Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan batasan
penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek
yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN
1998)
Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalam i proses penuaan
secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin
rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat memicu kematian. Hal ini disebabkan
terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
B. Pengertian Proses Penuaan
Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan. Menua (menjadi tua) adalah suatu
proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memeperbaiki
diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantindes, 1994)
Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup
manusia, yaitu; bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang mati bukan karena lanjut
usia tetapi karena suatu penyakit, atau juga suatu kecacatan.
Akan tetapi proses menua dapat memicu berkurangnya daya tahan tubuh dalam nenghadapi
rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa
ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia.Proses menua sudah mulai
berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa. Misalnya dengan terjadinya kehilangan
jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.
Sebenarnya tidak ada batas yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun.
Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapain
puncak maupun menurunnya.
C. Teori-Teori Proses Penuaan
1. Teori Biologis
Penuaan merupakan proses secara berangsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif dan
mengakibatkan perubahan yang berakhir dengan kematian. Penuaan juga menyangkut perubahan
struktur sel, akibat interaksi sel dengan lingkungannya, yang pada akhirnya memicu
perubahan negative. Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsic dan ekstrinsik.
Intrinsic berarti perubahan yang berkaitan dengan usia timbul akibat penyebab diakibatkan
pengaruh lingkungan.Teori biologis dibagi dalam :
a) Teori Genetik Clock
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetic untuk spesies-spesies tertentu. Tiap
spesies mempunyai di dalam inti selnya suatu jam genetic yang telah diputar menurut suatu
replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi tertentu. Jadi
menurut konsep ini bila jam kita ini berhenti kita akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai
kecelakaan lingkungan atau penyakit. Secara teoritis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi
meski hanya beberapa waktu dengan pengaruh-pengaruh dari luar, berupa peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obatan tindakan tertentu.
b) Teori Error Catastrophe (Teori Mutasi Somatik)
Menurut teori ini, menua disebabkan kesalahan yang beruntun dalam jangka waktu yang lama
dalam transkripsi dan translasi. Kesalahan ini memicu terbentuknya enzim yang salah
dan berakibat metabolism yang salah sehingga mengurangi fungsional sel, walaupun dalam
batas-batas tertentu kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan
memperbaiki diri terbatas pada transkripsi yang tentu akan memicu kesalahan sintesis
protein atau enzim yang dapat memicu metabolit berbahaya. Bila juga terjadi kesalahan
pada tranlasi maka kesalahan yang terjadi juga semakin banyak.
c) Teori Auto Immune
Dalam teori ini dijelaskan bahwa didalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi zat
khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat ini sehingga jaringan
tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada usia
dewasa berinvolusi dan semenjak itu terjadilah kelainan autoimun.
d) Teori Radikal Bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom)
mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organic seperti karbohidrat dan protein. Radikal
ini memicu sel-sel tidak dapat beregenerasi. Didalam tubuh yang bersiap merusak, dapat
dinetralkan dalam tubuh oleh enzimatau senyawanon enzim contohnya adalah : vitamin C
betakorotin, vitamin E.
e) Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dan stress memicu sel-sel tubuh lelah (rusak)
f) Teori “Immunology Slow Virus” (Immunology Slow Virus Theory)
System immune menjadi kurang efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam
tubuh dapat memicu kerusakan organ tubuh.
g) Teori Stress
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak
dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stress memicu
sel-sel tubuh telah terpakai.
h) Teori rantai silang
Sel-sel yang tua atau asing reaksi kimianya memicu ikatan yang kuat, khususnya jaringan
kolagen. Ikatan ini memicu kurangnya elastic, kekakuan dan hilangnya fungsi.
i) Teori Program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel ini
mati.
2. Teori Kejiwaan Sosial
a) Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
1) Teori aktivitas, menurut Havighrusrst dan Albrecht, 1953 berpendapat bahwa sangat
penting bagi individu usia lanjut untuk tetap aktivitas dan mencapai kepuasan hidup.
2) Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini
menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam
kegiatan social.
3) Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia
4) Mempertahankan hubungan antara system social dan individu agar tetap stabil dari usia
pertengahan ke lanjut usia.
b) Kepribadian belanjut (continuity theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan
gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada
seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
c) Teori pembebasan (disengagement theory)
Salah satu teori social yang berkenaan dengan proses penuaan adalah “teori pembebasan atau
disengagement theory”. Teori ini menyatakan bahwa dnegan bertambahnya usia, seseorang
secara berangsur-angsur mulai nmelepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini
mengakibatkan interaksi social lansia menurun, baik secara kuantitas maupun kualitas sehingga
sering terjadi kehilangan ganda (Tripple Lost), yakni :
1) Kehilangan peran (Loss of role)
2) Hambatan kontak social (restraction of contacs and relation ships)
3) Berkurangnya komitmen (to social mores and values)
3. Teori Psikologi
Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah satu teori yang ada. Teori
tugas perkembangan, menurut Hanghusrt (1972) setiap individu harus memperhatikan tugas
perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan memberikan perasaan bahagia
dan sukses. Tugas perkembangan yang spesifik ini tergantung pada maturasi fisik, pengharapan
cultural dan masyarakat dan nilai serta aspirasi individu.
Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi penerimaan adanya penurunan kekuatan fisik dan
kesehatan, penerimaan masa pension dan penurunan income, penerimaan adanya kematian dan
pasangannya atau orang-orang yang berarti bagi dirinya, mempertahankan hubungan dengan
group uang seusianya, adopsi dan adaptasi dengan peran social secara fleksibel dan
mempertahankan kehidupan secara memuaskan.
4. Teori Kesalahan Genetik
Dr. Afgel berpendapat bahwa proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetic DNA
dimana sel genetic memperbanyak diri (ada yang memperbanyak diri sebelum pembelahan sel)
sehingga mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang berakibat pula dengan terhambatnya
pembentukan sel berikutnya sehingga mengakibatkan kematian sel. Pada saat sel mengalami
kematian orang akan tampak menjadi tua.
5. Rusaknya Sistem Imun Tubuh
Mutasi yang terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan system imun untuk mengenali
dirinya berkurang menurun mengakibatkan kelainan pada sel, dianggap sel asing sehingga
dihancurkan perubahan inilah terjadinya peristiwa auto imun.
6. Teori Menua Akibat Metabolisme
Tua yang bagaimana ?
1) Datang dengan sendirinya, merupakan “karunia” yang tidak bisa dihindari/ditolak
2) Usaha dalam memperlambat menjadi awet muda
3) WHO : 1982 usia lanjut yang bahagia dan sejahtera
Perubahan : apa ? kapan ? dan bagaimana ?, dahulu normal jadi tua, masa karir : sukses menjadi
tua. Pada zaman tempo dulu pendapat tentang tua : botak, mudah kebingungan, pendengaran
sangat menurun atu mereka menyebut “budeg”, menjadi bungkuk dan sering dijumpai kesulitan
dalam menahan buang air kecil : beseran atau inkontinensia urin.
7. Teori Telomere
Pada ujung setiap kromosom, terdapat sekuen pendek DNA nontranskripsi yang dapat diulang
berkali-kali (TTAGGG), yang dikenal sebagai telomere. Sekuen telomere ini tidak seluruhnya
terkopi sepanjang sintesis DNA menuju ke mitosis. Sebagai hasilnya, ekor untaian tunggal DNA
ditinggal di ujung setiap kromosom; ini akan dibuang dan, pada setiap pembelahan sel, telomere
menjadi pendeksel . Pada saat sel somatik bereplikasi, satu potongan kecil tiap susunan telomere
tidak berduplikasi, dan telomere memendek secara progresif. Akhirnya , setelah pembelahan sel
yang multiple, telomere yang terpotong parah diperkirakan mensinyal proses penuaan sel.
Namun demikian, pada sel germ dan sel stem panjang telomere diperbaiki setelah pembelahan
tiap sel oleh enzim khusus yang disebut telomerase.
Pemendekan telomere dapat menjelaskan batas replikasi (“Hayflick”) sel. Hal ini didukung oleh
penemuaan bahwa panjang telomer berkurang sesuai umur individu darimana kromosom
didapat. Dari pengamatan jangka panjang bahwa fibroblast manusia dewasa normal pada kultur
sel, memiliki rentang masa hidup tertentu; fibroblast berhenti membelah dan menjadi menua
setelah kira-kira 50 kali penggandaan. Fibroblast neonatus mengalami sekitar 65 kali
penggandaan sebelum berhenti membelah, sementara itu fibroblast pada pasien dengan progeria,
yang berusia premature, hanya memperlihatkan 35 kali penggandaan atau lebih. Menuanya
fibroblas manusia dalam biakan dapat dihindari secara parsial dengan melumpuhkan gen RB dan
TP 53. Namun sel ini akhirnya juga mengalami suatu krisis, yang ditandai dengan kematiaan sel
masif.
8. Teori Wear and Tear
Teori “Wear and Tear” disebut juga teori “Pakai dan Lepas”. Teori ini memberi kesan bahwa
hilangnya sel secara normal akibat dari perubahan dalam kehidupan sehari-hari dan penumpukan
rangsang subletal dalam sel yang berakhir dengan kegagalan sistem yang cukup besar sehingga
keseluruhan organisme akan mati.Teori ini memberikan penjelasan yang baik mengapa
kegagalan jantung dan system saraf sentral merupakan penyebab yang sering pada kematian; sel-
sel yang mempunyai fungsi penting pada jaringan ini tidak mempunyai kemampuaan
regenerasi.Teori ini sama sekali tergantung pada pandangan statistik penuaan. Pada teori ini kita
mempunyai harapan hidup yang sama bagi setiap individu, namun perubahan panjang umur
setiap individu diakibatkan oleh perubahan pola hidup dari individu itu sendiriBerbagai
mekanisme seluler dan subseluler yang diperkirakan sebagai penyebab kesalahan penumpukan
yang memicu terjadinya penuaan sel adalah:
* ikatan silang protein
* ikatan silang DNA
* mutasi dalam DNA yang membuat gen yang penting tidak tersedia atau berubah fungsinya.
* kerusakan mitokondria
* cacat lain dalam penggunaan oksigen dan nutrisi
D. Perubahan Fisik yang Terjadi Pada Proses Penuaan
1. Sel
a) Lebih sedikit jumlahnya
b) Lebih besar ukurannya
c) Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler
d) Menurunnya proporsi protein di otak, otot, darah, dan hati.
e) Jumlah sel otak menurun.
f) Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
g) Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%
2. Sistem persarafan
a) Berat otak menurun 10-20% (setiap orang berkurang sel otaknya dalam setiap harinya).
b) Cepatnyan menurun hubungan persarafan.
c) Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
d) Mengecilnya saraf panca indra. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran,
mengecilnya saraf pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya
dengan ketahanan terhadap dingin.
e) Kurang sensitif terhadap sentuhan
3. Sistem pendengaran
a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran). Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran
pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak
jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun.
b) Membran timpani menjadi atrofi memicu otosklerosis.
c) Terjadi pengumpulan serumen dapat mengeras karena menginkatnya keratin.
d) Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.
4. Sistem penglihatan
a) Sfingter pupil timbul skelerosis dan hilangnya tespon terhadap sinar.
b) Kornea lebih berbentuk sferis (bola)
c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas memicu gangguan
penglihatan.
d) Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat,
dan susah melihat dalam cahaya gelap
e) Hilangny daya akomodasi.
f) Menurunnya lapangan pandang; berkurang luas pandangannya.
g) Berkurangnya daya membedakan warna biru atau hijau pada skala.
5. Sistem kardiovaskuler
a) Elastisitas dinding aorta menurun
b) Katup jantung menebal dan menjadi kaku
c) Kemampuan jantung untuk memompa menurun 1% setiap tahun sesudah berumut 20
tahun, hal ini memicu menurunnya kontraksi dan volumenya.
d) Kehilangan elatisitas pembuluh darah; kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenisasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa memicu tekanan
darah menurun menjadi 65 mmHg (memicu pusing mendadak).
e) Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah
perifer; sistolis normal 170 mmHg, diastolis normal 90 mmHg.
6. Sistem pengtaturan temperatur tubuh
Pada sistem pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu termostat, yaitu
menetapkan suatu suhu tertntu, kemunduran terjadi sebagai faktor yang mempengaruhinya. Yang
sering ditemui antara lain;
a) Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik ± 35o ini akibat metabolisme
yang menurun.
b) Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga
terjadi rendahnya aktivitas otot.
1) Sistem respirasi
* Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
* Menurunnya aktivitas dari silia
* Paru-paru kehilangan aktivitas; kapasitas residu meningkat, menarik nafas menjadi berat,
kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun
* Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang
* O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
* CO2 pada arteri tidak berganti
* Kemampuan untuk batuk berkurang
* Kemampuan pegas, dinding, dada, dan kekuatan otot pernapasan akan menurun seiring
degan bertambahnya usia.
2) Sistem gastrointestinal
* Kehilangan gigi; penyebab utama adalah Periodental disease yang bisa terjadi setelah umur
30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
* Indera pengecap menurun; adanya iritasi yang kronis, dari selaput lendir, atropi indera
pengecap (±80%), hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa tentang rasa
asin, asam, dan pahit.
* Esofagus melebar.
* Lambung, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun), asam labung menurun, waktu
mengosongkan menurun.
* Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi
* Fungsi absobsi melemah (daya absobsi terganggu).
* Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran
darah.
3) Sistem reproduksi
* Menciutnya ovari dan uterus
* Atrofi payudara
* Pada laku-laki testis masih dapat memproduksi spermatosoa, meskipun adanya penurunan
secara beransur-ansur
* Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun (asal kondisi keksehatan baik),
yaitu;
ü Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia
ü Hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual
ü Tidak perlu cemas karena merupakan perubahan alami
* Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang,
reaksi sifatnya menjadi alkali, dan terjadi perubahan-perubahan warna.
4) Sistem genito urinaria
* Ginjal, merupaan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah
yang masuk ke ginjal, disaring oleh satuan unit terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya
di glumerulus, kemudia mengecil dan nefron menjadi atrofi. Aliran darah ke ginjal menurun
sampai 50%. Fungsi tubulus berkurang akibatnya; kurang kemapuan mengkonsentrasi urine,
berat jenis urine menurun, proten uria.
* Vesika urinaria (kandung kemih); otot-ototnya menjadi lemah, kapasitasnya menurun
sampai 200ml atau memicu frekuensi buang air kecil meningkat. Vesika urinari susah
dikosongkan sehingga meningkatkan retensi urine.
* Pembesaran prostat kurang lebih 75% dialami oleh pria usia di atas 65 tahun
* Atrofi vulva
5) Sistem endokrin
* Produksi hampir semua hormon menurun
* Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah
* Pituitari; hormon pertumbuhan ada tetapi lebih rendah tetapi rendah dan hanya dalam
pembuluh darah, berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH, LH.
* Menurunnya aktifitas tiroid, BMR menurun.
6) Sistem kulit
* Kulit mengerut atau keriput akibat kahilangan jaringan lemak
* Kulit kasar dan bersisik,
* Mekanisme proteksi kulit menurun
* Produksi serum menurun
* Gangguan pigmentasi kulit
* Kulit kepala dan rambut menipis
* Kelenjar keringat berkurang jumlahnya
7) Sistem muskuloskeletal
* Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh
* Kifosis
* Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek
* Persendian membesar dan menjadi pendek
* Tendon mengerut dan mengalami skelrosis
8) Perubahan mental
* Perubahan fisik, organ perasa
* Kesehatan umum
* Tingkat pendidikan
* Keturunan
* Lingkungan
* Momory: jangka panjang (*berhari-hari yang lalu) mencakup beberapa perubahan.
Kenangan jangka pendek (0-10 menit) kenangan buru
* Intelegency; tidak berubah dengan informasi matematik dan perkataan verbal.
* Berkurangnya keterampilan psikomotor.
9) Perubahan psikososial
E. Sindroma Proses Penuaan yang Prematur
Ada beberapa penyakit genetik yang menunjukan adanya proses penuaan yang prematur. Tanda-
tanda dari penyakit ini adalah dijumpainya rambut yang beruban, mengkerutnya kulit, dan
pendeknya masa hidup dari penderita ini . Pada beberapa kasus hal ini dapat terjadi karena
mutasi dari gen. Adapun proses penuaan yang premature ini dapat kita lihat pada:
1. Werner’s syndrome
Pada penderita ini kelihatan pada rambut mereka telah beruban pada usia 20 tahun dan penderita
umumnya meninggal pada usia 40 tahun. Tanda-tanda proses penuaan seperti osteoporosis,
katarak, dan arterosklerosis dapat terlihat pada penderita. Meskipun pada waktu mudanya, sel-sel
juga mengalami replikasi penuaan namun hanya sebanyak 20 kali, sedangkan yangnormal
mencapai 70 kali atau lebih. Hal ini disebabkan oleh mutasi di WRN, dimana WRN ini
diperlukan untuk perbaikan dan pemeliharaan DNA yang terdapat di telomere.
2. Cockayne syndrome (CS)
Terjadi karena mutasi pada gen-gen yang berfungsi pada perbaikan DNA yaitu pada saat terjadi
transkripsi DNA. Pada penderita ini hanya menunjukkan beberapa tanda proses penuaan, namun
proses kematian sangatlah cepat pada penderita ini.
3. Ataxia telangiectasia (AT)
Penderita menunjukkan proses penuaan yang premature hal ini disebabkan karena kerusakan
pada fungsi gen yang mendeteksi kerusakan DNA (ATM) sehingga gen gagal memulai untuk
proses perbaikan selnya.
4. Hutchinson – Gilford progeria syndrome
Anak-anak yang menderita sindroma ini akan menunjukkan tanda-tanda proses penuaan
premature yang parah sejak mereka dilahirkan dan penderita akan meninggal setelah mereka
berumur belasan tahun. Disebabkan oleh mutasi gen (LMNA) untuk lamin yang berfungsi
menstabilkan membrane dalam dari pembungkus inti sel. Sebagaimana telah diketahui bahwa
replikasi, transkripsi, dan perbaikan dari DNA berlangsung di bagian dalam dari inti sel,
sedangkan pada penderita sindroma ini terjadi peningkatan kerusakan pada DNA dan kerusakan
pada ekspresi gen.
Dari sindrom penuaan yang premature ini terlihat bahwa terjadinya mutasi bukan seluruhnya
pada sel, tetapi terjadi mutasi pada gen-gen yang bertanggung jawab pada proses replikasi,
perbaikan, dan transkripsi dari dari seluruh gen.
F. Anti Aging
Pada penderita proses penuaan yang premature terapi yang maksimal belumlah dijumpai, namun
dengan diketahuinya bahwa adanya enzim telomerase yang menghambat pemendekan telomere
ini,maka para ilmuwan masih berusaha untuk membentuk suatu substrat yang bekerja seperti
enzim telomerase ini .
Namun penghambatan proses penuaan pada sel-sel yang normal telah banyak ditemukan dengan
munculnya produk-produk anti aging.Dugaan bahwa radikal bebas tersebar dimana-mana, pada
setiap kejadian pembakaran seperti merokok, memasak, pembakaran bahan baker pada mesin
dan kendaraan bermotor. Paparan sinar ultraviolet yang terus-menerus, pestisida dan pencemaran
lain di dalam makanan kita, bahkan karena olahraga yang berlebihan, memicu tidak ada
pilihan selain tubuh harus melakukan tindakan protektif. Langkah yang tepat untuk menghadapi
banyaknya radikal bebas ini adalah dengan mengurangi paparannya atau mengoptimalkan
pertahanan tubuh melalui aktivitas antioksidan.
Selain jenis antioksidan enzimatis seperti yang disebut di awal, dikenal pula jenis antioksidan
nonenzimatis. Jenis ini dapat berupa golongan vitamin, seperti vitamin C, vitamin E serta
golongan senyawa fitokimia seperti senyawa fenolik. Senyawa fenolik ini banyak dijumpai pada
sayuran, buah-buahan, rempah-rempah dan sebagainya yang merupakan konsumsi makanan kita
sehari-hari.
Suplemen vitamin banyak beredar di pasaran dalam berbagai dosis. Namun perlu diketahui,
hingga saat ini para ahli masih sulit memastikan berapa komposisi yang seimbang antara radikal
bebas dan antioksidan di dalam tubuh.Beberapa antioksidan dalam dosis tertentu bisa berubah
sifat menjadi prooksidan.
Menua atau menjadi tua yaitu suatu keadaan yang terjadi di dalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak
hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan
kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah
melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini
berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti
mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit
mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas,
penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan figure tubuh yang tidak
proposional.
WHO dan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan
lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa umur 60 tahun yaitu
usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses
yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, merupakan
proses menurunya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam
dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian.
bahwa “menua” (menjadi tua) yaitu suatu proses
menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaikki
diri/mengganti diri danmempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga
tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki
kerusakan yang diderita. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
manusia secara perlahan mengalami kemunduran struktur dan fungsi organ.
Kondisi ini dapat memengaruhi kemandirian dan kesehatan lanjut usia, termasuk
kehidupan seksualnya.
2. Perubahan Fisik Dan Fungsi
a. Sel
1) Jumlah sel menurun / lebih sedikit
2) Ukuran sel lebih besar
3) Jumlah cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang
4) Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati mennurun
5) Jumlah sel otak menurun
6) Mekanisme perbaikan sel tertanggu
7) Otot menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10 %
8) Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar.
b. System Pernafasan
1) Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan,
dan menjadi kaku.
2) Aktifitas silia menurun.
3) Paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih
berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dengan kedalaman
bernafas menurun.
4) Ukuran alveoli melebar (melebar secara progresif) dan jumlah berkurang.
5) Berkurangnya elastisitas bronkus.
6) Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
7) Karbon dioksida pada arteri tidak berganti. Pertukaran gas terganggu.
8) Refles dan kemampuan untuk batuk berkurang.
9) Sensitivitas terhadap hipoksia dan hiperkabia menurun.
10)Sering terjadi emsifema senilis.
11)Kemampuan pegas dinding dada dan kekuatan otot pernafasan menurun
seiring pertambahan usia.
c. Masalah Kesehatan Pada Sistem Pernafasan
1) Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOM)
PPOM atau COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease)
dikarakteristikkan dengan obstruksi jalan nafas dan penurunan aliran nafas
, terdiri dari emsifema, bronkritis kronis dan bronkietasis.
Asma juga termasuk PPOM, terutama sebagai komponen hiperaktifitas jalan
nafas PPOM merupakan penyakit dengan karakteristik
adanya obstruksi jalan nafas dan menurunnya frekuensi nafas, terdiri dari
asma, bronchitis kronis dan emfisema.
Factor resiko PPOM yaitu usia 65-84 tahun, jenis kelamin laki-laki,
dengan penurunan fungsi paru, polusi udara, perokok pasif, riwayat alergi,
nutrisi buruk, alcoholic.
Tanda dan gejala meliputi riwayat dispnu progresif, batuk, mengi, dan
produksi sputum biasanya pagi hari (Listello, Glauser, 1992). Beberapa
gejala yang dapat diidentifikasi pada penderita PPOM yaitu sesaknafas,
batuk disertai sputum, terjadi penurunan berat badan serta kelelahan
(fatique).
2) Tuberculosis
Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular kronik yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Gejala dan tanda
yang dapat diidentifikasi yaitu batuk lebih dari 3 minnggu, batuk produktif
ataupun kering, penurunann berat badan dan keringat malam hari.
Penularannya melalui inhalasi droplet di udara dari batuk atau bersinnya
orang yang terinfeksi.
TB terbagi dua yaitu primer dan aktif, dimana TB primer dimulai dari
inhalasi droplet yang terinfeksi dan berkumpul di lobus paru atas sebagian
tempat ventilasi terbesar, sebab kuman ini merupakn kuman aerob. System
imun tubuh akan memberikan respon untuk melokalisir peradangan dengan
cara membuat dinding disekitar bakteri.
Sedangkann TB aktif memicu gejala inflamasi jalan nafas yang
berkembang menjadi lesi dan nikrosis jaringan
Kuman TB memiliki kemampuan untuk tidak aktif (dormant) didalam
tubuh penderita bertahun-tahun. Pada lansia yang menderita TB, mungkin
kuman itu sudah dormant sejak lama, dan menjadi reaktif saat terjadi
perubahn system imun pada lansia. Prognosis lansia dengan tuberculosis
akan baik jika obat diminum secara teratur dan asupan nutrisi baik.
3) Influenza
Influenza yaitu penyakit yang diakibatkan oleh virus Haemovilus
Influenza dan memicu gejala bersin-bersin, batuk, pilek, demam,
menggigil, anoreksia dan malaise. Klien lansia yang sering tidur telentang
mudah terkena influenza sebab telah terjadi penurunan kemampuan
mengeluarkan secret dan perlindungan jalan nafas. Prognosis influenza
cukup jelek sebab 80-90 % lansia di Amerika meninggal sebab penyakit
ini.
4) Pneumonia
Pneumonia merupakan inflamasi parenkim paru, biasanya alveoli
dipenuhi cairan (Kersten, 1989). Dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau
aspirasi. Dirawat apabila TTV tidak stabil, leucopenia, hipoksemia dan PaO2
< 60 mmHg ,Diagnose Pneumonia didasari
adanya riwayat influenza, dengan hasil laboratorium menunjukan
penurunan jumlah leukosit, dan kultur darah menunjukkan adanya bakteri
gram. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu efusi pleura. Penderita
pneumonia memiliki prognosis jelek akibat penurunan fungsi imunitas,
penyakit kronik dan penurunan reflex batuk.
Proses penuaan merupakan suatu proses fisiologis yang selalu terjadi pada
setiap makhluk hidup. Penuaan atau proses menua/menjadi tua (aging) yaitu
menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/
menganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak
dapat bertahan terhadap jejas dan memperbaiki kerusakan yang di derita. Proses
ini meliputi seluruh orang tubuh termasuk kulit yang merupakan salah satu
jaringan tubuh yang secara langsung memperlihatkan terjadinya proses penuaan
Proses penuaan bisa dipicu dari berbagai faktor yaitu faktor
exsternal (Radikal bebas, sinar matahari, polutan) dan faktor internal (kesehatan,
berkurangnya struktur elastin, dan kolagen pada kulit, sistem imun, perubahan
hormonal). Penuaan dini dapat terjadi pada usia produktif, yang ditandai dengan
gejala seperti kondisi kulit kering, bersisik kasar yang disertai dengan munculnya
keriput, cepat kendur dan noda hitam atau flek
Penuaan kulit yang dipicu faktor internal yang di artikan sebagai
penuaan alami dan dirangsang oleh perabaan elastisitas kulit. Kolagen merupakan
suatu protein yang ada pada lapisan atas kulit yang berfungsi untuk
melekatkan jaringan ikat yang banyak ditemukan pada exstrceluller matrix
(ECM). Jika protein ini rusak, maka memicu perubahan susunan jaringan
kulit sehingga bisa menimbulkan proses penuaan.
Faktor internal lainnya yaitu suatu enzim elastase yang berfungsi
memecah elastin, kolagen, fibronektin, dan protein lain yang ada dalam
ECM, berfungsi untuk memperbaiki kerusakan jaringan dalam kondisi normal
namun sebab adanya paparan kronis dari UVI (ultrafiolet), kolagen dan elastase
pada lapisan dermis kulit akan memicu keriput dan proses photoaging
Faktor eksternal proses penuaan berasal sebagian besar dari radikal
bebas. Radikal bebas ini akan menginduksi pembentukan ROS (reactive oxygen
species). Radikal bebas merupupakan suatu molekul atom yang memiliki elektron
tidak memiliki pasangan , Pembentukan ROS ini jika
diproduksi berlebih memicu terjadinya stres oksidatif. Ster oksidatif yaitu
ketidak seimbangan antara jumlah ROS dan aktivitas antioksidan didalam tubuh.
Stres oksidatif yang parah dapat memicu kerusakan sell hingga kematian
sell ,
Salah satu cara untuk melindungi kulit dari kerusakan oksidasi dan
proses penuaan yaitu pemakaian anti oksidan yang bisa dikonsumsi melalui
makanan seperti vitamin A,C,E dari sayuran atau buah-buahan Dan berasal dari bahan alam salah satunya bunga melati putih. Bunga
melati putih (jasminumsambac) merupakan salah satu tanaman yang sering di
temukan di indonesia. Bunga melati putih biasa dimanfaatkan sebagai bunga
tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetik, farmasi, penghias rangkaian
bunga, dan bahan campuran atau pengharum teh
Pemanfaatan bunga melati dalam bidang kosmetika dan kecantikan dapat
digunakan sebagai salah satu antipenuaan sebab bunga melati mengandung
aktifitas anti oksidan
Penelitian sebelumnya bunga
melati sering digunakan untuk perawatan kulit dalam bentuk lulur atau di oleskan
langsung ke wajah. Pada hasil skrining uji fitokimia yang dilakukan, didapatkan
kandungan senyawa bio aktif alkaloid, flavonoid dan tanin. Pada penelitian
sebelumnya exstrat etanol bunga melati diketahui mengandung flavonopid, fenol,
saponin, dan steroid yang memiliki potensi sebgai antioksidan dan antiaging
Flavonoid merupakan suatu senyawa fenolid atau poli fenol yang
memiliki kemampuan untuk mengubah atau mereduksi radikal bebas sebab
memiliki sifat sebagai anti oksidatif yang berperan dalam mencegah kerusakan
sel dan komponen selularnya oleh radikal bebas reaktif
Flavonoid juga dapat di temukan pada bunga melati spesies jasminum ovicinale
yang berfungsi sebagai antioksidan
Diharapkan mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang konsep
penuaan , sehingga dapat memberikan informasi pada masyarakat dan bisa
menjadi acuan serta pedoman bagi dalam memberikan asuhan keperawatan di
rumah sakit nantinya
Menua yaitu suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya
sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang
diderita.
Proses menua merupakan proses yang terus-menerus (berlanjut) secara alamiah.
Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami semua makhluk hidup . Proses menua setiap
individu pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya. Ada kalanya orang belum
tergolong lanjut usia (masih muda) tetapi mengalami kekurangan-kekurangan yang
menyolok atau diskrepansi
2. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Proses Menua
Menurut Siti Bandiyah (2009) penuaan dapat terjadi secara fisiologis dan patologis.
Penuaan yang terjadi sesuai dengan kronologis usia. Faktor yang mempengaruhi antara
lain :
a. Hereditas atau Genetik
Kematian sel merupakan seluruh program kehidupan yang berkaitan dengan peran
DNA yang penting dalam mekanisme pengendalian fungsi sel. Secara genetic,
perempuan ditentukan oleh sepasang kromoson X sedangkan laki-laki oleh satu
kromosom X. kromosom X ini ternyata membawa unsure kehidupan sehingga
perempuan berumur lebih panjang daripada laki-laki.
b. Nutrisi/Makanan
Berlebihan/kekurangan mengganggu keseimbangan reaksi kekebalan
c. Status kesehatan
Penyakit yang selama ini selalu dikaitkan dengan proses penuaan, sebenarnya buka
dipicu oleh proses menuanya sendiri, tetapi lebih dipicu olehfaktor luar
yang merugikan yang berlangsung tetap dan berkepanjangan
d. Pengalaman hidup
1) Paparan sinar matahari : kulit yang tak terlindungi sinar matahari akan mudah
ternoda oleh flek, kerutan, dan menjadi kusam
2) Kurang olahraga : olahraga membantu pembentukan otot dan memicu
lancarnya sirkulasi darah
3) Mengkonsumsi alcohol : alcohol dapat memperbesar pembuluh darah kecil pada
kulit dan memicu peningkatan aliran darah dekat permukaan kulit.
e. Lingkungan
Proses menua secara biologic berlangsung secara alami dan tidak dapat dihindari,
tetapi seharusnya dapat tetap dipertahankan dalam status sehat
f. Stress
Tekanan kehidupan sehari-hari dalam lingkungan rumah, pekerjaan, ataupun
masyarakat yang tercermin dalam bentuk gaya hidup akan berpengaruh terhadap
proses penuaan
3. Teori Proses Menua
Teori proses Menua secara umum menurut Lilik ma’rifatul (2011) dapat dibedakan
menjadi dua yaitu teori biologi dan teori penuaan psikososial.
a. Teori biologi
1) Teori seluler
Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan kebanyakan
sel-sel tubuh “diprogram” untuk membelah 50 kali. Jika sel pada lansia dari tubuh
dan dibiakkan di laboratorium, lalu diobrservasi, jumlah sel-sel yang akan
membelah, jumlah sel yang akan membelah akan terlihat sedikit. pada beberapa
sistem, seperti sistem saraf, sistem musculoskeletal dan jantung, sel pada jaringan
dan organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut dibuang sebab
rusak atau mati. Oleh sebab itu, sistem tersebut beresiko akan mengalami proses
penuaan dan mempunyai kemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali untuk
tumbuh dan memperbaiki diri
2) Sintesis protein (kolagen dan elastis)
Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya pada lansia. Proses
kehilangan elastiaitas ini di hubungkan dengan adanya perubahan kimia pada
komponen protein dalam jaringan tertentu. Pada lansia beberapa protein (kolagen
dan kartilago, dan elastin pada kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan
struktur yang berbeda dari protein yang lebih muda. Contohnya banyak kolagen
pada kartilago dan elastin pada kulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta
menjadi lebih tebal, seiring dengan bertambahnya usia . Hal ini dapat lebih mudah dihubungkan dengan perubahan
permukaan kulit yang kehilangan elastisitasnya dan cenderung berkerut, juga
terjadinya penurunan mobilitas dan kecepatan pada system musculoskeletal
3) Keracunan oksigen
Teori tentang adanya sejumlah penurunaan kemampuan sel di dalam tubuh untuk
mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat racun dengan kadar yang
tinggi, tanpa mekanisme pertahan diri tertentu. Ketidakmampuan
mempertahankan diri dari toksink tersebut membuat struktur membran sel
mengalami perubahan dari rigid, serta terjadi kesalahan genetik Membran sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitas
sel dalam berkomunikasi dengan lingkungannya yang juga mengontrol proses
pengambilan nutrisi dengan proses ekskresi zat toksik di dalam tubuh. Fungsi
komponen protein pada membran sel yang sangat penting bagi proses diatas,
dipengaruhi oleh rigiditas membran tersebut. Konsekuensi dari kesalahan genetik
yaitu adanya penurunan reproduksi sel oleh mitosis yang mengakibatkan jumlah
sel anak disemua jaringan dan organ berkurang. Hal ini akan memicu
peningkatan kerusakan sistem tubuh
4) Sistem imun
Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan. Walaupun
demikian, kemunduran kemampuan sistem yang terdiri dari sistem limfatik dan
khususnya sel darah putih, juga merupakan faktor yang berkontribusi dalam
proses penuaan. Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca tranlasi, dapat
memicu berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya
sendiri. Jika mutasi isomatik memicu terjadinya kelainan pada antigen
permukaan sel, maka hal ini akan dapat memicu sistem imun tubuh
menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai selasing dan
menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa
autoimun. Disisi lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami
penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi
menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah
5) Teori menua akibat metabolisme
pengurangan “intake” kalori pada rodentia muda akan menghambat pertumbuhan
dan memperpanjang umur. Perpanjangan umur sebab jumlah kalori tersebut
antara lain dipicu sebab menurunnya salah satu atau beberapa proses
metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon yang merangsang purferasi
sel misalnya insulin dan hormon pertumbuhan.
b. Teori psikososial
1) Aktifitas atau kegiatan
Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara keaktifannya
setelah menua. Sense of integrity yang dibangun dimasa mudanya tetap
terpelihara sampai tua. Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang
sukses yaitu mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial
2) Kepribadian berlanjut (Continuity theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Identity
pada lansia yang sudah mantap memudahkan dalam memelihara hubungan
dengan masyarakat, melibatkan diri dengan masalah di masyarakat, keluarga
dan hubungan interpersonal
3) Teori pembebasan ( Disengagement theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secra
pelan tetapi pasti mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau
menarik diri dari pergaulan sekitarnya
Proses menua atau penuaan yaitu sesuatu hal yang tidak dapat kita hindari. Proses
tersebut merupakan proses biologik yang alami ditandai dengan berbagai macam perubahan-
perubahan jaringan yang disebabkan berbagai faktor serta dipengaruhi oleh waktu. Proses ini
juga ditandai dengan kemunduran kemampuan sel dalam menjalankan fungsinya (degeneratif
sel) bahkan sampai kematian. Proses ini mempengaruhi berbagai jaringan dan organ dalam tubuh
manusia. Hal ini sebab proses penuaan mempengaruhi perubahan sel-sel tubuh.
Perubahan tersebut termasuk pada perubahan yang terjadi di rongga mulut manusia. Dalam
rongga mulut sendiri terdapat beberapa organ, yang diklasifikasikan menjadi jaringan keras dan
jaringan lunak. Seperti halnya jaringan lain, jaringan periodontal dan anggota kraniofasial juga
mengalami perubahan akibat dari proses menua.
Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti terjadi perubahan struktur
anatomik dan fungsi sel maupun jaringan
disebabkan oleh penyimpangan didalam sel/jaringan dan bukan oleh faktor luar (penyakit).
Menghambat penuaan berarti mempertahankan struktur anatomi pada suatu tahapan kehidupan
tertentu sepanjang mungkin maka untuk ini diperlukan penguasaan ilmu anatomi. Terjadinya
perubahan anatomik pada sel maupun jaringan tiap saat dalam tahapan kehidupan menunjukan
bahwa anatomi yaitu ilmu yang dinamis.
Untuk lebih jelasnya mengenai proses menua dibahas secara lengkap pada makalah ini.
Menua yaitu suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan
untuk memperbaiki diri atau menggantikan sel-sel yang rusak dan mempertahankan struktur dan
fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan
memperbaiki kerusakan yang diderita.
Proses penuaan yaitu proses yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Pada proses
ini terjadi perubahan jaringan tubuh yang sangat kompleks, demikian pula halnya pada jaringan
rongga mulut. Proses menua bersifat regresif dan mencakup proses organobiologis, psikologik
serta sosial budaya.
Proses penuaan memiliki beberapa tahap:
1. tahap subklinis (25-35 tahun):
Hormon mulai menurun
Terjadi pembentukan radikal bebas, kerusakan sel dan DNA
sebab masih ringan, secara kasat mata belum terlihat dan kondisi fisik
masih normal
2. tahap transisi (35-45 tahun):
Penurunan hormone mencapai 25%
Massa otot menurun
Lemak meningkat
Elastisitas kulit mengendur, terjadi pigmentasi
Radikal bebas mulai merusak dan muncul penyakit
Secara fisik, penuaan mulai terlihat
3. tahap klinis (45 tahun ke atas):
Hormon menurun
Massa tulang semakin berkurang
Kemampuan menyerap nutrisi, vitamin, dan mineral berkurang
Gangguan fungsi seksual akibat penurunan hormon
Perubahan fisiologis Proses Menua
Perubahan-perubahan didalam rongga mulut, sebab proses penuaan sebagian
berhubungan dengan perubahan-perubahan local dan systemic, psychologik seseorang
hendaknya tidak ditentukan berdasarkan umur biologinya. faktor-faktor yang menjadi salah satu
pertimbangan dalam mengevaluasi seseorang yang berdasarkan keadaan biologinya yaitu
kapasitas mentalnya, kapasitas berbagai fungsi organ-organnya, responnya terhadap stress, serta
penampilannya.
Atrofi dan kematian sel akan menyebabkan perubahan fisik dan mental individu.
Perubahan fisik menyebabkan terjadi penurunan kinerja organ/sistem dalam tubuh. Penurunan
kinerja tubuh pada lansia merupakan hal yang fisiologis. Namun adanya faktor lingkungan yang
berperan besar pada kinerja tubuh maka proses patologis ikut berperan. Untuk menentukan
penyebab perubahan pada lansia perlu diperhatikan riwayat dari perubahan, yang meliputi
kecepatan, lamanya, besarnya, dan letak/tempat perubahan.
Hal yang perlu diperhatikan yaitu bahwa penuaan dapat dibedakan menjadi :
a. penuaan yang normal (fisiologis)
b. penuaan sebab penyakit (patologis)
Penting untuk membedakan antara kejadian yang merupakan tanda penuaan normal dengan yang
disebabkan oleh penyakit yang biasanya lebih sering terjadi pada orang lanjut usia. Perubahan
yang benar disebabkan oleh usia harus memenuh kriteria berikut :
Perubahan yang terjadi sebab usia tidak harus bersifat merusak
Perubahan berlangsung secara progresif
Perubahan terjadi pada seluruh anggota spesies
Perubahan bersifat irreversible.
2.2 Faktor yang mempengaruhi proses penuaan
Proses penuaan dipicu oleh laju peningkatan radikal bebas dan system penawaran racun
yang semakin berubah seiring berjalannya usia. Faktor proses penuaan terdiri dari :
a. Faktor genetik
• Penuaan dini
• Resiko penyakit
• Intelegensia
• Pharmakogenik
• Warna kulit
• Tipe/ kepribadiaan seseorang
b. Faktor endogenik
• Perubahan structural dan penurunan fungsiona
• Kemampuan/ skill menurun
• Kapasitas kulit untuk mensintesis vitamin D
c. Faktor eksogenik (faktor lingkungan dan gaya hidup)
• Diet/ asupan zat gizi
Radang mukosa dapat dikaitkan dengan kekurangan vitamin B12, riboflavin dan zat besi pada
diet pasien lanjut usia. Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan lambatnya penyembuhan
luka, kerapuhan kapiler, dan perdarahan serta pembengkakan pada gingiva.
Nutrisi yang adekuat sangat dibutuhkan. Terutama protein. sebab protein berguna untuk
mempertahankan dan memperbaiki jaringan lunak dan jaringan keras. Nitrogen dan asam amino
yang diperoleh dari protein sangat diperlukan untuk sintesis hormone, enzim, plasma protein dan
hemoglobin. Pada rongga mulut, kekurangan protein sering dikaitnya dengan degenerasi
jaringan ikat gingiva, membaran periodontal dan mukosa. Kekurangan protein sering juga
dikaitkan dengan percepatan kemunduran tulang alveolus.
• Obat
• Penyinaran Ultra Violet
• Polusi
2.3 Perubahan yang terjadi pada rongga mulut dan
kraniofasial
Perubahan pada jaringan keras
a. Pengaruh penuaan terhadap sendi TMJ dan persyarafan
Perubahan pada sendi Temporo Madibular Junction sering terjadi pada usia 30-50 tahun.
Perubahan ini terjadi akibat dari proses degenerasi sehingga melemahnya otot-otot mengunyah
yang mengakibatkan sukar membuka mulut secara lebar.
1. Pengaruh pengurangan jumlah gigi akibat penaan, terutama di gigi posterior telah
diindikasikan sebagai penyabab gangguan TMJ. Hal ini sebab condilust mandibula akan
mencari posisi yang nyaman pada saat menutup mulut. Inilah yang memicu perubahan letak
condilust pada fossa glenoid dan menyebabkan kelainan pada TMJ
2. Akibat penuaan jmengakibatkan kontraksi otot bertambah panjang saat menutup mulut. Hal ini
menyebabkan kerja sendi lebih kompleks.
3. Penuaan mengakibatkan remodeling (degradasi makromolekul sel dan ekstraselular secara
continue pada struktur dan fungsi jaringan konektif) pada sendi. Remodeling ini merupakan
adaptasi biologis terhadap lingkungan yaitu respon stress biomekanis. Contohnya remodeling
sebagai kompensasi gigi yang telah dicabut. Akibat proses menua, jaringan sendi mnegalami
reduksi sel yang progresif. Remodeling terjadi pada bagian anterior dan posterior kondil medial
dan lateral dan atap fossa glenoid.
Perubahan umum
- Berkurangnya kemampuan proliferasi secara keseluruhan sehingga bila terjadi kerusakan atau
kematian sel jaringan TMJ :
o Kemampuan untuk melakukan reparasi menurun
o Menurunya kemampuan reaksi jaringan terjadap rangsangan pertumbuhan
o Menurunya respon imun dan menurunya kemampuan pembentukan protein akibat rangsangan
dari luar
b. tulang rawan sendi
- Menurunya ketebalan lapisan fibro kartilago pada permukaan condilust sendi
- Terjadi degenerasi dari kondrosit sehingga munurunya kemampuan kartilago terhadap
rangsangan tekanan
Cairan synovial menurun sehingga :
- memiliki kelancaran pergerakan diskus artikularis
- Terjadi krepitasi pada gerak sendi dan pada keadaan yang lebih parah diskus artikulasi akan
robek atau mengalami kerusakan
c. Gigi
Secara umum :
• Email aus akibat pengunyahan.
• Warna lebih gelap sebab penambahan bahan organik atau warna dentin yg terlihat sebab
menipisnya lapisan email.
• Permeabilitas email menurun sebab mengecilnya mikro pori email (celah diantara molekul
pembentuk kristal) à tidak bisa dimasuki oleh bbrp zat, contoh Ca, tapi dpt dimasuki oleh
mineral yg lebih kecil dari Ca, mis F.
• Kandungan air di email menurun.
• Komposisi permukaan email berubah, seperti penambahan kandungan fluor pada lingkungan
mulut insidens karies berkurang
• Dan juga terjadi atrisi, abrasi dan erosi.
Tulang
rawan
Kondrosit mengalami
degenerasi
Permukaan tulang rawan
kasar dan berlubang
Tulang rawan
rapuh
Retakan
pada sendi
Matriks dan struktur
tulang rawan menipis
Seluruh sendi
mengalami kekakuan
Sendi tidak bisa bergerak
secara normal
- Atrisi
Hilangnya suatu subtansi gigi secara bertahap akibat pengunyahan. Penyebabnya yaitu proses
pengunyahan didukung oleh kebiasaan buruk seperti mengunyah sirih.
- Erosi
Melarutnya email gigi dan asam disebabkan hilangnya jaringan keras dan tida melibatkan
bakteri. Penyebabnya yaitu makanan dan minuman yang mengandung asam, asam yang timbul
akibat gangguan pencernaan, dan asam dengan PH < 5,5.
Erosi dimulai dari adanya pelepasan ion kalsium, jika hal ini berlanjut maka akan menyebabkan
kehilangan dari prisma enamel dan dilanjutkan dengan adanya porositas. Porositas menyebabkan
kekerasan lapisan enamel gigi berkurang.
- Abrasi
Terkikisnya lapisan email gigi sebab faktor mekanik. Disebabkan oleh cara menyikat gigi yang
tidak tepat, kebiasaan buruk seperti mengunyah tembakau, menggunakan tusuk gigi yang
berlebihan di antara gigi dan penataan gigi tiruan lepasan yang menggunakan cengkeram.
Abrasi disebabkan oleh gaya friksi (gesekan) langsung antara gigi dan objek eksternal, atau
sebab gaya friksi antara gigi yang berkontak dengan benda abrasive.
Abrasi yang disebabkan oleh penyikatan gigi dengan arah horizontal dan dengan penekanan
berlebihan yaitu bentuk yang paling sering ditemukan.
Gambaran klinis biasanya terlihat sebagai cekungan tajam di daerah sepertiga bawah mahkota
gigi, didekat gusi, dengan takikan berbentuk V pada bagian gingiva dari aspek fasial gigi. Bila
abrasi terjadi akibat pemakaian tusuk gigi, selah, atau takikan ini dapat terjadi di celah gigi.
Gigi yang paling sering terkena yaitu gigi premolar dan caninus.
Selain mengganggu penampilan, abrasi gigi dapat menyebabkan gigi menjadi hipersensitif. Pada
sebagian orang, di daerah tersebut akan terasa ngilu bila terkena minuman dingin atau bila ada
hembusan angin.
Dentin
Reaksi kompleks dentin pada proses penuaan ialah terjadinya pembentukkan:
- Dentin Sekunder, yang merupakan kelanjutan dentinogenesis serta reduksi jumlah odontoblas
- Dentin Tersier, respon rangsangan dan odontoblast berdesakan serta tubulus dentin bengkok
- Dentin Sklerotik, karies terhenti/ berjalan sangat lambat dan tubulus dentin menghilang
- Dead Tracks (Sal. Mati), tubulus dentin kosong.
Pulpa
- Rongga pulpa berkurang besarnya sebab pembentukan dentin sekunder atau pembentukan
dentin sbg mekanisme pertahanan pulpa (dentin reparatif).. Pada orang tua tidak jarang bahwa
pulpanya sama sekali hilang akibat dari rangsangan eksterna yang terus menerus atau dari satu
kali rangsangan yang lebih kuat, misalnya setelah trauma.
- Peningkatan kalsifikasi jaringan pulpa
- Penurunan komponen seluler dan vaskuler
- Peningkatan kolagen jaringan pulpa
- Dapat terjadi pengapuran yg tidak teratur à pulp stones
- Terjadi pengurangan jumlah dan penurunan kualitas dari dinding pembuluh darah dan saraf
vaskularisasi dan inervasi pulpa menurun serta reaktifitas pulpa berkurang.
d. Tulang alveolar
- Setelah tanggalnya gigi geligi, tulang alveolar di sekitar gigi geligi dan soketnya perlahan-lahan
akan teresorpsi pada kedua belah rahang. Rahang akan saling berhubungan lebih dekat satu sama
lain saat mulut ditutup. Di rahang atas resorpsi tulang alveolar dapat berkembang lebih jauh pada
region pipi.
- Terjadi resorbsi dari processus alveolaris, terutama setelah pencabutan gigi.
- Resorbsi tulang alveolar menyebabkan pengurangan jumlah tulang akibat kerusakan tulang
sebab adanya peningkatan osteoklast (fungsinya : perusakan tulang) sehingga terjadi proses
osteolisis dan peningkatan vaskularisasi
Perubahan pada jaringan lunak
a. Kelenjar Saliva
Telah diketahui bahwa fungsi kelenjar saliva yang mengalami penurunan merupakan
suatu keadaaan normal pada proses penuaan manusia. Lansia mengeluarkan jumlah saliva yang
lebih sedikit pada keadaan istirahat, saat berbicara, maupun saat makan. Keluhan berupa
xerostomia atau mulut kering sering ditemukan pada orang tua daripada orang muda yang
disebabkan oleh perubahan sebab usia pada kelenjar itu sendiri. Fungsi utama dari saliva yaitu
pelumasan, buffer, dan perlindungan untuk jaringan lunak dan keras pada rongga mulut. Jadi,
penurunan aliran saliva akan mempersulit fungsi bicara dan penelanan, serta menaikkan jumlah
karies gigi, dan meningkatkan kerentanan mukosa terhadap trauma mekanis dan infeksi
microbial. Berdasarkan penelitian terjadinya degenerasi epitel saliva, atrofi, hilangnya asini dan
fibrosis terjadi dengan frekuensi dan keparahan yang meningkat dengan meningkatnya usia.
Secara umum dapat dikatakan bahwa saliva nonstimulasi (istirahat) secara keseluruhan
berkurang volumenya pada usia tua. Xerostomia juga dapat disebabkan oleh pemakaian obat-
obatan oleh pasien, biasanya untuk mengatasi keluhan pencernaan, depresi, atau insomnia
b. Mukosa Mulut
Mukosa rongga mulut memiliki sedikit toleransi atau lebih sensitif terhadap iritasi dan
cedera, toleransi ini makin menurun jika terdapat kelainan sistemik. Perubahan mukosa pada
pemakaian gigi tiruan di gambarkan sebagai batas patologis tetapi 3tanpa peradangan klinis
yang nyata, penurunan penandukan atau ketebalan mukosa biasa terjadi pada mukosa pendukung
gigi tiruan. Wanita pemakai gigi tiruan memiliki mukosa yang lebih tipis daripada pria
pemakai gigi tiuan, dan menunjukkan predisposisi yang lebih besar terhadap kerusakan mukosa.
Kira-kira sepertiga pengguna gigi tiruan dengan mukosa yang secara klinis tampak normal, dari
pemeriksaan histologis menunjukkan adanya kerusakan mukosa. Luasnya kerusakan juga
berkaitan dengan lamanya pemakaian gigi tiruan. Pemeriksaan sitologik terhadap mukosa
pendukung juga menunjukkan adanya penurunan dalam jumlah sel yang mengalami penandukan.
Tetapi respon epitel mulut terhadap pemasangan gigi tiruan berbeda-beda, seringkali peradangan
mukosa berjalan secara bertahap tanpa adanya rasa sakit. Beberapa perubahan intra oral dapat
terlihat termasuk kelenjar sebasea yang menonjol yang kemungkinan disebabkan oleh penipisan
mukosa dan beberapa permukaan mukosa yang tampak halus.
c. Lidah dan Pengecapan
Lidah mungkin menjadi halus dan mengkilat atau merah dan meradang. Bermacamaam
gejala dapat terjadai pada mukosa lidah, dengan keluhan-keluhan nyeri, panas, atau sensari rasa
yang berkurang. Sensasi ini biasanya pada orang uisa lanjut dan pada wanita pasca menopause.
Permukaan lidah ditutupi oleh banyak papilla pengeecap, terdapat empat tipe papilla yaitu
papilla filiformis, fungiformis, sirkumvalata, dan foliate. Sebagian papilla pengecap terletak di
lidah dan beberapa ditemukan pada palatum, epiglottis, laring dan faring. Pada manuasia terdapat
sekitar 10.000 putik kecap, dengan bertambahnya umur jumlahnya dapat berkurang secara
drastis.
d. Ligamen periodontal
Proses menua pada ligamen periodontal mengakibatkan berkurangnya fibroblas dan
strukturnya lebih irregular, berkurangnya produksi matriks organik dan sisa sel epitel serta
meningkatnya jumlah serat elastis. . Perubahan lain pada ligamen periodontal terjadi penurunan
kepadatan sel dan aktivitas mitosis, dan hilangnya asam mukopolisakarida. Semakin dikit gigi
yang masih ada akan semakin besar proporsi beban oklusalnya, hal ini mengakibatkan
melebarnya ligament periodontal dan meningkatnya mobilitas gigi.
e. Gingiva
Proses menua pada gingiva, keratinisasi epitel gingiva menipis. Keadaan ini berarti
permeabilitas terhadap antigen bakteri meningkat. Pada gingival juga terjadi resesi, atropi,
hilangnya bintil-bintil permukaan, berkurangnya jaringan ikat, turunnya oksidasi dan
jugametabolisme jaringan.
Perubahan pada anggota kraniofasial
a. Perubahan pada otot-otot wajah dan sendi rahang
- Otot-otot wajah berpartisipasi dalam fungsi penelanan, pengunyahan, dan bicara. Otot-otot
wajah mengalami atropi, menurunnya tonus otot dan kadang-kadang dijumpai fibrosis otot
mengakibbatkan fungsi pengunyahan dan penelanan berkurang.
- Hilangnya serabut otot untuk gerakan mandibula berkaitan dengan penambahan usia. Reduksi
lebih lanjut pada ketebalan otot rahang juga terjadi, tetapi lebih sering pada orang tak bergigi.
- Koordinasi dan kekuatan otot menurun sehingga terjadi pergerakan yang tidak terkontrol dari
bibir, lidah, dan rahang.
- Umumnya gerakan mandibula tidak terganggu dan sendi rahang tetap berfungsi dengan baik.
Namun apabila terjadi gangguan sendi rahang kemungkinan sebab tekanan yang melampaui
batas sehingga sendi rahang tidak mampu untuk menahan tekanan yang ada dan keadaan ini
diperhebat sebab proses degenerasi sendi.
- Kelainan sendi rahang yaitu dislokasi sendi/ sub-luksasi, osteosthrosis dan clicking.
b. Iris
Mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang dan mengalami depigmentasi tampak
ada bercak berwarna muda sampai putih dan strukturnya menjadi lebih tebal
c. Pupil
Konstriksi, mula-mula berdiameter 3mm, pada usia tua terjadi 1 mm, reflek direk lemah,
kemampuan akomodasi menurun. Pupil pada orang muda menghantar sinar 6x lebih besar
dibanding orang ber-usia 80 tahun. Pada tempat yang gelap orang yang berusia 20 tahun
menerima sinar 16x lebih besar.
d. Retina
Terjadi degenerasi (Senile Degenaration). Gambaran Fundus mata yang mula-mula merah jingga
cemerlang menjadi suram dan ada jalur berpigmen (Tygroid Appearance) terkesan seperti kulit
harimau. Jumlah sel fotoreseptor berkurang sehingga adaptasi gelap dan terang memanjang dan
terjadi penyempitan lapangan pandang, ini disebabkan terlambatnya regenerasi dari rodopsin.
Proses menua yaitu suatu proses yang alami dimana terjadi kemunduran dan
berkurangnya kemampuan sel dalam melaksanakan berbagai fungsinya. Faktor yang
mempengaruhi proses penuaan terdiri dari faktor genetic faktor endogenik, dan faktor eksogenik.









