Hereditas manusia

 















pasien  satu dengan pasien  lainnya di dunia ini tentunya tidak ada yang

sama persis (benarbenar identik). pemicu nya ialah adanya materi genetik

yang  memiliki   sifat-sifat  berbeda  antarindividu.  Dalam  ilmu  tentang

materi  genetik  (genetika),  telah  banyak  dipelajari  tentang  peristiwa

penurunan sifat, baik pada tumbuhan, hewan, maupun pasien . Di antara

objek  yang  dipelajari  dalam  genetika  ini ,  genetika  pasien   paling

lambat  perkembangannya  dibandingkan  pada  hewan  dan  tumbuhan.

Beberapa hambatan yang menyebabkan lambatnya perkembangan ini ,

antara  lain:  sulitnya  mencari  objek  (pasien )  untuk  penelitian,  sulitnya

mengarahkan  pasien   dalam  mencapai  tujuan  atau  keinginan  peneliti,

sulitnya  mengamati  perkembangan  sifat  pasien   yang  mengarah  pada

tujuan  peneliti,  keturunan pasien   yang relatif  lebih  sedikit  dibandingkan

hewan dan tumbuhan sebab  umur atau siklus hidup pasien  lebih panjang,

serta lingkungan pasien  yang tidak mudah bahkan tidak dapat dikontrol.

Setelah  kalian  mengetahui  adanya  beberapa  hambatan  dalam

perkembangan genetika pasien , bagaimanakah cara yang dilakukan untuk

mengatasi hambatan ini ? Cara-cara untuk mengatasi masalah ini 

dapat  dilakukan  dengan  membuat  peta  silsilah  keluarga  atau  keturunan

(pedegree  chart)  dan  menerapkan  hasil  percobaan  hewan  pada  pasien .

Selain  itu,  dapat  juga  dilakukan  dengan  mempelajari  adanya  fenomena-

fenomena pada pasien  seperti munculnya anak kembar hasil perkawinan.

Kalian  tentunya mengetahui  hal  apa  saja  yang diwariskan  pada  pasien ,

bukan?  Ya,  sifat-sifat  pada  pasien   yang dapat  diwariskan  meliputi:  jenis

kelamin, kelainan atau cacat menurun, dan golongan darah. Selain itu, ada

juga ekspresi gen-gen (genotip) yang ditentukan oleh jenis kelamin. Peristiwa

pembentukan jenis kelamin pada pasien  telah kalian pelajari sebelumnya.

Oleh sebab  itu,  pada uraian berikut  akan  kalian pelajari  tentang tiga hal

yang diwariskan pada pasien . 1. Kelainan atau Cacat Menurun Pewarisan

sifat  pada  pasien   terhadap  keturunannya  mengikuti  pola-pola  tertentu.

Masih ingatkah kalian dengan istilah autosom dan gonosom? Cobalah ingat

kembali. Sifat-sifat yang diturunkan pada anak-anak yang dilahirkan belum

tentu sesuai dengan harapan orang tua.  Ada beberapa individu keturunan

yang bersifat normal sebagaimana harapan orang tua pada umum nya, ada

pula beberapa keturunan yang memiliki  sifat yang tidak diharapkan oleh

orang tuanya,  seperti  mengalami  cacat  atau  kelainan menurun (sindrom).

Pewarisan  sifat  pada  pasien   dapat  diturunkan  melalui  kromosom  seks

(kromosom X dan  kromosom Y)  atau  kromosom autosom.  Kelainan  dapat

disebabkan  oleh  gen-gen  yang  terpaut  pada  kromosom  tubuh  maupun

gonosom. Sebelumnya, telah kalian pelajari  tautan seks pada hewan atau

tumbuhan.  Pada materi  ini,  kalian  akan  mempelajari  tautan  seks  ini 

pada pasien .

a. Kelainan oleh alel resesif dan dominan autosomal

Kelainan  ini  diturunkan  dari  kromosom  sel-sel diploid  tubuh.  Kelainan  ini

dapat ditentukan oleh gen dominan atau resesif pada autosom ini . Oleh

sebab  itu, kelainan ini dapat diturunkan pada keturunan pria atau wanita.

Beberapa  contoh  kelainan  yang terpaut  pada  autosom  pasien   adalah

sebagai berikut.

1) Albinisma (Albino)

Kelainan  ini  terjadi  sebab   tubuh  seseorang  tidak  memiliki  gen  yang

mampu membentuk enzim untuk mengubah tirosin menjadi pigmen melanin

(pembentuk warna kulit). Gen ini  adalah gen dominan A. Oleh sebab 

itu,  orang  yang  normal  akan memiliki   genotip  AA  atau  Aa  dan  orang

albino  tidak  memiliki  gen  A  atau  memiliki   genotip  aa  (resesif

homozigot). Penderita  albino  memiliki   ciri-ciri  yaitu  seluruh  bagian

tubuhnya tidak  berpigmen.  Kulit  badan  dan  matanya  berwarna  merah

jambu sebab   warna  darah  menembus  kulit.  Oleh  sebab   itu,  matanya

sangat sensitif  terhadap cahaya. Pada perkawinan dua orang yang normal,

heterozigot dapat menghasilkan keturunan albino. Hal ini disebabkan kedua

orang tuanya memiliki  gen resesif yang akan bergabung membentuk gen

resesif homozigot  (aa).  Orang  tua  yang  terlihat  normal  tetapi  dapat

menurunkan albino kepada anaknya ini disebut “carrier”.

Gambar 1. Skema perkawinan pembentuk individu albino

2) Gangguan Mental

Salah  satu  contoh  bentuk  gangguan  mental  adalah  idiot,  yang ditentukan

oleh gen resesif  homozigot  (gg)  seperti  pada albino. Anak idiot  umumnya

diturunkan dari kedua orang tua yang normal heterozigot (Gg). Nah, cobalah

kalian buat sendiri skema perkawinannya. Penderita ini memiliki  ciri-ciri,

antara  lain: wajahnya  menunjukkan  kebodohan,  refl  ek  (daya  respon)nya

lambat, kulit  dan  rambutnya  kekurangan  pigmen,  umumnya  tidak

berumur panjang,  steril  (tidak  mampu  menghasilkan  keturunan  atau

mandul), dan  jika  urinnya  ditetesi  larutan  fenil  oksida  5% akan  berwarna

hijau kebiruan  sebab   terdapatnya  senyawa  derivat  fenil  ketourinarin

(FKU). Senyawa  ini  tidak  ditemukan  pada  orang  normal.  Adanya  senyawa

FKU ini  disebabkan  tidak  adanya  enzim  pengubah  asam  amino

fenilalanin menjadi tirosin.

3) Brachydactily (Brakhidaktili)

Brachydactily  adalah  keadaan  seseorang  yang memiliki   jari-jari pendek

atau tidak normal. Hal ini terjadi sebab  pendeknya tulang-tulang pada ujung

jari dan tumbuh menjadi satu. Kelainan ini disebabkan oleh gen dominan B.

Orang yang normal akan memiliki  genotip homozigot resesif (bb). Genotip

homozigot dominan (BB) menyebabkan individu letal.

4) Cystinuria (Sistinuria)

Cystinuria  adalah  keadaan  seseorang  yang  memiliki   kelebihan asam

amino  sistein  yang  sukar  larut,  diekskresikan  dan  ditimbun  menjadi batu

ginjal. Kelainan ini disebabkan oleh adanya gen dominan homozigot (CC).

5) Polydactily (Polidaktili)

Selain ada brakhidaktili, ada juga polidaktili, yaitu keadaan seseorang yang

memiliki  kelebihan (tambahan) jari pada tangan atau kaki. Jadi jumlah jari

kaki atau tangannya lebih dari lima. Polidaktili disebabkan oleh adanya gen

dominan homozigot (PP).  sebab  itu, genotip orang normal adalah Pp atau

pp.

b. Kelainan oleh alel resesif pada gonosom X

Alel  resesif  atau  dominan  pada  kromosom  X  juga  dapat

menentukan terjadinya  kelainan  pada  individu  keturunan  pasien .  Pada

pasien , telah  dikenal  lebih  dari  150  sifat  keturunan  yang  kemungkinan

disebabkan

oleh gen-gen tertaut kromosom X. Beberapa kelainan, terutama akibat alel

resesif pada kromosom X ini  adalah:

1) Buta Warna

Buta warna dibedakan menjadi 2 tipe. Yang pertama adalah tipe protan, yaitu

apabila  tidak  dapat  membedakan  warna  hijau  sebab   bagian mata  yang

sensitif terhadap warna hijau ini  rusak. Kedua adalah tipe deutan, yaitu

apabila yang rusak adalah bagian mata yang sensitif terhadap warna merah.

Tipe deutan ini paling sering terjadi. Buta warna disebabkab oleh gen resesif

c (colour blind) pada kromosom X. Gen ini tidak dijumpai pada kromosom Y.

Oleh sebab  itu, wanita dapat memiliki  genotip CC (normal homozigot), Cc

(normal heterozigot),  atau  cc  (buta  warna).  Sementara  itu,  pria  hanya

dapat memiliki  gen C (normal) atau c (buta warna) saja.

P : ♀ XC XC X ♂ XC Y

(buta warna) (normal)

Gamet : XC XC dan Y

F1 : 50% ♀ XC XC (normal)

50% ♂ XC Y (buta warna)

Dari  perkawinan ini , tampak bahwa sifat dari  orang tua wanita (buta

warna) akan diwariskan pada keturunan pria. Sebaliknya, sifat dari orang tua

pria (normal) akan diwariskan kepada keturunan wanita. Pewarisan sifat yang

bersilang ini merupakan ciri khas pada pewarisan gen-gen tertaut kromosom

X dan disebut criss-cross inheritance.

2) Anodontia

Anodontia merupakan kelainan pada seseorang yang tidak memiliki  benih

gigi pada rahangnya, sehingga gigi tidak dapat tumbuh selamanya. Kelainan

ini banyak ditemukan pada pria. Menurut para ahli, penderita anodontia juga

menunjukkan ciri seperti berambut jarang dan susah berkeringat. Gen resesif

pemicu  anodontia adalah a, sehingga pewarisan sifatnya juga seperti pada

buta warna.

3) Hemofilia

Sebelum ditemukan, penyakit hemofilia mula-mula dikenal di negara-negara

Arab. Pada waktu itu, seorang anak mengalami pendarahan akibat dikhitan

(disunat).  Sementara  itu,  putera  mahkota  Alfonso dari  Spanyol  juga

meninggal  akibat  pendarahan  sebab   kecelakaan. Selanjutnya,  penelitian

mendalam tentang hemofi lia juga dilakukan pada anggota kerajaan Inggris.

Ratu Victoria adalah orang yang dikenal pertama kali sebagai carrier hemofi

lia  yaitu  memiliki   genotip  heterozigotik (Suryo,  2005).  Gen  penentu

hemofi lia adalah gen resesif h. Berbeda dengan buta warna dan anodontia,

genotip resesif homozigot pada hemofilia bersifat letal.

Hemofilia merupakan suatu penyakit keturunan, dengan ciri sullitnya darah

membeku saat terjadi luka.  Waktu yang diperlukan oleh seorang penderita

hemofi lia untuk pembekuan darah adalah 50 menit hingga 2 jam, sehingga

akan menyebabkan perdarahan bahkan kematian. Sementara itu, orang yang

normal hanya memerlukan waktu 5-7 menit untuk pembekuan darah.

c. Kelainan oleh alel resesif pada gonosom Y

sebab  yang memiliki  kromosom Y hanya pria, maka kelainan ini hanya

dialami oleh pria saja.  Agar lebih mudah dalam mempelajari kelainan oleh

alel resesif pada gonosom Y, simak tabel berikut.

Tabel 1. Contoh Kelainan oleh Alel Resesif pada Gonosom Y

Kelainan Alel resesif Ciri-ciri Keterangan

Hypertrichosis H Rambut tumbuh pada 

bagian-bagian tertentu 

di tepi daun telinga.

Sering dijumpai di India dan Pakistan.

Hystrixgravier Hg Rambut tumbuh 

panjang dan kaku di 

permukaan tubuh 

menyerupai duri landak

Pada abad ke-18, penderita 

(disebutPorcupine man) ini pernah 

ditemukan. Namun, Penrose dan stern 

(1958) tidak begitu yakin jika kelainan

ini tertaut kromosom Y.

Webtoes wt Kulit tumbuh diantara 

jari-jari (terutama kaki)

Kaki atau tangan yang berselaput ini 

menyerupai kaki katak atau burung air.

Sumber: Suryo, Genetika pasien , hlm. 232 (dengan pengembangan)

d. Kelainan oleh aberasi jumlah dan struktur kromosom autosom

Selain disebabkan oleh adanya gen dominan atau resesif, kelainan dapat 

disebabkan oleh adanya aberasi atau perubahan jumlah dan struktur 

kromosom. Aberasi kromosom serta kelainan-kelainannya akan kalian pelajari

lebih lanjut pada pada Bab 6 Mutasi.

2. Golongan Darah

Salah satu aplikasi (manfaat) mempelajari golongan darah seseorang adalah

untuk  transfusi  darah.  Oleh  sebab   itu,  dikenal  istilah  donor (yang

memberikan  darah)  dan  resipien  (yang  menerima transfusi darah).  Begitu

pentingnya  darah  bagi  kehidupan  pasien ,  penelitian mendalam  tentang

darah pun kian banyak dilakukan. Dua komponen penyusun darah adalah sel-

sel darah (leukosit dan eritrosit) dan cairan (plasma). Plasma sendiri, terdiri

dari atas fibrinogen (protein untuk pembekuan darah) dan serum.

Penelitian mengenai penggolongan darah diawali  oleh Dr.  Karl  Landsteiner

pada  tahun  1901.  Dari  hasil  penelitiannya,  diketahui  bahwa di  dalam  sel

darah  merah  (eritrosit)  terdapat  suatu  substansi  asing  yaitu antigen  yang

akan bereaksi dengan substansi pada plasma darah yaitu antibodi (zat anti).

Selanjutnya, penggolongan darah pada pasien  ini didasarkan pada antigen

(aglutinogen) yang terdapat di dalam eritrosit.

Pada materi ini akan dipelajari 3 sistem penggolongan darah, yaitu sistem A,

B, O; sistem M, N; dan sistem Rhesus.

a. Sistem A,B,O

Berbeda dengan pewarisan yang telah kalian pelajari sebelumnya, pewarisan

golongan darah ini  ditentukan oleh adanya alel ganda (beberapa alel atau

seri  alel  yang  terdapat  dalam  satu  lokus  yang  sama). Simbol  untuk  alel

ini   adalah  I  (berasal  dari  kata  isoaglutinin, merupakan  protein  pada

permukaan sel eritrosit). Orang yang mampu membentuk aglutinogen A akan

memiliki  alel IA, yang mampu membentuk aglutinogen B memiliki  alel

IB, dan yang mampu membentuk aglutinogen A dan B memiliki  alel IA dan

IB. Sementara itu, orang yang tidak mampu membentuk aglutinogen A dan B

memiliki  alel  resesif  i.  Golongan  darah  ditentukan  oleh  adanya

interaksi alel-alel ini . Perhatikan Tabel 2.

Tabel 2. Penggolongan Darah Sistem A,B,O dan Alelnya

Golongan darah 

(fenotip)

Antigen dalam eritrosit Alel dalam kromosom Genotip

A A IA IA IA atau IAi

B B IB IB IB atau IBi

AB A dan B IA dan IB IB IA

O - i ii

Suryo, Genetika pasien , hlm. 349

Jika pria bergolongan darah A menikah dengan wanita bergolongan darah B, 

maka kemungkinan golongan darah anak-anak yang dilahirkan adalah 

sebagai berikut:

P : ♀IA IA atau IAi X ♂IB IB atau IB dan i

Gamet : IA dan i IB dan i

F1 : 25% IA IB (golongan AB)

25% IAi (golongan A)

25% IBi (golongan B)

25% ii (golongan O)

b. Sistem M, N

Penggolongan sistem ini ditemukan oleh Landsteiner dan Lavine, didasarkan

pada ada tidaknya antigen M dan N. Jika pada penggolongan darah A, B, AB,

dan O terdapat antibodi dalam darah seseorang, maka pada golongan darah

ini darah seseorang tidak mengandung antibodi M atau N. Oleh sebab  itu,

untuk  menguji  apakah  seseorang memiliki   antingen  M  atau  N  atau

keduanya digunakan antibodi dari kucing. Dengan tidak adanya antingen M

atau N dalam darah pasien , maka penggolongan darah dengan sistem ini

tidak berpengaruh atau tidak berperan dalam transfusi darah.

Tabel 3. Penggolongan Darah Sistem MN dan Alelnya

Golongan darah

(fenotip)

Reaksi terhadap 

antibodi (antiserum)

Alel dalam 

kromosom

Genotipe

Anti-M Anti-N

M + - LM LM LM

N - + LN LN LN

MN + + LM dan LN LM LN

Keterangan: + = aglutinasi, dan - = tidak aglutinasi

c. Sistem Rhesus

Penemuan  sistem  ini  sejak  tahun  1940  oleh  Landsteiner  dan

Wiener. Berdasarkan  ada  tidaknya  faktor  Rh  (Rhesus)  dalam  eritrosit,

golongan darah  pada  pasien   dibedakan  menjadi  Rh+,  yaitu  jika

memiliki  antigen  Rh  dan  golongan  darah  Rh  -,  jika  tidak  memiliki 

antigen Rh.  Transfusi  atau pencampuran darah dengan sistem Rh berbeda

dapat menyebabkan  terjadinya  penggumpalan  akibat  ketidaksesuaian  Rh

yang disebut incompatibilitas rhesus.

Tabel 4. Golongan Darah Sistem Rh

Fenotipe Genotipe Macam gamet

Rh + IRhIRh, IRhIrh IRh dan Irh

Rh - Irh Irh Irh

Pada  perkawinan  antara pria  Rh+  homozigot  (IRhIRh) dengan  wanita  Rh–

homozigot (Irh Irh), semua anak yang dilahirkan akan memiliki  Rh+. Fetus

dalam tubuh ibu akan menerima zat makanan atau menerima pertukaran gas

dan air melalui saluran penghubung yang disebut plasenta (Gambar 2). 

Gambar 2. Aliran darah pada plasenta

Nah,  jika  seorang  ibu Rh-  mengandung  bayi  Rh+  maka  setelah  bayi

lahir, eritrosit-eritrosit bayi yang mengandung antigen Rh masuk dalam aliran

darah  ibu.  Dengan  demikian,  darah ibu  akan  membentuk  antibodi.  Bayi

pertama  yang dilahirkan  akan  selamat. Pada  kehamilan  berikutnya  tentu

dihasilkan anak Rh+ lagi, bukan? sebab  ibu telah memiliki  anti-Rh, maka

akan  beraglutinasi  dengan  antigen  Rh  pada  bayi yang  dikandungnya.

Akibatnya,  eritrosit  bayi  akan rusak dan mengalami  kelebihan zat  bilirubin

yang akan masuk ke dalam sirkulasi darah ibu. (perhatikan Gambar 3). 

Gambar 3. Tahapan terjadinya kelahiran bayi penderita eritroblastosis

Kelebihan dan  penimbunan  bilirubin  ini   menyebabkan  penyakit

kuning, ditandai  dengan kulit  bayi  yang kuning, tubuh menggembung oleh

cairan, hati  dan  limfa  membengkak,  dalam  darah  banyak  eritrosit  yang

belum masak  (eritroblas),  serta  otaknya  rusak.  Penyakit  inilah  yang

disebut eritroblastosis  fetalis.  Pada  umumnya,  bayi  penderita  penyakit

ini  akan mati sejak lahir atau hidup beberapa saat saja.

Keterangan :

(a) urat darah plasenta pecah, memungkinkan keluarnya antigen Rh bayi

(b) antigen fetus masuk ke limpa ibu dan ibu membentuk antibodi

(c) antibodi dari ibu masuk ke plasenta dan terjadi reaksi antigen Rh dan 

antibodi Rh

Sementara  itu,  perkawinan  antara  wanita  Rh-  dengan  pria  Rh+

heterozigot masih memiliki  kemungkinan menghasilkan bayi normal.

3. Gen-gen yang Ekspresinya Dipengaruhi oleh Jenis Kelamin

Pewarisan sifat pada pasien  dapat dipengaruhi oleh jenis kelamin individu.

Artinya, ekspresi gen-gen autosomal penentu sifat pada keturunan ini 

dipengaruhi  oleh  jenis  kelamin  keturunan  yang  dihasilkan. Sifat  ini 

dapat  tampak pada kedua seks,  tetapi  ekspresinya akan  lebih besar  pada

salah satu seks ini . Beberapa ekspresi gen ini  antara lain:

a. Kepala botak

Sebelum diketahui adanya ekspresi gen yang dipengaruhi oleh seks, semula

kepala botak merupakan gen terangkai kelamin. Namun, pada kenyataannya

anak pria kepala botak diturunkan langsung dari ayahnya (hal ini tidak akan

terjadi  jika  gen  ini   terangkai  kromosom X).  Demikian  juga,  jika  gen

ini  terangkai kromosom Y maka tidak pernah diturunkan pada wanita.

Kenyataannya, ada  pula  wanita  yang  berkepala  botak  meskipun

sangat jarang  dijumpai. Jika  gen  B  penentu  kepala  botak  dan  gen  b

penentu rambut  normal,  maka  dengan  adanya  pengaruh  jenis

kelamin, ekspresi gen ini  terjadi sedemikian rupa. (Perhatikan Tabel 5)

Tabel 5. Ekspresi Gen Kepala Botak

Genotipe Pria         Wanita

BB botak botak

Bb botak tidak botak

bb tidak botak tidak botak

Suryo, Genetika pasien , hlm. 231

b. Jari telunjuk yang panjang

Pada  umumnya,  setiap  orang  memiliki   jari  telunjuk  yang  lebih pendek

(normal) daripada jari manis. Gen penentu jari telunjuk pendek adalah gen T,

sedangkan penentu jari telunjuk panjang adalah gen t. Namun, ekspresinya

dipengaruhi oleh jenis kelamin.

Tabel 6. Ekspresi Gen Jari Telunjuk Panjang

Genotipe Pria Wanita

TT telunjuk pendek telunjuk pendek

Tt telunjuk pendek telunjuk panjang

tt telunjuk panjang telunjuk panjang

Suryo, Genetika pasien , hlm. 232

4. usaha  Menghindari Kelainan Menurun

Pada  umumnya,  gen  yang menyebabkan  kelainan  menurun  pada pasien 

sulit  untuk  dilacak.  Oleh  sebab   itu  agar  pewarisan  sifat  ini  dapat

dilacak serta dihindari, perlu dilakukan usaha  melalui:

a. Eugenetika

Eugenetika adalah usaha  perbaikan sosial yang meliputi penerapan 

(implementasi) hukum-hukum pewarisan sifat, antara lain dengan:

1. Menghindari  perkawinan  dengan  keluarga  dekat,  sebab 

dapat memungkinkan  rekombinasi  gen-gen  resesif  yang  umumnya

menimbulkan ketidaknormalan.

2. Harus memahami hukum-hukum hereditas bagi generasi muda.

3. Tidak  menikahkan  orang-orang  yang  mengalami  gangguan

mental seperti idiot, imbisil, dan debil.

4. Dilakukan  pemeriksaan  kesehatan  dan  asal-usul  calon

pasangan suami-istri.  Akan  tetapi,  pasangan  yang  sudah  menikah

dapat melakukan  usaha   untuk  mengetahui  lebih  awal  kondisi

kandungannya. Hal  ini  dapat  dilakukan  misalnya  dengan

amniosentesis. Amniosentesis  merupakan  cara  untuk  mengetes

kemungkinan  adanya kelainan  kromosom  pada  bayi  yang  masih

dikandung  oleh ibu.  Waktu  yang  paling  baik  untuk  melakukan

amniosentesis  ini adalah  pada  saat  usia  kehamilan  mencapai  14-16

minggu.

5. Memelihara kesehatan fisik dan mental

6. Menggunakan peta silsilah

Peta silsilah dapat menunjukkan keadaan atau sifat individu dalam keluarga

besar  (1  garis  keturunan),  sehingga  dapat  dilacak  adanya  individu  yang

mewariskan sifat kepada keturunannya. Berikut ini adalah salah satu contoh

bentuk  peta  silsilah  dari  satu  keluarga  yang  beberapa  anggotanya

mengalami buta warna.

Gambar 4. Peta silsilah penyakit buta warna dalam satu keluarga.

b. Eutenika

usaha  eutenika dilakukan melalui pengelolaan lingkungan seperti pendidikan,

peningkatan gizi, perbaikan tempat tinggal, olah raga, dan rekreasi.