Tampilkan postingan dengan label hepatobilier 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hepatobilier 5. Tampilkan semua postingan

hepatobilier 5

 







ohol, asam asetat) atau dengan memodifikasi

suhunya (radiofrequency, microwave, laser dan

cryoablation). Injeksi etanol perkutan (PEI) merupakan

teknik terpilih untuk tumor kecil sebab  efftasinya tinggi,

efek sampingnya rendah serta relatif murah. Dasar kerjanya

yaitu  menimbulkan dehidrasi, nekrosis, oklusi vaskular

dan fibrosis. Untuk tumor kecil (diameter < 5 cm) pada

pasien sirosis Child-Pugh A, kesintasan 5 tahun dapat

mencapai 50%. PEI bermanfaat untuk pasien dengan

tumor kecil namua resektabilitasnya terbatas sebab  adanya

sirosis hati non-Child A.

Radiofrequency abl ation (RFA) menunjukkan angka

keberhasilan yang lebih tinggi daripada PEI dan efikasinya

tertinggi untuk tumor yang lebih besar dari 3 cm, namun

tetap tidak berpengaruh terhadap harapan hidup pasien.

Selain itu, RFA lebih mahal dan efek sampingnya lebih

banyak dibandingkan dengan PEI.

Guna mencegah terjadinya rekurensi tumor, pemberian

asam poliprenoik (polyprenoic acid) selama 12 bulan

dilaporkan dapat menurunkan angka rekurensi pada bulan

ke-38 secara bermakna dibandingkan dengan kelompok

plasebo (kelompokplasebo 49%; kelompokterapi PEI atau

reseksi kuratit22%).

Terapi Paliatif

Sebagian besar pasien HCC didiagnosis pada stadium

menengah-lanjut (intermediate-advanced stage) yang

tidak ada terapi standarnya. berdasar  meta analisis,

pada stadium ini hanya TAE/TACE (transarterial

I(ARSINOMATI.PITI 691

embolization/chemo embolization) saja yang

menunjukkan penurunan pertumbuhan fumor serta dapat

meningkatkan harupan hidup pasien dengan HCC yang

tidak resektabel. TACE dengan frekuensi 3 hingga 4 kali

setahun dianjurkan pada pasien yang fungsi hatinya cukup

bak (Child-Pugh 1\) serta tumor multinodular asimtomatik

tanpa invasi vaskular atau penyebaran ekstrahepatik, yang

tidak dapat diterapi secara radikal. Sebaliknya bagi pasien

yang dalam ke adaan gagalhati (Child-Pugh B-C), serangan

iskemik akibat terapi ini dapat memicu  efek samping

yang berat.

Adapun beberapa jenis terapi lain untuk HCC yang

tidak resektabel seperti imunoterapi dengan interferon,

terapi antiestrogen, antiandrogen, oktreotid, radiasi inter-

nal, kemoterapi arterial atau sistemik masih memerlukan

penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan penilaian yang

meyakinkan.

KESIMPULAN

Sebagian besar HCC terjadi pada sirosis hati yang

disebabkan oleh faktor risiko yang sudah dikenal dan

dapat dicegah (HBY HCY akohol, dan NASH). Infeksi

HBV dan HCV yaitu  pemicu  terpenting HCC. Faktor

lingkungan seperti aflatoksin ikut berperan dalam proses

transformasi pada patogenesis molekular HCC. Semakin

banyakbukti bahwa obesitas dan diabetes melitus yaitu 

faktor risiko untuk HCC.

Sebagian besar kasus HCC berproposis buruk sebab 

tumor yang besar/ganda dan penyakit hati yang lanjut

serta ketiadaan atau ketidakmamprurn penerapan terapi

yang berpotensi kuratif (reseksi, transplantasi dan PEI).

USG abdomen secara periodik merupakan cara terbaik

untuk surveilans HCC, namun belum jelas pengaruh szr-

veillance terhadap mortalitas spesifik-penyakit. Stadium

tumor, kondisi umum kesehatan, fungsi hati dan

intervensi spesifik mempengaruhi prognosis pasien HCC.

Pada kelompok kasus terseleksi, cangkok hati menghasilkan

kesintasan lebih baik daripada reseksi hepatik maupun PEI.

Satu-satunya terapi paliatif yang terbukti mampu

meningkatkan harapan hidup pasien HCC stadium

menengah/lanjut yaitu  TACE





A,BSES HATI PIOGENIK


Abses hati yaitu  berbentuk infeksi pada hati yang

disebabkan oleh sebab  infeksi bakteri, parasit, jamur

maupun nekrosis steril yang bersumber dari sistem

gastrointestinal yang ditandai dengan adanya proses

supurasi dengan pembentukan pus yang terdiri dari

jaringan hati nekrotik, sel-sel inflamasi atau sel darah

didalam parenkim hati. Abses hati terbagi2 secara umum,

yaitu abses hati amebik (AHA) dan abses hati piogenik

(AHP). AIIAmerupakan salah satu komplikasi amebiasis

ekstraintestinal yang paling sering dijumpai di daerah

tropik/subtropik, termasuk Indonesia. AHP dikenal juga

sebagai hepatic abscess, bacterial liver abscess,

bacterial abscess of the liveri bacterial hepatic abscess.

AHP ini merupakan kasus yang relatif jarang, pertama

ditemukan oleh Hippocrates (400 SM), dan dipublikasikan

pertama kali oleh Bright pada tahun I 936.

Di negara-negaru yar.g sedang berkembang, AHA

didapatkan secara endemik dan jauh lebih sering

dibandingkan AHP.4 AHP ini tersebar di seluruh dunia,

dan terbanyak di daerah tropis dengan kondisi higiene/

sanitasi yang kurang. Secara epidemiologi, didapatkan 8-

1 5 per I 00.000 kasus AHP yang memerlukan perawatan di

RS, dan dari beberapa kepustakaan Barat, didapatkan

prevalensi autopsi bervarias i ariaru 0,29 - 1,47 Yo sedzn$an

prevalensi di RS antara 0,008-0,016%. AHP lebih sering

terjadi pada pria dibandingkan peremprum, dengan rentang

usia berkisar lebih dari 40 tahun, dengan insidensi puncak

pada dekade ke-6.

Penyakit AHA ini masih menjadi masalah kesehatan

terutama di daerah dengan strain virulen Entamoeba

histolytica (E. Histolytica) yang tinggi. Sedangkan etiologi

AHP yaitu  enlerobacteriaceae, microaerophilic

streptococci, anaerobic streptococci, klebsielJa

pneumoniae, bacteriodes, fusobaclerium, staphylo-

coccus dureus, staphylococcus milleri, candida albicans,

aspergillus, actinomyces, eikenella corrodens, yersinia

enterolitica, salmonella typhi, brucella melitensis, dan

fungal. Pada era pre-antibotik, AHP terjadi akibat

komplikasi apendisitis bersamaan dengan fileplebitis.

Bakteri patogen melalui arteri hepabka atzumelalui sirkulasi

vena portal masuk ke dalam hati, sehingga terjadi

bakteremia sistemik, ataupun memicu  komplikasi

infeksi intra abdominal seperti divertikulitis, peritonitis dan

infeksi post operasi. Pada saat ini, sebab  pemakaian

antibiotik yang adekuat sehingga AHP oleh sebab 

apendisitis sudah hampir tidak ada lagi. Saat ini, ada 

peningkatan insidensi AHP akibat komplikasi dari sistem

biliaris, yaitu langsung dari kandung empedu atau melalui

saluran-saluran.empedu seperti kolangitis dan kolesistitis.

Peningkatan insidensi AHP akibat komplikasi dari sistem

biliaris disebabkan sebab  semakin tinggi umur harapan

hidup dan semakin banyak orang lanjut usia yang dikenai

penyakit sistem biliaris ini. Juga AHP disebabkan akibat

trauma tusuk atau tumpul, dan kriptogenik.

PATOGENESIS

Hati yaitu  organ yang paling sering untuk terjadinya

abses. Dari suatu studi diAmerika, didapatkan 13% abses

hati dari 48% abses viseral. Abses hati dapat berbentuk

soliter ataupun multipel. Hal ini dapat terjadi dari

penyebaran hematogen maupun secara langsung dari

tempat terjadinya infeksi di dalam rongga peritoneum. Hati

menerima darah secara sistemik maupun melalui sirkulasi

vena portal, hal ini memungkinkan terinfeksinya hati oleh

sebab  paparan bakteri yang berulang, namun  dengan

adanya sel Kuppfer yang membatasi sinusoid hati akan

menghindari terinfeksinya hati oleh bakteri ini .

Adanya penyakit sistem biliaris sehingga terjadi obstruksi

692

ABSESIIATIPIOGENIK 693

aliran empedu akan memicu  terjadinya proliferasi

bakteri. Adanya tekanan dan distensi kanalikuli akan

melibatkan cabang-cabang dari vena portal dan limfatik

sehingga akan terbentuk formasi abses fileflebitis.

Mikroabses yang terbentuk akan menyebar secara

hematogen sehingga terjadi bakteremia sistemik. Penetrasi

akibat trauma tusuk akan memicu  inokulasi bakteri

pada parenkim hati sehingga terjadi AHP. Penetrasi akibat

kauma tumpul memicu  nekrosis hati, perdarahan

intrahepatik dan terjadi kebocoran saluran empedu

sehingga terjadi kerusakan dari kanalikuli. Kerusakan

kanalikuli memicu  masuknya bakteri ke hati dan

te{adi pertumbuhan bakteri dengan proses supurasi dan

pembentukan pus. Lobus kanan hati yang lebih sering

terjadi AHP dibandingkan lobus kiri, hal ini berdasar 

anatomi hati, yaifu lobus kanan menerima darah dari arteri

mesenterika superior dan vena portal sedangkan lobus

kiri menerima darah dari arteri mesenterika inferior dan aliran

limfatik

MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi sistemik AHP biasanya lebih berat daripada

abses hati amebik. Dicurigai adanyaAHP apabila ditemukan

sindrom klinis klasik berupa nyeri spontan perut kanan

atas, yang ditandai dengan jalan membungkuk ke depan

dengan kedua tangan diletakkan di atasnya. Demam./panas

tinggi merupakan keluhanpalingutama, keluhan lain yaitu

nyeri pada kuadran kanan atas abdomen, dan disertai

dengan keadaan syok. Setelah era pemakaian antibiotik

yang adekuat. gejala dan manifestasi klinis AHP yaitu 

malaise, demam yang tidak terlalu tinggi dan nyeri hrmpul

pada abdomen yang menghebat dengan adanya

pergerakan. Apabila abses hati piogenik letaknya dekat

dengan diafragma, maka akan terjadi iritasi diafragma

sehingga terjadi nyeri pada bahu sebelah kanan, batuk

ataupun terjadi atelektasis. Gejala lainnya yaitu  rasa mual

dan muntah, berkurangnya nafsu makan, terjadi penurunan

berat badan yang unintentional,kelemahan badan, ikterus,

buang air besar berwarna seperti kapur dan buang air kecil

berwarna gelap.

Pemeriksaan fisis yang didapatkan febris yang

summer-sumer hingga demam/panas tinggi, pada palpasi

ada  hepatomegali serta perkusi ada  nyeri tekan

hepar, yang diperberat dengan adanya pergerakan

abdomen, splenomegali didapatkan apabila AHP telah

menjadi kronik, selain itu, bisa didapatkan asites, ikterus,

serta tanda-tanda hipertensi portal.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis

yang tinggi dengan pergeseran ke kiri, anemia, peningkatan

laju endap darah, peningkatan alkalin fosfatase,

peningkatan enzim transaminase dan serum bilirubin,

berkurangnya konsentrasi albumin serum dan waktu

protrombin yang memanjang memrnjukkan bahwa ada 

kegagalan fungsi hati yang disebabkan AHP.Tes serologi

dipakai  untuk menyingkirkan diagnosis banding.

Kultur darah yang memperlihatkan bakterial pemicu 

menjadi standar emas untuk menegakkan diagnosis secara

mikrobiologik.

Pada pemeriksaan penunjangyang lain, seperti pada

pemeriksaan foto toraks, dan foto polos abdomen

ditemukan diafragma kanan meninggi, efusi pleural,

atelektasis basiler, empiema atau abses paru. Pada foto

toraks PA, sudut kardiofrenikus tertutup, pada posisi

lateral sudut kostofrenikus anterior tertutup. Di bawah

diafragma, terlihat bayangan udara atau air fluid level.

Abses lobus kiri akan mendesak kurvatura minor. Secara

angiografik, abses merupakan daerah avaskular.

Pemeriksaan penunjang yang lain yaittt abdominal

CT-scan ata:u MM, ultrasonografi abdominal dan biopsi

hati, kesemuanya saling menunjang sehingga memiliki

-nilai diagnostik semakin tinggi. Abdominql CT-scan

memiliki sensitivitas 95-l00yo, dan dapat mendeteksi

luasnya lesi hingga kurang dari I cm. l.Iltrasound

abdomen memiliki sensitivitas 80-900 , Ultrasound-

Guided Aspiratefor Culture and Special Stains, dengan

kultur hasil aspirasi terpimpin dengan ultrasound

didapatkan positif 9002 kasus, sedangkan gallium dan

technectium radionuclide scanning memiliki sensitivitas

50-90%.

DIAGNOSIS

Menegakkan diagnosis AHP berdasar  anamnesis,

pemeriksaan fisis dan laboratoris sefta pemeriksaan

penunjang. Diagnosis AHP kadang-kadang sulit

ditegakkan sebab gejala dan tanda klinis sering tidak

spesifik. Sedangkan diagnosis dini memberikan arti

penting dalam pengelolaan AHP sebab  penyakit ini

dapat disembuhkan. Sebaliknya, diagnosis dan

pengobatan yang terlambat akan meningkatkan angka

kejadian morbiditas dan mortalitas. Diagnosis dapat

ditegakkan bukan hanya dengan CT-scan saja, meskipun

pada akhirnya dengan CT-scan memiliki  nilai prediksi

yang tinggi untuk diagnosis AHP, demikian juga dengan

tes serologi yang dilakukan. Tes serologi yang negatif

menyingkirkan diagnosis AHA, meskipun ada  pada

sedikit kasus, tes ini menjadi positif setelah beberapa

hari kemudian. Diagnosis berdasar  pemicu  yaitu 

dengan menemukan bakteri pemicu  pada pemeriksaan

kultur hasil aspirasi, ini merupakan standar emas untuk

diagnosis.

694 HEPATIOBILIER,

KOMPLIKASI

Saat diagnosis ditegakkan, menggambarkan keadaan

penyakit yang berat, seperti septikamia/bakterimia dengan

mortalitas 85olo, ruptur abses hati disertai peritonitis

generalisata dengan mortalitas 6-7yo, kelainan

pleuropulmonal, gagal hati, perdarahan ke dalam rongga

abses, hemobilia, empiema, fistula hepatobronkial, ruptur

kedalam perikard atau retroperitoneum.

Sesudah mendapat terapi, sering terjadi diatesis

hemoragik, infeksi luka, abses rekuren, perdarahan sekunder

dan terjadi rekurensi atau reaktifasi abses.

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan AHP secara konvensional yaitu  dengan

drainase terbuka secara operasi dan antibiotik spektrum

luas oleh sebab  bakteri pemicu  abses ada  di dalam

cairan abses yang sulit dijangkau dengan antibiotika

tunggal tanpa aspirasi cairan abses. Penatalaksanaan saat

ini, yaitu  dengan menggunakan drainase perkutaneus

abses intraabdominal dengan tuntunan abdomen ultra-

sound atau tomografi komputel komplikasi yang bisa

terjadi yaitu  perdarahan, perforasi organ intraabdominal,

infeksi, atau pun terjadi kesalahan dalam penempatan

kateter untuk drainase, kadang-kadang padaAHP multipel

diperlukan reseksi hati.

Penatalaksanaan dengan menggunakan antibiotika,

pada terapi awal dipakai  penisilin. Selanjutnya,

dikombinasikan antara ampisilin, aminoglikosida atau

sefalosporin generasi III dan klindamisin atau

metronidazol. Jika dalam waktu 48-72jam, belum ada

perbaikan klinis dan laboratoris, maka antibiotika yang

dipakai  diganti dengan antibiotika yang sesuai

dengan hasil kultur sensitivitas aspirat abses hati.

Pengobatan secara parenteral dapat dirubah menjadi oral

setelah pengobatan parenteral selama l0-14 hari, dan

kemudian dilanjutkan kembali hingga 6 minggu

kemudian.

Pengelolaan dengan dekompresi saluran biliaris

dilakukanjika terjadi obstruksi sistem biliaris yaitu dengan

rute transhepatik atau dengan melakukan endoskopi.

PROGNOSIS

Mortalitas AHP yang diobati dengan antibiotika yang

sesuai bakterial pemicu  dan dilakukan drainase yaitu 

l0- l6%.Prognosis yang buruk apabila terjadi

keterlambatan diagnosis dan pengobatan, jika hasil kultur

darah y ang memperlihatkan bakterial pemicu  multipel,

tidak dilakukan drainase terhadap abses, adanya ikterus,

hipoalbuminemia, efusi pleural atau adanya penyakit lain.



Perlemakan hati non alkoholik merupakan kondisi yang

semakin disadari dapat berkembang menjadi penyakit hati

lanjut. Spektrum penyakit perlemakan hati ini mulai dari

perlemakan hati sederhana (simple steatosis) sampai pada

steatohepatitis non alkoholik (nonalcoholic

steatohepatit s : NASH), fibrosis dan sirosis hati. Setelah

mendapat berbagai nama, seperti penyakit Laemrec non

alkoholik, hepatitis metabolik, dan hepatitis diabetes,

akhirnya steatohepatitis non alkoholik seperti yang

diperkenakan Ludwig tahun 1980 menjadi nama yang

dipergunakan secara luas. Istilah ini  muncul setelah

Ludwig dan kawan-kawan melaporkan sekelompok pasien

yang dapat dikatakan tidak mengkonsumsi alkohol namun 

memperlihatkan gambaran biopsi hati yang sulit dibedakan

dengan hepatitis akibat alkohol.

DEFINISI

Sampai saat ini masih ada  beberapa ketidaksepahaman

dalam terminologi penyakit perlemakan hati, misalnya

mengenai pemilihan istilah perlemakanhati non alkoholik

(nonalcoholic fatty liver : NAFL) atau penyakit

perlemakan hati non alkoholik (nonalcoholic fatty liver

disease: NAFLD). Pada umumnya disepakati bahwa

steatohepatitis non alkoholik (nonalcoholic

steatohepatit s : NASH) merupakan perlemakan hati pada

tingkat yang lebih berat.

Dikatakan sebagai perlemakan hati apabila kandungan

lemak di hati (sebagianbesarterdiri atas trigliserida) melebihi

5o/o dari seluruh berat hati. sebab  pengukuran berat hati

sangat sulit dan tidak praktis, diagnosis dibuat berdasar 

analisis spesimen biopsi jaringan hati, yaitu ditemukannya

minimal 5- 10% sel lemak dari keseluruhan hepatosit.

Kriteria lain yang juga sangat penting yaitu 

pengertian non alkoholik. Batas untuk menyatakan

seseorang minum alkohol yang tidak bermakna sempat

menjadi perdebatan, namun  lebih banyak ahli yang

menyepakati bahwa konsumsi alkohol sampai 20 g per hari

masih bisa digolongkan sebagai non alkoholik.

EPIDEMIOLOGI

Dari banyak penelitian terbukti bahwa abnormalitas tes

firngsi hati akibat perlemakan hati maupun steatohepatitis

non alkoholik merupakan kelainan yang sangat sering

ditemukan di masyarakat. Angka yang dilaporkan sangat

bervariasi sebab  metodologi survei yang berbeda-beda.

Prevalensi perlemakan hati non alkoholik berkisar

antara l5-20%o pada populasi dewasa di Amerika Serikat,

Jepang dan Italia. Diperkirak an20-30o/o di antarunyaberada

dalam tahap  yang lebih berat (steatohepatitis non alkoholik).

Sebuah penelitian terhadap populasi dengan obesitas di

negara maju mendapatkan 60% perlemakan hati sederhana,

20-25% steatohepatitis non alkoholik dan 2-3% sirosis.

Dalam laporan yang sama disebutkan pula bahwa 70Yo

pasien diabetes melitus tipe2mengalami perlemakan hati,

sedangkan pada pasien dislipidemia angkanya sekitar

60%.

Di Indonesia penelitian mengenai perlemakan hati non

alkoholik masih belum banyak. Lesmana melaporkan 17

pasien steatohepatitis non alkohol k, rata-rataberumur 42

tahun dengan 29o/o gambaran histologi hati menunjukkan

steatohepatitis disertai fibrosis. Sebuah studi populasi

dengan sampel cukup besar oleh Hasan dkk mendapatkan

prevalensi perlemakan hati non alkoholik sebesar 30,6yo.

Faktor risiko penting yang dilaporkan yaitu  obesitas,

diabetes melitus (DM) dan hipertrigliseridemia.

Steatohepatitis non alkoholik dapat terjadi pada semua

PERLEMAKAN HATI NON ALKOHOLIK

Irsan Hasan

695

696 HEPAT1OBILIER

usia, termasuk anak-anak, walaupun penyakit ini

dikatakan paling banyak pada dekade keempat dan kelima

kehidupan. Jenis kelamin yang dominan berbeda-beda

dalam berbagai penelitian, namun umumnya menunjukkan

adanya predileksi perempuan. Obesitas, DM tipe 2, dan

dislipidemia juga merupakan kondisi yang sering

berkaitan dengan perlemakan hati non alkoholik.

Walaupun demikian, steatohepatitis non alkoholik dapat

terjadi pada individu yang tidak gemuk tanpa faktor risiko

seperti di atas.

PATOGENESIS

Pengetahuan mengenai patogenesis steatohepatitis non

alkoholik masih belum memuaskan. Dua kondisi yang

sering berhubungan dengan steatohepatitis non alkoholik

yaitu  obesitas dan diabetes melitus, serta dua

abnormalitas metabolik yang sangat kuat kaitannya

dengan penyakit ini yaitu  peningkatan suplai asam lemak

ke hati serta resistensi insulin. Hipotesis yang sampai saat

ini banyak diterima yaitu  the two hit theoryyatg diajukan

oleh Day dan James.

Hit pertama terjadi akibat penumpukan lemak di

hepatosit yang dapat terjadi sebab  berbagai keadaan,

seperti dislipidemia, diabetes melitus, dan obesitas.

Seperti diketahui bahwa dalam keadaan nonnal, asam

lemak bebas dihantarkan memasuki organ hati lewat

sirkulasi darah arteri dan portal. Di dalam hati, asam lemak

bebas akan mengalami metabolisme lebih lanjut, seperti

proses re-esterifikasi menjadi trigliserida atau dipakai 

untuk pembentukan lemak lainnya. Adanya peningkatan

massa jaringan lemak tubuh, khususnya pada obesitas

sentral, akan meningkatkan penglepasan asam lemak

bebas yang kemudian menumpuk di dalam hepatosit.

Bertambahnya asam lemak bebas di dalam hati akan

menimbulkan peningkatan oksidasi dan esterifikasi

lemak. Proses ini terfokus di mitokondria sel hati sehingga

pada akhirnya akan memicu  kerusakan

mitokondria itu sendiri. Inilah yang disebut sebagai hit

kedua. Peningkatan stres oksidatif sendiri dapat juga

terjadi sebab  resistensi insulin, peningkatan konsentrasi

endotoksin di hati, peningkatan aktivitas un-coupling

protein mitokondria, peningkatan aktivitas sitokrom P-

450 2El, peningkatan cadangan besi dan menurunnya

aktivitas anti oksidan. Ketika stres oksidatif yangterjadi

di hati melebihi kemampuan perlawanan anti oksidan,

maka aktifasi sel stelata dan sitokin pro inflamasi akan

berlanjut dengan infl amasi progresif, pembengkakan

hepatosit dan kematian sel, pembentukan badan

Mallory, serta fibrosis. Meskipun teori two-hit sangat

popular dan dapat diterima, agaknya penyempurnaan

akan terus dilakukan sebab  makin banyak yang

berpendapat bahwa yang terjadi sesungguhnya lebih

dari dlua hit.

PERJALANAN PENYAKIT

Perjalanan alamiah penyakit perlemakan hati non alkoholik

masih belum jelas diketahui sebab  masih terbatasnya

penelitian prospektif, tapi tampaknya sangat dipengaruhi

oleh derajat kerusakan jaringan. Selama ini disepakati

bahwa ada beberapa tingkat gambaran histologik

sepanjang perjalanan alamiah penyakit ini, yaitu

perlemakan hati sederhana, steatohepatitis, steatohepatitis

yang disertai fibrosis dan sirosis. Terbukti pula bahwa

setelah berkembang menjadi sirosis, perlemakan sebaliknya

makinmenghilang.

Pada sebuah penelitian terhadap 257 oratg pasien

perlemakan hati non alkoholik yang dipantau selama 3,5

sampai 1l tahun melalui biopsi hati, didapatkan 28o/o

mengalami kerusakan hati progresif, 59oh lidakmengalami

perubahan, dan I 3% justru membaik. Pada beberapa kasus

terlihat jelas perkembangan mulai dari steatosis menuju

steatohepatitis sampai akhirnya menjadi sirosis hati.

Sampai saat ini risiko mortalitas pasien-pasien

perlemakan hati non alkoholik masih menjadi kontradiksi.

Studi oleh Propst dan kawan-kawan membandingkan

probabilitas kesintasan (survival) 30 pasien steatohepatitis

non alkoholik dengan kontrol yang disesuaikan usia dan

jenis kelaminnya. Temyata kelompok pasien steatohepatitis

non alkoholikmemiliki kesintasan yang lebih pendek 5-10

tahun. Suatu penelitian retrospektif potong lintang

melaporkan l1 kematian di antara 299 pasien (3,1%).

Selanjutnya dalam studi lain didapatkan hanya 1 kematian

di afiara 42 pasien selama pemantauan 4,5 tahun, sehingga

mendukung pendapat mortalitas yang rendah dari studi

sebelumnya. Hasil sebaliknya ditunjukkan beberapa

penelitian terbaru. Studi terhadap 30 pasien steatohepatitis

non alkoholik yang diikuti lebih dari 10 tahun, mendapatkan

kesintasan 5 tahun hanya 670/o dan kesintasan l0 tahun

59%. Harus diingat bahwa semua data dikumpulkan secara

retrospektif dengan berbagai keterbatasan, sehingga

Gambar 1. Konsep patogenesis steatohepatitis non alkoholik

PERLEMAKAIY HITTI NON ALKOHOLIK 697

penelitian prospektifuntuk menilai mortalitas masih sangat

diperlukan.

Banyak faktor yang berperan dalam mortalitas pasien

dengan perlemakan hati non alkoholik, seperti obesitas,

diabetes melitus beserta komplikasinya, komorbiditas lain

yang berkaitan dengan obesitas, serta kondisi hatinya

sendiri. Belum ada publikasi yang secara jelas menilai

kontribusi faktor-faktor ini  terhadap kematian pasien,

walaupun sebuah studi mendapatkan bahwa terjadinya

sirosis meningkatkan risiko relatif mortalitas.

Perbaikan histologikjuga dapat terjadi, khususnya pada

pasien-pasien dengan fibrosis minimal. Setelah mengalami

penurunan berat badan, histologi hati bisa membaik antara

lain berupa berkurangnya inflamasi serta Mallory bodies,

sampai perbaikan fibrosis. Tentunya hal ini terjadi jika

penurunan dilakukan secara bertahap, sebab  terbukti

bahwa kehilangan berat badan mendadak justru memicu

progresi penyakit bahkan sampai mengalami gagal hati.

MANIFESTASI KLINIS

Sebagian besar pasien dengan perlemakan hati non

alkoholik tidak menunjukkan gejala maupun tanda-tanda

adanya penyakit hati. Beberapa pasien melaporkan adanya

rasa lemah, malaise, keluhan tidak enak dan seperti

mengganjal di perut kanan atas. Pada kebanyakan pasien,

hepatomegali merupakan satu-satunya kelainan fisis yang

didapatkan. Umumnya pasien dengan perlemakan hati non

alkoholik ditemukan secara kebetulan pada saat dilakukan

pemeriksaan lain, misalnya dalam medical check-up.

Sebagian lagi datang dengan komplikasi sirosis seperti

asites, perdarahan varises, atau bahkan sudah berkembang

menjadi hepatoma.

DIAGNOSIS

Biopsi hati merupakan baku emas (gold standard)

pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis dan

sejauh ini masih menjadi satu-satunya metoda untuk

membedakan steatosis non alkoholik dengan perlemakan

tanpa atau disertai inflamasi. Masih menjadi perdebatan

apakah biopsi hati perlu dilakukan sebagai pemeriksaan

rutin dalam proses penegakan diagnosis perlemakan hati

non alkoholik. Sebagian ahli mendukung dilakukannya

biopsi sebab  pemeriksaan histopatologi mampu

menyingkirkan etiologi penyakit hati lain, membedakan

steatosis dari steatohepatitis, memperkirakan prognosis,

dan menilai progresi fibrosis dari waktu ke waktu. Alasan

dari kelompok yang menentang biopsi hati antara lain

prognosis yang umumnya baik, belum tersedianyaterapi

yang benar-benar efektif, dan risiko serta biaya dari

tindakan biopsi itu sendiri. Oleh sebab nya pemeriksaan

radiologis dan kimia darah terus menerus diteliti dan

dioptimalkan sebagai metoda pemeriksaan alternatif yang

bersifat non invasif.

Laboratorium

Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang bisa secara

akurat membedakan steatosis dengan steatohepatitis, atau

perlemakan hati non alkoholik dengan perlemakan hati

alkoholik. Peningkatan ringan sampai sedang, konsentrasi

aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotrans-

ferase (ALT), atau keduanya merupakan kelainan hasil

pemeriksaan laboratorium yang paling sering didapatkan

pada pasien-pasien dengan perlemakan hati non alkoholik.

Beberapa pasien datang dengan enzim hati yang

normal sama sekali. Kenaikan enzimhati biasanya tidak

melebihi empat kali dengan rasio AST:ALT kurang dari

satu, namun  pada fibrosis lanjut rasio ini dapat mendekati

atau bahkan melebihi satu. Perlu menjadi perhatian

beberapa studi yang melaporkan bahwa konsentrasi AST

dan ALI tidakmemiliki korelasi dengan aktivitas histologis,

bahkan konsentrasi enzim dapat tetap normal pada

penyakit hati yang sudah lanjut. Pemeriksaan laboratorium

lain seperti fosfatase alkali, g-glutamiltransferase; feritin

darah atau saturasi transferin juga dapat meningkat,

sedangkan hipoalbuminemia, waktu protrombin yang

memanjang, dan hiperbilirubinemia biasanya ditemukan

pada pasien yang sudah menjadi sirosis.

Dislipidemia ditemukan pada 2l-83oh pasien dan

biasanya berupa peningkatan konsentrasi trigliserida.

sebab  diabetes merupakan salah satu faktor risiko

perlemakan hati non alkoholik, maka tidak jarungada 

pula peningkatan konsentrasi gula darah.

Evaluasi Pencitraan

Berbagai modalitas pencitraan telah dicoba untuk

mendeteksi perlemakan hati. Agaknya ultrasonografi

merupakan pilihan terbaik saat ini, walaupun

computerized tomography ( CT ) danmagnetic resonance

imaging (MM)juga dapat dipakai . Pada ultrasonografi,

infiltrasi lemak di hati akan menghasilkanpeningkatan difus

ekogenisitas (hiperekoik, bright liver) bila dibandingkan

dengan ginjal. Sensitivitas USG 89Yo dan spesivisitasnya

93%o dalam mendeteksi steatosis. Terbukti ketiga teknik

pencitraan di atas memiliki sensitivitas yang baik untuk

mendeteksi perlemakan hati non alkoholik dengan deposisi

lemakdi hati lebih dari 30%, namun  tidak satupun dari ketiga

alat ini  dapat membedakan perlemakan hati sederhana

dari steatohepatitis.

Infiltrasi lemak di hati menghasilkan gambar parenkim

hati dengan densitas rendah yang bersifat difus pada Cl

meskipun adakalanya berbentuk fokal. Gambaran fokal ini

dapat disalahartikan sebagai massa ganas di hati. Pada

keadaan seperti itu MRI bisa dipakai untuk membedakan

nodul akibat keganasan dari infiltasi fokal lemak di hati.

698 HEPAI1OBILIER

Histologi

Secara histologis, perlemakan hati non alkoholik tidak

dapat dibedakan dengan kerusakan hati akibat alkohol.

Gambaran biopsi hati antara lain berupa steatosis, infiltrasi

sel radang, hepatocyte ballooning dan nekrosis, nukleus

glikogen, Malloryb hyaline, dan fibrosis.

Ditemukannya fibrosis pada perlemakan hati non

alkoholik menunjukkan kerusakan hati lebih lanjut dan

lebih berat. Dari berbagai penelitian terhadap gambaran

histologi hati yang pernah dilakukan terlihat bahwa

fibrosis dalam berbagai derajat ditemukan p adahampi 66oh

kasus ketika diagnosis ditegakkan, 25% di arftatanya

dengan fibrosis berat (fibrosis septa atau sirosis) danl4o/o

sirosis nyata.

Karakteristik histologis perlemakan hati non alkoholik

yaitu  ditemukannya perlemakan hati dengan atau tanpa

inflamasi. Perlemakan umumnya didominasi oleh gambaran

sel makrovesikular yang mendesak inti hepatosit ke tepi

sel. Pada tahap  awal atau steatosis ringan, lemak ditemukan

pada zona 3 hepatosit. Inflamasi merupakan komponen

dasar untuk menyatakan adanya steatohepatitis non

alkoholik. Sel-sel inflamasi ini  terdiri dari netrofil dan

sel mononuklear yarrg ditemukan pada lobulus-lobulus

hati. Bila sel-sel inflamasi tidak ditemukan berarti pasien

masih berada dalam tahap perlemakan hati saja. Adanya

badan Mallory dan anak inti glikogen merupakan variasi

dari gambaran steatohepatitis non alkoholik. Biasanya

badan Mallory ini memiliki ukuran lebih kecil darip adayang

biasa ditemukan pada steatohepatitis alkoholik.

Sampai saat ini masih ada  perbedaan pendapat

mengenai interpretasi histopatologis steatohepatitis non

alkoholik. Kontroversi terutama mengemuka dalam hal

penentuan kriteria untuk membedakan perlemakan hati

sederhana dengan steatohepatitis non alkoholik. Di

samping itu, meskipun penilaian derajat fibrosis hampir

seragam, para ahli patologi seringkali tidak sepaham

menyangkut grading inflamasi. Klasifikasi dari Brunt

merupakan kriteria histopatologis yang banyak dipakai

untuk menentukan derajat steatohepatitis non alkoholik.

PENATAIAKSANAAN

Sampai sekarang modalitas pengobatan yang terbukti baik

masih terbatas. Belum ada terapi yang secara universal

dapat dikatakan efektif, strategi pengobatan cenderung

dilakukan <iengan pendekatan empiris sebab  patogenesis

penyakit juga belum begitu jelas diketahui. Penelitian terapi

medikamentosa steatohepatitis non alkoholik yang

dipublikasikan sebagian besar merupakan uji klinis tanpa

kontrol. Penelitian yang menggunakan kontrol umunmya

dilakukan terhadap pasien dalarn jumlah kecil atau

bervariasi dalam menetukan kriteria steatohepatitis dan

parameter keberhasilan. Oleh sebab  itu, pengobatan lebih

ditujukan pada tindakan untuk mengontrol faktor risiko,

seperti memperbaiki resistensi insulin dan mengurangi

asupan asam lemak ke hati, selanjutnya baru pemakaian

obat yang dianggap memiliki potensi hepatoprotektor.

Pengontrolan Faktor Risiko

Mengurangi Berat Badan dengan Diet dan Llatihan

Jasmani. Intervensi terhadap gaya hidup dengan tujuan

mengurangi berat badan merupakan terapi lini pertama bagi

steatohepatitis non alkoholik. Target penurunan berat

badan yaitu  untuk mengoreksi resistensi insulin dan

obesitas sentral, bukan untuk memperbaiki bentuk tubuh.

Grading untuk

Steatosis

Gnde 1

Grade 2

Grade 3

Grading untuk

Steatohepatitis

Gnde 1

Steatosis

Degenerasi balon

lnflamasi lobular

lnflamasi portal

Grade 2, sedang

Steatosis

Degenerasi balon

lnflamasi lobular

lnflamasi portal

Grade 3, berat

Steatosis

Degenerasi balon

lnflamasi lobular

lnflamasi portal

Staging untuk Fibrosis

Stage 1

Stage 2

Stage 3

Sfage 4

< 33% hepatosit terisi lemak

33-66% hepatosit terisi lemak

> 66% hepatosit terisi lemak

Ringan

didominasi makrovesikular,

melibatkan hingga 66% dari

lobulus

kadangkala terlihat; di zona 3

hepatosit

inflamasi akut tersebar dan

ringan (sel PMN), kadangkala

inflamasi kronik (sel MN)

tidak ada atau ringan

berbagai derajat, biasanya

campuran makrovesikular dan

mikrovesikular

jelas terlihat dan ada  di

zona 3

adanya sel PMN dikaitkan

dengan hepatosit yang

mengalami degenerasi balon,

fibrosis periselular: inflamasi

kronik ringan mungkin ada

ringan sampai sedang

meliputi > 66% lobulus

(panasinar), umumnya

stetatosis campuran

nyata dan terutama di zona 3

inflamasi akut dan kronik yang

tersebar; sel PMN

terkonsentrasi di area zona 3

yang mengalami degenerasi

balon dan fibrosis

perisinusoidal

ringan sampai sedang

fibrosis perivenuler zona 3,

perisinusoidal, periselular;

ekstensif atau fokal

seperti di atas, dengan fibrosis

periportal yang fokal atau

ekstensif

fibrosis jembatan, fokal atau

ekstensif )

strosrs

PERLEMAKAT{ HATI NON ALKOHOLIK 699

Penurunan berat badan secara bertahap terbukti dapat

memperbaiki konsentrasi serum aminotransferase (AST

dan ALT) serta gambaran histologi hati pada pasien

dengan steatohepatitis non alkoholik. Erikson dkk

melaporkan efek penurunan berat badan pada tiga pasien

yang sebelumnya mengalami kelebihan berat antara 50-

60%o. Ternyata semua mengalami perbaikan dengan

konsentrasi enzim aminotransferase mendekati normal, dan

dua pasien menunjukkan normalisasi histologi hati. Sebuah

studi lain di Jepang yang menggunakan intervensi diet

dan olahraga untuk menurunkan berat badan juga

memberikan hasil yang sama. Perlu diperhatikan bahwa

penurunan berat badan terlalu drastis atau fluktuasi berat

badan yang bolak-balik naik turun (sindrom yo-yo) justru

memicu progresi penyakit hati. Hal ini terjadi akibat

meningkatnya aliran asam lemak bebas ke hati sehingga

peroksidasi lemakpun turut meningkat. Sebaliknya

penurunan berat badan bertahap ternyata tidak mudah

dilakukan dan seringkali sulit untuk dipertahankan.

Latihan jasmani dan pengaturan diet menjadi inti terapi

dalam usaha mengurangi berat badan. Aktivitas fisik

hendaknya berupa latihan bersifat aerobik paling sedikit

30 menit sehari. Sangat penting untuk mencapai target

denyut nadi, namun  tidak perlu menjalankan latihan yang

terlalu berat.

Esensi pengaturan diet tidak berbeda dengan diet pada

diabetes: mengurangi asupan lemak total menjadi <30%

dari total asupan energi, mengurangi asupan lemakjenuh,

mengganti dengan karbohidrat kompleks yang

mengandung setidaknya 15 gr serat serta kaya akan buah

dan sayuran. Walaupun dianjurkan untuk merujuk pasien

kepada ahli gizi untuk mendapatkan pengetahuan lebih

rinci mengenai pengaturan diet, namun setiap dokter

diharapkan mampu memberi informasi prinsip diet rendah

lemak yang sesungguhnya tidaklah terlalu rumit.

Mengurangi berat badan dengan tindakan bedah. Setelah

gagal dengan pengaturan diet dan latihan jasmani tidak

jarang pasien beralih kepada terapi pembedahan. Beberapa

penelitian melaporkan manfaat operasi bariatrik terhadap

pasien dengan perlemakan hati. Terlihat adanya perbaikan

pada gambaran histologi hati serta parameter umum

sindrom metabolik. Sekali lagi harus diingat potensi

timbulnya eksaserbasi steatohepatitis pada penurunan

berat badan yang terlalu cepat.

Terapi Farmakologis

Antidiabetik dan insulin sensitizer. Metformin

meningkatkan kerja insulin pada sel hati dan menurunkan

produksi glukosa hati. Lin dkk menunjukkan perbaikan

penyakit perlemakan hati pada model hewan dengan

steatohepatitis nonalkoholik. Hal ini dianggap terjadi

melalui penghambatan TNFa sehingga terjadi perbaikan

insulin, downregoilatlon konsentrasi UCP-2 messenger

RNA di hati, dan perurunan pengikatan DNA oleh SREBP-

1 pada ekstrak hati tikus.

Penelitian lain dilakukan oleh Marchesini dkk. Empat

belas pasien steatohepatitis nonalkoholik mendapat terapi

metformin 3 x 500 mg/hari selama 4 bulan dan sebagai

kelompok kontrol yaitu  6 pasien steatohepatitis

nonalkoholikyang hanya mendapat terapi diet. Didapatkan

perbaikan konsentrasi rata-rata S GPT, peningkatan

sensitivitas insulin, dan penurunan volume hati pada

pasien yang mendapatkan terapi metformin. Namun

sayangnya, pada penelitian ini tidak dilakukan evaluasi

histopatologis setelah terapi.

Tiazolidindion yaitu  obat antidiabetik yang bekerja

sebagai ligan untuk PPARg dan memperbaiki sensitivitas

insulin pada jaringan adiposa. Selain itu, tiazolidindion

juga menghambat ekspresi leptin dan TNFcr, konstituen

yang dianggap terlibat dalam patogenesis steatohepatitis

nonalkoholik. ada  3 tiazolidindion yang telah

diproduksi. Pertama, troglizaton telah ditarik dari

peredaran sebab  memicu  kerusakan hati, termasuk

beberapa kematian akibat penyakit hati. Caldwell dkk

menggunakan obat ini sebelum ditarik dari peredaran.

berdasar  penelitiannya, ditemukan normalisasi enzim

tanpa perbaikan histologis pada 7 dari 10 pasien

steatohepatitis nonalkoholik yang diterapi troglizaton

selama 6 bulan. Kedua, rosiglitazon yang telah diteliti

selama setahun pada 25 pasien dengan steatohepatitis

non alkoholik. Konsentrasi enzim-enzim hati (AST,

fosfatase alkali dan g-glutamil transpeptidase) membaik

secara bermakna seperti juga sensitivitas insulin. Biopsi

hati yang dilakukan pasca terapi menunjukkan adanya

perbaikan deraj at hbrosis sentrilobular. Adanya beberapa

kasus gangguan hati akibat rosiglitazon, diperlukan studi

terkontrol lebih besar untuk menilai manfaat dan

keamanan obat ini. Obat ketiga yaitu pioglitazon yang

paling tidak telah dilaporkanpadatiga studi .

Ketiganya membuktikan terjadinya perbaikan pada

aminotransferase, dua penelitian juga disertai perbaikan

derajat steatosis dan nekroinflamasi. Sayangnya

penelitian ini  melibatkan sampel kecil, delapan

sampai sepuluh pasien, sehingga dibutuhkan penelitian

lanjutan dengan sampel lebih besar.

Obat anti hiperlipidemia. Studi menggunakan gemfibrozil

menunjukkan perbaikan AIT dan konsentrasi lipid setelah

pemberian obat selama satu bulan, namun  evaluasi histologi

tidak dilakukan. Uji klinis terhadap statin juga telah

dilakukan. Sebuah studi pendahulan dengan sampel kecil

memperlihatkan perbaikan parameter biokimiawi dan

histologi pada sekelompok pasien yang mendapat

atorvastatin. Sebaliknya studi lain menunjukkan tidak

adanya perbedaan bermakna antara kontrol dan pasien

yang menggunakan berbagai jenis statin.

Antioksidan. berdasar  patogenesisnya, terapi

antioksidan diduga berpotensi untuk mencegah progresi

700 HEPATOBILIER,

steatosis menjadi steatohepatitis dan fibrosis. Antioksidan

yang pernah dievaluasi sebagai alternatif terapi pasien

perlemakan hati non alkoholik antara lain vitamin E

(a-tokoferol), vitamin C, betain dan N-asetilsistein.

Penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan

bahwa vitamin E menghambat produksi sitokin oleh

lekosit. Sementara itu uji klinis pada manusia

menunjukkanbahwavitamin E dengan dosis sampai 300

IUlhari, dapat menurunkan konsentrasi TGF-P,

memperbaiki inflamasi dan fibrosis, seperti studi yang

melibatkan 12 pasien dengan steatohepatitis berdasar 

biopsi dan 10 pasien dengan perlemakan hati yang

mendapat vitamin E 300 Iu/hari selama setahun. Tes fungsi

hati menunjukkan perbaikan bermakna dibandingkan data

awal, sedangkan derajat steatosis, inflamasi dan fibrosis

membaik atau tetap stabil pada sembilan pasien dengan

steatohepatitis yang menjalani biopsi hati ulangan pasca

terapi. Studi lain dilakukan terhadap 45 pasien dengan

steatohepatitis non alkoholik yang menerima kombinasi

vitamin E 1000 IUlhari dan vitamin C 1000 IU/hari atau

plasebo selama enam bulan. Ternyata tidak terlihat

perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dan

plasebo dalam enzim-enzim hati, derajat steatosis dan

aktivitas nekroinflamasi. Untuk memastikan potensi

efikasi vitamin E terhadap pasien perlemakan hati non

alkoholik masih diperlukan penelitian terkontrol dengan

jumlah lebih besar.

Betain berfungsi sebagai donor metil dalam

pembentukan lesitin dalam siklus metabolik metionin. Pada

sebuah penelitian oleh grup dari klinis Mayo, betain 20

mglhari diberikan pada delapan pasien dengan

steatohepatitis non alkoholik selama l2 bulan. Pascaterapi

terlihat perbaikan bermakna konsentrasi ALT, steatosis,

aktivitas nekroinflamasi dan fibrosis.

Hepatoprotektor. Ursodeoxycholic acid (UDCA ) yaitu 

asam empedu dengan banyak potensi, seperti efek

imunomodulator, pengaturan lipid, dan efek sitoproteksi.

Pertama kali dipakai  secara empiris pada seorang

perempuan berusia 66 tahun dengan steatohepatitis non

alkoholik yang menunjukkan normalisasi enzim

transaminase setelah terapi UDCA selama satu tahun.

Sampai saat ini ada  empat uji klinis terbuka untuk

menilai manfaat terapi UDCA pada pasien steatohepatitis

non alkoholik. Pada sebuah studi  terhadap

40 pasien yang mendapat UDCA I 3 - I 5 mgkglhai selama

satu tahun terbukti adanya perbaikan ALT, fosfatase

alkali, g-GT, dan steatosis, namun  tidak ada perbaikan

bermakna dalam derajat inflamasi dan fibrosis. Pada studi

lain tes fuqgsi hati mengalami perbaikan pada 13 pasien

setelah mendapat UDCA l0 mglkglhari selama 6 bulan.

Studi paling akhir menyangkut UDCA dilakukan terhadap

24 pasien dengan dosis 250 mgtigakali sehari selama 6-12

bulan. Dilaporkan adanya perbaikan konsentrasi

aminotransferase dan petanda fibrogenesis.





PENYAKIT HATI PADA KEHAMILAN



Ada beberapa kelainan hati spesifik yang terjadi pada

kehamilan seperti chol es tas is of pregnancy dan acute fatty

liver of pregnancy.

pemicu  penyakit hati akut seperti hepatitis virus A,

B dan C, drug induced liver injury dapatjuga te{adi pada

kehamilan. Penyakit hati menahun juga tidak jarang

menyertai suatu kehamilan seperti hepatitis C kronik,

hepatitis B kronik, hepatitis autoimun, steatohepa-titis, dan

yang paliag banyak disebut yaitu acute fatty liver of

pregnancy dan kolestasis.

Beberapa keadaan fisiologis yang dapat berubah pada

kelainan hati tetap dalam batas normal, selama kehamilan

sebagian besar tes laboratorium termasuk tes fungsi hati.

ada  beberapa pengecualian seperti konsentrasi

albumin serum, blood urea nitrogen (B[IN) dan hemo-

globin yang lebih rendah dan peningkatan konsentrasi

alfa feto protein serum, sel darah putih, alkali fosfatase

dan trigliserida. Nilai laboratorium ini  akan kembali

normal segera setelah persalinan, tidak berkepanjangan

sehingga hendaknya tidak dipersepsikan sebagai bukti

suatu penyakit. Perubahan-perubahan fisisiologis

tertentu yang terjadi selama kehamilan dapat

memicu  efek negatif jangka panjang, terutama

meningkatnya sintesis kolesterol oleh hati dan ekskresinya

ke dalam empedu yang dapat memicu  peningkatan

konsentrasi kolesterol dalam empedu. Perubahan-

perubahan ini mungkin berperan dalam pembentukan batu

empedu pada perempuan multipara.

Peningkatan konsentrasi alkali fosfatase serum dapat

membingungkan pada kondisi tertentu dan memerlukan

penjelasan lebih jauh. Abnormalitas ini biasanya tidak

meningkat melebihi empat kali lipat dan bermanifestasi

pada trimester ketiga kehamilan. Enzim ini berasal dari

plasenta dan konsentrasinya dalam serum akan kembali

ke angka normal pada minggu ketiga setelah persalinan,

hal ini tidak diikuti dengan abnormalitas aminotransferase,

namun demikian mungkin dijumpai peningkatan ringan

bilirubin. Apabila terjadi peningkatan alkali fosfatase,

konsentrasi 5' nukleotidase dan gamma glutamil

transpeptidase merupakan tes yang bermanfaat sebab 

kedua parameter ini tetap normal apabila tanpa adanya

penyakit hati.

Hubungan antara penyakit hati dan kehamilan yang

jarung tapi bersifat dramatis, dengan efek potensial

berbahaya baik terhadap ibu maupun terhadap janin.

Beberapa pertimbangan perlu diambil apabila penyakit hati

dijumpai selama kehamilan. Keadaan ini  antaralain

pada trimester kehamilan, tingkatan dan pemicu 

abnormalitas tes hati, status kesehatan pasien sebelum

kehamilan dan riwayat epidemiologis terpapar suatu faktor

risiko yang dapat memainkan peran sebagai pemicu 

penyakit. Informasi ini sangat penting untuk membuat

diagnosis yang masuk akal dan merencanakan pendekatan

yang cerdas dalam penatalaksanaan pasien. Pada

perempuan hamil yang sebelumnya sehat, pendekatan

klinis yang berguna yaitu  pendekatan berdasar 

klasifikasi dari Knox dan Kaplan (Tabel 1) yang

menunjukkan hubungan penyakit hati dengan waktu

munculnya.

Trimester Pertama &

Kedua

Trimester Ketiga

a

a

Jaundice dengan

hiperemesis gravidarum

Cholestasrs of pregnancy

Sindrom Dubin Johnson

Cholesfasls of pregnancy

Sindrom Dubin Johnson

Acute fatty liver of

pregnancy

Toksemia gravidarum

dengan keterlibatan hati

Ruptur hati akut

Sindrom Budd-Chiari

a

a

702

PENYAKIT HAII PADA KEHAMILAI\I 703

+

+

++/+++

nl/nl +/nl

+l+ +/nl

+/++ +l++

+/nl +

nl +

++l+++

nl

Pada perempuan hamil dengan penyakit hati akut dan

riwayat penyakit sebelumnya yang relevan atau risiko

epidemiolo gis yang teridentifikasi, diagnosis tambahan

berikut ini dapat dibuat yaitu hepatitis virus, batu empedu,

penyakit hati kronis yang mendasari, drug-induced hepa-

titis atau penyakit liver alkoholik. Perempual yar,g

sebelumnya sehat tidak disingkirkan dari kemungkinan

diagnosis-diagnosis ini . Intinya semua penyakit hati

dapat dijumpai pada kehamilan, dan tentu saja kebalikan

pernyataan ini  tidak berlaku sebab  acutefatty liver

of pregnancy, toksemia kehamilan dan intrahepatic

cholestas is of pregnancy yaitu  penyakit-penyakit yang

hanya didiagnosis pada perempuan hamil.

Di samping trimester kehamilan dan risiko epidemiologis,

profil biokimia dari tes hati juga berguna dalam diagnosis

banding. (Thbel 2 dan 3)

ALT/AST Bilirubin Komentar

Kehamilan normal

(trimester 3)

Hiperemesis gravidarum

I ntrahepatic cholesfasis of

pregnancy (trimester 3)

Batu empedu (semua

trimester)

Sindrom Dubin-Johnson

(trimester kedua dan

ketiga)

nl = normal

+ = peningkatan ringan (kurang dari 4 kali lipat)

a+ = psningkatan sedang (empat kali sampai enam kali lipat)

+++= peningkatan bermakna (lebih dari enam kali lipat)

ALP ALT/AST Bilirubin Komentar

+l++ Fat$ liver of pregnancy,

hepatitis virus, toksemia

dengan infark hati, drug-

+/nl induced hepatitis

Toksemia gravidarum, HELLP,

penyakit hati kronik

Beberapa keadaan tertentu sering menyertai kehamilan.

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Hiperemesis gravidarum merupakan suatu sindrom yang

jarang dan terjadi hampir eksklusif pada trimester pertama.

Bilirubin dan alkali fosfatase dapat meningkat secara

ringan, aminotransferase dapat abnormal secara ringan.

Sindrom ini biasanya berulang pada kehamilan berikutnya.

I NTRAH EPATIC CH O LESTAS'S OF P REG N AN CY

Intrahepatic cholestasis of pregnancy (ICP) juga

diistilahkan cho I es tYts is of pregnancy, benign recurrent

cholestasis of pregnancy atau pruritus gravidarum.

Insidensi sindrom ini bervariasi secara geografis. Beberapa

negara Eropa (Swedia, Polandia) dan beberapa negara

Amerika Selatan (Chili) melaporkan insidensi sebesar 100%,

sedangkan di negara-negara Eropa yang lain insidensi ICP

dilaporkan sebanyak 0,1 dan 0,2o/o. pemicu  ICP masih

belum diketahui. Walaupun ICP secara khas terjadi pada

kehamilan trimester ketiga, namun beberapa kasus terjadi

pada kehamilan I 3 minggu.

Gambaran klinis sindrom ini bervariasi dari bentuk yang

sangat ringan di mana satu-satunya kelainan yaitu 

pruritus sampai kolestasis yang berat dengan defisiensi

vitamin K dan perdarahan postpartum yang bermakna.

Kondisi ini biasanya ringan bagi si ibu, namun demikian

ada  peningkatan insidens prematuritas, distres fetus

dan lahir mati. ICP akan terjadi pada kehamilan berikutnya

dan sering bersifat familial. Beberapa penelitian

menunjukkan bahwa histokompabilitas antigen HLA-BW

16 sering dijumpai pada perempuan dengan riwayat ICP

jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yang sehat.

Sampel histologis hati menunjukkan kolestasis fokal dan

ireguler yang ringan. Tidak ada  karakteristik khas

yang membedakan dengan jenis kolestasis lain. Tbrapinya

terdiri dari terapi suportif, kolestiramin lO-l2glhari dapat

diberikan untuk menghilangkan pruritus dan pemberian

vitamin K secara parenteral. Vitamin K diberikan sebab 

ada  20Yo pefingkatan kemungkinan terjadinya

perdarahan ut ervs postpartum yang diperkirakan berkaitan

dengan malabsorpsi vitamin K yang terjadi secara sekunder

akibat kolestasis.

ACUTE FATTY LIVER OF PREGNANCY

Diskripsi klinis yang jelas dari sindrom ini pertama kali

digambarkan oleh Sheehan pada tahun 1940. Namun

demlkianfatty liver pada perempuan yang kritis selama

periode puerperium pertama kali dicatat pada tahun 1957.

Kondisi ini jarang terjadi, diperkirakan satu kasus dalam

13000 persalinan. Pada sebagian besar kasus tidak

ditemukan faktor risiko yang definitif. Pada beberapa

kasus, dosis tinggi tetrasiklin intravena dan infeksi

pernapasan akut digambarkan mendahului sindrom ini'

Sebagai tambahan beberapa keterkaitan dengan kondisi

di bawah ini pemah ditemukan yaitu kehamilan kembar

atau lebih, fetus laki-laki, kehamilan pertama, hipertensi

arteial, edema perifer, dan proteinuria.

Awitan gejala biasanya antara minggu 30 dan 38

kehamilan. Gejala yang menonjol yaitu  nausea, muntah,

dan nyeri abdomen. Jaundice biasanya terjadi antara I

minggu sampai 10 hari dari awitan gejala. Bisa terjadi gejala

pertama yaitu  koma, gagal ginjal atau perdarahan

walaupun jarang. Asites dapat terjadi pada 50% pasien.

Sherlock melaporkan dua gambaran laboratoris yang khas

+/++

704 HEFAI1OBILIER

pada sindrom ini yaitu peningkatan konsentrasi asam urat

(mungkin berkaitan dengan kerusakan jarin gan) dan giant

platelet dengan basophilic stippling. Kondisi ini tidak

dijumpai pada hepatitis virus akut dan mungkin berguna

dalam diagnosis banding. Pasien dengan acutefatty liver

of pregnancy dapat menunjukkan hipoglikemia berat,

serum amonia yang tinggi, dan hiperaminoasidemi

generalisata.

Biopsi hati mungkin diperlukan untuk membedakan

sindrom ini dari hepatitis virus akut. Hati pucat dan kecil

dengan hepatosit pucat dan membengkak lerutamapada

daerah perisentral. Area periportal biasanya tidak terlibat.

Dengan pewarnaan lemak khusus, liver yang bengkak diisi

droplet lemak mikrovesikular. Nukleus tetap berada di

tengah-tengah sel berlawanan dengan suatu sindrom di

mana ada  droplet deposit lemak yang besar dan

vakuola lemak mendorong nukleus ke tepi.

Sherlock dan Riely menunjukkan adanya tumpang

tindih antara toksemia kehamilan dan acute fatty liver of

pregnancy. Tabel 4 membandingkan dua hal ini.

Nyeri abdomen

Jaundice

Transaminase serum

(kali normal)

Scan

Biopsi Hati

Gagal hati

albumin intravena merupakan terapi adjuvan yang penting.

Hemodialisis dapat membantu. Jika pasien tidak mengalami

jaundice atau perpanjangan waktu protrombin, persalinan

hendaknya dilakukan dengan prosedur obstetri standar.

Jika penyakit hati sangat berat, fetus hendaknya segera

dilahirkan tanpa ditunda lagi. Terapi dengan heparin atau

antitrombin III tidak memuaskan. Transplantasi hati

merupakan pilihan dan hendaknya dipertimbangkan.

TOKSEMIAGRAVIDARUM

Toksemia gravidarum merupakan suatu sindrom yang

pemicu nya belum diketahui dan terjadi setelah kehamilan

20 minggu. Derajat keparahannya bervariasi dari kasus

yang tidak menampakkan gejala klinis sampai preeklamsia

dengan edema, proteinuria, hipertensi arterial sampai

eklamsia dengan kejang. Toksemia dilaporkan terjadi pada

5% kehamilan. Faktor risikonya meliputi kehamilan pada

usia yang sangat muda atau usia fua, kehamilan pertmna,

kehamilan kembar atau lebih, diabetes melitus, hipertensi

yang telah diderita sebelum hamil, dan riwayat toksemia

maternal.

Preeklamsia yaitu  problem klinis yang umum dan

diperkirakan 50oh dari pasien dengan sindrom ini

menunjukkan abnormalitas ringan aminotransferase dan

alkali fosfatase. Sampel biopsi hati dari pasien-pasien ini

biasanya menunjukkan abnormalitas histologis yang

ringan. Perubahan yang karakteristik yaitu  perdarahan

peripartum, deposisi fibrin yang tersebar dan perdarahan

subkapsular. Deposit fibrin menyumbat sinusoid hepatika

diikuti dengan nekrosis sel hati pada tempat yang sama.

Apabila nekrosisnya berat, daerah-daerah perdarahan hati

dapat dijumpai. Diagnosis banding utamanya yaitu 

sindrom koagulasi intravaskular difus. Pada kasus yang

sangat berat ruptur hati dengan perdarahan intraperitonial

masifmungkin te{adi.

Terapi terhadap keterlibatan liver dalam sindrom ini

yaitu  terapi terhadap preeklamsia/eklamsia itu sendiri.

Apabila gej ala-gej ala sindrom preeklamsi/eklamsi ini 

tidak terkendali evakuasi uterus hendaknya

dipertimbangkan secara serius. Evakuasi uterus ini akan

berakibat resolusi sempuma baik keterlibatan hati maupun

preeklamsia/eklamsia itu sendiri.

RUPTUR HATI

ada  hubungan yangjelas antara keterlibatan hati pada

preeklamsia dengan ruptur hati spontan yang berakibat

fatal. DiperkirakanT5o/o sampai 85% pasien hamil yang

mengalami ruptur hati menderitapreeklamsia. Apabila hal

ini terjadi, mortalitas ibu dan anak diperkirukat 50Yo.

Diagnosis dibuat berdasar  kecurigaan klinis yang

dibantu dengan CT scan dan liver spleen scan. Scan ini

5Oo/o

100yo

<10

Perubahan difus

Lemak

mikrovesikular

Terjadi

1O0o/o

4Oo/o

>10

Abnormalitas

fokal

Fibrin (sinusoid)

Tidak terjadi

Pada review dari 140 kasts acute fatty liver of

pregnancy, 460/o pasien mengalami preeklamsia atau

eklamsia dan secara mengejutkan menunjukkan hubungan

yang erat. berdasar  atas banyaknya kesamaan antara

acute fatty liver of pregnancy dan toksemia kehamilan

(trimester ketiga, kehamilan kembar atau lebih, kehamilan

pertama), Reily mengembangkan hipotesis bahwa kedua

keadaan ini  dapat merupakan spektrum dari suatu

penyakit yang sama.

Sampai akhir tahun l970an, mortalitas maternal dan

fetus dilaporkan mendekati 85%. Reily menglihtng 44%o

kematian maternal dan 47Yo kematian fetus. Perubahan

dalam mortalitas ini diperkirakan terjadi sebab 

pendeteksian dini bentuk yang paling ringan dari sindrom

ini dan penerapan persalinan dini. Pasien yang selamat

dari acutefatty liver of pregnancy ditemukan mengalami

gejala sisa jangka panjang. Dua puluh perempuan yang

mengalami sindrom ini lalu hamil lagi dilaporkan tidak

mengalami sindrom yang sama pada kehamilan berikuhrya.

Terapi terdiri atas pengenalan dini penyakit dan

persalinan dini. Seksio sesaria dapat meningkatkan

survival dari ibu maupun fetw. Fresh frozen plasma dan

Acute Fatty Liver Toksemia

PETiIYAXIT HATI PADA KEHAMILIIN 705

menunjukkan filling defect mdtipel berkaitan dengan

nekrosis iskemik. Frl/ing defect niterutama dijumpai dekat

permukaan hati. Apabila hasil scan ekuifokal, arteriografi

hati yaitu  metode terbaik unhrk menegakkan diagnosis.

Ruptur lobus kanan hati terjadi pada kira-kira 900/o kasus

yang dilaporkan. Pasien biasanya mengalami nyeri abdo-

men mendadak dan distensi, hipotensi dan syok tidak

jarang terjadi. Pungsi peritonial menunjukkan darah. Diag-

nosis banding utamanya yaitu  ruptur uterus. Terapinya

yaitu  pembedahan, namun pendekatan bedah spesifrk

dalam penatalaksanaan ruptur hati masih bersifat

kontroversial. Seringkali reseksi hati atau lobektomi

merupakan pilihan terapi.

SINDROM BUDD.CHIARI

Sindrom Budd-Chiari tidak berkaitan secara eksklusif

dengan kehamilan. Sesungguhnya sindrom ini terjadi

dengan frekuensi yang sama pada pria dan perempuan.

Pada perempuan tampaknya ada hubungan dengan

konsumsi pil kontrasepsi, namun demikian tidak ada 

cukup bukti untuk menyokong hubungan ini .

Walaupun sering digambarkan sebagai tiombosis vaskular

pada kehamilan, insidensi sesungguhnya sindrom ini belum

diketahui.

Pada kehamilan, sindrom Budd-Chiari biasanya terjadi

pada periode intermediet post partum, walaupun beberapa

kasus dapat terjadi pada trimester kedua kehamilan atau

selama aborhrs septik. Manifestasi klinisnya yaitu  nyeri

abdomen dan asites dengan onset mendadak. Terjadi

trombosis pada vena hepatika diikuti hipertensi portal. Hati

biasanya membesar dan nyeri tekan. Tes fungsi liver

menunjukkan peningkatan ringan aminotransferase dan

alkali fosfatase. Cairan asites biasanya suatu eksudat,

namun beberapa kasus menunjukkan konsentrasi protein

yang rendah. Liver spleen scan dapat membantu diagno-

sis apabila lobus caudatus menunjukkat uptake yang

intens (berkaitan dengan tidak adanya blokade aliran vena)

dikelilingi oleh uptake yang kurang pada jaringan hati

sisanya. Venogram hepatik menunjukkan sisi oklusi

vaskular baik vena cava inferior maupun vena hepatika.

Apabila tersedia, spesimen biopsi hati menunjukkan

pembengkakan taraf berat terutama di sekitar vena

hepatika. Prognosis buruk dan pasien dengan sindrom

Budd-Chiari selalu menunjukkan kondisi klinis yang

semakin memburuk sampai terjadi kematian. Mortalitas

pada tahun pertama 30 sampai 40%o, sedangkan mortalitas

pada tahun keempat mencapai 850%.

Terapi dengan antikoagulan tidak bermanfaat pada

sindrom Budd-Chiari yang telah tegak, namun demikian

terapi trombolitik dengan streptokinase atau alteplase

(TPA) selama trombosis vena hepatika akut diperlukan.

Terapi bedah merupakan pilihan dan tujuan utama terapi

bedah yaitu  untuk mendekompresi hati yang bengkak

biasanya dengan membuat shunt portosistemik (porto

caval atau meso caval)

Beberapa pasien dengan sindrom Budd-Chiari telah

menjalani transplantasi hati. Telah dilaporkan empat kasus

kehamilan tanpa komplikasi pada pasien dengan sindrom

Budd-Chiari sebelumnya.

HEMOLYSIS, ELEVATED LIVER ENZYME, LOW

PLATELET (HELLP SYNDROME)

Pertrama kali dideskripsikan oleh Weinstein padatahw 1982

sebagai singkatan dari hemolisis, peningkatan enzimhali,

dan trombositopenia. Sindrom ini menunjukkan subgrup

perempuan dengan toksemia gravidarum yang-'juga

menderita koagulasi intravaskular diseminata (KID) dan

gangguan hati. Kurang lebih 10% perempuan dengan

preeklamsia/eklamsia menderita sindrom HELLP.

HEPATITISVIRUS

Hepatitis virus yaitu  penyakit nekroinflamatori yang

umumnya disebabkan oleh virus hepatitis A,B,C,D atau E.

Sebagai tambahan sitomegalovirus atau virus Epstein-Barr

dapat memicu  hepatitis virus akut. Informasi tentang

virus ini banyak ada  di literatur dan pembaca

disarankan untuk merujuk pada sumber yang lain sebagai

informasi tambahan. Manifestasi hepatitis virus sama baik

pada individu yang hamil maupun yang tidak dengan

beberapa perkecualian . Data gabungan menunjukkan

bahwa ada  beberapa daerah di dunia seperti di benua

sub-Indian, di timur tengah dan di Afrika di mana frekuensi

dan derujat keparahan hepatitis pada perempuan hamil

lebih berat apabila dibandingan dengan perempuan tidak

hamil atau pasien pria.

Hepatitis B

Pengaruh hepatitis virus pada bayi baru lahir dapat terjadi

akibat transmisi agen pemicu  penyakit ini .

Hepatitis B (HB\D ditransmisikan ke bayi baru lahir selama

periode perinatal. Transmisi dari ibu ke anak dilaporkan

antara 00lo sampai 7\Yo. D:ua penelitian mencoba

menjelaskan rentang angka transmisi yang lebar ini.

Penelitian yang pertama menunjukkan bahwa tidak

ada  infeksi pada bayi ketika ibunya menderita

hepatitis akut pada trimester pertama kehamilan, 25%bayi

yang dilahirkan dari ibu yang menderita hepatitis akut pada

trimester 2 terinfeksi HBV dan angka terjadinya infeksi

meningkat mencapai T}Yopadabayi yang dilahirkan dari

ibu yang menderita hepatitis akut pada trimester ketiga.

Insidensinya meningkat mencapai 84% apabila si ibu

menderita hepatitis akut pada dua bulan pertama setelah

persalinan. Insidensi yang meningkat ini disebabkan

706 HEFAIIOBILIER

sebab  si ibu telah terinfeksi virus selama kehamilan dan

setelah suatu periode inkubasi tertentu infektifitasnya

mencapai puncak pada saat persalinan. Penelitian kedua

menunjukkan hasil yang serupa: infektifitas lYo pada

trimester pertama,6%o selama trimester kedua, 67%o selarrn

trimester ketiga, dan l00o/o selama periode awal

postpartum. Gambaran statistik ini mengejutkan apabila

kita mempertimbangkan bahwa lebih dari 900/o neonatus

yang terinfeksi menjadi karier HBV.

Vaksin Hepatitis B

Beasley dan rekan-rekan menunjukkan bahwa infeksi HBV

kronis pada bayiyang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi

HBV dapat dicegah pada 90olo kasus dengan menggunakan

kombinasi imunoglobulin hepatitis B (IIBIG) dan vaksinasi

HBV secara teratur. Penelitian Beasley dan penelitian-

penelitian lain menghasilkan suatu pedoman untuk

pencegahan transmisi HBV fetal-matemal. Semua bayi yang

dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HBV hendaknya

menerima prohlaksis terhadap HBV. Regimen yang saat ini

direkomendasikan untuk bayi yang baru lahir ditunjukkan

pada Tabel 5.

HBIG 0,5 ml intramuskular pada saat lahir

Vaksin HBV 10 ug (0,5 ml) intramuskular dalam 7 hari

setelah percalinan dan 1 dan 6 bulan

sesudahnya

Hepatitis Virus C

Pada kurang lebih 50% individu yang terinfeksi hepatitis

C tidak didapatkan adanya faktor risiko terinfeksi

hepatitis C. Hal ini mendorong penelitian tentang transmisi

infeksi HCV non perkutaneus. Sebelum assay HCV tersediq

kadang-kadang ditemukan transmisi non-A non-B

(sekarang diketahui sebagai hepatitis C) vertikal melalui

darah. Dua penelitian terbaru mengarah ke pendapat

adanya transmisi HCV neonatal. Walaupun kedua

penelitian ini memiliki  desain yang baik dan

menggunakan petanda serologi yang dapat dipercaya,

keduanya memiliki  keterbatasan. Keterbatasan itu

yaitu  jumlah bayi yang diamati terlalu sedikit danjangka

waktu pengamatan yang pendek. Reinus dan rekan-

rekannya melaporkan 23 ibuyangterinfeksi HCV dan 23

bayi yang dilahirkannya dari rumah sakit di daerah

W