Tampilkan postingan dengan label hepatobilier 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hepatobilier 3. Tampilkan semua postingan

hepatobilier 3

 





kronik yang

> 5 x nilai normal teftinggi

2 - 5 x nilai normal tertinggi

< 2 x nilai normal tertinggi

64 % (p<0,01)

26 % (P=6,63;

5 o/"

Setelah terapi, konsentrasi ALT berangsur-angsur

menjadi normal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa

setelahpengobatan lamivudin selama I tahun telah terjadi

perbaikan derajat nekroinflamasi serta penurunan progresi

fibrosis yang bermakna. Di samping itu terjadi penurunan

indeks aktivitas histologik (Ilzs tologic Activity Index) lebth

besar atau sama dengan 2 poin pada 62-70% pasien yang

mendapat lamivudin dibandingkan dengan 30-33%. pada

kelompok plasebo. Lamivudin merurunkan progresi fibrosis

sebesar 30% dibandingkan dengan l5%o pada kelompok

plasebo (p<0,01). Pada kelompok lamivudin progresi

menjadi sirosis terjadi pada l,8o/o dibandingkan dengan

7,loh pada kelompok plasebo.

Khasiat lamiludin semakin meningkat bila diberikan

dalam waktu yang lebih panjang. sebab  itu strategi

pengobatan yang tepat adaTah pengobatan jangka

panj ang. Penelitian dilakukan secara prospektif (cohort)

pada terapi yang diberikan selama 4 tahun menunjukkan

serokonversi berturut-turut setiap tahunnya sebagai

berikut: 22,29,40,dat47oh. Bilahanya pasien ALI> 2 x

nilai normal tertinggi saja yang diberikan terapi lamivudin,

didapatkan angka serokonversi yang lebih baik, berturut-

turut tiap tahunnya 38, 42, 65, dan7 5%o. Sayangnya, strategi

terapi berkepanjangan ini terhambat oleh munculnya

virus yang kebal terhadap lamiludin, yang biasa disebut

mutan YMDD. Mutan ini  akan meningkat2}%oliap

tahun bila terapi lamiludin diteruskan.

Di samping khasiat Lamivudin untuk menghambat

fibrosis, Peek dan kawan-kawan telah membuktikan pada

binatang percobaan (woodchucks) yang terinfeksi VHB,

bahwa pemberian Lamivudin sedini mungkin dapat

mencegah terjadinya karsinoma hepatoselular.

Kekebalan terhadap lamivudin. MutanVHB yang kebal

terhadap lamiludin biasanya muncul setelah terapi selama

6 bulan dan ada  kecenderungan peningkatan dengan

HEPATITISB KRONIK 6s9

mendapat terapi lamivDdin perlu dilakukan monitoring

seksama setelah pengobatan dihentikan. Pada

kekambuhan dengan gejala berat lamivudin diberikan

kembali. Perhatian khusus perlu dilakukan untuk pasien-

pasien yang sebelum terapi Lamivudin sudah menderita

dekompensasi.

2. Adefovir dipivoksil. Adefovir dipivoksil yaitu  suatu

nukleosid oral yang menghambat enzim reverse

transcriptase. Mekanisme khasiat adefovir hampir sama

dengan lamivudin. Penelitian menunjukkan bahwa

pemakaian adefovir dengan dosis l0 atau 30 mg tiap hari

selama 48 minggu menunjukkan perbaikan Knodell

necroinflammatory score sedikitnya 2 poin. Juga terjadi

penurunan konsentrasi DNA VHB, penurunan konsentrasi

ALT serta serokonversi HBeAg.

Walaupun adefovir dapat juga dipakai untuk terapi

funggal primer, namun sebab  alasan ekonomik dan efek

samping adefovir, maka pada saat ini adefovir baru dipakai

pada kasus-kasus yang kebal terhadap lamivudin. Dosis

yang dianjurkan yaitu  l0 mg tiap hari. Sampai sekarang

kekebalan terhadap adefovir belum pernah dilaporkan.

Salah satu hambatan utama dalam pemakaian adefovir

yaitu  toksisitas pada ginjal yang sering dijumpai pada

dosis 30 mg atau lebih.

Keuntungan dan kerugian adefovir. Keuntungan

penggunaan adefovir yaitu  jarangnya terjadi kekebalan.

Dengan demikian obat ini merupakan obat yang ideal untuk

terapi hepatitis B kronik dengan penyakit hati yang parah.

Kerugiannya yaitu  harga yang lebih mahal dan masih

kurangnya data mengenai khasiat dan keamanan dalam

jangka yang sangat panjang.

3. Analog nukleosid yang lain. Berbagai macam analog

nukleosid yang dapat dipakai pada hepatitis B kronik

yaitu  Famcicloyir dan emtericitabine (FTC).

Indikasi terapi antivirus. Terapi antivirus dianjurkan untuk

pasien hepatitis B kronik dengan ALT > 2 xnilai normal

tertinggi denganDNAVHB positif. UntukALT< 2x nllai

normal tertinggi tidak perlu terapi antivirus.

Terapi antivirus untuk hepatitis B kronik dengan

konsentrasi ALT normal atau hampir normal.

Kebanyakan ahli berpendapat bahwa untuk hepatitis B

kronik dengan konsentrasi ALT normal tidak diperlukan

pemberian terapi antivirus walaupun didapatkan DNA VHB

titer tinggi atau HBeAg positif. Beberapa ahli menyatakan

bahwa pada kasus-kasus seperti di atas, yang pada biopsi

hati didapatkan gambaran biopsi yang sangat aktifapalagi

bila dise(ai fibrosis berat perlu diberikan terapi anti vnus.

IFN atau analog nukleosid UnhrkALI2-5 kali nilai tertinggi

dapat diberikan Lamivudin 100 mg tiap hari atau IFN 5 MU

3x seminggu. UntukALT > 5 x nilai normal tertinggi dapat

diberikan lamivudin 100 mg tiap hari. Pemakaian IFN tidak

dianjurkan.

Gabungan antara IFII dan nukleosid. Untukmeningkatkan

khasiat monoterapi IFN dan monoterapi lamiludin telah

dilakukan penelitian yang membandingkan pemakaian

monoterapi dengan PEG interferon, monoterapi dengan

lamivudin dan kombinasi antara PEG inteferon dan

lamivudin pada pasien hepatitis B kronik. Ternyata

gabungan ar,tara kedua obat itu tidak lebih baik

dibandingkan dengan monoterapi PEG Interferon atau

monoterapi lamivudin.

Lama terapi antivirus. Dalam keadaan biasa IFN diterikan

sampai 6 bulan sedangkan lamivudin sampai 3 bulan setelah

serokonversi HBeAg.

Kriteria respons terhadap terapi antivirus. Respons

terhadap antivirus (IFN atau analog nukleosid) yang biasa

dipakai yaitu  hilangnya DNA VHB dalam serum (nonPCR),

hilangnya HBeAg dengan atau tanpamunculnya anti-HBe

(serokonversi HBeAg), normalnya konsentrasi ALT serta

turunnya nekroinflamasi dan tidak adanya progresi

fibrosis pada biopsi hati yang dilakukan secara seri. Para

ahli menganjurkan standardisasi respons terhadap terapi

antivirus untuk hepatitis B. Respons ini  dibagi

menjadi: respons biokimiawi (BR), respons virilogik (VR),

dan respons histologik (HR), pada akhir terapi dan 6-12

bulan setelah terapi dihentikan.

Kategori Respons Antivirus.

. Responsbiokimiawi@R)yaitu penurunankonsentrasi

ALTmenjadinormal.

. Respons virologik (VR), negatifnya DNA VHB dengan

metode nonamplifikasi (<105 kopi/ml), dan hilangnya

HBeAg pada pasien yang sebelum terapi HBeAg

positif.

. Respons histologis (HR), menurumya indeks aktivitas

histologik sedikitnya 2 poin dibandingkan biopsi hati

sebelum terapi.

. Respons komplit (CR), adanyarespons biokimiawi dan

virologik yang disertai negatifnya HBsAg

Waktu Pengukuran respons antivirus. Selama terapiAlT,

HBeAg dan DNA VHB (non PCR) diperiksa tiap 1-3 bulan.

Setelah terapi selesaiALll, HBeAg dan DNAVHB (nonPCR)

diperiksa tiap 3-6 bulan.

Pengaruh genotip VHB terhadap respons terapi antivirus.

Virus Hepatitis B dikelompokkanmenjadi 8 genotip (A-II).

Sebagian besar genotip menunjukkan distribusi geografik

yang spesifik, misalnya: Eropa Barat Daya dan Amerika

Utara, Asia Tenggara, Asia Timur, Mediterania, India, dan

Timur Tengah.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa genotip VHB

berhubungan dengan kemungkinan serokonversi HBeAg,

progresi penyakit hati, dan respons terapi antivirus.

Sebagai contoh, penelitian di Taiwan menunjukkan bahwa

genotip C lebih lambat dibandingkan dengan genotip B.

Demikian juga kemungkinan untuk kekambuhan pada

660 I{EPATIOBILIER,

genotip B lebih rendah dibandingkan dengan genotip C.

Perbedaan respons terapi antara genotip B dan C:

. Interferon: respons pada genotip B lebih baik daripada

genotip C

. Lamiludin: respons sebanding atataragenotip B dan C

Kekanrbuhanpada genotip B lebih rendah dibandingkan C

Kekebalan lamivudin sebanding antara genotip B dan C

. Adefovir: sebanding antara genotip B dan C

Perbedaan respons terapi antara genotip A dan D:

. Interferon: respons genotip A lebih baik dibandingkan

dengan genotip D

. Lamivudin: respons genotip D lebih baik dibandingkan

genotip A.

Kekebalan terhadap lamivudin: genotip A lebih sering

dibandingkan genotip D

. Adefovir: sebanding antara genotip A dan D

Analog nukleosid dan transplantasi hati. Pada pasien

infeksi VHB yang perlu dilakukan transplantasi hati sangat

sulit untuk melakukan eradikasi VHB sebelum

transplantasi. Bila pasien ini  dilakukan transplantasi

maka angka kekambuhan infeksi VHB pasca transplantasi

sangat tinggi sebab  pasca transplantasi semua pasien

mendapatterapi imunosupresifyang kuat. sebab  itu, dulu

para ahli sempat meragukan manfaat transplantasi hati

pasien hepatitis B. Dengan adanya terapi anti vnus spesif,rk

yang dapat menghambat progresi penyakit hati setelah

transplantasi, maka kini transplantasi tetap diberikan

kepada pasien infeksi VHB. Penelitian menunjukkan bahwa

dengan menggunakan gabungan Hepatitis B immune

globulin (HBG) dengan lamivudin kekambuhan infeksi

VHB pasca transplantasi dapat ditekan sampai kurang dari

l0%. Di samping itu, lamivudin ternyata bisa

memperpanjang angka harapan hidup pasca transplantasi.




HEPATITIS C



Sebelum ditemukannya virus hepatitis C (VHC), dunia

medis mengenal 2 jenis virus sebagai pemicu  hepatitis,

yaitu : virus hepatitis A(VHA) dan virus hepatitis B (\IID).

Namun demikian, ada  ju ga peradatgathati yang tidak

disebabkan oleh kedua virus ini dan tidak dapat dikenal

pada saat itu sehingga dinamakan hepatitis Non-A, Non-

B (hepatitisNANB).

Hepatitis NANB memiliki  sifat yang menyerupai

hepatitis B yaitu didapatkan umumnya pasca transfusi

darah. Diketahui bahwa penyakit hepatitis ini  dapat

timbul dengan menyuntikkan serum dari pasien pada

hewan percobaan (simpanse) sehingga diduga keras

pemicu nya yaitu  satu jenis virus. Pencarian pemicu 

hepatitis itu kemudian dilakukan oleh banyak institusi

sampai kemudian Choo dan kawan-kawan dengan cara

amplifikasi dan identifftasi genetik berhasil mendapatkan

virus pemicu  hepatitis yang baru ini. Virus baru ini

kemudian dinamakanvirus hepatitis C (VHC).

Penemuan VHC didapatkan dengan melakukan

identifikasi gen virus ini, hal yang biasanya terbalik dalam

mengidentifikasi mikroorganisme dimana identifikasi gen

baru dilakukan setelah mikroorganisme ditemukan secara

fisis seperti dalam bentuk partikel-partikel virus. Choo dan

kawan-kawan berhasil mendapatkan sequence gen VHC

dan kemudian mengembangkan teknik deteksi virus ini

untuk pertama kalinya dengan metode EIA menggunakan

antigen yang didapat dari virus ini. Dalam penelitian lebih

lanjut temyata hepatitis NANB sebagian besar (> 80%)

disebabkan oleh VHC. Hal ini kemudian memicu 

banyak penelitian mengenai virus ini dan hepatitis yang

ditimbulkannya.

Infeksi VHC merupakan masalah yang besar sebab 

pada sebagian besar kasus menjadi hepatitis kronik yang

dapat membawa pasien pada sirosis hati dan kanker hati.

Di negaramaju, infeksiVHC merupakan salah satuindikasi

utama transplantasi hati.

VIROLOGIMOLEKULARVHG

VHC yaitu  virus RNA yang digolongkan dalam Flavivirus

bersama-sama dengan virus hepatiti s Ca yellow feteri dan

dengue. Virus ini umumnya masuk ke dalam darah melalui

transfusi atau kegiatan-kegiatan yang memungkinkan vi-

rus ini langsung terpapar dengan sirkulasi darah. Target

utamaVHC yaitu  sel-selhati danmungkinjuga sel limfosit

B melalui reseptor yang mungkin sekali serupa dengan

CD81 yang ada  di sel-sel hati maupun limfosit sel B

atau reseptor LDL (LDLR).

Setelah berada dalam sitoplasma sel hati, VHC akan

melepaskan selubung virusnya dan RNA virus siap untuk

melakukan translasi protein dan kemudian replikasi RNA.

Struktur gen VHC yaitu  sebuah RNA untai tunggal,

positif sepanjang kira-kira 10.000 pasan! basa dengan

daerah open reading frame (OkF) diapit oleh susunan

nukleotida yang tidak ditranslasikan (untrans I ated re gion

atau UTR) pada masing-masing ujung 5' dan 3'. Kedua

ujung gen VHC yang tidak ditranslasikan ini diketahui

sangat terpeliharu (conserved) sehingga saat ini dipakai

untuk identifrkasi adanya infeksi VHC, terutama pada ujung

5'. Regio ini juga sedang diteliti untuk dipakai  dalam

terapi hepatitis C sebab  berperan dalam replikasi virus ini.

Translasi protein VHC dilakukan oleh ribosom sel hati

yang akan mulai membaca RNA VHC dari satu bagian

spesifik (internal ribosom entry site atat I&ES) yang

ada  di regio 5'UTR.

Daerah ORF akan menghasilkan satu poliprotein yang

terdiri dari 3011 asam amino. Asam-asam amino yang

dihasilkan ORF ini akan diproses oleh peptidase sel hati

untuk protein-protein struktural VHC (dari core dan

662

HEPAilITISC 663

envelope region) dan protease-protease yang dikode oleh

VHC untuk protein-protein regulator dari regio non-

struktural (NS regloz). Sampai saat ini telah dikenal 3

macam protein struktural (core, El dan E2) maupun 7

protein non-struktural (regulator) yaitu : NS2, NS3, p7,

NS4a, NS4b, NS5a, danNS5b.

. Protein core dalam proses pengemasan virus setelah

keluar dari sel akan membungkus RNA VHC untai tunggal

positif di retikulum endoplasma. Protein ini juga ditemukan

dalam nukleus sel hati dan mungkin bertanggung jawab

dalam timbulnya kerusakan sel hati atau dalam fungsi

penekanan imunoregulasi dan apoptosis sel hati yang

terinfeksiVHC.

Dua bagian dairegioB2 dikenal sebagai hyperttariable

region (HI/RI dan HVR2) sebab  susunan nukleotidanya

sangat bervariasi dan merupakan hasil interaksi antara

virus dengan sistem imunologik yang khas untuk VHC.

Regio E2 juga mentranslasikan CDS1 yang berperan

sebagai reseptor virus untuk infeksi ke dalam sel. Antibodi

terhadap protein E2 ini dapat protektif pada percobaan

dengan simpanse. Regio E2 ini juga memuat sequence

yang identik dengan tempat fosforilasi protein kinase in-

terferon (PKR) yang mungkin berperan dalam kerentanan

VHC terhadap terapi interferon.

Regio NS2,3 dan 4,A. menghasilkan protease, NS3

menghasilkan helikase dan NS5B menghasilkan RNA-de-

pendent RNA polymerase. Di antara regio NS2 dan E,

ada  regio yang menghasilkan protein p7 mungkin

berfungsi sebagai saluran(chanel) ion di membran selular..

Bagian dari regio NS5A juga ditengarai memiliki 

hubungan dengan keberhasilan terapi dengan interferon

sehingga disebut sebagai interferon sensivity

determining region (ISDR) walaupun hal ini masih

kontroversial.

Protein-protein yang dihasilkan VHC berfungsi penting

dalam siklus hidup virus ini sehingga banyak penelitian

yang berusaha memanfaatkan protein-protein ini 

maupun regio dalam gen VHC itu untuk membuat anti

virus yang efektif.

Virus ini bereplikasi melalui RNA-dependent RNA

polymerase yang akan menghasilkan salinan RNA virus

tanpa mekanisme proof-reading (mekanisme yang akan

menghancurkan salinan nukleotidaiyang tidak persis sama

dengan aslinya). Kondisi ini akan memicu  timbulnya

banyak salinan-salinan RNA VHC yang sedikit berbeda

namun masih berhubungan satu sama lain pada seorang

pasien yang disebut sebagai quasispecies. Perbedaan

nukleotida di antara quasispecies tidak lebih dari lU%6

namun menimbulkan masalah pada pengenalan sistem

imunologik pasien terhadap virus ini sebab  perbedaan

struktur antigen yang di ekspresikan oleh VHC.

Kecepatan replikasi VHC sangat besar, melebihi HIV

maupun VHB. Data yang ada menunjukkan replikasi VHC

terjadi dalam sitoplasma sel hati dengan membuat salinan

RNA negatif sementara yang dilakukan oleh RNA-depen-

dent RNA polymerase; protein yang dikode oleh regio

NS5B pada gen VHC. Melalui salinan RNA negatifini dibuat

salinan-salinan RNA positif. Untuk kegiatan replikasi ini,

VHC memerlukan semua aktivitas enzim-enzimnya, gerap7

dan susunan ujung 3' yang tepat. Untai ganda RNA ini

akan diurai oleh helikase VHC (hasil translasi NS3) dan

dalam proses pengeluaran virus dari sel, untai RNA positif

tunggal yang dimasukkan dalam protein C (core) danB

(envelope).

Susunan gen-gen yang berbeda pada regio S'UTR, core

maupun NS5B diketahui dapat menggolongkan VHC dalam

beberapa genotipe dan subtipe. Genotipe dipisahkan oleh

perbedaan susunan gen lebih kurang 30% sedangkan

subtipe dipisahkan oleh perbedaan susunan gen <10%.

Saat ini telah diidentifftasi 6 genotipe yang berbeda dengan

subtipe yang banyak dan setiap saat bertambah terus. Di

Indonesia, Amerika serikat, dan Eropa barat terbanyak

yaitu  genotipe I a dan lb. Lebih dmi 600/o diarfiaru genotipe

yang berhasil diidentifikasi pada beberapa studi di

Indonesia merupakan genotipe la dan lb.

Genotipe memiliki  arti tidak saja dalammenentukan

penyebaran VHC secara geografisis namun  juga bermanfaat

dalam menentukan prognosis perjalanan penyakit dan

efektifitas pengobatan dengan inteferon. Genotipe I

memiliki  kecepatan replikasi lebih besar dari pada

genotipe lainnya sehingga umumnya kandungan virus

pada seorang pasien lebih besar. Genotipe ini diketahui

pula memiliki  prognosis lebih buruk dibandingkan

pasien dengan genotipe lainnya. Genotipe I dan 4

memerlukan terapi yang lebih lama dibandingkan dengan

genotipe 2 dan 3. Variasi di regio NS5A mungkin berperan

dalam menentukan keberhasilan terapi dengan interferon

namun  hal ini masih kontroversial sebab  tidak ditunjang

dengan bukti yang sama antara isolat di Jepang dengan di

Amerika atau Eropa.

PATOGENESIS

Studi mengenai mekanisme kerusakan sel-sel hati VHC

masih sulit dilakukan sebab  terbatasnya kultur sel untuk

VHC dan tidak adanya hewan model kecuali simpanse yang

dilindungi. Kerusakan sel hati akibat VHC atau partikel

virus secara langsung masih belum jelas. Namun beberapa

bukti menunjukkan adanya mekanisme imunologis yang

memicu  kerusakan sel-sel hati. Protein core misalnya

ditengarai dapat menimbulkan reaksi pelepasan radikal

oksigen pada mitokondria. Selain itu, protein ini diketahui

pula mampu berinteraksi pada mekanisme s ignaling dalam

inti sel terutama berkaitan dengan penekanan regulasi

imunologik dan apoptosis. Adanya bukti-bukti ini

memicu  kontroversi apakah VHC bersifat sitotoksik

atau tidak, terus berlangsung.

Reaksi cytotoxic T-cell (CTL) spesifik yang kuat

diperlukan untuk terjadinya eliminasi menyeluruh VHC

664 HEPAI'OBILIER

pada infeksi akut. Pada infeksi kronik, reaksi CTL yang

relatif lemah masih mampu merusak sel-sel hati dan

melibatkan respon inflamasi di hati namun  tidak bisa

menghilangkan virus maupun menekan evolusi genetik

VHC sehingga kerusakan sel hati berjalan terus menerus.

Kemampuan CTL ini  dihubungkan dengan aktivitas

limfosit sel T-helper (Th) spesifikVHC. Adanyapergeseran

dominasi aktivitas Th1 menjadi TM berakibat pada reaksi

toleransi dan melemahnya respons CTL.

Reaksi inflamasi yang dilibatkan melalui sitokin-sitokin

pro-inflamasi seperti TNF-cr, TGF-p I , akan memicu 

rekrutmen sel-sel inflamasi lainnya dan memicu 

aktivasi sel-sel stelata di ruang disse hati. Sel-sel yang

khas ini sebelumnya dalam keadaan 'tenang' (quiscent)

kemudian berproliferasi dan menjadi aktif menjadi sel-sel

miofibroblas yang dapat menghasilkan matriks kolagen

sehingga terjadi fibrosis dan berperan aktif dalam

menghasilkan sitokin-sitokin pro-infl amasi. Mekanisme ini

dapat timbul terus menerus sebab  reaksi inflamasi yang

terjadi tidak berhenti sehingga fibrosis semakin lama

semakinbanyak dan sel-sel hati yang ada semakin sedikit.

Proses ini dapat menimbulkan kerusakan hati lanjut dan

sirosis hati.

Pada gambaran histopatologis pasien hepatitis C kronik

dapat ditemukan proses inflamasi kronik berupa nekrosis

gerigit, maupun lobular, disertai dengan fibrosis di daerah

portal yang lebih lanjut dapat masuk ke lobulus hati (fr-

brosis septal) dan kemudian dapat memicu  nekrosis

dan fibrosis jembatan (bridging necrosis/fibrosis).

Gambaran yang agak khas untuk infeksi VHC yaitu 

agregat limfosit di lobulus hati namun tidak didapatkan

pada semua kasus inflamasi akibat VHC.

Gambaran histopatologis pada infeksi kronik VHC

sangat berperan dalam menentukan prognosis dan

keberhasilan terapi. Secara histopatologis dapat dilakukan

skoring untuk inflamasi dan fibrosis di hati sehingga

memudahkan untuk keputusan terapi, evaluasi pasien

mauprm komunikasi antara ahli patologi. Saat ini sistem

skoring yang memiliki  variasi intra dan interobserver

yang baik di antaranya yaitu  METAVIR dan ISHAK.

KARAKTERISTIK KLINIS DAN PERJALANAN

PENYAKIT

Umumnya infeksi akut VHC tidak memberi gejal a atathanya

bergejala minimal. Hanya 20 - 30 o/o kasus saja yang

mennnjukkan tanda-tanda hepatitis akuf 7 - 8 minggu

(berkisar 2 - 26 minggu) setelah terjadinya paparan.

Walaupun demikian, infeksi akut sangat sukar dikenal

sebab  pada umumnya tidak ada  gejala sehingga sulit

pula menentukan perjalanan penyakit akibat infeksi VHC.

Dari beberapa laporan yang berhasil mengidentifikasi

pasien dengan infeksi hepatitis C akut, di dapatkan adanya

gejala malaise, mual-mual dan ikterus seperti halnya

hepatitis akut akibat infeksi virus-virus hepatitis lainnya.

Hepatitis fulminan sangat jarang te{adi. AIT meninggi

sampai beberapa kali di atas batas atas nilai normal namun 

umunnya tidak sampai lebih dari 1000 U/L. Umumnya,

berdasar  gejala klinis dan laboratorik saja tidak dapat

dibedakan antara infeksi oleh virus hepatitis A, B

maupun C.

Infeksi akan menjadi kronik pada 70 - 90 0Z kasus dan

sering kali tidak menimbulkan gejala apapun walaupun

proses kerusakan hati berjalan terus. Hilangaya VHC setelah

te{adinya hepatitis kronik s angat jarungteq'adi. Diperlukan

waktu 20 -30 tahununtuk terjadinya sirosis hati yang akan

te{adi pada 15 -20 % pasien hepatitis C kronik.

Kerusakan hati akibat infeksi kronik tidak dapat

tergambar pada pemeriksaan fisis maupun laboratorik

kecuali bila sudah terjadi sirosis hati. Pada pasien dimana

ALT selalu normal, l8 - 20 % sudah ada  kerusakan

hati yang bermakna, sedangkan diantara pasien dengan

peningkatan ALT, hampir semuanya sudah mengalami

kerusakan hati sedang sampai berat.

Progresifitas hepatitis kronik menjadi sirosis hati

tergantung beberapa faktor risiko yaitu : asupan alkohol,

ko-infeksi dengan virus hepatitisB atalo Human Immuno-

deficiency l4rus (H$, jenis kelamin laki-laki, dan usia tua

saat teg'adinya infeksi. Setelah terjadi sirosis hati, maka

dapat timbul kanker hati dengan frekuensi I - 4 %o tiap

tahunnya. Kanker hati dapat tef adi tanpa melalui sirosis

hati walaupun hal ini amat jarang te{adi.

Ko-infeksi \rHC dengan HIV diketahui menjadi masalah

sebab  dapat memperburuk perjalanan penyakit hati yang

kronik, mempercepat terjadinya sirosis hati dan mungkin

pula mempercepat penurunan sistem kekebalan tubuh,

terutama infeksi oleh VHC genotipe l. Adanya ko-infeksi

VHC dan HIV juga menyulitkan terapi dengan obat-obatan

anti retrovirus sebab  memperbesar proporsi pasien yang

menderita gangguan fungsi hati dibandingkan dengan

mereka yang tidak ada  ko-infeksi VHC-HIV-.

Di Indonesia permasalahan ko-infeksi VHC dan HIV

banyak ditemukan pada pengguna narkotika suntik yang

menggunakan alat suntik bergantian. Lebih dari 80%

pengguna narkotika suntik terinfeksi oleh VHC. Pada

populasi ini juga ditemukan semakin tingginya proporsi

kejadian hepatotoksisitas penggunaan obat antiretroviral

(ALT >5 kali nilai normal) pada mereka dengan ko-infeksi

VHC-HIV dibandingkan dengan mereka yang hanya

menderita infeksi HIV saja. Proporsi hepatotoksisitas juga

semakin meningkat bila ada  ko-infeksi \rHC-HIV dan

VIIB yang juga tidak jarang ditemukan pada pengguna

narkotika di Indonesia.

Ko-infeksi VHC dengan virus hepatitis B (VHB) juga

memperburuk perjalanan penyakit pasien. Dilaporkan

kejadian sirosis hati relatif lebih banyak ditemukan pada

mereka yang menderita ko-infeksi VHC-VHB dibandingkan

dengan \rHC atau VHB saja. Selain itu, risiko terjadinya

kanker hati meningkat menjadi amattinggi pada mereka

665HEPAflTISC

yang menderita ko-infeksi ini dibandingkan hanya

terinfeksi salah satu virus ini  saja.

Superinfeksi oleh virus hepatitis A (VHA) pada pasien

yang telah terinfeksi VHC dilaporkan dapat menjadi

hepatitis akut yang berat maupun hepatitis fulminan. Untuk

itu, pasien VHC yang belum pernah terinfeksi VHA (anti-

HAV total negatif) dianjurkan untuk vaksinasi terhadap

infeksiVIIA.

Selain gejala-gejala gangguan hati, dapat pula timbul

manifestasi ekstra hepatik, antata lain : krioglobulinemia

dengan komplikasi-komplikasinya (glomenrlopati, kelemaharl

vaskulitis, purp wa, atau arbr:algia), poryhyr i a cut anea tard a,

s ic c a syndrome, atau lichen pl anus. P atoftsiologi gangguan-

gangguan ekstra hepatik ini belum diketahui pasti, namun

dihubrurgkan dengan kemampuan VHC untuk menginfeksi

sel-sel limfoid sehingga mengganggu respons sistem

imunologis. Sel-sel limfoid yang terinfeksi dapat berubah

sifatnya menjadi ganas sebab  dilaporkan tingginya angka

kejadian limfoma non-Hodgkin pada pasien dengan infeksi

VHC.

DIAGNOSTIK

Infeksi oleh VHC dapat diidentifftasi dengan memeriksa

antibodi yang dibentuk tubuh terhadap VHC bila virus ini

menginfeksi pasien. Antibodi ini akan bertahan lama setelah

infeksi terjadi dan tidak memiliki  arti protektif. Walaupun

pasien dapatmenghilangkan infeksi VHC pada ffieksi akut,

namun antibodi terhadap VHC masih terus bertahan

bertahun-tahun (18 - 20 tahun).

Deteksi antibodi terhadap VHC dilakukan umunmya

dengan teknik enzyme immuno assay (EIA). Antigen yang

dipakai  untuk deteksi dengan cara ini yaitu  antigen

C-100 danbeberapa antigen non-struktural (NS 3,4 dan 5)

sehingga tes ini menggunakan poliantigen dari VHC'

Dikenal beberapa generasi pemeriksaan antibodi VHC ini

dimana antigen yang dipakai  semakin banyak sehingga

saat ini generasi III memiliki  sensitivitas dan spesifisitas

yang tinggi. Antibodi terhadap VHC dapat dideteksi pada

^inggu 

ke 4 - l0 dengan sensitivitas mencapai 99 o/o dan

spesifisitas lebih dari 90%. Negatif palsu dapat terjadi pada

pasien dengan defisisiensi sistem kekebalan tubuh seperti

pada pasien HIV, gagal ginj al, atau pada krioglobulinemia.

Immunoblot assay dulu dipakai untuk tes konf,trmasi

pada mereka dengan anti-HCV positif dengan EIA. Saat

ini dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas EIA yang

sudah sedemikian tinggi, tes konfirmasi ini tidak lagi

dipakai .

Deteksi RNA VHC digrurakan urtuk mengetahui adanya

virus ini dalam tubuh pasien terutama dalam serum sehingga

memberikan gambaran infeksi sebenamya. Jumlah VHC

dalam serum maupun hati relatif sangat kecil sehingga

diperlukan teknik amplifikasi agar dapat terdeteksi. Teknik

polymerase chain reactioz (PCR) dimana gen VHC

digandakan oleh enzim polimerase dipakai  sejak

ditemukannya virus ini dan saat ini umrunnya dipakai 

untuk menentukan adanya VHC (secara kualitatif) maupun

menentukanjumlah virus dalam serum (kuantitatif). Teknik

ini juga dipakai dalam menentukan genotipe VHC. Teknik

lain yaitu  dengan menggan dakat signal yang didapat dari

gen VHC yang terikat pada probe RNA sehingga dapat

dihitung jumlah kuantitatif VHC. Hasil dari kedua metode

ini sulit dibandingkan satu sama lain walaupun saat ini telah

ada standarisasi dalam satuan pemeriksaan sehingga di

masa datang diharapkan satu pemeriksaan dapat diikuti

atau dilakukan pemeriksaan ulang dengan pemeriksaan lain

dengan hasil yang dapat dibandingkan.

Untuk menentukan genotipe VHC selain dengan teknik

PCR, juga dipakai  teknik hibridisasi atau dengan

melakukan se qu enc ing gen YHC.

Selain untuk pemeriksaan pada pasien, penentuan

adanya infeksi VHC dilakukan pada penapisan darah unhrk

transfusi darah. Umumnya unit-unit transfusi darah

menggunakan deteksi anti-VHC dengan EIA maupun

dengan cara imunokromatografi, namun masih ada 

kasus-kasus pasien yang terinfeksi oleh VHC walaupun

deteksi anti-VHC sudah dinyatakan negatif.

Teknik deteksi nukleotida lebih sensitif daripada

deteksi anti-VHC sebab  itu di dunia saat ini telah

dikgmbangkan teknik menggunakan real-time PCR yang

dapat mendeteksi RNA VHC dalam jumlah yang sangat

kecil (kurang dari 50 kopi/ml). Selain itu, teknologi

menggnnakan teknlk transcription'mediated amplifica-

/ion (TMA) juga telah dikembangkan untuk meningkatkan

sensitivitas deteksi VHC. Teknik-teknik yang sangat

sensitif ini berguna untuk deteksi infeksi VHC di kalangan

pasien maupun di kalangan masyarakat umum untuk

transfusi darah.

EPIDEMIOLOGI INFEKSI VHG

Infeksi VHC didapatkan di seluruh dunia. Dilaporkan lebih

kurang I 70 juta orang di seluruh dunia terinfeksi virus ini.

Prevalensi VHC berbeda-beda di seluruh dunia. Di Indo-

nesia belum ada dataresmi mengenai infeksi VHC namun 

dari laporan pada lembaga transfusi darah didapatkan lebih

kvrang2 % positif terinfeksi oleh VHC. Pada studi populasi

umum di Jakarta prevalensi VHC lebih kurang 4 %o.

Umumnya transmisi terbanyak berhubungan dengan

transfusi darah terutama yang didapatkan sebelum

dilakukannya penapisan donor darah untuk VHC oleh PMI.

Infeksi VHC juga didapatkan secara sporadik atau tidak

diketahui asal infeksinya. Hal ini dihubungkan dengan

sosial ekonomi rendah, pendidikan kurang, dan perilaku

seksual yang berisiko tinggi. Infeksi dari ibu ke anakjuga

dilaporkan namun sangat jarang terjadi, biasanya

dihubungkan dengan ibu yang menderita HIV sebab 

jumlah VHC di kalangan ibu yang menderita HfV biasanya

666 HEPATOBIIJER

tinggi. Dilaporkan pula terjadinya infeksi VHC pada

tindakan-tindakan medis seperti endoskopi, perawatan

gigi, dialisis, maupun operasi. VHC dapat berkansmisi

melalui luka tusukan jarum namun diketahui risikonya relatif

Iebih kecil dari pada VHB namun lebih besar dari pada

VIrc.

Umumnya genotipe yang didapatkan di Indonesia

yaitu  genotipe 1 (ebih kurang 60 - 70%) diikuti oleh

genotipe 2 dan genotipe 3. Dilaporkan adanya genotipe

khas untuk Indonesia yaitu genotipe lc namun  sebagian

para ahli menganggap genotipe ini sama dengan genotipe

I lainnya yang sudah dilaporkan hanya saja laporan

terdahulu menggunakan metode yang banya melihat

sebagian kecil gen VHC saja.

Prevalensi yang tinggi didapatkan pada beberapa

kelompok pasien seperti pengguna narkotika suntik (>

80%) dan pasien hemodialisis (70%). Pada kelompok

pengguna narkotika suntik ini selain infeksi VHC yang

tinggi, ko-infeksi dengan HIV juga dilaporkan tinggi (>

8070).

VHC didapatkan pada saliva pasien namun  infeksi VHC

melalui saliva dan kontak-kontak lain dalam rumah tangga

diketahui sangat tidak efisien untuk te{adinya infeksi dan

transmisi VHC sehingga amat jarang ditemukan adanya

transmisi VHC melalui hubungan dalam rumah tangga.

PENATAI.AKSANAAN

Untuk penatalaksanaan infeksi VHC beberapa badan

peneliti hati di dunia seperti American Asscociation for

Study of the Liver Diseases (AASLD), European

Association for Study of the Liver (EASL) dan Asia-Pa-

cific Association for Study of the Liver (APASL) serta

Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) sudah

mengeluarkan panduan penatalaksanaan. Pasien biasanya

diketahui terinfeksi VHC setelah adanya pemeriksaan anti-

HCV yang positif. Untuk mengetahui adanya infeksi

sebenarnya, pemeriksaan RNA VHC perlu dilakukan

dimana sekaligus diketahui jumlah virus di dalam darah

serta genotipe VHC.

Indikasi terapi pada hepatitis C kronik apabila

didapatkan peningkatan nilai ALT lebih dari batas atas

nilai normal, Menurut panduan penatalaksanaan, nilai ALT

lebih dari 2 kali batas atas nilai normal.Hal ini mungkin

tidak berlaku mutlak sebab  berapapun nilai ALT di atas

batas nilai normal biasanya sudah menunjukkan adanya

fibrosis yang nyata bila dilakukan biopsi hati. Bila nilai

ALT normal, harus diketahui terlebih dahulu apakah nilai

normal ini menetap (persisten) atau berfluktuasi dengan

memonitor nilai ALT setiap bulan untuk 4 - 5 kali

pemeriksaan. Nilai ALT yang berfluktuasi merupakan

indikasi untuk melakukan terapi namun bila nilai ALT tetap

normal, biopsi hati perlu dilalcukan agar dapat lebih jelas

diketahui fibrosis yang sudah terjadi.

Pada pasien yang tidak terjadi hbrosis hati (F0) atau

hanya merupakan fibrosis hati ringan @ I ), mungkin terapi

tidak perlu dilakukan sebab  mereka biasanya tidak

berkembang menjadi sirosis hati setelah 20 tahun menderita

infeksi VHC. Nilai fibrosis hati pada tingkat menengah atau

tinggi, sudah merupakan indikasi untuk terapi sedangkan

apabila sudah ada  sirosis hati, maka pemberian

interferon harus berhati-hati sebab  dapat menimbulkan

penurunan fungsi hati secara bermakna.

Pengobatan hepatitis C kronik yaitu  dengan

menggunakan interferon alfa dan ribavirin. Umumnya

disepakati bila genotipe VHC yaitu  genotipe I dan 4,

maka terapi perlu diberikan selama 48 minggu dan bila

genotipe 2 dan 3, terapi cukup diberikan selama24mnggt.

Kontra indikasi terapi yaitu  berkaitan dengan

penggunaan inteferon dan ribavirin ini . Pasien yang

berumur lebih dari 60 tahun, Hb < 10 g/dl, lekosit darah <

2500fuL, trombosit < 100.000/uL , adanya gangguan jiwa

yang berat, dan adanya hipertiroid tidak diindikasikan

untuk terapi dengan interferon dan ribavirin. Pasien dengan

gangguan ginjal juga tidak diindikasikan menggunakan

ribavirin sebab  dapat memperberat ganggunan ginjal yang

terjadi.

Untuk inteferon alfa yang konvensional, diberikan

setiap 2 hari atau 3 kali seminggu dengan dosis 3 juta unit

subkutan setiap kali pemberian. interferon yang telah diikat

dengan poly-ethylen glycol (PEG) atau di kenal dengan

Peg-Interferon, diberikan setiap minggu dengan dosis 1,5

ug/kg BB/ kali (untuk Peg-Inteferon 12 KD) atau 180 ug

(untuk Pe g-Interferon 40 KD).

Pemberian interferon diikuti dengan pemberian

ribavirin dengan dosis pada pasien dengan berat badan <

50 kg 800 mg setiap hari, 50 -70k91000 mg setiap hari,

dan > 70 kg 1200 mg setiap hari dibagi dalam 2 kali

pemberian.

Pada akhir terapi dengan inteferon dan ribavirin, perlu

dilakukan pemeriksaan RNA VHC secara kualitatif untuk

mengetahui apakah VHC resisten terhadap pengobatan

dengan interferon yang tidak akan bermanfaat untuk

memberikan terapi lanjutan dengan interferon dan tidak

memerlukan pemeriksaan RNA VHC 6 bulan kemudian.

Keberhasilan terapi dinilai 6 bulan setelah pengobatan

dihentikan dengan memeriksa RNA VHC kualitatif. Bila

RNA VHC tetap negatif, maka pasien dianggap memiliki 

respons virologik yang menetap (sustained virological

response atau SVR) dan RNA VHC kembali positif pasien

dianggap kambuh (relapser). Mereka yang tergolong

kambuh ini dapat kembali diberikan lnterferon dan ribavirin

nantinya dengan dosis yang lebih besar atau bila

sebelumnya menggunakan inteferon konvensional, Peg-

Interferon mungkin akan bermanfaat. Beberapa peneliti

menganjurkan pemeriksaan RNA VHC kuantitatif I 2 minggu

setelah terapi dimulai untuk menentukan prognosis

keberhasilan terapi dimana prognosis dikatakan baik bila

RNA VHC turun > 2log.

HEFATITISC 667

Efek samping penggunaan interferon yaitu  demam

dan gejala-gejala menyerupai flu (nyeri otot, malaise, tidak

nafsu makan, dan sejenisnya), depresi dan gangguan

emosi, kerontokan rambut lebih dari normal, depresi

sumsum tulang, hiperurisemia, kadang-kadang timbul

tiroiditis. Ribavirin dapat memicu  penurunan Hb.

Untuk mengantisipasi timbulnya efek samping ini ,

pemantauan pasien mutlak perlu dilakukan. Pada awal

pemberian interferon dan ribavirin dilakukan pemantauan

klinis, laboratoris (Hb, lekosit, trombosit, asam urat, dan

ALT) setiap 2 minggu yang kemudian dapat dilakukan

setiap bulan. Terapi tidak boleh dilanjutkan bila Hb < 8 g/

dL, lekosit< 1500/uL ataukadarnetrofrl < 500/uL, trombosit

< 50.000/uL, depresi berat yang tidak teratasi dengan

pengobatan anti-depresi, atau timbul gejala-gejala tiroiditis

yang tidak teratasi.

Keberhasilan terapi dengan inteferon dan ribavirin

untuk eradikasi VHC lebih kurang 60 %. Tingkat

keberhasilan terapi tergantung pada beberapa hal. Pada

pasien dengan genotipe I hanya 40o/o pasien yang berhasil

dieradikasi sedangkan untuk genotipe lain, tingkat

keberhasilan terapi dapat mencapai lebih dari 70Yo. Peg'

Inteferon dilaporkan memiliki  tingkat keberhasilan

terapi yang lebih baik daripada interferon konvensional.

Hal lain yang juga berpengaruh dalam kurangnya

keberhasilan respons terapi dengan inteferon yaitu 

semakin tua umur, semakin lama infeksi terj adi, j enis kelamin

lakiJaki, berat badan berlebih (obese), dan tingkat fibrosis

hati yang berat.

Pada hepatitis C akut, keberhasilan terapi dengan in-

terferon lebih baik daripada pasien hepatitis C kronik

hingga mencapai 100%. Pada kelompok pasien ini inter=

feron dapat dipakai  secara monoterapi tanpa Ribavirin

dan lama terapipada satu laporan hanya 3 bulan. Namun

sulit untuk menentukan infeksi akut VHC sebab  tidak

adanya gejala akibat infeksi virus ini sehingga umurnnya

tidak diketahui waktu yang pasti adanya infeksi. Apabila

jelas infeksi akut ini  terjadi misalnya pada tenaga

medis yang secara rutin dilakukan pemeriksaan anti-HCV

dengan hasil negatif dan kemudian setelah tertusuk jarum

anti-HCVmenjadi positif maka monoterapi dengan inter-

feron dapat diberikan.

Pada ko-infeksi HCV-HIV terapi dengan inteferon dan

ribavirin dapat diberikanbilajumlah CD4 pasien ini >200

seVml. Bila CD4 kurang dari nilai ini , respons terapi

sangat tidak memuaskan.

Untuk pasien dengan ko-infeksi VHC-VHB, dosis

pemberian inteferon untuk VHC sudah sekaligus

mencukupi unhrk terapi VHB sehingga kedua virus dapat

diterapi bersama-sama sehingga tidak diperlukan

nukleosida analog yang khusus untuk VHB.




SIROSIS HATI



Sirosis yaitu  suatu keadaan patologis yar,g

menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang

berlangsung progresifyang ditandai dengan distorsi dari

arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regeneratif.

Gambaran ini terjadi akibat nekrosis hepatoselular. Jaringan

penunj ang retikulin kolaps disertai deposit j aringan ikat,

distorsi jaringan vaskular, dan regenerasi nodularis

parenkimhati.

Sirosis hati secara klinis dibagi menjadi sirosis hati

kompensata yang berarti belum adanya gejala klinis yang

nyata dan sirosis hati dekompensatayalg ditandbi gejala-

gejala dan tanda klinis yang jelas. Sirosis hati kompensata

merupakan kelanjutan dari proses hepatitis kronik dan

pada satu tingkat tidak terlihat perbedaannya secara

klinis. Hal ini hanya dapat dibedakan melalui pemeriksaan

biopsi hati.

KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI

Sirosis secara konvensional diklasifikasikan sebagai

makronodular (besar nodul lebih dari 3 mm) atau

mikronodular (besar nodul kurang dari 3 mm) atau

campuran mikro dan makronodular. Selain itu juga

diklasifikasikan berdasar  etiologi, fungsional namun

hal ini juga kurang memuaskan.

Sebagian besar jenis sirosis dapat diklasifikasikan

secara etiologis dan morfologis menjadi: l). alkoholik, 2)

kriptogenik (an post hepatitis (pasca nekrosis), 3) biliaris,

4) kardiak, dan 5) metabolik, keturunan, danterkait obat.

Etiologi dari sirosis hati disajikan dalam Tabel 1. Di

negara barat yang tersering akibat alkoholik sedangkan di

Indonesia terutama akibat infeksi virus hepatitis B maupun

C. Hasil penelitian di Indonesia menyebutkan virus

hepatitis B memicu  sirosis sebesar 40-50oh, dan

virus hepatitis C 3}-4)yo,sedangkan l0-20oh pemicu nya

tidak diketahui dan termasuk kelompok virus bukan B dan

C (non B-noi Q. Alkohol sebagai pemicu  sirosis di

Indonesia mungkin frekuensinya kecil sekali sebab  belum

ada datanya.

EPIDEMIOLOGI

Lebih dari 40 0/o pasien sirosis asimtomatis. Pada keadaan

ini sirosis ditemukan waktu pemeriksaan rutin kesehatan

atartpadawaktu autopsi. Keseluruhan insidensi sirosis di

Amerika diperkirakan 360 per 100.000 penduduk.

pemicu nya sebagian besar akibat penyakit hati alkoholik

maupun infeksi virus kronik. Hasil penelitian lain

menyebutkan perlemakan hati akan memicu 

steatohepatitis nonalkoholik (NASH, prevalensi 4o/o) dan

berakhir dengan sirosis hati dengan prevalensi 0,3 yo.

Prevalensi sirosis hati akibat steatohepatitis alkoholik

dilaporkan 0,3 % juga. Di Indonesia data prevalensi sirosis

hati belum ada, hanya laporan-laporan dari beberapa pusat

pendidikan saja. Di RS Dr. Sardjito Yogyakarta jumlah

pasien sirosis hati berkisar 4, I % dari pasien yang dirawat

di Bagian Penyakit Dalam dalam kurun waktu I tahrm (2004)

( tidak dipublikasi). Di Medan dalam kurun wakhr 4 tahun

dijumpai pasien sirosis hati sebanyak 819 (4 %) pasien

dari seluruh pasien di Bagian Penyakit Dalam.

PATOLOGI DAN PATOGENESIS

Sirosis alkoholik atau secara historis disebut sirosis

Laennec ditandai oieh pernbentukan jaringan parut yang

difus, kehilangan sel-sel hati yang uniform, dan sedikit

nodul regeneratif. Sehingga kadang-kadang disebut sirosis

668

SIROSISHATI 669

mikronodular. Sirosis miklonodular dapat pula diakibatkan

oleh cedera hati lainnya. Tiga lesi hati utama akibat induksi

alkohol yaitu  I ). Perlemakan hati alkoholik, 2). Hepatitis

alkoholik, dan 3). Sirosis alkoholik.

Bruselosis

Ekinokokus

Skistosomiasis

Toksoplasmosis

Hepatitis virus (hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D,

sitomegalovirus)

Penyakit Keturunan dan Metabolik

Defi siensi cr1-antitripsin

Sindrom Fanconi

Galaktosemia

Penyakit Gaucher

Penyakit simpanan glikogen

Hemokromatosis

lntoleransi fl uktosa herediter

Tirosinemia herediter

Penyakit Wilson

Obat dan Toksin

Alkohol

Amiodaron

Arsenik

Obstruksi bilier

Penyakit perlemakan hati non alkoholik

Sirosis bilier primer

Kolangitis sklerosis primer

pemicu  Lain atau Tidak Terbukti

Penyakit usus inflamasi kronik

Fibrosis kistik

Pintas jejunoileal

Sarkoidosis

Perlemakan Hati Alkoholik

Steatosis atau perlemakan hati, hepatosit teregang oleh

vakuola lunak dalam sitoplasma berbentuk makrovesikel

yang mendorong inti hepatosit ke membran sel.

Hepatitis Alkoholik

Fibrosis perivenular berlanjut menj adi sirosis panlobular

akibat masukan alkohol dan destruksi hepatosit yang

berkepanj angan. Fibrosis yang terj adi dapat berkontraksi

di tempat cedera dan merangsang pembentukan kolagen.

Di daerah periportal dan perisenhal timbul septa jaringan

ikat seperti jaring yang akhirnya menghubungkan triad

ponal dengan vena sentralis. Jalinan jaringan ikat halus

ini mengelilingi massa kecil sel hati yang masih ada yang

kemudian mengalami regenerasi dan membentuk nodulus.

Namun demikian kerusakan sel yang terjadi melebihi

perbaikannya. Penimbunan kolagen terus berlanjut, ukuran

hati mengecil, berbenj ol-benjol (nodular) menj adi keras,

terbentuk sirosis alkoholik.

Mekanisme cedera hati alkoholik masih belum pasti.

Diperkirakan mekanismenya sebagai berikut: 1). Hipoksia

sentrilobular, metabolisme asetaldehid etanol

meningkatkan konsumsi oksigen lobular, terjadi

hipoksemia relatifdan cedera sel di daerah yangjauh dari

aliran darah yang teroksigenasi (misal daerah perisentral);

2). Infiltrasi/aktivitas neutrofil, terjadi pelepasan

chemoattractants neutrofil oleh hepatosit yang

memetabolisme etanol. Cedera jaringan dapat terjadi dari

neutrofil dan hepatosit yang melepaskan intermediet

oksigen reaktif, proteasa, dan sitokin; 3). Formasi acetal-

dehyde-proteiri adducts berperan sebagai neoantigen, dan

menghasilkan limfosit yang tersensitisasi serta antibodi

spesifik yang menyerang hepatosit pembawa antigen ini;

4). Pembentukan radikal bebas oleh jalur alternatif dari

metabolisme etanol, disebut sistem yang mengoksidasi

enzimmikrosomal.

Patogenesis fibrosis alkoholik meliputi banyak sitokin,

antara lain faktor nekrosis tumor, interleukin-I, PDGF, dan

TGF-beta. Asetaldehid kemungkinan mengaktifasi sel stelata

namun  bukan suatu faktor patogenik utama pada fibrosis

alkoholik.

Sirosis Hati Pasca Nekrosis

Gambaran patologi hati biasanya mengkerut, berbentuk

tidak teratur, dan terdiri dari nodulus sel hati yang

dipisahkan oleh pita fibrosis yang padat dan lebar.

Gambaran mikroskopik konsisten dengan gambaran

makroskopik. Ukuran nodulus sangat bervariasi, dengan

sejumlah besar jaringan ikat memisahkan pulau parenkim

regenerasi yang susunannya tidak terafur.

Patogenesis sirosis hati menurut penelitian terathir,

memperlihatkan adanya peranan sel stelata (stellate cel[).

Dalam keadaan normal sel stelata memiliki  peran dalam

keseimbangan pembentukan matriks ekstraselular dan

proses degradasi. Pembentukan fibrosis memrnjukkan

perubahan proses keseimbangan. Jika terpapar faktor

tertentu yang berlangsung secara terus menerus (misal:

hepatitis virus, bahan-bahan hepatotoksik), maka sel

stelata akan menjadi sel yang membentuk kolagen. Jika

proses be{alan terus maka fibrosis akan beg'alan terus di

dalam sel stelata, dan jaringan hati yang normal akan

diganti oleh jaringan ikat.

Sirosis hati yang disebabkan oleh etiologi lain

frekuensinya sangat kecil sehingga tidak dibicarakan di

slm.

MANIFESTAS! KLINIS

Gejala-gejala Sirosis

Stadium awal sirosis sering tanpa gejala sehingga kadang

ditemukan pada waktu pasien melakukan pemeriksaan

kesehatan rutin atau sebab  kelainan penyakit lain. Gejala

Penyakit lnfeksi

670 HEPANOBIIIER

awal sirosis (kompensata) meliputi perasaan mudah lelah

dan lemas, selera makan berkurang, perasaan perut

kembung, mual, beratbadan menurun, pada laki-laki dapat

timbul impotensi, testis mengecil, buah dada membesar,

hilangnya dorongan seksualitas. Bila sudah lanjut (sirosis

dekompensat a), gejala- gejala lebih menonjol terutama bila

timbul komplikasi kegagalan hati dan hipertensi porta,

meliputi hilangnya rambut badan, gangguan tidur, dan demam

tak begitu tinggi. Mungkin disertai adanya gangguan

pembekuan darah, perdarahan gusi, epistaksis, gangguan

siklus haid, ikterus dengan air kemih berwama seperti teh

pekat, muntah darah dan/ ataumelena, serta perubahan men-

tal, meliputi mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung, agitasi,

sampaikoma.

Temuan Klinis

Temuan klinis sirosis meliputi, spider angio maspider-

angiomata (atat spider telangiektasi), suatu lesi vaskular

yang dikelilingi beberapa vena-vena kecil. Tanda ini sering

ditemukan di bahu, muka, dan lengan atas. Mekanisme

terjadinya tidak diketahui, ada anggapandikaitkan dengan

peningkatan rasio estradiol/testosteron bebas. Tanda ini

juga bisa ditemukan selama hamil, malnutrisi berat, bahkan

ditemukan pula pada orang sehat, walau umumnya ukuran

lesi kecil.

Eritema palmaris, wama merah saga pada thenar darr

hipothenar telapak tangan. Hal ini juga dikaitkan dengan

perubahan metabolisme hormon estrogen. Tanda ini juga

tidak spesifik pada sirosis. Ditemukan pula pada kehamilan,

artritis reumatoid, hipertiroidisme, dan keganasan

hematologi.

Perubahan kuku-kuku Muchrche berupa pita putih

horisontal dipisahkan dengan warna normal kuku.

Mekanismenya juga belum diketahui, diperkirakan akibat

hipoalbuminemia. Tanda ini juga bisa ditemukan pada

kondisi hipoalbuminemia yang lain seperti sindrom

nefrotik.

Jari gada lebih sering ditemukan pada sirosis bilier.

Osteoartropati hipertrofi suatu periostitis proliferatif

kronik, menimbulkan nyeri.

Kontraktur Dupuytren akibat fibrosis fasia palmaris

menimbulkan kontraktur fleksi jari-jari berkaitan dengan

alkoholisme namun  tidak secara spesifik berkaitan dengan

sirosis. Tanda ini juga bisa ditemukan pada pasien

diabetes melitus, dishofi refleks simpatetik, dan perokok

yang juga mengkonsumsi alkohol.

Ginekomastia secara histologis berupa proliferasi

benigna jaringan glandula mammae laki-laki,

kemungkinan akibat peningkatan androstenedion. Selain

itu, ditemukan juga hilangnya rambut dada dan aksila pada

laki-laki, sehingga laki-laki mengalami perubahan ke arah

feminisme. Kebalikanny a pada perempuan menstruasi

cepat berhenti sehingga dikira tahap  menopause.

Atrofi testis hipogonadisme memicu  impotensi

dan infertil. Tanda ini menonjol pada alkoholik sirosis dan

hemokromatosis.

Hepatomegali-ukuran hati yang sirotik bisa membesar,

normal, atau mengecil. Bilamana hati teraba, hati sirotik

teraba keras dan nodular.

Splenomegali sering ditemukan terutama pada sirosis

yang pemicu nya nonalkoholik. Pembesaran ini akibat

kongesti pulpa merah lien sebab  hipertensi porta.

Asites, penimbunan cairan dalam rongga peritonium

akibat hipertensi porta dan hipoalbuminemia. Caput

medusa juga sebagai akibat hipertensi porta.

Fetor hepatikum, bau napas yang khas pada pasien

sirosis disebabkan peningkatan konsentrasi dimetil sulfid

akibat pintasan porto sistemik yang berat.

Ikterus-pada kulit dan membran mukosa akibat

bilirubinemia. Bila konsentoasi bilirubin kurang dai2-3 m!

dl tak terlihat. Warna urin terlihat gelap seperti air teh.

Asterixis-bllateral namun  tidak sinkron berupa gerakan

mengepak-ngepak dari taflgan, dorsofleksi tangan.

Tanda-tanda lain yang menyertai di antaranya:

. Demam yang tak tinggi akibat nekrosis hepar.

. Batu pada vesika felea al<tbathemolisis

. Pembesaran kelenjar parotis terutama pada sirosis

alkoholik, hal ini akibat sekunder infiltrasi lemak,

fibrosis, dan edema.

Diabetes melitus dialami 15 sampai 30% pasien sirosis.

Hal ini akibat resistensi insulin dan tidak adekuatnya

sekresi insulin oleh sel beta pankreas.

Gambaran Laboratoris

Adanya sirosis dicurigai bila ada kelainan pemeriksaan

laboratorium pada waktu seseorang memeriksakan

kesehatan rutin, atau waktu skrining untuk evaluasi

keluhan spesifft. Tes fungsi hati meliputi aminotransferase,

alkali fosfatase, gamma glutamil transpeptidase, bilirubin,

albumin, dan waktu protrombin.

Aspartat aminotransferase (AST) atau serum glutamil

oksalo asetat (SGOT) dan alanin aminotransferase (AIT)

atau serum glutamil piruvat transaminase (SGPT) meningkat

tapi tak begitu tinggi. AST lebih meningkat daripada ALT,

namun bila transaminase normal tidak mengenyampingkan

adanya sirosis.

Alkali fosfatase, meningkat kurang dari 2 sampai 3 kali

batas normal atas. Konsentrasi yang tinggi bisa ditemukan

pada pasien kolangitis sklerosis primer dan sirosis bilier

primer.

Gamma-glut arnil trarap eptid ase (GGT), konsentrasinya

seperti halnya alkali fosfatase pada penyakit hati.

Konsentrasinya tinggi pada penyakit hati alkoholik kronik,

sebab  alkohol selain menginduksi GGT mikrosomal

hepatik, juga bisa memicu  bocornya GGT dari

hepatosit.

Bilirubin, konsentrasinya bisa normal pada sirosis hati

SIROSISHATI 671

kompensata, tapi bisa meningkat pada sirosis yang lanjut.

Albumin, sintesisnya terjadi di jaringan hati,

konsentrasinya menurun sesuai dengan perburukan

sirosis.

Globulin, konsentrasinya meningkat pada sirosis.

Akibat sekunder dari pintasan, antigen bakteri dari sistem

porta ke jaringan limfoid, selanjutnya menginduksi produksi

imunoglobulin.

Waktu protrombin mencerminkan derajatltingkatan

disfungsi sintesis hati, sehingga pada sirosis

memanjang.

Natrium serum menurun terutama pada sirosis dengan

asites, dikaitkan dengan ketidakmampuan ekskresi air

bebas.

Kelainan hematologi anemia, pemicu nya bisa

bermacam-macam, anemia normokrom, normositer,

hipokrom mikrositer atau hipokrom makrositer. Anemia

dengan trombositopenia, lekopenia, dan netropenia akibat

splenomegali kongestif berkaitan dengan hipertensi porta

sehingga terjadi hipersplenisme.

Pemeriksaan radiologis barium meal dapat melihat

varises untuk konfirmasi adanya hipertensi porta.

Ultrasonografi (USG) sudah secara rutin dipakai 

sebab  pemeriksaannya non invasif dan mudah

dipakai , namun sensitivitasnya kurang. Pemeriksaan

hati yang bisa dinilai dengan USG meliputi sqduftati,

permukaan hati, ukurgn, hp4gggtriJas, dan adanya

massa. Pada sirosis lanjut, hati mengecil dan nodular,

permukaan irregular, dan ada peningkatan ekogenitas

parenkim hati. Selain itu USG juga bisa untuk melihat

asites, splenomegali, trombosis vena porta dan pelebaran

vena porta, serta skrining adanya karsinoma hati pada

paslen srrosls.

Tomografi komputerisasi, informasinya sama dengan

USG tidak rutin dipakai  sebab  biayanya relatif mahal.

Magnetic resonqnce imaging, peranannya tidak jelas

dalam mendiagnosis sirosis selain mahal biayanya.

DIAGNOSIS

Pada stadium kompensasi sempurna kadang-kadang

sangat sulit menegakkan diagnosis sirosis hati. Pada

proses lanjutan dari kompensasi sempurna mungkin bisa

ditegakkan diagnosis dengan bantuan pemeriksaan klinis

yang cermat, laboratorium biokimia/serologi, dan

pemeriksaan penunjang lainnya. Pada saat ini penegakan

diagnosis sirosis hati terdiri atas pemeriksaan fisis,

laboratorium, dan USG. Pada kasus tertentu diperlukan

pemeriksaan biopsi hati atau peritoneoskopi sebab  sulit

membedakan hepatitis kronik aktif yang berat dengan

sirosis hati dini.

Pada stadium dekompensata diagnosis kadangkala

tidak sulit sebab  gejala dan tanda-tanda klinis sudah

tampak dengan adanya komplikasi.

KOMPLIKASI

Morbiditas dan mortalitas sirosis tinggi akibat

komplikasinya. Kualitas hidup pasien sirosis diperbaiki

dengan pencegahan dan penanganan komplikasinya.

Komplikasi yang sering dijumpai antara lain

peritonitis bakterial spontan, yaitu infeksi cairan asites

oleh satu jenis bakteri tanpa ada bukti infeksi sekunder

intra abdominal. Biasanya pasien ini tanpa gejala, namun

dapat timbul dgmam dan nveri abdomen.

Pada sindrom hepatorenal, terjadi gangguan fungsi

ginjal akut berupa oliguri, peningkatan ureum, kreatinin

tanpa adanya kelainan organik ginjal. Kerusakan hati lanjut

memicu  pemrrunan perfusi ginjal yang berakibat

pada penurunan filtrasi glomerulus.

Salah satu manifestasi hipertensi poda yaitu  varises

esofagus. Duapuluh sampai 40 o/o pasielr sirosis dengan

varises esofagus pecah yang menimbulkan perdarahan.

Angka kematiannya sangat tinggi, sebanyak

duapertiganya akan meninggal dalam waktu satu tahun

walaupun dilakukan tindakan untuk menanggulangi

varises ini dengan beberapa cara.

Ensefalopati hepatik, merupakan kelainan

neuropsikiatrik akibat disfungsi hati. Mula-mula ada

gangguan tidur (insomnia dan hipersomnia), selanjutnya

dapat timbul gangguan kesadaran yang berlanjut sampai

koma.

Pada sindrom hepatopulmonal ada  hidrotoraks dan

hipertensi portopulmonal.

PENGOBATAN

Etiologi sirosis mempengaruhi penanganan sirosis. Terapi

ditujukan mengurangi progresi penyakit, menghindarkan

bahan-bahan yang bisa menambah kerusakan hati,

pencegahan dan penanganan komplikasi. Bilamana tidak

ada koma hepatik diberikan diet yang mengandung

protein lglkgBB dan kalori sebanyak 2000-3000 kkal/hari.

Tatalaksana pasien sirosis yang masih kompensata

ditujukan untuk mengurangi progresi kerusakan hati.

Terapi pasien ditujukan untuk menghilangkan etiologi, di

antaralyai alkohol dan bahan-bahan lain yang toksik dan

dapat mencederai hati dihentikan penggunaannya.

Pemberian asetaminofen, kolkisin, dan obat herbal bisa

menghambatkolagenik.

Pada hepatitis autoimun bisa diberikan steroid atau

imunosupresif.

Pada hemokromatosis fl ebotomi setiap minggu sampai

konsentrasi besi menjadi normal dan diulang sesuai

kebutuhan.

Pada penyakit hati nonalkoholik; menurunkan berat

badan akan mencegah terjadinya sirosis.

Pada (analog

nukleosi sebagai

672 HEFAI'OBIIJER

terapi linipertama diberikan 100 mg secara oral setiap hari

selama satu tahun. Namun pemberian lamivudin setelah 9-

12 bulan menimbulkan mutasi YMDD sehingga terjadi

resistensi obat. Interferon alfa diberikan secara suntikan

subkutan 3Mru, tiga kali seminggu selama 4-6 bulan,

namun temyata juga banyak yang kambuh.

Pada hepatitis C kronik, kombinasi interferon dengan

ribavirin merupakan terapi standar. Interferon diberikan

secara suntikan subkutan dengan dosis 5 MIU tiga kali

seminggu dan dikombinasi ribavirin 800-1000 mglhai.

selama 6 bulan.

Pada pengobatan fibrosis hati; pengobatan antifrbrotik

pada saat ini lebih mengarah kepada peradangan dan tidak

terhadap fibrosis. Di masa datang, menempatkan sel stelata

sebagai target pengobatan dan mediator fibrogenik akan

merupakan terapi utama. Pengobatan untuk mengurangi

aktifasi dari sel stelata bisa merupakan salah satu pilihan.

Interferon memiliki  aktivitas antifibrotik yang

dihubungkan dengan peng.rangan aktivasi sel stelata.

Kolkisin memiliki efek anti peradangan dan mencegah

pembentukan kolagen, namun belum terbukti dalam

penelitian sebagai anti fibrosis dan sirosis. Metotreksat

dan vitaminAjuga dicobakan sebagai anti fibrosis. Selain

itu, obat-obatan herbaljuga sedang dalam penelitian.

Pengobatan Sirosis Dekompensata

Asites; tirah baring dan diawali diet rendah gararn,

konsumsi garam sebanyak 5,2 gram atau 90 mmol /

hari. Diet rendah garam dikombinasi dengan obat-

obatan diuretik. Awalnya dengan pemberian

spironolakton dengan dosis 100-200 mg sekali sehari.

Respons diuretik bisa dimonitor dengan penurunan

berat badan 0 ,skglhari,tanpaadanyaedema kaki atau

1 kg/hari dengan adanya edema kaki. Bilamana

pemberian spironolakton tidak adekuat bisa dikombinasi

dengan furosemid dengan dosis 20-40 mg/hari. Pemberian

fiuosemid bisa ditambah dosisnya bila tidak ada respons,

maksimal dosisnya I 60 mg,&rari. Parasentesis dilal<ukan bila

asites sangat besar. Pengeluaran asites bisa hingga 4-6

liter dan dilindungi dengan pemberian albumin.

Ensefalopati hepatik; laktulosa membantu pasien untuk

mengeluarkan amonia. Neomisin bisa dipakai  untuk

mengurangi bakteri usus penghasil amonia, diet protein

dikurangi sampai 0,5 grlkg berat badan per hari, terutama

diberikan yangkaya asam amino rantai cabang.

Varises esofagus,' sebelum berdarah dan sesudah

berdarah bisa diberikan obat penyekat beta (propranolol).

Waktu perdarahan akut, bisa diberikan preparat somatosta-

tin atau oktreotid, diteruskan dengan tindakan skleroterapi

atau ligasi endoskopi.

Peritonitis bakterial spontan; diberikan antibiotika

seperti sefotaksim intravena, amoksilin, alav

aminoglikosida.

Sindrom hepatorenal; mengatasi perubahan sirkulasi

darah di hati, mengatur keseimbangan garam dan air.

Transplantasi hati; terapi definitifpada pasien sirosis

dekompensata" Namun sebelum dilakukan transplantasi

ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi resipien dahulu.

PROGNOS!S

Prognosis sirosis sangat bervariasi dipengaruhi sejumlah

faktor, meliputi etiologi, beratnya kerusakan hati,

komplikasi, dan penyakit lain yang menyertai.

Klasifikasi Child-Pugh (Tabet 2), juga untuk menilai

prognosis pasien sirosis yang akan menjalani operasi,

variabelnya meliputi konsentrasi bilirubin, albumin, ada

tidaknya asites dan ensefalopati juga status nutrisi.

Klasifrkasi ini terdiri dari Child A, B, dan C. Klasifikasi

Child-Pugh berkaitan dengan kelangsungan hidup.

Angka kelaqgsungan hidup selama satu tahun untuk

pasien dengan Child A, B, dan C berturut-turut 100, 80,

dan45 Yo.

Penilaian prognosis yang terbaru yaitu  Model for

End Stage Liver Disease (MELD) dipakai  untuk pasien

sirosis yang akan dilakukan transplantasi hati.

Derajat kerusakan Minimal Sedang Berat

Bil. Serum (mu.mol/dl)

Alb.serum (gr/dl)

Asites

PSE/ensefalopati

Nutrisi

<35 35-50 >50

>35 30-35 <30

nihil mudah dikontrol sukar

nihil minimal beraUkoma

sempurna baik kurang/kurus



ASITES yaitu  penimbunan cairan secara abnormal di

rongga peritoneum. Asites dapat disebabkan oleh banyak

penyakit. Pada dasarnya penimbunan cairan di rongga

peritoneum dapat te{adi melalui 2 mekanisme dasar yakni

transudasi dan eksudasi. Asites yang ada hubungannya

dengan sirosis hati dan hipertensi porta yaitu  salah satu

contoh penimbunan cairan di rongga peritoneum yang

terjadi melalui mekanisme transudasi. Asites jenis ini

paling sering dijumpai di Indonesia. Asites merupakan

tanda prognosis yang kurang baik pada beberapa penyakit.

Asites juga memicu  pengelolaan penyakit dasarnya

menjadi semakin kompleks. Infeksi pada cairan asites akan

lebih memperberat perjalanan penyakit dasarnya oleh

sebab  itu asites harus dikelola dengan baik. Pada bagian

ini terutama akan dibahas lebih dalam asites akibat sirosis

hati dan hipertensi porta.

PATOFISIOLOGI

Ada beberapa teori yang menerangkan patofisiologi asites

transudasi. Teori- teori itu misalnya underfilling, overfill-

ing dan periferal vasodilatqtion. Menurut teori

underJilling asites dimulai dari volume cairan plasma yang

menurun akibat hipertensi porta dan hipoalbuminemia.

Hipertensi porta akan meningkatkan tekanan hidrostatik

venosa ditambah hipoalbuminemia akan memicu 

transudasi, sehingga volume cairan intravaskular menurun.

Akibat volu.me cairan intravaskular menurun, ginjal akan

bereaksi dengan melakukan reabsorpsi air dan garam

melalui mekanisme neurohormonal. Sindrom hepatorenal

terjadi bila volume cairan intravaskular sangat menurun.

Teori ini tidak sesuai dengan hasil penelitian selanjutnya

yang menunjukkan bahwa pada pasien sirosis hati terjadi

105

ASITES

Hirlan

vasodilatasi perifer, vasodilatasi splanchnic bed,

peningkatan volume cairan intravaskular dan curah

jantung. Teoi overfilling mengatakan bahwa asites dimulai

dari ekspansi cairan plasma akibat reabsorpsi air oleh ginjal.

Gangguan fungsi itu terjadi akibat peningkatan aktivitas

hormon anti-diuretik (ADH) dan penurunan aktivitas

hormon natriuretik sebab  penumnan fungsi hati. Teori

overfilling tidak dapat menerangkan kelanjutan asites

menjadi sindrom hepatorenal. Teori ini juga gagal

menerangkan gangguan nenrohormonal yang terjadi pada

sirosis hati dan asites. Evolusi dari kedua teori itu yaitu 

teori vasodilatasi perifer. Menurut teori ini, faktor

patogenesis pembentukan asites yang amat penting yaitu 

hipertensi porta yang sering disebut sebagai faktor lokal

dan gangguan fungsi ginjal yang sering disebut faktor

sistemik.

Akiba