Bedah saraf 4

 




axonal injury  

2B 

8, 9,10, 

11 

CT-Scan Whole 

Body 

Whole Body CT (WBCT) digunakan pada 

kasus multitrauma untuk mengurangi 

waktu diagnosis, dapat digunakan pada 

pasien dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 13 

8. Terapi  

No Terapi Prosedur (ICD 9 CM) Grade 

Rekom

endasi 

Ref 

1 Konservatif - Observasi GCS, pupil, lateralisasi, dan 

faal vital.                                        

- Optimalisasi, stabilisasi faal vital, 

menjaga kecukupan suplai O2 ke otak. 

- Sirkulasi : cairan infus berimbang 

1B 4,5,6 


NaCl-glukosa, cegah terjadinya 

overhidrasi,  bila sudah stabil secara 

bertahap di ganti cairan / nutrisi 

enteral / pipa lambung. 

- Airway : menghisap sekret / darah / 

muntahan bila diperlukan, 

tracheostomi. Penderita COB dengan 

lesi yang tidak memerlukan evakuasi 

dan penderita dengan gangguan 

analisa gas darah dirawat dalam 

respirator 

- Mempertahankan perfusi otak, 

memposisikan kepala head up sekitar 

30, dengan menghindari fleksi leher.                                                                

- Kateter buli-buli diperlukan untuk 

mencatat produksi urine, mencegah 

retensi urine, mencegah tempat tidur 

basah (dengan demikian mengurangi 

risiko dekubitus).                                                                                                   

- Periksa tanda vital, adanya cedera 

sistemik di bagian anggota tubuh lain, 

GCS dan pemeriksaan batang otak 

secara periodik.  

- Berikan obat-obatan analgetik (misal: 

acetaminophen, ibuprofen untuk nyeri 

ringan dan sedang) bila didapat  

keluhan nyeri pada penderita (2B) 

- Berikan obat-obatan anti muntah 

(misal: metoclopramide atau 

ondansentron) dan anti ulkus gastritis 

H2 bloker (misal: ranitidin atau 

omeprazole) jika penderita muntah 

(2B) 

- Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis 

pada pasien dengan resiko tinggi 

kejang dengan dosis 300 mg/hari atau 

5-10 mg kg BB/hari selama 10 hari. 


Bila telah terjadi kejang, PHT diberikan 

sebagai terapi. (1B) 

- Hipotermi Ringan 

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

    Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang 

terganggu, melalui program rehabilitasi medik 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia  

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia  

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia 

Prognosis tergantung: 

1. Usia 

2. Status neurologis saat pasien datang di rumah sakit 

3. grading DAI. 

4. Penyakit yang menyertai dan komplikasi yang timbul 


EPIDURAL HEMATOMA 

ICD-10: S06.4 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Perdarahan di dalam rongga epidural yang dipicu  karena trauma. (1,9) 

 

2. Anamnesis – Identitas pasien: Nama, Umur, Jenis kelamin, Suku, Agama, Pekerjaan, Alamat  

– Keluhan utama  

– Mekanisma trauma  

– Waktu dan perjalanan trauma  

– Pernah pingsan atau sadar setelah trauma  

– Amnesia retrograde atau antegrade  

– Keluhan : Nyeri kepala seberapa berat, penurunan kesadaran, kejang, vertigo  

– Riwayat mabuk, alkohol, narkotika, pasca operasi kepala  

– Penyakit penyerta : epilepsi, jantung, asma, riwayat operasi kepala, hipertensi dan 

diabetes melitus, serta gangguan faal pembekuan darah  

3. PemeriksaanFisik Primary Survey (1,9) 

Pemeriksaan  Evaluasi  Perhatikan, catat, dan 

perbaiki  

A. Airway  Patensi saluran napas ?  

Suara tambahan ?  

Obstruksi ?  

B. Breathing  Apakah oksigenasi  

Efektif…. ?  

Rate dan depth  

Gerakan dada  

Air entry  

Sianosis  

C. Circulation  Apakah perfusi  

Adekuat …..?  

Pulse rate dan volume  

Warna kulit  

Capilarry return  

Perdarahan  

Tekanan darah  

D. Disability  

( status neurologis )  

Apakah ada kecacatan 

neurologis …?  

Tingkat kesadaran- 

menggunakan sistem GCS 

atau AVPU.  

Pupil (besar, bentuk, reflek 

cahaya, bandingkan kanan-

kiri)  

E. Exposure  

(buka seluruh pakaian)  

Cedera organ lain… ?  Jejas, deformitas, dan 

gerakan ekstremitas. Evaluasi 

respon terhadap perintah 

atau rangsang nyeri  

 

Secondary Survey 

Pemeriksaan Status Generalis 

Pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, serta pemeriksaan khusus 

untuk menentukan kelainan patologis, dengan metode:  

– Dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki atau,  

– Per organ B1 – B6 (Breath, Blood, Brain, Bowel, Bladder, Bone)  

 

Pemeriksaan fisik yang berkaitan erat dengan cedera otak yaitu :  

1. Pemeriksaan kepala  


Mencari tanda :  

a. Jejas di kepala meliputi; hematoma sub kutan, sub galeal, luka terbuka, luka tembus 

dan benda asing.  

b. Tanda patah dasar tengkorak, meliputi; ekimosis periorbita (brill hematoma), 

ekimosis post auricular (battle sign), rhinorhoe, dan otorhoe serta perdarahan di 

membrane timpani atau leserasi kanalis auditorius.  

c. Tanda patah tulang wajah meliputi; fraktur maxilla (Lefort), fraktur rima orbita dan 

fraktur mandibula  

d. Tanda trauma pada mata meliputi; perdarahan konjungtiva, perdarahan bilik mata 

depan, kerusakan pupil dan jejas lain di mata.  

e. Auskultasi pada arteri karotis untuk menentukan adanya bruit yang berhubungan 

dengan diseksi karotis  

 

2. Pemeriksaan pada leher dan tulang belakang.  

Mencari tanda adanya cedera pada tulang servikal dan tulang belakang dan cedera pada 

medula spinalis. Pemeriksaan meliputi jejas, deformitas, status motorik, sensorik, dan 

autonomik. 

 

Pemeriksaan Status Neurologis 

Pemeriksaan status neurologis terdiri dari :  

a. Tingkat kesadaran : berdasarkan skala Glasgow Coma Scale (GCS).  

Cedera kepala berdasar GCS, yang dinilai setelah stabilisasi ABC diklasifikasikan: GCS 

14 – 15 : Cedera otak ringan (COR)  

GCS 9 – 13 : Cedera otak sedang (COS)  

GCS 3 – 8 : Cedera otak berat (COB)  

b. Saraf kranial, terutama:  

Saraf II-III, yaitu pemeriksaan pupil : besar & bentuk, reflek cahaya, reflek konsensuil 

 bandingkan kanan-kiri  

Tanda-tanda lesi saraf VII perifer.  

c. Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, perdarahan pre retina, retinal 

detachment.  

d. Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah mencari tanda 

lateralisasi.  

Autonomis: bulbocavernous reflek, cremaster reflek, spingter reflek, reflek tendon, 

reflek patologis dan tonus spingter ani. 

4. Kriteria Diagnosis 4. Anamnesis sesuai diatas 

5. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

6. Pemeriksaan imaging  

5. DiagnosisKerja Epidural HematomTraumatika (ICD-10: S06.4) 

6. Diagnosis Banding - Cerebro vascular accident 

- Keracunan obat 

- Penyakit metabolic 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grade 

Rekom

endasi 

 

Ref 

1 X-Foto Servikal 

X-Foto Servikal dikerjakan pada pasien COS 

atau COB untuk menyingkirkan adanya 

1C 4,5,6 


kemungkinan cedera servikal. Sensitivitas x-

foto servikal 70%-80% 

2 X-Foto Thoraks 

X-Foto Thorak dilakukan pada pasien 

trauma yang tidak membutuhkan CT Scan. 

X-Foto dikerjakan berdasarkan mekanisme 

cedera dan temuan klinis. X-Foto thorak 

dikerjakan pada pasien trauma tembus 

dada, punggung, atau perut yang tidak 

membutuhkan CT Scan 

1C 7,8 

3 CT scan 

Gambaran hiperdens berbentuk bikonveks 

karena darah terkumpul terbatas pada 

perlekatan duramater di sutura kranial 

Bisa disertai dengan gambaran scalp 

hematom dan fraktur kalvaria 

Volume EDH dihitung dengan rumus: 

A x B x C x 0.52 

Dimana A = tebal EDH pada slice CT-Scan 

paling tebal 

B = panjang EDH pada slice yang 

sama dengan A 

C = tinggi dari EDH (dihitung dari 

jumlah slice CT-Scan) 

 

1B 1,2,3,9 

4 MRI 

MRI lebih sensitif dibandingkan CT Scan 

untuk mendeteksi perdarahan intrakranial. 

MRI khususnya bermanfaat untuk diagnosa 

EDH di vertex.  

2C 19,20 

CT-Scan Whole 

Body 

Whole Body CT (WBCT) digunakan pada 

kasus multitrauma untuk mengurangi 

waktu diagnosis, dapat digunakan pada 

pasien dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 21 

 

8. Terapi  

No Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grade 

Rekom

endasi 

Ref 


1 Operasi 

indikasi tindakan operasi EDH: 

    Volume >30 cc, atau 

    Ketebalan >15 mm, atau 

    Pergeseran midline >5 mm, atau 

    Pasien EDH akut (GCS <9) dan 

anisokor di evakuasi secepat 

mungkin 

tindakan operasi berupa: 

Craniotomy + Evakuasi EDH (ICD 9CM : 

01.24), Osteoplasty (ICD 9CM : 02.04). 

1C 1,3,9 

2 Non Operasi 

    Volume <30 cc, ketebalan <15 mm, 

pergeseran midline <5 mm 

    Perawatan non operatif di ruangan 

meliputi: 

    Observasi GCS, pupil, lateralisasi, dan 

faal vital. (1C) 

    Sirkulasi : cairan infus berimbang NaCl-

glukosa, dicegah terjadinya overhidrasi, 

bila sudah stabil secara bertahap di 

ganti cairan / nutrisi enteral / pipa 

lambung. (1C) 

    Airway : menghisap sekret / darah / 

muntahan bila diperlukan, 

tracheostomi. Penderita COB dengan 

lesi yang tidak memerlukan evakuasi 

dan penderita dengan gangguan analisa 

gas darah dirawat dalam respirator. 

(1B) 

    Mempertahankan perfusi otak, 

memposisikan kepala head up sekitar 

30, dengan menghindari fleksi leher. 

(1C) 

    Kateter buli-buli diperlukan untuk 

mencatat produksi urine, mencegah 

retensi urine, mencegah tempat tidur 

basah (dengan demikian mengurangi 

risiko dekubitus). (1B) 

1B/1C 

10,11,12,

13,14,15,

16,17,18 


    Berikan obat-obatan analgetik (misal: 

acetaminophen, ibuprofen untuk nyeri 

ringan dan sedang) bila didapat  

keluhan nyeri pada penderita (2B) 

    Berikan obat-obatan anti muntah 

(misal: metoclopramide atau 

ondansentron) dan anti ulkus gastritis 

H2 bloker (misal: ranitidin atau 

omeprazole) jika penderita muntah (2B) 

    Berikan Cairan hipertonik (mannitol 

20%), bila tampak edema atau cedera 

yang tidak operable pada CT Scan. 

Manitol dapat diberikan sebagai bolus 

0,5 – 1 g/kg. BB pada keadaan tertentu, 

atau dosis kecil berulang, misalnya (4-6) 

x 100 cc manitol 20% dalam 24 jam. 

Penghentian secara gradual. (1B) 

    Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis 

pada pasien dengan resiko tinggi kejang 

dengan dosis 300 mg/hari atau 5-10 mg 

kg BB/hari selama 10 hari. Bila telah 

terjadi kejang, PHT diberikan sebagai 

terapi. (1B) 

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia ad bonam 

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia ad bonam 

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia ad bonam 

Prognosis dipengaruhi: 

- Usia 

- Status Neurologisawal 

- Jarak antara trauma dan tindakan bedah 

- Edema cerebri 

- Kelainan intrakranial lain seperti kontusional, hematom subarachnoid, dan hematom 

epidural 

- Faktor ekstrakranial 






Traumatik Subarachnoid Hemorrhage (SAH) 

ICD-10 : S06.6 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Perdarahan dalam ruang subarachnoid, yang terletak di antara arachnoid mater dan pia 

mater setelah cedera kepala. Mekanisme perdarahan dalam kasus ini sering tidak 

teridentifikasi. (1, 2, 6, 7, 8) 

2. Anamnesis     Riwayat Trauma 

    Nyeri kepala hebat 

    Penurunan Kesadaran 

    Mual dan Muntah 

    Kejang 

    Pandangan kabur  

3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Fisik Umum 

(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi) 

    Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B (breathing), 

dan C (circulation) 

Pemeriksaan kepala 

    Mencari tanda - tanda jejas, patah dasar tengkorak, patah tulang wajah, trauma 

pada mata, auskultasi karotis untuk menentukan adanya bruit  

Pemeriksaan pada leher dan tulang belakang 

    Mencari tanda - tanda cedera pada tulang belakang (terutama cedera servikal) dan 

cedera pada medula spinalis 

Pemeriksaan lain 

    Cedera lain dicari dengan cermat dari kranial ke kaudal 

    Semua temuan tanda trauma dicatat. Benjolan, luka lecet, luka terbuka, false 

movement, flail chest, dinding abdomen, nyeri tekan dan lain-lain, perdarahan yang 

tampak segera dihentikan 

 

Pemeriksaan Neurologis 

    Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS) 

    Fundoskopi, dicari tanda-tanda edema pupil, retinal detachment 

    Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah 

4. Kriteria Diagnosis     Anamnesis sesuai diatas 

    Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

    Pemeriksaan imaging sesuai klinis 

5. Diagnosis Kerja Traumatik Subarachnoid Hemorrhage (ICD-10 : S06.6) 

6. Diagnosis Banding - SAH akibat aneurisma pecah 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 CT scan 

CT Scan tanpa kontras merupakan 

pemeriksaan yang aman dan sensitif untuk 

1C 2,3,4 


memperlihatkan adanya perdarahan 

subarachnoid 

CT/ MR 

angiografi 

Angiografi non invasif merupakan modalitas 

lanjutan untuk kasus akut perimesencephalic 

SAH 

2B 2, 3, 4, 9 

3 MRI 

MRI kepala lebih sensitif dibanding CT Scan 

kepala dalam mendeteksi perdarahan 

intrakranial. MRI kepala dikpakai pada 

beberapa kasus dimana dicurigai adanya SAH 

atau perdarahan lain yang tidak tampak pada 

CT Scan kepala. 

2B 2, 3,4 

5 DSA 

DSA merupakan modalitas terbaik untuk 

perimesencephalic SAH 

2B 9, 12,13 

CT-Scan Whole 

Body 

Whole Body CT (WBCT) digunakan pada kasus 

multitrauma untuk mengurangi waktu 

diagnosis, dapat digunakan pada pasien 

dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 17 

 

 

8. Terapi  

 

No Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 Operatif 

EVD (ICD 9 CM: 02.21) bila didapat  

Hydrocephalus 

2B 

6, 7, 11, 

16 ICP Monitor (ICD 9 CM : 01.1)  

bila GCS < 9 

2 Non Operatif 

Tatalaksana pasien di ruangan:  

- Pastikan jalan nafas pasien clear, berikan 

oksigenasi 100% dan jangan banyak 

memanipulasi gerakan leher sebelum 

cedera cervical dapat disingkirkan, bila 

perlu intubasi. (IIB) 

- Head Up 30o (2B) 

- Berikan cairan secukupnya (normal 

2B 

6,7, 8, 

14, 16 

 

saline) untuk resusitasi korban agar tetap 

normovolemia, atasi hipotensi yang 

terjadi dan berikan transfuse darah jika 

Hb kurang dari 10 gr/dl. (1B) 

- Periksa tanda vital, adanya cedera 

sistemik di bagian anggota tubuh lain, 

GCS dan pemeriksaan batang otak secara 

periodik. 

- Berikan obat-obatan analgetik (misal: 

acetaminophen, ibuprofen untuk nyeri 

ringan dan sedang) bila didapat  

keluhan nyeri pada penderita (2B) 

- Berikan obat-obatan anti muntah (misal: 

metoclopramide atau ondansentron) dan 

anti ulkus gastritis H2 bloker (misal: 

ranitidin atau omeprazole) jika penderita 

muntah (2B) 

- Berikan Cairan hipertonik (mannitol 20%), 

bila tampak edema atau cedera yang 

tidak operable pada CT Scan. Manitol 

dapat diberikan sebagai bolus 0,5 – 1 

g/kg. BB pada keadaan tertentu, atau 

dosis kecil berulang, misalnya (4-6) x 100 

cc manitol 20% dalam 24 jam. 

Penghentian secara gradual. (1B) 

    Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis pada 

pasien dengan resiko tinggi kejang 

dengan dosis 300 mg/hari atau 5-10 mg 

kg BB/hari selama 10 hari. Bila telah 

terjadi kejang, PHT diberikan sebagai 

terapi. (1B) 

 

 

9. Edukasi Diberikan penjelasan mulai dari pemeriksaan yang perlu dilakukan, diagnosis pasien bahwa 

terdapat perdarahan di lapisan selaput otak, dimana kondisi ini dapat memperburuk 

keluaran pasien dengan cedera otak dan penjelasan mengenai terapi yang diberikan 

Kemungkinan perawatan yang lama 

Komplikasi yang bisa terjadi, mulai dari perburukan, perdarahan ulang, infeksi akibat 

perawatan yang lama, hydrocephalus 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia ad bonam 

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia ad bonam 

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia ad bonam 

Prognosis dipengaruhi: 

- Usia 

- Status Neurologisawal 

- Jarakantara trauma dantindakanbedah 

- Edema cerebri 

- Kelainan intrakranial lain seperti kontusional, hematom subarachnoid, dan hematom 

epidural 

- Faktorekstrakranial 





TRAUMATIK HEMATOMA SUBDURAL 

ICD-10: S06.5 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Kumpulan darah dalam ruang subdural otak (antar duramater dan membran arachnoid).  

Biasanya diakibatkan robeknya bridging veins yang mengalirkan darah dari permukaan otak 

ke dural sinues. Penyebab SDH yang lain yaitu  robeknya arteri, sekitar 20-30% kasus SDH. 

Atau dapat berasal dari kontusio otak yang superfisial. (1,2,3,4,5) 

2. Anamnesis     didapat  riwayat trauma 

    didapat  gangguan neurologis (amnesia, penurunan kesadaran, kejang, dll.) 

    Macam trauma: kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, jatuh dari 

ketinggian dan lain-lain 

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum 

(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi) 

    Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B (breathing), 

dan C (circulation) 

Pemeriksaan kepala 

    Mencari tanda – tanda jejas, patah dasar tengkorak, patah tulang wajah, trauma 

padamata, auskultasi karotis untuk menentukan adanya bruit  

Pemeriksaan pada leher dan tulang belakang 

    Mencari tanda – tanda cedera pada tulang belakang (terutama cedera servikal) dan 

cedera pada medulla spinalis 

Pemeriksaan lain 

    Cedera lain dicari dengan cermat dari cranial ke kaudal 

    Semua temuan tanda trauma dicatat. Benjolan, lukalecet, luka terbuka, false 

movement, flail chest, dinding abdomen, nyeri tekan dan lain-lain, perdarahan yang 

tampak segera dihentikan 

 

Pemeriksaan Neurologis 

    Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS) 

    Saraf II-III, lesi saraf VII perifer 

    Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, retinal detachment 

    Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah 

    Autonomis 


4. Kriteria Diagnosis 7. Anamnesis sesuai diatas 

8. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

9. Pemeriksaan imaging sesuai di atas 

5. Diagnosis Kerja Hematoma Subdural (ICD 10: S06.5) 

6. Diagnosis Banding - Cerebro vascular accident 

- Epileptic fits 

- Keracunan obat 

- Penyakit metabolic 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 Laboratorium DL, cross match 1B 22 

X-foto vertebra 

servikal 

    Menyingkirkan adanya cedera servikal 

1B 6,7,8 

3 X-foto thoraks     Mencari cedera penyerta 1C 9,10 

4 CT scan kepala 

    CT Scan kepala paling sering dipakai 

untuk imaging pasien dengan trauma 

kepala akut dengan alasan cepat, relative 

simple, dan banyak tersedia. Tampak 

sebagai lesi hiperdens berbentuk bulan 

sabit (crescentic shape) pada konveksitas 

hemisfer 

    Sekitar 91% SDH dg tebal ≥5 mm sudah 

teridentifikasi pada pemeriksaan CT Scan 

kepala 

1B 11,12 

5 MRI kepala 

MRI kepala lebih sensitif dibanding CT Scan 

kepala dalam mendeteksi perdarahan 

intrakranial. MRI kepala dikpakai pada 

beberapa kasus dimana dicurigai adanya SDH 

atau perdarahan lain yang tidak tampak pada 

CT Scan kepala. 

1B 12 

6 Angiografi 

Diindikasikan untuk evaluasi SDH, ketika 

tidak didapat  riwayat trauma dan tidak 

jelas penyebabnya.  

1C 

13,14 

 


CT-Scan Whole 

Body 

Whole Body CT (WBCT) digunakan pada kasus 

multitrauma untuk mengurangi waktu 

diagnosis, dapat digunakan pada pasien 

dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 23 

 

 

8. Terapi  

No Terapi Prosedur  (ICD 9 CM) 

Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 Operasi 

1. Craniotomi evakuasi hematom  (ICD 9 

CM : 01.24) bila  

    Hematom subdural dengan 

ketebalan >10mm atau midline shift 

>5mm tanpa melihat GCS 

    GCS ≤8 atau bila GCS turun ≥2 poin 

dari saat pertama datang ke RS, dan 

atau bila didapat  pupil asimetris 

atau pupil dilatasi dan tetap, dan 

atau pengukuran TIK >20mmHg. 

1C 15,16 

2. ICP Monitor (ICD 9 CM : 01.1) 

    GCS < 9 

    Hematom subdural dengan tebal       

< 10mm atau midline shift < 5mm 

1B 

18,19, 

20, 21 

2. 

 

Non operatif : 

 

    Hematoma yang kecil dan tidak 

memberikan efek masa (midline shift< 

0,5 cm), juga tidak memberikan gejala 

klinik. 

    Perawatan di ruangan 

    Observasi GCS, pupil, lateralisasi, dan faal 

vital. 

    Optimalisasi, stabilisasi faal vital, menjaga 

mantapnya suplai O2 ke otak.  

    Sirkulasi : cairan infus berimbang NaCl-

glukosa, dicegah terjadinya overhidrasi, 

 1B 

 

15,17,18 

19 


bila sudah stabil secara bertahap di ganti 

cairan / nutrisi enteral / pipa lambung. 

    Airway : menghisap sekret / darah / 

muntahan bila diperlukan, tracheostomi. 

Penderita COB dengan lesi yang tidak 

memerlukan evakuasi dan penderita 

dengan gangguan analisa gas darah 

dirawat dalam respirator. 

    Kateter buli-buli diperlukan untuk 

mencatat produksi urine, mencegah 

retensi urine, mencegah tempat tidur 

basah (dengan demikian mengurangi 

risiko dekubitus). 

    Head Up 30o (2B) 

    Berikan cairan secukupnya (normal 

saline) untuk resusitasi korban agar tetap 

normovolemia, atasi hipotensi yang 

terjadi dan berikan transfuse darah jika 

Hb kurang dari 10 gr/dl. (1B) 

    Periksa tanda vital, adanya cedera 

sistemik di bagian anggota tubuh lain, 

GCS dan pemeriksaan batang otak secara 

periodik. 

    Berikan obat-obatan analgetik (misal: 

acetaminophen, ibuprofen untuk nyeri 

ringan dan sedang) bila didapat  

keluhan nyeri pada penderita (2B) 

    Berikan obat-obatan anti muntah (misal: 

metoclopramide atau ondansentron) dan 

anti ulkus gastritis H2 bloker (misal: 

ranitidin atau omeprazole) jika penderita 

muntah (2B) 

    Berikan Cairan hipertonik (mannitol 

20%), bila tampak edema atau cedera 

yang tidak operable pada CT Scan. 

Manitol dapat diberikan sebagai bolus 0,5 

– 1 g/kg. BB pada keadaan tertentu, atau 

72 

_____________ 

dosis kecil berulang, misalnya (4-6) x 100 

cc manitol 20% dalam 24 jam. 

Penghentian secara gradual. (1B) 

    Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis pada 

pasien dengan resiko tinggi kejang 

dengan dosis 300 mg/hari atau 5-10 mg 

kg BB/hari selama 10 hari. Bila telah 

terjadi kejang, PHT diberikan sebagai 

terapi. (1B) 

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia ad bonam 

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia ad bonam 

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia ad bonam 

Prognosis dipengaruhi: 

1. Usia 

2. Status Neurologis awal 

3. Jarakantara trauma dan tindakan bedah 

4. Edema cerebri 

5. Kelainan intrakranial lain seperti kontusional, hematom subarachnoid, dan hematom 

epidural 

6. Faktor ekstrakranial 

 

Trauma Tembus Otak 

ICD-10: S01.9 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Trauma tembus kranium yaitu  lesi di mana benda asing menembus tulang tengkorak dan 

tidak keluar lagi. Impact misil ke dalam kepala diikuti oleh patofisiologi primer dan sekunder.  

Ketika proyektil masuk ke dalam otak, akan terjadi kerusakan jaringan neural yang 

menyebabkan kavitas permanen. Kondisi klinis pasien sangat tergantung pada mekanisme 

(kecepatan, energi kinetik), lokasi anatomi lesi, dan cedera terkait. Trauma tembus dapat 

menyebabkan intrakranial hematoma, epidural hematoma, intracerebral hematoma, 

kontusio serdbri dan subdural hematoma.  

Laserasi langsung yang mengenai pembuluh darah dapat menyebabkan perdarahan. 

Tekanan yang dipicu  oleh gerakan proyektil menginduksi teregangnya jaringan otak 

dan vaskular.  

Patofisiologi sekunder dapat berupa gangguan cardiopulmoner akibat terganggunya batang 

otak. 

2. Anamnesis     didapat  riwayat trauma karena terkena proyektil benda asing, termasuk riwayat 

insiden dari saksi 

    didapat  gangguan neurologis (amnesia, penurunan kesadaran, kejang, dll.) 

    Macam trauma: tertusuk benda tajam, tertembak, kecelakaan kerja, kecelakaan lalu 

lintas, penganiayaan, jatuh dari ketinggian, dan lain-lain 

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum 

(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi) 

    Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B (breathing), 

dan C (circulation) 

Pemeriksaan kepala 

    Mencari tanda – tanda jejas, patah dasar tengkorak, patah tulang wajah, trauma 

padamata, auskultasi karotis untuk menentukan adanya bruit  

Pemeriksaan pada leher dan tulang belakang 

    Mencari tanda – tanda cedera pada tulang belakang (terutama cedera servikal) dan 

cedera pada medulla spinalis 

Pemeriksaan lain 

    Cedera lain dicari dengan cermat dari cranial ke kaudal 

    Semua temuan tanda trauma dicatat. Benjolan, lukalecet, luka terbuka, false 

movement, flail chest, dinding abdomen, nyeri tekan dan lain-lain, perdarahan yang 

tampak segera dihentikan 

 

Pemeriksaan Neurologis 

    Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS) 

    Saraf II-III, lesi saraf VII perifer 

    Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, retinal detachment 

    Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah 

    Autonomis 

4. Kriteria Diagnosis 10. Anamnesis sesuai diatas 

11. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

12. Pemeriksaan imaging sesuai klinis 

5. Diagnosis Kerja Trauma Tembus Otak (ICD-10: S01.9) 

6. Diagnosis Banding - Cerebro vascular accident 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

1 Laboratorium DL, cross match 1B 6 

2 X-foto kepala 

    untuk mencari luka, lokasi benda asing 

dan fragmen tulang juga udara 

intrakranial 

    pemeriksaan ini sudah tidak rutin 

dilakukan jika ada CT-Scan 

1C 1,2 

4 CT scan kepala 

    Modalitas utama pada trauma tembus 

    untuk mencari fragmen tulang, benda 

asing, proyeksi jalur masuk, hematom 

intracranial dan efek massa 

1B 1,2 

5 MRI kepala 

    Tidak direkomendasikan pada 

manajemen akut karena memakan waktu 

dan berbahaya jika benda asik berupa 

logam. 

    Namun MRI berguna untuk modalitas 

neuroradiologik jika benda asing berupa 

kayu. 

2B 1,2,3 

6 Angiografi  2C 1,2,3 

CT-Scan Whole 

Body 

Whole Body CT (WBCT) digunakan pada kasus 

multitrauma untuk mengurangi waktu 

diagnosis, dapat digunakan pada pasien 

dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 7 

 

 

8. Terapi  

No Terapi Prosedur  (ICD 9 CM) Grad Ref 


Reko

mend

asi 

1 Operasi 

Tatalaksana awal yaitu  dengan melakukan 

resusitasi pasien, kemudian dilakukan 

tindakan operatif untuk evakuasi hematoma, 

memperbaiki jaringan yang rusak dan 

mengambil benda asing yang masih ada di 

jaringan otak. Obat-obat dapat diberikan pre 

dan intraoperative untuk menurunkan 

tekanan intrakranial. 

Indikasi operasi : 

(1) untuk menghilangkan massa seperti 

hematoma epidural, subdural, atau 

intraserebral;  

(2) untuk membersihkan jaringan nekrotik 

otak dan mencegah pembengkakan dan 

iskemia lebih lanjut,  

(3) untuk mengontrol perdarahan aktif  

(4) untuk menghilangkan jaringan nekrotik, 

logam, fragmen tulang, atau benda asing 

lainnya untuk mencegah infeksi. 

1B 1,2,3,5 

2.  Non operatif 

- Debridement dan perawatan luka bila 

hanya di dapatkan luka kecil dan tidak 

ada lesi intracranial 

- Pemberian antibiotik spektrum luas 

untuk mengurangi kejadian infeksi 

- Head Up 30o (2B) 

- Berikan cairan secukupnya (normal 

saline) untuk resusitasi korban agar tetap 

normovolemia, atasi hipotensi yang 

terjadi dan berikan transfuse darah jika 

Hb kurang dari 10 gr/dl. (1B) 

- Periksa tanda vital, adanya cedera 

sistemik di bagian anggota tubuh lain, 

GCS dan pemeriksaan batang otak secara 

periodik. 

- Berikan obat-obatan analgetik (misal: 

acetaminophen, ibuprofen untuk nyeri 

ringan dan sedang) bila didapat  

keluhan nyeri pada penderita (2B) 

- Berikan obat-obatan anti muntah (misal: 

metoclopramide atau ondansentron) dan 

anti ulkus gastritis H2 bloker (misal: 

1B 1,2,3,4,5 


ranitidin atau omeprazole) jika penderita 

muntah (2B) 

- Berikan Cairan hipertonik (mannitol 20%), 

bila tampak edema atau cedera yang 

tidak operable pada CT Scan. Manitol 

dapat diberikan sebagai bolus 0,5 – 1 

g/kg. BB pada keadaan tertentu, atau 

dosis kecil berulang, misalnya (4-6) x 100 

cc manitol 20% dalam 24 jam. 

Penghentian secara gradual. (1B) 

Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis pada 

pasien dengan resiko tinggi kejang 

dengan dosis 300 mg/hari atau 5-10 mg 

kg BB/hari selama 10 hari. Bila telah 

terjadi kejang, PHT diberikan sebagai 

terapi. (1B) 

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia ad bonam 

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia ad bonam 

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia ad bonam 

Prognosis dipengaruhi: 

- Usia 

- Status Neurologisawal 

- Jarak antara trauma dan tindakan bedah 

- Edema cerebri 

- Kelainan intrakranial lain seperti kontusional, hematom subarachnoid, dan hematom 

epidural 

- Faktorekstrakranial 

PNPK Divisi Neuroonkologi 

 

1. Adenoma Hipofise   ICD 10: D35.2 

2. Astrocytoma    ICD 10: C71.9 

3. Ependimoma    ICD 10: C71 

4. Chordoma    ICD 10: C75 

5. Limfoma Sistem Saraf Pusat  ICD 10: C71 

6. Meningioma    ICD 10: D32.0 

7. Schwannoma    ICD 10: D36.1 

8. Oligodendroglioma   ICD 10: C71 

9. Tumor metastase otak   ICD 10: C71.9 

10. Tumor pineal    ICD 10: D35.4 

 

 

 


 

Adenoma Hipofisis  

ICD-10 : D35.2 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Tumor yang berasal dari sel kelenjar hipofise anterior (adenohypophysis) 

2. Anamnesis 

1. Efek massa lokal: 

    Nyeri kepala dapat karena hidrocephalus atau peningkatan tekanan intrakranial 

    Gangguan lapang pandang dan atau gangguan tajam penglihatan akibat penekanan 

pada kiasma optikus atau nervus optikus 

    Gangguan saraf  kranial didalam sinus cavernosus (N III,IV,V1-2,VI) 

 

2. Efek endokrin: 

a. Hiperfungsi endokrin 

- Prolaktin: amenorrhea, galaktorea, impoten 

- Tyroid : cemas, palpitasi, berat badan bertambah, tidak dapat mentoleransi panas, 

tremor 

- Hormon pertumbuhan : akromegali dan  gigantisme 

- Kortisol: gejala cushing’s disease (moon face, penumpukan lemak sentripetal, 

kelemahan dan pengecilan masa otot, dll)  

b. Defisit endokrin 

- hormon pertumbuhan : hambatan tumbuh kembang, gejala lemah dengan sindroma 

metabolik 

- hipogonadism : amenorhoe, penurunan libido, infertilitas 

- hipotiroidism : intoleransi dingin, gangguan daya ingat, konstipasi, banyak tidur 

3. Pemeriksaan Fisik 

Evaluasi fungsi penglihatan (visus, lapang pandang, dan gerak bola mata) 

Evaluasi kelainan fisik karena kelainan hormonal :  

    GH : gigantisme, akromegali  deformitas ukuran kaki-tangan, hipertensi dan 

cardiomegali, pembengkakan jaringan lunak, intoleransi glukosa,dll 

    Prolaktin : galaktorea, amenorhoe, impoten 

    Kortisol : penumpukan lemak di bahu, leher, supraclavicula dan moon face, 

hipertensi, ekimosis, amenohoe, impoten, hiperpiqmentasi pada kulit dan mukosa, 

kulit kasar, osteoporosis 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis efek masa lokal dan efek hormone endokrin 

2. Pemeriksaan klinis fungsi penglihatan dan kelainan fisik karena kelainan hormonal 

3. Pemeriksaan laboratorium kadar hormonal 

4. Pemeriksaan imaging (radiologis) 

5. Patologi anatomi  

5. Diagnosis Kerja     Adenoma hipofise dapat diklasifikasikan berdasarkan aktivitas hormonalnya dan 

ukurannya. 

1. berdasarkan ukurannya : mikroadenoma (<1 cm), dan makroadenoma (>1 cm).  

2. berdasarkan aktivitas hormonal :  

           A. Fungsional (produksi hormon) (ICD 10 CM : E22),  

           Adenoma dibagi berdasarkan hormon yang diproduksi  : 

a) Adenoma hipofisis non fungsional (25-35%) 

b) Adenoma yang mensekresi prolaktin (40-60% kasus)  

c) Adenoma yang mensekresi growth hormone (GH) 

d) Adenoma yang mensekresi glikoprotein (TSH,FSH,LH) (<1%) 

e) Adenoma yang mensekresi adrenokortikotropik hormone (ACTH) 5-10%  


B. Non fungsional,  tipe ini seringkali menimbulkan penekanan pada kelenjar pituitari 

normal sehingga menyebabkan penurunan hormon (ICD 10 CM E23)  

 

 3. berdasarkan sifat : 

a) Jinak (benign) (ICD 10 : D35.2) 

b) Ganas (malignant) (ICD 10 : C75.1) 

6. Diagnosis Banding 

- Tubeculum sellae meningioma                            - Kista epidermoid  

- Aneurisma                                                            - Sarcoidosis 

- Kraniofaringioma                                                  - Germ cell tumor 

- Tumor metastase 

- Pituicytoma 

- Astrocytoma/glioma 

- Kista celah kantung rathke’s 

- Tuberculoma 

7. Pemeriksaan 

penunjang 

EVALUASI RASIONALITAS 

Lapangan pandang(Humphrey visual field) 

Penekanan kiasma optikus, biasanya 

bitemporal hemianopsia 

Pemeriksaan 

Endokrin 

Kortisol jam 8 pagi 

Kortisol bebas di urine 24 

jam 

Peningkatan kortisol pada hiperkortikolism 

(cushing syndrome) 

Penurunan kortisol pada hipoadrenalism 

(primer atau sekunder) 

T4 bebas, TSH 

(alternative: total T4) 

T4 ↓ dan TSH ↑ pada hipotyroidism primer 

T4 ↓ dan TSH normal atau ↓ pada 

hypotiroidism sekunder 

T4 ↑ dan TSH ↓ pada hipertiroidism primer 

T4 ↑ dan TSH ↑ pada adenoma yang 

mensekresi TSH 

Prolaktin 

↑ atau ↑↑ dengan prolaktinoma 

Sedikit ↑ pada efek stalk

(biasanya < 90 

ng/ml)  

Gonadotropin (FSH, LH) 

dan sex steroid (wanita: 

estradiol; pria: 

testosterone) 

↓  pada hipogonadotropik hipogonadism 

↑  pada adenoma yang mensekresi 

gonadotropin 

Insulin like growth factor-

1 (IGF-1) atau 

somatomedin-C 

↑ pada akromegali 

↓ pada hipopituarism  

Glukosa darah puasa ↓ pada hipoadrenalism 

 

Pemeriksaan radiologis     

Pemeriksaan Rekomendasi GR Referensi 

MRI 

Pencitraan yang paling dipilih dilakukan 

sepanjang neuroaksis untuk mendeteksi 

kemungkinan penyebaran tumor 

Kompresi saraf kranial (ICD 10 : G50.0), 

Kompresi otak dan pembuluh darah otak (ICD 10 

:  G93.5) 

1B 1,2,3,4 

CT Scan 

Dapat dilakukan untuk pemeriksaan tumor di 

supratentorial namun kurang detail untuk 

evaluasi fossa posterior 

CT Scan dapat menggambarkan edema di sekitar 

tumor (peritumoral edema) ( ICD 10 : S06.1) 

2B 1,3,4 

 

 

8. Terapi Modalitas terapi yang diberikan dapat berupa : medikamentosa, pembedahan dan 

radioterapi. 

Jenis tumor sangat menentukan pilihan terapi yang akan diberikan 

Pilihan terapi dapat dilihat pada tabel berikut ini :  

No 

Jenis 

Tumor 

Terapi Keterangan GR Ref 

Adenoma 

yang 

mensekresi 

Prolaktin 

Medikamentosa 

Terapi utama yaitu  

dengan agonis-

dopamin, seperti 

bromokriptin 

(1x1,25mg), 

kabergolin (0,25 mg 2x 

seminggu) 

1B  5 - 9  

Pembedahan 

Direkomendasikan 

untuk pasien dengan 

gejala yang progresif 

atau pada pasien yang 

tidak respon maupun 

tidak toleransi 

terhadap agonis 

dopamine, ukuran 

tumor >20 mm, deficit 

lapang pandang, dan 

tumor invasi ke sinus 

cavernous. 

Prosedur 

pembedahan dapat 

berupa 

transsphenoidal 

approach (07.65) 

dengan teknik 

endoskopi/mikroskopi

k  dan transcranial 

(07.64)  

Tindakan 

pembedahan yang 

dilakukan meliputi : 

reseksi tumor, 

dekompresi saraf 

optikus (nervus 

kranialis optikus), dan 

dekompresi pembuluh 

darah 

1B 10 - 14  

Radioterapi 

Digunakan jika 

pemberian agonis 

dopamin maupun 

pembedahan gagal, 

atau jika pasien 

menjadi tidak 

toleransi terhadap 

agonis dopamine. 

1B 15,16 

Kemoterapi 

Kemoterapi dengan 

temozolomide 

1B 15,17 


 

diberikan pada pasien 

prolaktinoma yang 

resisten terhadap 

terapi medik , 

pembedahan maupun 

dengan radioterapi. 

Adenoma 

yang 

mensekresi 

ACTH 

 

Terapi utama yaitu  pembedahan, 

dengan transphenoidal approach 

1B 18,19 

Pembedahan 

yang berulang 

maupun 

radioterapi 

dengan 

penghambat 

steroidogenesis 

Direkomendasikan 

utuk pasien dengan 

reseksi tidak komplit 

atau dengan kelainan 

yang menetap  

2C 20 – 23 

Adenoma 

yang 

mensekresi 

GH dan TSH 

Pilihan terapi standar meliputi 

pembedahan (umumnya menggunakan 

transphenoidal approach), bromocriptine, 

somatostatin analoque (cth.octreotide), 

growth-hormon antagonist, atau 

pembedahan disertai radioterapi setelah 

operasi.  

2C 24 – 32  

Non-

functioning 

Adenoma 

Pembedahan 

Reseksi (umumnya 

menggunakan 

transsphenoidal 

approach) 

diindikasikan untuk 

pasien dengan 

pembesaran tumor 

atau perubahan visual 

2C 33, 34 

Radioterapi atau 

observasi 

lanjutan 

Dosis : 4000-

5000cGy(5-

6minggu) 

Direkomendasikan 

untuk tumor dengan 

reseksi tidak komplit 

2C 35, 36 

 

Keterangan : 

GR : Grade  Rekomendasi 

 

Secara umum terdapat dua tehnik tindakan operasi : 

1. Transsphenoidal : pendekatan extra arachnoid, tanpa retraksi otak, tanpa scar di kulit. 

Diindikasikan pada mikroadenoma, makroadenoma tanpa perluasan yang signifikan ke 

lateral sellae tursica, pasien dengan rhinorrhoe, dan perluasan tumor ke sinus sphenoid. 

Pilihan approach operasi : SLTH(Sub Labial Transphenoid Hipofisektomi), Endoskopi Endo 

Nasal  

2. Transcranial : 

a. Indikasi : ruang sellae yang sempit, perluasan tumor ke fosa media lebih besar dari 

intrasellae, patologi pada approach sphenoid, tumor yang rekuren dengan riwayat 

operasi transsphenoid. 

b. Pilihan approach operasi : subfrontal, pterional 

9. Edukasi Informasi yang harus disampaikan kepada pasien sebelum operasi : 

1. Komplikasi operasi : gangguan hormonal pasca operasi (diabetes incipidus, 

hipopituitarism), cedera pada chiasma (secondary empty sellae syndroma), 

hidrocephalus, infeksi , kebocoran CSF, cedera vascular (a.carotis dan sinus cavernosus), 

perforasi septal nasal. 

2. Perbaikan visus tergantung kondisi sebelum operasi. Jika belum papil atrofi, visus 

diharapkan akan membaik bertahap. Jika telah buta (papil atrofi), umumnya tidak dapat 

membaik.  

3.  Perbaikan hormon prolaktin 25%, GH 20%, cushing disease : 85% (mikroadenoma). 

4.  Rekurensi ~ 12 %, umumnya 4-8 tahun post operasi. 

5. Terapi lebih lanjut : manfaat dan efek samping obat hormonal, opsi radioterapi jika 

rekuren/eksisi inkomplit 

 

 

10. Prognosis 

Tergantung histopatologi tumor 

Post op transpenoid :  

- perbaikan hormon prolaktin 25%, GH 20%, cushing disease : 85% (mikroadenoma) 

- total eksisi sulit pada perluasan ke suprasella >2 cm 

- Rekurensi ~ 12 %, umumnya 4-8 tahun post operasi 


 

Astrositoma 

ICD-10: C71.9 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Tumor otak yang berasal dari sel astrosit. Tumor tersering, di antara jenis glioma otak. 

2. Anamnesis Gejala dapat timbul akibat: 

- Peningkatan tekanan intrakranial seperti: nyeri kepala menetap, mual muntah 

menetap, kejang, perubahan status mental (depresi, letargi, apatis, confusion) 

- Gejala-gejala defisit neurologis menyerupai “TIA” atau stroke (kelumpuhan atau 

kelemahan ekstremitas, penurunan penglihatan) 

- Gejala fokal akibat lokasi tumor: 

 Lobus frontalis: abulia, demensia, perubahan perilaku. Seringkali tanpa 

lateralisasi, namun apraksia, hemiparesis atau disfasia (dengan keterlibatan 

hemisfer dominan) dapat terjadi. 

 Lobus temporalis: halusinasi auditoris atau olfaktoris, déjà vu, gangguan memori. 

Quadrantanopsia superior kontralateral dapat dideteksi dengan tes lapang 

pandang. 

 Lobus parietal: gangguan motorik atau sensorik kontralateral, hemianopsia 

homonim. Agnosia (dengan keterlibatan hemisfer dominan), dan apraksia. 

 Lobus oksipital: gangguan lapang pandang kontralateral, aleksia (terutama bila 

terdapat infiltrasi tumor ke korpus kalosum). 

 Fossa posterior: defisit saraf kranial, ataksia (trunkal atau apendikular) 

      Gejala yang terjadi dapat mendadak atau progresif memberat. 

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik bertujuan untuk membedakan gejala dan tanda tumor supra dan infra 

tentorial. 

 

Gejala dan Tanda Tumor Supratentorial: 

1. Gejala akibat peningkatan TIK  

a. Akibat efek massa tumor atau edema 

b. Akibat blokade aliran CSF 

2. Gejala fokal defisit yang progresif  

a. Akibat destruksi parenkim otak oleh invasi tumor 

b. Akibat penekanan parenkim otak oleh tumor, edema atau perdarahan 

c. Akibat penekanan pada saraf kranialis  

3. Sakit kepala. 

4. Kejang akibat iritasi pada kortek serebral 

5. Perubahan status mental: depresi, letargi, apatis, confusion 

6. Gejala yang menyerupai “TIA” atau stroke, dapat terjadi akibat : 

a. Penyumbatan pembuluh darah oleh sel tumor 

b. Perdarahan intra tumoral 

c. Kejang fokal 

 

Gejala dan Tanda Tumor Infratentorial: 

1. Tumor fossa posterior memberikan gejala akibat peningkatan TIK dan hidrosefalus: 

a. Headache 

b. Mual dan muntah: dapat akibat peningkatan TIK oleh hidrosefalus atau akibat 

penekanan langsung pada vagal nucleus atau area postrema (“vomiting center“). 

c. Papil edema 

d. Gangguan gait-ataksia 


 

e. Diplopia: dapat akibat N. VI (abducens) palsy akibat peningkatan TIK atau 

penekanan langsung pada saraf 

2. Gejala yang timbul akibat efek massa di fossa posterior. 

a. Lesi pada cerebellar hemisphere: ataksia ekstremitas, dysmetria, intention tremor 

b. Lesi pada cerebellar vermis: broad based gait, truncal ataxia, titubition 

Mengenai batang otak: mengakibatkan gangguan saraf kranialis multipel, nistagmus 

4. Kriteria Diagnosis Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, laboratorium, dan patologi anatomi. 

Walaupun karakteristik imaging (dan klinis) dapat memperkirakan jenis tumor otak 

spesifik, namun biopsi tetap diperlukan untuk diagnosis definitif. 

5. Diagnosis Kerja Klasifikasi dan gambaran histopatologi astrositoma (ICD-10: C71.9) 

Karakteristik Astrocytoma 

Anaplastik 

astrocytoma 

Glioblastome 

multiforme 

Hiperselularity Rendah Sedang Sedang hingga khas 

Pleomorfisme Rendah Sedang Sedang dan khas 

Proliferasi vaskular Tidak ada Ada umum 

Nekrosis Tidak ada Ada pseudopolisading 

 

Ekuivalensi sistem Kernohan dengan sistem WHO 

Klasifikasi 

Kernohan 

WHO 

  Special tumor, seperti pilocityc astrocytoma 

 Astrocytoma (low grade) 

II 

III   Anaplastic 

astrocytoma 

Malignant astrocytoma 

IV (IV)Glioblastoma 

multiforme 

 

Klasifikasi histopatologi astrositoma berdasarkan WHO  

 Kriteria 

Glioblastoma 

multiforme 

Selularitas padat, pleomorfisme sel dan nucleus, proliferasi 

endotel, gambaran mitosis, dan sering nekrosis 

Anaplastic 

astrocytoma 

Selularitas rendah, pleomorfisme rendah, mitosis jarang dan 

tidak ada nekrosis 

Astrocytoma Tumor glia dengan selularitas rendah dan perubahan 

pleomorfis yang minimal 

 

6. Diagnosis Banding Gambaran imaging dapat menyerupai: 

Proses Non Neoplastik 

- Infark serebri 

- Demyelinisasi 

- Infeksi/abses serebri 

Neoplasma 

- Metastase 

- Limfoma 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

Pemeriksaan imaging 

Pemeriksaan CT dan MRI diperlukan untuk menentukan perluasan tumor (ukuran, 

lokasi, dan konsistensi). 

 

Sebagian besar glioma low grade tidak menyerap kontras pada CT scan atau MRI. 

Biasanya akan nampak hipodense pada pemeriksaan dengan CT scan.  

 

Anaplastic astrocytoma bersifat dualisme, dapat menyerap ataupun tidak menyerap 

kontras. Sebanyak 31% glioma anaplastik dan 9% astrositoma anaplastik sedang, tidak 


menyengat kontras pada CT. Gambaran kalsifikasi dan kista dapat muncul pada 

astrositoma anaplastik. 

 

Pada high grade astrocytoma dapat muncul gambaran ring enhance (bagian tengah 

tumor yang nekrosis tidak enhance). Cincin ini  merupakan tumor seluler, akan 

tetapi sel-sel tumor juga dapat meluas lebih dari 15 mm diluar gambaran cincin.  

 

No Pemeriksaan Rekomendasi 

Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 CT scan 

CT Scan dengan kontras 

digunakan untuk skrening 

awal, CT Scan dapat 

menggambarkan edema di 

sekitar tumor (peritumoral 

edema) ( ICD 10 : S06.1) 

1C 1 

2 MRI 

MRI sangat bagus untuk 

menggambarkan edema di 

sekitar tumor (peritumoral 

edema) ( ICD 10 : S06.1), 

Kompresi saraf kranial (ICD 10 : 

G50.0), Kompresi otak dan 

pembuluh darah otak (ICD 10 :  

G93.5) 

1C 1 

Keterangan : 

GR : Grade Rekomendasi 

Derajat keganasan astrositoma dapat diperkirakan dari gambaran radiologis tumor 

Klasifikasi 

Kernohan 

Gambaran Radiologis 

CT: densitas rendah 

MRI: signal abnormal 

Tidak ada efek massa 

Tidak enhance 

II 

CT: densitas rendah 

MRI: signal abnormal 

Efek massa 

Tidak enhance 

III 

Enhancement kompleks (namun kadang kala tidak menyengat 

kontras) 

IV Nekrosis (ring enhance) 

 

8. Terapi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Modalitas terapi astrocytoma meliputi: pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi. 

Pemilihan modalitas terapi ditentukan oleh jenis histopatologis tumor. Jenis 

histopatologis tumor dapat diperkirakan dari gambaran imaging dan dikonfirmasi dengan 

pemeriksaan histopatologis. Penatalaksanaan lebih detil sebagai berikut: 

 

Penatalaksaan Low Grade Astrocytoma 

No. Tatalaksana Keterangan GR Ref 


 

1 Pembedahan 

Pembedahan dapat ditunda pada pasien 

low grade glioma dengan epilepsi 

terkontrol sebagai satu satunya gejala, 

sampai didapat  progresifitas secara 

klinis atau radiologis 

2B 3 

Reseksi maksimal yang aman 

direkomendasikan pada pasien dengan 

peningkatan tekanan intrakranial, kejang 

tidak terkontrol atau adanya 

progresifitas klinis atau radiologis  

1B 

1,4,

5,6 

2 Radioterapi 

Radioterapi paska pem-bedahan dapat 

ditunda sampai didapat  adanya 

progresi-fitas secara klinis atau radio-

logis (Tingkat Pembuktian 1- Derajat 

Rekomendasi A). Bila didapat  adanya 

indikasi radioterapi, dosis sebaiknya 

diantara 45 dan 54 Gy 

1A 

2,7,

Radioterapi saja ditawarkan pada pasien 

dengan tumor yang progresif 

1A 

2,7,

3 Kemoterapi 

Kemoterapi sebaiknya tidak dikombinasi 

dengan radio-terapi, karena kombinasi 

ini tidak menunjukkan keuntungan jika 

dibandingkan radioterapi saja dan 

meningkatkan toksisitas 

1A 

9-

11 

Kemoterapi dengan Temo-zolomide 

ditawarkan pada pasien dengan tumor 

yang progresif yang menunjukkan 

kombinasi hilangnya hetero-zygositas 

1p/19q 

2C 12 

 

 

Penatalaksaan Anaplastic Astrocytoma 

No. Tatalaksana Keterangan GR Ref 

1 Pembedahan 

Pembedahan untuk debul-king, 

memperbaiki klinis, dan diagnosis 

patologi anatomi. Bila memung-kinkan 

dapat dilakukan eksisi maksimal yang 

aman 

2B 

3-

16, 

23-

27 

Tidak ada bukti yang mendukung 

dilakukannya reseksi luas setelah biopsi 

parsial awal 

2C - 

Pasien dengan anaplastik oligodendroglia 

sebaiknya dilakukan reseksi radikal 

1A 

17-

21 

2 Radioterapi 

Radioterapi merupakan terapi standard 

setelah pembedahan. Radiasi eksternal 

diberikan dalam dosis terbagi sampai 

dosis maksimum 59.4 - 60 Gy 

1A 

1,2, 

28-

35, 

37, 

38 

Radioterapi sebaiknya parsial pada otak 

dan bukan kese-luruhan otak 

1B 

47, 

48 

Tidak ada bukti yang mere-komendasikan 

dosis total lebih dari 60 Gy 

2C 

34, 

35 

Untuk pasien tua (≥ 60 tahun) dengan 

status penampi

an yang jelek (KPS < 70), 

1A 

1, 

32, 


 

dipertimbangkan pemberian radioterapi 

saja dengan atau tanpa diagnosis

 patologi 

anatomi 

34, 

37, 

39-

46 

3 Kemoterapi 

Pemberian kombinasi Temozolomide dan 

radioterapi paska operasi diikuti 

Temozolomide terprogram sampai total 

enam siklus. 

2C 

22, 

47-

49 

 

Penatalaksaan GBM (Glioblastoma Multiforme) 

No. Tatalaksana Keterangan GR Ref 

1 Pembedahan 

Pembedahan dilakukan untuk 

mengurangi massa tumor (debulking) dan 

diagnosa patologi anatomi. 

2B 

1, 2 

 

Reseksi luas setelah biopsi awal 

bergantung kepada pertimbangan lokasi 

dan faktor-faktor lainnya. 

2C 

1-

28 

2 Radioterapi 

Radiasi eksternal diberikan dalam fraksi 

standard sampai total dosis 60 Gy. 

1A 

29-

33 

Radioterapi sebaiknya par- sial pada otak 

dan bukan keseluruhan otak 

1B 32 

Radioterapi dapat diberikan 40 Gy dalam 

15 dosis terbagi pada pasien usia tua (≥60 

tahun) 

1A 

34, 

35 

Untuk pasien tua dengan status 

penampilan yang jelek, dipertimbangkan 

pemberian radioterapi saja dengan


atau 

tan

a diagnosa patologi anatomi 

1A 34 

3 Kemoradiasi 

Terapi kemo-radiasi merupakan terapi 

standard setelah pembedahan. Bila 

memungkinkan, pembedahan diikuti 

terapi kombinasi Temozolomide dan 

radioterapi, dilanjutkan Temozolomide 

selama 6-12 siklus 

1A 

27, 

29, 

36, 

37 

Terapi tambahan dengan Temozolomide 

dipertimbangkan pada pasien berusia 

lebih dari 60 tahun dengan status 

penampilan yang baik (KPS > 70). 

2B 

38-

42 

 

Keterangan : 

GR : Grade Rekomendasi 

Bukan kandidat yang baik untuk pembedahan 

1. GBM pada lobus dominan yang ekstensif 

2. Lesi dengan keterlibatan bilateral yang ekstensif 

3. Pasien usia tua 

4. Karnofsky < 70 

5. Glioma multisentris 

9. Edukasi - Pasien memerlukan pemeriksan tambahan berupa CT scan kepala (dengan atau tanpa 

kontras), MRI kepala, dan patologi anatomi untuk menegakkan diagnosis. 

- Pembedahan yang dilakukan bisa berupa biopsi (pegambilan tumor dalam jumlah 

kecil untuk mengambil sampel PA), atau eksisi tumor. 

- Edukasi untuk pasien dan keluarganya: Selain gejala nonfokal (seperti gejala dan 

tanda tumor supra dan infratentorial, terdapat kemungkinan terjadi defisit neurologis 

fokal yang berhubungan dengan lokasi astrositoma dan akibat prosedur pembedahan. 


 

10. Prognosis Tanpa terapi: waktu bertahan hidup berkisar  6 - 12 minggu 

Terapi konvensional: waktu bertahan hidup  

- 6 bulan - 42,4% 

- 1 tahun - 17,7% 

- 2 tahun - 3,3% 

Penentuan adanya MGMT menentukan prognosis  


 

Algoritma Tatalaksana Low Grade Glioma Infiltratif 

 

 

 

 

Faktor Resiko : 

1. Usia > 40 tahun 

2. Epilepsy tidak terkontrol 

3. Efek massa (+) 

4. Edema hebat 

5. Tumbuh progresif 

6. KPS rendah (<70) 

7. Area eloquent 


Ependimoma 

(ICD 10 : C71) 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Tumor yang berasal dari sel ependim yang melapisi ventrikel otak dan kanalis sentralis 

medulla spinalis.  

Dapat menyebar melalui cairan serebrospinalis sepanjang neuroaksis (seeding dan drop 

mets) 

Paling banyak terjadi pada dasar ventrikel IV, menyebabkan hidrosefalus (peningkatan TIK) 

dan parese saraf kranial VI dan VII 

 

2. Anamnesis Umumnya  berupa gejala yang berhubungan dengan massa di fossa posterior yang 

menyebabkan peningkatan Tekanan intrakranial dan penekanan pada saraf kranialis. Gejala 

peningkatan TIK bisa berupa : nyeri kepala, mual muntah, ataxia/vertigo,kejang, dan 

perubahan kondisi mental. 

3. Pemeriksaan 

Fisik 

Gejala umum dapat berupa : 

    Nyeri kepala 

    Muntah  

    Drowsiness (mengantuk) 

    Gangguan penglihatan  

    Perubahan kepribadian 

 

Gejala Fokal dapat berupa : 

    Kejang 

    Hemiparesis 

    Parestesia 

    Perubahan kognitif 

    Gangguan koordinasi 

    Diplopia 

    Gangguan menelan 

4. Kriteria 

Diagnosis 

 

1. Anamnesis  

2. Pemeriksaan klinis  

3. Pemeriksaan laboratorium  

4. Patologi anatomi  

5. Diagnosis kerja Ependimoma  (ICD.10 : C7) 

    Klasifikasi patologi ependimoma menurut WHO 

    WHO grade 1: Myxopapillary ependimoma, Subependimoma 

    WHO grade 2: varian: Cellular, pappilary, clear cell, tanycytic 

    WHO grade 3: Anaplastic ependimoma 

6. Diagnosis 

Banding 

- Arteriovenous Malformations 

- Astrocytoma 

- Choroid Plexus Papilloma 

- Glioblastoma Multiforme 

- Tumors of the Conus and Cauda Equina 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

PEMERIKSAAN PENUNJANG 

Pemeriksaan Rekomendasi GR Referensi 

MRI Pencitraan yang paling dipilih dilakukan sepanjang 1B 3, 8 


neuroaksis untuk mendeteksi kemungkinan 

penyebaran tumor 

MRI sangat bagus untuk menggambarkan edema 

di sekitar tumor (peritumoral edema) ( ICD 10 : 

S06.1), Kompresi saraf kranial (ICD 10 : G50.0), 

Kompresi otak dan pembuluh darah otak (ICD 10 :  

G93.5) 

CT Scan 

Dapat dilakukan untuk pemeriksaan tumor di 

supratentorial namun kurang detail untuk evaluasi 

fossa posterior 

CT Scan dapat menggambarkan edema di sekitar 

tumor (peritumoral edema) ( ICD 10 : S06.1) 

2B 3, 8, 14 

Myelografi 

Dengan kontras yang larut air, sama sensitifnya 

dengan MRI gadolinium dalam mendeteksi “drop 

mets” 

2C 3, 4, 14 

 

8. Terapi 

Tatalaksana Ependimoma WHO Grade II:  

Rekomendasi Keterangan GR Referensi 

Pembedahan 

Pembedahan merupakan terapi standar awal. Bila 

memungkinkan dapat dilakukan reseksi maksimal 

menghasilkan harapan yang tinggi untuk terbebas 

dari meningioma (ICD 9 CM : 01.51), Dekompresi 

saraf kranial (ICD 9 CM : 04.41) 

1A 3, 4, 8-14 

Radioterapi 

Radioterapi paska operasi dipertimbangkan untuk 

keadaan dimana didapat  atau diperkirakan 

adanya residual tumor intrakranial guna 

meningkatkan kon- trol lokal penyakit. Diberikan 45-

54 Gy diberikan 1,8-2,0 Gy per dosis. (ICD 9 CM : 

92.29) 

1B 9, 12, 14 

Kemoterapi 

Tidak ada bukti bahwa penambahan kemoterapi 

pada pembedahan atau radioterapi dapat mem-

perbaiki outcome (ICD 9 CM 99.25) 

2C 12, 14 

 

Tatalaksana WHO Grade III Ependimoma (Anaplastik) 

Rekomendasi Keterangan GR Referensi 

Pembedahan, dan 

Radioterapi 

Pembedahan dan radio-terapi merupakan 

terapi standar. 

1A 1-13, 15, 16 

Radioterapi 

Radioterapi dosis 54-60 Gy diberikan 1.8-2.0 

Gy per dosis terbagi. Dosis pada kiasma 

optikus, nervus optikus, dan medula spinalis 

harus dibatasi. 

1A 12,16-18 

Radiasi kraniospinal harus dipertimbangkan 

pada pasien dengan bukti penyebaran 

kraniospinal 

1A 12,16-18 

Kemoterapi 

Kemoterapi sebagai pilihan terapi masih 

dievaluasi, kasus rekurensi merupakan 

kandidat untuk kemoterapi atau uji klinis 

1B 15,18 

Keterangan : 

GR  : Grade Rekomendasi 

9. Edukasi 

Observasi ketat dan follow up jangka panjang direkomendasikan untuk semua pasien dengan 

ependimoma, karena adanya efek radioterapi dan metastase pada pasien yang bertahan 

hidup dalam jangka waktu yang lama.  

Dapat terjadi komplikasi, adanya defisit  neurologis yang berhubungan dengan lokasi tumor 


10. Prognosis 

Prognosis lebih buruk pada anaplastik ependymoma WHO grade III daripada WHO grade II 

Resiko rekurensi lebih besar pada reseksi subtotal.  

Reseksi total diikuti Radioterapi  kraniospinal mencapai 41 % 5 year survival rate 

11. Indikator Medis Tujuan operasi yaitu  eksisi total dimana pada pemeriksaan imaging pasca operasi tidak 

ditemukan sisa  tumor dan tidak didapat  defisit neurologis pada pasien dan dekompresi 

saraf kranial 


 

Kordoma 

ICD 10: C75 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Neoplasma tulang agresif lokal yang tumbuh dari sisa embrionik notochord. Jarang 

dijumpai dan tumbuh lambat. 

Lokasi tumor pada dewasa, 5% di darah sakrokogsigeal, 35% pada dasar tengkorak di 

dekat daerah sphenooksipital, dan 15% pada kolumna vertebalis 

 

2. Anamnesis 

Kordoma Sakral : 

    Sebagian besar yaitu  nyeri lokal, sekitar sepertiga pasien mengalami nyeri radikuler 

akibat dari iritasi saraf sciatic atau trunkus iliolumbal.  

    Gangguan kencing dan defekasi 

Kordoma Intrakranial: 

    Tanda – tanda TIK meningkat akibat hidrocephalus 

    Multiple cranial nerve palsy 

    Gejala kompresi brainstem : gangguan pola napas, gangguan motorik  

3. Pemeriksaan Fisik 

 

Chordoma sacral 

    Teraba massa pada saat pemeriksaan rectal atau ginekologi. 

Chordoma intrakranial 

    Parasellar : gangguan saraf cranial 1-6 

    Clivus : gangguan saraf cranial 7-12 

4. Kriteria Diagnosis 

 

1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Patologi anatomi berupa : conventional, chondroid, dan dedifferentiated types. 

5. Diagnosis kerja Chordoma  (C75) 

6. Diagnosis Banding     Myxoid tumor of soft tissue 

    Chondrosarcoma  EMA negatif 

    Myxopapillary ependymoma  EMA negatif 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

- Pemeriksaan Imaging 

No Pemeriksaan Rekomendasi 

Grade 

Rekomendasi 

Ref 

1 CT Scan 

biasanya tumbuh pada midline. 

Tampak gambaran destruksi 

tulang litik. Tampak kalisifikasi 

(30-70%). Bone scan: tampak 

distribusi radioisotop normal 

atau menurun 

CT Scan dapat menggambarkan 

edema di sekitar tumor 

(peritumoral edema) ( ICD 10 : 

S06.1) 

2B 1 


2 MRI 

T1 : tampak massa iso atau agak 

hipointens disbanding otot. T2Wi 

: hiperintens. 

MRI sangat bagus untuk 

menggambarkan edema di 

sekitar tumor (peritumoral 

edema) ( ICD 10 : S06.1), 

Kompresi saraf kranial (ICD 10 : 

G50.0), Kompresi otak dan 

pembuluh dar