Penyakit dalam palmologi 2

 









Pylori (namun hanya 15-20 % dari pasien yang terinfeksi akan berkembang 

menjadi suatu ulkus. 

• NSAID 

• Gastrinoma dan keadaan hipersekretorius lainnya 

 

 

 

Manifestasi klinis 

• Nyeri abdomen spigastrik, hilang dengan  makan (duodenum) atau memburuk dengan 

makan (gastrikum). 

• Perdarahan saluran cerna atas  

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Uji untuk H. Pylori  

Serologi : (sensitivitas 90 %, spesifisitas 70-80 %, titer ↓ 3-6 bulan setelah terapi efektif) 

urea breath test (UBT, sensitivitas dan spesifitasnya > 95%) 

EGD + uji urease cepat (seperti, CLO testTM, > sensitivitas dan spesifisitas 95 %) atau biopsi 

dan histologi. 

• EGD atau UGI serial untuk mendeteksi ulkus 

 

Penatalaksanaan  

• Penghentian NSAID dan rokok 

• PUD dan H. Pylori (+) : Antibiotik dan PPI selama 7-14 hari memiliki angka keberhasilan > 

90 % (Am J Med 105 : 424, 1998) antibiotik (2 dari 3) : klaritromisin 500 mg 2 x 1, 

amoksilin 1 g 2 x 1, mtronidazol 500 mg 2 x 1 

• Dispepsia non-ulkus : percobaan PPI atau cisapride; data yang diperdebatkan tentang 

manfaat eradikasi H. Pylori (N Engl J Med 339 : 1869 dan 1875, 1998; 341 : 1106, 1999). 

 

 

 

Gambar 3-3. Langkah diagnostik dan penanganan dispepsia 

 

 

 Dispepsia  

Darah samar di feses +, anemia, 

anoreksia atau muntah yang 

persisten, penurunan berat 

badan, usia > 40 tahun  

Serologi H. Pylori  EGD hingga radiologi 

PUD dan keganasan  

Cisapride atau PPI  Terapi antibiotik  Perubahan regimen  

EGD   Disembuhkan UBT   EGD   

Tidak ada satupun 

kriteria di atas  

Negatif  Positif  

Gejala +  Tanpa gejala Positif  Tanpa gejala Gejala +  

Negatif  

Ada salah satu dari 

kriteria di atas  

 

PERDARAHAN GASTROINTESTINAL 

 

Definisi 

• Hilangnya darah yang bisa dari berbagai tempat di intralumen dari orofaring sampai anus. 

• Klasifikasi : atas = di atas ligamentum Treitz; bawah = di bawah ligamentum Treitz. 

• Tanda : hematemesis = darah yang dimuntahkan atau ada  pada muntahan (UGIB); 

hematokezia = buang air besar berdarah (LGIB atau UGIB yang cepat); melena = buang air 

besar seperti ter, berwarna hitam akibat darah dari saluran cerna (biasanya dari bagian atas 

saluran cerna, namun dapat di segala tempat di atas sekum). 

 

Etiologi perdarahan saluran cerna atas 

• Perdarahan  orofaringeal dan epistakis → darah tertelan 

• Esofagitis erosif 

Pejamu yang tanggap imunnya baik : GERD / esofagus Barrett, XRT 

Pejamu yang tanggap imunnya lemah : CMV, HSV, kandida 

• Varices (10 %) 

• Ruptur Mallory-Weiss (7%, robekan di gastroesofagus sebab  mau muntah / muntah-muntah 

dengan glotis yang tertutup). 

• Gastritis / gastropati (23%, NSAID, H. Pylori, alkohol, penyakit mukosa yang berhubungan 

dengan stres). 

• Penyakit ulkus peptikum (PUD) (46%) 

• Malformasi vaskular 

Lesi Dieulafony (arteri ektatik superfisialis biasanya pada kardia dengan UGIB yang 

mendadak dan masif) AVM (tersendiri atau bersama sindrom Osler-Weber-Rendu) fistula 

aorta-enterik (tandur aorta mengikis sepertiga porsio duodenum, muncul dengan “perdarahan 

luas”) vaskulitis. 

• Penyakit neoplastik (esofagus atau gaster) 

• pemicu  lahirnya : ulserasi hiatus hernia, koagulapati, amiloidosis, penyakit jaringan 

penyambung. 

 

Etiologi perdarahan saluran cerna bawah 

• Penyakit divertikular 

• Angiodisplasia 

• Penyakit neoplastik 

• Kolitis : infeksi, iskemik, radiasi, penyakit radang usus (UC > CD) 

• Hemoroid  

 

Manifestasi klinis 

• UGIB > LGIB : mual, muntah, hematemesis, muntah seperti warna kopi, nyeri epigastrium, 

reaksi vasovagal, sinkop, melena. 

• LGIB > IGIB : diare, tenesmus, BRBPR atau kotoran berwarna maron 

 

Langkah penanganan 

• Anamnesis  

GIB atau kronis, jumlah serangan, serangan terakhir yang paling sering hematemesis, muntah 

sebelum hematemesis, hematokezia, melena, nyeri abdomen, diare, penggunaan aspirin, 

NSAID, atau antikoagulan, atau diketahui menderita koagulopati ketergantungan alkohol, 

sirosis riwayat pembedahan saluran cerna atau aorta. 

• Pemeriksaan fisik 

Tanda vital : takikardi bila kehilangan cairan 10%; hipotensi ortostatik bila kehilangan cairan 

20%; syok bila kehilangan cairan 30%, pucat, telangektasiasis (penyakit hepar alkohol atau 

sindrom Osleer-Weber-Rendu)  

Tanda penyakit hepar kronis : ikterus, spider angiomata, ginekomastia, atrofi testis, eritema 

palmaris, kaput medusa. 

Pemeriksaan abdomen : nyeri tekan dapat terlokalisir atau tanda-tanda di daerah peritoneum. 

Pemeriksaan rektum : warna kotoran, adanya hemoroid, atau fisura ani 

• Pemeriksaan laboratorium : Hematokrit (mungkin normal pada awal kehilangan darah akut 

sebelum seimbang kembali), hitung trombosit, PT, PTT, BUN / kreatinin (rasionya ↑ pada 

UGIB sebab  resorpsi saluran cerna dari darah atau azotemia prerenal), uji fungsi hepar. 

• Slang Nasogastrik dapat mendiagnosis UGIB, dapat membuang isi saluran cerna (sebelum 

dilakukan EGD dan untuk mencegah aspirasi), lavase untuk melihat ada tidaknya perdarahan 

yang menetap (prognosis buruk); negatif palsu pada waktu UGIB jika  perdarahan berasal 

baik dari duodenum maupun intermiten. 

• Pemeriksaan diagnostik pada UGIB : esofagogastroduodenoskopi (EGD) (dan terapi yang 

potensial). 

• Pemeriksaan diagnostik pada LGIB (periksa UGIB sebelum mencoba untuk melokalisasi 

LGIB yang diperkirakan) 

Perdarahan berhenti secara spontan → kolonoskopi (mengidentifikasi pemicu  pada > 70% 

kasus dan potensial untuk tindakan terapi)  

Stabil namun perdarahan terus-menerus → sken perdarahan (RBC berlabel 99mTc/albumin) 

: mendeteksi laju perdarahan yang > 0,1-1,0 ml/menit, namun sulit menentukan lokasi yang 

akurat. 

Tidak stabil → arteriografi (mendeteksi laju perdarahan yang > 0,5-1,0 ml/menit dan 

potensial untuk tindakan terapi (infus vasopresin intra arteri atau embolisasi) laparotomi 

ekspolari. 

 

Penatalaksanaan 

• Penatalaksanaan akut perdarahan saluran cerna yaitu  resusitasi hemodinamik dengan cairan 

IV dan darah 

Buatlah akses dengan 2 jalur intravena yang berdiameter besar (18 gauge atau lebih). 

Resusitasi cairan dengan salin normal atau larutab Ringer laktat 

Terapi transfusi (sampel bank darah untuk tipe dan crossmarch; dapat menggunakan 

golongan darah O negatif jika eksanguinis). 

Identifikasi dan perbaiki koagulopati (FFP untuk menormalkan PT, trombosit tetap > 

50000/mm3). 

Lavase slang nasogastrik 

Penatalaksanaan jalan nafas bila diperlukan  

Konsultasi dengan ahli bedah digestif bila diperlukan. 

 

Tanda-tanda prognosis buruk pada UGIB 


• Demografik : Usia > 60 tahun, komorbiditas 

• Beratnya : darah merah segar pada aspirat NGT, ↑ permintaan transfusi, hemodinamik tak 

stabil. 

• Etiologi : varises atau neoplastik 

• Munculnya  ulkus (dari prognosis yang terbaik hingga terburuk) : dasarnya bersih → keluar 

darah tanpa pembuluh yang terlihat → bekuan yang melekat erat → perdarahan aktif. 

 

Etiologi  Pilihan  

Varises  Farmakologi  

Octreotide 50 µgram bolus IV → 50 µg/jam infus 

(berhasil 84%, Lancet 342 : 637, 1993) 

Vasopresin atau vasopresin + nitrogliserin (kurang 

manjur dan lebih banyak komplikasi) 

Penyekat-β (non-selektif) dan nitrat jika  

hemodinamik stabil 

Non-Farmakologi 

Skleroterapi endoskopi (berhasil 88%) atau band 

ligation (angka keberhasilan > 90%) 

Octreotide + terapi endoskopik (angka keberhasilan > 

95% ;   

(N Eng J Med 333 : 555, 1995) 

Tamponade balon jika  perdarahannya berat 

Embolisasi atau TIPS jika  terapi endoskopik 

gagal  

(N Engl J Med 333 : 165, 1994) 

PUD Farmakologi 

Penghambat pompa proton (N Egl J Med 336 : 1054, 

1997) 

Octreotide 50 µgram bolus IV → 50 µgram/jam infus 

Non-Farmakologi 

Terapi endoskopi (injeksi, kontak termal, laser) 

Angiografi mesenterika dengan infus vasopresin atau 

embolisasi 

Reseksi gastrik jika  endoskopi dan terapi 

farmakologi gagal 

Mallory-Weiss Biasanya berhenti secara spontan 

Gastritis esofagus  Penghambat pompa proton, antagonis H2 

Penyakit 

divertikuler 

Biasanya berhenti secara spontan 

Terapi endoskopi (injeksi epinefrin), vasopresin 

arterial atau embolisasi, pembedahan 

Angiodisplasia  Vasopresin arterial, terapi endoskopik, pembedahan 

 

 

 

DIARE 

 

Keluarnya feses > 200 gram / hari 

 

ETIOLOGI  

Infeksi  

• Akut 

Toksin yang belum terbentuk (seperti : “keracunan makanan”; berlangsung < 24 jam) : S. 

Aureus, C. Perfrigens, B. Cereus  

Virus : Rotavirus, Norwalk 

Bakteri non-invasif 

Menghasilkan enterotoksin (tidak ada darah atau leukosit di feses) : E. Col enterotoksigenik  

Vibrio cholera : menghasilkan sitotoksin (ada darah dan leukosit di feses) : E. Coli O157 : 

H7, C. Difficile. 

Bakteri invasif (leukosit di feses dan darah (+)) : E. Coli enteroinvasif (EIEC, Salmonella, 

Shigella, Campylobacter, Yersinia, V. Parahemolyticus 

Parasit : Giardia, E. Histolytica 

Oportunistik : Crystosporidia, Isopora, Microsporidia, Cyclospora, MAC, CMV. 

• Kronis : Giardia, E. Histolytica, C. Difficile, organisme oportunistik. 

 

Malabsorpsi (↑ kesenjangan osmotik, ↑ lemak feses, ↓ diare dengan puasa, defisiensi vitamin 

larut-lemak) 

• Defisiensi garam empedu 

Pertumbuhan bakteri berlebihan (e.g., blind loop) → dekonjugasi garam empedu penyakit 

ileum (seperti penyakit Crohn, reseksi pembedahan) → terhentinya sirkulasi enterohepatik. 

• Insufisiensi pankreas 

 

 

• Kelainan mukosa 

Seliak sprue : sebab  reaksi usus terhadap α-gliadin dalam gluten → hilangnya vili dan 

daerah absorpsi  

Pemeriksaan diagnostik : D-xylose (+); anti-gliadin (+) atau anti-endomisial absolut 

Penatalaksanaan : diet bebas gluten. 

Tropikal sprue : terjadi pada penghuni daerah tropis; penatalaksanaan dengan antibiotik, 

asam folat, B12. 

Penyakit Whipple : sebab  Trophyrema whippeli (basilus gram (+)); terlihat pada laki-laki 

kulit putih usia separuh baya. 

Manifestasi lainnya : demam, limfadenopati, edema, poliartritis, perubahan SSP, pigmentasi 

kulit abu-abu-ciklat 

Penatalaksanaan : pemberian  antibiotik jangka panjang 

Limfoma usus 

 

Osmotik (↑ gap / kesenjangan osmotik, ↑ lemak feses normal, ↓ diare dengan berpuasa) 

• Obat-obatan : antasid, laktulosa, sorbitol 

• Intoleransi laktosa : kelainan mukosa primer atau sekunder, enterintis bakterial atau virus, 

reseksi usus sebelumnya 

Manifestasi klinis : kembung, flatus, rasa begah, diare 

Pemeriksaan diagnostik : uji napas hidrogen laktosa, atau diet bebas laktosa empiris. 

Penatalaksanaan : diet bebas laktosa, gunakan lactaid milk dan tablet enzim laktase. 

 

Peradangan (demam, hematokezia, nyeri abdomen) 

• Penyakit peradangan usus 

• Enteritis radiasi 

• Kolitis iskemik 

 

Sekretorius (Gap ostomik normal, cairan banyak, tidak ada perubahan diare setelah nothing by 

mounth / NPO) 

• Hormonal : VIP (VIPoma, Verner-Morrison), Serotonin (karsinoid), Kalsitonin (karsinoma 

tiroid tipe medular), Gastrin (Zollinger-Ellison), Glukagon, Substansi P, Tiroksin 

(Hipertiroidisme). 

• Ketergantungan laksatif 

• Adenoma vilosa 

• Malabsorpsi garam empedu idiopatik 

 

Motilitas 

• Sindroma iritabilitas usus 

• Skleroderma (pseudoobstruktif) 

• Endokrinopati : diabetes melitus, hipertiroidisme (hiperdefekasi) 

 

Langkah penanganan diare 

 

 

 

 

Gambar  3-4. Rencana penanganan diare akut (durasi < 3 minggu) 

 

 

 

 

 Diare akut  

Dehidrasi berat, demam, lamanya > 5 hari mukus atau pus 

pada BM, diare berdarah, nyeri abdomen perjalanan 

sebelumnya, atau penggunaan antibiotik sebelumnya 

Tidak ada kriteria di atas Ya ada salah satunya 


 

 

Gambar 3-5. Langkah penanganan diare kronis (durasi > 3 minggu) 

 

 

 

 

Leukosit feses  

perdarahan samar 

 toksin C difficile (terutama bila 

sebelumnya minum antibiotik  

Observasi rehidrasi sesuai 

dengan kebutuhan 

Feses O & P x 3 Kolitis pseudomembranosa 

Terinduksi obat-obatan 

virus, enterotoksin 

bakteri non-invasif 

Observasi,  

rehidrasi antibiotik 

bila gejala berat 

Antiparasitik  

Kultur feses 

sigmoidoskopi fleksibel 

Metronidazol PO atau IV 

(Vankomisin PO bila 

metroidazol gagal) 

Invasif atau sitotoksin 

bakteri non-invasif 

IBD 

Antibitoik  

O & P + 

Parasitik 

Leukosit di feses + atau 

perdarahan samar + 

Kultur feses + Kultur -, sigmoidoskopi 

fleksibel dan biopsi + 

Toksin C. 

Difficile + 

 Diare kronis 

Obat-obatan culprit   Terinduksi obat-obatan   

Fenolftain +   

Uji laktosa +   

Ketergantungan laktasi   

Intoleransi laktosa  

 

PENYAKIT DIVERTIKULAR 

 

DIVERTIKULOSIS  

Definisi dan Patologi 

• Herniasi akuisita (didapat) pada mukosa dan submukosa kolon ke dalam dinding kolon. 

Data mikrobiologi +  Infeksi   

Gas osmotik feses = Osmfeses (biasanya 290) – [2 x (Nafeses + Kfeses)] 

lemak feses 

Leukosit di feses dan perdarahan samar 

Respons terhadap NPO 

Sekretorius  

Kadar hormon 

Kolonoskopi terhadap adenoma 

kolestiramin 

Malabsorpsi  

• Mukosa abnormal : uji D-xylose, 

biopsi usus halus 

• Insufisiensi pankreas : uji sekretin 

• Defisiensi garam empedu : 14C-

xylose breath test 

Peradangan  

Sigmoidoskopi fleksibel 

Kolonoskopi 

UGI dengan SBFT 

• Lebih sering pada sisi kiri pada sisi kanan kolon 

• Mungkin sebagai akibat diet rendah serat → muskulatur kolon berkontraksi terhadap feses 

yang kecil dan keras. 

 

Epidemiologi 

• 20-50 % pasien di atas usia 50 tahun 

 

Manifestasi klinis 

• Biasanya asimtomatik, namun dapat mengalami komplikasi mikroperforasi (divertikulitis) 

atau perdarahan. 

 

DIVERTIKULITIS 

Patofisiologi 

• Retensi makanan yang tak tercerna dan bakteri di dalam divertikulum → pembentukan 

fekalit → obstruksi → asupan darah divertikulum terganggu, infeksi, perforasi. 

• Mikroperforasi (→ infeksi terlokalisir) atau makroperforasi (→ pembentukan abses dan / 

atau peritonitis). 

 

Manifestasi klinis 

• Nyeri abdomen kuadran lateral kiri, demam, mual, muntah, konstipasi 

 

 

 

Pemeriksaan fisik 

• Ringan : Nyeri kuadran lateral kiri, massa dapat diraba ±, uji darah samar (FOBT) ± (- 25) 

• Berat : peritonitis, syok septik 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Foto polos abdomen untuk melihat adanya bebas, ileus, atau obstruksi 

• CT abdomen jika  pasien gagal berespons terhadap terapi atau jika  dicurigai adanya 

abses perikolon 


• Sigmoidoskopi / kolonoskopi merupakan kontraindikasi pada waktu akut sebab  tingginya 

risiko perforasi yang membahayakan. 

 

Penatalaksanaan  

• NPO, cairan IV, NGT (jika ileus) 

• Antibiotik (spektrumnya mencakup batang gram negatif dan anaerob) 

• Drainase abses perkutaneus atau pembedahan 

• Pembedahan jika  terapi medikamentosa gagal, abses besar yang tidak dapat didrainase 

perkutaneus, atau menjadi peritonitis. 

 

Patofisiologi  

• Erosi pembuluh divertikel oleh suatu fekalit 

• Divertikula lebih sering di sebelah kiri (distal) kolon; namun perdarahan divertikula 

biasanya pada sisi kanan (proksimal) kolon 

 

Manifestasi klinis 

• Biasanya onset kram perut yang mendadak dan diikuti dengan hematokezia yang sangat 

banyak (masif). 

• Biasanya berhenti secara spontan (90%) namun bisa juga muncul sekali-kali dalam hitungan 

jam hingga hari. 

 

Pemeriksaan fisik 

• Biasanya jinak 

 

Pemeriksaan diagnosis 

• Kolonoskopi (setelah perdarahan akut terhenti dan mengikuti lavase oral) atau, pada 

perdarahan berat, arteriografi mesenterikus (biasanya setelah suatu sken perdarahan). 

 

Penatalaksanaan  

• Endoskopi → Injeksi epinefrin atau pengikatan; arteriografi → infus vasopresin intraarteri; 

pembedahan 

 

PENYAKIT RADANG USUS 

 

Definisi 

• Kolitis ulserativa (UC) : inflamasi idiopatik pada mukosa kolon 

• Penyakit Crohn (CD) : inflamasi transmural idiopatik pada saluran pencernaan. 

• Pada 5-10% pasien yang menderita kolitis tidak dapat dibedakan dengan dengan jelas apakah 

UC atau CD walaupun dengan biopsi mukosa. 

 

Diagnosis Banding 

• Infeksi bakteri, pseudomembranosa, amuba, CMV, PMS 

• Usus iskemik 

• Limfoma atau karsinoma usus 

• Irritable bowel syndrome 

• Obat-obatan (NSAID, pil kontrasepsi oral, preparat emas, alopurinol) 

 

KOLITIS ULSERATIVE 

Epidemiologi 

• Onset pada kisaran usia 20-25 tahun, insiden ↑ pada ras kaukasoid, terutama suku bangsa 

Yahudi; 10% bersifat familial 

 

Patologi 

• Luasnya : meliputi rektum dan meluas ke proksimal dan organ-organ yang berdekatan; 50% 

pasien menderita proktosigmoiditis, 30% kolitis kolon sisi kiri, dan 20% kolitis ekstensif. 

• Tampilan : mukosa granular, rapuh dengan ulkus kecil; ada  pseudopolip 

• Biopsi : Mikroulserasi superfisialis; abses kripta (PMN); tidak ada granuloma 

 

 

 

Manifestasi klinis 

• Diare berdarah yang menyolok, kram abdomen bagian bawah dan urgensi 

• Kolitis fulminan : berjalan progresif cepat sekitar 1-2 minggu dengan ↓ hematokrit, ↑ LED, 

demam, hipotensi, > 6 x BAB berdarah tiap hari, distensi abdomen dengan bising usus yang 

menghilang. 

• Megakolon toksik : dilatasi kolon (> 6 cm pada KUB), atonia kolon, dan toksisitas sistemik. 

• Perforasi 

• Ekstrakolon (25%) 

Eritema nodosum, pioderma gangrenosum, ulkus aftosa, iritis, episkleritis, gangguan 

tromboembolik. 

Artritis seronegatif, hepatitis kronis, sirosis, kolangitis sklerotikans, kolangiokarsinoma. 

 

Komplikasi 

• Striktur (jarang, muncul pada rektosigmoid) 

• Karsinoma kolon : setelah 10 tahun, risiko ↑ 1% / tahun; skrining dengan kolonoskopi tiap 

tahunnya. 

 

Prognosis 

• Remisi pada 10%; eksaserbasi intermiten sebanyak 75%; penyakit aktif berlanjut sebanyak 

10%. 

• Mortalitas  

 

PENYAKIT CROHX 

Epidemiologi 

• Bimodus dengan puncak pada usia 20 dan 50-70 tahun; insiden ↑ pada ras kaukasoid, 

terutama suku bangsa Yahudi. 

 

 

Patologi  

• Luasnya penyakit dapat mengenai bagian manapun dari slauran cerna, dari mulut hingga 

anus, skip lesions 30% pasien mengalami ileitis, 40% ileokolitis, dan 30% kolitis. 

• Tampilan : ulkus > 1 cm, mukosa tidak rapuh, tampilan “cobblestone”, fisura panjang dan 

dalam. 

• Biopsi : inflamasi trnasmural dengan infiltrasi sel mononuklear, granuloma non-kaseosa, 

fisura. 

 

Manifestasi klinis 

• Penyakit terkesan ringan dengan nyeri abdomen, diare berdarah non-makroskopik yang 

mengandung mukus. 

• Demam, ,malaise, penurunan berat badan 

• Albumin ↓, ESR ↑, Hematokrit ↓ sebab  defisiensi Fe B12, asam folat, atau penyakit kronis. 

• Ekstrakolon : sama dengan kolitis ulserastiva, ditambah batu empedu (sebab  malabsorpsi 

garam empedu) dan batu ginjal (batu Ca oksalat sebab  malabsorpsi lemak yang 

memicu  peningkatan absorpsi oksalat) 

 

Komplikasi  

• Fisura perianal, abses perirektal 

• Striktur : rasa kembung setelah makan, distensi, borborygmi 

• Fistula : abses, pertumbuhan bakteri berlebihan dan malabsorpsi 

• Abses : demam, menggigil, massa di abdomen yang nyeri bila ditekan, leukosit ↑. 

• Karsinoma : usus halus dan kolon; risiko sama dengan kolitis ulserativa jika  keseluruhan 

kolon terkena; skrining dengan kolonoskopi. 

 

 

 

PENATALAKSANAAN 

Terapi simtomatik dan diet 

• Suplemen serat (kecuali gejala obstruktif pada penyakit Crohn) 

• Tidak mengkonsumsi kafein dan sayur yang menghasilkan gas 

• Percobaan diet bebas laktosa pada penyakit Crohn 

• Antidiare dan antispasmodik kecuali pada serangan akut 

 

Remisi 

• Senyawa 5-ASA (formulasi yang cocok untuk mengobati daerah yang terkena) ± azatioprin 

atau 6- merkaptopurin. 

 

Pembedahan  

• Kolitis ulserativa (25% dari seluruh pasien) : terapi medikamentosa gagal, perdarahan, 

perforasi, striktur, kolitis fulminan atau megakolon toksik yang gagal berespons dalam 48-72 

jam setelah diberikan terapi medikamentosa, displasia atau karsinoma. 

• Penyakit Crohn (75% dari seluruh pasien) : terapi medikamentosa gagal, kebutuhan steroid 

kronis, striktur, fistula, abses, karsinoma. 

 

 

Penatalaksanaan Serangan Akut 

Beratnya  Pilihan  

Ringan  Senyawa 5-ASA 

Sulfasalazin (5-ASA + struktur yang berasal dari sulfa) : 

azoreduktase bakteri melepaskan 5-ASA dalam kolon. 

Mesalamin (5-ASA pada berbagai tingkat kesensitifannya 

terhadap pH atau kapsul-kapsul yang time-dependent) 

Asakol : larut pada pH 7,0 → 5-ASA yang dilepaskan pada usus 

halus terminal dan kolon  

Pentasa : 5-ASA dilepaskan ke seluruh usus halus dan kolon 

Olsalazin (5-ASA dimer) : terpecah di dalam kolon 

+ Metronidazol jika  ada  penyakit Crohn perianal 

Sedang  Steroid oral  

+ Azatioprin, 6-merkaptopurin, atau metotreksat pada penyakit 

Crohn 

Berat  Steroid intravena + siklosporin + Ab anti TNF-α (untuk penyakit 

Crohn yang refrakter) 

Usus diistirahatkan, obat pilihan anti-diare, TPN, antibiotik 

Pemeriksaan abdomen serial dan radiografi / CT untuk menentukan 

dilatasi, perforasi, atau abses. 

Dekompresi pada megakolon toksik (Pasien berguling dari sisi ke 

sisi dan ke arah abdomennya) 

 

 

 

ISKEMIK MESENTERIKA 

 

Etiologi akut pada usus halus 

• Emboli  arteri (50%) : dari LA (AF) atau LV (↓ EF) 

• Trombosis Arteri (20%) : biasanya pada tempat aterosklerosis yang sebelumnya ada, sering 

berasal dari arteri. 

• Iskemia mesenterikus non-oklusif (20%) : curah jantung yang rendah + agen α-adrenergik 

dosis tinggi. 

• Trombosis vena (10%) : keadaan hiperkoagulasi, hipertensi portal, keganasan, peradangan 

(pankreatitis, peritonitis), trauma, pembedahan. 

 

Kolitis iskemik 

• Non-oklusif, dengan curah jantung yang diperberat oleh aterosklerosis yang sebelumnya 

sudah ada. 

 

Manifestasi klinis 

• + Riwayat tanda-tanda iskemia mesenterikus kronis : nyeri perineumbikalis setelah makan, 

cepat kenyang. 

• Akut; onset mendadak nyeri abdomen, lebih nyeri dibandingkan saat pemeriksaan fisik pada 

abdomen. 

• Subakut : onset mual yang meningkat bertahap, muntah, anoreksia, perubahan pola defekasi. 

• GIB 

 

Pemeriksaan fisik 

• Mungkin tidak ada tanda yang jelas 

• Infark mesenterium yang dicurigai sebab  adanya nyeri tekan di abdomen → tanda-tanda 

pada peritoneum → distensi, hilangnya bising usus, nyeri tekan yang sangat hebat, uji darah 

samar (+). 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Evaluasi  laboratorium : Hitung leukosit ↑, amilase ↑, LDH dan CPK; asidosis metabolik dan 

↑ laktat (lambat). 

• Pemeriksaan  pencitraan 

Foto polos abdomen : ileus adinamik 

USG doppler (sering sulit sebab  distensi usus) : mungkin menunjukkan aliran mesenterikus 

yang abnormal. 

CT abdomen : penebalan dinding usus, pneumatosis dinding usus 

Angiografi : merupakan pemeriksaan baku (gold standar) 

 

Penatalaksanaan 

• Penggantian volume cairan dan mengoptimalkan hemodinamik, menghentikan agen α-

adrenergik bila memungkinkan. 

• Antibiotik 

• Infus agen trombolitik intraarteri untuk emboli arteri akut 

• Antikoagulan untuk trombosis vena 

• Infus papaverin intraarteri untuk iskemia mesenterikus non-oklusif 

• Pembedahan : embolektomi untuk emboli arteri akut; reseksi usus yang terkena infark 

mesenterikus. 

Prognosis  

• Mortalitas 20-70% 

 

 

 

 

 

 

 

 

PANKREAS AKUT 

 

Etiologi 

• Umumnya : Alkohol dan batu empedu 

• Jarang  

Obstruksi (tumor pada ampula atau pankreas, divisum pankreas dengan stenosis papila 

minor). 

Metabolik (hipertrigliseridemia, hiperkalsemia) 

Obat-obatan (furosemid, tiazid, sulfa, didanosin, penghambat protease, estrogen, azatioprin). 

Infeksi (echovirus, Coxsackievirus, mumps, rubela, EBV, CMV, HIV, HAV, HBV). 

Trauma (trauma tumpul abdomen, pasca ERCP) 

Sengatan kalajengking (di Trinidad) 

 

Manifestasi klinis 

• Nyeri abdomen di midepigastrium, menyebar ke punggung, hilang bila posisi duduk condong 

ke arah depan. 

• Mual dan muntah 

• Demam 

 

Pemeriksaan  fisik 

• Nyeri tekan dan nyeri lepas di daerah abdomen, bising usus ↓ (ileus adinamik), massa 

abdomen dapat dipalpasi +. 

• jika  berat : tanda Cullen (periumbilikalis) atau Grey Turner (bokong) menunjukkan 

adanya perdarahan retroperitoneum. 

• Hipotensi atau syok + 

 

 

 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• Laboratorium : ↑ amilase dan ↑ lipase 

Bergantung tingkat keparahannya : leukosit ↑, hematokrit ↓, BUN ↑,  Ca ↓, glukosa ↑, uji 

fungsi hepar + ↑. 

• Pemeriksaan  pencitraan : CT abdomen merupakan terpilih (namun akan tampak normal pada 

lebih dari 28% kasus ringan) 

Suntikan cepat kontraksi IV + (CT dinamik) untuk menilai integritas mikrosirkulasi dan 

mendeteksi nekrosis dapat menunjukkan kalsifikasi jika  ada  pankreatitis kronis. 

• Drainase abses yang dipandu CT atau aspirasi jarum halus pada nekrosis pankreas. 

• Endoscopic retrograde cholangiopancreatograpgy (ERCP) : secara umum bukan indikasi 

kecuali pada pankreatitis sebab  batu empedu dengan obstruksi biliaris (lihat dibawah). 

  

Penatalaksanaan  

• Terapi suportif 

Resusitasi cairan (mungkin perlu hingga 10 L/hari jika   terjadi pankreatitis yang 

memicu  gangguan hemodinamika yang berat. 

Analgetik dengan meperidin 

Penggantian elektrolit 

• Sisa pankreas NPO : penyedotan pada NG jika mual dan muntah proyektil; pemberian 

octreotide pada kasus-kasus yang berat. 

• Antibiotik : imipenem pada pasien yang mengalami nekrosis 

• ERCP jika  pankreatitis disebabkan batu empedu dengan obstruksi biliaris 

 

Komplikasi  

• Sistemik : syok, ARDS, gagal ginjal, perdarahan saluran cerna. 

• Metabolik : hipokalsemia, hiperglikemia, hipertrigliseridemia 

 

• Pseudokista (10-20%) 

Dicurigai bila ada  nyeri persisten atau peningkatan enzim amilase atau lipase yang 

persisten kebanyakan sembuh secara respon spontan; jika  menetap > 6 minggu dan 

disertai rasa nyeri → drainase internal atau perkutaneus. 

• Pankreatik nekrotikans : tangani secara konservatif selama mungkin, pembedahan dilakukan 

jika  pasien tetap tidak stabil. 

• Infeksi (5%) : demam peningkatan leukosit 

Abses pankreas : antibiotik + drainase (jika mungkin di pandu dengan CT) 

Pankreatik nekrotikans terinfeksi (aspirasi → kultur bakteri (+)) : antibiotik + debrideman 

secara pembedahan (mortalitas 100% tanpa debrideman yang ekstensi / luas). 

Asites pankreatik atau efusi pleura : menunjukkan disrupsi duktus pankreatikus; 

pertimbangan ERCP dengan penempatan stent menyilang duktus. 

Kriteria Ranson 

Pada diagnosis Pada 48 jam 

Usia > 55 tahun Hematokrit ↓ > 10 % 

Jumlah  leukosit > 16.000/mm3 BUN ↑ > 5 mg/dl 

Glukosa > 200 mg/dl Defisit basa > 4mEq/L 

AST > 250 U/L Ca < 8 mEq/L 

LDH > 350 U/L PO2 < 60 mmHg 

Sekuestrasi cairan > 6 L 

Prognosis  

#Kriteria  Mortalitas  

< 2 < 5 % 

3 – 4  15 – 20 % 

5 – 6  40 % 

> 7 > 99 % 

(Am J Gastroenterol 77 : 663, 1982) 

UJI HEPAR ABNORMAL 

 

Uji fungsi hepar 

• Albumin : petanda umum untuk sintesis protein hepar. Menurun secara perlahan pada gagal 

hepar. 

• Waktu protrombin (PT) : bergantung pada sintesis faktor pembekuan I, II, V, VII, X; sebab  

waktu paruh beberapa faktor pembekuan ini pendek, peningkatan PT dapat terjadi dalam 

hitungan jam setelah terjadi disfungsi hepar. 

• Bilirubin : produk metabolisme heme di dalam hepar; baik tak terkonjugasi (indirek) ataupun 

terkonjugasi (direk). 

 

Uji hepar abnormal pada cedera 

• Aminotransferase (AST, ALT) : enzim-enzim intraselular 

ALT spesifik terhadap hepar; AST ditemukan dalam hepar, jantung, muskulo skeletal, ginjal, 

dan otak; aminotransferase berupa LDH nonspesifik dilepaskan (dan menjadi meningkat 

kadarnya) pada nekrosis dan peradangan hepar. 

ALT > AST → hepatitis virus ; AST : ALT > 2 : 1 → hepatitis alkoholik, LDH ↑↑↑ → 

hepatitis iskemik. 

• Fosfatase alkali (AP) : enzim yang terikat pada membran kanikular hepar 

Selain di hepar, juga ditemukan di tulang, usus, dan plasenta 

Untuk menginformasikan enzim ini berasal dari hepar yaitu  dengan : fraksinasi panas : 

(“hepar hidup, tulang terbakar”), ↑ 5’-NT atau ↑ GGT. 

↑ kadar terlihat pada obstruksi biliaris (seperti : batu) atau kolestasis intrahepatik (seperti : 

infiltrasi hepatik) 

 

Pola-pola pada cedera hepar 

• Hepatoselular : aminotransferase ↑↑, ↑ bilirubin atau AP + 

↑↑↑ aminotransferase (> 1000) : hepatitis virus, overdosis asetaminofen, dan iskemia. 

• Kolestasis : ↑↑ AP dan bilirubin, ↑ aminotransferase + 

• Hiperbilirubinemia terpisah : ↑↑ bilirubin, AP dan aminotransferase yang mendekati normal. 

• Infiltratif : AP ↑, bilirubin atau aminotransferase + 

 

Gambar 3-6. Pendekatan uji hepar abnormal dengan pola hepatoselular 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3-7. Pendekatan uji hepar abnormal dengan pola kolestatik 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3-8. Pendekatan uji hepar abnormal dengan hiperbilirubinemia yang terpisah 

 

 

 

 Cedera hepatoselular  

(secara predominan AST dan ALT meningkat, bilirubin dan AP yang meningkat +)  

Hepatitis virus  Autoimun   Obat dan toksin Vaskular    Herediter    

HAV, HBV, HCV, 

HDV, HEV, CMV, 

EBV, HSV, VZV  

Alkohol 

Asetaminofen 

Obat-obatan 

toksin  

Iskemik 

Kongestif 

Budd-Chiari 

VOD  

Hemokromatosis 

Defisiensi alfa-1-AT 

penyakit Wilson  

Petanda virus  Autoantibodi  Skrining toksin Hipotensi/CHF  Penyakit sistemik 

 Kolestasis   

(secara predominan ada  peningkatan AP dan bilirubin, AST dan ALT meningkat +)  

Disfungsi hepatoselular  Obstruksi    

Kerusakan epitel biliaris  Kolestasis intrahepatik  

Hepatitis 

sirosis   

Terinduksi obat  

Sepsis   

Pascaoperasi  

Sirosis biliaris primer 

Koledokolitiasis 

Kolangiokarsinoma 

Karsinoma pankreas 

Pankreatitis 

Kolangitis sklerotikans  

Tanpa dilatasi duktus biliaris pada USG Dilatasi duktus biliaris pada USG +  

 Hiperbilirubinemia terisolasi 

(bilirubin meningkat, AP, AST, dan ALT mendekati normal  

Produksi bilirubin yang Defek pada 

Tidak terkonjugasi (indirek)   Terkonjugasi (direk)  


 

 

HEPATITIS 

 

Hepatitis A 

• Penularan : rute orofekal; makanan, air, susu dan kerang yang tercemar; pusat perawatan 

harian dalam keadaan terjangkit wabah. 

Defek pada 

sekresi empedu  

Hemolisis 

Eritropoiesis tidak efektif 

Reabsorpsi hematoma   

Penyakit Gilbert 

Penyakit Crigler-Najjar  

Sindrom Dublin-Johnson 

Sindrom Rotor  

Infiltatif  

(secara predominan ada  peningkatan AP, bilirubin, AST, ALT mendekati normal) 

 

Keganasan (HCC, metastatik, limfoma) 

Granuloma (TB, sarkoidosis, histopalasmosis) 

Abses (amuba, bakteri) 

• Inkubasi : 2-6 minggu 

• Kronis : tidak ada 

• Diagnosis : hepatitis akut = 1gM anti-HAV (+); pernah terpajan = anti-HAV (+), 1gM anti 

HAV- 

 

Hepatitis B 

• Penularan : perkutaneus, seksual, perinatal 

• Inkubasi : 2-6 bulan 

• Sindrom ekstrahepatik : poliartritis nodosa, glomerulonefritis membranosa 

• Kronisitas : < 10% 

• Serologi : 

HbsAg : muncul  sebelum gejala; digunakan untuk skrining pendonor darah 

HbeAg : bukti replikasi virus dan ↑ infektivitas 

IgM anti-HBc : Antibodi yang pertama kali muncul : menunjukkan infeksi akut 

IgG anti-HBc : menunjukkan infeksi HBV sebelumnya (HbsAg-) atau infeksi HBV yang 

sedang berlangsung (HbsAG +) 

Anti-HBe : menunjukkan penghentian replikasi virus, infektivitas ↓ 

Anti-HBs : menunjukkan resolusi penyakit akut dan kekebalan (petanda tunggal setelah 

vaksinasi) 

HBV DNA : muncul dalam serum yang berhubungan dengan replikasi virus aktif  di dalam 

hepar. 

 

 

 

Ikterus  

Gejala   

ALT Anti-HBc  

Anti-HBs  

IgM anti-HBc  

 

 

(Atas izin dari Hoofnage, J.H. dan Schafer, D.F. Serologic markers of hepatitis B virus 

Infection Semin Liver Dis 6 : 1-10, 1986) 

• Diagnosis  

Diagnosis  HBsAG Anyi-HBs Anti-HBc 

Hepatitis akut ⊕ - IgM 

Riwayat pajanan - ⊕ IgG 

Hepatitis kronis ⊕ + IgG 

Imunisasi  - ⊕ - 

 

• Penatalaksanaan untuk penyakit kronis (HbsAg (+), HBV DNA (+), ALT) 

IFN-α-2b (N Engl J Med 323 : 295, 1990) atau lamuvidine (N Engl J Med 333 : 1657, 1995) 

hilangnya petanda replikasi virus dan normalisasi uji fungsi hepar pada 20-40%. 

Transplantasi hepar : 80-100% reinfeksi dan hasilnya sering buruk kecuali bila diberikan 

HBIG atau lamuvidine. 

 

Hepatitis C 

• Penularan : perkutaneus > > seksual; ∼ 20% tanpa suatu pencetus yang jelas 

• Inkubasi : 1-3 bulan 

• Sindrom ekstrahepatik krioglobulinemia, porfiria kutaneus tarda, MPGN (glomerulonefritis 

membranoproliferatif), limfoma. 

• Perjalanan penyakit 

Infeksi akut : ikterus pada 25%, subklinis pada 75%, hepatitis fulminan pada < 1%. 

BULAN SETELAH TERPAJAN 

HBsAg   

HBeAg   

DNA p  

HBV DNA  

Anti-HBe  

Kronis : 80% berkembang menjadi hepatitis kronis, 20-30% dari yang berkembang menjadi 

sirosis (setelah ∼ 20 tahun), karsinoma hepatoselular berkembang menjadi 2-5% sirosis tiap 

tahunnya (biasanya setelah 30 tahun). 

• Serologi 

Anti-HCV (ELISA) : ⊕ dalam waktu 6 minggu hingga 6 bulan 

HCV RIBA : digunakan untuk mengkonfirmasi anti-HCV-ELISA ⊕ pada pasien dengan 

kemungkinan kecil infeksi HCV. 

HCV RNA : petanda infeksi aktif 

• Diagnosis : hepatitis akut = ⊕ HCV RNA, anti HCV +; hepatitis kronis = anti-HCV dan 

HCV RNA ⊕. 

• Penatalaksanaan : (pasien dengan ↑ ALT dan peradangan aktif pada biopsi terhadap seluruh 

pasien; JAMA 280 : 2088, 1998) 

IFN-α-2b → 20% laju respons bertahan (N Engl J Med 321 : 1501 dan 1506, 1989). 

IFN + ribavirin → - 40% laju respons bertahan (N Engl J Med 339 : 11485 dan 1493, 1998) 

transplantasi hepar : 100% terinfeksi kembali, namun biasanya ringan. 

 

Hepatitis D 

• Penularan : perkutaneus atau seksual 

• Patogenesis : memerlukan fungsi pembantu infeksi HBV untuk menimbulkan baik infeksi 

spontan maupun superimposisi. 

• Perjalanan penyakit : hepatitis yang lebih berat, perubahan ke arah sirosis yang lebih cepat 

• Diagnosis : anti-HDV 

 

Hepatitis E 

• Penularan : oro-fekal; wisatawan ke Pakistan, India, Asia Tenggara, Afrika, dan Meksiko. 

• Perjalanan penyakit : hepatitis akut dengan mortalitas yang meningkat (10-20%) selama 

kehamilan. 

• Diagnosis : IgM anti-HEV (melalui CDC) 

 

Virus-virus lain : (CMV, EBV, HSV, VZV) 

 

AUTOIMUN 

Klasifikasi (N Engl J Med 334 ; 897, 1996) 

• Tipe 1 : Antibodi anti-otot polos (ASMA), ANA; 2/3 perempuan; penyakit tiroid autoimun +, 

atau RA. 

• Tipe 2 : mikrosom tipe 1 anti-hepar/ginjal (anti-LKM1) 

• Tipe 3 : antigen hepar anti-larut (anti-SLA) 

 

Sindrom Tumpang-tindih 

• Hepatitis autoimun + sirosis biliaris primer atau kolangitis sklerosis primer 

 

Penatalaksanaan  

• Prenison + azatioprin → 80% remisi; 50-90% relaps saat penghentian, memerlukan terapi 

jangka panjang. 

 

 

 

 

pemicu  LAIN HEPATITIS ATAU HEPATOTOKSISITAS 

Hepatitis alkoholik 

• Kadar aminotransferase biasanya < 300-500 dengan  rasio AST : ALT > 2 : 1, sebagian 

sebab  adanya defisiensi B6 yang terjadi bersamaan. 

• Pengobatan : diindikasikan jika fungsi diskriminan > 32 atau ensefalopati (tanpa GIB atau 

infeksi) 

Fungsi diskriminan = [4,6 x (PT-kontrol)] + bilirubin total (mg/dl) 

Prednison 40 mg per oral 4 kali sehari selama 1 bulan (N Engl J Med 326 : 507, 1992). 

 

Hepatotoksisitas asetaminofen 

• Patofisiologi : metabolisme normal melalui glukuronidasi dan sulfasi → metabolit nontoksis; 

Over dosis → hidroksilasi N oleh sitokrom P450 → senyawa reaktif elektrofilik yang 

disimpan oleh glutation sampai jenuh → hepatotoksisitas. 

• Pengobatan : N-asetilsestein : diberikan sampai 36 jam setelah konsumsi obat jika kadar 

asetaminofen sudah ↓ (sehingga kadar puncak tidak diketahui). 

Regimen : dosis pembebanan 140 mg/kg setiap 4 jam sebanyak 17 kali dosis tambahan. 

 

Obat-obat dan toksin lain yang dapat memicu  hepatitis 

• Amidaron, azol, statin, INH, metildopa, fenitoin, sulfonamid, tetrasiklin 

• Halotan, CCI4 

• Jamur racun (Amanita phalloides) 

 

Hepatitis iskemik : “syok hepar” dengan aminotrasferase > 1000 dan LDH ↑↑ 

 

Stetohepatitis non-alkoholik (NASH) 

• Perubahan lemak dan peradangan dalam hepar bukan pada waktu penggunaan alkohol. 

• Berhubungan dengan obesitas, hiperlipidemia, diabetes melitus, dan sindrom Cushing. 

 


Arch Int Med 141 : 382, 1981 dan Guidelines for the Management of Acute Acetaminophen 

Overdose atas izin McNeil, 1999) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GAGAL HATI AKUT 

 

Definisi 

• Penyakit hepar akut + koagulopati + ensefalopati 

• Fulminan = berkembang dalam 8 minggu; subfulminan = berkembang antara 8 minggu 

hingga 6 bulan. 

 

Etiologi 

• Virus (∼ 60%) 

HAV (0,35% infeksi akut), HBV (1%), HCV (< < 1%), HDV (10%), HEV (jika hamil). 

HSV (penjamu mengalami gangguan kekebalan), EBV, CMV, adenovirus, paramiksovirus, 

parvovirus B19. 

• Obat-obatan / Toksin (∼ 20%) 

Asetaminofen 

Obat lain : fenitoin, INH, rifampin, sulfonamid, tetrasiklin, amidaron, propiltiourasil. 

Toksin : hidrokarbon terfluorinasi, CCI4 

Amanita phalloides 

• Vaskular : hepatitis iskemik, sindrom Budd-Chiari, VOD hepatik, infiltrasi malignan. 

• Hepatitis autoimun 

• Lain-lain : penyakit Wilson, perlemakan hepar akut pada kehamilan, sindrom HELLP, 

sindrom Reye. 

• Idiopatik (∼ 20%) 

 

Manifestasi klinis 

• Neurologik 

Asteriksis 

Ensefalopato : Derajat I = perubahan status mental; derajat II = letargi, konfusi, derajat III = 

stupor, derajat IV = koma. 

Edema serebral → refleks Cushing (hipetensi + bradikardi), dilatasi pupil, posisi deerebrasi, 

apnu. 

• Kardiovaskular : hipotensi dengan SVR yang rendah 

• Paru : alkalosis respiratorik, asupan O2, perifer yang terganggu, ARDS 

• Saluran cerna : GIB, pankreatitis 

• Ginjal : nekrosis tubular akut (ATN), sindrom hepatorenal, hiponatremia, hipokalemia, 

hipofosfatemia. 

• Hematologi : koagulopati (sebab  ↓ sintesis faktor pembekuan darah + DIC) 

• Infeksi : terlihat pada 90% pasien; SBP pada 32% pasien; demam dan leukositosis mungkin 

tidak dijumpai. 

• Endokrin : hipoglikemia 

 

Rencana penanganan 

• Serologi virus 

• Skrining toksikologi (kadar asetaminofen tiap 1-2 jam hingga puncaknya ditentukan) 

• Pemeriksaan pencitraan (USG pada abdomen kuadran kanan atas atau CT abdomen, 

pemeriksaan doppler terhadap vena porta dan hepatika). 

• Uji lainnya : serologi autoimun, seruloplasmain dan tembaga dalam urin 

• Biopsi hepar (kecuali ada koagulopati) 

 

Penatalaksanaan 

• Perawatan setingkat ICU yang potensial meliputi pengawasan dan perawatan ICP, 

hemodinamik dan alat bantu ventilator, anti-koagulopati, pengawasan dan penanganan secara 

agresif terhadap infeksi, tetesan D10 untuk hipoglikemia, dan lain-lain. 

• Penatalaksanaan pemicu  spesifik (N-asetilsistein untuk asetaminofen, kortikosteroid 

terhadap hepatitis autoimun, terapi khelasi terhadap penyakit Wilson, dan lain-lain) 

• Transplantasi hepar jika prognosisnya buruk (lihat dibawah) 

 

Prognosis  

• Kelangsungan hidup 10-50% 

• Perkiraan hasil akhir yang buruk (Gastroenterology 97 : 439, 1989) 

Usia > 40 tahun; pemicu nya selain asetaminofen, HAV dan HBV 

Ensefalopati derajat III atau IV (onset > 7 hari setelah onset ikterus), PT > 50, bilirubin > 

17,5. 

• Daya tahan hidup 1 tahun setelah transplantasi hepar yaitu  > 60%. 

 

 

 

SIROSIS 

 

Definisi 

• Definisi : regenerasi fibrosis dan nodular yang berasal dari cedera hepatoselular. 

 

Etiologi 

• Alkohol 

• Hepatitis virus (Infeksi HBV, HCV, HDV kronis) 

• Hepatitis autoimun (perempuan, IgG ↑, ANA ⊕, Ab-otot polos) 

• Penyakit metabolik : hemokromatosis, penyakit Wilson, defisiensi α1-antitripsin. 

• Penyakit traktus biliaris : sirosis biliaris primer, sirosis biliaris sekunder (kalkulus, 

neoplasma, striktura, atresia biliaris), kolangitis sklerosis primer. 

• Penyakit vaskular : sindrom Budd-Chiari, gagal jantung sisi kanan atau perikarditis 

konstriktif 

 

Manifestasi klinis 

• Mungkin subklinis akan muncul sebagai disfungsi hepar yang progesif, hipertensi portal, atau 

keduanya. 

 

Pemeriksaan fisik 

• Hepar : membran, dapat dipalpasi, berbatas tegas, nodular → menyusut dan nodular. 

• Tanda gagal hepar : ikterus, telangiektaris, eritema plamaris, kontraktur Dupuytren, bantalan 

kuku proksimal berwarna putih (kuku Terry), ginekomastia, atrofi testis, asteriksis, 

ensefalopati, fetor hepatikus. 

• Tanda hipertensi portal : splenomegali, asites, vena abdominal superfisialis yang berdilatasi 

(kaput medusa). 

 

Langkah Penanganan 

• USG abdomen : ukuran hepar, melihat adanya karsinoma hepatoselular, asites, menilai 

patensi vena porta, splenikus dan hepatika. 

• Serologi hepatitis (HbsAg, anti HBs, anti-HCV), pemeriksaan hepatitis autoimun (IgG, 

ANA, Ab anti-otot polos), pemeriksaan Fe (saturasi Fe, feritin), seruloplasmin, tembaga 

urine, α1AT, Ab anti-mitokondrial, ekokardiogram (jika berkenaan dengan gagal jantung sisi 

kanan). 

• Biopsi hepar (perkutaneus atau transjugularis) 

• AFP 

 

Komplikasi 

• Hipertensi portal : aasites, peritonitis bakterialis spontaneus, varises, UGIB 

• Ensefalopati hepatik : kegagalan hepar melakukan detoksifikasi bahan-bahan beracun (NH, 

dan sejenisnya) yang dicetuskan dengan ↑ kadar NH3 yang terlihat dengan asupan protein 

yang berlebihan, konstipasi, GIB, infeksi, azotemia, hipokalemia, gagal hepar, HCC, pirau 

portosistemik, hipotensi, alkalosis. 

Penatalaksanaan : pembatasan asupan protein, laktulosa (pengawasan kolon yang menjadikan 

NH3 → NH4

+; perubahan flora usus → ↓ organisme yang menghasilkan NH3), neomisin, 

flumazenil. 

• Sindrom hepatorenal : azotemia dan oluguria progesif, UNa < 10 mEq/L, tidak ada respons 

terhadap pemberian cairan intravena (IVF). 

Pencetus : GIB, diuresis berlebihan, parasentesis, aminoglikosida, NSAID 

• Sindrom hepatopulmonal : hipoksemia )+ plapnu-ortodeoksia) sebab  pirau AV paru. 

• Gagal hepar : dicetuskan sebab  kerusakan hepar yang lebih lanjut atau stresor sistemik 

(infeksi, pembedahan). 

• Infeksi  

• Karsinoma hepatoselular : pertimbangkan jika  ukuran hepar ↑, asites dan nyeri abdomen 

↑, ensefalopati ↑, berat badan ↓, AFP ↑, atau nodul hepatik pada USG atau CT. 

Klasifikasi Modifikasi Child-Pugh 

Nilai Skor  

1 2 3 

Asites  Tidak ada Mudah diatasi Sulit diatasi 

Ensefalopati  Tidak ada Derajat I atau II Derajat III atau IV 

Bilirubin (mg/dl) < 2,0 2, 0-3,0 > 3,0 

Albumin (g/dl) > 3,5 2, 8-3,5 < 2,8 

PT (memanjang) < 4 4 – 6  > 6 

 Klasifikasi  

 A B C 

Jumlah keseluruhan 5 – 6  7 – 9  10 – 15  

(Birt J surg 60 : 646, 1973) 

 

Tranplantasi Hati 

• Indikasi : ensefalopati berat atau rekurens, asites reprakter, peritonitis bakterial spontan 

(SBP), perdarahan varises rekurens, bilirubin > 10 mg/dl, albumin < 3 g/dl, PT > 3 detik di 

atas kontrol. 

• Kontraindikasi : HIV, penyalahgunaan substansi akut, sepsis, keganasan (ekstrahepatik), 

komorbiditas berat. 

• Daya tahan hidup 1 tahun hingga lebih dari 90%, daya tahan hidup 5 tahun mencapai lebih 

dari 80%. 

 

ETIOLOGI SIROSIS YANG KURANG SERING 

Hemakromatosis 

• Definisi : gangguan kelebihan tembaga yang diturunkan secara resesif autosomal. 

• Epidemiologi : 1 dalam 300, biasanya pada laki-laki usia pertengahan 

• Manifestasi klinis tambahan : kulit berwarna perunggu, diabetes melitus, artritis, gagal 

jantung. 

• Pemeriksaan diagnostik : saturasi zat besi ↑ (> 60% pada laki-laki, > 50% pada perempuan), 

↑ feritin, indeks besi hepar > 1,9, mutasi gen HFE. 

• Penatalaksanaan : flebotomi, deferoksamin, konseling genetik. 

 

Penyakit Wilson 

• Definisi : gangguan kelebihan tembaga yang diturunkan secara resesif autosomal. 

• Epidemiologi : 1 dalam 30000-50000, biasanya manifestasi dimulai sebelum usia 30 tahun. 

• Manifestasi klinis tambahan : gangguan neuropsikiatrik, cincin Kayser-Fleischer. 

• Pemeriksaan diagnostik : tembaga di urine, seruloplasmin serum ↓, kandungan tembaga di 

hepar > 250 µgram/g berat kering. 

• Penatalaksanaan : terapi khelasi dengan penisilinamin, trientin; seng oral jika  

preimtomatik atau hamil. 

 

Defisien α1-antitripsin (α1-AT) 

• α1-AT yang abnormal → polimerisasi di hepar (sirosis) & protase yang tak terkontrol di paru 

(emfisema). 

• Manifestasi klinis tambahan : emfisema 

• Pemeriksaan diagnostik : tidak ada globulin α1-AT pada SPEP, badan inklusi ⊕ dengan 

pewarnaan PAS pada biopsi hepar.. 

• Penatalaksanaan : transplantasi hepar (untuk penyakit hepar) dan penggantian α1-AT 

(terhadap penyakit paru). 

 

Sirosis biliaris primer (PBC, Primary Biliary Cirrhosis) 

• Definisi : destruksi autoimun atau duktus biliaris intrahepatik 

 

• Epidemiologi : perempuan usia pertengahan, familial, bersamaan dengan penyakit autoimun. 

• Manifestasi klinis tambahan : fatigue, pruritus, malabsorpsi lemak 

• Pemeriksaan diagnostik : AP ↑, bilirubin ↑, An anti-mitokondrial (AMA) ⊕ pada 95%, 

kolesterol ↑. 

• Penatalaksanaan : asam ursodeoksikolat; vitamin yang larut dalam lemak; kolestiramin untuk 

pruritus, transplantasi. 

 

Kolangitis sklerosis primer (PSC, Primary Sclerosing Cholangitis) 

• Definisi : kolestatis idiopatik dengan fibrosis pada duktus biliaris intra dan ekstrahepatik. 

• Epidemiologi : laki-laki muda (usia 20-50 tahun), berhubungan dengan IBD pada 70% kasus 

(UC > > CD). 

• Manifestasi klinis : pruritus, demam, keringat malam, nyeri kudran kanan atas, 

kolangiokarsinoma. 

• Pemeriksaan diagnostik : bilirubin ↑, AP ↑, p-ANCA ⊕ pada 70%, ERCP → striktur duktus 

biliaris berbercak multifokal. 

• Penatalaksanaan : asam ursodeoksikolat, kolestiramin, vitamin yang larut dalam lemak, 

pemasangan stent pada striktur duktus biliaris yang dominan, transplantasi hepar (risikonya 

yaitu  adanya kemungkinan terjadi striktur duktus biliaris pasca transplantasi). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASITES 

 

Etiologi 

• Yang berhubungan dengan hipertensi portal (SAAG > 1,1) 

Sinusoid 

Sirosis (81% kasus) 

Peritonitis bakterial spontan (SBP) 

Hepatitis 

Metastasis masif pada hepar 

Karsinoma hepatoseluler 

Pasca-sinusoid 

Perikarditis konstriktif 

Gagal jantung kongestif sisi kanan 

Insufisiensi trikuspid 

Budd-Chiari (trombosis vena hepatika) 

Penyakit oklusi vena 

Pre-sinusoid (kadang-kadang memicu  asites) 

Trombosis vena spenikus atau porta 

Skistosomiasis 

• Yang tidak berhubungan dengan hipertensi portal (SAAG < 1,1) 

Peritonitis TB, ruptur viskus (amilase ↑) 

Karsinomatosis peritonii 

Pankreatitis (amilase ↑) 

Vaskulitis  

• Lain-lain : sindrom Meig, miksedema, sindrom nefrotik, enteropati akibat kehilangan protein. 

• Chylous : limfoma, TB, trauma 

 

Patofisiologi 

• Teori “Underfill” : hipertensi portal → transudasi cairan ke dalam peritoneum → ↓ volume 

plasma → retensi Na di ginjal. 

• Teori “Overflow” : refleks hepatorenal → retensi Na 

• Teori vasodilatasi perifer : hipertensi portal → vasodilatasi sistemik (sebab  lepasnya nitrat 

oksida) → ↓ efektivitas volume arteri → retensi Na di ginjal. 

• Hipoalbuminemia → penurunan tekanan onkotik serum 

• ↑ produksi limfe hepatik 

 

Langkah-langkah penatalaksanaan 

• Deteksi : pemeriksaan fisik (pekak alih, gelombang cairan) memiliki sensitivitas 60%; USG 

mendeteksi jika  > 100 cc. 

• Gradien albumin serum asites (SAAG); akurasi > 95%; Ann Intern Med 117 : 215, 1992) > 

1,1 g/dl → berhubungan dengan hipertensi portal ; < 1,1 g/dl → tidak berhubungan dengan 

hipertensi portal. 

• Protein total cairan asites (AFTP, akurasi 50%); < 2,5 g/dl → “transudat”; > 2,5 g/dl → 

“eksudat”  

SBP (proses “eksudasi”) : SAAG < 1,1 namun AFTP < 2,5 g/dl 

Asites sebab  jantung (proses-proses transudatif) : SAAG > 1,1 tapi AFTP > 2,5 g/dl 

sehingga AFTP berguna jika  SAAG > 1,1 untuk membedakan sirosis (↓ AFTP) dengan 

asites sebab  jantung (AFTP ↑) 

• jika  ada  hipertensi portal pikirkan uji fungsi hepar, USG di abdomen kuadran kanan 

atas, pemeriksaan doppler pada vena porta, splenikus dan hepatikus, ekokardiogram + 

kateterisasi jantung kanan (jika  tanda-tanda gagal jantung sisi kanan), biopsi hepar. 

• Singkirkan infeksi : hitung jenis (perlakukan seperti pada peritonitis jika  neutrofil > 220 – 

500/µl), pewarnaan gram dan kultur (+ BTA) + inokulasi bangsal terhadap botol-botol kultur 

darah (hasil 85%). 

• Uji lain sesuai indikasi (seperti : amilase, sitologi) 

 

 

 

 

Penatalaksanaan  

• Asupan Na ↓ (1-2 g/hari); tirah baring, pembatasan cairan bila hiponatremik 

• Diuretik (efektif pada 90% kasus) 

Spironolakton (mulai dengan 100 mg PO 4 x 1) + furosemid (mulai dengan 40 mg PO 4 x 1) 

Tujuan : membuat diuresis ∼ 1 L/hari (biasanya tubuh tidak mampu mereabsorpsi asites 

dengan kecepatan > 1 L/hari). 

• Parasentesis terapeutik 

Indikasi bila pasien dispnu atau merasa sangat tidak nyaman 

Keluarkan 4-6 liter; + albumin pengganti (sedikit abnormalitas kimiawi asimtomatik; tidak 

ada perubahan mortalitas). 

• Parasentesis terapeutik pasien rawat jalan 

• Pirau portosistemik intrahepatik transjugular (TIPS) : > 75% resolusi asites, namun > 15% 

menjadi ensefalopati. 

• Transplantasi hepar, bila memenuhi syarat. 

 

Peritonitis bakterial 

• Definisi  

Tipe  Hitung sel asites/mm3 Kultur asites 

Steril  < 250 PMN - 

Peritonitis bakterial spontan > 250 PMN ⊕ (satu 

organisme) 

Asites neutrositik kultur negatif 

(CCNA) 

> 250 PMN - 

Bakterasites non-neutrositik 

(NNBA) 

< 250 PMN ⊕ (satu 

organisme) 

Sekunder  > 250 PMN ⊕ (polimikroba) 

Berhubungan dengan dialisis 

peritoneum 

> 100 dengan predominan 

PMN 

⊕ 

 

• Peritonitis Bakterial Spontan 

Epidemiologi : terjadi pada 19% sirosis; faktor risiko : AFTP < 1,0 g/dl, serum bilirubin > 

2,5 mg/dl. 

Manifestasi klinis : demam, nyeri abdomen, nyeri tekan dan nyeri lepas, perubahan status 

mental, tanda klinis mungkin kurang dipercaya, sebab  memiliki ambang yang rendah dalam 

parasentesis diagnostik. 

Patogen : 70% batang gram negatif (E. Coli, Klebsiella), 30% kokus gram positif (S. 

Penumococus, golongan streptococci lainnya,Enterococcus). 

Pengobatan : sefalosporin generasi III (pemberiannya berdasarkan kultur dan sensitivitas 

data) selama 5 hari profilaksis (jika  ada riwayat SBP, GIB, atau albumin asites < 1,0 g/dl) 

: norfloksasin 400 mg PO 4 x 1.   

• CNNA : varian dari peritonitis bakterial spontan dengan perjalanan penyakit yang serupa, 

juga diterapi dengan sefalosporin generasi III selama 5 hari. 

• NNBA : obati hanya jika simtomatik 

• Sekunder (abses intraabdominal atau viskus yang mengalami perforasi) 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

Polimikroba 

Biasanya AFTP > 1,0 g/dl, glukosa cairan asites < 50 mg/dl, atau LDH cairan asites > 225 

U/L. 

Penatalaksanaan : sefalosporin generasi III + metronidazol 

• Yang berhubungan dengan dialisis peritoneum 

Patogen : 70% kokus gram positif, 30% batang gram negatif 

Penatalaksanaan : vankomisin + gentamisin (bolus IV kemudian berikan saat dialisis 

peritoneum) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENYAKIT TRAKTUS BILIARIS 

 

KOLELITIASIS (“BATI EMPEDI”) 

Epidemiologi  

• > 10% orang dewasa menderita batu empedu, prevalensi ↑ pada perempuan dan sejalan 

dengan penambahan usia, obesitas, dan kehamilan. 

 

Patogenesis  

• Empedu = gram empedu, fosfolipid, kolesterol, ↑ saturasi kolesterol dalam empedu → 

pembentukan batu empedu. 

 

Jenis batu empedu 

• Campuran (80%) : batu multipel, kebanyakan kolesterol, dapat berkalsifikasi (15-20%). 

• Kolesterol (10%) : biasanya batu tunggal, besar, tidak mengalami kalsifikasi 

• Pigmen (10%) : bilirubin tak terkonjugasi (sebab  itu terlihat pada hemolisis kronis) dan 

kalsium. 

 

Manifestasi klinis 

• Anamnesis : mungkin asimtomatik (gejala pada ∼ 2% tahun) “kolik” biliaris serangan di 

kuadran kanan atas atau nyeri di epigastrium yang mulainya mendadak, terus-menerus, 

menghilang perlahan, dan berlangsung selama 30 menit hingga 3 jam. Berhubungan dengan 

nausea. Bisa dicetuskan oleh makanan berlemak. 

• Pemeriksaan fisik : tidak demam, nyeri tekan pada abdomen kuadran kanan atas. 

 

Pemeriksaan  diagnostik 

• USG abdomen kuadran kanan atas : sensitivitas dan spesifisitas > 90-95%; dapat 

memperlihatkan komplikasi (kolesistitis dan kolangitis) 

Penatalaksanaan  

• Kolesistektomi (biasanya laparoskopi) jika simtomatik 

• Terapi disolusi oral (ursodiol) pada pasien yang menolak atau yang tidak memenuhi syarat 

untuk dilakukannya tindakan pembedahan. 

 

Komplikasi  

• Kolesistitis (30% kolik biliaris simtomatik → kolesistitis dalam 2 tahun) 

• Kolangitis 

• pankreatitis 

 

KOLESISTITIS 

Definisi 

• Peradangan pada kandung empedu (vesika felea) 

 

Patogenesis   

• Obstruksi duktus sistikus oleh batu empedu 


 

Manifestasi klinis 

• Anamnesis : mual, muntah, demam, nyeri di abdomen kuadran kanan atas dan mid-

epigastrium yang berat dan menetap. 

• Pemeriksaan fisik : nyeri tekan di abdomen kuadrah kanan atas, tanda Murphy = ↑ rasa nyeri 

di kuadran kanan atas pada saat inspirasi, palpasi vesika felea bisa +. 

• Evaluasi laboratorium : jumlah leukosit ↑, bilirubin dan AP ↑ +, amilase ↑ + (bahkan tanpa 

adanya pankreatitis) 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• USG abdomen kuadran kanan atas : sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk batu empedu; 

tanda spesifik kolesistitis meliputi cairan perikolesistik, edema dinding vesika felea, dan 

tanda Murphy pada sonografi. 

• Koleskintigrafi (HIDA-scan) : uji paling sensitif terhadap kolesistitis akut. Prosedurnya 

meliputi injeksi HID intravena yang berlabel radioaktif, yang secara selektif melakukan 

sekresi ke dalam percabangan biliaris. Pada kolesistitis akut, HIDA memasuki duktus 

kolekodus (CBD), tapi tidak ke vesika felea. 

 

Penatalaksanaan  

• NPO, cairan IV, antibiotik (E. Coli, Klebsiela, enterokokus, dan Enterobacter yaitu  kuman 

patogen yang sering). 

• Kolesistektomi semidarurat (biasanya dalam 72 jam) 

• Kolesistostomi dan drainase perkutaneus pada pasien yang keadaan umumnya sangat lemah 

sehingga belum bisa dilakukan tindakan pembedahan. 

• ERCP atau eksplorasi duktus koledokus untuk melihat koledokolitiasis pada pasien yang 

ikterik atau terlihat batu di duktus koledokusnya pada USG. 

 

Komplikasi 

• Perforasi 

• Empiema 

• Vesika felea emfisematosa sebab  infeksi oleh organisme yang membentuk gas. 


• Fistula kolesisenterik (ke duodenum, kolon, atau gaster) : dapat terlihat udara pada 

percabangan biliaris. 

• Ileus batu empedu : obstruksi usus (biasanya pada ileum terminalis) sebab  batu dalam usus 

yang melewati suatu fistula. 

 

KOLEDOKOLITIASIS 

Definisi 

• Batu empedu bersarang di duktus koledokus (CBD) 

 

 

Epidemiologi  

• Terjadi pada 15% pasien dengan batu empedu 

 

Manifestasi klinis 

• Asimtomatik (50%) 

• Kolik biliaris 

• Ikterik  

 

Pemeriksaan diagnostik 

• USG abdomen kuadran kanan atas : tampak dilatasi duktus (namun sensitivitas hanya 33% 

untuk mendeteksi batu di duktus koledokus). 

• Kolangiogram (ERCP, perkutaneus atau operasif) 

 

Penatalaksanaan  

• ERCP dan papilotomi dengan ekstraksi batu 

 

Komplikasi 

• Kolangitis 

• Pankreatitis 

• Kolesistitis 

• Striktur  

 

KOLANGITIS 

Definisi 

• Obstruksi duktus koledokus (CBD) → infeksi proksimal dari lokasi obstruksi (“pus di bawah 

tekanan”) 

 

Etiologi  

• Batu duktus koledokus 

• Striktur 

• Neoplasma (biliaris atau pankreatik) 

• Infiltrasi dengan parasit (cacing) (Clonorchis sinensis, Opisthorchis viverrini) 

 

Manifestasi klinis 

• Trias Charcot : Nyeri kuadran kanan atas, ikterik, demam / menggigil 

• Panca Reynold : Trias Charcot + syok dan perubahan status mental 

 

Pemeriksaan diagnostik 

• USG abdomen kuadran kanan atas  

• ERCP 

 

Penatalaksanaan  

• Antibiotik 

• Dekompresi cabang biliaris dengan ERCP atau tindakan pembedahan. 

 

 

“ ELEKTROKARDIOGRAFI (EKG) “ 

Pendekatan (pendekatan yang sistematis merupakan hal yang vital) 

• Kecepatan dan irama 

• Interval (? BBB) dan aksis (? LAD / RAD) 

• Pembesaran ruang jantung (? LAE / RAE, ? LVH / RVH) 


• Perubahan kompleks QRST (? Gelombang Q, progresi gelombang R buruk, elevasi atau 

depresi segmen ST, atau inversi gelombang T) 

Aksis 

• Mengidentifikasi sadapan ekstremitas dengan kompleks isoelektrik → pertengahan (mean) 

aksis QRS tegak lurus dengannya 

• Periksa sadapan yang tegak lurus untuk menentukan apakah pertengahan aksis QRS yaitu  

+900 atau -900 dari sadapan isoelektrik 

Gambar 1 – 1. Determinasi aksis QRS      Deviasi aksis ke kiri (LAD) 

• Definisi : aksis > -300 

• Determinasi : S > R pada sadapan II 

• Etiologi 

Hemiblok anterior kiri (LAHB) 

Left bundle branch block (LBBB) 

Hipertrofi ventrikel kiri (LVH) 

Infark miokardium (IM) inferior 

Diafragma yang mengalami elevasi 

 

Deviasi aksis ke kanan (RAD) 

• Definisi : aksis > +900 

• Determinasi : S > R pada sadapan I 

• Etiologi 

Hipertrofi ventrikel kanan (RVH) 

Hemiblok posterior kiri (LPHB) 

IM lateral 

Penyakit paru obstruktif menahun / 

PPOM (biasanya tidak pada > + 1100) 

 

 Left bundle branch block 

(LBBB) 

Right bundle branch block 

(RBBB) 

Kriteria 1. QRS ≥ 120 mdet 1. QRS ≥ 120 mdet 

-120

-150

-90 -60

-30

10

+30

+90

+120

+150

+180

+60

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

AVL

II

AVP

III

AVR

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

2. Gelombang R monofasik, 

menghilang dan melebar 

pada sadapan I, V5 & V4                   

(± gelombang S jika  

kardiomegali) 

3. Tidak ada Q pada sadapan I, 

V5 & V6 

4. Kelainan posisi ST dan 

gelombang T yang 

berlawanan dengan defleksi 

mayor kompleks QRS 

 

5. ± Progresi gelombang R 

buruk (PRWP), LAD, 

gelombang Q’ pada sadapan 

inferior 

2. ada  pola rsR’ pada 

sadapan prekordial kanan 

3. Gelombang S melebar pada 

sadapan I, V5 dan V6 

Kompleks 

QRS 

EKG 

  

Etiologi Penyakit jantung koroner (PJK), 

hipertensi, CMP, degenerasi 

sistem konduksi 

PJK, hipertensi, kor – 

pulmonale, CMP, degenerasi 

sistem konduksi 

 

 

Left anterior hemiblock (LAHB) 

Left posterior hemiblock 

(LPBH) 

Kriteria 1. LAD (aksis > -300 dan biasanya 

>- 600) 

2. Kompleks qR pada sadapan I, 

kompleks rS pada sadapan III 

3. QRS < 120 mdet 

1. RAD (aksis > +1000) 

2. Kompleks rS pada sadapan I 

; kompleks qR pada sadapan 

III 

3. QRS < 120 mdet 

Etiologi Varian normal, PJK, hipertensi, Jarang normal ; PJK, hipertensi, 

V1

V6

V1

V6


CMP, stenosis aorta (AS) 

 

CMP, AS 

 

Interval QT yang memanjang 

• CAD, kardiomiopati, prolapsus katup mitral 

• Bradikardia berat atau blok AV derajat tinggi 

• Obat – obatan jantung : antiaritmia kelas IA (contoh : kuinidin atau prokainamid), kelas IC 

(QRS memanjang : QT memanjang, namun ST tidak memanjang) , dan kelas III (contoh : 

sotasol, amiodaron) 

• Obat – obatan psikotropik : fenotiazin, antidepresan trisiklik 

• Obat – obat lain : antihistamin non-sedatif, makrolid, antijamur derivat azol 

• Gangguan elektrolit : hipolaksemia, ? hipokalemia, ? hipomagnesemia 

• Disfungsi sistem saraf otonom : perdarahan intrakranial (biasanya disertai gelombang T 

terbalik yang dalam), stroke, diseksi leher radikal, endarterektomi karotis 

• Lain – lain : hipotiroidisme, hipotermia 

• Kongenital (Sindrom Jervell-Lange-Nielson dan Romano-Ward) 

 

 Pembesaran atrium kiri (LAE) Pembesaran atrium kanan (RAE) 

Kriteria  

Gelombang 

P EKG 

 

 

                     atau 

 

 

                       atau 

 

Sistem penilaian LVH Romhilt – Estes 

Kriteria Nilai 

Amplitudo (adanya hal – hal berikut) 

      Gelombang R atau S terbesar pada sedapan ekstremitas ≥ 20 mm 

      S pada V1 atau V2 ≥ 30 mm 

      R pada V5 atau V6 ≥ 30 mm 

Perubahan ST-T Δs (kelainan posisi berlawanan dengan defleksi mayor 

kompleks QRS) 

 

 

V1

> 40 mdet

> 1 mm

> 120 mdet

II

V1 > 15 mm

II

> 25 mm



      Tanpa digoskin 

      Dengan digoskin 

Pembesaran atrium kiri 3 

Deviasi aksis ke kiri (≥ -300) 2 

Durasi QRS ≥ 90 mdet 1 

Defleksi intrinsik pada V5 atau V6 ≥ 50 mdet 1 

       Nilai 4 = kemungkinan LVH 

       Nilai 5 = LVH definitif 

       Sensitifitas 30 – 54 % 

       Spesifisitas 83 - 97 % 

 

(Am ∫ Heart 75 : 752, 1968) 

 

 

Kriteria RVH Sensitivitas 

Spesifikasi 

pada PPOM 

Spesifikasi 

tanpa PPOM 

Penurunan rasio R/S di 

prekordium 

28 – 70 % 25 % 67 – 76 % 

Deviasi aksis ke kanan (≥ + 1000) 12 – 55 % 87 – 95 % ≥ 96% 

Rasio R/S pada V1 > 1 6 – 42 % 89 % 98 % 

R pada V1 ≥ 7 mm 2 – 23 % 94 % ≥ 94% 

(Am ∫ Cardiol 7 : 481, 1961 : Chest 65 : 622, 1974 ; dan Chau, 

Elektrocardiography in Clinical Practice. 4th ed, 1996) 

 

Gelombang O patologis  

• Definisi : tinggi gelom