Edema adalah kondisi vena yang terbendung. Edema terjadi karena peningkatan tekanan hidrostatik
intra vaskuler, yaitu tekanan yang mendorong darah mengalir di dalam vaskuler oleh kerja pompa
jantung, sehingga menimbulkan perembesan cairan plasma ke ruang interstitium. Penatalaksanaan
keperawatan edema yang dapat dilakukan salah satunya dengan intervensi elevasi kaki untuk
meningkatkan aliran vena dan limpatik dari kaki. Elevasi kaki 30° adalah teknik yang tepat untuk
mengurangi bengkak dengan cara meningkatkan pengeluaran cairan secara limfatik, serta menurunkan
distribusi cairan secara kapiler pada pasien Congestive Heart Failure dengan edema.
Penurunan curah jantung merupakan ketidakadekuatan jantung memompa darah untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Gagal jantung adalah salah satu penyebab utama
morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Gagal jantung dapat dialami oleh setiap orang dari
berbagai usia misalnya neonatus dengan gagal jantung kongenital atau orang dewasa dengan
penyakit jantung arterosklerosis, usia pertengahan, dan usia tua sering pula mengalami
kegagalan jantung. Masalah yang sering muncul pada orang dengan gagal jantung adalah
berkurangnya jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh atau
penurunan curah jantung. Gagal jantung berkaitan langsung dengan penurunan curah jantung
oleh karena disfungsi ventrikel kiri, peningkatan neurohormonal, dan kongesti pembuluh darah
vena sistemik dan pulmoner. Hal ini terjadi sebagai respon fisiologis dan psikologis terhadap
klien (Wijaya & Putri, 2018).
Penyebab gagal jantung digolongkan berdasarkan sisi dominan jantung yang mengalami
kegagalan. Jika dominan pada sisi kiri yaitu penyakit jantung iskemik, penyakit jantung
hipertensif, penyakit katup aorta, penyakit katup mitral, miokarditis, kardiomiopati,
amioloidosis jantung, dan keadaan curah tinggi (tirotoksikosis, anemia, fistula arteriovenosa).
Apabila dominan pada sisi kanan yaitu gagal jantung kiri, penyakit paru kronis, stenosis katup
pulmonal, penyakit katup trikuspid, penyakit jantung kongenital (VSD atau PDA), hipertensi
pulmonal, dan emboli pulmonal masif (Aspaiani, 2018).
Edema adalah kondisi vena yang terbendung dan terjadi karena adanya peningkatan tekanan
hidrostatik intra vaskuler, yaitu tekanan yang mendorong darah mengalir di dalam vaskuler
oleh kerja pompa jantung. Mekanisme tersebut menimbulkan pembesaran cairan plasma ke
ruang interstitium (Grossman & Brown, 2009 dalam Purwardi, I ketut Agus Hida, 2015).
Edema pada daerah ekstremitas akan berdampak pada kemandirian pasien atau aktivitas sehari-
hari, sehingga kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas menjadi tidak optimal. Hal ini
dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Foot edema didefinisikan sebagai akumulasi cairan
di kaki dan tungkai yang di akibatkan oleh ekspansi volume interstisial atau peningkatan
volume ekstraseluler.
Berdasarkan data WHO (2019), terdapat sekitar 17,3 juta orang meninggal akibat penyakit
kardiovaskular pada tahun 2017, mewakili 30% dari semua kematian global. Dari kematian ini,
diperkirakan 7,3 disebabkan oleh penyakit jantung. Sementara itu, lebih dari 80% kematian
penyakit kardiovaskuler terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah dan terjadi
306
hampir sama pada pria dan wanita. Diperkirakan bahwa 5,3 juta warga Amerika saat ini
mengalami gagal jantung kronik dan setidaknya terdapat 550.000 kasus gagal jantung baru
didiagnosis setiap 2 tahunnya. Pasien dengan gagal jantung akut kira-kira mencapai 20% dari
seluruh kasus gagal jantung. Prevalensi gagal jantung meningkat seiring dengan usia, dan
mempengaruhi 6-10% individu berusia lebih dari 65 tahun.
Salah satu gejala yang sering dikeluhkan pasien dengan gagal jantung adalah kaki bengkak
atau foot edema. Kaki edema akan menyebabkan penurunan fungsi kesehatan dan kualitas
hidup (HR-QOL), ketidaknyamanan, perubahan postur tubuh, menurunkan mobilitas dan
meningkatkan resiko jatuh, gangguan sensasi di kaki, dan menyebabkan perlukaan di kulit.
Penatalaksanaan non-farmakologi pada edema bertujuan untuk mengurangi bengkak dengan
cara meningkatkan pengeluaran cairan secara limfatik serta menurunkan distribusi cairan
secara kapiler yaitu dengan exercise, elevation, graded external compresion (hosiery), dan pijat
limfatik. Penatalaksanaan edema berupa elevasi 30° menggunakan prinsip gravitasi untuk
meningkatkan aliran vena dan limpatik dari kaki. Vena perifer dan tekanan arteri dipengaruhi
oleh gravitasi. Pembuluh darah yang lebih tinggi dari jantung gravitasi akan meningkatkan dan
menurunkan tekanan periver sehingga mengurangi edema (Zuj et al., 2018; Sukmana et al.,
2018).
METODE
Tujuan dari case report ini adalah untuk mengetahui “Bagaimana efektifitas elevasi kaki 30
derajat untuk menurunkan edema pada pasien dengan diagnose CHF?” Penelitian ini
menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain case report atau laporan kasus. Laporan
kasus sebagai desain penelitian bertujuan untuk menggambarkan pengamatan ilmiah penting
yang ditemui dalam pelayanan atau praktik klinis untuk memperluas basis pengetahuan,
khususnya di area ilmu keperawatan (Alsaywid & Abdulhaq, 2019). Subjek dalam laporan
kasus ini adalah pasien dengan CHF. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sama
seperti metode pengkajian dalam proses keperawatan, meliputi wawancara, pemeriksaan fisik,
studi dokumentasi dari catatan medis pasien, dan observasi. Hasil dari pelaksanaan keempat
metode tersebut disajikan secara naratif untuk dapat memberikan gambaran pelaksanaan
asuhan keperawatan pada pasien dengan CHF.
HASIL
Pasien kelolaan berusia 79 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Pasien masuk rumah sakit
dengan keluhan nyeri dada, sesak napas, keringat dingin seluruh tubuh, mual dan pusing. Tiga
hari sebelumnya tiba-tiba dada kiri pasien terasa berat, ampeg, membaik sendiri, tetapi muncul
kembali disertai keringat dingin saat beraktifitas, dan kemudian dilarikan ke rumah sakit. Saat
di IGD, kesadaran pasien composmentis dengan Glasgow Coma Scale 15 (Eye: 4, Verbal: 5
Motoric: 6). Pemeriksaan hemodinamik dalam batas normal. Pasien dilakukan pemeriksaan
darah lengkap, rontgen thorax, dan EKG. Pasien kemudian dipindahkan ke bangsal ICCU,
sudah tidak mengeluh nyeri.
Pada pengkajian di ICCU didapatkan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi tekanan
darah 103/62mmHg, nadi: 103x/menit, respirasi: 24x/menit, suhu: 36,7oC, dan Sp02:99%
dengan nasal kanul dosis 4 lpm, konjungtiva pucat, reflek cahaya +/+, mukosa bibir pucat,
terdapat nyeri tekan pada dada sebelah kiri, suara paru hipersonor, tidak terdapat suara ronchi
pada seluruh lapang paru, bunyi jantung S1-S2 normal, tidak ada murmur. Saat dikaji pasien
mengatakan sesak napas pada bagian dada, pasien juga mengeluh keringat dingin pada
tubuhnya. Pasien memiliki riwayat DM sejak lima tahun yang lalu dan rutin konsumsi obat
metformin dan glimepirid. Saat hari pertama hendak dilakukan intervensi keluhan pasien masih
sediki sesak napas dan terdapat edema di ekstrimitas bawah derajat tiga.
Setelah dilakukan proses persetujuan dengan pasien dan penandatanganan informed consent
untuk dijadikan pasien kelolaan dan diberikan tindakan keperawatan, penulis melakukan
tindakan keperawatan terapi nonfarmakologi, yaitu elevasi kaki 30°. Prosedur dilakukan pada
tanggal 21 dan 22 Februari 2024 di ruang ICCU. Penulis melakukan penilaian dengan
menggunakan lembar observasi berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia yaitu
Perfusi Perifer (L.02011). Pelaksanaan intervensi elevasi kaki 30° dilakukan secara mandiri
oleh penulis selama 7 menit dengan menggunakan bantal di bawah kaki sehingga membentuk
sudut 30°.
PEMBAHASAN
Edema pada ekstremitas menjadi hal yang sering dijumpai pada pasien dengan penyakit
jantung. Pada gagal jantung kongestif terjadi edema yang disebabkan oleh gagal pompa
jantung. Edema adalah suatu keadaan dengan akumulasi cairan di jaringan interstisium secara
berlebihan akibat penambahan volume yang melebihi kapasitas penyerapan pembuluh limfe.
Edema juga merupakan reflek dari kelebihan natrium dan hypervolemia (Baskoro, 2018).
308
Tindakan elevasi kaki merupakan salah satu tindakan non-farmakologis yang dapat dilakukan.
Tindakan tersebut dapat dilakukan untuk mengatasi edema ekstremitas akibat dari pasien
dengan kondisi pasien dengan penyakit CHF. Elevasi kaki merupakan suatu pengaturan posisi
dimana pada anggota gerak bagian bawah diatur dengan posisi lebih tinggi daripada jantung
sehingga dapat menyebabkan darah balik akan meningkat karena penumpukan darah pada
anggota gerak bagian bawah tidak terjadi. Latihan elevasi kaki bertujuan untuk memperlancar
peredaran darah. Latihan pompa merupakan langkah yang efektif untuk mengurangi oedema
karena akan menimbulkan efek pompa otot sehingga akan mendorong cairan ekstraseluler
masuk ke pembuluh darah dan kembali ke jantung (Jafar & Budi, 2023).
Saat pemberian intervensi, peneliti mengobservasi derajat edema sebelum dan sesudah
diberikan intervensi elevasi kaki 30 derajat. Karakteristik pada pasien kelolaan yang
merupakan pasien berjenis kelamin laki–laki berusia 79 tahun dengan CHF. Dalam melakukan
implementasi penulis lebih berfokus pada penurunan derajat edema pada ekstremitas bawah
pasien. Hasil yang diperoleh setelah dilakukan intervensi elevasi kaki 30°, pasien mengatakan
lebih nyaman, hal ini ini dibuktikan dengan adanya penurunan derajat edema dan tekanan darah
yang membaik sebelum dan sesudah intervensi. Pada hari kedua setelah dilakukan intervensi
elevasi kaki 30 derajat selama 7 menit yang dilakukan pagi dan siang hari, didapat pasien
mengatakan lebih nyaman dan derajat edema juga mengalami penurunan. Pada penelitian
sebelumnya (Nur Farani, 2023) ada perbedaan yang signifikan pada penurunan derajat edema
setelah diberikan intervensi, sehingga dapat disimpulkan elevasi kaki 30° efektif dalam
menurunkan derajat edema. Asumsi peneliti bahwa pemberian intervensi elevasi kaki 30° ini
mampu menurunkan edema dan membuat pasien lebih rileks.
Intervensi ini dilakukan guna membuktikan bahwa pemberian elevasi kaki 30 derajat efektif
dalam membantu menurunkan derajat edema pada pasien. Faktor yang perlu diperhatikan
dalam efektivitas pemberian elevasi kaki 30 derajat adalah posisi kepala harus lebih tinggi dari
pada jantung dan pasien harus dalam posisi yang nyaman, hal tersebut guna membuat hasil dari
pemberian elevasi kaki 20 derajat juga maksimal. Pemberian elevasi kaki 30 derajat diberikan
pada pasien berusia 79 tahun dengan diagnosa medis CHF. Pasien dilakukan pemantauan
derajat edema pada sebelum dan sesudah dilakukan implementasi pemberian elevasi kaki 30
derajat. Hasil dari implementasi yang dilakukan selama dua hari, ditemukan bahwa elevasi kaki
30 derajat efektif dalam menurunkan derajat edema.







