gizi dan penyakit 1

 



 - OBESITAS

Obesitas menjadi masalah kesehatan utama baik di negara 

maju maupun di negara berkembang. Obesitas juga 

merupakan suatu kondisi peningkatan lemak total tubuh, 

yaitu jika  ditemukan kelebihan berat badan >20% pada pria dan 

>25% pada wanita sebab  lemak  Menurut World 

Health Organization (WHO) (2016) Obesitas yaitu  suatu kondisi 

dimana terjadi penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh yang 

dapat mengganggu kesehatan. Obesitas tidak hanya terjadi pada 

usia dewasa atau lansia saja, namun  juga dapat terjadi di kalangan 

remaja atau bahkan kalangan lebih muda yaitu anak-anak

World Health Organization (WHO) (2016) mengatakan bahwa 

lebih dari 1,9 miliar orang dewasa berusia 18 tahun ke atas mengalami 

berat badan berlebih dan 600 juta orang diantaranya mengalami 

obesitas 

menyatakan prevalensi obesitas atau kegemukan pada orang 

dewasa di atas 18 tahun terus meningkat dari tahun ke tahun sejak 

2007. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018 Badan Litbangkes Kementerian 

Kesehatan menunjukkan prevalensi obesitas meningkat sejak tiga 

periode Riskesdas yaitu pada 2007 10,5 persen, 2013 14,8 persen, dan 

2018 21,8 persen 

 Obesitas (overweight) merupakan dasar dari berbagai penyakit 

tidak menular seperti diabetes, hipertensi dan penyakit kardiovaskuler 


yang saat ini masih menjadi masalah kesehatan utama di negara kita  

dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2020(Pu rnamasari, 

2017). pemicu  obesitas sangat kompleks dalam arti banyak sekali 

faktor yang memicu  obesitas terjadi. Beberapa faktor yang 

memicu  terjadinya obesitas seperti faktor lingkungan, genetik, 

psikis, kesehatan, obat-obatan, perkembangan dan aktivitas 

fisik ,Pola makan yang berlebih dapat 

menjadi faktor terjadinya obesitas. Obesitas terjadi jika seseorang 

mengonsumsi kalori melebihi jumlah kalori yang dibakar. Pada 

hakikatnya, tubuh memerlukan asupan kalori untuk kelangsungan 

hidup dan aktivitas fisik, namun untuk menjaga berat badan perlu 

adanya keseimbangan antara energi yang masuk dengan energi 

yang keluar. Keseimbangan energi yang terjadi dapat mengarah 

pada kelebihan berat badan dan obesitas

A. Definisi

Obesitas merupakan keadaan yang menunjukkan 

ketidakseimbangan antara tinggi dan berat badan akibat 

jaringan lemak dalam tubuh sehingga terjadi kelebihan berat 

badan yang melampaui ukuran ideal 

Obesitas dari segi kesehatan merupakan salah satu penyakit 

salah gizi, sebagai akibat konsumsi makanan yang jauh melebihi 

kebutuhanya  dimana terjadi penimbunan 

lemak tubuh secara berlebihan sehingga berat badan tubuh 

seseorang jauh diatas normal, hal ini akibat ketidak seimbangan 

asupan (intake) dan pemakaian (ekspenditure) energi

Obesitas yaitu  kelebihan lemak dalam tubuh, yang 

umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah kulit), 

sekitar organ tubuh dan kadang terjadi perluasan ke dalam 

jaringan organnya Perbandingan yang 

normal antara lemak tubuh dengan berat badan yaitu  sekitar 

25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan 

lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh 

lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Seseorang yang 

memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran 

berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas 


 Akumulasi lemak yang berlebihan didalam tubuh yang 

merupakan faktor risiko utama untuk berbagai macam penyakit. 

Orang dengan obes lebih rentan terhadap terjadinya penyakit 

metabolik seperti diabetes melitus tipe 2, hiperlipidemia, 

dan penyakit kardiovaskular (Charissa, 2017). Obesitas juga 

dapat disebabkan oleh faktor genetik atau faktor keturunan, 

kemungkinan seorang anak beresiko menderita obesitas 

sebesar 80% jika kedua orangtuanya mengalami obesitas. 

Sedangkan seorang anak akan beresiko menderita obesitas 

sebesar 40% jika salah satu orang tuanya mengalami obesitas 


B. Etiologi Obesitas

Obesitas dapat terjadi sebab  perubahan keseimbangan 

energi pada tubuh dalam jangka waktu yang lama, 

ketidakseimbangan ini terjadi sebab  interaksi yang kompleks 

antara genetik seseorang dengan faktor metabolik, faktor 

biokimiawi, faktor lingkungan, sehingga dapat mempengaruhi 

asupan makanan dan aktivitas fisik  Menurut 

hukum termodinamik, obesitas terjadi sebab  ketidak 

seimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi 

(energy expenditures) sehingga terjadi kelebihan energi yang 

selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak 

C. Diagnosa Obesitas

Kegemukan dan obesitas pada anak dapat dinilai dengan 

berbgai metode atau teknik pemeriksaan. Salah satunya yaitu  

pengukuran Body Mass Index (BMI) atau sering juga disebut 

Indeks Massa Tubuh (IMT). Pengukuran IMT dilakukan dengan 

cara membagi nilai berat badan (kg) dengan nilai kuadrat 

tinggi badan (m)2. IMT merupakan metode yang paling mudah 

dan paling banyak digunakan diseluruh dunia untuk menilai 

timbunan lemak yang berlebihan didalam tubuh secara tidak 

langsung 

Pengukuran lainnya yaitu  dengan parameter lingkar 

pinggang, dengan cara menentukan batas bawah iga 

paling bawah kemudian menentukan crista iliaca, diambil 

pertengahannya, melingkari bagian ini  dengan pita 

pengukur, pita pengukur menempel pas tiak longgar, tidak ketat, 

sebaiknya pengukuran dilakukan dua kali 

D. Klasifikasi Obesitas

obesitas jika dilihat berdasarkan 

pemicu  nya dibedakan menjadi dua:

1) Obesitas Primer: disebabkan faktor nutrisi dengan berbagai

faktor yang dapat mempengaruhi masukan makanan, yaitu

masukan makanan yang berlebihan dibanding dengan

kebutuhan energy yang diperlukan tubuh.

2) Obesitas Sekunder: disebabkan adanya penyakit atau

kelainan kogenital, endokrin, atau kondisi lain

E. Macam-Macam Obesitas

Bentuk obesitas di bedakan menjadi dua berdasarkan

distribusi lemak dalam tubuh yaitu tipe android (buah apel),

tipe ginoid ( buah pear) dan ovid. Tipe android biasanya dialami

oleh pria atau wanita yang sudah menopause (henti haid),

Penumpukan lemak terjadi pada bagian tubuh atas  (dada,

pundak, leher dan muka). Sedangkan tipe ginoid (buah pear)

umumnya diderita oleh wanita dengan timbunan lemak pada

Tabel 1. Klasifikasi Obesitas Berdasarkan Indeks Massa Tubuh

Klasifikasi IMT (kg/m2) WHO WHO Asia Pasifik

Berat badan kurang <18.5 <18,5

Berat badan normal 18,5-24,9 18,5-22,9

Berat badan lebih ≥25 ≥23

Beresiko 23-24,9

Obes I 30-34,9 25-29,9

Obes II 35-39,9 ≥30

Obes III ≥30

Sumber : Charissa, 2017

5MATERI I - OBESITAS

bagian tubuh bawah (perut, pinggul, paha, pantat) tipe ini relative 

lebih aman dibanding tipe android sebab timbunan lemak 

umumnya bersifat tak jenuh, namun sulit untuk menurunkan 

lemak badan. Lalu ciri dari tipe ovid yaitu  besar diseluruh 

bagian badan, berbentuk kotak menyerupai kotak buah. 

ada  pada orang yang gemuk secara genetik, perpaduan 

antara genetik dan lingkaran gen yang ditemukan diduga dapat 

mempengaruhi jumlah dan besar sel lemak , distribusi lemak 

dan besar penggunaan energi untuk metabolisme saat tubuh 

istirahat 

F. Faktor pemicu  Obesitas

Pada dasarnya obesitas terjadi sebab  energi yang didapat 

lewat makanan melebihi energi yang dikeluarkan anak. 

Ketidakseimbangan ini didapat dari berlebihnya energi yang 

diperoleh dan atau berkurangnya energi yang dikeluarkan untuk 

metabolisme tubuh, thermolegulasi, dan aktivitas fisik(Wijayanti, 

2013). Beberapa faktor yang memicu  obesitas yaitu : 

1. Genetik

Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya 

pada generasi berikutnya didalam sebuah keluarga. 

Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang 

gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula 

(Supriyanto, 2016). Jika ayah atau ibu mengalami obesitas 

maka kemungkinan anaknya juga mengalami obesitas 

sebesar 40% dan jika kedua orangtuanya mengalami 

obesitas maka kemungkinan anaknya mengalami obesitas 

jauh lebih besar yaitu 70-80% .

2. Pola Makan Berlebih

Salah satu pemicu  dari obesitas yaitu  pola makan 

yang tidak teratur. warga  cenderung memilih 

makanannya sendiri terutama makan yang cepat saji dan 

tinggi karbohidrat sehingga memicu  warga  

mengalami kelebihan asupan makanan dan obesitas atau 

kelebihan berat badan akan sulit untuk dihindari(Syam, 

2017). Orang yang kegemukan lebih responsif dibanding 

dengan orang berberat badan normal terhadap syarat 

lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau saatnya 

waktu makan. Orang yang gemuk cenderung makan bila 

ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia lapar. 

Pola makan berlebih inilah yang memicu  mereka sulit 

untuk keluar dan kegemukan jika individu tidak memiliki 

kontrol diri dan motivasi yang kuat untuk mengurangi berat 

badan 

3. Pola Aktivitas

Obesitas juga dapat terjadi bukan hanya sebab  makan 

yang berlebihan, namun  juga disebab kan aktivitas fisik yang 

berkurang sehingga terjadi kelebihan energi ,Hal ini  disebabkan oleh jumlah kalori yang dibakar 

lebih sedikit dibandingkan jumlah kalori yang diperoleh 

dari makanan yang dikonsumsi sehingga berpotensi 

memicu  penimbunan lemak berlebihan dalam 

tubuh(Suto, 2017). Beberapa hal yang memengaruhi 

berkurangnya aktivitas fisik antara lain adanya berbagai 

fasilitas yang memberi  berbagai kemudahan yang 

memicu  aktivitas fisik menurun seperti kemajuan 

teknologi diberbagai bidang kehidupan yang mendorong 

warga  untuk menempuh kehidupan yang tidak 

memerlukan kerja fisik yang berat

G. Risiko Penderita Obesitas 

Obesitas ataupun overweight dapat meningkatkan risiko 

terjadinya masalah kesehatan baik akut ataupun kronis, juga 

dapat mempengaruhi kesehatan pada usia dewasa muda dan 

kualitas hidup seseorang Kegemukan dapat 

memicu timbulnya beberapa penyakit kronis yang sangat serius 

seperti resistensi insulin, tekanan darah tinggi, gagal jantung, 

diabetes mellitus, kanker, stroke, batu empedu, nyeri sendi dan 

lain-lain 

H. Tata Laksana Nutrisi Obesitas

Target pada penatalaksanaan obesitas yaitu  bertitik 

berat pada berat badan tidak hanya pada penurunan, akan 

namun  harus memperhatikan maintenance jangka panjangnya.7 

Tatalaksana obesitas meliputi modifikasi gaya hidup, aktifitas 

fisik / olahraga, dll 

1. Modifikasi gaya hidup

Modifikasi gaya hidup meliputi perubahan lingkungan, 

aktifitas fisik, dan asupan makan telah menjadi hal 

yang penting dalam tatalaksana obesitas. Strategi 

dalam perubahan gaya hidup yaitu  self-monitoring, 

penetapan tujuan, kontrol stimulus, penyelesaian masalah, 

restrukturisasi kognitif, mencegah stress, dukungan sosial 

dan pencegahan kekambuhan. Program modifikasi 

gaya hidup ini jika dilakukan secara komprehensif dapat 

menurunkan berat badan kurang lebih 10% dalam waktu 4 

hingga 26 minggu 

2. Aktifitas fisik/olahraga

Olahraga yang dianjurkan yaitu  olahraga yang bersifat 

aerobik, yaitu olahraga yang menggunakan oksigen dalam 

sistem pembentukan energinya. Atau dengan kata lain 

olahraga yang tidak terlalu berat namun dalam waktu lebih 

dari 15 menit. Contoh olahraga yang dianjurkan antara lain 

berjalan selama 20-30 menit setiap harinya, berenang, 

bersepeda santai, jogging, senam aerobik, dll 

3.  Program penurunan berat badan 

Program penurunan berat badan seperti diet pembatasan 

energi (low calorie diet) dengan pengurangan energi 500 – 

1000 kkal dari kebutuhan sehari dan very low calorie diets 

(VLCD) dengan memasukan jumlah kalori kurang dari 800 

kkal per hari. Kedua hal ini harus dikombinasi dengan aktifitas 

fisik dan perubahan gaya hidup untuk dapat memperoleh 

hasil yang diinginkan

4. Terapi psikologis

Hal ini terutama ditujukan jika pemicu  obesitas yaitu  

masalah psikologis seperti perceraian orang tua, ketidak 

harmonisan dalam keluarga maupun rendahnya tingkat 

percaya diri anak. Selain itu kegemukan juga memicu  

anak menjadi minder dan cenderung mengasingkan diri 

dari teman-teman sebayanya

5.  Operasi 

Penanganan obesitas dengan cara operasi dilakukan 

jika  keadaan penderita sudah tidak mungkin lagi untuk 

diberikan cara-cara lain seperti olahraga dan diet. Cara ini 

dilakukan juga dengan alasan untuk mendapatkan tubuh 


yang ideal dengan cara yang cepat. Operasi ini dilakukan 

dengan cara mengangkat jaringan lemak bawah kulit yang 

berlebihan pada penderita 

Waktu Bahan Makanan Berat (g) URT

Pagi Nasi

Telur

Sayuran

Gula Pasir

Susu

Minyak

100

50

50

10

200

5

1 gelas

1 butir

1/2 gelas

1 sdm

1 gelas

1/2 sdm

Pukul 10.00 Pepaya

Gula Pasir

100 1 potong sedang

1 sdm

Siang Nasi 

Daging

Tempe

Sayuran

Buah

Minyak

Telur

150

50

25

50

100

10

25

1 gelas

1 potong sedang

1 potong sedang

1 potong sedang

1/2 gelas

1 sdm

1/2 butir

Pukul 16.00 Gula Pasir 10 1 sdm

Malam Nasi 

Daging

Tempe

Sayuran

Buah

Minyak

Telur

150

50

50

50

100

5

25

1 gelas

1 potong sedang

2 potong sedang

1/2 gelas

1 potong sedang

1/2 sdm

1/2 butir

Gambar 1. Pembagian Menu Makan dalam Sehari untuk Penderita 

        Obesitas

I. Pembagian Makanan Diet TETP

Obesitas merupakan keadaan yang menunjukkan 

ketidakseimbangan antara tinggi dan berat badan akibat 

jaringan lemak dalam tubuh sehingga terjadi kelebihan berat 

badan yang melampaui ukuran ideal. Obesitas patut diberi 

perhatian, sebab obesitas dapat mencetuskan komplikasi 

berbagai macam penyakit jika tidak di selesaikan seperti 

diabetes mellitus, kanker, darah tinggi dll. Obesitas dapat 

dihilangkan jika kita mau merubah pola gaya hidup, sering 

melakuan aktifitas fisik, diet sehat dll secara konsisten untuk 

mencapai berat normal dan hidup yang sehat sesuai dengan 

yang kita inginkan.


Penerapan hidup sehat sangat perlu diperhatikan untuk para 

penderita obesitas. Sebab jika para penderita mengabaikan 

beberapa cara untuk mengurangi kadar lemak dalam tubuh dapat 

memicu  masalah kesehatan pada tubuh mereka menjadi 

lebih buruk atau bahkan dapat memicu  komplikasi. Sehingga 

perlu ketekunan yang tinggi untuk dapat mencapai kualitas hidup 

yang lebih ideal.


Anemia merupakan salah satu masalah gizi utama di negara kita  

khususnya anemia defisiensi besi, yang cukup menonjol pada 

anak-anak sekolah khususnya remaja  Anemia 

banyak terjadi pada warga  terutama pada remaja dan ibu 

hamil. Anemia pada remaja putri sampai saat ini masih cukup 

tinggi, menurut World Health Organization (WHO) (2013), Anemia 

merupakan kelanjutan dampak kekurangan zat gizi makro yaitu 

karbohidrat, protein, lemak dan kurang zat gizi mikro yaitu vitamin 

dan mineral. Dampak anemia pada remaja putri yaitu pertumbuhan 

terhambat, tubuh pada masa pertumbuhan mudah terinfeksi, 

memicu  kebugaran/kesegaran tubuh berkurang, semangat 

belajar atau prestasi menurun. Dampak rendahnya status besi (Fe) 

dapat memicu  anemia dengan gejala pucat, lesu/lelah, 

sesak nafas dan kurang nafsu makan serta gangguan pertumbuhan 

(Barasi, 2009).

Anemia merupakan salah satu faktor pemicu  tidak langsung 

kematian ibu hamil. Angka Kematian Ibu (AKI) di negara kita  

yaitu  tertinggi bila dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya. 

Perempuan yang meninggal sebab  komplikasi selama kehamilan 

dan persalinan mengalami penurunan pada tahun 2013 sebesar 

289.000 orang. Target penurunan angka kematian ibu sebesar 75% 

antara tahun 1990 dan 2015 (WHO, 2015). Jika perempuan mengalami 

anemia akan sangat berbahaya pada waktu hamil dan melahirkan. 

Perempuan yang menderita anemia akan berpotensi melahirkan 

bayi dengan berat badan rendah (kurang dari 2,5 kg). Selain itu, 

anemia dapat memicu  kematian baik pada ibu maupun 

bayi pada waktu proses persalinan (Rajab, 2009).

 Remaja putri lebih sering mengalami anemia. Usia reproduksi 

remaja putri setiap harinya memerlukan zat besi tiga kali lebih 

banyak dibandingkan dengan remaja putra, sebab  remaja putri 

mengalami menstruasi setiap bulannya hal ini  diperparah 

dengan pola konsumsi remaja putri yang terkadang melakukan diet 

pengurusan badan sehingga kebutuhan asupan zat besi semakin 

sedikit 

Menurut data hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi anemia di 

negara kita  yaitu 21,7% dengan penderita anemia berumur 5-14 tahun 

sebesar 26,4% dan 18,4% penderita berumur 15-24 tahun (Kemenkes 

RI, 2014). Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2012 

menyatakan bahwa prevalensi anemia pada balita sebesar 40,5%, 

ibu hamil sebesar 50,5%, ibu nifas sebesar 45,1%, remaja putri usia 10-

18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19-45 tahun sebesar 39,5%. Wanita 

memiliki  risiko terkena anemia paling tinggi terutama pada 

remaja putri (Kemenkes RI, 2013).

A. Definisi Anemia Gizi Besi

Anemia yaitu  suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) 

dalam darah kurang dari normal, berdasarkan kelompok umur, 

jenis kelamin dan kehamilan. Anemia gizi besi yaitu  anemia 

yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh (depleted 

iron store) sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis 

berkurang. Eritropoesis proses pembentukan eritrosit anemia 

gizi besi atau anemia defisiensi zat besi merupakan masalah 

gizi utama bagi semua kelompok umur dengan prevalensi 

paling tinggi pada kelompok ibu hamil. Sekitar 95% anemia 

terkait kehamilan tergolong anemia gizi besi. Anemia gizi besi 

yaitu  suatu keadaan dimana terjadi penurunan cadangan 

besi dalam hati, sehingga jumlah hemoglobin darah menurun 

dibawah normal. Sebelum terjadi anemia gizi besi, diawali 

lebih dulu dengan keadaan kurang gizi besi (KGB). jika  

cadangan besi dalam hati menurun namun  belum parah, dan 

jumlah hemoglobin masih normal, maka seseorang dikatakan 

mengalami kurang gizi besi saja (tidak disertai anemia gizi besi). 

Keadaan kurang gizi besi yang berlanjut dan semakin parah 

akan memicu  anemia gizi besi, dimana tubuh tidak lagi 

memiliki  cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin yang 

diperlukan dalam selsel darah yang baru 

B. Faktor pemicu  anemia gizi besi

Faktor pemicu  status gizi yang dipengaruhi oleh pola 

makanan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan dan status 

kesehatan. Yang beresiko mengalami anemia defisiensi zat besi:

1. Wanita menstruasi.

2. Wanita menyusui atau hamil sebab  peningkatan kebutuhan 

zat besi.

3. Bayi, anak-anak dan remaja yang merupakan masa 

pertumbuhan yang cepat.

4. Orang yang kurang makan makanan yang mengandung 

zat besi, jarang makan daging dan telur selama bertahun-

tahun.

5. Menderita penyakit maag.

6. Penggunaan aspirin jangka panjang.

7. Kanker kolon.

8. Vegetarian sebab  tidak makan daging, akan namun  dapat 

digantikan dengan brokoli dan bayam.

C. Patosiologi  Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi merupakan hasil akhir keseimbangan 

negatif besi yang berlangsung lama. Bila kemudian keseimbangan 

besi yang negatif ini menetap akan memicu  cadangan 

besi terus berkurang. Berikut yaitu  tahapan anemia gizi besi:

a. Tahap pertama 

Tahap ini disebut iron depletion atau store iron deficiency, 

ditandai dengan berkurangnya cadangan besi atau tidak 

adanya cadangan besi. Hemoglobin dan fungsi protein besi 

lainnya masih normal. Pada keadaan ini terjadi peningkatan 

absorpsi besi non heme. Feritin serum menurun sedangkan 

pemeriksaan lain untuk mengetahui adanya kekurangan 

besi masih normal.

b. Tahap kedua

Pada tahap kedua tingkat ini yang dikenal dengan istilah 

iron deficient erythropoietin atau iron limited erythropoiesis 

didapatkan suplai besi yang tidak cukup untuk menunjang 

eritropoisis. Dari hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh 

nilai besi serum menurun dan saturasi transferin menurun, 

sedangkan TIBC meningkat dan free erythrocyte porphrin 

(FEP) meningkat. 

c. Tahap ketiga 

Tahap inilah yang disebut sebagai iron deficiency anemia. 

Keadaan ini terjadi bila besi yang menuju eritroid sumsum 

tulang tidak cukup sehingga memicu  penurunan 

kadar Hb. Dari gambaran tepi darah didapatkan mikrositosis 

dan hipokromik yang progesif. Pada tahap ini telah terjadi 

perubahan epitel terutama pada ADB yang lebih lanjut.

D. Diagnosis Anemia Defisiensi Besi

Diagnosis ADB ditegakkan berdasarkan hasil temuan dari 

anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat 

mendukung sehubungan dengan gejala klinis yang sering tidak 

khas.

Ada beberapa kriteria diagnosis yang dipakai untuk 

menentukan ADB1

1. Kriteria diagnosis ADB menurut WHO:

a. Kadar Hb kurang dari normal sesuai usia

b. Kosentrasi Hb eritrosit rata-rata <31% (N : 32-35%)

c. Kadar Fe serum <50 ug/dl (N : 80 – 180 ug/dl)

d. Saturasi transferin <15 % (N ; 20 – 50%)

2. Dasar diagnosis ADB menurut Cook dan Monsen:

a. Anemia hipokrom mikrositik

b. Saturasi transferin <16%

c. Nilai FEP >100 ug/dl

d. Kadar feritin serum <12 ug/dl

Untuk kepentingan diagnosis minimal 2 atau 3 kriteria 

(ST, feritin serum, dan FEP harus dipenuhi)

3. Lanzkowsky menyimpulkan ADB dapat diketahui melalui:

a. Pemeriksaan apus darah tepi hipokrom mikrositer 

yang dikonfirmasi dengan MCV, MCH, dan MCHC yang 

menurun.

b. Red cell distribution width (RDW) > 17%

c. FEP meningkat

d. Feritin serum menurun

e. Fe serum menurun, TIBC meningkat, ST < 10%

4. Respon terhadap pemberian preparat besi

a. Retikulositosis mencapai pundak pada hari ke 5 – 10 

sesudah  pemberian besi

b. Kadar hemolobin meninkat rata-rata 0,25 – 0,4 g/dl/ hari 

atau PCV menigkat 1% / hari.

5. Sumsum tulang

a. Tertundanya maturasi sitoplasma

b. Pada perwarnaan sumsum tulang tidak ditemukan besi 

atau besi berkurang

Cara lain untuk menentukaan adanya ADB yaitu  dengan 

trial pemberian preparate besi. Penentuan ini penting untuk 

mengetahui adanya ADB subklinis dengan melihat respons 

hemoglobin terhadap pemberian peparat besi. Prosedur ini 

sangat mudah, praktis, sensitif dan ekonomis terutama pada 

anak yang berisiko tinggi menderita ADB. Bila dengan pemberian 

preparat besi dosis 6 mg/kgBB/hari selama 3 – 4 minggu terjadi 

peningkatan kadar Hb 1-2 mg/dl maka dapat dipastikan bahwa 

yang bersangkutan menderita ADB.

Klasifikasi Anemia menurut Kelompok Umur

Populasi 

Non 

Anemia 

(g/dL)

Anemia (g/dL)

Ringan Sedang Berat

Anak 6 - 59 Tahun 11 10.0 - 10.9 7.0 - 9.9 <7.0

Anak 5 - 11 Tahun 11.5 11.0 - 11.4 8.0 - 10.9 <8.0

Anak 12 -14 Tahun 11.5 11.0 - 11.9 8.0 - 10.9 <8.0

Perempuan tidak 

hamil

(≥ 15 tahun)

12 11.0 - 11.9 8.0 - 10.9 <8.0

Ibu Hamil 11 10.0 - 10.9 7.0 - 9.9 <7.0

Laki-laki ≥ 15 Tahun 13 11.0 - 12.9 8.0 - 10.9 <8.0

Sumber: WHO. 2011

Gambar 2. Klasifikasi Anemia menurut Kelompok Umur


E. Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Defisiensi Besi

Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia dilakukan 

dengan memberi  asupan zat besi yang cukup ke dalam uh 

untukmeningkatkan pembentukan hemoglobin. Upaya yang 

dapat dilakukan yaitu :

1. Meningkatkan asupan makanan sumber zat besi

Meningkatkan asupan makanan sumber zat besi 

dengan pola makanbergizi seimbang, yang terdiri dari aneka 

ragam makanan, terutamasumber pangan hewani yang 

kaya zat besi (besi heme) dalam jumlahyang cukup sesuai 

dengan AKG. Selain itu juga perlu meningkatkansumber 

pangan nabati yang kaya zat besi (besi non-heme), 

walaupunpenyerapannya lebih rendah dibanding dengan 

hewani. Makanan yangkaya sumber zat besi dari hewani 

contohnya hati, ikan, daging dan unggas, sedangkan 

dari nabati yaitu sayuran berwarna hijau tua dankacang-

kacangan. Untuk meningkatkan penyerapan zat besi dari 

sumbernabati perlu mengonsumsi buah-buahan yang 

mengandung vitamin C,seperti jeruk, jambu. Penyerapan zat 

besi dapat dihambat oleh zat lain,seperti tanin, fosfor, serat, 

kalsium, dan fitat.

2. Fortifikasi bahan makanan dengan zat besi

Fortifikasi bahan makanan yaitu menambahkan satu 

atau lebih zat gizikedalam pangan untuk meningkatkan nilai 

gizi pada pangan ini .Penambahan zat gizi dilakukan 

pada industri pangan, untuk itu disarankan membaca 

label kemasan untuk mengetahui apakah bahan makanan 

ini  sudah difortifikasi dengan zat besi. Makanan yang 

sudah difortifikasi di negara kita  antara lain tepung terigu, 

beras, minyakgoreng, mentega, dan beberapa snack. Zat 

besi dan vitamin mineral lain juga dapat ditambahkan dalam 

makanan yang disajikan di rumah tangga dengan bubuk 

tabur gizi atau dikenal juga dengan Multiple Micronutrient 

Powder.

3. Suplementasi zat besi

Pada keadaan dimana zat besi dari makanan tidak 

mencukupi kebutuhan terhadap zat besi, perlu didapat 

dari suplementasi zat besi. Pemberiansuplementasi zat 

besi secara rutin selama jangka waktu tertentubertujuan 

untuk meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat, 

dan perludilanjutkan untuk meningkatkan simpanan zat 

besi di dalam tubuh.  Suplementasi Tablet Tambah Darah 

(TTD) pada rematri dan WUS merupakan salah satu upaya 

pemerintah negara kita  untuk memenuhiasupan zat besi. 

Pemberian TTD dengan dosis yang tepat dapatmencegah 

anemia dan meningkatkan cadangan zat besi di dalam 

tubuh.

F. Kebutuhan zat besi

Menurut angka kebutuhan gizi (AKG 2019), kebutuhan zat 

besi sebagai berikut:

Kelompok Umur Zat Gizi Kelompok Umur Zat Gizi

Bayi / Anak

Besi 

(mg)

Perempuan

Besi 

(mg)

0-5 bulan 0.3 10-12 tahun 8

6-11 bulan 11 13-15 tahun 15

1-3 tahun 7 16-18 tahun 15

4-6 tahun 10 19-29 tahun 18

7-9 tahun 10 30-49 tahun 18

Laki-laki 50-64 tahun 8

10-12 tahun 8 65-80 tahun 8

13-15 tahun 11 80+ tahun 8

16-18 tahun 11 Hamil (+an)

19-29 tahun 9 Trimester 1 +0

30-49 tahun 9 Trimester 2 +9

50-64 tahun 9 Trimester 3 +9

65-80 tahun 9 Menyusui (+an)

80+ tahun 9 6 bulan pertama +0

    6 bulan kedua +0

Tabel 2. Klasifikasi Zat Besi


G. Diet Anemia Defisiensi Besi

1. Tujuan diet

• Memperbaiki status gizi

• Memenuhi gizi yang seimbang untuk pertumbuhan, 

meliputi energi, protein, Fe dan Vitamin C

• Meningkatkan dan memperbaiki keadaan anemia dari 

segi pemasukan dan penyerapan

• Meningkatkan nafsu makan 

• Mengupayakan perubahan sikap & perilaku sehat 

terhadap makanan

2. Syarat diet

• Energi sesuai kebutuhan

• Lemak 20% total energi

• Protein 15% total energi

• Karbohidrat 60% total energi

• Cukup mineral dan vitamin (khususnya tinggi Fe, asam 

folat dan vitamin C)

• Mudah dicerna

• Pemberian makanan dibagi menjadi 3 kali makanan 

utama 2 kali dan 1 kali makanan selingan 

• Menu makanan

Waktu Menu Porsi per Menu

Pagi Bubur kacang hijau 100

Telur 1/2 Matang 50

Susu + Gula 20+10

Jam 10.00 Sandwich Telur 100

Siang Nasi Putih 200

Udang goreng asam 

manis

50

Tahu kuah kaldu 100

Cah jagung muda 100

Jeruk 100

16.00 Brownies Kukus 50

Malam Nasi Putih 200

Ayam masak mangkang 50

Tahu kuah kaldu 100

Cah jagung muda 100

Jambu Biji 100

Tabel 3. Menu Makan Diet Anemia Defisiensi Besi


Anemia Defisiensi besi yaitu  anemia yang timbul akibat 

berkurangnya penyed iaan besi untuk eritropoesis, sebab  

cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya 

memicu  pembentukanhemoglobin berkurang. Kurangnya 

besi berakibat pada kurangnya pasokansel darah merah yang 

ada dalam tubuh, sehingga dapat memicu  berbagai 

gangguan klinik serta kelainan. Wanita lebih rentan terkena 

anemia defisiensi besi sebab  kebutuhan akanzat besi yang 

lebih banyak daripada pria. Wanita mengalami menstruasiyang 

memicu  darah menghilang rata-rata 20 mg zat besi tiap 

bulannya, bahkan ada yang mencapai 58 mg. Pada ibu hamil, 

memberi nutrisi pada fetus, sehingga jumlah Fe berkurang. 

Terlebih lagi bagi ibumelahirkan yang mengeluarkan banyak 

darah, sehingga asupan Fe perluditambah untuk mengurangi 

resiko melahirkan Bayi dengan Berat LahirRendah (BBLR).

Dampak yang timbul dari anemia defisiensi besi bagi remaja 

putri dan ibuhamil dapat menakibatkan penurunan aktifitas 

fisik, pucat dan lemas dangangguan kesehatan serta berbagai 

kelainan. Pada ibu hamil dapatmemicu  bayi lahir dengan 

berat badan dibawah normal bahkandapat meningkatkan 

angka kematian bayi dan ibu atau salah satudiantaranya 

saat proses persalinan. Namun, hal ini  dapat dicegah 

dandihindari dengan mengatur pola makan yang seimbang, 

mencukupikebutuhan Fe dengan tablet besi (Fe) ataupun tablet 

penambah darah.


KURANG VITAMIN A (KVA)

Kekurangan Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang 

tersebar di seluruh dunia terutama di negara berkembang 

termasuk negara kita  dan dapat terjadi pada semua umur 

terutama pada masa pertumbuhan. Xeroftalmia yaitu  istilah 

yang menerangkan gangguan kekurangan vitamin A pada mata, 

termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata dan gangguan 

fungsi sel retina yang berakibat kebutaan. Kekurangan Vitamin A 

(KVA) dalam tubuh dapat memicu  berbagai jenis penyakit 

yang merupakan “Nutrition Related Diseases” yang dapat mengenai 

berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti 

menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme 

sel-sel kulit. Salah satu dampak kurang vitamin A yaitu  kelainan 

pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia  6 bulan - 4 tahun 

yang menjadi pemicu  utama kebutaan di negara berkembang 

diantara anak-anak 

pra sekolah diperkirakan ada  sebanyak 6-7 juta kasus baru 

xeropthalmia tiap tahun, kurang lebih 10% diantaranya menderita 

kerusakan kornea. Diantara yang menderita kerusakan kornea ini 

60% meninggal dalam waktu satu tahun, sedangkan diantara yang 

hidup 25% menjadi buta dan 50-60% setengah buta. Diperkirakan 

pada satu waktu sebanyak 3 juta anak-anak buta sebab  kekurangan 

vitamin A, dan sebanyak 20-40 juta menderita kekurangan vitamin 

A pada tingkat lebih ringan. Perbedaan angka kematian antara 

anak yang kekurangan dan tidak kekurangan vitamin A kurang lebih 

sebesar 30% .

Salah satu faktor yang mendasari terjadinya kekurangan 

vitamin A yaitu  tidak tercukupinya konsumsi vitamin A yang 

sesuai dengan standar usia dan jenis kelamin. Faktor lain yang 

mempengaruhi terjadinya Kekurangan Vitamin A (KVA) yaitu 

faktor individu, keluarga dan lingkungan. Maka, aspek gizi sangat 

diperlukan untuk mengurangi angka kejadian Kekurangan Vitamin A 

(KVA) pada balita. Makalah ini akan membahas lebih jauh mengenai 

Kekurangan Vitamin A (KVA), angka kecukupan gizi vitamin A yang 

harus dicukupi, pemicu  Kekurangan Vitamin A (KVA), diagnosis 

penentuan status Kekurangan Vitamin A (KVA), pengobatan 

Kekurangan Vitamin A, serta menu makan yang disarankan untuk 

penderita Kekurangan Vitamin A (KVA).

A. Vitamin A

Vitamin A atau retinol yaitu  suatu substansi yang larut 

dalam lemak dan ada  pada hati (terutama hati ikan) 

dan pada kuning telur dan produk susu. Vitamin A tidak dapat 

diproduksi oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari luar tubuh 

(esensial) 

Secara luas, vitamin A merupakan nama genetik yang 

menyatakan semua retinoid dan prekusor atau provitamin A 

atau karotenoid yang memiliki  aktivitas biologik sebagai 

retinol. Vitamin A essensial untuk pemeliharaan kesehatan dan 

kelangsungan hidup. Di dalam tubuh, vitamin A berfungsi dalam 

beberapa bentuk ikatan kimia aktif, yaitu retinol (bentuk alcohol), 

retinal (aldehida) dan asam retinoat (bentuk asam). Retinol bila 

dioksidasi berubah menjadi retinal dan retinal dapat kembali 

direduksi menjadi retinol. Selanjutnya, retinal dapat dioksidasi 

menjadi asam retinoate 

Sumber utama vitamin A yaitu  pigmen karotenoid 

(umumnya -karetin) dan retinil ester dari hewan. Senyawa ini 

diubah menjadi retinol dan diesterifikasi dengan asam lemak 

rantai panjang. Hasil dari retinil ester diabsorpsi bersama lemak 

dan ditransportasikan ke hati untuk disimpan 


B. Bahan Makanan yang mengandung Vitamin A 

Gambar 3. Bahan Makanan yang Mengandung Vitamin A dalam 

Satuan URT


C. Angka Kecukupan Gizi Vitamin A

KELOMPOK UMUR VITAMIN A (mcg)

Bayi/Anak

0 – 6 bulan 375

7 – 11 bulan 400

1 – 3 tahun 400

4 – 6 tahun 450

7 – 9 tahun 500

Laki-laki

10 – 12 tahun 600

13 – 15 tahun 600

16 – 18 tahun 600

19 – 29 tahun 600

30  – 49 tahun 600

50 – 64 tahun 600

65 – 80 tahun 600

80+ tahun 600

Perempuan

10 – 12 tahun 600

13 – 15 tahun 600

16 – 18 tahun 600

19 – 29 tahun 500

30 – 49 tahun 500

50 – 64 tahun 500

65 – 80 tahun 500

80+ tahun 500

Hamil (+an)

Trimester 1 +300

Trimester 2 +300

Trimester 3 +350

Menyusui (+an)

6 bln pertama +350

6 bln kedua +350

Sumber: Peraturan Menteri Kesehatan Republik negara kita  No. 75 Tahun 2013

D. Kekurangan Vitamin A (KVA)

Xeroftalmia yaitu  istilah yang menerangkan 

gangguan kekurangan vitamin A pada mata, termasuk 

terjadinya kelainan anatomi bola mata dan gangguan 

Tabel 4. AKG Vitamin A


fungsi sel retina yang berakibat kebutaan 

Kata Xeroftalmia (bahasa Latin) berarti “mata kering”, 

sebab  terjadi kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) 

dan selaput bening (kornea) mata. Kekurangan vitamin 

A yaitu  pemicu  utama kebutaan pada anak dan 

merupakan ganguan pada organ manusia yang 

disebabkan oleh dua faktor yaitu : kurangnya vitamin A ke 

dalam tubuh dan penyakit infeksi 

Kelompok rentan kekurangan vitamin A terjadi pada 

anak-anak dari keluarga miskin, anak yang tinggal di 

daerah pengungsian, dan anak-anak yang tinggal di 

daerah dengan ketersediaan pangan sumber vitamin A 

yang kurang. Selain itu kelompok lain yang juga rentan 

yaitu  anak dengan pola asuh tidak baik, anak yang 

tidak mendapat imunisasi, anak yang tidak dapat vitamin 

A pada Feburuari dan Agustus, serta adanya pantangan 

makanan tertentu pada anak (Zulkifli, 2007).

Anak yang menderita penyakit Kekurangan vitamin 

A (KVA) dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit 

infeksi seperti penyakit saluran pernafasan dan diare, 

meningkatkan angka kematian sebab  campak, serta 

memicu  keterlambatan pertumbuhan 

E. pemicu  Kekurangan Vitamin A (KVA)

Xeroftalmia terjadi akibat tubuh kekurangan vitamin 

A. Bila ditinjau dari konsumsi makanan sehari-hari 

kekurangan vitamin A disebabkan oleh 

• Konsumsi makanan yg tidak mengandung cukup 

vitamin A atau provitamin A untuk jangka waktu yang 

lama. 

• Bayi tidak diberikan ASI Eksklusif 

• Menu tidak seimbang (kurang mengandung lemak, 

protein, seng/Zn atau zat gizi lainnya) yang diperlukan 

untuk penyerapan vitamin A dan penggunaan vitamin 

A dalam tubuh.  

• Adanya gangguan penyerapan vitamin A atau pro-

vitamin A seperti pada penyakit-penyakit antara lain 

penyakit pankreas, diare kronik, Kurang Energi Protein 

(KEP) dan lain-lain sehingga kebutuhan vitamin A 

meningkat. 

• Adanya kerusakan hati, seperti pada kwashiorkor 

dan hepatitis kronik, memicu  gangguan 

pembentukan RBP (Retinol Binding Protein) dan pre-

albumin yang penting untuk penyerapan vitamin A.

F. Tanda dan gejala Kekurangam Vitamin A (KVA)

Kurang vitamin A (KVA) yaitu  kelainan sistemik yang 

mempengaruhi jaringan epitel dari organ-organ seluruh 

tubuh, termasuk paru-paru, usus, mata dan organ lain, 

akan namun  gambaran yang karakteristik langsung terlihat 

pada mata. 

Kelainan kulit pada umumnya tampak pada tungkai 

bawah bagian depan dan lengan atas bagian belakang, 

kulit tampak kering dan bersisik seperti sisik ikan. Kelainan 

ini selain disebabkan sebab  KVA dapat juga disebabkan 

sebab  kekurangan asam lemak essensial, kurang vitamin 

golongan B atau Kurang Energi Protein (KEP) tingkat berat 

atau gizi buruk.

Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh 

mengalami KVA yang telah berlangsung lama. Gejala 

ini  akan lebih cepat timbul bila anak menderita 

penyakit campak, diare, ISPA dan penyakit infeksi lainnya 


Berikut yaitu  tanda dan gejala kekurangan vitamin A 

menurut  

a. Buta Senja (XN)

Tanda-tanda :

• Buta senja terjadi akibat gangguan pada sel 

batang retina

• Pada keadaan ringan, sel batang retina sulit 

beradaptasi di ruang yang remang-remang 

sesudah  lama berada di cahaya terang


• Penglihatan menurun pada senja hari, dimana 

penderita tak dapat melihat di lingkungan yang 

kurang cahaya, sehingga disebut buta senja

b. Xerosis konjungtiva (XIA)

Tanda-tanda:

• Selaput lendir bola mata tampak kurang mengkilat 

atau terlihat sedikit kering, berkeriput, dan 

berpigmentasi dengan permukaan kasar dan 

kusam

• Orang tua sering mengeluh mata anak tampak 

kering atau berubah warna kecoklatan

c. Xerosis Konjungtiva dan Bitot’s spot (X1B)

Tanda-tanda:

• Tanda-tanda xerosis kojungtiva (X1A) ditambah 

bercak bitot yaitu bercak putih seperti busa sabun 

atau keju terutama di daerah celah mata sisi luar

• Bercak ini merupakan penumpukan keratin dan sel 

epitel yang merupakan tanda khas pada penderita 

xeroftalmia, sehingga dipakai sebagai kriteria 

penentuan prevalensi kurang vitamin A dalam 

warga 

Dalam keadaan berat:

1. Tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan 

konjungtiva

2. Konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat 

dan berkerut 

3. Orang tua mengeluh mata anaknya tampak 

bersisik

d. Xerosis Kornea (X2)

Tanda-tanda :

• Kekeringan pada konjungtiva berlanjut sampai 

kornea

• Kornea tampak suram dan kering dengan 

permukaan tampak kasar 

29MATERI III - KURANG VITAMIN A (KVA)

• Keadaan umum anak biasanya buruk (gizi buruk

dan menderita penyakit infeksi dan sistemik lain)

e. Keratomalasia dan ulcus kornea = X3A, X3B

Tanda-tanda :

• Kornea melunak seperti bubur dan dapat terjadi

ulkus

• Tahap X3A: bila kelainan mengenai kurang dari 1/3

permukaan kornea

• Tahap X3B: Bila kelainan mengenai semua atau

lebih dari 1/3 permukaan kornea

• Keadaan umum penderita sangat buruk

• Pada tahap ini dapat terjadi perforasi kornea

(kornea pecah) Keratomalasia dan tukak kornea

dapat berakhir dengan perforasi dan prolapse

jaringan isi bola mata dan membentuk cacat

tetap yang dapat memicu  kebutaan.

Keadaan umum yang cepat memburuk dapat

memicu  keratomalasia dan ulkus kornea

tanpa harus melalui tahap-tahap awal xeroftalmia

f. Xeroftalmia scar (XS) = sikatriks (jaringan parut) kornea

Tanda-tanda :

• Kornea mata tampak menjadi putih atau bola

mata tampak mengecil. Bila luka pada kornea telah

sembuh akan meninggalkan bekas berupa sikatrik

atau jaringan parut

• Penderita menjadi buta yang sudah tidak dapat

disembuhkan walaupun dengan operasi cangkok

kornea

g. Xeroftalmia Fundus (XF)

Dengan opthalmoscope pada fundus tampak

gambar seperti cendol

G. Diagnosis Kekurangan Vitamin A (KVA)

Menurut (Lesmana, 2017), Pemeriksaan yang umum

dilakukan untuk mendiagnosis kekurangan vitamin A


antara lain:

1. Anamnesis konsumsi vitamin A 

dilakukan untuk mengetahui faktor risiko tinggi yang 

memicu  anak rentan menderita xeroftalmia

2. Pemeriksaan gejala-gejala kulit dan mata

3. Tes kadar vitamin A di dalam darah. 

Normalnya kadar vitamin A dalam darah di negara kita  

sekitar 20 mcg/dl. Namun kadar 10-20 mcg/dl 

pun masih dianggap optimal walaupun sudah 

meningkatkan risiko hipovitaminosis. Kadar vitamin 

A kurang dari 10 mcg/dl sudah dianggap menderita 

kekurangan vitamin A, besar kemungkinan sudah 

terlihat gejala-gejala xerophthalmia.

H. Faktor Risiko Kekurangan Vitamin A (KVA)

Menurut (Depkes,2003) Ada beberapa faktor risiko 

terjadinya kekurangan vitamin A yaitu:

a. Faktor Sosial budaya dan lingkungan dan pelayanan 

kesehatan 

• Ketersediaan pangan sumber vitamin A 

• Pola makan dan cara makan

• Adanya paceklik atau rawan pangan

• Adanya tabu atau pantangan terhadap makanan 

tertentu terutama yang merupakan sumber Vit A.

• Cakupan imunisasi, angka kesakitan dan angka 

kematian sebab  penyakit campak dan diare

• Sarana pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau

• Kurang tersedianya air bersih dan sanitasi 

lingkungan yang kurang sehat

• Keadaan darurat antara lain bencana alam, 

perang dan kerusuhan

b. Faktor Keluarga

1. Pendidikan :

Pendidikan orang tua yang rendah akan berisiko 


lebih tinggi kemungkinan anaknya menderita KVA 

sebab  pendidikan yang rendah biasanya disertai 

dengan keadaan sosial ekonomi dan pengetahuan 

gizi yang kurang.

2. Penghasilan :

Penghasilan keluarga yang rendah akan lebih 

berisiko mengalami KVA Walaupun demikian 

besarnya penghasilan keluarga tidak menjamin 

anaknya tidak mengalami KVA, sebab  harus 

diimbangi dengan pengetahuan gizi yang cukup 

sehingga dapat memberi  makanan kaya 

vitamin A.

3. Jumlah anak dalam keluarga

Semakin banyak anak semakin kurang perhatian 

orang tua dalam mengasuh anaknya

4. Pola asuh anak.

Kurangnya perhatian keluarga terhadap 

pertumbuhan dan perkembangan anak seperti 

pasangan suami istri (pasutri) yang bekerja dan 

perceraian

5. Faktor Individu

• Anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BB < 

2,5 kg)

• Anak yang tidak mendapat ASI Eksklusif dan 

tidak diberi ASI sampai usia 2 tahun

• Anak yang tidak mendapat MP-ASI yang cukup 

baik kualitas maupun kuantitas

• Anak kurang gizi atau dibawah garis merah 

(BGM) dalam KMS

• Anak yang menderita penyakit infeksi (campak, 

diare, Tuberkulosis (TBC), Infeksi Saluran 

Pernafasan Akut (ISPA), pneumonia dan 

kecacingan.

• Frekuensi kunjungan ke posyandu, puskesmas/


pelayanan kesehatan (untuk mendapatkan 

kapsul vitamin A dan imunisasi).

I. Pencegahan Kekurangan Vitamin A (KVA)

a. Mengenal tanda-tanda kelainan secara dini

b. memberi  vitamin A dosis tinggi kepada bayi dan 

anak secara periodik, yaitu untuk bayi diberikan setahun 

sekali pada bulan Februari atau Agustus (100.000 SI), 

untuk anak balita diberikan enam bulan sekali secara 

serentak pada bulan Februari dan Agustus dengan 

dosis 200.000 SI

c. Mengobati penyakit pemicu  atau penyerta

d. Meningkatkan status gizi, mengobati gizi buruk

e. Penyuluhan keluarga untuk meningkatkan konsumsi 

vitamin A / provitamin A secara terus menerus 

f. memberi  ASI Eksklusif 

g. Pemberian vitamin A pada ibu nifas (< 30 hari) 200.000 

SI 

Melakukan imunisasi dasar pada setiap bayi (Ri et al., 

2003)

J. Pengobatan Kekurangan Vitamin A (KVA)

Menurut (Depkes, 2003), Kekurangan Vitamin A dapat 

disembuhkan dengan 3 cara, yaitu:

a. Pemberian kapsul Vitamin A pada anak penderita KVA

Gambar 4. Pemberian Kapsul Vitamin A pada Anak Penderita KVA

Sumber : Departemen Kesehatan, 2003


b. Pemberian Obat Mata

Obat tetes/salep mata antibiotik tanpa kortikosteroid

(Tetrasiklin 1%, Khloramfenikol 0.25-1% dan Gentamisin 0.3%)

diberikan pada penderita X2, X3A, X3B  dengan dosis  4 x 1

tetes/hari dan berikan juga tetes mata atropin 1 %  3 x 1 tetes/

hari.

Pengobatan dilakukan sekurang-kurangnya 7 hari

sampai semua gejala pada mata menghilang. Mata yang

terganggu harus ditutup dengan kasa selama 3-5 hari

hingga peradangan dan iritasi mereda. Gunakan kasa yang

telah dicelupkan kedalam larutan Nacl 0,26 dan gantilah

kasa setiap kali dilakukan pengobatan. Lakukan tindakan

pemeriksaan dan pengobatan dengan sangat berhati-

hati. Selalu mencuci tangan pada saat mengobati mata

untuk menghindari infeksi sekunder, Segera rujuk ke dokter

spesialis mata untuk mendapat pengobatan lebih lanjut.

K. Terapi Gizi Medis

a. Pengertian

Terapi gizi media yaitu  terapi gizi khusus untuk

penyembuhan kondisi atau penyakit kronis dan luka-luka

serta merupakan suatu penilaian terhadap kondisi pasien

sesuai intervensi yang diberikan agar klien serta keluarganya 

dapat meneruskan penanganan diet yang telah disusun.

b. Tujuan

• memberi  makanan yang adekuat sesuai kebutuhan

untuk mencapai status gizi normal

• memberi  makanan tinggi sumber vit. A. untuk

mengoreksi kurang vitamin A

c. Syarat

• Energi

Energi diberikan cukup untuk mencegah pemecahan 

protein menjadi sumber energi dan untuk penyembuhan.

Pada kasus gizi buruk, diberikan bertahap mengikuti

fase stabilisasi, transisi dan rehabilitasi, yaitu 80-100

kalori/kg BB, 150 kalori/ kg BB dan 200 kalori/ kg BB.


• Protein 

Protein diberikan tinggi, mengingat peranannya 

dalam pembentukan Retinol Binding Protein dan 

Rodopsin. 

Pada gizi buruk diberikan bertahap yaitu :  1 – 1,5 

gram/ kg BB  / hari ;   2 – 3 gram/ kg BB  / hari dan 3 – 4 

gram/ kg BB  / hari

• Lemak 

Lemak diberikan  cukup agar penyerapan vitamin 

A optimal. Pemberian minyak kelapa yang kaya akan 

asam lemak rantai sedang (MCT=Medium Chain 

Tryglycerides). Penggunaan minyak kelapa sawit yang 

berwarna merah dianjurkan, namun  rasanya kurang 

enak.

• Vitamin A 

Vitamin A diberikan tinggi untuk mengoreksi 

defisiensi. Sumber vitamin A yaitu ikan, hati, susu, telur 

terutama kuning telur, sayuran hijau (bayam, daun 

singkong, daun katuk, kangkung), buah berwarna merah, 

kuning, jingga (pepaya, mangga dan pisang raja), waluh 

kuning, ubi jalar kuning, Jagung kuning.

35MATERI III - KURANG VITAMIN A (KVA)

Gambar 5. Rencana Menu Makanan Lunak Kaya Vitamin A

Sumber : Departemen Kesehatan, 2003

Gambar 6. Rencana Menu Makanan Biasa Kaya Vitamin A


d. Menu Makanan bagi Penderita Kekurangan Vitamin A 


Xeroftalmia yaitu  istilah yang menerangkan gangguan 

kekurangan vitamin A pada mata, termasuk terjadinya kelainan 

anatomi bola mata dan gangguan fungsi sel retina yang 

berakibat kebutaan. Kekurangan Vitamin A (KVA) disebabkan 

oleh konsumsi makanan yang tidak mengandung cukup vitamin 

A atau provitamin A untuk jangka waktu yang lama, bayi tidak 

diberikan ASI Eksklusif, menu tidak seimbang, adanya gangguan 

penyerapan vitamin A atau pro-vitamin A seperti pada penyakit-

penyakit, adanya kerusakan hati, seperti pada kwashiorkor dan 

hepatitis kronik, memicu  gangguan pembentukan RBP 

(Retinol Binding Protein) dan pre-albumin yang penting untuk 

penyerapan vitamin A. Angka kecukupan Gizi Vitamin A yang 

harus terpenuhi oleh tiap-tiap individu berbeda tergantung dari 

usia dan jenis kelamin. 

Tanda dan gejala Kekurangan Vitamin A dibagi dalam 

berbagai macam yaitu Buta Senja (XN), Xerosis konjungtiva (XIA), 

Xerosis Konjungtiva dan Bitot’s spot (X1B), Xerosis Kornea (X2), 

Keratomalasia dan ulcus kornea (X3A, X3B) , Xeroftalmia scar 

(XS), Xeroftalmia Fundus (XF), Keratomalasia dan ulcus kornea 

(X3A, X3B0), dan Xeroftalmia scar (XS). Kekurangan Vitamin A 

(KVA) dapat diobati dengan pemberian kapsul Vitamin A pada 

anak penderita KVA, pemberian obat mata, dan terapi gizi medis.

Kekurangan Vitamin A (KVA) merupakan penyakit yang 

harus diatasi dengan cepat. Cara yang harus dilakukan 

yaitu mengadakan penyuluhan kepada warga  tentang 

pentingnya mengkonsumsi Vitamin  A setiap hari dan 

penyuluhan tentang terapi gizi medis dengan melibatkan lintas 

sektor untuk mengurangi angka kejadian Kekurangan Vitamin A 

serta mencegah bertambahnya keparahan penyakit.

DISLIPIDEMIA

Dislipidemia dikatakan sebagai pemicu  morbiditas, 

mortalitas, dan biaya pengobatan yang tinggi. Dislipidemia 

merupakan salah satu faktor risiko penting terjadinya penyakit 

jantung koroner yang merupakan pemicu  kematian utama di 

Amerika Serikat. World Health Organization (WHO) memperkirakan 

dislipidemia berhubungan erat dengan kasus penyakit jantung 

iskemik secara luas, serta memicu  4 juta kematian per tahun. 

Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid yang 

ditandai dengan peningkatan dan penurunan dari fraksi lipid dalam 

plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama yaitu  kenaikan kadar 

kolesterol total, kolestrol Low Density Lipoprotein, dan trigliserida serta 

penurunan kadar kolestrol High Density Lipoprotein (Almatsier, 2004). 

Sedangkan Penyakit jantung koroner (PJK) yaitu  penyakit yang 

disebabkan adanya plak yang menumpuk di dalam arteri koroner 

yang mensuplai oksigen ke otot jantung. Menurut WHO penyakit 

kardiovaskuler merupakan gangguan dari jantung dan pembuluh 

darah termasuk stroke, penyakit jantung rematik dan kondisi lainnya 

(Ghani et al., 2016). Sementara stroke menurut Kemenkes RI (2013) 

yaitu  gangguan fungsi syaraf lokal dan/atau global, munculnya 

mendadak, progresif dan cepat.

Data World Health Organization (WHO) tahun 2017 menunjukkan 

penyakit kardiovaskular menjadi pemicu  nomor satu kematian 

penduduk di dunia. Diperkirakan sekitar 17,7 juta orang meninggal 

akibat penyakit ini , yaitu mewakili 31,1% kematian di dunia. 

Dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 7,4 

juta (42,3%) diantaranya disebabkan oleh Penyakit Jantung Koroner 

(PJK) dan 6,7 juta (38%) disebabkan oleh stroke. Data Riskesdas 

(2013) menunjukkan bahwa prevalensi tertinggi untuk penyakit 

kardiovaskuler di negara kita  yaitu  PJK (1,5%). Dari prevalensi 

ini , angka tertinggi ada di propinsi Nusa Tenggara Timur (4,4%) 

dan terendah di Riau (0,3%), sedangkan prevalensi PJK di Sumatera 

Barat sebesar (1,2%) 

 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati dan 

Sartika (2013) menyebutkan faktor-faktor yang dapat memicu  

dislipidemia diantaranya yaitu  usia, asupan karbohidrat, Indeks 

Massa Tubuh (IMT), lingkar pinggang, dan hipertensi. Asupan 

karbohidrat merupakan faktor risiko yang paling dominan 

memicu  kejadian dislipidemia. Nilai OR yang dihasilkan dari 

uji multivariate, dikatakan bahwa orang yang memiliki asupan 

karbohidrat berlebih berisiko 10,782 kali lipat lebih besar menderita 

dislipidemia dibanding responden yang memiliki asupan karbohidrat 

cukup. Faktor risiko lainnya yang memicu  dislipidemia yaitu  

usia. Orang yang mengalami kejadian dislipidemia rata-rata 

terjadi pada kelompok usia tua. Faktor selanjutnya yaitu  Indeks 

Massa Tubuh (IMT). Berdasarkan analisis multivariat, orang yang 

berbadan gemuk berdasarkan IMT memiliki risiko 3,98 kali lipat lebih 

besar untuk menderita dislipidemia dibanding orang yang memiliki 

IMT normal. Lingkar Pinggang juga dinyatakan sebagai salah satu 

faktor risiko terjadinya dislipidemia. Orang dengan lingkar pinggang 

≥90 cm berisiko 2,3 kali lipat lebih besar menderita dislipidemia 

dibanding orang yang lingkar pinggangnya ≤90 cm. Faktor risiko 

lainnya yaitu  hipertensi. Hasil uji multivariat menyatakan bahwa 

orang yang menderita hipertensi berisiko 1,53 kali lipat lebih besar 

untuk menderita dislipidemia dibandingkan yang tidak menderita 

hipertensi.

A. Dislipidemia

1.  Definisi Dislipidemia

 Dislipidemia didefinisikan sebagai kelainan metabolisme 

lipid yang ditandai dengan peningkatan dan penurunan 

dari fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang 

utama yaitu  kenaikan kadar kolesterol total, kolestrol Low 


Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida serta penurunan 

kadar kolestrol High Density Lipoprotein (HDL). Peningkatan 

kadar kolestrol, terutama LDL, atau trigliserida darah sebagai 

faktor risiko terjadinya aterosklerosis atau penyakit jantung 

koroner. Sedangkan HDL justru memiliki peran sebaliknya 

yaitu menurunkan risiko terhadap Penyakit Jantung Koroner 

2. Etiologi 

Dalam Nani (2018) menyebutkan bahwa etiologi 

dislipidemia dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya 

seperti:

a. Faktor Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan faktor yang berhubungan 

dengan rendahnya kolesterol HDL. Resiko terjadinya 

dislipidemia pada wanita lebih besar daripada pria. 

Sebagaimana penelitian Cooper pada 589 perempuan 

didapatkan respon peningkatan kolesterol sedikit 

berbeda yaitu kadar LDL kolesterol meningkat lebih 

cepat sedangkan kadar HDL kolesterol juga meningkat 

sehingga rasio kadar kolesterol total/HDL menjadi 

rendah 

b. Faktor Usia

Semakin tua usia seseorang maka fungsi organ 

tubuhnya semakin menurun, begitu juga dengan 

penurunan aktivitas reseptor LDL, sehingga bercak 

perlemakan dalam tubuh semakin meningkat dan 

memicu  kadar kolesterol total lebih tinggi, 

sedangkan kolesterol HDL relative tidak berubah. Pada 

usia 10 tahun bercak perlemakan sudah dapat ditemukan 

di pembuluh darah. Prevalensi hiperkolesterolemia pada 

kelompok usia 25-34 tahun yaitu  9,3% dan meningkat 

sesuai dengan pertambahan usia hingga 15,5% pada 

kelompok usia 55-64 tahun 

c. Faktor Genetik

Faktor genetik merupakan salah satu faktor terjadinya 

dislipidemia. Dalam ilmu genetika menyebutkan bahwa 


gen diturunkan secara berpasangan memerlukan 

satu gen dari ibu dan satu gen dari ayah, 6 sehingga 

kadar hiperlipidemia tinggi dan diakibatkan oleh faktor 

dislipidemia primer sebab  faktor genetik (Djauzi, 2005). 

d. Faktor Kegemukan

Salah satu pemicu  kolesterol naik yaitu  sebab  

kelebihan berat badan atau juga bisa disebut dengan 

penyakit obesitas. Kelebihan berat badan ini juga bisa 

disebabkan oleh makanan yang terlalu banyak yang 

mengandung lemak jahat tinggi di dalamnya. Kelebihan 

berat badan dapat meningkatkan trigliserida dan dapat 

menurunkan HDL 

e. Faktor Olahraga

Manfaat berolahraga secara teratur dapat 

membantu untuk meningkatkan kadar kolesterol baik 

atau HDL dalam tubuh. Selain itu berolahraga mampu 

meproduksi enzim yang berperan untuk membantu 

proses memindahkan kolesterol LDL dalam darah 

terutama pada pembuluh arteri kemudian dikembalikan 

menuju ke hati untuk diubah menjadi asam empedu. 

Asam empedu ini diperlukan melancarkan proses 

pencernaan kadar lemak dalam darah. Semakin rutin 

berolahraga dengan teratur maka kadar kolesterol LDL 

dalam tubuh akan semakin berkurang sampai menuju 

ke titik normal 

f. Faktor Merokok 

Merokok dapat meningkatkan kadar kolesterol total, 

kolesterol LDL, trigliserida, dan menurunkan kolesterol 

HDL. Ketika pengguna rokok menghisap rokok maka 

secara otomatis akan memasukkan karbon monoksida 

ke dalam paru-paru dan akan merusak dinding 

pembuluh darah. Nikotin yang terkandung dalam asap 

rokok akan merangsang hormone adrenalin, sehingga 

akan mengubah metabolisme lemak yang dapat 

menurunkan kadar kolesterol HDL dalam darah 


g. Faktor Makanan

Konsumsi tinggi kolesterol memicu  

hiperkolesterolemia dan arterosklerosis. Asupan tinggi 

kolesterol dapat memicu  7 peningkatan kadar 

kolestertol total dan LDL sehingga memiliki  resiko 

terjadinya dislipidemia (Anwar, 2004).

3. Patofisiologi 

Kolesterol, trigliserida, dan fosfolipid diangkut dalam 

darah sebagai kompleks lipid dan protein (lipoprotein). 

Lipid dalam darah diangkut dengan 2 cara yaitu jalur 

eksogen dan jalur endogen. Jalur eksogen yaitu trigliserida 

dan kolesterol yang berasal dari makanan dalam usus 

dikemas sebagai kilomikron. Selain kolesterol yang berasal 

dari makanan dalam usus juga ada  kolesterol dari hati 

yang diekskresi bersama empedu ke usus halus. Baik lemak 

di usus halus yang berasal dari makanan maupun yang 

berasal dari hati disebut lemak eksogen. Jalur endogen 

yaitu trigliserida dan kolesterol yang disintesis oleh hati 

mengalami hidrolisis dalam sirkulasi oleh lipoprotein lipase 

yang juga menghidrolisis kilomikron menjadi partikel 

lipoprotein yang lebih kecil. LDL merupakan lipoprotein 

yang mengandung kolesterol paling banyak (60-70%). 

Lipoprotein dikelompokkan menjadi 6 kategori yaitu : I 

(Kilomikron), IIa (LDL), IIb (LDL+very-low-density lipoprotein 

[VLDL]), III (intermediate density lipoprotein), IV (VLDL), V 

(VLDL+kilomikron) (Dipiro et al, 2015). Jumlah kolesterol 

yang akan teroksidasi tergantung dari kadar kolesterol 

yang terkandung di LDL. Beberapa keadaan mempengaruhi 

tingkat oksidasi seperti meningkatnya jumlah LDL seperti 

pada sindrom metabolik dan kadar kolesterol HDL, makin 

tinggi kadar HDL maka HDL bersifat protektif terhadap 

oksidasi LDL (Suyatna, 2006 dalam Nani, 2018).

4. Klasifikasi

a. Klasifikasi fenotipik

Klasifikasi ini dibagi menjadi dua klasifikasi, yakni:

• Klasifikasi Europian Atherosclerosis Societ (EAS)

EAS telah menetapkan klasifikasi sederhana 

yang berguna untuk pemilihan terapi, yaitu 


hiperkolesterolemia, dislipidemia campuran, dan 

hipertrigliseridemia.

Peningkatan

Lipoprotein Lipid Plasma

Hiperkolesterolemia LDL Kolesterol > 240 mg/dl

Dislipidemia campuran 

(kombinasi)

VLDL + LDL

Trigliserida > 200 mg/dl 

+ kolesterol > 240 mg/dl

Hipertrigliseridemia VLDL Trigliserida > 200 mg/dl

Tabel 5. Klasifikasi dislipidemia

Tabel 6. Klasifikasi WHO

• Klasifikasi WHO 

Klasifikasi WHO merupakan modifikasi dari klasifikasi 

Fredrickson yang didasarkan pada pengukuran kol-

total dan TG, serta penilaian secara elektroforesis 

subkelas lipoprotein.

Fredrickson

Klasifikasi 

Generik

Klasifikasi Terapeutik

Peningkatan 

Lipoprotein

I Dislipidemia

Hipertrigliseridemia 

eksogen

Kilomikron

II a Hiperkolesterolemia Hiperkolesterolemia LDL

II b Dislipidemia kombinasi

Hipertrigliseridemia 

endogen+Dislipidemia 

kombinasi

LDL + VLDL

III. partikel 

remnan 

(Beta VLDL) 

Dislipidemia 

Kombinasi

Dislipidemia remnan Hipertrigliseridemia

Partikel 

endogen

IV Dislipidemia endogen

Hipertrigliseridemia 

endogen

VLDL

V Dislipidemia campuran

Hipertrigliseridemia 

endogen

VLDL + 

Kilomikron


Kerugiannya yaitu  fenotipe yang ditemukan dapat 

berubah sebab  diet atau pengobatan farmakologis 

(misalnya pada tipe I atau IV dapat berubah menjadi 

tipe V atau II a menjadi II b). 

b. Klasifikasi patogenik

Klasifikasi kedua yakni klasifikasi patogenik, 

membagi menjadi dislipidemia primer dan sekunder. 

Dislipidemia primer disebabkan oleh banyak kelainan 

genetik, sedangkan dislipidemia sekunder disebabkan 

oleh penyakit misalnya hipotiroidisme, sindroma nefrotik, 

diabetes melitus, dan lain-lain. Risiko PJK mungkin juga 

berkurang pada dislipidemia sekunder dibandingkan 

dislipidemia primer, sebab  masa berlangsung yang 

lebih pendek pada dislipidemia sekunder.

Dislipidemia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan 

klasifikasi lipoprotein. Lipoprotein diperiksa dengan cara 

ultrasentrifugasi, kemudian klasifikasi dibuat berdasarkan 

kandungan lipid dan apoprotein yaitu kilomikron, Very 

Low Density Lipoprotein (VLDL), Intermediate Density 

Lipoprotein (ILD), Low Density Lipoprotein (LDL), dan 

High Density Lipoprotein (HDL). Sedangkan secara 

klinis dislipidemia dapat diklasifikasikan menjadi tiga 

yaiut: hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, dan 

dislipidemia campuran (Padmastrimaya, 2013).

Tabel 7. Klasifikasi kandungan lipid masing-masing lipoprotein

Lipoprotein

Lipid %

Trigliserida Kolesterol Fosfolipid

Kilomikron 80-95 2-7 3-9

VLDL 55-80 5-15 10-20

IDL 20-50 20-40 15-25

LDL 5-15 40-50 20-25

HDL 5-10 15-25 20-30

45MATERI IV - DISLIPIDEMIA

Sementara itu secara klinis dislipidemia 

diklasifikasikan menjadi 3, yaitu hiperkolesterolimia, 

hipertrigliseridemia, campuran hiperkolesterolemia dan 

hipertrigliseridemia (dislipidemia campuran). 

c. Dislipidemia pada Penyakit Jantung

 Dislipidemia dapat memicu  PJK sebab  

pada dislipidemia terjadi peningkatan konsentrasi 

kolesterol LDL, trigliserida, kolesterol total, dan penurunan 

kolesterol HDL yang bersifat anti-aterogenik, anti oksidan, 

dan anti inflamasi yang memicu  keseluruhan 

proses akan mengurangi cadangan anti oksidan 

alamiah. 

 Kondisi kekurangan anti oksidan ini membuat 

pembuluh darah lebih rentan mengalami cedera endotel 

yang dapat memicu  terjadinya aterosklerosis 

pada PJK. Jika telah terjadi cedera pada endotel, maka 

akan terjadi peningkatan paparan molekul adhesi pada 

sel endotel dan akan terjadi penurunan kemampuan 

endotel ini  dalam melepaskan nitric oxide 

dan zat lain yang membantu mencegah perlekatan 

makromolekul, trombosit, dan monosit. sesudah  itu 

monosit dan lipid (kebanyakan berupa LDL) yang 

beredar mulai menumpuk di tempat yang mengalami 

kerusakan, lalu terbentuklah plak ateroma pada 

pembuluh darah ini  

5. Diagnosis

 Diagnosis dislipidemia didapatkan dengan pemeriksaan 

laboraturium profil lipid plasma. Pemeriksaan ini dianjurkan 

pada setiap orang dewasa berusia lebih dari 20 tahun. Kadar 

lipid plasma yang diperiksa meliputi kolesterol total, kolesterol 

LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida. jika  ditemukan hasil 

yang normal, maka dianjurkan pemeriksaan ulangan setiap 

lima tahun 

6. Terapi Diet Dislipidemia

a. Tujuan Diet 

Tujuan Diet Dislipidemia yaitu  sebagai berikut:

• Menurunkan berat badan bila kegemukan

• Mengubah jenis dan asupan lemak makanan

• Menurunkan asupan kolestrol makanan

• Meningkatkan asupan karbohidrat kompleks dan 

menurunkan asupan karbohidrat sederhana 


b. Syarat Diet

Syarat-syarat Diet Dislipidemia yaitu :

• Energi yang dibutuhkan disesuaikan menurut 

berat badan dan aktivitas fisik. Bila kegemukan, 

penurunan berat badan dapat dicapai dengan 

asupan energi rendah dan meningkatkan aktivitas 

fisik. Penurunan asupan energi disertai penurunan 

berat badan biasanya menghasilkan penurunan 

kadar trigliserida darah yang cepat.

• Lemak sedang, <30% dari kebutuhan energi total. 

Lemak jenuh untuk Diet Dislipidemia Tahap I, <10% dari 

kebutuhan energi total dan untuk Diet Dislipidemia 

Tahap II, <7% dari kebutuhan energi total. Lemak tak 

jenuh ganda dan tunggal untuk Diet Dislipidemia 

Tahap I dan II yaitu  10-15% dari kebutuhan energi 

total. Kolestrol <300 mg untuk Diet Dislipidemia 

Tahap I dan <200 mg untuk Diet Dislipidemia Tahap 

II.

• Protein cukup, yaitu 10-20% dari kebutuhan energi 

total. Sumber protein hewani, terutama dari ikan 

yang banyak mengandung lemak omega-3. Sumber 

protein nabati lebih dianjurkan.

• Karbohidrat sedang, yaitu 50-60% dari kebutuhan 

energi total.

• Serat tinggi, terutama serat larut air yang ada  

dalam apel, beras tumbuk atau beras merah, 

havermout, dan kacang-kacangan.

• Vitamin dan mineral cukup. Suplemen multivita