Penyakit ginjal kronis, termasuk gagal ginjal, menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas
global, dengan prevalensi tinggi di negara kita , khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. Konsumsi makanan
ultra-proses (UPF) telah diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko signifikan, terutama melalui kandungan
gula, garam, lemak, dan aditif yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran UPF dalam
meningkatkan risiko penyakit ginjal melalui scoping review dari berbagai penelitian empiris dan sistematis. Metode
yang digunakan yaitu scoping review dengan sumber utama dari basis data ilmiah seperti Google Scholar dan
Scopus, mencakup artikel dalam 10 tahun terakhir (2013–2023).
Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi UPF secara signifikan berkorelasi dengan peningkatan risiko gagal
ginjal melalui tiga mekanisme utama: peningkatan beban natrium dan gula yang memicu hipertensi dan resistensi
insulin, efek adiktif yang memperburuk pola makan tidak sehat, serta dampak langsung bahan kimia tambahan
seperti fosfat dan advanced glycation end products (AGEs) yang merusak fungsi ginjal. Di negara kita , urbanisasi,
perubahan gaya hidup, dan lemahnya regulasi menjadi faktor pendorong utama tingginya konsumsi UPF di
kalangan anak-anak dan remaja.
Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa konsumsi UPF merupakan faktor risiko signifikan untuk gagal
ginjal di populasi muda negara kita . Pendekatan multi-sektoral yang melibatkan edukasi masyarakat, penguatan
regulasi, dan promosi pola makan sehat sangat diperlukan untuk mengurangi risiko tersebut. Penelitian lebih
lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme kausal secara mendalam dan mengembangkan strategi intervensi
yang lebih efektif.
Penyakit ginjal kronis merupakan salah
satu penyakit paling mematikan di dunia,
dengan prevalensi tinggi, biaya tinggi,
prognosis buruk, dan penyakit penyerta yang
semakin meningkat . Gagal
ginjal merupakan penyakit kronis yang
semakin meningkat termasuk di negara kita ,
terutama di kalangan anak-anak dan remaja
akhir-akhir ini. Penyakit ginjal kronis atau
chronic kidney deseases (CKD) ditandai
dengan kelainan struktural dan Fungsi ginjal
yang berlangsung lebih dari tiga bulan, dengan
atau tanpa Laju filtrasi glomerulus (GFR)
menurun dan dapat terjadi. Kelainan patologis
atau kerusakan ginjal (Levey, 2022). Saat ini
prevalensi CKD secara global mencapai 13%
dari total populasi. WHO mengatakan 12
kematian dari 100.000 Orang dengan penyakit
ginjal kronis (CKD) Data tahun 2018 yaitu sebanyak 4
per 1.000 warga negara kita usia ≥15 tahun
menderita CKD Penyakit
ginjal kronik didefinisikan sebagai suatu
kondisi abnormal dari struktur maupun fungsi
ginjal yang terjadi selama ≥3 bulan yang
ditandai dengan penurunan laju filtrasi
glomerulus (LFG) <60 mL/menit/1,73
Penyebabnya yaitu multifaktorial,
meliputi predisposisi genetik, kondisi medis
tertentu, serta gaya hidup yang tidak sehat.
Salah satu aspek gaya hidup yang mendapat
perhatian khusus yaitu konsumsi makanan
ultra-processed food (UPF). Asupan UPF
dalam jumlah tinggi dan berkepanjangan
berhubungan dengan peningkatan risiko
kejadian CKD Konsumsi
makanan cepat saji dan makanan olahan yang
tinggi garam, gula, dan lemak juga turut
menjadi kebiasaan anak muda dan anak-anak
yang merusak kesehatan ginjal. Diet yang tidak
seimbang tersebut, kurangnya konsumsi buah
dan sayuran, yang sangat beresiko berperan
meningkatkan risiko masalah ginjal.
Kandungan zat gizi seperti gula,
garam, dan lemak (GGL) dari jajanan UPF
umumnya lebih dominan dibandingkan
dengan zat gizi lain. Anjuran konsumsi
gula/orang/hari yaitu 10% dari total energi
atau setara dengan gula 4 sendok makan/orang
/hari (50 gram/orang/hari). Anjuran konsumsi
garam yaitu 2000 mg atau setara dengan
garam 1 sendok teh/orang/hari (5 gram/orang
/hari). Anjuran konsumsi lemak/ orang/hari
yaitu 20-25% dari total energi (702 kkal)
atau setara dengan lemak 5 sendok makan/orang
/hari (67 gram/orang/hari)
berdasar hasil penelitian bahwa pola
konsumsi remaja menunjukkan asupan gula
garam lemak 130,6%, 86%, dan 65,7% dari
batas konsumsi GGL dalam sehari (Puspita &
Adriyanto, 2019). Penelitian serupa juga
menunjukkan konsumsi gula remaja yang
melebihi anjuran (76,1%), konsumsi garam
yang melebihi anjuran (67,4%), dan konsumsi
lemak yang melebihi anjuran (80,4%)
Salah satu perhatian utama dalam dekade
terakhir yaitu peran ultra-processed foods,
yang semakin mendominasi pola makan global
dan sangat disukai anak dan remaja. Penelitian
menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-
proses tidak hanya terkait dengan obesitas dan
diabetes, namun juga berkontribusi pada
kerusakan ginjal melalui berbagai mekanisme
patofisiologis. Tinjauan ini bertujuan untuk
menganalisis peran makanan ultra-proses
sebagai faktor risiko penyakit ginjal pada anak
dan remaja, dengan tinjauan global dan fokus
khusus pada konteks negara kita .
Definisi dan sifat Makanan
Ultra-Proses. Makanan ultra-proses mengacu
pada produk pangan yang telah melalui
serangkaian proses industri yang intensif dan
sering kali mengandung bahan-bahan tambahan
seperti pengawet, pewarna, penambah rasa, dan
emulsifier . Contohnya
termasuk camilan kemasan, minuman manis,
makanan siap saji, dan produk olahan daging.
Ciri khas dari makanan ini yaitu rendahnya
kandungan serat, vitamin, dan mineral,
sementara kandungan energi, gula, dan natrium
sangat tinggi.
Makanan olahan ultra-proses merupakan
produk industri yang dibuat menggunakan zat
yang diekstraksi dari makanan (misalnya,
lemak, gula, dan minyak) atau berasal dari
konstituen makanan (misalnya, lemak
terhidrogenasi) atau disintesis dari sumber
organik lainnya (misalnya, penambah rasa dan
pemanis) dengan sedikit atau bahkan tidak ada
komposisi makanan utuh. Makanan ini
diformulasikan memiliki rasa yang nikmat,
tahan lama, mudah untuk dikonsumsi, serta
memiliki profitabilitas tinggi (bahan berbiaya
rendah dan masa simpan yang lama). Monteiro
et al (2019) mengklasifikasikan makanan dan
minuman ke dalam empat kelompok, salah
satunya yang merupakan makanan ultra-olahan
(UPF). Produk yang termasuk dalam kelompok
ini antara lain minuman ringan, makanan
ringan kemasan manis atau gurih, makanan
beku seperti olahan daging, produk susu dan
turunannya, teh dan kopi siap minum, dan lain-
lain
Secara global, konsumsi makanan ultra-
proses meningkat secara signifikan, terutama di
negara berkembang seperti negara kita .
Perubahan gaya hidup urban, kemudahan
akses, dan pengaruh pemasaran agresif menjadi
pendorong utama tren ini (Popkin et al., 2020).
Di negara kita , data menunjukkan bahwa 40-
50% kalori harian anak-anak dan remaja
berasal dari makanan olahan dan ultra-proses
(Kementerian Kesehatan RI, 2021).
Prevalensi Konsumsi Makanan Ultra-
Proses pada Anak dan Remaja di negara kita .
Data menunjukkan peningkatan konsumsi
makanan ultra-proses secara signifikan di
negara kita , terutama di kalangan anak-anak dan
remaja (Kemenkes RI, 2022). Urbanisasi,
perubahan gaya hidup, dan pengaruh iklan
menjadi faktor pendorong utama. Penelitian
menunjukkan bahwa anak-anak negara kita sering
mengonsumsi makanan kemasan dan minuman
bersoda yang kaya akan gula tambahan dan
bahan aditif lainnya (Sari & Rachmawati, 2020).
Beberapa peneliti seperti Garber et al dalam ,
berpendapat bahwa komponen tertentu dari
makanan olahan, dan khususnya yang ada di
“makanan cepat saji”, bersifat adiktif dengan cara
yang mirip dengan kokain dan heroin . Jika ada bahan konsumsi yang secara
unik membuat ketagihan, itu pasti “makanan
cepat saji”. namun apakah hanya karena kalorinya
saja, atau ada sesuatu yang spesifik dari makanan
cepat saji yang memicu respons
kecanduan? Makanan cepat saji mengandung
empat komponen yang sifat hedonisnya telah
diteliti: garam, lemak, kafein, dan gula
Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan
bahwa proporsi kebiasaan konsumsi makanan
yang mengandung penyedap rasa, mi
instan/makanan instan/makanan instan lainnya,
dan minuman berkarbonasi (≥1x/hari) berkisar
dari 2,2% hingga 77,6%
Hubungan Makanan Ultra-Proses
dengan Risiko Penyakit Ginjal
Tingkat asupan makanan olahan ultra proses
yang tinggi berhubungan dengan rendahnya
kualitas diet dan status gizi lebih Makanan olahan ultra proses diketahui
mengandung zat gizi obesogenik yang diketahui
mengandung padat kalori, memiliki rasa manis
dan asin yang berkontribusi pada kualitas diet
rendah kelebihan berat badan karena asupan
kalori yang berlebihan
Dalam sebuah penelitian kohort, temuan menunjukkan
bahwa konsumsi tinggi UPF memiliki risiko
yang lebih tinggi mengalami CKD
1. Peningkatan Beban Natrium dan Gula
Kadar natrium yang tinggi dalam makanan
ultra-proses dapat meningkatkan tekanan
darah, yang merupakan salah satu faktor
risiko utama penyakit ginjal kronis (CKD).
Diet tinggi natrium atau sodium yang
merupakan komponen utama garam bila
berlebihan dapat mengubah sistem ginjal dan
pembuluh darah dengan meningkatkan stres
oksidatif ,Selain itu,
pada hewan dengan fungsi ginjal normal
yang diberi diet tinggi natrium, terjadi
peningkatan marker stres oksidatif dalam
pembuluh darah otot skeletal, peningkatan
tekanan darah, ekskresi protein pada urin dan
fibrosis ginjal serta memburuknya fungsi
ginjal
Gambar 1.2 Skema dampak natrium dan glukosa
berlebihan terhadap ginjal. Modifikasi dari
Di sisi lain, konsumsi gula berlebih,
khususnya dalam bentuk fruktosa, dikaitkan
dengan resistensi insulin dan obesitas, yang
juga berperan dalam perkembangan
nefropati.
2. Efek Adiktif dan Pola Makan Tidak Sehat
Makanan ultra-proses sering kali dirancang
untuk memiliki cita rasa yang kuat sehingga
meningkatkan keinginan konsumsi berlebih
Makanan tinggi
lemak dan tinggi gula yang merupakan
sifat dari UPF, mengaktifkan respons
mesolimbik, pengecapan dan oral bagian otak
somatosensorik, yang berkontribusi terhadap
makan yang berlebihan
Uji tingkat asupan energi terhadap 327 jenis
makanan oleh Forde et al, menemukan
bahwa mulai dari makanan yang tidak
diproses (36 ± 4 kkal / menit) dan diproses
(54 ± 4 kkal/menit) ke makanan UPF (69 ± 3
kkal/menit), tingkat asupan energi rata-rata
meningkat secara signifikan Tidak seperti makanan alami, UPF
merupakan makanan dengan kadar
karbohidrat olahan yang tinggi, lemak
tambahan, seperti makanan manis dan camilan
Gambar 1.3 Mekanisme UPF mentriger dopamin
(https://www.nutritional-psychology.org/scientists)
asin, yaitu yang paling kuat terlibat dalam
perilaku kecanduan. UPF tidak membutuhkan
keterlibatan pencernaan yang ekstensif dan
tubuh dengan cepat menyerap melalui usus
dan menggunakannya. Lemak dan karbohidrat
sederhana yang tinggi berada dalam darah
langsung mentriger sinyal dopamine di otak
dan mengaktifkan dopamine pathway
(neurotransmitter yang terkait dengan
perasaan puas dan senang) yang membuat
ketagihan Hal ini
berkontribusi pada pola makan tidak sehat,
termasuk kekurangan asupan makanan segar
dan bergizi seperti buah dan sayur.
Kekurangan nutrisi ini dapat mempengaruhi
fungsi ginjal dalam jangka panjang.
3. Kerusakan Langsung oleh Bahan Kimia
Tambahan.
Beberapa bahan aditif dalam makanan ultra-
proses, seperti fosfat anorganik, dapat
meningkatkan beban kerja ginjal dan
menyebabkan kerusakan jaringan ginjal secara
langsung. Baru-baru ini percobaan pada
hewan menunjukkan bahwa advanced
glycation end products (AGEs) yang berasal
dari makanan olahan yaitu komponen yang
berpotensi patogenik terhadap CKD dengan
merusak permeabilitas barier usus dan
aktivasi jalur komplemen . Mekanisme lainnya bahwa UPF tinggi
kandungan sejumlah AGEs. AGEs dan
prekursornya dihasilkan selama pembuatan
makanan seperti proses memasak dengan suhu
tinggi dan metode memasak kering
(menggoreng,memanggang, merebus). Ginjal
yaitu tempat utama untuk pembuangan dari
AGE dan, jika berlebihan, AGE dapat
menyebabkan kerusakan dalam struktur ginjal
Bila berlebihan,
AGEs dapat bersifat patologis melalui jalur
yang diperantarai oleh reseptor maupun yang
tidak diperantarai oleh reseptor. Ginjal,
sebagai tempat utama untuk pembersihan
AGE, sangat rentan terhadap kerusakan yang
diperantarai oleh AGE dan peningkatan AGE
yang bersirkulasi selaras dengan risiko CKD
dan semua penyebab kematian.
Gambar 1.3 Penanganan ginjal pada AGE dan
kontribusinya terhadap patologi ginjal
Lebih lanjut, individu dengan kehilangan
fungsi ginjal yang signifikan menunjukkan
peningkatan beban AGE, terutama dengan
uremia, dan terdapat beberapa bukti bahwa
penurunan AGE melalui diet atau
farmakologis dapat bermanfaat pada CKD
Konteks di negara kita
Kondisi sosial-ekonomi dan kurangnya
kesadaran masyarakat terhadap risiko kesehatan
dari makanan ultra-proses memperparah
masalah ini. Selain itu, regulasi terkait peredaran
makanan ultra-proses di negara kita masih lemah,
sehingga aksesibilitas produk ini sangat tinggi,
bahkan di daerah pedesaan
Konsumsi makanan ultra-proses di kalangan
anak dan remaja di negara kita dipengaruhi oleh
faktor sosial-ekonomi, kebiasaan keluarga, dan
kurangnya edukasi tentang gizi. Penelitian lokal
menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah di
perkotaan mengonsumsi lebih dari dua porsi
makanan ultra-proses per hari, terutama dalam
bentuk minuman manis dan camilan (Sari &
Rachmawati, 2020). Tingginya aksesibilitas
produk-produk ini, ditambah dengan lemahnya
regulasi peredaran, memperburuk situasi. Di sisi
lain, minimnya asupan makanan segar, seperti
buah dan sayur, menyebabkan kekurangan serat
dan mikronutrien penting, yang diperlukan
untuk fungsi ginjal yang optimal.
Literatur global memberikan panduan
penting untuk memahami dampak jangka
panjang konsumsi makanan ultra-proses. penelitian
di negara maju menunjukkan korelasi langsung
antara konsumsi tinggi makanan ultra-proses
dan risiko penyakit ginjal pada populasi
dewasa muda
Namun, penelitian serupa pada populasi anak dan
remaja di negara kita masih sangat terbatas.
Dengan meningkatnya pola makan barat
(Western diet) di negara kita , temuan global ini
dapat dijadikan dasar untuk mendesain
intervensi lokal.
Konsumsi makanan ultra-proses berpotensi
besar sebagai faktor penyebab meningkatnya
prevalensi gagal ginjal pada anak dan remaja
maupun usia dewasa di negara kita . Konsumsi
makanan ultra-proses merupakan faktor risiko
yang signifikan untuk penyakit gagal ginjal pada
anak dan remaja. Mekanisme yang melibatkan
asupan tinggi natrium, tinggi gula tambahan,
serta kandungan aditif dalam produk ini
mempercepat proses patofisiologis yang
merusak fungsi ginjal. Di negara kita ,
meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses
pada kelompok usia muda memerlukan
perhatian khusus, terutama dalam konteks
pencegahan dan pengendalian penyakit ginjal.
Untuk mencegah hal ini, diperlukan pendekatan
multi-sektoral, termasuk edukasi masyarakat,
penguatan regulasi terhadap makanan ultra-
proses, dan promosi pola makan sehat. Lebih
banyak penelitian juga diperlukan untuk
mengeksplorasi hubungan kausal antara
konsumsi makanan ultra-proses dan risiko
penyakit ginjal pada populasi muda di
negara kita .









