Vertigo ialah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti rotasi (memutar)
tanpa sensasi perputaran yang sebenarnya, dapat berupa sekelilingnya yang terasa berputar
(vertigo objektif) atau badan sendiri yang berputar (vertigo subjektif). Vertigo berasal dari bahasa
latin "vertere" = memutar. Vertigo termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan
sebagai pusing, pening, sempoyongan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik.
Jenis vertigo yang paling sering ditemukan di kalangan masyarakat umum yaitu Benign
Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). berdasar penelitian, dari keseluruhan jumlah pasien
yang datang dengan keluhan pusing berputar / vertigo, sebanyak 20% dari mereka menderita
BPPV. Walaupun begitu, BPPV sering salah didiagnosa sebab BPPV biasanya tidak berdiri
sendiri namun diikuti oleh penyakit telinga bagian dalam lainnya (misalnya, satu pasien mungkin
memiliki kedua penyakit Menière dan BPPV sekaligus).
berdasar sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa, didapatkan
prevalensi BPPV di Amerika yaitu sebanyak 64 orang penderita pada setiap 100.000 populasi,
dengan penderita jenis kelamin wanita lebih banyak daripada pria. BPPV cenderung ditemukan
pada usia yang lebih tua, yaitu >50 tahun dan jarang diamati pada penderita usia <35 tahun tanpa
riwayat cedera kepala.
Diagnosis BPPV ditegakkan berdasar anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan THT, uji
posisi dan uji kalori. Pada anamnesis, pasien biasanya mengeluhkan kepala terasa pusing berputar
pada perubahan posisi kepala dalam aktivitas tertentu seperti berbaring, bangun, berguling di atas
tempat tidur atau menoleh ke belakang. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala
dan akan berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan kurang dari 1 menit. Pada pemeriksaan
THT secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak ada paresis kanal.
Uji posisi dapat membantu menegakkan diagnosa BPPV, yang paling baik yaitu dengan
melakukan manuver Hallpike. Terapi fisik manuver reposisi kanalit merupakan terapi dini paling
efektif pada pasien BPPV ketimbang dengan pemberian terapi farmasi pada pasien IGD.
CASE REPORT
Anamnesis
Pasien datang diantar oleh suaminya ke IGD RSUD Pasar Rebo pada pukul 15.30 WIB dengan
keluhan pusing seperti berputar. Keluhan ini dirasakan ketika pasien sedang rukuk dan sujud pada
saat sholat serta apabila pada saat berjalan pasien merasa jalanan terasa bergoyang. Keluhan ini
sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu dan semakin memburuk pada malam hari sebelum pasien
datang ke IGD. Pasien juga sering disertai perasaan mual,namun tidak pernah sampai muntah dan
nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluh demam sehingga ia mengkonsumsi obat
parasetamol dan pasien terlihat sangat cemas dengan penyakitnya sekarang. Pasien mempunyai
riwayat hipertensi dan sudah diberi obat anti hipertensi oleh dokter sebelumnya,namun pasien lupa
nama dan jenis obatya sebab sudah sejak satu tahun yang lalu.
1. Keluhan Utama
Pusing seperti berputar pada saat perubahan posisi tubuh
2. Keluhan Tambahan
Mual,demam,nafsu,makan berkurang
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Adanya rasa pusing berat yang dirasakan seperti berputar pada saat pasien melakukan aktivitas
sehari-hari. Hal ini sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu dan memburuk pada malam sebelum
ke IGD. Pusing dirasakan disemua bagian kepala. Pasien sudah dikategorikan berusia lanjut
dan disertai adanya riwayat hipertensi yang sudah diberi obat anti hipertensi 1 tahun yang lalu.
Pasien juga merasakan mual,demam dan tampak cemas. Pasien merasakan keterbatasan dalam
aktivitas sehari-hari dan berkurangnya nafsu makan.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi,tidak ada riwayat alergi obat ,lingkungan dan makanan
5. Riwayat penyakit keluarga.
Keluarganya diketahui tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit yang sama.
6. Riwayat Sosial
Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga yang masih aktif mengurus keluarga
7. Riwayat Pengobatan
Pasien mengkonsumsi obat anti hipertensi pada 1 tahun yang lalu dan mengkonsumsi
parasetamol pada malam sebelum ke IGD
4
8. Tinjauan sistem organ
Adanya perasaan kesemutan pada jari-jari tangannya
Pemeriksaan Fisik
1. Status generalis:
a. Keadaan umum : tampak sakit sedang menahan nyeri
b. Kesadaran : compos mentis, GCS (15)
c. Tanda Vital : TD 120/90 , DJ 80x/menit
d. Kepala : normal
e. Mata : konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, lensa katarak senilis
f. Telinga : Normal, ottorhea (-)
g. Hidung : Normal, rhinorrhea (-)
h. Mulut : Normal
i. Leher : Pembesaran kelenjar tiroid (-)
j. Thoraks : Pulmo : vesikuler (+), ronkhi(-), wheezing (-)
Cor : bunyi jantung I - II regular murni, murmur (-), gallop (-)
k. Ekstremitas : lihat status lokalis
l. Abdomen : Nyeri tekan/Nyeri lepas (-/-)
2. Status Lokalis
Tidak adanya kelainan
Pemeriksaan Penunjang
1. Perasat Dix Hallpike kanan : nistagmus (+/+)fase cepat ke atas dan berputar ke kanan
2. Perasat Dix Hallpike kiri : nistagmus (-/-)
Diagnosis Kerja
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Penatalaksanaan
5
Saat datang :
1. Dilakaukan pemeriksaan perasat Dix-Hallpike kanan dan didapatkan adanya nistagmus pada
kedua mata dan adanya perasaan pusing yang berputar.
sesudah konsul dengan dokter diberikan resep obat :
1. Frego ( Flunarizine 5 mg)
2. Mertigo (Betahistine mesylate 12 mg)
3. Odasentron
Prognosis
Dubia ad bonam
Teori Singkat
1. Benign Paroxysmal Positional Vertigo
1.1. Definisi
Vertigo yaitu perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau seolah-olah
benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai dengan mual dan
kehilangan keseimbangan. Vertigo ialah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh
seperti rotasi (memutar) tanpa sensasi perputaran yang sebenarnya, dapat sekelilingnya terasa
berputar (vertigo objektif) atau badan yang berputar (vertigo subjektif). Vertigo berasal dari
bahasa latin "vertere"= memutar.
Jenis vertigo yang paling sering ditemukan di kalangan masyarakat umum yaitu Benign
Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), dimana vertigo terjadi secara mendadak dan
berlangsung kurang dari 1 menit (5-10 detik). berdasar penelitian, dari keseluruhan jumlah
pasien yang datang dengan keluhan pusing berputar / vertigo, sebanyak 20% dari mereka
menderita BPPV. Perubahan posisi kepala (biasanya terjadi ketika penderita berbaring,
bangun, berguling diatas tempat tidur atau menoleh ke belakang) biasanya memicu terjadinya
episode vertigo ini.
Perubahan posisi kepala - biasanya membelokkan kepala di atas bantal sebelum bangun
pagi hari, atau menengadah untuk mencapai rak tinggi sering memicu episode kekacauan ini.
BPPV biasanya berkembang ketika partikel kalsium yang biasanya terlekat pada satu bagian
telinga dalam (utrikulus dan sakkulus) tergusur dan pindah ke bagian telinga dalam lain (kanal
semisirkularis posterior). Ketidakseimbangan ini yang diyakini telah menghasilkan episode
singkat vertigo.
Vertigo jenis ini bisa menimbulkan gejala yang berat, namun biasanya tidak berbahaya dan
hilang sendiri. BPPV bisa disertai oleh gejala mual, muntah, dan nystagmus khusus (gerakan
mata terbelalak yang cepat pada satu arah bergantian dengan gerakan menurun yang lebih
lambat hingga ke posisi semula). Episode vertigo dimulai sesudah 5 sampai 10 detik sesudah
perubahan posisi kepala dan bertahan kurang dari semenit. Episode biasanya reda dengan
sendirinya dalam beberapa minggu. Kadang-kadang, mereka menetap selama berbulan-bulan
dan bisa menyebabkan dehidrasi sebab mual dan muntah. BPPV khususnya dapat dibedakan
dari Menière disease sebab biasanya pada BPPV tidak terjadi kehilangan pendengaran atau
telinga berdenging (tinnitus).
1.2. Anatomi dan Fisiologi Keseimbangan Perifer
Alat vestibuler terletak di telinga dalam (labirin), terlindung oleh tulang yang paling
keras yang dimiliki oleh tubuh. Labirin secara umum yaitu telinga dalam, namun secara khusus
dapat diartikan sebagai alat keseimbangan. Labirin terdiri atas labirin tulang dan labirin
membrane. Labirin membrane terletak dalam labirin tulang dan bentuknya hampir menurut
bentuk labirin tulang. Antara labirin membrane dan labirin tulang ada perilimf, sedang
endolimf ada didalam labirin membrane. Berat jenis endolimf lebih tinggi daripada cairan
perilimf. Ujung saraf vestibuler berada dalam labirin membran yang terapung dalam perilimf
yang berada pada labirin tulang. Setiap labirin terdiri dari tiga kanalis semisirkularis, yaitu
horizontal (lateral), anterior (superior), posterior (inferior). Selain ke tiga kanalis ini ada
pula utrikulus dan sakulus.
Labirin juga dapat dibagi kedalam dua bagian yang saling berhubungan, yaitu:
1) Labirin anterior yang terdiri atas kokhlea yang berperan dalam pendengaran.
2) Labirin posterior, yang mengandung tiga kanalis semisirkularis, sakulus dan utrikulus.
Berperan dalam mengatur keseimbangan. (di utrikulus dan sakulus sel sensoriknya
berada di makula, sedang di kanalis sel sensoriknya berada di krista ampulanya)
Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan disekitarnya tergantung
kepada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ visial dan proprioseptif.
Gabungan informasi ketiga reseptor sensorik ini akan diolah di SSP, sehingga
menggambarkan keadaan posisi tubuh pada saat itu.
Reseptor sistem ini yaitu sel rambut yang terletak dalam krista kanalis semisirkularis
dan makula dari organ otolit. Secara fungsional ada dua jenis sel. Sel-sel pada kanalis
semisirkularis peka terhadap rotasi khususnya terhadap percepatan sudut, sedang sel-sel
pada organ otolit peka terhadap gerak linier, khususnya percepatan inier dan terhadap
perubahan posisi kepala relatif terhadap gravitasi. Perbedaan kepekaan terhadap percepatan
sudut dan percepatan linier ini disebabkan oleh geometridari kanalis dan organ otolit serta
ciri-ciri fisik dari struktur-struktur yang menutupi sel rambut.
Sel rambut
Secara morfologi sel rambut pada kanalis sangat serupa dengan sel rambut pada organ otolit.
Masing-masing sel rambut memiliki polarisasi struktural yang dijelaskan oleh posisi dari
stereosilia relatif terhadap kinosilim. Jika suatu gerakan menyebabkan stereosilia
membengkok kearah kinosilium, maka sel-sel rambut akan tereksitasi. Jika gerakan dalam arah
yang berlawanan sehingga stereosilia menjauh dari kinosilium maka sel-sel rambut akan
terinhibisi.
Kanalis semisirkularis
Polarisasi yaitu sama pada seluruh sel rambut pada tiap kanalis, dan pada rotasi sel-sel dapat
tereksitasi ataupun terinhibisi. Ketiga kanalis hampir tegak lurus satu dengan yang lainnya,
dan masing-masing kanalis dari satu telinga terletak hampir satu bidang yang sama dengan
kanalis telinga satunya. Pada waktu rotasi, salah satu dari pasangan kanalis akan tereksitasi
sementara yang satunya akan terinhibisi. Misalnya, bila kepala pada posisi lurus normal dan
ada percepatan dalam bidang horizontal yang menimbulkan rotasi ke kanan, maka serabut-
serabut aferen dari kanalis hirizontalis kanan akan tereksitasi, sementara serabut-serabut yang
kiri akan terinhibisi. Jika rotasi pada bidang vertikal misalnya rotasi kedepan, maka kanalis
anterior kiri dan kanan kedua sisi akan tereksitasi, sementara kanalis posterior akan terinhibisi.
Organ otolit
Ada dua organ otolit, utrikulus yang terletak pada bidang kepala yang hampir horizontal, dan
sakulus yang terletak pada bidang hampir vertikal. Berbeda dengan sel rambut kanalis
semisirkularis, maka polarisasi sel rambut pada organ otolit tidak semuanya sama. Pada
makula utrikulus, kinosilium terletak di bagian samping sel rambut yang terdekat dengan
daerah sentral yaitu striola. Maka pada saat kepala miring atau mengalami percepatan linier,
sebagian serabut aferen akan tereksitasi sementara yang lainnya terinhibisi. Dengan adanya
polarisasi yang berbeda dari tiap makula, maka SSP mendapat informasi tentang gerak linier
dalam tiga dimensi, walaupun sesungguhnya hanya ada dua makula.
Hubungan-hubungan langsung antara inti vestibularis dengan motoneuron ekstraokularis
merupakan suatu jaras penting yang mengendalikan gerakan mata dan refleks vestibulo-
okularis (RVO). RVO yaitu gerakan mata yang mempunyai suatu komponen lambat
berlawanan arah dengan putaran kepala dan suatu komponen cepat yang searah dengan putaran
kepala. Komponen lambat mengkompensasi gerakan kepal dan berfungsi menstabilkan suatu
bayangan pada retina. Komponen cepat berfungsi untuk kembali mengarahkan tatapan ke
bagian lain dari lapangan pandang. Perubahan arah gerakan mata selama rangsangan
vestibularis merupakan suatu contoh dari nistagmus normal.
1.3. Epidemiologi
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan jenis vertigo vestibular perifer
yang paling sering ditemui di kalangan masyarakat umum. berdasar sebuah penelitian yang
dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa, didapatkan prevalensi BPPV di Amerika yaitu
9
sebanyak 64 kasus per 100.000 penduduk, dengan penderita jenis kelamin wanita lebih banyak
daripada pria. BPPV cenderung ditemukan pada usia yang lebih tua, yaitu diatas 50 tahun (51–
57 tahun) dan jarang diamati pada penderita berusia dibawah 35 tahun tanpa riwayat cedera
kepala.3,4
1.5. Patofisiologi
BPPV terjadi akibat dari perubahan posisi kepala yang cepat dan tiba-tiba seperti saat
berguling di tempat tidur, membungkuk, atau menengadah ke atas, dan biasanya akan disertai
sensasi pusing yang sangat berat, yang berlangsung bervariasi pada masing-masing penderita,
vertigo dapat berlangsung hanya beberapa menit hingga berhari-hari dan dapat disertai dengan
gejala mual dan muntah. Beberapa dugaan yang dikemukakan oleh para ahli yaitu
kemungkinan adanya trauma pada alat keseimbangan, infeksi, sisa pembedahan telinga, faktor
degeneratif sebab usia dan kelainan pembuluh darah.
Mekanisme pasti terjadinya BPPV masih samar. Tapi penyebabnya sudah diketahui pasti
yaitu debris yang ada pada kanalis semisirkularis biasanya pada kanalis posterior. Debris
berupa kristal kalsium karbonat itu dalam keadaan normal tidak ada. Diduga debris itu
menyebabkan perubahan tekanan endolimfe dan defleksi kupula sehingga timbul gejala
vertigo.
Untuk memahami patofisiologi terjadinya BPPV, dibutuhkan pemahaman tentang anatomi
dan fisiologi normal dari kanalis semisirkularis. Setiap telinga bagian dalam mengandungi 3
kanalis semisirkularis. Masing-masing kanal terdiri dari krura yang ujungnya melebar
(ampulla) yang terletak berdekatan dengan krista ampullaris (reseptor saraf). Krista ampullaris
memiliki cupula, yang mendeteksi aliran cairan dalam kanalis semisirkularis. Jika seseorang
tiba-tiba menoleh ke kanan, cairan dalam kanal horizontal kanan akan tertinggal, menyebabkan
cupula terdeviasi ke kiri (ke arah ampulla, atau ampullopetal). Deviasi ini berikutnya akan
diterjemahkan menjadi sinyal saraf yang menegaskan bahwa posisi kepala sedang berputar ke
kanan. Ketidakcocokan informasi sensorik antara gerakan kepala dan deviasi cupula inilah
yang menghasilkan sensasi vertigo.
Teori Cupulolithiasis
Pada tahun 1962, Harold Schuknecht, MD, mengusulkan teori cupulolithiasis sebagai
penjelasan untuk BPPV. Melalui pemeriksaan photomicrograph, beliau menemukan partikel
basofilik atau densitas yang adheren terhadap cupula ini . Beliau menduga bahwa kanal
semisirkularis posterior akan lebih sensitif terhadap gravitasi disebab kan partikel padat yang
melekat pada cupula ini .
Teori ini dianalogkan dengan situasi benda
berat yang melekat pada puncak tiang, di mana
berat ekstra akan membuat tiang tidak stabil dan
sulit mempertahankan posisi netral. Bahkan,
tiang cenderung terlempar dari satu sisi ke sisi
lainnya tergantung pada arah itu dimiringkan.
sesudah posisi ini tercapai, berat partikel
ini akan mempertahankan posisi cupula
kembali ke netral. Hal ini tercermin dari
nystagmus persisten dan menjelaskan sensasi
pusing ketika pasien melentur ke belakang.
Teori Canalithiasis
Pada tahun 1980, Epley memperkenalkan
teori-teorinya tentang canalithiasis. Beliau berpikir
bahwa gejala BPPV jauh lebih konsisten dengan
partikel bebas-bergerak (canaliths) di kanalis
semisirkularis posterior daripada partikel melekat
pada cupula ini . Sementara kepala
ditegakkan, partikel di kanalis semisirkularis
posterior berada pada posisi yang tergantung–
gravitasi. Ketika kepala melentur ke belakang
(supinasi), partikel berputar sampai sekitar 90 °
sepanjang arkus kanalis semisirkularis posterior.
sesudah lag sesaat (inersia), gravitasi akan menarik
partikel menuruni arkus. Hal ini menyebabkan
aliran endolimfe untuk menjauh dari ampula dan menyebabkan cupula terdefleksi. Defleksi
cupular menghasilkan nystagmus.
Teori canalithiasis dibuktikan lebih lanjut oleh Parnes dan McClure pada tahun 1991
dengan penemuan partikel bebas-bergerak dalam kanalis semisirkularis posterior sesudah
dilakukan pembedahan.
1.6. Faktor Predisposisi
Sehingga kini etiologi pasti BPPV masih belum diketahui. Meskipun penelitian-penelitian
belum mengidentifikasi penyebab tunggal gangguan BPPV, namun para peneliti dan tenaga
medis sepakat bahwa ada beberapa faktor predisposisi yang mendukung terjadinya BPPV
termasuklah kurangnya aktivitas, alkoholisme akut, operasi mayor, dan penyakit sistem saraf
pusat (SSP). Pemeriksaan neurologis lengkap sangat penting dalam membantu menegakkan
diagnosa BPPV sebab kebanyakan pasien turut mengidap penyakit telinga bagian dalam
secara bersamaan, sebagai berikut:
* Idiopatik - 39%
* Trauma - 21%
* Penyakit telinga - 29%
* Otitis media - 9%
* Neuritis vestibular - 7%
* Ménière disease - 7%
* Otosklerosis - 4%
* Penyakit sistem saraf pusat (SSP) - 11%
* Insufisiensi vertebra basilar - 9%
* Neuroma akustik - 2%
* Vertigo servikal - 2%
1.7. Gejala Klinis dan Diagnostik
Penderita BPPV biasanya akan menimbulkan keluhan jika terjadi perubahan posisi kepala
pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar
jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di
pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau jika kepala ditengadahkan ke belakang. Biasanya
vertigo hanya berlangsung 5-10 detik.
Kadang-kadang pada penderita BPPV dapat disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa
cemas. Penderita biasanya menyadari keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak
melakukan gerakan yang dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala
dalam posisi tegak lurus atau berputar secara aksial tanpa ekstensi. Pada hampir sebagian besar
pasien, vertigo akan berkurang dan akhirnya berhenti secara spontan dalam jangka waktu
beberapa hari sampai beberapa bulan, namun kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun.
BPPV khususnya dapat dibedakan dari Menière disease sebab biasanya pada BPPV tidak
terjadi gangguan pendeng
Diagnosis BPPV dapat ditegakkan berdasar anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan
THT, uji posisi dan uji kalori. Pada anamnesis, penderita BPPV sering mengeluhkan kepala
terasa pusing berputar pada perubahan posisi kepala dengan kondisi tertentu. Secara klinis
vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan berkurang serta akhirnya berhenti secara
spontan sesudah beberapa waktu. Pada pemeriksaan THT secara umum tidak didapatkan
kelainan berarti.
Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º, sehingga kanalis semisirkularis lateralis
dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air
hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus yang
timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus ini (normal
90-150 detik).
Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri
atau ke kanan.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik sesudah
rangsang air hangat maupun air dingin, sedang directional preponderance ialah jika
abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.
Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. VIII, sedang directional
preponderance menunjukkan lesi sentral.
Uji posisi dapat membantu membedakan lesi perifer atau sentral sekaligus mendiagnosa
BPPV, yang paling baik dan mudah yaitu dengan melakukan manuver Dix-Hallpike:
penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi oleh pemeriksa, lalu menggerakkan
kepala pasien dengan cepat ke kanan, kiri dan kembali ke tengah.
Pada lesi perifer, dalam hal ini positif BPPV, akan didapatkan nistagmus posisi dengan
gejala:
1. Mata berputar dan bergerak ke arah telinga yang terganggu dan mereda sesudah 5-20
detik.
2. Disertai vertigo berat.
3. Mula gejala didahului periode laten selama beberapa detik (3-10 detik).
4. Pada uji ulangan akan berkurang sampai menghilang (fatigue), namun juga berguna
sebagai cara diagnosis yang tepat.
Berbeda dengan lesi sentral, periode laten tidak ditemukan, vertigo dan nistagmus
berlangsung lebih dari 1 menit, dan bila diulang gejala tetap ada (non fatigue).
Pada orang normal nistagmus dapat timbul pada saat gerakan provokasi ke belakang,
namun saat gerakan selesai dilakukan tidak tampak lagi nistagmus. Pada pasien VPPJ sesudah
provokasi ditemukan nistagmus yang timbul lambat, ± 40 detik, kemudian nistagmus
menghilang kurang dari 1 menit jika penyebabnya kanalitiasis, pada kupololitiasis nistagmus
dapat terjadi lebih dari 1 menit, biasanya serangan vertigo berat dan timbul bersamaan dengan
nistagmus.
Pemeriksa dapat mengidentifikasi jenis kanal yang terlibat dengan mencatat arah fase cepat
nistagmus yang abnormal dengan mata pasien menatap lurus ke depan.
· Fase cepat ke atas, berputar ke kanan menunjukkan VPPJ pada kanalis posterior kanan
· Fase cepat ke atas, berputar ke kiri menunjukkan VPPJ pada kanalis posterior kiri
· Fase cepat ke bawah, berputar ke kanan menunjukkan VPPJ pada kanalis anterior
kanan.
· Fase cepat ke bawah, berputar ke kiri menunjukkan VPPJ pada kanalis anterior kiri
Respon abnormal diprovokasi oleh perasat Dix-Hallpike/ sidelying pada bidang yang
sesuai dengan kanal yang terlibat
1.8. pengobatan
Penatalaksanaan BPPV meliputi observasi, obat-obatan untuk menekan fungsi vestibuler
(vestibulosuppressan), reposisi kanalit dan pembedahan. Dasar pemilihan pengobatan berupa
observasi yaitu sebab BPPV dapat mengalami resolusi sendiri dalam waktu mingguan atau
bulanan. Oleh sebab itu sebagian ahli hanya menyarankan observasi. Akan namun selama
waktu observasi ini pasien tetap menderita vertigo. Akibatnya pasien dihadapkan pada
kemungkinan terjatuh bila vertigo tercetus pada saat ia sedang beraktivitas.
Obat-obatan penekan fungsi vestibuler pada umumnya tidak menghilangkan vertigo.
Istilah “vestibulosuppresant” dipakai untuk obat-obatan yang dapat mengurangi timbulnya
nistagmus akibat ketidakseimbangan sistem vestibuler. Pada sebagian pasien pemberian obat-
obat ini memang mengurangi sensasi vertigo, namun tidak menyelesaian masalahnya. Obat-
obat ini hanya menutupi gejala vertigo. Pemberian obat-obat ini dapat menimbulkan efek
samping berupa rasa mengantuk. Obat-obat yang diberikan diantaranya diazepam dan
amitriptilin. Betahistin sering dipakai dalam terapi vertigo. Betahistin yaitu golongan
antihistamin yang diduga meningkatkan sirkulasi darah ditelinga dalam dan mempengaruhi
fungsi vestibuler melalui reseptor H3.
Tiga macam perasat dilakukan umtuk menanggulangi BPPV yaitu CRT (Canalith
Repositioning Treatment)/Manuver Epley , perasat liberatory dan latihan Brandt-Daroff.
17
Reposisi kanalit dikemukakan oleh Epley.
1) Prosedur CRT/manuver Epley merupakan prosedur sederhana dan tidak invasif.
Dengan terapi ini diharapkan BPPV dapat disembuhkan sesudah pasien menjalani 1-2
sesi terapi. CRT sebaiknya dilakukan sesudah perasat Dix-Hallpike menimbulkan
respon abnormal. Pemeriksa dapat mengidentifikasi adanya kanalithiasis pada kanal
anterior atau kanal posterior dari telinga yang terbawah. Pasien tidak kembali ke posisi
duduk namun kepala pasien dirotasikan tujuan untuk mendorong kanalith keluar dari
kanalis semisirkularis menuju ke utrikulus, tempat dimana kanalith tidak lagi
menimbulkan gejala. Bila kanalis posterior kanan yang terlibat maka harus dilakukan
tindakan CRT kanan.Perasat ini dimulai pada posisi Dix-Hallpike yang menimbulkan
respon abnormal dengan cara kepala ditahan pada posisi ini selama 1- 2menit,
kemudian kepala direndahkan dan diputar secara perlahan kekiri dan dipertahankan
selama beberapa saat. sesudah itu badan pasien dimiringkan dengan kepala tetap
dipertahankan pada posisi menghadap kekiri dengan sudut 450 sehingga kepala
menghadap kebawah melihat lantai akhirnya pasien kembali keposisi duduk dengan
menghadap kedepan. sesudah terapi ini pasien dilengkapi dengan menahan leher dan
disarankan untuk tidak merunduk, berbaring, membungkukkan badan selama satu hari.
Pasien harus tidur pada posisi duduk dan harus tidur pada posisi yang sehat untuk 5
hari.Perasat yang sama juga dapat dipakai pada pasien dengan kanalithiasis pada
kanal anterior kanan. Pada pasien dengan kanalith pada kanal anterior kiri dan kanal
posterior, CRT kiri merupakan metode yang dapat di gunakan yaitu dimulai dengan
kepala menggantung kiri dan membalikan tubuh kekanan sebelum duduk.
2) Perasat liberatory, yang dikembangkan oleh , juga dibuat untuk memindahkan
otolit (debris/kotoran) dari kanal semisirkularis. Tipe perasat yang dilakukan
tergantung dari jenis kanal mana yang terlibat. Apakah kanal anterior atau
posterior.Bila ada keterlibatan kanal posterior kanan, dilakukan perasat liberatory
kanan perlu dilakukan. Perasat dimulai dengan penderita diminta untuk duduk pada
meja pemeriksaan dengan kepala diputar menghadap kekiri 450 pasien yang duduk
dengan kepala menghadap kekiri secara cepat dibaringkan ke sisi kanan dengan kepala
menggantung ke bahu kanan. sesudah 1 menit pasien digerakkan secara cepat ke posisi
duduk awal dan untuk ke posisi side lying kiri dengan kepala menoleh 450 kekiri.
Pertahankan penderita dalam posisi ini selama 1 menit dan perlahan-lahan kembali
keposisi duduk. Penopang leher kemudian dikenakan dan diberi instruksi yang sama
dengan pasien yang diterapi dengan CRT.Bila kanal anterior kanan yang terlibat,
perasat yang dilakukan sama, namun kepala diputar menghadap kekanan. Bila kanal
posterior kiri yang terlibat, perasat liberatory kiri harus dilakukan (pertama pasien
bergerak ke posisi sidelying kiri kemudian posisi sidelying kanan) dengan kepala
menghadap ke kanan. Bila kanal anterior kiri yang terlibat, perasat liberatory kiri
dilakukan dengan kepala diputar menghadap ke kiri.
3) Latihan Brandt Daroff merupakan latihan yang dilakukan di rumah oleh pasien sendiri
tanpa bantuan terapis. Pasien melakukan gerakan-gerakan posisi duduk dengan kepala
menoleh 450, lalu badan dibaringkan ke sisi yang berlawanan. Posisi ini dipertahankan
selama 30 detik. Selanjutnya pasien kembali ke posisi duduk 30 detik. sesudah itu
pasien menolehkan kepalanya 450 ke sisi yang lain, lalu badan dibaringkan ke sisi yang
berlawanan selama 30 detik. Latihan ini dilakukan secara rutin 10-20 kali. 3 seri dalam
sehari
4) Terapi bedah
Dalam pengalaman selama ini
dengan lebih dari 2.000 pasien BPPV, hanya
satu terbukti refrakter terhadap terapi dan
diperlukan sectioning operation dari saraf
kanal posterior,contohnya seperti
Neurectomy selektif (Gacek 1978) yaitu
sulit dilakukan, dan ada risiko gangguan
pendengaran yang permanen. Neurectomy
kini telah digantikan oleh teknik
penyumbatan kanal posterior . Hal ini jelas lebih aman dan lebih efektif
dari sectioning operation, namun hal ini dipakai bila terapi fisik yang sederhana tidak
efektif.
1.9. Atypical BPPV
Lateral (horizontal) kanal BPPV yaitu yang paling umum varian atipikal BPPV ,
terhitung sekitar 3-9 persen dari kasus. Kebanyakan kasus yang dipandang sebagai
konsekuensi dari sebuah manuver Epley . Hal ini didiagnosis oleh nystagmus horizontal
yang mengubah arah sesuai dengan telinga yang turun . Diagnosis yang menggunakan
Suggested Schedule for Brandt-Daroff exercises
Time Exercise Duration
Morning 5 repetitions 10 minutes
Noon 5 repetitions 10 minutes
Evening 5 repetitions 10 minutes
manuver Pagnini-McClure dan terapi fisiknya dengan manuver Lempert Roll.
Anterior kanal BPPV juga langka , dan sebuah studi terbaru menyarankan bahwa
menyumbang sekitar 2 % dari kasus BPPV . Hal ini didiagnosis dengan nistagmus
posisional dengan komponen downbeating dan gerakan torsi pada saat posisi Dix -
Hallpike , atau nystagmus yang upbeating dan torsi ketika duduk dari Dix - Hallpike . Ada
beberapa saran yang berbeda dalam literatur tentang arah fase cepat torsional pada anterior
kanal BPPV . Anterior kanal BPPV terbilang langka sebab kanal anterior biasanya bagian
tertinggi dari telinga . Debris alami akan cenderung jatuh dari setengah posterior kanalis
anterior . Dari geometri telinga , tampaknya mungkin bahwa anterior kanal BPPV
mungkin kadang-kadang menyebabkan sebagai akibat komplikasi dari manuver Epley .
DISKUSI KASUS
Pada kasus yang penulis temukan pasien datang diantar oleh suaminya ke IGD RSUD Pasar
Rebo pada pukul 15.30 WIB dengan keluhan pusing seperti berputar. Keluhan ini dirasakan ketika
pasien sedang rukuk dan sujud pada saat sholat serta apabila pada saat berjalan pasien merasa
jalanan terasa bergoyang. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu dan semakin
memburuk pada malam hari sebelum pasien datang ke IGD. Saat pemeriksaan fisik Dix-Hallpike
ditemukan adanya nystagmus pada kedua mata dengan refleks cepat ke atas menunjukkan
diagnosis BPPV canalit posterior kanan. Pasien tidak diberikan terapi fisik reposisi canalith namun
dokter hanya memberikan obat oral saja. Dokter tidak memberikan edukasi yang baik untuk terapi
fisik mandiri yang dapat dilakukan oleh pasien sendiri di rumah.
berdasar literature yang penulis dapatkan, studi menunjukkan penggunaan terapi
farmasi bukan merupakan pilihan terbaik untuk mengatasi BPPV. Terapi fisik manuver reposisi
canalit (CRM) merupakan tindakan utama yang dapat dilakukan ketika pasien pertama kali datang
ke IGD untuk mencegah perburukan dari penyakit ini .. Salah satu dari indikasi dilakukannya
tindakan CRM yaitu adanya pembuktian secara kasar dalam literatur bahwa sekitar 90% pasien
mengalami perbaikan dari gejala sebelumnya. Selain itu, menurut keterangan pasien ia sangat takut
dengan penyakitnya sekarang,sehingga penyakit ini menghambat segala aktivitas sehari-harinya
dan juga akibat dari gejala mualnya dapat menurunkan nafsu makannya. Dalam pemaparan
literatur terbukti sesudah dilakukannya CRM menurunkan tingkat gangguan kecemasan,ganguan
panik dan depresi ringan. Serta adanya perbaikan pada gejala pusing dan mualnya sesudah ditinjau
menggunakan visual analog scale. Edukasi dari dokter untuk melakukan manuver Brandt Daroff
apabila diketahui tidak adanya perbaikan sesudah dilakukan terapi fisik CRM tertera pada literatur.
Dalam pandangan agama islam, vertigo yang diderita oleh pasien sangat mengganggu
aktivitasnya dalam beribadah. Terutama ketika pasien hendak melakukan sholat. Dilihat dari segi
islam, orang yang sakit tetap wajib mengerjakan shalat pada waktunya dan melaksanakannya
menurut kemampuannya selama akalnya masih baik sebagaimana diperintahkan Allah Subhanahu
wa Ta'ala dalam firman-Nya
Artinya: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta
taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari
kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS: At Taghabun /64:16)
Orang sakit yang mampu berdiri namun tidak mampu ruku’ atau sujud , ia tetap wajib berdiri. Ia
harus shalat dengan berdiri dan melakukan rukuk dengan menundukkan badannya. Bila ia tidak
mampu membungkukkan punggungnya sama sekali, maka cukup dengan menundukkan lehernya,
Kemudian duduk, lalu menundukkan badan untuk sujud dalam keadaan duduk dengan
mendekatkan wajahnya ke tanah sebisa mungkin
Orang sakit yang tidak mampu melakukan shalat berdiri dan duduk, cara melakukannya yaitu
dengan berbaring, boleh dengan miring ke kanan atau ke kiri, dengan menghadapkan wajahnya ke
arah kiblat. Ini berdasar sabda Rasulullah dalam hadits ‘Imrân bin al-Hushain Radhiyallahu
'anhu: "Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah dan bila tidak mampu juga
maka berbaringlah" [HR al-Bukhâri no. 1117]
Terapi fisik manuver reposisi kanalit (CRM) pada pasien BPPV di IGD merupakan
tindakan terapi dini yang paling baik untuk mencegah terjadinya perburukan penyakit ketimbang
pemberian terapi medikamentosa oral saja. Hal ini harusnya segera dilakukan sesudah penegakan
diagnosis BPPV dengan manuver Dix-Hallpike. ada berbagai macam terapi manuver
fisik,namun yang terbukti paling efektif ialah CRM/epley manuver. Namun tindakan ini juga harus
diwaspai pada saat pengaplikasiannya di IGD,agar tidak terjadi kesalahan perpindahan debris dari
kanal sebelumnya ke kanal yang lain. Di dalam pandangan agama islam, sholat bagi pasien vertigo
ini harus tetap dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya. Islam tidak mengharuskan seseorang
untuk selalu berdiri pada saat melakukan sholat bagi orang yang sakit. Islam memberikan suatu
kemudahan dalam setiap pelaksanaan ibadah bagi umatnya yang berhalangan ,akan namun tidak
menjadikan ibadah dalam islam menjadi dimudah-mudahkan bagi orang yang tidak memiliki
keterbatasan dalam pelaksanaannya.
VERTIGO
Oleh:
Kholifatul Hasanah
(1910301147)
APASIH
PENYEBABNYA?
KENALI
GEJALA
VERTIGO!
Segera duduk dan pejamkan
matabila gejala vertigo
muncul saat sedang berdiri.
Hindari berbaring miring
dengan bertumpu pada sisi
kepala yang mengalami
vertigo
Tidur dengan posisi kepala
sedikit terangkat atau lebih
tinggi
Cukupi asupan cairan dengan
minum air putih
Sensasi pusing yang berputar,
disertai mual, muntah, keringat
dingin, serta adanya gangguan
keseimbangan.
APA YANG HARUS
DILAKUKAN
KETIKA TERKENA
VERTIGO ?
Cedera pada kepala atau
leher
Multiple sclerosis
Penyakit Meniere
Tumor
Gerakan tiba-tiba
FAKTOR RISIKO
VERTIGO
UPAYA
PENCEGAHAN
Intervensi fisioterapi yang dapat
diberikan pada penderita vertigo
salah satunya adalah semont
liberatory maneuver yang
dilakukan sebanyak 8 kali selama 8
hari berturut-turut.
PS : gerakan dilakukan harus dengan diawasi/didampingi tenaga
kesehatan (dokter)
REFERENSI :
Hindari melakukan gerakan tiba-tiba
seperti ketika baru bangun dari tidur
langsung berdiri.
Kelola stress dengan baik
Menjaga asupan gizi
Olahraga minimal 15 menit/hari
Perbaki lifestyle
1.
2.
3.
4.
5.
PENATALAKSANAAN
FISIOTERAPI
Pernah atau sedang mengidap
luka di kepala.
Sering menggunakan obat-obatan
tertentu.
Ada anggota keluarga yang
memiliki riwayat vertigo (genetik).
Mengalami infeksi pada telinga.
1.
2.
3.
4.
Risa, A. N., & Fauziah, E. (2021). Penatalaksanaan
Fisioterapi Untuk Mengurangi Vertigo Pada
Penderita Benign Paroxysmal Positional Vertigo
(Bppv) Dengan Teknik Semont Liberatory
Maneuver Di Kelurahan Sungai Andai Kota
Banjarmasin. Jurnal Kajian Ilmiah Kesehatan Dan
Teknologi, 3(1), 1-6.
















