Bedah saraf 5




 ah otak (ICD 10 :  

G93.5) 

 

1B 1,2,3 

 

8. Terapi No Tata 

laksana 

Keterangan GR Ref 

Pembedah

an 

    Terapi paling tepat dan efektif 

    Karena terlibatnya struktur struktur termasuk 

struktur neurologis di dasar tengkorak, reseksi 

total seringkali tidak dapat dilakukan 

    Tujuan pembedahan: mengambil seluruh 

tumor semaksimal mungkin  

2A 

4,5,

2 Radioterapi 

    Kombinasi radioterapi dan pembedahan untuk 

menghentikan pertumbuhan tumor 

    Radioterapi konvensional, digunakan untuk 

mengobati residual atau rekuren chordoma 

2C 

7, 

8, 

9, 

10, 

11, 

12,

13,

14 

3 Kemoterapi 

    Chordoma secara umum tidak diterapi dengan 

kemoterapi 

2C 8, 9 

Pilihan teknik operasi kordoma intrakranial: 

 Transsphenoidal: untuk upper dan midline clivus 

 Transoral approach: untuk lower clivus , for magnum, C1 dan C2 

 Transbasal atau extended subfrontal: untuk tumor besar hingga nervus II 

 Transcondyle approach untuk tumor yang ekstensi ke lateral 

Teknik operasi kordoma sacral: 

 Complete spondylectomy 

9. Edukasi 

Kemungkinan rekurensi. 

Edukasi tentang multimodalitas terapi. 

10. Prognosis 

5-year survival rate 51%, dan 10-year survival 35%.  

Faktor yang memperbaiki prognosis yaitu usia muda, reseksi total, dan radioterapi pada 

tumor yang tidak reseksi total. 


12. Indikator Medis 

Radikalitas eksisi tumor dievaluasi dengan imaging.  

Komplikasi: kordoma sacrum  gangguan miksi dan defekasi 

                    Kordoma intracranial  gangguan nervus kranialis  


 

Limfoma Sistem Saraf Pusat 

ICD 10: C.71 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Limfoma yang ditemukan pada susunan saraf pusat yang dapat muncul sekunder dari 

proses limfoma sistemik atau merupakan proses primer di susunan saraf pusat. 

Istilah lain: reticulum cell sarcoma dan mikroglioma. 

Tumor ini merupakan 0.85 - 2% dari seluruh tumor otak primer.  

2. Anamnesis Gejala non fokal: 

    Tanda peningkatan TIK seperti nyeri kepala, muntah didapati pada ± 33% penderita. 

    Perubahan status mental pada ± 33% penderita. 

    Kejang pada ± 10% penderita.  

Gejala fokal: 

    Gangguan fungsi saraf cranialis 

    hemiparese 

    Kaburnya penglihatan bila terjadi limfoma okuli 

Faktor risiko: immunocompromised 

3. Pemeriksaan Fisik 

 

Non fokal: 

    Papilledema 

    Ensefalitis subakut  

    MS-like ilness yang remisi dengan steroid 

Fokal: 

    Defisit neurologis hemiparesis dan afasia didapati pada > 50% penderita. 

    Defisit lapangan pandang 

    Uveocyclitis (konsul mata) 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis : gejala umum peningkatan TIK (nyeri kepala, muntah), kejang, da 

perubahan status mental. Gejala fokal akibat efek massa: hemiparese, gangguan saraf 

cranial. 

2. Pemeriksaan klinis : Papilledema, defisit neurologis hemiparesis dan afasia didapati 

pada > 50% penderita, defisit lapangan pandang 

3. Pemeriksaan laboratorium sitologi LCS, serologi HIV 

4. Imaging sesuai diatas 

5. Patologi anatomi : diffuse large B cell lymfoma (> 95%) 

5. Diagnosis BAB 1Limfoma SSP Primer  (C 71)  

BAB 2Limfoma SSP Sekunder (C 79) 

6. Diagnosis Banding     Acute disseminated encephalomyelitis 

    Glioblastoma multiforme 

    Granulomatous angiitis of the CNS 

    HIV-1 associated opportunistic infections: CNS cryptococcosis 

    HIV-1 associated opportunistic infections: CNS toxoplasmosis 

    Low-grade astrocytoma 

    Multiple sclerosis 

    Neurological infections 


 

    Neurosarcoidosis 

    Neurosyphilis 

    Paraneoplastic encephalomyelitis 

 

7. Pemeriksaan 

penunjang 

- Pemeriksaan laboratorium : 

 pemeriksaan sitologi LCS dapat berguna untuk menentukan stadium (dilakukan 

bila tidak ada kontraindikasi lumbal pungsi) 

 Tes serologi HIV juga perlu dikerjakan karena diderita ± 10% dari penderita AIDS. 

Jika pemeriksaan awal sitologi LCS telah dikerjakan ketika pasien mendapatkan 

terapi kortikosteroid dan hasilnya negatif, sebaiknya diulang dikerjakan satu 

bulan berikutnya setelah menyelesaikan semua terapi, setelah terapi 

kortikosteroid berakhir.  

- Pemeriksaan radiologis: 

CT Scan: 

Hiperdens, enhancement pada pemberian kontras 

- MRI: 

T1: hipointense dibandingkan white matter 

T1 kontras: contrast enhanced 

T2: hiperintens 

MR spektroskopi: choline peak yang luas, rasio choline/creatinin terbalik, lactate 

peak 

MR perfusi: peningkatan ringan rCBV, angiogenesis 

    Lokasi tersering di supratentorial, soliter walaupun dapat berupa masa multipel. 

Sering didaerah periventrikel, corpus calosum ataupun basal ganglia 

    Edema yang timbul tidak seluas edema pada metastase ataupun glioma 

    Pemberian Steroid dapat menyebabkan perubahan ukuran, edema, penyengatan 

kontras bahkan pindahnya lokasi tumor (ghost tumor) 

 

 

 

Screening untuk mencari limfoma di organ lain:  

1) lesi massa intracranial soliter atau multiple  

2) keterlibatan leptomeningeal  

3) ocular lymphoma  

4) spinal cord lesions. 

- Pemeriksaan patologi anatomi 

    Histopatologi menunjukkan diffuse large B cell lymfoma (> 95%) 

8. Terapi No. Terapi TP DR Ref 

Pembedahan dekompresi dengan reseksi sebagian ataupun 

total dari tumor tidak mempengaruhi prognosa pasien. Tujuan 

utama dari pembedahan yaitu  biopsi. Disarankan untuk 

menggunakan teknik stereotaktik. 

2 B 13 

Induksi kemoterapi dengan dosis tinggi metotreksat 3,5-

5g/m2q2minggu 4-5 dosis dan bersamaan dengan vinkristin 2mg 

intravena pada dosis pertama dan dosis kedua metotreksat, dan 

prokarbazin 100mg/m2 peroral setiap hari dalam 7 hari dengan 

dosis metotreksat pertama dan ketiga.  

2 B 

1-

12 


Setelah terapi metotreksat komplit diberikan dosis tinggi 

cytarabine 3g/m2 tiap hari sehari dua kali diulang 3-4 minggu 

dikali dua siklus. Jika pasien mendapatkan respon komplit pada 

terapi ini, pertimbangkan kombinasi dengan Ifosfamid 2g/m2 IV 

setiap hari dalam tiga hari.  

2 B 

1-

12 

Pasien yang tidak memberikan hasil respon komplit sebaiknya 

dilakukan proses whole brain radioterapi, termasuk insersi pada 

nervus optikus pada bola mata (1/3 posterior). Atau 

pertimbangkan dosis tinggi kemoterapi dan transplantasi stem 

sel autolog (thiotepa 250-300mg/m2 perhari -8 dan -7, bisulfan 

3,2mg/kg IV hari -6 sampai -4, dan cyclophosphamid 2g/m2 hari 

-3 dan -2, ASCT hari 0). Catatan bahwa dosis tinggi methotrexat 

diikuti dengan radioterapi kranial pada pasien usia >55th, ini 

berhubungan dengan >70% kemungkinan terjadinya demensia, 

dan oleh karena itu, radiasi seharusnya secara umum dihindari 

jika pasien sedang menjalani terapi kuratif yang intens 

2 B 

1-

12 

9. Edukasi     Menghindari obat – obatan yang dapat berinteraksi dengan MTX seminggu 

sebelum kemoterapi. 

    Kemungkinan kejang 

    Mengikuti program rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi motorik. 

    Pasien AIDS harus meneruskan terapi ARV 

10. Prognosis Tanpa treatment, rata – rata survival 1,8 sampai 3,3 bulan setelah diagnosis. 

Dengan terapi radiasi, rata – rata survival 10 bulan, 1 year survival 47%. 

Dengan MTX intraventrikular, waktu rata- rata sebelum kekambuhan 41 bulan. 

Pada pasien dengan AIDS, prognosis tampak lebih buruk. Walaupun dapat terjadi remisi 

komplit, angka median survival hanya 3 sampai 5 bulan, tetapi fungsi neurologis dan 

kualitas hidup pasien meningkat pada 75% kasus.  

11. Indikator Medis Penurunan volume tumor dilakukan secara radiologis dengan MRI secara serial.  

Perbaikan gejala klinis dan peningkatan kualitas hidup. 

Komplikasi: kemotoksisitas dan radiotoksisitas 


 

Meningioma Intrakranial 

ICD 10: D32.0 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Tumor ekstra aksial yang berasal dari arachnoid cap cell, umumnya jinak dan tumbuh lambat. 

Berdasarkan lokasi meningioma intracranial dibagi menjadi : 

1. Meningioma Konveksitas: Meningioma pada semua daerah di konveksitas, paling 

sering pada daerah sutura coronaria dan dekat parasagital 

2. Meningioma Spheno-Orbita: Meningioma yang tumbuh dari dura di sphenoid wing 

dan bisa meluas ke sinus cavernosus, Fissura Orbitalis Superior, atap orbita, dan 

konveksitas. 

3. Meningioma Supra Sella dan Anterior Skull Base: 

1. Meningioma Olfactory Groove: Meningioma yang tumbuh dari daerah sutura 

frontosphenoid  sampai dengan crista gali dan lamina cribriformis 

2. Meningioma Tuberculum Sellae: Meningioma yang tumbuh dari daerah limbus 

sphenoidale, sulcus chiasmatikus dan diaphragma 

4. Meningioma Parasagital: Meningioma yang tumbuh di sudut parasagital tanpa adanya 

jaringan otak yang membatasi tumor dan Sinus Sagitalis Superior 

5. Meningioma Falx: Meningioma yang tumbuh dari falx cerebri, terlingkupi penuh 

dengan jaringan otak 

6. Meningioma Clinoid: Meningioma yang tumbuh dari area processus anterior clinoid 

7. Meningioma Cavernous: Meningioma yang tumbuh dari sinus cavernosus dan bisa 

meluas ke meckel’s cave, anterior,medial dan infra temporal fossa 

8. Meningioma Cerebello-Pontine Angle: Meningioma yang tumbuh dari permukaan 

posterior tulang temporal, di sebelah lateral dari nervus trigeminus 

9. Meningioma Foramen Magnum: Meningioma yang tumbuh terbatas di foramen 

magnum, atau sekunder dari perkembangan meningioma di regio lain 

10. Meningioma Petroclival: Meningioma yang tumbuh dari permukaan posterior tulang 

temporal, di sebelah medial dari nervus trigeminus 

11. Meningioma Tentorial: Meningioma yang tumbuh dari tentorium dan bagian posterior 

dari falx cerebri 

12. Meningioma Spinal: Meningioma yang berlokasi dibawah vertebra C2  

13. Meningioma Ventrikel Lateral: Meningioma yang tumbuh dari choroid plexus 

14. Meningioma Ventrikel 3: Meningioma yang tumbuh dari arachnoid cap cells di atap 

dari ventrikel 3 

15. Meningioma Ventrikel 4: Meningioma yang tumbuh dari choroid plexus dan tela 

choroidea, paling banyak di daerah midline dalam ventrikel 

16. Meningioma Optic Nerve Sheath: Meningioma yang berlokasi di orbita atau kanalis 

optikus atau ekstensi dari intrakranial meningioma 

2. Anamnesis 1. Gejala dan tanda umum : 

1. Asimtomatis (terutama meningioma di daerah midline, silent area,  tumbuh lambat dan 

tumor dengan ukuran kecil, diameter <3 cm). 

2. Gejala atau tanda akibat peningkatan tekanan intrakranial: nyeri kepala, mual muntah, 

kejang, penurunan visus sampai kebutaan. Keluhan bersifat intermiten dan progresif. 

3. Gejala dan tanda akibat kompresi atau destruksi struktur otak, berupa defisit neurologis: 

kelemahan ekstremitas, kelumpuhan saraf kranial, penurunan penglihatan, gangguan 

afektif dan perubahan  perilaku serta penurunan kesadaran  (bradipsike, depresi, letargi, 

apatis, confusion, koma) dan kejang. Gejala menyerupai “TIA” atau stroke 

4. false localizing sign: penekanan saraf kranialis, saraf kranialis ke 6. 

 

2. Gejala dan tanda khusus: 

    Akibat kompresi atau destruksi parenkim otak berdasar lokasi tumor: 

 

Lokasi Gejala khusus 

Konveksitas  

Frontal Gangguan afektif. 

Parietal 

Kejang, gangguan motorik, dan sensoris, hemiparesis 

dan hemiestesia. 

Temporal  Gangguan bicara, gangguan memori. 

Parasagital  Gangguan motorik dan sensoris. 

Olfaktorius 

Gangguan penciuman, gangguan afektif, gangguan 

penglihatan. 

Tubercullum sellae 

Gangguan lapang pandang, tajam penglihatan, dan 

gangguan hormonal 

Prosesus clinoideus 

Gangguan lapang pandang, tajam penglihatan, dan 

gangguan hormonal. 

Sinus cavernous 

Diplopia, ofthalmoplegia, penurunan visus, facial pain, 

rasa tebal pada wajah, occular venous congestion. 

Optic sheath meningioma Gangguan penglihatan  

Meningioma orbita Exophthalmos 

Sphenoid wing medial 

meningioma 

Gangguan penglihatan, diplopia, psikomotor seizure. 

Sphenoid wing lateral 

meningioma 

 Gangguan bicara, gangguan lapang pandang. 

Tentorial Peningkatan TIK, kejang, gangguan lapang pandang. 

Cerebelar Ataksia, vertigo, hidrosefalus. 

Foramen magnum 

Gejala penekanan pada batang otak sisi dorsal, lateral 

atau ventral.Gangguan saraf kranial multipel dan 

penurunan kesadaran 

Cerebellopontine angle 

meningioma 

Gangguan fungsi saraf kranial unilateral terutama saraf 

no 7,8,9  

Petroclival atau clivus 

Gangguan saraf kranial unilateral atau bilateral, 

penekanan batang otak sisi ventral 

Intraventrikel Peningkatan TIK (Tekanan Intra Kranial) 

 

3. Pemeriksaan 

Fisik 

Pemeriksaan fisik meliputi : 

1. Tanda vital: Tensi,nadi,respiratory rate dan temperatur 

2. Status neurologis :  

    Kuantitas dan kualitas kesadaran, saraf kranial, status motorik dan sensorik   

    serta autonomik. 

3. Pemeriksaan pupil, tajam pengliatan dan lapang pandang. 

4. Pemeriksaan lokalis pada kepala dan wajah 

Pemeriksaan fisik bertujuan terutama untuk mengetahui lokasi tumor. 

Gejala dan Tanda Tumor Supratentorial: 

1. Gejala  peningkatan TIK  

a. Akibat efek massa tumor atau edema peritumoral 

b. Akibat blokade aliran CSF 

c. Ganguan tajam penglihatan, edema pupil. 

2. Gejala fokal defisit neurologis  progresif  

a. Akibat destruksi parenkim otak oleh invasi tumor 

b. Akibat penekanan parenkim otak oleh tumor, edema atau perdarahan 

c. Akibat penekanan pada saraf kranial  

3. Headache. 

4. Kejang akibat iritasi pada kortek serebral atau peningkatan TIK 

5. Perubahan status mental: depresi, letargi, apatis, confusion dan koma 

6. Gejala menyerupai “TIA” atau stroke. 

Gejala dan Tanda Tumor Infratentorial: 

1. Tumor fossa posterior memberikan gejala akibat peningkatan TIK dan hidrosefalus: 

a. Headache 

b. Mual dan muntah: dapat akibat peningkatan TIK oleh hidrosefalus atau akibat 

penekanan langsung pada vagal nucleus atau area postrema (“vomiting center“). 

c. Papil edema 

d. Gangguan gait-ataksia 

e. Diplopia: akibat abducens palsy oleh karena peningkatan TIK atau penekanan langsung 

pada nukleus saraf ke 6 

2. Gejala yang timbul akibat efek massa di fossa posterior. 

a. lesi pada cerebellar hemisphere: ataksia ekstremitas, dysmetria, intention tremor 

b. Lesi pada cerebellar vermis: broad based gait, truncal ataxia, titubition 

c. Lesi pada batang otak: mengakibatkan gangguan saraf kranialis multipel, nistagmus dan 

penurunan kesadaran. 

 

4. Kriteria 

Diagnosis 

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, radiologis atau imaging, dan patologi anatomi 

atau histopatologi. 

Walaupun karakteristik imaging  dapat memperkirakan jenis meningioma secara spesifik, 

namun pemeriksaan patologi anatomi  tetap diperlukan untuk diagnosis definitif 


 

5. Diagnosis Kerja Meningioma (ICD-10: D32.0) 

Berdasar Klasifikasi histopatologi meningioma menurut WHO : 

WHO grade I 

Meningothelial, Fibrous (fibroblastic), Transitional (mixed), 

Psammomatous, Angiomatous, Microcystic, Secretory, 

Lymphoplasmacyte-rich metaplastic 

WHO grade II Chordoid, Clear cell (intrakranial), Atipikal 

WHO grade III Papillary, Rhabdoid, Anaplastik 

 

6. Diagnosis 

Banding 

1. Neurofibromatosis type 2 ( NF2), terutama meningioma multiple  

2. Pleomorphic xanthastrocytoma ( PXA)  

3. Rosai-Dorfman disease. 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

Pemeriksaan imaging 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grade  

Rekomendasi 

Ref 

1 CT scan 

CT Scan dengan dan tanpa 

kontras digunakan untuk 

skrening awal,  

 ( ok ketersediaannya yang 

lebih luas).  

CT scan lebih baik dalam 

menggambarkan jenis 

meningioma seperti destruksi 

tulang pada tipe atypical atau 

malignant  dan hyperostosis 

pada tipe meningioma jinak. 

CT Scan dapat 

menggambarkan edema di 

sekitar tumor (peritumoral 

edema) ( ICD 10 : S06.1) 

 

1C 1,2,3,4 

2 MRI 

MRI memberikan gambaran 

multiplanar dengan berbagai 

sekuen, resolusi jaringan yang 

tinggi. Dibutuhkan pada kasus 

meningioma yang komplek.  

MRI sangat bagus untuk 

1C 1,2,4 

menggambarkan edema di 

sekitar tumor (peritumoral 

edema) ( ICD 10 : S06.1), 

Kompresi saraf kranial (ICD 10 : 

G50.0), Kompresi otak dan 

pembuluh darah otak (ICD 10 :  

G93.5) 

 

 

 

Angiografi 

 

Angiografi dibutuhkan untuk 

menggambarkan keterlibatan 

pembuluh darah dan 

kepentingan embolisasi bila 

dibutuhkan. 

2C 

 

Keterangan : 

GR : Grade Rekomendasi 

8. Terapi Modalitas terapi meningioma meliputi:  

Medikamentosa, Pembedahan, dan Radioterapi. 

Pemilihan modalitas terapi ditentukan oleh jenis histopatologis tumor. Jenis histopatologis 

tumor dapat diperkirakan dari gambaran imaging dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan 

histopatologi.  

Penatalaksanaan : 

1. Medikamentosa 

1.1. Pemberian kortikosteroid (Deksamethason ) (GR : 1B) (1-6) 

           Steroid memberikan efek anti edema, lebih bermakna pada tumor otak metastase 

dibandingkan dengan tumor otak primer spt meningioma. 

 

           Dosis dexamethason  : 

         a.Pasien yang belum mendapat steroid sebelumnya 

Dewasa : 10 mg loading intravena, diikuti dosis rumatan 6 mg peroral                              

atau intravena tiap 6 jam. Pada kasus dengan edema vasogenik yang berat 

maka dosis dapat ditingkatkan sampai 10 mg tiap 4 jam. 

 Anak   :0,5  - 1 mg/kg loading intravena, dilanjutkan dosis rumatan  0,25 – 0,5 

mg/kg/hari (peroral/intravena) dalam dosis terbagi tiap 6 jam. Hindari 

pemberian jangka panjang karena efek   menghambat pertumbuhan. 

         b. Pasien dengan terapi kortikosteroid sebelumnya : 


            Pada kondisi penurunan kesadaran akut, maka perlu dicoba diberikan dosis dua 

kali lipat dari dosis yang biasa diberikan. 

 

    Jenis kortikosteroid yang dapat digunakan dengan equivalen dosis   sebagai  berikut : 

Nama Obat 

Glucocorticoid 

Approximate 

Equivalent Dose 

Biologic Half 

Relative Mineralo 

Corticoid Activity 

Cortisone 25 mg 8 - 12 ++ 

Hydrocortisone 20 mg 8 - 12 ++ 

Prednisolone 5 mg 18 - 36 + 

Prednisone 5 mg 18 - 36 + 

Methylprednisolone 4 mg 18 - 36 0 

 

Nama Obat 

Dosis 

Equivalent 

Cara  

Pemberian 

Dosis 

Potensi 

Mineralocorticoi

Cortisone 25 PO, IM 

2/3 pagi 

1/3 malam 

Hydrocortisone 20 PO, IV, IM 

2/3 pagi 

1/3 malam 

Prednisone 5 PO 

Terbagi 

2 – 3 kali 

perhari 

Methylprednisolone 4 PO, IV, IM Terbagi 2 kali 1 

Dexamethasone 0,75 PO, IV 

Terbagi 2x 

atau 4x 

perhari 

 

1.2   Pemberian profilasis anti kejang 

o Pasien dengan riwayat kejang yang berhubungan dengan tumor otak, 

direkomendasikan pemberian obat anti kejang (GR : 1A) (7 – 11) 

o Pasien tumor otak  tanpa riwayat kejang dan tidak ada riwayat pembedahan, tidak 

direkomendasikan pemberian profilaksis  anti kejang (GR : 1B) (12-15) 

o Pasien tumor otak  tanpa riwayat kejang dan dilakukan pembedahan, 

direkomendasikan pemberian profilaksis  anti kejang (GR : 2C) (16 -17) 

1.3 Pemberian anti ulcer berupa H2 Blocker maupun PPI dan simtomatik  anti nyeri kepala 

bila diperlukan (GR 1B) (18) 

 

1) Pembedahan:  

    Indikasi pembedahan yaitu   :  

    a. Massa tumor yang menimbulkan gejala dan atau tanda penekanan maupun destruksi 

parenkim otak dan asesibel untuk dilakukan  pembedahan.  

    b. Pada pemeriksaan imeging serial didapat  tanda pertumbuhan tumor dan atau 

didapat  gejala akibat lesi tumor yang tidak dapat terkontrol  dengan  medika 

mentosa. 

2)  Radioterapi 

3) Terapi lain sifatnya suportif guna meningkatkan ketahanan  dan  meningkatkan kualitas 

hidup. 

 

     PRINSIP UMUM TEKNIK OPERASI MENINGIOMA : 

1. Mengidentifikasi batas tumor dengan parenkim normal 

2. Menghentikan suplai darah ke tumor (devascularisasi ) 

3. Dekompresi massa tumor (dengan ultrasonic aspirator, cautery loop, atau gunting) 

4. Diseksi/memisahkan kapsul tumor dari jaringan otak dengan memperhatikan batas 

arakhnoid 

5. Diupayakan capaian eksisi se-radikal mungkin ( Simpsons grade 1 ) dengan membuang 

seluruh  tulang dan dura yang melekat pada tumor.   

             

     Tatalaksana Meningioma WHO grade I 

No. Terapi Rekomendasi GR Ref 

1 Pembedahan 

Pembedahan yaitu  terapi primer untuk 

pasien yang bukan calon untuk observasi. 

Reseksi total/komplit menghasilkan 

harapan yang tinggi untuk terbebas dari 

meningioma (ICD 9 CM : 01.51), 

Dekompresi saraf kranial (ICD 9 CM : 

04.41) 

1B 9,10,11 

2 Radioterapi 

Dipertimbangkan pada kasus tumor yang 

lokasinya sulit/resiko tinggi untuk operasi 

(mis: meningioma sinus kavernosa), 

tumor unresectable, subtotal reseksi   

atau tumor yang kambuh (ICD 9 CM : 

1C 11, 12 


                      Tatalaksana Meningioma WHO grade II, dan III 

No. Terapi GR Ref 

Terapi standar :pembedahan dan radioterapi 

1B 

13,14,15,

16 

Tumor kecil lokasi sulit, kandidat untuk stereotactic 

radiosurgery 

1C 11,17 

Terapi sistemik dipertimbangkan untuk tumor yang 

unresectable atau tumor rekuren 

2C 18,19,20 

Keterangan : 

GR : Grade  Rekomendasi 

9. Edukasi - Pasien memerlukan pemeriksan tambahan berupa CT scan kepala (dengan atau tanpa 

kontras), MRI kepala, dan patologi anatomi untuk menegakkan diagnosis. 

- Pembedahan yang dilakukan bisa berupa biopsi (pegambilan tumor dalam jumlah kecil 

untuk mengambil sampel PA), atau eksisi tumor. 

- Edukasi untuk pasien dan keluarganya: Selain gejala nonfokal (seperti gejala dan tanda 

tumor supra dan infratentorial), terdapat kemungkinan terjadi defisit neurologis fokal yang 

berhubungan dengan lokasi meningioma dan akibat prosedur pembedahan. 

10. Prognosis 5 years survival pasien dengan meningioma yaitu  : 91,3% 

Prognosis tergantung jenis Histopatologi dan derajat pengambilan tumor 

                

Sistem derajat Simpson untuk pengambilan tumor 

Derajat Derajat Pengambilan/Eksisi 

I Komplit eksisi secara makroskopik, termasuk : durameter, tulang yang 

tidak normal, dan dura sinus yang terkena.  

II Komplit eksisi secara makroskopik, dengan koagulasi durameter dengan 

Bovie atau laser. 

III Komplit eksisi secara makroskopik, tanpa reseksi atau koagulasi durameter 

atau ekstensi ektradural (misalnya tulang yang hiperostosis) 

IV Parsial eksisi, meninggalkan sebagian tumor. 

V Dekompresi sederhana, biopsy. 

Luasnya tumor yang di eksisi yaitu  factor yang utama dalam menentukan rekurensi dari 

meningioma. Rekurensi setelah gross total reseksi muncul pada 11 – 15 % kasus, dan 29% 

kasus pada reseksi inkomplet. Rata- rata rekurensi dalam 5 tahun setelah reseksi partial 

yaitu  37% - 85%. Overall recurrence rate selama 20 tahun yaitu  19% dan dalam laporan 


 

lain yaitu  50%. Meningioma malignant memiliki angka rekurensi lebih tinggi dibandingkan 

yang lainnya. 


Medis dan 

Target 

Kesembuhan: total eksisi tumor dengan preservasi fungsi-fungsi neurologis. 

Komplikasi: Tidak terjadi perburukan fungsi neurologis dalam 6 bulan. 

Target : 80 % eksisi tumor meningioma simpson derajat 1 


Algoritme Meningioma Intrakranial 

ICD-10: D32.0 

 

 

 

Tumor Kecil, 

< 3 cm 

 

Tumor Besar, 

≥ 3 cm 

 

Tumor Single 

(Besar & kecil) 

 

 

Tumor Multiple 

(Besar & kecil) 

 

• Observasi Klinis & 

serial CT tiap 6 bulan, 

atau gejala klinis 

memberat 

• Pembedahan / reseksi, bila syarat terpenuhi (accessible, karnoffsky 

scale >70, fungsi organ lain memenuhi syarat pembedahan) 

• Dilanjutkan radioterapi bila histologis WHO Grd III 

• Dilanjutkan radioterapi pada Reseksi Inkomplit pada WHO grd I atau II 

• Bila tidak accessible, dilakukan stereotaktik biopsi, atau radioterapi 

dan terapi sistemik (kemoterapi) 

• Bila accessible, tetapi syarat lain tidak terpernuhi, dilakukan terapi 

supportif (mengurangi gejala & memperbaiki kualitas hidup) 

• Pembedahan pada kasus multiple, one step atau two step tergantung: 

a. Aksesibilitas massa 

b. Kegawatan neurologis 

 

CT Scan (Kontras-non kontras), pada umumnya 

ditemukan: 

1) Massa tumor ekstra axial dengan perlekatan 

pada duramater, dan CSF cleft 

2) Batas jelas 

3) Homogenous Contrast enhance (90%) 

4) Hyperostosis 

5) Peritumoral Edema 

 

Klinis Tidak Progresif 

 

Klinis Progresif 

 

MRI / MRA bila: 

1. Lokasi pada daerah eloquent, 

(Sensorimotor area, area 

bicara, penglihatan, 

pendengaran, thalamus) dan 

kritis (sinus cavernosus, 

brainstem, skull base, sinus 

venosus, strukstur vaskuler) 

2. Meningioma dengan diameter 

< 3 cm 

KLINIS 

(Sesuai PPK) 

 

Gejala Klinis akibat: 

1. Peningkatan TIK 

2. Destruksi / Kompresi struktur otak 

 

Post Operatif 

Algoritme Tatalaksana Pembedahan Meningioma Intrakranial 

ICD-10: D32.0 

 

 

 

Dasar Evaluasi : 

1. Klinis 

2. Simpson Grading  

CT scan segera bila : GR 1C 

    Terjadi komplikasi durante 

operasi ( edema otak yang tidak 

terkontrol, perdarahan banyak, 

timbul deficit neurologis baru 

paska operasi ) 

 

Pembedahan 

Tehnik sesuai dengan lokasi dan besartumor 

Embolisasi bila : GR 2C 

1. Ukuran tumor yang 

besar 

2. Vaskularisasi tumor 

banyak 

3. Suplai dari arteri yang 

susah dijangkau pada 

saat operasi seperti 

tumor pada skull base 

4. Suplai dari arteri carotis 

eksterna yang signifikan 

5. Tumor yang lokasinya 

dekat dengan daerah 

eloquent 

Diagnosis  

KLINIS 

RADIOLOGIS  

 

Follow Up di Poli klinik 

Bedah Saraf : 

 

1. Klinis  

2. Hasil PA 

3. Simpson           

   Grading 

 


Schwannoma (Neuroma Akustik)  

ICD-10: D36.1 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Tumor jinak yang tumbuh lambat pada nervus VIII, biasanya tumbuh dari sel Schwann 

pada saraf vestibuler superior. 

2. Anamnesis     Gangguan pendengaran gradual progresif pada satu telinga (90%), sementara yang 

muncul secara mendadak sekitar 5% 

    Tinnitus (70%) dan nyeri pada satu telinga 

    Neuroma yang besar atau berlokasi di daerah medial dapat memiliki gejala kenaikan 

tekanan intra kranial seperti nyeri kepala, gangguan visus, hingga penurunan 

kesadaran 

3. Pemeriksaan Fisik     Hipestesi wajah unilateral 

    Gangguan keseimbangan dan koordinasi akibat kompresi serebelum 

    Diplopia 

    Paresis nervus VII, berdasarkan klasifikasi dari House and Brackmann 

 

Klasifikasi Klinis dari Fungsi Nervus VII (House and Brackmann) 

Derajat Deskripsi Gambaran 

1 Normal Fungsi normal dari saraf facial di semua area 

2 Disfungsi ringan A. Pemeriksaan ringan: kelemahan ringan dapat terlihat 

dengan pemeriksaan yang cermat. 

B. Saat istirahat: simetris 

C. Gerakan :  

– Dahi : gerakan ringan 

– Mata : menutup mata dengan usaha 

  – Mulut : asimetris ringan 

3 Disfungsi sedang A. Pemeriksaan ringan: jelas, tetapi bukan asimetris yang 

nyata 

B. Gerakan : 

– Dahi : gerakan ringan hingga sedang 

– Mata : menutup mata dengan usaha 

     – Mulut : kelemahan ringan dgn usaha maksimal 

4 Disfungsi sedang 

hingga berat 

A. Pemeriksaan ringan: kelemahan dan asimetri yang 

nyata 

B. Gerakan: 

– Dahi : tidak ada gerakan 

– Mata : tidak sempurna menutup mata 

     – Mulut : asimetri dengan usaha maksimal 

5 Disfungsi berat A. Pemeriksaan ringan: hamper tidak ada gerakan 

B. Saat istirahat: asimetris 

C. Gerakan:  

– Dahi : tidak ada gerakan 

     – Mata : tidak sempurna menutup mata 

6 Paralisa total Tidak ada gerakan 

4. Pemeriksaan 

Penunjang 

Audiological 

    Pure Tone Audiometry 

    Speech Discrimination Testing 


 

    Electric Response Audiometry 

 

Imaging 

    Prosedur diagnostik yaitu  menggunakan MRI dengan kontras dengan sensitivitas 

98%. Gambaran karakteristik: tumor berbentuk bulat atau oval yang menyerap 

kontras yang terletak dekat dengan meatus akustikus internus. 

    CT scan dengan kontras yaitu  pilihan kedua untuk modalitas radiologis. Pelebaran 

dari osteum kanalis akustikus (trumpeting) yaitu  salah satu gambaran khas dari 

tumor ini. (normal diameter dari kanalis akustikus = 5-8 mm). 

    Keuntungan CT scan dibanding dengan MRI yaitu  kemampuannya menampilkan 

gambaran anatomi tulang (termasuk mastoid air cell) yang seringkali membantu 

dalam rencana preoperatif translabirin. 

5. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis 

2. Pemeriksaan klinis 

3. Pemeriksaan penunjang (audiological dan imaging) 

6. Diagnosis Neuroma Akustik (D36.1) 

7. Diagnosis Banding     Meningioma 

    Tumor ektodermal 

    Tumor metastase otak 

    Neuroma nervus kranialis lainnya 

    Kista arakhnoid 

    Kista neurenterik 

    Granuloma kolesterol 

    Lipoma 

    Aneurisma 

    Ektasia dolikhobasilar 

    Sistiserkosis 

    Perluasan dari: glioma batang otak atau serebelum, adenoma hipofisis, 

kraniofaringioma, khordoma dan tumor skull base, tumor ventrikel IV, papiloma 

pleksus khoroid, tumor glomus, tumor os temporal 

8. Terapi Ada empat pilihan manajemen penderita dengan neuroma akustik:  

1. Pemeriksaan scan interval 

2. Pembedahan 

3. Radiosurgery stereotaktis/radioterapi fraksinasi stereotaktik 

4. Kemoterapi dengan menggunakan bevacizumab, diberikan khususnya pada penderita 

dengan NF2 

 

Faktor utama dalam menentukan terapi yaitu :  

    Ukuran dari neuroma 

    Status kesehatan 

    Keinginan untuk mempertahankan pendengaran 

    Keadaan pendengaran dari telinga kontralateral 

    Pilihan dari pasien setelah mendapat penjelasan tentang resiko dari tiap pilihan 

 

Terapi Keterangan TP DR Ref 

Pembedahan 

Pengambilan tumor melalui tindakan bedah yaitu  

terapi yang disarankan pada sebagian besar pasien 

yang menderita neuroma akustik. 

2 C 1,3 

Penggunaan monitor saraf fasial meningkatkan 

outcome pasien yang menjalani tindakan bedah 

akustik neuroma dan peng-gunaannya 

dipertimbangkan pada operasi akustik neuroma 

lainnya. Monitor fungsi cochlear dapat juga 

1 B 2,4 


 

berguna untuk hearing conservation surgery 

Keterangan: 

TP : Tingkat Pembuktian 

DR : Derajat Rekomendasi 

 

Pilihan Teknik Pembedahan 

    Middle fossa approach: preservasi pendengaran, lokasi tumor di lateral, tumor 

berukuran kecil (<2,5 cm) 

    Translabyrinthine approach: berguna pada tumor dengan primer pada intrakanalikuli 

dengan ekstensi ke CPA yang minimal 

    Retrosigmoid approach: paling sering digunakan oleh ahli bedah saraf, akses cepat ke 

tumor, memungkinkan untuk preservasi pendengaran 

9. Edukasi     Tindakan pembedahan yang dilakukan tidak menjamin dapat memperbaiki sistem 

pendengaran 

    Terdapat risiko paresis nervus fasialis pasca operasi 

    jika tumor melekat pada struktur penting seperti batang otak dan nervus kranialis 

maka tidak dapat diangkat total 

 

10. Prognosis Faktor prognosis yang mempengaruhi: 

    Ukuran dan iregularitas bentuk tumor 

    Usia penderita 

    Keterlibatan batang otak 

11. Indikator Medis Eksisi total tumor dengan preservasi nervus VII dan lower cranial nerves. 


 

Oligodendroglioma 

(ICD 10 : C.71) 

1. Pengertian 

(Definisi) 

- Tumor yang berasal dari sel oligodendrogliosit 

- Tumor oligodendroglial dapat terjadi dimana saja ditempat yang ditemukan adanya 

sel oligodendrosit. 

- Glioma terbanyak ketiga, 2-5% dari tumor primer otak dan 4%-15% dari keseluruhan 

glioma.  

- Terjadi pada semua usia tetapi diagnosis awal memiliki dua puncak pada usia 6-12 

tahun dan 35-44 tahun 

- Rasio lelaki: perempuan berkisar 1.1 : 2.0  

- Lebih dari 90% muncul di white matter supratentorial, terbanyak di lobus frontalis. 

Kurang dari 10% terjadi di fossa posterior dan medulla spinali 

- Gambaran histologi: tersering berupa kalsifikasi. Gambaran “fried egg cytoplasma” 

dan “chicken wire” vaskularisasikurangdapatdipercaya 

2. Anamnesis Riwayat Kejang didapat  pada 50- 80% pasien, nyeri kepala (22%), perubahan kondisi 

mental (10%), dan vertigo(9%). 

3. PemeriksaanFisik Tidak ada gejala yang spesifik untuk penderita oligodendroglioma.  

Gejala lebih sering berhubungan dengan efek masa lokal, dan jarang menyebabkan 

peningkatan TIK. 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis  

2. Pemeriksaan klinis  

3. Pemeriksaan laboratorium  

4. Patologi anatomi  

5. DiagnosisKerja 

Oligodendroglioma  (ICD10 : C71) 

    Grading masihkontroversi. Di rekomendasikanuntukdibagiantaralow (WHO grade II) 

atauhighgrade(WHO grade III) 

 

6. Diagnosis Banding 

AVM, glioma brainstem, melanoma SSP, frontal  lobe syndrome, Glioblastoma multiforme, 

toxoplasmosis, lymfoma pada SSP, Low Grade Astrocytoma, Meningioma, metastase, 

Primary Limfoma SSP 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

PEMERIKSAAN PENUNJANG 

Rekomendasi Keterangan GR Referensi 

CT scan 

Menentukan lokasi dan konfigurasi tumor 2B 1 

Karakteristik tetapi tidak pathognomonik 2B 2, 3 

MRI 

T2-weighted images lebih sensitif daripada T1 

untuk mendeteksi tumor dan menge-valuasi 

respon terha-dap kemoterapi 

1B 4, 5 

MRI lebih sensitif daripada CT scan dalam 

menampilkan abnormalitas parenkim otak 

1B 1, 3, 6, 7 

PET 

Memberikan informasi kuantitatif mengenai 

aliran darah dan metabolisme glukosa dan asam 

amino, aliran darah dan asam amino.  

  

Fluorine-18 fluorodeoxyglucose (18F-FDG) PET 

digunakan untuk membedakan jaringan parut, 

gliosis atau nekrosis dari jaringan tumor glia 

yang aktif tumbuh 

2B 

9, 10, 11, 

13 


 

Carbon-11-methionine (11C-MET) PET 

digunakan untuk membedakan antara low-grade 

astrocytoma dan oligodendroglioma 

2B 13 

Dapat menentukan grading oligodendroglioma 

secara noninvasif 

  

Keterangan : 

GR : Grade Rekomendasi 

 

 

Gambaran radiologis dan histologis antara low grade dan high gradeOligodendroglioma 

 WHO II (Low Grade) WHO III (High Grade) 

Menyengatkontras pada MRI-CT 

scan 

Tidak Ada 

Proliferasi Endotelial pada histologi Tidak Ada 

Pleomorfisme Tidak Ada 

Proliferasi tumor Tidak Ada 

Komponenastrosit Tidak Ada 

 

8. Terapi Rekomendasi pengobatan :Khemoterapi (ICD9 : 99.25) untuk  semua oligodendriglioma. 

Pada sebagian kasus dengan pembedahan (ICD9 : 01.24), radioterapi(ICD9 : hanya pada jenis 

yang mengalami transformasi anaplastic 

 

Pilihan untuk manajemen oligodendroglioma yaitu  pembedahan, radioterapi dan 

kemoterapi. Terapi terbaik dipilih berdasarkan jenis tumor, grade tumor, dan kondisi pasien. 

Semua terapi disesuaikan kondisi pasien untuk mengoptimalkan kualitas hidup dan 

meminimalisir efek samping 

 

LOW GRADE OLIGODENDROGLIOMA 

 

Tujuan dari terapi untuk low grade oligodendroglioma yaitu  bukan untuk menghilangkan 

tumor, tetapi tujuannya yaitu  untuk mengendalikan tumor ini  selama mungkin dan 

mengoptimalkan kualitas dan kenyamanan hidup pasien 

Untuk pasien dengan low grade oligodendroglioma, pembedahan yaitu  salah satu terapi 

yang disarankan dan juga radioterapi. Banyak pasien hidup dengan jenis tumor ini dalam 

jangka waktu yang lama. 

 

Pembedahan  

Untuk pasien dengan low grade oligodendroglioma, terapi pembedahan biasanya bukan 

yang bersifat segera, karena tidak ada gejala klinis yang dirasakan oleh pasien, dan 

pertumbuhan tumor tidak terlalu cepat. Salah satu gejalanya yaitu  kejang. 

Pilihan pembedahan ini mungkin juga tidak direkomendasaikan apabila ukuran tumor yang 

besar, menyebar luas ke seluruh bagian otak, terlalu dekat dengan area yang eloquen, 

apabila tidak dimungkinkan untuk eksisi tumor secara total, dapat dilakukan biopsi untuk 

mengetahui jenis tumor. 

Tujuan dari operasi ini yaitu  untuk eksisi tumor yang terlihat mata dan yang teridentifikasi 

imaging. 

 

Konservatif 

Pasien dengan tumor ini yang tidak memilih opsi pembedahan, dapat memilih opsi ini dan 

kontrol dan evaluasi MRI berkala 

 

Radioterapi 

Radioterapi direkomendasikan untuk pasien dengan : 

    Pasien setelah operasi dan masih ada tumor tersisa yang tidak bisa diambil 


 

    Untuk mengendalikan gejala, termasuk kejang 

    Untuk pasien dengan usia tua 

Menunda radioterapi dapat direkomendasikan untuk pasien : 

    Tidak ada gejala 

    Pasien dengan prognosis yang baik  

    Dibawah 40 tahun 

    Dengan total eksisi 

Dosis yang direkomendasikan yaitu  total 50 Gy dibagi atas 2 Gy setiap 6 minggu 

 

Kemoterapi 

Tidak ada cukup informasi yang membuktikan bahwa kemoterapi yaitu  pilihan terapi yang 

lebih efektif dari radioterapi. 

 

 

TERAPI LOW GRADE OLIGODENDROGLIOMA 

Rekomendasi Keterangan GR Referensi 

Pembedahan 

Terapi utama 1B 

14, 15, 16, 

17, 18, 19 

Tujuan gross total removal bila tumor dapat 

direseksi dengan aman 

1B 

19, 20, 21, 

22, 12, 17 

Luasnya reseksi berhubungan dengan ketahanan 

hidup (survival) 

2B 

19, 24, 25, 

26, 27, 28, 

29, 31 

Radioterapi 

Radioterapi parsial pasca operasi  2B 5, 16 

Memperpanjang ketahanan hidup (survival) 

terutama bila tumor hanya direseksi parsial 

2B 2, 26, 33, 32 

Efek samping jangka panjang: perubahan 

perilaku, gangguan memori, demensia, 

hipopituarism, dan radiation nekrosis yang 

memberi efek massa 

2B 30 

Kemoterapi 

“neoadjuvant chemotherapy” untuk menunda 

efek samping radioterapi 

2B 

9, 12, 35, 36, 

37 

Keterangan : 

GR : Grade Rekomendasi 

 

TERAPI ANAPLASTIK OLIGODENDROGLIOMA 

Rekomendasi Keterangan GR Referensi 

Pembedahan 

Terapi utama 2B 

15, 16, 17, 

18, 23 

Tujuan gross total removal bila tumor dapat 

direseksi dengan aman 

2B 

12, 17, 19, 

20, 21, 22 

Semakin total reseksi, berhubungan dengan 

katahanan hidup (survival) 

2B 

19, 24, 25, 

26, 27, 30, 

31, 36 

Radioterapi 

Sebagian besar penulis menyarankan 

penggunaan radioterapi pasca operasi  

1B 12, 13 

Kemoterapi 

Sel malignant oligodendroglial bersifat 

kemosensitif  

1B 

12, 16, 23, 

31, 35, 36, 

37 

Kemoterapi PCV bersifat efektif dan regimen 

yang paling sering dipakai 

1B 4, 21, 31 

Digunakan terapi pertama pasca operasi, 

dengan radiasi ditunda sampai didapat  

progresifitas dari tumor 

1B  


 

Kombinasi 

Terapi 

Kombinasi radioterapi dan kemoterapi (PCV) 

dikatakan lebih unggul daripada bila dilakukan 

salah satu saja 

1B 4, 31 

Dapat digunakan Interferon 2B  

Keterangan : 

GR : Grade Rekomendasi 

 

 

TERAPI OLIGODENDROGLIOMA REKURENS 

Rekomendasi Keterangan GR Referensi 

Radioterapi + 

Kemoterapi 

Diberikan radiasi dan kemoterapi PCV, 

walaupun pasien belum pernah 

mendapat regimen ini  

1B 16 

Digunakan terapi Carboplatin, 

etoposide (VP-16) dan cisplatin 

1B 33 

Dapat digunakan Temozolomide 1B 7, 8 

Keterangan : 

GR : Grade Rekomendasi 

 

9. Edukasi 1.Pasien dengan oligodendroglioma disarankan dengan multi modalitas terapi  

2.Penjelasan  efek dari chemoterapi dan radioterapi. 

3.Disarankan monitor rekuren dari tumor dengan kontrol MRI 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun 

10. Prognosis Oligodendroglioma murni mempunyai prognosis yang lebih baik daripada oligoastrocitoma 

dan daripada astrositoma murni 

Oligodendroglioma pada lobus frontal mempunyai waktu hidup yang lebih lama daripada 

lobus temporal (37 bulan dengan 28 bulan post op) 

10 years survival rate 10 – 30 % 


 

Tumor Metastase Otak 

(C71.9) 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Tumor otak yang berasal dari kanker di bagian tubuh lain. 

2. Anamnesis     Tanda  peningkatan TIK: nyeri kepala (40-50%), mual/muntah 

    Kejang (15%) 

3. Pemeriksaan Fisik     Defisit neurologis fokal (sesuai lokasi tumor): bias terjadi akibat kompresi parenkim otak 

oleh massa dan atau oleh edema peritumoral (monoparesis tanpa gangguan sensorik) 

atau bisa terjadi karena kompresi nervus kranialis 

    Gangguan status mental atau gangguan kognitif (tumor multipel): depresi, letargi, apatis, 

confusion 

    Gejala bisa terjadi akut menyerupai TIA: bisa terjadi karena oklusi pembuluh darah 

karena sel tumor atau perdarahan di dalam tumor (terutama pada melanoma metastase, 

koriokarsinoma, dan karsinomasel renal) 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis 

2. Pemeriksaan klinis 

3. Pemeriksaan imaging 

4. Pemeriksaan penanda tumor primer 

5. Diagnosis Kerja Tumor MetastaseOtak (C71.9) 

6. Diagnosis Banding Gambaran radiologis dapat menyerupai: 

    High grade astrocytoma 

    Abses Serebri 

    Demyelinisasi 

    Cerebrovascular accident 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

 

No. Penunjang Keterangan GR Ref 

1 CT Scan, 

dan MRI 

 

MRI dengan kontras lebih sensitive daripada CT scan 

dengan kontras dalam mendeteksi metastase otak 

terutama di fossa posterior atau lesi yang kecil 

2B 1 

Diffusion weighted MRI berguna untuk membedakan 

ring-enhancing pada lesi di otak (restricted diffusion 

pada abses dibandingkan unrestric-ted diffusion 

pada kistik atau nekrotik GBM atau metastase), 

tetap itemuan ini tidak spesifik 

1B 2,3 

2 Lain-lain Untuk pasien yang dating dengan metastase otak 

tanpa diketahui tumor primernya, sangat penting 

untuk menemukan asal tumor primernya. Tumor 

paru harus dicari, karena memiliki angka kejadian 

metastase ke otak yang tinggi. Dapat dilakukan foto 

thoraks dan CT scan thoraks. Dimana CT thoraks 

lebih sensitive daripada foto thoraks polos 

1B 4 

Pemeriksaan lain untuk mendiagnosis dan 

menentukan stadium tumor yaitu  CT scan 

abdomen dan pelvis untuk ginjal dan saluran cerna, 

bone scanning untuk tumor yang memberi 

metastase ke tulang, dan mammogram untuk 

mencari tumor primer di payudara 

1B 5 

Keterangan : 


 

GR : Grade Rekomendasi 

Skrining Tumor Primer: 

    Fotopolos thorax 

    CT scan abdomen, thorax, pelvis 

    Fesesrutin 

    Bone scan 

    Mamografi 

    Prostat specific antigen (PSA) 

    PET scan 

 

Penanda Tumor 

Marker Tumor 

Alpha fetoprotein (AFP)  Germ cell tumor, kanker hepar 

CA15-3  Kanker payudara 

CA27-29  Kanker payudara 

CA19-9  Kanker pancreas, kanker kolorektal 

CA-125  

Kanker ovarium,  kanker endometrium, 

kanker tuba ovarium, kanker paru, kanker 

payudara, kanker gastrointestinal  

Prostat specific antigen (PSA) Kanker prostat 

 

8. Terapi Modalitas terapi meliputi terapi medis dasar, radioterapi, dan pembedahan. 

 

Terapi Medis Dasar 

    Antikonvulsan, misalnya phenytoin. 

    Kortikosteroid, pada pasien dengan keluhan yang berat diberikan dexamethasone 10-20 

mg IV, dilanjutkan dengan 6 mg IV tiap jam selama 2-3 hari, kemudian dikonversi 

menjadi 4 x 4 mg per oral per hari, jika keluhan telah membaik dosis diturunkan menjadi 

3 x 2-4 mg per oral per hari, dosis dipertahankan selama keluhan tidak makin memberat. 

    Antagonis H2, misalnya ranitidine 150 mg per oral tiap 12 jam. 

 

Radioterapi 

    Radioterapi merupakan terapi utama pada pasien dengan tumor yang highly sensitive 

yaitu: limfoma, germinoma, tumor paru tipe small cell. 

    Radioterapi diberikan sebagai ajuvan untuk jenis tumor yang lain. 

 

Pembedahan (ICD9 : 01.24) 

Indikasi pembedahan diputuskan dengan mempertimbangkan beberapa factor seperti yang 

tertera di bawah ini: 

Faktor Indikasi Pembedahan 

Status PenyakitSistemik 

    Kontroldari tumor primer 

    Kondisi medis umum 

    Status neurologis 

Harapan hidup> 4 bulan 

Bisa dilakukan pembiusan/pembedahan 

KPS ≥70 

Resektabilitas 

    Akses 

 

    Jumlah lesi 

Tidak di batang otak, basal ganglia, 

thalamus 

≤ 3 lesi 

Histologi 

    Radiosensitivitas Tumor yang kurang sensitive terhadap  

radioterapi (tumor payudara, tumor paru 

tipe non-small cell, tumor kolon, 

melanoma, tumor renal, sarkoma)  


 

Prinsip Pembedahan 

    Teknik operasi harus menghasilkan eksisi total lesi, dengan preservasi fungsi neurologis 

dan kerusakan yang minimal dari parenkim sekitarnya 

 

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor di atas, maka manajemen tumor metastase 

otak yaitu  sebagai berikut: 

 

Kondisi Klinis Manajemen 

Primer tidak diketahui 

Biopsi stereotaktik jika eksisi pembedahan 

tidak dipertimbangkan 

Kanker sistemik dan ekspektasi harapan 

hidup yang singkat dan atau KPS score yang 

rendah (≤70) 

(Biopsi sesuai indikasi di atas) WBRT atau 

tidak ada tindakan 

Kondisi sistemik stabil dan KPS >70  

Lesi tunggal Lesi yang simtomatis, besar, 

ataubisaterakses 

Eksisi pembedahan + WBRT 

Lesi yang asimtomatik, kecil, atau 

tidak bisa terakses 

WBRT + stereotactic 

radiosurgery 

Lesi multipel Lesi tunggal yang besar dan 

mengancam nyawa atau menghasil 

efek massa 

Eksisi pembedahan + WBRT 

untuk sisanya 

≤ 3 lesi, simtomatik dan semuanya 

bisa diakses 

Eksisi pembedahan + WBRT 

atau stereotactic 

radiosurgery + WBRT 

≤ 3 lesi, tidak semuanya bisa diakses 

WBRT atau stereotactic 

radiosurgery + WBRT 

> 3 lesi, tanpa efek massa yang 

memerlukan pembedahan 

WBRT 

 

9. Edukasi Tujuan dariterapi tumor metastase otak yaitu  bukan kuratif melainkan paliatif dengan 

prioritas mempertahankan kualtias hidup pasien tetap baik. 

Berbagai modalitas terapi diperlukan. 

10. Prognosis Faktor prognosis lebih baik pada: 

    KPS score yang baik 

    Lesi tunggal 

    Tidak adanya metastase sistemik 

    Terkontrolnya tumor primer 

    Usia muda (<60-65 tahun) 

    Kondisi neurokognitif yang tidakterganggu 


 

Tumor Pineal 

ICD 10: D35.4 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Tumor yang ditemukan di daerah pineal. Jenis patologinya bervariasi, antara lain germ sel 

tumor (germinoma dan teratoma), astrositoma dan pineal tumor (pineoblastoma). Paling 

sering pada anak-anak (3-8% tumor otak pada anak-anak) dibanding dewasa (≤1%). 

2. Anamnesis Gejala yang timbul dipicu  hidrosefalus, dapat berupa : 

- Nyeri kepala 

- Mual, muntah 

- Letargi 

- Kejang  

- Gangguan siklus tidur 

- Gangguan gerak bola mata 

- Jika ada penyebaran ke spinal, didapat  gangguan motorik pada ekstrimitas dan 

gangguan autonom 

3. Pemeriksaan Fisik -  Lingkar kepala membesar pada bayi 

-  Papiledema  

- Parinaud Syndrome (paralisis of upgaze/convergence, retractory nystagmus, light-near 

pupillary dissociation) 

-  Pubertas dini 

-  Radikulopati dan myelopati 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan laboratorium: tumor marker (AFP, β-hCG, PLAP) 

4. Pemeriksaan imaging sesuai di atas 

5. Patologi anatomi 

5. Diagnosis Kerja Penentuan diagnosa awal ditegakkan dengan imaging dan tumor marker. Diagnosa pasti 

ditegakkan dengan patologi anatomi. 

6. Diagnosis Banding Diagnosa banding tumor di regio pineal ditegakkan berdasar skema berikut: 


7. Pemeriksaan 

Penunjang 

Pemeriksaan Radiologis: 

- MRI kepala dengan kontras. Jika dicurigai suatu neoplasma, maka dilakukan screening 

pada cervical, thoracal, dan lumbal spine untuk mencari adanya drop metastasis.  

 

Jika pada pemeriksaan radiologis mencurigai suatu germ sel tumor, maka dilakukan 

pemeriksaan tumor marker berupa: 

- Peningkatan β-hCG biasanya berhubungan dengan choriocarcinoma, namun dapat juga 

muncul pada lebih dari 50% germinoma (yang lebing sering terjadi). 

- Peningkatan AFP terjadi pada tumor endodermal, embrional carcinoma dan kadang pada 

teratoma. 

- Peningkatan Placental Alkaline Phosphatase (PLAP) pada serum atau LCS terjadi pada 

germinoma intrakranial. 

8. Terapi Penatalaksanaan Tumor Pineal 

No. Terapi Keterangan GR Ref 

1 Pembedahan 

    Tujuannya mendapatkan jaringan untuk 

diagnosa PA 

    Beberapa tipe pembedahan seperti 

kraniotomi reseksi, biopsy endoscope, atau 

stereotaksis biopsi. 

    Diindikasikan untuk tumor yang : 

radioresisten, jinak, berbatas tegas 

2B 1,2 


2 Radioterapi 

    Pilihan utama untuk jenis 

germinomakarena sangat radiosensitif 

    Dapat pula diberikan untuk jenis 

malignant tumor yang lain setelah 

pembedahan 

    Jika didapat  seeding pada spinal aksis, 

dapat dilakukan radioterapi kraniospinal 

dengan booster pada jaringan tumor 

2B 3,4 

3 Kemoterapi 

Diberikan pada anak usia kurang dari 3 tahun 

hingga anak cukup dewasa untuk toleransi 

efek radioterapi 

2C 

4 Gabungan Kemoradioterapi 2B 3, 4, 5 

Keterangan : 

GR : Grade Rekomendasi 

 

Rekomendasi teknik operasi: 

1. Midline infratentorial-supracerebellar appoach (paling sering digunakan). Keuntungan 

resiko minimal pada deep vein. Tidak bisa digunakan bila sudut tentorium terlalu curam. 

Dapat digunakan dalam posisi duduk atau concorde. 

2. Transtentorial occipital: Disarankan untuk lesi di tengah atau superior dari tepi tentorial 

atau diatas vena galen. 

3. Transventricular: untuk massa yang besar disertai dilatasi ventrikel. Biasanya melalui 

insisi kortikal pada posterior dari girus temporalis superior. Resiko: defek visual, kejang. 

4. Lateral infratentorial paramedian  

5. Transcallosal: jarang digunakan kecuali tumor ektensi ke dalam corpus callosum dan 

ventrikel tiga 

6. Infratentorial-supracerebellar paramedian. 

9. Edukasi Kebanyakan kasus terjadi gejala dan gangguan yang berhubungan dengan kenaikan tekanan 

intra kranial (TIK) akibat hidrocephalus non komunikan (ICD10 : G91.1), seperti nyeri kepala, 

mual/muntah, ataxia, vertigo, papiledema, pandangan kabur. 

10. Prognosis Prognosis bergantung pada hasil patologi anatomi. 

Prognosis baik: 

1. Pure germinoma 

2. Mature teratoma 

Prognosis sedang: 

1. Germinoma dengan peningkatan β-hCG 

2. Ekstensif/multifocal germinoma 

3. Immature terratoma 

4. Teratoma dengan transformasi malignant 

5. Tumor dengan komposisi campuran antara germinoma atau teratoma 

Prognosis jelek: 

1. Choriocarcinoma 

2. Yolk sac tumor 

3. Embrional carcinoma 

4. Tumor dengan komposisi campuran antara choriocarcinoma, yolk sac tumor, atau 

embrional tumor 


Algoritme Adenoma Hipofise 

ICD-10: D35.2 

 

Abses Otak 

ICD-10 : G06.0 

1. Pengertian (Definisi) 

Proses supuratif fokal dalam parenkim otak yang dipicu  oleh infeksi bakteri, jamur atau 

protozoa. 

2. Anamnesis - Gejala umum : demam, nafsu makan turun, BB turun 

- Gejala neurologis : Penurunan kesadaran, nyeri kepala,  mual, muntah, kejang 

- Sumber infeksi : riwayat trauma tembus otak, paska kraniotomi, infeksi telinga dan 

mastoid, infeksi hidung dan sinus paranasal, infeksi gigi, pneumonia. 

- Faktor predisposisi : kelainan jantung bawaan, kencing manis, pemakaian kemoterapi, 

pemakaian kortikosteroid, pemakaian implan, pemakaian antibiotik spektrum 

3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan fisik meliputi :  

    tanda vital 

    status generalis (head to toe) untuk mencari sumber infeksi 

    status neurologis : kesadaran, tanda rangsang meningeal, nn cranialis, motorik, 

sensorik, refleks fisiologis dan patologis, fungsi otonom 

4. Kriteria Diagnosis 

1. Anamnesis  

2. Pemeriksaan klinis  

3. Pemeriksaan penunjang : laboratorium dan radiologi 

 

5. DiagnosisKerja Abses otak ( ICD 10: G06.0) 

6. Diagnosis Banding 1. Tumor otak (astrositoma) 

2. Infark serebri 

3. Tuberkuloma 

4. Kista arachnoid 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No 

Pemeriksaa

Rekomendasi Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 Laboratory 

Kultur Spesimen diperoleh dari 

aspirasi dengan bantuan CT guiding 

pada Strereotaktik dan Operasi 

 

2B 1 

 

 

2 Radiologis 

- CT Scan dengan kontras merupakan 

pemeriksaan standar untuk abses 

serebri 

- Berdasar CT Scan kontras abses 

serebri dapat dibagi 4 fase yaitu : 

Fase I : 

(early cerebritis) hari pertama sampai 

ke tiga, tampak gambaran hipoden 

batas tidak tegas dan sedikit tepi 

yang menyerap kontras. 

Fase II : 

(late cerebritis) hari ke 4 sampai ke 9 

mulai tampak cincin yang menyerap 

kontras melingkari daerah yang 

hipodens yang lebih luas. 

Fase III : 

(early capsule formation) hari ke 10 

sampai ke 13, tampak daerah 

hipoden yang dilingkari oleh cincin 

yang menyerap kontras. 

Fase IV : 

(late capsule formation) lebih dari 14 

hari, terlihat daerah hipodens 

dengan terbentuk cincin hiperden 

yang utuh dan tebal baik dengan 

maupun tanpa kontras. 

 MRI 

    Lebih sensitive pada fase early 

cerebritis 

    Lebih sensitive dalam mendeteksi 

lesi satelit 

    Lebih akurat dalam mengestimasi 

perpanjangan nekrosis sentral, 

perbesaran cincin area dan edema 

serebral 

1B 2,3,4,5 

 

 

    Lebih baik dalam mendeteksi edema 

serebral 

 

 

8. Terapi  

 

No Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grade 

Rekomendas

Ref 

1 Operasi(01.24) 

1. Tekanan intrakranial yang 

meningkat  

2. Efek pendesakan masa yang 

signifikan pada gambaran CT Scan 

3. Abses akibat trauma, operasi atau 

terdapat benda asing 

4. Abses akibat jamur 

5. Abses yang multilokulated 

6. Tidak mampu dilakukan serial CT-

scan setiap 1 – 2 minggu 

7. Lokasi dekat ventrikel 

1B 2,3,4 

2 Medikamentosa 

Paling baik harus berdasar 

pengecatan gram dan kultur.  

1. Terapi empirik: bila belum 

diketahui kultur dan 

sensitivitasnya. Cephalosporin 

generasi III 

a. Cefotaxime 

- dewasa : 1 gram tiap 8 jam, iv 

bila sangat berat dapat 

dinaikkan 2 gram tiap 4 jam iv 

- Anak : 50 mg/kg iv setiap 6 

jam 

b. Ceftriaxone 

- Dewasa : 2 gram iv tiap 12 

jam 

- Anak : 75 mg/kg dosis inisial 

dilanjutkan 100mg/kg/hari 

dibagi setiap 12 jam 

Ditambah dengan salah satu 

dari dibawah ini : 

- Metronidazole : Dewasa

 : 30 

mg/kg/hari iv dibagi setiap 12 

jam 

                Anak :10 mg/kg iv setiap 8 jam 

atau 

- Chloramphenicol 

- Dewasa:1gr iv tiap 6 jam 

- Anak:15 – 25 mg/kg iv setiap 

6jam 

Bila paska trauma : Rifampin 9 

1B 2,3,4 


 

mg/kg/hari satu dosis 

2. Terapeutik: bila telah ada hasil 

kultur, maka antibiotika 

disesuaikan dengan sensitivitasnya 

dan kemampuannya menembus 

sawar arah otak. 

3. Bila ada riwayat trauma atau 

operasi kepala diberikan tambahan 

Vancomycin (melawan MRSA) 

:Dewasa:1 gr iv setiap 12 jam 

Anak:15 mg/kg setiap 8 jam iv 

 

 

 

Medikamentosa 

tambahan 

 

1. Kortikosteroid: hanya diberikan 

bila terdapat edema yang hebat 

yang  menimbulkan deteriorasi 

neurologis. Syarat lainnya yaitu  

sensitivitas kuman telah diketahui. 

Dewasa: dexamethasone 10-12 mg 

loading dose diikuti 4 mg setiap 6 

jam iv atau PO. 

Anak: 0,5 mg/kg setiap hari dosis 

terbagi tak lebih 16 mg perhari. 

Kortokosteroid segera di tapering 

off setelah keadaan membaik. 300 

– 600 mg per hari dibagi 2 – 3 

dosis. 

2. Manitol (dosis dapat dilihat pada 

bagian Cedera kepala) 

3. Lasix 

4. Anti-konvulsan: phenytoin 300-600 

mg per hari dibagi 2-3 dosis atau 5 

– 8 mm/kg BB selama 1-2 tahun. 

2C 

 

2,3,4 

 

 

9. Edukasi a. Penyakit 

b. Sumber infeksi utama dan eradikasinya 

c. Pilihan terapi sesuai fase abses otak dan indikasi operasi 

d. Komplikasi penyakit 

e. Komplikasi tindakan operasi 

10. Prognosis Hasil luaran pada abses otak : 

    Kematian : 0-10 % 

    Cacat neurologis : 45 % 

    Kejang late focal atau general : 27 % 

    Hemiparesis : 29 % 

Prognosa buruk berhubungan dengan fungsi awal neurologis buruk, abses pecah 

intraventrikel, dan kematian 100 % pada infeksi jamur paska implan. 

 

 

Malformasi Chiari 

ICD-10 : Q07.0 

1. Pengertian (Definisi) Abnormalitas pada hubungan craniocervical yang melibatkan bagian caudal cerebellum, 

medulla oblongata, dan regio cervical bagian atas. Kelainan ini umumnya disertai dengan 

adanya hidrosefalus dan syringomielia dengan beberapa tingkat keparahan gejala.  

2. Anamnesis Gejala yang timbul umumnya bervariasi berdasarkan beratnya kelainan yang timbul, mulai 

dari nyeri kepala belakang, gangguan sensorik dan motorik, hingga yang terberat apneu.   

3. PemeriksaanFisik     Nystagmus horizontal/vertical 

    Spastik paralisis ekstremitas atas dan bawah 

    Gangguan sensorik terutama rasa nyeri dan suhu 

    Tanda-tanda akibat peningkatan TIK akibat hidrosefalus 

4. Kriteria Diagnosis 4. Anamnesis  

5. Pemeriksaan klinis  

6. Pemeriksaan radiologis 

5. DiagnosisKerja Arnold-Chiari syndrome (ICD 10: Q07.0) 

6. Diagnosis Banding 1. Multiple Sclerosis 

2. Fibromialgia dan chronic fatique syndrome 

3. Gangguan Psikogenik 

4. Migrain 

5. Hipertensi Intrakranial Idiopatik 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 USG 

Pada Kasus fetal ventriculomegaly, 

Malformasi Chiari dapat dilihat ketika  

dalam kandungan dengan USG 

2B 4 

2 CT Scan 

Keunggulan CT dapat meilihat 

abnormalitas dari tulang. 

2B 2 

3 MRI Kepala  

MRI kepala. Merupakan gold standard 

untuk menegakkan diagnosis  

1B 3 

 

 

8. Terapi  

 

No Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grade 

Rekomenda

si 

Ref 

1 Operasi 

8. Decompresi fossa posterior dan 

cervical bagian atas (01.24): 

untuk CM-I yang menunujukan 

1B 5 

 

gejala yang jelas dari kelainan saraf 

kranialis, syringomyelia, 

myelopathy, ganguan serebelum, 

nyeri leher berat atau nyeri kepala 

bagian oksipital 

9. Shunt apabila terjadi syring dan 

hidrosefalus (02.3) 

 

 

9. Edukasi     Tindakan operasi tidak selalu memberikan perbaikan hasil, kadang justru bisa 

memperberat keluhan.  

    Komplikasi tindakan pembedahan dapat berupa: perdarahan, perembesan cairan otak, 

meningitis, pseudomeningocele dan lain-lain. 

10. Prognosis  Prognosis b