Bedah 1
































 Regio-Regio Untuk Status Lokalis 

 

Regio Capitis Regio  Colli 

 

 

1. Frontalis 

2. Orbitalis 

3. Nasalis 

4. Infra Orbital 

5. Oralis 

6. Mentalis 

7. Buccalis 

8. Zygomatical 

9. Temporalis 

10. Parietalis 

11. Occipitalis 

 

1. Sternocleiodomastoideus 

2. Trigonum Submentale 

3. Trigonum Musculare 

4. Trigonum 

Submandibulare 

5. Trigonum Caroticum 

6. Cervicalis Lateralis 

Regio  Thorax Regio  Abdominal 

 

 

 

1. Pectoralis 

2. Presternalis 

3. Clavipectorale 

4. Axillaris 

 

1. Epigastrium 

2. Hipochondrium 

3. Umbilicum 

4. Lumbal 

5. Hipogastric 

6. Inguinalis 

Regio  Extremitas Superior Regio Extremitas Inferior 

 

1. Deltoidea 

2. Brachii 

3. Cubiti 

4. Antebrachialis 

Anterior 

5. Antebrachialis 

Posterior 

6. Carpalis 

7. Dorsum 

Manus 

8. Digiti 

Anterior 

 

Posterior 

 

Anterior 

1. Femoralis Anterior  

2. Trigonum Femorale 

3. Patella / Genus 

4. Cruris Anterior 

5. Dorsum Pedis 

6. Digiti 

 

Posterior 

1. Gluteus 

2. Femoralis Posterior 

3. Fossa Popltea 

4. Cruris Posterior 

5. Calcaneus 

6. Plantar Pedis 

 

 

 

 

 

 

 

{ BEDAH UMUM } 

Luka adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan yang secara spesifik terdapat substansi jaringan 

yang rusak atau hilang.

 

 Berdasarkan 

meknismenya  

- Ekskoriasi 

(luka lecet) 

- Vulnus 

scissum (luka 

sayat) 

- Vulnus 

laseratum 

(luka robek) 

- Vulnus 

punctum 

(luka tusuk) 

- Vulnus 

morsum (luka 

karena 

gigitan 

binatang) 

- Vulnus 

combustio 

(luka bakar) 

 Berdasarkan derajat kontaminasi  

 Luka bersih  

- Luka insisi op, Steril 

- Tidak ada kontak dengan orofaring, 

traktus respiratorius,traktus 

elimentarius, traktus genitourinarius 

 Luka bersih- kontaminasi 

- Luka insisi elektif , Potensi terinfeksi : 

spillage minimal, flora normal 

- Kontak dengan orofaring, respiratorius, 

elimentarius dan genitourinarius 

- Proses penyembuhan lebih lama  

 Luka kontaminasi   

- Potensi terinfeksi : spillage dari traktus 

elimentarius, kandung empedu, traktus 

genito urinarius, urine 

- Luka trauma baru : laserasi, fraktur 

terbuka, luka penetrasi.  

 Luka kotor 

- Akibat proses pembedahan yang sangat 

terkontaminasi 

- Perforasi visera, abses, trauma lama. 

 Klasifikasi penyembuhan luka 

a. Penyembuhan luka primer (sanatio per 

primam intentionem) : Luka bersih dan 

tidak terinfeksi (luka operasi)  langsung 

dijahit  parut lebih halus dan kecil (hair 

line scar) 

b. Penyembuhan luka sekunder (sanatio per 

secundam intentionem) : Penyembuhan 

luka kulit tanpa pertolongan dari luar, 

terjadi secara alami memakan waktu 

lebih lama dan menyebabkan parut yang 

kurang baik 

c. Penyembuhan luka primer delayed / 

tersier (sanatio per tertiam intentionem) : 

Pada keadaaan luka yang tidak dapat 

dijahit secara langsung misal luka yang 

terkontaminasi berat dan/atau tidak 

berbatas tegas. Keadaan ini diperkirakan 

akan menyebabkan infeksi bila langsung 

dijahit  luka dibersihkan dan eksisi 

(debridement) dahulu dan kemudian 

dibiarkan 4-7 hari, baru selanjutnya 

dijahit dan akan sembuh secara primer. 

 

Cara deskripsi luka : 

1. jenis luka 

2. ukuran dan dalam luka 

3. tepi luka dan perlekatan ke dasar luka 

4. penilaian jar. nekrotik, granulasi, fibrin, 

pus, kolonisasi bakteri 

5. kondisi sekeliling luka ; penilaian warna, 

kelembapan 

Teknik Debridement Luka 

1. Surgical sharp-conservative sharp debridement : scalpel, 

curette, scissors, rongeur, and forceps.  

2. Autolitik : aktivasi enzim autolitik tubuh dg 

meningkatkan kelembaban jaringan luka, dg produk 

seperti hirogel, hidrokoloid.  

3. Enzimatik : produk enzim luar.  

4. Biological : maggots, Lucilia sericata (green bottle fly).  

5. Mechanical debridement : irrigation, hydrotherapy, wet-

to-dry dressings, and an abraded technique. 

 

 

 

Ukuran Benang : merupakan salah satu factor yang menentukan kekuatan jahitan. Sedangkan kekuatan 

jahitan ditentukan oleh jumlah jahitan, jarak jahitan, dan jenis benangnya. pada wajah digunakan ukuran 

yang kecil (5,0 atau 6,0). 

 

 

Tehnik Penjahitan Luka (Suture) 

a. jahitan simpul tunggal / simple interrupted suture : 

merupakan jenis jahitan yang sering dipakai. digunakan 

juga untuk jahitan situasi. 

b. jahitan jelujur sederhana / simple running suture, simple 

continous, continous over and over : jahitan ini sangat 

sederhana, sama dengan kita menjelujur baju. biasanya 

menghasilkan hasiel kosmetik yang baik, tidak disarankan 

pada jaringan ikat yang longgar. 

c. jahitan matras horizontal / horizontal mattress suture / 

interrupted mattress : jahitan dengan melakukan 

penusukan seperti simpul, sebelum disimpul dilanjutkan 

dengan penusukan sejajar sejauh 1 cm dari tusukan 

pertama. memberikan hasil jahitan yang kuat. 

d. jahitan jelujur intrakutan / running subcuticular suture, 

jahitan jelujur subkutikular : jahitan jelujur yang dilakukan 

dibawah kulit, jahitan ini terkenal menghasilkan kosmetik 

yang baik 

e. jahitan matras vertikal / vertical mattress suture / donati 

/ near to near and far to far : jahitan dengan menjahit secara 

mendalam dibawah luka kemudian dilanjutkan dengan 

menjahit tepi-tepi luka. biasanya menghasilkan 

penyembuhan luka yang cepat karena di dekatkannya tepi-

tepi luka oleh jahitan ini 

  

  

 

AKUT ABDOMEN 

 

 

Akut abdomen adalah kelainan di abdomen yang 

memerlukan tindakan pembedahan segera. Penyebab umum 

dari akut abdomen ini dibagi ke dalam 5 kategori besar: 

a. Inflamasi yang dibagi menjadi 2 : 

1. Peradangan bacterial (app akut, diverticulitis); 

2. Peradangan kimia (perforasi gasterkeluarnya 

asam lambung). 

b. Mekanikal  kondisi yang menimbulkan obstruksi 

seperti hernia inkarserata, post op adesi, intususepsi, 

malrotasi-volvulus, ca colon dengan penyulit obstruksi. 

c. Congenital semua defek yang harus ditangani cepat 

seperti atresia duodenum, omfalokel, hernia 

diafragmatika 

d. Vaskuler  akibat dari thrombosis atau emboli arteri 

mesentrika  iskemia 

e. Trauma  perdarahan, perforasi hollow organ 

DD dari papdi ui: 

1. Hipokondrium kanan: kolesistitis, kolangitis, hepatitis, pancreatitis,  abses subfrenikus, pneumonia  

2. Hipokondrium kiri: nyeri limpa karena limpoma, infeksi virus. Abses subfrenikus, pneumonia, ulkus 

gaster, aneurisma aorta 

3. Epigastrium: pancreatitis, ulkus duodenum, ulkus gaster, kolesistitis, ca pancreas, hepatitis, obstruksi 

intestinal (ileus), apendisitis (gejala awal), abses subfrenikus, ima 

4. Periumbilikalis: pancreatitis, ca pancreas, intestinal (ileus), apendisitis (gejala awal), aneurisma aorta. 

5. Lumbal: batu ginjal/ureter, pielonefritis, abses perinefrik 

6. Inguinal dan suprapubik: appendicitis, diverticulitis meckel, crohn’s disease, colitis ulserativa, 

salphingitis, toa, ket, kista ovarium, sistitis 

Jenis Nyeri Perut 

1. Nyeri Visceral  

- nyeri pd peritoneum visceral   oleh saraf otonom  tidak peka pada perabaan atau pemotongan 

TAPI PEKA TERAHADAP PEREGANGAN misal terjadi kontraksi berlebihan pada otot yang 

menyebabkan iskemia, missal pd kolik (nyeri abdomen akut) atau radang pd apendisitis  akan 

timbul nyeri. 

- tidak dapat menunjukkan secara tepat letak nyeri biasanya ia menggunakan seluruh telapak 

tangannya. 

2. Nyeri Somatic 

- nyeri karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi 

- nyeri seperti ditusuk atau disayat dan pasien dapat menunjukkan secara tepat letaknya dengan jari. 

- rangsang yang menimbulkan nyeri ini dapat berupa karena rabaan, tekanan, rangsang kimia, 

ataupun karena proses radang  misalnya nyeri alih diafragma dirasakan di bahu. hal ini 

disebabkan karena inervasi yang sama pada diafragma dan bahu oleh saraf servikal :  akar saraf  

C3, C4, C5 serta n.frenikus. 

 

 

 

 

 

 

 

PERITONITIS 

Peritonitis adalah proses inflamasi pada lapisan peritoneum, baik terlokalisasi maupun secara general. 

Respon tubuh thd peritonitis ada 2 : 

 

1. Respon Primer: 

a. membran inflamasi : two way street, 

dimana belum terjadi perforasi 

namun bakteri dapat ditemukan 

dalam cavum peritoneum karena 

permeabilitas yang terganggu. 

b. respon usus: hipermotilitas lama2 

kecapean jadi adinamikdistensi 

usus (ileus paralitik)  muntah  

dehidrasi. 

c. hipovolemi: output banyak keluar 

(dilatasi vascularcairan plasma 

keluar dr vascular ke intersitiel) input 

sedikit (usus atonik menahan cairan 

sehingga sairan tidak diserap di 

colon). syok hipovolemik karena 

sekuestrasi cairan dan elektrolit ke 

rongga ketiga. 

2. Respon Sekunder: 

a. endokrin respon: sebagai respon terhadap 

hipovolemia peningkatan epinefrin dan norepinefrin 

dari medulla adrenal, kemudian hr ke-2dan 3 korteks 

adrenal mengeluarkan adh dan aldosteron. 

b. cardiac respon: akibat dari hipovolemi ialahturunnya 

vr,co dan lemahnya otot jantung shg kompensasi ialah 

dengan meningkatkan kronotropik dengan mempercepat 

denyutan (meningkatkan heart rate) 

c. respiratory respon: melemahnya otot pernapasan dan 

berkurangnya volume ventilasi kompensasi RR 

ditingkatkan, tapi masih hipoksia shg metab anaerob 

dan peningkatan asam. 

d. renal respon: filtrasi glomerulus menurun produksi 

urin menurun. 

e. metabolik respon: meningkatnya kebutuhan energi tapi 

supply oksigen kurang  metabolisme anaerob. 

 

 

Manifestasi klinis: 

1. Penderita kelihatan kesakitan (hipocratic face) berbaring dengan tungkai fleksi.  

2. Secara umum penderita mengalami anorexia,nausea. 

3. Pernapasan thoracal dengan aktivitas otot interkostal, yang cepat dan dangkal 

4. Abdomen : distensi, nyeri tekan dan nyeri lepas, defans muscular, bising usus melemah sampai hilang 

5. Suhu meningkat  sepsis (sirs + sumber infeksi yg dibuktikan) sepsis berat (bila mengenai organ) 

syok sepsis (volume vaskular normal namun tek darah rendah sekali krn vasodilatasi) 

6. Saat rectal examination : tonus spinchter melemah, nyeri si seluruh arah jam. 

 

Pemeriksaan penunjang 

1. Darah rutin 

2. Radiologis foto thoraks dan foto polos abdome 3 posisi, berikut gambaran radiologis dari suatu 

perforasi : 

 Adanya cairan dalam cavum peritoneum: 

a. Tampak pelebaran ruang antar usus dengan cairan yang disebut gambaran moulage 

b. Bila jumlah cairan sedikit dalam cavum abdomen, misalnya 100 ml cairan terlihat di kavum 

douglass, di atas os sacrum-vesika urinaria gambaran dog ears 

c. Gambaran abdomen mengabur  (ground glass app) karena adanya cairan/ascites intraabdomen 

ekstralumen. 

d. Exoperitoneum fat line suram atau hilang sama sekali. 

 Adanya dilatasi usus yang menyeluruh dari gaster hingga rektum, penebalan dinding usus dan 

transudasi cairan yakni air fluid level yang pendek maupun panjang. 

 Adanya udara dalam cavum peritoneum  subdiafragma  pneumoperitoneum 

 

Penatalaksanaan pre operasi: 

1. Puasa 

2. Resusitasi cairan dan monitoring  kateter 

3. Dekompresi  dengan nasogastrictube  tujuan: mencegah aspirasi dan mengambil cairan 

4. Beri antibiotic sistemik (broad spectrum sefalosporin gen 3 + metronidazol) 

Penatalaksanaan operasi: 

1. Laparatomi eksplorasi  

2. Evakuasi pus 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

APPENDICITIS 

Peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis 

 

 

 

 Persarafan parasimpatis  cabang dari nervus vagus yang mengikuti 

a.mesenterika superior dan a.appendikularis 

 persarafan simpatis  pleksus mesenterik superior yang berasal dari nervus 

vertebra thorakalis sepuluh. 

Etiologi : 

• sumbatan lumen apendiks  

• fecaliths or appendicoliths  

• lymphoid hyperplasia 

(khususnya terjadi sekunder 

akibat infeksi virus) 

• infeksi 

• tumor apendiks 

• mukus (paling sering terjadi 

pada kistik fibrosis) 

• apendiks yang terangulasi, dan 

cacing askaris 

• erosi mukosa apendiks karena 

parasit seperti e. histolytica. 

• peran kebiasaan makan, dll 

 

Gambaran Klinis: 

- Nyeri periumbillical atau di daerah epigastrium  keluhan ini sering disertai dengan mual dan kadang 

muntah  dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik mc burney (nyeri tekan, 

nyeri lepas dan defans muscular setempat di titik ini). 

- tanda rangsang peritoneal pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. 

 

Pemeriksaan : 

- TTV dan head to toe seperti biasa  status lokalis 

- Inspeksi abdomen: tidak spesifik, distended ? terlihat ada massa ? 

- Palpasi abdomen:  nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis. bisa disertai pula dengan 

nyeri lepas. defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal. Karena terjadi 

pergeseran sekum ke kraniolaterodorsal oleh uterus, keluhan nyeri apendisitis sewaktu hamil trimeseter 

2 dan 3 akan bergeser ke kanan sampai ke pinggang kanan.  

- Peristalsis usus sering normal ; jika hilang  ileus paralitik pada peritonitis generalisataa akibat 

apendisitis perforate. 

- pemeriksaan colok dubur 

  

Manuver Khusus Untuk Pemeriksaan Apendisitis 

Mc Burney’s Sign 

 

Penekanan pada 

McBurney's point 

yang terdapat di 2/3 

antara umbilikus 

dan anterior 

superior iliac spine 

(ASIS). 

Rovsing’s sign 

 

Positif jika dilakukan 

palpasi dengan tekanan 

pada kuadran kiri bawah 

dan timbul nyeri pada sisi 

kanan. 

Blumberg sign 

 

Disebut juga 

dengan nyeri lepas. 

Palpasi pada 

kuadran kanan 

bawah kemudian 

dilepaskan tiba-tiba 

Psoas sign atau Obraztsova’s 

sign 

 

Pasien dibaringkan pada 

sisi kiri, kemudian 

dilakukan ekstensi dari 

panggul kanan. Positif 

jika timbul nyeri pada 

kanan bawah. 

Obturator sign 

 

Pada pasien 

dilakukan fleksi 

panggul dan 

dilakukan rotasi 

internal pada 

panggul. Positif jika 

timbul nyeri pada 

hipogastrium atau 

vagina. 

Aure-Rozanova’s sign 

 

Bertambahnya nyeri 

dengan melakukan 

palpasi ringan dengan 

menggunakan jari pada 

segitiga petit (petit 

triangle) kanan (akan 

positif Shchetkin-

Bloomberg’s sign) 

Dunphy’s sign Pertambahan nyeri 

pada tertis kanan 

bawah dengan 

batuk 

Sitkovskiy (Rosenstein)’s 

sign 

Nyeri yang semakin 

bertambah pada perut 

kuadran kanan bawah 

saat pasien dibaringkan 

pada sisi kiri 

Kocher (Kosher)’s sign Nyeri pada awalnya 

pada daerah 

epigastrium atau 

sekitar pusat, 

kemudian berpindah 

ke kuadran kanan 

bawah. 

Bartomier-Michelson’s sign Nyeri yang semakin 

bertambah pada kuadran 

kanan bawah pada pasien 

dibaringkan pada sisi kiri 

dibandingkan dengan 

posisi terlentang 

 

Diagnosis : 

1. lab : DL, CRP, UL, asam 5-hidroksiindoleasetat (U-5-HIAA)  kadar serotonin dalam 

appendiks 

2. imaging : USG, Foto Polos Abdomen 

3. CT SCAN (gold standart untuk px pediatric  selalu konsul dr. Sp.BA) 

 

Table. The Modified Alvarado Score Skor 

Interpretasi dari Modified 

Alvarado Score: 

 1-4     : sangat mungkin 

bukan apendisitis akut 

 5-7     : sangat mungkin 

apendisitis akut 

 8-10   : pasti apendisitis 

akut 

Gejala Perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut 

kanan bawah 

 Mual-Muntah 1 

 Anoreksia 1 

Tanda Nyeri di perut kanan bawah 2 

 Nyeri lepas 1 

 Demam diatas 37,5 ° C 1 

Pemeriksaan 

Lab 

Leukositosis 2 

 Hitung jenis leukosit shift to the left 1 

 Total 10 

 

 

Diferential diagnosis: 

 gastroenteritis 

 urolitiasis pielum / ureter kanan 

(batu ureter atau batu ginjal kanan) 

 kehamilan di luar kandungan 

 demam dengue 

 limfadenitis mesentrika 

 kelainan ovulasi 

 adnexitis - coxitis 

JANGAN LUPA LAKUKAN RT DAN 

VT (KONDISI KHUSUS) UNTUK 

MENYINGKIRIKAN KONDISI 

GINEKOLOGI DAN LAINNYA 

 kista ovarium terpuntir  endometriosis eksterna 

 penyakit saluran cerna lainnya: seperti diverkulitis meckel, perforasi tukak duodenum atau lambung, 

kolesistitis akut, pancreatitis, diverkulitis kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid 

abdominalis, karsinoid dan mukokel apendiks. 

 

Tatalaksana : 

- appendiectomy : open maupun laparoscopy 

- antibiotik 

- simtomatik  

 

Tabel . Macam-macam Insisi untuk apendektomi 

Insisi Grid Iron (McBurney Incision) 

 

Insisi Grid iron pada titik McBurney. Garis insisi 

parallel dengan otot oblikus eksternal, melewati 

titik McBurney yaitu 1/3 lateral garis yang 

menghubungkan spina liaka anterior superior 

kanan dan mbilicus. 

Lanz transverse incision 

 

Insisi dilakukan pada 2 cm di bawah pusat, insisi 

transversal pada garis miklavikula-midinguinal. 

Mempunyai keuntungan kosmetik yang lebih baik 

dari pada insisi grid iron. 

 

Rutherford Morisson’s incision (insisi 

suprainguinal) 

 

Merupakan insisi perluasan dari insisi McBurney. 

Dilakukan jika apendiks terletak di parasekal atau 

retrosekal dan terfiksir 

Low Midline Incision 

 

Dilakukan jika apendisitis sudah terjadi perforasi 

dan terjadi peritonitis umum 

Insisi paramedian kanan bawah 

 

Insisi vertikal paralel dengan midline, 2,5 cm di bawah umbilikus sampai di atas pubis. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Patofisiologi :  

 

 

 

Komplikasi : 

Lihat diagram 

 

 

 

 

 

 

 

 

HEMOROID 

Pelebaran pleksus vena hemoroidalis 

 

 

- hemoroid eksterna: pelebaran pleksus v 

hemoroidalis inferior di sebelah distal garis 

mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel 

anus. 

- hemoroid interna: pelebaran pleksus v 

hemoroidalis superior di atas garis mukokutan 

dan ditutupi oleh mukosa 

• grade I : benjolan masih di dalam 

• grade II : benjolan keluar masuk saat BAB 

• grade III : benjolan keluar  bias masuk dengan 

bantuan jari 

• grade IV : benjolan ndak bias masuk, nyeri >>> 

 

gejala klinis: 

1. benjolan bisa nyeri atau enggak 

2. perdarahan saat bab  berulang  

anemia. 

3. iritasi kulit perianal karena rangsangan 

mucuspruritus ani. 

 

Intermezzo 

1. Yakin grading hemoroid itu udah grade IV ? 

Jadi hemoroid itu itu sifatnya compressable, 

jika kita menemukan px hemoroid interna yang 

benjolannya ada diluar  coba aja masukin 

dulu  kalo masih bisa masuk ya berarti masih 

grade III. 

2. Lebih nyeri mana interna atau eksterna ? ya 

eksterna  banyak persarafan yang berada di 

subkutannya, kalo interna kan mukosa 

Pemeriksaan : 

1. colok dubur: yang interna kadang tidak teraba  tekanan vena yang di dalam kurang tinggi jadi, colok 

dubur hanya untuk menyingkirkan kemungkinan ca rektum 

2. anoskopi: untuk melihat hemoroid yang interna 

3. proktosigmoidoskopi: mencari kemungkinan kelainan di tempat yg lebih tinggi. 

 

DD : ca colorectal, divertikulosis, polip, colitis ulserativa. 

 

Penatalaksanaan : 

hemoroid eksterna 

1. keluhan nyeri dikurangi dengan rendam duduk dalam air hangat bisa pake detol, salep analgesic 

2. hemoroid eksterna yang mengalami thrombus dan pasien datang <48 jam dapat ditolong dengan 

mengeluarkan thrombus atau melakukan eksisi lengkap secara hemoroidektomi dengan anestesi 

local.  

3. bila thrombus sudah terorganisir dan tidak dapat dikeluarkan, terapi konservatif merupakan pilihan.  

4. jangan melakukan reposisi hemorid eksterna yang mengalami thrombus sebab kelainan ini terjadi 

pada struktur luar anus.  

hemoroid interna 

- derajat 1-2 biasanya masih konservatif 

- derajat 3 bisa konservatif atau operatif  tergantung klinis pasien dan pertimbangan dokter 

- derajat 4  operatif : (1) minimal invasive ( skleroterapi, rubber band ligation, cryosurgery, infra 

red coagulation, stapled hemorroidopexy ); (2) hemmoroidectomy operative 

 

 

 

KOLELITIASIS 

penyakit yang disebabkan oleh adanya batu di dalam kandung empedu 

 

  

 

Proses terbentuknya batu 

   

 

Fungsi GB : (1)Reservoir; (2)Pemekatan Empedu; 

(3)Sekresi Mukus. 

 

Intermezzo 

Jadi INGET !!! kenapa bisa terjadi  hydrops GB ? ya 

kan fungsi GB selain penyimpanan juga mensekresi 

mucus, jadi sekalipun tetap ada penyumbatan pada 

ductus sisticusnya GB tetap mensekresi mucus  

dilatasi lumen  biasanya cairannya steril. 

Kalo ada mukusnya  mucocel 

 

 

4 Tahapan Cholelithiasis 

1. Keadaan litogenik, di mana kondisi mendukung pembentukan batu empedu 

2. Batu empedu tanpa gejala  biasanya ditemukan pada studi pencitraan rutin atau secara 

kebetulan di laparotomi untuk masalah yang tidak berhubungan. 

Gejala perut yang umum seperti dispepsia, erosi, atau perut 

kembung tanpa rasa sakit yang terkait mungkin tidak disebabkan 

oleh batu empedu. 

 Management : 

     Biasanya simtomatik saja, perlu kolesistektomi jika : 

 Ukiran batu >2 cm atau <2mm 

 Anak-anak dengan batu empedu memiliki indikasi relatif 

untuk kolesistektomi. 

 Pasien dengan diabetes mellitus, trauma sumsum tulang 

belakang, dan anemia sel sabit, atau pasien 

immunosuppressed lainnya 

 Curiga ke arah keganasan 

3. Batu empedu simptomatik  MURPHY SIGN + (sudah ada inflamasi pada GB  kolesistitis) 

 Kolik bilier adalah gejala utama dan diawali oleh impaksi batu 

empedu pada saluran keluar kantong empedu, sebagaimana 

ditandai oleh hal-hal berikut :  

 Periodisitas: Nyeri datang dalam serangan berbeda yang 

berlangsung 30 menit hingga beberapa jam. 

 Lokasi: Di epigastrium atau kuadran kanan atas. 

 Keparahan: Rasa sakitnya stabil dan intens dan dapat 

menyebabkan pasien membatasi pernapasan. Seringkali, 

sangat parah sehingga perawatan segera dicari dan narkotika 

diperlukan untuk kontrol. 

 Waktu: Rasa sakit terjadi dalam beberapa jam setelah makan, 

sering membangunkan pasien dari tidur. 

 Gejala lain bisa saja muncul 

4. Batu empedu + komplikasi    

 

Komplikasi : 

a. Lihat diagram + hidrops vesica felea (corvousier law) terabanya vesica felea tanpa nyeri. 

 

Pemeriksaan tambahan : 

 Laboratorium : darah rutin, urin, tinja 

 Tes faal hati: bilirubin total dan direk, sgot/sgpt, alp, ggt, kolesterol, pt 

 Foto polos:  

- 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak 

- pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu 

kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara 

dalam usus besar, di fleksura hepatika 

 ultrasonografi  

 kolesistografi oral / endoscopic retrogade choledochopancreaticography (ERCP) 

 CT-Scan 

 

Penatalaksanaan : 

Penatalaksanaan medikamentosa : Penatalaksanaan  bedah : 

1. Disolusi medis : asam xenodeoksikolat 

2. Disolusi kontak 

meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol 

yang poten (metil-ter-butil-eter{mtbe}) ke dalam kandung 

empedu melalui kateter yang diletakkan per kutan telah 

terlihat efektif dalam melarutkan batu empedu pada pasien-

pasien tertentu. prosedur ini invasif dan kerugian utamanya 

adalah angka kekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun). 

1. Kolesistektomi Terbuka 

2. Kolesistektomi Laparaskopi 

3. Litotripsi Gelombang Elektro 

(ESWL) 

4. Kolesistotomi 

5. Endoscopic Retrograde 

Cholangiopancreatography (ERCP) 

– Diagnostic Sekaligus Terapi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ILEUS 

Suatu kondisi diman terdapat gangguan pasase atau jalannya makanan di dalam usus 

 

 

klasifikasi ileus obstruksi 

ILEUS 

NEUROGENIC

KELAINANNYA DI SARAF OTONOM 

PARASIMPATIS DARI SERABUT POST 

GANGLIONER SACRAL II- IV. 

ILEUS PARALITIK 

(ADINAMIC)

lesi saraf karena radang, terjepit atau karena 

kelelahan akibat kontraksi yang terus 

menerus sehingga usus tidak berkontraksi 

ILEUS SPASTIC 

(DINAMIC)

rangsangan saraf parasimpatis akibat 

keracunan, hysteria, atau neurasteni sehingga 

usus akan berkontraksi terus menerus

ILEUS 

OBSTRUKSI

SINONIM = ILEUS 

MEKANIK

KASUS BEDAH !

 

 

berdasarkan mekanisme obstruksi berdasarkan klinis / gradasi berdasarkan letak hambatan 

a. intralumen: akibat massa 

dalam lumen seperti 

mekonium, fecalith, gallstone, 

tumor polipoid, 

intususepsi/invaginasi 

b. intramural: kelainan pada 

dinding usus dengan beberapa 

penyebab sbb:  

- congenital : atresia, 

duplikasi, stenosis, 

imperforate 

- trauma dan striktur karena 

radiasi 

- inflamasi : entertitis, crohn 

diseases, divertikulitis,  

colitis, dll 

c. ekstralumen : adhesi, hernia, 

anular pancreas, carcinoma 

ekstralumen  menekan lumen, 

malrotasi-volvulus. 

a. Partial : makanan masih bias lewat 

b. obstruksi sederhana/simple. 

- tidak disertai terjepitnya vaskuler, 

akumulasi cairan & gas dlm jumlah 

besar dalam lumen usus. 

- awalnya absorbsi ↓, sekresi dbn → 

dalam 24-48 jam → sekresi↑, 

absorbsi↓, edema, eksudasi cairan ke 

rongga peritoneum → kehilangan 

cairan & elektrolit. 

c. obstruksi strangulate 

- volvulus, hernia, invaginasi & adhesi. 

- gangguan vaskuler→ iskemia, nekrosis, 

ganggren 

- iskemi→kerusakan sawar dinding 

usus→bakteri usus → rongga 

peritoneum  peritonitis 

d. closed-loop obstruction 

obstruksi terjadi pd 2 tempat, penyebab 

: adhesi,volvulus. 

a. ileus obstruksi letak tinggi, 

menurut letaknya dibedakan 

menjadi :  

- obstruksi di atas pylorus, 

gejala utama adalah 

muntah, distensi abdomen 

kurang. 

- obstruksi di bawah pylorus 

sampai iliocaecal junction: 

muntah feses (warna 

kuning seperti tinja), 

distensi abdomen nyata 

b. ileus obstruksi letak rendah : 

dari sekum hingga anorektal 

- etiologi : bias karna 

keganasan 

- klinis : distensi abdomen +, 

jarang terjadi muntah 

 

 

Etiologi ileus obstrusi : 

Hernia 

 

Volvulus 

 

Adhesi 

 

Tumor 

 

Intususepsi 

 

 

Patogenesis : 

 

 

 

 

 

 

 

ileus obstruksi

mekanisme obstruksi

intralumen

intramural

ekstralumen

klinis / gradasi

simple obstruksi

obstruksi strangulata

a.closed-loop obstruction

(2 titik)

letak hambatan

letak 

tinggi

diatas 

pylorus

dibawah 

pylorus

letak 

rendah

Obstruksi pada usus 

Makanan tertumpuk di lumen usus 

Tekanan intraluminal meningkat 

Tekanan terhadap dinding usus meningkat 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diagnosis 

Kardianl Sign ! 1. NYERI KOLIK ABDOMEN 

2. MUNTAH 

3. DISTENSI ABDOMEN 

4. KEGAGALAN DEFEKASI DAN FLATUS 

Anamnesis Ileus obtruktif usus halus  : kolik dirasakan di  sekitar umbilikus, muntah kehijauan 

Ileus obtruktif usus besar  : kolik dirasakan di  sekitar suprapubik, onset muntah lama 

Pemeriksaan 

Fisik 

- Inspeksi : Tanda2 dehidrasi (kehilangan  turgor kulit, mulut dan lidah kering) / 

Harus dilihat adanya distensi pada abdomen, skar  abdomen, hernia dan massa 

abdomen / Pada penderita kurus atau sedang dapat ditemukan  “gambaran kontur 

usus” maupun  “gambaran gerakan usus” 

- Palpasi dan Perkusi : Pada palpasi didapatkan distensi abdomen dan  perkusi 

timpani. Palpasi bertujuan mencari adanya iritasi  peritoneum atau nyeri tekan yang 

mencakup  defance muscular involunter atau rebound dan  massa yang abnormal. 

- Auskultasi : Terdengar metalic sound  bernada tinggi dan  peristaltik meningkat 

(borborigmi) 

Tapi jika proses atau perjalanan penyakitnya sudah lama  sudah terjadi dilatasi 

usus berlebihan dan usus mengalami fatique (capek/kelelahan)  peristaltic usus 

menurun  dan terkadang tidak ada 

Pemeriksaan 

penunjang 

Lab :  

- Biasanya menunjukkan kondisi dehidrasi atau bias juga normal jika perjalanannya 

masih akut 

- leukosit  normal, obstruksi mekanik sederhana :15.000-20.000/mm3, obstruksi 

strangulata : 30.000- 50.000/mm3 

Radiologis : 

o Herring bone appearance (Muskulus sirkuler – menyerupai  costa ikan) 

o 2 dinding usus halus yang  terdilatsi menebal dan menempel 

o Step-ladder appearance (Gambaran air fluid level yang  pendek-pendek berbentuk 

seperti  tangga, karena cairan transudat  berada dalam usus halus yang  mengalami 

distensi) 

o Dilatasi usus di proksimal sumbatan (sumbatan di colon) diikuti kolaps usus di distal 

sumbatan 

 

Penatalaksanaan 

Preoperatif 

 terapi cairan dan elektrolit (infus RL/NACL) 

 pasang ngt  puasakan pasien (dekompresi) 

 pemberian antibiotik 

 pasang kateter → pantau produksi urine, tanda-tanda dehidrasi. 

 observasi tanda vital 

Operatif 

 laparatomi untuk tujuan mencari dan melepaskan penyebab hambatan 

~ lisis pita lekat atau reposisi hernia 

~ By-pass atau pintas usus 

~ reseksi dgn anastomosis→ end to end, end to side, side to side. 

~ diversi stoma dengan atau tanpa reseksi. 

 Kolostomi 

macam-macam kolostomi 

Menurut Letak Menurut Bentuk Menurut Lama 

- cecostomy 

- colostomy transversum 

- colostomi sigmoid 

- double barel 

- double lup 

- simple colostomy 

- temporer colostomy 

- permanen colostomy 

 

Komplikasi 

Gangguan Elektrolit, Sepsis, MODS, Apirasi, Iskemik Usus  Nekrosis, Enterokolitis. 

 

 

 

 

 

 

 

 

NEOPLASMA 

Sekelompok sel abnormal yang tumbuh terus menerus, melebihi kebutuhan dan tak terkoordinasi, ditandai 

dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak terkendali 

(pembelahan sel melebihi batas normal), menyerang jaringan biologis di dekatnya dan bermigrasi ke 

jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis 

 

 

 

Sifat  Asal Dan Jaringan Struktur 

TUMOR 

JINAK 

TUMOR 

GANAS 

 SARCOMA CARCINOMA 

Terdiri dari 

jaringan 

dewasa 

Terdiri dari 

jaringan muda 

 

Terdapat pada semua usia terutama 

muda 

Lebih banyak pada usia 

tua 

Aktivitas 

mitosis (-) 

Aktivitas 

mitosis banyak 

 Lebih ganas Kurang ganas 

Tumbuhnya 

expansif 

Tumbuhnya 

infiltratif 

 Konsistensi lunak merata 

Konsistensi lunak tidak 

rata 

Umumnya 

bersimpai jelas 

Tidak 

bersimpai 

 

Terdiri dari sel muda yang diffuse dan 

infiltratif ke dalam jaringan secara 

merata 

Sel-sel tumbuh seperti 

akar ke dalam jaringan 

sekitarnya 

Tumbuhnya 

lambat 

Tumbuhnya 

relative cepat 

 

Metastase pertama sering di hati dan 

pulmo 

Umumnya kelenjar limfe 

regional 

Tidak 

metastase 

Mengadakan 

metastase 

 Sel datia lebih banyak Sel datia kurang 

Bila diangkat, 

sembuh 

Sering residif  

Sel-sel mesoblastic dan batas tidak 

jelas : cabang cytoplasma masuk 

jaringan ikat 

Batas sel lebih jelas 

Jarang menjadi 

inflamasi 

sekunder 

Mudah 

menjadi ulcus 

 

Umumnya mengandung pembuluh 

darah di antara sel berupa sinusoid / 

kapiler berdinding tipis sehingga 

mudah berdarah 

Umumnya kurang 

pembuluh darah & di 

dalam stroma sehingga sel 

kurang darah dan necrose 

Kematian 

minimal 

Kematian >>  Metastase lewat aliran darah Aliran limfe 

 

 

NEOPLASMA PADA GASTROINTESTINAL 

 

N

eo

p

la

sm

a

Sifat

Jinak / Benign

Ganas / Malignan

Asal Dan 

Jaringan Struktur

Mesenchym

Jinak --> OMA

Ganas --> SARCOMA

Epithel

Jinak --> OMA

Ganas --> CARCINOMA

Sangat 

Undifferentiated

UNDIFFERENTIATED 

MALIGNANT NEOPLASMA

Esophagus (<5%) 

 

 

 

 

 

CARSINOMA COLORECTAL 

keganasan yang berasal dari jaringan usus besar, terdiri dari kolon (bagian terpanjang dari usus besar) 

dan/atau rektum (bagian kecil terakhir dari usus besar sebelum anus) 

 

Faktor risiko kanker kolorektal : 

- Tidak dapat dimodifikasi : adalah riwayat kanker kolorektal atau polip adenoma individual dan 

keluarga, dan riwayat individual penyakit kronis inflamatori pada usus.  

- Dapat dimodifikasi : inaktivitas, obesitas, konsumsi tinggi daging merah, merokok  dan konsumsi 

alkohol. 

- penyebab pasti belum jelas ! 

 

Secara Makroskopis Terdapat 3 Tipe Ca Colorectal: 

Tipe Polopoid / Vegetative 

/ Fungating / Cowly Flower 

tumbuh menonjol ke lumen usus dan berbentuk bunga kol. sering ditemukan 

disekum dan kolon asendens 

Tipe Annular - Tubular mengakibatkan penyempitan sehingga terjadi gejala stenosis dan obstruksi. 

ditemukan terutama di kolon desendens, sigmoid dan rectum 

Tipe Ulseratif terjadi nekrosis sentralis. ditemukan terutama pada rektum 

Secara Mikroskopis : 

 

 

Colon dan 

Rectum (5%) 

 

Stomach (60%) 

 

Small bowel (30%) 

 

 

Metastase 

adapun metastase dari ca colorectal melalui beberapa mekanisme sbb: 

 Perkontinuitatum : menembus dinding usus dan ke jaringan sekitar misal ureter, buli, uterus, vagina, 

prostat. 

 Limfogen : ke kelenjar parailliaka, mesentrika, dan paraaorta 

 Hematogen : terutama ke hepar >> , bila tumor pada 1/3 distal rectum dapat menyebar ke paru-paru. 

 Rongga peritoneal : peritonitis karsinomatosa dengan atau tanpa asites 

 Implantasi selama pembedahan (intraoperative spreading) 

 

Gejala Klinis : 

gejala klinis tumor tergantung pada letak, lokasi, dan luas tumor 

 

ca colon kanan 

mulai dari sekum -1/3 

tengah kolon 

transversum 

ca colon kiri 

mulai dari 1/3 kolon 

transversum-sigmoid 

ca rectum 

Embriologis mid gut hind gut hind gut 

Anatomi lumen relative lebih besar lumen relative lebih kecil  

Fungsi absorbsi penyimpanan defekasi 

Tipe Tumor 

lunak, rapuh, ulseratif, 

polipoid 

skirous polipoid 

Klinis 

keluhan biasanya tidak 

khas. nyeri perut samar-

samar (nyeri bermula di 

epigastrium), benjolan di 

perut kanan, feses semi 

cair (>cair dan diare warna 

coklat/hitam), anemis 

(perdarahan mikroskopis). 

keluhan lebih jelas. gejala 

obstruksi/obstipasi (jarang bab, 

butuh pencahar) dengan nyeri 

perut yang nyata (gas pain 

cramps-nyeri bermula di 

bawah umbilikus), feses makin 

ke distal makin padat seperti 

tahi kambing disertai darah 

segar pada kotoran. 

nyeri pada stadium lanjut 

(nyeri di panggul dalam 

atau di anus), feses kecil2 

sprt tahi kambing dengan 

darah segar pada kotoran, 

gejala khas ialah defekasi 

dengan tenesmus 

 

- Pemeriksaan colok dubur dilakukan pada setiap pasien dengan gejala ano-rektal. Pemeriksaan ini bertujuan 

untuk menetapkan keutuhan sfingter ani dan menetapkan ukuran dan derajat fiksasi tumor pada rektum 1/3 

tengah dan distal. Pada pemeriksaan colok dubur ini yang harus dinilai adalah :   

1. Keadaan tumor: Ekstensi lesi pada dinding rektum serta letak bagian terendah terhadap cincin 

anorektal, cervix uteri, bagian atas kelenjar prostat atau ujung os coccygis.   

2. Mobilitas tumor: Hal ini sangat penting untuk mengetahui prospek terapi pembedahan.   

3. Ekstensi dan ukuran tumor dengan menilai batas atas, bawah, dan sirkuler.  

- Endoskopi, merupakan prosedur diagnostik utama dan dapat dilakukan dengan sigmoidoskopi (>35% 

tumor terletak di rektosigmoid) atau  

- dengan KOLONOSKOPI DISERTAI BIOPSY (gold standart) 

- Enema barium dengan kontras ganda  untuk melihat ada arrest (stopping contrast), stenosis, filling 

defect (napkin ring, apple core)  

- Darah rutin dan tumor marker : CEA (carcino embrionic antigen) yang diambil dari urine/feses.  

o kadar < 10 ng/ml → stadium dini.  

o kadar > 10 ng/ml → stadium lanjut. follow up setelah operasi → 4 minggu, 3-6 bulan. CEA dapat 

kembali < 3 (-), tapi dapat residif → telah metastase. 

 

Staging Tumor 

Klasifikasi staging tumor digunakan untuk menentukan luas atau ekstensi kanker dan nilai prognostik pasien. 

Sistem yang paling banyak digunakan adalah sistem TNM American Joint Committee on Cancer (AJCC) 

2010. Untuk kanker kolorektal klasifikasi stadium dari tumor yang dikenal ada 2 yakni dukes dan astler-coler 

modification 

 

 

 

 

 

Penatalaksanaan : 

1. Operatif 

2. Kemoterapi 

3. Radioterapi 

 

Penatalaksanaan berdasarkan staging : 

Stadium Terapi 

Stadium 0 (TisN0M0) 

 

- biasa dikenal dengan tuor in-situ (terlokalisasi di mukosa) 

- Eksisi lokal atau polipektomi sederhana 

- Reseksi en-blok segmental untuk lesi yang tidak memenuhi 

syarat eksisi lokal 

Stadium I (T1-2N0M0) 

 

- Kanker menginvasi sampai ke submucosa 

- Wide surgical resection + lymp nodes sekitarnya, dengan  

anastomosis tanpa kemoterapi ajuvan  

Stadium II (T3N0M0, T4a-b N0 M0) 

 

- Kanker menginvasi sampai ke lapisan muskularis propia tapi 

tidak menyebar ke lymp nodes  

- Wide surgical resection, dengan anastomosis 

- Terapi ajuvan setelah pembedahan pada pasien dengan risiko 

tinggi     

Stadium III (T apapun N1-2M0)  

 

- Kanker sudah menyebar ke lymp nodes 

- Wide surgical resection dengan anastomosis 

- Terapi ajuvan setelah pembedahan 

Stadium IV (T apapun, N apapun M1) 

 

 

- Reseksi tumor primer pada kasus kanker kolorektal dengan 

metastasis yang dapat direseksi 

- Kemoterapi sistemik pada kasus kanker kolorektal dengan 

metastasis yang tidak dapat direseksi dan tanpa gejala 

 

Prognosis dinilai berdasarkan 5-year survival rate. Prognosis ditentukan berdasarkan : 

♥ staging ♥ derajat histopatologi ♥ derajat diferensiasi ♥ ada tidaknya invasi vaskuler atau perineural 

♥ ada tidaknya obstruksi atau perforasi ♥ aneuploidi sel-sel tumor  

♥ mucin-producing dan signet cell tumors  (intercytoplasmic mucin) ♥ peningkatan kadar cea 

 

INGET ! 

Prinsip terapi dalam bedah, jika sifatnya local  terapi local. 

Tapi jika sudah sistemik atau dengan kata lain metastase  

terapinya juga sistemik  

Contoh gambaran Ca Colorectal 

 

Spesimen yang mengandung kanker kolorectal 

yang invasive dengan dua adenomatous polyps. 

 

Multiple adenomatous polyps dari sekum pada 

pasien dengan riwayat familial polyposis. 

 

Adenocarcinoma pada cecum  dengan pertumbuhan 

exophytic (kearah luar) 

 

Adenocarcinoma pada area rectosigmoid  tampak 

lesi uleseratif disertai infiltrasi 

 

Permukaan mukosa colon pada pasien dengan familial polyposis tampak bentukan “a carpet of small 

adenomatous polyps”  bentukan ini dapat berkembang menjadi adenocarcinoma 

Terapi yang disarankan adalah colectomy 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUMOR PAYUDARA 

 

 

 

  

kelainan pada payudara 

1. kelainan kongenital 

- supernumary nipples 

- accessory axillary breast tissue 

- congenital inversion of nipples 

2. proses inflamasi 

- mastitis  akut  dan  abses 

- mammary duct ectasia 

- fat necrosis 

3. kelainan fibrokistik 

perubahan morfologi: 

- pembentukan kista dan fibrosis (fibrokistik simpel, kista2) 

- hiperplasia  epitel duktal, lobuler 

- adenosis sklerosing 

- hiperplsia epitel, bila terdapat sel atipik  ca 

- 20-40 th, estrogen >> 

penting !  curiga CA jika ; mikrokalsifikasi  pada mammografi  

predesposisi ca  

4. tumor (jinak, ganas)  

Kelaianan Ca mamae Fibroadenoma Kista Mammae Papilloma 

Intraduktus 

Kelainan 

Fibrokistik 

Tumor Filoides 

(Kistosarkoma 

filoides) 

Galaktokel Mastitis 

Insiden >decade ke-4 ♀ 15-25 tahun.  1/3 dari ♀ 35 

sampai 50 tahun.  

insidens tertinggi 

pada dekade ke-6 

♀ 25-50 tahun 

(>50%) 

semua usia sedang menyusui sedang menyusui 

Etiopat hormone dependent 

 prolif ganas 

hipersensitivitas 

terhadap 

estrogen 

hiperestrogenism 

 distensi duktus 

atau involusi lobus 

hipertrofi pada 

epithelium dan 

mioepithelial.  

hormonal 

estrogen dan 

progesteron. 

Mirip FAM tapi 

lebih besar  

Dilatasi dr duktus 

 timbunan air 

susu 

Bakteri>>  infeksi  

Klinis Lesi awal  

Tunggal, tidak nyeri, 

terasa keras dengan 

batas yang kurang 

jelas 

 

Tahap lanjut  

Retraksi 

kulit/puting, 

limfadenopati 

aksillaris, 

kemerahan, nyeri, 

massa terfiksasi 

dengan jaringan 

sekitar pada dinding 

dada. 

Benjolan FAM 

kenyal dan halus. 

Tidak ada reaksi 

radang, mobile 

(dapat 

digerakkan) dan 

tidak 

menyebabkan 

pengerutan kulit 

payudara ataupun 

retraksi puting 

(puting masuk). 

Mayoritas tumor 

ini tidak nyeri, 

namun kadang 

nyeri jika ditekan 

licin dan teraba 

kenyal pada palpasi, 

mobile namun tidak 

seperti 

fibroadenoma.  

Selama 

perkembangannya, 

pelebaran yang 

terjadi pada jaringan 

payudara dapat 

menimbulkan rasa 

nyeri. 

 Hampir 90% 

dari papilloma 

intraduktus 

adalah dari tipe 

soliter  nipple 

discharge yang 

serous dan 

bercampur 

darah. massa 

pada area 

subareola 

 Massa yang 

teraba 

sebenarnya 

adalah duktus 

yang berdilatasi. 

biasanya multipel, 

keras, adanya kista, 

fibrosis, benjolan 

konsistensi lunak, 

terdapat penebalan, 

dan rasa nyeri 

payudara siklik 

berkaitan 

perubahan hormon. 

Benjolan biasanya 

menghilang setelah 

wanita memasuki 

fase menopause. 

FAM tapi besar 

dan 

pertumbuhanny

a cepat, 

terkadang nyeri 

Benjolan yang 

nyeri dan 

mungkin pecah 

sehingga memicu 

reaksi peradangan 

lokal   fokus 

indurasi persisten. 

Benjolan dapat 

digerakkan, 

walaupun dapat 

juga keras dan 

susah digerakkan 

- proses radang (+) 

- Terkadang sukar 

dibedakan dengan 

karsinoma, yaitu  

adanya massa 

berkonsistensi 

keras, bisa melekat 

ke kulit, dan 

menimbulkan 

retraksi puting susu 

akibat fibrosis 

periduktal, dan bisa 

terdapat 

pembesaran 

kelenjar getah 

bening aksila. 

mx Triple Diagnostik  

{Pemeriksaan klinis 

dokter, radiologi 

(USG/ 

mammography) , 

sitologi-FNAB} 

 

Modalitas terapi : 

Mastektomi 

Kemoterapi dan 

Hormonal 

Radiasi onkologi 

(radioterapi) 

Eksisi  biopsy 

jika curiga ganas  

-Eksisi  

-Simple aspiration 

Terdapat dua 

cardinal rules bagi 

menunjukkan 

aspirasi kista 

berhasil yakni  

(1) massa 

menghilang secara 

keseluruhan setelah 

diaspirasi dan  

(2) cairan yang 

diaspirasi tidak 

mengandungi darah. 

Sekiranya kondisi 

ini tidak terpenuhi, 

ultrasonografi, 

needle biopsy dan 

eksisi 

direkomendasikan. 

konservatif  

Eksisi duktus 

terminal  untuk 

tx nipple 

discharge  

pengangkatan 

jaringan 

sekitar seminimal 

mungkin  

Apabila lesi 

benigna ini 

dicurigai 

mengalami 

perubahan kearah 

maligna, terapi 

yang diberikan 

adalah eksisi luas 

disertai radiasi. 

 

Apabila keluar 

cairan dari puting, 

baik bening, cair, 

atau kehijauan, 

sebaiknya 

diperiksakan tes 

hemoccult untuk 

pemeriksaan sel 

keganasan. 

Medikamentosa 

simptomatis, 

operasi apabila 

medikamentosa 

tidak 

menghilangkan 

keluhannya dan 

ditemukan pada 

usia pertengahan 

sampai usia lanjut. 

Tumor filoides 

jinak  

pengangkatan 

tumor disertai 2 

cm (atau sekitar 

1 inchi) jaringan 

payudara sekitar 

yang normal.  

Tumor filoides 

yang ganas  

dengan batas 

infiltratif 

mungkin 

membutuhkan 

mastektomi tapi 

sebaiknya 

dihindari 

apabila 

memungkinkan. 

pemeriksaan 

patologi dulu 

skrining sonografi 

 terlihat 

penyebaran dan 

kepadatan tumor 

tersebut 

dilakukan aspirasi 

jarum halus untuk 

mengeluarkan 

sekret susu. 

Pembedahan 

dilakukan jika 

kista terlalu 

kentaldan sulit di 

aspirasi 

antibiotik. Mastitis 

abses  insisi 

drainase 

LIPOMA – ATHEROMA 

 

Penyakit Lipoma Kista Aterom Kista Dermoid 

Etiologi Belum diketahui secara pasti Tersumbatnya muara kelenjar sebacea.  berkembang dari sekuestrasi epitel 

sepanjang garis fusi embrionik. 

Epidemiologi 40-60thn 20-30thn  jarang terjadi, Frekuensi wanita = pria 

Predileksi Dapat tumbuh dimana saja.  bagian tubuh yang berambut/ kelenjar 

sebaseanya (kepala, wajah, belakang 

telinga, leher, punggung, dan daerah 

genital). 

di kepala dan leher 

Klinis - Asimptomatik 

- teraba benjolan lunak, konsistensi 

kenyal, permukaan rata/berbenjol, 

dapat digerakkan (mobile) dan 

tidak nyeri. 

  

Khas: ditemukan puncta berbentuk 

titik kehitaman sebagai muara 

kelenjar di kulit yang tersumbat. Batas 

tegas, konsistensi lunak sampai kenyal, 

umumnya tidak nyeri 

 

Berupa nodul intrakutan atau subkutan, 

soliter berukuran 1-4 cm, mudah 

digerakkan dari kulit di atasnya dan dari 

jaringan di bawahnya, permukaan halus, 

konsistensi lunak dan kenyal, secara 

makroskopis isi kista berupa material 

keratin yang berlemak dengan rambut. 

Terapi - Injeksi steroid   triamcinolone 

acetonide 10 mg per mL  diinjeksi 

“into the center of the lesion” dengan 

dosis tergantung besar tumor  

- Liposuction  

- Bedah  Eksisi  

Indikasi bedah pada lipoma : 

- Kosmetik 

- Dari hasil histologi didapatkan 

gambaran liposarkoma.  

- Benjolan bertambahan besar hingga > 

5 cm 

- Eksisi  hindari jika masih ada proses 

inflamasi lesinya 

- Insisi drainase  jika ada fluktuasi (+) 

 

 

incision techniques 

A) No inflammation, B) Central puncta 

or inflammation, C) Extensive 

inflammation or scar tissue 

Eksisi 

 

 

Mirip atheroma tapi tanpa puncta 

 

Isi kista : 

 

 

{STASE BEDAH KEPALA LEHER} 

 

STRUMA 

Pembesaran kelenjar tiroid 

 

 

 Kelenjar tiroid merupakan suatu kelenjar endokrin yang mensekresikan hormon 

Tiroksin atau T4, triiodotironin atau T3 dan kalsitonin (diproduksi oleh kelenjar 

parathyroid). 

 Di dalam darah sebagian besar T3 dan T4 terikat oleh protein plasma yaitu albumin 

 Sebagian kecil T3 dan T4 bebas beredar dalam darah dan berperan dalam mengatur 

sekresi TSH. Hormon tiroid dikendalikan oleh thyroid-stimulating hormone (TSH) 

yang dihasilkan lobus anterior glandula hypofise dan pelepasannya dipengaruhi 

oleh thyrotropine-releasing hormone ( TRH ). 

 

Untuk dapat mendiagnosa suatu kelainan benjolan di tiroid maka langkah sebagai berikut: 

1. bagaimana sifat struma ? 

 

2. Cari tanda keganasan  

 

Adenoma  - ± 30-50 tahun 

- Nodul bersifat kronis atau bertahun-tahun 

- Selain yang ada di adenocarcinoma 

Adenocarcinoma Lihat di penjelasan ! 

  

Hashimoto 

tiroiditis 

- Laki:wanita = 1:15, sering terjadi pada usia 30-50 tahun 

- Etiologi belum jelas, bias virus atau bakteria 

- Bakteri pathogen biasanya adalah staphylococcus, dan pneumococcus, dan 

jarang salmonella atau bacteroide. 

- struma multinodosa dengan batas nodul tidak jelas, tidak nyeri, tidak febris, dan 

berat badan turun. 

- Pemeriksaan fungsi tiroid ditemukan TSH normal dan sedikit penurunan T3 dan 

T4. 

- Terapinya antibiotik/antiviral, Bila sudah terjadi abses maka dilakukan drainage, 

Kortikosteroid, Analgetik, hormone Croksin sebagai replacement, pembedahan 

untuk mengurangi penekanan yang diakibatkan.  

- Biopsi atau FNA dilakukan untuk membedakan dengan proses keganasan 

Riedel tiroiditis - Kebanyakan terjadi pada usia 30-60 tahun  

- wanita lebih sering dibanding pria.  

- Etiologi terjadi fibrosis tidak jelas 

- pembesaran yang cepat pada kelenjar tiroid, disertai dengan gangguan pada 

trachea atau esophagus. 

- Konsistensinya mengeras seperti kayu, bentuk irregular, tanpa rasa nyeri 

- hampir tidak didapat kelainan hanya bila pada fase akhir akan didapat hipotiroid.  

- Diagnosa  biopsy. 

- Pengobatan ditujukan pada suplemen hormonal bila dalam kondisi hipotiroid. 

- Pembedahan diindikasikan atas adanya penekanan atau jeratan pada trachea atau 

esophagus 

 

Carcinoma tiroid 

 Keganasan paling sering sistem endokrin 

 Diagnosis: 

a. Anamnesa : 

- Usia dibawah 20 tahun atau diatas 50 tahun 

- Riwayat radiasi daerah leher sewaktu kanak-kanak 

- Disfagia, dipsneu,  perubahan suara 

- Nodul soliter, Tumbuh cepat, Konsistensi keras, Permukaan berbenjol-benjol, Melekat dengan 

jaringan sekitar, Ulkus di atas tumor 

- Ada pembesaran kelenjar getah bening leher 

- Ada tanda-tanda metastasis jauh. 

- Bila ada riwayat serupa pada keluarga, harus curiga kemungkinan adanya malignansi tiroid 

tipe  medulare. 

b. Pemeriksaan Fisik : 

- Pada tumor primer dapat berupa suatu nodul soliter atau multiple dengan konsistensi bervariasi 

dari kistik sampai dangan keras bergantung kepada jenis patologi anatomi (PA) nya.  

- Perlu diketahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening regional. 

- Disamping ini perlu dicari ada tidaknya benjolan pada kalvaria, tulang belakang, klavikula, 

sternum dll, serta tempat metastasis jauh lainnya yaitu di paru-paru, hati, ginjal dan otak. 

c. Pemeriksaan Penunjang 

- FNAB  Ketepatan pemeriksaan sitologi untuk kanker tiroid anaplastik,  medulare dan 

papilare  hampir mendekati 100% tetapi untuk jenis folikulare hampir tidak dapat dipakai karena 

gambaran sitologi untuk adenomatous goiter, adenoma folikuler dan adeno karsinoma folikuler 

adalah sama, tergantung dari gambaran invasi ke kapsul dan vaskular yang hanya dapat dilihat 

dari gambaran histopatologi. 

- Frozen section  ganas atau jinak 

- USG thyroid  membedakan nodul yang padat dan kistik, guide FNAB 

- Scanning thyroid  aktifitas thyroid. bila nodul menangkap jodium lebih sedikit dari jaringan 

tiroid yang normal disebut nodul dingin (cold nodule), bila sama afinitasnya maka disebut nodul 

hangat (warm nodule) dan bila afinitasnya lebih maka disebut nodul panas (hot nodule). 

Karsinoma tiroid sebagian besar adalah nodule dingin. Bila akan dilakukan pemeriksaan sidik 

tiroid maka obat-obatan yang mengganggu penangkapan jodium oleh tiroid harus dihentikan 

selama 2 – 4 minggu sebelumnya 

- Laboratorium 

 Human thyroglobulin (tumor marker) untuk keganasan tiroid ; jenis yang berdiferensiasi baik, 

terutama untuk follow up. 

 Pemeriksaan kadar FT4 dan TSHs  menilai fungsi tiroid 

 Kadar calcitonin  dicurigai karsinoma meduler. 

 

Penatalaksanaan Nodul Tiroid 

Bila nodul tiroid secara klinis suspek maligna dilakukan tindakan FNAB ( Biopsi Jarum Halus ).  Ada 2 

kelompok hasil yang mungkin didapat yaitu : 

- Hasil FNAB suspek maligna, “foliculare Pattern” dan “Hurthle Cell”  Dilakukan tindakan 

isthmolobektomi dengan pemeriksaan potong beku 

- Hasil FNAB benigna  Dilakukan terapi supresi TSH dengan tablet Thyrax selama 6 bulan kemudian 

dievaluasi 

 

 

Kelenjar Ludah 

Kelenjar ludah dibagi menjadi 2: 

1. Kelenjar ludah mayor : Kelenjar parotis, kelenjar submandibula, kelenjar sublingual 

2. Kelenjar ludah minor 

Kelenjar parotis terletak di depan / di bawah lubang telinga luar dan ujung tulang dagu. Yang secara 

anatomis dibagi menjadi 2 bagian, bagian permukaan (superficial) dan bagian dalam (profundus) , yang 

dibatasi ole nervus facialis.  

 

nodul jinak

suspek benign

operable

observasi

suspek nmalignant

operabel

isthmolobektomi dan pemeriksaan 

potong beku (VC ).

inoperabel

biopsi insisi

debulking dan radiasi eksterna atau 

khemoradioterapi.

Tumor Parotis 

5 % dr seluruh tumor kepala dan leher. Tumor dari kel ludah mayor 5 kali lebih banyak, dan 70-80% 

ialah tumor parotis (80% junak dan 20% ganas). 

Gejala dan tanda :  

(nyeri, bengkak, perubahan kulit, facial weakness, poor hearing/erache, ditemukan tiba2). 

 

No Tumor Jinak Tumor Ganas 

1 Pertumbuhan lambat Pertumbuhan cepat 

2 Mobile Immobile  

3 Usia muda Usia > 50 tahun 

4 Konsistensi kadang keras Teraba keras bisa seperti batu 

5 Parese nervus facialis (-) Parese nervus facialis (+)  

6 Tidak menyebar jauh Menyebar biasanya pada kelenjar limfe 

7 Biasanya tidak nyeri Biasanya nyeri (tapi juga bisa tidak nyeri) 

Trismus : kalo invasi ke otot mastilator 

Disfagia : invasi ke lobus kelenjar dalam 

Earache : kalo invasi ke kanalis auditorius 

8 Tumor jinak: 

1. Adenoma pleomorfik 

2. Adenoma monomorfik 

3. Adenolymphoma (warthin Tumor) 

4. Benign mucoepidermoid carcinoma 

Tumor ganas: 

1. Acinic cell Ca 

2. Adenoid cystic  Ca 

3. Adeno Ca 

4. Epidermoid Ca 

5. Undifferentiated Ca 

6. Malignant Ca in adenoma pleomorfik 

 

Diagnosis : 

1. FNAB : 96% akurat untuk membedakan tumor parotis jinak atau ganas. 

2. Potong beku (Vries coupe/frozen section) : dilakukan bila hasil FNAB tidak dapat memastikan tumor 

jinak atau ganas.  

 

Terapi : 

1. Parotidektomi superficial : dilakukan bila tumor jinak dan terletak pada lobus superficial.  

2. Parotidektomi total : dilakukan pada tumor ganas yang sudah mengenai lobus profundus namun 

dengan tetap mempertahankan nervus facialis  

3. Lakukan Radioterapi post op untuk mencegah rekurensi. 

Bila dari awal tumor sudah dicurigai ganas , dengan ukuran yang besar dan keras, naumn hasil 

FNAB tidak dapat memastikan, maka saat dilakukan operasi di potong beku tumornya dan langsung 

di PAkan, bila hasil tumot positif ganas, maka saat itu juga langsung dilakukan parotidektomi total 

dengan preservasi nervus facialis. 

 

Komplikasi: 

1. Kerusakan pada nervus facialis (temporer  maupun permanen) : cedera cabang m.orbikularis okuli 

kelopak mata sukar menutup, cedera cabang ke mulut: mulut mencong 

2. Injury pada greater auricular nerve: baal2 atau kurang berkurangnya rasa pada telinga 

3. Penyulit seperti fistula liur 

4. Sindroma Frey: karena regenerasi aberan dari serat saraf auriculotemporal terhadap kelenjar keringat 

kulitberkeringat pada sisi wajah yang terkena saat mengunyah. 

 

 

 

 

 

 

 

Kanker Lidah 

Tipe yang paling umum : squamous Cell Ca 

 

Lokasi: Tumor ini biasanya terletak pada tepi lateral dari oral tongue (2/3 depan lidah).  

Karakteristik: ulserasi, berwarna kemerahan, mudah berdarah. 

Insiden: pada usai tua, namun juga bisa ditemukan pada usia 21 tahun 

 

Gejala:  

1. Patch berwarna merah atau putih yang gak hilang 

2. Nyeri tenggorokan gak hilang 

3. Luka pada lidah yang gak sembuh2 

4. Penebalan/benjolan pada mulut,tenggorokan maupun lidahsusah mengunyah dan menelanbisa 

nyeri saat menelan 

5. Perdarahan yang gamapang sekali terjadi( saat tergigit atau saat tersentuh saja) 

6. Rasa kebal di mulut 

 

Faktor resiko: 

1. Merokok, minuman alcohol 

2. Pemakan sirih 

 

Manajemen: 

1. Pembedahan 

2. Radioterapi 

3. Kemoterapi 

 Bila tumor ukuran kecil  cukup dibedah saja tumornya 

 Bila tumor ukuran besar dan ada penyebaran ke kel limfe  pembedahan + radioterapi. Pembedahan 

dengan mengangkat tumor dan kel limfe (modified radical neck dissection). setelah operasi dilakukan 

radioterapi. 

 Bila tumor meliputi seluruh ludah  pengangkakatn lidah (glossectomy), namun biasanya dilakukan 

radioterapi dan kemoterapi untuk mengecilkan sel tumor sehingga tidak diperlukan glossectomy. 

 

Komplikasi; 

1. Pembedahan : problem bicara, makan dan minum,  

2. Radioterapi : dry,sore mouth, taste changes. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

{STASE BEDAH THORAK-KARDIOVASKULER} 

 

 

Pneumothoraks 

Keadaan terdapatnya udara dalam kavum pleura 

 

Klasifikasi Pneumotoraks : 

1. Berdasarkan terjadinya maka pneumothoraks dibagi menjadi  

  Pneumothoraks Artifisial : 

Disebabkan oleh tindakan tertentu atau memang disengaja untuk tujuan tertentu alasan diagnosis 

maupun untuk alasan terapi. 

  Pneumothoraks Traumatika. Dibagi 2 : 

a. Pneumotoraks iatrogenic : Akibat dari prosedur invasive  aspirasi jarum transtorasik, 

torakosentesis, biopsi pleura, dan biopsi paru transbronkial. 

b. Pneumotoraks non-iatrogenik : Terjadi akibat trauma tembus maupun tumpul pada toraks 

  Pneumothoraks Spontan : terjadi secara tiba2 / adanya penyakit paru yang mendasarinya. 

a. Pneumotoraks spontan primer (PSP) 

Pneumotoraks ini terjadi pada individu sehat. Etiologi : ruptur blep emfisematosa subpleura.  

Patogenesis terjadinya blep :  

- abnormalitas kromosom pada sindroma birt-hogg-dube.  

- Akuisita : (a) inflamasi bronkiolus, (b) perokok : terjadinya blep subpleura, (c) orang yang tinggi 

dan kurus  penambahan panjang ukuran dada  tekanan pleura turun sekitar 0,2 cm H20 

untuk tiap penambahan 1 cm panjang dada  di apeks tekanan pleura lebih negatif sedangkan 

tekanan alveoli lebih tinggi  terbentuk blep subpleura.  

b. Pneumotoraks spontan sekunder (PSS) 

Terjadi karena adanya penyakit paru yang mendasarinya. Penyakit yang menghasilkan kenaikan 

tekanan intrapulmoner, menebal atau menipisnya dinding kista, rusaknya parenkim paru. Contoh: 

PPOK, asma, kistik fibrosis, fokus TB kaseosa, pneumonia, Pneumotoraks Katamenial (akumulasi 

udara di rongga pleura selama menstruasi (48-72 jam setelah mens), dll.  

2. Berdasarkan fistulanya 

  Pneumothoraks terbuka  

a. Trauma tembus  hubungan terbuka (two way)  P intrapleura = P 

atmosfer  

b. Paru kolaps tiba-tiba  

c. I : paru sakit akan menguncup  

d. E : paru sakit akan sedikit mengembang  

(pernapasan pendulum) waktu ekspirasi udara paru yang sehat 

sebagian akan masuk ke dalam paru yang sakit dan udara yang kotor 

akan terhisap kedalam paru yang sehat waktu inspirasi berikutnya  

  Pneumothoraks tertutup  

Biasanya akibat patah tulang iga   tulang menusuk paru-paru.  Dapat juga tanpa patah tulang iga, 

misal : peninggian tekanan intra alveolar secara mendadak. Keadaan ini cenderung sembuh sendiri dengan 

adanya kuncupnya paru, lubang yang terbentuk akan menutup. Robekan esofagus atau Tracheobronchial  

  Tension pneumothoraks (one way valve)  

Tekanan intrapleura makin positif   Pergeseran Mediastinum 

AIR HUNGER !!!  segera lakukakan KONTRAVENTIL di ics 2 

dengan need