Tampilkan postingan dengan label Penyakit dalam palmologi 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit dalam palmologi 6. Tampilkan semua postingan

Penyakit dalam palmologi 6

 













renal. Pengelolaan kejadian ini 

hanya dengan cara pencegahan, 12 jam seelum tindakan di lakukan hidrasi dengan salin. 

 

NEKROSIS KORTIKAL AKUT 

 Pada keadaan ini terjadi nekrosis pada daerah korteks ginjal yang ekstensif dan gagal 

ginjal tak dapat pulih lagi. 

Terjadinya NKA tidak ada hubungannya dengan lama beratnya renjatan akan tetapi lebih 

berkaitan dengan tipe renjatannya. Prediktor NKA antara lain yaitu  endotoksinemia, koagulasi 

intravaskular diseminata (KID). Anak-anak lebih sering kemungkinannya di banding dewasa, 

seperti pad gastrointestinal berat, atau dengan peritonitis, sepsis. 

 

GAGAL GINJAL AKUT PASCARENAL 

 Keadaan pascarenal yaitu  suatu keadaa dimana pembentukan urin cukup, namun 

alirannya dalam saluran kemih terhambat.obstruksi aliran ini akan mengakibatkan kegagalan 

filtrasi glomerulus dan transfor tubulus sehingga dapat mengakibatkan kerusakan yang 

permanen, tergantung berat dan lamanya obstruksi. Begatu terjadi hambatan aliran urin, terjadi 

kenaikan yang segara tekanan hidraulik tubulus proksimal, yang kemmudian di kompensasi 

dengan vasodilatasi arteriol eferen ginjal yang di mediasi oleh produksi prostaglandin; 

prostaksiklin dan prostaglandin E2. 

 

DIAGNOSIS GAGAL GINJAL AKUT 


 Diagnosis GGA pada tahap dini hanya dapat di tegakkan jika  ada rasa curiga terhadap 

adanya GGA.hanya sedikit psien yang dapat menjelaskan adanyakelainan pada jumlan urin, 

warna keruh atau tidak, dsb. 

 Untuk mendiagnosis GGA di perlukan pemeriksaan yang berulang-ulang fungsi yaitu 

kadar ureum, kreatinin atau laju filtrasi glomerulus. 

 

DIAGNOSIS pemicu  GGA  

Anamnesis 

 Pada GGA perlu di perhatikan betul banyaknya asupan cairan (input), kehilangan cairan 

(output) melalui: urin, muntah, diare, keringat yang berlebih,dll, serta pencatatan berat badan 

pasien. Perlu di perhatikan kemungkinan kehilangan cairan ke ekstravaskular (redistribusi) 

seperti pada peritonitis, asetis, ileus paralitik, edema anasarka, trauma luas (kerusakan otot atau 

crush syndrome). Riwayat penyakit jantung, gangguan hemodinamik, adanya penyakit sirosis 

hati, hipoalbuminemia, alergi yang mengakibatkan penurunan volume efektif perlu selaludi 

tanyakan. 

 

Pemeriksaan Fisis 

 Ada 3 hal penting yang harus di dapatkan pada pemeriksaan fisis pasien dengan GGA. 

1. penentuan status volume sirkulasi 

2. apakah ada tanda-tanda obstruksi saluran kemih 

3. adakah tanda-tanda penyakit sistemik yang mungkin memicu  gagal ginjal 

Tabel 2. evaluasi klinis intravaskular 

Tanda Klinis Deplesi Cairan 

1. tekanan vena jugular rendah 

2. hipotensi; tekanan darah turun lebih dari 10 mmHg pada perubahan posisi (baring-

duduk) 

3. vena perifer kolaps dan perifer teraba dingin (hidung, jari-jari tangan, kaki) 

Tanda Klinis Kelebihan Cairan  

1. tekanan vena jugularis tinggi 

2. terdengar suara gallop 

3. hipertensi, edema perifer, pembengkakan hati, ronki di paru 

  Pada pemeriksaan fisis perlu di lakukan palpasi, perkusidaerah suprasifisis mencari 

adanya pembesaran kandung kemih, yang kemudian konfirmasi dengan pemasangan kateter. 

 

 

 

 

 

Analisis Urin 

 Berat jenis urin yang tinggi lebih dari 1.020 menunjukkan prarenal, GN akut awal, 

sindrom hepatorenal, dan keadaan lain yang menurunkan perfusi ginjal. Berat jenis isosmolal 

(1.010) ada  pada NTA,  pascarenal dan penyakit intertisial (tubulointertisial). Pada keadaan 

ini BJ urin dapat meningkat kalaudalam urin ada  banyak protein, glukosa, manitol, atau 

kontras radiologik. 

 Gambaran yangkhas pada NTA yaitu  urin yang berwarna kecoklatan dengan silinder 

mengandung sel tubulus, dan silinder yang besar (coarsely granulat broad casts). 

 Adanya kristal urat pada GGA menunjukkan adanya nefropati asam urat yang sering di 

dapat pada sindrom lisis tumor setelah pengobatan leukimia, limfoma. Kristal oksalat terlihat 

pada GGA akibat etilen glikol yang umumnya di akibatkan percobaan bunuh diri. 

 

Penentuan Indikator Urin 

 Pada GGA prarenal aliran urin lambat sehingga lebih banyak ureum yang di absorpsihal 

ini memicu  perbandingan ureum/kretinin dalam darah meningkat. 

 

Pemeriksaan Pencitraan 

 Pada GGA pemeriksaan USG menjadi pilihan utama untuk memperlihatkan 

anatomiginjal, dapat di peroleh informasi mengenai besar ginjal, ada tau tidaknya batu ginjal dan 

ada atau tidaknya hidronefrosis. Pemeriksaan USG juga dapat menentukan apakah gangguan 

fungi ginjal ini sudah terjadi lama (GGK), yaitu jika  di temukan gambaran ginjal yang sudah 

kecil. 

 

Pemeriksaan Biopsi Ginjal dan Serologi 


 Indikasi yang memerlukan biopsi yaitu  jika  pemicu  GGA tak jelas atau 

berlangsung lama, atau ada  tanda glomerulonefrosis atau nefritis intertisisl. 

 

PENGELOLAAN GGA 

 Prinsip pengelolaannya di mulai dengan mengidentifikasi pasien yang berisiko GGA 

(sebagai tindak pencegahan), mengatasi penyakit pemicu  GGA, mempertahankan hemoestatis; 

mempertahankan euvolemia, keseimbangan cairandan elektrolit, mencegah komplikasimetabolik 

seperti hiperkalemia, asidosis, hiperfosfatemia, mengevaluasi status nutrisi, kemudian mencegah 

infeksi dan selalu mengevaluasi obat –obat yang di pakai.  

 

Pengelolaan medis GGA 

 Pada GGA ada  2 masalah yang sering di dapatkan yang mengancam jiwa yaitu 

edema paru dan hiperkalemia. 

 

Edema paru 

 Keadaan ini terjadi akibat ginjal tak dapat mensekresi urin, garam dalam jumlah yang 

cukup. Posisi pasien setengah duduk agar cairan dalam paru dapat didistribusi ke vaskular 

sistemik, di pasang oksigen, dan di berikan diuretik kuat (furosemid inj.). 

 

Hiperkalemia  

 Mula-mula di berikan kalsium intravena (Ca glukonat) 10% sebanyak 10 ml yang dapat 

di ulangi sampai terjadi perubahan gelombang T. Belum jelas cara kerjanya, kadar kalium tak 

berubah, kerja obat ini pada jatung berfungsi untuk menstabilkan membran. Pengaruh obat ini 

hanya sekitar 20-60 menit.  

 Pemberian infus glukosa dan insulin (50 ml glukosa 50% dengan 10 U insulin kerja 

cepat) selama 15 menit dapat menurunkan kalium 1-2mEq/L dalam waktu 30-60 menit. Insulin 

bekerja dengan menstimulasi pompa N-K-ATPase pada otot skelet dan jantung, hati dan lemak, 

memasukkan kalium kedalam sel. Glukosa di tambahkan guna mencegah hipoglikemia. 

 Obat golongan agonis beta seperti salbutamol intravena (0,5mg dalam 15 menit) atau 

inhalasi nebuliser (10 atau 20mg) dapat menurunkan 1mEq/L. Obat ini bekerja dengan 

mengaktivasi pompa Na-K-ATPase. Pemberian sodium bikarbonat walaupun dapat menurukan 


kalium tidak begitu di anjurkan oleh sebab  menambah jumlah natrium, dapat menimbulkan 

iritasi, menurunkan kadar kalsium sehingga dapat memicu kejang. Tetapi bermanfaatapbila ada 

asidosis atau hipotensi.  

 

Pemberian diuretik 

 Pada GGA sering di berikan diuretik golongan loop yang sering bermanfaat pada keadaan 

tertentu. Pemberian diuretik furosemid mencegah reabsorpsi Na sehingga mengurangi 

metabolisme sel tubulus, selain itu juga di harapkan aliran urin dapat membersihkan endapan, 

silinder sehingga menghasilkan obstruksi, selain itu furosemid dapat mengurangi masa oliguri. 

 Dosis yang di berikan amat bervariasi di mulai dengan dosis konvensional 40 mg 

intravena, kemudian jika  tidak ada respons kenaikan bertahap dengan dosis tinggi 200 mg 

setiap jam, selanjutnya infus 10-40 mg/jam. Pada tahap lebih lanjut jika  belum ada respons 

dapat di berikan furosemid dalam albumin yang di berikan secara intravena selama 30 menit 

dengan dosis yang sama atau bersama dengan HCT. 

 

Nutrisi  

 Pada GGA kebutuhan nutrisi di sesuaikan dengan keadaan proses kataboliknya. 

 GGA memicu  abnormalitas metabolisme yag amat kompleks, tidak hanya mengatur 

air, asam-basa, elektrolit, tetapi juga asam amino/protein, karbohidrat, dan lemak. 

Tabel 3. klasifikasi pasien dan kebutuhan nutrisi pasien dengan GGA 

Tahapan Katabolisme 

 Ringan  Sedang  Berat  

Keadaan klinis  Toksik o.k. obat  Pembedahan + 

infeksi  

Injuri berat/ Sepsis  

Mortalitas  20% 60% >80% 

Dialisis/hemofiltrasi  Jarang  jika  perlu  Sering  

Pemberian makan  Oral  Enteral/ parenteral  Enteral/ parenteral  

Rekomendasi     

Energi 

(kcal/kgBB/h) 

25 25-30 25-35 

Substrat energi  Glukosa  Glukosa + Lemak Glukosa + Lemak  

    Glukosa g/kg 

     Lemak g/kg  

3-5 

0,5-1 

3-5 

0,8-1,5 

3-5 (maks 7) 

Asam amino/ 

protein  

0,6-0,8 

EAA (+NEAA) 

0,8-1,2 

EAA + NEAA 

1,0-1,5 

EAA + NEAA 

Nutrien oral/ enteral  Makanan  Formula  Formula  

Parenteral   Glukosa  

50-70% 

Glukosa  

50-70% 

  + emulsi lemak 10-20% 

 EAA + NEAA (basa atau khusus untuk ginjal) + multivitamin + 

multitrace element  

 

Dialisis atau Pengobatan Penggamti Ginjal 

 Indikasi yang mutlak untuk dialisis yaitu  ada nya sindrom uremia dan ada nya 

kegawatan yang mengancam jiwa yaitu hipervolemia (edema paru), hiperkalemia, atau asidosis 

berat yang resisten terhadap pengobatan konservatif. 

 Pengobatan pengganti ginjal secara kontinyu dengan CAVH (continous arterivenous 

hemofiltration) yang tidak memerlukan mesin pompa sederhana. CAVH dan CVVH berdasarkan 

prinsip pengeluaran cairan bersama solutnya melalui membran semipermeabel atau hemofilter 

oleh sebab  perbedaan tekanan (convective clearance). 

 

 

• GANGGUAN HIPOTALAMUS • 

 

SINDROM HIPOPITUITARI 

 

Panhipopituitarisme 

• Etiologi : 

Primer : pembedahan, radiasi, tumor (primer atau metastasis), infeksi, infiltrasi (sarkoidosis, 

hemokromatosis, autoimun, iskemia (termasuk sindrom Sheehan), aneurisma 

karotis, trombosis sinus kavemosus, trauma. 


Sekunder (disfungsi hipotalamus atau gangguan pada tangkai hipotalamus) : tumor 

(termasuk kraniofaringioma), infeksi, infiltrasi, radiasi, pembedahan, trauma. 

• Manifestasi klinis : 

Kelemahan, mudah merasa fatigue, disfungsi seksual, kerontokan rambut ketiak dan pubis, 

hipotensi, ± perubahan lapangan pandang dan sakit kepala (jika  disebabkan oleh tumor 

pituitari non fungsional yang besar). 

• Pemeriksaan diagnostik : 

Hormon kelenjar target rendag + hormon tropik normal atau rendah 

↓ ACTH : insufisiensi adrenal (lihat *Gangguan Adrenal*) 

↓ TSH : hipotiroidisme sentralis (lihat *Gangguan tiroid*) 

↓ PRL : tidak mampu menyusui 

(cat : dengan hipopituitarisme hipotalamik à ↓ faktor penghambat prolaktin (dopamin) 

à ↑ PRL) 

↓ GH : ? risiko osteoporosis, ? kardiomiopati; didiagnosis dengan kegagalan ↑ GH dengan 

rangsangan yang sesuai (cont : hipoglikemia) 

↓ FSH & LH 

• Manifestasi klinis : ↓ libido, impotensi, amenore, oligomenore, infertilitas 

• Pemeriksaan fisik : kerontokan rambut ketiak, pubis dan tubuh. 

• Pemeriksaan diagnostik : ↓ testosteron atau estradiol 

• Penatalaksanaan : pergantian testosteron atau estrogen vs. koreksi pemicu  yang 

mendasarinya. 

↓ ADH (penyakit pada hipotalamus atau tangkai hipotalamus) : diabetes insipidus. 

• Manifestasi klinis : poliuria berat, hipernatremia ringan (kecuali ↓ akses terhadap H2O à 

hipernatremia berat) 

• Pemeriksaan diagnostik : lihat *Gangguan Homeostatis Natrium* 

 

SINDROM HIPERPITUTTARI 

 

Tumor Pituitari 

• Patofisiologi : 


Adenoma à kelebihan 1 (atau lebih) hormon trofik (jika  tumor bersifat fungsional, 

namun 30-40 %-nya bukan) dan berpotensi terjadi defisiensi pada hormon-hormon trofik 

lainnya sebab  kompresi oleh makroadenoma. 

• Manifestasi klinis : 

Sindrom sebab  sekresi hormon yang berlebihan (lihat di bawah) 

Konsekuensi anatomik : sakit kepala, perubahan penglihatan, diplopia, neuropati kranialis. 

• Pemeriksaan lanjut : 

MRI, kadar hormon 

 

Penyakit Cushing (↑ ACTH; 10-15 % adenoma; lihat *Gangguan Adrenal*) 

Hipertirodisme sentralis (↑ TSH; sangat jarang, lihat *Gangguan Tiroid) 

Hiperprolaktinemia (↑ PRL; 50 % adenoma) 

• Fisiologi : PRL menginduksi laktasi dan menghambat GnRH à ↓ FSH & LH 

• Manifestasi klinis : amenore, galaktore, infertilitas, ↓ libido, impotensi. 

• Pemeriksaan diagnostik : ↑ PRL (pada kehamilan, hipotiroidisme, antipsikotik, gagal ginjal, 

dan sirosis); 

MRI untuk mengevaluasi tumor. 

• Penatalaksanaan : (jika  simtomatik atau makroadenoma) 

Medis : bromokriptin (angka keberhasilan 70-100 %), kabergolin (ditoleransi lebih baik). 

Bedah : pembedahan transfenoidal (jika  perkembangan tumor cepat atau terapi medis 

gagal) 

Radiasi : jika  baik terapi medis maupun bedah telah gagal 

 

Akromegali (↑ GH; 10% adenoma) 

• Fisiologi : merangsang sekresi faktor pertumbuhan serupa-insulin 1 (IGF-1) 

• Manifestasi klinis : ↑ jaringan lunak, artralgia, pembesaran mandibula, sakit kepala, carpal 

tunnel syndrome, makroglosia, suara parau, amenore, impotensi, diabetes melitus, 

kardiomiopati, polip pada kolon. 

• Pemeriksaan diagnostik : pemeriksaan kadar GH secara acak tidak berguna sebab  bersifat 

pulsatif ↑ somatomedin C (IGF-1); ± ↑ PRL, uji toleransi glukosa oral à GH tidak 

tersupresi. 

MRI untuk mengevaluasi tumor. 

• Penatalaksanaan : pembedahan, oktreotid (sediaan kerja singkat dan lama), agonis dopamin, 

radiasi. 

• Prognosis : ↑ mortalitas tanpa pengobatan. 

 

 

 

 

 

 

● GANGGUAN TIROID ● 

 

Pemeriksaan Diagnostik pada Gangguan Tiroid 

Pemeriksaan Keterangan 

Thyroid stimulating 

hormone (TSH) 

Uji yang paling sensitif untuk mendeteksi hipo dan 

hipertiroidisme (kecuali jika  pemicu nya sekunder) 

Imunoasai T, dan T Konsentrasi serum total (dipengaruhi oleh konsentrasi TBG) 

Thyroxine binding 

globulin (TBG) 

↑ TBG (sehingga ↑ T4); estrogen, OCP, kehamilan, hepatitis 

akut 

↓ TBG (sehingga ↓ T4); androgen, glukokortikoid, sindrom 

nefrotik, sirosis, akromegali, fenitoin 

T3 resin uptake (T3RU) Pengukuran tidak langsung terhadap jumlah TBG 

Serum pasien (mengandung TBG) + T3 berlabel + hormon 

tiroid yang mengikat resin 

Jumlah T3 bebas berlabel yang mengikat resin tersebut (cont 

: ambilan resin) yaitu  perbandingan terbalik dengan jumlah 

TBG serum pasien. 

↑ T3RU à ↓ TBG 

↓ T3RU à ↑ TBG 

Indeks tiroksin bebas (T4 x T3RU)/100 

Imunoasai T4 bebas T4 bebas, tidak dipengaruhi oleh TBG 

Reverse T3 ↑ pada sick euthyroid syndrome (namun tidak pada pasien 

pengidap AIDS) 

Antibodi tiroid Anti-tiroglobulin & anti-mikrosomal (anti TPQ) à penyakit 

Hashimoto 

Tiroid yang menstimulasi Ig (TSI, Ab reseptor anti-TSH) à 

penyakit Graves 

Tiroglobulin ↑ pada cedera atau peradangan tiroid, dan karsinoma tiroid. 

Tanda yang berguna dari rekurensi pada karsinoma tiroid 

(papilaris atau folikular) 

 

Radioactive Iodine 

uptake (TAIU) scan 

Berguna untuk mendiagnosis banding pemicu  dari 

hipertiroidisme 

↑ ambilan (uptake) 

homogen = penyakit Graves 

heterogen = goiter multinodular 

satu tempat dengan penekanan sisa kelenjar = nodul 

panas 

tanpa ambilan = rasa nyeri subakut atau tiroiditis tenang, 

hormon tiroid eksogen, struma ovani, pembebanan yodium 

yang baru saja diberikan, atau obat-obatan antitiroid. 

 

Gambar 1. Pendekatan terhadap gangguan tiroid 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

menurun 

TSH 

meningkat 

T4 bebas (indeks atau imunoasai) T4 bebas (indeks atau imunoasai) 

menurun normal meningkat 

Hipotiroid 

sekunder 

Tirotoksikosis 

subklinis 

Tirotoksikosis  Hipotiroid 

primer 

Hipotiroid 

subklinis 

Hipertiroid 

pituitari 

(tumor yang 

menskresi 

TSH)  RAIU 

menurun normal meningkat 


 

 

 

 

HIPOTIROIDISME 

 

Etiologi 

• Primer 

Goiter : Tiroiditis Hashimoto, fase penyembuhan setelah tiroiditis, defisiensi yodium 

Non-goiter : destruksi pembedahan, kondisi setelah pemberian yodium radioaktif atau radiasi 

eksternal, agenesis, amiodaron 

• Sekunder : kegagalan hipotalamus (↓ TRH, TSH yang berubah-ubah, ↓ T4 bebas) atau 

kegagalan pituitari (↓ TSH, ↓ T4 bebas) 

 

Tiroiditis Hashimoto 

• Destruksi autoimun dengan infiltrasi limfositik yang tidak sempurna 

• Biasanya terlihat pada perempuan, usia 20-60 tahun. Mungkin merupakan bagian dari 

sindrom autoimun poliglandular tipe II (hipotiroidisme, penyakit Addison, diabetes melitus); 

juga mungkin dihubungkan dengan ↑ insiden sindrom Sjögren, anemia pernisiosa, dan sirosis 

biliaris primer. 

• Antibodi anti-tiroglobulin dan anti-mikrosom ⊕ 

 

Manifestasi Klinis 

• Dini : kelemahan, fatigue, artralgia, mialgia, sakit kepala, depresi, intoleransi dingin, berat 

badan bertambah, konstipasi, menoragi, kulit kering, rambut kasar yang rapuh, kuku rapuh, 

carpal tunnel syndrome, hiporefleksi (delayed DTRs, refleks “hung up”), hipertensi diastolik 

difus fokal tidak ada 

Penyakit 

graves 

Adenoma 

fungsional 

Tiroglobulin serum 

rendah tinggi 

Tirotoksikosis  

factitia 

pembebanan 

yodium 

(Iodine load) 

Tiroditis 

• Lambat : bicara lambat, parau, hilangnya 1/3 luar alis mata, miksedema (edema non-

pitting), edema periorbital, bradikardi, efusi pada pleura, perikardium atau ruang peritoneal 

• Koma miksedema : hipotermi, hipotensi, hipoventilasi 

Pemeriksaan diagnostik 

• ↓ Indeks tiroksin bebas (& FT4); ↑ TSH pada hipotirodisme primer, antibodi antitiroid pada 

tiroiditis Hashimoto ⊕ 

• Hiponatremia, hipoglikemia, anemia; ↑ kolesterol, uji fungsi hepar, dan CPK 

 

Penatalaksanaan 

• Penggantian levotiroksin (1,5-1,7 µg/kg/hari), periksa kembali TSH tiap 4-6 minggu sampai 

pasien eutiroid 

 

HIPERTIROIDISME 

 

Etiologi 

• Penyakit Graves 

• Tiroiditis : subakut (granulomatosa atau de Quervain, nyeri), kronis (tanpa nyeri), atau pasca 

melahirkan 

Tirotoksikosis sementara (bocornya hormon dari kelenjar) à hipotiroidisme sementara à 

normal 

• Adenoma Toksik (goiter soliter atau multinodular) atau, lebih jarang, karsinoma tiroid 

fungsional  

• Tumor yang mensekresi TSH dari pituitari (sangat jarang) 

• Lain-lain : amiodaron, penyakit yang terinduksi yodium (penyakit Jodbasedaw, terlihat 

adanya jaringan lunak tiroid otonom + asupan yodium), tirotoksikosis factitia, struma ovarii 

(3 % tumor dermoid ovarium dan teratoma) 

 

Penyakit Graves 

• Biasanya terlihat pada perempuan, usia 20-40 tahun 

• Manifestasi klinis sebagai tambahan seperti pada hipertiroidisme, difus, goiter yang tidak 

nyeri 

Oftalmopati (muncul pada 20-40 % dan lebih dari 90 % jika diperiksa); lambatnya kelopak 

mata menutup (lid lag), retraksi kelopak mata, proptosis, konjungtivitis, kelemahan otot 

ekstraokular 

Miksedema pretibial (3 %) : dermopati infiltratif 

‘bruit’ tiroid 

• Antibodi tiroid ⊕ : TSI (⊕ pada 80 %), anti-mikrosomal, anti-tiroglobulin, ANA 

 

Manifestasi Klinis 

• Gelisah, intoleransi panas, penurunan berat badan, ↑ frekuensi gerakan usus, ↑ keringat, 

palpitasi, ↑ HR, fibrilasi atrium, iregularitas menstruasi, kulit hangat lembab, rambut halus, 

hiper-refleksi, osteoporosis 

• Subklinis (↓ TSH, FT3 dan FT4 normal) : ↑ risiko fibrilasi atrium dan osteoporosis 

• Hipertiroidisme apetetik : terlihat pada usia lanjut yang dapat menunjukkan gejala letargi 

• Thyroid strom (terlihat pada stres atau pembedahan tiroid) : delirium, takikardi, demam, 

hipotensi 

 

Laboratorium 

• ↑ Indeks tiroksin bebas (& FT4) dan FT3; ↓ TSH (kecuali pada tumor yang mensekresi TSH) 

• RAIU 

Peningkatan homogen = penyakit Graves 

Peningkatan heterogen = goiter multinodular 

Nodul panas soliter = adenoma toksik 

Tanpa ambilan (uptake) = tiroiditis, tiroksikosis factitia, pembebanan yodium 

• Jarang memerlukan pemeriksaan untuk auto-antibodi 

• Hiperkalsemia, fosfatase alkalin ↑, anemia 

 

Penatalaksanaan 

• Penyekat-β untuk mengendalikan gejala, terlepas dari etiologinya 

• Penyakit Graves 

PTU atau metomazol : 50 % kemungkinan rekurensi setelah 1 tahun; agranulositosis jarang 

namun berat 

Radioactive iodine (RAI) : hipotiroidisme yang pada akhirnya berkembang pada > 75 % 

dari pasien yang diobati 

• Adenoma toksik atau goiter multinodular toksik : RAI atau pembedahan (± PTU atau 

metimazol) 

• Tyroid strom : penyekat-β, yodium, obat-obatan antitiroid, ipodat, steroid 

 

SICK EUTHYROID SYNDROME 

 

• Abnormalitas pada hormon tiroid sebab  penyakit non-tiroid 

• Sakit sedang : inhibisi deiododinasi perifer à ↓ T3, ↑ rT3 

• Sakit berat : ↓ TBG à ↓ T4, FT4 normal 

• Sakit kritis : penghambat T4 à pemindahan dan ↑ degradasi T4 à ↓ FT4 tetapi juga ↓ TSH 

(= hipotiroid hipotalamik) 

•  

NODEL TIROID 

 

Gambar 2. Pendekatan terhadap nodul tiroid 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nodul tiroid 

Aspirasi jarum halus 

Jinak (70 %) 

Observasi 

 atau ? reaksi supresif 

Reaksi 

supresif 

Sembuh  Tidak  

sembuh 

Observasi   Pembedahan   

Indeterminate (15 %) 

atau atau atau 

RAIU – dingin à pembedahan 

Panas  

Penilaian 

hipertiroidisme 

Curiga (10 %)   

atau 

RAIU – dingin à pembedahan 

Ganas (< 5 %)    

Panas  

Penilaian 

hipertiroidisme 

 

N Engl J Med 328 : 553, 1993 

 

 

 

● GANGGUAN ADRENAL ● 

 

Definisi 

• Sindrom Cushing = kelebihan kortisol 

• Penyakit Cushing = Sindrom Cushing sekunder sebab  hipersekresi ACTH dari pituitari 

 

Etiologi 

• Penyakit Cushing (70-80 %) : adenoma pituitari atau hiperplasia pituitari 

• Tumor adrenal (15 %) : adenoma atau karsinoma 

• ACTH ektopik (5 %) : karsinoma paru sel small, karsinoid, tumor sel langerhans, karsinoma 

tiroid medularis, feokromositoma 

 

Manifestasi Klinis 

• Intoleransi glukosa atau diabetes melitus 

• Obesitas sentral, berpunuk seperti kerbau (buffalo hump), moon facies, pengecilan 

ekstremitas, kelemahan, mudah fatigue, mudah memar, strie ungu, hiperpigmentasi (jika ↑ 

ACTH), penyembuhan luka yang buruk, psikosis, infeksi 

• Hipertensi 

• Osteoporosis 

 

Penatalaksanaan  

• Reseksi pembedahan adenoma pituitari atau tumor adrenal atau tumor yang menyekresi 

ACTH ektopik 

jika  pembedahan transfenoidal tidak berhasil, pertimbangkan iradiasi pituitari atau 

adrenalektomi bilateral 

• Terapi pengganti glukokortikoid selama 6-36 bulan setelah pembedahan 

• Ketokonazol atau penghambat metirapon terhadap produksi kortisol jika  pembedahan 

gagal atau dikontraindikasikan 

Gambar 3. Langkah kerja sindrom Cushing 

 

 

 

Kecurigaan Sindrom Cushing 

Uji supresi deksametason semalaman (1,0 mg pada tengah malam 

atau 

Urine 24 jam yang bebaskortisol 

Kortisol serum jam 8 pagi < 5 µg/dl 

Kortisol urine < 100 µg 

Kortisol serum jam 8 pagi ≥ 5 µg/dl 

Kortisol urine > 100 µg 

Mungkin sindrom Cushing 

(positif palsu sebab  stres depresi, 

etanol, pil kontrasepsi oral, obesitas) 

Bukan 

sindrom 

Cushing 

Uji supresi deksametason dosis rendah 48 jam 

(0,5 mg setiap 6 jam x 2 hari) 

Kortisol serum jam 8 pagi < 5 µg/dl 

Kortisol serum jam 8 pagi ≥ 5 µg/dl 

Sindrom Cushing 

Serum ACTH 

ACTH normal atau tinggi ACTH rendah 

Tumor adrenal 

Pemakaian konhrmatif 

CT adrenal atau MRI 

Uji supresi deksametason dosis tinggi 48 jam 

(2,0 mg setiap 6 jam x 2 hari) 

Steroid 17-OH pada 

urine 24 jam tersupresi 

Steroid 17-OH pada urine 

24 jam tidak tersupresi 

Penyakit Cushing ACTH ektopik 

Pemeriksaan konfirmatif 

MRI pituitari, 

pemeriksaan CRH dengan 

vena petrosal, sampling 

ACTH 

Pemeriksaan konfirmatif 

CT toraks, oktreotid 

berlabel (terkait pada 

tumor neuroendo) 


HIPERALDOSTERONISME 

 

Etiologi 

• Primer : ↑ aldosteron sebab  hiperplasia adrenal, adenoma (sindrom Conn), atau karsinoma 

• Sekunder : stimulasi ekstra-adrenal dari aldosteron (cont : ↓ perfusi ginjal, tumor penyekresi 

renin) 

 

Manifestasi Klinis 

• Hipertensi diastolik ringan hingga sedang, sakit kepala, kelemahan otot, poliuria, 

polidipsia 

• Tanpa edema perifer sebab  fenomena ‘meloloskan diri’ dari retensi Na 

• Hipokalemia, hipernatremia, alkalosis metabolik 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Langkah kerja penanganan hiperaldosteronisme 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hiperaldosteronisme 

Kadar aldosteron dan renin 

Renin rendah 

Aldosteron rendah 

Renin rendah 

Aldosteron rendah 

Renin rendah 

Aldosteron rendah 

Kelebihan mineralokortikoid 

non-aldosteron 

Hiperaldosteronisme 

primer 

Hiperaldosteronisme 

sekunder 

• ingesti licorice 

• sindrom Cushing 

• sindrom Liddle 

• hipoperfusi ginjal 

• stenosis arteri renalis 

• tumor pensekresi renin 

primer 

CT atau MRI adrenal 

Tidak ada lesi lesi 

Vena adrenal 

sampling aldosteron 

Terlokalisasi  Tidak terlokalisasi 

Adenoma atau 

karsinoma 

Hiperplasia   


 

Penatalaksanaan  

• Adenoma atau karsinoma à pembedahan 

• Hiperplasia à spironolakton 

 

INSUFISIENSI ADRENAL 

 

Etiologi 

• Primer = penyakit adenokortikal = Penyakit Addison 

Autoimun (paling sering pada negara industri) 

Terisolasi 

Sindrom autoimun poliglandular 

PGA I = kandidiasis mukokutaneus kronis + hipoparatiroidisme + penyakit 

Addison 

PGA II = penyakit Addison + penyakit tiroid + IDDM 

Infeksi (pemicu  paling sering di seluruh dunia); tuberkulosis, CMV, histoplasmosis 

Perdarahan, trombosis, dan trauma 

Penyakit metastatik (90 % adrenal harus dihancurkan agar terjadi insufisiensi) 

Penyakit deposit : hemokromatosis, amiloid, sarkoid 

Obat : ketokonazol, rifampin, antikonvulsan 

• Sekunder = kegagalan pituitari menyekresi ACTH (sekresi aldosteron intak sebab  

dikendalikan oleh sumbu renin-angiotensin) 

Adanya pemicu  hipopituitarisme primer atau sekunder (lihat *Gangguan Pituitari*) 

Terapi glukokortikoid (terjadi setelah ≥ 2 minggu dosis supresif; memerlukan     8-12 minggu 

untuk memperbaiki fungsi) 

Megestrol  

 

Manifestasi Klinis (N Engl J Med 335 : 1206, 1996) 

• Primer atau sekunder : kelemahan dan mudah fatigue (99 %), hipotensi ortostatik (90 

%), mual (86 %), muntah (75 %), hiponatremia (88 %), hipoglikemia, eosinofilia, 

limfositosis, ± neutropenia 

• Hanya primer (tanda dan gejala tambahan sebab  kekurangan aldosteron dan ↑ ACTH) : 

hipotensi, ortostatik yang bermakna (sebab  deplesi cairan), hiperpigmentasi (terlihat pada 

lipatan tubuh, daerah yang tertekan, puting susu), hiperkalemia 

• Hanya sekunder : manifestasi lain dari hipopituitarisme (lihat bab Pituitari) 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Uji stimulasi dosis tinggi (250 µg) kortikotropin : normal = sebelum atau 60’ setelah kortisol 

≥ 18 µg/dL 

Abnormal pada primer sebab  kelenjar adrenal terganggu dan tidak mampu memberikan 

output yang adekuat 

Abnormal pada sekunder kronis sebab  adrenal yang atrofi dan tidak mampu berespons 

• Uji stimulasi dosis rendah (1 µg) kortikotropin : dapat mendeteksi insufisiensi adrenal 

sekunder yang ringan 

• Uji diagnostik lainnya : hipoglikemia terinduksi insulin; gagal untuk ↑ 11 – deoksikortisol 

setelah metirapon 

• Abnormalitas laboratorium lainnya : hipoglikemia, eosinofilia, limfositosis ± neutropenia 

• ACTH : ↑ pada primer, ↓ pada sekunder 

• Pencitraan : 

CT : adrenal kecil, tak berkalsifikasi pada autoimun, pembesaran pada penyakit 

metastatik, perdarahan, infeksi atau deposit (walaupun mungkin tampaknya normal) 

MRI  : untuk mendeteksi abnormalitas pituitari 

 

Penatalaksanaan 

• Insufisiensi adrenal akut 

Hidrokortison 100 mg IV setiap 8 jam 

Resusitasi cairan dengan larutan salin normal 

• Kronis 

Hidrokortison : biasanya 20-30 mg PO empat kali sehari (2/3 pada pagi hari, 1/3 pada malam 

hari) atau prednison 5-7,5 mg PO empat kali sehari 

Fludrokortison (tidak perlu pada insufisiensi adrenal sekunder) : 50-100 µg PO empat kali 

sehari pada pagi hari 


 

FEOKROMOSITOMA 

 

Manifestasi Klinis (SP) 

• Pressure (hipertensi) 

• Pain (sakit kepala, nyeri dada) 

• Palpitations 

• Perspiration 

• Pallor 

 

Pemeriksaan Diagnostik  

• Urine 24 jam untuk memeriksa katekolamin, VMA, metanefrin 

(⊕ palsu pada penyakit berat, gagal ginjal, labetalol, obat kontrasepsi oral yang mengandung 

simpatomimetik) 

• Uji klonidin (gagal untuk menekan katekolamin) 

• CT atau MRI adrenal; MIBG scan 

 

Penatalaksanaan 

• Penyekat-α golongan pertama ± penyekat-β à pembedahan 

 

 

 

INSIDENTALOMA ADRENAL 

 

Epidemiologi 

• Pada dua persen pasien yang menjalani CT scan dapat ditemukan massa di adrenal secara 

kebetulan 

 

Diagnosis Banding 

• Adenoma korteks adrenal, hiperplasia, atau karsinoma 

• Tumor medula adrenal (seperti : feokromositoma, ganglioneuroma, dll) 


• Massa adrenal lainnya : kista, abses, granuloma, perdarahan, lipoma, mielolipoma 

• Metastasis : dari payudara, paru, ginjal, melanoma 

 

Langkah kerja (N Engl J Med 323 : 1401, 1990) 

• Menyingkirkan sindrom Cushing secara klinis (tidak ada hipertensi atau obesitas memiliki 

nilai prediksi negatif 99 %) dan/atau dengan uji supresi deksametason (walaupun hanya 

memiliki nilai prediksi positif kira-kira 3 % pada keadaan insidentaloma adrenal) 

• Menyingkirkan feokromositoma dengan pemeriksaan hormon : tidak adanya hipertensi dan 

gejala klasik memiliki nilai prediksi negatif 99 %, namun morbiditas yang dihubungkan 

dengan feokromositoma yang tak diobati memicu  penyingkiran hormonal melalui 

pemeriksaan kadar katekolamin di dalam urine harus dilakukan dengan hati-hati (nilai 

prediksi positif kira-kira 51%)  

• Menyingkirkan karsinoma metastatik dan infeksi melalui anamnesis 

• Karakteristik CT scan dan MRI akan menunjukkan adenoma vs. karsinoma 

• jika  ukuran < 4 cm, ukuran stabil, pencitraan tidak menunjukkan keganasan à 

kemungkinan adenoma, sehingga dapat diikuti dengan pemeriksaan scan berkala 

• jika  ukuran > 4 cm, ↑ ukuran, riwayat keganasan, pencitraan menunjukkan keganasan à 

reseksi setelah menyingkirkan kemungkinan sindrom Cushing dan feokromositoma 

 

 

 

 

 

 

 

● GANGGUAN KALSIUM ● 

 

Gambar 5. Etiologi gangguan kalsium berdasarkan pada serum Ca dan kadar PTH 

 

 

 

Gagal ginjal 

hiperparatiroidisme sekunder 

pseudohipoparatiroidisme 

defisiensi vitamin D 

Hiperparatiroidisme primer 


 

 

Temuan Laboratorium pada Gangguan Kalsium yang Beragam 

Keadaan sakit Ca PO4 PTH 1,25-(OH)2D3 

Hiperparatiroidisme ↑ ↓ ↑↑ Normal/↑ 

Keganasan ↑ Bervariasi  ↓ ↓ 

Kelebihan vitamin D ↑ ↑ ↓ ↑↑ 

Hipoparatiroidisme ↓ ↑ ↓ ↓ 

Pseudohipoparatiroidisme ↓ ↑ ↑↑ ↓ 

Gagal ginjal ↓ ↑ ↑ ↓ 

Defisiensi vitamin D Normal/↓ ↓ ↑ ↓ 

 

Kekurangan dalam pengukuran Ca 

• Ca yang secara fisiologis aktif yaitu  kalsium bebas atau terionisasi (ICA). Kadar Ca di 

serum menggambarkan kalsium total (yang terikat + yang bebas) dan sebab  itu dipengaruhi 

oleh konsentrasi albumin (protein pengikat Ca utama). 

Ca terkoreksi (mg/dL) = Ca yang terukur (mg/dL) + (0,8 x (4,0-albumin (mg/dL))] 

• Alkalosis akan memicu  banyak Ca yang terikat dengan albumin sehingga Ca total 

mungkin bisa normal namun ICA ↓ 

 

HIPERKALSEMIA 

 

Etiologi Hiperkalsemia 

Kategori Etiologi 

Hiperparatiroidisme Primer : adenoma (80 %, hiperplasia (15-20 %), spontan vs 

PTH 

Hipoparatiroidisme  

Keganasan 

kelebihan vitamin D  

Normal 

Kadar Ca di serum 


neoplasia multipel pada endokrin), karsinoma (< 1 %) 

(Cat., hiperparatiroidisme sekunder yaitu  ↑ PTH sebagai 

respons terhadap hipokalsemia 

? Tertier : setelah lama menderita hiperparatiroidisme 

sekunder à berkembang nodul autonom 

Keganasan  Hiperkalsemia osteolitik lokal (mis., kanker paru, melanoma) 

Tumor solid yang mensekresi PTH-yang berhubungan 

dengan peptida (PTHrP) (seperti : karsinoma paru sel 

skuamosa dan karsinoma sel renal) 

Keganasan hematologik melalui 1,25 D dan sitokin yang ↑ 

(mis., limfoma sel-B) 

Kelebihan vitamin D ↑ 1,25-(OH)2D3 (penyakit granulomatosa; seperti : 

sarkoidosis, TB, histoplasmosis) 

intoksikasi vitamin D 

↑ pertukaran tulang Hipertiroidisme, imobilisasi, penyakit Paget 

Lain-lain Tiazid, litium, vitamin A, antasid yang mengandung kalsium 

(sindrom milk-alkali) 

 

Manifestasi Klinis (“tulang, batu, rintihan abdomen, dan mengerang kesakitan”, biasanya 

jika  CA > 12) 

• Krisis Hiperkalsemik (biasanya bila Ca 13-15) : poliuria, dehidrasi, perubahan status mental 

Kalsium toksik terhadap tubulus renal à menghambat ADH, memicu  vasokonstriksi 

dan ↓ LFG à poliuria namun reabsorbsi Ca ↑ à kalsium serum ↑ à nefrotoksisitas ↑ 

• Osteopenia dan osteitis fibrosa kistik (yang terakhir ini dijumpai hanya pada 

hiperparatiroidisme) à aktivitas osteoklas ↑ à degenerasi, kista, nodul fibrosa, gambaran 

rontgen foto, seperti garam dan lada 

• Nefrolitiasis, nefrokalsinosis, diabetes insipidus nefrogenik 

• Nyeri abdomen, anoreksia, mual, muntah, konstipasi, pankreatitis, penyakit ulkus peptikum 

• Fatigue, depresi, terlihat seperti orang bingung 

• DTR menurun 

• Interval QT memendek 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Kalsium, albumin, Ica, PTH, PO4, fosfatase alkalin, ± vitamin D dan 1,25-(OH)2-D3 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penatalaksanaan Hiperkalsemia 

Penatalaksanaan  Onset Durasi Keterangan 

Salin normal 

(4-6 L/hari) 

Jam  Selama 

reaksi 

Pada ginjal, Ca mengikuti Na, sehingga 

natriuresis à ekskresi Ca ↑ 

Furosemid 

(IV tiap 6 jam) 

Jam  Selama 

reaksi 

Mulailah hanya setelah pasien diberikan 

cairan pengganti intravaskuler 

Membantu meningkatkan natriuresis dan 

menjadikan eksresi Ca ↑ 

Bisfosfanat 1-2 hari 10-14 hari Menghambat osteoklas, berguna pada 

keganasan, Demam pada 20 % kasus 

Kalsitonin Jam  2-3 hari Dengan cepat memicu  takifilaksis 

Glukokortikoid Hari  hari ? berguna pada beberapa keganasan & 

intoksikasi vitamin  

(Endocrinology and Metabolism Clinics of North America 22 : 343, 1993) 

 

HIPOKALSEMIA 

Etiologi Hipokalsemia 

Kategori Etiologi 

Hipoparatiroidisme  Terisolasi 

PGA tipe I (mukokutan kronis, kandidiasis + 


hipoparatiroid + penyakit Addison 

Keadaan setelah tiroidektomi, hipomagnesemia (sekresi 

dan efek ↓) 

Pseudohipoparatiroidisme  Resistensi PTH pada end-organ (sehingga serum PTH ↑) + 

abnormalitas skeletal & retardasi 

(Pseudopseudohipoparatiroidisme = sindrom namun Ca 

normal) 

Defisiensi vitamin D  

Gagal ginjal ↓ produksi 1,25-(OH)2D3 + ↑ PO4 à deposit kalsium pada 

jaringan lunak ↑ 

Lain-lain Pankreatitis, kelebihan sitrat (seperti : setelah transfusi 

darah multipel) 

 

Manifestasi klinis 

• Iritabilitas neuromuskular : parestesia perioral, kram, Chvostek ⊕ (ketukan pada nevus 

fasialis) à kontraksi muskulus fasialis), Trousseau ⊕ (inflasi manset pengukur tekanan 

darah à spasme karpal), laringospasme 

• Iritabilitas, depresi, psikosis, TIK ↑, kejang 

• QT ↑ 

• Osteodistrofi renal (↓ vitamin D dan ↑ PTH pada gagal ginjal) : osteomalasia (↓ mineralisasi 

tulang), osteitis fibrosa kistik, dan osteoporosis 

 

Pemeriksaan Diagnostik 

• Kalsium dan albumin, Ica, PTH, vitamin D, 1,25-(OH)2D3, BUN, Cr, Mg, PO4, fosfatase 

alkalin 

 

Penatalaksanaan  

• Simtomatik : Ca glukonat intravena 

• Asimtomatik : suplementasi kalsium oral dan vitamin D 

• Pada gagal ginjal perlu diberikan 1,25-(OH)2D3 (seperti, kalsitriol) 

• Pada hipoparatiroidisme, bila suplementasi PTH tidak tersedia, berikan 1,25-(OH)2D3 

 

 

 

● DIABETES MELITUS ● 

 

Definisi (Diabetes Care 20 : 1183, 1997) 

• Glukosa puasa > 126 mg/dL atau glukosa sewaktu > 200 mg/dL atau glukosa 2 jam > 200 

mg/dL setelah uji toleransi glukosa oral sebanyak 75 gram 

• ↑ HbATC (kriteria yang tidak disepakati) 

 

Kategori 

• Tipe 1 (bergantung insulin atau DMTI) : cenderung ketosis, memerlukan insulin prevalensi 

0,4 %; onset umumnya pada masa anak-anak; ↑ risiko jika  ada  riwayat dalam 

keluarga; diketahui adanya hubungan HLA pada defisiensi insulin absolut dengan 

autoantibodi (anti-GAD & anti-insulin) dan atrofi sel langerhans. 

• Tipe 2 (tidak bergantung insulin atau DMTTI) : resisten ketosis, insulin bisa diperlukan bisa 

tidak, prevalensi 7 %; onset pada uji yang lebih lanjut; ↑↑ risiko jika  ada  riwayat 

dalam keluarga; tidak ada  asosiasi HLA pada resistensi insulin; massa sel langerhans 

normal, obesitas 

• pemicu  sekunder : glukokortikoid eksogen, sindrom Cushing, akromegali, 

feokromositoma, glukogonoma (3D : diabetes, DVT, diare), diabetes pankreatikus 

(pankreatitis, hemokromatosis) 

 

Manifestasi Klinis 

• Poliuria, polidipsia, polifagia dengan penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya 

 

 

Pilihan Penatalaksanaan Diabetes 

Pilihan Keterangan 

Diet Tipe 1 : diet ADA; Tipe 2 : diet untuk menurunkan berat 

badan + olahraga 

Agen Oral 

Sulfonilurea 

Metformin 

 

Tiazolidinedion 

 

Akarbose 

 

↑ sekresi insulin 

↓ glukoneogenesis hepatik, ↑ sensitivitas insulin; 

kontraindikasi pada gagal hati atau ginjal 

↑ sensitivitas insulin pada otot, kontraindikasi pada penyakit 

hati, pantau fungsi hepar 

merubah absorpsi karbohidrat di usus 

Insulin Secara umum gunakanlah kombinasi insulin kerja-lama 

(seperti : NPH) dan kerja-singkat (seperti : reguler). 

Keefektifan regimen seharusnya dipantau ketat dengan terus 

mengikuti kadar glukosa darah pasien 

Lain-lain Pompa insulin, transplantasi sel langerhans atau pankreas 

Pasien sebaiknya memantau kadar glukosa darahnya. Dokter seharusnya memeriksa 

HbATC setiap 3-4 bulan, tujuannya yaitu  mempertahankan kadarnya dalam batasan 

normal 

 

Komplikasi (dapat dikurangi hingga lebih dari 50 % melalui pengendalian kadar gula darah 

secara ketat dan mempertahankan kadar HbATC dalam batas normal) 

• Retinopati 

Non-proliferatif : ‘bercak dan noda’ perdarahan, eksudat protein dan cotton wool, perdarahan 

retina proliferatif : neovaskularisasi, perdarahan vitreus, jaringan parut, ablasio retina, buta  

Penatalaksanaan : fotokoagulasi 

• Nefropati : 

Mikroalbuminuria à proteinuria ± sindrom nefrotik à gagal ginjal 

Penebalan difus pada membran basal glomerulus atau pola nodular (Kimmelstiel-Wilson) 

biasanya terjadi bersamaan dengan retinopati, jika tidak ditemukan retinopati à cari 

pemicu  lain nefropati 


Penatalaksanaan : kontrol tekanan darah secara ketat, penghambat ACE (N Engl J Med 329 : 

1456, 1993 dan Lancet 349 : 1787, 1997), diet rendah protein, dialisis, atau transplantasi 

• Neuropati 

Polineuropati perifer simetrik : kehilangan sensorik distal yang simetris, parestesia, ± 

kehilangan kekuatan motorik 

Neuropati autonomik : gastroparesis, kandung kemih mengalami neurogenik, impotensi, 

hipotensi ortostatik 

Mononeuropati : defisit saraf kranial atau perifer dengan onset cepat (wristdrop, footdrop, 

nervus kranialis III > VI > IV) 

• Akselerasi aterosklerosis 

• Infeksi (termasuk mukormikosis) 

• Dermatologi; diabetikorum lipoidika nekrobiosis, lipodistrofi) 

 

KETOASIDOSIS DIABETIKUM 

 

Pencetus (51) 

• Defisiensi insulin (insulin deficiency) (yaitu, kegagalan memperoleh dalam jumlah cukup) 

• Infeksi atau inflamasi (infection or inflammation) 

• Iskemia atau infark (Ischemia or Infarction) 

• Proses intraabdominal : pankreatitis, kolesistitis, usus iskemik, dll (Intra-abdominal process) 

• Latrogenik : pemberian glukokortikoid (latrogenesis) 

 

Patofisiologi 

• Terjadi pada diabetes tipe 1 (dan sangat jarang pada diabetes tipe 2 yang berat) 

• ↑ glukagon dan ↓ insulin 

• hiperglikemia sebab  : ↑ glukoneogenesis, ↑ glikogenolisis, ↓ ambilan glukosa ke dalam sel 

• ketosis sebab  : ketidakmampuan menggunakan glukosa à mobilisasi dan oksidasi asam 

lemak, ↑ substrat untuk ketogenesis, ↑ keadaan ketogenik pada hepar, ↓ bersihan keton 

 

Manifestasi Klinis 

• Poliuria dan polidipsia 


• Dehidrasi à ↑ denyut jantung, hipotensi, membran mukosa kering, turgor kulit ↓ 

• Mual, muntah, nyeri abdomen (baik pada proses intra-abdominal atau Ketoasidosis 

Diabetikum itu sendiri), ileus 

• Pernapasan Kussmaul = cepat dan dalam (untuk mengkompensasi asidosis metabolik) 

dengan bau aseton 

• Perubahan status mental à somnolen, stuppor, koma 

 

Pemeriksaan Diagnostik 

• ↑ anion gap asidosis metabolik (dapat berkembang kemudian menjadi asidosis non-anion 

gap sebab  hilangnya keton dalam urine = keseimbangan HCO3 dan sebab  penatalaksanaan 

dengan larutan yang mengandung CI 

• ketosis : ⊕ urine dan keton serum (asetoaseton terukur, namun keton yang predominan 

yaitu  β-OH-butirat, keton urine mungkin ⊕ pada individu normal saat berpuasa) 

• ↑ glukosa serum 

• ↑ BUN dan kreatinin (dehidrasi ± artefak sebab  ketosis mengganggu beberapa pemeriksaan 

kreatinin) 

• pseudohiponatremia : Na terkoreksi = Na terukur + [1,6 x (glukosa terukur-100] 

• ↓ atau ↑ K (bahkan walaupun kadar kalium di dalam serum meningkat, biasanya K tubuh 

total mengalami deplesi; ↓ PO4 

• leukositosis, ↑ amilase (sekalipun tidak ada pankreatitis) 

 

Penatalaksanaan DKA 

Intervensi Keterangan 

Singkirkan kemungkinan 

pencetus 

Infeksi, proses intra-abdominal, infark miokardium, dll 

Hidrasi yang agresif Awali dengan salin normal 10-14 ml/kg/jam, 

bergantung pada status dehidrasi dan kardiovaskularnya 

Insulin 10 U IV disuntikkan bolus à 0,1 U/kg/jam 

teruskan drip insulin hingga AG normal 

jika  glukosa < 250 dan AG masih tinggi à 


tambahkan dekstrosa ke dalam cairan IV dan teruskan 

insulin 

jika  AG sudah normal mulailah pemberian insulin 

subkutan, lakukan pemberian IV dan subkutan 

berselingan selama 2-3 jam 

Penggantian elektrolit K : tambah 20-40 mEq/L cairan IV jika  serum K < 

4,5 insulin akan meningkatkan masuknya K ke dalam 

sel à ↓ K dalam serum 

Pemberian K harus cermat pada pasien gagal ginjal 

HCO3 : ganti jika  pH < 7,0 atau jantung tidak stabil 

PO4 : ganti jika  < 1,0 

 

 

 

Susunan “Lembar Pencatatan” Tipikal DKA 

Waktu VS UOP pH HCO3 AG Keton Glukosa K PO4 IVF Insulin 

Catatan : keton utama dihasilkan β-OH-butirat (βOHB), namun keton yang terukur 

yaitu  asetoasetat (Ac-Ac) 

jika  DKA ditangani, βOHB à Ac-Ac, sehingga AG dapat menurun sementara 

keton yang terukur dapat meningkat 

 

Definisi 

• Hiperglikemia ekstrem tanpa ketoasidosis + hiperosmolalitas + perubahan status mental 

 

Pencetus 

• Sama untuk DKA + dehidrasi dan gagal ginjal. Pencetus yang mendasari terjadinya koma 

non-ketotik hiperosmolar mungkin lebih berat dibanding DKA 

 

Patofisiologi  

• Terjadi pada diabetes tipe 2 

• Hiperglikemia à diuresis osmotik à dehidrasi à azotemia prerenal à ↑ glukosa, dll 


 

Manifestasi Klinis 

• Dehidrasi dan perubahan status mental 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• ↑ glukosa serum (biasanya > 600 mg/dL) 

• ↑ Osmolalitas serum (biasanya > 350 mOsm/L) 

• Tanpa ketoasidosis 

• ↑ BUN dan kreatinin; Na mungkin ↑, ↓, atau normal bergantung pada derajat hiperglikemia 

dan derajat dehidrasi 

 

Penatalaksanaan  

• Hidrasi agresif : baik salin normal atau ½ salin normal bergantung pada derajat volume dan 

deplesi H2O bebas 

• Insulin dosis rendah (misal, 0,05 U/kg/jam) 

 

HIPOGLIKEMIA 

 

Etiologi pada diabetikum 

• Kelebihan insulin, obat per oral, lupa makan, gagal ginjal (↓ bersihan insulin), hipotiroidisme 

 

Etiologi pada non-diabetikum 

• ↑ insulin : insulin eksogen, sulfonilurea, insulinoma, antibodi reseptor insulin atau anti-

insulin 

• ↓ produksi glukosa : hipopituitarisme, insufisiensi adrenal, defisiensi glukagon, gagal hati, 

alkoholisme 

• Postprandial (setelah makan) 

 

Manifestasi Klinis (glukosa < ~ 55 mg/dl) 

• SSP : sakit kepala, perubahan penglihatan dan status mental, kelemahan 

• Otonom : diaforesis, palpitasi, tremor 

Langkah kerja 

• 72 jam puasa dan dengan glukosa darah yang terpantau 

• BUN, kreatinin, uji fungsi hepar, uji fungsi tiroid 

• Pada saat hipoglikemik : insulin, peptida C (↑ pada insulinoma dan sulfonilurea, ↓ dengan 

insulin eksogen), kadar sulfonilurea, dan IGF-II 

• Antibodi anti-insulin 

 

 

 

 

● GANGGUAN LIPID ● 

 

Hiperlipidemia Primer 

Gangguan Keterangan 

Hiperlipidemia 

gabungan familial 

↑ TG dan/atau kolesterol sebab  ↑ apo B dan ↑ VLDL yang 

berhubungan dengan obesitas dan diabetes 

Hipertrigliseridemia 

familia 

↑ sintesis TG, berhubungan dengan obesitas dan diabetes 

Hiperkolesterolemia 

familial 

↑ kolesterol sebab  reseptor LDL yang rusak 

Disbetalipoproteinemia 

familial 

↑ TG dan kolesterol sebab  apo E yang rusak 

 

Hiperpilidemia Sekunder 

Kategori Gangguan 

Endokrinopati Hipotiroidisme (↑ LDL, ↑ TG) 

Diabetes (↑ TG, ↓ HDL) 

Sindrom Cushing (↑ LDL) 

Penyakit Ginjal Uremia (↑ TG) 

Sindrom Nefrotik (↑ LDL) 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

Penyakit Hati Hepatitis akut (↑ TG) 

Sirosis biliaris primer (↑ LDL) 

Gaya Hidup Obesitas (↑ TG, ↓ HDL) 

Alkoholisme (↑ TG) 

Merokok (↓ HDL) 

Pil kontrasepsi oral (↑ TG) 

Gaya hidup yang menetap (↓ HDL) 

 

Pedoman NCEP 

Risiko klinis 

Mengawali 

Diet 

Mengawali terapi 

obat 

Tujuan 

terapi 

1 Faktor risiko terhadap PJK > 160 mg/dL > 190 mg/dL < 160 mg/dL 

≥ 2 faktor risiko terhadap 

PJK 

> 130 mg/dL > 160 mg/dL < 130 mg/dL 

PJK ⊕ > 100 mg/dL > 130 mg/dL < 100 mg/dL 

Pedoman diet, obat, dan tujuan terapi berdasarkan pada LDL. Faktor risiko : laki-laki 

≥ 45 atau perempuan ≥ 55, merokok, hipertensi, diabetes, fungsi hati terganggu, HDL 

< 35. jika  HDL > 60 kurangi 1 faktor risiko 

(JAMA 269 : 3015, 1993) 

 

Penatalaksanaan  

Obat LDL HDL TG Efek Samping 

Statin  ↓ 20-60 % ↑ 5-10 % ↓ 10-20 % 

Hepatitis 

Miopati 

Resin ↓ 20 % ↑ 5 % ↑ ? Distres saluran cerna 

Fibrates ↓ 5 % ↑ 10-20 % ↓ 30 % 

Distres saluran cerna 

Miopati (jika  dengan statin) 

Asam Nikotinik ↓ 10-20 % ↑ 15-20 % ↓ 40 % 

Faushing (kemerahan), pruritus 

Distres saluran cerna, ↑ 

glukosa, gout, hepatitis 

 

 

GERIATRI DAN GERIONTOLOGI DI INDONESIA 

 


Kata geriatrics utuk pertama kali diberikan oleh seorang dokter Amerika, Ignaz Leo Vaschers 

pada tahun 1909. geriatric (geriatrics= geriatric medicine) berasal dari kata – kata geros (usia 

lanjut) dan iateria (=mengobati). Geriatri merupakan cabang gerotologi. 

Gerontology ini dibagi menjadi  :  

A. Biology of aging 

B. Social gerontology dan 

C. Geriatric medicine, yang mengupas problem – problem klinis orang – orang usia lanjut. : 

Definisi Geriatri medicine yang banyak dipakai yaitu  sebagai berikut : Geriatrics is the branch 

of general (internal) medicine concerned with the clinical, preverentive, remedial and social 

aspects of illiness in the elderly. 

 

DEMOGRAFI 

Menurut laporan data penduduk internasional yang dikeluarkan oleh Bureau of the Census USA 

(1993) dilaporkan bahwa Indonesia pada tahun 1990 sampai 2025 akan mempunyai kenaikan 

jumlah usia lanjut sebesar 414%, suatu angka paling tinggi diseluruh dunia. Sebagai 

perbandingan. Kenya 347%, brasil 255%, India 242%, cina 220%, jepang 129%, jerman 66%, 

dan swedia 33%. Pertambahan penduduk usila di Indonesia dan brasil diproyeksikan naik masing 

– masing melebihi 20 juta orang, sedangkan kenaikan kira – kira setengah jumlah tersebut terjadi 

masing – masing di Meksiko, Nigeria dan Pakistan. Indonesia diharapkan beranjak dari urutan 

ke-5 atau ke-6 pada tahun 2020 sebagai Negara yang banyak populasi usilanya (WHO, 1989). 

Bahkan dengan terpecahnya USSR, indnesia akan menduduki urutan ke-4 atau ke-5 

 

KESEHATAN GOLONGAN USIA LANJUT 

Golongan usia lanjut menggunakan dana perawatan kesehatan lebih banyak dibandingkan 

dengan orang – orang muda, sehingga mengakibatakan kenaikan biaya pelayanan kesehatan, 

baik berupa perawatan kesehatan di rumah sakit ataupun  perawatan mereka dip anti – panti 

rawat usia lanjut bagi yang mengidap penyakit kronik. Kesehatan dana status fungsional seorang 

usia lanjut ditentukan oleh resultante factor – factor fisis, psikologis dan social-ekonomis orang 

tersebut. Penting kiranya dicatat pula saebanyak 13 I yang dikemukakan oleh Solomon dkk 

(UCLA conference, 1988) yaitu kemunduruan dan kelemahan yang biasanya diderita oleh kaum 

usila, seperti yang terlihat pada table 1 yang ditulis menurut aslinya dalam bahasa inggris. 

Tabel 1. kemunduran dan kelemahan yang diderta usila (13 i) 

1 immobility 

2 instability (falls) 

3 intellectual impaiment (dementia) 

4 isolation (depression) 

5 incontinence 

6 impotence 

7 immuno-defeciency 

8 infection 

9 inanion (malnutrition) 

10 impaction (constipation) 

11 latrogenesis 

12 insomnia 

13 impairment of: 

• vision 

• hearing 

• taste 

• smell 

• communication 

• convalescence 

• skin integrity 

 

DATA PENYAKIT PADA USIA LANJUT DI INDONESIA 

Pola penyakit pada orang berusia ≥55 tahun : 

Penyakit Per 100 pasien 

- Penyakit kardiovaskular 

- Penyakit muskuloskeletal 

- Tb paru 

- Bronkitis, asma 

- Infeksi saluran napas akut 

- Gigi, mulut dan saluran cerna 

- Penyakit syaraf 

- Infeksi kulit 

- Malaria 

- Infeksi lain 

15,7 

14,5 

13,6 

12.1 

10,2 

10,2 

5,9 

5,2 

3,3 

2,4 

Dari penelitian bersama WHO-SEAR, laporan Indonesia menyatakan mengenai macam penyakit 

dan kesehatan orang lanjut usia (60 tahun keatas) sebanyak 1203 orang yang dipilih secara 

random didesa dan kota. Hasil evaluasi activity of daily living (ADL) fisik menunjukan bahwa 

lebih dari 95 % responden dapat dan mampu menolong diri sendiri. Hal ini tak terbedakan antara 

pria dan wanita, tetapi bertambahnya usia berpengaruh nyata terhadap kemampuan tersebut. 

 

 

 

 

 

GERIATRI DAN GERIONTOLOGI PENCEGAHAN 

Geriontologi yaitu  ilmu yang mempelajari proses menua yang lahir dari kesadarn manusia atas 

adanya fenomen kelahiran, kemunduran dan kematian. usaha  pencegahan primer ditunjukan 

pada timbulnya risiko untuk mendrita sakit, misalnya dengan jalan imunisasi; pencegahan 

sekunder berupa usaha  deteksi dini yang diikuti dengan terapi yang sesuai misalnya pada, 

hipertensi; pencegahan tersier dimaksudkan untuk memperlambat jalan penyakit agar dapat 

mengurangi hendaya (disability) yang timbul, memerlukan uji penyaringan (screening test) dan 

uji pengkajian (assesment test) untuk identifikasi masalah.uji penyaringan yaitu  suatu prosedur 

uji pemeriksaan untuk identifikasi secara cepat resico – resico ke arah kondisi kronik dari yang 

ringan sampai kepada yang berat. Sebagai contoh, pemeriksaan mamografi untuk mengtahui 

apakah diperlukan tindakan biopsi. Pengkajian yaitu  pemeriksaan yang lebih menyeluruh dan 

terinci untuk penyusnan diagnosis, rencana pengobatan yang rasional dan saran – saran lain 

yanng diperluakan baik dibidang psikologi, sosial, ekonomi, maupun lingkungan serta perawatan 

lanjutan. 

Kondisi kronik usaha  Pencegahan 

Hipertensi  

 

Penyakit jantung koroner dan strok 

 

 

 

 

 

Kanker 

 

 

 

Penyakit paru – paru obstruktif kronik 

 

Diabetes melitus tipe-2 

 

 

 

Osteoporosis 

 

 

 

 

Osteoartritis 

 

Kolelitiasis  

Kurangi konsumsi garam dan kurangi kelebihan 

berat badan 

Pengobatan hipertensi 

Hentikan merokok 

Kurangi kelebihan berat badan 

Kurangi kosumsi lemak jenuh/kolesterol 

Latihan aerobic 

 

Hentikan merokok 

Kurangi konsumen lemak 

Kurangi konsumen makanan pengawet garam/asap 

 

Hentikan merokok 

 

Turunkan kelebihan barat badan 

Kurangi konsumen lemak jenuh/kolesterol 

Ikuti diet DM dengan teratur 

 

Olah raga teratur 

Hentikan merokok 

Hindari konsumsi alcohol berlebihan 

Makanan tinggi kalsium 

 

Turunkan kelebihan berat badan 

 

Turunkan kelebihan berat badan 

 

  

1. Imunisasi 

Imunisasi merupakan pencegahan primer dan sangat penting dalam menurunkan angka 

morbiditas usia lanjut. Bebrapa penyakit yang perlu vaksinasi antara lain tetanus dengan 

menggunakan toksoid tetanus, influenza bagi mereka yang mempunyai kondisi kesehatan 

risikp tinggi seperti pasien penyakit paru kronik, penyakit jantung, ginjal, dan penyakit – 

penyakit metabolik1 

2. Pencegahan Beberapa Penyakit 

a. Hipertensi 

Pengobatan hipertensi yang ada  pada usia lanjut dapat menurunkan 

komplikasi hipertensi secara nyata, misalnya strok. Bahkan penurunan tekanan 

darah sampai 160/90 mmHg sudah dapat menurunkan angka kematian sampai 

dengan 27%. 

b. Kanker payudara 

Deteksi ini adanya kanker payudara dapat dilakukan dengan cara yang lazim 

dipergunakan yaitu mulai dengan perabaan sendri, pemeriksaan oleh tenga medis, 

ataupun melalui mamografi. 

c. Kanker leher rahim 

Diperkirakan sekitar 40% kematian akibat kanker keher rahim diderita oleh usia 

lanjut. Tingginya angka tersebut kemungkinan disebabkan oleh kebiasaan 

melakukan Pap Smear secara berkala pada usia yang lebih muda belum atau tidak 

pernah dikerjakan. 

d. kanker kolon 

deteksi dini kanker jenis ini termasuk tidak mahal yaitu dengan pemeriksaan 

adanya darah pada tinja. Anjuran pencegahan dapat melalui diet dengan konsumsi 

rendah lemak, banyak serat, buah – buahan cukup, ada menghindari rokok. 

3. Kelemahan Organik 

Untuk mengetahui adanya kelemahan organic (impairment) dilakukan pemeriksaan 

petugas medis dan secara subyektif menurut pengalaman yang bersangkutan sendiri. 

Kelemahan pendengaran dapat memicu  pasien berperilaku mirip demensia atau 

depresi. Kelemahan umum pada usia lanjut yang tidak spesifik pada satu organ lazim 

disebabkan oleh kondisi malnutrisi yang berlarut – larut, kemungkinan sebab  penyakit 

kronik, keganasan atau perawatan yang tidak memadai. Kebalikan dari kurang energi 

kronik yaitu  obesitas atau kegemukan yang dapat mengundang factor risiko yang nyata 

seperti hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, kolelitiasis,dll. 

4. Faktor – factor risiko sebab  Pengaruh Lingkungan Sosial 

e. Merokok 

Telah banyak diteliti akibat yang merugikan kesehatan sebab  merokok, tercatat 

bebrapa kondisi seperti penyakit kanker paru kronik, penyakit jantung koroner, 

kanker paru berhubungan dengan kegiatan merokok. 

f. Alkohol 

Ketergantungan pada minuman beralkohol di kalangan usia lanjut disebut kurang 

dari 5% dari pada  kelompok usia muda.kampanye untuk menhindari minuman 

tersebut perlu ditigkatkan sebab  adanya problem fisis dan psikiatrik yang 

ditimbulkan seperti antara lain malnutrisi, sirosis hati, kardiomiopati, gastritis 

atrofikatrikan dan dana untuk yang berat dapat menurunkan kemampuan kognitif. 

g. Jatuh (Falls) 

pemicu  jatuh sangat kompleks mulai dari gangguan system visual, auditif-

vestibular, saraf, kardiovaskular, metabolic, musculoskeletal, gangguan 

psikologis, efek samping obat dan lain – lain. 

 

 

 

 

 

 

PROSES MENUA, TEORI DAN IMPLIKASI KLINISNYA 

 

PENDAHULUAN 

Proses menua yaitu  sebuah proses yang mengubah orang dewasa sehat menjadi rapuh disertai 

dengan menurunya cadangan hampir semua sistem fisiologis dan disertai pula dengan 

meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan kematian. Proses menua normalnya merupakan 

suatu proses yang ringan (benign), ditandai dengan turunya fungsi secara bertahap tetapi tidak 

ada penyakit sama sekali sehingga kesehatan tetap terjaga baik. Sebaliknya proses menua 

patologis ditandai dengan kemunduran fungsi organ sejalan engan umur tetapi bukan akibat 

umur tua, melainkan akibat penyakit yang muncul pada umur tua. Tiga hal fundamental yang 

berkaitan dengan kesamaan dalam pola proses menua pada hampir semua spesies mamalia. 

Kedua, laju (rate) proses menua ditentukan oleh gen yang bervariasi antarspesies. Ketiga, laju 

proses menua tersebut dapat diperlambat oleh restriksi kalori, paling tidak pada hewan tikus. 

Banyak hal dimasa lalu yang diduga merupakan akibat proses menua ternyata berhubungan 

dengan  proses penyakit yang faktor – faktor risikonya sebenarnya dapat dimodifikasi seperti 

diet, merokok, alkohol, dan pajanan lingkungan. 

 

TEORI PROSES MENUA 

Dari berbagai teori yang dikemukakan untuk menjelaskan proses menua, sebagian besar dapat 

dikelompokan ke dalam 2 kelompok, yakni, teori genetik dan teori akumulasi kerusakan. Teori 

genetika mengasumsikan bahwa rentang hidup (life span) dan laju proses menua dikontrol oleh 

informasi di dalam meolekul DNA di dalam gen. Teori akumulasi kerusakan menyatakan bahwa 

laju proses menua ditentukan oleh kerusakan dalam molekul DNA, RNA, dan sintesis protein 

spesifik, enzim, dan juga mutasi somatik akibat terpajan terhadap berbagai pengaruh yang 

merusak seperti radiasi ion. Toeri proses menua dapat pula dikelompokan berdasarkan tingkat 

organisasi biologi didalam suatu organisme. Teori organ didasarkan pada fakta bahwa perubahan 

fungsi organ sejalan dengan usia tua. Ide dasar teori ini yaitu  sebuah organ tunggal bertanggung 

jawab terhadap proses menua organisme secara keseluruhan. Diusulkan bahwa sistem imun atau 

saraf sentral mungkin memainkan peran penting. 

 

 

 

 

PROSES MENUA BIOLOGIS 

 

  

  

 

 

 

 

 

Proses Menua 

Organisme 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERUBAHAN BERBAGAI ORGAN AKIBAT PROSES MENUA NORMAL 

Perubahan yang berhubungan dengan proses menua normal sebagian besar merupakan akibat 

kehilangan atau penurunan secara bertahap. Kehilangan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak 

awal usia muda, tetapi padfa sebagian besar system organ, kehilangan tersebut baru bermakna 

secara fungsional setelah terjadi kehilangan yang besar. Perubahan fungsi kardiovaskular juga 

berkaitan dengan meningkatnya usia. Respons terhadap latihan jasmani berubah bersamaan 

dengan usia, meliputi denyut jantung yang menurun, volume ventrikel kiri akhir sistolik 

menigkat, dan berkurangnya ejection fraction ventrikel kiri. Presbiesofagus yaitu  berkurangnya 

motilitas esophagus akibat proses menua yang memicu  menurunya peristaltic usus. Namun, 

gangguan motilitas yang berat hanya ada  pada pross yang patologis.  

 

IMPLIKASI KLINIS PROSES MENUA 

Berbagai perubahan fisiologis terkait usia tentu memberikan implikasi klinis yang penting untuk 

dipahami. Adanya variasi antara individu merupakan gambaran penting proses menua yang perlu 

mendapat perhatian secara menua yang perlu mendapat perhatian secara seksana. Akibatnya, 

pendekatan algoritma, teknik triase, dan strategi pemeriksaan diagnostic tidak mungkin 

ditentukan hanya berdasarkan usia semata. Implikasi kedua proses menua yaitu  bahwa system 

biologi sangat sedikit dipengaruhi oleh usia semata, melainkan lebih sering dipengaruhi oleh 

gaya hidup seperti meokok, aktivitas fisis, asupan nutrisi, dan kondisi ekonomi. Melalui 

pengkajian yang holistic akan dapat ditetapkan berbagai factor predisposisi dan factor pencetus, 

serta hendaya yang dapat merupakan masalah utama atau pemberatan yang harus segera 

diselesaikan sebab  dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius dan fatal pada pasien usia 

lanjut. Dalam pengelolaan pasien geriatric, perlu diingat bahwa kemampuan individu usila untuk 

befungsi tergantung pada kombinasi karakteristik usila ( misalnya motivasi, toleransi terhadap 

nyeri ) dan tempat di mana usila diharapkan berfungsi. Tidak kalah pentingnya yaitu  berbagai 

usaha  pencegahan seperti gaya hidup yang baik dan benar, nutrisi yang baik dan seimbang, tidak 

merokok, lingkungan yang sehat, yang seyogyanya sudah dimulai sendiri mungkin sebelum 

seseorang memasuki usia lanjut, bahkan sejak kanan – kanan agar proses menua dapat 

berlangsung dengan normal. Bila kondisi tersebut dimungkinkan dapat diharapkan seseorang 

dapat menjalani masa tuanya dengan kualitas hidup yang lebih baik. 

 

         ( Ilmu Penyakit Dalam UI ) 

 

 

 

 

PSIKOMATIS SALURAN PERNAPASAN 

                                                                                          

KELAINAN DIFUSI  

Sebab-sebab berkurangnya kapasitas difusi 

1. Blok kapiler-alveolus: 

 - Edema paru 

 - Fibrosis paru 

 - Lesi infiltrtaif misalnya sarkoidosis 

2. Berkkurangnya daerah  tempat berdifusi 

 - Emfisema 

 - Emboli paru multipel 

 

Daya penyesuaian paru 

Merupakan ukuran terhadap elastisitas paru. Daya penyesuaian paru menjadi berkurang 

bila paru-paru menjadi kaku abnormal sebab  kongesti vena paru atau ada nya lesi infiltratif 

atau fibrotik pada paru. 

 

ANALISA GAS DARAH 

Nilai-nilanya mesti disesuaikan dengan nilai normal yang diharapkan pada masing-masing 

subjek misalnya pada bayi, orang tua, wanita hamil. 

Hipoksia, yaitu  defisiensi oksigen pada suatu tempat tertentu. 

Hipoksemia yaitu  defisiensi oksigen dalam darah. 

 

Sebab-sebab hipoksemia 

1. Kelainan paru-jantung 

 - Hipoventilasi 

 - Rasio ventilasi/perfusi abnormal 

 - Gangguan difusi 

 - Shunt vena ke arteri 

2. Berkurangnya pO2 dalam darah udara yang diinspirasikan misalnya pada tempat yang 

tinggi. 

3. Berkurangnya hemoglobin aktif misalnya pada keracunan gas arang batu. 

 

Dispnea yaitu  kesadran seseorang akan perlunya pertambahan usasaha untk bernafas. 

Hipoventilasi yaitu  berkurangnya ventilasi paru memicu  hiperkapnia. 

Pernapasan kussamaul (lapar akan udara): Terjadi pada asidosis (uremia, diabetes militus) sebab  

rangsangan terhadap pusat pernapasan. 

 

DEFISIENSI-EFISIENSI PADA PENYAKIT PARU YANG SERING DIJUMPAI 

 

Bronkhitis kronis simpleks 

Pertambahan volume sekresi bronkial yang bersifat seperti lendir secara kronis atau 



berulang dan cukup unutk memicu  ekspektorasi. 


 

Bronkitis kronis obstriktif 

Bronkitis yang disertai penyempitan ang luas dan menetap dari saluran napasintra-

pulmonar, paling tidak pada saat ekspirasi, yang memicu  bertambahnya hambatan terhadap 

alian udara. 

 

Asma  

Ditandai oleh berbagai tingkat dispnea, sering mendadak, disebabkan oleh penyempitan 

yang luas dari bronkiolus. 

 

Emfisema 

 Ditandai oleh membesarnya rongga udara distal dari bronkiolus terminal, dengan destruksi 

dinding alveoli. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SALESMA AKUT (THE COMMON COLD = ACUTE CORYZA) 

Infeksi virus akut oleh salah satu dari 30 rhinovirus yang berbeda maupun leh banyak tipe 

dari adenovirus. sebab  itu imunitas sulit diperoleh sebab  besarnya varian organisme. 

Selain dari itu, virus-virus juga berubah status antigenitasnya sewaktu menular kepada 

penjamu (host) lain. Ditandai oleh: 

Pembengkakan mukosa hidung dan nasofarings 

Demam 

Sakit kepala 

Bersin-bersin 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

Pengeluaran ingus dan hiddung tersumabat 

Batuk 

Malaise 

Mata merah dan berair 

Infeksi bakteri sekunder terjadi setelah beberapa hari, merubah sekret yang tadinya bening 

menjadi muko-purulen. 

Komplikasi yang sering terjadi yaitu  laringitis, trakeobronkitis dan otitis media. 

 

Pengobatan 

Tirah baring, minum-minuman hangat, antiseptik-analgesik (misalnya aspirin), dapat 

meringankan. Antihistamin denagn pseodoefedrin (misalnya Aktifed) ntuk meringankan sekresi 

hidng kadang-kadang berguna. 

 

SINUSITIS AKUT 

Sering merupakan kelanjutan dari selesma. Disebabkan sebab  infeksi lapisan mukosa dari 

sinus paranasal. Sekresi muko-purulen yang kental memenuhi rongga-rongga itu yang memang 

tidak memiliki saluran yang baik. 

 Timbul rasa nyeri pada sinus yang terkena dan demam yang tidak begitu tinggi. Pada 

sinusitis maklsilaris, gigi molar maksilaris mungik mensderitaa periodontitis. 

 

Pengobatan 

Antibiotik, untuk membrantas infeksi sekundr. Antipiretik-analgesik, sedotan hidung yang 

mengandung obat, dan tetes hidung yang mengandung efedrin untuk mengkerutkan selaput 

lendir yang bengakak dan untuk mempermudah pembuangan lendir dari sinus. Kadang-kadang 

diperlukan tindakan bedah. 

 

SINUSITIS KRONIS 

Biasanya didahului  oleh sinusitis akut. Terrdapat pengeluaran lendir yang muko-purulen 

terus menerus ke dalam hidung atau nasofarings (post-nasal drip) dan sering disertai sakit kepala. 

 

Pengobatan 

Antibiotik efedrin tetes hidng dan mugkin, tindakan operatif untuk mempermudah 

pengeluaran sekret dari sinus-sinus. 

 

DEMAM SERBUK SARI (Hay Fever = Rinitis Alergik) 

Respon peradangan yang bersifat alergik pada mukosa hidng. Biasanya yang menjadi 

antigen yaitu  serbuk-serbuk sari rumput, bunga-bungaan atau dari pohin-pohonan. Jadi kejadian 

penyakit akan lebih tinggi pada musim semi dan pada awal musim panas. 

 

Pengobatan  

Antihistamin per oral atau sodium cromoglycate yang dihisap. Program desensitisasi 

denagn suntikan-suntikan intra-dermal dari ekstrak serbuk sari kadang-kadang bermanfaat pada 

kasus-kasus tertentu. 

 

TONSILITIS 

Infeksi pada tonsil (kumpulan jaringan limfoid yang dilapisi epitel dalam tenggorokan). 

ada  demam yang bervariasi, sakit tenggorokan dengan rasa nyeri pada waktu menelan, 

mungkin sakit kepala dan muntah, terutama pada anak-anak. 

 Tonsil membesar dengan eksudat seperi krim dan kelenjar getas\h bening leher anterior 

membesarf. Sering disbabkanoleh virus. pemicu  infeksi bakteri yang penting adlah oleh 

streptokok beta-hemolitik grup A dari Lancefield, yang juga dapat memicu  skarlatina 

(scarlet fever), glomerulonefritis akut dan demam rematik. 

 Diagnosis dibuat dengan biakan dan tes kepekaan anti biotik dari bakteri yang diperoleh 

dari sediaan apus tenggorokan. 

 

Pengobatan 

Untuk infeksi oleh sterptokok beta-hemolitik, suntikan intra muskular penisilin digunakann 

untuk sredikasi organisme dan untuk mencegah komplikasi-komplikasi seperti nefritis dan 

demam rematik. Tirah baring, obat kumur-kumur, dan antipiretik analgesik dapat meringankan 

rasa sakit. 

 

SAKIT TENGGOROKAN (Sore Throat) 


Ini yaitu  gejal umum dari infeksi saluran napas bagian atas. 

Penyakit-penyakit khusus yang penting yaitu : 

1. tonsilitis virus atau streptokok 

2. Demam kelnjar 

(Glandular fever = Mononukleosis infektil) 

Penyakit virus ini ditandai oleh demam yang tidak terlalu tinggi, malaise, sakit tenggorokan 

dan limfadenopati yang nyata. ada  sel-sel darah putih yang abnormal yang khas pada 

sediaan apus darah. 

 Fase akut berlangsung selama 2-3 minggu tetapi mungkin masa penyembuhannya agak 

lama. Pembesaran hati dengan ikterus dapat terjadi, demikian pula pembesaran limpa dan ruam 

kulit. Penyakit ini dapat memberikan reaksi serologi WR positip palsu. 

 

3. Diskrasia darah 

ada  gangguan fungsi atau kekurangan jumlah sel-sel darah putih yang memicu  

terjadinya infeksi dimana-mana. Tenggorokan sering menjadi sasaran pertama seperi misalnya 

pada lekemia akut, anemia aplastik, dan agranulositosis. 

 

4. Angina Vincent 

Suatu bentuk yang jarang dari faringitis ulserartif yang disebabkan oleh Borellia vincent dan 

Bacillus fusiformis yang ada  diintifikasi dari sedian apus tenggorokan yang diwarnai.  

Tetapi yang efektif adlah dengan metronidazole per oral. Bila terjadi obstruksi jalan napas, 

perlu perawatan segera dirumah sakit. 

 

 

 

5. Difteria 

Tenggorokan dan tonsil terinfeksi oleh Corynebacterium diptheriae, yang dapat 

diidentifikasi dari sediaan apus tenggorok yang diwarnai. ada  selaput kelabu yang lengket, 

menutupi tonsil (membran difterik). 

 Jika menngenai laring, dapat terjadi kematian akibat tercekik. Penyakit yang serius ini 

sekarang jarang terlihat di inggris oleh sebab  adanya program imunisasi.  

 

LARINGITIS 

Laringitis akut sering menyertai infeksi saluran napas bagian atas termasuk selsma. Batuk 

kering yang terasa nyeri dengan suara parau dan hilangnya suara. 

 

Laringitis kronik: 

Infeksi kronik pada laring misalnya oleh tuberkulosis atau sifilis jarang terjadi. pemicu  

suara yang serak yaitu  karisnoma laring atau kelumpuhan pita suara. Untuk menegakan 

diagnosism, diperlukan pemriksaan dengan laringoskop. 

 

Pengobatan 

Mengistirahtkan pita suara dan dengan pemberian obat antinyeri biasanya telah mencukupi. 

Pada infeksi bakteri, antibiotik yang tepat harus diberikan. 

 

OBSTRUKSI LARING 

Lebih sering pada anak-anak karean laringnya sempit. 

1. Inhalasi benda asing misalnya gigi, permen,. 

2. Spasme laring—sebab  adanya iritasi dari misalnya gas yang bersifat merangsang. 

Beberapa obat cenderung dapat memicu  spasme laring misalnya eter atau golongan 

barbiturat yang disuntikan intra vena. 

3. edema—baik ole3h peradangan atau alergi (angio edema). 

4. Difteria 

 

Pengobatan 

Mengeluarkan benda asing. Tindakan segera mungkin dibutuhkan untuk melancarkan jalan 

napas di sebelah bawah tempat terjadinya obstruksi (trakeostomi). Untuk spasme laring, berikan 

oksigen dan jika mungkin menghilangkan pemicu nya. 

 Pada peradangan, hilangkan edeam dengan steroid dan terapi antibiotik jika perlu. 

 

PENYAKIT-PENYAKIT PADA BRONKUS 

 

BATUK 

Gejala yang umum terapat pada penyakit bronkus dan trakea. Sifat-sifat dan kwalitas dahak 

yang dihasilkan, berguna untuk menegakan diagnosis. 

Batuk kering 

Mungkin karean gelisah atau kebanyakan m,erokok. Juga ada  pada radang paru atau 

tuberkulosis dini, bronkitis akut sebab  virus, misalnya influenza atau salesma. 

Batuk produktif 

Mungkin menunjukan adanya infeksi. ada  campuran berbagai lendir dan nanah. Hal 

ini merupakan tanda bronkitis kronik atau fase akhir dari bronkitis akut. Bronkiektasis sering 

menghasilkan sputum muko-purulen yang berbau.  

Pada semua keadaan radang ini, pembuluh-pembuluh darah dapat menjadi rusak dan pada 

dahak akan ada bercak-bercak darah,(hemoptisis) 

. Penyakit jantung pada sebelah kiri (misalnya stenisis mitral dan gagal jantung) sering pula 

memicu  batuk. Edema paru disebabkan oleh sebab  gagal jantung kiri, dihubungkan 

dengan banyak sputum berbusa dan berwarna merah jambu oleh adanya darah. 

 

Bronkitis akut 

Merupakan penyakit yang umum dan dapat menyerang segala umur. Sering setelah 

influenza, selesma, campak atau batuk rejan. Batuk mula-mula kering dan tidak produktif.lama 

kelamaan batuk menjadi produktif disertai dengan sputum muko-purulen berwarna kuning. 

 Obstruksi bronkus yang terjadi memicu  suara napas seperti bunyi siulan. Ronki 

kering atau basah dapat terdengar denagn stetoskop. Pada orang tua atau lemah, dapat 

berkembanng menjadi bronkopneumonia. Hal ini dapat memicu  hipertensi pulmonal dan 

selanjutnya kegagalan jantung kanan. 

 

 

Pengobatan  

Tirah baring, obat yang mengandung kodein untuk mengatasi batuk-batuk dan antibiotik 

seperti trimetoprim—sulfametoksazol untuk membrantas infeksi bakteri sekunder.  

 

Bronkitis Kronik 

Disebabkan oleh merokok, polusi udara, dan hawa yang dingin serta lembab. Biasanya 

yang terkena yaitu  orang pada usia pertengahan atau orang-orang tua. ada  gejala batuk, 

dan cepat lelah dengan dispne (sesak napas). Sering terjadi eksaserbasi akut. 

 Dahak mungkin bersifat mukoid pada tahap kronik tetapi pada fase akut disertai nanah. 

Jelas ada  'wheezing' yang disebabakan oleh obstruksi bronkus dan spasme bronkus (asma). 

Ronki kering dan ronki basah terdengar dengan stetoskop. 

 Bronkopneumonia dan penyakit jantung-paru merupakan komplikasi-komplikasi yang 

paling sering terjadi. 

 

Pengobatan 

Ekspektoan ntuk menghilangkan sekret yang kentalo, disertai dengan bronkodilator 

(misalnya aminofilin) per oral atau melalui inhalasi untuk menghilangkan spasme bronkus. 

Sputum yang purulen merupakan indikasi untuk pemberian antibiotik (misalanya ampisilin atau 

amoksisilin). 

 Fisioterapi untuk mempermudah pengeluaran sekret dapat membantu. Penyakit kronik dan 

sepsis pada rongga mulut harus dihilangkan. 

 

Asma 

Asma ditandai oleh serangan-serangan sesak napas (dispne) hebat yang disertai 'wheezing'. 

Spasme dari bronkus memicu  ekspirasi memicu  ekspirasi sukar tetapi inspirasi realtif 

tidak berpengaruh. Jadi paru-paru penuh denagn udara, dan memicu  dada berbentuk seperti 

tong (barel-shaped). 

 Usaha sekuat-kuatnya yang dilakukaan pasien untuk mengosongkan paru-paru, membuat 

pasien menjadi lelah. Serangan-serangan timbul secara mendadak dan dapat berlangsung selama 

1jam atau lebih. Diantaa waktu serangan pasien mungkin merasa sehat, tetapi bila penyakitnya 

tealh lama mungkin terjadi infeksi atau emfisema.  

Penyakit ini sering telah mulai sejak masa anak-anak. Faktor-faktor yang mungkin amat 

mempengaruhi: 

1. Infeksi cabang-cabang bronkus 

2. Alergi terhadap debu, serbuk sari atau bulu binatang dapat merupakan faktor pencetus 

pada orang-orang yang peka. Suntikan desensitisasi mungkin ada gunanya. 

3. Faktor psikologik seperti ansietas atau sters. 

Serangan-serangan yang hebat dan berlangsung lama (satatus asmatikus) dapat 

memicu  sianosis. Mungkin terjadi penurunan kesadaran bahkan kematian. Serangan-

serangan akut semacam itu diobati denagn steroid atua bronkodilator intra vena, seperti 

aminofilin. 

 

EMPISEMA 

Disini paru-paru kehilangan elastisitasnya akiabt infeksi yang berulang dan terjadinya 

jaringan fibrotik dari epitel paru yang mengalami kerusakan. Dinding alveoli memcah dan 

membentuk rongga udara yang lebar.  

Sering kali dihubungkan dengan bronkitis kronis dan asma.akibat dari fibrosis dan 

hilangnya epitel alveoli, maka masuknya oksigen dari paru-paru kepembuluh darah paru, 

terganggu. Jadi ada  pengurangan kapasitas paru dari pasien disertai dengan sesak napas. 

Bronkopneumonia sering terjadi pada paru-paru yang rusak seperti itu. 

 

Pengbatan 

Fisioterapi untuk memperbaiki ventilasi paru-paru dan mengeluarkan benda-benda mukoid. 

Infeksi saluran napas akut memerlukan pengobatan denagn antibiotik.  Emfisema sering menjadi 

progresif dan rentan terhadap pengobatan. 

 

pemicu  emfisema 

 

Setempat 

1. Kongenital 

2. sebagai kompensasi akibat adanya paru, jaringan parut atau reseksi paru 

3. oklusi bronkus sebagian: 

       - benda asing 

       - neolasma 

       - limfadenopati peribronkial 

 

menyeluruh 

1. idiopatik ('primer') 

2. sekunder dari bronkitis kronik---- asma kronik atau pneomokoniosis 

3. senil (fisiologis) 

4. jarang-jarang bersifat fanilial (kadang-kadang disebabkan oleh defisiensi anti-tripsin).  

 

SUMBATAN PADA BRONKUS 

Dapat terjadi melalui salah satu dari 3 kemungkinan (seperti pada saluran obstruksi pada 

oragan berongga): 

1. Sumbatan pada lumen 

Dapat sebab  terhirupnya benda asing misalnya gigi, permen, atua darah. Makanan atau 

muntahan dapat terhirup oleh pasien yang tidak sadar. Benda asing seperti gigi biasanya 

tersangkut pada bronkus sebelah kanan sebab  bronkus kanan lebih vertiakl posisinya 

dibanding dengan yang kiri. 

2. Pembengkakan dinding bronkus 

pemicu  paling sering yaitu  kerisnoma bronkus 

3. Lesi desak ruang (space accupying lesion) diluar bronkus misalnya pembesaran kelanjar 

getah bening atau aneurisma aorta. 

 

Komplikasi sumabtan pada bronkus 

1. kolaps sebagian paru 

Udara pada bagian distal dari obstruksi diabsorpsi ke dalam darah, dan bagian paru itu tidak 

terisi udara kembali pada waktu bernapas. Jiak bagian tersebut cukup besar, maka akan 

terjadi dispne dan sianosis. Jika kecil, mingkin tanpa gejala. 

2. Infeksi mungkin timbul pada bagian paru yang tidak mendapat ventilasi 

3. Pembentuakan abses dapat terjadi setelah terjadinya infeksi, sebab  tidak  

memungkinkan drainase. 

4. Bronkietasis terjadi sebagai akibat campuran dari obstruksi dengan infeksi yang 

memicu  bronkus kecil yang menjadi lemah, berdilatasi membentuk tonjolan seperi 

kantung. 

 

Pengobatan 

Menghilangkan obstruksi dengan pembedahan. Terapi dengan antibiotik diberikan dan 

jika  ada abses diperlukan drainase dengan tindakan bedah. 

 

BRONKIEKTASIS 

Dilatasi bronkus, biasnya disertai dengan pernanahan bronkus yang terjadi berulang-ulang. 

 

Patogenesis 

Tarikan yang kuat kearah luar terhadap bronkus dan melemahnya dinding bronkus sebab  

peradangan, merupakan sebab yang terpenting. 

 

pemicu  

1. Infeksi 

-Bronkiolitis pada bayi 

-Campak atau batuk rejan pada anak-anak 

-Setelah kolaps bronko-pneumonik pada orang dewasa 

-Sering terjadi pada TB post-primer, tetapi di apeks, sebab  itu infeksi sekunder jarang 

terjadi. 

2.  Stenosis atau okulasi bronkus 

-Adenoma atau karisnoma 

-Benda asing atua serangan asma 

-Limfadenopati 

3.  Aspergilosis 

4.  Mukovisidosis 

5.  Bawaan 

6.  Banyak kasus yang idiopatik  

 

 

 

Gambaran klinik 

1. Gejala kalsik—batuk dengan banyak sputum yang purulen, terutama pada perubahan 

posisi. 

2. Tanda kalisk—krepitasi kasar setempat yang menetap. 

3. Mungkin asimotomatik 

4. Malaise, demam intermiten, halitosis 

5. Kehilangna berat badan atua k egagalan pertumbuhan. 

6. Dispne, sianosis atua 'clubbing' 

7. Batuk darah (bronkiektasis kering') 

8. Tanda-tanda kolaps atau fibrosis 

9. Sering terjdi bersamaan dengan sinusitis. 

 

Komplikasi 

1. Radang par-paru yang terjadi berulang-ulang sete;ah infeksi saluran napas bagian atas. 

2. Radang selaput paru (pleuritis) kering yang timbul berulang 

3. Batuk darah berat 

4. Abses paru, empiema atua abses otak 

5. Kor pulmonale 

6. Amiloidosis 

 

RADANG PARU-PARU (PNEUMONIA) 

 

Klasifikasi anatomik 

1. Lobar (lobus) 

Disebabkan oleh organisme virulen seperti pneumokokus epidemik (misalnya tipe 3) 

stafilokokus aureus atau friedlander (klebsiela) 

 

2. Segmental (pneumonia aspirasi benigna) 

Disebabkan oleh organisme bervirulensi rendah. Sering terjadi setelah infeksi saluran 

napas bagian atas. 

 

 

 

3. Lobullar ('bronkopneumonia' jika nilateral) 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

Terjadi pada bayi-bayi dan orang-orang tua atau penderita yang lemah. Disebakan oeh 

Haemophilus influenzae, 'carrier' pneumokok, sterptokok, TBC. 

 

Klasifikasi  etiologik 

1. infeksi 

2. alergi 

3. zat kimia 

4. agen fisik 

 

Dalam mencari pemicu  radang paru-paru, harus diingat kemungkinan akan: 

1. Adanya penyakit paru-paru sebelumnya misalnya karsinoma bronkus, bronkiekatsis 

2. Radang paru sebab  inhalasi 

3. Adanya penyakit sistemik yang merupakan predisposisi seperti diabetes, sirosis atau 

agranulositosis 

4. Benda asing yang tak tampak pada sinar tembus (isalnya kacang) 

 

Tanda-tanda obstruksi disfus saluran napas dan distensi paru 

1. Inspeksi 

-Bertambahnya diameter AP dada 

-Pencekungan fosa supra-kalvikular selama inspirasi 

-Vena jugularis terisi selama ekspirasi 

 

2. Palpasi 

-Terpakainya otot-otot tambahan (selama bernapas) 

-Waktu inspirasi trakea menurun 

-Gerakan paradoks dari tepi tulang iga 

 

3. Perkusi 

Keredupan jantung dan hati berkuang 

 

4. Auskultasi 

Berkurangnya suara napas dan waktu ekspirasi paksa melebihi 4 detik 

 

TUBERKULOSIS 

 

Bakteriologi 

Disebabkan olehorganisme berbentuk batang, Mycobacterium tuberkulisis. Bakteri itu 

dapat idup untuk jangka waktu yang lama dalam keadaan kering sebab  memiliki sarung sperti 

lilin.  

 

Patologi 

Kontak pertama ddengan kuman ini memicu  reaksi radang—folikel tuberkular. Ini 

terdiri dari kuman sel-sel retikulo-endotelial yang diinfiltrasi dengan sel-sel raksasa dan 

dikelilingi oleh limfosit.  

Nekrosis (perkijuan) terjadi pada pusat folikel. Penyatuan daari folikel-folikel seperti 

benjolan kecil, yang merupakan gambaran khas tuberkel, dari mana nam apenyakit ini di ambil. 

 

TUBERKULOSIS PRIMER 

Ini yaitu  reaksi yang terlihat pada seseorang yang sebelumnya tidak pernah kontak 

dengan kuman itu. Di paru-paru, bentuk lesi primer ada  tepat dibawah pleura. Penyebaran 

limfatik membuat kelenjar getah bening regional terkena dan memicu  perkijuan.  

Lesi asal tetap tidak tampak. Lesi primer yang diusus, akan memicu  hal yang sama 

pada kelenjar getah bening regionalnya, yang akan mengalami perkijuan.. 

 

Gambaran klinik 

Seringkali tidak berarti walau mungkin terjadi gejala seperti 'flu' atau menurunnya berat 

badan. Juga, TBC primer tidak tampak pada foto sinar tembus abdomen kecuali jika telah terjadi 

perkapuran. Efusi pleura mungkin telah terjadi, dan pada anak-anak sering ada  pembesaran 

yang cukup menyolok dari kelenjar getah bening mediastium yang dapat memicu  obstruksi 

bronkus. 

 

 

 

Nasib dari lesi primer 

1. Sembuh, melalui proses fibrosis dan perkapuran. Di paru fokus Ghon ini (suatu parut 

dalam lapangan paru, tepat di bawah pleura) dapat dilihat pada foto sinar tembus. Ini 

yaitu  paling sering terjadi. 

2. Terjadi bronkopneumonia tuberkulosa, jika suatu folikel memecah masuk ke dalam suatu 

bronkus, dan memicu  infeksi pada bagian lain dari paru. Timbul demam, keluar 

banyak keringat dan batuk. Sebelum ada onat antituberkulosis yang efektif, keadaan ini 

biasnya fatal. Dahaknya menyevbarluaskan penyakit. 

3. Terjadi tuberkulosis miliar yang disebabkan oleh isi sebuah folikel masuk kedalam 

pembuluh darah. Dengan demikian kuman menyebar keseluruh tubuh. Timbul turbekel-

turbekel kecil yang multipel, menyerupai biji jawawut. Jika mengenai otak, terjadilah 

miningitis tuberkulosis. Dahulu tuberkulosis miliar juga fatal. 

4. Menjadi tuberkulosis soliter yang juga sebab  penyebarluasan oleh darah, tetapi hanya 

sedikit kuman yang terlibat. Terjadi lesi soliter yang jauh letaknya dan pembedahn 

merupakan satu-satunya pengobatan. Misalnya tuberkulosis tulang atua tuberkulosis 

ginjal. 

 

TUBERKULOSIS PASCA PRIMER 

Setelah pernah terinfeksi sekali, kontak berikutnya dengan tuberkulosis, memicu  

reaksi yang berbeda yang disebabkan sebab  reaksi alergi maupaun reaksi imun. Alergi terhadap 

protein yang ada  didalam sarungkukan, berkembang kira-kira 6 minggu setelah infeksi 

primer. 

 Infeksi dikemudian hari dengan tuberkulosis atau pada pecahnya suatu lesi primer yang 

telah menyembuh (misalnya  setelah suatu pengobatan jangka lama dengan  steroid) akan 

menghasilkan suatu lesi yang berbeda. 

 

Gambaran klinik 

Bertambahnya frekuensi denyet nadi, kehilangan berat badan dan demam (sering pasien 

berkringat pada malam hari). Kemudaian timbul batuk-batuk dan sesak napas. Foto sinar tembus 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

dada memperlihatkan bayangan pada apeks paru yang disebabkan adanya kavitasi. Jika kavitasi 

merusak pembuluh darah, maka timbulah batuk darah. 

 

Nasib dari lesi pasca primer 

1. Dapat sembuh. 

2. Dapat menyebar secara lokal dengan menimbulkan kavitasi dan pengkijuan 

3. Jarang-jaang dapat merusak pembuluh darah dan memicu  tuberkulosis miliar. 

 

Pengobatan 

Ada kemoterapi ang efektif, tetapi yang menjadi masalah yaitu  bila pasien merasa gagal 

minum obat. Obat-obat yang berguna yaitu  PAS (para-amino-salicylic acid), isoniazid 

(isonoacotinic acid hydrazide), rifampicin, etambutol dan ethionamide. 

 

Sebab-sebab kolapsnya paru 

1. Kolaps absorpsi (disebabkan obstruksi bronkial komplit) 

-Intraluminal, misalnya sebab  benda asing, mukus atau bekuan darah 

-Mural, misalnya karisnoma bronkial atau adenoma 

-Ekstamural, misalnya sebab  limfadenopati peribronkial atau 

aneurisma aorta 

2.  Pneumatoraks atau efusi pleura. 

 

Sebab-sebab efusi pleura 

A. Transudat (cairan yang mengandung protein kurang dari 2g/100ml): 

1. gagal jantung 

2. sindroma nefrotik 

3. kegagalan fungsi hati 

 

     B   Eksudat (kadar protein lebih dari 2g/100ml): 

1. Radang paru-paru 

2. Kegansan (karisnoma bronkial, karisnoma sekunder atau Hodgkin) 

3. Tuberkulosis 

4. Infrak paru-paru 

5. Penyakit kolagen-vaskular (terutama SLE) 

6. Abses subdiafragma 

 

Sebab-sebab pneumotoraks 

1. Trauma 

2. Iatrogenik misalnya sebab  torakosentesis atau pembedahan 

3. Spontan (bulla subpleura, Emifisema, Asma, Tuberkulosis, Abses paru-paru, 

Pneumokoniosis) 

 

Sebab-sebab edema paru akut 

1. Gagal jantung kiri: 

Artial, misalnya sebab  stenosis katup mitral. Ventrikular, misalnya sebab  hipertensi atau 

infrak miokardium. 

2. Cairan intra vena yang berlebih (overload) 

3. Inhalasi gas yang bersifat iritan misalnya klorin 

4. Radang paru-paru sebab  virus atua bakteri yang ganas  

5. Emboli lemak. 

 

Sebab-sebab  yang paling banyak dari batuk darah 

Singkirkan kemungkinan hemp[otisis (perdarahan hidng dan sebagainya) 

 

Pernapasan 

1. Karisnoma bronkus 

2. Tuiberkulosis paru 

3. Bronkitis 

4. Bronkitiektasis 

5. Abses paru-paru 

 

Kardiovaskular 

1. Infark paru-paru 

2. Stenosis katup mitral 

3. Kegagalan ventrikel kiri akut 

 

 

Yang lebih jarang 

1. Radang paru-paru, terutama sebab  pneumokok 

2. Penyakit kolagen-vaskular, terutama poliarrteritis nodosa 

3. Hemosiderosis paru idiopatik 

 

FIBROSIS PARU-PARU 

Disebabkan oleh infeksi kronik yang telah berlangsung lama atau sebab  inhalasi debu-

debu tertentu. Infeksi kronik memicu  fibrosis, yang jika cukup luas, dapat menggantikan 

sebagian besar jaringan paru normal. Seringkali berhubungan dengan bronkiektasis. 

Akibatnya, fibrosis itu memicu  paru-paru, mediastinum, bahkan dinding dada dapat 

mengalami distorsi. Inhalasi debu dapat memicu  peradangan kronik dan fibrosis. Debu 

terpenting yaitu  silika, yang memicu  silikosis. Tukang batu dan mereka yang 

menggunakan gerinda, paling sering terkena, juga penambang batu bara terutama yang 

mengandung antrasit.  

Pekerjaan absestos mempunyai resiko tambahan terhadap sejenis karisnoma (mesotelioma). 

 

Gambaran klinik 

Sesak napas dan sianosis yang makin lama makin  bertambah hebat. Ada kecenderungan 

untuk sering terkena infeksi saluran napas. 

 

Pengobatan 

Pengobatan terhadap keadaan yang telah tejadi, sulit. Yang penting yaitu  tindakan  

pencegahan. jika  diperlukan beri antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder.  

 

TUMOR-TUMOR PARU GANAS 

1. Primer 

Karisinoma bronkus 

Salah satu bentuk kanker yang paling sering. Lebih sering mengenai laki-laki walaupun 

insiden pada wanita kini makin bertambah. Insiden terbanyak yaitu  pada kelompok umur 50-60 

tahun. Lebih sering lagi pada perokok. 

 Perubahanmaligna pada sel-sel epitel bronkus menimbulkan tumor yang berdiferensiasi 

rendah. Bronkus biasnya tersumabt dan bagian paru distal dari tempat obstruksi menjadi kolaps. 

 

Gambaran klinis 

Bentuk yang menetap dan sesak napas yang makin bertambah. Bila terjadi ada sebagian 

paru yang kolaps, mungkin dapat memicu  infeksi, dan timbul rasa nyeri yang berasal dari 

pleura (menusuk) disertai radang dari paru kolaps. Keadaan ini tidak akan pernah 

sembuhsempurna kembali. 

 Bentuk darah yaitu  gejala yang penting yang disebabkan oleh terjadinya perdarahan dari 

permukaan tumor yang luka. Metastasis sekunder mungkin merupakan tanda pertama yang 

dijumpai, dan mengenai tulang-tulang (termasuk mandibula), hati, kelenjar getah bening, otak 

atau dimana saja. 

 

Pengobatan 

yaitu  dengan jalan pembedahan, kemoterapi dan radioterapi, tetapi umumnya 

prognosisnya buruk. 

 

2. Tumor-tumor paru maligna sekunder 

Mungkin berasal dari jaringan epitel (karisnoma) atau jaringan ikat (sarkoma). Keadaan ini 

tidak jarang ada  diparu dan biasnya lokasi primernya yaitu  di buah dada, ginjal, kelenjar 

tiroid, ataudi paru sendiri. Sarkoma, terutama dari tulang, paling sering bermetastasis ke paru-

paru.  

Metastasis-metastasis itu membentuk deposit-seposit yang dengan sinar tembus terlihat 

berbentuk seperti 'cannonball'. 

 

Pengobatan 

Pembedahan yang bersifat paliatif. Juga denagn kemoterapi dan radioterapi. 

 

SINDROM VENA KAVA SUPERIOR 

Suatu tumor yang besar di mediastinum yang dapat menekan vena cava superior. 

Bendungan yang terjadi, dapat dilihat sebagai pelebaran vena  di leher, sianosis dan edema pada 

separuh bagian atas tubuh. 

 Vena-vena supervisial pada dinding dada melebar dan dapat terlihat jelas, sebab  mereka 

membentuk sirkulasi kolateral untuk mengatasi obstruksi pada vena cava. Masa desak ruang 

lainnya dalam dada dapat pula memicu  obstruksi vena kava, seperti misalnya pada 

pembesaran kelnjar getah bening pada penyakit Hodgkin. 

 

Terapi oksigen 

Pada hipoksia menahun  yang disebabkan oleh hipoventilasi (misalnya bronkitis kronik, 

asma), pCO2 arteri meningkat dan bila mengobati dalam keadaan ini dengan oksigen dengan 

konsentrasi tinggi, dapat memicu  pusat pernapasan kehilangan kepekaan terhadap keadaan 

anoksia, dan akan memicu  narkosis dengan CO2.  

Oleh sebab  itu haruslah digunakan oksigen yang berkadar rendah dengan 'mask'misalnya 

Venti-mask atau Edinburgh mask, disertai dengan analisis gas darah yang dilakukan berkali-kali 

(secara seri). 

 Pada hipoksia sebab  gangguan pertukaran gas (misalnya pada radang paru-paru atau 

edema  paru), diperlukan topeng (mask) dengan oksigen berkadar tinggi seperti misalnya 

Polymask. 

 

*ALGORITME ACLS* 

 

Bagan 9-1. Algoritme ACLS VF, VT tanpa pulpus, PEA dan asistolik 

VT ATAU TANPA PULSE 

 

ABC dan RJP hingga tersedia 

defibrilator 

 

Defribrilasi sampai 3 kali 

(200J,330J,360J) periksa irama 

dan tanda vital setiap selesai 

dilakukan defrilasi 

 

RJP, intubasi, akses IV 

 

AKTIVITAS ELEKTRIS 

TANPA PULSE 

Termasuk: EMD, irama 

Idioventriular dan 

bradiasistolik 

 

RJP, intibasi, Akses IV 

 

Pikiran pemicu  – 

pemicu   yang revesible: 

Hipovolemia, Hipoksia, 

tamponade, tension 

ASISTOLIK 

 

RJP, intubasi, akses IV 

 

Konfirmasi pada lebih 

dari 1 lead 

 

Pikiran penyabab – 

pemicu  yang 

revesible: 

Hipoksia, hiperkalemia, 

hipokalemia, asidosis, 

Epinefrin 1 mg IV setiap 3-5 

menit 

 

Defibrilasi 360 J  

dalam 30-60 detik 

 

Obat lini kedua 

 lihat di bawah 

 

Defibrilasi 360J dalam 30-60 

detik 

Pola seharusnya drug-shock, 

drug-schock 

Pneumotoraks, MI masif, PE, 

hiperkalemia, asidosis, 

overdosis obat, hiporemia 

 

Epinefrin 1 mg IV 

Setiap 3-5 menit 

pertimbangkan dosis yang 

lebih tinggi pada protokol 

VF/VT lini kedua 

 

Atropin 1 mg IV 

Setiap 3-5 menit untuk 

bradikardi hingga mencapai 

dosis totalnya 0,04 mg/kg 

overdosis obat, 

hipotermia 

 

Pertimbangkan pacu 

Transkutaneus segera 

 

Epinefrin 1 mg IV 

Setiap 3-5 menit untuk 

pertimbangkan dosis 

yang lebih tinggi pada 

protokol VF/VT lini 

kedua 

 

Atropin 1 mg  

Setiap 3-5 menit untuk 

bradikardi hingga 

mencapai dosis totalnya 

0,04 mg/kg 

OBAT LINI KEDUA VF/VT TANPA PULSE 

Urutan Standar: 

•1 Lidokain 10-15mg/kg (dosis rata – rata 100 mg), ulangi dalam 3-5 menit 

•2 Bretilium 5 mg/kg (dosis rata – rata 300-350 mg), ulangi dalam 5 menit dengan 

10mg/kg (dosis rata – rata 700 mg) 

•3 Magnesium sulfat 1-2 gram IV 

•4 Prokainamid 30 mg/menit dengan dosis total 17mg/kg (dosis rata – rata 1 gram) 

Pada MI akut pertimbangkan pula: 

•1 Amiodaron 150 mg IV sekitar 10 menit 

Pilihan tambahan epinefrin: 

•2 Dosis Epinefrin pada intyermediat (2-5 mg), meningkat (1 mg, 3mg,5mg) atau tinggi 

(0,1 mg/kg) 

NATRIUM BIKARBONAT 

Dosis: NahCo3 1 mg/kg 

Indikasi: Asidosis yang responsive-bikarbonat, overdosis TCA, alkalinisasi urine, waktu 

henti yang panjang  

PENATALAKSANAAN Ypemicu  YANG REVESIBEL 

Hipovolemi: infuse volume  MI massif: terapi reperfusi, IABP 

Hipoksia: Ventilasi PE masif: trombolisis 

Tamponade:Perikardiosentesis Hiperkalime:NAHCO3, kalsium,insulin 

Tension pneumotoraks: dekompresi Asidosis: NAHCO3 

                                   jarum 

(diadaptasi atas izin dari Emergancy Cardiac Care Commitee and Subcommitees, American 

Heart Association, pedoman terhadap perawatan Jantung Darurat dan Resusitasi 

Kardiopulmonal.JAMA 268:2171, 1992,1992 America Medical Association. 

 

 

 

 

Bagan 9-2. Algoritme Takikardia ACLS 

TAKIKARDI 

 

ABC akses IV, oksigen, tanda vital, EKG 12 lead, H&P,CXR 

 

Tidak stabil dengan BP rendah, neri dada, AMI dispnua, 

CHF atau perubahan pada setatus mental? -ya→Takikardi Sinus tersingkirkan Kardioversi (lihat 

dibawah) jaringan diperlukan selama 

HR<150 

Tidak atau borderline 

 

 

 

 

 

  Lidokain 1-1,5mg/kg  

Diotiazem Maneuver Vegal lidokain 1-1,5 mg/kg ulangi0,5-0,75mg/kg 

Penyakit Beta ulangi 0,5-0,75 mg/kg setiap 5-10menit 

hingga 

(beta-blockers) Adenosin setiap 5-10 menit hingga dosis maksimum  

Vrapamil 6mg,12mg,12mg dosis maksimum 3mg/kg 3mg/kg 

Digoksin pemberian IV secara  

Prokainamid cepat adenosin 

Kuinidin 6mg,12mg,12mg 

Antikoagulan pemberian IV secara cepat 

 Kompleks PQR melebar? 

 

 menyempit melabar 

 prokkan

amid 

tekanan darah  lidokain 1-1,5mg/kg 20-30 

mg/mnt 

rendah atau tak setabil? Dosis beban 

maksimal 

 prokalnamid 20-30mg/menit 17 mg/kg 

tidak ya dosis beban maksimal 17mg/kg 

 Bretilium 

 5-10 mg/kg sekitar  

verapamil 8-10 mg/menit 

2,5-5,0 mg IV dosis maksimal  

Ulangi5-10mg IV 30 mg/kg/hari 

Dalam 15-30 menit 

 

 

digoksin 

penyekat beta  

(beta-blockers) 

diltiazem 

 

 

 

KARDIOVERSI TERSINKONISASI 

jika  pasien terbangun dari waktu mengizinkan, berikan sedasi 

AF: 100,200,300,360 J 

AFL: 50,100,200,300,360 J 

PSVT: 50,100,200,300,360 J 

VT: 100,200,300,360 J 

(diadaptasi atas izin dari Emergancy Cardiac Care Commitee and Subcommitees, American 

Heart Association, pedoman terhadap perawatan Jantung Darurat dan Resusitasi 

Kardiopulmonal.JAMA 268:2171, 1992,1992 America Medical Association) 

 

 

Bagian 9- 3.Algoritme Bradikardia ACLS 

 

BRADIKARDI 

Pasien tidak dalam keadaan henti jantung 

 

ABC, akses IV, oksigen, tanda vital, EKG 12-lead, H & P, roentgen toraks 

 

Tidak stabil dengan tekanan darah rendah, nyeri dada, AMI, dispenu, CHF, atau perubahan pada 

status mentalis? 

 

 tidak ya 

  atropine 0,5-1,0mg IV 

 blok AV derajat dua tipe II setiap 3-5 menit 

 atau blok AV derajat tiga? Hingga mencapai dosis 

total 

 0,04 mg/kg 

 

 tidak ya pacu transkutaneus 

 

 pacu traskutaneus dopamin 2-20 

µg/kg/menit 

 observasi (menggunakan pacu transkutaneus 

 sebagai stu hubungan) epinefrin 2-10 

µg/menit 

 

 isoprotenol? 

 

 

(diadaptasi atas izin dari Emergancy Cardiac Care Commitee and Subcommitees, American 

Heart Association, pedoman terhadap perawatan Jantung Darurat dan Resusitasi 

Kardiopulmonal.JAMA 268:2171, 1992,1992 America Medical Association) 

 

 

Bagan 9-4. Algoritme ACLS syok, edema paru atau hipotensi 

 

EDEMA PARU AKUT, HIPOTENSI, ATAU SYOK 

 

ABC, akses IV, oksigen, tanda vital, EKG 12-lead, H&P, rontgen toraks 

 

Apa pemicu  masalah tersebut? 

 

 

 

 

  

Cairan, transfuse darah bagaimana tekanan darahnya? Lihat algoritme 

takikardi 

Pertimbangan Vasopresor (setelah pemberian bolus emperis atau bradikardi 

 250-5—ml NS kecuali pada edema paru 

 

 

 

(diadaptasi atas izin dari Emergancy Cardiac Care Commitee and Subcommitees, American 

Heart Association, pedoman terhadap perawatan Jantung Darurat dan Resusitasi 

Kardiopulmonal.JAMA 268:2171, 1992,1992 America Medical Association) 

 

 

* OBAT – OBAT  DI ICU * 

 

DOSIS   

Per kg Dosis rata - rata 

Pressor, inotropik, dan kronotropik 

Dopamine D 

β, D 

α, β, D 

0,5-2 µg/kg/menit 

2-10 µg/kg/menit 

> 10  µg/kg/menit 

50-150 µg/menit 

200-500 µg/menit 

500-1000 µg/menit 

Norepinefrin α1 > β1 1-40 µg/menit 

Fenilefrin α1 10-300 µg/menit 

Dobutamin β1 > β2 2-20 µg/kg/menit 50-1000 µg/menit 

Epinefrin α1, α2, β1, β2 2-20 µg/menit 

Isoproterenol β1, β2 0,1 – 10 µg/menit 

Amrinon PDE 0,75 mg/kg sekitar 3 

menit, lalu 5-10 

µg/kg/menit 

40-50 mg sekitar 3 

menit, lalu 250-900 

µg/menit 

Milrinon PDE 50 µg sekitar 10 

menit, lalu 0,375-

0,75 µg/kg/menit 

3-4 mg sekitar 10 

menit, lalu 20-50  

µg/menit 

Kardiak 

Lidokain Kanal Na (na channel) 

(golongan IB) 

1-1,5 mg/kg, lalu 1-4 

mg/menit 

70-100 mg lalu 1-4 

mg/menit 

Prokainamid Kanal Na (Na channel) 

(golongan IA) 

17 mg/kg sekitar 60 

menit, lalu 1-4 

mg/menit 

1 gram sekitar 10 

menit lalu 1-4 

mg/menit 

Amilodaron Na, K, penyekat β, CCB 

(golongan III) 

150 mg sekitar 10 menit, lalu 1 mg/menit 

selama 6 jam, lalu 0,5 mg/menit selama 18 

jam 

Bretilium Kanal K (K channel) 

(golongan III) 

5-10 mg/kg, lalu 1-4 

mg/menit 

350-700 mg lalu 1-4 

mg/menit 

Ibutilid Kanal K (K channel) 

(golongan III) 

1 mg selama 10 meni, dapat diulang 1 kali 

Nitrogliserin NO 10-1000 µg/menit 

Nitroprusid NO 0,1-10 µg/kg/menit 5-800 µg/menit 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

Epoprostenol Vasodilator direk 2-20 µg/kg/menit 

Propranolol Penyekat β 0,5-1,0 mg setiap 5 menit, lalu 1-10 mg/jam 

Esmolol Penyekat β1 > β2 500 µg/kg, lalu 25-

300 µg/kg/menit 

20-40 mg sekitar 1 

menit, lalu 2-20 

mg/menit 

Labetalol Penyekat α1, β1, β2 20 mg sekitar 2 menit, lalu 20-80 mg setiap 5 

menit, lalu 1-10 mg/jam 

Verapamil CCB 2,5-5 mg sekitar 1-2 menit diulang 5-10 mg 

dalam 15-30 menit prn 5-20 mg/jam 

Diltiazem CCB 0,25 mg/kg sekitar 2 

menit pemberian 

ulang prn 0,35 mg/kg 

satu kali lalu 5-15 

mg/jam 

20 mg sekitar 2 menit 

pemberian ulang 25 

mg satu kalli PRn 

lalu 5-15 mg/jam 

Adenosin Reseptor Purinergik pada 

AVN 

Pemberian cepat 6 mg jika tak berespons 12 

mg → 12-18 mg 

 

 

DOSIS   

Per kg Dosis rata – rata 

Kardiak 

Enalaprilat ACE 0,625-25 mg sekitar 5 menit, lalu 0,625-5 mg 

setiap 6 jam 

Hidralazin Vasodilator direk 5-20 mg setiap 20-30 menit 

Sedasi 

Morfin Reseptor opioid µ 1 tak terbatas mg/jam 

Fentanil Reseptor opioid µ 50-100 µg lalu 50 tak terbatas µg/jam 

Thiopental Barbiturate 3-5 mg/kg sekitar 2 

menit 

200-400 mg sekitar 2 

menit 

Etomidat Anesteti 0,2-0,5 mg/kg 100-300 mg 

Propofol Anestetik 1-3 mg/kg lalu 0,3-5 

mg/kg/jam 

50-200 mg lalu 20-400 

mg/jam 

Diazepam Benzodiazepine 1-5 mg setiap 1-2 jam, lalu setiap 6 jam prn 

Midzolam Benzodiazepine 0,5-2 mg setiap 5 menit prn atau 0,5-4 mg, lalu 

1-10 mg/jam 

Ketamin Anestetik 1-2 mg/kg 60-150 mg 

Haloperidol Antipsikotik 2-5 mg setiap 20-30 menit 

Paralitikum 

Suksinilkolin Paralysis, depolarisasi 0,6-1,1 mg/kg 170-100 mg 

Tubokurare nACh 10 mg, lalu 6-20 mg/jam 

Pankuronium nACh 0,08 mg/kg 2-4 mg setiap 30-90 

menit 

Vakuronium nACh 0,08 mg/kg lalu 0,05-

0,1 mg/kg/jam 

5-10 mg sekitar 1-3 

menit, lalu 2-8 mg/jam 

Kisatrakurium nACh 5-10 µg/kg/menit 

Lain – lain 

Aminofilin PDE 5,5 mg/kg sekitar 20 

menit,, lalu 0,5-1 

mg/kg/jam 

250-500 mg alu 10-80 

mg/jam 

Insulin  10U, lalu 0,1 U/kg/jam 

Glukagon  5-10 mg, lalu 1-5 mg/jam 

Vasopressin Reseptor V1 0,1-0,4 U/jam 

Oktreotid Analog somatostatin 50 µg lalu 50 µg/jam 

Fenitoin Antiepilepsi 20 mg/kg pada 50 

mg/menit 

1-1,5 gram sekitar 20-

30 menit 

Fosfenitain Antiepilepsi 20 mg/kg pada 150 

mg/menit 

1-1,5 gram sekitar 10 

menit 

Fenobarbital Barbiturate 20 mg/kg pada 50-75 

mg/menit 

1-1,5 gram sekitar 20 

menit 

Manitol  1,5-2 gram/kg sekitar 30-60 menit ulangi setiap 

6-12 jam untuk memperhatikan osmolaritas 310-

320 

 

 

* ANTIBIOTIK * 

 

Dosis pada gagal jantung   

LFG > 

50 

LFG 10-50 LFG < 10 

Sefalosporin 

generatif IV 

Sefalim 

 

 

1-2 gram IM/IV setiap 12 jam 

NC 1-2 gram setiap 

16-24 jam 

1-2 gram setiap 

24-48 jam 

Aminoglikosida 

Gentamisin 1,0-1,7 mg/kg setiap 8 jam 60-90% 

Setiap  

8-12 jam 

30-70% 

setiap 

12-18 

jam 

20-30% 

setiap 24-

48 jam 

 

 Atau1,0-1,7mg/kg setiap(8XserumCr)jam 

Tobramisin 1,0-1,7 mg/kg setiap 8 jam 60-90% 

Setiap 8-12 jam 

30-70% 

setiap 12-

18 jam 

20-30% 

setiap 24-

48 jam 

 

 Atau1,0-1,7mg/kg setiap(8XserumCr)jam 

Amikasin 5 mg/kg setiap 8 jam 60-90% 

Setiap 

8-12 jam  

30-70% 

setiap 

12-18 

jam 

20-30% 

setiap 24-48 

jam 

 

  Atau1,0-1,7mg/kg 

setiap(8XserumCr)jam 

  

Fluorokuinolon 

Siproflokasin 

 

 

Grepafloksasin 

 

 

Levoflokasin 

 

 

Norfloksasi 

 

 

Ofloksasin 

Sparfloksasin 

 

Trovafloksasin 

 

 

500-750 mg PO setiap 12 jam 

200-400 mg Iv setiap 12 jam 

 

400-600 mg PO setiap 24 jam 

 

 

250-500 mg PO/IV setiap 24 jam 

 

 

400 mg PO setiap 12 jam 

 

 

200-400 mg PO/IV setiap 12 jam 

400 mg PO pada hari 1,lalu  

200 mg PO setiap 24 jam 

100-200 mg PO setiap 24 jam 

200-300 mg Iv setiap 24 jam 

 

NC 

 

 

NC 

 

NC 

 

 

NC 

 

 

NC 

 

 

NC 

 

250-500 mg setiap 12 

jam 

 

250mg setiap 24jam 

 

400mg setiap12-24jam 

 

 

400mg setiap 24 jam 

 

 

200 mg setiap 48 jam  

 

 

NC 

 

250-500 mg 

setiap 12 

jam 

250mg 

setiap 24jam 

400mg 

setiap12-

24jam 

400mg 

setiap 24 

jam 

200 mg 

setiap 48 

jam  

NC 

Makrolid 

Azitromisin 

 

Klaritromisin 

Eritromisin 

 

 

500 mg PO pada hari 1, lalu 

250 mg PO setiap 24 jam 

250-500 mg PO setiap 12 jam 

0,5-1 gram IV setiap 6 jam 

250-500 mg PO setiap 6 jam 

 

NC 

 

?↓ 

NC 

 

NC 

 

?↓ 

NC 

 

NC 

 

?↓ 

250-500 mg 

IVsetiap 6 

jam, 250 mg 

PO setiap 6 

jam 

Tetrasiklin 

Tetrasikin 

 

 

Doksisiklin 

 

250-500 mg PO setiap 6 jam 

 

 

100 mg PO/IV setiap 12-24 jam 

 

250-500 

setiap 8-

12 jam 

NC 

 

Hindari 

 

 

NC 

 

Hindari 

 

 

NC 

Lain – lain 

Kloramfenikol 

Klindamisin 

 

Metronidazol 

 

 

 

Nitrofurantoin 

TMP-SMX 

 

 

0,5-1 gram IV/PO setiap 6 jam 

600 mg IM/IV setiap 8 jam 

150-300 mg PO setiap 6 jam 

15 mg/kg IV, lalu 

7,5 mg/kg (-500 mg) 

Setiap 6 jam 

500 mg PO setiap 6 jam 

50-100 mg PO setiap 6 jam 

2-5 mg TMP/kg 

PO/IV setiap  6 jam 

 

NC 

NC 

 

NC 

 

 

 

NC 

NC 

 

NC 

NC 

 

NC 

 

 

 

Hindari 

2-5 mg TMP/kg 

Setiap 12 jam 

 

NC 

NC 

 

NC 

 

 

 

Hindari 

Hindari 

Vankomisin 500 mg IV setiap 6 jam 

1 gram IV setiap 12 jam 

1 gram 

setiap 

24-72 

Ikuti kadar acaknya, pemberian dosis 

ulang dengan 1 gram jika  kadarnya 

<10 

jam 

(* tablet keuatan tunggal – 1 ampul – 80 TMP + 400 mg SMX) 

 

 

 

 

 

* FORMULA & REFERENSI CEPAT * 

 

KARDIOLOGI 

Parameter Hemodinamik Nilai Normal 

Tekanan arteri rata- rata (MAP) = (SBP X 2) + DBP 

 3 

70-100 mm Hg 

Denyut jantung (HR) 60-100 kali per detik 

Tekanan atrium dekstra (RA) ≤ 6 mm Hg 

Ventrikel dekstra (RV) Sistolik 15-30 mm HG 

Distolik 1-8 mm HG 

Arteri pulmonalis (PA) Sistolik 15-30 mm Hg 

Rata – rata 9-18 mm Hg 

Distolik 6-12 mm Hg 

Tekanan wedge kapiler pulmonal (PCWP) ≤ 12 mm HG 

Curah jantung (CO) 4-8 L/menit 

Indeks jantung (CI) = CO 

 BSA 

2,6-4,2 L/menit?m2 

Isi sekuncup (SV) = CO 

 HR 

60-120 ml/kontraksi 

Indeks isi sekuncup (SV) = CI 

 HR 

40-50 ml/kontraksi/m2 

Resistensi vascular sistemik (SVR) = (MAP-Rata – rata RA) X 80 

 CO 

800-1200 dyne X detik/cm3 

Resistensi vaskular paru(PVR)=([rata-rataPA] - [rata-rataPCWP]) X 80 

 CO 

120-250dyne X detik/cm3 

(catatan*aturan 6(rule of 6)*untuk tekanan yang diukur kateter PA: RA ≤ 6, RV ≤ 30-/6, PA≤ 30/12, 

WP ≤ 12) 

 

Curah jantung Fick 

Konsumsi oksigen (L/menit) = curah jantung (L/menit) X selisih oksigen arteivenosa 

Curah jantung (L/menit) = konsumsi oksigen (L/menit)/ selisihh oksigen arterivenosa 

Konsumsi oksigen harus diukur (dapat diperkirakan sekitar 125 ml?menit?m2, tapi sangat tidak 

akurat) 

Selisih oksigen arterivenosa = Hb (g/dL) X 10 (dL/L) X 1,36 (ml O2/g Hb) X (Sa02 - SvO2) 

Sa02 Diukur dalam sempel arteri (biasanya 93-98%) 

SvO2 = O2 vena yang tercampur dalam arteri pulmonalis (normal – 75%) 

 

Jadi, Curah jantung (L/menit) = konsumsi oksigen_____________ 

 Hb (g/dL) X 13,6 X (Sa02 - SvO2) 

 

 

PARU 

 

Ruang mati (dead space) = unit paru yang mengalami ventilasi namun tidak mengalami perfusi 

Pirau intrapulmonalis (intrapulmonary shunt) = unit paru yang mengalami perfusi namun 

tidak mengalami ventilasi. 

Persamaan gas Alveolar : PAO2 = [ FiO2 X (760 – 47)] – PaCO2 

 R [p=0,8] 

   

  PAO2 = 150 – PaCO2 

 0,8 [pada udara kamar] 

Gradien A-a = PAO2 – PaO2     [Gradien A-a normal = (usia X 0,4)] 

Ventilasi menit (VE) = Volume tidal (VT) X laju pernapasan (RR)   [Normal 4-6 L/menit] 

Volume Tidal (VT) = ruang alveolar (VA) + ruang mati (VD) 

Fraksi volume tidal pada ruang mati (VD / V1) = PaC)2 – PekspirasiCO2 

 PaCO2 

PaCO2 = 0,863 X Produksi CO2 ( VCO2 )  = 0,863 X  V CO2 

 Ventilasi alveolar (VA)                  V1X (1-VD/V1) 

 

GINJAL 

 

Aturan Kompensasi 

Gangguan primer Formula 

Asidosis metabolik ↓ PaCO2 = 1,25 X ∆ HCO3 (juga, PaCO2 = dua angka pH terakhir) 

Alkalosis metabolik ↑ PaCO2 = 0,75 X ∆ HCO3 

Asidosis respiratori akut ↑ HCO3 = 0,1 X ∆ PaCO2  (juga, ↓pH = 0,08 X  ∆PaCO2) 

Asidosis respiratori kronis ↑ HCO3  =0,4 X ∆PaCO2 (juga, ↓pH = ,003 X ∆PaCO2) 

Alkalosis respiratorik akut ↓ HCO3 = 0,2 X ∆PaCO2 

Alkalosis respiratorik kronis ↓ HCO3 = 0,4 X ∆PaCO2 

 

Asam – basa 

Persamaan Henderson – Hasselbalch: pH pKa + log [basa] 

           [asam] 

pH = 6,10 + log [ HCO3 ] 

 0,03 X PaCO2 

[H+] = 80 - dua angka pH terakhir     [bila pH antara 7,20 dan 7,60] 

[H+] = 24 X PaCO2 

 [HCO3] 

Anion gap (AG) = Na – (Cl + HCO3)    [normal = 12 ± 2 mEq] 

 

∆   (“delta – delta”) = ∆AG(hasil perhitungan AG-12) 

∆ ∆HCO3(24-serum HCO3hasil perhitungan) 

 

Anion gap urine (UAG) = (UNa+UK)-UCl 


Osmolalitas hasil perhitungan = (2XNa) + (gluk / 18) + (BUN / 2,8 ) + (EtOH / 4,6) 

Celah osmolar (OG) = osmolaritas yang terukur – osmolaritas hasil perhitungan    [normal<10] 

 

Cairan tubuh 

Total Body Water (BTW) = 0,60 X berat badan ideal (X0,85 pada perempuan) 

 

Fungsi ginjal 

Estimitas Klirens Kreatinin = [140-usia (tahun) X BB (kg)   

 (X 0,85 pada perempuan) 

 Serum kreatinin(mg/dL)X72 

Klirens Kreatinin hasil perhitungan (CrCl) berdasarkan pada urine yang terkumpul dalam 24 

jam  

 PCr (mg/dL) X 0,01 (dL/ml) X CrCl (ml/menit) X 1400 (menit/24jam) = UCr(mg/ml) X 

UVol(ml/24jam) 

 CrCl = [UCr(mg/ml) X Vvol(ml/24jam)] 

 

  [PCr(mg/dl) X 14,4] 

 

Fraksi ekskresi Na (FENa%) =   UNa(mEq/L)    UNa 

 X 100% PNa 

         PNa(mEq/L) 

 =  

        UCr(mg/ml)      UCr 

 X 100 (ml/dl)  PCr 

        PCr(mg/ml) 

 

Natrium dan air 

 

Na yang terkoreksi pada hiperglikemia = Na yang terukur + [ 1,6 X ( glukosa yang terukur – 

100) 

      100 

Defisit Na pada hiponatremia = TBW X (140 – Nayang terukur) (X 0,85 pada perempuan) 

 

Defisit air bebas pada hipernatremia = TBW  Na yang terukur 

 - 1 (X0,85pada 

perempuan)   

        140 

 

 

Estimasi defisit air bebas pada hipernatremia = ( Na yang terukur – 140 ) 

        3 

Koreksi cepat baik pada hipo-maupun hipernatremia dapat memicu  perubahan yang cepat 

pada volume serebral, 

Sehingga kecepatan laju perubahan pada Na sebaiknya tidak lebih dari 0,5 mEq/L/jam 

 

Penatalaksanaan Hiperkalemia 

Intervensi Dosis  Onset  Keterangan  

Kalsium glukonas  2 ampul IV Beberapa menit Efek sementara  

Menstabilkan membran sel 

Insulin Insulin reguler 10 U IV 

+ 1-2 ampul D5W 

15-30 menit Efek sementara  

Membawa K ke dalam sel 

Bikarbonat  1-3 ampul IV 15-30 menit Efek sementara 

Membawa K ke dalam sel 

untuk ditukar dengan H  

Kayeksalat  30-90 gram PO/PR 1-2 jam ↓ total K tubuh 

Pertukaran Na dengan K di 

dalam traktus gastrointestinal 

Diuretik  Furasemid ≥ 40 mg IV 30 menit ↓ total K tubuh 

Hemodialisis    ↓ total K tubuh 

 

 

 

 

HEMATOLOGI – ONKOLOGI 

Heparin  

 

Heparin untuk Tromboembolisme 

Bolus 80 U/kg  

18 U/kg/jam 

PTT (detik Pengaturan 

< 40 Bolus 3000 U, 

↑ kecepatan 300 U/jam 

40-49 Bolus 2000U, 

↑ kecepatan 200 U/jam 

50-59 ↑ kecepatan 100 U/jam 

60-84 Tanpa perubahan 

85-100 ↓ kecepatan 100 U/jam 

100-150 ↓ 200 U/jam 

> 150 Tahan  1 jam , ↓ 200 U/jam 

Heparin untuk Sindrom Koronaria Akut 

Pada MI akut dengan alteplase bolus 60 U/kg 

(maksimum 400 U) 12 U/kg/jam (maksimum 

1000 U/jam) pada UAP/NQWMI bolus – 80 

U/kg (maksimum 5000 U) – 14 U/kg/jam  

(maksimum 1000 U/jam) 

PTT (detik) Pengaturan 

< 40 Bolus 3000 U, 

↑ kecepatan 100 U/jam 

4049 ↑ kecepatan 50 U/jam 

50-70 Tanpa perubahan 

71-85 ↓ kecepatan 50 U/jam 

86-100 Tahan 30 menit,  

↓ kecepatan 100 U/jam 

101-150 Tahan 60 menit, 

↓ kecepatan 150 U/jam 

>150 Tahan 60 menit, 

↓ kecepatan 300 U/jam 

 

 

 

 

 

 

 

Periksa PTT 6 jam setelah setiap kali terjadi perubahan (waktu  paruh heparin yaitu  -90 menit) 

Periksa PTT empat kali atau dua kali  sehari bila  PTT digunakan untuk tujuan terapeutik 

Periksa CBC empat kali sehari (untuk memastikanhitung hematokrit dan trombosit stabil) 

Pemberian reaksi: protamin 1 mg/100 U heparin ( tiak lebih dari 50 mg) 

(untuk infuse, dipergunakan protamin seperlunya untuk membalikan 2X jumlah heparin yang 

diberikan per jam). 

 

Warfarin 

 

Normogram Pembebanan (loading) Warfarin) 

INR Hari 

< 1,5 1,5 – 1,9 2,0 – 2,5 2,6 – 3,0  > 3,0 

1 – 3 5 mg (7,5, mg jika> 80 kg) 2,5-5,0 mg 0-2,5 mg 0 mg 

4 – 5 10 mg 5 – 10 mg   0-5 mg  0-2,5 mg 

6 Dosis didasarkan pada kebutuhan pemberian 5 hari sebelumnya 

(Ann Intern Med 126:133,1997 dan Arch Intern Med 159:46,1999) 

 

Terapi tumpang – tindih Warfarin – Heparin 

3 Indikasi: bila kegagalan untuk antikoagulasi cepat memicu  risiko morbidilitas dan 

mortalitas ↑ (contoh : DVT/PE, thrombus Intrakardiak) 

4 Rasional: (1) Waktu paruh kadar factor VII (3-6 jam) lebih pendek 

dibandingkan waktu paruh kadar factor II (-72 jam). Sehingga Warfarin 

dapat meningkatkan PT sebelum mencapai suatu keadaan antitrombotik 

yang sebenarnya. 

(2) Protein C juga memiliki waktu paruh yang lebih pendek dari faktor II 

sehingga secara teoritis mencetuskan suatu keadaan hiperkoagulasi sebelum 

mencapai suatu keadan antitombotik yang sebenarnya. 

1 Metode:  (1) PTT terapeutik dicapai dengan menggunakan heparin 

(2) Terapi Warfarin dimulai 

(3) Heparin dilanjutkan sampai INR terapeutik selama ≥ 2 hari dan pasien telah 

menerima sedikitnya 4-5 hari warfarin (secara kasar bersamaan dengan 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

waktu paruh -2 dari faktor II atau pengurangan hingga 25%) 

 

Pembalikan Reaksi Warfarin 

Pilihan Waktu efek Indikasi 

d/c warfarin Hari INR < 9 dan tanpa pendarahan 

Vitamin K Beberapa jam hingga 

beberapa hari 

Dosis rendah (1-2,5 mg) PO/SC: INR > 5 dan 

pada pasien ↑ risiko perdarahan dosis medium 

(3-5 mg) PO/SC: INR > 9 dosis tinggi ( 10 mg) 

SC/IM/IV: INR >20 atau perdarahan yang serius 

FFP segera 2-4 U IV setiap 6-8 jam 

INR >20, perdarahanserius, atau kebutuhan 

untuk pembalikan yang ceapt (pra-prosedural) 

(Chest 114:445s,1998) 

 

 

HABITUS TUBUH 

 

Berat badan ideal = [ 50,0 kg(laki – laki)atau 45,5 kg(perempuan) + 2,3 kg/inci lebih dari 5 

kaki 

 

Area permukaan tubuh (dalam tubuh m2) = √tingi (cm) X berat (kg) 

3600 

 

STATISTIK 

 Ada penyakit Tidak ada penyakit 

Uji positif   a 

(positif asli, TP) 

 b 

(positif palsu, FP) 

Uji negatif   c 

(negatif palsu, FN) 

(negative asli, TN) 

 

Prevalensi = seluruh penyakit =   __a + c___               

 Seluruh pasien      a + b + c + d 

 

Sensitivitas = positif asli              =  __a __ 

 Seluruh penyakit a + c 

 

Spesifisitas = negative asli_____ = ___d___ 

 Seluruh yang sehat b + d 

 

Nilai prediktifpositif = positif asli____ ____= __a__ 

     Seluruh yang positif      a + b 

 

Nilai prediktifnegatif =  negatif asli_________ = __d__ 

        Seluruh yang negative c + d 

Ketepatan =  positif asli + negative asli = _____a + d___ 

 Seluruh pasien   a + b + c + d