Penyakit dalam palmologi 4

 









NR 3,0-4,5 

 Katup bioprostetik ? INR 2,0-3,0 x 2-3 bulan (kecuali resiko 

tinggi→ indefinitif) 

Prosedur minor (seperti: tindaakan 

pada gigi)  

Biasanya dapat melanjutkan antikoagulan 

Prosedur mayor (seperti: 

pembedahan) 

Pilihan obat earfarin sebelum pembedahan dan 

dimulai kembali setelahnya 

Prosedur mayor namun 

Beresiko tinggi terhadap 

tromboemboli (seperti: katup Caged-

ball, prostesis mitral, AF, pernah 

emboli sebelumnya) 

Praoperatif : pilihan obat warfarin dimulai 

pemberian haparin  

2-4 jam sebelum operasi: pilihan obat heparin 

pascaoperasi : mulai lagi heparin dan walfarin 

sesegera mungkin  

( N engl J Med 335:407, 1996; Mayo Clin proc 73:665, 1998) 

 

Komplikasi 

• Trombosis katup (terutama dengan katup caged-ball ) 

• Embolisasi (endokarditis) 

• Kegagalan struktural 

Katup mekanik : jarang sekali pada Bjorg-Shliey 

Katup bioprostetik : rata-rata 30% gagal dalam 10-15 tahun 

• Hemolisis (terutama dengan katup caged-ball) 

• Kebocoran pravalvular (endokarditis) 

• Endokarditis  

 

 

 

 

 

 

“ PENYAKIT PERIKARDIUM “ 

 

PERIKARDITIS DAN EFUSI PERIKARDIUM 

Etiologi  

• Infeksi  

Virus : Coxsackie B, echovirus, adenovirus, EBV, VZV, HIV 

Bakteri : (dari endokarditis, pneumonia, atau pasca bedah jantung): S. pneumokokus, S. 

aureus tuberkulosis (penyebaran dari paru atau hematogenik) 

• Non infeksi 

Idiopatik 

Uremia  

Ml transmural akut (10-15%), pasca Ml yang terlambat (sindrom Dessrel), neoplasitk pasca-

perikardiotomi (paru, payudara, limfoma, sel ginjal), terinduksi radiasi (> 4000 cGy) 

Penyakit vaskular-kolagen, terinduksi obat (sindrom yang menyerupai SLE sebab  

prokainamid atau hidralazin) 

Trauma (trauma toraks, pasca prosedur bedah jantung) 

• Efusi perikardial tanpa perikarditis : gagal jantung kongestif, sirosis, dan sindrom nefrtik 

Manifestasi klinik pada perikarditis 

• Nyeri dada : pleuritik, posisional (berkurang dengan duduk kearah depan), menjalar ke 

travezius 

• Demam  

Pemeriksaan fisik 

• Pericardial friction rub (lebih dari 3 komponen: kontraksi atrium, kontraksi ventrikel, 

relaksasi ventrikel) yang dikenal berubah-rubah dan bersifat sementara 

• jika  kontraksi perkardium : suara jantung jauh (dan gesekan mungkin lebih redup); 

pekak diatas lapangan paru posterior sinistra (tanda Ewart) sebab  atelektasi kompersif 

Pemeriksaan diagnostik 

• EKG : elevasi ST difusi (konkaf), depresi PR, gelombang T terbalik; 4 staduim yang 

berkembang dalam hitungan jam hingga minggu; voltase rendah dan perubahan elektris 

mungkin terlihat pada efusi yang terjadi luas 

• CPK-MB atau troponin ±  jika  mioperikarditis 

• Foto rontgen toraks: jika muncul efusi, akan tampak kardiomegali atau jantung “seperti 

botol-air” 

(> 250 cccairan); tanda seperti “biskuit Oreo” (rediolusen antara jantung dengan 

perikardium anterior pada foto toraks posisi lateral) 

• Ekokardiogram : mungkin normal atau terlihat efusi perikardium ± terpisah (fibrin atau 

tumor) 

• Perikardiosentesis : lakukan pemeriksaan hitung sel, protein total (TP), LDH, glukosa, 

pewarnaan gram, kultur, sitologi 

Kriteria untuk “eksudat” yaitu  TP >3 g/dl, TP eff/TP serum >0,5 atau LDH eff/LDH serum >0,6 

atau glukosa <60 mg/dl memiliki sensitivitas yang sangat tinggi (∼ 90%) namun spesifitasi 

sangat rendah (∼ 20%). (Chest 111:1213, 1997) 

Stadium PR ST Gelombang T 

Pertama ↓ ↑ Keatas 

Kedua Isolekritis Isolekritis Datar 

Ketiga Isolekritis Isolekritis Inversi/terbalik 

Keempat Isolekritis Isolekritis Ke atas 

 

 

Langkah penanganan 

• Tentukan etiologi infeksi: basanya tampak dari anamnesis dan rontgen foto toraks; serologi 

akut dan masa penyembuhan 

• Tentuka etiologi non-infeksi : BUN, kreatinin, ANA, RF, penapisan pada keganasan yang 

sering terjadi 

• Perikardiotensis bila curiga efusi sebab  infeksi atau keganasan 

Penatalaksanaan  

• Obat anti-inflamasi : ASA atau NSAID; kolkisin atau stroid pada penyakit idiopatik refrakter 

• Hindari antikoagulan 

• Jika efusi sebab  infeksi → drainase perikardium + antibiotik 

• Jika efusi mungkin rekurens → pertimbangkan perbuatan “jendela” pericardial 

 

TAMPONADE PERIKARDIUM 

Etiologi  

• Segala pemicu  perikarditis namun khususnya keganasan, uremia, diseksi aorta 

proksimal dengan ruptur, ruptur miokardium, dan idiopatik  

Patifisiologi 

• ↑ tekanan intra perikardium, menekan jantung sepanjang siklus jantung membatasi aliran 

balik vena 

• sebab  tekanan diastolik meningkat dan sebanding pada saat katup trikuspid membuka pada 

fase awal diastolik, tekanan di ventrikel kanan sama dengan tekanan pada atrium kanan 

sehingga tidak ada pengeluaran darah secara cepat dari atrium kana dan terjadi gambaran 

penurunan gelombang y yang tumpul  

• Pulkus paradokus : inspirasi →↓ tekanan intraperikardium atrium kanan →↑ aliran balik 

vena → ukuran ventrikel kanan ↑→ pergeseran septrum kearah kiri → isi sekuncup 

ventrikel kiri dan output menurun (temponade memicu  peningkatan interdependensi 

ventrikel)  

Manifestasi klinis 

• Dipsnu dan fatigue 

Pemeriksaan fisik 

• Trias Beck : bunyi denyut jantung terjauh, JVP ↑, hipotensi  

• Hipotensi (50%), refleks takikardi, takipnu 

• Pulsus paradokus (75%) = ↓ tekanan darah sistolik ≥ 10 mmHg setiap kali inspirasi 

• ↑ JVP dengan penurunan gelombang y yang tumpul 

• Bunyi denyut jantung yang terdengar jauh, perikardial friction rub ± (30%) 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

Pemeriksaan diagnostik 

• EKG : voltase rendah, perubahan elektris 

• Ekokardiogram : Efusi ⊕, pergeseran septum saat inspirasi, kolops diastolik ventrikel dan 

atrium kanan, perubahan resiprofasik pada kecepatan transvaskular (↑ melewati TV 

dan ↓ melewati MV saat insipari) 

• Kateterisasi jantung (jantung kanan dan perikardium): peningkatan dan penyetaraan 

tekanan intraperiskardial dengan tekanan diastolik (RA, RV, PCWP) penurunan 

gelombang y yang tumpul pada penelusuran atrium kanan)  

Penatalaksanaan  

• Resusitasi cairan (jangan diuresis) 

• Perikardiosentesis (kecuali jika disebabkan ruptur aorta atau miokardium) 

 

 

 

 

 

PERIKARDITIS KONSTRUKTIF 

Etiologi  

• Semua pemicu  perikarditis namun khususnya pascainfeksi virus, radiasi, uremia, 

pascabedah jantung, dan idiopatik  

Patofisiologi  

• Perikardium yang kaku membatasi pengisian diastolik → tekanan vena sistolik↑ 

• Aliran balik vena dibatasi hanya setelah awal fase pengisian yang cepat sehingga terjadi 

penurunan cepat pada tekanan atrium kanan dengan relaksasi atrioum dan pembukaan katup 

trikuspidalis serta ↓ gelombang x dan y yang menonjol  

• Tanda Kussmaul : Inspirasi → alira balik vena ↑ namun tekanan intratorakal negatif yang 

tidak dihantarkan pada jantung sebab  perikardium yang kaku → ↑ JVP 

Manifestasi klinis 

• Gagal jantung sisi kanan > sisi kiri 

Pemeriksaan fisik 

• ↑ JVP dengan penurunan gelombang y yang menonjol, tanda Kussmaul ⊕ (diagnosis 

banding = TS kor pulmonale akut, infark ventrikel kanan, RCM) 

• Hepatomegali, asites, edema perifer 

• Iktus kordis biasanya tidak dapat dipalpasi, ada  pericardial knock, biasanya tidak ada 

pulpus paradokus 

Pemeriksaan diagnosis 

• Foto rontgen toraks: klasifikasi, terutama pada tampilan lateral (walaupun tidak perlu = 

konstriksi secara fisiologis) 

• EKG: tidak spesifik 

• Ekokardiogram: penebalan perikardium ±, “septum mengembang” = pergeseran mendadak 

septum selama fase pengisian cepat pada awal diastolik 

• Kateterisasi jantung 

Artium : gelombang M atau W (penurunan gelombang x dan y yang menonjol) 

Ventrikel : perubahan dan plateau atau tanda akar kuadrat (penurunan yang cepat 

tekanan pada onset diastolik, ↑ cepat pada awal plateau) 

• CT atau MRI : penebalaan perikardium dngan tambatan 

Penatalaksanaan  

• Perikardiektomi 

Perikarditis Konstruktif vs Kardiomiopati Restruktif 

Evaluasi Perikarditis konstruktif Kardiomiopati restriktif 

Pemeriksaan fisik Tanda Kussmaul ⊕ 

Iktus kordis tidak ada, pericardial 

knock  

Tanda Kussmaul ± 

Iktus kordis jelas, S3 dan S4 

± Murmur regurgitasi 

sebab  MR dan RT ± 

EKG Voltase rendah ± Voltase rendah 

Abnormalitas hantaran ± 

Ekokardiogram Ketebalan dinding normal 

Septum mengembang saat awal 

diastolik 

Penebalan dinding ± ↑ 

Pembesaran kedua atrium 

Inspirasi →↑ aliran melalui 

Inspirasi →↑ aliran melalui TV dan ↓ 

aliran melalui MV 

trikuspid dan mitral 

kecepatan pengisia 

maksimal lambat waktu 

yang memanjang pada 

kecepatan pengisian 

maksimal 

 

Perikarditis Konstruktif vs Kariomiopati Restruktif 

Evaluasi Perikarditis konstriktif Kardiomiopati restruktif 

CT/MRI Perikardium menebal Perikardium normal 

Kateterisasi jantung Penurunan gelombang x dan 

y yang menonjol 

Tanda penuruan dan plateau 

 

 LVEDP = RVEDP 

 

RVSP < 50 mmHg 

RVEDP > 1/3 RVSP 

Penurunan gelombang x dan y 

yang menonjol 

Tanda penurunan dan plateau 

LVEDP > RVEDP ± 

(khususnya pada volume) 

RVSP > 60 mHg 

RVEDP < 1/3 RVSP 

Biopsi endomiolardium Biasanya normal Etiologi spesifik 

kardiomiopati restriktif 

(RCM) ±  

 

 

 

DIABETES MELITUS 

 

 

PENGERTIAN 

Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh 

hiperglikemia yang ditandai oleh defek pada : 

1. kerja insulin ( resistensi insulin ) di hati (peningkatan produksi glukosa hepatik ) dan 

jaringan perifer (otot dan lemak). 

2. sekresi insulin oleh sel beta pankreas 

3. atau keduanya 

 

klasifikasi diabetes melitus (DM) 

1. DM tipe 1 ( destruksi sel ß, umumnya di ikuti defesiensi insulin absolut ): 

• Immune-mediated 

• Idiopatik 

II.   DM tipe 2 ( bervariasi mulai dari predominan resistensi insulin dengan defesiensi insulin 

relatif sampai predominan defek sekrotik dengan resistensi insulin ) 

III   Tipe spesifik lain : 

• Defek genetik pada fungsi sel ß  

• Defek genetik pad akerja insulin 

• Penyakit eksokrin pankreas 

• Endokrinopati 

• Diinduksi obat atau zat kimia 

• Infeksi 

• Bentuk tidak lajim dari immune mediated DM 

• Sindrom genetik lain, yang kadang berkaitan dengan Dm 

IV   DM gestosional 

 

DIAGNOSIS 

Terdiri dari : 

• Diagnosis DM  

• Diagnosis komplikasi DM 

• Diagnosis penyakit penyerta 

• Pemantauan pengendalian DM 

 

Anamnesis 

• Keluhan khas DM : poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan yang tidak 

dapat dilelaskan pemicu nya 

• Keluhan tidak khas Dm : lemah, keemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, 

pruritus vulvae pada wanita 

Faktor risiko DM tipe 2 : 

• Usia >45 tahun 

• Berat badan lebih: > 110% berat badan idaman atau indeks massa tubuh (IMT) > 23 

kg/m² 

• Hipertensi ( TD > 140/90 mmHg) 

• Riwayat Dm dalam garis keturunan 

• Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi> 4.000 gram  

• Riwayat Dm gestasinal 

• Riwayat toleransi gula terganggu (TGT) atau glukosa darah glokosa terganggu (GDPT) 

• Penderita penyalit jantung koroner, tuberkolosis, hipertiroidisme 

• Kolesterol HDL , 35 mg/dL dan atau trigliserida . 250 mg/dL 

 

Pemerikasaan fisik lengkap,termasuk: 

• Tinggi badan, berat badan, tekanan darah, lingkar pinggang 

• Tanda neuropati 

• Mata ( visus, lensa mata dan retina ) 

• Gigi mulut 

• Keadaan kaki ( termasuk rabaan nadi kaki ), kulit dan kuku 

 

Kriteria diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa 

1. kadar glukosa darah sewaktu ( plasma vena )> 200 mg/dL, atau 

2. kadar glukosa darah puasa ( plasma vena ) > 126 mg/dL, atau 

3. kadar glukosa plasma . 200 mg/dL pada 2 jam setelah beban glukosa 75 gram pada TTGO 

 

DIAGNOSIS BANDING 

Hiperglikemia reaktif, toleransi glukosa terganggu (TGT ), glukosa darah puasaterganggu TTGO 

 

PEMERIKSAAN DARAH PENUNJANG 

Pemerikasaan laboratorium 

• Hb, leukosit, hiting jenis leukosit, laju endap darah 

• Glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan 

• Urinalisis rutin, protenuria 24 jam, CCT ukur, kreatinin 

• SGPT, albumin/globulin 

• Kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, trigliserida,  

• A,C 

• Albuminuri mikro 

 

Pemeriksaan penunjang lain: 

EKG, foto toraks, funduskopi 

 

TERAPI 

Edukasi peliputi pemahaman tentang: 

Penyakit DM, makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan Dm, penyulit Dm, intervensi 

farmakologis dan non- farmakologis, hipoglikemia, dan masalah khusus yang di hadapi, cara 

mengembangkan sistem pendukung dan mengajarkan keterampilan, cara menggunakan fasilitas 

perawatan kesehatan. 

 

Perencanaan makan 

Standar yang dianjurkan yaitu  makana dengan komposisi : 

Karbohidrat 60 – 70%, protein 10-15%, dan lemak 20- 25 % 

Jumlah kandungan kolesterol disarankan , 300 mg/hari. Diusahakan lemak berasal dari sumber 

asam lemak tidak jenuh (MUFA= mono unsaturated fatyi acid )dan mambatasi PUFA (poly 

unsaturated fatty acid ) dan asam lemak tak jenuh. Jumlah kandungan serat + 25 gr/hari, 

diutamakan serat larut. 

 

Jumlah kalori basal perhari: 

• Laki – laki: 30 kal/kg BB idaman 

• Wanita : 25 kal/kg BB idaman 

 

Penyesuaian (  terhadap kalori basal / hari ): 

• Status gizi: 

-  BB gemuk                                                    -20% 

-  BB lebih                                                       -10% 

-  BB kurang                                                    - +20% 

• Umur . 40 tahum                                              -5%   

• Stres metabolik ( infeksi, operasi,dll )             + ( 10 s/d 30 % ) 

• Aktivitas 

- Ringan                                                            + 10% 

- Sedang                                                            + 20% 

- Berat                                                               + 30% 

• Hamil: 

- Trimester I, II                                                  +300kal 

- Trimester III                                                    +500kal 

 

Rumus Brosca: 

Berat badan idaman = ( tinggi Badan- 100 ) -10% 

Pria < 160 cm dan Wanita < 150 cm, tidak dikurangi 10%  lagi  

→          BB kurang                     : <  90% BB idaman 

              BB normal                     :  90 – 110 % BB idaman 

               BB lebih                        : 110-120% BB idaman 

               Gemuk                           : > 120 % BB idaman 

 

Latihan Jasmani 

Latihan jasmani sehari – hari dan latihan teratur ( 3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 

menit), prnsip : continuous- Rythmical-interval-proggressive-Endurance 

Intervensi Farmakologis 

Obat Hipoglikemia oral (OHO): 

• pemicu sekresi insulin ( insulin seckretagogue): sulfonilurea, glinid 

• penambah sensitifitas terhadap insulin terhadap insulin : metromin, tiazolindindiaon 

• penghambat absorpsi glukosa ; penghambat glukosidase alfa 

 

insulin  

indikasi  

• penurunan berat badan yang cepat 

• hiperglikemia berat yang disertai ketosis 

• ketoasidosis diabetik 

• hiperglikemia hiperosmolar non ketotik 

• gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal  

• sters berat (infeki sistemik,operasi besar,IMA,strok) 

• kehamilan dengan Dm gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan 

• gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat  

• kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO 

 

terapi kombinasi  

pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah ,untuk kemudian dinaikkan 

secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah ,kalau dengan OHO tunggal sasaran 


kadar glukosa darah belum tercapai ,perlu kombinasi dua kelompok obat hipoglikemik oral yang 

berbeda mekanisme kerjanya . 

pengelola  DM tipe 2 gemuk ; 

non-farmakologis           → evaluasi 2-4 minggu ( sesuai keadaan klinis ); 

sasaran tidak tercapai      penekanan kembali tata laksana non-famakologis . 

n evaluasi 2-4 minggu ( sesuai keadaan klinis ) 

 

sasaran tidak tercapai ;   + 1 macam OHO   

                                        biguanid / penghambat glukosidase/glitazon 

                                        → evaluasi 2 – 4 minggu ( sesuai keadaan klinis ): 

sasaran tidak tercapai:    kombinasi 2 macam OHO, antara: 

                                       biguanid + penghambat glukosidase α / glitazon 

                                       → evaluasi 2 – 4 minggu ( sesuai keadaan klinis ) 

sasaran tidak tercapai:   kombinasi 3 macam OHO: 

                                       biguanid + penghambat glukosidase α/glitazon 

                                       atau 

                                       terapi kombinasi OHO siang hari + insulin malam 

                                       → evaluasi 2 – 4 minggu ( sesuai keadaan klinis ) 

 

sasaran terapi kombinasi 3 OHO tidak tercapai : 

               kombinasi 4 macam OHO: 

               biguanid + penghambat glukosidase α + glitazon + secretagugoe 

               atau 

               terapi kombinasi OHO siang hari + insulin malam 

               → evaluasi 2 – minggu ( sesuai keadaan klinis ): 

sasaran kombinasi 4 OHO tidak tercapai: 

               insulin 

               atau 

               terapi kombinasi OHO siang hari + insulin malam 

                                 

 

sasaran terapi kombinasi OHO + insulin tidak tercapai: 

                 insulin 

                 bila sasaran tercapi : teruskan terapi terakhir. 

Pengelolaan DM tipe 2 tidak gemuk: 

Non- farmakologis           → evaluasi 2 – 4 minggu (sesuai keadaan klinis) 

 

Sasaran tidak tercapai:        non-farmakologis + secretagugoe 

                                            → evaluasi 2 – 4 minggu ( sesuai kaeadaan klinis ) 

 

sasaran tidak tercapai:         kombinasi 2 macam OHO,antara: 

                                            secretatogugoe + penghambat glukosidase α + biguanid/ 

                                             glitazon 

                                            → evaluasi 2 – 4 minggu (sesuai keadaan klinis) 

 

sasaran tidak tercapai:         kombinasi 3 macam OHO: 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

                                            secretagogue+ penghambat glukosidase α + biguanid/ 

                                            glitazon, atau 

                                            terapi kombinasi OHO siang hari + insulin malam 

                                            → evaluasi 2 – 4 minggu (sesuia  keadaan klinis)  

 

sasaran terapi kombinasi 3 OHO tidak tercapai: 

                kombinasi 4 macam OHO: 

                secretagogue + penghambat glokosidase α + biguanid + glitazon, atau 

                terapi kombinasi OHO siang hari + insulin malam 

               → evaluasi 2 – 4 minggu (sesuai keadaan klinis) 

 

sasaran terapi kombinasi 4 OHO tidak tercapai: 

                insulin, atau: 

                terapi kombinasi OHO siang hari + insulin malam 

 

sasaran terapi kombinasi OHO + insulin tidak tercapai: 

                insulin 

 

 bila sasaran tercapai: teruskan terapi terakhir 

penilaian hasil terapi: 

1. pemerikasaan glukosa darah 

2. pemerikasaan A1C 

3. pemeriksaan glukosa mandiri 

4. pemeriksaan glukosa urin 

5. penmentuan benda kriteria keton pengendalian DM (lihat tabel) 

 

Tabel: Kriteria Pengendalian DM 

                                                       Baik                     Sedang               Buruk 

GD puasa (mg/dL)                       80-109                     110-125            ≥ 126 

GD 2 jam pp (mg/dL)                  80-144                      145-179           ≥  180 

A,C (%)                                       < 6,5                         6,5-8                >8 

Kolesterol total ( mg/dL )            < 200                        200-239           ≥ 240 

Kolesterol LDL ( mg/dL )            < 100                        100-129           ≥ 130 

Kolesterol HDL ( mg/dL )            > 45 

Trigliserida ( mg/dL )                   < 150                        150 – 199        ≥ 200 

IMT ( Kg/m² )                               185-22,9                   23 – 25            > 25 

Tekanan darah tinggi ( mmHg )    < 130 / 80           130-140/80-90      > 140 /90 

 

 

KOMPLIKASI 

A. Akut : 

• ketoasidosis diabetik 

• Hiperosmolar non kitetik 

• Hiperglikemia 

B.  Kronik: 

• Makroangiopati : 

- pembuluh koroner 

- Vaskilar perifer 

- Vaskular otak 

• Mikroangiopati : 

- Kapiler retina 

- Kapiler renal 

• Neoropati 

• Gabungan: 

- Kardiopati: penyakit jantung koroner, kardiomiopati 

• Rentan infeksi 

• Kaki diabetik 

• Disfungsi ereksi 

 

 

PROGNOSIS 

Dubia 

 

WEWENANG 

• RS pendidikan : dokter spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam 

• RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam 

 

UNIT YANG MENANGANI 

• RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam – Divisi Metabolik Endokologi 

• RS non Pendidikan: Bagian Ilmu Penyakit Dalam 

 

UNIT TERKAIT 

• RS Pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Ginjal – Hipertensi,Divisi 

kardiologi, dan bagian Neorologi, Patologi klinik, Mata dan Gizi 

• RS Non Pendidiakan : Bagian Neorologi, patologi klinik, Mata Dan Gizi 

 

 

 

TIROTOKSITOSIS 

 

PENGERTIAN 

Tiroktosikosis merupakan suatu keadaan di mana didapatkan kelebihan hormon tiroid sebab  ini 

berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis dan biokimiwi yang ditemukan bila suatu 

jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan. 

 

Tirotoksikosis di bagi dalam 2 Kategori: 

1. Kelainan yang berhubungan dengan Hipertiroidisme 

2. kelainan yang tidak berhubungan dengan Hipertiroidisme 

hipertiroidisme yaitu  keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari produksitiroid, yang 

merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan. Etiologi tersering dari tirotoksikosis ialah 

hipertiroidisme sebab  penyakit Graves, struma multinodosa toksik ( plumer ) dan adenoma 

toksik. pemicu  lain yaitu  tiroiditis, penyakit tropoblastis, pemakaian yodium yang berlebihan, 

obat hormon tiroid,dll. 

 

Krisis tiroid merupakan suatu keadaan klinis hipertiroidisme ytang paling berat mengancam 

jiwa, umumnya keadaan ini timbul pada pasien dengan dasar penyakit Graves atau Struma 

multinodular toksik, dan berhubungan dengan faktor pencetus: infeksi, operasi, trauma, zat 

kontras beriodium, hipoglikemia, partus, stress emosi, penghentian obat anti tiroid, terapi I 

,ketoasidosis diabetikum, tromboemboli paru, penyakit serebrovaskular/strok, palpasi tiroid 

terlalu kuat. 

 

DIAGNOSIS 

Gejala dan tanda tirotoksikosis: hiperaktivitas,palpatasi, berat badan turun, nafsu makan 

meningkat, tidak tahan panas, banyak karingat, mudah lelah, sering buang air besar, oligomenore 

/aminore dan libido turun, takikardia,fibrilasi atrial, tremor halus repleksi meningkat, kulit 

hangat dan basah, rambut rontok dan bruit. 

 

Gambaran klinis penyakit Graves: Struma difus, tirotoksikosis, oftalmopati/ ekso ftalmus, 

dermopati lokal, akropaki. 

 

Laboratorim: TSHs rendah, T4 atau fT4 tinggi pada T3 toksikosis: T3 atau fT3 meningkat. 

 

Penderita yang dicurigai krisis tiroid 

• Anamnesis: riwayat penyakit hipertiroidisme dengan gejal khas, berat badan turun, 

perubahan suasana hati, bingung, diare, amenorea 

• Pemeriksaan fisik: 

- Gejala dan tanda khas hipertiroidisme, sebab  penyakit Graves tu penyakit lain 

- Sistem syarap pusat terganggu: delirium.koma 

- Demam tinggi sampai 40°C  

- Takikardia sampai 130-200 x/menit 

- Dapat terjadi gagal jantung kongestif, ikterus 

• Laboratorium: TSHs sangat rendah, T4 / fT4/T3 tinggi, anemia tormositik normokrom, 

limfositosis, hiperglikemia, enzim transaminase hati meningkat, azotemia prerenal 

• EKG: sinus takikardia atau fibrilasi, atrial dengan respon ventrikuler cepat 

 

DIAGNOSIS BANDING 

• Hipertiroidisme primer: penyakir Graves, struma multinudosa toksik, adenoma toksik, 

metastasisi karsinoma tiroid fungsional, struma ovari,mutasi reseptor TSH, obat: kelebihan 

iodium, ( fenomena Jod Basedow ) 

• Tirotoksikosis tanpa tiroidisme: tiroiditis sub akut, tiroiditis silent, destruksi tiroid, (sebab  

aminoidarone,radiasi, infark adenoma )asupan hormon tiroid  berlebihan (tiritoksikosis 

factitia ) 

• Hipertiroidisme sekunder: adenoma hipofisis yang mensekresi TSH, sindrom resistensi 

hormon tiroid, tumor yang emnsekresi HCG, tirotoksikosis gestasional. 

 

PEMERIKSAAN MENUNJANG 

• Laboratorium : TSHs, T4 atau fT4, T3, atau fT3, TSH Rab, kadar leukosit (bila timbul 

infeksi pada awal pemakaian obat antitiroid) 

• Sidik tiroid/ thyroid scan : terutama membedakan penyakit plummer dari penyakit Graves 

dengan komponen nodosa 

• EKG 

• Foto toraks 

 

TERAPI 

Tata laksana penyakit Graves: 

Obat anti tiroid 

• Propiltiourasil PTU) dosis awal 300 – 600 mg/hari, dosis maksimal 2.000 mg/hari. 

• Metimazol dosis awal 20 -30 mg/hari 

• Indikasi: 

- mendapat remisi yang menetap atau memperpanjang remisi pada pasien muda dengan 

struma ringan –sedang dan tiroktosikosis 

- untuk mengendalikan tiroktosikosis pada fase sebelum pengobatan atau sesudah 

pengobatan yodium radioaktif 

- persiapan tiroidektomi 

- pasien hamil, usia lanjut 

- krisis tiroid 

 

penyekat adinergik ß pada awal terapi diberikan, sementaramenunggu pasien menjadi eutiroid 

setelah 6-12 minggu pemberian anti tiroid. Propanolol dosis 40-200 mg dalam 4 dosis 

pada awal pengobatan, pasien konrol setelah 4-8 minggu. Setelah eutiroid, pemantauan setiap 3-

6 bulan sekali: memantau gejala dan tanda klinis, serta Lab.FT4/T4/T3 dan TSHs. Setelah 

tercapai eutiroid, obat anti tiroid, obat anti tiroid dikurangi dosisnya dan di pertahankan dosis 

terkecil yang masih memberikan keadaan eutiroid selama 12-24 bulan. Kemudian pengobatan 

dihentikan , dan di nilai apakah tejadi remisi. Dikatakan remisi jika  setelah 1 tahun obat 

antitiroid di hentikan, pasien masih dalam keadaan  eutiroid, walaupun kemidian hari dapat tetap 

eutiroid atau terjadi kolaps. 

 

Tindakan Bedah 

Indikasi: 

• pasien usia muda dengan struma besar dan tidak respons dengan antitiroid 

• wanita hamil trimester kedua yang memerlikan obat dosis tinggi 

• alergi terhadap obat antitiroid, dan tidak dapat menerima yodium radio aktif 

• adenoma toksik, struma multinodosa toksik 

• graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul 

 

Radioablasi  

Indikasi : 

• pasien usia ≥ 35 tahun 

• hipertiroidisme yang kambuh setelah dioprasi 

• gagal mencapai remisi setalah pemberian antitiroid 

• tidak mamopu at5au tidak mau terapi obat antitiroid 

• adenoma toksik, struma multinodosa toksik 

 

Tata laksana krisis tiroid: ( terapi segela mulai bila di curigai krisis tiroid) 

1. perawatan suportif: 

• kompres dingin, antipiretik (asetaminofen ) 

• memperbaiki gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit: infus dextros 5% dan NaCl 

0,9% 

• mengataasi gagal jantung: O2,diuretik,digitalis 

2. Antagonis aktivitas hormon tiroid: 

• Blokade produksi hormon tiroid: PTU dosis 300 mg tiap 4-6 jam PO  

Alternatif : metimazol 20-30 mg tiap 4 jam PO. 

Pada keadaan sangat berat : dapat diberikan melalui pipa nasogastrik (NGT) 

PTU 600 – 1.000 mg atau metinazole 60-100 mg 

• Blokade ekskresi hormon tiroid: soluti lugol  ( saturated solustion of potasium iodida ) 8 

tetes tiap 6 jam 

• Penyekat ß : propanoolol 60 mg tiap 6 jam PO, dosis disesuaikan respons ( target: 

frekuensi jantung < 90 x/m) 

• Glukokortikoid: Hidrokortison 100-500 mg IV tiap 12 jam 

• Bila refrakter terhadap reaksi di atas: plasmaferesis, dialisis peritoneal. 

3.   pengobatan terhadap faktor presipitasi: antibiotik, dll. 

 

KOMPLIKASI 

• Penyakit Graves: penyakit jantung Hipertiroid, oftalmopati Graves, dermopati Graves, 

infeksi sebab  agranulositosis pada pengobatan denan obat antitiroid 

• Krisis tiroid: mortalitas 

 

 

 

 

KETO-ASIDISIS DIABETIKUM 

 

PENGERTIAN 

Ketoasidosis diabetikum yaitu  dekompensasi metabolik akibat defesiensi insulin absolut atau 

relatif dan merupakan komplikasi akut diabetes melitus yang serius. Gambaran klinis utama 

ketoasidosis diabetikum ( KAD) yaitu  hiperglikemia, ketosis, dan asidosis metabolik, faktor 

pencetus: infeksi, infark miokard akut, pankrealitis akut, penggunaan obat golingan steroid, 

penghentian atau pengurangan dosis insulin. 

 

DIAGNOSIS 

Klinis ; 

• Keluhan poliuri,polidipsi 

• Riwayat berhenti menyuntik insulin  

• Demam /infeksi 

• Muntah  

• Nyeri perut 

• Kesadaran ;kompos mentis,delirium ,koma 

• Pernapasan cepat dan dalam (kussnaul) 

• Dehidrasi (turgor kulit menurun ,lidah dan bibir kering) 

• Dapat disertai syok hipovolemik 

 

kriteria diagnosis : 

 

kadar glukosa   : >250 mg / dl 

pH   : < 7,35 

HCO 3-  ;rendah  

Anion gap   :tinggi 

Keton serum   : positf dan atau ketonuria 

 

DIAGNOSIS BANDING 

Ketosis diabetic,hiperglikemi hiperosmolar non ketotik /hyperglycemic,hyperosmolar 

state,ensefalopati uremikum,asidosis uremikum ,minum alcohol,ketosis alkoholik ,ketosis 

hipoglikemia ,ketosis starvasi ,asidosis laktat,asidosis hiperkloremik,kelebihan asisilat ,drug –

induced acidosis ,ensepalopati sebab  infeksi,trauma kapatis, 

 

Pemeriksaan penunjang  

 Pemeriksaan cito ; gula darah ,elektrolit,ureum ,kreatinin ,aseton darah urin rutin,analisis gas 

darah ,EKG 

 

Pemantauan : 

• Gula darah ; tiap jam   

• Na+,K+,CI- ; tiap 6 jam selama 24 jam ,selanjutnya sesuai keadaan. 

• Analisis gas darah : bila pH <7 saat masuk –diperiksa selama 6 jam s,d,pH>7,1 

selanjutnya setiap hari sampai setabil 

• Pemeriksaan lain ( sesuai indikasi );kultur darah ,kultur urin ,kultur pus 

 

TERAPI 

Akses intravena (iv)2 jalur ,salah satunya dicabang dengan 3 way ; 

I.cairan ; 

§ NaCI 0,9% diberikan kr,lbh1-2 pada jam pertama ,lalu 1 L pada jam kedua ,lalu 0,5 L 

pada jam ketiga dan keempat ,dan 0,25 L pada jam kelima dan keenam ,selanjutnya 

sesuai kebutuhan . 

§ Jumlah cairan yang diberikan dalam 15 jam sekitar 5 L 

§ Jika Na+>155 mEq/L – ganti cairan dengan NaCI 0,45 % 

§ Jika GD <200 mg / dl – ganti cairan dengan dextrose 5 % 

 

II.insulin (regular insulin = RI ): 

• Diberikan setelah 2 jam rehidrasi cairan  

• RI bolus 180 mU/KgBB IV ,dilanjutkan ; 

• RI drip 90 mU/KgBB/jam dalam NaCI 0,9 % 

• Jika GD <200 mg/dL;kecepatan dikurangi –RI drip 45 mU/kgBB/jam dalam NaCI 0,9 % 

• Jika GD stabil 200-300 mg/dL selama 12 jam –RI drip 1-2 U / jam IV ,disertai slinding 

scale setiap 6 jam; 

 

GD   --  RI 

(Mg/dl)      ( unit ,subkutan ) 

     <200  0 

200—250  5 

250—300  10 

300—350  15 

      >350  20 

 

• jika kadar GD ada yang < 100 mg/dL;drip RI dihentikan  

• setelah sliding scale tiap 6 jam ,dapat diperhitungkan kebutuhan insulin sehari --- dibagi 3 

dosis sehari subkutan ,sebelum makan ( bila pasien sudah makan ) 

 

III. kalium  

• kalium ( KCI ) drip dimulai bersaman dengan drip RI ,dengan dosis 50 mEq/ 6 jam 

,syarat ;tidak ada gagal ginjal ,tidak ditemukan gelombang T yang lancip dan tinggi pada 

EKG ,dan jumlah urine cukup adekuat. 

• Bila kadar K+ pada pemeriksaan elektrolit kedua : 

<3,5    -----    drip KCI 75 mEq/6 jam  

  3,0   --  4,5      -----    drip KCI  50 mEq/6 jam  

  4,5   --  6,0      -----    drip KCI  25 mEq/6 jam  

   >6,0    ------ drip dihentikan  

• Bila sudah sadar ,diberikan K+ oral selama seminggu 

 

IV.Natrium bikarbonat 

Drip  100 mEq bila pH  < 7,0, disertai  KCI 26 mEq drip 

 50 mEq bila pH    7,0 – 7,1 , disertai  KCI 13 mEq drip  

Juga diberikan pada asidosis laktat dan hiperkalemi yang mengancam  

 

V. Tata laksana umum  : 

• Oksigen bila PO < 80 mm Hg 

• Antibiotika adekuat 

• Heparin ;bila ada KID satau hiperosmolar ( > 380 mOsm/L)terapi disesuaikan dengan 

pemantauan klinis  

• Tekanan darah ,frekuensi nadi ,frekuensi pernapasan ,temperatur setiap jam  

• Kesadaran setiap jam  

• Keadaan hidrasi ( turgor ,lidah ) setiap jam  

• Produksi urine setiap jam ,balans cairan  

• Cairan infus yang masuk setiap jam  

• Dan pemantauan labolatorik ( lihat pemeriksaan penunjang ) 

 

KOMPLIKASI  

Syok hipovolemik ,edema paru ,hipertrgliseridemia,infark miokard akut ,hipoglikemia 

.hipokalemia ,hiperkloremia ,edema otak,hipokalsemia 

 

PROGNOSIS  

Dubia ad malam ,tergantung pada usia ,komorbid,adanya infark miokard akut ,sepsis ,syok. 

 

WEWENANG 

RS, pendidikan ;Dokter spesialis penyakit dalam dan ppds penyakit dalam dengan konsultasi 

pada konsulen penyakit dalam  

RS, non pendidikan ; Dokter spesialis penyakit dalam  

 

HIPOGLIKEMIA 

PENGERTIAN 

Hipoglikemia yaitu  keadaan dimana kadar glukosa darah < 60 mg/dL ,atau kadar glukosa darah 

,<80 mg/dL,dengan gejala klinis ,hipoglikemia pada DM terjasi sebab ; 

• Kelebihan obat / dosis obat ; terutama insulin ,atau obat hipoglikemia oral 

• Kebutuhan tubuh akan insulin yang relatif menurun ; gagal ginjal kronik pasca 

persalinan 

• Asupan makan tidak adekuat ; jumlah kalori atau waktu makan tidak tepat 

• Kegiatan jasmani berlebihan  

 

DIAGNOSIS 

GEJALA DAN TANDA KLINIS ; 

• Stadium parasimpatik ; lapar,mual,tekanan darah turun  

• Stadium gangguan otak ringan ; lemah lesu ,sulit bicara ,kesulitan menghitung sementara  

• Stadium simpatik; keringat dingin pada muka ,bibir atau tangan gemetar 

• Stadium gangguan otak berat ;tidak sadar,dengan atau tanpa kejang  

 

ANAMNESIA ; 

• Penggunan preparat insulin atau obat hipoglemik oral  ; dosis terakhir ,waktu pemakaian 

terakhir ,perubahan dosis. 

• Waktu makan terakhir ,jumlah asupan gizi 

• Riwayat jenis pengobatan dan dosis sebelumnya  

• Lama menderita DM ,komplikasi DM 

• Penyakit penyerta :ginjal ,hati, dll. 

• Penggunaan obat sistematik lainnya ;penghambat adrenergikB ,dll 

 

Pemeriksaan fisik ; pucat,diaphoresis,tekanan darah ,frekuensi denyut jantung ,penurunan 

kesadaran ,deficit neurologik fokal transient. 

 

Trias whipple untuk hipoglikemia secara umum; 

1,gejala yang konsisten dengan hipoglikemia 

2,kadar glukosa plasma rendah  

3,Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat. 

 

DIAGNOSIS BANDING 

Hipoglikemia sebab  : 

• Obat ; 

o ( sering ); insulin ,sulfonlurea,alcohol, 

o ( kadang) ; kinin ,pentamidine 

o (jarang ) ; salisilat ,sulfonamide. 

• Hiperinsulinisme endogen ; insulinoma ,kelainan sel B jenis lain ,sekretagogue ( 

sulfonylurea ),autoimun,sekresi insulin ektopik 

• Penyakit kritis: gagal hati ,gagal ginjal ,sepsis ,starvasi dan inasasi  

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

• Defisiensi endokrin; kortisol,growth hormone ,glukagon ,epnefrin 

• Tumor non-sel B ;sarkoma ,tumor adrenokortikal,hepatoma ,leukemia ,limfoma 

,melanoma 

• Pasca – prandial; reaktif ( setelah operasi gaster) ,diinduksi alcohol 

 

PEMERIKSAAN PENUNJANG 

Kadar glukosa darah (GD) ,tes fungsi ginjal ,tes fungsi hati ,C- peptide 

 

TERAPI 

Stadium permulaan ( sadar ) 

• Berikan gula murni  30 gram ( 2 sendok makan ) atau sirop /permen atau gula murni ( 

bukan pemanis pengganti gula atau gula diit /gula diabetes ) dan makanan yang 

mengandung karbohidrat 

• Hentikan obat hipoglikemik sementara  

• Pantau glukosa darah sewaktu tiap 1-2 jam 

• Pertahankan GD sekitar 200 mg/dL ( bila sebelumnya tidak sadar) 

• Cari pemicu  

 

Stadium lanjut (koma hipoglikemia atau tidak sadar dan curiga hipoglikemia ); 

1) Diberikan larutan destrosa  40% sebanyak 2 flakon (=50 mL)bolus intra vena , 

2) Diberikan cairan dekstrosa 10 % per infuse ,6 jam perkolf 

3) Periksa GD sewaktu (GDs) ,kalau memungkinkan dengan glukometer ; 

 

• Bila GDs < 50 mg /dL-- + bolus dekstrosa 40% 50 % ml IV 

• Bila GDs < 100 mg /dL --+ bolus dekstrosa 40 % 25 % mL IV 

 

4) periksa GDs setiap satu jam setelah pemberian dekstrosa 40% 

 

• bila GDs < 50 mg/dL -- + bolus dekstrosa 40 % 50 mL IV 

• bila GDs <100 mg/dL -- +bolus dekstrosa  40 % 25 mL IV 

• bila GDs 100 – 200 mg /dL  -- tanpa bolus dekstrosa 40 % 

• bila GDs > 200 mg/dL – pertimbangan menurunkan kecepatam drip dekstrosa 

10 %  

5) Bila GDs > 100 mg/dL sebanyak 3 berturut –turut ,pemantauan GDs setiap 2 jam ,dengan 

protocol sesuai diatas ,bila GDs >200 mg/dL – pertimbangkan mengganti infuse dengan 

dekstrosa 5 % atau NaCI 0,9 % 

6) Bila GDs >100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut- turut ,pemantauan GDs setiap 4 jam 

,dengan protocol sesuai diatas .bila GDs > 200 mg/dL – pertimbangkan mengganti infuse 

dengan dekstrosa 5 % atau NaCI 0.9 % 

7) Bila GDs >  100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut-turut ,slinding scale setiap 6 jam  :  

 

GD   ----  RI 

                ( mg/dL )      (unit, subkutan  ) 

  <200    0 

200-250 5 

250-300 10 

300-350 15 

>350    20 

 

8) bila hipoglikemia belum teratasi ,dipertimbangkan pemberian antagonis insulin seperti ; 

adrenalin ,kortison dosis tinggi ,atau glikagon 0,5-1 mg IV / IM ( bila pemicu nya 

insulin ) 

9) bila pasien belum sadar ,GDs sekitar 200 mg / dL .hidrokortison  100 mgper 4 jam 

selama 12 jam atau deksametason  10 mg IV bolus dilanjutkan 2 mg tiap 6 jam dan 

manitol 1,5  - 2 g/kgBB IV setiap 6-8 jam ,cari pemicu  lain penurunan kesadaran  

 

KOMPLIKASI  

Kerusakan otak ,koma ,kematian 

 

PROGNOSIS 

Dubia  

 

DISLIPIDEMIA 

PENGERTIAN  

Dislipidemia merupakan kelaianan metabolisme lipid yang ditandai oleh kelainan ( peningkatan 

atau penurunan ) Fraksi lipid dalam plasma ,kelaianan fraksi lipid yang utama yaitu  kenaikan 

kadar kolesterol total,kenaikan kadar trigliserid serta penurunan kadar kolsterol HDL.dalam 

proses terjadinya aterosklerosis ketiganya mempunyai peran penting dan berkaitan ,sehingga 

dikenal sebagai triad lipid ,secara klinis dislipidemia diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: 

hiperkolesteromia ,hipertrigliseridemia ,dan campuran hiperkolesteromia dan 

hipertrigliseridemia. 

 

DIAGNOSIS  

Klasifikasi kadar kolesterol  :    klasifikasi 

 Kolesterol LDL  <100mg/dL  optimal 

   100 – 129 mg/dL   hampir optimal 

   130 – 159 mg/dL   borderline tinggi  

   160 – 189 mg/dL   tinggi  

    ->190 mg/dL  sangat tinggi 

 Kolesterol total  <200 mg/dL   idaman 

   200 – 239 mg/dL   borderline tinggi  

    >240 mg/dl   tinggi  

 Kolesterol HDL  <40 mg/dL   rendah  

    > 60 mg/dL   tinggi 

Untuk mengevaluasi resiko penyakit jantung koroner (PJK) ,perlu diperhatikan faktor-faktor 

risiko lainnya : 

1, faktor resiko fositif 

 - merokok  

 - umur (pria 45 thn, wanita 55 thn ) 

 - kolesterol HDL rendah  

 - hipertensi (TD 140 /90 atau dalam terapi antihipertensi )  

 - riwayat penyakit jantung koroner dini dalam keluarga ( fist degree :pria , 55 t 

__________________________

http://www.foxitsoftware.com   For evaluation only.

Buku Saku Klinis  INFEKSI 

    Tahun ,wanita < 65 thn,) 

2, faktor resiko negatif. 

 - kolesterol HDL tinggi ;mengurangi 1 faktor risiko dari perhitungan total . 

 

ATP III menggunakan Framingham Risk Score (FRS) untuk menghitung besarnya risiko 

penyakit jantung korpner (PJK) pada pasien dengan 2 faktor risiko ,meliputi ; umur,kadar 

kolesterol total ,kolesterol HDL ,kebiasaan merokok ,dan hipertensi penjumlahan skor pada FRS 

akan menghasilkan angka persentase risiko PJK dalam 10 tahun, 

 

Ekivalen risiko PJK mengandung risiko kejadian koroner mayor yang sebanding dengan 

kejadian PJK ,yakni > 20 % dalam 10 tahun ,terdiri dari ; 

• bentuk klinis lain dari aterosklerosis ;penyakit arteri perifer ,aneurisma aorta 

abdominalis ,penyakit arteri karotis yang simptomatis’ 

• diabetes  

• Faktor risisko multiple yang mempunyai resiko PJK dalam 10 tahun > 20% 

 

Peningkatan kadar trigliserida juga merupakan faktor resiko indefenden untuk terjadinya 

PJK,faktor yang mempengaruhi tingginya trigliserida; 

• Obesitas ,berat badan lebih 

• Inaktivitas fisik 

• Merokok 

• Asupan alcohol berlebihan  

• Diet tinggi karbohidrat ( >60 % asupan energi) 

• Penyakit DM tipe 2 , gagal ginjal kronik ,sindrom nefrotik 

• Obat,kortikosteroid,estrogen ,retinoid ,penghambatan adrenergic-beta dosis tinggi  

• Kelainan genetic( riwayat keluarga ) 

 

Kalsifikasi derajat hipertrigliseridemia 

 Normal   ; ,150 mg/dL 

 Borderline –tinggi : 150 – 199 mg/dL 

 Tinggi   : 200 – 499 mg/dL 

 Sangat tinggi   :  500 mg/dL 

DIAGNOSIS BANDING 

• Hiperkolesterolemia sekunder,sebab  hipotirodisme,penyakit hati obstruksi,sindrom 

nefrotik,anoreksia nervosa,porfiria intermiten akut ,obat (progestin,siklosporin,thiazide) 

• Hipertrgliseridemia sekunder,sebab  obesitas ,DM,penyakit ginjal 

kronik,lipodistrofi,glycogen strorage disease,alcohol,bedah bypass 

ileal,stress,sepsis,kehamilan ,obat ( estrogen, isotretinoin, penghambat beta 

,glukokortikoid,resin pengikat bile-acid,thiazide),hepatitis akut,lupuseritematosus 

sistemik,gammopali monoclonal ;myeloma multiple ,limpoma AIDS ;inhibitor protease. 

• HDL rendah sekunder,sebab  malnutrisi,obesitas,merokok ,penghambatan beta steroid 

anbolik 

 

PEMERIKSAAN PENUNJANG 

 

Skirining dianjurkan pada semuah pasien berusia 20 tahun ,setiap 5 tahun sekali ;kadar kolesterol 

total, LDL, HDL, trigliserida , glukosa darah ,tes fungsi hati ,urin lengkap, tes fungsi ginjal , 

TSH < EKG. 

 

TERAPI 

 

Untuk hiperkolesteromia; 

Penatalaksanaan non-farmakologis (perubahan gaya hidup 

• Diet, dengan komposis : 

o Lemak jenuh  <7 % kalori total 

o PUFA  hingga 10 % kalori total 

o MUFA  hingga 10 % kalori total  

o Lemak toal   25 – 35 % kalori total 

o Karbohidrat   50 – 60 % kalori total 

o Protein   hingga 15 % kalori total  

o Serat    20 – 30  g / hari 

o Kolesterol  <200 mg / hari 

 

• Latihan jasmani  

• Penurunan berat badan bagi yang gemuk 

• Menhintikan kebiasaan merokok ,minuman alcohol 

 

Pemantauan profil lipid dilakukan setiap 6 minggu ,bila target sudah tercapai ( lihat tabel target 

di bawah ini),pemantauan setiap 4 – 6 bulan  

 

• Bila setelah 6 minggu PGH, target belum tercapai; intensifkan penurunan lemak jenuh 

dan kolesterol ,tambahkan stanol/steroid nabati,tingkatkan konsumsi serat,dan kerjasam 

dengan dietisian. 

• Bila setelah 6 minggu berikutnya terapi non-farmakologis tidak berhasil menirunkan 

kadar kolesterol LDL,maka terpi farmakologis mulai diberikan ,dengan tetap meneruskan 

pengaturan makan dan latihan jasmani. 

 

TERAPI FARMAKOLOGIS 

 

• Golongan statin ; 

o Simvastatin 5—40 mg 

o Lovastatin  10—80 mg 

o Pravastatin  10—40 mg 

o Fluvastatin 20—80 mg 

o Atorvastatin  10—80 mg 

• Golongan bile acid sequestrant : 

o Kolestiramin 4—16 g 

• Golongan nicotinic acid; 

o Nicotinic acid ( immediate release ) 2 * 100 mg s,d 1,5 – 3 g 

 

Target kolesterol LDL ( mg/dL) : 

kategori  target   kadar LDL  kadar LDL untuk  

Risiko    LDL   untuk mulai PGH milai terapi farmakologis 

PJK atau  <100  >100   130 

Ekivalen PJK    ( 100- 129) ;opsional ) 

( FRS > 20 % )  

Faktor risiko > 2 <130   < 130   > 130 (FRS 10-20 % 

( FRS < 20 % )       ( 160 – 189 ; opsional ) 

Faktor risiko 1 –1  <160   > 160   > 190 

        ( 160 – 189 ; opsional ) 

Terapi hiperkolestrolemia untuk pencegahan primer ,dimulai dengan statin atau bile acid 

sequestrant atau nicotinic acid, 

Pemantauan profil lipid dilakukan setiap 6 minggu ,bila target sudah tercapai ( lihat tabel diatas ) 

,pemantauan setiap 4—6 bulan ,bila setelah 6 minggu terapi ,target belum tercapai ;intensifkan 

/naikan dosis statin atau kombinasi dengan yang lain,bila setelah 6 minggu berikutnya terpi non 

farmakologis tidak berhasil menurunkan kadar kolesterol LDL ,maka terapi famakologis 

diintensifkan  

Pasien dengan PJK ,kejadian koroner mayor atau dirawat untuk prosedur koroner,diberi terapi 

obat saat pulang dari RS jika kolesterol LDL > 100 mg / dL 

 

Pasien dengan hipertrigliseridemia : 

• Penatalaksanaan non- farmakologis sesuai diatas  

• Penatalaksanaan farmakologis 

o Target terapi : 

Pasien dengan trigliserida borderline tinggi atau tinggi ;tujuan utama terapi yaitu  mencapai target kolesterol 

LDL 

 

- Pasien dengan trigliserida tinggi ; target sekunder yaitu  kadar kolesterol 

non HDL ,yakni sebesar 30 mg /dL lebih tinggi dari target kadar kolesterol 

LDL  

- Pendekatan terapi obat ; 

• Obat penurun kadar kolesterol LDL ,atau  

• Ditambahkan dengan obat fibrat atau nicotinic acid.golongan fibrat 

terdiri dari  

o Gemfibrozil 2 x600 mg 1 x 900 mg, 

o Fenofibrat    1 x 200 mg 

 

pemicu   primer dari dislipidemia sekunder ,juga harus ditatalaksana  

 

KOMPLIKASI  

Aterosklerosis,penyakit jantung koroner ,strok ,pankreatitis akut 

 

PROGNOSIS 

Dubia ad bonam  

 

  STRUMA NODOSA NON TOKSIK 

                                                                                       

PENGERTIAN  

Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar  tiroid yang teraba sebagai suatu 

nodul ,tanpa disertai tanda – tanda hipertiroidisme,berdasarkan jumlah nodul ,dibagi : 

• Struma mononodosa non toksik 

• Struma multinodosa nontoksik 

 

Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif,nodul dibedakan menjadi : nodul dingin 

,nodul hangat,nodul panas, 

 

Sedangkan berdasarkan konsistensinya  ,nodul dibedakan menjadi ;nodul lunak ,nodul kistik, 

nodul keras,nodul sangat keras, 

 

 

 

 

DIAGNOSIS 

Anamnesis : 

• Sejak kapan benjolan timbul 

• Rasa nyeri spontan atau tidak spontan ,berpindah atau tetap  

• Cara membesarkanya : cepat atau lambat 

• Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar menjadi beberapa benjolan atau 

hanya pembesaran leher saja 

• Riwayat keluarga 

• Riwayat penyinaran daerah pada waktu kecil/muda 

• Perubahan suara 

• Gangguan menelan ,sesak nafas 

• Penurunan berat badan  

• Keluhan tirotoksikosis 

 

Pemeriksaan fisik ; 

• Umum 

• Local ; 

o Nodul tunggal atau majemuk,atau difus 

o Nyeri tekan 

o Konsistensi 

o Permukaan 

o Perlekatan pada jaringan sekitarnya  

o Pendesakan atau pendorongan trakea 

o Pembesaran kelenjar getah bening regional 

o Pemberton’s sign 

 

Penilaian risiko keganasan : 

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostic penyakit tiroid jinak ,tetapi tak 

sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid : 


• Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difusi jinak  

• Riwayat keluarga dengan tiroiditis hashimoto atau penyakit tiroid autoimun, 

• Gejala hipo atau hipertiroidisme 

• Nyeri berhubungan dengan nodul 

• Nodul lunak, mudah degerakan 

• Multinodul tanpa nodul yang dominant ,dan konsistensi sama. 

 

 

 

 

 

 

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkatkan kecurigaan kearah keganasan tiroid : 

• Umur < 20 tahun atau > 70 tahun 

• Gender laki- laki 

• Nodul disertai disfagi ,serak atau obstruksi jlan napas 

• Pertumbuhan nodul cepat ( beberapa minggu – bulan ) 

• Riwayat radiasi daerah leher waktu usia anak – anak atau dewasa ( juga meningkatkan 

insiden penyakit nodul tiroid jinak ) 

• Riwayat keluarga kanker tiroid meduler 

• Nodul yang tunggal ,berbatas tegas ,keras,irregular dan sulit digerakan  

• Paralysis pita suara 

• Temuan limpadenofati servikal 

• Metastasis jauh ( paru-paru ),DLL 

 

Langkah diagnosis I :TSHs FT4 

Hasil : non –toksis – langkah diagnostic H :BAJAH nodul tiroid 

Hasil ; A  ganas 

 B  curiga  

 C  jinak 

 D  tak cukup /sediaan tak representative 

 

DIAGNOSIS BANDING 

• Struma nodosa yang terjadi pada peningkatan kebutuhan terhadap tiroksin saat masa 

pertumbuhan ,pubertas laktasi,menstruasi,kehamilan menopause,infeksi,stes lain . 

• Tiroiditis akut 

• Tiroiditis subakut 

• Tiroiditis kronis,limpositik (hashimoto),fibrous-invasif ( riedel ) 

• Simple goiter 

• Struma endemic 

• Kista tiroid,kista degenerasi 

• Adenoma 

• Karsinoma tiroid primer,metastatik 

• Limfoma 

 

PEMEIKSAAN PENUNJANG 

• Laboratorium :  T4 atau T3, dan TSHs 

• Biosi aspirasi jarum halus ( BAJAH ) nodul tiroid 

o Bila hasil laboratorium; non –toksik 

o Bila hasil lab,(awal ) toksik,tetapi hasil scan : cold nodule – syrat sudah menjadi 

eutiroid, 

• USG tiroid 

o Pemantau kasus nodul yang tidak diopersi  

o Pemendu pada BAJAH 

• Sidik tiroid : 

o Bila klinis ganas,tetapi hasil sitologi dengan BAJAH ( 2 X );jinakm , 

o Hasil sitologi dengan BAJAH : curiga ganas 

• Petanda keganasan tiroid ( bila ada riwayat keluarga dengan karsinoma tiroid 

medular,diperiksakan kalsitonik) 

• Pemeriksaaan antitiroglobulin bila TSHs meningkat,curiga penyakit hashimoto 

 

TERAPI 

Sesuai hasil BAJAH ,maka terapi : 

A, Ganas ;------- operasi tirodektomi near total ; 

B, curiga ;-------- operasi dengan lebih dulu melakukan potong beku (VC) 

       Bila hasil  = ganas ---- operasi tiroidektomi near total 

       Bila hasil  = jinak  ----- operasi lobektomi,atau tiroidektomi near  

      Total. 

  --- alternatif ; sidik tiroid,bila hasil  = cold nodule --- operasi  

C, tak cukup / sediaan tak representatif  

§ Jika nodul solid ( saat BAJAH ); ulang BAJAH. 

§ Bila klinis curiga ganas tinggi ----- operasi lobektomi  

§ Bila klinis curiga ganas rendah ----- observasi 

§ Jika nodul kistik (saat BAJAH ) ;aspirasi  

§ Bila kista regresi ---- observasi  

§ Bila kista rekurens,klinis curiga ganas rendah ---- observasi  

§ Bila kista rekurens, klinis curiga ganas tinggi ----- operasi lobektomi 

 

D,jinak 

 * terapi dengan levo-tiroksin ( LT 4) dosis subtoksis . 

• Dosis dititrasi mulai 2 x 25 ug (  3 hari ) 

• Dilanjutkan 3 x 25 ug ( 3 – 4 hari ) 

• Bila tidak ada efek samping atau tanda toksis ; dosis  - menjadi 2 x 100 ug sampai 4 --- 6 

minggu , kemudian evaluasi TSH ( target 0,1  -  0,3 ulU /L) 

• Supresi TSH dipertahankan selama 6 bulan  

• Evaluasi dengan USG : apakah nodul berhasil mengecil atau tidak ( berhasil bila 

mengecil > 50 % dari volume awal ) 

o Bila nodul mengecil atau tetap --- L – tiroksin dihentikan dan diobservasi; 

o Bila setelah itu struma membesar lagi ,maka L-tiroksin dimulsi lagi ( target TSH 

0,1 – 0,3 ul U/L ) 

o Bila setelah 1- tiroksin dihentikan ,struma tidak berubah ,diobservasi saja. 

o Bila nodul membesar dalam 6 bulan atau saat terapi supresi --- obat dihentikan 

dan operasi tiroidektomi dan dilakukan pemeriksaan histopatologi  --- hasi PA : 

§ Jinak teapi dengan L_tiroksin ; target TSH 0,5 – 3,0 uI U/L 

§ Ganas terapi L-tiroksin  

• Individu dengan risiko ganas tinggi :target TSH < 0,01 – 0,05 uI 

U/L 

• Individu dengan risiko ganas rendah  : target TSH 0,05 – 0,1 uI U 

/ L 

 

KOMPLIKASI 

Umumnya tidak ada ,kecuali ada infeksi seperti pada tiroiditis akut /subakut 

PROGNOSIS  

Tergantung jenis nodul ,tipe histologis. 

 

 

KISTA TIROID 

PENGERTIAN  

Kista tiroid yaitu  nodul kistik pada jaringan tiroid ,merupakan 10 – 25 % dari seluruh nodul 

tiroid,insidens keganasan pada nodul kistik kurang dibandingkan nodul solid,pada nodul kistik 

komplek masih mungkin merupakan suatu keganasan ,sebagian nodulkistik mempunyai bagian 

yang sulid. 

 

DIAGNOSIS 

Anamnesis  

• Sejak kapan benjolan timbul 

• Rasa nyeri spontan atau tidak spontan ,berpindah atau tetap 

• Cara membesarnya:cepat atau lambat 

• Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar ,menjadi beberapa benjolan atau 

hanya pembesaran leher saja. 

• Riwayat keluarga 

• Riwayat penyinaran daerah leherb pada waktu kecil/muda  

• Perubahan suara 

• Gangguan menelan 

• Sesak napas 

• Penurunan berat badan  

• Keluhan tirotoksikosis 

 

 

Pemeriksaan fisik : 

• Umum 

• Local 

o Nodus tungggal atau  majemuk ,atau difus 

o Nyeri tekan  

o Konsistensi :kistik ; 

o Permukaan 

o Perlekatan pada jaringan sekitarnya 

o Pendesakan atau pendorongan trakea 

o Pembesaran kelenjar getah bening regional 

o Pemberton’s sign 

 

Penilaian risiko keganasan : 

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostic penyakit tiroid jinak,tetapi tak 

sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid : 

• Riwayat keluarga dengan  struma nodosa atau difusa jinak 

• Riwayat keluarga dengan tiroiditis hashimoto atau penyakit tiroid autoimun 

• Gejala hipotiroidisme atau hipertiroidisme, 

• Nyeri berhubungan dengan nodul, 

• Nodul lunak ,mudah digerakan 

• Multinodul tanpa nodul yang dominan ,dan konsistensi sama. 

 

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkat kecurigaan kearah keganasan tiroid : 

 Umur <20 tahun atau > 70 tahun 

 Gender laki – laki 

 Nodul disertai disfagia,serak,atau obstruksi jalan napas 

 Pertumbuhan nodul cepat ( beberpa minggu – bulan ) 

 Riwayat radiasi daeah leher waktu usia anak – anak atau dewasa (jga 

meningkatkan insiden penyakit nodul tiroid jinak ) 

 Riwayat keluarga kanker tiroid medular 

 Nodul yang tunggal ,berbatas tegas,keras,irregular,dan sulit digerakan paralysis 

pita suara 

 Temuan limpadenopati servikal 

 Metastasis jauh ( paru – paru , dLL ) 

 

Langkah diagnosis awal : TSHs,FT4 

Bila hasil non ; toksis  ---  lankang diagnosis II: 

---- fungsi aspirasi kista dan BAJAH bagian solid dari kista tiroid 

 

DIAGNOSIS BANDING  

Kista tiroid ,kista degenerasi,karsinoma tiroid. 

PEMERIKSAAN PENUNJANG 

 

v USG tiroid ; 

o Dapat membedakan bagian padat dan cair 

o Dapat untuk memandu BAJAH; menemukan bagian solid, 

o Gambaran USG kista =kurang lebih bulat,seluruhnya hipoekoik 

sonolusen,dinding tipis, 

v Sitologi cairan kista dengan prosedur sitospin , 

v Biopsy aspirasi jarum halus (BAJAH ) ; pada bagian yang solid 

 

TERAPI  

Pungsi aspirasi seluruh cairan kista ; 

Ø Bila kista regresi --- observasi 


Ø Bila kista rekurens , klinis kecurigaan ganas rendah , ---- fungsi aspirasi dan observasi 

Ø Bila kista rekurens ,klinis kecurigaan ganas tinggi ---- operasi lobektomi 

 

KOMPLIKASI  

Tidak ada. 

 

PROGNOSIS  

Dubia ad bonam , tergantung tipe dan jenis histopatologinya 

 

• ARTRITIS-TINJAUAN • 

 

 

Gambar 8-1. pendekatan terhadap artritis 

 

Artritis 

 

Monoartikular    oligoartikular   poliartikular 

 

 

Infeksi  infeksi    osteoartritis 

Trauma/hemartrosis   deposit kristal    artritis reumatoid 

Deposit kristal  seronegatif   

Oligo/poliartikular dini       oliartikular dini    

 

 

Perbandingan Artritis Mayor 

Gambaran OA RA Kristal Seronegatif 

Onset Bertahap Bertahap Akut Bervariasi 

Inflamasi - ⊕ ⊕ ⊕ 

Patologi Degenerasi Pannus Mikrotofi Entesitis 

Jumlah sendi Poli Poli Mono Oligo atau poli 

Jenis sendi Besar Kecil Kecil atau besar Besar 

Lokasi DIP 

penyangga 

berat badan 

MCP pergelangan 

tangan 

MTP kaki, 

pergelangan 

kaki 

Sakroiliaka 

Spina, perifer 

Perubahan 

artikular khusus 

Nodus 

Bouchard 

Nodus 

Heberden 

Deviasi ulna 

leher angsa 

bountonniere 

Kristal Blok spina 

Entesopati 

Perubahan 

tulang 

Osteofit Osteoporosis 

Erosi 

Erosi Erosi 

Ankilosis 

Gambaran  

ekstra-artikular 

 Nodul subakut 

Paru 

Jantung 

Splenomegali 

Tofi 

Nefrolitiasis 

Nefritis 

 

Uveitis 

Konjungtivitis 

Jantung 

Paru 


Psoriasis 

IBD 

Data 

laboratorium 

Normal RF⊕, ↑ ESR ↑ asam urat HLA-B27 

 

Analisis Cairan Sendi 

Uji Normal Non-inflamasi Inflamasi Septik 

Tampilan Jernih Jernih, kuning Jernih hingga buram 

Putih-kekuningan 

Buram 

Leukosit/mm3 < 200 200-3000 > 3000 Biasanya > 50.000 

PMN < 25% < 25% ≥ 50% ≥ 75% 

Kultur - - - ⊕ 

Glukosa = serum = serum 25 < glukosa < serum Glukosa < 25 

Kondisi  OA, trauma RA 

Kristal 

Seronegatif 

Infeksi 

(diadaptasi dari Tierney, McPhee, dan Papadakis, eds, Current Medical Diagnosis and 

Treatment, ed. 34, 1995) 

 

 

• REUMATOID ARTRITIS (RA) • 

Definisi dan Epidemiologi 

• Poliartritis destruktif yang memburuk secara kronis 

• Etiologi yang mendasari tidak diketahui. Faktor genetik berperan penting. ↑ MHC DR1 dan 

DR4 kelas II 

• Prevalensi = 1% orang dewasa; predominan pada perempuan. 

 

Kriteria (perlu 4 dari 7 kriteria; sensitivitas dan sfesifisitas ∼ 90%; Arthritis Rheum 31 : 315, 

1988) 

• Kekakuan sendi pada pagi hari ≥ 1 jam selama 6 minggu 

• Artritis ≥ 3 sendi secara bersamaan selama 6 minggu 

• Artritis sendi tangan selama 6 minggu 

• Terkenanya sendi yang simetris selama 6 minggu 

• Nodul Reumatoid (nodul subkutan diatas permukaan ekstensor) 

• Faktor Reumatoid (RF, rheumatoid factor)⊕ 

• Perubahan radiografik yang menetap disertai RA (seperti; erosi dan dekalsifikasi 

periartikular) 

 

Manifestasi klinis 

• Sinovitis sendi yang kronis, simetris, steril, erosif (khususnya PIP, MCP, pergelangan tangan, 

lutut, pergelangan kaki, MTP, dan spina servikalis) 

• Imobilisasi sendi, spasme dan pemendekan otot, destruksi tulang dan kartilago, serta 

deformitas sendi 

Deviasi ulna 

Deformitas leher angsa (swan neck deformity) (fleksi MCP, hiperekstensi PIP, fleksi DIP) 


Deformitas Boutonniere (fleksi PIP, hiperekstensi DIP) 

Deformitas cock-up dan subluksasi bagian atas metatarsal 

• Instabilitas C1-C2; dapat memicu  mielopati sehingga harus dibuat foto servikal sebelum 

melakukan intubasi elektif. 

• Nodul reumatoid (biasanya pada pasien dengan RF ⊕); nodul subkutaneus sepanjang 

selubung tendon dan didalam bursa, dan bisa juga ada  di paru, pleura, perikardium, dan 

sklera 

• Malaise, demam, penurunan berat badan 

• Paru : penyakit paru intersisialis (intersitial lung disease), efusi pleura (secara karakteristik 

terjadi penurunan hebat glukosa) 

• Jantung : perikarditis, efusi perikardium, aortitis 

• Carpal tunnel syndrome 

• Fenomena Raynaud, infark lipatan kuku kecil, purpura yang dapat dipalpasi, vaskulitis 

leukositoklastik 

• Amiloidisis sekunder (AA) dengan RA aktif yang berjalan lama 

• Sindrom Felty: RA aktif, splenomegali, dan neutropenia 

 

Laboratorium dan pemeriksaan radiologi 

• RF⊕  (Ab IgM anti-IgG) pada 85% pasien RA, namun juga terlihat pada 3% populasi sehat 

dan sebab  itu menjadi tidak spesifik; kadarnya hanya berhubungan secara kurang bermakna 

dengan aktivitas penyakit 

• ↑ ESR dan CRP; ↑ globulin dan ↓ kadar komplemen selama masa penyakit aktif 

• Anemia sebab  penyakit kronis 

• Radiografi tangan dan pergelangan tangan → erosi, deformitas dan “dekalsifikasi” tulang  

juksta-artikular 

 

Terapi (N Engl J Med 330:1368, 1994; Ann Intern Med 124:699, 1996; Med Clin North Am 

1:57, 1997) 

• NSAID/glukokortikoid + terapi fisik 

• Obat anti-reumatik kerja lambat (slow-acting anti-rheumatic drugs, SAARD) = obat anti-

reumatik yang mampu memodifikasi penyakit (disease-modifying anti rheumatic drugs, 

DMARD) 

Pertimbangkan penggunaan awal SAARD (Ann Intern Med 124:699, 1996) dan pertimbangkan 

kombinasi SAARD pada pasien yang gagal 1 SAARD (N Engl J Med 334:1287, 1996)  

Obat lini pertama : hidroksiklorokuin (plakuenil), sulfasalazin, metotreksat 

Obat lini kedua : penghambat TNF (N Engl J Med 337:141, 1997 dan 340:253, 1999), preparat 

emas IM, azatioprin, siklosporin 

• Ingat bahwa sendi reumatoid dapat mengalami superinfeksi 

 

 

 

• ARTRITIS DEPOSISI KRISTAL • 

 

Definisi  

• Penyakit metabolik yang disebabkan deposisi urat yang abnormal (monosodium urat 

monohidrat) 

• “Artritis gout” = serangan hebat artritis artikular dan peri-artikular yang akut atau rekuren 

sebab  “mikrotofi” 

• “tofi” = defosit nodular kristal urat → reaksi benda asing; khususnya setelah ∼ 10 tahun 

mengalami artritis gout 

 

Patogenesis 

• Akut : fagositosis kristal urat → melepaskan mediator peradangan 

• Kronis : granuloma benda asing yang mengelilingi sebuah inti kristal urat; peradangan tofaseus 

kronis pada jaringan artikular dan periartikular 

 

Epidemiologi 

• Lebih sering pada laki-laki dibandingakan perempuan; puncak insiden pada dekade ke-5 

• pemicu  artritis inflamatorik paling sering pada laki-laki berusia lebih dari 30 tahun 

• Jarang pada perempuan pramenopause (estrogen meningkatkan eksresi asam urat di ginjal), 

sehingga untuk mengkonfirmasi diagnosis gout, tentukan pemicu  hiperurisemia sekunder 

(lihat di bawah) 

• Faktor predisposisi : obesitas, hipertrigliseridemia, diabetes melitus 

 

Etiologi 

• Asam urat (uric acid, UA) merupakan produk akhir katabolisme purin dan diksresi melalui 

ginjal. Kadar serum menunjukkan keseimbangan antara produksi dan eksresi asam urat. 

 

 Kelebihan produksi Kekurangan 

produksi 

Hiperurisemia primer 

 (kelainan metabolisme 

asam urat yang 

diturunkan) 

Idiopatik  

Defisiensi enzim yang jarang  

(HGPRT, PRPP) 

Idiopatik  

Hiperurisemia sekunder  

(↑ asam urat sebab  proses 

yang didapati) 

Diet purin atau alkohol yang 

berlebihan  

Kelainan mielo-d