Bacillus cereus
Bacillus cereus merupakan bakteri Gram-positif, aerob fakultatif, dan
dapat membentuk spora. Selnya berbentuk batang besar dan sporanya
tidak membengkakkan sporangiumnya. Dapat menyebabkan keracuann
makanan dan juga menyebabkan pneumonia, bronkopneumonia dan luka.
Bacillus cereus merupakan salah satu anggota genus Bacillus yang pertama kali
diisolasi pada tahun 1969 dari darah dan cairan pleura pasien pneumonia.
a. klasifikasi
Kingdom : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : Bacillaceae
Genus : Bacillus
Spesies : Bacillus cereus
b. Morfologi
Bacillus cereus memiliki beberapa karakter morfologi
diantaranya: Gram positif dengan lebar sel 0,9 – 1,2 µm dan
panjang 3 – 5 µm. Motilitas positif, spora elipsoidal, sentral atau
parasentral, spora jarang keluar dari sporangia. Tidak membentuk
kapsul, biasanya muncul dalam bentuk rantai panjang tipe R. Bentuk
koloni irregular, opague terkadang waxy. Padamedium cair
membentuk turbiditas moderate.
c. Enterotoksin
Bacillus cereus memiliki karakter yang mirip dengan Bacillus
thuringiensis dan Bacillus anthracis, namun tetap dapat dibedakan
berdasarkan determinasi motilitas (kebanyakan Bacillus cereus
bersifat motil) dan adanya kristal toxin (hanya dihasilkan oleh
Basillus thuringiensis), aktivitas hemolisis (B.cereus memiliki sifat
ini, sedangkan B.anthracis bersifat non-hemolitik). Dalam
pertumbuhan Bacillus cereus menghasilkan toksin selama
pertumbuhan atau selama sporulasi.
Beberapa strain dari Bacillus cereus bersifat patogen dan
berbahaya bagi manusia sebab dapat menyebabkan foodborne illness,
namun beberapa diantaranya yang bersifat saprofitik dapat
bermanfaat sebagai probiotik dan juga penghasil antibiotik yang
potensial. Bacillus cereus kebanyakan ditemukan terkandung dalam
bahan pangan dan menyebabkan 2 tipe keracunan makanan yaitu emetic dan
diarhoeal.
d. Antibiotika
Bacillus cereus dapat memproduksi peptida antibiotik diantaranya :
Cerexin, Zwitermicin.
e. Gejala Penyakit
Gejala-gejala keracunan makanan tipe diare sebab Basillus cereus
mirip dengan gejala keracunan makanan yang disebabkan oleh Clostridium
perfringens. Diare berair, kram perut, dan rasa sakit mulai terjadi 6-
15 jam setelah konsumsi makanan yang terkontaminasi. Rasa mual
mungkin disertai diare, tetapi jarang terjadi muntah (emesis). Pada
sebagian besar kasus, gejala-gejala ini tetap berlangsung selama 24
jam.
f. Tes Diagnostik Laboratorium
Bacillus cereus non pathogen menunjukkan pergerakan dengan
penyebaran(swarming) pada media kultur setengah padat. Sel
vegetatif dari Bacillus cereus dapat tumbuh pada rentang temperatur
5 – 50 °C dengan temperatur optimal antara 35 - 40 °C, resisten
terhadap pH 4,5 – 9,3. Dapat tumbuh pada aerobic agar dan nutrien
broth dan penambahan NaCl 7%, nutritive agar serta nutritive agar
dengan 7 – 10 % darah domba. Waktu generasi relatif singkat, antara
20 – 30 menit.
g. Patogenesis
Bacillus cereus bertanggung jawab untuk sebagian kecil penyakit
bawaan makanan(2-5%), menyebabkan mual, muntah parah dan
diare.
h. Pencegahan
Pencegahan secara total mungkin tidak dapat dilakukan. Namun
demikian, makanan yang dimasak, dipanaskan, dan disimpan dengan benar
umumnya aman dari racun yang menyebabkan muntah. Resiko paling
besar yaitu kontaminasi silang.
i. Epidemiologi
Bakteri Bacillus cereus merupakan bakteri gram positif, bersifat
aerobik, dan mampu membentuk spora yang dapat ditemukan di tanah,
pada sayuran maupun produk pangan. Spora dari jenis bakteri ini tahan
terhadap panas dan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan dan
mampu membentuk kecambah dalam larutan yang mengandung NaOH dan
HCL.
Gambar
Koloni Bacillus cereus
pada agar
Bacillus cereus
Koloni Bacillus cereus
Spora Bacillus cereus
Bacillus subtilis
Bacillus subtilis, dikenal juga sebagai hay bacillus or grass bacillus,
yaitu bakteri Gram-positif, katalase-positif, ditemukan di dalam tanah
dan saluran pencernaan ruminansia dan manusia. Dapat menyebabkan
meningitis, endokarditis, infeksi mata dan lain-lainnya. Bacilus Subtilis ini
awalnya bernama Vibro subtilis oleh Christian Gottfried Ehrenberg pada
tahun 1835. Kemudian nama Bacillus subtilis dikenalkan oleh Ferdinand
Cohn pada 1872. Bacillus subtilis telah digunakan sepanjang 1950 sebagai
alternatif dari obat sebab efek immunostimulatory sel dari masalah, yang
pada pencernaan telah ditemukan secara signifikan untuk kekebalan
aktivasi antibodi spesifik IgM, IgG ,dan IgA.
a. Klasifikasi
Kingdom :Bacteria
Phylum :Firmicutes
Class :Bacilli
Order :Bacillales
Family :Bacillaceae
Genus :Bacillus
Species : Bacillus subtilis
b. Karakteristik dari bakteri B. Subtilis dapat dilihat pada table
berikut :
Karakter Bacillus Subtilis
Bentuk
Batang (tebal maupun tipis),
rantai maupun tunggal
Gram Positif
Sumber
tanah, air, udara dan materi
tumbuhan yang terdekomposisi
Berdasarkan spora Bakteri penghasil endospora
Respirasi Aerob obligat
Pergerakan Motil dengan adanya flagella
Suhu Optimum
Pertumbuhan
25-350C
pH Optimum Pertumbuhan 7-8
Katalase Positif
c. Morfologi
Bakteri ini termasuk bakteri gram positif, katalase positif yang
umum ditemukan di tanah. Bacillus subtilis mempunyai kemampuan
untuk membentuk endospora yang protektif yang memberi
kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. Tidak
seperti species lain seperti sejarah, Bacillus subtilis diklasifikasikan
sebagai obligat anaerob walau penelitian sekarang tidak
benar. Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai patogen walaupun
kontaminasi makanan tetap jarang menyebabkan keracunan
makanan. Sporanya dapat tahan terhadap panas tinggi yang sering
digunakan pada makanan dan bertanggung jawab terhadap
kerusakan pada roti.
Bacillus subtilis selnya berbentuk basil, ada yang tebal dan yang tipis.
Biasanya bentuk rantai atau terpisah. Sebagian motil dan adapula yang
non motil. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval.
Bacillus subtilis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang
dapat tumbuh pada kisaran suhu 45 °C – 55 °C dan mempunyai
pertumbuhan suhu optimum pada suhu 60 °C – 80 °C.
d. Media Perantara
Media perantara pertumbuhan Bacillus subtilis antara lain yaitu
tanah, air, udara dan materi tumbuhan yang terdekomposisi. Selain
itu, Bacillus subtilis juga ditemukan pada produk makanan seperti
produk susu, daging, nasi dan pasta. Bakteri ini dapat tumbuh pada
produk makanan sebab produk-produk makanan tersebut
menyediakan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan Bacillus subtilis .
e. Toksik
Bacillus subtilis tidak dianggap oleh manusia sebagai bakteri
yang patogen, sebab dapat mencemari makanan tetapi jarang
menyebabkan keracunan makanan. Bacillus subtilis produces the
proteolyticenzyme subtilisin. Bacillus subtilis menghasilkan enzim
proteolytic yang subtilisin. Bacillus subtilis spores dapat hidup yang
ekstrim pemanasan yang sering digunakan untuk memasak makanan, dan
bertanggung jawab untuk menyebabkan kekentalan yang lengket,
membenang konsistensi yang disebabkan oleh bakteri produksi
panjang rantai polysaccharides dan manja dalam adonan roti.
Bacillus subtilis dapat membagi asymmetrically, memproduksi
sebuah endospore yang tahan terhadap faktor lingkungan seperti
panas, asam, dan garam, yang dapat beradadi dalam lingkungan
dalam jangka waktu yang lama. Endospore yaitu yang
dibentuk pada saat gizi stres, memungkinkan organisme untuk terus
berada di dalam lingkungan sampai kondisi menjadi baik. Sebelum
proses untuk menghasilkan spora bakteri melalui proses produksi
flagella dan mengambil DNA dari lingkungan.
Bacillus subtilis terbukti untuk manipulasi genetik,sebab itu
telah menjadi banyak diadopsi sebagai model organisme untuk
penelitian laboratorium, terutama dari sporulation, yang merupakan
contoh sederhana dari diferensiasi selular. Hal ini juga sangat flagellated,
yang memberikan Bacillus subtilis kemampuan untuk bergerak
sangat cepat.
Bacillus cereus
Bacillus cereus merupakan bakteri Gram-positif, aerob fakultatif, dan
dapat membentuk spora. Selnya berbentuk batang besar dan sporanya
tidak membengkakkan sporangiumnya. Dapat menyebabkan keracuann
makanan dan juga menyebabkan pneumonia, bronkopneumonia dan luka.
Bacillus cereus merupakan salah satu anggota genus Bacillus yang pertama kali
diisolasi pada tahun 1969 dari darah dan cairan pleura pasien pneumonia.
a. klasifikasi
Kingdom : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : Bacillaceae
Genus : Bacillus
Spesies : Bacillus cereus
b. Morfologi
Bacillus cereus memiliki beberapa karakter morfologi
diantaranya: Gram positif dengan lebar sel 0,9 – 1,2 µm dan
panjang 3 – 5 µm. Motilitas positif, spora elipsoidal, sentral atau
parasentral, spora jarang keluar dari sporangia. Tidak membentuk
kapsul, biasanya muncul dalam bentuk rantai panjang tipe R. Bentuk
koloni irregular, opague terkadang waxy. Padamedium cair
membentuk turbiditas moderate.
c. Enterotoksin
Bacillus cereus memiliki karakter yang mirip dengan Bacillus
thuringiensis dan Bacillus anthracis, namun tetap dapat dibedakan
berdasarkan determinasi motilitas (kebanyakan Bacillus cereus
bersifat motil) dan adanya kristal toxin (hanya dihasilkan oleh
Basillus thuringiensis), aktivitas hemolisis (B.cereus memiliki sifat
ini, sedangkan B.anthracis bersifat non-hemolitik). Dalam
pertumbuhan Bacillus cereus menghasilkan toksin selama
pertumbuhan atau selama sporulasi.
Beberapa strain dari Bacillus cereus bersifat patogen dan
berbahaya bagi manusia sebab dapat menyebabkan foodborne illness,
namun beberapa diantaranya yang bersifat saprofitik dapat
bermanfaat sebagai probiotik dan juga penghasil antibiotik yang
potensial. Bacillus cereus kebanyakan ditemukan terkandung dalam
bahan pangan dan menyebabkan 2 tipe keracunan makanan yaitu emetic dan
diarhoeal.
d. Antibiotika
Bacillus cereus dapat memproduksi peptida antibiotik diantaranya :
Cerexin, Zwitermicin.
e. Gejala Penyakit
Gejala-gejala keracunan makanan tipe diare sebab Basillus cereus
mirip dengan gejala keracunan makanan yang disebabkan oleh Clostridium
perfringens. Diare berair, kram perut, dan rasa sakit mulai terjadi 6-
15 jam setelah konsumsi makanan yang terkontaminasi. Rasa mual
mungkin disertai diare, tetapi jarang terjadi muntah (emesis). Pada
sebagian besar kasus, gejala-gejala ini tetap berlangsung selama 24
jam.
f. Tes Diagnostik Laboratorium
Bacillus cereus non pathogen menunjukkan pergerakan dengan
penyebaran(swarming) pada media kultur setengah padat. Sel
vegetatif dari Bacillus cereus dapat tumbuh pada rentang temperatur
5 – 50 °C dengan temperatur optimal antara 35 - 40 °C, resisten
terhadap pH 4,5 – 9,3. Dapat tumbuh pada aerobic agar dan nutrien
broth dan penambahan NaCl 7%, nutritive agar serta nutritive agar
dengan 7 – 10 % darah domba. Waktu generasi relatif singkat, antara
20 – 30 menit.
g. Patogenesis
Bacillus cereus bertanggung jawab untuk sebagian kecil penyakit
bawaan makanan(2-5%), menyebabkan mual, muntah parah dan
diare.
h. Pencegahan
Pencegahan secara total mungkin tidak dapat dilakukan. Namun
demikian, makanan yang dimasak, dipanaskan, dan disimpan dengan benar
umumnya aman dari racun yang menyebabkan muntah. Resiko paling
besar yaitu kontaminasi silang.
i. Epidemiologi
Bakteri Bacillus cereus merupakan bakteri gram positif, bersifat
aerobik, dan mampu membentuk spora yang dapat ditemukan di tanah,
pada sayuran maupun produk pangan. Spora dari jenis bakteri ini tahan
terhadap panas dan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan dan
mampu membentuk kecambah dalam larutan yang mengandung NaOH dan
HCL.
Gambar
Koloni Bacillus cereus
pada agar
Bacillus cereus
Koloni Bacillus cereus
Spora Bacillus cereus
Bacillus subtilis
Bacillus subtilis, dikenal juga sebagai hay bacillus or grass bacillus,
yaitu bakteri Gram-positif, katalase-positif, ditemukan di dalam tanah
dan saluran pencernaan ruminansia dan manusia. Dapat menyebabkan
meningitis, endokarditis, infeksi mata dan lain-lainnya. Bacilus Subtilis ini
awalnya bernama Vibro subtilis oleh Christian Gottfried Ehrenberg pada
tahun 1835. Kemudian nama Bacillus subtilis dikenalkan oleh Ferdinand
Cohn pada 1872. Bacillus subtilis telah digunakan sepanjang 1950 sebagai
alternatif dari obat sebab efek immunostimulatory sel dari masalah, yang
pada pencernaan telah ditemukan secara signifikan untuk kekebalan
aktivasi antibodi spesifik IgM, IgG ,dan IgA.
a. Klasifikasi
Kingdom :Bacteria
Phylum :Firmicutes
Class :Bacilli
Order :Bacillales
Family :Bacillaceae
Genus :Bacillus
Species : Bacillus subtilis
b. Karakteristik dari bakteri B. Subtilis dapat dilihat pada table
berikut :
Karakter Bacillus Subtilis
Bentuk
Batang (tebal maupun tipis),
rantai maupun tunggal
Gram Positif
Sumber
tanah, air, udara dan materi
tumbuhan yang terdekomposisi
Berdasarkan spora Bakteri penghasil endospora
Respirasi Aerob obligat
Pergerakan Motil dengan adanya flagella
Suhu Optimum
Pertumbuhan
25-350C
pH Optimum Pertumbuhan 7-8
Katalase Positif
c. Morfologi
Bakteri ini termasuk bakteri gram positif, katalase positif yang
umum ditemukan di tanah. Bacillus subtilis mempunyai kemampuan
untuk membentuk endospora yang protektif yang memberi
kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. Tidak
seperti species lain seperti sejarah, Bacillus subtilis diklasifikasikan
sebagai obligat anaerob walau penelitian sekarang tidak
benar. Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai patogen walaupun
kontaminasi makanan tetap jarang menyebabkan keracunan
makanan. Sporanya dapat tahan terhadap panas tinggi yang sering
digunakan pada makanan dan bertanggung jawab terhadap
kerusakan pada roti.
Bacillus subtilis selnya berbentuk basil, ada yang tebal dan yang tipis.
Biasanya bentuk rantai atau terpisah. Sebagian motil dan adapula yang
non motil. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval.
Bacillus subtilis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang
dapat tumbuh pada kisaran suhu 45 °C – 55 °C dan mempunyai
pertumbuhan suhu optimum pada suhu 60 °C – 80 °C.
d. Media Perantara
Media perantara pertumbuhan Bacillus subtilis antara lain yaitu
tanah, air, udara dan materi tumbuhan yang terdekomposisi. Selain
itu, Bacillus subtilis juga ditemukan pada produk makanan seperti
produk susu, daging, nasi dan pasta. Bakteri ini dapat tumbuh pada
produk makanan sebab produk-produk makanan tersebut
menyediakan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan Bacillus subtilis .
e. Toksik
Bacillus subtilis tidak dianggap oleh manusia sebagai bakteri
yang patogen, sebab dapat mencemari makanan tetapi jarang
menyebabkan keracunan makanan. Bacillus subtilis produces the
proteolyticenzyme subtilisin. Bacillus subtilis menghasilkan enzim
proteolytic yang subtilisin. Bacillus subtilis spores dapat hidup yang
ekstrim pemanasan yang sering digunakan untuk memasak makanan, dan
bertanggung jawab untuk menyebabkan kekentalan yang lengket,
membenang konsistensi yang disebabkan oleh bakteri produksi
panjang rantai polysaccharides dan manja dalam adonan roti.
Bacillus subtilis dapat membagi asymmetrically, memproduksi
sebuah endospore yang tahan terhadap faktor lingkungan seperti
panas, asam, dan garam, yang dapat beradadi dalam lingkungan
dalam jangka waktu yang lama. Endospore yaitu yang
dibentuk pada saat gizi stres, memungkinkan organisme untuk terus
berada di dalam lingkungan sampai kondisi menjadi baik. Sebelum
proses untuk menghasilkan spora bakteri melalui proses produksi
flagella dan mengambil DNA dari lingkungan.
Bacillus subtilis terbukti untuk manipulasi genetik,sebab itu
telah menjadi banyak diadopsi sebagai model organisme untuk
penelitian laboratorium, terutama dari sporulation, yang merupakan
contoh sederhana dari diferensiasi selular. Hal ini juga sangat flagellated,
yang memberikan Bacillus subtilis kemampuan untuk bergerak
sangat cepat.
PENGERTIAN BAKTERI
Bakteri (nama ilmiahnya: Bacteria) yaitu kelompok mikroorganisme bersel satu
yang diklasifikasikan pada tingkat domain. Bersama dengan domain Archaea,
bakteri digolongkan sebagai prokariota. Sel bakteri memiliki bentuk tertentu,
misalnya menyerupai bola, batang, atau spiral, yang biasanya berukuran beberapa
mikrometer. Bakteri merupakan salah satu bentuk kehidupan pertama yang
muncul dan saat ini menghuni sebagian besar habitat di Bumi. Bakteri dapat hidup
di tanah, air, mata air panas yang asam, limbah radioaktif, hingga kerak Bumi.
Bakteri juga menjalin hubungan simbiosis dengan tumbuhan dan hewan. Sebagian
besar bakteri belum diketahui karakternya, dan hanya sekitar 27 persen filum
bakteri yang memiliki spesies yang dapat ditumbuhkan di laboratorium. Studi
tentang bakteri disebut bakteriologi, salah satu cabang mikrobiologi.
CIRI-CIRI BAKTERI
• Termasuk organisme berdiameter 0,5 - 1 mikron dengan panjang 1-20 mikron
• Ukuran yang sangat kecil itu membuat bakteri hanya bisa dilihat lewat mikroskop
• Umumnya bakteri hidup berkoloni dan merupakan uniseluler
• Dinding sel tersusun dari mukopolisakarida dan peptidoglikan
• Beberapa bakteri, khususnya yang bersifat patogen, tubuh bagian luar dilindungi kapsul
yang terbentuk dari lendir disekresikan sendiri oleh bakteri
• Memiliki plasmid yaitu DNA berbentuk sirkuler
• Berkembang biak secara vegetatif
• Bentuk tubuh beraneka ragam
• Tidak berklorofil
• Bersifat prokariotik atau memiliki inti sel tanpa membran inti
• Hidupnya bersifat autotrof dan heterotrof
• Beberapa bakteri memiliki flagela sebagai alat gerak, sebagian lain tidak memiliki flagela
• Jika kondisinya tidak bagus, bakteri bisa membentuk endospora untuk melindungi bakteri
dari panas dan gangguan alam
• Bakteri sifatnya kosmopolit atau berhabitat luas
• Dalam sitoplasma ada ribosom sebagai sintesis protein, namun tidak ada organel
seperti mitokondria,retikulum endoplasma, badan golgi, atau vakuola.
STRUKTUR BAKTERI
& FUNGSINYA
Jika kita perhatikan pada gambar sebelah, kita bisa membagi
struktur pada bakteri menjadi dua, yaitu struktur luar dan
struktur dalam. Struktur luar terdiri dari dinding sel, kapsul,
membran sel, flagela, dan pili. Sementara itu, struktur dalam
terdiri dari sitoplasma, nukleoid, ribosom, dan plasmid. Berikut
penjelasannya;
1) Flagela
Flagela atau ada juga yang menyebut sebagai flagelum
merupakan alat gerak berbentuk batang atau spiral. Flagela
membuat bakteri bisa berpindah tempat dan mencari daerah
yang menguntungkan untuk hidupnya.
Berdasarkan jenis flagela yang dimiliki, organisme bersel satu ini
terbagi menjadi lima kelompok, yaitu;
3
Atrik: tidak memiliki flagela.
Monotrik: hanya memiliki satu flagela.
Amfitrik: flagela ada dua berada tepat
di ujung sel.
Lofotrik: flagela berkumpul pada salah
satu ujung.
Peritri: flagela berada di seluruh
permukaan sel ini .
Selain flagela, ada juga bagian dari struktur organisme ini yang disebut sebagai
phili. Struktur ini sebenarnya mirip dengan flagela hanya saja ukurannya lebih
pendek dan tipis. Fungsinya untuk alat pelekat saat konjugasi.
2. Kapsul
Kapsul merupakan lapisan lendir berbentuk padat dan tebal. Kapsul
terbuat dari polisakarida dan air. Lendir pada kapsul membuat organisme
ini memiliki permukaan licin. Fungsi kapsul yaitu :
Alat pertahanan dan pelindung.
Mencegah kekeringan pada tubuh bakteri.
Alat untuk melekat pada inang.
Dan Sumber makanan.
3. Dinding sel
Dinding sel berfungsi untuk melindungi dan membentuk bakteri.
Dinding sel ini terbuat dari peptidoglikan yang merupakan
gabungan antara protein dengan polisakarida. Berdasarkan dari
ketebalan peptidoglikan ini , organisme ini terbagi
menjadi dua jenis yaitu gram posif dan gram negatif.
6
4. Membran plasma
Selaput sitoplasma atau yang dikenal juga dikenal sebagai membran
plasma merupakan selaput yang hanya bisa dilalui oleh molekul atau zat
tertentu saja. Membran ini tersusun atas fosfolipid dan protein. Fungsinya
untuk:
Alat transpor elektron dan proton yang dilepas saat oksidasi makanan.
Alat pengatur pengangkutan zat yang keluar masuk dari membran sel.
Tempet membentuk mesosom.
5. Sitoplasma
Bagian ini berfungsi unutk tempat raksi kimia dalam sel. Di sitoplasma
juga ada asam nukleat, karbohidrat, protein, lemak, ion organik, dan
kromatofora.
6. Ribosom
Ribosom dibentuk oleh protein dan Ribonucleic Acid (RNA) berfungsi
sebagai tempat sintesis protein.
7. Bahan inti
Bahan inti terdiri dari DNA sebagai pengendali aktivitas. DNA tidak
dilapisi oleh membran sehingga bisa juga disebut nukleoid. Beberapa
bakteri diketahui mamiliki DNA tambahan yang membentuk lingkaran
kecil. Bentuk ini kemudian disebut plasmid.
8. Klorosom
Klorosom ada di bawah membran plasma. Peran klorosom yaitu untuk
membantu proses fotosintesis karena didalamnya ada klorofil.
9. Vakuola gas
Vakuola gas ini berguna untuk membuat
bakteri mengapung dipermukaan air. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pemilik vakuola gas
hanyalah bakteri air. Sama seperti klorosom,
vakuola gas dibutuhkan untuk fotosintesis.
10. Mesosom
Mesosom merupakan membran plasma
berongga. Fungsunya untuk menghasilkan
energi. Di dalam mesosom ada enzim
pernapasan. Peran enzim ini yaitu pada
proses oksidasi sebagai penghasil energi.
BENTUK & JENIS BAKTERI
Bakteri memiliki bentuk yang beraneka ragam.
Berdasarkan bentuknya bakteri dibagi menjadi tiga yaitu
coccus (kokus), spirillum (spiral), dan bacillus (basil).
ada 6 bentuk bakteri kokus yakni;
1) Monokokus (monococcus) yaitu hanya terdiri atas satu bakteri bentuk bulat
seperti bola yang hidup sendiri.
2) Diplokokus (diplococcus) yaitu bakteri kokus yang hidup berpasangan dua-dua.
Bentuk diplokokud terjadi jika bakteri kokus membelah diri pada satu arah dan
tetap melekat berpasangan dua-dua.
3) Streptokokus (streptococcus) yaitu bakteri kokus yang hidup berkoloni saling
berikatan memanjang seperti rantai. Bentuk streptokokus terjadi jika bakteri kokus
membelah diri pada satu garis ke satu atau dua arah dan tetap melekat berbaris.
4) Tetrakokus (tetracoccus) yaitu bakteri kokus yang hidup berkelompok dan pada
setiap kelompok terdiri dari 4 sel berbentuk bujur sangkar yang saling melekat.
Bentuk tetrakokus terjadi jika bakteri kokus membelah diri pada dua arah.
5) Sarkina (sarcina) yaitu bakteri kokus yang hidup berkoloni terdiri atas 8 sel. Bentuk
sarkina terjadi jika bakteri kokus membelah diri pada tiga arah dalam suatu pola
teratur membentuk penataan seperti kubus.
6) Stafilokokus (staphylococcus) yaitu bakteri kokus yang hidup berkelompok
dengan pola penataan tidak teratur atau menyerupai gerombolan buah anggur.
Bentuk stapilokokus terjadi jika bakteri koku membelah diri ke segala arah.
1.Bentuk Bakteri Kokus:
Bakteri Bentuk Spiral:
Ada tiga macam bakteri bentuk sprila yaitu:
1. Spiral, yaitu golongan bakteri yang bentuknya seperti
spiral misalnya Spirillium. Sel tubuhnya umumnya kaku.
2. Vibrio atau bentuk koma yang dianggap sebagai
bentuk spiral tak sempurna misalnya Vibrio cholerae
penyebab kolera.
3. Spirochaeta yaitu golongan bakteri berbentuk spiral
yang bersifat lentur. Pada saat bergerak, tubuhnya
dapat memanjang dan mengerut.
2. Bentuk Bakteri Sprilia :
a. Bakteri Bentuk Batang
Bakteri berbentuk batang dikenal sebagai basil. Kata
basil berasal dari kata bacillus yang berarti batang.
Bentuk basil dapat dibedakan menjadi; Basil Tunggal,
Diplobasil dan Streptobasil. Penjelasannya
1. Basil tunggal yaitu bakteri yang hanya berbentuk satu
batang tunggal misalnya Salmonella typhi, penyebab
penyakit tipes.
2. Diplobasil yaitu bakteri berbentuk batang yang
bergandengan dua-dua.
3. Streptobasil yaitu bakteri berbentuk batang yang
bergandengan memanjang membentuk rantai misalnya
Bacillus anthracis penyebab antraks.
3. Bentuk Bakteri Basil :
Gambar bakteri basil :
Reproduksi Bakteri
Reproduksi bakteri bisa terjadi dalam dua tahap, yakni:
Aseksual dan Seksual. Penjelasan di next slide
1. Reproduksi aseksual
Bakteri mengalami reproduksi aseksual
dengan cara pembelahan biner, yaitu
pembelahan dari satu menjadi dua sel dan
seterusnya. Pembelahan biner ini termasuk
pembelahan amitosis. Artinya,
pembelahannya tidak melibatkan tahapan
pembelahan sel seperti halnya manusia,
melainkan berlangsung spontan atau secara
langsung. Gambar di samping menunjukkan
bahwa satu sel induk hanya mengalami
pemanjangan dan pembagian nukleoid
hingga akhirnya terbentuk sekat pada
masing-masing nukleoid hasil bentukannya.
2. Reproduksi seksual
Reproduksi seksual bakteri bisa terjadi melalui
mekanisme rekombinasi gen melalui tiga cara, yaitu
a. Konjugasi
Konjugasi yaitu tahap reproduksi seksual pada bakteri yang
ditandai dengan pemindahan materi genetik secara langsung.
Pemindahan itu terjadi dari satu bakteri ke bakteri lain melalui
jembatan konjugasi. Adapun tahapan yang terjadi di dalam
konjugasi yaitu ;
• Dua sel bakteri saling mendekat hingga akhirnya terbentuk struktur
jembatan yang menghubungkan antara kedua sel.
• Terjadi transfer kromosom dan plasmid.
• Untuk bakteri yang menerima kromosom dan
plasmid, materi genetiknya menjadi materi genetik
rekombinan.
• Bakteri dengan materi genetik rekombinan akan
memisahkan diri. Akibatnya, terbentuk dua sel
anakan dengan sifat baru (rekombinan).
Tidak semua bakteri melakukan konjugasi. Contoh
bakteri yang melakukan konjugasi yaitu Salmonelli
typhi dan Escherichia coli (menggunakan pilus seks).
b. Transduksi
Pada proses transduksi melibatkan peran organisme lain, yaitu
virus. Itulah mengapa rekombinasi gen antara dua bakteri
dijembatani oleh virus fag (bakteriofag). Virus yang paling
sesuai digunakan untuk proses transduksi ini yaitu virus fag
temperat. Hal itu karena virus ini mampu bereplikasi secara litik
dan lisogenik. Adapun tahapan dalam transduksi yaitu :
-Bakteri diinfeksi oleh virus fag, sehingga virus mengandung
DNA bakteri ini .
-Virus fag ini kemudian akan menginfeksi bakteri-bakteri
lainnya. -Akibatnya, terbentuk bakteri baru dengan rekombinasi
gen sesuai dengan rekombinasi gen pada virus penginfeksinya.
-Terbentuklah bakteri-bakteri rekombinan.
c. Transfomasi
Jika pada konjugasi bakteri akan memindahkan materi
genetiknya melalui jembatan penghubung, pada transformasi
tidak demikian. Pada transformasi, materi genetik akan
dipindahkan oleh bakteri secara langsung atau tidak melalui
jembatan penghubung (jembatan konjugasi). Namun, tidak
semua bakteri lho yang mampu memindahkan materi
genetiknya secara langsung.
Biasanya, bakteri yang mampu bertransformasi yaitu bakteri
yang memproduksi enzim tertentu. Contohnya yaitu
Rhizobium, Neissera, Bacillus, dan Pneumococcus.
PERAN BAKTERI
Bakteri memiliki peranan baik yang menguntungkan maupun yang
merugikan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak manfaat yang bisa
kita dapatkan dari bakteri. Bakteri berperan dalam proes
pembuatan antibiotik seperti bakteri Streptomyces griseus yang
menghasilkan antibiotik streptomycin, Streptomyces aureofaciens
yang menghasilkan antibiotik tetracycline, Streptomyces
venezuelae yang menghasilkan antibiotik chloramphenicol, Bacillus
polymyxa yang menghasilkan antibiotik polymixin, Bacillus brevis
yang menghasilkan antibiotik kerotrisin dan Bacillus subtilis yang
menghasilkan antibiotik basitrasin
Bakteri juga berperan dalam proses pembuatan olahan
makanan seperti yogurt, nata decoco dan keju. Proses
fermentasi yogurt menggunakan dua jenis bakteri yaitu
Streptococcus thermophilus yang berperan dalam
pembentukan cita rasa yoghurt dan Lactobacillus bulgaricus
yang berperan dalam pembentukan aroma. Bakteri yang
berperan pada proses pembuatan nata de coco ialah bakteri
Acetobacter xylinum. Sedangkan bakteri yang berperan dalam
proses pembuatan keju ialah Lactobacillus bulgaricus.
25
Bakteri juga memiliki peranan negatif terhadap makhluk hidup seperti
manusia, hewan dan tumbuhan. Seperti diketahui bakteri dapat
memicu penyakit seperti diare yang dipicu bakteri
Escherichia Coli dan penyakit TBC yang menyerang paru-paru yang
dipicu bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada hewan, bakteri
Bacillus antharicis memicu penyakit sapi gila. selain
memicu penyakit pada manusia dan hewan, bakteri juga
memicu penyakit pada tanaman. Bakteri Xanthomonas oryzae
memicu penyakit kresek pada padi dan bakteri Ralstonia
solanacearum yang memicu layu pada tanaman tomat.
Tindakan pencegahan terhadap bakteri
bakteri sangat membahayakan kesehatan manusia. Untuk itu, diperlukan cara
menanggulangi bahaya akibat bakteri. Untuk mengatasi berbagai aktifi tas bakteri yang dapat
merugikan, perlu di lakukan tindakan yang tepat. Tindakah tersebut dapat berupa tindakan
pencegahan (preventif) maupun tindakan pengobatan. Tindakan pencegahan dapat dilakukan
dengan vaksinasi, sterilisasi, dan pasteurisasi, dan pengawetan bahan makanan.
1. Vaksinasi
Vaksinasi yaitu pencegahan penyakit dengan pemberian vaksin, bakteri yang sudah
dilemahkan, sehingga tubuh menerima dapat terhadap bakteri penyebab penyakit tertentu.
Beberapa contoh vaksin untuk pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yaitu
vaksin kolera untuk mencegah penyakit kolera, vaksin tifus untuk mencegah penyakit tifus,
vaksin BCG (Bacile Calmette-Guerin) untuk mencegah penyakit TBC, vaksin DTP (Dipteria-
Tetanus-Pertusis vaccines) untuk mencegah penyakit difterie, pertusis (batuk rejan), dan
tetanus), dan vaksin TCD (Typus Chorela Disentry) untuk mencegah penyakit typus, kholera,
dan desentri.
2. Sterilisasi
Sterilisasi yaitu pemusnahan bakteri misalnya dalam pengawetan makanan. Tujuannya
yaitu untuk mendapatkan kondisi steril (suci hama), metodenya disebut aseptis. Sterilisasi
dapat dilakukan melalui pemanasan dengan menggunakan udara panas atau uap air panas
bertekanan tinggi. Sterilisasi dengan udara panas menggunakan oven dengan temperatur 170
– 180 Derajat celcius. Cara ini digunakan untuk mensterilisasikan peralatan di laboratorium .
Sterilisasi dengan uap air panas bertekanan tinggi dilakukan dengan menggunakan alat yang
disebut autoklaf, pada temperatur 115 – 134 Derajat celcius. Autoklaf digunakan untuk
sterilisasi bahan dan peralatan. Sterilisasi pada umumnya digunakan pada industri makanan
atau minuman kaleng, penelitian bidang mikrobiologi, dan untuk memperoleh biakan murni
suatu jenis bakteri.
3. Pasteurisasi
Pasteurisasi yaitu pemanasan dengan suhu 63 – 72 derajat celsius selama 15 - 30 menit.
Pasteurisasi dilakukan pada bahan makanan yang tidak tahan pemanasan dalam suhu tinggi,
misalnya susu. Sehingga untuk mematikan bakteri patogen (Salmonella dan Mycobacterium)
dari susu dilakukan pasteurisasi. Dengan pasteurisasi, rasa dan aroma khas susu dapat
dipertahankan. Teknik sterilisasi dengan suhu rendah ini ditemukan oleh Louis Pasteur
(1822-1895), seorang ilmuwan Perancis. Selain dengan sterilisasi dan pasteurisasi,
pengawetan makanan juga bisa dilakukan secara tradisional. Kalian mungkin pernah melihat
proses pengasinan ikan, pemanisan buah-buahan, pengasapan daging, atau pengeringan
makanan.
Apakah tujuannya? Semua kegiatan tersebut bertujuan agar makanan yang diasinkan,
dimaniskan, diasap, dan diasamkan menjadi lebih awet dan tidak mudah busuk. Prinsipnya
yaitu membuat makanan dalam kondisi yang tidak ideal untuk ditumbuhi bakteri pembusuk,
misalnya pada lingkungan yang terlalu panas, terlalu asam, atau terlalu asin. Jadi, pemanisan,
pengasapan, pengasinan, dan pengasaman dilakukan untuk menghambat pertumbuhan bakter

























