Bedah saraf 1

  




Anatomi Tengkorak 

A. Kulit Kepala (SCALP) 

Menurut ATLS terdiri dari 5 lapisan yaitu: 

1. Skin atau kulit 

2. Connective Tissue atau jaringan penyambung 

3. Aponeurosis atau galea aponeurotika    jaringan ikat berhubungan langsung 

dengan tengkorak 

4. Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar   Merupakan tempat 

terjadinya perdarahan subgaleal (hematom subgaleal). 

5. Perikranium 

 

B. Tulang Tengkorak 

Terdiri Kalvarium dan basis kranii. Rongga tengkorak  dasar dibagi 3 fosa : 

1. Anterior    tempat lobus frontalis 

2. Media    tempat lobus temporalis 

3. Posterior    tempat batang otak bawah dan serebelum 

 

C. Meningen 

Selaput ini menutupi seluruh permukaan otak terdiri 3 lapisan : 

1. Durameter 

Merupakan selaput keras atas jaringan ikat fibrosa melekat dengan tabula 

interna atau bagian dalam kranium namun tidak melekat pada selaput arachnoid 

dibawahnya, sehingga ada  ruangan potensial disebut  ruang subdural yang 

terletak antara durameter dan arachnoid. Pada cedera kepala pembuluh vena 

yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior digaris 

tengah disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan serta memicu  

perdarahan subdural. Durameter membelah membentuk 2 sinus yang 

mengalirkan darah vena ke otak, yaitu :  sinus sagitalis superior mengalirkan 

darah vena ke sinus transverses dan sinus sigmoideus.  Perdarahan akibat sinus 

cedera 1/3 anterior diligasi aman, namun  2/3 posterior berbahaya sebab  dapat 

memicu  infark vena dan kenaikan tekanan intracranial. 

Arteri2 meningea terletak pada ruang epidural, dimana yang sering mengalami 

cedera yaitu  arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis dapat 

menimbulkan perdarahan epidural. 

 

2. Arachnoid 

3. Piameter 

Lapisan ini melekat pada permukaan korteks serebri. Cairan serebro spinal 

bersirkulasi diantara arachnoid dan piameter dalam ruang subarahnoid. 

Perdarahan ditempat ini akibat pecahnya aneurysma intra cranial.. 

D. Otak 

1. Serebrum 

 Terdiri atas hemisfer kanan dan kiri dipisahkan oleh falks serebri yaitu lipatan 

durameter yang berada di inferior sinus sagitalis superior. Hemisfer kiri ada  

pusat bicara. 

 

2. Serebelum 

 Berfungsi dalam kordinasi dan keseimbangan dan terletak dalam fosa posterior 

berhubungan dengan medulla spinalis batang otak dan kedua hemisfer serebri. 

 

3. Batang otak 

 Terdiri dari mesensefalon (midbrain) dan pons berfungsi dalam kesadaran dan 

kewaspadaan, serta medulla oblongata yang memanjang sampai medulla 

spinalis. 

 

E. Cairan Serebrospinalis 

Normal produksi cairan serebrospinal yaitu  0,2-0,35 mL per menit atau sekitar 

500 mL per 24 jam . Sebagian besar diproduksi oleh oleh pleksus koroideus 

yang ada  pada ventrikel lateralis dan ventrikel IV. Kapasitas dari ventrikel 

lateralis dan ventrikel III pada orang sehat sekitar 20 mL dan total volume cairan 

serebrospinal pada orang dewasa sekitar 120 mL  Cairan serebrospinal setelah 

diproduksi oleh pleksus koroideus akan mengalir ke ventrikel lateralis, lalu  

melalui foramen interventrikuler Monro masuk ke ventrikel III , lalu  

masuk ke dalam ventrikel IV melalui akuaduktus Sylvii, setelah itu melalui 2 

foramen Luschka di sebelah lateral dan 1 foramen Magendie di sebelah medial 

masuk kedalam ruangan subaraknoid, melalui granulasi araknoidea masuk ke 

dalam sinus  duramater lalu  masuk ke aliran vena   

Tekanan Intra kranial meningkat sebab  produksi cairan serebrospinal  melebihi 

jumlah yang diabsorpsi. Ini terjadi jika  ada  produksi cairan serebrospinal 

yang berlebihan, peningkatan hambatan aliran atau peningkatan tekanan dari 

venous sinus. Mekanisme kompensasi yang terjadi  yaitu  transventricular 

absorption, dural absorption, nerve root sleeves absorption dan unrepaired 

meningocoeles. Pelebaran ventrikel pertama biasanya terjadi pada frontal dan 

temporal horns, seringkali asimetris, keadaan ini memicu  elevasi dari 

corpus callosum, penegangan atau perforasi dari septum pellucidum, penipisan 

dari cerebral mantle dan pelebaran ventrikel III ke arah bawah hingga fossa 

pituitary (memicu  pituitary disfunction)   

 

F. Tentorium 

Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang : 

1. Supratentorial   terdiri fosa kranii anterior dan media 

2. Infratentorial    berisi fosa kranii posterior 

 

 

 

Mesensefalon (midbrain) menghubungkan hemisfer serebri dan batang otak (pons 

dan medulla oblongata) berjalan melalui celah tentorium serebeli disebut insisura 

tentorial.  Nervus okulomotorius (NVII) berjalan sepanjang tentorium, bila tertekan 

oleh masa atau edema otak akan menimbulkan herniasi. Serabut2 parasimpatik 

untuk kontraksi pupil mata berada pada permukaan n. okulomotorius. Paralisis 

serabut ini disebabkan penekanan memicu  dilatasi pupil. Bila penekanan 

berlanjut menimbulkan deviasi bola mata kelateral dan bawah. 

Dilatasi pupil ipsilateral disertai hemiplegi kontralateral dikenal sindrom klasik 

herniasi tentorium. Umumnya perdarahan intrakranial ada  pada sisi yang sama 

dengan sisi pupil yang berdilatasi meskipun tidak selalu. 

 

Cedera kepala yaitu  masalah yang umum terjadi pada suatu trauma. Cedera kepala 

sering terjadi pada usia muda dan produktif di masyarakat. Dalam penanganan 

cedera kepala diperlukan evaluasi yang ketat sejak pasien ditempat kejadian  sampai 

keluar dari Rumah Sakit. Pengelolaan yang tepat dapat menurunkan angka 

morbiditas dan mortalitas akibat cedera kepala. Glasgow Coma Score (GCS) 

sebagai alat bantu diagnosis cedera kepala sudah diterima dalam standar. GCS 

juga dapat digunakan sebagai alat evaluasi tingkat kesadaran dan prediksi cedera 

kepala.  

Menurut data dari National Health Interview Survey (NHIS) di Amerika pada tahun 

1990 ada  1,97 juta lebih kasus cedera kepala, dengan 373 ribu kasus 

memerlukan perawatan di Rumah Sakit dan 75 ribu kasus berakhir dengan kematian. 

pemicu  utama cedera kepala berasal dari kecelakaan lalu-lintas (KLL) yaitu 60 – 

70 %, dengan risiko tertinggi pada usia 15 – 40. Angka kejadian cedera kepala pada 

laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu 2 – 4 : 1.  

 

Klasifikasi 

Cedera kepala diklasifikasikan berdasar  : ATLS 

   Mekanisme 

1. Trauma tumpul (blunt)  

Trauma tumpul dapat berasal dari trauma benturan dengan kecepatan tinggi 

seperti pada kecelakaan lalu-lintas (traffic accident) dan trauma benturan 

dengan kecepatan rendah misalnya jatuh atau kasus penyerangan 

2. Trauma Tajam (penetrating).  

Trauma tajam berasal dari tembakan senjata api dan benda tajam lainnya.. 

 

  Beratnya 

berdasar  GCS cedera kepala dikelompokkan menjadi :  

• Cedera kepala ringan (CKR)    GCS 13 – 15 

• Cedera kepala sedang (CKS)    GCS 9 - 12  

• Cedera kepala berat (CKB)       GCS 3 – 8.  

 

Glasgow Coma Score (GCS) digunakan sebagai alat bantu diagnosis untuk 

menentukan tingkat kegawatan pasien cedera kepala saat datang di Rumah 

Sakit. Dalam perkembangannya GCS dapat juga digunakan sebagai evaluasi 

dan prediksi perkembangan pasien cedera kepala selama perawatan. Adanya 

perbaikan  GCS dalam kurun waktu tertentu setelah cedera kepala dapat 

menilai keadaan pasien.  

 

 

 

 

Penilaian perbaikan GCS pasien cedera kepala dapat dikelompokkan menjadi :  

 

1. Perbaikan cepat                 Jika terjadi kenaikan 4 skor GCS dalam 24 jam 

2. Perbaikan sedang              Jika terjadi kenaikan 4 skor GCS dalam 3 hari 

3. Perbaikan Lambat             Jika terjadi kenaikan 4 skor GCS dalam 7 hari 

4. Perbaikan sangat lambat    Jika terjadi kenaikan 4 skor GCS lebih dari 7 hari. 

 

Penilaian GCS meliputi respon membuka mata, respon bicara/verbal, dan respon 

motorik. Masing-masing  respon ini  memiliki  nilai sebagai berikut: 

 

JENIS PEMERIKSAAN SKOR 

Respon membuka mata / E  

Spontan 4 

Dengan panggilan 3 

Dengan rangsang nyeri 2 

Tidak ada respon 1 

Respon motorik  / M  

Menurut perintah 6 

Melokalisasi rangsang nyeri 5 

Menolak rangsang nyeri 4 

Gerakan fleksi abnormal 3 

Gerakan ekstensi abnormal 2 

Tidak ada respon 1 

Respon bicara/verbal   /V  

Orientasi penuh 5 

Kalimat yang membingungkan 4 

Kata-kata yang tidak berarti 3 

Suara yang tidak jelas 2 

Tidak ada respon 1 

Total skor: 15 

 

 

  Morfologinya 

Pemeriksaan penunjang yaitu  Computed Tomography Scanning (CT Scan) 

dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).  Pada pemeriksaan CT Scan 

morfologi cedera kepala dapat dikelompokkan menjadi   

1. Fraktur tulang kepala  

Gambaran fraktur tulang kepala dapat berupa fraktur linier atau stelata, 

fraktur depresi atau tidak, fraktur tertutup atau terbuka 

Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak. Klinis berupa 

ekimosis periorbital(Racoon eyes sign), ekimosis retro aurikuler (Battle’s 

sign) , kebocoran CSS (rhinorrhea, otorrhea0 dan paresis nervus fasialis. 

 

2. Lesi intracranial.  

Gambaran lesi intracranial yaitu   

- Fokal    subdural hematom, epidural hematom, intracerebral hematom 

- Difus   memar (concussion) dan cedera akson (diffuse axonal injury). 

 

pelaksanaan  

Pengelolaan pasien dengan cedera kepala pra-rumah sakit dan ruang gawat darurat 

(primary survey) yaitu menjaga stabilitas airway, breathing, circulation. Setelah 

pasien stabil dilanjutkan dengan secondary survey yaitu pemeriksaan evaluasi 

neurologi dengan GCS dan pemeriksaan fisik secara lengkap.  

Pemeriksaan penunjang yaitu laboratorium dan CT Scan.  

Indikasi CT Scan antara lain:  

  GCS < 14  

  GCS 15 dengan riwayat pingsan, amnesia retrograde deficit neurology dan 

 tanda-tanda fraktur tulang kepala.  

 

Di Negara maju untuk GCS < 13 dilakukan monitoring tekanan intracranial 

(Intracranial pressure).   

Pasien dengan cedera kepala ringan biasanya sadar namun dapat mengalami amnesia 

serta riwayat hilangnya kesadaran. Pasien ini dapat diobservasi 12-24 jam. Pasien 

dengan cedera kepala sedang dilakukan ct scan kepala dan dirawat selanjutnya ct 

scan ulang bila baik dapat rawat jalan..  

Pada cedera kepala berat  penanganan secara : 

1. Primary Survey  

a. Arway   

 Menjaga jalan nafas dari sumbatan dengan kontrol cervical. Sumbatan bias 

 sebab  muntahan, corpal, perdarahan, lidah jatuh, spasme laring 

 Tindakan   muntah dibersihkan, gigi palsu dilepas, hiperekstensi 

 kepala,posisi miring  

    

b. Breathing 

 Menjaga lancarnya pernafasan/respirasi agar proses pertukaran O2 

 kejaringan  tidak terganggu 

 

 

 

c. Circulation    Mengontrol perdarahan atau keadaan hemodinamik. 

2. Secondar Survey 

ABC tertangani   lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dan penunjang 

 serta tentukan dissability (evaluasi neurologis) berupa pemeriksaan GCS dan 

 reflek cahaya pupil, ukuran diameter pupil. Gerakan bola mata (Doll’seye 

 Phenomena, reflek okulosefalik). Herniasi lobus temporalis terjadi bila reflek 

 cahaya dan dilatasi pupil melambat.   

  

Terapi Medika mentosa  

Tujuan mencegah terjadinya cedera sekunder terhadap otak yang telah mengalami 

cedera. 

1. Hiperventilasi  

Hiperventilasi bekerja menurunkan  PCO2 dan memicu  vasokontriksi 

pembuluh darah otak. Penurunan volume intracranial akan menurunkan TIK  

Tindakan ini tidak boleh berlangsung lama sebab  dapat menimbulkan iskemia 

otak sebab  vasokonstriksi serebri berat yang akhirnya meurunkan perfusi otak.  

Nilai  PCO2 antara 25-30 mm 

  

2. Cairan intravena    lar garam fisiologis atau Ringer Lactate  

3. Manitol  

Berfungsi untuk menurunkan tekanan intracranial biasanya dengan 

konsentrasi 20%. Dosis 1 gram/kgBB diberikan secara bolus intravena dalam 

waktu 20 menit, dan diulang setiap 4-6 jam. Manitol dilarang diberikan pada 

hipotensi sebab  memperberat hipovolemi. 

Indikasi : pupil dilatasi bilateral dan reaksi cahaya negatif  

 

4. Pemberian antikoagulan, antikonvulsan, antibiotik profilaksis jika diperlukan 

Phenytoin bermanfaat dalam mengurangi insiden terjadinya kejang dalam 

minggu pertama cedera namun sebaiknya dihentikan setelah minggu pertama 

pasca trauma.  

 

5. Koreksi asam-basa,  

6. Pemberian nutrisi secara adekuat.  

 

Banyak factor yang berpengaruh terhadap perbaikan pasien dengan cedera kepala. 

Pasien dengan keadaan klinis dan gambaran CT Scan yang berbeda, akan 

memiliki  perbedaan dalam perjalanan penyakitnya.  Glasgow Coma Score (GCS) 

yang umumnya digunakan sebagai alat diagnosis cedera kapala, dapat juga untuk 

alat evaluasi dan prediksi. Cedera kepala sedang (CKS) yang mengalami perbaikan 

< 24 jam umumnya tidak ditemukan lesi pada CT Scannya. Cedera kepala sedang 

(CKS) yang mengalami waktu perbaikan lebih lama (prolong) dengan skor motorik 

yang rendah, dan trauma ditempat lain diperlukan pengawasan yang lebih ketat. 

Cedera kepala sedang (CKS) yang mengalami waktu perbaikan lebih lama (prolong) 

juga umumnya disertai gambaran lesi pada CT Scannya. 

 

 

EPIDURAL  HEMATOM (EDH) 


 

yaitu  terkumpulnya darah / bekuan darah dalam ruang antara tulang kepala dan 

durameter dengan ciri berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung.  

Sering terletak di area temporal atau temporoparietal. Perdarahan ini berasal dari  : 

• Arteri / vena meningea media    paling sering 

• Sinus venosus 

• Arteri2 yang melekat di tulang cranii 

• Vena pada durameter 

 

EDH yaitu  perdarahan yang terjadi di antara tabula interna dan dural membran dan 

dikenal dengan hematom ekstradural. Hematom jenis ini biasanya berasal dari 

perdarahan arterial akibat adanya fraktur linear yang menimbulkan laserasi langsung 

atau robekan arteri-arteri meningens (a. meningea media), lebih jarang mengenai 

cabang posterior daripada pembuluh meningel anterior. Kadang perdarahan dapat 

terjadi dari robekan sinus venosa. Fraktur tengkorak yang menyertainya dijumpai 

pada 85%-95% kasus, sedangkan sisanya (9%) disebabkan oleh regangan dan 

robekan arteri tanpa ada fraktur (terutama pada kasus anak-anak dimana deformitas 

terjadi hanya sementara).  

Hematom epidural yang berasal dari perdarahan vena lebih jarang terjadi bila 

dibandingkan dengan yang berasal dari arteri, dan terjadi akibat adanya robekan 

vena-vena di tulang kepala pada bagian yang mengalami fraktur atau berasal dari 

sinus venosus mayor dura yang mengalami laserasi.  

sebab  tekanan vena lebih rendah dari tekanan arteri, hematom epidural yang 

berasal dari vena biasanya terbentuk hanya jika ada  fraktur depressed tulang 

tengkorak yang melepaskan dura dari tulang dan meninggalkan jarak dimana 

hematom dapat berkembang. Hematom ini umumnya disebabkan oleh laserasi sinus 

duramatris oleh fraktur oksipital, parietal, atau tulang sphenoid.  

Lokasi hematom epidural vena yaitu  di fosa posterior (akibat laserasi sinus sigmoid 

atau transversus), fosa media (akibat cedera sinus sfenoparietal) dan para-sagital 

(akibat robekan sinus sagitalis superior). Hematom epidural yang terletak di fosa 

posterior lebih sedikit (2-29%) dibandingkan dengan hematom yang terletak di 

supratentorial, dan tampaknya kebanyakan berasal dari perdarahan vena (85%) serta 

memiliki  prognosis yang lebih buruk.  

Hematom epidural secara klasik terjadi akibat adanya tekanan di kepala yang 

mengalami fraktur dan memicu  pasien mengalami periode tidak sadar yang 

cukup lama. Setelah pasien menjadi sadar, mungkin terjadi ‘lucid interval’ dimana 

hanya ada gejala atau tanda minimal. Ketika hematom membesar, terjadi kompresi 

hemisfer. Sesuai berjalannya waktu, bagian medial dari lobus termporalis 

mengalami penekanan di dasar tentorium, yang memicu  kompresi dari nervus 

okulomotorius dan dilatasi pupil ipsilateral. Kompresi dari pedunculus serebri 

ipsilateral juga terjadi, memicu  hemiparesis kontralateral, yang mungkin 

berkembang menjadi deserebarsi postur. Koma, pupil dilatasi, dan deserebrasi 

yaitu  trias klasik dari herniasi transtentorial. 

Saat ini investigasi hematom epidural ditegakkan secara akurat dengan pemeriksaan 

sken komputer tomografi otak dan sken resonansi magnet, dimana ia tampil sebagai 

suatu lapisan perdarahn dengan bentuk bikonveks atau lentikuler. Mengingat bahwa 

agiografi serebarl merupakan investgasi diagnosis yang bersifat invasive, biasanya 

hanya dilakukan bila fasilitas sken komputer tomografi otak tidak ada (menampilkan 

adanya pergeseran garis tengah dan zona avaskuler).  

Pada EDH dapat menunjukkan LUCID INTERVAL yaitu suatu keadaan dimana 

penderita yang semula mampu bicara tiba-tiba meninggal.  

 

 

Gejala klinis : 

• Sekitar 20 % pasien menunjukkan adanya gambaran klinis lucid interval, sebab  

cedera penderita tidak sadar untuk beberapa waktu dan timbul pembengkakan 

pada tempat cedera, di atas dan di depan telinga. Setelah itu penderita pulih 

kembali, harus hati-hati sebab  pada saat ini darah menumpuk pada tempat 

cedera dan mengangkat dura dari kulit kepala, periode kesadaran penuh ini 

disebut lucid interval. Penderita mulai bingung, mengantuk, kejang sebab  

iritasi dan disertai kompresi area motorik diikuti paralisis dan koma yang 

semakin dalam. 

  

• Paralisis dan kejang timbul pada tempat yang berhadapan dengan tempat cedera. 

• Nyeri kepala (pusing),  Muntah  

 

Gejala klasik hematom epidural terdiri dari trias gejala: (1) interval lusid, (2) 

hemiplegia, dan (3) anisokori pupil; disamping gejala lainnya: peninggian 

tekanan intrakranial dan epilepsy.  

Diferensiasi diagnosa banding antara hematom epidural yang berasal dari 

perdarahan arteri atau perdarahan vena dilakukan berkaitan dengan perbedaan terapi 

dan prognosis. Hematom yang berasal ari perdarahan vena memiliki  bentuk yang 

lebih bervariasi dan umumnya terletak di dekat sinus dura. 

Klinis : Lucid interval (+) dan lateralisasi (+)  

 

Pemeriksaan : 

• Cushing respon menandakan adanya peningkatan tekanan intrakranial ditandai 

dengan hipertensi, bradikardi dan bradipnea. 

• Penurunan tingkat kesadaran dalam berbagai tingkat (GCS). 

• Kontusi, laserasi atau adanya penonjolan tulang di tempat terjadinya trauma. 

• Dilatasi pupi mula-mula pada tempat cedera, dan jika hemtom tidak didrainase 

maka pupil yang sebelah lagi juga akan berdilatasi 

• Trias yang menunjukkan adanya herniasi: koma, dilatasi pupil, dan deserebrasi. 

• Hemiplegi kontralateral tempat trauma dengan herniasi 

 

Pemeriksaan penunjang: 

• Sinar X tulang kepala AP, lateral (untuk fraktur setiap tulang kepala), gambaran 

hematom(+), fraktur linear/impresi (+)  

• Head CT-Scan menunjukkan lokasi, volume, efek, dengan gambaran bikonvek. 

• Adanya fokal isodens atau hipodens dapat menunjukkan adanya perdarahan aktif. 

 

Terapi :  

Evakuasi bekuan darah dapat dilakukan sebagai tindakan darurat jika penderita harus 

diselamatkan sebab  ia dapat meninggal dalam beberapa saat. Paling baik jika dilakukan 

dalam 12 jam dari saat cedera. Tempat cedera dapat ditentukan dari tanda-tanda lokal 

dan dari pemeriksaan. Jika lokasi tidak dapat ditentukan dengan pasti maka dilakukan 

pengeboran multipel mulai dari lokasi yang paling memungkinkan.  

Pasca operasi: penderita disuruh tidur terlentang untuk memungkinkan ekspansi 

kembali, jika dalam beberapa waktu kesadaran masih belum pulih dan tekanan CSS 

rendah, maka dapat disuntikkan larutan fisiologis steril secara intratekal 

Biasanya pascaoperasi dipasang drainase selama 2x24 jam untuk menghindari adanya 

pengumpulan perdarahan yang baru.  

Prognosa tentang survival dan devisit sisa tergantung dari derajat progresivitas 

dekompresi intrakranial dismping juga adanya penyerta lesi intrakranial lain. 

Mortalitasnya berkisar antara 7-15% dan cacat sisa pada 5-10% kasus (akibat cedera 

penyerta pada otak  lainnya 



INTRA CEREBRAL HEMATOM 

 

 

Hipertensi arterial menjadi pemicu  utama akan kejadian perdarahan intracerebral 

ini.  Kebanyakan hematom terjadi pada regio parietotemporal. Penemuan pada 

pemeriksaan klinis secara umum meliputi; hemiparese, hemisensori sindrom, dan 

gangguan pada lapang pandang.  Kejang terjadi pada 23 % dari pasien, dan koma 

dapat muncul pada waktu terjadi perdarahan.  

Angka kematian berkisar 32%. Ukuran hematom yang terlihat pada CT scan 

dihubungkan dengan outcome :  Pasien dengan hematom yang kecil akan membaik 

selama perawatan, dan pada ukuran hematom sedang memiliki  angka kematian 14 

%, sedangkan pada ukuran hematom yang besar memiliki  angka kematian 60%. 

Setengah dari pasien yang ukuran hematomnya besar diterapi dengan pembedahan. 

Terapi pembedahan sangat dianjurkan pada hematom yang ukurannya sedang dan 

besar, terutama bila terjadi penurunan tingkat kesadaran yang progresif, atau bila ada 

pergeseran midline yang prominen. Lobar intracerebral hemorrhages (ICH) terjadi 

pada subkortikal substansia alba dari lobus cerebral, kadang merupakan perdarahan 

yang kecil namun  kadang melingkar dan oval. Meskipun frekuensi dari lobar ICH 

tinggi  terjadi  hanya pada perdarahan di putamen, perdarahan lobar memerlukan 

perhatian yang besar;  penampakan klinis dan aspek dari CT scan telah dilakukan 

penelitian. Meskipun demikian tidak ada kriteria klinik maupun radiologi untuk 

menyeleksi terapi pada pasien dengan lobar ICH yang dikembangkan. 

 

Cushing Phenomena 

Tekanan darah meningkat dan nadi turun sehingga otak tidak mampu menahan / 

mengkompensasdi penambahan volume sehingga batang otak tertekan 

 

 

 

 

SUBDURAL HEMATOM  

 

 

Hematoma Intracranial yaitu  pemicu  dari kematian yang diakibatkan oleh cedera 

kepala. Subdural Hematoma yaitu  tipe tersering dari hematoma intracranial 

traumatik yang terjadi pada 24% dari pasien dengan coma. Delayed subdural 

hematoma  sering terjadi pada penderita cedera kepala yang berusia 50 – 60 tahun 

(56%) dan > 60 tahun (7,35%). Bila kita dapat dengan cepat dan tepat mendiagnosis 

kelainan ini maka dengan pelaksanaan  yang cepat dan tepat akan dapt 

menurunkan angka kematian maupun kecacatan pada kasus-kasus cedera kepala.  

Di Negara barat kecelakaan yaitu  pemicu  terbanyak kematian orang dewasa 

dibawah umur 45 tahun. Jumlah cedera kepala kira – kira 70 % dari cedera yang 

mematikan ini dan pemicu  cacat terbanyak dari yang selamat dari kecelakaan itu. 

Kebanyakan pasien datang dalam keadaan koma, walaupun demikian  kira – kira 

50 % dari pasien yang cedera kepala memerlukan tindakan emergensi bedah saraf 

terdiri dari cedera kepala berat  Galasgow Coma Scale ( GCS ) 3-8  yang 

memerlukan operasi dan dan cedera kepala sedang (GCS Score 9 – 13 & 14 – 15 ). 

Pasien – pasien ini lebih baik jika mendapat pertolongan medis dan intervensi 

bedah dalam waktu yang tepat (sebelum terjadi penurunan neurologis). Pada 

kebanyakan pasien ini  ada  lesi massa intracranial. Dari sejumlah besar 

pasien yang terjadi hematom intracranial memerlukan dekompresi emergensi dan  

separuhnya ada  interval lusid dimana masih dapat berkomunikasi diantara 

waktu cedera dan penurunan kesadaran.  

SDH yaitu  penumpukan darah yang terjadi akibat dari ruptur vena yang terjadi 

dalam ruang subdural. Sinus-sinus dura terdiri dari sinus sagitalis superior dan 

inferior, sinus sigmoidalis transversus (lateral), sinus rektus dan sinus kavernosus. 

Ruang subdural, yaitu ruang antara durameter dengan arakhnoid merupakan ruang 

potensial. Perdarahan diruang subdural dapat menyebar dengan bebas, dan hanya 

terbatas oleh sawar falks serebri dan tentorium. Vena-vena otak yang melewati 

ruangan ini hanya memiliki  sedikit jaringan penyokong oleh sebab  itu mudah 

sekali terjadi cedera dan robek pada trauma kepala. 

 

Klasifikasi 

berdasar  waktu dan gambaran pada CT scan, dibagi menjadi : 

   Akut :   <  3    hari dan gambaran pada CT scan berupa hiperdense. 

   Subakut :  3- 20 hari dengan gambaran CT scan isodense atau  hipodense. 

   Kronik :    > 20 hari dengan gambaran CT scan hipodense. 

  

namun  secara klinik dibagi menjadi : 

• SDH akut :  terjadi kurang dari 1 minggu  

• SDH kronik :  lebih dari 1 minggu. 

 

 

SDH yaitu  terkumpulnya darah/bekuan darah dalam ruang antara Durameter dan 

Arachnoid.   

  Acute Subdural Hematom (A-SDH )  

Type tersering dari Hematom intracarnial traumatik yang ada  pada 24 % 

pasien dengan koma.Type cedera kepala jenis ini sering diasosiasikan  dengan 

kerusakan otak yang tertunda seperti yang terlihat pada CT–Scan. Pasien–

pasien seperti ini hasil akhir biasanya mengecewakan, angka mortalitasnya 

sekitar 60 %. Trauma kepala yang cukup keras bukanlah satu – satunya 

pemicu  Hematom Subdural. SDH akut biasanya terjadi sebab  tumbukan 

pada tengkorak dengan kecepatan tinggi yang akan memicu  akselerasi 

relatif dari jaringan otak terhadap struktur dural yang terfiksasi sehingga akan 

merobek pembuluh darah. Darah akan mengisi ruang subdural dan menyebar 

dengan bebas dan hanya terbatas oleh sawar falks serebrei dan tentorium. 

Biasanya terjadi sebab  cedera kepala akibat dari jatuh, kecelakaan sepeda 

motor atau sebab  kekerasan. ASDH  lebih sering terjadi pada laki-laki dengan 

perbandingan 3:1 dan biasanya terjadi pada umur lebih dari 41 tahun. 

Perdarahan subdural akut biasanya disebabkan oleh 3 mekanisme:  

1. Perdarahan akibat kerusakan arteri kortikal ( termasuk epidural hematom ) 

2. Perdarahan dari cedera parenchim dibawahnya  

3. Robekan dari Bridging Vein dari Kortek ke salah satu sinus vena. 

 

Manifestasi klinik tergantung dari ukuran hematom dan derajat kerusakan 

parenkim otak. Biasanya ditemukan :  

1. Perubahan tingkat kesadaran  

2. Dilatasi pupil ipsilateral, refleks cahaya pupil ipsilateral tidak tampak 

3. Hemiparesis kontralateral 

4. Papil oedem  

5. NVI  kranial palsy unilateral atau bilateral.  

 

Akut Traumatic Subdural Hematom seringkali dihubungkan dengan cedera 

parenchim yang bermakna dan kontusio, sehingga beberapa hari berspekulasi 

bahwa laju mortalitas yang berhubungan dengannya tidak akan mengalami 

perubahan walaupun ditemukan terapi baru untuk ATSDH. Pada cedera otak 

primer yang berhubungan dengan SDH  memegang peranan penting dalam 

hasil akhir pasien.  

Kebanyakan Hematom Subdural diperkirakan berasal dari robekan Bridging 

vein baik yang ditemukan pada waktu pembedahan atau outopsi. Tidak 

semua Hematom Subdural berhubungan dengan cedera parenchin difus seperti 

yang telah disebutkan diatas, banyak pasien yang bertahan hidup dari lesi ini 

dapat berbicara sebelum kondisinya menurun , ini tidak seperti yang terjadi 

pada pasien yang dapat bertahan hidup sebab  kerusakan parenchim difus.  

Persentasi kliniknya tergantung dari lokasi lesi dan kecepatan perjalan 

penyakitnya. Seringkali pasien datang ke Rumah Sakit dalam keadaan koma 

beberapa dari pasien tetap sadar, yang lainnya kesadarannya menurun sesuai 

dengan perkembangan hematom.  

  Chronic Subdural Hematom ( C-SDH )  

Dapat terjadi pada usia lanjut setelah mengalami trauma kepala ringan dan 

seringkali pemicu nya tidak diketahui. sebab  pada orang tua terjadi 

degenerasi otak (atrofi) sehingga isi tidak penuh sehingga terjadi space di 

subdural. Sebagian kecil pemicu  Hematom Subdural melibatkan kelainan 

Koagulopati dan Ruptur Aneorisma Intracranial.  Sumber perdarahan : 

• a. Cerebri supeficialiis (indirect trauma) 

• Bridging vein (Hubungan vena superficialis dengan sinus venosa) putus  

 

Klinis didapatkan gambaran hematom(+) dan Lucid interval(-). Bila memburuk 

dapat terjadi subdural higroma atau hidrocephalus.  

Pada SDH kronik, trauma pertama akan merobek salah satu vena yang 

melewati ruangan subdural sehingga terjadi perdarahan lambat dalam ruangan 

subdural. Dalam 1-3 minggu setelah perdarahan terjadi, darah dikelilingi oleh 

membran fibrosa sebab  proliferasi dari sel dural, lalu  pembuluh darah 

akan tumbuh pada membran ini . Pembuluh darah yang tumbuh bersifat 

fragil sehingga akan mudah terjadi perdarahan dan gejala yang terjadi akan 

semakin berat. Jika dibiarkan mengikuti siklus perjalanan ilmiahnya, unsur-

unsur kandungan hematom subdural akan mengalami perubahan-perubahan 

yang khas. 

Stadium pada C-SDH  terbagi : 

I.      Darah gelap tersebar luas di permukaan otak bawah dura 

II. Bekuan darah menjadi lebih hitam, tebal, dan gelatinosa (2-4 hari) 

III. Bekuan pecah dan setelah 2 minggu warna seperti minyak pelumas bensin  

IV. Terjadi organisasi yang dimulai dari pembentukan membran luar yang 

tebal dan  keras berasal dari dura, dan membran dalam yang tipis dari 

arakhnoid. Cairannya menjadi xantokromik.  

V. Bekuan dapat mengalami kalsifikasi atau bahkan osifikasi (atau dapat 

diserap). 

 

CSDH seringkali berhubungan dengan athropi serebral, bridging vein kortikal 

diperkirakan berada dibawah regangan yang besar ketika otak bertambah 

mengkerut dari tulang tengkorak, bahkan trauma minorpun dapat memicu  

salah satu dari vena – vena ini  robek. Perdarahan lambat dari sistem vena 

tekanan rendah sering memicu  terbentuknya hematom yang besar 

sebelum tanda klinik muncul. Subdural Hematom yang kecil sering resopsi 

secara spontan. Pengumpulan darah di subdural sering terorganisasi dan 

membentuk membran vascular yang mengkapsulkan hematom subdural. 

Perdarahan kecil yang berulang dari pembuluh darah kecil di dalam membran 

ini  dapat diperhitungkan sebagai ekspansi dari CSDH.  

CSDH didefinisikan sebagai hematom yang terjadi pada hari ke 21 setelah 

cedera kepala.  Subakut Subdural Hematom ( SSDH ) didifinisikan sebagai 

hematom yang terjadi antara hari ke 4 – 21 setelah cedera kepala . Angka – 

angka ini  tidak muthlak ,namun  akan lebih tepat bila ditambah berdasar  

karakteristik CT – Scan.  

Faktor resiko yang mempermudah terjadi SDH kronik diantaranya alkoholisme 

kronik, epilepsi, koagulopati, kista arakhnoid, dalam terapi koagulan, penyakit 

kardiovaskuler (hipertensi, arteriaklerosis), trombositopeni, dan diabetes.   

 

Pada saat subdural hematom ekspansi dalam rongga subdural akan meningkatkan 

tekanan intracranial dan menekan otak. Peninggian tekanan intracranial biasanya 

dikompensasikan oleh efluks dari serebro spinal fluit ( CSF ) terhadap aksis dan 

kompresi sistim vena lewat drainase vena melalui vena jubularis. Selama stadium ini 

peninggian tekanan intrakranial relatif  lambat sebab  komplains intrakranial relatif 

tinggi, sebaliknya perubahan awal dalam volume intralranial berhubungan dengan 

perubahan kecil pada tekanan intrakranial. Ketika hematom ( Edema dari cedera 

parenchim yang berhubungan ) mengembang maka suatu batas akan terlampaui 

dimana mekanisme kompensasi gagal.Komplains intrakaranial mulai berkurang 

,peningkatan sedikit dalam volume intrakranial berhubungan dengan peningkatan 

yang besar dari peningkatan intrakranial. Tekanan intrakaranial meningkat secara 

bermakana diikuti oleh penurunan perfusi serebral dan ischemia serebral global. 

Pada hematomi yang cepat berkembang keseluruhan proses ini terjadi dalam  

beberapa menit.  

 

Pada peningkatan tekanan intrakranial, hematom menekan dan menggeser otak 

sehingga terjadi herniasi transtentorial dan subfalcine akan terjadi saat otak 

terdorong melewati lipatan dural dari incisura atau falx tentorial. Herniasitonsilar 

melalui foramen magnum dapat terjadi ketika seluruh batang otak dipaksa turun 

melalui incisura tentorial atau oleh tekanan supratentorial yang meningkat.  

Hematom subdural infratentorial lebih jarang dari hematom subdural supratentorial 

namun  dapat memicu  herniasi tonsiler dan kompresi batang otak. Sindrome 

Herniasi yang khas dapat terjadi saat otak bergerak, dan lobus medialis temporalis 

herniasi melampaui tentorium maka  otak akan menekan arteri serebralis posterior 

ipsilateral, saraf okulomorius dan pedunculus serebri. Secara klinis terjadi 

kelumpuhan saraf okulomotorius dan penenekanan pedunkulus serebri yang 

bermanifestasi dilatasi pupil ubsilateral dan hemiparesis kontralateral. Dan akan 

terjadi stroke dari distribusi arteri serebrali posterior.  

Pasien dengan CSDH aliran darah ke thalamus dan regio ganglia basal terlihat 

terpengaruh dibandingkan dengan sisa otak yang normal. Tanaka dkk berpendapat 

bahwa fungsi thalamus yang tidak seimbang akan memicu  depresi yang 

menyebar dan membuat ketidak seimbangan berbagai regio kortikal dan 

memicu  berbagai defisit klinis. Mereka menemukan penurunan 7% dari CBF 

berhubungan dengan sakit kepala sedangkan penurunan 35% dari CBF berhubungan 

dengan defisit neurologis seperti hemiparesis. Setelah diketahui patofisiologi CSDH 

berhubungan langsung dengan athropi serebral maka hematom subdural juga 

berhubungan dengan kondisi yang memicu  athropi serebral ( alkoholisme dan 

dementia ). Kebanyakan CSDH akibat dari cedera kepala, pemicu  lain dan faktor 

predisposisi termasuk koagulopati ( termasuk warfarin dan aspirin ), gangguan 

kejang dan shunting CSF.  

 

Hematom subdural spontan jarang terjadi. Kasus ini sering berasal dari arteri 

sebab  hal itu biasanya berhubungan dengan patofisiologi yang sama dengan 

perdarahan intraserebral atau subarachnoid.darah dari aneurisma yang ruptur dapat 

merusak parenchim otak atau rongga subarachnoid sampai ke rongga subdural, 

sebaliknya darah yang dilepaskan dari perdarahan intraserebral akibat hipertensi 

dapat merusak ke dalam rongga subdural. Bahkan dilaporkan satu kasus ada  

hematom subdural spontan akibat penyalahgunaan kokain. Hematom subdural juga 

dapat disebabkan oleh perdarahan dari tumor intrakranial.  

Pengobatan hematom subdural spontan sama dengan hematom subdural yang 

disebabkan oleh trauma, namun  pemicu  yang mendasarinya harus dicari dan 

diobati.  

 

Penampakan hiperdens dari perdarahan akut pada CT – Scan akan terlihat menjadi 

Isodence lalu Hipodence selama jangka waktu beberapa minggu. Walau perbedaan 

antara subakut dan khronic sangat sedikit namun  hal ini penting. Pada masa sebelum 

adanya CT–Scan CSDH diberi nama Great Imitator sebab  bermacam macam 

pemicu  dan persentase kliniknya. Tanpa CT–Scan CSDH sering missed diagnostik 

( 72% dari kasus ). Misdiagnosis dari CSDH sering didukung oleh pemicu nya. 

Pada pasien yang bertahan dari cedera kepala, 25% diantaranya memiliki interfal 1- 

4 minggu sebelum terjadi gejala.25% lainnya mengalami gejala dari 5 minggu 

sampai 3 bulan sebelum masuk Rumah Sakit. Hanya sepertiganya yang memiliki 

periode yang asimptomatik. Sakit kepala merupakan 90% dari gejala,disorientasi 

56% dari gejala. Dari 75% kasus sakit kepala memiliki satu diantara karakteristik 

berikut ini : Onset yang tiba – tiba, nyeri yang sangat,mual dan muntah.Gejala 

lainnya seperti kelemahan,kejang dan inkontinensia. Hemiparesis 58% ,penurunan 

kesadaran 40% dari tanda tersering yang terjadi pada pasien. Hemiparesis yang 

terjadi yaitu  ipsilateral dari hematom pada 40% kasus.   

 

Pemeriksaan Penunjang   

1. Periksa PT/APTT untuk mengetahui koagulopati  

2. CT/BT untuk disfungsi trombosit, dan AT  

3. Hemoglobin, elektrolit dan pemeriksaan alkohol darah   berkaitan dengan 

pemeriksaan neurologik.  

4. Pemeriksaan radiologik berupa CT scan dan MRI.  

 

Pada SDH akut akan didapatkan gambaran hiperdens seperti bulan sabit dan 

biasanya unilateral. Pada minggu pertama pada CT scan akan terlihat hiperdens, 

pada minggu 2-3 akan tampak isodens, dan setelah minggu 3 akan tampak hipodens. 

Pada SDH kronik sering didapatkan heterogen dens dengan fluid level antara 

hiperdens dan hipodens.  

Pemeriksaan dengan MRI dilakukan untuk mengevaluasi cedera yang berhubungan 

dengan parenkim otak dan untuk memperkirakan prognosis 

 

 

 

Cedera Kepala dan Penanganannya   


 

Cedera kepala merupakan salah satu pemicu  perlukaan dan kematian yang tinggi. 

Di negara-negara berkembang dimana transportasi sangat padat dengan regulasi 

yang belum tertata baik; maka cedera kepala sebab  kecelakaan lalu lintas menjadi 

kasus yang tinggi angka kejadiannya. Selain itu kasus perkelahian; jatuh dan 

perlukaan senjata tajam dan senjata api juga semakin menonjol. Kecelakaan kerja 

dan cedera olah raga juga merupakan pemicu  cedera kepala. sebab  resiko yang 

tinggi ini , maka dokter-dokter atau paramedis yang menangani kasus-kasus 

ini  secara awal, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penanganan 

cedera kepala semaksimal mungkin, sebab  ahli bedah saraf belum dapat diharapkan 

keberadaannya segera. Oxygenasi yang adekuat dan mempertahankan, tekanan 

darah yang cukup untuk perfasi ke otak dan menghindari kerusakan otak sekunder 

merupakan hal yang amat menentukan outcome pasien cedera kepala.  

Konsultasi kepada ahli bedah saraf pada awal-awal kejadian akan sangat membantu 

terutama bila pasien coma dan kemungkinan adanya lesi intracranial, sebab  

keterlambatan akan berakibat buruk pada outcome.  Pada konsultasi kepada ahli 

bedah saraf; dibutuhkan informasi mengenai : 

- Umur pasien, waktu dan mekanisme cedera 

- Respirasi dan status cardiovaskuler 

- Keadaan kesadarannya (GCS), pupil 

- Adanya cedera lain 

- Hasil-hasil pemeriksaan yang sudah ada, terutama hasil CT Scan (kalau ada). 

 

Anatomi 

A. SCALP 

Merupakan 5 lapisan yang menutupi tulang kepala, meliputi : 

1). Skin (kulit) 

2). Connective tissue (jaringan pengikat) 

3). Aponeurosis atau galea aponeurotica 

4). Loase areolar tissue (jaringan areolar longgar). 

5). Pericoanium 

 

Jaringan areolar longgar memisahkan galea dari pericranium dan merupakan 

lokasi terjadinya subgaleal hematoma. sebab  kaya pembuluh darah, maka 

perlukan pada scalp dapat memicu  kehilangan darah yang hebat, terutama 

pada anak-anak. 

 

B. SKULL / Tulang kepala 

1. Calvarium (cranial vault)  

2. Basis cranii.  

 

Calvarium tipis pada daerah temporal, tapi tertutup oleh otot-otot temporal. 

Basis cranii permukaannya irreguler, sehingga sangat terpengaruh pada cedera 

otak dengan adanya akselerasi dan deselerasi. ada  fossa anterior (tempat 

lobus frontalis), fossa media (lobus temporal, dan fossa posterior) tempat 

cerebellum dan batang otak bagian bawah. 

  

C. Meninges – Selaput Otak 

1. Durameter 

Durameter merupakan membran fibrous, dan kuat; melekat pada 

permukaan dalam cranium. ada  arteria meningea yang dapat dilihat 

pada X-ray kepala berupa alur-alur pada permukaan dalam cranium. 

Laserasi pada arteria ini dapat memicu  perdarahan epidural terutama 

dari a. meningea media yang terletak pada fossa temporalis.   

Durameter akan membentuk sinus-sinus venosus, seperti sinus sagitalis 

superior, sinus transversus, sinus signoideus. Sinus sagitalis superior 

menerima darah dari bridging vein dan pada 1/3 bagian depan dapat 

dilakukan ligasi tanpa resiko yang berarti, tapi pada 2/3 bagian belakang 

akan berakibat fatal sebab  intracranial hypertension akan terjadi. 

 

2. Arachnoid     merupakan membrane tipis yang transparan 

3. Pia meter.  

Piameter merupakan selaput yang melekat erat pada otak LCS terletak 

antara arachnoid dan piameter pada subarachnoid space. Perdarahan pada 

ruang ini merupakan akibat dari rupture aneuryema atau pembuluh-

pembuluh darah cortical sebab  trauma. 

  

D. OTAK 

1. Cerebrum 

Cerebrum memiliki  hemisphere kanan dan kiri, yang dipisahkan oleh 

falc cerebri yang merupakan kepanjangan dura dari bagian bawah sinus 

sagitalis superior.  Hemisphere kiri memiliki pusat bahasa/bicara pada 

orang-orang dengan kebiasaan, tangan kanan dan > 85% untuk left 

handed, disebut sebagai hemisphere dominan.  

Lobus frontalis yaitu  tempat emosi, fungsi motor dan pada tempat 

dominant merupakan motor speech area. Lobus parietalis berfungsi 

sebagai pusat sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporalis mengatur 

fungsi-fungsi memori. Lobus occipital relative kecil dan berfungsi 

sebagai pusat penglihatan 

 

2. Cerebellum  

Cerebellum berfungsi untuk koordinasi dan keseimbangan dengan 

membentuk koneksi dengan medulla spinalis, batang otak dan hemipherius 

cerebri 

 

 

3. Batang otak 

Batang otak (brainstem) terdiri dari midbrain, pons dan medulla. Mid brain 

dan upper pons terdiri dari reticuler activating system yang bertanggung 

jawab terhadap kesadaran. Pusat cardiorespirator ada  pada medulla yang 

lalu   lanjut ke medulla spinalis. Walaupun cedera kecil pada batang 

otak, dapat menimbulkan defisit neurologis yang berat. 

E.    CAIRAN CEREBROSPINAL / LCS 

LCS diproduksi oleh plexus choroideus; 30 cc per jam, yang terletak terutama 

pada ventrikel lateralis dan melalui foramen Monroe ke ventrikel III. LCS 

mengalir melalui for Monroe ke Ventrikel III, melalui aquaductus sylvius ke 

ventrikel IV yang lalu masuk ke subarachnoid space ke seluruh otak dan 

medulla spinalis LCS diresorbsi ke sirkulasi vena melalui granulatio 

arachnoidalis pada sinus sagitalis superior. Darah pada LCS akan menghambat 

granulatio arachnoidalis dalam menyerap LCS dan memicu  

hydrocephalus communicans. 

 

F. TENTORIUM 

Tentorium cerebelli membagi kepala kepada 2  compartemen, yaitu 

supratentorial (td fossa anterior & fossa media) dan infratentorial (td. Fossa 

posterior). Mid brain menghubungkan cerebral hemisphere dengan pons dan 

medulla oblongota, bangunan ini melalui suatu celah yang disebut incisura 

tentorii. N III berjalan melalui tepi dari incisura ini dan bisa tertekan kalau ada 

herniasi cerebri yang merupakan akibat dari adanya massa supratentorial atau 

oedema. Akibatnya, serabut para sympatis akan lumpuh dan memicu  

dilatasi pupil. Bila penekanan semakin hebat, terjadi paralyse total N III 

dengan gejala mata akan deviasi ke bawah dan lateral (down and out). Bagian 

lobus temporalis yang biasanya mengalami herniasi yaitu  uncus. Uncal 

herniation memicu  terjadinya penekanan pada traktus corticospinalis 

pada mid brain; yang menimbulkan kelumpuhan pada kontralateral.   

Tapi ada kalanya, suatu massa/lesi menekan mid brain yang kontralateral 

kepada tepi tentorial sehingga terjadi kelumpuhan dan dilatasi pupil pada 

ipsilateral lesi (Kernohan’s notch syndrome). 

 

Fisiologi  

A. TEKANAN INTRAKRANIAL (TIK) 

ICP intracranial pressure 

Proses-proses pathologis yang mengenai otak bisa memicu  kenaikan 

tekanan intrakranial dimana selanjutnya hipertensi intrakranial akan 

mempengaruhi fungsi otak dan outcome. TIK yang normal pada keadaan 

istirahat yaitu  10 mm Hg (136 mm air). TIK > 20 mm Hg dikatakan tidak 

normal dan TIK  > 40 mm Hg dikategorikan kenaikan hebat / berat. 

 

 

 

B. DOKTRIN MONRO – KELLIE 

Pada prinsipnya bahwa volume total untuk intrakranial akan selalu tetap / 

sama. Bila ada massa yang memicu  keluarnya darah vena dan LCS yang 

seimbang, maka TIK akan bertahan normal, sampai suatu keadaan dimana 

penambahan massa ini tidak terkompensasi. Jadi  kita harus selalu menjaga 

keadaan kompensasi ini agar tidak terjadi decompensasi. 

 

C. CPP : Cerebral Perfusion Pressure 

CPP : Mean Arterial Blood Pressure – ICP 

Pada keadaan normal : 

 

CPP = M B P – ICP = 90 – 10 = 80 

 

 

CPP dibawah 70 mm Hg umumnya berhubungan dengan prognose buruk pada 

cedera kepala.  Pada kenaikan TIK / ICP, yaitu  lebih penting bila tekanan 

darah dipertahankan pada level normal. Mempertahankan cerebral perfusion 

merupakan prioritas yang sangat penting dalam management cedera kepala. 

 

D. Cerebral Blood Flow (CBF). 

CBF normal ± 50 ml / 100 gr otak/menit  Pada CBF < 20 – 25 ml/100 

gr/menit, aktivitas EEG akan menghilang secara graduil dan bila < 5 ml/100 

gr/menit akan terjadi kematian sel atau kerusakan irrevertible. Pada pasien-

pasien non injured, autoregulation akan mempertahankan CBF   

 

 

Cedera Kepala  


 

Cedera kepala saat ini masih merupakan salah satu  pemicu  kematian terbanyak 

baik di negara berkembang maupun negara maju. Di Amerika Serikat dari 500.000 

kasus cedera kepala setiap tahunnya. Kurang lebih 18 - 30% meninggal dalam 4 

jam pertama ( golden hour ) sebelum sampai ke rumah sakit ( Reinfurt et al, 1978, 

Trunkey ,1993 ) .  Lebih dari 100.000 pasien cedera kepala setiap tahunnya 

mengalami cacat mental maupun fisik ringan sampai berat ( ATLS 1997 ). Cedera 

kepala terutama pada kecelakaan lalu lintas biasanya berupa multiple system 

disorders, sehingga penanganannya harus secara holistic (  Adam Cowley, 1984 )  

Angka kematian dan angka kesakitan kasus cedera kepala ini tentunya membawa 

dampak yang besar pada program kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Oleh 

sebab itu penanganan awal yang adekwat ( initial care ) harus dapat dikerjakan baik 

oleh dokter non bedah saraf atau paramedis dengan selalu menggunakan azas “ do 

no further harm “ sampai mendapat terapi definitif oleh dokter bedah saraf.   

Sejalan dengan visi Indonesia Sehat 2010 , dimana salah satu misinya yaitu  

memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan 

terjangkau. Sistem rujukan secara medis maupun administratif, merupakan hal 

penting yang perlu diketahui baik oleh dokter pengirim maupun oleh dokter bedah 

saraf penerima.  

Penanganan definitif cedera kepala harus dilakukan oleh neurosurgeon ( spesialis 

bedah saraf ) dengan keberadaan kamar operasi yang memadai dan sangat 

direkomendasikan keberadaan ICU (  ACS Trauma Department, 633 St Clair 

Chicago, IL, 60611 ). jika  keadaan ini  tidak ada , maka sebaiknya pasien 

dirujuk ke rumah sakit yang ada fasilitas itu.  Sampai saat ini jumlah dokter spesialis 

bedah saraf Indonesia  kurang lebih 90 orang dengan lebih dari separuh nya berada 

di pulau Jawa dimana harus melayani populasi  238 juta penduduk yang tersebar di 

30 Propinsi. Dengan ratio 1 :  2.644.400  , sangat sulit bagi seorang dokter spesialis 

bedah saraf untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal.  

 

KRITERIA    RUJUKAN 

a. Kasus cedera kepala dengan :   

- Vulnus penetrans  dan atau kompresi fraktur tulang kepala 

- Luka terbuka dengan atau tanpa kebocoran cairan cerebro spinal 

- GCS ( Glassgow Coma Scale )  ≤ 14 atau perburukan GCS 

- Tanda- tanda lateralisasi 

 

b. Trauma medulla spinalis atau trauma tulang belakang 

 

PROTOKOL  PENGIRIMAN  PASIEN 

1. Dokter pengirim sebaiknya berbicara langsung pada dokter bedah saraf 

penerima dan menerangkan secara ringkas tentang data – data pasien, kejadian 

sebelum initial care, diagnosa kerja dan terapi yang sudah diberikan serta 

respons terhadap terapi. 

2. Pencatatan dan pelaporan tentang kondisi pasien pada saat transfer, temuan 

pemeriksaan fisik , masalah yang dihadapi dan terapi yang diberikan. Sebaiknya 

ada formulir khusus untuk pasien pasien yang akan dirujuk.  

 

3. Pengantar pasien harus diberi informasi tentang kondisi pasien dan kebutuhan 

pada saat transfer yaitu : pemeliharaan jalan nafas, pengaturan volume cairan, 

tindakan khusus yang mungkin diperlukan dan menilai kembali Trauma Score 

dan GCS, tindakan resusitasi serta setiap perubahan yang terjadi saat 

pengiriman. 

 

4. Sebelum dilakukan transfer , kondisi pasien harus  sudah stabil . 

A. Jalan nafas baik atau bila perlu dipasang orofaring atau nasofaring tube. 

Bersihkan lendir, benda asing atau dengan chin lift dan jawthrust . 

B. Terpasang oksigen yang adekwat .  Kalau perlu dilakukan pernafasan 

mekanik dengan ambu bag. Pada sumbatan nafas akut kalau perlu 

dilakukan krikotirotomi atau trakeostomi  

C. Terpasang infus cairan isotonis dengan jarum kaliber besar.   Terpasang 

kateter untuk memantau pengeluaran urine. Terpasang monitor jantung, 

bila ada. 

 

5. Pada pasien tidak sadar dengan pernafasan yang tidak adekwat perlu dibantu     

pernafasannya secara manual dengan ambu bag , atau dipasang endotrakeal tube 

dan penyedotan lendir secara teratur.  

Diberikan Manitol 20%  dengan dosis 5 ml/ kg berat badan bolus , dilanjutkan 2 

ml / kgb bolus dalam 20 menit setiap 6 jam. Dipasang neck collar untuk 

immobilisasi leher sekaligus kepala. Bila ada cedera tulang belakang torakal atau 

lumbal harus dilakukan immobilisasi . 

 

6. Pemeriksaan diagnostic penunjang yang diperlukan harus dikerjakan tanpa 

memperlambat proses transfer pasien. Foto polos vertebrae cervical harus selalu 

dilakukan , pemeriksaan kadar Hemoglobin dan Hematokrit, pemeriksaan tipe 

golongan darah dan cross-match serta analisa gas darah yaitu  hal – hal yang 

penting dikerjakan. Dilakukan pemeriksaan EKG dan pengukuran saturasi O2 

Hemoglobin dengan pulse oxymetri, bila peralatannya ada.  

 

7. Luka harus dirawat dan perdarahan harus dikontrol. Diberikan Tetanus  

profilaksis. Pemberian antibiotik ,bila ada indikasi. Bila ada kejang , berikan 

Diazepam 0.2 ml/kgBB i.v pelan pelan , dapat diulang tiap 5 menit sampai 3 kali 

pemberian. Pada pasen dengan fraktur tulang panjang dilakukan splinting dan 

traksi yang adekwat.  

 

8. Penanganan pasien dengan multiple trauma , tetap mengacu pada stabilisasi       

ABCDE (  standar Advance Trauma Life Support ). 




HIDROSEFALUS  

 

 

Hidrosefalus merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan penumpukan cairan 

serebrospinal secara aktif yang memicu  dilatasi sistem ventrikel otak.  

Dalam arti lain Hidrosefalus yaitu  suatu kelainan yang ditandai dengan 

penumpukan cairan serebrospinal yang disebabkan adanya gangguan dari 

pembentukan, aliran dan penyerapan cairan serebrospinal yang memicu  

pelebaran dari sistem ventrikel otak. Istilah hidrosefalus berasal dari bahasa Yunani, 

dari kata ”Hydro” yang berarti air dan kata ”Cephalus” yang berarti kepala. 

Hidrosefalus juga sering disebut dengan “water on the brain”.   

Biasanya hidrosefalus terjadi pada usia anak-anak, tapi dapat juga terjadi pada usia 

dewasa. Hidrosefalus dewasa dapat disebabkan oleh sebab  perdarahan subaraknoid, 

trauma kepala, infeksi, tumor, pembedahan fossa posterior, idiopatik dan kongenital 

(tanpa gejala di usia anak).  Hidrosefalus pada usia anak, ditandai dengan adanya 

pembesaran dari ukuran kepala. Hal ini berbeda dengan hidrosefalus yang terjadi 

pada usia dewasa, sebab  kepala tidak bisa lagi membesar  sebagai kompensasi dari 

peningkatan volume cairan serebrospinal, akibat sutura yang sudah menutup rapat.  

 

Klasifikasi  

Pada hidrosefalus usia dewasa ada  beberapa pembagian :  

  Acute dan chronic 

Pembagian berdasar  waktu gejala itu muncul, pada acute gejala terjadi pada 

hitungan hari atau minggu, sedangkan pada chronic gejala terjadi pada 

hitungan bulan atau tahun. 

 

  Compensated & uncompensated   berdasar  apakah masih ada gejala / tidak 

  Normal-pressure dan high-pressure   adakah peningkatan tekanan dari cairan 

serebrospinal 

  Communicating dan noncommunicating 

berdasar  pada masih adakah hubungan antara ventrikel dengan ruang 

subaraknoid. Communikans bila terjadi produksi yang meningkat atau 

gangguan penyerapan. Non-Kommunikans    adanya sumbatan sirkulasi / 

obstruksi, keb