w.
Untuk kasus CCF low flow, embolisasi
transarteri susah oleh karena arterinya kecil,
tortuous (berlekuk-lekuk), dan kadang
multpel. Pilihannya kombinasi embolisasi
transarteri dan transvena.
Bahan yang dipakai : detachable ballon, koil
platinum, intracerebral stenting, partikel
polivinil akhohol, Ethylen Vinil Alcohol/EVOH
(ONYX etc) dan adhesive-liquid yang
digunakan untuk menutup fistula dengan
mikrokateter superselektif.
Komplikasi embolisasi transarteri meliputi :
2A
12, 13,
14, 15,
16, 17,
18, 19,
20, 21,
22, 23,
24
- migrasi embolan ke sirkulasi intrakranial
sehingga menyebabkan iskemia atau infark
serebral. Oleh karena itu, penggunaan
antikoagulan selama prosedur tindakan
dan antiplatelet pasca tindakan
mengurangi rsiko iskemia atau infark
serebral
- Pseudoaneurisma oleh karena perlukaan
dinding arteri
Komplikasi embolisasi transvena meliputi :
- iskemia atau infark serebri
- subarakhnoid hemorrhage
- ruptur sinus
- ekstravasasi ekstradura oleh karena
kontras
- parese nervus kranialis
2 Surgery
Tindakan bedah dilakukan jika endovaskuler
tidak berhasil. Tindakan nya meliputi packing
di sinus cavernous untuk membuntu fistula,
menjahit atau klipping siftula, menyegel
fistula dengan fascia atau lem, dan atau ligasi
arteri karotis interna.
2A
12, 15
17, 25
3
Stereotaktik
Radiosurgery
Radiosurgery diindikasikan ketika
pendekatan endovaskuler tidak aksessibel
dan intervensi pembedahan menimbulkan
resiko morbiditas yang tinggi.
Radioterapi menghasilkan obliterasi dural
CCF sekitar 75-100 % walaupun
membutuhkan waktu beberapa bulan.
Dose yang dibutuhkan 10-40 Gy.
Sebelum dilakukan radiasi, penetuan ukuran
lesi harus dilakukan dengan pendekatan
endovaskuler (TFCA) untuk mengurangi dosis
radiasi yang diperlukan
.
1C
26, 27,
28
4
Kompresi
Manual Vaskuler
Kompresi manual bertujuan mengurangi
aliran darah sehingga terbentuk trombus
didalam sinus cavernous.
Kompresi dilakukan selama 30 detik
ipsilateral arteri karotis beberapa kali perhari
selama 4- 6 minggu.
.
1C
29, 30,
31
5
Penanganan
oftalmologi
Pasien dengan proptosis perlu diberikan
lubrican ocular untuk menghindari keratitis
eksposure
Peningkatan intraokular bisa diberikan obat-
oba untuk mengurangi tekanan intraokular
seperti asetazolamid, kortikosteroid iv, b
2A 32, 33
blocker topikal
11. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
12. Prognosis Prognosis tergantung:
1. Simptom dari penyakit
2. derajat keparahan dan patogenesa penyakit
3. Penyakit yang menyertai
13. Indikator Medis Perbaikan status neurologis
MOYA-MOYA DISEASE
ICD-10: I 67.5
1. Pengertian
(Definisi)
Gangguan vaskuler yang jarang terjadi, ditandai dengan penyempitan progresif dari
pembuluh darah di lingkaran arteri di dasar otak (circle of willisi). Ditandai dengan
stenosis atau oklusi bilateral pada arteri di sirkulus willisi sehingga sirkulasi kolateral lebih
menonjol.
2. Anamnesis Gejala-gejala dan perjalanan klinis bervariasi :
- Tanpa gejala hingga yang mengakibatkan deficit neurologis berat yang
sementara.
- Orang dewasa lebih seiring mengalami perdarahan;
- kejadian iskemik serebral lebih sering terjadi pada anak-anak.
- Anak dapat mengalami hemiparesis, monoparesis, gangguan sensorik, gerakan
involunter, sakit kepala, pusing, atau kejang. Keterbelakangan mental atau defisit
neurologis persisten.
- Intraventrikular, subarachnoid, atau perdarahan intraserebral onset mendadak
lebih sering terjadi pada orang dewasa.
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B
(breathing), dan C (circulation)
Pemeriksaan Neurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Temuan pemeriksaan fisik tergantung pada lokasi dan keparahan dari perdarahan
atau iskemik.
4. Pemeriksaan
Penunjang
- CT Scan
- Angiografi :
- Angiografi serebral yaitu kriteria standar untuk diagnosis penyakit Moyamoya.
Temuan berikut dapat mendukung diagnosis:
- Stenosis atau oklusi pada bagian terminal dari arteri karotis interna atau bagian
proksimal arteri serebral media atau anterior.
- Jaringan pembuluh darah abnormal di sekitar wilayah oklusif atau stenosis.
- Temuan didapati bilateral (meskipun beberapa pasien mungkin dengan
keterlibatan unilateral dan kemudian progresif). Magnetic resonance
angiography (MRA) dapat dilakukan.
SPECT (single photon emission computerized tomography)
No Pemeriksaan
Rekomendasi Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 CT scan
Gambaran infark pada kortikal dan
subkortikal, dijumpai pada early stage MMD
Suzuki 1 atau 2
2B 4
2 MRI
Pada T1 kontras atau T1 flair didapat
gambaran ‘ivy sign’
2A 5
angiografi MRA dapat memeberikan gambaran stenosis 1C 6
3 atau oklusi pada distal ICA, CTA menunjukkan
abnormal vessel atau collateral vessel di
basal ganglia
5. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis dan pemeriksaan klinis (sesuai di atas)
2. CT Scan Kepala
3. TFCA (angiografi)
6. Diagnosis Moya moya disease I67.5
7. Diagnosis Banding Dari anamnesis:
Anterior Circulation Stroke
Basilar Artery Thrombosis
Blood Dyscrasias and Stroke
Cavernous Sinus Syndromes
Cerebral Aneurysms
Dissection Syndromes
Fabry Disease
Fibromuscular Dysplasia
Intracranial Hemorrhage
8. Terapi -
No Terapi
Prosedur (ICD 9 CM) Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 Medikamentosa
Diberikan aspirin pada pasien moya-
moya anak atau dewasa yang
nonsimptomatik maupun simptomatik
iskemik moya-moya
Tidak dianjurkan penggunaan
antikoagulan lama
2C
1C
7
2 Operasi
Tindakan revaskularisasi
Superficial temporal artery–middle
cerebral artery (STA-MCA) anastomosis
EMS (encephalomyosynangiosis)
Encephaloduroarteriosynangiosis (EDAS)
Encephaloduroarteriomyosynangiosis
(EDAMS) (ICD-9: 437.5)
Pial synangiosis
Omental transplantation
1C 8
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Prognosis dipengaruhi:
- Perbaikan klinis dapat terlihat setelah dilakukan prosedur operasi dengan segera
dengan kemungkinan 6-12 bulan akan terbentuk pembuluh darah baru sebagai
supply.
11. Indikator Medis Perbaikan status neurologis dan penyakit dasar penyebab moya-moya
Normal Pressure Hydrocephalus (NPH)
G91.2
3. Pengertian
(Definisi)
Kondisi dimana terjadi pembesaran ventrikel otak secara patologis dengan tekanan awal
(Opening pressure) pada lumbal pungsi yang normal.
4. Anamnesis Secara klasik didapat trias:
Inkontinensia urin
Dementia
Gangguan berjalan (gait disturbance)
Gejala ini muncul sebagian dan perlahan-lahan (gradual)
5. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain dari epilepsi.
Pada saat kejang, pasien harus diperiksa dan ditatalaksana sesuai prinsip gawat darurat
yaitu: amankan Airway, Breathing, Circulation
Pemeriksaan Neurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Pemeriksaan saraf kranial satu sampai duabelas
Pemeriksaan motorik menyeluruh
Pemeriksaan sensorik menyeluruh
Pemeriksaan refleks fisiologis
Pemeriksaan refleks patologis
Pemeriksaan fungsi kognitif (MMSE)
6. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan penunjang
7. Diagnosis Kerja Normal Pressure Hydrocephalus (G91.2)
8. Diagnosis Banding - Penyakit prakinson
- Vascular Dementia
- Alzheimer
- Sindrom Lobus Frontal
- Gangguan sistem urinaria
- Tumor/lesi serebelum
9. Pemeriksaan
Penunjang No Pemeriksaan Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1 CT Scan Kepala
- didapat pembesaran di semua
sistem ventrikel TANPA adanya
tanda-tanda obstruksi atau infeksi
- Adanya periventrikular edema
(ejection)
- Evan’s ratio >0.3
1A 1,2,3,4,5
2 MRI Kepala
- didapat pembesaran semua
sistem ventrikel
- Adanya peningkatan sinyal di
periventrikel (pada sekuens FLAIR)
1B 1,2,3,4,5
- Evan’s ratio >0.3
3 Cysternografi
- Dengan menggunakan isotop
dengan lumbal pungsi. NPH
ditegakkan ketika isotop hilang dari
cysterna pada 72 jam
2B 1,2,3,4,5
4
Lumbal
Pungsi/
Lumbal tap
test
- Pada Lumbal pungsi/ lumbal tap
test, dikeluarkan LCS sebanyak 30-
50 cc kemudain evaluasi dari klinis.
Perbaikan klinis akan memberikan
hasil yang baik bila dilakukan
shunting
- Lumbal tap test dilakukan bisa
hingga 3 kali untuk dapat melihat
perbaikan klinis yang nyata
1A 1,2,3,4,5
5
External
Lumbal
Drainage
- External LD juga mengeluarkan LCS
akan tetapi dipertahankan 3-6 hari
(LCS dapat dikeluarkan hingga 40
cc),
- Perbaikan klinis akan memberikan
hasil yang baik bila dilakukan
shunting
1A 1,2,3,4,5
10. Terapi
No Terapi Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1
Programmable
VP shunt
- Programmable VP shunt
memberikan hasil yang lebih baik
darpada VP shunt dengan fixed
pressure karena kemampuan
untuk memodifikasi dan
menyesuaikan dengan tekanan
ventrikel
1A 1,2,3,4,5
2
VP Shunt fixed
pressure
- VP shunt yang digunakan dapat
beruap medium dan low pressure
akan tetapi risiko terjadinya
komplikasi overshunting sangat
tinggi
2A 1,2,3,4,5
11. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
12. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis operasi NPH akan meningkat bila terdapat perbaikan klinis pada diversi LCS
pre-operasi (Dengan Lumbal tap test atau ELD)
HEMATOMA INTRASEREBRAL SPONTAN
ICD-10: I61.0
1. Pengertian
(Definisi)
Kumpulan darah, dalam parenkim otak. Ini dapat merupakan perdarahan-perdarahan
kecil yang menyatu, atau cedera pembuluh darah yang cukup besar.
2. Anamnesis didapat nyeri kepala
didapat gangguan neurologis (amnesia, penurunan kesadaran, kejang, dll.)
didapat faktor resiko : hipertensi, diabetese mellitus
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B
(breathing), dan C (circulation)
Pemeriksaan lain
Darah tinggi. Gangguan Jantung. Gangguan Ginjal
Pemeriksaan Neurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Saraf II-III, lesi saraf VII perifer
Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, retinal detachment
Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah
Autonomis
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan imaging sesuai di bawah
5. Diagnosis Kerja Hematoma Intraserebral (ICD 10: I61.0)
6. Diagnosis Banding - Trauma
- Epileptic fits
- Keracunan obat
- Penyakit metabolik
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan
Rekomendasi Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 CT scan
CT tanpa kontras secara luas digunakan
untuk mengevaluasi ICH akut,CT scan mampu
mengevaluasi lokasi dan besar hematom juga
mengevaluasi adanya ekstensi ventrikel,
herniasi, edema sekitar,.
1C 1,2,3
2 CTA CTA maupun MRA dapat digunakan untuk 2A 4,5
screening adanya kelainan vaskuler seperti
aneurysma, AVM
3 MRI
Sequence GRE-T2 untuk menilai perdarahan
hiperakut, subakut, kronik
2A 6
4 DSA
Untuk screening kelainan vaskuler seperti
AVM. aneurysma
1C 9
X-foto thoraks:
Mencari kemungkinan kelainan jantung
CT Scan Kepala:
Gambaran hiperedens berbentuk bikonveks
Bisa disertai dengan gambaran perdarahan di ventrikel
X-foto lain-lain menurut keperluan
8. Terapi
No Terapi
Rekomendasi Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1
Regulasi
tekanan
darah
Bila SBP>200 mmHg atau MAP>150 mmHg
maka dianjurkan reduksi cepat tekanan
darah menggunakan OAH intravena kontinyu
dan monitoring setiap 5 menit
Bila SBP >180 mmHg atau MAP >130 mmHg
disertai tanda-tanda peningkatan TIK maka
pemberian OAH secara intermitten atau
kontinyu dengan target CPP 61-80 mmHg
Bila SBP>180 mmHg atau MAP>130 mmHg
tanpa disertai tanda-tanda penongkatan TIK
maka target BP yaitu 160/90 menggunakan
OAH intravena secara intermitten atau
kontinyu dengan observasi setiap 15 menit
1A
7,8
2 Operatif
EVD (ICD-9 : 02.21)
Indikasi untuk pasien dengan
intraventrikular haemmorhage dengan
defisit neurologis. EVD bilateral bisa saja
dikerjakan bila perdarahan membuntu
1B 8
foramen monroe.
EVD untuk Hidrocephalus karena SAH
pada pasien dengan penurunan kesadaran
dan terbukti ada peningkatan TIK. Pasien
dengan hidrocephalus yang tidak
membaik dalam waktu 24 jam.
ICH fossa Posterior (ICD 9-01.24)
diameter > 3 cm dengan deteriosisasi
neurologis atau kompresi brain stem
dan/atau hidrosephalus karena obstruksi
ventrikel direkomendasikan untuk
dilakukan evakuasi perdarahan (Grade 1B)
ICH Supratentorial (ICD 9-01.24)
Volume > 30cc dengan jarak 1 cm dari
permukaan. Evakuasi berikutnya dalam 96
jam setelah operasi pertama tidak
direkomendasikan. Tindakan bedah tidak
disarankan pada pasien dengan kesadaran
penuh atau koma dalam, pasien dalam
intermediete level/stupor merupakan
kandidat operasi. Hal lain yang
mendukung tindakan pembedahan
Kejadian baru
Deteriorisasi neurlogis progresif
Lokasi dari perdaran dekat
dengan permukaan korteks
Lokasi di hemisfer non dominan.
3 Non operatif
Hematoma yang kecil dan tidak
memberikan efek masa (midlineshift<
0,5 cm), juga tidak memberikan gejala
klinik.
Cedera difus tersebar
- Perawatan di ruangan
- Observasi GCS, pupil, lateralisasi,
dan faal vital.
- Optimalisasi, stabilisasi faal vital,
menjaga mantapnya suplai O2 ke
otak.
- Sirkulasi : cairan infus berimbang
NaCl-glukosa, dicegah terjadinya
overhidrasi, bila sudah stabil secara
bertahap di ganti cairan / nutrisi
enteral / pipa lambung.
- Penderita stroke perdarahan
dengan lesi yang tidak memerlukan
evakuasi dan penderita dengan
gangguan analisa gas darah dirawat
dalam respirator.
- Mempertahankan perfusi otak,
memposisikan kepala head up
sekitar 30, dengan menghindari
fleksi leher.
- Kateter buli-buli diperlukan untuk
mencatat produksi urine,
mencegah retensi urine, mencegah
tempat tidur basah (dengan
demikian mengurangi risiko
dekubitus).
- Cairan hipertonik (mannitol 20%),
bila tampak edema atau cedera
yang tidak operable pada CT Scan.
Manitol dapat diberikan sebagai
bolus 0,5 – 1 g/kg. BB pada
keadaan tertentu, atau dosis kecil
berulang, misalnya (4-6) x 100 cc
manitol 20% dalam 24 jam.
Penghentian secara gradual.
- Analgesik, anti inflamasi,
antipiretika : asam mefenamat,
paracetamol 3-4 kali sehari 500 mg
atau Na diklofenac 2-3 x sehari 50
mg pada dewasa atau.
- Antisida dan atau antagonis H2
- Antiepileptikum
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Prognosis dipengaruhi:
- Usia (< 50 tahun)
- GCS awal
- Jarak antara kejadian dan tindakan bedah
- Edema cerebri
- Lokasi hematom
- Faktor ekstrakranial
STROKE INFARK
ICD-10: I63.0
1. Pengertian
(Definisi)
Defisit neurologis fokal yang terjadi akibat sumbatan pada pembuluh darah otak.
2. Anamnesis Defisit neurologis fokal
Wajah asimetris, bicara pelo, lumpuh separuh badan.
Lama terjadinya
Pingsan
Kejang
Nyeri kepala
Penurunan kesadaran
Alloanamnesis bila pasien tidak sadar
Riwayat obat-obatan
Riwayat sakit DM, jantung, epilepsi, obat-obatan tertentu
3. PemeriksaanFisikk PemeriksaanFisikUmum
Pemeriksaanfisikpertama kali diutamakanpadaevaluasi
A (airways) mencegah lidah jatuh menghalangai jalan nafas. Stridor?,
B (breathing), evaluasi suara nafas normal. Ada ronkhi, whezing, tanda-tanda
efusi
C (circulation) tekanan darah, denyut nadi isi, regularitas, perfusi ke jaringan
perifer. Evaluasi suara tambahan jantung.
Kulit harus dievaluasi apakah ada tanda-tanda yang mengarah pada endokarditis,
emboli kolesterol, ekimosis purpura, atau tanda-tanda adanya tindakan prosedur
invasif
PemeriksaanNeurologis
Tingkat kesadaranGlasgow Coma Scale (GCS)
Saraf II-III,
Saraf-saraf cranialis terutama lesi saraf VII perifer/central
Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, retinal detachment
Motoris&sensoris, bandingkankanandankiri, atasdan bawah apakah ada
Hempiparesis
Autonomis
4. Kriteria Diagnosis Defisit neurologis Fokal
Penemuan daerah iskemik/infark pada CT scan dan/atau MRI
5. Diagnosis Kerja Stroke Infark (I63.0)
6. Diagnosis Banding Hipoglikemia
Hiperglikemia
7. Pemeriksaan
Penunjang
Diwajibkan untuk dilakukan pemeriksaan CT scan dan/atau MRI pada seluruh
pasien dengan stroke akut baik iskemik maupun hemoragic
CTA/ MRA
DSA
No Pemeriksaan
Rekomendasi Grad
e
Reko
mend
Ref
asi
1
CT scan- CTA- CT
perfusi
Pada fase hyperakut CT scan dapat
digunakan untuk mengeksklusi stroke
perdarahan. Sensitifitas CT non kontras pada
stroke infark meningkat setelah 24 jam onset
serangan.
2A 6
2 MRI
MRI sekuens T1 dan T2 DWI, PWI, GRE dapat
mendiagnosa stroke akut iskemik. DWI
superior dalam mendiagnosa akut stroke
iskemik dalam 12 jam onset
1B 7
3
MR Angiografi
MRA untuk medeteksi adanya stenosis
vaskuler atau oklusi.
2B 8
Dilakukan juga pemeriksaan
Darah Lengkap
GDA
BGA
SE
BUN/SK
EKG
Cardiac enzymes
FH dan INR
LFT
Screening toxicology
Tes kehamilan pada wanita terduga hami
Foto Thorax
EEG
8. Terapi 1. Bila pasien tidak ada resiko untuk terjadi peningktan TIK, aspirasi, atau
kondisi Kardipulmonary yang mencurigakan disarankan head flat 0-15
derajat
2. Pada pasien dengan kecurigaan adanya tanda-tanda peningkatan TIK,
penurunan kesadran, aspirasi, dekompensasi cordis, atau desatuari
maka disarankan head up 30 derajat.
No Terapi
Prosedur (ICD 9 CM) Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 rTPA
1. Disarankan alteplase secara intravena
pada onset kurang dari 3 jam (Grade
1B), Anti trombotik (contoh : aspirin)
dapat diberikan dalam 48 jam sejak
onset terjadi (Grade 1A)
2. Pencegahan serangan kedua stroke
pada pasien dengan noncardioembolic
stroke atau riwayat TIA, lacunar infark
direkomendasikan penggunaan
antiplatelet clopidogrel (Grade 1)
3. Penggunaan aspirin pada pasien
dengan perdarahan GIT dianjurkan 50-
100 mg/hari untuk pencegahan
serangan stroke kedua (Grade 1B)
1A 9
225
_____________
4. Tidak dianjurkan penggunaan
kombinasi aspirin dan clopidogrel pada
pasien noncardioembolik stroke atau
TIA (Grade 1A)
2 OAH
Pemberian obat anti hipertensi diberikan
pada systole >220 atau diastole >120
atauterdapat indikasi belum jelas (PJK, gagal
jantung, diseksi aorta, ensefalopati
hipertensi, GGA, atau pre eclampsia/
eclampsia). Target penurunan tekanan darah
yaitu 15% dari tensi awal
1C 10
3 Endovasculer
Prosedur mechanical thrombectomy dengan
stent retriever (solitaire, dll)
1A 11
3. Anti piretik juga disarankan diberikan pada pasien demam yang
biasanya terjadi pada fase akut strok iskemik
4. Pencegahan untuk terjadinya penyulit terapi yakni
- IMA
- Gagal Jantung
- Disfagi
- Aspirasi Pneumonia
- UTI
- DVT
- Malnutrisi
- Dehidarsi
- Ulkus decubitus
- Kontraktur
9. Edukasi
Rutin minum obat antitrombotik
Inisisasi obat anti lipid
Setelah fase akut terlewati dapat dimulai manajemen penurunan terkanan darah
Perubahan gaya hidup
Olah raga, tidak merokok, diet sehat
10. Prognosis Konsis pasien yang baik dengan terapi yang adekuat dalam onset kurang dari 4 jam
menghasilkan prognosis yang baik.
DURAL ARTERIOVENOUS FISTULA
ICD-10: I67.1
1. Pengertian
(Definisi)
Dural arteriovenous fistula (DAVf) yaitu kondisi patologis dimana ditemukan adanya
fistula (hubungan) antara cabang arteri duralis dengan vena duralis atau sinus venosus
2. Anamnesis - Pasien dengan DAVf dapat tidak menunjukkan gejala sama sekali
- Gejala pada pasien DAVf biasanya terjadi tergantung lokasi fistula dapat berupa:
gangguan visus, ophtlamoplegi, diplopia, atupun perdarahan.
- Pasien dapat mengalami gejala mendengar suara bruit, tinnitus, diplopia, proptosis
sampai dengan gejala berat yaitu defisit neurologis
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B
(breathing), dan C (circulation)
Pemeriksaan auskultasi pada orbita, lateral orbita, supra-orbita, mastoid, dan
daerah lain sesuai sinus venosus
Pemeriksaan Neurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Meningeal sign
Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah
Autonomis
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis dan pemeriksaan klinis (sesuai di atas)
2. Pemeriksaan penunjang (sesuai di atas)
5. Diagnosis Kerja Dural Arterio-Venous Fistula I67.1
6. Diagnosis Banding - Dural AVM
- Tumor Intrakranial
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan Keterangan Grade of
Recommendat
ion
Pustaka
1. CT Scan Kepala CT Scan kepala non-
kontras harus dilakukan
sebelum pemeriksaan
invasif untuk
menyingkirkan adanya
perdarahan
1A 1,2,3,4
2. CTA CT Angiografi
diperlukan untuk
mengetahui anatomi
pembuluhdarah
intrakranial
1A 1,2,3,4
3. MRI MRI pada DAVf
menunjukkan adanya
pelebaran vena kortikal
tanpa adanya
parenchymal nidus,
selain itu MRI juga
menunjukkan
1B 1,2,3,4
penebalan lapisan dura,
hipertrofi arteri
parenkimal, pelebaran
vena, turtous vena,
trombosis vena
4 Angiografi
(Trans-Femoral
Cerebral Angiografi)
Angiografi yaitu gold
standar untuk DVAf.
Tujuan Angiografi
yaitu untuk identifikasi
arterial feeders, lokasi
fistula, dan pola dan
arah drainase vena
1A 1,2,3,4
8. Terapi No Terapi Keterangan Grade of
Recommendat
ion
Pustaka
1. Endovaskular Terapi endovaskuler
pada DAVf yaitu lini
pertama, dapat melalui
beberapa macam
metode baik
transarterial, transvena
ataupun kombinasi
menggunakan :
- Embolisasi partikel
- Injeksi glue (n-
buthylcyanoacrylate
atau Ethylenvenyl
Alcohol/ EVOH) melalui
rute vena atau arteri
- Coiling melalui vena
untuk menutup fistula
(packing transvenous)
- Stenting arteri karotis
1A 1,2,3,4
2. Operasi
(pembedahan)
Operasi dilakukan pada
beberapa kasus, seperti
DAVf pada fossa cranii
anterior
1A 1,2,3,4
3. Terapi Radiasi Terapi radiasi dilakukan
dengan cara sterotaktik,
dan biasanya efektif
apabila kombinasi
dengan endovaskular
atau operasi tidak
optimal.
2B 1,2,3,4
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Prognosis dipengaruhi oleh derajat gejala dan derajat disfungsi neurologis
11. Indikator Medis Perbaikan status klinis dan perbaikan gambaran radiologis
Fraktur Vertebra Servikal
ICD 10: S12.2
1. Pengertian (Definisi) Fraktur yang melibatkan satu atau lebih dari tujuh tulang belakang daerah leher, dengan
atau tanpa komplikasi neurologis
2. Anamnesis - Riwayat trauma
- Nyeri leher
- Kelemahan keempat anggota gerak, extremitas inferior dengan gejala UMN, extremitas
superior dengan gejala UMN/LMN tergantung segmen yang terlibat
- Gangguan sensorik
- Gangguan autonom (BAK, BAB)
3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Fisik Umum:
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
- Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airway), B (breathing)
dan C (circulation)
Pemeriksaan Lokalis Tulang Belakang
- Mencari kelainan bentuk susunan tulang belakang (deformitas)
- Mencari nyeri ketuk spinal, spasme/ketegangan otot spinal/paraspinal
Pemeriksaan Neurologis:
- Pemeriksaan fungsi motoris
- Pemeriksaan fungsi Sensoris
- Pemeriksaan fungsi otonom
- Pemeriksaan tanda-tanda radikulopati dan instabilitas tulang belakang
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan radiologis sesuai diatas
5. DiagnosisKerja Fraktur Vertebra Servikal (ICD 10: S12.2)
6. Diagnosis Banding - Sindroma Guillain Barre
- Canal Stenosis degeneratif
- Infeksi spinal
- Neoplasma spinal
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 X-foto Servikal
AP, cross-table
Lateral, dan
open mouth
odontoid
Sensitifitas tinggi untuk evaluasi stabilitas
tulang belakang
1C 1
2 CT scan Servikal Lebih unggul dibandingkan X-foto sebagai
skrining kelainan tulang servikal pada kasus
risiko tinggi cedera servikal:
- KLL kecepatan tinggi
- Jatuh dari ketinggian >3m
1C 2,3
- Cedera kepala dengan adanya
gambaran perdarahan intrakranial
pada CT scan
- Defisit neurologis sesuai dengan
cedera servikal
- Fraktur pelvis atau ekstremitas
multipel
3 MRI Spine - MRI diperlukan bila didapat nyeri
servikal tanpa didapat kelainan pada
pemeriksaan X-foto maupun CT Scan
- MRI secara luas digunakan untuk evaluasi
spinal kord, root, struktur ligamen,
jarungan lunak sekitar diskus
1C 4
8. Terapi
No Terapi Prosedur (ICD 9 CM)
Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 Pembedahan Pembedahan dilakukan pada kompresi spinal
kord yang signifikan dengan deficit
neurologis, terutama yang bersifat progresif,
unstable, atau dislokasi
Teknik pembedahan yang dilakukan:
Laminekomi, Laminotomi, laminoplasti,
foraminotomi (03.09)
Disektomi/corpectomi (80.51)
Fusi dengan bone graft (84.52)
Lateral Mass Screw (84.82)
1C 5
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
1. Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
2. Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugiannya
3. Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
4. Tipe perdarahan yang memberikan hasil pasca operasi paling baik diantara tipe
perdarahan lainnya jika segera dilakukan tindakan evakuasi
5. Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
- Kondisi umum
- Kelainan penyerta
Herniasi Diskus Intervertebra Lumbosakral Dengan Radikulopati
ICD 10: M54.16
1. Pengertian (Definisi) Kelainan degeneratif progresif yang melibatkan perubahan struktur pada diskus
intervertebra daerah lumbal yang menyebabkan penyempitan kanalis
2. Anamnesis - Nyeri pinggang yang menjalar ke tungkai hingga kaki
- Rasa tebal dan parastesi pada tungkai atau kaki
- Kelemahan ekstrimitas inferior disertai dengan gejala LMN
Disfungsi kandung kemih
3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Neurologis:
- Pemeriksaan fungsi motoris
- Pemeriksaan fungsi Sensoris
- Pemeriksaan fungsi otonom
- Pemeriksaan tanda-tanda radikulopati dan instabilitas tulang belakang
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan radiologis sesuai klinis
5. DiagnosisKerja Herniasi Diskus Intervertebra Lumbosakral Dengan Radikulopati (ICD 10: M54.16)
6. Diagnosis Banding - Spinal stenosis
- Sindroma cauda equina
- Amiotropik diabetic
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 X-foto Vertebra
Lumbosacral
Mencari kelainan bentuk susunan tulang
belakang
1B 1
2
CT scan Spine
Lumbosacral
Dilakukan bila terdapat kontraindikasi
penggunaan MRI 1B 1
3 MRI Spine
Gambaran disc buldging atau disc protursi
yang menyebabkan kompresi nerve root /
stenosis pada foramen
1B 1
8. Terapi No Terapi Prosedur (ICD 9 CM) Grad
e
Reko
men
dasi
Ref
1 Pembedahan Laminekomi, Laminotomi, laminoplasti,
foraminotomi (03.09)
Disektomi (80.51)
Fusi Lumbosacral (81.07)
TLIF, PLIF (81.08)
Fusi dengan bone graft (84.52)
Pedicle Screw (84.82)
1C 2;3
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
1. Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
2. Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugiannya
3. Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
4. Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
Faktor ekstrakranial
Herniasi Diskus Intervertebra Servikalis Dengan Radikulopati
ICD 10: M50.10
1. Pengertian (Definisi) Kelainan degeneratif progresif yang melibatkan perubahan struktur pada diskus
intervertebral daerah servikal menyebabkan penyempitan foramen
2. Anamnesis - Nyeri leher, nyeri subscapular, nyeri bahu dan nyeri punggung yang semakin memberat
dan terkadang menjalar ke tangan
- Rasa tebal dan parastesi pada tangan
Kelemahan ekstrimitas superior disertai dengan gejala LMN
3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Neurologis:
- Pemeriksaan fungsi motoris
- Pemeriksaan fungsi Sensoris
- Pemeriksaan fungsi otonom
- Pemeriksaan tanda-tanda radikulopati dan instabilitas tulang belakang
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan radiologis sesuai klinis
5. DiagnosisKerja Herniasi Diskus Intervertebra Servikalis Dengan Radikulopati (ICD 10: M50.10)
6. Diagnosis Banding - Spinal stenosis
- Amyotrophic Lateral Sclerosis
- Amiotropik diabetic
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 X-foto Vertebra
Servikal
Mencari kelainan bentuk susunan tulang
belakang
1C 1
2
CT scan Spine
Lumbosacral
- Gambaran spondilosis
- Bisa disertai dengan gambaran destruksi
tulang belakang
1B 1
3 MRI Spine
Gambaran disc buldging atau disc protursi
yang menyebabkan kompresi nerve root /
stenosis pada foramen
1B 1;2
8. Terapi
No Terapi Prosedur (ICD 9 CM)
Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 Pembedahan Laminekomi, Laminotomi, laminoplasti,
foraminotomi (03.09)
Disektomi (80.51)
Fusidengan bone graft (84.52)
1B 3;4
237
_____________
Lateral Mass Screw (84.82)
ACDF (81.32)
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
1. Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
2. Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugiannya
3. Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
4. Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
- Kondisi umum
- Kelainan penyerta
Neoplasma Jinak Kolumna Vertebralis
ICD 10: C16.6
1. Pengertian (Definisi) Tumor tulang belakang yaitu neoplasma yang terletak di sumsum tulang belakang. Insiden
tumor sumsum tulang belakang primer yaitu 2-4% dari semua tumor system saraf pusat
primer. 1/3 dari keseluruhannya yaitu tumor ekstramedula.
2. Anamnesis Gejala yang paling sering muncul yaitu nyeri sangat yang menyebabkan pasien terbangun
di tengah malam. Pasien sering menggambarkan rasa sakit ini sebagai nyeri yang
menggerogoti dan tak henti-henti.Meskipun manifestasi neurologis mungkin mulai di satu
sisi, pada perkembangannya dapat berkembang pada kedua sisi dan dengan demikian
menghasilkan gejala bilateral.
Tulang belakang yaitu tempat metastasis umum bagi banyak jenis tumor. Riwayat kanker
dapat lebih mengarahkan diagnosis metastasis ke tulang belakang.
3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan fisik menyeluruh termasuk kekuatan motorik, reflex fisiologis, reflex patologis,
sensorik, dan otonom diperlukan untuk menentukan kemungkinan letak tumor.
Keterlibatan komponen saraf dan defisit neurologis sebelum operasi harus diperhitungkan
untuk menentukan prognosa dan derajat neurologis kerusakan.
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan laboratorium: Tumor Marker
4. Pemeriksaan imaging sesuai di atas
5. DiagnosisKerja Neoplasma Jinak Kolumna Vertebralis (ICD 10: C16.6)
6. Diagnosis Banding a. Intramedulla Tumor:
Ependymoma
Astrocytoma
Oligodendroglioma
Mix
Metastase
b. Ekstramedulla Tumor:
Meningioma
Schwannoma
Neurofibroma
c. Ekstra dura Tumor :
Metastase
Chordoma
Lymphoma
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 MRI dengan
kontras
MRI merupakan studi diagnostik terpilih.
Memberikan gambaran spinal kord dan
struktur sekitar dengan sangat baik.
2C 1
8. Terapi No Terapi Prosedur (ICD 9 CM) Grad Ref
e
Reko
mend
asi
1 Pembedahan Reseksi Tumor
Stabilisasi spinal
Pembedahan yang dilakukan:
Biopsi tumor vertebra (03.32)
Eksisi tumor vertebra (03.4)
Laminekomi, Laminotomi, laminoplasti,
foraminotomi (03.09)
Disektomi (80.51)
Fusi Lumbosacral (81.07)
FusiCraniocervical (81.01)
TLIF, PLIF (81.08)
Fusidengan bone graft (84.52)
Pedicle Screw (84.82)
1C
1C
2
2
9. Edukasi Pasien harus memahami bahwa penanganan akan berlangsung jangka panjang (long-term
care) dan memerlukan tindak lanjut multidisiplin yang melibatkan bidang bedah saraf,
rehabilitasi medik, dan urologi
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
- Kondisiumum
- Encase tumor dengan sumsum tulang
Neoplasma Jinak Spinal Kord
ICD 10 : D33.4
1. Pengertian (Definisi) Tumor tulang belakang yaitu neoplasma yang terletak di sumsum tulang belakang. Insiden
tumor sumsum tulang belakang primer yaitu 2-4% dari semua tumor system saraf pusat
primer. 1/3 dari keseluruhannya yaitu tumor ekstramedula.
2. Anamnesis Gejala yang paling sering muncul yaitu nyeri sangat yang menyebabkan pasien terbangun
di tengah malam. Pasien sering menggambarkan rasa sakit ini sebagai nyeri yang
menggerogoti dan tak henti-henti.Meskipun manifestasi neurologis mungkin mulai di satu
sisi, pada perkembangannya dapat berkembang pada kedua sisi dan dengan demikian
menghasilkan gejala bilateral.
Tulang belakang yaitu tempat metastasis umum bagi banyak jenis tumor. Riwayat kanker
dapat lebih mengarahkan diagnosis metastasis ke tulang belakang.
3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan fisik menyeluruh termasuk kekuatan motorik, reflex fisiologis, reflex patologis,
sensorik, dan otonom diperlukan untuk menentukan kemungkinan letak tumor.
Keterlibatan komponen saraf dan defisit neurologis sebelum operasi harus diperhitungkan
untuk menentukan prognosa dan derajat neurologis kerusakan.
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan laboratorium: Tumor Marker
4. Pemeriksaan imaging sesuai di atas
5. DiagnosisKerja NeoplasmaJinak Spinal Cord (ICD 10: D33.4)
6. Diagnosis Banding a. Intramedulla Tumor: - Ependymoma
- Astrocytoma
- Oligodendroglioma
- Mix
- Metastase
b. Ekstramedulla Tumor: - Meningioma
- Schwannoma
- Neurofibroma
c. Ekstra dura Tumor : - Metastase
- Chordoma
- Lymphoma
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 MRI dengan
kontras
MRI merupakan studi diagnostik terpilih.
Memberikan gambaran spinal kord dan
struktur sekitar dengan sangat baik. Hampir
semua tumor intrinsik spinal kord menyangat
dengan kontras gadolinium
1C 1
8. Terapi
No Terapi Prosedur (ICD 9 CM)
Grad
e
Ref
Reko
mend
asi
1 Pembedahan Reseksi Total Tumor
Pembedahan yang dilakukan:
Biopsi tumor vertebra (03.32)
Eksisi tumor vertebra (03.4)
Laminekomi, Laminotomi, laminoplasti,
foraminotomi (03.09)
Disektomi (80.51)
Fusi Lumbosacral (81.07)
Fusi Craniocervical (81.01)
TLIF, PLIF (81.08)
Fusidengan bone graft (84.52)
Pedicle Screw (84.82)
1C
2,3,4,10
2 Radioterapi Radioterapi diberikan tergantung jenis
tumor, pada kasus inoperable, atau subtotal
reseksi
1C 5,6,7,8,9,
11,12
9. Edukasi Pasien harus memahami bahwa penanganan akan berlangsung jangka panjang (long-term
care) dan memerlukan tindak lanjut multidisiplin yang melibatkan bidang bedah saraf,
rehabilitasi medik, dan urologi
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
- Kondisiumum
- Encase tumor dengan sumsum tulang
Neoplasma Malignan Kolumna Vertebralis
ICD 10: C41.2
1. Pengertian (Definisi) Tumor tulang belakang yaitu neoplasma yang terletak di sumsum tulang belakang. Insiden
tumor sumsum tulang belakang primer yaitu 2-4% dari semua tumor sistem saraf pusat
primer. 1/3 dari keseluruhannya yaitu tumor ekstramedula
2. Anamnesis Gejala yang paling sering muncul yaitu nyeri sangat yang menyebabkan pasien terbangun
di tengah malam. Pasien sering menggambarkan rasa sakit ini sebagai nyeri yang
menggerogoti dan tak henti-henti. Meskipun manifestasi neurologis mungkin mulai di satu
sisi, pada perkembangannya dapat berkembang pada kedua sisi dan dengan demikian
menghasilkan gejala bilateral.
Tulang belakang yaitu tempat metastasis umum bagi banyak jenis tumor. Riwayat kanker
dapat lebih mengarahkan diagnosis metastasis ke tulang belakang.
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik menyeluruh termasuk kekuatan motorik, refleks fisiologis, reflex patologis,
sensorik, dan otonom diperlukan untuk menentukan kemungkinan letak tumor.
Keterlibatan komponen saraf dan defisit neurologis sebelum operasi harus diperhitungkan
untuk menentukan prognosa dan derajat neurologis kerusakan.
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan laboratorium: Tumor Marker
4. Pemeriksaan imaging sesuai di atas
5. Diagnosis Kerja Neoplasma Malignan Kolumna Vertebralis (ICD 10 : C41.2)
6. Diagnosis Banding - Abses epidural spinal
- Abses psoas
- Penyakit degeneratif
- HNP
- Tumor metastase
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan
Rekomendasi Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 X-ray
X-ray vertebra servikal/thoraks/lumbosacral
untuk mencari kelainan bentuk susunan
tulang belakang
1B 3
2
Magnetic
resonance
imaging (MRI)
vertebra
merupakan gold standart diagnostik,
memberikan penggambaran yang sangat baik
dari sumsum tulang belakang dan struktur di
sekitarnya
1B 3
8. Terapi
No Terapi
Prosedur (ICD 9 CM) Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 Bedah
Biopsi tumor vertebra (03.32)
Eksisi tumor vertebra (03.4)
Laminekomi, Laminotomi, laminoplasti,
foraminotomi (03.09)
1B 2, 4, 8
Disektomi (80.51)
Fusi Lumbosacral (81.07)
Fusi Craniocervical (81.01)
TLIF, PLIF (81.08)
Fusi dengan bone graft (84.52)
Pedicle Screw (84.82)
2 Radioterapi
Radioterapi postoperasi meningkatkan
kemungkinan hidup pasien dengan
astrositoma infiltratif tetapi tidak pada tumor
pilositik
dosis yang sering digunakan yaitu 45 Gy
dalam fraksi terbagi
IC 6
3 Kemoterapi
kemoterapi memiliki tempat dalam
pengelolaan lesi high grade astrositoma ,
baik dalam mengubah natural history
perkembangan tumor ini atau
berpotensi dsebagai obat utama
1C 7
9. Edukasi Pasien harus memahami bahwa penanganan akan berlangsung jangka panjang (long-term
care) dan memerlukan tindak lanjut multidisiplin yang melibatkan bidang bedah saraf,
rehabilitasi medik, dan urologi.
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad malam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad malam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad malam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
- Kondisi umum
- Kelainan penyerta
Spondilosis Servikalis Dengan Myelopati
ICD 10: M47.12
1. Pengertian (Definisi) Kelainan degeneratif progresif yang melibatkan perubahan struktur pada korpus vertebra
daerah cervikal, diskus intervertebra, osifikasi/ hipertrofi ligament (PLL dan flavum), dan
osteofit yang menyebabkan penyempitan kanalis cervikalis dan menimbulkan sindroma
disfungsi spinal kord
2. Anamnesis - Nyeri leher, nyeri subscapular, nyeri bauh dan nyeri punggung yang semakin memberat
dan terkadang menjalar ke tangan
- Rasa tebal dan parastesi pada tangan
- Kesulitan melakukan gerakan halus
- Gangguan Gait, spastik, dan kadang muncul klonus
- Kelemahan ekstrimitas inferior disertai dengan gejala UMN
- Kelemahan ekstrimitas superior disertai dengan gejala LMN
- Disfungsi kandung kemih, tanda lhermite
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum:
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
- Pemeriksaan fisik pertamakali diutamakan pada evaluasi A (airway), B (breathing)
dan C (circulation)
Pemeriksaan Lokalis Tulang Belakang
- Mencari kelainan bentuk susunan tulang belakang (deformitas)
- Mencari nyeri ketuk spinal, spasme/ketegangan otot spinal/paraspinal
Pemeriksaan Neurologis:
- Pemeriksaan fungsi motoris
- Pemeriksaan fungsi Sensoris
- Pemeriksaan fungsi otonom
- Pemeriksaan tanda-tanda radikulopati dan instabilitas tulang belakang
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan radiologis sesuai diatas
5. Diagnosis Kerja Spondilosis Servikalis Dengan Myelopati (ICD 10: M47.12)
6. Diagnosis Banding - Amyotrophic Lateral Sclerosis
- Sindroma Guillain Barre
- Normal Pressure Hydrocephalus
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan
Rekomendasi Grade
Rekom
endasi
Ref
2 CT scan
CT scan Spine (sesuai lesi)
- Gambaran spondilosis
- Bisa disertai dengan gambaran
destruksi tulang belakang.
1C 1
3
MRI
MRI Spine (sesuai lesi) (1B)
- Gambaran destruksi tulang
(hipointens pada korpus vertebral
disertai hilangnya batas endplate
- Spondilosis
- Bisa disertai gambaran epidural
abses pada MRI dengan kontras
- Sangat baik dalam memvisualisasi
detail intramedular dari kelainan
spinal
san
1B
1,2,3
8. Terapi
No Terapi
Prosedur (ICD 9 CM) Grade
Rekom
endasi
Ref
1 Operasi
Pembedahan diindikasikan pada
1. Munculnya defisit neurologis
2. Adanya kompresi pada kord
3. Perburukan kondisi dengan riwayat
perawatan non operatif sebelumnya
Jenis Pembedahan Yang Dikerjakan:
Laminekomi, Laminotomi,
laminoplasti, foraminotomi (03.09)
Disektomi (80.51)
Fusi dengan bone graft (84.52)
Lateral Mass Screw (84.82)
IC 4,5,6
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
1. Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
2. Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugiannya
3. Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
4. Tipe perdarahan yang memberikan hasil pasca operasi paling baik diantara tipe
perdarahan lainnya jika segera dilakukan tindakan evakuasi
5. Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
- Kondisi umum
- Kelainan penyerta
Spondilosis Lumbosakral Dengan Radikulopati
ICD 10: M47.27
1. Pengertian (Definisi) Kelainan degeneratif progresif yang melibatkan perubahan struktur pada diskus
intervertebra daerah lumbal yang menyebabkan penyempitan kanalis
2. Anamnesis - Nyeri pinggang yang menjalar ke tungkai hingga kaki
- Rasa tebal dan parastesi pada tungkai atau kaki
- Kelemahan ekstrimitas inferior disertai dengan gejala LMN
- Disfungsi kandung kemih
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Lokalis Tulang Belakang
- Mencari kelainan bentuk susunan tulang belakang (deformitas)
- Mencari nyeri ketuk spinal, spasme/ketegangan otot spinal/paraspinal
Pemeriksaan Neurologis:
- Pemeriksaan fungsi motoris
- Pemeriksaan fungsi Sensoris
- Pemeriksaan fungsi otonom
- Pemeriksaan tanda-tanda radikulopati dan instabilitas tulang belakang
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan radiologis sesuai diatas
5. Diagnosis Kerja Spondilosis Lumbosakral Dengan Radikulopati (ICD 10: M47.27)
6. Diagnosis Banding - Spinal stenosis
- Sindroma cauda equina
- Amiotropik diabetic
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan
Rekomendasi Grade
Rekomen
dasi
Ref
1 MRI
MRI Spine (sesuai lesi) (1B)
Gambaran disc buldging atau disc
protursi yang menyebabkan kompresi
nerve root / stenosis pada foramen
1B 1,2,3,4
2 CT scan
CT scan Spine (sesuai lesi)
- Gambaran spondilosis
- Bisa disertai dengan gambaran
destruksi tulang belakang.
- Namun tidak bisa
memvisualisasi cabang-cabang
spinal dan penjalarannya
1C 1,5,6
3
CT
Myelography
CT Myelography
- Dapat memvisualisasi cabang-
cabang spinal dan perjalarannya
melalui foramen
- Bisa disertai dengan gambaran
destruksi tulang belakang.
1B
1,5,6
8. Terapi No Terapi Prosedur (ICD 9 CM) Grad Ref
e
Reko
mend
asi
1 Operasi
Pembedahan diindikasikan pada
4. Munculnya radikulopati akut disertai
defisit neurologis
5. Munculnya radikulopati akut disertai
retensi urin, anestesia sadle, dan
defisit neurologis bilateral
6. Curiga suatu neoplasma
7. Curiga suatu epidural abses
8. Perburukan kondisi dengan riwayat
perawatan non operatif sebelumnya
Jenis Pembedahan yang dilakukan:
Laminekomi, Laminotomi,
laminoplasti, foraminotomi (03.09)
Disektomi (80.51)
Fusi Lumbosacral (81.07)
TLIF, PLIF (81.08)
Fusi dengan bone graft (84.52)
Pedicle Screw (84.82)
IC 7
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
1. Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
2. Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugiannya
3. Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
4. Tipe perdarahan yang memberikan hasil pasca operasi paling baik diantara tipe
perdarahan lainnya jika segera dilakukan tindakan evakuasi
5. Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
- Kondisi umum
- Kelainan penyerta
SpondilitisTB
ICD 10:M49.0
1. Pengertian (Definisi) Infeksi pada satu atau lebih korpus vertebra/diskus akibat kuman tuberculosis
2. Anamnesis Identitas pasien: Nama, Umur, Jenis Kelamin, Suku, Agama, Pekerjaan, Alamat
- Nyeri leher, nyeri punggungatau nyeri pinggang yang semakin memberat
- didapat gangguan neurologis yang semakin memberat (kelemahan motorik, defisit
sensoris, radikulopati, gangguan otonom dll.)
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum:
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
- Pemeriksaan fisik pertamakali diutamakan pada evaluasi A (airway), B (breathing)
dan C (circulation)
Pemeriksaan Lokalis Tulang Belakang
- Mencari kelainan bentuk susunan tulang belakang (deformitas)
- Mencari nyeri ketuk spinal, spasme/ketegangan otot spinal/paraspinal
Pemeriksaan Neurologis:
- Pemeriksaan fungsi motoris
- Pemeriksaan fungsi Sensoris
- Pemeriksaan fungsi otonom
- Pemeriksaan tanda-tanda radikulopati dan instabilitas tulang belakang
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan radiologis sesuai klinis
4. Pemeriksaan mikrobiologis sesuai diatas
5. Diagnosis Kerja Spondilosis TB (ICD 10: M49.0)
6. Diagnosis Banding - Abses epidural spinal
- Abses psoas
- Penyakit degeneratif
- HNP
- Tumor metastase
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan
Rekomendasi Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1
X-ray vertebra
servikal/thoraks/
lumbosacral
X-ray untuk mencari kelainan bentuk susunan
tulang belakang 1C 1,3
2 CT scan
CT scan Spine (sesuai lesi)
- Gambaran spondilosis
- Bisa disertai dengan gambaran
destruksi tulang belakang,
resolusijaringan yang tinggi.
1C 1,3
MRI
MRI Spine (sesuai lesi)
- Gambaran destruksi tulang
(hipointens pada korpus vertebral
disertai hilangnya batas endplate
- Spondilosis
- Bisa disertai gambaran epidural abses
pada MRI dengan
kontras
1B
1,3
8. Terapi
No Terapi
Prosedur (ICD 9 CM) Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1 Antibiotik Pemberian antibiotik sesuai hasil kultur 1B 1,2,4
2 Operasi
debridement (86.2)
Laminekomi, Laminotomi,
laminoplasti, foraminotomi (03.09)
Disektomi (80.51)
Fusi Lumbosacral (81.07)
Fusi Craniocervical (81.01)
TLIF, PLIF (81.08)
Fusi dengan bone graft (84.52)
Pedicle Screw, Lateral mass screw
(84.82)
IC 1,2,4,6
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
1. Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
2. Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugiannya
3. Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang terganggu,
melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
- Kondisi umum
- Kelainan penyerta
Spondilosis Lumbosakral Dengan Mielopati
ICD 10: M47.16
1. Pengertian (Definisi) Kelainan degeneratif progresif yang melibatkan perubahan struktur pada diskus
intervertebra daerah lumbal yang menyebabkan penyempitan kanalis
2. Anamnesis - Nyeri pinggang yang menjalar ke tungkai hingga kaki
- Rasa tebal dan parastesi pada tungkai atau kaki
- Kelemahan ekstrimitas inferior disertai dengan gejala LMN
- Disfungsi kandung kemih
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Lokalis Tulang Belakang
- Mencari kelainan bentuk susunan tulang belakang (deformitas)
- Mencari nyeri ketuk spinal, spasme/ketegangan otot spinal/paraspinal
Pemeriksaan Neurologis:
- Pemeriksaan fungsi motoris
- Pemeriksaan fungsi Sensoris
- Pemeriksaan fungsi otonom
- Pemeriksaan tanda-tanda radikulopati dan instabilitas tulang belakang
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan radiologis sesuai diatas
5. Diagnosis Spondilosis Lumbosakral Dengan Mielopati(ICD 10: M47.16)
6. Diagnosis Banding - Spinal stenosis
- Sindroma cauda equina
- Amiotropik diabetic
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan
Rekomendasi Grad
e
Reko
mend
asi
Ref
1
X-ray vertebra
servikal/thoraks/
lumbosacral
X-ray untuk mencari kelainan bentuk susunan
tulang belakang 1C 1,2,3,10
2 CT scan - Gambaran spondilosis 1B 1,4,5, 10
3
MRI
- Gambaran disc buldging atau disc
protursi yang menyebabkan kompresi
nerve root / stenosis pada foramen
1B
4, 6, 10
8. Terapi
No Terapi
Prosedur (ICD 9 CM) Grad
e
Reko
Ref
mend
asi
1 Pembedahan
Laminekomi, Laminotomi, laminoplasti,
foraminotomi (03.09)
Disektomi (80.51)
Fusi Lumbosacral (81.07)
TLIF, PLIF (81.08)
Fusi dengan bone graft (84.52)
Pedicle Screw (84.82)
1C
10, 11,
12, 13,
14
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
1. Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
2. Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugiannya
3. Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
4. Tipe perdarahan yang memberikan hasil pasca operasi paling baik diantara tipe
perdarahan lainnya jika segera dilakukan tindakan evakuasi.
5. Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis dipengaruhi:
- Usia
- Status Neurologis awal
- Kondisi umum
- Kelainan penyerta
CARPAL TUNNEL SYNDROME
G56.0
1. Pengertian
(Definisi)
Carpal tunnel syndrome yaitu suatu kompleks gejala dan tanda yang diakibatkan oleh
jepitan dari saraf medianus yang berjalan melewati carpal tunnel
2. Anamnesis didapat nyeri pada telapak tangan yang dipersarafi oleh saraf medianus
didapat rasa tebal pada telapak tangan yang dipersarafi saraf medianus
didapat rasa tingling (seperti tersengat listrik)
Biasanya bertambah parah pada malam hari
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain dari trigeminal neuralgia
PemeriksaanNeurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Pemeriksaan seluruh saraf kranialis yang dititikberatkan pada saraf kranial kelima
(trigeminal) meliputi:
Sensorik: pemeriksaan sensasi (nyeri – raba – tekan/pressure – suhu) pada
masing-masing distribusi cabang saraf di tangan (nervus medinus, ulnaris,
radialis) dan lengan
Motorik: pemeriksaan meliputi kekuatan, tonus, trofi. Pada CTS akan didapat
atrofi otot thenar
Tes Phalen: pasien diminta untuk gerakan fleksi telapak tangan dengan siku full
ekstensi untuk memberikan regangan penuh pada nervus medianus. Dikatakan
POSITIF apabila dapatkan nyeri atau paresthesia setelah 1 menit fleksi telapak tangan.
Tes Tinel: pemeriksa melakukan perkusi pada daerah proksimal atau tepat di atas
carpal tunnel. Dikatakan POSITIF apabila didapat nyeri atau parestesi dari telapak
tangan
4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas
2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
3. Pemeriksaan penunjang untuk mengkonfirmasi lokasi kelainan
5. DiagnosisKerja Carpal Tunnel Syndrome (G56.0)
6. Diagnosis Banding - Cervical radiculopathy
- Cervical spondylotic myelopathy
- Cervical polyradiculopathy
- Brachial plexopathy
- Median neuropathy
- Motor neuron disease (ALS)
- Fibromyalgia
- Ny
eri ligamentum
- Kompartemen syndrome
7. Pemeriksaan
Penunjang
- Nerve conduction test (NCS) (Grade 2A)
- Electromyography (EMG) (Grade 2)
- MRI carpal tunnel (Grade 3)
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1
Nerve
Conduction
Test (NCS)
NCS akan memberikan hasil adanya
cedera atau gangguan konduksi pada
saraf medianus
2A 1,2
2
Electromyogra
phy (EMG)
EMG tidak wajib dilakukan pada
pasien dengan CTS yang memiliki
gejala khas. EMG berguna untuk
eksklusi penyakit lain, misalnya
cervical radiculopathy,plexopathy,
dan lain-lain
2A 1,2
3
Magnetic
Resonance
Imaging (MRI)
MRI bukan merupakan pemeriksaan
rutin. MRI dilakukan bilamana pasien
mengalami deformitas terutama
struktur anatomi jaringan lunak di
sekitar carpal tunnel
2A 1,2
8. Terapi Operatif: (1B)
Carpal tunnel release dengan teknik:
- Open technique (04.43)
dengan menggunakan insisi pada carpal tunnel. Dapat berupa insisi standar
atau small palmar incision
- Endoscopic technique:
dengan menggunakan endoskopi dapat berupa one portal approach atau two
portal approach
No Terapi Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1 Operatif
Carpal tunnel release dengan teknik:
- Open technique (04.43)
dengan menggunakan insisi pada
carpal tunnel. Dapat berupa insisi
standar atau small palmar incision
- Endoscopic technique:
dengan menggunakan endoskopi
dapat berupa one portal
approach atau two portal
approach
1B 5,6,7,8
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Re-open CTS release dapatterjadipada 49% pasien. Tingkat keberhasilan (pain-free)
antara 73-90%.
EPILEPSI
G40
1. Pengertian
(Definisi)
Epilepsi yaitu serangkaian gejala neurologis yang ditandai dengan serangan epileptik
yaitu episode kejang berulang yang tidak dipicu oleh sebab langsung (Intermediate
cause).
2. Anamnesis didapat riwayat serangan kejang epileptik
Semiologi kejang meliputi:
aura kejang,
tipe kejang (absans, fokal, general, focal secondary general),
onset kejang,
durasi kejang,
frekuensi kejang,
gejala post-ictal.
Dapat didapat riwayat keluarga dengan epilepsi, riwayat trauma, riwayat kejang
demam.
Kejang dapat dipicu (seizure precipitants): kondisi emosional, latihan/aktivitas berat,
suara keras, cahaya/sinar yang menyilaukan
3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain dari epilepsi.
Pada saat kejang, pasien harus diperiksa dan ditatalaksana sesuai prinsip gawat darurat
yaitu: amankan Airway, Breathing, Circulation
PemeriksaanNeurologis
Tingkat kesadaranGlasgow Coma Scale (GCS)
Pemeriksaan saraf kranial satu sampai dua belas
Pemeriksaan motoric menyeluruh
Pemeriksaan sensorik menyeluruh
Pemeriksaan reflex fisiologis
Pemeriksaan reflex patologis
4. Kriteria Diagnosis 4. Anamnesis sesuai diatas
5. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
6. Pemeriksaan penunjang untuk mengkonfirmasi penyebab kejang
5. Diagnosis Kerja Epilepsi (G40)
6. Diagnosis Banding - Kejang demam (febrile convulsion)
- Non-epileptic convulsion
7. Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium (Grade 1B): untuk mengkonfirmasi penyebab metabolik:
- Hematologi rutin
- Serum elektrolit (Natrium, Kalium)
- Kalsium dan Magnesum
- Glukosa darah
- Fungsi Ginjal
- Fungsi hepar
- Screening toksikologi
Pemeriksaan Elektroensefalografi/EEG (Grade 1A)
Merupakan pemeriksaan utama pada pasien epilepsi:
- EEG Rutin/ interiktal
- EEG Longterm Intrakranial
MRI Kepala (Grade 1B)
Pada epilepsy dapat ditemukan abnormalitas struktur berupa:
- Abnormalitas mesial temporal, berupa Mesial temporal sclerosis, hipocampal
sclerosis, vascular lesion
- Abnormalitas struktur korteks (cortical dysplasia)
Pemeriksaan MRI dapat juga menyingkirkan penyebab lain dari kejangnya itu adanya
massa yang mengakibatkan lesi desak ruang (space occupying lesion)
Apabila didapat lesi struktur yang meragukan, dapat dilanjutkan pemeriksaan (Grade
2B):
- PET / FDG-PET
- SPECT
- MEG
8. Terapi Non Operatif: (Grade 1A)
Pasien epilepsi yang baru saja didiagnosis diberikan manajemen non-operatif
berupa:
1. Medikamentosa
Obat anti-epilepsi dapat digunakan disesuaikan dengan gambaran klinis kejang
dari pasien
Epilepsi dengan kejang fokal
- Iamtorigine
- Oxcarbazepine
- Carbamazepine
- Gabapentin
- Topimirat
Epilepsi dengan kejang general
- Valproat
- Iamotrigine
- Topiramate
- Fenitoin
2. Konseling
Pasien epilepsi harus mendapatkan konseling yang berkaitan dengan kualitas
hidup dan keselamatan diri, meliputi: ijin berkendara, asuransi jiwa, dan
konseling psikososial yang terkait
Operatif: (Grade 1B)
Pasien dengan epilepsy dapat ditatalaksana dengan manajemen operatif
dengan kandidat tertentu yaitu pasien dengan:
o Mesial Temporal Epilepsi (MTE)
Konfirmasi MTE yaitu dengan pemeriksaan menyeluruh hingga EEG dan MRI
yang membuktikan adanya focus epileptogenic pada amygdala dan
hippocampus
o Lesional Epilepsy
Pasien dengan struktur patologi yang jelas mengakibatkan kejang misalnya
ditemukan tumor low grade glioma, cavernous malformation, malformation
cortical development,
o Focal epilepsy dengan riwayat drug-resistant
Harus diketahui focus epileptogenic dengan EEG Longterm intracranial dan
MRI
Tindakan operatif (terutama pada MTE) didahului dengan prosedur WADA test
(intracarotid amobarbital test) yaitu injeksi amobarbital intrakarotis untuk
mengetahui lokasi dominasi hemisfer untuk fungsi bahasa dan memori.
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk memprediksi outcome postoperasi
Teknik operasi epilepsi dapat berupa:
- Anterior temporal lobectomy (01.53)
- Selective amygadalohippocampectomy (01.53)
- Focal cortical resective surgery (01.5)
- Lesionectomy (01.5)
- Radiosurgery (Gamma-knife) (01.59)
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Prognosis operasi MTE sangat baik dengan tingkat mortalitas 0% dan morbiditas 10.8%.
Komplikasi pembedahan dapat berupa gangguan kognitif dan gangguan lapangan
pandang.
GLOSOFARINGEAL NEURALGIA
G52.1
1. Pengertian
(Definisi)
Glossopharyngeal neuralgia yaitu nyeri paroksismal yang terdistribusi sesuai saraf
kranial kesembilan (glosofaring) dan sepuluh (vagus)
2. Anamnesis Lokasi nyeri: telinga, fossa tonsilar, dasar lidah, sudut rahang
Nyeri bersifat khas yaitu paroksismal, berat, seperti ditusuk-tusuk atau seperti
tersengat listrik, berulang (episodik)
Seringkali unilateral, dapat terjadi bilateral (12%)
Nyeri dapat dipicu oleh gerakan mengunyah, menelan, batuk, bicara, menguap,
sentuhan pada telinga,
3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain dari glosofaringeal
neuralgia
Pemeriksaan Neurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Pemeriksaan seluruh saraf kranialis yang dititikberatkan pada saraf kranial
kesembilan (glosofaring) dan sepuluh (vagus) meliputi:
Sensorik: pemeriksaan sensasi (nyeri – raba – tekan/pressure – suhu) pada
masing-masing distribusi cabang saraf kranial Sembilan dan sepuluh (lokasi
seperti pada anamnesis). Pemeriksaan dilakukan pada masing-masing distribusi
cabang saraf dan dibandingkan kanan dan kiri.
Motorik: pemeriksaan motoric saraf Sembilan sepuluh dengan cara pasien
diminta untuk menelan, dan batuk. Diperiksa juga apakah pemeriksaan ini
memicu nyeri glosofaringeal atau tidak.
4. Kriteria Diagnosis 7. Anamnesis sesuai diatas
8. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
9. Pemeriksaan penunjang untuk mengkonfirmasi lokasi kelainan
5. DiagnosisKerja Glosofaringeal Neuralgia (G52.1)
6. Diagnosis Banding - Penyakit local pada faring
- Osifikasi ligament stilohyoid
- Multiple sclerosis
- Tumor pada saraf glosofaring dan vagus atau sekitar saraf ini
7. Pemeriksaan
Penunjang
MRI Kepala + MRA (Grade 1B)
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1
MRI Kepala +
MRA
- Sensitivitas mencapai 95%, dengan
spesifisitas 86%
- Ditemukan adanya neuro-vascular
contact antara saraf glosofaring dan
vagus pada root entry zone dengan
struktur pembuluh darah (biasanya
arteri posterior inferior serebelaris)
- MRI dan MRA disertai dengan
1B 1,2,3,4
sekuens FIESTA untuk mengetahui
arah dan lokasi neuro-vascular
contact
8. Terapi
No Terapi Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1 Operatif
- Microvascular Decompression
(04.42)
Yaitu suatu tindakan pembedahan
kraniotomi yang memisahkan
(dekompresi) struktur pembuluh
darah yang menempel pada root
entry zone saraf glosofaringeal
1B 1,2,3,4
2 Non Operatif
Pada glosofaringeal neuralgia dapat
diberikan medika mentosa yaitu:
- Carbamazepine
- Oxcarbazepine
- Baclofen
- Lamotrigine
- Topical lidocaine.
1b 1,2,3,4
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Pembedahan Microvascular Decompression memiliki tingkat keberhasilan 95% bebas
nyeri. Komplikasi dapat berupa paresis saraf glosofaringeal (8%).
HEMIFACIAL SPASM
G51.3
1. Pengertian
(Definisi)
Hemifacial spasm yaitu gerakan sinkron yang tidak disadari (involunter) pada salah satu
sisi dari wajah.
2. Anamnesis Gerakan tidak disadari pada salah satu sisi wajah
Lokasi : salah satu sisi wajah, biasanya bermula dari otot sekitar kelopak mata (otot
orbicularis okuli, berkedip-kedip)
Spasme bersifat singkat, klonik ireguler, bias bersifat tonik
Seringkali unilateral, dapat terjadi bilateral (5%),
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain dari glosofaringeal
neuralgia
Pemeriksaan Neurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Pemeriksaan seluruh saraf kranialis yang dititikberatkan pada saraf kranial
ketujuh (nervus facialis) meliputi:
Motorik: pemeriksaan motoric saraf tujuh dengan cara pasien diminta untuk
menutup kelopak mata, mengernyitkan dahi, mengangkat alis, tersenyum
memperlihatkan gigi, menggembungkan pipi dan bersiul. Kemudian dibandingkan
kanan dan kiri.
Sensorik diperiksa sesuai indikasi, ada atau tidak kelainan pada pengecapan lidah
duapertiga anterior.
4. Kriteria Diagnosis 10. Anamnesis sesuai diatas
11. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
12. Pemeriksaan penunjang untuk mengkonfirmasi lokasi kelainan
5. DiagnosisKerja Hemifacial Spasm (G51.3)
6. Diagnosis Banding - Blefarospasme
- Meige syndrome
- Tumor pada nervus kranial tujuh atau sekitar nervus ini
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1
MRI Kepala +
MRA
- Ditemukan adanya neuro-vascular
contact antara saraf facial pada root
exiting zone dengan struktur
pembuluh darah (biasanya arteri
anterior inferior serebelaris, 88-
93%)
MRI dan MRA disertai dengan sekuens
FIESTA untuk mengetahui arah dan
lokasi neuro-vascular contact
1B 1,2,3,4
8. Terapi
No Terapi Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1 Operatif
Microvascular Decompression
(04.42)
Yaitu suatu tindakan pembedahan
kraniotomi yang memisahkan
(dekompresi) struktur pembuluh
darah yang menempel pad aroot
exiting zone saraf fasial
1B 1,2,3,4
2 Non Operatif
Pada hemifacial spasm dapat
diberikan medikamentosa yaitu
injeksi Botulinum toxin.
2C 4
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
PARKINSON
G20
1. Pengertian
(Definisi)
Penyakit parkinson yaitu suatu penyakit neuro degeneratif progresif yang
bermanifestasi terutama pada gangguan motorik
2. Anamnesis Terdapat tanda cardinal yaitu:
1. Tremor
Tremor pada penyakit Parkinson yaitu tremor at rest (tremor pada saat tidak
aktivitas). Tremor biasanya terjadi secara intermiten, lokasi tremor termasuk kaki,
bibir, rahang, lidah, dan jarang melibatkan kepala.
2. Bradykinesia
yaitu kelambatan gerakan secara umum. Tanda yang sering muncul yaitu
menyeret kaki, langkah yang pendek, kesulitan berdiri dari kursi.
3. Rigidity
yaitu peningkatan tahanan pada gerakan pasif, terjadi pada 90% pasien parkinson.
Dapat terjadi cogwheel rigidity.
4.Postural instability
Adanya gangguan refleks postural-sentral yang menyebabkan perasaan
ketidakseimbangan yang menyebabkan kecenderungan untuk jatuh
Dapat juga ditemukan gejala lain yaitu
- Gangguan penglihatan
- Myoclonus
- Short-stepped gait, festinating gait
- Disfungsi kognitif dan demensia
- Psikosis dan halusinasi
- Gangguan tidur
- Disfungsi otonom
- Gangguan mood: depresi, kecemasan,
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain dari gejala parkinson
Pemeriksaan Neurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Pemeriksaan motoric meliputi: kekuatan motorik, tonus, trofi, dan refleks.
Diperiksa juga tipe dari rigiditas apabila ditemukan harus diperhatikan tremor
dari pasien.
Pemeriksaan sensorik sesuai dengan gejala dan indikasi
Pemeriksaan inspeksi dari gait (didapat short-stepped atau festinating gait)
4. Kriteria Diagnosis Diagnosis Penyakit Parkinson Parkinson Disease(PD) secara klinis :
1. Tidak boleh ada kriteria eksklusi absolut
2. Minimal ada DUA kriteria penunjang
3. Tidak ada red flags
Diagnosis mungkin (probable) Parkinson :
1 Tidak boleh ada kriteria eksklusi absolut
2 Ada red flags yang diimbangi oleh kriteria penunjang
3 Apabila ada SATU redflag, harus ada minimal SATU kriteria penunjang
4 Apabila ada DUA redflags, harus ada minimal DUA kriteria penunjang
5 Tidak boleh ada lebih dari DUA red flags
Kriteria Penunjang
1. Adanya bukti nyata dan jelas bahwa terapi dopamine memberikan respon.
Selama terapi awal, fungsi klinis pasien kembali normal atau mendekati normal.
Apabila tidak ada dokumentasi yang jelas mengenai respon terapi awal ini, maka
respon yang nyata dapat diklasifikasikan sebagai:
a. Adanya perbaikan yang nyata apabila dosis dinaikkan atau perburukan apabila
dosis diturunkan. Perubahan ringan tidak dimasukkan. Dokumentasi bias secara
objektif (perubahan>30% dengan pemeriksaan UPDRS III) atau subjektif
(pencatatan yang jelas oleh pasien atau perawat pasien yang dipercaya)
b. Fluktuasi fenomena “ON/OFF” yang jelas dan nyata, harus ada prediksi end-of-
dose wearing off
2. Adanya diskinesia yang dipengaruhi levodopa (levodopa-induced dyskinesia)
3. Tremor at rest dari ekstremitas, yang terdokumentasi pada pemeriksaan fisik
(baik riwayat pemeriksaan fisik dahulu atau yang sekarang)
4.Hilangnya sensasi penghidu atau denervasi simpatis pada jantung pada MIBG
scintigraphy
Kriteria Eksklusi Absolut : Adanya gejala atau tanda berikut maka BUKAN
merupakan penyakit Parkinson
1.Abnormalitas serebelum yang tegas seperti cerebellar gait, limb ataxia, atau
cerebellar oculomotor abnormalities (eg, nystagmus yang berkelanjutan, macro
square wave jerks, hypermetric saccades)
2. Downward vertical supranuclear gaze palsy, atau selective slowing of
downward vertical saccades
3. Diagnosis kemungkinan demensia frontotemporal behavioral, atau primary
progressive aphasia, berdasarkan dari kriteria diagnosis penyakit ini selama
5 tahun.
4. Gejala Parkinson hanya pada ekstremitas inferior pada tiga tahun terakhir.
5. Terapi dengan obat dopamine receptor blocker atau dopamine-depleting agent
pada waktu dan dosis tertentu yang konsisten dengan drug-induced parkinsonism
6. Tidak adanya respon terhadap levodopa high-dose meskipun tingkat
keparahannya rendah.
7. Kehilangan sensasi sensorik kortikal yang jelas (graphesthesia, stereognosis
dengan sensorik primer yang intak), apraksia ideomotor ekstremitas yang jelas,
atau afasia yang progresif
8. Pencitraan (neuroimaging) normal pada system dopaminergic presinaptik.
9. Adanya dokumentasi pada kondisi alternatif yang diketahui menyebabkan
Parkinson dan secara masuk akal terkait dengan gejala dari pasien, atau dokter
yang memeriksa pasien ini , berdasarkan modalitas diagnostik, merasa
bahwa diagnosis alternative lebih mungkin daripada penyakit parkinson.
Red flags
1. Progresivitas yang cepat dari kelainan berjalan (gait impairment) yang
membutuhkan kursi roda pada 5 tahun setelah onset.
2. Tidak adanya progresivitas gejala motoric setelah lebih dari 5 tahun, kecuali
ada pengaruh dari obat.
3. Early bulbar dysfunction: Disfonia dan Disartria berat (bicara tidak bias
dimengerti) or Disfagia berat (membutuhkan makanan halus, NG tube, atau
gastrostomy feeding) dalam 5 tahun
4. Disfungsi inspirasi-ekspirasi: dapat diurnal atau nokturnal stridor atau sighs
5. Kegagalan fungsi otonom berat dalam 5 tahun terakhir. Termasuk:
a. Hipertensi ortostatik-Penurunan tekanan darah secara ortostatik dalam tiga
menit setelah berdiri, minimal 30 mmHg sistolik atau 15 mmHg diastolik, tanpa
adanya dehidrasi, obat-obatan, atau penyakit lain yang mempengaruhi
b. Retensi dan inkontinensi urine yang berat dalam 5 tahun (tidak termasuk stress
inkontinensia pada wanita), yang bukan merupakan inkontinensia fungsional
sederhana. Pada pria, retensi urine tidak boleh berkaitan dengan penyakit prostat
dan disfungsi ereksi
6. Jatuh berulang (> 1 kali per tahun) karena gangguan keseimbangan dalam 3
tahun setelah onset.
7. Disproportionate anterocollis (distonia) atau kontraktur dari tangan atau kaki
dalam 10 tahun pertama
8. Tidak adanya gejala penyakit non-motorik dalam durasi 5 tahun. Termasuk di
dalamnya gangguan fungsi tidur sleep (sleep-maintenance insomnia, excessive
daytime somnolence, gejala REM sleep behavior disorder), gangguan fungsi
otonom(konstipasi, urgensi urine siang hari, ortostatik simtomatik), hiposmia,
atau gangguan fungsi psikiatrik (depresi, kecemasan, atau halusinasi)
9. Gejala traktus ekstrapiramidal lain yang tidak bias dijelaskan, yaitu kelemahan
pyramidal atau hiperefleksia patologis yang jelas (tidak termasuk asimetri reflex
ringan, and respons extensor plantar isolated)
10. Parkinsonisme simetris bilateral. Pasien atau perawat pasien melaporkan
gejala bilateral dimana tidak ada kecenderungan pada satu sisi, dan tidak ada
dokumentasi predominasi salah satu sisi.
5. DiagnosisKerja Parkinson (G20)
6. Diagnosis Banding - Essential tremor
- Dementia dengan Lewi bodies
- Degenerasi kortikobasal
- Parkinsonisme sekunder
7. Pemeriksaan MRI Kepala + advanced MRI (Grade 2B)
Penunjang PET Scan (Grade 3)
Pemeriksaan olfaktori
Pemeriksaan otonomik
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1
MRI Kepala +
advanced MRI
Pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan,
hanya apabila kecurigaan terhadap
kelainan structural atau persiapan
pre-operasi
2B 1,2,3,4
2 PET Scan
Pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan,
hanya konfirmasi atau menyingkirkan
diagnosis banding
3 1,2,3,4
8. Terapi
No Terapi Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1 Operatif
Deep Brain Stimulation (02.93)
Thalamotomy dan Pallidotomy
(01.41 + 01.42)
Subthalamotomy
GDNF infusion (99.75)
1B 1,2,3,4
2 Non Operatif
Manajemen non-operatif Parkinson
meliputi
- Medikamentosa
-Levodopa
-MAO B Inhibitor
-Rasagiline
-Selegiline
-Bromocriptine
- Edukasi
Edukasi terutama ditujukan pada
keluarga pasien dimana pasien
ini tinggal. Pasien Parkinson
membutuhkan perawatan ekstra
dan penghindaran terhadap
aktivitas yang membahayakan.
- Fisioterapi
- Terapi wicara
- Nutrisi
1B 1,2,3,4
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad malam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad malam
TRIGEMINAL NEURALGIA
G50.0
1. Pengertian
(Definisi)
Trigeminal neuralgia yaitu nyeri yang terdistribusi sesuai saraf kranial kelima
(trigeminal) yang dipicu oleh adanya kontak sarar-pembuluh darah (neuro-vascular
contact) pada root entry zone.
2. Anamnesis didapat nyeri pada separuh atau seluruh wajah, sesuai dengan distribusi saraf dari
salah satu atau seluruh cabang saraf kranial kelima (trigeminal).
Nyeri bersifat khas yaitu tiba-tiba, seperti ditusuk-tusuk atau seperti tersengat listrik,
berulang (episodik)
Dapat disertai dengan penurunan sensasi (hipestesi)
Nyeri dapat dipicu oleh gerakan senyum, perubahan temperatur (minum air dingin,
terkena angin dingin), gerakan mengunyah, menyikat gigi
3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain dari trigeminal neuralgia
Pemeriksaan Neurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Pemeriksaan seluruh saraf kranialis yang dititikberatkan pada saraf kranial kelima
(trigeminal) meliputi:
Sensorik: pemeriksaan sensasi (nyeri – raba – tekan/pressure – suhu) pada
masing-masing distribusi cabang saraf kranial kelima (ophtalmic, maxillaris,
mandibularis). Pemeriksaan dilakukan pada masing-masing distribusi cabang
saraf trigeminal dan dibandingkan kanan dan kiri.
Motorik: pemeriksaan motoric saraf trigeminal dengan cara tes otot mastikasi
(pengunyah), pasien diminta untuk menggigit, kemudian dicek tonus dari otot
temporalis dan otot masseter, kemudian dibandingkan kanan dan kiri. Diperiksa
juga apakah pemeriksaan ini memicu nyeri trigeminal atau tidak.
4. Kriteria Diagnosis 13. Anamnesis sesuai diatas
14. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
15. Pemeriksaan penunjang untuk mengkonfirmasi lokasi kelainan
5. DiagnosisKerja Trigeminal Neuralgia (G50.0)
6. Diagnosis Banding - Post-herpetic trigeminal neuropathy/neuralgia
- Trauma saraf trigeminal
- Multiple sclerosis
- Tumor padasaraf trigeminal atau sekitar saraf trigeminal
7. Pemeriksaan
Penunjang
MRI Kepala + MRA (Grade 1B)
-
No Pemeriksaan Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1
MRI Kepala +
MRA
- Sensitivitas mencapai 95%, dengan
spesifisitas 86%
- Ditemukan adanya neuro-vascular
contact antara saraf trigeminal pada
1B 1,2,3,4,5
root entry zone dengan struktur
pembuluh darah (biasanya arteri
serebelaris superior)
MRI dan MRA disertai dengan
sekuens FIESTA untuk mengetahui
arah da nlokasi neuro-vascular
contact
8. Terapi Operatif: (1B)
Microvascular Decompression (04.41)
Yaitu suatu tindakan pembedahan kraniotomi yang memisahkan (dekompresi)
struktur pembuluh darah yang menempel pada root entry zone saraf trigeminal
Rhizotomy (03.1)
Yaitu suatu tindakan pembedahan dengan cara membuat lesi pada ganglion
trigeminal melalui foramen ovale dengan salah satu modalitas berikut:
radiofrequency thermocoagulation, mechanical balloon compression, chemical
(glycerol) rhizolysis.
Peripheral neuroectomy (03.1)
Yaitu suatu tindakan memotong cabang dari saraf trigeminal (nervus
supraorbita, infraorbita, alveolar, dan lingual) dengan salah satu modalitas
berikut: insisi, injeksi alkohol, radiofrekuensi, atau cryotherapy.
Non Operatif: (1B)
Pada trigeminal neuralgia dapat diberikan medika mentosa yaitu:
- Carbamazepine
- Oxcarbazepine
- Baclofen
- Lamotrigine
- Topical lidocaine.
No Terapi Rekomendasi
Grade
Rekomend
asi
Ref
1 Operatif
Microvascular Decompression
(04.41)
Yaitu suatu tindakan pembedahan
kraniotomi yang memisahkan
(dekompresi) struktur pembuluh
darah yang menempel pada root
entry zone saraf trigeminal
Rhizotomy (03.1)
Yaitu suatu tindakan pembedahan
dengan cara membuat lesi pada
ganglion trigeminal melalui
foramen ovale dengan salah satu
modalitas berikut: radiofrequency
thermocoagulation, mechanical
balloon compression, chemical
(glycerol) rhizolysis.
Peripheral neuroectomy (03.1)
Yaitu suatu tindakan memotong
cabang dari saraf trigeminal (nervus
supraorbita, infraorbita, alveolar,
dan lingual) dengan salah satu
modalitas berikut: insisi, injeksi
alkohol, radiofrekuensi, atau
cryotherapy.
1B 1,2,3,4,5
279
_____________
2 Non Operatif
Pada trigeminal neuralgia dapat
diberikan medikamentosa yaitu:
Carbamazepine
Oxcarbazepine
Baclofen
Lamotrigine
Topical lidocaine
1B 2
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Ad bonam
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Pembedahan Microvascular Decompression memiliki tingkat keberhasilan 90% hilang
nyeri. Periode bebas nyeri akan berkurang pada satu, tiga dan lima tahun berikutnya yang
berkisar antara 80, 75 dan 73% bebas nyeri.
ESSENTIAL TREMOR
ICD-10: G25.0
1. Pengertian
(Definisi)
Tremor esensial yaitu gangguan gerak yang berupa gerakan ritmis pada sekelompok
otot dan merupakan bentuk tersering dari tremor abnormal
2. Anamnesis Anamnesis meliputi:
- Identitas lengkap termasuk usia
- Riwayat penyakit sekarang
- Riwayat trauma
- Riwayat penggunaan obat-obatan
3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Fisik Umum
(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi)
Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B
(breathing), dan C (circulation)
Pemeriksaan Neurologis
Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS)
Saraf II-III, lesi saraf VII perifer
Motoris&sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah
Autonomis
Pemeriksaan cara berjalan (gait)
4. Kriteria Diagnosis 16. Anamnesis sesuai diatas
17. Pemeriksaan klinis sesuai diatas
18. Pemeriksaan imaging sesuai klinis
5. DiagnosisKerja Essential Tremor (ICD 10: G25.0)
6. Diagnosis Banding - Parkinson Disease
- Gangguan cerebellum
- Distonia
- Drug-induced tremor
- Toxin-related tremor
7. Pemeriksaan
Penunjang
No Pemeriksaan Rekomendasi GR Ref
1 MRI Kepala
MRI Kepala dilakukan untuk menyingkirkan
adanya penyebab lain dari tremor
1B 1,2,4
2. SPECT
Single-photon emission CT (SPECT) digunakan
terutama untuk membedakan dengan
Parkinson disease
2A 1,2,3,4
8. Terapi No Terapi Prosedur (ICD 9 CM) GR Ref
1 Operatif
Pilihan terapi operatif:
- Thalamotomy:
Thalamotomy dikerjakan secara
stereotactic dan didahului dengan studi
1B
6,7,8,9,
10
MRI yang dikaitkan dengan klinis
- Deep brain stimulation:
Dreep brain stimulation dilakukan untuk
mengurangi gejala tremor
Pemilihan thalamotomy atau DBS
didasarkan pada kekurangan dan
kelebihan serta ketersediaan alat.
2 Non Operatif
Terapi non-operatif pada Essential tumor
meliputi:
- Medikamentosa
Propanolol
Primidone
Topiramate
Alkohol
1B 4,5,6
9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya:
Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi
Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian
Tata cara perawatan dan dokter yang merawat
Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang
terganggu, melalui program rehabilitasi medik
10. Prognosis Ad Vitam (Hidup) : Dubia
Ad Sanationam (sembuh) : Dubia
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia
Prognosis essential tumor terutama berkaitan dengan kecacatan. Tercatat sebanya 15%
memiliki kecacatan seumur hidup berupa tidak dapat bekerja
Pasien dengan essential tumor juga memiliki penurunan kualitas hidup karena hambatan
pekerjaan.
Low back pain subakut & kronik
ICD-10: M54
1. Pengertian
(Definisi)
Nyeri punggung bawah dengan onset subakut (4 s/d 12 minggu ) dan kronik ( lebih dari
12 minggu)
2. Anamnesis Riwayat nyeri punggung dengan tingkat nyeri yang mengganggu aktifitas.
Sifat nyeri menjalar sampai tungkai atau ujung kaki
Nyeri memberat saat berdiri atau berjalan
Gagal dengan terapi konservatif medikamentosa
3. Pemeriksaan Fisik Status generalis:
Kondisi umum
Tanda vital
Pemeriksaan kepala leher, thoraks, abdomen, ekstrimitas.
Status Lokalis
Nyeri aksial
Nyeri radikular
Motorik
Sensoris
Autonom
4. Pemeriksaan
Penunjang
X ray (sentrasi vertebra)
CT Scan Spinal
MRI Spinal
Spinal/foraminal stenosis ec Degenerative Disc Disease (DDD)
Diagnostik intervensi
Diskografi: nerve root, facet joint, dll
Dilanjutkan terapi intervensi nonsurgical (keterangan lanjutan dibawah)
5. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik
3. Diagnosis penunjang
6. Diagnosis LBP Subakut dan kronik
7. Diagnosis Banding LBP karena organic non spinal
8. Terapi Injeksi Glukokortikoid
- Injeksi Epidural
- Injeksi intradiskal
- Injeksi lokal/trigger point
- Injeksi facet joint dan medial branch block
Terapi Electrothermal dan Radiofrekuensi
- Intradiskal
- Denervasi radiofrekuensi
- Scleroterapi
9. Edukasi Nyeri akan muncul kembali dengan onset 2-3 bulan
Terapi disarankan berulang
Terapi bisa gagal, disarankan untuk terapi operasi definitif penyebab nyeri
Modalitas exercise dioptimalkan
Edukasi untuk pencegahan nyeri kronik dengan perubahan pola hidup







