Sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant deaths syndrome/SIDS), kematian bayi
normal dan sehat secara tiba-tiba dan tidak terduga, telah menjadi misteri di dunia medis dan
forensik. Semua percobaan untuk memastikan pemicu dan cara kematian tidak berhasil
meskipun telah dilakukan bertahun-tahun penelitian. Informasi yang dikumpulkan selama
rangkaian investigasi komprehensif oleh berbagai agensi investigasi dan analisis data tidaklah
sia-sia. Data epidemiologi, demografi, dan patologi telah mengidentifikasi karakteristik yang
jelas dan faktor risiko yang berhubungan dengan kematian bayi akibat SIDS. Data
epidemiologi menunjukkan karakteristik yang unik yang membedakan bayi yang meninggal
sebab SIDS dengan bayi non-SIDS. Analisis informasi dari pemeriksaan TKP menemukan
faktor risiko kunci yang berhubungan dengan SIDS, yaitu posisi tidur telungkup.
Pemeriksaan patologi dari organ dalam, khususnya otak, menunjukkan beberapa perbedaan
antara bayi SIDS dan non-SIDS. Untuk memperoleh gambaran menyeluruh dari data SIDS,
seluruh negara di dunia harus menyediakan informasi, bahkan informasi dasar, untuk
memahami sindrom ini. Negara berkembang harus memahami peran dan pentingnya
membuat perencanaan untuk investigasi, mengumpulkan dan mendistribusikan data ke
seluruh dunia. Tulisan ini menyediakan pedoman umum untuk investigasi SIDS di Negara-
negara berkembang.
Salah satu tipe investigasi kematian yang paling sulit dilakukan oleh Staf Medical
Examiners/Coroners (ME/C) dan penegak hukum berkaitan dengan kematian mendadak dan
tidak terduga dari bayi yang sebelumnya normal dan sehat. Kematian ini secara umum
diklasifikasikan sebagai sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Umumnya, bayi yang
sebelumnya sehat ditemukan meninggal oleh orang tua pada pagi hari. Kasus ini sulit, bukan
hanya sebab keadaan yang emosional bagi keluarga namun juga seringnya investigasi yang
diperlukan oleh forensik dan penegak hukum. Bagian yang paling sulit dari investigasi yaitu
hasil akhirnya, sebab gagal menunjukkan
dan cara kematian yang pasti.
Keseluruhan investigasi dan keakuratan informasi yang didapatkan sangatlah penting, bukan
hanya bagi pihak berwenang, tapi juga bagi komunitas medis, forensik, hukum dan kesehatan
masyarakat. Informasi yang dikumpulkan dari berbagai fase investigasi termasuk data
anatomi, riwayat medis terdahulu dari bayi dan ibu, dan keadaan di sekitar TKP, yang harus
dikumpulkan , analisis dan disebar. Data ini harus tersedia bagi komunitas forensik, medis
dan kesehatan masyarakat, juga populasi umum. Informasi sangatlah penting untuk
memperdalam pemahaman tentang SIDS dan penjelasan atas kematian ini . Pemahaman
kami mengenai fenomena SIDS berkaitan langsung dengan data yang dikumpulkan selama
investigasi kematian yang dilakukan oleh staf ME/C dan dilengkapi oleh laporan dari tim
medis, rekam medik rumah sakit dan polisi. SIDS terjadi di seluruh Negara di dunia. Negara
seperti Amerika Serikat memiliki protokol investigasi kematian yang terbaru, formulir
pengumpulan data yang terstandardisasi dan epidemiologis forensik terlatih yang
mengumpulkan, menganalisis, menyimpulkan dan menyebarkan informasi SIDS. Di negara
berkembang, seperti Bosnia Herzegovina, isu yang berkaitan dengan ekonomi, konflik
internal, tenaga kerja dan ketersediaan peralatan dan orang terlatih dapat berdampak besar
pada investigasi dan tipe informasi yang berhubungan dengan kematian SIDS. Sebuah
pemeriksaan data internasional atas SIDS menunjukkan bahwa Bosnia Herzegovina tidak
menyediakan data dasar mengenai SIDS. Di Bosnia Herzegovina diperkirakan angka
kematian bayi 21.05 kematian/1000 kelahiran hidup dan berdasarkan laporan United Nations
World Population Prospects 2005-2010 dan buku CIA World Fact angka ini sama dengan
angka kematian bayi di Libya (21.05/1000).
Negara berkembang harus mencoba untuk meyediakan minimal, informasi
epidemiologis dasar seperti jumlah total kematian SIDS dan pengkategorian berdasarkan
umur, jenis kelamin dan ras. Perkiraan populasi Bosnia Herzegovina yang berjumlah 3.8 juta
terbilang unik mengingat populasi ini hampir seluruhnya kulit putih. Hal ini penting sebab hal
ini mengeliminasi salah satu faktor risiko SIDS yang terkenal yaitu kulit hitam.
Tujuan dari tulisan ini yaitu untuk menegaskan pentingnya masing-masing aspek
investigasi kematian bayi sebab SIDS dan menyedikan pedoman umum untuk negara-negara
berkembang. Tulisan ini juga menyediakan pedoman mengenai informasi dasar yang harus
dikumpulkan selama investigasi TKP, ketentuan dan kepentingan pemeriksaan post-mortem
lengkap, bagaimana epidemiologis forensik memakai data yang terkumpul untuk
mengidentifikasi faktor risiko SIDS dan beberapa kemungkinan pemicu SIDS.
Istilah SIDS pertama kali dipakai pada tahun 1969. Pada tahun 1989, National
Institute of Child Health and Human Development mendefinisikan SIDS sebagai: (1)
kematian mendadak dan tidak terduga dari seorang bayi di bawah umur satu tahun yang
relatif sehat sebelum kematian; (2) kematiannya tidak dapat dijelaskan bahkan sesudah
dilakukan pemeriksaan post-mortem lengkap, termasuk pemeriksaan toksikologi dan genetik;
(3) sesudah investigasi TKP menyeluruh; (4) peninjauan rekam medik bayi dan ibu.
Diagnosis SIDS sebagai pemicu kematian segera pada surat kematian hanya dapat
dipakai apabila ditemukan semua kondisi di atas. Diagnosis SIDS merupakan sebuah
pengecualian; oleh sebab itu, staf ME/C meyatakan pemicu kematian sebagai SIDS hanya
sesudah semua kemungkinan pemicu diperiksa dan dieliminasi. ada beberapa
kesangsian mengenai kelayakan pemakaian SIDS sebagai pemicu kematian. Sebagian
besar kematian SIDS diklasifikasikan dengan sebab mati “SIDS” dan cara mati yang “wajar”.
Pihak lain menyetujui untuk mengklasifikasikan sebab mati “tidak dapat ditentukan” dan cara
mati “tidak dapat ditentukan”. Negara-negara berkembang harus membuat protokol nasional
yang menjelaskan bagaimana seharusnya para patologis forensik mengisi surat kematian bayi
yang meninggal sebab SIDS. Hal ini akan menyediakan metode yang jelas untuk
memastikan profil akurat angka kematian SIDS. Dalam literatur lama, kematian SIDS
dikatakan sebagai “Crib Deaths” atau “Cot Death” sebab kematian yang umumnya terjadi di
tempat tidur bayi.
Responden Pertama
Mayoritas bayi SIDS ditemukan tak berespon ataupun meninggal di rumah, yang
berlanjut pada permintaan bantuan medis. Individu non-keluarga pertama yang berinteraksi
dengan bayi disebut responden pertama. Responden pertama terdiri dari Emergency Medical
Technicians (EMT), paramedis, pemadam kebakaran atau polisi tergantung lokasi. Informasi
yang mereka kumpulkan penting untuk investigasi berikutnya.
Informasi yang diberikan oleh orang tua atau orang yang merawat bayi (baby-sitter)
kepada responden utama, khususnya deskripsi mendetail mengenai bagaimana posisi tidur
bayi, posisi dan keadaan saat ditemukan dan lingkungan, yaitu penting untuk investigasi.
Pernyataan yang diberikan kepada responden utama biasanya lebih akurat dari pada informasi
yang diberikan di kantor polisi dan investigator dari petugas ME/C. Contohnya, seorang ibu
yang mungkin meletakkan bayinya dalam posisi tidur telungkup namun mengetahui bahwa
lebih aman untuk meletakkan bayi dalam posis telentang. Oleh sebab itu, saat orang tua
diperiksa oleh petugas ME/C, mereka bisa saja mengeluarkan pernyataan yang tidak akurat.
Responden utama juga harus mencatat keadaan rumah, dengan penekanan pada lokasi bayi
ditemukan dan posisinya saat ditemukan. Seringkali TKP telah diubah saat investigator
datang ke rumah, dimana investigator bisa saja datang dalam waktu beberapa jam atau
bahkan hari sesudah kematian.
“Apa yang harus dilakukan EMT dan paramedis saat menemukan bayi meninggal
di sebuah rumah?” Meskipun masing-masing responden pertama memiliki protokol sendiri,
semua perlakuan haruslah dibuat untuk meletakkan kembali bayi pada posisi semula saat
ditemukan dan mencegah orang tua mengubah TKP. Responden pertama harus dengan segera
menelfon petugas ME/C dan polisi. saat polisi datang, pengamanan TKP dialihkan dari
responden utama kepada polisi sampai investiagator ME/C datang.
Negara berkembang harus membuat pedoman umum saat responden pertama
menemukan bayi yang sudah meninggal. Mereka harus diinstruksikan untuk mengamankan
TKP dan menginformasikan orang tua tentang peran dan aktivitas yang akan dilakukan oleh
petugas ME/C dan polisi. Formulir pelaporan yang terstandardisasi juga harus dikembangkan
untuk memastikan semua informasi relevan dikumpulkan dalam bentuk yang seragam untuk
memudahkan analisi. Laporan harus memuat informasi berikut: waktu pemanggilan bantuan
medis darurat, waktu kedatangan di TKP, penilaian bayi, apa yang dilakukan oleh responden
medis dan pernyataan yang memicu dilakukannya panggilan emergensi.
Investigasi tempat kejadian
saat bayi dinyatakan meninggal oleh tenaga medis, investigasi kematian bayi
dimulai. Dua investigasi dilakukan secara berurutan yaitu investigasi oleh polisi dan
investigasi oleh tenaga medis. Di Amerika Serikat, kantor ME/C mempunyai juridiksi atas
tempat kejadian, bagaimanapun otoritas di setiap negara bervariasi. Rantai komando atas
investigasi ini harus terancang antara penegak hukum dan kantor ME/C sedini mungkin. Pada
saat investigasi, dua tim investigasi (penegak hukum dan tenaga medis) berusaha untuk
memastikan keadaan sebelum jenazah bayi ditemukan.
Investigasi Polisi
Penyelidikan oleh polisi melibatkan interogasi oang-orang yang berinteraksi dengan
bayi sebelum kejadian, mengumpulkan informasi mengenai peran dan tindakan pada masing-
masing individu dan mendapatkan penjelasan yang rinci mengenai keadaan di sekeliling
lokasi penemuan bayi. Keterlibatan polisi, khususnya pada awal investigasi, dapat
menggelisahkan orang tua yang baru saja kehilangan. Polisi harus menjelaskan kepada
orangtua bhawa mereka harus melakukan ivestigasi sebab kematian bayi ini bersifat
mendadak dan tidak diharapkan dan itu merupakan tugas mereka. saat kematian bayi
dianggap mencurigakan, maka polisi harus memberi pita polisi dan memborgol tangan dari
orang tua bayi. Lokasi kematian bayi, yang merupakan kamar bayi dan lokasi dimana bayi
ditemukan meninggal harus dikunci sampai pihak forensic yang akan melakukan investigasi
sampai di tempat kejadian dan mengumpulkan barang bukti. Polisi harus mementikan the
golden hour, yaitu jam-jam pertama dimana bukti penting harus dikumpulkan sebelum bukti
ini hilang. Selama tahap ini, orang tua harus dibawa ke ruangan lain di rumah mereka
dan diinterogasi oleh polisi.
Barang bukti seperti tempat tidur, kasur atau sprei harus diisolasikan. Orang tua harus
diberitahu bahwa barang ini akan dikembalikan sesudah investigasi selesai. itu polisi juga
akan menginterogasi tetangga dan keluarga mengenai perilaku dan aktivitas dari orang tua
bayi.
Kematian yang melibatkan bayi, polisi mungkin ragu untuk memulai menginterogasi orang
tua. Detektif sulit menerima kenyataan bahwa orang tua dapat menyakiti atau membunuh
anaknya sendiri. Lagipula, mereka tidak ingin memulai penyelidikan secara agresif jika orang
tua membunuh anaknya sendiri tanpa barang bukti forensic atau trauma yang nyata pada bayi.
Penegak hukum yang memulai penyelidikan harus sadar bahwa ibu daoat mebunh anaknya
menyakiti anaknya sendiri sebab kondisi yang dikenal dengan Munchausen’s by Proxy. Dan
kematian bayi seperti ini seringkali saLah diklasifikasikan sebagai SIDS.
Investigasi forensik
Investigasi forensik dan medikolegal dimuali oleh tenaga medis dan melibatkan tiga
komponen yaitu investigasi lokasi kematian, autopsy dan toksikologi dan riwayat kesehatan
dari bayi dan ibu. Investigasi di lokasi kejadian dengan mendokumentasikan lokasi dimana
jenazah bayi ditemukan. Kunci dalam investigasi ini yaitu bayi ini , lokasi tidurnya dan
lingkungan sekitar bayi. Informasi yang dikumpulkan dari bayi ini termasuk waku dan
cara bayi ini mendapat susu (ASI atau susu formula), posisi dan waktu bayi ini
tidur dan waktu dan posisi sewaktu ditemukan. Selanjutnya, posisi tidur bayi harus diperiksa
secara rinci termasuk tempat tidurnya. Informasi yang dikumpulkan dari lingkungan bayi
yaitu suhu ruanan, dan mencari kemungkinan adanya sumber gas seperti karbon monoksida,
karbondioksida atau gas beracun lainnya. Sampel udara dapat diambil untuk analisis. Riwayat
kebiasaan merokok, alcohol dan pemakaian obat-obatan dari orang jga harus dicatat.
Pengalaman dan peralatan dari tenaga medis dalam menyelidik kasus ini memengaruhi
rincinya informas yang di dapat dari empat kejadian.
Pemeriksaan pada bayi
sesudah pernyataan kematian bayi, bayi dibawa ke rumah sakit dan ditempatkan di kamar
jenazah. Pertama kali bayi didokumentasikan dan pakaian bayi dilepas dan dijadikan barang
bukti. Pada bayi akan dilakukan pemeriksaan luar untuk mencari adanya trauma pada bayi
dan hasilnya dapat dijadikan barang bukti. Perubahan sesudah kematian seperto rigor mortis
dan livor mortis dapat mengindikasikan posisi akhir pada saat kematian. Informasi yang
diperoleh dari pemeriksaan dibandingkan dengan keterangan dari orang tua. Lagi pula, jika
terbukti adanya trauma, orang tua harus diinterogasi oleh polisi dan tenaga medis tentang
kemungkinan pemicu dari trauma ini . Pemeriksaan radiologi juga dapat dilakukan dan
dievaluasi oleh ahli radiologi. Selanjtnya, pemeriksaan dalam dilakukan dengan
memakai eviserasi berbentuk “Y” diikuti dengan pengangkatan otak. Irgan diperiksa
secara in situ lalu kemudian diangkat, ditimbang dan dilihat secara makroskopik dan
mikroskopik. Ahli patologi forensic seharusnya memulai pemeriksaam dan polisi yang
mengatur investigasi hadir dalam autopsi. Sampel dari tiap organ dikirim ke bagian histology.
Autopsy lengkap harus kritis sebab diagnosis SIDS mewajibkan pemeriksaan post mortem
dimulai dan hasilnya gagal menerangkan pemicu kematian dari bayi. Dari pemeriksaan
forensic ditemukan beberapa penemuan yang tidak spesifik seperti infeksi saluran pernapasan
atas dan petechiae hemorrhage. Ahli patologi forensic menolak untuk melakukan
pemeriksaan dalan, dan sering menawarkan justifikasi. Tindakan ini sebenarnya merugikan
keluarga, komintas kedokteran dan orang-orang yang sedang melakukan penelitian. Dengan
menolak mengadakan pemeriksaan lengkap, penyakit dan kondisi dari bayi ini
dilewatkan dan dapat memengaruhi anak-anak dari ibu si bayi selanjutnya. Secara teknis,
bayi yang tidak dilakukan pemeriksaan dalam tidak boleh keluar surat kematiannya pemicu
kematian dan cara kematian ditulis tidak bisa ditentukan. Surat kematian seperti ini dapat
menyebabkan tekanan dan kebingungan pada keluarga.
Toksikologi dan Skrining Genetik
Bagian dari pemeriksaan dalam yaitu pengambilan cairan tubuh (darah, empedu, urine dan
cairan serebrospinal. Sampel darah diambil dari vena dan arteri (contohnya : vena femoralis).
Cardiac Puncture seharusnya dihindari sebab dapat merusak struktur intra toraks dan
membuat hasil pemeriksaan post mortem susah diinterpretasikan. Serum darah dan urine
seharusnya dikirim ke ahli toksikolofi forensic untuk analisis toksikologi untuk melihat
adanya racun dan obat-obatan. Kultur darah dilakukan untuk pemeriksaan mikrobiologi.
Cairan serebrospinal juga dilakukan kultur. Sampel darah juga dilakukan untuk pemeriksaan
genetic. Skrining ini memerlukan penanda untuk penyakit metabolic seperti Medium chain
acyl CoA dehydrogenase deficiency atau MCAD. MCAD merupakan merupakan kelainan
metabolic yang paling sering berhubungan dengan SIDS. Skrining ini juga penting untuk
pertahanan hidup dari saudara bayi yang mengalami SIDS dalam mencegah kejadian
berulang dari SIDS. Sistem medikolegal harus dibentuk pada negara berkembang. Untuk
memperoleh pengalaman dan konsisteni, grup yang terdiri dari ahli patologi forensic harus
memeriksa semua kasus kematian bayi yang mendadak. Mereka seharusnya membentuk
protocol standar sehingga semua bayi yang meninggal mendadak dapat dilakukan
pemeriksaan post-mosterm. Di negara berkembang, perawat dan dokter harus mendapatkan
pelatihan mengenai SIDS dan pentingnya pemeriksaan forensic dan autopsy. Pembentukan
tim pemeriksaan kematian anak-anak dapat menjamin semua bayi mendapat pemeriksaan
yang benar dan layak.
Sindroma Kematian Bayi Mendadak merupakan salah satu pemicu kematian bayi di
negara kita , sindroma kematian bayi mendadak tidak di ketahui jelas dan tidak terduga pada
bayi yang tampaknya sehat.
Tiga (3) dari 2000 bayi mengalami sindroma kematian bayi mendadak dan hampir
ditemui kematian bayi pada saat bayi tertidur. Pada angka kematian bayi, di negara kita hampir
mencapai 31 % angka yang di dapat pada kasus kematian bayi yang tidak jelas pemicu nya.
Sindroma Kematian Bayi Mendadak (SIDS, Sudden Infant Death Syndrome) yaitu
suatu kematian yang mendadak dan tidak terduga pada bayi yang tampaknya sehat. SIDS
merupakan pemicu kematian yang paling sering ditemukan pada bayi yang berusia 2
minggu-1 tahun. 3 dari 2000 bayi mengalami SIDS dan hampir saat mereka sedang tidur.
Kebanyakan SIDS terjadi pada usia 2-4 bulan dan terjadi di seluruh dunia.
Kematian bayi mendadak tidak terduga dan dengan alasan yang tetap tidak jelas, bahkan
sesudah otopsi, merupakan sarat kematian paling utama pada tahun pertama kehidupan sesudah
masa neonatus. Peristiwa ini menggambarkan sindroma bayi mati mendadak (SIDS yaitu
Sudden Infant Death Syndrome) yaitu suatu kematian yang mendadak dan tidak terduga
pada bayi yang tampaknya sehat.
Pada kasus yang khas seorang bayi berusia 2-3 bulan yang tampak sehat, di tidurkan
tanpa kecurigaan bahwa segala sesuatunya di luar keadaan yang biasa, beberapa waktu
kemudian bayi di temukan meninggal, dan otopsi konvensional gagal menemukan pemicu
kematian. Telah di ungkapkan bahwa bayi tampak sehat sebelum meninggal, namun riwayat
perinatal yang lebih rinci serta pemeriksaan intensif fungsi kardiorespiratorik dan neurologik
menghasilkan bukti-bukti bahwa anak tidak berada dalam keadaan yang normal sebelumnya.
Seorang ibu yang merokok pada masa kehamilan meningkatkan risiko sindrom mati
mendadak pada bayi. Kematian mendadak pada bayi terjadi saat bayi kekurangan napas di
tempat tidur sesudah posisinya menghalangi pernapasannya. Seperti yang dikutip dari AFP,
sindrom mati mendadak itu banyak dikaitkan dengan kurangnya respons yang mengejutkan
pada otak yang memicu bayi bernapas megap-megap. Dalam kondisi semacam itu, bayi akan
menangis untuk merangsang pernapasan normal kembali.
B. Etiologi
pemicu ketidak normalan itu masih belum diketahui jelas. Namun, bukti statistik
menunjukkan ada kaitan bayi yang terpapar tembakau selama kehamilan dengan sindrom
mati mendadak pada bayi. Tim dokter yang dipimpin Dr Anne Chang, seorang profesor di
bidang pernapasan di Royal Children’s Hospital Foundation di Brisbane, Australia, berupaya
mencari kaitan antara kedua hal itu dengan mengamati 20 bayi sehat berusia sekitar tiga
sampai lima bulan. Usia itu merupakan usia yang berisiko mati mendadak.
Para ahli mengamati sepuluh ibu bayi yang tidak merokok pada masa kehamilan,
sedang yang lain merokok selama kehamilan. Untuk penelitian, bayi diletakkan di
punggung, posisi yang direkomendasikan untuk mencegah kematian mendadak. Kemudian,
bayi-bayi itu diganggu oleh suara nyanyian yang kekuatannya mencapai 80 desibel dari
pengeras suara di dekat mereka sesudah tidur. Tes dilakukan selama para bayi tidur nyenyak
dan dalam keadaan terang sepanjang tahap tidur antara sepuluh sampai dua belas jam. Irama
jantung dan pernapasan serta respons tingkah laku bayi seperti gerakan badan dan membuka
mata diamati. Para peneliti menemukan tidak ada perbedaan cara tidur bayi atau bangun
saat suara terdengar selama tidur nyenyak. Periode ditentukan oleh kecepatan gerak mata di
samping pupil. namun , perbedaan besar meningkat pada respons mereka selama membuka
mata atau bergerak selama periode itu, bahkan saat rangsangan terhadap telinga diperbesar.
Para peneliti percaya penemuan itu menambah kecurigaan bahwa nikotin dapat berakibat
pada perkembangan kunci fungsi motoris bayi, yakni memerintahkan otak untuk tidur dan
membangunkan serta fungsi jantung serta paru-paru.
pemicu nya tidak diketahui. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa SIDS lebih sering
terjadi pada bayi yang tidurnya tengkurap dibandingkan dengan bayi yang tidurnya terlentang
atau miring. sebab itu sebaiknya bayi ditidurkan dalam posisi terlentang atau miring. Resiko
terjadinya SIDS juga ditemukan pada bayi yang pada saat tidur wajahnya menghadap ke
kasur atau selimut yang lembut/empuk. sebab itu sebaiknya bayi ditidurkan diatas kasur
yang keras
C. Faktor Resiko
1. Tidur tengkurap (pada bayi kurang dari 4 bulan)
2. Kasur yang lembut (pada bayi kuran dari 1 tahun)
3. Bayi premature
4. Riwayat SIDS pada saudara kandung
5. Banyak anak
6. Musim dingin
7. Ibunya perokok
8. Ibunya pecandu obat terlarang
9. Ibunya berusia muda
10. Jarak yang pendek diantara 2 kehamilan
11. Perawatan selama kehamilan yang kurang
12. Golongan sosial-ekonomi rendah. SIDS lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki.
D. Tanda dan Gejala
1. Jeda pernafasan sebab Apnea dan sianosis yang lama selama tidur. Telah diobservasi pada
dua bayi yang kemudian dianggap meninggal sebab SIDS dan adanya obstruksi saluran
nafas bagian atas dengan jeda pernafasan serta bradikardia yang lama pada bayi-bayi dengan
SIDS abortif. Walaupun demikian masih belum pasti apakah apnea sentral atau apnea
obstruktif yang lebih penting dalam terjadinya SIDS
2. Cacat batang otak sebab sedikitnya 2 kepingan bukti telah mengisyaratkan bahwa bayi-bayi
dengan SIDS memiliki abnormalitas pada susunan saraf pusat.
3. Fungsi saluran nafas atas yang abnormal, berdasarkan pada perkembangan dan anatomi,
maka bayi yang muda dianggap beresiko tinggi terhadap saluran pernafasan bagian atas,
apakah keadaan ini terjadi pada SIDS masih belum di ketahui.
4. Reflek saluran nafas yang hiperreaktif sebab masuknya sejumlah cairan ke dalam laring
dapat merangsang timbulnya reflek ini dan di duga menimblkan apnea, maka di berikan
perhatian yang cukup besar akan kemungkinan reflek gasoesofagus dan aspirasi sebagai
mekanisme primer terjadinya SIDS pada beberapa bayi.
5. Abnormalita jantung, beberapa ahli mengajukan adanya ketidakstabilan pada jantung muda,
namun tidak mendapatkan bukti yang meyakinkan saat ini untuk menunjukan bahwa aritma
jantung memainkan peranan pada SIDS.
E. Diagnosa
SIDS didiagnosis jika seorang bayi yang tampaknya sehat tiba-tiba meninggal dan hasil
otopsi tidak menunjukkan adanya pemicu kematian yang jelas. Semakin banyak bukti
bahwa bayi dengan resiko SIDS mempunyai cacat fisiologik sebelum lahir. Pada neonatus
dapat di temukan nilai apgar yang rendah dan abnormalitas control respirasi, denyut jantung
dan suhu tubuh, serta dapat pula mengalami retardasi pertumbuhan pasca natal. SIDS
didiagnosis jika seorang bayi yang tampaknya sehat tiba-tiba meninggal dan hasil otopsi tidak
menunjukkan adanya pemicu kematian yang jelas.
F. Pencegahan
1. Selalu letakkan bayi Anda dalam posisi terlentang saat ia sedang tidur, walaupun saat tidur
siang. Posisi ini yaitu posisi yang paling aman bagi bayi yang sehat untuk mengurangi
risiko SIDS.
2. Jangan pernah menengkurapkan bayi secara sengaja saat bayi tersebut belum waktunya
untuk bisa tengkurap sendiri secara alami.
3. Gunakan kasur atau matras yang rata dan tidak terlalu empuk. Penelitian menyimpulkan
bahwa risiko SIDS akan meningkat drastis apabila bayi diletakkan di atas kasur yang terlalu
empuk, sofa, bantalan sofa, kasur air, bulu domba atau permukaan lembut lainnya.
4. Jauhkan berbagai selimut atau kain yang lembut, berbulu dan lemas serta mainan yang diisi
dengan kapuk atau kain dari sekitar tempat tidur bayi Anda. Hal ini untuk mencegah bayi
Anda terselimuti atau tertindih benda-benda tersebut.
5. Pastikan bahwa setiap orang yang suka mengurus bayi Anda atau tempat penitipan bayi
untuk mengetahui semua hal di atas. Ingat setiap hitungan waktu tidur mengandung risiko
SIDS.
6. Pastikan wajah dan kepala bayi Anda tidak tertutup oleh apapun selama dia tidur. Jauhkan
selimut dan kain penutup apapun dari hidung dan mulut bayi Anda.
7. Pakaikan pakaian tidur lengkap kepada bayi Anda sehingga tidak perlu lagi untuk
menggunakan selimut. namun seandainya tetap diperlukan selimut sebaiknya Anda perhatikan
hal-hal berikut ini: Pastikan kaki bayi Anda berada di ujung ranjangnya, Selimutnya tidak
lebih tinggi dari dada si bayi,Ujung bawah selimut yang ke arah kaki bayi, Anda selipkan di
bawah kasur atau matras sehingga terhimpit.
8. Jangan biarkan siapapun merokok di sekitar bayi Anda khususnya Anda sendiri. Hentikan
kebiasaan merokok pada masa kehamilan maupun kelahiran bayi Anda dan pastikan orang di
sekitar si bayi tidak ada yang merokok.
9. Jangan biarkan bayi Anda kepanasan atau kegerahan selama dia tidur. Buat dia tetap hangat
namun jangan terlalu panas atau gerah. Kamar bayi sebaiknya berada pada suhu yang nyaman
bagi orang dewasa. Selimut yang terlalu tebal dan berlapis-lapis bisa membuat bayi Anda
terlalu kepanasan.
10. Temani bayi Anda saat ia tidur. Jangan pernah ditinggal-tinggal sendiri untuk waktu yang
cukup lama.
G. Penatalaksanaan
Orang tua yang kehilangan anaknya sebab SIDS memerlukan dukungan emosional.
pemicu kematian anaknya tidak diketahui, sehingga mereka seringkali merasa bersalah.
Mungkin ada baiknya jika orang tua merencanakan untuk memiliki anak lagi.
A. Data Subjektif
1. Biodata
a. Identitas Bayi
Nama Bayi : Bayi Ny. R
Tanggal Lahir : 02 JULI 2011
Jenis Kelamin : Laki-laki
BB : 3600 gram
PB : 60 cm
b. Identitas Orang Tua
Nama Ibu : Ny.R Nama Ayah : Tn.N
Umur : 32 thn Umur : 40 thn
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wirasuasta
Goldar : AB Goldar : B
Alamat : Jln. Sukarasa
2. Keluhan Utama
Bayi meninggal mendadak
3. Riwayat Kesehatan yang Lalu
a. Riwayat Kehamilan
Ibu mengatakan ini kehamilan yang ke 3, ibu sudah mendapatkan imunisasi TT lengkap,
selama kehamilan ibu tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan dan tidak memiliki penyakit
komplikasi selama hamil, ibu pernah memeriksakan keadaan kehamilannya dengan
pemeriksaan USG.
b. Riwayat Persalinan
Ibu melahirkan di BPS Harapan Bunda, jenis persalinannya spontan dan lama persalinannya
kurang lebih 18 jam.
Presentasi : Belakang kepala
Ketuban Pecah : Spontan Warna :jernih
Komplikasi Persalinan: Tidak ada komplikasi
Keadaan tali pusat : Tidak ada lilitan
c. Keadaan Bayi saat Lahir
Resusitasi : Baik dengan dilakukan rangsangan taktil
Keadaan Umum : Baik
Reflek – Reflek :
Reflek hisap : Baik
Reflek berkedip : Baik
Pernapasan : Spontan Frekwensi : 50x/menit
Suara nafas : Bersih Menangis :
Kuat
Warna Kulit : Kemerah-merahan
d. Riwayat Post Natal
BB : 2600 Gram
PB : 48 cm
Kelainan Kongenital : Tidak di temukan
Kondisi Kesehatan : Baik
4. Riwayat Imunisasi
Pada saat lahir bayi di berikan imunisasi BCG, Vit K, DTP, tidak ada gejala yang serius
sesudah pemberian imunisasi hanya badan bayi terasa hangat.
5. Riwayat Tumbuh Kembang
Keadaan bayi pada saat ini bayi mulai memberikan peningkatan mulai dari kenaikan BB
3500 gram, PB 60 cm bayi sudah bisa menggenggam dan memasukan benda apapun pada
mulutnya.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan keadaan keluarganya tidak ada yang mengidap penyakit menular serta
keturunan dan juga tidak ada yang mengalami kelainan congenital.
7. Riwayat Psikososial
Ibu mengatakan ini kelahiran anak yang di inginginkannya bersama keluarga,hubungan ibu
dengan bayi sangat baik begitu dengan keluarga dan bayi sangat baik pula.
8. Pola Kebiasaan Sehari-hari
Nutrisi : ASI
: BAB 3 x /hari dengan konsistensi lembek dan warna kuning
Istirahat dan Tidur : 2 jam / hari
Keadaan waktu tidur : Tenang
Hygien : 2 x / hari
Ganti baju : setiap terlihat basah
Ganti popok : setiap habis bak dan bab
B. Data Objektif
1. Keadaan Umum : Bayi sudah tidak menampakan adanya kehidupan
2. Pemeriksaan Antropometri
Berat Badan Lahir : 2600 gram BB Sekarang : 3500 gram
Panjang Badan Lahir : 48 cm PB Sekarang : 60 cm
Lingkar Kepala lahir : 34 cm LK Sekarang : 40 cm
Lingkar Dada Lahir : 30 cm LD Sekarang : 38 cm
3. Pemeriksaan TTV
Pernapasan : 0 x/menit
Nadi : 0 x/menit
Suhu : 0 x/menit
4. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Ubun-ubun kecil: sudah menutup, keadaan: cembung, sutura: pelebaran.
Mata : Bentuk: simetris, secret: tidak ada, konjungtiva: pucat, sklera: putih,
reflek pupil: tidak ada, reflek berkedip: tidak ada.
Hidung : Pernapasan cuping hidung: tidak ada gerakan
Bibir : Warna: sianosis,
Mulut : Lidah: tertelan, reflek suckhing: tidak ada, reflek rooting: tidak ada
Telinga : Posisi telinga: melipat
Leher : Reflek tonik neck: tidak ada , tidak ada gerakan.
Dada : Bentuk dada: tidak simetris, pergerakan: tidak ada
Bunyi Jantung : Tidak terdengar
Abdomen : Bising usus: tidak terdengar
Genetalia : Testis: turun
Ekstremitas atas : Gerakan tangan: kaku, reflek moro: tidak ada
Ektremitas bawah : Gerakan kaki : kaku, reflek babinski: tidak ada
C. Analisa
Bayi meninggal tanpa di ketahui sebab-sebab yang jelas.
D. Penatalaksanaan
1. Melakukan perawatan jenajah
2. Memberi dukungan kepada ibu untuk tetap tabah.
3. Memberikan pendidikan pencegahan agar resiko SIDS sedikit terhindar.
4. Memberi pengertian kepada keluarga untuk tetap temani ibu dan mendukungnya.







