Tampilkan postingan dengan label Anemia penyakit kronik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anemia penyakit kronik. Tampilkan semua postingan

Anemia penyakit kronik

 









ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIK

  

Anemia  sering  dijumpai  pada  pasien  dengan infeksi  atau  inflamasi  kronis 

maupun keganasan. Anemia ini umumnya ringan atau sedang, disertai oleh rasa 

lemah  dan  penurunan  berat  badan  dan  disebut  anemia  pada  penyakit  kronis. 

Anemia  penyakit  kronis  ini  merupakan  bentuk  anemia  derajat  ringan  sampai 

sedang  yang  terjadi  akibat  infeksi  kronis,  peradangan,  trauma  dan  penyakit 

neoplastik yang telah berlangsung 1–2 bulan (1). 

Anemia ini sangat mirip dengan anemia defisiensi besi yaitu ditandai dengan 

kelainan metabolism besi tetapi pada anemia ini terjadi sekuestrasi besi di dalam 

sistem RES karena inflamasi.  Pada anemia jenis ini,  terjadi  sekuestrasi  besi  di 

dalam  makrofag.  Sekuestrasi  ini  berfungsi  untuk  menghambat  pertumbuhan 

mikroorganisme dependen besi atau untuk memperkuat aspek imunitas pejamu (2).

Etiologi

Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan anemia. Sebagian besar 

anemia  disebabkan  oleh  infeksi  dan  peradangan  dan  dapat  menghambat 

pembentukan sel darah merah dalam sumsum tulang, sehingga jumlah sel darah 

merah berkurang. 

1. Anemia ini banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit infeksi seperti 

infeksi  ginjal,  paru  (bronkiektasis,  abses,  empiema,  dll).    Untuk 

terjadinya  anemia  memerlukan waktu 1-2 bulan  setelah  infeksi  terjadi 

dan  menetap,  setelah  terjadi  keseimbangan  antara  produksi  dan 

penghancuran eritrosit dan Hb menjadi stabil  (1). Laporan/data penyakit 

tuberkulosis, abses paru, endokarditis bakteri subakut, osteomielitis dan 

infeksi  jamur  kronis  serta  HIV  membuktikan  bahwa  hampir  semua 

infeksi supuratif kronis berkaitan dengan anemia. Biasanya infeksi yang 

berlangsung  lebih  dari  1  bulan,  di  antaranya  TB,  endocarditis, 

osteomyelitis, dan abses. (3). 


2. Anemia ini bisa disebabkan oleh neoplasma seperti limfoma malignum, 

dan nekrosis jaringan. Ini terjadi bisa dikarenakan infiltrasi sel ganas ke 

dalam sumsum tulang (myelophthisis), akibat dari terapi yang diberikan 

seperti  kemoterapi  dan  radioterapi,  dan  adanya  defisiensi  nutrisi, 

perdarahan  gastrointestinal,  terjadinya  anemia  hemolitik,  dan 

hipersplenisme (3).

3. Anemia ini bisa juga disebabkan oleh penyakit jaringan ikat, di antaranya 

systemic lupus erythematosus (SLE) dan rheumatoid arthritis. Pada SLE 

juga bisa sekunder karena AIHA atau karena gagal ginjal akibat lupus 

nephritis (3).

4. Anemia  ini  bisa  juga  disebabkan  oleh  penyakit  endokrin.  Adrenal 

insufficiency,  hiperparatiroid,  hipertiroid,  hipopituitarisme,  dan 

hipotiroid (3).

5. Anemia ini bisa juga disebabkan oleh penyakit hati kronis (3).

Epidemiologi

Anemia pada penyakit kronik adalah anemia yang paling umum pada pasien 

rawat  inap (4).  Ini merupakan  jenis  anemia  terbanyak  kedua  setelah  anemia 

defisiensi  besi  yang  dapat  ditemukan  pada  orang  dewasa  di  Amerika  Serikat. 

Epidemiologinya tergantung penyakit yang mendasarinya (5).

Patogenesis

Yang  mendasari  patogenesis  anemia  pada  penyakit  kronik  dititikberatkan 

pada 3 abnormalitas utama yaitu ketahanan hidup eritrosit yang menurun akibat 

terjadinya  lisis  eritrosit  lebih  dini,  gagalnya  sumsum  tulang  mengkompensasi 

kekurangan  dengan  meningkatkan  produksi  sel  darah  merah  karena  respon 

eritropoetin  yang terganggu  atau  menurun,  dan  gangguan  metabolisme  berupa 

gangguan reutilisasi besi yaitu sequestration besi pada sisitem retikuloendotelial 

Semua proses diatas diduga karena adanya perubahan sitokin-sitokin pada pasien 

yang menderita penyakit kronik (1). 

1. Pemendekan Masa Hidup Eritrosit

Anemia  pada  penyakit  kronis  diduga  merupakan  suatu  sindrom  stres 

hematologik, yang terjadi karena diproduksinya sitokin secara berlebihan 

karena kerusakan jaringan akibat infeksi, inflamasi atau kanker (5). Sitokin 

yang  berlebihan  ini  yang  akan  menyebabkan  sekuestrasi  makrofag 

sehingga mengikat lebih banyak zat besi, meningkatkan detruksi eritrosit 

di  limpa,  menekan produksi eritropoietin  di ginjal,  serta menyebabkan 

perangsangan yang inadekuat pada eritropoiesis di sumsum tulang 

Selain menyebabkan sekuestrasi makrofag, sitokin yang berlebihan 

juga akan menyebabkan peningkatan aktivitas fagositosis makrofag dan 

sebagai  bagian  dari  filter  limpa  menjadi  kurang  toleran  terhadap 

kerusakan  minor  eritrosit.  Pada  keadaan  malnutrisi,  terjadi  penurunan 

transformasi  T4 menjadi  T3 yang  mengakibatkan  terjadinya  hipotiroid 

fungsional.  Hipotiroid  fungsional  menyebabkan  penurunan  kebutuhan 

terhadap  hemoglobin  yang  mengangkut  besi  sehingga  produksi 

eritropoietin berkurang (5).  

2. Gangguan fungsi sumsum tulang.

Yaitu  respon  eritropoietin  terhadap  anemia  yang  inadekuat.  Hal  ini 

terkait dengan sitokin-sitokin yang dikeluarkan oleh sel yang cedera yaitu 

IL-1, TNF-α, dan IFN-gamma. Kadar IFN gamma berhubungan langsung 

dengan beratnya anemia.  TNF –α yang dihasilkan oleh makrofag aktif 

akan menekan eritropoiesis pada pembentukan BFU-E dan CFU-E. IL-1 

akan menekan CFU-E pada kultur sumsum tulang manusia (5).

3. Gangguan metabolisme besi.

Pada anemia  jenis  ini  cadangan besi  normal  tetapi  kadar  besi  rendah. 

Jadi, anemia disebabkan oleh penurunan kemampuan Fe dalam sintesis 

Hb.  Dalam  sitokin dan  sel-sel  sistem  retikuloendotelial  menyebabkan 

perubahan  dalam  homeostasis  besi,  efek  proliferasi  sel  progenitor 

erythroid,  produksi  erythropoietin  dan  masa  hidup  sel  darah  merah. 

Semua  ini  kemudian  berkontribusi  pada  patogenesis  anemia.  Invasi 

mikroorganisme,  munculnya  sel-sel  ganas  atau  disregulasi  autoimun 

menyebabkan  aktivasi  sel  T  (CD3  +)  dan  monosit.  Sel-sel  ini 

menyebabkan mekanisme efektor kekebalan tubuh, dengan memproduksi 

sitokin ada seperti interferon - γ (dari sel T) dan tumor necrosis factor α 

(TNF-α),  interleukin  -1.  Interkeukin-6  dan  lipolpolysaccharide 

merangsang ekspresi hepcidin protei, yang menghambat penyerapan zat 

besic  di duodenum.  Interferon  -  γ,  lipoplysaccharide,  atau  keduanya 

meningkatkan ekspresi transporter logam divalen I pada makrofag dan 

merangsang penyerapan  zat  besi  besi  (Fe  2 +).  Anti-inflamasi  sitokin 

interleukin -10  mengatur ekspresi reseptor transferin dan meningkatkan 

reseptor  transferin  -  serapan  dimediasi  besi  transferin  terikat  dalam 

monosit.  Selain itu,  makrofag diaktifkan phagocytose dan menurunkan 

eritrosit  pikun  untuk  daur  ulang  besi,  sebuah  proses  yang  lebih 

disebabkan oleh TNF-α melalui merusak membran eritrosit dan stimulasi 

fagositosis.  Interferon  -  γ  dan  lipopolisakarida  mengatur  ekspresi  dari 

besi  transporter  makrofag  ferroprotein  1,  ekspor  besi  menyebabkan 

penghambatan makrofag,  sebuah  proses  yang  juga  dipengaruhi  oleh 

hepcidin. Pada saat yang sama, TNF-α, interleukin-1, interleukin-6 dan 

interleukin-10  menginduksi  ekspresi  feritin  dan  merangsang 

penyimpanan dan retensi besi dalam makrofag. Singkatnya, mekanisme 

ini menyebabkan konsentrasi besi menurun dalam sirkulasi dan dengan 

demikian untuk ketersediaan terbatas besi dari sel erythroid. TNF-α dan 

interferon-γ menghambat  produksi erythropoietin  dalam ginjal.  TNF-α, 

interferon-γ,  dan interleukin  -1 langsung menghambat  diferensiasi  dan 

proliferasi  sel-sel  progenitor  erythroid.  Selain  itu,  terbatasnya 

ketersediaan  besi  dan  aktivitas  biologis  penurunan  erythropoietin 

menyebabkan  penghambatan  eritropoiesis  dan  pengembangan  anemia. 

Pada  umumnya  terdapat  gangguan  absorpsi  Fe  walaupun  ringan. 

Ambilan Fe oleh sel –sel usus dan pengikatan apoferitin intrasel masih 

normal  sehingga  dapat  diambil  kesimpulan  bahwa  defek  yang  terjadi 

pada anemia ini yaitu gangguan pembebasan Fe dari makrofag dan sel- 

sel hepar pada pasien (5).

Gambar 1: Patogenesis Anemia karena Penyakit Kronik (5)

Diagnosis

Karena anemia yang terjadi umumnya derajat  ringan, sering kali gejalanya 

tertutup oleh gejala penyakit dasarnya, karena kadar Hb yang terjadinya adalah 

sekitar 8-10 g/dL dan ini umumnya asimtomatik (6).  Temuan klinik pada anemia 

jenis ini  bergantung pada penyebabnya Semakin berat penyakitnya,  maka akan 

semakin  berat  anemia  yang  terjadi.  Meskipun  demikian  apabila  demam  atau 

debilitas  fisik  meningkat,  pengurangan  kapasitas  transpor  O2 jaringan  akan 

memperjelas gejala anemianya atau memperberat keluhan sebelumnya. 

Pada  pemeriksaan fisik  umumnya  hanya dijumpai  konjungtiva  yang pucat 

tanpa kelainan yang khas dari anemia jenis ini dan diagnosis biasanya tergantung 

dari hasil pemeriksaan laboratorium.

Diagnosis yang harus dilakukan pada suspek yang menderita penyakit kronik 

adalah mengkonfirmasi penurunan serum besi, penurunan TIBC, dan normal atau 

meningkatnya serum ferritin.

Hemoglobin jarang sampai dibawah 8 gram/dL. Hematokrit biasanya berkisar 

antara 25-30%  (pada pria normal 45-52%, pada wanita normal 37-48%), biasanya 

normositik atau kadang-kadang mikrositik (6). Apabila disertai dengan penurunan 

kadar besi dalam serum atau saturasi transferin, anemia akan berbentuk hipokrom 

mikrositik.  Kadar  feritin  dalam  serum  normal  atau  meningkat.  Leukosit  dan 

hitung jenisnya normal.  Nilai retikulosit absolut dalam batas normal atau sedikit 

meningkat.  Perubahan pada  leukosit  dan  trombosit  tidak  konsisten,  tergantung 

dari  penyakit  dasarnya.  Serum besi  biasanya  menurrun  pada  anemia  penyakit 

kronis. Keadaan ini timbul segera setelah onset suatu infeksi atau inflamasi dan 

mendahului  terjadinya  anemia.  Konsentrasi  protein  pengikat  Fe  (transferin) 

menurun menyebabkan saturasi Fe yang lebih tinggi daripada anemia defisiensi 

besi.  Proteksi saturasi  Fe ini  relatif  mungkin mencukupi dengan meningkatkan 

transfer Fe dari suatu persediaan yang kurang dari Fe dalam sirkulasi kepada sel 

eritroid imatur. Penurunan kadar transferin setelah suatu jejas terjadi lebih lambat 

daripada penurunan kadar Fe serum, disebabkan karena waktu paruh transferin 

lebih  lama  (8-12 hari)  dibandingkan  dengan Fe  (90  menit)  dan  karena  fungsi 

metabolik yang berbeda (5).

Pemeriksaan  sumsum  tulang  biasanya  normal,  kadang-kadang  ditemukan 

hipoplasia  eritropoeisis  dan  defek  dalam  hemoglobinisasi.  Yang  sangat 

karakteristik  adalah  berkurangnya sideroblas  dalam sumsum tulang,  sedangkan 

deposit besi dalam sistem retikuloendotelial (RES) normal atau bertambah (5).

Tata Laksana

Tidak  ada  pengobatan  khusus  untuk  anemia  jenis  ini,  sehingga  pengobatan 

ditujukan  kepada penyakit  kronik  penyebabnya.   Mengkonsumsi  tambahan  zat 

normal Anemia penyakit kronis 

TIBC 250-400 <200 

Persen saturasi 30 15 

Kandungan Fe di makrofag ++ +++ 

Feritin serum 20-200 150 

Reseptor tramsferin serum 8-28 8-28 

Fe plasma 70-90 30

besi  tidak  banyak  membantu.  Jika  anemia  menjadi  berat,  mungkin  diperlukan 

transfusi atau Erythropoietin (6)  . 

1. Transfusi 

Merupakan pilhan pada kasus-kasus yang disertai ganguan hemodinamik. 

Tranfusi diberikan jika kadar Hb < 8 mg/dl (6).

2. Eritropoietin 

Data menunjukkan bahwa pemberian eritropoeitin bermanfaat dan sudah 

disepakati untuk diberikan pada pasien anemi akibat kanker,gagal ginjal, 

myeloma multiple,  arthritis  rheumathoid dan pasien HIV.  Selain dapat 

menghindari transfusi beserta efek sampingnya, pemberian eritropoietin 

mempunyai beberapa keuntungan, yakni mempunyai efek anti inflamasi 

dengan cara menekan produksi TNF-α dan IFN-γ (5).

3. Preparat Besi 

Pemberian preparat besi pada anemia penyakit kronik masih terus dalam 

perdebatan.  Sebagian  pakar  masih  memberikan  preparat  besi  dengan 

alasan  besi  dapat  mencegah  pembentukan  TNF-α.  Alasan  lain,  pada 

penyakit  inflamasi  usus  dan  gagal  ginjal,  preparat  besi  terbukti  dapat 

meningkatkan kadar hemoglobin. Terlepas dari adanya pro dan kontra, 

sampai saat ini pemberian preparat besi masih belum direkomendasikan 

untuk diberikan pada anemia pada penyakit kronis.

Perlu  diingat bahwa  meskipun tingkat rendah  serum

besi, “body iron stores” tidak berkurang.  Dengan demikian,  terapi besi 

tidak memiliki manfaat.  Pada kenyataannya, studi menunjukkan bahwa 

terapi  besi dapat  membahayakan pada  peradangan  kronis dengan 

berkontribusi  terhadap disfungsi endotel dan kejadian  vaskular.  Satu-

satunya situasi di mana terapi besi harus digunakan untuk ACD adalah 

ketika kekurangan zat besi yang besar atau pasien yang menerima obat 

erythropoetin tetapi tidak mengalami perbaikan (6). 

Penutup               

Anemia  penyakit  kronis  merupakan  bentuk  anemia  derajat  ringan  sampai 

sedang  yang  terjadi  akibat  infeksi  kronis,  peradangan,  trauma  dan  penyakit 

neoplastik  yang  telah  berlangsung  1–2  bulan  dan  tidak  disertai  penyakit  hati, 

ginjal dan endokrin. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan anemia 

berat atau moderat. Sebagian besar disebabkan oleh inflamasi kronik, kanker dan 

penyakit hati.  Karena anemia yang terjadi umumnya derajat ringan dan sedang, 

sering kali gejalanya tertutup oleh gejala penyakit dasarnya, selain itu pengobatan 

yang  dilakukan  juga  berdasarkan  pengobatan  penyakit  dasarnya.  Dengan 

demikian mekanisme terjadinya anemia pada penyakit kronis merupakan hal yang 

harus dipahami oleh setiap dokter sebelum memberikan transfusi, preparat besi 

maupun eritropoietin.


     Anemia sering dijumpai pada pasien dengan infeksi atau inflamasi kronis maupun keganasan. 
Anemia ini biasanya  ringan atau sedang, disertai oleh rasa lemah dan penurunan berat badan 
dan disebut anemia pada penyakit kronis.1 Anemia ini sangat mirip dengan anemia defisiensi 
besi tetapi pada anemia ini terjadi sekuestrasi besi di dalam sistem RES sebab  inflamasi. Pada 
anemia  jenis  ini,  terjadi  sekuestrasi  besi  di  dalam makrofag.  Sekuestrasi  ini  berfungsi  untuk 
menghambat  pertumbuhan  mikroorganisme  dependen  besi  atau  untuk  memperkuat  aspek 
imunitas pejamu.2 
Anemia penyakit kronis merupakan bentuk anemia
derajat ringan sampai sedang yang terjadi akibat:
infeksi kronis, peradangan, trauma dan penyakit
neoplastik yang telah berlangsung 1–2 bulan dan
tidak disertai penyakit hati, ginjal dan endokrin. Jenis
anemia ini ditandai dengan kelainan metabolisme
besi, sehingga terjadi hipoferemia dan penumpukan
besi di makrofag. Secara garis besar patogenesis
anemia penyakit kronis dititikberatkan pada 3
abnormalitas utama: ketahanan hidup eritrosit yang
memendek akibat terjadinya lisis eritrosit lebih dini,
respon sumsum tulang sebab  respon eritropoetin
yang terganggu atau menurun, dan gangguan
metabolisme berupa gangguan reutilisasi besi.4
Anemia penyakit kronis sering bersamaan dengan
anemia defisiensi besi dan keduanya memberikan
gambaran penurunan besi serum. Oleh sebab  itu
penentuan parameter besi yang lain diperlukan untuk
membedakannya.5 Pemeriksaan rutin yang dilakukan
untuk menentukan defisiensi besi akan menemui
kesulitan bila berkaitan dengan anemia penyakit
kronis. Pemeriksaan khusus seperti pengecatan
sumsum tulang untuk menentukan cadangan besi
dengan pewarnaan Prussian Blue bersifat invasif, oleh
sebab  itu diperlukan metode untuk menentukan
parameter besi lain yang praktis dengan nilai
diagnostik yang tinggi guna membedakannya.
Penyakit kronis sering memicu  anemia, terutama pada penderita usia lanjut. 
Keadaan-keadaan seperti infeksi, peradangan dan kanker, menekan pembentukan sel darah 
merah di sumsum tulang. 
sebab  cadangan zat besi di dalam tulang tidak dapat digunakan oleh sel darah merah yang baru, 
maka anemia ini sering disebut anemia penggunaan ulang zat besi.
Anemia ini dikenal pula dengan nama sideropenic anemia with reticuloendothelial 
siderosis. Anemia pada penyakit kronik merupakan jenis anemia terbanyak kedua 
setelah anemia defisiensi yang dapat ditemukan pada orang dewasa di Amerika 
Serikat.
PENYEBAB
Pada semua penderita, infeksi (bahkan infeksi yang ringan) dan peradangan (misalnya artritis 
dan tendinitis) dapat menghambat pembentukan sel darah merah dalam sumsum tulang, sehingga 
jumlah sel darah merah berkurang. 
Tetapi keadaan tersebut baru akan menimbulkan anemia jika sifatnya berat atau berlangsung 
dalam waktu yang lama (kronik).
o Penyakit ini banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit infeksi seperti infeksi ginjal, paru 
(bronkiektasis, abses, empiema, dll).
o Inflamasi kronik, seperti artritis reumatoid
o Neoplasma seperti limfoma malignum, dan nekrosis jaringan.
Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan anemia berat atau moderat. 
Sebagian besar disebabkan oleh inflamasi kronik, kanker dan penyakit hati. Anemia 
pada gagal ginjal kronik memiliki  patofisiologi yang berbeda dan gejalanya lebih 
berat.
Yang mendasari patogenesis anemia pada penyakit kronik adalah survival sel darah 
merah yang menurun dan gagalnya sumsum tulang mengkompensasi kekurangan 
dengan meningkatkan produksi sel darah merah. Kegagalan peningkatan produksi 
sel darah merah sebagian besar disebabkan oleh sequestration besi pada sisitem 
retikuloendotelial. Penurunan eritropoietin jarang menjadi penyebab penurunan 
produksi eritrosit selain pada gagal ginjal. Semua proses diatas diduga sebab  
adanya perubahan sitokin-sitokin pada pasien yang menderita penyakit kronik.
Etiologi :
Blok penggunaan kembali besi pada eritropoiesis.
Survival eritrosit yang menurun.
Inhibisi langsung eritrosit.
Defisiensi eritropoietin.
(Hematologi Hoffman)
ada  beberapa diagnosa banding pada anemia sebab  penyakit kronis, di antaranya :
1. Penyakit hati kronis
Adanya gangguan produksi lipid memicu  bentukan sel target, makrositik, dan akantosit 
pada sel darah merah.  Bila terjadi kehilangan darah akibat perdarahan gastrointestinal, bisa 
terlihat hipokrom mikrositik. Sedangkan jika terjadi hipertensi portal dapat terlihat makrositik.
2. Keganasan
Ini terjadi bisa disebab kan infiltrasi sel ganas ke dalam sumsum tulang (myelophthisis), akibat 
dari terapi yang diberikan seperti kemoterapi dan radioterapi, adanya defisiensi nutrisi, 
perdarahan gastrointestinal, terjadinya anemia hemolitik, dan hipersplenisme.
 
3. Infeksi
Biasanya disebabkan oleh sebab  infeksi yang berlangsung lebih dari 1 bulan., di antaranya TB, 
endocarditis, osteomyelitis, dan abses. Tapi dapat juga pada kasus infeksi yang berlangsung 
cepat seperti kondisi sepsis.
 
4. Penyakit jaringan ikat
Di antaranya systemic lupus erythematosus (SLE) dan rheumatoid arthritis. Pada SLE juga bisa 
sekunder sebab  AIHA atau sebab  gagal ginjal akibat lupus nephritis.
 
5. Penyakit endokrin
Adrenal insufficiency, hiperparatiroid, hipertiroid, hipopituitarisme, dan hipotiroid.
GEJALA
sebab  anemia yang terjadi biasanya  derajat ringan dan sedang, sering kali gejalanya tertutup 
oleh  gejala  penyakit  dasarnya,  sebab   kadar  Hb  sekitar  7-11  g/dL  biasanya   asimtomatik. 
Meskipun  demikian  apabila  demam  atau  debilitas  fisik  meningkat,  pengurangan  kapasitas 
transpor O2 jaringan akan memperjelas gejala anemianya atau memperberat keluhan sebelumnya. 
Pada pemeriksaan fisik biasanya  hanya dijumpai konjungtiva yang pucat tanpa kelainan yang 
khas  dari  anemia  jenis  ini  dan  diagnosis  biasanya  tergantung  dari  hasil  pemeriksaan 
laboratorium.1
Pemeriksaan Laboratorium
                Anemia  biasanya   adalah  normokrom-normositer,  meskipun  banyak  pasien 
memiliki  gambaran hipokrom dengan MCHC <31 beberapa="" dan="" dengan="" dl="" fl.="" 
g="" mcv="" memiliki ="" mikrositer="" sel="" sup="">1,3
Nilai retikulosit absolut dalam batas normal atau sedikit meningkat. Perubahan pada leukosit dan 
trombosit tidak konsisten, tergantung dari penyakit dasarnya. Penurunan Fe serum (hipoferemia) 
merupakan kondisi sine qua non untuk diagnosis anemia penyakit kronis. Keadaan ini timbul 
segera setelah onset suatu infeksi atau inflamasi dan mendahului terjadinya anemia. Konsentrasi 
protein pengikat Fe (transferin) menurun memicu  saturasi Fe yang lebih tinggi dibandingkan  
anemia defisiensi besi. Proteksi saturasi Fe ini relatif mungkin mencukupi dengan meningkatkan 
transfer Fe dari suatu persediaan yang kurang dari Fe dalam sirkulasi kepada sel eritroid imatur. 
Penurunan kadar transferin setelah suatu jejas terjadi lebih lambat dibandingkan  penurunan kadar Fe 
serum, disebabkan sebab  waktu paruh transferin lebih lama (8-12 hari) dibandingkan dengan Fe 
(90 menit) dan sebab  fungsi metabolik yang berbeda.1
sebab  anemia jenis ini berkembang secara perlahan dan biasanya ringan, anemia ini biasanya 
tidak menimbulkan gejala. 
Kalaupun timbul gejala, biasanya merupakan akibat dari penyakit kroniknya, bukan sebab  
anemianya.
   sebab  anemia terjadi biasanya  derajat ringan dan sedang, sering kali 
gejalannya  tertututpoleh  gejala  penyakit  dasarnya,  sebab   kadar  Hb 
sekitar  7-11  gr/dl  biasanya   asimtomatik.  Meskipun  demikian  apabila 
demam atau debilitas fisik meningkat, pengurangan kapasitas tramsport 
O2  jaringan  akan  memperjelas  gejala  anemianya  atau  memperberat 
keluhan sebelumnya 
Gejala  dan  tanda-tanda
Temuan klinik pada anemia jenis ini bergantung pada penyebabnya. Diagnosis 
yang  harus  dilakukan  pada  suspek  yang  menderita  penyakit  kronik  adalah 
mengkonfirmasi  penurunan  serum  besi,  penurunan  TIBC,  dan  normal  atau 
meningkatnya  serum  feritin.  Selain  itu  juga  perlu  dilakukan  pemeriksaan 
penyerapan asam folat dan besi. sebab  pada penyakit kronik sering ditemukan 
gangguan penyerapan besi dan folat, dan hal ini diperparah dengan perdarahan 
saluran  pencernaan.  Pada  penderita  yang  ”cuci  darah”  biasanya  terjadi 
kekurangan  besi  dan  asam  folan  selama  cuci  darah  berlangsung.
Temuan  Laboratorium.
Hematokrit jarang kurang dari 60%. MCV biasanya normal atau menurun sedikit. 
Morfologi  sel  darah merah tidak bisa dijadikan untuk diagnosis dan retikulosit 
kadang  meningkat  dan  kadang  menurun.  Serum  besi  mungkin  tidak  teratur. 
Penurunan transferin sangat extrim, oleh sebab  itu sering terjadi salah diagnosis 
dengan anemia defisiensi besi. Perbedaan dengan anemia defisiensi besi adalah 
serum feritin yang normal atau meningkat.  Serum feritin yang kurang dari 30 
ug/L menunjukkan defisiensi besi.
   Pada pemeriksaan fisik biasanya  didapatkan konjungtiva yang pucat 
tanpa  kelainan  yang  khas  dari  anemia  jenis  ini  dan  diagnosisnya 
biasannya tergantung bdari hasil pemeriksaan laboratorium 
erat ringannya anemia berbanding lurus dengan aktivitas penyakit. Hematokrit biasanya berkisar 
antara 25-30%, biasanya normositik atau normokrom. Apabila disertai dengan penurunan kadar 
besi dalam serum atau saturasi transferin, anemia akan berbentuk hipokrom mikrositik. Kadar 
feritin dalam serum normal atau meningkat. Leukosit dan hitung jenisnya normal.
 
Pemeriksaan sumsum tulang biasanya normal, kadang-kadang ditemukan hipoplasia eritropoeisis 
dan defek dalam hemoglobinisasi. Yang sangat karakteristik adalah berkurangnya sideroblas 
Fe plasma  70-90  30 
TIBC 250-400 <200 
Persen saturasi 30 15 
Kandungan  Fe  di 
makrofag 
++ +++ 
Feritin serum 20-200 150 
Reseptor  tramsferin 
serum 
8-28 8-28 
        normal         Anemia penyakit kronis  
dalam sumsum tulang, sedangkan deposit besi dalam sistem retikuloendotelial (RES) normal 
atau bertambah.
 
Patofisiologi 
   Laporan/data penyakit tuberkulosis, abses paru, endokarditis bakteri subakut, osteomielitis dan 
infeksi  jamur  kronis  serta  HIV  membuktikan  bahwa  hampir  semua  infeksi  supuratif  kronis 
berkaitan  dengan  anemia.  Derajat  anemia  sebanding  dengan  berat  ringannya  gejala,  seperti 
demam,  penurunan  berat  badan  dan  debilitas  umum.  Untuk  terjadinya  anemia  memerlukan 
waktu  1-2  bulan  setelah  infeksi  terjadi  dan  menetap,  setelah  terjadi  keseimbangan  antara 
produksi dan penghancuran eritrosit dan Hb menjadi stabil.1
                Anemia  pada  inflamasi  kronis  secara  fungsional  sama seperti  pada  infeksi  kronis, 
tetapi lebih sulit sebab  terapi yang efektif lebih sedikit. Penyakit kolagen dan artritis reumatoid 
merupakan  penyebab  terbanyak.  Enteritis  regional,  kolitis  ulseratif  serta  sindrom  inflamasi 
lainnya juga dapat disertai anemia pada penyakit kronis.1
                Penyakit  lain  yang  sering  disertai  anemia  adalah  kanker,  walaupun  masih  dalam 
stadium dini dan asimtomatik, seperti pada sarkoma dan limfoma. Anemia ini biasanya disebut 
dengan anemia pada kanker.1
Pemendekan Masa Hidup Eritrosit
                Anemia  pada  penyakit  kronis  diduga merupakan  suatu  sindrom stres  hematologik, 
yang terjadi sebab  diproduksinya sitokin secara berlebihan. Sitokin yang berlebihan ini yang 
akan  memicu   sekuestrasi  makrofag.  Produksi  sitokin  yang  berlebihan  terjadi  sebab  
kerusakan jaringan akibat infeksi, inflamasi, atau kanker. Sindrom stres hematologik ini terdiri 
dari  peningkatan  destruksi  eritrosit  di  limpa,  peningkatan  ambilan  besi  oleh  makrofag  yang 
tersekuestrasi, penurunanan produksi eritropoietin di ginjal, dan penurunan respon eritropoiesis 
di sumsum tulang. Selain memicu  sekuestrasi makrofag, sitokin yang berlebihan juga akan 
memicu  peningkatan aktivitas  fagositosis  makrofag dan sebagai bagian dari  filter  limpa 
menjadi  kurang  toleran  terhadap  kerusakan  minor  eritrosit.  Pada  keadaan  malnutrisi,  terjadi 
penurunan  transformasi  T4 menjadi  T3 yang  mengakibatkan  terjadinya  hipotiroid  fungsional. 
Hipotiroid  fungsional  memicu   penurunan  kebutuhan  terhadap  hemoglobin  yang 
mengangkut besi sehingga produksi eritropoietin berkurang.1
b.      Gangguan Produksi Eritrosit
1.    Gangguan metabolisme besi.
          Pada  anemia  jenis  ini  cadangan  besi  normal  tetapi  kadar  besi  rendah.  Jadi,  anemia 
disebabkan oleh penurunan kemampuan Fe dalam sintesis Hb. Pada biasanya  ada  gangguan 
absorpsi Fe walaupun ringan. Ambilan Fe oleh sel –sel usus dan pengikatan apoferitin intrasel 
masih normal  sehingga dapat  diambil  kesimpulan bahwa defek yang terjadi  pada anemia ini 
yaitu gangguan pembebasan Fe dari makrofag dan sel- sel hepar pada pasien.1 
2.    Gangguan fungsi sumsum tulang.
          Yaitu respon eritropoietin terhadap anemia yang inadekuat. Hal ini terkait dengan sitokin- 
sitokin yang dikeluarkan oleh sel yang cedera yaitu IL-1, TNF-α, dan IFN-gamma. Kadar IFN- 
gamma berhubungan langsung dengan beratnya anemia. TNF –α yang dihasilkan oleh makrofag 
aktif  akan menekan eritropoiesis  pada pembentukan BFU-E dan CFU-E. IL-1 akan menekan 
CFU-E pada kultur sumsum tulang manusia.1
a. Pemendekan massa hidup eritrosit 
Diduga anaemia yang terjadi merupakan bagian dari stress hematologi, dimana terjadi 
produksi sitokin yang berlebihan sebab  kerusakan jaringan akibat infeksi, inflamasi atau 
kanker. Sitokin tersebut memicu  sekuestrasi makrofag sehingga mengikat lebih 
banyak zat besi , meningkatkan detruksi eritrosit di limpa, menekan produksi eritropoietin 
di ginjal, serta memicu  perangsangan yang inadekuat pada eritropoiesis di sumsum 
tulang 
b. Penghancuran eritrosit 
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa masa hidup eritrosit pada sekitar 20-30% pasien. 
Defek ini terjadi di ekstrakorpuskular, sebab  bila eritrosit pasien ditransfusikan ke resipien 
normal , maka dapat hidup normal. Aktivasi makrofag oleh sitokin memicu  
peningkatan  daya fagosistosis makrofag  dan sebagai bagian dari filter limpa  kurang 
toleran terhadap perubahan ataukerusakan minor  dari eritrosit. 
c.  Produksi Eritrosit 
Ganguan metabolisme zat besi. Kadar besi yang rendah meskipun cadangan besi cukup 
menujjukkan adanya ganguan metabolism zat besi pada penyakit kronis. Hal ini 
memberikan konsep bahwa anemia disebabkan sebab  penurunan kemampuan Fe dalam 
sintesis Hb. Penelitian akhir menunjjukkan parameter Fe yang tergangu mungkin lebih  
penting  untukdiagnosis dibandingkan  pathogenesis anemia tersebut 
DIAGNOSA
Pemeriksaan laboratorium bisa menentukan bahwa penyebab dari anemia adalah penyakit 
kronik, tetapi hal ini tidak dapat memperkuat diagnosis. 
sebab  itu yang pertama kali dilakukan adalah menyingkirkan penyebab anemia lainnya, seperti 
perdarahan hebat atau kekurangan zat besi. 
Semakin berat penyakitnya, maka akan semakin berat anemia yang terjadi; tetapi anemia sebab  
penyakit kronik jarang yang menjadi sangat berat: 
- Hematokrit (persentase sel darah merah dalam darah) jarang sampai dibawah 25% (pada pria 
normal 45-52%, pada wanita normal 37-48%) 
- Hemoglobin (jumlah protein pengangkut oksigen dalam sel darah merah) jarang sampai 
dibawah 8 gram/dL (normal 13-18 gram/dL).
       meskipun banyak pasien dengan infeksi kronis ,inflamasi dan keganasan 
menderita anemia ,anemia tersebut dikatakan anemia penyakit kronis jika 
anemiannya  sedang.  Selularitas  sumsum  tulang  normal  atau  meningkat 
serta feritin serum yang meningkat
    beberapa penyebaba anemia berikut ini merupaka diagnosis banding atau 
mengaburkan diagnostic anemia pada penyakit kronis 
1. Anemia delusional
2. Thalasemia minor 
3. Perdarahan kronis 
4. Ganguan ginjal 
5. Metastasis pada sumsusm tulang 
6. Drug induce hemolisis 
iagnosis dan Diagnosis Banding
                Banyak pasien dengan infeksi kronik, inflamasi, dan keganasan mengalami anemia, 
tetapi  anemia  yang terjadi  pada  pasien  tersebut  dapat  disebut  sebagai  anemia  pada  penyakit 
kronis  jika  memenuhi  ciri-  ciri  sebagai  berikut:  anemia  sedang,  selularitas  sumsum  tulang 
normal,  kadar  Fe  serum dan  TIBC rendah,  kadar  Fe  dalam  makrofag  yang  ada   dalam 
sumsum tulang normal atau meningkat, serta feritin serum yang meningkat.1
                Beberapa  penyebab  anemia  berikut  ini  merupakan  diagnosis  banding  atau 
mengaburkan diagnosis anemia pada penyakit kronis: anemia dilusional,  drug-induced marrow 
suppression  atau drug induced hemolysis, perdarahan kronis, thalasemia minor, gangguan ginjal, 
metastasis pada sumsum tulang.1
PENGOBATAN
Tidak ada pengobatan khusus untuk anemia jenis ini, sehingga pengobatan ditujukan kepada 
penyakit kronik penyebabnya. 
Mengkonsumsi tambahan zat besi tidak banyak membantu. 
Jika anemia menjadi berat, mungkin diperlukan transfusi atau Erythropoietin, (hormon yang 
merangsang pembentukan sel darah merah di sumsum tulang).
Terapi  utama  pada  anemia  penyakit  kronis  adalah  mengobati  penyakit 
dasarnya. ada  beberapa pilihan utuk mengobati anemia jenis ini 
1. Transfusi 
   Merupakan pilhan pada kasus-kasus yang disertai ganguan hemodinamik. Tidak ada 
batasan yang pasti pada kadar berpa kita harus member transfusi 
2. Eritropoietin 
   Data menunjjukkan bahwa pemberian eritropoeitin bermanfaat dan sudah disepakati 
untuk diberikan pada pasien anemi akibat kanker,gagal ginjal, myeloma multiple, arthritis 
rheumathoid  dan  pasien  HIV.  Selain  dapat  menghindari  transfusi  beserta  efek 
sampingnya , pemberian eritropoietin memiliki  beberapa keuntungan yaitu memiliki  
efek anti inflamasi dengan cara menekan produksi TNF-α dan interferon ¥
PENCEGAHAN
Dengan mengobati penyakit kroniknya, maka bisa dicegah terjadinya anemia. 
Penyakit Crohn sulit diobati, sehingga penderitanya bisa mengalami anemia yang hilang timbul, 
tergantung keadaan penderita.
     Terapi utama pada anemia penyakit  kronis adalah mengobati  penyakit  dasarnya.  ada  
beberapa pilihan dalam mengobati anemia jenis ini, antara lain:1
a.       Transfusi. Merupakan pilihan pada kasus-kasus yang disertai gangguan hemodinamik. Tidak ada 
batasan  yang  pasti  pada  kadar  hemoglobin  berapa  kita  harus  memberi  transfusi.  Beberapa 
literatur disebutkan bahwa pasien anemi penyakit kronik yang terkena infark miokard, transfusi 
dapat menurunkan angka kematian secara bermakna. Demikian juga pada pasien anemia akibat 
kanker, sebaiknya kadar Hb dipertahankan 10-11 g/dL.
b.      Preparat  Besi.  Pemberian  preparat  besi  pada  anemia  penyakit  kronik  masih  terus  dalam 
perdebatan. Sebagian pakar masih memberikan preparat besi dengan alasan besi dapat mencegah 
pembentukan TNF-α. Alasan lain, pada penyakit inflamasi usus dan gagal ginjal, preparat besi 
terbukti dapat meningkatkan kadar hemoglobin. Terlepas dari adanya pro dan kontra, sampai saat 
ini pemberian preparat besi masih belum direkomendasikan untuk diberikan pada anemia pada 
penyakit kronis.
c.       Eritropoietin. studi  menunjukkan bahwa pemberian eritropoietin bermanfaat dan sudah 
disepakati untuk diberikan pada pasien anemia akibat kanker, gagal ginjal, mieloma multipel, 
artritis reumatoid dan pasien HIV. Selain dapat menghindari transfusi beserta efek sampingnya, 
pemberian eritropoietin memiliki  beberapa keuntungan, yakni memiliki  efek anti inflamasi 
dengan cara menekan produksi TNF-α dan IFN-γ. Dilain pihak, pemberian eritropoietin akan 
menambah proliferasi sel-sel kanker ginjal serta meningkatkan rekurensi pada kanker kepala dan 
leher.
                Saat ini ada  3 jenis eritropoietin, yakni eritropoietin alfa, beta dan darbopoietin. 
Masing-masing  berbeda  struktur  kimiawi,  afinitas  terhadap  reseptor  dan  waktu  paruhnya 
sehingga memungkinkan kita memilih mana yang lebih tepat untuk suatu kasus.
                Dengan demikian mekanisme terjadinya anemia pada penyakit kronis merupakan hal 
yang harus dipahami oleh setiap dokter sebelum memberikan transfusi, preparat besi maupun 
eritropoietin.