gizi dan penyakit 3

 



an rumus Kockcroft-Gault. 

Kadar kreatinin serum saja tidak bisa dipergunakan 

untuk memperkirakan fungsi ginjal.

• Kelainan biokimiawi darah meliputi penurunan 

kadar hemoglobin, peningkatan kadar asam 

urat, hiper atau hipokalemia, hiponatremia, hiper 

atau hipokloremia, hiperfosfatemia, hipokalsemia, 

asidosis metabolic

• Kelainan urinalisis meliputi, proteinuria, hematuri, 

leukosituria, cast, isostenuria

6. Gambaran Radiologis

Pemeriksaan radiologis Penyakit ginjal kronik meliputi:

• Foto polos abdomen, bisa tampak batu radio-opak

• Pielografi intravena jarang dikerjakan sebab  kontras 

sering tidak bisa melewati filter glomerulus, dan 

dikhawatirkan toksik terhadap ginjal yang sudah 

mengalami kerusakan

• Pieografi antegrad atau retrograd sesuai indikasi

• Ultrasonografi ginjal

• Pemeriksaan pemindaian ginjal atau renografi bila ada 

indikasi

7. Biopsi dan Pemeriksaan Histopatologi Ginjal

Biopsi dan pemeriksaan histopatologi ginjal dilakukan 

pada pasien dengan ukuran ginjal yang masih mendekati 

normal. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui 

etiologi, menerapkan terapi, prognosis dan mengevaluasi 

hasil terapi yang diberikan. Pada keadaan ukuran ginjal 

yang mengecil (contracted kidney), ginjal polikistik, 

hipertensi yang tidak terkendali, infeksi perinefrik, gangguan 

pembekuan darah, gagal napas, dan obesitas tidak boleh 

dilakukan pemeriksaan biopsi.

8. Klarifikasi Ginjal Kronik dan Diet

Pengukuran fungsi ginjal terbaik yaitu  dengan 

mengukur Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). Dengan melihat 

nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) baik secara langsung atau 

melalui perhitungan berdasarkan nilai pengukuran kreatinin, 

jenis kelamin dan umur seseorang. Pengukuran LFG tidak 

dapat dilakukan secara langsung, namun  hasil estimasinya 

dapat dinilai melalui bersihan ginjal dari suatu penanda 

filtrasi. Salah satu penanda ini  yang sering digunakan 

dalam praktik klinis yaitu  kreatinin serum.

Menurut Chronic Kidney Disease Improving Global 

Outcomes (CKD KDIGO) proposed classification, dapat 

dibagi menjadi :

a. Stadium 1 (glomerulo filtrasirate/GFR normal (> 90 ml/

min)

Seseorang perlu waspada akan kondisi ginialnya 

berada pada stadium 1 jika  kadar ureum atau 

kreatinin berada di atas normal, didapati darah atau 

protein dalam urin, adanya bukti visual kerusakan 

ginjal melalui pemeriksaan MRl, CT Scan, ultrasound 

atau contrast x-ray, dan salah satu keluarga menderita 

penyakit ginjal polikistik. Cek serum kreatinin dan protein 

dalam urin secara berkala dapat menunjukkan sampai 

berapa jauh kerusakan ginial penderita. Mengkonsumsi 

roti dan sereal gandum whole grain, buah segar dan 

sayur sayuran, pilih asupan rendah kolesterol dan lemak, 

batasi asupan makanan olahan yang mengandung 

kadar gula dan sodium tinggi, batasi penggunaan 

garam dan sodium tinggi saat memasak makanan, 

pertahankan kecukupan kalori, pertahankan berat 

tubuh yang ideal, asupan kalium dan fosfor biasanya 

tidak dibatasi kecuali bagi yang kadar di dalam darah 

diatas normal dan pertahankan tekanan darah.

b. Stadium 2 (penurunan GFR ringan atau 60 s/d 89 m/

min)

Seseorang perlu waspada akan kondisi ginjalnya 

berada pada stadium 2 jika : kadar ureum atau 

kreatinin berada di atas normal, didapati darah atau 

protein dalam urin, adanya bukti visual kerusakan 

ginjal melalui pemeriksaan MRl, CT Scan, ultrasound 

atau contrast x-ray, dan salah satu keluarga menderita 

penyakit ginjal polikistik.

c. Stadium 3 (penurunan GFR moderat atau 30 s/d 59 m/

min)

Seseorang yang menderita GGK stadium 3 

mengalami penurunan GFR moderat yaitu diantara 

30 s/d 59 ml/min. Dengan penurunan pada tingkat ini 

akumulasi sisa-sisa metabolisme akan menumpuk 

dalam darah yang disebut uremia. Pada stadium 

ini muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi 

(hipertensi), anemia atau keluhan pada tulang. Gejala- 

gejala iuga terkadang mulai dirasakan seperti:

• Fatique: rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan 

oleh anemia.

• Kelebihan cairan: Seiring dengan menurunnya 

fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi 

mengatur komposisi cairan yang berada dalam 

tubuh. Hal ini membuat penderita akan mengalami 

pembengkakan sekitar kaki bagian bawah, 

seputar wajah atau tangan. Penderita juga dapat 

mengalami sesak nafas akibat teralu banyak cairan 

yang berada dalam tubuh.

• Perubahan pada urin: urin yang keluar dapat 

berbusa yang menandakan adanya kandungan 

protein di urin, Selain itu warna urin iuga mengalami 

perubahan menjadi coklat, orannye tua, atau merah 

jika  bercampur dengan darah. Kuantitas urin 

bisa bertambah atau berkurang dan terkadang 

penderita sering terbangun untuk buang air kecil di 

tengah malam.

• Rasa sakit pada ginjal. Rasa sakit sekitar pinggang 

tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian 

penderita yang memiliki  masalah ginjal seperti 

polikistik dan infeksi.

• Sulit tidur: Sebagian penderita akan mengalami 

kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa 

gatal, keram ataupun restless legs.

d. Stadium 4 (penurunan GFR parah atau 15-29 ml/min)

Pada stadium ini fungsi ginjal hanya sekitar 15-30% 

saja dan jika  seseorang berada pada stadium ini 

maka sangat mungkin dalam waktu dekat diharuskan 

menjalani terapi pengganti ginjal/dialisis atau melakukan 

transplantasi. Kondisi dimana teriadi penumpukan 

racun dalam darah atau uremia biasanya muncul 

pada stadium ini. Selain itu besar kemungkinan muncul 

komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), 

anemia, penyakit tulang, masalah pada jantung dan 

penyakit kardiovaskular lainnya. Gejala yang mungkin 

dirasakan pada stadium 4 yaitu : fatique: rasa lemah/

lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia, kelebihan 

cairan, perubahan pada urin: urin yang keluar dapat 

berbusa yang menandakan adanya kandungan protein 

di urin, rasa sakit pada ginjal, sulit tidur, nausea: muntah 

atau rasa ingin muntah, perubahan cita rasa makanan, 

bau mulut uremic: ureum yang menumpuk dalam darah 

dapat dideteksi melalui bau pernalasan yang tidak enak, 

dan sulit berkonsentrasi.

Mengkonsumsi roti dan sereal gandum whole 

grain, buah segar dan sayur sayuran. Pilih asupan 

rendah kolestrol dan lemak. Menjaga asupan protein 

sesuai dengan kecukupan gizi yang dianjurkan untuk 

orang sehat yaitu 0.8 gram protein per kilogram berat 

badan. Batasi asupan makanan olahan yang banyak 

mengandung kadar gula dan sodium tinggi. Asupan 

vitamin D dan besi biasanya disesuaikan dengan 

kebutuhan. Membatasi asupan fosfordan kalsium dan 

kalium jika  kadar dalam darah diatas normal.

e. Stadium 5 (penyakit ginjal stadium akhir terminal atau < 15 

ml/min).  Pada level ini ginjal kehilangan hampir seluruh 

kemampuannya untuk bekerja secara optimal. Untuk itu 

diperlukan suatu terapi pengganti ginjal (dialisis) atau 

transplantasi agar penderita dapat bertahan hidup. 

Gejala yang dapat timbul pada stadium 5 antara lain, 

kehilangan nafsu makan, nausea, sakit kepala, merasa 

lelah, tidak mampu berkonsentrasi, gatal - gatal, 

urin tidak keluar atau hanya sedikit sekali, bengkak, 

terutama di seputar wajah, mata dan pergelangan 

kaki, keram otot dan perubahan warna kulit. Seseorang 

didiagnosa menderita gagal ginjal terminal disarankan 

untuk melakukan hemodialisis, peritoneal dialisis 

atau transplantasi ginjal.  Diet yang diperlukan 

dalam stadium ini harus membatasi asupan fosfor 

tidak lebih dari 1000 mg atau sesuai dengan kebutuhan 

individu masing- masing menurut rekomendasi ahli gizi. 

Asupan kalium tidak lebih dari 2000 mg s/d 3000 mg 

atau disesuaikan dengan kebutuhan individu masing-

masing menurut rekomendasi ahli gizi.

9. Tujuan Diet

a. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal 

dengan memperhitungkan sisa fungsi ginjal, agar tidak 

memberatkan kerja ginjal pasien.

b. Mencegah dan menurunkan kadar ureum darah yang 

tinggi (uremia).

c. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.

d. Mencegah atau mengurangi progresivitas gagal ginjal 

dan memperlambat turunnya Laju Filtrasi Glomerulus.

10. Syarat Diet

a. Energi cukup, 35 kkal/kg berat badan.

b. Protein rendah, 0,6 – 0,75 g/kg berat badan.

c. Lemak cukup, 20 – 30% dari kebutuhan energi total. 

Diutamakan lemak tidak jenuh ganda.

d. Karbohidrat cukup, yaitu kebutuhan energi total 

dikurangi energi yang berasal dari protein dan lemak

e. Natrium dibatasi jika  pasien memiliki hipertensi, 

edema, asites, oliguria, atau anuria. Jumlah natrium 

yang diberikan antara 1 – 3 g.

f. Kalium dibatasi (40 – 70 mEq), jika  ada hiperkalemia 

(kalium darah >5,5 mEq), oliguria, atau anuria.

g. Cairan dibatasi sesuai dengan jumlah urine sehari 

ditambah ±500 ml (cairan yang keluar melalui keringat 

dan pernapasan).

h. Vitamin cukup, bila perlu diberikan suplemen piridoksin, 

asam folat, vitamin C dan D.

11. Jenis Diet

Ada tiga jenis diet yang diberikan menurut berat badan 

pasien, yaiu:

a. Diet Protein Rendah I: 30 gram protein pada pasien 

dengan berat   badan 50 kg.

b. Diet Protein Rendah II: 35 gram protein pada pasien 

dengan berat badan 60 kg.

c. Diet Protein Rendah III: 40 gram protein pada pasien 

dengan berat badan 65 kg.

Kebutuhan gizi pasien ginjal kronik sangat 

bergantung pada keadaan dan berat badan perorangan, 

oleh sebab  itu jumlah protein yang diberikan dapat 

lebih tinggi atau lebih rendah daripada standar. Mutu 

protein dapat ditingkatkan dengan memberi  asam 

amino esensial murni.

Bahan Makanan Dianjurkan Tidak Dianjurkan

S u m b e r 

Karbohidrat

 Nasi

 Bihun

 Jagung

 Kentang

 Makaroni

 Mi

 Tepung-tepungan

 Singkong

 Ubi

 Selai

 Madu

 Permen

Sumber Protein

 Telur

 Daging

 Ikan

 Ayam

 Susu

 Kacang-kacangan 

dan hasil olahannya, 

seperti tempe dan 

tahu.

Sumber Lemak

 Minyak Jagung

 Minyak Kacang Tanah

 Minyak Kelapa Sawit

 Minyak Kedelai

 Margarin dan Mentega 

Rendah Garam

 Kelapa

 Santan

 Minyak Kelapa

 Margarin, Mentega 

biasa dan lemak 

hewan

Sumber Vitamin 

dan Mineral

 Semua sayuran dan 

buah (kecuali pasien 

dengan hiperkalemia 

yang memakan makanan 

mengandung kalium 

rendah atau sedang).

 Sayuran dan buah 

tinggi kalium pada 

pasien dengan 

hiperkalemia.

Tabel 14. Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

12. Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan


13. Contoh Menu Diet

Waktu Menu Bahan Makanan

Sarapan

Nasi Goreng

Beras

Daun bawang

Telur dadar

Telur

Wortel

Susu

Madu

Cemilan Pagi

Kue talam

Tepung Beras

Pandan

Santan

Teh manis

Teh

Gula

Makan Siang

Nasi Bistik

Beras

Daging

Setup buncis wortel

Buncis

Wortel

Margarin

Bawang Bombay

Pepaya potong Pepaya

Cemilan Sore

Puding

Fla

Makan Malam

Nasi

Ikan goreng

Ikan nila

Minyak

Capcay goreng Wortel

Jeruk

Tabel 15. Contoh Menu Makan Diet Paien Ginjal

Penyakit yang berpengaruh terhadap menurunnya status gizi 

di rumah sakit diantaranya yaitu  gagal ginjal dan penyakit hati. 

Pada pasien penyakit ginjal kecukupan energi dan protein sangat 

penting. Asupan energi dan protein yang rendah memicu  

peningkatan katabolisme namun  bila asupan protein terlalu tinggi 

memicu  sindrom uremik, oleh sebab  itu pada pasien 

penyakit ginjal perlu monitoring dan evaluasi asupan nutrisi agar 

tidak terjadi penurunan status gizi. Pada penyakit hati yang berat 

metabolisme protein terganggu sehingga ammonia terakumulasi 

secara abnormal di dalam darah.

 GANGGUAN AKIBAT 

KEKURANGAN IODIUM (GAKY)

Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan salah 

satu masalah kesehatan warga  yang serius mengingat 

dampaknya terhadap kelangsungan hidup dan kualitas 

sumber daya manusia. GAKI dapat berdampak luas pada seluruh 

kalangan usia, baik pada janin, bayi, anak-anak, remaja, bahkan 

dewasa sekalipun. GAKI mampu berdampak secara langsung atau 

tidak langsung terhadap kualitas fisik dan non fisik individu dalam 

warga  yaitu intelektualitas dan keterbelakangan mental. 

Kurangnya intelektual individu sangat mempengaruhi produktifitas 

secara sosial dan ekonomi yang pada akhirnya memicu  

bertambahnya jumlah penduduk yang miskin dan cenderung 

menjadi beban pembangunan sebab  ketidakmampuan secara 

fisik (cacat fisik atau kretin), rendahnya kemampuan kognitif 

dan gangguan perkembangan mental (Balai Penelitian dan 

Pengembangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium, 2014).

Salah satu upaya yang tengah dilakukan untuk menanggulangi 

GAKI ditingkat populasi ialah iodisasi atau fortifikasi iodium pada 

semua garam atau Universal Salt Iodization (USI). Cakupan rumah 

tangga dengan konsumsi garam cukup iodium di negara kita  

tahun 2013 sebesar 77,10% meningkat dibandingkan tahun 2007 

sebesar 62,30%. Sayangnya, cakupan ini belum memenuhi target 

cakupan USI oleh WHO dengan capaian target sebesar 90%. Pada 

tahun 2013, prevalensi anak usia sekolah, yakni usia 6-12 tahun di 

negara kita  yang mengalami defisiensi iodium meningkat menjadi 

14,90% dibandingkan pada tahun 2007 sebesar 12,90%. Hal ini 

berbanding terbalik dengan cakupan konsumsi garam beriodium. 

Cakupan konsumsi garam beriodium meningkat di negara kita  pada 

tahun 2013, namun prevalensi anak usia sekolah yang mengalami 

defisiensi iodium justru meningkat di tahun yang sama (Lathifah 

and Sumarmi, 2018). 

Salah satu faktor yang mendasari terjadinya defisiensi iodium 

ialah tidak tercukupinya konsumsi iodium yang sesuai dengan 

standar usia dan jenis kelamin. Maka, aspek gizi sangat berperan 

dalam melakukan pengendalian GAKI pada populasi. Makalah 

ini akan membahas lebih jauh mengenai Gangguan Akibat 

Kekurangan Iodium, patofisiologi GAKI, angka kebutuhan iodium 

yang harus dicukupi, diagnosis penentuan status GAKI pada populasi, 

penatalaksanaan diet GAKI, serta menu makan yang disarankan 

untuk penderita GAKI. 

A. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)

Menurut Hetzel,1993 dikutip dalam Fitridina, 2013, Gangguan 

Akibat Kurang Iodium atau GAKI yaitu  sekumpulan gejala yang 

timbul sebab  tubuh seseorang kekurangan unsur iodium secara 

terus menerus dalam jangka waktu cukup lama. Sedangkan 

menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan 

Republik negara kita , 2015, GAKI merupakan defisiensi iodium 

yang berlangsung lama akibat dari pola konsumsi pangan 

kurang mengkonsumsi iodium yang kemudian mengganggu 

fungsi kelenjar tiroid dan memicu  produksi hormon tiroid 

berkurang sehingga akan memicu  kelainan. Pengertian 

tentang defisiensi iodium saat ini tidak terbatas pada gondok 

dan kretinisme saja namun  juga dapat berpengaruh pada 

kualitas sumber daya manusia secara luas meliputi tumbuh 

kembang manusia termasuk perkembangan otak.

 Pada semua tahap usia, GAKI yang paling umum 

yaitu  goiter, yaitu pembesaran kelenjar tiroid. Selain itu, yang 

termasuk spektrum GAKI diantaranya yaitu  retardasi mental, 

hipotiroidisme, kretinisme, dan beberapa derajat lainnya pada 

tahap pertumbuhan dan perkembangan yang abnormal. Selain 

itu, kekurangan iodium dapat memicu  tekanan darah 

rendah dan gerakan menjadi lamban, gangguan pendengaran 


dan bisu. Menurut Depkes RI (2004), GAKI merupakan salah 

satu masalah kesehatan warga  yang serius mengingat 

dampaknya mempengaruhi kelangsungan hidup dan 

kualitas sumber daya manusia yang mencakup 3 aspek 

yaitu perkembangan kecerdasan, perkembangan sosial, dan 

perkembangan ekonomi. 

Kelompok yang paling rentan terkena GAKI yaitu  Wanita 

Usia Subur (WUS) yang jika hamil maka akan berdampak pada 

janinnya, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak. Kelompok 

rentan ini  merupakan kelompok produktif yang ke 

depannnya akan banyak berkontribusi dalam warga . 

jika  mereka mengalami gangguan-gangguan yang 

disebabkan oleh GAKI tentu saja akan memicu  penurunan 

kualitas SDM.  

B. pemicu  GAKI

1. Kurang Asupan Iodium

 Faktor utama pemicu  GAKI ialah kekurangan 

asupan iodium dalam jangka waktu lama. Hal ini terjadi 

sebab  iodium dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang 

manusia sepanjang proses kehidupannya. Kandungan 

iodium dalam makanan dan diet iodium total sangat 

bervariasi, bergantung pada keadaan geokimawi, tanah, 

dan budaya. Ketiga hal ini mempengaruhi asupan iodium 

oleh tetumbuhan yang dijadikan makanan pokok, serta 

bahan pangan yang berasal dari hewan. Selain itu, selama 

proses memasak, keterkandungan iodium dalam makanan 

dapat susut sampai di bawah nilai yang terpapar. Sebagai 

contoh, penggorengan akan mengurangi kadar iodium 

sebanyak 20%, penggilingan 23%, dan perebusan sebesar 

58% 

2. Konsumsi Bahan Makanan yang Mengandung Zat 

Goitrogenik

Goitrogenik yaitu  zat yang dapat menghambat 

pengambilan zat iodium oleh kelenjar gondok sehingga 

konsentrasi iodium dalam kelenjar tidak dapat meningkat. 

Selain itu, zat goitrogenik dapat menghambat perubahan 

iodium dari bentuk anorganik menjadi organik sehingga 

pembentukan hormon tiroksin terhambat. Zat goitrogenik 


dalam bahan makanan yang dimakan setiap hari akan 

memicu  zat iodium dalam tubuh tidak berguna 

sebab  zat goitrogenik ini  menghambat absorbsi dan 

metabolisme mineral iodium yang telah masuk ke dalam 

tubuh. 

Zat yang bersifat goitrogenik banyak sekali terkandung 

pada bahan pangan pokok di negara berkembang, misalnya 

ubi kayu, ubi jalar, maizena, rebung, buncis, dan padi. 

Goitrogenik alami ada dalam jenis pangan seperti kelompok 

sianida, yaitu daun singkong, umbi singkong, gaplek, gadung, 

rebung, daun ketela, kecipir, dan terong; kelompok mimosin, 

seperti petai china dan lamtoro; kelompok isothiosianat, 

seperti daun pepaya dan kelompok asam, seperti jeruk nipis, 

belimbing wuluh dan cuka 

3. Faktor Geografis Wilayah

warga  yang bermukim di wilayah yang sedikit 

sekali (bahkan tidak ada sama sekali) mengandung 

iodium berisiko mengalami defisiensi. Kehilangan iodium 

biasanya terjadi di daerah pegunungan atau dataran tinggi 

disebab kan lapisan tanah yang mengandung yodium 

terkikis atau dapat juga diakibatkan oleh hanyutnya iodium 

bersama air hujan. Namun daerah dataran rendah pun 

bukan tidak mungkin mengalami kekurangan iodium. Air 

bah yang kerap berkunjung, juga dapat menghanyutkan 

iodium yang tersimpan dalam tanah (Arisman, 2008).

C. Patofosiologi GAKI

Pada kekurangan iodium, kosentrasi hormon tiroid menurun 

dan hormon perangsang tiroid atau TSH meningkat agar 

kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak iodium. Bila 

kekurangan berlanjut, sel kelenjar tiroid membesar dalam usaha 

peningkatan pengambilan iodium oleh kelenjar ini . Bila 

pembesaran ini menampak dinamakan gondok sederhana. 

Bila ada  gondok meluas disuatu daerah tertentu disebut 

gondok endemik. 


D. Spektrum GAKI

Tabel 16. Spektrum GAKI dalam Setiap Tahap Kehidupan

Tahap Perkembangan Bentuk Gangguan

Janin

Keguguran (aborsi)

Lahir mati

Kelainan kongenital

Kematian perinatal

Kematian bayi

Kretinisme saraf

Kretinisme miksedema

Kerusakan psikomotor

Bayi baru lahir

Gondok neonates

Hipotiroidisme neonates

Anak & remaja

Gondok

Hipotiroidisme juvenile

Fungsi mental

Perkembangan fisik terhambat

Dewasa

Gondok & penyulit

Hipotiroidisme

Fungsi mental

Hipotiroidisme diimbas oleh yodium

Semua usia Kepekaan terhadap radiasi nuklir meningkat

1. Defisiensi Pada Janin

Kekurangan iodium pada janin merupakan dampak 

dari kekurangan iodium pada ibu. Keadaan ini berkaitan 

dengan meningkatnya insidensi lahir mati, abortus, dan 

cacat bawaan, yang seharusnya semuanya dapat dicegah 

melalui intervensi yang tepat. Akibat lain yang lebih berat 

pada janin yang kekurangan iodium yaitu  kretin endemik. 

ada  2 tipe kretin endemik, yaitu tipe nervosa yang 

paling sering dijumpai, ditandai dengan retardasi mental, 

bisu tuli, dan kelumpuhan spastik pada kedua tungkai. 

Sebaliknya yang jarang terjadi yaitu  tipe hipotiroidisme 

yang ditandai dengan kekurangan hormon tiroid dan kerdil.


Penelitian terakhir menunjukkan, transfer T4 dari ibu 

ke janin pada awal kehamilan sangat penting untuk 

perkembangan otak janin. Ibu yang kekurangan iodium 

sejak awal kehamilannya akan membuat transfer T4 ke 

janin berkurang sebelum kelenjar tiroid janin berfungsi. 

Jadi perkembangan otak janin sangat tergantung pada 

hormon tiroid ibu pada trimester pertama kehamilan, 

bilamana ibu kekurangan iodium maka akan berakibat 

pada rendahnya kadar hormon tiroid pada ibu dan janin. 

Dalam trimester kedua dan ketiga kehamilan, janin sudah 

dapat membuat hormon tiroid sendiri, namun sebab  

kekurangan iodium dalam masa ini, maka akan berakibat 

juga pada kurangnya pembentukan hormon tiroid, sehingga 

berakibat hipotiroidisme pada janin 

2. Defisiensi Pada Bayi Baru Lahir

Fungsi tiroid pada bayi baru lahir berhubungan erat 

dengan keadaan otak pada saat bayi ini  lahir. Pada 

bayi baru lahir, otak baru mencapai sepertiga, kemudian 

terus berkembang dengan cepat sampai usia dua tahun. 

Pembentukan hormon tiroid sangat bergantung pada 

kecukupan iodium, dan hormon ini sangat penting untuk 

perkembangan otak normal.         

Di negara sedang berkembang dengan kekurangan 

iodium berat, penemuan kasus ini dapat dilakukan dengan 

mengambil darah dari pembuluh darah balik tali pusat 

segera sesudah  bayi lahir untuk pemeriksaan kadar hormon 

T4 dan TSH. Bila didapatkan kadar T4 kurang dari 3 mg/

dl dan TSH lebih dari 50 mU/mL maka disebut dengan 

hipotiroidisme neonatal. Kekurangan yang parah dan 

berlangsung lama akan mempengaruhi fungsi tiroid bayi 

yang kemudian mengancam pertumbuhan otak secara 

dini (Arisman, 2008; Balai Penelitian dan Pengembangan 

Gangguan Akibat Kekurangan Iodium, 2014).

3. Defisiensi Pada Anak-Anak

Kekurangan iodium pada anak-anak berkaitan dengan 

insidensi gondok. Angka kejadian gondok meningkat 


bersama usia, dan akan mencapai puncaknya pada masa 

sesudah  remaja. Prevalensi gondok pada anak perempuan 

lebih tinggi dibandingkan pada anak laki-laki (Arisman, 

2008).

Selain itu, GAKI yang terjadi pada anak-anak dapat 

menurunkan kecerdasan anak, dan dapat menurunkan IQ 

hingga 15-20 poin lebih rendah dibandingkan dengan anak 

yang tidak menderita GAKI. Keadaan ini disebut sebagai 

hipotiroidisme otak, yang akan memicu  bodoh dan 

lesu. Keadaan lesu ini dapat kembali normal bila diberikan 

koreksi iodium, namun lain halnya bila keadaan yang terjadi 

di otak. Ini dapat terjadi pada janin dan bayi yang otaknya 

masih dalam masa perkembangan, walaupun diberikan 

koreksi iodium, otak tetap tidak dapat kembali normal 

(Balai Penelitian dan Pengembangan Gangguan Akibat 

Kekurangan Iodium, 2014).

4. Defisiensi pada orang dewasa

Pada orang dewasa, defisiensi dapat memicu  

gondok dengan segala komplikasinya, yang sering 

terjadi yaitu  hipotiroidisme, bodoh, dan hipertiroidisme. 

Disamping efek ini , peningkatan ambilan kelenjar 

tiroid yang disebabkan oleh kekurangan iodium mampu 

meningkatkan risiko terjadinya kanker kelenjar tiroid bila 

terkena radiasi.

E. Pengertian Iodium

Iodium merupakan salah satu mineral yang dibutuhan oleh 

tubuh. Jumlah kebutuhan tubuh akan iodum relatif kecil yaitu 

kurang lebih sebanyak 0,00004 persen dari berat badan. Sekitar 

75% dari iodium dalam tubuh ada di dalam kelenjar tiroid dan 

digunakan untuk mensintesis hormon tiroksin, tetraiodotironin 

(T4) atau triiodotironin (T3) . Hormon ini sangat dibutuhkan 

dalam proses metabolisme. Salah satunya berperan pada 

pertumbuhan tulang dan perkembangan fungsi otak. Sisa 

iodium lainnya ada  dalam jaringan lain, terutama dalam 

kelenjar-kelenjar ludah, payudara, lambung dan ginjal. Di dalam 

darah iodium ada  dalam bentuk iodium bebas atau terikat 

dengan protein (Protein Bound Iodine / PBI).   

Iodium merupakan komponen tanah yang jarang ditemukan. 

Hal ini  membuat kandungannya dalam sumber makanan 

dari tanaman atau hewan yang tumbuh diatasnya menjadi 

rendah. Laut merupakan sumber utama iodium. Oleh sebab  itu 

ikan laut, udang, kerang, dan ganggang laut merupakan bahan 

makanan sumber iodium yang baik. Tanaman yang tumbuh di 

daerah pantai juga banyak mengandung iodium. Semakin jauh 

tanah ini  dari pantai maka kandungan iodiumnya juga 

semakin sedikit.


Kelompok Usia Yodium (µg/hari)

Anak-anak

0-6 Bulan 90

7-11 Bulan 120

1-3 Tahun 120

4-6 Tahun 120

7-9 Tahun 120

Pria

10-12 Tahun 120

13-15 Tahun 150

16-18 Tahun 150

19-29 Tahun 150

30-49 Tahun 150

50-64 Tahun 150

65-80 Tahun 150

80+ Tahun 150

Wanita

10-12 Tahun 120

13-15 Tahun 150

16-18 Tahun 150

19-29 Tahun 150

30-49 Tahun 150

50-64 Tahun 150

65-80 Tahun 150

80+ Tahun 150

Hamil

Trimester 1 +70

Trimester 2 +70

Trimester 3 +70

Menyusui

6 Bulan Pertama +100

6 Bulan Kedua +100

Tabel 17. Kebutuhan Iodium Menurut Usia

F. Kebutuhan Iodium 


G. Diagnosis GAKI

1. Pemeriksaan Fisik/Klinis

Dalam menentukan pembesaran kelenjar gondok, 

metode yang digunakan yaitu  inspeksi (pengamatan) dan 

palpasi (perabaan). Metode inspeksi digunakan sebagai 

alat untuk menduga terjadinya pembesaran atau tidak, 

sedangkan untuk mengkonfirmasi apakah pembesaran 

yang ada merupakan pembesaran kelenjar gondok 

sebenarnya, maka perlu dilakukan palpasi, sehingga palpasi 

disebut juga sebagai alat konfirmasi 

 tahapan 

pemeriksaan kelenjar gondok sebagai berikut :

a. Orang (sampel) yang diperiksa berdiri tegak atau duduk 

menghadap pemeriksa

b. Pemeriksa melakukan pengamatan di daerah leher 

depan bagian bawah terutama pada lokasi kelenjar 

gondok

c. Amati apakah ada pembesaran kelenjar gondok 

(termasuk tingkat II atau III)

d. Jika bukan, sampel diminta menengadah dan menelan 

ludah. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah yang 

ditemukan yaitu  kelenjar gondok atau bukan. Pada 

gerakan menelan, kelenjar gondok akan ikut terangkat 

ke atas

e. Pemeriksa berdiri di belakang sampel dan melakukan 

palpasi. Pemeriksa meletakkan dua jari telunjuk dan 

dua jari tengahnya pada masing-masing lobus kelenjar 

gondok. Kemudian lakukan palpasi dengan meraba 

kedua jari telunjuk dan jari tengah ini 

f. jika  salah satu atau kedua lobus kelenjar lebih kecil 

dari ruas terakhir ibu jari orang yang diperiksa, berarti 

orang ini  normal. jika  salah satu atau kedua 

lobus ternyata lebih besar dari ruas terakhir ibu jari orang 

yang diperiksa, maka dapat dikatakan orang ini  

menderita gondok


Dalam melakukan palpasi gondok, pemeriksa harus 

memperhatikan kondisi sebagai berikut :

1. Cahaya hendaknya cukup menerangi bagian leher 

orang yang diperiksa

2. Pada saat mengamati kelenjar gondok, posisi mata 

pemeriksa harus sejajar (horizontal) dengan leher orang 

yang diperiksa

3. Palpasi (perabaan) jangan dilakukan dengan tekanan 

terlalu keras atau terlalu lemah. Tekanan yang terlalu 

keras akan memicu  kelenjar masuk atau pindah 

ke bagian belakang leher sehingga pembesaran tidak 

teraba.

Klasifikasi pembesaran kelenjar gondok

Grade 0 = Normal Kelenjar gondok tidak terlihat saat inspeksi, baik datar 

maupun-ketika penderita menengadah maksimal, dan 

kelenjar gondok tidak teraba dengan palpasi

Grade IA Kelenjar gondok tidak terlihat saat inspeksi, baik datar 

maupun ketika penderita menengadah maksimal, dan saat 

palpasi, kelenjar gondok teraba lebih besar dari ruas terakhir 

ibu hari penderita

Grade IB Kelenjar gondok dengan inspeksi datar tidak terlihat, namun  

terlihat dengan tengadah maksimal dan dengan palpasi 

kelenjar gondok teraba lebih besar dari grade IA

Grade II Kelenjar gondok terlihat dengan inspeksi dalam posisi datar 

dan dengan palpasi teraba lebih besar dari grade IB

Grade III Kelenjar gondok cukup besar, dapat terlihat pada jarak 6 

meter atau lebih.

Tabel 18. Klasifikasi Pembesaran Kelenjar Gondok

berdasarkan Keparahan

2. Ekskresi Iodium pada Urine

Ekskresi iodium dalam urin mencerminkan besaran 

asupan iodium. Ginjal tidak memiliki  mekanisme 

penyimpanan yodium, oleh sebab  itu ginjal merupakan 

jalur utama (80-90%) dalam pembuangan yodium. 

Saluran ekskresi utama yodium yaitu  melalui saluran 

urin. Sedangkan pengeluaran yodium melalui feses hanya 

sekitar 20% dari total pengeluaran. Sebagian besar yodium 

yang diserap tubuh dapat dilihat pada urin sebab  ekskresi 

yodium urin menggambarkan asupan yodium harian. Profil 

konsentrasi yodium pagi hari atau sewaktu pada anak atau 

orang dewasa cukup untuk menilai status yodium pada 

populasi. Secara umum jumlah urin 0,5 -1 ml sudah cukup 

sebagai bahan pemeriksaan meskipun ini tergantung dari 

metode yang digunakan.

Gambar 11. Kondisi Asupan Iodium dan Status Gizi Iodium

Gambar 12. Kondisi Asupan Iodium pada Ibu Hamil

berdasarkan Nilai Median EIU

3. Thyroid Stimulating Hormone (TSH)

Kelenjar pituitary mengeluarkan TSH sebagai respon 

konsentrasi dari kadar T4 di sirkulasi darah. TSH meningkat 

ketika T4 rendah, menurun bila T4 meningkat. Defisiensi 

yodium ditandai dengan rendahnya kadar T4 dalam darah 

dan meningkatnya TSH. Meskipun pemeriksaan nilai TSH 

cukup akurat pada orang dewasa namun tidak dianjurkan 

untuk digunakan secara rutin sebagai data survey 


TSH pada bayi yaitu  indikator yang baik untuk 

kondisi defisiensi yodium. Kadar hormone tiroid pada bayi 

mengandung yodium lebih rendah dibandingkan dengan 

orang dewasa sebab  pertukaran yodium yang tinggi. 

Pertukaran tinggi bukanlah hal yang berlebihan dalam 

keadaan defisiensi yodium, sebab terjadi peningkatan 

stimulasi tiroid oleh TSH. pemicu  TSH meningkat pada 

bayi dengan keadaan defisiensi yodium yaitu  fenomena 

yang disebut Transient Hypertyrotopinemia. Prevalensi bayi 

dengan serum TSH meningkat merupakan indicator akut 

defisiensi yodium pada populasi, juga sebagai bukti bahwa 

defisiensi yodium berefek langsung pada pertumbuhan 

otak 

H. Penatalaksanaan GAKI

Tatalaksana kasus gangguan tiroid dapat dilakukan melalui 

pengaturan makanan (diet), pengobatan, serta komunikasi, 

informasi, dan edukasi (KIE) yang disesuaikan dengan kondisi 

masing-masing pasien. Sedangkan pengendalian penyakit 

tiroid di warga  dilaksanakan melalui pencegahan dan 

penanggulangan penyakit tiroid, penemuan dan tatalaksana 

kasus secara tepat, surveillans epidemiologi, dan KIE faktor risiko 

penyakit tiroid.

1. Penggunaan garam beriodium

Contohnya program Universal Salt Iodization (USI) yang 

direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF sejak tahun 1993 

dan telah diimplementasikan di negara kita .

2. Suplementasi iodium pada binatang

Suplementasi iodium pada binatang telah dilaksanakan 

di daerah Jerman Timur dan terbukti membuahkan hasil. 

Peningkatan kadar iodium secara bermakna dalam air susu 

dan daging akan mampu bekerja sebagai pembawa iodium 

bagi manusia

3. Suntikan minyak beriodium (lipiodol)

Pemberian lipiodol ditujukan untuk daerah endemis 

berat. Hal ini telah dipraktekkan di PNG dimana minyak 

beriodium harus disuntikkan pada wanita yang berusia 40 

tahun, dan pria sampai umur 20 tahun. Suntikan ulangan 

dilakukan setiap 3-5 tahun kemudian bergantung pada 

dosis yang diberikan serta usia subjek.

4. Kapsul minyak beriodium

Di negara kita , kapsul minyak beriodium mulai diedarkan 

pada tahun 1993 sebagai upaya pemberian suplementasi 

berskala besar sekaligus menggantikan lipiodol sebab  

sasaran merasa tidak nyaman dengan suntikan dan 

distribusinya membutuhkan tenaga professional.

I. Diet bagi Penderita GAKI

Terapi Diet  : Diet tinggi Iodium

Bentuk Makanan : Biasa

Route   : Oral

1. Tujuan diet 

memberi  makanan  tinggi iodium untuk memperbaiki/

mencegah kekurangan yang lebih berat.

2. Syarat diet  

• Mengkonsumsi banyak bahan makanan tinggi iodium

• Membatasi bahan makanan yang bersifat goitrogenik 

seperti bunga kol, kol, daun singkong dan kacang-

kacangan

• Diet seimbang, cukup mengandung semua zat gizi

• Protein 15% dari kebutuhan energi total

• Lemak sedang yaitu 25% dari kebutuhan energi total

• Karbohidrat yaitu 60% dari kebutuhan energi total

• Pilih bahan makanan tinggi iodium

• Pengaturan makan tiga kali makan utama dan dua kali 

makan selingan

• Banyak minum air putih yang matang dan bersih


J. Rencana Menu dalam Sehari

Waktu

Menu 

Makanan

Bahan 

Makanan

Berat (g) URT

Sarapan

Nasi Beras Giling 50 gr ½ gelas

Teri Bumbu 

Balado

Ikan Teri 20 2 sdm

Cabai 

Merah

5 2 buah

Tomat 

Masak

25

1 buah 

sedang

Minyak 

Kelapa 

Sawit

5 ½ sdm

Sate Tahu

Tahu Putih 50

1 potong 

sedang

Kecap 25 2 sdm

Margarine 2,5 ¼ sdm

Sayur Bayam Bayam 75 ¾ gelas nasi

Pepaya Pepaya 100

1 potong 

sedang

Air Putih 200 1 gelas



Gangguan Akibat Kekurangan Iodium merupakan 

sekumpulan gejala yang timbul sebab  tubuh seseorang 

kekurangan unsur iodium secara terus menerus dalam 

jangka waktu cukup lama. Beberapa faktor yang berpengaruh 

terhadap kejadian GAKI antara lain, kurangnya asupan iodium, 

terlalu banyak mengkonsumsi makanan zat goitrogenik, serta 

faktor wilayah. GAKI dapat terjadi pada setiap daur kehidupan 

mulai dari janin sampai pada orang dewasa degan gejala yang 

berbeda-beda. 


Gejala GAKI dapat diketahui melalui beberapa pemeriksaan 

seperti pemeriksaan klinis, pemeriksaan kadar ekskresi 

iodium dalam urin, dan pemeriksaan kadar TSH dalam darah. 

Angka kecukupan iodium yang harus terpenuhi oleh tiap-

tiap individu berbeda tergantung dari usia dan jenis kelamin. 

Penatalaksanaan diet yang tepat bagi penderita GAKI dapat 

dilakukan untuk mengurangi dan mencegah prevalensi GAKI 

pada populasi diantaranya mengkonsumsi makanan yang 

tinggi kadar iodium, membatasi konsumsi makanan zat 

goitrogenik dan menggunakan garam beriodium

Intervensi yang tepat harus dilakukan untuk menanggulangi 

GAKI di populasi untuk menghindari kejadian yang lebih 

parah. Beberapa saran untuk program penanggulangan 

GAKI diantaranya ialah penguatan kerjasama lintas sektoral 

antara pihak pemerintah dan swasta dalam penanggulangan 

GAKI dengan menerapkan USI, sosialisasi kepada warga  

terutama di daerah endemis GAKI mengenai pencegahan, 

dan pengobatan yang tepat bagi penderita GAKI, dan 

penatalaksanaan diet yang tepat bagi penderita GAKI untuk 

mencegah bertambahnya keparahan penyakit.

- DIABETES MELLITUS

Diabetes yaitu  penyakit kronis serius yang terjadi sebab  

pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang 

mengatur gula darah atau glukosa), atau ketika tubuh tidak 

dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya. 

Diabetes yaitu  masalah kesehatan warga  yang penting, 

menjadi salah satu dari empat penyakit tidak menular prioritas yang 

menjadi target tindak lanjut oleh para pemimpin dunia. Jumlah 

kasus dan prevalensi diabetes terus meningkat selama beberapa 

dekade terakhir. 

Penyakit Tidak Menular (PTM), termasuk Diabetes, saat ini telah 

menjadi ancaman serius kesehatan global (Kementerian Kesehatan 

Republik negara kita , 2018). Pada tahun 2016, sekitar 71 persen 

pemicu  kematian di dunia yaitu  penyakit tidak menular (PTM) 

yang membunuh 36 juta jiwa per tahun. Sekitar 80 persen kematian 

ini  terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah. 

73% kematian saat ini disebabkan oleh penyakit tidak menular, 35% 

diantaranya sebab  penyakit jantung dan pembuluh darah, 12% oleh 

penyakit kanker, 6% oleh penyakit pernapasan kronis, 6% sebab  

diabetes, dan 15% disebabkan oleh PTM lainnya (WHO, 2018 dalam 

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, 2019). 

90-95% dari kasus Diabetes yaitu  Diabetes Tipe 2 yang sebagian 

besar dapat dicegah sebab  disebabkan oleh gaya hidup yang tidak 

sehat 


negara kita  juga menghadapi situasi ancaman diabetes serupa 

dengan dunia.  International Diabetes Federation  (IDF) Atlas 

2017 melaporkan bahwa epidemi Diabetes di negara kita  masih 

menunjukkan kecenderungan meningkat. negara kita  yaitu  negara 

peringkat keenam di dunia sesudah  Tiongkok, India, Amerika Serikat, 

Brazil dan Meksiko dengan jumlah penyandang Diabetes usia 20-

79 tahun sekitar 10,3 juta orang 

Sejalan dengan hal ini , Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 

memperlihatkan peningkatan angka prevalensi Diabetes yang 

cukup signifikan, yaitu dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun 

2018; sehingga estimasi jumlah penderita di negara kita  mencapai 

lebih dari 16 juta orang yang kemudian berisiko terkena penyakit lain, 

seperti: serangan jantung, stroke, kebutaan dan gagal ginjal bahkan 

dapat memicu  kelumpuhan dan kematian 

Selain penyakit kardiovaskuler, DM juga merupakan salah satu 

pemicu  utama penyakit ginjal dan kebutaan pada usia di bawah 

65 tahun, dan juga amputasi 

Selain itu, diabetes juga menjadi pemicu  terjadinya amputasi 

(yang bukan disebabkan oleh trauma), disabilitas, hingga kematian. 

Dampak lain dari diabetes yaitu  mengurangi usia harapan hidup 

sebesar 5-10 tahun. Usia harapan hidup penderita DM tipe 2 yang 

mengidap penyakit mental serius, seperti Skizofrenia, bahkan 20% 

lebih rendah dibandingkan dengan populasi umum. 

Diabetes dan komplikasinya membawa kerugian ekonomi 

yang besar bagi penderita diabetes dan keluarga mereka, sistem 

kesehatan dan ekonomi nasional melalui biaya medis langsung, 

kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Termasuk komponen biaya 

utama yaitu  rumah sakit dan perawatan rawat jalan, faktor lain 

yang membutuhkan biaya besar yaitu  kenaikan biaya untuk 

insulin analog 1 yang semakin banyak diresepkan meskipun sedikit 

bukti bahwa insulin tipe ini  memberi  efek yang signifikan 

dibandingkan insulin manusia yang lebih murah 

Menurut Menteri Kesehatan RI, upaya efektif untuk mencegah 

dan mengendalikan diabetes harus difokuskan pada faktor-faktor 

risiko disertai dengan pemantauan yang teratur dan berkelanjutan 

dari perkembangannya sebab  faktor risiko umum PTM di negara kita  

relatif masih tinggi, yaitu 33,5% tidak melakukan aktivitas fisik, 95% 

tidak mengonsumsi buah dan sayuran, dan 33,8% populasi usia di 

atas 15 tahun merupakan perokok berat 

Menkes juga menegaskan komitmen negara kita  untuk mencegah 

dan mengendalikan Diabetes melalui pemberdayaan warga . 

Sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian Penyakit 

Tidak Menular (PTM), Pemerintah negara kita  telah membentuk Pos 

Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM, sebagai upaya terdepan 

pencegahan dan pengendalian PTM 

A. Definisi Penyakit Diabetes Mellitus

Diabetes yaitu  penyakit kronis serius yang terjadi sebab  

pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang 

mengatur gula darah atau glukosa), atau ketika tubuh tidak 

dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya. 

Diabetes yaitu  masalah kesehatan warga  yang penting, 

menjadi salah satu dari empat penyakit tidak menular prioritas 

yang menjadi target tindak lanjut oleh para pemimpin dunia. 

Jumlah kasus dan prevalensi diabetes terus meningkat selama 

beberapa dekade terakhir. .

B. Klasifikasi Penyakit Diabetes Mellitus

ada  2 kategori utama diabetes mellitus yaitu diabetes 

tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1, dulu disebut insulin-dependent 

atau juvenile/childhood-onset diabetes, ditandai dengan 

kurangnya produksi insulin. Diabetes tipe 2, dulu disebut non-

insulin-dependent atau adult-onset diabetes, disebabkan 

penggunaan insulin yang kurang efektif oleh tubuh. Diabetes 

tipe 2 merupakan 90% dari seluruh diabetes. Sedangkan 

diabetes gestasional yaitu  hiperglikemia yang didapatkan 

saat kehamilan. Toleransi glukosa terganggu (TGT) atau 

impaired glucose tolerance (IGT) dan glukosa darah puasa 

terganggu (GDP terganggu) atau impaired fasting glycaemia 

(IFG) merupakan kondisi transisi antara normal dan diabetes. 

Orang dengan IGT atau IFG berisiko tinggi berkembang menjadi 

diabetes tipe 2. Dengan penurunan berat badan dan perubahan 

gaya hidup, perkembangan menjadi diabetes dapat di cegah 

atau ditunda 

Tipe I atau DM yang tergantung insulin terjadi pada orang 

muda dengan ketosidosis, dan tipe II atau DM yang tidak 

tergantung insulin lebih khas pada orang yang obesitas. Tanda 

klinis ini tidak memiliki  arti universal sebab  beberapa anak 

penderita diabetes tidak memerlukan insulin, sementara banyak 

orang tua yang memerlukan insulin 

C. Etiologi Penyakit Diabetes Mellitus

Meskipun pemicu  diabetes tetap tidak jelas, etiologi 

autoimun seperti pada tipe I DM mungkin dicetuskan oleh infeksi 

virus, sedangkan tipe II DM berkaitan dengan komponen genetik 

yang berhubungan erat dengan obesitas. Faktor yang dapat 

menginduksi atau mencetukan DM yaitu  obat – obatan seperti 

streroid, tiazid, penyakit pankreak, stress seperti trauma atau 

pembedahan dan kelainan endokrin seperti penyakit Cushing 

dan akromegali 

D. Faktor Risiko Penyakit Diabetes Mellitus

Menurut Kementerian Kesehatan Republik negara kita  (2013), 

Faktor risiko diabetes mellitus bisa dikelompokkan menjadi 

faktor risiko yang tidak dapat di modifikasi dan yang dapat 

dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu  

ras dan etnik, umur, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan 

diabetes mellitus, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan 

lebih dari 4000 gram, dan riwayat lahir dengan berat badan lahir 

rendah (kurang dari 2500 gram). Sedangkan faktor risiko yang 

dapat dimodifikasi erat kaitannya dengan perilaku hidup yang 

kurang sehat, yaitu berat badan lebih, obesitas abdominal/

sentral, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia, diet 

tidak sehat/tidak seimbang, riwayat toleransi glukosa terganggu 

(TGT) atau gula darah puasa terganggu (GDP terganggu) dan 

merokok.

E. Patofisiologi Penyakit Diabetes Mellitus

Ketika glukosa menerobos masuk ke dalam jaringan, 

“bandul” keseimbangan antara produksi glukosa endogen dan 


ambilan glukosa oleh jaringan pun menjadi “oleng”. Peningkatan 

glukosa plasma merangsang pelepasan insulin oleh sel – 

sel , memicu  hyperinsulinemia. Kedua keadaan ini, 

hiperglisemia dan hyperinsulinemia, akan merangsang ambilan 

glukosa oleh jaringan splanknik (saluran cerna dan hati) dan 

jaringan perifer (terutama otot lurik) sembari menekan produksi 

glukosa endogen 

Sebagian besar glukosa (80 – 85 %) yang terambil oleh jaringan 

perifer akan terkonsentrasi pada otot lurik.

Meskipun jumlah sebarannya dalam tubuh tidak 

banyak, insulin merupakan penghambat enzim liposis 

potensial yang memicu  terpangkasnya kadar 

asam lemak bebas. Konsentrasi asam lemak bebas yang 

terpenggal memicu  pertambahan ambilan glukosa 

dalam otot seraya menopang penghambatan produksi gl 

ukosa hati.

Meskipun patofisiologi DM bermuara pada resistensi insulin, 

toleransi glukosa akan tetap terjaga normal selama masih 

dapat dikompensasi oleh peningkatan sekresi insulin. Jadi sel 

 pankreas yang masih berfungsi normal mampu menduga 

keparahan resistensi insulin serta mengatur sekresi insulin untuk 

mempertahankan kenormalan toleransi glukosa (Arisman, 

2008).

Kelainan utama yang tergambar diabetes tipe 2 berupa 

resistensi insulin dan penyusutan fungsi sekretorik sel – sel . 

Ketidakpekaan insulin dalam merespons lonjakan gula darah 

memicu  peningkatan produksi  glukosa oleh hati seraya 

penurunan ambilan glukosa oleh jaringan. Hilangnya respons 

akut terhadap beban KH yang merupakan kelainan khas dini pada 

DM, biasanya terjadi ketika kadar gula darah puasa mencapai 

angka 115 mg/dL, yang terdiagnosis sebagai hiperglisemia 

postprandial. Fungsi sel – sel  dipastikan susut sebanyak 75% 

manakala kadar gula darah (plasma) puasa telah merapat ke 

angka 140 mg/dL (Klein et al, 1996 dalam Arisman, 2008).

Peningkatan kadar glukosa darah dalam keadaan puasa 

merupakan cerminan dari pengurangan ambilan glukosa 

oleh jaringan, atau pertambahan gluconeogenesis. Jika kadar 

glukosa darah meningkat sedemikian tinggi, ginjal tidak akan 

mampu lagi menyerap-balik glukosa yang tersaring sehingga 

glukosa akan tumpah ke dalam urin. Kelimpahan glukosa dalam 

urin ini dinamakan glukosuria (Arisman, 2008).

Ketidakpekaan insulin di sel – sel hati dan jaringan tepi, 

terutama otot rangka, memicu  produksi glukosa oleh hati 

tidak terbendung, sementara ambilan dan penggunaan glukosa 

justru berkurang. Mekanisme keterjadiannya boleh jadi terkait 

dengan defek pengikatan reseptor insulin, pengurangan jumlah 

reseptor insulin, atau penurunan kemampuan insulin post-

receptor (DeFronzo, 1992 ; Porte dan Kahn, 1997 dalam Arisman, 

2008). Selanjutnya, hiperglisemia ini akan menutup “keran” 

sekresi sembari memperparah ketidakpekaan insulin dengan 

jalan “menciutkan” (down-regulation) sistem transportasi 

glukosa dalam sel – sel  dan pada jaringan peka-insulin. 

Pengaruh tingginya kadar glukosa yang berlangsung kronis 

dikenal sebagai toksisitas glukosa (DeFronzo et al, 1992 dalam 

Arisman, 2008). Ketidakpekaan insulin semakin diperberat oleh 

peningkatan asam lemak bebas dalam darah, dan berdampak 

lebih buruk pada kinerja sel – sel  dalam menyekresikan insulin. 

Gejala terakhir ini disebut lipotoksisitas (LeRoith, 2002 dalam 

Arisman, 2008). 

Manifestasi DM terbagi menjadi dua bentuk. Bentuk pertama, 

sindrom diabetik akut, menampakkan gambaran hiperglisemia, 

ketoasidosis, dan (jika tidak sempat diobati) kematian. Bentuk 

kedua, diabetes kronis, ditandai dengan mikroangiopati difus 

pada jaringan penyusun organ – organ vital (Arisman, 2008).

Pada prinsipnya, bertambahnya keluaran glukosa hati 

melatarbelakangi peningkatan kadar glukosa darah puasa, 

sementara berkurangnya penggunaan glukosa perifer 


Gambar 13. Patogenesis DM tipe 2 

F. Diagnosis Penyakit Diabetes Mellitus

Diagnosis DM dapat dipastikan jika ada  salah satu 

hasil pemeriksaan sebagai berikut :

a. Gejala klasik DM dengan kadar glukosa darah sewaktu > 200 

mg/dL. Gejala klasik DM yaitu sering kencing, cepat lapar, 

sering haus, berat badan menurun cepat tanpa pemicu  

yang jelas.

b. Gejala klasik DM dengan kadar glukosa darah puasa > 126 

mg/dL.

c. Pada tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan hasil 

pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam > 200 mg/dL 

sesudah pemberian beban glukosa 75 gr (PERKENI, 2006 

dalam 

G. Komplikasi Penyakit Diabetes Mellitus

Menurut Kementerian Kesehatan Republik negara kita  

(2013), hiperglikemia yang terjadi dari waktu ke waktu dapat 

memicu  kerusakan berbagai sistem tubuh terutama 

syaraf dan pembuluh darah. Beberapa konsekuensi dari 

diabetes yang sering terjadi yaitu  :

1. Meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.

2. Neuropati (kerusakan syaraf) di kaki yang meningkatkan 

ulkus kaki, infeksi dan bahkan keharusan untuk amputasi 

kaki.

3. Retinopati diabetikum, yang merupakan salah satu 

pemicu  utama kebutaan, terjadi akibat kerusakan 

pembuluh darah kecil di retina.

4. Diabetes merupakan salah satu pemicu  utama gagal 

ginjal.

5. Risiko kematian penderita diabetes secara umum yaitu  

dua kali lipat dibandingkan bukan penderita diabetes.

Dengan pengendalian metabolisme yang baik, menjaga 

agar kadar gula darah berada dalam kategori normal, maka 

komplikasi akibat diabetes dapat dicegah/ditunda.

H. Pencegahan dan Penatalaksaan Penyakit Diabetes Mellitus

Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah dengan ilmu kedokteran 

saat ini. Pendekatan yang efektif sangat dibutuhkan untuk 

mencegah diabetes tipe 2 dan untuk mencegah komplikasi 

dan kematian prematur yang bisa disebabkan oleh berbagi 

tipe diabetes. Termasuk di antaranya kebijakan dan penerapan 

langsung di populasi dan di lingkungan tertentu (sekolah, 

rumah, lingkungan kerja) yang berkontribusi kepada kesehatan 

semua orang, baik pengidap diabetes atau bukan, seperti 

olahraga teratur, pola makan sehat, menghindari merokok, 

serta mengontrol kadar lemak dan tekanan darah (Kementerian 

Kesehatan Republik negara kita , 2019).

Berdasarkan diagnosis dokter dan status pendidikan, 

prevalensi penderita DM tertinggi merupakan tamatan 

pendidikan setingkat D1/D2/D3/PT, yang merupakan kategori 

jenjang pendidikan tertinggi pada hasil Riskesdas 2018. Untuk 

status pekerjaan yang paling banyak mengidap DM berstatus 


PNS/TNI/Polri/ BUMN/BUMD. Untuk mengendalikan diabetes 

Kementerian Kesehatan sendiri telah membentuk 13.500 Pos 

Pembinaan Terpadu (Posbindu) untuk memudahkan akses 

warga melakukan deteksi dini penyakit diabetes. Selain itu 

Menteri Kesehatan menghimbau warga  untuk melakukan 

aksi CERDIK, yaitu dengan melakukan: 

1. Cek kesehatan secara teratur untuk megendalikan berat 

badan agar tetap ideal dan tidak berisiko mudah sakit, 

periksa tensi darah, gula darah, dan kolesterol secara teratur. 

2. Enyahkan asap rokok dan jangan merokok. 

3. Rajin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, 

seperti berolah raga, berjalan kaki, membersihkan rumah. 

Upayakan dilakukan dengan baik, benar, teratur dan terukur. 

4. Diet yang seimbang dengan mengkonsumsi makanan sehat 

dan gizi seimbang, konsumsi buah sayur minimal 5 porsi 

per hari, sedapat mungkin menekan konsumsi gula hingga 

maksimal 4 sendok makan atau 50 gram per hari, hindari 

makanan/minuman yang manis atau yang berkarbonasi. 

5. Istirahat yang cukup. 

6. Kelola stress dengan baik dan benar 

Penatalaksanaan Diabetes Mellitus menurut :

Tipe I : jika ketosidosis terjadi secara tiba – tiba dan 

bersifat agresif, maka terapi dengan cairan IV dan insulin 

merupakan indikasi. Pada penyakit tanpa ketosis, hiperglikemia 

berhubungan dengan kehilangan berat badan, serangan gejala 

awal tiba tiba dan dehidrasi terapi insulin juga merupakan 

indikasi. Banyak panduan yang berbeda dari pemberian insulin, 

namun  kebanyakan yaitu  kombinasi preparat kerja lama dan 

pendek biasanya 2x sehari seperti Actrapid dan Monotard. Lebih 

kurang 1 unit insulin per kilogram berat badan dibutuhkan per 

hari. Banyak pasien membutuhkan fleksibelitas lebih besar dan 

kontrol yang lebih baik dengan bentuk paduan ‘basal/bolus’ 

(insulin kerja lama sebelum tidur dengan insulin kerja pendek 

sebelum makan). Pompa yang mengantarkan infus insulin terus 

menerus tidak disukai sebab  cepat timbul ketoasidosis akibat 

kegagalan pompa. Kontrol diet dan Pendidikan pasien diperluka 

untuk control diabetic yang baik dan rasa percaya diri pasien 

Tipe II : banyak pasien memberi  respon yang baik 

terhadap terapi diet untuk menurunkan berat badan dan 

membatasi masukan karbohidrat. Bagi orang gemuk yang tidak 

dapat menurunkan berat badan, obat biguanid tambahan 

seperti metformin 500 mg tid sering memberbaiki control. 

Pada mereka dimana terapi diet saja tidak dapat mengontrol 

diabetes secara adekuat sulfonilurea seperti glipizid 5-10 mg tid 

atau gliklazid 80-320 mg setiap hari sangat berguna 

I. Syarat dan Terapi Diet Bagi Penderita Penyakit Diabetes 

Mellitus

a. Cara Pengaturan Makanan :

1. Jumlah kalori ditentukan menurut umur, jenis kelamin, 

berat badan, tinggi badan dan aktivitas

2. Batasi penggunaan karbohidrat kompleks seperti : 

Nasi, lontong, roti, ketan, jagung, kentang, dll. Dikurangi 

jumlahnya dari kebiasaan sehari-hari

3. Hindari penggunaan sumber karbohidrat sederhana / 

mudah diserap seperti gula pasir, gula jawa, sirup, selai, 

manisan, buah-buahan, susu kental manis, minuman 

botol ringan, dodol, es krim, kue-kue manis, bolu, tarcis, 

abon, dendeng, dan sarden (Direktorat Pencegahan Dan 

Pengendalian Penyakit Tidak Menular, 2018).


Tabel 20. Pengaturan Makanan pada Penderita Diabetes Mellitus

Bahan makanan Dianjurkan Dibatasi Dihindari

Sumber 

karbohidrat

semua sumber 

karbohidrat 

dibatasi : nasi, 

bubur, roti, mie, 

kentang, singkong, 

ubi, sagu, 

gandum, pasta, 

jagung, talas, 

havermout, sereal, 

ketan, makaroni

Sumber protein 

hewani

ayam tanpa kulit, 

ikan, telur rendah 

kolesterol atau 

putih telur, daging 

tidak berlemak

hewani tinggi 

lemak jenuh 

(kornet, sosis, 

sarden, otak, 

jeroan, kuning 

telur)

keju, abon, 

dendeng, susu 

full cream

Sumber protein 

nabati

tempe, tahu, 

kacang hijau, 

kacang merah, 

kacang  tanah

Sayuran

sayuran tinggi 

serat : kangkung, 

daun kacang, 

oyong, ketimu, 

tomat, labu 

air, kembang 

kol, lobak, sawi, 

selada, seledri, 

terong

bayam, buncis, 

daun melinjo, 

labu siam, daun 

singkong, daun 

ketela, jagung 

muda, pare, 

wortel, daun katuk

Buah – buahan

jeruk, apel, 

pepaya, jambu 

air, salah, 

belimbing (sesuai 

kebutuhan)

nanas, anggur, 

mangga, sirsak, 

pisang, alpukat, 

sawo, semangka, 

nangka masak

buah – buah 

an yang manis 

dan diawetkan : 

durian, nangka, 

alpukat, kurma, 

manisan buah

Minuman

minuman yang 

mengandung 

alkohol, susu 

kental manis, 

soft drink, es 

krim, yoghurt, 

susu


Lain – lain

makanan 

yang digoreng 

dan yang 

menggunakan 

santan kental, 

kecap, saus tiram

gula pasir, gula 

merah, gula 

batu, madu

makanan/

minuman yang 

manis : cake, 

kue – kue manis, 

dodol, tarcis, 

sirup, selai 

manis, cokelat, 

permen, tape, 

mayonaise

b. Bahan makanan yang diperbolehkan :

1. Lauk hewani dan nabati dalam jumlah yang cukup 

sesuai yang dianjurkan

2. Aneka ragam sayuran untuk memberi  rasa kenyang 

dan kandungan serat tinggi

3. Buah-buahan dalam jumlah cukup

4. Minyak dan garam dalam jumlah yang tidak berlebihan.

5. Jumlah makanan yang dimakan dalam satu hari dibagi 

dan diatur dengan baik terutama bagi penderita yang 

menggunakan obat dan suntikan insulin.

6. Untuk mengganti gula dapat digunakan sakarin 

dengan perbandingan 1 gelas minuman digunakan 2 

tablet sakarin atau 1/4 sendok teh sakarin kristal. Bila 

menggunakan sakarin jangan dipanaskan sebab  

dapat memberi  rasa pahit (Direktorat Pencegahan 

Dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, 2018b)

c. Tujuan Diet

Membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan dan 

olahraga untuk mendapatkan control metabolic yang lebih 

baik dengan cara :

1. Mempertahankan kadar glukosa darah supaya 

mendekati normal dengan menyeimbangkan asupan 

makanan dengan insulin (endogenous atau exogenous), 

dengan obat penurun glukosa oral dan aktivitas fisik.

2. Mencapai dan memperhatikan kadar lipida serum 

normal.

3. Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau 


mencapai berat badan normal.

4. Menhindari atau menangani komplikasi akut pasien yang 

menggunakan insulin seperti hipoglikemia, komplikasi 

jangka pendek, dan jangka lama serta masalah yang 

berhubungan dengan latihan jasmani.

5. Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan 

melalui gizi yang optimal (Almatsier, 2010).

d. Syarat diet

Syarat – syarat diet penyakit diabetes mellitus yaitu  :

1. Energi cukup untuk mencapai dan mempertahankan 

berat badan normal. Kebutuhan energi ditentukan 

dengan memperhitungkan kebutuhan untuk 

metabolisme basal sebesar 25 – 30 kkal/kg BB normal, 

ditambah kebutuhan untuk aktivitas fisik dan keadaan 

khusus, misalnya kehamilan atau laktasi serta ada 

tidaknya komplikasi. Makanan dibagi dalam 3 porsi 

besar, yaitu makan pagi (20%), siang (30%), dan sore 

(25%), serta 2-3 porsi kecil untuk makanan selingan 

(masing – masing 10-15%).

2. Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15% dari kebutuhan 

energi total.

3. Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan 

energi total, dalam bentuk <10% dari kebutuhan energi 

total berasal dari lemak jenuh.

4. Kebutuhan karbohidrat yaitu  sisa dari kebutuhan 

energi total, yaitu 60 – 70%.

5. Penggunaan gula murni dalam minuman dan makanan 

tidak diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai 

bumbu. Bila kadar glukosa darah sudah terkendali, 

diperbolehkan mengkonsumsi gula murni sampai 5% 

dari kebutuhan energi total.

6. Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas. Gula 

alternatif yaitu  pemanis selain sukrosa. Ada dua jenis 

gula alternatif yaitu yang bergizi dan tidak bergizi. Gula 

alternatif bergizi yaitu  fruktosa, gula alkhohol berupa 

sorbitol, mannitol, dan silitol, sedangkan gula alternatif 

tak bergizi yaitu  aspartame dan sakarin. Penggunaan 

gula alternatif hendaknya dalam jumlah terbatas. 

Fruktosa dalam jumlah 20% dari kebutuhan energi total 

dapat meningkatkan kolesterol dan LDL, sedangkan 

gula alkhohol dalam jumlah berlebihan memiliki  

pengaruh laksatif.

7. Asupan serat yang dianjurkan 25 gr/hari dengan 

mengutamakan serat larut air yang ada  di dalam 

sayur dan buah. Menu seimbang rata – rata memenuhi 

kebutuhan serat sehari.

8. Pasien DM dengan tekanan darah normal diperbolehkan 

mengkonsumsi natrium dalam bentuk garam dapur 

seperti orang sehat, yaitu 3000 mg/hari. jika  

mengalami hipertensi, asupan garam harus dikurangi.

9. Cukup vitamin dan mineral. jika  asupan dari 

makanan cukup, penambahan vitamin dan mineral 

dalam bentuk suplemen tidak diperlukan 

e. Jenis Diet dan Indikasi Pemberian

Diet yang digunakan sebagai bagian dari 

penatalaksanaan Diabetes Mellitus dikontrol berdasarkan 

kandungan energi, protein, lemak, dan karbohidrat. Sebagai 

pedoman yang dipakai 8 jenis diet diabetes mellitus 

sebagaimana dapat dilihati pada table 1.2.

Penetapan diet ditentukan oleh keadaan pasien, 

jenis diabetes mellitus dan program pengobatan secara 

keseluruhan 

JENIS DIET

Energi

kkal

Protein

g

Lemak

g

Karbohidrat

g

I 1100 43 30 172

II 1300 45 35 192

III 1500 51.5 36.5 235

IV 1700 55.5 36.5 275

V 1900 60 48 299

VI 2100 62 53 319

VII 2300 73 59 369

VIII 2500 80 62 396

Tabel 21. Jenis Diet Diabetes Mellitus

Tabel 22. Contoh Menu Makan Sehari untuk

Penderita Diabetes Mellitus

f. Contoh Menu Sehari untuk Penderita Diabetes Mellitus

Pagi Siang Malam

Roti putih dengan 

selai kacang

Telur rebus

Lalap daun

Selada/tomat

Jam 10.00

(selingan)

Apel

Nasi

Semur daging

Tempe goreng

Pecel

Jeruk

Jam 16.00

(selingan)

Pudding pepaya

Nasi

Pepes ikan 

Cah tahun

Tumis kangkong

Apel

Jam 21.00

(selingan)

Crackers tawar atau 

buah 


Diabetes yaitu  penyakit kronis serius yang terjadi sebab  

pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur 

gula darah atau glukosa), atau ketika tubuh tidak dapat secara 

efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya. Diabetes yaitu  

masalah kesehatan warga  yang penting, menjadi salah satu 

dari empat penyakit tidak menular prioritas yang menjadi target 

tindak lanjut oleh para pemimpin dunia. Jumlah kasus dan prevalensi 

diabetes terus meningkat selama beberapa dekade terakhir. 

Faktor risiko diabetes mellitus bisa dikelompokkan menjadi faktor 

risiko yang tidak dapat di modifikasi dan yang dapat dimodifikasi. 

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu  ras dan etnik, 

umur, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan diabetes mellitus, 

riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4000 gram, 

dan riwayat lahir dengan berat badan lahir rendah (kurang dari 

2500 gram). Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi erat 

kaitannya dengan perilaku hidup yang kurang sehat, yaitu berat 

badan lebih, obesitas abdominal/sentral, kurangnya aktivitas fisik, 

hipertensi, dislipidemia, diet tidak sehat/tidak seimbang, riwayat 

toleransi glukosa terganggu (TGT) atau gula darah puasa terganggu 

(GDP terganggu) dan merokok.

Upaya efektif untuk mencegah dan mengendalikan diabetes 

harus difokuskan pada faktor-faktor risiko disertai dengan 

pemantauan yang teratur dan berkelanjutan dari perkembangannya 

sebab  faktor risiko umum PTM di negara kita  relatif masih tinggi, yaitu 

33,5% tidak melakukan aktivitas fisik, 95% tidak mengonsumsi buah 

dan sayuran, dan 33,8% populasi usia di atas 15 tahun merupakan 

perokok berat.

Komitmen negara kita  untuk mencegah dan mengendalikan 

Diabetes melalui pemberdayaan warga . Sebagai bagian 

dari upaya pencegahan dan pengendalian Penyakit Tidak Menular 

(PTM), Pemerintah negara kita  telah membentuk Pos Pembinaan 

Terpadu (Posbindu) PTM, sebagai upaya terdepan pencegahan dan 

pengendalian PTM.