Sel punca 1

 




















Sel punca atau stem cell merupakan jenis sel dengan tiga karakteristik 

sebagai berikut, belum berdiferensiasi, mampu memperbanyak diri, 

serta mampu berdiferensiasi menjadi lebih dari satu jenis sel. Sel punca 

merupakan sel yang belum memiliki bentuk dan fungsi spesifik. Sel ini 

memiliki kemampuan berdiferensiasi menjadi sel  totipoten,  pluripoten, 

 multipoten,  oligopoten, dan  unipoten. Populasi sel punca dalam suatu 

jaringan mature, digambarkan sebagai suatu populasi sel inaktif, yang 

fungsinya baru terlihat pada saat dan keadaan tertentu.(1)

Sel punca terbagi menjadi dua jenis sesuai tingkat maturasinya, 

yaitu sel punca  embrionik dan sel punca dewasa. Sel punca  embrionik 

ditemukan saat perkembangan individu masih berada dalam tahap embrio. 

Sel punca ini merupakan inner cell mass yang terdapat dalam blastosis. Sel 

punca  embrionik tergolong sel punca yang bersifat  totipoten . Selain itu, sel 

punca  embrionik juga memiliki  daya proliferasi sel yang tinggi, telomer 

yang panjang, dan akitivitas enzim telomerase yang tinggi.


Sel punca dewasa yaitu  sel punca yang tampak di antara sel lain 

yang telah berdiferensiasi dalam suatu jaringan yang telah mengalami 

maturasi. Dengan kata lain, sel punca dewasa yaitu  sekelompok sel 

yang belum berdiferensiasi, dan ditemukan dalam keadaan inaktif 

pada suatu jaringan yang telah memiliki fungsi spesifik dalam tubuh 

individu. Keberadaan sel punca ini diperkirakan bertujuan untuk menjaga 

 homeostasis pada jaringan tempatnya berada.(1) 

Di dalam organ tubuh yang normal, sel punca didefinisikan 

sebagai suatu himpunan bagian sel dengan kapasitas pembaruan diri 

dalam mempertahankan sel punca reservoir dan  diferensiasi untuk 

menghasilkan berbagai jenis sel dalam jaringan. Sel punca memiliki 

kemampuan self-renewal secara simetris dan membagi diri dengan 

menghasilkan sel anak yang memiliki kemampuan identik dengan sel 

induk. Melalui  diferensiasi, sel punca berubah dengan hierarki yang 

terbatas dalam berproliferasi membentuk sel dewasa fungsional. Model 

ini awalnya ditemukan pada sistem  hematopoietik , di mana sejumlah 

kecil sel donor yang diidentifikasi dengan karakteristik sel induk 

mampu melanjutkan kembali pembelahan sesudah  transplantasi sumsum 

tulang. Sel punca juga dapat diisolasi dari beberapa organ termasuk paru, 

kulit, hati, dan otak.

2. POTENSI SEL PUNCA

Salah satu sifat penting sel punca yaitu  memiliki  sifat  plastisitas 

( diferensiasi ) untuk menjadi berbagai jenis sel. Terdapat lima sifat dasar 

potensi  plastisitas atau  diferensiasi sel punca, yaitu: 

a) Totipoten dapat membentuk semua jenis sel yang berkontribusi untuk 

membentuk organisme. Sifat ini hanya dimiliki oleh sel telur yang 

telah mengalami fertilisasi atau zigot.

b) Pluripoten dapat membentuk hampir semua jenis sel organisme 

termasuk sel germinal, tetapi tidak dapat membentuk jaringan 

plasenta. Sifat ini dimiliki oleh sel embrio dan sel germinal. 


c) Multipoten dapat membentuk hampir semua sel pada jaringan 

tertentu (mesodermal, endosermal, ektodermal). Sifat ini dimiliki 

oleh sel punca dewasa. 

d) Oligopoten dapat memperbarui diri dan berdiferensiasi menjadi sel 

yang berkaitan erat dengan tipe sel punca ini . Contohnya yaitu  

sel punca  hematopoietik yang dapat berdiferensiasi menjadi lineage 

myeloid dan lymphoid.

e) Unipoten yaitu  jenis sel yang paling tidak poten dalam 

berberdiferensiasi. Sel  unipoten hanya bisa membentuk satu jenis 

sel saja. Contohnya yaitu  sel punca otot. Sel punca otot dapat 

memperbarui diri dan berdiferensiasi menjadi satu tipe saja.

Potensi sel punca sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dari sel, apakah 

mengandung gen yang sesuai atau gen yang telah teraktivasi dan 

diprogram untuk menjadi sel tertentu atau beberapa sel. Lingkungan di 

mana sel punca berada juga sangat berpengaruh, sebagai contoh yaitu  

perubahan faktor pertumbuhan lokal,  sitokin , hormon, kontak sel dengan 

sel, sel dengan matriks sangat penting pada switching on dan off gen dan 

gene  pathway bahkan reprogramming gene  pathway, yang selanjutnya akan 

mengubah tipe sel. 

Klasifikasi potensi sel punca menjadi 5 tipe di atas tidak konsisten, 

penelitian terbaru membuktikan bahwa perbedaan antara  pluripoten dan 

 multipoten menjadi tidak jelas, beberapa sel memiliki  potensi yang 

lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya.(2)

3. HOMEOSTASIS SEL PUNCA

Di dalam tubuh, pembelahan sel punca sangat jarang terjadi, sel punca 

tetap pada kondisi tidak aktif dan dorman dalam waktu yang panjang 

sampai mendapat sinyal yang sesuai untuk mulai dan akhirnya berhenti 

membelah. Kontrol yang ketat pada proses self-renewal  in vivo dibutuhkan 

untuk memastikan sel punca tidak membelah tanpa kontrol, yang akan 


memicu  pertumbuhan berlebihan dan menjadi  kanker . Karena 

alasan ini  sel punca di dalam jaringan atau organ jumlahnya sangat 

sedikit.(2)

Homeostasis sel punca bergantung pada interaksi antara sel punca 

dengan sel-sel endotel vaskular, nurse cell, dan matriks ekstrasel di dalam 

relung ( niche). Niche sel punca merupakan lingkungan mikro khusus 

yang mengatur pemeliharaan sel punca normal dengan mengendalikan 

proses tahap  self-renewal atau tahap  berdiferensiasi. Niche juga berfungsi untuk 

mencegah ekspansi sel punca.

Populasi sel punca seringnya berada dalam keadaan diam di  niche 

dalam kondisi fisiologis. Sel punca mampu aktif memasuki proses 

proliferasi dan membedakan respons terhadap rangsangan spesifik. 

Jumlah sel yang memperbarui dan berdiferensiasi secara akurat diatur 

untuk mempertahankan  homeostasis jaringan. 

Niche yaitu  suatu habitat yang menyuplai faktor-faktor yang 

dibutuhkan untuk eksistensi dari organisme atau spesies.(3) Niche sel punca 

yaitu  istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh Schofield pada tahun 

1978, digunakan dalam menggambarkan  microenvironment yang terbatas 

yang mendukung sel punca. Niche sel punca ditemukan pada ovarium 

dan testis Drosophila dan C. elegans, sedang  pada mamalia didapatkan 

di bone marrow, folikel rambut, intestine, otak, dan testis.(4) 

Niche sel punca terdiri atas beberapa kelompok sel di suatu jaringan 

khusus yang menjaga sel punca ini . Struktur  niche bervariasi dan 

jenis sel yang berbeda tergantung lingkungan  niche ini . Misalkan 

N-cadherin-positive osteoblastic lining cell di dalam trabekula tulang 

membentuk  niche untuk HSC, sedang  sel endotel membentuk  niche 

sel NSC.(4)

Selama perkembangan embrio, berbagai faktor  niche bertindak 

atas sel punca embrio untuk mengubah ekspresi gen, dan menginduksi 

proliferasi atau  diferensiasi bagi perkembangan janin. Di dalam tubuh 

manusia,  niche sel punca memelihara sel punca dewasa dalam keadaan 

diam, tapi sesudah  trauma,  microenvironment sekitarnya secara aktif 

memberi  signal ke sel punca untuk mempromosikan pembaruan diri atau 


 diferensiasi untuk membentuk jaringan baru. Beberapa faktor penting 

untuk mengatur karakteristik sel punca dalam  niche yaitu: interaksi sel-sel 

antara sel-sel punca, serta interaksi antara sel punca dan sel  diferensiasi 

sekitarnya, interaksi antara sel-sel punca dan molekul adesi, komponen 

matriks ekstraseluler, konsentrasi oksigen,  growth factor ,  sitokin , dan sifat 

fisiokimia lingkungan, termasuk pH, kekuatan ion (misalkan konsentrasi 

Ca2+), dan metabolitnya. Sel punca dan  niche dapat memicu satu sama lain 

selama pengembangan dan timbal balik  signal untuk mempertahankan 

satu dengan lain masih ada.(4) 

4. BUKTI SEL PUNCA 

Penelitian telah menunjukkan adanya sel punca pada jaringan normal. 

Zhang dkk., berhasil mengindentifikasi stemlike cell dalam epitel 

nasofaring tikus normal dengan pendekatan well-established  label-retaining 

cell ( LRC ), yang didasarkan pada teori bahwa sel punca memiliki  ciri 

mampu mempertahankan analog nukleosida dengan  bromodeoxyuridine 

( BrdU ). Epitel skuamosa stratified mukosa nasofaring tikus, menunjukkan 

kurang dari 3% yaitu  long term  BrdU  LRCs , di mana 64,12% berada 

di lapisan basal dan 35,88% berada di lapisan super-basal. Selain itu, 

sekitar 12% dari  LRCs direkrut ke dalam perkembangan siklus sel, yang 

ditunjukkan oleh double-label dengan  BrdU dan 3H-TDR. Penemuan ini 

menunjukkan keberadaan sel punca dalam nasofaring normal.(5)



Kanker yaitu  penyakit yang sangat heterogen, tersusun dari berbagai 

macam sel dengan variasi genetik,  epigenetik , dan morfologik yang 

sangat berbeda.  Heterogenitas dan progresi dari  kanker dapat dijelaskan 

menggunakan 2 model: (1) model stokastik atau klonal evolusioner; dan 

(2) model cancer stem cells (sel punca  kanker) atau  cancer initiating cells 

(CICs).(6,7)

Model stokastik/klonal evolusioner pertama kali dikemukakan oleh 

Peter Nowell pada 1976. Model ini secara tradisional diterima sebagai 

dasar teori heterogenitas tumor. Berdasarkan model ini, sel dalam sebuah 

tumor bersifat homogen dan memiliki potensi yang sama untuk menjadi 

tumor initiating cell yang memiliki proliferasi tak terbatas.  Heterogenitas 

fenotip diperoleh akibat eksposur berbagai faktor intrinsik dan ekstrinsik 

yang acak. Dalam pengaruh faktor-faktor ini , sebagian sel tumor 

akan mendapatkan kemampuan untuk menjadi tumor initiating cell. Dalam 

model ini, setiap sel pada massa  kanker dianggap memiliki potensi yang 

sama untuk mempromosikan  karsinogenesis , memicu  progresi 


tumor, dan menghasilkan malignansi yang mematikan. Isolasi subpopulasi 

yang berpotensi memiliki sifat  tumorigenik tidak konsisten dalam model 

ini, akibat setiap fraksi sel diprediksi memiliki kemampuan inisiasi tumor 

yang sama.(8) Sebagian besar pendekatan terapi yang telah ada didasarkan 

pada model ini. Terapi ini  bekerja menarget bagian terbesar dari sel 

tumor dengan anggapan bahwa seluruh sel ini  memiliki kemampuan 

inisiasi tumor yang sama. Model ini tidak menjelaskan mengapa pada 

pasien yang menjalani terapi yang sama terdapat sebagian pasien 

mengalami relaps dan sebagian yang lain remisi total.(9,10,11)

Berdasarkan model sel punca  kanker ,  kanker mengandung sel 

dengan populasi kecil yang dinamakan cancer stem cells (sel punca  kanker). 

Populasi kecil ini bertanggung jawab atas inisiasi  kanker, progresi  kanker, 

 metastasis ,  resistansi terhadap terapi, dan  rekurensi .(12) Berdasarkan model 

ini,  kanker terorganisasi secara hierarki dengan sel punca  kanker pada 

puncak tertinggi hierarki ini . Populasi sel punca  kanker yaitu  sel 

yang memiliki kemampuan inisiasi tumor. Mereka menunjukkan sifat 

 stemness (self-renewal dan kemampuan  diferensiasi multilineage) dan mampu 

meregenerasi tumor pada uji xenotransplan.(7,9,13) Sel punca  kanker telah 

berhasil diidentifikasi dalam berbagai jenis keganasan pada manusia, 

misal  kanker otak,(14)  kanker payudara,(15)  kanker kolon,(16,17)  kanker 

pankreas,(18,19) dan seterusnya.

Kemampuan self-renewal dan kapasitas  diferensiasi yang luas ini akan 

memproduksi tipe sel  kanker yang beragam, yang pada akhirnya akan 

memicu  sifat heterogenitas yang dimiliki oleh  kanker.(20) Konsep sel 

punca  kanker memberikan kerangka yang mampu memberikan alasan 

adanya  resistansi terapi dan progresi penyakit, di mana sel punca  kanker 

yaitu  subpopulasi yang mampu melanjutkan progresivitas penyakit 

sesudah  pemberian terapi diakibatkan resistansinya terhadap kemo 

dan  radioterapi konvensional.(21) penelitian  menunjukkan bahwa sel punca 

 kanker memiliki siklus sel yang lambat, hal ini memicu  sel punca 

 kanker dapat selamat dari gangguan kemoradioterapi antiproliferatif dan 

berkontribusi pada progresivitas penyakit.(22)


Gambar 1. Model Patogenesis Kanker . (A) Pada model sel punca  kanker ( CSC) , hanya 

subpopulasi kecil sel  kanker (sel punca  kanker) yang memiliki kemampuan ‘ stemness ’ dan 

memiliki kapasitas untuk menginisiasi, mempertahankan, dan meregenerasi tumor pada 

resipien baru. Sel-sel ini berbeda secara fungsional dari sel  kanker yang telah berdiferensiasi; 

(B) Pada model evolusi klonal, semua sel  kanker ekuivalen secara biologis dan memiliki 

kapasitas yang sama untuk membentuk tumor dan dapat meregenerasi tumor pada resipien 

baru.(23)

Gagasan bahwa  kanker muncul dari sel punca pertama kali 

diusulkan lebih dari 150 tahun yang lalu sebagai teori sisa embrional 

 kanker. Namun, pada awal abad ke-20, teori sisa embrional  kanker tidak 

digunakan, dan hipotesis bahwa  kanker muncul dari dediferensiasi 

menjadi berlaku umum. Kemudian, sekitar 50 tahun yang lalu, penelitian  

tentang  kanker sel germinal (teratokarsinoma) memunculkan kembali 

prinsip-prinsip dari sel punca  kanker, bahwa  kanker mengandung 

sel punca, dan  kanker yang dapat diobati dengan induksi  diferensiasi 

(terapi  diferensiasi). Namun, teratokarsinoma dianggap pengkhususan 

terhadap aturan, dan teori dediferensiasi asal tetap berlaku umum untuk 

 kanker sampai tahun 1980. Kemudian penelitian  seluler mengenai asal  kanker 

hepatokarsinogenesis menunjukkan bahwa  kanker hati tidak timbul 

dari dediferensiasi hepatosit, seperti yang umum diyakini, melainkan 


dari penangkapan pematangan sel dalam garis keturunan hepatosit.

(24) Akhir-akhir ini, model sel punca  kanker telah direevaluasi untuk 

menjelaskan biologi seluler  kanker. Pengetahuan terkait sel punca  kanker 

ini membantu peneliti mengembangkan terapi  kanker baru dengan sel 

punca  kanker sebagai targetnya. penelitian -penelitian  terbaru mendukung bahwa 

 kanker dikendalikan oleh sel punca  kanker, dan untuk mencegah adanya 

relaps dan memperoleh respons terapi yang baik dan tahan lama, maka 

sel punca  kanker harus dihilangkan.(25,26) 

2. ASAL SEL PUNCA KANKER

Teori yang berkembang saat ini menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis 

mekanisme awal mula terciptanya cancer stem cell. Mekanisme pertama 

menjelaskan bahwa awal sel punca  kanker yaitu  sel punca dewasa 

Gambar 2. Mutasi dapat terjadi pada sel punca, sel  progenitor, dan sel yang telah 

berdiferensiasi.(27)


yang normal, kemudian berubah sifat dan menjadi pencetus terjadinya 

keganasan. Hal ini yang mendasari sel punca  kanker dari acute myelogenous 

leukemia berasal dari sel punca  hematopoietik yang normal. Mekanisme 

kedua menjelaskan bahwa sel punca  kanker berasal dari sel  progenitor 

 unipoten maupun sel somatis yang mengalami de- diferensiasi . Mekanisme 

yang ketiga menyatakan bahwa sel punca  kanker berasal dari transformasi 

sel yang terjadi saat bermigrasi ke area tubuh tertentu, seperti yang terjadi 

pada transformasi sel sumsum tulang yang bermigrasi dalam lapisan 

epitel lambung yang sebelumnya terinfeksi Helicobacter pylori. (27)

3. PERAN SEL PUNCA KANKER DALAM PROGRESIVITAS TUMOR

Sel punca  kanker memiliki sifat  tumorigenik . Sel punca  kanker memiliki 

kemampuan  stemness (kemampuan untuk melakukan self-renewal dan 

 diferensiasi) dan berkontribusi terhadap progresivitas tumor dengan 

mengendalikan proses fundamental perkembangan tumor, seperti 

proliferasi sel, pertumbuhan,  angiogenesis , invasi, dan penyebaran 

metastatik.(25,28) 

A. Sel Punca Kanker dalam Inisiasi Tumor

Sel punca  kanker mampu mengganggu kontrol ketat terhadap proses self-

renewal dan  diferensiasi, serta memicu  terjadinya bypass terhadap 

mekanisme protektif dalam sel. Hasilnya yaitu  proliferasi yang tak 

terkontrol dan terlepas dari  apoptosis .(26,29) Sebagai contoh,  mutasi pada 

 p53 dan  PTEN (homolog fosfatase dan tensin) dapat menstimulasi aktivasi 

c-Myc yang mendukung  self renewal dan mengganggu  diferensiasi pada 

sel inisiasi glioblastoma.(30) Sel punca  kanker dari  kanker kolon mampu 

membentuk massa koloni yang terdiri atas tiga macam sel epitelial 

yang telah berdiferensiasi. Isolasi terhadap sel punca  kanker tunggal 

pada koloni ini mampu menghasilkan tumor baru pada tikus coba yang 

immunodefisiensi.(31) 


Selain itu, beberapa sarang sel punca dapat ditemukan pada satu 

massa tumor, masing-masing memiliki potensi untuk menginisiasi dan 

berkembang menjadi  kanker . Subpopulasi sel punca  kanker yang berbeda 

ini dapat timbul seiring progresivitas  kanker akibat adanya modifikasi 

 epigenetik dan  mutasi .(25) Populasi sel punca  kanker baru ini menunjukkan 

sifat yang lebih agresif. Sel  kanker  diferensiasi yang berasal dari sel punca 

 kanker membentuk komponen mayoritas dari tumor dan memegang peran 

penting dalam pertumbuhan tumor yang berkelanjutan.

B. Sel Punca Kanker dan Vaskulatur Tumor

Vaskularisasi tumor ( angiogenesis : yaitu pembentukan pembuluh darah 

baru; dan  lymphangiogenesis : yaitu pembentukan pembuluh limfa 

baru) berperan penting dalam pertumbuhan, invasi, dan  metastasis 

tumor.(32,33) Sel punca  kanker memicu  terjadinya  angiogenesis dan 

 lymphangiogenesis dengan cara menyekresikan  VEGF dalam jumlah 

yang meningkat pada tumor. Pembuluh darah dan limfe yang baru ini 

menyediakan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan  kanker.

(34) penelitian  menunjukkan bahwa sel punca  kanker memiliki potensi untuk 

menginduksi  angiogenesis dan memproduksi sel angiogenik. Sel tumor 

non-sel punca  kanker yang telah berdiferensiasi bersifat nonangiogenik.

(28,35-38) Sel punca  kanker berinteraksi dengan  niche vaskular dan 

mempromosikan  angiogenesis melalui sekresi VEGFs, stromal-derived 

factor 1(SDF-1), dan mikrovesikel tumor. Mikrovesikel ini membawa 

sekumpulan mRNA dan microRNA proangiogenik yang berikutnya 

memberi fenotip pada angiogenik pada sel endotel normal manusia. 

Pemberian mikrovesikel ini kepada tikus coba yang imunodefisien 

menghasilkan peningkatan angka metastasi paru yang sangat tinggi.(37) 

Maka dari itu, mikrovesikel yang dihasilkan oleh sel punca  kanker ini 

berkontribusi dalam aktivasi angiogenik dan koordinasi difusi  metastasis 

pada progresi tumor. Sel punca  kanker (sel CD1331) pada karsinoma 

hepatoseluler merangsang  angiogenesis dan tumorigenesis dengan 

mengaktivasi jalur pensinyalan neurotensin/interleukin-8/CXCL1.(28) Niche 


vaskular sel punca  kanker menyekresikan berbagai faktor vaskulogenik 

yang menginduksi  angiogenesis dan  lymphangiogenesis tumor.(34,39)

C. Metastasis Kanker dan Circulating Tumor Cells

Model sel punca  kanker sejalan dengan hipotesis metode penyebaran dan 

distribusi  kanker klasik, yaitu “benih dan lahan”.(40) Berdasarkan konsep 

ini, sel punca  kanker berperan sebagai benih dan dengan mencapai lahan 

yang subur (lokasi  metastasis ), benih ini  dapat membangkitkan 

 kanker  metastasis sekunder. Diseminasi  metastasis  kanker ini terjadi 

dalam beberapa langkah: sel  kanker menyebar menuju jaringan sekitar 

(invasi), memasuki kapiler (intravasasi), bersirkulasi dalam darah dan 

mencapai organ target (transport), infiltrasi dari darah (ekstravasasi), dan 

barulah mengolonisasi untuk membentuk  kanker  metastasis cancer.(41) 

Hasil penelitian  menunjukkan bahwa epithelial to mesenchymal transition 

( EMT ), sebuah proses di mana sel epitel yang terpolarisasi berubah 

menjadi sel mesenkimal yang motil, terlibat dalam sel  kanker, invasi, 

dan  metastasis menuju lokasi jauh.(42) Menariknya, sel punca  kanker 

dapat memperoleh kemampuan  EMT dan dapat pula mengubah diri 

mereka di antara fenotip epitelial dan mesenkimal dan menjalankan 

proses  metastasis.(43) Dengan akuisisi  EMT, sel punca  kanker mendapat 

kemampuan hilangnya polaritas, kemampuan untuk bermigrasi, resistan 

terhadap  apoptosis , meningkatnya produksi enzim pendegradasi matriks 

ekstraseluler, dan kemampuan invasi yang lebih tinggi, di mana hal-hal ini 

memicu   metastasis dan progresi tumor. Contohnya, sel punca  kanker 

dari  kanker ovarium menunjukkan peningkatan invasi dan kemampuan 

migrasi dengan mengaktivasi  NF-kB dan meningkatkan ekspresi matrix 

metallopeptidase 9.(44)

Selain itu, sel punca  kanker dapat mendukung progresi  kanker 

dengan meloloskan diri dari surveilans imun, disregulasi terhadap 

metabolisme seluler, dan menginduksi instabilitas genomik. Ketiga hal 

ini  mempermudah penyusunan tumor baru pada organ atau resipien 

baru. Contohnya, sel punca  kanker dari glioblastoma berkontribusi pada 

supresi imun dengan menghambat proliferasi sel T dan menginduksi 


 apoptosis sel T dengan mengaktivasi sel T regulatory.(45) Pada karsinoma 

sel ginjal, sel punca  kanker meloloskan diri dari surveilans imun dengan 

menghambat ekspresi Fas-ligand dan Fas-receptor dan protein regulator 

komplemen.(46)

Gambar 3. Peran Sel Punca Kanker pada Progresi Kanker. Sel punca  kanker memegang 

kunci dari proses patogenesis  kanker, sepeerti aktivasi dari pensinyalan survival sel, proliferasi 

tak terkontrol dari sel punca  kanker, tidak responsif terhadap sinyal inhibisi pertumbuhan, 

menghindari  apoptosis , dan mempromosikan  angiogenesis dan  apoptosis. Sel punca  kanker 

juga menghindari pantauan sistem imun dan menginduksi transisi epitel mesenkimal ( EMT ) 

dan meningkatkan aktivitas glikolitik. Sel punca  kanker juga memproduksi bermacam-

macam subpopulasi yang terdiri atas sel  kanker yang telah terdiferensiasi.(11)


Sel punca  kanker menunjukkan lebih banyak metabolisme glikolitik 

dibandingkan fosforilasi oksidatif, fenomena ini dinamakan efek  Warburg . 

Non-sel punca  kanker tidak menunjukkan fenomena serupa.(47) Sel punca 

 kanker dari glioblastoma menunjukkan peningkatan aktivitas glikolitik 

dan  aldehyde dehydrogenase , yang memicu  pergeseran metabolik 

pada sel punca  kanker dari fosforilasi oksidatif menuju glikolisis.(48) 

Maka dari itu, sel punca  kanker juga dapat memodulasi progresi  kanker 

dengan meregulasi metabolisme dan meloloskan diri dari respons imun 

pejamu.

4. SEL PUNCA KANKER PADA RESISTANSI TERAPI

Meskipun terus terjadi perbaikan terhadap modalitas terapi, kekambuhan 

 kanker dan  resistansi terhadap terapi  kemoradiasi konvensional tetap 

terjadi pada penderita  kanker stadium lanjut. penelitian   kanker menggunakan 

kultur sel, model hewan, dan pasien  kanker menunjukkan bahwa sel 

punca  kanker bertanggung jawab untuk  resistansi terapi dan kekambuhan 

 kanker pada pasien dengan  kanker.(48-51) sel punca  kanker dapat menjadi 

resistan secara selektif terhadap  apoptosis yang diinduksi oleh  kemoterapi 

konvensional. Berbeda dengan sel punca  kanker, sel  kanker yang telah 

terdiferensiasi akan mengalami  apoptosis ketika terpapar dengan 

 kemoterapi konvensional.(52) Selain itu, sel punca  kanker yang selamat 

dapat kembali membangun massa tumor dan bertanggung jawab terhadap 

adanya  resistansi  kemoterapi.(52)

Sel punca  kanker juga menunjukkan  resistansi terhadap  radioterapi 

pada berbagai  kanker.(51,53) Contohnya, terapi radiasi terhadap tikus dengan 

glioma menunjukkan peningkatan jumlah sel  CD133 dibandingkan 

dengan tumor yang tidak diterapi radiasi.(54) Frekuensi sel punca  kanker 

pada  kanker payudara (sel Thy11 CD241 Lin2) dan  kanker kepala leher 

(sel CD441 Lin2) mengalami peningkatan hingga dua kali lipat sesudah  

terapi radiasi dibandingkan dengan tikus yang tidak diterapi radiasi.(55) 

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa sel punca  kanker merupakan 


subpopulasi sel  kanker yang berkontribusi pada  resistansi terhadap terapi 

 kemoradiasi .

5. MEKANISME RESISTANSI TERAPI SEL PUNCA KANKER

Resistansi terhadap  apoptosis , peningkatan aktivitas pompa  efflux obat, 

kapasitas perbaikan DNA, ekspresi enzim detoksifikasi, dan  quiescence , 

berkontribusi pada mekanisme prosurvival sel punca  kanker dan 

memicu  adanya  resistansi terhadap terapi konvensional pada  kanker. 

Berbagai mekanisme di atas akan dibahas lebih dalam pada bagian ini.

(11)

A. Aktivasi Jalur Pensinyalan

Aktivasi jalur pertumbuhan dan/atau self-renewal seperti  Hedgehog ,  Notch , 

TGF-β, and  Wnt/β-catenin terlibat dalam  resistansi sel punca  kanker 

terhadap terapi pada berbagai macam  kanker.(56) Telah terdapat penelitian  

yang menunjukkan bahwa obat yang menarget jalur pensinyalan yang 

telah disebutkan sebelumnya mampu meningkatkan hasil terapi. Strategi 

terapi adjuvan konvensional yang beredar hingga saat ini dirancang untuk 

menarget dan mengeliminasi seluruh sel yang telah berdiferensiasi pada 

 kanker. Kegagalan tubuh untuk mendeteksi dan membunuh sel punca 

 kanker pada akhirnya memicu  lolosnya sel punca  kanker dari terapi, 

 resistansi, dan  rekurensi .(49,56) Inhibisi terhadap jalur ini atau  downregulation 

dari komponen ini  menghasilkan peningkatan sensitivitas terapi sel 

punca  kanker. Contohnya, intervensi farmakologis terhadap jalur  Notch 

dan  Hedgehog menggunakan gamma secretase inhibitors dan cyclopamine 

dapat meningkatkan sensitivitas sel punca  kanker pada glioblastoma 

terhadap agen  kemoterapi temozolomide (agen alkilasi yang digunakan 

untuk mengobati pasien glioblastoma).(57) Inaktivasi genetik atau modulasi 

farmakologik terhadap jalur  Wnt/β-catenin dapat sangat meningkatkan 


sensitivitas sel punca  kanker pada keganasan hematopoetik terhadap 

imatinib (agen kemo yang berperan sebagai inhibitor tirosin kinase).(58) 

Selain jalur-jalur yang disebutkan sebelumnya, cascades pensinyalan yang 

lain, seperti PI3K/Akt/ mTOR, JAK/STAT, dan BMI1 juga berkontribusi 

pada  resistansi sel punca  kanker terhadap terapi.

B.  Peningkatan Efflux Obat Menggunakan Transporter ATP-Binding 

Cassette 

ATP-binding cassette transporters yaitu  jenis dari protein transmembran (49 

macam) yang mentranslokasikan berbagai substrat, termasuk obat, lemak, 

dan metabolit lain, melewati membran intraseluler dan ekstraseluler.(59) 

Dari 49 macam ini , ekspresi yang berlebihan dari transporter ABCB1 

(multidrug resistance protein 1), ABCC1 (multidrug resistant-associated protein 

1),  ABCG2 , dan ABCB5 pada sel punca  kanker memiliki hubungan dengan 

 resistansi terapi sel punca  kanker pada  kanker.(60,61) Protein ini mengurangi 

atau menguras kadar obat dengan cara melakukan  efflux terhadap agen 

terapeutik dari dalam sel. Contohnya pada leukemia myeloid kronik, 

sel punca  kanker yang menunjukkan ekspresi ABCB1 dan  ABCG2 yang 

berlebihan menunjukkan  resistansi terhadap agen  kemoterapi imatinib 

mesykate, namun sel  kanker yang telah berdiferensiasi menunjukkan 

ekspresi ABCB1 dan  ABCG2 yang sedikit menunjukkan sensitivitas 

terhadap terapi imatinib mesylate.(62) penelitian  ini  menunjukkan bahwa sel 

punca  kanker dapat meloloskan diri dari terapi dengan cara meningkatkan 

transporter obat, yang berikutnya memicu  rendahnya bioavailabilitas 

pada sel dan  resistansi pada  kanker. Ekspresi ABCB1 yang berlebihan 

pada sel punca  kanker juga menunjukkan korelasi yang signifikan dengan 

 resistansi pada jenis  kanker yang lain, termasuk  kanker paru, prostat, 

dan payudara.(64) Pada melanoma,  upregulation ABCG5 pada sel punca 

 kanker dilaporkan sebagai mediator  resistansi terhadap terapi  kanker.(64) 

Selain berfungsi memediasi ekspor dan impor dari obat, transporter ini 

juga mampu mengeluarkan substrat toksin dari sel  kanker.


C. ROS-Scavenging dan Aktivitas Perbaikan DNA

Terapi yang ada saat ini, termasuk  radioterapi dan banyak agen  kemoterapi 

(seperti cisplatin, oxalplatin, methotrexate, doxorubicin, dan lainnya) 

memicu  kematian sel  kanker dengan menginduksi kerusakan DNA. 

(49,65) Sel punca  kanker mampu meloloskan diri dari kerusakan DNA yang 

disebabkan oleh berbagai terapi ini  melalui beberapa mekanisme, 

seperti mengubah checkpoint siklus sel, meningkatkan kapasitas perbaikan 

DNA, dan ROS-scavenging yang efisien.(66) Proses perbaikan DNA yang 

tinggi diaktivasi pada sel punca  kanker berbagai macam jenis sel  kanker, 

termasuk glioma, karsinoma nasofaring, karsinoma paru, dan karsinoma 

payudara.(49)

Pada karsinoma paru non-small cell kerusakan DNA yang diinduksi 

oleh agen terapeutik pada sel punca  kanker berhasil diperbaiki dengan 

mekanisme aktivasi dari jalur pensinyalan G2-checkpoint-Chk1, yang 

berikutnya memicu  berhentinya siklus sel dan perbaikan DNA 

yang efisien. Mekanisme perbaikan DNA ini memicu  peningkatan 

survival sel punca  kanker dibandingkan non-sel punca  kanker yang telah 

berdiferensiasi.(67) Selain itu, sel punca  kanker dari  kanker yang lain 

menunjukkan  resistansi terhadap stress genotoksik dengan mekanisme 

rendahnya produksi dan tingginya scavenging terhadap ROS sesudah  terapi. 

Uperegulation gen ROS-scavenging seperti superoxide dismutase, glutathione 

peroxidase, dan catalase pada sel punca  kanker mengindikasikan bahwa 

sel punca  kanker mampu meloloskan diri dari terapi yang memicu  

kerusakan DNA dengan cara melakukan scavenging terhadap ROS dan 

meminimalisir gangguan toksik akibat terapi.(55)

D. Quiescence Sel Punca Kanker 

Mekanisme  kemoterapi dan  radioterapi konvensional yaitu  menarget 

tahap  S sel  kanker yang sangat proliferatif. Oleh karena sel punca  kanker 

bersifat lambat bertumbuh dan pada sebagian besar waktu bersifat 

quiescent, diasumsikan bahwa sel punca  kanker mampu meloloskan diri 

dari terapi yang bekerja dengan cara ini . Aktivasi sel punca  kanker 

quiescent yang telah dorman dalam waktu lama memicu  timbulnya 


 rekurensi . Sel yang quiescent tidak hanya menunjukkan  resistansi terhadap 

terapi, namun juga memiliki potensi untuk memperbaiki kerusakan yang 

ada. Sel punca  kanker yang quiescent ini kembali memasuki siklus sel 

dan mengakselerasi regenerasi tumor melalui aktivasi berbagai jalur 

pensinyalan.(60,68) Maka dari itu, eliminasi yang efektif terhadap sel  kanker 

hanya dapat dicapai dengan mengembangkan obat yang dapat mengincar 

populasi sel punca  kanker yang quiescent ini.(11)

E.  Peningkatan Aktivasi Enzim Detoksifikasi pada Sel Punca Kanker 

Peningkatan aktivasi enzim detoksifikasi yaitu  aldehyde dehydrogenase 

(ALDH) yaitu  ciri khas dari sel punca  kanker .(49) Isoform ALDH 

meningkat secara tajam pada tumor yang agresif dan resistan terhadap 

 radioterapi . Peningkatan isoform ini juga dapat digunakan sebagai penanda 

predikatif buruknya respons terhadap  radioterapi.(69) Aktivasi yang 

tinggi dari isoform ALDH (e.g. ALDH1A1 dan ALDH3A1) memicu  

sel punca  kanker mampu mencerna berbagai obat  kemoterapi , seperti 

cyclophosphamide dan derivatnya, dan mendetoksifikasi produk intermediat 

obat-obat ini , sehingga mampu meminimalisir efek yang ditimbulkan 

obat.(70,71) Upregulasi dari isoform ALDH yang berbeda pada sel punca 

 kanker memicu   resistansi terhadap radio dan  kemoterapi (e.g., 

doxorubicin, paclitaxel, gemcitabine, gefitinib, cisplatin, 5-fluorouracil, 

dan temozolomide) pada berbagai  kanker.

Strategi terapi yang mengincar aktivitas ALDH meningkatkan 

sensitivitas terhadap kemoradioterapi pada berbagai  kanker . Hal ini 

menunjukkan bahwa peningkatan pada aktivitas ALDH sel punca  kanker 

berkorelasi dengan kemampuan  resistansi sel punca  kanker terhadap 

terapi.(49) Selain itu, Aktivitas ALDH berasosiasi dengan jalur pensinyalan 

pro-survival pada sel punca  kanker. Inhibisi aktivitas ALDH berkorelasi 

dengan downregulasi jalur pensinyalan rapamycin (mTOR) activity,  Notch , 

PI3K/AKT, dan MAPK/ERK.(72-74) Maka dari itu, ALDH memiliki peran 

yang kompleks pada biologi dan  resistansi terapi sel punca  kanker, dan 

inhibisi terhadap aktivitas ALDH yaitu  potensi terapi yang menjanjikan 

terhadap sel punca  kanker.


Selain beberapa mekanisme yang telah disebutkan sebelumnya, 

perubahan pada metabolisme, alterasi pada fenomena autofagi, modulasi 

 niche lingkungan mikro tumor, dan gangguan pada jalur  apoptosis pada 

sel punca  kanker dapat berkontribusi pada  resistansi sel punca  kanker 

terhadap terapi konvensional. Pengembangan terapi yang mengincar sel 

punca  kanker dapat meningkatkan keluaran klinis pada pasien  kanker.

Gambar 4. Skema Mekanisme Resistansi Sel Punca terhadap Terapi. Aktivasi dari jalur sinyal 

survival sel,  quiescence , meningkatnya  efflux obat, kegagalan jalur  apoptosis , meningkatnya 

perbaikan kerusakan DNA, meningkatnya aktivitas detoksifikasi, dan meningkatnya 

pengambilan radikal bebas merupakan kontributor yang mungkin pada  resistansi terapi 

sel punca  kanker. (11)


Model sel punca  kanker sebagai patogenesis  kanker terus-menerus 

mengalami perubahan. Bukti eksperimental menunjukkan bahwa model 

stokastik dan model sel punca  kanker tidak berdiri sendiri-sendiri, namun 

saling berdampingan. penelitian  menunjukkan bahwa  kanker dikendalikan oleh 

subpopulasi sel punca  kanker. Terapi yang ada hingga saat ini difokuskan 

terhadap sel  kanker yang telah berdiferensiasi dan tidak memberikan 

pengaruh pada sel punca  kanker. Hal ini  memicu  adanya 


 rekurensi . Strategi terapi yang mengombinasikan terapi konvensional 

dan terapi yang spesifik terhadap sel punca  kanker memiliki potensi 

untuk meningkatkan efektivitas terapi  kanker. Halangan yang ada yaitu  

identifikasi yang spesifik terhadap sel punca  kanker pada berbagai macam 

 kanker dikarenakan hampir semua penanda yang terdapat pada sel punca 

 kanker juga ditemukan pada sel punca normal. Kurangnya penanda 

spesifik sel punca  kanker mengganggu perkembangan terapi spesifik sel 

punca  kanker dikarenakan potensi efek toksik pada sel punca normal. 

Identifikasi terhadap fitur utama metabolik dan biologik. Sel punca  kanker 

dan terapi yang dapat mengincar sel punca  kanker, seperti menginduksi 

 diferensiasi, menghancurkan  niche sel punca  kanker, dan mengaktifkan 

sel T sitotoksik, dapat menjadi opsi yang menjanjikan untuk eliminasi sel 

punca  kanker. Sel punca  kanker berpotensi terlibat dalam progresi tumor 

dan berkontribusi pada  resistansi tumor terhadap terapi. Pemahaman 

yang lebih baik terhadap fitur seluler dan molekuler sel punca  kanker 

bisa memberi manfaat pada manajemen pasien  kanker.


Berdasar pandangan neural stem cells (NSCs), sel punca  kanker ditengarai 

merupakan suatu populasi kecil sel dalam tumor, yang mampu 

melakukan pembaruan diri dan menghasilkan keturunan heterogen 

untuk membentuk massal tumor. Sejumlah bukti mendukung keberadaan 

sel punca  kanker pada KNF. Pertama,   LRCs (label-retaining cells) ditemukan 

pada tikus dengan KNF xenografts yang diinsersikan pada faring tikus 

biasa, dengan yang memiliki persentase kurang dari 0,5% pada xenografts 

tikus dari tiga cell line KNF manusia. Kedua, Wang dkk., mengisolasi 

 side population (SP) sel mengikuti kriteria sel punca  kanker dari cell 

line KNF manusia  dengan menggunakan sel-permeable-DNA spesifik 

bisbenzimidazole dye Hoechst 33342 dan diteliti lebih lanjut karakteristik 

biologis sel  side population termasuk proliferasi, pembaruan diri, dan 

tumor-inisiasi. Dalam salah satu cell line KNF  undifferentiated CNE-2, jumlah 

sel  side population tampak kurang dari 3% dari seluruh populasi. sesudah  

disortir secara  in vitro , sel-sel  side population menunjukkan potensi 

proliferasi yang lebih besar dan menghasilkan klon lebih signifikan dari 


Sel Punca Karsinoma Nasofaring24

sel-sel non- side population. Selain itu, sel  side population dapat membantu 

berkembangnya sel-sel non- side population, sedang  non- side population 

sel tidak mungkin mampu membangkitkan sel  side population. Selain 

itu, peningkatan ketahanan terhadap terapi konvensional termasuk 

 kemoterapi dan  radioterapi dapat diamati dalam sel  side population. Selain 

itu, didapatkan bahwa sepuluh ribu sel  side population mencukupi untuk 

membentuk tumor sementara sel non- side population memerlukan 200.000.

(30,75) Hal ini menunjukkan bahwa sel  side population dan non- side population 

berbeda dalam kemampuan untuk mengawali terjadinya tumor.

Jika hipotesis ini  terbukti benar tentang adanya sel punca di 

nasofaring normal dan KNF, maka akan membuka bidang baru untuk 

meneliti tentang onkogenesis, kemajuan dan pengobatan serta  resistansi 

KNF. Konsep ini menantang pandangan tradisional tentang pertumbuhan 

tumor, yang menyebutkan bahwa sel-sel tumor diasumsikan sama untuk 

tumorigenesis, dan heterogenitas tumor berkembang dari  mutasi acak 

(random mutation) atau seleksi alam. sedang  hipotesis sel punca 

 kanker mengusulkan bahwa tumor diinisiasi dan dipelihara oleh 

minoritas sel tumor dan heterogenitas tumor berasal dari penyimpangan 

“ diferensiasi ” sel ini.(30) 

Hipotesis sel punca  kanker banyak menjelaskan tentang asal dari 

KNF. Pembaruan diri (self-renewal) sangat penting dalam menunjukkan 

 stemness dari sel punca  kanker. Jika sel punca KNF berproliferasi tetapi 

gagal untuk memperbarui diri, maka kelompok sel punca KNF suatu saat 

nanti akan habis. Melalui pertimbangan dalam hal kesamaan antara sel 

punca  kanker dan sel punca normal, dalam hal pembaruan diri dan sel 

penanda permukaan, dapat dipahami bahwa sel punca  kanker berasal 

dari  mutasi NMS, yang menghindar dari kontrol proliferasi sehingga 

dapat melakukan pembaruan-diri. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa 

hal ini dapat terjadi. Sebagai contoh, Kim et al. mengisolasi putative 

bronchio-alveolar stem cells (BASC) dari paru-paru tikus. Ditemukan 

K-ras untuk mengaktifkan perluasan BASCs dan mengubah sel-

sel ini menjadi adenokarsinoma prekursor.(76) Selain itu, Guo et al. 

menunjukkan bahwa delesi  PTEN dalam sel punca  hematopoietik tikus 


diduga memicu  gangguan myeloproliferative dan diikuti oleh 

kejadian leukemia akut T-lymphoblastic.(30,77)

Selain itu, ada kemungkinan lain bahwa sel  progenitor 

atau sel yang telah berdiferensiasi yang mengalami  mutasi dan 

mendapatkan kemampuan pembaruan diri, menimbulkan subset 

dari tumor sel dengan beberapa sifat NMSc. Banyak jalur yang penting 

untuk pemeliharaan NMSs dengan ditemukannya disregulasi dalam 

berbagai jenis  kanker . Sebagai contoh, IMT-1, anggota kelompok gen 

Polycomb (PCG), diperlukan untuk pemeliharaan dan self-renewal sel punca 

embrional dan somatik. Dalam konteks KNF, Song et al. menyatakan bahwa 

 Bmi-1 ditemukan sangat banyak terekspresi dalam kedua jenis cell line 

KNF maupun sampel jaringan KNF, namun tidak berhubungan dengan 

prognosis pasien KNF. Secara eksperimental, over ekspresi  Bmi-1 cukup 

untuk membuat sel epitel normal nasofaring menjadi immortal melalui 

induksi aktivitas telomerase  reverse transcriptase dan inhibisi ekspresi 

p16Ink 4a.(30,78)

Identifikasi sel punca KNF diperlukan untuk menunjukkan 

keberadaannya. Su, et al. menggunakan cell line SUNE-1 5-8F untuk 

mengidentifikasi keberadaan sel punca KNF melalui kemampuan 

proliferatif, ekspresi petanda sel punca  kanker , faktor kemampuan 

memperbarui dirinya (self-renewal) dan ketahanannya terhadap  kemoterapi 

serta radiasi, menunjukkan bahwa  CD44 + merupakan petanda permukaan 

(surface marker) dari sel punca KNF. Pendapat ini didukung oleh beberapa 

peneliti lain yang melaporkan bahwa fenotip sel punca KNF yaitu   CD44+.

(79-81)

2.  BUKTI EKSPERIMENTAL UNTUK SEL PUNCA KARSINOMA 

NASOFARING 

Berikut merupakan beberapa bukti eksperimental untuk sel punca 

karsinoma nasofaring.


A. Label-Retaining Cells

Sel punca dewasa dapat dikenali dengan menggunakan pendekatan 

label-retaining cells ( LRCs ). Pendekatan ini berdasarkan kemampuan sel 

punca untuk menahan analog nukleosida, misal  bromodeoxyuridine . 

Zhang et al., berhasil mengidentifikasi  LRCs dari epitel nasofaring dengan 

cara menginjeksi tikus neonatal dengan  bromodeoxyuridine ( BrdU ).(82) 

Didapatkan 2% sel dengan kemampuan label retaining jangka panjang 

terhadap  bromodeoxyuridine pada nasofaring tikus dewasa dengan 

menggunakan teknik immunostaining . Dengan menggunakan teknik 

label radioaktif thymidine, ditemukan bahwa dari seluruh  LRCs ini  

didapatkan 12% di antaranya sedang mengalami tahap  S pembelahan sel, 

mengindikasi bahwa sel punca juga membelah, kemungkinan secara 

asimetrik. Selain  BrdU, 3H-thymine deoxyribose (3H-TdR) juga biasa 

digunakan sebagai petanda sel punca dewasa.

Gambar 5. Identifikasi  LRCs pada Epitel Nasofaring Tikus Normal. Sel diberi suntikan 

zat  BrdU . Terlihat terdapat sel yang mampu menahan  BrdU (panah). a) Epitel skuamos 

nasofaring; b) Epitel kolumnar nasofaring. Hal ini menunjukkan adanya sel punca pada 

jaringan normal.(82)

Tiga cell lines dari  kanker nasofaring (5-8 F, 6-10B, and TMNE) diberi 

label  bromodeoxyuridine  in vitro dan kemudian masing-masing ditanam 

pada punggung tikus normal, di mana selanjutnya tumor ini  

berkembang.  LRCs ditemukan pada ketiga jenis tumor KNF  xenograft 

ini  (0.3% dari sel), 16% di antara  LRCs ini  juga terlabel dengan 

radioaktif thymidine. Keberadaan sel epitel dengan kemampuan  LRCs 


pada nasofaring tikus dan manusia telah dibuktikan adanya, dan sel-

sel ini  tidak sepenuhnya dalam keadaan diam. Sel ini  dapat 

memasuki siklus sel untuk berpartisipasi dalam proses fisiologis atau 

patologis dalam segala waktu. Jiang and Yao juga menyatakan bahwa 

 LRCs terdapat pada cell line NPC.(83)

Gambar 7. Pemeriksaan histologis tumor  xenograft yang diberikan pada tikus normal. A) 

5-8F; b) 6-10B; c) TMNE. (scale bar 25 micrometer).(82)

Gambar 6. Pelabelan ( BrdU /3 H-TdR) pada sel epitel nasofaring, lidah, dan esofagus tikus. 

Sel yang terlabel  BrdU berwarna merah. Sel yang terlabel 3HTdr berwarna hitam. Terlihat 

sel yang mampu terlabel kedua marker ( BrdU dan 3 H-TdR) diberi tanda panah. Hal ini 

menunjukkan adanya sel punca pada jaringan nasofaring, lidah, dan esofagus normal.(82)


Gambar 8. Pelabelan sel  kanker pada tumor  xenograft diberi label  BrdU dan/atau 3 H-TdR. 

Sel yang terlabel  BrdU berwarna merah. Sel yang terlabel 3HTdr berwarna hitam. Terlihat 

sel yang mampu terlabel kedua marker ( BrdU dan 3 H-TdR) diberi tanda panah. Hal ini 

menunjukkan adanya sel punca pada tumor  xenograft.(82)

Bromodeoxyuridine dapat dideteksi pada sel 5-8 F dan tumor  xenograft . 

sesudah  8 bulan,  LRCs pada tumor  xenograft hanya ditemukan secara 

sporadis, dan  LRCs ini  berlokasi pada batas  kanker . Keberadaan dari 

 LRCs pada sel 5-8 F ini menunjukkan eksistensi sel punca  kanker pada 

KNF.

PKH26 yaitu  penanda lipofilik yang berinterkalasi menuju 

membran sel yang viabel dan tidak berpindah di antara sel. Subpopulasi 

yang serupa dengan sel punca (PKH26+) dapat diidentifikasi pada sel KNF 

menggunakan teknik retensi label.(84) Sel PKH26+ diperkaya kemampuan 

klonogenisitas, pembentukan sphere, sel  side population  (SP), dan  resistansi 

terhadap  radioterapi . Didapatkan juga bahwa proto-oncogene c-MYC 

meregulasi radiotolerance melalui inaktivasi transkripsional dari CHK1 

dan CHK2 checkpoint kinases dengan mengikat promoter menggunakan 

pendekatan genomik. Ekspresi yang berlebihan dari c-MYC pada 

subpopulasi PKH26+ memicu  meningkatnya ekspresi CHK1 dan 

CHK2 diikuti dengan aktivasi dari respons  DNA damage-checkpoint yang 

memicu   radioresistance .

Lebih jauh lagi, hilangnya ekspresi CHK1 dan CHK2 menghilangkan 

 radioresistance pada sel PKH26+  in vitro dan  in vivo . penelitian  ini  

menjelaskan peran axis c-MYC CHK1/CHK2 dalam mengatur respons 

 DNA  damage-checkpoint dan karakteristik sel punca pada populasi PKH26+. 

Selain itu, data ini  membuka potensi terapetik baru pada KNF.


B. Side Population Cells

Sel SP pada tumor yaitu  subpopulasi kecil sel  kanker dengan kemampuan 

seperti sel punca. Sel ini dapat diidentifikasi dengan menggunakan 

analisis flow cytometry dengan melihat kemampuan sel ini  untuk 

membuang bahan tertentu dari dalam sel seperti Hoechst 33342 dan 

agen kemoteraupetik. Keberadaan sel SP pada tumor merupakan faktor 

kunci yang berkontribusi pada  resistansi obat dan  metastasis, (85-89) dan 

merupakan tantangan utama dalam pengobatan  kanker. Sel SP telah 

berhasil diisoliasi dari beberapa tumor solid. Wang et al., mengisolasi 

sel SP dari 5 cell lines KNF dan menyelidiki karakteristik sel punca yaitu 

proliferasi, self-renewal, dan differensiasi.(90)

Gambar 9. Pembentukan klon pada sel SP. Sel SP (gambar A) yang dikultur menunjukkan 

kemampuan membentuk klon yang lebih efisien dibandingkan sel non-SP (gambar B).(90)


Gambar 10. Pembentukan Tumor pada Sel SP. Pembentukan tumor pada tikus NOD/SCID 

dan hasil pengecatan H&E. Tikus diinokulasikan dengan 10000 sel SP dan 10000 sel non-SP 

KNF lalu dieutanasia 9 minggu kemudian. Perkembangan tumor dinilai sesudah  euthanasia. 

Pada ketiga tikus yang diinokulasikan sel SP, tumor berhasil tumbuh. Pada ketiga tikus yang 

diinokulasikan sel non-SP, tumor tidak tumbuh.(90)

Mereka mengamati kemampuan  tumorigenik yang kuat pada sel SP 

mengikuti transplantasi  in vivo pada tikus imunodefisiensi. Didapatkan 

bahwa sel SP lebih resistan terhadap  kemoterapi dan  radioterapi , dan 

hal ini berhubungan dengan ATP-binding cassette half-transporter member 

2 dari G family protein ( ABCG2 ) dan ekspresi protein yang diperhalus. 

 ABCG2 yaitu  transporter yang mampu mengantarkan berbagai molekul 

melewati membran ekstraseluler dan intraseluler. Ekspresi  ABCG2 yang 

tinggi dan subpopulasi sel  kanker memiliki asosiasi dengan  resistansi 

berbagai macam obat. Meskipun begitu, Zhang et al., pada penelitiannya 

menyimpulkan bahwa penggunaan  ABCG2 saja tidak dapat menjadi 

penanda sel punca  kanker yang reliabel dikarenakan kurangnya spesifitas. 

Sel punca  kanker dapat ditemukan baik pada sel dengan ABCG+ dan 

ABCG-.


C. Sel  ALDH1 High

Aldehyde dehydrogenase 1 ( ALDH1 ) merupakan bagian dari superfamili 

 aldehyde dehydrogenase , yang berfungsi mengoksidasi aldehyde hingga 

menjadi asam karboksilat yang sesuai.  ALDH1 awalnya digunakan 

sebagai penanda sel punca  kanker pada sel hematopoetik.(91) Wu et al., 

mengisolasi sel  ALDH1+ dari cell lines 5-8F dan CNE2 pada KNF manusia 

dan mendapatkan bahwa sel  kanker  ALDH1+ tumbuh lebih cepat dan 

memiliki efisiensi pembentukan kloning, kapabilitas  diferensiasi , dan 

migrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sel  kanker ALDH-  in vitro .

(92) Sel  kanker  ALDH1+ membentuk tumor spheres yang jumlahnya jauh 

lebih signifikan. Eksperimen  in vivo menunjukkan bahwa dibutuhkan 

hanya 5 hingga 103 sel KNF ALDH+ untuk menginduksi sebuah tumor. 

Diketahui bahwa sel ALDH+ kaya dengan SP dan mengekspresikan banyak 

gen yang menyerupai sel punca normal (OCT-4, BMI-1, KLF4, dan SOX2.) 

Ekspresi dari  ALDH1 berhubungan secara signifikan dengan klasifikasi 

TNM dan penanda epithelial-mesenchymal transition ( EMT ) termasuk 

ekspresi vimentin dan hilangnya E-cadherin.

Gambar 11. Klonogenisitas dan proliferasi (ALDH)High. Sel Aldehyde dehydrogenase 

ALDHHigh menunjukkan kemampuan klonogenisitas dan proliferasi yang lebih tinggi 

secara signifikan dibandingkan dengan sel Aldehyde dehydrogenase ALDHLow (P<0.05). Data 

dianalisis menggunakan two-tailed Student t test.(93)


Aldehyde dehydrogenase 1 dapat menjadi marker baru sel punca dan 

prediktor dari buruknya prognosis KNF.(94) Yu et al., (2013) menunjukkan 

bahwa banyaknya sel punca  kanker diiringi dengan aktivitas ALDH yang 

tinggi berhubungan dengan besarnya kemampuan dalam berproliferasi, 

klonogenik, tahan terhadap obat  kemoterapi dan radiasi, memiliki 

populasi heterogen, dan mengekspresi penanda  pluripoten.(93) Dua penelitian  

telah dilakukan terkait ekspresi dari ALDH1A1 pada spesimen KNF.(95,96) 

Hasilnya memberikan indikasi bahwa peningkatan ekspresi ALDH1A1 

pada KNF memiliki hubungan dengan meningkatnya karakter sel yang 

serupa dengan sel punca pada sel ini .

Gambar 12. Level ekspresi mRNA relatif dari OCT-4, BMI-1, KLF4, dan SOX2 pada sel  ALDH1 

positif dan  ALDH1 negatif dinilai menggunakan real time PCR. Grafik ini menunjukkan bahwa 

sel  ALDH1-positif mengekspresikan banyak gen yang menyerupai sel punca.(92,93)


Gambar 13. Analisis ekspresi gen  ALDH1 dan  ABCG2 . Analisis ekspresi gen  ALDH1 dan 

 ABCG2 menggunakan real-time PCR. Grafik ini menunjukkan bahwa sel  ALDH1 positif 

mengekspresikan lebih banyak gen  ABCG2 dibandingkan sel  ALDH1 negatif.(93)

Gambar 14. Resistansi sel  aldehyde dehydrogenase (ALDH)High terhadap kemo/ radioterapi . 

Sel ALDHHigh and ALDHLow yang telah disaring dalam jumlah yang sama diobati menggunakan 

cisplatin dengan konsentrasi yang meningkat atau dipaparkan dengan radiasi x-ray. Sel yang 

selamat sesudah  terapi dikuantifikasi menggunakan assay methylthiazol tetrazolium (MTT). 

Grafik menunjukkan bahwa jumlah sel yang ALDHHigh yang selamat sesudah  terapi lebih 

besar secara signifikan (P<0.05).(93)

D. Sel  CD44 +

Marker sel  CD44 yaitu  glikoprotein permukaan sel yang terlibat dalam 

interaksi antarsel, adhesi sel, dan migrasi. Marker sel  CD44 berfungsi 

sebagai molekul adhesi utama dan berfungsi juga dalam internalisasi 


asam hialuronat. Interaksi antara marker sel  CD44 dan asam hialuronat 

terlibat dalam proses stimulasi agregasi, proliferasi, migrasi dan proliferasi 

sel, serta  angiogenesis . 

Gambar 15. Hubungan antara marker sel  CD44 , asam hialuronat, dan sistem PI3K-Akt. 

Stimulalsi dari sistem PI3K memicu  fosforilasi Akt (protein kinase B). p-Akt terlibat dalam 

proses survival sel dan pada perkembangan  resistansi terhadap  kemoterapi . Aktivasi dari 

enzim ini mampu mengaktifkan serangkaian reaksi, yang pada akhirnya akan memicu  

meningkatnya proliferasi dan survival sel melalui transformasi phosphatidylinositol-4,5-

bisphosphate yang berlokasi di dalam sitoplasmik membran, menjadi phosphatidylinositol-

3,4,5- triphosphate, yang mampu mengaktifkan molekul efektor Akt. Akt yaitu  kinase 

Ser–Tyr. Bentuk aktif p-Akt memfosforilasi beberapa protein yang terlibat dalam proliferasi 

sel.(97)


Marker sel  CD44 dapat digunakan sebagai marker permukaan sel pada 

sebagian sel punca  kanker payudara dan prostat.(98,99) Su et al.,mengisolasi 

sel  CD44+ dari cell line 5-8F KNF menggunakan metode fluorescence-activated 

cell sorting.(100) Marker sel  CD44 terekspresi pada 52.5% dari cell line 5-8 F. 

Terlepas dari kondisi kultur, dengan atau tanpa serum, sel dengan marker 

 CD44 ( CD44+) yang baru disortir menunjukkan kapasitas proliferatif yang 

lebih tinggi dibandingkan dengan sel tanpa marker  CD44 ( CD44-) dan sel 

yang tidak disortir. Level ekspresi dari Mo-MLV insertion region 1 homolog 

( Bmi-1 ) dan Oct-4 mRNA pada sel  CD44+ limfoma B secara signifikan lebih 

banyak dibandingkan dengan sel  CD44-. penelitian  ini menunjukkan bahwa 

sel  CD44+ memiliki karakteristik biologis dari sel punca  kanker atau sel 

 progenitor  kanker: ekspresi penanda  pluripoten , kemampuan self-renewal 

yang tinggi, kemoresisten, dan radioresisten. 

Janisiewicz et al.,melaporkan bahwa sel  CD44 + berdiferensiasi menjadi 

sel  CD44- pada sel C666.(101) Sel  CD44+ menunjukkan kapasitas inisiasi 

tumor pada model  xenograft . Ekspresi  CD44 memiliki hubungan dengan 

keluaran klinis. Observasi ini mengindikasikan bahwa subpopulasi  CD44+ 

memiliki fitur yang konsisten dengan sel punca  kanker .

Ekspresi dari  CD44 dan perannya sebagai penanda dari sel punca 

 kanker pada kepala leher terbilang menarik. penelitian  terbaru menunjukkan 

bahwa marker  CD44 sebagai sel punca  kanker memiliki peran pada 

diagnosis awal dari sel  kanker skuamous kepala dan leher dan sebagai 

faktor prognostik terjadinya relaps,  rekurensi dari penyakit, dan kemo/

radioresisten.(97,102) Hingga saat ini,  CD44 memiliki hubungan dengan 

keluaran dan prognosis pada sel  kanker skuamous kepala dan leher dan 

memiliki hubungan dengan sel punca  kanker jika  dikombinasikan 

dengan penanda permukaan sel punca yang lainnya.


Gambar 16. Kurva pertumbuhan sel dan formasi klon  CD44 + dan  CD44-. (A) Kurva 

pertumbuhan sel  CD44+ dan  CD44- dikultur pada medium serum-free RPMI 1640 selama 

7 hari. (B) Formasi klon sel  CD44+ dan  CD44- yang dikultur pada medium serum RPMI 1640 

selama 14 hari. Sel  CD44+ tumbuh lebih cepat dibandingkan sel  CD44 pada kedua media 

(p <0.05).(100)

E. Sel  CD133 +

Sel dengan marker  CD133 + yaitu  anggota dari pentaspan transmembrane 

glycoproteins (5-transmembrane) yang secara spesifik terlokalisasi pada 

protrusi seluler. Didapatkan bahwa  CD133 diekspresikan pada sel punca 

hematopoetik, sel  progenitor endotelial, glioblastoma, sel punca neuronal 

dan glial, serta berbagai tumor otak pediatrik. Populasi sel dengan  CD133+ 

diperkaya menggunakan teknologi magnetic-activated cell sorting pada 

cell line CNE2 KNF.(103) Didapatkan bahwa sel dengan  CD133+ memiliki 

potensi yang lebih kuat pada self-renewal, proliferasi, dan  diferensiasi , serta 

memiliki potensi pembentukan tumor  in vivo yang lebih hebat pada tikus 

normal dibandingkan dengan sel  CD133-, meskipun presentasi sel  CD133+ 

ini  kecil. Hasil ini  memberikan kemungkinan bahwa  CD133 

dapat menjadi penanda permukaan yang spesifik untuk sel punca KNF. 


Gambar 17. Aktivitas pembentukan tumor sel  CD133 pada tikus normal. (A-C) Injeksi sel 

 CD133+ subkutan pada dorsum kanan tikus sehat memicu  formasi tumor; Injeksi 

sel  CD133- subkutan pada dorsum kanan tikus sehat tidak memicu  pembentukan 

tumor.(103)

F. Faktor lain

 Bmi-1 telah dilaporkan sebagai onkogen yang meregulasi p16 dan p19, 

di mana p16 dan p19 sendiri merupakan inhibitor siklus sel.  Bmi-1 

diperlukan untuk pembelahan sel self-renewing yang efisien dari sel 

punca hematopoetik, sel punca perifer orang dewasa, dan sel punca 

sistem saraf pusat. Ekspresi berlebihan dari  Bmi-1 telah ditemukan pada 

berbagai macam tumor ganas begitu juga pada KNF.(104) Upregulation dari 

 Bmi-1 menginduksi  EMT dan meningkatkan motilitas dan kemampuan 

invasif dari sel epitel nasofaring manusia, sementara deplesi dari  Bmi-1 

meningkatkan kemosensitivitas dari sel KNF melalui induksi  apoptosis , 

dengan begitu  Bmi-1 diasumsikan sebagai kandidat penanda sel punca 

 kanker .(100) Terdapat literatur yang menguatkan peran  Bmi-1 sebagai 

faktor prognostik  rekurensi  metastasis lokal dan jauh pada karsinoma 

laringeal.(105,106)

G. Sphere-Forming Cells

Pada sebagian  kanker , penanda sel punca  kanker belum dapat diketahui. 

Pada keadaan ini, the sphere culture assay digunakan untuk menyortir 

subpopulasi  kanker yang berpotensi menjadi sel punca  kanker.(107-111) Lun 

et al., mengisolasi sphere-forming cells dari cell line C666-1 KNF yang positif 

terinfeksi  EBV dan mendapatkan kemampuan inisiasi tumor pada sel 

ini .(112) Gen sel punca  CD44 dan SOX2 ditemukan terekspresi secara 


berlebihan pada mayoritas sel sphere forming c666-1. Sel  CD44+ SOX2+ 

berhasil dideteksi pada populasi minor  xenograft yang positif terinfeksi 

 EBV dan pada tumor primer dan dianggap sebagai sel punca  kanker yang 

potensial pada KNF. Perlu diketahui bahwa sel KNF  CD44+SOX2+ yang 

diisolasi resistan terhadap agen kemoterapeutik dan memiliki efisiensi 

pembentukan spheroid yang lebih tinggi, konsisten dengan karakter 

sebuah sel punca  kanker.

Gambar 18. Laporan profil fungsional/ekspresi yang baru ditemukan untuk 

mengidentifikasi dugaan sel punca KNF manusia.(113)

3. ASAL SEL PUNCA KANKER KARSINOMA NASOFARING

Teori yang membahas asal dari sel punca  kanker masih terbilang 

kontroversial. Beberapa hipotesis mengindikasikan bahwa asal muasal 


sel punca  kanker kemungkinan yaitu  heterogenik seperti yang tertera 

pada Gambar 18.

A.  Hilangnya Diferensiasi dari Sel Limfosit B Mukosa atau Sel Epitel 

Nasofaring

Bentukan histologis dari KNF utamanya yaitu   undifferentiated dan 

 nonkeratinizing . Sebagian besar kasus KNF tidak hanya menunjukkan 

derajat  diferensiasi skuamous yang bervariasi, namun juga ditemukan 

jejak dari  diferensiasi kolumnar pada pengamatan yang dilakukan 

menggunakan mikroskop elektron. Dari hal ini , dapat disimpulkan 

bahwa KNF yaitu  tumor ganas bifasik yang sedikit lebih mengarah 

kepada  diferensiasi skuamous.(114) Pada analisis genomik  EBV yang 

dilakukan pada sel tumor, didapatkan hanya satu fragmen fusi terminal 

saja, hal ini memberikan kemungkinan bahwa DNA virus dari seluruh 

sel KNF yaitu  homolog dan berasal satu sel yang mengalami proliferasi 

klonal.(115) DNA virus yang terdapat pada limfosit yang terinfeksi  EBV, 

yang di mana limfosit ini  telah menginfiltrasi ke dalam tumor, dapat 

dengan mudah ditemukan menggunakan amplifikasi PCR.(116,117) Salah 

satu hipotesis yang memungkinkan dari beberapa hal ini  yaitu  

bahwa sel limfosit B bukanlah sel yang telah berdiferensiasi secara 

terminal atau kapasitas  diferensiasi terminal dari sel B dapat dibalikkan 

oleh peran faktor tertentu, termasuk oleh mukosa nasofaring. Terdapat 

kemungkinan bahwa limfosit B yaitu  sel  progenitor dari KNF. Namun 

masih tidak terdapat bukti yang mendukung hipotesis ini.

Sel epitel nasofaring yang sebelumnya telah mengalami perubahan 

genetik, ditambahkan dengan infeksi  EBV , rentan mengalami transformasi 

yang berikutnya menjadi lesi premalignan dan diikuti dengan terjadinya 

displasia dan karsinoma invasif dari sel epitelial. Episome dari virus  EBV 

ini  dipertahankan pada sel epitel yang terinfeksi, di mana sel epitel 

ini  berlanjut menjalankan proliferasi dan tidak berdiferensiasi.(114) 

Hal ini menunjukkan bahwa transformasi dari sel epitel nasofaring yang 

mengalami modifikasi genetik ditambah dengan infeksi dari  EBV dapat 

menjadi asal-usul sel punca  kanker KNF.


B.  Transisi Epitelial-Mesenkimal Menginduksi Sel Progenitor 

Kanker 

Penelitian menunjukkan bahwa onkoprotein utama dari  EBV , yaitu latent 

membrane protein 1 ( LMP1 ), mendukung terjadinya invasi dan  metastasis 

dari sel tumor. Selain itu,  LMP1 juga mendukung terjadinya transisi 

epitelial-mesenkimal.  LMP1 yaitu  onkoprotein yang memiliki hubungan 

dengan keganasan pada manusia, terutama KNF. Didapatkan juga bahwa 

 LMP1 menginduksi fenotip CD44high CD24low yang menyerupai ekspresi 

sel punca/ progenitor  kanker .(118)  LMP1 juga menginduksi kemampuan 

self-renewal.  LMP1 meningkatkan ekspresi dari beberapa penanda sel 

 progenitor  kanker dan penanda transisi epitel mesenkimal. Penemuan 

ini menunjukkan bahwa  LMP1 dapat menginduksi karakteristik sel 

 progenitor  kanker pada sel epitel. Hal ini memberikan kemungkinan 

bahwa perubahan fenotip yang diinduksi oleh LMP-1 berkontribusi pada 

perkembangan dari KNF. 

Puncak hierarki yaitu  sel punca  kanker primitif langka, yang 

memiliki kemampuan self-renewal yang tinggi sehingga mampu 

melanggengkan diri mereka dan juga berkembang menjadi sel  progenitor 

 kanker. Sel  progenitor  kanker ini memiliki kemampuan self-renewal yang 

terbatas dan dapat berdiferensiasi menjadi berbagai tipe sel  kanker. In 

vivo, sel punca  kanker primitif jarang membelah dan sel  progenitor  kanker 

berproliferasi dengan cepat. Selain itu, LMP2a juga memiliki peran yang 

serupa dalam menginduksi transisi epitelial mesenkimal.(119,120)

Induksi transisi epitelial mesenkimal pada sel tumor tidak hanya 

memicu  invasi sel tumor dan  metastasis , namun juga berkontribusi 

pada  resistansi obat.(90,121-124) Proses ini konsisten dengan akuisisi fenotip 

sel punca  kanker yang juga dikenal dengan sebutan karakteristik  stemness .

(125) Meski sel punca  kanker dapat terbentuk melalui cara ini , transisi 

epitelial mesenkimal hanya berperan sebagai bagian dari proses dan 

sel mesenkimal memiliki atribut dari sel punca  kanker dalam batas 

tertentu.


c. Berasal dari Sel Punca Normal

Sel punca  kanker memiliki atribut yang serupa dengan sel punca normal, 

seperti waktu hidup yang panjang, induksi terhadap  angiogenesis , resistan 

terhadap  apoptosis , kemampuan untuk self-renewal dan  diferensiasi , 

ekspresi dari penanda sel punca, dan seterusnya.(109) Sel punca cadangan 

nasofaring normal dari epitel kolumnar dan sel basal dari sel punca epitel 

skuamous, terutama foci sel basal dari metaplasia skuamous, telah dinilai 

sebagai asal dari sel KNF. Zhang et al., mendeskripsikan identifikasi dari 

sel yang menyerupai sel punca pada sel epitel nasofaring normal tikus 

dengan pendekatan  LRC .(126) Infeksi  EBV , lingkungan dan diet, serta faktor 

genetik dapat memicu  transformasi dan  diferensiasi abnormal dari 

sel punca yang normal, yang kemungkinan dapat menjadi derivatif dari 

sel punca  kanker KNF.

Gambar 19. Asal Sel Punca KNF. BL = B lymphosctes,  CSC = Cancer stem-like cell,  EBV = 

Epstein Barr Virus,  EMT = Epithelial-mesenchymal transition, MET = Mesenchymal-epithelial 

transition, NE = Nasopharyngeal epithelial cells, NPC = Nasopharyngeal carcinoma, NSC = 

Normal stem cell, TIC = Tumor-initiating cell.(113)


4.  PENDEKATAN TERAPEUTIK SEL PUNCA KANKER KARSINOMA 

NASOFARING

Berbagai penelitian  yang dilakukan menunjukkan bahwa menarget sel punca 

 kanker dapat menjadi strategi yang cukup menjanjikan dalam terapi 

 kanker. Berdasar atribut dari sel punca  kanker KNF, banyak upaya telah 

dikembangkan untuk menarget sel punca  kanker KNF secara spesifik 

(gambar).

Nigericin baru-baru ini dilaporkan dapat menarget sel punca 

 kanker secara selektif dan dapat mensensitisasi sel punca  kanker pada 

KNF terhadap cisplatin baik  in vitro dan  in vivo . Nigericin mengurangi 

presentasi SP pada derivat cell line CNE-2 yaitu sel S18 (memiliki 

kemampuan  metastasis yang lebih tinggi) dan pada sel S16 (memiliki 

kemampuan  metastasis yang lebih rendah). Downregulation dari polycomb 

group protein  Bmi-1 berkontribusi terhadap efek inhibisi dari nigericin 

terhadap sel punca  kanker.(104) Blok terhadap CCR7 dengan antibodi 

anti CCR7 menghapuskan kemampuan membentuk sphere oleh c666-1 in 

vitro.(112)

Shen et al.,pada penelitiannya mendapatkan bahwa resveratrol 

menghambat atribut sel punca  kanker melalui aktivasi dari  p53 dan efek 

ini dapat dibalikkan dengan cara mematikan  p53. Selanjutnya, resveratrol 

dapat menyupresi  stemness dan transisi epitelial mensenkimal melalui 

reaktivasi  p53 dan menginduksi miR-145 dan miR-200c, yang pada sel 

punca  kanker KNF telah mengalami downregulated.(127) Epigallocathecin 

gallate, catechin yang paling berlimpah pada teh hijau, dilaporkan 

mampu meregulasi sel punca  kanker KNF dan kapasitas self-renewal 

mereka, dan menginhibisi karakteristik invasif mereka.(128) Smac mimetics 

dikombinasikan dengan TRAIL secara selektif mampu menarget sel punca 

 kanker, mengurangi presentasi sel SP, menginhibisi kemampuan colony-

forming dan sphere-forming, serta mengeliminasi sel punca  kanker pada 

 xenograft tikus.(127)

Sinyal  Notch penting untuk kemampuan self-renewal dan pemeliharaan 

dari sel punca. Pada sel punca  kanker , jalur sinyal  Notch ini umumnya 

dalam keadaan aktif. Yu et al.,melaporkan bahwa  Notch inhibitor, (N-((3,5-


difluorophenyl)acetyl)-L-alanyl-2-phenyl)glycine-1,1 dimethylethyl ester, 

dapat mereduksi proporsi sel SP pada cell line CNE 1,2 dari KNF.(129) Ester 

ini menginhibisi proliferasi sel KNF, menghabisi sel SP, mengurangi 

pembentukan koloni, dan pembentukan tumor pada  xenograft pada tikus 

telanjang yang mengalami defisiensi imun, dan menginduksi  apoptosis 

dari sel KNF. penelitian  ini menunjukkan bahwa inhibisi jalur sinyal  Notch 

dapat menjadi pendekatan klinis yang menjanjikan pada terapi KNF 

dengan menjadikan sel punca  kanker sebagai target.

Jalur reseptor epidermal  growth factor memegang peran penting pada 

regulasi sel punca  kanker .(130) Efek dari reseptor epidermal  growth factor 

pada pemeliharaan sel punca  kanker utamanya dimediasi oleh sinyal AKT, 

dan β-catenin bertanggung jawab untuk mengatur atribut sel punca dalam 

merespons aktivasi epidermal  growth factor receptor/AKT. Sel tumor yang 

berasal dari tikus yang telah diterapi dengan cisplatin tumbuh secara 

cepat, di mana pertumbuhan ulang pada sel tumor tikus yang diterapi 

dengan gefitinib sangat berkurang. Ekspresi dari reseptor epidermal  growth 

factor berhubungan dengan ekspresi β-catenin dan nanog pada spesimen 

tumor primer pasien KNF. Penemuan ini menyediakan bukti mekanik dan 

preklinikal yang mendukung penggunaan gefitinib secara tunggal, atau 

secara kombinasi dengan agen kemoterapeutik pada terapi pasien KNF.

Jalur hedgehog merupakan sebuah jalur yang terlibat dalam 

pemeliharaan sel punca, jalur ini diaktivasi melalui pengikatan ligan 

hedgehog (Sonic hedgehog) kepada reseptor protein transmembran patched, 

melepaskan inhibisi dari smoothened dan kemudian mengaktivasi 

komponen sinyal downstream dan transkripsi  gli-mediatid dari gen 

target.  EBV mengaktivasi jalur sinyal hedgehog melalui induksi autokrin 

terhadap ligan sonic hedgehog.(131,132) Blok terhadap jalur ini menggunakan 

cyclopamine, sebuah inhibitor spesifik terhadap jalur sinyal sonic hedgehog, 

terbukti mampu mengurangi proliferasi dari sel epitelia KNF dan 

menginduksi  apoptosis dari sel KNF.


Gambar 20. Potensi Pendekatan Terapi terhadap Sel Punca Kanker. (113)

5. KESIMPULAN DAN PERSPEKTIF MASA DEPAN

Perilaku biologis  EBV dan penanda permukaan spesifik KNF membuat 

peneliti berhipotesis bahwa patogenesis KNF berasal dari ekspansi klonal 

 undifferentiated dari limfosit B atau dediferensiasi dari epitel nasofaring 

melalui pemrograman ulang transisi epitelial mesenkimal atau  mutasi 

dari sel epitel nasofaring normal. Asumsi ini masih membutuhkan bukti 

eksperimen yang lebih lanjut. Serupa dengan sifat yang heterogen dari 

 kanker solid, asal muasal dari sel punca  kanker pada individual yang 

berbeda dengan tipe yang sama dapat bervariasi dikarenakan faktor 

 epigenetik , genetik, dan lingkungan mikro tumor. Meskipun banyak penelitian  

menunjukkan agen terapi yang menarget sel punca KNF ini menjanjikan, 

masih sedikit bukti komprehensif yang menunjukkan bahwa agen yang 

diajukan ini  spesifik terhadap sel punca  kanker KNF dan lebih 

efektif dari terapi konvensional. Terapi yang diajukan ini  masih 

membutuhkan penelitian lebih jauh, terutama melalui eksperimen  in vivo 

yang diteliti, sebelum pada akhirnya digunakan pada percobaan klinis.


Beberapa faktor harus dipertimbangkan dalam pengembangan 

terapi spesifik terhadap sel punca  kanker KNF; pertama, reliabilitas 

menggunakan penanda permukaan sel atau skrining fungsional sebagai 

metode untuk mengisolasi sel punca  kanker dinilai masih kontroversial. 

 ABCG2 + dan ALDH1high tidak dapat berperan sendirian sebagai penanda 

sel punca  kanker.(133,134) Faktor kedua yaitu  dikarenakan sifat heterogen 

dari sel KNF dan sel punca  kanker KNF membutuhkan perencanaan 

terapi yang sifatnya individual. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk 

memperoleh karakteristik primer dan profil ekspresi regulasi molekuler 

pada sel punca  kanker.

Sel punca  kanker terlihat lebih resistan terhadap reagen 

kemoterapeutik dibandingkan dengan sel tipe dewasa. Sel punca  kanker 

secara karakteristik mengekspresikan protein yang mampu memicu  

 resistansi terhadap obat. jika  hal ini benar merupakan atribut sel 

punca  kanker KNF, maka terapi dengan target sel punca  kanker secara 

langsung diharapkan menghasilkan respons yang lebih reliabel pada 

penyakit primer maupun  metastasis .

 Dibutuhkan penelitian lebih lanjut baik  in vitro maupun  in vivo untuk 

mengetahui sensitivitas sel punca  kanker terhadap berbagai macam agen 

terapi yang diusulkan. jika  terapi berhasil, bagian dari sel  kanker yang 

dapat berubah secara cepat menjadi massa  kanker yang berbahaya dapat 

dieliminasi. Penelitian terkait atribut unik dari sel punca  kanker KNF 

merupakan prioritas yang tinggi dalam pengembangan diagnostik awal 

dan strategi terapi yang efektif terhadap KNF