Regio-Regio Untuk Status Lokalis
Regio Capitis Regio Colli
1. Frontalis
2. Orbitalis
3. Nasalis
4. Infra Orbital
5. Oralis
6. Mentalis
7. Buccalis
8. Zygomatical
9. Temporalis
10. Parietalis
11. Occipitalis
1. Sternocleiodomastoideus
2. Trigonum Submentale
3. Trigonum Musculare
4. Trigonum
Submandibulare
5. Trigonum Caroticum
6. Cervicalis Lateralis
Regio Thorax Regio Abdominal
1. Pectoralis
2. Presternalis
3. Clavipectorale
4. Axillaris
1. Epigastrium
2. Hipochondrium
3. Umbilicum
4. Lumbal
5. Hipogastric
6. Inguinalis
Regio Extremitas Superior Regio Extremitas Inferior
1. Deltoidea
2. Brachii
3. Cubiti
4. Antebrachialis
Anterior
5. Antebrachialis
Posterior
6. Carpalis
7. Dorsum
Manus
8. Digiti
Anterior
Posterior
Anterior
1. Femoralis Anterior
2. Trigonum Femorale
3. Patella / Genus
4. Cruris Anterior
5. Dorsum Pedis
6. Digiti
Posterior
1. Gluteus
2. Femoralis Posterior
3. Fossa Popltea
4. Cruris Posterior
5. Calcaneus
6. Plantar Pedis
{ BEDAH UMUM }
Luka adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan yang secara spesifik terdapat substansi jaringan
yang rusak atau hilang.
Berdasarkan
meknismenya
- Ekskoriasi
(luka lecet)
- Vulnus
scissum (luka
sayat)
- Vulnus
laseratum
(luka robek)
- Vulnus
punctum
(luka tusuk)
- Vulnus
morsum (luka
karena
gigitan
binatang)
- Vulnus
combustio
(luka bakar)
Berdasarkan derajat kontaminasi
Luka bersih
- Luka insisi op, Steril
- Tidak ada kontak dengan orofaring,
traktus respiratorius,traktus
elimentarius, traktus genitourinarius
Luka bersih- kontaminasi
- Luka insisi elektif , Potensi terinfeksi :
spillage minimal, flora normal
- Kontak dengan orofaring, respiratorius,
elimentarius dan genitourinarius
- Proses penyembuhan lebih lama
Luka kontaminasi
- Potensi terinfeksi : spillage dari traktus
elimentarius, kandung empedu, traktus
genito urinarius, urine
- Luka trauma baru : laserasi, fraktur
terbuka, luka penetrasi.
Luka kotor
- Akibat proses pembedahan yang sangat
terkontaminasi
- Perforasi visera, abses, trauma lama.
Klasifikasi penyembuhan luka
a. Penyembuhan luka primer (sanatio per
primam intentionem) : Luka bersih dan
tidak terinfeksi (luka operasi) langsung
dijahit parut lebih halus dan kecil (hair
line scar)
b. Penyembuhan luka sekunder (sanatio per
secundam intentionem) : Penyembuhan
luka kulit tanpa pertolongan dari luar,
terjadi secara alami memakan waktu
lebih lama dan menyebabkan parut yang
kurang baik
c. Penyembuhan luka primer delayed /
tersier (sanatio per tertiam intentionem) :
Pada keadaaan luka yang tidak dapat
dijahit secara langsung misal luka yang
terkontaminasi berat dan/atau tidak
berbatas tegas. Keadaan ini diperkirakan
akan menyebabkan infeksi bila langsung
dijahit luka dibersihkan dan eksisi
(debridement) dahulu dan kemudian
dibiarkan 4-7 hari, baru selanjutnya
dijahit dan akan sembuh secara primer.
Cara deskripsi luka :
1. jenis luka
2. ukuran dan dalam luka
3. tepi luka dan perlekatan ke dasar luka
4. penilaian jar. nekrotik, granulasi, fibrin,
pus, kolonisasi bakteri
5. kondisi sekeliling luka ; penilaian warna,
kelembapan
Teknik Debridement Luka
1. Surgical sharp-conservative sharp debridement : scalpel,
curette, scissors, rongeur, and forceps.
2. Autolitik : aktivasi enzim autolitik tubuh dg
meningkatkan kelembaban jaringan luka, dg produk
seperti hirogel, hidrokoloid.
3. Enzimatik : produk enzim luar.
4. Biological : maggots, Lucilia sericata (green bottle fly).
5. Mechanical debridement : irrigation, hydrotherapy, wet-
to-dry dressings, and an abraded technique.
Ukuran Benang : merupakan salah satu factor yang menentukan kekuatan jahitan. Sedangkan kekuatan
jahitan ditentukan oleh jumlah jahitan, jarak jahitan, dan jenis benangnya. pada wajah digunakan ukuran
yang kecil (5,0 atau 6,0).
Tehnik Penjahitan Luka (Suture)
a. jahitan simpul tunggal / simple interrupted suture :
merupakan jenis jahitan yang sering dipakai. digunakan
juga untuk jahitan situasi.
b. jahitan jelujur sederhana / simple running suture, simple
continous, continous over and over : jahitan ini sangat
sederhana, sama dengan kita menjelujur baju. biasanya
menghasilkan hasiel kosmetik yang baik, tidak disarankan
pada jaringan ikat yang longgar.
c. jahitan matras horizontal / horizontal mattress suture /
interrupted mattress : jahitan dengan melakukan
penusukan seperti simpul, sebelum disimpul dilanjutkan
dengan penusukan sejajar sejauh 1 cm dari tusukan
pertama. memberikan hasil jahitan yang kuat.
d. jahitan jelujur intrakutan / running subcuticular suture,
jahitan jelujur subkutikular : jahitan jelujur yang dilakukan
dibawah kulit, jahitan ini terkenal menghasilkan kosmetik
yang baik
e. jahitan matras vertikal / vertical mattress suture / donati
/ near to near and far to far : jahitan dengan menjahit secara
mendalam dibawah luka kemudian dilanjutkan dengan
menjahit tepi-tepi luka. biasanya menghasilkan
penyembuhan luka yang cepat karena di dekatkannya tepi-
tepi luka oleh jahitan ini
AKUT ABDOMEN
Akut abdomen adalah kelainan di abdomen yang
memerlukan tindakan pembedahan segera. Penyebab umum
dari akut abdomen ini dibagi ke dalam 5 kategori besar:
a. Inflamasi yang dibagi menjadi 2 :
1. Peradangan bacterial (app akut, diverticulitis);
2. Peradangan kimia (perforasi gasterkeluarnya
asam lambung).
b. Mekanikal kondisi yang menimbulkan obstruksi
seperti hernia inkarserata, post op adesi, intususepsi,
malrotasi-volvulus, ca colon dengan penyulit obstruksi.
c. Congenital semua defek yang harus ditangani cepat
seperti atresia duodenum, omfalokel, hernia
diafragmatika
d. Vaskuler akibat dari thrombosis atau emboli arteri
mesentrika iskemia
e. Trauma perdarahan, perforasi hollow organ
DD dari papdi ui:
1. Hipokondrium kanan: kolesistitis, kolangitis, hepatitis, pancreatitis, abses subfrenikus, pneumonia
2. Hipokondrium kiri: nyeri limpa karena limpoma, infeksi virus. Abses subfrenikus, pneumonia, ulkus
gaster, aneurisma aorta
3. Epigastrium: pancreatitis, ulkus duodenum, ulkus gaster, kolesistitis, ca pancreas, hepatitis, obstruksi
intestinal (ileus), apendisitis (gejala awal), abses subfrenikus, ima
4. Periumbilikalis: pancreatitis, ca pancreas, intestinal (ileus), apendisitis (gejala awal), aneurisma aorta.
5. Lumbal: batu ginjal/ureter, pielonefritis, abses perinefrik
6. Inguinal dan suprapubik: appendicitis, diverticulitis meckel, crohn’s disease, colitis ulserativa,
salphingitis, toa, ket, kista ovarium, sistitis
Jenis Nyeri Perut
1. Nyeri Visceral
- nyeri pd peritoneum visceral oleh saraf otonom tidak peka pada perabaan atau pemotongan
TAPI PEKA TERAHADAP PEREGANGAN misal terjadi kontraksi berlebihan pada otot yang
menyebabkan iskemia, missal pd kolik (nyeri abdomen akut) atau radang pd apendisitis akan
timbul nyeri.
- tidak dapat menunjukkan secara tepat letak nyeri biasanya ia menggunakan seluruh telapak
tangannya.
2. Nyeri Somatic
- nyeri karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi
- nyeri seperti ditusuk atau disayat dan pasien dapat menunjukkan secara tepat letaknya dengan jari.
- rangsang yang menimbulkan nyeri ini dapat berupa karena rabaan, tekanan, rangsang kimia,
ataupun karena proses radang misalnya nyeri alih diafragma dirasakan di bahu. hal ini
disebabkan karena inervasi yang sama pada diafragma dan bahu oleh saraf servikal : akar saraf
C3, C4, C5 serta n.frenikus.
PERITONITIS
Peritonitis adalah proses inflamasi pada lapisan peritoneum, baik terlokalisasi maupun secara general.
Respon tubuh thd peritonitis ada 2 :
1. Respon Primer:
a. membran inflamasi : two way street,
dimana belum terjadi perforasi
namun bakteri dapat ditemukan
dalam cavum peritoneum karena
permeabilitas yang terganggu.
b. respon usus: hipermotilitas lama2
kecapean jadi adinamikdistensi
usus (ileus paralitik) muntah
dehidrasi.
c. hipovolemi: output banyak keluar
(dilatasi vascularcairan plasma
keluar dr vascular ke intersitiel) input
sedikit (usus atonik menahan cairan
sehingga sairan tidak diserap di
colon). syok hipovolemik karena
sekuestrasi cairan dan elektrolit ke
rongga ketiga.
2. Respon Sekunder:
a. endokrin respon: sebagai respon terhadap
hipovolemia peningkatan epinefrin dan norepinefrin
dari medulla adrenal, kemudian hr ke-2dan 3 korteks
adrenal mengeluarkan adh dan aldosteron.
b. cardiac respon: akibat dari hipovolemi ialahturunnya
vr,co dan lemahnya otot jantung shg kompensasi ialah
dengan meningkatkan kronotropik dengan mempercepat
denyutan (meningkatkan heart rate)
c. respiratory respon: melemahnya otot pernapasan dan
berkurangnya volume ventilasi kompensasi RR
ditingkatkan, tapi masih hipoksia shg metab anaerob
dan peningkatan asam.
d. renal respon: filtrasi glomerulus menurun produksi
urin menurun.
e. metabolik respon: meningkatnya kebutuhan energi tapi
supply oksigen kurang metabolisme anaerob.
Manifestasi klinis:
1. Penderita kelihatan kesakitan (hipocratic face) berbaring dengan tungkai fleksi.
2. Secara umum penderita mengalami anorexia,nausea.
3. Pernapasan thoracal dengan aktivitas otot interkostal, yang cepat dan dangkal
4. Abdomen : distensi, nyeri tekan dan nyeri lepas, defans muscular, bising usus melemah sampai hilang
5. Suhu meningkat sepsis (sirs + sumber infeksi yg dibuktikan) sepsis berat (bila mengenai organ)
syok sepsis (volume vaskular normal namun tek darah rendah sekali krn vasodilatasi)
6. Saat rectal examination : tonus spinchter melemah, nyeri si seluruh arah jam.
Pemeriksaan penunjang
1. Darah rutin
2. Radiologis foto thoraks dan foto polos abdome 3 posisi, berikut gambaran radiologis dari suatu
perforasi :
Adanya cairan dalam cavum peritoneum:
a. Tampak pelebaran ruang antar usus dengan cairan yang disebut gambaran moulage
b. Bila jumlah cairan sedikit dalam cavum abdomen, misalnya 100 ml cairan terlihat di kavum
douglass, di atas os sacrum-vesika urinaria gambaran dog ears
c. Gambaran abdomen mengabur (ground glass app) karena adanya cairan/ascites intraabdomen
ekstralumen.
d. Exoperitoneum fat line suram atau hilang sama sekali.
Adanya dilatasi usus yang menyeluruh dari gaster hingga rektum, penebalan dinding usus dan
transudasi cairan yakni air fluid level yang pendek maupun panjang.
Adanya udara dalam cavum peritoneum subdiafragma pneumoperitoneum
Penatalaksanaan pre operasi:
1. Puasa
2. Resusitasi cairan dan monitoring kateter
3. Dekompresi dengan nasogastrictube tujuan: mencegah aspirasi dan mengambil cairan
4. Beri antibiotic sistemik (broad spectrum sefalosporin gen 3 + metronidazol)
Penatalaksanaan operasi:
1. Laparatomi eksplorasi
2. Evakuasi pus
APPENDICITIS
Peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis
Persarafan parasimpatis cabang dari nervus vagus yang mengikuti
a.mesenterika superior dan a.appendikularis
persarafan simpatis pleksus mesenterik superior yang berasal dari nervus
vertebra thorakalis sepuluh.
Etiologi :
• sumbatan lumen apendiks
• fecaliths or appendicoliths
• lymphoid hyperplasia
(khususnya terjadi sekunder
akibat infeksi virus)
• infeksi
• tumor apendiks
• mukus (paling sering terjadi
pada kistik fibrosis)
• apendiks yang terangulasi, dan
cacing askaris
• erosi mukosa apendiks karena
parasit seperti e. histolytica.
• peran kebiasaan makan, dll
Gambaran Klinis:
- Nyeri periumbillical atau di daerah epigastrium keluhan ini sering disertai dengan mual dan kadang
muntah dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik mc burney (nyeri tekan,
nyeri lepas dan defans muscular setempat di titik ini).
- tanda rangsang peritoneal pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk.
Pemeriksaan :
- TTV dan head to toe seperti biasa status lokalis
- Inspeksi abdomen: tidak spesifik, distended ? terlihat ada massa ?
- Palpasi abdomen: nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis. bisa disertai pula dengan
nyeri lepas. defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal. Karena terjadi
pergeseran sekum ke kraniolaterodorsal oleh uterus, keluhan nyeri apendisitis sewaktu hamil trimeseter
2 dan 3 akan bergeser ke kanan sampai ke pinggang kanan.
- Peristalsis usus sering normal ; jika hilang ileus paralitik pada peritonitis generalisataa akibat
apendisitis perforate.
- pemeriksaan colok dubur
Manuver Khusus Untuk Pemeriksaan Apendisitis
Mc Burney’s Sign
Penekanan pada
McBurney's point
yang terdapat di 2/3
antara umbilikus
dan anterior
superior iliac spine
(ASIS).
Rovsing’s sign
Positif jika dilakukan
palpasi dengan tekanan
pada kuadran kiri bawah
dan timbul nyeri pada sisi
kanan.
Blumberg sign
Disebut juga
dengan nyeri lepas.
Palpasi pada
kuadran kanan
bawah kemudian
dilepaskan tiba-tiba
Psoas sign atau Obraztsova’s
sign
Pasien dibaringkan pada
sisi kiri, kemudian
dilakukan ekstensi dari
panggul kanan. Positif
jika timbul nyeri pada
kanan bawah.
Obturator sign
Pada pasien
dilakukan fleksi
panggul dan
dilakukan rotasi
internal pada
panggul. Positif jika
timbul nyeri pada
hipogastrium atau
vagina.
Aure-Rozanova’s sign
Bertambahnya nyeri
dengan melakukan
palpasi ringan dengan
menggunakan jari pada
segitiga petit (petit
triangle) kanan (akan
positif Shchetkin-
Bloomberg’s sign)
Dunphy’s sign Pertambahan nyeri
pada tertis kanan
bawah dengan
batuk
Sitkovskiy (Rosenstein)’s
sign
Nyeri yang semakin
bertambah pada perut
kuadran kanan bawah
saat pasien dibaringkan
pada sisi kiri
Kocher (Kosher)’s sign Nyeri pada awalnya
pada daerah
epigastrium atau
sekitar pusat,
kemudian berpindah
ke kuadran kanan
bawah.
Bartomier-Michelson’s sign Nyeri yang semakin
bertambah pada kuadran
kanan bawah pada pasien
dibaringkan pada sisi kiri
dibandingkan dengan
posisi terlentang
Diagnosis :
1. lab : DL, CRP, UL, asam 5-hidroksiindoleasetat (U-5-HIAA) kadar serotonin dalam
appendiks
2. imaging : USG, Foto Polos Abdomen
3. CT SCAN (gold standart untuk px pediatric selalu konsul dr. Sp.BA)
Table. The Modified Alvarado Score Skor
Interpretasi dari Modified
Alvarado Score:
1-4 : sangat mungkin
bukan apendisitis akut
5-7 : sangat mungkin
apendisitis akut
8-10 : pasti apendisitis
akut
Gejala Perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut
kanan bawah
1
Mual-Muntah 1
Anoreksia 1
Tanda Nyeri di perut kanan bawah 2
Nyeri lepas 1
Demam diatas 37,5 ° C 1
Pemeriksaan
Lab
Leukositosis 2
Hitung jenis leukosit shift to the left 1
Total 10
Diferential diagnosis:
gastroenteritis
urolitiasis pielum / ureter kanan
(batu ureter atau batu ginjal kanan)
kehamilan di luar kandungan
demam dengue
limfadenitis mesentrika
kelainan ovulasi
adnexitis - coxitis
JANGAN LUPA LAKUKAN RT DAN
VT (KONDISI KHUSUS) UNTUK
MENYINGKIRIKAN KONDISI
GINEKOLOGI DAN LAINNYA
kista ovarium terpuntir endometriosis eksterna
penyakit saluran cerna lainnya: seperti diverkulitis meckel, perforasi tukak duodenum atau lambung,
kolesistitis akut, pancreatitis, diverkulitis kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid
abdominalis, karsinoid dan mukokel apendiks.
Tatalaksana :
- appendiectomy : open maupun laparoscopy
- antibiotik
- simtomatik
Tabel . Macam-macam Insisi untuk apendektomi
Insisi Grid Iron (McBurney Incision)
Insisi Grid iron pada titik McBurney. Garis insisi
parallel dengan otot oblikus eksternal, melewati
titik McBurney yaitu 1/3 lateral garis yang
menghubungkan spina liaka anterior superior
kanan dan mbilicus.
Lanz transverse incision
Insisi dilakukan pada 2 cm di bawah pusat, insisi
transversal pada garis miklavikula-midinguinal.
Mempunyai keuntungan kosmetik yang lebih baik
dari pada insisi grid iron.
Rutherford Morisson’s incision (insisi
suprainguinal)
Merupakan insisi perluasan dari insisi McBurney.
Dilakukan jika apendiks terletak di parasekal atau
retrosekal dan terfiksir
Low Midline Incision
Dilakukan jika apendisitis sudah terjadi perforasi
dan terjadi peritonitis umum
Insisi paramedian kanan bawah
Insisi vertikal paralel dengan midline, 2,5 cm di bawah umbilikus sampai di atas pubis.
Patofisiologi :
Komplikasi :
Lihat diagram
HEMOROID
Pelebaran pleksus vena hemoroidalis
- hemoroid eksterna: pelebaran pleksus v
hemoroidalis inferior di sebelah distal garis
mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel
anus.
- hemoroid interna: pelebaran pleksus v
hemoroidalis superior di atas garis mukokutan
dan ditutupi oleh mukosa
• grade I : benjolan masih di dalam
• grade II : benjolan keluar masuk saat BAB
• grade III : benjolan keluar bias masuk dengan
bantuan jari
• grade IV : benjolan ndak bias masuk, nyeri >>>
gejala klinis:
1. benjolan bisa nyeri atau enggak
2. perdarahan saat bab berulang
anemia.
3. iritasi kulit perianal karena rangsangan
mucuspruritus ani.
Intermezzo
1. Yakin grading hemoroid itu udah grade IV ?
Jadi hemoroid itu itu sifatnya compressable,
jika kita menemukan px hemoroid interna yang
benjolannya ada diluar coba aja masukin
dulu kalo masih bisa masuk ya berarti masih
grade III.
2. Lebih nyeri mana interna atau eksterna ? ya
eksterna banyak persarafan yang berada di
subkutannya, kalo interna kan mukosa
Pemeriksaan :
1. colok dubur: yang interna kadang tidak teraba tekanan vena yang di dalam kurang tinggi jadi, colok
dubur hanya untuk menyingkirkan kemungkinan ca rektum
2. anoskopi: untuk melihat hemoroid yang interna
3. proktosigmoidoskopi: mencari kemungkinan kelainan di tempat yg lebih tinggi.
DD : ca colorectal, divertikulosis, polip, colitis ulserativa.
Penatalaksanaan :
hemoroid eksterna
1. keluhan nyeri dikurangi dengan rendam duduk dalam air hangat bisa pake detol, salep analgesic
2. hemoroid eksterna yang mengalami thrombus dan pasien datang <48 jam dapat ditolong dengan
mengeluarkan thrombus atau melakukan eksisi lengkap secara hemoroidektomi dengan anestesi
local.
3. bila thrombus sudah terorganisir dan tidak dapat dikeluarkan, terapi konservatif merupakan pilihan.
4. jangan melakukan reposisi hemorid eksterna yang mengalami thrombus sebab kelainan ini terjadi
pada struktur luar anus.
hemoroid interna
- derajat 1-2 biasanya masih konservatif
- derajat 3 bisa konservatif atau operatif tergantung klinis pasien dan pertimbangan dokter
- derajat 4 operatif : (1) minimal invasive ( skleroterapi, rubber band ligation, cryosurgery, infra
red coagulation, stapled hemorroidopexy ); (2) hemmoroidectomy operative
KOLELITIASIS
penyakit yang disebabkan oleh adanya batu di dalam kandung empedu
Proses terbentuknya batu
Fungsi GB : (1)Reservoir; (2)Pemekatan Empedu;
(3)Sekresi Mukus.
Intermezzo
Jadi INGET !!! kenapa bisa terjadi hydrops GB ? ya
kan fungsi GB selain penyimpanan juga mensekresi
mucus, jadi sekalipun tetap ada penyumbatan pada
ductus sisticusnya GB tetap mensekresi mucus
dilatasi lumen biasanya cairannya steril.
Kalo ada mukusnya mucocel
4 Tahapan Cholelithiasis
1. Keadaan litogenik, di mana kondisi mendukung pembentukan batu empedu
2. Batu empedu tanpa gejala biasanya ditemukan pada studi pencitraan rutin atau secara
kebetulan di laparotomi untuk masalah yang tidak berhubungan.
Gejala perut yang umum seperti dispepsia, erosi, atau perut
kembung tanpa rasa sakit yang terkait mungkin tidak disebabkan
oleh batu empedu.
Management :
Biasanya simtomatik saja, perlu kolesistektomi jika :
Ukiran batu >2 cm atau <2mm
Anak-anak dengan batu empedu memiliki indikasi relatif
untuk kolesistektomi.
Pasien dengan diabetes mellitus, trauma sumsum tulang
belakang, dan anemia sel sabit, atau pasien
immunosuppressed lainnya
Curiga ke arah keganasan
3. Batu empedu simptomatik MURPHY SIGN + (sudah ada inflamasi pada GB kolesistitis)
Kolik bilier adalah gejala utama dan diawali oleh impaksi batu
empedu pada saluran keluar kantong empedu, sebagaimana
ditandai oleh hal-hal berikut :
Periodisitas: Nyeri datang dalam serangan berbeda yang
berlangsung 30 menit hingga beberapa jam.
Lokasi: Di epigastrium atau kuadran kanan atas.
Keparahan: Rasa sakitnya stabil dan intens dan dapat
menyebabkan pasien membatasi pernapasan. Seringkali,
sangat parah sehingga perawatan segera dicari dan narkotika
diperlukan untuk kontrol.
Waktu: Rasa sakit terjadi dalam beberapa jam setelah makan,
sering membangunkan pasien dari tidur.
Gejala lain bisa saja muncul
4. Batu empedu + komplikasi
Komplikasi :
a. Lihat diagram + hidrops vesica felea (corvousier law) terabanya vesica felea tanpa nyeri.
Pemeriksaan tambahan :
Laboratorium : darah rutin, urin, tinja
Tes faal hati: bilirubin total dan direk, sgot/sgpt, alp, ggt, kolesterol, pt
Foto polos:
- 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak
- pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu
kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara
dalam usus besar, di fleksura hepatika
ultrasonografi
kolesistografi oral / endoscopic retrogade choledochopancreaticography (ERCP)
CT-Scan
Penatalaksanaan :
Penatalaksanaan medikamentosa : Penatalaksanaan bedah :
1. Disolusi medis : asam xenodeoksikolat
2. Disolusi kontak
meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol
yang poten (metil-ter-butil-eter{mtbe}) ke dalam kandung
empedu melalui kateter yang diletakkan per kutan telah
terlihat efektif dalam melarutkan batu empedu pada pasien-
pasien tertentu. prosedur ini invasif dan kerugian utamanya
adalah angka kekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun).
1. Kolesistektomi Terbuka
2. Kolesistektomi Laparaskopi
3. Litotripsi Gelombang Elektro
(ESWL)
4. Kolesistotomi
5. Endoscopic Retrograde
Cholangiopancreatography (ERCP)
– Diagnostic Sekaligus Terapi
ILEUS
Suatu kondisi diman terdapat gangguan pasase atau jalannya makanan di dalam usus
klasifikasi ileus obstruksi
ILEUS
NEUROGENIC
KELAINANNYA DI SARAF OTONOM
PARASIMPATIS DARI SERABUT POST
GANGLIONER SACRAL II- IV.
ILEUS PARALITIK
(ADINAMIC)
lesi saraf karena radang, terjepit atau karena
kelelahan akibat kontraksi yang terus
menerus sehingga usus tidak berkontraksi
ILEUS SPASTIC
(DINAMIC)
rangsangan saraf parasimpatis akibat
keracunan, hysteria, atau neurasteni sehingga
usus akan berkontraksi terus menerus
ILEUS
OBSTRUKSI
SINONIM = ILEUS
MEKANIK
KASUS BEDAH !
berdasarkan mekanisme obstruksi berdasarkan klinis / gradasi berdasarkan letak hambatan
a. intralumen: akibat massa
dalam lumen seperti
mekonium, fecalith, gallstone,
tumor polipoid,
intususepsi/invaginasi
b. intramural: kelainan pada
dinding usus dengan beberapa
penyebab sbb:
- congenital : atresia,
duplikasi, stenosis,
imperforate
- trauma dan striktur karena
radiasi
- inflamasi : entertitis, crohn
diseases, divertikulitis,
colitis, dll
c. ekstralumen : adhesi, hernia,
anular pancreas, carcinoma
ekstralumen menekan lumen,
malrotasi-volvulus.
a. Partial : makanan masih bias lewat
b. obstruksi sederhana/simple.
- tidak disertai terjepitnya vaskuler,
akumulasi cairan & gas dlm jumlah
besar dalam lumen usus.
- awalnya absorbsi ↓, sekresi dbn →
dalam 24-48 jam → sekresi↑,
absorbsi↓, edema, eksudasi cairan ke
rongga peritoneum → kehilangan
cairan & elektrolit.
c. obstruksi strangulate
- volvulus, hernia, invaginasi & adhesi.
- gangguan vaskuler→ iskemia, nekrosis,
ganggren
- iskemi→kerusakan sawar dinding
usus→bakteri usus → rongga
peritoneum peritonitis
d. closed-loop obstruction
obstruksi terjadi pd 2 tempat, penyebab
: adhesi,volvulus.
a. ileus obstruksi letak tinggi,
menurut letaknya dibedakan
menjadi :
- obstruksi di atas pylorus,
gejala utama adalah
muntah, distensi abdomen
kurang.
- obstruksi di bawah pylorus
sampai iliocaecal junction:
muntah feses (warna
kuning seperti tinja),
distensi abdomen nyata
b. ileus obstruksi letak rendah :
dari sekum hingga anorektal
- etiologi : bias karna
keganasan
- klinis : distensi abdomen +,
jarang terjadi muntah
Etiologi ileus obstrusi :
Hernia
Volvulus
Adhesi
Tumor
Intususepsi
Patogenesis :
ileus obstruksi
mekanisme obstruksi
intralumen
intramural
ekstralumen
klinis / gradasi
simple obstruksi
obstruksi strangulata
a.closed-loop obstruction
(2 titik)
letak hambatan
letak
tinggi
diatas
pylorus
dibawah
pylorus
letak
rendah
Obstruksi pada usus
Makanan tertumpuk di lumen usus
Tekanan intraluminal meningkat
Tekanan terhadap dinding usus meningkat
Diagnosis
Kardianl Sign ! 1. NYERI KOLIK ABDOMEN
2. MUNTAH
3. DISTENSI ABDOMEN
4. KEGAGALAN DEFEKASI DAN FLATUS
Anamnesis Ileus obtruktif usus halus : kolik dirasakan di sekitar umbilikus, muntah kehijauan
Ileus obtruktif usus besar : kolik dirasakan di sekitar suprapubik, onset muntah lama
Pemeriksaan
Fisik
- Inspeksi : Tanda2 dehidrasi (kehilangan turgor kulit, mulut dan lidah kering) /
Harus dilihat adanya distensi pada abdomen, skar abdomen, hernia dan massa
abdomen / Pada penderita kurus atau sedang dapat ditemukan “gambaran kontur
usus” maupun “gambaran gerakan usus”
- Palpasi dan Perkusi : Pada palpasi didapatkan distensi abdomen dan perkusi
timpani. Palpasi bertujuan mencari adanya iritasi peritoneum atau nyeri tekan yang
mencakup defance muscular involunter atau rebound dan massa yang abnormal.
- Auskultasi : Terdengar metalic sound bernada tinggi dan peristaltik meningkat
(borborigmi)
Tapi jika proses atau perjalanan penyakitnya sudah lama sudah terjadi dilatasi
usus berlebihan dan usus mengalami fatique (capek/kelelahan) peristaltic usus
menurun dan terkadang tidak ada
Pemeriksaan
penunjang
Lab :
- Biasanya menunjukkan kondisi dehidrasi atau bias juga normal jika perjalanannya
masih akut
- leukosit normal, obstruksi mekanik sederhana :15.000-20.000/mm3, obstruksi
strangulata : 30.000- 50.000/mm3
Radiologis :
o Herring bone appearance (Muskulus sirkuler – menyerupai costa ikan)
o 2 dinding usus halus yang terdilatsi menebal dan menempel
o Step-ladder appearance (Gambaran air fluid level yang pendek-pendek berbentuk
seperti tangga, karena cairan transudat berada dalam usus halus yang mengalami
distensi)
o Dilatasi usus di proksimal sumbatan (sumbatan di colon) diikuti kolaps usus di distal
sumbatan
Penatalaksanaan
Preoperatif
terapi cairan dan elektrolit (infus RL/NACL)
pasang ngt puasakan pasien (dekompresi)
pemberian antibiotik
pasang kateter → pantau produksi urine, tanda-tanda dehidrasi.
observasi tanda vital
Operatif
laparatomi untuk tujuan mencari dan melepaskan penyebab hambatan
~ lisis pita lekat atau reposisi hernia
~ By-pass atau pintas usus
~ reseksi dgn anastomosis→ end to end, end to side, side to side.
~ diversi stoma dengan atau tanpa reseksi.
Kolostomi
macam-macam kolostomi
Menurut Letak Menurut Bentuk Menurut Lama
- cecostomy
- colostomy transversum
- colostomi sigmoid
- double barel
- double lup
- simple colostomy
- temporer colostomy
- permanen colostomy
Komplikasi
Gangguan Elektrolit, Sepsis, MODS, Apirasi, Iskemik Usus Nekrosis, Enterokolitis.
NEOPLASMA
Sekelompok sel abnormal yang tumbuh terus menerus, melebihi kebutuhan dan tak terkoordinasi, ditandai
dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak terkendali
(pembelahan sel melebihi batas normal), menyerang jaringan biologis di dekatnya dan bermigrasi ke
jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis
Sifat Asal Dan Jaringan Struktur
TUMOR
JINAK
TUMOR
GANAS
SARCOMA CARCINOMA
Terdiri dari
jaringan
dewasa
Terdiri dari
jaringan muda
Terdapat pada semua usia terutama
muda
Lebih banyak pada usia
tua
Aktivitas
mitosis (-)
Aktivitas
mitosis banyak
Lebih ganas Kurang ganas
Tumbuhnya
expansif
Tumbuhnya
infiltratif
Konsistensi lunak merata
Konsistensi lunak tidak
rata
Umumnya
bersimpai jelas
Tidak
bersimpai
Terdiri dari sel muda yang diffuse dan
infiltratif ke dalam jaringan secara
merata
Sel-sel tumbuh seperti
akar ke dalam jaringan
sekitarnya
Tumbuhnya
lambat
Tumbuhnya
relative cepat
Metastase pertama sering di hati dan
pulmo
Umumnya kelenjar limfe
regional
Tidak
metastase
Mengadakan
metastase
Sel datia lebih banyak Sel datia kurang
Bila diangkat,
sembuh
Sering residif
Sel-sel mesoblastic dan batas tidak
jelas : cabang cytoplasma masuk
jaringan ikat
Batas sel lebih jelas
Jarang menjadi
inflamasi
sekunder
Mudah
menjadi ulcus
Umumnya mengandung pembuluh
darah di antara sel berupa sinusoid /
kapiler berdinding tipis sehingga
mudah berdarah
Umumnya kurang
pembuluh darah & di
dalam stroma sehingga sel
kurang darah dan necrose
Kematian
minimal
Kematian >> Metastase lewat aliran darah Aliran limfe
NEOPLASMA PADA GASTROINTESTINAL
N
eo
p
la
sm
a
Sifat
Jinak / Benign
Ganas / Malignan
Asal Dan
Jaringan Struktur
Mesenchym
Jinak --> OMA
Ganas --> SARCOMA
Epithel
Jinak --> OMA
Ganas --> CARCINOMA
Sangat
Undifferentiated
UNDIFFERENTIATED
MALIGNANT NEOPLASMA
Esophagus (<5%)
CARSINOMA COLORECTAL
keganasan yang berasal dari jaringan usus besar, terdiri dari kolon (bagian terpanjang dari usus besar)
dan/atau rektum (bagian kecil terakhir dari usus besar sebelum anus)
Faktor risiko kanker kolorektal :
- Tidak dapat dimodifikasi : adalah riwayat kanker kolorektal atau polip adenoma individual dan
keluarga, dan riwayat individual penyakit kronis inflamatori pada usus.
- Dapat dimodifikasi : inaktivitas, obesitas, konsumsi tinggi daging merah, merokok dan konsumsi
alkohol.
- penyebab pasti belum jelas !
Secara Makroskopis Terdapat 3 Tipe Ca Colorectal:
Tipe Polopoid / Vegetative
/ Fungating / Cowly Flower
tumbuh menonjol ke lumen usus dan berbentuk bunga kol. sering ditemukan
disekum dan kolon asendens
Tipe Annular - Tubular mengakibatkan penyempitan sehingga terjadi gejala stenosis dan obstruksi.
ditemukan terutama di kolon desendens, sigmoid dan rectum
Tipe Ulseratif terjadi nekrosis sentralis. ditemukan terutama pada rektum
Secara Mikroskopis :
Colon dan
Rectum (5%)
Stomach (60%)
Small bowel (30%)
Metastase
adapun metastase dari ca colorectal melalui beberapa mekanisme sbb:
Perkontinuitatum : menembus dinding usus dan ke jaringan sekitar misal ureter, buli, uterus, vagina,
prostat.
Limfogen : ke kelenjar parailliaka, mesentrika, dan paraaorta
Hematogen : terutama ke hepar >> , bila tumor pada 1/3 distal rectum dapat menyebar ke paru-paru.
Rongga peritoneal : peritonitis karsinomatosa dengan atau tanpa asites
Implantasi selama pembedahan (intraoperative spreading)
Gejala Klinis :
gejala klinis tumor tergantung pada letak, lokasi, dan luas tumor
ca colon kanan
mulai dari sekum -1/3
tengah kolon
transversum
ca colon kiri
mulai dari 1/3 kolon
transversum-sigmoid
ca rectum
Embriologis mid gut hind gut hind gut
Anatomi lumen relative lebih besar lumen relative lebih kecil
Fungsi absorbsi penyimpanan defekasi
Tipe Tumor
lunak, rapuh, ulseratif,
polipoid
skirous polipoid
Klinis
keluhan biasanya tidak
khas. nyeri perut samar-
samar (nyeri bermula di
epigastrium), benjolan di
perut kanan, feses semi
cair (>cair dan diare warna
coklat/hitam), anemis
(perdarahan mikroskopis).
keluhan lebih jelas. gejala
obstruksi/obstipasi (jarang bab,
butuh pencahar) dengan nyeri
perut yang nyata (gas pain
cramps-nyeri bermula di
bawah umbilikus), feses makin
ke distal makin padat seperti
tahi kambing disertai darah
segar pada kotoran.
nyeri pada stadium lanjut
(nyeri di panggul dalam
atau di anus), feses kecil2
sprt tahi kambing dengan
darah segar pada kotoran,
gejala khas ialah defekasi
dengan tenesmus
- Pemeriksaan colok dubur dilakukan pada setiap pasien dengan gejala ano-rektal. Pemeriksaan ini bertujuan
untuk menetapkan keutuhan sfingter ani dan menetapkan ukuran dan derajat fiksasi tumor pada rektum 1/3
tengah dan distal. Pada pemeriksaan colok dubur ini yang harus dinilai adalah :
1. Keadaan tumor: Ekstensi lesi pada dinding rektum serta letak bagian terendah terhadap cincin
anorektal, cervix uteri, bagian atas kelenjar prostat atau ujung os coccygis.
2. Mobilitas tumor: Hal ini sangat penting untuk mengetahui prospek terapi pembedahan.
3. Ekstensi dan ukuran tumor dengan menilai batas atas, bawah, dan sirkuler.
- Endoskopi, merupakan prosedur diagnostik utama dan dapat dilakukan dengan sigmoidoskopi (>35%
tumor terletak di rektosigmoid) atau
- dengan KOLONOSKOPI DISERTAI BIOPSY (gold standart)
- Enema barium dengan kontras ganda untuk melihat ada arrest (stopping contrast), stenosis, filling
defect (napkin ring, apple core)
- Darah rutin dan tumor marker : CEA (carcino embrionic antigen) yang diambil dari urine/feses.
o kadar < 10 ng/ml → stadium dini.
o kadar > 10 ng/ml → stadium lanjut. follow up setelah operasi → 4 minggu, 3-6 bulan. CEA dapat
kembali < 3 (-), tapi dapat residif → telah metastase.
Staging Tumor
Klasifikasi staging tumor digunakan untuk menentukan luas atau ekstensi kanker dan nilai prognostik pasien.
Sistem yang paling banyak digunakan adalah sistem TNM American Joint Committee on Cancer (AJCC)
2010. Untuk kanker kolorektal klasifikasi stadium dari tumor yang dikenal ada 2 yakni dukes dan astler-coler
modification
Penatalaksanaan :
1. Operatif
2. Kemoterapi
3. Radioterapi
Penatalaksanaan berdasarkan staging :
Stadium Terapi
Stadium 0 (TisN0M0)
- biasa dikenal dengan tuor in-situ (terlokalisasi di mukosa)
- Eksisi lokal atau polipektomi sederhana
- Reseksi en-blok segmental untuk lesi yang tidak memenuhi
syarat eksisi lokal
Stadium I (T1-2N0M0)
- Kanker menginvasi sampai ke submucosa
- Wide surgical resection + lymp nodes sekitarnya, dengan
anastomosis tanpa kemoterapi ajuvan
Stadium II (T3N0M0, T4a-b N0 M0)
- Kanker menginvasi sampai ke lapisan muskularis propia tapi
tidak menyebar ke lymp nodes
- Wide surgical resection, dengan anastomosis
- Terapi ajuvan setelah pembedahan pada pasien dengan risiko
tinggi
Stadium III (T apapun N1-2M0)
- Kanker sudah menyebar ke lymp nodes
- Wide surgical resection dengan anastomosis
- Terapi ajuvan setelah pembedahan
Stadium IV (T apapun, N apapun M1)
- Reseksi tumor primer pada kasus kanker kolorektal dengan
metastasis yang dapat direseksi
- Kemoterapi sistemik pada kasus kanker kolorektal dengan
metastasis yang tidak dapat direseksi dan tanpa gejala
Prognosis dinilai berdasarkan 5-year survival rate. Prognosis ditentukan berdasarkan :
♥ staging ♥ derajat histopatologi ♥ derajat diferensiasi ♥ ada tidaknya invasi vaskuler atau perineural
♥ ada tidaknya obstruksi atau perforasi ♥ aneuploidi sel-sel tumor
♥ mucin-producing dan signet cell tumors (intercytoplasmic mucin) ♥ peningkatan kadar cea
INGET !
Prinsip terapi dalam bedah, jika sifatnya local terapi local.
Tapi jika sudah sistemik atau dengan kata lain metastase
terapinya juga sistemik
Contoh gambaran Ca Colorectal
Spesimen yang mengandung kanker kolorectal
yang invasive dengan dua adenomatous polyps.
Multiple adenomatous polyps dari sekum pada
pasien dengan riwayat familial polyposis.
Adenocarcinoma pada cecum dengan pertumbuhan
exophytic (kearah luar)
Adenocarcinoma pada area rectosigmoid tampak
lesi uleseratif disertai infiltrasi
Permukaan mukosa colon pada pasien dengan familial polyposis tampak bentukan “a carpet of small
adenomatous polyps” bentukan ini dapat berkembang menjadi adenocarcinoma
Terapi yang disarankan adalah colectomy
TUMOR PAYUDARA
kelainan pada payudara
1. kelainan kongenital
- supernumary nipples
- accessory axillary breast tissue
- congenital inversion of nipples
2. proses inflamasi
- mastitis akut dan abses
- mammary duct ectasia
- fat necrosis
3. kelainan fibrokistik
perubahan morfologi:
- pembentukan kista dan fibrosis (fibrokistik simpel, kista2)
- hiperplasia epitel duktal, lobuler
- adenosis sklerosing
- hiperplsia epitel, bila terdapat sel atipik ca
- 20-40 th, estrogen >>
penting ! curiga CA jika ; mikrokalsifikasi pada mammografi
predesposisi ca
4. tumor (jinak, ganas)
Kelaianan Ca mamae Fibroadenoma Kista Mammae Papilloma
Intraduktus
Kelainan
Fibrokistik
Tumor Filoides
(Kistosarkoma
filoides)
Galaktokel Mastitis
Insiden >decade ke-4 ♀ 15-25 tahun. 1/3 dari ♀ 35
sampai 50 tahun.
insidens tertinggi
pada dekade ke-6
♀ 25-50 tahun
(>50%)
semua usia sedang menyusui sedang menyusui
Etiopat hormone dependent
prolif ganas
hipersensitivitas
terhadap
estrogen
hiperestrogenism
distensi duktus
atau involusi lobus
hipertrofi pada
epithelium dan
mioepithelial.
hormonal
estrogen dan
progesteron.
Mirip FAM tapi
lebih besar
Dilatasi dr duktus
timbunan air
susu
Bakteri>> infeksi
Klinis Lesi awal
Tunggal, tidak nyeri,
terasa keras dengan
batas yang kurang
jelas
Tahap lanjut
Retraksi
kulit/puting,
limfadenopati
aksillaris,
kemerahan, nyeri,
massa terfiksasi
dengan jaringan
sekitar pada dinding
dada.
Benjolan FAM
kenyal dan halus.
Tidak ada reaksi
radang, mobile
(dapat
digerakkan) dan
tidak
menyebabkan
pengerutan kulit
payudara ataupun
retraksi puting
(puting masuk).
Mayoritas tumor
ini tidak nyeri,
namun kadang
nyeri jika ditekan
licin dan teraba
kenyal pada palpasi,
mobile namun tidak
seperti
fibroadenoma.
Selama
perkembangannya,
pelebaran yang
terjadi pada jaringan
payudara dapat
menimbulkan rasa
nyeri.
Hampir 90%
dari papilloma
intraduktus
adalah dari tipe
soliter nipple
discharge yang
serous dan
bercampur
darah. massa
pada area
subareola
Massa yang
teraba
sebenarnya
adalah duktus
yang berdilatasi.
biasanya multipel,
keras, adanya kista,
fibrosis, benjolan
konsistensi lunak,
terdapat penebalan,
dan rasa nyeri
payudara siklik
berkaitan
perubahan hormon.
Benjolan biasanya
menghilang setelah
wanita memasuki
fase menopause.
FAM tapi besar
dan
pertumbuhanny
a cepat,
terkadang nyeri
+
Benjolan yang
nyeri dan
mungkin pecah
sehingga memicu
reaksi peradangan
lokal fokus
indurasi persisten.
Benjolan dapat
digerakkan,
walaupun dapat
juga keras dan
susah digerakkan
- proses radang (+)
- Terkadang sukar
dibedakan dengan
karsinoma, yaitu
adanya massa
berkonsistensi
keras, bisa melekat
ke kulit, dan
menimbulkan
retraksi puting susu
akibat fibrosis
periduktal, dan bisa
terdapat
pembesaran
kelenjar getah
bening aksila.
mx Triple Diagnostik
{Pemeriksaan klinis
dokter, radiologi
(USG/
mammography) ,
sitologi-FNAB}
Modalitas terapi :
Mastektomi
Kemoterapi dan
Hormonal
Radiasi onkologi
(radioterapi)
Eksisi biopsy
jika curiga ganas
-Eksisi
-Simple aspiration
Terdapat dua
cardinal rules bagi
menunjukkan
aspirasi kista
berhasil yakni
(1) massa
menghilang secara
keseluruhan setelah
diaspirasi dan
(2) cairan yang
diaspirasi tidak
mengandungi darah.
Sekiranya kondisi
ini tidak terpenuhi,
ultrasonografi,
needle biopsy dan
eksisi
direkomendasikan.
konservatif
Eksisi duktus
terminal untuk
tx nipple
discharge
pengangkatan
jaringan
sekitar seminimal
mungkin
Apabila lesi
benigna ini
dicurigai
mengalami
perubahan kearah
maligna, terapi
yang diberikan
adalah eksisi luas
disertai radiasi.
Apabila keluar
cairan dari puting,
baik bening, cair,
atau kehijauan,
sebaiknya
diperiksakan tes
hemoccult untuk
pemeriksaan sel
keganasan.
Medikamentosa
simptomatis,
operasi apabila
medikamentosa
tidak
menghilangkan
keluhannya dan
ditemukan pada
usia pertengahan
sampai usia lanjut.
Tumor filoides
jinak
pengangkatan
tumor disertai 2
cm (atau sekitar
1 inchi) jaringan
payudara sekitar
yang normal.
Tumor filoides
yang ganas
dengan batas
infiltratif
mungkin
membutuhkan
mastektomi tapi
sebaiknya
dihindari
apabila
memungkinkan.
pemeriksaan
patologi dulu
skrining sonografi
terlihat
penyebaran dan
kepadatan tumor
tersebut
dilakukan aspirasi
jarum halus untuk
mengeluarkan
sekret susu.
Pembedahan
dilakukan jika
kista terlalu
kentaldan sulit di
aspirasi
antibiotik. Mastitis
abses insisi
drainase
LIPOMA – ATHEROMA
Penyakit Lipoma Kista Aterom Kista Dermoid
Etiologi Belum diketahui secara pasti Tersumbatnya muara kelenjar sebacea. berkembang dari sekuestrasi epitel
sepanjang garis fusi embrionik.
Epidemiologi 40-60thn 20-30thn jarang terjadi, Frekuensi wanita = pria
Predileksi Dapat tumbuh dimana saja. bagian tubuh yang berambut/ kelenjar
sebaseanya (kepala, wajah, belakang
telinga, leher, punggung, dan daerah
genital).
di kepala dan leher
Klinis - Asimptomatik
- teraba benjolan lunak, konsistensi
kenyal, permukaan rata/berbenjol,
dapat digerakkan (mobile) dan
tidak nyeri.
Khas: ditemukan puncta berbentuk
titik kehitaman sebagai muara
kelenjar di kulit yang tersumbat. Batas
tegas, konsistensi lunak sampai kenyal,
umumnya tidak nyeri
Berupa nodul intrakutan atau subkutan,
soliter berukuran 1-4 cm, mudah
digerakkan dari kulit di atasnya dan dari
jaringan di bawahnya, permukaan halus,
konsistensi lunak dan kenyal, secara
makroskopis isi kista berupa material
keratin yang berlemak dengan rambut.
Terapi - Injeksi steroid triamcinolone
acetonide 10 mg per mL diinjeksi
“into the center of the lesion” dengan
dosis tergantung besar tumor
- Liposuction
- Bedah Eksisi
Indikasi bedah pada lipoma :
- Kosmetik
- Dari hasil histologi didapatkan
gambaran liposarkoma.
- Benjolan bertambahan besar hingga >
5 cm
- Eksisi hindari jika masih ada proses
inflamasi lesinya
- Insisi drainase jika ada fluktuasi (+)
incision techniques
A) No inflammation, B) Central puncta
or inflammation, C) Extensive
inflammation or scar tissue
Eksisi
Mirip atheroma tapi tanpa puncta
Isi kista :
{STASE BEDAH KEPALA LEHER}
STRUMA
Pembesaran kelenjar tiroid
Kelenjar tiroid merupakan suatu kelenjar endokrin yang mensekresikan hormon
Tiroksin atau T4, triiodotironin atau T3 dan kalsitonin (diproduksi oleh kelenjar
parathyroid).
Di dalam darah sebagian besar T3 dan T4 terikat oleh protein plasma yaitu albumin
Sebagian kecil T3 dan T4 bebas beredar dalam darah dan berperan dalam mengatur
sekresi TSH. Hormon tiroid dikendalikan oleh thyroid-stimulating hormone (TSH)
yang dihasilkan lobus anterior glandula hypofise dan pelepasannya dipengaruhi
oleh thyrotropine-releasing hormone ( TRH ).
Untuk dapat mendiagnosa suatu kelainan benjolan di tiroid maka langkah sebagai berikut:
1. bagaimana sifat struma ?
2. Cari tanda keganasan
Adenoma - ± 30-50 tahun
- Nodul bersifat kronis atau bertahun-tahun
- Selain yang ada di adenocarcinoma
Adenocarcinoma Lihat di penjelasan !
Hashimoto
tiroiditis
- Laki:wanita = 1:15, sering terjadi pada usia 30-50 tahun
- Etiologi belum jelas, bias virus atau bakteria
- Bakteri pathogen biasanya adalah staphylococcus, dan pneumococcus, dan
jarang salmonella atau bacteroide.
- struma multinodosa dengan batas nodul tidak jelas, tidak nyeri, tidak febris, dan
berat badan turun.
- Pemeriksaan fungsi tiroid ditemukan TSH normal dan sedikit penurunan T3 dan
T4.
- Terapinya antibiotik/antiviral, Bila sudah terjadi abses maka dilakukan drainage,
Kortikosteroid, Analgetik, hormone Croksin sebagai replacement, pembedahan
untuk mengurangi penekanan yang diakibatkan.
- Biopsi atau FNA dilakukan untuk membedakan dengan proses keganasan
Riedel tiroiditis - Kebanyakan terjadi pada usia 30-60 tahun
- wanita lebih sering dibanding pria.
- Etiologi terjadi fibrosis tidak jelas
- pembesaran yang cepat pada kelenjar tiroid, disertai dengan gangguan pada
trachea atau esophagus.
- Konsistensinya mengeras seperti kayu, bentuk irregular, tanpa rasa nyeri
- hampir tidak didapat kelainan hanya bila pada fase akhir akan didapat hipotiroid.
- Diagnosa biopsy.
- Pengobatan ditujukan pada suplemen hormonal bila dalam kondisi hipotiroid.
- Pembedahan diindikasikan atas adanya penekanan atau jeratan pada trachea atau
esophagus
Carcinoma tiroid
Keganasan paling sering sistem endokrin
Diagnosis:
a. Anamnesa :
- Usia dibawah 20 tahun atau diatas 50 tahun
- Riwayat radiasi daerah leher sewaktu kanak-kanak
- Disfagia, dipsneu, perubahan suara
- Nodul soliter, Tumbuh cepat, Konsistensi keras, Permukaan berbenjol-benjol, Melekat dengan
jaringan sekitar, Ulkus di atas tumor
- Ada pembesaran kelenjar getah bening leher
- Ada tanda-tanda metastasis jauh.
- Bila ada riwayat serupa pada keluarga, harus curiga kemungkinan adanya malignansi tiroid
tipe medulare.
b. Pemeriksaan Fisik :
- Pada tumor primer dapat berupa suatu nodul soliter atau multiple dengan konsistensi bervariasi
dari kistik sampai dangan keras bergantung kepada jenis patologi anatomi (PA) nya.
- Perlu diketahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening regional.
- Disamping ini perlu dicari ada tidaknya benjolan pada kalvaria, tulang belakang, klavikula,
sternum dll, serta tempat metastasis jauh lainnya yaitu di paru-paru, hati, ginjal dan otak.
c. Pemeriksaan Penunjang
- FNAB Ketepatan pemeriksaan sitologi untuk kanker tiroid anaplastik, medulare dan
papilare hampir mendekati 100% tetapi untuk jenis folikulare hampir tidak dapat dipakai karena
gambaran sitologi untuk adenomatous goiter, adenoma folikuler dan adeno karsinoma folikuler
adalah sama, tergantung dari gambaran invasi ke kapsul dan vaskular yang hanya dapat dilihat
dari gambaran histopatologi.
- Frozen section ganas atau jinak
- USG thyroid membedakan nodul yang padat dan kistik, guide FNAB
- Scanning thyroid aktifitas thyroid. bila nodul menangkap jodium lebih sedikit dari jaringan
tiroid yang normal disebut nodul dingin (cold nodule), bila sama afinitasnya maka disebut nodul
hangat (warm nodule) dan bila afinitasnya lebih maka disebut nodul panas (hot nodule).
Karsinoma tiroid sebagian besar adalah nodule dingin. Bila akan dilakukan pemeriksaan sidik
tiroid maka obat-obatan yang mengganggu penangkapan jodium oleh tiroid harus dihentikan
selama 2 – 4 minggu sebelumnya
- Laboratorium
Human thyroglobulin (tumor marker) untuk keganasan tiroid ; jenis yang berdiferensiasi baik,
terutama untuk follow up.
Pemeriksaan kadar FT4 dan TSHs menilai fungsi tiroid
Kadar calcitonin dicurigai karsinoma meduler.
Penatalaksanaan Nodul Tiroid
Bila nodul tiroid secara klinis suspek maligna dilakukan tindakan FNAB ( Biopsi Jarum Halus ). Ada 2
kelompok hasil yang mungkin didapat yaitu :
- Hasil FNAB suspek maligna, “foliculare Pattern” dan “Hurthle Cell” Dilakukan tindakan
isthmolobektomi dengan pemeriksaan potong beku
- Hasil FNAB benigna Dilakukan terapi supresi TSH dengan tablet Thyrax selama 6 bulan kemudian
dievaluasi
Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah dibagi menjadi 2:
1. Kelenjar ludah mayor : Kelenjar parotis, kelenjar submandibula, kelenjar sublingual
2. Kelenjar ludah minor
Kelenjar parotis terletak di depan / di bawah lubang telinga luar dan ujung tulang dagu. Yang secara
anatomis dibagi menjadi 2 bagian, bagian permukaan (superficial) dan bagian dalam (profundus) , yang
dibatasi ole nervus facialis.
nodul jinak
suspek benign
operable
observasi
suspek nmalignant
operabel
isthmolobektomi dan pemeriksaan
potong beku (VC ).
inoperabel
biopsi insisi
debulking dan radiasi eksterna atau
khemoradioterapi.
Tumor Parotis
5 % dr seluruh tumor kepala dan leher. Tumor dari kel ludah mayor 5 kali lebih banyak, dan 70-80%
ialah tumor parotis (80% junak dan 20% ganas).
Gejala dan tanda :
(nyeri, bengkak, perubahan kulit, facial weakness, poor hearing/erache, ditemukan tiba2).
No Tumor Jinak Tumor Ganas
1 Pertumbuhan lambat Pertumbuhan cepat
2 Mobile Immobile
3 Usia muda Usia > 50 tahun
4 Konsistensi kadang keras Teraba keras bisa seperti batu
5 Parese nervus facialis (-) Parese nervus facialis (+)
6 Tidak menyebar jauh Menyebar biasanya pada kelenjar limfe
7 Biasanya tidak nyeri Biasanya nyeri (tapi juga bisa tidak nyeri)
Trismus : kalo invasi ke otot mastilator
Disfagia : invasi ke lobus kelenjar dalam
Earache : kalo invasi ke kanalis auditorius
8 Tumor jinak:
1. Adenoma pleomorfik
2. Adenoma monomorfik
3. Adenolymphoma (warthin Tumor)
4. Benign mucoepidermoid carcinoma
Tumor ganas:
1. Acinic cell Ca
2. Adenoid cystic Ca
3. Adeno Ca
4. Epidermoid Ca
5. Undifferentiated Ca
6. Malignant Ca in adenoma pleomorfik
Diagnosis :
1. FNAB : 96% akurat untuk membedakan tumor parotis jinak atau ganas.
2. Potong beku (Vries coupe/frozen section) : dilakukan bila hasil FNAB tidak dapat memastikan tumor
jinak atau ganas.
Terapi :
1. Parotidektomi superficial : dilakukan bila tumor jinak dan terletak pada lobus superficial.
2. Parotidektomi total : dilakukan pada tumor ganas yang sudah mengenai lobus profundus namun
dengan tetap mempertahankan nervus facialis
3. Lakukan Radioterapi post op untuk mencegah rekurensi.
Bila dari awal tumor sudah dicurigai ganas , dengan ukuran yang besar dan keras, naumn hasil
FNAB tidak dapat memastikan, maka saat dilakukan operasi di potong beku tumornya dan langsung
di PAkan, bila hasil tumot positif ganas, maka saat itu juga langsung dilakukan parotidektomi total
dengan preservasi nervus facialis.
Komplikasi:
1. Kerusakan pada nervus facialis (temporer maupun permanen) : cedera cabang m.orbikularis okuli
kelopak mata sukar menutup, cedera cabang ke mulut: mulut mencong
2. Injury pada greater auricular nerve: baal2 atau kurang berkurangnya rasa pada telinga
3. Penyulit seperti fistula liur
4. Sindroma Frey: karena regenerasi aberan dari serat saraf auriculotemporal terhadap kelenjar keringat
kulitberkeringat pada sisi wajah yang terkena saat mengunyah.
Kanker Lidah
Tipe yang paling umum : squamous Cell Ca
Lokasi: Tumor ini biasanya terletak pada tepi lateral dari oral tongue (2/3 depan lidah).
Karakteristik: ulserasi, berwarna kemerahan, mudah berdarah.
Insiden: pada usai tua, namun juga bisa ditemukan pada usia 21 tahun
Gejala:
1. Patch berwarna merah atau putih yang gak hilang
2. Nyeri tenggorokan gak hilang
3. Luka pada lidah yang gak sembuh2
4. Penebalan/benjolan pada mulut,tenggorokan maupun lidahsusah mengunyah dan menelanbisa
nyeri saat menelan
5. Perdarahan yang gamapang sekali terjadi( saat tergigit atau saat tersentuh saja)
6. Rasa kebal di mulut
Faktor resiko:
1. Merokok, minuman alcohol
2. Pemakan sirih
Manajemen:
1. Pembedahan
2. Radioterapi
3. Kemoterapi
Bila tumor ukuran kecil cukup dibedah saja tumornya
Bila tumor ukuran besar dan ada penyebaran ke kel limfe pembedahan + radioterapi. Pembedahan
dengan mengangkat tumor dan kel limfe (modified radical neck dissection). setelah operasi dilakukan
radioterapi.
Bila tumor meliputi seluruh ludah pengangkakatn lidah (glossectomy), namun biasanya dilakukan
radioterapi dan kemoterapi untuk mengecilkan sel tumor sehingga tidak diperlukan glossectomy.
Komplikasi;
1. Pembedahan : problem bicara, makan dan minum,
2. Radioterapi : dry,sore mouth, taste changes.
{STASE BEDAH THORAK-KARDIOVASKULER}
Pneumothoraks
Keadaan terdapatnya udara dalam kavum pleura
Klasifikasi Pneumotoraks :
1. Berdasarkan terjadinya maka pneumothoraks dibagi menjadi
Pneumothoraks Artifisial :
Disebabkan oleh tindakan tertentu atau memang disengaja untuk tujuan tertentu alasan diagnosis
maupun untuk alasan terapi.
Pneumothoraks Traumatika. Dibagi 2 :
a. Pneumotoraks iatrogenic : Akibat dari prosedur invasive aspirasi jarum transtorasik,
torakosentesis, biopsi pleura, dan biopsi paru transbronkial.
b. Pneumotoraks non-iatrogenik : Terjadi akibat trauma tembus maupun tumpul pada toraks
Pneumothoraks Spontan : terjadi secara tiba2 / adanya penyakit paru yang mendasarinya.
a. Pneumotoraks spontan primer (PSP)
Pneumotoraks ini terjadi pada individu sehat. Etiologi : ruptur blep emfisematosa subpleura.
Patogenesis terjadinya blep :
- abnormalitas kromosom pada sindroma birt-hogg-dube.
- Akuisita : (a) inflamasi bronkiolus, (b) perokok : terjadinya blep subpleura, (c) orang yang tinggi
dan kurus penambahan panjang ukuran dada tekanan pleura turun sekitar 0,2 cm H20
untuk tiap penambahan 1 cm panjang dada di apeks tekanan pleura lebih negatif sedangkan
tekanan alveoli lebih tinggi terbentuk blep subpleura.
b. Pneumotoraks spontan sekunder (PSS)
Terjadi karena adanya penyakit paru yang mendasarinya. Penyakit yang menghasilkan kenaikan
tekanan intrapulmoner, menebal atau menipisnya dinding kista, rusaknya parenkim paru. Contoh:
PPOK, asma, kistik fibrosis, fokus TB kaseosa, pneumonia, Pneumotoraks Katamenial (akumulasi
udara di rongga pleura selama menstruasi (48-72 jam setelah mens), dll.
2. Berdasarkan fistulanya
Pneumothoraks terbuka
a. Trauma tembus hubungan terbuka (two way) P intrapleura = P
atmosfer
b. Paru kolaps tiba-tiba
c. I : paru sakit akan menguncup
d. E : paru sakit akan sedikit mengembang
(pernapasan pendulum) waktu ekspirasi udara paru yang sehat
sebagian akan masuk ke dalam paru yang sakit dan udara yang kotor
akan terhisap kedalam paru yang sehat waktu inspirasi berikutnya
Pneumothoraks tertutup
Biasanya akibat patah tulang iga tulang menusuk paru-paru. Dapat juga tanpa patah tulang iga,
misal : peninggian tekanan intra alveolar secara mendadak. Keadaan ini cenderung sembuh sendiri dengan
adanya kuncupnya paru, lubang yang terbentuk akan menutup. Robekan esofagus atau Tracheobronchial
Tension pneumothoraks (one way valve)
Tekanan intrapleura makin positif Pergeseran Mediastinum
AIR HUNGER !!! segera lakukakan KONTRAVENTIL di ics 2
dengan need




































