Tampilkan postingan dengan label hepatobilier 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hepatobilier 6. Tampilkan semua postingan

hepatobilier 6

 









estchester, New York. Penting diketahui bahwa pada

serum I 6 dari. 23 perempuan itu dapat dideteksi HCV RNA

dan diperkirakan berpotensi tinggi untuk mentransmisikan

HCV ke bayi yang dilahirkannya. Semua bayi menunjukkan

antibodi terhadap HCV (anti HCV) pada sampel darah taii

pusat, tapi antibodi menghilang pada sampel yang diambil

berikutnya. Hanya pada I sampel darah tali pusat dapat

dideteksi adanya HCV RNA yang kemudian menghilang

selama periode pengamatan. Penelitian yang kedua

menunjukkan hasil yang sama. Wejstal dan rekan-rekannya

melaporkan 14 perempuan Swedia dara 2l bayi yang

dilahirkannya. Pada serum semua perempuan ini  HCV

RNA dapat dideteksi dan 2 dai2l bayi yang dilahirkannya

menunjukkan peningkattan ALT secara menetap, namun

demikianhanya satu dari merekayang menjadi HCV-RNA

positif selama periode pengamatan. Biopsi hati pada anak-

anak ini  menggambarkan hepatitis kronis. Dari kedua

penelitian itu dapat disimpulkan bahwa transmisi HCV

fetal-maternal tampaknya jaratg. Kesimpulan ini valid

bahkan dengan adanyam HIV tipe 1 sebab  pada serum

beberapa ibu pada kedua penelitian ini  dapat dieteksi

adanyaHIV-1.

HEPATITIS DELTA

Hepatitis delta jarang dijumpai pada perempuan hamil.

Suatu survei terhadap 6111 perempuan hamil di Italia

menunjukkan bahwa 164 Q,6%) IBsAg positif dan 7 (4,204

menunjukkan antibodi terhadap virus delta dalam serum.

Tidak satupun bayi yang dilahirkan dari peremplan ini

terinfeksi hepatitis delta.

HEPATITIS E

Kemungkinan angka mortalitas hepatitis akut lebih tinggi

pada perempuan hamil dilaporkan pada beberapa daerah

di atas berkaitan dengan epidemi hepatitis non-A,non-B

(sekarang dikenal sebagai hepatitis E atat HEV). Virus

hepatitis E telah berhasil diisolasi dan digambarkan

memiliki  ciri-ciri tertentu. Hepatitis E biasanya sembuh

dengan sendirinya dan kondisi akut tidak diikuti dengan

hepatitis kronis. Histologi spesimen hati pada kasus

terinfeksi HEV digambarkan oleh Guptadan Smetenapada

spesimen biopsi dari 78 pasien termasuk perempuan hamil.

Lima puluh delapan persen spesimen menunjukkan satu

atau lebih gambaran patologis khas yaitu 1) kolestasis

terutama pada daerah periportal, 2) stasis empedu

kanalikular dan intraselular pada struktur pseudoglandular

dan 3) peningkatan jumlah komponen asidofilik.

Wabah HEV besar pertama kali te{adi di Delhi, India

pada tahun 1955 sampai tahun 1956. Gambaran

epidemiologis dan gambaranklinis utamawabah ini yaitu 

hubungan dengan konsumsi air yang terkontaminasi,

serangan sering terjadi pada dewasa muda, dan angka

fatalitas tinggi pada perempuan hamil juga telah dilaporkan

pada beberapa wabah. Pada tahun 1978 wabah hepatitis

non-A,non-B dilaporkan di Kashmir, India. Angka

kejadiannya 2,8%o pada pria, 2,lYo pada perempuan tidak

harnil, dan22% pada perempuan hamil. Hepatitis fulminan

teqadipada2,S%o daripria,O% dari perempuan yang tidak

harrrll Ml 22% dari perempuan hamil. Dari perempuan hamil

PENYAKIT }IATI PADA KEHAMILAN 707

dengan hepatitis fulminan, 75%o meninggal. Pada tahun

I 980 sampai 1 98 I epidemi hepatitis yang ditularkan melalui

air terjadi di Algeria di mana 788 kasus hepatitis dilaporkan

dengan mortalitas mencapai 100% diantara9 perempuan

hamil. Sebaliknya laporan dari Eropa danAmerika Serikat

menunjukkan bahwa perempuan hamil dan fetusnya tidak

terpengaruh oleh hepatitis virus selain peningkatan

insidensi terj adinya kelahiran prematur.

EFEK KEHAMILAN PADA PASIEN DENGAN

PENYAKIT HATI KRONIK

Sirosis j arang terj adi pada perempuan usia subur. Insidensi

terjadinya kehamilan pada perempuan pasien sirosis belum

diketahui, walaupun angka fertilitas yang rendah

dilaporkan pada perempuan-perempuan ini. Schreyer dan

rekan-rekan melaporkan 60 perempuan hamil dengan

sirosis dengan 69 persalinan. Usianya bervariasi antara I 8

sampai 44 tahun dengan usia rata-rata40,5 tahun. Sepuluh

dari 60 perempuan itu meninggal selama kehamilan, 7

berkaitan dengan perdarahan gastrointestinal masif. Hanya

45 dari 69 (65%) bayi yang dilahirkan dapat melewati

periode neonatalnya. Hasil yang serupa dilaporkan pada

penelitian yang lain.

Perhatian utama pada perempuan hamil dengan sirosis

yaitu  adanya varises esofagus. Dahulu, terminasi

kehamilan disarankan berdasar  pendapat bahwa ruptur

varises dan perdarahan fatal sering terjadi pada varises

esofagus. Selanjutnya seksio caesaria dianj urkan sebagai

tindakan agar pasien tidak mengejan sehingga tidak memicu

ruptur varises. Pada tahun 1982, Britton meneliti 53 pasien

sirosis dengan 73 kehamilan dan 38 pasien bukan sirosis

dengan 77 kehamilan berkaitan dengan risiko terjadinya

perdarahan varises. Ia menemukan bahwa sebagian besar

perdarahan gestasional terjadi pada trimester kedua dan

risiko terjadinya perdarahan varises tidak meningkat selama

persalinan per vaginam. Varises transien terjadi pada

perempuan dengan penyakit hati pada trimester kedua

sebagai akibat meningkatnya volume darah selama minggu

ke-28 sampai ke-32. Pada kelompok sirosis ada  7

kematian maternal, 3 berkaitan dengan perdarahan varises.

Pada kelompok non sirosis ada  2 kematian maternal,

satu akibat perdarahan varises. Penelitian ini menunjukkan

bahwa tidak ada  perbedaan bermakna antara

perempuan hamil sirosis dan non sirosis dalam hal

terjadinya perdarahan varises.

Laporan penelitian terhadap perempuan dengan sirosis

bilier primer (PBC) atau hepatitis kronis aktif autoimun

menunjukkan bahwa kondisi klinis dari penyakit dasarnya

semakin memburuk selama kehamilan. Empat dari lima

perempuan dengan PBC menunjukkan peningkatan derajat

jaundice selama kehamilan dan bilirubin tetap meningkat

setelah persalinan. Dari 6 kehamilan pada pasien PBC,

hanya2 yang berhasil melahirkan bayi hidup dan 3 dari 5

perempuan ini  meninggal beberapa tahun setelah

kehamilan. Pada penelitian terhadap 30 perempuan hamil

dengan hepatitis kronis aktif autoimun tidak ada 

kematian maternal dan hanya 4 kematian perinatal.

Perempuan-perempuan ini diterapi dengan prednisolon

selama kehamilan dengan tanpa efek samping pada fetus.

Kesimpulannya, jarangterjadi kehamilan pada pasien

sirosis dan penatalaksanaan penyakit hati pada pasien-

pasien ini tidak berbeda dibandingkan pasien yang tidak

hamil. ada  peningkatan kematian fetus pada

perempuan hamil dengan sirosis berkaitan dengan lahir

mati, prematuritas, dan aborhrs spontan.


HEPATOTOKSISITAS IMBAS OBAT


Sebagian besar obat masuk melalui saluran cerna, dan hati

terletak diantara permukaan absorptif dari saluran cema

dan organ target obat dimana hati berperan sentral dalam

metabolisme o bat. Hepatotoksisitas imbas obat merupakan

komplikasi potensial yang hampir selalu ada pada setiap

obat yang diberikan, sebab  hati merupakan pusat disposisi

metabolik dari semua obat dan bahan-bahan asing yang

masuk tubuh. Kejadian jejas hati sebab  obat mungkin

jarang terjadi namun akibat yang ditimbulkannya bisa

fatal. Reaksi ini  sebagian besar idiosinkratik pada

dosis terapeutik yang dianjurkan, dari I tiap 1000 pasien

sampai I tiap 100000 pasien denganpolayang konsisten

untuk setiap obat dan untuk setiap golongan obat.

Sebagian lagi tergantung dosis obat. Hepatotoksisitas

imbas obat merupakan alasan paling sering penarikan obat

dari pasaran di Amerika Serikat dan di dalamnya termasuk

lebih dari 50 persen kasus gagal hati akut.

Sebagian besar obat bersifat lipofilik sehingga

membuat mereka mampu menembus membran sel

intestinal. Obat kemudian diubah lebih hidrofrlik melalui

proses-proses biokimiawi di dalam hepatosit, menghasilkan

produk-produk larut air yang diekskresi ke dalam urin atau

empedu.Biotransformasi hepatik ini melibatkan j alur

oksidatifutamanya melalui sistem enzim sitokrom P-450.

M EKAN ISM E H EPATOTOKSISITAS

Mekanisme jejas hati imbas obat yang mempengaruhi

protein-protein transport pada membrane kanalikuli dapat

terjadi melalui mekanisme apoptosis hepatosit irnbas asam

empedu dimana terjadi penumpukan asam-asam empedu

di dalam hati sebab  gangguan transpor pada kanalikuli

yang menghasilkan translokasi Fas sitoplasmik ke membran

plasma, dimana reseptor-reseptor ini mengalami

pengelompokan sendiri dan memicu kematian se1 melalui

apoptosis. Disamping itu banyak reaksi hepatoselular

melibatkan sistem sitokrom P-450 yang mengandungheme

yang menghasilkan reaksi-reaksi energi tinggi yang dapat

membuat ikatan kovalen obat dengan enzim, sehingga

menghasilkan ikatan baru yang tak punya peran.Kompleks

enzim-obat ini bermigrasi ke permukaan sel di dalam vesikel-

vesikel untuk berperan sebagai imunogen-imunogen

sasaran serangan sitolitik sel T, merangsang respons imun

multitahap t yang melibatkan sel-sel T sitotoksik dan

berbagai sitokin. Obat-obat tenentu menghambat fungsi

mitokondria dengan efek ganda pada beta-oksidasi dan

enzim-enzim rantai respirasi. Metabolit-metabolit toksis

yang dikeluarkan dalam empedu dapat merusak epitel

saluran empedu. Tabel I menunjukkan reaksi idiosinkratik

obat dan sel-sel yang dipengaruhi reaksi ini .

IMPLIKASIKLINIK

Gambaran klinik hepatotoksisitas imbas obat sulit

dibedakan secara klinik dengan penyakit hepatitis atau

kholestasis dengan etiologi lain (Tabel 2). Riwayat

pemakaian obat-obat atau substansi hepatotoksik lain

harus dapat diungkap Onset umumnya cepat, malaise,

dan ikterus , serta dapat terjadi gagal hati akut yang berat

terutamabila pasien masih meminum obat ini  setelah

onset hepatotoksisitas. Apabila jejas hepatosit lebih

dominan maka kadar aminotransferase dapat meningkat

hingga paling tidak lima kali batas atas normal, sedangkan

kenaikan kadar fosfatase alkali dan bilirubin menonjol pada

kholestasis. Mayoritas reaksi obat idiosinkratik melibatkan

kerusakan hepatosit seluruh lobul hepatik dengan derajat

nekrosis dan apoptosis bervariasi.Pada kasus ini gejala

hepatitis biasanya muncul dalam beberapa hari atau

708

HEFAFOTOKSISTDAS IMBAS OBAT 709

Jenis reaksi Pengaruh pada sel Contoh obat

Hepatoselular

Kolestasis

lmunoalergik

Granulomatus

Lemak Mikrovesikular

Steatohepatitis

Autoimun

Fibrosis

Kolaps vaskular

Onkogenesis

Campuran (mixed)

Efek langsung atau produksi oleh kompleks enzim-obat yang

berakibat disfungsi sel, disfungsi membran,respons sitotoksik

sel T

Jejas membran kanalikuli dan transporter

Kompleks enzim obat pada permukaan sel menginduksi respons

lgE

Makrofag, limfosit menginfiltrasi lobul hepatik

Respirasi mitokondria yang berubah, beta-oksidasi

memicu  asidosis laktat dan akumulasi trigliserida

Multifaktorial

Respons limfosit sitotoksik langsung pada komponen membran

hepatosit

Aktivasi "stellate cells"

memicu  iskemik atau injuri hipoksik

Mendorong pertumbuhan tumor

Jejas sitoplasmik dan kanalikuli, langsung merusak saluran-

saluran empedu

lsoniazid,trazodon,diklofenak,

nefazodon, venlafaxin, lovastatin

Klorpromazin,estrogen,eritrom isin dan

turunannya

Halotan, fenitoin, sulfametoksazol

Diltiazem, obat sulfa, kuinidin

Didanosin, tetrasiklin, asam

asetilsalisilat, valproic acid

Amiodaron, Tamoksifen

Nitrofurantoin,metildopa, lovastatin,

minosiklin

Metotreksat, kelebihan vitamin A

Asam nikotinat,kokain,

metilendioksimetamfetam in

Kontrasepsi oral, androgen

Amoksisilin-klavulanat,

karbamazepin,herbal, siklosporin,

metimazol, troglitazon

(Lee WM,2003)

Grade

Alkali fosfatase DBN >BAN-2,5 x BAN

Bilirubin DBN 1-1,5 x BAN

Bilirubin berkaitan dengan grafr- Normal > 2-<3 mg/100 ml

versus-hosf disease (GVHD)

untuk studi transplantasi.

sumsum tulangjika disebutkan

khusus dalam protokol)

GGT

Hepatomegali

>2,5-5,0 x BAN >5,0-20,0 x BAN >20 x BAN

>1,5-3,0 x BAN >3,0-10 x BAN > 10 x BAN

> 3-6 mg/100 ml > 6-<15 mg/100 ml > '15 mg/100 ml

DBN >BAN-2,5xBAN

Tidak ada

> 2,5_5,0 x BAN , 5,0_zl;o x Beru >20xBAN

Catatan : Derajat hepatomegali hanya untuk efek samping berat berkaitan dengan pengobatan termasuk penyakit oklusi vena

Hipoalbuminemia

Disfungsi / gagal hati (klinis)

Aliran vena porta

sGoT (AST)

SGPT (ALT)

Problem hepatik Iainnya

DBN

Normal

Normal

DBN

DBN

Tidak ada

< BBN-3,0 g/dl

>BAN-2,5 x BAN

>BAN-2,5 x BAN

nngan

> 2-< 3 g/dl

Aliran v. porta

menurun

>2,5-5,0 x BAN

>2,5-5,0 x BAN

sedang

< 2 gldl

Asterixis

Aliran v. porta

retrograd

>5,0-20,0 x BAN

>5,0-20,0 x BAN

berat

Ensefalopati/koma

>20,0 x BAN

>20,0 x BAN

mengancam

nyawalca@t

DBN=Dalam Batas Normal; BAN= Batas Atas Normal i BBN = Batas Bawah Normal

minggu sejak mulai minum obat dan mungkin terus

berkembang bahkan sesudah obat pemicu  dihentikan

pemakaiannya.

Beberapa obat menunjukkan reaksi alergi yang

menonjol, seperti phenytoin yang berhubungan dengan

demam , limfadenopati,rash, danjejas hepatosit yang berat.

Pemulihan reaksi imunoalergik umurnnya lambat sehingga

diduga allergen tetap bertahan di hepatosit selama

berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan . Overdosis

(King PD & Perry MC,2001)

asetaminofen (lebih dari 4 gramper 24jam) merupakan

contoh hepatotoksisitas obat yang tergantung dosis (dose

dependent) yang dengan cepat memicu  jejas

hepatosit terutama area sentrilobuler. Kadar

aminotranserase biasanya sangat tinggi,dapat melebihi

3500uvl,.

berdasar  International Consensus Criteria, maka

diagnosis hepatotoksisitas imbas obat berdasar  :

l. V/aldu dari mulai minum obat dan penghentian obat

710 HEFAII1f,BILIER,

sampai onset reaksi nyata yaitu  "sugestif'(5-90 hari

dari awal minum obat) atau "compatible" (kurang dari

lima hari atau lebih dari 90 hari sejak mulai minum obat

dan tidak lebih dari 1 5 hari dari penghentian obat untuk

reaksi hepatoselular dan tidak lebih dari 30 hari dari

penghentian obat untuk reaksi kolestatik) dengan

hepatotoksisitas obat.

2. Peqalanan reaksi sesudah penghentian obat yaitu 

"sangat sugestif'(penurunan enzim hati paling tidak

50%o dari kadar diatas batas atas normal dalam 8 hari)

. atau "sugestif'(penurunan kadar enzim hati paling tidak

50o/o dalam 30 hari untuk reaksi "hepatoselular" dan

180 hari untuk reaksi "kholestatik') dari reaksi obat.

3. Altematif sebab lain dari reaksi telah dieksklusi dengan

pemeriksaan teliti, termasuk biopsi hati pada tiap kasus.

4. Dijumpai respons positifpada pemaparan ulang dengan

obat yang sama ( paling tidak kenaikan dua kali lipat

enzimhati)

Dikatakan reaksi "drug related" jika semua tiga kriteria

pertama terpenuhi atau jika dua dari tigakriteria pertama

terpenuhi dengan respons positif pada pemaparan

ulang obat.

Mengidentifikasi reaksi obat dengan pasti yaitu  hal

yang sulit, namun  kemungkinan sekecil apapun adanya

reaksi terhadap obat harus dipertimbangkan pada setiap

pasien dengan disfungsi hati. Riwayat pemakaian obat

harus diungkap dengan seksama termasuk di dalamnya

obat herbal atau obat alternatif lainrrya. Obat harus selalu

menjadi diagnosis diferensial pada setiap abnormalitas tes

firngsi hati dan/ atau histologi. Keterlambatan penghentian '

obat yang menjadi pemicu  berhubungan dengan risiko

tinggi kerusakan hati persisten. Bukti bahwa pasien tidak

sakit sebelumminumobat,menjadi sakit selama minum obat

ini  dan membaik secara nyata setelah penghentian

obat merupakan hal esensial dalam diagnosis

hepatotoksisitas imbas obat.

HEPATOTOKSISITAS OBAT ANTI TU BERKULOSIS

Obat anti tuberkulosis terdiri dari rifampisin, isoniazid,

pirazinamid, dan ethambutoVstreptomycin , dan tiga obat

yang disebut pertama bersifat hepatotoksik. Faktor-faktor

risiko hepatotoksisitas yang pernah dilaporkan yaitu  usia

lanjut, pasien wanita,status nutrisi buruk,konsumsi tinggi

alkohol, memiliki  dasar penyakit hati, carrier hepatitis

B, prevalensi hepatitis viral yang meningkat di negara

sedang berkembang, hipoalbumin dan tuberkulosis lanjut,

dan pemakaian obat yang tidak sesuai aturan serta status

asetilatomya. Telah dibuktikan secara meyakinkan adanya

keterkaitan HLA-DR2 dengan tuberkulosis paru pada

berbagai populasi dan keterkaitan varian gen NRAMPI

dengan kerentanan terhadap tuberkulosis, sedangkan

risiko hepatotoksisitas imbas obat tuberkulosis berkaitan

juga dengan tidak adanya HLA-DQAI*0102 dan adarrya

HLA-DQB I x 0201 di samping usia lanjut, albumin serum <

3,5 gram/dl dan tingkat penyakit yang moderat atau tingkat

lanjut berat. Dengan demikian risiko hepatotoksistas pada

pasien dengan obat anti tuberkulosis dipengaruhi faktor-

faktor klinik dan genetik.Pada pasien tuberkulosis dengan

hepatitis C atau HIV memiliki  risiko hepatotoksisitas

terhadap obat anti tuberkulosis lima dan empat kali lipat.

Sementara pasien tuberkulosis dengan karier HBsAg-

positif dan HBeAg-negatif yang inaktif dapat diberikan

obat standar jangka pendek isoniazid, rifampin,etambutol

danlatau piraziramid dengan syarat pengawasan tes

fungsi hati paling tidak dilakukan setiap bulan. Sekitar l0%

pasien tuberkulosis yang mendapatkan isoniazid

mengalami kenaikan kadar aminotransferase serum dalam

minggu-minggu pertama terapi yang nampaknya

menunjukkan respons adaptif terhadap metabolit toksik

obat . Isoniazid dilanjutkan atau tidak tetap akan terjadi

penunrnan kadar aminotransferase sampai batas normal

dalam beberapa minggu. Hanya sekitar satu persen yang

berkembang menjadi seperti hepatitis viral yangmana50Yo

kasus terjadi pada 2 bulan pertama dan sisanya baru

muncul beberapa bulan kemudian.

H E PATOTOKSISITAS OBAT KEMOTERAPI

Jejas hati yang timbul selama kemoterapi kanker tidak selalu

disebabkan oleh kemoterapi itu sendiri. Klinisi harus

memperhatikan faktor-faktor lain lain seperti reaksi terhadap

antibiotik, analgesik, anti emetik atau obat lainnya.

Problem-problem medis yang sudah ada sebelumnya,

tumor, imunosupresi, virus hepatitis dan infeksi lain, dan

defisiensi nutrisi atau nutrisi parenteral total ,semuanya

mungkin mempengaruhi kerentanan hospes terhadap

terjadinya jejas hati. Sebagian besar reaksi hepatotoksisitas

obat bersifat idiosinkratik, melalui mekanisme imunologik

atau variasi pada respons metabolik hospes. Siklofosfamid,

suatu alkylating agent, diubah oleh sistem sitokrom P-450

di hati menjadi 4-hydroxycyclophosphamide. Meskipun

mengalami metabolisme di hati siklofosfamid dapat

diberikan pad akeadaan enzim hati dan atau bilirubin yang

meningkat. Melfalan dengan cepat dihidrolisis dalam

plasma dan sekitar 15% diekskresi tanpaperubahan dalam

urin. Pada dosis yang dianjurkan tidak bersifat

hepatotoksisitas hanya menimbulkan abnormalitas tes

fungsi hati sementara pada dosis tinggi pada transplantasi

sumsum tulang otolog. Klorambusil berhubungan dengan

kerusakan hati. Busulfan, kelas alkilsulfonat, cepat hilang

dari darah dan diekskresikan lewaturin. Metabolisme lewat

hati tidak begitu penting sehingga pada dosis standar tidak

menimbulkan hepatotoksisitas. Cytosine Arabinoside

(Ara-C) efek hepatotoksisitasnya belum jelas. 5-FU tidak

menimbulkan kerusakan hati bila diberikan secara per oral

dan jarang dilaporkan menimbulkan hepatotoksisitas pada

7llHEFANOTOKSISMAS IMBAS OBAiT

pemberian intravena.Akan namun  berbeda bila diberikan

secara intraarterial dengan pompa infus untuk terapi

metastasis hepar sebab  kanker kolorektal dimana terjadi

hepatotoksisitas berupa jejas hepatoselular dengan

peningkatan aminotransferase, fosfatase alkali, dan

bilirubin serum, atau terjadinya striktur duktus biliaris

intrahepatik atau ekstrahepatik dengan peningkatan

bilirubin dan fosfatase alkali. 6-Mercaptopurine (6-MP)

bersifat hepatotoksik terutama bila dosis melebihi dosis

yang biasa dipakai  (dosis dewasa2 mglkg) dan dapat

berupa hepatoselular atau kholestatik. Perbedaan rute obat

oral atau parenteral tidak merubah sifat

hepatotoksisitasnya. Azatioprin (AZ) memiliki sifat

hepatotoksisitas meskipun j arang terj adi. Hepatotoksisitas

berupa peningkatan kadar bilirubin serum dan fosfatase

alkali dengan peningkatan sedang kadar aminotransferase

dan secara histologik berupa kholestasis dengan nekrosis

parenkhim hati yang bervariasi. 6-thioguanine dikenal

memicu  penyakit oklusi vena. Metotreksat (MTX)

pada dosis standar diekskresi tanpa perubahan melalui

urin . Pada dosis tinggi sebagian dimetabolisir oleh hati

menjadi 7 -hydroxyrnethoff exate. Pada terapi pemeliharaan

leukemia akut anak-anak, methotrexate dapat menimbulkan

fibrosis dan sirosis hati. Pada pemakaian dosis tinggi, MTX

meningkatkan aminotransferase dan lactate

dehy-drogenase (LDH). Pasien artritis rematoid atau

psoriasis dengan MTX dosis kumulatif kurang dari 2 gram

memiliki  insidensi hepatotoksisitas yang rendah

meskipun durasi terapinya lama,28-48 bulan. Dengan

demikian pemakaian MTX dosis rendah jangka panjang

dapat menimbulkan fibrosis/sirosis, sementara dosis tinggi

memicu  perubahan tes fungsi hati. Gemcitabine

sering memicu  kenaikan transaminase sementara

namun  tidak bermakna. Mitoxantrone memiliki  insidensi

toksisitas serius lebih rendah dibanding obat-obat kanker

antrasiklin yang lain, dan hanya menimbulkan kenaikan

kadar AST dan ALT sementara saja. Insidensi disfungsi

hati sebab  pemakain bleomycin sangat rendah.

Hepatotoksisitas mitortycin belum jelas , namun  ditemukan

dalam konsentrasi tinggi dalam empedu. Paclitmel dan

docetaxel sebagian besar diekskresi melalui hati dan perlu

hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati.

Etoposide tidak menimbulkan hepatotoksisitas pada dosis

standar meskipun diekskresikan terutama dalam empedu.

Cisplatin jarang memicu  hepatotoksisitas pada dosis

standar namun  kadang-kadang dijumpai kenaikanAST. Pada

dosis tinggi menimbulkan kenaikan AST dan ALT.

Pro c arb az ine dikenal dapat memicu  hepatitis

granulomat osa. Hydroxyurea dapal menimbulkan

toksisitas hati dan pernah dilaporkan sebagai pemicu 

peliosis hepatis. Penyesuaian dosis mungkin diperlukan

bagi obat-obat kemoterapi tertentu (Tabel3).

% Dosis yang diberikan

Konsentrasi Bilirubin Konsentrasi

Aminotransferase

Cyclophosphamide

Cytarabine

Dactinomycin

Doxorubicin

Etoposide

Daunorubicin

5-FU

Vincristine

Procarbazine

Gemcitabine

Bleomycine

Cisplatin

Melphalan

Mitomycin

Paclitaxel

20-51 pM (1,16-2,98 mg/dl)

51-85 pM (2,984,97 mg/dl)

> 85 pM (>4,97 mg/dl)

25-51pM (1,46-2,98 mg/dl)

20-51pM (1,16 - 2,98 mg/dL)

5'l-85pM (2,98-4,97m9/dL)

>85pM (>4,97 mg/dl)

>85pM (>4,97 mg/dL)

>85pM (>4,97 mg/dL)

<1,5 mg/dl

1,6-30 mg/dl

73 mq/dl

Berapapun peningkatannya

Berapapun peningkatannya

ALT atau AST 2-3 x BAN

ALTatauAST>3xBAN

AST > 180

ALT atau AST > '180

meningkat

Tidak perlu pengurangan dosis

5070 dosis,meningkat dengan

pengawasan toksisitas

50% dosis,meningkat dengan

pengawasan toksisitas

75%

, 50%

25o/o

lYo

50Yo

71Yo

5Oo/o

Oo/o

0o/o

50%

0%

Tidak perlu pengurangan dosis

Tidak perlu pengurangan dosis

Tidak perlu pengurangan dosis

Tidak perlu pengurangan dosis

Tidak perlu pengurangan dosis

AST 2 x BAN

(King PD & Perry MC,2001)

712 HEPAI]OBILIER

HEPATOTOKSISITAS OBAT ANT! INFLAMASI NON

STEROID

Obat anti inflamasi nonsteroid (OANS) merupakan salah

satu obat yang sering diresepkan meskipun

penggunaannya tidak selalu .tepat sasaran. Risiko

epidemiologik hepatotoksisitas golongan obat ini rendah

(l-8 kasus per 100000 pasien pengguna OAINS).

Hepatotoksisitas sebab  OAINS dapat terjadi kapan saja

setelah obat diminum, namun  efek samping berat sangat

sering terjadi dalam 6-12 minggu dari awal pengobatan.

Ada duapola klinis utama hepatotoksisitas sebab  OAINS.

Pertama, yaitu  hepatitis akut dengan ikterus,

demam,mual,transaminase naik sangat tinggi dan kadang-

kadang dijumpai eosinofilia. Pola yang lain yaitu  dengan

gambaran serologik (Anti Nuclear Factor -positif) dan

histologik (inflamasi periportal dengan infiltrasi plasma dan

limfosit dan fibrosis yang meluas ke dalam lobul hepatic)

dari hepatitis kronik aktif. Tes fungsi hati dapat kembali

normal dalam 4-8 minggu sejak penghentian obat

pemicu . Dua mekanisme utama bertanggungjawab atas

jejas hati oleh OANS, yaitu hipersensitivitas dan aberasi

metabolik. Meskipun masih perlu diteliti lebih lanju! faktor-

faktor risiko hepatotoksisitas idiosinkratik imbas OAINS

meliputi wanita,umur > 50 tahun dan penyakit otoimun

yang mendasari. Faktor risiko lain yaitu  paparan obat

lain yang juga bersifat hepatotoksik pada saat bersamaan

. Reaksi hipersensitivitas sering mengalami titer anti-

nuclear factor atau antibodi anti-smooth muscle yang

bermakna, limfadenopati dan eosinofilia. Aberasi metabolik

dapat terjadi sebab  polimorfisme genetik yang dapat

merubah kerentanan terhadap bermacam-macam obat.

Pasien yang mengalami hepatotoksisitas imbas OANS

harus dianjurkan untuk tidak minum lagi OAINS

selamanya. Parasetamol merupakan obat pilihan untuk

analgesik sedangkan aspirin dapat dipakai  sebagai

pengganti OAINS, sebab  toksisitas OAINS berhubungan

dengan struktur molekular cincin diphenylamine yang tidak

dimiliki aspirin.

HEPATOTOKSISITAS OBAT ANTIRETROVIRAL

Obat-obat antiretroviral yang biasa dipakai  untuk

penanganan penyakitAIDS juga sering menimbulkan jejas

pada hati dan diistilahkan sebagai antiretroviral drug-

related liver injury (ARLD. ARLI didefinisikan sebagai

peningkatan enzim-enzim hati dalam serum, dengan

ditandai kadarAllT yang lebih tinggi dari AST. Pada pasien

yang sebelum terapi kadar ALT dan AST normal, maka

peningkatan 5 kali lipat termasuk sedang dan bila 10 kali

lipat termasuk berat. Bagi yang sebelum terapi kadarAlT

dan AST abnormal, maka peningkatan 3,5 kali lipat

termasuk kategori sedang, sedangkan 5 kali lipat kategori

berat. Insidensi ARLI setelah pemakaian HAART berada

padarentang2- 18olo and manifestasi ARLI lebih berat pada

pasien HIV dengan koinfeksi virus hepatitis B atau C.

Kebiasaan minum alkohol meningkatkan risiko ARLI.

Mekanisme terjadinya ARLI dapat melalui proses

metabolik yang dimediasi hospes (intrinsik dan

idiosinkrasi),hipersensitivitas,toksisitas mitokondrial dan

rekonstitusi imun. Tabel 4. menunjukkan gambaran klinik

ARLI.

lnterval

Mekanisme

Peran virus

hepatitis C

Peran jumlah sel

CD4

Obat-obat yang

lebih sering

menjadi

pemicu 

1-8 minggu

lmmune

mediated

Tidak ada

Ada

Abacavir,

nevrraprne

2-12bulan

Host-

me d i ate d I i d i o si n k ra si

Ada

Tidak ada

Stavudine,didanosine,

nevirapine, tipranavir

(Soriano et al 2008)

PENGOBATAN REAKS! OBAT

Kecuali penggunaan N-acetylcysteine untuk keracunan

asetaminofen (parasetamol) tidak ada antidotum spesifik

terhadap setiap obat. Transplantasi hati darurat

merupakan pilihan pada kasus toksisitas obat yang

berakibat hepatitis fulminan(termasuk pada keracunan

asetaminofen). Terapi efek hepatotoksik obat terdiri dari

penghentian segera obat-obat yang dicurigai. Jika

dijumpai reaksi alergi berat dapat diberikan

kortikosteroid, meskipun belum ada bukti penelitian

klinik dengan kontrol. Demikian juga penggunaan

ursodiol pada keadaan kholestatik. Pada obat-obat

tertentu seperti amoksisilin-asam klavulanat dan pheny-

toin berhubungan dengan sindrom dimana kondisi

pasien memburuk dalam beberapa minggu sesudah obat

dihentikan dan perlu waktu berbulan-bulan untuk pulih

seperti sedia kala. Prognosis gagal hati akut sebab 

reaksi idiosinkratik obat yaitu  buruk dengan angka

mortalitas lebih 80%. Pada kasus toksisitas hati akibat

obat antiretroviral, maka terapi dihentikan bila terjadi

hepatitis simtomatik dan pada kasus tanpa simtom namun 

kenaikan ALT dan AST melampaui l0 kali lipat batas

atas normal, sedangkan pada kasus hepatitis khronis

perlu tindakan yang lebih konservatif untuk mencegah

dekompensasi.

PROGNOSIS

Prognosis hepatotoksisitas imbas obat sangat bervariasi

Onset awal Onset yang tertunda

HEFAIIOTOKITISMAII IMBAS OBI[[ 713

tergantung keadaan klinik pasien dan tingkat kerusakan

hati. Penelitian yang dilakukan diAmerika Serikat antara

tahun 1998-2001 menunjukkan overall survival rate

(termasuk yang menjalani transplantasi hatl') sebesar 72Yo.

Akibat dari gagal hati akut ditentukan oleh etiologi,derajat

ensefalopati hepatikum saat masuk perawatan dan

komplikasi yang timbul, seperti infeksi.



HIPERBILIRUBINEMIA

NON HEMOLITIK FAMILIAL



Kadar bilirubin serum orang normal umumnya kurang lebih

0,8 mg% (17 mmol/l), akan namun  kira-kira 5% orang normal

memiliki kadar yang lebih tinggi (l-3 mg/dl). Bila

pemicu nya bukan sebab  hemolisis atau penyakit hati

kronik maka kondisi ini biasanya disebabkan oleh kelainan

familial metabolisme bilirubin, yang paling sering yaitu 

sindrom Gilbert. Sindrom lainnya juga sering ditemukan,

prognosisnya baik. Diagnosis yang akurat terutama bukan

dari penyakit hati kronik sangat penting untuk

penatalaksanaan pasien. Adanya riwayat keluarga,

lamanya penyakit se(a tidak ditemukan adanya petanda

penyakit hati dan splenomegali, serum transaminase

normal dan bila perlu dilakukan biopsi hati.

Hiperbilirubinemia Primer. Keadaan ini sangat jarang

ditemukan, disebabkan oleh meningkatnya produksi

bilirubin di sumsum tulang akibat pemecahan prematur sel

darah merah abnormal (sintesis eritrosit tidak efektif).

Gambaran klinisnya berupa hemolisis kompensata.

Pemecahan eritrosit di perifer normal. Keadaan ini biasanya

bersifatfamilial.

SlNDROM GILBERT

Ditemukan oleh Augustin Gilbert (1858-1927), seorang

dokter dari Parisl. Sindrom ini yaitu  bentuk hiperbilirubin

indirek (bilirubin serum 1-5 mgldl) yang bukan disebabkan

oleh hemolitik, dengan pemeriksaan fungsi hati dan histologi

hati normal. Bersifat familial sebagai autosomal dominant.

Pasien yaitu  heterozigot padagen mutan tun ggal (single

mutan gene). Ditemukan pada2-S%o penduduk.

Sindrom Gilbert disebabkan oleh penurunan 70-75%

aktivitas glucoronidasi oleh enzim uridine-diphosphate-

glucuronosyltranferase isoform I A I (UGT I A1). Gen yang

mengkode UGTIAI biasanya memiliki  promoter daerah

TATAbox yang mengandungi alel A(T,{6)TA',{. Sindrom

gilbert sering dikaitkan dengan alel-alel ,4.(TA6)T,{A

homozigus. Polimorfism alel di hubungkan dengan

UGTIAI *28. 94% pasien Sindrom Gilbert menderita mutasi

pada dua dari variasi glucoronyltranferase yang lain

UGT.1A6 (mengubah 50% tidak aktif) dan UGTAT

(mengubah 83% tidak efektif ) juga hadir. sebab  efeknya

pada pemecahan obat dan bilirubin bersifat genetik,

Sindrom Gilbert sendiri bisa diklasifikasikan sebagai

kelainan metabolisme minor bawaan.

Biasanya sindrom ini diketahui secara kebetulan ketika

dilakukan pemeriksaan darah, misalnya pada hepatitis

virus. Prognosisnya baik. Ikterusnya ringan dan hilang

timbul (intermiten). Ikterusnya bertambah bila ada infeksi

atau dalam kondisi puasa dan disertai kondisi kelelahan,

mual dan perasaan tidak enak di daerah hati. Gejala-gejala

ini biasanya ringan, tidak berbeda pada orang normal.

Sering didiagnosis sebagai hepatitis virus. Pada

pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan.

Kelainan metabolisme bilirubin bersifat kompleks.

Enzim yang berperan dalam konjugasi bilirubnyaifi UDP

glucuronyl transferase, jumlahnya berkurang. Kerusakan

membran penyerapan pada sel hati memicu 

terjadinya gangguan penyerapan bilirubin oleh sel hati.

Empedu mengandung lebih banyak bilirubin

monoglukuronida daripada diglukuronida. Diduga ada

kerusakan enzim yang mengubah monoglukuronida

menj adi diglukuronida.

Umur eritrosit berkurang dan mungkin juga terjadi

diseritropoiesis. Jumlah bilirubin yang berasal dari

714

NONHEMOIJTIKFAMIIJAL 715

pemecahan erihosit tidak cukup untuk menimbulkan iktrus.

Kelainan lain berupa gangguan ringan bersihan

bromsulphthalein(BSP)dantolbutamide(obat-obatyang

tidak memicu  konj ugasi).

Sel darah perifer ada  kelainan yang mirip

porphyria, mungkin disebabkan oleh peningkatan

konsentrasi bilirubin hepatoselular. Kenaikan konsentrasi

alkali fosfatase serum familia ada hubungannya dengan

Sindrom Gilbert. Defisiensi UDP glucuronyl transferase

pada Sindrom Gilbert merupakan predisposisi terjadinya

toksisitas asetaminofen pada hati terutamabila over-dosis.

Tes diagnosis Sindrom Gilbert ialah dengan

memberikan diet 400 kalori selama 24 jam, akan terjadi

kenaikan bilirubin serum. Pemberian fenobarbital 60 mg

tiga kali sehari akan menurunkan bilirubin serum. Dengan

pemeriksaan kromatografi lapisan tipis akan terlihat

kenaikan gambaran bilirubin indirek lebih tinggi daripada

normal, hemolisis kronik atau hepatitis kronis. Pada biopsi

hati ditemukan konsentrasi enzim bilirubin konjugasi

rendah.

Pasien Sindrom Gilbert memiliki  harapan hidup

normal. Hiperbilirubin bisa berlangsung lama dan tidak

berhubungan dengan bertambah beratnya penyakit atau

defisiensi faktor-faktor koagulasi II, fV atau X. Ikterus dapat

diikuti oleh infeksi yang disertai muntah-muntah dan tidak

nafsu makan.

SINDROM CRIGLER.NAJJAR

Ini merupakan penyakit yanglararg, diperkirakan 0,6-1,0

satu juta kelahiran. Bentuk ikterus non hemolitik familial

ini disertai dengan kadar bilirubin indirek serum yang

sangat tinggi. ada  defisiensi enzim konjugasi di dalam

hati. Jumlah pigmen dalam empedu sangat sedikit. Toleransi

bilirubin terganggu namun  tes BSP normal.

Tidak ditemukan ekspresi UGTIA1 (JDP glucuronyl

transferase I family, polypeptide A1) pada jaringan hati.

Oleh sebab  itu tidak ada respons dengan pengobatan

fenobarbital, dimana obat ini menginduksi enzim ini.

Kebanyakan pasien (tipe ld) memiliki  mutasi pada salah

satu ekson (2-5), dan memiliki  kesulitan dalam konjugasi

beberapa substrat tambahan (beberapa obat dan

xenobiotik). Persentasi kecil pasien (tipe B) memiliki 

mutasi terbatas pada akson bilirubin spesifik 1A, defek

konjugasi ini lebih sering terbatas pada bilirubinnya

sendiri.

Tipe 1

Sindrom ini diturunkan secara autosomal resesif. Tidak

ada  enzim konjugasi bilirubin di dalam hati. Di dalam

empedu tidak ada  bilirubin indirek. Bilirubin

glukuronida tidak ada di dalam sentm. Kadar bilirubin

serum total antara20-45 mg/d. sebab  kadar bilirubin se-

rum stabil maka perlu jalan keluar lain untuk metabolisme

bilirubin.

Biasanya terjadi kematian dengan kernikterus pada

tahun pertama kehidupan. Tidak ada respons terhadap

pemberian fenobarbital. Diperlukan flebotomi dan

plasmaferesis untuk menurunkan bilirubin serum namun 

selalu berhasil. Fototerapi dapat menurunkan serum

bilirubin kira-ktra 50Y, dan dapat dilakukan di rumah. Dapat

timbul ensefalopati sewaktu-waktu pada dekade pertama

atau kedua sehingga perlu dipertimbangkan transplatasi

hati, hal ini ditujukan untuk menormalkan kadar bilirubin

serum.

Di masa depan, kloning ger, UDP glucuronyl trans-

ferase untuk transplatasi enzim sebagaijalan keluarnya.

Tipe 2

Sindrom ini diturunkan secara autosomal dominan. Enzim

konjugasi bilirubin sangat berkurang di hati, walaupun ada,

tidak dapat dideteksi dengan metode biasa. Pasien sangat

berespons dengan fenobarbital dan biasanya dapat hidup

sampai dewasa.

Tipe 2 ini tidak selalu ringan (benigna). Fototerapi l0-

12 jam perhari dan fenobarbital harus diberikan untuk

menjaga kadarbilirubin serum kurang dari 26m{dl.

Untuk membedakan sindrom Crigler-Najjar tipe I dan 2

tidak mudah. Caranya ialah dengan menghitung kadar

bilirubin dalam serum setelah pemberian fenobarbital. Pada

tipe 2 kadar bilirubin turun, dengan bilirubin indirek lebih

rendah dan bilirubin direk lebih tinggi. Pada tipe I kadar

bilirubin serum tidak turun dan bilirubin indirek dalam

empedu paling banyak.

SINDROM DUBINJOHNSON

Diperkenalkan pertama kali pada tahun1954 oleh Dubin

dan Johnson dan oleh Sprinz dan Nelson. Ikterus pada

sindrom ini bersifat kronik, benigna dan hilang timbul

(intermiten) dengan kenaikan kadar bilirubin direk dan

sedikit bilirubin indirek serta adanya bilirubin di dalam urin.

Tingkat bilirubin serum berkisar altara2-5 mgldL namun 

dapat mencapai 25 mgldL. Secara makroskopik hati

berwarna hitam kehijauan (blackJiver iaundice). Secara

mikroskopik ada  pigmen coklat pada sel hati yang

tidak mengandung besi maupun empedu. Pigmen ini

mungkin melanin. Diduga demikian sebab  pigmen ini

ditemukan ju ga padahalidomba yang menderita kelainan

yang sama dengan sindrom Dubin-Johnson dan temyata

pigmen ini yaitu  melanin.

Tidak ditemukan gejala pruritus, kadar alkali fosfatase

dan kadar asam empedu dalam serum normal. Pada

pemeriksaan kolangiografi intravena dan uji BSP tetryata

zat kontras sulit diekskresikan. Pada 40 menit kadar BSP

kebanyakan turun ke normal. Kenaikan telihat pada menit

716 HEPATOBILIER,

ke 120, I 80, dan 240. BSP masih bisa dideteksi pada 48 jam

kemudian. Carrier dengan gen yang abnormal ini tidak dapat

didiagnosis hanya dengan uji BSP intravena sederhana.

Padapasien ini diagnosisnya akan lebihjelas jika hasil

uji BSP memanjang. Jumlah pengeluaran coproporphyrin

dalam urin normal, namun  coproporphyrin I lebthrirrggi3-

4x dari pada coproporphyrinlll. sebab  cMOAI/MRP2

juga membawa leukotrien-leukotrien ke dalam kantung

empedu, pasien dengan Sindrom Dubin-Johnson

memiliki  gangguan dalam sekresi empedu dan

peningkatan sekresi metabolit leukotrien dalam urin. Ini

bisa menjadi diagnosis noninvasif pada kondisi ini.

Penurunan aktivitas protrombin Berkurangnya aktivitas

protrombin diakibatkan oleh penurunan jumlah

pembekuan faktor VII yang diobservasi pada 60% pasien

dengan sindrom Dubin-Johnson Sebabnya tidak

diketahui. Mungkin ada  hubungan antara ekskresi

kanalikular dan metabolisme porfirin atau mungkin juga

tidak ada  hubungan sama sekali antara keduanya.

Gejala ikterus pada sindrom ini tampak jelas selama

hamil atau minum obat kontrasepsi. sebab  keduanya

mengurangi fungsi ekskresi hati.

Sindrom Dubin-Johnson mungkin diturunkan sebagai

suatu gen autosomal recessive. Banyak ditemukan di

Timur Tengah pada penduduk Iran Yahudi.

Tidak ada hubungan antara pigmen hati dan kadar

bilirubin serum. Prognosisnya baik.

SINDROM ROTOR

Sindrom Rotor dinamakan berdasar  penemunya yaitu

seorang internis Philipina, Arturo Belleza Rotor (1907-

1988). Sindrom ini sama dengan bentuk hiperbilirubin

konjugasi familial kronik. Ia mirip dengan sindrom Dubin-

Johnson. Perbedaan utamanya yaitu  tidak ada pigmen

coklat di dalam sel hati. Juga berbeda dengan sindrom

Dubin-Johnson sebab  adanya gambaran opasitas

kandnng empedu pada pemeriksaan c holecys to graphy dan

tidak ada kenaikan sekunder pada tes BSP. Kelainan yang

memicu  retensi BSP lebih disebabkan sebab 

gangguan ekskresi. Jumlah ekskresi c oproporphyrin naik

seperti pada kolestasis. Proporsi coproporphyrin I di

dalam urin meliputi 65Yo dari jlmlah seluruhnya. Secara

mikroskopik ada  kelainan mitokondria dan

peroksisom. Sindrom ini diturunkan secara autosomal.

Gejala utamanya kuning yang tidak gatal. Prognosisnya

sangat baik.

KELOMPOK HIPERBILIRUB!NEMIA NON.

HEMOLITIK FAM!LIAL

Banyak tumpang tindih antara berbagai sindrom

hiperbilirubinemia kongenital. Ditemukan pasien dalam

keluarga yang sama dengan kadar bilirubin direk yang

tinggi dengan atau tanpa pigmen di sel hati. Pigmen hati

ditemukan pada pasien dengan hiperbilirubin indirek. Pada

satu keluarga besar cenderung ditemukan gambaran klasik

sindrom Dubin-Johnson, namun  yang paling sering yaitu 

hiperbilirubin indirek. Pada keluarga lain hiperbilirubin direk

dan indirek ditemukan keduanya pada pasien yang sama.

Anggota keluarga sindrom Crigler-Najjar tipe 2 memiliki

kadar bilirubin serum yang lebih khas seperti sindrom

Gilbert, sehingga sulit mengelompokkannya dan

menenfukan sifat keturunanya.




KOLESISTITIS


KOLESISTITIS AKUT

Radang kandung empedu (kolesistitis akut) yaitu  reaksi

inflamasi akut dinding kandung empedu yang disertai

keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan, dan demam.

Hingga kini patogenesis penyakit yang cukup sering

dijumpai ini masih belum jelas. V/alaupun belum ada data

epidemiologis penduduk, insidens kolesistitis dan batu

empedu (kolelitiasis) di negara kita relatif lebih rendah

dibandingkan negara-negara barat.

Etiologi dan Patogenesis

Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis

akut yaitu  stasis cairan empedu, infeksi kuman, dan

iskemia dinding kandung empedu. pemicu  utama

kolesistitis akut yaitu  batu kandung empedu (90%) yang

terletak di duktus sistikus yang memicu  stasis cairan

empedu, sedangkan sebagian kecil kasus timbul tanpa

adanya batu empedu (kolesistitis akut akalkulus).

Bagaimana stasis di duktus sistikus dapat memicu 

kolesistitis akut, masih belum jelas. Diperkirakan banyak

faktor yang berpengaruh, seperti kepekatan cairan empedu,

kolesterol, lisolesitin dan prostaglandin yang merusak

lapisan mukosa dinding kanfturg empedu diikuti oleh reaksi

inflamasi dan supurasi.

Kolesistitis akut akalkulus dapat timbul pada pasien

yang dirawat cukup lama dan mendapat nutrisi secara

parenteral, pada sumbatan sebab  keganasan kandung

empedu, batu di saluran empedu atau merupakan salah

satu komplikasi penyakit lain seperti demam tifoid dan dia-

betes melitus.

Gejala KIinis

Keluhan yang agak khas untuk serangan kolesistitis akut

yaitu  kolik perut di sebelah kanan atas epigastrium dan

nyeri tekan serta kenaikan suhu tubuh. Kadang-kadang

rasa sakit menjalar ke pundak atau skapula kanan dan dapat

berlangsung sampai 60 menit tanpa reda. Berat ringannya

keluhan sangat bervariasi tergantung dari adanya kelainan

inflamasi yang ringan sampai dengan gangren atau

perforasi kandung empedu.

Pada kepustakaan barat sering dilaporkan bahwa

pasien kolesistitis akut umumnya perempuan, gemuk dan

berusia di atas 40 tahun, namun  menurut Lesmana LA, dkk,

hal ini sering tidak sesuai untuk pasien-pasien di negara

kita.

Pada pemeriksaan fisis teraba masa kandung empedu,

nyeri tekan disertai tanda-tanda peritonitis lokal (tanda

Murphy).

Ikterus dijumpai pada 20Yo kasus, umumnya derajat

ringan (bilirubin < 4,0 mgldl). Apabila konsentrasi

bilirubin tinggi, perlu dipikirkan adanya batu di saluran

empedu ekstra hepatik

Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya

leukositosis serta kemungkinan peninggian serum

transaminase dan fosfatase alkali. Apabila keluhan nyeri

bertambah hebat disertai suhu tinggi dan menggigil serta

leukositosis berat, kemungkinan terjadi empiema dan

perforasi kandung empedu perlu dipertimbangkan.

Diagnosis

Foto polos abdomen tidak dapat memperlihatkan gambaran

kolesisititis akut. Hanya pada l5o/o pasien kemungkinan

dapat terlihat batu tidak tembus pandang (radiopak) oleh

sebab  mengandung kalsium cukup banyak.

Kolesistografi oral tidak dapat memperlihatkan

gambaran kandung empedu bila ada obstruksi sehingga

pemeriksaan ini tidak bermanfaat untuk kolesistitis akut.

Pemeriksaan ulhasonografi (USG) sebaiknya dikerjakan

secara rutin dan sangat bermanfaat untuk memperlihatkan

besar, bentuk, penebalan dinding kandung empedu, batu

718

KOLESISTITIS 719

dan saluran empedu ekstra hepatik. Nilai kepekaan dan

ketepatan USG mencapai 90 -9 5%.

Skintigrafi saluran empedu mempergunakan zal

radioaktifHlDA atau 99n Tc6 Iminodiacetic acid memiliki 

nilai sedikit lebih rendah dari USG tapi teknik ini tidak

mudah. Terlihatnya gambaran duktus koledokus tanpa

adanya gambaran kandung empedu pada pemeriksaan

kolesistografi oral atau scintigrafi sangat menyokong

kolesistitis akut.

Pemeriksaan CT scan abdomen kurang sensitif dan

mahal tapi mampu memperlihatkan adanya abses

perikolesistik yang masih kecil yang mungkin tidak terlihat

padapemeriksaan USG.

Diagnosis banding untuk nyeri perut kanan atas yang

tiba-tiba perlu dipikirkan seperti penjalaran nyeri saraf

spinal, kelainan organ di bawah diafragma seperti apendiks

yang retrosekal, sumbatan usus, perforasi ulkus peptikum,

pankreatitis akut dan infark miokard.

Pengobatan

Pengobatan umum termasuk istirahat total, pemberian

nutrisi parenteral, diet ringan, obat penghilang rasa nyeri

seperti petidin dan antispasmodik. Pemberian antibiotik

pada tahap  awal sangat penting untuk mencegah komplikasi

peritonitis, kolangitis, dan septisemia. Golongan ampisilin,

sefalosporin dan metronidazol cukup memadai untuk

mematikan kuman-kuman yang umum ada  pada

kolesistitis akut seperti E.coli, Strep.faecalls dan

Klebsiella.

Saat kapan dilaksanakan tindakan kolesistektomi masih

diperdebatkaan, apakah sebaiknya dilakukan secepatnya

(3 hari) atau ditunggu 6-8 minggu setelah terapi konservatif

dan keadaan umum pasien lebih baik. Sebanyak 50% kasus

akan membaik tanpa tindakan bedah. Ahli bedah yang pro

operasi dini menyatakan, timbulnya gangren dan

komplikasi kegagalan terapi konservatif dapat dihindarkan,

lama perawatan di rumah sakit menjadi lebih singkat dan

biaya dapat ditekan. Sementara yang tidak setuju

menyatakan, operasi dini akan memicu  penyebaran

infeksi ke rongga peritoneum dan teknik operasi lebih sulit

sebab  proses inflamasi akut di sekitar duktus akan

mengaburkan anatomi. Sejak diperkenalkan tindakan

bedah kolesistektomi laparoskopik di Indonesia pada awal

I 99 I , hingga saat ini sudah sering dilakukan di pusat-pusat

bedah digestif. Di luar negeri tindakan ini hampir mencapai

angka 90Yo dari seluruh kolesistektomi. Konversi ke

tindakan kolesistektomi konvensional menurut Ibrahim A

dkk, sebesar 1,902 kasus, terbanyak oleh sebab  sukar dalam

mengenali duktus sistikus yang disebabkan perlengketan

\tas (27%o), perdarahan dan keganasan kandung empedu.

Komplikasi yang sering dijumpai pada tindakan ini yaitu

trauma saluran empedu (7oh), pefiarahan dan kebocoran

empedu. Menurut kebanyakan ahli bedah tindakan

kolesistektomi laparoskopik ini sekalipun invasif

memiliki  kelebihan seperti mengurangi rasa nyeri pasca

operasi, menurunkan angka kematian, secara kosmetik lebih

baik, memperpendek lama perawatan di rumah sakit dan

mempercepat aktivitas pasien.

Prognosis

Penyembuhan spontan didapatkan pada 85%o kasus,

sekalipun kandung empedu menjadi tebal, fibrotik, penuh

dengan batu dan tidak berfungsi lagi. Tidakjarang menjadi

kolesistitis rekuren. Kadang-kadang kolesistitis akut

berkembang secara cepat menjadi gangren, empiema dan

perforasi kandung empedu, fisitel, abses hati atau

peritonitis umum. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian

antibiotik yang adekuat pada awal serangan. Tindakan

bedah akut pada pasien usia tua (> 75 th) memiliki 

prognosis yang jelek di samping kemungkinan banyak

timbul komplikasi pasca bedah.

KOLESISTITIS KRONIK

Kolesistitis kronik lebih sering dijumpai di klinis, dan

sangat erat hubungannya dengan litiasis dan lebih sering

timbul secara perlahan- lahan.

Gejala KIinis

Diagnosis kolesistitis kronik sering sulit ditegakkan oleh

sebab  gejalanya sangat minimal dan tidak menonjol seperti

dispepsia, rasa penuh di epigastrium dan nausea

khususnya setelah makan makanan berlemak tinggi, yang

kadang-kadang hilang setelah bersendawa. Riwayat

penyakit batu empedu di keluarga, ikterus dan kolik

berulang, nyeri lokal di daerah kandung empedu disertai

tanda Murphy positif, dapat menyokong menegakkan

diagnosis.

Diagnosis banding seperti intolerarisi lemak, ulkus

peptik, kolon spastik, karsinoma kolon kanan, pankreatitis

kronik dan kelainan duktus koledokus perlu

dipertimbangkan sebelum diputuskan untuk melakukan

kolesistektomi.

Diagnosis

Pemeriksaan kolesistografi oral, ultrasonografi dan

kolangiografi dapat memperlihatkan kolelitiasis dan afungsi

kandung empedu. Endoscopic retrograde choledocho-

pancreaticography (ERCP) sangat bermanfaat untuk

memperlihatkan adanya batu di kandung empedu dan

duktus koledokus.

Pengobatan

Pada sebagian besar pasien kolesistitis kronik dengan atau

tanpa batu kandung empedu yang simtomatik, dianjurkan

untuk kolesistektomi. Keputusan untuk kolesistektomi

720 HEPAIIOBILIER

agak sulit untuk pasien dengan keluhan minimal atau

disertai penyakit lain yang mempertinggi risiko operasi.




PENYAKIT BATU EMPEDU



Penyakit batu empedu sudah merupakan masalah

kesehatan yang penting di negara Barat sedangkan di

lndonesia baru mendapatkan perhatian di klinis, sementara

publikasi penelitian batu empedu masih terbatas.

Sebagian besar pasien dengan batu empedu tidak

memiliki  keluhan. Risiko penyandang batu empedu

untuk mengalami gejala dan komplikasi relatif kecil.

Walaupun demikian, sekali batu empedu mulai

menimbulkan serangan nyeri kolik yang spesifik maka

risiko untuk mengalami masalah dan penyulit akan terus

meningkat.

Batu empedu umumnya ditemukan di dalam kandung

empedu, namun  batu ini  dapat bermigrasi melalui

duktus sistikus ke dalam saluran empedu menjadi batu

saluran empedu dan disebut sebagai batu saluran empedu

sekunder.

Di negara Barat 1 0- I 5% pasien dengan batu kandung

empedu juga disertai batu saluran empedu. Pada beberapa

keadaan, batu saluran empedu dapat terbentuk primer di

dalam saluran empedu intra-atau ekstra-hepatik tanpa

melibatkan kandung empedu. Batu saluran empedu primer

lebih banyak ditemukan pada pasien di wilayah Asia

dibandingkan dengan pasien di negara Barat.

Perjalanan batu saluran empedu sekunder belum jelas

benar, namun  komplikasi akan lebih sering dan berat

dibandingkan batu kandung empedu asimtomatik.

PATOGENESIS DAN TIPE BATU

Menurut gambaran makroskopik dan komposisi kimianya.

batu saluran empedu dapat diklasifikasikan menjadi tiga

kategori mayor, yaitu:1) batu kolesterol di mana komposisi

kolesterol melebihi 70oh,2) batu pigmen coklat atau batu

c al c ium b i I i ru b in at e yang mengan dung C a- b i I iru b in at e

sebagai komponen utama, dan 3) batu pigmen hitam yang

kaya akan residu hitam tak terekstraksi.

Di masyarakat Baral komposisi utama batu empedu

yaitu  kolesterol, sedangkan penelitian di Jakarta pada 5 I

pasien didapatkan batu pigmen pada T3Yopasien dan batu

kolesterol pada 27 o/o pasien.

Ada tiga faktor penting yang berperan dalam

patogenesis batu kolesterol: 1) hipersaturasi kolesterol

' dalam kandung empedu, 2) percepatan terjadinya

- kristalisasi kolesterol dan 3) gangguan motilitas kandung

'Adanya pigmen di dalam inti batu kolester<jl

berhubungan dengan lumpur kandung empedu pada

stadium awal pembentukan batu.

Patogenesis batu pigmen melibatkan infeksi saluran

empedu, stasis empedu, malnutrisi, dan faktor diet.Kelebihan

aktivitas enzim p-glucuronidase bakteri dan manusia

(endogen)memegang peran kunci dalam patogenesis batu

pigmen pada pasien di negara timur. Hidrolisis

bilirubin oleh enzim ini  akan membentuk bilirubin tak

terkonjugasi yang akan mengendap sebagai calcium

bilirubinate. Enzim ftglucuronidase bakteri berasal dari

kuman E coll dan kuman lainnya di saluran empedu .Enzim

ini dapat dihambat oleh glucarolactone yang

konsentrasinya meningkat pada pasien dengan diet rendah

protein dan rendah lemak.

GEJALA BATU KANDUNG EMPEDU

Pasien dengan batu empedu dapat dibagi menjadi tiga

kelompok: pasien dengan batu asimtomatik, pasien

dengan batu empedu simtomatik dan pasien dengan

komplikasi batu empedu (kolesistitis akut, ikterus,

kolangitis, dan pankreatitis).

721

722

HEFAITCBILIER,

Sebagian besar (80%) pasien dengan batu empedu

tanpa gejala baik waktu diagnosis maupun selama

pamantauan. Studi perjalanan penyakit dari 1307 pasien

dengan batu empedu selama 20 tahtm memperlihatkan

bahwa sebanyak 50% pasien tetap asimtomatik,30Yo

mengalami kolik biliea dan 20%o mendapat komplikasi .

Gejala batu empedu yang dapat dipercaya yaitu  kolik

bilier.Keluhan ini didefinisikan sebagai nyeri di perut atas

berlangsung lebih dari 30 menit dan kurang dari 12 jam.

Biasanya lokasi nyeri di perut atas atat)

epigastrium namun  bisajuga di kiri dan prekordial.

KOMPLIKASIBATU EMPEDU

Kolesistitis Akut

Kurang lebih l5% pasien dengan batu simtomatik

mengalami kolesistitis akut. Gejalanya meliputi nyeri perut

kanan atas dengan kombinasi mual, muntah, dan panas.

Pada pemeriksaan fisis ditemukan nyeri tekan pada

perut kanan atas dan sering teraba kandung empedu yang

membesar dan tanda-tanda peritonitis .Pemeriksaan

laboratorium akan menunjukkan selain lekositosis kadang-

kadang juga ada  kenaikan ringan bilirubin dan faal

hati kemungkinan akibat kompresi lokal pada saluran

empedu.

Patogenesis kolesistitis akut akibat tertutupnya duktus

sistikus oleh batu terjepit. Kemudian terjadi hidrops dari

kandung empedu. Penambahan volume kandung empedu

dan edema kandung empedu memicu  iskemi dari

dinding kandung empedu yang dapat berkembang ke

proses nekrosis dan perforasi. Jadi pada permulaannya

terjadi peradangan steril dan baru padatahap kemudian

terj adi superinfeksi bakteri.

Kolesistitis akut juga dapat disebabkan lumpur batu

empedu.(kolesistitis akalkulus). Komplikasi lain seperti

ikterus, kolangitis, dan pankreatitis dibahas pada

penanganan batu saluran empedu.

DIAGNOSIS

Sebelum dikembangkannya pencihaan mutakhir seperti

ultrasound ( US), sejumlah pasien dengan penyakit batu

empedu sering salah didiagnosis sebagai gastritis atau

hepatitis berulang seperti juga didapatkan sebanyak 60%

pada penelitian di Jakarta yang mencakup 74 pasien dengan

bafu saluran empedu.

Dewasa ini US merupakan pencitraan pilihan pertama

untuk mendiagnosis batu kandung empedu dengan

sensitivitas tinggi melebihi 95% sedangkan untuk deteksi

batu saluran empedu sensitivitasnya relatif rendah berkisar

antara l8-74o/o.

Pada satu studi di Jakartayangmelibatkan 325 pasien

dengan dugaan penyakit bilier, nilai diagno stkultrasound

dalam mendiagnosis batu saluran empedu telah

dibandingkan dengan endoscopic retrograde cholangio

pancreatograpfty (ERCP) sebagai acuan metode standar

kolangiografi direk. Secara keseluruhan akura si ultras ound

untuk batu saluran empedu yaitu  sebesar 77Yo.

ERCP sangat bermanfaat dalam mendeteksi batu saluran

empedu dengan sensitivitas 90olo, spesifisitas 98%o, dan

akurasi 96oh, namun  prosedur ini invasif dan dapat

menimbulkan komplikasi pankreatitis dan kolangitis yang

dapat berakibat fatal.

Endoscopic Ultraso nog rapfiy (EUS)

EUS yaitu  suatu metode pemeriksaan dengan memakai

instrumen gastroskop dengan echoprobe di ujung skop

yang dapat terus berputar. Dibandingkan dengan ultra-

sound transabdominal, EUS akan memberikan gambaran

pencitraan yang jauh lebih jelas sebab echoprobe-tya

ditaruh di dekat organ yang diperiksa.

Peran EUS untuk mendiagnosis batu saluran empedu

pertama kali dilaporkan tahun 1992. Hasil penelitian ini dan

studi berikutnya memperlihatkan bahwa EUS memiliki 

akurasi yang sama dibandingkan ERCP dalam

mendiagnosis dan menyingkirkan koledokolitiasis.

Pada satu studi, sensitivitas EUS dalam mendeteksi

batu saluran empedu yaitu  sebesar 97o/o dibandingkan

denganultrasoundyanghanyasebesar25Yo,danCTT5o/o.

Selanjutnya EUS memiliki  nilai prediktif negatif sebesar

97% dibandingkan dengan sebesar 56% untuk US dan

sebesar 75% untuk CT.

Dalam studi ini EUS juga lebih sensitif dibandingkan

dengan US dan CT dalam mendiagnosis batu saluran

empedu bila saluran tidak melebar. Selanjutnya EUS lebih

sensitif dibandingkan US transabdominal atau CT untuk

batu dengan diameterkurang dari I cm.

Beberapa studi memperlihatkan EUS dan ERCP tidak

menunjukkan perbedaan dalam hal nilai sensitivitas,

spesifisitas, nilai prediktif negatif maupun positif. Secara

keseluruhan, akurasi EUS dan ERCP untuk batu saluran

empedu juga tidak memperlihatkan perbedaan bermakna.

Walaupun demikian, angka kejadian komplikasi ERCP

lebih tinggi bermakna dibandingkan dengan EUS.

Kesulitan pemeriksaan EUS dapat terjadi bila ada striktur

pada saluran cerna bagian atas atau pasca reseksi gaster.

Sayangnya teknik pencitraan ini belum banyak diikuti oleh

praktisi kedokteran di Indonesia sebab hal ini berhubungan

dengan masalah latihan, pengalaman, dan tersedianya

instrumenEUS.

M ag netic Resonance Ch o I ang i opa ncreatog ra phy

(MRcP)

MRCP yaitu  teknik pencitraan dengan gema magnet

tanpa menggunakan zat kontras, instrumen, dan radiasi

ion. Pada MRCP saluran empedu akan terlihat sebagai

PENYAIflTBAruEMPEDU 723

struktur yang terang sebab  memiliki  intensitas sinyal

tinggi sedangkan batu saluran empedu akan terlihat

sebagai intensitas sinyal rendah yang dikelilingi empedu

dengan intensitas sinyal tinggi, sehingga metode ini cocok

untuk mendiagrrosis batu saluran empedu.

Studi terkini MRCP menunjukkan nilai sensitivitas

antar a 9 l%o samp ai dengan I 0 |oh, nilai spe s ifi sitas antara

92o/o sampai dengan 100% dan nilai prediktif positif antara

93% sampai dengan 100%opada keadaan dengan dugaan

batu saluran empedu. Nilai diagnostik MRCP yang tinggi

membuat teknik ini makin sering dikerjakan untuk diagno-

sis atau eksklusi batu saluran empedu khususnya pada

pasien dengan kemungkinan kecil mengandung batu.

MRCP memiliki  beberapa kelebihan dibandingkan

dengan ERCP. Salah satu manfaat yang besar yaitu 

pencitraan saluran empedu tanpa risiko yang berhubungan

dengan instrumentasi, zat kontras, dan radiasi.

' Sebaliknya MRCP juga memiliki  limitasi mayor yaitu

bukan merupakan modalitas terapi dan juga aplikasinya

bergantung pada operator, sedangkan ERCP dapat

berfungsi sebagai sarana diagnostik dan terapi pada saat

yang sama.

PENANGANAN BATU KANDUNG EMPEDU

Penanaganan profilaktik untuk batu empedu asimtomatik

tidak dianjurkan. Sebagian besar pasien dengan batu

asimtomatik tidak akan mengalami keluhan dan jumlah,

besar, dan komposisi batu tidak berhubungan dengan

timbulnya keluhan selama pemantauan. Kalaupun nanti

timbul keluhan umumnya ringan sehingga penanganan

dapat elektif. Hanya sebagian kecil yang akan mengalami

simtom akut (kolesistitis akut, kolangitis ,pankreatitis, dan

karsinoma kandung empedu).

Untuk batu kandung empedu simtomatik, teknik

kolesistektomi laparoskopik yang diperkenalkan pada akhir

dekade 1980 telah menggantikan teknik operasi

kolesistektomi terbuka pada sebagian besar kasus.

Kolesistektomi terbuka masih dibutuhkan bila

kolesistektomi laparaskopik gagal atau tidak

memungkinkan.

Kolesistektomi laparoskopik yaitu  teknik pembedahan

invasif minimal di dalam rongga abdomen dengan

menggunakan pneumoperitoneum, sistem endokamera dan

intrumen khusus melalui layar monitor tanpa melihat dan

menyentuh langsung kandung empedurya. Sejak pertama

kali diperkenalkan, teknik bedah laparoskopik ini telah

memperlihatkan keurggulan yang bermakna dibandingkan

dengan teknik bedah konvensional.

Rasa nyeri yang minimal, masa pulih yang cepat, masa

rawat yang pendek dan luka parut yang sangat minimal

merupakan kelebihan bedah laparoskopik.

Di Indonesia sendiri khususnya di Jakarta, metode

kolesistektorni laparoskopik telah dimulai tahun l99l dan

kemudian diikuti oleh senter-senter lain.

Selama kurun waktu empat tahun (1991-1994) bedah

laparoskopik telah dikerjakanpada 2687 pasien di empat

senter di Indonesia dan kolesistektomi laparoskopik

merupakan indikasi tersering dengan total sebanyak220l

kasus. Konversi ke kolesistektomi konvensional

dibutuhkan pada 2,7-6,2olo pasien. Hal itu terutama

disebabkan kesulitan dalam mengenali anatomi.

Dewasa ini di beberapa rumah sakit, kolesistektomi

laparoskopik telah menjadi prosedur baku untuk

pengangkatan kandung empedu simtomatik. Kelebihan

yang diperoleh pasien dengan teknik ini meliputi luka

operasi kecil (2- 10.mm) sehingga nyeri pasca bedah mini-

mal. Selain itu, dari segi kosmetik luka parut yang kecil

yang akan tersembunyi di daerah umbilikus telah membuat

bedah laparoskopik dianggap sebagai bedah yang lebih

bersahabat kepada pasien.

Komplikasi cedera saluran empedu dari teknik ini yang

umumnya terjadi pada tahap belajar dapat diatasi pada

sebagian besar kasus dengan pemasangan stent atalu

kateter nasobilier dengan ERCP.

PENATALAKSANAAN BATU SALU RAN EM PEDU

ERCP terapeutik dengan melakukan sfingterotomi

endoskopik untuk mengeluarkan batu saluran empedu

tanpa operasi pertama kali dilakukan tahunl974. Sejak itu

teknik ini telah berkembang pesat dan menjadi standar

baku terapi non-operatif untuk batu saluran empedu.

Selanjutnyabatu di dalam saluran empedu dikeluarkan

dengan basket kawat atau balon-ekstraksi melalui muara

yang sudah besar ini  menuju lumen duodenum

sehingga batu dapat keluar bersama tinja atau dikeluarkan

melalui mulut bersama skopnya.

Pada awalnya sfingterotomi endoskopik hanya

diperuntukkan pada pasien usia lanjut yang memiliki 

batu saluran empedu residif atau tertinggal pasca

kolesistektomi atau mereka yang memiliki  risiko tinggi

untuk mengalami komplikasi operasi saluran empedu.

Pada kebanyakan senter besar ekstraksi batu dapat

dicapai pada80-90Yo dengan komplikasi dini sebesar 7-

l0o/o dan mortalitas l-2Yo.Komplikasi penting dari

sfingterotomi dan ekstraksi batu meliputi pankreatitis akut,

perdarahan, dan perforasi.

Keberhasilan sfingterotomi yang begitu mengesankan

ini dan kehendak pasien yang kuat telah mendorong

banyak senter untuk memperluas indikasi sfingterotomi

endoskopik terhadap orang dewasa muda dan bahkan

pasien dengan kandung empedu utuh dengan masalah

klinis batu saluran empedu.

Di Indonesia sendiri khususnya di Jakarta,

sfingterotomi endoskopik telah mulai dikerjakan pada tahun

1983, namun  perkembangannya belum merata ke semua

senter sebab  ERCP terapeutik ini membutuhkan

724 HEPAIOBII IER

keterampilan khusus dan jumlah pasien yang adekuat serta

alat fluoroskopi yang memadai untuk mendapatkan hasil

foto yang baik.

Pada satu penelitian di Jakarta tahun 1 99 1 keberhasilan

ekstraksi batu saluran empedu dengan teknik non-operatif

in