Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan

Keperawatan

 



Pelayanan kesehatan mengalami pergeseran paradigma 

seiring dengan meningkatnya kebutuhan warga  terhadap 

layanan yang berfokus pada pasien dan keluarga. Perubahan 

pola penyakit dari penyakit akut menuju penyakit kronis, 

meningkatnya angka harapan hidup, dan  tuntutan efisiensi 

pelayanan kesehatan mendorong berkembangnya model 

pelayanan kesehatan berbasis komunitas, salah satunya yaitu  

pelayanan perawatan intensif . perawatan intensif  dipandang sebagai alternatif 

pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan kontinuitas 

asuhan kesehatan dengan tetap mempertimbangkan aspek 

kenyamanan, kemandirian, dan nilai sosial budaya pasien di 

lingkungan rumahnya 

perawatan intensif  tidak hanya berorientasi pada tindakan 

kuratif, namun  juga mencakup usaha  promotif, preventif, 

rehabilitatif, dan paliatif yang dilaksanakan secara komprehensif 

dan berkesinambungan. Pelayanan ini menempatkan keluarga 

sebagai mitra utama tenaga kesehatan dalam proses perawatan, 

sehingga keterlibatan keluarga menjadi faktor kunci 

keberhasilan asuhan. konsep  ini sejalan dengan konsep 

pelayanan kesehatan berpusat pada pasien (patient-centered 

care) yang menekankan penghargaan terhadap nilai, preferensi, 

dan kebutuhan individu 

Dalam konteks sistem kesehatan nasional, perawatan intensif  

berperan  strategis dalam meningkatkan akses pelayanan, 

menurunkan angka rawat inap yang tidak perlu, dan  

mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya kesehatan.

sebab  itu, pemahaman yang komprehensif mengenai konsep 

dasar perawatan intensif  menjadi landasan penting dalam pengelolaan 

dan pengembangan pelayanan perawatan intensif  yang berkualitas, 

aman, dan berorientasi pada mutu pelayanan 

Penjelasan berikut mencakup konsep Keperawatan home 

care meliputi; Pengertian, Manfaat, prinsip dasar, jenis/bentuk, 

sasaran  dan kegiatan p-elayanan perawatan intensif , Kesimpulan. 

B. Konsep Keperawatan perawatan intensif  

1. Pengertian perawatan intensif  

perawatan intensif  merupakan bentuk pelayanan kesehatan 

profesional yang diberikan kepada individu dan keluarga 

di rumah dengan tujuan mempertahankan, meningkatkan, 

atau memulihkan status kesehatan pasien secara optimal. 

Pelayanan ini dilaksanakan berdasar  kebutuhan pasien 

melalui konsep  holistik yang mencakup aspek biologis, 

psikologis, sosial, dan spiritual. perawatan intensif  juga dirancang 

untuk mendukung kemandirian pasien dan keluarga dalam 

mengelola masalah kesehatan yang dihadapi 

Secara internasional, perawatan intensif  didefinisikan sebagai 

bagian dari pelayanan kesehatan berkelanjutan yang 

memungkinkan pasien menerima asuhan kesehatan di 

lingkungan rumah dengan dukungan tenaga kesehatan 

terlatih dan sistem rujukan yang terintegrasi. konsep  

ini menekankan kesinambungan perawatan (continuity of 

care) dan  koordinasi lintas profesi untuk menjamin 

keselamatan dan kualitas pelayanan 

2. Manfaat Keperawatan perawatan intensif  

Pelayanan perawatan intensif  bermanfaat signifikan 

bagi pasien dengan memungkinkan penerimaan asuhan 

kesehatan secara berkelanjutan di lingkungan rumah yang 

familiar. Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan 

kenyamanan psikologis, kepatuhan terhadap rencana 

perawatan, dan  kualitas hidup pasien, khususnya pada 

 


individu dengan penyakit kronis, lansia, dan pasien pasca 

rawat inap. Lingkungan rumah yang suportif juga 

mendukung proses pemulihan dan mengurangi risiko stres 

akibat hospitalisasi berkepanjangan 

Selain manfaat bagi pasien, perawatan intensif  memberi  

dampak positif bagi keluarga melalui peningkatan 

pengetahuan dan keterampilan dalam merawat anggota 

keluarga yang sakit. Keterlibatan keluarga sebagai 

caregiver utama mendorong terciptanya rasa percaya diri, 

kemandirian, dan tanggung jawab dalam pengelolaan 

kesehatan di rumah. Dari sisi sistem kesehatan, perawatan intensif  

berkontribusi dalam menurunkan angka rawat inap 

berulang, mengurangi beban fasilitas kesehatan, dan  

meningkatkan efisiensi biaya pelayanan kesehatan 

.  Di bawah ini dapat 

terlihat gambar manfaat perawatan intensif  untuk pasien: 

 

 

Gambar 1. Manfaat perawatan intensif  untuk Pasien 

Sumber: https://www.kavacare.id/ 

 

3. Prinsip Dasar Keperawatan perawatan intensif  

Keperawatan perawatan intensif  dilaksanakan berdasar  

prinsip pelayanan holistik, berkesinambungan, dan 

berpusat pada pasien dan  keluarga. Prinsip holistik 

menekankan bahwa asuhan tidak hanya berfokus pada 

penyakit, namun  juga pada kondisi psikososial dan 

lingkungan pasien. Prinsip berkesinambungan 

menggarisbawahi pentingnya kesinambungan pelayanan 

dari fasilitas kesehatan ke rumah pasien secara terintegrasi 

Selain itu, prinsip kolaborasi interprofesional menjadi 

landasan penting dalam perawatan intensif , di mana tenaga 

kesehatan dari berbagai disiplin bekerja secara sinergis 

untuk mencapai hasil asuhan yang optimal. Prinsip 

keamanan pasien dan mutu pelayanan juga harus dijaga 

melalui penerapan standar prosedur operasional, etika 

profesi, dan  evaluasi pelayanan secara berkala 

4. Jenis/Bentuk Keperawatan perawatan intensif  

Pelayanan perawatan intensif  dapat diklasifikasikan 

berdasar  jenis layanan yang diberikan, salah satunya 

yaitu  perawatan intensif  dan keperawatan. Bentuk 

pelayanan ini mencakup tindakan keperawatan dasar dan 

lanjutan, pemantauan kondisi kesehatan, pemberian obat, 

perawatan luka, dan  rehabilitasi sederhana sesuai 

kebutuhan pasien. Layanan ini diberikan oleh tenaga 

kesehatan profesional dengan mengacu pada standar 

praktik dan keselamatan pasien 

Bentuk lain dari perawatan intensif  yaitu  perawatan intensif  promotif 

dan preventif yang berfokus pada edukasi kesehatan, 

pencegahan komplikasi, dan  peningkatan perilaku hidup 

bersih dan sehat. Selain itu, terdapat perawatan intensif  paliatif yang 

ditujukan bagi pasien dengan penyakit terminal atau 

kondisi kronis lanjut, dengan penekanan pada 

pengendalian gejala, kenyamanan, dan dukungan 

psikososial dan  spiritual. Dalam konteks kesehatan ibu 

dan anak, perawatan intensif  juga mencakup asuhan kebidanan di 

 

rumah untuk pemantauan ibu hamil, ibu nifas, bayi baru 

lahir, dan balita 

5. Sasaran Keperawatan perawatan intensif  

Sasaran pelayanan perawatan intensif  meliputi individu dengan 

penyakit kronis, pasien pasca rawat inap, lansia dengan 

keterbatasan fungsional, pasien dengan kebutuhan paliatif, 

dan  ibu dan bayi yang memerlukan pemantauan 

kesehatan lanjutan di rumah. Pelayanan ini juga dapat 

diberikan kepada kelompok rentan yang memiliki 

keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, sehingga 

perawatan intensif  berperan dalam meningkatkan pemerataan 

pelayanan kesehatan 

Dalam konteks kesehatan ibu dan anak, perawatan intensif  

menjadi strategi efektif untuk mendukung 

keberlangsungan asuhan, meningkatkan keterlibatan 

keluarga, dan  mencegah terjadinya komplikasi melalui 

deteksi dini masalah kesehatan di lingkungan rumah 

 Berikut 

gambar sasaran pelayanan perawatan intensif ; 

  

 

6. Kegiatan Keperawatan perawatan intensif  

Kegiatan perawatan intensif  diawali dengan pengkajian 

komprehensif terhadap kondisi pasien dan lingkungan 

 

rumah yang meliputi aspek fisik, psikologis, sosial, dan 

lingkungan. Pengkajian ini menjadi dasar dalam 

penyusunan rencana asuhan individual yang disesuaikan 

dengan kebutuhan pasien dan keluarga. Proses 

perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara tenaga 

kesehatan, pasien, dan keluarga untuk menjamin 

keberlanjutan dan  efektivitas asuhan 

Selanjutnya, kegiatan perawatan intensif  mencakup 

pelaksanaan asuhan kesehatan berupa tindakan 

keperawatan, edukasi kesehatan, pemantauan 

perkembangan kondisi pasien, dan  pemberdayaan 

keluarga sebagai caregiver. Evaluasi dilakukan secara 

berkala untuk menilai pencapaian tujuan asuhan, 

mendeteksi dini masalah kesehatan, dan menyesuaikan 

rencana perawatan bila diperlukan. Kegiatan koordinasi 

dan rujukan juga menjadi bagian penting dari perawatan intensif  

guna memastikan kesinambungan pelayanan dengan 

fasilitas kesehatan lain dalam sistem pelayanan kesehatan 

yang terintegrasi (Stanhope & Lancaster, 2022; WHO, 2020). 

7. Kesimpulan  

a. Keperawatan perawatan intensif  merupakan pelayanan 

keperawatan profesional yang diberikan secara 

berkesinambungan di lingkungan rumah dengan 

konsep  holistik dan berpusat pada pasien dan  

keluarga 

b. Pelayanan ini bermanfaat berupa 

peningkatan kenyamanan pasien, percepatan 

pemulihan, pencegahan komplikasi, dan  pengurangan 

hospitalisasi yang tidak diperlukan. 

c. Keperawatan perawatan intensif  berperan dalam meningkatkan 

kemandirian pasien dan keluarga melalui edukasi 

kesehatan dan pemberdayaan caregiver. 

d. Jenis pelayanan keperawatan perawatan intensif  meliputi 

pelayanan medis dan keperawatan, promotif dan 

preventif, paliatif, dan  asuhan kebidanan di rumah 

sesuai kebutuhan pasien. 

 


e. Pelaksanaan keperawatan perawatan intensif  dilakukan secara 

sistematis melalui proses keperawatan yang mencakup 

pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi 

dengan menjunjung tinggi prinsip keselamatan pasien 

dan mutu pelayanan. 

f. Keperawatan perawatan intensif  berperan  strategis 

dalam mendukung pelayanan kesehatan berbasis 

komunitas yang efektif, efisien, dan berorientasi pada 

peningkatan kualitas hidup warga . 

 

Perkembangan sistem pelayanan kesehatan modern 

menuntut adanya pelayanan yang tidak hanya berfokus pada 

rumah sakit, namun  juga menjangkau warga  secara 

langsung di lingkungan tempat tinggal pasien. Salah satu bentuk 

pelayanan kesehatan yang berkembang pesat dalam beberapa 

dekade terakhir yaitu  perawatan intensif  atau pelayanan kesehatan di 

rumah. perawatan intensif  merupakan konsep  pelayanan kesehatan 

yang memungkinkan pasien menerima perawatan secara 

berkelanjutan di rumah dengan dukungan tenaga kesehatan 

profesional, termasuk perawat. 

Peningkatan kebutuhan pelayanan perawatan intensif  

dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain meningkatnya 

jumlah penderita penyakit kronis, meningkatnya populasi 

lansia, dan  kebutuhan untuk menekan biaya pelayanan 

kesehatan di rumah sakit. Pelayanan kesehatan di rumah 

memberi  kesempatan kepada pasien untuk tetap berada di 

lingkungan keluarga yang familiar sehingga dapat 

meningkatkan kenyamanan psikologis dan  kualitas hidup 

pasien. Selain itu, pelayanan ini juga memungkinkan 

keterlibatan keluarga dalam proses perawatan sehingga 

meningkatkan efektivitas pengelolaan penyakit jangka Panjang 

perawatan intensif  juga merupakan bagian penting dari sistem 

primary health care yang berorientasi pada pelayanan 

kesehatan berbasis komunitas. Dalam konteks ini, perawat 

berperan  yang sangat penting sebab  menjadi tenaga 

Ruang Lingkup dan Tujuan 


kesehatan yang paling sering berinteraksi langsung dengan 

pasien dan keluarga dalam proses perawatan di rumah. Dalam 

pelayanan perawatan intensif , perawat tidak hanya memberi  

tindakan keperawatan, namun  juga melakukan edukasi 

kesehatan, koordinasi pelayanan, dan  membantu pasien 

mencapai tingkat kemandirian yang optimal dalam menjalani 

kehidupan sehari-hari. 

Penelitian menunjukkan bahwa pelayanan keperawatan 

berbasis rumah semakin penting dalam sistem pelayanan 

kesehatan modern sebab  mampu meningkatkan kualitas hidup 

pasien sekaligus mengurangi angka rawat inap di rumah sakit. 

Pelayanan ini juga membantu pasien dengan kondisi kronis atau 

keterbatasan mobilitas untuk tetap memperoleh pelayanan 

kesehatan yang komprehensif tanpa harus selalu datang ke 

fasilitas kesehatan 

Dengan meningkatnya kebutuhan terhadap pelayanan 

perawatan intensif , penting bagi tenaga kesehatan khususnya perawat 

untuk memahami secara mendalam mengenai ruang lingkup 

dan tujuan pelayanan perawatan intensif  keperawatan. Pemahaman 

ini  akan membantu perawat dalam memberi  pelayanan 

yang profesional, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan 

pasien dan  keluarganya. 

B. Tujuan perawatan intensif  

perawatan intensif  keperawatan bertujuan untuk memberi  

pelayanan kesehatan yang komprehensif kepada pasien di 

lingkungan rumah guna meningkatkan kualitas hidup dan  

mempertahankan kondisi kesehatan secara optimal. Pelayanan 

ini memungkinkan pasien memperoleh perawatan yang 

berkesinambungan tanpa harus selalu berada di fasilitas 

kesehatan seperti rumah sakit. Dengan adanya pelayanan home 

care, pasien dapat tetap berada dalam lingkungan keluarga yang 

nyaman sehingga dapat memberi  dampak positif terhadap 

kondisi psikologis dan proses pemulihan kesehatan. Selain itu, 

pelayanan ini juga mendukung konsep  pelayanan 

kesehatan yang berpusat pada pasien (patient centered care) 

 

sehingga kebutuhan individu pasien dapat terpenuhi secara 

lebih efektif 

Tujuan lain dari perawatan intensif  keperawatan yaitu  

membantu proses pemulihan pasien dan  mencegah terjadinya 

komplikasi penyakit melalui pemantauan kondisi kesehatan 

secara berkala. Perawat yang memberi  pelayanan di rumah 

dapat melakukan pengkajian kondisi pasien, memberi  

tindakan keperawatan, dan  memantau perkembangan penyakit 

secara berkelanjutan. Melalui pemantauan ini , perubahan 

kondisi kesehatan pasien dapat dideteksi lebih dini sehingga 

tindakan yang tepat dapat segera dilakukan. Pelayanan home 

care juga dapat membantu mengurangi angka rawat inap di 

rumah sakit dan  meningkatkan efektivitas pemakaian  sumber 

daya kesehatan 

Selain itu, perawatan intensif  keperawatan juga bertujuan untuk 

meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga dalam 

melakukan perawatan kesehatan di rumah. Dalam pelayanan 

ini, perawat tidak hanya memberi  tindakan keperawatan 

namun  juga memberi  edukasi kesehatan kepada pasien dan 

keluarga mengenai cara merawat pasien, pemakaian  obat, dan  

pencegahan komplikasi penyakit. Dengan adanya pendidikan 

kesehatan ini , keluarga diharapkan mampu berperan aktif 

dalam mendukung proses perawatan pasien sehingga kualitas 

hidup pasien dapat meningkat secara berkelanjutan 

Tujuan perawatan intensif  yaitu  Selain tujuan umum ini , 

perawatan intensif  keperawatan juga memiliki beberapa tujuan khusus, 

antara lain: 

1. Meningkatkan kualitas hidup pasien  

Pelayanan keperawatan di rumah memungkinkan pasien 

memperoleh perawatan yang nyaman tanpa harus 

meninggalkan lingkungan keluarga. Hal ini dapat 

meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup 

pasien secara keseluruhan. 


2. Mempercepat proses pemulihan pasien  

Perawatan yang dilakukan secara berkelanjutan di rumah 

dapat membantu mempercepat proses pemulihan pasien, 

terutama bagi pasien pasca operasi atau pasien dengan 

penyakit kronis. 

3. Mencegah komplikasi penyakit.  

Melalui pemantauan kondisi kesehatan secara berkala, 

perawat dapat mendeteksi perubahan kondisi pasien secara 

dini sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi 

penyakit.  

4. Mengurangi angka rawat inap di rumah sakit  

perawatan intensif  dapat menjadi alternatif pelayanan kesehatan 

yang efektif bagi pasien yang tidak memerlukan perawatan 

intensif di rumah sakit namun  tetap membutuhkan 

pemantauan kesehatan. 

5. Meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga 

Salah satu tujuan utama perawatan intensif  yaitu  meningkatkan 

kemampuan pasien dan keluarga dalam melakukan 

perawatan mandiri sehingga pasien dapat menjalani 

kehidupan sehari-hari secara lebih mandiri. 

6. memberi  edukasi kesehatan kepada keluarga Perawat 

juga berperan dalam memberi  pendidikan kesehatan 

kepada keluarga agar mereka dapat membantu merawat 

pasien secara tepat di rumah. 

Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman yang baik 

mengenai tujuan perawatan intensif  sangat penting bagi tenaga 

kesehatan maupun keluarga pasien agar pelayanan dapat 

berjalan secara optimal dan sesuai dengan kebutuhan pasien 

C. Ruang Lingkup perawatan intensif  

Ruang lingkup perawatan intensif  keperawatan mencakup 

berbagai bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan kepada 

pasien di rumah secara komprehensif dan berkelanjutan. 

Pelayanan ini melibatkan tindakan keperawatan yang bertujuan 

untuk mempertahankan, meningkatkan, dan memulihkan 

kondisi kesehatan pasien. perawatan intensif  juga memungkinkan 


pasien mendapat  pelayanan kesehatan tanpa harus selalu 

datang ke fasilitas kesehatan. Pelayanan ini biasanya diberikan 

oleh tenaga kesehatan profesional seperti perawat, dokter, 

fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan 

kebutuhan pasien.  pelayanan 

keperawatan berbasis rumah merupakan bagian penting dari 

sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pasien. 

1. Pelayanan Promotif 

Salah satu ruang lingkup utama dalam perawatan intensif  

yaitu  pelayanan promotif. Pelayanan promotif bertujuan 

untuk meningkatkan kesadaran warga  mengenai 

pentingnya menjaga kesehatan melalui edukasi dan 

penyuluhan kesehatan. Perawat dalam pelayanan home 

care berperan  penting dalam memberi  informasi 

mengenai pola hidup sehat, nutrisi yang baik, dan  

pencegahan penyakit. Kegiatan ini dilakukan untuk 

meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai 

cara menjaga kesehatan secara mandiri di rumah. Edukasi 

kesehatan yang diberikan secara langsung kepada pasien 

terbukti mampu meningkatkan perilaku hidup sehat dalam 

keluarga 

Kegiatan yang dilakukan dalam pelayanan promotif 

antara lain: 

a) Pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga 

b) Penyuluhan tentang pola hidup sehat 

c) Konseling Kesehatan 

d) Edukasi mengenai pencegahan penyakit 

Melalui kegiatan promotif ini, pasien dan keluarga 

diharapkan dapat memahami cara menjaga kesehatan 

dan  mencegah terjadinya penyakit. 

2. Pelayanan Preventif 

Ruang lingkup berikutnya yaitu  pelayanan preventif 

yang berfokus pada usaha  pencegahan penyakit dan 

komplikasi kesehatan. Dalam pelayanan ini, perawat 

melakukan pemantauan kondisi kesehatan pasien secara 

berkala melalui pemeriksaan tanda-tanda vital dan observasi 


kondisi pasien. Tindakan preventif juga meliputi pencegahan 

luka tekan pada pasien dengan keterbatasan mobilitas dan  

pencegahan infeksi. usaha  pencegahan sangat penting 

terutama bagi pasien dengan penyakit kronis dan pasien 

lanjut usia. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi 

preventif dalam perawatan intensif  dapat mengurangi risiko 

komplikasi penyakit secara signifikan 

Dalam pelayanan perawatan intensif , kegiatan preventif dapat 

berupa: 

a) Pemantauan tanda-tanda vital pasien 

b) Pengawasan kondisi kesehatan secara berkala 

c) Pencegahan luka tekan pada pasien dengan mobilitas 

terbatas 

d) Pencegahan infeksi 

Dalam pelayanan keperawatan di rumah, tindakan preventif 

sangat penting terutama bagi pasien lansia yang memiliki 

risiko tinggi terhadap berbagai komplikasi kesehatan. 

3. Pelayanan Kuratif 

Selain itu, ruang lingkup perawatan intensif  juga mencakup 

pelayanan kuratif yang bertujuan untuk mengobati penyakit 

atau kondisi kesehatan pasien. Dalam pelayanan ini, perawat 

dapat melakukan berbagai tindakan keperawatan seperti 

pemberian obat sesuai instruksi dokter, perawatan luka, dan  

pemantauan kondisi penyakit. Pelayanan kuratif di rumah 

sangat penting bagi pasien yang membutuhkan perawatan 

berkelanjutan sesudah  keluar dari rumah sakit. Perawat juga 

berperan dalam memastikan bahwa pasien mengikuti terapi 

yang telah ditetapkan. Pelayanan kuratif dalam perawatan intensif  

terbukti dapat meningkatkan efektivitas pengobatan dan  

kepatuhan pasien terhadap terapi  

Dalam pelayanan perawatan intensif , kegiatan kuratif dapat 

meliputi: 

a) Perawatan luka 

b) Pemberian obat sesuai instruksi medis 

c) Pemantauan kondisi penyakit kronis 

d) Perawatan pasien pasca operasi 


Perawat berperan  penting dalam memastikan 

bahwa pasien mendapat  pengobatan yang tepat dan  

memantau respons pasien terhadap terapi yang diberikan. 

4. Pelayanan Rehabilitatif 

Ruang lingkup perawatan intensif  juga meliputi pelayanan 

rehabilitatif yang bertujuan membantu pasien memulihkan 

fungsi tubuh sesudah  mengalami penyakit atau cedera. 

Pelayanan rehabilitatif dapat berupa latihan mobilisasi, 

latihan aktivitas sehari-hari, dan  pendampingan pasien 

dalam proses pemulihan. Dalam kegiatan ini, perawat sering 

bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain seperti 

fisioterapis untuk membantu pasien mencapai kondisi 

kesehatan yang optimal. Pelayanan rehabilitasi sangat 

penting bagi pasien yang mengalami gangguan mobilitas 

atau kelemahan fisik. konsep  rehabilitatif dalam home 

care membantu pasien mencapai tingkat kemandirian yang 

lebih baik (Rusli et al., 2022). 

a) Latihan mobilisasi 

b) Latihan aktivitas sehari-hari 

c) Pendampingan pasien dalam proses pemulihan 

d) Dukungan psikososial 

Dalam pelayanan perawatan intensif , rehabilitasi sering dilakukan 

pada pasien yang mengalami gangguan mobilitas atau pasien 

yang sedang menjalani proses pemulihan sesudah  penyakit 

atau cedera. 

Selain pelayanan medis dan keperawatan, ruang lingkup 

perawatan intensif  juga mencakup dukungan psikologis bagi pasien 

dan keluarga. Banyak pasien yang mengalami stres atau 

kecemasan akibat penyakit yang diderita sehingga 

membutuhkan dukungan emosional dari tenaga kesehatan. 

Perawat berperan  penting dalam memberi  

komunikasi terapeutik dan  membantu pasien menghadapi 

kondisi kesehatannya secara lebih positif. Dukungan 

psikologis juga dapat meningkatkan motivasi pasien dalam 

menjalani proses perawatan dan pemulihan. konsep  

 

holistik dalam perawatan intensif  menekankan pentingnya perhatian 

terhadap aspek psikologis pasien . 

D. Peran Perawat dalam Pelayanan perawatan intensif   

erawat berperan  yang sangat penting dalam pelayanan 

perawatan intensif  sebab  mereka merupakan tenaga kesehatan yang 

paling sering berinteraksi dengan pasien dan keluarga. Dalam 

pelayanan ini, perawat tidak hanya berfungsi sebagai pemberi 

asuhan keperawatan namun  juga memiliki berbagai peran 

lainnya. 

1. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan 

Peran utama perawat dalam perawatan intensif  yaitu  

memberi  asuhan keperawatan secara langsung kepada 

pasien. Asuhan ini meliputi proses keperawatan yang terdiri 

dari pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, 

implementasi, dan evaluasi tindakan keperawatan. 

2. Perawat sebagai educator 

Perawat juga berperan sebagai pendidik bagi pasien dan 

keluarga. Dalam peran ini, perawat memberi  informasi 

mengenai kondisi kesehatan pasien dan  cara melakukan 

perawatan yang benar di rumah. 

Ruang lingkup perawatan intensif  juga melibatkan edukasi 

kesehatan kepada keluarga pasien. Dalam pelayanan ini, 

perawat memberi  informasi mengenai cara merawat 

pasien, pemakaian  obat, dan  tindakan yang harus 

dilakukan jika terjadi kondisi darurat. Keluarga merupakan 

pihak yang paling sering berinteraksi dengan pasien 

sehingga berperan  penting dalam keberhasilan 

perawatan di rumah. Oleh sebab  itu, edukasi kesehatan 

kepada keluarga menjadi bagian penting dari pelayanan 

perawatan intensif . Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan 

keluarga dalam perawatan dapat meningkatkan kualitas 

hidup pasien secara signifikan (Rusli et al., 2023). 

3. Perawat sebagai koordinator pelayanan Kesehatan 

Dalam pelayanan perawatan intensif , perawat sering berperan 

sebagai koordinator yang menghubungkan berbagai tenaga 

kesehatan seperti dokter, fisioterapis, dan ahli gizi untuk 

memastikan pasien mendapat  pelayanan kesehatan yang 

komprehensif. 

4. Perawat sebagai konselor 

Perawat juga berperan sebagai konselor yang memberi  

dukungan emosional kepada pasien dan keluarga dalam 

menghadapi kondisi kesehatan yang dialami. 

Penelitian menunjukkan bahwa perawat dalam pelayanan home 

care sering bekerja secara mandiri dan memiliki tanggung jawab 

besar dalam pengambilan keputusan klinis dan  koordinasi 

pelayanan kesehatan bagi pasien di rumah 

E. Prinsip Pelaksanaan perawatan intensif  

Pelayanan perawatan intensif  keperawatan harus dilaksanakan 

berdasar  beberapa prinsip dasar agar pelayanan yang 

diberikan dapat berjalan secara efektif dan aman. Beberapa 

prinsip utama dalam pelaksanaan perawatan intensif  antara lain: 

1. Berorientasi pada kebutuhan pasien 

Pelayanan harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan  

kebutuhan individu pasien. 

2. Melibatkan keluarga dalam perawatan 

Keluarga berperan  penting dalam membantu proses 

perawatan pasien di rumah. 

3. Pelayanan berkesinambungan 

Perawatan harus dilakukan secara terus menerus sesuai 

dengan perkembangan kondisi pasien. 

4. Mengutamakan keselamatan pasien 

Semua tindakan keperawatan harus dilakukan dengan 

memperhatikan prinsip keselamatan pasien. 

5. konsep  holistic 

Perawatan harus memperhatikan aspek fisik, psikologis, 

sosial, dan spiritual pasien. 

Standar praktik keperawatan berbasis rumah juga menekankan 

pentingnya kompetensi profesional, komunikasi interpersonal, 

dan  kemampuan pengambilan keputusan klinis dalam 

memberi  pelayanan yang berkualitas 


Layanan perawatan intensif  yaitu  pelayanan kesehatan atau 

perawatan yang diberikan di rumah pasien oleh tenaga 

profesional kesehatan seperti perawat, dokter, fisioterapis, atau 

caregiver terlatih. Layanan ini mencakup berbagai aspek mulai 

dari perawatan medis, pengelolaan penyakit kronis, rehabilitasi, 

hingga dukungan sehari-hari bagi lansia atau pasien pasca-rawat 

inap hospital 

Struktur organisasi layanan ini berbeda dari struktur 

rumah sakit atau klinik sebab  fokusnya pada pelayanan 

terdesentralisasi (berbasis rumah pasien) dan memerlukan 

koordinasi lintas disiplin yang kompleks. 

B. Konsep Struktur Organisasi Layanan perawatan intensif  

1. Definisi 

perawatan intensif  merupakan konsep  pelayanan kesehatan 

yang membawa pelayanan klinis dan non-klinis langsung 

ke tempat tinggal pasien, berorientasi pada keselamatan, 

kualitas hidup, dan kenyamanan pasien. 

2. Tujuan perawatan intensif  

a. Meningkatkan kualitas hidup pasien di rumah. 

b. Mengurangi readmisi rumah sakit. 

c. Menyediakan perawatan berkelanjutan pasca rawat 

inap. 

d. Menurunkan biaya perawatan kesehatan jangka 

panjang. 


3. Model organisasi perawatan intensif  Internasional 

Menurut studi lintas negara di Eropa, organisasi perawatan intensif  

dapat dikategorikan berdasar  karakteristik struktural 

seperti tingkat profesionalisme tim, koordinasi layanan, 

dan fokus pasien-sentris. Terdapat enam model yang 

berbeda berdasar  proses organisasi dan pelayanan 

Selain itu, model pelayanan di Spanyol menekankan 

integrasi antara profesional primer (dokter, perawat) dan 

dukungan spesialis untuk menangani pasien kronis atau 

terminal di rumah 

4. Teori dan Kerangka Analisis 

Secara umum, struktur organisasi perawatan intensif  memiliki 

beberapa elemen utama seperti berikut: 

a. Penanggung Jawab Utama 

Orang atau pihak yang bertanggung jawab 

terhadap keseluruhan layanan perawatan intensif , termasuk 

implementasi operasional, pengawasan kualitas, dan 

pelaporan.  

Peran: 

1) Bertanggung jawab atas kebijakan layanan. 

2) Menetapkan standar pelayanan. 

3) Menjalin hubungan dengan regulator atau institusi 

lain. 

b. Ketua Umum / Direktur perawatan intensif  

Pengambil keputusan tertinggi dalam struktur 

organisasi layanan perawatan intensif  yang memimpin seluruh 

fungsi manajerial dan operasional.  

Tugas: 

1) Memimpin tim pelayanan. 

2) Menetapkan SOP dan kebijakan internal. 

3) Mengawasi implementasi layanan. 

c. Manajer atau Koordinator Pelayanan 

Bertanggung jawab atas koordinasi langsung tim 

layanan dan aktivitas operasional harian, termasuk 

penjadwalan staf dan komunikasi dengan pasien dan  

keluarga.  

Tugas: 

1) Mengatur jadwal kunjungan. 

2) Melakukan supervisi tim. 

3) Menanggapi masalah logistik atau medis untuk 

klien. 

d. Koordinator Kasus (Case Coordinator) 

Personel yang berperan sebagai penghubung 

antara pasien, keluarga, tenaga profesional, dan 

dokumentasi administrasi. Model case management ini 

penting untuk menjaga kontinuitas layanan dalam 

berbagai sektor perawata 

5. Contoh Implementasi Kebijakan Publik dan Promosi 

Kesehatan 

Berikut contoh skematik struktur organisasi layanan 

perawatan intensif  berdasar  praktik di lapangan (diadaptasi 

dari berbagai literatur operasional): 

Direktur / Penanggung Jawab 

            ' 

      -%%%%%%%%%%%%%5 

      'perawatan intensif  Manager' 

      5%%%%%%%%%%%%%= 

       /         |         \ 

           Administrasi    Kasus      Pelayanan 

               '           /   |   \ 

     -%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%5 

     ' Perawat           Fisioterapis              Dokter Rumah 

 

 

6. Peran Tim dalam Struktur 

a. Tenaga Medis 

1) Perawat perawatan intensif  

2) Fisioterapis 

3) Dokter kunjungan 

 

Tenaga medis ini bertanggung jawab atas 

pengkajian, penetapan rencana perawatan, 

pelaksanaan tindakan klinis, dan evaluasi hasil 

perawatan. 

b. Tenaga Non-Medis 

1) Administrasi 

2) Logistik 

3) Customer Service 

Peran mereka yaitu  memastikan proses 

administrasi, pencatatan, penjadwalan, dan  dukungan 

non-klinis berjalan baik. 

7. Mekanisme Koordinasi Antar Unit 

perawatan intensif  merupakan organisasi layanan 

terintegrasi yang membutuhkan komunikasi dan 

koordinasi lintas unit, seperti: 

a. Komunikasi antar tim medis dan administrasi 

b. Rapat koordinasi klinis berkala 

c. Penyusunan jadwal kunjungan yang efektif 

d. Pelaporan masalah pelayanan secara real-time 

Dalam model perawatan intensif  yang baik, koordinasi juga 

melibatkan pasien dan keluarganya sebagai pengambil 

keputusan bersama dalam proses pelayanan 

8. Tantangan dalam Struktur Organisasi perawatan intensif  

a. Koordinasi Tim 

Menyatukan berbagai disiplin yang bekerja 

terpisah secara geografis membutuhkan komunikasi 

yang efektif.  

b. Pengawasan Kualitas 

Mengukur dan menjaga mutu pelayanan di rumah 

pasien jauh lebih kompleks dibanding layanan di 

fasilitas kesehatan tetap. 

c. Keamanan dan Penanggung Jawab Klinis 

Penanggung jawab klinis harus memastikan 

standar perawatan diikuti dengan benar sesuai regulasi 

kesehatan. 

 

 

9. Studi Kasus Internasional – Buurtzorg Nederland 

Model organisasi Buurtzorg di Belanda memenangkan 

penghargaan sebab  memakai  struktur yang sangat 

datar dengan tim perawat otonom yang mengatur sendiri 

pekerjaan dan koordinasi kunjungan pasien, membuktikan 

bahwa struktur organisasi dapat bersifat fleksibel dan tidak 

selalu hirarkis.  

10. Evaluasi dan Rekomendasi 

Struktur organisasi layanan perawatan intensif  yang efektif 

harus memperhatikan: 

a. Patient-centered approach 

b. Integrasi lintas profesi 

c. Koordinasi internal dengan standar operasional jelas 

d. Adaptasi sesuai kebutuhan lokal (komunitas, rumah 

sakit, klinik) 

 

Layanan perawatan intensif  telah bertransformasi dari sekadar 

alternatif perawatan menjadi kebutuhan mendasar dalam sistem 

kesehatan saat ini. Dalam konteks yang semakin kompleks ini, 

tujuan utamanya yaitu  menempatkan pasien sebagai pusat dari 

proses perawatan, melibatkan mereka dalam pengambilan 

keputusan dan merancang perawatan sesuai kebutuhan 

individual mereka. Hal ini sangat relevan di era populasi yang 

menua dan meningkatnya jumlah penyakit kronis, di mana 

perawatan jangka panjang menjadi perhatian nyata. 

Studi menunjukkan bahwa pasien yang menerima layanan 

perawatan intensif  sering kali mengalami perbaikan dalam kesehatan 

fisik dan mental mereka. Kelebihan utama dari metode ini 

yaitu  kenyamanan yang ditawarkan; pasien dapat berada di 

lingkungan yang akrab, menjaga koneksi sosial, dan 

menanggulangi perasaan terasing yang umum terjadi di rumah 

sakit. Ini merupakan keuntungan emosional yang krusial dalam 

proses penyembuhan. Namun, meskipun potensi layanan ini 

sangat besar, tantangan yang dihadapinya cukup banyak. 

Banyak keluarga yang belum sepenuhnya memahami 

bagaimana mengakses layanan ini, dan  beragamnya jenis 

perawatan yang tersedia, menjadi penghalang bagi efektivitas 

layanan. Perencanaan yang sistematis dan menyeluruh 

diperlukan untuk memastikan bahwa setiap elemen dari layanan 

perawatan intensif  dapat dijalankan secara efisien dan efektif, agar tujuan 

perawatan dapat tercapai. 


Perencanaan layanan perawatan intensif  secara mendalam. 

Dua hal yang menjadi fokus utama yaitu  bagaimana 

melakukan analisis kebutuhan pasien yang menyeluruh 

dan langkah-langkah spesifik dalam merancang, 

melaksanakan, dan mengevaluasi layanan yang diberikan. 

Kesadaran akan pentingnya integritas dalam kolaborasi tim 

menjadi elemen kunci dalam menciptakan layanan yang 

memuaskan bagi pasien dan keluarganya. 

B. Definisi perawatan intensif  

Dalam konteks perawatan kesehatan, perawatan intensif  

didefinisikan sebagai layanan yang diberikan kepada 

individu di rumah mereka, mencakup berbagai tingkat 

perawatan medis, rehabilitasi, dan dukungan sosial. 

"Layanan perawatan intensif  memiliki tujuan untuk memberi  

perawatan perawatan kesehatan dan sosial di lingkungan 

rumah, dengan harapan mendukung pasien agar dapat 

hidup mandiri dan nyaman." Layanan ini berfokus pada 

kebutuhan individual pasien dan dapat terkait dengan 

kondisi kronis, pemulihan pasca-perawatan medis, atau 

dukungan harian dalam aktivitas sehari-hari. 

"perawatan intensif  yaitu  perawatan yang dirancang untuk 

memastikan kebutuhan kesehatan pasien memenuhi 

kondisi unik mereka, dan memberi  pelayanan di rumah 

untuk memaksimalkan kualitas hidup." Dalam hal ini, 

layanan perawatan intensif   tidak sekadar soal perawatan;  ini 

yaitu  konsep  yang terintegrasi yang meliputi 

dukungan fisik, emosional, dan sosial, yang sangat penting 

dalam membantu pasien menghadapi tantangan 

kesehatannya. 

C. Analisis Kebutuhan (Asesmen Holistik) 

Analisis kebutuhan merupakan langkah fundamental 

dalam memastikan bahwa perawatan yang diberikan tepat 

sasaran dan sesuai dengan kondisi pasien. Tahap ini 

mencakup beberapa aspek penting yang harus diperhatikan 

dalam proses asesmen. 

 


1.   Asesmen Kondisi Kesehatan Pasien 

Asesmen awal harus mencakup evaluasi risiko 

kesehatan secara menyeluruh, yang tidak hanya 

terbatas pada kondisi fisik, namun  juga meliputi 

aspek mental dan sosial. Dalam konteks ini, 

pengumpulan data dari riwayat medis, catatan 

perawatan sebelumnya, dan  wawancara langsung 

dengan pasien dan keluarganya menjadi esensial. 

Data ini membantu dalam memahami kondisi 

pasien secara menyeluruh dan menciptakan 

gambaran yang komprehensif. Selain itu, 

pemakaian  alat asesmen standar, seperti Geriatric 

Depression Scale atau Mini-Mental State 

Examination, dapat membantu dalam mengukur 

kondisi mental pasien, dan  memudahkan dalam 

pengambilan keputusan klinis. Informasi ini 

memberi fondasi bagi perencanaan layanan dan 

memastikan bahwa semua aspek kebutuhan pasien 

dipenuhi. 

2.   Identifikasi Kebutuhan Medis dan Non-Medis 

Identifikasi yang akurat antara kebutuhan medis 

dan non-medis mencakup berbagai domain penting. 

Kebutuhan Medis dapat mencakup pengelolaan 

penyakit kronis, pengobatan rutin, rehabilitasi, dan 

terapi fisik. Ketrampilan untuk mendiagnosis dan 

merespons komplikasi yang mungkin terjadi 

menjadi kunci. 

Kebutuhan Non-Medis, dukungan emosional dan 

sosial sering kali menjadi yang terpenting. Banyak 

pasien menghadapi tantangan psikologis yang 

berimbas pada kesehatan fisik mereka. Menciptakan 

program yang memadai untuk mengatasi aspek 

ini4seperti dukungan psikoterapi atau kelompok 

dukungan4yaitu  bagian integral dari 

perencanaan yang holistik. 

 


3. Analisis Lingkungan Rumah 

Lingkungan tempat tinggal pasien juga sangat 

mempengaruhi kondisi kesehatan mereka. Analisis 

ini harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti 

aksesibilitas, kehilangan mobilitas, potensi bahaya 

(seperti jatuh), dan ketersediaan sumber daya 

(seperti alat bantu). Dengan memahami lingkungan 

fisik, penyedia layanan dapat menyesuaikan metode 

dan jenis layanan untuk menghindari risiko bagi 

keselamatan pasien. Melalui analisis yang holistik, 

seluruh gambaran kebutuhan pasien dapat 

dipetakan. Hal ini tidak hanya memastikan 

keberhasilan dalam perawatan yang diberikan, 

namun  juga menciptakan rasa nyaman bagi pasien 

dan keluarganya. 

D. Pengembangan Rencana Layanan perawatan intensif  

sesudah  mengumpulkan dan menganalisis data 

kebutuhan pasien, langkah berikutnya yaitu  menyusun 

Rencana Layanan perawatan intensif  yang terstruktur dan 

terpadu. Proses ini membutuhkan pemahaman yang 

mendalam tentang tujuan perawatan dan  sumber daya 

yang tersedia. 

1. Penyusunan Tujuan Layanan 

Penyusunan tujuan layanan harus mencakup drive 

untuk menjaga motivasi pasien dan  efektivitas 

perawatan. Tujuan harus dibuat dengan konsep  

SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, 

Time-bound) agar dapat diukur dan dievaluasi 

selama proses perawatan. Misalnya, tujuan jangka 

pendek dapat difokuskan pada pengurangan gejala 

fisik, sementara tujuan jangka panjang dapat berupa 

peningkatan kemandirian pasien dalam aktivitas 

sehari-hari. 

2. Penentuan Jenis dan Intensitas Layanan 

berdasar  analisis kebutuhan, jenis layanan yang 

akan diberikan harus ditentukan secara jelas, dengan 


mempertimbangkan lini jasa yang disiapkan4

apakah itu bantuan medis berkelanjutan, terapi fisik, 

atau dukungan psikososial. Selain itu, frekuensi dan 

rentang waktu untuk setiap intervensi harus juga 

ditentukan agar sesuai dengan kebutuhan pasien dan 

potensi keberadaan tenaga kesehatan. 

3.     Kesepakatan dan Kontrak Pelayanan 

Membuat kesepakatan tertulis bukan hanya secara 

formal meningkatkan komitmen, namun  juga 

berfungsi untuk melindungi hak dan tanggung jawab 

dari semua pihak yang terlibat. Kontrak ini mencakup 

detail tentang jenis layanan, ketersediaan waktu, dan 

biaya, menciptakan transparansi dalam hubungan 

antara penyedia dan penerima layanan. 

E. Pelaksanaan Rencana Layanan perawatan intensif  

sesudah  rencana dijabarkan dan disepakati, langkah 

selanjutnya yaitu  implementasi. Proses ini merupakan 

titik kritis di mana semua teori dan rencana bertemu 

dengan praktik. 

1. Persiapan dan Orientasi Tim 

Tenaga kesehatan yang terlibat dalam perawatan intensif  

harus mendapat  pelatihan dan orientasi yang 

memadai. Ini mencakup pemahaman tentang kondisi 

pasien dan penanganan dalam situasi yang spesifik. 

konsep  berbasis tim ini meningkatkan 

kolaborasi dan efisiensi dalam implementasi 

layanan. 

2. Implementasi Perawatan 

Pelaksanaan rencana layanan harus dilakukan 

dengan fleksibilitas yang tinggi, agar dapat 

disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasien. 

Kualitas perawatan yang tinggi sangat tergantung 

pada kemampuan tenaga kesehatan untuk 

beradaptasi dengan situasi yang terus berubah. 

Selain itu, harus ada sistem pencatatan teratur yang 

mencatat setiap intervensi dan hasil yang dicapai. 

 

3. Dokumentasi Berkelanjutan 

Dokumentasi yaitu  elemen penting dalam home 

care, yang memicu  semua tindakan, observasi, 

dan perkembangan pasien harus dicatat secara 

sistematis. Hal ini tidak hanya berfungsi untuk 

referensi lebih lanjut, namun  juga mendukung proses 

evaluasi yang lebih akurat. 

F. Evaluasi Layanan perawatan intensif  

Evaluasi yaitu  tahap penting untuk memastikan 

bahwa perawatan yang diberikan memenuhi standar yang 

diharapkan. Proses evaluasi tidak hanya bersifat 

retrospektif, namun  juga merupakan alat untuk perbaikan 

berkelanjutan. 

1. Pengukuran Hasil (Outcome) 

memakai  indikator atau metrik untuk 

mengukur hasil perawatan yaitu  langkah kunci. 

Ini dapat mencakup alat pengukuran spesifik yang 

dirancang untuk menilai aspek seperti kesehatan 

fungsional, kepuasan pasien, dan tingkat kemajuan 

yang telah dicapai. 

2. Mekanisme Umpan Balik 

Penting untuk memiliki saluran komunikasi yang 

terbuka untuk mengumpulkan umpan balik dari 

pasien dan keluarganya. Ini mencakup dialog 

tentang apa yang berhasil dan apa yang perlu 

diperbaiki. Evaluasi juga dapat melibatkan survei, 

wawancara, dan asesmen langsung oleh tenaga 

kesehatan. 

3. Modifikasi dan Penyesuaian Rencana 

berdasar  umpan balik dan pengukuran hasil, 

penyesuaian rencana layanan mungkin diperlukan. 

Ini termasuk menambahkan atau mengubah 

intervensi, menambah anggota tim, atau bahkan 

mengubah tujuan perawatan jika diperlukan untuk 

lebih baik mencerminkan kebutuhan pasien. 

 


G. Kolaborasi Tim Layanan perawatan intensif  

perawatan intensif  bukanlah pekerjaan satu orang; ini 

membutuhkan sinergi antara semua tenaga kesehatan yang 

terlibat dalam perawatan. Kolaborasi yang baik akan 

meningkatkan kualitas pelayanan dan mendukung 

pengalaman yang lebih baik bagi pasien. 

1. Peran dan Tanggung Jawab Tim 

Setiap anggota tim harus memahami perannya 

masing-masing. Hal ini membantu memperjelas 

ekspektasi dan meminimalkan kebingungan. 

Sebagai contoh, perawat mungkin akan bertugas 

dalam pengobatan harian dan terapi fisik, 

sementara pekerja sosial dapat berperan dalam 

menyediakan dukungan emosional dan sumber 

daya tambahan. 

2. Mekanisme Komunikasi 

Komunikasi yang efisien antar anggota tim sangat 

penting. Mengadakan pertemuan rutin untuk 

mendiskusikan perkembangan pasien dan strategi 

baru dapat membantu meningkatkan sinergi. 

memakai  teknologi komunikasi seperti video 

conference atau aplikasi manajemen proyek juga 

bisa membantu dalam pengorganisasian. 

3. Integrasi dengan Layanan Eksternal 

Kolaborasi yang efektif juga melibatkan koordinasi 

dengan penyedia layanan eksternal, seperti apotek 

atau pusat rehabilitasi, untuk memastikan pasien 

mendapat  semua layanan yang mereka 

butuhkan. Integrasi ini memastikan konsep  

yang lebih komprehensif dalam perawatan. 

H. Aspek Etika dan Regulasi 

Praktik perawatan intensif  perlu memperhatikan aspek etika dan 

kepatuhan hukum dalam memberi  layanan yang 

berkualitas dan aman. Hal ini menjadi penting agar hak-hak 

pasien tidak terlanggar. Regulasi dan Legalitas Penyedia 

layanan harus mematuhi regulasi yang ada, seperti standar 


pelayanan kesehatan, hak pasien, dan tanggung jawab 

penyedia. Terlebih lagi, aturan yang relevan seperti UU No. 

17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, memberi  panduan 

dan  batasan yang harus diikuti untuk menjaga integritas 

praktik. 

 

 

Manajemen operasional yaitu  kegiatan yang 

berkaitan dengan perencanaan, pengorganisasian, 

pengarahan, dan pengendalian proses produksi atau 

pelayanan untuk menghasilkan produk atau jasa secara efektif 

dan efisien. Menurut Operations Management karya Jay 

Heizer dan Barry Render, manajemen operasi merupakan 

serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk 

barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output. 

Dalam sektor kesehatan, manajemen operasional berfokus 

pada pengelolaan pelayanan kesehatan agar berjalan efektif, 

efisien, dan berkualitas. 

perawatan intensif  yaitu  pelayanan kesehatan yang 

diberikan kepada pasien di rumah untuk mempertahankan, 

meningkatkan, atau memulihkan kesehatan pasien. Menurut 

Fundamentals of Nursing oleh Patricia A. Potter dan Anne 

Griffin Perry, perawatan intensif  merupakan bagian dari pelayanan 

kesehatan komunitas yang bertujuan memberi  asuhan 

keperawatan secara berkesinambungan di rumah pasien. 

Pelayanan ini biasanya diberikan kepada : 

1. pasien penyakit kronis 

2. pasien pasca rawat inap 

3. lansia 

4. pasien dengan keterbatasan mobilitas 

Manajemen operasional perawatan intensif  yaitu  proses 

perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan 


pengendalian berbagai kegiatan pelayanan kesehatan yang 

diberikan kepada pasien di rumah agar pelayanan berjalan 

efektif, efisien, dan berkualitas. Secara umum, manajemen 

operasional merupakan kegiatan mengelola sumber daya 

organisasi untuk menghasilkan layanan atau produk secara 

efektif dan efisien. Dalam konteks perawatan intensif , manajemen 

operasional mencakup pengelolaan tenaga kesehatan, jadwal 

kunjungan, peralatan medis, hingga pengawasan mutu 

pelayanan yang diberikan kepada pasien di rumah. 

B. Tujuan Manajemen Operasional perawatan intensif  

Tujuan manajemen operasional perawatan intensif  yaitu  

untuk memastikan bahwa pelayanan kesehatan yang 

diberikan di rumah pasien dapat berjalan efektif, efisien, dan 

berkualitas, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasien 

dan keluarganya. Secara umum, tujuan manajemen 

operasional perawatan intensif  meliputi: 

1. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan; Manajemen 

operasional bertujuan memastikan pelayanan perawatan intensif  

diberikan sesuai standar pelayanan kesehatan sehingga 

mutu pelayanan tetap terjaga. 

2. Mengoptimalkan pemakaian  Sumber Daya; Manajemen 

operasional membantu mengelola sumber daya seperti 

tenaga kesehatan, waktu kunjungan, dan  peralatan medis 

agar dipakai  secara efisien. 

3. memberi  Pelayanan yang Efektif dan Efisien; Dengan 

pengelolaan operasional yang baik, pelayanan kesehatan di 

rumah dapat dilakukan secara tepat waktu, tepat prosedur, 

dan dengan biaya yang lebih efisien. 

4. Meningkatkan Kepuasan Pasien dan Keluarga; Pelayanan 

perawatan intensif  yang terorganisasi dengan baik akan 

meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan  kepuasan 

pasien dan keluarganya. 

5. Menjamin Kesinambungan Pelayanan Kesehatan; 

Manajemen operasional bertujuan menjaga kontinuitas 

pelayanan kesehatan sesudah  pasien keluar dari rumah sakit 

sehingga proses pemulihan tetap berjalan dengan baik. 


6. Mengendalikan Biaya Pelayanan; Manajemen operasional 

membantu mengontrol biaya pelayanan kesehatan agar 

tetap terjangkau tanpa mengurangi kualitas pelayanan. 

C. Fungsi Manajemen Operasional perawatan intensif  

Fungsi manajemen operasional perawatan intensif  yaitu  

serangkaian kegiatan manajemen yang dilakukan untuk 

mengatur dan mengelola pelayanan kesehatan di rumah 

pasien agar berjalan secara efektif, efisien, dan sesuai dengan 

standar pelayanan kesehatan. Secara umum, fungsi 

manajemen operasional perawatan intensif  mengikuti konsep fungsi 

manajemen yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, 

pelaksanaan, dan pengendalian (POAC). 

1. Perencanaan (Planning) 

Perencanaan merupakan proses menentukan 

tujuan dan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam 

pelayanan perawatan intensif . Kegiatan perencanaan meliputi;  

a. Menentukan jenis pelayanan perawatan intensif  yang akan 

diberikan. 

b. Menyusun program pelayanan kesehatan di rumah. 

c. Menentukan jumlah tenaga kesehatan yang dibutuhkan. 

d. Menyiapkan peralatan medis dan obat-obatan. 

e. Menyusun jadwal kunjungan pasien. 

Perencanaan yang baik akan membantu pelayanan 

perawatan intensif  berjalan terarah dan sesuai dengan kebutuhan 

pasien. 

2. Pengorganisasian (Organizing) 

Pengorganisasian yaitu  proses mengatur dan 

membagi tugas kepada tenaga kesehatan yang terlibat 

dalam pelayanan perawatan intensif . Kegiatan pengorganisasian 

meliputi;  

a. Membentuk struktur organisasi pelayanan perawatan intensif . 

b. Membagi tugas dan tanggung jawab tenaga kesehatan. 

c. Mengkoordinasikan kerja antara dokter, perawat, dan 

tenaga kesehatan lainnya. 


Tujuan pengorganisasian yaitu  agar setiap tenaga 

kesehatan memiliki tugas yang jelas sehingga pelayanan 

dapat berjalan dengan baik. 

3. Pelaksanaan atau Penggerakan (Actuating) 

Pelaksanaan yaitu  proses menjalankan kegiatan 

pelayanan perawatan intensif  sesuai dengan rencana yang telah 

ditetapkan. Kegiatan pelaksanaan meliputi;  

a. Kunjungan tenaga kesehatan ke rumah pasien. 

b. Pelaksanaan asuhan keperawatan. 

c. Pemantauan kondisi kesehatan pasien. 

d. Edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga. 

Pelaksanaan pelayanan harus mengikuti standar 

operasional prosedur (SOP) agar kualitas pelayanan tetap 

terjaga. 

4. Pengendalian (Controlling) 

Pengendalian yaitu  proses memantau dan 

mengevaluasi pelayanan perawatan intensif  untuk memastikan 

kegiatan berjalan sesuai dengan standar yang telah 

ditetapkan. Kegiatan pengendalian meliputi; 

a. Evaluasi kualitas pelayanan kesehatan. 

b. Monitoring kinerja tenaga kesehatan. 

c. Evaluasi kepuasan pasien dan keluarga. 

d. Perbaikan pelayanan jika ditemukan kekurangan. 

Pengendalian bertujuan untuk meningkatkan mutu 

pelayanan perawatan intensif  secara berkelanjutan. 

D. Komponen Operasional perawatan intensif  

Komponen operasional perawatan intensif  merupakan unsur-

unsur penting yang mendukung terlaksananya pelayanan 

kesehatan di rumah pasien secara efektif, efisien, dan 

berkualitas. Komponen ini meliputi sumber daya manusia, 

sistem pelayanan, sarana prasarana, dan  standar pelayanan 

yang dipakai  dalam pelaksanaan perawatan intensif . 

1. Sumber Daya Manusia (SDM) 

Sumber daya manusia merupakan komponen 

utama dalam pelayanan perawatan intensif . Tenaga kesehatan yang 

terlibat harus memiliki kompetensi dan keterampilan yang 


sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah. 

Tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan perawatan intensif  

antara lain: 

a. Dokter 

b. Perawat 

c. Fisioterapis 

d. Bidan 

e. Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian 

f. Caregiver atau tenaga pendamping pasien 

g. Tenaga administrasi 

Setiap tenaga kesehatan berperan  dan tanggung 

jawab masing-masing dalam memberi  pelayanan 

kepada pasien. 

2. Sistem Pelayanan 

Sistem pelayanan merupakan mekanisme atau tata 

cara dalam pelaksanaan pelayanan perawatan intensif  agar 

pelayanan dapat berjalan secara teratur dan terkoordinasi. 

Sistem pelayanan perawatan intensif  meliputi;  

a. Sistem pendaftaran pasien 

b. Sistem penjadwalan kunjungan tenaga kesehatan 

c. Sistem rujukan ke fasilitas kesehatan lain jika diperlukan 

d. Sistem dokumentasi dan pencatatan kondisi pasien 

e. Sistem komunikasi antara tenaga kesehatan dan 

keluarga pasien 

Sistem pelayanan yang baik akan memudahkan 

koordinasi dan  meningkatkan kualitas pelayanan 

kesehatan. 

3. Sarana dan Prasarana 

Sarana dan prasarana merupakan fasilitas yang 

dipakai  untuk mendukung pelaksanaan pelayanan 

perawatan intensif . Contoh sarana dan prasarana dalam perawatan intensif  

antara lain;  

a. Peralatan medis (tensimeter, termometer, oksimeter, 

dll.) 

b. Alat perawatan luka 

c. Obat-obatan 

 

d. Alat rehabilitasi 

e. Kendaraan operasional untuk kunjungan rumah 

Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai 

akan membantu tenaga kesehatan memberi  pelayanan 

secara optimal. 

4. Standar Operasional Prosedur (SOP) 

Standar operasional prosedur merupakan 

pedoman atau aturan yang dipakai  dalam pelaksanaan 

pelayanan perawatan intensif  agar pelayanan dilakukan secara 

sistematis dan sesuai dengan standar pelayanan kesehatan. 

SOP dalam pelayanan perawatan intensif  meliputi; 

a. Prosedur kunjungan rumah 

b. Prosedur pemberian asuhan keperawatan 

c. Prosedur pemakaian  alat medis 

d. Prosedur keselamatan pasien 

e. Prosedur pencatatan dan pelaporan pelayanan 

Penerapan SOP bertujuan untuk menjaga mutu 

pelayanan dan  menjamin keselamatan pasien. 

5. Sistem Pengawasan dan Evaluasi 

Pengawasan dan evaluasi dilakukan untuk 

memastikan pelayanan perawatan intensif  berjalan sesuai dengan 

rencana dan standar yang telah ditetapkan. Kegiatan 

pengawasan meliputi;  

a. Monitoring pelaksanaan pelayanan 

b. Evaluasi kinerja tenaga kesehatan 

c. Penilaian kepuasan pasien 

d. Perbaikan kualitas pelayanan 

Pengawasan yang baik akan membantu 

meningkatkan mutu pelayanan perawatan intensif  secara 

berkelanjutan. 

E. Kegiatan Operasional perawatan intensif  

Kegiatan operasional perawatan intensif  yaitu  berbagai 

aktivitas pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga 

kesehatan kepada pasien di rumah. Kegiatan ini bertujuan 

untuk memberi  pelayanan kesehatan yang berkelanjutan, 


meningkatkan kualitas hidup pasien, dan  membantu proses 

pemulihan pasien di lingkungan rumah. 

1. Pengkajian Kondisi Pasien 

Kegiatan awal dalam pelayanan perawatan intensif  yaitu  

melakukan pengkajian terhadap kondisi kesehatan pasien. 

Pengkajian dilakukan untuk mengetahui keadaan fisik, 

psikologis, dan sosial pasien sehingga tenaga kesehatan 

dapat menentukan jenis pelayanan yang dibutuhkan. 

Pengkajian meliputi;  

a. Pemeriksaan tanda-tanda vital 

b. Riwayat penyakit pasien 

c. Kondisi lingkungan rumah 

d. Kebutuhan perawatan pasien 

2. Penyusunan Rencana Perawatan 

sesudah  melakukan pengkajian, tenaga kesehatan 

akan menyusun rencana perawatan sesuai dengan kondisi 

dan kebutuhan pasien. Rencana perawatan ini bertujuan 

untuk menentukan tindakan yang akan diberikan selama 

pelayanan perawatan intensif . Rencana perawatan dapat berupa;  

a. Jadwal kunjungan tenaga kesehatan 

b. Jenis tindakan medis atau keperawatan 

c. Program rehabilitasi pasien 

3. Pelaksanaan Asuhan Keperawatan 

Pelaksanaan asuhan keperawatan merupakan 

kegiatan utama dalam pelayanan perawatan intensif . Tenaga 

kesehatan memberi  berbagai tindakan medis atau 

keperawatan kepada pasien sesuai dengan rencana 

perawatan. Contoh kegiatan yang dilakukan antara lain;  

a. Perawatan luka 

b. Pemberian obat 

c. Pemasangan infus 

d. Pemantauan kondisi kesehatan pasien 

e. Perawatan pasien pasca operasi 

4. Edukasi kepada Pasien dan Keluarga 

Dalam pelayanan perawatan intensif , tenaga kesehatan juga 

memberi  edukasi kepada pasien dan keluarga 

 

mengenai cara merawat pasien di rumah. Edukasi yang 

diberikan meliputi;  

a. Cara menjaga kebersihan pasien 

b. Cara pemberian obat yang benar 

c. Pencegahan komplikasi penyakit 

d. Pola makan dan gaya hidup sehat 

5. Monitoring dan Evaluasi Kondisi Pasien 

Monitoring dilakukan untuk mengetahui 

perkembangan kondisi kesehatan pasien selama 

mendapat  pelayanan perawatan intensif . Kegiatan monitoring 

meliputi;  

a. Pemeriksaan kondisi kesehatan secara berkala 

b. Evaluasi hasil perawatan 

c. Penyesuaian rencana perawatan jika diperlukan 

6. Dokumentasi Pelayanan 

Setiap kegiatan pelayanan perawatan intensif  harus 

didokumentasikan dengan baik sebagai bentuk pencatatan 

medis dan bahan evaluasi pelayanan. Dokumentasi 

meliputi;  

a. Catatan perkembangan kondisi pasien 

b. Tindakan yang telah dilakukan 

c. Respon pasien terhadap perawatan 

d. Laporan kunjungan tenaga kesehatan 

Dokumentasi yang baik sangat penting untuk 

menjaga kontinuitas pelayanan kesehatan. 

 

Manajemen keuangan dalam pelayanan perawatan intensif  

merupakan komponen strategis yang menentukan 

keberlanjutan layanan, mutu asuhan, dan  stabilitas organisasi. 

Berbeda dengan pelayanan berbasis fasilitas seperti rumah sakit, 

perawatan intensif  memiliki struktur biaya yang unik: mobilitas tinggi, 

kebutuhan logistik individual, variasi intensitas layanan, dan  

sistem pembayaran yang lebih fleksibel. 

Secara konseptual, pengelolaan keuangan perawatan intensif  harus 

mengintegrasikan prinsip manajemen keuangan kesehatan 

(health financial management), efisiensi biaya, akuntabilitas 

publik, dan keadilan akses pelayanan. 

B. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan perawatan intensif  

1. Konsep Dasar Manajemen Keuangan perawatan intensif  

 Manajemen keuangan dalam pelayanan perawatan intensif  

merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, 

pelaksanaan, dan pengendalian sumber daya finansial guna 

menjamin keberlanjutan layanan yang efektif, efisien, dan 

berkualitas. Pengelolaan keuangan yang baik 

memungkinkan penyedia layanan mempertahankan mutu 

asuhan, membayar tenaga kesehatan secara layak, dan  

memenuhi kebutuhan operasional secara berkelanjutan 

 Dalam konteks manajemen pelayanan kesehatan, fungsi 

manajemen keuangan mencakup: 

a. Perencanaan anggaran (budgeting) 

b. Pengelolaan pendapatan 

(revenue management) 

Manajemen Keuangan dan 

Pembiayaan perawatan intensif  

 

c. Pengendalian biaya (cost control) 

d. Pelaporan dan akuntabilitas keuangan 

e. Evaluasi kinerja finansial 

 Menurut Yoder-Wise (2022), manajemen keuangan 

dalam keperawatan tidak hanya berorientasi pada 

keuntungan, namun  juga pada nilai (value-based care), yaitu 

keseimbangan antara kualitas layanan dan biaya yang 

dikeluarkan. 

2. Struktur Biaya dalam Layanan perawatan intensif  

 Biaya dalam perawatan intensif  dapat diklasifikasikan menjadi 

biaya tetap dan biaya variabel. 

a. Biaya Tetap (Fixed Cost) 

Biaya tetap yaitu  biaya yang tidak berubah meskipun 

jumlah pasien meningkat atau menurun, seperti: 

• Gaji tenaga tetap 

• Sewa kantor 

• Asuransi 

• Sistem administrasi dan IT 

Biaya tetap harus diperhitungkan secara cermat dalam 

penyusunan tarif layanan agar tidak memicu  

defisit operasional 

b. Biaya Variabel (Variable Cost) 

Biaya variabel berubah sesuai dengan jumlah 

kunjungan atau tindakan, seperti: 

• Alat medis habis pakai 

• Transportasi per kunjungan 

• Honor tenaga per visit 

• Obat-obatan 

Pengendalian biaya variabel sangat penting dalam 

menjaga efisiensi operasional perawatan intensif  

3. Sistem Pembiayaan perawatan intensif  

Sistem pembiayaan perawatan intensif  dapat bersumber dari 

berbagai mekanisme, tergantung sistem kesehatan suatu 

negara. 

a. Pembayaran Mandiri (Out-of-Pocket) 

 


Pembayaran langsung oleh pasien atau keluarga 

merupakan sistem yang paling umum dalam praktik 

perawatan intensif  swasta. Sistem ini memberi  fleksibilitas 

dalam penentuan tarif, namun  dapat menjadi hambatan 

akses bagi pasien dengan keterbatasan ekonomi (World 

Health Organization [WHO], 2020). 

b. Pembiayaan Asuransi Kesehatan 

Dalam sistem jaminan kesehatan nasional 

seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial 

Kesehatan, beberapa layanan berbasis komunitas dan 

perawatan lanjutan dapat dibiayai melalui mekanisme 

rujukan tertentu. 

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2022), integrasi 

pelayanan perawatan intensif  dalam sistem JKN masih 

berkembang dan umumnya berkaitan dengan program 

rujuk balik atau perawatan paliatif. 

c. Pembiayaan Berbasis Paket (Bundled Payment) 

Model bundled payment menetapkan tarif berdasar  

episode perawatan tertentu, misalnya perawatan luka 

selama 14 hari. Model ini menekankan efisiensi dan 

outcome klinis (Porter & Kaplan, 2016). 

4. Penyusunan Tarif Layanan perawatan intensif  

Penetapan tarif harus mempertimbangkan: 

a. Analisis biaya (cost analysis) 

b. Analisis pasar 

c. Daya beli warga  

d. Margin keberlanjutan usaha 

Metode yang dapat dipakai : 

• Cost-based pricing 

• Value-based pricing 

• Market-based pricing 

Menurut Gapenski & Reiter (2016), konsep  cost-based 

pricing yaitu  metode paling aman untuk layanan 

kesehatan skala kecil sebab  memastikan seluruh biaya 

tertutupi sebelum menentukan margin keuntungan. 

 

5. Penyusunan Anggaran (Budgeting) 

Anggaran merupakan rencana keuangan yang dinyatakan 

dalam angka untuk periode tertentu. Dalam perawatan intensif , 

anggaran biasanya disusun secara tahunan dengan 

evaluasi triwulanan. 

Jenis anggaran meliputi: 

• Operating budget 

• Capital budget 

• Cash flow budget 

Finkler et al. (2019) menekankan bahwa perencanaan arus 

kas (cash flow management) sangat krusial dalam layanan 

berbasis kunjungan seperti perawatan intensif  sebab  

ketidakseimbangan antara waktu pelayanan dan waktu 

pembayaran dapat memicu  risiko likuiditas. 

6. Sistem Pengendalian dan Audit Keuangan 

Pengendalian internal diperlukan untuk mencegah: 

• Kebocoran pendapatan 

• Fraud 

• Ketidakefisienan operasional 

Menurut Marquis & Huston (2021), transparansi laporan 

keuangan dan audit berkala merupakan bagian dari good 

governance dalam organisasi keperawatan. 

Langkah pengendalian meliputi: 

a. Pemisahan fungsi keuangan 

b. Sistem pencatatan digital 

c. Audit internal berkala 

d. Evaluasi kinerja finansial per unit layanan 

7. Sistem Analisis Kelayakan Usaha perawatan intensif  

Sebelum mendirikan layanan perawatan intensif , perlu dilakukan 

studi kelayakan yang mencakup: 

• Analisis kebutuhan pasar 

• Analisis kompetitor 

• Break-even point (BEP) 

• Proyeksi laba rugi 

 

), analisis BEP membantu 

menentukan jumlah minimal kunjungan agar operasional 

tidak mengalami kerugian. 

8. Sistem Analisis Kelayakan Usaha perawatan intensif  

Beberapa tantangan yang sering dihadapi: 

a. Tarif yang tidak standar 

b. Ketergantungan pada pembayaran tunai 

c. Integrasi terbatas dengan sistem JKN 

d. Biaya transportasi tinggi di wilayah kepulauan 

WHO (2020) menyatakan bahwa sistem pembiayaan 

berbasis komunitas memerlukan regulasi dan dukungan 

kebijakan agar dapat berkelanjutan. 

Pelayanan kesehatan berbasis rumah atau perawatan intensif  

merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang 

berkembang pesat seiring dengan meningkatnya kebutuhan 

warga  terhadap layanan kesehatan yang 

berkesinambungan, personal, dan berpusat pada pasien. 

Layanan ini diberikan kepada pasien di lingkungan tempat 

tinggalnya dengan tujuan mempertahankan, meningkatkan, 

atau memulihkan kondisi kesehatan tanpa harus menjalani 

perawatan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit. perawatan intensif  

umumnya ditujukan bagi pasien dengan penyakit kronis, 

pasien lanjut usia, pasien pasca perawatan rumah sakit, 

maupun individu yang membutuhkan perawatan jangka 

panjang. Dalam pelaksanaannya, pelayanan perawatan intensif  

melibatkan tenaga kesehatan profesional seperti perawat, 

dokter, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya yang bekerja 

secara kolaboratif untuk memberi  asuhan yang 

komprehensif. 

Seiring dengan meningkatnya pemanfaatan layanan 

perawatan intensif , tuntutan terhadap kualitas pelayanan juga semakin 

tinggi. Kualitas layanan dalam perawatan intensif  tidak hanya 

ditentukan oleh keterampilan klinis tenaga kesehatan, namun  

juga mencakup aspek keselamatan pasien, kontinuitas 

pelayanan, komunikasi dengan pasien dan keluarga, dan  

kepuasan pengguna layanan. Pelayanan yang berkualitas 

harus mampu memberi  perawatan yang aman, efektif, 

tepat waktu, efisien, dan  berorientasi pada kebutuhan pasien. 

Kualitas Layanan dan 

Indikator Mutu Home 

Care 

 

Oleh sebab  itu, pengukuran dan evaluasi mutu pelayanan 

menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan layanan home 

care untuk memastikan bahwa pelayanan yang diberikan telah 

sesuai dengan standar yang ditetapkan. 

Indikator mutu pelayanan perawatan intensif  berfungsi sebagai 

alat untuk menilai dan memantau kualitas layanan secara 

sistematis. Indikator ini  dapat mencakup berbagai aspek, 

seperti efektivitas pelayanan, keselamatan pasien, kepatuhan 

terhadap standar prosedur, dan  tingkat kepuasan pasien dan 

keluarga. Dengan adanya indikator mutu yang jelas dan 

terukur, penyedia layanan kesehatan dapat melakukan 

evaluasi secara berkelanjutan dan  melakukan perbaikan mutu 

pelayanan secara sistematis. Oleh sebab  itu, pemahaman 

mengenai konsep kualitas layanan dan indikator mutu dalam 

perawatan intensif  sangat penting bagi tenaga kesehatan maupun 

pengelola layanan kesehatan agar pelayanan yang diberikan 

dapat memenuhi standar profesional dan  memberi  

manfaat optimal bagi pasien dan keluarganya. 

B. Kualitas Layanan dan Indikator Mutu perawatan intensif  

Kualitas layanan merupakan salah satu aspek penting 

dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk dalam 

layanan perawatan intensif . Pelayanan kesehatan berbasis rumah 

menuntut standar mutu yang tinggi sebab  pelayanan 

diberikan di lingkungan pasien yang memiliki kondisi, sumber 

daya, dan  tingkat dukungan keluarga yang berbeda-beda. 

Oleh sebab  itu, kualitas layanan perawatan intensif  harus dirancang 

dan dilaksanakan secara sistematis agar mampu memberi  

asuhan kesehatan yang aman, efektif, dan berorientasi pada 

kebutuhan pasien. 

Dalam praktiknya, kualitas layanan perawatan intensif  tidak 

hanya berkaitan dengan kemampuan klinis tenaga kesehatan, 

namun  juga mencakup aspek manajemen pelayanan, 

keselamatan pasien, kepuasan pasien dan keluarga, dan  

keberlanjutan perawatan. Untuk memastikan mutu pelayanan 

tetap terjaga, diperlukan standar pelayanan yang jelas, 

indikator mutu yang terukur, dan  sistem evaluasi yang 

 

berkelanjutan. Dengan demikian, pelayanan perawatan intensif  dapat 

bermanfaat optimal bagi pasien sekaligus 

meningkatkan kepercayaan warga  terhadap layanan 

kesehatan berbasis komunitas. 

1. Konsep dan Dimensi Kualitas Layanan dalam perawatan intensif  

a. Pengertian Kualitas Layanan Kesehatan 

Kualitas layanan kesehatan dapat diartikan sebagai 

tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam 

memenuhi kebutuhan dan harapan pasien sesuai 

dengan standar profesional dan  etika pelayanan 

kesehatan. Kualitas layanan tidak hanya dilihat dari 

keberhasilan tindakan medis atau keperawatan, namun  

juga dari bagaimana pelayanan ini  diberikan 

secara aman, tepat waktu, efisien, dan  menghargai 

martabat dan kebutuhan pasien. 

Dalam konteks perawatan intensif , kualitas layanan mencakup 

kemampuan tenaga kesehatan dalam memberi  

pelayanan yang komprehensif di lingkungan rumah 

pasien. Hal ini meliputi kemampuan melakukan 

pengkajian kesehatan, memberi  intervensi yang 

tepat, melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga, 

dan  melakukan koordinasi dengan tenaga kesehatan 

lain untuk memastikan kontinuitas perawatan. 

b. Dimensi Kualitas Pelayanan 

Kualitas pelayanan kesehatan umumnya diukur melalui 

beberapa dimensi utama yang menggambarkan 

berbagai aspek mutu pelayanan. Beberapa dimensi 

kualitas pelayanan yang sering dipakai  dalam 

pelayanan kesehatan meliputi keamanan, efektivitas, 

efisiensi, responsivitas, dan pelayanan yang berorientasi 

pada pasien. 

Dimensi keamanan (safety) berkaitan dengan usaha  

mencegah terjadinya kesalahan medis, cedera pasien, 

maupun komplikasi yang tidak diinginkan selama 

proses pelayanan kesehatan. Dalam layanan perawatan intensif , 

aspek keamanan mencakup pemakaian  alat medis 


yang aman, pengelolaan obat yang tepat, dan  

penerapan prosedur pencegahan infeksi. 

Dimensi efektivitas (effectiveness) menunjukkan sejauh 

mana pelayanan kesehatan mampu memberi  hasil 

yang sesuai dengan tujuan perawatan. Pelayanan yang 

efektif berarti intervensi yang diberikan berdasar  

bukti ilmiah dan mampu meningkatkan kondisi 

kesehatan pasien. 

Dimensi efisiensi (efficiency) berkaitan dengan 

pemakaian  sumber daya secara optimal tanpa 

mengurangi kualitas pelayanan. Dalam layanan home 

care, efisiensi dapat tercermin dari pengelolaan waktu 

kunjungan, pemakaian  peralatan medis secara tepat, 

dan  koordinasi pelayanan yang baik. 

Dimensi responsivitas (responsiveness) menunjukkan 

kemampuan tenaga kesehatan dalam merespons 

kebutuhan pasien secara cepat dan tepat. Responsivitas 

sangat penting dalam pelayanan perawatan intensif  sebab  

kondisi pasien di rumah dapat berubah sewaktu-waktu 

dan membutuhkan penanganan segera. 

Dimensi berorientasi pada pasien (patient-centered care) 

menekankan bahwa pelayanan kesehatan harus 

memperhatikan kebutuhan, preferensi, nilai, dan  

kondisi sosial pasien dan keluarganya. Dalam layanan 

perawatan intensif , keluarga sering menjadi bagian penting dalam 

proses perawatan sehingga konsep  yang berpusat 

pada pasien dan keluarga sangat diperlukan. 

c. Prinsip Pelayanan Kesehatan yang Bermutu 

Pelayanan kesehatan yang bermutu harus memenuhi 

beberapa prinsip dasar, antara lain pelayanan yang 

aman, efektif, tepat waktu, efisien, adil, dan  

berorientasi pada kebutuhan pasien. Prinsip-prinsip ini 

bertujuan untuk memastikan bahwa setiap pasien 

memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas 

tanpa diskriminasi dan  sesuai dengan standar 

profesional. 


Dalam layanan perawatan intensif , prinsip mutu pelayanan juga 

mencakup kontinuitas pelayanan, koordinasi antar 

tenaga kesehatan, dan  pemberdayaan pasien dan 

keluarga dalam proses perawatan. Dengan menerapkan 

prinsip-prinsip ini , pelayanan perawatan intensif  dapat 

memberi  dampak positif terhadap kualitas hidup 

pasien. 

d. Peran Tenaga Kesehatan dalam Menjaga Kualitas 

Layanan perawatan intensif  

Tenaga kesehatan berperan  yang sangat penting 

dalam menjaga kualitas layanan perawatan intensif . Peran 

ini  meliputi kemampuan melakukan pengkajian 

kesehatan secara komprehensif, memberi  intervensi 

yang tepat, memantau kondisi pasien secara berkala, 

dan  memberi  edukasi kepada pasien dan keluarga 

mengenai perawatan yang harus dilakukan di rumah. 

Selain itu, tenaga kesehatan juga bertanggung jawab 

dalam menjaga keselamatan pasien, menerapkan 

standar prosedur operasional, dan  melakukan 

dokumentasi pelayanan secara akurat. Dengan 

kompetensi profesional dan sikap empati yang tinggi, 

tenaga kesehatan dapat memberi  pelayanan yang 

tidak hanya berkualitas secara klinis namun  juga 

memberi  rasa aman dan nyaman bagi pasien. 

2. Standar Pelayanan perawatan intensif  

Standar pelayanan perawatan intensif  merupakan pedoman yang 

dipakai  untuk memastikan bahwa pelayanan yang 

diberikan kepada pasien telah memenuhi standar 

profesional, etika, dan  keselamatan pasien. Standar ini 

penting untuk menjaga konsistensi dan kualitas pelayanan 

kesehatan yang diberikan di rumah pasien. 

a. Standar Pelayanan dan Praktik Profesional perawatan intensif  

Standar pelayanan perawatan intensif  mencakup berbagai aspek, 

mulai dari pengkajian pasien, perencanaan perawatan, 

pelaksanaan intervensi, hingga evaluasi hasil 

perawatan. Tenaga kesehatan harus melakukan 


pengkajian kondisi pasien secara menyeluruh, termasuk 

kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan rumah 

pasien. 

berdasar  hasil pengkajian ini , tenaga kesehatan 

menyusun rencana perawatan yang sesuai dengan 

kebutuhan pasien. Pelaksanaan intervensi harus 

dilakukan sesuai dengan standar praktik profesional 

dan  didokumentasikan secara sistematis untuk 

memudahkan pemantauan kondisi pasien. 

b. Standar Keselamatan Pasien dalam Layanan perawatan intensif  

Keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam 

setiap pelayanan kesehatan. Dalam layanan perawatan intensif , 

keselamatan pasien mencakup pencegahan kesalahan 

pemberian obat, pencegahan infeksi, pemakaian  alat 

medis yang aman, dan  pengelolaan risiko yang 

mungkin terjadi selama perawatan di rumah. 

Tenaga kesehatan juga perlu memberi  edukasi 

kepada pasien dan keluarga mengenai cara pemakaian  

obat, perawatan luka, dan  tindakan pencegahan 

komplikasi agar keselamatan pasien tetap terjaga. 

c. Standar Kompetensi Tenaga Kesehatan dalam 

Pelayanan perawatan intensif  

Pelayanan perawatan intensif  memerlukan tenaga kesehatan yang 

memiliki kompetensi profesional yang memadai. 

Kompetensi ini  mencakup kemampuan klinis, 

keterampilan komunikasi, kemampuan edukasi 

kesehatan, dan  kemampuan bekerja secara mandiri di 

lingkungan rumah pasien. 

Selain itu, tenaga kesehatan juga harus mampu 

melakukan koordinasi dengan tenaga kesehatan lain, 

seperti dokter, fisioterapis, dan ahli gizi, untuk 

memastikan bahwa pasien memperoleh pelayanan yang 

komprehensif. 

d. Regulasi dan Kebijakan Terkait Layanan perawatan intensif  

Pelayanan perawatan intensif  di berbagai negara diatur melalui 

regulasi dan kebijakan yang bertujuan untuk 


memastikan kualitas dan keselamatan pelayanan. 

Regulasi ini  mencakup standar operasional 

pelayanan, persyaratan tenaga kesehatan, sistem 

perizinan layanan, dan  mekanisme pengawasan mutu 

pelayanan. 

Adanya regulasi yang jelas membantu penyelenggara 

layanan perawatan intensif  dalam menjalankan pelayanan sesuai 

dengan standar yang berlaku dan  memberi  

perlindungan bagi pasien maupun tenaga kesehatan. 

3. Indikator Mutu Pelayanan perawatan intensif  

a. Pengertian Indikator Mutu Pelayanan Kesehatan 

Indikator mutu pelayanan kesehatan merupakan 

ukuran atau parameter yang dipakai  untuk menilai 

kualitas pelayanan kesehatan secara objektif dan 

terukur. Indikator mutu membantu penyelenggara 

pelayanan kesehatan dalam memantau kinerja 

pelayanan, mengidentifikasi masalah, dan  melakukan 

perbaikan mutu secara berkelanjutan. 

b. Jenis Indikator Mutu 

Indikator mutu pelayanan kesehatan umumnya 

diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu 

indikator struktur, indikator proses, dan indikator hasil 

(outcome). 

Indikator struktur berkaitan dengan sumber daya yang 

tersedia dalam pelayanan kesehatan, seperti jumlah 

tenaga kesehatan, ketersediaan peralatan medis, dan  

sistem manajemen pelayanan. 

Indikator proses menggambarkan bagaimana pelayanan 

kesehatan diberikan kepada pasien, misalnya kepatuhan 

terhadap standar prosedur operasional, ketepatan 

pemberian obat, dan  frekuensi kunjungan tenaga 

kesehatan. 

Indikator outcome berkaitan dengan hasil pelayanan 

kesehatan yang diterima pasien, seperti perbaikan 

kondisi kesehatan, penurunan angka komplikasi, atau 

tingkat kepuasan pasien. 


c. Indikator Mutu Klinis dan Non-Klinis 

Indikator mutu dalam layanan perawatan intensif  dapat dibagi 

menjadi indikator klinis dan indikator non-klinis. 

Indikator klinis berkaitan dengan hasil perawatan 

kesehatan pasien, seperti keberhasilan penyembuhan 

luka, pengendalian nyeri, atau stabilitas kondisi pasien. 

Sementara itu, indikator non-klinis berkaitan dengan 

aspek pelayanan seperti kepuasan pasien, ketepatan 

waktu pelayanan, dan  kualitas komunikasi antara 

tenaga kesehatan dengan pasien dan keluarga. 

d. Contoh Indikator Mutu Pelayanan perawatan intensif  

Beberapa contoh indikator mutu dalam pelayanan home 

care antara lain tingkat kepatuhan tenaga kesehatan 

terhadap standar prosedur operasional, frekuensi 

kunjungan sesuai rencana perawatan, tingkat kepuasan 

pasien dan keluarga, dan  angka kejadian komplikasi 

selama perawatan di rumah. 

4. Metode Pengukuran dan Evaluasi Mutu Layanan Home 

Care 

Pengukuran dan evaluasi mutu pelayanan merupakan 

proses yang sangat penting dalam penyelenggaraan 

layanan perawatan intensif . Kegiatan ini bertujuan untuk 

memastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada 

pasien telah sesuai dengan standar pelayanan kesehatan 

yang ditetapkan, baik dari segi keselamatan pasien, 

efektivitas tindakan, maupun kepuasan pasien dan 

keluarga. Melalui proses pengukuran mutu yang sistematis, 

penyelenggara layanan perawatan intensif  dapat menilai sejauh 

mana pelayanan yang diberikan telah memenuhi tujuan 

perawatan dan  mengidentifikasi berbagai faktor yang 

dapat mempengaruhi keberhasilan pelayanan. 

Dalam sistem manajemen mutu pelayanan kesehatan, 

pengukuran mutu tidak hanya berfungsi sebagai alat 

kontrol, namun  juga sebagai dasar dalam pengambilan 

keputusan manajerial dan perbaikan kualitas pelayanan 

secara berkelanjutan. Data yang diperoleh dari proses 

evaluasi mutu dapat dipakai  untuk mengidentifikasi 

kesenjangan antara standar pelayanan yang diharapkan 

dengan praktik pelayanan yang terjadi di lapangan. Oleh 

sebab  itu, sistem evaluasi mutu harus dilakukan secara 

terencana, terstruktur, dan berkesinambungan agar mampu 

memberi  gambaran yang akurat mengenai kualitas 

pelayanan perawatan intensif . 

a. Pengumpulan Data dan Pemantauan Indikator Mutu 

Pengumpulan data merupakan langkah awal yang 

sangat penting dalam proses pengukuran mutu 

pelayanan perawatan intensif . Data yang dikumpulkan berfungsi 

sebagai dasar dalam menilai kinerja pelayanan 

kesehatan dan  menentukan strategi perbaikan mutu 

yang diperlukan. Dalam praktik pelayanan perawatan intensif , 

data mutu pelayanan dapat diperoleh dari berbagai 

sumber, seperti catatan medis pasien, laporan 

kunjungan tenaga kesehatan, formulir evaluasi 

perawatan, dan  hasil survei kepuasan pasien dan 

keluarga. 

Catatan medis pasien merupakan sumber data utama 

yang memuat informasi mengenai kondisi kesehatan 

pasien, jenis intervensi yang diberikan, dan  

perkembangan kondisi pasien selama masa perawatan. 

Selain itu, laporan kunjungan tenaga kesehatan juga 

memberi  informasi mengenai frekuensi kunjungan, 

jenis pelayanan yang diberikan, dan  masalah yang 

ditemukan selama proses perawatan di rumah. 

Pemantauan indikator mutu dilakukan dengan cara 

membandingkan data pelayanan yang diperoleh dengan 

standar pelayanan yang telah ditetapkan. Proses 

pemantauan ini bertujuan untuk mengetahui apakah 

pelayanan yang diberikan telah sesuai dengan standar 

praktik profesional dan  untuk mendeteksi secara dini 

berbagai permasalahan yang dapat mempengaruhi 

kualitas pelayanan. Dengan adanya sistem pemantauan 

indikator mutu yang baik, penyelenggara layanan home 

care dapat melakukan tindakan perbaikan secara cepat 

dan tepat. 

b. Metode Evaluasi Mutu Pelayanan Kesehatan 

Evaluasi mutu pelayanan kesehatan merupakan proses 

penilaian terhadap berbagai aspek pelayanan untuk 

mengetahui tingkat keberhasilan pelayanan yang 

diberikan kepada pasien. Evaluasi ini dapat dilakukan 

dengan memakai  berbagai metode yang 

disesuaikan dengan tujuan evaluasi dan  karakteristik 

pelayanan kesehatan yang diberikan. 

Salah satu metode evaluasi yang sering dipakai  

yaitu  analisis indikator mutu pelayanan. Metode ini 

dilakukan dengan membandingkan hasil pelayanan 

dengan indikator mutu yang telah ditetapkan 

sebelumnya. Melalui analisis indikator mutu, 

penyelenggara layanan kesehatan dapat mengetahui 

apakah pelayanan yang diberikan telah mencapai 

standar yang diharapkan. 

Selain itu, evaluasi mutu juga dapat dilakukan melalui 

penilaian kinerja tenaga kesehatan. Penilaian ini 

bertujuan untuk menilai kompetensi tenaga kesehatan 

dalam memberi  pelayanan kepada pasien, termasuk 

keterampilan klinis, kemampuan komunikasi, dan  

kepatuhan terhadap standar prosedur operasional. 

Evaluasi kinerja tenaga kesehatan sangat penting dalam 

layanan perawatan intensif  sebab  pelayanan yang diberikan 

sangat bergantung pada kompetensi individu tenaga 

kesehatan yang melakukan kunjungan ke rumah pasien. 

Metode evaluasi mutu lainnya yaitu  melalui kegiatan 

audit pelayanan kesehatan. Audit dilakukan secara 

sistematis untuk menilai kesesuaian antara praktik 

pelayanan yang dilakukan dengan standar pelayanan 

yang telah ditetapkan. Melalui evaluasi yang 

komprehensif, penyelenggara layanan perawatan intensif  dapat 

memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai 

kualitas pelayanan yang diberikan dan  menentukan 

langkah-langkah perbaikan yang diperlukan. 

c. Audit Klinis dan Audit Pelayanan perawatan intensif  

Audit klinis merupakan salah satu metode penting 

dalam evaluasi mutu pelayanan kesehatan. Audit klinis 

dilakukan melalui proses penilaian yang sistematis 

terhadap praktik pelayanan kesehatan dengan tujuan 

untuk memastikan bahwa pelayanan yang diberikan 

telah sesuai dengan standar klinis yang berlaku. Proses 

audit ini biasanya melibatkan peninjauan terhadap 

catatan medis pasien, evaluasi prosedur pelayanan, dan  

penilaian terhadap hasil perawatan pasien. 

Dalam layanan perawatan intensif , audit klinis dapat mencakup 

berbagai aspek pelayanan, seperti ketepatan diagnosis 

keperawatan, kesesuaian intervensi yang diberikan 

dengan kondisi pasien, dan  kepatuhan tenaga 

kesehatan terhadap standar prosedur operasional. 

Selain itu, audit juga dapat menilai kualitas 

dokumentasi pelayanan yang dilakukan oleh tenaga 

kesehatan selama proses perawatan di rumah. 

Selain audit klinis, terdapat pula audit pelayanan yang 

berfokus pada aspek manajerial dan administratif 

pelayanan perawatan intensif . Audit pelayanan bertujuan untuk 

menilai efisiensi sistem pelayanan, pengelolaan sumber 

daya, dan  efektivitas koordinasi antara tenaga 

kesehatan yang terlibat dalam proses perawatan pasien. 

Dengan adanya audit yang dilakukan secara berkala, 

penyelenggara layanan perawatan intensif  dapat mengidentifikasi 

berbagai kelemahan dalam sistem pelayanan dan  

melakukan perbaikan yang diperlukan untuk 

meningkatkan kualitas pelayanan. 

d. Pengukuran Kepuasan Pasien dan Keluarga 

Kepuasan pasien dan keluarga merupakan salah satu 

indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan 

perawatan intensif . Pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak 

hanya ditentukan oleh keberhasilan tindakan medis atau 

keperawatan, namun  juga oleh pengalaman pasien dan 

keluarga selama menerima pelayanan kesehatan. Oleh 

sebab  itu, pengukuran kepuasan pasien dan keluarga 

menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses 

evaluasi mutu pelayanan. 

Pengukuran kepuasan pasien dapat dilakukan melalui 

berbagai metode, seperti survei kepuasan, wawancara 

mendalam, diskusi kelompok terarah (focus group 

discussion), maupun pemakaian  kuesioner standar 

yang dirancang untuk menilai pengalaman pasien 

selama menerima pelayanan perawatan intensif . Instrumen 

pengukuran kepuasan biasanya mencakup berbagai 

aspek pelayanan, seperti kualitas komunikasi tenaga 

kesehatan, sikap dan empati tenaga kesehatan, 

ketepatan waktu kunjungan, kemudahan akses 

pelayanan, dan  kualitas perawatan yang diberikan. 

Selain memberi  gambaran mengenai persepsi pasien 

terhadap pelayanan yang diterima, hasil pengukuran 

kepuasan juga dapat dipakai  sebagai dasar dalam 

merancang program peningkatan mutu pelayanan. 

Apabila ditemukan adanya ketidakpuasan dari pasien 

atau keluarga, penyelenggara layanan perawatan intensif  dapat 

melakukan evaluasi terhadap sistem pelayanan dan  

melakukan perbaikan yang diperlukan. Dengan 

demikian, pelayanan yang diberikan dapat terus 

ditingkatkan sehingga mampu memenuhi kebutuhan 

dan harapan pasien dan  meningkatkan kualitas hidup 

pasien yang menerima perawatan di rumah. 

5. Strategi Peningkatan Kualitas Layanan perawatan intensif  

Peningkatan kualitas layanan perawatan intensif  merupakan proses 

berkelanjutan yang bertujuan untuk memastikan bahwa 

pelayanan kesehatan selalu memenuhi standar mutu yang 

tinggi. 

a. Implementasi Program Peningkatan Mutu Pelayanan 

Program peningkatan mutu pelayanan dapat dilakukan 

melalui pengembangan standar operasional, pelatihan 

tenaga kesehatan, dan  penerapan sistem manajemen 

mutu dalam pelayanan perawatan intensif . 

b. Peran Manajemen dan Tenaga Kesehatan 

Manajemen pelayanan berperan  penting dalam 

menciptakan sistem pelayanan yang berkualitas, 

sementara tenaga kesehatan berperan dalam 

memastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada 

pasien sesuai dengan standar profesional. 

c. Pengembangan Sistem Monitoring dan Evaluasi 

Sistem monitoring dan evaluasi yang efektif 

memungkinkan penyelenggara layanan perawatan intensif  untuk 

memantau kualitas pelayanan secara berkelanjutan dan  

melakukan perbaikan berdasar  hasil evaluasi. 

d. usaha  Peningkatan Kepuasan dan Keselamatan Pasien 

usaha  peningkatan mutu pelayanan juga harus 

difokuskan pada peningkatan keselamatan pasien dan  

kepuasan pasien dan keluarga melalui pelayanan yang 

empatik, komunikatif, dan berorientasi pada kebutuhan 

pasien. Dengan konsep  ini , layanan perawatan intensif  

dapat memberi  kontribusi yang signifikan dalam 

meningkatkan kualitas hidup pasien yang 

membutuhkan perawatan di rumah. 

perawatan intensif  merupakan bagian atau lanjutan dari pelayanan 

Kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang 

diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal 

mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan 

atau memulihkan Kesehatan atau memaksimalkan Tingkat 

kemandirian dan meminimalkan dampak penyakit.  

Etika yaitu  suatu ilmu yang membahas tentang nilai 3

nilai yang terkait dengan tingkah laku. Bertujuan agar dalam 

berinteraksi antara manusia tercapai suatu kebaikan dan 

kebahagiaan, disamping itu etik sebagai sains atau studi tentang 

moral yang disebut juga sebagai filsafat moral. 

Aspek hukum  akan mempengaruhi praktik keperawatan  

,bagaimana hukum memandu perawat dalam membuat 

Keputusan yang aman bagi pasien, sehingga perawat memiliki 

kewajiban untuk memberi  perawatan sesuai dengan standar 

yang ditetapkan dan kewajiban untuk melapor jika terjadi 

pelanggaran. 

B. Etika, Hukum dan Regulasi perawatan intensif  

1. Etika Keperawatan 

a. Pengertian 

Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos, yang 

berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). 

Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral 

yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu mos dan 

dalam bentuk jamaknya mores, yang berarti juga adat 

kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan 

perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-

hal atau tindakan-tindakan yang buruk. Etika dan moral 

secara garis besar memiliki  pengertian yang sama, 

namun  dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, 

yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan 

yang dilakukan, sedang  etika yaitu  untuk pengkajian 

sistem nilai-nilai yang berlaku . 

        Etika merupakan alat untuk mengukur perilaku 

moral. Etika berhubungan dengan pertimbangan 

keputusan suatu perbuatan, sebab  tidak terdapat 

undang-undang atau peraturan yang menegaskan hal-hal 

yang harus dilakukan oleh moral 

b. Prinsip Etika Keperawatan 

Penerapan etika keperawatan merupakan tahapan 

perawat untuk menerapkan prinsip 3prinsip etik, dengan 

berpijak pada tahap Social Contract. Pelaksanaan prinsip 

etik merupakan salah satu dari 12 kompetensi yang harus 

dimiliki oleh seorang perawat berdasar  standar 

kompetensi PPNI. Pelaksanaan prinsip etik dalam asuhan 

keperawatan dapat mencegah terjadinya bahaya fisik dan  

bahaya emosional bagi pasien. Oleh sebab  itu, perawat 

dalam memberi  asuhan keperawatan wajib 

berpedoman terhadap prinsip-prinsip etik keperawatan, 

diperlukan 4 (empat) unsur utama yang diturunkan dari 

Kode Etik Keperawatan  yakni : 

1) Respect to other  , bertujuan untuk menghargai subjek 

yang berelasi yakni perawat dengan pasien atau antar 

subjek lain, dimana setiap perawat  memulai tugasnya, 

hendaklah mengenalkan diri pada pasien. Apabila 

pasien sudah kenal dengan perawat, maka perawat 

menyampaikan bahwa ia akan merawat pasien pada 

jam kerjanya, demikian juga saat jam kerja berakhir, 

perawat berpamitan pada pasien. 

 

2)  Compassion ,  

        Compassion secara sederhana dapat diartikan sebagai 

rasa iba. Ras iba ini juga dapat diartikan sebagai rasa 

saying pada pasien. Penderitaan akan tergambar dari 

wajah pasien, oleh sebab itu dengan melihat wajah 

pasien, perawat dapat merasakan apa yang sedang di 

derita oleh pasien, dengan demikian kenalilah wajah 

pasien, dan hal ini dapat memicu  rasa belas kasih 

sayang. 

3)  Advocacy 

        Advocacy yang berarti melindungi pasien agar 

selamat selama berada dalam asuhan keperawatan 

pasien.Advocacy dapat dilakukan dengan cara 

menjamin intervensi yang diberikan perawat agar 

selalu aman. Perawat memberi  asuhan 

keperawatan sesuai dengan kompetensinya. 

4)  Intimacy 

       Intimacy yaitu  suatu kedekatan, perawat 

terhadap pasien sangat  dekat sekali. Dari mulai pasien 

kontak dengan perawat, pasien akan selalu berada 

dibawa pengawasan perawat. Pengawan akan berakhir 

saat pasien meninggal dunia. 

            Selain keempat unsur utama, ada unsur tambahan 

yang merupakan prinsip3prinsip etik yang menjadi 

pertimbangan dalam memberi  asuhan keperawatan 

yakni : 

1) Beneficence 

Beneficence merupakan kegiatan yang                 

membawa kebaikan pasien atau lebih dikenal dengan 

doing go 

2) Non-Maleficence 

Non-Maleficence yaitu  kegiatan yang tidak 

mencelakakan pasien atau dikenal dengan do  no harm. 

3) Justice 

Justice lebih dikenal dengan equal, bersikap adil 

untuk  semua Pasien 

 

4) Autonomy 

Autonomy  yaitu  menghormati hak pasien 

terkait dengan informed Consent, perawat dikatakan 

menghormati autonomy pasien ketika perawat  

memberi  perawatan bukan hanya berdasar  ilmu 

pengetahuan dan pelatihan yang dimiliki oleh perawat 

saja, namun  juga perlu mempertimbangkan keinginan 

dari pasien. Perawat yang menghargai autonomy 

pasien yaitu dengan menyadari keunikan individu 

bedan  hak kemanusiaan termasuk hak dalam 

mengambil keputusan. 

         Setiap akhir pemberian asuhan keperawatan, 

diperlukan dokumentasi, untuk menjamin bahwa 

intervensi keperawatan yang diberikan yaitu  benar, dan 

memenuhi prinsip kemanusiaan yakni : 

1) Veracity 

Veracity memiliki  pengertian agar perawat 

menjelaskan dengan lengkap dan akurat, agar pasien 

memperoleh suatu pemahaman terhadap masalah 

yang dideritanya terkait asuhan keperawatan, akan 

namun  bila keluarga tidak menginginkan untuk 

mdiketahui atau pasien tidak siap menerima informasi 

maka perlu dipertimbangkan untuk tidak dijelaskan. 

2) Privacy 

Privacy maksudnya selain diri pasien tidak ada 

yang boleh mengakses informasi tentang diri pasien. 

Privacy merupakan wujud perlindungan yang 

diberikan oleh perawat pada pasien. Perlindungan 

berlaku saat pasien masih sadar sampai meninggal atau 

tidak sadar. 

3) Confidentiality 

Confidentiality bertujuan agar penjelasan yang 

diberikan secara jujur hanya boleh diberrikan kepada 

pasien, berarti tidak boleh diberitakan pada orang lain. 


4) Fidelit 

 Fidelity bermakna semua informasi dalam bentuk 

interaksi perawat dan pasien dapat dipercaya 

kebenarannya, Percaya merupakan prinsip yang sangat 

mulia yang dipunyai oleh perawat. Selain itu 

mempercayai kebenaran merupakan dasar untuk 

terbentuk suatu hubungan relasi, yang sangat 

diperlukan oleh seorang pasien untuk kesembuhan. 

c. Isu-isu legal dan etik dalam perawatan intensif  

Isu-isu legal etik dalam perawatan intensif  antara lain 

mencakup hal-hal sebagai berikut:  

1) Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan 

prosedur dengan teknik yang tinggi, seperti pemberian 

pengobatan dan transfuse darah melalui IV dirumah. 

Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada klien 

seperti pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang 

dilakukan oleh anggota keluarga sebab  kesalahan 

informasi dari perawat. 

2) Pelaksanaan  peraturan medicare atau peraturan 

pemerintah lainnya tentang perawatan dirumah. 

Alasan biaya yang sangat terpisah dan terbatas untk 

perawatan dirumah. Maka perawat yang memberi 

perawatan dirumah harus menentukan apakah 

pelayanan akan diberikan jika ada resiko penggantian 

biaya yang tidak adekuat. Seringkali, tunjangan dari 

medicare telah habis masa berlakunya sedang  klien 

membutuhkan perawatan yang terusmenerus namun  

tidak ingin atau tidak mampu membayar baiayanya.  

Beberapa perawat akan menghadapi dilema etis bila 

mereka harus memilih antara menaati peraturan atau 

memenuhi kebutuhan untuk klien lansia, miskin dan klien 

yang menderita penyakit kronik. Perawat harus 

mengetahui kebijakan tentang perawatan dirumah untuk 

melengkapi dokumentasi klinis yang akan memberi  

penggantian biaya yang optimal untuk klien. Pasal krusial 

dalam keputusan mentee kesehatan (kepmenkes) 

1239/2001 tentang praktik keperawatan antara lain 

melakukan asuhan keperawatan meliputi: pengkajian, 

penetapan diagnosa keprawatan, perencanaan, 

melaksanakan tindakan dan evaluasi. Pelayanan tindakan 

medic hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis 

dokter dalam melaksanakan kewenangan perawat 

berkewajiban untuk: 

1) Menghormati hak pasien. 

2) Merujuk kasus yang tidak tepat ditangani. 

3) Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan;   

perundangan yang berlaku 

4) memberi  informasi. 

5) Meminta persetujuan tindakan yang akan  dilakukan 

6) Melakukan catatan perawatan dengan baik. 

2. Landasan Hukum dan Regulasi perawatan intensif  

Anggaran Dasar Perhimpunan Hukum Kesehatan 

Indonesia (PERHUKI) mendefinisikan hukum kesehatan 

sebagai semua ketentuan hukum yang berhubungan 

langsung dengan pemeliharaan atau pelayanan kesehatan 

dan penerapannya, dan  hak dan kewajiban baik dari 

perorangan dan segenap lapisan warga  sebagai 

penerima pelayanan kesehatan maupun dari pihak 

penyelenggara kesehatan dalam segala aspek organisasi, 

sarana, pedoman-pedoman medik, ilmu pengetahuan 

kesehatan dan hukum, dan  sumber-sumber hukum lainnya.  

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tentang 

Kesehatan menyebutkan bahwa setiap kegiatan dalam usaha  

untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan 

warga  yang setinggi-tingginya dilaksanakan 

berdasar  prinsip nondiskriminatif, partisipatif, dan 

berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya 

manusia Indonesia. UU Kesehatan ini  merupakan 

produk hukum Kesehatan sebagai fondasi pelaksanaan 

praktik peningkatan kesehatan di Indonesia, termasuk di 

dalamnya mengenai praktik keperawatan. Di dalam UU 

ini  termaktub aturan aturan mengenai sumber daya di 

bidang kesehatan, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi, 

alat kesehatan, tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan 

kesehatan, obat/obat tradisional, teknologi kesehatan, dan 

usaha  kesehatan. 

Menurut UU Kesehatan, usaha -usaha  kesehatan yang 

dilakukan di Indonesia harus dilakukan secara terpadu, 

terintegrasi dan berkesinambunan untuk memelihara dan 

meningkatkan derajat kesehatan warga  dalam bentuk 

pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan 

penyakit,dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah 

dan/atau warga . usaha -usaha  kesehatan ini  

dapat berupa pelayanan kesehatan promotif, preventif, 

kuratif, rehabilitatif, dan pelayanan kesehatan tradisional.      

Indonesia juga telah memiliki UU khusus tentang 

kepеrawatan, yakni Undang-Undang Republik Indonesia 

Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, didalam UU 

ini  tersedia keterangan mengenai jenis perawat, 

pendidikan tinggi keperawatan, registrasi/izin praktik 

keperawatan, hak dan kewajiban perawat/klien, praktik 

keperawatan, organisasi profesi keperawatan, kolegium 

keperawatan, konsil keperawatan, sanksi administratif bagi 

perawat, dan  pengembangan, pembinaan, dan pengawasan 

keperawatan.  

Lahirnya UU Keperawatan ini didasarkan pada asas 

bahwa penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus 

diwujudkan melalui penyelenggaraan pelayanan kesehatan, 

termasuk pelayanan keperawatan. Penyelenggaraan 

pelayanan keperawatan ini harus dilakukan secara 

bertanggung jawab, akuntabel, bermutu, aman, dan 

terjangkau oleh perawat yang memiliki kompetensi, 

kewenangan, etik, dan moral tinggi. Oleh sebab  itu, segala 

sesuatu mengenai keperawatan perlu diatur secara 

komprehensif dalam peraturan perundang-undangan guna 

memberi  pelindungan dan kepastian hukum kepada 

perawat dan warga . 

perawatan intensif  merupakan Pelayanan kesehatan di rumah 

merupakan program yang sudah ada dan perlu 

dikembangkan, sebab  telah menjadi kebutuhan warga , 

salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dan 

mewarga  dan  menyentuh kebutuhan warga  yakni 

melalui Berbagai faktor yang mendorong perkembangannya 

sesuai dengan kebutuhan warga  yaitu melalui 

pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.  

Hal-hal yang menjadi dasar pertimbangan antara lain: 

pertimbangan ekonomi, kenyamanan pasien, dan 

kemudahan akses bagi keluarga . 

Strategi pengembangan perawatan intensif  dapat melalui 

paraktek mandiri, melalui Kerjasama dengan klinik dan 

Puskesmas, maupun melalui Rumah sakit. 

Adapun yang menjadi landasan hukum dan regulasi 

perawatan intensif   sebagai berikut : 

a. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang   

Kesehatan 

Landasan pengesahan Undang-Undang Nomor 36 

Tahun 2009 Tentang Kesehatan yaitu  Pasal 20, Pasal 

28H ayat (1), dan Pasal 34 ayat ( 3 ) Undang-Undang 

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.  

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 

tercantum jelas cita-cita bangsa Indonesia yang sekaligus 

merupakan tujuan nasional bangsa Indonesia. Tujuan 

nasional ini  yaitu  melindungi segenap bangsa 

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan 

memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan 

kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban 

dunia yang berdasar  kemerdekaan perdamaian abadi 

dan  keadilan sosial. Untuk mencapai tujuan nasional 

ini  diselenggarakanlah usaha  pembangunan yang 

berkesinambungan yang merupakan suatu rangkaian 

pembangunan yang menyeluruh terarah dan terpadu, 

termasuk di antaranya pembangunan kesehatan. 

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah 

satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai 

dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana 

dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang- 

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 

Oleh sebab  itu, setiap kegiatan dan usaha  untuk 

meningkatkan derajat kesehatan warga  yang 

setinggi-tingginya dilaksanakan berdasar  prinsip non 

diskriminatif, partisipatif, perlindungan, dan 

berkelanjutan yang sangat penting artinya bagi 

pembentukan sumber daya manusia Indonesia, 

peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa, dan  

pembangunan nasional. usaha  untuk meningkatkan 

derajat kesehatan yang setinggi-tingginya pada mulanya 

berupa usaha  penyembuhan penyakit, kemudian secara 

berangsur-angsur berkembang ke arah  keterpaduan 

usaha  kesehatan untuk seluruh warga  dengan 

mengikut dan kan warga  secara luas yang 

mencakup usaha  promotif , preventif, kuratif , dan 

rehabilitatif yang bersifat menyeluruh terpadu dan 

berkesinambungan. Perkembangan ini tertuang ke dalam 

Sistem Kesehatan Nasional. (SKN) pada tahun 1982 yang 

selanjutnya disebutkan kedalam GBHN 1983 dan GBHN 

1988 sebagai tatanan untuk melaksanakan pembangunan 

kesehatan.    

b. Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang Registrasi dan 

Praktik Perawat 

Menimbang: Bahwa dalam rangka pelaksanaan 

otonomi daerah perlu diadakan  penyempurnaan 

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 

647/Menkes/SK/IV/2000 tentang Registrasi dan Praktik 

Perawat 

c. SK Menpan No. 94/KEP/M.PAN/11/2001 tentang 

Jabatan Fungsional Perawat 

Bahwa dengan berlakunya Peraturan Pemerintah 

No 16 Tahun 1994 Tentang Jabatan Fungsional Pegawai 

Negeri Sipil dan Keputusan Presiden No 87 Tahun 1999 

Tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri 

Sipil, dipandang perlu mengatur kembali ketentuan 

tentang jabatan tenaga perawatan sebagaimana diatur 

dalam keputusan Menteri Negara Perdayagunaan 

Aparatur Negara Nomor 94/MENPAN/1986 tentang 

Angka Kredit Bagi Jabatan Tenaga Perawatan. 

d. Undang-Undang No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga 

Kesehatan 

Bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Undang-

undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, 

dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah 

tentang Tenaga Kesehatan. 

e. Permenkes RI No. HK.02.02/MENKES/148/2010 tentang 

Izin dan Penyelenggaran Praktik Perawat. 

1) Perawat berpendidikan minimal Diploma III  (D III) 

keperawatan  

2)  Setiap Perawat yang menjalankan praktik 

keperawatan di praktik mandiri wajib memiliki Surat 

Ijin Praktik Perawat (SIPP) yang dikeluarkan oleh 

pemerintah daerah kabupaten/kota  

3) Satu SIPP yang dikeluarkan ini  hanya       

berlaku untuk 1 tempat praktik.  

4) Perawat hanya berhak mendapat  paling         

banyak 2 (dua) SIPP yang dikeluarkan 

5) Pengurusan SIPP sebagaimana dimaksud  dalam 

Pasal 3, Perawat harus mengajukan permohonan 

kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dengan 

melampirkan:  

a) fotocopy STR yang masih berlaku dan 

dilegalisasi; 

b)  surat keterangan sehat fisik dari dokter yang 

memiliki Surat Izin Praktik 

c) surat pernyataan memiliki tempat di praktik 

mandiri atau di fasilitas pelayanan kesehatan di 

luar praktik mandiri;  

d) Pas foto berwarna terbaru ukuran 4X6 cm 

sebanyak 3 (tiga) lembar;  

e) Rekomendasi dari kepala dinas kesehatan 

kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk; dan  

f) Rekomendasi dari organisasi profesi.  

6) Perawat hanya dapat menjalankan praktik 

keperawatan paling banyak di 1 (satu) tempat praktik 

mandiri dan di 1 (satu) tempat fasilitas pelayanan 

kesehatan di luar praktik mandiri. 

7) Dalam menjalankan praktik mandiri, perawat wajib 

memasang papan nama praktik keperawatan. 

8) Praktik keperawatan dilaksanakan melalui kegiatan:  

a) Pelaksanaan asuhan keperawatan  

b) Pelaksanaan usaha  promotif, preventif, 

pemulihan, dan pemberdayaan warga .  

c) Pelaksanaan tindakan keperawatan 

komplementer.  

9) Dalam keadaan darurat untuk memberi  

pertolongan pertama, perawat dapat melakukan 

tindakan medis dan pemberian obat. 

f. SK Direktorat Yan Medik HK.00.06.5.1.311 tahun 2001 

dan Permenkes 1796 tahun 2011 tentang Tindakan dan 

Manajemen perawatan intensif ) 

g. Permenkes no. 75/2014 tentang Puskesmas 

h. Undang -undang nomor 36 Tahun 2014 Tentang tenaga 

Kesehatan 

i. Undang -undang nomor 38 Tahun 2014 tentang 

Keperawatan 

j. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 

Nomor 26 Tahun 2019 Tentang Peraturan Pelaksanaan 

Undang-undang nomor 38 Tahun 2014 Tentang 

Keperawatan 

k. Undang Undang no.17 tahun 2023 tentang Kesehatan, 

regulasi perawatan intensif . 

Pasal 1 ayat 1  : Pelayanan Kesehatan lanjutan termasuk 

pelayanan skrining dan deteksi dini : perawatan intensif , 

Telemedisin,Pelayanan Kesehatan bergerak, Pelayanan 


Kesehatan pada Pos Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan 

memakai  teknologi terbaru,dan  Pelayanan berbasis 

penelitian. 

Pasal 31 ayat 1 :  Pelayanan Kesehatan lanjutan 

merupakan spesialis dan /atau subspesialis yang 

mengedepankan pelayanan kuratif, rehabilitatif, dan 

paliatif tanpa mengabaikan promotif dan preventif. 

Ayat 2 dan ayat 3 dikatakan  Pelayanan Kesehatan 

lanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) 

diselenggarakan oleh Tenaga Medis dan Tenaga 

Kesehatan sesuai dengan kompetensi dan kewenangan 

pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut. 

Pelayanan Kesehatan lanjutan sebagaimana dimaksud 

pada ayat (1) didanai oleh penerima Pelayanan Kesehatan 

atau melalui penjaminan Kesehatan dalam system 

jaminan sosial nasional dan/ atau asuransi komersial. 

Pelayanan kesehatan sekarang ini menunjukan adanya 

pergeseran paradigma dari pelayanan yang berorientasi pada 

rumah sakit menuju pelayanan kesehatan yang komprehensif, 

berkelanjutan dan berpusat pada keluarga dan  komunitas. 

Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan keluarga di 

rumah, perawat berperan  yang strategis. 

Perawat merupakan profesi yang memiliki kompetensi 

professional dengan kemamuan komunikasi dan konsep  

asuhan yang holistik untuk memberi  kontribusi yang sesuai. 

Peran perawat dalam perawatan intensif  dapat meningkatkan kualitas 

pelayanan kesehatan berbasis rumah dan  mendukung 

keberhasilan proses pemulihan pasien secara optimal. 

B. Peran Perawat dalam perawatan intensif  

Peran perawat perawatan intensif   bertujuan untuk memberi  

asuhan keperawatan yang komprehensif di rumah guna 

mempercepat penyembuhan, meningkatkan kemandirian 

pasien dan keluarga dan  meningkatkan kualitas hidup pasien 

yang dalam kondisi kronis atau pasien yang lanjut usia. 

Pelayanan perawatan intensif  dapat menungkinkan pasien berada di 

lingkungan keluarga, sehingga memberi  dukungan 

emosional yang lebih baik dibandingkan perawatan di rumah 

sakit 

Perawat perawatan intensif  memiliki  peran (Rice, 2006)  sebagai 

berikut: 

1. Peran Perawat sebagai Pelaksana Layanan Keperawatan 

(Care Provider) 

Peran Perawat dalam 

perawatan intensif  


 

Perawat memberi  layanan berupa asuhan 

keperawatan secara langsung kepada keluarga sesuai dengan 

kewenangannya. Asuhan keperawatan diberikan kepada 

klien di semua tatanan layanan kesehatan dengan 

memakai  metodologi proses keperawatan, berpedoman 

pada standar keperawatan, dilandasi oleh etik dan etika 

keperawatan, dan  berada dalam lingkup wewenang dan 

tanggung jawab keperawatan. Asuhan keperawatan ini 

merupakan bantuan yang diberikan kepada klien sebab  

adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan 

pengetahuan, dan  kurangnya kemauan untuk dapat 

melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri. 

Dalam perannya sebagai care provider, perawat bertugas 

untuk (Asmadi, 2018): 

a. memberi  kenyamanan dan rasa aman bagi klien; 

b. Melindungi hak dan kewajiban klien agar tetap terlaksana 

dengan seimbang; 

c. Memfasilitasi klien dengan anggota  tim kesehatan 

lainnya; dan 

d. Berusaha mengembalikan Kesehatan klien. 

Peran sebagai care provider merupakan peran utama 

perawat. Baik atau tidaknya layanan profesi keperawatan, 

dirasakan langsung oleh klien. Keperawatan sebagai profesi 

yang professional bukan hanya dibuktikan dengan jenjang 

Pendidikan yang tinggi. Banyaknya ilmu dan teori 

keperawatan juga harus diwujudkan ke dalam aktivitas 

pelayanan nyata kepada klien agar klien mendapat  

kepuasan. Ini merupakan langkah promosi yang sangat 

efektif dan murah dalam usaha  membentuk citra perawat 

yang baik. Stigma-stigma negatif tentang perawat dapat 

hilang dengan pembuktian nyata berupa layanan 

keperawatan professional kepada klien. 

2. Peran Perawat sebagai Pengelola (manager) 

Perawat memiliki  peran dan tanggung jawab dalam 

mengelola layanan keperawatan di semua tatanan layanan 

kesehatan termasuk pelayanan keperawatan di rumah,  

maupun tatanan pendidikan yang berada dalam tanggung 

jawabnya sesuai dengan konsep manajemen keperawatan. 

Manajemen keperawatan dapat diartikan sebagai proses 

pelaksanaan layanan keperawatan melalui usaha  staf 

keperawatan dalam memberi  asuhan keperawatan, 

pengobatan, dan rasa aman kepada pasien/keluarga/ 

warga . Dengan demikian, perawat telah menjalankan 

fungsi manajerial Keperawatan yang meliputi planning, 

organizing, actuating, staffing, directing, dan controlling 

a. Perencanaan (planning) 

Seorang manajer Keperawatan harus mampu menetapkan 

pekerjaan yang harus dilakukannya guna mencapai 

tujuan yang telah ditetapkan yang didasarkan atas 

rencana yang logis dan bukan perasaan. Fungsi 

perencanaan meliputi beberapa tugas, diantaranya 

mengenali masalah, menetapkan dan menyusun tujuan 

jangka panjang dan jangka pendek, mengembangkan 

tujuan, dan terakhir menguraikan bagaimana tujuan dan 

sasaran ini  dapat dicapai. 

b. Pengorganisasian (organizing) 

Fungsi ini meliputi proses mengatur dan mengalokasi 

pekerjaan, wewenang, dan  sumber daya keperawatan 

sehingga tujuan keperawatan dapat dicapai. 

c. Gerak aksi (actuating) 

Kegiatan yang dilakukan dalam menjalankan fungsi ini 

oleh seorang manajer keperawatan yaitu untuk 

mengawali dan melanjutkan kegiatan yang telah 

ditetapkan dalam unsur perencanaan dan 

pengorganisasian agar dapat mencapai tujuan yang telah 

ditetapkan. Sebagai seorang manajer Keperawatan, 

perawat harus mampu menetapkan dan memuaskan 

kebutuhan manusiawai para satf keperawatan, memberi 

penghargaan, memimpin, mengembangkan, dan  

memberi kompensasi kepada mereka. 

 

d. Pengelolaan staf (staffing) 

Fungsi staffing mencakup memperoleh, menempatkan, 

dan mempertahankan anggota/staf pada posisi yang 

dibutuhkan dalam pekerjaan keperawatan. 

e. Pengarahan  (directing) 

Seorang manajer Keperawatan harus mampu 

memberi  arahan kepada staf keperawatan sehingga 

mereka menjadi perawat yang berpengetahuan dan 

mampu bekerja secara efektif guna mencapai sasaran 

yang telah ditetapkan. 

f. Pengendalian (controlling) 

Tugas-tugas dalam fungsi ini mencakup kelanjutan tugas 

untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan oleh 

staf keperawatan telah berjalan sesuai rencana. 

Untuk melaksanakan peran sebagai manajer, perawat 

harus memiliki keterampilan yang meliputi : 

1) Technical skill yaitu kemampuan untuk memakai  

pengetahuan, metode, teknik, dan peralatan yang 

diperlukan dalam melaksanakan tugas manajerial. 

2) Human skill  yaitu kemampuan untuk bekerjasama, 

memahami, dan memotivsi orang lain, baik individu 

maupun kelompok. Dengan kata lain yaitu keterampilan 

yang terkait dengan kepemimpinan dan hubungan antar 

manusia. 

3) Conceptual skill yaitu kemapuan untuk memahami 

kompleksitas organisasi secara keseluruhan dan 

kemampuan menilai apakah kegiatan yang dilakukan 

seseorang sesuai dengan organisasi atau tidak. Hal ini 

juga meliputi kemampuan untuk mengkoordinasikan 

dan mengintegrasikan semua kepentingan dan aktivitas 

organisasi. Jadi berhubungan dengan kemampuan dan 

keterampilan berpikir. 

3. Peran Perawat sebagai Pendidik 

Perawat sebagai pendidik (educator) dalam perawatan intensif  

sangat penting untuk meningkatkan kemandirian pasien dan 

keluarga dalam mengelola kesehatan di rumah. Perawat 

memberi  Pendidikan Kesehatan tentang penyakit yang 

diderita oleh anggota keluarga, prosedur perawatannya, 

manajemen obat (proses penyimpanan, pemakaian , dan 

pembuangan obat secara aman), dan  bagaimana cara 

memodifikasi lingkungan rumah untuk pemulihan susaha  

mengurangi ketergantungan pada fasilitas kesehatan. 

Peran perawat sebagai pendidik dalam perawatan intensif ,  antara 

lain : 

a. memberi  informasi yang komprehensif tentang 

kondisi, diagnosa dan rencana perawatan pasien kepada 

keluarga agar mereka memahami situasi dan langkah 

yang perlu diambil.  

b. Mendemonstrasikan secara langsung cara perawatan 

yang tepat, seperti menggantikan perban, manajemen  

nutrisi atau pemakaian  alat kesehatan sehingga keluarga 

mampu melakukannya secara mandiri. 

c. Memastikan keluarga memahami jadwal, dosis, efek 

samping, dan cara pemberian obat yang benar. 

d. memberi  edukasi tentang penataan rumah yang 

aman, misalnya memastikan kamar mandi aman untuk 

lansia, guna mendukung proses pemulihan dan 

mencegah terjadinya komplikasi. 

e. Mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat, dan  

konseling mengenai gaya hidup yang mendukung 

kesehatan pasien. 

4. Peran Perawat sebagai Pelindung (advocate) 

Perawat sebagai advokat yaitu  pembela pasien dalam 

hal melindungi hak-hak pasien dan memastikan keamanan 

dan  menjamin pasien mendapat  informasi yang jelas 

untuk mengambil keputusan terkait perawatannya. Peran 

diperlukan sebab  pasien perawatan intensif  seringkali berada dalam 

kondisi yang lemah sehingga memerlukan pendamping yang 

dapat menjamin kualitas hidup dan keselamatan mereka. 

Beberapa peran perawat yang berkaitan dengan 

perannya sebagai advokat antara lain: 


a. Menjamin pasien mendapat  perlakukan yang 

manusiawi, privasinya terjaga dan hak-haknya dihormati 

selama dirawat di rumah. 

b. Melindugi pasien dari potensi bahaya atau kelalaian 

selama proses pelayanan  perawatan intensif  termasuk memastikan 

prosedur tindakan yang diberikan sesuai standar. 

c. Memfasilitasi pasien atau menjadi jembatan informasi 

antara pasien/keluarga dengan tim medis untuk 

mengurangi kesalapahaman dan memastikan rencana 

perawatan dipahami dengan baik. 

d. Membantu pasien untuk mamahami kondisi medis yang 

dialaminya sehingga dapat mengambil keputusan yang 

terbaik menganai tindakan perawatan tanpa paksaan dari 

pihak lain. 

e. Mendorong pasien untuk berpartisipasi aktif dalam 

perawatan diri sendiri sesuai dengan kemampuannya 

dan  membela keinginan pasien. 

5. Peran perawat sebagai spiritual-aesthetic communeri 

Perawat perawatan intensif  harus memberi  asuhan yang 

holistik yang mengintegrasikan kebutuhan spiritual (agama 

dan kepercayaan), dan estetika (kedamaian, keindahan dan 

kenyamanan) dalam pelayanan. Peran ini mewakili 

kepedulian multidimensi di mana perawat dan pasien 

beresonansi ke tingkat pemahaman dan kesadaran diri yang 

lebih tinggi. Proses semacam itu memberi pasien wawasan 

baru tentang bagaimana mereka akan merawat diri mereka 

sendiri (bahkan jika ini berarti berdamai dengan bagaimana 

mereka akan mengalami kematian mereka sendiri). Perawat 

memfasilitasi kedamaian batin dan kenyaman pasien melalui 

kehadiran terapeutik, empati dan penghormatan terhadap 

keyakinan spiritual pasi

en. Hal ini mencerminkan saat-saat 

peduli antara pasien dan perawat ketika kata-kata tidak 

selalu diperlukan untuk menyampaikan perasaan dan 

makna.  

Perawat melakukan peran ini dengan cara mendengar 

secara aktif, empati dan memberi  kehadiran yang 

menenangkan pasien yang sedang depresi atau kesal, 

memfasilitasi pelaksanaan kegiatan keagamaan (berdoa, 

membaca kitab suci, memanggil rohaniawan sesuai 

keyakinan pasien), memakai  bahasa yang santun dan 

terbuka untuk mengormati nilai-nilai dan keyakinan spiritual 

pasien tanpa memaksakan keyakinan perawat.  

Peran perawat dalam hal ini melampaui tugas fisik 

semata namun  menyentuh sisi manusiawi terdalam dari 

pasien yang berkontribusi ada kesembuhan secara holistik. 

  

 

Proses menua merupakan suatu proses alami yang terjadi 

sepanjang rentang kehidupan. Penuaan tidak dapat dihindari, 

namun  dampaknya terhadap status kesehatan dapat 

diminimalkan melalui pelayanan kesehatan yang tepat. Lansia 

umumnya mengalami perubahan pada sistem kardiovaskular, 

muskuloskeletal, neurologis, sensorik, gastrointestinal, dan 

genitourinaria. Perubahan ini  dapat memengaruhi 

kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari 

dan meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan yang 

kompleks. Dengan demikian, perawat berperan  penting 

dalam memberi  asuhan yang holistik, manusiawi, dan 

berbasis bukti pada populasi geriatri (Miller, 2023). 

Selain perubahan fisik, lansia juga dapat mengalami 

perubahan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan 

penurunan fungsi kognitif. Perubahan sosial seperti pensiun, 

kehilangan pasangan hidup, dan berkurangnya interaksi sosial 

juga dapat mempengaruhi kesejahteraan lansia. Oleh sebab  itu, 

pelayanan kesehatan bagi lansia harus dilakukan secara 

komprehensif dan berkesinambungan 

Geriatri merupakan cabang ilmu kesehatan yang 

mempelajari aspek kesehatan dan penyakit pada lansia. Lansia 

yaitu  individu yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih 

yang mengalami proses penuaan secara biologis, psikologis, dan 

sosial 

Keperawatan geriatri memiliki beberapa tujuan utama. 

Pertama, membantu lansia mempertahankan kondisi kesehatan 

seoptimal mungkin. Kedua, mencegah atau menurunkan 

dampak penurunan fungsi tubuh akibat proses penuaan. Ketiga, 

membantu lansia mencapai kemandirian dalam aktivitas 

kehidupan sehari-hari. Keempat, mendukung lansia dan 

keluarga dalam menghadapi perubahan fisik, psikologis, dan 

sosial. Kelima, meningkatkan kualitas hidup melalui intervensi 

yang aman, efektif, dan berpusat pada kebutuhan lansia 

Perawat berperan  penting dalam memberi  

asuhan keperawatan geriatri di rumah melalui konsep  

holistik yang mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan 

spiritual. Dengan demikian, pelayanan keperawatan yang 

diberikan tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit namun  

juga pada usaha  promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif 

untuk meningkatkan kesejahteraan lansia 

Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang paling 

penting bagi lansia yaitu  asuhan keperawatan geriatri di 

rumah (perawatan intensif ). Pelayanan ini memungkinkan lansia 

mendapat  perawatan di lingkungan yang familiar dan 

nyaman sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan  

mempertahankan kemandirian mereka dalam menjalankan 

aktivitas sehari-hari. Selain itu, perawatan di rumah juga dapat 

mengurangi risiko hospitalisasi yang berulang dan  

meningkatkan keterlibatan keluarga dalam proses perawatan 

lansia 

Asuhan keperawatan geriatri di rumah merupakan 

pelayanan keperawatan yang diberikan kepada lansia secara 

komprehensif untuk mempertahankan dan meningkatkan 

derajat kesehatan lansia melalui konsep  bio-psiko-sosio-

spiritual 

Pelayanan ini bertujuan untuk meningkatkan 

kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan  

mencegah komplikasi penyakit kronis yang sering dialami oleh 

kelompok usia lanjut 

Asuhan keperawatan geriatri di rumah merupakan 

pelayanan keperawatan yang diberikan kepada lansia di 

lingkungan rumah dengan tujuan mempertahankan, 

meningkatkan, dan memulihkan derajat kesehatan lansia secara 

optimal. Pelayanan ini melibatkan perawat, keluarga, dan  

tenaga kesehatan lainnya dalam memberi  perawatan yang 

berkesinambungan (Stanhope & Lancaster, 2020). 

B. Konsep Asuhan Keperawatan Geriatri di Rumah 

1. Pengertian Asuhan Keperawatan Geriatri di Rumah 

Geriatri merupakan cabang pelayanan kesehatan 

yang berfokus pada usaha  promotif, preventif, kuratif, dan 

rehabilitatif pada lanjut usia (lansia). Lansia yaitu  

individu yang mengalami proses penuaan yang ditandai 

oleh perubahan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. 

Proses menua memicu  penurunan fungsi organ tubuh 

secara bertahap sehingga lansia lebih rentan terhadap 

penyakit kronis, gangguan fungsional, masalah psikososial, 

dan  ketergantungan dalam aktivitas sehari-hari 

Asuhan keperawatan geriatri yaitu  rangkaian 

pelayanan keperawatan yang sistematis dan komprehensif 

kepada lansia dengan memperhatikan kondisi fisik, mental, 

sosial, budaya, dan spiritual. Fokus utama keperawatan 

geriatri tidak hanya pada penyakit, namun  juga pada usaha  

mempertahankan kemandirian, meningkatkan kualitas 

hidup, mencegah komplikasi, dan mendukung penuaan 

yang sehat (healthy ageing) (Touhy & Jett, 2022). 

Asuhan keperawatan geriatri berbasis rumah 

merupakan konsep  pelayanan kesehatan yang 

bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia melalui 

perawatan berkelanjutan di lingkungan tempat tinggal 

mereka. Model perawatan ini memungkinkan lansia 

mendapat  dukungan kesehatan tanpa harus sering 

dirawat di rumah sakit sehingga dapat mempertahankan 

kemandirian dan fungsi sehari-hari (Balqis-Ali et al., 2024).  

Selain itu, keterlibatan keluarga dalam perawatan 

lansia sangat penting sebab  keluarga merupakan sistem 

pendukung utama dalam menjaga kesehatan lansia di 

rumah (Mauk, 2023). 

2. Perubahan pada Lansia 

Perubahan pada lansia merupakan bagian dari 

proses penuaan yang terjadi secara bertahap dan 

memengaruhi aspek fisik, kognitif, psikologis, sosial, dan 

fungsional. Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami 

penurunan cadangan fisiologis tubuh yang memicu  

berkurangnya kemampuan mempertahankan homeostasis, 

sehingga lebih rentan terhadap kelemahan, gangguan 

mobilitas, penyakit kronis, penurunan fungsi sensorik, dan  

ketergantungan dalam aktivitas sehari-hari. Selain itu, 

proses penuaan juga memengaruhi fungsi otak, termasuk 

memori, kecepatan berpikir, dan kemampuan belajar, 

meskipun perubahan ini  dapat bervariasi pada setiap 

individu (National Institute on Aging, 2023). 

3. Permasalahan Kesehatan yang Umum pada Lansia 

Masalah kesehatan pada lansia umumnya bersifat 

kronis, multipatologis, dan kompleks. Penyakit yang paling 

sering ditemukan meliputi hipertensi, diabetes melitus, 

penyakit jantung, stroke, osteoartritis, osteoporosis, 

penyakit paru obstruktif kronis, gangguan pendengaran, 

gangguan penglihatan, inkontinensia urin, dan demensia. 

Selain masalah medis, lansia juga rentan mengalami 

sindrom geriatri seperti jatuh, imobilitas, delirium, 

malnutrisi, inkontinensia, dan ulkus dekubitus 

4. Asuhan Keperawatan Geriatri 

Asuhan keperawatan geriatri yaitu  suatu proses 

pemecahan masalah dalam praktik keperawatan yang 

diberikan kepada lansia melalui tahap pengkajian, 

diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi, 


dengan memperhatikan perubahan akibat proses menua, 

penyakit penyerta, status fungsional, dan  kualitas hidup 

pasien (Mauk, 2023). Asuhan ini menekankan pada usaha  

mempertahankan kemandirian lansia selama mungkin, 

mencegah komplikasi, meningkatkan keselamatan, dan 

mendukung adaptasi terhadap keterbatasan yang dialami 

(Touhy & Jett, 2022). 

Dalam praktiknya, asuhan keperawatan geriatri 

harus bersifat individual, sebab  setiap lansia memiliki 

kondisi kesehatan, kemampuan fungsional, dukungan 

keluarga, status mental, dan kebutuhan spiritual yang 

berbeda. Oleh sebab  itu, konsep  interprofesional dan 

keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam 

pemberian asuhan keperawatan geriatri (Boltz et al., 2021). 

Tujuan utama asuhan keperawatan geriatri yaitu  

mempertahankan fungsi optimal, meningkatkan kualitas 

hidup, mencegah komplikasi, dan memaksimalkan 

kemandirian lansia (Mauk, 2023). 

a. Pengkajian Keperawatan Geriatri 

Pengkajian merupakan tahap awal yang sangat 

penting dalam proses keperawatan. Pada lansia, 

pengkajian harus dilakukan secara komprehensif 

dengan memperhatikan kondisi fisik, mental, 

emosional, sosial, fungsional, dan lingkungan. Salah 

satu konsep  yang direkomendasikan yaitu  

Comprehensive Geriatric Assessment (CGA), yaitu 

penilaian multidimensional yang dipakai  untuk 

mengidentifikasi kebutuhan dan masalah lansia secara 

menyeluruh (WHO, 2022). 

Pengkajian fisik meliputi pemeriksaan tanda-

tanda vital, status nutrisi, kondisi kulit, fungsi 

penglihatan dan pendengaran, pola tidur, eliminasi, 

mobilitas, keseimbangan, dan  adanya nyeri atau 

penyakit kronis. Pada lansia, pengkajian juga perlu 

memperhatikan adanya sindrom geriatri seperti jatuh, 

frailty, delirium, inkontinensia, imobilitas, dan 

polifarmasi, sebab  kondisi ini  sering menjadi 

sumber utama penurunan fungsi dan kualitas hidup 

Pengkajian status fungsional dilakukan untuk 

menilai kemampuan lansia dalam melakukan aktivitas 

sehari-hari, baik aktivitas dasar seperti mandi, 

berpakaian, makan, berpindah, toileting, dan 

kontinensia, maupun aktivitas instrumental seperti 

memakai  telepon, mengelola keuangan, 

memasak, berbelanja, dan minum obat. Penilaian ini 

penting sebab  kemampuan fungsional merupakan 

indikator utama tingkat kemandirian lansia 

Pengkajian kognitif dan psikologis juga sangat 

penting dilakukan. Perawat perlu menilai orientasi, 

memori, kemampuan komunikasi, suasana perasaan, 

risiko depresi, dan  kemungkinan gangguan kognitif 

seperti demensia atau delirium. Perubahan psikologis 

pada lansia, seperti perasaan kesepian, kehilangan 

pasangan hidup, kecemasan, dan depresi, dapat 

memengaruhi kondisi fisik dan kepatuhan terhadap 

pengobatan 

Selain itu, pengkajian sosial dan lingkungan 

perlu dilakukan untuk menilai sistem pendukung 

keluarga, hubungan interpersonal, kondisi tempat 

tinggal, keamanan rumah, akses ke pelayanan 

kesehatan, dan  kondisi ekonomi lansia. Lingkungan 

yang tidak aman dapat meningkatkan risiko jatuh, 

sedang  kurangnya dukungan sosial dapat 

memperburuk kondisi kesehatan lansia 

b. Diagnosis Keperawatan Geriatri 

Diagnosis keperawatan pada pasien geriatri 

ditetapkan berdasar  hasil pengkajian menyeluruh 

terhadap respons lansia terhadap kondisi kesehatan 

yang dialami. Diagnosis yang sering ditemukan pada 

pasien geriatri antara lain penurunan mobilitas fisik, 

risiko jatuh, defisit perawatan diri, gangguan pola 

tidur, nyeri kronis, risiko integritas kulit terganggu, 

inkontinensia urin, ketidakseimbangan nutrisi kurang 

dari kebutuhan tubuh, gangguan memori, 

kebingungan akut atau kronis, intoleransi aktivitas, 

dan  isolasi sosial 

Beberapa diagnosis keperawatan yang sering 

ditemukan pada populasi geriatri antara lain 

penurunan mobilitas fisik, risiko jatuh, defisit 

perawatan diri, intoleransi aktivitas, gangguan pola 

tidur, nyeri kronis, konstipasi, inkontinensia urin, 

gangguan memori, ketidakseimbangan nutrisi kurang 

dari kebutuhan tubuh, risiko gangguan integritas kulit, 

isolasi sosial, ansietas, dan keputusasaan 

c. Intervensi Keperawatan Geriatri 

Intervensi keperawatan pada pasien geriatri 

disusun berdasar  prioritas masalah, tujuan yang 

realistis, dan  kemampuan dan kebutuhan individu 

lansia 

Intervensi keperawatan geriatri direncanakan 

dan dilakukan oleh perawat untuk membantu lansia 

mempertahankan fungsi, meningkatkan kemandirian, 

mencegah komplikasi, mengurangi gejala, dan  

meningkatkan kualitas hidup sesuai kondisi fisik, 

psikologis, sosial, dan lingkungan lansia. Secara 

umum, intervensi keperawatan geriatri meliputi 

pemantauan kondisi fisik lansia, pemenuhan 

kebutuhan dasar, pencegahan jatuh, peningkatan 

mobilitas, pemeliharaan nutrisi dan hidrasi, perawatan 

eliminasi, manajemen nyeri, pemeliharaan integritas 

kulit, dukungan psikologis, stimulasi kognitif, edukasi 

kesehatan, dan  pelibatan keluarga dalam proses 

perawatan 

Untuk defisit perawatan diri, intervensi yang 

dapat dilakukan meliputi membantu pasien dalam 

aktivitas harian sesuai kebutuhan, mendorong 

partisipasi pasien semaksimal mungkin, menyediakan 

alat bantu adaptif, dan  menciptakan lingkungan yang 

mendukung kemandirian. konsep  ini penting agar 

lansia tetap merasa mampu dan memiliki harga diri 

yang baik 

Pada gangguan pola tidur, perawat dapat 

mengatur lingkungan yang nyaman, mengurangi 

kebisingan, membatasi tidur siang berlebihan, 

mendorong rutinitas tidur yang teratur, dan  

meminimalkan faktor pencetus seperti nyeri atau 

sering berkemih pada malam hari. 

d. Implementasi Keperawatan Geriatri 

Pada lansia, implementasi harus dilakukan 

dengan memperhatikan memperhatikan prinsip 

keselamatan pasien, komunikasi terapeutik, 

penghormatan terhadap martabat lansia, dan  promosi 

kemandirian. Perawat perlu menyesuaikan cara 

komunikasi dengan kondisi sensorik dan kognitif 

lansia, misalnya berbicara perlahan, jelas, dan 

memakai  kalimat sederhana pada pasien dengan 

gangguan pendengaran atau penurunan daya tangkap 

Implementasi mencakup edukasi mengenai 

nutrisi, aktivitas fisik, pencegahan jatuh, kepatuhan 

minum obat, manajemen penyakit kronis, dan 

pemanfaatan fasilitas kesehatan. Edukasi yang baik 

dapat meningkatkan kemampuan lansia dan keluarga 

dalam merawat kesehatan secara mandiri di rumah 

Implementasi juga mencakup pendidikan 

kesehatan kepada keluarga. Keluarga perlu 

memahami cara merawat lansia di rumah, 

memberi  obat dengan benar, mencegah jatuh, 

menjaga nutrisi, melakukan latihan ringan, dan  

mengenali tanda bahaya yang memerlukan bantuan 

tenaga kesehatan. Keterlibatan keluarga sangat 

penting sebab  sebagian besar lansia tinggal bersama 

keluarga dan menerima dukungan utama dari 

lingkungan terdekatnya 

e. Evaluasi Keperawatan Geriatri 

Hasil evaluasi dapat menunjukkan bahwa 

masalah pasien teratasi, teratasi sebagian, atau belum 

teratasi. Misalnya, pada diagnosis risiko jatuh, evaluasi 

dapat dilihat dari tidak adanya kejadian jatuh selama 

masa perawatan, peningkatan keseimbangan saat 

berjalan, dan lingkungan pasien yang lebih aman. Pada 

diagnosis defisit perawatan diri, evaluasi dapat dilihat 

dari peningkatan kemampuan pasien dalam makan, 

mandi, atau berpakaian dengan bantuan minimal 

(Bulechek et al., 2022). 

Evaluasi juga harus mempertimbangkan 

perubahan kondisi lansia yang dinamis. Bila tujuan 

belum tercapai, maka perawat perlu meninjau kembali 

pengkajian, memodifikasi diagnosis, atau 

menyesuaikan intervensi agar lebih sesuai dengan 

kondisi aktual pasien. Dengan demikian, evaluasi 

dalam keperawatan geriatri bersifat berkelanjutan dan 

menjadi dasar perbaikan mutu asuhan keperawatan 

(Mauk, 2023). 

5. Peran Keluarga dalam Asuhan Keperawatan Geriatri 

Keluarga berperan dalam mendukung kebutuhan 

dasar lansia, menjaga keselamatan pasien, dan  

menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Keluarga 

membantu mengurangi risiko jatuh, memfasilitasi nutrisi 

yang adekuat, mendukung personal hygiene, dan 

membantu lansia memenuhi kebutuhan eliminasi, istirahat, 

dan  aktivitas. Selain itu, keluarga juga menjadi sumber 

dukungan psikososial yang membantu lansia menghadapi 

kecemasan, kehilangan, kesepian, dan ketergantungan 

akibat penurunan fungsi tubuh. Oleh sebab  itu, keluarga 

harus dilibatkan dalam setiap tahap proses keperawatan 

agar hasil asuhan lebih optimal 

Stroke merupakan salah satu pemicu  utama kematian 

dan kecacatan jangka panjang di dunia. Kondisi ini terjadi 

akibat gangguan aliran darah ke otak yang memicu  

kerusakan jaringan otak dan memicu  berbagai gangguan 

fungsi, seperti kelemahan motorik, gangguan bicara, gangguan 

kognitif, dan  perubahan emosional. Dampak stroke tidak 

hanya dirasakan oleh pasien, namun  juga oleh keluarga dan 

sistem pelayanan kesehatan secara luas 

Kemajuan dalam penanganan stroke akut telah 

meningkatkan angka harapan hidup pasien stroke. Namun 

demikian, sebagian besar pasien yang bertahan hidup 

mengalami disabilitas dengan derajat yang bervariasi dan 

memerlukan perawatan jangka panjang. Kondisi ini 

memicu  kebutuhan perawatan tidak berhenti pada fase 

rawat inap, melainkan berlanjut ke fase rehabilitasi dan 

perawatan di rumah. Perawatan lanjutan di rumah menjadi 

sangat penting untuk mempertahankan fungsi yang tersisa, 

mencegah komplikasi, dan  meningkatkan kualitas hidup 

pasien stroke (American Heart Association, 2024). 

Perawatan pasien stroke di rumah (perawatan intensif  stroke) 

merupakan bentuk kesinambungan asuhan keperawatan yang 

menekankan keterlibatan aktif keluarga sebagai caregiver 

utama. Dalam konteks ini, keluarga berperan  sentral 

dalam membantu pemenuhan kebutuhan dasar pasien, 

melakukan mobilisasi, memberi  nutrisi dan obat, dan  

memantau kondisi pasien sehari-hari. Tanpa dukungan dan 

pengetahuan yang memadai, keluarga dapat mengalami 

kesulitan dalam merawat pasien, yang pada akhirnya berisiko 

meningkatkan komplikasi dan ketergantungan pasien 

Selain aspek fisik, pasien stroke juga sering mengalami 

masalah psikologis dan sosial, seperti depresi, kecemasan, 

penurunan harga diri, dan  isolasi sosial. Oleh sebab  itu,

perawatan stroke di rumah harus dilakukan secara holistik 

dengan memperhatikan aspek bio-psiko-sosial-spiritual 

pasien. konsep  holistik ini terbukti dapat meningkatkan 

kepatuhan terhadap program rehabilitasi dan mempercepat 

proses adaptasi pasien terhadap kondisi pascastroke (Smeltzer 

et al., 2020). 

Penataan lingkungan rumah yang aman dan terapeutik, 

intervensi keperawatan yang tepat, dan  edukasi keluarga 

yang berkelanjutan merupakan komponen utama dalam 

perawatan pasien stroke di rumah. Lingkungan yang tidak 

aman dan kurang mendukung dapat meningkatkan risiko 

jatuh, luka tekan, aspirasi, dan  komplikasi lain yang dapat 

memperburuk kondisi pasien. Sebaliknya, perawatan rumah 

yang terstruktur dan berbasis bukti dapat meningkatkan 

kemandirian pasien dan mengurangi angka rehospitalisasi 

berdasar  uraian ini , perawatan pasien stroke di 

rumah memerlukan konsep  yang sistematis, terencana, 

dan berbasis keperawatan profesional. Bab ini disusun untuk 

memberi  gambaran komprehensif mengenai konsep, 

penataan lingkungan, intervensi keperawatan, dan  peran 

keluarga dalam perawatan pasien stroke di rumah sebagai 

bagian integral dari usaha  peningkatan kualitas hidup pasien 

stroke. 

B. Perawatan Pasien Stroke di Rumah 

1. Pengkajian 

Pengkajian fisik dan neurologis merupakan langkah 

awal yang sangat penting dalam perawatan pasien stroke 

di rumah. Pengkajian ini bertujuan mengidentifikasi 

status kesehatan terkini pasien, menentukan tingkat 

gangguan fungsi, mendeteksi komplikasi dini, dan  

menjadi dasar dalam penyusunan rencana intervensi 

keperawatan yang tepat dan berkelanjutan. Pengkajian 

yang komprehensif terbukti meningkatkan ketepatan 

intervensi dan memperbaiki luaran rehabilitasi pasien 

stroke 

Pada perawatan di rumah, pengkajian dilakukan 

dengan mempertimbangkan keterbatasan fasilitas dan  

kondisi lingkungan pasien. Oleh sebab  itu, perawat 

perlu memakai  instrumen yang sederhana, valid, 

dan mudah diaplikasikan, dan  melibatkan keluarga 

dalam proses observasi dan pemantauan kondisi pasien 

a. Tahapan Pengkajian Pasien Stroke di Rumah 

Pengkajian pasien stroke di rumah dilakukan 

secara sistematis melalui beberapa tahapan berikut. 

1) Persiapan Pengkajian 

Tahap persiapan meliputi pengumpulan 

data awal dari resume medis, riwayat stroke, 

jenis stroke, lama sakit, terapi yang sedang 

dijalani, dan  kondisi lingkungan rumah. 

Perawat juga perlu menyiapkan alat sederhana 

seperti tensimeter, termometer, penlight, jam 

tangan, dan lembar instrumen pengkajian (Lewis 

et al., 2020). konsep  terapeutik sangat 

diperlukan pada tahap ini untuk membangun 

kepercayaan pasien dan keluarga, sehingga 

proses pengkajian dapat berlangsung optimal 

2) Pengkajian Fisik Pasien Stroke 

a) Status Tanda Vital 

Pengkajian tanda vital meliputi 

tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi 

napas, dan suhu tubuh. Tekanan darah 

menjadi parameter penting sebab  hipertensi 

merupakan faktor risiko utama stroke 

berulang. Pemantauan rutin tekanan darah 

di rumah direkomendasikan sebagai bagian 

dari secondary prevention stroke (American 

Heart Association, 2024). Instrumen : 

Tensimeter dan Termometer 

b) Sistem Muskuloskeletal 

Pengkajian sistem muskuloskeletal 

difokuskan pada kekuatan otot, rentang 

gerak sendi, tonus otot, dan adanya 

spastisitas atau kontraktur. Kelemahan 

unilateral (hemiparesis/hemiplegi) 

merupakan temuan umum pada pasien 

stroke (Smeltzer et al., 2020). Penilaian atau 

keterangan pada setiap skala yaitu  sebagai 

berikut : 

➢ Skor 0 (zero) : tidak ada kontraksi otot 

pada inpeksi dan palpasi atau tidak ada 

pergerakan sama sekali yang dikatan 

lumpuh  

➢ Skor 1 (trace) : otot pada bidang horizontal 

tidak dapat bergerak melalui rentang 

gerak penuh, pemeriksa hanya melihat 

sedikit gerakan otot atau kontraksi yang 

teraba  

➢ Skor 2 (foor) : otot mampu bergerak dalam 

bidang horizontal secara penuh namun  

tidak mampu melawan gravitasi  

➢ Skor 3 (fair) : otot mampu bergerak dalam 

bidang horizontal dan dapat melawan 

garvitasi, namun tidak mampu melawan 

tahanan ringan yang diberikan  

➢ Skor 4 (good) : otot mampu bergerak 

penuh melawan gravitasi, mampu 

melawan tekanan ringan maupaun 

tekanan sedang yang diberikan 

c) Sistem Integumen 

Pasien stroke dengan imobilitas 

berisiko tinggi mengalami luka tekan. 

Pengkajian kulit meliputi warna, 

kelembapan, integritas kulit, dan  adanya 

kemerahan atau luka 

Instrumen : 

Observasi langsung 

Skala risiko luka tekan (misalnya Braden 

Scale) 

d) Pengkajian Neurologis Pasien Stroke 

(1) Tingkat Kesadaran 

Tingkat kesadaran dinilai untuk 

mengidentifikasi adanya penurunan 

fungsi otak. Penilaian dapat dilakukan 

memakai  Glasgow Coma Scale 

(GCS), terutama pada pasien dengan 

riwayat stroke berat 

Instrumen : Glasgow Coma Scale (GCS) 

(2) Fungsi Kognitif 

Gangguan kognitif sering ditemukan 

pada pasien stroke dan berdampak pada 

kemampuan pasien menjalani 

perawatan mandiri. Pengkajian 

mencakup orientasi, memori, perhatian, 

dan kemampuan mengikuti instruksi 

(Potter et al., 2021). Instrumen : Mini 

Mental State Examination (MMSE) & 

Montreal Cognitive Assessment 

(MoCA). Studi menunjukkan bahwa 

deteksi dini gangguan kognitif pada fase 

perawatan intensif  memungkinkan perencanaan 

rehabilitasi yang lebih efektif 

e) Fungsi Motorik 

Pengkajian motorik bertujuan menilai 

kekuatan, koordinasi, dan kemampuan 

fungsional pasien. Penilaian ini penting 

untuk menentukan tingkat kemandirian dan 

kebutuhan bantuan pasien

. Instrumen : 

Penilaian kemampuan bergerak (duduk, 

berdiri, berjalan) 

Barthel Index untuk aktivitas sehari-hari 

f) Fungsi Sensorik 

Pengkajian sensorik meliputi kemampuan 

pasien merasakan sentuhan, nyeri, suhu, dan 

posisi. Gangguan sensorik dapat 

meningkatkan risiko cedera dan jatuh pada 

pasien stroke (Lewis et al., 2020). Instrumen : 

Uji sentuhan ringan & Uji respon nyeri 

g) Fungsi Bicara dan Menelan 

Gangguan bicara (afasia) dan menelan 

(disfagia) sering terjadi pada pasien stroke 

dan memerlukan pengkajian khusus. Perawat 

perlu mengamati kemampuan berbicara, 

artikulasi, dan  respon pasien saat makan dan 

minum 

Instrumen : 

Observasi komunikasi verbal 

Skrining disfagia sederhana : 

Gugging Swallowing Screen (GUSS): 

➢ Tujuan: Menentukan tingkat keparahan 

disfagia dan risiko aspirasi. 

➢ Prosedur: Meliputi uji air liur (menelan, 

batuk, air liur, suara) dan tiga uji 

konsistensi (air kental, makanan lunak, 

padat). 

➢ Skor: Terdiri dari 4 tahap. Jika pasien 

gagal atau menunjukkan tanda aspirasi 


(batuk, tersedak) pada satu tahap, 

pemeriksaan dihentikan. 

Bedside Swallow Exam (Uji Menelan di 

Samping Tempat Tidur): 

➢ Tujuan: Mengamati kesulitan 

mengunyah, menelan, atau bernapas. 

➢ Prosedur : Terapis wicara memberi  

berbagai zat (air, makanan lunak/padat) 

dan mengevaluasi adanya tanda-tanda 

aspirasi, termasuk perubahan suara 

("suara basah"). 

➢ Akurasi: pemakaian  GUSS, seringkali 

dikombinasikan dengan metode lain 

seperti USG, terbukti efektif 

meningkatkan deteksi dini risiko 

aspirasi tersamar pada disfagia 

faringeal.  

2. Intervensi Perawatan Pasien Stroke di Rumah 

Intervensi perawatan pasien stroke di rumah bertujuan 

mempertahankan dan meningkatkan fungsi pasien, 

mencegah komplikasi, dan  mendukung kemandirian 

pasien dalam aktivitas sehari-hari. Perawatan di rumah 

menjadi bagian penting dari rehabilitasi jangka panjang 

pasien stroke sebab  sebagian besar penyintas stroke 

mengalami keterbatasan fisik dan neurologis yang 

memerlukan perawatan berkelanjutan . Intervensi keperawatan pada pasien stroke di 

rumah harus bersifat komprehensif, berkelanjutan, dan 

melibatkan keluarga sebagai caregiver utama. konsep  

ini direkomendasikan dalam perawatan stroke jangka 

panjang berbasis komunitas 

a. Intervensi Mobilisasi dan Rehabilitasi Fisik 

Gangguan mobilitas merupakan masalah utama 

pada pasien stroke akibat kelemahan otot, gangguan 

keseimbangan, dan koordinasi. Intervensi mobilisasi 

bertujuan mencegah kontraktur, meningkatkan 

kekuatan otot, dan mempertahankan fungsi motorik 

(Lewis et al., 2020). Langkah-langkah : 

1) Kaji kemampuan mobilitas dan kekuatan otot 

pasien 

2) Lakukan latihan ROM pasif pada ekstremitas 

lemah 

3) Latihan ROM aktif sesuai toleransi pasien 

a) ROM Pasif, Dilakukan bila pasien tidak 

mampu menggerakkan anggota tubuh 

secara mandiri. Langkah-langkah : 

➢ Perawat memegang sendi secara stabil 

➢ Gerakkan sendi secara perlahan hingga 

batas toleransi 

➢ Lakukan gerakan fleksi, ekstensi, 

abduksi, dan adduksi sesuai sendi 

➢ Ulangi setiap gerakan 5310 kali 

➢ Amati respons nyeri atau spastisitas 

➢ ROM pasif membantu mencegah 

kekakuan sendi dan kontraktur pada 

pasien stroke dengan hemiplegi 

b) ROM Aktif-Asistif, Dilakukan bila pasien 

mulai mampu menggerakkan anggota 

tubuh dengan bantuan. Langkah-langkah : 

➢ Instruksikan pasien menggerakkan 

anggota tubuh 

➢ Berikan bantuan ringan bila 

diperlukan 

➢ Dorong pasien memakai  otot 

yang masih berfungsi 

➢ Ulangi gerakan sesuai toleransi 

➢ Tahap ini membantu transisi menuju 

kemandirian gerak 

c) ROM Aktif, Dilakukan bila pasien mampu 

menggerakkan anggota tubuh secara 

mandiri. Langkah-langkah : 

➢ Instruksikan pasien melakukan 

gerakan penuh 

➢ Awasi postur dan teknik gerakan 

➢ Tingkatkan frekuensi dan repetisi 

secara bertahap 

➢ Hentikan latihan bila pasien kelelahan 

atau nyeri 

➢ ROM aktif berkontribusi terhadap 

peningkatan kekuatan otot dan 

koordinasi 

d) Urutan ROM berdasar  Bagian Tubuh 

➢ Ekstremitas Atas 

Fleksi3ekstensi bahu 

Abduksi3adduksi bahu 

Fleksi3ekstensi siku 

Pronasi3supinasi lengan bawah 

Fleksi3ekstensi pergelangan tangan 

Fleksi3ekstensi jari 

➢ Ekstremitas Bawah 

Fleksi3ekstensi panggul 

Abduksi3adduksi panggul 

Fleksi3ekstensi lutut 

Dorsifleksi3plantarfleksi pergelangan 

kaki 

Fleksi3ekstensi jari kaki 

e) Frekuensi dan Durasi Latihan 

Dilakukan 132 kali per hari 

Setiap gerakan 5310 repetisi 

Disesuaikan dengan toleransi dan kondisi pasien 

Latihan yang konsisten terbukti meningkatkan 

fungsi motorik dan mencegah penurunan 

kemampuan gerak 

4) Latih duduk, berdiri, dan berjalan bertahap dengan 

alat bantu 

5) Libatkan keluarga dalam latihan harian 

6) Latihan rehabilitasi yang dilakukan secara rutin di 

rumah terbukti meningkatkan fungsi motorik pasien 

stroke 

b. Intervensi Pencegahan Luka Tekan 

Pasien stroke dengan keterbatasan mobilitas 

berisiko tinggi mengalami luka tekan. Pencegahan luka 

tekan merupakan intervensi keperawatan prioritas dalam 

perawatan intensif  stroke , Langkah-langkah : 

1) Nilai risiko luka tekan memakai  Braden Scale 

2) Ubah posisi pasien setiap 2 jam 

3) Jaga kebersihan dan kelembapan kulit 

4) Gunakan alas atau kasur yang sesuai 

5) Edukasi keluarga mengenali tanda awal luka tekan 

6) Pencegahan luka tekan yang konsisten terbukti 

menurunkan kejadian dekubitus pada pasien stroke 

di rumah 

c. Intervensi Pencegahan Aspirasi dan Manajemen Disfagia 

Disfagia merupakan komplikasi umum pada pasien stroke 

yang dapat memicu  aspirasi dan pneumonia. 

Intervensi keperawatan difokuskan pada keamanan 

pemberian makan Langkah-

langkah: 

1) Kaji kemampuan menelan pasien 

2) Posisikan pasien duduk tegak (90°) saat makan 

3) Berikan makanan lunak dalam porsi kecil 

4) Anjurkan makan perlahan 

5) Pertahankan posisi duduk 30 menit sesudah  makan 

6) Pedoman perawatan stroke menekankan pentingnya 

pencegahan aspirasi pada fase perawatan di rumah 

d. Intervensi Manajemen Nutrisi 

Status nutrisi yang adekuat mendukung proses 

penyembuhan dan rehabilitasi pasien stroke. Malnutrisi 

dapat memperburuk prognosis dan meningkatkan 

komplikasi Langkah-langkah : 

1) Kaji asupan nutrisi dan berat badan pasien 

2) Berikan makanan sesuai kebutuhan dan kemampuan 

menelan 

3) Atur jadwal makan teratur 

4) Libatkan keluarga dalam pemantauan nutrisi 

5) Kolaborasi dengan ahli gizi bila diperlukan 

6) Intervensi nutrisi yang terencana berkontribusi 

terhadap peningkatan kualitas hidup pasien stroke 

(Foley et al., 2009). 

e. Intervensi Manajemen Eliminasi 

Gangguan eliminasi seperti inkontinensia dan konstipasi 

sering dialami pasien stroke dan dapat menurunkan 

kenyamanan dan  harga diri pasien (Potter et al., 2021). 

Langkah-langkah : 

1) Kaji pola BAK dan BAB pasien 

2) Atur jadwal eliminasi teratur 

3) Cukupi kebutuhan cairan 

4) Jaga kebersihan area perineum 

5) Edukasi keluarga terkait perawatan eliminasi 

f. Intervensi Edukasi dan Dukungan Keluarga 

Keluarga berperan sebagai caregiver utama dalam 

perawatan stroke di rumah. Edukasi yang baik 

meningkatkan kepatuhan perawatan dan outcome pasien 

(Potter et al., 2021). Langkah-langkah : 

1) Edukasi keluarga mengenai kondisi dan kebutuhan 

pasien 

2) Demonstrasikan teknik perawatan harian 

3) Libatkan keluarga dalam pengambilan keputusan 

4) Berikan dukungan emosional 

5) Evaluasi pemahaman keluarga secara berkala 

 


Kebutuhan pelayanan perawatan intensif  terus meningkat seiring 

bertambahnya populasi lansia dan meningkatnya prevalensi 

penyakit kronis yang memerlukan perawatan jangka panjang di 

luar fasilitas kesehatan. Pada pasien perawatan intensif , nyeri dan 

berbagai gejala kompleks seperti dispnea, mual, kelemahan, dan 

kelelahan merupakan masalah utama yang dapat memengaruhi 

kualitas hidup, fungsi sehari-hari, dan  pengalaman perawatan 

pasien di rumah. Pengendalian gejala yang tidak optimal dapat 

memicu  penurunan status fungsional, peningkatan angka 

rawat ulang, dan  beban psikologis bagi pasien dan keluarga . Oleh sebab  itu, 

penerapan manajemen nyeri dan gejala yang berbasis bukti 

menjadi komponen penting dalam sistem perawatan intensif  modern 

guna memastikan pelayanan yang aman, efektif, dan berfokus 

pada kebutuhan pasien 

Manajemen nyeri dan gejala dalam perawatan intensif  merupakan 

konsep  holistik yang meliputi asesmen komprehensif, 

intervensi farmakologis dan nonfarmakologis, evaluasi 

berkelanjutan, dan  edukasi pasien dan keluarga di lingkungan 

rumah. Nyeri dipahami sebagai pengalaman sensorik dan 

emosional yang subjektif, sementara gejala lain seperti dispnea, 

mual, kelelahan, gangguan tidur, dan kecemasan sering muncul 

bersamaan dan saling memengaruhi. Berbeda dengan setting 

rumah sakit, pengelolaan gejala di rumah memerlukan 

penyesuaian terhadap keterbatasan sumber daya, keterlibatan 

keluarga sebagai caregiver, dan  preferensi pasien. konsep  

ini sejalan dengan konsep person-centered care yang 

menempatkan pasien sebagai pusat pengambilan keputusan dan 

menyesuaikan perawatan dengan kebutuhan dan  pengalaman 

individu 

Ruang lingkup manajemen nyeri dan gejala pada layanan 

perawatan intensif  mencakup lansia, pasien paliatif, pasien pasca rawat 

inap dengan early discharge, dan  individu dengan penyakit 

kronis atau degeneratif. konsep  yang dipakai  meliputi 

terapi farmakologis seperti analgesik, opioid, dan obat adjuvan, 

dan  intervensi nonfarmakologis seperti fisioterapi, teknik 

relaksasi, dan dukungan psikososial. Manajemen nyeri pada 

pasien dengan penyakit serius memerlukan asesmen 

komprehensif dan keterlibatan pasien dan  keluarga dalam 

proses perawatan (Ferrell & Coyle, 2006). Selain nyeri, gejala lain 

seperti dispnea, mual, muntah, konstipasi, dan kelelahan juga 

sering muncul dan memerlukan konsep  multidisipliner 

untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (Pickering, 

Zwakhalen, & Kaasalainen, 2018). Sehingga kolaborasi antara 

perawat, dokter, terapis, dan caregiver sangat penting untuk 

menjamin kesinambungan perawatan dan  mencegah 

rehospitalisasi akibat gejala yang tidak terkontrol 

B. Konsep Manajemen Nyeri dan Gejala di perawatan intensif  

1. Dasar teoretis manajemen nyeri di perawatan intensif  

Manajemen nyeri di perawatan intensif  didasarkan pada 

model biopsikososial yang memandang nyeri sebagai 

pengalaman multidimensional yang melibatkan aspek 

biologis, psikologis, dan sosial, bukan sekadar sensasi 

nosiseptif. Persepsi dan dampak nyeri dipengaruhi oleh 

faktor emosional, kognitif, dan  konteks lingkungan pasien, 

sebagaimana dijelaskan oleh Ronald Melzack dan Dennis C. 

Turk. Secara neurofisiologis, teori gate control menjelaskan 

bahwa transmisi nyeri dapat dimodulasi di tingkat spinal 

melalui mekanisme inhibisi dan fasilitasi, sedang  

konsep central sensitization menjelaskan peningkatan 

eksitabilitas sistem saraf pusat akibat stimulasi nyeri 

berulang yang berkontribusi terhadap nyeri kronis. Dalam 

praktik perawatan intensif , penting membedakan konsep  

antara nyeri akut dan kronis; nyeri akut biasanya 

memerlukan kontrol simptomatik jangka pendek, 

sedang  nyeri kronis memerlukan strategi jangka 

panjang yang berfokus pada fungsi dan kualitas hidup 

pasien. Perawat berperan  penting dalam asesmen 

nyeri memakai  instrumen tervalidasi seperti Visual 

Analog Scale (VAS) dan Numeric Rating Scale (NRS), 

termasuk skala khusus bagi lansia atau pasien dengan 

keterbatasan komunikasi, sehingga memungkinkan 

perencanaan intervensi yang individual, aman, dan 

berkelanjutan di lingkungan rumah 

2. Asesmen holistik gejala di perawatan intensif  

Asesmen holistik gejala di perawatan intensif  merupakan 

proses sistematis yang mencakup evaluasi intensitas, 

durasi, faktor pemicu dan pereda, dan  dampak gejala 

terhadap fungsi fisik, psikologis, dan aktivitas sehari-hari 

pasien. konsep  ini penting sebab  pasien perawatan intensif  

sering mengalami lebih dari satu gejala secara simultan, 

seperti nyeri, dispnea, kelelahan, gangguan tidur, dan 

kecemasan, yang saling memengaruhi satu sama lain. 

Instrumen terstandar dipakai  untuk meningkatkan 

akurasi asesmen, antara lain modified Medical Research 

Council (mMRC) scale untuk menilai derajat dispnea dan 

Edmonton Symptom Assessment System (ESAS) untuk 

mengevaluasi berbagai gejala secara komprehensif dalam 

satu waktu. Dalam konteks perawatan di rumah, 

keterlibatan keluarga atau pengasuh menjadi elemen kunci, 

khususnya pada pasien lansia atau dengan keterbatasan 

kognitif dan komunikasi, sebab  mereka berperan sebagai 

pengamat utama perubahan gejala sehari-hari. 

Dokumentasi hasil asesmen yang sistematis dan 

berkelanjutan memungkinkan integrasi data gejala ke 

dalam individualized care plan, sehingga intervensi dapat 

disesuaikan secara dinamis dan berorientasi pada 

peningkatan kualitas hidup pasien 

3. Intervensi manajemen nyeri 

c. Intervensi farmakologis 

Manajemen nyeri di perawatan intensif  umumnya mengikuti 

prinsip dari World Health Organization, yaitu 

konsep  bertahap berdasar  intensitas nyeri 

mulai dari analgesik non-opioid, opioid lemah, hingga 

opioid kuat dengan atau tanpa obat adjuvan. Dalam 

praktik perawatan intensif , pemilihan obat harus 

mempertimbangkan keamanan jangka panjang, 

kemudahan pemakaian , dan  pemantauan efek 

samping. Analgesik non-opioid seperti parasetamol 

dan NSAID dipakai  untuk nyeri ringan hingga 

sedang, sedang  opioid diberikan pada nyeri sedang 

hingga berat dengan pengawasan terhadap efek 

samping seperti sedasi, konstipasi, dan depresi napas. 

Obat adjuvan seperti antidepresan, antikonvulsan, dan 

kortikosteroid juga dipakai  terutama pada nyeri 

neuropatik atau inflamasi. Pada lansia dan pasien 

dengan penyakit kronis, penyesuaian dosis 

berdasar  fungsi ginjal dan hati sangat penting, 

sehingga konsep  start low, go slow dianjurkan 

untuk menjaga keseimbangan antara efektivitas dan 

keamanan terapi 

d. Intervensi non-farmakologi 

Intervensi non-farmakologis merupakan komponen 

penting dalam manajemen nyeri di perawatan intensif  sebab  

aman, berkelanjutan, dan dapat memberdayakan 

pasien dan  keluarga. konsep  ini meliputi 

fisioterapi untuk meningkatkan mobilitas dan 

mengurangi nyeri muskuloskeletal, teknik relaksasi 

dan mindfulness untuk menurunkan respons stres dan 

persepsi nyeri, dan  pemakaian  transcutaneous 

electrical nerve stimulation (TENS) sebagai metode 

neuromodulasi non-invasif. Selain itu, edukasi pasien 

dan keluarga mengenai mekanisme nyeri, faktor 

pencetus, dan strategi koping adaptif membantu 

meningkatkan kepatuhan dan  kemampuan pasien 

mengelola nyeri secara mandiri. Berbagai studi 

menunjukkan bahwa kombinasi intervensi non-

farmakologis dan terapi obat memberi  kontrol nyeri 

yang lebih optimal dibandingkan konsep  tunggal, 

terutama pada nyeri kronis di setting perawatan intensif  


4. Intervensi manajemen gejala umum 

Manajemen gejala umum dalam layanan perawatan intensif  

bertujuan mengurangi beban fisik dan psikologis pasien 

dan  meningkatkan kualitas hidup melalui konsep  

perawatan yang komprehensif. Dispnea ditangani dengan 

kombinasi terapi oksigen sesuai indikasi, pengaturan posisi 

seperti semi-Fowler, dan  pemakaian  bronkodilator atau 

terapi inhalasi untuk menurunkan kerja napas dan 

kecemasan pasien. Namun, pada pasien yang mendekati 

akhir kehidupan, pemakaian  oksigen perlu 

dipertimbangkan secara klinis sebab  tidak selalu 

bermanfaat yang signifikan , Mual dan muntah dikelola dengan 

antiemetik sesuai etiologi dan  modifikasi pola makan yang 

mudah dicerna dan sesuai kebiasaan pasien. Kelelahan 

pada pasien penyakit kronis dan kanker ditangani melalui 

strategi konservasi energi, dukungan nutrisi, dan intervensi 

psikososial , Selain itu, gangguan tidur 

dapat diatasi melalui penerapan sleep hygiene, 

penyesuaian lingkungan rumah, dan  evaluasi terapi obat. 

konsep  multidimensi dalam pengelolaan gejala ini 

merupakan bagian penting dari perawatan paliatif untuk 

meningkatkan kualitas hidup pasien 

dan implementasi perawatan paliatif berbasis komunitas 


terbukti dapat menurunkan angka rawat inap dan 

kunjungan ke unit gawat darurat 



5. Peran tim dan kerjasama lintas profesi 

Dalam layanan perawatan intensif , kolaborasi lintas profesi 

menjadi komponen penting untuk menjamin kontinuitas 

dan kualitas pelayanan kesehatan di rumah. Perawat home 

care sering berperan sebagai koordinator utama yang 

melakukan asesmen berkelanjutan, memantau respons 

terapi pasien, dan  menjadi penghubung antara pasien, 

keluarga, dokter keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya. 

Peran koordinatif ini memungkinkan perawat untuk 

memastikan bahwa rencana perawatan dapat dijalankan 

secara konsisten dan  respons terhadap perubahan kondisi 

pasien dapat ditangani secara cepat dan tepat. Studi 

menunjukkan bahwa dalam praktik perawatan intensif , perawat 

memiliki posisi sentral dalam koordinasi tim kesehatan 

sebab  frekuensi interaksi yang tinggi dengan pasien dan 

keluarga di rumah 

Dokter keluarga berperan dalam pengambilan 

keputusan klinis dan penyesuaian terapi berdasar  hasil 

pemantauan kondisi pasien yang dilaporkan oleh perawat, 

sementara tenaga rehabilitasi seperti fisioterapis 

berkontribusi dalam meningkatkan fungsi fisik pasien dan 

mencegah penurunan mobilitas. Di sisi lain, tenaga farmasi 

berperan penting dalam memastikan keamanan 

pemakaian  obat melalui evaluasi terapi obat, pemantauan 

efek samping, dan  edukasi kepada pasien dan keluarga 

mengenai pemakaian  obat yang tepat. Komunikasi yang 

terstruktur antarprofesi mengenai efek samping obat, hasil 

monitoring, dan tindak lanjut berkala sangat penting untuk 

mencegah komplikasi dan  memastikan efektivitas terapi 

dalam pelayanan perawatan intensif  

Selain tenaga kesehatan, keterlibatan aktif keluarga 

atau caregiver juga merupakan faktor kunci dalam 

keberhasilan implementasi rencana perawatan di rumah. 

Keluarga sering terlibat dalam pemantauan kondisi pasien, 

pemberian obat, dan  dukungan emosional dan sosial yang 

dibutuhkan pasien selama menjalani perawatan di rumah. 

Penelitian menunjukkan bahwa intervensi yang melibatkan 

caregiver dapat meningkatkan kualitas perawatan dan 

membantu mempertahankan kontinuitas pelayanan bagi 

pasien dengan penyakit kronis atau kondisi terminal 

Selain itu, konsep  perawatan 

paliatif berbasis komunitas yang melibatkan tim 

multidisipliner terbukti mampu menurunkan angka rawat 

inap, kunjungan ke unit gawat darurat, dan  meningkatkan 

kualitas hidup pasien pada akhir kehidupan 

6. Evaluasi dan pemantauan berkelanjutan dalam perawatan intensif  

Evaluasi dan pemantauan berkelanjutan 

merupakan komponen penting dalam manajemen nyeri 

dan gejala pada layanan perawatan intensif  untuk memastikan 

efektivitas intervensi, keselamatan pasien, dan  

peningkatan kualitas hidup. Evaluasi outcome dilakukan 

secara berkala memakai  instrumen terstandar seperti 

skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS) atau Visual Analog 

Scale (VAS), indeks dispnea modified Medical Research 

Council (mMRC), kualitas tidur seperti Pittsburgh Sleep 

Quality Index, dan  penilaian fungsi aktivitas harian 

memakai  ADL dan IADL untuk menilai respons terapi 

secara objektif. konsep  evaluasi ini memungkinkan 

tenaga kesehatan melakukan penyesuaian rencana 

perawatan secara dinamis sesuai perubahan kondisi pasien 

dan kebutuhan layanan  Selain itu, 

pemantauan efek samping obat menjadi komponen penting 

sebab  pasien perawatan intensif  sering mengalami polypharmacy 

yang meningkatkan risiko interaksi obat dan komplikasi, 

terutama pada pasien lansia dan pasien dengan 

komorbiditas , Monitoring gejala yang 

terstruktur dan evaluasi berulang juga terbukti 

meningkatkan kontrol gejala, kualitas hidup, dan  

kepuasan pasien dalam pelayanan palliative dan perawatan intensif   konsep  ini 

dilakukan melalui koordinasi tim multidisiplin yang 

menjadi karakteristik utama pelayanan perawatan intensif  modern 

Peran tim dan kerja sama lintas profesi merupakan 

komponen penting dalam pelayanan perawatan intensif . Perawat 


perawatan intensif  sering berfungsi sebagai koordinator utama yang 

melakukan asesmen berkelanjutan, memantau respons 

terapi, dan  menghubungkan pasien dan keluarga dengan 

dokter keluarga, tenaga rehabilitasi, dan apoteker. Model 

koordinasi ini memungkinkan integrasi layanan kesehatan 

sehingga intervensi yang diberikan lebih komprehensif dan 

berkelanjutan (Levine et al., 2020). Dokter keluarga 

bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan klinis 

dan penyesuaian terapi, sedang  tenaga rehabilitasi dan 

farmasi berperan dalam mendukung pengendalian nyeri, 

pemulihan fungsi, dan  keamanan pemakaian  obat. 

Komunikasi yang terstruktur mengenai efek samping 

terapi, hasil monitoring klinis, dan tindak lanjut berkala 

sangat penting untuk mencegah komplikasi dan  

meningkatkan keselamatan pasien . Selain itu, keterlibatan aktif keluarga atau caregiver 

menjadi elemen penting dalam implementasi rencana 

perawatan dan menjaga kontinuitas asuhan di rumah, 

terutama pada pasien dengan penyakit kronis atau kondisi 

paliatif 

Perawatan di rumah (perawatan intensif ) semakin berkembang 

seiring dengan meningkatnya prevalensi penyakit kronis dan 

kebutuhan perawatan jangka panjang di warga . Pergeseran 

sistem pelayanan kesehatan dari rumah sakit menuju perawatan 

berbasis komunitas menjadikan keluarga dan caregiver sebagai 

komponen penting dalam keberhasilan perawatan pasien di 

rumah. Dalam banyak kasus, anggota keluarga berperan sebagai 

pengasuh utama yang memberi  dukungan fisik, emosional, 

sosial, dan bahkan finansial kepada pasien dengan kondisi 

kesehatan kronis maupun penyakit yang mengancam jiwa. 

Pengasuh keluarga sering kali menjalankan berbagai 

tugas yang kompleks, mulai dari membantu aktivitas sehari-hari 

hingga melakukan tindakan medis sederhana seperti pemberian 

obat dan pemantauan kondisi kesehatan pasien. Namun 

demikian, sebagian besar caregiver tidak memiliki pelatihan 

formal dalam bidang kesehatan dan sering menjalankan peran 

ini  dengan dukungan yang terbatas dari sistem pelayanan 

kesehatan  Kondisi ini menjadikan 

caregiver sebagai kelompok yang rentan mengalami beban fisik, 

emosional, dan finansial selama proses pengasuhan. 

Oleh sebab  itu, pemahaman mengenai peran keluarga 

dan caregiver dalam perawatan intensif  menjadi sangat penting, baik bagi 

tenaga kesehatan maupun pembuat kebijakan. Dengan 

memahami peran, tantangan, dan  kebutuhan dukungan bagi 

caregiver, diharapkan sistem pelayanan kesehatan dapat 

memberi  intervensi yang lebih efektif untuk meningkatkan 

kualitas hidup pasien maupun caregiver. 

B. Peran Keluarga dan Caregiver dalam perawatan intensif  

1. Peran dan Tanggung Jawab Utama Caregiver 

a. Tugas Medis dan Praktis 

Dalam perawatan di rumah, caregiver keluarga 

sering kali berperan sebagai perpanjangan tangan 

tenaga kesehatan. Mereka terlibat dalam berbagai 

aktivitas medis dan praktis seperti memberi  obat-

obatan, memantau kondisi kesehatan pasien, dan  

mengelola alat medis yang dipakai  selama 

perawatan di rumah. Beberapa tindakan yang umum 

dilakukan caregiver meliputi pengukuran tekanan darah 

atau kadar gula darah, pemberian suntikan insulin, 

penggantian cairan infus sederhana, dan  observasi 

terhadap perubahan kondisi pasien

Selain itu, caregiver juga membantu pasien 

dalam aktivitas kehidupan sehari-hari seperti mandi, 

berpakaian, makan, dan  mobilisasi. Dukungan ini 

sangat penting terutama bagi pasien dengan 

keterbatasan fisik, lansia, atau penderita penyakit kronis 

yang membutuhkan bantuan dalam mempertahankan 

kemandirian fungsional mereka 

Dalam konteks penyakit kronis seperti kanker, 

caregiver bahkan dapat berperan dalam berbagai aspek 

perawatan pasien yang lebih luas. 

mengelompokkan peran caregiver dalam tiga dimensi 

utama yaitu peran medis praktis, peran psikososial, dan 

peran terkait keuangan. 

b. Dukungan Emosional dan Psikososial 

Selain dukungan fisik, caregiver juga berperan 

penting dalam memberi  dukungan emosional dan 

psikososial kepada pasien. Kehadiran caregiver dapat 

membantu meningkatkan kualitas hidup pasien, 

mempertahankan kemandirian fungsional, dan  

memberi  rasa aman dan kenyamanan selama proses 

perawatan. 

Caregiver sering berperan sebagai sumber 

motivasi dan harapan bagi pasien, terutama pada 

kondisi penyakit kronis atau penyakit terminal. Mereka 

juga terlibat dalam proses pengambilan keputusan 

terkait pengobatan, memberi  dorongan moral, dan  

memperkuat hubungan interpersonal antara pasien dan 

keluarga

Dalam perawatan lansia, peran caregiver juga 

memungkinkan pasien untuk tetap tinggal di 

lingkungan rumah dan komunitasnya selama mungkin. 

Dukungan ini penting dalam konsep ageing in place, 

yaitu usaha  mempertahankan kualitas hidup lansia 

dengan tetap tinggal di rumah dan lingkungan sosialnya 

c. Manajemen Keuangan 

Peran caregiver juga mencakup pengelolaan 

aspek finansial yang berkaitan dengan perawatan 

pasien. Banyak caregiver harus menanggung biaya 

tambahan untuk pengobatan, transportasi kesehatan, 

dan  kebutuhan sehari-hari pasien. Selain itu, mereka 

juga sering bertanggung jawab dalam mengelola 

administrasi kesehatan seperti klaim asuransi dan 

pengaturan biaya perawatan. 

Penelitian menunjukkan bahwa beban finansial 

dalam perawatan jangka panjang dapat menjadi sumber 

stres yang signifikan bagi caregiver, terutama pada 

kondisi perawatan kompleks seperti nutrisi parenteral 

di rumah (Home Parenteral Nutrition/HPN). Variabilitas 

biaya dan  ketidakpastian pembiayaan sering kali 

menambah tekanan psikologis bagi keluarga yang 

sudah menghadapi beban perawatan pasien 

2. Tantangan yang Dihadapi Caregiver Keluarga 

a. Tantangan Kesehatan Mental dan Emosional 

Peran caregiver yang berlangsung dalam jangka 

panjang sering kali memicu  beban emosional 

yang signifikan. Caregiver dapat mengalami berbagai 

respons emosional seperti kesedihan, rasa bersalah, 

kemarahan, hingga perasaan tidak mampu dalam 

menjalankan peran mereka. Kondisi ini sering 

diperburuk oleh tuntutan perawatan yang terus-

menerus dan  keterbatasan waktu untuk memenuhi 

kebutuhan pribadi caregiver. 

Beban emosional yang berkepanjangan dapat 

meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental 

seperti kecemasan dan depresi. Oleh sebab  itu, 

pengenalan dini terhadap kesulitan yang dialami 

caregiver menjadi penting agar tenaga kesehatan dapat 

memberi  dukungan yang sesuai 

b. Tantangan Kesehatan Fisik 

Selain dampak psikologis, caregiver juga rentan 

mengalami masalah kesehatan fisik akibat beban 

perawatan yang berat. Aktivitas seperti membantu 

mobilisasi pasien, melakukan perawatan harian, dan  

kurangnya waktu istirahat dapat memicu  

kelelahan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap 

penyakit. 

Stres fisik dan emosional yang dialami caregiver 

juga dapat meningkatkan risiko cedera maupun 

gangguan kesehatan lainnya. Oleh sebab  itu, 

intervensi yang bertujuan meningkatkan kesehatan 

fisik caregiver tidak hanya bermanfaat bagi caregiver, 

namun  juga dapat berdampak positif pada kualitas 

perawatan pasien 

c. Kurangnya Pelatihan dan Dukungan 

Salah satu tantangan utama dalam perawatan 

berbasis keluarga yaitu  kurangnya pelatihan dan 

dukungan bagi caregiver. Banyak caregiver yang harus 

menjalankan tugas medis yang kompleks tanpa 

memiliki pengetahuan atau keterampilan yang 

memadai. Kondisi ini dapat meningkatkan stres 

caregiver dan  berpotensi mempengaruhi kualitas 

perawatan pasien. 

Penelitian menunjukkan bahwa program 

pendidikan bagi caregiver dapat meningkatkan 

kemampuan mereka dalam mengelola perawatan 

pasien di rumah. Program ini  biasanya mencakup 

edukasi mengenai penyakit kronis, keterampilan 

praktis dalam perawatan pasien, dan  strategi untuk 

mengatasi stres selama proses pengasuhan 


3. Dukungan dan Intervensi bagi Caregiver 

a. Dukungan dari Profesional Kesehatan 

Tenaga kesehatan, terutama dokter dan 

perawat, berperan  penting dalam mendukung 

caregiver selama proses perawatan pasien di rumah. 

Dukungan ini dapat berupa identifikasi kebutuhan 

caregiver, edukasi mengenai perawatan pasien, 

dukungan emosional, dan  bantuan dalam proses 

pengambilan keputusan medis. 

Hubungan yang baik antara tenaga kesehatan, 

pasien, dan caregiver dapat meningkatkan kualitas 

perawatan dan  mengurangi risiko rawat inap yang 

tidak diperlukan. Selain itu, perawat juga dapat 

membantu mengorganisasi layanan tambahan seperti 

perawatan pengganti atau dukungan komunitas untuk 

mengurangi beban caregiver 

Intervensi terstruktur yang dipimpin oleh 

perawat juga terbukti dapat meningkatkan kesiapan 

caregiver dalam menjalankan peran pengasuhan dan  

mengurangi beban yang mereka rasakan. Program 

dukungan ini  biasanya melibatkan penilaian 

kebutuhan caregiver secara sistematis dan  pemberian 

edukasi yang disesuaikan dengan kondisi pasien 

b. Dukungan Kebijakan dan Sistem Pelayanan Kesehatan 

Selain dukungan dari tenaga kesehatan, 

kebijakan kesehatan juga berperan  penting dalam 

memperkuat sistem dukungan bagi caregiver. Beberapa 

negara telah mengembangkan kebijakan khusus yang 

bertujuan meningkatkan pelatihan dan pengakuan 

terhadap peran caregiver dalam sistem kesehatan, seperti 

CARE Act di Amerika Serikat. 

Namun demikian, implementasi kebijakan 

ini  masih menghadapi berbagai tantangan, 

termasuk keterbatasan komunikasi antara fasilitas 

kesehatan dan keluarga pasien. Oleh sebab  itu, 

diperlukan strategi yang lebih efektif dalam 

meningkatkan komunikasi, edukasi, dan  koordinasi 

perawatan selama transisi pasien dari rumah sakit ke 

rumah  

Keluarga dan caregiver berperan  yang sangat 

penting dalam keberhasilan perawatan pasien di rumah. 

Mereka tidak hanya memberi  dukungan fisik melalui 

bantuan aktivitas sehari-hari dan tindakan medis sederhana, 

namun  juga berperan dalam memberi  dukungan 

emosional, sosial, dan  pengelolaan finansial bagi pasien. 

Meskipun demikian, caregiver sering menghadapi 

berbagai tantangan yang signifikan, termasuk beban 

emosional, kelelahan fisik, dan  kurangnya pelatihan dan 

dukungan dari sistem pelayanan kesehatan. Oleh sebab  itu, 

diperlukan konsep  yang komprehensif untuk 

mendukung caregiver melalui edukasi, intervensi 

keperawatan, dan  kebijakan kesehatan yang mendukung 

peran mereka. 


Dengan memberi  dukungan yang memadai 

kepada caregiver, diharapkan kualitas perawatan pasien di 

rumah dapat meningkat sekaligus menjaga kesejahteraan 

caregiver sebagai bagian integral dari sistem pelayanan 

kesehatan.