Tampilkan postingan dengan label Skizofrenia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skizofrenia. Tampilkan semua postingan

Skizofrenia

 


 







Orang dengan skizofrenia menunjukkan penurunan activity daily living (ADL) sesudah  pulang dari RSJ, hal 

ini  sebab keluarga menyerahkan pengobatan dan perawatan sepenuhnya kepada pihak rumah sakit 

sehingga ketika pasien kembali pulang ke rumah dukungan keluarga menurun. Penelitian ini bertujuan untuk 

mengetahui efektivitas terapi suportif untuk meningkatkan activity daily living (ADL) pada pasien skizofrenia 

paranoid. Jenis pendekatan yang digunakan yaitu  pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen 

memakai  rancangan Single Case Design. Teknik sampel memakai  non random purposive sampling 

dengan subjek penelitian yaitu  pasien RSJ “X” di Jawa Tengah dengan usia 44 tahun berjenis kelamin laki-laki 

yang menunjukkan penurunan ADL sesudah  pulang dari rumah sakit. Terapi suportif diberikan secara individual 

sebanyak 4 kali pertemuan dengan memakai  alat bantu jadwal harian dan penentuan tujuan jangka 

pendek. Skizofrenia paranoid subjek diukur dari asesmen dengan memakai  observasi, wawancara dan tes 

psikologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat efektivitas terapi suportif untuk meningkatkan ADL 

pada pasien skizofrenia paranoid. Tingkat ADL subjek menunjukkan perubahan dari sebelum diberikan 

intervensi dan sesudah  diberikan intervensi. Terdapat perubahan skor Global Assesment of Functioning (GAF) 

dari 40-31 (beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam 

beberapa fungsi) dan sesudah  dilakukan intervensi meningkat menjadi 60-51 (gejala sedang/moderate, 

disabilitas sedang). 

 bahwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat 

yang dapat memepngaruhi pikiran, perasaan dan perilaku individu. Skizofrenia yaitu  bagian dari 

gangguan psikosis yang ditandai dengan hilang terhadap pemahaman kehidupan nyata atau realitas 

dan kehilangan daya tilik diri atau insight  Menurut WHO gejala klinis 

dari skizofrenia yaitu gangguan isi pikir, delusi, halusinasi, afeksi yang mengalami keabnormalan, 

gangguan kepribadian motor, dan perilaku bizarre. Gangguan skizofrenia terjadi sebab beberapa 

faktor seperti faktor genetik, biologis, biokimia, psikososial, status ekonomi, stres dan 

penyalahgunaan obat  Ciri yang dapat terlihat pada individu yang 

mengalami skizofrenia biasanya muncul pada akhir remaja dan awal dua puluhan  Akan 

tetapi beberapa anak yang menunjukkan munculnya gejala skizofrenia ditandai dengan terganggunya 

fungsi sosial, terhambat secara fisik, kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan dengan saudara 

kandung pada seusianya  Sebelum ditahap psikosis, individu menunjukkan 

periode berbulan-bulan dan bertahun-tahun perubahan perilaku dan penurunan fungsi yang disebut 

dengan fase prodromal. Hal ini  dapat menjadi gejala-gejala awal sampai ditahap individu 

mengalami skizofrenia 

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi penderita 

skizofrenia di Indonesia sejumlah 6,7% per 1000 rumah tangga. Persebaran tertinggi yaitu Bali 

sebesar 11,1% dan Yogyakarta sebesar 10,4% per 1000 rumah tangga yang mempunyai anggota 

dengan skizofrenia. Secara umum disebutkan bahwa sebanyak 84,9% penderita skizofrenia telah 

melakukan pengobatan. Dua kategori yang diklasifikasikan yaitu penderita skizofrenia yang tidak 

rutin mengkonsumsi obat sebanyak 48,9% dan yang secara rutin mengkonsumsi obat sebesar 51,1%. 

Selain itu, terdapat orang yang mengidap skizofrenia rutin melakukan pengobatan sebesar 33,7% dan 

23,3% tidak mampu untuk membeli obat secara rutin. Data lain menunjukkan bahwa sebanyak 36,1% 

penderita merasa bahwa sudah sehat 

Individu yang mengalami gangguan skizofrenia menunjukkan penurunan pada aspek 

perawatan diri ketika di rumah. activity daily living 

(ADL) yaitu  sebuah kegiatan atau aktivitas normal yang dilakukan oleh individu dalam menjalankan 

kehidupan seperti makan, mandi, menyikat gigi, berpakaian dan berhias. Hal ini  diakibatkan 

oleh perubahan proses berpikir sehingga kemampuan individu untuk melakukan kegiatan sehari-hari 

akan menurun (Rini, 2016). Faktor lain penyebab ADL (activity daily living) yang berkurang yaitu 

keluarga menyerahkan pengobatan dan perawatan sepenuhnya kepada pihak rumah sakit sehingga 

ketika pasien kembali pulang ke rumah dukungan keluarga menurun (Markum, 2011). Terlihat jelas 

kondisi pasien yang telah mendapatkan penanganan fasilitas kesehatan akan mengalami perbaikan 

kondisi. Faktor lain yang menjadikan kondisi pasien baik ketika berada di rumah sakit sebab 

lingkungan dan kondisi stressor yang tidak dijumpai. Sehingga pemulihan akan lebih optimal ketika 

berada di rumah sakit.  

berkata kata  penanganan yang dapat dilakukan untuk pasien 

dengan skizofrenia atau ODS yang mengalami penurunan rawat diri dengan cara keterlibatan secara 

langsung dari pasien, kelompok, keluarga dan komunitas. Keterlibatan ini  dapat diberikan 

kepada pasien dengan memakai  terapi suportif. Terapi suportif sendiri merupakan psikoterapi 

yang digunakan pada seting individu di rumah sakit, kelompok atau masyarakat. 

menjelaskan bahwa pendekatan terapi suportif pada pasien skizofrenia yang mengalami defisit 


perawatan diri dapat terjalin dengan pemberian dukungan dari terapis kepada pasien sehingga 

mampu memunculkan insight bagi masalah yang sedang dihadapi dan mampu meningkatkan 

kemandirian pasien secara optimal.  

Penelitian dari Fitriani (2018) yang juga menemukan bahwa terapi suportif efektif untuk pasien 

dengan skizofrenia hebefrenik. Skizofrenia hebefrenik ditandai dengan perilaku aneh, kekanak-

kanakan, bertingkah laku konyol, tertawa dangkal, asosiasi longgar, waham dan halusinasi tidak 

menonjol (Amalia & Meiyuntariningsih, 2020). Terdapat perubahan secara pikiran, perasaan dan 

perilaku yang ditunjukkan oleh subjek antara sebelum dan sesudah  diberikan intervensi. Intervensi 

ini  juga mendorong subjek memahami perilaku yang membuatnya kambuh kembali. Selain 

potensi diri, peran keluarga juga dapat mempengaruhi proses selama mendampingi pasien dengan 

skizofrenia. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Salsabila (2022) terapi suportif yang diberikan 

kepada subjek penelitian menunjukkan hasil yaitu perilaku melamun berkurang dan memiliki 

semangat untuk melakukan kegiatan berkebun. Pada proses intervensi yang diberikan memakai  

pendekatan behavior dengan membuat jadwal harian sesuai dengan kebutuhan subjek.  Penelitian 

yang dilakukan oleh Maharani (2021) scheduling activity dapat meningkatkan dan menunjukkan 

perubahan pada perilaku pasien dengan skizofrenia. Perubahan yang muncul yaitu lebih aktif dan 

lebih inisiatif untuk melakukan aktivitas pada waktu luang.  

Kesenjangan yang ditemukan pada pasien menjadikan peneliti tertarik untuk memberikan 

intervensi psikologis kepada pasien yang mengalami penurunan activity daily living (ADL) sesudah  

pulang dari rumah sakit. Diharapkan nantinya peneliti lain dapat melakukan terapi suportif untuk 

menstimulir pasien yang telah pulang ke rumah agar perilaku lebih adaptif dan memiliki kegiatan 

yang lebih produktif untuk meminimalisir kekambuhan pada pasien. Adapun tujuan dalam penelitian 

ini yaitu untuk mengetahui efektivitas terapi suportif untuk meningkatkan activity daily living (ADL) 

pada pasien dengan skizofrenia paranoid di RSJ “X” di Jawa Tengah. Hipotesis dalam penelitian ini 

yaitu efektivitas  terapi suportif untuk meningkatkan activity daily living (ADL) pada pasien dengan 

skizofrenia paranoid di RSJ “X” di Jawa Tengah 

 


Hasil analisis alat tes psikologi menunjukkan bahwa subjek memiliki taraf kognitif sebesar 89 

dengan kategori di bawah rata-rata. Potensi subjek juga belum optimal. Subjek mampu memahami 

instruksi yang diberikan pada setiap tes. Subjek juga mampu memahami isi pembicaraan dan 

menjelaskan berupa sebab akibat. Daya juang subjek dalam menyelesaikan tes juga cukup, terdapat 

beberapa tes yang masih harus diberikan motivasi untuk mengerjakannya. Subjek individu yang 

penuh dengan dunia-dunia ide sehingga kesulitan untuk melihat realita yang ada. Subjek juga di 

dominasi oleh kecemasan yang menyebabkan kesulitan dalam memecahkan masalah dan fokus. Hal 

ini  didukung oleh hasil anamnesa dan tes psikologi yang telah dilakukan. Subjek juga sulit 

dalam menghadapi kesulitan dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan. Sehingga subjek 


cenderung bergantung kepada orang lain dan mudah frustasi. Meskipun demikian subjek 

menunjukkan adanya kecerdasan dan pengalaman yang luas, sewaktu SD, SMP dan MA subjek 

merupakan anak yang berprestasi dan selalu mendapatkan peringkat tiga besar. 

Subjek didominasi oleh emosional yang membuatnya mengalami ketidakseimbangan antara 

intelektual dan emosi. Subjek menunjukkan adanya fiksasi emosional ke arah anak-anak sehingga 

tidak matang dan membutuhkan dorongan emosional. Subjek tidak stabil, sensitif dan histeris. Hal 

ini  didukung oleh hasil anamnesa dengan keluarga yang menjelaskan bahwa subjek anak yang 

sensitif jika keinginannya tidak dituruti dan akan merajuk. Subjek tidak dapat mengetahui kesulitan 

yang dihadapi orang tua. Subjek juga cenderung impulsif sehingga kesulitan untuk mengontrol 

dorongan-dorongan dalam diri seperti keinginan terhadap suatu hal, agresif dan mencuri uang ketika 

bekerja. Subjek sejak kecil merupakan individu yang menekan emosinya dan hanya diam sehingga 

ketika terdapat di situasi yang menjadi pencetus subjek akan bereaksi seperti melempar barang. 

Subjek juga menunjukkan adanya pengalaman traumatis yang menyebabkan konflik dalam diri. 

Subjek mudah untuk menyesuaikan dalam kondisi lingkungan. Subjek juga cenderung mudah 

untuk mengikuti konformitas di lingkungannya. Subjek juga terdapat kecenderungan untuk menahan 

dan mengasingkan diri. Subjek cenderung tidak dapat spontan dan terdapat kebutuhan untuk 

merevisi perilaku. Subjek juga cenderung menghindari konflik. Hal ini  ditunjukkan dari hasil 

anamnesis subjek yang ketika bertengkar dengan istri subjek akan diam saja dan berada di dalam 

kamar. Menurut subjek ketika subjek menghindar masalah tidak akan menjadi besar. Subjek 

menunjukkan adanya konflik dengan manusia sehingga membuatnya sulit untuk terbuka dan 

berbicara. Hal ini  membuatnya menjadi introvert. Subjek juga menunjukkan adanya paranoid 

sehingga tidak mau terbuka dan takut. Hal ini  juga selaras dengan hasil observasi ketika 

dibangsal, subjek banyak menghindari berinteraksi dengan orang lain. Subjek hanya berinteraksi 

sekedarnya saja. 

Hasil intervensi yang telah diberikan menunjukkan perubahan pada subjek yang diukur 

berdasarkan skor GAF (global assessment of functioning). Skor yang diperoleh sebelum dilakukan 

intervensi sebesar 40-31 (beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi, 

disabilitas berat dalam beberapa fungsi) dan sesudah  dilakukan intervensi meningkat menjadi 60-51 

(gejala sedang/moderate, disabilitas sedang). Terapi suportif yang diberikan memakai  teknik 

encouragement, advice, dan teaching. Selain itu juga dibantu dengan memakai  daily report dan 

goal setting untuk memudahkan subjek melakukan aktivitas dengan terjadwal dan menentukan 

kegiatan selanjutnya yang berkaitan dengan kegiatan rutin seperti pekerjaan ringan yang dilakukan 

secara mandiri oleh subjek. Berikut penjabaran hasil daily report dan goal setting. Secara kualitatif 

perbedaan sesudah  diberikan intervensi 

Subjek malas untuk berkegiatan di luar rumah 

sebab takut, merasa bahwa banyak orang di 

luar yang akan menyakitinya. Sehingga subjek 

hanya duduk di ruang tamu, merokok, minum 

kopi dan melamun. Subjek juga malas untuk 

mandi. 

Subjek merasa lebih produktif sesudah  

membuat jadwal kegiatan. Subjek merasa 

lebih mudah sebab dimulai dengan kegiatan 

yang ringan. Subjek menjelaskan bahwa sudah 

mulai berkurang halusinasi dan melamun. 

Subjek mengatakan “Saya lebih bersemangat 

untuk berkegiatan mba. Saya mau buat jadwal 

sendiri yang lebih variatif. Minta tolong kasih 

lembar yang kosong saja ya mba”. “Saya juga 

merasa lebih dapat termotivasi untuk 

melawan rasa malas dan lebih produktif” 

Regulasi 

emosi 

Ketika subjek marah akan diam dan cenderung 

membanting barang. Subjek juga akan 

mengabaikan perasaannya dan sulit 

mengidentifikasi apa yang dirasakan. Subjek 

merasa kesal tetapi sulit untuk mengatakan 

kepada ibu dan ayah. 

Subjek menjelaskan bahwa ia sudah mampu 

memvalidasi emosi yang dirasakan. Subjek 

dahulu hanya diam dan mengabaikan 

perasaannya. Subjek sesudah  memvalidasi 

respon fisik seperti panas, jantung berdebar 

menjadi menurun dan lebih lega. Subjek masih 

sulit untuk menyampaikan kepada orang yang 

membuatnya marah. “Saya sudah bisa lebih 

lega mba jika mengakui apa yang saya 

rasakan. Tetapi saya masih sulit mengatakan 

kepada orang ini  jika saya marah” 

Tujuan 

jangka 

pendek 

Subjek menjelaskan bahwa kesulitan 

menentukan akan bekerja sebagai apa. Tetapi 

subjek ingin bekerja menjadi tukang bangunan 

dan beternak kambing. Subjek kesulitan dalam 

hal modal untuk beternak kambing dan belum 

mendapatkan lowongan pekerjaan sebagai 

tukang bangunan. Subjek mengatakan “mba 

buat aku susah kalo ngawang-ngawang, kayak 

burem. Tapi bingung mulainya” 

Subjek telah mampu untuk menyusun tujuan 

jangka pendek sepanjang tiga hingga enam 

bulan. Subjek membuat rencana menanam 

cabai dan terong serta pohon pisang. Subjek 

telah menanam tujuh buah tunas pisang raja 

nangka yang diperoleh dari tetangga. Subjek 

menunjukkan kebun yang digunakan untuk 

menanam pohon pisang, cabai dan terong. 

Subjek mengatakan “Mba aku udah tahu mau 

melakukan apa sesudah  dari aktivitas harian. 

Aku mau dapet penghasilan dari pisang, cabai, 

dan terong” 

 

Pengukuran memakai  DASS menunjukkan perubahan skor sebelum dan sesudah  intervensi 

dijabarkan pada tabel 2 sebagai berikut: 

 

Tabel 2. Skor pre-test dan post-test 

Keterangan Skor Pre-test Skor Post-test 

Depresi 3 (Normal) 7 (Normal) 

Kecemasan 7 (Normal) 8 (Ringan) 

Stress 9 (Normal) 7 (Normal) 

 

Subjek menunjukkan peningkatan 4 skor depresi dan 1 skor kecemasan diakibatkan oleh 

subjek sudah 5 hari tidak mengkonsumsi obat sebab keterbatasan akses untuk subjek mengambil 

obat di faskes.  

Hasil yang ditunjukkan dari kualitatif dan skor GAF menunjukkan perubahan perilaku sesudah  

intervensi dengan mulai melakukan kegiatan merawat diri yang meningkat seperti mencuci baju 


sendiri, mencuci piring sesudah  makan, merapikan kasur, dan mandi dua kali sehari.  Selain itu, subjek 

mulai mampu melakukan kegiatan ringan dan berinteraksi dengan orang lain seperti membantu ibu 

menjemur kopi dan ke penggilingan kopi milik tetangga desa.  Ibu subjek juga menjelaskan bahwa 

subjek telah banyak kegiatan merawat diri yang dilakukan dan sudah mau keluar rumah, hal ini  

membuat halusinasi sedikit berkurang. Ibu juga menjelaskan subjek tidak fokus dengan kondisinya 

sebab melakukan kegiatan di luar rumah dan mulai berinteraksi dengan tetangga. Subjek 

menjelaskan kemaun untuk pulih sebab anak, sehingga subjek harus bersemangat agar dapat 

bekerja dan mendapatkan uang. 

 

Diskusi 

Hasil asesmen memaparkan permasalahan yang dialami oleh subjek saat ini yaitu  skizofrenia 

tipe paranoid (F20.0). Skizofrenia paranoid memunculkan beberapa gejala seperti waham-waham 

kejaran, rujukan, merasa dirinya tinggi, istimewa, memiliki misi khusus, perubahan tubuh dan 

kecemburuan. Selain itu, muncul suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi 

perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi peluit, mendengung, atau bunyi 

tawa. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan 

tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. Nevid (Sari, 2019) menjelaskan bahwa 

orang dengan skizofrenia paranoid fokus kepada satu atau lebih jenis waham. Waham yang terdapat 

pada orang dengan skizofrenia paranoid yaitu waham kebesaran, persekusi, kecemburuan, 

kegelisahan, maupun kebingungan tanpa memiliki bukti. Kriteria yang harus dipenuhi yaitu halusinasi 

pendengaran sering muncul dan sangat menonjol. Tidak ada kriteria yang menonjol seperti bicara 

dan perilaku yang tidak beraturan, katatonik dan emosi datar atau tidak sesuai. 

Hasil dari asesmen menunjukkan bahwa gejala-gejala yang ditemukan pada subjek sesuai 

dengan pedoman penegakkan skizofrenia paranoid pada PPDGJ-III. Adapun gejala yang tampak pada 

subjek yaitu muncul halusinasi auditorik berupa orang yang bercakap-cakap, mendengung dan 

mengarahkan subjek untuk menyendiri di dalam kamar. Subjek juga muncul halusinasi visual berupa 

melihat bayangan-bayangan yang menyeramkan. Waham yang subjek yaitu waham kebesaran 

berupa mampu membaca masa depan selama 12 tahun dan tangan kanan Jokowi sebagai presiden 

roh-roh di dimensi lain. Subjek juga muncul waham kejar berupa merasa disekitar terdapat suara 

orang-orang berlari dan akan menyakiti dirinya. Sehingga subjek merasa ketakutan dan berdiam diri 

dalam kamar. Perilaku bizarre juga muncul ketika subjek kambuh yaitu mondar-mandir tanpa tujuan. 

Subjek juga lebih sensitive dengan membantin barang ketika marah. 

Pasien yang telah mendapatkan perawatan di rumah sakit dan pulang ke rumah terjadi 

kemunduran secara fungsi dan rawat diri. Hal ini  juga ditemukan pada subjek sesudah  pulang 

dari rumah sakit. Subjek lebih banyak merokok, minum kopi dan melamun di ruang tamu. Subjek 

tidak melakukan aktivitas rutin yang menyebabkan halusinasi pendengaran semakin kuat. Dogra 

(2009) menjelaskan bahwa aktivitas rutin dapat menjadi keberhasilan perawatan pada pasien ODS. 

Aktivitas rutin dapat mengurangi simptom negatif yang menjadi penghambat individu untuk 

beraktivitas dan bersosialisasi dengan orang lain. Istilah activity of daily living (ADL) merupakan 

kegiatan yang dilakukan secara rutin sehari-hari. ADL merupakan aktivitas pokok bagi perawatan diri. 

ADL meliputi ke toilet, makan, berpakaian, mandi dan berpindah tempat (Hadiywinoto & Setiabudi, 

2005). Pasien dengan gangguan kejiwaan memerlukan suatu bimbingan atau dukungan dari keluarga 

dan orang lain. Agar pasien dapat merawat diri secara mandiri dan meningkatkan kemampuan dalam 


memecahkan masalah. Penurunan ADL (activity of daily living) pada pasien dengan gangguan jiwa 

disebabkan oleh adanya gangguan mental pada pasien dan kurangnya edukasi mengenai perawatan 

diri . Salah satu cara yang dilakukan dapat memakai  psikoterapi.  

Psikoterapi yang dapat digunakan untuk meningkatkan ADL pasien ODS yaitu terapi suportif. 

Terapi suportif yaitu  bentuk psikoterapi yang dilakukan dengan menerangkan secara masuk akal 

mengenai gejala gangguan yang muncul akibat cara berpikir, perasaan dan sikap terhadap masalah 

yang dihadapi. Terapi suportif dapat menjadi terapi yang efektif untuk menangani permasalahan 

skizofrenia (Miranti et al., 2019). Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Madalis dkk (2015) 

menunjukkan bahwa terapi suportif efektif untuk meningkatkan ADL pada pasien ODS. Penelitian lain 

yang dilakukan oleh Emilyani (2014) menunjukkan bahwa terapi suportif dapat meningkatkan 

merawat diri seperti berhias atau berdandan, makan dan minum tanpa bantuan. Selain itu, 

penelitian yang dilakukan oleh Harkomah  supportive therapy efektif untuk 

meningkatkan keterampilan sosialisasi pada pasien ODS. 

Kasus subjek menunjukan kedudukan terapi suportif sebagai cara untuk mendukung dan 

menstimulir subjek melakukan ADL (activity of daily living) yang lebih optimal. Subjek sering terfokus 

pada masa lalu dan emosi marah yang dirasakan kepada orang tua. Hal ini  menjadikan subjek 

mengembangkan mekanisme koping yang maladaptif seperti merokok dan minum kopi. Selain itu, 

sesudah  subjek banyak merokok dan hanya duduk subjek akan melamun. Subjek juga tidak mau 

bersosialisasi dengan orang lain, tidak merawat diri dan tidak mau beraktivitas. Hal ini  yang 

menjadikan halusinasi subjek semakin kuat. 

Palmer (2011) berkata kata  bahwa terapi suportif memiliki tujuan untuk melakukan 

evaluasi diri, melihat kembali cara menjalani kehidupan, eksplorasi pilihan-pilihan yang ada, dan 

mengajukan pertanyaan pada diri sendiri terkait dengan hal-hal yang diinginkan di masa depan. 

Terapi suportif juga diberikan kepada pasien agar dapat menjalankan fungsinya dengan efektif yang 

dilakukan dengan memberikan dukungan secara personal. Terapis memiliki fungsi sebagai 

pendamping, bukan menuntut subjek untuk terjadi perubahan perilaku. Terapis memberikan 

dorongan untuk pasien melakukan refleksi situasi terhadap kehidupan mereka di lingkungan (Miranti 

et al., 2019). Secara umum, terapi suportif bertujuan memperkuat fungsi psikologis subjek agar lebih 

sehat dan memunculkan perilaku-perilaku yang adaptif.  

Proses terapi suportif yang telah dilakukan memakai  teknik encouragement, advice, dan 

teaching. Subjek menunjukkan perubahan yaitu subjek merasakan lebih produktif sesudah  membuat 

jadwal kegiatan. Subjek merasa lebih mudah sebab dimulai dengan kegiatan yang ringan. Subjek 

menjelaskan bahwa sudah mulai berkurang halusinasi pendengaran dan melamun. Subjek juga sudah 

mau bertemu dan berinteraksi dengan tetangga. Selain itu, subjek telah mampu untuk menyusun 

tujuan jangka pendek sepanjang tiga hingga enam bulan. Subjek membuat rencana menanam cabai 

dan terong serta pohon pisang. Subjek telah menanam tujuh buah tunas pisang raja nangka yang 

diperoleh dari tetangga. Subjek menunjukkan kebun yang digunakan untuk menanam pohon pisang, 

cabai dan terong. 

Skor yang diperoleh sebelum dilakukan intervensi sebesar 40-31 (beberapa disabilitas dalam 

hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi) dan sesudah  

dilakukan intervensi meningkat menjadi 60-51 (gejala sedang/moderate, disabilitas sedang). GAF 

(global assessment of functioning) merupakan skala yang digunakan untuk menilai seberapa serius 

suatu penyakit mental, mengukur seberapa besar gejala memengaruhi fungsinya sehari-hari yang 


dinilai dari 0-100  menjelaskan bahwa penilaian GAF dapat didasarkan 

pada wawancara atau kuesioner, rekam medis informasi dari dokter atau tenaga kesehatan lain, 

caregiver atau kerabat dekat pasien, dan catatan pihak yang berwenang. 

Proses evaluasi yang telah dilakukan secara kuantitatif menunjukkan peningkatan skor DASS. 

Keluarga menyampaikan bahwa subjek tidak mengkonsumsi obat sebab habis dan adik subjek yang 

mengantar sedang mengalami sakit. Selain itu, rumah subjek terbatas akses menuju layanan fasilitas 

kesehatan dan terbatas transportasi yang dapat mengantarkan subjek ke fasilitas kesehatan rujukan.  

Kesimpulan dari hasil intervensi yang diberikan kepada subjek dengan diagnosa skizofrenia 

paranoid menunjukkan bahwa terapi suportif efektif untuk meningkatkan ADL (activity daily living). 

Hal ini  dapat tergambarkan pada skor GAF (global assessment of functioning) dari 40-31 

(beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam 

beberapa fungsi) dan sesudah  dilakukan intervensi meningkat menjadi 60-51 (gejala 

sedang/moderate, disabilitas sedang). Faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan ADL subjek 

yaitu dukungan dari keluarga dan komitmen subjek untuk mengubah kegiatan yang maladaptif 

menjadi lebih adaptif. Selain itu, subjek yang mengetahui tujuan jangka pendek secara aplikatif lebih 

mudah melakukan kegiatan dan pekerjaan yang akan dipilih untuk kemandirian serta 

keberlangsungan hidupnya. Subjek juga memiliki insight yang cukup baik sehingga terjadi proses 

perubahan pandangan subjek dalam menilai kehidupannya dan mengubah perilaku yang lebih 

adaptif. 

Kelemahan penelitian ini yaitu faktor eksternal yang tidak dapat dikontrol berkaitan dengan 

jarak rumah subjek dari fasilitas kesehatan yang jauh dan akses transportasi yang sulit menyebabkan 

keterlambatan subjek mengambil obat. Hal ini  membuat terjadinya peningkatan skor DASS 

pada saat post-test, subjek menunjukkan peningkatan 4 skor depresi dan 1 skor kecemasan yang 

diakibatkan oleh subjek sudah 5 hari tidak mengkonsumsi obat sebab keterbatasan akses untuk 

subjek mengambil obat di faskes. 

Rekomendasi untuk subjek mampu untuk mempertahankan kegiatan dengan melakukan 

jadwal harian dan konsisten dalam mengkonsumsi obat. Rekomendasi kepada psikolog dan atau 

psikiater yaitu pemberian intervensi yang singkat, diharapkan nantinya pasien diberikan bekal untuk 

melakukan activity daily living yang dapat diterapkan secara aplikatif oleh subjek ketika sudah pulang 

dari rumah sakit. Selain itu, pemberian pelatihan yang tepat untuk membuat subjek memiliki 

keterampilan. Rekomendasi untuk keluarga yaitu selalu memberikan dukungan dan apresiasi dari 

pencapaian yang dilakukan oleh subjek.  

Acuan yang digunakan sebagai bahan pertimbangan peneliti selanjutnya yaitu  peneliti yang 

mendatang diharapkan dapat melakukan terapi suportif yang juga melibatkan caregiver ODS agar 

dapat memberikan pengetahuan bagaimana merawat ODS ketika pulang dari rumah sakit. Selain itu, 

peneliti lain juga diharapkan memakai  skala khusus psikotik untuk melakukan pengukuran agar 

terlihat jelas perbedaan hasil intervensi yang diberikan. 

 


A.   Definisi Skizofrenia

1.    Skizofrenia  yaitu  suatu  bentuk  psikosa fungsional  dengan gangguan  utama pada

proses fikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek/emosi,

kamauan  dan  psikomotor  disertai  distorsi  kenyataan,  terutama  sebab   waham  dan

halusinasi; asoisasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, afek dan emosi perilaku

bizar.

2.    Skizofrenia  merupakan bentuk  psikosa yang  banyak  dijumpai  dimana-mana namun

faktor  penyebabnya  belum  dapat  diidentifikasi  secara  jelas.  Kraepelin  menyebut

gangguan ini sebagai demensia precox (demensia artinya kemunduran intelegensi dan

precox artinya muda/sebelum waktunya).

B.   Etiologi Skizofrenia

ada   beberapa teori  yang dikemukakan para  ahli  yang menyebabkan terjadinya

skizofrenia. Teori teori ini  antara lain:

1.    Endokrin

Teori  ini  dikemukakan  berhubung  dengan  sering  timbulnya  Skizofrenia  pada  waktu

pubertas,  waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium, tetapi  teori  ini

tidak dapat dibuktikan.

2.    Metabolisme

Teori ini mengemukakan bahwa skizofrenia disebabkan sebab  gangguan metabolisme

sebab   penderita  tampak  pucat,  tidak  sehat,  ujung  extremitas  agak  sianosis,  nafsu

makan  berkurang  dan  berat  badan  menurun  serta  pada  penderita  dengan  stupor

katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan

pemberian obat halusinogenik seperti meskalin dan asam lisergik diethylamide (LSD-

25).  Obat-obat  ini   dapat  menimbulkan gejala-gejala yang mirip dengan gejala-

gejala skizofrenia, tetapi reversible.

3.    Teori Adolf Meyer

Skizofrenia  tidak  disebabkan  oleh  penyakit  badaniah  sebab  hingga  sekarang  tidak

dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada susunan

saraf  tetapi  Meyer  mengakui  bahwa  suatu  konstitusi  yang  inferior  atau  penyakit

badaniah  dapat  mempengaruhi  timbulnya  Skizofrenia.  Menurut  Meyer  Skizofrenia

merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi

kepribadian  dan  lama  kelamaan  orang  ini   menjauhkan  diri  dari  kenyataan

(otisme).

4.    Teori Sigmund Freud

Teori  Sigmund  freud  juga  termasuk  teori  psikogenik.  Menurut  freud,  skizofrenia

ada :

1)    Kelemahan ego, yang dapat timbul sebab  penyebab psikogenik ataupun somatik

2)    Superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta

terjadi suatu regresi ke fase narsisisme

3)    Kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik

tidak mungkin.

5.    Eugen Bleuler

pemakaian  istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang

terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan

perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer

(gangguan proses pikiran,  gangguan emosi,  gangguan kemauan dan otisme) gejala

sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang

lain).

Teori tentang skizofrenia yang saat ini banyak dianut yaitu  sebagai berikut:

1.    Genetik

Teori  ini  telah  dibuktikan  dengan  penelitian  tentang  keluarga-keluarga  penderita

skizofrenia  terutama anak-anak  kembar  satu  telur  sehingga  dapat  dipastikan  factor

genetik turut menentukan timbulnya skizofrenia. Angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-

1,8 %,  bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang

menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 %

(Maramis, 2009). Pengaruh genetik ini tidak sederhana seperti hokum Mendel, tetapi

yang diturunkan yaitu  potensi untuk skizofrenia (bukan penyakit itu sendiri).

2.    Neurokimia

Hipotesis dopaminmenyatakan bahwa skizofrenia disebabkan overaktivitas pada jaras

dopamine  mesolimbik.  Hal  ini  didukung  dengan  temuan  bahwa  amfetamin  yang

kerjanya meningkatkan pelepasan dopamine, dapat menginduksi psikosis yang mirip

skizofrenia  dan  obat  anti  psikotik  bekerja  dengan  mengeblok  reseptor  dopamine,

terutama reseptor D2. 

3.    Hipotesis Perkembangan Saraf

Studi  autopsi  dan  studi  pencitraan  otak  memperlihatkan  abnormalitas  struktur  dan

morfologi otak penderita skizofrenia antara lain berupa berat orak rata-rata lebih kecil

6%  dari  normal  dan  ukuran  anterior-anterior  yang  4%  lebih  pendek,  pembesaran

ventrikel otak yang nonspesifik, gangguan metabolisme di daerah frontal dan temporal

serta kelainan susunan seluler pada struktur saraf di beberapa korteks dan subkortek.

Studi neuropsikologis mengungkapkan deficit di bidang atensi, pemilihan konseptual,

fungsi eksekutif dan memori pada penderita skizofrenia.

C.   Pembagian Skizofrenia

Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama antara

lain :

1. Skizofrenia Simplek

Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi

dan kemunduran kemauan.  Gangguan proses berfikir  sukar  ditemukan,  waham dan

halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan.

2. Skizofrenia Hebefrenia

Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau

antaraa 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan

kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor

seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering ada , waham

dan halusinaasi banyak sekali.

3. Skizofrenia Katatonia

Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh

stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.

4. Skizofrenia Paranoid

Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder

dan  halusinasi.  Dengan  pemeriksaan  yang  teliti  ternyata  adanya  gangguan  proses

berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.

5. Episode Skizofrenia akut

Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi.

Kesadarannya  mungkin  berkabut.  Dalam keadaan  ini  timbul  perasaan  seakan-akan

dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu

arti yang khusus baginya.

6. Skizofrenia Residual

Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-

gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia.

7. Skizofrenia Skizo Afektif

Disamping gejala Skizofrenia ada  menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal

depresi  (skizo  depresif)  atau  gejala  mania  (psiko-manik).  Jenis  ini  cenderung untuk

menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi.

 

SKIZOFRENIA

D.   Manifestasi Klinik Skizofrenia

1.    Gejala Primer

          Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan isi pikiran). Yang paling menonjol yaitu 

gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi

          Gangguan afek emosi

1)    Terjadi kedangkalan afek-emosi

2)    Paramimi dan paratimi (incongruity of affect / inadekuat)

3)    Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai satu kesatuan

4)    Emosi berlebihan

5)    Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik

          Gangguan kemauan

1)    Terjadi kelemahan kemauan

2)    Perilaku negativisme atas permintaan

3)    Otomatisme : merasa pikiran/perbuatannya dipengaruhi oleh orang lain

          Gejala psikomotor

1)    Stupor atau hiperkinesia, logorea dan neologisme

2)    Stereotipi

3)    Katelepsi : mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama

4)    Echolalia dan echopraxia

          Autisme.

2.    Gejala Sekunder

          Waham

          Halusinasi

Istilah ini  menggambarkan persepsi sensori yang salah yang mungkin meliputi  salah

satu  dari  kelima  pancaindra.  halusinasi  pendengaran  dan  penglihatan  yang  paling

umum terjadi, halusinasi penciuman, perabaan, dan pengecapan juga dapat terjadi

E.   Rentang Respon Skizofrenia

RENTANG RESPON SKIZOFRENIA

F.    Penatalaksanaan Skizofrenia

1. Terapi Somatik (Medikamentosa)

Obat-obatan  yang  digunakan  untuk  mengobati  Skizofrenia  disebut  antipsikotik.

Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi

pada Skizofrenia. Pasien mungkin dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum

mendapatkan  obat  atau  kombinasi  obat  antipsikotik  yang  benar-benar  cocok  bagi

pasien. Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi

obat-obatan pertama yang efekitif  untuk  mengobati  Skizofrenia.  ada   3  kategori

obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu antipsikotik konvensional,  newer atypical

antipsycotics, dan Clozaril (Clozapine)

a.    Antipsikotik Konvensional

Obat antipsikotik  yang paling lama penggunannya disebut  antipsikotik  konvensional.

Walaupun sangat efektif, antipsikotik konvensional sering menimbulkan efek samping

yang serius. Contoh obat antipsikotik konvensional antara lain :

          Haldol (haloperidol) 5. Stelazine ( trifluoperazine)

          Mellaril (thioridazine) 6. Thorazine ( chlorpromazine)

          Navane (thiothixene) 7. Trilafon (perphenazine)

          Prolixin (fluphenazine)

Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional,

banyak ahli lebih merekomendasikan pemakaian  newer atypical antipsycotic.

Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional).  Pertama, pada pasien

yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat  menggunakan antipsikotik

konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan

untuk meneruskan pemakaian antipskotik konvensional. Kedua, bila pasien mengalami

kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol dapat diberikan dalam jangka

waktu  yang  lama  (long  acting)  dengan  interval  2-4  minggu  (disebut  juga  depot

formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam

tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan.  Sistem depot formulation  ini tidak dapat

digunakan pada newer atypic antipsychotic.

b.    Newer Atypcal Antipsycotic

Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal sebab  prinsip kerjanya berbda,

serta  sedikit  menimbulkan  efek  samping  bila  dibandingkan  dengan  antipsikotik

konvensional. Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain :

          Risperdal (risperidone)

          Seroquel (quetiapine)

          Zyprexa (olanzopine)

c.    Clozaril

Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal yang pertama.

Clozaril  dapat  membantu  ±  25-50% pasien  yang  tidak  merespon  (berhasil)  dengan

antipsikotik  konvensional.  Sangat  disayangkan,  Clozaril  memiliki  efek  samping yang

jarang tapi sangat serius dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat

menurunkan jumlah sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya,

pasien yang mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah putihnya secara

reguler. Para ahli merekomendaskan pemakaian . Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat

antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.

Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran

No   Nama Generik                           Sediaan                                               Dosis

1.     Klorpromazin                   Tablet, 25 dan 100 mg,                         150 - 600 mg/hari

   Injeksi 25 mg/ml

2      Haloperidol                      Tablet, 0,5 mg, 1,5 mg, 5 mg,               5 - 15 mg/hari

   Injeksi 5 mg/ml 

3      Perfenazin                       Tablet 2, 4, 8 mg                                 12 - 24 mg/hari

4      Flufenazin                       Tablet 2,5 mg, 5 mg                             10 - 15 mg/hari

5      Flufenazin dekanoat          Inj 25 mg/ml                                       25 mg/2-4 minggu

6      Levomeprazin                  Tablet 25 mg, Injeksi 25 mg/ml             25 - 50 mg/hari

7      Trifluperazin                    Tablet 1 mg dan 5 mg                          10 - 15 mg/hari

8      Tioridazin                        Tablet 50 dan 100 mg                          150 - 600 mg/hari

9      Sulpirid                           Tablet 200 mg                                     300 - 600 mg/hari

                                              Injeksi 50 mg/ml                                 1 - 4 mg/hari

10    Pimozid                           Tablet 1 dan 4 mg                               1 - 4 mg/hari

11     Risperidon                      Tablet 1, 2, 3 mg                                 2 - 6 mg/hari

 

SKIZOFRENIA

Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama

Newer atypical antipsycoic merupakn terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia

episode  pertama  sebab   efek  samping  yang  ditimbulkan  minimal  dan  resiko  untuk

terkena tardive dyskinesia lebih rendah. Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu

beberapa saat untuk mulai  bekerja.  Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat

gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat

selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril)

Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)

Biasanya  timbul  bila  pendrita  berhenti  minum obat,  untuk  itu,  sangat  penting

untuk  mengetahui  alasan  mengapa  penderita  berhenti  minum  obat.  Terkadang

penderita  berhenti  minum  obat  sebab   efek  samping  yang  ditimbulkan  oleh  obat

ini . Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk

efek  sampingnya,  atau  mengganti  dengan  obat  lain  yang  efek  sampingnya  lebih

rendah.  Apabila  penderita  berhenti  minum  obat  sebab   alasan  lain,  dokter  dapat

mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu.

Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya. Terkadang pasien

dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan

alasan  yang  tepat  untuk  menggantinya  dengan  obat  obatan  yang  lain,  misalnya

antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer  atipycal  antipsycotic  atau newer

atipycal antipsycotic  diganti  dengan  antipsikotik  atipikal  lainnya.  Clozapine  dapat

menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.

Pengobatan Selama fase Penyembuhan

Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah

sembuh.  Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari  5  pasien yang behenti  minum obat

setelah  episode  petama  Skizofrenia  dapat  kambuh.  Para  ahli  merekomendasikan

pasien-pasien Skizofrenia episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-

24 bulan sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia

lebih dari satu episode, atau balum sembuh total pada episode pertama membutuhkan

pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan

penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit.

Efek Samping Obat-obat Antipsikotik

sebab  penderita Skizofrenia memakan obat  dalam jangka waktu yang lama,

sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin

masalah  terbesar  dan  tersering  bagi  penderita  yang  menggunakan  antipsikotik

konvensional  gangguan  (kekakuan)  pergerakan  otot-otot  yang  disebut  juga  Efek

samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan menjadi lebih lambat dan

kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak (berjalan) setiap waktu, dan

akhirnya mereka tidak dapat beristirahat. Efek samping lain yang dapat timbul yaitu 

tremor  pada  tangan  dan  kaki.  Kadang-kadang  dokter  dapat  memberikan  obat

antikolinergik  (biasanya  benztropine)  bersamaan  dengan  obat  antipsikotik  untuk

mencegah  atau  mengobati  efek  samping  ini.  Efek  samping  lain  yang  dapat  timbul

yaitu  tardive dyskinesia  dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol,

protruding tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini dapat

dikurangi dengan menggunakan dosis efektif  terendah dari  obat antipsikotik. Apabila

penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional mengalami tardive dyskinesia,

dokter biasanya akan mengganti antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal. 

Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual,

sehingga  banyak  penderita  yang  menghentikan  sendiri  pemakaian  obat-obatan

ini .  Untuk  mengatasinya  biasanya  dokter  akan  menggunakan  dosis  efektif

terendah atau mengganti  dengan  newer atypical  antipsycotic  yang efek sampingnya

lebih sedikit.  Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Sikzofrenia

yang  memakan  obat.  Hal  ini  sering  terjadi  pada  penderita  yang  menggunakan

antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini. Efek

samping lain yang jarang terjadi yaitu  neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul

derajat kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi

berupa  demam  penyakit-penyakit  lain.  Gejala-gejala  ini  membutuhkan  penanganan

yang segera.

2. Terapi Psikososial

a.    Terapi perilaku

Teknik  perilaku  menggunakan  hadiah  ekonomi  dan  latihan ketrampilan  sosial

untuk meningkatkan  kemampuan sosial,  kemampuan  memenuhi  diri  sendiri,  latihan

praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif yaitu  didorong dengan pujian

atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa

dan pas  jalan  di  rumah sakit. Dengan  demikian,  frekuensi  perilaku  maladaptif  atau

menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan postur

tubuh aneh dapat diturunkan.

b.    Terapi berorintasi-keluarga

Terapi  ini  sangat  berguna  sebab   pasien  skizofrenia  seringkali  dipulangkan

dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali

mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari).

Setelah  periode  pemulangan  segera, topik  penting  yang  dibahas  didalam  terapi

keluarga  yaitu   proses  pemulihan,  khususnya  lama dan  kecepatannya.  Seringkali,

anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena

skizofrenia  untuk  melakukan  aktivitas  teratur  terlalu  cepat.  Rencana yang  terlalu

optimistik  ini   berasal  dari  ketidaktahuan  tentang  sifat  skizofreniadan  dari

penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli  terapi  harus membantu keluarga

dan  pasien  mengerti  skizofrenia  tanpa  menjadi  terlalu mengecilkan  hati.  Sejumlah

penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga yaitu  efektif dalam menurunkan

relaps. Didalam penelitian terkontrol, penurunan angka relaps yaitu   dramatik. Angka

relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 - 10 % dengan terapi

keluarga.

c.    Terapi kelompok

Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah,

dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku,

terorientasi secara  psikodinamika  atau  tilikan,  atau  suportif.  Terapi  kelompok  efektif

dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes

realitas  bagi  pasien skizofrenia.  Kelompok  yang  memimpin  dengan  cara  suportif,

bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.

d.    Psikoterapi individual

Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan

skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi alah membantu dan menambah efek

terapi farmakologis. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia

yaitu  perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien sebagai aman.

Pengalaman ini  dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional

antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan

oleh pasien. Hubungan antara dokter dan pasien yaitu  berbeda dari yang ditemukan

di  dalam  pengobatan pasien  non-psikotik.  Menegakkan  hubungan  seringkali  sulit

dilakukan; pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan

kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika

seseorang  mendekati.  Pengamatan  yang  cermat dari  jauh  dan  rahasia,  perintah

sederhana, kesabaran,  ketulusan hati,  dan kepekaan terhadap kaidah sosial  yaitu 

lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan pemakaian  nama pertama yang

merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan yaitu  tidak

tepat  dan  kemungkinan  dirasakan  sebagai  usaha  untuk  suapan,  manipulasi,  atau

eksploitasi.

3. Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization)

Indikasi  utama  perawatan  rumah  sakit  yaitu   untuk  tujuan  diagnostik,

menstabilkan medikasi, keamanan pasien sebab  gagasan bunuh diri atau membunuh,

prilaku  yang  sangat  kacau  termasuk  ketidakmampuan  memenuhi  kebutuhan  dasar.

Tujuan utama perawatan dirumah sakit  yang harus ditegakkan yaitu  ikatan efektif

antara pasien dan sistem pendukung masyarakat. Rehabilitasi dan penyesuaian yang

dilakukan pada perawatan rumahsakit harus direncanakan. 

Dokter  harus  juga  mengajarkan  pasien  dan  pengasuh  serta  keluarga  pasien

tentang  skizofrenia.  Perawatan  di  rumah  sakit  menurunkan  stres  pada  pasien  dan

membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan rumah sakit

tergantung dari keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat

jalan.  Rencana pengobatan  di  rumah sakit  harus  memiliki  orientasi  praktis  ke  arah

masalah kehidupan,  perawatan diri,  kualitas hidup,  pekerjaan,  dan hubungan sosial.

Perawatan  di  rumah  sakit  harus  diarahkan  untuk  mengikat  pasien  dengan  fasilitas

perawatan termasuk keluarga pasien. Pusat perawatan dan kunjungan keluarga pasien

kadang membantu pasien dalam memperbaiki kualitas hidup.

G.   Pohon Masalah Skizofrenia

PATHWAY SKIZOFRENIA

H.   Asuhan Keperawatan Skizofrenia

1. Pengkajian keperawatan skizofrenia

a.    Identitas 

Sering ditemukan pada usia dini atau muncul pertama kali pada masa pubertas.

b.    Keluhan Utama

Keluhan  utama yang  menyebabkan  pasien  dibawa  ke  rumah  sakit  biasanya  akibat

adanya kumunduran kemauan dan kedangkalan emosi.

c.    Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi sangat erat terkait dengan faktor etiologi yakni keturunan, endokrin,

metabolisme, susunan syaraf pusat, kelemahan ego.

d.    Psikososial

1)    Genogram

Orang tua penderita skizofrenia, salah satu kemungkinan anaknya 7-16 % skizofrenia,

bila keduanya menderita 40-68 %, saudara tiri kemungkinan 0,9-1,8 %, saudara kembar

2-15 %, saudara kandung 7-15 %.

2)    Konsep Diri

Kemunduran  kemauan  dan  kedangkalan  emosi  yang  mengenai  pasien  akan

mempengaruhi konsep diri pasien.

3)    Hubungan Sosial

Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun, berdiam diri.

4)    Spiritual

Aktifitas spiritual menurun seiring dengan kemunduran kemauan.

e.    Status Mental

5)    Penampilan Diri

Pasien  tampak  lesu,  tak  bergairah,  rambut  acak-acakan,  kancing  baju  tidak  tepat,

resliting tak terkunci,  baju tak diganti,  baju terbalik sebagai  manifestasi  kemunduran

kemauan pasien.

6)    Pembicaraan

Nada suara rendah, lambat, kurang bicara, apatis.

7)    Aktifitas Motorik

Kegiatan yang dilakukan tidak bervariatif, kecenderungan mempertahankan pada satu

posisi yang dibuatnya sendiri (katalepsia).

8)    Emosi

Emosi dangkal

9)    Afek

Dangkal, tak ada ekspresi roman muka.

10) Interaksi Selama Wawancara

Cenderung  tidak  kooperatif,  kontak  mata  kurang,  tidak  mau menatap lawan  bicara,

diam.

11) Persepsi

Tidak ada  halusinasi atau waham.

12) Proses Berfikir

Gangguan proses berfikir jarang ditemukan.

13) Kesadaran

Kesadaran  berubah,  kemampuan  mengadakan  hubungan  dengan  dan  pembatasan

dengan dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak sesuai dengan

kenyataan (secara kualitatif).

14) Memori

Tidak ditemukan gangguan spesifik, orientasi tempat, waktu, orang baik.

15) Kemampuan penilaian 

Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan, selalu

memberikan alasan meskipun alasan tidak jelas atau tidak tepat.

16) Tilik diri

Tak ada yang khas.

f.     Kebutuhan Sehari-hari

Pada permulaan penderita kurang memperhatikan diri dan keluarganya, makin mundur

dalam pekerjaan akibat kemunduran kemauan. Minat untuk memenuhi kebutuhannya

sendiri sangat menurun dalam hal makan, BAB/BAK, mandi, berpakaian, intirahat tidur.

2. Diagnosa Keperawatan Skizofrenia

a.    Isolasi sosial b.d harga diri rendah

b.    Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran b.d menarik diri

c.    Kurang perawatan diri b.d menarik diri

SKIZOFRENIA

3. Rencana 

4. Tindakan

5.  Keperawatan

6.

a.      Diagnosa keperawatan: Isolasi sosial b.d harga diri rendah

Diagnosa

Keperawatan

Perencanaan

Intervensi Rasional

Tujuan Kriteria Hasil

Isolasi sosial 

b.d harga diri 

rendah

Tujuan umum

Klien dapat 

melakukan 

hubungan sosia 

secara bertahap

- - -

Tujuan khusus 1

Klien dapat 

membuna 

hubungan saling 

percaya

a.    Klien dapat 

mengungkapkan 

perawaannya

b.    Ekspresi wajah 

bersahabat

c.    Ada kontak mata

d.    Menunjukkan rasa 

senang

e.    Mau berjabat 

tangan

f.     Mau menjawab 

salam

g.    Klien mau duduk 

a.    Bina hubungan saling percaya

          Sapa klien secara ramah baik 

secara verbal maupun nonverbal

          Perkenalkan diri dengan sopan

          Tanya nama lengkap klien dan 

nama panggilanyang disukai

          Jelaskan tujuan pertemuan, jujur 

dan menepati janji

          Tunjukkan sikap empati dan 

menerima klien apa adanya

          Beri perhatian kepada klien

b.    Beri kesempatan untuk 

Hubungan saling 

percaya akan 

menimbulkan 

kepercayaan klien 

kepada perawat 

sehingga akan 

memudahkan dalam 

pelaksanaan 

tindakan selanjutnya

berdampingan

h.    Klien mau 

mengutarakan 

masalah yang 

dihadapi

mengungkapkan perawaannya 

tentang penyakit yang diderita

c.    Sediakan waktu untuk 

mendengarkan klien

d.    Katakana pada klien bahwa dia 

yaitu  seorang yang berharga dan 

bertanggung jawab serta mampu 

menolong dirinya sendiri

Tujuan khusus 2

Klien dapat 

mengidentifikasi 

kemampuan dan 

aspek positif yang 

dimiliki

Klien mampu 

mempertahankan 

aspek yang positif

a.    Diskusikan kemampuan dan aspek 

positif yang dimilikiklien dan beri 

reinforcement atas kemampuan 

mengungkapkan perasaannya

b.    Saat bertemu klien hindarkan 

memberi penilaian negatif

c.    Utamakan memberi pujian yang 

realistis

Reinforcement positif

akan meningkatkan 

harga diri klien

Tujuan khusus 3

Klien dapat menilai 

kemampuan yang 

data digunakan

a.    Kebutuhan klien 

terpenuhi

b.    Klien dapat 

melakukan aktivitas

terasarah

a.    Diskusikan kemampuan klien yang 

masih dapat digunakan selama sakit

b.    Diskusikan juga kemampuan yang 

dapat dilanjutkan pemakaian  di 

rumah sakit dah di rumah nantinya

Peningkatan 

kemampuan klien 

akan mendorong 

klien untuk madiri

Tujuan khusus 4 a.    Klien mampu a.    Rencanakan bersama klien aktivitas Pelaksanaan 

Klien dapat 

menetapkan dan 

merencanakan 

kegiatan sesuai 

kemampuan

beraktivitas sesuai 

kemampuan

b.    Klien mengikuti TAK

yang dapat dilakukan setiap hari 

sesuai kemampuan, kegiatan 

mandiri, kegiatan dengan bantuan 

minimal, kegiatan dengan bantuan 

total

b.    Tingkatkan kegiatan klien sesuai 

toleransi kondisi klien

c.    Berikan contoh cara pelaksanaan 

kegiatan yang boleh klien lakukan  

(sering klien takut 

melaksanakannya)

kegiatan secara 

mandiri menjadi 

modal awal untuk 

meningkatkan harga 

diri

Tujuan khusus 5

Klien dapat 

melakukan 

kegiatan sesuai 

dengan kondisi 

sakit dan 

kemampuannya

Klien mampu 

beraktivitas sesuai 

kemampuan

a.    Berikan kesempatan kepada klien 

mencoba kegiatan yang telah 

direncanakan

b.    Beri pujian atas usaha dan 

keberhasilan klien

c.    Diskusikan kemungkinan 

pelaksanaan di rumah

Melalui aktivitas, 

klien akan 

mengetahui 

kemampuannya

Tujuan khusus 6

Klien dapat 

memanfaatkan 

system pendukung 

yang ada

a.    Klien mampu 

melakukan apa 

yang diajarkan

b.    Klien mau 

memberikan 

a.    Beri pendidikan kesehatan kepada 

keluarga tentang cara merawat klien 

dengan isolasi social dan harga diri 

rendah

b.    Bantu kelluarga memberi dukungan 

Perhatian keluarga 

dan pengertian 

keluarga akan 

membantu 

meningkatkan harga 

dukungan selama klien dirawat

c.    Bantu keluarga menyiapkan 

lingkungan dirumah

diri klien

b.     Diagnosa keperawatan: resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi pendenganran b.d menarik diri

Diagnosa

Keperawatan

Perencanaan

Intervensi Rasional

Tujuan Kriteria Hasil

Resiko 

perubahan 

persepsi 

sensori: 

halusinasi 

pendengaran

b.d isolasi 

sosial

Tujuan umum

Klien dapat 

berinteraksi dengan

orang lain sehingga

tidak terjadi 

halusinasi

- - -

Tujuan khusus 1

Klien dapat 

membuna 

hubungan saling 

percaya

Klien dapat 

mengungkapkan 

perasaan dan 

keberadaannya 

secara verbal

a.    Klien mau 

menjawab salam

b.    Klien mau berjabat 

tangan

c.    Mau menjawab 

pertanyaan

a.    Bina hubungan saling percaya

          Sapa klien secara ramah baik 

secara verbal maupun nonverbal

          Perkenalkan diri dengan sopan

          Tanya nama lengkap klien dan 

nama panggilanyang disukai

          Jelaskan tujuan pertemuan, jujur 

dan menepati janji

          Tunjukkan sikap empati dan 

menerima klien apa adanya

Hubungan saling 

percaya akan 

menimbulkan 

kepercayaan klien 

kepada perawat 

sehingga akan 

memudahkan dalam 

pelaksanaan 

tindakan selanjutnya

d.    Ada kontak mata

e.    Klien mau duduk 

berdampingan 

dengan perawat

          Beri perhatian kepada klien

b.    Beri kesempatan untuk 

mengungkapkan perawaannya 

tentang penyakit yang diderita

c.    Sediakan waktu untuk 

mendengarkan klien

d.    Katakana pada klien bahwa dia 

yaitu  seorang yang berharga dan 

bertanggung jawab serta mampu 

menolong diri sendiri

Tujuan khusus 2

Klien dapat 

menyebutkan 

penyabab menarik 

diri

Klien dapat 

menyebutkan 

penyebab menarik 

diri yang berasal 

dari :

a.    Diri sendiri

b.    Orang lain

c.    Lingkungan

a.    Kaji pengetahuan klien tentang 

perilaku menarik diri dan tanda-

tandanya

b.    Beri kesempatak kepada klien untuk

mengungkapkan perasaan 

penyebab menarik diri atau tidak 

mau bergaul

c.    Diskusikan dengan klien tentang 

perilaku menarik diri, tanda dan 

gejala

d.    Berikan pujian tentang kemampuan 

klien mengungkapkan perasaannya

Dengan mengetahui 

tanda dan gejala 

menarik diri akan 

menentukan langkah 

intervensi selanjutnya

Tujuan khusus 3 Klien dapat a.    Kaji pengetahuan klien tentang Reinforcement positif 

Klien dapat 

menyebutkan 

keuntungan 

bersosialisasi 

dengan orang lain 

dan kerugian todak 

bersosialisasi 

dengan orang lain

menyebutkan 

keuntungan 

berhubungan 

dengan orang lain, 

misalnya banyak 

teman, tidak sendiri,

bias berdiskusi, 

terasa ramai, dapat 

bercanda

keuntungan dan manfaat bergaul 

dengan orang lain

b.    Beri kesempatan kepada klien untuk

mengungkapkan perasaannya 

tentang keuntungan berhubungan 

dengan orang lain

c.    Diskusikan dengan klien tentang 

manfaat berhubungan dengan 

orang lain

d.    Kaji pengetahuan klien tentang 

kerugian bila todak bergaul dengan 

orang lain

e.    Beri kesempatan kepada klien untuk

mengungkapkan perasaannya 

tentang kerugian bila tidak  

berhubungan dengan orang lain

f.     Diskusikan dengan klien tentang 

kerugian bila tidak berhubungan 

dengan orang lain

g.    Beri reinforcement positif terhadap 

kemampuan mengungkapkan 

perasaan tentang kerugian tidak 

dapat meningkatkan 

harga diri

berhubungan dengan orang lain

c.      Diagnosa keperawatan: Kurang perawatan diri b.d menarik diri

Diagnosa

Keperawatan

Perencanaan

Intervensi Rasional

Tujuan Kriteria Hasil

Kurang 

perawatan 

diri b.d 

menarik diri

Tujuan umum

Pasien 

mengungkapkan 

keinginan untuk 

melakukan 

kegiatan hidup 

sehari-hari

- - -

Tujuan khusus 1

Klien mampu 

melakukan 

kegiatan hidup 

sehari-hari secara 

mandiri dan 

mendemontrasikan 

suatu keinginan 

untuk 

melakukannya

Klien  mampu

melakukan  aktivitas

sehari-hari

a.    Pasien  makan

sendiri  tanpa

bantuan.

b.    Pasien  memilih

pakaian  yang

sesuai,  berpakaian

merawat  dirinya

tanpa bantuan.

a.    Dukung pasien untuk melakukan 

kegiatan hidup sehari-hari sesuai 

tingkat kemampuan pasien

b.    Dukung kemandirian pasien, tapi 

berikan bantuan saat pasien tidak 

dapat melakukan beberapa kegiatan

c.    Perlihatkan secara konkret, 

bagaimana melakukakn kegiatan 

yang menurut pasien sulit 

melakukannya

d.    Bantu dalam menyiapkan 

Kegiatan mandiri 

dapar meningkatkan 

kemampuan aktivitas 

yang dapat dilakukan

klien

c.    Pasien

mempertahankan

kebersihan  diri

secara  optimal

dengan  mandi

setiap  hari  dan

melakukan

prosedur  defekasi

dan berkemih tanpa

bantuan. 

perlengkapan ADLs

e.    Berikan pengakuan dan 

penghargaan positif untuk 

kemampuannya mandiri