Bedah saraf 3

 





Terwujudnya kondisi kesehatan masyarakat yang baik yaitu  tugas dan tanggung 

jawab dari Negara sebagai bentuk amanah konstitusi yaitu Undang-Undang Dasar Negara 

Republik Indonesia tahun 1945. Dalam pelaksanaannya Negara berkewajiban menjaga mutu 

pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Mutu pelayanan kesehatan ini sangat 

ditentukan oleh fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan yang berkualitas.  

Spesialis bedah saraf dihadapkan pada tantangan untuk menjaga kualitas mutu 

pelayanan dan keamanan baik terhadap pasien maupun diri sendiri. Untuk menjaga mutu 

pelayanan kesehatan diperlukan sebuah pelayanan yang efektif, efisien dan kompetitif. 

Pelayanan yang efektif maksudnya yaitu  sebuah pelayanan yang tepat guna, sedangkan 

efisien yaitu  pelayanan yang cepat, tepat waktu dan tidak boros, serta yang  terakhir 

yaitu  pelayanan yang kompetitif yaitu pelayanan yang bisa bersaing dengan dunia luar dan 

sesuai standar. Bagi para spesialis bedah saraf, selain harus menjaga mutu pelayanan juga 

dihadapkan pada tantangan berupa keamanan pasien (patient safety). Diharapkan dengan 

menjaga keamanan pasien, maka para ahli bedah saraf dapat menurunkan morbiditas dan 

mortalitas pasien. Dengan diterapkannya Sistem Jaminan Kesehatan Nasional sejak tahun 

2014, dokter spesialis bedah saraf diharapkan untuk mampu memahami prosedur 

pelayanan, bioetika maupun legalitas medikolegal dalam setiap aspek pelayanan bedah 

saraf. Jika tidak sesuai dengan standar maka dokter akan dihadapkan pada ancaman 

malapraktik, dan sengketa medis atau minimal jasa pelayanan kesehatan yang tidak bisa di 

klaimkan. Berlakunya MEA sejak tahun 2015 sebagai pintu gerbang utama dari pasar bebas 

global akan mempengaruhi banyak individu disemua sektor kehidupan terutama dunia kerja 

dengan keahlian khusus, termasuk didalamnya yaitu  profesi dokter spesialis bedah saraf. 

Dokter asing akan berpeluang untuk bebas bekerja di Indonesia, dengan populasi terbesar di 

Asia Tenggara maka tak heran Indonesia akan menjadi pasar potensial. Kondisi ini  

akan menciptakan persaingan global yang menuntut peningkatan profesionalisme dokter 

bedah saraf Indonesia untuk mampu bersaing secara sehat. 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

 Dalam menghadapi berbagai tantangan di atas, diperlukan strategi yang baik salah 

satunya yaitu  dengan membuat acuan Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Bedah 

Saraf, sebagaimana tercantum dalam Permenkes RI No.1438/2010 tentang Standar 

Pelayanan Kedokteran. Organisasi profesi dalam hal ini Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf 

membuat __________________________yang berskala Nasional yang ditetapkan 

oleh Kemenkes sebagai acuan Nasional bagi pelaksanaan pelayanan bedah saraf di 

Indonesia. Selanjutnya masing – masing rumah sakit di daerah yang memiliki pelayanan 

bedah saraf, akan membuat standar prosedur operasional bedah saraf dengan mengacu 

pada __________________________bedah saraf disesuaikan dengan kondisi yang 

tersedia di rumah sakit ini .  

 

Di tingkat rumah sakit dibuat standar prosedur operasional pelayanan bedah saraf yang 

dibuat oleh SMF Bedah Saraf disesuaikan dengan kompetensi dan sarana Rumah Sakit yang 

bersangkutan, dikoordinir oleh komite medik dan disahkan oleh Direktur Rumah Sakit.  

 

 

 

Analisa unit cost untuk menentukan tarif disesuaikan dengan pedoman/panduan praktik 

klinik yang sudah ditetapkan, diharapkan akan memunculkan pelayanan yang efisien, efektif, 

aman dan kompetitif. 

 

 

 

 

Penyusunan buku __________________________bedah saraf ini, 

dilakukan berdasar evidence base medicine yang diperoleh dari studi pustaka pada beberapa 

jurnal, percobaan klinik dan guideline yang telah disusun oleh pusat layanan bedah saraf lain 

serta pendapat para ahli. Buku Pedoman ini memuat panduan praktek klinis kasus – kasus 

bedah saraf terutama yang sering dijumpai dalam praktek klinis sehari – hari. 

Rekomendasi pada buku pedoman ini yaitu  suatu acuan tindakan atau penggunaan 

alat diagnostik maupun terapeutik yang dapat dilakukan untuk penatalaksanaan suatu 

penyakit saraf. Penentuan rekomendasi berdasar GRADE System (Grading of 

Recommendations, Assessment, Development and Evaluation) yang memiliki dua 

komponen: 

a. Dua-level yang menggambarkan kekuatan rekomendasi : kuat dan kondisional 

(lemah) 

b. Empat-level atau tiga level yang menggambarkan derajat kualitas dari bukti 

pendukung (tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah atau tinggi, sedang dan 

rendah-sangat rendah) 

Kekuatan rekomendasi (Strength of Recommendation), terdiri dari dua: 

a. Rekomendasi kuat (nomor 1) 

yaitu  harus dilakukan (atau tidak dilakukan), dimana keuntungan jelas lebih tinggi 

dibandingkan dengan resikonya untuk hampir semua pasien. 

b. Lemah/ rekomendasi kondisional (nomor 2) 

yaitu  jika keuntungan dan resiko hampir seimbang atau lebih tidak menentu. 

Tingkat pembuktian (Quality of Evidence): 

Penilaian tingkat pembuktian mencerminkan keyakinan dalam perkiraan manfaat, 

bahaya, dan beban. Diimplementasikan dengan empat level tingkat pembuktian, 

atau dengan tiga level tingkat pembuktian,  dengan   penggabungan kategori  

"rendah" dan "sangat rendah". Tiga tingkat pembuktian  menggunakan huruf. Huruf  

A untuk bukti kualitas tinggi, B untuk tingkat pembuktian sedang, dan huruf C untuk 

tingkat pembuktian rendah / sangat rendah. (Clinical practice guidelines : Paul Shekelle et al, 

2015) 

Tingkat pembuktian kualitas tinggi (high quality) berasal dari penelitian randomized 

controlled trial yang baik atau bukti – bukti kuat yang lain (seperti penelitian 

observasional yang baik dengan efek yang luas).  Tingkat pembuktian kualitas sedang 

(moderate-quality) diperoleh dari penelitian randomized dengan beberapa limitasi, 

 

atau dari penelitian dengan desain studi yang lain yang memiliki level kekuatan 

khusus. Tingkat pembuktian rendah (low-quality) berasal dari penelitian 

observasional atau penelitian controlled trials dengan limitasi yang sangat terbatas. 

Tingkat pembuktian sangat rendah (very low-quality) diperoleh dari penelitian 

observasional non sistemik, alasan biologis, atau penelitian observasional dengan 

limitasi yang sangat terbatas. 

 

Proses penentuan kekuatan rekomendasi dilakukan dalam sebuah diskusi panel yang 

melibatkan para pakar spesialis bedah saraf. Komponen yang dipertimbangkan dalam 

menentukan rekomendasi antara lain: 

1. Clinical evidence (termasuk konsensus) 

2. Pandangan pasien 

3. Pertimbangan sudut pandang ekonomi kesehatan (health economics) 

Tiga komponen ini akan menghasilkan penilaian klinis (clinical judgement) yang menjadi 

dasar dalam menentukan rekomendasi.   

 

 

 

Jadi, secara garis besar, penetapan rekomendasi berdasar Grade System harus 

melalui lima langkah berikut ini: 

 

Langkah pertama yaitu  menentukan prioritas rangking dari penelitian ini . Penelitian 

randomized controlled trial memiliki rangking prioritas tinggi, sedangkan penelitian 

observasional memiliki rangking prioritas rendah.  

Langkah kedua yaitu  melakukan upgrading atau downgrading dengan mengevaluasi 

penelitian ini . Penelitian RCT bisa di-downgrade jika didapat  resiko bias, tidak 

konsisten, tidak langsung, tidak presisi, dan bias publikasi. Sedangkan penelitian 

observasional bisa di-upgrading bila memiliki efek konsisten yang besar, respon dosis yang 

tinggi, dan faktor perancu yang hanya menurunkan ukuran dari efek. 

Langkah ketiga yaitu  mengevaluasi untuk tahapan pengelompokan grading dalam 

kelompok High, Moderate, Low, atau Very Low. 

Langkah keempat yaitu  mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi 

rekomendasi antara lain keseimbangan antara efek yang diinginkan dan efek yang tidak 

diinginkan, pembiayaan yang efektif, dan kecenderungan pasien terhadap berbagai pilihan 

yang tersedia. Pertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kekuatan 

 

rekomendasi jika diterapkan. Tingkat pembuktian  yang kuat (high quality) tidak selalu serta 

merta menjadi rekomendasi yang kuat. Rekomendasi harus mempertimbangkan faktor lain 

disamping kualitas tingkat pembuktian.  

Langkah kelima yaitu  langkah terakhir untuk memutuskan rekomendasi. Hasilnya dapat 

berupa rekomendasi kuat untuk dilakukan atau kuat untuk tidak dilakukan (angka 1) atau 

rekomendasi lemah/kondisional untuk dilakukan atau untuk tidak dilakukan (angka 2). 

Tabel dibawah yaitu  kriteria berdasarkan GRADE System 

 

 

Derajat 

Rekomendasi 

Kejelasan 

Risiko/Keuntungan 

Bukti pendukung berkualitas Implikasi 

1A 

Rekomendasi kuat 

Bukti berkualitas 

tinggi 

Manfaat jelas lebih 

besar daripada risiko 

dan beban, atau 

sebaliknya 

Bukti yang konsisten  dari 

randomized controlled trials atau 

bukti dari beberapa jenis penelitian 

yang lain. Penelitian lebih lanjut 

tidak mungkin untuk mengubah 

hasil kami tentang manfaat dan 

risiko. 

Rekomendasi kuat, dapat 

diaplikasikan untuk 

sebagian besar pasien  

1B 

Rekomendasi kuat 

Bukti berkualitas 

sedang 

Manfaat jelas lebih 

besar daripada risiko 

dan beban, atau 

sebaliknya 

Bukti dari randomized controlled 

trials  dengan keterbatasan (hasil 

yang tidak konsisten, kelemahan 

metodologis, tidak langsung atau 

tidak tepat), atau bukti yang sangat 

kuat dari beberapa penelitian. 

Penelitian lebih lanjut (jika 

dilakukan) cenderung memiliki 

dampak pada  hasil tentang 

manfaat dan risiko , dan dapat 

berubah. 

Rekomendasi kuat,  

biasanya bisa 

diaplikasikan untuk 

sebagian besar pasien  

1C 

Rekomendasi kuat 

Bukti berkualitas 

rendah 

Manfaat tampak lebih 

besar daripada risiko 

dan beban, atau 

sebaliknya 

Bukti dari studi observasional, 

pengalaman klinis tidak sistematis, 

atau acak, percobaan terkontrol 

dengan kekelemahan. Setiap 

perkiraan efek tidak pasti. 

Rekomendasi relatif kuat.  

Masih bisa berubah 

ketika bukti kualitas yang 

lebih tinggi tersedia 

10 

 

 

Derajat Rekomendasi Kejelasan 

Risiko/Keuntungan 

Bukti pendukung berkualitas Implikasi 

2A 

Rekomendasi  lemah 

Bukti berkualitas tinggi 

Manfaat  sama  dengan 

risiko dan beban 

Bukti yang konsisten  dari 

randomized controlled trials atau 

bukti dari beberapa jenis penelitian 

yang lain. Penelitian lebih lanjut 

tidak mungkin untuk mengubah 

hasil kami tentang manfaat dan 

risiko. 

Rekomendasi  lemah, 

tindakan terbaik 

mungkin berbeda 

tergantung pada 

keadaan atau pasien 

atau nilai-nilai sosial 

2B 

Rekomendasi  lemah 

Bukti berkualitas 

sedang 

Manfaat  sama  dengan 

risiko dan beban, beberapa  

masih belum pasti antara  

manfaat, risiko dan beban 

Bukti dari randomized controlled 

trials  dengan keterbatasan (hasil 

yang tidak konsisten, kelemahan 

metodologis, tidak langsung atau 

tidak tepat), atau bukti yang sangat 

kuat dari beberapa penelitian. 

Penelitian lebih lanjut (jika 

dilakukan) cenderung memiliki 

dampak pada  hasil tentang manfaat 

dan risiko , dan dapat berubah. 

Rekomendasi  lemah, 

pendekatan lain 

mungkin lebih baik 

untuk beberapa pasien 

dalam kondisi tertentu 

2C 

Rekomendasi  lemah 

Bukti berkualitas 

rendah 

Masih belum bisa 

diperkirakan antara 

manfaat, risiko dan beban. 

Mungkin manfaat sama  

dengan risiki dan beban 

Bukti dari studi observasional, 

pengalaman klinis tidak sistematis, 

atau acak, percobaan terkontrol 

dengan kekelemahan. Setiap 

perkiraan efek tidak pasti. 

Rekomendasi  sangat 

lemah.  Alternatif lain 

sama 

 

Sistematika penyusunan buku pedoman ini dibuat agar mudah untuk difahami dan 

dilaksanakan untuk proses diagnostik dan terapeutik oleh dokter umum, peserta didik 

spesialis bedah saraf dan spesialis saraf, dokter spesialis bedah saraf dan dokter spesialis 

saraf.  

Pedoman ini secara berkala akan dilakukan evaluasi dan penelitian pendukung 

lanjutan, sehingga didapat  gradasi rekomendasi dengan tingkat pembuktian yang lebih 

tinggi dan dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan, pendidikan dan penelitian 

serta langkah pemilihan diagnostik dan terapeutik yang lebih baik. 

  

11 

 

PNPK Divisi Neurotrauma 

 

1. Cedera Otak Ringan   ICD 10: S06.0 

2. Cedera Otak Sedang/Berat  ICD 10: S06.9 

3. Fraktur Basis Cranii   ICD 10: S02.1 

4. Fraktur Calvaria    ICD 10: S02.0 

5. Traumatic Intracerebral Hematoma ICD 10: S06.3 

6. Diffuse Axonal Injury   ICD 10: S06.2 

7. Epidural Hematoma   ICD 10: S06.4 

8. Traumatic Subarachnoid Hemorrhage ICD 10: S06.6 

9. Traumatic Subdural Hematoma  ICD 10: S06.5 

10. Trauma tembus otak   ICD 10: S01.9 

 

 

 

Cedera Otak Ringan 

ICD-10 : S06.0 

1. Pengertian (Definisi) Cedera Otak Ringan yaitu  cedera otak yang diklasifikasikan berdasarkan tingkat kesadaran 

yang diukur dengan menggunakan skala GCS (Glasgow Coma Scale) 13-15 yang diukur 30 

menit setelah trauma (1,2,5) 

2. Anamnesis Identitas pasien: Nama, Umur, JenisKelamin, Suku, Agama, Pekerjaan, Alamat  

– Keluhan utama  

– Mekanisma trauma  

– Waktu dan perjalanan trauma  

– Pernah pingsan atau sadar setelah trauma  

– Amnesia retrograde atau antegrade  

– Keluhan : Nyeri kepala seberapa berat, penurunan kesadaran, kejang, vertigo  

– Riwayat mabuk, alkohol, narkotika, pasca operasi kepala  

– Penyakit penyerta : epilepsi, jantung, asma, riwayat operasi kepala, hipertensi dan 

diabetes melitus, serta gangguan faal pembekuan darah  

3. PemeriksaanFisik Primary Survey 

Pemeriksaan  Evaluasi  Perhatikan, catat, dan 

perbaiki  

A. Airway  Patensi saluran napas ?  

Suara tambahan ?  

Obstruksi ?  

B. Breathing  Apakah oksigenasi  

Efektif…. ?  

Rate dan depth  

Gerakan dada  

Air entry  

Sianosis  

C. Circulation  Apakah perfusi  

Adekuat …..?  

Pulse rate dan volume  

Warna kulit  

Capilarry return  

Perdarahan  

Tekanan darah  

D. Disability  

( status neurologis )  

Apakah ada kecacatan 

neurologis …?  

Tingkat kesadaran- 

menggunakan sistem GCS 

atau AVPU.  

Pupil (besar, bentuk, reflek 

cahaya, bandingkan kanan-

kiri)  

E. Exposure  

(buka seluruh pakaian)  

Cedera organ lain… ?  Jejas, deformitas, dan 

gerakan ekstremitas. Evaluasi 

respon terhadap perintah 

atau rangsang nyeri  

 

Secondary Survey 

Pemeriksaan Status Generalis 

Pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, serta pemeriksaan khusus 

untuk menentukan kelainan patologis, dengan metode:  

– Dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki atau,  

– Per organ B1 – B6 (Breath, Blood, Brain, Bowel, Bladder, Bone)  

 

Pemeriksaan fisik yang berkaitan erat dengan cedera otak yaitu :  


1. Pemeriksaan kepala  

Mencari tanda :  

a. Jejas di kepala meliputi; hematoma sub kutan, sub galeal, luka terbuka, luka tembus 

dan benda asing.  

b. Tanda patah dasar tengkorak, meliputi; ekimosis periorbita (brill hematoma), 

ekimosis post auricular (battle sign), rhinorhoe, dan otorhoe serta perdarahan di 

membrane timpani atau leserasi kanalis auditorius.  

c. Tanda patah tulang wajah meliputi; fraktur maxilla (Lefort), fraktur rima orbita dan 

fraktur mandibula  

d. Tanda trauma pada mata meliputi; perdarahan konjungtiva, perdarahan bilik mata 

depan, kerusakan pupil dan jejas lain di mata.  

 

e. Auskultasi pada arteri karotis untuk menentukan adanya bruit yang berhubungan 

dengan diseksi karotis  

 

2. Pemeriksaan pada leher dan tulang belakang.  

Mencari tanda adanya cedera pada tulang servikal dan tulang belakang dan cedera pada 

medula spinalis. Pemeriksaan meliputi jejas, deformitas, status motorik, sensorik, dan 

autonomik. 

 

Pemeriksaan Status Neurologis 

Pemeriksaan status neurologis terdiri dari :  

a. Tingkat kesadaran : berdasarkan skala Glasgow Coma Scale (GCS). Cedera kepala 

berdasar GCS, yang dinilai setelah stabilisasi ABC diklasifikasikan cedera otak ringan 

GCS 13 – 15 

 

b. Saraf kranial, terutama:  

Saraf II-III, yaitu pemeriksaan pupil : besar & bentuk, reflek cahaya, reflek konsensuil 

bandingkan kanan-kiri  

Tanda-tanda lesi saraf VII perifer.  

 

c. Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, perdarahan pre retina, retinal 

detachment.  

 

d. Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah mencari tanda 

lateralisasi.  

 

    Autonomis: bulbocavernous reflek, cremaster reflek, spingter reflek, reflek tendon, 

reflek patologis dan tonus spingter ani. 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan imaging  

5. DiagnosisKerja Cedera Otak Ringan (Concussion) S06.0 

6. Diagnosis Banding - Intoksikasi alkohol 

- Stroke 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan Rekomendasi 

Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

14 



1 CT scan 

CT Scan direkomendasikan pada pasien 

dengan COR. CT Scan dipilih untuk evaluasi di 

UGD. Pada beberapa literatur disebutkan 

didapat  kelainan CT Scan pada 5% pasien 

dengan GCS 15 dan 30% pada pasien dengan 

GCS 13. Insiden kelainan CT Scan yang 

membutuhkan tindakan bedah 1%.  

CT Scan dikerjakan pada pasien COR dengan 

salah satu kelainan berikut: 

- GCS <15 2 jam setelah cedera 

- curiga fraktur tulang kepala terbuka atau 

impresi 

- tanda FBC: hemotimpanum, racoon eyes, 

Battle’s sign, atau kebocoran LCS 

- dua atau lebih episode muntah 

- usia 65 tahun atau lebih 

- lupa ingatan sebelum kejadian 30 menit 

atau lebih 

- mekanisme terjadinya cedera 

1B 2,4,9,10 

2 MRI 

MRI lebih sensitif untuk menunjukkan area 

kecil kontusional atau perdarahan kecil, 

cedera aksonal, dan perdarahan kecil ekstra 

aksial. Pada pasien COR, didapat  

sebanyak 15% kelainan MRI yang pada CT 

Scan-nya normal. 

1B      4,8 

CT-Scan Whole 

Body 

Whole Body CT (WBCT) digunakan pada kasus 

multitrauma untuk mengurangi waktu 

diagnosis, dapat digunakan pada pasien 

dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 13 

 

 

8. Terapi  

 

No Terapi Prosedur  (ICD 9 CM) 

Grad

Reko

mend

asi 

Ref 

15 

 

1 Operasi 

bila didapat  lesi intrakranial yang indikasi 

untuk dilakukan operasi (perdarahan 

epidural, perdarahan subdural, perdarahan 

intraserebral) 

1B 3,7,12 

2 Konservatif 

pasien dirawat di RS pada pasien dengan: 

- GCS <15 

- CT Scan abnormal: perdarahan intrakranial, 

edema serebri 

- kejang 

- kelaianan parameter perdarahan dengan 

penyebab yang melatar belakangi seperti 

pemakaian antikoagulasi oral. 

 

- Head Up 30o (2B) 

- Berikan cairan secukupnya (normal 

saline) untuk resusitasi korban agar tetap 

normovolemia, atasi hipotensi yang 

terjadi dan berikan transfuse darah jika 

Hb kurang dari 10 gr/dl. (1B) 

- Periksa tanda vital, adanya cedera 

sistemik di bagian anggota tubuh lain, 

GCS dan pemeriksaan batang otak secara 

periodik. 

- Berikan obat-obatan analgetik (misal: 

acetaminophen, ibuprofen untuk nyeri 

ringan dan sedang) bila didapat  

keluhan nyeri pada penderita (2B) 

- Berikan obat-obatan anti muntah (misal: 

metoclopramide atau ondansentron) dan 

anti ulkus gastritis H2 bloker (misal: 

ranitidin atau omeprazole) jika penderita 

muntah (2B) 

- Berikan Cairan hipertonik (mannitol 20%), 

bila tampak edema atau cedera yang 

tidak operable pada CT Scan. Manitol 

dapat diberikan sebagai bolus 0,5 – 1 

g/kg. BB pada keadaan tertentu, atau 

1B    3,7,12 

16 

dosis kecil berulang, misalnya (4-6) x 100 

cc manitol 20% dalam 24 jam. 

Penghentian secara gradual. (1B) 

- Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis pada 

pasien dengan resiko tinggi kejang 

dengan dosis 300 mg/hari atau 5-10 mg 

kg BB/hari selama 10 hari. Bila telah 

terjadi kejang, PHT diberikan sebagai 

terapi. (1B) 

 

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia ad bonam 

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia ad bonam 

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia ad bonam 

Prognosis dipengaruhi: 

- Usia 

- Status Neurologis awal 

- Jarak antara trauma dan tindakan bedah 

- Edema cerebri 

- Kelainan intrakranial lain seperti kontusional, hematom subarachnoid, dan hematom 

epidural 

- Faktor ekstrakranial 

 


Cedera Otak Tidak Spesifik 

(Cedera Otak Sedang & Cedera Otak Berat) 

ICD-10 :S06.9 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Cedera Otak Tidak Spesifik (Cedera Otak Sedang dan Cedera Otak Berat) yaitu  cedera otak 

yang diklasifikasikan berdasarkan tingkat kesadaran yang diukur dengan menggunakan skala 

GCS (glasgow Coma Scale), GCS 9-12 untuk Cedera Otak Sedang, dan GCS <8 untuk Cedera 

Otak Berat. (1,2,3,4) 

2. Anamnesis – Identitas pasien: Nama, Umur, Jenis kelamin, Suku, Agama, Pekerjaan, Alamat  

– Keluhan utama  

– Mekanisma trauma  

– Waktu dan perjalanan trauma  

– Pernah pingsan atau sadar setelah trauma  

– Amnesia retrograde atau antegrade  

– Keluhan : Nyeri kepala seberapa berat, penurunan kesadaran, kejang, vertigo  

– Riwayat mabuk, alkohol, narkotika, pasca operasi kepala  

– Penyakit penyerta : epilepsi, jantung, asma, riwayat operasi kepala, hipertensi dan 

diabetes melitus, serta gangguan faal pembekuan darah  

3. PemeriksaanFisik Primary Survey (1,2,3,4,9) 

Pemeriksaan  Evaluasi  Perhatikan, catat, dan 

perbaiki  

A. Airway  Patensi saluran napas ?  

Suara tambahan ?  

Obstruksi ?  

B. Breathing  Apakah oksigenasi  

Efektif…. ?  

Rate dan depth  

Gerakan dada  

Air entry  

Sianosis  

C. Circulation  Apakah perfusi  

Adekuat …..?  

Pulse rate dan volume  

Warna kulit  

Capilarry return  

Perdarahan  

Tekanan darah  

D. Disability  

( status neurologis )  

Apakah ada kecacatan 

neurologis …?  

Tingkat kesadaran- 

menggunakan sistem GCS 

atau AVPU.  

Pupil (besar, bentuk, reflek 

cahaya, bandingkan kanan-

kiri)  

E. Exposure  

(buka seluruh pakaian)  

Cedera organ lain… ?  Jejas, deformitas, dan 

gerakan ekstremitas. Evaluasi 

respon terhadap perintah 

atau rangsang nyeri  

 

Secondary Survey 

Pemeriksaan Status Generalis 

Pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, serta pemeriksaan khusus 

untuk menentukan kelainan patologis, dengan metode:  

– Dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki atau,  

– Per organ B1 – B6 (Breath, Blood, Brain, Bowel, Bladder, Bone)  


 

Pemeriksaan fisik yang berkaitan erat dengan cedera otak yaitu :  

1. Pemeriksaan kepala  

Mencari tanda :  

a. Jejas di kepala meliputi; hematoma sub kutan, sub galeal, luka terbuka, luka tembus 

dan benda asing.  

b. Tanda patah dasar tengkorak, meliputi; ekimosis periorbita (brill hematoma), 

ekimosis post auricular (battle sign), rhinorhoe, dan otorhoe serta perdarahan di 

membrane timpani atau leserasi kanalis auditorius.  

c. Tanda patah tulang wajah meliputi; fraktur maxilla (Lefort), fraktur rima orbita dan 

fraktur mandibula  

d. Tanda trauma pada mata meliputi; perdarahan konjungtiva, perdarahan bilik mata 

depan, kerusakan pupil dan jejas lain di mata.  

e. Auskultasi pada arteri karotis untuk menentukan adanya bruit yang berhubungan 

dengan diseksi karotis  

 

2. Pemeriksaan pada leher dan tulang belakang.  

Mencari tanda adanya cedera pada tulang servikal dan tulang belakang dan cedera pada 

medula spinalis. Pemeriksaan meliputi jejas, deformitas, status motorik, sensorik, dan 

autonomik. 

 

Pemeriksaan Status Neurologis 

Pemeriksaan status neurologis terdiri dari :  

a. Tingkat kesadaran : berdasarkan skala Glasgow Coma Scale (GCS).  

Cedera kepala berdasar GCS, yang dinilai setelah stabilisasi ABC diklasifikasikan: GCS 

14 – 15 : Cedera otak ringan (COR)  

GCS 9 – 13 : Cedera otak sedang (COS)  

GCS 3 – 8 : Cedera otak berat (COB)  

b. Saraf kranial, terutama:  

Saraf II-III, yaitu pemeriksaan pupil : besar & bentuk, reflek cahaya, reflek konsensuil 

 bandingkan kanan-kiri  

Tanda-tanda lesi saraf VII perifer.  

c. Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, perdarahan pre retina, retinal 

detachment.  

d. Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah mencari tanda 

lateralisasi.  

Autonomis: bulbocavernous reflek, cremaster reflek, spingter reflek, reflek tendon, 

reflek patologis dan tonus spingter ani. 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan imaging  

Dari Pemeriksaan fisik, penilaian GCS dapat digunakan untuk mengklasifikasikan jenis cedera 

otak berdasarkan tingkat keparahanya. GCS dengan jumlah total nilai 13 – 15 dapat 

dikategorikan sebagai Cedera Otak Ringan (COR), GCS dengan jumlah 9 – 12 dikategorikan 

sebagai CederaOtak Sedang (COS), dan GCS dengan total nilai kurang dari sama dengan 8 

dekategorikan sebagai Cedera Otak Berat (COB) 

Untuk Cedera Otak Sedang dan Cedera Otak Berat, menurut ICD 10 dapat dikelompokkan 

menjadi Cedera Kepala Tidak Spesifik. 

Pada pasien dengan COS & COB, setelah dilakukan pemeriksaan fisik, pemasangan selang 

infus dan pengambilan sampel darah untuk laboratorium dan kemungkian persiapan operasi, 

dapat dilakukan diagnostik berupa foto Rontgen dan CT-Scan 

5. Diagnosis Kerja Cedera Otak Tidak Spesifik (Cedera Otak Sedang & Cedera Otak Berat) 

ICD-10 :S06.9 

20 

_____________ 

6. Diagnosis Banding - Intoksikasi alkohol 

- Stroke 

- AVM 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grade 

Rekom

endasi 

Ref 

1 X-Foto Servikal 

X-Foto Servikal dikerjakan pada pasien COS 

atau COB untuk menyingkirkan adanya 

kemungkinan cedera servikal. Sensitivitas x-

foto servikal 70%-80% 

1C 

14,15,1

2 X-Foto Thorak 

X-Foto Thorak dilakukan pada pasien trauma 

yang tidak membutuhkan CT Scan. X-Foto 

dikerjakan berdasarkan mekanisme cedera 

dan temuan klinis. X-Foto thorak dikerjakan 

pada pasien trauma tembus dada, punggung, 

atau perut yang tidak membutuhkan CT Scan 

1C 17,18 

3 CT scan 

CT Scan yaitu  modalitas yang dipilih pada 

fase akut pada trauma kepala dan sebaiknya 

dikerjakan secepatnya. CT Scan kepala 

direkomendasikan dikerjakan pada semua 

pasien cedera otak dengan GCS 14 atau 

kurang. CT Scan evaluasi dapat dikerjakan 

bila didapat  deteriorisasi neurologis. 

1B 

19,20,2

1,22,23 

CT-Scan Whole 

Body 

Whole Body CT (WBCT) digunakan pada kasus 

multitrauma untuk mengurangi waktu 

diagnosis, dapat digunakan pada pasien 

dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 36 

 

 

8. Terapi  

 

No Terapi 

Prosedur  (ICD 9 CM) Grade 

Rekom

endasi 

Ref 

Operasi 

(ICD 9 CM: 

01.24) 

indikasi untuk tindakan bedah segera pada 

COS atau COB berdasarkan status neurologis, 

biasanya GCS dan temuan CT Scan yang 

sesuai kriteria seperti volume perdarahan 

1C 

24,25,2


yang besar atau ketebalan dan bukti adanya 

efek massa termasuk midline shift. 

-    tindakan bedah direkomendasikan untuk 

evakuasi EDH dengan volume >30ml 

berapapun GCS pasien. Juga pada EDH 

akut dengan GCS <8 dengan pupil 

anisokor 

-    tindakan bedah direkomendasikan untuk 

SDH akut dengan tebal >10mm atau MLS 

>5mm berapapun GCS pasien. Tindakan 

bedah juga direkomendasikan pada 

pasien dengan GCS <8 atau GCS turun 2 

poin dibandingkan saat pasien datang, 

dan atau pasien dengan pupil asimetris 

dan dilatasi, dan atau TIK >20mmHg. 

-    indikasi tindakan bedah pada ICH belum 

terlalu jelas. Beberapa sumber 

menyebutkan evakuasi ICH pada volume 

>50ml, atau GCS 6-8 pada pasien dgn ICH 

di temporal atau frontal volume >20ml 

dengan MLS >5mm dan atau kompresi 

sisterna pada CT Scan 

- Pemasangan ICP Monitor dilakukan pada 

pasien COB (GCS 3-8 setelah proses 

resusitasi) dengan CT-Scan kepala 

abnormal (hematoma, contusio, edema 

serebri atau penyempitan sisterna 

basalis). ICP monitor juga dipasang pada 

pasien COB dengan CT-Scan kepala 

normal jika didapat  2 atau lebih dari 

hal berikut : 

- Usia > 40 tahun 

- TDS < 90 mmHg 

- Postural bilateral atau unilateral 

2 Konservatif 

Penatalaksanaan COS (GCS 9-12) (2B) 

- Dirawat di rumah sakit untuk observasi, 

pemeriksaan neurologis secara periodik. 

IB 

   

3,27,28,

29,30,3


- Bila kondisi membaik, pasien dipulangkan 

dan kontrol kembali, bila kondisi 

memburuk dilakukan CT-Scan Scan ulang 

dan penatalaksanaan sesuai protokol 

cedera kepala berat. 

 

Penatalaksanaan COB (GCS <= 8) 

- Pastikan jalan nafas pasien clear, berikan 

oksigenasi 100% dan jangan banyak 

memanipulasi gerakan leher sebelum 

cedera cervical dapat disingkirkan, bila 

perlu intubasi. (1B) 

- Head Up 30o (2B) 

- Berikan cairan secukupnya (normal 

saline) untuk resusitasi korban agar tetap 

normovolemia, atasi hipotensi yang 

terjadi dan berikan transfuse darah jika 

Hb kurang dari 10 gr/dl. (1B) 

- Periksa tanda vital, adanya cedera 

sistemik di bagian anggota tubuh lain, 

GCS dan pemeriksaan batang otak secara 

periodik.  

- Berikan obat-obatan analgetik (misal: 

acetaminophen, ibuprofen untuk nyeri 

ringan dan sedang) bila didapat  

keluhan nyeri pada penderita (2B) 

- Berikan obat-obatan anti muntah (misal: 

metoclopramide atau ondansentron) dan 

anti ulkus gastritis H2 bloker (misal: 

ranitidin atau omeprazole) jika penderita 

muntah (2B) 

- Berikan Cairan hipertonik (mannitol 20%), 

bila tampak edema atau cedera yang 

tidak operable pada CT Scan. Manitol 

dapat diberikan sebagai bolus 0,5 – 1 

g/kg. BB pada keadaan tertentu, atau 

dosis kecil berulang, misalnya (4-6) x 100 

1,32,33,

34,35 


cc manitol 20% dalam 24 jam. 

Penghentian secara gradual. (1B) 

- Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis pada 

pasien dengan resiko tinggi kejang 

dengan dosis 300 mg/hari atau 5-10 mg 

kg BB/hari selama 10 hari. Bila telah 

terjadi kejang, PHT diberikan sebagai 

terapi. (1B) 

- Operasi cito pada perkembangan ke arah 

indikasi operasi. 

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia ad bonam 

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia ad bonam 

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia ad bonam 

Prognosis dipengaruhi: 

- Usia 

- Status Neurologis awal 

- Jarak antara trauma dan tindakan bedah 

- Edema cerebri 

- Kelainan intrakranial lain seperti kontusional, hematom subarachnoid, dan hematom 

epidural 

- Faktor ekstrakranial 

 


 

Fraktur Basis Cranii 

ICD-10:S02.1 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Patah Tulang Kepala yang meliputi salah satu dari tulang dasar kepala: lamina cribiformis 

dari Os Ethmoid, Pars orbita dari Os Frontal, pars Petrosus dan skuamus Os Temporalis, 

Os Sphenoid dan Os Occipital 

2. Anamnesis     didapat  riwayat trauma 

    Riwayat keluarnya darah atau cairan dari hidung dan/atau telinga 

    Mual 

    Muntah 

    Gangguan Melihat 

    Wajah mencong 

    Gangguan Mendengar 

3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Fisik Umum 

(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi ) 

Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B (breathing), dan 

C (circulation) 

    Dapat disertai dengan cedera lain dan penurunan kesadaran 

 

Pemeriksaan lokalis 

Gambaran Khas : 

    Retro aurikular/Mastoid Ecchymosis (Battle sign) 

    Periorbital Ecchymosis (Raccoon eyes) 

    Clear Rhinorea 

    Clear Otorhea 

    Hemotimpanum 

 

Pemeriksaan Neurologis (jika didapat ) 

    Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS) 

    Lesi N III,IV,VI 

    Lesi N VII 

    Lesi N VIII 

 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan imaging sesuai klinis 

5. DiagnosisKerja Fraktur Basis Cranii (ICD 10: S02.1) 

6. Diagnosis Banding - Trauma maksilofacial 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

CT Scan Kepala 

 

    CT-Scan Bone Window untuk melihat 

gambar tulang kalvaria dan CT-Scan Brain 

Window untuk melihat lesi parenkim otak 

atau perdarahan otak.  

    Fraktur pada dasar tengkorak dapat 

menggunakan irisan tipis potongan axial 

bone window dasar tengkorak 

    Rinorea dan ottorhea merupakan indikasi 

untuk dilakukan tindakan CT Scan 

1A 

2, 3, 4, 5, 

6, 7, 8, 

11, 12, 

13, 14 

2 X-foto kepala 

    Bila jejas cukup besar ; cari garis fraktur, 

aerokel, darah dalam sinus paranasalis, 

shift glandula pinealis, fragmen tulang 

dan korpus alienum 

    Tidak untuk mencarifraktur basis 

Penderita yang memerlukan CT-scan 

kepala tidak perlu dibuat X-foto kepala 

1C 3, 4, 15, 

X-foto vertebra 

servikal 

 

    Mencari cedera penyerta terutama bila 

jejas juga didapat  di bahu, leher, dan 

dicurigai adanya cedera leher dari 

pemeriksaan klinis 

 

1C 

2, 3, 4, 5, 

15, 

X-foto thoraks 

 

    Mencari cedera penyerta 

 

1C 2, 3, 4, 5 

Lab Beta 2 

Transferrin 

    Mencari bukti adanya leakage LCS 

1C 

2, 3, 21, 

22, 23 

CT-Scan Whole 

Body 

    Whole Body CT (WBCT) digunakan pada 

kasus multitrauma untuk mengurangi 

waktu diagnosis, dapat digunakan pada 

pasien dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 32 

 

 

8. Terapi  

No Terapi Prosedur  (ICD 9 CM) GR Ref 

1 Operasi 

Indikasi Pembedahan 

    Kebocoran LCS post trauma yang disertai 

dengan meningitis 

    Fraktur transversal Os petrosus yang 

melibatkan optic capsule 

    Fraktur tulang temporal yang 

mengakibatkan lesi total otot wajah 

1C 3,8,12 


    Trauma balistik pada temoral yang 

mengakibatkan kerusakan vaskular 

    Defek luas dengan herniasi otak kedalam 

sinus paranasal, Pneumocephalus , atau 

kebocoran LCS lebih dari lima hari 

 

    Tindakan bedah : 

    Craniotomy  (ICD 9 : 01.24) 

    Duraplasty (ICD 9 : 02.12) 

    Cranioplasty (ICD 9 : 02.04) 

2 Konservatif 

Perawatan non operatif di ruangan meliputi 

    Observasi GCS, pupil, lateralisasi, danfaal 

vital 

    Optimalisasi, stabilisasi faal vital, menjaga 

optimalnya suplai O2ke otak 

    Airway: menghisap secret / darah / 

muntahan bila diperlukan, trakheostomi. 

Penderita COB dengan lesi yang tidak 

memerlukan evakuasi dan penderita 

dengan gangguan analisa gas darah 

dirawat dalam respirator 

    Mempertahankan perfusi otak, 

memposisikan kepala head up sekitar 30 

derajat  dengan menghindari fleksi leher 

    Kateter buli-buli diperlukan untuk 

mencatat produksi urine, mencegah 

retensi urine, mencegah tempat tidur 

basah (dengan demikian mengurangi 

risiko dekubitus) 

- Head Up 30o (2B) 

- Berikan cairan secukupnya (normal 

saline) untuk resusitasi korban agar tetap 

normovolemia, atasi hipotensi yang 

terjadi dan berikan transfuse darah jika 

Hb kurang dari 10 gr/dl. (1B) 

- Periksa tanda vital, adanya cedera 

sistemik di bagian anggota tubuh lain, 

GCS dan pemeriksaan batang otak secara 

periodik. 

- Berikan obat-obatan analgetik (misal: 

acetaminophen, ibuprofen untuk nyeri 

ringan dan sedang) bila didapat  

keluhan nyeri pada penderita (2B) 

- Berikan obat-obatan anti muntah (misal: 

metoclopramide atau ondansentron) dan 

anti ulkus gastritis H2 bloker (misal: 

ranitidin atau omeprazole) jika penderita 

muntah (2B) 

- Berikan Cairan hipertonik (mannitol 20%), 

bila tampak edema atau cedera yang 

tidak operable pada CT Scan. Manitol 

dapat diberikan sebagai bolus 0,5 – 1 

g/kg. BB pada keadaan tertentu, atau 

dosis kecil berulang, misalnya (4-6) x 100 

cc manitol 20% dalam 24 jam. 

1C 

2, 3, 4, 6, 

8, 12, 

24, 25, 

26, 27, 

28, 29, 

30, 31, 

33, 34, 

35 


Penghentian secara gradual. (1B) 

    Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis pada 

pasien dengan resiko tinggi kejang 

dengan dosis 300 mg/hari atau 5-10 mg 

kg BB/hari selama 10 hari. Bila telah 

terjadi kejang, PHT diberikan sebagai 

terapi. (1B) 

    Antibiotik Profilaksis   

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Gejaladarifraktur basis Cranii 

    Komplikasi yang bisaterjadi (Perdarahan intra cranial, edema cerebri, infeksi, bengkak) 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia ad bonam 

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia ad bonam 

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia ad bonam 

Prognosis dipengaruhi: 

- Usia 

- Status Neurologisawal 

- Jarakantara trauma dantindakanbedah 

- Edema cerebri 

- Kelainan intrakranial lain seperti kontusional, hematom subarachnoid, dan hematom 

epidural 

- Faktorekstrakranial 

 

 

FRAKTUR TULANG TENGKORAK  

ICD-10: S02.0 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Fraktur tulang tengkorak dapat dikategorikan sebagai fraktur linear, depresi. 

Fraktur Linier: fraktur tunggal yang mengenai seluruh ketebalan calvarium dengan 

alignment masih baik. 

Fraktur depress/impresi: fraktur dimana segmen frakturnya di bawah level segmen 

fraktur yang berdekatan. Fraktur impresi dapat berupa fraktur terbuka maupun tertutup 

2. Anamnesis     didapat  riwayat trauma 

    didapat  gangguan neurologis (amnesia, penurunan kesadaran, kejang, dll.) 

    Macam trauma: kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, jatuh dari 

ketinggian dan lain-lain 

3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Fisik Umum 

(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi) 

    Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B 

(breathing), dan C (circulation) 

Pemeriksaan kepala 

    Mencari tanda–tanda jejas, patah dasar tengkorak, patah tulang wajah, trauma 

pada mata, auskultasi karotis untuk menentukan adanya bruit  

Pemeriksaan pada leher dan tulang belakang 

    Mencari tanda–tanda cedera pada tulang belakang (terutama cedera servikal) 

dan cedera pada medulla spinalis 

Pemeriksaan lain 

    Cedera lain dicari dengan cermat dari cranial kekaudal 

    Semua temuan tanda trauma dicatat. Benjolan, luka lecet, luka terbuka, false 

movement, flail chest, dinding abdomen, nyeri tekan dan lain-lain, perdarahan 

yang tampak segera dihentikan 

 

PemeriksaanNeurologis 

    Tingkat kesadaranGlasgow Coma Scale (GCS) 

    Saraf II-III, lesisaraf VII perifer 

    Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, retinal detachment 

    Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah 


    Autonomis 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan imaging sesuai klinis 

5. DiagnosisKerja Fraktur Linier Kalvaria atau Fraktur Impresi Kalvaria (ICD-10: S02.0) 

6. Diagnosis Banding     Kelainan kongenital pediatric 

    Metabolic Bone Disease of Prematurity 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan Rekomendasi GR Ref 

CT Scan Kepala 

 

    CT-Scan Bone Window untuk melihat 

gambar tulang kalvaria dan CT-Scan Brain 

Window untuk melihat lesi parenkim otak 

atau perdarahan otak. Bila dibutuhkan 

dapat dilakukan CT-Scan 3D 

    Gambaran garis fraktur linear atau 

fragmen tulang yang masuk melebihi 

fragmen tulang di dekatnya 

    Biasanya disertai scalp hematoma di 

tempat patahan tulang 

    Fraktur pada skull biasanya disertai lesi 

intraparenkim. 

    Fraktur depresi pada tengkorak 

membutuhkan CT scan. 

1A 

2, 3, 4, 6, 

18, 19, 

28, 29, 

30  

2 MRI 

    MRI lebih sensitif untuk menunjukkan 

area kecil kontusional atau perdarahan 

kecil, cedera aksonal, dan perdarahan 

kecil ekstra aksial. . 

2A 

2,4,6,8, 

31,32,33 

3 X-foto kepala 

    Bila jejas cukup besar ; cari garis fraktur, 

aerokel, darah dalam sinus paranasalis, 

shift glandula pinealis, fragmen tulang 

dan korpus alienum 

    Tidak untuk mencarifraktur basis 

Penderita yang memerlukan CT-scan 

kepala tidak perlu dibuat X-fotokepala 

1C 

3, 4, 6, 

17, 18 

X-foto vertebra 

servikal 

 

    Mencari cedera penyerta terutama bila 

jejas juga didapat  di bahu, leher, dan 1C 

2,3,4,5,6

,17,18, 

22, 23 


dicurigai adanya cedera leher dari 

pemeriksaan klinis 

 

X-foto thoraks 

 

    Mencari cedera penyerta 

 

1C 2,3,4,5,6 

6 USG kepala 

    Pada bayi dan anak-anak dengan tulang 

yang tipis memiliki sensitifitas dan 

spesifitas yang lebih dari foto x-ray 

kepala 

1C 

6,24,25

,26,27 

CT-Scan Whole 

Body 

    Whole Body CT (WBCT) digunakan pada 

kasus multitrauma untuk mengurangi 

waktu diagnosis, dapat digunakan pada 

pasien dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 42 

 

8. Terapi No Terapi Prosedur  (ICD 9 CM) GR Ref 

1 Operasi 

    Patah tulang tengkorak dengan luka terbuka 

    Patah tulang sinus frontalis dengan luka 

terbuka atau didapat  gambaran 

pneumatocephalus 

    Patah tulang tengkorak impresi dengan 

fragmen tulang melebihi fragmen tulang di 

dekatnya dan didapat  defisit neurologi. 

    Prosedur operasi antara lain: 

Craniotomy (ICD 9 : 01.24) 

Debridement + dekortikasi sinus frontal + 

dekompresi (ICD 9 : 02.02)  

cranioplasty (ICD 9 : 02.04) 

jahit duramater (ICD 9 :02.11) 

 

1C 3,6,8 

2 Konservatif 

    Patah tulang tertutup, patah tulang 

impresi tertutup tanpa disertai defisit 

neurologis 

    Perawatan non operatif di ruangan 

meliputi: 

    Observasi GCS, pupil, lateralisasi, 

dan faal vital. (1B) 

    Optimalisasi, stabilisasi faal vital, 

menjaga optimalnya suplai O2 

1B 

2, 3, 4, 6, 

8, 34, 

35, 36, 

37, 38, 

39, 40, 

41, 43, 

44, 45 

35 


keotak. (1B) 

    Airway: menghisap sekret/ darah/ 

muntahan bila diperlukan, 

trakheostomi. Penderita COB 

dengan lesi yang tidak memerlukan 

evakuasi dan penderita dengan 

gangguan analisa gas darah dirawat 

dalam respirator. (1B) 

    Mempertahankan perfusi otak, 

memposisikan kepala head up 

sekitar 30, dengan menghindari 

fleksi leher. (1B) 

    Kateter buli-buli diperlukan untuk 

mencatat produksi urine, mencegah 

retensi urine, mencegah tempat 

tidurbasah (dengan demikian 

mengurangi risiko dekubitus). (1C) 

    Head Up 30o (2B) 

    Berikan cairan secukupnya (normal 

saline) untuk resusitasi korban agar 

tetap normovolemia, atasi hipotensi 

yang terjadi dan berikan transfuse 

darah jika Hb kurang dari 10 gr/dl. 

(1B) 

    Periksa tanda vital, adanya cedera 

sistemik di bagian anggota tubuh 

lain, GCS dan pemeriksaan batang 

otak secara periodik. 

    Berikan obat-obatan analgetik 

(misal: acetaminophen, ibuprofen 

untuk nyeri ringan dan sedang) bila 

didapat  keluhan nyeri pada 

penderita (2B) 

    Berikan obat-obatan anti muntah 

(misal: metoclopramide atau 

ondansentron) dan anti ulkus 

gastritis H2 bloker (misal: ranitidin 


atau omeprazole) jika penderita 

muntah (2B) 

    Berikan Cairan hipertonik (mannitol 

20%), bila tampak edema atau 

cedera yang tidak operable pada CT 

Scan. Manitol dapat diberikan 

sebagai bolus 0,5 – 1 g/kg. BB pada 

keadaan tertentu, atau dosis kecil 

berulang, misalnya (4-6) x 100 cc 

manitol 20% dalam 24 jam. 

Penghentian secara gradual. (1B) 

    Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis 

pada pasien dengan resiko tinggi 

kejang dengan dosis 300 mg/hari 

atau 5-10 mg kg BB/hari selama 10 

hari. Bila telah terjadi kejang, PHT 

diberikan sebagai terapi. (1B) 

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

    Tipe perdarahan yang memberikan hasil pasca operasi paling baik di antara tipe 

perdarahan lainnya jika segera dilakukan tindakan evakuasi 

    Memerlukan perawatan pasca operasi untuk pemulihan fungsi neurologis yang 

terganggu, melalui program rehabilitasimedik 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia ad bonam 

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia ad bonam 

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia ad bonam 

Prognosis dipengaruhi: 

- Usia 

- Status Neurologisawal 

- Jarak antara trauma dan tindakan bedah 

- Edema cerebri 

- Kelainan intrakranial lain seperti kontusional, hematom subarachnoid, dan hematom 

epidural 

- Faktorekstrakranial 



 

HEMATOMA INTRASEREBRAL TRAUMATIKA 

ICD-10: S06.3 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Kumpulan darah, dalam parenkim otak. Ini dapat merupakan perdarahan-perdarahan 

kecil yang menyatu, atau cedera pembuluh darah yang cukup besar. 

2. Anamnesis     didapat  riwayat trauma 

    didapat  gangguan neurologis (amnesia, penurunan kesadaran, kejang, dll.) 

    Macam trauma: kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, jatuh dari 

ketinggian dan lain-lain 

3. PemeriksaanFisik Pemeriksaan Fisik Umum 

(pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi) 

    Pemeriksaan fisik pertama kali diutamakan pada evaluasi A (airways), B 

(breathing), dan C (circulation) 

Pemeriksaan kepala 

    Mencari tanda–tanda jejas, patah dasar tengkorak, patah tulang wajah, trauma 

pada mata, auskultasi karotis untuk menentukan adanya bruit  

Pemeriksaan pada leher dan tulang belakang 

    Mencari tanda–tanda cedera pada tulang belakang (terutama cedera servikal) 

dan cedera pada medulla spinalis 

Pemeriksaan lain 

    Cedera lain dicari dengan cermat dari cranial ke kaudal 

    Semua temuan tanda trauma dicatat. Benjolan, luka lecet, luka terbuka, false 

movement, flail chest, dinding abdomen, nyeri tekan dan lain-lain, perdarahan 

yang tampak segera dihentikan 

 

Pemeriksaan Neurologis 

    Tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS) 

    Saraf II-III, lesi saraf VII perifer 

    Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, retinal detachment 

    Motoris&sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah 

    Autonomis 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan imaging sesuai klinis 

5. DiagnosisKerja Hematoma Intraserebral (ICD 10: S06.3) 

6. Diagnosis Banding - Cerebro vascular accident 

- Epileptic fits 

- Keracunan obat 

- Penyakit metabolic 

7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

No Pemeriksaan Rekomendasi GR Ref 

Lab. DL (Darah 

Lengkap), 

Crossmatch 

Lab. DL (Darah Lengkap) dan crossmatch 

direkomendasikan pada pasien dengan ICH 

yang eligible operative untuk kelancaran 

proses operasi.  

1B 

9,10,11

,12,13,

14,15,1

6,17,18 

2 X-Foto Kepala 

F-Foto vertebra kepala direkomendasikan 

bila jejas cukup besar; kemudian mencari 

2A 

     

3,4,19,


garis fraktur, aerokel, darah dalam sinus 

paranasalis, shift glandula pinealis, fragmen 

tulang dan korpus alienum. Tidak untuk 

mencari fraktur basis. Penderita yang 

memerlukan CT-scan kepala tidak perlu 

dibuat X-foto kepala. 

20,21 

X-foto Vertebra 

Servikal 

Menyingkirkan adanya cedera servikal 

1B 

22,23,2

4,25,26 

4 X-foto Thorax 

X-Foto Thorax digunakan untuk mencari 

cedera penyerta 

1C 2,3,4,5 

5 CT Scan Kepala 

CT Scan direkomendasikan pada pasien ICH 

dengan gambaran hiperdens berbentuk 

bulan  sabit  (kresens) . selain itu juga bisa 

disertai dengan gambaran scalp  hematom 

dan fraktur kalvaria di kontralateralnya. 

1B 

2,3,4, 

27,28,2

9,30,31

,32,33 

6 MRI 

MRI lebih sensitif untuk menunjukkan area 

kecil kontusional atau perdarahan kecil, 

cedera aksonal, dan perdarahan kecil ekstra 

aksial. 

2B 

6,8,47,

48,49,5

CT-Scan Whole 

Body 

Whole Body CT (WBCT) digunakan pada kasus 

multitrauma untuk mengurangi waktu 

diagnosis, dapat digunakan pada pasien 

dengan hemodinamik tidak stabil 

2A 51 

 

8. Terapi No Terapi Prosedur  (ICD 9 CM) GR Ref 

Operatif 

Craniotomy + 

Evakuasi ICH 

+ Dekompresi 

(ICD 9: 

01.24), 

osteoplasty 

(ICD 9 : 

02.04) 

Bila didapat : 

- Volume perdarahan pada frontal atau 

temporal > 20ml. 

- Midline shift >5mm 

- Dan atau kompresi pada sisterna 

- Efek massa dengan deteriorasi neurologis 

sesuai dengn lesi 

- Volume perdarahan lebih dari 50ml 

- Hematome Intraserebral di fossa posterior 

dengan efek massa (distorsi, dislokasi, 

obliterasi ventrikel empat, kompresi 

sisterna basal, atau hidrosefalus obstruktif) 

1B 

1,2,28,2

9,30 

2 Operatif Peningkatan Tekanan Intra Kranial 1B 33,34,35


pemasangan 

ICP monitor 

(ICD 9 : 01.1) 

berhubungan dengan meningkatnya  

mortalitas dan perburukan kondisi pasien. 

Indikasi pemasangan ICP monitor pada 

cedera otak yaitu  GCS 3-8 dan CT scan 

abnormal yang menunjukkan suatu efek 

massa seperti hematom dan kontusio. Bila 

didapat  pasien dengan COB (GCS 3-8 

setelah proses resusitasi) dengan CT Scan 

kepala abnormal tidak indikasi untuk 

dilakukan evakuasi hematome 

,36,37,3

8,39 

3 Konservatif 

Penatalaksanaan COS (GCS 9-12) (2B) 

- Dirawat di rumah sakit untuk observasi, 

pemeriksaan neurologis secara periodik. 

- Bila kondisi membaik, pasien dipulangkan 

dan kontrol kembali, bila kondisi 

memburuk dilakukan CT-Scan Scan ulang 

dan penatalaksanaan sesuai protokol 

cedera kepala berat. 

 

Penatalaksanaan COB (GCS <= 8) 

- Pastikan jalan nafas pasien clear, berikan 

oksigenasi 100% dan jangan banyak 

memanipulasi gerakan leher sebelum 

cedera cervical dapat disingkirkan, bila 

perlu intubasi. (1B) 

- Head Up 30o (2B) 

- Berikan cairan secukupnya (normal 

saline) untuk resusitasi korban agar tetap 

normovolemia, atasi hipotensi yang 

terjadi dan berikan transfuse darah jika 

Hb kurang dari 10 gr/dl. (1B) 

- Periksa tanda vital, adanya cedera 

sistemik di bagian anggota tubuh lain, 

GCS dan pemeriksaan batang otak secara 

periodik.  

- Berikan obat-obatan analgetik (misal: 

acetaminophen, ibuprofen untuk nyeri 

1B 

  

5,6,8,40, 

,41,42,4

3,44,45,

46, 52, 

53, 54 


ringan dan sedang) bila didapat  

keluhan nyeri pada penderita (2B) 

- Berikan obat-obatan anti muntah (misal: 

metoclopramide atau ondansentron) dan 

anti ulkus gastritis H2 bloker (misal: 

ranitidin atau omeprazole) jika penderita 

muntah (2B) 

- Berikan Cairan hipertonik (mannitol 20%), 

bila tampak edema atau cedera yang 

tidak operable pada CT Scan. Manitol 

dapat diberikan sebagai bolus 0,5 – 1 

g/kg. BB pada keadaan tertentu, atau 

dosis kecil berulang, misalnya (4-6) x 100 

cc manitol 20% dalam 24 jam. 

Penghentian secara gradual. (1B) 

- Berikan Phenytoin (PHT) profilaksis pada 

pasien dengan resiko tinggi kejang 

dengan dosis 300 mg/hari atau 5-10 mg 

kg BB/hari selama 10 hari. Bila telah 

terjadi kejang, PHT diberikan sebagai 

terapi. (1B) 

Operasi cito pada perkembangan ke arah 

indikasi operasi 

 

9. Edukasi Penjelasan kepada pasien dan keluarganya: 

    Perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi 

    Terapi dan tindakan yang akan diberikan beserta keuntungan dan kerugian 

    Tata cara perawatan dan dokter yang merawat 

    Memerlukanperawatanpascaoperasiuntukpemulihanfungsineurologis yang 

terganggu, melalui program rehabilitasimedik 

10. Prognosis Ad Vitam (Hidup)   : Dubia 

Ad Sanationam (sembuh)  : Dubia 

Ad Fungsionam (fungsi)   : Dubia 

Prognosis dipengaruhi: 

- Usia 

- Status Neurologisawal 

- Jarakantara trauma dantindakanbedah 

- Edema cerebri 


- Kelainan intrakranial lain seperti kontusional, hematom subarachnoid, dan hematom 

epidural 

- Faktorekstrakranial 

 

Diffuse Axonal Injury 

(DAI, ICD 10: S06.2) 

1. Pengertian 

(Definisi) 

Cidera luas pada axon otak dipicu  shearing mechanism yang tampak pada 

pemeriksaan patologis dan CT-Scan kepala sebagai lesi kecil multipel yang terlihat di area 

white matters otak.1,2,3 

2. Anamnesis – Identitas pasien: Nama, Umur, Jenis kelamin, Suku, Agama, Pekerjaan, Alamat  

– Keluhan utama  

– Mekanisma trauma  

– Waktu dan perjalanan trauma  

– Pernah pingsan atau sadar setelah trauma  

– Amnesia retrograde atau antegrade  

– Keluhan : Nyeri kepala seberapa berat, penurunan kesadaran, kejang, vertigo  

– Riwayat mabuk, alkohol, narkotika, pasca operasi kepala  

– Penyakit penyerta : epilepsi, jantung, asma, riwayat operasi kepala, hipertensi dan 

diabetes melitus, serta gangguan faal pembekuan darah 

3. Pemeriksaan Fisik Primary Survey (1,2,3,4,9) 

Pemeriksaan  Evaluasi  Perhatikan, catat, dan 

perbaiki  

A. Airway  Patensi saluran napas ?  

Suara tambahan ?  

Obstruksi ?  

B. Breathing  Apakah oksigenasi  

Efektif…. ?  

Rate dan depth  

Gerakan dada  

Air entry  

Sianosis  

C. Circulation  Apakah perfusi  

Adekuat …..?  

Pulse rate dan volume  

Warna kulit  

Capilarry return  

Perdarahan  

Tekanan darah  

D. Disability  

( status neurologis )  

Apakah ada kecacatan 

neurologis …?  

Tingkat kesadaran- 

menggunakan sistem GCS 

atau AVPU.  

Pupil (besar, bentuk, reflek 

cahaya, bandingkan kanan-

kiri)  

E. Exposure  

(buka seluruh pakaian)  

Cedera organ lain… ?  Jejas, deformitas, dan 

gerakan ekstremitas. Evaluasi 

respon terhadap perintah 

atau rangsang nyeri  

 

Secondary Survey 

Pemeriksaan Status Generalis 

Pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, serta pemeriksaan khusus 

untuk menentukan kelainan patologis, dengan metode:  

– Dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki atau,  

– Per organ B1 – B6 (Breath, Blood, Brain, Bowel, Bladder, Bone)  

 

Pemeriksaan fisik yang berkaitan erat dengan cedera otak yaitu :  


1. Pemeriksaan kepala  

Mencari tanda :  

a. Jejas di kepala meliputi; hematoma sub kutan, sub galeal, luka terbuka, luka 

tembus dan benda asing.  

b. Tanda patah dasar tengkorak, meliputi; ekimosis periorbita (brill hematoma), 

ekimosis post auricular (battle sign), rhinorhoe, dan otorhoe serta perdarahan di 

membrane timpani atau leserasi kanalis auditorius.  

c. Tanda patah tulang wajah meliputi; fraktur maxilla (Lefort), fraktur rima orbita dan 

fraktur mandibula  

d. Tanda trauma pada mata meliputi; perdarahan konjungtiva, perdarahan bilik mata 

depan, kerusakan pupil dan jejas lain di mata.  

e. Auskultasi pada arteri karotis untuk menentukan adanya bruit yang berhubungan 

dengan diseksi karotis  

 

2. Pemeriksaan pada leher dan tulang belakang.  

Mencari tanda adanya cedera pada tulang servikal dan tulang belakang dan cedera pada 

medula spinalis. Pemeriksaan meliputi jejas, deformitas, status motorik, sensorik, dan 

autonomik. 

 

Pemeriksaan Status Neurologis 

Pemeriksaan status neurologis terdiri dari :  

a. Tingkat kesadaran : berdasarkan skala Glasgow Coma Scale (GCS).  

Cedera kepala berdasar GCS, yang dinilai setelah stabilisasi ABC diklasifikasikan: 

GCS 14 – 15 : Cedera otak ringan (COR)  

GCS 9 – 13 : Cedera otak sedang (COS)  

GCS 3 – 8 : Cedera otak berat (COB)  

b. Saraf kranial, terutama:  

Saraf II-III, yaitu pemeriksaan pupil : besar & bentuk, reflek cahaya, reflek 

konsensuil  bandingkan kanan-kiri  

Tanda-tanda lesi saraf VII perifer.  

c. Fundoskopi dicari tanda-tanda edema pupil, perdarahan pre retina, retinal 

detachment.  

d. Motoris & sensoris, bandingkan kanan dan kiri, atas dan bawah mencari tanda 

lateralisasi.  

Autonomis: bulbocavernous reflek, cremaster reflek, spingter reflek, reflek 

tendon, reflek patologis dan tonus spingter ani. 

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis sesuai diatas 

2. Pemeriksaan klinis sesuai diatas 

3. Pemeriksaan imaging  

5. Diagnosis Kerja Diffuse Axonal Injury 

(DAI, ICD 10: S06.2) 

6. Diagnosis Banding     Diffuse vascular injury 

    Hypoxic/ ischaemei damage 

    Brain edema 


7. Pemeriksaan 

Penunjang 

 

 

No Pemeriksaan 

Rekomendasi Grade 

Rekom

endasi 

Ref 

1 CT scan 

Sebagian besar pasien dengan DAI (50-

80%) menunjukkan CT Scan normal 

Mungkin ditemukan bintik perdarahan 

pada gray-white matter junction, corpus 

callosum maupun brainstem 

Untuk diagnostic awal DAI pada pasien post 

trauma episodic awal 

2B 7 

2 MRI 

MRI dilakukan jika pada CT Scan tidak 

tampak gambaran kelainan (CT Scan 

normal) namun berdasarkan gejalan klinis 

pasien menunjukkan gambaran DAI 

Pada Sequence tertentu, misalnya 

gradient-echo sequence, biasanya 

menampakkan efek paramagnetic dari 

ptekie berupa bintik kehitaman. Sequence 

T2-weighted images juga bias terlihat 

gambaran bintik hiperintens. 

Pada MR-DTI, tampak gambaran 

penurunan fractional Anisotropy (FA) 

terutama pada bagian otak yang 

mengalami