Tampilkan postingan dengan label Sakit kepala migren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sakit kepala migren. Tampilkan semua postingan

Sakit kepala migren

 





SARAF

SAKIT KEPALA

(Tension-Type Headache)

Pembimbing : dr. Saleh Al Mochdar Sp. BS, MHKes.

Kelas C / Kel. 4

Winni Amalia H 2010-11-151

Witri Febrinia 2010-11-152

Yuliana Ratnasari 2010-11-154

Dentadio Gonanda 2010-11-156

Dhyandra Sekar Ayu 2010-11-158

Tiara Yulian Utari 2010-11-159

Bella Furati Mewla 2010-11-160

I Dewa Gede P K 2010-11-161

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)

2013

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sakit kepala merupakan gejala umum yang timbul dari adanya gangguan

psikologis,  mata,  telinga,  syaraf  atau  penyakit  sistemik.1 Pada  tahun  2007,

International  Headache Society menyepakati  system klasifikasi  atau jenis-jenis

sakit  kepala.2 Banyak  oranag yang  menderita  sakit  kepala,  namun pengobatan

sakit kepala terkadang sulit dilakukan.

Sakit  kepala  diklasifikasikan  menjadi  sakit  kepala  primer,  sakit  kepala

sekunder dan neuralgia kranial berupa nyeri fasial serta sakit kepala lainnya.3 Pada

sakit  kepala  primer,  yang  sering  dijumpai  tension-type  headache (TTH).

Prevalensi TTH sampai dengan 90%, hampir seluruh orang dewasa mengalami

jenis sakit kepala ini.2 Sakit kepala ini lebih sering diderita wanita daripada pria.

Sakit kepala merupakan rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan

kepala yang berasal dari struktur sensitif terhadap rasa sakit.1 Dalam makalah ini,

akan dibahas mengenai definisi dan etiologi sakit kepala, klasifikasi sakit kepala

dan  menjelaskan  tentang  sakit  kepala  bagian  jenis  primer  yaitu  Tension-type

headache (TTH).

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan sakit kepala?

2. Apa saja klasifikasi sakit kepala?

3. Apa yang dimaksud dengan TTH?

4. Bagaimana diagnosis TTH?

5. Bagaimana terapi TTH?

C. Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan mengenai definisi sakit kepala.

2. Menjelaskan mengenai klasifikasi sakit kepala.

3. Menjelaskan mengenai diagnosis TTH.

4. Menjelaskan mengenai terapi TTH.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Etiologi

Sakit  kepala  adalah  rasa  sakit  atau  tidak  nyaman  antara  orbita  dengan

kepala  yang  berasal  dari  struktur  sensitif  terhadap  rasa  sakit.1  Penyebab  sakit

kepala antara lain karena adanya kelainan vascular, jaringan saraf, gigi geligi 

Penyebab nyeri kepala dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu intrakranial dan

ekstrakranial.  Intrakranial  merupakan nyeri  yang berasal dari  dalam tempurung

kepala sedangkan ekstrakranial merupakan nyeri yang berasal dari luar tempurung

kepala. Faktor intrakranial adalah nyeri yang berasal dari bagian-bagian di sekitar

otak seperti pembuluh darah, selaput otak, cairan otak (Liquor), syaraf dan periost

dari  tulang.  Sedangkan  faktor  ekstrakranial  meliputi  kelainan  pada  sinus

(sinusitis), hidung, mata dan telinga.6

Faktor  intrakranial  contohnya  infeksi  di  otak  seperti  meningitis  yaitu

infeksi pada cairan otak dan encephalitis yaitu infeksi   pada otak yang biasanya

ditandai dengan panas, disertai nyeri hebat, kejang serta leher kaku (tanda khas

meningitis)  dan  penurunan  kesadaran  (tanda  khas  encephalitis).  Penyebab

intrakranial lain yang sering adalah perdarahan otak, umumnya terjadi perdarahan

dari  kelainan  di  pembuluh  darah  otak  (aneurisma).  Gejala  yang  ditimbulkan

berupa  rasa  nyeri  yang  hebat,  sampai  membuat  penderita  pingsan.  Timbulnya

mendadak dan sering menimbulkan kematian karena sering terjadi tiba-tiba saat

aktifitas walaupun tanpa faktor resiko yang mendahului.6

Faktor  ekstrakranial  dapat  terjadi  pada  kulit  dan  lapisan-lapisannya.

Seperti misalnya benturan yang terjadi bisa membuat rusak pada lapisan-lapisan

kulit  sehingga  sampai  terjadi  perdarahan  yang  menyebabkan  kepala  menjadi

bengkak.  Struktur  peka  nyeri  ekstrakranial  meliputi  kulit  kepala,  periosteum,

arteri  (a.frontalis,  a.temporalis,  a.occipitalis),  saraf  (n.frontalis,  n.temporalis,

n.occipitalis  mayor  atau  minor),  otot  (m.frontalis,  m.temporalis,  m.occipitalis).

Sakit yang  ditimbulkan  sifatnya  akut  tapi  tidak  terlalu  lama.  Penyebab

ekstrakranial  lainnya  adalah  kelainan  pada  mata  seperti  misalnya  glaukoma.

Glaukoma  merupakan  tekanan  di  bola  mata  meningkat  sehingga  dapat

memberikan rasa nyeri  di sekitar mata sampai kepala bagian depan.   Penyebab

lain yang sering adalah kelainan dari hidung seperti sinusitis yang dapat membuat

sakit kepala bagian depan dan sering kambuh. 6

Penyebab  ekstrakranial  juga  dapat  terjadi  dari  telinga  biasanya  infeksi

telinga  bagian  dalam  (infeksi  ditandai  dengan  keluarnya  cairan  dari  lubang

telinga)  semakin  lama dapat  terjadi  infeksi  parah sehingga menyebabkan sakit

kepala, bahkan bisa menyebar ke dalam otak. Penyebab lain yang sering adalah

dari  pembuluh  darah  yaitu Cluster  headache,  suatu  penyakit  seperti  migrain.

Gejalanya nyeri terus-menerus yang hilang timbul pada sebagian kepala terutama

bagian depan disertai nyeri di sekitar mata dan rahang satu sisi. 6

2.2 Klasifikasi sakit kepala

Sakit kepala diklasifikasikan menjadi tiga yaitu sakit kepala primer, sakit

kepala  sekunder,  dan  neuralgia  kranial  berupa  nyeri  fasial  serta  sakit  kepala

lainnya.3 Sakit kepala primer dibagi lagi menjadi Migraine, tension-type headache

dan  cluster  headache dengan  sefalgia  trigeminal/autonomic.  Sakit  kepala

sekunder dapat dibagi menjadi sakit kepala yang disebabkan oleh karena trauma

pada kepala dan leher, sakit kepala akibat kelainan vaskular kranial dan servikal,

sakit kepala yang bukan disebabkan kelainan vaskular intrakranial,  sakit kepala

akibat adanya zat atau withdrawal,  sakit kepala akibat infeksi, sakit kepala akibat

gangguan  homeostasis,  sakit  kepala  atau  nyeri  pada  wajah  akibat  kelainan

kranium, leher, telinga, hidung, gigi, mulut atau struktur lain di kepala dan wajah,

sakit kepala akibat kelainan psikiatri.3

2.3 Tension-type Headache (TTH)

Pengertian  Tension-type  Headache (TTH)  menurut Internasional

Headache Society (IHS)  adalah sakit kepala bilateral dan memiliki tekanan atau

tegangan  otot dengan  keparahan  ringan  sampai  sedang.5 Tipe  Tension-type

Headache (TTH)  paling  sering  terjadi  pada  sakit  kepala  dan  terutama  dalam

bentuk kronis  (CTTH).  Mempengaruhi  3% dari  populasi  yang  ada,  bagian  ini

merupakan bagian yang sulit ditemukan. TTH tidak memiliki ciri-ciri khusus sakit

kepala,  4 TTH merupakan sensasi nyeri yang terjadi pada daerah kepala, akibat

kontraksi terus menerus  pada otot kepala dan tengkuk yang meliputi  muskulus

splenius  kapitis,  muskulus  temporalis,  muskulus  masseter,  muskulus

strenokleidomastoideus,  muskulus  trapezius,  muskulus  servikalis  posterior  dan

muskulus levator skapula.

Etiologi dan Faktor Resiko Tension Type Headache (TTH) adalah tekanan

darah yang tinggi, stress, depresi, bekerja dalam posisi yang menetap dalam waktu

lama,  ansietas  (kecemasan),  kelelahan  mata  (eye  strain),  kontraksi  otot  yang

berlebihan,  berkurangnya aliran darah,  dan ketidakseimbangan neurotransmitter

seperti dopamin, serotonin, noerpinefrin, dan enkephalin. 

2.3.1 Klasifikasi Tension-type Headache (TTH)

Klasifikasi TTH  dibagi menjadi dua yaitu Tension Type Headache

episodik dan dan Tension Type Headache  kronik. Tension Type Headache

episodik  (ETTH)  dapat  berlangsung  selama  30  menit  –  7  hari.  Sakit

kepala tension-type episodik  terjadi  secara  tidak  continue dan  biasanya

dipicu oleh stres sementara, kegelisahan, kelelahan atau kemarahan. Jenis

ini banyak dianggap sebagai “sakit kepala stres”.5 Tension Type Headache

episodik, apabila frekuensi serangan tidak mencapai 15 hari setiap bulan.

Tension Type Headache  kronik (CTTH) apabila frekuensi serangan

terjadi lebih dari 15 hari setiap bulan dan berlangsung lebih dari 6 bulan.

Namun biasanya terjadi setiap hari atau hampir setiap hari. Meskipun sakit

kepala  ini  tidak  disertai  dengan  gejala tertentu,  pasien  dengan  sakit

kepala tension-type kronis  sering  memiliki  keluhan  somatik  lainnya.

Misalnya,  pada  sakit  kepala tension-type kronis,  pasien  mungkin

mengalami  mual.  Mereka  juga  sering  konstan  melaporan  sakit  kepala,

mialgia generalisata dan artralgia, kesulitan tidur, kelelahan kronis, sangat

membutuhkan  karbohidrat,  mudah marah,  dan  gangguan  ingatan  serta

konsentrasi. Oleh karena itu, gangguan ini mirip dengan depresi. Namun,

pada sakit kepala tension-type kronik, anhedonia tidak muncul dan  gejala

utamanya adalah sakit kepala nyeri. Hal ini juga mirip fibromialgia, nyeri

miofasial generalisata dan gangguan tidur.

2.3.2 Gejala Tension-type Headache (TTH)

Gejala  yang  timbul  pada  sakit  kepala  Tension-type  Headache

(TTH) sebagai berikut2 :

1. Rasa sakit dimulai dibelakang kepala dan leher atas serta digambarkan

seperti tertekan.

2. Sering digambarkan sebagai tekanan yang melingkari kepala dengan

tekanan paling kuat di atas alis.

3. Nyeri  biasanya  ringan  (tidak  melumpuhkan)  dan  bilateral

(mempengaruhi kedua sisi kepala).

4. Rasa  sakit  ini  tidak  terkait  dengan  aura,  mual,  muntah,  atau

sensitivitas terhadap cahaya dan suara.

5. Rasa  sakit  terjadi  secara  sporadic  (jarang  atau  tanpa  pola)  namun

dapat terjadi sering dan bahkan setiap hari pada beberapa orang.

6. Rasa  sakit  memungkinkan  kebanyakan  orang  tetap  melakukan

aktivitas secara normal, meskipun sakit kepala sedang ia derita.

2.3.3 Epidemiologi Tension-type Headache (TTH)

TTH terjadi 78 % sepanjang hidup dimana Tension Type Headache

episodik terjadi 63 %  dan  Tension Type Headache  kronik terjadi 3 %.

Tension  Type  Headache episodik  lebih  banyak  mengenai  pasien  wanita

yaitu  sebesar  71%  sedangkan  pada  pria  sebanyak  56  %.  Biasanya

mengenai umur 20 – 40 tahun.

2.3.4 Patofisiologis Tension-type Headache (TTH)

Teori  lain  mengatakan  bahwa  nyeri  yang  muncul  disebabkan

malfungsi dari penyaringan rasa nyeri  yang dimana asalnya berasal dari

batang  otak. Dimana  otak  mengalami  kesalahan  dalam

menginterprestasikan informasi yang diterima,sebagai contoh dari signal

yang harusnya untuk menggerakkan otot temporal atau otot lain, dimana

ini  malah diinterprestasikan untuk memunculkan signal rasa nyeri.5

Pada  kasus  dijumpai  adanya  stress  yang  memicu  sakit

kepala. Ada beberapa teori yang menjelaskan hal tersebut yaitu :

1.  Adanya  stress  fisik  (kelelahan)  akan  menyebabkan   pernafasan

hiperventilasi sehingga kadar CO2 dalam darah menurun yang akan

mengganggu keseimbangan asam basa dalam darah. Hal ini akan

P

re

v

a

le

n

si

  

(%

)

menyebabkan  terjadinya  alkalosis  yang  selanjutnya  akan

mengakibatkan ion kalsium masuk ke dalam sel dan menimbulkan

kontraksi otot yang berlebihan sehingga terjadilah nyeri kepala.

2.  Stress  mengaktifasi  saraf  simpatis  sehingga  terjadi  dilatasi

pembuluh darah otak selanjutnya akan mengaktifasi nosiseptor lalu

aktifasi  aferen  gamma  trigeminus  yang  akan  menghasilkan

neuropeptida  (substansi  P).  Neuropeptida  ini  akan  merangsang

ganglion trigeminus (pons).

3. Stress dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu  alarm reaction,  stage of

resistance, dan stage of exhausted.

- Alarm reaction dimana stress menyebabkan vasokontriksi perifer

yang  akan  mengakibatkan  kekurangan  asupan  oksigen  lalu

terjadilah  metabolisme  anaerob.  Metabolisme  anaerob  akan

mengakibatkan  penumpukan  asam  laktat  sehingga  merangsang

pengeluaran  bradikinin  dan  enzim  proteolitik  yang  selanjutnya

akan menstimulasi jaras nyeri.

- Stage of resistance dimana sumber energi yang digunakan berasal

dari  glikogen  yang  akan  merangsang  peningkatan  aldosteron,

dimana aldosteron akan menjaga simpanan ion kalium.

- Stage of exhausted dimana sumber energi yang digunakan berasal

dari protein dan aldosteron pun menurun sehingga terjadi deplesi

K+. Deplesi ion ini akan menyebabkan disfungsi saraf.

2.3.5 Diagnosis Tension-type Headache (TTH)

Diagnosis  nyeri  kepala  sebagian  besar  didasarkan  atas  keluhan,

maka  anamnesis  memegang  peranan  penting.  Dalam sehari-  hari,  jenis

nyeri kepala yang paling sering adalah nyeri kepala tipe tegang atau sering

disebut  tension-type  headache  (TTH).  Dari  anamnesis,  biasanya  gejala

terjadinya TTH terjadi setiap hari dan terjadi dalam 10 kali serangan dalam

satu hari. Durasi atau lamanya TTH tersebut dapat terjadi selama antara 30

menit  sampai  dengan  7  hari.  Nyerinya  dapat  bersifat  unilateral  atau

bilateral, dan pada TTH tidak adanya pulsating pain serta intensitas TTH

biasanya bersifat ringan.

Pada TTH terdapat  tidak  adanya mual, muntah dan kelaian visual

seperti adanya fonofobia dan fotofobia. Pemeriksaan tambahan pada TTH

adalah pemeriksaan umum seperti tekanan darah, fungsi  sirkulasi, fungsi

ginjal, dan pemeriksaan lain seperti pemeriksaan neurologi (pemeriksaan

saraf  cranial,  dan  intracranial  particular).  Pemeriksaan  lainnya  seperti

pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi (foto rontgen, CT Scan),

Elektrofisiologik (EEG, EMG).

2.3.6 Diagnosis Banding Tension-type Headache (TTH)

Diferensial Diagnosa dari TTH adalah sakit kepala pada spondilo-

artrosis deformans, sakit kepala pasca  trauma kapitis, sakit kepala pasca

punksi lumbal, migren klasik, migren komplikata,  cluster headache, sakit

kepala  pada  arteritis  temporalis,  sakit  kepala  pada  desakan intrakranial,

sakit kepala pada penyakit  kardiovasikular, dan sakit kepala pada anemia.

2.3.7 Terapi Tension-type Headache (TTH)

Untuk  jenis  sakit  kepala  tension-type episodik,  obat  bebas

pilihannya  adalah  aspirin,  acetaminophen,  ibuprofen  atau  natrium

naproxen.  Kombinasi  produk  dengan  kafein  dapat  meningkatkan  aksi

analgesik. Sedangkan  pada  sakit  kepala  tension-type kronis  diberikan

antidepresan  trisiklik  obat  pilihan  untuk mencegah sakit  kepala ini,  dan

juga efektif sebagai profilaksis migrain. Injeksi toksin botulinum pada otot

kepala dan leher ditemukan efektif untuk meredakan sakit kepala tension-

type kronis.5

Terapi non-farmakologi terutama berguna untuk pasien yang tidak

berkeinginan untuk minum obat  karena  efek  samping  dari  obat-obatan,

dengan  adanya masalah  medis,  atau  ada  keinginan  untuk  hamil.

Sementara biofeedback dan terapi manajemen stres biasanya diberi rujukan

ke psikolog.5

BAB III

RINGKASAN

Sakit  kepala  adalah  rasa  sakit  atau  tidak  nyaman  antara  orbita  dengan

kepala yang berasal dari struktur sensitif terhadap rasa sakit.1  Sakit kepala dapat

juga disebabkan karena hal – hal berikut.6

1. Distraksi,  traksi  atau  dilatasi  dari  arteri  intracranial  atau  arteri

ekstrakranial.

2. Traksi atau perubahan letak dari pembesaran vena intracranial atau lapisan

dural.

3. Kompresi, traksi atau inflamasi dari nervus kranial dan nervus spinal.

4. Spasme, inflamasi dan trauma pada kranial dan otot leher.

5. Iritasi meningeal dan peningkatan tekanan intracranial.

6. Gangguan dari proyeksi serotonergic intraserebral.

Sakit  kepala  diklasifikasikan  menjadi  sakit  kepala  primer,  sakit  kepala

sekunder, dan neuralgia kranial yang berupa nyeri fasial serta sakit kepala lainnya.

Sakit kepala primer dibagi menjadi migraine dan Tension Type Headache (TTH).

Pengertian  Tension-type  Headache (TTH)  menurut Internasional Headache

Society (IHS)  adalah sakit  kepala yang  bilateral  dan  memiliki  tekanan  atau

tegangan otot dengan keparahan ringan sampai sedang.5 

Untuk  jenis  sakit  kepala  tension-type episodik,  obat  bebas  pilihannya

adalah aspirin, acetaminophen, ibuprofen atau natrium naproxen. Sedangkan pada

sakit  kepala  tension-type kronis  diberikan   anti-depresan  trisiklik  obat  pilihan

untuk  mencegah  sakit  kepala ini,  dan  juga  efektif  sebagai  profilaksis  migrain.

Injeksi toksin  botulinum  pada  otot  kepala  dan  leher  ditemukan  efektif  untuk

meredakan sakit kepala tension-type kronis.5

DAFTAR PUSTAKA

1. Lindsay,  Kenneth  W,dkk.  Headache.  Neurology  and  Neurosurgery

Illustrated. London: Churchill Livingstone. 2004. 66-72.

2. Jenis-jenis  Sakit  Kepala  dan  Gejalanya.  Media  Khusus  Kesehatan  dan

Medis. Available at  http://mediskus.com/penyakit/jenis-jenis-sakit-kepala-

dan-gejalanya.html

3. ISH  Classification  ICHD  II  (  International  Classification  of  Headache

Disorders)  available  at  http://ihs-

classification.org/_downloads/mixed/ICHD-IIR1final.doc

4. PENAS CFDL, Nielsen, LA, Gerwin, RD. Tension-type and Cervicogenic

Headache:  Pathophysiology, Diagnosis and Management.  Canada: Jones

and Bartlett Publishers; 2010: 3,7-13.

5. http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2010/05/12/chronic-tension-type-

headache/

6. Raskin,  NH, Green, MW.  Chapter 8 Headache Merritt’s Neurology 11th

Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2005: 45-48.


 
MIGRAINE 
 

 
Apa itu Migraine? 
 
Sakit kepala atau pusing 
sebelah disertai nyeri kepala 
berdenyut yang kerapkali disertai 
mual, muntah dan biasanya 
berlangsung 4 – 24 jam. 
 
Bagaimana GEJALANYA? 
Penderita merasakan nyeri 
berdenyut pada satu sisi kepala. 
Nyeri dapat berpindah pada sisi 
sebelahnya pada serangan 
berikutnya. Rasa nyeri berkisar 
antara sedang sampai berat. Gejala 
lain : 
a.    Kepekaan berlebihan dengan 
sinar, suara, dan bau. 
b.    Mual dan muntah. 
c.    Gejala semakin berat jika 
beraktifitas fisik. 
 
 
 
Apa PENCETUSNYA??! 
1. Konsumsi makanan dan buah 
tertentu (coklat, keju, jeruk, 
alpukat) 
2. Kurang tidur atau tidur yang 
berlebihan. 
3. Kadar gula darah sangat 
rendah atau hipoglikemia. 
4. Stress (fisik dan mental) dan 
tekanan emosi. 
5. Bau-bauan yang menyengat. 
6. Paparan sinar matahari yang 
berlebihan. 
7. Faktor hormonal. 
8. Monosodium glutamate 
(MSG).\ 
9. Alkohol. 
 
MENCEGAH migrain?? 
1. Mengenali pencetus migrain 
dengan membuat buku harian. 
2.  Tidur dan beraktifitas secara 
teratur. 
3. Makan teratur, dan 
menghindari makanan yang 
dapat mencetuskan migraine. 
4. Mengatasi stress. 
5. Menghindari asap rokok, baik 
sebagai perokok aktif maupun 
pasif. 
6. Obat-obatan. 
       
PENANGANANNYA… 
1. Teknik relaksasi yang dapat 
menurunkan stres. 
2. Beristirahat di tempat yang 
gelap dan tenang, dan 
buat keadaan psikologis rileks. 
3. Mengompres kepala dengan es 
atau air dingin untuk 
menyempitkan pembuluh 
darah. 
4. Hangatkan dan istirahatkan  
leher dengan pijatan lembut. 
5. Hindarkan segala pemicu 
dan penyebab-penyebab 
6. Obat-obatan (konsultasi ke 
dokter) 
 
 
 
 Mekanisme Nyeri Kepala pada Hipertensi 
 
 
Disfungsi system saraf pusat juga terjadi pada pasien dengan hipertensi. Sakit kepala 
daerah oksipital, paling sering pada pagi hari, adalah gejala dini hipertensi yang paling menonjol. 
Pusing kepala terasa ringan, vertigo, tinnitus, dan penglihatan kabur, atau sinkop juga mungkin 
ditemukan, tetapimanifestasi yang lebih serius disebabkan oklusi vaskuler, perdarahan atau 
enselopati. Infark serebral bersifat sekunder terhadap peningkatan arterosklerosis yang 
ditemukan pada pasien hipertensi, sedangkan perdarahan serebral terjadi akibat tekanan arteri 
yang meningkat dan terbentuknya mikroaneurisma vaskuler serebral. Enselopati hipertensi atau 
sakit kepala pada hipertensi berkaitan dengan spasme arterioler atau edema serebral (William, 
2005) 
 
 
William, Gordon. 2005. Hypertensive Vascular Disease. In: Kasper, D.L., Fauci, A.S., Longo, 
D.L., Braunwald, E., Hauser, S.L., Jameson, J. L., eds. Harrison’s Principles of Internal 
Medicine. 16 th ed. USA: McGraw-Hill. 
 
 
 
 
 
 
Alogaritma Penatalaksanaan Hipertensi 
 
Algoritma terapi hipertensi menurut JNC 7 
1. Modifikasi Life Style 
2. Tekanan darah lebih dari normal 
3. Pilihan terapi awal 
a. Tanpa Compelling indication 
b. Disertai Compelling indication 
4. Obat untuk compelling indication: 
a. Antihipertensi lain (diuretic, ACEI, BB, CCB) sesuai keperluan  
1) Hipertensi Stage 1 : umumnya Thiazide, Bila perlu pertimbangkan ACEI, ARB, 
BB, CCB atau kombinasi.  
2) Hipertensi Stage 2 
b. Kombinasi 2 obat ( Thiazid dan ACEI, ARB, BB, atau CCB ) 
5. Apabila tidak mencapai target, mengoptimalkan dosis atau menambah obat hingga 
tekanan darah sesuai target.  
6. Pertimbangkan untuk konsultasi dengan ahli hipertensi 
(Price, 2006) 
 
Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi. Jakarta: EGC