocephalus (Q05.6) 

o Lumbar spina bifida without 

hydrocephalus (Q05.7) 

o Sacral spina bifida without 

hydrocephalus (Q05.8) 

o Spina bifida, unspecified (Q05.9) 

o spina bifida dengan tethered cord 

(Q06.8) 

7. Diagnosis 

Banding 

Diagnosa banding Spina Bifida meliputi: 

- Mielosistokel   

- Lipomielomeningokel  

- Teratoma 

- Duplikasi rektum  

- Abses spinal 

- Hemangioma  

- Malformasi / tumor tulang  

- Epidermoid / dermoid 

- Kista pilonidal 

- Kondroma  

- Neuroblastoma 

- Glioma  

- Kordoma 

- Hamartoma  

8. Terapi 

Penatalaksanaan Spina Bifida 

1. Bedah : 

    Penutupan defek duramater dan kulit 

    pembedahan dianjurkan 72 jam pertama sejak lahir bila pasien stabil, beberapa   

minggu berikutnya dianjurkan untuk serial CT scan kepala atau USG kepala     setiap 1-3 

minggu 

    Bila pecah, pembedahan dikerjakan kurang dari 48 jam: rawat lokal, tutup steril, 

    tengkurap, antibiotik. 

    Pembedahan tidak memperbaiki kelainan neurologis yang sudah terjadi 

 

Komplikasi pembedahan : 

 

- Deformitas vertebra 

- Kebocoran cairan serebrospinal 

- Infeksi 

 

 

2. Rehabilitasi : 

Pembedahan diikuti tindakan multi-disiplin yang melibatkan bidang psikiatri, rehabilitasi 

medik, ortopaedi dan urologi. 

3. Konservatif 

    Evaluasi klinis serial pasien spina bifida harus dilakukan, terutama gejala dan tanda 

adanya kompresi pada medula spinalis dan batang otak 

    pasien myelomeningocele dengan neurogennic bladder, segera dilatih CIC, 

antibiotik profilaksis dan medikasi anticholinergic untuk mencegah disfungsi renal 

    evaluasi adanya komplikasi scoliosis 

 

Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grade 

Rekomendasi 

Ref 

Operasi 

    Penutupan defek duramater dan 

kulit (pembedahan sebaiknya dilakukan 

dalam 48-72 jam sejak lahir) (03.59) 

    Release tethered cord 

    Pasien myelocele dengan 

hidrosefalus perlu dilakukan diversi LCS ( 

Ventriculo Shunt) (02.34) 

2B 

1,3,4

,5 

 

 

9. Edukasi 

Tindakan pembedahan yang dilakukan tidak memperbaiki kelainan neurologis yang sudah 

terjadi. Orang tua pasien harus memahami bahwa penanganan akan berlangsung jangka 

panjang (long-term care) dan memerlukan tindak lanjut multidisiplin yang melibatkan 

bidang psikiatri, rehabilitasi medik, ortopaedi dan urologi 

10. Prognosis 

Survival rate neonatus yang lahir dengan spina bifida (meningomyelocele) lebih dari 95%. 

Sekitar 10% sampai 15% anak dengan spina bifida meninggal sebelum usia 6 tahun 

walaupun dengan tindakan yang agresif.  

11. Indikator Medis 

Perbaikan kondisi klinis , status lokalis dan kualitas hidup pasien. 


 

Aneurisma + SAH 

ICD-10 : I 67.1 

1. Pengertian 

(Definisi) 

    Aneurisma : kelainan cerebrovascular berupa kelemahan dinding arteri atau vena 

cerebri yang menyebabkan dilatasi lokal atau balooning pembuluh darah. 

        Etiologi : 

- trauma kepala  

- atherosklerosis atau hipertensi 

- emboli : atrial myxoma 

- infeksi : mycotic aneurisma 

- kongenital 

    Jika terjadi ruptur aneurisma akan menyebabkan terjadi SAH. SAH yaitu  perdarahan di 

rongga subarachnoid. 

       Etiologi :  

- Trauma : paling sering 

- Spontan : ruptur aneurisma (75-80%), AVM (4-5%), vaskulitis, tumoral bleeding, 

cerebral artery dissection, ruptur arteri superficial kecil dan infudibulum, gangguan 

pembekuan darah, dural sinus trombosis, spinal AVM, dll 

2. Anamnesis - Jika aneurisma kecil, sering asimptomatik. 

- efek masa karena giant aneurisma :  

1. penekanan batang otak : hemiparese 

2. cranial neuropathy : pandangan ganda, gangguan visus,nyeri wajah 

3. penekanan kelenjar hipofise dan stalk karena aneurisma intra-suprasella : 

ganggauan hormonal. 

- Jika terjadi ruptur aneurisma menyebabkan perdarahan SAH : 

1. nyeri kepala berat tiba-tiba (97%), muntah, syncope, nyeri leher(meningismus), 

photophobia, sampai penurunan kesadaran 

2. Jika disertai ICH, didapat  kelemahan anggota badan, gangguan berbahasa, 

kejang, dan gangguan visus  

3. Low back pain 

 

Terdapat klasifikasi Hunt and Hest untuk menilai derajat gejala klinis pada ruptur aneurisma 

Klasifikasi Hunt and Hess  

 

 

Derajat Dekripsi 

1 Asimptomatis, atau nyeri kepala ringan dan kaku kuduk ringan 

2 palsy nervus cranialis (III,VI).nyeri kepala sedang hingga berat,kaku kuduk 

3 Deficit fokal ringan,lethargy, kebingungan 

4 Stupor, hemiparese sedang hingga berat, deserbrasi  

5 Koma dalam, deserebrasi 

  

 

Klasifikasi ini digunakan sebagai salah satu indikator prognosis dan pemilihan manajemen 

ruptur aneurisma. 

Grade 1 dan 2 dioperasi segera setelah aneurisma didiagnosa. 

Grade ≥ 3 ditunda tindakan operasi sampai klinis membaik (grade 1 atau 2) 

Pengecualian penentuan waktu operasi jika terjadi ICH yang mengancam nyawa. 

 


3. Pemeriksaan Fisik SAH :  

- Meningismus disertai reflek patologis 

- Hipertensi 

- penurunan kesadaran karena : TIK meningkat, ICH, hidrocephalus, iskemia diffuse, 

kejang 

- ocular hemorrhage 

4. Kriteria Diagnosis Klinis  

Radilologis 

5. Diagnosis kerja Aneurysma unruptured (I67.1) 

Aneurysma ruptured (I60.7) 

a-SAH (I60) 

6. Diagnosis Banding     AVM 

    Perdarahan otak karena hipertensi 

    Cerebral vein trombosis 

    SAH karena trauma 

    Intratumoral bleeding 

    Pitutiary tumor 

    Moyamoya disease 

    Vein of gallen malformation 

7. Pemeriksaan 

penunjang 

Lumbar puncture : paling sensitif terhadap SAH (opening pressure meningkat), 

xantocrom, jumlah sel > 100.000, protein meningkat, glukosa normal atau menurun 

        False positif : traumatik taps 

Radiologis : 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 CT scan 

Mendeteksi >90% SAH bila onset bleeding 

terjadi pada 24 jam 

1C 5 

2 MRI 

tidak sensitif terhadap SAH 24-48 jam, lebih 

baik 4-7 hari Flair MRI imaging paling sensitif  

untuk mendeteksi SAH 

2C 6 

3 MRA 

sensitifitas 95% untuk aneurysma ukuran > 3-

5 mm 

2A 7 

4 CTA 

mendeteksi aneurisma 97%. Dapat 

menggambarkan bentuk aneurisma 3D yang 

penting untuk perencanaan operasi 

2A 

 

Cerebral 

angiogram 

1) gold standar evaluasi eneurisma 

cerebral. 

 

1A 7,11 

 

Fisher Grade 

Grade CT scan 

1 Tidak tampak perdarahan 

2 SAH tebal < 1 mm 

3 SAH tebal > 1 mm (resiko tinggi terjadi vasospasme) 

4 SAH + IVH/ICH 

 

8. Terapi  

 

 

Penatalaksanaan aneurisma, bergantung pada ruptur atau unruptur : 

1. Penatalakasanaan ruptur aneurisma 

    Penatalaksanaan ruptur aneurisma, memperhatikan potensial problem pada SAH, 

diantaranya : 

1. Rebleeding 

2. Hidrocephalus 

3. Delayed Ischemic Neurologic Deficit (DIND) oleh karena vasospasme 

4. hiponatremia dan hipovolemia 

5. DVT dan emboli pulmo 

6. Kejang 

7. Menentukan lokasi sumber perdarahan/ruptur aneurisma 

 

No Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 medikamentosa 

a) Mempertahankan CBF  

meningkatkan CPP, memperbaiki 

reologi darah, pertahankan 

euvolemia, pertahankan ICP 

b) Neuroprotektan : belum ada obat 

yang efektif 

c) Observasi ketat di ICU(dengan 

monitor VS), bedrest dengan posisi 

tidur head up 30°,  

d) Diet : NPO (greenberk hlm 1041) 

e) Cairan infus (mencegah cerebral salt 

wasting): NS + 20 mEq KCL/L ~ 2 

ml/kg/jam. Jika HCT < 40 %, albumin 

5% 500cc  

f) Obat : 

    Antikejang profilaksis  

    Sedasi 

    Analgesia 

    Dexametasone, mengurangi nyeri 

kepala dan leher. Umunya diberikan 

pre-op 

    Obat pencahar 

    Anti muntah 

    Vasospasme treatment pada kasus 

perdarahan SAH :  

- Calcium channel blocker : 

nomidipin (nimotop) 4x60mg dlm 

96 jam setelah SAH. Tablet dan I.V 

sama efektif. (Grade 1A)9 

- Intra arterial vasospasme 

treatment secara endovasculer  

g) Oksigenasi : 2 lpm jika diperlukan 

h) Tekanan darah : pertahankan TDS 

120-150mmHg (Hipertensi ekstrem 

pada unclipped aneurisma 

meningkatkan resiko rebleeding, 

2B 

 

 

 

 

 

1A 

 

 

 

 

 

9,12 

 

 

hipotensi  iskemia) 

i) Laboratorium :  DL, elektrolit, 

BGA,PTT/APTT, HCT 

j) Ragiologis: Rontgen thorax serial 

sampai kondisi stabil (evaluasi 

pengobatan triple H), transcranial 

doppler. 

 

Operasi dan 

intervensi 

a) Hidrocephalus  

1. Akut :  

    50 % membaik spontan 

    sisanya dengan grade H&H IV-V: 

ventrikulostomi dengan ICP 15-25 

mmHg. Cegah penurunan TIK secara 

cepat, resiko rebleeding meningkat. 

2. Kronis : kontroversi 

 

b) Aneurisma : Pembedahan cliping dan 

coiling endovascular dilakukan untuk 

mengurangi terjadinya rebleeding.  

1. Endovascular 

a) Trombosing aneurisma :  

2. Coiling simpel 

3. Stent assisted coiling menggunakan 

intracranial stenting (Leo stent, 

solitair stent, enterprise stent, dll) 

4. Coiling menggunakan compliant 

balloon (hyperform, hyperglide 

balloon, dll) pada saat pemasangan 

coil 

5. Flow diverter (pipe line, dll) pada 

kasus aneurysma ukuran besar 

(Giant Aneurysm) 

b) Trapping dengan didahului Ballon 

Occlusion Test menggunakan Compliant 

Ballon 

c) ligasi proksimal (hunterian ligation) 

untuk giant aneurisma 

2. Pembedahan 

    Clipping : Gold standar. Memasang clip 

pada leher aneurisma untuk menutup 

hubungan antara aneurisma dari 

sirkulasi tanpa membuntu pembulih 

darah normal lainnya.  

    Wrapping atau coating menggunakan 

otot, cotton atau muslin, plastik resin, 

teflon dan fibrin glue 

    Kombinasi pada kasus sulit dilakukan 

pembedahan dan endovaskuler. Contoh 

: Giant aneurysma dilakukan trapping 

dan surgical bypass 

    ligasi proksimal (hunterian ligation) 

untuk giant aneurisma 

 

2B 

 

 

 

1B 

 

10 

 

 

 

2,3 

 


     

Coilling (ICD-9:39.52) Clipping (ICD-9:39.51) 

Umur tua (> 75 th) Umur muda 

Grade klinis jelek Aneurisma MCA 

Ruptur aneurisma yg sulit diakses Giant aneurisma (diameter> 20mm) 

Aneurisma dg morfologi : rasio dome-neck 

> 2, diameter neck < 5 mm 

Gejala efek massa aneurisma 

Aneurisma dari sirkulasi posterior Aneurisma kecil (diameter 1,5-2mm) 

Konsumsi obat plavix Leher aneurisma lebar 

Gagal di clipping atau sulit secara tehnik Aneurisma residual post coiling  

 

Pemilihan waktu tindakan pembedahan : 

1) Early (< 48-96 jam) 

 Menurunkan resiko rebleeding 

 Memfasilitasi terapi vasospasme 

 Lavage clot yang potensial sebagai agen spasmogenik 

 Mortalitas rendah 

 Syarat :  

o Kondisi medis baik 

o Hunt&Hess grade  3 

o SAH yang tebal yang berpotensi vasospasme 

o Kondisi yang akan menyulitkan management, ex : TD yg tdk stabil, kejang 

o SAH yang tebal dengan efek masa 

o Rebleeding dini 

o Indikasi imminent rebleeding 

2) Late (>10-14 hari post SAH) 

 Kondisi klinis jelek dan atau umur pasien yang tua 

 Kondisi neurologis jelek (Hunt&Hess  4) kontroversi 

 Aneurisma yang sulit di clip karena ukuran dan lokasi 

 Edema cerebri yang berat 

 Vasospasme aktif 

 

    Pada terapi pembedahan, ada beberapa approach yang digunakan berdasarkan lokasi 

dan morfologi aneurisma. Diantaranya : 

a) Pterional 

b) Subfrontal 

c) Anterior interhemispheric  

d) Transcallosal 

e) Transylvian atau superior temporal gyrus  MCA aneurisma 

f) Subocipital atau subtermporal-trantentorial 

2. Penatalaksanaan unruptur aneurisma 

    Indikasi manajemen pada unruptur aneurisma : 

a. Simptomatis : nyeri yg intolerable, gangguan visus 

b. Giant aneurisma di daerah cincin clinoid 

c. Aneurisma yang membesar pada imaging serial 

    Pilihan terapi pada non ruptur yaitu  non medikamentosa ( clipping atau coiling) 

9. Edukasi  Faktor resiko terjadinya aneurisma 

 Perjalanan penyakit 

 Komplikasi  

 Terapi 

 prognosa 

10. Prognosis     Prognosis bergantung pada beberapa hal : 

1. Lokasi dan luasnya aneurisma 

 

 

2. Umur 

3. Kondisi klinis umum 

4. Status neurologis menggunakan grade Hunt and Hess 

Hunt and Hess 1 dan 2 outcome baik, grade  3 outcome jelek, meningaal ataupun 

kelumpuhan permanen. 

    mortalitas secara keseluruhan ~ 45 %, sebagian membaik dg sedikit atau tanpa 

neurologis. 

    morbiditas : kelumpuhan sedang – berat ~ 30%, 66% post clipping tidak membaik kualitas 

hidupnya 

    Sebelum tindakan operasi : rebleeding merupakan penyebab utama morbiditas dan 

mortalitas ~ 15-20% dalam 2 minggu pertama.  

    Setelah tindakan operasi : vasospasme menyebabkan kematian (7%), dan defisit 

neurologis (7%) 

 

AVM 

ICD-10 : I 67.1 

1. Pengertian 

(Definisi) 

- Arteriovenous malformation/AVM yaitu  kelainan kongenital dilatasi abnormal 

pembuluh darah dipicu  aliran darah arteri langsung berhubungan dengan draining 

vein tanpa mealui jaringan kapier normal . Tidak didapat  jaringan parenkim otak 

didalam nidus. 

- Seringkali ditemukan karena terjadi komplikasi perdarahan (resiko terjadi perdarahan 

spontan 2-4%/tahun), jarang ditemukan kejang 

- Aliran darah dalam AVM berubah dari tekanan rendah pada saat lahir,menjadi tekanan 

sedang - tinggi pada saat dewasa sehingga lesi AVM cenderung membesar. 

2. Anamnesis Gejala yang dapat timbul : 

1. gejala TIK meningkat oleh karena perdarahan(paling sering): 50%. Puncak kejadian 

umur 15-20 tahun 

2. Kejang 

3. Efek masa, ex : trigeminal neuralgia karena CPA AVM 

4. Iskemia : steal effect 

5. Sakit kepala 

3. Pemeriksaan Fisik Tanda yang tampak  

    Tanda TIK meningkat 

    cranial nerve palsy karena efek masa 

    kelemahan anggota badan karena iskemia 

    Bruit(terutama AVM dura) 

4. Pemeriksaan 

penunjang 

Radiologis : 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 CT scan 

Gambaran ‘flow void’, sensitivitas CT scan 

akan meningkat bila disertai CT angiografi 

2B 4 

2 MRI 

MRI sangat sensitif untuk identifikasi nidus 

AVM 

2A 3 

 

Angiografi 

Gold standar diagnosis 

1C 4 

 

1) CT scan : kualitas baik mendeteksi perdarahan dan kalsifikasi 

2) MRI : melihat morfologi AVM dan menyingkirkan Ddx 

3) Angiografi : tampak tangle of vessels, feeding artery, draining vein yang tampak 

pada fase arteri 

 

5. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan imaging sesuai di atas  

6. Diagnosis   

Grading AVM berdasarkan klasifikasi berikut ini, 

Spetzler Martin AVM grading system 

 

 

Graded Feature Points 

Size 

Small (<3 cm) 

Medium (3-6 cm) 

Large (>6 cm) 

 

Eloquence of adjacent brain 

Non eloquent 

Eloquent 

 

 

Pattern of venous drainage 

Superficial only 

Deep 

 

 

Grading ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan prognosa dan pemilihan terapi 

 

7. Diagnosis Banding     Cavernous hemangioma 

    Dural arteriovenous fistula 

    Amyloid angiopathy 

    Cerebral aneurysm 

    Cerebral venous trombosis 

    Perdarahan otak 

    Moyamoya disease 

    Vein of gallen malformation 

    Tumor 

8. Terapi  

    Ada 4 pilihan manajemen AVM,diperimbangkan diberdasarkan grade Spetzler-Martin. 

Tindakan pembendahan merupakan gold standar, yang diindikasikan pada grade 1-3. 

Terapi yang multimodalitas dipertimbangkan untuk AVM dengan grade III-IV. Untuk 

grade V-VI konservatif.diutamakan untuk AVM pecah atau riwayat pecah untuk 

dilakukan tindakan bedah 

No Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 Operasi Pembedahan pilihan utama 1B 4 

2 Radiasi 

    Efektif pada ~20%kasus 

    Stereotaktik radiosurgery (SRS) ukuran 

kecil<2,5-3 cm nidus, letak dalam  

 

1B 5 

 

 

Endovascular 

Embolisasi sebagai terapi tambahan 

- embolisasi dengan menggunakan glue 

(hystoacryl lipiodol atau EVOH (Onyx, etc) 

- embolisasi transvena (TRENSH) 

menggunakan EVOH dan balloon assisted 

(compliant balloon) 

Kombinasi embolisasi untuk mengecilkan 

nidus, dilanjutkan stereotaktik 

2B 6 

 

9. Edukasi  Faktor resiko terjadinya AVM 

 Perjalanan penyakit 

 Komplikasi  

 Terapi 

 prognosa 

 

 

10. Prognosis     Prognosis bergantung pada beberapa hal : 

o Jika terjadi perdarahan spontan, mortalitas 30-50% 

o Ukuran makin kecil, makin mematikan karena resiko perdarahan makin 

besar 

o Ukuran besar berhubungan dengan morbiditas, yaitu resiko kejang makin 

besar 

    Berdasarkan grade Spetzler-Martin : 

 

 

11. Indikator Medis Perbaikan status neurologis 


Stenosis Arteri Karotis 

I65.2 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Kondisi dimana terjadi penyempitan atau kontriksi dari arteri karotis oleh karena 

atherosklerosis   

2. Anamnesis - didapat  risk faktor antara lain : merokok, obesitas, dislipidemia, hipertensi, 

diabetes melitus 

- didapat  gejala neurologis mulai dari Transient ischemic attack (TIA) sampai denag 

stroke 

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum 

(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi) 

Pemeriksaan menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain dari epilepsi. 

Pada saat kejang, pasien harus diperiksa dan ditatalaksana sesuai prinsip gawat darurat 

yaitu: amankan Airway, Breathing, Circulation 

 

Pemeriksaan Neurologis 

    Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS) 

    Pemeriksaan saraf kranial satu sampai duabelas 

    Pemeriksaan motorik menyeluruh 

    Pemeriksaan sensorik menyeluruh 

    Pemeriksaan refleks fisiologis 

    Pemeriksaan refleks patologis 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan penunjang  

5. Diagnosis Kerja Stenosis Arteri Kartis( I65,2) 

6. Diagnosis Banding - Nyeri kepala 

- Herpes zoster 

- Transient iskhemic attack 

- Stroke 

- Oklusi retina 

- Trauma leher 

- Sub arachnoid hemorrhage 

- Diseksi arteri vertebralis 

7. Pemeriksaan 

Penunjang No Pemeriksaan Rekomendasi 

Grade 

Rekomend

asi 

Ref 

1 CTA 

- Untuk mengetahui letak anatomi 

dari carotid stenosis dan hubungan 

nya dengan truktur tulang 

disekitarnya 

 

1B 1,2,3 

2 MRA 

- Untuk mengevaluasi arteri karotis 

dengan menggunanakn 3D TOF 

(time of flight) atau CEMRA 

(contrast enhnced MRA) 

1B 4,5,6,7,8 

3  

Carotid duplex 

USG 

- Mendeteksi kecepatan aliran darah 

pada carotid stenosis dengan 

1B 

9,10,11,1

2,13 

 


mengukur Peak systolic velocity 

(PSV), end-diastolic velocity (EDV), 

carotid index (peak Iinternal 

carotid artery velocity dan common 

carotid artery velocity)  

Transcranial 

doppler 

- Mengevaluasi hubungan carotid 

stenosis dengan arteri intracerebral 

yang menuju parenkim otak 

1B 14,15,16 

Cerebral 

Angigoaphy 

- Merupakan gold standar untuk 

diagnostik carotid stenosis 

1A 17,18,19 

 

8. Terapi 

No Terapi Prosedur (ICD 9) 

Grade 

Rekomend

asi 

Ref 

1 Medika mentosa 

- Tatalaksana dengan statin, anti 

platelet, terapi hipertensi dan 

diabetes, mengubah pola hidup 

sehat  

2A 

20,21,22,

23 

Carotid end 

arterectomy 

(CEA) 

- Merupakan pilihan terapi untuk 

carotid stenosis 1A 

24,25,26,

27,28 

3. 

Carotid Artery 

Angioplasty and 

Stenting (CAS) 

- Pilihan terapi untuk carotid 

stenosis jika tidak memungkinkan 

untuk dilakukan operasi. 

Menggunakan balloon untuk 

dilatasi dilanjutkan pemasangan 

stent karotis permanen.  

- Digunakan juga alat proteksi 

terhadap emboli (Embolic 

Protection Device) bisa berupa 

payung (umbrella) yang dipasang 

sementara di distal dari stenosis 

dan atau balloon catheter yang 

dipasang sementara di proximal 

dari stenosis 

1A 

29,30,31,

32,33 

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)  : Ad bonam 

Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad bonam 

Ad Fungsionam (fungsi)  : Dubia ad bonam 

 

Prognosis carotid stenosis akan meningkat bila terdapat perbaikan klinis pada pasca 

tindakan CEA atau CAS 

 

CAROTID CAVERNOUS FISTULA 

ICD-10: Q28.2 

1. Pengertian  

(Definisi) 

Hubungan abnormal antara arteri karotis dengan sinus kavernosus, yang dapat terjadi 

secara spontan atau didapat (trauma), CCF dikelompokkan berdasarkan etiologi (trauma vs 

spontan), kecepatan aliran darah ( high flow vs low flow), antomi (direct vs dural, internal 

carotid vs external carotid vs keduanya) 

2. Anamnesis 

    Ada riwayat trauma sebelumnya 

    didapat  ptosis 

    didapat  adanya bruit 

    didapat  nyeri kepala 

3. Pemeriksaan Fisik High flow : 

- Bruit (80 %), biasanya traba diatas boal mata 

- Pandangan mata kabur (25- 59 %) 

- Sakit kepala (53- 75 %) 

- Diplopia (50-85 %) 

- Nyeri bola mata dan orbita (35 %) 

- Proptosis (72-87%) 

- Chemosis dan konjungtival injection 955-89 %) 

- Oftalmoplegia ( N VI palsy 50-85 %, N III palsy 67%, N IV palsy 49%) 

 

Low flow : 

- Anterior draining dural, gejalanya : khemosis, conjuntival injection, proptosis 

- Dural ccf yang mengalir ke posterior ke sinus petrosus inferior atau superior, gejalanya 

: painfull diplopia, N III palsy, N IV palsy, N VI palsy 

 

Kehilangan penglihatan merupakan masalah utama kasus anterior driaing dural dengan 

persentasi 33%. Penyebab gangguan penglihatan 

- Peningkatan tekanan intraocular sejunder sehingga menyebabkan kongesti vena dan 

glaucoma 

- Venous stasis retinopathy 

- Perdarahan vitreus 

- Retinopathy proliferasi 

- Ischemic optic neuropathy 

- Exudative retinal detachment 

- Komplikasi yang jarang seperti choroidal effusion dan glaukoma sudut tertutup 

4. Kriteria Diagnosis 5. 1. Anamnesis sesuai diatas 

6. 2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan imaging sesuai diatas 

7. Diagnosis Carotid cavernous Fistula (ICD-10: Q28,2) 

8. Diagnosis Banding - Tumor intrakranial, limfoma, metastatic 

- Aneurisma 

- Cavernous sinus trombosis 

- Infeksi 

- Tolosa hunt syndrome 

- Pseudotumor orbita 

- Vaskulitis 

 

- Sarcoidosis 

9. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 CT Scan 

melihat proptosis, ekspansi sinus kavernosus 

dan vena oftalmika superior, pelebaran 

muskulus ekstraokuler yang berhubungan 

dengan fraktur dasar tengkorak. CTA bisa 

melihat adanya CCF terutama pada daerah 

proksimal dari sinus cavernosus 

 

2A 1, 2, 3 

 

 

MRI 

 

melihat proptosis, ekspansi sinus cavernous 

dan vena oftalmik superior, dan pelebaran 

otot-otot ekstraokuler. Bisa juga melihat flow 

void sinus cavernous. 

1C 4, 5, 6, 7 

 

 

Transcranial 

Doppler USG 

 

melihat peningkatan kecepatan aliran darah 

dan penurunan pusatif index pada siphon 

carotis pada pasien dengan CCF 

1C 4, 8, 9 

 

 

TFCA 

(Trannsfermoral 

Cerebral 

Angiography) 

 

merupakan gold standar untuk diagnosa dan 

terapi utama untuk CCF 1C 10, 11 

 

10. Terapi - Terapi optimal CCF yaitu  menutup hubungan abnormal antara arteri carotid 

internal dengan sinus cavernosus dengan tetap memelihara patensi arteri carotid 

interna 

- Beberapa prosedur yang digunakan :  

No Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

Endovaskuler  

 

Menggunakan akses arteri atau vena.  

Embolisasi transarteri  merupakan pilihan 

utama untuk kebanyakan kasus CCF terutama 

high flo