Stemcell epigenetik 2


 kaian  MSC 

alogenik pada penyakit jantung. Saat ini product MSC 

digunakan untuk uji klinis skala besar melibatkan 

ribuan pasien dan jika berhasil produk ini disetujui 

FDA. 95  

Stem Cell Epigenetik 

21 

 

Gambar  21.  Mekanisme kerja mesenchymal stem cell (MSC). Mekanisme kerja MSC yaitu  membentuk efek parakrin, 

autokrin dan langsung yang menginduksi regenerasi vaskuler, proteksi miokard, regenerasi kardiomiosit yang 

memicu  perbaikan jantung. Miro 1: mitochondria Rho-GTP ase.  

________________________Karantalis V, Hare JM. Use of mesenchymal stem cells for therapy of cardiac disease. Circ Res. 2015;116:1413-1430. 

 

 

Tabel 1.Terapi Stem Cell pada Gagal Jantung Kronik  

Nama uji klinis (Jumlah Pasien) Δ6MWT ΔMLHFQ ΔMI SIZE ΔEF 

Williams et al6 (n=8) … … −18.3±8.3% … 

SCIPIO20 (n=21) … −19.8 −9.8±3.5 g (−30%) +8–12.3% 

MESOBLAST23 (n=60) +52.5 m* … … +5.2±9.3%*§ 

CADUCEUS18 (n=25) +33.0 m −10.8† −12.9 g (−42%) † 

POSEIDON16 (n=30) +43.5 m −7.6 −33.21% +2.0%*† 

C-CURE19 (n=33) +62.0 m ±10*† … +7.0% 

TAC-HFT17(n=59) +32.6 m† −6.3 −12.6 g (−32.9%) † 

MSC-HF‡ (n=59) … … −4.4±5.1 g +5.5±3.8% 

 

6MWT : 6-minute walk test; C-CURE, Cardiopoietic stem Cell therapy in heart failURE; CADUCEUS, CArdiosphere-

Derived aUtologous Stem CElls to Reverse ventricUlar dySfunction; EF, ejection fraction; MESOBLAST, A Phase II 

Dose-escalation Study to Assess the Feasibility and Safety of Transendocardial Delivery of Three Different Doses of 

Allogeneic Mesenchymal Precursor Cells (MPCs) in Subjects With Heart Failure; MI SIZE, myocardial infarction 

size/scar size; MLHFQ, Minnesota Living With Heart Failure Questionnaire MSC-HF, Mesenchymal Stromal Cells in 

chronic ischemic Heart Failure; POSEIDON, The Percutaneous Stem Cell Injection Delivery Effects on Neomyogenesis 

Pilot Study; SCIPIO, Cardiac Stem Cell Infusion in Patients With Ischemic CardiOmyopathy; and TAC-HFT, The 

Transendocardial Autologous Cells (hMSC or hBMC) in Ischemic Heart Failure Trial.  

*Tidak signifikan vs kontrol  

†Tidak signifikan dalam kelompok. 

‡Data tidak dipublikasi. 

§25 juta kelompok sel precursor mesenchymal. 

________________________Sanina C, Hare JM. Mesenchymal stem cells as a biological drug for heart disease. Where are we with cardiac cell–based 

therapy? Circ Res. 2015;117:229-233. 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

22 

 

 

Gambar 22. Jumlah uji klinis MSC (Mesenchymal Stem Cell) (n=34) didapati pada clinicaltrials.gov penyakit jantung. 

Grafik bar menunjukkan jumlah uji klinis sesuai dengan fase klinis (A). Jumlah total pasien yang terdaftar sesuai dengan 

fase uji klinis (B). Jumlah rata-rata pasien yang terdaftar per uji (C). Diagram menunjukkan persentase rute pemberian sel 

dalam 34 uji klinis (intravena (IV), introkoronarier (IC), intramiokard (IM), dan transendokardial TE), D). 

________________________Sanina C, Hare JM. Mesenchymal stem cells as a biological drug for heart disease. Where are we with cardiac cell–based 

therapy? Circ Res. 2015;117:229-233. 

 

 

MSC JARINGAN ADIPOSA  

 

Jaringan adiposa mengandung beberapa  stem cell 

multipoten dikenal sebagai MSC jaringan adiposa, 

mampu bereplikasi menjadi sel tidak terdiferensiasi, 

adiposit dan berdiferensiasi menjadi sel lain 

sepanjang turunan mesenchymal. MSC jaringan 

adiposa dilaporkan dapat berdiferensiasi menjadi 

kardiomiosit 96 dan sel endotel, 97 memotivasi studi 

model gagal jantung pada hewan coba. Miyahara et 

al., mendapatkan bahwa transplantasi MSC lapisan 

tunggal ke dalam infark miokard dengan jaringan 

parut dapat memperbaiki dinding jaringan parut 

menipis dan memperbaiki fungsi jantung. 98 Studi 

lain membandingkan MSC jaringan adiposa dengan 

BMMNC (bone marrow mononuclear cell) pada 

model tikus dengan infark miokard kronik. 99 Satu 

bulan setelah transplantasi, MSC adiposa dapat 

menginduksi perbaikan fraksi ejeksi ventrikel kiri, 

meningkatkan angiogenesis dan mengurangi fibrosis 

secara signifikan dibandingkan dengan sel 

kardiomiogenik adiposa atau BMMNC.  Studi A 

Randomized Clinical Trial of Adipose-derived Stem 

Cells in Treatment of Non Revascularizable 

Ischemic Myocardium (PRECISE) oleh Perin et al., 

merekrut 27 pasien mendapatkan bahwa pemakaian  

sel adiposa dapat menstabilkan besarnya infark dan 

meningkatkan konsumsi oksigen maksimal. 100 

 

 

UNFRACTIONIZED BONE MARROW-

DERIVED STEM CELL 

 

Hasil meta-analisis yang dilakukan Afzal et al., 

dimuat di Circulation Research, jurnal  ranking No 1 

di dunia dalam penelitian kardiovaskuler, 

melibatkan 48 studi acak tersamar mendapatkan 

bahwa transplantasi sel sumsum tulang (bone 

marrow cell) pada pasien penyakit jantung iskemik 

meningkatkan fraksi ejeksi ventrikel kiri (left 

ventricular ejection fraction, LVEF)  sebesar 2.92% 

(95% confidence interval, 1.91–3.92; p <0.00001) 

Stem Cell Epigenetik 

23 

(Gambar 23) 101 , mengurangi besarnya infark 

(infarct size)  sebesar −2.25% (95% confidence 

interval, −3.55 s/d −0.95; p =0.0007), mengurangi 

volume sistolik akhir (left ventricular end-systolic 

volume, LVESV) sebesar −6.37 mL (95% 

confidence interval, −8.95 s/d −3.80; p <0.00001), 

dan cenderung mengurangi volume diastolik akhir  

ventrikel kiri (left ventricular end-diastolic volume, 

LVEDV) sebesar −2.26 mL (95% confidence 

interval, −4.59 s/d 0.07; p =0.06) (Tabel 2). 101 

Terapi sel sumsum tulang aman dilakukan dan 

meningkatkan outcome klinis, termasuk menurunkan 

angka mortalitas, infark miokard rekuren, aritmia 

ventrikel dan kejadian serebrovaskuler selama 

follow-up. Efek ini dianalisis memakai  

magnetic resonance imaging (MRI), merupakan 

pencitraan canggih dalam menganalisis perbaikan 

struktur dan fungsi jantung.  Kesimpulan meta-

analisis ini memberi  petunjuk bahwa terapi stem 

cell merupakan modalitas pengobatan dalam 

meningkatkan fungsi jantung melalui proses 

regenerasi jaringan jantung dan efek parakrin yang 

merangsang cardiac stem cell dan faktor parakrin 

yang memicu  perbaikan fungsi jantung. 

 

 

 

Gambar 23. Efek transplantasi BMC terhadap LVEF (left ventricular ejection fraction). Transplantasi BMC memberi  

peningkatan LVEF sebesar 2,92%  (95% CI, 1.91–3.92; P<0.00001) dibandingkan kontrol. IN inverse variance.  

________________________Afzal MR, Samanta A, Shah ZI, Jeevanantham V, Abdel-Latif A, Zuba-Surma EK, Dawn B. Adult bone marrow cell therapy 

for ischemic heart disease. Evidence and insights from randomized controlled trials. Circ Res. 2015;117:558-575. 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

24 

Tabel 2. Perbedaan hasil akhir terapi sel sumsum tulang (BMC) dengan kontrol selama follow up pada pasien penyakit 

jantung iskemik  

Durasi Follow-Up  BMC Therapy (n) Control (n) Perbedaan rerata (95% CI) Nilai P  

LVEF 

 0–3 bln 499 385 3.53 (2.05 to 5.00) <0.00001 

 4–6 bln 1196 958 2.92 (1.88 to 3.96) <0.00001 

 7–12 bln 591 446 4.43 (0.48 to 3.89) <0.00001 

 >12 bln 330 298 2.19 (0.48 to 3.89) 0.01 

Infarct size 

 0–3 bln 123 88 −6.02 (−11.37 to −0.67) <0.03 

 4–6 bln 443 373 −2.25 (−3.77 to −0.72) <0.004 

 7–12 bln 167 93 −4.39 (−7.20 to −1.57) 0.002 

 >12 bln 99 87 −2.25 (−3.14 to −1.36) <0.00001 

LVESV 

 0–3 bln 322 244 −7.26 (−11.11 to −3.41) 0.0002 

 4–6 bln 907 751 −5.50 (−7.78 to −3.22) <0.00001 

 7–12 bln 424 353 −10.58 (−14.90 to −6.27) <0.00001 

 >12 bln 285 271 −4.76 (−7.46 to −2.06) 0.0006 

LVEDV 

 0–3 bln 322 244 −2.34 (−7.03 to 2.34) 0.33 

 4–6 bln 877 725 −2.57 (−4.98 to −0.16) <0.04 

 7–12 bln 432 358 −5.84 (−11.03 to −0.64) <0.00001 

 >12 bln 262 266 −2.08 (−4.98 to 0.82) 0.16 

BMC, bone marrow cell; CI, confidence interval; LVEDV, left ventricular end-diastolic volume; LVEF, left ventricular 

ejection fraction; LVESV, left ventricular end-systolic volume; and n, jumlah poin pada setiap kelompok. 

________________________Afzal MR, Samanta A, Shah ZI, Jeevanantham V, Abdel-Latif A, Zuba-Surma EK, Dawn B. Adult bone marrow cell therapy 

for ischemic heart disease. Evidence and insights from randomized controlled trials. Circ Res. 2015;117:558-575. 

 

 

 

 

Gambar 24. Persentase sel CD34+ dan perubahan LVEF pada 6 bulan. Aspirasi sumsum dilakukan pasien dengan infark 

miokard akut dan disfungsi ventrikel kri. Persentase CD34+ diukur sesuai dengan kriteria ISHAGE dan LVEF diukur 

pada baseline dan bulan ke 6. A. Pasien dengan infark miokard akut (Acute Mioacardial Infarction, AMI). A, Pasien 

dengan persentase CD34+ dalam sumsum tulang tinggi (>2 SD dari dengan rerata) menunjukan peningatkan LVEF 

secara signifikan pada 6 bulan follow up. B. Pasien dengan disfungsi ventrikel kiri, (left ventricular dysfunction, LVD) 

dan CD34+ sumsum tulang tinggi (>2 SD dari rerata) menunjukan peningkatan LVEF lebih tinggi pada 6 bulan follow 

up.  

________________________Cogle CR, Wise E, Meacham AM, Zierold C, Traverse JH, Henry TD, Perin EC, Willerson JT, Ellis SG, Carlson M, Zhao 

DXM, Bolli R, Cooke JP, Anwaruddin S, Bhatnagar A, Cabreira-Hansen MDG, Grant MB, Lai D, Moy L, Ebert RF, Olson RE, Sayre 

SL,. Schulman IH, Bosse RC, Scott EW, Simari RD, Pepine CJ, Taylor DA; for the Cardiovascular Cell Therapy Research Network 

(CCTRN) Detailed nalysis of bone marrow from patients with heart disease and left ventricular dysfunction BM CD34, CD11b, and 

clonogenic capacity as biomarkers for clinical outcomes. Circ Res. 2014;115:867-874 

Stem Cell Epigenetik 

25 

Timbul pertanyaan : Apa yang mendasari perbaikan 

fungsi dan struktur jantung memakai  terapi sel 

sumsum tulang ? Mengapa kenaikan fraksi ejeksi 

hanya sebesar 2.92%, dapat memicu  

penurunan angka mortalitas ? Hasil analisis secara 

detail dilakukan peneliti Cogle et al., yang 

mendapatkan bahwa CD34+ stem cell yang berada 

di dalam sumsum tulang berhubungan dengan 

perbaikan LVEF (+9.9% versus +2.3%; p =0.03) 

pada pasien dengan infark miokard akut (acute 

myocardial infarction, AMI) dan +6.6% versus 

−0.02%; p =0.021 pada  pasien dengan penyakit 

jantung iskemik konik (Gambar 24). 102 Hasil analisis 

ini diperoleh dari stem cell sumsum tulang dan darah 

perifer  pasien yang direkrut dalam studi 

Cardiovascular Cell Therapy Research Network 

(CCTRN) meliputi 3 studi utama yaitu uji klinis 

acak tersamar Transplantation in Myocardial 

Infarction Evaluation (TIME), LateTIME, and First 

Mononuclear Cells injected in the United States 

(FOCUS) yang dilaksanakan oleh CCTRN dengan 

jumlah sampel sebanyak 291 dari total 299 pasien 

yang direkrut dalam ke 3 studi.  

 

Dalam penelitian terhadap 2 studi kohort penelitian 

melibatkan masing-masing n=502 dan n=403 pada 

pasien dengan penyakit jantung koroner, Patel et al., 

mendapatkan bahwa pasien dengan jumlah CD34+ 

stem cell dan CD34+/CD133+ yang rendah masing-

masing mendapatkan risiko kematian sebesar 3,54 

(1.67–7.50) dan 2.46 (1.18–5.13) daripada orang 

normal (Gambar 25).103 Hal ini terjadi sebab   

gangguan kapasitas regenerasi endogen akibat 

berkurangnya stem cell CD34+. 

 

Dari hasil penelitian Cogle et al., and Patel et al., 

dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa reaksi 

sumsum tulang terhadap kondisi penyakit jantung 

koroner dalam  hal hematopoietic stem cell yang 

bisa diperiksa dengan marker CD34+ stem cell 

berbeda-beda. Meskipun kadar CD34+ mencapai 

kadar terendah pada hari ke 7 setelah infark 

miokard (Gambar 26), 102 pasien yang memiliki  

kadar CD34+ yang tinggi dalam 6 bulan setelah 

infark akan memiliki  LVEF yang lebih tinggi 

daripada pasien dengan LVEF yang rendah 

(Gambar 24). 102 Hal ini berimplikasi bahwa 

pemberian terapi stem cell dapat meningkatkan 

fungsi jantung pasien saat  CD34+ mencapai 

titik terendah, sebab  hanya CD34+ di dalam 

sumsum tulang yang mengalami perubahan saat  

terjadi infark miokard.102 

 

 

 

Gambar 25.  Survival disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin dengan end point primer jumlah CD34+ (atas) dan 

CD34+/133+ (bawah). Hasil ditunjukkan dari kohort 1 dan 2 dan kombinasi. Garis berwarna menunjukkan tertil jumlah 

progenitor cell (biru = tertil atas; hijau = tertil tengah; merah= tertil bawah). NIlai P yaitu  perkiraan efek dalam model 

regresi Cox. 

________________________Patel RS, Li Q, a Ghasemzadeh N, Eapen DJ, Moss LD, Janjua AM, Manocha P, Kassem HA, Veledar E, Samady H, Taylor 

WR, A. Maziar Zafari AM, Sperling L, Vaccarino V, Waller EK, Quyyumi AA. Circulating CD34+ progenitor cells and risk of mortality 

in a population with coronary artery disease. Circ Res. 2015;116:289-297 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

26 

 

Gambar 26. Subset sel di dalam sumsum tulang pada pasien Cardiovascular Cell Therapy Research Network (CCTRN). 

BMMNCs (bone marrow mononuclear cells) dari subjek dilakukan imunostaining dan dihitung dengan flow cytometry. 

Dalam uji TIME, pasien dilakukan secara acak 1:1 dengan aspirasi sumsum tulang (A) 3 hari atau (B) 7 hari setelah 

infark miokard akut (AMI, acute myocardial infarction) . C. pada uji LateTime, semua subjek mengalami aspirasi sumsum 

tulang 2-3 minggu setelah AMI. D. dalam uji FOCUS, aspirasi sumsum tulang dilakukan pada pasien dengan iskemia 

miokard kronik dan disfungsi ventrikel kiri > 30 hari setelah AMI. VEGFR2 : vascular endothelial growth factor receptor 2. 

________________________Cogle CR, Wise E, Meacham AM, Zierold C, Traverse JH, Henry TD, Perin EC, Willerson JT, Ellis SG, Carlson M, Zhao 

DXM, Bolli R, Cooke JP, Anwaruddin S, Bhatnagar A, Cabreira-Hansen MDG, Grant MB, Lai D, Moy L, Ebert RF, Olson RE, Sayre 

SL,. Schulman IH, Bosse RC, Scott EW, Simari RD, Pepine CJ, Taylor DA; for the Cardiovascular Cell Therapy Research Network 

(CCTRN) Detailed nalysis of bone marrow from patients with heart disease and left ventricular dysfunction BM CD34, CD11b, and 

clonogenic capacity as biomarkers for clinical outcomes. Circ Res. 2014;115:867-874 

 

 

Apa yang terjadi di dalam sumsum tulang pasien 

saat  timbul penyakit jantung iskemik berupa 

infark miokard ? Di dalam sumsum tulang didapati 

adanya niche (microenvironment) yang mengatur 

hematopoietic stem cell (HSC). saat  tidak ada 

injuri atau infark, HSC berada dalam kondisi 

quiescent berarti sel dalam keadaan dormant (G0). 

Sebaliknya jika ada injury, HSC keluar dari kondisi 

dormant dan menjadi aktif berproliferasi. 104  

Menurut Kunisaki et al., HSC dalam kondisi 

quiescent sebab  dipertahankan oleh endosteal 

niche, yaitu rongga dinding osteoblast, sedangkan 

HSC dalam kondisi aktif untuk daya regenerasi 

akibat vascular sinusoidal niche. 105 

Komponen sel di dalam niche sumsum tulang ada 2 

jenis : sel endotel (endothelial cell),  mesenchymal 

stromal cell yaitu nonhematopoietic stem cell, dan 

megakaryocyte yang memberi  signal ke HSC. 

105 Arteriolar stromal niche cells yang 

mempertahankan HSC dalam keadaan quiescent 

yaitu  Nestin-GFP bright, NG2+, LepR- pericytes, 

sedangkan sinusoidal stromal niche cells yang 

mengatur HSC dalam keadaan aktif yaitu  as 

Nestin-GFPdim, NG2-  (Gambar  27) 106 HSC yang 

quiescent memberi suplai 1 trilion sel setiap hari, 

sedangkan sel yang aktif sebagai “backup” akan 

menggantikan stem cell yang hilang dalam kondisi 

homeostasis dan terutama sebagai respon terhap 

injuri atau perubahan patologik. 105 

Stem Cell Epigenetik 

27 

 

 

Gambar 27. Susunan HSC Niche. (A) Anatomi rongga sumsum tulang menggambarkan inervasi simpatis dan pembuluh 

darah dan hubungan antara arteriole dan pembuluh darah sinusoid. Setiap regio (kotak titik-titik) yaitu  bagian 

perivasculer MSC, yang mengatur berbagai kondisi HSC. HSC dalam keadaan quisecent yaitu  sel dormant G0. HSC 

aktif yaitu  sel yang keluar dari quiescent atau dalam kondisi aktif cycling atau migrasi. (B) HSC niche essential (hitam 

dan asesoris (abu) mengatur fungsi HSC. Kelompok sel dalam Lingkaran titikt-titik baik dengan sumber yang sama (yaitu 

perivascular MSC dan diferensiasi osteoclast) atau fungsi sama (komponen makrofag dan susunan saraf pusat). Panah 

hitam mengambarkan progeni MSC berdiferensiasi menjadi osteoblast dan membentuk kompartemen osteoclast. Panah 

abu-abu menunjukkan efek HSC niche cell. CAR, CXCL12bright MSCs; E-Sel, E-selectin; LEP-R, NG2+LEPR 

+Nesbright MSCs; NG2, NG2+LEP-R_Nesdim MSCs; nmSC, non-myelinating Schwann cells; NorE, norepinephrine; 

OCL, osteoclasts; OPr, osteoprogenitors; OsM, osteomacs.  

________________________Schepers K, Campbell TB, Passegue E. Normal and leukemic stem cell niches: insights and therapeutic opportunities. Cell 

Stem Cell  2015;16:254-267. 

 

 

CARDIAC STEM CELL 

 

Leri et al., mengungkapkan adanya satu populasi 

stem cell di dalam jantung atau resident stem cell 

yang memiliki  kemampuan berdiferensiasi 

menjadi kardiomiosit, sel otot polos dan sel endotel, 

yang disebut cardiac stem cell. 107 Penemuan ini 

tidak hanya memutarbalikan doktrin bahwa jantung 

yaitu  organ pascamitotik melainkan bersifat self- 

renewal, sekaligus membuka peluang terapeutik 

(Gambar 11). 24  Apa yang disampaikan dalam 

tinjauan pustaka Leri et al., yaitu  berdasar  hasil 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

28 

studi dari kelompok mereka yaitu Beltrami et al., 

yang melaporkan adanya satu populasi sel diisolasi 

dari jantung tikus yang mengekspresi tyrosine kinase 

receptor c-kit (marker stemness) yang kurang 

mengkespresikan hematopoietik.108 Penyuntikan 

CSC manusia ke dalam miokardium roden dengan 

infark miokard dapat memperbaiki struktur dan 

fungsi ventrikel kiri dan terbentuk kimera jantung 

berisikan miokardium manusia yang tersusun atas 

miosit dan pembuluh darah koroner. 109 

 

Bukti bahwa kardiomiopati iskemik berhubungan 

dengan hilangnya fungsi CSC, 110 memotivasi 

penelitian CSC pada gagal jantung kronik. Suntikan 

c-kit+ CSC secara intramiokard ke zona batas infark 

20 hari setelah oklusi koronaria permanen pada tikus 

menunjukkan daya regenerasi pada jaringan parut 

(scar) sebesar kurang lebih 42% dengan 

pertumbuhan miokard baru, berkurangnya dilatasi 

ventrikel kiri dan perbaikan fungsi jantung. 111 

 

Penelitian oleh Tang et al., 112 mendapatkan bahwa 

CSC yang disuntikkan secara introkoronaria dapat 

meregenerasikan jaringan jantung dan mengurangi 

remodeling ventrikel kiri pascainfark pada infark 

miokard lama setelah satu bulan pada tikus, 

menghantarkan Bolli et al., melakukan verifikasi 

hasil penelitian. 113 Dengan memakai  hewan 

coba babi, kelompok peneliti ini melakukan oklusi 

arteri koronaria dan reperfusi. Setelah oklusi 

dilakukan, dilakukan isolasi dan kultur 

memperbanyak c-kit+ CSC pada atrium kanan. 

Dengan memakai  kateter, hasil kultur sebanyak 

1 juta CSC disuntikan secara introkoronaria, dan 

mendapatkan peningkatan LVEF (left ventricular 

ejection fraction), dan peningkatan penebalan 

sistolik dinding ventrikel di tempat infark, 

penurunan tekanan diastolik akhir, dan peningkatan 

dP/dtmax ventrikel. 112 Hasil yang meyakinkan ini 

meletakkan dasar bagi penelitian SCIPIO (Cardiac 

Stem cell Infusion in Patients with Ischemic 

Cardiomyopathy), uji klinis pertama memakai  

CSC. 24   

 

SCIPIO yaitu  suatu studi acak tersamar 

memakai  CSC autologus untuk pengobatan 

gagal jantung iskemik kronik, dengan target populasi 

LVEF 40% yang telah menjalani coronary bypass. 

Kurang lebih 4 bulan setelah bypass, CSC yang 

diperoleh sebanyak 1 juta yang diperoleh dari hasil 

ekspansi kultur, disuntikan secara intrakoromasi, 

dengan kelompok kontrol tidak diberi CSC. Hasil 

sementara sangat menjanjikan. 114,115 Pada kelompok 

terapi CSC, LVEF yang diukur dengan eko 3 

dimensi mengalami peningkatan dari 29.01.7% 

menjadi 362.5% setelah 4 bulan. Pada kelompok 

kontrol sebanyak 13 orang tidak mengalami 

perubahan. Efek CSC meningkat pada penilaian1 

tahun (LVEF +8.1% versus baseline; n=17) dan 2 

tahun (LVEF : +12.9%; n=8). Dengan pemeriksaan 

MRI, besar infark berkurang pada 4 bulan dari 

34.92.3 menjadi 21.62.7 gr (reduksi 38.1%) dan 

pada 1 tahun dari 33.93.0 menjadi 18.73.6 gr 

(reduksi 44.8%). Efek ini memicu  perbaikan 

kelas fungsional NYHA dan kualitas hidup. 114 

 

 

CARDIOSPHERE DAN CARDIOSPHERE-

DERIVED CELL 

 

Messina et al.,  pertama kali melakukan isolasi satu 

populasi sel yang melekat secara klaster pada piring 

petri dari hasil biopsi atrium and ventrikel manusia 

dan mencit. 116 Populasi sel ini mampu 

berdiferensiasi menjadi kardiomiosit, sel endotel dan 

sel otot polos maka kelompok studi ini menamakan 

cardiosphere. 116 Smith et al., mendapatkan 

cardiosphere yang diperoleh dari spesimen hasil 

biopsi endomiokardium dan ditanamkan dalam 

kultur sehingga memperoleh cardiosphere-derived 

cells (CDC). CDC dilaporkan juga mampu 

berdiferensiasi menjadi kardiomiosit stabil 

berdenyut secara in vitro dan memicu  

regenerasi kardiomiosit, meningkatkan fungsi 

jantung saat  disuntikan pada model mencit dengan 

infark miokard.117 Penelitian eksperimental 

dilakukan Johnston et al., tahun 2009 dengan 

menyuntikan CDC manusia secara intrakoronaria ke 

babi dengan infark miokard lama memicu  

regenerasi jantung, reduksi  besarnya infark, dan 

mengurangi proses remodeling ventrikel kiri serta 

memperbaiki fungsi jantung. 118 Secara fenotipe, 

CDC yaitu  campuran berbagai tipe sel, termasuk 

sel yang mengekspresi endotel (kinase inserta 

dpmain receptor (KDR) atau CD31, stem cell 

(CD34+, c-kit, Sca-1) dan marker antigen 

mesenkimal (CD105, CD90) (Gambar 11). 24   

 

Studi klinis fase I secara acak tersamar 

(CADUCEUS) oleh Makkar et al., pada pasien 

dengan infark miokard akut dan gangguan fungsi 

ventrikel LVEF45% mendapatkan bahwa dari 17 

pasien yang disuntikan CDC dosis 12.5, 17,3 atau 25 

juta sel secara autologous dari hasil biopsy 

endomiokard, setelah 1,5-3 bulan dengan infark, 

dengan 8 pasien sebagai kontrol, mendapatkan 

Stem Cell Epigenetik 

29 

bahwa CDC dapat mereduksi besaran infark sebesar 

42% (dari 24% menjadi 12% pada ventrikel kiri) 

pada 12 bulan follow-up, dan peningkatan jaringan 

yang hidup dan penebalan dinding sistolik regional 

pada regio infark, 119 namun terapi CDC tidak dapat 

meningkatkan LVEF, mengurangi volume LV dan 

meningkatkan kelas fungsional NYHA atau kualitas 

hidup diukur dengan Minnesota Living with Heart 

Failure Questionnaire. 119 

 

 

INDUCED PLURIPOTENT STEM CELL 

 

Takahashi dan Yamanaka memakai  4 faktor 

transkripsi (octamer-binding transcription factor ¾ 

(OCT3/4), sex determining region Y-box2 (Sox-2), 

c-Myc, Kruppel-like factor 4 (Klf-4), dikenal 

sebagai faktor Yamanaka, pada fibroblast mencit 

dewasa dan mengubahnya menjadi satu populasi 

induced pluripotent stem cells (iPSC).120 Sel ini 

dapat mengekspresi marker permukaan embryonic 

stem cell (ESC), dan memiliki morfologi dan 

pertumbuhan seperti pada ESC. Potensi iPSC 

terhadap kardiogenik sangat menyerupai potensi dari 

ESC, dengan kardiomiosit yang dihasilkan berupa 

denyutan spontan, kontraktilitas dan ekspresi ion 

kanal. 121 Namun, sampai saat ini, belum ada studi 

yang spesifik menilai potensi iPSC pada model 

hewan dengan gagal jantung. 

 

Faktor transkripsi yang digunakan memiliki sifat 

onkogenik seperti c-Myc dan Kruppel-like factor-4 

sehingga berpotensi menghasilkan teratoma. Metode 

lebih baru tidak lagi memakai  faktor ini 

sehingga dapat menyingkirkan kemungkinan 

pembentukan teratoma, 122,123 tetapi sifat alamiah 

yang terkandung di dalam sel ini dapat 

memicu  tumorigenesis. 124 Efisiensi yang 

rendah dari iPSC dan variasi antar cell line juga 

menimbulkan masalah terhadap reprogramming. 125 

Namun, dengan perkembangan teknologi yang pesat, 

teknik ini akan dapat diatasi.  

 

Dengan sifat yang dimiliki menyerupai embryonic 

stem cell (ESC) sehingga memungkinkan 

tumorigenesis, maka timbul pertanyaan apa yang 

membuat iPSC dapat menyerupai ESC ? Para ahli 

mengungkapkan bahwa di dalam iPS cell ada  

“epigenetic memory”, suatu pola chemical mark 

(penanda kimia) pada metilasi DNA yang 

menggambarkan asal tipe sel, 126 dengan 

sekelompok gen spesifik yang resisten terhadap 

proses reprogramming. 127 sebab  itu, retensi 

epigenetic memory memiliki  pengaruh lebih 

signifikan terhadap karakteristik sel. 127 Dengan 

melakukan reprogramming berulang atau subkutur 

iPSC secara kontinu atau obat demethylating agent 

dapat dilakukan perubahan ulang untuk mencapai 

pluripotensi yang paling mendasar. 128 

 

 

EPIGENETIK 

 

Kata epi- dalam bahasa Yunani berarti di atas, 

dekat, pada, sebelum atau sesudah. Namun 

konotasi sebelum atau sesudah mungkin lebih 

sering digunakan. Epigenetik dapat diartikan 

sebagai perubahan dalam regulasi ekspresi gen 

yang dapat diturunkan kepada sel progeni tanpa 

perubahan pada urutan nukleotida gen. 129 Definisi 

epigenetic pertama kali dikemukakan oleh Conrad 

Waddington sebagai perubahan ekspresi gen yang 

diturunkan dan fenotipe sel yang tidak bergantung 

pada perubahan sekuensi DNA. 130 Hal ini berarti 

bahwa melalui perubahan pada ekspresi gen yang 

diturunkan, epigenetik dapat mengubah proses 

pada DNA melalui serangkaian proses seperti 

metilasi DNA, modifikasi kromatin dan non-coding 

RNA. 131  

 

Kromatin yaitu  makromolekul DNA dan protein 

histon, yang menyokong seluruh genom yang 

mengandung materi genetik di dalam sel eukariot. 

Unit dasar kromatin yaitu  nukleosom, terdiri dari 

oktamer berisikan dua histon H2A, H2B, H3 dan 

H4, tempat terbungkusnya 147 bp DNA (Gambar 

28). 132 Nukleosom dipisahkan oleh DNA linker 

dengan panjang 20-50 bp. 133 DNA nuklesom yang 

terbungkus lebih sulit dipengaruhi daripada DNA 

linker (Gambar 29). 134 sebab  itu, posisi genom dan 

perubahan nukleosom dapat mempengaruhi 

kemampuan protein berikatan dengan sekuensi 

target di dalam DNA. Kromatin dapat dibagi atas : 

heterokromatin, dengan kromatin yang terbungkus 

ketat, terutama mengandung gen tidak aktif, 

sedangkan eukromatin mengandung konformasi 

yang lebih relaks yang memungkinkan terjadinya 

transkripsi aktif. Berbagai kondisi dapat 

berpengaruh terhadap proses ini yaitu modifikasi 

pada DNA atau histon  (Gambar 28 B). 132 

 

Perubahan epigenetik dan susunan kromatin dalam 

aktivasi dan represi gen penting dalam 

mempertahankan pluripotensi stem cell, seperti pada 

embryonic stem cell dan sel germinal primordial. 135 

Kedua jenis sel dapat menghasilkan semua jenis sel 

dari suatu organisme, sedangkan multipoten dan 

unipoten stem cell memiliki  keterbatasan 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

30 

kapasitas diferensiasi dalam menghasilkan sel 

progeni. Progresivitas dalam kondisi stem menjadi 

sel yang lebih terdiferensiasi memerlukan perubahan 

fungsi sel, pola ekspresi gen dan morfologi. 135 

sebab  itu, sifat khusus sel tidak hanya ditentukan 

oleh sekuensi DNA, tetapi juga kombinasi gen aktif 

dan silent dalam suatu waktu saat  mengalami 

proses perkembangan. 

 

 

 

 

Gambar 28. Nukleosom. Unit dasar fungsional kromatin yaitu  nukleosom (Panel A), tersusun atas oktamer histon 

dikelilingi DNA. Oktamer dipisahkan oleh DNA linker. Oktamer histon dibentuk oleh histon tetramer H3:H4 dan dua 

dimer H2A: H2B. Ekor histon terdiri dari empat histon inti yang dipengaruhi oleh modifikasi post-translasi (Panel B). 

Hal ini meliputi metilasi (Me), asetilasi (Ac), fosforilasi (Ph), ubiquilasi (Ub) dan isomerisasi prolin (Iso), yang terjadi 

pada tempat asam amino yang spesifik, seperti K4 dan K9 pada ekor histon H3. Asam amino histon yang sama juga 

mengalami modifikasi post translasi yang berbeda.  

________________________Dawson MA, Tony Kouzarides T, Huntly BJP. Targeting epigenetic readers in cancer. N Engl J Med 2012;367:647-57. 

Stem Cell Epigenetik 

31 

 

 

Gambar 29. Metilasi DNA dan modifikasi kimia terhadap histon dapat mempengaruhi kecepatan transkripsi DNA 

menjadi molekul RNA (histon yaitu  protein tempat lilitan DNA membentuk kromatin). Aktivitas faktor transkripsi dan 

struktur elemen DNA (lokasi dan sekuensi) dari elemen DNA pengaturan gen termasuk promotor, yang berada upstream 

dari tempat dimulainya transkripsi RNA.  

________________________Ecker JR. Serving up a genome feast. Nature 2012; 489: 52-53. 

 

 

Meskipun semua sel di dalam tubuh memiliki  

sekuensi DNA yang identik, namun setiap sel 

memiliki  fenotipe dan pola ekspresi gen berbeda. 

Misalnya, perubahan kromatin di otak dapat 

mempengaruhi ekspresi gen yang berupa 

‘epigenetik’ dan menetap walaupun terjadi 

pembelahan sel. Teori “kode epigenetik” 

menjelaskan bahwa dua kondisi kromatin diperlukan 

dalam memodifikasi kompleks kromatin. Regio 

dengan aktivitas transkripsi diperankan oleh asetilasi 

lisin oleh enzim histone acetyltransferase (HATs) 

dengan merelaksasikan struktur kromatin dengan 

melemahkan interaksi muatan positif pada ekor 

histon dengan muatan negatif fosfat yang menopang 

DNA, sehingga memungkinkan aktivator transkripsi 

masuk dan menginduksi gen. 136 Sedangkan histone 

deacetylase (HDACs) memperantarai deasetilasi 

lisin dengan merubah sifat elektrostatik kromatin 

yang memicu  represi gen. 135,136  sebab  itu, 

histone acetyltransferases (HATs) dan HDACs 

bekerja saling berlawanan dalam mengatur kondisi 

asetilasi protein.  

 

Untuk mendapat gambaran secara umum tentang 

peran epigenetik terhadap ekspresi gen, maka di 

sini akan dipaparkan salah sau contoh pengaruh 

histone deacetylase terhadap ekspresi pada 

penyakit jantung dan ginjal dan upaya intervensi 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

32 

terhadap peran kromatin dengan melakukan 

modifikasi kromatin.  

Ada spasi 

Sebagian besar  studi HDAC terfokus pada peranan 

dalam pengaturan hipertrofi jantung. Hipertrofi 

jantung terjadi sebagai respon patologik dalam 

upaya untuk menormalkan regangan dinding jantung 

untuk meningkatkan performan jantung. Untuk 

jangka panjang, respon ini bersifat maladaptif, 137 

sehingga supresi terhadap hipertrofi jantung akan 

menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada 

pasien dengan hipertensi. Jika hipertensi tidak 

ditanggulangi dengan baik, dapat memicu  

gagal jantung dengan preservasi fraksi ejeksi 

(HFpEF). 136 Hal yang sama dapat terjadi pada ginjal 

jika pengontrolan hipertensi tidak diatasi dengan 

baik. Upaya menurunkan tekanan darah 

memakai  angiotensin converting enzyme 

inhibitor atau obat ß-bocker, melalui modulasi 

terhadap sistem renin angiotensin, hanya 

mempertahankan pengontrolan tekanan darah dan 

sedikit memperlambat proses injuri glomerulus dan 

mekanisme fibrotik sehingga berakhir pada HPpEF 

dan penyakit ginjal tahap akhir.136 Histone 

deacetylases (HDACs) memegang peranan penting 

dalam petogenesis penyakit ini, sehingga inhibitor 

HDAC berpotensi terhadap pengobatan pada sumbu 

kardiorenal ini. 136 

 

Studi Zhang et al, mendapatkan bahwa HDAC kelas 

IIa befungsi sebagai represor terhadap signal 

hipertrofi jantung. saat  terjadi signal stres, HDAC 

kelas IIa keluar dari nukleus kardiomiosit shingga 

tidak mampu merepresi gen yang meningkatkan 

pertumbuhan miosit. 138 Hal ini berarti HDAC 

bersifat represi terhadap gen. Penelitian 

memakai  mencit transgenik dengan 

overekspresi HDAC2 dependent yang memicu  

hipertrofi dapat dihambat oleh HDAC inhibitor TSA 

(trichostatin A) atau valproic acid selama 2 

minggu.139 

 

Bagaimana mekanisme HDAC inhibitor dalam 

memberi  efek terapeutik terhadap penyakit 

jantung, dalam hal hipertrofi dan gagal jantung ? 

Tentu salah satu penjelasan yaitu  efek protektif 

terhadap ekspresi gen jantung dengan melepaskan 

represi, misalnya peningkatkan ekspresi gen 

Kruppel-like factor (Klf)4 transcription factor, 

sebab  gen ini dapat menekan ekspresi gen yang 

berhubungan dengan hipertrofi jantung.  

 

Studi Gardner et al., mendapatkan bahwa ekspresi 

BNP (brain natriuretic peptide) yang memperantarai 

regangan ventrikel jantung, dan meningkat pada 

gagal jantung pada waktu hipertrofi jantung, 

bergantung pada HDAC2 dengan faktor transkripsi 

yin-yang (YY1) terhadap promotor gen BNP. 140  

YY1 mengalami asetilasi pada miosit jantung 

sehingga deasetilasi terhadap faktor transkripsi ini 

oleh HDAC akan memicu  stimulus terhadap 

transkripsi gen BNP. Dengan memakai  TSA, 

dapat menghambat kompleks YY1: HDAC2 dan 

menekan ekspresi BNP yang diinduksi endotelin. 140  

 

Penelitian Menick et al., menunjukkan bahwa 

aktivitas HDAC1 merangsang ekspresi gen 

sodium/calcium exchanger (NCX1) selama terjadi 

hipertrofi jantung. 141 Setelah asetilasi, Nkx2.5 tidak 

mampu berasosiasi dengan p300 HAT sehingga 

tidak mampu merangsang ekspresi NCX1. 

Deasetilasi gen Nkx2.5 oleh HDAC1 meningkatkan 

hubungan dengan p300 dan memicu  ekspresi 

NCX1, dan proses ini dapat  dihambat oleh TSA. 

Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa studi 

gen BNP dan NCX1 menjelaskan mekanisme 

HDAC menekan ekspresi gen dengan merubah 

kondisi asetilasi pada protein nonhiston (Gambar 

30). 136   

 

Penyakit ginjal kronik (CKD, chronic kidney 

disease) dapat disebabkan hipertensi dan diabetes. 

Penyakit ini sebagai respon terhadap stres dan injuri 

kronik, memicu  pelepasan sitokin dan 

inflamasi. 136 Peningkatan kadar transformisng 

growth factor-ß (TGF-ß) mengaktivasi sel mesangial 

dan fibroblast memicu  produksi protein 

extracellular matrix (ECM) sehingga memicu  

fibrosis organ baik terhadap ginjal dan jantung.142  

TGF-ß juga meningkatkan dediferensiasii sel epitel 

ginjal menjadi sel mesenkimal yang memproduksi 

matrix melalui proses epithelial-to-mesenchymal 

transition (EMT). 143 

 

Studi Yoshikawa et al., menunjukkan bahwa TSA 

dapat memblok TGF-ß yang memperantarai EMT, 

mengurangi ekspresi profibrotik ECM dan 

mempertahankan ekspresi E-cadherin, marker 

fungsional epitel. 144  TSA juga meningkatkan 

ekspresi faktor renoprotektif, bone morphogenetic 

protein (BMP)-7, suatu inhibitor TGF-ß signaling 

yang dikenal menekan EMT dan mengembalikan 

fibrosis ginjal. 145,146  Pada model nefritis nefrotoksik 

pada mencit dengan injuri renal autoimun selama 3 

minggu, pemberian TSA dapat mengurangi fibrosis 

dan mengembalikan fungsi ginjal secara 

signifikan.147 Pemberian pan-HDAC dapat 

mengembalikan fungsi ginjal pada model ini. 

Stem Cell Epigenetik 

33 

Mekanisme yang mendasari efikasi HDAC inhibitor 

sebagian disebabkan oleh rangsangan ekspresi BMP-

7 oleh stem cell di dalam ginjal. 136 

 

 

Gambar 30. Regulasi gen jantung oleh HDAC inhibitor. Stimuli stres memicu pengeluaran antihipertrofi HDAC class 

IIa melalui nukleus. HDAC klas IIa memiliki aktivitas intrinsik katalitik minimal sehingga resisten terhadap HDAC 

inhibitor. Pada kondisi patologik, faktor transkripsi YY1 terikat pada HDAC klas 1, HDAC 2 mendeasetilasi YY1, 

meningkatkan ekspresi gen BNP. HDAC kelas 1 mendeasetilasi faktor transkripsi Nkx2.5, sehingga meningkatkan 

hubungan terhadap p300 HAT dan merangaang ekspresi gen NCX1. sebab  itu, pemakaian  inhibitor HDAC dapat 

menghambat ekspresi gen tersebut. Inhibitor HDAC merangsang gen Klf4 dan Egr1 di dalam jantung, sehingga dapat 

menghambat hipertrofi (Klf4) dan meningkatkan gen kontraktilitas (Egr1).   

________________________Bush EW, McKinsey TA. Protein acetylation in the cardiorenal axis. The promise of histone deacetylase inhibitors. Circ 

Res. 2010;106:272-284. 

 

 

Restorasi asetilasi protein oleh HDAC inhibitor 

merupakan suatu pendekatan terapi yang 

menjanjikan pada penyakit kardiorenal. Kemampuan 

HDAC inhibitor dapat disebabkan kemampuan 

1. Sel, Stem Cell dan Epigenetik 

34 

senyawa ini mempengaruhi berbagai tipe sel seperti 

miosit, fibroblast, sel epitel, sel inflamatori dan 

mekanisme patologik, misalnya hipertrofi miosit, 

produksi sitokin inflamatori, EMT, deposisi ECM, 

dan apoptosis yang memicu  gagal organ 

(Gambar 31). 136   

 

 

Gambar 31. Target HDAC inhibitor terhadap mekanisme patologik pada penyakit jantung dan ginjal kronik. Stres kronik 

hipertensi dan diabetes memicu  hipertrofi kardiomiosit dan inflamasi yang memicu  fibrosis kardiorenal, 

mengurangi fungsi organ, kematian sel dan akhirnya memicu  gagal organ. HDAC inhibitor dapat menargetkan 

berbagai tipe sel dalam progresivitas penyakit. HDAC inhibitor bersifat kardioprotektif dan renoprotektif, memblok 

hipertrofi jantung dan mencegah kematian sel ginjal pada model gagal jantung dan gagal ginjal. 


 

ada manusia, informasi genetik (DNA) tersusun 

di dalam 23 pasang kromosom berjumlah 

kurang lebih 25.000 gen. Kromosom ini  diibaratkan 

sebagai sebuah pustaka dengan berbagai jenis buku 

berbeda di dalamnya, yang memberi  instruksi 

terbentuk seorang manusia; tersusun oleh jaringan 

tubuh yang dibentuk oleh protein. Sekuensi DNA di 

dalam genom terdiri atas 3x109 (3 miliar) basa, 

disingkat dengan 4 huruf; A,C,G, dan T di dalam 

urutan basa, sehingga memberi  suatu rangkaian 

kata (gen), kalimat, bab dan buku. Namun, 

bagaimana kejadian sel dikoordinasi selama 

perkembangan normal dan abnormal merupakan 

suatu tantangan dalam mengungkapkannya. 1 

 

Jika molekul DNA dari sel eukariot dibentangkan, 

maka panjang sekitar 2 meter harus dikondensasikan 

secara maksimal menjadi 10.000 lipatan untuk diisikan 

di dalam sebuah nukleus, ruang yang menyimpan 

materi genetik. DNA yang mengelilingi suatu 

“bantalan benang” protein, yang dikenal sebagai 

protein histon, yaitu  polimer DNA yang disebut 

kromatin. saat  tumpukan DNA berada di dalam 

ruangan terbatas, maka  timbul masalah sulit 

mendapatkan buku pilihan, sebab  itu diperlukan 

sistem indeks. Kromatin sebagai platform penyusun 

genom memberi  indeks. Kromatin bersifat 

fleksibel, sebab  dapat mengalami kondensasi (dikenal 

heterokromatin) atau kurang kondensasi (eukromatin). 

Hal ini terjadi sebab  adanya variasi kromatin yang 

Stem Cell Epigenetik 

43 

dikenal sebagai protein histon yang tidak lazim (histon 

varian), perubahan struktur kromatin (remodeling 

kromatin), dan penambahan unsur kimia ke dalam 

protein histon (modifikasi kovalen). Penambahan satu 

gugus metil ke dalam satu basa cytosine (c) dalam 

cetakan DNA (dikenal metilasi DNA) dan histon 

kovalen dapat mengubah kondisi kromatin. Noncoding 

RNA dapat “menuntun” regio khusus di dalam genom 

menjadi kromatin yang lebih kondesasi. sebab  itu, 

kromatin bersifat dinamik dalam menentukan indeks 

genom dan signal protein dari pengaruh lingkungan, 

sehingga menentukan apakah gen akan diekspresikan 

atau tidak. 1 

 

Pengaturan kromatin di dalam genom dikenal sebagai 

“epigenetik”. Jadi, epigenetik memberi  pola indeks 

yang diturunkan pada pembelahan sel, memberi  

“memori” seluler, yang merupakan ekstensi informasi 

diturunkan dari kode genetik (DNA). sebab  itu, 

epigenetik dapat didefinisikan sebagai perubahan 

dalam transkripsi gen melalui perubahan kromatin, 

tanpa proses perubahan sekuensi DNA. Proses 

epigenetik yang memicu  perubahan ekspresi gen 

umumnya melalui proses metilasi DNA, modifikasi 

kromatin dan non-coding RNA. 2 

 

Proses perkembangan pada sebuah sel telur yang 

dibuahi dapat berlanjut dari satu genom tunggal 

menghasilkan beberapa  “epigenom” berbeda pada 

lebih dari 200  jenis sel (Gambar 1) 1. Variasi 

program ini dikenal sebagai “kode epigenetik” yaitu 

mekanisme kovalen dan non kovalen yang 

berpengaruh terhadap kondisi kromatin melalui 

pembelahan dan perkembangan sel.  

 

 

Gambar 1. Sekuensi DNA (untaian ganda berwarna hijau). Komposisi kromatin pada seluruh genom bergantung pada 

tipe sel, dan respon terhadap signal internal dan ekstena. (Panel bawah) Divertifikasi genom pada organisme multiseluler 

selama perkembangan dan diferensiasi dari satu stem cell (embrio yang telah dibuahi) menjadi sel terdiferensiasi. 

Pengembalian diferensiasi (de-defereniasi) atau transdiferensiasi (garis biru) memerlukan reprogramming epigenom sel.  

________________________Allis CD, Jenuwen T, Reinberg D. Overview and concepts. In : Allis CD eds., EpigeneticsCold Spring Harbour Laboratory 

Press 2007, p. 23-61. 

2. Epigenetik : Ilmu Baru Genetik 

44 

 

 

Gambar 2. Protein yang terlibat dalam regulasi modifikasi epigenetik. Writer menunjukkan enzim mengkatalisis 

modifikasi. Reader yaitu  protein atau kompleks multiprotein yang mengenal dan berikatan dengan modifikasi, dan 

eraser yaitu  kelompok enzim yang mengkatalisis epigenetic mark. Koordinasi pengaturan ketiga kelompok tidak hanya 

mempertahankan epigenetik yang dapat diturunkan tetapi juga menentukan regulasi epigenetik selama perkembangan. 

Daftar modifikasi histon writer, reader, dan eraser amat panjang. sebab  itu, hanya dimuat contoh masing-masing 

modifikasi. Protein dalam cetakan huruf biru menunjukkan defek jantung saat  terjadi mutasi.  DPF3B–Tetralogy of 

Fallot, MLL2–Kabuki Syndrome, CHD7–CHARGE Syndrome, WHSC1–Wolf-Hirschhorn Syndrome.  5mC 

menunjukkan 5-methylcytosine; 5hmC, 5-hydroxymethylcytosine; ASH1L, (absent, small or homeotic)-like; ATF, 

activating transcription factor 4; BPTF, bromodomain PHD finger transcription factor; CBX, chromobox; CDYL, 

chromodomain Y-like; CHD, chromodomain; CTBP, C-terminal binding protein; DNMTs, DNA methyltransferases; 

DPF3B, D4 Zinc and double PHD Fingers, family 3; EAF (Eleven nineteen lysine-rich leukemia gene)-associated factor; 

EZH, enhancer of zeste; GCN5, general control of amino-acid synthesis 5; H3K27me3, histone 3 lysine 27 

trimethylation; HAT, histone acetyltransferase; HDAC, histone deacetylase; ING2, inhibitor of growth family member 2; 

JHDM1D, jumonji C domain-containing histone demethylase 1; KDM, lysine demethylase; MeCP2, methyl- CpG 

binding protein 2; MLL, mixed-lineage leukemia; MPP8, M-phase phosphoprotein 8; MYST1, MOZ YBF2 SAS2 TIP60 

family member 1; NO66, nucleolar oxygenase 66; NSD1, nuclear receptor binding SET domain protein 1; PCL, 

polycystin-like; PHF2, PHD finger protein 2; RSC4, remodel the structure of chromatin complex subunit 4; SETD, 

su(var)3-9 and enhancer of zeste domain; SNF5, switch/sucrose nonfermentable (SWI/SNF) homolog 5; PRDM, PR 

domain-containing; TAF3, TATA box binding protein associating factor 3; TET, ten eleven translocation; UHRF1, 

ubiquitin-like PHD and Ring finger domain-containing protein 1; and WHSC1, Wolf-Hirschhorn syndrome candidate 1 

________________________Boland MJ, Nazor KL, Loring JF. Epigenetic regulation of pluripotency and differentiation. Circ Res. 2014;115:311-324. 

 

 

Perubahan fenotipe yang terjadi dari sel ke sel 

selama perkembangan organisme multiseluler 

diungkapkan oleh Waddington sebagai “epigenetic 

landscape”. Namun,  spektrum sel, dari stem cell ke 

sel yang mengalami diferensiasi memiliki sekuensi 

DNA yang sama, tetapi sangat berbeda dalam profil 

gen yang diekspresikan. 2  

 

Regulasi epigenetik terhadap stem cell meliputi 

modifikasi DNA, seperti 5-methylcytosine (5mC) 

dan 5-hydroxymethylcytosine (5hmC), modifikasi 

ekor histon post-translasi, remodeling nukleosom 

energy-dependent, dan long noncoding RNA. 3 

Modifikasi DNA oleh residu deoxycytidine 

memberi  efek terhadap ekspresi gen yang kuat. 

4,5,6 Pemahaman terkini mengenai modifikasi histon 

Stem Cell Epigenetik 

45 

pada remodeling kromatin (kode histon) telah 

mengungkapkan berbagai  hubungan epigenetik 

yang kompleks. Modifikasi DNA atau histon yang 

meliputi enzim yang mengkatalisis modifikasi 

(writer), protein yang mengenal dan berikatan 

dengan modifikasi (reader), dan enzim yang 

menghilangkan modifikasi (eraser). Misalnya 

histone 3 lysine 27 trimetilasi (H3K27 me3) 

dikatalisis oleh histone methyltransferase (HMTase) 

enhancer dari zeste homolog 2 (EZH2), dibaca oleh 

chromobox homolog 7 (CBX7), dan dihapus oleh 

lysine-specific demethylase UTX (Gambar 2). 3 

Reader memiliki pengenalan terhadap  motif yang 

khas seperti methyl-CpG binding domain untuk 

5mC dan bromodomain untuk lysine atau arginine 

dalam modifikasi yang spesifik, termasuk 

chromodomain dan tudor, WD40 repeat, dan plant 

homeodomain (PHD) finger domain. 7 

 

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas dari 

pengaruh epigenetik terhadap stem cell di atas, maka 

dibahas cara pengaturan epigenetik terhadap sel 

mamalia. Proses epigenetik yang memicu  

perubahan ekspresi gen umumnya melalui proses 

metilasi DNA, modifikasi kromatin dan non-coding 

RNA. 8 Berikut ini akan dipaparkan metilasi DNA, 

modifikasi histon, noncoding RNA yang 

berpengaruh terhadap elemen pengaturan spesifik 

yaitu promoter dan enhancer.  

 

 

METILASI DNA  

 

Metilasi DNA bersifat diturunkan dan reversibel, 

merupakan modifikasi epigenetik yang memegang 

peranan penting dalam represi transkripsi, supresi 

transposisi retroelemen, genomic imprinting, XCI 

(X-chromosome inactivation), dan susunan 

kromatin. 3 Metilasi DNA melakukan pemindahan 

gugus metil dari S-adenosylmethionine (SAM) ke 

karbon 5 dari cincin cytosine untuk menghasilkan 5 

mC dalam CpG dinucleotide (cytosine-guanine 

dinucleotide yang dipisahkan oleh satu phosphate). 

3,9 Sekuensi CpG cenderung dikelompokkan 

bersama dikenal sebagai CpG island mengelilingi 

gen promoter. Gen ini dapat diidentifikasi sebagai 

high (HCP) atau low (LCP) density promoter.10 

Reaksi pemindahan ini dikatalisis oleh DNA 

methyltransferase (DNMTs). Dikenal tiga enzim 

DNMT yaitu DNMT1, DNMT3A, DNMT3B dan 

kofaktor DNMT3L. 3,9 saat  proses katalisis 

terjadi, gugus metil yang telah menempati tempat 

promoter dapat mencegah ikatan oleh faktor 

transkripsi dan juga ekspresi gen (Gambar 3).10, 11 

Pada mamalia, metilasi DNA terjadi selama 

perkembangan embrio dan dipertahankan saat  

terjadi pembelahan sel. sebab  itu, pola metilasi 

DNA memungkinkan marking epigenetik genom 

tetap stabil melalui pembelahan sel mutipel sehingga 

membentuk memori sel. 

 

 

 

Gambar 3. Metilasi cytosine pada DNA. 

(a) Penambahan satu gugus metil (merah) pada posisi 5 

cincin pirimidin cytosine (tanda panah hitam) tidak 

mengganggu pasangan basa GC (garis biru). DNA 

methyltransferase berhubungan dengan karbon posisi 6 

secara kovalen (tanda panah hijau) selama transfer gugus 

metil. (b) Model DNA dimetilasi panel  b pada cytosine 

pada dua sekuensi yang saling komplementer. Gugus metil 

berpasangan (warna merah hati dan kuning) terletak pada 

sulkus mayor dari untaian ganda.  

________________________Li En, Bird A. DNA methylation n mamals. In : Allis 

CD eds. Epigenetics. Cold Spring Harbour Laboratory press 

2007, p. 341-355. 

 

 

Penelitian molekuler dan genetik menunjukkan 

bahwa metilasi cytosine DNA berhubungan dengan 

gene silencing (Gambar 4). 11  Gugus metil dari 

residu metil cytosine berada di sulkus mayor DNA 

helix, tempat protein berikatan DNA dan 

memberi  efek menarik atau mengeluarkan 

protein yagn berikatan dengan DNA. beberapa  

protein dapat berikatan dengan DNA yang 

mengandung CpG dinucleotide yang dimitilasi, 

2. Epigenetik : Ilmu Baru Genetik 

46 

dikenal dengan methyl CpG binding protein, yang 

dapat merekrut kompleks represor terhadap regio 

promoter yang dimetilasi sehingga memicu  

transcriptional silencing. Metilasi CpG mencegah 

ikatan protein dan berpengaruh terhadap transkripsi. 

Faktor transkripsi hanya dapat berikatan dengan 

sekuensi DNA yang mengandung CpG saat  tidak 

dimetilasi. 11  

  

 

 

Gambar 4. CpG islands. 

CpG islands yaitu  regio dengan kepadatan CpG tinggi 

tetapi metilasi CpG berkurang pada promoter gen 

manusia. Silencing gen jangka panjang terjadi jika metilasi 

didapati pada CpG island. Misalnya, gen pada kromosom 

X inaktif dan imprinted genes yang mengalami silencing 

di tempat ini. Pada sel kanker ada  gen tertentu yang 

mengalami silencing oleh metilasi pada CpG island. 

________________________Li En, Bird A. DNA methylation n mamals. In : Allis 

CD eds. Epigenetics. Cold Spring Harbour Laboratory press 

2007, p. 341-355. 

 

 

MODIFIKASI KROMATIN 

 

Histon yaitu  unsur pembentuk nukleosom, dengan 

struktur berbentuk oktamer yang membungkus DNA 

pada sel eukariot. Struktur yang terbentuk dikenal 

sebagai kromatin. 12 Histon mudah mengalami 

modifikasi melalui proses dikenal sebagai 

posttranslational modification (PTM). Modifikasi 

yang  berpengaruh terhadap struktur kromatin ini 

dilakukan oleh 2 kelompok : 1. Molekul kimia kecil 

termasuk asetilasi, fosforilasi dan metilasi. 2 Peptida 

yang lebih besar; ubikuitilasi dan sumoilasi (Tabel 

1).12  

 

Mekanisme histone posttranslational modification 

(HPTM) yang berpengaruh terhadap kromatin dapat 

berupa transkripsi gen atau represi melalui tiga 

model (Gambar 5).12 Model 1 yaitu  histon yang 

telah mengalami modifikasi berpengaruh terhadap 

struktur kromatin. Model 2 HPTM dapat 

menghambat ikatan suatu faktor terhadap kromatin. 

Model 3 HPTM menciptakan suatu tempat ikatan 

untuk protein tertentu.    

 

 

Tabel 1. Tipe histone posttranslational modification 

kovalen 

 

________________________Kouzarides T, Berger SL. Chromatin modifications 

and their mechanism of action. In : Allis CD eds. Epigeetics. Cold 

Spring Harbour Laboratory press 2007, p. 191-209. 

 

 

 

 

Gambar 5. Model menunjukkan bagaimana histone 

posttranslational modification berpengaruh terhadap 

kromatin.  

________________________Kouzarides T, Berger SL. Chromatin modifications 

and their mechanism of action. In : Allis CD eds. Epigenetics. 

Cold Spring Harbour Laboratory press 2007, p. 191-209. 

 

 

Asetilasi dan Deasetilasi 

 

Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa 

asetilasi (versus tanpa asetilasi) berhubungan dengan 

Stem Cell Epigenetik 

47 

proses transkripsi. Regio dengan transkripsi aktif, 

atau akan menjadi aktif, cenderung memicu  

konfigurasi kromatin “terbuka” sehingga mudah 

diakses DNase dan MNase,  jika ditambahkan pada 

nuklei, dapat memotong DNA. Dengan 

memakai  chromatin immunoprecipitation 

(ChIP), dapat dianalisis protein yang berikatan 

dengan sekuensi DNA tertentu secara in vivo. Pada 

pertengahan tahun 1990 an, enzim asetilasi histon 

dan deasetilasi pertama kali diidentifikasi dan 

berperan dalam pengaturan gen. Aktivator yang 

berikatan dengan DNA merekrut histone 

acetyltransferase (HAT) melakukan asetilasi 

terhadap histon nukleosom, sedangkan represor 

merekrut enzim HDAC (histone deacetylase) 

melaksanakan deasetilasi histon. Hal ini 

memicu  perubahan nukleosom dalam 

mengatur gen on atau off (Gambar 6). 12  Aktivitas 

enzim HAT dan HDAC penting untuk mengatur 

aktivasi dan represi gen. 

 

 

 

Gambar 6.  Enzim pengubah histon direkrut ke arah 

promoter oleh faktor transkripsi yang mengikat DNA. 

Histone acetyltransferase (HAT direkrut oleh aktivator 

yang berikatan dengan upstream activating sequences 

(UAS). Enzim ini mengkatalisis asetilasi pada histon, dan 

berkontribusi terhadap aktivasi transkripsi. Histone 

deacetylases (HDAC) direkrut oleh represor transkripsi 

yang berikatan dengan upstream repressive sequences 

(URS) dan memicu  deasetilasi histon sehingga 

terjadi represi transkripsi.  

________________________Kouzarides T, Berger SL. Chromatin modeifications 

and their mechanism of action. In : Allis CD eds. Epigenetics. 

Cold Spring Harbour Laboratory press 2007, p. 191-209. 

 

Protein HAT dapat mengadakan asetilasi residu lisin 

pada ke empat inti histon, tetapi enzim yang berbeda 

memiliki spesifisitas dalam pemilihan substrat 

(Gambar 7). 12 Misalnya, famili HAT – GNAT 

(acetyltransferase yang berhubungan dengan GNAT) 

dengan target pada histon H2 (?) sebagai substrat 

utama. Famili HAT kedua yaitu  MYST, dengan 

target pada H4. Famili ketiga yaitu  terbesar yaitu 

CBP/p300 dengan target pada kedua H3 dan H4. 

Domain protein khusus yaitu bromodomain, berikatan 

khusus dengan lisin yang mengalami asetilasi. Protein 

yang mengandung bromodomain lain yaitu  Taf1 dan 

Bdf1 di dalam kompleks TFIID.  

 

 

Gambar 7. Tempat-tempat asetilasi histon. Histon 

mengalami asetilasi terutama pada residu lisin yang 

terletak pada amino terminal H3 dan H4, kecuali H3K56 

pada globular domain. Tampak protein dengan ikatan 

khusus pada histon asetilasi. 

________________________Kouzarides T, Berger SL. Chromatin modeifications 

and their mechanism of action. In : Allis CD eds. Epigenetics. 

Cold Spring Harbour Laboratory press 2007, p. 191-209. 

 

 

ada  berbagai enzim HDAC yang mengeluarkan 

gugus asetil, dikenal tipe I, tipe II, dan tipe III atau 

enzim yang berhubungan dengan Sir2. Tipe I dan 

tipe II tidak melibatkan kofaktor sedangkan tipe III 

memerlukan kofaktor NAD sebagai bagian 

mekanisme katalitik. HDAC bersama dengan 

kompleks multisubunit sebagai komponen dengan 

target enzim terhadap gen memicu  represi 

transkripsi (Gambar 6).12 

 

 

Fosforilasi 

 

Histon merupakan salah satu protein pertama yang 

mengalami fosforilasi, saat  sel dirangsang untuk 

proliferasi, dengan gen diinduksikan menjadi aktif 

dan berfungsi merangsang siklus sel. Peningkatan 

ekspresi gen berhubungan dengan fosforilasi histon 

H3. Fosforilasi juga dikenal sebagai modifikasi 

posttranslasi dalam proses signal transduction dari 

permukaan sel melalui sitoplasma ke dalam nukleus 

sehingga menimbulkan ekspresi gen. 12 

2. Epigenetik : Ilmu Baru Genetik 

48 

Metilasi 

 

Metilasi yaitu  modifikasi histon kovalen yang lebih 

kompleks sebab  dapat terjadi pada lisin atau 

arginin. Modifikasi metilasi dapat menimbulkan 

ekspresi transkripsi positif atau negatif bergantung 

pada posisi residu di dalam histon (Tabel 1).12 

Keadaan metilasi dapat juga terjadi secara multipel 

pada masing-masing residu. Lisin dapat mengalami 

mono (me-1), di (me-2) atau tri (me-3) metilasi, 

sedangkan arginin dapat mono (me1) atau di-me(2) 

metilasi. Kombinasi metilasi di dalam nukleosom 

amat besar sebab  paling tidak ada  24 tempat 

metilasi lisin dan arginin pada H3, H4, H2A, H2B. 

Hal ini disebabkan proses regulasi yang bersifat 

dinamik memerlukan sekuensi dan waktu transkripsi 

yang tepat.  

 

Dari beberapa  tempat metilasi yang dikenal, ada  

enam yang telah diketahui. Lima ada  pada H3 

(K4, K9, K27,K36,K79) dan satu pada H4 (K20). 

Secara umum, metilasi berkaitan dengan aktivasi 

transkripsi dan juga represi (Tabel 1). 12 Ada dua 

tempat yang berkaitan dengan DNA repair yaitu 

H3K79me dan H4K20me. 12 

 

 

Ubikuitilasi dan Sumoilasi 

 

Ubikuitilasi (Ub) dan Sumoilasi (SUMO) yaitu  

polipeptida besar, yang meningkatkan ukuran histon 

kurang lebih dua pertiga kali lipat, sedangkan PTM 

sebelumnya; asetilasi, fosforilasi dan metilasi yaitu  

molekul kimia kecil.  Ub and SUMO identik sebesar 

18%, memiliki 3 dimensi dengan permukaan muatan 

berbeda. 

 

Ubikuitilasi dapat bersifat represif atau aktivasi 

(Tabel 1), 12 bergantung pada tempat khusus. H2A 

dan H2B yaitu  tempat monoubikuilasi, dengan 

H2B monoubikuilasi mengaktivasi transkripsi, 

sedangkan H2K119ub1, bersifat represif terhadap 

transkripsi pada mamalia dan dikatalisis oleh grup 

protein Policomb Bmi2/Ring1At (tulisan Gambar 8 

dihapus). 12 

 

Sumoilasi bersifat represif pada jamur dan mamalia. 

Peran SUMO bersifat negatif dengan mencegah 

aktivasi HPTM. Inhibisi terhadap HPTM melalui 

dua mekanisme : SUMO-histon secara langsung 

menghambat tempat substrat lisin pada asetilasi dan 

sumoilasi secara bergantian seperti terlihat pada 

Gambar 5 model 2. Kedua, histon sumoilasi dapat 

merekrut HDAC ke arah kromatin (Model 3) dan via 

grup SUMO yang terjadi pada represor yang 

mengikat DNA.  

 

 

NONCODING RNA 

 

Noncoding RNA (ncRNA) dapat dibagi atas dua 

kelompok yang berhubungan dengan epigenetic 

yaitu : long ncRNA, dan short ncRNA termasuk di 

dalamnya miRNA, siRNA dan Piwi-interacting 

RNA (piRNA). Dalam pembahasan pada bab ini, 

difokuskan pada short ncRNA dan miRNA. 13 

 

 

Short ncRNA dan miRNA  

 

RNAi (RNA interference) yaitu  mekanisme 

dsRNA (double stranded RNA) pendek yang 

digunakan untuk pengaturan ekspresi gen pada 

sekuensi khusus, dengan pengikatan beberapa 

nukleotida ncRNA terhadap regio coding atau 

promoter mRNA.13 Pengikatan ini memicu  

silencing terhadap ekspresi mRNA. Meskipun ada 3 

kelas utama ncRNA; miRNA, short interfering RNA 

(siRNA) dan Piwi-interacting RNA (piRNA) 

(Gambar 8), 13 miRNA paling dikenal di antara 

ketiga kelas pengatur ncRNA. Studi menunjukkan 

bahwa tidak hanya satu gen miRNA yang 

menargetkan pada beberapa ratus gen target dalam 

mengurangi ekspresi, 14  tetapi beberapa miRNA 

dapat mengurangi ekspresi melalui metode 

deadenilasi pada polyA tail. 15 

 

miRNA memiliki  peran penting dalam stem 

cell terhadap self-renewal dan diferensiasi. 16 

Pengaturan pada self renewal atau self-replication 

pada sel jaringan termasuk adult stem cell  (sel 

somatik dan germline-cells) memicu  

pembelahan asimetrik, dengan satu sel anak 

mempertahankan sifat stem cell dan sel anak lain 

memiliki  fungsi diferensiasi. Sifat ini diatur 

secara interseluler (antar sel melalui cell 

signaling), juga intrasel melalui epigenetik, 

transkripsi, translasi dan mekanisme posttranslasi. 

Akhir-akhir ini, miRNA memegang peranan 

penting dalam mengatur nasib dan sifat stem cell, 

contoh klaster miR 290-295 yaitu  kelompok 

miRNA yang memiliki motif sama dengan 5’ 

proximal AAGUGC. 17 Ekspresi klaster ini akan 

meningkat selama perkembangan pre-implantasi 

dan tetap meninggi pada embryonic stem cell 

(ESC) dalam kondisi undifferentiated, tetapi 

Stem Cell Epigenetik 

49 

menurun pada waktu diferensiasi ESC. 17  

 

 

Gambar 8. Jalur pengaturan ncRNA. (A) miRNA pada awalnya yaitu  single-stranded RNA (ssRNA) dihasilkan melalui 

transkripsi atau splicing, yang melipat menjadi stem-loop membentuk double-stranded RNA yang tidak sempurna 

(dsRNA). Kemudian diproses oleh endoribonuclease RNase III  (Dicer) sebelum mengalami denaturasi. Salah satu 

untaian RNA (biasanya yang kurang stabil) berikatan dengan RNA-induced silencing complex (RISC), kemudian 

berikatan dengan mRNA yang berisikan sekuensi komplementer terhadap miRNA, untuk menginduksi pemecahan atau 

degradasi, atau memblok translasi. (B) siRNA dihasilkan oleh dsRNA dan dapat masuk melalui jalur post-transcriptional 

gene silencing (PTGS), memicu  degradasi miRNA di dalam sitoplasma, atau trancriptional gene silencing (TGS) 

yang melibatkan modifikasi kromatin. (C) piRNA yaitu  ssRNA yang dihasilkan dalam bentuk klaster dan dipecahkan 

menjadi unit individual melalui mekanisme yang belum diketahui. Kemudian akan berikatan dengan protein PIWI untuk 

menginduksi pengaturan epigenetik dan transposon.  

________________________Collins LJ, Schonfeld B, Chen XS. The epigenetics of non-coding RNA : In : In : Tollefsbol TO ed. Handbook of 

Epifegentics.AcademicPress2011,p.49-61.

 

MEKANISME EPIGENETIK DALAM 

PENGATURAN EKSPRESI GEN PADA 

RISIKO KARDIOVASKULER 

 

METILASI DNA DAN MODIFIKASI 

KROMATIN 

 

Gambaran keterlibatan pengaturan ekspresi gen oleh 

mekanisme epigenetik dapat dilihat dari hasil studi 

besar Diabetes Control and Complications Trial 

(DCCT) 3 dekade yang lain. Studi acak tersamar 

yang melibatkan 1441 pasien yang didiagnosis 

diabetes tipe 1 memakai  terapi suntikan insulin 

1 atau 2 kali dibandingkan terapi kombinasi regimen 

suntikan insulin multipel dengan monitoring glukosa 

secara ketat. 18 Hasil studi ini mendapatkan 

penurunan kadar HbA1c 7% dan 9% pada masing-

masing pasien yang mendapat terapi insulin intensif 

dan standar. Manfaat klinis yang diperoleh dari 

pengontrolan glukosa secara intensif membuat 

DCCT diterminasi lebih dini yaitu reduksi insiden 

dan progresivitas komplikasi mikrovaskuler; 

nefropati, neuropati dan retinopati secara signifikan 

pada terapi insulin intensif. 19 Sebagai lanjutan 

terhadap studi ini, dilakukan studi observasional the 

Epidemiology of Diabetic Interventions and 

Complications (EDIC). 20  EDIC meneliti insiden 

kejadian makrovaskuler yang tidak dilakukan DCCT 

sebelumnya sebab  jangka studi yang relatif singkat. 

Hasil studi EDIC mendapatkan outcome vaskuler 

yang lebih melebar antara kedua kelompok, 

menunjukkan bahwa adanya pengaruh terapi insulin 

sebelumnya. 20  

 

Manfaat terapi insulin secara intensif pada awal 

pengobatan terhadap progresivitas komplikasi 

vaskuler diabetika tetap lebih baik saat  uji klinis 

DCCT/EDIC telah memasuki dekade ke 4. Hal ini 

yang sama terjadi pada uji klinis United Kingdom 

2. Epigenetik : Ilmu Baru Genetik 

50 

Prospective Diabetes Study (UKPDS) terhadap 

pasien diabetes melitus tipe 2, meskipun dengan 

level HbA1c yang hampir sama pada kedua 

kelompok setelah di follow-up selama 10 tahun, 

menunjukkan bahwa r