Bedah saraf 2

 




anyakan sebab  stenosisi aquaduktus sylvilus 

 

  Obstructive dan nonobstructive.--> adakah hambatan pd aliran CSS  

 

Ada juga yang membagi menjadi hydrocephalus : 

  Ex-vacuo  

Hydrocephalus ex-vacuo terjadi jika  ada  kerusakan  otak yang biasanya 

diakibatkan sebab  adanya trauma atau stroke, dimana akan ada  

pengurangan dari substansi otak. Pengurangan dari substansi otak ini  akan 

menghasilkan ruang yang secara pasif akan diisi oleh cairan serebrospinal 

  Normal Pressure Hydrocephalus (NPH).  

NPH disebabkan adanya hambatan atau blokade dari aliran serebrospinal 

secara perlahan-lahan , sehingga walaupun terjadi pelebaran dari ventrikel 

namun  tekanan cairan serebrospinal masih dalam batas normal. NPH ini 

biasanya terjadi pada usia tua, di atas 60 tahun  

 

Etiologi  

Hidrosefalus idiopatik merupakan 1/3 dari keseluruhan kejadian hidrosefalus dewasa  

Trauma kepala, perdarahan terutama subarachnoid hemorrhage (SAH), tumor, 

infeksi, congenital aqueductal stenosis, tindakan bedah pada fossa posterior dan 

semua pemicu  hidrosefalus anak yang terjadi pada usia dewasa merupakan 

pemicu  hidrosefalus usia dewasa. Sepertiga dari kasus adanya hambatan vili 

araknoid disebabkan sebab  SAH, kondisi ini memicu  sumbatan antara 

ventrikel dan ruang subaraknoid. Perdarahan intraventrikuler juga dapat 

memicu  hidrosefalus. Mekanisme ini sama dengan yang terjadi pada trauma 

kepala. Tumor memicu  blokade pada aliran serebrospinal , ependymoma, 

subependymal giant cell astrocytoma, choroid plexus papilloma, 

craniopharyngioma, pituitary adenoma, hypothalamic or optic nerve glioma, 

hamartoma, metastaic tumor merupakan pemicu  tersering hidresefalus dewasa. 

Infeksi yang tersering yaitu  meningitis, terutama bakterial   

 

Patofisiologi   

Normal produksi cairan serebrospinal yaitu  0,2-0,35 mL per menit atau sekitar 500 

mL per 24 jam . Sebagian besar diproduksi oleh oleh pleksus koroideus yang 

ada  pada ventrikel lateralis dan ventrikel IV. Kapasitas dari ventrikel lateralis 

dan ventrikel III pada orang sehat sekitar 20 mL dan total volume cairan 

serebrospinal pada orang dewasa sekitar 120 mL  

Cairan serebrospinal setelah diproduksi oleh pleksus koroideus akan mengalir ke 

ventrikel lateralis, lalu  melalui foramen interventrikuler Monro masuk ke 

ventrikel III , lalu  masuk ke dalam ventrikel IV melalui akuaduktus Sylvii, 

setelah itu melalui 2 foramen Luschka di sebelah lateral dan 1 foramen Magendie di 

sebelah medial masuk kedalam ruangan subaraknoid, melalui granulasi araknoidea 

masuk ke dalam sinus duramater lalu  masuk ke aliran vena  Tekanan Intra 

kranial meningkat sebab  produksi cairan serebrospinal  melebihi jumlah yang 

diabsorpsi. Ini terjadi jika  ada  produksi cairan serebrospinal yang 

berlebihan, peningkatan hambatan aliran atau peningkatan tekanan dari venous 

sinus.  

Mekanisme kompensasi yang terjadi yaitu  transventricular absorption, dural 

absorption, nerve root sleeves absorption dan unrepaired meningocoeles. Pelebaran 

ventrikel pertama biasanya terjadi pada frontal dan temporal horns, seringkali 

asimetris, keadaan ini memicu  elevasi dari corpus callosum, penegangan atau 

perforasi dari septum pellucidum, penipisan dari cerebral mantle dan pelebaran 

ventrikel III ke arah bawah hingga fossa pituitary (memicu  pituitary 

disfunction)  

 

Aliran dan produksi LCS 

 

Plexus Choroideus 

 

                              Foramen Monroe 

 

Ventrikel  II 

 

                                     Aquaductus Sylvulus 

 

Ventrikel  IV 

 

                                                                     Foramen Magendi dan Foramen Luscha 

 

Sistema dan rongga sub-arachnoid dibagian cranial maupun spinal 

 

 

Gambaran Klinis  

Pada permulaan yaitu  pembesaran tengkorak yang disusul oleh gangguan 

neurologik akibat tekanan likuor yang meningkat yang memicu  hipotrofi otak.  

Pada bayi ditemukan : 

1. Penambahan lingkar kepala fronto-oksipital 2 cm dalam 3 bulan 

2. Sutura sagitalis meregang 

3. Fontanela cembung dan tegang,  

4. Kulit kepala licin mengkilap 

5. Vena kulit kepala menonjol  

6. Perkusi kepala akan terasa seperti kendi yang rengat (cracked pot sign). 

7. Mata mengarah ke bawah (sunray phenomena), gangguan perkembangan 

motorik, dan gangguan penglihatan akibat atrofi atau hipotrofi saraf 

penglihatan. 

  

Bila proses penimbunan cairan cerebrospinal dibiarkan terus berlangsung pada bayi 

akan terjadi penipisan korteks cerebrum yang permanen walaupun lalu  

hidrosefalusnya dapat diatasi.  

Gejala hipertensi intrakranial lebih mononjol pada anak yang lebih besar 

dibandingkan dengan bayi. Gejalanya mencakup: nyeri kepala, muntah, gangguan 

kesadaran, gangguan okulomotor, dan pada kasus yang telah lanjut ada gejala 

gangguan batang otak akibat herniasi tonsiler (bradikardia, aritmia respirasi).  

Gejala lainnya yang dapat terjadi yaitu  spastisitas yang biasanya melibatkan 

ekstremitas inferior (sebagai konsekuensi peregangan traktus piramidal sekitar 

ventrikel lateral yang dilatasi) dan berlanjut sebagai gangguan berjalan, gangguan 

endokrin (sebab  distraksi hipotalamus dan “pituitari stalk” oleh dilatasi ventrikel 

III). 

Pada penderita hidrosefalus dewasa biasanya ada  gejala :   

1. Sakit kepala terutama pagi hari ketika bangun tidur dan berkurang bila penderita 

duduk.  

2. Sakit pada leher, mual dan muntah terutama pagi hari.  

3. Gangguan penglihatan, kabur (blurred vision “graying out”) dan penglihatan 

dobel (double vision). mudah mengantuk  

4. Penurunan kemampuan kognitif (Cognitive deterioration), gangguan berjalan , 

gangguan keseimbangan dan inkontinentia  

5. Penderita juga lemah dan mudah lelah   

 

Diagnosis  

Penegakan diagnosis berdasar  gejala dan pemerikaan klinis, pemeriksaan  CT 

scan kepala dan MRI. Biasanya juga dilakukan analisis cairan serebrospinal  

Pengukuran lingkar kepala fronto-oksipital yang teratur pada bayi merupakan 

tindakan untuk diagnosis dini.  Pertumbuhan kepala normal terjadi pada tiga bulan 

pertama. Lingkar kepala anak bertambah kira-kira 2 cm setiap bulan. Pada tiga bulan 

berikutnya penambahan akan berlangsung lebih lambat. 

 

Ukuran rata-rata lingkar kepala 

Lahir 35 cm 

Umur  3 bulan 41 cm 

Umur  6 bulan 44 cm 

Umur  9 bulan 46 cm 

Umur  12 bulan 47 cm 

Umur  18 bulan 48,5 cm 

 

   Radiologis kepala   kepala membesar dg disproporsi kraniofasial, tulang menipis 

dan sutura melebar 

   CT Scan kepala    dilatasi seluruh sistem ventrikel otak 

   USG     dilakukan melalui fontanel yang tetap terbuka lebar, sehingga dapat 

ditentukan adanya pelebaran ventrikel atau perdarahan dalam ventrikel 

   Pungsi melalui fontanela mayor   peradangan dan perdarahan baru/lam, Pungsi 

juga dilakukan untuk menentukan tekanan ventrikel. 

  

 

pelaksanaan   

  Medical treatment  

Pada kasus hidrosefalus tidak ada yang memuaskan . Obat yag biasa digunakan 

yaitu  golongan Carbonic anhydrase inhibitors, golongan ini bekerja sebagai 

inhibitor kerja suatu enzym pada tubuh yang berfungsi sebagai katalisator 

perubahan carbon dioxyde menjadi a carbonic acid dehydrated, dimana 

perubahan ini akan menurunkan produksi cairan serebrospinal oleh pleksus 

koroideus . Contoh  Acetazolamide dan Furosemide   

 

Terapi konservatif medikamentosa untuk membatasi evolusi hidrosefalus 

melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid (asetazolamid 

100 mg/ kgBB/ hari; furosemid mg/ kgBB/ hari) atau upaya meningkatkan 

resorpsinya (isorbid). Terapi ini hanya bersifat sementara sebelum dilakukan 

terapi definitive. Untuk jangka panjang tidak efektif mengingat adanya risiko 

terjadinya gangguan metabolik.  

Drainase likuor eksternal dilakukan dengan memasang kateter ventrikuler 

yang lalu  dihubungkan dengan suatu kantong drain eksternal. 

Tindakan ini dilakukan untuk penderita yang berpotensi menjadi hidrosefalus 

(hidrosefalus transisi) atau yang sedang mengalami infeksi. 

 

  Surgical Treatment  

Merupakan terapi yang sering dilakukan yaitu dengan pemasangan 

serebrospinal shunt. Ventriculoperitoneal shunt yaitu  metode shunting 

yang paling sering digunakan.  

Sebagian besar pasien membutuhkan tindakan operasi pintas, yang bertujuan 

membuat saluran baru antara aliran likuor (ventrikel atau lumbar) dengan 

kavitas drainase ( seperti: peritoneum, atrium kanan, pleura). Pada anak-

anak lokasi drainase yang terpilih yaitu  rongga peritoneum, mengingat ia 

mampu menampung kateter yang cukup panjang sehingga dapat menyesuaikan 

pertumbuhan anak serta risiko terjadi infeksi berat relatif lebih kecil.  

Pada dasarnya alat shunt terdiri dari tiga komponen yaitu kateter proksimal, 

katub (dengan/ tanpa reservoir),dan kateter distal. Komponen bahan dasarnya 

yaitu  elastomer silikon. Ada beberapa bentuk profil shunt (tabung, bulat 

lonjong dan sebagainya) dan pemilihan pemakaiannya didasarkan atas 

pertimbangan mengenai penyembuhan kulit yang dalam hal ini sesuai dengan 

usia penderita, berat badannya, ketebalan kulit dan ukuran kepala. Sistem 

hidrodinamik shunt tetap berfungsi pada tekanan yang tinggi, sedang dan 

rendah, dan pilihan ditetapkan sesuai dengan ukuran ventrikel, status pasien 

(vegetatif, normal), patogenesis hidrosefalus dan proses evolusi penyakitnya. 

Penyulit berupa infeksi, obstruksi dan dislokasi.  

Beberapa jenis shunt :  

1. Ventriculo-peritoneal shunting 

2. Ventriculo-atrial shunting 

3. Ventriculo-pleural shunting 

4. Lumbo-peritoneal shunting  

5. Torkildsen shunting.  

 

Pada keadaan darurat dapat dilakukan pungsi ventrikel melalui fontanella 

anterior untuk dekompresi sementara. 

 

 

 

 

HERNIA NUKLEUS PULPOSUS  

   

Hernia nukleus pulposus ialah penonjolan nukleus pulposus ke dalam kanalis 

vertebralis akibat proses degeneratif anulus fibrosus. Yang memicu  

keadaan ini  ialah gaya yang menekan pada diskus intervertebralis yang dapat 

terjadi sewaktu mengangkat barang berat pada sikap membungkuk, jatuh terpeleset 

ataupun ayunan kepala (“Whip lash”). HNP lebih sering terjadi pada daerah 

lumbal bawah daripada servikal.  

Gejala umum dari HNP yaitu  iskhialgia yang timbul setelah beberapa lama 

menderita nyeri punggung bawah (LBP). Nyeri pinggang bawah merupakan gejala 

yang umum diderita semua orang, prevalensinya cukup tinggi. Menurut Nasution 

bahwa 90% dari setiap orang sedikitnya pernah satu kali menderita nyeri pinggang 

selama hidupnya.  

 

Anatomi  

Kolumna vertebralis terdiri dari 33 buah tulang belakang yaitu: 

  7 Vertebra cervicalis (C1-C7) 

  12 Vertebra thorakalis (T1-T12) 

  5 Vertebra lumbalis (L1-L5) 

  5 Vertebra sakralis (S1-S5) 

  4 Vertebra os koksigeus 

 

Tulang servikal, torakal dan lumbal masih tetap dibedakan sampai usia berapapun, 

namun  tulang sacral dan koksigeus satu sama lain menyatu membentuk dua tulang 

yaitu tulang sakum dan koksigeus. Diskus intervertebrale merupakan penghubung 

antara dua korpus vertebrae. yang berfungsi sebagai bentalan atau “shock 

absorbers” bila vertebra bergerak.  Sistem otot ligamentum membentuk jajaran 

barisan (aligment) tulang belakang dan memungkinkan mobilitas vertebrae.  

 

Fungsi dari kolumna vertebralis yaitu  

 Fungsi statik (Penyangga beban) 

Suatu kondisi dimana kolumna vertebralis dlam keadaan seimbang, yang 

ditentukan oleh kurva servikal, torakal dan lumbal 

 

 Fungsi Kinetik (Bergerak terbatas) 

Kemampuan tulang belakang untuk bergerak, terutama fleksi dan ekstensi.. 75% 

Fleksi dan ekstensi kolumna vertebralis pada L5-S1 

 

 

Tujuh puluh lima presen gerakan fleksi kolumna vertebralis berada pada L5-S1 dan 

L4-L5, ¾ fleksi lumbal terjadi pada L5-S1, 15-20% terjadi pada L4-L5, 5-10% 

fleksi lumbal pada L1-L4. Gerakan ekstensi lebih sedikit namun  pada anak-anak 

dengan latihan gerakan dapat lebih besar. Untuk mengetahui mekanisme nyeri pada 

HNP perlu diketahui unit fungsionil dari sendi intervertebrale.  

Satu unit fungsionil terdiri dari 2 segmen yaitu :  

  Segmen anterior 

Terdiri dari 2 korpora vertebralis dipisahkan oleh discus intervertebralis 

berfungsi sebagai penyangga beban.  

ada  3 bagian utama dari segmen anterior yaitu lapisan kartilago hyalin, 

nukleus pulposus dan anulus fibrosus bersama-sama sering dikenal dengan 

diskus intervertebralis  

ada  3 bagian utama yaitu :  

1. Lapisan kartilago hyaline,  

Di bagian kranial dan kaudal diskus intervertebralis ada  lapisan 

kartilago hyalin yang merupakan bagian korpus vertebrae. Lapisan 

kartilago ini berfungsi untuk pertumbuhan dari sel-sel korpus vertebra, 

tempat perlekatan serabut-serabut anulus fibrosus, sebagai barier antara 

nukelus pulposus dan spongiosa dari vertebra, sebab  avaskuler tahan 

terhadap tekanan.  

Lapisan ini hanya mengandung pembuluh darah sampai usia 8 tahun maka 

bila pembuluh darah ini tertutup oleh tekanan akan menimbulkan jaringan 

parut yang merupakan defek kongenital. Daerah yang lemah ini sering 

menimbulkan herniasi mikroskopik dari bahan nukelus ke dalam korpus 

vertebra dan merupakan perubahan degenerasi yang khas. Bila herniasi 

dalam jumlah besar akan membentuk “Schmorls Node” dan merusak 

mekanis persendian.  

Diskus intervertebralis terdiri dari annulus fibrosus yaitu masa 

fibroelastik yang membungkus nucleus pulposus, suatu cairan gel kolloid 

yang mengandung mukopolisakarida. Fungsi mekanik diskus 

intervertebralis mirip dengan balon yang diisi air yang diletakkan diantara 

ke dua telapak tangan . Bila suatu tekanan kompresi yang merata bekerja 

pada vertebrae maka tekanan itu akan disalurkan secara merata ke seluruh 

diskus intervertebralis. Bila suatu gaya bekerja pada satu sisi yang lain, 

nucleus polposus akan melawan gaya ini  secara lebih dominan pada 

sudut sisi lain yang berlawanan. Keadaan ini terjadi pada berbagai macam 

gerakan vertebra seperti fleksi, ekstensi, laterofleksi.  

Diskus intervertebralis dikelilingi oleh ligamentum anterior dan 

ligamnetum posterior. Ligamentum longitudinal anterior berjalan di bagian 

anterior corpus vertebrae, besar dan kuat, berfungsi sebagai alat pelengkap 

penguat antara vertebrae yang satu dengan yang lainnya. ligamentum 

longitudinal posterior berjalan di bagian posterior corpus vertebrae, yang 

juga turut membentuk permukaan anterior kanalis spinalis. Ligamentum 

ini  melekat sepanjang kolumna vertebralis, sampai di daerah lumbal 

yaitu setinggi L 1, secara progresif mengecil, maka ketika mencapai L 5 –  

sacrum ligamentum ini  tinggal sebagian lebarnya, yang secara 

fungsional potensiil mengalami kerusakan. Ligamentum yang mengecil ini 

secara fisiologis merupakan titik lemah dimana gaya statistik bekerja dan 

dimana gerakan spinal yang terbesar terjadi, disitulah mudah terjadi cidera 

kinetik. 

 

2. Nukleus pulposus  

Nukleus pulposus yaitu  gel yang viscous. Nukleus pulposus memiliki  

kadar air yang tinggi dan higroskopis. Fungsi dari diskus pada 

keseluruhannya tergantung sebagian besar dari sifat fisis ini. Nukleus 

pulposus bekerja sebagai gotri (ball bearing) dan pada waktu fleksi dan 

ekstensi corpora vertebra menggelinding diatas gel yang tak dapat 

ditentukan inti, sedangkan sendi posterior memberi penuntun dan membuat 

gerakan menjadi stabil. Gerakan satu vertebra terhadap lainnya 

dimungkinkan oleh bahan cair yang bergerak ke anterior dan posterior dan 

gerakan yang berlebihan dicegah anulus yang semi elastik.  

 

3. Annulus fibrosus. 

Anulus fibrosus terdiri dari serabut fibroelastik, terutama komponen elastik 

sehingga merupakan sistem hidraulik yang berjalan miring dan melingkar 

antara 2 vertebra sebagai gulungan  pir.  

 

  Segmen Posterior 

Terdiri dari 2 arkus vertebra, 2 prosesus transversus, 1 prosesus spinosus, 2 

pasang “artikulatio inferior dan superior” yang dikenal sebagai facet. Suatu 

struktur penting yang tak terpisahkan perannya dengan diskus yaitu  

ligamentum longitudinale posterior, ligamentum ini melindungi bagian 

belakang diskus mulai dari foramen magnum, pada setinggi L1 ligamentum ini 

menyempit sehingga sampai S-1 lebar ligamentum longitudinale posterior ini 

hanya separuh dari asalnya. 

 

Patofisiologi  

Menjelang usia 20 tahun mulai terjadi perubahan baik pada anulus maupun pada 

nukleus pulposus. Pada beberapa tempat serat-serat fibro elastik terputus sebagian 

rusak sebagian diganti jaringan ikat. Proses ini akan berkembang terus secara 

kontinyu sehingga terbentuk rongga dalam anulus. Rongga ini akan mengalami 

infiltrasi materi nukleus. Sementara itu nukelus pulposus akan mengalami dehidrasi 

akibat menurunnya kemampuan mengikat air. Dengan demikian terjadilah suatu 

keadaan dimana volume rongga antar vertebra bertambah, sedangkan volume materi 

nukleus menyusut. Sebagai kelanjutan proses ini maka beberapa kemungkinan dapat 

terjadi : Tekanan intra diskus menurun sehingga vertebra yang berurutan saling 

mendekat terjadilah lipatan-lipatan ligamentum longitudinale posterior, lipatan ini 

akan fibrosis, kalsifikasi sehingga terjadi osteofit. Pendekatan 2 korpus vertebra 

dengan sendirinya diikuti artikulasio posterior, akibat yang berlebihan bisa timbul  

inflamasi facet, “facet join” makin merapat, kemampuan kerja diskus menjadi makin 

buruk, annulus menjadi lebih rapuh.. Materi nukleus mengisi rongga-rongga diantara 

serat-serat anulus suatu ketika mendekati tepi luar anulus. Bila terjadi peningkatan 

tekanan intra diskus secara mendadak dan kuat materi nukelus mendorong anulus 

sehingga terjadilan penonjolan. Hal yang lain memicu  terjadinya penonjolan 

nukleus pulposus juga yaitu  adanya pengecilan ligamentum posterior secara 

fisiologik merupakan titik lemah dimana gaya statik bekerja dan dimana gerakan 

spinal yang terbesar terjadi sehinga mudah terjadi cidera kinetik.  

 

Akibat proses penuaan ini 

memicu  seorang individu 

menjadi rentan mengidap nyeri 

punggung bawah. Gaya yang bekerja 

pada diskus intervebralis akan makin 

bertambah setiap individu ini  

melakukan gerakan membungkuk, 

gerakan yang berulang-ulang setiap 

hari yang hanya bekerja pada satu sisi 

diskus intervebralis, akan 

menimbulkan robekan kecil pada 

annulus fibrosus, tanpa rasa nyeri dan 

tanpa gejala prodromal.  

 

Keadaan demikian merupakan “locus minoris resistensi” atau titik lemah untuk 

terjadinya HNP (Hernia Nukleus Pulposus). Sebagai contoh, dengan gerakan yang 

sederhana seperti membungkuk memungut surat kabar di lantai dapat menimbulkan 

herniasi diskus. Ligamentum longitudinalis anterior dan posterior berjalan 

longitudinal sepanjang tulang vertebrae. Ligamentum ini berfungsi membatasi gerak 

pada arah tertentu dan mencegah robekan.  

Teoritis herniasi dapat terjadi kesegala arah akan namun  manifestasi klinis hanya 

akan timbul oleh 2 macam arah herniasi yaitu arah posterosentral memicu  

LBP oleh sebab  iritasi ligamentum longitudinale posterior  sering tidak disertai 

keluhan iskhialgia. Arah posterolateral kearah ini perlindungan oleh ligamentum 

longitudinale posterior tak ada sehingga penonjolan herniasi sangat besar 

kemungkinannya melibatkan radiks, timbulah LBP disertai iskialgia.  

Medulla spinalis dilindungi oleh vertebrae. Radix saraf keluar melalui canalis 

spinalis, menyilang discus intervertebralis di atas foramen intervertebralis. Ketika 

keluar dari foramen intervertebralis saraf ini  bercabang dua yaitu ramus 

anterior dan ramus posterior dan salah satu cabang saraf ini  mempersarafi 

“facet”. Akibat berdekatnya struktur tulang vertebrae dengan radix saraf cenderung 

rentan terjadinya gesekan dan jebakan radix saraf ini . Semua ligamen, otot, 

tulang dan facet join yaitu  struktur tubuh yang sensitive terhadap rangsangan nyeri, 

sebab  struktur persarafan sensoris. Dengan demikian semua proses yang mengenai 

struktur ini  di atas seperti tekanan dan tarikan dapat menimbulkan keluhan 

nyeri.  

Gambaran Klinis   

Gejala umum dari HNP yaitu  iskhialgia yang timbul setelah beberapa lama 

menderita nyeri punggung bawah (LBP).  Nyeri pada HNP juga bisa menimbulkan 

nyeri radikuler. Nyeri radikuler yaitu  nyeri yang timbul akibat terjepitnya saraf 

spinalis oleh penyempitan foramen intervertebrale.  

Anamnesis riwayat penyakit akan ditemukan beberapa hal dianggap sebagai 

karakteristik HNP yaitu  : 

1. Gejala mungkin dimulai dari nyeri punggung bawah, yang beberapa hari 

lalu  atau beberapa minggu secara bertahap atau bisa juga secara tiba-tiba 

berubah menjadi nyeri radikuler sering diikuti dengan berkurangnya gejala 

nyeri punggung bawah pada pasien.  

2. Terkadang faktor presipitasinya tidak teridentifikasi 

3. Nyeri berkurang dengan memfleksikan lutut dan tungkai.  

4. Pasien secara umum menghindari gerakan yang berlebihan, akan namun  jika  

berada dalam posisi tertentu dalam jangka waktu yang lama (duduk, berdiri atau 

berbaring) akan membangkitkan nyeri, kadang-kadang memerlukan perubahan 

posisi dengan interval beberapa menit sampai 10-20 menit. 

5. Nyeri dibangkitkan oleh batuk, bersin, atau mengejan pada saat buang air besar.  

6. Gejala pada vesica urinaria (Bladder symptoms).  

Insidensi adanya gangguan pada proses kencing yaitu  berkisar 1-18%. 

Sebagian besar yaitu  kesulitan pada saat kencing, mengejan atau retensi urin. 

Penurunan sensasi vesika urinaria ditemukan awal. Jarang terjadi HNP dengan 

gejala defisit neurologis dan retensi urine.  Laminektomi bisa menyembuhkan 

gangguan-gangguan kencing, namun  tidak menjamin keberhasilan terapi.   

 

 

Pemeriksaan Fisik : 

  Untuk menunjukkan adanya penekanan atau iritasi serabut saraf.  

1. Tes laseque (Straight leg raising /SLR). 

  Cara : Pasien posisi supine, pada sisi yang sakit tungkai lurus. Dilakukan 

 fleksi pada  sendi panggul.   

 Penjelasan : Pemeriksaan ini dikatakan positif bila timbul nyeri atau 

parestesia sepanjang perjalanan N. Iskhiadikus. Hal ini menunjukkan adanya 

keterlibatan N. Iskiadikus dan akar saraf yang membentuk berkas ini  

dan hal ini juga menunjukkan suatu  penekanan pada serabut saraf. Pada 

proses pathologik di sendi panggul atau ketegangan otot harmstring tentunya 

timbul pula nyeri namun  tidak dalam bentuk nyeri radikuler. Delapan puluh 

tujuh persen test ini positif pada kasus Hernia Nukelus Pulposus. 

 

2. Cramp test 

Cara : Pasien posisi supine. Tungkai sisi yang sakit diangkat dengan  sedikit 

fleksi pada lutut. lalu  lutut diekstensikan.  

Penjelasan : Penilaian dan keterangan sama dengan Laseque test.  

 

 

3. Crossed straight leg raising test atau tanda Fajersztajn. 

Cara : Pasien posisi supine. Tungkai yang sehat dilakukan test laseque. 

Penjelasan : jika  timbul nyeri pada sisi kontralateral dikatakan test ini 

positif. Biasanya diperlukan sudut yang lebih besar untuk membangkitkan 

nyeri pada sisi yang sakit. Dikatakan bahwa test ini cukup spesifik namun  

kurang sensitif dibanding SLR. Sembilan puluh tujuh persen pasien yang 

dioperasi dengan Tanda Fajersztajn positif menderita hernia nukleus 

pulposus.  

 

 

4. Femoral stretch test atau kebalikan dari test SLR. 

Cara : Pasien posisi prone. Tangan pemeriksa pada posisi menekan ringan 

pada fosa poplitea. Dilakukan dorsofleksi maksimal pada sendi lutut.  

Penjelasan : Jika timbul nyeri dikatakan positif. Tanda ini sering positif 

jika  terjadi penekanan pada serabut saraf setinggi segmen L2, L3, atau L4 

(HNP pada lumbal atas). 

 

5. Bowstring sign.  

Cara : Pasien posisi supine. Setelah pasien dilakukan test laseque dengan 

hasil positif. Telapak kaki menapak pada tempat tidur dengan fleksi pada 

lutut dan tetap fleksi pada panggul (membentuk seperti busur).  

Penjelasan : Nyeri sciatica atau ischiadica akan hilang dengan manuver ini 

namun  nyeri yang diakibatkan proses pada sendi panggul akan menetap.  

 

6. Test Naffziger. 

Penekanan sejenak pada vena jugularis inerna kedua belah sisi menimbulkan 

nyeri yang bersifat iskhialgia. 

Penjelasan : Dengan menekan pada kedua vena jugularis interna, aliran balik 

darah dari kepala menjadi terhambat, memicu  terjadinya kenaikan 

tekanan intrakranial. Peninggian tekanan ini diteruskan ke ruang 

subarakhnoida spinalis sampai teka subarakhnoida dan dapat bertindak 

sebagai pemacu terhadap radiks yang sedang tertekan, terenggang atau 

terjepit. 

  

 

  Tanda lain untuk evaluasi adanya radikulopati atau nyeri radikuler.  

1. FABER-E. Singkatan dari fleksi, abduksi, eksternal rotasi dan ekstensi. 

Nama lain dari  Patricks-fabere test.  

Cara : Pasien posisi supine. Ankle diletakan diatas lutut yang kontralateral. 

Lutut yang ipsilateral secara gentle digerakkan ke arah tempat tidur periksa 

atau lutut dirotasikan ke samping/keluar dan ditekan sejenak.  

Penjelasan : Tindakan ini membuat stres pada hip joint dan biasanya tidak 

memicu  penekanan pada serabut saraf. Jika test ini positif sering 

sebagai tanda dari penyakit yang mengenai sendi panggul (Hip joint) 

misalnya pada bursitis trokanterik atau nyeri punggung bawah sebab  sebab 

mekanik. Jika ketika lutut dirotasikan ke samping dan ditekan sejenak 

timbul nyeri yang dirasakan di daerah sekitar bokong (biasanya penderita 

tidak dapat menunjukkan tempat nyeri itu secara tepat), maka kemungkinan 

besar proses patologik pada sendi panggul. 

  

2. Tanda kontra Patrick.  

Cara : Sama dengan tanda Patrick diatas namun  lutut dirotasikan ke dalam 

(rotasi interna) dan ditekan sejenak. 

Penjelasan : jika  pada tindakan ini menimbulkan nyeri, maka 

kemungkinan proses patologik terletak pada umumnya di sendi sakro-

iliaka. 

  

3. Tanda Trendelenburg (Trendelenburg sign) 

Cara : Penderita berdiri membelakangi pemeriksa. Pemeriksa mengamati 

pelvis penderita dari belakang. Penderita diminta berdiri pada satu kaki. 

Penjelasan : Normalnya pelvis tetap balans horizontal. Lesi L5 (inervasi 

adduktor) memicu  pelvis turun bila kaki diangkat. 

 

 

 

DEFERENSIAL DIAGNOSIS 

 

Anamnesis 

 

ARTRITIS 

SAKROILIAKA 

NEURITIS HNP 

Trauma 

Artritis 

 

 

 

Nyeri pinggang + - + 

Naffziger - - + 

Laseque + ± + 

Nyeri tekan sepanjang  

N. Iskiadikus 

- + - 

 

 HNP Spondilosis 

deformans lumbal 

Patofisiologi Penonjolan nukleus 

pulposus yang menekan 

serabut saraf 

Penyakit degeneratif 

yang menyerang tulang 

belakang secara 

menyeluruh 

Usia Dewasa muda dan tua Hampir semua 50 

tahun keatas 

Iskhialgia Unilateral, tegas terbatas, 

mono-radikuler 

Unilateral, atau 

bilateral, difus, multi-

radikuler. 

Lordosis lumbal Mendatar Utuh 

Radiks L3-L4 Jarang terkena Sering terkena.  

 

 

Diagnosis HNP secara klinis basanya dijumpai tanda-tanda yang khas yaitu  

1. Lordosis lumbal yang mendatar 

2. Nyeri tekan setempat pada tingkat dan sisi protusio nukleus pulposus,  

3. Test lasegue dan nafziger  positif  

4. Refleks tendon Achilles yang menurun atau negatif.  

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemeriksaan Penunjang  

1. Foto polos Lumbosakral.  

Hernia nukleus pulposus selain terjadi proses degenerasi sering juga terjadi pada 

orang muda akibat mengangkat  benda berat. Anulus bagian posterior robek dan 

terjadi penonjolan anulus ke belakang sehingga menekan urat saraf.  

Pada stadium masih akut foto roentgen columna vertebralis tidak tampak 

kelainan-kelainan. Diskus intervertebra tidak tampak menyempit dan 

penonjolan anuluspun tidak kelihatan, yang tampak biasanya kedudukan 

kolumna vertebralis lumbal yang melurus tanpa ada lordosis di daerah lumbal. 

Posisi lurus seperti ini biasanya dapat menghilangkan rasa nyeri. Lambat laun 

diskus intervertebralis ini akan menyempit sedikit demi sedikit. 

 

2. Mielografi 

Hasil rontgen dengan teknik ini dapat dilihat penonjolan anulus diskus 

intervertebra yang mengalami herniasi. Dengan mielografi dapat memastikan 

adanya HNP serta lokasi dan ekstensinya. 

 

3. Diskografi 

Pemeriksaan radiologis dengan memasukkan kontras media langsung ke 

dalam diskus. Prosedur ini jarang dilakukan sebab  invasif. Pemeriksaan ini 

dilakukan bilamana mielografi tidak dapat meyakinkan adanya HNP. 

  

4. MRI.     Dapat terlihat  penonjolan atau bulging dari herniasi diskus.  

5. CT-Scan.    Dapat terlihat penonjolan atau bulging dari herniasi diskus.  

 

Pada pemeriksaan Myelografi, MRI dan CT-Scan dapat terlihat HNP yang 

asimptomatik. Dua puluh empat persen pada MRI ditemukan HNP yang 

asimptomatik.  

 

Penatalaksaan  

Penderita iskialgia yang telah didiagnosa sebagai iskialgia sebab  HNP tidak 

semuanya harus dioperasi. Penderita HNP yang sudah berkali-kali kumat dan 

sembuh kembali selama beberapa bulan atau tahun harus menjalani tindakan 

operatif, atau jika  selama 6 – 12 minggu pasien HNP tidak mengalami 

perbaikan dengan tindakan konservatif.  

Jika seorang baru saja mendapatkan iskialgia yang diduga keras disebabkan oleh 

HNP tindakan konservatif menjadi pilihan. Bilamana kasus HNP masih baru namun 

nyerinya tidak tertahankan atau defisit motoriknya sudah jelas dan mengganggu, 

maka pertimbangan untuk operasi atau tidak sebaiknya diserahkan kepada dokter 

ahli bedah saraf.  

Hasil tindakan operatif sebagian besar memuaskan, namun  masih cukup banyak 

problema yang membingungkan. Misalnya kambuhnya iskialgia pada penderita yang 

sudah dioperasi.   Stern menulis angka keberhasilan melalui tindakan operatif ini 

mencapai 85%. 

  Konservatif 

A. Istirahat diikuti dengan mobilisasi bertahap.   

Istirahat mutlak ditempat tidur. Kasur harus yang padat. Diantara kasur dan 

tempat tidur harus dipasang papan atau plywood agar kasur jangan 

melengkung. Sikap berbaring terlentang tidak membantu lordosis lumbal 

yang lazim, maka bantal tipis sebaiknya ditaruh dibawah pinggang. Orang 

sakit diperbolehkan untuk tidur mirng dengan kedua tungkai sedikit ditekuk 

pada sendi lutut. jika  dirawat dirumah sakit penderita harus dibaringkan 

pada tempat tidur yang bisa diatur sedemikian rupa sehingga pasien dalam 

posisi yang  nyaman.   

 

B. Medikasi / Obat-obatan 

Obat-obatan dapat diberikan untuk nyeri, inflamasi dan rasa tidak enak pada otot.  

• Anti-depresant 

Anti depresan diberikan sebagai terapi tambahan untuk pasien dengan 

nyeri yang kronik, untuk membantu pasien istirahat.  

Contoh sediaan : Prozac (Fluoxetine), Elavil (Amitriptiline), Zoloft 

(Sertraline) 

• Muscle relaksan 

Diberikan untuk mengurangi spasme otot yang berkaitan dengan 

kondisi akut. Penggunaannya tidak untuk dalam jangka waktu lama. 

Contoh sediaan : Valium (Diazepam), Zanaflex (Tizanidine) 

• Steroid 

• Non steroid.  

Contoh jenis ini yaitu  golongan yang menghambat cyclooxygenase 

(COX) misalnya Celebrex dan Vioxx. 

• Narkotik    Duragesic patch (Fentanyl), MS Contin (Morphine 

sulfate) 

• Non Narkotik.   acetaminophen. 

• Neuropatic meds.   Neurontin (Gabapentin) 

 

C. Pengobatan injeksi untuk mengurangi nyeri 

• Epidural Injeksi 

• Facet Injeksi 

• Transforaminal epidural injeksi 

• Intrathecal Pain Pump (Morphine pump) 

 

  Pembedahan 

1. Lumbar Laminektomi. 

Bertujuan untuk mengurangi tekanan / jepitan pada serabut saraf pada 

segmen lumbal. 

 Istilah ini berasal dari kata “lumbar” untuk pengertian Vertebra Lumbal. 

“Lamina” bagian tulang vertebra yang membentuk atap dari canalis 

vertebralis. Ektomi artinya memotong. 

 

2. Lumbar microdiscektomy. 

Operasi daerah lumbal dengan menggunakan mikroskop dan teknik bedah 

mikro, melalui akses irisan  pada kulit sepanjang 1-2 inch (bisa lebih 

panjang) diatas daerah yang akan dioperasi, lalu  masuk ke lapisan 

yang lebih dalam dengan mengunakan alat bedah mikro. lalu  

mengangkat bagian nukleus pulposus yang menjepit serabut saraf 

ini . sebab  hanya melakukan irisan yang kecil dikatakan bahwa 

waktu penyembuhannya lebih singkat melalui metode ini dibandingkan 

dengan laminektomi tradisional. 

 

3. Percutaneous endoscopic lumbar discectomy (Percutaneous 

endoscopic).  

Beberapa keuntungan melalui teknik ini yaitu  tidak menggunakan 

anestesi umum, sebagian besar pasien dapat segera rawat jalan setelah 3 

jam post operasi, dengan plester kecil (banda aid) pada pinggang bawah. 

Dan jika  dioperasi hari jum’at dapat kembali bekerja pada hari 

minggunya 

  

Perbandingan angka komplikasi ke 3 teknik operasi7,9,10  : 

TEKNIK ANGKA KOMPLIKASI 

1. Lumbar laminektomi (Open surgery) 25% 

2. Lumbar Mikrodisektomi (Open 

surgery) 

11% 

3. Percutaneous endoscopic lumbar 

discectomy (Closed surgery) 

< 1% 

 

   

Suatu penelitian randomized control trial yang membandingkan dua jenis 

teknik yaitu mikrodisektomi dan endoskopik disektomi dan sampel diikuti 

selama 2 tahun didapatkan bahwa pada endoskopik, 95% pasien kembali 

kepada pekerjaan semula seperti sebelum operasi sedangkan pada teknik 

mikrodisektomi 72%. 

  

4. Intradiscal electrothermal therapy. 

Suatu prosedur bedah minimal invasif untuk HNP yang dirancang untuk 

pasien rawat jalan. Teknik operasinya dengan memasukkan kateter yang 

memiliki ujung logam, setelah ujung kateter menempati nukleus yang 

dituju dilakukan pemanasan 90o selama 15-17 menit. Diharapkan dengan 

metode ini terjadi kontraksi pada serabut kolagen yang menyusun anulus 

fibrosis, dan penebalan dinding anulus dan menutup daerah anulus yang 

robek atau retak. Dengan tindakan ini juga diharapkan terjadinya efek 

kauter yang membakar pada saraf-saraf kecil sehinga mereka menjadi 

kurang sensitif terhadap nyeri.  

  

 

Nukleus Polposus yaitu  bagian tengah discus yang bersifat semigelatin, nucleus ini 

mengandung berkas-berkas serabut kolagen, sel-sel jaringan penyambung dan sel-sel 

tulang rawan. Zat-zat ini berfungsi sebagai peredam benturan antara korpus vertebra 

yang berdekatan, juga memainkan peranan penting dalam pertukaran cairan antara 

discus dan pembuluh-pembuluh kapiler.  

 

Patofisiologi  

Daerah lumbal yaitu  daerah yang paling sering mengalami herniasi nucleus 

polposus. Kandungan air discus berkurang bersamaan dengan bertambahnya usia. 

Selain itu, serabut-serabut menjadi kasar dan mengalami hialinisasi yang ikut 

membantu terjadinya perubahan ke arah hernia nucleus polposus melalui annulus, 

dan menekan radiks saraf spinal. Herniasi paling mungkin terjadi pada bagian 

kolumna vertebralis dimana terjadi peralihan dari segmen yang lebih mobil ke 

kurang mobil (perbatasan lumbosakral dan servikotorakal). Sebagian besar dari 

herniasi discus terjadi di daerah lumbal pada ruang antara vertebra L4 sampai 

L5. Arah herniasi yang paling sering yaitu  posterolateral, sebab  radiks saraf pada 

daerah lumbal miring ke bawah sewaktu berjalan keluar melalui foramina neuralis, 

maka herniasi discus antara L5 dan S1, seperti yang dapat diduga akan lebih 

mempengaruhi radiks saraf S1 daripada L5. Herniasi discus antara L4 dan L5 akan 

menekan radiks saraf L5.  

 

Gejala Klinis dan diagnosis 

Umumnya penderita memberikan riwayat adanya episode nyeri dan hilangnya 

mobilitas tulang belakang yang berlangsung perlahan-lahan. Walaupun penderita 

cenderung menghubungkan masalah ini dengan insidens membungkuk dan 

mengangkat, herniasi merupakan proses lambat yang ditandai oleh penekanan radiks 

saraf. Gejala klinis nya tergantung pada lokasi herniasi dan variasi anatomi 

individual 

Diagnosis berdasar  anamnesis dan pemeriksaan fisik. Tindakan penilaian lain 

seperti perasat mengangkat kaki dan berjalan pada ujung jari kaki atau pada tumit 

juga dapat membantu diagnosis. Pemeriksaan radiogram mungkin normal atau dapat 

memperlihatkan perubahan kontur tulang belakang. Pemeriksaan mielogram, 

elektromiografi dan konduksi saraf dipergunakan untuk penegasan diagnosis akhir. 

 

pelaksanaan   

Konservatif berupa istirahat di tempat tidur selama 1 sampai 2 minggu diatas kasur 

yang keras, pemanasan lembab, dan analgesic. Segera sesudah nyeri hilang, 

penderita mulai menjalani program latihan bertahap untuk menguatkan otot-otot 

punggung dan perut. Yang penting yaitu  penderita harus membatasi mengangkat 

sesuatu dan memperhatikan mekanika tubuh yang tepat.  

Pembedahan biasanya hanya dilakukan pada penderita dengan nyeri menetap yang 

tidak dapat diatasi, terjadinya gejala pada kedua sisi tubuh dan adanya gangguan 

neurologik utama seperti inkontinensia usus dan kandung kemih dan foot drop. 

Pengobatan Kemonukleolisis juga semakin disukai untuk pengobatan hernia discus. 

Pengobatan ini membebaskan tekanan pada radiks saraf, menghilangkan nyeri 

dengan efektif, dan memberikan suatu alternative lain dari laminektomi. 

 

Tanda dan Gejala Herniasi Diskus 

Lokasi 

Hernia

si 

Radik 

saraf 

yang 

terken

Nyeri Kelemahan Parestesis Atrofi Refleks 

L4-L5 L5 Diatas 

sendi 

sakroilia

ka 

panggul 

lateral 

paha 

dan 

betis,me

dial kaki 

foot drop 

dan sukar 

untuk 

dorsofleksi 

kaki, ibu jari 

kaki.sukar 

berjalan pada 

tumit 

Lateral 

tungkai,bag

ian distal 

kaki antara 

ibu jari 

dengan jari 

tengah kaki 

Tidak jelas refleks 

lutut atau 

pergelang

an kaki 

dapat 

menhilan

L5-S1 S1 Diatas 

sendi 

sakroilia

ka 

bagian 

posterio

r dari 

seluruh 

tungkai 

sampai 

tumit,ba

gian 

lateral 

kaki 

Bisa 

menimbulka

n kelemahan 

plantar fleksi 

abduksi jari 

kaki dan otot 

hamstring,su

lit berjalan 

pada ujung 

jari 

Pertengaha

n betis dan 

lateral 

kaki,termas

uk jari kaki 

ke-4 dan 

ke-5 

Gastrokne

mius 

Refleks 

pergelang

an kaki 

dapat 

hilang 

dan 

menurun 

C5-C6 C6 Nyeri 

leher 

menjalar 

ke bahu 

lengan 

dan 

lengan 

bawah 

Biseps Bagian 

radius dari 

lengan 

bawah,ibu 

jari dan 

telunjuk 

Tidak 

nyata 

Refleks 

biseps 

hilang 

atau 

menurun