Tampilkan postingan dengan label hepatobilier 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hepatobilier 4. Tampilkan semua postingan

hepatobilier 4

 









t vasokonstriksi dan fibrotisasi sinusoid terjadi

peningkatan resistensi sistem porta dan terjadi hipertensi

porta. Peningkatan resistensi vena porta diimbangi dengan

vasodilatasi splanchnic bed oleh vasodilator endogen.

Peningkatan resistensi sistem portayang diikuti oleh

peningkatan aliran darah akibat vasodilatasi splanchnic

bed memicu  hipertensi porta menjadi menetap.

Hipertensi porta akan meningkatkan tekanan transudasi

terutama di sinusoid dan selanjutnya kapiler usus.

Transudat akan terkumpul di rongga peritoneum. Vasodi-

lator endogen yang dicurigai berperan antara lain :

glukagon, nitric oxide QiO), calcitonine gene related pep-

lile (CGRP), endotelin, faktor natriuretik atrial (ANF),

polipeptida vasoaktif intestinal (VIP), substansi P,

prostaglandin, enkefalin, dan tumor necrosis factor (TNF).

Vasodilator endogen pada saatnya akan memengaruhi

sirkulasi arterial sistemik; ada  peningkatan

vasodilatasi perifer sehingga terj adi proses underJilling

relatif. Tubuh akan bereaksi dengan meningkatkan aktivitas

sistem saraf simpatik, sistem renin-angiotensin- aldosteron

674

ASITES 675

dan arginin vasopresin. Akibat selanjutnya yaitu 

peningkatan reabsorpsi air dan garam oleh ginjal dan

peningkatan indeks jantung.

Gambar 1. Bagan patogenesis asites sesuai teori vasodilatasi

perifer

DIAGNOSIS

Asites lanjut amat mudah dikenali. Pada inspeksi akan

tampak perut membuncit seperti perut katak, umbilikus

seolah bergerak ke arah kaudal mendekati simpisis os pu-

bis. Sering dijumpai hernia umbilikalis akibat tekanan

intraabdomen yang meningkat. Pada perkusi, pekak

samping meningkat dan terjadi shffiing dullness. Asites

yang masih sedikit belum menunjukkan tanda-tanda fisis

y atg Ly ata. Diperluka.n cara pemeriksaan khusus misalnya

denganpudle slgn untuk menemukan asites. Pemeriksaan

penunjang yang dapat memberikan informasi untuk

mendeteksi asites yaitu  ultrasonografi. Untuk

mene gakkan diagnosis asites, ultrasono grafi memiliki 

ketelitian yang tinggi.

Parasentesis diagnostik sebaiknya dilakukan pada

setiap pasien asites baru. Pemeriksaan cairan asites dapat

memberikan informasi yang amat penting untuk

pengelolaan selanjutnya, misalnya : 1). Gambaran

makroskopik. Cairan asites hemoragik, sering

dihubungkan dengan keganasan. Warna kemerahan dapat

juga dijumpai pada asites sebab  sirosis hati akibat ruptur

kapiler peritoneum. Chillous ascites merupakan tanda

ruptur pembuluh limfe, sehingga cairan limfe tumpah ke

peritoneum; 2). Gradien nilai albumin serum dan asites

(s er um- as cit e s alb umine gr adient). P emeiksaan ini sangat

penting untuk membedakan asites yang ada hubungannya

dengan hipertensi porta atau asites eksudat. Disepakati

bahwa gradien dikatakan tinggi bila nilainy a> I ,l grarn/dL

. Kurang dari nilai itu disebut rendah. Gradien tinggi

ada  pada asites transudasi dan berhubungan dengan

hipertensi porta sedangkan nilai gradien rendah lebih

sering ada  pada asites eksudat. (Tabel 1) Konsentrasi

protein asites kadang-kadang dapat menunjukkan asal

asites, misalnya : protein asites < 3 gram/dl lebih sering

ada  pada asites transudat sedangkan konsentrasi

protein > 3 gram/dl sering dihubungkan dengan asites

eksudat. Pemeriksaan ini terbukti tidak akurat sebab  nilai

akurasinya hanya kira-kira 40%; 3). Hitung sel.

Peningkatan jumlah sel lekosit menunjukkan proses

inflamasi. Untuk menilai asal infeksi lebih tepat dipakai 

hitung jenis sel. Sel PMN yang meningkat lebih dari 250/

mm3 menunjukkan peritonitis bakteri spontan, sedangkan

peningkatan MN lebih sering terjadi pada peritonitis

tuberkulosa atau karsinomatosis; 4). Biakan kuman.

Biakan kuman sebaiknya dilakukan pada setiap pasien

asites yang dicurigai terinfeksi. Asites yang terinfeksi

akibat perforasi usus akan menghasilkan kuman

polimikroba sedangkan peritonitis bakteri spontan

monomikroba. Metoda pengambilan sampel untuk biakan

kuman asites sebaiknya disamakan dengan sampel untuk

biakan kuman dari darah yakni bed side innoculation

blood culture botle;5). Pemeriksaan sitologi. Pada kasus-

kasus karsinomatosis peritoneum, pemeriksaan sitologi

asites dengan carayatgbaik memberikan hasil lrue posi-

tivehampir 100%. Sampel untuk pemeriksaan sitologi

harus cukup banyak (kira-kira 200m1) untuk meningkatkan

sensitivitas. Harus diingat banyak tumor penghasil asites

tidak melalui mekanisme karsinomatosis peritoneum

sehingga tidak dapat dipastikan melalui pemeriksaan

sitologi asites. Tumor-tumor itu misalnya: karsinoma

hepatoselular masif, tumor hati metastasis, limfoma yang

menekan aliran limfe.

Gradien tinggi Gradien rendah

Sirosis hati

Gagal hati akut

Metastasis hati masif

Gagal jantung kongestif

Sindrom Budd-Chiari

Penyakit veno-oklusif

Miksedema

Karsinomatosis

peritoneum

Peritonitis Tuberkulosa

Asites surgikal

Asites biliaris

Penyakit jaringan ikat

Sindroma nefrotik

Asites pankreatik

PENGOBATAN

Pengobatan asites transudat sebaiknya dilakukan secara

komprehensif, meliputi :

Tirah baring. Tirah baring dapat memperbaiki efektifitas

diuretika, pada pasien asites transud at y ang berhubungan

dengan hipertensi porta. Perbaikan efek diuretika ini 

berhubungan dengan perbaikan aliran darah ginjal dan

frltrasi glomerulus akibat tirah baring. Tirah baring akan

tEb.rtrk;t.;l * F-ensktrd..ga"r l

Hipertensi porta

Vasodelatasi arteriolae splang nikus

Teka nan intrakapiler dan

koefisien filtrasi meningkat

Volume efektif darah arteri

menurun

Pembentukan cairan limfe

lebih besar daripada aliran

ba lik

Aktivasi ADH, sistem

simpatis, RAAS

676 HEFAI1OBILIER

memicu  aktivitas simpatis dan sistem renin-angio-

tensin-aldosteron menurun. Yang dimaksud dengan tirah

baring disini bukan istirahat total di tempat tidur sepanjang

hari, namun  tidur terlentang, kaki sedikit diangkat, selama

beberapajam setelah minum obat diuretika.

Diet. Diet rendah garam ringan sampai sedang dapat

membantu diuresis. Konsumsi garam (NaCl) perhari

sebailorya dibatasi hingga 40-60 meq/hari. Hiponatremia

ringan sampai sedang bukan merupakan kontraindikasi

untuk memberikan diet rendah garam, mengingat

hiponatremia pada pasien asites transudat bersifat relatif.

Jumlah total Na dalam tubuh sebenarnya di atas normal.

Biasanya diet rendah garam yang mengandung NaCl

kurang dari 40 mEq/hari tidak diperlukan. Konsenhasi NaCl

yang amat rendah justru dapat mengganggu fungsi ginjal.

Diuretika. Diuretika yang dianjurkan yaitu  diuretika yang

bekerja sebagai antialdosteron, misalnya spironolakton.

Diuretika ini merupakan diuretikahematkalium, beke{a di

tubulus distal dan menahan reabsorpsi Na. Sebenarnya

potensi natriuretik diuretika distal lebih rendah dari pada

diuretika loop bila etiologi peningkatan air dan garam

tidak berhubungan dengan hiperaldosteronisme. Efektif,rtas

obat ini lebih bergantung pada konsentrasinya di plasma,

semakin tinggi semakin efektif. Dosis yang dianjurkan

antara 100 - 600mg/hari. Jarang diperlukan dosis yang lebih

tinggi lagi.

Diuretika loop seing dibutuhkan sebagai kombinasi.

Diuretika ini sebenamya lebih berpotensi daripada dirnetika

distal. Pada sirosis hati, sebab  mekanisme utama

reabsorpsi air dan natrium yaitu  hiperaldosteronisme,

diuretika loop merjadikurang efektif.

Targetyang sebaiknya dicapai dengan terapi tirah bar-

ing, diet rendah garam dan terapi diuretika yaitu 

peningkatan diuresis sehingga berat badan turun 400-800

g I hari. Pasien yang disertai edema perifer pemrnrnan

berat badan dapat sampai 1500 g/hari . Sebagian besar

pasien berhasil baik dengan terapi kombinasi tirah baring,

diet rendah garam dan diuretika kombinasi. Setelah cairan

asites dapat dimobilisasi, dosis diuretika dapat disesuaikan.

Biasanya diet rendah garam dan spironolakton masih tetap

diperlukan untuk mempertahankan diuresis dan

natriuresis sehingga asites tidak terbentuk lagi.

Komplikasi diuretika pada pasien sirosis hati harus

diwaspadai. Komplikasi itu misalnya : gagal ginjal

fungsional, gangguan elektrolit, gangguan keseimbangan

asam-basa, dan ensefalopati hepatikum. Spironolakton

dapat memicu  libido menurun, ginekomastia pada

laki-laki, dan gangguan menstruasi pada perempuan.

Terapi parasentesis. Parasentesis sebenarnya merupakan

cara pengobatan asites yang tergolong kuno. Pada

mulanya sebab  berbagai komplikasi. parasentesis asites

tidak lagi disukai. Beberapa tahun terakhir ini parasentesis

kembali dianjurkan sebab  memiliki  banyak keuntungan

dibandingkan terapi konvensional bila dikerjakan dengan

baik. Untuk setiap liter cairan asites yang dikeluarkan

sebaiknya diikuti dengan substitusi albumin parenteral

sebanyak 6- 8 gram. S etelah parasentesis sebaiknya terapi

konvensional tetap diberikan. Parasentesis asites

sebaiknya tidak dilakukan pada pasien sirosis dengan

Child-Pugh C, kecuali asites ini  refrakter

Pengobatan terhadap penyakit yang mendasari. Asites

sebagai komplikasi penyakit-penyakit yang dapat diobati,

dengan menyembuhkan penyakit yang mendasari akan

dapat menghilangkan asites. Sebagai contoh yaitu  asites

pada peritonitis tuberkulosa. Asites yang merupakan

komplikasi penyakit yang tidak dapat disembuhkan

memerlukan pengobatan tersendiri. Asites eksudat yarlg

pemicu nya tidak dapat disembuhkan, misalnya

karsinomatosis peritoneum, sering hanya dilakukan

pengobatan paliatif dengan parasentesis berulang.





KOMA HEPATIK



Hati merupakan salah satu organ yang sangat berperan

penting dalam mengatur metabolisme tubuh, yaitu pada

proses anabolisme atau sintesis bahan-bahan yang

penting seperti sintesis protein, pembentukan glukosa

serta proses katabolisme yaitu dengan melakukan

detoksikasi bahan-bahan seperti amonia, berbagai jenis

hormon, obat obatan, dan sebagainya. Selain itu hatijuga

berperan sebagai penyimpan bahan-bahan seperti

glikogen dan vitamin serta memelihara keseimbangan aliran

darah splanknikus.

Adanya kerusakan hati akan mengganggu fungsi-

fungsi ini  sehingga dapat memicu  terjadinya

gangguan sistem saraf otak akibat zat-zat yang bersifat

toksik. Keadaan klinis gangguan sistem saraf otak pada

penyakit hati ini  merupakan gangguan

neuropsikiatrik yang disebut sebagai koma hepatik atau

ensefalopati hepatik.

Pe{alanan klinis koma hepatik dapat subklinis, apabila

tidak begitu nyata gambaran klinisnya dan hanya dapat

diketahui dengan cara-cara tertentu. Angka kekerapan

(prevalensi) ensefalopati subklinis berkisar antara 30Yo

sampai 88% pada pasien sirosis hati.

PATOGENESIS

Patogenesis koma hepatikum sampai saat ini belum

diketahui secara pasti hal ini disebabkan sebab : 1). Masih

ada nya perbedaan mengenai dasar neurokimia/

neurofisiologis; 2). Heterogenitas otak baik secara

fungsional ataupun biokimia yang berbeda dalam jaringan

otak; 3). Ketidakpastian apakah perubahan-perubahan

mental dan penemuan biokimia saling berkaitan satu

dengan lainnya.

Sebagai konsep umum dikemukakan bahwa koma

hepatik terjadi akibat akumulasi dari sejumlah zat neuro-

aktif dan kemampuan komagenik dari zat-zat ini  dalam

sirkulasi sistemik (Sherlocks, 1989).

Beberapa hipotesis yang telah dikemukakan pada

patogenesis koma hepatik afiaralair, yaitu :

Hipotesis amoniak. Amonia berasal dari mukosa usus

sebagai hasil degradasi protein dalam lumen usus dan dari

bakteri yang mengandung urease. Dalam hati amonia

diubah menjadi urea pada sel hati periportal dan menjadi

glutamin pada sel hati perivenus, sehingga jumlah amonia

yang masuk ke sirkulasi dapat dikontrol dengan baik.

Glutamin juga diproduksi oleh otot (50%), hati, ginjal, dan

otak(l%). Pada penyakit hati kronis akan tef adi gangguan

metabolisme amonia sehingga terjadi peningkatan

konsentrasi amonia sebesar 5-10 kali lipat.

Beberapa peneliti melaporkan bahwa amonia secara

invitro akan mengubah loncatan (fluk) klorida melalui

membran neural dan akan mengganggu keseimbangan

potensial aksi sel saraf. Di samping itu, amonia dalam

proses detoksikasi akan menekan eksitasi transmiter asam

amino, aspartat, dan glutamat.

Hipotesis toksisitas sinergik. Neurotoksin lain yang

memiliki  efek sinergis dengan amonia seperti

merkaptan, asam lemak rantai pendek (oktanoid), fenol,

dan lainJain.

Merkaptan yang dihasilkan dari metionin oleh bakteri

usus akan berperan menghambat NaK-AIP-ase.

Asam lemak rantai pendek terutama oktanoid

memiliki  efek metabolik seperti gangguan oksidasi,

fosforilasi dan penghambatan konsumsi oksigen serta

penekanan aktivitas NaK-ATP-ase sehingga dapat

memicu  koma hepatik reversibel.

Fenol sebagai hasil metabolisme tirosin dan fenilalanin

dapat menekan aktivitas otak dan enzim hati monoamin

677

678 I{EPATOBILIER

oksidase, laktat dehidrogeriase, suksinat dehidrogenase,

prolin oksidase yang berpotensi dengan zat lain seperti

amonia yang memicu  koma hepatikum. Senyawa-

senyawa ini  akan memperkuat sifat sifat

neurotoksisitas dari amonia.

Hipotesis neurotransmiter palsu. Pada keadaan normal

pada otak ada  neurotransmiter dopamin dan nor-

adrenalin, sedangkan pada keadaan gangguan frrngsi hati,

neurotransmiter otak akan diganti oleh neurotransmiter

palsu seperti oktapamin dan feniletanolamin, yang lebih

lemah dibanding dopamin atau nor-adrenalin (Mullen,

ree6).

Beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu  : a).

Pengaruh bakteri usus terhadap protein sehingga terjadi

peningkatan produksi oktapamin yang melalui aliran pintas

(shunt) masukke sirkulasi otak; b). Pada gagal hati seperti

pada sirosis hati akan terjadi penurunan asam amino rantai

cabang (BCAA) yang terdiri dari valin, leusin dan

isoleusin, yang memicu  terjadinya peningkatan

asam amino aromatik (AAA) seperti tirosin, fenilalanin,

dan triptopan sebab  penumnan ambilan hati (hepatic-

uptake).

Rasio antara BCAA dan AAA (Fisischer'ratio)

normal antara 3-3,5 akan menjadi lebih kecil dari 1,0.

Keseimbangan kedua kelompok asam amino ini 

penting dipertahankan sebab  akan menggambarkan

konsentrasi neurotransmiter pada susunan saraf.

Hipotesis GABA dan Benzodiazepin. Ketidakseimbangan

antara asam amino neurotransmiter yang merangsang dan

yang menghambat fungsi otak merupakan faktor yang

berperan pada terjadinya koma hepatik. Terjadi penurunan

transmiter yang memiliki efek merangsang seperti glutamat,

aspartat dan dopamin sebagai akibat meningkabrya amonia

dan gama aminobutirat (GABA) yang menghambat

transmisi impuls.

Efek GABA yang meningkat bukan sebab  influks yang

meningkat ke dalam otak tapi akibat perubahan reseptor

GABA dalam otak akibat suatu substansi yang mirip

benzodiazepin (benzodiazepin-like substance).

GAMBARAN KLINIS

Koma hepatik merupakan suatu sindrom neuropsikiatri

yang dapat dijumpai pada pasien gagal fungsi hati baik

yang akut maupun yang kronik.Pada umumnya gambaran

klinis berupa kelainan mental, kelainan neurologis,

ada nya kelainan parenkim hati serta kelainan

laboratorium.

Sesuai dengan perjalanan penyakit hati maka koma

hepatik dibedakan atas : 1). Koma hepatlk akut (fulminant

hepatic failure) ditemukan pada pasien hepatitis virus,

hepatitis toksik obat (halotan, asetaminofen), perlemakan

hati akut pada kehamilan, kerusakan parenkim hati yang

fulminan tanpa faktor pencetus (presipitasi). Perjalanan

penyakit eksplosif, ditandai dengan delirium, kejang

disertai dengan edema otak. Dengan perawatan intensif

angka kematian masih tinggi sekitar 80oh. Kematian

terutama disebabkan edema serebral yang patogenesisnya

belum j elas, kemungkinan akibat perubahan permeabilitas

sawar otak dan inhibisi neuronal (Na* dan K*) AIP-ase,

serta perubahan osmolar sebab  metabolisme amorria;,2).

Pada penyakit hati kronik dengan koma portosistemik,

perj alanan tidak pro gresif sehingga gej ala neuropsikiatri

terjadi pelan-pelan dan dicetuskan oleh beberapa faktor

pencetus. Beberapa faktor pencetus seperti azotemia,

sedatif, analgetik, perdarahan gastrointestinal, alkalosis

metabolik, kelebihan protein, infeksi, obstipasi, gangguan

keseimbangan cairan, dan pemakaian diuretik akan dapat

mencetuskan koma hepatik.

Pada permulaan perjalanan koma hepatikum

(ensefalopati subklinis) gambaran gangguan mental

mungkin berupa perubahan dalam mengambil keputusan

dan gangguan konsentrasi. Keadaan ini dapat dinilai

dengan uji psikomotor atau pada pasien dengan intelektual

cukup dapat dites dengan membuat gambar-gambar atau

dengan uji hubung angka (UHA), Reitan trail making

test, denganmenghubungkan angka-angka dari I sampai

25, kemudian diukur lama penyelesaian oleh pasien dalam

satuan detik. (Tabel 1)

Tingkat Gejala gejala Tanda-tanda Elektroensefalografi

(EEG)

Prodromal

Koma

mengancam

Koma ringan

Koma dalam

Afektif hilang, eufori

Depresi, apati, kelakuan

tak wajar, perubahan

kebiasaan tidur

Kebingungan, disorientasi, mengantuk

Kebingungan nyata, dapat bangun dari

tidur, bereaksi terhadap rangsangan

Tidak sadar, hilang reaksi rangsangan

Asteriksis, kesulitan bicara,

kesulitan menulis

Asteriksis, fetor hepatik

Asteriksis, fetor hepatik, lengan

kaku, hipereflek, klonus, reflek

menggenggam, mengrsap

Fetor hepatik, tonus otot hilang

(+)

(**)

(+++)

(++++)

679KOMATIEFAIIK

Tingkat 0

Tingkat I

Tingkat ll

Tingkat lll

Tingkat lV

DIAGNOSIS

Diagnosis koma hepatik ditegakkan berdasar  gambaran

klinis dan dibantu dengan beberapa pemeriksaan

penunjang. Pemeriksaan penunjang antara lain yaitu :

Elektroensefalografi (EEG). Dengan pemeriksaan EEG

terlihat peninggian amplitudo dan menurunnya jumlah

siklus gelombang perdetik. Terjadi penumnan frekuensi

dari gelombang normal Alfa (8- 12 Hz).

Tingkat Ensefalopati Frekuensi gelombang EEG

Tingkat Ensefalopati Kadar amonia darah dalam

Pg/dl

Tingkat 0

Tingkat 'l

Tingkat 2

Tingkat 3

Tingkat 4

< 150

151 -200

201 -250

251 - 300

> 300

Diagnosis Banding Koma Hepatik

1. Koma akibat intoksikasi obat-obatan dan alkohol

2. Trauma kepala seperti komosio serebri, kontusio serebri,

perdarahan subdural, dan perdarahan epidural

3. Tumorotak

4. Koma akibat gangguan metabolisme lain seperti

wemia,koma hipoglikemi4 koma hiperglikemia

5. Epilepsi

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan koma hepatik harus memperhatikan

apakah koma hepatik yang terjadi yaitu  primer atau

sekunder. Pada koma hepatik primer terj adinya koma yaitu 

akibat kerusakan parenkim hati yang berat tanpa adanya

faktor pencetus (presipitasi), sedangkan pada koma hepatik

sekunder terjadinya koma dipicu oleh faktor pencetus.

Upaya yang dilakukan pada penatalaksanaan koma

hepatik yaitu : l). Mengobati penyakit dasar hati; 2).

Mengidentifikasi dan menghilangkan faktor-faktor

pencetus; 3). Mengurangilmencegah pembentukan influks

toksin-toksin nitrogen kejaringan otak antara lain dengan

cara: a). Menurunkan atau mengurangi asupan makanan

yang mengandung protein, b). Menggunakan laktulosa

dan antibiotika, c). Membersihkan salwan cerna bagian

bawah. 4). Upaya suportif dengan memberikan kalori yang

cukup serta mengatasi komplikasi yang mungkin ditemui

seperti hipoglikemia, perdarahan saluran cerna, dan

keseimbangan elektrolit.

Secara umum tatalaksana pasien dengan koma hepatik

yaitu  memperbaiki oksigenasi jaringan, pemberian

vitamin terutama golongan vitamin B, memperbaiki

keseimbangan elektrolit dan cairan, serta menjaga agar

jangan terjadi dehidrasi. Pemberian makanan berasal dari

protein dikurangi atau dihentikan sementara, dan dapat

kembali diberikan setelah ada  perbaikan. Protein dapat

ditingkatkan secara bertahap, misalnya dari 10 gram

menjadi 20 gram sehari selama 3-5 hari disesuaikan dengan

respon klinis, dan bila keadaan telah stabil dapat diberikan

protein 40-60 gram sehari.

Sumber protein terutama dari campuran asam amino

rantai cabang. Pemberian asam amino ini diharapkan akan

menormalkan keseimbangan asam amino sehingga

Frekuensi alfa ( 8,5-1 2 siklusidetik)

7-8 siklus i detik

5-7 siklus / detik

3-5 siklus /detik

3 siklus /detik atau negatif

(Conn HO, 1994)

Tes psikometri. Cara ini dapat membantu menilai tingkat

kemampuan intelektual pasien yang mengalami koma

hepatik subklinis. Penggunaannya sangat sederhana dan

mudah melakukannya serta memberikan hasil dengan

cepat dan tidak mahal. Tes ini pertama kali dipakai oleh

Reitan (Reitan Trail Making Test) yang dipergunakan

secara luas pada ujian personal militer Amerika (Conn

HO, 1994) kemudian dilakukan modifikasi dari tes ini yang

disebut sebagai Uji HubungAngka (UHA) atauNumber

Connection Test (NCT). Dengan UHAtingkat ensefalopati

dibagi atas 4 kategori.

Tingkat Ensefalopati Hasil Uji Hubung Angka (UHA)

dalam detik

Normal

Tingkat I

Tingkat ll

Tingkat lll

Tingkat lV

15-30

31-50

51 -80

81 - 120

> 120

(Sanyal,1994)

Tes psikometri UHA dapat dipakai untuk menilai tingkat

ensefalopati hepatik terutama pada pasien sirosis hati yang

rawatjalan.

Pemeriksaan Amonia Darah. Amonia merupakan hasil

akhir dari metabolisme asam amino baik yang berasal dari

dekarboksilasi protein maupun hasil deaminasi glutamin

pada usus dari hasil katabolisme protein otot. Dalam

keadaan normal amonia dikeluarkan oleh hati dengan

pembentukan urea. Pada kerusakan sel hati seperti sirosis

hati, terjadi peningkatan konsentrasi amonia darah sebab 

gangguan fungsi hati dalam mendetoksifikasi amonia serta

adanya pintas (shunt) porto-sistemik. (Tabel 4)

680 HEPATOBILIER

neurotransmiter asli dan palsu akan berimbang dan

kemungkinan dapat meningkatkan metabolisme amonia di

otot.

Tujuan pemberian asam amino rantai cabang pada koma

hepatik (ensepalopati hepatik) antara lain yaitu : 1). Untuk

mendapatkan energi yang dibutuhkan tanpa memperberat

fungsi hati; 2). Pemberian asam amino rantai cabang akan

mengurangi asam amino aromatik dalam darah; 3). Asam

amino rantai cabang akan memperbaiki sintesis katekolamin

pada jaringan perifer; 4). Pemberian asam amino rantai

cabang dengan dekstrosa hipertonik akan mengurangi

hiperaminosidemia.

Selanjutnya dapat dipergunakan laksansia, antibiotika,

atau keduanya. Pemakaian laksansia laktulosa diberikan

secara oral dengan dosis 60-120 ml perhari untuk

merangsang defekasi.

Laktulosa merupakan suatu disakarida sintetis yang

tidak diabsorbsi oleh usus halus, namun  dihidrolisis oleh

bakteri usus besar, sehingga terjadi lingkungan dengan

pH asam yang akan menghambat penyerapan amoniak.

Selain itu frekuensi defekasi bertambah sehingga

memperpendek waktu transit protein di usus. Penggunaan

laktulosa bersama antibiotika yang tidak diabsorbsi usus

seperti neomisin, akan memberikan hasil yang lebih baik.

Neomisin diberikan 2-4 gram perhari baik secara oral

atau secara enema, walaupun pemberian oral lebih baik

kecuali ada  tanda-tanda ileus. Metronidazol 4 x 250

mg perhari merupakan alternatif.

Upaya membersihkan saluran cerna bagian bawah

dilakukan terutama kalau terjadi perdarahan saluran cerna

(hematemesis/melena) agar darah sebagai sumber toksin

nitrogen segera dikeluarkan.

PROGNOSIS

Pada koma hepatik portosistemik sekunder, bila faktor-

faktor pencetus teratasi, maka dengan pengobatan standar

hampir 80% pasien akan kembali sadar. Pada pasien dengan

koma hepatik primer dan penyakit berat prognosis akan

lebih buruk bila disertai hipoalbuminemia, ikterus, serta

asites. Sementara koma hepatik akibat gagalhati fulminan

kemungkinan hanya 20%o yang dapat sadar kembali setelah

dirawat pada pusat-pusat kesehatan yang maju.



Pasien dengan sirosis dan asites sering berkembang

menjadi gagal ginjal yang bersifat khusus, yang lebih

dikenal dengan nama sindrom hepatorenal (SHR), yang

disebabkan oleh terj adinya vasokonstriksi pada sirkulasi

ginj al. Gambaran histolo gi pada pasien seperti ini biasanya

normal, dan ginjal akan kembali menjadi normal atau

mendekati normal fimgsinya, setelah transplantasi hati.

Di samping perubahan pada fungsi ginjal, pasien dengan

SHR juga menunjukkan kelainan yang mencolok dari

sirkulasi pembuluh nadi sistemik dan aktivitas sistem

vasoaktif endogen, yang mungkin memegang peranan

yang sangat penting untuk timbulnya hipoperfusi ginjal.

Pasien penyakit hati yang berat misalnya sirosis hati

(SH) dekompensata, yang sering mengalami gangguan

fungsi ginj al ini, umumnya akan memperburuk pro gnosis

pasien. Gangguan fungsi ginjal padapasien SH ini dapat

disebabkan adany a gangguan hemodinamik, terutama

vasodilatasi perifer, yang akan diikuti aktivasi hormon

vasokonstriksi, sistem neurohormonal seperti renin-

aldosteron, vasopresin, endotelin dan peningkatan

aktivitas sistem saraf simpatis. Gangguan ini akanmemicu

retensi air dan natrium di ginjal, dan penurunan laju filtrasi

glomerulus ginjal (LFG). Kelainan fungsi ginjal pada

pasien SH ini bersifat fungsional, yaitu tanpa disertai

perubahan morfologis ginj al.

Pada stadium awal gangguan fungsi ginjal ini bersifat

reversibel, yaitu dapat membaik dengan intervensi medis.

Stadium ekstrim dari gangguan flrngsi ginjal ini yaitu 

sindrom hepatorenal (SHR) yang umumnya bersifat

ireversibel. Sekitar 20ohpasien SH dengan asites disertai

fungsi ginjal yang normal, akanmengalami SHR setelah 1

tahun, dan 39Yo setelah 5 tahun perjalanan penyakit.

Prognosis SHR umumnya buruk. Tanpa transplantasi hati

atau pengobatan dengan vasokonstriktor yang tepat, rerata

angka ketahanan hidup kurang dari 2 minggu.

SINDROM HEPATORENAL

Purnomo Budi Setiawan, Hernomo Kusumobroto

DEFINISI

Sindromhepatorenal (SHR) yaitu  gangguan fungsi ginjal

sekunder pada penyakit hati tingkat berat baik yang akut

maupun kronis. SHR bersifat fungsional dan progresif.

SHR merupakan suatu gangguan fungsi ginjal pre renal,

yaitu disebabkan adanya hipoperfusi ginjal, namun dengan

hanya perbaikan volume plasma sajatemyatatidak dapat

memperbaiki gangguan fungsi ginjal ini.

PATOGENESIS

Patogenesis SHR sampai sekarang belum secara lengkap

diketahui. Hipotesis patogenesis SHR yaitu  sbb: akibat

sirosis hati (SH) atau penyakit hati tingkat berat dan

bersama-sama dengan hipertensi portal akan

memicu  terjadinya vasodilatasi arteri splanknik.

Vasodilatasi ini akan memicu  hipovolemia arterial

sentral, sehingga merangsang aktivasi sisterr saraf simpatis,

renin-angiotensin-aldosteron, dan hormon antidiuretik

yar^g secara keseluruhan akan memicu 

vasokonstriksi pembuluh darah ginjal. Di ginjal seharusnya

akante{adi mekanisme kompensasi, namun dengan alasan

yang belum jelas justru terjadi ketidak-seimbangan

mekanisme kompensasi ini, yaitu meningkatnya

vasokonshikor disertai pemrrunan vasodilator.

Beberapa studi melaporkan beberapa perubahan

biokimiawi pada pasien SH dengan SHR sebagai berikut:

a. Hati

. pemrnman sintesis angiotensinogen dan kininogen

. penurunan pemecahan renin, angiotensin II,

aldosteron, endotoksin, dan vasopresin

b. Plasma

. peningkatan kadar renin, angiotensin II, aldosteron,

endotoksin noradrenalin, vasopresin, endotelin 2

dan 3, leukotrien C4 dan D4, kalsitonin peptida dan

681

682 HEFATOBILIER.

hormon antidiuretik

. pemrrunan kadar kalikrein, bradikinin, dan faktor

nahiuretik arterial

c. Urinatauginjal

. peningkatan renin, angiotensin II, aldosteron,

endotelin, tromboksan 42, leukotrien E4, prostag-

landin E2, prostasiklin, bradikinin.

Fakta hasil studi di atas kiranya menunjukkan betapa

pada pasien SHR terjadi vasokonstriksi ginjal dengan

segala akibatnya dengan mekanisme atau patogenesis

yang sangat kompleks. Studi lain menyatakan bahwa teq'adi

penurunan sintesis nitrit oksida yang merupakan

vasodilator kuat, pada pasien SH dan SHR.

Penyakit hati berat atau

sirosis hati

+

Hipertensi portal

I

Intrarenal :

Vasokontrikstor meningkat

Vasodilator menurun

Aktivasi:

- Simpatis

- Renin/angiotensin/Aldosteron

- Hormon antidiuretik

I

I

J

Gambar 1. Patogenesis terjadinya sindrom hepatorenal

pada pasien dengan penyakit hati berat atau sirosis hati

(dikutip dari Sherlock, 2002)

DIAGNOSIS

Menurut The International Ascites Club, tJiteria unfik

menegakkan diagnosis SHR terdiri dari 5 kriteria mayor

dan 5 kriteria tambahan. Diagnosis SHR dapat dibuat bila

ditemukan seluruh kriteria mayor.

Kriteria Mayor

1. Penyakit hati akut atau kronis dengan kegagalan tingkat

lanjut dan hipertensi portal

2. Laju filhasi glomerulus (LFG) yang rendah (kreatinin

serum > I ,5 mgldl ( I 3 0mmoVl) atau bersihan kreatinin <

40mUmenit)

3. Tidak ada syok, sepsis, kehilangan cairan, maupun

pemakaian obat-obatan nefrotoksik (misalnya OAINS

atau aminoglikosida)

4. Tidak ada perbaikan fungsi ginjal (penurunan kreatinin

serum < 1,5 mg/dl atau peningkatan bersihan kreatinin

> 40 ml/menit) sesudah pemberian cairan isotonik salin

1,5 liter

5. Proteinuria < 500 mgAari, tanpa obstmksi saluran kemih

atau penyakit ginj al pada pemeriksaan USG.

Kriteria Tambahan (tidak harus ada untuk

menegakkan diagnosis)

1. Volume urine <500 mlhari

2. Natriumurin<10 mEq/liter

3. Osmolaritas urin > osmolaritas plasma

4. Eritrosit urine <50/lapangan pandang (high powerfielS

5. Natrium serum<130 mEq/liter

SHR perlu dibedakan dengan adanya kondisi penyakit

hati bersamaan dengan penyakit ginjal atau penumnan

fungsi ginjal. Pada beberapa keadaan, diagnosis SHR

mungkin dapat dibuat setelah menyingkirkan (ruled out)

Pseudo- hepatorenal Syndrome. Pseudohepatorenal

Syndrome yaitu  suatu keadaan ada nya kelainan

fungsi ginjal bersama dengan gangguan fungsi hati yang

tidak memiliki  hubungan satu sama lain.

Beberapa pemicu  -P s eudohep atorenal Syndrome

yaitu  : 1). Penyakit kongenital (misalnya penyakit

polikista ginjal dan hati); 2). Penyakit metabolik

(diabetes melitus, amyloidosis, Penyakit Wilson); 3).

Penyakit sistemik (SLE, artritis rematoid, sarkoidosis);

4). Penyakit infeksi (leptospirosis, sepsis, malaria, hepa-

titis virus, dan lain-lain); 5). Gangguan sirkulasi (syok,

insufisisiensi jantung); 6). Intoksikasi (endotoksin, bahan

kimia, gigitan ular, luka bakar, dan lain-lain); 7).

Medikamentosa (metoksifluran, halotan, sulfonamid,

parasetamol, tetrasiklin, iproniazid); 8). Tumor

(hipernefroma, metastasis); 9). Eksperimenta (defisisiensi

kolin, dan lain-lain).

MANIFESTASI KLINIS

Pada pasien sirosis hati, 80% kasus SHR disertai asites,

7 5o/o disertai ensefalopati hepatik, dan40%o disertai ikterus.

683SINDROMHEFATIOREI{AL

Pada pasien sebelumnya tidak pernah menderita

penyakit ginjal.

Faktor risiko terjadinya SHR antara lain: kondisi

malnutrisi, volume hati yang mengecil, infeksi, perdarahan

saluran cerna, adanya varises esofagus, terapi diuretika,

gangguan elektrolit, obat obatan nefrotoksis, peningkatan

tekanan intra abdominal oleh sebab  asites yang masif,

fungsi asites yang kurang tepat.

SHR secara klinis dapat diklasifrkasikan dalam2 tipe yaifi:

SHRtipe 1. SHRtipe 1 merupakanmanifestasi yang sangat

progresif, di mana teq'adi peningkatan serum kreatinin dua

kali lipat (nilai awal serum kreatinin lebih dari2,5 mg/dl)

atau penurunan bersihan kreatinin 50Yo dari nilai awal

hingga mencapai 20 ml/menit dalam waktu kurang dari 2

minggu. Prognosis umunnya sangat buruk, yaitu sekitar

80% akan menin ggal dalam 2 minggu, dan hany a I lYo y ang

bisa bertahan lebih dari 3 bulan. pemicu  kematian yaitu 

sebab  gagal sirkulasi, gagal hati, gagal ginjal, dan

ensefalopati hepatik.

SHR tipe 2. SHR tipe 2 merupakan bentuk kronis SHR,

ditandai dengan penurunan LFG yang lebih lambat.

Kondisi klinis pasien biasanya lebih baik dibanding SHR

tipe l, dengan angka harapan hidup yang lebih lama. Prog-

nosis SHR tipe 2 umumnya buruk, yaitu angka harapan

hidup 5 bulan sekitar 50%o dar l tahun sebesar 20%. SHR

tipe 2 dapat berkembang menjadi SHR tipe I .

PENATATAKSANAAN

Sampai saat ini belum ada pengobatan efektifuntuk SHR,

oleh sebab  itu pencegahan terjadinya SHR harus mendapat

perhatian yang utama.

Penatalaksanaann Umum

SHR sebagian besar dipacu oleh ketidakseimbangan

cairan dan elektrolit pada pasien SH. Oleh sebab  pasien

SH sangat sensitif dengan perubahan keseimbangan

cairan dan elektrolit, maka hindari pemakaian diuretik

agresif, parasentesis asites, dan restriksi cairan yang

berlebihan.

. Terapi suportif berupa diet tinggi kalori, dan rendah

protein

. Koreksi kesimbangan asam basa

. HindaripemakaianOAINS

. Peritonitis bakterial spontan pada SH harus segera

diobati sedini dan seadekuat mungkin.

. Pencegahan ensefalopati hepatik juga harus dilakukan

dalam rangka mencegah terjadinya SHR

. Hemodialisis belum pemah secara formal diteliti pada

pasien SHR, namun tampaknya tidak cukup efektif dan

efek samping tindakan cukup berat, misalnyahipotensi,

koagulopati, sepsis, dan pendarahan saluran cerna.

Pengobatan Medikamentosa

Vasodilator. Dopamin secara luas dipakai  untuk

mengatasi vasokontriksi ginjal, namun belum ada bukti

pemberian dopamin ini secara bermakna bermanfaat pada

SHR

Yasokonstriktor. Rasionalisasi penggunaan vaso-

konstriktor yaitu  untuk mengatasi vasodilatasi splanknik

(yang merupakan salah satu hipotesis terjadinya sindrom

hepatorenal). Pemberian vasokonstriktor akan memberikan

dampak yang positif terutama bila dikombinasi dengan

pemberian infus albumin atau koreksi albumin serum.

Terlipressin merupakan vasokonstriktor yang baik pada

kasus SHR. Oktreotid merupakan vasokonstriktor altematif

bila terlipressin belum atau tidak tersedia.

Tindakan lnvasif

Transplantasi hati. Angka harapan hidup SHR tipe I

umrunnya pendek yaitu dari beberapa hari atau kurang

dari 2 minggu, sehingga transplantasi hati pada SHR tipe

1 sulit dilaksanakan.

Pada SHR tipe 2, transplantasi hati terbukti bermanfaat

padag}o/okasus dengan angka ketahanan hidup ybhg lebih

kurang sama dengan transplantasi hati pada pasien tanpa

SHR

TIPS (Transl ugular Intrahepatic P orto sytemic S hunt).

TIPS dapat memperbaiki perfusi ginjal dan menurunkan

aktivitas aksis RAAS. Pada pasien SHR yang tanpa

transplantasi hati TIPS bermanfaat pada 75oh kasus,

dengan angka ketahanan hidup SHR tipe 2 lebih baik

dibanding tipe 1 (70 %vs2}oh).

"Exlracorporeal Albumin Dyalisis", Metoda ini yaitu 

modifikasi dialisis dengan menggunakan albumin untuk

mengikat dialisat. Metoda ini dikenal sebagai MARS

(Mol ecul ar Ab s orb ent Recirculating Sys tem). Penelitian

masih dilalarkan terbatas, dan pada SHR tampaknya cukup

bermanfaat dan umumnya dipakai  untuk persiapan

transplantasi hati.




KARSINOMA HATI



Karsinoma hepatoselular (hepatocellular carcinoma :

HCC) merupakan tumor ganas hati primer yang berasal

dari hepatosit, demikian pula dengan karsinoma

fibrolamelar dan hepatoblastoma. Tumor ganas hati

lainnya, kolangiokarsinoma (Cholangiocarcinoma : CC)

dan sistoadenokarsinoma berasal dari sel epitel bilier,

sedangkan angiosarkoma dan leiomiosarkoma berasal dari

sel mesenkim. Dari seluruh tumor ganas hati yang pernah

didiagposis, 85% merupakan HCC; llo/oCC; dan5% yaitu 

jenis lainnya. Dalam dasawarsa terakhir terjadi

perkembangan yang cukup berarti menyangkut HCC,

antara lain perkembangan pada modalitas terapi yang

memberikan harapan untuk sekurang-kurangnya perbaikan

pada kualitas hidup pasien.

EPIDEMIOLOGI DAN FAKTORRISIKO HCC

HCC meliputi 5,6% dari seluruhkasus kankerpadamanusia

serta menempati peringkat kelima pada laki-laki dan

kesembilan pada perempuan sebagai kanker tersering di

dunia, danurutanketiga dari kanker sistem saluran cerna

setelah kanker kolorektal dan kanker lambung. Tingkat

kematian (rasio antara mortalitas dan insidensi) HCC juga

sangat tinggi, di urutan kedua setelah kanker pankreas.

Secara geograhsis, di dunia ada  tiga kelompok wilayah

tingkat kekerapan HCC, yaitu tingkat kekerapan rendah

(kurang dari tiga kasus); menengah (tiga hingga sepuluh

kasus); dan tinggi (lebih dari sepuluh kasus per I 00,000

penduduk). Tingkat kekerapan tertinggi tercatat di Asia

Timur dan Tenggara serta di Afrika Tengah, sedangkan

yang terendah di Eropa Utara; Amerika Tengah; Australia

dan Selandia Baru. (Tabel l)

Sekitar 80% dari kasus HCC di duniaberada di nelara

Sumber: Bosch FX, Ribes J, Borras J. Epidemiology of primary liver

cancer. Semin Liver Dis '1999;19:271-286

berkembang seperti Asia Timur dan Asia Tenggara serta

Afrika Tengah (Sub-Sahara), yang diketahui sebagai

wilayah dengan prevalensi tinggi hepatitis virus. Di negara

maju dengan tingkat kekerapan HCC rendah atau

menengah, prevalensi infeksi HCV berkorelasi baik dengan

arlgka kekerapan HCC. Menarik untuk dipelajari hasil

pengamatan berdasar  data dari registrasi kanker terpilih

dari seluruh dunia yang menengarai adanya

kecenderungan meningkatnya kekerapan HCC di banyak

rregata maju, sedangkan di negara-negara berkembang

bahkan terjadi penurunan. Diduga hal ini berkaitan dengan

Global

Afrika

Afrika Timur

Afrika Tengah

Afrika Utara

Afrika Selatan

Afrika Barat

Asia

Asia Timur

Asia Tenggara

Asia Tengah Selatan

Asia Barat

Kepulauan Pasifik

Eropa

Eropa Timur

Eropa Utara

Eropa Selatan

Eropa Barat

Amerika

Karibea

Amerika Tengah

Amerika Selatan

Amerika Serikat dan Kanada

Australia dan Selandia baru

14,97

14,44

24,21

4,95

6,16

13,51

35,46

18,35

2,77

5,60

12,98

5,80

2,61

9,84

5,85

7,58

2,06

4,80

4,11

3,60

5,51

6,02

12,98

2,68

2,07

6,16

12,66

5,70

1,45

2,04

6,38

2,55

1,39

3,45

'1,61

4,17

1,64

3,68

1,68

1,19

685

686 HEFATOBILIE,R

meningkatnya seroprevalensi infeksi HCV di negara maju

dan hasil upaya eliminasi faktor-faktor infeksi HBV di

negara berkembang.

HCC jarang ditemukan pada usia muda, kecuali di

wilayah yang endemik infeksi HBV serta banyak terjadi

transmisi HBV perinatal. Umumnya di wilayah dengan

kekerapan HCC tinggi, umur pasien HCC 10-20 tahun lebih

muda daripada umur pasien HCC di wilayah dengan

angka kekerapan HCC rendah. Hal ini dapat dijelaskan

antara lain sebab  di wilayah dengan angka kekerapan

tinggi, infeksi HBV sebagai salah sahr pemicu  terpenting

HCC, banyak ditularkan pada masa perinatal atau masa

kanak-kanak, kemudian terjadi HCC sesudah dua-tiga

dasawarsa. Pada semuapopulasi, kasus HCC laki-laki jauh

lebih banyak (dua-empat kali lipat) daripada kasus HCC

perempuan. Di wilayah dengan angka kekerapan HCC

tinggi, rasio kasus laki-laki dan perempuan dapat sampai

delapan berbanding satu. Masih belum jelas apakah hal

ini disebabkan oleh lebih rentannya laki-taki terhadap

timbulnya tumor, atau sebab  laki-laki lebih banyak terpajan

oleh faktor risiko HCC seperti virus hepatitis dan alkohol.

vrRUS HEPATTTTS B (HBV)

Hubungan antara infeksi kronik HBV dengan timbulnya

HCC terbukti kuat, baik secara epidemiologis, klinis

maupun eksperimental. Sebagian besar wilayah yang

hiperendemik HBV menunjukkan angka kekerapan HCC

yang tinggi. Di Taiwan pengidap kronis infeksi HBV

memiliki  risiko untuk terjadinya HCC 102 kali lebih

tinggi daripada risiko bagi yang bukan pengidap. Juga

ditengarai bahwa kekerapan HCC yang berkaitan dengan

HBV pada anak jelas menurun setelah diterapkannya

vaksinasi HBV universal bagi anak. Umur saat terjadi

infeksi merupakan faktorrisiko penting, sebab  infeksi IIBV

pada usia dini berakibat akan terjadinya persistensi

(kronisitas). Karsinogenisitas HBV terhadap hati mungkin

terjadi melalui proses inflamasi kronik, peningkatan

proliferasi hepatosit, integrasi HBV DNA ke dalam DNA

sel pejamu, dan aktivitas protein spesifik-HBV berinteraksi

dengan gen hati. Pada dasarnya, perubahan hepatosit dari

kondisi inaktif (quiescent) menjadi sel yang aktif

bereplikasi menentukan tingkat karsinogenesis hati. Siklus

sel dapat diaktifl<an secara tidak langsung oleh kompensasi

proliferatif merespons nekroinflamasi sel hati, atau akibat

dipicu oleh ekspresi berlebihan suatu atau beberapa gen

yang berubah akibat HBV. Koinsidensii infeksi HBV dengan

pajanan agen onkogenik lain seperti aflatoksin dapat

memicu  terjadinya HCC tanpa melalui sirosis hati

(HCC pada hati non sirotik). Transaktifasi beberapa pro-

moter selularatauviral tertentu oleh gen-x HBV (IIBx) dapat

memicu  terjadinya HCC, mungkin sebab  akumulasi

protein yang disandi HBx mampu memicu  akselerasi

proliferasi hepatosit. Dalam hal ini proliferasi berlebihan

hepatosit oleh HBx melampaui mekanisme protektif dari

apoptosis sel. Genotipe HBV ditengarai memiliki

kemampuan yang berbeda dalam mempengaruhi proses

pe{alanan penyakit. Relevansi klinis genotipe HBV semakin

jelas diketahui. Sebagai contoh, dibandingkan dengan

genotipe C, genotipe B dihubungkan dengan serokonversi

HBeAg yang lebih awal, progresi ke sirosis lebih lambat,

sefia lebih jarang berkembang menjadi HCC.

vrRUS HEPATTTTS C (HCV)

Di wilayah dengan tingkat infeksi HBV rendah, HCV

merupakan faktor risiko penting dari HCC. Prevalensi

anti-HCV pada pasien HCC di Cina dan Afrika Selatan

sekitar 30olo, sedangkan di Eropa Selatan dan Jepang 70-

80%. Meta analisis dari 32 penelitian kasus-kelola

menyimpulkan bahwa risiko terjadinya HCC pada pengidap

infeksi HCV yaitu  17 kali lipat dibandingkan dengan risiko

pada bukan pengidap. Koeksistensi infeksi HCV kronik

dengan infeksi HBV atau dengan peminum alkohol meliputi

20% dai kasus HCC. Di area hiperendemik HBV seperti

Taiwan, prevalensi anti-HCV jauh lebih tinggi pada kasus

HCC dengan HBsAg-negatif daripada yang HBsAg-positif.

Juga ditemukan bahwa prevalensi HCV-RNA dalam serum

dan jaringan hati lebih tinggi pada pasien HCC dengan

HBsAg-negatif dibandingkan dengan yang HBsAg-

positif. Ini menunjukkan bahwa infeksi HCV berperan

penting dalam patogenesis HCC pada pasien yang bukan

pengidap HBV. Pada kelompok pasien penyakit hati akibat

transfusi darah dengan anti-HCV positif, interval antara

saat transfusi hingga terjadinya HCC dapat mencapai 29

tahun. Hepatokarsinogenesis akibat infeksi HCV diduga

melalui aktivitas nekroinflamasi kronik dan sirosis hati.

Sirosis Hati

Sirosis hati (SH) merupakan faktor risiko rrtama HCC di

dunia dan melatarbelakangi lebih dari 80% kasus HCC.

Setiap tahun tiga sampai lima persen dari pasien SH akan

menderita HCC, dan HCC merupakan pemicu  utama

kematian pada SH. Otopsi pada pasien SH mendapatkan

20-80% diantararrya telah menderita HCC. Pada 60-80%

dari SH makronodular dan tiga sampai sepuluh persen

dari SH mikronodular dapat ditemukan adanya HCC.

Prediktorutama HCC pada SH yaitu jenis kelamin laki-

laki, peningkatan kadar alfa feto protein (AFP) serum,

beratnya penyakit dan tingginya aktivitas proliferasi sel

hati.

Aflatoksin

Aflatoksin Bl (AFB1) merupakan mikotoksin yang

diproduksi oleh j amur A s p er gi I lu s. D ai percobaan binatang

diketahui bahwa AFB1 bersifat karsinogen. Metabolit

AFB1 yaitu AFB 1-2-3-epoksid merupakan karsinogen

I(ARSINOMAII'I"II 687

utama dari kelompok aflatoksin yang mampu membentuk

ikatan dengan DNA maupun RNA. Salah satu mekanisme

hepatokarsino- genesisny a ialah kemampuan AFB I

menginduksi mutasi pada kodon 249 dad' gen supresor

tumor p53. Beberapa penelitian dengan menggunakan

biomarker di Mozambik, Afrika Selatan, Swaziland, Cina

dan Taiwan menunjukkan bahwa ada korelasi kuat antara

pajanan aflatoksin dalam diet dengan morbiditas dan

mortalitas HCC. Risiko relatifHCC dengan aflatoksin saja

yaitu 3.4, dengan infeksi HBV kronik risiko relatifnya7 ,

dan meningkat menjadi 59 bila disertai dengan kebiasaan

mengonsumsi afl atoksin.

Obesitas

Suatu penelitian kohort prospektifpada lebih dari 900,000

individu di Amerika Serikat dengan masa pengamatan

selama 16 tahun mendapatkan terjadinya peningkatan

angka mortalitas sebesar lima kali akibat kanker hati pada

kelompok individu dengan berat badan tertinggi (Indeks

masa tubuh:IMT 35-40Kg/m2) dibandingkan dengan

kelompok individu yang IMT-nya normal. Seperti

diketahui, obesitas merupakan faktor risiko utama untuk

non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), khususnya

non-alcoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat

berkembang menjadi sirosis hati dan kemudian dapat

berlanjutmenjadi HCC.

Diabetes Melitus (DM)

Telah lama ditengarai bahwa DM merupakan faktorrisiko

baik rmtuk penyakit hati kronik maupun untuk HCC melalui

terjadinya perlemakan hati dan steatohepatitis non-

alkoholik (NASH). Di samping itu, DM dihubungkan

dengan peningkatan kadar insulin dar. insulinJike growth

factors (IGF| yang merupakan faktor promotif potensial

untuk kanker. Indikasi kuatnya asosiasi antara DM dan

HCC terlihat dari banyak penelitian, antara lain penelitian

kasus-kelola oleh Hassan dkk. yang melaporkan bahwa

dari 115 kasus HCC dan230 pasien non-HCC, rasio odd

dari DM yaitu 4,3,meskipun diakui bahwa sebagian dari

kasus DM sebelumnya sudah menderita sirosis hati.

Penelitian kohort besar oleh El Serag dkk. yang melibatkan

173,643 pasien DM dan 650,620 pasien bukan DM

menemukan bahwa insidensi HCC pada kelompok DM

lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan insidensi

HCC kelompok bukan DM. Insidensi juga semakin tinggi

seiring dengan lamanya pengamatan (kurang dari lima

tahun hingga lebih dari 10 tahun). DM merupakan faktor

risiko HCC tanpamemandangumur, jenis kelamin danras,

dengan angka risiko 2,1 6 (CI 9 5% : 1,86 - 2,52, p < 0.000 I ).

Alkohol

Meskipun alkohol tidak memiliki kemampuan mutagenik,

peminum berat alkohol (>50-70 glhari dan berlangsung

lama) berisiko untuk menderita HCC melalui sirosis hati

alkoholik. Hanya sedikit bukti adanya efek karsinogenik

langsung dari alkohol. Alkoholisme juga meningkatkan

risiko terjadinya sirosis hati dan HCC pada pengidap infeksi

HBV atau HCV. Sebalikirya, pada sirosis alkoholik

terjadinya HCC juga meningkat bermakna pada pasien

dengan HBsAg-positif atau anti-HCV-positif. Ini

menunjukkan adanya peran sinergistik alkohol terhadap

infeksi HBV maupun infeksi HCV. Acapkali

penyalahgunaan alkohol merupakan prediktor bebas untuk

terjadinya HCC pada pasien dengan hepatitis kronik atau

sirosis akibat infeksi HBV atau HCV. Efek hepatotoksik

alkohol bersifat dose-dependent, sehingga asupan sedikit

alkohol tidak meningkatkan risiko terjadinya HCC.

FAKTORRISIKO LAIN

Selain yang telah disebutkan di atas, bahan atau kondisi

lain yang merupakan faktor risiko HCC namun lebihjarang

dibicarakan/ditemukan, antara lain : 1). Penyakit hati

autoimun (hepatitis autoimun; PB C/sirosis bilier primer) ;

2). Penyakit hati metabolik (hemokromatosis. genetik;

defisiensi antitripsin-alfal; penyakit Wilson); 3).

Kontrasepsi oral; 4). Senyawa kimia (thorotrast; vinil

klorida; nitrosamin; insektisida organoklorin; asam tanik);

5). Tembakau (masih kontroversial).

PATOLOGI

Secara makroskopis biasanya tumor berwama putih, padat,

kadang nekrotik kehijauan atau hemoragik. Acap kali

ditemukan trombus tumor di dalam vena hepatika atauporta

intrahepatik. Pembagian atas tipe morfologisnya yaitu :

l. ekspansif, dengan batas yang jelas, 2. infiltratif,

menyebar/menjalar; 3. multifokal.

Tipe ekspansif lebih sering ditemukan pada hati non-

sirotik. Menurut WHO secara histologik HCC dapat

diklasifikasikan berdasar  organisasi struktural sel tu-

mor sebagai berikut: 1). Trabekular (sinusoidal), 2).

Pseudoglandular (asiner), 3). Kompak (padat), 4. Sirous

Karakteristik terpenting untuk memastikan HCC pada

tumor yang diameternya lebih kecil dari 1,5 cm yaitu 

bahwa sebagian besar tumor terdiri semata-mata dari

karsinoma yang berdiferensiasi baik, dengan sedikit atipia

selular atau struktural. Bila tumor ini berproliferasi,

berbagai variasi histologik beserta de-diferensiasinya

dapat terlihat di dalam nodul yang sama. Nodul kanker

yang berdiameter kurang dari satu cm seluruhnya terdiri

dari jaringan kanker yang berdiferensiasi baik. Bila diam-

eter tumor antara I dan 3 cm, 40% dari nodulnya terdiri

atas lebih dari 2 jaringan kanker dengan derajat

diferensiasi yang berbeda-beda.

688 HEFAIIOBILIER,

PENYEBARAN

Metastasis intrahepatik dapat melalui pembuluh darah,

saluran limfe atau infiltrasi langsung. Metastasis

ekstrahepatik dapat melibatkan vena hepatika, vena porta

atau vena kava. Dapat terjadi metastasis pada varises

esofagus dan di paru. Metastasis sistemik seperti ke

kelenj ar getah bening di porta hepatis tidak jarang terjadi,

dan dapat juga sampai di mediastinum. Bila sampai di

peritoneum, dapat menimbulkan asites hemoragik, yang

berarti sudah memasuki stadium terminal.

KARAKTERISTIK KLINIS

Di Indonesia (khususnya di Jakarta) HCC ditemukan

tersering pada median umur aRtara 50 dan 60 tahun,

dengan predominasi pada laki-laki. Rasio antara kasus

laki-laki dan perempuan berkisar antara 2 - 6 : l.

Manifestasi klinisnya sangat bervariasi, dari asimtomatik

hingga yang gejala dan tandanya sangatjelas dan disertai

gagalhati. Gejala yang paling sering dikeluhkan yaitu 

nyeri atau perasaan tak nyaman di kuadran kanan-atas

abdomen. Pasien sirosis hati yang makin memburuk

kondisinya, disertai keluhan nyeri di kuadran kanan atas;

atau teraba pembengkakan lokal di hepar patut dicurigai

menderita HCC. Demikian pula bila tidak te{adi perbaikan

pada asites, perdarahan varises atau pre-koma setelah

diberi terapi yang adekuat; atau pasien penyakit hati

kronik dengan HbsAg atau anti-HCV positif yang

mengalami perburukan kondisi secara mendadak. Juga

harus diwaspadai bila ada keluhan rasa penuh di

abdomen disertai perasaan lesu, penurunan berat badan

dengan atau tanpa demam.

Keluhan gastrointestinal lain yaitu  anoreksia,

kembung, konstipasi atau diare. Sesak napas dapat

dirasakan akibat besamya tumor yang menekan diafragma,

atau sebab  sudah ada metastasis di paru. Sebagian besar

pasien HCC sudah menderita sirosis hati, baik yang masih

dalam stadium kompensasi, maupun yang sudah

menunjukkan tanda-tanda gagal hati sepedi malaise,

anoreksia, penurunan berat badan dan ikterus.

Temuan fisis tersering pada HCC yaitu  hepatomegali

dengan atau tanpa 'bruit' hepatik, splenomegali, asites,

ikterus, demam dan atrofi otot. Sebagian dari pasien yang

dirujuk ke rumah sakit sebab  perdarahan varises esofagus

atau peritonitis bakterial spontan (SBP) ternyata sudah

menderita HCC. Pada suatu laporan serial nekropsi

didapatkan bahwa 50o/o daripasien HCC telah menderita

asites hemoragik, yang jarang ditemukan pada pasien

sirosis hati saja. Pada l0% hingga 40o/o pasien dapat

ditemukan hiperkolesterolemia akibat dari berkurangnya

produksi enzim beta-hidroksimetilglutaril koenzim-A

reduktase, sebab  tiadanya kontrol umpan balik yang

normal pada sel hepatoma.

PATOGENESIS MOLEKULAR HCC

Mekanisme karsinogenesis HCC belum sepenuhnya

diketahui. Apapun agen pemicu nya, tansformasi maligna

hepatosit dapat terjadi melalui peningkatan p erpttarun (turn-

ove) selhanyangdiinduksi oleh cederu (injury) dan regenerasi

konik dalam bentuk inflamasi dan kerusakan oksidatif DNA.

Hal ini dapat menimbulkan perubahan genetik seperti

perubahan kromosom, aktivasi onkogen selular atau

inaktivasi gen supresor tumor, yang mungkin bersama dengan

kurang baiknya penanganan DNA mismatch, aklivasi

telomerase, serta induksi faktor-faktor pertumbuhan dan

angiogenik. Hepatitis virus kronik, akohol dan penyakit hati

metabolik seperti hemokromatosis dan defisisiensi

antitripsin-alfal, mungkin menjalankan peranannya terutama

melalui jalur ini (cedera kronik, regenerasi, dan sirosis).

DilaportcanbahwaHBV danmungkinjugaHCV dalamkeadaan

tertentu juga berperan langsung pada patogenesis molekular

HCC. Aflatoksin dapat menginduksi mutasi pada gen supresor

tumor p53 dan ini memrnjukkan bahwa faktor lingkungan

juga berperan pada tingkat molekular untuk berlangsungnya

proses hepato karsinogenesis.

Hilangnya heterozigositas (LOH : lost of hetero-

zygosity) juga dihubungkan dengan inaktivasi gen

supresor tumor. LOH atau delesi alelik yaitu  hilangnya

satu salinan (kopi) dari bagian tertentu suatu genom. Pada

manusia, LOH dapat terj adi di banyak bagian kromosom.

Infeksi HBV dihubungkan dengan kelainan di kromosom

17 atat pada lokasi di dekat gen p53. Pada kasus HCC,

lokasi integrasi HBV DNA di dalam kromosom sangat

bervariasi (acak). Oleh sebab  itu, HBV mungkin berperan

sebagai agen mutagenik insersional non-selektif. Integrasi

acap kali memicu  terjadinya beberapa perubahan dan

selanjutnya memicu  proses translokasi, duplikasi

terbalik, penghapusan (delesi) dan rekombinasi. Semua

perubahan ini dapat berakibat hilangnya gen-gen supresi

tumor maupun gen-gen selular penting lain. Dengan

analisis Southern blot, potongan (sekuen) HBV yang telah

terintegrasi ditemukan di dalamjaringan tumor/IICC, tidak

ditemukan di luarjaringan tumor. Produk gen X dari HBV,

lazim disebut HBx, dapat berfungsi sebagai transaktivator

transkripsional dari berbagai gen selular yang

berhubungan dengan kontrol pertumbuhan. Ini

menimbulkan hipotesis bahwa HBx mungkin terlib atpada

hepatokarsinogenesis oleh HBV.

Di wilayah endemik HBV ditemukan hubungan yang

bersifat do s e- dependent antara paj anan AFB 1 dalam diet

dengan mutasi pada kodon 2 49 danp$. Mutasi ini spesifik

unhrk HCC dan tidak memerlukan integrasi HBV ke dalam

DNAtumor. Mutasi genp53 terjadi pada sekitar 300/o kasus

HCC di dunia, dengan frekuensi dan tipe mutasi yang

berbeda menurut wilayah geografik dan etiologi tumomya.

Infeksi kronik HCV dapat berujung pada HCC setelah

berlangsung puluhan tahun dan umumnya didahului oleh

terjadinya sirosis. Ini menunjukkan peranan penting dari

I(ARSINOMAHATI 689

proses cedera hati traonik diikuti oleh regenerasi dan srosrs

pada proses hepatokarsinogenesis oleh HCV.

Selain yang disebutkan di atas, mekanisme

karsinogenesis HCC juga dikaitkan dengan peran dari 1).

Telomerase, 2). Insulin-like growth fuclors (IGFs), 3).

Insulin receptor substrste 1 (IRSI ).

Untuk proliferasi HCC yang diduga berperan penting

yaitu  vascalar endothelial growth factor (\{EGF) dan

basic Jibroblast growth factor (bFGF), berkat peran

keduanya pada proses angiogenesis.

PEMERIKSAAN PENYARING

Penanda Tumor

Alfa-fetoprotein (AFP) yaitu  protein serum normal yang

disintesis oleh sel hati fetal, selyolk-sac dan sedikit sekali

oleh saluran gastrointestinal fetal. Rentang normal AFP

serum yaitu  0-20 nlnL.KadarAFP meningkat pada 60%

sampai 70o/o daipasien HCC, dan kadar lebih dari 400 ngl

mL yaitu  diagrrostik atau sangat sugestif untuk HCC.

Nilai normal dapat ditemukan juga pada HCC stadium lanjut.

Hasil positif-palsu dapat juga ditemukan oleh hepatitis

akut atau kronik dan pada kehamilan. Penanda tumor lain

untuk HCC yaitu  des-gamma carboxy prothrombin

(DCP) atau PfVKA-Z,yang kadarnya meningkat pada

hngga9l% dari pasien HCC, namunjuga dapat meningkat

pada defisisiensi vitamin K, hepatitis kronik aktif atau

metastasis karsinoma. Ada beberapa lagi penanda HCC,

seperti AFP-L3 (suatu subfraksi AFP), alfa-L-fucos idas e

serum, dll., namun  tidak ada yang memiliki agregat

sensitivitas & spesifisitas melebihi AFP, AFP-L3 dan

PIVKA'.

U ltrasonografi Abdomen

Untuk meminimalkan kesalahan hasil pemeriksaan AIP,

pasien sirosis hati dianjurkan menjalani pemeriksaan USG

setiap tiga bulan. Untuk tumor kecil pada pasien dengan

risiko tinggi USG lebih sensitif dari pada AFP serum

berulang. Sensitivitas USG untuk neoplasma hati berkisar

ariaraTlo/o hingga 80%. Tampilan USG yang khas untuk

HCC kecil yaitu  gambaran mosaik, formasi septum,

bagian perifer sonolusen (ber-'halo'), bayangan lateral

yang dibentuk oleh pseudokapsul fibrotik, serta

penyangatan eko posterior. Berbeda dari tumor

metastasis, HCC dengan diameter kurang dari dua

sentimeter memiliki  gambaran bentuk cincin yang khas.

USG color Doppler sangat berguna untuk membedakan

HCC dari tumor hepatik lain. Tumor yang berada di bagian

atas-belakang lobus kanan mungkin tidak dapat terdeteksi

oleh USG. Demikian juga yang berukuran terlalu kecil dan

isoekoik.

Modalitas imaging lain seperti CT-scan, MRI dan

angiografi kadang diperlukan untuk mendeteksi HCC,

namun sebab  beberapa kelebihannya, USG masih tetap

merupakan alat diagnostik yang paling populer dan

bermanfaat.

Strategi Skrining dan Surveilans

Skrining dimaksudkan sebagai aplikasi pemeriksaan

diagnostik pada populasi umum, sedangkan surveillance

yaitu  aplikasi berulang pemeriksaan diagnostik pada

populasi yang berisiko untuk suatu penyakit sebelum ada

bukti bahwa penyakit ini  sudah terjadi.

sebab  sebagian dari pasien HCC, dengan atau tanpa

sirosis, yaitu  tanpa gejala, untuk mendeteksi dini HCC

diperlukan strategi khusus terutama bagi pasien sirosis

hati dengan HBsAg atau anti-HCV positif. berdasar 

atas lamanya waktu penggandaan (doubling time) diam-

eter HCC yang berkisar attara3 sampai 12 bulan (rerata 6

bulan), dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan AFP se-

rum dan USG abdomen setiap 3 hingga 5 bulan bagi pasien

sirosis maupun hepatitis kronik B atau C. Cara ini di Jepang

terbukti dapat menurunkan jumlah pasien HCC yang

terlambat dideteksi dan sebaliknya meningkatkan

identifrkasi tumor kecil (dini). Namun hingga kini masih

belumjelas apakah dengan demikian juga terjadi penurunan

mortalitas (liver-related mortality).

DIAGNOSIS

Untuk tumor dengan diameter lebih dari 2 cm, adanya

penyakit hati kronik, hipervaskularisasi arterial dari nodul

(dengan CT atau MRI) serta kadar AFP serum > 400 nlrL

yaitu  diagnostik (Tabel 2).

Kriteria sito-histologis

Kriteria non-invasif (khusus untuk pasien sirosis hati) :

Kriteria radiologis: koinsidensi 2 cara imaging (USG/CT-

spiraliMRl/angiografi )

. Lesi fokal > 2 cm dengan hipervaskularisasi arterial

Kriteria kombinasi : satu cara imaging dengan kadar AFP

serum:

. Lesi fokal > 2 cm dengan hipervaskularisasi arterial

. KadarAFP serum > 400 no/ml

Diagnosis histologis diperlukan bila tidak ada

kontraindikasi (untuk lesi berdiameter >2 cm) dan

diagnosis pasti diperlukan untuk menetapkan pilihan

terapi.

Untuk tumor berdiameter kurang dari 2 cm, sulit

menegakkan diagnosis secara non-invasif sebab  berisiko

tinggi terjadinya diagnosis negatif palsu akibat belum

matangnya vaskularisasi arterial pada nodul. Bila dengan

cara imaging dan biopsi tidak diperoleh diagnosis definitif,

690 HEPAIIOBILIE,R

sebaiknya ditindaklanjuti dengan pemeriksaan imaging

serial setiap 3 bulan sampai diagnosis dapat ditegakkan.

SISTEM STAG,,VG

Dalam staging klinis HCC ada  pemilahan pasien atas

kelompok-kelompok yang prognosisnya berbeda,

berdasar  parameter klinis, biokimiawi dan radiologis

pilihan yang tersedia. Sistem staging yang ideal

seharusnya juga mencantumkan penilaian ekstensi tumor,

derajat gangguan fungsi hati, keadaan umum pasien serta

keefektifan terapi. Sebagian besar pasien HCC yaitu 

pasien sirosis yangjuga mengurangi harapan hidup. Sistem

yang banyak dipakai  untuk menilai status fungsional

hati dan prediksi prognosis pasien sirosis yaitu  sistem

klasifikasi Child-Turcotte-Pugh, namun  sistem ini tidak

ditujukan untuk penilaian staging HCC. Beberapa sistem

yang dapat dipakai luntttkstaging HCC yaitu :

. Tumor-Node-Metastases (TNM Staging System

. Okuda Staging System

. Cancer of the Liver ltalian Program (CUP) Scoring

System

. Chinese University Prognostic Index (CUPI)

. Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC) Staging

System

TERAPI

sebab  sirosis hati yang melatarbelakanginya serta

tingginya kekerapan multi-nodularitas, resektabilitas HCC

sangat rendah. Di samping itu kanker ini juga sering

kambuh meskipun sudah menjalani reseksi bedah kuratif.

Pilihan terapi ditetapkan berdasar  atas ada tidaknya

sirosis, jumlah dan ukuran tumor, serta derajat pemburukan

hepatik. Untuk menilai status klinis, sistem skor Child-

Pugh menunjukkan estimasi yang akurat mengenai

kesintasan pasien. Telaah mengenai terapi HCC

menemukan sejumlah kesulitan sebab  terbatasnya

penelitian dengan kontrol yang membandingkan efftasi

terapi bedah atau terapi ablatif lokoregional, di samping

besarnya heterogenitas kesintasan kelompok kontrol pada

berbagai penelitian individual.

ReseksiHepatik

Untuk pasien dalam kelompok non-sirosis yang biasanya

memiliki  fungsi hati normal pilihanutama terapi yaitu 

reseksi hepatik. Namun untuk pasien sirosis diperlukan

kriteria seleksi sebab  operasi dapat memicu timbulnya

gagalhali yang dapat menurunkan angka harapan hidup.

Parameter yang dapat dipakai  untuk seleksi yaitu  skor

Child-Pugh dan derajat hipertensi portal atau kadar

bilirubin serum dan derajat hipertensi portal saja. Subjek

dengan bilirubin normal tanpa hipertensi portal yang

bermakna, harapan hidup 5 tahunnya dap atmencapai7 0%o.

Kontraindikasi tindakan ini yaitu  adanya metastasis

ekstrahepatik, HCC difus atau multifokal, sirosis stadium

lanjut dan penyakit penyerta yang dapat memengaruhi

ketahanan pasien menjalani operasi.

Transplantasi Hati

Bagi pasien HCC dan sirosis hati, transplantasi hati

memberikan kemungkinan untuk menyingkirkan tumor dan

menggantikan parenkim hati yang mengalami disfungsi.

Dilaporkan kesintasan 3 tahun mencapai 80%, bahkan

dengan perbaikan seleksi pasien dan terapi perioperatif

dengan obat antiviral seperti lamivudin, ribavirin dan

interferon dapat dicapai kesintasan 5 tahun sebesar 92o/o.

Kematian pasca transplantasi tersering disebabkan oleh

rekurensi tumor di dalam maupun di luar transplan.

Rekurensi tumor bahkan mungkin diperkuat oleh obat

antirejeksi yang harus diberikan. Tumor yang berdiameter

kurang dari 3cm lebih jarang kambuh dibandingkan

dengan tumor yang diameternya lebih dari 5 cm.

Ablasi Tumor Perkutan

Destmksi dari sel neoplastik dapat dicapai dengan bahan

kimia (alk