an rumus Kockcroft-Gault.
Kadar kreatinin serum saja tidak bisa dipergunakan
untuk memperkirakan fungsi ginjal.
• Kelainan biokimiawi darah meliputi penurunan
kadar hemoglobin, peningkatan kadar asam
urat, hiper atau hipokalemia, hiponatremia, hiper
atau hipokloremia, hiperfosfatemia, hipokalsemia,
asidosis metabolic
• Kelainan urinalisis meliputi, proteinuria, hematuri,
leukosituria, cast, isostenuria
6. Gambaran Radiologis
Pemeriksaan radiologis Penyakit ginjal kronik meliputi:
• Foto polos abdomen, bisa tampak batu radio-opak
• Pielografi intravena jarang dikerjakan sebab kontras
sering tidak bisa melewati filter glomerulus, dan
dikhawatirkan toksik terhadap ginjal yang sudah
mengalami kerusakan
• Pieografi antegrad atau retrograd sesuai indikasi
• Ultrasonografi ginjal
• Pemeriksaan pemindaian ginjal atau renografi bila ada
indikasi
7. Biopsi dan Pemeriksaan Histopatologi Ginjal
Biopsi dan pemeriksaan histopatologi ginjal dilakukan
pada pasien dengan ukuran ginjal yang masih mendekati
normal. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui
etiologi, menerapkan terapi, prognosis dan mengevaluasi
hasil terapi yang diberikan. Pada keadaan ukuran ginjal
yang mengecil (contracted kidney), ginjal polikistik,
hipertensi yang tidak terkendali, infeksi perinefrik, gangguan
pembekuan darah, gagal napas, dan obesitas tidak boleh
dilakukan pemeriksaan biopsi.
8. Klarifikasi Ginjal Kronik dan Diet
Pengukuran fungsi ginjal terbaik yaitu dengan
mengukur Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). Dengan melihat
nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) baik secara langsung atau
melalui perhitungan berdasarkan nilai pengukuran kreatinin,
jenis kelamin dan umur seseorang. Pengukuran LFG tidak
dapat dilakukan secara langsung, namun hasil estimasinya
dapat dinilai melalui bersihan ginjal dari suatu penanda
filtrasi. Salah satu penanda ini yang sering digunakan
dalam praktik klinis yaitu kreatinin serum.
Menurut Chronic Kidney Disease Improving Global
Outcomes (CKD KDIGO) proposed classification, dapat
dibagi menjadi :
a. Stadium 1 (glomerulo filtrasirate/GFR normal (> 90 ml/
min)
Seseorang perlu waspada akan kondisi ginialnya
berada pada stadium 1 jika kadar ureum atau
kreatinin berada di atas normal, didapati darah atau
protein dalam urin, adanya bukti visual kerusakan
ginjal melalui pemeriksaan MRl, CT Scan, ultrasound
atau contrast x-ray, dan salah satu keluarga menderita
penyakit ginjal polikistik. Cek serum kreatinin dan protein
dalam urin secara berkala dapat menunjukkan sampai
berapa jauh kerusakan ginial penderita. Mengkonsumsi
roti dan sereal gandum whole grain, buah segar dan
sayur sayuran, pilih asupan rendah kolesterol dan lemak,
batasi asupan makanan olahan yang mengandung
kadar gula dan sodium tinggi, batasi penggunaan
garam dan sodium tinggi saat memasak makanan,
pertahankan kecukupan kalori, pertahankan berat
tubuh yang ideal, asupan kalium dan fosfor biasanya
tidak dibatasi kecuali bagi yang kadar di dalam darah
diatas normal dan pertahankan tekanan darah.
b. Stadium 2 (penurunan GFR ringan atau 60 s/d 89 m/
min)
Seseorang perlu waspada akan kondisi ginjalnya
berada pada stadium 2 jika : kadar ureum atau
kreatinin berada di atas normal, didapati darah atau
protein dalam urin, adanya bukti visual kerusakan
ginjal melalui pemeriksaan MRl, CT Scan, ultrasound
atau contrast x-ray, dan salah satu keluarga menderita
penyakit ginjal polikistik.
c. Stadium 3 (penurunan GFR moderat atau 30 s/d 59 m/
min)
Seseorang yang menderita GGK stadium 3
mengalami penurunan GFR moderat yaitu diantara
30 s/d 59 ml/min. Dengan penurunan pada tingkat ini
akumulasi sisa-sisa metabolisme akan menumpuk
dalam darah yang disebut uremia. Pada stadium
ini muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi
(hipertensi), anemia atau keluhan pada tulang. Gejala-
gejala iuga terkadang mulai dirasakan seperti:
• Fatique: rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan
oleh anemia.
• Kelebihan cairan: Seiring dengan menurunnya
fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi
mengatur komposisi cairan yang berada dalam
tubuh. Hal ini membuat penderita akan mengalami
pembengkakan sekitar kaki bagian bawah,
seputar wajah atau tangan. Penderita juga dapat
mengalami sesak nafas akibat teralu banyak cairan
yang berada dalam tubuh.
• Perubahan pada urin: urin yang keluar dapat
berbusa yang menandakan adanya kandungan
protein di urin, Selain itu warna urin iuga mengalami
perubahan menjadi coklat, orannye tua, atau merah
jika bercampur dengan darah. Kuantitas urin
bisa bertambah atau berkurang dan terkadang
penderita sering terbangun untuk buang air kecil di
tengah malam.
• Rasa sakit pada ginjal. Rasa sakit sekitar pinggang
tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian
penderita yang memiliki masalah ginjal seperti
polikistik dan infeksi.
• Sulit tidur: Sebagian penderita akan mengalami
kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa
gatal, keram ataupun restless legs.
d. Stadium 4 (penurunan GFR parah atau 15-29 ml/min)
Pada stadium ini fungsi ginjal hanya sekitar 15-30%
saja dan jika seseorang berada pada stadium ini
maka sangat mungkin dalam waktu dekat diharuskan
menjalani terapi pengganti ginjal/dialisis atau melakukan
transplantasi. Kondisi dimana teriadi penumpukan
racun dalam darah atau uremia biasanya muncul
pada stadium ini. Selain itu besar kemungkinan muncul
komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi),
anemia, penyakit tulang, masalah pada jantung dan
penyakit kardiovaskular lainnya. Gejala yang mungkin
dirasakan pada stadium 4 yaitu : fatique: rasa lemah/
lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia, kelebihan
cairan, perubahan pada urin: urin yang keluar dapat
berbusa yang menandakan adanya kandungan protein
di urin, rasa sakit pada ginjal, sulit tidur, nausea: muntah
atau rasa ingin muntah, perubahan cita rasa makanan,
bau mulut uremic: ureum yang menumpuk dalam darah
dapat dideteksi melalui bau pernalasan yang tidak enak,
dan sulit berkonsentrasi.
Mengkonsumsi roti dan sereal gandum whole
grain, buah segar dan sayur sayuran. Pilih asupan
rendah kolestrol dan lemak. Menjaga asupan protein
sesuai dengan kecukupan gizi yang dianjurkan untuk
orang sehat yaitu 0.8 gram protein per kilogram berat
badan. Batasi asupan makanan olahan yang banyak
mengandung kadar gula dan sodium tinggi. Asupan
vitamin D dan besi biasanya disesuaikan dengan
kebutuhan. Membatasi asupan fosfordan kalsium dan
kalium jika kadar dalam darah diatas normal.
e. Stadium 5 (penyakit ginjal stadium akhir terminal atau < 15
ml/min). Pada level ini ginjal kehilangan hampir seluruh
kemampuannya untuk bekerja secara optimal. Untuk itu
diperlukan suatu terapi pengganti ginjal (dialisis) atau
transplantasi agar penderita dapat bertahan hidup.
Gejala yang dapat timbul pada stadium 5 antara lain,
kehilangan nafsu makan, nausea, sakit kepala, merasa
lelah, tidak mampu berkonsentrasi, gatal - gatal,
urin tidak keluar atau hanya sedikit sekali, bengkak,
terutama di seputar wajah, mata dan pergelangan
kaki, keram otot dan perubahan warna kulit. Seseorang
didiagnosa menderita gagal ginjal terminal disarankan
untuk melakukan hemodialisis, peritoneal dialisis
atau transplantasi ginjal. Diet yang diperlukan
dalam stadium ini harus membatasi asupan fosfor
tidak lebih dari 1000 mg atau sesuai dengan kebutuhan
individu masing- masing menurut rekomendasi ahli gizi.
Asupan kalium tidak lebih dari 2000 mg s/d 3000 mg
atau disesuaikan dengan kebutuhan individu masing-
masing menurut rekomendasi ahli gizi.
9. Tujuan Diet
a. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal
dengan memperhitungkan sisa fungsi ginjal, agar tidak
memberatkan kerja ginjal pasien.
b. Mencegah dan menurunkan kadar ureum darah yang
tinggi (uremia).
c. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
d. Mencegah atau mengurangi progresivitas gagal ginjal
dan memperlambat turunnya Laju Filtrasi Glomerulus.
10. Syarat Diet
a. Energi cukup, 35 kkal/kg berat badan.
b. Protein rendah, 0,6 – 0,75 g/kg berat badan.
c. Lemak cukup, 20 – 30% dari kebutuhan energi total.
Diutamakan lemak tidak jenuh ganda.
d. Karbohidrat cukup, yaitu kebutuhan energi total
dikurangi energi yang berasal dari protein dan lemak
e. Natrium dibatasi jika pasien memiliki hipertensi,
edema, asites, oliguria, atau anuria. Jumlah natrium
yang diberikan antara 1 – 3 g.
f. Kalium dibatasi (40 – 70 mEq), jika ada hiperkalemia
(kalium darah >5,5 mEq), oliguria, atau anuria.
g. Cairan dibatasi sesuai dengan jumlah urine sehari
ditambah ±500 ml (cairan yang keluar melalui keringat
dan pernapasan).
h. Vitamin cukup, bila perlu diberikan suplemen piridoksin,
asam folat, vitamin C dan D.
11. Jenis Diet
Ada tiga jenis diet yang diberikan menurut berat badan
pasien, yaiu:
a. Diet Protein Rendah I: 30 gram protein pada pasien
dengan berat badan 50 kg.
b. Diet Protein Rendah II: 35 gram protein pada pasien
dengan berat badan 60 kg.
c. Diet Protein Rendah III: 40 gram protein pada pasien
dengan berat badan 65 kg.
Kebutuhan gizi pasien ginjal kronik sangat
bergantung pada keadaan dan berat badan perorangan,
oleh sebab itu jumlah protein yang diberikan dapat
lebih tinggi atau lebih rendah daripada standar. Mutu
protein dapat ditingkatkan dengan memberi asam
amino esensial murni.
Bahan Makanan Dianjurkan Tidak Dianjurkan
S u m b e r
Karbohidrat
Nasi
Bihun
Jagung
Kentang
Makaroni
Mi
Tepung-tepungan
Singkong
Ubi
Selai
Madu
Permen
Sumber Protein
Telur
Daging
Ikan
Ayam
Susu
Kacang-kacangan
dan hasil olahannya,
seperti tempe dan
tahu.
Sumber Lemak
Minyak Jagung
Minyak Kacang Tanah
Minyak Kelapa Sawit
Minyak Kedelai
Margarin dan Mentega
Rendah Garam
Kelapa
Santan
Minyak Kelapa
Margarin, Mentega
biasa dan lemak
hewan
Sumber Vitamin
dan Mineral
Semua sayuran dan
buah (kecuali pasien
dengan hiperkalemia
yang memakan makanan
mengandung kalium
rendah atau sedang).
Sayuran dan buah
tinggi kalium pada
pasien dengan
hiperkalemia.
Tabel 14. Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan
12. Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan
13. Contoh Menu Diet
Waktu Menu Bahan Makanan
Sarapan
Nasi Goreng
Beras
Daun bawang
Telur dadar
Telur
Wortel
Susu
Madu
Cemilan Pagi
Kue talam
Tepung Beras
Pandan
Santan
Teh manis
Teh
Gula
Makan Siang
Nasi Bistik
Beras
Daging
Setup buncis wortel
Buncis
Wortel
Margarin
Bawang Bombay
Pepaya potong Pepaya
Cemilan Sore
Puding
Fla
Makan Malam
Nasi
Ikan goreng
Ikan nila
Minyak
Capcay goreng Wortel
Jeruk
Tabel 15. Contoh Menu Makan Diet Paien Ginjal
Penyakit yang berpengaruh terhadap menurunnya status gizi
di rumah sakit diantaranya yaitu gagal ginjal dan penyakit hati.
Pada pasien penyakit ginjal kecukupan energi dan protein sangat
penting. Asupan energi dan protein yang rendah memicu
peningkatan katabolisme namun bila asupan protein terlalu tinggi
memicu sindrom uremik, oleh sebab itu pada pasien
penyakit ginjal perlu monitoring dan evaluasi asupan nutrisi agar
tidak terjadi penurunan status gizi. Pada penyakit hati yang berat
metabolisme protein terganggu sehingga ammonia terakumulasi
secara abnormal di dalam darah.
GANGGUAN AKIBAT
KEKURANGAN IODIUM (GAKY)
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan salah
satu masalah kesehatan warga yang serius mengingat
dampaknya terhadap kelangsungan hidup dan kualitas
sumber daya manusia. GAKI dapat berdampak luas pada seluruh
kalangan usia, baik pada janin, bayi, anak-anak, remaja, bahkan
dewasa sekalipun. GAKI mampu berdampak secara langsung atau
tidak langsung terhadap kualitas fisik dan non fisik individu dalam
warga yaitu intelektualitas dan keterbelakangan mental.
Kurangnya intelektual individu sangat mempengaruhi produktifitas
secara sosial dan ekonomi yang pada akhirnya memicu
bertambahnya jumlah penduduk yang miskin dan cenderung
menjadi beban pembangunan sebab ketidakmampuan secara
fisik (cacat fisik atau kretin), rendahnya kemampuan kognitif
dan gangguan perkembangan mental (Balai Penelitian dan
Pengembangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium, 2014).
Salah satu upaya yang tengah dilakukan untuk menanggulangi
GAKI ditingkat populasi ialah iodisasi atau fortifikasi iodium pada
semua garam atau Universal Salt Iodization (USI). Cakupan rumah
tangga dengan konsumsi garam cukup iodium di negara kita
tahun 2013 sebesar 77,10% meningkat dibandingkan tahun 2007
sebesar 62,30%. Sayangnya, cakupan ini belum memenuhi target
cakupan USI oleh WHO dengan capaian target sebesar 90%. Pada
tahun 2013, prevalensi anak usia sekolah, yakni usia 6-12 tahun di
negara kita yang mengalami defisiensi iodium meningkat menjadi
14,90% dibandingkan pada tahun 2007 sebesar 12,90%. Hal ini
berbanding terbalik dengan cakupan konsumsi garam beriodium.
Cakupan konsumsi garam beriodium meningkat di negara kita pada
tahun 2013, namun prevalensi anak usia sekolah yang mengalami
defisiensi iodium justru meningkat di tahun yang sama (Lathifah
and Sumarmi, 2018).
Salah satu faktor yang mendasari terjadinya defisiensi iodium
ialah tidak tercukupinya konsumsi iodium yang sesuai dengan
standar usia dan jenis kelamin. Maka, aspek gizi sangat berperan
dalam melakukan pengendalian GAKI pada populasi. Makalah
ini akan membahas lebih jauh mengenai Gangguan Akibat
Kekurangan Iodium, patofisiologi GAKI, angka kebutuhan iodium
yang harus dicukupi, diagnosis penentuan status GAKI pada populasi,
penatalaksanaan diet GAKI, serta menu makan yang disarankan
untuk penderita GAKI.
A. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
Menurut Hetzel,1993 dikutip dalam Fitridina, 2013, Gangguan
Akibat Kurang Iodium atau GAKI yaitu sekumpulan gejala yang
timbul sebab tubuh seseorang kekurangan unsur iodium secara
terus menerus dalam jangka waktu cukup lama. Sedangkan
menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan
Republik negara kita , 2015, GAKI merupakan defisiensi iodium
yang berlangsung lama akibat dari pola konsumsi pangan
kurang mengkonsumsi iodium yang kemudian mengganggu
fungsi kelenjar tiroid dan memicu produksi hormon tiroid
berkurang sehingga akan memicu kelainan. Pengertian
tentang defisiensi iodium saat ini tidak terbatas pada gondok
dan kretinisme saja namun juga dapat berpengaruh pada
kualitas sumber daya manusia secara luas meliputi tumbuh
kembang manusia termasuk perkembangan otak.
Pada semua tahap usia, GAKI yang paling umum
yaitu goiter, yaitu pembesaran kelenjar tiroid. Selain itu, yang
termasuk spektrum GAKI diantaranya yaitu retardasi mental,
hipotiroidisme, kretinisme, dan beberapa derajat lainnya pada
tahap pertumbuhan dan perkembangan yang abnormal. Selain
itu, kekurangan iodium dapat memicu tekanan darah
rendah dan gerakan menjadi lamban, gangguan pendengaran
dan bisu. Menurut Depkes RI (2004), GAKI merupakan salah
satu masalah kesehatan warga yang serius mengingat
dampaknya mempengaruhi kelangsungan hidup dan
kualitas sumber daya manusia yang mencakup 3 aspek
yaitu perkembangan kecerdasan, perkembangan sosial, dan
perkembangan ekonomi.
Kelompok yang paling rentan terkena GAKI yaitu Wanita
Usia Subur (WUS) yang jika hamil maka akan berdampak pada
janinnya, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak. Kelompok
rentan ini merupakan kelompok produktif yang ke
depannnya akan banyak berkontribusi dalam warga .
jika mereka mengalami gangguan-gangguan yang
disebabkan oleh GAKI tentu saja akan memicu penurunan
kualitas SDM.
B. pemicu GAKI
1. Kurang Asupan Iodium
Faktor utama pemicu GAKI ialah kekurangan
asupan iodium dalam jangka waktu lama. Hal ini terjadi
sebab iodium dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang
manusia sepanjang proses kehidupannya. Kandungan
iodium dalam makanan dan diet iodium total sangat
bervariasi, bergantung pada keadaan geokimawi, tanah,
dan budaya. Ketiga hal ini mempengaruhi asupan iodium
oleh tetumbuhan yang dijadikan makanan pokok, serta
bahan pangan yang berasal dari hewan. Selain itu, selama
proses memasak, keterkandungan iodium dalam makanan
dapat susut sampai di bawah nilai yang terpapar. Sebagai
contoh, penggorengan akan mengurangi kadar iodium
sebanyak 20%, penggilingan 23%, dan perebusan sebesar
58%
2. Konsumsi Bahan Makanan yang Mengandung Zat
Goitrogenik
Goitrogenik yaitu zat yang dapat menghambat
pengambilan zat iodium oleh kelenjar gondok sehingga
konsentrasi iodium dalam kelenjar tidak dapat meningkat.
Selain itu, zat goitrogenik dapat menghambat perubahan
iodium dari bentuk anorganik menjadi organik sehingga
pembentukan hormon tiroksin terhambat. Zat goitrogenik
dalam bahan makanan yang dimakan setiap hari akan
memicu zat iodium dalam tubuh tidak berguna
sebab zat goitrogenik ini menghambat absorbsi dan
metabolisme mineral iodium yang telah masuk ke dalam
tubuh.
Zat yang bersifat goitrogenik banyak sekali terkandung
pada bahan pangan pokok di negara berkembang, misalnya
ubi kayu, ubi jalar, maizena, rebung, buncis, dan padi.
Goitrogenik alami ada dalam jenis pangan seperti kelompok
sianida, yaitu daun singkong, umbi singkong, gaplek, gadung,
rebung, daun ketela, kecipir, dan terong; kelompok mimosin,
seperti petai china dan lamtoro; kelompok isothiosianat,
seperti daun pepaya dan kelompok asam, seperti jeruk nipis,
belimbing wuluh dan cuka
3. Faktor Geografis Wilayah
warga yang bermukim di wilayah yang sedikit
sekali (bahkan tidak ada sama sekali) mengandung
iodium berisiko mengalami defisiensi. Kehilangan iodium
biasanya terjadi di daerah pegunungan atau dataran tinggi
disebab kan lapisan tanah yang mengandung yodium
terkikis atau dapat juga diakibatkan oleh hanyutnya iodium
bersama air hujan. Namun daerah dataran rendah pun
bukan tidak mungkin mengalami kekurangan iodium. Air
bah yang kerap berkunjung, juga dapat menghanyutkan
iodium yang tersimpan dalam tanah (Arisman, 2008).
C. Patofosiologi GAKI
Pada kekurangan iodium, kosentrasi hormon tiroid menurun
dan hormon perangsang tiroid atau TSH meningkat agar
kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak iodium. Bila
kekurangan berlanjut, sel kelenjar tiroid membesar dalam usaha
peningkatan pengambilan iodium oleh kelenjar ini . Bila
pembesaran ini menampak dinamakan gondok sederhana.
Bila ada gondok meluas disuatu daerah tertentu disebut
gondok endemik.
D. Spektrum GAKI
Tabel 16. Spektrum GAKI dalam Setiap Tahap Kehidupan
Tahap Perkembangan Bentuk Gangguan
Janin
Keguguran (aborsi)
Lahir mati
Kelainan kongenital
Kematian perinatal
Kematian bayi
Kretinisme saraf
Kretinisme miksedema
Kerusakan psikomotor
Bayi baru lahir
Gondok neonates
Hipotiroidisme neonates
Anak & remaja
Gondok
Hipotiroidisme juvenile
Fungsi mental
Perkembangan fisik terhambat
Dewasa
Gondok & penyulit
Hipotiroidisme
Fungsi mental
Hipotiroidisme diimbas oleh yodium
Semua usia Kepekaan terhadap radiasi nuklir meningkat
1. Defisiensi Pada Janin
Kekurangan iodium pada janin merupakan dampak
dari kekurangan iodium pada ibu. Keadaan ini berkaitan
dengan meningkatnya insidensi lahir mati, abortus, dan
cacat bawaan, yang seharusnya semuanya dapat dicegah
melalui intervensi yang tepat. Akibat lain yang lebih berat
pada janin yang kekurangan iodium yaitu kretin endemik.
ada 2 tipe kretin endemik, yaitu tipe nervosa yang
paling sering dijumpai, ditandai dengan retardasi mental,
bisu tuli, dan kelumpuhan spastik pada kedua tungkai.
Sebaliknya yang jarang terjadi yaitu tipe hipotiroidisme
yang ditandai dengan kekurangan hormon tiroid dan kerdil.
Penelitian terakhir menunjukkan, transfer T4 dari ibu
ke janin pada awal kehamilan sangat penting untuk
perkembangan otak janin. Ibu yang kekurangan iodium
sejak awal kehamilannya akan membuat transfer T4 ke
janin berkurang sebelum kelenjar tiroid janin berfungsi.
Jadi perkembangan otak janin sangat tergantung pada
hormon tiroid ibu pada trimester pertama kehamilan,
bilamana ibu kekurangan iodium maka akan berakibat
pada rendahnya kadar hormon tiroid pada ibu dan janin.
Dalam trimester kedua dan ketiga kehamilan, janin sudah
dapat membuat hormon tiroid sendiri, namun sebab
kekurangan iodium dalam masa ini, maka akan berakibat
juga pada kurangnya pembentukan hormon tiroid, sehingga
berakibat hipotiroidisme pada janin
2. Defisiensi Pada Bayi Baru Lahir
Fungsi tiroid pada bayi baru lahir berhubungan erat
dengan keadaan otak pada saat bayi ini lahir. Pada
bayi baru lahir, otak baru mencapai sepertiga, kemudian
terus berkembang dengan cepat sampai usia dua tahun.
Pembentukan hormon tiroid sangat bergantung pada
kecukupan iodium, dan hormon ini sangat penting untuk
perkembangan otak normal.
Di negara sedang berkembang dengan kekurangan
iodium berat, penemuan kasus ini dapat dilakukan dengan
mengambil darah dari pembuluh darah balik tali pusat
segera sesudah bayi lahir untuk pemeriksaan kadar hormon
T4 dan TSH. Bila didapatkan kadar T4 kurang dari 3 mg/
dl dan TSH lebih dari 50 mU/mL maka disebut dengan
hipotiroidisme neonatal. Kekurangan yang parah dan
berlangsung lama akan mempengaruhi fungsi tiroid bayi
yang kemudian mengancam pertumbuhan otak secara
dini (Arisman, 2008; Balai Penelitian dan Pengembangan
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium, 2014).
3. Defisiensi Pada Anak-Anak
Kekurangan iodium pada anak-anak berkaitan dengan
insidensi gondok. Angka kejadian gondok meningkat
bersama usia, dan akan mencapai puncaknya pada masa
sesudah remaja. Prevalensi gondok pada anak perempuan
lebih tinggi dibandingkan pada anak laki-laki (Arisman,
2008).
Selain itu, GAKI yang terjadi pada anak-anak dapat
menurunkan kecerdasan anak, dan dapat menurunkan IQ
hingga 15-20 poin lebih rendah dibandingkan dengan anak
yang tidak menderita GAKI. Keadaan ini disebut sebagai
hipotiroidisme otak, yang akan memicu bodoh dan
lesu. Keadaan lesu ini dapat kembali normal bila diberikan
koreksi iodium, namun lain halnya bila keadaan yang terjadi
di otak. Ini dapat terjadi pada janin dan bayi yang otaknya
masih dalam masa perkembangan, walaupun diberikan
koreksi iodium, otak tetap tidak dapat kembali normal
(Balai Penelitian dan Pengembangan Gangguan Akibat
Kekurangan Iodium, 2014).
4. Defisiensi pada orang dewasa
Pada orang dewasa, defisiensi dapat memicu
gondok dengan segala komplikasinya, yang sering
terjadi yaitu hipotiroidisme, bodoh, dan hipertiroidisme.
Disamping efek ini , peningkatan ambilan kelenjar
tiroid yang disebabkan oleh kekurangan iodium mampu
meningkatkan risiko terjadinya kanker kelenjar tiroid bila
terkena radiasi.
E. Pengertian Iodium
Iodium merupakan salah satu mineral yang dibutuhan oleh
tubuh. Jumlah kebutuhan tubuh akan iodum relatif kecil yaitu
kurang lebih sebanyak 0,00004 persen dari berat badan. Sekitar
75% dari iodium dalam tubuh ada di dalam kelenjar tiroid dan
digunakan untuk mensintesis hormon tiroksin, tetraiodotironin
(T4) atau triiodotironin (T3) . Hormon ini sangat dibutuhkan
dalam proses metabolisme. Salah satunya berperan pada
pertumbuhan tulang dan perkembangan fungsi otak. Sisa
iodium lainnya ada dalam jaringan lain, terutama dalam
kelenjar-kelenjar ludah, payudara, lambung dan ginjal. Di dalam
darah iodium ada dalam bentuk iodium bebas atau terikat
dengan protein (Protein Bound Iodine / PBI).
Iodium merupakan komponen tanah yang jarang ditemukan.
Hal ini membuat kandungannya dalam sumber makanan
dari tanaman atau hewan yang tumbuh diatasnya menjadi
rendah. Laut merupakan sumber utama iodium. Oleh sebab itu
ikan laut, udang, kerang, dan ganggang laut merupakan bahan
makanan sumber iodium yang baik. Tanaman yang tumbuh di
daerah pantai juga banyak mengandung iodium. Semakin jauh
tanah ini dari pantai maka kandungan iodiumnya juga
semakin sedikit.
Kelompok Usia Yodium (µg/hari)
Anak-anak
0-6 Bulan 90
7-11 Bulan 120
1-3 Tahun 120
4-6 Tahun 120
7-9 Tahun 120
Pria
10-12 Tahun 120
13-15 Tahun 150
16-18 Tahun 150
19-29 Tahun 150
30-49 Tahun 150
50-64 Tahun 150
65-80 Tahun 150
80+ Tahun 150
Wanita
10-12 Tahun 120
13-15 Tahun 150
16-18 Tahun 150
19-29 Tahun 150
30-49 Tahun 150
50-64 Tahun 150
65-80 Tahun 150
80+ Tahun 150
Hamil
Trimester 1 +70
Trimester 2 +70
Trimester 3 +70
Menyusui
6 Bulan Pertama +100
6 Bulan Kedua +100
Tabel 17. Kebutuhan Iodium Menurut Usia
F. Kebutuhan Iodium
G. Diagnosis GAKI
1. Pemeriksaan Fisik/Klinis
Dalam menentukan pembesaran kelenjar gondok,
metode yang digunakan yaitu inspeksi (pengamatan) dan
palpasi (perabaan). Metode inspeksi digunakan sebagai
alat untuk menduga terjadinya pembesaran atau tidak,
sedangkan untuk mengkonfirmasi apakah pembesaran
yang ada merupakan pembesaran kelenjar gondok
sebenarnya, maka perlu dilakukan palpasi, sehingga palpasi
disebut juga sebagai alat konfirmasi
tahapan
pemeriksaan kelenjar gondok sebagai berikut :
a. Orang (sampel) yang diperiksa berdiri tegak atau duduk
menghadap pemeriksa
b. Pemeriksa melakukan pengamatan di daerah leher
depan bagian bawah terutama pada lokasi kelenjar
gondok
c. Amati apakah ada pembesaran kelenjar gondok
(termasuk tingkat II atau III)
d. Jika bukan, sampel diminta menengadah dan menelan
ludah. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah yang
ditemukan yaitu kelenjar gondok atau bukan. Pada
gerakan menelan, kelenjar gondok akan ikut terangkat
ke atas
e. Pemeriksa berdiri di belakang sampel dan melakukan
palpasi. Pemeriksa meletakkan dua jari telunjuk dan
dua jari tengahnya pada masing-masing lobus kelenjar
gondok. Kemudian lakukan palpasi dengan meraba
kedua jari telunjuk dan jari tengah ini
f. jika salah satu atau kedua lobus kelenjar lebih kecil
dari ruas terakhir ibu jari orang yang diperiksa, berarti
orang ini normal. jika salah satu atau kedua
lobus ternyata lebih besar dari ruas terakhir ibu jari orang
yang diperiksa, maka dapat dikatakan orang ini
menderita gondok
Dalam melakukan palpasi gondok, pemeriksa harus
memperhatikan kondisi sebagai berikut :
1. Cahaya hendaknya cukup menerangi bagian leher
orang yang diperiksa
2. Pada saat mengamati kelenjar gondok, posisi mata
pemeriksa harus sejajar (horizontal) dengan leher orang
yang diperiksa
3. Palpasi (perabaan) jangan dilakukan dengan tekanan
terlalu keras atau terlalu lemah. Tekanan yang terlalu
keras akan memicu kelenjar masuk atau pindah
ke bagian belakang leher sehingga pembesaran tidak
teraba.
Klasifikasi pembesaran kelenjar gondok
Grade 0 = Normal Kelenjar gondok tidak terlihat saat inspeksi, baik datar
maupun-ketika penderita menengadah maksimal, dan
kelenjar gondok tidak teraba dengan palpasi
Grade IA Kelenjar gondok tidak terlihat saat inspeksi, baik datar
maupun ketika penderita menengadah maksimal, dan saat
palpasi, kelenjar gondok teraba lebih besar dari ruas terakhir
ibu hari penderita
Grade IB Kelenjar gondok dengan inspeksi datar tidak terlihat, namun
terlihat dengan tengadah maksimal dan dengan palpasi
kelenjar gondok teraba lebih besar dari grade IA
Grade II Kelenjar gondok terlihat dengan inspeksi dalam posisi datar
dan dengan palpasi teraba lebih besar dari grade IB
Grade III Kelenjar gondok cukup besar, dapat terlihat pada jarak 6
meter atau lebih.
Tabel 18. Klasifikasi Pembesaran Kelenjar Gondok
berdasarkan Keparahan
2. Ekskresi Iodium pada Urine
Ekskresi iodium dalam urin mencerminkan besaran
asupan iodium. Ginjal tidak memiliki mekanisme
penyimpanan yodium, oleh sebab itu ginjal merupakan
jalur utama (80-90%) dalam pembuangan yodium.
Saluran ekskresi utama yodium yaitu melalui saluran
urin. Sedangkan pengeluaran yodium melalui feses hanya
sekitar 20% dari total pengeluaran. Sebagian besar yodium
yang diserap tubuh dapat dilihat pada urin sebab ekskresi
yodium urin menggambarkan asupan yodium harian. Profil
konsentrasi yodium pagi hari atau sewaktu pada anak atau
orang dewasa cukup untuk menilai status yodium pada
populasi. Secara umum jumlah urin 0,5 -1 ml sudah cukup
sebagai bahan pemeriksaan meskipun ini tergantung dari
metode yang digunakan.
Gambar 11. Kondisi Asupan Iodium dan Status Gizi Iodium
Gambar 12. Kondisi Asupan Iodium pada Ibu Hamil
berdasarkan Nilai Median EIU
3. Thyroid Stimulating Hormone (TSH)
Kelenjar pituitary mengeluarkan TSH sebagai respon
konsentrasi dari kadar T4 di sirkulasi darah. TSH meningkat
ketika T4 rendah, menurun bila T4 meningkat. Defisiensi
yodium ditandai dengan rendahnya kadar T4 dalam darah
dan meningkatnya TSH. Meskipun pemeriksaan nilai TSH
cukup akurat pada orang dewasa namun tidak dianjurkan
untuk digunakan secara rutin sebagai data survey
TSH pada bayi yaitu indikator yang baik untuk
kondisi defisiensi yodium. Kadar hormone tiroid pada bayi
mengandung yodium lebih rendah dibandingkan dengan
orang dewasa sebab pertukaran yodium yang tinggi.
Pertukaran tinggi bukanlah hal yang berlebihan dalam
keadaan defisiensi yodium, sebab terjadi peningkatan
stimulasi tiroid oleh TSH. pemicu TSH meningkat pada
bayi dengan keadaan defisiensi yodium yaitu fenomena
yang disebut Transient Hypertyrotopinemia. Prevalensi bayi
dengan serum TSH meningkat merupakan indicator akut
defisiensi yodium pada populasi, juga sebagai bukti bahwa
defisiensi yodium berefek langsung pada pertumbuhan
otak
H. Penatalaksanaan GAKI
Tatalaksana kasus gangguan tiroid dapat dilakukan melalui
pengaturan makanan (diet), pengobatan, serta komunikasi,
informasi, dan edukasi (KIE) yang disesuaikan dengan kondisi
masing-masing pasien. Sedangkan pengendalian penyakit
tiroid di warga dilaksanakan melalui pencegahan dan
penanggulangan penyakit tiroid, penemuan dan tatalaksana
kasus secara tepat, surveillans epidemiologi, dan KIE faktor risiko
penyakit tiroid.
1. Penggunaan garam beriodium
Contohnya program Universal Salt Iodization (USI) yang
direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF sejak tahun 1993
dan telah diimplementasikan di negara kita .
2. Suplementasi iodium pada binatang
Suplementasi iodium pada binatang telah dilaksanakan
di daerah Jerman Timur dan terbukti membuahkan hasil.
Peningkatan kadar iodium secara bermakna dalam air susu
dan daging akan mampu bekerja sebagai pembawa iodium
bagi manusia
3. Suntikan minyak beriodium (lipiodol)
Pemberian lipiodol ditujukan untuk daerah endemis
berat. Hal ini telah dipraktekkan di PNG dimana minyak
beriodium harus disuntikkan pada wanita yang berusia 40
tahun, dan pria sampai umur 20 tahun. Suntikan ulangan
dilakukan setiap 3-5 tahun kemudian bergantung pada
dosis yang diberikan serta usia subjek.
4. Kapsul minyak beriodium
Di negara kita , kapsul minyak beriodium mulai diedarkan
pada tahun 1993 sebagai upaya pemberian suplementasi
berskala besar sekaligus menggantikan lipiodol sebab
sasaran merasa tidak nyaman dengan suntikan dan
distribusinya membutuhkan tenaga professional.
I. Diet bagi Penderita GAKI
Terapi Diet : Diet tinggi Iodium
Bentuk Makanan : Biasa
Route : Oral
1. Tujuan diet
memberi makanan tinggi iodium untuk memperbaiki/
mencegah kekurangan yang lebih berat.
2. Syarat diet
• Mengkonsumsi banyak bahan makanan tinggi iodium
• Membatasi bahan makanan yang bersifat goitrogenik
seperti bunga kol, kol, daun singkong dan kacang-
kacangan
• Diet seimbang, cukup mengandung semua zat gizi
• Protein 15% dari kebutuhan energi total
• Lemak sedang yaitu 25% dari kebutuhan energi total
• Karbohidrat yaitu 60% dari kebutuhan energi total
• Pilih bahan makanan tinggi iodium
• Pengaturan makan tiga kali makan utama dan dua kali
makan selingan
• Banyak minum air putih yang matang dan bersih
J. Rencana Menu dalam Sehari
Waktu
Menu
Makanan
Bahan
Makanan
Berat (g) URT
Sarapan
Nasi Beras Giling 50 gr ½ gelas
Teri Bumbu
Balado
Ikan Teri 20 2 sdm
Cabai
Merah
5 2 buah
Tomat
Masak
25
1 buah
sedang
Minyak
Kelapa
Sawit
5 ½ sdm
Sate Tahu
Tahu Putih 50
1 potong
sedang
Kecap 25 2 sdm
Margarine 2,5 ¼ sdm
Sayur Bayam Bayam 75 ¾ gelas nasi
Pepaya Pepaya 100
1 potong
sedang
Air Putih 200 1 gelas
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium merupakan
sekumpulan gejala yang timbul sebab tubuh seseorang
kekurangan unsur iodium secara terus menerus dalam
jangka waktu cukup lama. Beberapa faktor yang berpengaruh
terhadap kejadian GAKI antara lain, kurangnya asupan iodium,
terlalu banyak mengkonsumsi makanan zat goitrogenik, serta
faktor wilayah. GAKI dapat terjadi pada setiap daur kehidupan
mulai dari janin sampai pada orang dewasa degan gejala yang
berbeda-beda.
Gejala GAKI dapat diketahui melalui beberapa pemeriksaan
seperti pemeriksaan klinis, pemeriksaan kadar ekskresi
iodium dalam urin, dan pemeriksaan kadar TSH dalam darah.
Angka kecukupan iodium yang harus terpenuhi oleh tiap-
tiap individu berbeda tergantung dari usia dan jenis kelamin.
Penatalaksanaan diet yang tepat bagi penderita GAKI dapat
dilakukan untuk mengurangi dan mencegah prevalensi GAKI
pada populasi diantaranya mengkonsumsi makanan yang
tinggi kadar iodium, membatasi konsumsi makanan zat
goitrogenik dan menggunakan garam beriodium
Intervensi yang tepat harus dilakukan untuk menanggulangi
GAKI di populasi untuk menghindari kejadian yang lebih
parah. Beberapa saran untuk program penanggulangan
GAKI diantaranya ialah penguatan kerjasama lintas sektoral
antara pihak pemerintah dan swasta dalam penanggulangan
GAKI dengan menerapkan USI, sosialisasi kepada warga
terutama di daerah endemis GAKI mengenai pencegahan,
dan pengobatan yang tepat bagi penderita GAKI, dan
penatalaksanaan diet yang tepat bagi penderita GAKI untuk
mencegah bertambahnya keparahan penyakit.
- DIABETES MELLITUS
Diabetes yaitu penyakit kronis serius yang terjadi sebab
pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang
mengatur gula darah atau glukosa), atau ketika tubuh tidak
dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya.
Diabetes yaitu masalah kesehatan warga yang penting,
menjadi salah satu dari empat penyakit tidak menular prioritas yang
menjadi target tindak lanjut oleh para pemimpin dunia. Jumlah
kasus dan prevalensi diabetes terus meningkat selama beberapa
dekade terakhir.
Penyakit Tidak Menular (PTM), termasuk Diabetes, saat ini telah
menjadi ancaman serius kesehatan global (Kementerian Kesehatan
Republik negara kita , 2018). Pada tahun 2016, sekitar 71 persen
pemicu kematian di dunia yaitu penyakit tidak menular (PTM)
yang membunuh 36 juta jiwa per tahun. Sekitar 80 persen kematian
ini terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah.
73% kematian saat ini disebabkan oleh penyakit tidak menular, 35%
diantaranya sebab penyakit jantung dan pembuluh darah, 12% oleh
penyakit kanker, 6% oleh penyakit pernapasan kronis, 6% sebab
diabetes, dan 15% disebabkan oleh PTM lainnya (WHO, 2018 dalam
Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, 2019).
90-95% dari kasus Diabetes yaitu Diabetes Tipe 2 yang sebagian
besar dapat dicegah sebab disebabkan oleh gaya hidup yang tidak
sehat
negara kita juga menghadapi situasi ancaman diabetes serupa
dengan dunia. International Diabetes Federation (IDF) Atlas
2017 melaporkan bahwa epidemi Diabetes di negara kita masih
menunjukkan kecenderungan meningkat. negara kita yaitu negara
peringkat keenam di dunia sesudah Tiongkok, India, Amerika Serikat,
Brazil dan Meksiko dengan jumlah penyandang Diabetes usia 20-
79 tahun sekitar 10,3 juta orang
Sejalan dengan hal ini , Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
memperlihatkan peningkatan angka prevalensi Diabetes yang
cukup signifikan, yaitu dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun
2018; sehingga estimasi jumlah penderita di negara kita mencapai
lebih dari 16 juta orang yang kemudian berisiko terkena penyakit lain,
seperti: serangan jantung, stroke, kebutaan dan gagal ginjal bahkan
dapat memicu kelumpuhan dan kematian
Selain penyakit kardiovaskuler, DM juga merupakan salah satu
pemicu utama penyakit ginjal dan kebutaan pada usia di bawah
65 tahun, dan juga amputasi
Selain itu, diabetes juga menjadi pemicu terjadinya amputasi
(yang bukan disebabkan oleh trauma), disabilitas, hingga kematian.
Dampak lain dari diabetes yaitu mengurangi usia harapan hidup
sebesar 5-10 tahun. Usia harapan hidup penderita DM tipe 2 yang
mengidap penyakit mental serius, seperti Skizofrenia, bahkan 20%
lebih rendah dibandingkan dengan populasi umum.
Diabetes dan komplikasinya membawa kerugian ekonomi
yang besar bagi penderita diabetes dan keluarga mereka, sistem
kesehatan dan ekonomi nasional melalui biaya medis langsung,
kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Termasuk komponen biaya
utama yaitu rumah sakit dan perawatan rawat jalan, faktor lain
yang membutuhkan biaya besar yaitu kenaikan biaya untuk
insulin analog 1 yang semakin banyak diresepkan meskipun sedikit
bukti bahwa insulin tipe ini memberi efek yang signifikan
dibandingkan insulin manusia yang lebih murah
Menurut Menteri Kesehatan RI, upaya efektif untuk mencegah
dan mengendalikan diabetes harus difokuskan pada faktor-faktor
risiko disertai dengan pemantauan yang teratur dan berkelanjutan
dari perkembangannya sebab faktor risiko umum PTM di negara kita
relatif masih tinggi, yaitu 33,5% tidak melakukan aktivitas fisik, 95%
tidak mengonsumsi buah dan sayuran, dan 33,8% populasi usia di
atas 15 tahun merupakan perokok berat
Menkes juga menegaskan komitmen negara kita untuk mencegah
dan mengendalikan Diabetes melalui pemberdayaan warga .
Sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian Penyakit
Tidak Menular (PTM), Pemerintah negara kita telah membentuk Pos
Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM, sebagai upaya terdepan
pencegahan dan pengendalian PTM
A. Definisi Penyakit Diabetes Mellitus
Diabetes yaitu penyakit kronis serius yang terjadi sebab
pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang
mengatur gula darah atau glukosa), atau ketika tubuh tidak
dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya.
Diabetes yaitu masalah kesehatan warga yang penting,
menjadi salah satu dari empat penyakit tidak menular prioritas
yang menjadi target tindak lanjut oleh para pemimpin dunia.
Jumlah kasus dan prevalensi diabetes terus meningkat selama
beberapa dekade terakhir. .
B. Klasifikasi Penyakit Diabetes Mellitus
ada 2 kategori utama diabetes mellitus yaitu diabetes
tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1, dulu disebut insulin-dependent
atau juvenile/childhood-onset diabetes, ditandai dengan
kurangnya produksi insulin. Diabetes tipe 2, dulu disebut non-
insulin-dependent atau adult-onset diabetes, disebabkan
penggunaan insulin yang kurang efektif oleh tubuh. Diabetes
tipe 2 merupakan 90% dari seluruh diabetes. Sedangkan
diabetes gestasional yaitu hiperglikemia yang didapatkan
saat kehamilan. Toleransi glukosa terganggu (TGT) atau
impaired glucose tolerance (IGT) dan glukosa darah puasa
terganggu (GDP terganggu) atau impaired fasting glycaemia
(IFG) merupakan kondisi transisi antara normal dan diabetes.
Orang dengan IGT atau IFG berisiko tinggi berkembang menjadi
diabetes tipe 2. Dengan penurunan berat badan dan perubahan
gaya hidup, perkembangan menjadi diabetes dapat di cegah
atau ditunda
Tipe I atau DM yang tergantung insulin terjadi pada orang
muda dengan ketosidosis, dan tipe II atau DM yang tidak
tergantung insulin lebih khas pada orang yang obesitas. Tanda
klinis ini tidak memiliki arti universal sebab beberapa anak
penderita diabetes tidak memerlukan insulin, sementara banyak
orang tua yang memerlukan insulin
C. Etiologi Penyakit Diabetes Mellitus
Meskipun pemicu diabetes tetap tidak jelas, etiologi
autoimun seperti pada tipe I DM mungkin dicetuskan oleh infeksi
virus, sedangkan tipe II DM berkaitan dengan komponen genetik
yang berhubungan erat dengan obesitas. Faktor yang dapat
menginduksi atau mencetukan DM yaitu obat – obatan seperti
streroid, tiazid, penyakit pankreak, stress seperti trauma atau
pembedahan dan kelainan endokrin seperti penyakit Cushing
dan akromegali
D. Faktor Risiko Penyakit Diabetes Mellitus
Menurut Kementerian Kesehatan Republik negara kita (2013),
Faktor risiko diabetes mellitus bisa dikelompokkan menjadi
faktor risiko yang tidak dapat di modifikasi dan yang dapat
dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu
ras dan etnik, umur, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan
diabetes mellitus, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan
lebih dari 4000 gram, dan riwayat lahir dengan berat badan lahir
rendah (kurang dari 2500 gram). Sedangkan faktor risiko yang
dapat dimodifikasi erat kaitannya dengan perilaku hidup yang
kurang sehat, yaitu berat badan lebih, obesitas abdominal/
sentral, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia, diet
tidak sehat/tidak seimbang, riwayat toleransi glukosa terganggu
(TGT) atau gula darah puasa terganggu (GDP terganggu) dan
merokok.
E. Patofisiologi Penyakit Diabetes Mellitus
Ketika glukosa menerobos masuk ke dalam jaringan,
“bandul” keseimbangan antara produksi glukosa endogen dan
ambilan glukosa oleh jaringan pun menjadi “oleng”. Peningkatan
glukosa plasma merangsang pelepasan insulin oleh sel –
sel , memicu hyperinsulinemia. Kedua keadaan ini,
hiperglisemia dan hyperinsulinemia, akan merangsang ambilan
glukosa oleh jaringan splanknik (saluran cerna dan hati) dan
jaringan perifer (terutama otot lurik) sembari menekan produksi
glukosa endogen
Sebagian besar glukosa (80 – 85 %) yang terambil oleh jaringan
perifer akan terkonsentrasi pada otot lurik.
Meskipun jumlah sebarannya dalam tubuh tidak
banyak, insulin merupakan penghambat enzim liposis
potensial yang memicu terpangkasnya kadar
asam lemak bebas. Konsentrasi asam lemak bebas yang
terpenggal memicu pertambahan ambilan glukosa
dalam otot seraya menopang penghambatan produksi gl
ukosa hati.
Meskipun patofisiologi DM bermuara pada resistensi insulin,
toleransi glukosa akan tetap terjaga normal selama masih
dapat dikompensasi oleh peningkatan sekresi insulin. Jadi sel
pankreas yang masih berfungsi normal mampu menduga
keparahan resistensi insulin serta mengatur sekresi insulin untuk
mempertahankan kenormalan toleransi glukosa (Arisman,
2008).
Kelainan utama yang tergambar diabetes tipe 2 berupa
resistensi insulin dan penyusutan fungsi sekretorik sel – sel .
Ketidakpekaan insulin dalam merespons lonjakan gula darah
memicu peningkatan produksi glukosa oleh hati seraya
penurunan ambilan glukosa oleh jaringan. Hilangnya respons
akut terhadap beban KH yang merupakan kelainan khas dini pada
DM, biasanya terjadi ketika kadar gula darah puasa mencapai
angka 115 mg/dL, yang terdiagnosis sebagai hiperglisemia
postprandial. Fungsi sel – sel dipastikan susut sebanyak 75%
manakala kadar gula darah (plasma) puasa telah merapat ke
angka 140 mg/dL (Klein et al, 1996 dalam Arisman, 2008).
Peningkatan kadar glukosa darah dalam keadaan puasa
merupakan cerminan dari pengurangan ambilan glukosa
oleh jaringan, atau pertambahan gluconeogenesis. Jika kadar
glukosa darah meningkat sedemikian tinggi, ginjal tidak akan
mampu lagi menyerap-balik glukosa yang tersaring sehingga
glukosa akan tumpah ke dalam urin. Kelimpahan glukosa dalam
urin ini dinamakan glukosuria (Arisman, 2008).
Ketidakpekaan insulin di sel – sel hati dan jaringan tepi,
terutama otot rangka, memicu produksi glukosa oleh hati
tidak terbendung, sementara ambilan dan penggunaan glukosa
justru berkurang. Mekanisme keterjadiannya boleh jadi terkait
dengan defek pengikatan reseptor insulin, pengurangan jumlah
reseptor insulin, atau penurunan kemampuan insulin post-
receptor (DeFronzo, 1992 ; Porte dan Kahn, 1997 dalam Arisman,
2008). Selanjutnya, hiperglisemia ini akan menutup “keran”
sekresi sembari memperparah ketidakpekaan insulin dengan
jalan “menciutkan” (down-regulation) sistem transportasi
glukosa dalam sel – sel dan pada jaringan peka-insulin.
Pengaruh tingginya kadar glukosa yang berlangsung kronis
dikenal sebagai toksisitas glukosa (DeFronzo et al, 1992 dalam
Arisman, 2008). Ketidakpekaan insulin semakin diperberat oleh
peningkatan asam lemak bebas dalam darah, dan berdampak
lebih buruk pada kinerja sel – sel dalam menyekresikan insulin.
Gejala terakhir ini disebut lipotoksisitas (LeRoith, 2002 dalam
Arisman, 2008).
Manifestasi DM terbagi menjadi dua bentuk. Bentuk pertama,
sindrom diabetik akut, menampakkan gambaran hiperglisemia,
ketoasidosis, dan (jika tidak sempat diobati) kematian. Bentuk
kedua, diabetes kronis, ditandai dengan mikroangiopati difus
pada jaringan penyusun organ – organ vital (Arisman, 2008).
Pada prinsipnya, bertambahnya keluaran glukosa hati
melatarbelakangi peningkatan kadar glukosa darah puasa,
sementara berkurangnya penggunaan glukosa perifer
Gambar 13. Patogenesis DM tipe 2
F. Diagnosis Penyakit Diabetes Mellitus
Diagnosis DM dapat dipastikan jika ada salah satu
hasil pemeriksaan sebagai berikut :
a. Gejala klasik DM dengan kadar glukosa darah sewaktu > 200
mg/dL. Gejala klasik DM yaitu sering kencing, cepat lapar,
sering haus, berat badan menurun cepat tanpa pemicu
yang jelas.
b. Gejala klasik DM dengan kadar glukosa darah puasa > 126
mg/dL.
c. Pada tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan hasil
pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam > 200 mg/dL
sesudah pemberian beban glukosa 75 gr (PERKENI, 2006
dalam
G. Komplikasi Penyakit Diabetes Mellitus
Menurut Kementerian Kesehatan Republik negara kita
(2013), hiperglikemia yang terjadi dari waktu ke waktu dapat
memicu kerusakan berbagai sistem tubuh terutama
syaraf dan pembuluh darah. Beberapa konsekuensi dari
diabetes yang sering terjadi yaitu :
1. Meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.
2. Neuropati (kerusakan syaraf) di kaki yang meningkatkan
ulkus kaki, infeksi dan bahkan keharusan untuk amputasi
kaki.
3. Retinopati diabetikum, yang merupakan salah satu
pemicu utama kebutaan, terjadi akibat kerusakan
pembuluh darah kecil di retina.
4. Diabetes merupakan salah satu pemicu utama gagal
ginjal.
5. Risiko kematian penderita diabetes secara umum yaitu
dua kali lipat dibandingkan bukan penderita diabetes.
Dengan pengendalian metabolisme yang baik, menjaga
agar kadar gula darah berada dalam kategori normal, maka
komplikasi akibat diabetes dapat dicegah/ditunda.
H. Pencegahan dan Penatalaksaan Penyakit Diabetes Mellitus
Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah dengan ilmu kedokteran
saat ini. Pendekatan yang efektif sangat dibutuhkan untuk
mencegah diabetes tipe 2 dan untuk mencegah komplikasi
dan kematian prematur yang bisa disebabkan oleh berbagi
tipe diabetes. Termasuk di antaranya kebijakan dan penerapan
langsung di populasi dan di lingkungan tertentu (sekolah,
rumah, lingkungan kerja) yang berkontribusi kepada kesehatan
semua orang, baik pengidap diabetes atau bukan, seperti
olahraga teratur, pola makan sehat, menghindari merokok,
serta mengontrol kadar lemak dan tekanan darah (Kementerian
Kesehatan Republik negara kita , 2019).
Berdasarkan diagnosis dokter dan status pendidikan,
prevalensi penderita DM tertinggi merupakan tamatan
pendidikan setingkat D1/D2/D3/PT, yang merupakan kategori
jenjang pendidikan tertinggi pada hasil Riskesdas 2018. Untuk
status pekerjaan yang paling banyak mengidap DM berstatus
PNS/TNI/Polri/ BUMN/BUMD. Untuk mengendalikan diabetes
Kementerian Kesehatan sendiri telah membentuk 13.500 Pos
Pembinaan Terpadu (Posbindu) untuk memudahkan akses
warga melakukan deteksi dini penyakit diabetes. Selain itu
Menteri Kesehatan menghimbau warga untuk melakukan
aksi CERDIK, yaitu dengan melakukan:
1. Cek kesehatan secara teratur untuk megendalikan berat
badan agar tetap ideal dan tidak berisiko mudah sakit,
periksa tensi darah, gula darah, dan kolesterol secara teratur.
2. Enyahkan asap rokok dan jangan merokok.
3. Rajin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari,
seperti berolah raga, berjalan kaki, membersihkan rumah.
Upayakan dilakukan dengan baik, benar, teratur dan terukur.
4. Diet yang seimbang dengan mengkonsumsi makanan sehat
dan gizi seimbang, konsumsi buah sayur minimal 5 porsi
per hari, sedapat mungkin menekan konsumsi gula hingga
maksimal 4 sendok makan atau 50 gram per hari, hindari
makanan/minuman yang manis atau yang berkarbonasi.
5. Istirahat yang cukup.
6. Kelola stress dengan baik dan benar
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus menurut :
Tipe I : jika ketosidosis terjadi secara tiba – tiba dan
bersifat agresif, maka terapi dengan cairan IV dan insulin
merupakan indikasi. Pada penyakit tanpa ketosis, hiperglikemia
berhubungan dengan kehilangan berat badan, serangan gejala
awal tiba tiba dan dehidrasi terapi insulin juga merupakan
indikasi. Banyak panduan yang berbeda dari pemberian insulin,
namun kebanyakan yaitu kombinasi preparat kerja lama dan
pendek biasanya 2x sehari seperti Actrapid dan Monotard. Lebih
kurang 1 unit insulin per kilogram berat badan dibutuhkan per
hari. Banyak pasien membutuhkan fleksibelitas lebih besar dan
kontrol yang lebih baik dengan bentuk paduan ‘basal/bolus’
(insulin kerja lama sebelum tidur dengan insulin kerja pendek
sebelum makan). Pompa yang mengantarkan infus insulin terus
menerus tidak disukai sebab cepat timbul ketoasidosis akibat
kegagalan pompa. Kontrol diet dan Pendidikan pasien diperluka
untuk control diabetic yang baik dan rasa percaya diri pasien
Tipe II : banyak pasien memberi respon yang baik
terhadap terapi diet untuk menurunkan berat badan dan
membatasi masukan karbohidrat. Bagi orang gemuk yang tidak
dapat menurunkan berat badan, obat biguanid tambahan
seperti metformin 500 mg tid sering memberbaiki control.
Pada mereka dimana terapi diet saja tidak dapat mengontrol
diabetes secara adekuat sulfonilurea seperti glipizid 5-10 mg tid
atau gliklazid 80-320 mg setiap hari sangat berguna
I. Syarat dan Terapi Diet Bagi Penderita Penyakit Diabetes
Mellitus
a. Cara Pengaturan Makanan :
1. Jumlah kalori ditentukan menurut umur, jenis kelamin,
berat badan, tinggi badan dan aktivitas
2. Batasi penggunaan karbohidrat kompleks seperti :
Nasi, lontong, roti, ketan, jagung, kentang, dll. Dikurangi
jumlahnya dari kebiasaan sehari-hari
3. Hindari penggunaan sumber karbohidrat sederhana /
mudah diserap seperti gula pasir, gula jawa, sirup, selai,
manisan, buah-buahan, susu kental manis, minuman
botol ringan, dodol, es krim, kue-kue manis, bolu, tarcis,
abon, dendeng, dan sarden (Direktorat Pencegahan Dan
Pengendalian Penyakit Tidak Menular, 2018).
Tabel 20. Pengaturan Makanan pada Penderita Diabetes Mellitus
Bahan makanan Dianjurkan Dibatasi Dihindari
Sumber
karbohidrat
semua sumber
karbohidrat
dibatasi : nasi,
bubur, roti, mie,
kentang, singkong,
ubi, sagu,
gandum, pasta,
jagung, talas,
havermout, sereal,
ketan, makaroni
Sumber protein
hewani
ayam tanpa kulit,
ikan, telur rendah
kolesterol atau
putih telur, daging
tidak berlemak
hewani tinggi
lemak jenuh
(kornet, sosis,
sarden, otak,
jeroan, kuning
telur)
keju, abon,
dendeng, susu
full cream
Sumber protein
nabati
tempe, tahu,
kacang hijau,
kacang merah,
kacang tanah
Sayuran
sayuran tinggi
serat : kangkung,
daun kacang,
oyong, ketimu,
tomat, labu
air, kembang
kol, lobak, sawi,
selada, seledri,
terong
bayam, buncis,
daun melinjo,
labu siam, daun
singkong, daun
ketela, jagung
muda, pare,
wortel, daun katuk
Buah – buahan
jeruk, apel,
pepaya, jambu
air, salah,
belimbing (sesuai
kebutuhan)
nanas, anggur,
mangga, sirsak,
pisang, alpukat,
sawo, semangka,
nangka masak
buah – buah
an yang manis
dan diawetkan :
durian, nangka,
alpukat, kurma,
manisan buah
Minuman
minuman yang
mengandung
alkohol, susu
kental manis,
soft drink, es
krim, yoghurt,
susu
Lain – lain
makanan
yang digoreng
dan yang
menggunakan
santan kental,
kecap, saus tiram
gula pasir, gula
merah, gula
batu, madu
makanan/
minuman yang
manis : cake,
kue – kue manis,
dodol, tarcis,
sirup, selai
manis, cokelat,
permen, tape,
mayonaise
b. Bahan makanan yang diperbolehkan :
1. Lauk hewani dan nabati dalam jumlah yang cukup
sesuai yang dianjurkan
2. Aneka ragam sayuran untuk memberi rasa kenyang
dan kandungan serat tinggi
3. Buah-buahan dalam jumlah cukup
4. Minyak dan garam dalam jumlah yang tidak berlebihan.
5. Jumlah makanan yang dimakan dalam satu hari dibagi
dan diatur dengan baik terutama bagi penderita yang
menggunakan obat dan suntikan insulin.
6. Untuk mengganti gula dapat digunakan sakarin
dengan perbandingan 1 gelas minuman digunakan 2
tablet sakarin atau 1/4 sendok teh sakarin kristal. Bila
menggunakan sakarin jangan dipanaskan sebab
dapat memberi rasa pahit (Direktorat Pencegahan
Dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, 2018b)
c. Tujuan Diet
Membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan dan
olahraga untuk mendapatkan control metabolic yang lebih
baik dengan cara :
1. Mempertahankan kadar glukosa darah supaya
mendekati normal dengan menyeimbangkan asupan
makanan dengan insulin (endogenous atau exogenous),
dengan obat penurun glukosa oral dan aktivitas fisik.
2. Mencapai dan memperhatikan kadar lipida serum
normal.
3. Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau
mencapai berat badan normal.
4. Menhindari atau menangani komplikasi akut pasien yang
menggunakan insulin seperti hipoglikemia, komplikasi
jangka pendek, dan jangka lama serta masalah yang
berhubungan dengan latihan jasmani.
5. Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan
melalui gizi yang optimal (Almatsier, 2010).
d. Syarat diet
Syarat – syarat diet penyakit diabetes mellitus yaitu :
1. Energi cukup untuk mencapai dan mempertahankan
berat badan normal. Kebutuhan energi ditentukan
dengan memperhitungkan kebutuhan untuk
metabolisme basal sebesar 25 – 30 kkal/kg BB normal,
ditambah kebutuhan untuk aktivitas fisik dan keadaan
khusus, misalnya kehamilan atau laktasi serta ada
tidaknya komplikasi. Makanan dibagi dalam 3 porsi
besar, yaitu makan pagi (20%), siang (30%), dan sore
(25%), serta 2-3 porsi kecil untuk makanan selingan
(masing – masing 10-15%).
2. Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15% dari kebutuhan
energi total.
3. Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan
energi total, dalam bentuk <10% dari kebutuhan energi
total berasal dari lemak jenuh.
4. Kebutuhan karbohidrat yaitu sisa dari kebutuhan
energi total, yaitu 60 – 70%.
5. Penggunaan gula murni dalam minuman dan makanan
tidak diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai
bumbu. Bila kadar glukosa darah sudah terkendali,
diperbolehkan mengkonsumsi gula murni sampai 5%
dari kebutuhan energi total.
6. Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas. Gula
alternatif yaitu pemanis selain sukrosa. Ada dua jenis
gula alternatif yaitu yang bergizi dan tidak bergizi. Gula
alternatif bergizi yaitu fruktosa, gula alkhohol berupa
sorbitol, mannitol, dan silitol, sedangkan gula alternatif
tak bergizi yaitu aspartame dan sakarin. Penggunaan
gula alternatif hendaknya dalam jumlah terbatas.
Fruktosa dalam jumlah 20% dari kebutuhan energi total
dapat meningkatkan kolesterol dan LDL, sedangkan
gula alkhohol dalam jumlah berlebihan memiliki
pengaruh laksatif.
7. Asupan serat yang dianjurkan 25 gr/hari dengan
mengutamakan serat larut air yang ada di dalam
sayur dan buah. Menu seimbang rata – rata memenuhi
kebutuhan serat sehari.
8. Pasien DM dengan tekanan darah normal diperbolehkan
mengkonsumsi natrium dalam bentuk garam dapur
seperti orang sehat, yaitu 3000 mg/hari. jika
mengalami hipertensi, asupan garam harus dikurangi.
9. Cukup vitamin dan mineral. jika asupan dari
makanan cukup, penambahan vitamin dan mineral
dalam bentuk suplemen tidak diperlukan
e. Jenis Diet dan Indikasi Pemberian
Diet yang digunakan sebagai bagian dari
penatalaksanaan Diabetes Mellitus dikontrol berdasarkan
kandungan energi, protein, lemak, dan karbohidrat. Sebagai
pedoman yang dipakai 8 jenis diet diabetes mellitus
sebagaimana dapat dilihati pada table 1.2.
Penetapan diet ditentukan oleh keadaan pasien,
jenis diabetes mellitus dan program pengobatan secara
keseluruhan
JENIS DIET
Energi
kkal
Protein
g
Lemak
g
Karbohidrat
g
I 1100 43 30 172
II 1300 45 35 192
III 1500 51.5 36.5 235
IV 1700 55.5 36.5 275
V 1900 60 48 299
VI 2100 62 53 319
VII 2300 73 59 369
VIII 2500 80 62 396
Tabel 21. Jenis Diet Diabetes Mellitus
Tabel 22. Contoh Menu Makan Sehari untuk
Penderita Diabetes Mellitus
f. Contoh Menu Sehari untuk Penderita Diabetes Mellitus
Pagi Siang Malam
Roti putih dengan
selai kacang
Telur rebus
Lalap daun
Selada/tomat
Jam 10.00
(selingan)
Apel
Nasi
Semur daging
Tempe goreng
Pecel
Jeruk
Jam 16.00
(selingan)
Pudding pepaya
Nasi
Pepes ikan
Cah tahun
Tumis kangkong
Apel
Jam 21.00
(selingan)
Crackers tawar atau
buah
Diabetes yaitu penyakit kronis serius yang terjadi sebab
pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur
gula darah atau glukosa), atau ketika tubuh tidak dapat secara
efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya. Diabetes yaitu
masalah kesehatan warga yang penting, menjadi salah satu
dari empat penyakit tidak menular prioritas yang menjadi target
tindak lanjut oleh para pemimpin dunia. Jumlah kasus dan prevalensi
diabetes terus meningkat selama beberapa dekade terakhir.
Faktor risiko diabetes mellitus bisa dikelompokkan menjadi faktor
risiko yang tidak dapat di modifikasi dan yang dapat dimodifikasi.
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu ras dan etnik,
umur, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan diabetes mellitus,
riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4000 gram,
dan riwayat lahir dengan berat badan lahir rendah (kurang dari
2500 gram). Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi erat
kaitannya dengan perilaku hidup yang kurang sehat, yaitu berat
badan lebih, obesitas abdominal/sentral, kurangnya aktivitas fisik,
hipertensi, dislipidemia, diet tidak sehat/tidak seimbang, riwayat
toleransi glukosa terganggu (TGT) atau gula darah puasa terganggu
(GDP terganggu) dan merokok.
Upaya efektif untuk mencegah dan mengendalikan diabetes
harus difokuskan pada faktor-faktor risiko disertai dengan
pemantauan yang teratur dan berkelanjutan dari perkembangannya
sebab faktor risiko umum PTM di negara kita relatif masih tinggi, yaitu
33,5% tidak melakukan aktivitas fisik, 95% tidak mengonsumsi buah
dan sayuran, dan 33,8% populasi usia di atas 15 tahun merupakan
perokok berat.
Komitmen negara kita untuk mencegah dan mengendalikan
Diabetes melalui pemberdayaan warga . Sebagai bagian
dari upaya pencegahan dan pengendalian Penyakit Tidak Menular
(PTM), Pemerintah negara kita telah membentuk Pos Pembinaan
Terpadu (Posbindu) PTM, sebagai upaya terdepan pencegahan dan
pengendalian PTM.








