Tampilkan postingan dengan label Stemcell epigenetik 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stemcell epigenetik 1. Tampilkan semua postingan

Stemcell epigenetik 1

  























































































































Dalam laporan awal artikel Human Genome Project yang dimuat di jurnal terkemuka dunia, Nature tahun 

2011, oleh satu konsorsium melibatkan 20 kelompok peneliti dari 6 negara besar mengemukakan “it is has 

not escaped our notice that the more we learn about the human genome, the more there is to explore.” 

‘Tidak luput dari perhatian kami bahwa semakin banyak kita pelajari tentang genom manusia, semakin 

banyak pula harus kita eksplorasi.” Ungkapan yang mirip dengan kalimat yang amat terkenal disampaikan 

pertama kali oleh Watson dan Crick dalam artikel “Struktur DNA” di jurnal yang sama, tahun 1953  “It has 

not escaped our notice that the specific pairing we have postulated immediately suggests a possible copying 

mechanism for the genetic material.”  “Tidak luput dari perhatian kami bahwa pasangan basa spesifik yang 

kami postulasikan dapat menjelaskan mekanisme replikasi materi genetik.” Kalimat yang diungkapkan ini 

menjadi batu loncatan perkembangan ilmu biologi molekuler, bukan mega proyek yang mengungkapkan 

berbagai mekanisme kejadian patobiologi pada tingkat genom, melainkan kemajuan pengetahuan yang 

akhirnya sampai pada tingkat pengetahuan “EPIGENETIK”, yang menjelaskan semua perubahan ekspresi 

gen yang mendasari perubahan fenotipe penyakit tanpa mengubah sekuensi gen, sampai pada diferensiasi 

stem cell.  

 

EPIGENETIK yaitu  hasil perkembangan penelusuran genom yang belum lengkap, sehingga “ILMU BARU 

GENETIK’ pantas disandang oleh “EPIGENETIK” , untuk menjelaskan permasalahan yang tidak dapat 

diungkapkan oleh “ILMU GENETIK”. Oleh sebab itu, perubahan fenotipe pada tingkat stem cell, tidak luput 

dari pengaruh dinamika lanskap epigenetik. Sehingga mekanisme stem cell baik pluripotensi, diferensiasi, 

dediferensiasi, reprogramming, yang merupakan bagian plastisitas stem cell dapat dijelaskan, dan menjadi 

landasan dalam pengembangan terapi stem cell untuk proses perbaikan dan regenerasi jaringan yang rusak 

akibat proses penyakit neurodegeneratif, seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, diabetes melitus, dan 

penyakit Alzheimer.  

 

Setiap organisme hidup yang bermukim di muka 

bumi; manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi 

atau mikroorganisme dibentuk oleh sel. Sel yaitu  

unit dasar biologik, sebab  sel mampu tumbuh dan 

berkembang biak, memperbanyak diri, berespon 

terhadap stimuli serta beradaptasi terhadap 

lingkungan. Hal ini menunjukkan sel bersifat 

dinamis dan mampu menyesuaikan diri terhadap 

lingkungan mikro (niche). sebab  itu, sel disebut 

sebagai pembentuk kehidupan makluk hidup. 

Pemahaman sel sebagai unsur pembentuk organ 

tubuh yang menunjang kehidupan didasarkan atas 

penemuan sel pada tahun 1665. Ilmuwan Inggris 

Robert Hooke, seorang kurator instrumen di Royal 

Society, London pertama kali mengamati potongan 

gabus di bawah mikroskop hasil ciptaannya dengan 

pembesaran 30 x. Beliau mengamati bagian kecil 

gabus tersusun menyerupai sarang lebah, sehingga ia 

menamakannya sebagai cell, dalam bahasa Latin, 

cellula, berarti “ruang kecil.” Penemuan Hooke 

dituliskan dalam buku “Micrographia” hasil 

pengamatan berbagai miniatur objek mulai dari sel 

hingga berbagai serangga kecil, dengan tujuan untuk 

membuka cakrawala pemikiran dibawah objek yang 

tidak terlihat.1 

 

Beberapa tahun kemudian, Antonie van 

Leeuwenhook, seorang pedagang tekstil dari 

Belanda, menciptakan sebuah lensa mikroskop 

dengan pembesar 300 x. Dengan pembesaran lensa 

yang lebih superior, van Leeuwenhook dapat 

mengamati sel hidup, termasuk bakteri, sel darah, sel 

sperma, berbagai organisme bersel tunggal seperti 

protozoa dan algae. Meskipun beliau sanggup 

mengamati sel hidup, struktur sel secara detail 

belum mampu diungkapkan pada abad ke-17. Pada 

abad ke 19, baru ditemukan mikroskop kombinasi 

menggabungkan pembesaran pada lensa pengamatan 

terhadap lensa objektif dan lensa okular, sehingga 

didapati pembesaran yang lebih jelas dan besar.  

 

Namun, kontribusi penemuan mikroskop pertama 

oleh Hooke meletakkan dasar bagi pengembangan 

penemuan yang lebih baik. sebab  itu, untuk 

memperingati 350 tahun penemuan sel oleh Robert 

Hooke, the Royal Society, London, mengadakan 

seminar Cell – dari Robert Hooke hingga terapi 

stem cell –diadakan tanggal 5-6 Oktober 2015. 

Dalam pertemuan yang dihadiri para ilmuwan, saya 

diundang untuk menyaksikan betapa besar pengaruh 

selama perjalanan 350  tahun terhadap pemahaman 

sel hingga stem cell yang digunakan dalam terapi 

untuk menyembuhkan penyakit yang sulit 

disembuhkan melalui obat-obatan.  

 

Untuk mengetahui bagaimana sel digunakan sebagai 

pemahaman awal hingga pada tingkat pemahaman 

stem cell, perlu diketahui tentang teori sel hingga 

anatomi dan fungsi sel.   

 

Teori sel pertama kali dikemukakan oleh Matthias 

Schleiden berdasar  pengamatan bahwa semua 

jaringan tumbuh-tumbuhan disusun oleh sel dan 

tumbuhan embrio dibentuk oleh sel tunggal. Hasil 

pengamatan beliau dikonfirmasi oleh ahli sel Jerman 

yaitu Theodore Schwann pada jaringan hewan. Hal 

ini menunjukkan bahwa baik sel tumbuh-tumbuhan 

maupun sel hewan dibentuk oleh sel. Dari hasil 

pengamatan ini, disusun postulasi oleh Schwann 

bahwa semua organisme tersusun atas satu atau lebih 

sel dan sel yaitu  unit dasar pembentuk semua 

organisme hidup. berdasar  pengamatan oleh 

Robert Brown bahwa di dalam setiap sel tumbuh-

tumbuhan didapati struktur bulat di dalamnya yang 

dinamakan nukleus, maka Karl Nagali 

menambahkan bahwa sel mampu membelah. sebab  

itu, Rudolf Virchow tahun 1855 menyatakan bahwa 

sel dibentuk oleh hasil pembelahan sel sebelumnya. 

Dalam bahasa Latin dikenal dengan sebutan : omnis 

cellula e cellula. 

 

Sebagai unit dasar pembentuk organisme dan 

reproduksi, sel bersifat amat dinamis, baik struktur 

yang beragam, dari bentuk spiral pada bakteri 

Treponema hingga berbentuk cakram pada sel darah 

merah manusia. Bentuk sel dapat memberi  

gambaran fungsi. Sel saraf manusia bercabang 

memberi petunjuk bahwa sel ini berinteraksi dengan 

berbagai sel saraf (neuron) lain.  

 

Dengan perkembangan teknologi yang amat pesat 

dalam abad ke 21 ini, maka dapat diciptakan 

berbagai jenis mikroskop baik mikroskop optik 

(cahaya), yang mampu mengamati sel hidup hingga 

beresolusi 200 nanometer, mikroskop elektron 

mampu mengamati sel hingga 100.000 x 

pembesaran.   

 

Dengan memakai  mikroskop elektron trasmisi, 

dapat diukur besarnya struktur sel dalam skala 100 

nanometer.  Dengan mikroskop elektron voltase 

tinggi, dapat dipelajari struktur subseluler dengan 

ketebalan 1m. Untuk menampakkan permukaan sel 

dan organel, dibutuhkan mikroskop elektron 

scanning.  Dengan mikroskop elektron transmisi 

dapat diamati membran retikulum endoplasmik di 

dalam sitoplasma dalam bentuk dua dimensi 

sedangkan mikroskop elektron scanning dapat 

menampakkannya dalam bentuk tiga dimensi, 

sehingga struktur subseluler tampak lebih nyata. 

 

Bagaimana sel melaksanakan fungsi pertumbuhan 

yang bersifat dinamis ? Apa yang terkandung dalam 

struktur sel yang memberi  kemungkinan 

tersebut?  Bentuk molekul apa yang memberi  

replikasi yang amat akurat dan tak terbatas sehingga 

dapat mengarahkan perkembangan organisme dan 

kehidupan sel ?  Jawaban terhadap pertanyaan ini 

mulai muncul tahun 1940-an, saat  ilmuwan 

menemukan bahwa informasi genetik terutama 

berfungsi sebagai instruksi pembentuk protein. 

sebab  protein yaitu  unsur pembentuk sel, 

membentuk enzim yang mengkatalisis reaksi kimia 

sel, mengatur ekspresi gen, memungkinkan 

komunikasi antara satu sel dengan sel lain sehingga 

timbul proses pergerakan.  

 

Informasi genetik hasil pengamatan pada akhir abad 

19 dilaksanakan oleh kromosom, struktur seperti 

benang di dalam nukleus sel eukariot yang dapat 

dilihat di bawah mikroskop cahaya saat  sel 

Stem Cell Epigenetik 

mengalami pembelahan, pertama  kali dilaporkan 

oleh ahli biologi Jerma Walther Flemming. Beliau 

menyebut proses pembelahan sel sebagai mitosis, 

yang berasal dari kata Yunani berarti benang.  

 

Hasil analisis biokimia mendapatkan bahwa 

kromosom terdiri dari asam deoksiribonukleat dan 

protein. Tahun 1930, DNA telah dikenal tersusun 

oleh 4 nukleotida, sedangkan protein tersusun oleh 

20 asam amino yang berbeda.  Sebenarnya hingga 

pertengahan abad ke 20, masih ada  pemikiran 

bahwa protein yaitu  pembawa informasi genetik 

sebab  merupakan komponen nukleas  satu-satunya 

yang memiliki beragam komponen yang bersesuaian 

dengan beragam gen. 

 

Dalam studi bakteria yang dilaporkan ahli biokimia 

dari Kanada, Oswald Avery Collin McLeod dan 

ilmuwan Amerika Maclyn McCarty, sama –sama 

bekerja di Univeristas Rockefeller, mendapatkan 

bahwa DNA dapat mentransformasikan strain 

bakteri nonpatogen menjadi strain patogen. Delapan 

tahun kemudian, Alfred Hersley dan Martha Chase, 

ahli biokimia Amerika, menunjukkan bahwa DNA, 

bukan protein, masuk ke dalam sel bakteri saat  

terinfeksi dan secara genetik diubah oleh virus. 

Tahun 1940, George Beadle dan Edward Tatum, 

bekerja memakai  Neurospora crassa, 

merumuskan  konsep “satu gen –satu enzim” yaitu 

satu gen mengatur pembentukan protein.  

 

Dari pemaparan di atas, telah ditemukan bahwa 

DNA yaitu  pembawa informasi genetik, namun 

belum diketahui bagaimana informasi ini dicopy dan 

dihantarkan dari satu sel ke sel lain. Tahun 1953, 

misteri ini dapat dipecahkan melalui penjelasan 

James Watson dan Francis Crick, yaitu ditemukan 

struktur DNA, dengan memakai  X-ray 

crystallography yang dihasilkan Rosalind Franklin.  

Dengan diketahui bahwa DNA tersusun atas untain 

ganda (double helix), maka problem tentang cara 

replikasi molekul dapat diketahui. Satu untaian DNA 

saling berkomplementer dan terpilin satu sama lain 

dengan pasangan basa di dalamnya dan ditopang 

oleh sugar phosphate.  

 

Tahun 1960 ditemukan enzim polymerase yang 

mensintesa DNA dan RNA dan diketahui “kode 

genetik” yang mengemukakan hubungan urutan 

nukleotida di dalam  DNA atau RNA dan urutam 

asam amino di dalam protein. Ahli biokimia Jacques 

Monod dan ahli Genetika Francois Jacob 

mengemukakan mekanisme yang mendasari 

pengaturan ekspresi gen pada bakteri. 

Setelah penemuan struktur DNA tahun 1953, Francis 

Crick menyampaikan model informasi genetika yang 

dinamakan sebagai dogma sentral biologi molekuler.  

 

 

Informasi genetik melibatkan replikasi DNA untuk 

menghasilkan dua copy identik, yaitu dua untaian 

ganda (double helix) yang saling komplementer.  

saat  terjadi proses transkripsi, kedua untaian DNA 

terbuka oleh enzim helicase polymerase DNA 

seperti terbukanya zigzag untaian DNA. Untaian 

induk akan menjadi “template” bagi untaian baru, 

dengan demikian akan terbentuk dua untaian baru. 

Proses pembentukan dua untaian baru DNA yang 

berlangsung secara semikonservatif, dimana satu 

untaian menjadi cetakan bagi pembentukan untaian 

baru merupakan suatu proses replikasi DNA.  

 

Sedangkan informasi transkripsi dari DNA dalam 

pembentukan RNA dan translasi informasi RNA 

menjadi protein yaitu  proses untuk pembentukan 

sel. Transkripsi menunjukkan bahwa sintesis RNA 

memakai  DNA sebagai template, sebab  

ekspresi gen hanya berupa pemindahan informasi 

dari satu asam nukleat menjadi yang lain. Sedangkan 

dari asam nukleat menjadi urutan molekul RNA 

yaitu urutan asam amino dari rantai polipeptida 

dilaksanakan melalui proses translasi.  

 

Dari pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa sel 

sebagai unit dasar pembentuk kehidupan dibentuk 

dari informasi genetik yang terkandung di dalam 

DNA, yang ada  di dalam inti sel (nukleus), 

maka dapat dikemukakan beberapa sifat dasar sel 

yang menunjang kehidupan  : 

 

1. Sel yaitu  struktur yang kompleks 

 

Meskipun seluruh sel tubuh dibentuk dengan 

informasi genetik yang sama, fungsi msing-masing 

sel mengemban tugas berbeda. Misalnya, sel jantung 

seperti kardiomiosit berfungsi untuk berdenyut. 

Dengan kesatuan sel membentuk jaringan jantung, 

berarti sel jantung berfungsi sebagai pompa untuk 

memompakan darah ke seluruh tubuh.  Sedangkan 

sel epitel usus yang melapisi usus tersusun dengan 

sangat rapat menyerupai susunan batu bata berfungsi 

mengabsorpsi nutrien makanan, sebab  pada ujung 

(apical sel) ada  mikrovili yang memudahkan 

proses absorpsi. Pada bagian basal (bawah) sel usus 

ini memiliki  beberapa  besar mitokondria yang 

memberi  energi untuk kebutuhan proses 

transportasi membran, sebab  masing-masing 

 

 

 

Replikasi DNA                         DNA         RNA              Protein 

 

                                                                Transkripsi         Translasi 

 

 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

mitokondrion tersusun atas beberapa  protein, 

termasuk enzim yang mensintesis ATP (adenosin 

trifosfat).  sebab  itu, struktur sel yang berbeda 

mengemban fungsi yang berbeda pula.  

 

2. Sel memiliki program genetik 

 

Pembentukan sel yaitu  berasal dari informasi 

genetik, yang tersimpan di dalam satu set kromosom 

yang menempati ruangan inti sel. Gen yaitu  unit 

terkecil penyimpan informasi genetik sebagai 

blueprint pembentuk struktur sel. Program 

pembentukan sel tersimpan dalam bentuk faktor 

transkripsi, menghasilkan berbagai bentuk sel 

berbeda, untuk mengemban tugas berbeda dalam 

jaringan berbeda, seperti diuraikan di atas. Sel 

jantung berfungsi untuk berdenyut, sel usus sebagai 

pengabsorpsi makanan.  

 

3. Sel dapat berproliferasi untuk memperbanyak 

diri dan berdiferensiasi 

 

Melalui proses pembelahan, satu sel induk 

menghasilkan dua sel anak. Pembelahan secara 

simetrik menghasilkan dua sel anak dengan volume 

yang hampir sama.  Juga ada  pembelahan 

asimetrik, dimana satu sel induk menghasilkan satu 

sel induk baru disebut proliferasi dan satu sel anak 

yang akan berdiferensiasi membentuk sel yang sama 

sesuai dengan lingkungan mikro sel anak ini berada. 

Plastisitas sel ini merupakan salah satu upaya sel 

untuk menggantikan sel yang mengalami kerusakan, 

melalui proses regenerasi. 

 

4. Sel dapat menghasilkan dan memakai  energi 

 

Sumber energi yang diperoleh dari sinar matahari 

dapat disimpan melalui pigmen pengabsorpsi cahaya 

yang berada di dalam membran sel fotosintesis. 

Energi cahaya diubah menjadi energi kimia melalui 

proses fotosintesis, disimpan dalam bentuk sukrosa, 

karbohidrat kaya energi. Pada manusia, glukosa 

yang disimpan di dalam hati masuk ke dalam darah 

untuk memberi  energi kimia bagi semua sel 

tubuh, Di dalam sel tubuh, energy ini disimpan 

dalam bentuk ATP, yang digunakan dalam bentuk 

energi. 

 

5. Sel melaksanakan fungsi reaksi kimia 

 

Sel mampu melaksanakan berbagai fungsi 

transfomasi kimia sebab  adanya enzim. Enzim 

dapat meningkatkan kecepatan reaksi kimia. 

Metabolisme sel menggambarkan besarnya reaksi 

kimia yang terjadi di dalam sel. Semakin besar  

metabolisme yang diemban oleh sel, semakin besar 

pula reaksi kimia terjadi. 

 

6. Sel  mampu melakukan berbagai aktivitas sel 

 

Sel bersifat dinamik dalam fungsi atau aktivitasnya. 

Perubahan mekanik terjadi di dalam sel diawali 

perubahan bentuk protein sebagai motor penggerak. 

Protein penggerak hanya merupakan salah satu tipe 

mesin molekul penggerak sel dalam melaksanakan 

aktivitas mekanik. 

 

7. Sel mampu memberi  respon terhadap stimuli 

 

Sel memiliki  reseptor terhadap hormone, faktor 

pertumbuhan, dan materi ekstraseluler dan substansi 

dari sel lain. sebab  itu, sel dapat memberi  

respon melalui sel reseptor terhadap rangsangan 

yang mengubah aktivitas metabolisme, pembelahan 

sel dan pergerakan serta bunuh diri. 

 

8. Sel mampu mengatur sendiri 

 

Bukti pengaturan sel dapat dilihat saat  terjadi 

kerusakan. Kegagalan koreksi pada tingkat sel dapat 

terjadi akibat kegagalan duplikasi pada DNA, 

sehingga terjadi mutasi, yang memicu  

gangguan pada pengaturan pertumbuhan sel yang 

dapat berubah menjadi sel kanker. sebab  itu, semua 

informasi dari sel berada di dalam asam nukleat, 

yang menghasilkan protein yang membentuk sel. 

 

9. Sel dapat berkembang 

 

Perkembangan sel dapat dilihat dari struktur yang 

berbeda antara sel yang lebih sederhana, seperti sel 

prokariotik pada bakteri. Sel yang lebih kompleks 

seperti sel eukariotik, termasuk gunfi, tumbuh-

tumbuhan, dan hewan. Sel prokariotik pertama kali 

muncul dimuka dibumi sekitar 2,7 miliar tahun yang 

lalu, seperti pada mikroba yang telah menjadi fosil, 

termasuk sianobakteri. Sedangkan sel eukariotik 

diperkirakan telah ada di bumi lebih dari 1 miliar 

tahun lalu. 

 

 

PEMBELAHAN SEL  

 

Jumlah sel dalam tubuh seseorang kurang lebih 100 

trilion sel. Pertumbuhan dan reproduksi yaitu  sifat 

dasar semua makluk hidup. saat  protein, asam 

nukleat, karbohidrat, dan lipid dibentuk yang baru, 

volume sel bertambah, membran plasma 

mengembang untuk mencegah sel pecah. Namun, 

ukuran pertambahan sel mencapai satu ukuran 

maksimal saat  sel terus tumbuh berkembang, 

hingga rasio permukaan dan volume mengecil 

Stem Cell Epigenetik 

dengan kapasitas pertumbuhan dipengaruhi 

lingkungan.1 sebab  itu, pertumbuhan sel diikuti 

dengan pembelahan, dengan menghasilkan dua sel 

anak (Gambar 1).  

 

 

 

Gambar 1. Skema pembelahan mitosis dari satu sel induk 

menghasilkan dua sel anak melalui proses replikasi DNA 

secara semikonservatif. Pembelahan meiosis yaitu  

pembelahan dari satu sel induk disebut stem cell yang 

berada di dalam zigot dapat membelah menjadi satu sel 

induk lain dan sel anak. Proses pembelahan dari satu sel 

induk menjadi sel induk lain disebut proliferasi untuk 

mempertahanakn identitas sel sedangkan sel anak akan 

berdiferensiasi membentuk sel lain sesuai dengan 

lingkungan mikro, bertujuan untuk proses regenerasi.  

 

 

Siklus sel  

 

Siklus sel dimulai saat  dua sel baru yang dibentuk 

dari hasil pembelahan satu sel induk dan berakhir  

saat  salah satu sel anak membelah menjadi dua 

sel. Keseluruhan siklus pembelahan sel dapat terjadi 

di dalam tubuh atau pada piring kultur. 

 

Siklus sel dibagi atas 2 fase berdasar  aktivitas sel 

yang tampak di bawah mikroskop cahaya yaitu fase 

M dan interfase. Fase M terjadi saat  terjadi proses 

pembelahan nukleus diikuti pembelahan sitoplasma. 

Pembelahan nukleus disebut mitosis (Gambar 2), 

dan pembelahan sitoplasma dikenal sebagai 

pembelahan menghasilkan dua sel anak disebut 

sitokinesis. Sedangkan interfase yaitu  periode di 

antara pembelahan sel, yaitu terjadi pertumbuhan sel 

sebab  adanya aktivitas metabolik, yang berlangsung 

dalam hitungan hari, minggu atau lebih lama, 

bergantung pada tipe dan kondisi sel.  

 

Inti pembelahan mitosis ada  di dalam 

kromosom. Mitosis diawali dengan kondensasi 

kromosom yaitu melingkar dan melipat dari 

kromatin sel (Gambar 3).1 yang membentuk 

kromosom yang dapat dilihat di bawah mikroskop 

cahaya.  

 

 

Gambar 2. Empat fase siklus sel.  Fase G (gaps) 

memisahkan kejadian pada fase S dengan fase M. G1 

yaitu  gap antara fase M dan fase S, sedangkan G2 gap 

antara fase S dan fase M. 

 

 

Dua kromosom yang terbentuk dari hasil 

pembelahan dikenal sister chromatid. Kromatid 

membentuk mitotic spindle yang dapat terpisah 

membentuk dua kromosom sebab  saling bergerak 

ke arah berlawanan. saat  proses mitosis telah 

selesai, diikuti sitokinesis membentuk dua sel anak.  

 

Secara rinci, fase M terdiri dari 5 fase. Awal mitosis 

dikenal sebagai profase, saat  kromosom 

berkondensasi pada satu tempat yan dapat dilihat di 

bawah mikroskop cahaya. sebab  molekul DNA 

kromosom telah mengalami replikasi pada fase S, 

kromosom profase tersusun atas dua sister 

chromatid, melekat kuat satu sama lain. Pada awal 

profase, sentrosom yang mengalami duplikasi pada 

fase S mulai terpisah satu sama lain dan bergerak ke 

arah berlawanan dari nukleus dan kedua kromosom 

tersusun atas dua sister chromatid. Pada fase 

prometaphase, sister chromatid melekat pada mitotic 

spindle, suatu microtubule pada pada kedua kutub. 

Terjadi fragmentasi membran nukleus envelope.  

Fase metaphase terjadi saat  sister chromatid 

melekat pada kutub berlawanan dari spindle. Kohesi 

sister chromatid terlepas sehingga terbentuk fase 

anafase, yang memisahkan sister chromatid. Fase 

anafase merupakan fase paling singkat, berlangsung 

beberapa menit. Spindle atau benang kromatin yang 

terpisah namun kromosom menyatu dalam satu 

nuklei yang terpisah dikenal fase telofase. Pada fase 

ini, krosomom anak telah mencapai kutub spindle. 

Pada sitokinesis, sel terpisah menjadi dua, sehingga 

terbentuk dua nuklei yang mewarisi satu dari dua 

nuklei (Gambar 4). 2 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

 

 

Gambar 3. Siklus sel eukariotik. (a) Fase M (mitotik), fase pembelahan sel merupakan fase terdiri dari proses saling 

tumpang tindih antara mitosis dan sitokinesis. Pada mitosis, benang mitotik berkumpul dari kromosom kondensasi 

menjadi dua nuklei sel anak ; sedangkan pada sitokinesis, sitoplasma membelah menjadi dua sel anak yang identik. (b) 

Antara pembelahan. Sel dalam interfase, yaitu  saat  fase S (antara replikasi nukleus DNA) dan dua fase “gap” yaitu G1 

dan G2. Sel mengalami pertumbuhan sepanjang interfase, sebab  aktivitas metabolik tinggi.  

________________________Hardin J and Bertoni G. Becker’s world of the cell. The cell cycle and mitosis. 9 ed. Pearson Education, Inc. , USA  2016; 

p. 714- 745. 

 

 

 

Gambar 4. Fase M (mitosis) terbagi atas 5 fase; profase, prometafase, metafase, anafase, dan telofase. Pada masa transisi 

metafase ke anafase, terjadi perubahan biokimiawi yang cepat. Sel bisa berhenti pada metafase sebelum masa transisi ini, 

tetapi jika fase ini bisa dilewati, proses mitosis dapat berakhir pada seluruh fase termasuk sitokinesis dan masuk ke 

interfase.  

________________________Alberts B et eds. Molecular biology of the cell. 5 ed. Gardland Science. 2008, p. 1053-1114.  

Stem Cell Epigenetik 

Pada sel mamalia, fase M hanya berlangsung kurang 

dari 1 jam. Fase interfase berlangsung jauh lebih 

lama, meliputi fase S (Sintesis), fase G1 terjadi 

sebelum fase S, dan G2 memisahkan fase S dengan 

fase M berikutnya (Gambar 3). 1 

 

Seluruh siklus sel di dalam kultur pada sel mamalia 

berlangsung 18-24 jam. Dengan diketahui waktu 

siklus total, maka dapat ditentukan waktu masing-

masing fase berlangsung. Sel dipaparkan secara 

radioaktif dengan DNA diberi label radioaktif (3H-

thymidine) dalam waktu singkat, dan diperiksa di 

bawah autoradiografi. Dengan pemeriksaan 

radioaktif ini, biasanya fase S pada kultur 

berlangsung sekitar 0.33, artinya panjang fase S 6-8 

jam. Fase M dapat ditentukan dari perkalian 

lamanya waktu total dengan persentase sel pada 

masa pembelahan. Persentase ini disebut indeks 

mitotik. Indeks mitotik untuk sel mamalia berkisar 

3-5% artinya fase M berlangsung 30-45 menit.  

 

Dengan mempelajari siklus sel dari sel normal atau 

sel kanker yang diisolasikan dan ditumbuhkan di 

dalam piring kultur plastik dengan media kultur 

yang diberi nutrisi dan faktor lain, maka dapat 

dipelajari fase pembelahan (Gambar 5). 2 Contoh, sel 

fibroblast manusia akan berhenti pembelahan secara 

permanen setelah 25-40 kali proses pembelahan, 

suatu proses dikenal sebagai replicatve cell 

senescence.  

 

Gambar 5. Sel mamalia berproliferasi di dalam kultur. Sel 

fibroblast tikus dilihat di mikroskop elektron.  

________________________Alberts B et eds. Molecular biology of the cell. 5 ed. 

Gardland Science. 2008, p. 1053-1114.  

Fase G1 bergantung pada tipe sel, umumnya 

berlangsung 8-10 jam. Selama fase G1, ditentukan 

kapan sel membelah lagi. Pada fase G1, sel 

menunggu signal yang memicu masuknya kembali 

ke siklus sel. Masa ini dikenal sebagai fase G0 (G 

zero). Sel yang keluar dari siklus sel mengalami 

diferensiasi terminal, berarti sel tidak membelah 

lagi; seperti sel saraf, dengan daya diferensiasi 

rendah. Ada sel yang terhenti membelah pada G2. 

Namun, waktu G2 lebih pendek daripada G1 dan 

lebih seragam, biasanya berlangsung 4-6 jam. 

 

Selain pemakaian  mikroskop elektron untuk 

mengetahui proliferasi siklus ada media kultur.  

Sintesis DNA dapat dipelajari memakai  

analog timidin, sebagai pengganti timidin 

radioaktif. Sel diinkubasi selama fase S dengan 5-

bromodeoxyuridine (BrdU) atau 5-ethynyl-               

2′- deoxyuridine (EdU), yang masuk ke dalam 

DNA. Dengan mikroskop fluorescence dan 

pewarnaan immunostaining (jika memakai  

BrdU) atau reaksi kimia jika memakai  EdU, 

dapat ditentukan sintesis DNA dalam siklus sel. 1 

 

Sebagai implikasi yaitu  pemahaman proses 

regenerasi pada sel. Misalnya, dengan 

memakai  kultur sel kardiomiosit (sel otot 

jantung) di dalam media kultur secara in vitro, 

dan ditambahkan sejenis protein parakrin,  

C3orf58, suatu hypoxia and Akt induced stem cell 

factor (HASF) yang baru dihasilkan mesenchymal 

stem cell, Beigi et al., mengubah siklus sel 

kardiomiosit yang bersifat dormant sesudah lahir 

menjadi sel yang mampu masuk ke dalam siklus 

sel dengan sintesis DNA meningkat sebesar 60%, 

diukur memakai  bromodeocyuridine (BrdU) 

(Gambar 6). 3 

 

Dari hasil pemeriksaan kardiomiosit neonatal 

secara in vitro, peneliti melanjutkan penelitian 

pada hewan coba mencit secara in vivo 

memakai  overekspresi HASF. Mencit  wild 

type (WT) (sham operated) sebagai kontrol  atau 

mencit transgenic(Tg) overekspresi HASF yang 

telah dilakukan infark miokard atau injuri pada 

kardiomiosit, disuntikan  EdU or BrdU secara 

intraperitoneal untuk mengukur sintesis DNA dua 

hari setelah pembedahan. Hasil penelitian 

menunjukkan bahwa sintesis DNA meningkat 

secara signifikan pada kardiomiosit dewasa pada 

mencit overekspresi HASF dibandingkan dengan 

mencit wild type (infark miokard sebesar 54%) 

dengan nilai p< 0.05 (Gambar 7).  3  

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

 

 

Gambar 6. HASF meningkatkan sintesis DNA pada 

kardiomiosit neonatal secara in vitro. A, Ambilan BrdU 

oleh kardiomiosit neonatal diukur dengan ELISA . FGF1 

(5,8 nmol/L) sebagai kontrol positif. B, Image 

representatif kardiomiosit BrdU+ dengan atau tanpa 

pengobatan hypoxia and Akt induced stem cell factor 

(HASF) dilihat di bawah mikrokop konfokal. Pembesaran 

dapat dilihat pada gambar inset di sebelah kanan. C, 

perhitungan kardiomiosit neonatal BrdU +cTnT + 7 hari 

setelah pengobatan dengan HASF. Cardiac troponin T 

(cTnT; merah), BrdU (hijau), dan   nuclear 4',6-diamidino-

2-phenylindole (biru). *P<0.05 versus tidak diberi 

pengobatan.  

________________________Beigi F, Schmeckpeper J, Pow-anpongkul P, Payne 

JA, Zhang L, Zhang Z, Huang J, Mirotsou M, Dzau VJ.  C3orf58, 

a novel paracrine protein, stimulates cardiomyocyte cell-cycle 

progression through the PI3K–AKT–CDK7 pathway. Circ Res. 

2013;113:372-380. 

 

 

Selain itu, siklus sel juga dapat dipelajari dengan alat 

flow cytometry. Flow cytometry yaitu  suatu teknik 

pengukuran (metry) terhadap sifat sel (cyto) saat  

sel bergerak di dalam aliran cairan (flow).4 

Pemeriksaan ini juga memungkinkan analisis kimia 

pada satu sel. 1 Proses pemisahan sel dengan 

memakai  pewarna fluorescence atau antibody 

dengan flow cytometry dikenal sebagai 

fluorescence-activated cell sorting (FACS). Dengan 

memakai  FACS Calibur, saya dapat 

mempelajari marker stem cell endotel yaitu CD34+ 

sebagai antigen. Dengan memakai  monoclonal 

antibody, memungkinkan pemeriksaan stem cell 

CD34+ seseorang, sehingga saya dapat mengetahui 

kapasitas regeneratif stem sel.   

 

 

 

Gambar 7. Hypoxia and Akt induced stem cell factor 

(HASF) menginduksi sintesis DNA pada kardiomiosit 

dewasa secara in vivo. A. Image representatif jaringan 

jantung dewasa pada area peri-infark 2 minggu pasca 

infark miokard (MI) dilihat di bawah mikroskop konfokal 

(Å~40), menunjukkan proliferasi kardiomiosit cTnT+ 

9panah putih) dan proliferasi cTnTneg nonkardiomiosit 

(panah kuning). Contoh kardiomiosit proliferasi (kotak) 

dapat dilihat pada nset yang diperbesar di bawah. 5-

ethynyl-2′-deoxyuridine (EdU) (merah), cardiac troponin 

T (cTnT; hijau) dan lamini (Lam; biru). B, perhitungan 

jumlah total EdU+ atau BrdU + dari kardiomiosit cTnT+ 

yang berproliferasi. ‡P≤0.05 for ‡Tg versus WT untuk 

efek pengobatan for  dan  *P≤0.05 untuk Tg-MI versus 

WT-MI. 

________________________Beigi F, Schmeckpeper J, Pow-anpongkul P, Payne 

JA, Zhang L, Zhang Z, Huang J, Mirotsou M, Dzau VJ.  C3orf58, 

a novel paracrine protein, stimulates cardiomyocyte cell-cycle 

progression through the PI3K–AKT–CDK7 pathway. Circ Res. 

2013;113:372-380. 

Stem Cell Epigenetik 

STEM CELL  

 

Sel membentuk berbagai jaringan tubuh dapat 

menjalankan berbagai fungsi berbeda. Misalnya, sel 

saraf mengirimkan sinyal elektrik, sel retina 

berespon terhadap cahaya. Sel tulang sebagai 

penyangga tubuh dan mengatur kadar kalsium, sel 

darah merah mengangkut oksigen, dan sel otot 

berfungsi untuk pergerakan. 

 

Apa yang membedakan stem cell dari sel. Apa yang 

membuat sel dalam berbagai jaringan memiliki 

fungsi yang berbeda dengan proses siklus sel yang 

sama ? Mengapa hal ini bisa terjadi ?  

 

Semua jenis sel didalam tubuh berasal dari stem cell 

selama proses perkembangan fetus. ada  tiga 

sifat yang membedakan stem cell dengan sel : 

1. Mampu memperbanyak diri (self renewal) 

dan berdiferensiasi menghasilkan sel anak.  

2. Dalam kondisi tidak berdiferensiasi 

(unspecialized). 

3. Dapat berdiferensiasi menjadi jenis sel lain 

dalam kondisi sesuai. 5 

 

Dengan sifat ini, stem cell merupakan sumber 

pengganti sel dengan potensi mengobati berbagai 

penyakit pada manusia.  Misalnya, ada  dua juta 

stem cell di dalam sumsum tulang membelah setiap 

detik untuk mempertahankan jumlah sel darah 

merah yang memadai di dalam tubuh. 1 Stem cell 

berada di dalam “niche” atau lingkungan mikro 

jaringan seperti di sumsum tulang dalam kondisi 

“diam” atau “dormant”, namun dapat diaktivasi 

masuk ke dalam siklus sel atau setelah mengalami 

injuri. 6,7 

 

Meskipun pemakaian  stem cell baru berkembang 

dalam satu atau lebih dekade ini, stem cell sebenarnya 

telah dikenal lebih dari satu abad yang lalu oleh 

Alexander A. Moximow. 8  Dalam 2 dekade ini, 

embryonic human stem cell dapat dikultur di luar tubuh 

sehingga dapat dipelajari perilaku stem cell, dilakukan 

rekayasa genetik atau diubah menjadi tipe sel lain 

dengan faktor kimia, sehingga dapat digunakan sebagai 

awal perkembangan terapi stem cell. 9 

 

Telah diketahui bahwa stem cell bersifat self 

renewal, berproliferasi untuk memperbanyak diri 

dan berdiferensiasi, sebab  stem cell sendiri dalam 

kondisi undifferentiated. Hanya saja, perlu diketahui 

bahwa stem cell pada tahap perkembangan yang 

berbeda memiliki kapasitas self renewal dan 

diferensiasi berbeda. sebab  itu, jenis stem cell 

mana terbaik digunakan dalam aplikasi klinis masih 

menimbulkan perdebatan.  

 

 

Gambar 8. Sel niche (hijau) ada  di basement membrane memberi signal ke stem cell (merah) untuk memblok 

diferensiasi dan mengatur pembelahan. Jika mekanisme lineage dominan (sel mitotik rendah), stem cell membelah 

dengan satu sel anak berhubungan dengan niche, sedangkan sel  lain (kuning) mengadakan diferensiasi. saat  

mekanisme populasi dominan (sel mitotic tinggi), pembelahan stem cell dapat berlangsung simetrik atau asimetrik (tidak 

ditunjukan), bergantung pada faktor lokal. ECM, extracellular matrix.  

________________________Spradling A, Drummond-Barbosa D, Kai T. Stem cells find their niche. Nature 2001; 414: 98-104.  

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

10 

JENIS STEM CELL 

 

Tiga jenis stem cell yang telah digunakan dalam 

penelitian : stem cell dewasa (adult stem cell), stem 

cell embrio (embryonic stem cell, ESC) dan induced 

pluripotent stem cell. Embryonic stem cell biasanya 

berasal dari hasil invitro fertilization (IVF), atau 

hasil fertilisasi secara in vitro dikenal sebagai bayi 

tabung, yang disumbangkan untuk penelitian dengan 

informed consent dari donor. ESC berasal dari inner 

cell mass blastocyst yang memiliki  sifat 

pluripoten, artinya dapat membentuk ketiga lapisan 

sel germinal, baik endoderm, mesoderm dan 

ectoderm (Gambar 9). 10  

 

 

Gambar 9.  Embryonic stem cell berasal dari inner cell 

mass blastocyst; sel yang menyusun inner cell mass 

diisolasikan dan dikultur pada media kultur, dengan 

selapis feeder cells.  

________________________Gearhart J.  New human embryonic stem-cell lines -

more is better. N Engl J Med 2004; 350: 1275-1276. 

EMBRYONIC STEM CELL 

 

Embryonic stem cell (ESC) pertama kali 

diisolasikan dari mencit tahun 1981 oleh Martin 

Evans, dan Kaufman yang diperoleh dari 

blastocyst.11 ES lines yang dikultur di media 

membuka lembaran baru untuk mendapatkan stem 

cell pluripotent yang dapat menghasilkan semua 

jenis tubuh. 12 Meskipun diferensiasi ESC ini dapat 

membentuk tumor teratoma pada tempat ektopik, 

namun lebih mudah dikontrol daripada sel 

embryonic carcinoma. 13 Tahun 1998, James 

Thomson melaporkan pertama kali penemuan 

embryonic stem cell manusia dan sejak itu, terapi 

stem cell mendapat perhatian dari para ilmuwan dan 

publik. 9 Satu tim peneliti dari Advanced Cell 

Techonology melaporkan bahwa transplantasi 

memakai  embryonic stem cell   pluripoten yaitu 

sel retinal pigment epithelial (RPE) pada pasien 

dengan degenerasi makula mendapatkan perbaikan 

tajam penglihatan 4 bulan tanpa pembentukan tumor 

atau rejeksi imun. (Gambar 10). 14 Hasil penelitian 

yang juga dilaporkan kelompok peneliti yang sama 

mendapatkan keamanan pemakaian  hESC jangka 

panjang pada pasien dengan degenerasi makula dan 

distrofi makula Stargardt. 15 

 

sebab  itu, embryonic stem cell dapat digunakan 

dalam kedokteran regeneratif sebagai sumber sel 

baru untuk berbagai penyakit yang memerlukan 

perbaikan dan pergantian jaringan akibat hilangnya 

atau disfungsi jaringan oleh berbagai penyakit 

kronik  14,14  

 

Optimisasi kultur human embryonic stem  cell 

(hESCs) lines atau embryonic stem cell manusia 

secara in vitro telah mengalami perkembangan 

dalam satu dekade ini. hESC semula dikultur 

memakai  media pertumbuhan mengandung 

fetal calf serum atau derivat hewan lainnya, bersama 

dengan selapis fibroblast sebagai “feeder” cell untuk 

menopang faktor pertumbuhan (Gambar 9).10 

pemakaian  produk hewan menghalangi 

pemakaian  dalam terapi, sebab  dikhawatirkan 

adanya patogen hewan atau terkomtaminasi prion 

selama kultur. sebab  itu, dikembangkan serum 

bukan produk hewan (xeno-free) malah media tanpa 

serum (serum-free) yang digunakan sekarang agar 

dapat digunakan dalam klinis. 16 

 

Kardiomiosit yang diperoleh dari hESC, diisolasi 

dari embryoid bodies melalui metode diseksi 

mekanik atau enzimatik, 17 memperlihatkan 

Stem Cell Epigenetik 

11 

morfologi kardiomiosit dewasa dengan struktur 

sarkomerik dan ekspresi faktor transkriptor seperti 

NK2 hoeobox 5 (Nkx2.5), GATA binding protein 

(GATA-4), myocyte-specific enhancer factor 2C 

(MEF2C). 18 Sel ini juga memperlihatkan aktivitas 

denyutan spontan dengan potensial aksi atrium, 

ventrikel dan nodal. 19,20 Dalam studi Manard et 

al., mengggunakan ESC jantung mencit, 

ditransplantasikan ke miokard domba dengan infark 

mengalami diferensiasi menjadi kardiomiosit dan 

meningkatkan fungsi jantung. 21 Penelitian Cai et al., 

melaporkan bahwa terjadi pembentukan graft 

kardiomiosit dengan pemakaian  kardiomiosit 

diperoleh dari ESC pada mencit, memicu  

perbaikan fungsi jantung dan pengurangan 

remodeling, namun terjadi pebentukan teratoma, 

tumor pada jantung. 22 

 

Meskipun kapasitas ESC dapat berdiferensiasi 

menjadi jantung, masalah etika dan kekhawatiran 

biologik seperti pembentukan teratoma, dan 

rejeksi graft, 23 menghalangi pemakaian  terapi 

embryonic stem cell pada pasien. 24 Pembentukan 

teratoma mencegah pemakaian  ESC dalam uji 

klinis, meskipun dilakukan manipulasi ESC.  25,26 

Belum ada satu uji klinis yang memakai  

ESC pada penyakit kardiovaskuler sampai saat 

ini. Namun dalam kurun waktu 2 dekade 

belakangan ini, pemakaian  adult stem cell  telah 

dilakukan pada beribu-ribu pasien dengan hasil 

aman digunakan, sehingga memungkinkan uji 

klinis fase II dan fase III.  24 

 

 

 

Gambar 10.  Tempat transplantasi hESC-RPE (human embryonic stem cell-derived retinal pigment epithelium) pada 

pasien distrofi makula Stargardt. Foto fundus berwarna pada makula kiri sebelum dan sesudah operasi (A-C). Regio di 

dalam kotak yaitu  batas transplantasi yang dilakukan sesuai dengan tempat atrofi makula. (A) image makula dengan 

RPE dan atrofi makula neurosensori sebelum operasi (baseline). Tampak berkurangnya pigmentasi, menunjukkan regio 

atrofi RPE baseline. Pigmentasi ini meningkat pada minggu ke 6 sesudah operasi (C). (D-G) foto fundus berwarna dan 

image SD-OCT pada baseline (D) dan bulan ke 3 setelah transplantasi (F). Image berwarna menunjukkan peningkatan 

pigmentasi pada level RPE dari baseline ke bulan ke 3. Image SD-OCT (E,G) menunjukkan peningkatan pigmentasi pada 

level RPE dengan engrafment RPE satu lapis normal, dan survival pada bulan ke 3 (panah) dekat regio membrane Bruch 

tanpa RPE. hESC=human embryonic stem cells. RPE=retinal pigment epithelium. SD-OCT=spectral domain ocular 

coherence tomography. 

________________________Schwartz SD, Hubschman JP, Heilwell G, Franco-Cardenas V, Pan CK, Ostrick RM, Mickunas E, Gay R, Klimanskaya I, 

Lanza R. Embryonic stem cell trials for macular degeneration: a preliminary report. Lancet 2012; 379: 713–20. 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

12 

 

 

Gambar 11. Sumber stem cell digunakan untuk perbaikan fungsi jantung. Yang termasuk bone marrow-derived stem cell 

mencakup hematopoietic stem cell, endothelial progenitor cell dan nonhematopoietic stem cell (mesenchymal stem cello, 

dan unfractionized mononuclear cell.  

________________________Sanganalmath SK, Bolli R. Cell therapy for heart failure. A comprehensive overview of experimental and clinical studies. 

Current challenges, and future directions. Circ Res. 2013;113:810-834.  

 

 

ADULT STEM CELL 

 

BONE MARROW-DERIVED STEM CELL 

 

Sumsum tulang mengandung adult stem cell; 

hematopoietic stem cell dan nonhematopoietic stem 

cell, yang berpotensi berdiferensiasi menjadi 

fenotipe stem cell (Gambar 11). 24  Stem cell di 

dalam sumsum mudah diperoleh baik dengan cara 

sentrifugasi gradient atau mobilisasi, sehingga 

banyak digunakan dalam penelitian preklinis dan 

klinis. 24 

Yang termasuk kelompok Bone Marrow-Derived 

Stem Cell yaitu  :  

 

 

HEMATOPOIETIC STEM CELL 

 

Hematopoietic stem cell (HSC) yaitu  satu-satunya 

sel di dalam sistem hematopoietik yang memiliki  

sifat multipotensi dan self renewal. Multipotensi 

berarti kemampuan berdiferensiasi menjadi seluruh 

sel darah, sedangkan self-renewal yaitu  

kemampuan untuk menghasilkan sel yang identik 

Stem Cell Epigenetik 

13 

dengan HSC tanpa diferensiasi.27 Konsep 

hematopoietic stem cell pertama kali disampaikan 

oleh James Till dan Ernest McCulloch dari hasil 

penelitian terhadap sistem regenerasi di dalam darah 

mencit. 27  

 

Darah merupakan komponen sel yang memiliki  

daya regenerasi amat tinggi. Setiap hari sebanyak 1 

trillion sel darah (1012) dihasilkan oleh sumsum 

tulang. Namun para ahli anatomi memperhatikan 

adanya morfologi sel dan tingkat diferensiasi yang 

berbeda di dalam sel sumsum tulang. Dr. Alexander 

Maximow, pertama sekali mengemukakan bahwa 

keberagaman sel di dalam sumsum tulang berasal 

dari proses hematopoiesis yang tersusun di dalam 

satu sel prekursor dikenal sebagai hematopoietic 

stem cell (HSC). Maka lahirlan istilah stem cell 

tahun 1909, yang disampaikan ilmuwan Rusia ini. 28 

 

Kejadian jatuhnya bom atom di Hiroshima dan 

Nagasaki tahun 1945 memicu  ratusan ribu 

korban. Penelitian retrospektif menunjukkan bahwa 

para korban meninggal dengan dosis radiasi terkecil 

akibat gagal hematopoetik.  Namun,  banyak di 

antara yang selamat menderita leukemia akibat 

radiasi. Pengamatan dengan mikroskop 

menunjukkan bahwa sumsum tulang normal bersifat 

radiosensitif. 29  Ray Owen tahun 1945 mengamati 

bahwa sapi kembar jantan yang memiliki satu 

plasenta dapat saling membagi sel darah. 30 

Pengamatan ini mendasari penelitian Medawar dan 

Bellingham tahun 1953 yang mendapatkan graft 

kulit pada kembar heterozigot dan homozigot 

(identik) hampir dapat ditoleransi dalam sel 

hematopoietik. Penemuan Medawar ini 

menghantarkan beliau mendapat hadiah Nobel 

bidang kedokteran tahun 1960. 30 

 

Penelitian pada mencit tahun 1950 mendapatkan 

bahwa sindroma radiasi dapat dicegah dengan 

melindungi limpa dengan tembaga, 31 atau 

menyuntikan sel limpa atau sumsum tulang.32,33. 

Hasil penelitian membuka jalan perkembangan 

transplantasi sel hemetopoetik. 30 Pengamatan Till 

dan McCulloch tahun 1961 dari penelitian 

memakai  mencit yang diberi sel sumsum dari 

mencit lain (alogenik) mendapatkan bahwa di dalam 

limpa mencit resipien  terbentuk koloni sel pada hari 

ke 10. 34  Koloni sel dinamakan colony-forming cell 

spleen (CFU-S) yang terdiri dari berbagai sel 

diferensiasi. Till dan McCulloch mengusulkan 

bahwa koloni sel ini yaitu  hematopoietic stem cell, 

sebab  sel ini bersifat self-renewal dan mampu 

menghasilkan semua jenis darah. 30 Penelitian 

berikutnya membuktikan bahwa CFU-S yaitu  sel 

klonogenik tunggal, yang mampu menghasilkan 

lebih banyak myeloerythroid colony-forming cells 

pada mencit yang diradiasi dengan dosis subletal. 35 

Penelitian secara in vivo dilanjutkan oleh Pluznik 

dan Sachs, yang meneliti karakteristik HSC dan 

mengidentifikasi growth factor yaitu G-CSF untuk 

sel hematopoitik. Dalam perkembangan selanjutnya, 

dapat diidentifikasi CD34 sebagai marker HSC dan 

progenitor cells. 36  

 

Weissman dan kolega memakai  monoclonal 

antibody mengisolasikan repopulating cells jangka 

panjang pada mencit, 37 dan mendapatkan bahwa 

stem cell ada  di dalam satu populasi dengan 

marker : c-Kit+, Thy-1.1, lineage marker neg, dan 

Sca+ (KTLS). Populasi HSC ini bersifat 

multilineage pada mencit sebab  mampu melakukan 

rekonstitusi jangka panjang (3 bulan) pada seluruh 

sistem hematopoiesis pada mencit yang diberikan 

penyinaran dosis mematikan meskipun jumlahnya 

hanya 0.05% dari sel sumsum tulang. 30 Osawa et al., 

melakukan isolasi HSC mencit dengan efisiensi 

cloning 90% secara in vitro dan memberi  kepada 

mencit yang telah mendapat penyinaran dosis letal, 

juga mampu menginduksi hematopoiesis. 38 

 

Hal yang sama terjadi pada manusia. Dengan 

pemurnian HSC yang menunjukkan marker CD34+, 

Thy+, Lin-, CD38- dan CD34RA-, diberikan kepada 

mencit dengan gangguan imun berat (severe 

combined immunodeficiency, SCID), mampu 

menimbulkan hematopoiesis.27 Hal ini menunjukkan 

bahwa populasi sel HSC manusia memiliki  

kemampuan daya regenerasi meskipun sulit 

menentukan efek jangka panjang. Struktur hierarki 

perkembangan hematopoietik sebagai multipotensi 

secara progresif mengalami keterbatasan (Gambar 

12).30 Pada awalnya, HSC menghasilkan MPP 

(multipotent progenitors) yang tidak memiliki sifat 

self-renewal, namun berdiferensiasi dalam skala 

penuh, yaitu berdiferensiasi menjadi CLP (common 

lymphoid progenitor) dan CMP (common myeloid 

progenitor). Progenitor oligopotensi ini 

menghasilkan sel efektor megakaryocyte/erythrocyte 

progenitors (MEPs) and granulocyte/macrophage 

progenitors (GMPs), sedangkan CLL menghasilkan 

progenitor limfosit T dan B matang, natural killer 

(NK) cells. Sedangkan CLL dan CMP sama-sama 

menghasilkan sel dendritik (Gambar 12). 30 

 

Marker sel permukaan pertama sekali diperoleh pada 

HSC manusia yaitu  CD34, suatu ligand L-selectin 

yang hanya berjumlah 0.5-5% dari sel darah di 

dalam hati fetus manusia, darah plasenta dan 

sumsum tulang dewasa. 39,40,41 Semua sel CD34+ 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

14 

bersifat multipotensi 27 artinya dapat menghasilkan 

semua jenis sel darah juga sel endotel vaskuler, 

terutama pada ujung pembuluh darah, tempat 

proliferasi paling aktif terjadi.42, Sel endotel memiliki 

plastisitas tinggi untuk memberi  respon terhadap 

signal angiogenik. 43 Angiogenesis yaitu  proses 

pertumbuhan pembuluh darah melalui tumbuhnya 

percabangan daripembuluh darah yang sudah ada. 43 

Sel endotel menjadi motil, aktif membentuk filopodia 

akibat respon terhadap signal angiogenik, seperti 

vascular endothelial growth factor (VEGF), yang 

dihasilkan CD34+ stem cell. Melalui pembentuk ujung 

sel, terbentuk lumen dan berproliferasi untuk 

menopang pemanjangan lumen (Gambar 13B). 43 

Ujung sel beranastomosis dengan pertumbuhan sel lain 

membentuk loop pembuluh darah. Dengan masuknya 

aliran darah, pembentukan basement membrane, 

rekrutmen sel mural untuk menstabilkan hubungan, 

maka diakhiri dengan berhentiknya signal angiogenik, 

maka kondisi ini kembali menjadi tidak aktif 

(quiescence) setelah terbentuk pembuluh darah baru. 

(Gambar 13 C) (Gambar 14). 43 

 

 

 

Gambar 12. Perkembangan hematopoietic menunjukkan hierarki diferensiasi hematopoietik. Pertanda permukaan isolasi 

pada manusia (atas) dan mencit (bawah) menunjukkan stem dan progenitor cell. HSC menunjukkan rekonstitusi jangka 

panjang, self renewing; MPP, multipotent progenitor cell dengan self renewal terbatas ; CMP, common myeloid 

progenitor; CLP, common lymphoid progenitor; BLP, B lymphocyte protenitor; ProT, T-cell progenitor; GMP, 

granulocyte/macrophage progenitor; MEP, megakaryocyte/erythroid progenitor; MkP, megakaryocyte progenitor; EP, 

erythroid progenitor. 

________________________Weissman IL, Shizuru JA. The origins of the identification and isolation of hematopoietic stem cells, and their capability to 

induce donor-specific transplantation tolerance and treat autoimmune diseases. Blood. 2008;112:3543-3553. 

Stem Cell Epigenetik 

15 

 

 

Gambar 13. Pembentukan pembuluh darah (A) Angioblast berdiferensiasi menjadi sel endotel, membentuk cetakan 

pembuluh darah, lumen dan sebagai awal fenotipe arteri dan vena (B) Langkah pertumbuhan pembuluh darah : !1) seleksi 

ujung/batang sel; (2) navigasi ujung sel dan proliferasi batang sel; (3) koordinasi percabangan; (4) elongasi batang sel, 

fusi ujung sel dan pembentukan lumen ; dan (5) perfusi dan maturasi pembuluh darah. (C) Langkah sekuensi remodeling 

vaskuler dari primitif (kotak kiri) menjadi pleksus pembuluh darah yang matur (kotak kanan) termasuk fenotipe falang 

endotel, deposisi basement membrane, penutupan dengan perisit dan regresi percabangan.  

________________________Potente M, Gerhardt H, Carmeliet P.  Basic and therapeutic aspects of  angiogenesis. Cell 2011;146:873-887.  

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

16 

 

 

Gambar 14. Pembentukan ujung sel. (A) Sebagai respon terhadap rangsangan vascular endothelial growth factor 

(VEGF) sel endotel (EC) terlepas dari basement membrane dan perisit terlepas, memungkinkan sel endotel bermigrasi 

(B) VSGF/Notch signaling menyeleksi ujung dan batang sel (C) Filopodia mengarahkan ujung sel dengan melalui respon 

terhadap rangsangan. Pembentukan filopodia diatur oleh CDC42 dan endositosis reseptor EphrinB2/VEGFR2. Signaling 

ROBO4/UNC5B diperlukan untuk menstabilkan lapisan endotel dengan menghmbat SRC. 

________________________Potente M, Gerhardt H, Carmeliet P.  Basic and therapeutic aspects of  angiogenesis. Cell 2011;146:873-887.  

Stem Cell Epigenetik 

17 

 

 

Gambar 15. Peran endothelial progenitor cell (EPC) terhadap biologi vaskuler. Penyuntikan EPC memicu  

reendotelialisasi dan neovaskularisasi pembuluh darh setelah injuri.  

________________________Urbich C, Dimmeler S. Endothelial progenitor cells. characterization and role in vascular biology. Circ Res. 2004;95:343-

353. 

 

sebab  itu, CD34+ stem cell sebagai bagian dari 

endothelial progenitor cell dapat meregenerasikan 

sel endotel pada pembuluh darah yang mengalami 

iskemia melalui proses neovaskularisasi dan re-

endoteliasasi (Gambar 15). 44,45  

 

Transplantasi CD34+ secara autologous telah 

dilakukan pada pasien dengan kardiomiopati 

iskemik 46 dan noniskemik. 47,48 Penyuntikan CD34+ 

stem cell ke area periinfark saat  dilakukan 

coronary bypass secara off-pump meningkatkan 

fungsi kontraksi dibandingkan hanya dengan 

coronary bypass. 46 Penelitian memakai  CD34+ 

atau CD133-, CD34+ secara intrakoronaria pada 

pasien dengan infark miokard anterior juga 

mendapatkan perbaikan perfusi regional dan 

remodeling ventrikel kiri. 49 Vrtoves et al., dalam 

penelitian terhadap pasien kardiomiopati noniskemik 

dengan menyuntikan CD34+ cell secara 

intrakoronaria juga mendapatkan peningkatan fraksi 

ejeksi ventrikel kiri dan jarak jalan 6 menit serta 

penurunan kadar N-terminal probrain natriuretic 

peptide. 47 Penelitian lebih lanjut oleh kelompok 

peneliti yang sama mendapatkan bahwa efek ini 

bertahan dalam jangka waktu 5 tahun dengan 

menurunnya angka kematian (Gambar 16). 48   

 

 

 

Gambar  16. Survival dan penyebab kematian pada pasien diberikan stem cell CD34+ dan kontrol. Survival 5 tahun 

dievaluasi dengan analisis Kaplan-Meier mendapatkan 2,3 kali lebih tinggi pada kelompok stem cell dibandingkan 

dengan kelompok kontrol (kanan), terutama sebab  mortalitas akibat gagal pompa (kiri).  

________________________Vrtovec B, Poglajen G, Lezaic L, Sever M, Domanovic D, Cernelc P, Socan A, Schrepfer S, Torre Amione G, Haddad F, 

Wu JC. Effects of intracoronary CD34+ stem cell transplantation in nonischemic dilated cardiomyopathy patients: 5-year follow-up. 

Circ Res. 2013;112:165-173. 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

18 

 

 

Gambar 17. Insiden angina per minggu pada bulan 6 dan bulan 12.  

________________________Losordo DW, Henry TD, Davidson C, Lee JS, Costa MA, Bass T, Mendelsohn F, Fortuin FD, Pepine CJ, Traverse JH, 

Amrani D, Ewenstein BM, Riedel N, Story K, Barker K, Povsic TJ, Harrington RA, Schatz RA, the ACT34-CMI Investigatorsa 

Intramyocardial, autologous CD34+ cell therapy for refractory angina. Circ Res.2011;109: 428-436.  

 

 

Penelitian Losordo et al., pada pasien angina 

refrakter memakai  penyuntikan CD34+ 

intramiokard secara autologus dengan dua dosis; 

1x105  atau 5x 105  cells/kg, terhadap 167 pasien 

mendapatkan penurunan frekuensi angina selama 6 

bulan  (6.8 1.1 versus 10.91.2, P< 0.020)  dan 12 

bulan  (6.31.2 versus 11.0 1.2, P< 0.035), dan 

durasi exercise treadmill test meningkat selama 6 

bulan (139151 versus 69122 detik, P<0.014; 12 

bulan : 140171 versus 58 146 detik, P< 0.017) 

(Gambar 17).  

 

Penelitian kami mendapatkan bahwa pasien dengan 

angina refrakter yang tidak bisa dilakukan balonisasi 

dengan tindakan angiografi koroner atau coronary 

bypass dapat dilakukan penyuntikan molekul untuk 

meningkatkan jumlah CD34+ stem cell dalam tubuh. 

Kemudian dilakukan tindakan apheresis untuk 

memisahkan jumlah stem cell di dalam satu 

kantongan, lalu dilakukan transplantasi secara 

intravena. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa 

pasien yang diberikan stem cell mendapatkan 

penurunan angina secara signnifikan pada minggu 

keempat (dari 15.074.03 vs 3.271.49, p<0.001) 

(Gambar 18),  juga perbaikan toleransi olahraga dari 

5.902.53 menit menjadi 8.41  2.49 menit, p< 

0.001) (Gambar 19). 51 Hasil penelitian ini telah 

dipresentasikan pada seminar Basic Cardiovascular 

Sciences (BCVS), American Heart Association 

(AHA) tertanggal 18-21 Juli 2016 di Phoenix, 

Arizona, Amerika Serikat. Metode penelitian yang 

bersifat non-invasif ini merupakan pertama 

dilakukan di dunia dengan mendapatkan hasil yang 

menggembirakan. Sehingga hasil penelitian ini 

terpilih sebagai salah satu yang terbaik oleh AHA, 

dan diundang untuk memberi  presentasi pada 

pertemuan Scientific Sessions, American Heart 

Association, bulan November 2016.  

 

  

 

Gambar 18. Frekuensi angina pada baseline dan minggu 

ke 4 pada pasien dengan angina refrakter setelah dilakukan 

transplantasi CD34+ stem cell (15.074.03  versus 

3.271.49, p<0.001).  

________________________Lim H, Lindarto D, Zein U, Hariaji I. Intravenous 

mobilized autologous peripheral blood CD34+ stem cell 

transplantation for angina.  

 

 

Dari berbagai penelitian tersebut dapat disimpulkan 

bahwa transplantasi CD34+ stem cell, baik yang 

berasal dari darah perifer maupun bone marrow-

derived stem cell dapat digunakan pada berbagai 

kondisi penyakit jantung; infark miokard, gagal 

jantung iskemik dan noniskemik dan angina 

refrakter  serta memberi  hasil yang baik untuk 

jangka pendek dan panjang.  

Stem Cell Epigenetik 

19 

 

Gambar 19. Exercise treadmill test menunjukkan 

perubahan signifikan pada durasi olehraga antara baseline 

dengan minggu ke 4 setelah dilakukan transplantasi stem 

cell (5.902.53 versus 8.412.49, p<0.001).  

________________________Lim H, Lindarto D, Zein U, Hariaji I. Intravenous 

mobilized autologous peripheral blood CD34+ stem cell 

transplantation for angina.  

 

 

NONHEMATOPOIETIC STEM CELL 

 

MESENCHYMAL STEM CELL (MSC) 

 

MSC, juga dikenal sebagai bone marrow stromal 

cells, yaitu  nonhematopoietic stem cell bersifat 

multipoten dan melekat pada kultur. MSC 

berdiferensasi menjadi kondrosit, adiposit, 

osteoblast dan sel otot skeletal dan dilaporkan 

berdiferensiasi menjadi kardiomiosit 52 dan sel 

endotel, 53,54 namun potensi kardiogenik ini masih 

kontroversial. 55 Ekspresi MSC secara khusus 

yaitu  CD105, CD73, CD90 dan STRO-1, tidak 

memiliki marker hematopoietic seperti CD45, 

CD34, da CD14/11b). 56,57 Selain ada  di 

sumsum tulang, MSC juga dapat diisolasi dari darah 

perifer, 58,59 darah tali pusat, 60 jaringan adiposa, 61 

jaringan sinovia, 62 dan jaringan paru, 63 bersifat 

heterogen sebab  potensi pertumbuhan berbeda 

namun marker permukaan dan potensi diferensiasi 

sama. 64 

 

Semua jaringan pembentuk MSC memiliki suplai 

pembuluh darah yang baik. saat  sel perivaskuler 

diisolasikan, dikultur dan diperiksa memakai  

dengan fluorescence activated cell sorting (FACS), 

maka tampak marker khas perisit dan MSC. 65  

sebab  itu, Caplan mengusulkan bahwa semua MSC 

yaitu  perisit.66 Namun pericyte dengan diferensiasi 

tinggi bukan MSC. Dengan MSC sebagai perisit, 

maka MSC memiliki respon terhadap sel endotel. 

Perisit yang keluar dari pembuluh darah atau akibat 

inflamasi menjadi MSC. MSC aktif mensekresi dua 

jenis molekul bioaktif; imunomodulasi dan faktor 

trofik (Gambar 20). 67 Aktivitas imunomodulasi 

menghambat limfosit sehingga mencegah kerusakan 

jaringan, yang berpotensi menimbulkan reaksi 

autoimun. Molekul trofik menghambat apoptosis 

akibat iskemia, pembentukan jaringan parut (scar) 

dan meningkatkan angiogenesis dengan mensekresi 

vascular endothelial growth factor (VEGF), yang 

menarik sel endotel (Gambar 14).43 

 

Gambar 20. Injuri menginduksi pelepasan perisit yang 

memicu  MSC teraktivasi (A). MSC teraktivasi 

mensekresi beberapa  molekul bioaktif berperan sebagai 

(B) imunomodulasi dan trofik.  

________________________Caplan AI. MSCs: the new medicine. In : Vertes AA 

eds. Stem cells in  regenerative medicine. : science, regulation 

and business strategies. Ed 1, John Wiley & Sons, Ltd, 2015, p. 

415-421. 

 

Dengan fungsi ganda MSC tersebut, maka MSC 

merupakan ‘pabrik obat’ yang bersifat spefisik 

terhadap tempat injuri, berfungsi memperbaiki 

kerusakan jaringan di tempat yang dituju. sebab  

itu, kunci efikasi pengobatan MSC yaitu  membawa 

sedikit MSC ke tempat tujuan dengan 

mempertimbangkan tempat dan waktu yang tepat. 

Dengan demikian, MSC berfungsi sebagai pengantar 

sekresi beragam obat. sebab  itu, Caplan 

menamakan MSC sebagai medicinal signaling cells 

(MSCs). 68 Pemahaman ini akan memberi  arah 

yang jelas terhadap pemakaian  MSC untuk tujuan 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

20 

terapeutik. 67 

 

Berbagai penelitian preklinis dan klinis 

menunjukkan bahwa transplantasi MSC pada zona 

perbatasan infark miokard menunjukkan reduksi 

miosit yang mengalami apoptotik dan meningkatkan 

jumlah vaskularisasi, 69,70  reduksi jaringan parut dan 

kardioproteksi. Amado et al., menunjukkan bahwa 

dengan pencitraan computed tomography tampak 

restorasi kontraksi jaringan miokard pada penelitian 

memakai  model babi.71,72 Gnecchi et al. 

mendapatkan bahwa pemakaian  MSC dikutur di 

media hipoksik mengurangi apoptosis dan nekrosis 

pada kadiomiosit tikus yang dipapar dengan oksigen 

rendah. 73 MSC yang direkayasa dengan ekspressi 

Akt akan meningkatkan kardioproteksi.73 

Kardioproteksi MSC secara in vivo mengurangi 

jumlah sel apoptotik pada tempat penyuntikan 

MSC.74 Hal ini menunjukkan bahwa MSC dapat 

memproteksi atau mengurangi stimuli yang 

memicu  kerusakan miosit (Gambar 21). 75 

 

Mekanisme kerja MSC terhadap penyakit 

kardiovaskular : reduksi fibrosis, 76 stimulasi 

angiogenesis,77  dan restorasi fungsi kontraksi 

jantung melalui proses engraftment,53 diferensiasi 

dan stimulasi cardiac stem cell secara endogen 

untuk proliferasi dan diferensiasi (Gambar 21). 75 

Efek ini terjadi secara serentak dalam memperbaiki 

jaringan parut atau disfungsi miokard dengan 

jaringan kontraksi sehingga dapat memperbaiki 

perfusi jaringan. Sebagian besar studi mendapatkan 

bahwa engraftment terapi stem cell memperlihatkan 

retensi sel yang rendah. Toma et al., mendapatkan 

bahwa setelah 4 hari, jumlah MSC yang 

ditransplantasi yang masih tertinggal didalam 

miokardium berkisar 0.44%. 53  Pada model 

kardiomiopati iskemik kronik dengan model babi, 

yang memiliki anatomi dan fisiologi seperti 

manusia,78 Quevedo et al., melaporkan bahwa MSC 

alogenik dapat mengadakan engraftment dan 

berdiferensiasi menjadi kardiomiosit, sel otot 

polosm dan endothelium.80 MSC sumsum tulang 

babi jantan yang disuntikan ke babi betina 

mendapatkan kolokalisasi dengan kromosom Y 

dengan pemeriksaan fluorencence in-situ 

hybridization (FISH). Diferensiasi kardiomiosit 

didapati sebanyak 14% dengan kromosom Y 

positive pada MSC yang diidentifikasi dengan 

costaining untuk protein struktur jantung -

sarcomeric actinin dan tropomyosin, faktor 

transkripsi GATA-4 dan Nkx2.5. 79 Meskipun 

engraftment dan diferensiasi MSC rendah 

dibandingkan dengan pemulihan fungsional jantung 

setelah transplantasi sel, maka timbul pertanyaan 

apakah engraftment dan diferensiasi merupakan 

faktor dominan ? 80 

 

MSC dapat menghasilkan beberapa  soluble 

paracrine factors yang berkontribusi terhadap 

kardiomiogenesis dan angiogenesis. 73,81,82,82,83,84,85 

MSC juga mensekresi beberapa  sitokin dan growth 

factor yang menekan sistem imun, inhibisi fibrosis 

dan apoptosis, meningkatkan angiogenesis dan 

merangsang diferensiasi stem cell yang spesifik 

terhadap jaringan. 86,87  Pemberian MSC intramiokard 

pada model babi dengan infark miokard dapat 

mengurangi besarnya infark dengan menrekrut 

cardiac stem cell c-kit endogen, sedangkan 

pemberian media kultur MSC tidak memberi  

efek. 88 Hal ini menunjukkan bahwa efek parakrin 

MSC merupakan mekanisme kerja utama yang 

mendasari perbaikan fungsi dan regenerasi jaringan 

miokard (Gambar 21). 75 

 

Sejak 2011, MSC dan preparat sel kultur telah diuji 

untuk gagal jantung kronik dengan jumlah sampel 

kecil. Uji klinis ini secara konsisten menunjukkan 

bahwa sel terapi dapat mengurangi ukuran jaringan 

parut infark miokard, memulihkan remodeling 

ventrikel, meningkatkan jarak jalan 6 menit dan  

meningkatkan kualitas hidup diukur dengan 

kuesioner (Tabel 1).89,90,91,92,93,94 

 

Saat ini tercatat pada clinicaltrials.gov sebanyak 34 

uji klinis memakai  MSC untuk berbagai 

gangguan jantung pada dewasa (infark miokard akut, 

gagal jantung iskemik, dan noniskemik). 

Kebanyakan studi masih dalam fase I dan II 

(Gambar 22A), 94 dan ada beberapa studi fase yang 

sedang berlangsung atau ongoing dan sudah selesai. 

ada  beragam uji klinis MSC. Ada 7 uji klinis 

bersifat multicentered dan 1 double-centered. 

Kebanyakan (27) yaitu  uji klini skala kecil, dengan 

jumlah pasien < 100 per uji  (Gambar 22 B dan C) dan 

hanya beberapa bersifat placebo-controlled. Rute MSC 

(intravena, intrakoronaria, intramiokard, transendokard; 

Gambar 22 D), dosis dan asal sel (fetal-umbilical vs 

dewasa, autologus vs allogenik, dan sumsum tulang vs 

adiposa). Hal ini mendasari beragam rancang studi, asal 

sel, dosis dan cara pemberian. Tahun 2009, uji klinis 

dengan  MSC alogenik diberikan secara intravena 

menunjukkan pengurangan kejadian aritmia dan nyeri 

dada. 95 Uji ini merupakan awal pema