hepatobilier 2

 





dibagi

dengan GLDH akan menurun sampai di bawah 15 atau

dalam keadaan lanjut sampai di bawah 1 0. Pada metastasis

tumor di hati kelainan yang mencolok terlihat yaitu 

peninggian fosfatase alkali dan gamma GT. Peningkatan

fosfatase alkali akan lebih besar pada metastasis tumor

tulang.

Bendungan Hati

Pada bendungan hati akut dapat tef adi kerusakan parenkim

hati. Pada keadaan ini dapat terjadi peningkatan enzim

transaminase dan GLDH yang cukup tinggi. Pada keadaan

yang kronik dapat pula terjadi peningkatan transaminase

dan bilirubin. Pada USG akan terlihat pelebaran pembuluh

darah dan penebalan dinding kandung empedu (edema).

Kelainan pada Kehamilan

Pada kehamilan normal, fosfatase alkali dapat meninggi 2

atau 3 kali normal sedangkan bilirubin dan enzim lainnya

tidak meninggi. Pada kehamilan trimester 3, peninggian

harus menimbulkan perhatian akan

kemungkinan adanya sindrom HELLP di samping krisis

hemolisis darah. Bila di samping fosfatase alkali ditemukan

pula peningkatan SGOT dan SGPT harus dipikirkan

kelainan hepatitis virus akut, atau, bila disertai pula dengan

nyeri perut daerah kanan atas, harus dipertimbangkan

suatu perlemakan hati pada kehamilan. Keiainan

perlemakan hati pada kehamilan harus lebih diperhatikan

bila terjadi muntah-muntah pada pasien dengan kehamilan

trimester terakhir.

Hiperbilirubinemia

Bila terjadi peningkatan kadar bilirubin tanpa ada

peningkatan enzim lain harus dipikirkan kemungkinan

kelainan kongenital seperti penyakit Rotor, Dubin Johnson

atau penyakit hiperbilirubinemia tak terkonjugasi lainnya.

KELAINAN ENZIM PADA PEiIYAKIT HIITI 643

KESIMPULAN

Walaupun pola enzim sangat membantu dalam menegakkan

diagnosis gangguan hati namun  pemeriksaan yang lengkap

disertai pemeriksaan penunjang lain seringkali harus

dilakukan. Kadang kala walaupun semua pemeriksaan

sudah dilakukan, diagnosis pasti belum dapat }oga

ditegakkan. Dalam hal ini kita harus membuat diagnosis

seperti memperhatikan gambaran mosaik, sehingga biarpun

ada bagian yang hilang atau tidak ada gambaran

keseluruhan masih dapat dibuat suatu kesimpulan

diagnosis.


Hepatitis virus akut merupakan infeksi sistemik yang

dominan menyerang hati. Hampir semua kasus hepatitis

virus akut disebabkan oleh salah satu dari lima jenis virus

yaitu: virus hepatitis A (HAV), virus hepatitis B (HBV),

virus hepatitis C (HCV), virus hepatitis D (HDV) dan virus

hepatitis E (HEV). Jenis virus lain yang ditularkan

pascatransfusi seperti virus hepatitis G dan virus TT telah

dapat diidentifikasi akan namun  tidak memicu  hepa-

titis. Semua jenis hepatitis virus yang menyerang manusia

merupakan virus RNA kecuali virus hepatitis B, yang

merupakan virus DNA. Walaupun virus-virus ini 

berbeda dalam sifat molekular dan antigen, akan namun 

semua jenis virus ini  memperlihatkan kesamaan dalam

perj alanan penyakitnya.

Hepatitis virus akut merupakan urutan pertama dari

berbagai penyakit hati di seluruh dunia. Penyakit ini 

ataupun gejala sisanya bertanggung jawab atas l-2 j:uta

kematian setiap tahunnya. Banyak episode hepatitis

dengan klinis anikterik, tidak nyata atau subklinis. Secara

global virus hepatitis merupakan pemicu  utama viremia

yang persisten. Di Indonesia berdasar  data yang berasal

dari rumah sakit, hepatitis A masih merupakan bagian

terbesar dari kasus-kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu

berkisar dari 3 9,8-68,3yo. Peningkatan prevalensi anti HAV

yang berhubungan dengan umur mulai terjadi dan lebih

nyata di daerah dengan kondisi kesehatan di bawah

standar. Lebih dari 75o/o anak dari berbagai benua Asia,

Afrika, India, menunjukkan sudah memiliki antibodi anti-

HAV pada usia 5 tahun. Sebagian besar infeksi HAV

didapat pada awal kehidupan, kebanyakan asimtomatik

atau sekurangnya anikterik.

Tingkat prevalensi hepatitis B di Indonesia sangat

bervariasi berki sar dai2,5Yo dtBanjarmasin s ampai 25,6lYo

di Kupang, sehingga termasuk dalam kelompok negara

dengan endemisitas sedang sampai tinggi. Di negara-

negaraAsia diperkirakan bahwa penyebaran perinatal dari

ibu pengidap hepatitis merupakan j awaban atas prevalensi

infeksi virus hepatitis B yang tinggi. Hampir semua bayi

yang dilahirkan dari ibu dengan HBeAg positif akan terkena

infeksi pada bulan kedua dan ketiga kehidupannya.

Adanya HbeAg pada ibu sangat berperan penting untuk

penularan. Walaupun ibu mengandung HBsAg positif

namunjika HBeAg dalam darah negatif maka daya tulamya

menjadi rendah. Data di Indonesia telah dilaporkan oleh

Suparyatmo, pada tahun 1993, bahwa dari hasil

pemantauan pada 66 ibu hamil pengidap hepatitis B, bayi

yang mendapat penularan secara vertikal yaitu  sebanyak

22bayi(45,9%).

Prevalensi anti-HCV pada donor darah di beberapa

tempat di Indonesia menunjukkan angka di antara 0,5o/o-

3,370 . Sedangkan prevalensi anti HCV pada hepatitis vi-

rus akut menunjukkan bahwa hepatitis C (15,5%-46,4%)

menempati urutan kedua setelah hepatitis AAkut (3 9,8o/o-

68,3yo) sedangkan urutan ketiga ditempati oleh hepatitis

B (6,40/025,9%). Untukhepatitis D, walaupun infeksi hepa-

titis ini erat hubungannya dengan infeksi hepatitis B, di

Asia Tenggara dan Cina infeksi hepatitis D tidak biasa

dijumpai pada daerah dimana prevalensi HBsAg sangat

tinggi. Laporan dari Indonesia pada tahun 1982

mendapatkan hasil2,7%o (2 orung) anti HDV positif dari 73

karier hepatitis B dari donor darah. Pada tahun 1985,

Suwignyo dkk melaporkan, di Mataram, pada pemeriksaan

terhadap 90 karier hepatitis B, ada  satu anti HDV positif

0,1w.

Hepatitis E (IIEV) di Indonesia pertama kali dilaporkan

terjadi di Sintang Kalimantan Barat yang diduga terjadi

akibatpencemaran sungai yang dipakai  untuk aktivitas

sehari-hari. Didapatkan HEV positif sebanyak 28182

(34,1%). Letupan kedua terjadi pada tahun 1991, hasil

pemeriksaan menunjukkan HEV positif 78192 orang

HEPATITIS VIRUS AKUT

AndriSanityoso

644

HEPATTTISVIRUSAKUT 645

(84,7%).Di daerah lainjuga ditemukan adanya IIEV seperti

di kabupaten Bawen, Jawa Timur. Pada saat teq'adi letupan

tahwl992,ditemukan2 kasus HEV dari 34 sampel darah.

Dari rumah sakit di Jakarta ditemukan 4 kasus dari 83 sampel.

Gambaran klinis hepatitis virus sangat bervariasi mulai

dari infeksi asimtomatik tanpa kuning sampai yang sangat

berat yaitu hepatitis fulminan yang dapat menimbulkan

kematian hanya dalam beberapa hari. Gejala hepatitis akut

terbagi dalam 4 tahap yaitu:

tahap  inkubasi. Merupakan waktu antara masuknya virus

dan timbulnya gejala atau ikterus. tahap  ini berbeda-beda

lamanya untuk tiap virus hepatitis- Panjang tahap  ini

tergantung pada dosis inokulum yang ditularkan dan jalur

inkubasi ini.

tahap  prodromal (pra ikterik). tahap  diantara timbulnya

keluhan-keluhan pertama dan timbulnya gejala ikterus.

Awitannya dapat singkat atat insidious ditandai dengan

malaise umum, mialgia, atralgia, mudah lelah, gejala saluran

napas atas dan anoreksia. Mual, muntah dan anoreksia

berhubungan dengan perubahan penghidu dan rasa kecap.

Diare atau konstipasi dapat terjadi. Serum siclmess dapat

muncul pada hepatitis B akut di awal infeksi. Demam derajat

rendah umumnya terjadi pada hepatitis A akut. Nyeri ab-

domen biasanya ringan dan menetap di kuadran kanan

atas atau epigastrium, kadang diperberat dengan aktivitas

akan namun  jarang menimbulkan kolesistitis.

tahap  ikterus. Ikterus muncul setelah 5-10 hari, namun  dapat

juga muncul bersamaan dengan munculnya gejala. Pada

banyak kasus tahap  ini tidak terdeteksi. Setelah timbul ikterus

jarang terjadi perburukan gejala prodromal, namun  justru

akan terjadi perbaikan klinis yang nyata.

tahap  konvalesen (penyembuhan). Diawali dengan

menghilangnya ikterus dan keluhan lain, namun 

hepatomegali dan abnormalitas fungsi hati tetap ada.

Muncul perasan sudah lebih sehat dan kembalinya nafsu

makan. Keadaan akut biasanya akan membaik dalam2-3

minggu. Pada hepatitis Aperbaikan klinis dan laboratorium

lengkap terjadi dalam 9 minggu dan 16 minggu untuk

hepatitis B. Pada 5-10% kasus pe{alanan klinisnya mrurgkin

lebih sulit ditangani, hanya < lYoyangmenjadi fulminan.

AGEN pemicu  HEPATITIS VIRUS

Secara umum agen pemicu  hepatitis virus dapat

diklasifikasikan kedalam dua grup yaitu hepatitis dengan

transmisi secara enterik dan transmisi melalui darah.

Transmisi Secara Enterik

Terdiri atas virus hepatitis A (HAV) dan virus hepatitis E

(rrEV):

. virus tanpa selubung

. tahan terhadap cairan empedu

. denganpenyakit hati kronik

. tidak terjadi viremia yang berkepanjangan atau kondisi

karier intestinal.

Kemungkinan munculnya jenis hepatitis virus enterik

baru dapat terjadi.

Virus Hepatitis A (HAV)

. Digolongkan dalam picornavirus, subklasifftasi sebagai

hepatovirus

. Diameter2T-28 nmdgnbentukkubus simetrik

. Untai tung gal (single s*anded),molelttlRNA linier: 7,5

kb

. Pada manusia terdiri atas satu serotipe, tiga atau lebih

genotipe.

. Mengandung lokasi netralisasi imunodominan tunggal.

. Mengandung tiga atau empat polipeptida virion di

kapsomer

. Replikasi di sitoplasma hepatosit yang terinfeksi, tidak

ada  bukti yang nyata adanya replikasi di usus.

. Menyebar pada primata non manusia dan gdlur sel

manusia.

Virus Hepatitis E (HEV)

. Kemungkinan diklasihkasi pada famili yang berbeda

yaitu pada virus yang menyerupai hepatitis E

. Diameter2T-34nrn

. MolekulRNAlinre1;7,2kb

. Genome RNA dengan tiga overlap ORF (open reading

frames) mengkode protein struktural dan protein non-

struktural yang terlibat pada replikasi HEV. RN,4

replicase, helicas e, cys tein proteas e, methyltransferas e

. Pada manusia hanya terdiri atas satu serotipe, empat

sampai lima genotipe utama

. Lokasinetralisasiimunodominanpadaproteinstr.rkflual

dikodekan oleh ORF kedua

. Dapat menyebar pada sel embrio diploid paru.

. Replikasi hanya terjadi pada hepatosit.

Transmisi Melalui Darah

Terdiri atas virus hepatitis B QIBV), virus hepatitis D QiDV)

dan virus hepatitis C (HCV):

. Virus dengan selubung (envelope)

. Rusak bilaterpajan cairan empedu / detergen

. Tidak ada  dalam tinja

. Dihubungkan dengan penyakit hati laonik

. Dihubungkan dengan viremia yang persisten

Virus hepatitis B (HBV)

. VirusDNAhepatotropik,Hepadnaviridae

. Terdiri atas 6 genotipe (A sampai H), terkait dengan

646 HEPAXIOBILIER.

derajat beratnya dan respons terhadap terapi

. 42nmpartikel sferis dengan:

. Inti nukleokapsid, densitas elektron,diameter2T nm

. Selubung luar lipoprotein dgn ketebalanT nm

. IntiHBVmengandung, dsDNApartial(3,2kb)dan:

. Protein polimerase DNA dengan aktivitas reverse

transcriptase.

. Antigen hepatitis B core (HbcAg), merupakan

protein strukhral

. Antigen hepatitis B e (HbeAg), protein non-

struktural yang berkorelasi secara tidak sempurna

dengan replikasi aktif HBV

. Selubung lipoprotein HBV mengandung:

. Antigen permukaan hepatitis B (HBsAg), dgn tiga

selubung protein: utama, besar dan menengah.

. Lipid minor dan komponen karbohidrat.

. IIbsAg dalam bentuk partikel non infeksius dengan

bentuk sferis 22 nm atau tubular.

. Satu serotipe utama dengan banyak subtipe

berdasar  keanekaragaman protein IIbsAg.

. Virus HBV mutan merupakan konsekuensi kemampuan

proofreading yang terbatas dai reverse transcriptase

atau munculnya resistensi. Hal ini  meliputi:

. IIbeAg negatif mutasi precorelcore

. Mutasi yang diinduksi oleh vaksin HBV

. MutasiYMDDolehsebab lamivudin.

. Hati merupakan tempat utama replikasi di samping

tempat lainnya.

Virus Hepatitis D (HDV)

. MrusRNAtidaklengkap,memerlukanbantuandariHBV

untuk ekspresinya, patogenesitas tapi tidak untuk

replikasi.

. Hanya dikenal satu serotipe dengan tiga genotipe.

. Partikel sferis 35-27 nm, diselubungi oleh lapisan lipo-

protein IIBV (IIBsAG) 19 nm shrktur mirip inti.

. Mengandung suatu antigen nuclear phosphoprotein

(IIDVantigeQ

. MengikatRNA

. Terdiri dari 2 isoforms: yang lebih kecil mengandrurg

195 asam amino dan yang lebih besar mengandung

214 asamamino.

. Antigen HDV yang lebih kecil mengangkut RNA ke

dalam inti; merupakan hal esensial untuk replikasi.

. AntigenHDVyanglebihbesar : mengharnbatrephkasi

IIDV RNA dan berperan pada perakitan HDV.

. RNA HDV merupakan untai tunggal, covalently close

dan sirkular

. Mengandungkurang dari 1680 nukleotida, merupakan

genom RNA terkecil diantara virus binatang.

. Replikasi hanya pada hepatosit

Virus hepatitis C (HCV)

. Selubung glikoprotein. Virus RNAuntai tunggal

Partikel sferis, inti nukleokapsid 33 nm

Termasuk klasifikasi F laviviridae, genus hepacivirus

Genome HCV terdiri atas 9400 nukleotida, mengkode

protein besar sekitar residu 3000 asam amino.

. ll3 bagian dari poliprotein terdiri atas protein

stnrktural

. Protein selubung dapat menimbulkan antibodi

netralisasi.

. Regio hipervariabel terletak diE2

. Sisa 2/3 dari poliprotein terdiri atas protein

nonstruktural (dinamakan NS2, NS3, NS4A, NS4B,

dan NS5 B) terlibat dalam replikasi HCV.

. Hanya ada satu serotipe yang dapat diidentifikasi,

ada  banyak genotipe dengan distribusi yang

bervariaSi di seluruh dunia.

EPIDEMIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

Virus HepatitisA(HAV)

. Masainkubasi 15-50hari (rata-rata 30 hari)

Distribusi di seluruh dunia; endemisitas tinggi di negara

berkembang

II"{V diekskresi di tinj a oleh orang yang terinfeksi selama

l-2 minggu sebelum dan 1 minggu setelah awitan

penyakit.

Mremia muncul singkat ( tidak lebih dari 3 minggu),

kadang-kadang sampai 90 hari pada infeksi yang

membandel atau infeksi yang kambuh.

Ekskresi feses yang memanjang (bulanan) dilaporkan

pada neonatus yang terinfeksi.

Transmisi enterik (fekal-oral) predominan di antara

anggota keluarga. Kejadian luar biasa dihubungkan

dengan sumber umum yang dipakai  bersama,

makanan terkontaminasi dan air.

Faktor risiko lain, meliputi paparan pada :

. Pusatperawatan sehariuntukbayi atauanakbalita.

. Institusi rttotuk developmentally disadvantage

. Bepergian ke negara berkembang

. Perilakuseksoral-anal

. Pemakaian bersama pada IVDU (intravena drug

user)

Tak terbukti adanya penularan matemal-neonatal

Prevalensi berkorelasi dengan standar sanitasi dan

rumah tinggal ukuran besar

Transmisi melalui transfusi darah sangat jarang

Virus Hepatitis E (HEV)

Masa inkubasi rata-rata 40 hari

Distribusi luas, dalam bentuk epidemi dan endemi

HEV RNA ada  di serum dan tinja selama tahap 

akut

Hepatitis sporadik sering pada dewasa muda di negara

sedang berkembang

HEFATITISVIRUSAKUT 647

. Penyakit epidemi dengan sumber penularan melalui air

. Intrafamilial, kasus sekunderjarang

. Dilaporkanadanyatransmisimatemal-neonatal

. Di negara maju sering berasal dari orang yang kembali

pulang setelah melakukan pet' alanan atau imigran baru

dari daerah endemik.

. Viremia yang memanjalg ata:u pengeluaran di tinja

merupakan kondisi yang tidak sering dijumpai.

. Zoonosis: babi dan binatang lain

Virus Hepatitis B (HBV)

. Masa inkubasi I 5- I 80 hari (rata-rata 60-90 hari)

. Viremia berlangsung selama beberapa minggu sampai

bulan setelah infeksi akut

. Sebanyak l-5olo dewasa, 90olo neonatus dan 50% bayi

akanberkembang menjadi hepatitis kronik dan viremia

yang persisten

. Infeksi persisten dihubungkan dengan hepatitis kronik,

sirosis dan kanker hati.

. Distribusi di seluruh dunia: Prevalensi karier di USA <

loh,diasia 5-15%.

. IIBV ditemukan di darah; semen, sekret servikovaginal,

saliva, cairan tubuh lain.

. Caratransmisi

. Melalui darah: penerimaproduk darah,IVDU, pasien

hemodialisis, pekerj a kesehatan, pekerja yang

terpapar darah

. Transmisi seksual

. Penetrasi jaringan (perkutan) ataupennukosa :

tertusuk jarum, Penggunaan ulang peralatan medis

yang terkontaminasi, penggunaan bersama pisau

cukur dan silet, tato, aklrpunktur, tindik,

penggunaan sikat gigi bersama

. Transmisimatemal-neonatal,matemal-infant

. Tak ada bukti penyebaran fekal-oral

HepatitisVirus D (HDV)

1. Masa fukubasi diperkirakan4-7 minggu

2. Endemis di Mediterania, Semenanjung Balkan, bagian

Eropa bekas Rusia.

Insidensi berkurang dengan adanya peningkatan

pemakaianvaksin

Mremia singkat (infeksi akut) atau memanjang (infeksi

laonik)

Infeksi HDV hanyatef adi pada individu dengan risiko

infeksi HBV (koinfeksi atau superinfeksi)

a. IVDU

b. Homoseksual atau biseksual

c. Resipien donor darah

d. Pasangan seksual

Cara penularan

a. Melalui darah

b. Transmisi seksual

c. Penyebaran maternal - neonatal

Virus Hepatitis G (HCV)

. Masa inkubasi 15-160 hari (puncakpada sekitar 50 hari)

. Viremiayangberkepanjangan dan infeksi yang persisten

umum dijumpai (55-85%). Distribusi geografik

luas

. Infeksi yang menetap dihubungkan dengan hepatitis

kronik, sirosis, kanker hati.

. Prevalensi serologi infeksi lampau / infeksi yang

berlangsung berkisar 1,8% di USA, sedangkan di Italia

dan Jepang dapat mencapai20%o.

. Caratransmisi

. Darah (predominan) : IVDU dan penetrasi jaringan,

resepien produk darah

. Transmisi seksual: efisiensi rendah, frekuensi

rendah.

. Maternal-neonatal: efisiensi rendah, frekuensi

rendah

. Tak ada  bukti transmisi fekal-oral

PATOFISIOLOGI

1. Sistem imun bertanggung jawab untuk terjadinya

kerusakan sel hati

a. Melibatkan respons CDS dan CD4 sel T

b. Produksi sitokin di hati dan sistemik

2. Efek sitopatik langsung dari virus. Pada pasien

imunosupresi dengan replikasi tinggi, akan namun  tidak

ada bukti langsung.

GAMBARAN KLINIS

Pada infeksi yang sembuh spontan : 1). Spektrum

penyakit mulai dari asimtomatik, infeksi yang tidak nyata

sampai kondisi yang fatal sehinggaterjadi gagal hati akut;

2). Sindrom klinis yang mirip pada semua virus pemicu 

mulai dari gejala prodromal yang non spesifik dan gejala

gastrointestinal, seperti: a). malaise, anoreksia, mual dan

muntah. b). gejala flu, faringitis, batuk,coryza, fotofobia,

sakit kepala, dan mialgia; 3). awitan gejala cenderung

muncul mendadak pada HAV dan HEV, pada virus yang

lain secara ins idious ; 4). Demam j arang ditemukan kecuali

pada infeksi HAV; 5). Immune complex mediated, serum

sickness like syndrome dapat ditemukan pada kurang

daril}%opasien dengan infeksi HBV,jarang pada infeksi

virus yang lain; 6). Gejala prodromal menghilang pada

saat timbul kuning, namun  gejala anoreksia, malaise, dan

kelemahan dapat menetap; 7). Ikterus didahului dengan

kemunculan urin berwarna gelap, pruritus (biasanya

ringan dan sementara) dapat timbul ketika ikterus

meningkat; 8). Pemeriksaan fisis menunjukan pembesaran

dan sedikit nyeri tekan pada hati; 9). Splenomegali ringan

dan limfadenopati pada 15%-20% pasien.

648 HEPAI]OBIIJER

2.

3.

4.

5

6

7

GAGAL HATI AKUT (ACUTE LIVER FAILUR+

l. Perubahan status mental (ensefalopati): letargi,

mengantuk, koma, perubahan pola tidur, perubahan

kepribadian.

Edema serebral (biasanya tanpa edema papil)

Koagulopati (pemanjangan masa protrombin)

Gagal organ multipel. ARDS, aritmia jantung, sindrom

hepatorenal, asidosis metabolik, sepsis, perdarahan

gastrointestinal, hipotensi

Asites, dapat anasarka

Cas e fatality rate: 60Yo

Pemeriksaan fisis serial memperlihatkan hati yang

mengecil

8. Frekuensi tinggi mencapai l0%-20%padaperempuan

hamil semester ketiga dengan hepatitis E.

Hepatitis dengan Kolestasis

. Kuning sangat menonjol dan menetap selama beberapa

bulan sebelum te{adinya perbaikan yang komplit

. Pruritus menonjol

. Pada beberapa pasien terjadi anoreksia dan diare yang

persisten

. Prognosis baik pada pasien dengan resolusi yang

komplit

. Paling seringterjadipadainfeksiHAV

Hepatitis Relaps

. Kemunculan kembali gejala dan abnormalitas tes hati

setelah beberapa minggu sampai beberapa bulan

setelah perbaikan atau kesembuhan

. Paling sering terjadi pada infeksi HAV, IgM anti HAV

tetap positif dan dijumpai HAV di tinja.

. Dapat dijumpai artritis, vaskulitis dan krioglobulinemia.

. Prognosis baik padayang sembuh sempurnawalaupun

setelah kambuh yang berulang (terutama dijump ai pada

anak)

Laboratorium

Pada pasien yang sembuh spontan

. Gambaran biokimia yang utama yaitu . peningkatan

konsentrasi serum alanin dan aspartat amino-

transferase

. Konsentrasi puncakbervariasi dari 500 sampai 5000 U/

L

. Konsentrasi serum bilirubin jarang melebihi 10 mgldl-,

kecuali pada hepatitis dengan kolestasis

. Konsentrasi serum fosfatase alkali normal atathatya

meningkat sedikit

. Masaprotrombinnormalataumeningkatantara l-3 detik

. Konsentrasi serum albumin normal atau menurun

rlngan.

. Hapusan darah tepi normal atau leukopenia ringan

dengan ata.u tanpa limfositosis ringan.

Gagal HatiAkut

. Koagulopati yang berat

. Lekositosis, hiponatremia dan hipokalemia umum

dijumpai

. Hipoglikemia

. Elevasi yangnyata dari serum bilirubin dan transami-

nase, namun  aminotransferase akan kembali normal

meskipun penyakit progresif.

Hepatitis dengan Kolestasis

. Konsentrasi bilirubin sbrum dapat melebihi 20 mg/dl

. Konsentrasi serum aminotransaminase dapat kembali

normal walaupun kolestasis masih menetap

. Konsentrasi fosfatase alkali serum meningkat secara

bervariasi

Hepatitis Relaps

. Meningkatnya kembali konsentrasi aminotransferase

dan bilirubin yang sudah normal ,dalam masa

penyembuhan

. Konsentrasi puncak dapat melebihi konsentrasi pada

saat infeksi awal.

Diagnosis

Diagnosis Banding

. Penyakit hati oleh sebab  obat atau toksin

. Hepatitis iskemik

. Hepatitis autoimun

. Hepatitis alkoholik

. Obstruksi akut traktus biliaris

Diagnosis Secara Serologis

1. Transmisi Infeksi secara enterik

a. IIAV

. IgM anti HAV dapat dideteksi selama tahap  akut

dan 3-6 bulan setelahnya.

. Anti HAV yang positif tanpa IgM anti HAV

mengindikasikan infeksi lampau

b. HEV

. Belumtersediapemeriksaanserologikomersial

yang telah disetujui FDA.

. IgM dan IgG anti HEV baru dapat dideteksi oleh

pemeriksaan untuk riset

. IgM anti HEV dapat bertahan selama 6 minggu

setelah puncak dari penyakit.

. IgG anti HEV dapat tetap terdeteksi selama 20

bulan

2. Infeksi melalui darah.

a. HBV

- Diagnosis serologis telah tersedia dengan

mendeteksi keberadaan dari IgM antibodi

terhadap antigen core hepatitis (IgM anti HBc

dan HBs Ag).

. Keduanya ada saat gejala muncul

HEPATITISVIRUSAKUT 649

. HBsAg mendahului IgM anti HBc

. HbsAg merupakan petanda yang pertama

kali diperiksa secara rutin

. HbsAg dapat menghilang biasanya dalam

beberapa minggu sampai bulan setelah

kemunculannya, sebelum hilangnya IgM

antiHBc

- HbeAgdanHBVDNA

. HBV DNA di serum merupakan petanda

yang pertama muncul, akan namun  tidak

rutindiperiksa.

. HbeAg biasanya terdeteksi setelah

kemunculan IIbsAg

. Kedua petanda ini  menghilang dalam

beberapa minggu atau bulan pada infeksi

yang sembuh sendiri. Selanjutnya akan

muncul anti HBs dan anti Hbe menetap.

. Tidak diperlukan unflrk diagnosis rutin

- IgGantiHBc

. Menggantikan IgM anti IIBc pada infeksi

yang sembuh

. Membedakan infeksi lampau atau infeksi

yang berlanjut.

. TidakmunculpadapemberianvaksinHBV

- Antibodi terhadap IIbsAg (anti HBs)

. Antibodi terakhir yang muncul

. Merupakan antibodi penetral

. Secaraumummengindikasikankesembuhan

dan kekebalan terhadap reinfeksi

. DimunculkandenganvaksinasiHBV

}IDV

- Pasien IIBsAg positif dengan:

. Anti HDV dan atau HDV RNA sirkulasi

(pemeriksaan belum mendapat persetujuan)

. IgM anti HDV dapat muncul sementara.

- KoinfeksiHBV/I{DV

. HBsAg positif

. IgM anti HBc positif

. AntiFIDVdanatauHDVRNA

- Superinfeksil{Dv

. HBsAg positif

. IgG anti HBc positif

. AntiHDVdanatauHDVRNA

- Titer anti HDV akan menurun sampai tak

terdeteksi dengan adaty a perbaikan infeksi.

HCV

- Diagnosis serologis

. DeteksiantiHCV

. Anti HCV dapat dideteksi pada 60 % pasien

selama tahap  akut dari penyakit,35o/o sisanya

akan terdeteksi pada beberapa minggu atau

bulankemudian.

. Anti HCV tidak muncul pada < 5%o pasien

yang terinfeksi (Pada pasien HIV, anti HCV

tidak muncul dalam persentase yang lebih

besar)

. Pemeriksaan IgM anti HCV dalam

pengembangan. (belum disetujui FDA)

. Secaxa umum anti HCV akan tetap terdeteksi

untuk periode yang panjang, baik pada

pasien yang mengalami kesembuhan

spontan maupun yang berlanjut menjadi

kronik.

- HCVRNA

. Merupakan petanda yang paling awal

muncul pada infeksi akut hepatitits C.

. Muncul setelah beberapa minggu infeksi

. Pemeriksaan yar,g mahal. Untuk

mendiagnosis penyakit tidak rutin dilakukan,

kecuali pada keadaan dimana dicurigai

adanya infeksi pada pasien dengan anti HCV

negatif.

. DitemukanpadainfeksikronikHCV

PERJALANAN ALAMIAH DAN OUTCOME

lnfeksi dengan transmisi secara enterik (IIAV & HEV) : 1).

Perbaikan komplit dari klinis, histologis, dan biokimia akan

te{adi dalam 3-6 bulan; 2).Pada gagal hati akut kadang

terjadi: a). fatalitas pada HAV tergantung umur (risiko

meningkat pada umur > 40 tahun), b). risiko meningkat

pada perempuan hamil dengan infeksi HEV, c). risiko

meningkat pada pasien yang telah memiliki  penyakit

hati sebelumnya; 3). Tidak pernah menjadi kronik atau

karier virus yang berkepanjangau

Infeksi dengan Transmisi Melalui Darah (HBV,

HDV dan HCV)

I. HBV

a. Risiko untuk kronisitas tergantung umur, menurun

secara progresif dengan meningkatnya umur.

. 90 yo infeksi pada neonatus akan berkembang

menjadi karier

. l-5% pasien dewasa akan berkembang menjadi

laonik.

b. Gagalhati akutpada < l% infeksi akut

c. Infeksi persisten (HBsAg positif dengan atau tanpa

replikasi aktifHBV)

. Karier asimtomatik dengan gambaran histologi

normal atau non-spesifik

. Hepatitis kronik, sirosis, karsinoma

hepatoselular.

. Dihubungkan dengan glomerulonefritis

membranosa, poliarteritis nodosa, dan yang

lebih j arang krio globulinemi a c amptr an (mix e d

cryoglobulinemia).

2. IIDV

a. Koinfeksi HDV dan HBV biasanya sembuh spontan

6s0 HEPAI1OBILIER

dan sembuh tanpa gejala sisa.

b. Gagal hati akut lebih sering pada superinfeksi HDV

dibanding dengan koinfeksi dengan HBV

c. Superinfeksi HDV dapat berlanjut menjadi HDV

kronik superimposed dengan HBV kronik dan

berkembang menjadi hepatitis kronik berat dan

srrosls.

3. HCV

a. 15-45% akan sembuh spontan

b. Kejadian akut sangat jarang dijumpai.

c. Umumnya akan terjadi infeksi menetap dengan

viremia yang memanjang dan konsentrasi serum

aminotransferase yang meningkat atau berfluktuasi.

d. Histologi pada infeksi HCV persisten

. Hepatitis kronik - inflamasi ringan, sedang,

berat.

. Porta, periporta, bridging fibrosu atau sirosis

e. Risiko utuk terjadinya karsinoma hepatoselular pada

pasien yang telah mengalami sirosis.

f Dihubungkan dengan

. Mixedcryoglobulinemia

. Cutaneous vasculitis

. . Glomerulonefritis membranosa

. Porphyria cutanea tarda.

PENGOBATAN

lnfeksi yang Sembuh Spontan

1. Rawatjalan, kecuali pasien dengan mual atau anoreksia

. berat yang akan memicu  dehidrasi

2. Mempertahankan asupankalori dan cairanyang adekuat

. Tidak ada rekomendasi diet khusus

. Makan pagi dengan porsi yang cukup besar

merupakan makanan yang paling baik ditoleransi.

. Menghindari konsumsi alkohol selama tahap  akut

3. Aktivitas fisis yang berlebihan dan berkepanjangan

harus dihindari

4. Pembatasan aktivitas sehari-hari tergantung dari derajat

kelelahan dan malaise

5. Tidak ada pengobatan spesihk untuk hepatitis A, E, D.

Pemberian interferon-alfa pada hepatitis C akut dapat

menurunkan risiko kejadian infeksi kronik. Peran

belum jelas. Kortikosteroid tidak bermanfaat.

6. Obat-obat yang tidak perlu harus dihentikan.

Gagal HatiAkut

1. PerawatandiRS

. Segera setelah diagnosis ditegakkan

. Penanganan terbaik dapat dilakukanpada RS yang

menyediakan program transplantasi hati.

2. Belum ada terapi yang terbukti efektif

3. Tujuan

. Sementara menunggu perbaikan infeksi spontan

dan perbaikan fungsi hati dilakukan monitoring

kontinu dan terapi suportif.

. Pengenalan dini dan terapi terhadap komplikasi yang

mengancamnyawa

. Mempertahankan fungsi vital

. Persiapan transplantasi bila tidak ada 

perbaikan.

4. Angka survival mencapai 65-15% bila dilakukan

transplantasi dini

Hepatitis Kolestasis

l. Perjalanan penyakit dapat dipersingkat dengan

pemberian jangka pendek pE4lfsgl atau e!4lq

ursodioksikofat. Hasil penelitian masih belum tersedia.

2. s dapat dikontrol dengan kolestiramin.

Hepatitis relaps. Penanganan serupa dengan hepatitis

yang sembuh spontan.

PENCEGAHAN

Pencegahan Terhadap lnfeksi Hepatitis dengan

Penularan Secara Enterik HAV

Pencegahan dengan imunoprofilaksis

1. Imunoprofilaksis sebelum paparan

a. VaksinllAVyangdilemahkan

. Efektivitas tinggi (Angkaproteksi 94-100%)

. Sangat imunogenik (Hampi L}0%opadasubyek

sehat)

. Antibodiprotektifterbentukdalam 15haripada

85-90% subjek

. Aman, toleransi baik

. Efektifrtas proteksi selama 20-50 tahun

. Efek samping utama yaitu  nyeri di tempat

penyuntikan.

b. Dosis dan jadual vaksin HAV

. > 19 tahun.2 dosis of HAVRIX@ (1440 Unit

Elisa) dgn interval6-12 bulan

. Anak > 2 tahun. 3 dosis HA\aRIX@ (360 Unit

Elisa), 0, l, dan6-l2bulanatat2 dosis (720 Unit

Elisa),0, 6-l2bdarr

c. Indikasi vaksinasi

. Pengunjung ke daerah risiko tinggi

. Homoseksual dan biseksual

. IVDU

. Anak dan dewasa muda pada daerah yang

pernah mengalami kejadian luar biasa luas

. Anak pada daerah dimana angka kejadian HAV

lebih tinggi dari angka nasional

. Pasien yang rentan dengan penyakit hati kronik

. Peker{a laboratorium yang menangani HAV

. Pramusaji

HEPAITflSVIRUSAKUT 651

. Pekerjapadabagianpembuangan air

2. Imunoprofilaksis pasca paparan

. Keberhasilan vaksin HAV pada pasca paparan

belumjelas

. Keberhasilan imunoglobulin sudah nyata akan

namun  tidak sempuma.

. Dosisdanjadwalpemberian imunoglobulin:

. Dosis 0,02 ml/kg, suntikan pada daerah deltoid

sesegera mungkin setelah paparan.

. Toleransi baik, nyeri pada daerah suntikan

. Indikasi: kontak erat dan kontak dalam rumah

tangga dengan infeksi HAV akut

HH/

Kemunculan IgG anti HEV pada kontak dengan pasien

hepatitis E dapat bersifat proteksi, akan namun  efektifitas

dari imunoglobulin yang mengandung anti HEV masih

belumjelas.

. Pengembangan imunoglobulin titer tinggi sedang

dilakukan.

. Vaksin HEV sedang dalam penelitian klinis pada daerah

. endemik.

HBV

Pencegahan pada lnfeksi yang Ditularkan Melalui

Darah

Dasar utama imunoprofilaksis yaitu  pemberian vaksin

hepatitis B sebelum paparut.

l. Imunoprofrlaksis vaksin hepatitis B sebelum paparan

a. Vaksin rekombinan ragi

. Mengandung IIBsAg sebagai imunogen

. Sangat imunogenik, menginduksi konsentrasi

proteksi anti HBsAg p ada> 95oh pasien dewasa

muda sehat setelah pemberian komplit 3 dosis.

. Efektifitas sebesar 85-95% dalam mencegah

infeksiHBV

. Efeksampingutama

l. Nyeri sementara pada tempat suntikan pada

tM5%

2. Demamringan dan singkatpada < 3%

. Booster tidak direkomendasikan walaupun

setelah l5 tahun imunisasi awal

. Booster hanya untuk individu dengan

imunokompromais jika titer di bawah I 0mU/mL

r Peran imunoterapi untuk pasien hepatitis B

kronik sedang dalam penelitian

b. Dosis dan jadwal vaksinasi HBV. Pemberian IM

(deltoid) dosis dewasa untuk dewasa, unhrk bayi,

anak sampai umur 19 tahun dengan dosis anak (1/2

dosis dewasa), diulang pada I dan 6 bulan

kemudian

c. Indikasi

. Imunisasi universal untuk bayi baru lahir

. Vaksinasi catch up untuk anak sampai umur 19

tahun (bila belum divaksinasi)

. Gruprisikotinggi: 1. Pasangan dan anggota

keluarga yang kontak dengan karier hepatitis B.

2. Pekerja kesehatan dan pekerja yang terpapar

darah, 3. IVDU.4. Homoseksual danbiseksual

pria, 5. Individu dengan banyak pasangan

seksual. 6. Resipien transfusi darah,7. Pasien

hemodialisis, 8. Sesama narapidana, 9. Individu

dengan penyakit hati yang sudah ada (misal

hepatitis Ckronik)

2. Imunoprofilaksis pasca paparan dengan vaksin

hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B (HBIG).

Indikasi:

. Kontak seksual dengan individu yang terinfeksi

hepatitis akut: 1). Dosis 0,04-0,07 ml/kg HBIG

sesegera mungkin setelah p aparaq 2). Vaksin HBV

pertama diberikan pada saat atau hari yang sama

pada deltoid sisi lain; 3). Vaksin kedua dan ketiga

diberikan I dan 6 bulan kemudian.

. Neonatus dari ibu yang diketahui mengidip HBsAG

positif: 1). Setengah mili liter HBIG diberikan dalam

waktu 12 jam setelah lahir di bagian anterolateral

otot paha atas; 2). Vaksin HBV dengan dosis 5-10

ug, diberikan dalam waktu 12 jam pada sisi lain,

diulang pada 1 dan 6 bulan.

. Efektivitas perlindunganmelampaui 95%.

Vaksin Kombinasi Untuk Perlindungan dari

Hepatitis A dan B

Vaksin kombinasi (Twinrix-GlaxoSmithKline@)

mengandung 20ug protein lIBsAg @ngerix B@) dan > 720

Unit Elisa hepatitis A virus yang dilemahkan (Havrix@)

memberikan proteksi ganda dengan pemberian suntikan 3

kali berjarak 0, I dan 6 bulan.

Diindikasikan untuk iqdividu dengan risiko baik

terhadap infeksi HAV maupun HBV.

REKOMENDASI UMUM

,

. Pasien dapat dirawat jalan selama terjamin hidrasi dan

intake kalori yang cukup

. Tirah baring tidak lagi disarankan kecuali bila pasien

mengalami kelelahan yang berat.

. Tidak ada diet yang spesifik atau suplemen yang

memberikan hasil efektif

. Protein dibatasi hanya pada pasien yang mengalami

ensefalopati hepatik.

. Selama tahap  rekonvalesen diet tinggi protein dibutuhkan

untuk proses penyembuhan.

652 HEPATOBILIER

Alkohol harus dihindari dan pemakaian obat-obatan

dibatasi.

Obat-obat yang dimetabolisme di hati harus dihindari

akan namun  bila sangat diperlukan dapat diberikan

dengan penyesuaian dosis.

Pasien diperiksa tiap minggu selama tahap  awal penyakit

dan terus evaluasi sampai sembuh.

Harus terus dimonitor terhadap kejadian ensefalopati

seperti kesadaran somnolen, menganfuk dan asteriks.

Masa protrombin serum merupakan petanda yang baik

untuk menilai dekompensasi hati dan menentukan saat

yang tepat untuk dikirim ke pusat transplantasi.

Memonitor konsentrasi transaminase serum tidak

membantu dalam hal menilai fungsi hati pada keadaan

hepatitis fulminan sebab  konsentrasinya akan turun

setelah terjadi kerusakan sel hati masif.

Anti mual muntah dapat membantu meghilangkan

keluhanmual.

Pasien yang menunjukkan gejala hepatitis fulminan

harus segera dikirim ke pusat transplantasi.

Transplantasi hati bisa merupakan prosedur

penyelamatan hidup untuk pasien yang mengalami

dekompensasi setelah serangan akut hepatitis.

Pasien dengan hepatitis akut tidak memerlukan

perawatan isolasi.

Orang yang merawat pasien hepatitis akutA dan E harus

selalu mencuci tangannya dengan sabun dan air.

Orang yang kontak erat dengan pasien hepatitis B akut

seharusnya menerima vaksin hepatitis B.


HEPATITIS B KRONIK

Soewignjo Soemohardjo, Stephanus Gunawan

setelah kontak reseptor sel T ini  dengan kompleks

peptida VHB- MHC kelas I yang ada pada permukaan

dinding sel hati dan pada permukaan dinding Antigen

Presenting Cel (APC) dan dibantu rangsangan sel T CD4+

yang sebelumnya sudah mengalami kontak dengan

kompleks peptidaVHB-MHC kelas II pada dindinCAPc.

Peptida VHB yang ditampilkan pada permukaan dinding

sel hati dan menjadi antigen sasaran respons imun yaitu 

peptida kapsid yaitu HBcAg atau HBeAg. Sel T CDS+

selanjutnya akan mengeliminasi virus yang ada di dalam

sel hati yang terinfeksi. Proses eliminasi ini  bisa

terjadi dalam bentuk nekrosis sel hati yang akan

memicu  meningkatnya ALT atau mekanisme sitolitik.

Di samping itu dapat juga terjadi eliminasi virus intrasel

tanpa kerusakan sel hati yang terinfeksi melalui aktivitas

Interferon gamma dan Tissue Necrotic Factor (TNF) alfa

yang dihasilkan oleh sel T CD8+ (mekanisme nonsitolitik).

Aktivasi sel limfosit B dengan bantuan sel CD4+ akan

memicu  produksi antibodi antara lain anti-HBs, anti-

HBc dan anti-HBe. Fungsi anti-HBs yaitu  netralisasi

partikel VHB bebas dan mencegah masuknya virus ke

dalam sel. Dengan demikian anti-HBs akan mencegah

penyebaran virus dari sel ke sel. Infeksi kronik VHB bukan

disebabkan gangguan produksi anti-HBs. Buktinya pada

pasien Hepatitis B Kronikt emy ata dapat ditemukan adanya

anti-HBs yang tidak bisa dideteksi dengan metode

pemeriksaan biasa sebab  anti-HBs bersembunyi dalam

kompleks dengan HBsAg.

Bila proses eliminasi virus berlangsung efisien maka

infeksi VHB dapat diakhiri, sedangkan bila proses ini 

kurang efisien maka terjadi infeksi VHB yang menetap.

Proses eliminasi VHB oleh respons imun yang tidak efi sien

dapat disebabkan oleh faktor vrRUS ataupun faktor pejamu.

Faktor virus antara lain: terjadinya imunotoleransi

terhadap produk VHB, hambatan terhadap CTL yang

berfungsi melakukan lisis sel-sel terinfeksi, terjadinya


Dalam l0 tahun terakhir telah te{adi perubahan besar dalam

pengertian, diagnosis serta klasifikasi hepatitis B kronik.

Perubahan ini sangat besar pengaruhnya terhadap

penatalaksanaanpasien. Salah satu yang mendasar yaitu 

tentang perubahan definisi hepatitis B kronik. Pada saat

ini definisi hepatitis B kronik yaitu  adanya persistensi

virus hepatitis B (VHB) lebih dari 6 bulan, sehingga

pemakaian istllah carrier sehat (healty carrier) tidak

dianjurkan lagi.

Hepatitis B kronik merupakan masalah kesehatan besar

terutama di Asia, dimana ada  sedikitnya 75% dai

seluruhnya 300 juta individu IIBsAg positif menetap di

seluruh dunia. Di Asia sebagian besar pasien B kronik

mendapat infeksi pada masa perinatal. Kebanyakan pasien

ini tidak mengalami- keluhan ataupun gejala sampai

akhirnya terjadi penyakit hati kronik.

PATOGEN ESIS PERSISTENSI VH B

Virus hepatitis B (VHB) masuk ke dalam tubuh secara

parenteral. Dari peredaran darah partikel Dane masuk ke

dalam hati dan terjadi proses replikasi virus. Selanjutnya

sel-sel hati akan memproduksi dan mensekresi partikel Dane

utuh, partikel HBsAg bentuk bulat dan tubuler, dan HBeAg

yang tidak ikut membentukpartikel virus. VHB merangsang

respons imun tubuh, yang pertama kali dirangsangyaitu 

respons imun nonspesifrk (innate immune response)

sebab  dapat terangsang dalam waktu pendek, dalam

beberapa menit sampai beberapa jam. Proses eliminasi

nonspesifik ini terjadi tanpa restriksi HLA, yaitu dengan

memanfaatkan sel-sel NK dan NK-T.

Untuk proses eradikasi VHB lebih lanjut diperlukan

respons imun spesifik, yaitu dengan mengaktivasi sel

limfosit T dan sel limfosit B. Aktifasi sel T CDS+ terjadi

653

654 HEPAIIOBILIER,

mutan VHB yang tidak rriemproduksi HBeAg, integrasi

genom VHB dalam genom sel hati.

Faktor pejamu antara lain: faktor genetik, kurangnya

produksi IFN, adanya antibodi terhadap antigen

nukleokapsid, kelainan fungsi limfosit, respons

antiidiotipe, faktor kelamin atau hormonal.

Salah satu contoh peran imunotoleransi terhadap

produk VHB dalam persistensi VHB yaitu  mekanisme

persistensi infeksi VHB pada neonatus yang dilahirkan

oleh ibu HBsAg dan HBeAg positif. Diduga persistensi

ini  disebabkan ad.anya imunotoleransi terhadap

HBeAg yang masuk ke dalam tubuh janin mendahului

invasi VHB, sedangkan persistensi pada usia dewasa

diduga disebabkan oleh kelelahan sel T sebab  tingginya

konsentrasi partikel virus. Persistensi infeksi VHB dapat

disebabkan sebab  mutasi pada daerahprecore dari DNA

yang memicu  tidak dapat diproduksinya HBeAg.

Tidak adanya HBeAg pada mutan ini  akan

menghambat eliminasi sel yang terinfeksi VHB.

PERJALANAN PENYAKIT HATI

Sembilan puluh persen individu yang mendapat infeksi

sejak lahir akan tetap HBsAg positif sepanjang hidupnya

dan menderita Hepatitis B Kronik, sedangkan hanya 5o/o

individu dewasa yang mendapat infeksi akan mengalami

persistensi infeksi. Persistensi VHB menimbulkan kelainan

yang berbeda pada individu yang berbeda, tergantung

dari konsentrasi partikel VHB dan respons imun tubuh.

Interaksi antara VHB dengan respons imun tubuh terhadap

VHB, sangat besar perannya dalam menentukan derujat

keparahan hepatitis. Makin besar respons imun tubuh

terhadap virus, makin besar pula kerusakan jaringan hati,

sebaliknya bila tubuh toleran terhadap virus terse.but maka

tidak terjadi kerusakan hati.

Ada 3 tahap  penting dalam perjalanan penyakit

Hepatitis B Kronik yaitu tahap  imunotoleransi, tahap 

imunoaktif atau tahap  immune clearance,dan tahap 

nonreplikatif atau tahap  res idual.P adamasa anak-anak atau

pada masa dewasa muda, sistem imun tubuh toleran

terhadap VHB sehingga konsentrasi virus dalam darah

dapat sedemikian tingginya, namun  tidak terjadi peradangan

hati yang berarti. Dalam keadaan itu VHB ada dalam tahap 

replikatif dengan titer HBsAg yang sangat tinggi, HBeAg

positif, anti-HBe negatif, titer DNA VHB tinggi dan

konsentrasiALT yang relatif normal. tahap  ini disebut tahap 

imunotoleransi. Pada tahap  imunotoleransi sangat jarang

terjadi serokonversi HBeAg secara spontan, dan terapi

untuk menginduksi serokonversi HBeAg ini  biasanya

tidak efektif. Pada sekitar 30% individu dengan persistensi

\{HB akibat terjadinya replikasi VHB yang berkepanjangan,

terjadi proses nekroinflamasi yang tampak dari kenaikan

konsentrasi ALT. Pada keadaan ini pasien mulai kehilangan

toleransi imun terhadap VHB. tahap  ini disebut tahap 

imunoaktif atau immune clearance. Pada tahap  ini tubuh

berusaha menghancurkan virus dan menimbulkan

pecahnya sel-sel hati yang terinfeksi VHB. Pada tahap 

imunoaktif serokonversi HBeAg baik secara spontan

maupun sebab  terapi lebih sering terjadi. Sisanya, sekitar

70o/, dariindividu ini  akhimya dapat menghilangkan

sebagian besar partikel VHB tanpa ada kerusakan sel hati

yang berarli. Pada keadaan ini, titer HBsAg rendah dengan

HBeAg yang menjadi negatif dan anti-HBe yang menjadi

positif secara spontan, serta konsentrasi ALT yang

normal, yang menandai tegadinya tahap  nonreplikatif atau

tahap  residuaL Sekitar 20-30 % pasien Hepatitis B Kronik

da_lam tahap  residual dapat mengalami reaktivasi dan

memicu  kekambuhan.

Pada sebagian pasien dalam tahap  residual, pada waktu

terjadi serokonversi HBeAg positif menjadi anti-HBe justru

sudah terjadi sirosis. Hal ini disebabkan sebab  terjadinya

rfibrosis setelah nekrosis yang terjadi pada kekambuhan

yang berulang-ulang sebelum terjadinya serokonversi

ini . Dalam tahap  residua[ replikasi VHB sudah

mencapai titik minimal dan penelitian menunjukkan bahwa

angka harapan hidup pada pasien yang anti-HBe positif

lebih tinggi dibandingkan pasien HBeAg positif. Penelitian

menunjukkan bahwa setelah infeksi Hepatitis B menjadi

tenang justru risiko untuk terjadi karsinoma hepatoselular

(KHS) mungkin meningkat. Sebagai contoh, Onata

melaporkan dari 500 pasien KHS, 53 orang (lloh)

menunjukkan HBsAg yang positif. Dari jumlahir;tt, 46 (87%)

anti-HBe positif dan 30% HBeAg positif. Diduga integrasi

genom VHB ke dalam genom sel hati merupakan proses

yang penting dalam karsinogenesis. sebab  itu, terapianti

vurus harus diberikan selama mungkin untuk mencegah

sirosis tapi di samping itu juga sedini mungkin untuk

mencegah integrasi genom VHB dalam genom sel hati yang

dapat berkembang menj adi KHS.

HBeAg PADAHEPATITIS B KRONIK

Parameter untuk mengukur replikasi \{HB yang biasa dipakai

yaitu  HBeAg dan anti-HBe serta konsentasi DNA VHB.

Ada2 kelompok pemeriksaan DNA VHB yang lazim dipakai

yaitu metode hibridisasi dan amplifftasi sinyal (non PCR)

dan PCR. Belakangan ini banyak dipakai metode PCR

kuantitatif. Pada saat ini nilai DNA VHB yang dipilih sebagai

kriteria dignostik hepatitis B kronik yaitu  105 kopilml yang

merupakan batas kemampuan deteksi metode non PCR.

Metode non amplifftasi memiliki  kepekaan sampai 105-

106 kopilml, sedang PCRmemiliki  kepekaan 10-100 kopi/

ml. Pada tahap  replikatif nilai DNA VHB lebih besar dari I 05

kopilrnl. Dengan demikian bila DNA VHB tidak bisa dideteksi

dengan metode non PCR maka infeksi VHB dianggap sudah

tidak aktif. Dalam keadaan normal, pada tahap  replikatif

didapatkan titer HBsAg yang sangat tinggi, HBeAg positif

HEFATITISBKRONIK 055

dan anti-[IBe negatif serta konsentrasi DNA VHB yang

tinggi. Pada sekelompok pasien dengan HBeAg negatif dan

bahkan anti-HBe positif dapat pula dijumpai konsentrasi

DNA VIIB dengan titer yang masih tinggi (> 100.000 atau

105 kopilml) dengan tanda-tanda aktivitas penyakit. Pada

kelompok pasien ini  didapatkan mutasi pada daerah

precore daigenom VHB yang memicu  HBeAg tidak

bisa diproduksi. Mutasi ini  dinamakan mutasi precore.

berdasar  status HBeAg, hepatitis B kronik

dikelompokkan menjadi hepatitis B kronik HBeAg positif

dan hepatitis B kronik HBeAg negatif.

Hepatitis B kronik HBeAg negatif sering ditandai

dengan perjalanan penyakit yang berfluktuasi dan jarang

mengalami remisi spontan. sebab  itu pasien dengan HBe

negatif dan konsentrasi DNA VHB tinggi merupakan

indikasi terapi antivirus. Pada pasien dengan infeksi VHB

mutanprecore mungkin masih ada sisa-sisa VHB tipe liar

yang belum mengalami mutasi.

GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis Hepatitis B Kronik sangat bervariasi. Pada

banyak kasus tidak didapatkan keluhan maupun gejala dan

pemeriksaan tes faal hati hasilnya normal. Pada sebagian

lagi didapatkan hepatomegali atau bahkan splenomegali

atau tanda-tanda penyakit hati kronis lainnya, misalnya

eritema palmaris dart spider nevi, sertapada pemeriksaan

laboratorium sering didapatkan kenaikan konsentrasi ALT

walaupun hal itu tidak selalu didapatkan. Pada umumnya

didapatkan konsentrasi bilirubin yang normal. Konsentrasi

albumin serum umrunnya masih normal kecuali pada kasus-

kasus yang parah.

Secara sederhana manifestasi klinis hepatitis B kronik

dapat dikelompokkan menjadi 2 y aitu:

1. Hepatitis B kronik yang masih aktif (hepatitis B kronik

aktif). HB sAg positif dengan DNA VHB lebih dari I 05

kopi/ml didapatkan kenaikan ALT yang menetap atau

intermiten. Pada pasien sering didapatkan tanda-tanda

penyakit hati kronik. Pada biopsi hati didapatkan

gambaran peradangan yang aktif. Menurut status

HBeAg pasien dikelompokkan menjadi hepatitis B

konik HBeAg positif dan hepatitis B laonik HBeAg

negatif.

2. CarrierYl{B Inaktif (Inactive HBV Carrier State).P ada

kelompok ini HBsAg positif dengan titerDNA VHB yang

rendahyaitukurang dari lOs kopilrnl. Pasienmenrnjukkan

roNsu.rrusl ALT normal dan tidak didapatkan keluhan.

Pada pemeriksaan histologik ada  kelainan jaringan

yang rninimal. Sering sulit membedakan Hepatitis B

Kronik IIBe negative dengan pasien carrierYHB inaktif

sebab  pemeriksaan DNA kuantitatif masih jarang

dilakukan secara rutin. Dengan demikran perlu dilakukan

pemeriksaan ALI berulang kali untuk waktu yang cukup

luna

Pemeriksaan biopsi untuk pasien Hepatitis B Kronik

sangat penting terutama untuk pasien dengan HBeAg

positif dengan konsentrasi ALT 2 xfilai normal tertinggi

atau lebih. Biopsi hati diperlukanuntukmenegakkan diag-

nosis pasti dan untuk meramalkan prognosis serta

kemungkinan keberhasilan terapi (respons histologik).

Sejak lama diketahui bahwa pasien Hepatitis B Kronik

dengan peradangan hati yang aktifmemiliki  risiko tinggi

rurtuk mengalami progresi, namun  gambaran histologik yang

aktifjuga dapat meramalkan respons yang baik terhadap

terapi imunomodulator atau antivirus.

GAMBARAN HISTOPATOLOGIK HEPATITIS B

KRONIK

Pada segitiga portal ada  infiltrasi sel radang terutama

limfosit dan sel plasma, dapat terjadi fibrosis yang makin

meningkat sesuai dengan derajat keparahan penyakit. Sel

radang dapatmasukke dalam lobulus sehinggaterjadi erosi

limiting plate, sel-sel hati dapat mengalami degenerasi

baluning dan dapat terjadi badan asidofil (acidophilic

bodies). Pada pasien hepatitis B kronikjarang didapatkan

gambaran kolestasis. Untuk menilai derajat keparahan

hepatitis serta untuk menentukan prognosis, dahulu

gambaran histopatologik hepatitis B kronik dibagi menjadi

3 kelompok yaitu: l).Hepatitis kronikpersisten QIKP) yaitu 

infiltrasi sel-sel mononuklir pada daerah portal dengan

sedikit fibrosis, limiting plate maslh utuh, tidak ada

piecemeal necrosis . Gambaran ini sering didapatkan pada

carrier asimtomati( 2). Hepatitis konik aktif (IIKA) yaitu 

adanya infiltrat radang yang menonjol, yang terutama

terdiri dari limfosit dan sel plasma yang ada  di daerah

portal. Infiltrat peradangan ini masuk sampai ke dalam

lobulus hati dan menimbulkan erosi limiting plate dan

disertai piecemeal necrosis. Gambaran ini sering tampak

pada carrieryang sakit (simtomatik); 3). Hepatitis Kronik

Lobular (HKL), sering dinamakan hepatitis akut yang

berkepanjangan. Gambaran histologik mirip hepatitis akut

namun  timbul lebih dari 3 bulan. Didapatkan gambaran

peradangan dan nekrosis intra-lobular, tidak ada 

piecemeal necrosis dar, bridging necrosis.

Klasifftasi di atas telah dipakai berpuluh-puluh tahun

oleh para ahli di seluruh dunia namun  ternyata kemudian

tidak bisa dipertahankan lagi sebab  terlalu kasar dan

hasilnya sering overlapping. Salah satu klasifikasi

histologik untuk menilai aktivitas peradangan yang terkenal

yaitu Histological Activity Index (HAI), yang ditemukan

oleh Knodell pada tahun 1981, yang dapat dilihat pada

Tabel 1.

Dengan demikian skorHAI yang mungkin yaitu  0-18.

Pada Tabel 2 dapat dilihat hubungan antara skor indeks

aktivitas histologik dengan derajat hepatitis kronik.

Belakangan dibuat suatu pembagian baru berdasar 

skor yang menunjukkan intensitas nekrosis (grade) dan

656 HEPAIIOBILIER,

Komponen

Nekrosis periportal dengan atau lanpa bridging

necrosts

Regenerasi intralobular dan nekrosis fokal

lnflamasi portal

. AdefovirDipivoksil

Tujuan pengobatan hepatitis B kronik yaitu 

mencegah atau menghentikan progresi jejas hati (liver

injury) dengan cara menekan replikasi virus atau

menghilangkan inj eksi.

Dalam pengobatan hepatitis B kronik, titik akhir yang

sering dipakai yaitu  hilangnya petanda replikasi virus

yang aktif secara menetap (HBeAg dan DNA VHB). Pada

umumnya, serokonversi dari HBeAg menjadi anti-HBe

disertai dengan hilangnya DNA VHB dalam serum dan

meredanya penyakit hati. Pada kelompok pasien hepatitis

B kronik HBeAg negatif, serokonversi IIBeAg tidak dapat

dipakai sebagai titik akhir terapi dan respons terapi hanya

dapat dinilai dengan pemeriksaan DNA VHB.

Terapi dengan !munomodulator

Interferon (IFN) alfa. IFN yaitu  kelompok protein

intraselular yang normal ada dalamtubuh dan diproduksi

oleh berbagai macam sel. IFN alfa diproduksi oleh limfosit

B, IFN beta diproduksi oleh monosit fibroepitelial, dan

IFN gamma diproduksi oleh sel limfosit T. Produksi IFN

dirangsang olehberbagai macam stimulasi terutama infeksi

vlrus.

Beberapa khasiat IFN yaitu  khasiat antivirus,

imunomodulator, anli proliferatif, dan anti frbrotik. IFN

tidak memiliki khasiat anti vrnus langsung namun 

merangsang terbentuknya berbagai macam protein efektor

yang memiliki  khasiat antivirus.

Dalam proses terjadinya aktivitas antivirus, IFN

mengadakan interaksi dengan reseptor IFN yang ada 

pada membran sitoplasma sel hati yang diikuti dengan

diproduksinya protein efektor. Salah satu protein yang

terbenhrk yaitu  2',5'-oligoadenylate synthelase (OAS)

yang merupakan suatu enzim yang berfungsi dalam rantai

terbentuknya aktivitas antivrrus.

Khasiat IFN pada hepatitis B kronik terutama

disebabkan oleh khasiat imunomodulator. Penelitian

menunjukkan bahwa pada pasien Hepatitis B Kronik sering

didapatkan penurunan produksi IFN. Sebagai salah satu

akibatnya te{adi gangguan penampilan molekul HLA kelas

I pada membran hepatosit yang sangat diperlukan agar

sel T sitotoksik dapat mengenali sel-sel hepatosit yang

terkena infeksi VHB. Sel-sel ini  menampilkan anti-

gen sasaran (target antigen) VHB pada membran hepatosit.

IFN yaitu  salah satu pilihan untuk pengobatan pasien

hepatitis B kronik dengan HBeAg positif, dengan aktivitas

penyakit ringan sampai sedang, yang belum mengalami

sirosis. Pengaruh pengobatan IFN dalam menurunkan

replikasi virus telah banyak dilaporkan dari berbagai

iap oran p enelitian yan g meng gu nakan fo I I ow - up j angka

panjang. Pada Tabel 3 tampak hasil meta analisis tentang

khasiat IFN pada pasien dengan Hepatitis B kronik yang

dilakukan oleh Wong et al, pada tahun 1995.

0-1 0

o-4

o-4

Diagnosis

1-3

4-8

9-12

13-18

Minimal

Ringan

Sedang

Berat

progresi struktural penyakit hati (stage) yang dinyatakan

dalam bentuk kuantitatif yang lebih sederhana dan iebih

sering dipakai.

Berikut ini rincian dari sistem skor ini :

I. Aktivitas peradangan portal dan lobular

0 Tidak ada peradangan portal atau peradangan

portal minimal

1 Peradangan portal tanpa nekrosis atau

Peradangan lobular tanpa nekrosis

2 Limiting p/ate necrosis ringan (lntefface Hepatitis

ringan) dengan atau nekrosis lobular yang bersifat

fokal

3 Limiting plate necrosis sedang alau lnterface

Hepatitis sedang dan atau nekrosis fokal berat

(Confluent necrosr.s)

4 Limiting plate necrosis beral (lnteiace hepatitis

berat) dan alau bridging necrosrs

0

1

2

3

4

II. Fibrosis

Tidak ada Fibrosis

Fibrosis terbatas pada zona portal yang melebar

Pembentukan septa periportal atau septa portal-

portal dengan arsitektur yang masih utuh

Distorsi arsitektur (Flbrosis septa bridging) tanpa

sirosis yang jelas

Kemungkinan sirosis atau pasti sirosis

PENATAI-AKSANAAN

Pada saat ini dikenal 2 kelompok terapi untuk hepatitis B

kronik yaitu:

I. Kelompoklmunomodulasi

. Interfefon

. Timosin alfa I

. VaksinasiTerapi

II. KelompokTerapiAntivirus

. Lamivudin

HEFATITIS BKRONIK 657

Beberapa faktor yang dapat meramalkan keberhasilan IFN:

l. Konsentrasi AIT yang tinggi

. Konsentrasi DNA VHB yang rendah

. Timbulnyaflare-upselamaterapi

. IgM anti-HBc yang positif

2. EfeksampinglFN:

. Gejala seperti flu

. Tanda-tanda supresi sumsum tulang

. Flare-up

. Depresi

. Rambutrontok

. Berat badan furun

. Gangguan firngsi tiroid

Sebagai kesimpulan, iFN merupakan suatu pilihan

untuk pasien hepatitis B kronik nonsirotik dengan HBeAg

positif dengan aktivitas penyakit ringan sampai sedang.

Dosis IFN yang dianjurkan untuk hepatitis B kronik

dengan HBeAg positif yaitu  5 - I 0 MU 3 x seminggu selama

16-24 minggu. Penelitian memrnjukkan bahwa terapi IFN

unflrk hepatitis B laonik HBeAg negatif sebaiknya diberikan

sedikifirya selama 12 bulan.

Kontra iadikasi terapi IFN yaitu  sirosis dekompensata,

depresi atau riwayat depresi di waktu yang lalu, dan adanya

penyakit j antung berat.

PEG Interferon. Penambahan polietilen glikol (PEG)

menimbulkan senyawa IFN dengan umur paruh yang jauh

lebih tinggi dibandingkan dengan IFN biasa. Dalam suatu

penelitian yang membandingkan pemakaian PEG IFN alfa

2adengandosis 90,180, atat270 mikrogram tiap minggu

selama 24 minggu menimbulkan pemrrunan DNA VHB

yang lebih cepat dibandingkan dengan IFN biasa yang

diberikan 4,5 MU 3 x seminggu. Serokonversi HBeAg pada

kelompok PEG IFN pada masing-masing dosis yaitu  27,

33, 37 % dan pada kelompok IFN biasa sebesar 25 o%.

1. Penggunaan steroid sebelum terapi IFN. Pemberian

steroid pada pasien Hepatitis B Kronik IIBsAg positif

yang kemudian dihentikan mendadak akan menyebab-

kanflare up yang disertai dengan kenaikan konsentrasi

ALT. Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa

steroid withdrawl yang diikuti dengan pemberian IFN

lebih efektif dibandingkan dengan pemberian IFN saja,

namun  hal itu tidak terbukti dalam penelitian skala besar.

sebab  itt steroid withdrawl yang diikuti dengan

pemberian IFN tidak dianjurkan secara rutin.

2. TimosinAlfa 1. Timosin yaitu  suatu jenis sitotoksin

yang dalam keadaan alami ada dalam ekstrakpinus. Obat

ini sudah dapat dipakai untuk terapi baik sebagai

sediaan parenteral maupun oral. Timosin alfa I

merangsang firngsi sel limfosit. Pemberian Timosin alfa

I pada pasien hepatitis B laonik dapat menurunkan

replikasi VHB dan menurunkan konsentrasi atau

menghilangkan DNA VHB. Keunggulan obat ini yaitu 

tidak adanya efek samping seperti IFN. Dengan

kombinasi dengan IFN, obat ini meningkatkan

efektivitas IFN.

3. Vaksinasi Terapi. Salah satu langkah maju dalam bidang

vaksinasi hepatitis B yaitu  kemungkinan penggunaan

vaksin Hepatitis B untuk pengobatan infeksi VHB.

Prinsip dasar vaksinasi terapi yaitu  fakta bahwa

pengidap VHB tidak memberikan respons terhadap

vaksin Hepatitis B konvensional yang mengandung

HBsAg sebab  individu-individu ini  mengalami

imunotoleransi terhadap HBsAg. Suatu vaksin terapi

yang efektifyaitu  suatu vaksin yang kuat yang dapat

mengatasi imunotoleransi ini . Salah satu dasar

vaksinasi terapi untuk hepatitis B yaitu  penggunaan

vaksin yang menyertakan epitop yang mampu

merangsang sel T sitotoksik yang bersifat Human

Leucocyte Antigen (HLA)-restricted, diharapkan sel T

sitotoksik ini  mampu menghancurkan sel-sel hati

yang terinfeksi VHB. Salah satu strategi yaitu 

penggunaan vaksin yang mengandung protein pre-S.

Strategi kedua yaitu  menyertakan antigen kapsid yang

spesitik unhrk sel limfosit T sitotoksik (CTL). Strategi

ketiga yaitu  vaksin DNA.

TerapiAntivirus

1. Lamivudin. Lamivudin yaitu  suatu enantiomer (-) dari

3' tiasitidin yang merupakan suatu analog nukleosid.

Nukleosid berflrngsi sebagai bahan pembentuk pregenom,

sehingga analog nukleosid bersaing dengan nukleosid asli.

Lamivudin berkhasiat menghambat enzim reverse

transkriptase yang berfungsi dalam transkripsi balik dari

RNA menjadi DNA yang terjadi dalam replikasi VHB.

Lamivudin mengharnbat produksi VHB baru dan mencegah

terjadinya infeksi hepatosit sehat yang belum terinfeksi,

namun  tidak mempengaruhi sel-sel yang telah terinfeksi

sebab  pada sel-sel yang telah terinfeksi DNA VHB ada

dalam keadaart convalent closed circular (cccDNA).

sebab  itu setelah obat dihentikan, titer DNA VHB akan

kembali lagi seperti semula sebab  sel-sel yang terinfeksi

akhimya memproduksi virus baru lagi. Lamiwdin yaitu 

analog nukleosid oral dengan aktivitas antivirus yang kuat.

Kalau diberikan dalam dosis 100 mg tiap hari, lamivudin

akan menurunkan konsentrasi DNA VHB sebesar 95o/o atau

lebih dalam waktu I minggu. Dengan metode hibridisasi,

DNA VHB tidak bisa dideteksi lagi dengan metode non

PCR dalam waktu 8 minggu namun  masih dapat dideteksi

dengan metode PCR. Setelah dihentikan selama 2 minggu,

Hilangnya

Parameter (%) rFN (n=4e8) 

i|,'jlljS;

DNA VHB

HBeAg

HBsAg

0.0001

0.0001

0.001

17

12

1,8

37

33

7,8

658 HEPAIOBILIER

konsentrasi DNA akan kembali positif dan mencapai

konsentrasi sebelum terapi.

Menurut penelitian, dalam waktu I tahun serokonversi

HBeAg menjadi anti-HBe terjadi pada 16- 18% pasien yang

mendapat Lamivudin, sedangkan serokonversi hanya

terladi pada 4-6%o pasienyang mendapat plasebo (p<0,05)

danl9Yo pada pasien yang mendapat IFN.

Suatu parameter tunggal terbaik yang bisa dipakai

untuk meramalkan kemungkinan serokonversi HBeAg

yaitu  konsentrasi ALT. Hal ini tampak pada Tabel 4.

Kadar ALT sebelum terapi Frekuensi Serokonversi

berjalannya waktu. VHB yang kebal terhadap lamiludin

mengalami mutasi pada gen P di daerah dengan

motif YMDD (tyr-met-asp-asd). Salah satu penelitian yang

dilakukan pada pasien dari Asia menunjukkan angka

kekebalan yang meningkat berturut-turut mulai tahun

pertama sampai tahun keempat : 17, 40, 6 5, dan 67 Yo.

MutanYMDD mengalami replikasi yang lebih lambat

dibandingkan dengan VHB tipe liar, dan sebab  itu

konsentrasi DNA VHB pada pasien dengan infeksi mutan

masih lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi

sebelum terapi. Bila terjadi kekebalan terhadap lamivudin,

analog nukleosid yang lain masih bisa dipakai (misalnya

adefovir dan enticavir).

Lamivudin pada hepatitis B kronik anak-anak. Suatu

penelitian pada 286 anak umur 2-17 tahun dengan

peningkatan ALT yang menggunakan dosis lamivudin 3

mg,&g berat badan tiap hari s elama 52 mtnggu menunjukkan

bahwa serokonversi HBeAg pada kelompok yang

mendapat lamivudin lebih besar dibandingkan dengan

kelompokplasebo (23 vs 13%).

Lamivudin padapasien sirosis dengan DNAYHB positif.

Penelitian menunjukkan bahwa lamirudin dapat dipakai

pada pasien sirosis dekompensata dengan DNA VHB yang

positif. Sebagian besar pasien mengalami perbaikan

penyakit hati dan penurunan Child-Turcotte-Pugh (CTP)

yang disertai dengan penurunan kebutuhan transplantasi

hati pada pasien-pasien sirosis yang mendapatkan terapi

lamivudin sedikitnya selama 6 bulan. Sebagian pasien

yang mendapat terapi lamiludin tetap mengalami progresi

penyakit hati sehingga tetap memerlukan transplantasi hati.

Sebagian lagi meninggal setelah mendapat terapi lamivudin

selama beberapa bulan pertama.

Suatu penelitian yang dilakgkan pada 1 54 orang pasien

sirosis yang mendapat lamivudin menunjukkan bahwa

pasien-pasien dengan sirosis yang relatif lebih ringan

mendapat manfaatyang lebih besar dibandingkan dengan

pasien sirosis berat.

Keuntungan dan kerugian lamivudin. Keuntungan utarna

dari lamivudin yaitu  keamanan, toleransi pasien serta

harganya yang relatif murah. Kerugiannya yaitu 

seringnya timbul kekebalan.

Kekambuhan aiktt(fiare up) setelah penghentian terapi

lamivudin. Sekitar 160/o pasien hepatitis B kronik yang

mendapatkan pengobatan lamivudin dalam jangka lama

mengalami kenaikan konsentrasi AIT 8-24 minggu setelah

lamivudin dihentikan. Pada umumnya reaktivasi infeksi

VHB ini  tidak disertai ikterus dan kebanyakan akan

hilang sendiri. Pada sebagian kecil kasus dapat terjadi

gejala-gejala hepatitis akut dan bahkan gagal hati. Keadaan

ini disebabkan sebab  terjadinya reinfeksi sejumlah besar

sel-sel hati yang sehat akibat dihentikannya lamivudin yang

diikuti dengan respons imun yang mirip hepatitis B akut.

sebab  itu pada semua pasien hepatitis B