Sel punca 2

 
























 INDUKSI IN· VITRO SEL PUNCA MESENKIM DARI TALI PUSAT 

MANUSIA MENJADI SEL PUNCA LIMBAL 

Saat ini berbagai jenis sel punca dewasa sedang dikembangkan untuk 

dimanfaatkan sebagai salah satu sumber alternatif terapi sel, terutama pada 

beberapa penyakit degeneratif. Potensi sel punca mesenkim (SPM) yang bersifat 

multipoten, yaitu dapat berdiferensiasi menjadi beberapa tipe sel, seperti 

osteosit, kondrosit, adiposit, dan dalam beberapa penelitian berbasis 

laboratorium (in vitro maupun in vivo), SPM dapat berdiferensiasi menjadi sel 

syaraf, kardiomiosit, hepatosit, dan sel islet pankreas. Sel punca mesenkim dapat 

diisolasi dari berbagai jaringan dewasa, seperti sumsum tulang, darah tepi, darah 

dan jel Wharton tali pusat serta membran dan cairan amnion, meskipun dalam 

jumlah sel yang terbatas. 

Kegiatan diawali dengan melakukan isolasi SPM dari jel Wharton tali pusat 

manusia dengan metode eksplantasi cacahan dan teknik enzimatik terhadap jel 

Wharton. Sel yang sudah diisolasi selanjutnya dikultur memakai  medium 

SPM dan dikarakterisasi dengan pemeriksaan beberapa marker positif CD90, 

CD105, CD166 dan marker negatif terhadap CD34, CD45 memakai  Faes 

Calibur flowcytometry. Pengamatan viabilitas SPM dilakukan berdasarkan 

pewarnaan trypan blue sebelum dan sesudah kultur. Hasil kultur SPM 

selanjutnya diinduksi kearah sel punca limbal (SPL) dengan menambahkan 

conditioned medium pada medium kultur epitel. 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isolasi SPM dapat dilakukan 

dengan teknik eksplantasi maupun enzimatik dari jel Wharton tali pusat. lnduksi 

SPM kearah SPL dapat diaku!<an dengan modifikasi medium kultur dan � 

penambahan conditioned medium. Hasil induksi dapat diamati secara 

imunohistologi dan imunositologi sedikitnya sesudah  4 minggu, dan diharapkan 

akan terbukti memiliki  karakteristik yang serupa dengan hasil kultivasi SPL 

yang original. 


Tujuan: Kerusakan kornea akibat defisiensi sel punca limbal (SPL) dapat 

direhabilitasi dengan memakai  allograft SPL. Penelitian ini mencoba untuk 

menginduksi SPL in-vitro dengan menginduksi sel punca mesenkim (SPM), yang 

diisolasi dari jel Wharton dari tali pusat manusia. 

Metode: Sel punca mesenkim dapat diisolasi dari jel Wharton, dengan metode 

eksplan atau enzimatik. Karakterisasi SPM dan SPL memakai  flowcytomeffY 

Faes Calibur dan imunohistokimia. Mikroskop memvisualisasikan beberapa 

morfologi sel. Viabilitas sel dideteksi dengan pewamaan trypan blue. 

Hasil: MSC dapat diisolasi dari Wharton jelly dari tali pusar manusia oleh 

explantation dan metode enzimatik. Kedua metode menghasilkan populasi sel 

dengan morfologi yang heterogen. Hasil kultur fibroblas limbal menunjukkan 

populasi sel homogen yang berbentuk spindle dan menjadi konfluens dalam 

waktu 13-16 hari. Conditioned medium fibroblas limbal merupakan niche yang 

tepat untuk menginduksi SPM menjadi SPL. 

Kesimpulan: Sel punca mesenkim yang berasal dari Wharton jelly diperkirakan 

dapat diinduksi secara in vitro, mengarah pada SPL. Percobaan lebih lanjut untuk 

mengembangkan metode kultur ekspansl sel dan uji pra-klinis (percobaan hewan 

xenotransp/antation model) diperlukan. 


pemicu  kerusakan kornea bermacam-macam, antara lain defisiensi sel punca limbal 

(DSPL), infeksi dan inflamasi, terrnasuk trakoma dan ulkus kornea; xeroftalmia, kelainan 

genetik, trauma mekanis, termal, atau kimiawi; · atau reaksi alergi berat, misalnya 

sindrom Stevens Johnson (SSJ). Pada SSJ yang berat dapat terjadi kerusakan total 

bagian permukaan mata, termasuk kerusakan epitel komea yang berat, DSPL parsial 

atau total, dan terbentuknya parut kornea. Selain disebabkan oleh SSJ, DSPL dapat 

terjadi karena trauma termal atau kimiawi, radiasi pengion dan ultraviolet (UV). krioterapi 

atau operasi berulang, pemakaian lensa kontak, infeksi mikroba yang luas, pemfigoid 

sikatrik, dan aniridia, tetapi kadang-kadang idiopatik. lnsiden DSPL sampai saat ini tidak 

diketahui secara pasti 

Pada keadaan DSPL, epitel konjungtiva bermigrasi ke komea, atau dikenal dengan 

proses konjungtivalisasi. Konjungtivalisasi mengakibatkan permukaan komea menebal, 

iregular, dan tidak stabil, sehingga mudah terjadi kerusakan, ulserasi, parut komea, 

vaskularisasi, dan kekeruhan komea, bahkan gangguan penglihatan dan kebutaan. 

Penderita umumnya menunjukkan gejala peradangan berat dan kronis, mata terasa 

tidak nyaman, fotofobia, mata berair, blefarospasme, serta penurunan visus. 

Pada DSPL totalldifus, konjungtivalisasi dapat menghalangi axis visual, bahkan sampai 

menutupi semua bagian komea, sedangkan DSPL parsial/lokal umumnya masih disertai 

bagian komea yang normal karena sebagian daerah limbus masih sehat dan sel punca 

limbal (SPL) masih dapat menunjang proses regenerasi epitel komea. Terapi kasus 

DSPL total akan berhasil jika populasi SPL diperbarui dengan melakukan empat tahap 

prosedur, yaitu transplantasi otologus konjungtiva-limbal; transplantasi allogenik 

konjungtiva-limbal, transplantasi allogenik kerato-limbal; dan transplantasi SPL yang 

sudah diekspansi secara ex-vivo 

Transplantasi komea allograft seringkali mengalami kegagalan karena reaksi penolakan 

imunologis. Transplantasi komea reiatif jarang dilakukan di Indonesia karena sangat 

terbatasnya jumlah donor komea yang tersedia tiap tahunnya, sedangkan jumlah calon 

penerima donor cenderung bertambah. Transplantasi SPL autograft sering dilakukan 

terutama pada kasus avulsi pterygium dengan sebagian besar daerah limbus masih 

nonnal. Pada kasus DSPL total bilateral per!u donor SPL dari individu yang masih ada 

kekerabatan sedarah untuk mengurangi kemungkinan imunorejeksi. Keterbatasan 

sumber donor SPL sedarah menjadi salah satu alasan penelitian ini dilakukan, sehingga 

diharapkan dari penelitian ini akan didapatkan alternatif sumber donor SPL dari cell-line 

non limbal, khususnya set punca mesenkim (SPM) yang diisolasi dari tali pusat, 

pengambilan spesimen tidak invasif, meskipun altematif ini masih merupakan sumber 

donor allogenik. Troyer dan Weiss menyimpulkan. bahwa tidak dapat dibuktikan adanya 

imunorejeksi pada penggunaan SPM dari jet Wharton secara in-vivo dan dapat 

ditoleransi dengan baik pada transplantasi aflogenik (Troyer dan Weiss, 2008). 

Pemilihan tali pusat sebagai sumber SPM berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu 

bahwa SPM fetal tidak memicu konflik terkait masalah etika; memiliki kapasitas ekspansi 

in-vitro lebih besar dalam waktu lebih singkat yang mungkin berhubungan dengan 

telomer yang lebih panjang; tampaknya kurang memiliki sifat imunosupresi; kurang 

memiliki  class II human leukocyte antigens (HLA), tetapi memiliki HLA-G; 

mengekspresi sitokin yang sedikit berbeda; dibandingkan dengan SPM dewasa 

Publikasi nasional dan internasional tentang induksi SPM kearah SPL masih sulit 

ditemukan secara on-line. Meskipun demikian plastisitas SPM yang luas memungkinkan 

penelitian ini dilaksanakan  dan selanjutnya dapat 

dikembangkan sampai batas yang belum diketahui dengan melakukan modifikasi pada 

komposisi medium kultur, variasi suhu, jenis matriks (sebagai scaffold), maupun variasi 

lamanya pengamatan  Sepanjang pengetahuan 

peneliti, studi ini merupakan studi pertama yang bermaksud menginduksi SPM dari tali 

pusat yang bersifat multipoten menjadi SPL yang bersifat oligopoten, sehingga banyak 

hat yang perlu dieksplorasi untuk m�ndapatkan pemahaman lebih baik tentang induksi 

SPL dan untuk mengembangkan teknik serta metode eksperimen in-vitro terkait, 

sebelum diaplikasikan pada manusia. Ahmad dkk berhasil menginduksi set punca 

embrionik manusia (SPE) komersial, menjadi epitel kornea dengan membuat tiruan 

niche SPL pada kultur in-vitro dan menambahkan komponen matriks ekstraselular untuk 

coating, yaitu kolagen-IV, atau laminin, atau fibronektin, pada wadah kultur jaringan 

tempat menumbuhkan SPE yang akan diinduksi 

Penelitian eksperimental in vitro ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah prosedur 

teknik induksi SPM yang diisolasi dari jel Wharton 

tali pusat manusia, menjadi SPL. Selain spesimen jet Wharton, akan diambil juga 

membran amnion dari plasenta bayi (responden) untuk dipersiapkan sebagai matriks 

saat dilakukan ekspansi epitel limbal pada penelitian selanjutnya. Dipilih spesimen 

bersumber tali pusat sebagai sumber SPM karena meskipun relatif lebih rendah 

keberhasilan isolasi SPM-nya jika dibandingkan isolasi SPM dari sum-sum tulang dan 

jaringan adiposit, tetapi prosedur pengambilan spesimen dari tali pusat relatif tidak 

invasif dan hanya memanfaatkan spesimen tali pusat yang umumnya akan dibuang 

sesudah  plasenta lahir pada proses persalinan. 


Permukaan mata ditutupi oleh dua lapisan sel yang berbeda, yaitu lapisan epi1el komea 

dan lapisan epitel konjungtiva yang menutupi permukaan sklera. Kedua lapisan epitel ini 

dipisahkan oleh zona transisional yang disebut daerah limbus, yang berbentuk sirkular 

sesuai lingkaran luar komea. Epitel komea diperbarui setiap 3-10 hari oleh kumpulan 

SPL . Jika terjadi kerusakan 

SPL total, maka epitel limbal tidak terbentuk dan epitel komea juga tidak terbarui dengan 

optimal, sehingga fungsi epitel komea lambat laun akan terganggu. Kerusakan SPL 

akan memicu epitel konjungtiva tumbuh kearah komea (konjungtivalisasi). 

Konjungtiva merupakan membran mukoid yang melapisi seluruh permukaan dan bagian 

dalam palpebra superior dan inferior mata, kecuali daerah komea. Konjungtiva dilapisi 

epitel skuamosa non keratinisasi, namun pertumbuhan epitelnya tidak bergantung pada 

ada tidaknya SPL. Epitel konjungtiva bagian apikal memiliki  banyak vesikel dalam 

sitoplasmanya. Vesikel ini mungkin terbentuk karena proses fagositosis atau eksositosis 

. •  Fungsi utama konjungtiva yaitu  sebagai penyedia 

tear film dan dilengkapi dengan zat bakterisida dan virusida untuk melindungi 

pennukaan mata terhadap infeksi 

Umbus dihuni oleh satu lapis sel basal limbal yang bergelombang, 7-10 lapis sel 

skuamosa bertingkat non-keratinisasi yang membentuk epitel limbal, melanosit dan sel 

Langerhans yang sering tampak diantara sel epitel, serta jaringan penunjang longgar 

dengan jaringan vaskular sebagai sumber nutrien bagi semua sel diatasnya. Sel apikal 

epitel limbal memiliki  mikroplika/mikrovilli pada membran apikal. Bagian basal sel 

basal limbal sebagian tertutup hemidesmosom. Set basal berbentuk kolumnar yang 

berukuran sedikit lebih kecil dibandingkan sel basal komea. Sekitar 5-15% sel basal 

limbal yaitu  SPL, yang berada ter1indung dalam kripti pada Palisade Vogt 

Thoft dkk (1 983) mengajukan hipotesis 'The X, Y, Z of corneal epithelial maintenance' 

yang menyatakan bahwa penjumlahan proliferasi sel basal (X) dan sel yang bermigrasi 

sentripetal (Y) yaitu  sama dengan sel epitel permukaan kornea yang hilang, tetapi 

Theft dkk tidak dapat menjelaskan bagaimana ketertibatan sel konjungtiva bulbar. 

Tahun 1989, Sharma dan Coles melaporkan bahwa analisis matematis menunjukkan 

massa sel epitel komea semata-mata diperbarui oleh SPL. 

Seperti sel punca lainnya, SPL juga memiliki  karakteristik antara lain: menjadi 

prekursor yang dapat membentuk sel lain; pembelahan asimetri (satu sel anak transient 

amplifying cellslf AC yang akhimya berdiferensiasi dan satu sel anak yang tetap menjadi 

sel punca) untuk self-maintaining populasi SPL (Gambar 2); merupakan bagian kecil dari 

seluruh populasi sel di daerah limbus; tidak atau lebih lambat berdiferensiasi dibanding 

sel lain di jaringan yang sama; slow-cycling in-vivo, tetapi mudah dikloning pada kultur 

sel 

Gambar 2. llustrasi pembelahan aslmetris sel punca yang dikontrol niche17 


Eksperimen pertama tentang indikasi adanya sel punca komea di limbus dilakukan oleh 

Mann (1944) yang mengobservasi pergerakan pigmen (melanin) dari limbus menuju 

defek pada epitel komea kelinci. Dav.anger dan Evenson (1971) juga mencatat migrasi 

sentripetal pigmen dari limbus menuju komea sentral manusia dan menduga bahwa 

Palisade Vogt (PV) yaitu  sumber SPL. Huang and Tseng (1991) melaporkan bahwa 

pengangkatan total limbus menyebabkan fungsi kornea terganggu, neovaskularisasi, 

dan konjungtivalisasi.17 

Sel punca mungkin dapat dikenali dengan labelisasi DNA karena slow cycling dan hanya 

membelah sesekali (Bickenbach, 1981). Dengan asumsi pelabelan dilakukan saat terjadi 

pembelahan dengan label prekursor DNA seperti tritiated thymidine atau 

bromodeoxyuridine (BrdU) yang diikuti chase period 8 minggu, maka sel punca akan 

ditemukan dalam keadaan terlabel. Cotsarelis et al (1989) menemukan sel dengan 

retensi label seperti itu pada 10% sel basal limbal. Populasi sel terse but tampaknya lebih 

primitif karena bentuknya tetap kecil dan bulat 

Gambar 3. Skema arah pergerakan dan perubahan sel punca limbal menuju komea 11 

Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar keclalam, yaitu epitel yang terdiri dari 3 jenis sel; 

membran Bowman, stroma, membran Descemet, dan endotel. Epitel komea terdiri dari 

3-4 lapis sel skuamosa datar non-keratinisasi, 1-3 lapisan sel suprabasaVwing, dan satu 

lapis sel basal berbentuk kolumnar dan mengalami mitosis (Smolin dan Thoft, 2004). 

Secara embriologis, epitel komea terbentuk dari permukaan lapisan e'ktoderma, 

, sedangkan stroma komea dan endotel berasal dari mesenkim (

Kornea memiliki  4 fungsi utama, yaitu melindungi hilangnya cairan dari dalam bola 

mata; sebagai sawar terhadap patogen; menahan tekanan yang dapat menimbulkan 

abrasi; dan mencegah kontak bagian intraokular dengan udara luar. Jika terjadi Iuka 

pada komea, sel epitel komea akan berusaha menutup per1ukaan sesegera mungkin. 


Gambar 4. Potongan lintang komea manusia 17 

Epitel komea mengekspresi berbagai macam sitokeratin/keratin yang diberi simbol K.  

Semua sel komea mengekspresikan K3 dan K12, sedangkan sel basal komea 

mengekspresi KS dan K14. Ekspresi K12, 64kD yaitu  protein spesifik komea. Semua 

sitokeratin ini  tidak ditemukan di SPL, begitu pula koneksin (Cx43) yang hanya 

ditemukan di kornea dan konjungtiva. Stroma komea mengandung banyak protein, yang 

dikelompokkan dalam 3 kelompok besar, yaitu kolagen, proteoglikan, dan glikoprotein. 

Proteoglikan spesifik untuk komea yaitu  keratokan {Smolin dan Thoft, 2004) dan tidak 

ditemukan pada SPL. Gen PAX6, AC133, K12, dan OCT4 didapatkan pada jaringan 

konjungtiva, komea, maupun limbal. 

Komponen membran basal komea berbeda dengan limbal. Daerah limbal mengandung 

laminin-1,5 dan rantai a2J32, kolagen tipe IV, rantai a1, a2 dan a5, sedangkan di komea 

ditemukan rantai a3 dan a5  menemukan bahwa immunolokalisasi laminin rantai y3 yang 

konstan, BM40/SPARC dan tenancin C, yang juga ditemukan co-localise dengan klaster 

sel ABCG2/p63/K19-positive. Faktor-faktor ini  mungkin ter1ibat dalam memelihara 

potensi cell sternness (Schlotzer-Schrehardt dkk, 2007). 

Niche limbal bersif at vascular dengan inervasi yang ban yak (Lawrenson and 

Ruskell, 1991), sehingga merupakan sumber nutrien dan growth factors untuk SPL, tidak 

seperti .kornea yang avaskular. Fibroblas pada stroma limbal heterogen dand 

mengekspresi secreted protein acidic and rich of cysteine (SPARC) yang mungkin 

berperan untuk adhesi SPL  Nakamura dkk mengidentifikasi 

populasi sel-sel turunan sumsum tulang yang ber1okasi pada stroma limbal sesudah  

dilakukannya transplantasi GFP labelled bone marrow cells pada nude mice (Nakamura 

dkk, 2005). Sel-sel ini  mungkin saja bermigrasi ke stroma limbal, meskipun fungsi 

migrasinya masih belum diketahui. 

 

Sel punca yaitu  sel khusus yang memiliki  potensi membelah diri dalam waktu yang 

tidak terbatas dan dapat menghasilkan berbagai jenis sel spesifik. Kemampuan ini  

dikenal sebagai daya plastisitas, seperti halnya set embrionik fase awal (blastomer). 

Secara garis besar sel punca dapat berasal dari embrio atau disebut SPE atau dari 

fetus, jaringan/organ dewasa dan disebut sel punca dewasa (SPD) . Sel punca embrionik 

merupakan sel pluripoten (mampu berdiferensiasi menjadi berbagai tipe sel) yang 

sangat prospektif untuk terapi berbasis set dimasa mendatang. Namun demikian 

pemanfaatan SPE manusia masih ter'kendala berbagai masalah terkait isu etika karena 

berasal dari embrio yang merupakan hasil fertilisasi sel telur oleh spermatozoa. Sel 

punca dewasa yang umum digunakan secara klinis yaitu  sel punca hematopoietik 

{SPH) dan SPM yang dapat diisolasi dari berbagai jaringan dewasa 

Sel punca mesenkim yaitu  sel somatik yang dapat diisolasi dari berbagai jaringan 

dewasa, memiliki  kemampuan memperbarui diri sampai jumlah yang cukup untuk 

penyembuhan Iuka atau mengganti�an jaringan yang sakit. Karakteristik in vftro SPM 

yang terpenting yaitu  kemampuan proliferasi, berkembang dan membelah diri 

dalam waktu yang tak terbatas dengan fenotipe embrionik (belum berdiferensiasi). 

Yang dimaksud fenotipe embrionik meliputi ukuran atau morfotogi yang sederhana; 

perilakunya dalam berinteraksi dan metode melakukan komunikasi dengan set-sel lain; 

serta komposisi glycoca/yx yang menutupi permukaan semua sel dan bervariasi sesuai 

dengan tahap perkembangan sel punca. The Mesenchymal and Tissue Stem Cell 

Committee of The lntemational Society for Cellular Therapy menetapkan konsensus 

tentang kriteria SPM, yaitu setidaknya melekat pada permukaan plastik biakan pada 

keadaan kultur standar; mengekspresi marker CD105, CD73, dan CD90, tidak 

mengekspresi CD45, CD34, CD14 atau CD11b, CD79a atau CD19 dan molekul 

permukaan HLA-DR; dapat berdiferensiasi menjadi osteoblas, kondroblas, dan adiposis 

pada eksperimen in v itro. 


Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa SPM memiliki  potensi 

transdiferensiasi karena dapat diinduksi terarah menjadi derivat endodenna (endotel 

vaskular), mesodenna (osteoblas, kondroblas, kardiomiosit (Ginard & Ferrer, 2006), set 

islet pankreas , serta ektodenna 

(mikroglia, sel mirip neuron, dan epitel komea). Penelitian oleh Gu dkk merupakan 

penelitian dengan memakai  hewan coba k.elinci yang melaporkan bahwa SPM yang 

diisolasi dari sumsum tulang dapat diarahkan menjadi epitel komea dengan bukti 

ditemukannya CK3 pada set epitel komea hasil induksi yang dilakukan ko-kultur dengan 

SPL, yang diperiksa pada hari pertama sampai ketiga. Ahmad dkk juga telah berhasil 

membuat replika niche SPL untuk menginduksi SPE menjadi epitel komea. Telah 

diketahui bahwa niche berperan sangat penting dalam upaya memelihara set punca, dan 

hal ini juga berlaku bagi SPL. Komponen matriks ekstraselular kolagen tipe IV sebagai 

unsur penting dalam niche SPL telah terbukti dapat mengarahkan SPE menjadi epitel 

kornea, seperti laporan penelitian Ahmad dkk, 2007. Pada penelitian ini metode kultur 

untuk mendapatkan SPL akan memakai  metode Ahmad dkk, dengan mengganti 

SPE dengan SPM yang diisolasi dari tali pusat. lnduksi akan dihentikan jika telah 

didapatkan marker p63+/K12"/ABCG2+ dengan observasi minimal selama 3 minggu dan 

SPL yang dihasilkan akan dipertahankan agar tidak berdiferensiasi menjadi epitel 

komea. 

Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa SPM turunan sumsum tulang 

dapat diinduksi terarah menjadi derivat ketiga lapisan germinal atau transdiferensiasi 

(Lee, 2004; Liu, 2007). Derivat endoderma yang dapat dihasilkan dari indulksi SPM 

yaitu  endotel vaskular; derivat mesoderma meliputi osteosit, kondrosit, adiposit, 

kardiomiosit. sel islet pankreas, hepatosit, dan hematosit; sedangkan derivat ektoderma 

yang telah dilaporkan antara lain sel mirip neuron dan epitet kornea pada kelinci. Gu dkk 

melaporkan bahwa SPM dari sumsum tulang kelinci terbukti berdiferensiasi menuju sel 

komea secara in-vivo, tetapi secara in-vitro baru diketahui bahwa marker CK3 yang 

spesifik untuk kornea dapat diisolasi dari kultur SPM turunan sumsum tulang ini  


TUJUAN UMUM 

Menghasilkan SPL secara in-vitro dari induksi SPM yang diisolasi dari jel Wharton 

tali pusat manusia. 


1. Membuat preparasi spesimen dari tali pusat, khususnya dari jel Wharton. 

2. Mampu melakukan isolasi dan kultur SPM dari spesimen jel Wharton tali pusat. 

3. Memperoleh karakteristik SPM dan dapat mengidentifikasi antigen permukaan 

khas SPM pada hasil isolasi yang berupa adherent fibroblastic../ike cells secara 

mikroskopis, SH3(+}/petanda integrin, CD90(+)/,CD1 05(+)/molekul adesi, CD34(-) 

/petanda antigen hematopoeitik). 

4. Mengembangkan prosedur kultur spesifik untuk diferensiasi SPM menjadi SPL 

secara in-vitro sesuai prosedur Ahmad dkk (2007) dengan membuat tiruan niche 

SPL memakai  SPL kadaver. 

5. Mengidentifikasi petanda/marker SPL, yaitu p63(+), K12 64kD (-),Nodal (-), dan 

ABCG2+ dari hasil induksi SPM tali pusat. 

MANFAAT 

1 .  Mendapatkan metode baru kuttur spesifik untuk diferensiasi SPM menjadi SPL 

secara in-vitro. 

2. Menyumbangkan informasi terbaru bagi perkembangan ilmu pengetahuan. 

3. Memberikan altematif sumber donor SPL untuk kasus DSPL dengan 

konjungtivalisasi luas, yang dikembangkan dari SPM agar dapat dilakukan 

restorasi dan rehabilitasi visus 

·

pasca transplantasi SPL. 

JV. HIPOTESIS 

SPL yang dikembangkan dari SPM tali pusat manusia memiliki  karakteristik 

serupa dengan SPL original yang diisolasi dart daerah limbus. 

V. METODA PENELITIAN 

V.1. ALUR PENELITIAN 

Spesimen dari jel 

Wharton tali pusat 

manusia 

Mononuclear cells SPM rnanusia (milcroskopis & flow-cytometri) 

Spontan 

Multiple lineage lnduksl In vitro 


Sel punca llmbal (SPL)�mikroskopis & 

imunohlstokimia 

V .2. Tempat Penelitian 

• lsolasi, pasase, karakterisasi, dan identifikasi SPM manusia dilakukan di 

laboratorium sel punca, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan 

(memakai  SOP BSL2+). 

• Pengembangan dan optimasi kultur spesifik untuk induksi diferensiasi SPM menjadi 

SPL secara in-vitro dilakukan di laboratorium sel punca, Pusat Biomedis dan 

Teknologi Dasar Kesehatan serta di FKH-IPB (memakai  SOP BSL2+). 

V.3. Waktu Pelaksanaan: Tahap I Maret 2012 - Desember 2012 (10 bulan). 

V .4. Desain Penelitian 

Penelitian merupakan penelitian eksperimental berbasis laboratorium. 

V.5. Sampel 

Sel punca mesenkim manusia yang diisolasi dari jel Wharton tali pusat bayi baru lahir di 

RSCM sesuai kebutuhan eksperimen, sampai berhasil didapatkan SPL secara in vitro. 

Spesimen daerah limbus dan kornea (<24 jam pos-mortem) yang tampak normal secara 

makroskopik. 

V.6. Variabel 

Vanabel independen: komposisi medium, modifikasi matriks, temperatur, dan lama 

pengamatan. 

Variabel dependen: SPL in vitro (marker p63+/ K12-1Nodar/ABCG2•). 

10 

V.7. Cara Pengumpulan Data 

Data pengamatan hasil intervensi/eksperimen dan setiap langkah eksperimen dicatat 

dan dilampirkan dalam log book. 

V .8. Prosedur kerja 

1 .  Persiapan dan pengambilan bahan/spesimen dari pasien/responden: 

• Jel Wharton tali pusat diambil dari tali pusat bayi yang ditolong persalinannya di 

RSCM dengan izin orang tua/wali responden sesudah  menandatangani informed 

consent, termasuk membran amnion plasenta secukupnya. 

• lrisan daerah limbus dan kornea kadaver di kamar mayat RSCM ( <24 jam pos­

mortem) dengan izin keluarga/wali responden sesudah  menandatangani informed 

consent. 

2. Langkah Kerja di Ruang Bersalln RSCM 

I. Wali bayi yang baru lahir diminta kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian 

yang dilakukan, dengan cara bersedia memberikan izin untuk pengambilan tali pusat 

yang umumnya dibuang bersama plasenta dari bayi dibawah perwaliannya. 

2. Wali diminta mengisi dan menandatangani informed concent sesudah  isi naskah 

penjelasan dibacakan oleh dokter yang akan menolong persalinan dan dimengerti 

oleh orang tualwali subjek . 

. Cara pengambilan spesimen tali pusat: 

1. Tali pusat (TP) bagian distal dipotong (10-15 cm) dan dicuci dengan NaCl 0,9% steril 

sampai darah yang tersisa dalam arteri dan vena umbilikal seminimal mungkin. 

2. Tali pusat direndam dalam larutan povidon iodine 0,5% selama 5-10 menit, lalu bilas 

kembali dengan NaCl 0,9% sampai bersih. 

3. Tali pusat yang sudah dibilas dipotong memanjang dengan gunting steril, sehingga 

bagian dalam tali pusat terekspos PBS dan dimasukkan dalam tabung/botol steril 

berisi larutan PBS+penstrep 1% (yang sudah dipersiapkan sebelumnya), hingga 

semua baglan TP terendam. 

4. Disimpan dalam freezer 4°C sampai dikirim ke laboratorium Balitbangkes (dalam 24 

jam postpartum) pada hari dan jam kerja (08.00-16.00 wib). 

11 

3. Langkah Kerja di Kamar Operasi RSCM 

I. Subjek yang akan diminta persetujuan tindakan, diberikan penjelasan terkait 

rencana pengambilan sebagian jaringan limbusnya saat operasi avulsi pterygium 

dengan transplantasi limbus autograf. 

2. Subjek dipersilakan menandatangani informed consent. 

Cara pengambilan spesimen limbus: 

1. Pada prosedur operasi avulsi pterygium yang disertai transplantasi limbus autograf, 

saat persiapan autograf diperhitungkan tambahan panjangnya graft limbus sekitar 1-

2mm untuk keperluan penelitian ini. 

2. Limbus sepanjang 1-2mm ini  segera dimasukkan dalam tabung cryovial steril 

berisi PBS + penstrep 1 % yang telah disediakan. 

3. Disimpan dalam freezer 4°C sampai dikirim ke laboratorium Balitbangkes (dalam 24 

jam pasca operasi) pada hari dan jam kerja (08.00-16.00 wib). 

Persiapan Bahan di Laboratorium 

Semua bahan yang akan digunakan disiapkan, preparasi medium standar, berbagai 

senyawa kimia disiapkan di SSC kelas II dalam keadaan steril dengan memperhatikan 

kaidah Good Laboratory Practice (GLP). 

4. Urutan Pemeriksaan Laboratorium 

Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksperimental multiyears 

berbasis laboratorium dengan tahapan sebagai berikut: 

a. Preparasi dan isolasi SPM dari jel Wharton tali pusat yang telah diuraikan 

penelitian sebelumnya. 

b. Kultur SPM dari tali pusat dengan medium standar, complete culture medium 

(CCM). 

c. Modifikasi prosedur isolasi SPM yang telah diuraikan penelitian sebelumnya. 

d. Karakterisasi dan identifikasi SPM manusia dengan flow cytometry memakai  

petanda CD90, CD105, CD166, CD34 dan CD45. 

e. Membuat prosedur kultur eksperimental untuk induksi diferensiasi SPM menjadi 

SPL secara in-vitro yang merupakan modifikasi antara metode Gu dkk {2009) 

dan Ahmad dkk (2007). 

12 

f. ldentifikasi petanda SPL (p63+/K12"/Nodar/ABCG2+) hasil induksi SPM manusia. 

V.9. Protokol Pemeriksaan Laboratorium 

Prosedur isolasi mononuclear cells dari jel Wharton tali pusat (Wang dkk, 2004) 

1. Tali pusat segar direndam dalam HBSS selama 1-24 jam sebelum jet Wharton 

diproses. Dilakukan pemisahan sel mesenkim jet Wharton yang meliputi jaringan 

penunjang: subamnion, perivaskular, dan intervaskular dari vaskular tali pusat, 

dilakukan pengerokan jaringan mesenkim dengan skalpel dan ditempatkan pada 

tabung Falcon, disentrifugasi 250g selama 5 menit pada suhu ruang. Pellet dicuci 

dengan serum-free Dulbecco's modified Eagle's medium (DMEM). 

UmbilicaJ Cord Compartments Contaimng MSCs 

Gambar 5. Penampang lintang tali pusat dan bagiannya (Troyer dan Weiss, 2008) 

2. Sel disentrifugasi kembali 250g selama 5 menit pada suhu ruang, lalu ditambahkan 

kolagenase (2mg/ml) selama 16 jam pada 37°C, dicuci dan diberi tripsin 2,5% 

selama 30 menit pada suhu 37°C dengan agitasi. Selanjutnya sel dicuci dan dikultur 

dengan DMEM dan ditambahkan 10% fetal bovine serum (FBS) serta glukosa (4.5 

g/I) dan disimpan dalam inkubator 37°C pada C02 5%. 

3. Sel diinapkan semalam agar menempel pada alas botol kultur dan sel yang tidak 

menempel dibilas dengan PBS, bersamaan dengan penggantian medium keesokan 

harinya. 

4. Penggantian medium selanjutnya dilakukan dua kali seminggu. 

5. Ekspansi medium memakai  lscove modified Dulbecco medium (/MOM; Gibco, 

Grand Island, NY) dan 20% fetal bovine serum (FBS; Hyclone, Logan, UT) dengan 

supplemen 10 ng/ml bFGF, 100 U penicillin, 1000 U streptomycin, dan 2 mM L­

glutamine (Gibco ). 

13 

6. Derivat single cell SPM didapatkan dari set yang menempel pada pasase kedua 

dengan cara dilusi serial, hingga densitas set mencapai 30 sel/96-we// plate dalam 

medium ekspansi. 

7. Koloni yang tumbuh selanjutnya dikuftur lebih lanjut dan diidentifikasi SPMnya. 

8. Jika sel aderen sudah mencapai konfluensi 50%-60% dilakukan tripsinasi dan dibifas 

dua kali dengan phosphate-buffered saline (PBS; Gibco) dan disentrifugasi 1000rpm 

selama 5 menit dan ditanam kembali 1 :3 dengan kondisi kultur yang sama. 

Penghitungan sel dengan Hemacytometer dan Penilalan Viabilitas dengan Trypan 

Blue (Bongso dkk, 2004) 

1 .  Campur 10 µI suspensi sel dengan 10 µI trypan blue 0.4%. Biarkan larutan selama 3-

5 menit, suhu kamar. 

2. Suntikkan 1 O µI trypan bfuelcampuran sel di bawah penutup hemacytometer. Volume 

ini untuk menjamin hemacytometer tidak terisi lebih. Letakkan hemacytometer 

dibawah mikroskop binocular dan atur fokusnya. 

3. Hitung set yang tidak berwama (viable) dan yang berwama biru (non-v iable) pada 

bujur sangkar lebar di tengah hemacytometer dengan perbesaran lensa 1 OX. Jika sel 

total <50, hitung bujur sangkar tambahan sampai jumlah set 50-100. 

4. Hitung jumlah total set yang viable dengan rumus berikut: 

Total sel hidup = sel hidup/jumlah kotak x 2 x 1 0000 x volume total (dalam ml) 

5. Hitung persentase sel hidup dengan rumus berikut: 

Jumlah sel hidup 

o/o sel hidup = -----·--··········-····-··-·· x 100% 

Jumlah sel total 

6. Silas hemacytometer Neubauer dan tutup slide dengan alkohol 70%, lalu keringkan. 

Kriopreservasi Mononucleated cells (Bongso dkk, 2004) 

Konsentrasi final dimethylsulfoxide (DMSO) 5% dan 1 1 .25% protein (albumin serum 

human) dalam cRPMI. 

1 . Larutkan kembali MC (dari isolation Fresh MC) pada 1 x 107 limfosit hidup/ml, 12.5% 

HSA dalam medium RPMI 4°C, di dalam tabung falcon 50 ml. 

2. Tambahkan 2X medium pembeku 4°C secukupnya untuk melipatgandakan volume 

suspensi sel. 

3. Tabung segera diletakkan di atas es.Hindari mencampur atau mengagitasi sel. 

Perlahan ambit suspensi set dengan pipet dan bagikan 1 ml per cryovial di atas es. 

4. Tempatkan cryovial dalam pre-cooled Mr. Frosty-style freezing container yang sudah 

diisi isopropanol 70% sesuai instruksi pabrik. Simpan datam freezing container pada 

-80°C. 

Thawing Mononuclear cells (Bongso dkk, 2004) 

Bila mononucleated cells tidak di-thaw dengan benar, maka viabilitas dan pemulihan sel 

dapat terganggu. Sel mungkin tidak menunjukkan hasil yang baik pada assay fungsional. 

Secara umum, sel dapat cepat di-thaw, tetapi didilusi pertahan untuk membersihkan 

DMSO. Set dengan interkalasi DMSO pada membrannya sangat rapuh dan harus 

ditangani secara hati-hati. 

1 .  Hangatkan cRPMt sampai 22°-37°C pada water bath 37°C sebelum mulai prosedur 

thawing. 

2. Pindahkan cryovial dari nitrogen cair ke water bath 37°C. Jika nitrogen cair 

merember ke dalam cryovial, longgark.an penutupnya, sehingga nitrogen akan keluar 

pada saat thawing. 

3. Pegang cryoviel di permukaan water bath sambil menyentil ringan saat thawing 

dalam pengawasan penuh. Thawing (1-2 menit) dan proses yang cepat perfu untuk 

mempertahankan viabilitas set. Ketika es pada cryovial hampir habis, segera 

pindahkan cryovial ke SSC, keringkan dan usap dengan disinfektan sebelum dibuka 

penutupnya, untuk mencegah kontaminasi. 

4. Tambahkan cRPMI hangat padasuspensi sel datam cryovial per1ahan selama 30 

detik. Volume akhir 2 kali volume suspensi sel dan tidak metebihi kapasitas cryovial. 

5. Pindahkan suspensi sel yang sudah diencerkan ditambah Sml cRPMt hangat untuk 

setiap isi vial (sekitar 4 vial+ 32ml cRPMI hangat) ke dalam tabung falcon 50 ml. 

6. Putar sel pada 1200 rpm, selama 7 menit. Buang supematan dan sentil ringan 

tabung agar pellet terlepas. Larutk.an kembali dengan cRPMI hangat sesuai volume 

yang diinginkan. 

7. Lakukan penghitungan jumtah sel hidup dengan hematositometer. 

8. Jika dipertukan konsentrat sel, sentrifus pada 1200 rpm selama 7 menit. Buang 

supematan dan sentil ringan tabung agar pellet terlepas. 

9. Encerkan suspensi set dengan konsentrasi final of 5x106 MC/ml cRPMI media pada 

suhu kamar. 

15 

10. Periksa gumpalan dan ambil dengan pipet atau tip. 

1 1 .  Untuk assay cytokine (flow-cytometri dengan Facs-calibur), plate 200 ml/well dalam 

round-bottom 96-well plate dengan 1x106 sel per well . 

12. lnkubasi plate yang sudah ditutup pada suhu 37°C selama 12-18 jam untuk 

istirahatkan sel. 

Prosedur kultur SPM (Ahmad dkk, 2007) 

1. Persiapkan Complete Culture Medium (CCM) yang merupakan campuran dari: 

SOOmL DMEM, 100 ml Fetal Bovine Serum (FBS) dengan konsentrasi -16,5%, 6ml 

l..glutamine konsentrasi 2mM, 6ml penicillin G konsentrasi 100 units/ml dan 

streptomycin sulphate konsentrasi 1 OOµg/ml. Medium difilter melalui unit filter steril 

0,22 µm. Dibagi alikuot dan disimpan pada 4°C sampai 2 minggu. Medium harus 

dihangatkan sampai 37°C setiap kali akan digunakan. 

2. Sel PBMC tersimpan dilarutkan kembali dalam medium kuttur SPM sesudah  prosedur 

thawing. Setengah medium digantt tiap dua hari sekali. 

3. Sel dipanen memakai  trypsin 0, 1 %  dan EDTA 0,05% dalam 1x PBS dan 

dilakukan scraping perlahan memakai  rubber policeman. 

4. Untuk studi morfologi sel aderen langsung difiksasi pada slide memakai  

paraformaldehida 4 %. 

5. Amati kuttur hari ke-2-14, ganti medium pada hari ke-2, 5, 8,  1 1 ,  14 dan pindahkan 

sebagian sel ke petri lain, jika m4lai padat (konfluensi 70%). 

Prosedur karakterisasi SPM (Bongso dkk, 2004) 

Flow·cytometer diaktifkan dan QC sesuai petunjuk manufacturer dan mencakup analisis 

fluorescent beads untuk validasi fungsi laser, flow systems, dan sistem deteksi. Jika 

terjadi masalah pada tahap ini harus diperbaiki sebelum pemeriksaan sampel dilakukan. 

1. lkuti rekomendasi pabrik tentang antibodi, volume reagen yang sesuai disediakan 6 

seri tabung microfuge 1 ,5-ml (panel) seperti berikut: 

a) Tabung 1 :  CD34 PE 

b) Tabung 2: CD105 PE 

c) Tabung 3: HLA-Class I: ABC FITC 

d) Tabung 4: HLA-Class II :  DR, DP 

e) Tabung 5:  lsotype control 

f) Tabung 6: kontrol autofluoresen 

16 

Tabung berisi cocktails antibodi dapat dibuat sebelumnya dan disimpan dalam gelap 

pada 4°C, sampai dibutuhkan. 

3. Set dipanen dan dihitung serta dinilai viabilitasnya dengan trypan blue. Sel ditambah 

PBS dengan konsentrasi final 1 x 106 set hidup/ml. Diper1ukan 4 x 1 06 untuk 

melengkapi protokol. 

4. Aliquot antara 25 x 104 dan 5 x 105 set per tabung. Sebagai tambahan siapkan tabung 

ke-8 yang diisi suspensi sel sebagai kontrol untuk autofluoresen. Vortex untuk 

mencampur dan inkubasi dalam gelap selama 20 menit pada suhu kamar. 

5. Cuci set dengan menambahkan PBS 1,5 ml dan tandai setiap tabung. Putar pada 

100 g selama 1 menit pada suhu kamar. Buang supernatan, pellet ditambah 1 ml 

PBS dan putar ulang kembati sampai 3 kali pencucian. 

6. Pellet ditarutkan kembali dalam 500 µL PBS dan divortex sampai tidak terdapat 

agregat. 

7. Tempatkan suspensi set pada tabung kultur 12 x 75 mm (alat yang 

direkomendasikan) dan dianalisis dengan flow cytometer. Analisis tabung 6 ter1ebih 

dahulu, dilanjutkan tabung 5 (kontrot isotipe). Hasil pada kedua tabung ini  

digunakan untuk mengatur gates and analysis regions untuk menilai hasil 

pemeriksaan 4 tabung lainnya. 

Analisa terhadap ekpresi antigen permukaan memakai  FACS Calibur, USA) 

memakai  software Cell Quest. Minimal 10.000 sel dianalisa persempel. 

Tripsinasi MSC di resuspensi memakai  DMEM 1 0% FBS dan di cuci dengan 

PBS 3%FBS. Suspensi MSC diinkubasi dengan antibodi monoklonal dengan 

konjugat APC untuk marker CD 90 dan PE untuk CD 34. 

Labeling SPM dengan BrdU (Ahmad dkk, 2007) 

Kuttur dengan konfluensi 70% ditambah media yang mengandung 1 O µmoVI 5-bromo-20-

deoxyuridine (BrdU) selama 24 jam untuk mendapatkan sel yang mengekspresikan 

BrdU. 

1. Pada akhir masa inkubasi sel diwarnai dengan antibodi terhadap BrdU untuk 

membuktikan bahwa labeling berhasil. 

2. Kultur sel pada ruang slide difiksasi dengan ice-cold acetone/methanol ( 1 :  1) pada 

suhu 20°c selama 30 menit. 

17 

3. Sesudah diinkubasi dengan HCI 2N pada suhu 20°C selama 30 menit dan dibilas 

dengan PBS tiga kali, slide diinkubasi semalam dengan antibodi terhadap BrdU yang 

diencerkan 1 :500 pada suhu 4°C. 

4. Sampel kontrol negatif diinkubasi dalam PBS tanpa antibodi primer. 

5. lnkubasi dengan antibodi sekunder dilakukan pada suhu 37°C selama 45 menit dan 

ditambahkan anti-fading mounting medium lalu diperiksa memakai  mikroskop 

ftuoresens. 

Protokol diferensiasi SPM menjadi SPL in-vitro sesuai protokol Ahmad dkk, 2007 

Preparasl Media lnduksi 

1. Medium fibroblas dengan fetal calf serum (FCS} 10%, yang terdiri dari DMEM 

glukosa rendah tanpa piruvat, asam amino non-esensial 1 %, penicillin-streptomycin 

1%, dan L-glutamine 1%. 

2. Medium epitel terdiri dari DMEM glukosa rendah dengan piruvat tiga bagian, satu 

bagian medium Ham's F12, FCS 10%, penicillin-streptomycin 1 % ,  hidrokortison, 

insulin, tri-iodothyronine, adenin, toxin kolera dan epiderma (EGF). 

3. Semua media difilter secara steril dengan filter 0.22µm, disimpan pada 4°C. 

Coating of Tissue Culture Plates dengan Komponen Matrlks Ekstraselular 

1 .  Lyophilized collagen IV dari plasenta manusia ditambahkan asam asetat 0,25% 

sampai konsentrasi 0,5 mg/ml dan disimpan pada 4°C selama 3 jam dengan 

pengadukan berkala. 

2. Ceruk kultur jaringan 2cm2 dilapisi dengan kolagen IV dengan cara menuangkan 

larutan kolagen IV 200µ1 dan diamkan semalam pada 4°C. 

3. Keesokan harinya larutan kolagen IV dibilas dengan phosphate-buffered saline (PBS) 

sebelum penanaman kultur sel. 

Kultur Epitel Limbal Manusia memakai  Komponen Matriks Ekstraselular 

1 .  Lapisan paling dalam limbal kadaver dipisahkan, lapisan epitel limbal dipotong­

potong seukuran 1mm2 dan diinkubasi dengan larutan tripsin 0,05% setama 20 

menit dalam inkubator jaringan. 

2. Suspensi sel yang dihasilkan dipisahkan dari potongan limbal dan ditambahkan 

medium epitel, disentrifugasi 1000rpm selama 3 menit dan supernatan dibuang. 

3. Pellet sel ditambah medium epitel lagi. 

4. Ketiga langkah diatas diulang sampai tiga kali memakai  jaringan limbal yang 

sama dan hasil suspensi pellet sel 3 kali proses tripsinasi digabung. 

5. Tiap 2mm2 ceruk kultur jaringan diisi 30.000 sel epitel limbal yang hidup. 

6. Kokultur epitel limbal dan 3T3 fibroblas mencit (diinaktivasi pada keadaan mitosis 

dengan cara diinkubasi 2 jam dalam mitomycin C 1 O µg/ml) dengan kepadatan 

24.000 sel/cm2 digunakan sebagai standar baku kultur. 

7. Semua sediaan kultur disimpan dalam inkubator 37°C pada C02 5%. 

Penggantian medium dilakukan pada hari ke-3 dan selanjutnya rutin 2 hari sekali. 

lsolasi dan Kultur Fibroblas Limbal Manusia 

1 .  Jaringan limbal kadaver dipotong-potong seukuran 1 mm2. Larutan kolagenase IV 

dalam medium fibroblas tanpa FCS sejumlah 3-mg/ml ditambahkan pada 

potongan jaringan limbal. 

2. Campuran ini  diinkubasi 1 jam dalam inkubator kultur jaringan, lalu larutan 

kolagenase IV dibuang. 

3. Tambahkan kembali larutan kolagenase IV dalam medium fibroblas tanpa FCS 

sejumlah 3-mg/ml pada potongan jaringan limbal dan diinkubasi 8 jam dalam 

inkubator kultur jaringan. 

4. Larutan pada langkah ke-3 disentrifugasi pada 1000rpm selama 3 menit sesudah  

jaringan limbal disisihkan. 

5.  Supernatan dibuang dan pellet set ditambah medium fibroblas yang mengandung 

FCS 10%. 

6. Suspensi sel ditempatkan pada ceruk kultur jaringan 2cm2 dan diinapkan dalam 

inkubator kultur jaringan semalam. 

7. Keesokan harinya kultur fibroblas limbal ditambah medium fibroblas selanjutnya 

diganti tiap 2-3 hari sekali. Fibroblast limbal diekspansi melalui subkultur sampai 

10-15 pasase. 

Conditioning Medium Epitel memakai  Fibroblas Limbal 

1 .  Fibroblas limbal diinaktivasi mltosisnya dengan menambah 1 O µg/ml mitomycin C 

pada medium kultur dan diinkubasi selama 2 jam pada 37°C. 

2. Fibroblas selanjutnya dicuci 3 kali dengan PBS dan ditempatkan kembali dalam 

flask kultur dengan kepadatan 56.000 set hidup/cm2 dan diinapkan dalam 

inkubator kultur jaringan semalam. 

1 9  

3. Keesokan harinya, medium fibroblast dibuang, flask lalu diirigasi dengan PBS, 

tambahkan 400 µl/cm2 medium epitel dan disimpan dalam inkubator kultur 

jaringan. 

4. Medium epitel yang sudah dikondisikan dengan fibroblas limbal dikumpulkan 

setiap hari dan selalu diganti medium epitel segar 400 µl/cm2 selama 7 hari, dan 

disimpan pada -20°C. 

5. sesudah  dikumpulkan selama 7 hari semua medium epitel tersimpan 

disentrifugasi pada 1 OOOrpm selama 3 men it dan difilter secara steril dengan filter 

0,22-µm. Jika disimpan pada 4°C dapat digunakan dalam 1 bulan, sedangkan 

bila disimpan pada -20°c dapat digunakan maksimum 3 bulan. 

lmmunocytochemistry untuk Kultur Sel 

1 .  Medium pada ceruk kultur jaringan dibuang dan diirigasi dengan PBS secara 

berhati-hati dan diinkubasi dengan formaldehida 3,7% dalam PBS selama 30 

menit pada suhu kamar. 

2. PBS tiga kali 5 menit pada suhu kamar, Triton X-100 0,5%, serum domba 2% 

dalam PBS selama 1 jam pada suhu kamar, dan diluted primary antibody dalam 

PBS diinapkan semalam pada 4°C. 

3. Keesokan harinya, antibodi primer dibuang dari ceruk kultur lalu dibilas dengan 

PBS tiga kali selama 5 menit pada suhu kamar. Ceruk diinkubasi dengan 1 O 

µg/ml FITC-conjugated sheep anti-mouse /gs yang diencerkan dalam PBS 

selama 30 menit pada suhu kamar dan keadaan gelap. 

4. sesudah  antibodi sekunder dibersihkan, ceruk diinkubasi 3 kali dengan PBS 

selama 5 menit dalam gelap. 

5. Sel dalam ceruk diinkubasi dengan larutan Hoechst 33342 10 µg/ml dalam air 

steril selama 1 O menit dalam k:eadaan gelap pada suhu kamar. 

6. sesudah  larutan Hoechst 33342 dibuang, tiap ceruk diinkubasi tiga kali dengan 

PBS dalam gelap, dan biarkan terisi PBS. Ceruk segera diamati dengan 

mikroskop inverted dan didokumentasikan. 

7. Untuk double staining, sel difiksasi, dipermeabilisasi, dan diblok, sebelum 

diinkubasi dengan antibodi pertama (p63, CK12 64k0, Nodal, atau ABCG2) 

selama 1 jam. Sel-selnya lalu dicuci dengan FCS 5% dan PBS. lalu diinkubasi 

dengan antibodi kedua (CK3/12, atau CK10) selama 1 jam. 

8. Sel-sel ini  dicuci kembali dengan FCS 5% dan PBS sebelum penambahan 

antibodi sekunder (tetramethylrhodamine isothiocyanate-conjugated anti-mouse 

lgG1, dilusi 1:100; FITC-conjugated anti-mouse lgG2, dilusi 1:100; 

Rhodamine/FITC-conjugated anti-rabbit lgG, dilusi 1 : 100; atau Rhodamine­

conjugated anti-goat lgG dilusi 1 : 100 selama 30 menit); selanjutnya sel-sel dicuci 

sebelum fluorescence microscopy. 

V.10 DEFINISI OPERASIONAL 

Subjek penelitian yaitu  bayi baru lahir di RS Cipto Mangunkusumo yang orang 

tua/walinya bersedia dan mengizinkan spesimen dari tali pusat dan plasenta bayi 

dimanfaatkan untuk penelitian; serta kadaver yang meninggal <24 jam sebelum 

pengambilan jaringan dari limbus dan komea, dengan persetujuan keluarga. 

V.11. PERTIMBANGAN ETIK 

Persetujuan etik untuk subjek penelitian manusia diberikan oleh Komisi Etik Sadan 

LHbangkes (terlampir). 

21 

VI. HASIL PENELITIAN 

Preparasi tali pusat (TP) di ruang bersalin harus terjaga sterilitasnya. Tali pusat bagian distal dipotong 7-10 cm dan dibilas dengan NaCl 0,9% sampai darah yang tersisa seminimal mungkin. Selanjutnya TP dibelah memanjang dengan gunting steril dan direndam dalam larutan povidon-iodin e  0,5% selama 5-10 menit untuk mencegah kontaminasi. Tali pusat dibilas kembali dengan NaCl steril sebelum dimasukkan tabung steril untuk dikirim ke laboratorium ser punca di Labnas lantai 3 Balitbangkes. Semua bagian TP harus terendam PBS dan segera dibawa ke laboratorium dalam 24 jam pasca persalinan (Yudha UGM, 2012). 

Gambar 6. Preparas� tali pusat sebelum kultur. 

Penelitian eksperimental telah dilaksanakan dengan beberapa modifikasi dengan hasil sebagai berikut: 

I. Modifikasi prosedur isolasi SPM dari jel Wharton tali pusat manusia: 

Cara isolasi SPM dari jel Wharton (eksplantasi) dan modifikasi medium kultur 

(modiflkasi protokol dari UGM, 2012) 

t Tali pusat dipotong-potong menjadi 1 mm2 dan dibersihkan dari darah dengan medium DMEM low glucose (LG):HAM F-12 (1 : 1 )  ditambah 1 0% FBS atau high 

22 

glucose ditambah FBS 20%, lalu ditempatkan pada cawan petri dengan medium 

sebanyak 1-2cc, sehingga jaringan tali pusat dapat menempel pada petri dish dan 

diinkubasi pada suhu 37°C dan 5% C02 diamati keesokan harinya. 

Amati jaringan eksplan sedikitnya setetah 24 jam, apabila sudah ter1ihat adanya sel­

sel tumbuh dan metekat pada cawan petri, maka medium ditambah sampai jaringan 

eksplan ini  terendam dalam medium. 

3. Medium diganti dengan medium baru pada hari ke-4 dilanjutkan 3 hari sekali, tetap 

diamati setiap hari. Apabila set yang sudah tumbuh di sekitar jaringan eksplan cukup 

banyak, maka jaringan dapat diambil dan dikultur di cawan petri yang baru dengan 

metode yang sama. Sel yang menempel dipertahankan sampai berkembang hampir 

penuh atau konfluensinya 80-90%. 

4. Pemindahan sel ke media yang baru dilakukan dengan cara menambahkan trypsin 

0,050/o dan untuk menghentikan aktivitas enzim ditambahkan 0,02% EDTA, dilakukan 

satu kali dalam seminggu selama dua bulan dan apabila perbanyakan sel 

mencukupi, sel disimpan dengan cara vitrifikasi dalam larutan nitrogen cair pada 

suhu -1 96°C dalam larutan pembeku sel (80% DMEM, 10% DMSO dan 10% FBS). 

5. Pengamatan dan pencatatan hasil observasi dilakukan sampai diferensiasi spontan. 

Gambar 7. Set punca mesenkim hari ke-6 (a) dan ke-8 (b), medium DMEM /ow glucose, 

HAM F-12, FBS 10%. 

Gambar 7dan 8 menunjukkan pertumbuhan SPM yang baik dan tidak terkontaminasi, 

sayang pada beberapa well, seperti tampak pada Gambar 9, kultur sel terkontaminasi 

pada hari ke-1 1 ,  sebelum sel dipasase. Kontaminasi ini dapat terjadi karena sterilitas 

saat melakukan intervensi kultur set kurang terjaga atau lingkungan laboratoriium yang 

kurang steril, terjadi kondensasi di ruangan laboratorium. 

Gambar 8. Sel punca mesenkim hari ke-11 (a, b, c) dan hari ke 13 (d), medium DMEM low 

glucose, HAM F-12, FBS 10%. 

Gambar 9. Sel punca mesenkim hari ke-11 yang terkontamlnasl, medium DMEM /ow 

glucose, HAM F-12, FBS 10%. 

Gambar 10. Sel punca mesenklm hari ke-13 (a), dan hari ke 14 (b), medium DMEM high 

glucose, FBS 20%. 

24 

Gambar 11. Set punca mesenkim hari ke-16 (a), dan hari ke 20 (b), medium DMEM high 

glucose, FBS 20%. 

Gambar 12. Sel punca mesenkim hari ke-27(a), dan hari ke 30 (b), medium DMEM high 

glucose, FBS 20%. 

Gambar 10, 1 1 ,  dan 12 rnemperlihatkan kultur SPM dengan medium yang berbeda, yaitu 

DMEM high glucose (HG) ditambah FBS 10%, tanpa HAM F-12. Pertumbuhan SPM 

terkesan kurang maksimum. tidak terjadi konfluensi seperti yang diharapkan, bahkan 

sampai waktu 30 hari kultur. Keadaan ini menunjukkan bahwa jenis medium DMEM 

LG+HAM F-12 merupakan medium yang lebih tepat untuk kultur SPM yang diisolasi dari 

jel Wharton manusia, dibandingkan DMEM HG yang memberikan hasil pertumbuhan 

SPM lebih baik pada kultur SPM yang diisolasi dari sum-sum tulang mencit. 

Konfluensi set 80-90% rata-rata terjadi pada hari ke-1 3  sampai hari ke-15 pasca isolasi 

dengan kedua metoda. Jumlah sel per ceruk untuk metode eksplan yaitu  bervariasi 

6,7x1 04 sampai 6,4x1 05/ml. sedangkan pada metode enzimatik bervariasi antara 

2,2x104 sampai 5,9x105, terkesan lebih sedikit dibanding metode eksplan saat pasase 

pertama. 

25 

Gambar 13. Sel punca mesenkim hari ke-34(a), dan hari ke 37 (b), degenerasi sel total hari 

ke-40 (c), medium DMEM high glucose, FBS 20%. 

Pada Gambar 1 3  terfihat SPM berdiferensiasi spontan menyerupai sel saraf dengan 

beberapa dendrit pada hari ke-34 dan berdegenerasi spontan mulai hari ke-37. Pads 

hari ke-40 kultur sel menunjukkan degenerasi total dan tampak debris yang bercampur 

dengan gambaran yang menyerupai kontaminasi. 

Medium kultur sangat menentukan berhasil tidaknya pertumbuhan sel seperti yang 

diharapkan. Pelaksanaan semua kegiatan laboratorium, mulai preparasi spesimen dan 

medium sampai penggantian medium secara berkala merupakan satu rangkaian 

kegiatan yang harus dilakukan dengan cermat, steril, dan penuh keteliUan agar 

mendapatkan hasil yang memuaskan. 

Metode enzimatis isolasi SPM dari jel Wharton (modifikasi UGM, 2012) 

1 .  Jaringan tali pusat diambil dari klinik bersalin dengan informed consent yang jelas. 

2. Jaringan tali pusat yang diperoteh dimasukkan datam PBS yang mengandung 1% 

penstrep dan dibawa ke laboratorium. 

3. Tali pusat dicuci dengan larutan iodin 10 menit untuk menghilangkan kemungkinan 

adanya kontaminan dan dicuci dengan PBS steril dengan 1 OOOU/ml penicillin dan 

1000 µg/ml streptomisin untuk mencuci darah yang ikut terambil. 

26 

Tali pusat dipotong-potong menjadi 1 mm2 dan didigesti dengan 0,05% trypsin-EDTA 

pada 37°C dan digoyang berkala selama 60 menit. 

Aktivitas trypsin dinetralisir dengan menambahkan medium DMEM yang ditambah 

10% cairan amnion. dan difilter untuk menghilangkan debris dan disentrifus pada 

1500 rpm selama 1 O men it. 

Pellet yang terbentuk diambil dan dicuci dua kali dengan DMEM + 10% cairan 

amnion, 1 mM glutamine, 25 mM NaHC03, 1% larutan penicillin-streptomycin-

antimycotic dan disentrifus 1500 rpm selama 1 O menit. 

7. Supernatan dipisahkan dan pellet ditambah medium dan dikultur kedalam cawan 

petri sesudah  dihitung jumlah selnya dan dimasukkan kedalam inkubator pada suhu 

37°C dan 5% C02. 

8. Medium diganti pada hari ke-2 dan diamati setiap hari. Sel yang tidak melekat 

dipindahkan ke cawan petri baru, sedangkan sel yang menempel dipertahankan 

dengan medium sampai sel berkembang penuh atau konfluensinya 90%. 

Gambar 9. Sel punca mesenkim hari ke-2 well 1 (a) dan 2 (b), medium DMEM low 

glucose, HAM F-12, FBS 10%. 

Gambar 10. Sel punca mesenkim hari ke-10 well 1 (a) dan 2 (b), medium OMEM /ow 

glucose, HAM F-12, FBS 10%, perbesaran 40x. 

27 

Metode isolasi SPM enzimatik memberikan hasil sel yang sama baik dengan metode 

eksplan. Metode ini baru dilakukan akhir Desember 2012 lalu, sehingga belum dapat 

diamati lebih lanjut pertumbuhan dan perkembangan kultur lebih dari 1 O hari. 

Komposisi medium kultur yang digunakan yaitu  1). DMEM low-glucose+HAM F-12 

( 1 : 1 ,  Gibco®) dibandingkan 2). DMEM high-glucose+HAM F-12 {1 :1 ,  Gibco®) keduanya 

dttambah FBS 10% (Gu, 2009; Soleimani, 2009). Perbedaan komposisi DMEM medium 

1 dan 2 hanya pada kadar glukosa, yaitu 5,56:25 mM. Uji t sampel bebas digunakan 

untuk membandingkan rerata jumlah sel pada medium 1 dan 2 pada pasase kedua, 

batas kemaknaan p=0,05, SPSS 15.0. 

Pertumbuhan set pada medium kultur 1 lebih optimal dibanding medium 2, berdasarkan 

jumlah set pada pasase kedua, sesudah  tiap ceruk diisi 1x104 sel/ml. Jumlah sel pada 

pasase-2, 4 hari sesudah  pasase-1 terlihat dalam Tabel 1 .  


lsolasi SPM dari jel Wharton tali pusat manusia umumnya dilakukan dengan dua 

metoda, yaitu metoda eksplan dan enzimatik. Penelitian ini membuktikan bahwa metoda 

eksplan jauh lebih mudah dilakukan dengan hasil yang baik, dibandingkan metode 

enzimatik. label 2 menunjukkan perbedaan nyata antara kedua metoda isolasi yang 

kami gunakan. 

Tabel 2. Perbedaan tahapan isolasi metoda eksplan dan enzimatlk 

Metoda eksplan 

1 .  Cacahan TP langsung dipindahkan dalam 

4-multi-well plate, 1-2 cacahan per ceruk 

2. Tambahkan medium kultur 250-300µ1 per 

ceruk 

3. lnkubasi 18-24 jam pada 37°C, C02 5%, 

diobservasi lalu tambahkan medium sampai 

cacahan terendam medium. 

Metoda enzimatik 

1 .  Cacahan �cm TP ditambah trypsin 0,25% 

sampai semua cacahan terendam selama 1-

2 jam 

2. Saring dengan kasa steril rangkap 4, 

masukkan tabung steril 

3. Sentrifugasi 200 G selama 1 O menit, 

supernatan dibuang 

4. Tambahkan medium kultur 5ml kedalam 

pellet 

5. Sentrifugasi kembali 200 G selama 1 O 

menit, supematan dibuang 

6. Tambahkan medium kultur 5ml kedalam 

pellet � suspensi sel 

7. Pindahkan suspensi sel 500µ1 per ceruk 

Rerata jumlah set pada medium 1 lebih tinggi dibanding medium 2 dengan perbandingan 

3,3:1,9 (x104), tetapi secara statistik tidak berbeda bermakna, p=O, 164 (independent­

samples t-tesf). Jumlah sel awal per ceruk yaitu  1x104 sel/ml dan menjelang pasase 

kedua hasil kultur menunjukkan bahwa rerata jumlah sel yang tumbuh pada medium 

kultur DMEM LG cenderung lebih tinggi dibanding medium DMEM HG, meskipun 

perbedaan ini  tidak bermakna secara statistik. 

29 

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 

Kesimpulan 

• Eksperimen inl berhasil mengembangkan dan memodifikasi prosedur isolasi SPM' 

dari jel Wharton tali pusat manusia menggl!nakan metode eksplan dan enzimatik 

dengan hasil sama balk dengan prosedur UGM, 2012. 

• lnduksi SPM dari jel Wharton kearah SPL belum terlaksana karena beberapa·. 

hambatan, seperti masalah penggantian sumber limbus dari kadaver menjadi 

pasien yang dioperasi avulsi (pengupasan) pterygium dengan transplantasi 

limbus autograf dan kontaminasi kultur set berulang. 

• Jika nanti berhasil didapatkan conditioned medium limbal manusia dan hasil 

induksi SPM menunjukkan hasil yang menyerupai SPL original dari manusia, 

maka eksperimen per1u dilanjutkan dengan penelitian in-vivo dan preklinik agar 

temuan ini dapat diaplikasikan kepada manusia pada suatu saat nanti sebagai 

altematif terapi sel untuk mengatasi kebutaan akibat kekeruhan kornea dan 

defisiensi sel punca limbal. 

 

Istilah stem cell atau sel punca diperkenalkan pertama kali oleh ahli 
histologi dari Rusia yaitu Alex Ander Maksimov pada kongres hematologi di Berlin 
tahun1908. Alex mengatakan bahwa di dalam tubuh organisma terdapat ada sel 
induk yang membentuk sel darah. Pada tahun 1978, terbukti ditemukannya sel 
punca di sumsum tulang belakang manusia yang memiliki  kemampuan 
membentuk seluruh jenis sel darah pada tubuh manusia.  
 
Gambar 1. Stem cell atau sel punca mampu berdiferensiasi menjadi 
berbagai macam sel sesuai dengan kebutuhan 
 
Pada tahun 1981, Gail dan Martin Evans pertama kali mengisolasi sel 
punca dari embrio. Pada tahun 1998, penelitian ini dilanjutkan oleh peneliti lain dan 
 
melaporkan sel punca dari embrio manusia memiliki potensi untuk tumbuh menjadi 
berbagai tipe sel dan dapat mengganti sel sel tubuh yang rusak. Pada tahun 2007, 
Mario Capecchi, Martin Evans, dan Oliver Smithies memperoleh Hadiah Nobel 
Kedokteran karena berhasil mengubah gen-gen tertentu pada mencit 
menggunakan sel punca embrionik hewan ini.  
Penelitian sel punca terus dikembangkan untuk terapi berbagai penyakit, 
terutama penyakit degeneratif. Banyak negara di dunia menggunakan terapi sel 
punca untuk terapi penyakit kelainan hematologi maupun penyakit degeneratif. 
Beberapa rumah sakit, lembaga penelitian, dan universitas di Indonesia terus 
mengembangkan penelitian tentang sel punca. 
 
Pengertian stem cell 
Stem cell berasal dari kata stem yang artinya batang dan cell berarti sel, 
maka stem cell atau sel punca yaitu  sel yang menjadi awal mula dari 
pertumbuhan sel lain yang menyusun keseluruhan tubuh organisme. Sel punca 
merupakan awal dari pembentukan berbagai jenis sel penyusun tubuh. Sel punca 
merupakan sel dari embrio, fetus, atau sel dewasa yang memiliki  kemampuan 
untuk memperbanyak diri sendiri dalam jangka waktu yang lama, namun belum 
memiliki fungsi yang spesifik, serta mampu berdiferensasi menjadi tipe sel tertentu 
yang membangun sistem jaringan dan organ dalam tubuh.  
 
 
Gambar 2. Sel punca Embrionik  
 
 
Karakteristik sel punca 
Sel punca memiliki  karakteristik antara lain: 
 
Universitas Esa Unggul 
http://esaunggul.ac.id 
 
1. memiliki  kemampuan berdiferensiasi, menjadi sel dewasa dalam tubuh 
yang memiliki  bentuk dan fungsi yang tidak dapat diubah lagi. Sel punca 
memiliki  karakteristik pada stadium awal perkembangan sel, belum 
memiliki  bentuk dan fungsi yang khusus, sehingga mampu 
berdiferensiasi menjadi sel saraf, sel otot jantung, sel otot rangka, sel 
pankreas, dan lain-lain. 
2. Sel Punca memiliki kemampuan untuk memperbaharui atau meregenerasi 
dirinya sendiri (self-regenerate/self-renew), sehingga mampu membuat 
salinan sel yang persis sama dengan dirinya melalui pembelahan sel.  
Berdasarkan potensi atau kemampuan berdiferensiasi, sel punca 
dikelompokkan menjadi: 
1. Sel totipotent yaitu  sel punca yang memiliki  kemampuan untuk 
berdiferensiasi menjadi semua jenis sel. Sel punca ini yaitu  sel embrionik 
awal yang memiliki  kemampuan untuk berdiferensiasi membentuk 
berbagai jenis sel tergantung lingkungan jaringannya yang baru. Bahkan 
sel punca ini memiliki  kemampuan untuk membentuk satu individu yang 
utuh. Yang termasuk dalam sel punca dengan kemampuan totipotent 
yaitu  zigot dan morula. 
2. Sel pluripotent yaitu  sel punca yang memiliki  kemampuan untuk 
berdiferensiasi menjadi 3 lapisan embrional: ektoderm, mesoderm, dan 
endoderm. Sel punca ini tidak dapat menjadi jaringan ekstra embryonik 
seperti plasenta dan tali pusat. Sel punca pluripotent terdapat pada inner 
cell mass di stadium Blastocyst embrionik, yang akan berdiferensiasi 
secara invitro menjadi semua sel somatik. 
3. Sel multipotent yaitu  sel punca yang dapat berdiferensiasi menjadi 
berbagai jenis sel. Contoh sel multipotent yaitu  sel hemopoetic pada 
sumsum tulang yang mampu berdifferensiasi menjadi berbagai jenis sel 
darah (eritrosit, lekosit dan trombosit). Neural stem cell, mampu 
berdifferensiasi menjadi sel saraf dan sel glia. Pada jaringan dewasa, sel 
punca multipoten terdapat pada jaringan dan organ untuk menggantikan 
sel yang hilang atau terluka. 
4. Sel unipotent yaitu  sel punca yang hanya dapat menghasilkan satu jenis 
sel, tetapi sel punca unipoten memiliki  sifat dapat memperbaharui atau 
meregenerasi diri (self-regenerate/self-renew)  
 

 
Gambar 3. Berbagai jenis sel punca berdasarkan kemampuannya untuk 
berdiferensiasi 
 
Berdasarkan sumbernya, sel punca dibagi menjadi dua jenis, yaitu 
embryonic stem cell dan adult stem cell yang masing-masing memiliki  fungsi 
dan karakter yang berbeda. 
1) Embryonic stem cell, sel punca ini berasal dari inner cell mass pada tahap  
blastocyst embrionik yaitu tahap  embrio yang terdiri dari 50 –150 sel, pada 
hari ke-5 pasca fertilisasi. Sel punca ini biasanya didapatkan dari sisa 
embrio yang tidak terpakai dari hasil IVF (invitro fertilization). Namun 
penelitian dengan menggunakan embryonic sel punca masih terbatas 
karena kode etik yang agak sulit diproses. Saat ini telah dikembangkan 
teknik pengambilan sel dari embryonic stem cell dengan tidak 
membahayakan embrio sehingga dapat terus hidup dan bertumbuh.  
 

2) Adult stem cell yaitu  sel punca yang diambil dari jaringan dewasa, antara 
lain dari sumsum tulang atau dari jaringan dewasa seperti susunan saraf 
pusat, adiposit (jaringan lemak), otot rangka, pankreas. 
  
 
Gambar 3. Sel punca embrionik dan sel punca dari jaringan dewasa 
 
Terdapat 2 jenis sel punca dari sumsum tulang yaitu hematopoietic stem 
cell dan stromal stem cell. Hematopoetic stem cell juga dapat diperoleh dari darah 
tepi dan tali pusat. Sedangkan stromal stem cell berasal dari jaringan dewasa. 
 

 
Adult stem cell memiliki  sifat plastis, artinya selain berdiferensiasi menjadi sel 
yang sesuai dengan jaringan asalnya, adult stem cell juga dapat berdiferensiasi 
menjadi sel jaringan lain. Misalnya: neural stem cell dapat berubah menjadi sel 
darah, atau stromal stem cell dari sumsum tulang dapat berubah menjadi sel otot 
jantung, dan sebagainya. 
 
Aplikasi sel punca pada terapi penyakit  
 Sel Punca dapat digunakan pada penderita diabetes, untuk memperbaiki 
sel-sel pada pulau langerhans kelenjar pankreas yang mengalami kerusakan. 
Transplantasi sel pulau langerhans diharapkan dapat memenuhi kebutuhan 
insulin. Keberhasilan transplantasi sel pulau Langerhans tingkat keberhasilan 
hanya 8%, karena reaksi penolakan terhadap sel transplantasi sangat besar. 
Untuk mencegah reaksi penolakan transplantasi sel diperlukan steroid dalam 
jumlah besar; sehingga meningkatkan kebutuhan metabolik pada sel penghasil 
insulin. Penelitian terakhir, dilakukan transplantasi sel pulau langerhans dalam 
jumlah banyak dengan metode imunosupresi yang berbeda dengan yang 
sebelumnya. Setahun setelah transplantasi, sel pulau langerhans pankreas pada 
seluruh pasien tidak memerlukan injeksi insulin lagi dan gula darahnya tetap 
normal.  
 
 
 
Gambar 4. Tahapan terapi dengan menggunakan sel punca secara autologous 
dan alogenik 
 
Sel Punca untuk terapi kulit (Skin Replacement), peneliti telah dapat 
membuat epidermis dari keratinosit yang diperoleh dari folikel rambut yang 
dicabut. Penelitian ini memungkinkan transplantasi epidermis pada pasien itu 
sendiri, sehingga menghindari masalah penolakan. Terapi ini dilakukan untuk 
terapi ulkus vena ataupun luka bakar.  
Pada pasien penderita Parkinson, ditemukan kematian neuron-neuron 
transmiter yang memiliki  peran dalam gerakan tubuh yang halus. Dengan 
berkurangnya dopamin, maka pada pasien penderita Parkinson terjadi gangguan 
gerakan halus. Transplantasi neuron dopamin diharapkan dapat memperbaiki 
gejala pada penderita Parkinson. Pada penelitian dengan menggunakan jaringan 
mesensefalik embrio manusia yang mengandung neuron dopamin, ditemukan 
adanya perbaikan sel saraf sehingga terjadi peningkatan fungsi neuron dopamin. 
Namun setelah 1 tahun, 15% dari pasien Parkinson yang ditransplantasi 
mengalami kekambuhan setelah dosis levodopa dikurangi atau dihentikan.  
 
Gambar 5. Terapi sel punca pada sel saraf penderita Parkinson 
 
Terapi sel punca dilakukan untuk penderita stroke, akibat kematian sel-sel 
otak. Kerusakan sel otak dapat menimbulkan kecacatan permanen karena sel otak 
tidak memiliki  kemampuan regenerasi. Seiring berkembang pesatnya 
pengetahuan mengenai sel punca, para pakar menemukan adanya plastisitas 
pada sel-sel otak. Hasil penelitian menggunakan sel punca dari darah tali pusat 
manusia yang diberikan secara intra vena pada arteri serebri tikus, 
 
 
memperlihatkan adanya pengurangan volume lesi sel sebanyak 40% dan 70% 
kembali fungsi normal.  
Hasil penelitian sel punca untuk penyakit jantung membuktikan bahwa 
adult stem cell dan embryonic stem cell dapat menggantikan sel otot jantung yang 
rusak dan memberikan pembuluh darah baru. Hasil penelitian dengan 
mencangkok mononuclear bone marrow cell menghasilkan sepuluh pasien yang 
diberi sel punca, area infarknya menjadi lebih kecil. Hasil penelitian dengan 
transplantasi bone marrow mononuclear cells yang diinjeksikan 14 pasien gagal 
jantung iskemik kronik berat menunjukkan penurunan defek yang signifikan dan 
perbaikan fungsi sistolik ventrikel kiri global pada pasien yang diterapi.  
Investigasi klinis dengan menggunakan sel punca menunjukkan adanya 
regeneratif berbagai jaringan atau organ yang mengalami kerusakan. Terapi sel 
punca diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi pasien yang menderita 
berbagai macam penyakit dan cedera. Manfaat dari transplantasi sumsum tulang 
bagi pasien yang membutuhkan rekonstruksi hematopoietik dan sistem kekebalan 
sangat optimis dapat memperbaiki kerusakan organ dan jaringan. Pemanfaatan 
sel induk embryonic stem cells [ESCs]) dan induced pluripotent stem cells [iPSCs]) 
untuk berbagai aplikasi penyakit sangat bermanfaat.  
 
 
 
Sejak ulasan sebelumnya tentang sel punca dalam uji klinis,  telah ada 
ekspansi berkelanjutan dalam jumlah dan jenis sel punca yang sedang diteliti.  
Namun, laporan klinis akan terus berkembang dan tren umum akan muncul. Sel-
sel induk saraf memberikan janji yang besar untuk perbaikan regeneratif, sel induk 
 
 
berpotensi dalam pengobatan regeneratif, dan sel-sel stem mesenkim (MSC) 
merupakan jenis sel yang paling banyak digunakan dalam uji klinis. Sel-sel induk 
dari plasenta sering digunakan sebagai sebagai sel-sel induk atau sel progenitor 
MSC untuk perbaikan perivaskular dalam pengobatan regeneratif. Uji klinis sel 
induk hematopoietik (darah) banyak digunakan untuk gene terapi dan terapi sel 
kanker, dengan teknologi reseptor antigen chimeric.  
Embryonic stem cell (ESCs) dan induced Plural Stem Cell (iPSCs) 
merupakan temuan yang memudahkan dalam terapi penyakit akibat kerusakan 
organ dan jaringan semakin menjajikan. Terapi ini sangat menarik karena sel induk 
dewasa fungsional sulit diakses, diperluas, atau diturunkan. Tampaknya aplikasi 
pada mata, pankreas, dan berbagai gangguan atau cedera saraf degeneratif 
seperti penyakit Parkinson, amyotro-phic lateral sclerosis (ALS), dan cedera 
sumsum tulang belakang menjadi kandidat utama untuk terapi sel berbasis sel 
induced plural stem cells. Hasil uji klinis pada progenitor oligodendrosit manusia 
oleh sel punca human Embrionic Stem Cell  (hESC) untuk perawatan cedera 
tulang belakang menunjukkan keberhasilan terapi yang signifikan.  
Mungkin yang lebih menantang yaitu  perawatan stroke dan gangguan 
lain pada otak dan sumsum tulang belakang. Meskipun sejumlah besar studi pada 
hewan yang menggunakan tipe sel saraf, embrionik, mesenchymal, sumsum 
tulang, dan darah tali, tampaknya ada sedikit bukti bahwa transplantasi sel induk 
atau turunannya dapat menggantikan sel yang rusak, merekonstruksi sirkuit saraf, 
atau meningkatkan hilangnya fungsi setelah stroke. Sel-sel induk saraf manusia 
yang diabadikan ini tidak mengkolonisasi jaringan otak dan merupakan populasi 
sementara yang tampaknya memiliki pengaruh trofik pada fungsi otak. Sementara 
penelitian ini tidak dirancang untuk mengukur kemanjuran, beberapa perbaikan 
diamati pada kelenturan pasien dan gangguan neurologis. Percobaan tahap  II 
kedua sedang dilakukan untuk evaluasi manfaat dari transplantasi sel induk saraf 
2-4 bulan setelah stroke, yang melibatkan studi kesia-siaan 41 pasien. (tidak ada 
kontrol) dalam dua kohort percobaan terpisah. AL yaitu  penyakit 
neurodegeneratif onset dewasa yang merupakan hasil dari degenerasi neuron 
motorik di korteks serebral, batang otak, dan sumsum tulang belakang. Sebuah 
studi tahap  I oleh perusahaan Neural-stem untuk pasien ALS rawat jalan dan non-
rawat jalan menggunakan injeksi traspinal dari 500.000 hingga 1 juta sel batang 
saraf tulang belakang janin manusia ke dalam daerah lumbar dan serviks dari 
 
 
sumsum tulang belakang. Penelitian ini tidak menunjukkan kesulitan terkait sel 
tetapi sedikit indikasi peningkatan manfaat kelangsungan hidup.  
Sangat menarik bahwa MSC sumsum tulang sedang diujicobakan untuk 
iskemia tungkai kritis tanpa sel endotel dengan manfaat yang sangat minorben 
yang dicatat dalam uji coba tahap  I / II. Peristiwa serius yang merugikan terjadi pada 
plasebo dan kelompok pengobatan. Darah tali pusat MSC juga telah digunakan 
dalam tahap  Istudies tanpa mempengaruhi kejadian serius dan menunjukkan 
beberapa perbaikan kecil dalam skor angiografi. Akan menarik untuk 
membandingkan MSC dengan dan tanpa perawatan kombinasi sel endothelial. Sel 
Stem Sel Mental yang berasal dari plasenta manusia sedang dalam uji klinis untuk 
berbagai aplikasi terapi. Sebagian kecil diidentifikasi sebagai MSC plasenta oleh 
kepatuhannya terhadap plastis dan ekspresi penanda permukaan sel tipikal telah 
digunakan untuk mengobati pasien dengan fibrosis paru atopi. Dalam tahap  tunggal, 
peningkatan takaran acak, peningkatan dosis intravena (1-2 juta sel / kg) tahap  
Istudy, beberapa efek samping akut minor dan sementara tidak terlihat dan tidak 
ada peningkatan yang dapat diamati pada parameter yang terkait dengan kondisi 
penyakit yang terlihat 6 bulan setelah trans-perkebunan. Perusahaan Celgene 
juga menjual sel turunan plasenta (seperti MSC) untuk mengobati penyakit Crohn 
(CD) dan multiple sclerosis (MS). Pasien Crohn yang dirawat dengan dua suntikan  
(terpisah 1 minggu) dari 2 juta sel menunjukkan respon klinis yang membaik dan 
setengahnya dalam remisi 6 bulan setelah injeksi sel plasenta. Pada dosis lebih 
tinggi 8 juta sel, hanya sepertiga pasien yang dirawat merespons, dan tidak ada 
yang sembuh setelah 6 bulan. Data ini menunjukkan variasi klinis dalam respon 
terhadap terapi sel yang berhubungan dengan dosis kritis. Pada pasien dengan 
MS yang kambuh dan MS progresif sekunder, sel ditoleransi dengan baik tetapi 
pengobatan menghasilkan berbagai efek samping yang tidak diinginkan. Data 
untuk respon klinis yaitu  variabel dan umumnya menunjukkan bahwa sel tidak 
meningkatkan kondisi MSc. Jelas bahwa diperlukan lebih banyak informasi 
tentang mekanisme aksi sel plasenta untuk memungkinkan desain strategis yang 
lebih baik untuk potensi manfaat bagi pasien MS untuk menjamin uji coba terapi 
sel diperluas. Ada minat dalam menggunakan sel amnion untuk peningkatan klinis 
fungsi paru pada bayi prematur dan untuk gangguan pernapasan dewasa lainnya. 
Namun, sel tidak dapat diperluas secara in vitro dan ada bukti bahwa amniosit 
yang diperoleh dari plasenta preterm memiliki keterbatasan yang berbeda-entiasi 
dan kapasitas reparatif in vitro dan pada model hewan fibrosis paru.  
 
Sel-sel cairan amnion juga telah dipelajari dalam model praklinis untuk 
berbagai aplikasi terapi termasuk perbaikan cedera otak, tetapi mereka tidak 
pernah berkembang menjadi yang pertama dalam studi klinis manusia. dalam 
jumlah besar uji klinis. Ada banyak heterogenitas dalam sel yang digambarkan 
sebagai MSC dan berbagai sumber yang digunakan untuk mengisolasi dan 
memproduksi populasi MSC untuk uji klinis. Perspektif penting tentang sifat yang 
sangat berbeda dari populasi MSC yang digunakan secara klinis dan berbagai 
sumbernya telah ditangani secara kritis baru-baru ini oleh Bianco (2014). MSC 
secara klasik yaitu  cell ‘postnatal, memperbaharui diri, dan multipotent 
stemsgiving yang meningkatkan semua jaringan kerangka. Mereka bersifat clo-
nogenik dan membentuk progeni stroma in vitro dan, ketika ditanam, membentuk 
miniatur organoid dari tulang termasuk tulang dan sumsum tulang, dengan 
kontribusi inang hematopoietik. Jenis stroma yang disebut MSC yang digunakan 
secara klinis didefinisikan secara berbeda dari MSC klasik karena mereka diisolasi 
dari berbagai jenis sel (termasuk biakan curah dari sel stroma stroma sumsum 
tulang) dengan karakteristik perekatnya pada cawan kultur plastik dan bejana 
plastik lainnya.  
Sifat pleiotropik dari MSC yang meliputi anti-apoptosis, angiogenesis, 
produksi faktor pertumbuhan, proteksi saraf, anti-fibrosis, dan kemo-tarik 
memberikan ruang yang luas bagi potensi mereka dalam terapi penyakit. Ini 
termasuk sifat-sifat mereka dari penekanan peradangan dan kemampuannya 
untuk meregulasi respon imun patogen yang biasanya diamati dengan 
transplantasi alogenik. Kami telah membagi diskusi uji klinis MSC menjadi kondisi 
yang memanfaatkan sifat penekan kekebalan tubuh mereka, aplikasi untuk 
regenerasi pada penyakit organ, osteoartritis dan nyeri punggung bawah terkait 
(perawatan yang utamanya memanfaatkan sifat anti-inflamasi mereka), dan 
perbaikan penyakit neurodegeneratif dan cedera. .Immune Suppressive 
Properties dari MSCsMSCs dan turunannya memiliki peran penting dalam 
menekan proliferasi sel T yang diaktifkan dan produksi sitokinnya. Mereka juga 
meningkatkan sel T Regulatory (Tregs) yang meredam serangan sel T pembunuh 
pada sel atau jaringan asing. Fungsi-fungsi MSC ini telah membuatnya populer 
untuk studi yang melibatkan kandungan penolakan kekebalan dalam 
pencangkokan alogenik. Imunosupresi sistemik oleh MSC sumsum tulang 
diindikasikan pada pasien transplantasi allograft ginjal untuk kemungkinan 
peningkatan penolakan dan fibrosis. organ indonor. Graft versus host dis-
 
 
convenience (GVHD) yaitu  konsekuensi serius dari sistem imun inang yang 
mengenali dan menolak cangkokan alogenik. MSCs memiliki sifat penekan 
kekebalan yang penting yang menghambat GVHD dan mereka telah dipelajari 
dalam uji klinis untuk penyakit GVHD yang resisten terhadap steroid, parah, dan 
akut selama beberapa waktu. Studi tahap  II awal oleh Le Blanc dan rekannya 
menunjukkan bahwa lebih dari 50% pasien GVHD merespons sepenuhnya 
terhadap satu dari lima juta MSC sumsum tulang (Le Blancet al., 2008). Data 
dilaporkan oleh Joanna Kurtzberg pada 2015 untuk 160 anak-anak dengan GVHD 
yang tidak responsif terhadap steroid yang terdaftar dalam program akses multi-
pusat yang diperluas dari Mesoblast Pty Ltd. MSC sekali lagi menunjukkan 
manfaat bertahan hidup untuk transplantasi sumsum tulang. Sekitar 80% dari 
pasien kelas B / C dan 50% dari pasien gradeD yang lebih parah bertahan hingga 
100 hari. Hanya 5% -20% dari pasien prognosis berat ini diharapkan untuk 
bertahan hidup tanpa MSCtherapy.  
Masih terlalu dini untuk memutuskan apakah sel-sel induk plasenta, 
apakah stroma atau lainnya (seperti amniosit) memiliki peran penting di masa 
depan dalam kedokteran klinis. Jelas penelitian ini akan terus menyelidiki peluang 
ini. Beberapa kegagalan dalam uji klinis dapat diprediksi berdasarkan bahwa ada 
data ilmiah yang tidak memadai untuk mendukung manfaat klinis yang luar biasa. 
Dalam kasus lain, ada manfaat klinis yang tidak mencukupi pada efikasi awal untuk 
menjamin komitmen lebih lanjut dari keuangan yang relatif terbatas. Sangat 
penting untuk menunjukkan manfaat klinis yang jelas dan signifikan dalam studi 
tahap  II karena heterogenitas penyakit manusia dalam studi tahap  III atau IV yang 
lebih luas akan sering mengubah signifikansi manfaat kecil yang tampak dalam uji 
coba awal. Jalur regulasi baru didirikan di Jepang (Konomiet al. , 2015), di mana 
produk dapat memasuki pasar dengan persetujuan sementara jika studi tahap  II 
menunjukkan kemanjuran, akan menguji ketahanan seluruh sistem regulasi global. 
Jika produk tersedia tanpa pengujian untuk mendapatkan manfaat yang memadai 
maka pasien tidak akan dilayani dengan baik oleh pasien yang berevolusi. Jika 
kebutuhan untuk studi tahap  III yang diatur dapat disalurkan dengan, lebih banyak 
produk dapat tersedia dalam kerangka waktu yang lebih singkat dan lebih hemat 
biaya. Ulasan saat ini menunjukkan bahwa terapi sel berkembang pesat tetapi 
beberapa saat ini akan menunjukkan manfaat klinis yang cukup untuk menjamin 
adopsi mereka sebagai terapi yang berguna dalam sistem regulasi yang disingkat. 
Karena penelitian dengan bukti ilmiah yang lebih kuat tentang kemungkinan 
 
 
manfaat klinis dan mekanisme aksi yang diperlihatkan berevolusi dari uji coba 
frompreclinical, mungkin diharapkan bahwa konversi terapi sel induk yang 
dibatalkan akan meningkat dengan kuat seiring dengan waktu. Kami optimis dari 
Tinjauan saat ini bahwa akan ada banyak batang produk sel yang akan memenuhi 
kriteria produk terdaftar dalam sistem pengaturan yang ditetapkan selama 5 tahun 
ke depan