Pelayanan kesehatan mengalami pergeseran paradigma
seiring dengan meningkatnya kebutuhan warga terhadap
layanan yang berfokus pada pasien dan keluarga. Perubahan
pola penyakit dari penyakit akut menuju penyakit kronis,
meningkatnya angka harapan hidup, dan tuntutan efisiensi
pelayanan kesehatan mendorong berkembangnya model
pelayanan kesehatan berbasis komunitas, salah satunya yaitu
pelayanan perawatan intensif . perawatan intensif dipandang sebagai alternatif
pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan kontinuitas
asuhan kesehatan dengan tetap mempertimbangkan aspek
kenyamanan, kemandirian, dan nilai sosial budaya pasien di
lingkungan rumahnya
perawatan intensif tidak hanya berorientasi pada tindakan
kuratif, namun juga mencakup usaha promotif, preventif,
rehabilitatif, dan paliatif yang dilaksanakan secara komprehensif
dan berkesinambungan. Pelayanan ini menempatkan keluarga
sebagai mitra utama tenaga kesehatan dalam proses perawatan,
sehingga keterlibatan keluarga menjadi faktor kunci
keberhasilan asuhan. konsep ini sejalan dengan konsep
pelayanan kesehatan berpusat pada pasien (patient-centered
care) yang menekankan penghargaan terhadap nilai, preferensi,
dan kebutuhan individu
Dalam konteks sistem kesehatan nasional, perawatan intensif
berperan strategis dalam meningkatkan akses pelayanan,
menurunkan angka rawat inap yang tidak perlu, dan
mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya kesehatan.
sebab itu, pemahaman yang komprehensif mengenai konsep
dasar perawatan intensif menjadi landasan penting dalam pengelolaan
dan pengembangan pelayanan perawatan intensif yang berkualitas,
aman, dan berorientasi pada mutu pelayanan
Penjelasan berikut mencakup konsep Keperawatan home
care meliputi; Pengertian, Manfaat, prinsip dasar, jenis/bentuk,
sasaran dan kegiatan p-elayanan perawatan intensif , Kesimpulan.
B. Konsep Keperawatan perawatan intensif
1. Pengertian perawatan intensif
perawatan intensif merupakan bentuk pelayanan kesehatan
profesional yang diberikan kepada individu dan keluarga
di rumah dengan tujuan mempertahankan, meningkatkan,
atau memulihkan status kesehatan pasien secara optimal.
Pelayanan ini dilaksanakan berdasar kebutuhan pasien
melalui konsep holistik yang mencakup aspek biologis,
psikologis, sosial, dan spiritual. perawatan intensif juga dirancang
untuk mendukung kemandirian pasien dan keluarga dalam
mengelola masalah kesehatan yang dihadapi
Secara internasional, perawatan intensif didefinisikan sebagai
bagian dari pelayanan kesehatan berkelanjutan yang
memungkinkan pasien menerima asuhan kesehatan di
lingkungan rumah dengan dukungan tenaga kesehatan
terlatih dan sistem rujukan yang terintegrasi. konsep
ini menekankan kesinambungan perawatan (continuity of
care) dan koordinasi lintas profesi untuk menjamin
keselamatan dan kualitas pelayanan
2. Manfaat Keperawatan perawatan intensif
Pelayanan perawatan intensif bermanfaat signifikan
bagi pasien dengan memungkinkan penerimaan asuhan
kesehatan secara berkelanjutan di lingkungan rumah yang
familiar. Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan
kenyamanan psikologis, kepatuhan terhadap rencana
perawatan, dan kualitas hidup pasien, khususnya pada
individu dengan penyakit kronis, lansia, dan pasien pasca
rawat inap. Lingkungan rumah yang suportif juga
mendukung proses pemulihan dan mengurangi risiko stres
akibat hospitalisasi berkepanjangan
Selain manfaat bagi pasien, perawatan intensif memberi
dampak positif bagi keluarga melalui peningkatan
pengetahuan dan keterampilan dalam merawat anggota
keluarga yang sakit. Keterlibatan keluarga sebagai
caregiver utama mendorong terciptanya rasa percaya diri,
kemandirian, dan tanggung jawab dalam pengelolaan
kesehatan di rumah. Dari sisi sistem kesehatan, perawatan intensif
berkontribusi dalam menurunkan angka rawat inap
berulang, mengurangi beban fasilitas kesehatan, dan
meningkatkan efisiensi biaya pelayanan kesehatan
. Di bawah ini dapat
terlihat gambar manfaat perawatan intensif untuk pasien:
Gambar 1. Manfaat perawatan intensif untuk Pasien
Sumber: https://www.kavacare.id/
3. Prinsip Dasar Keperawatan perawatan intensif
Keperawatan perawatan intensif dilaksanakan berdasar
prinsip pelayanan holistik, berkesinambungan, dan
berpusat pada pasien dan keluarga. Prinsip holistik
menekankan bahwa asuhan tidak hanya berfokus pada
penyakit, namun juga pada kondisi psikososial dan
lingkungan pasien. Prinsip berkesinambungan
menggarisbawahi pentingnya kesinambungan pelayanan
dari fasilitas kesehatan ke rumah pasien secara terintegrasi
Selain itu, prinsip kolaborasi interprofesional menjadi
landasan penting dalam perawatan intensif , di mana tenaga
kesehatan dari berbagai disiplin bekerja secara sinergis
untuk mencapai hasil asuhan yang optimal. Prinsip
keamanan pasien dan mutu pelayanan juga harus dijaga
melalui penerapan standar prosedur operasional, etika
profesi, dan evaluasi pelayanan secara berkala
4. Jenis/Bentuk Keperawatan perawatan intensif
Pelayanan perawatan intensif dapat diklasifikasikan
berdasar jenis layanan yang diberikan, salah satunya
yaitu perawatan intensif dan keperawatan. Bentuk
pelayanan ini mencakup tindakan keperawatan dasar dan
lanjutan, pemantauan kondisi kesehatan, pemberian obat,
perawatan luka, dan rehabilitasi sederhana sesuai
kebutuhan pasien. Layanan ini diberikan oleh tenaga
kesehatan profesional dengan mengacu pada standar
praktik dan keselamatan pasien
Bentuk lain dari perawatan intensif yaitu perawatan intensif promotif
dan preventif yang berfokus pada edukasi kesehatan,
pencegahan komplikasi, dan peningkatan perilaku hidup
bersih dan sehat. Selain itu, terdapat perawatan intensif paliatif yang
ditujukan bagi pasien dengan penyakit terminal atau
kondisi kronis lanjut, dengan penekanan pada
pengendalian gejala, kenyamanan, dan dukungan
psikososial dan spiritual. Dalam konteks kesehatan ibu
dan anak, perawatan intensif juga mencakup asuhan kebidanan di
rumah untuk pemantauan ibu hamil, ibu nifas, bayi baru
lahir, dan balita
5. Sasaran Keperawatan perawatan intensif
Sasaran pelayanan perawatan intensif meliputi individu dengan
penyakit kronis, pasien pasca rawat inap, lansia dengan
keterbatasan fungsional, pasien dengan kebutuhan paliatif,
dan ibu dan bayi yang memerlukan pemantauan
kesehatan lanjutan di rumah. Pelayanan ini juga dapat
diberikan kepada kelompok rentan yang memiliki
keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, sehingga
perawatan intensif berperan dalam meningkatkan pemerataan
pelayanan kesehatan
Dalam konteks kesehatan ibu dan anak, perawatan intensif
menjadi strategi efektif untuk mendukung
keberlangsungan asuhan, meningkatkan keterlibatan
keluarga, dan mencegah terjadinya komplikasi melalui
deteksi dini masalah kesehatan di lingkungan rumah
Berikut
gambar sasaran pelayanan perawatan intensif ;
6. Kegiatan Keperawatan perawatan intensif
Kegiatan perawatan intensif diawali dengan pengkajian
komprehensif terhadap kondisi pasien dan lingkungan
rumah yang meliputi aspek fisik, psikologis, sosial, dan
lingkungan. Pengkajian ini menjadi dasar dalam
penyusunan rencana asuhan individual yang disesuaikan
dengan kebutuhan pasien dan keluarga. Proses
perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara tenaga
kesehatan, pasien, dan keluarga untuk menjamin
keberlanjutan dan efektivitas asuhan
Selanjutnya, kegiatan perawatan intensif mencakup
pelaksanaan asuhan kesehatan berupa tindakan
keperawatan, edukasi kesehatan, pemantauan
perkembangan kondisi pasien, dan pemberdayaan
keluarga sebagai caregiver. Evaluasi dilakukan secara
berkala untuk menilai pencapaian tujuan asuhan,
mendeteksi dini masalah kesehatan, dan menyesuaikan
rencana perawatan bila diperlukan. Kegiatan koordinasi
dan rujukan juga menjadi bagian penting dari perawatan intensif
guna memastikan kesinambungan pelayanan dengan
fasilitas kesehatan lain dalam sistem pelayanan kesehatan
yang terintegrasi (Stanhope & Lancaster, 2022; WHO, 2020).
7. Kesimpulan
a. Keperawatan perawatan intensif merupakan pelayanan
keperawatan profesional yang diberikan secara
berkesinambungan di lingkungan rumah dengan
konsep holistik dan berpusat pada pasien dan
keluarga
b. Pelayanan ini bermanfaat berupa
peningkatan kenyamanan pasien, percepatan
pemulihan, pencegahan komplikasi, dan pengurangan
hospitalisasi yang tidak diperlukan.
c. Keperawatan perawatan intensif berperan dalam meningkatkan
kemandirian pasien dan keluarga melalui edukasi
kesehatan dan pemberdayaan caregiver.
d. Jenis pelayanan keperawatan perawatan intensif meliputi
pelayanan medis dan keperawatan, promotif dan
preventif, paliatif, dan asuhan kebidanan di rumah
sesuai kebutuhan pasien.
e. Pelaksanaan keperawatan perawatan intensif dilakukan secara
sistematis melalui proses keperawatan yang mencakup
pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi
dengan menjunjung tinggi prinsip keselamatan pasien
dan mutu pelayanan.
f. Keperawatan perawatan intensif berperan strategis
dalam mendukung pelayanan kesehatan berbasis
komunitas yang efektif, efisien, dan berorientasi pada
peningkatan kualitas hidup warga .
Perkembangan sistem pelayanan kesehatan modern
menuntut adanya pelayanan yang tidak hanya berfokus pada
rumah sakit, namun juga menjangkau warga secara
langsung di lingkungan tempat tinggal pasien. Salah satu bentuk
pelayanan kesehatan yang berkembang pesat dalam beberapa
dekade terakhir yaitu perawatan intensif atau pelayanan kesehatan di
rumah. perawatan intensif merupakan konsep pelayanan kesehatan
yang memungkinkan pasien menerima perawatan secara
berkelanjutan di rumah dengan dukungan tenaga kesehatan
profesional, termasuk perawat.
Peningkatan kebutuhan pelayanan perawatan intensif
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain meningkatnya
jumlah penderita penyakit kronis, meningkatnya populasi
lansia, dan kebutuhan untuk menekan biaya pelayanan
kesehatan di rumah sakit. Pelayanan kesehatan di rumah
memberi kesempatan kepada pasien untuk tetap berada di
lingkungan keluarga yang familiar sehingga dapat
meningkatkan kenyamanan psikologis dan kualitas hidup
pasien. Selain itu, pelayanan ini juga memungkinkan
keterlibatan keluarga dalam proses perawatan sehingga
meningkatkan efektivitas pengelolaan penyakit jangka Panjang
perawatan intensif juga merupakan bagian penting dari sistem
primary health care yang berorientasi pada pelayanan
kesehatan berbasis komunitas. Dalam konteks ini, perawat
berperan yang sangat penting sebab menjadi tenaga
Ruang Lingkup dan Tujuan
kesehatan yang paling sering berinteraksi langsung dengan
pasien dan keluarga dalam proses perawatan di rumah. Dalam
pelayanan perawatan intensif , perawat tidak hanya memberi
tindakan keperawatan, namun juga melakukan edukasi
kesehatan, koordinasi pelayanan, dan membantu pasien
mencapai tingkat kemandirian yang optimal dalam menjalani
kehidupan sehari-hari.
Penelitian menunjukkan bahwa pelayanan keperawatan
berbasis rumah semakin penting dalam sistem pelayanan
kesehatan modern sebab mampu meningkatkan kualitas hidup
pasien sekaligus mengurangi angka rawat inap di rumah sakit.
Pelayanan ini juga membantu pasien dengan kondisi kronis atau
keterbatasan mobilitas untuk tetap memperoleh pelayanan
kesehatan yang komprehensif tanpa harus selalu datang ke
fasilitas kesehatan
Dengan meningkatnya kebutuhan terhadap pelayanan
perawatan intensif , penting bagi tenaga kesehatan khususnya perawat
untuk memahami secara mendalam mengenai ruang lingkup
dan tujuan pelayanan perawatan intensif keperawatan. Pemahaman
ini akan membantu perawat dalam memberi pelayanan
yang profesional, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan
pasien dan keluarganya.
B. Tujuan perawatan intensif
perawatan intensif keperawatan bertujuan untuk memberi
pelayanan kesehatan yang komprehensif kepada pasien di
lingkungan rumah guna meningkatkan kualitas hidup dan
mempertahankan kondisi kesehatan secara optimal. Pelayanan
ini memungkinkan pasien memperoleh perawatan yang
berkesinambungan tanpa harus selalu berada di fasilitas
kesehatan seperti rumah sakit. Dengan adanya pelayanan home
care, pasien dapat tetap berada dalam lingkungan keluarga yang
nyaman sehingga dapat memberi dampak positif terhadap
kondisi psikologis dan proses pemulihan kesehatan. Selain itu,
pelayanan ini juga mendukung konsep pelayanan
kesehatan yang berpusat pada pasien (patient centered care)
sehingga kebutuhan individu pasien dapat terpenuhi secara
lebih efektif
Tujuan lain dari perawatan intensif keperawatan yaitu
membantu proses pemulihan pasien dan mencegah terjadinya
komplikasi penyakit melalui pemantauan kondisi kesehatan
secara berkala. Perawat yang memberi pelayanan di rumah
dapat melakukan pengkajian kondisi pasien, memberi
tindakan keperawatan, dan memantau perkembangan penyakit
secara berkelanjutan. Melalui pemantauan ini , perubahan
kondisi kesehatan pasien dapat dideteksi lebih dini sehingga
tindakan yang tepat dapat segera dilakukan. Pelayanan home
care juga dapat membantu mengurangi angka rawat inap di
rumah sakit dan meningkatkan efektivitas pemakaian sumber
daya kesehatan
Selain itu, perawatan intensif keperawatan juga bertujuan untuk
meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga dalam
melakukan perawatan kesehatan di rumah. Dalam pelayanan
ini, perawat tidak hanya memberi tindakan keperawatan
namun juga memberi edukasi kesehatan kepada pasien dan
keluarga mengenai cara merawat pasien, pemakaian obat, dan
pencegahan komplikasi penyakit. Dengan adanya pendidikan
kesehatan ini , keluarga diharapkan mampu berperan aktif
dalam mendukung proses perawatan pasien sehingga kualitas
hidup pasien dapat meningkat secara berkelanjutan
Tujuan perawatan intensif yaitu Selain tujuan umum ini ,
perawatan intensif keperawatan juga memiliki beberapa tujuan khusus,
antara lain:
1. Meningkatkan kualitas hidup pasien
Pelayanan keperawatan di rumah memungkinkan pasien
memperoleh perawatan yang nyaman tanpa harus
meninggalkan lingkungan keluarga. Hal ini dapat
meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup
pasien secara keseluruhan.
2. Mempercepat proses pemulihan pasien
Perawatan yang dilakukan secara berkelanjutan di rumah
dapat membantu mempercepat proses pemulihan pasien,
terutama bagi pasien pasca operasi atau pasien dengan
penyakit kronis.
3. Mencegah komplikasi penyakit.
Melalui pemantauan kondisi kesehatan secara berkala,
perawat dapat mendeteksi perubahan kondisi pasien secara
dini sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi
penyakit.
4. Mengurangi angka rawat inap di rumah sakit
perawatan intensif dapat menjadi alternatif pelayanan kesehatan
yang efektif bagi pasien yang tidak memerlukan perawatan
intensif di rumah sakit namun tetap membutuhkan
pemantauan kesehatan.
5. Meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga
Salah satu tujuan utama perawatan intensif yaitu meningkatkan
kemampuan pasien dan keluarga dalam melakukan
perawatan mandiri sehingga pasien dapat menjalani
kehidupan sehari-hari secara lebih mandiri.
6. memberi edukasi kesehatan kepada keluarga Perawat
juga berperan dalam memberi pendidikan kesehatan
kepada keluarga agar mereka dapat membantu merawat
pasien secara tepat di rumah.
Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman yang baik
mengenai tujuan perawatan intensif sangat penting bagi tenaga
kesehatan maupun keluarga pasien agar pelayanan dapat
berjalan secara optimal dan sesuai dengan kebutuhan pasien
C. Ruang Lingkup perawatan intensif
Ruang lingkup perawatan intensif keperawatan mencakup
berbagai bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
pasien di rumah secara komprehensif dan berkelanjutan.
Pelayanan ini melibatkan tindakan keperawatan yang bertujuan
untuk mempertahankan, meningkatkan, dan memulihkan
kondisi kesehatan pasien. perawatan intensif juga memungkinkan
pasien mendapat pelayanan kesehatan tanpa harus selalu
datang ke fasilitas kesehatan. Pelayanan ini biasanya diberikan
oleh tenaga kesehatan profesional seperti perawat, dokter,
fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan
kebutuhan pasien. pelayanan
keperawatan berbasis rumah merupakan bagian penting dari
sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pasien.
1. Pelayanan Promotif
Salah satu ruang lingkup utama dalam perawatan intensif
yaitu pelayanan promotif. Pelayanan promotif bertujuan
untuk meningkatkan kesadaran warga mengenai
pentingnya menjaga kesehatan melalui edukasi dan
penyuluhan kesehatan. Perawat dalam pelayanan home
care berperan penting dalam memberi informasi
mengenai pola hidup sehat, nutrisi yang baik, dan
pencegahan penyakit. Kegiatan ini dilakukan untuk
meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai
cara menjaga kesehatan secara mandiri di rumah. Edukasi
kesehatan yang diberikan secara langsung kepada pasien
terbukti mampu meningkatkan perilaku hidup sehat dalam
keluarga
Kegiatan yang dilakukan dalam pelayanan promotif
antara lain:
a) Pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga
b) Penyuluhan tentang pola hidup sehat
c) Konseling Kesehatan
d) Edukasi mengenai pencegahan penyakit
Melalui kegiatan promotif ini, pasien dan keluarga
diharapkan dapat memahami cara menjaga kesehatan
dan mencegah terjadinya penyakit.
2. Pelayanan Preventif
Ruang lingkup berikutnya yaitu pelayanan preventif
yang berfokus pada usaha pencegahan penyakit dan
komplikasi kesehatan. Dalam pelayanan ini, perawat
melakukan pemantauan kondisi kesehatan pasien secara
berkala melalui pemeriksaan tanda-tanda vital dan observasi
kondisi pasien. Tindakan preventif juga meliputi pencegahan
luka tekan pada pasien dengan keterbatasan mobilitas dan
pencegahan infeksi. usaha pencegahan sangat penting
terutama bagi pasien dengan penyakit kronis dan pasien
lanjut usia. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi
preventif dalam perawatan intensif dapat mengurangi risiko
komplikasi penyakit secara signifikan
Dalam pelayanan perawatan intensif , kegiatan preventif dapat
berupa:
a) Pemantauan tanda-tanda vital pasien
b) Pengawasan kondisi kesehatan secara berkala
c) Pencegahan luka tekan pada pasien dengan mobilitas
terbatas
d) Pencegahan infeksi
Dalam pelayanan keperawatan di rumah, tindakan preventif
sangat penting terutama bagi pasien lansia yang memiliki
risiko tinggi terhadap berbagai komplikasi kesehatan.
3. Pelayanan Kuratif
Selain itu, ruang lingkup perawatan intensif juga mencakup
pelayanan kuratif yang bertujuan untuk mengobati penyakit
atau kondisi kesehatan pasien. Dalam pelayanan ini, perawat
dapat melakukan berbagai tindakan keperawatan seperti
pemberian obat sesuai instruksi dokter, perawatan luka, dan
pemantauan kondisi penyakit. Pelayanan kuratif di rumah
sangat penting bagi pasien yang membutuhkan perawatan
berkelanjutan sesudah keluar dari rumah sakit. Perawat juga
berperan dalam memastikan bahwa pasien mengikuti terapi
yang telah ditetapkan. Pelayanan kuratif dalam perawatan intensif
terbukti dapat meningkatkan efektivitas pengobatan dan
kepatuhan pasien terhadap terapi
Dalam pelayanan perawatan intensif , kegiatan kuratif dapat
meliputi:
a) Perawatan luka
b) Pemberian obat sesuai instruksi medis
c) Pemantauan kondisi penyakit kronis
d) Perawatan pasien pasca operasi
Perawat berperan penting dalam memastikan
bahwa pasien mendapat pengobatan yang tepat dan
memantau respons pasien terhadap terapi yang diberikan.
4. Pelayanan Rehabilitatif
Ruang lingkup perawatan intensif juga meliputi pelayanan
rehabilitatif yang bertujuan membantu pasien memulihkan
fungsi tubuh sesudah mengalami penyakit atau cedera.
Pelayanan rehabilitatif dapat berupa latihan mobilisasi,
latihan aktivitas sehari-hari, dan pendampingan pasien
dalam proses pemulihan. Dalam kegiatan ini, perawat sering
bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain seperti
fisioterapis untuk membantu pasien mencapai kondisi
kesehatan yang optimal. Pelayanan rehabilitasi sangat
penting bagi pasien yang mengalami gangguan mobilitas
atau kelemahan fisik. konsep rehabilitatif dalam home
care membantu pasien mencapai tingkat kemandirian yang
lebih baik (Rusli et al., 2022).
a) Latihan mobilisasi
b) Latihan aktivitas sehari-hari
c) Pendampingan pasien dalam proses pemulihan
d) Dukungan psikososial
Dalam pelayanan perawatan intensif , rehabilitasi sering dilakukan
pada pasien yang mengalami gangguan mobilitas atau pasien
yang sedang menjalani proses pemulihan sesudah penyakit
atau cedera.
Selain pelayanan medis dan keperawatan, ruang lingkup
perawatan intensif juga mencakup dukungan psikologis bagi pasien
dan keluarga. Banyak pasien yang mengalami stres atau
kecemasan akibat penyakit yang diderita sehingga
membutuhkan dukungan emosional dari tenaga kesehatan.
Perawat berperan penting dalam memberi
komunikasi terapeutik dan membantu pasien menghadapi
kondisi kesehatannya secara lebih positif. Dukungan
psikologis juga dapat meningkatkan motivasi pasien dalam
menjalani proses perawatan dan pemulihan. konsep
holistik dalam perawatan intensif menekankan pentingnya perhatian
terhadap aspek psikologis pasien .
D. Peran Perawat dalam Pelayanan perawatan intensif
erawat berperan yang sangat penting dalam pelayanan
perawatan intensif sebab mereka merupakan tenaga kesehatan yang
paling sering berinteraksi dengan pasien dan keluarga. Dalam
pelayanan ini, perawat tidak hanya berfungsi sebagai pemberi
asuhan keperawatan namun juga memiliki berbagai peran
lainnya.
1. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran utama perawat dalam perawatan intensif yaitu
memberi asuhan keperawatan secara langsung kepada
pasien. Asuhan ini meliputi proses keperawatan yang terdiri
dari pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi tindakan keperawatan.
2. Perawat sebagai educator
Perawat juga berperan sebagai pendidik bagi pasien dan
keluarga. Dalam peran ini, perawat memberi informasi
mengenai kondisi kesehatan pasien dan cara melakukan
perawatan yang benar di rumah.
Ruang lingkup perawatan intensif juga melibatkan edukasi
kesehatan kepada keluarga pasien. Dalam pelayanan ini,
perawat memberi informasi mengenai cara merawat
pasien, pemakaian obat, dan tindakan yang harus
dilakukan jika terjadi kondisi darurat. Keluarga merupakan
pihak yang paling sering berinteraksi dengan pasien
sehingga berperan penting dalam keberhasilan
perawatan di rumah. Oleh sebab itu, edukasi kesehatan
kepada keluarga menjadi bagian penting dari pelayanan
perawatan intensif . Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan
keluarga dalam perawatan dapat meningkatkan kualitas
hidup pasien secara signifikan (Rusli et al., 2023).
3. Perawat sebagai koordinator pelayanan Kesehatan
Dalam pelayanan perawatan intensif , perawat sering berperan
sebagai koordinator yang menghubungkan berbagai tenaga
kesehatan seperti dokter, fisioterapis, dan ahli gizi untuk
memastikan pasien mendapat pelayanan kesehatan yang
komprehensif.
4. Perawat sebagai konselor
Perawat juga berperan sebagai konselor yang memberi
dukungan emosional kepada pasien dan keluarga dalam
menghadapi kondisi kesehatan yang dialami.
Penelitian menunjukkan bahwa perawat dalam pelayanan home
care sering bekerja secara mandiri dan memiliki tanggung jawab
besar dalam pengambilan keputusan klinis dan koordinasi
pelayanan kesehatan bagi pasien di rumah
E. Prinsip Pelaksanaan perawatan intensif
Pelayanan perawatan intensif keperawatan harus dilaksanakan
berdasar beberapa prinsip dasar agar pelayanan yang
diberikan dapat berjalan secara efektif dan aman. Beberapa
prinsip utama dalam pelaksanaan perawatan intensif antara lain:
1. Berorientasi pada kebutuhan pasien
Pelayanan harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan
kebutuhan individu pasien.
2. Melibatkan keluarga dalam perawatan
Keluarga berperan penting dalam membantu proses
perawatan pasien di rumah.
3. Pelayanan berkesinambungan
Perawatan harus dilakukan secara terus menerus sesuai
dengan perkembangan kondisi pasien.
4. Mengutamakan keselamatan pasien
Semua tindakan keperawatan harus dilakukan dengan
memperhatikan prinsip keselamatan pasien.
5. konsep holistic
Perawatan harus memperhatikan aspek fisik, psikologis,
sosial, dan spiritual pasien.
Standar praktik keperawatan berbasis rumah juga menekankan
pentingnya kompetensi profesional, komunikasi interpersonal,
dan kemampuan pengambilan keputusan klinis dalam
memberi pelayanan yang berkualitas
Layanan perawatan intensif yaitu pelayanan kesehatan atau
perawatan yang diberikan di rumah pasien oleh tenaga
profesional kesehatan seperti perawat, dokter, fisioterapis, atau
caregiver terlatih. Layanan ini mencakup berbagai aspek mulai
dari perawatan medis, pengelolaan penyakit kronis, rehabilitasi,
hingga dukungan sehari-hari bagi lansia atau pasien pasca-rawat
inap hospital
Struktur organisasi layanan ini berbeda dari struktur
rumah sakit atau klinik sebab fokusnya pada pelayanan
terdesentralisasi (berbasis rumah pasien) dan memerlukan
koordinasi lintas disiplin yang kompleks.
B. Konsep Struktur Organisasi Layanan perawatan intensif
1. Definisi
perawatan intensif merupakan konsep pelayanan kesehatan
yang membawa pelayanan klinis dan non-klinis langsung
ke tempat tinggal pasien, berorientasi pada keselamatan,
kualitas hidup, dan kenyamanan pasien.
2. Tujuan perawatan intensif
a. Meningkatkan kualitas hidup pasien di rumah.
b. Mengurangi readmisi rumah sakit.
c. Menyediakan perawatan berkelanjutan pasca rawat
inap.
d. Menurunkan biaya perawatan kesehatan jangka
panjang.
3. Model organisasi perawatan intensif Internasional
Menurut studi lintas negara di Eropa, organisasi perawatan intensif
dapat dikategorikan berdasar karakteristik struktural
seperti tingkat profesionalisme tim, koordinasi layanan,
dan fokus pasien-sentris. Terdapat enam model yang
berbeda berdasar proses organisasi dan pelayanan
Selain itu, model pelayanan di Spanyol menekankan
integrasi antara profesional primer (dokter, perawat) dan
dukungan spesialis untuk menangani pasien kronis atau
terminal di rumah
4. Teori dan Kerangka Analisis
Secara umum, struktur organisasi perawatan intensif memiliki
beberapa elemen utama seperti berikut:
a. Penanggung Jawab Utama
Orang atau pihak yang bertanggung jawab
terhadap keseluruhan layanan perawatan intensif , termasuk
implementasi operasional, pengawasan kualitas, dan
pelaporan.
Peran:
1) Bertanggung jawab atas kebijakan layanan.
2) Menetapkan standar pelayanan.
3) Menjalin hubungan dengan regulator atau institusi
lain.
b. Ketua Umum / Direktur perawatan intensif
Pengambil keputusan tertinggi dalam struktur
organisasi layanan perawatan intensif yang memimpin seluruh
fungsi manajerial dan operasional.
Tugas:
1) Memimpin tim pelayanan.
2) Menetapkan SOP dan kebijakan internal.
3) Mengawasi implementasi layanan.
c. Manajer atau Koordinator Pelayanan
Bertanggung jawab atas koordinasi langsung tim
layanan dan aktivitas operasional harian, termasuk
penjadwalan staf dan komunikasi dengan pasien dan
keluarga.
Tugas:
1) Mengatur jadwal kunjungan.
2) Melakukan supervisi tim.
3) Menanggapi masalah logistik atau medis untuk
klien.
d. Koordinator Kasus (Case Coordinator)
Personel yang berperan sebagai penghubung
antara pasien, keluarga, tenaga profesional, dan
dokumentasi administrasi. Model case management ini
penting untuk menjaga kontinuitas layanan dalam
berbagai sektor perawata
5. Contoh Implementasi Kebijakan Publik dan Promosi
Kesehatan
Berikut contoh skematik struktur organisasi layanan
perawatan intensif berdasar praktik di lapangan (diadaptasi
dari berbagai literatur operasional):
Direktur / Penanggung Jawab
'
-%%%%%%%%%%%%%5
'perawatan intensif Manager'
5%%%%%%%%%%%%%=
/ | \
Administrasi Kasus Pelayanan
' / | \
-%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%5
' Perawat Fisioterapis Dokter Rumah
6. Peran Tim dalam Struktur
a. Tenaga Medis
1) Perawat perawatan intensif
2) Fisioterapis
3) Dokter kunjungan
Tenaga medis ini bertanggung jawab atas
pengkajian, penetapan rencana perawatan,
pelaksanaan tindakan klinis, dan evaluasi hasil
perawatan.
b. Tenaga Non-Medis
1) Administrasi
2) Logistik
3) Customer Service
Peran mereka yaitu memastikan proses
administrasi, pencatatan, penjadwalan, dan dukungan
non-klinis berjalan baik.
7. Mekanisme Koordinasi Antar Unit
perawatan intensif merupakan organisasi layanan
terintegrasi yang membutuhkan komunikasi dan
koordinasi lintas unit, seperti:
a. Komunikasi antar tim medis dan administrasi
b. Rapat koordinasi klinis berkala
c. Penyusunan jadwal kunjungan yang efektif
d. Pelaporan masalah pelayanan secara real-time
Dalam model perawatan intensif yang baik, koordinasi juga
melibatkan pasien dan keluarganya sebagai pengambil
keputusan bersama dalam proses pelayanan
8. Tantangan dalam Struktur Organisasi perawatan intensif
a. Koordinasi Tim
Menyatukan berbagai disiplin yang bekerja
terpisah secara geografis membutuhkan komunikasi
yang efektif.
b. Pengawasan Kualitas
Mengukur dan menjaga mutu pelayanan di rumah
pasien jauh lebih kompleks dibanding layanan di
fasilitas kesehatan tetap.
c. Keamanan dan Penanggung Jawab Klinis
Penanggung jawab klinis harus memastikan
standar perawatan diikuti dengan benar sesuai regulasi
kesehatan.
9. Studi Kasus Internasional – Buurtzorg Nederland
Model organisasi Buurtzorg di Belanda memenangkan
penghargaan sebab memakai struktur yang sangat
datar dengan tim perawat otonom yang mengatur sendiri
pekerjaan dan koordinasi kunjungan pasien, membuktikan
bahwa struktur organisasi dapat bersifat fleksibel dan tidak
selalu hirarkis.
10. Evaluasi dan Rekomendasi
Struktur organisasi layanan perawatan intensif yang efektif
harus memperhatikan:
a. Patient-centered approach
b. Integrasi lintas profesi
c. Koordinasi internal dengan standar operasional jelas
d. Adaptasi sesuai kebutuhan lokal (komunitas, rumah
sakit, klinik)
Layanan perawatan intensif telah bertransformasi dari sekadar
alternatif perawatan menjadi kebutuhan mendasar dalam sistem
kesehatan saat ini. Dalam konteks yang semakin kompleks ini,
tujuan utamanya yaitu menempatkan pasien sebagai pusat dari
proses perawatan, melibatkan mereka dalam pengambilan
keputusan dan merancang perawatan sesuai kebutuhan
individual mereka. Hal ini sangat relevan di era populasi yang
menua dan meningkatnya jumlah penyakit kronis, di mana
perawatan jangka panjang menjadi perhatian nyata.
Studi menunjukkan bahwa pasien yang menerima layanan
perawatan intensif sering kali mengalami perbaikan dalam kesehatan
fisik dan mental mereka. Kelebihan utama dari metode ini
yaitu kenyamanan yang ditawarkan; pasien dapat berada di
lingkungan yang akrab, menjaga koneksi sosial, dan
menanggulangi perasaan terasing yang umum terjadi di rumah
sakit. Ini merupakan keuntungan emosional yang krusial dalam
proses penyembuhan. Namun, meskipun potensi layanan ini
sangat besar, tantangan yang dihadapinya cukup banyak.
Banyak keluarga yang belum sepenuhnya memahami
bagaimana mengakses layanan ini, dan beragamnya jenis
perawatan yang tersedia, menjadi penghalang bagi efektivitas
layanan. Perencanaan yang sistematis dan menyeluruh
diperlukan untuk memastikan bahwa setiap elemen dari layanan
perawatan intensif dapat dijalankan secara efisien dan efektif, agar tujuan
perawatan dapat tercapai.
Perencanaan layanan perawatan intensif secara mendalam.
Dua hal yang menjadi fokus utama yaitu bagaimana
melakukan analisis kebutuhan pasien yang menyeluruh
dan langkah-langkah spesifik dalam merancang,
melaksanakan, dan mengevaluasi layanan yang diberikan.
Kesadaran akan pentingnya integritas dalam kolaborasi tim
menjadi elemen kunci dalam menciptakan layanan yang
memuaskan bagi pasien dan keluarganya.
B. Definisi perawatan intensif
Dalam konteks perawatan kesehatan, perawatan intensif
didefinisikan sebagai layanan yang diberikan kepada
individu di rumah mereka, mencakup berbagai tingkat
perawatan medis, rehabilitasi, dan dukungan sosial.
"Layanan perawatan intensif memiliki tujuan untuk memberi
perawatan perawatan kesehatan dan sosial di lingkungan
rumah, dengan harapan mendukung pasien agar dapat
hidup mandiri dan nyaman." Layanan ini berfokus pada
kebutuhan individual pasien dan dapat terkait dengan
kondisi kronis, pemulihan pasca-perawatan medis, atau
dukungan harian dalam aktivitas sehari-hari.
"perawatan intensif yaitu perawatan yang dirancang untuk
memastikan kebutuhan kesehatan pasien memenuhi
kondisi unik mereka, dan memberi pelayanan di rumah
untuk memaksimalkan kualitas hidup." Dalam hal ini,
layanan perawatan intensif tidak sekadar soal perawatan; ini
yaitu konsep yang terintegrasi yang meliputi
dukungan fisik, emosional, dan sosial, yang sangat penting
dalam membantu pasien menghadapi tantangan
kesehatannya.
C. Analisis Kebutuhan (Asesmen Holistik)
Analisis kebutuhan merupakan langkah fundamental
dalam memastikan bahwa perawatan yang diberikan tepat
sasaran dan sesuai dengan kondisi pasien. Tahap ini
mencakup beberapa aspek penting yang harus diperhatikan
dalam proses asesmen.
1. Asesmen Kondisi Kesehatan Pasien
Asesmen awal harus mencakup evaluasi risiko
kesehatan secara menyeluruh, yang tidak hanya
terbatas pada kondisi fisik, namun juga meliputi
aspek mental dan sosial. Dalam konteks ini,
pengumpulan data dari riwayat medis, catatan
perawatan sebelumnya, dan wawancara langsung
dengan pasien dan keluarganya menjadi esensial.
Data ini membantu dalam memahami kondisi
pasien secara menyeluruh dan menciptakan
gambaran yang komprehensif. Selain itu,
pemakaian alat asesmen standar, seperti Geriatric
Depression Scale atau Mini-Mental State
Examination, dapat membantu dalam mengukur
kondisi mental pasien, dan memudahkan dalam
pengambilan keputusan klinis. Informasi ini
memberi fondasi bagi perencanaan layanan dan
memastikan bahwa semua aspek kebutuhan pasien
dipenuhi.
2. Identifikasi Kebutuhan Medis dan Non-Medis
Identifikasi yang akurat antara kebutuhan medis
dan non-medis mencakup berbagai domain penting.
Kebutuhan Medis dapat mencakup pengelolaan
penyakit kronis, pengobatan rutin, rehabilitasi, dan
terapi fisik. Ketrampilan untuk mendiagnosis dan
merespons komplikasi yang mungkin terjadi
menjadi kunci.
Kebutuhan Non-Medis, dukungan emosional dan
sosial sering kali menjadi yang terpenting. Banyak
pasien menghadapi tantangan psikologis yang
berimbas pada kesehatan fisik mereka. Menciptakan
program yang memadai untuk mengatasi aspek
ini4seperti dukungan psikoterapi atau kelompok
dukungan4yaitu bagian integral dari
perencanaan yang holistik.
3. Analisis Lingkungan Rumah
Lingkungan tempat tinggal pasien juga sangat
mempengaruhi kondisi kesehatan mereka. Analisis
ini harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti
aksesibilitas, kehilangan mobilitas, potensi bahaya
(seperti jatuh), dan ketersediaan sumber daya
(seperti alat bantu). Dengan memahami lingkungan
fisik, penyedia layanan dapat menyesuaikan metode
dan jenis layanan untuk menghindari risiko bagi
keselamatan pasien. Melalui analisis yang holistik,
seluruh gambaran kebutuhan pasien dapat
dipetakan. Hal ini tidak hanya memastikan
keberhasilan dalam perawatan yang diberikan,
namun juga menciptakan rasa nyaman bagi pasien
dan keluarganya.
D. Pengembangan Rencana Layanan perawatan intensif
sesudah mengumpulkan dan menganalisis data
kebutuhan pasien, langkah berikutnya yaitu menyusun
Rencana Layanan perawatan intensif yang terstruktur dan
terpadu. Proses ini membutuhkan pemahaman yang
mendalam tentang tujuan perawatan dan sumber daya
yang tersedia.
1. Penyusunan Tujuan Layanan
Penyusunan tujuan layanan harus mencakup drive
untuk menjaga motivasi pasien dan efektivitas
perawatan. Tujuan harus dibuat dengan konsep
SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant,
Time-bound) agar dapat diukur dan dievaluasi
selama proses perawatan. Misalnya, tujuan jangka
pendek dapat difokuskan pada pengurangan gejala
fisik, sementara tujuan jangka panjang dapat berupa
peningkatan kemandirian pasien dalam aktivitas
sehari-hari.
2. Penentuan Jenis dan Intensitas Layanan
berdasar analisis kebutuhan, jenis layanan yang
akan diberikan harus ditentukan secara jelas, dengan
mempertimbangkan lini jasa yang disiapkan4
apakah itu bantuan medis berkelanjutan, terapi fisik,
atau dukungan psikososial. Selain itu, frekuensi dan
rentang waktu untuk setiap intervensi harus juga
ditentukan agar sesuai dengan kebutuhan pasien dan
potensi keberadaan tenaga kesehatan.
3. Kesepakatan dan Kontrak Pelayanan
Membuat kesepakatan tertulis bukan hanya secara
formal meningkatkan komitmen, namun juga
berfungsi untuk melindungi hak dan tanggung jawab
dari semua pihak yang terlibat. Kontrak ini mencakup
detail tentang jenis layanan, ketersediaan waktu, dan
biaya, menciptakan transparansi dalam hubungan
antara penyedia dan penerima layanan.
E. Pelaksanaan Rencana Layanan perawatan intensif
sesudah rencana dijabarkan dan disepakati, langkah
selanjutnya yaitu implementasi. Proses ini merupakan
titik kritis di mana semua teori dan rencana bertemu
dengan praktik.
1. Persiapan dan Orientasi Tim
Tenaga kesehatan yang terlibat dalam perawatan intensif
harus mendapat pelatihan dan orientasi yang
memadai. Ini mencakup pemahaman tentang kondisi
pasien dan penanganan dalam situasi yang spesifik.
konsep berbasis tim ini meningkatkan
kolaborasi dan efisiensi dalam implementasi
layanan.
2. Implementasi Perawatan
Pelaksanaan rencana layanan harus dilakukan
dengan fleksibilitas yang tinggi, agar dapat
disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasien.
Kualitas perawatan yang tinggi sangat tergantung
pada kemampuan tenaga kesehatan untuk
beradaptasi dengan situasi yang terus berubah.
Selain itu, harus ada sistem pencatatan teratur yang
mencatat setiap intervensi dan hasil yang dicapai.
3. Dokumentasi Berkelanjutan
Dokumentasi yaitu elemen penting dalam home
care, yang memicu semua tindakan, observasi,
dan perkembangan pasien harus dicatat secara
sistematis. Hal ini tidak hanya berfungsi untuk
referensi lebih lanjut, namun juga mendukung proses
evaluasi yang lebih akurat.
F. Evaluasi Layanan perawatan intensif
Evaluasi yaitu tahap penting untuk memastikan
bahwa perawatan yang diberikan memenuhi standar yang
diharapkan. Proses evaluasi tidak hanya bersifat
retrospektif, namun juga merupakan alat untuk perbaikan
berkelanjutan.
1. Pengukuran Hasil (Outcome)
memakai indikator atau metrik untuk
mengukur hasil perawatan yaitu langkah kunci.
Ini dapat mencakup alat pengukuran spesifik yang
dirancang untuk menilai aspek seperti kesehatan
fungsional, kepuasan pasien, dan tingkat kemajuan
yang telah dicapai.
2. Mekanisme Umpan Balik
Penting untuk memiliki saluran komunikasi yang
terbuka untuk mengumpulkan umpan balik dari
pasien dan keluarganya. Ini mencakup dialog
tentang apa yang berhasil dan apa yang perlu
diperbaiki. Evaluasi juga dapat melibatkan survei,
wawancara, dan asesmen langsung oleh tenaga
kesehatan.
3. Modifikasi dan Penyesuaian Rencana
berdasar umpan balik dan pengukuran hasil,
penyesuaian rencana layanan mungkin diperlukan.
Ini termasuk menambahkan atau mengubah
intervensi, menambah anggota tim, atau bahkan
mengubah tujuan perawatan jika diperlukan untuk
lebih baik mencerminkan kebutuhan pasien.
G. Kolaborasi Tim Layanan perawatan intensif
perawatan intensif bukanlah pekerjaan satu orang; ini
membutuhkan sinergi antara semua tenaga kesehatan yang
terlibat dalam perawatan. Kolaborasi yang baik akan
meningkatkan kualitas pelayanan dan mendukung
pengalaman yang lebih baik bagi pasien.
1. Peran dan Tanggung Jawab Tim
Setiap anggota tim harus memahami perannya
masing-masing. Hal ini membantu memperjelas
ekspektasi dan meminimalkan kebingungan.
Sebagai contoh, perawat mungkin akan bertugas
dalam pengobatan harian dan terapi fisik,
sementara pekerja sosial dapat berperan dalam
menyediakan dukungan emosional dan sumber
daya tambahan.
2. Mekanisme Komunikasi
Komunikasi yang efisien antar anggota tim sangat
penting. Mengadakan pertemuan rutin untuk
mendiskusikan perkembangan pasien dan strategi
baru dapat membantu meningkatkan sinergi.
memakai teknologi komunikasi seperti video
conference atau aplikasi manajemen proyek juga
bisa membantu dalam pengorganisasian.
3. Integrasi dengan Layanan Eksternal
Kolaborasi yang efektif juga melibatkan koordinasi
dengan penyedia layanan eksternal, seperti apotek
atau pusat rehabilitasi, untuk memastikan pasien
mendapat semua layanan yang mereka
butuhkan. Integrasi ini memastikan konsep
yang lebih komprehensif dalam perawatan.
H. Aspek Etika dan Regulasi
Praktik perawatan intensif perlu memperhatikan aspek etika dan
kepatuhan hukum dalam memberi layanan yang
berkualitas dan aman. Hal ini menjadi penting agar hak-hak
pasien tidak terlanggar. Regulasi dan Legalitas Penyedia
layanan harus mematuhi regulasi yang ada, seperti standar
pelayanan kesehatan, hak pasien, dan tanggung jawab
penyedia. Terlebih lagi, aturan yang relevan seperti UU No.
17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, memberi panduan
dan batasan yang harus diikuti untuk menjaga integritas
praktik.
Manajemen operasional yaitu kegiatan yang
berkaitan dengan perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengendalian proses produksi atau
pelayanan untuk menghasilkan produk atau jasa secara efektif
dan efisien. Menurut Operations Management karya Jay
Heizer dan Barry Render, manajemen operasi merupakan
serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk
barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output.
Dalam sektor kesehatan, manajemen operasional berfokus
pada pengelolaan pelayanan kesehatan agar berjalan efektif,
efisien, dan berkualitas.
perawatan intensif yaitu pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada pasien di rumah untuk mempertahankan,
meningkatkan, atau memulihkan kesehatan pasien. Menurut
Fundamentals of Nursing oleh Patricia A. Potter dan Anne
Griffin Perry, perawatan intensif merupakan bagian dari pelayanan
kesehatan komunitas yang bertujuan memberi asuhan
keperawatan secara berkesinambungan di rumah pasien.
Pelayanan ini biasanya diberikan kepada :
1. pasien penyakit kronis
2. pasien pasca rawat inap
3. lansia
4. pasien dengan keterbatasan mobilitas
Manajemen operasional perawatan intensif yaitu proses
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan
pengendalian berbagai kegiatan pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada pasien di rumah agar pelayanan berjalan
efektif, efisien, dan berkualitas. Secara umum, manajemen
operasional merupakan kegiatan mengelola sumber daya
organisasi untuk menghasilkan layanan atau produk secara
efektif dan efisien. Dalam konteks perawatan intensif , manajemen
operasional mencakup pengelolaan tenaga kesehatan, jadwal
kunjungan, peralatan medis, hingga pengawasan mutu
pelayanan yang diberikan kepada pasien di rumah.
B. Tujuan Manajemen Operasional perawatan intensif
Tujuan manajemen operasional perawatan intensif yaitu
untuk memastikan bahwa pelayanan kesehatan yang
diberikan di rumah pasien dapat berjalan efektif, efisien, dan
berkualitas, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasien
dan keluarganya. Secara umum, tujuan manajemen
operasional perawatan intensif meliputi:
1. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan; Manajemen
operasional bertujuan memastikan pelayanan perawatan intensif
diberikan sesuai standar pelayanan kesehatan sehingga
mutu pelayanan tetap terjaga.
2. Mengoptimalkan pemakaian Sumber Daya; Manajemen
operasional membantu mengelola sumber daya seperti
tenaga kesehatan, waktu kunjungan, dan peralatan medis
agar dipakai secara efisien.
3. memberi Pelayanan yang Efektif dan Efisien; Dengan
pengelolaan operasional yang baik, pelayanan kesehatan di
rumah dapat dilakukan secara tepat waktu, tepat prosedur,
dan dengan biaya yang lebih efisien.
4. Meningkatkan Kepuasan Pasien dan Keluarga; Pelayanan
perawatan intensif yang terorganisasi dengan baik akan
meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan kepuasan
pasien dan keluarganya.
5. Menjamin Kesinambungan Pelayanan Kesehatan;
Manajemen operasional bertujuan menjaga kontinuitas
pelayanan kesehatan sesudah pasien keluar dari rumah sakit
sehingga proses pemulihan tetap berjalan dengan baik.
6. Mengendalikan Biaya Pelayanan; Manajemen operasional
membantu mengontrol biaya pelayanan kesehatan agar
tetap terjangkau tanpa mengurangi kualitas pelayanan.
C. Fungsi Manajemen Operasional perawatan intensif
Fungsi manajemen operasional perawatan intensif yaitu
serangkaian kegiatan manajemen yang dilakukan untuk
mengatur dan mengelola pelayanan kesehatan di rumah
pasien agar berjalan secara efektif, efisien, dan sesuai dengan
standar pelayanan kesehatan. Secara umum, fungsi
manajemen operasional perawatan intensif mengikuti konsep fungsi
manajemen yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengendalian (POAC).
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan proses menentukan
tujuan dan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
pelayanan perawatan intensif . Kegiatan perencanaan meliputi;
a. Menentukan jenis pelayanan perawatan intensif yang akan
diberikan.
b. Menyusun program pelayanan kesehatan di rumah.
c. Menentukan jumlah tenaga kesehatan yang dibutuhkan.
d. Menyiapkan peralatan medis dan obat-obatan.
e. Menyusun jadwal kunjungan pasien.
Perencanaan yang baik akan membantu pelayanan
perawatan intensif berjalan terarah dan sesuai dengan kebutuhan
pasien.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian yaitu proses mengatur dan
membagi tugas kepada tenaga kesehatan yang terlibat
dalam pelayanan perawatan intensif . Kegiatan pengorganisasian
meliputi;
a. Membentuk struktur organisasi pelayanan perawatan intensif .
b. Membagi tugas dan tanggung jawab tenaga kesehatan.
c. Mengkoordinasikan kerja antara dokter, perawat, dan
tenaga kesehatan lainnya.
Tujuan pengorganisasian yaitu agar setiap tenaga
kesehatan memiliki tugas yang jelas sehingga pelayanan
dapat berjalan dengan baik.
3. Pelaksanaan atau Penggerakan (Actuating)
Pelaksanaan yaitu proses menjalankan kegiatan
pelayanan perawatan intensif sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan. Kegiatan pelaksanaan meliputi;
a. Kunjungan tenaga kesehatan ke rumah pasien.
b. Pelaksanaan asuhan keperawatan.
c. Pemantauan kondisi kesehatan pasien.
d. Edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga.
Pelaksanaan pelayanan harus mengikuti standar
operasional prosedur (SOP) agar kualitas pelayanan tetap
terjaga.
4. Pengendalian (Controlling)
Pengendalian yaitu proses memantau dan
mengevaluasi pelayanan perawatan intensif untuk memastikan
kegiatan berjalan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Kegiatan pengendalian meliputi;
a. Evaluasi kualitas pelayanan kesehatan.
b. Monitoring kinerja tenaga kesehatan.
c. Evaluasi kepuasan pasien dan keluarga.
d. Perbaikan pelayanan jika ditemukan kekurangan.
Pengendalian bertujuan untuk meningkatkan mutu
pelayanan perawatan intensif secara berkelanjutan.
D. Komponen Operasional perawatan intensif
Komponen operasional perawatan intensif merupakan unsur-
unsur penting yang mendukung terlaksananya pelayanan
kesehatan di rumah pasien secara efektif, efisien, dan
berkualitas. Komponen ini meliputi sumber daya manusia,
sistem pelayanan, sarana prasarana, dan standar pelayanan
yang dipakai dalam pelaksanaan perawatan intensif .
1. Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya manusia merupakan komponen
utama dalam pelayanan perawatan intensif . Tenaga kesehatan yang
terlibat harus memiliki kompetensi dan keterampilan yang
sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah.
Tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan perawatan intensif
antara lain:
a. Dokter
b. Perawat
c. Fisioterapis
d. Bidan
e. Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian
f. Caregiver atau tenaga pendamping pasien
g. Tenaga administrasi
Setiap tenaga kesehatan berperan dan tanggung
jawab masing-masing dalam memberi pelayanan
kepada pasien.
2. Sistem Pelayanan
Sistem pelayanan merupakan mekanisme atau tata
cara dalam pelaksanaan pelayanan perawatan intensif agar
pelayanan dapat berjalan secara teratur dan terkoordinasi.
Sistem pelayanan perawatan intensif meliputi;
a. Sistem pendaftaran pasien
b. Sistem penjadwalan kunjungan tenaga kesehatan
c. Sistem rujukan ke fasilitas kesehatan lain jika diperlukan
d. Sistem dokumentasi dan pencatatan kondisi pasien
e. Sistem komunikasi antara tenaga kesehatan dan
keluarga pasien
Sistem pelayanan yang baik akan memudahkan
koordinasi dan meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan.
3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan fasilitas yang
dipakai untuk mendukung pelaksanaan pelayanan
perawatan intensif . Contoh sarana dan prasarana dalam perawatan intensif
antara lain;
a. Peralatan medis (tensimeter, termometer, oksimeter,
dll.)
b. Alat perawatan luka
c. Obat-obatan
d. Alat rehabilitasi
e. Kendaraan operasional untuk kunjungan rumah
Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai
akan membantu tenaga kesehatan memberi pelayanan
secara optimal.
4. Standar Operasional Prosedur (SOP)
Standar operasional prosedur merupakan
pedoman atau aturan yang dipakai dalam pelaksanaan
pelayanan perawatan intensif agar pelayanan dilakukan secara
sistematis dan sesuai dengan standar pelayanan kesehatan.
SOP dalam pelayanan perawatan intensif meliputi;
a. Prosedur kunjungan rumah
b. Prosedur pemberian asuhan keperawatan
c. Prosedur pemakaian alat medis
d. Prosedur keselamatan pasien
e. Prosedur pencatatan dan pelaporan pelayanan
Penerapan SOP bertujuan untuk menjaga mutu
pelayanan dan menjamin keselamatan pasien.
5. Sistem Pengawasan dan Evaluasi
Pengawasan dan evaluasi dilakukan untuk
memastikan pelayanan perawatan intensif berjalan sesuai dengan
rencana dan standar yang telah ditetapkan. Kegiatan
pengawasan meliputi;
a. Monitoring pelaksanaan pelayanan
b. Evaluasi kinerja tenaga kesehatan
c. Penilaian kepuasan pasien
d. Perbaikan kualitas pelayanan
Pengawasan yang baik akan membantu
meningkatkan mutu pelayanan perawatan intensif secara
berkelanjutan.
E. Kegiatan Operasional perawatan intensif
Kegiatan operasional perawatan intensif yaitu berbagai
aktivitas pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan kepada pasien di rumah. Kegiatan ini bertujuan
untuk memberi pelayanan kesehatan yang berkelanjutan,
meningkatkan kualitas hidup pasien, dan membantu proses
pemulihan pasien di lingkungan rumah.
1. Pengkajian Kondisi Pasien
Kegiatan awal dalam pelayanan perawatan intensif yaitu
melakukan pengkajian terhadap kondisi kesehatan pasien.
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui keadaan fisik,
psikologis, dan sosial pasien sehingga tenaga kesehatan
dapat menentukan jenis pelayanan yang dibutuhkan.
Pengkajian meliputi;
a. Pemeriksaan tanda-tanda vital
b. Riwayat penyakit pasien
c. Kondisi lingkungan rumah
d. Kebutuhan perawatan pasien
2. Penyusunan Rencana Perawatan
sesudah melakukan pengkajian, tenaga kesehatan
akan menyusun rencana perawatan sesuai dengan kondisi
dan kebutuhan pasien. Rencana perawatan ini bertujuan
untuk menentukan tindakan yang akan diberikan selama
pelayanan perawatan intensif . Rencana perawatan dapat berupa;
a. Jadwal kunjungan tenaga kesehatan
b. Jenis tindakan medis atau keperawatan
c. Program rehabilitasi pasien
3. Pelaksanaan Asuhan Keperawatan
Pelaksanaan asuhan keperawatan merupakan
kegiatan utama dalam pelayanan perawatan intensif . Tenaga
kesehatan memberi berbagai tindakan medis atau
keperawatan kepada pasien sesuai dengan rencana
perawatan. Contoh kegiatan yang dilakukan antara lain;
a. Perawatan luka
b. Pemberian obat
c. Pemasangan infus
d. Pemantauan kondisi kesehatan pasien
e. Perawatan pasien pasca operasi
4. Edukasi kepada Pasien dan Keluarga
Dalam pelayanan perawatan intensif , tenaga kesehatan juga
memberi edukasi kepada pasien dan keluarga
mengenai cara merawat pasien di rumah. Edukasi yang
diberikan meliputi;
a. Cara menjaga kebersihan pasien
b. Cara pemberian obat yang benar
c. Pencegahan komplikasi penyakit
d. Pola makan dan gaya hidup sehat
5. Monitoring dan Evaluasi Kondisi Pasien
Monitoring dilakukan untuk mengetahui
perkembangan kondisi kesehatan pasien selama
mendapat pelayanan perawatan intensif . Kegiatan monitoring
meliputi;
a. Pemeriksaan kondisi kesehatan secara berkala
b. Evaluasi hasil perawatan
c. Penyesuaian rencana perawatan jika diperlukan
6. Dokumentasi Pelayanan
Setiap kegiatan pelayanan perawatan intensif harus
didokumentasikan dengan baik sebagai bentuk pencatatan
medis dan bahan evaluasi pelayanan. Dokumentasi
meliputi;
a. Catatan perkembangan kondisi pasien
b. Tindakan yang telah dilakukan
c. Respon pasien terhadap perawatan
d. Laporan kunjungan tenaga kesehatan
Dokumentasi yang baik sangat penting untuk
menjaga kontinuitas pelayanan kesehatan.
Manajemen keuangan dalam pelayanan perawatan intensif
merupakan komponen strategis yang menentukan
keberlanjutan layanan, mutu asuhan, dan stabilitas organisasi.
Berbeda dengan pelayanan berbasis fasilitas seperti rumah sakit,
perawatan intensif memiliki struktur biaya yang unik: mobilitas tinggi,
kebutuhan logistik individual, variasi intensitas layanan, dan
sistem pembayaran yang lebih fleksibel.
Secara konseptual, pengelolaan keuangan perawatan intensif harus
mengintegrasikan prinsip manajemen keuangan kesehatan
(health financial management), efisiensi biaya, akuntabilitas
publik, dan keadilan akses pelayanan.
B. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan perawatan intensif
1. Konsep Dasar Manajemen Keuangan perawatan intensif
Manajemen keuangan dalam pelayanan perawatan intensif
merupakan proses perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengendalian sumber daya finansial guna
menjamin keberlanjutan layanan yang efektif, efisien, dan
berkualitas. Pengelolaan keuangan yang baik
memungkinkan penyedia layanan mempertahankan mutu
asuhan, membayar tenaga kesehatan secara layak, dan
memenuhi kebutuhan operasional secara berkelanjutan
Dalam konteks manajemen pelayanan kesehatan, fungsi
manajemen keuangan mencakup:
a. Perencanaan anggaran (budgeting)
b. Pengelolaan pendapatan
(revenue management)
Manajemen Keuangan dan
Pembiayaan perawatan intensif
c. Pengendalian biaya (cost control)
d. Pelaporan dan akuntabilitas keuangan
e. Evaluasi kinerja finansial
Menurut Yoder-Wise (2022), manajemen keuangan
dalam keperawatan tidak hanya berorientasi pada
keuntungan, namun juga pada nilai (value-based care), yaitu
keseimbangan antara kualitas layanan dan biaya yang
dikeluarkan.
2. Struktur Biaya dalam Layanan perawatan intensif
Biaya dalam perawatan intensif dapat diklasifikasikan menjadi
biaya tetap dan biaya variabel.
a. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap yaitu biaya yang tidak berubah meskipun
jumlah pasien meningkat atau menurun, seperti:
• Gaji tenaga tetap
• Sewa kantor
• Asuransi
• Sistem administrasi dan IT
Biaya tetap harus diperhitungkan secara cermat dalam
penyusunan tarif layanan agar tidak memicu
defisit operasional
b. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel berubah sesuai dengan jumlah
kunjungan atau tindakan, seperti:
• Alat medis habis pakai
• Transportasi per kunjungan
• Honor tenaga per visit
• Obat-obatan
Pengendalian biaya variabel sangat penting dalam
menjaga efisiensi operasional perawatan intensif
3. Sistem Pembiayaan perawatan intensif
Sistem pembiayaan perawatan intensif dapat bersumber dari
berbagai mekanisme, tergantung sistem kesehatan suatu
negara.
a. Pembayaran Mandiri (Out-of-Pocket)
Pembayaran langsung oleh pasien atau keluarga
merupakan sistem yang paling umum dalam praktik
perawatan intensif swasta. Sistem ini memberi fleksibilitas
dalam penentuan tarif, namun dapat menjadi hambatan
akses bagi pasien dengan keterbatasan ekonomi (World
Health Organization [WHO], 2020).
b. Pembiayaan Asuransi Kesehatan
Dalam sistem jaminan kesehatan nasional
seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Kesehatan, beberapa layanan berbasis komunitas dan
perawatan lanjutan dapat dibiayai melalui mekanisme
rujukan tertentu.
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2022), integrasi
pelayanan perawatan intensif dalam sistem JKN masih
berkembang dan umumnya berkaitan dengan program
rujuk balik atau perawatan paliatif.
c. Pembiayaan Berbasis Paket (Bundled Payment)
Model bundled payment menetapkan tarif berdasar
episode perawatan tertentu, misalnya perawatan luka
selama 14 hari. Model ini menekankan efisiensi dan
outcome klinis (Porter & Kaplan, 2016).
4. Penyusunan Tarif Layanan perawatan intensif
Penetapan tarif harus mempertimbangkan:
a. Analisis biaya (cost analysis)
b. Analisis pasar
c. Daya beli warga
d. Margin keberlanjutan usaha
Metode yang dapat dipakai :
• Cost-based pricing
• Value-based pricing
• Market-based pricing
Menurut Gapenski & Reiter (2016), konsep cost-based
pricing yaitu metode paling aman untuk layanan
kesehatan skala kecil sebab memastikan seluruh biaya
tertutupi sebelum menentukan margin keuntungan.
5. Penyusunan Anggaran (Budgeting)
Anggaran merupakan rencana keuangan yang dinyatakan
dalam angka untuk periode tertentu. Dalam perawatan intensif ,
anggaran biasanya disusun secara tahunan dengan
evaluasi triwulanan.
Jenis anggaran meliputi:
• Operating budget
• Capital budget
• Cash flow budget
Finkler et al. (2019) menekankan bahwa perencanaan arus
kas (cash flow management) sangat krusial dalam layanan
berbasis kunjungan seperti perawatan intensif sebab
ketidakseimbangan antara waktu pelayanan dan waktu
pembayaran dapat memicu risiko likuiditas.
6. Sistem Pengendalian dan Audit Keuangan
Pengendalian internal diperlukan untuk mencegah:
• Kebocoran pendapatan
• Fraud
• Ketidakefisienan operasional
Menurut Marquis & Huston (2021), transparansi laporan
keuangan dan audit berkala merupakan bagian dari good
governance dalam organisasi keperawatan.
Langkah pengendalian meliputi:
a. Pemisahan fungsi keuangan
b. Sistem pencatatan digital
c. Audit internal berkala
d. Evaluasi kinerja finansial per unit layanan
7. Sistem Analisis Kelayakan Usaha perawatan intensif
Sebelum mendirikan layanan perawatan intensif , perlu dilakukan
studi kelayakan yang mencakup:
• Analisis kebutuhan pasar
• Analisis kompetitor
• Break-even point (BEP)
• Proyeksi laba rugi
), analisis BEP membantu
menentukan jumlah minimal kunjungan agar operasional
tidak mengalami kerugian.
8. Sistem Analisis Kelayakan Usaha perawatan intensif
Beberapa tantangan yang sering dihadapi:
a. Tarif yang tidak standar
b. Ketergantungan pada pembayaran tunai
c. Integrasi terbatas dengan sistem JKN
d. Biaya transportasi tinggi di wilayah kepulauan
WHO (2020) menyatakan bahwa sistem pembiayaan
berbasis komunitas memerlukan regulasi dan dukungan
kebijakan agar dapat berkelanjutan.
Pelayanan kesehatan berbasis rumah atau perawatan intensif
merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang
berkembang pesat seiring dengan meningkatnya kebutuhan
warga terhadap layanan kesehatan yang
berkesinambungan, personal, dan berpusat pada pasien.
Layanan ini diberikan kepada pasien di lingkungan tempat
tinggalnya dengan tujuan mempertahankan, meningkatkan,
atau memulihkan kondisi kesehatan tanpa harus menjalani
perawatan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit. perawatan intensif
umumnya ditujukan bagi pasien dengan penyakit kronis,
pasien lanjut usia, pasien pasca perawatan rumah sakit,
maupun individu yang membutuhkan perawatan jangka
panjang. Dalam pelaksanaannya, pelayanan perawatan intensif
melibatkan tenaga kesehatan profesional seperti perawat,
dokter, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya yang bekerja
secara kolaboratif untuk memberi asuhan yang
komprehensif.
Seiring dengan meningkatnya pemanfaatan layanan
perawatan intensif , tuntutan terhadap kualitas pelayanan juga semakin
tinggi. Kualitas layanan dalam perawatan intensif tidak hanya
ditentukan oleh keterampilan klinis tenaga kesehatan, namun
juga mencakup aspek keselamatan pasien, kontinuitas
pelayanan, komunikasi dengan pasien dan keluarga, dan
kepuasan pengguna layanan. Pelayanan yang berkualitas
harus mampu memberi perawatan yang aman, efektif,
tepat waktu, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Kualitas Layanan dan
Indikator Mutu Home
Care
Oleh sebab itu, pengukuran dan evaluasi mutu pelayanan
menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan layanan home
care untuk memastikan bahwa pelayanan yang diberikan telah
sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Indikator mutu pelayanan perawatan intensif berfungsi sebagai
alat untuk menilai dan memantau kualitas layanan secara
sistematis. Indikator ini dapat mencakup berbagai aspek,
seperti efektivitas pelayanan, keselamatan pasien, kepatuhan
terhadap standar prosedur, dan tingkat kepuasan pasien dan
keluarga. Dengan adanya indikator mutu yang jelas dan
terukur, penyedia layanan kesehatan dapat melakukan
evaluasi secara berkelanjutan dan melakukan perbaikan mutu
pelayanan secara sistematis. Oleh sebab itu, pemahaman
mengenai konsep kualitas layanan dan indikator mutu dalam
perawatan intensif sangat penting bagi tenaga kesehatan maupun
pengelola layanan kesehatan agar pelayanan yang diberikan
dapat memenuhi standar profesional dan memberi
manfaat optimal bagi pasien dan keluarganya.
B. Kualitas Layanan dan Indikator Mutu perawatan intensif
Kualitas layanan merupakan salah satu aspek penting
dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk dalam
layanan perawatan intensif . Pelayanan kesehatan berbasis rumah
menuntut standar mutu yang tinggi sebab pelayanan
diberikan di lingkungan pasien yang memiliki kondisi, sumber
daya, dan tingkat dukungan keluarga yang berbeda-beda.
Oleh sebab itu, kualitas layanan perawatan intensif harus dirancang
dan dilaksanakan secara sistematis agar mampu memberi
asuhan kesehatan yang aman, efektif, dan berorientasi pada
kebutuhan pasien.
Dalam praktiknya, kualitas layanan perawatan intensif tidak
hanya berkaitan dengan kemampuan klinis tenaga kesehatan,
namun juga mencakup aspek manajemen pelayanan,
keselamatan pasien, kepuasan pasien dan keluarga, dan
keberlanjutan perawatan. Untuk memastikan mutu pelayanan
tetap terjaga, diperlukan standar pelayanan yang jelas,
indikator mutu yang terukur, dan sistem evaluasi yang
berkelanjutan. Dengan demikian, pelayanan perawatan intensif dapat
bermanfaat optimal bagi pasien sekaligus
meningkatkan kepercayaan warga terhadap layanan
kesehatan berbasis komunitas.
1. Konsep dan Dimensi Kualitas Layanan dalam perawatan intensif
a. Pengertian Kualitas Layanan Kesehatan
Kualitas layanan kesehatan dapat diartikan sebagai
tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam
memenuhi kebutuhan dan harapan pasien sesuai
dengan standar profesional dan etika pelayanan
kesehatan. Kualitas layanan tidak hanya dilihat dari
keberhasilan tindakan medis atau keperawatan, namun
juga dari bagaimana pelayanan ini diberikan
secara aman, tepat waktu, efisien, dan menghargai
martabat dan kebutuhan pasien.
Dalam konteks perawatan intensif , kualitas layanan mencakup
kemampuan tenaga kesehatan dalam memberi
pelayanan yang komprehensif di lingkungan rumah
pasien. Hal ini meliputi kemampuan melakukan
pengkajian kesehatan, memberi intervensi yang
tepat, melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga,
dan melakukan koordinasi dengan tenaga kesehatan
lain untuk memastikan kontinuitas perawatan.
b. Dimensi Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan kesehatan umumnya diukur melalui
beberapa dimensi utama yang menggambarkan
berbagai aspek mutu pelayanan. Beberapa dimensi
kualitas pelayanan yang sering dipakai dalam
pelayanan kesehatan meliputi keamanan, efektivitas,
efisiensi, responsivitas, dan pelayanan yang berorientasi
pada pasien.
Dimensi keamanan (safety) berkaitan dengan usaha
mencegah terjadinya kesalahan medis, cedera pasien,
maupun komplikasi yang tidak diinginkan selama
proses pelayanan kesehatan. Dalam layanan perawatan intensif ,
aspek keamanan mencakup pemakaian alat medis
yang aman, pengelolaan obat yang tepat, dan
penerapan prosedur pencegahan infeksi.
Dimensi efektivitas (effectiveness) menunjukkan sejauh
mana pelayanan kesehatan mampu memberi hasil
yang sesuai dengan tujuan perawatan. Pelayanan yang
efektif berarti intervensi yang diberikan berdasar
bukti ilmiah dan mampu meningkatkan kondisi
kesehatan pasien.
Dimensi efisiensi (efficiency) berkaitan dengan
pemakaian sumber daya secara optimal tanpa
mengurangi kualitas pelayanan. Dalam layanan home
care, efisiensi dapat tercermin dari pengelolaan waktu
kunjungan, pemakaian peralatan medis secara tepat,
dan koordinasi pelayanan yang baik.
Dimensi responsivitas (responsiveness) menunjukkan
kemampuan tenaga kesehatan dalam merespons
kebutuhan pasien secara cepat dan tepat. Responsivitas
sangat penting dalam pelayanan perawatan intensif sebab
kondisi pasien di rumah dapat berubah sewaktu-waktu
dan membutuhkan penanganan segera.
Dimensi berorientasi pada pasien (patient-centered care)
menekankan bahwa pelayanan kesehatan harus
memperhatikan kebutuhan, preferensi, nilai, dan
kondisi sosial pasien dan keluarganya. Dalam layanan
perawatan intensif , keluarga sering menjadi bagian penting dalam
proses perawatan sehingga konsep yang berpusat
pada pasien dan keluarga sangat diperlukan.
c. Prinsip Pelayanan Kesehatan yang Bermutu
Pelayanan kesehatan yang bermutu harus memenuhi
beberapa prinsip dasar, antara lain pelayanan yang
aman, efektif, tepat waktu, efisien, adil, dan
berorientasi pada kebutuhan pasien. Prinsip-prinsip ini
bertujuan untuk memastikan bahwa setiap pasien
memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas
tanpa diskriminasi dan sesuai dengan standar
profesional.
Dalam layanan perawatan intensif , prinsip mutu pelayanan juga
mencakup kontinuitas pelayanan, koordinasi antar
tenaga kesehatan, dan pemberdayaan pasien dan
keluarga dalam proses perawatan. Dengan menerapkan
prinsip-prinsip ini , pelayanan perawatan intensif dapat
memberi dampak positif terhadap kualitas hidup
pasien.
d. Peran Tenaga Kesehatan dalam Menjaga Kualitas
Layanan perawatan intensif
Tenaga kesehatan berperan yang sangat penting
dalam menjaga kualitas layanan perawatan intensif . Peran
ini meliputi kemampuan melakukan pengkajian
kesehatan secara komprehensif, memberi intervensi
yang tepat, memantau kondisi pasien secara berkala,
dan memberi edukasi kepada pasien dan keluarga
mengenai perawatan yang harus dilakukan di rumah.
Selain itu, tenaga kesehatan juga bertanggung jawab
dalam menjaga keselamatan pasien, menerapkan
standar prosedur operasional, dan melakukan
dokumentasi pelayanan secara akurat. Dengan
kompetensi profesional dan sikap empati yang tinggi,
tenaga kesehatan dapat memberi pelayanan yang
tidak hanya berkualitas secara klinis namun juga
memberi rasa aman dan nyaman bagi pasien.
2. Standar Pelayanan perawatan intensif
Standar pelayanan perawatan intensif merupakan pedoman yang
dipakai untuk memastikan bahwa pelayanan yang
diberikan kepada pasien telah memenuhi standar
profesional, etika, dan keselamatan pasien. Standar ini
penting untuk menjaga konsistensi dan kualitas pelayanan
kesehatan yang diberikan di rumah pasien.
a. Standar Pelayanan dan Praktik Profesional perawatan intensif
Standar pelayanan perawatan intensif mencakup berbagai aspek,
mulai dari pengkajian pasien, perencanaan perawatan,
pelaksanaan intervensi, hingga evaluasi hasil
perawatan. Tenaga kesehatan harus melakukan
pengkajian kondisi pasien secara menyeluruh, termasuk
kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan rumah
pasien.
berdasar hasil pengkajian ini , tenaga kesehatan
menyusun rencana perawatan yang sesuai dengan
kebutuhan pasien. Pelaksanaan intervensi harus
dilakukan sesuai dengan standar praktik profesional
dan didokumentasikan secara sistematis untuk
memudahkan pemantauan kondisi pasien.
b. Standar Keselamatan Pasien dalam Layanan perawatan intensif
Keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam
setiap pelayanan kesehatan. Dalam layanan perawatan intensif ,
keselamatan pasien mencakup pencegahan kesalahan
pemberian obat, pencegahan infeksi, pemakaian alat
medis yang aman, dan pengelolaan risiko yang
mungkin terjadi selama perawatan di rumah.
Tenaga kesehatan juga perlu memberi edukasi
kepada pasien dan keluarga mengenai cara pemakaian
obat, perawatan luka, dan tindakan pencegahan
komplikasi agar keselamatan pasien tetap terjaga.
c. Standar Kompetensi Tenaga Kesehatan dalam
Pelayanan perawatan intensif
Pelayanan perawatan intensif memerlukan tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi profesional yang memadai.
Kompetensi ini mencakup kemampuan klinis,
keterampilan komunikasi, kemampuan edukasi
kesehatan, dan kemampuan bekerja secara mandiri di
lingkungan rumah pasien.
Selain itu, tenaga kesehatan juga harus mampu
melakukan koordinasi dengan tenaga kesehatan lain,
seperti dokter, fisioterapis, dan ahli gizi, untuk
memastikan bahwa pasien memperoleh pelayanan yang
komprehensif.
d. Regulasi dan Kebijakan Terkait Layanan perawatan intensif
Pelayanan perawatan intensif di berbagai negara diatur melalui
regulasi dan kebijakan yang bertujuan untuk
memastikan kualitas dan keselamatan pelayanan.
Regulasi ini mencakup standar operasional
pelayanan, persyaratan tenaga kesehatan, sistem
perizinan layanan, dan mekanisme pengawasan mutu
pelayanan.
Adanya regulasi yang jelas membantu penyelenggara
layanan perawatan intensif dalam menjalankan pelayanan sesuai
dengan standar yang berlaku dan memberi
perlindungan bagi pasien maupun tenaga kesehatan.
3. Indikator Mutu Pelayanan perawatan intensif
a. Pengertian Indikator Mutu Pelayanan Kesehatan
Indikator mutu pelayanan kesehatan merupakan
ukuran atau parameter yang dipakai untuk menilai
kualitas pelayanan kesehatan secara objektif dan
terukur. Indikator mutu membantu penyelenggara
pelayanan kesehatan dalam memantau kinerja
pelayanan, mengidentifikasi masalah, dan melakukan
perbaikan mutu secara berkelanjutan.
b. Jenis Indikator Mutu
Indikator mutu pelayanan kesehatan umumnya
diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu
indikator struktur, indikator proses, dan indikator hasil
(outcome).
Indikator struktur berkaitan dengan sumber daya yang
tersedia dalam pelayanan kesehatan, seperti jumlah
tenaga kesehatan, ketersediaan peralatan medis, dan
sistem manajemen pelayanan.
Indikator proses menggambarkan bagaimana pelayanan
kesehatan diberikan kepada pasien, misalnya kepatuhan
terhadap standar prosedur operasional, ketepatan
pemberian obat, dan frekuensi kunjungan tenaga
kesehatan.
Indikator outcome berkaitan dengan hasil pelayanan
kesehatan yang diterima pasien, seperti perbaikan
kondisi kesehatan, penurunan angka komplikasi, atau
tingkat kepuasan pasien.
c. Indikator Mutu Klinis dan Non-Klinis
Indikator mutu dalam layanan perawatan intensif dapat dibagi
menjadi indikator klinis dan indikator non-klinis.
Indikator klinis berkaitan dengan hasil perawatan
kesehatan pasien, seperti keberhasilan penyembuhan
luka, pengendalian nyeri, atau stabilitas kondisi pasien.
Sementara itu, indikator non-klinis berkaitan dengan
aspek pelayanan seperti kepuasan pasien, ketepatan
waktu pelayanan, dan kualitas komunikasi antara
tenaga kesehatan dengan pasien dan keluarga.
d. Contoh Indikator Mutu Pelayanan perawatan intensif
Beberapa contoh indikator mutu dalam pelayanan home
care antara lain tingkat kepatuhan tenaga kesehatan
terhadap standar prosedur operasional, frekuensi
kunjungan sesuai rencana perawatan, tingkat kepuasan
pasien dan keluarga, dan angka kejadian komplikasi
selama perawatan di rumah.
4. Metode Pengukuran dan Evaluasi Mutu Layanan Home
Care
Pengukuran dan evaluasi mutu pelayanan merupakan
proses yang sangat penting dalam penyelenggaraan
layanan perawatan intensif . Kegiatan ini bertujuan untuk
memastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada
pasien telah sesuai dengan standar pelayanan kesehatan
yang ditetapkan, baik dari segi keselamatan pasien,
efektivitas tindakan, maupun kepuasan pasien dan
keluarga. Melalui proses pengukuran mutu yang sistematis,
penyelenggara layanan perawatan intensif dapat menilai sejauh
mana pelayanan yang diberikan telah memenuhi tujuan
perawatan dan mengidentifikasi berbagai faktor yang
dapat mempengaruhi keberhasilan pelayanan.
Dalam sistem manajemen mutu pelayanan kesehatan,
pengukuran mutu tidak hanya berfungsi sebagai alat
kontrol, namun juga sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan manajerial dan perbaikan kualitas pelayanan
secara berkelanjutan. Data yang diperoleh dari proses
evaluasi mutu dapat dipakai untuk mengidentifikasi
kesenjangan antara standar pelayanan yang diharapkan
dengan praktik pelayanan yang terjadi di lapangan. Oleh
sebab itu, sistem evaluasi mutu harus dilakukan secara
terencana, terstruktur, dan berkesinambungan agar mampu
memberi gambaran yang akurat mengenai kualitas
pelayanan perawatan intensif .
a. Pengumpulan Data dan Pemantauan Indikator Mutu
Pengumpulan data merupakan langkah awal yang
sangat penting dalam proses pengukuran mutu
pelayanan perawatan intensif . Data yang dikumpulkan berfungsi
sebagai dasar dalam menilai kinerja pelayanan
kesehatan dan menentukan strategi perbaikan mutu
yang diperlukan. Dalam praktik pelayanan perawatan intensif ,
data mutu pelayanan dapat diperoleh dari berbagai
sumber, seperti catatan medis pasien, laporan
kunjungan tenaga kesehatan, formulir evaluasi
perawatan, dan hasil survei kepuasan pasien dan
keluarga.
Catatan medis pasien merupakan sumber data utama
yang memuat informasi mengenai kondisi kesehatan
pasien, jenis intervensi yang diberikan, dan
perkembangan kondisi pasien selama masa perawatan.
Selain itu, laporan kunjungan tenaga kesehatan juga
memberi informasi mengenai frekuensi kunjungan,
jenis pelayanan yang diberikan, dan masalah yang
ditemukan selama proses perawatan di rumah.
Pemantauan indikator mutu dilakukan dengan cara
membandingkan data pelayanan yang diperoleh dengan
standar pelayanan yang telah ditetapkan. Proses
pemantauan ini bertujuan untuk mengetahui apakah
pelayanan yang diberikan telah sesuai dengan standar
praktik profesional dan untuk mendeteksi secara dini
berbagai permasalahan yang dapat mempengaruhi
kualitas pelayanan. Dengan adanya sistem pemantauan
indikator mutu yang baik, penyelenggara layanan home
care dapat melakukan tindakan perbaikan secara cepat
dan tepat.
b. Metode Evaluasi Mutu Pelayanan Kesehatan
Evaluasi mutu pelayanan kesehatan merupakan proses
penilaian terhadap berbagai aspek pelayanan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan pelayanan yang
diberikan kepada pasien. Evaluasi ini dapat dilakukan
dengan memakai berbagai metode yang
disesuaikan dengan tujuan evaluasi dan karakteristik
pelayanan kesehatan yang diberikan.
Salah satu metode evaluasi yang sering dipakai
yaitu analisis indikator mutu pelayanan. Metode ini
dilakukan dengan membandingkan hasil pelayanan
dengan indikator mutu yang telah ditetapkan
sebelumnya. Melalui analisis indikator mutu,
penyelenggara layanan kesehatan dapat mengetahui
apakah pelayanan yang diberikan telah mencapai
standar yang diharapkan.
Selain itu, evaluasi mutu juga dapat dilakukan melalui
penilaian kinerja tenaga kesehatan. Penilaian ini
bertujuan untuk menilai kompetensi tenaga kesehatan
dalam memberi pelayanan kepada pasien, termasuk
keterampilan klinis, kemampuan komunikasi, dan
kepatuhan terhadap standar prosedur operasional.
Evaluasi kinerja tenaga kesehatan sangat penting dalam
layanan perawatan intensif sebab pelayanan yang diberikan
sangat bergantung pada kompetensi individu tenaga
kesehatan yang melakukan kunjungan ke rumah pasien.
Metode evaluasi mutu lainnya yaitu melalui kegiatan
audit pelayanan kesehatan. Audit dilakukan secara
sistematis untuk menilai kesesuaian antara praktik
pelayanan yang dilakukan dengan standar pelayanan
yang telah ditetapkan. Melalui evaluasi yang
komprehensif, penyelenggara layanan perawatan intensif dapat
memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai
kualitas pelayanan yang diberikan dan menentukan
langkah-langkah perbaikan yang diperlukan.
c. Audit Klinis dan Audit Pelayanan perawatan intensif
Audit klinis merupakan salah satu metode penting
dalam evaluasi mutu pelayanan kesehatan. Audit klinis
dilakukan melalui proses penilaian yang sistematis
terhadap praktik pelayanan kesehatan dengan tujuan
untuk memastikan bahwa pelayanan yang diberikan
telah sesuai dengan standar klinis yang berlaku. Proses
audit ini biasanya melibatkan peninjauan terhadap
catatan medis pasien, evaluasi prosedur pelayanan, dan
penilaian terhadap hasil perawatan pasien.
Dalam layanan perawatan intensif , audit klinis dapat mencakup
berbagai aspek pelayanan, seperti ketepatan diagnosis
keperawatan, kesesuaian intervensi yang diberikan
dengan kondisi pasien, dan kepatuhan tenaga
kesehatan terhadap standar prosedur operasional.
Selain itu, audit juga dapat menilai kualitas
dokumentasi pelayanan yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan selama proses perawatan di rumah.
Selain audit klinis, terdapat pula audit pelayanan yang
berfokus pada aspek manajerial dan administratif
pelayanan perawatan intensif . Audit pelayanan bertujuan untuk
menilai efisiensi sistem pelayanan, pengelolaan sumber
daya, dan efektivitas koordinasi antara tenaga
kesehatan yang terlibat dalam proses perawatan pasien.
Dengan adanya audit yang dilakukan secara berkala,
penyelenggara layanan perawatan intensif dapat mengidentifikasi
berbagai kelemahan dalam sistem pelayanan dan
melakukan perbaikan yang diperlukan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan.
d. Pengukuran Kepuasan Pasien dan Keluarga
Kepuasan pasien dan keluarga merupakan salah satu
indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan
perawatan intensif . Pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak
hanya ditentukan oleh keberhasilan tindakan medis atau
keperawatan, namun juga oleh pengalaman pasien dan
keluarga selama menerima pelayanan kesehatan. Oleh
sebab itu, pengukuran kepuasan pasien dan keluarga
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses
evaluasi mutu pelayanan.
Pengukuran kepuasan pasien dapat dilakukan melalui
berbagai metode, seperti survei kepuasan, wawancara
mendalam, diskusi kelompok terarah (focus group
discussion), maupun pemakaian kuesioner standar
yang dirancang untuk menilai pengalaman pasien
selama menerima pelayanan perawatan intensif . Instrumen
pengukuran kepuasan biasanya mencakup berbagai
aspek pelayanan, seperti kualitas komunikasi tenaga
kesehatan, sikap dan empati tenaga kesehatan,
ketepatan waktu kunjungan, kemudahan akses
pelayanan, dan kualitas perawatan yang diberikan.
Selain memberi gambaran mengenai persepsi pasien
terhadap pelayanan yang diterima, hasil pengukuran
kepuasan juga dapat dipakai sebagai dasar dalam
merancang program peningkatan mutu pelayanan.
Apabila ditemukan adanya ketidakpuasan dari pasien
atau keluarga, penyelenggara layanan perawatan intensif dapat
melakukan evaluasi terhadap sistem pelayanan dan
melakukan perbaikan yang diperlukan. Dengan
demikian, pelayanan yang diberikan dapat terus
ditingkatkan sehingga mampu memenuhi kebutuhan
dan harapan pasien dan meningkatkan kualitas hidup
pasien yang menerima perawatan di rumah.
5. Strategi Peningkatan Kualitas Layanan perawatan intensif
Peningkatan kualitas layanan perawatan intensif merupakan proses
berkelanjutan yang bertujuan untuk memastikan bahwa
pelayanan kesehatan selalu memenuhi standar mutu yang
tinggi.
a. Implementasi Program Peningkatan Mutu Pelayanan
Program peningkatan mutu pelayanan dapat dilakukan
melalui pengembangan standar operasional, pelatihan
tenaga kesehatan, dan penerapan sistem manajemen
mutu dalam pelayanan perawatan intensif .
b. Peran Manajemen dan Tenaga Kesehatan
Manajemen pelayanan berperan penting dalam
menciptakan sistem pelayanan yang berkualitas,
sementara tenaga kesehatan berperan dalam
memastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada
pasien sesuai dengan standar profesional.
c. Pengembangan Sistem Monitoring dan Evaluasi
Sistem monitoring dan evaluasi yang efektif
memungkinkan penyelenggara layanan perawatan intensif untuk
memantau kualitas pelayanan secara berkelanjutan dan
melakukan perbaikan berdasar hasil evaluasi.
d. usaha Peningkatan Kepuasan dan Keselamatan Pasien
usaha peningkatan mutu pelayanan juga harus
difokuskan pada peningkatan keselamatan pasien dan
kepuasan pasien dan keluarga melalui pelayanan yang
empatik, komunikatif, dan berorientasi pada kebutuhan
pasien. Dengan konsep ini , layanan perawatan intensif
dapat memberi kontribusi yang signifikan dalam
meningkatkan kualitas hidup pasien yang
membutuhkan perawatan di rumah.
perawatan intensif merupakan bagian atau lanjutan dari pelayanan
Kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang
diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal
mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan
atau memulihkan Kesehatan atau memaksimalkan Tingkat
kemandirian dan meminimalkan dampak penyakit.
Etika yaitu suatu ilmu yang membahas tentang nilai 3
nilai yang terkait dengan tingkah laku. Bertujuan agar dalam
berinteraksi antara manusia tercapai suatu kebaikan dan
kebahagiaan, disamping itu etik sebagai sains atau studi tentang
moral yang disebut juga sebagai filsafat moral.
Aspek hukum akan mempengaruhi praktik keperawatan
,bagaimana hukum memandu perawat dalam membuat
Keputusan yang aman bagi pasien, sehingga perawat memiliki
kewajiban untuk memberi perawatan sesuai dengan standar
yang ditetapkan dan kewajiban untuk melapor jika terjadi
pelanggaran.
B. Etika, Hukum dan Regulasi perawatan intensif
1. Etika Keperawatan
a. Pengertian
Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos, yang
berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom).
Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral
yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu mos dan
dalam bentuk jamaknya mores, yang berarti juga adat
kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan
perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-
hal atau tindakan-tindakan yang buruk. Etika dan moral
secara garis besar memiliki pengertian yang sama,
namun dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan,
yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan
yang dilakukan, sedang etika yaitu untuk pengkajian
sistem nilai-nilai yang berlaku .
Etika merupakan alat untuk mengukur perilaku
moral. Etika berhubungan dengan pertimbangan
keputusan suatu perbuatan, sebab tidak terdapat
undang-undang atau peraturan yang menegaskan hal-hal
yang harus dilakukan oleh moral
b. Prinsip Etika Keperawatan
Penerapan etika keperawatan merupakan tahapan
perawat untuk menerapkan prinsip 3prinsip etik, dengan
berpijak pada tahap Social Contract. Pelaksanaan prinsip
etik merupakan salah satu dari 12 kompetensi yang harus
dimiliki oleh seorang perawat berdasar standar
kompetensi PPNI. Pelaksanaan prinsip etik dalam asuhan
keperawatan dapat mencegah terjadinya bahaya fisik dan
bahaya emosional bagi pasien. Oleh sebab itu, perawat
dalam memberi asuhan keperawatan wajib
berpedoman terhadap prinsip-prinsip etik keperawatan,
diperlukan 4 (empat) unsur utama yang diturunkan dari
Kode Etik Keperawatan yakni :
1) Respect to other , bertujuan untuk menghargai subjek
yang berelasi yakni perawat dengan pasien atau antar
subjek lain, dimana setiap perawat memulai tugasnya,
hendaklah mengenalkan diri pada pasien. Apabila
pasien sudah kenal dengan perawat, maka perawat
menyampaikan bahwa ia akan merawat pasien pada
jam kerjanya, demikian juga saat jam kerja berakhir,
perawat berpamitan pada pasien.
2) Compassion ,
Compassion secara sederhana dapat diartikan sebagai
rasa iba. Ras iba ini juga dapat diartikan sebagai rasa
saying pada pasien. Penderitaan akan tergambar dari
wajah pasien, oleh sebab itu dengan melihat wajah
pasien, perawat dapat merasakan apa yang sedang di
derita oleh pasien, dengan demikian kenalilah wajah
pasien, dan hal ini dapat memicu rasa belas kasih
sayang.
3) Advocacy
Advocacy yang berarti melindungi pasien agar
selamat selama berada dalam asuhan keperawatan
pasien.Advocacy dapat dilakukan dengan cara
menjamin intervensi yang diberikan perawat agar
selalu aman. Perawat memberi asuhan
keperawatan sesuai dengan kompetensinya.
4) Intimacy
Intimacy yaitu suatu kedekatan, perawat
terhadap pasien sangat dekat sekali. Dari mulai pasien
kontak dengan perawat, pasien akan selalu berada
dibawa pengawasan perawat. Pengawan akan berakhir
saat pasien meninggal dunia.
Selain keempat unsur utama, ada unsur tambahan
yang merupakan prinsip3prinsip etik yang menjadi
pertimbangan dalam memberi asuhan keperawatan
yakni :
1) Beneficence
Beneficence merupakan kegiatan yang
membawa kebaikan pasien atau lebih dikenal dengan
doing go
2) Non-Maleficence
Non-Maleficence yaitu kegiatan yang tidak
mencelakakan pasien atau dikenal dengan do no harm.
3) Justice
Justice lebih dikenal dengan equal, bersikap adil
untuk semua Pasien
4) Autonomy
Autonomy yaitu menghormati hak pasien
terkait dengan informed Consent, perawat dikatakan
menghormati autonomy pasien ketika perawat
memberi perawatan bukan hanya berdasar ilmu
pengetahuan dan pelatihan yang dimiliki oleh perawat
saja, namun juga perlu mempertimbangkan keinginan
dari pasien. Perawat yang menghargai autonomy
pasien yaitu dengan menyadari keunikan individu
bedan hak kemanusiaan termasuk hak dalam
mengambil keputusan.
Setiap akhir pemberian asuhan keperawatan,
diperlukan dokumentasi, untuk menjamin bahwa
intervensi keperawatan yang diberikan yaitu benar, dan
memenuhi prinsip kemanusiaan yakni :
1) Veracity
Veracity memiliki pengertian agar perawat
menjelaskan dengan lengkap dan akurat, agar pasien
memperoleh suatu pemahaman terhadap masalah
yang dideritanya terkait asuhan keperawatan, akan
namun bila keluarga tidak menginginkan untuk
mdiketahui atau pasien tidak siap menerima informasi
maka perlu dipertimbangkan untuk tidak dijelaskan.
2) Privacy
Privacy maksudnya selain diri pasien tidak ada
yang boleh mengakses informasi tentang diri pasien.
Privacy merupakan wujud perlindungan yang
diberikan oleh perawat pada pasien. Perlindungan
berlaku saat pasien masih sadar sampai meninggal atau
tidak sadar.
3) Confidentiality
Confidentiality bertujuan agar penjelasan yang
diberikan secara jujur hanya boleh diberrikan kepada
pasien, berarti tidak boleh diberitakan pada orang lain.
4) Fidelit
Fidelity bermakna semua informasi dalam bentuk
interaksi perawat dan pasien dapat dipercaya
kebenarannya, Percaya merupakan prinsip yang sangat
mulia yang dipunyai oleh perawat. Selain itu
mempercayai kebenaran merupakan dasar untuk
terbentuk suatu hubungan relasi, yang sangat
diperlukan oleh seorang pasien untuk kesembuhan.
c. Isu-isu legal dan etik dalam perawatan intensif
Isu-isu legal etik dalam perawatan intensif antara lain
mencakup hal-hal sebagai berikut:
1) Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan
prosedur dengan teknik yang tinggi, seperti pemberian
pengobatan dan transfuse darah melalui IV dirumah.
Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada klien
seperti pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang
dilakukan oleh anggota keluarga sebab kesalahan
informasi dari perawat.
2) Pelaksanaan peraturan medicare atau peraturan
pemerintah lainnya tentang perawatan dirumah.
Alasan biaya yang sangat terpisah dan terbatas untk
perawatan dirumah. Maka perawat yang memberi
perawatan dirumah harus menentukan apakah
pelayanan akan diberikan jika ada resiko penggantian
biaya yang tidak adekuat. Seringkali, tunjangan dari
medicare telah habis masa berlakunya sedang klien
membutuhkan perawatan yang terusmenerus namun
tidak ingin atau tidak mampu membayar baiayanya.
Beberapa perawat akan menghadapi dilema etis bila
mereka harus memilih antara menaati peraturan atau
memenuhi kebutuhan untuk klien lansia, miskin dan klien
yang menderita penyakit kronik. Perawat harus
mengetahui kebijakan tentang perawatan dirumah untuk
melengkapi dokumentasi klinis yang akan memberi
penggantian biaya yang optimal untuk klien. Pasal krusial
dalam keputusan mentee kesehatan (kepmenkes)
1239/2001 tentang praktik keperawatan antara lain
melakukan asuhan keperawatan meliputi: pengkajian,
penetapan diagnosa keprawatan, perencanaan,
melaksanakan tindakan dan evaluasi. Pelayanan tindakan
medic hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis
dokter dalam melaksanakan kewenangan perawat
berkewajiban untuk:
1) Menghormati hak pasien.
2) Merujuk kasus yang tidak tepat ditangani.
3) Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan;
perundangan yang berlaku
4) memberi informasi.
5) Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan
6) Melakukan catatan perawatan dengan baik.
2. Landasan Hukum dan Regulasi perawatan intensif
Anggaran Dasar Perhimpunan Hukum Kesehatan
Indonesia (PERHUKI) mendefinisikan hukum kesehatan
sebagai semua ketentuan hukum yang berhubungan
langsung dengan pemeliharaan atau pelayanan kesehatan
dan penerapannya, dan hak dan kewajiban baik dari
perorangan dan segenap lapisan warga sebagai
penerima pelayanan kesehatan maupun dari pihak
penyelenggara kesehatan dalam segala aspek organisasi,
sarana, pedoman-pedoman medik, ilmu pengetahuan
kesehatan dan hukum, dan sumber-sumber hukum lainnya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tentang
Kesehatan menyebutkan bahwa setiap kegiatan dalam usaha
untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan
warga yang setinggi-tingginya dilaksanakan
berdasar prinsip nondiskriminatif, partisipatif, dan
berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya
manusia Indonesia. UU Kesehatan ini merupakan
produk hukum Kesehatan sebagai fondasi pelaksanaan
praktik peningkatan kesehatan di Indonesia, termasuk di
dalamnya mengenai praktik keperawatan. Di dalam UU
ini termaktub aturan aturan mengenai sumber daya di
bidang kesehatan, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi,
alat kesehatan, tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan
kesehatan, obat/obat tradisional, teknologi kesehatan, dan
usaha kesehatan.
Menurut UU Kesehatan, usaha -usaha kesehatan yang
dilakukan di Indonesia harus dilakukan secara terpadu,
terintegrasi dan berkesinambunan untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan warga dalam bentuk
pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan
penyakit,dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah
dan/atau warga . usaha -usaha kesehatan ini
dapat berupa pelayanan kesehatan promotif, preventif,
kuratif, rehabilitatif, dan pelayanan kesehatan tradisional.
Indonesia juga telah memiliki UU khusus tentang
kepеrawatan, yakni Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, didalam UU
ini tersedia keterangan mengenai jenis perawat,
pendidikan tinggi keperawatan, registrasi/izin praktik
keperawatan, hak dan kewajiban perawat/klien, praktik
keperawatan, organisasi profesi keperawatan, kolegium
keperawatan, konsil keperawatan, sanksi administratif bagi
perawat, dan pengembangan, pembinaan, dan pengawasan
keperawatan.
Lahirnya UU Keperawatan ini didasarkan pada asas
bahwa penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus
diwujudkan melalui penyelenggaraan pelayanan kesehatan,
termasuk pelayanan keperawatan. Penyelenggaraan
pelayanan keperawatan ini harus dilakukan secara
bertanggung jawab, akuntabel, bermutu, aman, dan
terjangkau oleh perawat yang memiliki kompetensi,
kewenangan, etik, dan moral tinggi. Oleh sebab itu, segala
sesuatu mengenai keperawatan perlu diatur secara
komprehensif dalam peraturan perundang-undangan guna
memberi pelindungan dan kepastian hukum kepada
perawat dan warga .
perawatan intensif merupakan Pelayanan kesehatan di rumah
merupakan program yang sudah ada dan perlu
dikembangkan, sebab telah menjadi kebutuhan warga ,
salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dan
mewarga dan menyentuh kebutuhan warga yakni
melalui Berbagai faktor yang mendorong perkembangannya
sesuai dengan kebutuhan warga yaitu melalui
pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.
Hal-hal yang menjadi dasar pertimbangan antara lain:
pertimbangan ekonomi, kenyamanan pasien, dan
kemudahan akses bagi keluarga .
Strategi pengembangan perawatan intensif dapat melalui
paraktek mandiri, melalui Kerjasama dengan klinik dan
Puskesmas, maupun melalui Rumah sakit.
Adapun yang menjadi landasan hukum dan regulasi
perawatan intensif sebagai berikut :
a. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan
Landasan pengesahan Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2009 Tentang Kesehatan yaitu Pasal 20, Pasal
28H ayat (1), dan Pasal 34 ayat ( 3 ) Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
tercantum jelas cita-cita bangsa Indonesia yang sekaligus
merupakan tujuan nasional bangsa Indonesia. Tujuan
nasional ini yaitu melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasar kemerdekaan perdamaian abadi
dan keadilan sosial. Untuk mencapai tujuan nasional
ini diselenggarakanlah usaha pembangunan yang
berkesinambungan yang merupakan suatu rangkaian
pembangunan yang menyeluruh terarah dan terpadu,
termasuk di antaranya pembangunan kesehatan.
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah
satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai
dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Oleh sebab itu, setiap kegiatan dan usaha untuk
meningkatkan derajat kesehatan warga yang
setinggi-tingginya dilaksanakan berdasar prinsip non
diskriminatif, partisipatif, perlindungan, dan
berkelanjutan yang sangat penting artinya bagi
pembentukan sumber daya manusia Indonesia,
peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa, dan
pembangunan nasional. usaha untuk meningkatkan
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya pada mulanya
berupa usaha penyembuhan penyakit, kemudian secara
berangsur-angsur berkembang ke arah keterpaduan
usaha kesehatan untuk seluruh warga dengan
mengikut dan kan warga secara luas yang
mencakup usaha promotif , preventif, kuratif , dan
rehabilitatif yang bersifat menyeluruh terpadu dan
berkesinambungan. Perkembangan ini tertuang ke dalam
Sistem Kesehatan Nasional. (SKN) pada tahun 1982 yang
selanjutnya disebutkan kedalam GBHN 1983 dan GBHN
1988 sebagai tatanan untuk melaksanakan pembangunan
kesehatan.
b. Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang Registrasi dan
Praktik Perawat
Menimbang: Bahwa dalam rangka pelaksanaan
otonomi daerah perlu diadakan penyempurnaan
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
647/Menkes/SK/IV/2000 tentang Registrasi dan Praktik
Perawat
c. SK Menpan No. 94/KEP/M.PAN/11/2001 tentang
Jabatan Fungsional Perawat
Bahwa dengan berlakunya Peraturan Pemerintah
No 16 Tahun 1994 Tentang Jabatan Fungsional Pegawai
Negeri Sipil dan Keputusan Presiden No 87 Tahun 1999
Tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri
Sipil, dipandang perlu mengatur kembali ketentuan
tentang jabatan tenaga perawatan sebagaimana diatur
dalam keputusan Menteri Negara Perdayagunaan
Aparatur Negara Nomor 94/MENPAN/1986 tentang
Angka Kredit Bagi Jabatan Tenaga Perawatan.
d. Undang-Undang No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan
Bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Undang-
undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan,
dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah
tentang Tenaga Kesehatan.
e. Permenkes RI No. HK.02.02/MENKES/148/2010 tentang
Izin dan Penyelenggaran Praktik Perawat.
1) Perawat berpendidikan minimal Diploma III (D III)
keperawatan
2) Setiap Perawat yang menjalankan praktik
keperawatan di praktik mandiri wajib memiliki Surat
Ijin Praktik Perawat (SIPP) yang dikeluarkan oleh
pemerintah daerah kabupaten/kota
3) Satu SIPP yang dikeluarkan ini hanya
berlaku untuk 1 tempat praktik.
4) Perawat hanya berhak mendapat paling
banyak 2 (dua) SIPP yang dikeluarkan
5) Pengurusan SIPP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3, Perawat harus mengajukan permohonan
kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dengan
melampirkan:
a) fotocopy STR yang masih berlaku dan
dilegalisasi;
b) surat keterangan sehat fisik dari dokter yang
memiliki Surat Izin Praktik
c) surat pernyataan memiliki tempat di praktik
mandiri atau di fasilitas pelayanan kesehatan di
luar praktik mandiri;
d) Pas foto berwarna terbaru ukuran 4X6 cm
sebanyak 3 (tiga) lembar;
e) Rekomendasi dari kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk; dan
f) Rekomendasi dari organisasi profesi.
6) Perawat hanya dapat menjalankan praktik
keperawatan paling banyak di 1 (satu) tempat praktik
mandiri dan di 1 (satu) tempat fasilitas pelayanan
kesehatan di luar praktik mandiri.
7) Dalam menjalankan praktik mandiri, perawat wajib
memasang papan nama praktik keperawatan.
8) Praktik keperawatan dilaksanakan melalui kegiatan:
a) Pelaksanaan asuhan keperawatan
b) Pelaksanaan usaha promotif, preventif,
pemulihan, dan pemberdayaan warga .
c) Pelaksanaan tindakan keperawatan
komplementer.
9) Dalam keadaan darurat untuk memberi
pertolongan pertama, perawat dapat melakukan
tindakan medis dan pemberian obat.
f. SK Direktorat Yan Medik HK.00.06.5.1.311 tahun 2001
dan Permenkes 1796 tahun 2011 tentang Tindakan dan
Manajemen perawatan intensif )
g. Permenkes no. 75/2014 tentang Puskesmas
h. Undang -undang nomor 36 Tahun 2014 Tentang tenaga
Kesehatan
i. Undang -undang nomor 38 Tahun 2014 tentang
Keperawatan
j. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 26 Tahun 2019 Tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-undang nomor 38 Tahun 2014 Tentang
Keperawatan
k. Undang Undang no.17 tahun 2023 tentang Kesehatan,
regulasi perawatan intensif .
Pasal 1 ayat 1 : Pelayanan Kesehatan lanjutan termasuk
pelayanan skrining dan deteksi dini : perawatan intensif ,
Telemedisin,Pelayanan Kesehatan bergerak, Pelayanan
Kesehatan pada Pos Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan
memakai teknologi terbaru,dan Pelayanan berbasis
penelitian.
Pasal 31 ayat 1 : Pelayanan Kesehatan lanjutan
merupakan spesialis dan /atau subspesialis yang
mengedepankan pelayanan kuratif, rehabilitatif, dan
paliatif tanpa mengabaikan promotif dan preventif.
Ayat 2 dan ayat 3 dikatakan Pelayanan Kesehatan
lanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diselenggarakan oleh Tenaga Medis dan Tenaga
Kesehatan sesuai dengan kompetensi dan kewenangan
pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut.
Pelayanan Kesehatan lanjutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) didanai oleh penerima Pelayanan Kesehatan
atau melalui penjaminan Kesehatan dalam system
jaminan sosial nasional dan/ atau asuransi komersial.
Pelayanan kesehatan sekarang ini menunjukan adanya
pergeseran paradigma dari pelayanan yang berorientasi pada
rumah sakit menuju pelayanan kesehatan yang komprehensif,
berkelanjutan dan berpusat pada keluarga dan komunitas.
Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan keluarga di
rumah, perawat berperan yang strategis.
Perawat merupakan profesi yang memiliki kompetensi
professional dengan kemamuan komunikasi dan konsep
asuhan yang holistik untuk memberi kontribusi yang sesuai.
Peran perawat dalam perawatan intensif dapat meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan berbasis rumah dan mendukung
keberhasilan proses pemulihan pasien secara optimal.
B. Peran Perawat dalam perawatan intensif
Peran perawat perawatan intensif bertujuan untuk memberi
asuhan keperawatan yang komprehensif di rumah guna
mempercepat penyembuhan, meningkatkan kemandirian
pasien dan keluarga dan meningkatkan kualitas hidup pasien
yang dalam kondisi kronis atau pasien yang lanjut usia.
Pelayanan perawatan intensif dapat menungkinkan pasien berada di
lingkungan keluarga, sehingga memberi dukungan
emosional yang lebih baik dibandingkan perawatan di rumah
sakit
Perawat perawatan intensif memiliki peran (Rice, 2006) sebagai
berikut:
1. Peran Perawat sebagai Pelaksana Layanan Keperawatan
(Care Provider)
Peran Perawat dalam
perawatan intensif
Perawat memberi layanan berupa asuhan
keperawatan secara langsung kepada keluarga sesuai dengan
kewenangannya. Asuhan keperawatan diberikan kepada
klien di semua tatanan layanan kesehatan dengan
memakai metodologi proses keperawatan, berpedoman
pada standar keperawatan, dilandasi oleh etik dan etika
keperawatan, dan berada dalam lingkup wewenang dan
tanggung jawab keperawatan. Asuhan keperawatan ini
merupakan bantuan yang diberikan kepada klien sebab
adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan
pengetahuan, dan kurangnya kemauan untuk dapat
melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.
Dalam perannya sebagai care provider, perawat bertugas
untuk (Asmadi, 2018):
a. memberi kenyamanan dan rasa aman bagi klien;
b. Melindungi hak dan kewajiban klien agar tetap terlaksana
dengan seimbang;
c. Memfasilitasi klien dengan anggota tim kesehatan
lainnya; dan
d. Berusaha mengembalikan Kesehatan klien.
Peran sebagai care provider merupakan peran utama
perawat. Baik atau tidaknya layanan profesi keperawatan,
dirasakan langsung oleh klien. Keperawatan sebagai profesi
yang professional bukan hanya dibuktikan dengan jenjang
Pendidikan yang tinggi. Banyaknya ilmu dan teori
keperawatan juga harus diwujudkan ke dalam aktivitas
pelayanan nyata kepada klien agar klien mendapat
kepuasan. Ini merupakan langkah promosi yang sangat
efektif dan murah dalam usaha membentuk citra perawat
yang baik. Stigma-stigma negatif tentang perawat dapat
hilang dengan pembuktian nyata berupa layanan
keperawatan professional kepada klien.
2. Peran Perawat sebagai Pengelola (manager)
Perawat memiliki peran dan tanggung jawab dalam
mengelola layanan keperawatan di semua tatanan layanan
kesehatan termasuk pelayanan keperawatan di rumah,
maupun tatanan pendidikan yang berada dalam tanggung
jawabnya sesuai dengan konsep manajemen keperawatan.
Manajemen keperawatan dapat diartikan sebagai proses
pelaksanaan layanan keperawatan melalui usaha staf
keperawatan dalam memberi asuhan keperawatan,
pengobatan, dan rasa aman kepada pasien/keluarga/
warga . Dengan demikian, perawat telah menjalankan
fungsi manajerial Keperawatan yang meliputi planning,
organizing, actuating, staffing, directing, dan controlling
a. Perencanaan (planning)
Seorang manajer Keperawatan harus mampu menetapkan
pekerjaan yang harus dilakukannya guna mencapai
tujuan yang telah ditetapkan yang didasarkan atas
rencana yang logis dan bukan perasaan. Fungsi
perencanaan meliputi beberapa tugas, diantaranya
mengenali masalah, menetapkan dan menyusun tujuan
jangka panjang dan jangka pendek, mengembangkan
tujuan, dan terakhir menguraikan bagaimana tujuan dan
sasaran ini dapat dicapai.
b. Pengorganisasian (organizing)
Fungsi ini meliputi proses mengatur dan mengalokasi
pekerjaan, wewenang, dan sumber daya keperawatan
sehingga tujuan keperawatan dapat dicapai.
c. Gerak aksi (actuating)
Kegiatan yang dilakukan dalam menjalankan fungsi ini
oleh seorang manajer keperawatan yaitu untuk
mengawali dan melanjutkan kegiatan yang telah
ditetapkan dalam unsur perencanaan dan
pengorganisasian agar dapat mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Sebagai seorang manajer Keperawatan,
perawat harus mampu menetapkan dan memuaskan
kebutuhan manusiawai para satf keperawatan, memberi
penghargaan, memimpin, mengembangkan, dan
memberi kompensasi kepada mereka.
d. Pengelolaan staf (staffing)
Fungsi staffing mencakup memperoleh, menempatkan,
dan mempertahankan anggota/staf pada posisi yang
dibutuhkan dalam pekerjaan keperawatan.
e. Pengarahan (directing)
Seorang manajer Keperawatan harus mampu
memberi arahan kepada staf keperawatan sehingga
mereka menjadi perawat yang berpengetahuan dan
mampu bekerja secara efektif guna mencapai sasaran
yang telah ditetapkan.
f. Pengendalian (controlling)
Tugas-tugas dalam fungsi ini mencakup kelanjutan tugas
untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan oleh
staf keperawatan telah berjalan sesuai rencana.
Untuk melaksanakan peran sebagai manajer, perawat
harus memiliki keterampilan yang meliputi :
1) Technical skill yaitu kemampuan untuk memakai
pengetahuan, metode, teknik, dan peralatan yang
diperlukan dalam melaksanakan tugas manajerial.
2) Human skill yaitu kemampuan untuk bekerjasama,
memahami, dan memotivsi orang lain, baik individu
maupun kelompok. Dengan kata lain yaitu keterampilan
yang terkait dengan kepemimpinan dan hubungan antar
manusia.
3) Conceptual skill yaitu kemapuan untuk memahami
kompleksitas organisasi secara keseluruhan dan
kemampuan menilai apakah kegiatan yang dilakukan
seseorang sesuai dengan organisasi atau tidak. Hal ini
juga meliputi kemampuan untuk mengkoordinasikan
dan mengintegrasikan semua kepentingan dan aktivitas
organisasi. Jadi berhubungan dengan kemampuan dan
keterampilan berpikir.
3. Peran Perawat sebagai Pendidik
Perawat sebagai pendidik (educator) dalam perawatan intensif
sangat penting untuk meningkatkan kemandirian pasien dan
keluarga dalam mengelola kesehatan di rumah. Perawat
memberi Pendidikan Kesehatan tentang penyakit yang
diderita oleh anggota keluarga, prosedur perawatannya,
manajemen obat (proses penyimpanan, pemakaian , dan
pembuangan obat secara aman), dan bagaimana cara
memodifikasi lingkungan rumah untuk pemulihan susaha
mengurangi ketergantungan pada fasilitas kesehatan.
Peran perawat sebagai pendidik dalam perawatan intensif , antara
lain :
a. memberi informasi yang komprehensif tentang
kondisi, diagnosa dan rencana perawatan pasien kepada
keluarga agar mereka memahami situasi dan langkah
yang perlu diambil.
b. Mendemonstrasikan secara langsung cara perawatan
yang tepat, seperti menggantikan perban, manajemen
nutrisi atau pemakaian alat kesehatan sehingga keluarga
mampu melakukannya secara mandiri.
c. Memastikan keluarga memahami jadwal, dosis, efek
samping, dan cara pemberian obat yang benar.
d. memberi edukasi tentang penataan rumah yang
aman, misalnya memastikan kamar mandi aman untuk
lansia, guna mendukung proses pemulihan dan
mencegah terjadinya komplikasi.
e. Mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat, dan
konseling mengenai gaya hidup yang mendukung
kesehatan pasien.
4. Peran Perawat sebagai Pelindung (advocate)
Perawat sebagai advokat yaitu pembela pasien dalam
hal melindungi hak-hak pasien dan memastikan keamanan
dan menjamin pasien mendapat informasi yang jelas
untuk mengambil keputusan terkait perawatannya. Peran
diperlukan sebab pasien perawatan intensif seringkali berada dalam
kondisi yang lemah sehingga memerlukan pendamping yang
dapat menjamin kualitas hidup dan keselamatan mereka.
Beberapa peran perawat yang berkaitan dengan
perannya sebagai advokat antara lain:
a. Menjamin pasien mendapat perlakukan yang
manusiawi, privasinya terjaga dan hak-haknya dihormati
selama dirawat di rumah.
b. Melindugi pasien dari potensi bahaya atau kelalaian
selama proses pelayanan perawatan intensif termasuk memastikan
prosedur tindakan yang diberikan sesuai standar.
c. Memfasilitasi pasien atau menjadi jembatan informasi
antara pasien/keluarga dengan tim medis untuk
mengurangi kesalapahaman dan memastikan rencana
perawatan dipahami dengan baik.
d. Membantu pasien untuk mamahami kondisi medis yang
dialaminya sehingga dapat mengambil keputusan yang
terbaik menganai tindakan perawatan tanpa paksaan dari
pihak lain.
e. Mendorong pasien untuk berpartisipasi aktif dalam
perawatan diri sendiri sesuai dengan kemampuannya
dan membela keinginan pasien.
5. Peran perawat sebagai spiritual-aesthetic communeri
Perawat perawatan intensif harus memberi asuhan yang
holistik yang mengintegrasikan kebutuhan spiritual (agama
dan kepercayaan), dan estetika (kedamaian, keindahan dan
kenyamanan) dalam pelayanan. Peran ini mewakili
kepedulian multidimensi di mana perawat dan pasien
beresonansi ke tingkat pemahaman dan kesadaran diri yang
lebih tinggi. Proses semacam itu memberi pasien wawasan
baru tentang bagaimana mereka akan merawat diri mereka
sendiri (bahkan jika ini berarti berdamai dengan bagaimana
mereka akan mengalami kematian mereka sendiri). Perawat
memfasilitasi kedamaian batin dan kenyaman pasien melalui
kehadiran terapeutik, empati dan penghormatan terhadap
keyakinan spiritual pasi
en. Hal ini mencerminkan saat-saat
peduli antara pasien dan perawat ketika kata-kata tidak
selalu diperlukan untuk menyampaikan perasaan dan
makna.
Perawat melakukan peran ini dengan cara mendengar
secara aktif, empati dan memberi kehadiran yang
menenangkan pasien yang sedang depresi atau kesal,
memfasilitasi pelaksanaan kegiatan keagamaan (berdoa,
membaca kitab suci, memanggil rohaniawan sesuai
keyakinan pasien), memakai bahasa yang santun dan
terbuka untuk mengormati nilai-nilai dan keyakinan spiritual
pasien tanpa memaksakan keyakinan perawat.
Peran perawat dalam hal ini melampaui tugas fisik
semata namun menyentuh sisi manusiawi terdalam dari
pasien yang berkontribusi ada kesembuhan secara holistik.
Proses menua merupakan suatu proses alami yang terjadi
sepanjang rentang kehidupan. Penuaan tidak dapat dihindari,
namun dampaknya terhadap status kesehatan dapat
diminimalkan melalui pelayanan kesehatan yang tepat. Lansia
umumnya mengalami perubahan pada sistem kardiovaskular,
muskuloskeletal, neurologis, sensorik, gastrointestinal, dan
genitourinaria. Perubahan ini dapat memengaruhi
kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
dan meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan yang
kompleks. Dengan demikian, perawat berperan penting
dalam memberi asuhan yang holistik, manusiawi, dan
berbasis bukti pada populasi geriatri (Miller, 2023).
Selain perubahan fisik, lansia juga dapat mengalami
perubahan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan
penurunan fungsi kognitif. Perubahan sosial seperti pensiun,
kehilangan pasangan hidup, dan berkurangnya interaksi sosial
juga dapat mempengaruhi kesejahteraan lansia. Oleh sebab itu,
pelayanan kesehatan bagi lansia harus dilakukan secara
komprehensif dan berkesinambungan
Geriatri merupakan cabang ilmu kesehatan yang
mempelajari aspek kesehatan dan penyakit pada lansia. Lansia
yaitu individu yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih
yang mengalami proses penuaan secara biologis, psikologis, dan
sosial
Keperawatan geriatri memiliki beberapa tujuan utama.
Pertama, membantu lansia mempertahankan kondisi kesehatan
seoptimal mungkin. Kedua, mencegah atau menurunkan
dampak penurunan fungsi tubuh akibat proses penuaan. Ketiga,
membantu lansia mencapai kemandirian dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari. Keempat, mendukung lansia dan
keluarga dalam menghadapi perubahan fisik, psikologis, dan
sosial. Kelima, meningkatkan kualitas hidup melalui intervensi
yang aman, efektif, dan berpusat pada kebutuhan lansia
Perawat berperan penting dalam memberi
asuhan keperawatan geriatri di rumah melalui konsep
holistik yang mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan
spiritual. Dengan demikian, pelayanan keperawatan yang
diberikan tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit namun
juga pada usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
untuk meningkatkan kesejahteraan lansia
Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang paling
penting bagi lansia yaitu asuhan keperawatan geriatri di
rumah (perawatan intensif ). Pelayanan ini memungkinkan lansia
mendapat perawatan di lingkungan yang familiar dan
nyaman sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan
mempertahankan kemandirian mereka dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari. Selain itu, perawatan di rumah juga dapat
mengurangi risiko hospitalisasi yang berulang dan
meningkatkan keterlibatan keluarga dalam proses perawatan
lansia
Asuhan keperawatan geriatri di rumah merupakan
pelayanan keperawatan yang diberikan kepada lansia secara
komprehensif untuk mempertahankan dan meningkatkan
derajat kesehatan lansia melalui konsep bio-psiko-sosio-
spiritual
Pelayanan ini bertujuan untuk meningkatkan
kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan
mencegah komplikasi penyakit kronis yang sering dialami oleh
kelompok usia lanjut
Asuhan keperawatan geriatri di rumah merupakan
pelayanan keperawatan yang diberikan kepada lansia di
lingkungan rumah dengan tujuan mempertahankan,
meningkatkan, dan memulihkan derajat kesehatan lansia secara
optimal. Pelayanan ini melibatkan perawat, keluarga, dan
tenaga kesehatan lainnya dalam memberi perawatan yang
berkesinambungan (Stanhope & Lancaster, 2020).
B. Konsep Asuhan Keperawatan Geriatri di Rumah
1. Pengertian Asuhan Keperawatan Geriatri di Rumah
Geriatri merupakan cabang pelayanan kesehatan
yang berfokus pada usaha promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif pada lanjut usia (lansia). Lansia yaitu
individu yang mengalami proses penuaan yang ditandai
oleh perubahan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
Proses menua memicu penurunan fungsi organ tubuh
secara bertahap sehingga lansia lebih rentan terhadap
penyakit kronis, gangguan fungsional, masalah psikososial,
dan ketergantungan dalam aktivitas sehari-hari
Asuhan keperawatan geriatri yaitu rangkaian
pelayanan keperawatan yang sistematis dan komprehensif
kepada lansia dengan memperhatikan kondisi fisik, mental,
sosial, budaya, dan spiritual. Fokus utama keperawatan
geriatri tidak hanya pada penyakit, namun juga pada usaha
mempertahankan kemandirian, meningkatkan kualitas
hidup, mencegah komplikasi, dan mendukung penuaan
yang sehat (healthy ageing) (Touhy & Jett, 2022).
Asuhan keperawatan geriatri berbasis rumah
merupakan konsep pelayanan kesehatan yang
bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia melalui
perawatan berkelanjutan di lingkungan tempat tinggal
mereka. Model perawatan ini memungkinkan lansia
mendapat dukungan kesehatan tanpa harus sering
dirawat di rumah sakit sehingga dapat mempertahankan
kemandirian dan fungsi sehari-hari (Balqis-Ali et al., 2024).
Selain itu, keterlibatan keluarga dalam perawatan
lansia sangat penting sebab keluarga merupakan sistem
pendukung utama dalam menjaga kesehatan lansia di
rumah (Mauk, 2023).
2. Perubahan pada Lansia
Perubahan pada lansia merupakan bagian dari
proses penuaan yang terjadi secara bertahap dan
memengaruhi aspek fisik, kognitif, psikologis, sosial, dan
fungsional. Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami
penurunan cadangan fisiologis tubuh yang memicu
berkurangnya kemampuan mempertahankan homeostasis,
sehingga lebih rentan terhadap kelemahan, gangguan
mobilitas, penyakit kronis, penurunan fungsi sensorik, dan
ketergantungan dalam aktivitas sehari-hari. Selain itu,
proses penuaan juga memengaruhi fungsi otak, termasuk
memori, kecepatan berpikir, dan kemampuan belajar,
meskipun perubahan ini dapat bervariasi pada setiap
individu (National Institute on Aging, 2023).
3. Permasalahan Kesehatan yang Umum pada Lansia
Masalah kesehatan pada lansia umumnya bersifat
kronis, multipatologis, dan kompleks. Penyakit yang paling
sering ditemukan meliputi hipertensi, diabetes melitus,
penyakit jantung, stroke, osteoartritis, osteoporosis,
penyakit paru obstruktif kronis, gangguan pendengaran,
gangguan penglihatan, inkontinensia urin, dan demensia.
Selain masalah medis, lansia juga rentan mengalami
sindrom geriatri seperti jatuh, imobilitas, delirium,
malnutrisi, inkontinensia, dan ulkus dekubitus
4. Asuhan Keperawatan Geriatri
Asuhan keperawatan geriatri yaitu suatu proses
pemecahan masalah dalam praktik keperawatan yang
diberikan kepada lansia melalui tahap pengkajian,
diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi,
dengan memperhatikan perubahan akibat proses menua,
penyakit penyerta, status fungsional, dan kualitas hidup
pasien (Mauk, 2023). Asuhan ini menekankan pada usaha
mempertahankan kemandirian lansia selama mungkin,
mencegah komplikasi, meningkatkan keselamatan, dan
mendukung adaptasi terhadap keterbatasan yang dialami
(Touhy & Jett, 2022).
Dalam praktiknya, asuhan keperawatan geriatri
harus bersifat individual, sebab setiap lansia memiliki
kondisi kesehatan, kemampuan fungsional, dukungan
keluarga, status mental, dan kebutuhan spiritual yang
berbeda. Oleh sebab itu, konsep interprofesional dan
keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam
pemberian asuhan keperawatan geriatri (Boltz et al., 2021).
Tujuan utama asuhan keperawatan geriatri yaitu
mempertahankan fungsi optimal, meningkatkan kualitas
hidup, mencegah komplikasi, dan memaksimalkan
kemandirian lansia (Mauk, 2023).
a. Pengkajian Keperawatan Geriatri
Pengkajian merupakan tahap awal yang sangat
penting dalam proses keperawatan. Pada lansia,
pengkajian harus dilakukan secara komprehensif
dengan memperhatikan kondisi fisik, mental,
emosional, sosial, fungsional, dan lingkungan. Salah
satu konsep yang direkomendasikan yaitu
Comprehensive Geriatric Assessment (CGA), yaitu
penilaian multidimensional yang dipakai untuk
mengidentifikasi kebutuhan dan masalah lansia secara
menyeluruh (WHO, 2022).
Pengkajian fisik meliputi pemeriksaan tanda-
tanda vital, status nutrisi, kondisi kulit, fungsi
penglihatan dan pendengaran, pola tidur, eliminasi,
mobilitas, keseimbangan, dan adanya nyeri atau
penyakit kronis. Pada lansia, pengkajian juga perlu
memperhatikan adanya sindrom geriatri seperti jatuh,
frailty, delirium, inkontinensia, imobilitas, dan
polifarmasi, sebab kondisi ini sering menjadi
sumber utama penurunan fungsi dan kualitas hidup
Pengkajian status fungsional dilakukan untuk
menilai kemampuan lansia dalam melakukan aktivitas
sehari-hari, baik aktivitas dasar seperti mandi,
berpakaian, makan, berpindah, toileting, dan
kontinensia, maupun aktivitas instrumental seperti
memakai telepon, mengelola keuangan,
memasak, berbelanja, dan minum obat. Penilaian ini
penting sebab kemampuan fungsional merupakan
indikator utama tingkat kemandirian lansia
Pengkajian kognitif dan psikologis juga sangat
penting dilakukan. Perawat perlu menilai orientasi,
memori, kemampuan komunikasi, suasana perasaan,
risiko depresi, dan kemungkinan gangguan kognitif
seperti demensia atau delirium. Perubahan psikologis
pada lansia, seperti perasaan kesepian, kehilangan
pasangan hidup, kecemasan, dan depresi, dapat
memengaruhi kondisi fisik dan kepatuhan terhadap
pengobatan
Selain itu, pengkajian sosial dan lingkungan
perlu dilakukan untuk menilai sistem pendukung
keluarga, hubungan interpersonal, kondisi tempat
tinggal, keamanan rumah, akses ke pelayanan
kesehatan, dan kondisi ekonomi lansia. Lingkungan
yang tidak aman dapat meningkatkan risiko jatuh,
sedang kurangnya dukungan sosial dapat
memperburuk kondisi kesehatan lansia
b. Diagnosis Keperawatan Geriatri
Diagnosis keperawatan pada pasien geriatri
ditetapkan berdasar hasil pengkajian menyeluruh
terhadap respons lansia terhadap kondisi kesehatan
yang dialami. Diagnosis yang sering ditemukan pada
pasien geriatri antara lain penurunan mobilitas fisik,
risiko jatuh, defisit perawatan diri, gangguan pola
tidur, nyeri kronis, risiko integritas kulit terganggu,
inkontinensia urin, ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh, gangguan memori,
kebingungan akut atau kronis, intoleransi aktivitas,
dan isolasi sosial
Beberapa diagnosis keperawatan yang sering
ditemukan pada populasi geriatri antara lain
penurunan mobilitas fisik, risiko jatuh, defisit
perawatan diri, intoleransi aktivitas, gangguan pola
tidur, nyeri kronis, konstipasi, inkontinensia urin,
gangguan memori, ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh, risiko gangguan integritas kulit,
isolasi sosial, ansietas, dan keputusasaan
c. Intervensi Keperawatan Geriatri
Intervensi keperawatan pada pasien geriatri
disusun berdasar prioritas masalah, tujuan yang
realistis, dan kemampuan dan kebutuhan individu
lansia
Intervensi keperawatan geriatri direncanakan
dan dilakukan oleh perawat untuk membantu lansia
mempertahankan fungsi, meningkatkan kemandirian,
mencegah komplikasi, mengurangi gejala, dan
meningkatkan kualitas hidup sesuai kondisi fisik,
psikologis, sosial, dan lingkungan lansia. Secara
umum, intervensi keperawatan geriatri meliputi
pemantauan kondisi fisik lansia, pemenuhan
kebutuhan dasar, pencegahan jatuh, peningkatan
mobilitas, pemeliharaan nutrisi dan hidrasi, perawatan
eliminasi, manajemen nyeri, pemeliharaan integritas
kulit, dukungan psikologis, stimulasi kognitif, edukasi
kesehatan, dan pelibatan keluarga dalam proses
perawatan
Untuk defisit perawatan diri, intervensi yang
dapat dilakukan meliputi membantu pasien dalam
aktivitas harian sesuai kebutuhan, mendorong
partisipasi pasien semaksimal mungkin, menyediakan
alat bantu adaptif, dan menciptakan lingkungan yang
mendukung kemandirian. konsep ini penting agar
lansia tetap merasa mampu dan memiliki harga diri
yang baik
Pada gangguan pola tidur, perawat dapat
mengatur lingkungan yang nyaman, mengurangi
kebisingan, membatasi tidur siang berlebihan,
mendorong rutinitas tidur yang teratur, dan
meminimalkan faktor pencetus seperti nyeri atau
sering berkemih pada malam hari.
d. Implementasi Keperawatan Geriatri
Pada lansia, implementasi harus dilakukan
dengan memperhatikan memperhatikan prinsip
keselamatan pasien, komunikasi terapeutik,
penghormatan terhadap martabat lansia, dan promosi
kemandirian. Perawat perlu menyesuaikan cara
komunikasi dengan kondisi sensorik dan kognitif
lansia, misalnya berbicara perlahan, jelas, dan
memakai kalimat sederhana pada pasien dengan
gangguan pendengaran atau penurunan daya tangkap
Implementasi mencakup edukasi mengenai
nutrisi, aktivitas fisik, pencegahan jatuh, kepatuhan
minum obat, manajemen penyakit kronis, dan
pemanfaatan fasilitas kesehatan. Edukasi yang baik
dapat meningkatkan kemampuan lansia dan keluarga
dalam merawat kesehatan secara mandiri di rumah
Implementasi juga mencakup pendidikan
kesehatan kepada keluarga. Keluarga perlu
memahami cara merawat lansia di rumah,
memberi obat dengan benar, mencegah jatuh,
menjaga nutrisi, melakukan latihan ringan, dan
mengenali tanda bahaya yang memerlukan bantuan
tenaga kesehatan. Keterlibatan keluarga sangat
penting sebab sebagian besar lansia tinggal bersama
keluarga dan menerima dukungan utama dari
lingkungan terdekatnya
e. Evaluasi Keperawatan Geriatri
Hasil evaluasi dapat menunjukkan bahwa
masalah pasien teratasi, teratasi sebagian, atau belum
teratasi. Misalnya, pada diagnosis risiko jatuh, evaluasi
dapat dilihat dari tidak adanya kejadian jatuh selama
masa perawatan, peningkatan keseimbangan saat
berjalan, dan lingkungan pasien yang lebih aman. Pada
diagnosis defisit perawatan diri, evaluasi dapat dilihat
dari peningkatan kemampuan pasien dalam makan,
mandi, atau berpakaian dengan bantuan minimal
(Bulechek et al., 2022).
Evaluasi juga harus mempertimbangkan
perubahan kondisi lansia yang dinamis. Bila tujuan
belum tercapai, maka perawat perlu meninjau kembali
pengkajian, memodifikasi diagnosis, atau
menyesuaikan intervensi agar lebih sesuai dengan
kondisi aktual pasien. Dengan demikian, evaluasi
dalam keperawatan geriatri bersifat berkelanjutan dan
menjadi dasar perbaikan mutu asuhan keperawatan
(Mauk, 2023).
5. Peran Keluarga dalam Asuhan Keperawatan Geriatri
Keluarga berperan dalam mendukung kebutuhan
dasar lansia, menjaga keselamatan pasien, dan
menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Keluarga
membantu mengurangi risiko jatuh, memfasilitasi nutrisi
yang adekuat, mendukung personal hygiene, dan
membantu lansia memenuhi kebutuhan eliminasi, istirahat,
dan aktivitas. Selain itu, keluarga juga menjadi sumber
dukungan psikososial yang membantu lansia menghadapi
kecemasan, kehilangan, kesepian, dan ketergantungan
akibat penurunan fungsi tubuh. Oleh sebab itu, keluarga
harus dilibatkan dalam setiap tahap proses keperawatan
agar hasil asuhan lebih optimal
Stroke merupakan salah satu pemicu utama kematian
dan kecacatan jangka panjang di dunia. Kondisi ini terjadi
akibat gangguan aliran darah ke otak yang memicu
kerusakan jaringan otak dan memicu berbagai gangguan
fungsi, seperti kelemahan motorik, gangguan bicara, gangguan
kognitif, dan perubahan emosional. Dampak stroke tidak
hanya dirasakan oleh pasien, namun juga oleh keluarga dan
sistem pelayanan kesehatan secara luas
Kemajuan dalam penanganan stroke akut telah
meningkatkan angka harapan hidup pasien stroke. Namun
demikian, sebagian besar pasien yang bertahan hidup
mengalami disabilitas dengan derajat yang bervariasi dan
memerlukan perawatan jangka panjang. Kondisi ini
memicu kebutuhan perawatan tidak berhenti pada fase
rawat inap, melainkan berlanjut ke fase rehabilitasi dan
perawatan di rumah. Perawatan lanjutan di rumah menjadi
sangat penting untuk mempertahankan fungsi yang tersisa,
mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup
pasien stroke (American Heart Association, 2024).
Perawatan pasien stroke di rumah (perawatan intensif stroke)
merupakan bentuk kesinambungan asuhan keperawatan yang
menekankan keterlibatan aktif keluarga sebagai caregiver
utama. Dalam konteks ini, keluarga berperan sentral
dalam membantu pemenuhan kebutuhan dasar pasien,
melakukan mobilisasi, memberi nutrisi dan obat, dan
memantau kondisi pasien sehari-hari. Tanpa dukungan dan
pengetahuan yang memadai, keluarga dapat mengalami
kesulitan dalam merawat pasien, yang pada akhirnya berisiko
meningkatkan komplikasi dan ketergantungan pasien
Selain aspek fisik, pasien stroke juga sering mengalami
masalah psikologis dan sosial, seperti depresi, kecemasan,
penurunan harga diri, dan isolasi sosial. Oleh sebab itu,
perawatan stroke di rumah harus dilakukan secara holistik
dengan memperhatikan aspek bio-psiko-sosial-spiritual
pasien. konsep holistik ini terbukti dapat meningkatkan
kepatuhan terhadap program rehabilitasi dan mempercepat
proses adaptasi pasien terhadap kondisi pascastroke (Smeltzer
et al., 2020).
Penataan lingkungan rumah yang aman dan terapeutik,
intervensi keperawatan yang tepat, dan edukasi keluarga
yang berkelanjutan merupakan komponen utama dalam
perawatan pasien stroke di rumah. Lingkungan yang tidak
aman dan kurang mendukung dapat meningkatkan risiko
jatuh, luka tekan, aspirasi, dan komplikasi lain yang dapat
memperburuk kondisi pasien. Sebaliknya, perawatan rumah
yang terstruktur dan berbasis bukti dapat meningkatkan
kemandirian pasien dan mengurangi angka rehospitalisasi
berdasar uraian ini , perawatan pasien stroke di
rumah memerlukan konsep yang sistematis, terencana,
dan berbasis keperawatan profesional. Bab ini disusun untuk
memberi gambaran komprehensif mengenai konsep,
penataan lingkungan, intervensi keperawatan, dan peran
keluarga dalam perawatan pasien stroke di rumah sebagai
bagian integral dari usaha peningkatan kualitas hidup pasien
stroke.
B. Perawatan Pasien Stroke di Rumah
1. Pengkajian
Pengkajian fisik dan neurologis merupakan langkah
awal yang sangat penting dalam perawatan pasien stroke
di rumah. Pengkajian ini bertujuan mengidentifikasi
status kesehatan terkini pasien, menentukan tingkat
gangguan fungsi, mendeteksi komplikasi dini, dan
menjadi dasar dalam penyusunan rencana intervensi
keperawatan yang tepat dan berkelanjutan. Pengkajian
yang komprehensif terbukti meningkatkan ketepatan
intervensi dan memperbaiki luaran rehabilitasi pasien
stroke
Pada perawatan di rumah, pengkajian dilakukan
dengan mempertimbangkan keterbatasan fasilitas dan
kondisi lingkungan pasien. Oleh sebab itu, perawat
perlu memakai instrumen yang sederhana, valid,
dan mudah diaplikasikan, dan melibatkan keluarga
dalam proses observasi dan pemantauan kondisi pasien
a. Tahapan Pengkajian Pasien Stroke di Rumah
Pengkajian pasien stroke di rumah dilakukan
secara sistematis melalui beberapa tahapan berikut.
1) Persiapan Pengkajian
Tahap persiapan meliputi pengumpulan
data awal dari resume medis, riwayat stroke,
jenis stroke, lama sakit, terapi yang sedang
dijalani, dan kondisi lingkungan rumah.
Perawat juga perlu menyiapkan alat sederhana
seperti tensimeter, termometer, penlight, jam
tangan, dan lembar instrumen pengkajian (Lewis
et al., 2020). konsep terapeutik sangat
diperlukan pada tahap ini untuk membangun
kepercayaan pasien dan keluarga, sehingga
proses pengkajian dapat berlangsung optimal
2) Pengkajian Fisik Pasien Stroke
a) Status Tanda Vital
Pengkajian tanda vital meliputi
tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi
napas, dan suhu tubuh. Tekanan darah
menjadi parameter penting sebab hipertensi
merupakan faktor risiko utama stroke
berulang. Pemantauan rutin tekanan darah
di rumah direkomendasikan sebagai bagian
dari secondary prevention stroke (American
Heart Association, 2024). Instrumen :
Tensimeter dan Termometer
b) Sistem Muskuloskeletal
Pengkajian sistem muskuloskeletal
difokuskan pada kekuatan otot, rentang
gerak sendi, tonus otot, dan adanya
spastisitas atau kontraktur. Kelemahan
unilateral (hemiparesis/hemiplegi)
merupakan temuan umum pada pasien
stroke (Smeltzer et al., 2020). Penilaian atau
keterangan pada setiap skala yaitu sebagai
berikut :
➢ Skor 0 (zero) : tidak ada kontraksi otot
pada inpeksi dan palpasi atau tidak ada
pergerakan sama sekali yang dikatan
lumpuh
➢ Skor 1 (trace) : otot pada bidang horizontal
tidak dapat bergerak melalui rentang
gerak penuh, pemeriksa hanya melihat
sedikit gerakan otot atau kontraksi yang
teraba
➢ Skor 2 (foor) : otot mampu bergerak dalam
bidang horizontal secara penuh namun
tidak mampu melawan gravitasi
➢ Skor 3 (fair) : otot mampu bergerak dalam
bidang horizontal dan dapat melawan
garvitasi, namun tidak mampu melawan
tahanan ringan yang diberikan
➢ Skor 4 (good) : otot mampu bergerak
penuh melawan gravitasi, mampu
melawan tekanan ringan maupaun
tekanan sedang yang diberikan
c) Sistem Integumen
Pasien stroke dengan imobilitas
berisiko tinggi mengalami luka tekan.
Pengkajian kulit meliputi warna,
kelembapan, integritas kulit, dan adanya
kemerahan atau luka
Instrumen :
Observasi langsung
Skala risiko luka tekan (misalnya Braden
Scale)
d) Pengkajian Neurologis Pasien Stroke
(1) Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran dinilai untuk
mengidentifikasi adanya penurunan
fungsi otak. Penilaian dapat dilakukan
memakai Glasgow Coma Scale
(GCS), terutama pada pasien dengan
riwayat stroke berat
Instrumen : Glasgow Coma Scale (GCS)
(2) Fungsi Kognitif
Gangguan kognitif sering ditemukan
pada pasien stroke dan berdampak pada
kemampuan pasien menjalani
perawatan mandiri. Pengkajian
mencakup orientasi, memori, perhatian,
dan kemampuan mengikuti instruksi
(Potter et al., 2021). Instrumen : Mini
Mental State Examination (MMSE) &
Montreal Cognitive Assessment
(MoCA). Studi menunjukkan bahwa
deteksi dini gangguan kognitif pada fase
perawatan intensif memungkinkan perencanaan
rehabilitasi yang lebih efektif
e) Fungsi Motorik
Pengkajian motorik bertujuan menilai
kekuatan, koordinasi, dan kemampuan
fungsional pasien. Penilaian ini penting
untuk menentukan tingkat kemandirian dan
kebutuhan bantuan pasien
. Instrumen :
Penilaian kemampuan bergerak (duduk,
berdiri, berjalan)
Barthel Index untuk aktivitas sehari-hari
f) Fungsi Sensorik
Pengkajian sensorik meliputi kemampuan
pasien merasakan sentuhan, nyeri, suhu, dan
posisi. Gangguan sensorik dapat
meningkatkan risiko cedera dan jatuh pada
pasien stroke (Lewis et al., 2020). Instrumen :
Uji sentuhan ringan & Uji respon nyeri
g) Fungsi Bicara dan Menelan
Gangguan bicara (afasia) dan menelan
(disfagia) sering terjadi pada pasien stroke
dan memerlukan pengkajian khusus. Perawat
perlu mengamati kemampuan berbicara,
artikulasi, dan respon pasien saat makan dan
minum
Instrumen :
Observasi komunikasi verbal
Skrining disfagia sederhana :
Gugging Swallowing Screen (GUSS):
➢ Tujuan: Menentukan tingkat keparahan
disfagia dan risiko aspirasi.
➢ Prosedur: Meliputi uji air liur (menelan,
batuk, air liur, suara) dan tiga uji
konsistensi (air kental, makanan lunak,
padat).
➢ Skor: Terdiri dari 4 tahap. Jika pasien
gagal atau menunjukkan tanda aspirasi
(batuk, tersedak) pada satu tahap,
pemeriksaan dihentikan.
Bedside Swallow Exam (Uji Menelan di
Samping Tempat Tidur):
➢ Tujuan: Mengamati kesulitan
mengunyah, menelan, atau bernapas.
➢ Prosedur : Terapis wicara memberi
berbagai zat (air, makanan lunak/padat)
dan mengevaluasi adanya tanda-tanda
aspirasi, termasuk perubahan suara
("suara basah").
➢ Akurasi: pemakaian GUSS, seringkali
dikombinasikan dengan metode lain
seperti USG, terbukti efektif
meningkatkan deteksi dini risiko
aspirasi tersamar pada disfagia
faringeal.
2. Intervensi Perawatan Pasien Stroke di Rumah
Intervensi perawatan pasien stroke di rumah bertujuan
mempertahankan dan meningkatkan fungsi pasien,
mencegah komplikasi, dan mendukung kemandirian
pasien dalam aktivitas sehari-hari. Perawatan di rumah
menjadi bagian penting dari rehabilitasi jangka panjang
pasien stroke sebab sebagian besar penyintas stroke
mengalami keterbatasan fisik dan neurologis yang
memerlukan perawatan berkelanjutan . Intervensi keperawatan pada pasien stroke di
rumah harus bersifat komprehensif, berkelanjutan, dan
melibatkan keluarga sebagai caregiver utama. konsep
ini direkomendasikan dalam perawatan stroke jangka
panjang berbasis komunitas
a. Intervensi Mobilisasi dan Rehabilitasi Fisik
Gangguan mobilitas merupakan masalah utama
pada pasien stroke akibat kelemahan otot, gangguan
keseimbangan, dan koordinasi. Intervensi mobilisasi
bertujuan mencegah kontraktur, meningkatkan
kekuatan otot, dan mempertahankan fungsi motorik
(Lewis et al., 2020). Langkah-langkah :
1) Kaji kemampuan mobilitas dan kekuatan otot
pasien
2) Lakukan latihan ROM pasif pada ekstremitas
lemah
3) Latihan ROM aktif sesuai toleransi pasien
a) ROM Pasif, Dilakukan bila pasien tidak
mampu menggerakkan anggota tubuh
secara mandiri. Langkah-langkah :
➢ Perawat memegang sendi secara stabil
➢ Gerakkan sendi secara perlahan hingga
batas toleransi
➢ Lakukan gerakan fleksi, ekstensi,
abduksi, dan adduksi sesuai sendi
➢ Ulangi setiap gerakan 5310 kali
➢ Amati respons nyeri atau spastisitas
➢ ROM pasif membantu mencegah
kekakuan sendi dan kontraktur pada
pasien stroke dengan hemiplegi
b) ROM Aktif-Asistif, Dilakukan bila pasien
mulai mampu menggerakkan anggota
tubuh dengan bantuan. Langkah-langkah :
➢ Instruksikan pasien menggerakkan
anggota tubuh
➢ Berikan bantuan ringan bila
diperlukan
➢ Dorong pasien memakai otot
yang masih berfungsi
➢ Ulangi gerakan sesuai toleransi
➢ Tahap ini membantu transisi menuju
kemandirian gerak
c) ROM Aktif, Dilakukan bila pasien mampu
menggerakkan anggota tubuh secara
mandiri. Langkah-langkah :
➢ Instruksikan pasien melakukan
gerakan penuh
➢ Awasi postur dan teknik gerakan
➢ Tingkatkan frekuensi dan repetisi
secara bertahap
➢ Hentikan latihan bila pasien kelelahan
atau nyeri
➢ ROM aktif berkontribusi terhadap
peningkatan kekuatan otot dan
koordinasi
d) Urutan ROM berdasar Bagian Tubuh
➢ Ekstremitas Atas
Fleksi3ekstensi bahu
Abduksi3adduksi bahu
Fleksi3ekstensi siku
Pronasi3supinasi lengan bawah
Fleksi3ekstensi pergelangan tangan
Fleksi3ekstensi jari
➢ Ekstremitas Bawah
Fleksi3ekstensi panggul
Abduksi3adduksi panggul
Fleksi3ekstensi lutut
Dorsifleksi3plantarfleksi pergelangan
kaki
Fleksi3ekstensi jari kaki
e) Frekuensi dan Durasi Latihan
Dilakukan 132 kali per hari
Setiap gerakan 5310 repetisi
Disesuaikan dengan toleransi dan kondisi pasien
Latihan yang konsisten terbukti meningkatkan
fungsi motorik dan mencegah penurunan
kemampuan gerak
4) Latih duduk, berdiri, dan berjalan bertahap dengan
alat bantu
5) Libatkan keluarga dalam latihan harian
6) Latihan rehabilitasi yang dilakukan secara rutin di
rumah terbukti meningkatkan fungsi motorik pasien
stroke
b. Intervensi Pencegahan Luka Tekan
Pasien stroke dengan keterbatasan mobilitas
berisiko tinggi mengalami luka tekan. Pencegahan luka
tekan merupakan intervensi keperawatan prioritas dalam
perawatan intensif stroke , Langkah-langkah :
1) Nilai risiko luka tekan memakai Braden Scale
2) Ubah posisi pasien setiap 2 jam
3) Jaga kebersihan dan kelembapan kulit
4) Gunakan alas atau kasur yang sesuai
5) Edukasi keluarga mengenali tanda awal luka tekan
6) Pencegahan luka tekan yang konsisten terbukti
menurunkan kejadian dekubitus pada pasien stroke
di rumah
c. Intervensi Pencegahan Aspirasi dan Manajemen Disfagia
Disfagia merupakan komplikasi umum pada pasien stroke
yang dapat memicu aspirasi dan pneumonia.
Intervensi keperawatan difokuskan pada keamanan
pemberian makan Langkah-
langkah:
1) Kaji kemampuan menelan pasien
2) Posisikan pasien duduk tegak (90°) saat makan
3) Berikan makanan lunak dalam porsi kecil
4) Anjurkan makan perlahan
5) Pertahankan posisi duduk 30 menit sesudah makan
6) Pedoman perawatan stroke menekankan pentingnya
pencegahan aspirasi pada fase perawatan di rumah
d. Intervensi Manajemen Nutrisi
Status nutrisi yang adekuat mendukung proses
penyembuhan dan rehabilitasi pasien stroke. Malnutrisi
dapat memperburuk prognosis dan meningkatkan
komplikasi Langkah-langkah :
1) Kaji asupan nutrisi dan berat badan pasien
2) Berikan makanan sesuai kebutuhan dan kemampuan
menelan
3) Atur jadwal makan teratur
4) Libatkan keluarga dalam pemantauan nutrisi
5) Kolaborasi dengan ahli gizi bila diperlukan
6) Intervensi nutrisi yang terencana berkontribusi
terhadap peningkatan kualitas hidup pasien stroke
(Foley et al., 2009).
e. Intervensi Manajemen Eliminasi
Gangguan eliminasi seperti inkontinensia dan konstipasi
sering dialami pasien stroke dan dapat menurunkan
kenyamanan dan harga diri pasien (Potter et al., 2021).
Langkah-langkah :
1) Kaji pola BAK dan BAB pasien
2) Atur jadwal eliminasi teratur
3) Cukupi kebutuhan cairan
4) Jaga kebersihan area perineum
5) Edukasi keluarga terkait perawatan eliminasi
f. Intervensi Edukasi dan Dukungan Keluarga
Keluarga berperan sebagai caregiver utama dalam
perawatan stroke di rumah. Edukasi yang baik
meningkatkan kepatuhan perawatan dan outcome pasien
(Potter et al., 2021). Langkah-langkah :
1) Edukasi keluarga mengenai kondisi dan kebutuhan
pasien
2) Demonstrasikan teknik perawatan harian
3) Libatkan keluarga dalam pengambilan keputusan
4) Berikan dukungan emosional
5) Evaluasi pemahaman keluarga secara berkala
Kebutuhan pelayanan perawatan intensif terus meningkat seiring
bertambahnya populasi lansia dan meningkatnya prevalensi
penyakit kronis yang memerlukan perawatan jangka panjang di
luar fasilitas kesehatan. Pada pasien perawatan intensif , nyeri dan
berbagai gejala kompleks seperti dispnea, mual, kelemahan, dan
kelelahan merupakan masalah utama yang dapat memengaruhi
kualitas hidup, fungsi sehari-hari, dan pengalaman perawatan
pasien di rumah. Pengendalian gejala yang tidak optimal dapat
memicu penurunan status fungsional, peningkatan angka
rawat ulang, dan beban psikologis bagi pasien dan keluarga . Oleh sebab itu,
penerapan manajemen nyeri dan gejala yang berbasis bukti
menjadi komponen penting dalam sistem perawatan intensif modern
guna memastikan pelayanan yang aman, efektif, dan berfokus
pada kebutuhan pasien
Manajemen nyeri dan gejala dalam perawatan intensif merupakan
konsep holistik yang meliputi asesmen komprehensif,
intervensi farmakologis dan nonfarmakologis, evaluasi
berkelanjutan, dan edukasi pasien dan keluarga di lingkungan
rumah. Nyeri dipahami sebagai pengalaman sensorik dan
emosional yang subjektif, sementara gejala lain seperti dispnea,
mual, kelelahan, gangguan tidur, dan kecemasan sering muncul
bersamaan dan saling memengaruhi. Berbeda dengan setting
rumah sakit, pengelolaan gejala di rumah memerlukan
penyesuaian terhadap keterbatasan sumber daya, keterlibatan
keluarga sebagai caregiver, dan preferensi pasien. konsep
ini sejalan dengan konsep person-centered care yang
menempatkan pasien sebagai pusat pengambilan keputusan dan
menyesuaikan perawatan dengan kebutuhan dan pengalaman
individu
Ruang lingkup manajemen nyeri dan gejala pada layanan
perawatan intensif mencakup lansia, pasien paliatif, pasien pasca rawat
inap dengan early discharge, dan individu dengan penyakit
kronis atau degeneratif. konsep yang dipakai meliputi
terapi farmakologis seperti analgesik, opioid, dan obat adjuvan,
dan intervensi nonfarmakologis seperti fisioterapi, teknik
relaksasi, dan dukungan psikososial. Manajemen nyeri pada
pasien dengan penyakit serius memerlukan asesmen
komprehensif dan keterlibatan pasien dan keluarga dalam
proses perawatan (Ferrell & Coyle, 2006). Selain nyeri, gejala lain
seperti dispnea, mual, muntah, konstipasi, dan kelelahan juga
sering muncul dan memerlukan konsep multidisipliner
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (Pickering,
Zwakhalen, & Kaasalainen, 2018). Sehingga kolaborasi antara
perawat, dokter, terapis, dan caregiver sangat penting untuk
menjamin kesinambungan perawatan dan mencegah
rehospitalisasi akibat gejala yang tidak terkontrol
B. Konsep Manajemen Nyeri dan Gejala di perawatan intensif
1. Dasar teoretis manajemen nyeri di perawatan intensif
Manajemen nyeri di perawatan intensif didasarkan pada
model biopsikososial yang memandang nyeri sebagai
pengalaman multidimensional yang melibatkan aspek
biologis, psikologis, dan sosial, bukan sekadar sensasi
nosiseptif. Persepsi dan dampak nyeri dipengaruhi oleh
faktor emosional, kognitif, dan konteks lingkungan pasien,
sebagaimana dijelaskan oleh Ronald Melzack dan Dennis C.
Turk. Secara neurofisiologis, teori gate control menjelaskan
bahwa transmisi nyeri dapat dimodulasi di tingkat spinal
melalui mekanisme inhibisi dan fasilitasi, sedang
konsep central sensitization menjelaskan peningkatan
eksitabilitas sistem saraf pusat akibat stimulasi nyeri
berulang yang berkontribusi terhadap nyeri kronis. Dalam
praktik perawatan intensif , penting membedakan konsep
antara nyeri akut dan kronis; nyeri akut biasanya
memerlukan kontrol simptomatik jangka pendek,
sedang nyeri kronis memerlukan strategi jangka
panjang yang berfokus pada fungsi dan kualitas hidup
pasien. Perawat berperan penting dalam asesmen
nyeri memakai instrumen tervalidasi seperti Visual
Analog Scale (VAS) dan Numeric Rating Scale (NRS),
termasuk skala khusus bagi lansia atau pasien dengan
keterbatasan komunikasi, sehingga memungkinkan
perencanaan intervensi yang individual, aman, dan
berkelanjutan di lingkungan rumah
2. Asesmen holistik gejala di perawatan intensif
Asesmen holistik gejala di perawatan intensif merupakan
proses sistematis yang mencakup evaluasi intensitas,
durasi, faktor pemicu dan pereda, dan dampak gejala
terhadap fungsi fisik, psikologis, dan aktivitas sehari-hari
pasien. konsep ini penting sebab pasien perawatan intensif
sering mengalami lebih dari satu gejala secara simultan,
seperti nyeri, dispnea, kelelahan, gangguan tidur, dan
kecemasan, yang saling memengaruhi satu sama lain.
Instrumen terstandar dipakai untuk meningkatkan
akurasi asesmen, antara lain modified Medical Research
Council (mMRC) scale untuk menilai derajat dispnea dan
Edmonton Symptom Assessment System (ESAS) untuk
mengevaluasi berbagai gejala secara komprehensif dalam
satu waktu. Dalam konteks perawatan di rumah,
keterlibatan keluarga atau pengasuh menjadi elemen kunci,
khususnya pada pasien lansia atau dengan keterbatasan
kognitif dan komunikasi, sebab mereka berperan sebagai
pengamat utama perubahan gejala sehari-hari.
Dokumentasi hasil asesmen yang sistematis dan
berkelanjutan memungkinkan integrasi data gejala ke
dalam individualized care plan, sehingga intervensi dapat
disesuaikan secara dinamis dan berorientasi pada
peningkatan kualitas hidup pasien
3. Intervensi manajemen nyeri
c. Intervensi farmakologis
Manajemen nyeri di perawatan intensif umumnya mengikuti
prinsip dari World Health Organization, yaitu
konsep bertahap berdasar intensitas nyeri
mulai dari analgesik non-opioid, opioid lemah, hingga
opioid kuat dengan atau tanpa obat adjuvan. Dalam
praktik perawatan intensif , pemilihan obat harus
mempertimbangkan keamanan jangka panjang,
kemudahan pemakaian , dan pemantauan efek
samping. Analgesik non-opioid seperti parasetamol
dan NSAID dipakai untuk nyeri ringan hingga
sedang, sedang opioid diberikan pada nyeri sedang
hingga berat dengan pengawasan terhadap efek
samping seperti sedasi, konstipasi, dan depresi napas.
Obat adjuvan seperti antidepresan, antikonvulsan, dan
kortikosteroid juga dipakai terutama pada nyeri
neuropatik atau inflamasi. Pada lansia dan pasien
dengan penyakit kronis, penyesuaian dosis
berdasar fungsi ginjal dan hati sangat penting,
sehingga konsep start low, go slow dianjurkan
untuk menjaga keseimbangan antara efektivitas dan
keamanan terapi
d. Intervensi non-farmakologi
Intervensi non-farmakologis merupakan komponen
penting dalam manajemen nyeri di perawatan intensif sebab
aman, berkelanjutan, dan dapat memberdayakan
pasien dan keluarga. konsep ini meliputi
fisioterapi untuk meningkatkan mobilitas dan
mengurangi nyeri muskuloskeletal, teknik relaksasi
dan mindfulness untuk menurunkan respons stres dan
persepsi nyeri, dan pemakaian transcutaneous
electrical nerve stimulation (TENS) sebagai metode
neuromodulasi non-invasif. Selain itu, edukasi pasien
dan keluarga mengenai mekanisme nyeri, faktor
pencetus, dan strategi koping adaptif membantu
meningkatkan kepatuhan dan kemampuan pasien
mengelola nyeri secara mandiri. Berbagai studi
menunjukkan bahwa kombinasi intervensi non-
farmakologis dan terapi obat memberi kontrol nyeri
yang lebih optimal dibandingkan konsep tunggal,
terutama pada nyeri kronis di setting perawatan intensif
4. Intervensi manajemen gejala umum
Manajemen gejala umum dalam layanan perawatan intensif
bertujuan mengurangi beban fisik dan psikologis pasien
dan meningkatkan kualitas hidup melalui konsep
perawatan yang komprehensif. Dispnea ditangani dengan
kombinasi terapi oksigen sesuai indikasi, pengaturan posisi
seperti semi-Fowler, dan pemakaian bronkodilator atau
terapi inhalasi untuk menurunkan kerja napas dan
kecemasan pasien. Namun, pada pasien yang mendekati
akhir kehidupan, pemakaian oksigen perlu
dipertimbangkan secara klinis sebab tidak selalu
bermanfaat yang signifikan , Mual dan muntah dikelola dengan
antiemetik sesuai etiologi dan modifikasi pola makan yang
mudah dicerna dan sesuai kebiasaan pasien. Kelelahan
pada pasien penyakit kronis dan kanker ditangani melalui
strategi konservasi energi, dukungan nutrisi, dan intervensi
psikososial , Selain itu, gangguan tidur
dapat diatasi melalui penerapan sleep hygiene,
penyesuaian lingkungan rumah, dan evaluasi terapi obat.
konsep multidimensi dalam pengelolaan gejala ini
merupakan bagian penting dari perawatan paliatif untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien
dan implementasi perawatan paliatif berbasis komunitas
terbukti dapat menurunkan angka rawat inap dan
kunjungan ke unit gawat darurat
5. Peran tim dan kerjasama lintas profesi
Dalam layanan perawatan intensif , kolaborasi lintas profesi
menjadi komponen penting untuk menjamin kontinuitas
dan kualitas pelayanan kesehatan di rumah. Perawat home
care sering berperan sebagai koordinator utama yang
melakukan asesmen berkelanjutan, memantau respons
terapi pasien, dan menjadi penghubung antara pasien,
keluarga, dokter keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya.
Peran koordinatif ini memungkinkan perawat untuk
memastikan bahwa rencana perawatan dapat dijalankan
secara konsisten dan respons terhadap perubahan kondisi
pasien dapat ditangani secara cepat dan tepat. Studi
menunjukkan bahwa dalam praktik perawatan intensif , perawat
memiliki posisi sentral dalam koordinasi tim kesehatan
sebab frekuensi interaksi yang tinggi dengan pasien dan
keluarga di rumah
Dokter keluarga berperan dalam pengambilan
keputusan klinis dan penyesuaian terapi berdasar hasil
pemantauan kondisi pasien yang dilaporkan oleh perawat,
sementara tenaga rehabilitasi seperti fisioterapis
berkontribusi dalam meningkatkan fungsi fisik pasien dan
mencegah penurunan mobilitas. Di sisi lain, tenaga farmasi
berperan penting dalam memastikan keamanan
pemakaian obat melalui evaluasi terapi obat, pemantauan
efek samping, dan edukasi kepada pasien dan keluarga
mengenai pemakaian obat yang tepat. Komunikasi yang
terstruktur antarprofesi mengenai efek samping obat, hasil
monitoring, dan tindak lanjut berkala sangat penting untuk
mencegah komplikasi dan memastikan efektivitas terapi
dalam pelayanan perawatan intensif
Selain tenaga kesehatan, keterlibatan aktif keluarga
atau caregiver juga merupakan faktor kunci dalam
keberhasilan implementasi rencana perawatan di rumah.
Keluarga sering terlibat dalam pemantauan kondisi pasien,
pemberian obat, dan dukungan emosional dan sosial yang
dibutuhkan pasien selama menjalani perawatan di rumah.
Penelitian menunjukkan bahwa intervensi yang melibatkan
caregiver dapat meningkatkan kualitas perawatan dan
membantu mempertahankan kontinuitas pelayanan bagi
pasien dengan penyakit kronis atau kondisi terminal
Selain itu, konsep perawatan
paliatif berbasis komunitas yang melibatkan tim
multidisipliner terbukti mampu menurunkan angka rawat
inap, kunjungan ke unit gawat darurat, dan meningkatkan
kualitas hidup pasien pada akhir kehidupan
6. Evaluasi dan pemantauan berkelanjutan dalam perawatan intensif
Evaluasi dan pemantauan berkelanjutan
merupakan komponen penting dalam manajemen nyeri
dan gejala pada layanan perawatan intensif untuk memastikan
efektivitas intervensi, keselamatan pasien, dan
peningkatan kualitas hidup. Evaluasi outcome dilakukan
secara berkala memakai instrumen terstandar seperti
skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS) atau Visual Analog
Scale (VAS), indeks dispnea modified Medical Research
Council (mMRC), kualitas tidur seperti Pittsburgh Sleep
Quality Index, dan penilaian fungsi aktivitas harian
memakai ADL dan IADL untuk menilai respons terapi
secara objektif. konsep evaluasi ini memungkinkan
tenaga kesehatan melakukan penyesuaian rencana
perawatan secara dinamis sesuai perubahan kondisi pasien
dan kebutuhan layanan Selain itu,
pemantauan efek samping obat menjadi komponen penting
sebab pasien perawatan intensif sering mengalami polypharmacy
yang meningkatkan risiko interaksi obat dan komplikasi,
terutama pada pasien lansia dan pasien dengan
komorbiditas , Monitoring gejala yang
terstruktur dan evaluasi berulang juga terbukti
meningkatkan kontrol gejala, kualitas hidup, dan
kepuasan pasien dalam pelayanan palliative dan perawatan intensif konsep ini
dilakukan melalui koordinasi tim multidisiplin yang
menjadi karakteristik utama pelayanan perawatan intensif modern
Peran tim dan kerja sama lintas profesi merupakan
komponen penting dalam pelayanan perawatan intensif . Perawat
perawatan intensif sering berfungsi sebagai koordinator utama yang
melakukan asesmen berkelanjutan, memantau respons
terapi, dan menghubungkan pasien dan keluarga dengan
dokter keluarga, tenaga rehabilitasi, dan apoteker. Model
koordinasi ini memungkinkan integrasi layanan kesehatan
sehingga intervensi yang diberikan lebih komprehensif dan
berkelanjutan (Levine et al., 2020). Dokter keluarga
bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan klinis
dan penyesuaian terapi, sedang tenaga rehabilitasi dan
farmasi berperan dalam mendukung pengendalian nyeri,
pemulihan fungsi, dan keamanan pemakaian obat.
Komunikasi yang terstruktur mengenai efek samping
terapi, hasil monitoring klinis, dan tindak lanjut berkala
sangat penting untuk mencegah komplikasi dan
meningkatkan keselamatan pasien . Selain itu, keterlibatan aktif keluarga atau caregiver
menjadi elemen penting dalam implementasi rencana
perawatan dan menjaga kontinuitas asuhan di rumah,
terutama pada pasien dengan penyakit kronis atau kondisi
paliatif
Perawatan di rumah (perawatan intensif ) semakin berkembang
seiring dengan meningkatnya prevalensi penyakit kronis dan
kebutuhan perawatan jangka panjang di warga . Pergeseran
sistem pelayanan kesehatan dari rumah sakit menuju perawatan
berbasis komunitas menjadikan keluarga dan caregiver sebagai
komponen penting dalam keberhasilan perawatan pasien di
rumah. Dalam banyak kasus, anggota keluarga berperan sebagai
pengasuh utama yang memberi dukungan fisik, emosional,
sosial, dan bahkan finansial kepada pasien dengan kondisi
kesehatan kronis maupun penyakit yang mengancam jiwa.
Pengasuh keluarga sering kali menjalankan berbagai
tugas yang kompleks, mulai dari membantu aktivitas sehari-hari
hingga melakukan tindakan medis sederhana seperti pemberian
obat dan pemantauan kondisi kesehatan pasien. Namun
demikian, sebagian besar caregiver tidak memiliki pelatihan
formal dalam bidang kesehatan dan sering menjalankan peran
ini dengan dukungan yang terbatas dari sistem pelayanan
kesehatan Kondisi ini menjadikan
caregiver sebagai kelompok yang rentan mengalami beban fisik,
emosional, dan finansial selama proses pengasuhan.
Oleh sebab itu, pemahaman mengenai peran keluarga
dan caregiver dalam perawatan intensif menjadi sangat penting, baik bagi
tenaga kesehatan maupun pembuat kebijakan. Dengan
memahami peran, tantangan, dan kebutuhan dukungan bagi
caregiver, diharapkan sistem pelayanan kesehatan dapat
memberi intervensi yang lebih efektif untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien maupun caregiver.
B. Peran Keluarga dan Caregiver dalam perawatan intensif
1. Peran dan Tanggung Jawab Utama Caregiver
a. Tugas Medis dan Praktis
Dalam perawatan di rumah, caregiver keluarga
sering kali berperan sebagai perpanjangan tangan
tenaga kesehatan. Mereka terlibat dalam berbagai
aktivitas medis dan praktis seperti memberi obat-
obatan, memantau kondisi kesehatan pasien, dan
mengelola alat medis yang dipakai selama
perawatan di rumah. Beberapa tindakan yang umum
dilakukan caregiver meliputi pengukuran tekanan darah
atau kadar gula darah, pemberian suntikan insulin,
penggantian cairan infus sederhana, dan observasi
terhadap perubahan kondisi pasien
Selain itu, caregiver juga membantu pasien
dalam aktivitas kehidupan sehari-hari seperti mandi,
berpakaian, makan, dan mobilisasi. Dukungan ini
sangat penting terutama bagi pasien dengan
keterbatasan fisik, lansia, atau penderita penyakit kronis
yang membutuhkan bantuan dalam mempertahankan
kemandirian fungsional mereka
Dalam konteks penyakit kronis seperti kanker,
caregiver bahkan dapat berperan dalam berbagai aspek
perawatan pasien yang lebih luas.
mengelompokkan peran caregiver dalam tiga dimensi
utama yaitu peran medis praktis, peran psikososial, dan
peran terkait keuangan.
b. Dukungan Emosional dan Psikososial
Selain dukungan fisik, caregiver juga berperan
penting dalam memberi dukungan emosional dan
psikososial kepada pasien. Kehadiran caregiver dapat
membantu meningkatkan kualitas hidup pasien,
mempertahankan kemandirian fungsional, dan
memberi rasa aman dan kenyamanan selama proses
perawatan.
Caregiver sering berperan sebagai sumber
motivasi dan harapan bagi pasien, terutama pada
kondisi penyakit kronis atau penyakit terminal. Mereka
juga terlibat dalam proses pengambilan keputusan
terkait pengobatan, memberi dorongan moral, dan
memperkuat hubungan interpersonal antara pasien dan
keluarga
Dalam perawatan lansia, peran caregiver juga
memungkinkan pasien untuk tetap tinggal di
lingkungan rumah dan komunitasnya selama mungkin.
Dukungan ini penting dalam konsep ageing in place,
yaitu usaha mempertahankan kualitas hidup lansia
dengan tetap tinggal di rumah dan lingkungan sosialnya
c. Manajemen Keuangan
Peran caregiver juga mencakup pengelolaan
aspek finansial yang berkaitan dengan perawatan
pasien. Banyak caregiver harus menanggung biaya
tambahan untuk pengobatan, transportasi kesehatan,
dan kebutuhan sehari-hari pasien. Selain itu, mereka
juga sering bertanggung jawab dalam mengelola
administrasi kesehatan seperti klaim asuransi dan
pengaturan biaya perawatan.
Penelitian menunjukkan bahwa beban finansial
dalam perawatan jangka panjang dapat menjadi sumber
stres yang signifikan bagi caregiver, terutama pada
kondisi perawatan kompleks seperti nutrisi parenteral
di rumah (Home Parenteral Nutrition/HPN). Variabilitas
biaya dan ketidakpastian pembiayaan sering kali
menambah tekanan psikologis bagi keluarga yang
sudah menghadapi beban perawatan pasien
2. Tantangan yang Dihadapi Caregiver Keluarga
a. Tantangan Kesehatan Mental dan Emosional
Peran caregiver yang berlangsung dalam jangka
panjang sering kali memicu beban emosional
yang signifikan. Caregiver dapat mengalami berbagai
respons emosional seperti kesedihan, rasa bersalah,
kemarahan, hingga perasaan tidak mampu dalam
menjalankan peran mereka. Kondisi ini sering
diperburuk oleh tuntutan perawatan yang terus-
menerus dan keterbatasan waktu untuk memenuhi
kebutuhan pribadi caregiver.
Beban emosional yang berkepanjangan dapat
meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental
seperti kecemasan dan depresi. Oleh sebab itu,
pengenalan dini terhadap kesulitan yang dialami
caregiver menjadi penting agar tenaga kesehatan dapat
memberi dukungan yang sesuai
b. Tantangan Kesehatan Fisik
Selain dampak psikologis, caregiver juga rentan
mengalami masalah kesehatan fisik akibat beban
perawatan yang berat. Aktivitas seperti membantu
mobilisasi pasien, melakukan perawatan harian, dan
kurangnya waktu istirahat dapat memicu
kelelahan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap
penyakit.
Stres fisik dan emosional yang dialami caregiver
juga dapat meningkatkan risiko cedera maupun
gangguan kesehatan lainnya. Oleh sebab itu,
intervensi yang bertujuan meningkatkan kesehatan
fisik caregiver tidak hanya bermanfaat bagi caregiver,
namun juga dapat berdampak positif pada kualitas
perawatan pasien
c. Kurangnya Pelatihan dan Dukungan
Salah satu tantangan utama dalam perawatan
berbasis keluarga yaitu kurangnya pelatihan dan
dukungan bagi caregiver. Banyak caregiver yang harus
menjalankan tugas medis yang kompleks tanpa
memiliki pengetahuan atau keterampilan yang
memadai. Kondisi ini dapat meningkatkan stres
caregiver dan berpotensi mempengaruhi kualitas
perawatan pasien.
Penelitian menunjukkan bahwa program
pendidikan bagi caregiver dapat meningkatkan
kemampuan mereka dalam mengelola perawatan
pasien di rumah. Program ini biasanya mencakup
edukasi mengenai penyakit kronis, keterampilan
praktis dalam perawatan pasien, dan strategi untuk
mengatasi stres selama proses pengasuhan
3. Dukungan dan Intervensi bagi Caregiver
a. Dukungan dari Profesional Kesehatan
Tenaga kesehatan, terutama dokter dan
perawat, berperan penting dalam mendukung
caregiver selama proses perawatan pasien di rumah.
Dukungan ini dapat berupa identifikasi kebutuhan
caregiver, edukasi mengenai perawatan pasien,
dukungan emosional, dan bantuan dalam proses
pengambilan keputusan medis.
Hubungan yang baik antara tenaga kesehatan,
pasien, dan caregiver dapat meningkatkan kualitas
perawatan dan mengurangi risiko rawat inap yang
tidak diperlukan. Selain itu, perawat juga dapat
membantu mengorganisasi layanan tambahan seperti
perawatan pengganti atau dukungan komunitas untuk
mengurangi beban caregiver
Intervensi terstruktur yang dipimpin oleh
perawat juga terbukti dapat meningkatkan kesiapan
caregiver dalam menjalankan peran pengasuhan dan
mengurangi beban yang mereka rasakan. Program
dukungan ini biasanya melibatkan penilaian
kebutuhan caregiver secara sistematis dan pemberian
edukasi yang disesuaikan dengan kondisi pasien
b. Dukungan Kebijakan dan Sistem Pelayanan Kesehatan
Selain dukungan dari tenaga kesehatan,
kebijakan kesehatan juga berperan penting dalam
memperkuat sistem dukungan bagi caregiver. Beberapa
negara telah mengembangkan kebijakan khusus yang
bertujuan meningkatkan pelatihan dan pengakuan
terhadap peran caregiver dalam sistem kesehatan, seperti
CARE Act di Amerika Serikat.
Namun demikian, implementasi kebijakan
ini masih menghadapi berbagai tantangan,
termasuk keterbatasan komunikasi antara fasilitas
kesehatan dan keluarga pasien. Oleh sebab itu,
diperlukan strategi yang lebih efektif dalam
meningkatkan komunikasi, edukasi, dan koordinasi
perawatan selama transisi pasien dari rumah sakit ke
rumah
Keluarga dan caregiver berperan yang sangat
penting dalam keberhasilan perawatan pasien di rumah.
Mereka tidak hanya memberi dukungan fisik melalui
bantuan aktivitas sehari-hari dan tindakan medis sederhana,
namun juga berperan dalam memberi dukungan
emosional, sosial, dan pengelolaan finansial bagi pasien.
Meskipun demikian, caregiver sering menghadapi
berbagai tantangan yang signifikan, termasuk beban
emosional, kelelahan fisik, dan kurangnya pelatihan dan
dukungan dari sistem pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu,
diperlukan konsep yang komprehensif untuk
mendukung caregiver melalui edukasi, intervensi
keperawatan, dan kebijakan kesehatan yang mendukung
peran mereka.
Dengan memberi dukungan yang memadai
kepada caregiver, diharapkan kualitas perawatan pasien di
rumah dapat meningkat sekaligus menjaga kesejahteraan
caregiver sebagai bagian integral dari sistem pelayanan
kesehatan.







