Penyakit dalam palmologi 1

 












ASMA 

   inflamasi kronik pada saluran nafas yang 

berhubungan dengan hiperreaktifitas saluran 

respirasi & keterbatasan aliran udara akibat 

adanya penyempitan bronchus yang bersifat 

reversibel.  

   Gejala klinis 

   kondisi stabil (steady-state)    keluhan batuk 

malam hari dan sesak nafas saat olahraga    

   saat serangan asma (asthma-attack exacerbation) 

   sesak berat dan ditandai dengan suara nafas 

mengi. P 

ASMA 

   Pemeriksaan Fisik : retraksi intercostal, suara 

ekspirasi yang memanjang dan wheezing dengan 

nafas bronchial 

   Pemeriksaan Gold Standar    spirometri dengan 

kombinasi bronkodilator 

   Terjadi peningkatan FEV1 >12% dan 200ml setelah 

pemberian bronchodilator.  

   Terjadi peningkatan PEF >20% setelah pemberian 

bronchodilator. 

   ada  variasi nilai PEF secara diurnal >20% atau 

bila dalam pembacaan 2x dalam sehari >10%. 

 

ASMA (klasifikasi) 

   berdasar  frekuensi muncul 

 

ASMA (klasifikasi) 

   berdasar  beratnya gejala 

 

ASMA (tatalaksana di luar serangan) 

   Tatalaksana di luar serangan 

 

Klasifikasi Kontrol harian Obat pilihan lain 

Asma 

intermiten 

(-) (-) 

Asma 

persisten 

ringan 

Glukokortikoid 

inhalasi dosis 

rendah 

Theophilin sustained released 

Cromone 

Leukotriene modifier 

Asma 

persisten 

moderate 

Inhalasi 

glukokortikoid 

dosis rendah-

medium + B2 

agonis long acting 

Glukokortikoid inhalasi dosis medium + 

theopilin sustained release 

Glukokortikoid inhalasi dosis medium +long 

acting b2 agonis 

Glukokortikoid inhalasi dosis tinggi 

Glukokortikoid inhalasi dosis medium + 

leukotriene modifier 

ASMA (tatalaksana di luar serangan) 

Asma persisten 

berat 

Glukokortikoid inhalasi dosis tinggi + long acting 

b2 agonis + salah satu dari 

Theopilin sustaine release 

B2 agonis long acting 

Steroid oral 

Anti IgE 

Risiko eksaserbasi asma  

   Gejala asma tidak terkontrol,  

   penggunaan SABA yang tinggi (mortalitas meningkat 

jika >200 SABA/bulan),  

   FEV1<80%, 

   masalah psikologis atau sosioekonomi,  

   merokok,  

   pajanan alergen,  

   komorbid (obesitas, rinosinusitis, alergi makanan), 

   sputum atau eosinofil darah,  

   kehamilan, 

   riwayat intubasi atau dirawat di ICU karena asma,  

   >1 kali eksaserbasi berat dalam 1 tahun terakhir 

Tatalaksana Inisial Maintenance Asma 

Gejala asma akut <2 kali dalam 1 bulan, 

tidak ada terbangun malam, tidak ada 

risiko eksaserbasi 

Tidak perlu kontroler 

Gejala asma tidak sering, 1 atau lebih 

risiko eksaserbasi 

ICS dosis rendah 

Gejala asma dan membutuhkan SABA 

2 kali sebulan dan 2 kali seminggu, 

bangun karena asma 1 atau lebih 

dalam sebulan 

ICS dosis rendah 

Gejala asma dan membuuthkan SABA 

> 2 kali seminggu 

ICS dosis rendah  

Opsi lain seperti teofilin atau antagonis 

reseptor leukotrien/LTRA (montelukast) 

Gejala asma hampir setiap hari, 

bangun karena asma >1 kali seminggu 

ICS dosis sedang/tinggi atau ICS dosis 

rendah dan LABA 

Presentasi asma berat tidak terkontrol 

dengan eksaserbasi akut 

Kortikosteroid oral jangka pendek dan 

mulai kontrol dengan ICS dosis tinggi atau 

ICS dosis rendah dengan LABA 

Asthma GINA 2015 

   Nilai selama 3 bulan, jika membaik dilakukan step down, 

jika tidak ada perbaikan dilakukan step up 

ASMA (tatalaksana saat serangan) 

PPOK 

   Merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya 

perlambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya 

reversibel.  

   Gejala klinis  sesak napas, batuk-batuk kronis, sputum 

yang produktif, faktor resiko (+). Pernafasan pursed 

lips,Takipnea, dada emfisematous atau barrel chest 

dengan tampilan fisik pink puffer atau blue bloater, bunyi 

nafas vesikuler melemah, ekspirasi memanjang, ronki 

kering atau wheezing, bunyi jantung jauh. 

   Pemeriksaan penunjang antara lain: 

   Uji spirometri    merupakan gold standar akan tampak 

   FEV1 / FVC  < 70 %  

   Uji bronkodilator  (saat diagnosis ditegakkan) : FEV1 pasca 

bronkodilator  < 80 % prediksi 

   Uji coba kortikosteroid 

   Analisis gas darah dilakukan pada pasien dengan VEP1  < 

40% prediksi dan secara klinis diperkirakan gagal napas 

dan payah jantung kanan. 

 

 

PPOK (klasifikasi) 

Dalam penilaian derajat PPOK diperlukan beberapa 

penilaian seperti  

   Penilaian gejala dengan menggunakan kuesioner 

COPD Assesment Test (CAT) serta The modified 

British Medical Research Council (mMRC) untuk 

menilai sesak nafas; 

   Penilaian derajat keterbatasan aliran udara dengan 

spirometri 

   GOLD 1: Ringan: FEV1 >80% prediksi 

   GOLD 2: Sedang: 50% < FEV1 < 80% prediksi 

   GOLD 3: Berat: 30% < FEV1 < 50% prediksi 

   GOLD 4: Sangat Berat: FEV1 <30% prediksi 

   Penilaian risiko eksaserbasi 

Klasifikasi PPOK 

Katego

ri 

Karakter

istik 

Spirom

etri 

Eksaserbasi 

per tahun 

CA

T  

mMRC 

A Risiko 

rendah 

Gejala 

minimal 

GOLD 

1-2 

< 1 kali < 10 0-1 

B Risiko 

rendah 

Gejala 

banyak 

GOLD 

1-2 

< 1 kali > 10 > 2 

C Risiko 

tinggi 

Gejala 

minimal 

GOLD 

3-4 

> 2 kali < 10 0-1 

D Risiko 

tinggi 

Gejala 

banyak 

GOLD 

3-4 

> 2 kali > 10 > 2 

Terapi PPOK Sesuai Kelompok Pasien 

Patient 

Group 

First Choice Alternative Choice Other Possible 

Treatments 

A Short acting (SA) 

anticholinergic 

or 

SA beta2-agonist 

Long acting (LA) anticholinergik  

or  

LA beta2-agonist  

or  

SA beta agonis and SA anticholinergik 

Theophylline 

B LA anticholinergic  

or 

 LA beta2-agonist 

LA anticholinergic and LA beta2-agonist SA beta2-agonist and/or 

SA anticholinergic 

  

Theophylline 

C ICS + LA beta2-agonist 

or  

LA anticholinergic 

LA anticholinergic and LA beta2-agonist  

or  

LA anticholinergic and PDE-4 inhibitor  

or  

LA beta2-agonist and PDE-4 inhibitor 

SA beta2-agonist and/or 

SA anticholinergic 

  

Theophylline 

D ICS + LA beta2-agonist 

and/or 

 LA anticholinergic 

ICS + LA beta2-agonist and LA 

anticholinergic  

or 

 ICS + LA beta2-agonist and PDE-4 

inhibitor 

 or  

LA anticholinergic and LA beta2-agonist  

or  

LA anticholinergic and PDE-4 inhibitor 

Carbocysteine 

  

N-acetylcysteine 

  

SA beta2-agonist and/or 

SA anticholinergic 

  

Theophylline 

PPOK (terapi pada eksaserbasi akut) 

• Tata Laksana oksigen terkontrol, melalui kanul 

nasal atau venturi mask. 

• Bronkodilator: inhalasi agonis β2 + antikolinergik. 

Pada eksaserbasi akut berat:  + Aminofilin ( 0,5 

mg/kgbb/jam ) 

• Steroid: Prednisolon 30-40 mg PO selama 10-14 

hari. SteroidIV: pada keadaan berat. 

• Ventilasi mekanik. Indikasi: gagal nafas akut atau 

kronik. 

• Antibiotika terhadap S pneumonie, H influenzae, M 

catarrhalis 

 

 

Tuberculosis (diagnosis) 

Tuberculosis (tata laksana) 

Tuberculosis (evaluasi pengobatan) 

Tuberculosis (efek samping obat) 

Tuberculosis (drug induced hepatitis) 

   Bila gejala klinis (+) (ikterik, mual muntah)    stop OAT 

   Bila gejala klinis (+) disertai enzim hati ↑ >3x     stop 

OAT 

   Bila gejala klinis (-) disertai hasil laboratorium berikut: 

   Bilirubin >2    stop OAT 

   Enzim hati ↑ >5x    stop OAT 

   Enzim hati ↑ >3x    teruskan pengobatan dengan 

pengawasan 

 Bila klinik dan laboratorium normal kembali 

setelah penghentian OAT, maka tambahkan 

H (INH) dengan desensitisasi sampai 

dengan dosis penuh  lalu tambahkan 

rifampisin, desensitisasi sampai dengan 

dosis penuh sehingga menjadi RHES. 

Pirazinamid tidak boleh diberikan lagi 

Tuberculosis (koinfeksi HIV) 

   Dilakukan pemberian OAT selama 2-8 minggu 

awal selanjutnya diberikan bersamaan dengan  

ARV 

 

Pneumonia (klasifikasi) 

   CAP (Community acquired pneumonia)    Gejala 

muncul pada individu yang menjadi sakit di luar 

rumah sakit atau dalam 48 jam perawatan di rumah 

sakit.  

   Pneumonia typical (bacterial)    disebabkan oleh bakteri 

yang responsive terhadap B lactam  

   Pneumonia atypical    disebabkan oleh Mycoplasma 

pneumonia yang tidak sensitive pada penggunaan B 

lactam.  

   HAP(Hospital acquired pneumonia)    gejala 

pneumonia yang muncul selama perawatan di Rumah 

sakit dan munculnya > 48 jam perawatan 

Pneumonia (gejala dan 

pemeriksaan) 

   Gejala berupa 2 dari 3 gejala berikut: 

   Demam 

   Batuk dengan sputum yang produktif 

   Leukositosis 

   Pemeriksaan penunjang 

   Foto paru    infiltrat baru atau infiltrat yang 

bertambah  

   Identifikasi penyebab mikrobiologis dengan 

pewarnaan Gram sputum, kultur sputum, kultur 

darah 

 


Pneumonia (Tatalaksana) 

Keseimbangan Asam-Basa 



 

· PNEUMONIA ∙ 

 

Mikrobiologi Pneumonia 

Keadaan klinis  Etiologi 

Dapat dari komunitas  S. Pneumoniae, H. Influenzae, Mycolasma, 

Chamydia Legionella, M. catarrhalis, 

Klebsiell, batang gram negatif lainya, S. 

auereus, S, pyogenes, dan virus (namun 

tidak ada organisme yang dapat 

diindentifikasi pada 40%-60% kasus) 

Didapat di rumah sakit Batang gram negative yang meliputi 

pseudomonas, klebsiella, enterobacter, 

serratia,acinetobacter, dan s.aureus 

Gangguan kekebalan  Semua yan tersebut di atas + PCP, jamur , 

Nocardia, mikobakterium atipikal, SMV, 

HSV, 

Aspirasi  Pasien rawat jalan : flora mulut ( anaerob) 

Pasien rawat inap atau sakit kronis: batang 

gram negatif dan S.auereus. 

 

Manifestasi klinis:  

• ”Tipikal ”: demam dengan onset akut, batuk produktif atau sputum purulen, konsolidasi 

pada foto rontgen toraks. 

• ”Atipikal”: onset batuk kering yang tersembunyi, gejala ekstrapulmonal (mual, muntah, 

diare, nyeri kepala, mialgia, faringitis), pola interstisial dengan bercak-bercak pada foto 

rontgen toraks. 

• Walaupun perbedaan manifestasi ini digunakan secara klinis, studi menunjukann bahwa 

hal ini tidak dapat dipercaya untuk menentukan pemicu  patogen ”tipikal” 

(S.pneumoniae,H.influensae) vs.”atipikal”(mycoplasma,chamydia) 

Pemeriksaan diagnostik 

• Pewarnaan gram sputum : penggunanya masih duiperdebatkan, namun sensitivitas 

untuk pewarna gram yang baik yaitu  sebesar 85% . 

Apakah sempel sputumnya baik (cont:apakah sputum atau ludah)?→ sampel sputum 

yang baik seharusnya mengandung sel epitel <10 sel/LPB 

Apakah sempel purulen?→sampel purulen harusnya mengandung >25 PMN/LPB 

• Kultur sputum: (sampel harusnya dibawa ke laboratorium dalam waktu 1-2 jam setelah 

dikumpulkan) 

• Kultur darah (sebelum antibiotik): + pada ~10% pasien rawat inap  

• Foto rontgen toraks (PA dan lateral); efusi seharusnya diaspirasi! 

• SaO2 atau PaO2 

• Evaluasi laboratorium lainnya : pemeriksaan darah perifer lengkap dengan hitungan 

jenis, elektrolit, BUN/kreatinin, glukosa, kadar fungsi hati. 

• Pemeriksaan mikrobiologi khusus: 


Patogen aptikal : uji sebelumnya untuk mycoplasma (aglutinin dingin, sensitivitas 30-

60% 

Chlamydia (titer akut dan konvalesen ), dan legionella (Ag urine, sensitivitasi <70%) 

sekarang diganti dengan pcr  

Microbakterium tuberkulosis : sputum untuk pewarnaan tanah asam dan kultur 

mikrobakterium dan pasien dalam keadaan isolasi respiratorik HIV + atau imunosupresi 

yang diketahui : sputum yang terinduksi unuk PCP  

Virus : bilasan atau swab nasal untuk EIA tau DFA  

Uji HIV jika  pasien berusia antara 15-54 tahun dan rumah sakit mendapatkan lebih 

besar dari 1 kasus HIV baru tiap 1000 pasien yamg pulang  

• Bronoskopi : pertimbangkan pasien yang mengalami ganguan kekebalan, sakit kritis, atau 

gagal berespons, atau jika curiga mtb atau PCP dan memerlukan sampel yang adekut, 

atau jika pasien telah mengalami suatu pneumonia kronis. 

 

 

Skor, prognosis dan triase yang dianjurkan P.O.R.T 

Kelas Skor Mortalitas Triase yang dianjurkan 

I Usia <50, tanpa penyakit 

penyerta 

<1,0 % Pasien rawat jalan 

II ≤70 <1,0 % Pasien rawat jalan 

III 71-90 2,8 % ? pasien rawat inap 

singkat 

IV 91-130 8,2 % Pasien rawat inap 

) >130 29,2 % ICU 

Variabel Nilai 

Demografi Pria ( usia dalam tahun), wanita (usia-10),  residen pada rumah perawatan 

(+10) 

Penyakit lain 

yang 

mungkin ada 

Neoplasma (+30) penyakit hepar (+20),CHF(+10),CVA(+10), penyakit 

ginjal (+10) 

Pemeriksaan  Perubahan status mental (+20), RR>30(+20), SBP<90 (+20), suhu <35o 

atau 40o (+15), HR >125 (+10) 

Laburatorium  pH < 7,35 (+30), BUN >30 (+20), Na <130(+20), glukosa >250 (+10), 

Hematokrit < 30 (+10) , PaO2 < 60 atau SaO2 < 90 (+10) pleura (+10) 

(N.Engl j med 336 : 243, 1997 

 

   

Penatalaksanaan 

Skenario klinis  Pedoman penatalaksanaan empiris  

Pasien rawat jalan  Makrolit atau doksisiklin atau 

fluorokuinolon anti-pneumokokus (FQ) 

Dapat dari komunitas, bangsal perawatan,  [Sefalosporin generasi 2/3±makrolid] atau 

FQ spektrum luas 

Didapat dari komunitas, bangsal perawatan, 

ICU  

[makrolid + sefalosporingenerasi 3] + 

[aminoglikosida snti-pneumokokis (AG) 


+ makrolid jika curiga legionella  

+ vankomisin jiks curiga MRSA  

Gunakan kekebalan  Seperti diatas + TMP-SMX ± 

Aspirasi, pasien rawat jalan  Klindamisin atau [penisilin + 

metronidazol] 

Aspirasi, pasien, rawat inap  Klindamisin + PQ 

Rute terapi Pasei rawat inap sebaiknya diawali dengan 

antibiotik intravena penggantian rute 

pemberian obat dari intervena menjadi 

peroral dilakukan bila ada respon secara 

klinis dan pasien mampu menelan 

(biasanya dalam 3 hari)  

(jika  memungkinkan, terapi lansung tertuju pada organisme, sebaiknya digunakan 

panduan suseptibilitas in  vitro atau pola resistensi obat setempat)  

 

 

•INFEKSI SALURAN KEMIH• 

Definisi 

• Anatomi  

Bawah : uritritis, sistitis (infeksi superfisialis vesika urinaria), prostatitis  

Atas : pielonefritis (proses inflamasi parenkim ginjal), anses ginjal  

• Klinis  

Tanpa komplikasi : sistitis pada perempuan hamil kelainan neurologis atau struktural yang 

mendasarinya  

Komplokasi : infeksi saluran kemih atas atau setiap kasus ISK pada laki-laki, atau perempuan  

hamil, aau ISK dengan kelainan neurologis atau struktural yang mendasarinya 

Mikrobilogis  

• ISK tanpa kompliksi : E. Coli (80%), proteus, klebsiella, enterokokus  

• ISK dengan komplikasi : E. Coli (30%) enterokokus (20%), pseudononas (20%), S. 

Epidermidis (15%), batang gram negatif lainya. 

• ISK yang berhubungan dengan kateter : jamur (30%), E . coli (25%), batang gram 

negatif lainya, enerokokus, S.epidermis  

• Uritritis : chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae 

Manifestasi klinis  

• Sistitis : piuria urgensi, frekuesi ↑, perubahan warna/ bau urine, nyeri suprapublik; 

demam biasanya tidak ada. 

• Uretritis : mungkin mirip dengan sistitis kecuali adanya discharge uretra 

• prostatitis: serupa dengan sistitis kecuali gejala obstruksi orifisium uretra (cont: hestansi, 

aliran lemah). 

• Pielonefrritis : demam, menggigil, nyeri punggung atau bokong, mual, muntah, diare 

• Abses ginjal (intrarenal atau perinefrik); serupa dengan pielonefritis kecuali demam 

menetap mestipun di obati dengan antibiotik. 

 



• Urinalisis : piuria + bakteriuria ± hematuria 

Hidung bakteri bermakna:≥105 unit koloni/ml pada perempuan yang asimtomatik.≥103 

unit koloni/ml pada laki-laki ≥102 unit koloni/ml pada pasien  simtomatik atau dengan 

karakter piuria steril →uretritis , tuberkulosis ginjal, benda asing. 

• Kultur dan pewarnaan gram urine ( dari urine porsi tengah atau spesimen lansung 

dari katater) 

• Pada perempuan hamil dan pasien yang menjalanin pembedahan urologi lakukan 

skrining terhadap bakteriuria asimtomatik 

• Kultur darah : pertibangkan pada ISK dengan komplikasi  

• Deteksi DNA atau kultur terhadap C. Trachomatis, N.gonorrhoeae pada pasien yang 

kegiatan seksualnya aktif atua pada piuria steril 

• Spesimen urine porsi pertama dan porsi tengah, pemijatan prostat, dan spesimen urine 

pascapijatan prostat pada kasus-kasus kecurigaan prostatitis  

• CT scan abdomen untuk menyingkirkan abses pada pasien pielonefritis yang demamnya 

tidak turun aetelah 72 jam  

• Tindakan diagnostik urolohi (USG ginjal, CT abdomen, sistografi berkemih) jiks ISK 

berulang pada laki-laki 

 

Penatalaksanaan ISK 

Skenario klinis  Pedoman pelaksanaan empiris  

Sistitis  TMP-SMX atau FQ PO selama 3 hari (tanpa komplikasi) atau selama 

10-14 hari (komplikasi) 

Bakteriuria asimtomatik pada perempuah hamil atau pernah mengalami 

pembedahan urologi sebelumnya →antibiotik selama 3 hari    

Uretritis  Tangani untuk Neisseria dan ChlaMydia  

Neisseria; seftriakson 125 mg IM x 1 atau ofloksasin 400 mg PO x 1 

Chlamydia; doksisiklin 100 mg PO x 7 d atau aztromisin 1 g PO x 1  

Prostatitis  TMP-SMX atau FQ PO x 14 – 28 hari (akut) atau 6-12 minggu (kronis)  

Pielonefritis  Pasien rawat jalan; FQ atau amoksilin/klavulanat atau sefalosporin 

generasi I PO selama 14 hari  

Pasien rawat inap; [ampisilin IV + gentamisin] atau 

ampisilin/sulbaktam atau FQ selama 14 hari  

(perubahan IV→PO jika  pasien secara klinis membaik dan tidak 

demam selama 24-48 jam dan kemudian diselesaikan dengan 

pemberian selama 14 hari)  

Abses ginjal  Drainase + antibiotik seperti pada pielonefritis  

(jika  memungkinkan, terapi langsung ditunjukan pada organisme, dapat digunakan 

panduan suseptibilitas in vitro dan pola resistensi obat setempat 

 

∙ INFEKSI TULANG DAN JARINGAN LUNAk∙ 

 

 

Selulitas 

Definisi  

• Infeksi superfisial dan protunda pada dermis dan lemak subkutan 

Mikrobiologis  

• Streptococcus dan stphylococcus (pemicu  yang lebih jaarang) 

Manifestasi klinis 

• Eritema, edema, hangat  

• ± limfadenitis (goresan merah di proksimal) limfadenopati regional  

Diagnosis 

• sebagian besar berdasarkan diagnosis kelinik; asirasi jarum dan kultur darah memiliki 

hasil < 5%  

Penatalaksanaan  

• Antibiotik (biasanya sefalosprin generasi 1 atau penisilin resisten penisilinase) + elevasi 

(mungkin menjadi buruk setelah memulai antibiotik sebab  perubahan bakteri→ 

pelepasen enzim inflamasi) 

 

”KAKI DIABETIKUM” 

 

Definisi  

• Ulkus kaki neuropatik yang mengalami infeksi  

  Ringan = superfisialis, tidak ada sandi atau tulang yang terkena  

  Mengancam jiwa atau ekstremitas = profunda, mengenai sandi dan tulang, toksisitas 

sistemi, atau iskemik pada ekstremitas  

Mikrobiologi  

• Ringan : biasanya S. Aureus atau strepyokokus aerobik 

• Mengancam jiwa atau ekstremitas: Polymicrobial dengan aerob + anaerob 

  Aerob: stafilokokus, enterokokus, dan batang gram negatif lainya (termasuk    

Psedomonas) 

Anaerob: stafilokokus anaerob, Bacteriodes, Clostridium (jarang) 

Manifestasi klinis   

• Ulkus dengan eritema dan hangat di sekelilingnya ± drainase purulenta  

• Rasa nyeri mungkin tidak ada sebab  neuropati  

• ± kripitasi → gas →infeksi campuran dengan batang gram negatif dan anaerob atau 

infeksi Clostridium  

• ± osteomielitis yang mendasarinya  

• ± Toksisitas sistemik ( demam, mengigil, leukositosis, hiperglikemia) 

Pemeriksaan diagnosis   

• Apusan superfisial ulkus tidak berguna (mungkin mendeteksi secara sederhana organisme 

yang berkoloni di superfisia  


• Kultur luka (cont : kuretase pada dasar ulkus setelad debridemam) memiliki ↑ sensitivitas 

terhadap organisme yang menginfeksi 

• Kultur darah (seharusnya dilakukan pada pasien, + pada 10-15 % pasien) 

• Osteomielitis seharusnya selalu disingkirkan ( lihat dibawah untuk uji pencitraan 

spesifik) pemeriksaan tulang ( kemampuan untuk mencapai tulang melalui ulkus/trakus) 

memiliki spesifisitas yang tinggi namun sensitivitasnya rendah. 

Spesimen biopsi tulang paling dapat dipercaya     

Penatalaksanaan ( N Engl J med 331 : 854, 1994) 

• Tirah baring, status tanpa beban berat badan 

• Antibiotik 

Berat infeksi Antibiotik Empiris 

Ringan  Sepalosporin generasi 1 atau penisilin resisten – penisilinase  

Mengancam 

ekstremitas  

FQ + klidamisin atau ampisilin-sulbaktam atau tikarsilin-klavulanat atau 

sefoksitin atau sefotetan 

Mengancam jiwa  Imipenem atau vankomisin + aztreonam + metronidazol atau ampisilin-

sulbaktam + AG 

• Pembedaah: dilakukan secara dini, agresif, dan debridemam bedah yang berulang, 

amputasi mungkin diperlukan. 

 

FASITIS NEKROTIKANS 

Definisi 

• Infesi dan nekrisis fasia superfisialis, lemak subkutan, dan fasia profunda (nekrosis 

arteri dan saraf pada lemak subkutan→gangren) 

• Gangren Foumier: fasitis nekrotikans pada genitalia laki-laki ( digunakan oleh beberapa 

penulis untuk menggambarkan terkenanya perineum perempuan atau laki-laki)   

Epidemiologi 

• ↑ Resiko pada pasien diabetes, PVD, pecandu alkohol, pengguna narkoba intravena, 

imunosupresi, sirosis  

• Dapat pula mengenai individu yang sehat  

Mikrobiologi  

• Kelompok I ( dinding abdomen dan perinium): polimikroba (anaerob + anaerob fakultatif 

+ batang gram negatif) 

• Kelompok II (ekstramitas) : stretococcus pyogenes ± stafilokokus 

• Kelompok III: infeksi vibrio marine 

Manifestasi klinis  

• Tempat infeksi yang paling sering yaitu  ektramitas, dinding abdomen,dan 

psrineum,namun dapat terjadi di mana saja 

• Perubahan kulit berupa selulitis  dengan batas yang sangat tidak jelas, menyebar dengan 

cepat yg diikuti dengan tanda toksisitas sistemik + nyeri melebihi derajat selulitis yang 

tampak,kulit menjadi hiperestetik atau anestetik                                                                                            

Terbentuk bula (serosa →hemoragik); kulit jadi gelap hingga abu-abu kebiruan → 

gangren  

Kutis ± krepitas atau udara yang terlihat secara rediografik  

Tanda Diagnostik 

• Memerlukan kecurigaan klinis drajat tinggi sebab  pemeriksaan fisik yang non-spasifik 

• Aspirasi pada pusat nekroris; kultur darah  

• Pemeriksaan pencitraan: foto polos → udara pada jaringan lunak; CT scan →infeksi yang 

meluas, udara jaringan lunak; MRI → kontas jaringan yang paling baik 

• Diagnosis klinis cukup untuk mengawali eksplorasi pembedahan yang urgen  

Penatalaksanaan  

• Penanganan definitif yaitu  debridemam bedah dari jaringan nekrotik dan fasiotomi 

• Antibiotik spektrum luas agar bisa mencakup flora kulit, enterokokus, enterik gram 

negatif; dan anaerob (cont: klidamisin + panisilin + AG) 

• Oksigen hiperbarik : mengkin bermanfaat untuk membatu terapi, namun sebaiknya 

tidak menunda penanganan pembedahan definitif 

Prognosis 

• Secara umum fatal jika  tidak diobati; mortalisis yang dilaporkan 20-50% 

 

MIONEKROSIS KLOSTRIDIUM (GAS GANGREN) 

 

Definisi  

• Infeksi klostridium pada otot rangka yang mengancam jiwa dan fulminan  

• Biasanya truma otot + luka terkontaminasi bahan yang mengandung spora 

klostridium  

Manifestasi klinis  

• Masa inkubasi 6 jam hingga 2-3 hari  

• Onset akut dengan rasa berat atau nyeri yang intensitasnya bertambah dengan cepat 

disertai toksisitas sistematik yang jelas 

• Diskolorasi pada kulit warna perunggu dengan bula yang tegang yang mengandung 

cairan serosanguinosa atau cairan gelap dan daerah nekrosis 

• Krepitas muncul  namun tidak menonjol (seperti udara dalam otot ) dan mungkin 

dikaburkan dengan edema yang menonjol  

Pemeriksaan Dioagnosis 

• Pewarna gram pada discharge dapat mengandung basil gram positif yang besar 

dengan ujung tumpul namun sangat sedikit mengandung PMN  

• Bakteremia klostridium pada ~ 15% 

• Foto rontgen polos : gambaran diseksi udara di dalam otot 

Penatalaksanaan  

• Eksplorasi pembedahan dengan debridemam pada otot yang terkena, fasiotomi, dan 

amputasi bila perlu  

• Antibiotik: penisilin G dosis tinggi 24 MU IV bibagi tiap 2-3 jam + klindamisin 900 

mg IV tiap 8 jam  

• Oksigen hiperbarik 

 

OSTEMIEITIS 

Definisi  

• Infeksi pada tulang sebab  penyebaran hematogen atau penyebaran langsung dari fokus 

yang berdekatan 

Mikrobiologis (N Eng J med 336: 999,1997) 

• Hematogen : S. Aureus 

• Fokus berdekatan sebab  fraktur terbuka, bedah ortopedi, contoh : S. Aureus dan S. 

Epidermidis 

• Fokus berdekatan + insufisiensi vaskular (seperti kaki diabetikum): polimikrobial (kokus 

gram positif dan batang gram negatif aerob dan anaerob)   

Manifestasi klinis  

• Lemahnya jaringan lunak di sekitar ± fistula ke kulit superfisial  

• Osteomielitis vertebra (manifestasi yang paling sering pada orang dewasa pada berusia 

diatas 50 tahun ) ; nyeri punggung dan demam  

• ± demam, malise, dan keringat malam ( lebih sering pada penyebaran hematogen 

dibandingkan dari tempat yang berdekatan) 

Pemeriksaan diagnostik  

• Identifikasi organisme pemicu  merupakan kunci utama 

• Data kultur dari jaringan ( yang spesimennya di ambil melalui pembedahan atau 

biopsi jarum) bukan dari usapan ulkus atau fistula  

• Kultur darah (  lebih sering positif pada osteomielitis hematogenik akut) 

• Pencitraan  

Foto rentgen polos: normal pada awal penyakit, lesi litik terlihat setelah 2-6 

minggu  

CT scan dapat menunjukan reaksi periosteum dan kortikal serta destruksi daerah 

medularis  

MRY: dapat mendeteksi perubahan yang sangat dini  

Pencitraan radionuklir: sangat sansitif namun tidak spesifik (positif palsu bila ada 

peradangan jaringan lunak yang mendasarinya) 

Penatalaksanaan 

• Antiboitik (berdasarkan pada data kultur) X 4-6 minggu 

• Pembedahan sebaiknya dipertimbangkan untuk hal berikut: osteomielitis vertebral 

piogenik ( seperti : kompresi medula spinalis, abses, epidural); atau prostesis yang 

terinfeksi  

 

٠MENINGITIS٠ 

MENINGITIS BAKTERIAL AKUT 

Definisi 

• Infeksi bakteri pada ruang subaraknoid 

 

Mikribiologi Meningitis pada Orang Dewasa  

Etiologi  Keterangan  

S. Pneumoniae 

(30-50%) 

pemicu  paling sering pada orang dewasa. Cari penyebaran infeksi ( i.e,trias 

Osler : meningitis, pneumonia, endokarditis)  

N. 

maningitidis 

(10-35%) 

Terutama pada anak-anak dan dawasa muda; mungkin berhubungan dengan 

ruam berupa peteki atau purpura. Defisienisi pada  pada komponen 

komplemen terminal yang merupakan faktor predisposisi menigokoksemia 

rekuren, dan lebih jarng, meningitis 

 

H. influenzae  

( < 5% ) 

↓ insiden pada anak-anak sebab  vaksin H.influenzae tipe b. Cari faktor 

pencetus pada orang dewasa (seperti kebocoran LCS, prosedur bedah saraf 

yang baru dilakukan, trauma, mastoiditis) 

 

 

L. 

monocytogenes 

(5-10%) 

Terjadi pada orang tua, pecanco alkohol, atau pasian dengan keganasan, 

imunosupresi, atau kelebihan zat besi. Wabah dihungkan dengan susu yang 

terkontaminasi, keju, kubil kol, sayuran mentah, selain yang disebutkan, 

sering dihubungkan dengan pleositosis poli-predominan  

Batang gram 

negatif ( 1-

10%)  

Biasanya nosokomial, pasca-tindakan, pada orang tua atau yang tanggap 

imunnya lemah  

Stafilokokus 

(5%) 

Terlihat pada pemasangan pirau LCS indwelling (S. Epidermidis) atau setelsh 

menjalani bedah saraf mengikutinya atau truma kapitis (S.auerus) 

Infeksi 

campuran  

Curiga fokus paramenigeal 

 

Manifestasi Klinis  

• Demam (95%) 

• Nyeri kepala, lehar kaku (85%) dan fotosensitif 

• Perubahan setatus mental (80%) termasuk delirium, penurunan kesadaran, konfusi, 

letergi, kejang  

• Penampakannya mungkin atipikal pada pasien tua, dengan letergi dan konfusi primer, 

dan tanpa demam 

Pemeriksaan fisik 

• Kaku laher tanda kernig ( pasien supinasi dengan finggul fleksi pada 900, dan lutut fleksi 

pada sudut 900 positif apbila ekstansi pasif pada lutut menghasilkan tahanan);  tanda 

Brudzinski ( pasien supinasi dan ekstremitas supinsi; positif jika  fleksi lehar 

pasif→fleksi lutut dan/ atau pinggul secara involuter); catatan, tanda kernig dab 

Bruzinski positif hanya pada lebih kurang 50% pasien  

• ± temuan neurologik fokal ( hemiparesis, afsia, menyempitnya lapangan pandang, palsi 

saraf kranialis) 

• ± Papiledema 

• ± Raum kulit : makula-papular, peteki, atau purpura 

Pemeriksaan diagnostik 

• Punksi lumbal : pewarnaan gram pada CCS memiliki sesitivitas 60-90% dan kultur 

memiliki sensitivitas 70-80% 

Pertimbangkan Ct scan kepala sebelum LP jika  ada  ganguan neurologik fokal,     

papilledema, atau pasien koma 

Temuan CSS pada meningitis  

Kondisi Tampilan Tekanan (cm) WBC/mm3 

tipe 

predominan 

Glukosa 

(mg/dl) 

TP (mg/dl) 

Normal Jernih 9-18 0-5 

limfosit 

50-75 15-40 


Bakterial Berkabut 18-30 100-10,000 

PMN 

< 45 100-1000 

TB berkabut 18-30 < 500 limfosit < 45 100-200 

Fungal berkabut 18-30 <300 limfosit < 45 40-300 

Aseptik Jernih 9-18 < 300 PM → 

limfositr 

50-100 50-100 

Tekanan pembuka > 45 cm beresiko tinggi terjadinya herniasi sehingga hanya 

ambil CSS pada manometer dan infuskan larutan manitol 20 % (0,25-0,5 g/kg) IV 

selama 20-30 menit  

• Pemeriksaan CSS tambahan tergantung pada kecurigaan klinis : pewarnaan tahan asam 

dan kultur, pewarnaan preparat india, atigen kriptokokus (CRAG), kultur fubgsi, PCR ( 

seperti:HSV); kegunaan asai aglutinasi yang masih dipertanyakan  

• Kultur darah  


 

( Langkah 1 tempatkan penggaris pada daris baca untuk pasien dan bulan munculnya gejala 

dan tandai garis potongnya dengan garis A. Langkah 2. tempatkan penggaris pada nilai untuk 

gulukosa dan PMN total dalam LCS dan tandai garis potongnya dengan garis B. Langkah 3. 

gunakan penggaris untuk menghubungkan tanda-tanda tersebut pada garis A dan B, 

kemudian baca kemungkinan pada ABM vs AVM. Digunakan atas ijin dari spanos, A, H, 


harrel, F E, E Jr, Drurack,D.T differentail diagnosis of acute meningitis. JAMA 262 

:2700,1989.© 1989,AMA).    

 

   

 

 

Penatalaksanaan meningitis 

Skenario 

klinis  

Pedoman penatalaksanaan empiris  

Dewasa 

normal 

Sertriakson 2 g IV setiap 12 jam atau sefotaksim 2 g IV setiap 4-6 jam + 

Vankomisin 1 g IV setiap 12 jam ( pada kasus pneukokokus resisten 

sefalosporin) 

+ Apisilin 2 g  IV setiap 4 jam jika  curiga Listeria  

kloramfenikol + TMP/SMX + Vankomisin jika  alergi ß-laktam  

Ganguan 

imun  

Apisilin + dseftazidim ± vankomisin  

Pirrau CSS, 

baru 

menjalani 

bedah saraf, 

atau trauma 

kapitis 

Vankomisin + sefazidim 

Antibiotik empiris sebaiknya diawali sesegera mungkin. jika  berkanaan dengan ↑TIK, 

kemudian periksa kultur darah →mulai antibiotik empiris → lakukan CT scan kepala → LP (jika 

tidak ada kontraindikasi); hasil cairan CSS mungkin tidak mengalami perubahan jika  

didapatkan dalam waktu kurang lebih 4 jam dari pemberian antibiotik pertama kali 

Kortikosterroid: tidak ada bukti yang meyakinkan untuk pengguna rutin pada orang dewasa 

namun, jika  TIK ↑, edema serebri, stupor atau koma, pertimbangkan pemberian 

deksametason 1 g IV setiap 6 jam selama 4 hari 

Profilaksi : rifampin (600 mg PO 2x1x2 hari) atau siprofloksasin (500 mg PO dosis tunggal) 

untuk kontak dekat pada pasien dengan meningitis meningkokus 

(jika  memungkinkan, terapi langsung terhadap organisme, dapat digunakan paduan 

suseptibilitas in vitro atau pola resistensiobat setempat)  

 

Prognasis  

• Motartlitas di dalam rumah sakin 25% untuk menigitis yang didapat dari komunitas dan 

35 % untuk meningitis nosokomial 

 

 

MENINGITIS ASEPTIK 

Definisi  

• Data mikrobiologi negatif untuk bakteri,  pleositosis pada CSS tanpa predominasi 

PMN  

• ”Aseptik” yaitu  istilah yang salah, hanya dipakai untuk menyatakan kecilnya 

kemungkinan meningitis bakterial akut, walaupun hal ini tetap saja bisa disebabkan oleh 

etiologi yang enfeksius maupun yang noninfeksius. 

 

 

Etiologi 

 

• Virus: eneterovirus, HIV, HSV, (tipe 2 lebih sering  dari pada 1), gandongan, virus 

koriomeningitis limfoksitik, virus esefalitis (seperti: Eastern, wastern, St. Louis, 

California), adenovirus, SMV, EBV 

• Tuberkulosis, fungsi, spirochaeta (penyakit Lyme, sifilis, leptospirosis), riketsia, 

Coxiella, Ehrlichia 

• Meningitis bakterial dengan pengobatan yang tidak tuntas  

• Fukos infeksi parameningeal (seperti : abses otak, abses epidual, tromboflebitis septik 

pada sinus venosa duramater, atau empiema subdural) 

• Obat – obatan : TMP/SMX, NSAID, penisilin, isoniazid 

• Penyakit sistemik: SLE, sarkoidosis, sendrom Behcet, sindrom Sjogren, arthritis 

reumatiod 

• Neoplasma : tumor intrakranial (atau kista), meningitis limfomatosa atau korsinomatosa 

 

• ENDOKARTIDIS BAKTERIALIS• 

Definisi 

• Infeksi edotelium jatung (termasuk namun tidak terbatas pada katup) 

• Akut (ABE): infeksi pada katup normal dengan suatu organisme virulen (seperti : 

S.aureus) 

• Sabukat (SBE): infeksi lamabat pada katup abnormal dengan organisme yang kurang 

virulen (seperti. S.viridans) 

Kondisi pendukung  

• Katup abnormal: penyakit katup jantung rematik, MVP dengan MR, klasifikasi katup 

aorta atau bikuspid, prostesis 

• Resiko bakteriemia abnormal : pengguna narkoba intravena, pemasangan kateter vena 

indwelling 

 

Kriteria Duke 

Mayor  Minor  

• Bakteremia yang menetap sebab  

suatu organisme yang diketahui 

memicu  endokarditis 

• Terkenanya endokardium yang 

diketahui baik dari: ekokardiogram( 

vegetasi, abses perforasi katup, 

prostesik terbuka) atau regurgitasi 

katup baru yang dipatiskan  dengan 

jelas 

• Kondisi pendukung (lihat diatas) 

• Demam  

• Fenomena vaskural : arterial septik 

atau emboli paru, aneurisma mikotik, 

perdarahan intrakranial, lesi janeway 

• Fenomena imun: glomerulonefritis, 

nodus osler, bercak Roth, faktor 

reumatiod 

• Kultur darah + tidak sesuai denga 

kriteria mayor 

• Ekokardiogram + tidak sesuai dengan 

kriteria mayor 

Diognisis definitif (kemungkinan besar) jika 2 kreteria mayor, atau 1 kreteria mayor +3 kreteria 

minor, atau 5 kreteria minor 

(Am J med 96:200,1994) 

 

Mikrobiologi pada endokarditis 

Endokarditis katup asli (NVE) Endokarditis katup prostetik 

(PVE) 

 

 

Etiologi Bukan 

pengguna 

narkoba 

interavena 

Pengguna 

narkoba 

intravena 

Awal (< 6 bulan 

pascaoperasi) 

Lanjut (>6 

bulan 

pascaoperasi) 

S. viridans 50% 10% <10% 35% 

Sterptokokus 

lainya 

5% <5% <5% <5% 

Enterokokus 10% 8% <5% 10% 

S. aureus 20% 60% 15% 10% 

S.epidermidis 5% <5% 40% 20% 

Batang gram 

negatif 

< 5% 10% 10% < 5% 

lainya < 5% < 5% 10% 10% 

Kultur negatif < 5% < 5% < 5% < 5% 

Kultur negatif = steptokokus defisiensi-zat gizi, HACEK (Haemophilus Parainfluenzae dan 

Aphrophilus, Cardiobacterium, Eikenella, dan kingella), Bartonella, Coxiella, Chlamydia, 

Legionella, Brucella 

Diadaptasi dari karchmer,A,W. Infective Endocarditis. In Braunwald, E., ed,. Heart Disease, ed. 

Ke -5, 

Philadelphia: W B Saunders Company, 1997.) 

 

Manifestasi klinis 

• Bakterimania persisten : demam (80-90%), anoreksia, penurunan berat badan, fatigue  

• Infeksi perivalvular atau valvular: regurgitasi katup baru, abnormalitas hamtaran, 

gagal jatung kongestif 

• Emboli septik: lesi janeway, emboli sistematik (seperti pada SSP, ginjal, lien, atau sendi) 

emboli paru (dengan endorditis sisi kanan) aneurisme  mikotik, Ml ( embolus arteri 

koronaria) 

• Fenomena kompleks imun: Nodus Osler, artritis, glomerulonefritis, RF +, ESR ↑ 

Pemeriksaan fisik 

• HEENT : bercak roth (perdarahan retina dengan bagian tengahnya pucat ) peteki 

(konjungtiva, palatum) 

• Jantung : regurgitasi valvular ± thrill ( ruptura korda tendinea atau valvular fenestrata), 

prostetik bergetar, bunyi katup, gesekan perikardium. Pemeriksaan berkala terhadap bukti 

perubahan murmur,dsb. 

• Abdomen : splenomegali yang nyeri tekan  

• Eksremitas 

Lesi janeway, (tiadak nyeri, makula hermoragik pada telapak tangan dan kaki) 

Nodus Osler (nodul nyeri pada bantalan jari) 

Hermoragik spliner proksimal bantalan kuku clubbing ( jari tubuh) 

 

 

Pemeriksaan diagnosis 

• Kuktur darah ( sebelum melalui antibiotok) : piling sedikit 3 set ( botol aerobik dan 

anaerobik) dari dari tempat yang berbeda, idealnya ditempatkan paling sedikit stu jam 

terpisah. Periksa pengawasaqn kultur darah (paling sedikit 2 set) setelah antibiotik yang 

tepat mulai diberikan untuk mencatat klirens, ulangi setiap 24-28 jam sampai hasilnya 

negatif  

• Hitung darah lengkap dengan hitung jenis,LED, faktor reumatoid, BUN, kreatinin, 

urinalisis dan kultur urine 

• Elektrokardiaogram (ketika dirawat dan pada interval reguler ); untuk menilai 

abnormalitas hantaran yang baru. 

• Ekokardiogram: pertama-tama mencari TTE : pertimbangkan TEE jika   (1) TTE 

non-diagnostik; prostetik; atau, (3) curiga infeksi yang progresif atau invasit 

(seperti:bakteremia persisten atau demam, abnormalitas hantaran yang baru, pirau 

intrakadiak,dll) 

 

Sensitivitas  Metode  

NVE PVE Abses  

Transtoraksikus (TTE) 50% 36% 28% 

Transesofagus(TEE) >90% 82% 87% 

(Ches 100:352:1991; Eng J Med 324:795,1991; J Am Coll Cardiol 

18;391,dan AM J Cardiol 71:201,1993 

Penatalaksanaan  

• Cari dula data kultur  

ABE→antibiotik sebaiknya dimulai tepat setelah data kultur diperoleh 

SBE→jika  hemodinamika pasien stabil, antibiotik mungkin ditunda untuk 

pemperoleh data kultur darah yang akeuat dan lebih tepat, terutama pada kasus yang 

belum diberikan antibiotik 

• Terpi empiris yang dianjurkan  

ABE katup asli:[nafsilin + gentamisin] atau [vankomisin +gentamisin] jika  prevalensi 

MRSA tinggi 

SBE katup asli : panisilin/ampisilin + gentamisin  

Katup prostetik: vankomisin + gentamisin + rifampin 

• Atur rigmen antibiotik berdasarkan organisme pemicu  dan sesitivitasnya  

• Ulagi kultur darah 4 kali hingga pasien bebas demam  

• Demam mungkin tetap tinggi hingga minggu pertama setelah pemberian terapi antibiotik 

yang tepat  

• Antukoagulasi sismetik merupakan kontraindikasi relatif terhadap resiko kejadian emboli 

serebri hemoragik 

• Durasi terpi biasanya 4-6 minggu (dengan pengguna AG hanya untuk 2 minggu pertama 

), kecuali pada kasus endokarditis sisi kanan tanpa komplikasi, yang pada 2 minggu 

terapi akan mendapatkan hasil yang berdeda  

Indikasi pembedahan  

• Keputusan untuk memulai pembedahan sering kali sulit dan perlu melalui kolaborasi 

yang cermat dengan ahli bedah sejawat. Secara umum, cobalah untuk memberikan 

atibiotik selama mungkin dengan harapan penurunan insiden munculnya kembali infeksi 

pada prostesis, dan juga meningkatkan integritas struktural jaringan yang akan menerima 

prostesis tersebut 

• Emboli septik serebri sering dipertimbangkan sebagai suatau kontraindikasi untuk 

melakukan pembedahan segera sebab  tingginya resiko konversi perdarahan selama 

operasi bypass kardiopulmonal sema 10 -14 hari pertama  

• Indikasi untuk pembedahan  

Gagal jatung kongestif refrakter (yaitu: walaupun ada terpi medis maksimal , setingkat 

ICU) 

Infeksi yang refrakter atau menetap (seperti kultur darah + setelah satu minggu 

dengan antibiotik intravena yang sesuai) 

Inveksi yang invasif (seperti abses berbentuk cicin, defek hantaran yang memburuk) 

Katup prostetik, terauma dengan malfungsi atau terbukanya katup atau infeksi S. 

Aureus 

Emboli sistematik yang rekulen 

Infeksim jamur  

 

Profilaksis Edokarditis  

Keadaan jantung  Resiko tinggi: katup prostetik, riwayat endokarditis, penyakit jantung 

kongenital sianotik yang komplek, pirau atau saluran pulmonik sistemik 

yang dibuat  dengan pembedahan 

Resiko sedang: kebanyakan jatung kongenital lainya, penyakit katup 

jantung didapat katup aorta bikuspidalis,MVP dengan kuspid yang menebal 

atau regurgitasi,HCM 

Prosedur  Gigi: ekstraksi, prosedur periodontal, iplantasi, salutan akar pembersihan  

Pernapasan: bedah pada mukosa repiratorik, bronkoskopi rigid 

Saluran cerna : skleroterapi dilatasi esofagus, ERCP dengan obstruksi 

kandung empedu, bedah usus atau traktus, biliaris  

Saluran kemih: bedah prostat, sistoskopi, dilatasi uretral  

Regimen  Prosedur gigi, pernapasan, atau saluran cerna  

Amoksilin 2 g 1 jam sebelumnya  

(klindamisin 600 mg jika alergi pinisilin) 

Saluran cerna/kemi + kondisi berisiko sedang 

Amoksisilin 2 g 1 jam sebelumnya atau ampisilin 2 g IM/IV dalam 30 

menit tindakan  

(Vankomisin 1 g IV jika alergi penisilin) 

Saluran cerna/kemih + kondisi berisiko tinggi  

ampisilin 2 g IM/IV + gentamisin 1,5 mg/kg dalam 30 menit tindakan 

diikuti dengan ampisilin 1 g IM/IV atau amoksisilin 1 g PO 6 jam 

kemudian  

(vankomisin 1 g IV + gentamisin seperti diatas bila alergi penisilin)  

(JAMA: 277: 1794, 1997)  

  

•TUBERKULOSIS• 

Epidemiologi   

• Prevalensi di amerika serikat : 10-15 juta orang: perkiraan prevalensi penyebaran 

diseluruh dunia 1,7 milyar orang  

• ↑ insiden di amerika serikat antara tahun 1984 dan dan 1992 sebab  HIV, kemiskinan, 

gelandangan, imigrasi, dll 

• insiden populasi yang tinggi: terlahir asing, pelayanan medis yang tidak adekut, penghuni 

rumah perawatan/penjara, beberapa pekerja perawatan kesehatan 

• risiko pupulasi yang tinggi : berkontak dengan pasien yang berinfeksi, HIV + atau 

imunodefisiensi lainya, gagal ginjal kronis, diabetes melitus, IVDA, alkohlik, malnutrisi 

Mikrobiologi dan patogenesis 

• Penyebaran Mycobacterium tuberculosis melalui partikel kecil aerosol (seperti: nuklei 

droplet) 

• 90% dari penjamu normal yang terinfeksi tidak akan pernah berlanjut menjadi penyakit 

yang terbukti secara klinis, 10% lagi akan berlanjut  

• risiko reaktivitas (setelah konversi PPD) yaitu  ~2 % tahun selama 2-3 tahun pertama 

setelah infeksi  

Gambar 6.2. Patogenesis Penyakit TB 

inti droplet yang mengandung kuman TB

replikasi pada lobus dependen

reaksi lokal

penyebaran

 limfatik

penyembuhan

kalsifikasi

TB  progresif

primer

pneumonia

kavitas

efusi

penyebaran hematogen

sembuh

infeksi laten

reaktivitas TB

apikal

limfatik

tulang

meningeal

saluran cerna/kemih

milier

TB progresif

apikal

limfatik

meningeal

milier

penyembuhan

cepat

 

(Courtesy of Nesli Basgoz, MD,MGH) 

  

Skrining terhadap infeksi 

• Orang yang perlu diskrining : populasi ysng tinggi prevalensi dan risikonya  

• Cara melakukan skrining : uji tuberkulin Mantoux (seperti: purified derivative atau 

PPD) suntikan 5-TU (0,1ml) PPD kekuatan sedang intradermal →benjolan; periksa 

dalam 48-72 jam  

• Cara menginterpretasikannya: menentukan diameter maksimal pada indurasi dengan 

palpasi ≥5mm +: kontak dengan pasien infeksius; rontgen toraks foto TB lama yang 

sudah sembuh; HIV + atau tak diketahui namun berisiko tinggi 

≥10mm +: populasi berisiko tinggi atau prevalensi tinggi  

 ≥15mm +: semus orang  

negatif palsu : aplikasi yang salah, anergi.TB primer yang baru terjadi (10-25% awalnya 

negatif), infeksi akut non-TB, keganasan 

positif palsu: pembacaan yang tidak tepat, reaksi silang dengan penyakit atipikal, dalam 2 

tahun vaksinasi BCG (walaupun biasanya <10mm) 

• Efek booter:↑ indurasi sebab  penguatan imunologi yang ada melalui uji kulit 

sebelumnya pada seorang individu yang pernah tersensitisasi (misalnya infeksi) uji ini 

bisa dari negatif menjadi positif, namun hal ini bukan berarti suatu konversi nyata akibat 

infeksi yng baru saja ter jadi. Uji kedua yaitu  kondisi dasar pasien yang benar, efek 

booster dapat terlihat sapai 1 tahun setelah uji kulit yang pertama kali dilakukan 

Manifestasi klinis 

• Pneumonia tuberkulosis primer: kondisi lodus interior atau media, efusi ±, kavitas ±  

• Tuberkulosis pleura: dapat terjadi bersamaan dengan penyakit primer atau yang 

mengalami reaktivasi. sebab  pecahnya granuloma  sehingga isinya tumpah kedalam 

kavum pleura dan terjadi peradangan setempat, efusi paru ± efusi paru perikardium dan 

perikardium dan peritoneum (tuberkulosis poliseroitis) 

• Penyakit tuberkulosis paru reaktivasi: jaringan parut apikal + kavitasi 

• Tuberkulosis milialis: onset akut atau perlahan; penyebaran luas sebab  bersifat 

hematogenik biasanya pada pasien yang mengalami gangguan kekebalan, diabetes, 

alkoholik, atau pasien kurang gizi. Gejala konstitusional (demam, keringat malam, 

penurunan berat badan) menonjol penyakit paru yang lesi yang menyerupai biji padi 

yang kecil (2-4mm) pada foto rontgen otraks 

• Tuberkulosis ekstraparu: perikarditis,peritonitis, meningitis, nefritis, osteomielitis, 

hepatitis, limfadenitis,kutaneus 

• Tuberkulosis dan infeksi HIV: pasien yang terinfeksi HIV dan mengalami gangguan 

kekebalan lainya berisiko mengalami reaktivitas dan infeksi primer takterkontrol yang 

progresif. Seluruh pasien yang infeksinya HIV sebaiknya menjalani uji PPD sebagai 

bagian dari evaluasi dasar pemeriksaan laboratorium awal dan selanjutnya dikerjakan 

setiap tahunnya. 

Pemeriksaan diagnosis  

• Pulasan tahan asam (diagnosis cepat) dan kultur (lebih sensitif dan memicu  uji 

suseptibilitas) pada sputum, lavase alveolar bronkoskopik, pleura, atau spesimen klinis 

lainya  

• PCR: sensitivitas 94-97% jika  dibandingkan dengan pulasan; sesitivitas 40-77% 

jika  dibandingkan dengan kultur 

Terapi peventif  

• Singkirkan penyakit aktif dengan setiap pasien dengan tanda atau gejala yang 

mencurigakan sebelum memulai pemberian INH 

• Profilaksis yang sesuai mengurangi insiden penyakit berikut hingga 65-75% 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

• Perlu menyesuaikan terapi berdasarkan prevalensi dalam populasi ( yang akan 

mempengaruhi nilai prediktif positif pada”PPD + ”) dan risiko infeksi yang tidak 

terobati pada pasien tersebut 

• Monitor adanya hepatitis : jika aminottransferase meningkat 5x normal atau simtomatik 

→ hentikan obat anti-TB dan evalusi kembali 

Penatalaksanaan tuberkulosis  

• Isolasi pasien  

• Gunakan regimen yang terdiri dari kombinasi obat terhadap organisme yang rentan 

• Meningkatkan kepatuhan terapi; terapi observasi secara langsung (DOT) yang hemat 

biaya untuk pasien dengan resiko tinggi untuk tidak patuh 

 Kelompok usia (tahun) 

Kategori <35 ≥35 

Resiko tinggi (kontak pasien yang 

terinfeksi, foto toraks abnormal, HIV + 

Obati jika  PPD ≥ 5 mm 

Resiko sedang (penyakit kronis, 

imunosupresi) 

Obati jika  PPD ≥ 10 mm 

Terhadapat konversi dari uji kulit 

sebalum (sebelum dalam 2 tahun) 

Obati jika  PPD + berdasarkan pada pedoman skrining diatas 

Populasi insiden tinggi Obati jika  PPD ≥ 10 mm Jangan di obati 

 Obati jika  PPD ≥ 15 mm Jangan dio bati 

(AM J Resp Crit Care 149:1359,1994 

 

Skenario  Regimen  

Mungkin sensitif INH INH 300 mg PO 4x1 + piridoksin 50 mg 4x1  

Foto toraks abnormal atau HIV +  INH 300 mg PO 4x1 piridoksin 50 PO 4x1 

selama 12 bulan  

Kasus kontak yang resisten INH  RIF +PZA selama 2 bulan  

Kasus kontak yang diketahui atau dicurigai 

resisten terhadap berbagai kombinasi obat TB 

Tidak ada regimen yang terbukti :? PZA +ETB 

? PZA+FQ  

(INH=isoniasid, RIF=rifampin,PZA=pirazinamid,ETB=etambutol, FQ = fluorokuinolon)  

 

Boat-obatan Anti-tuberkulosis 

Obat  Dosis  Efek sampaing 

Isoniasid (INH) 300 mg POx 

4x1 

Hepatitis, neuropati perifer (dicegah dengan 

piridoksin yang diberikan bersamaan), 

sindrom  menyerupai lupus 

Rifampin (RIF) 600 mg PO 4x1 Diskolorasi jingga atau urine/air mata, 

hepatitis, gangguan saluran cerna, 

hipersensitivitas, demam 

 

Pirazinamid (PZA) 25 mg/kg POx 

4x1 

Hepatitis, hiperurisemia, anritis  

Etambutol (EMB) 15 - 25 mg/kg 

PO x 4x1 

Neuritis optika  

Streptomisin (SM) 15 mg/kg  IM x 

4x1 

Ototoksikosis, netrotoksikosis 

Amiksin (AMK) 15 mg/kg  IM x 

4x1 

Ototoksikosis, netrotoksikosis 

Siprofloksasin (CIP) 15 mg/kg  PO x 

2x1 

 

 

Regimen anti-tuberkulosis 

Skenario  Regimen  

TB paru ≥4% resisten INH, dalam komunitas 

(termasuk terbanyak di amerika serikat) 

INH+RIF+PZA+ETB sampai suseptibilitas 

diketahui jika  sensitive terhadap INH & 

RIF → INH+RIF +PZA selama 2 bulan 

kemudian→INH + RIF selama 4 bulan jika  

resisten, lihat dikolom berikutnya 

 TB yang sesisten obat (INH,RIF, atau resisten 

obat kombinasi) 

Konsul ke ahli paru 

TB ekstrapulmoner Konsuk ke ahli paru 

TB pada pasien HIV + Konsul ke ahli paru 

 

• HIV/AIDS• 

Definisi  

• AIDS:HIV + hitung CD4 <200/mm3 atau infeksi oportunistik atau keganaan  

Epidemiologi 

• Sekitar 1 juta warga amerika terinfeksi HIV; pemicu  utama kematian pada kelompok 

usia 25-44 tahun 

• Rute: kontak seksual (penularan 0,3 % dari sesama laki-laki, 0,2 % dari laki-laki ke 

perempuan, dan 0,1 % dari perempuan ke laki-laki), pengguna narkoba intravena, 

transfusi, jarum suntik tidak steril (0,3%), vertikal (15-35%) 

Sindrom retrovirus akut (ARS) 

• Terjadi pada sekitar 40% pasien HIV +, lebih kurang 4 minggu setelah infeksi,ELISA-, 

isi virus +  

• Manifestasi : sindrom menyerupai mononukleosis ± lesi makulopapular berwarna 

salmon  

Pemeriksaan diagnostik  

• ELISA untuk Ab HIV-1: (+) 1-12 minggu setelah infeksi akut: sesitivitas dan spesifisitas 

90% ; uji skrining primer 

• Weatern blot: (+) jika  ≥ 2 garis dari daerah berbeda genom HIV; sebagai tes 

konfirmasi setelah uji ELISA (+) 

• PCR (kandungan virus): mendeteksi RNA HIV-1 di dalam plasma; kenaikan 3-4 kali 

lipat (0,5-0,7 log) merupakan perubahan yang dipertimbangkan bermakna  

• Hitung CD4: bukan merupakan suatu uji diagnostik, mungkin HIV(+) dan hitung 

CD4nya normal atau mungkin memiliki hitung CD4 rendah dan bukan HIV (+); hitung 

CD4 pada panyakit akut mungkin bisa ↑ atau palsu ↓ 

Pendekatan awal pada pasien HIV (+) 

• Buktikan infeksi HIV (jika  pembuktian yang adeakut tidak tersedia, ulangi 

pemeriksaan diagnostik) 

• H&P (bukti infeksi oportunisik, keganasan, penyakit menular seksual), periksa seluruh 

pengobatan 

• Evaluasi laboratorium :  hitung CD4, muatan virus ( gunakan asal yang sama tiap kali 

periksa), pemeriksaan darah tapi lengkap dengan hitungan jenis, kreatinin, uji fungsi 

hepar, uji kulit TB, sifilitis, toksoplasmosis, sitomegalovirus, dan serologi hepatitis, foto 

rontgen toraks dasar , pap smear pada wanita  

• Pengguna obat antiretrovirus seharusnya dilakukan atas konsultasi dengan ahli HIV 

sebagai rekomendasi pengobatan lanjutan dan banyak dari obat-obatan ini berpotensi 

menghambat atau memicu sitokrom p450, sehingga memerlukan penghentian atau 

penambahan obat lain. 

Dibawah ini beberapa pedomannya 

• Indikasi untuk memulai terapi  

AIDS atau HIV simtometik (seperti: penyakit infeksi jamur, demam yang tidak 

diketahui pemicu nya) 

Asimtometik) + baik muatan virus yang tinggi (>10-20000 buah/ml) atau hitung CD4 

yang rendah (<500/mm3)  

• Regimen : grup A NA + grup B NA +PI (atau NNRTI) monoterapi dan terapi ganda 

tidak dianjurkan 

• Muatan virus seharusnya ↓ 3-4 kali lipat (0,5-0,7 log) dalam 2-8  minggu dan setelah uti 

penurunannya berlanjut terus; tujuannya yaitu  muatan virus yang tak terdeteksi dalam 6 

bulan  

• Pemberian awal antiretrovirus bisa memperburuk sementara waktu gejala infeksi 

oportunistik selama beberapa minggu sebelum respons imun ↑ 

• jika  terapi perlu dihentikan , hentikan seluruh antiretrivirus untuk meminimilkan 

perkembangan resistensi 

• Regimen yang gagal = tidak mampu mencapai muatan virus yang tak terdeteksi, ↑ 

muatan virus, ↓ hitung CD4, atau deteriorasi klinis 

Antiretrovirus  

Obat Tipe   Dosis tipikal  Efek samping  

Zidovudine (AZT)  NRTI 

(grup 

A) 

200 mg 3x1 

300 mg 2x1 

Supresi sumsum tulang 

Intoleransi saluran cerna, HA, 

insomnia, hepatitis  

Stavudine (d4T) 

Zerit  

NRTI 

(grup 

A) 

40 mg 3x1 

(40 mg 2x1 jika 

BB< 60 kg) 

 Neuropati perifer  

Pankreatitis, hepatitis (jarang) 

 

 

 

Dinadosin (dll) 

Videx 

NRTI 

(grup 

B) 

200 mg 2x1 

(125 mg 2x1  

jika BB< 60 kg 

Pankreatitis, neuropati perifer 

intoleransi saluran  

cerna, hepatitis (jarang) 

Zalcitabine (ddC) 

hivid  

NRTI 

(grup 

0,75 md 3 x 1 Neuropati stomatitis, hepatitis (jarang) 


B) 

Lamivudine (3TC) 

epivir 

NRTI 

(grup 

B) 

150 mg 2x1 

(2 mg 2x1  

jika BB< 50 kg 

Toksisitas minimal  

Hepatitis (jarang) 

Nevirapine  

viramune 

NNRTI 200 mg 2x1 Raum, hepatitis  

Menginduksi sitokrom p450 

Delavirdine 

Rescriptor 

NNRTI 400 mg 3x1 Ruam, nyeri kepala menghambat 

sitokrom P450 

Efavirenz  

Sustiva  

NNRTI 600 mg tiap 4 jam  Efek,SSP, ruam, hepatitis campuran 

antara menginduksi/ menghambat 

sitokrom p450 

Indinavir  

Crixivan 

PI 800 mg 3x1 (puasa) Netrolitiasis, intoleransi saluran cerna ↑ 

uji fungsi hati, redistribusi lemak, 

menghambat sitokrom p450 

Ritonavir  

Norvir 

PI 600 mg 2x1 

(dengan makan) 

Intoleransi saluran cerna, 

parestesia,↑uji fungsi hati, redistribusi 

lemak menghambat p450 

Saquinivir  

Fortovase 

PI 1200 mg 3x1 

(dengan makan) 

Intoleransi saluran cerna, nyeri kepala ↑ 

uji fungsi hati, DM, redistribusi lemak, 

menghambat p450 

Nelfinavir  

Viracept  

PI 1250 mg 2x1 

(dengan makan)  

Diare,DM, redistribusi lemak, 

menghambat p450 

Amprenavir 

agenerase 

PI 1200 mg 2x1 Ruam, intoleransi saluran cerna, 

redistribusi lemak, menghambat p450 

(NRTI= nucleoside reverse transcriptase inhibitor, NNRTI= non nucleoside, RTI;PI= protease  

 

Profiklaksis infeksi oportunistik 

IO Indikasi  Profilaksis  

Tuberculosis  PPD (+) (≥ 5mm) atau 

pajanan berisiko tinggi 

(lakukan pemeriksaan PPD 

tiap tahun ) 

INH + vitamin B6 selama 12 bulan 

atau RIF+PZA selama 2 bulan   

PCP  Hitung CD4 < 100/mm3/ atau 

infeksi jamur atau FUO  

TMP-SMX SS 4x1 atau dapsone 

100 mg 4x1 atau atovaquone 750 mg 

2x1 mg 2x1 

Toksoplasmosis  Hitung CD4 < 100/ mm3/dan 

serologi toksoplasma (+) 

TMP-SMX DS 2x1 atau dapsone 

100 mg pirimetamin + asam folinat 

MAC Hitung CD4 <75/mm3  Klaritromisin 500 mg 2x1 atau 

azittromisin 1200 mg tiap minggu 

 

 

 

KOMPLIKASI HIV/AIDS 

 

Hitung CD4 Komplikasi  

<500 Gejala konstitusional  

Dernitits seboroik berambut di daerah oral, sarkoma kaposi  

Kandidiasis vagian dan oral rekulen 

Infeksi bakteri rekulen  

Tuberkulosis paru dan ekstraparu  

HSV VZV 

<200 Pneumonia pneumcystis cariinii(PCP) taksoplasma  

Cryptococcus, histoplasma, coccidioides 

Bartonella 

<50-100 Sitomegalovirus,MAC 

Aspergilosis invasif; angiomatosis (bartonela diseminata) 

Limpoma SSp,PML 

Demam  

• Etiologi: infeksi, limfoma, reaksi obat 

• Langkah kerja : pemeriksaan darah perifer lengkap, kimia darah, uji fungsi hepar, kultur 

darah foto toraks, urinalisis, pemeriksaan ulang obat-obatan, CT scan abdomen ? atau 

limfoma CD4 <200  →AG kriptokokus serum, LP,AG histoplasma pada urine, isolator 

mikobakterium, sitomegalovirus  

Tanda/gejala paru →toraks foto, ABG, sputum untuk kultur bakteri,PCP ,BTA; 

bronkoskopi 

Diare →feses untuk pemeriksaan leukosit feses, kultur, O&P,BTA,endoskopi  

Uji fungsi hepar abnormal →CT scan abdomen, biopsi hepar  

Sitopenia →biopsi sumsum tulang  

Penyakitt kulit  

• Dermatitis seboroik; folikulitis eosinofilik; infeksi HSV dan VZV 

• Moluskum kontagiosum: papula seperti mutiara 2-5 mm dengan pusat cekung  

• Sarkoma kaposi : lesi nodular merah-unggu tidak pucat  

• Aginomatosis basilaris (bartonella diseminata): papula vaskular yang rapuh 

Mata  

• Retinitis SMV (hitung CD4 < 50);terapi =gensiklovir, faskarnet, atau sidofovir 

• Pneumocystis, toksoplasma, Histoplasma 

Mulut  

• Ulkus aptosa  

• Jamur (kandidiasis oral): bercak kecil seperti dadih yang menunjukkan permukaan yang 

kasar jika  diangkat  

• Leukoplakia berambut didaerah lokal: sebab  EBV ;selaput (lapisan) putih yang  

melekat pada sisi lateral lidah 

• Sarkoma kaposi  

 

Jatung  

• Dilatasi kardiomiopati 

Paru  

• Pneumonia pneumocystis carinii (CD4 <200) 

Gejala konstitusional, demam, keringat malam, dispnu saat beraktivitas barat, bentuk non 

produktif 

Foto toraks dengan infiltrat, ↓ PaO2,↑ A-a  V, ↑ LDH, pewarnaan sputum PCP (+) 

Rx jika  PaO2 >70: TMP-SMX PO atau [dapsone + TMP] atau [klidamisin + 

primakuin] atau atovaquone 

 Rx jika  PaO2 <70: Steroid (N engl J med 323:1444 dan 1451, 1990); TMP-SMX IV 

atau [klindamisin + primakuin] atau pentamidin atau trimetreksat 

 

Pola radioografi  pemicu  umum  

Normal  PCP 

Infiltrat interstisial difus  PCP, TB, pneumonia fungsi diseminata dan 

viral, sarkoma kaposi 

Konsilidasi atau massa fokal   Pneumonia bateri atau jamur, TB, sarkoma 

kaposi 

Lesi kavitas  TB, aspergilosis dan pneumonia fungsi lainnya 

Pneumonia bakterial (termasuk Nocardia dan 

Rhodoccoccus) 

Efusi pleura TB, pneumonia jamur atau bakterial  

Sarkoma kaposi, limfoma 

 

Gastrointestinal 

• Esofagitis: kandida, SMV, HSV,HIV, terinduksi pil 

Endoskopi bagian atas jika tidak ada jamur tidak berespons terhadap terapi antifungal  

• Enterokolitis 

Bakterial (biasanya akut): salmonella, shigella Campylobacter, Yersinia, C.difficile  

Protozoa (biasanya kronis); giardia, Entamoeba, Cryptospora, Microsporidium, 

Cyclospora 

Virus (SMV, adenovirus), MAC, enetropati AIDS 

• Peredaran saluran cerna: MAC, Sarkoma Kaposi, limfoma 

• Proktitis : HSV, SMV, Chlamydia, gonokokus 

Hepatobiliaris 

• Hepatitis : HBV, HCV, Sitomegallovirus, MAC, teriduksi obat 

• Kolangiopati AIDS: sering berhubungan dengan sitomegalovirus atau Cryptosporidium 

Ginjal  

• Nefropati AIDS, proteinuria masif, ginjal ekogenik 

Hematologi  

• Anemia: pada penyakit kronis, terkenanya sumsum tulang, keracunan obat,hemalosis 

• Leukopenia 

• Trombositopenia : terkenanya sumsum tulang, ITP 

• ↑globulin 

Onkologi 

• Limfoma non- hohgkin; ↑ frekuensi tanpa menghiraukan hitung CD4 

• Limfoma SSP: hitung CD4 <50 

• Sarkoma kaposi: dapat terjadi pada hitung CD4 dalam jumlah beberapa pun; 

disebabkan sebab  HHV-8; biasanya terjadi pada laki-laki homoseksual  

 Muskulokutaneus: lesi nodular merah-unggu 

Paru: infiltrasi lobus interior bilateral+ efusi  

Saluran cerna: perdarahan saluran cerna, obstruksi, ikterus obstruktif 

Penanganan: penyakit dibatasi →radiasi, krioterapi, atau vinblastin intralesi, penyakit 

sistematik→kemoterapi 

Endokrin 

• Hipogonadisme 

• Fungsi tiroid abnormal 

• Infusiensi adrenal 

• Sindrom wasting 

Neurologik 

• Meningitis : cryptococcus, bakteri (termasuk listeria), virus (HSV, SMV, HIV), 

tuberkulosis, limfomatosa 

• Neurosifilis: meningitis, palsi saraf kranialis, demensia 

• Lesi desak ruang: akan muncul nyeri kepala, defisif lokal, atau perubahan status mental  

Rencana penanganan: MRI, biopsi otak stereotaktik jika dicurigai etiologinya non-

toksoplasma atau pasien gagal berespon terhadap 2 minggu pemberian terapi 

toksoplasmosis yang empiris 

• Kompleks Demensia AIDS: kehilangan memori, ganguan cara berjalan, spastisitas  

• Mielopati: infeksi (SMV,HSV), kompresi medula spinalis (abses apidural, limfoma), 

vakuolar (HIV) 

• Neuropati perifer: HIV, SMV, demielinisasi, terinduksi obat-obatan 

 

Etiologi  Tampilan  Pemeriksaan Diagnostik 

Tokosoplasmosis Lesi menonjol (dapat 

multipel) 

Serologi taksoplasma (+) 

Limfoma SSP Lesi menonjol (biasanya 

tunggal) 

PCR CSS untuk EBV (+) 

SPECT atau PET Scan (+) 

PML Lesi tidak menonjol, multipel,  PCR,CSS (+) terhadap JC 

Lain –lain : abses bakterialis, 

nokardiosis, kritokokoma, atau 

tuberkuloma 

Bervariasi Biopsi  

 

Kompleks mycobacterium avim(MAC) 

• Manifestasi klinis: retinis, esofagitis, kolitis, hepatitis, neuropati 

• Penatalaksanaan: gensiklovir, foskarnet, atau sidofovir 

 

• PENYAKIT LYME• 

Mikrobiologi   

• Infeksi oleh spirochete Borrelia burgdorferi 

• Ditularkan melalui kutu (Ixodes);pejamu (host) hewan termasuk rusa dan tikus 

• Infeksi biasanya memerlukan perlekatan kutu>36-48 jam 

Epidemiologi  

• Penyakit lyme merupakan penyakit yang disebarkan oleh vektor, yang paling sering 

dijumpai, namun insidenya hanya berkisar 4 tiap 100.000 populasi  

• Insiden tertinggi pada bulan – bulan musim panas  

• Kebanyakan kasus terjadi NY,NJ,CT,RI,MN,WI,PA,VA,OR,CA 

• Manusia berkuntak dengan kutu biasanya diladang dengan semak yang pendek dekat 

daerah pepohonan  

Manifestasi klinis 

Stadium Manifestasi 

Stadium 1 = terlokalisasi dini 

Minggu setelah infeksi 

sebab  efek lokal dari spoochaeta  

Umum: penyakit menyerupai flu 

Dermatologik(~80%): erythema chonicum migrans  

(ECM) = menular, lesi eriematosa degan bagian tengah 

jernih, biasanya dijumpai di paha, ingunalis atau aksila, 

ukuranya berkisar 6-38 cm, limfositoma; limfademopati 

regional 

Stadium  2 = penyebaran awal 

minggu hingga bulan setelah 

infeksi  

Akibat spirochetamia dan respons imun 

Umum: fatigue, malaise, limfadenopati,HA; demam 

jarang  

Dermatologi: lesi anular (1-100) multipel = ECM 

Reumatologi: (~10%) arthalgia & mialgia migrotaris, 

oligartritis 

Neurologi (~15%): bell’s palsy (atau neuropati kranialis 

lainnya), meningitis aseptik, multipel mononeuritis 

(mungkin nyeri), mielitis transvera jantung (8%) blok 

jatung, miokarditis 

Stadium 3 = menetap lama  

bulan hingga tahun setelah 

terinfeksi 

sebab  infeksi kronis atau respon autoimun 

Dertamologi: acrodermatitis chronica atrophicans, 

panniculitis  

Reumatologi (60%) nyeri sandi, mono-/oligoartritis pada 

sandi-sandi besar sinovitis 

Neurologi: ensefalopati subakut, polineuropati, demensia 

Pemeriksaan diagnostik 

• Secara umum, suatu diagnosis klinis 

• Serologi (pada keadaan klinis yang tepat) 

Skrining dengan ELISA, tetapi 

      Positif-palsu sebab  penyakit spirochaeta yang lain,SLE, RA, EBV,HIV, dll 

      Negatif-palsu sebab  terapi anti biotik dini penggunaan ELISA, dapat   membedakan 

lgM, lgA, dan lgG 

 Konpirmasi hasil ELISA (+) bersama dengan Western blot (↑ spesifitasnya) 

• Pemeriksaan CSS pada pasien dengan kecurigaan penyakit sarafmproduksi antibodi 

intratekal (+) jika  (CSS lgG/serum lgG)(albumin CSS/albumin serum) >1 

Penatalaksanaan  

• Indikasi: manifestasi klinis dan serologi (+) (? Dan riwayat gigita kutujika  berada 

pada daerah non-endemis) 

• Antibiotik: doksisiklin 100 mg PO 2x1 atau amoksilin 500 mg PO 3x1 selama 3 minggu 

sefriakson 2 g  IV 4x1 selama 2-3 minggu dibutuhkan jika  ada : abnormalitas 

neurologik (selain Bell’s palsy yang terdiri) blok AV drajat tinggi, artritis kronis, atau 

kehamilan 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

• Vaksin: 78% ↓ pada kejadian penyakit lyme; pertibangkan pada pasien di daerah endemik 

dengan resiko terpanjang; dikontraindikasikan pada pasien dengan RA aktif atau artritis 

seronegatif  

 

• FEVER OF UNKNOWN ORIGIN (FUO)• 

Definisi  

• Lamanya ≥ 3 minggu  

• Demam > 101oF atau >38,50C pada lebih dari satu insiden  

• Tidak ada diagnosis walupun telah dilakukan evaluasi salama 1 minggu pada pasien 

rawat inap secara intensif  

Etiologi  

• Daftar pemicu nya sangat luas, namun berikut ini yaitu  beberapa pemicu  yang lebih 

sering. Secara umum, akan lebih mungkin suatu manifestasi dari suatu penyakit biasa 

yang nyaris tidak kentara, daripada penyakit yang tidak lazim 

• Pada pasien yang diketahui ada keganasan : 50 % akibat infeksi (biasanya selama 

neutropenia) dan 50% akibat tumor itu sendiri  

• Pasien dengan HIV : 75 akibat infeksi, jarang sebab  HIV itu sendiri 

• 5-15% kasus yang tidak terdiagnosis, kebanyakan sirna secara spontan 

  

Kategori  Etiologi 

  

Infeksi  Tuberkulosis: penyakit ekstra paru atau diseminata dapat memiliki 

gambaran rontgen foto toraks, PPD,BTA sputum yang normal; biopsi (paru, 

hepar, sumsum tulang) terhadap granuloma hanya menghasilkan 80-90 % 

pada penyakit miliar 

Endokarditis: pertimbangkan organisme: HACEK, Bartonella, Legionella 

adan Coxiella 

Abses intra-abdomen: hepatik, splenik, subfrenikus, pankreatik, perineftik, 

pelvik, prostatik 

Osteomielitis 

Sitometegalovirus, EBV, penyakit Lyme, malaria, babesiosis, amebiasia  

 

 

Neoplasma  Limfoma: limfadenopati, hepatosplenomegali, ↓ hematokrit atau 

trombosit, ↑ LDH 

Karsinoma sel renal: hematuria mikroskopik, ↑ hematokrit  

Karsinoma sel hepar, karsinoma pankres 

Miksoma pada atrium: obstuksi, embolisme, gejala konstitusional 

leukimia,mielodisplasia 

Penykit tantung 

penyambung  

Atritis temporalis (sel Giant): nyeri kepala, nyeri kulit kepala, klaudikasio 

mandibula, gangguan penglihatan, ↑ ESR 

Penyakit still onset dewasa (reumatiod artritis juvenilis); demam yang 

bersifat sementara ruam trunkus malukar yang berwarna salmon selama 

demam merupakan permulaan artritis  

Poliartritis nodosa 

RA, SLE, sarkoidosis 

Lain-lain Obat-obatan, hematom, tiroid, demam mediterania familial 

 

Langkah kerja  

• Anamnesis: kontak ifeksius, perjalanan, hewan peliharaan, pekerjaan, obat-obatan, 

melalui pemeriksaan fisik regional, riwayat pengobatan dan pembedaan sebelumnya, 

riwayat tuberkulosis 

• Hentikan obat-obatan yang tidak diperlukan 

• Pemeriksaan fisik yang cermat dengan perhatian terhadap temuan kulit, limfadenopati, 

murmur, hepatosplenomegali, artritis 

• Evaluasi labolatorium  

Hitung darah lengkap dengan hitungan jenis, elektrolit, BUN, kreatinin, uji fungsi hepar, 

LED, ANA, RF kultur darah sebanyak 3 set (stop antibiotik), urinalisis, kultur urine, 

PPD, antibodi heterofil, sitomegalivirus, uji antigenemia, uji HIV 

• Pemeriksaan pencitraan: rontgen foto toraks, CT scan abdemen (oral dan kontras IV), 

USG kuadran atas kanan ?, hitung leukosit yang berlabel  atau gallium scan 

• Biopsi arteri temporalis jika  LED ↑ dan usia > 60 tahun 

• ? biopsi sumsum tulsng atau hepar (terutama jika  AP ↑): bahkan tanpa tanda-tanda 

atau gejala lokal, hasil mencapai lebih dari 15 % 

Penanganan 

• Antibiotik empiris tidak diindikasikan (kecuali pasien neutropenia) 

 

 

 

NYERI ABDOMEN 

 

Nyeri viseral 

 

Pembagian 

Anatomi 

Visera 

Tempat Penjalaran 

Nyeri 

Foregut  Esofagus dan duodenum Epigastrium  

Midgut Yeyunum hingga pertengahan kolon transversum Umbilikus  

Hindgut  Pertengahan kolon transversum hingga rektum Hipogastrium  

(Catatan : Nyeri sebab  pankreatitis dan nefrolitiasis yang pada umumnya menjalar 

hingga ke punggung) 

 

 

Nyeri Tekan pada Abdomen 

 

Gambar 3-1. etiologi nyeri abdomen berdasarkan lokasi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GANGGUAN ESOFAGUS DAN GASTER 

 

DISFAGIA 

Definisi  

• Kesulitan pada proses menelan dan melewatkan makanan dari esofagus ke lambung. 

 

Etiologi  

Gambar 3-2. Etiologi disfagia  

 

 

 

 

 

 

 Gastritis  

PUD (peptic ulcers disease) 

Pancreas  

Kebocoran AAA 

(Abdominal Aorta Aneurysm) 

Splenomegali  

Infark atau abses lien  

Rupture lien 

Kolelitiasis 

Kolesistitis 

Koledokolitiasis 

Kolangitis 

Hepatitis 

Tumor hepar  

Apendistis  

Nefrolitiasis  

Kehamilan ektopik  

Torsi ovarium 

PID 

Diverkulitis 

Kolitis 

Nefrolitiasis   

 Disfagia 

 

Kesulitan makan yang padat saja Kesulitan makan baik yang cair maupun yang padat 

Obstruksi mekanik Gangguan motilitas  

Cincin 

esofagus   

Striktur 

peptikum   

Karsinoma 

esofagus    

Spasme dan 

gangguan 

yang 

berhubungan   

Skleroderma    Aklasia    

Intermiten  GERD kronik 

progresif  Progresif   GERD kronik 

progresif  

Intermiten  Progresif   

 

Pemeriksaan diagnostik  

• Menelan barium atau esofagogastroduodenoskopi (EGD); ± pemantauan pH esofagus atau 

manometri. 

 

PENYAKIT REFLEKS GASTROENSOFAGUS (GERD) 

Patofisiologi 

• Relaksasi sementara yang berlebihan pada sfingter esofagus bawah (LES, Lower Esophageal 

Spincter) atau pada beberapa kasus, LES yang inkompeten. 

• Kerusakan mukosa esofagus sebab  kontak yang lama dengan asam, pepsin, garam empedu. 

• Hiatus hemia dapat memicu  ↓ tonus LES dan bertindak sebagai penampung isi 

lambung yang mengalami refluks. 

 

Manifestasi klinis 

• Heartburn, “angina” atipikal; regurtasi isi lambung kurang air, disfagia 

• Batuk (aspirasi nokturnal kronis), asma, suara parau (peradangan plika vokalis). 

• Pencetus : makan yang banyak, posisi supinasi, makanan berlemak, kafein, teofilin, alkohol, 

rokok, penyekat kanal kalsium (CCB). 

 

Uji diagnostik 

• Diagnosis sering berdasarkan pada anamnesis, mencoba mengobati dulu dengan inhibitor 

pompa proton. 

• EGD (esophagoduodenoscopy) untuk mendeteksi esofagitis, ulkus, easofagus Barret atau 

striktur. 

• Pemantauan pH esofagus ambulatoris selama 24 jam jika  diagnosisnya meragukan. 

 

Penatalaksanaan  

• Tindakan konservatif : mencegah pencetus, meninggikan kepada saat tidur, hindari 

keterlambatan makan. 

• Medikamentosa : antasid, penyekat H, agen prokinetik (seperti : cisapride); penghambat 

pompa proton (PPI). 

• Pembedahan : fundoplikasi (sering dengan laparoskopik) 

 

Komplikasi  

• Esofagus Barret (epitelisasi kolumnar dengan ↑ risiko adenokarsinoma), esofagitis, striktur. 

 

 

GASTROPATI DAN GASTRITIS 

Gastropati akut 

• Etiologi : NSAID, alkohol, stres yang berhubungan dengan penyakit mukosa (penyakit 

kritis). 

• Manifestasi klinis : asimtomatik, anoreksia, mual dan muntah, nyeri epigastrium, perdarahan 

saluran cerna atas. 

 

Gastritis antral kronis (“Tipe B”) 

• Etiologi : Infeksi H. Pylori  

• Manifestasi klinis : umumnya asimtomatik; tidak ada bukti yang jelas bahwa gastritis H. 

Pylori memicu   dispepsia non-ulkus; dapat berlanjut menjadi gastritis atrofi dengan ↑ 

risiko adenokarsinoma gaster. 

• Penatalaksanaan : Lihat penanganan H. Pylori  

 

Gastritis kronis pada daerah fundus (“Tipe A”) 

• Etiologi : Anemia pernisiosa  

• Patogenesis : auto-antibodi langsung terhadap sel parietalis (sehingga kekurangan asam dan 

faktor intrinsik). 

• Manifestasi klinis : gastritis atrofi, aklorhidria, dan hipergastrenemia, anemia permisiosa, 

tumor karsinoid gaster dan adenokarsinoma. 

 

PENYAKIT ULKUS PEPTIKUM 

Etiologi dasar 

• Infeksi H.