hepatobilier 1

 






EMBRIOLOGI

Hati, duktus bilier dan pankreas memiliki  hubungan

yang erat. Secara embriologi, stnrktur-struktur ini berasal

dari struktur embriologi yang sama. Kelainan pada struktur

embriologi ini bisa memicu  gangguan pada

kehidupan di kemudian hari. (Gambar 1)

A

Duodonum

Dultus bliari! tomunis

fr,

/i

HEti ./

l,̂J)

aar"v

eislilus

-"-".,"^r, 

"" "l

Pankreas dorsal

dan vgnlrelDuktus sistikus

PanlErs ronbal Duttus biil.ris

Gambar t. Embriologi hati, traktus biliaris dan p6nkreas. (a)

Perkembangan anatomi ttraktus biliaris pada kehamilan 5 minggu.

(b) Pada kehamilan 7 minggu, setelah tefladi fusi antara duktus

pankreatikus dorsalis dan ventralis.

ANATOMI

Hati

Hati yaitu  organ intestinal terbesar dengan berat antara

1,2-1,8 kg atau kurang lebih 25% berat badan orang dewasa

yang menempati sebagian besar kuadran kanan atas

abdomen dan merupakan pusat metabolisme tubuh dengan

fungsi yang sangat kompleks (Gambar 2). Batas atas hati

berada sejajar dengan ruang interkostal V kanan dan batas

bawahmenyerongke atas dari iga IXkananke igaVIII kiri.

FISIOLOGI DAN BIOKIMIA HATI

RifaiAmirudin

Hati

Kandung empedu

Tepiiga

tas terluar selapul

s bagian kan

Gambar 2. Gambaran anatomi permukaan hati

Permukaan posterior hati berbentuk cekung dan ada 

celah transversal sepanjang 5 cm dari sistem porta hepatis.

Omentum minor ada  mulai dari sistem porta yang

mengandung arteri hepatika, vena porta dan duktus

koledokus. Sistem porta terletak di depan vena kava dan

di balik kandung empedu.

Permukaan anterior yang cembung dibagi menjadi 2

lobus oleh adanya perlekatan ligamentum Jb-lqlfo-rm yaitu

lobus kiri dan lobus kanan yang berukuran kira-kira 2 kali

lobus kiri. Pada daerah antara ligamentum falsiform dengan

kandung empedu di lobus kanan kadang-kadang dapat

ditemukan lobus kuadratus dan sebuah daerah yang

disebut sebagai lobus kaudatus yang biasanya tertutup

oleh vena kavainferior dan ligamentum venosum pada

permukaan posterior. Hati terbagi aahm.8;igrcl dengan

fungsi yang berbeda. Pada dasamya, garis Qanllie yang

ada  mulai dari vena kava sampai kandung empedu telah

membagi hati menjadi 2 lobus fungsional, dan dengan

adanya daerah dengan vaskularisasi relatif sedikit, kadang-

kadang dijadikan batas feseksi. Pembagian lebih lanjut

menjadi 8 segmen didasarkan pada aliran cabang pembuluh

darah dan saluran empedu yang dimiliki oleh masing-masing

segmen. (Gambar3)

627

628 HEPATQIBII IE'R

Gambar 3. Gambaran segmen-segmen fungsional hati. Hati

dapat dibagi menjadi 8 segmen berdasar  pada suplai darah

dan saluran empedu

Secara mikroskopis di dalam hati manusia ada 

50.000-100.000 lobuli, setiap lobulus berbentuk heksagonal

yang terdiri atas sel hati berbentuk kubus yang tersusun

radial mengelilingi vena sentralis. Di antaru lembaran sel

hati ada  kapiler yang disebut sinusoid yang

merupakan cabang vena porta dan arteri hepatika.

Sinusoid dibatasi oleh sel fagositik (sel kupffer) yang

merupakan sistem retikuloendotelial dan berfungsi

menghancurkan bakteri dan benda asing lain di dalam

tubuh, jadi hati merupakan salah satu organ utama

pertahanan tubuh terhadap serangan bakteri dan organ

toksik.

Selain cabang-cabang vena porta dan arteri hepatika

yang mengelilingi bagian perifer lobulus hati, juga ada 

saluran empedu yang membentuk kapiler empedu yang

dinamakan &gdl@ empedu yang berjalan diantara

lembaran sel hati. (Gambar 4)

mengembang secara bertahap bila saluran empedu

membesar.

Saluran empedu intrahepatik secara perlahan menyatu

membentuk Saluran yang lebih besar yang dapat

menyalurkan empedu ke delapan segmen hati. Di dalam

segmen hati kanan, gabungan cabang-cabang ini

membentuk sebuah saluran di anterior dan posterior yang

kemudian bergabung membentuk duktus hepatikus kanan.

Pada beberapaorarg, duktus hepatikus kanan berada t I

cm di luar hati. Duktus ini kemudian bergabung dengan

segmen dari segmen hati kiri (duktus hepatikus kiri)

menjadi duktus hepatikus komunis.

Setelah penggabungan dengan duktus sistikus dari

kandung empedu, duktus hepatikus menjadi duktus

koledokus. Pada beberapa keadaan, dinding duktus

koledokus menjadi besar dan lumennya melebar sampai

mencapai ampula. Biasanya panjang duktus koledokus

sekitar 7 cm dengan diameter berkisar anlara 4-12 mm.

Kandung empedu menerima suplai darah terbesar dari

jalinan pembuluh darah cabang arteri hepatika kanan.

(Gambar5)

Gambar 5. Anatomi dari kandung empedu dan traktus

biliaris

Kandung empedu dapat menampung + 50 ml cairan

empedu dengan ukuran panjang 8-10 cm dan terdiri atas

fundus, korpus dan kolum. Lapisan mukosanya membentuk

cekungan kecil dekat dengan kolum yang disebut kantong

Hartman, yang bisa menjadi tempat tertimbunnya batu

empedu.

HISTOLOGI

Hati terdiri atas bermacam-macam sel. Hepatosit meliputi

+ 60% sel hati, sedangkan sisanya terdiri atas sel-sel

epitelial sistem empedu dalam jumlah yang bermakna dan

sel-sel non parenkimal yang termasuk di dalamnya

endotelium, sel Kupffer dan sel Stellata yang berbentuk

Gambar 4. Lobulus hati

Sistem Bilier dan Kandung Empedu

Empedu yang dihasilkan hepatosit akan diekskresikan ke

dalam kanalikuli dan selanjutnya ditampung dalam suatu

saluran kecil empedu yang terletak di dalam hati yang

secara perlahan akan membentuk saluran yang lebih besar

lagi. Saluran kecil ini memiliki epitel kubis yang bisa

FISIOLOCI DAT{ BIOKIMIA HATI 629

seperti bintang.

Hepatosit sendiri dipisahkan oleh sinusoid yang

tersusun melingkari eferen vena hepatika dan duktus

hepatikus. Saat darah memasuki hati melalui arteri hepatika

dan vena porta serta menuju vena sentralis maka akan

didapatkan pengurangan oksigen secara bertahap. Sebagai

konsekuensiny a, akan didapatkan variasi penting

kerentanan j aringan terhadap kerusakan asinus. Membran

hepatosit berhadapan langsung dengan sinusoid yang

memiliki  banyak mikrofili. Mikrofrli juga tampak pada

sisi lain sel yang membatasi saluran empedu dan

merupakan penunjuk tempat permulaan sekresi empedu.

Permukaan lateral hepatosit memiliki sambungan

penghubung dan desmosom yang saling bertautan dengan

sebelahnya.

Sinusoid hati memiliki lapisan endotelial berpori yang

dipisahkan dari hepatosit oleh ruang Dlsse (ruang

perisinusoidal). Sel-sel lain yang ada  dalam dinding

sinusoid yaitu  sel fagositik Kupffer yang merupakan

bagian penting sistem retikuloendotelial dan sel Stellata

(uga disebut sel Ito, liposit atau perisit) yang memiliki

aktivitas miofibroblastik yang dapat membantu pengaturan

aliran darah sinusoidal disamping sebagai faktor penting

dalam perbaikan kerusakan hati. Peningkatan aktivitas sel-

sel Stellata tampaknya menjadi faktor kunci dalam

pembentukan fibrosis di hati.

Metabolisme Karbohidrat

Apolipoprotein

Asam lemak

Asam amino transaminasi dan deaminasi

Simpanan vitamin larut dalam lemak

Obalobatan dan konjugasinya

Urea

Albumin

Faktor pembekuan

Komplemen C3 dan C4

Feritin & transferin

Protein C reaktif

Haptoglobin

o1-antitripsin

o-fetoprotein

o2-makroglobulin

Seruloplasmin

Sintesis empedu

Metabolit obat

Sintesis 2S-hidroksilase vitamin D

Perkembangan limfosit B fetus

Pembuangan kompleks imun sirkulasi

Pembuangan limfosit T CD8 teraktivasi

Fagositosis dan presentasi antigen

Produksi li popolysaccha ride-bi nd ing prote i n

Penglepasan sitokin, seperti TNFo,

interferon

Transpor imunoglobulin A

Kemampuan untuk regenerasi sel-sel hati

Pengaturan angiogenesis

Sintesis

FISIOLOGI

Hati

Hati memiliki  fungsi yang sangat beraneka ragam.

Sirkulasi vena porta yang menyuplai 7 5% dai suplai asinus

memegang peranan penting dalam fi sisiologi hati, terutama

dalam hal metabolisme krlllohidrat, protein dan asam

lemak. Telah dibuktikan bahwa pada zona-zona hepatosit

yang memperoleh oksigenasi yang lebih baik (zona l)

memiliki  kemampuan glukoneogenesis dan sintesis

glutation yang lebih baik dibandingkan dengan zona 3.

(Gambar6)

fofi8l

,Gin {er{rd./ein

Gambar 6. Asinus hati. tampak oksigenasi pada

zona 1 lebih baik dibandingkan zona 3

Fungsi utama hati yaitu  pp"lsbentuk4n dan elskresi

e4qedu. Hati mengekskresikan empedu sebanyak gqtu

tlter_pq han ke dalam rry,s.-halus. Unsur utama empedu

yaitu  $_QA), elektrolit, CC&m-empg{u. Walaupun

bilirubin (pigmen empedu) merupakan hasil akhir

metabolisme dan secara fisisiologis tidak memiliki  peran

aktif, tapi penting sebagai indikator penyakit hati dan

saluran empedu, sebab  bilirubin @pat memberi warna pada

jaringan dan cairan yang berhubungan dengannya.

Hasil metabolisme monosakarida dari usus halus diubah

menjadi glikogen dan disimpan di hati (glikogsnesjs). Dari

depot glikogen ini disuplai glulosa secara konstan ke darah

lglikogenali_sis) untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Sebagian glukosa dimetabolisme dalam jaringan untuk

menghasilkan tenaga dan sisanya diubah menjadi glikogen

(yang disimpan dalam otot) atau lemak (yang disimpan

dalam j aringan subkutan).

Fungsi hati dalam metabolisme Lrotein yaitu 

erupa albr.rm:n (yang

dip erlukan untuk memp ertahankan tgkarur-o,:motik

kolgld), prolrouhin, @!ggge!, dan fakfor-bekuan lainnya.

Fungsi hati dalam metabolisme-lema\ yaitu  menghasil-

kan liooorotein. kolesterol- fosfolioid dan asam

-

asetoasetat.

Ekskresi

Endokrin

lmunologi

Fungsi Hati

Lain-lain

630 HEPATOBIUER

Regenerasi Hati

Berbeda dengan organ padat lainnya, hati orang dewasa

tetap memiliki  kemampuan untuk beregenerasi. Ketika

kemampuan hepatosit untuk beregenerasi sudah telbgllas,

maka sekelompok sel ph4:ipo_tensial oval yang berasal dari

duktulus-duktulus empedu akan berproliferasi sehingga

terbentuk kembali sel-sellepatosit dan sel-sel bilier yang

tetap memiliki  kemampuan untuk beregenerasi.

Kemampuan hati untuk beregenerasi setelah perlukaan

jaringan atau reseksi bedah sangat mencengangkan. Dari

penelitian pada model binatang ditemukan bahwa hepatosit

tunggal dari tikus dapat mengalami pembelahan hingga +

34kali, atau memproduksi jumlah sel yang mencukupi sel-

sel untuk membentuk 50 hati tikus. Dengan demikian dapat

dikatakan sangatlah memungkinkan untuk melakukan

hgp4lekQltli hingga r/? rlari seluryh hati.

Fungsi lmunologi

Hati merupakan komponen sgntral sistem imun. Sel Kt,fffer,

yang meliputi l5%o darl massa hati serta 80% dari total

populasi fagosit tubuh, merupakan sel yang sangat

penting dalam menanggulangi antigen yang berasal dari

luar tubuh dan mempresentasikan antigen ini  kepada

limfosit.

SEKRESI EMPEDU, SISTEM BILIER DAN

KANDUNG EMPEDU

E!!edu

Empedu berperan dalam membantu p_enrql4qrtn dan

absomsi lemak, ekskresi metabolit hati dan produk-sisa

seperti kolesterol, bilirubin dan logam berat. Sekresi

empedu membutuhkan aktivitas hepatosit (sumber empedu

primer) dan kolangiosit yang terletak sepanjang duktulus

empedu. Epitel bilier berperan dalam menghasilkan 40%

dari 600 ml produksi empedu setiap hari.

Asam-asam empedu dibentuk dari kolesterol di dalam

hepatosit, diperbanyak pada struktur cincin hidroksilasi

dan bersifat larut dalam.air akibat konjugasi dengan glisin,

taurin dan sulfat. Asam empedu memiliki  kegrrnaan

seperti deterj en dalam mengemulsi lemak, membantu ke{a

enzim pankreas dan penyerapan lemak intraluminal.

Konjugasi garam-garam empedu selanjutnya direabsorbsi

oleh transpor aktif spesifik dalam ileum terminalis,

walaupun sekitar 20o/o empedu intestinal dikonjugasi oleh

bakteri ileum. Empedu yang tidak direabsorbsi akan

memetabolisme bakteri dalam kolon dan + 50oZ akan

direabsorbSi kembali. (Tabel 2)

B-dinLin, suatu pigmen kuning dengan sebuah struktur

tetrapirol yang tidak larut dalam air berasal dari sel-sel

darah yang telah hancur (75%), katabolisme protein-

protein hem lain (22"/o) daninaktivasi erihopoiesis sumsum

tulang (3%). Bilirubin yang tidak terkonjuga'si akan

Konstituen Keterangan

Asam Empedu

Asam kolat

Asam

kenodeoksikolat

Asam deoksikolat

Asam

ursodeoksikolat

(umlah kecil)

Bilirubin

Kolesterol

Trace metal

Metabolit Obat

Berikatan dengan taurin, glisin atau

sulfat

Terutama efisien pada sirkulasi

enterohepatik

Terutama berikatan dengan glukoronid

Sepertiga direabsorbsi kembali di usus

Besi, mangan, zink, tembaga & timbal

Cenderung memiliki  berat molekul

yang lebih besar dibandingkan yang

diekskresikan dalam urin

Metabolit lipofi lik biasanya berkonjugasi

ditransport ke dalam sirkulasi sebagai sebuah kompleks

dengan albumin, walaupun sejumlah kecil dialirkan ke

dalam sirkulasi secara terpisah. Bilirubin larut lemak akan

diubah menjadi larut air oleh hati melalui beberapa langkah

yang terdiri atas tahap  pengambilan spesifft, konjugasi dan

ekskresi. (GambarT)

Sebenamya bilirubin terkonjugasi tidak direabsorbsi

dari duktus biliaris atau usus melainkan pada kolon. Kolon

dapat mengkonjugasi bilirubin dan mengkonversi menjadi

tetrapirol larut air yang dikenal sebagai urobilinogen. Kira-

kira setengah dari urobilinogen akan direabsorbsi dan

diekskresi oleh ginjal dan dikeluarkan bersama feses

sebagai sterkobilin.

f D".trrt s' -_l IKatrbol,sm;l f Entropoiffil

lsel darah merahllprotein Hem llsuinsum tulang I

B iliru b in

Ciculating albumin

b ili ru b in (u n c o n ju g ate d )

H ali

B iliru b in

te rko nju gas i

yang

be rs irku la si

te rko nju g as i

Sterkobilinogen feses

Dekonjugasi bakteri

Gambar 7. Metabolisme bilirubin

Komposisi Empedu

FISIOI.OGI DAIY BIOKIMIA TIITTI 631

Peranan Traktus Biliaris

Sesaat setelah empedu diekskresi oleh hepatosit, empedu

ini  akan mengalami modifikasi pada saat melalui

saluran biliaris. \{g(i{fuisi ini  meliputi, penarikan air

melalui proses osmosis paraselular ke dalam empedu,

pemisahan glutation menjadi asam amino ya;rg dapat

diabsorbsi kembali (seperti glukosa dan beberapa asam

organik), dan sekresi bikarbonat dan ion-ion klorida secara

aktif ke dalam empedu oleh mekanisme yang bergantung

pada regulator transmembran fibrosis sistik (RTFC).

Kandung Empedu

Kandung empedu memiliki  peranan penting dalam

pencernaan lemak. Kandung empedu menampung + 50 ml

empedu yang dapat dibuat kembali dalam merespons

pencernaan makanan. Dalam keadaan puasa kira-kira

setengah dari empedu secara terus-menerus dialirkan

kedalam kandung empedu untuk disimpan. Selama empedu

berada dalam kandung empedp, maka akan terjadi

peningkatan konsentrasi empedu oleh sebab  terjadinya

proses reabsorpsi ion-ion natrium, kalsium, klorida dan

bikarbonat, diikuti oleh difusi air sehingga terjadi

penurunan pH intrasistik. Kandung empedu mampu

menurunkan volumenyajika diisi empedu 80-90%.

Kontrol Motilitas dan Sekresi Bilier

Kandung empedu, saluran empedu ekstrahepatik dan

sfinkter Oddi merupakan struktur yang berperanan penting

pada pergerakan dan pengaliran empedu. Hormon

lnterpretasi

kolesistokinin (CCK) merupakan stimulus fisisiologis yang

paling potensial bagi kontraksi kandung empedu

disamping adanya komponen saraf otonom dan saraf

parasimpatis lainnya yang dapat memicu  rela]sasi

kandungempedu. Kadar CCK dapat pedngkat sebagai

tanggapan terhadap diet asam amino rantai panjang dan

karbohidrat. Efek utama hepatobilier pada hormon sekretin

yaitu  meningkatkan sekresi cairan dan elek!rclit oleh

eoitelium biliaris.

Hasil Laboratorium Kemungkinan Penyakit

Tidak spesifik untuk penyakit hati,

meningkat juga pada Bemplisis dan

obS!ruXst-bjliCr Jika berdiri sendiri,

pertimbangkan hiperbilirubinemia

herediter

Meningkat sesuai inflamasi atau

qqlpSts hepatosit. Biasanya tidak

diperlukan untuk mengukur kedua-

nya, namun rasio AST:ALT > 2

cenderung ke penyakit bgstjlis

alkoholik

ffis-an-ya meningkat bersamaan

obstruksi bilier atau

. Fosfatase alkali

oleh tglgrg, urus,

dan g!eselta

Menunjukkan lgrysi sintesis hati

Konsentrasi dapat mgllurun pada

malgEselpsi, protein-losing entero-

pafhy, penyakit kritis (kebalikan dari

tahap  akut protein), luka [aKar, dan

sindrom nefrotik.

SensitifitaE-dan spesifisitasnya

rendah pada penyakit hati. Mungkin

meningkat pada fie.patilis-S@ik.

Kadarnya juga tp4jng[at setelah

kerusakan tulang atau hemolisis

Hanya transaminase yang

meningkat

Hanya y GT yang

meningkat

Fosfatase alkali

meningkat namun y GT

normal

Hanya hiperbilirubinemia

Pertimbangkan asal non-

hepatik, misalnya miositis,

infark miokard, hemolisis

Pertimbangkan intoksikasi

alkohol, enzim terinduksi obat-

obatan, tahap  awal intiltrasi

hepatik dan fatfy /lver (steatosis

hepatik)

Pertimbangkan asal ekstra

hepatik. Biasanya dihubungkan

dengan kelainan tulang, periksa

kadar kalsium, fosfat, hormon

paratiroid.

Bukan hemolisis dan sindrom

Gilbert.

BIOKIMIAWIHATI

Kimia Darah

Pemeriksaan kimia darah dipakai  untuk mendeteksi

kelainan hati, menentukan diagnosis, mengetahui berat

ringannya penyakit, mengikuti perjalanan penyakit dan

penilaian hasil pengobatan.

Pengukuran kadar bilirubin serum, aminotransferase,

alkali fosfatase, 1CT dan albumin sering disebut sebagai

tes fungsi hati atau LFTs. Pada banyak kasus, tes-tes ini

dapat mendeteksi penyakit hati dan empedu asimtomatik

sebelum munculnya manifestasi klinis. Tes-tes ini dapat

dikelompokkan dalam 3 kategori utama, antara lain: 1).

Peningkatan enzim aminotransferase (uga dikenal sebagai

transaminase), SGPT dan SGOT, biasanya mengaruh pada

perlukaan hepatoselular atau inflamas|' 2). Keadaan

patologis yang memengaruhi sistem empedu intra dan

ekstrahepatis dapat memicu  peningkatan fosfatase

alkali dan yGl 3). Kelompok ketiga merupakan kelompok

yang mewakili fungsi sintesis hati, seperti produksi

albumin, urea dan faktor pembekuan. Pada keadaan

terjadinya gagal hati akut, gluko-s-a darah dan pn-q.rtlgri

dapat juga dipertimbangkan sebagai petanda bantuan

cadangan fungsional hati. Bilirubin dapat meningkatpada

hampir semua tipe patologis hepatobilier.

Nilai tes ini  di atas biasanya saling tumpang tindih

antara berbagai kelainan hati dan kolestasis. Sebagai

Petanda Nilai

Normal

Bilirubin 5-18 umol/l

SGOT/AST 5.40 IU/I

SGPT/ALT 5-35 IU/I

Fosfatase 30-130 lU/l

Alkali

y-GT 5-50 lU /l

Albumin 3,5-4,5 gr/L

240-524

tu/t

LDH

632 HEFAI1OBILIER

contoh, q}$1rrksr ekstrahepatis akan memicu 

peningkatan bilirubin, alkali fosfatase dan y Gl namun

juga dapat ditemukan iritasi dan inflamasi sekunder

hepatosit sebagai akibat obstruksi bilier sehingga sebagai

konsekuensiny a, akar. terj adi peningkatan transaminase

serum. Hal sebaliknya juga sering terjadi. Beberapa bentuk

teftentu hepatitis dapat menimbulkan berbagai derajat

kolestasis dan sebagai konsekuensinya terj adi peningkatan

e dan 1GT. Oleh sebab  itu, klinisi harus

sarkan pada pola yang ada, dan memilih

peningkatan e r-zim mata y ang namp aknya p aling dominan.

Sangat penting untuk mengingat kemungkinan

penyakit-penyakit ekstrahepatis, terutama jika pola LFT

nampaknya berbeda dari biasanya atalu jika hanya

ditemukan satu abnormalitas. Merupakan hal yang sangat

jarang, sebagai contoh, ditemukan peningkatan kadar

SGOT hingga 20 kali normal tanpapeningkatanparameter

lain sehingga faktor ekstrahepatis harus dipertimbangkan

(misalnya otot) dan selalu ada kemungkinan terjadi

kesalahan laboratorium.

Oleh sebab  itu, kombinasi beberapa tes fungsi hati

sangat diperlukan pada saat pasien dalam observasi dan

disesuaikan dengan tanda klinis. Kadang-kadang

diperlukan bantuan pemeriksaan lain, seperti pemeriksaan

radiologis (ultrasonografr, CT-scan, MRI), histopatologis

dan serologis.

Hemostasis dan Hati

Gangguan hemostasis dan penyakit hati merupakan hal

yang beriringan. Hal ini bukan hanya menggambarkan

peranan hati sebagai sumber protein plasma dan faktor

pembekuan, namun juga produksi protein-protein yang

secara normal akan menghambat koagulasi, kontrol

hbrinolisis, atau aktivasi fibrinolisis. Banyak pasien dengan

penyakit hati mengalami trp@!{gpgnia dan defisisiensi

vitamin K atau vitaminC.

Waktu protrombin (atau INR) merupakan parameter

yang banyak dipakai  untuk tujuan prognosis,

sebagaimana skor 9!jL&1r.. Perpanjangan waktu

protrombin juga merupakan salah satu kriteria yang

dipakai  dalam menentukan perlunya transplantasi hati

pada pasien gagal hati akut. Waktu protrombin secara

khusus sangat sensitif terhadap defisiensi faktor

pembekuan seperti faktor V, VII dan X. Vitamin K

dibutuhkan r.rntuk sintesis faktor II, VII, IX dan X, bertindak

sebagai kofaktor untuk y-karboksilase residu glutamat.

Setiap kali reaksi ini terjadi, akan terbentuk epoxide

vitamin K. Enzim yitamin K epoxide reductase yang

mengubahnya kembali menjadi vitamin K merupakan

target terapi warfarin.

Defisiensi vitamin K aktif, baik disebabkan oleh

antikoagulan, defisiensi dari diet atau malabsorpsi, juga

akan memiliki  efek yang sama dalam memperpanjang

waktu protrombin. Oleh sebab  cadangan vitamin di hati

sangat terbatas, sehingga keadaan defisiensi ini akan

terjadi pada saat minggu IV defisiensi dari diet. Keakuratan

dari pemanjangan waktu protrombin dalam mengukur

kapasitas sintesis hati sangat baik dikonfirmasi dengan

pemberian vitamin K injeksi L0- mg pada pasien yang

defisiensi vitamin K, minimal 12 jam sebelum dilalarkan tes

ulangan. (Tabel 5)

Penurunan sintesis faktor

pembekuan

Penurunan produksi

penghambat koagulasi

Peningkatan fibrinolisis

Faktor Pembekuan

Abnormal Kualitatif

DIC

Disfungsi hepatoselular

Defisiensi vitamin K ( Diet atau

malabsorpsi)

Anti trombin lll

Protein C

Protein S

Penurunan produksi lissue

P al sminogen Activator I nhi bitor

(rPA-t)

Disf ibrinogenemia (sialisasi

berlebihan molekul fibrinogen)

mungkin sebab  peningkatan

waktu trombin

Low-grade DIC biasanya pada

sirosis hati

Mungkin refl eks endotoksemia

dan klirens yang rendah dari

faktor pembekuan teraktifasi.

Hipersplenisme, infeksi hepatitis

C kronis

Defisiensi vitamin C

Antibodi anti fosfolipid (antibodi

anti kardiolipin, antikoagulan)

lupus.

Umumnya pada hepatitis kronik

Trombositopenia

Fragilitas kapiier

Peningkatan risiko

trombosis

Tes lmunologi

Pengukuran autoantibodi sangat berperan dalam penyakit

hati dan empedu. Nilai antibodi anti-smyth muscleyatg

positif dapat mengarahkan adanya hep'atitis autoimun

pada sclerosing cholangills. Beberapa autoantibodi lain

yang biasa ditemukan pada kelenjar tiroid juga ditemukan

pada hepatitis C kronik. Sehingga sering terjadi tumpang

tindih antara berbagai autoantibodi dan beberapa penyakit.

Pasien dengan hqpglLitl$ autoimun dapat menunjukkan

peningkatan kadar IgG serum, sedangkan IgM sering

meningkat pada sirosis bilier primer dan IeA oa<h-!-enyakit

---r -'t uttgttot otit

Petanda Penyakit Hati Metabolik

Pada keadaan defisisiensi cr,-antitripsin, diagnosis

ditegakkan berdasar  pengukuran kadar enzim serum.

Pada keadaaa hemokromatosis dan penyakit Wilson, tes

ini menjadi lebih rumit. Hemokromatosis genetik ditandai

dengan muatan besi berlebihan yang akan mempengaruhi

semua sistem organ. Konsentrasi besi dan fgritin serum

biasanya meningkat, namun dapat berflukhrasi tergantung

FISIOLOGI DAN BIOKIMIA TIISI 633

keadaan penyakit. Pengukuran saturasi transferin dapat

sangat membantu, dan sekarang dapat dilakukan tes

genetik dengan memakai darah perifer.

Pada penyakit Wilson, konsentrasi tembaga dan

seruloplasmin serum biasanya juga menurun, namun

konsentrasinya sangat berfluktuasi tergantung pada

keadaan penyakit hatinya. Sebagaimana pada

hemokromatosis, bioJsr h4ti dapat sangat bermanfaat,

namun pengukuran lain yang sensitifdan spesifik terhadap

penyakit Wilson yaitu  pengukuran ekskresi tembaga urin

24 jam, sebelum dan sesudah pemberian penisilin.

Petanda Tumor

Petanda tumor yang paling banyak dipakai  pada

penyakit hati yaitu  g-felsgalein (AFP), dimana akan

terjadi peningkatan hingga 80o/o pada karsinoma

hepatoselular. Protein ini diekspresikan dari pembelahan

hepatosit dan sel oval peribilier sehingga biasanya dapat

ditemukan peningkatan sedang dari regenerasi hati selama

hepatitis kronik. Peningkatan kadar AFP yang terus

menerus, harus mengarahkan kecuri gaan pada terjadinya

karsinoma. Petanda ini juga dihasilkan oleh tumor sel

g.erminasiyup lairurya.

Akhir-akhir ini, beberapa petanda tumor yang

berdasar  pada musin epitelial juga ditemukan pada

adenokarsinoma saluran empedu dan pankreas. Salah satu

;6"til;y"=---aa;1ah CA l9-9 yang dapat dihasilkan oleh

berbagai epitel gastrointestinal. Peningkatan kadar serum

ini dapat ditemukanpadaT}o/okanker saluran empedu, 50%

karsinoma hepatoselular, 40o/o adenokarsinoma lambung

dan 30o/o kanker kolon. Sebagaimana tes-tes lainnya,

sensitivitas dan spesifisitasnya ditentukan oleh nilai cut-

ffinamtn jka ditemukan kadar dari QA !9-9 lebih dari 40

IU/l maka memiliki  sensitivitas 1 5 -9 0% dan spesifi sitas

80-95% untuk kanker duktus pankreatikus. Perlu

diperhatikan bahwa nilai dari CA 19-9 akan menurun sangat

cepat jika ditemukan ikErus, sedangkan pada penyakit non

neoplasma lainnya yang dapat mengiritasi traktus empedu

(seperti kolangitis atau koledokolitiasis) atau pankreas

(seperti pankreatitis kronis) dapat memicu 

peningkatan CA 19-o. Petanda lainnya,^QAVlJ7 1, biasa

dinilai pada penelitian klinis dan nampaknya memiliki 

potensi untuk dapat dipakai  dalam deteksi kanker

pankreas.

TES KUANTITATIF FUNGSI HATI

Meskipun metode ini sering dipakai  dalam penelitian,

namun sebagian besar metode yang digambarkan hanya

memiliki  sedikit dampak klinis. Skor Child-Pugh dan

tes darah sebagaiman disebut diatas lebih banyak

dipakai .

Tes kuantitatif biasanya berdasar  pada kemampuan

hati untuk membersihkan substansi yang dimasukkan ke

dalam darah. Pada kasus-kasus pemberian obat yang

banyak mengalami metabolisme di hati (seperti lignokain)

maka akan mempengaruhi aliran darah-hati. Oleh sebab 

itupembersihan dengan substansi yang sedikit mengalami

metabolisme di hati (seperti ag@jglg) biasanya mer4berikan

hasil yang lebih akurat.


IKTERUS yaitu  perubahan warna kulit, sklera mata atau

jaringan lainnya (membran mukosa) yang menjadi kuning

sebab  pewar yang meningkat

konsentrasinya . Bilirubin dibentuk

sebagai akibat pemecahan cincin hem, biasanya sebagai

akibat metabolisme sel darah merah. Kata ikterus

Qaundice) berasal dari kata Perarcisjauneyang berarti

kuning. Ikterus sebaiknya diperiksa di bawah cahaya terang

siang hmi, dengan melihat sklera mata. Ikterus yang ringan

dapat dilihat paling awal pada sklera mata, dan kalau ini

terjadi konsentrasi bilirubin sudah berkisar antara 2-2,5

mgldL (34 sampai 43 umol/L) Jika ikterus sudah jelas dapat

dilihat dengan nyata maka bilirubin mungkin sebenarnya

sudah mencapai angka 7 mgYo.

PATOFISIOLOGI

Pembagian terdahulu mengenai tahapan metabolisme

bilirubin yang berlangsung dalam 3 tahap ; prehepatik,

intrahepatik, dan pascahepatik masih relevan, walaupun

diperlukan penjelasan akan adanya tahap  tambahan dalam

tahapan metabolisme bilirubin. Pembagian yang baru

menambahkan 2 tahap  lagi sehingga tahapan metabolisme

bilirubin menjadi 5 tahap . yaitu tahap  l). Pembentukan biliru-

bin,2). Transpor plasma, 3). Liver uptake,4). Konjugasi,

dan 5). Ekskresi bilier.

tahap  Prahepatik

l. Pembentukan Bilirubin. Sekitar 250 sampai 350 mg bi-

lirubin atau sekitar 4 mg per kg berat badan terbentuk

setiap harinya; 70-80% berasal dari pemecahan sel

darah merah yang matang. Sedangkan sisanya 20-30%

(early labelled bilirubin) datang dari protein hem

lainnya yang berada terutama cli dalam sumsum tulang

dan hati. Sebagian dari protein hem dipecah menjadi

besi dan produk antara biliverdin dengan perantaraan

enzim hemeoksigenase. Enzim lain, biliverdin reduktase,

mengubah biliverdin menjadi bilirubin. Tahapan ini

terjadi terutama dalam sel sistem retikuloendotelial

(mononuklir fagositosis). Peningkatan hemolisis sel

darah merah merupakan pemicu  utama peningkatan

pembentukan bilirubin. Pembentukan early labelled

bilirubin meningkat pada beberapa kelainan dengan

eritropoiesis yang tidak efektif namun secara klinis

kurang penting.

2. tidaklarutdalamair,sebab nya

ni transporbrya dalam plasma

terikat dengan albumin dan tidak dapat melalui membran

glomerulus, sebab nya tidak muncul dalam air seni.

Ikatan melemah dalam beberapa keadaan seperti

asidosis, dan beberapa bahan seperti antibiotika

tertentu, salisilat berlomba pada tempat ikatan dengan

albumin.

tahap  lntrahepatik

3. Liver uptake. Proses pengambilan bilirubin tak

terkonjugasi oleh hati secara rinci dan pentingnya

protein pengikat seperti ligandin atau protein Y, belum

jelas. Pengambilan bilirubin melalui transport yang aktif

dan berj alan cepat, namun tidak termasuk pengambilan

albumin.

4 Konjugasi. Bilirubin bebas yang terkonsentrasi dalam

sel hati mengalami konjugasi dengan asam glukuronik

membentuk bilirubin diglukuronida atau bilirubin

konjugasi atau bilirubin direk. Reaksi ini yang

dikatalisasi oleh enzim mikrosomal glukuronil-trans-

ferase menghasilkan bilirubin yang larut air. Dalam

beberapa keadaan reaksi ini hanya menghasilkan

bilirubin monoglukuronida, dengan bagian asam

634

635PENDEKITTAT{ KIJNIS PADA PASIEN IKTERUS

glukuronik kedua ditambahkan dalam saluran empedu

melalui sistem enzim yang berbeda, namun reaksi ini

tidak dianggap fisiologik. Bilirubin konjugasi lainnya

selain diglukuronid juga terbenhrk namun kegunaannya

tidakjelas.

tahap  Pascahepatik

5. Ekskresi Bilirubin. Bilirubin konjugasi dikeluarkan ke

dalam kanalikulus bersama bahan lainnya. Anion

orgurik.-ii-iooyu-otauobatdapatmempengaruhiproses

yang kompleks ini. Di dalam usus flora bakteri

men"dekonjugasi" dan mereduksi bilirubin menj adi

sterkobilinogen.dan mengeluarkannya sebagian besar

ke.dalam tinja yang memberi warna coklat. Sebagian

diserap dan dikeluarkan kembali ke dalam empedu, dan

dalam jumlah kecil mencapai air seni sebagai

urobilinogen. Ginjal dapat mengeluarkan

diglukuronida namun  tidak bilirubin unkonjugasi. Hal

ini menerangkan warna air seni yang gelap yang khas

pada gangguan h€p3joselular atau kolestasis

intrahepatik. Bilirubin tak terkonjugasi bersifat tidak

larut dalam air namun larut dalam lemak. sebab nya

bilirubin tak terkonjugasi dapat melewati barier darah-

otak atau masuk ke dalam plasenta. Dalam sel hati,

bilirubin tak terkonjugasi mengalami proses konjugasi

dengan gula melalui enzim glukuroniltransferase dan

larut dalam empedu cair.

PENYAKIT GANGGUAN METABOLISME BILIRUBIN

1. Hiperbilirubinemiatakterkonjugasi

2. Hiperbilirubinemiakonjugasi

Hiperbilirubiemia Tak Terkonjugasi

Ilemolisis. Walaupun hati yang normal dapat

memetabolisme kelebihan bilrubin, namun peningkatan

konsentrasi bilirubin pada keadaan hemolisis dapat

melampaui kemampuannya. Pada keadaan hemolisis yang

berat konsentrasi bilirubin jarang lebih dari 3-5 tng/dl (>

5 I -86 umol/L) kecuali kalau ada  kerusakan hati juga.

Namun demikian kombinasi hemolisis yang sedang dan

penyakit hati yang ringan dapat memicu  keadaan

ikterus yang lebih berat; dalam keadaan ini

hiperbilirubinemia bercampur, sebab  eksresi empedu

kanalikular terganggu.

Sindrom Gilbert. Gangguan yang bermakna yaitu 

hiperbilirubinemia indirek (tak terkonjugasi), yang menjadi

penting secara klinis, sebab  keadaan ini sering disalah-

artikan sebagai penyakit hepatitis kronik. Penyakit ini

menetap, sepanjang hidup dan mengenai sejumlah 3-5%

penduduk dan ditemukan pada kelompok umur dewasa

muda dengan keluhan tidak spesifik secara tidak sengaja.

Beberapa anggota keluarga sering terkenanamun  bentuk

genetika yang pasti belum dapat dipastikan.

Patogenesisnya belum dapat dipastikan Adanya gangguan

(defek) yang kompleks dalam proses pengambilan

bilirubin dari plasma yang berfluktuasi antara 2-5 m{dL

(34-86 umoVl) yang cenderung naik denganberpuasa dan

keadaan stres lainnya. Keaktifan enzim glukuronil-

transferase rendah; sebab nya mungkin ada hubungan

dengan sindrom Crigler-Najj ar tipe II. Banyak pasien juga

memiliki  masa hidup sel darah merah yang berkurang,

namun demikian tidak cukup untuk menjelaskan keadaan

hiperbilirubinemia.

Sindrom Gilbert dapat dengan mudah dibedakan dengan

alhati al:tYa

dan Yang

dominan. II"-oliqit dibedakan dengan tidak ada rya

.*"r"lg atau retikulositosis. Histologi hati normal, namun

biopsi hati tidak diperlukan untuk diagnosis. Pasien harus

diyakinkan bahwa tidak ada penyakit hati.

Sindrom Crigler-Najjar. Penyakit yang diturunkan dan

jarang ini disebabkan oleh sebab  adanya keadaan

kekurangan glukuro- niltransferase, dan ada  dalarrt 2

bentuk. Pasien dengan penyakit put6ggltesc,sillipe I

(lengkap:komplit) memiliki  hiperbilirubinemia yang

berat dan biasanya meninggal pada ugttllahun. Pasien

(sebagian:parsial)

angberut(<20m!

dL, < 342 umol/L) dan biasanya bisa hidup sampai masa

dewasa tanpa kerusakan neurologik. Feuobarbital, yang

dapat merangsang kekurangan glukuronil transferase,

dapat mengurangi kuning.

Hiperbilirubinemia sh unl primer. Keadaan yan g jarang,

yang bersifat jinaldan familial dengan ptoduksi early

labeled bilirubin yang berlebihan.

Hiperbilirubiemia Konjugasi

1. Nonkolestasis

2. Kolestasis

Hiperbilirubinemia Konjugasi Non-kolestasis

Sindrom Dubin-Johnson. Penyakit autosom resesif

ditandai dengan ikterus yang ringan dan tanpa keluhan.

Kerusakan dasar terjadinya gangguan skskreilberbagai

?nion organik seperti juga bilinrbjn, namun ekskresi garam

empedu tidak terganggu. Berbeda dengan sindrom Gilbert

hiper-bilirubinemia yang te{adi yaitu  bllrubin koniggasi

dan errooedu lerdapat dalam urin.

Hati mengandung pigmen sebagai akibat bahan seperti

melani4, namun gambaran histologi normal. pemicu 

iGposisi pigmen belum diketahui. Nilai aminotransferase

dan fosfatase alkali pnrm?l. Oleh sebab  sebab yang belum

diketahui gangguan yang khas ekskresi korpoporfirin urin

dengan rasio reversal isomer I; III menyertai keadaan ini.

636 HEPAIIOBILIER

Sindrom rotor. Penyakit yangjarang ini menyerupai sindrom

Dubin-Johnson, namun  hati tidak mengalami pigmentasi dan

perbedaan metabolik lain yang nyata ditemukan.

Hiperbilirubinemia Konjugasi Kolestasis

l. Kolestasis intrahepatik

2. kolestasis ekstrahepatik (sumbatan pada duktus bilier,

di mana terjadi hambatan masuknya bilirubin ke dalam

usus).

Kolestasis intrahepatik. Istilah kolestasis lebih disukai

untuk pengertian ikterus qbstruktif sebab obstruksi yang

bersifat mekanis tidak perlu selalu ada. Aliran empedu

dapat terganggu pada tingkat mana saja dari mulai sel hati

(kanalikulus), sampai ampula&ter. Untuk kepentingan

klinis, membedakan pemicu  sumbatan intrahepatik atau

ekstrahepatik sangat penting. pemicu  paling sering

kolestatik tg!13hgpatlk yaitu  Sgpatitis, kr,raclruarlgbat,

penyakit hati sebab  alkqlol dan penyakit h€EI{lS

pemicu  yang @q_Sqing yaitu  sirosis

hatlbitialpruner, kglegLasis pada kehamilan, karsinoma

metastatik dan penyakit-penyakit lain yang jarang

Virus hepatitis, alkohol, keracunan obat(drug induced

hepatilis), dan kelainan autoimun merupakan pemicu 

yang tersering. Peradangan intrahepatik mengganggu

transport bilirubin konjugasi dan memicu  ikterus.

Hepatitis A merupakan penyakit self limited dan

dimanifestasikan dengan adanya ikterus yang timbul

secara AkUt. Hepatitis B dan C akut sering tidak

menimbulkan ikterus pada tahap awal (akut), namun  bisa

berjalan kronik dan menahun dan memicu  gejala

hepatitis menahun atau bahkan sudah menjadi sirosis hati.

Tidakjarang penyakit hati menahunjuga disertai gejala

kuning, sehingga kadang-kadang didiagnosis salah

sebagai penyakit hepatitis akut.

{lksbgl bisa mempengaruhi gangguan pengambilan

empedu dan sei<resinya, dan memicu  kolestasis.

Pemakaiang@lql secara terus menerus bisa menimbulkan

perlemakan (steatosis), hepatitis, dan sirosis dengan

berbagai tingkat ikterus. Perlemakan hati merupakan

penemuan yang sering, biasanya dengan manifestasi yang

ringan tanpa ikterus, namun  kadang-kadang bisa menjurus

ke sirosis. Hepatitis sebab  alkohol biasanya memberi

gejala ikterus sering timbul akut dan dengan keluhan dan

gejalayanglebih berat. Jika ada nekrosis sel hati ditandai

dengan peningkatan transaminase yang tinggi.

pemicu  yang lebih jarang yaitu  hepatitis autoimun

yang biasanya sering mengenai kelompok muda terutama

perempuan. Data terakhir menyebutkan juga kelompok

yang lebih tua bisa dikenai. Dua penyakit autoimun yang

berpengaruhpada sistem bilier tanpa terlalu memicu 

reaksi hepatitis yaitu  sirosis bilier primer dan kolangitis

sklerosing. Sirosis bilier primer merupakan penyakit hati

bersifat progrgsif dan terutama mengenai perempuan paruh

baya. Gejala yang mencolok yaitu  rasa lelah dan glgLl

yang sering merupakan penemuan awal, sedangkan kuning

merupakan gejala yang timbul kemudian.

Kolangitis sklerosis primer (Primary sclerosing

cholangitis IPSG) merupakan penyakit kolestatik lain, lebih

sering dijumpai pada laki-laki, dan sekitar 70'% menderita

penyakit peradangan usus. PSG bisa menjurus ke kolangio-

karsinoma. Banyak obat memiliki  efek dalam kejadian

ikterus kolestatik,seperti asetaminofpn, pptruijlin, obat

kg$rasspql_gal, klplplglqazgaTorazin) dan stergid

estrogenik atau anabolik.

Kolestasis ekstrahepatik. pemicu  paling sering pada

kolestasis ekstrahepatik yaitu  batu duktus koledokus dan

kanker pankreas. pemicu  lainnya yang relatif lebih jarang

yaitu  striktur jinak (operasi terdahulu) pada duktus

koledokus, karsinoma duktus koledokus, pankreatitis atau

pseudocyst pankreas dan kolangitis sklerosing. Kolestasis

mencerminkan kegagalan sekresi empedu. Mekanismenya

sangat kompleks, bahkan juga pada obstruksi mekanis

empedu.

Efek patofisiologi mencerminkan efek backup

konstituen empedu (yang terpenting bilirubin, garam

empedu, dan lipid) ke dalam sirkulasi sistemik dan

kegagalannya untuk masuk usus halus untuk ekskresi.

Retensi bilirubin menghasilkan campuran hiperbilirubiemia

dengan kelebihan bilirubin konjugasi masuk ke dalam urin.

Tinja sering berwama pucat sebab  lebih sedikit yang bisa

mencapai saluran cerna usus halus.Peningkatan garam

empedu dalam sirkulasi selalu diperkirakan sebagai

pemicu  keluhan gatal (pruritus), walaupun sebenarnya

hubungannya belum jelas sehingga patogenesis gatal

masih belum bisa diketahui dengan pasti.

Garam empedu dibutuhkan untuk penyerapan lemak,

dan v-ilamin-I(, gangguan ekskresi garam empedu dapat

berakib at s t e at o r r h e a dan hlp_aplglromburcqlia. P ada

keadaan kolestasis yang berlangsung lama Qtrimary

biliary cirrhosis), gangguan penyerapan Ca dan vitamin

D dan vitamin lain yang larut lemak dapat terjadi dan dapat

memicu  @prcis atau Steooak€ia. Retensi

kolesterol dan fosfolipid memicu  hiperlipidemia,

walaupun sintesis kolesterol di hati dan esterifikasi yang

berkurang dalam darah turut berperan; Konsentrasi

trigliserida tidak terpengaruh. Lemak beredar dalam darah

sebagai lipoprotein densitas rendah yang unik dan

abnormal yang disebut sebagai lipoprotein X.

Manifestasi Klinis Kolestasis lntrahepatik dan

Ekstrahepatik

Tidak jarang kolestasis ekstrahepatik sukar dibedakan

dengan kolestasis intrahepatik, padahal membedakan

keduanya sangat penting dan urgen. Gejala awal terjadinya

perubahan wama urin yang menjadi lebih kuning, gelap,

tinja pucat, dan gatal (pruritus) yang menyeluruh yaitu 

tanda klinis adanya kolestasis. Kolestasis kronik bisa

menimbulkan pigmentasi kulit kehitaman, ekskoriasi sebab 

637PENDEKIIiTAN KLINIS PADA PASIEN IKTERUS

pruritus, perdarahan diatesis, sakit fulang, dan endapan

lemak kulit (xantelasma atau xantoma). Gambaran seperti

di atas tidak tergantung pemicu nya. Keluhan sakit perut,

gejala sistemik (seperti, anoreksia, muntah, demam atau

tambahan tanda gejala mencerminkan pemicu  penyakit

dasarnya daripada kolestasisnya dan sebab nya dapat

memberi petunj uk etiologinya.

DIAGNOSIS

Riwayat penyakit yang rinci dan pemeriksaan jasmani

sangat penting, sebab  kesalahan diagnosis terutama

disebab kan penilaian klinis yang kurang atau penilaian

gangguan laboratorium yang berlebihan. Kolestasis

ekstrahepatik dapat diduga dengan adanya keluhan sakit

bilier atau kandung empedu yang teraba. Jika sumbatan

sebab  keganasan pankreas (bagian kepala/kaput) sering

timbul kuning yanc ti@i gejala keluhan sakit perut

Qtainless jaundice). Kadang-kadang bila bilirubin telah

mencapai konsentrasi yang lebih tinggi sering warna

kuning skleramatamemberi kesanberbeda di mana ikterus

lebih memberi kesan kehijauan (greenish iaundice) pada

kolestasis q$trahepatik dan ke@]gqan Q't e l l ow i s h i aun-

dice) pada kolestasis ig[phepatik.

TES LABORATORIUM

memiliki  keterbatasan diagnosis. Kelainan

laboratorium yang khas yaitu  pBqinggian nilai fosfatase

alkali, yang terutama diakibatkan peningkatan sintesis

daripada gangguan ekskresi, namun tetap belum bisa

menjelaskan pemicu nya. Nilai biJiubin juga

mencerminkan heratnya namun  bukan pemicu 

kolestasisnya, juga fraksionasi tidak menolong

membedakan keadaan intrahepatik dari ekstrahepatik.

Nilui ryl@.ug bergantung terutama pada

penyakit dasamya, namun seringkali pqenmgkut tidaklrygi

Jika peningkatan tinggi sangat mungkin sebab  proses

h-epatoselular, namun kadang-kadang terjadi juga pada

kolestasis ekstrahepatik, terutama pada sumbatan akut yang

diakibatkan oleh adanya batu di duknrs koledokus.

Peningkatan alqlase serym menunjukan sumbatan

ekstrahepatik. Perbaikan waktu protrombin setelah

pemberian vitamin K mengarah kepada adanya bendungan

ekstrahepatik, namun hepatoselular juga dapat berespons.

Ditemukannya antibodi terhadap antimitokondria

mendukung keras kemungkinan sirosis bilier primer.

PENCITRAAN

Pemeriksaan saluran bilier sangat penting. Pemeriksaan

sonografi, CT, dan MRI memperlihatkan adanya pelebaran

saluran bilier, yang menunjukkan adanya sumbatan

mekanik, walaupun jika tidak ada tidak selalu berarti

sumbatair intrahepatik, terutama dalam keadaan masih akut.

pemicu  adarya sumbatan mungkin bisa diperlihatkan,

umumnya batu kandung empedu dapat dipastikan dengan

ultrasonografi, lesi pankreas dengan CT. Kebanyakan

pusat menggunakan terutama USG untuk mendiagnosis

kolestasis sebab  biayanya yang rendah.

Endoscopic Retrograde Cholangio-Pancreatography

(ERCP) memberikan kemungkinan untuk melihat secara

langsung saluran bilier dan sangat bermanfaat untuk

menetapkan sebab sumbatan ekstrahepatk. Percutaneous

Transhepatic Cholangiography (PTC) dapat pula

dipergunakan untuk maksud ini. Kedua cara ini  diatas

memiliki  potensi terapeutik. Pemeriksaann MRCP dapat

pula untuk melihat langsung saluran empedu dan

mendeteksi batu dan kelainan duktus lainnya dan

merupakan cara non-invasif alternatif terhadap ERCP.

BIOPSI HATI

Biopsi hati akan menjelaskan diagnosis pada kolestasis

intrahepatik; walaupun demikian, bisa timbul juga

kesalahan, terutama jika penilaian dilakukan oleh yang

kurang berpengalaman. Umumnya, biopsi aman pada kasus

dengan kolestasis, namun berbahaya pada keadaan

obstruksi ekstra-hepatik yang berkep anjangan, sebab nya

harus disingkirkan dahulu dengan pemeriksaan pencitraan

sebelum biopsi dilakukan.

Kecuali pasien dalam keadaan kolangitis kolestasis

supurativa, bukan keadaan emergensi. Diagnosis

sebaiknya ditegakkan melalui penilaian klinis, dengan

bantuan alat penunjang khusus jika ada. Jika diagnosis

tidak pasti, ultrasonografi atau CT akan sangat membantu.

Obstruksi mekanis dapat ditegakkan jika ditemukan tanda

pelebaran saluran bilier, terutama pada pasien dengan

kolestasis yang progresif. Pemeriksaan lebih lanjut dengan

kolangiografi langsung (ERCP, PTC, MRCP) dapat

dipertimbangkan. Jika pada pemeriksaan ultrasonografi

tidak ditemukan pelebaran saluran empedu, sangat

mungkin lebih cenderung ke masalahiuJr-ahepallk, dan

Qiggsi sangat dianjurkan.

Jika alat penunj ang ini  di atas tidak ada , maka

agnosis harus dipertimbangkan, jika

klinis lebih menjurus ke sumbatan

ekstrahepatik dan kolestasis memburuk pro gresif.

PENDEKATAN KLINIS

Warna kekuningan pada kulit atau telapak tangan

Qtseudoikterus) dapat terjadi sebab  memakan terlalu

banyak makanaan yang mengandung beta-carotin (seperti

squash, melon, pepaya, dan wortel); berbeda dengan

638 HEFA'IIOBILIER

ikterus yang sesungguhnya, keadaan di atas (karotenemi)

tidak memicu  warna kuning di sklera atau

peningkatan bilirubin.

Ikterus disebabkan oleh gangguan pada salah satu dari

5 tahap  metabolisme bilirubin. Ikterus dapat disebabkan oleh

sebab  berbagai sebab mulai dari yang bersifatjinak sampai

kepada keadaan yang bisa membahayakan jiwa. Tahap awal

ketika akan mengadakan penilaian klinis seorang pasien

dengan ikterus yaitu  tergantung kepada apakah

hiperbilirubinemia bersifat terkonjugasi atau tak

terkonjugasi.

Tes paling sederhana yaitu  melihat apakah ada 

bilirubin di dalam urin atau tidak, dan kemudian dipastikan

oleh pemeriksaan bilirubin dalam darah. Pemeriksaan

jasmani awal harus memusatkan terhadap keluhan utama

dan perjalanan penyakitnya, kemudian dilihat adanya

tanda-tanda penyakit akut atau kronik. Jika ikterus riugan

tanoa warna air seni yang gg!4p harus dipikirkan

kemungkinan adanya hiperbilirubinemia illslll:ek yang

mungkin disebabkan oleh penyakit sindrom Gilbert dan

bukan oleh sebab  penyakit hepatobilier. Keadaan ikterus

yang lebih berat dr4gan disertai warna air seni yang gelap

jelas menandakan penyakit hati atau bil&r.

Pembagian diagnosis banding ke dalam pemicu 

prehepatik, intrahepatik, dan posthepatik walaupun

memiliki  kekurangan namun masih dapat membuat

penatalaksanaan menjadi lebih mudah. Misalnya

pemicu  ikterus yang tergolong prehepatik termasuk

hemolisis dan penyerapan hematom, akan memicu 

peningkatanbilirubinlgflerkonjugasi(indirek).Kelainan

intrahepatik dapat berakibat hiperbilirubinemia tak

terkonjugasi maupun konjugasi. Peningkatan bilirubin

konjugasi (@k) bisa diakibatkan hepatitis infeksiosa,

alkohol, reaksi obat dan kelainan autoimun. Kelainan

posthepatik dapat pula meningkatkan bilirubin konjugasi.

Pembentukan batu merupakan keadaan yang paling sering

yang bersifat jinak dalam kelompok kelainan posthepatik

yang memicu  kuning.

Diagnosis banding akan mengikutsertakan juga

berbagai keadaan lain seperti infeksi di saluran empedu,

pankreatitis, dan keganasan. Jika ada  penyakit

hepatobilier, apakah kondisinya akut atau kronik. Apakah

penyakitnya disebabkan penyakit hati primer atau

diakibatkan penyakit sistemik yang mengikutkan hati.

Apakah penyakit pemicu  kuning ini yaitu  hepatitis

virus, alkohol atau sebab  obat. Jika mengarah ke kolestasis

apakah intra atau ekstrahepatik. Apakah dibutuhkan

tindakan operasi. Apakah ada komplikasi anamnesis.

Riwayat penyakit yang rinci sangat dibutuhkan, sebab

kesalahan diagnosis dapatterladi akibat keputusan klinis

yang kurang tepat dan terlalu mempercayai data

laboratorium.

Jika ada  tanda-tanda adanya hjpertenli_pp4al,

agiles, perubahan kulit seyogyanya mengarah ke penyakit

kronis daripada proses akut. Seringkali pasien melihat

gejala warna gelap air seni lebih dahulu dari pada warna

kuning kulit, sebab nya wama gelap urin lebih bisa dipakai

sebagai ukuran awal mulainya penyakit. Jika ada 

keluhan mual dan rnglgh yang mendahului terjadinya

warna kuning pada kulit, keadaan ini  lebih

menandakan ke arah -f€patitis akut atau s_umbatanduktus

@Ss oleh sebab  !gtu. Jika ada qakit perut atau

ryAggi&Ll lebih cenderung yang terakhir. Adanya anqEksia

dan malaise yang timbul perlahan dan tidak begitu nyata

lebih menjurus ke heoatitis kronis.

Penyakit sistemik patut dicurigai, misalnya, jika ada 

peninggian tekanan vena jugularis yang menjurus ke

adany a,@rnpC4iasl-kodis atau perikarditis kpnstriktif

pada pasien dan asglqs. Status gizi

kurang yang daan kakeksia dengan

hati yang membesar dan keras dan iregular sering

disebabkan o

Limfaden ada adanya

mononukleosis infeksiosa pada kasus ikterus yang akut

dan leukemia pada penyakit kronis. Adanya

hepatosplenomegali tanpa tanda adanya penyakit hati

kronik bisa diakibatkan oleh penyakit infittratif (seperti

limfoma, amiloidosis), walaupun biasanya ikterus bersifat

minimal atau bahkan tidak ada; dalam keadaan ini perlu

dipikirkan skistosomiasis dan malaria yang sering

memberikan gambaran seperti itu jika te{adi di daerah

endemik.

Jika ikterus berjalan sangat progresif perlu dipikirkan

segera bahwa kolestasis lebih bersifat ke arah sumbatan

ekstrahepatik (batu saluran empedu atau keganasan kaput

pankreas).

PENEMUAN LABORATORIUM

Hiperbilirubinemia dengan nilai aminotransferase dan

fosfatase alkali yang normal menunjukan kemungkinan

proses hemolisis atau penyakit sindrom Gilbert; ini

dipastikan dengan fraksionasi bilirubin. Sebaliknya

beratnya ikterus dan fraksionasi bilirubin tidak bisa

membantu untuk membedakan ikterus hepatoselular dari

keadaan ikterus kolestatik. Peninggian aminotransferase

>500 U lebih mengarah kepada hepatitis atau keadaan

hipoksia akut; peninggian fosfatase alkali yang tidak

proporsional mengarah kepada kolestatik atau kelainan

infiltratif. Pada keadaan yang disebut belakangan biliru-

bin biasanya normal atau hanya naik sedikit saj a. Bilirubin

di atas 25 sampai 30 mgldL (428-513 umol/L) seringkali

disebabkan adanya hemolisis atau disfungsi ginjal yang

menyertai pada keadaan penyakit hepatobilier berat.

Penyakit yang disebut terakhir sajajarang memicu 

keadaan ikterus yang berat.

Konsentrasi alb"U_mjnyanegdah dan gbhuliqlqng

tinggi menunjukan adanya penyakit kronis. Peningkatan

waktu protrombin yang membaik setelah pemberian vita-

PENDEKATAN KLINIS PADA PASIEN IKTERUS 639

minK (5-10 mgIM selama2-3 hari) lebihmengarahkepada

keadaan kolestatik daripada proses hepatoselular. Namun

hal ini tidak bisa terlalu dipastikan sebab  pada pasien

dengan penyakit hepatoselular pun pemberian vitamin K

bisa juga memberikan perbaikan.

PEMERIKSAAN PENCITRAAN

Pemeriksaan pencitraan (imaging) sangat berharga untuk

mendiagnosis penyakit infiltratif dan kolestatik.

Pemerikasaan sonografi perut, CT, dan MRI sering bisa

menemukan metastatik dan penyakit fokal pada hati dan

telah menggantikan pemeriksaan nuklir scar untuk maksud

ini . Namun demikian pemeriksaan ini kurang

bermanfaat dalam mendiagnosis penyakit hepatoselular

(seperti sirosis) sebab penemuannya bersifat tidak

spesifik.

Pemeriksaanbiopsi hati perkutan memiliki  arti yang

sangat penting, namun jarang dibutuhkan pada pasien

ikterus. Pemeriksaan peritoneoskopi (laparoskopi)

memungkinkan untuk memeriksa langsung hati dan

kandung empedu dan bermanfaat untuk pasien tertentu.

Laparatomi diagnostik jarang diperluk4n pada pasien

dengan kolestatik atau hepatosplenomegali yang belum

bisa diterangkan pemicu nya.

PENGOBATAN

Pengobatan ikterus sangat tergantung penyakit dasar

pemicu nya. Beberapa gejala yang cukup mengganggu

misalnya gatal (prwitu$ pada keadaan kolestasis intahepatik,

pengobatan penyakit amya sudah mencukupi. Pruritus

pada keadaaaireversibel (seperti sirosis bilier primEr) biasanya

responsif terhadap e$Jrynm 4-16 glhartPQdalam dosis

.terbagi dua yang akan mengikat gararr. empedu di usus.

Kecuali jika terjadi kerusakan hati yang berat,

hipoprotrombinemia biasanya membaik setelah pembqrian !

mgl hari SK rurtuk 2-3 har,.

kalsium dan vitamin D dalam

keadaan koJestasis yang ireversibel, namun pencegahan

penyakit tulang metabolik mengecewakan. Suplemen vit A

dapat mencegah kekurangan vitamin yang larut lemak ini

dan steqtorrhea yar,g berat dapat dikurangi dengan

pemberian sebagian lemak dalam diet dengan medium

chain trigliceride.

Sumbatan bilier ekstra-hepatik biasanya

membutuhkan tindakan pembedahan, ekstraksi batu

empedu diduktus, atau insersi stent, dan drainase via

kateter untuk striktur (sering keganasan) atau daerah

penyempitan sebagian. Untuk sumbatan maligna yang

non-operabel, drainase bilier paliatif dapat dilakukan

melalui stentyang ditempatkan melalui hati (transhepatik)

atau secara endoskopik. Papilotomi endoskopik dengan

pengeluaran batu telah menggantikan laparatomi pada

pasien dengan batu di duktus koledokus. Pemecahan

batu di saluran empedu mungkin diperlukan untuk

membantu pengeluaran batu di saluran empedu.




KELAINAN ENZIM PADA PENYAKIT HATI


DEFINISI

Enzim yaitu protein dan senyawa organikyang dihasilkan

oleh sel hidup. Enzim merupakan katalisator biologis yang

mempercepat reaksi kimia di dalam sel hidup. Reaksi itu

bisatimbal balik. Enzim ini  adayang spesifikuntuk

suatu reaksi namun  ada pula satu reaksi yang dapat

dikatalisasi oleh bermacam-macam enzim. Sekarang sudah

dikenal ribuan enzim pada proses kimia dalam tubuh. Berat

molekulnya antara 12.700- 1.000.000.

STRUKTUR DAN KLASIFIKASI

Enzim terdiri atas bagian protesis yaitu bagian yang

atas polipeptida.

E diri atas 6 kelas yaitu : l).Oksidoreduktase

gase misalnya piruvat

Enzim umumnya ada  di dalam sel dan bisa berada dalam

Dalam keadaan normal ada  ke analtara

pembentukan enzim dengan penghancurannya. Walaupun

ada  keseimbangal autara penghancuran dengan

pembentukan enzim, akan selalu ada  sedikit enzim

yang keluar ke ruangan ekstraselular. Apabila terjadi

sel apu peningkatan permeabilitas membran sel,

l-=

//

100

enzim akan banyak keluar ke ruang ekstra selular dan dapat

dipakai  sebagai sarana untuk membuat diagnosis.

DTAGNOSIS FNZr MATrK PADA PENYAKIT HAT!

Gejala penyakit hati sangat bervariasi dari yang tanpa

gejala sampai pada yang berat sekali. Kadang-kadang

dapat ditemukan keadaan dengan kelainan hati sangatberat

namun  gejala yang dikeluhkan sangat sedikit. Untuk

menegakkan diagnosis pasti penyakit hati, kita tidak bisa

hanya melihat salah satu pemeriksaan saja namun  harus

dimulai dengan membuat anamnesis yangbaik, melakukan

pemeriksaan fisis yang teliti dan diikuti dengan

Pemeriksaan enzim dapat dibagi dalambeberapa

: 1). Enzim yang berhubungan dengan kerusakan sel yaitu

Pemeriksaan-pemeriksaan lain yang diperlukan untuk

menegakkan diagnosis bisa berrnacam-macam, mulai dari

bilirubin, bromsulfoftalein, indosianin hijau, galaktosa,

pemeriksaan s untuk melihat imunoglobulin

dan juga pemeriksaan untuk penanda virus. Di

samping itu masih diperlukan juga pemeriksaan untuk

amoniak, besi, tembaga, porFrrin, antibodi mitokondria, alfa

feto protein dan sebagainya.

Untuk pemeriksaan penyaring, dari sekian banyak

enzim-enzim itu agaknya yang paling diperlukan yaitu 

640

KELAINAN ENZIM PADA PENYAKIT HATI 641

Dalam menilai kelainan enzim kita harus berhati-hati

oleh sebab  seringkali tidak ada  hubungan antara

tingginya kadar ervim dengan derajat kerusakan yang

terjadi. Sebagai contoh pada keadaan hepatitis akut,

meskipun kerusakan hati yang terjadi sedikit, peninggian

enzimnya sangat hebat. Pada keadaan infeksi akut ini 

mitokondria atau kerusakan parenkim sel maka yang terlihat

lebih meningkat dibandingkan dengan SGPT.

KELAINAN ENZIM PADA HEPATITIS VIRAL AKUT

Hepatitis viral akut bisa disebabkan oleh berbagai pemicu 

misalnya virus hepatitis A,B,C,D, dan E mungkrn juga F di

samping juga disebabkan oleh virus-virus lainnya seperti

virus mononukleosis infeksiosa, demam kuning, cacat air,

sitomegali, cacar, harpes zoster, morbili dan demam berdarah.

Pada keadaan hepatitis akut tanpa komplikasi, derajat

kerusakan sel parenkimnya relatif ringan akan namun 

peradangan sel yang terjadi berat. Pada keadaan hepatitis

akut, transaminase bisa meningkat sampai 2.000 unit/liter,

sedangkan fosfatase alkali dan gamma GT hanya sedikit

meningkat (Tabel 1). Biasanya konsentrasi gamma GT lebih

20 - 50 kali N 20 - 50 kali N 0,7

5-10kaliN 5-10kaliN -1

5-10kali N 5-10kali N

5-10kali N 5-10kali N

2-5kaliN 2- 5kali N

SGOT SGPT

SGOT/ SGOT/

SGPT GGT

Hepatitis akut

Sirosis

hepatis

CPH

CAH

Perlemakan

hati

Kolesistitis 2-5kali N 2 5kali N <1

>1

<1

>1

<1

<1

>1

07

>1

<1

o'tT" cLDH cHE

perjalanan penyakit memburuk dan terjadi

koma hepatik, biasanya disertai oleh

penurunan SGOT dan SGPT yang cepat

sekali, diserlai dengan peningkatan GLDH

dan LDH. Hal ini menandakan akan adanya

kerusakan parenkim hati yang berat.

Kerusakan Hati Toksik

Berbagai obat dan bahan makanan dapat

merupakan zat yar'g toksik serta

memicu  kelainan hati. Diagnosis dalam

Apabila

SGOT SGPT

Hepatitis akut

Sirosis hati

Kolesistitis

Hepatitis

164 281

(17-1650) (30-2070)

45 + 22,5 46 + 23

26+ 5 48 + 8

482 + 680 681 + 887

125 6,75 3510

(15-2e1) (1,1-35,5) (1370-5870)

62 + 33 2 +2 3126 + 1341

129+97 2+1 4755+593

114+ 59 '13 + 11 4955 +1550

86

20

3

IJ

rendah daripada konsentrasi SGOT. Kolinesterase akan

menurun sedikit pada minggu kedua dan minggu keempat

untuk kemudian akan meningkat kembali pada masa

penyembuhan. Menurut de Ritis perbandingan antara

SGOT dan SGPT yaitu  < dari 0,7.

Kalau kita melakukan pemeriksaan monitoring tiap 2

sampai 4 minggu, akanterlihatbahwa gamma GT dan SGPT

yaitu  yang paling akhir kembali menjadi normal (lihat

diagram). Kalau penurunan tidak terj adi dalam waktu 6- I 2

minggu, diagnosis hepatitis kronik akan ditegakkan apabila

kelainan ini  masih terjadi setelah 6 bulan.

Pada hepatitis viral akut tipe kolestatik gejalanya

biasanya lebih berat, dengan peningkatan bilirubin,

fosfatase alkali dan gamma GT serta GLDH. Biasanya CHE

juga akan menurun. Pada perjalanan penyakit biasanya

bilirubin akanmenurun lambat sekaliwalaupun SGOT dan

SGPT sudah menurun atau menjadi normal.

keadaan ini sulit sekali dan gejalanya biasanya ditandai

dengan peninggian gamma GT.

Kerusakan pada Hatiyang Disebabkan oleh Obat

Di samping alkohol, diperkirakan ada lebih dari 250 obat

yang hepatoksik. Gangguan hati oleh sebab  obat-obatan

ini bisa merupakan toksik langsung yang tergantung

kepada dosis obat atau bisa juga merupakan reaksi alergi

yang tergantun g pada masing-masing individu.

Kelainan enzim yang terjadi tergantung kepada macam-

macam obat ini  dan gangguan yang diakibatkannya.

Pada gangguan hati yang disebabkan oleh dL,

kelainan yang terjadi yaitu  peninggian GLDH dan SGOT

sedangkan Gatnma GT danAIP nya normal. Kelainan yang

terjadi disini yaitu kerusakan hati nekrosis sentral. Pada

obat yang mensupresi tiroid seperti I akan terjadi

5000

4000

1000

750

s00

250

100

80

60

40

20

Gambar 1. Diagram pola enzim pada hepatitis akut Di RSCM

642 HEPATOBII.JER

penyumbatan saluran empedu yang ditandai oleh

peninggian gamma GT, AIP dan GLDH. Pada kerusakan

hati akibat obat akan terlihat sedikit peninggian

SGOT dan SGPT serta fosfatase alkali. Kolinesterase

seringkali menurun sedangkan GLDH dan gamma GT, ALP

dan GLDHtanpaatau denganpeninggian SGPT dan SGOT

yang ringan merupakan penanda terjadinya hepatitis akibat

obat.

HEPATITIS KRONIK

Walaupun diagnosis hepatitis kronik merupakan d

iagnosis histopatologis pol a enzimyangterjadi dapat pula

membantu untuk menegakkan diagnosis (Tabel I dan2).

Hepatitis kronikterdiri atas : l). Hepatitis kronikpersisten,

2). Hepatitis kronik aktif, 3). Sirosis hati.

Pada kelainan hepatitis kronik persisten biasanya

terlalu hebat. Biasanya SGOT dan SGPT meningkat

kali normal, sedangkan Gamma GT biasanya il

dari SGOT. Fosfatase alkali, GLDH, CHE dan enzim

koagulasi masih dalam batas-batas normal. Prognosis

penyakit ini biasanya baik.

Pada hepatitis kronik aktif kerusakan hepatoselularnya

lebih berat. SGOT dan SGPT dapat meningkat sampai;!

kali atau i di atas angka normal. Gamma GT biasanya

didapatkan lebih rendah dari SGOT. Apabila kerusakan sel

lebih berat dapat pula ditemukan

Pada sirosis hati akan ditemukan peninggian SGOT dan

SGPT yang sangat bervariasi. Umumnya akan didapirtkan

gamma GT lebih tinggi dari SGOT. Perbandingan antara

SGOTdan SGPT atau rasio de Ritis biasanya di atas 1.

Kolinesterase akan menurun apabila kerusakan hati makin

berat. Enzim untuk pembekuan darah juga akan menumn.

Penyakit Saluran Empedu dan Sirosis Bilier

Pada kelainan saluran empedu yang terlihat mencolok

yaitu  peninggian fosfatase alkali dan gamma GT.

Peninggian SGOT dan SGPT dapat terlihat pada

penyrmbatan akut atau apabila ada  bendungan yang

sudah lama sehingga terjadi kerusakan parenkim hati. Pada

kelainan batu empedu biasanya tidak akan ditemukan

peninggian SGOT dan SGPT.

Kolangitis akan ditandai oleh suhu badan

serta kenaikanAlP, LAP dan gamma GT. Pada

juga akan ditemukan peninggian ALP, LAR gamma GT

serta bilirubin semm. Kolesterol dan fosfolipid juga akan

meningkat Kolinesterase dan enzim pembekuan hanya akan

menurun bila proses sudah lanjut.

- Apabila terj adi sumbatan saluran empedu, komplikasi

yangditakutkanyaitu terjadinya s.Olehsebab 

itu perlu segera dilakukan tindakan untuk menghilangkan

pemicu  terjadinya bendungan ini .

PERLEMAKAN HATI

Pada perlemakan hati dapat ditemukan peninggian

i normal. Biasanya konsentrasi garam

normal.

Tumor Hati

Pada tumor hati kelainan yang sering ditemukan yaitu 

peninggian fosfatase alkali dan gamma GT. Konsentrasi

enzim SGOT dan SGPT pada karsinoma hepatoselularpada

waktu permulaan tidak memperlihatkan kenaikan kecuali

apabila penyakit dasarnya yaitu "sirosis hati. Apabila

tumor makin besar dan kerusakan hati makin hebat dapat

pula ditemukan peninggian SGOT dan SGPT.

Kelainan pada metastasis tumor di hati tergantung pada

luasnya penyebaran dan besarnya massa tumor. Rasio de

Ritis biasanya di atas I dan bisa mencapai 4, GLDH akan

meningkat sehingga rasio antara SGOT dan SGPT